Peristiwa Merah Salju Jilid 14

Mode Malam
Jilid 14

BAB 40. DENDAM BARU KEBENCIAN LAMA

Malam kedua baru Pho Ang-soat turun dari atas bukit. Baru saja dia sembuh dari sakit, kini harus mengalami pukulan batin separah ini, kecuali duka cita, perih, marah, penasaran dan dendam, apa pula yang dia miliki? Mungkin masih punya rasa takut.

Takut akan kesepian. Sepanjang masa hidupnya, dia takkan bisa melihatnya lagi, cars bagaimana dia harus membebaskan diri dari kesepian dan sebatangkara abadi ini? Terpaksa dia harus melarikan diri.

Sebuah kota kecil berada di bawah bukit di sana ada arak. Arak yang getir, namun dia tidak peduli lagi, entah berapa banyak poci arak yang dia habiskan, waktu dia berdiri dan beranjak keluar, sinar pelita masih menyala di dalam warung, dengan menggenggam kencang goloknya dia tinggalkan warung itu. Dia sudah mabuk, langkahnya sempoyongan. Entah berapa jauh dia teringsut-ingsut, akhirnya tersungkur roboh, roboh di bawah pohon yang daunnya sudah menguning. Hembusan angin merontokkan daun-daun pohon yang bertaburan di atas badannya, seolah-olah dia tidak merasakan derita dan sengsara yang sudah membeku pada dirinya.

Dia tidak tahu tempat apa itu, dia hanya mendekam di tanah saja. Hanya dendam kesumat yang masih menjalari sanubarinya, di samping dendam, dia pun merasa ditipu dan dihina oleh Yap Kay, maka dia bersumpah untuk bertahan hidup. Dia bersumpah akan menuntut balas terhadap Be Khong-cun, terhadap Yap Kay.

Sang waktu berlalu tanpa terasa, Pho Ang-soat tetap meringkuk di atas tanah dia tahu banyak orang berlalu-lalang dan menengok badannya, tapi hanya menghela napas, lalu tinggal pergi pula. Tapi tak sedikit pula yang menertawakannya.

Pho Ang-soat diam saja mendengar ejekan, olok-olok dan helaan napas orang banyak yang mengandung belas kasihan pula, yang terang pukulan batin yang dialami memang teramat besar, sehingga dia tidak menghiraukan keadaan sekelilingnya lagi. Apa pun yang terjadi, golok tetap berada di tangannya.

Sekonyong-konyong didengarnya seseorang menjerit tertahan, "Oh, dia!" Itulah suara perempuan, perempuan yang kenal dan dikenal dirinya, peduli siapa dia, Pho Ang-soat mengharap dia lekas pergi. Celakanya perempuan ini tidak pergi malah menjengek sinis, katanya,

"Pho-kongcu ahli bunuh yang kejam, kenapa sekarang berubah begini rupa seperti anjing liar yang kelaparan, apa kau dilukai orang?"

Serasa muak dan perut Pho Ang-soat seperti dipelintir. Kini dia sudah kenal siapa pembicara ini.

Be Hong-ling! Orang yang justru tidak mau ditemui, sekarang muncul di saat dirinya serba runyam. Gigi Pho Ang-soat gemeratak, jari-jarinya mencengkeram tanah dengan kencang, seperti merenggut hulu hati sendiri.

Be Hong-ling tertawa dingin, ejeknya, "Kau begini menderita lantaran nona Cui long itu, sungguh tidak setimpal pengorbananmu, sebelum ini dia menjadi perempuan piaraan ayahku, memangnya kau tidak tahu?" Kata-kata ini laksana jarum menusuk hati, laksana cambuk melecut badannya. Tak tertahan mendadak Pho Ang-soat berjingkrak berdiri, dengan matanya yang berdarah dia melotot kepadanya, keadaannya sungguh harus dikasihani, tapi amat menakutkan pula.

