Si Pisau Terbang Li Bab 06 : Penyelamat di Kampung Halaman Si Pemabuk

Mode Malam
 
Bab 06. Penyelamat di Kampung Halaman Si Pemabuk

Sang Kusir tiba-tiba melompat, menanggalkan kemejanya, dan menyambut salju dan angin dingin dengan dada telanjang.

Bagai seekor kuda, ditariknya kereta itu.

Li Sun-Hoan tidak mencegahnya, karena ia tahu bahwa Sang Kusir memerlukan tempat untuk melampiaskan keputusasaannya. Namun sewaktu pintu kereta tertutup, Li Sun-Hoan tidak dapat menahan setetes air matanya jatuh ke pipinya.

Setelah berjalan satu jam, sampailah mereka ke Gu-keh- ceng.

Kampung ini adalah desa yang sangat kecil. Hari belum lagi gelap, dan hujan salju telah reda. Orang-orang sedang membersihkan salju dari halaman rumah mereka.

Waktu mereka melihat sang kusir menarik kereta masuk ke dalam kampung, mereka sangat terkejut. Beberapa orang sangat ketakutan dan berlari masuk ke dalam rumah.

Sudah pasti, ada warung arak di kampung itu.

Orang-orang kampung ini belum pernah melihat orang sekuat ini. Jadi ketika Sang Kusir berjalan ke arah warung arak, sebagian besar pengunjungnya menjadi ketakutan dan segera berlalu.

Sang kusir menjejerkan tiga buah kursi, lalu mengalasinya dengan serbet yang bersih. Didukungnya Li Sun-Hoan masuk ke dalam warung, sehingga ia bisa duduk dengan nyaman.

Li Sun-Hoan tampak pucat lesi. Seakan-akan tidak ada darah yang mengalir ke wajahnya. Semua orang tahu, ia sakit parah. Warung ini sudah buka selama dua puluh tahun, dan belum pernah kedatangan orang hampir mati yang masih ingin minum. Semua orang di situ memandanginya.

Sang Kusir menggebrak meja, dan berteriak, “Ambilkan arak. Yang terbaik! Jika kau encerkan sedikit saja, kupenggal kepalamu.”

Li Sun-Hoan memandangnya dan tersenyum. “Kau tahu, selama dua puluh tahun terakhir, baru hari ini kau tunjukkan karakter sesungguhnya dari ‘Thi-kah-kim-kiong (si Dada Besi Baja Emas)’.”

Tubuh Sang Kusir bergidik. Ia terkejut mendengar julukannya disebut. Namun ia masih bisa tertawa keras. “Aku tak menyangka Siauya masih ingat nama itu. Aku malah sudah lupa.”

Kata Li Sun-Hoan, “Kau…. Kau harus melanggar sumpahmu hari ini dan minum bersamaku.” Sahut Sang Kusir, “Baik! Hari ini, berapa banyak Siauya minum, aku akan mengikutimu.”

Li Sun-Hoan pun ikut tertawa keras. “Kalau aku bisa membuatmu minum arak lagi, hidupku tidak sia-sia.”

Yang lain, melihat mereka tertawa bahagia, jadi tercenung. Tak seorang pun bisa mengerti bagaimana seseorang yang hampir mati bisa begini bahagia.

Araknya memang bukan yang terlezat, tapi paling tidak arak itu murni.

Kata Sang Kusir, “Siauya, maafkan kelancanganku. Aku ingin bersulang untukmu.”

Li Sun-Hoan ingin menyambutnya, namun ia tak kuasa memegangi cawannya, dan arak pun berceceran. Ia batuk-batuk sambil berusaha menyeka bajunya yang basah kena arak, dan sambil tertawa berkata, “Aku tak pernah menyia-nyiakan arak sebelumnya, tapi hari ini….”

Ia tertawa lagi. “Baju ini telah kumiliki bertahun-tahun, memang pantas aku menghadiahinya secawan arak.
Mari, Saudara Baju, aku berterima kasih padamu engkau telah menghangatkan aku bertahun-tahun ini. Aku bersulang untukmu.”

Lalu dituangnya sisa arak dalam cawan ke bajunya.

Pemilik warung dan para pegawainya memandang dia, dan berbisik-bisik di antara mereka, “Orang ini bukan hanya sakit, dia sudah gila.” Kedua orang itu minum dan terus minum. Li Sun-Hoan harus menggunakan kedua belah tangannya untuk memegang cawan araknya.

