Rahasia Mokau Kauwcu Jilid 17

Mode Malam
 
Jilid-17

Pintu terpentang lebar.

Orang itu terus maju membuka daun pintu lebih lebar, terus menyingkir ke samping, katanya: "Silahkan masuk."

Tapi Yap Kay tidak masuk.

"Kau tidak mau masuk?" tanya orang itu. "Kenapa aku harus masuk?" "Ada orang menunggumu di dalam." "Siapa?"

"Setelah kau masuk, kau akan melihatnya sendiri." "Aku tidak mau masuk." ujar Yap Kay.

"Yang ditunggu adalah kau, bukan aku lho!"

Suaranya kedengaran aneh, mukanya ditutupi kain sewarna pakaian yang dipakainya.

Yap Kay menatapnya, tiba-tiba dia tertawa, katanya:  "Kau tahu, bahwa aku mengenalmu, kenapa kau justru main kucing-kucingan?

Kelihatannya orang itu terkejut, teriaknya tertahan: "Kau. kau mengenali aku?"

"Kalau aku tidak mengenalmu, bukan saja aku ini orang picak, mungkin orang linglung!"

"Kenapa?" tanya orang itu. "Kau tidak tahu?"

Makin lirih suara orang itu: "Apakah dalam hatimu sudah ada diriku?"

Yap Kay tidak menjawab. Mimik sorot matanya mendadak berubah aneh. Perduli apa maksud dari mimiknya ini, paling tidak menyangkal akan kebenaran ini.

Akhirnya orang itu angkat kepala serta menanggalkan kedoknya. Sinar bintang seketika meningkah roman mukanya. Di alam setenang itu, di bawah sinar bintang- bintang yang guram, wajahnya kelihatan secerah dan secantik kembang Bwe yang sedang mekar, laksana bidadari dari kahyangan.

Terutama sorot matanya lebih jeli dan elok, namun seperti menampilkan rasa duka lara, muram dan rawan yang tak bisa dilimpahkan.

Dengan nanar dia menatap Yap Kay, katanya pelan: "Memang aku harus tahu, kau pasti bisa mengenaliku, karena umpama kau menjadi abu, akupun tetap bisa mengenalimu."

Suaranya ternyata lebih merdu, semerdu kicauan burung di musim semi, laksana bunyi hembusan angin lalu yang meniup padang ilalang. Mata nan indah jeli, suara nan merdu mempesonakan, siapa lagi kecuali Siangkwan Siau-sian?

Yap Kay tengah menatapnya, katanya: "Tapi kau justru mengharap aku tidak mengenalimu?"

Siangkwan Siau-sian manggut-manggut. "Kenapa?" tanya Yap Kay.

Siangkwan Siau-sian ragu-ragu, katanya kemudian: "Masuklah dulu, kau akan tahu apa sebabnya."

"Kau tidak mau masuk?"

"Aku boleh menunggumu di luar." "Kenapa harus menunggu di luar?"

"Karena setelah aku masuk, pasti kau mengharap aku menunggu di luar."

Bukan saja tawanya pilu dan sedu, malah rada misterius juga. Memang Siangkwan Siau-sian adalah gais misterius, selalu dia melakukan sesuatu yang tak pernah terpikir oleh orang lain.

Yap Kay tidak bertanya pula, karena dia cukup memahaminya, sesuatu yang tidak mau dia jelaskan, siapapun takkan bisa memaksa dia menerangkan.

Daun pintu terbuka lebar, hembusan angin berkeriyat- keriyut. Akhirnya dengan langkah pelan-pelan Yap Kay melangkah ke dalam kegelapan. Kalau di luar ada sinar bintang, sebaliknya di dalam rumah lebih gelap pekat. Apapun tak terlihat oleh Yap Kay, sampaipun ke lima jarinya sendiri yang dia dekatkan di depan mata. Namun, kupingnya menangkap dengus pernapasan orang yang lirih sekali. Kiranya memang di dalam rumah ada orang.

"Siapa?"

Tiada reaksi tak ada jawaban. Malah dengus napas lirih itu seakan-akan berhenti.

Kalau orang itu menunggu Yap Kay di dalam rumah, kenapa tidak mau menjawab pertanyaannya? Apakah ini muslihat Siangkwan Siau-sian, ataukah di tempat ini ada perangkap pula? Kalau tidak, waktu orang membawa Yap Kay kemari, kenapa dia tidak menunjukkan muka aslinya? Kenapa menyaru orang lain?

Kalau orang lain mungkin sudah mengundurkan diri, tapi Yap Kay tidak, karena dalam hatinya tiba-tiba dilempar suatu perasaan aneh yang dia sendiripun tidak bisa menjelaskan. 'Blang' hembusan angin kencang menyebabkan daun pintu berdentam menutup, kini ingin keluarpun dia tidak bisa lagi. Sudah tentu keadaan dalam rumah menjadi lebih gelap lagi, namun dengus napas itu kembali terdengar jelas. Tadi dengus napas ini terdengar di sebelah depan, kini berganti tempat di pojok rumah.

Kenapa dia main mundur dan sembunyi atau menyingkir?

Apakah karena dia merasa takut?

Yap Kay telah menabahkan diri, katanya: "Perduli kau siapa, bahwa kau sudah menungguku di sini, tentunya kau sudah tahu siapa aku ini?"

Hening lelap, tetap tiada jawaban.

"Aku bukan manusia jahat yang kejam, oleh karena itu kau boleh tidak usah takut terhadapku."

Sembari bicara kakinya melangkah maju, langkahnya amat pelan.

Sekonyong-konyong sejalur angin dingin menyampuk datang ke arah mukanya. Matanya seakan-akan tertutup rapat oleh kain tebal karena saking gelapnya, namun dia tetap bisa merasakan. Hanya samberan angin golok baru terasa begini dingin. Tapi diapun tidak melihat adanya samberan golok.

Golok yang tidak kelihatan, justru merupakan golok mematikan bagi jiwa manusia.

Siapakah dia? Kenapa mau membunuh dirinya?

Deru angin golok ini bukan saja dingin, juga kencang.

Sebat sekali Yap Kay berkelit, mendadak secepat kilat tangannya bergerak mencengkeram pergelangan tangan orang. Tangan yang dingin. Sudah tentu diapun tidak melihat tangan itu, namun diapun bisa merasakannya, maka sekali sambar dia bisa menangkapnya.

Bagi seorang tokoh kosen yang tulen, memang dilandasi suatu nalar atau perasaan aneh yang sukar dijelaskan, mirip juga dengan reaksi binatang di saat dia menghadapi mara bahaya secara mendadak.

Tangan orang itu terasa gemetar, namun dia tetap tidak mau bersuara.

Tiba-tiba tangan Yap Kay ikut gemetar juga, karena lapat-lapat dia sudah merasakan siapakah orang yang tangannya dia pegang, sekaligus dia sudah mencium dengus dan bau badan orang.

