Si Pisau Terbang Li Bab 12 : Keduanya adalah Orang-orang yang Patah Hati

Mode Malam
 
Bab 12. Keduanya adalah Orang-orang yang Patah Hati

Walaupun hari masih siang, langit mendung bagaikan magrib.

A Fei berjalan tenang, sama seperti waktu pertama kali Thi Toan-kah melihat dia berjalan. Masih begitu kesepian, begitu lelah.

Namun sekarang Thi Toan-kah tahu. Begitu ada bahaya, anak muda ini akan langsung waspada. Berjalan berdampingan dengannya, sebenarnya Thi Toan-kah ingin membicarakan begitu banyak hal, namun ia tidak tahu harus mulai dari mana. Li Sun-Hoan tidak pernah bicara banyak. Dan setelah bersama-sama dengan Li Sun-Hoan selama bertahun-tahun, ia tahu bagaimana menggunakan keheningan untuk menggantikan kata- kata. Hanya dua kata yang diucapkannya, “Terima kasih.”

Namun segera disadarinya bahwa dua kata ini pun tidak perlu diucapkan. Karena A Fei sama dengan Li Sun-Hoan. Seseorang tidak perlu mengatakan ‘terima kasih’ di hadapan mereka.

Ada sebuah paviliun di sana. A Fei berjalan menuju ke sana, dan tiba-tiba ia bertanya, “Mengapa kau tak mengatakan yang sesungguhnya pada mereka?”

Thi Toan-kah berpikir cukup lama, lalu mendesah. “Ada beberapa hal yang tidak ingin kuucapkan. Lebih baik mati daripada mengucapkannya.”

Kata A Fei, “Kau memang sahabat yang baik, namun kau salah akan satu hal.”

“Apa itu?”

Sahut A Fei, “Kau pikir karena nyawamu adalah milikmu, kau berhak untuk mati.”

“Salahkah itu?”

Jawab A Fei, “Salah sekali.” Tiba-tiba ia menoleh dan menatap Thi Toan-kah. Lalu katanya, “Seseorang dilahirkan, bukan untuk mati.”

Kata Thi Toan-kah, “Kau benar. Tapi kalau bukan karena situasi yang tak ada jalan keluarnya….”

A Fei berkata lagi, “Sekalipun kau harus mati, kau tetap harus mengerahkan segala daya upaya untuk tetap hidup.”

Ia terus menatap Thi Toan-kah. Katanya dengan tajam, “Tuhan telah memberi engkau begitu banyak. Apa yang telah kau perbuat bagiNya?”

“Tidak ada.”

“Untuk membesarkanmu, ayah dan ibumu telah berkorban begitu banyak. Apa yang telah kau perbuat bagi mereka?”

Thi Toan-kah hanya dapt menundukkan kepalanya.

Kata A Fei, “Kau tahu bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dibicarakan. Jika kau mengatakannya, berarti kau mengkhianati sahabatmu. Namun jika kau mati begitu saja, apakah kau tidak mengkhianati ayah ibumu, mengkhianati Tuhan?”

Thi Toan-kah menengadah ke langit, lalu berkata, “Aku salah…. Aku salah….”

Sepertinya ia telah mengambil suatu keputusan besar. “Aku tak mau mengatakannya karena….” A Fei memotong cepat, “Aku percaya padamu. Kau tak perlu memberi penjelasan.”

Thi Toan-kah tidak tahan untuk tidak bertanya, “Bagaimana kau bisa yakin bahwa aku tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan?”

Jawab A Fei, “Aku hanya mengetahuinya.”

Matanya sungguh terang, penuh dengan rasa percaya diri. Lalu ia melanjutkan, “Mungkin karena aku tumbuh di alam bebas. Seperti binatang buas, aku punya naluri membedakan yang baik dan yang jahat.”

***

Dalam benak Li Sun-Hoan, ada yang lebih menyebalkan daripada tidak bisa minum arak, yaitu minum arak dengan orang-orang yang menyebalkan.