Sang Kusir menggebrak meja lagi. “Hidup ini tidak adil. Kalau saja aku bisa tidak bangun lagi dari kemabukan ini. Sayang, sayang sekali….”

Kata Li Sun-Hoan, “Kau harusnya berbahagia hari ini. Apa maksudmu tentang ‘tidak adil’, ‘tidak bangun lagi’?
Seseorang harus menikmati hari-hari kehidupannya.”

Sang Kusir tertawa lagi. “Kau betul. Betul!” Lalu wajahnya jatuh menghantam meja.

Wajah Li Sun-Hoan penuh rasa terima kasih. Katanya pada dirinya sendiri, “Dua puluh tahun ini, jika bukan karena kau, aku…. aku mungkin sudah lama mati.
Walaupun aku tahu alasanmu, perbuatanmu ini sungguh terlalu merendahkan dirimu. Kuharap suatu hari nanti, kau rebut kembali status dan kejayaanmu di masa lalu. Dengan begitu, walaupun aku telah….”

Sang Kusir tiba-tiba bangun lagi dan memotong cepat, “Siauya, jangan katakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Merusak suasana.”

Mereka tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba menangis, menangis sambil tertawa.

Pemilik warung dan para pegawainya kembali saling pandang. “Sepertinya, dua-duanya gila.” Saat itulah mereka dikagetkan oleh seseorang yang menyuruk masuk, “Arak. Arak. Bawakan arak sekarang juga.”

Dari wajahnya, kelihatannya ia akan mati jika ia tidak minum arak secepatnya.

Pemilik warung bergumam, “Satu lagi orang gila.”

Orang ini mengenakan baju biru yang sudah terlalu sering dicuci sampai warnanya sudah mendekati putih. Kukunya hitam-hitam. Walaupun mengenakan topi pelajar, rambutnya sungguh acak-acakan. Wajahnya kuning dan tirus. Seperti seorang Siucai rudin (Pelajar Miskin).

Pelayan membawakan sebotol arak untuknya.

Siapa sangka, pelajar ini bahkan tidak menggunakan cawan. Ditenggaknya arak itu langsung dari botolnya. Sekali minum, setengah lebih sudah habis, tapi segera disemburkannya ke luar sambil berteriak, “Kau sebut ini arak? Ini adalah cuka, cuka yang diencerkan lagi…”

Pelayan itu tergagap, “Bukannya kami tidak punya arak yang baik, tapi…..”

Siucai rudin (Pelajar Miskin) itu berkata, “Kau pikir aku tidak punya uang. Nih, ambil semua.”

Dilambaikannya 50 tail perak. Semua orang dan para pelayan terperangah. Kali ini mereka menyuguhkan arak yang terbaik.

Sekali ini pun, si Siucai rudin (Pelajar Miskin) tak peduli dengan cawan dan menenggak sebotol penuh sekaligus. Lalu duduk diam tak bergerak. Semua orang menyangka ia minum terlalu cepat dan sesuatu telah terjadi. Namun Li Sun-Hoan tahu, ia sedang menikmati kelezatannya.

Setelah beberapa saat, dihembuskan nafasnya. Mata dan wajahnya berbinar-binar. “Walaupun araknya tidak enak, di tempat seperti ini kurasa inilah yang terbaik.”

Pemilik warung ikut tertawa. Katanya, “Sudah kusimpan botol itu selama sepuluh tahun.”

Siucai itu tiba-tiba menggebrak meja, katanya, “Pantas saja rasanya tidak kental. Beri aku arak yang lebih baru, yang difermentasi tiga tahap saja. Lalu bawakan makanan juga.”

“Masakan apa yang kau inginkan.”

“Aku tahu di tempat kumuh seperti ini kau pasti tak punya makanan enak. Bawakan saja Ayam Angin dan Usus Gagak Goreng Pedas. Pastikan ususnya pedas sekali dan ayamnya tidak berbulu sama sekali.”

Orang ini kelihatan miskin, namun ia benar-benar tahu tentang makanan dan arak. Li Sun-Hoan sangat tertarik. Dalam keadaan biasa, ia pasti telah mengundang orang itu paling tidak untuk minum bersamanya. Namun saat itu, ia bisa rebah kapan saja. Ia tidak ingin berkenalan dengan siapa pun lagi.

Orang itu terus minum sendirian. Ia minum sangat cepat.

Sepertinya, selain arak, tak ada hal yang cukup berarti baginya.