Setiap manusia mempunyai bau badannya sendiri yang khas, demikian pula bau badan orang yang satu ini, selama hidupnya takkan pernah dia lupakan. Matipun tidak akan dia lupakan.

Sekonyong-konyong orang itu meronta sekuat-kuatnya melepaskan diri terus menyurut mundur ke pojok dinding pula.

Kali ini Yap Kay tidak memburunya, sebetulnya sekujur badan tengah bergetar seakan-akan badannya mengejang kaku seperti kayu. Sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa orang ini berada di sini, tak terpikir pula olehnya bahwa dia bakal membunuhnya. Keringat dingin sudah bercucuran dari atas jidatnya.

"Aku adalah Siau Yap", sedapat mungkin dia menguasai emosinya, "apakah kau tidak mengenal suaraku?" Tetap tiada jawaban. Suara pernapasan semakin memburu, seolah-olah dia mulai ketakutan.

Yap Kay kertak gigi, bukan melangkah ke depan, dia malah menyurut mundur ke arah pintu. Tiba-tiba dia putar badan serta menarik daun pintu sekuatnya. Ternyata sekali tarik, pintu lantas terbuka. Waktu dia menerjang keluar, Siangkwan Siau-sian ternyata masih menunggunya di pekarangan.

Melihat mimik mukanya, sorot matanya menampilkan rasa kasihan dan prihatin. Lekas dia menyongsong maju seraya bertanya: "Kau sudah tahu siapa yang ada di dalam rumah?"

Yap Kay manggut-manggut. Kedua tangannya terkepal kencang, katanya: "Kenapa tidak kau sulut pelita?"

"Aku kan tidak berada di dalam rumah." "Kau bawa ketikan api?"

"Ada"

"Kenapa tidak kau berikan kepadaku sejak tadi?" Siangkwan Siau-sian tidak menjawab tegurannya, diam-

diam dia angsurkan batu ketikan api kepada Yap Kay.

Yap kay segera berlari masuk pula, batu ketikan api segera dia kerjakan.

Seseorang berdiri melongo di pojok kamar sana. Dia bukan lain adalah Ting Hun-pin.

Akhirnya Yap Kay berhasil melihatnya, akhirnya menemukan dia di sini. Tiada orang yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan hatinya saat itu dengan kata-kata, orangpun takkan pernah membayangkan. Tapi tiba-tiba Ting Hun-pin berjingkrak dan berteriak- teriak seperti orang gila, terus membelakangi cahaya api di tangan Yap Kay: "Api......api. "

Setelah melihat api, mendadak dia berubah laksana binatang liar yang terluka dan ketakutan. Sekujur badannya gemetar keras mengkeret. Saking takutnya sampai wajahnya yang cantik molek itu kini berubah bentuk dan pucat berkeringat. Mulutnya tak henti-hentinya berteriak: "Api.......kebakaran. "

Dia sudah melihat api, namun tidak melihat Yap Kay, seakan-akan dia memang sudah tidak kenal Yap Kay lagi.

Api segera padam, kamar kembali menjadi gelap.

Hati Yap Kay pun seketika terselubung di dalam kegelapan nan tak berujung pangkal.

Entah berapa lama kemudian, secara diam-diam dia mengundurkan diri pula. Tanpa bersuara dia kembalikan ketikan api itu kepada Siangkwan Siau-sian.

Siangkwan Siau-sian tertawa getir, katanya: "Apakah sekarang kau sudah mengerti, kenapa tadi aku tidak memberi ketikan api ini kepadamu?"

Yap Kay diam.

"Dia lari keluar dari kobaran api besar itu. Terlalu besar pukulan batin yang menimpa dirinya, namun.....sungguh aku tidak habis pikir, sampai kaupun dia sudah tidak kenal lagi."

Lama Yap Kay diam, akhirnya dia bertanya: "Dimana kau bisa menemukan dia?"

"Di tempat ini juga." "Kapan kau temukan dia?"

"Begitu lolos dari kobaran api, kukira dia langsung lari kemari, tapi baru malam tadi aku menemukan dia." ujar Siangkwan Siau-sian menunduk, "aku tahu melihat keadaannya pasti hatimu amat sedih, tapi tidak bisa tidak aku harus membawamu kemari."

"Kau. "

"Semula aku tidak ingin kau tahu, bahwa akulah yang membawamu kemari, karena......karena. "

"Karena apa?"

"Akupun tidak tahu kenapa, mungkin karena aku tidak suka kau merasa haru, terima kasih karena hal ini, atau mungkin karena aku takut."

"Takut? Takut apa?"

Semakin sedih sikap Siangkwan Siau-sian.

"Dia berubah begitu rupa, sedikit banyak akupun punya tanggung jawab, aku takut kau membenciku, membenciku........ aku lebih takut setelah kau melihatnya, selanjutnya tidak akan menghiraukan aku lagi."

"Tapi kau toh membawaku kemari."

"Oleh karena itulah aku sendiripun tidak tahu, apakah sebetulnya yang kulakukan?"

Di bawah pancaran sinar bintang-bintang, tampak pipinya sudah basah oleh air mata. Siapapun akan dapat merasakan betapa kontras dan derita hatinya. Yap Kay malah seperti tidak melihat, mendadak dia melangkah ke tengah pekarangan, beruntun dia lompat bersalto tiga kali, lalu berdiri tegak laksana tombak, menghirup napas panjang serta membetulkan pakaiannya.

Salju yang bertumpuk di tanah belum cair, entah siapa yang memetik sekuntum kembang Bwe, jatuh di atas tumpukan salju. Yap Kay memungutnya serta menancapkan di atas bajunya, lalu dia beranjak kembali.

Mendadak dia tertawa kepada Siangkwan Siau-sian, katanya: "Coba terka, apa yang sekarang akan kulakukan?"

Siangkwan Siau-sian mengawasinya sambil melongo kaget. "Aku ingin cari tempat untuk tidur." ujar Yap Kay

tertawa.

"Sekarang kau masih ingin tidur?" tanya Siangkwan Siau- sian semakin terkejut.

Yap Kay manggut-manggut, katanya: "Besok siang masih ada urusan, aku harus memelihara kesehatan, memulihkan tenaga dan semangatku."

"Kau. masih bisa tidur?"

"Kenapa aku tidak bisa tidur?" "Tapi Ting Hun-pin. ?"

"Apapun yang terjadi, sekarang aku sudah menemukan dia. Soal lain boleh diselesaikan belakangan saja."

"Dia begitu rupa, kau tega meninggalkannya?"

"Ada Kim-ci-pang Pangcu yang melindunginya di sini, apa pula yang tidak kulegakan?" Siangkwan Siau-sian mengawasinya, seolah-olah belum pernah dia melihat laki-laki macam ini.

Memang jarang ada orang berwatak begini. Siapapun menghadapi persoalan ini, hatinya pasti berduka dan kuatir, tapi dia cukup jumpalitan tiga kali, mendadak segala kekuatiran, kerisauan hatinya lenyap tak berbekas lagi.