Ia merasa bahwa semua orang yang ada di situ sangat menyebalkan. Bayangkan, Yu Liong-sing adalah yang terbaik dari sekumpulan orang itu. Setidaknya ia tidak bukan penjilat.

Maka dia pura-pura sakit.

Liong Siau-hun tahu sifat Li Sun-Hoan, sehingga ia diam saja. Oleh sebab itu, Li Sun-Hoan berbaring saja dalam kamarnya menunggu datangnya malam.

Ia tahu, malam ini akan terjadi sesuatu yang menarik. Waktu ia terpikir akan kencannya dengan Lim Sian-ji nanti malam, matanya bercahaya. Namun waktu ia terpikir akan Thi Toan-kah, wajahnya kembali murung.

Akhirnya, hari mulai gelap.

Li Sun-Hoan bangkit. Namun ia mendengar langkah ringan di atas salju di luar, jadi ia kembali berbaring.

Langkah itu berhenti di depan jendela.

Li Sun-Hoan hanya menunggu dengan diam. Ia tidak bertanya siapa yang datang. Orang itu tampaknya ragu- ragu untuk masuk, jadi tidak mungkin Liong Siau-hun.
Liong Siau-hun tak mungkin menunggu di depan pintu. Jadi siapakah orang ini?
Si-im?

Seluruh darah dalam tubuhnya bergejolak. Tubuhnya sampai menggigil. Kemudian orang di luar terbatuk kecil.

“Apakah Li-heng sedang tidur?”

Ini adalah suara Yu Liong-sing. Li Sun-Hoan menghela nafas lega. Ia tidak tahu apakah ia harus sedih atau gembira.

Yu Liong-sing masuk dan duduk. Matanya tidak pernah memandang ke arah Li Sun-Hoan. Li Sun-Hoan menyalakan lilin, dan baru ia sadari bahwa wajah pemuda ini sangat pucat. Li Sun-Hoan bertanya sambil tersenyum, “Kau ingin minum teh, atau arak?”

Yu Liong-sing menjawab pendek, “Arak.”

Li Sun-Hoan masih tersenyum. “Bagus. Aku memang tidak punya teh.”

Yu Liong-sing minum tiga cawan dalam sekejap. Lalu ia bertanya, “Tahukah kau mengapa aku minum arak?”

Jawab Li Sun-Hoan, “Sepertinya kau tidak sedang bersedih. Jadi mungkin untuk menambah semangat?”

Yu Liong-sing kini menatap Li Sun-Hoan. Tiba-tiba tawanya meledak.

Saat itulah, dihunusnya pedang dari pinggangnya.

Tiba-tiba pula tawanya berhenti. Lalu ia bertanya, “Kenalkah kau dengan pedang ini?”

Li Sun-Hoan menyentuh sedikit sisi pedang itu, katanya, “Pedang yang luar bisasa.”

Mata Yu Liong-sing berbinar. “Li-heng adalah ahli tentang pedang. Aku yakin kau pasti tahu bahwa pedang ini adalah salah satu pedang paling terkemuka di dunia.”

Ia melihat pada pedang itu dan menyambung, “Ini adalah ‘Toat-ceng-kiam (Pedang Perenggut Cinta’)’ yang dipakai oleh Tik Bu-cu 300 tahun yang lalu. Aku yakin Li- heng tahu latar belakang kisahnya, bukan?” “Ceritakan saja.”

“Tik Bu-cu cinta setengah mati pada pedangnya, sehingga ia tidak pernah jatuh cinta pada seorang wanita sampai ia setengah umur. Mereka lalu berencana untuk menikah. Namun beberapa hari sebelum pernikahan, ia baru tahu bahwa tunangannya dan sahabat karibnya Si Dewa Golok, Pang Ging, diam-diam berkencan. Dalam kemarahannya, ia membunuh Pang Ging dengan pedang ini. Dan pedang ini pun menjadi teman hidupnya dan dia tidak pernah lagi berpikir untuk menikah.”

Ia memandang Li Sun-Hoan. “Kau mungkin berpikir bahwa cerita ini sederhana dan membosankan. Namun ini adalah kisah nyata.”

Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata, “Aku hanya berpikir bahwa Tik Bu-cu, walaupun dia adalah jago pedang yang hebat, pikirannya agak sempit. Mengapa seorang pria sejati mengorbankan persahabatan demi seorang wanita?”

Yu Liong-sing pun tersenyum, katanya, “Tetapi menurutku, ia adalah pria sejati. Hanya pria sejati yang dapat mencintai begitu dalam.”

Li Sun-Hoan terkekeh, “Jadi kau ingin mengikuti jejak Tik Bu-cu 300 tahun yang lalu. Betul kan?”

Yu Liong-sing menatap Li Sun-Hoan dengan pandangan sedingin es, dan berkata dingin, “Itu tergantung apakah Li-heng akan mengikuti jejak Si Dewa Golok Pang Ging 300 tahun yang lalu atau tidak!” Li Sun-Hoan mengeluh. “Kau tahu, malam ini bulan sangat indah. Mengapa kau merusak suasana yang begitu damai dengan kata-kata seperti itu?”

Kata Yu Liong-sing, “Jadi kau masih akan pergi ke sana malam ini?”

Sahut Li Sun-Hoan, “Jika aku membiarkan seorang gadis seperti Nona Lim menikmati keindahan bulan sendirian, aku merasa seperti seorang penjahat.”

Wajah Yu Liong-sing yang pucat menjadi merah padam. Kemarahannya tergambar dengan jelas. Pedang itu berbalik, terarah pada samping leher Li Sun-Hoan.

Namun Li Sun-Hoan masih tersenyum. “Dengan ilmu pedangmu, kau masih belum bisa menandingi Tik Bu-cu.”

Yu Liong-sing berseru dengan marah, “Aku tidak perlu mengerahkan seluruh kemampuanku untuk membunuhmu!”

Saat mengucapkan kalimat itu, Yu Liong-sing telah menyerang sepuluh langkah.

Terdengar suara pedang membelah angin, cepat dan keras. Cawan arak di meja hancur berantakan oleh angin pedang itu. Arak tumpah membasahi lantai. Walaupun gerakan pedangnya makin lama makin cepat, Li Sun- Hoan tidak tampak bergerak. Seolah-olah tak ada yang terjadi. Semua serangannya mengenai tempat kosong. Yu Liong-sing mengertakkan giginya. Serangannya menjadi semakin tajam.

Ia melihat tangan Li Sun-Hoan masih kosong. Setiap serangan pedangnya dibuat untuk menghalangi Li Sun- Hoan menggunakan pisaunya.

Namun Li Sun-Hoan memang tidak bermaksud menggunakan pisaunya. Ia hanya menantikan berakhirnya serangan ini. Tiba-tiba ia tersenyum, katanya, “Untuk seorang pemuda seusiamu, ilmu pedangmu sungguh hebat. Namun untuk seorang pemuda yang memiliki seorang ayah seperti ayahmu dan guru seperti gurumu, jika engkau berkelana, habislah sudah reputasi mereka.”

Sungguh luar biasa, ia masih dapat berbicara dengan santai dibawah serangan setajam itu. Yu Liong-sing menjadi semakin marah dan tidak sabar. Namun entah bagaimana, serangannya selalu luput, tidak mengoyakkan sedikit pun baju Li Sun-Hoan.

Ketika ia menyerang leher Li Sun-Hoan, Li Sun-Hoan berkelit ke kiri. Ketika dipindahkan serangannya ke kiri, seakan-akan Li Sun-Hoan tidak jadi berkelit. Jadi walaupun serangannya sangatlah mematikan, Li Sun- Hoan sama sekali tidak terpengaruh.

Yu Liong-sing kembali mengertakkan giginya. Serangan berikutnya terarah ke dada Li Sun-Hoan. Pikirnya, “Sekarang, apapun yang terjadi, aku takkan tertipu lagi.” Setelah tertipu beberapa kali, kali ini ia bertekad tidak akan mengubah arah serangannya.