Saat itu, terdengar derap langkah kuda mendekat, dan berhenti di depan warung. Wajah orang ini berubah sedikit.

Ia bangkit, hendak pergi. Tapi matanya kembali memandang arak di atas meja dan ia pun duduk kembali. Diminumnya tiga cawan lagi, sambil dinikmatinya usus goreng itu.

Dan terdengarlah suara yang menggelegar, “Dasar pemabuk. Kau hendak lari ke mana?”

Seorang yang lain pun berkata, “Sudah kubilang, kita pasti dapat menemukan orang ini di warung arak.”

Kemudian lima enam orang pun masuk, mengelilingi si Siucai rudin (Pelajar Miskin). Kelihatannya ilmu silat mereka cukup tinggi.

Seorang yang tinggi kurus mengacungkan cambuk kuda ke depan hidung si Siucai rudin (Pelajar Miskin) dan berkata, “Kau ambil uang kami, tapi kau menolak memeriksa pasien, malah kabur ke sini untuk minum.
Apa yang terjadi?” Si Siucai rudin (Pelajar Miskin) tersenyum, “Kau tak mengerti apa yang terjadi? Aku perlu minum arak. Itu saja. Kau seharusnya tahu, jika Bwe-jisiansing perlu minum arak, dia tidak peduli langit runtuh, apalagi hanya seorang pasien.”

Seorang yang bopengan berkata berang, “Tio-lotoa, kau dengarkah itu? Kita sudah tahu pemabuk ini adalah seorang yang sangat jahat. Waktu ia sudah mendapatkan uangnya, ia tidak peduli lagi akan orang lain.”

Orang yang pertama menyahut, “Siapa yang tidak tahu kepribadian pemabuk ini? Namun dia harus menyembuhkan penyakit Losi (saudara ke 4). Kita perlu tabib, apa yang dapat kita perbuat?”

Awalnya Li Sun-Hoan menyangka orang-orang ini datang untuk balas dendam. Setelah mendengar percakapan mereka, tahulah dia bahwa Bwe-jisiansing adalah seorang tabib yang hanya mau uang, tapi tak mau mengobati pasien.

Waktu orang-orang ini berteriak-teriak, ia tetap duduk diam. Sambil terus minum.

Tio-lotoa akhirnya melempar cambuknya, menghantam botol arak dan cawan, sambil berteriak, “Berhenti menunda-nunda. Karena kami telah menemukanmu, kau harus ikut kami pulang dan mengobati pasien. Jika Losi (saudara ke 4) kami sembuh, aku jamin kau akan bisa minum berbotol-botol arak.” Bwe-jisiansing itu hanya menatap cawan arak yang sudah pecah, menarik nafas panjang, lalu berkata, “Kau sudah tahu perangaiku. Kau pun pasti tahu, aku takkan pernah menyembuhkan tiga macam orang.”

“Tiga macam orang seperti apa?”

“Yang pertama, aku tidak akan menyembuhkan orang yang tidak bayar di muka. Jika kurang sepeser saja, tak akan kusembuhkan dia.”

Salah seorang dari mereka menjawab, “Kami telah memberimu banyak uang!”

Bwe-jisiansing meneruskan, “Yang kedua, aku takkan merawat orang yang bersikap kasar padaku. Yang ketiga, aku tak akan pernah merawat penjahat, pencuri, dan pembunuh.”

Ia menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya, “Kau telah melanggar dua aturan terakhir. Kalian masih berharap aku mau menyembuhkannya? Silakan mimpi saja.”

Orang-orang itu menyahut, “Jika kau tidak menyembuhkannya, kami akan membunuhmu.”

“Sekalipun kalian membunuhku, aku tak akan menyembuhkannya!”

Orang yang bopengan itu maju dan menamparnya, sehingga tubuh si tabib terpelanting. Darah keluar dari mulutnya. Tadinya Li Sun-Hoan berpikir, tabib ini pura-pura saja tak tahu ilmu silat. Sekarang ia baru sadar, bahwa tabib ini hanya mulutnya keras, tapi tubuhnya tidak.

Tio-lotoa menghunus pisaunya, dan berkata, “Kalau kau berkata ‘tidak’ setengah kali saja, akan kupotong sebelah tanganmu sebelum kau sempat menyelesaikan perkataanmu.”

Bwe-jisiansing menyahut, “Kalau aku bilang tidak ya tidak. Kenapa aku harus takut dengan penjahat kelas teri macam kalian?”