Lain dulu lain sekarang, dulu mungkin Be Hong-ling simpati kepadanya, namun sekarang dia sudah berubah, pemuda yang pernah membuatnya duka dan merana, kini tidak lagi terpandang olehnya. Dengan dingin kembali dia mengoceh, "Aku tahu cepat atau lambat dia akan meninggalkan kau, lari mengikuti laki-laki lain, seperti dia meninggalkan Yap Kay mengikut kepadamu, kecuali ayahku, laki-laki lain bahwasanya tidak terpandang olehnya."

Muka Pho Ang-soat yang pucat tiba-tiba beringas merah. napasnya tiba-tiba tersengal-sengal, katanya, "Sudah cukup bicaramu?"

"Kau tidak suka mendengar ucapanku?"

Otot di jari tangan Pho Ang-soat yang memegang golok merongkol, katanya kalem, "Sepatah kata lagi kau ucapkan, kubunuh kau."

Be Hong-ling malah tertawa, di saat dia tertawa itu seseorang muncul di sampingnya. Seorang pemuda yang tinggi besar dengan jubah sutra, raut mukanya amat congkak dan pongah, Memang dia punya alasan untuk pongah dan bangga akan dirinya.

Bukan karena tinggi besar dan gagah ganteng, sepasang matanya yang dinaungi alis lentik laksana pedang mencorong terang dan berwibawa pakaian yang dikenakan pun teramat mewah perlente. Sekilas pandang orang akan tahu, pemuda ini sudah biasa berbuat sewenang-wenang, suka bersimaharaja, apa pun yang ingin dia lakukan, tanpa peduli akibatnya harus dilaksanakan, jarang ada orang yang berani merintanginya. Dengan tajam sekarang dia balas menatap Pho Ang- soat, katanya dingin, "Apa katamu barusan?"

Tiba-tiba Pho Ang-soat sadar apa sebabnya Be Hong-ling berubah sikap kepadanya. Pemuda perlente kembali berkata, "Bukankah kau bilang hendak membunuhnya?" Pho Ang-soat manggut-manggut.

"Dia adalah istriku," ujar pemuda perlente.

Dingin suara Pho Ang-soat, "Kalau dia berani bilang sepatah kata lagi, maka kau harus mencari perempuan lain untuk jadi binimu."

Seketika pemuda perlente berubah muka, bentaknya bengis, "Kau tahu siapa aku?" Pho Ang-soat geleng-geleng.

"Aku she Ting. Akulah Ting Ling-ka," ujar pemuda perlente congkak. "Walau kurangajar, aku masih boleh memaafkan kau, karena keadaanmu tidak mirip laki-laki yang bisa membunuh orang."

Memang keadaan Pho Ang-soat serba mengenaskan, terang dia tidak akan mampu banyak bergerak, mulutnya terbungkam, mau tidak mau dia harus mengakui akan hal ini.

Ting Ling-ka menyeringai puas, dia tahu kebesaran namanya cukup membuat siapa pun kaget ketakutan, bila tidak perlu benar, dia tidak sudi turun tangan. Karena itu dia merasa dirinya seorang yang kejam. Sekaligus dia ingin supaya bininya yang baru ini mengerti dia punya kemampuan untuk melindunginya. Maka dengan tersenyum dia berpaling dan berkata dengan latah, "Apa pun yang masih kau ingin katakan, boleh kau katakan sesuka hatimu."

Be Hong-ling menggigit bibir, "Apa pun yang ingin kukatakan tidak jadi soal?"

Ting Ling-ka tersenvum, ujarnya, "Asal kau di sampingku, apa pun yang ingin kau katakan tidak menjadi soal."

Karena gairah dan senang, raut muka Be Hong-ling menjadi bersemu merah, katanya tiba-tiba dengan keras, "Kukatakan perempuan yang dicintai si timpang ini adalah pelacur, pelacur yang tidak ada harganya." Muka Pho Ang-soat menjadi pucat seperti kertas. jari-jari tangan kirinya menggenggam gagang golok yang dipegangnya.