Siangkwan Siau-sian menghela napas, katanya: "Agaknya walau ada kerisauan hati sebesar gunung, akupun tetap bisa melemparkannya dalam waktu sekejap."

"Memang tiada sesuatu persoalan dalam dunia ini yang perlu dirisaukan."

"Kau memang orang yang punya rejeki." Yap Kay tidak menyangkal.

"Besok siang, kau ada urusan apa yang perlu diselesaikan?"

"Aku punya janji." "Janji apa?"

"Hu-hong dan Tolka sudah berjanji besok akan bertemu di Wan-ping-bun."

"Itukan janji mereka, kau. "

"Sekarang Tolka sudah mampus," tukas Yap Kay, "maka janji ini menjadi aku yang menepatinya."

"Kau ingin gunakan kesempatan ini untuk menemukan Hu- hong?"

Yap Kay manggut-manggut seraya mengiyakan. "Besok tengah hari, entah berapa banyak orang yang keluar masuk di Wan-ping-bun, darimana kau bisa tahu siapa Hu-hong sebenarnya?"

"Tentu aku punya akal untuk menemukan dia." "Akal apa?"

"Sekarang aku sendiri belum tahu, tapi tiba saatnya aku pasti bisa menemukan akalku." Yap Kay tersenyum lalu menambahkan, "memangnya tiada sesuatu persoalan dalam dunia ini yang tak bisa diselesaikan, benar tidak?"

Siangkwan Siau-sian mandah tertawa getir.

Sudah tentu banyak tempat di dalam Leng-hiang-wan ini untuk tidur. Yap Kay ternyata benar-benar melaksanakan kata-katanya, bilang tidur, dia tetap pergi tidur.

Mengawasi orang beranjak pergi, tiba-tiba Siangkwan Siau-sian berseru lantang: "Kau sendiri tidur, masakah aku harus wakili kau melindungi dia di sini."

Tak tertahan Siangkwan Siau-sian menghela napas pula, ujarnya seorang diri: "Baru sekarang aku tahu kenapa dia selamanya tidak pernah risau, karena selalu bisa memberikan kerisauan hatinya kepada orang lain."

Memang itulah kemahiran Yap Kay yang tidak dipunyai orang lain. Jikalau dia tidak punya kemahiran ini, mungkin sekarang dia sudah menumbukkan kepalanya ke dinding dan mampuslah jiwanya dengan kepala pecah.

ooo)dw(ooo Tanggal 3. Hari masih pagi.

Dengan langkah lebar Yap Kay memasuki pekarangan. Baju yang dipakainya masih kumal, kotor dan berbau apek. Sedikitnya sudah beberapa hari tidak ganti pakaian dan tidak dicuci.

Rambutnya awut-awutan, kembang Bwe yang dia cantelkan di atas bajunyapun sudah layu.

Urusan yang dia hadapi belakangan ini jikalau orang lain yang mengalami pasti takkan hidup lagi.

Akan tetapi waktu dia melangkah ke dalam pekarangan, kelihatan air mukanya cerah, bersemangat dan semu merah, gairahnya berkobar, seperti orang yang baru saja mendapat anugerah dan pangkat. Tak akan ada orang yang bisa dibanding sikapnya seperti dia sekarang.

Siangkwan Siau-sian tengah bersandar di jendela, mengawasi kedatangan orang. Mimik mukanya seperti geli, ingin tertawa atau ingin menangis.

Yap Kay langsung mendekati dengan langkah lebar, sapanya dengan senyum simpul: "Selamat pagi."

Siangkwan Siau-sian gigit bibir, katanya: "Sekarang sudah tidak pagi lagi."

"Walau tidak pagi, namun masih belum terlambat." "Agaknya kau bisa tidur dengan nyenyak."

"Wah! Seperti mayat saja dengkurku."

"Sungguh aku tidak habis pikir, kau benar-benar bisa tidur pulas."

"Jikalau aku ingin tidur, umpama langit ambrukpun aku tetap bisa tidur dengan nyenyak." Ting Hun-pin juga sedang tidur. Diapun tidur nyenyak sekali, tangannya masih menggenggam golok.

"Kapan dia tidur?" tanya Yap Kay. "Setelah terang tanah baru dia tidur."

Di atas meja ada sebuah mangkok kuah yang sudah kosong.

"Agaknya barusan dia sudah makan sesuatu makanan." "Sudah makan semangkok penuh mie ayam. Setelah

kenyang baru dia tidur." ujar Siangkwan Siau-sian, lalu dengan tertawa meringis dia menyambung, "untunglah akhirnya dia mau tidur, kalau tidak aku tidak bisa masuk ke pintu ini."

"Kenapa?"

"Siapapun yang melangkah masuk, goloknya itu lantas menyerang hendak membunuh orang."

"Apapun yang terjadi atas dirinya, setelah dia mau makan, bisa tidur lagi, melegakan juga."

"Sayang sekali aku sendiri malah tidak doyan makan, tidurpun tidak terpejam mataku, sungguh aku tidak beruntung seperti kalian."

Biji mata Siangkwan Siau-sian berputar, tiba-tiba dia bertanya: "Kau sudah memikirkan caranya belum?"

"Belum! Aku lagi mulai memikir." "Kapan kau baru akan memikirkannya?"

"Setelah tiba di pintu kota, baru akan kupikir." "Agaknya sedikitpun kau tidak merasa gugup?"

"Setelah perahu sampai di dermaga, akan berhenti juga.

Kata-kata ini selalu kupercayai." "Sekarang apa yang ingin kau lakukan?" "Ingin makan semangkok mie ayam."

ooo)dw(ooo

Cuaca cerah, mentari memancarkan sinarnya semarak merah bercahaya.

Dengan langkah lebar Yap Kay keluar dari Leng-hiang- wan. Kelihatan semangatnya menyala, tekadnya bergairah, tenaganya penuh, karena semangkok besar mie ayam telah masuk ke perutnya. Dia gegares habis semangkok mie itu di dalam Leng-hiang-wan.

Hari ini pagi-pagi benar Siangkwan Siau-sian sudah suruhan koki bekerja di dapur memasakkan apa saja yang diminta.

Ada uang setanpun bisa diperintah. Kerja apapun yang dilakukan Kim-ci-pang, selalu pasti lebih cepat dari kerja orang lain. Demikian pula rasa mie ayam berkaldu itu, rasanya jauh lebih lezat dan enak daripada mie ayam yang pernah dimakan Yap Kay selama hidupnya.

Bukan lantaran perutnya sudah keroncongan, yang benar karena koki yang memasak mie ayam itu ternyata dia koki asal dari rumah makan Wa-goan-koan di Hang-ciu yang sengaja didatangkan oleh Siangkwan Siau-sian, Perduli tukang kerja apapun di dalam Kim-ci-pang selalu orang-orang pilihan yang paling top dan kelas wahid. Untuk ini pihak Kim-ci-pang tidak perlu mengagulkan diri.

Setelah menghabiskan semangkok mie ayam kaldu itu, hati Yap Kay malah kurang enak. Semakin dipikir semakin bingung dan tidak habis mengerti, betapa besar kekuatan Kim-ci-pang sebetulnya. Hal ini sulit dia bayangkan dan dia pikirkan.