Tio-lotoa sudah akan maju, tapi Sang Kusir tiba-tiba menggebrak meja, dan berkata lantang, “Ini adalah tempat minum arak. Jika kalian tidak mau minum, cepat menyingkir!”

Suaranya seperti geledek, Tio-lotoa pun merasa jeri. “Siapa kau? Berani-beraninya ikut campur?”

Li Sun-Hoan tersenyum, katanya, “Hanya menyuruh mereka pergi, kurang menarik. Suruhlah mereka merangkak ke luar.”

“Siauya menyuruh kalian merangkak ke luar. Dengar tidak?”

Tio-lotoa melihat orang ini sakit dan sangat lemah, juga sangat mabuk. Ia jadi tidak takut lagi, katanya, “Karena kalian berdua sangat berani, mari kurobek perutmu.”

Goloknya berkilauan, menyabet ke arah Li Sun-Hoan. Sang Kusir menyorongkan tangannya ke depan, berusaha menghalangi sabetan golok. Namun karena ia sangat mabuk, kelihatannya ia malah berusaha menangkap golok itu dengan tangannya.

Si pemilik warung sungguh kuatir karena pastilah lengan orang itu akan putus kena golok. Siapa sangka, lengan itu masih tetap utuh, malahan golok itulah yang mencelat ke atas. Tio-lotoa terkejut luar biasa, pikirnya, “Ilmu silat orang itu membuatnya kebal senjata. Apakah dia ini hantu?”

Orang bopengan itu juga menjadi takut sekali, tapi dipaksakannya untuk tertawa sambil berkata, “Bolehkah kutahu namamu, sobat? Kalau tidak bertempur, mana bisa jadi kawan. Marilah kita berkawan saja.”

Sang Kusir menjawab dingin, “Kau tak pantas jadi temanku. Sana keluar!”

Tio-lotoa melompat ke depan, sambil berkata, “Kau tak perlu bersikap kasar. Tidak baik bermusuhan dengan kami, kalau….”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, si bopengan membisikkan sesuatu kepadanya. Matanya melirik ke arah pisau di tangan Li Sun-Hoan.

Wajah Tio-lotoa memucat seperti kertas, katanya pelan, “Tidak, tidak mungkin dia.”

“Siapa lagi? Aku dengar setengah bulan yang lalu dari Si Kura-kura Tua bahwa ia telah kembali dari perbatasan. Si Kura-kura Tua mengenalnya sejak dulu. Tidak mungkin ia salah.”

Kata Tio-lotoa, “Tapi, pemabuk ini….”

“Orang ini sangat menyukai makanan, arak, wanita, juga judi. Kesehatannya juga tidak pernah baik. Namun pisaunya….”

Waktu berbicara tentang pisau, suaranya bergetar. “Tidak usahlah kita bermusuhan dengan orang macam dia.”

Tio-lotoa tertawa, “Jika aku tahu dia ada di sini, walaupun orang mengancamku dengan pisau, aku takkan mau datang ke sini.”

Ia terbatuk dua kali dan membungkukkan tubuhnya sambil tertawa. “Aku yang kecil ini punya mata, tapi tidak bisa melihat, sehingga tidak mengenali engkau, Tuan.
Bahkan aku sudah mengganggu ketenanganmu minum arak. Aku yang kecil ini pantas mati. Kini aku hendak pamit saja.”

Tidak jelas apakah Li Sun-Hoan mendengar kata-kata ini atau tidak. Ia terus minum dan terus terbatuk-batuk, seperti tidak ada sesuatu pun yang terjadi.

Orang-orang ini datang bagai harimau, kini mereka pergi bagai anjing. Baru sekarang Bwe-jisiansing bangkit, namun ia tidak berusaha berterima kasih pada Li Sun- Hoan. Ia malah berdiri di atas kursinya sambil berteriak- teriak, “Arak! Beri aku arak!” Para pelayan jadi bingung. Tak bisa dipercaya orang ini baru saja dipukuli.

Pelanggan yang lain sudah pergi semuanya. Yang tinggal hanya ketiga orang ini. Ketiganya terus minum, tak berbicara sepatah katapun.

Li Sun-Hoan melongok ke luar jendela, dan tiba-tiba tersenyum. “Arak memang sangat aneh. Kalau kau ingin terus sadar, kau akan mabuk lebih cepat. Kalau kau ingin cepat mabuk, kau malah tidak mabuk-mabuk.”