"Berani kau turun tangan?" bentak Ting Ling-ka. Dia tahu tiada suatu kekuatan apa pun di dunia ini yang kuasa mencegah dia turun tangan. Maka dia menghardik lebih dulu, tahu-tahu pedang sudah terlolos, sinar pedangnya bagai selarik lembayung, langsung menusuk tenggorokan Pho Ang-soat. Pedang yang digunakan bobotnya cukup berat, maka tusukannya mengeluarkan deru angin keras, apalagi dilandasi kekuatannya, maka daya serang ini amat ganas dan hebat.

Meski tidak cepat serangan ini, tapi tusukan pedang ini cukup lihai, dahsyat, sasarannya tepat dan mematikan. Menyerang memang nya pertahanan yang paling baik. Orang yang mampu membalas serangan seperti ini, di dunia ini tidak akan lebih dari tujuh orang. Dan Pho Ang-soat justru salah satu dari ketujuh orang itu.

Dia tidak berkelit, tidak menangkis, malah tiada orang melihat dia bergerak, Be Hong-ling sendiri tidak melihat gerakan apa-apa, namun ia hanya melihat selarik sinar kemilau secepat kilat dari sambaran sinar golok. Hanya berkelebat sekali, darah bagai kembang api berpijar muncrat sederas sumber minyak yang menyemprot dari bumi.

Sinar pedang bagai selarik rantai perak melesat terbang ke samping dan menancap di atas pohon. Jari-jari tangan Ting Ling-ka masih kencang memegangi gagang pedang, seluruh lengan kanannya bergantung di ujung pedangnya, masih bergoyang turun naik.

Darah masih bertetesan dari kutungan lengan pundak Ting Ling-ka. Bahna kaget Ting ling-ka sampai berdiri melongo mengawasi kutungan tangannya yang bergoyang-goyang di atas pohon, seolah-olah tidak menyadari apa sebenarnya yang telah terjadi. Karena perubahan ini sungguh amat mendadak.

Bila dia menyadari lengan yang tergantung di atas pohon itu adalah kutungan lengannya, seketika dia jatuh semaput. Hampir saja Be Hong-ling ikut semaput tapi bukan karena kaget dan gelisah karena luka-luka suaminya, namun karena gusar yang putus asa. Dengan penuh kebencian dia melotot sekali kepada Ting Ling-ka yang semaput di tanah, terus putar badan dan berlari sipat- kuping. Di pinggir jalan raya berhenti sebuah kereta tertutup yang ditarik kuda, langsung dia menerjang ke sana terus menarik pintu kereta sekeras-kerasnya.

Tampak seorang duduk kaku tidak bergerak di dalam kereta, raut mukanya nan cantik dan pucat membayangkan mimik kaku dan kosong. Begitulah mimik seseorang bila dia kehilangan sesuatu miliknya yang paling berharga. Pho Ang-soat juga melihat orang dalam kereta ini, dia kenal baik orang ini!

Ting Hun-pin. Bagaimana dia bisa berada di sini? Kehilangan apa dia? Dimana Yap Kay?

Tiba-tiba Be Hong-ling membalik badan seraya menuding Pho Angsoat, katanya keras, "Orang itulah yang membunuh Jikomu, tidak lekas kau menuntut balas?"

Lama berselang baru Ting Hun-pin mengangkat kepala, sekilas ia memandangnya, katanya, "Benarkah kau ingin aku menuntut balas?"

"Sudah tentu, dia kan Engkohmu, dia adalah suamiku."

Mengawasinya, mendadak matanya menyorotkan rasa ejek dan hina, katanya, "Apa benar kau anggap Engkohku sebagai suamimu?"

Berubah air muka Be Hong-ling, serunya, "Kau... apa-apaan kau mengucapkan kata demikian?" "Tentunya kau mengerti apa maksudku, umpama engkohku mati, kau tidak akan bersedih

apalagi meneteskan air mata, mati hidupnya tidak menjadi perhatianmu!"

Seperti dihajar lecutan cambuk badan Be Hong-ling berjingkrak mundur, mukanya yang pucat semakin pucat.