Setelah berputar kayun dari jalan satu ke jalan lain, akhirnya Yap Kay tiba di Thay-ping-pui yang ramai. Yap Kay merogoh kantong menghabiskan tiga puluh ketip untuk membeli sebungkus besar kacang kulit, dan kembali dia habiskan lima puluh ketip untuk membeli dua batang joran panjang.

Dia sudah belajar dan terbiasa, di saat hatinya tegang, dia menguliti kacang untuk menekan perasaannya. Kalau tangan punya kerja, betapapun pikiran dan perhatian seseorang selalu mengendor.

Tapi untuk apa dia membeli joran? Mau mancing?

ooo)dw(ooo Wan-ping-bun terletak di selatan kota.

Setelah melewati Hong-pau-pui dan Thay-hian-pui, maju tak jauh lagi akan tiba di Wan-ping-bun. Setelah hari menjelang lohor, entah ada berapa banyak orang yang mondar-mandir keluar masuk lewat Wan-ping-bun.

Kenyataan apa yang pernah didengarnya memang tidak akan salah. Di ujung jalan raya Thay-hian-pui selayang mata memandang luar dalam kota, manusia berjubel-jubel lalu lalang simpang siur, berbagai macam manusia ada.

Kau tetap tidak akan bisa membedakan siapa sebenarnya Hu-hong itu.

Yap Kay juga tidak akan bisa membedakan.

Sebelum bekerja dia masuk ke warung teh dulu menghabiskan dua poci air teh. Kepada pelayan dia minta seutas tali, lalu minta pula selembar kertas merah. Lalu pinjam alat tulis di meja kasir warung teh itu. Di atas kertas merah itu dia menulis delapan huruf-huruf besar yang berbunyi:

'Dijual dengan harga tinggi, barang dijual kepada pembeli yang mengenal kwalitet barang.'

Walau sudah lama Yap Kay tidak pernah menulis, namun ke delapan huruf yang ditulisnya kelihatan indah dan bergaya gagah.

Dengan ke dua batang joran panjang yang dibelinya, Yap Kay membentang kertas merah panjang yang dia tulisi, lalu digantung di atas pintu kota. Beruntun dua kali dia mengawasi hasil karyanya, akhirnya dia manggut-manggut puas.

Tapi barang apakah yang hendak dijual dengan harga tinggi? Apakah dirinya sendiri?

Sudah tentu Yap Kay tidak akan menjual dirinya sendiri.

Sang surya semakin memuncak tinggi ke tengah cakrawala.

Hari sudah hampir tengah hari. Tiba-tiba dari dalam kantong bajunya dia keluarkan sebuah topeng tembaga dengan sekeping lencana batu kemala. Lalu diikatnya bersama pada seutas tali, serta dia gantung di pucuk joran.

Itulah barang-barang peninggalan Tolka.

Topeng tembaga hijau yang menyeringai seram kelihatan kemilau di tingkah sinar matahari, demikian pula lencana batu kemala itu, bening mengkilap, elok menyenangkan.

Semua orang yang masuk ke dalam kota tiada yang tidak mendongak membaca tulisan itu dan melihat ke dua benda aneh itu, namun tiada seorangpun yang maju menanyakan soal jual beli kedua barang antik ini.

Topeng itu memang terlalu menakutkan, tiada orang yang sudi membeli topeng seseram itu untuk di bawa pulang.

Sudah tentu Yap Kay sendiripun tidak perlu tergesa- gesa. Topeng ini hanya umpannya saja, dia ingin mengail seekor ikan besar, ikan besar yang bisa mencaplok manusia.

Tiba-tiba sebuah kereta besar bercat hitam berhenti di sebelah depan. Kereta ini datang dari luar kota. Sebetulnya sudah berlari lewat, maka berhentinya terlalu mendadak.

Seorang laki-laki setengah baya dengan pakaian perlente bermuka putih dengan jenggot pendek menongolkan kepalanya menatap ke atas membaca huruf-huruf itu serta mengawasi topeng dan batu kemala itu. Lekas sekali dia sudah mendorong pintu kereta dan melangkah turun.

Akhirnya ada juga orang yang mau menawar barang- barang yang akan dijual ini. Tapi Yap Kay masih tetap tenang dan bisa menekan sabar. Dengan menggendong ke dua tangannya, laki-laki setengah baya itu maju menghampiri. Sepasang matanya yang jeli, tajam dan bercahaya terus menatap ke atas kertas galah, tiba-tiba dia bertanya: "Apakah mau dijual?"

Yap Kay manggut-manggut sambil menuding huruf-huruf di atas kertas merah itu.

Berkata laki-laki setengah baya tawar: "Lencana ini memang terbuat dari Han-giok, sayang sekali ukirannya kurang halus."

Yap Kay menambahkan, katanya: "Memang, tukang ukirnya kurang ahli, kwalitet batu kemala inipun kurang baik."

Laki-laki itu seketika mengunjuk senyum lebar, katanya: "Kau ini ternyata terlalu jujur di dalam dagang."

"Memang, aku ini orang jujur." ujar Yap Kay. "Entah berapa harganya?"

"Harganya terlalu tinggi." "Harga tinggi berapa?"

"Tiada halangannya kau ajukan dulu tawaranmu." kata Yap Kay.

Dari atas ke bawah, laki-laki ini mengamati Yap Kay beberapa kali, lalu dia berpaling memandang batu kemala di atas joran itu, katanya: "Bagaimana kalau tiga puluh tail?"

Yap Kay tertawa. Laki-laki itu juga tertawa, katanya: "Tawaranku memang sedikit tinggi, namun seorang Kuncu selalu menepati apa yang diucapkan, akupun tidak akan main gorok soal harga."

"Tiga puluh tail saja?"

Laki-laki itu manggut-manggut, "Ya tepat tiga puluh tail." "Barang yang mana yang kau pilih?"

"Sudah tentu batu kemala ini."

"Tapi tiga puluh tail hanya cukup untuk beli jorannya saja."

Seketika lenyap senyuman yang menghias muka laki-laki setengah baya, katanya menarik muka: "Berapa yang kau inginkan?"

"Tiga laksa (puluh ribu) tail."

Hampir berteriak laki-laki setengah baya itu, "Hah, tiga laksa tail?"

"Tepat tiga laksa tail, harga pas tidak boleh kurang."

Dengan melongo kaget laki-laki ini mengawasinya, seperti dia berhadapan dengan orang gila.

Tiba-tiba Yap Kay berkata: "Walau batu kemala ini kurang baik, ukirannya jelek, tapi kalau kau ingin memilikinya, keluarkan dulu tiga laksa tail perak, sesenpun tidak boleh kurang."

Tanpa mengucap sepatah katapun, laki-laki setengah baya melengos terus tinggal pergi dengan uring-uringan.