Dilihatnya bahu kiri Li Sun-Hoan bergerak sedikit, tubuhnya meliuk ke kanan. Kali ini, ia benar-benar bergerak! Pedang Yu Liong-sing luput lagi.

Kemudian Li Sun-Hoan menjentikkan jarinya di pinggir pedang itu.

Yu Liong-sing merasakan getaran yang sangat kuat. Tubuhnya tiba-tiba seolah-olah lumpuh, pedangnya tak terkendali dan terlempar ke luar jendela menuju ke arah hutan.

Li Sun-Hoan tetap berdiri di situ. Bahkan kakinya tak bergeser sejengkalpun.

Yu Liong-sing merasa seluruh darahnya naik ke kepala, lalu serentak turun ke kakinya. Tubuhnya terasa dingin. Li Sun-Hoan menepuk pundaknya, dengan tersenyum ia berkata, “Pedangmu sangat berharga. Pergi dan ambillah.”

Yu Liong-sing menghentakkan kakinya, lalu berbalik dan segera pergi. Namun tiba-tiba saja ia berhenti. Katanya, “Kalau…. Kalau kau punya nyali, tunggulah satu tahun lagi. Tahun depan aku akan mencarimu untuk membalas dendam.”

Sahut Li Sun-Hoan, “Satu tahun? Kelihatannya satu tahun masih kurang.” Lalu ia menambahkan, “Kau punya potensi yang baik. Ilmu pedangmu pun cukup baik. Permasalahannya adalah emosimu. Kau tidak sabar dan sombong. Jadi, ketika kau bertemu dengan lawan yang lebih kuat, kau langsung hancur. Sebenarnya, jika hari ini kau lebih sabar sedikit, kau bisa melukai aku. “

Mata Yu Liong-sing langsung bersinar, namun Li Sun- Hoan meneruskan, “ Tapi kesabaran itu lebih mudah diucapkan daripada dijalankan. Jadi, kalau kau ingin mengalahkan aku, kau perlu setidaknya tujuh tahun!”

Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata lagi, “Pergilah. Dan berlatihlah baik-baik tujuh tahun, baru kembali untuk membalas dendam. Tujuh tahun bukanlah waktu yang lama.”

Malam kembali tenang.

Li Sun-Hoan memandang langit malam melalui jendela kamarnya. Ia berdiri di sana cukup lama. Lalu ia menggumam sambil memandang ke malam kelam, “Anak muda, janganlah kau membenci aku. Sebetulnya, aku ingin menyelamatkanmu. Jika kau terus bersama dengan Lim Sian-ji, ia akan menghancurkan hidupmu.”

Li Sun-Hoan tahu Lim Sian-ji sedang menantikan dia dan telah mempersiapkan tipu daya yang lain. Ia penasaran akan apa yang sedang direncanakan oleh wanita itu.

Waktu Yu Liong-sing pergi, ia bukan lagi anak muda yang sombong, yang angkuh. Ia berkata pada Li Sun-Hoan, “Jika kau betul-betul menyukai Lim Sian-ji, kau akan menyesal. Ia adalah milikku. Kami telah…. telah…. Mengapa kau mau memakai sepatu bekasku?”

Namun saat itu Li Sun-Hoan hanya tersenyum dan menjawab, “Sepatu bekas selalu lebih nyaman daripada sepatu baru.”

Ketika ia membayangkan wajah Yu Liong-sing saat meninggalkannya, ia merasa kasihan, namun ia juga merasa geli. Apakah Lim Sian-ji betul-betul wanita semacam itu?

Ia melangkah keluar pintu, dan dilihatnya sekelebat cahaya dari dalam hutan.

Dua pelayan datang mendekat. Mereka membawa sepasang lentera dan berbisik-bisik satu dengan yang lain, lalu tertawa tertahan. Ketika mereka melihat Li Sun- Hoan, mereka langsung terdiam.

Kini Li Sun-Hoanlah yang terkekeh, katanya, “Apakah Nona Lim menyuruh kalian untuk memanggilku?”

Pelayan yang di sebelah kiri, yang tampak lebih tua dan lebih jangkung menjawab, “Sebetulnya, Nyonya kamilah yang ingin bertemu dengan Li-tayhiap.”