Bwe-jisiansing juga terkekeh, “Mabuk dapat menyelesaikan banyak persoalan. Yang paling baik adalah mabuk sampai mati. Tapi sayangnya, Langit tak akan membiarkan seseorang mati semudah itu.”

Alis Sang Kusir terangkat, melihat Bwe-jisiansing berjalan terhuyung-huyung ke arah mereka. Ia menatap Li Sun- Hoan dan bertanya, “Tahukah kau berapa lama lagi kau akan hidup?”

“Tidak lama.”

“Jika kau tahu hidupmu tidak lama lagi, mengapa tak kau bereskan urusanmu sebelum mati, malahan datang ke sini untuk minum?”

Sahut Li Sun-Hoan, “Mengapa urusan-urusan sepele, macam hidup dan mati, harus mengganggu acara minumku?” Bwe-jisiansing bertepuk tangan, tertawa. “Betul. Betul. Hidup dan mati adalah urusan sepele. Sebaliknya, minum arak adalah peristiwa penting. Kata-katamu sungguh sesuai dengan seleraku.”

Tiba-tiba matanya terbuka lebar, katanya, “Kurasa sekarang kau tahu siapa aku, bukan?”

Jawab Li Sun-Hoan, “Belum.”

“Kau sungguh tidak tahu siapa aku?”

Sang Kusir memotong kasar. “Kalau dia bilang tidak tahu, ya tidak tahu. Kenapa harus diulang-ulang?”

Bwe-jisiansing menatap Li Sun-Hoan, lalu berkata, “Ternyata kau tidak menyelamatkanku untuk menyembuhkanmu.”

Li Sun-Hoan tertawa. “Jika kau ingin minum arak, kita bisa minum bersama. Jika kau datang untuk menyembuhkanku, kusarankan kau pergi saja. Jangan membuang-buang waktu minumku.”

Bwe-jisiansing terus memandang Li Sun-Hoan sampai cukup lama. Katanya kemudian, “Beruntung sekali.
Sangat beruntung. Kau tahu, kau sangat beruntung bertemu dengan aku.”

Kata Li Sun-Hoan, “Aku tidak punya uang. Aku juga tidak jauh berbeda dari perampok dan pencuri. Kau boleh pergi.” Siapa sangka, Bwe-jisiansing malah menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Tidak tidak tidak. Tidak meyembuhkan orang lain, tidak jadi soal. Tapi jikalau kau menolak aku menyembuhkanmu, kau harus membunuhku.”

Mata Sang Kusir berbinar-binar. “Kau sungguh dapat menyembuhkannya?”

Jawab Bwe-jisiansing, “Selain Bwe-jisiansing, tidak ada seorang pun di dunia yang dapat menyembuhkannya.”

Sang Kusir berdiri, dirapikannya kemejanya, sambil bertanya, “Tahukah kau apa penyakitnya?”

Sahut Bwe-jisiansing, “Kalau aku tidak tahu, siapa yang bisa tahu? Kau pikir Saudara Keenamku, Hoa Hong, sanggup meramu ‘Han-keh-san (Bubuk Ayam Dingin)’?”

“Han-keh-san (Bubuk Ayam Dingin)? Racun itu Han-keh- san (Bubuk Ayam Dingin)?”

Bwe-jisiansing terkekeh. “Selain Han-keh-san (Bubuk Ayam Dingin) milik keluarga Bwe, racun apa yang dapat membunuh Li Sun-Hoan?”

Sang Kusir terkejut sekaligus gembira, “Jadi maksudmu kaulah yang meramu racun Hoa Hong?”

Bwe-jisiansing tertawa terbahak-bahak. “Selain ‘Biau- Liong-tiong (Tabib Sakti)’ Bwe-jisiansing, siapa yang dapat meracik racun sehebat ini? Sepertinya kau bukan orang berpengetahuan. Hal seperti ini saja tidak tahu.” Kini Sang Kusir girang bukan kepalang. “Jadi dialah yang meramu racun itu. Siauya, kau pasti akan selamat.”

Li Sun-Hoan tertawa pahit. “Aku tahu hidup itu sulit, tapi aku baru tahu untuk mati dengan tenang pun sangat sulit.”

Kini mereka sudah ada dalam kereta. Sang Kusir merawat Li Sun-Hoan, tapi ia juga mengawasi Bwe- jisiansing.

Ia masih belum puas. Tanyanya, “Jika kau bisa menyembuhkan keracunannya, mengapa kita harus pergi menemui orang lain?”

Sahut Bwe-jisiansing, “Aku tidak mencari orang ‘lain’. Bwe-toasiansing. Ia kakakku. Rumahnya dekat.”