Yap Kay tertawa lagi. Orang-orang yang berkerumun melihat tontonan inipun ikut tertawa riuh. "Sekeping batu kemala, kok minta tiga laksa tail, memangnya bocah ini sudah gila."

"Harga setinggi itu, memang hanya orang gila yang menjual."

Sementara itu kereta hitam itu sudah melaju ke depan dan belok di pengkolan jalan sana, tak bisa kelihatan lagi.

Karena tiada tontonan yang bisa dilihat, orang-orang yang berkerumun itupun mulai bubar.

Tak kira dari jalan belakang sana tiba-tiba berderap pula langkah kaki kuda yang menyeret kereta, tahu-tahu kereta hitam itu sudah putar balik, datangnya malah lebih cepat dari perginya tadi.

Kusir kereta mengayun cambuknya tinggi-tinggi, seraya membentak-bentak, cepat sekali kereta itu sudah dilarikan datang dan berhenti pula di depan pintu kota.

Laki-laki setengah umur itu mendorong pintu dan melompat turun pula. Mukanya yang putih tampan kini menampilkan mimik yang aneh. Dengan langkah lebar dia menghampiri Yap Kay, katanya: "Tadi kau minta tiga laksa tail perak?"

Yap Kay manggut-manggut.

Tiba-tiba laki-laki tengahan umur merogoh kantong mengeluarkan setumpuk uang kertas. Setelah dihitung, genap tiga puluh lembar terus diangsurkan ke depan Yap Kay.

"Nah, ambillah." Tapi Yap Kay tidak menyambuti, dia malah mengerut kening, tanyanya: "Apakah ini?"

"Inilah uang kertas, hanya bank Toa-hin di kota raja saja yang bisa mengeluarkan uang kertas ini, jumlahnya tepat tiga laksa tail."

"Apakah berani ditanggung uang ini bisa laku?" tanya Yap Kay pura-pura bodoh.

Berkata laki-laki itu dengan suara berat: "Aku orang she Song, toko Cap-po-cay yang menjual barang-barang antik di sebelah barat kota itu adalah milikku, orang-orang di daerah sinipun tidak sedikit yang mengenalku."

Cap-po-cay adalah merk yang terkenal sejak puluhan tahun yang lalu. Song Lopan adalah salah satu hartawan besar yang paling kaya di kota ini. Di antara orang-orang yang berkerumun itu ada yang mengenalnya juga.

Akan tetapi, Song Lopan yang biasanya cerdik dan teliti di dalam berdagang barang-barang antik ini, kenapa sudi merogoh kantong mengeluarkan tiga laksa tail untuk membayar batu kemala sekecil ini. Memangnya diapun sudah gila?

Tapi Yap Kay tetap tidak mau menerima uang itu, tanyanya: "Berapa jumlah uangmu ini?"

"Tentunya tiga laksa tail, inilah lembaran ribuan uang kertas, seluruhnya berjumlah 30 lembar, boleh kau menghitungnya dulu."

"Tak usah dihitung, aku percaya kepadamu." "Nah, bolehkah aku membawa batu kemala ini?" "Tidak boleh!"

Song Lopan tertegun, tanyanya dengan suara meninggi: "Mengapa masih belum boleh?"

"Karena harganya belum cocok."

Muka tampan Song Lopan yang putih berubah menguning, teriaknya tertahan: "Bukankah tadi kau bilang tiga laksa tail?"

"Itu harga tadi." "Dan sekarang?"

"Sekarang harganya adalah 30 laksa tail"

"Hah! 30 laksa tail?" Akhirnya Song Lopan berteriak. Mimik mukanya mirip seekor kucing yang tiba-tiba ekornya diinjak orang.

Orang-orang yang berkerumun di sekelilingnya pun menunjukkan mimik yang sama.

Yap Kay malah tidak menunjukkan perubahan hatinya. Tiba-tiba dia berkata: "Batu kemala ini memang kurang  baik, tukang ukirnyapun bukan ahli, tapi sekarang ini siapapun kalau ingin memilikinya, dia harus bayar 30 laksa tail, sesenpun tidak boleh kurang."

Song Lopan membanting kaki kembali dia melengos terus tinggal pergi, langkahnya tergopoh-gopoh, namun setiba dia di depan kereta langkahnya merandek, mukanya mengunjuk mimik yang aneh seperti tadi. Kelihatannya amat takut.

Apa sih yang dia takuti? Apakah di dalam keretanya itu ada sesuatu yang patut dia takuti? Dan yang paling mengherankan adalah dengan harga tiga laksa tail saja jelas sudah membuatnya pergi dengan marah-marah, kenapa setelah pergi malah putar balik lagi?

Mata Yap Kay bersinar terang, dengan tajam dia menatap ke arah jendela kereta. Sayang sekali keadaan terlalu gelap di dalam kereta. Dari luar yang bercahaya terang oleh sinar matahari, tetapi tetap tidak bisa melihat apa-apa.

Song Lopan sudah siap menarik pintu kereta, tapi entah kenapa, tangan yang sudah dia ulur, tiba-tiba dia tarik kembali. Namun dari dalam kereta seakan-akan ada seseorang, entah mengucapkan perkataan apa, tiada orang yang mendengar apa yang diucapkan orang di dalam kereta. Tapi Song Lopan yang mendengar, seketika berobah pula mimik mukanya, seperti orang yang kena tendang di mukanya.

Siapakah yang berada di dalam kereta? Kenapa dia menyembunyikan diri di dalam kereta tidak mau keluar? Apa pula yang dia katakan kepada Song Lopan? Kenapa setelah mendengar perkataannya, Song Lopan kelihatan begitu takut?

Berkilat biji mata Yap Kay, seolah-olah dia sudah memperoleh jawaban dari teka-teki yang tak terpecahkan selama ini.

Orang yang ingin membeli batu kemala ini sekarang, bukan keinginan Song Lopan sendiri, namun kehendak orang yang sembunyi di dalam kereta itu. Karena dia sendiri tidak mau unjuk muka di hadapan orang banyak, maka dia paksa Song Lopan untuk membelinya. Naga-naganya Song Lopan sudah tunduk dan diancamnya, sehingga terpaksa dia harus membelinya. Dengan cara atau kekerasan apakah yang digunakan  orang itu untuk menekan dan mengancam Song Lopan? Kenapa dia begitu getol untuk memperoleh lencana kemala itu?

Kecuali orang-orang Mo Kau, siapa pula yang sudi mengeluarkan uang setinggi itu untuk membeli batu kemala ini?

Apakah orang ini adalah Hu-hong alias si Puncak Tunggal? ooo)dw(ooo

Sinar surya di musim semi sudah tentu tidak begitu terik, hembusan angin lalu masih terasa dingin.

Tapi Song Lopan justru gemerobyos keringat.

Sekian lamanya dia berdiri melongo dan menjublek di depan pintu kereta, kedua tangannya gemetar keras, mendadak dia menghela napas panjang, kembali dia putar badan.

Mimik mukanya sekarang mirip benar dengan pesakitan yang dijatuhi hukuman mati dan digusur ke tengah lapangan untuk dipenggal kepalanya.