Li Sun-Hoan terperangah, “Nyonya?”

Ia bertanya dengan gelisah, “Nyonya yang mana?”

Pelayan yang lebih muda mengikik. “Hanya ada satu Nyonya dalam rumah ini.” Tubuh Li Sun-Hoan masih di sana, namun pikirannya telah melayang ke luar hutan pohon Bwe itu. Ke pondok kecil itu….

Sepuluh tahun yang lalu, ia selalu berkunjung ke sana. Ia ingat, yang ada di meja selalu hanya makanan-makanan kesukaannya.

Li Sun-Hoan berjalan tergesa-gesa. Kini ia berada di pondok kecil itu lagi.

Cahaya di atas terlihat temaram. Sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Bahkan salju di atas atap pun masih sama indahnya dengan sepuluh tahun yang lalu.

Namun, sepuluh tahun telah berlalu….

Sepuluh tahun yang takkan mungkin terulang lagi.

Li Sun-Hoan tidak punya cukup keberanian untuk naik ke atas.

Namun ia harus ke sana.

Apapun alasannya dia meminta Li Sun-Hoan datang, ia tidak mungkin menolaknya.

Sesampainya di puncak tangga, badannya serasa membeku.

Sepuluh tahun, seperti terhapus begitu saja. Rasanya ia telah kembali ke sepuluh tahun yang lalu. Hatinya berdegup kencang, seperti anak muda yang jatuh cinta pertama kali. Kehangatan sepuluh tahun yang lalu….. Mimpi-mimpi sepuluh tahun yang lalu.

Li Sun-Hoan tidak berani melanjutkan pikirannya. Itu artinya mengkhianati Liong Siau-hun, dan juga dirinya sendiri. Ia ingin sekali lari dari situ.

Namun didengarnya suara dari balik tirai, “Silakan duduk.”

Suara itu masih semerdu sepuluh tahun yang lalu. Hanya kini, suara itu terasa jauh, dan dingin. Kalau tidak melihat makanan yang sama pula terhidang di atas meja, mungkin tak bisa dipercaya bahwa ia sedang menjumpai kenalan lama.

Ia hanya bisa duduk dan berkata, “Terima kasih.” Lalu seseorang keluar dari balik tirai itu.
Nafas Li Sun-Hoan hampir berhenti. Namun yang keluar hanyalah seorang anak kecil. Ia masih mengenakan bajunya yang merah, tapi wajahnya tampak seputih kertas.

Terdengar lagi suara dari balik tirai, “Jangan lupa apa yang Ibu baru saja katakan. Tuangkanlah secangkir arak untuk Paman Li.”

Ang-hai-ji menyahut patuh, “Ya.”

Li Sun-Hoan tidak tahu harus berpikir atau berkata apa. Walaupun ia tidak melakukan apa pun yang salah, ia tetap merasa seperti seorang penjahat di hadapan anak ini.

Si-im, Si-im. Apakah maksudmu mengundangku adalah untuk menyiksaku?

Bagaimana ia dapat minum arak ini? Namun, bagaimana pula kalau tak diminumnya arak ini?

Ang-hai-ji berkata, “Walaupun keponakan tak bisa lagi berlatih ilmu silat, seorang laki-laki tak bisa hidup dibawah naungan orang tuanya seumur hidupnya. Aku harap Paman Li bersedia mengajarkan beberapa jurus perLindungan diri, supaya keponakan tidak dipermainkan orang di kemudian hari.”

Li Sun-Hoan mengeluh dalam hati, lalu diulurkannya tangannya. Di tangan itu terdapat sebilah pisau.

Lim Si-im berkata dari balik tirai, “Pamanmu tak pernah mengajarkan ilmu pisau itu kepada siapapun. Jika kau mempelajarinya, kau tak perlu takut orang akan mempermainkan engkau. Cepat berterima kasih pada Paman Li.”

Ang-hai-ji lalu berlutut dan berkata, “Terima kasih, Paman Li.”