“Jangan kuatir. Jika aku sudah berkata aku akan menyembuhkan dia, ia tidak akan mati.”

“Mengapa kau perlu bertemu dengan kakakmu?” “Karena dia punya obat penawarnya. Sudah puas?” Kini ia benar-benar diam.
Sebaliknya Bwe-jisiansing lantas bertanya padanya, “Yang kau latih Kim-cong-toh atau Thi-poh-san?”

“Thi-poh-san,” jawab si berewok dengan mendelik. Bwe-jisiansing menggelengkan kepalanya sambil tertawa. “Aku sungguh tak mengira ada orang yang melatih ilmu silat sebodoh ini. Hanya berguna untuk melawan preman jalanan.”

Sang Kusir menjawab dingin, “Ilmu silat yang bodoh lebih baik dari pada tidak tahu silat.”

Bwe-jisiansing sama sekali tidak marah. Ia terus tersenyum. “Yang kudengar, untuk melatih ilmu silat macam ini, kau harus tetap perjaka. Tidakkah pengorbanan semacam itu sedikit terlalu besar?”

“Hmmh.”

Lanjut Bwe-jisiansing lagi, “Yang kudengar, dalam lima puluh tahun terakhir, hanya ada satu orang yang sungguh bodoh yang mau memperlajari ilmu silat ini. Namanya ‘Thi-kah-kim-kiong (si Dada Besi Baja Emas)’, Thi Toan-kah. Namun dua puluh tahun lalu, terjadi sesuatu padanya. Kini tidak ada yang tahu apakah dia sudah mati, atau masih hidup. Mungkin dia belum mati. Mungkin dia masih bisa minum arak.”

Mulut Sang Kusir tertutup rapat. Apa pun yang dikatakan Bwe-jisiansing, ia diam saja.

Bwe-jisiansing memejamkan mata, berusaha memulihkan tenaganya.

Setelah beberapa saat, Sang Kusir balas berkata, “Yang kudengar, ‘Jit-biau-jin (tujuh manusia ajaib)’ tidak peduli akan reputasi mereka. Sepertinya kau tidak demikian.” Jawan Bwe-jisiansing, “Aku mengambil uang orang, lalu menolak untuk menyembuhkannya. Kau pikir itu kurang bejad?”

“Jika kau akhirnya setuju untuk merawat dia, maka kaulah yang akan kehilangan muka. Mengambil uang dan menyembuhkan orang adalah dua hal yang berbeda. Tak ada alasan untuk tidak mengambil uang dari orang-orang macam mereka.”

Bwe-jisiansing menyahut, “Tampaknya kau tak sebodoh yang kukira.”

Sang Kusir berkata lagi, “Orang yang dianggap licik oleh banyak orang, mungkin sebenarnya tidak terlalu licik.
Akan tetapi dari sekian banyak orang yang disangka gagah, berapa banyakkah yang benar-benar gagah?”

Li Sun-Hoan duduk diam sambil tersenyum. Sepertinya ia mengikuti pembicaraan, tapi sepertinya juga pikirannya ada di tempat lain.

Di luar, salju telah memberi warna putih pada segala sesuatu.

Jika seseorang masih dapat bertahan hidup, bukankah itu suatu hal yang baik?

Bayangan seseorang tergambar dalam benak Li Sun- Hoan.

Wanita itu mengenakan pakaian ungu, dan mantel berwarna ungu muda tersampir pada pundaknya. Ia berdiri dengan latar belakang salju putih, dan tampak sangat cantik.

Ia ingat Si Dia sangat menyukai salju. Setiap kali turun salju Si Dia akan menarik tangannya ke luar ke halaman, melemparinya dengan bola salju dan menantangnya untuk mengejar Dia.

Ia ingat, hari dia membawa Liong Siau-hun pulang, juga turun salju. Si Dia sedang duduk di paviliun dalam taman Bwe. Sedang menikmati indahnya salju dan pohon Bwe.

Ia ingat bahwa tiang-tiang paviliun itu merah cerah. Tapi sewaktu Si Dia duduk di antara tiang-tiang itu, warna kedua tiang dan warna seluruh pohon Bwe menjadi pudar.

Ia tidak memperhatikan reaksi Liong Siau-hun saat itu. Namun di kemudian hari, ia bisa membayangkannya. Saat itu, hati Liong Siau-hun pasti sudah hancur berantakan.