Melihat orang mendatangi lagi, Yap Kay mendahului bersuara: "Sekarang kau berani bayar 30 laksa tail?"

Terkepal kedua tinju Song Lopan, ternyata dia manggut- manggut. Keringat dinginnya berketes-ketes, katanya kertak gigi: "Baiklah! 30 tail ya 30 tail kubayar!"

Yap Kay hanya tertawa lebar saja.

Song Lopan seperti disengat kala kagetnya, katanya terbelalak: "Apa yang kau tertawakan?" "Aku tertawai kau." "Menertawai aku?"

"Aku sedang tertawa, kenapa tidak sejak tadi kau membelinya saja?"

"Sekarang. "

"Harganya sekarang sudah tidak sama lagi. Sekarang aku minta 300 laksa tail, tidak boleh kurang sesenpun juga."

Sudah tentu Song Lopan berjingkrak mencak-mencak. "300 laksa tail?

Taoke besar yang biasanya congkak dan terlalu tinggi hati, sekarang ini seperti anak kecil layaknya mencak- mencak.

"Kau......kau......memang kau ini perampok! Kau. tamak

benar kau ini."

Yap Kay berkata tawar: "Jikalau kau anggap harganya terlalu tinggi, kau boleh tidak hendak membelinya, aku toh tidak memaksa kau."

Song Lopan melotot gusar, seperti ingin mengerumusnya. Mulutnya sudah terbuka lebar seperti ingin bicara, namun tahu-tahu napasnya menjadi sesak. Mendadak dia tersungkur roboh, saking gusar ternyata dia jatuh semaput.

Orang-orang berkerumun itupun sama-sama melotot kepada Yap Kay, semua orangpun merasa Yap Kay tak ubahnya seperti perampok yang memeras mangsanya, malah lebih tamak lagi. Tapi Yap Kay acuh tak acuh, dia tetap tidak perdulikan orang lain. Tiba-tiba dia berkata ke arah kereta hitam itu: "Tuan ingin benar memiliki barang ini, kenapa tidak kau sendiri yang membelinya?"

Tidak ada reaksi dari dalam kereta.

Yap Kay berkata pula: "Kalau tuan sendiri mau unjuk muka, mungkin tanpa membayar sesenpun aku haturkan batu kemala ini kepadamu."

Dari dalam kereta yang sejak tadi tenang-tenang sepi, mendadak berkumandang suara tawa dingin setajam golok.

"Apa betul?"

"Aku ini orang jujur," Yap Kay berkata tersenyum, "selamanya aku tidak membual."

"Bagus!"

Lenyap seruannya mendadak 'Brak...' seperti ledakan kerasnya, tahu-tahu kereta kuda yang besar itu seperti disambar geledek, pecah dan hancur berantakan.

Kusir kereta sampai terpental sungsang-sumbel. Kedua kuda kekar yang menarik keretapun berjingkrak berdiri dengan kedua kaki belakangnya.

Tahu-tahu dari dalam kereta hancur itu muncul seorang laki-laki. Seorang laki-laki raksasa yang telanjang bagian badan atasnya, hanya mengenakan celana pendek ketat warna merah. Pinggangnya mengenakan sabuk kuningan selebar telapak tangan orang biasa. Sepasang matanya yang melotot besar seperti kelintingan menatap tajam penuh kebencian kepada Yap Kay, tak ubahnya seperti siluman iblis jahat yang baru terlepas dari dalam kerangkeng.

Orang-orang yang berkerumun melihat keramaian seketika bubar dan kalut, lari lintang-pukang.

Raksasa itu sudah mengepal kedua tinjunya kencang- kencang, selangkah demi selangkah menghampiri Yap Kay.

Perduli manusia atau kuda, setelah mendadak dibuat kaget, reaksi pertama yang diperlihatkan adalah sama yaitu lari. Semakin cepat lari semakin baik dan selamat, semakin jauh semakin beruntung.

Tapi ke dua ekor kuda yang berjingkrak-jingkrak itu tak mampu melarikan diri, namun masih terus mencak-mencak berdiri turun naik, karena raksasa itu menekan pinggir kereta yang sudah hancur, namun kedua kuda itu sudah tidak mampu melarikan diri.

Walau orang-orang yang ada di sekitarnya menjadi ribut, namun mereka tidak lari sembunyi. Maklumlah, siapa yang tidak ingin melihat akhir dari keramaian ini. Apapun yang terjadi atas diri mereka nanti, tontonan aneh yang belum pernah terjadi selama ratusan tahun ini adalah setimpal untuk disaksikan.

Semua orang celingukan kian-kemari, mengawasi raksasa yang mampu menekan sebelah tangan ke atas kereta sehingga kedua kuda tidak bergeming, lalu memandang kepada Yap Kay pula. Semua hadirin sudah yakin dan sepakat pendapat, pasti Yap Kay yang akhirnya akan dirugikan dan dihajar konyol. Mungkin cukup menggunakan sebuah jarinya saja, raksasa ini sudah mampu memites gepeng batok kepala Yap Kay. Tapi Yap Kay malah tertawa, sikapnya tenang-tenang saja seperti tidak terjadi apa-apa. Tiba-tiba dia malah bertanya: "Berapa tinggimu?"

"Sembilan kaki setengah."

Dalam situasi segenting ini, walau pertanyaan ini kedengaran aneh dan lucu, tapi si raksasa memberi jawaban juga.

"Sembilan kaki setengah, kau memang tidak terhitung pendek." ujar Yap Kay.

Berkata si raksasa dengan sombong sambil angkat dada: "Mungkin hanya beberapa gelintir saja manusia dalam dunia ini yang lebih tinggi dari aku."

"Alat senjata biasanya mengutamakan satu dim lebih panjang, lebih berguna dan lebih kuat. Jikalau kau ini sebatang tombak, pasti kau adalah tombak sakti."

"Aku bukan tombak." seru si raksasa.

"Masih banyak lagi barang-barang lain, biasanya tinggi rendah dari nilai barang itu juga ditentukan dari panjang pendek bentuknya, umpamanya galah yang lebih panjang, sudah tentu harganya lebih mahal, oleh karena itu kalau kau ini sebatang galah, tentu kau inipun cukup berharga," setelah menghela napas Yap Kay menambahkan, "sayang sekali kaupun bukan galah."

"Aku adalah manusia."

"Justru karena kau ini manusia, maka harus dibuat sayang."

"Kenapa harus dibuat sayang?" tanya si raksasa mendelik. Tawar suara jawaban Yap Kay: "Hanya manusia saja yang tidak ditentukan dari panjang pendeknya. Orang cebolpun kadang-kadang bisa jadi raja. Seseorang bilamana kaki, tangan dan badannya terlalu subur dan tumbuh keliwat batas, biasanya otaknya terlalu sederhana, oleh karena itu manusia yang semakin panjang, ada kalanya malah dipandang rendah dan tidak berharga lagi."