Li Sun-Hoan tersenyum. Pikirnya, “Tak ada yang dapat mengalahkan kasih ibu terhadap anaknya. Namun pertanyaannya sekarang, bagaimanakah seorang anak memperlakukan ibunya?” Seorang pelayan lalu membawa anak itu pergi, namun Lim Si-im masih berada di balik tirai. Tapi ia juga tidak membiarkan Li Sun-Hoan pergi.

Li Sun-Hoan biasanya adalah seseorang yang percaya diri. Namun saat itu, entah mengapa, ia hanya bisa duduk diam di situ seperti orang tolol.

Malam telah bertambah larut.

Apakah Lim Sian-ji masih menunggunya?

Tiba-tiba Lim Si-im bertanya, “Apakah kau ada urusan lain?”

Jawab Li Sun-Hoan, “Ti….Tidak.”

Lim Si-im terdiam sejenak, lalu berkata, “Kau pasti sudah bertemu dengan Lim Sian-ji.”

Kata Li Sun-Hoan, “Satu atau dua kali.”

Kata Lim Si-im lagi, “Ia sungguh malang. Ia tumbuh dalam Lingkungan yang buruk. Jika kau telah berjumpa dengan ayahnya, kau pasti mengerti.”

“Aku mengerti.”

Lim Si-im melanjutkan, “Suatu hari, aku pergi ke ‘Tebing Pengorbanan’ untuk berdoa. Aku melihat dia akan terjun dari atas tebing itu. Jadi kuselamatkan dia…. Kau tahu mengapa ia ingin terjun dari atas tebing itu?” Jawab Li Sun-Hoan, “Tidak.”

Sahut Lim Si-im, “Karena penyakit ayahnya.” Li Sun-Hoan hanya tergugu di kursinya.
Lim Si-im melanjutkan lagi, “Ia tidak hanya pandai dan sangat cantik, ia juga amat tegar. Ia tahu, ia berasal dari keluarga miskin, sehingga ia harus bergantung dari banyak orang. Ia kuatir orang-orang akan menghina dia.”

Kata Li Sun-Hoan, “Kurasa kini tak akan ada yang menghina dia, bukan?”

Sahut Lim Si-im, “Itu akibat dari ketegarannya bertahun- tahun ini. Sayangnya, ia masih amat muda, sehingga hatinya pun sangat lembut. Aku kuatir ia akan terjerat tipu daya orang lain.”

Li Sun-Hoan tertawa getir. “Jika orang lain tidak terperdaya olehnya, aku sungguh bergembira.”

Kata Lim Si-im, “Aku hanya berharap ia mendapatkan suami yang baik, tidak terkecoh begitu saja dan menderita seumur hidupnya.

Li Sun-Hoan berpikir sejenak, lalu bertanya, “Mengapa kau katakan ini padaku?”

Lim Si-im pun berpikir sejenak, lalu menjawab, “Kau tidak tahu mengapa aku katakan ini padamu?”

Sebenarnya Li Sun-Hoan memang tahu. Maksud Lim Si-im menahan dia di situ adalah untuk mencegah pertemuannya dengan Lim Sian-ji. Yu Liong- sing pasti telah memberitahukan padanya.

Lim Si-im berkata, “Apapun yang terjadi, kita adalah teman lama. Aku ingin memohon bantuanmu.”

Hati Li Sun-Hoan membeku, namun ia tetap tersenyum. “Kau tidak ingin aku menemui Lim Sian-ji?”

“Betul.”

Li Sun-Hoan menarik nafas panjang, lalu berkata, “Kau…Kau pikir aku menyukai dia?”

Sahut Lim Si-im, “Aku tak peduli apa perasaanmu terhadap dia. Aku hanya mohon kau tidak menemuinya.”

Li Sun-Hoan menghabiskan arak dalam cawan itu dengan sekali teguk. Lalu ia berkata, “Kau benar. Aku adalah petualang yang tidak berguna. Jika aku pergi menjumpainya, aku hanya akan menyakitinya….”
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 12 : Keduanya adalah Orang-orang yang Patah Hati"

Post a Comment

close