Kini, apakah paviliun itu masih sama? Masih seringkah Si Dia duduk di sana, menghitung bunga-bunga Bwe?

Li Sun-Hoan berusaha bangun dan tersenyum pada Bwe- jisiansing. “Ada arak dalam kereta. Mari kita minum.”

Salju, kadang lebat kadang berhenti.

Dengan petunjuk Bwe-jisiansing, kereta berbelok ke jalan kecil, dan sampai pada sebuah jembatan kecil. Kereta itu tak dapat menyeberang. Sang Kusir mendukung Li Sun-Hoan menyeberangi jembatan. Terlihat sebuah gubug kecil di antara pohon- pohon Bwe. Sewaktu mereka mendekat, terdengar suara dari dalam hutan. Seorang laki-laki berpakaian rapi menyuruh dua orang pembantunya menyiramkan air pada pohon yang tertutup salju.

Sang Kusir berbisik, “Inikah Bwe-toasiansing?”

Jawab Bwe-jisiansing, “Selain orang tolol ini, siapakah yang menyiramkan air untuk membersihkan es dan salju dari batang pohon?”

Sang Kusir tak dapat menahan tawa. “Maksudmu dia tidak tahu bahwa dengan menyiramkan air, salju akan tetap menempel dan airnya malah akan jadi es?”

Bwe-jisiansing tertawa getir, dan mengeluh, “Ia bisa tahu keaslian suatu benda seni sekali tengok. Ia juga bisa meramu dalam sekejap racun yang paling mematikan dan penawar yang paling hebat. Namun ia tidak dapat mengerti hal-hal yang sederhana.”

Selagi mereka bercakap-cakap, Bwe-toasiansing memaLingkan wajahnya dan melihat kedatangan mereka. Wajahnya terkesiap seperti sedang memandang anak-anak nakal. Katanya, “Cepat! Cepat sembunyikan seluruh lukisanku yang berharga. Kalau sampai dilihatnya, akan digadaikannya untuk membeli sebotol arak.” Bwe-jisiansing tersenyum. “Lotoa. Jangan kuatir. Aku sudah minum arak hari ini. Aku datang dengan dua teman….”

Sebelum kalimatnya selesai, Bwe-toasiansing menutup mata dengan kedua tangannya, katanya, “Aku tak ingin melihat teman-temanmu. Semua temanmu adalah orang jahat. Kalau aku melihat seorang saja, aku akan sial tiga tahun.”

Bwe-jisiansing jadi kesal, maka katanya, “Baik. Kau menghina aku. Kau pikir aku tak mungkin punya teman yang baik. Mari Li Tamhoa, kita pergi saja.”

Sang Kusir menjadi gusar, “Mana obat penawarnya? Kita tidak bisa pergi begitu saja!”

Tak disangka, ekspresi wajah Bwe-toasiansing berubah cepat. “Maksudmu dia dari keluarga yang turun-temurun lulus ujian kenegaraan, ayah dan kedua anaknya mendapat gelar Tamhoa, Li Tamhoa yang ITU?’

Bwe-jisiansing menjawab dingin, “Kau tahu Li Tamhoa yang lain?”

Kata Li Sun-Hoan, “Ya. Itulah aku.”

Pandangan Bwe-toasiansing menyelidik dari kepala sampai ke kakinya. Tiba-tiba ia menjabat tangan Li Sun- Hoan dan tertawa senang, “Terkenal selama dua puluh tahun, tak kusangka akhirnya aku dapat bertemu denganmu. Li-heng .” Ia menjadi sangat ramah setelah tahu siapa tamunya.

Kemudian kata Bwe-toasiansing, “Li-tayhiap, maafkanlah kekasaranku tadi. Teman-teman adikku selalu saja menyebalkan. Dua tahun yang lalu ia mengajak dua temannya berkunjung, katanya mereka ini penggemar benda seni. Tapi siapa sangka, setelah kutunjukkan pada mereka dua lukisan yang sangat berharga, mereka menukarnya dengan kertas kosong! Aku sangat marah, sampai-sampai tiga bulan aku tak bisa tidur.”

Li Sun-Hoan pun tertawa. “Bwe-toasiansing, jangan terlalu menyalahkan adikmu. Ketika seorang pemabuk ingin minum arak tapi tidak punya uang, perasaannya pun sangat kacau.”

Bwe-toasiansing tersenyum sambil berkata, “Sepertinya Li-heng juga mempunyai kebiasaan yang sama.”