Si raksasa menggerung murka, bagai seekor gajah mengamuk dia menerjang maju. Kelihatannya tidak perlu dia turun tangan kalau Yap Kay keterjang tentu badannya remuk dan mampus. Umpama sebatang pohon besarpun takkan kuat ditumbuk raksasa ini.

Sayang sekali Yap Kay bukan pohon. Sudah tentu raksasa ini tidak akan mampu menerjangnya sampai roboh, tiada orang yang bisa sekali tumbuk menerjangnya sampai jatuh.

Akan tetapi di saat raksasa menerjang tiba, Song Lopan yang tadi kelengar semaput di tanah mencelat bangun segesit tupai dan secepat anak panah melesat maju. Bukan saja gerakannya secepat kilat, cara menyerangnya juga teramat ganas dan lebih menakutkan.

Sekali lagi sayang, dia tidak berhasil merenggut jiwa Yap Kay. Kalau si raksasa menerjang dari depan, sebaliknya Song Lopan menggempur dari belakang dengan pukulan mematikan. Hebat memang kepandaian Yap Kay, di saat-saat gawat itu entah bagaimana tahu-tahu badan Yap Kay sudah mencelat naik ke atas joran.

Takkan ada orang menduga bahwa Song Lopan akan turun tangan, tapi orang lebih tidak menduga lagi bahwa Yap Kay bisa meluputkan diri dari bokongannya. Seperti dihembus angin lesus saja tahu-tahu badannya terangkat naik ke pucuk joran, laksana segulung mega terbang, seperti daun melayang jatuh.

Keruan Song Lopan terkejut. Dia yakin benar bahwa serangan bokongannya tadi pasti dengan telak mengenai sasarannya. Entah bagaimana tahu-tahu tangannya mengenai tempat kosong. Tapi dia cukup cekatan dan tegas bertindak. Sebat sekali dengan sikut menutul tanah, berbarengan itu tangan kanannya sudah melolos golok. Sekali sinar golok berkelebat, dia babat putus joran panjang itu.

Sementara si raksasa sudah pentang ke dua tangannya, siap menunggu di sebelah bawah. Begitu joran putus, orang dipucuk joran pasti akan jatuh terjungkal.

Begitu Yap Kay melayang turun, maka pasti dia terjatuh kecengkeraman tangan si raksasa. Siapapun jikalau terjatuh ke tangan si raksasa, jelas nasibnya tentu amat mengenaskan. Untuk meremas remuk batok kepala orang, hakikatnya lebih gampang dari anak-anak meremas kepala boneka tanah liat.

'Krak...' tahu-tahu joran itu putus dua. Orang-orang yang menonton di kejauhan malah sudah menjerit kaget dan ngeri. Betul juga tampak badan Yap Kay sudah melayang jatuh ke tengah-tengah kedua tangan si raksasa yang terbuka lebar.

Maka terdengarlah suara 'Blang...', seseorang terbanting jatuh dengan keras, dan terpental terbang dua sosok badan orang. Yang berdentam jatuh adalah si raksasa, sementara Yap Kay dan Song Lopan sama-sama melambung ke atas. Ternyata begitu badannya melayang turun, lekas Yap Kay gunakan sikut dan sebelah dengkulnya menyodok dengan telak ke dada si raksasa. Begitu si raksasa terpental roboh, dia meminjam tenaga daya pental sodokannya mencelat terbang lagi.

Tapi ternyata Song Lopan tidak tinggal diam, diapun jejakkan kakinya ikut melesat mengejar. Sinar golok bagaikan bianglala membabat ke pinggang Yap Kay.

Tak nyana pinggang Yap Kay bagai ular air, sekali meliuk dan mengegos, tahu-tahu tangan kirinya sudah mencengkeram pergelangan tangan kanan Song Lopan.

Golok melayang jatuh menancap miring di atas kereta. Mereka berduapun jatuh ke atas kereta. Bagasi kereta memang sudah diterjang hancur oleh si raksasa, namun alas dasarnya masih utuh tidak kurang suatu apa, demikian pula tempat duduknya.

Dua orang sama-sama jatuh di atas tempat duduk, kedua kuda yang menarik kereta menjadi kaget, serempak keduanya meringkik panjang dan angkat langkah membedal pergi.

Kali ini tiada orang yang menarik dan menahan mereka. Memang tiada orang mampu menahan mereka pula. Kusir kereta sudah ketakutan dan sembunyi entah di mana. Dua ekor kuda yang ketakutan seketika mencongklang menarik kereta gundul tanpa kusir. Jalan raya penuh sesak, namun  ke dua ekor kuda itu seperti kesetanan terus menerjang maju tanpa hiraukan orang-orang yang ada di tengah jalan, terus diterjangnya. Kecuali orang gila, siapa lagi yang masih mampu menghadang larinya kuda yang sudah kesetanan.

Di atas kereta Song Lopan menjatuhkan diri terus menggelinding. Pikirnya hendak mencelat bangun, namun sebuah tinju sudah menunggu di depan hidungnya. Baru saja dia meronta berduduk, matanya lantas ketumbuk tinju ini, selanjutnya hanya kunang-kunang di kegelapan saja yang dilihatnya. Kali ini dia benar-benar jatuh semaput.

Pelan-pelan Yap Kay menghela napas,. Perduli orang macam apa sebenarnya Song Lopan ini, jelas dia bukan orang sembarangan. Bisa menyuruhnya rebah tak berkutik saja, juga bukannya kerja gampang.

Ke dua kuda itu masih membedal kencang, tiada maksud Yap Kay untuk menahannya. Tapi tiba-tiba dia malah melompat ke tempat duduk kusir, tali kendali dipegangnya seraya menggebah kuda supaya lari lebih cepat lagi.

Dia harus mengejar seseorang. Waktu itu sudah lewat tengah hari.

Yap Kay masih belum menemukan Putala. Apakah Putala yang hendak dia kejar?

ooo)dw(ooo

Kota kuno sudah tentu mempunyai bentuk jalanan yang kuno pula.

Jalan raya di sini dilandasi oleh papan batu hijau, sempit dan miring.

Di sebelah depan ada sebuah kereta barang ditarik keledai. Di atas kereta penuh bertumpuk kurungan ayam, di dalam kurungan penuh ayam pula, agaknya ayam yang baru dibeli dari luar kota.

Yang pegang kendali adalah seorang kakek tua, sementara yang memberi makanan ayam adalah seorang nenek tua, kedua orang sudah sama-sama beruban.

Si nenek berjongkok di atas kereta, sedang memberi umpan kepada ayam yang baru dibelinya, pinggangnya sudah bungkuk dan tak bisa tegak lagi, demikian pula si kakek duduk di depan pegang kendali, mengayun cambukpun sudah tidak kuat lagi.

Setiap kota pasti ada penduduk yang makan ayam, malah setiap hari entah berapa ayam yang menjadi kurban untuk mengenyangkan perut manusia. Kalau penduduk kota banyak yang makan ayam, sudah tentu ada penjual dan pembeli ayam, kehidupan seperti ini adalah jamak.

Demikian pula kakek dan nenek ini kelihatannya tiada menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Tapi yang dikejar oleh Yap Kay kelihatannya justru mereka.

Melihat kereta mereka di sebelah depan, Yap Kay bedal keretanya semakin kencang.

Si kakek berpaling ke belakang, sepasang matanya yang semula guram seperti lamur, tiba-tiba bersinar terang.

Demikian pula si nenek yang kelihatan lemah, tiba-tiba menjinjing sebuah keranjang ayam seraya membentak, tahu-tahu dia tuang ayam-ayam yang berada di dalam kurungan.

Besar kecil ayam jantan betina seketika beterbangan seraya berkotek riuh rendah, anjing-anjing liar di sepanjang jalanpun ikut memburu seraya menggonggong dengan ramainya. Ayam terbang, anjing berlompatan, jalan raya yang biasanya ramai tenang itu mendadak gempar dan kacau balau.

Kedua kuda yang menarik kereta Yap Kay menjadi kaget dan meringkik panjang sambil berjingkrak berdiri. Setelah Yap Kay berhasil mengendalikan serta memburu ke depan pula, kereta keledai di depan itu sudah belok ke jalan lain dan menghilang.

Yap Kay tertawa dingin, mendadak dia jejak kaki, badannya melambung naik ke atas rumah. Dia bertekat betapapun kakek tua itu jangan sampai lolos dari kejarannya.

Kenapa dia mengejar kakek dan nenek? Kenapa pula kedua orang ini melarikan diri?

ooo)dw(ooo

Kereta keledai itu masih terus mencongklang dengan kencang, ayam masih berkotek dengan ributnya, namun bayangan kedua orang yang ada di atas kereta tahu-tahu sudah lenyap entah kemana.

Waktu itu kereta keledai lari di jalan samping yang sempit, kereta kuda yang lebih besar pasti tidak akan bisa masuk kemari.

Jalan sempit ini sepi, tidak kelihatan bayangan seorang manusiapun, pintu-pintu rumah sepanjang jalan sempit ini semuanya tertutup rapat, pekarangan rumah-rumah itu kosong tak kelihatan ada orang. Lalu kemana dan cara bagaimana kakek dan nenek itu mendadak bisa lenyap? Mereka sembunyi ke rumah siapa?

Sudah tentu Yap Kay tidak mungkin menggeledah setiap rumah. Dia tetap mengejar kereta keledai yang masih lari kencang itu.

Setelah tiba di ujung jalan sempit ini, kereta tiba di sebuah tanah miring.

Kereta keledai itu tanpa ada orang yang mengendalikan, tapi keledai yang membawa lari kereta itu ternyata cukup cerdik membawanya lari setengah lingkaran dulu baru menyusuri tanah miring itu menerjang ke bawah.

Mendadak Yap Kay kembangkan Ginkang-nya, sekali lompat sejauh empat tombak, di tengah udara badannya terapung meluncur lempang, sebelum badannya mencapai kereta, di tengah udara dia bersalto. Sekali meluncur turun dan hinggap tepat di punggung keledai.

Setiba di tanah miring itu, lari keledai menjadi sedikit lambat, tapi Yap Kay duduk seenaknya di punggung keledai yang menarik kereta itu.

Mendadak dia tertawa, katanya: "Sebetulnya aku tidak mengenalmu, sayang sekali waktu kau datang amat kebetulan sekali."

Dengan siapa dia bicara? Tiada lain di atas kereta, kecuali ayam dan keledai.

Seorang laki-laki yang normal jelas takkan ajak keledai bicara. Tapi Yap Kay melanjutkan kata-katanya: "Waktu kalian masuk kota, adalah saat-saat yang paling ribut tadi. Sebetulnya aku tidak akan bisa melihat kalian."

"Sayang, waktu itu kebetulan aku lompat berdiri di atas joran."

"Tatkala itu, orang-orang yang memasuki pintu kota, bukan hanya kalian berdua saja. Sebetulnya umpama aku melihat kalian, aku tetap tidak akan menaruh curiga."

"Sayang sekali keadaan kalian waktu itu justru berbeda sekali dengan orang lain."

Sampai di sini Yap Kay mengoceh, baru terdengar seseorang menghela napas dari bawah kereta keledai.

"Dalam hal apa keadaan kami berbeda dengan orang lain?"

"Masa kau sendiri tidak tahu?" Yap Kay balas bertanya. "Sedikitpun tidak tahu," orang di bawah kereta berkata,

"kurasa keadaan kita sedikitpun tidak menunjukkan keistimewaan atau keganjilan apa-apa."

"Mungkin! Tapi justru karena keadaan kalian tiada sesuatu yang menonjol dan berbeda dengan yang lain, maka kalian menjadi luar biasa."

Orang di bawah kereta tidak mengerti apa maksud perkataan Yap Kay. Kecuali Yap Kay sendiri, mungkin orang lainpun takkan mengerti akan maksud perkataannya.

Oleh karena itu Yap Kay segera menambahkan: "Karena keadaan orang lain waktu itu luar biasa." Waktu semua orang yang menyaksikan perkelahian itu sama kaget dan terpesona, suasananya tegang, haru dan bersemangat, umpama orang-orang yang baru datang dan mau masuk kotapun takkan urung menoleh dengan mata terbelalak mengawasi Yap Kay dan si raksasa berkelahi, dengan kaget dan takut-takut.

Akan tetapi kedua kakek dan nenek ini sebaliknya seperti tidak melihat apa-apa, acuh tak acuh seolah-olah tiada kejadian apa-apa, malah berpaling mukapun tidak.

Yap Kay berkata: "Kalian melirikpun tidak, karena sebelumnya kalian sudah tahu di tempat itu akan terjadi keonaran, lantaran keonaran itu pula sudah kalian rencanakan sebelumnya untuk menutupi dan mengelabui pandangan mata orang sehingga kalian bisa leluasa masuk kota."

Tak terdengar suara apapun dari bawah kereta.

Yap Kay pun tidak bersuara pula. Dengan pegang kendali dia perlambat lari kereta keledai itu.

Entah berapa lamanya kereta itu berjalan lambat-lambat, tiba-tiba orang di bawah itu berkata dengan tertawa dingin: "Aku memang salah menilaimu, sungguh tak terduga olehku bahwa kau adalah orang demikian."

"Aku orang apa?" tanya Yap Kay. "Orang yang harus mampus!"

Belum habis perkataan ini, keledai penarik kereta tiba- tiba meringkik kaget dan berjingkrak-jingkrak.

Yap Kay pun ikut melompat. Di dalam waktu yang sama, dua orang menerobos keluar dari bawah kereta.

Yang satu ke timur dan yang lain lari ke barat.

Gerak-gerik kedua orang sama cepat dan tangkas, jelas kedua orang ini adalah si kakek dan si nenek yang tadi terbungkuk-bungkuk lemah seperti tak kuat berdiri.

(Bersambung ke Jilid-18)
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Rahasia Mokau Kauwcu Jilid 17"

Post a Comment

close