Li Sun-Hoan ikut tersenyum. “Minum arak dapat membuat seseorang terbang ke awan.”

Kata Bwe-toasiansing, “Bagus. Ki-ho, sudah cukup kau bersihkan pohon itu. Pergi dan ambilkan arak Tiok-yap- jing berusia 20 tahun itu. Aku ingin Li-heng mencicipinya. Aku telah menyimpan arak ini bertahun- tahun untuk disuguhkan pada tamu yang hebat, seperti Li-heng ini.”

Kata Bwe-jisiansing, “Memang betul. Kalau tamu biasa yang datang, cuka saja tidak disuguhkannya. Akan tetapi, Li-heng datang bukan untuk minum arak.” Bwe-toasiansing memandang sekilas pada Li Sun-Hoan, katanya, “Racun itu masalah kecil. Li-heng jangan kuatir, dan mari minum. Aku tahu bagaimana caranya mengurus hal-hal kecil itu.”

Setelah minum tiga cawan, Bwe-toasiansing tiba-tiba bertanya, “Katanya, lukisan yang sangat langka Pemandangan Waktu Berziarah (Cing Ming Da He Tu) ada dalam kediamanmu. Apakah itu benar?”

Kini Li Sun-Hoan tahu mengapa ia sangat ramah menyambut mereka. “Betul.”

Bwe-toasiansing girang luar biasa. “Dapatkah kau bawa ke sini kapan-kapan supaya aku dapat melihatnya?”

Jawab Li Sun-Hoan, “Jika Bwe-toasiansing sungguh- sungguh ingin melihatnya, aku tak dapat menolak. Tapi sungguh sayang, aku telah memberikan lukisan itu, dan seluruh milikku, pada orang lain.”

Bwe-toasiansing melongo memandangnya, seperti kepalanya dipentung orang. Ia terus bergumam, “Sayang… sungguh sayang….”

Lalu katanya, “Ki-ho, bereskan arak ini. Li Tamhoa sudah selesai minum.”

Kata Bwe-jisiansing, “Jadi tanpa Pemandangan Waktu Berziarah (Cing Ming Da He Tu), tidak ada arak?”

Jawab Bwe-toasiansing dingin, “Arakku bukan untuk diminum sembarang orang.” Li Sun-Hoan tidak merasa marah, bahkan ia tersenyum. Ia merasa orang ini labil, sangat lugu, tapi paling tidak ia lebih baik daripada para orang gagah yang palsu.

Namun Sang Kusir tak bisa menahan kekuatirannya, dan ia berkata keras, “Tanpa Pemandangan Waktu Berziarah (Cing Ming Da He Tu), tidak ada obat penawar juga?”

Sahut Bwe-toasiansing, “Jika tidak ada arak, dari mana datangnya obat penawar?”

Sang kusir menjadi berang dan siap menyerang.

Namun Li Sun-Hoan menahannya, katanya, “Bwe- toasiansing tidak mengenal kita. Ia tidak berkewajiban memberikan obat penawar itu. Kita telah berhutang padanya beberapa cawan arak yang lezat. Mengapa kau ingin bertindak kasar?”

“Tapi Siauya, kau… kau…”

Li Sun-Hoan mengibaskan tangannya dan tersenyum. “Kurasa kita harus pamit.”

Tiba-tiba Bwe-toasiansing bertanya, “Kau sungguh tidak mau obat penawarnya?”

Jawab Li Sun-Hoan, “Kita mempunyai kepentingan masing-masing. Aku tidak suka memaksa orang.”

Kata Bwe-toasiansing, “Tahukah kau, bahwa tanpa obat penawar itu kau akan segera mati?” “Hidup dan mati ditentukan oleh Langit. Aku sendiri tidak peduli.”

Bwe-toasiansing menatapnya lekat-lekat, katanya perlahan, “Betul. Betul. Jika seseorang bisa menghadiahkan Pemandangan Waktu Berziarah (Cing Ming Da He Tu) pada orang lain, mengapa dia harus mempedulikan nyawanya? Orang seperti ini sangat langka, sangat sangat langka….”

Lalu ia berteriak, “Ki-ho, keluarkan lagi araknya.”

Sang Kusir seketika timbul harapannya. “Bagaimana dengan obat penawarnya?”

Bwe-toasiansing memandangnya sekejap, lalu katanya dingin, “Sekarang sudah ada arak, kau kuatir tidak ada obat penawar?”
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 06 : Penyelamat di Kampung Halaman Si Pemabuk"

Post a Comment

close