"Kau ingin aku menuntut balas, karena kau membencinya seperti kau membenci Yap Kay." Dengan kencang Ting Hun-pin mengertak gigi, sambungnya, "Terhadap laki-laki siapa saja kau amat membenci karena kau mengira semua laki-laki amat menghina dirimu, sampai pun ayah kandungmu tidak peduli mati hidupmu. Bahwa kau kawin dengan Jikoku, tidak lebih hanya hendak kau peralat untuk membalas sakit hatimu."

Syaraf Be Hong-ling menjadi kalut, pikirannya sudah mendekati gila, mendadak dia berteriak keras. "Aku tahu kau membenci aku, karena aku suruh Engkohmu membawamu pulang, tapi kau senang kelayapan mengikuti Yap Kay seperti anjing gelandangan."

"Benar, aku lebih suka keliaran bersama dia di luaran, karena aku mencintainya," debat Ting Hun-pin sambil menatap Be Hong-ling, "tentunya kau sudah tahu bahwa aku mencintainya, maka kau merasa iri, cemburu, maka kau paksa Engkohku untuk bertindak membawaku meninggalkan dia. Soalnya kau pun mencintainya."

Mendadak Be Hong-ling tertawa terkial-kial seperti kesurupan setan, serunya, "Aku mencintainya aku hanya berharap dia lekas mampus."

"Sekarang kau membencinya malah, karena kau tahu dia tidak akan mencintai kau." Tersorot mimik aneh dan menakutkan pada pandangan mata Ting hun-pin, katanya lebih lanjut, "Di dunia ini banyak perempuan jahat yang gila, jika tidak terlaksana keinginannya untuk memiliki sesuatu, maka dia berusaha dengan berbagai daya upaya, meski cara yang paling kejam dan keji, untuk melenyapkannya, dan kau termasuk perempuan seperti itu, kau pantas mampus."

Lama kelamaan tawa gila Be Hong-ling menjadi isak tangis bercampur tawa yang memilukan, akhirnya tidak terbedakan lagi dia tertawa atau menangis. Tiba-tiba dia berpaling menghadap Pho Ang-soat, serunya serak, "Kalau kau ingin membunuhku, kenapa tidak segera turun tangan?"

Sebaliknya tanpa mengawasinya, Pho Ang-soat beranjak pelan-pelan mendekati kereta dimana Ting Hun-pin berada. Mendadak Be Hong-ling menubruk ke atas badannya, serta memeluknya erat-erat, ratapnya, "Jika kau tidak membunuhku, bawalah aku pergi, peduli kemana pun, aku ingin mengikuti kau, apa pun yang kau inginkan, pasti kulakukan."

Sekujur badan Pho Ang-soat dingin dan kaku.

Dengan bercucuran air mata Be Hong-ling berkata pula, "Asal kau sudi membawaku, aku aku

boleh membawamu mencari ayahku."

Mendadak sikut bergerak menyodok ke perutnya dengan keras. Kontan Be Hong-ling melengking seperti babi disembelih, badan nya terbungkuk-bungkuk sambil memeluk perut.

"Menggelindinglah pergi!" tanpa berpaling Pho Ang-soat membentak.

Akhirnya Be Hong-ling menegakkan badan, semula dia adalah gadis jelita yang cantik rupawan, penuh dihayati keyakinan akan kehidupan masa depan. Tapi sekarang dia sudah berubah, kini raut mukanya benar-benar dihiasi mimik jahat dan beringas mendekati gila. "Baik, aku pergi," desisnya sambil melotot kepada Pho Ang-soat, "Kau tidak mau pergi dariku, terpaksa aku menyingkir, tapi apa kau lupa akan kelakuanmu sekasar anjing liar yang kelaparan merayapi badanku di padang pasir dulu? Memangnya di saat orang lain tidak melihatmu baru kau berani memperkosa aku?"

Muka Pho Ang-soat menampilkan derita pukulan batin yang tertekan, namun dia tetap tidak berpaling.

Malah Ting Hun-pin yang bersuara, "Apa sekarang kau sudah menyesal, kenapa malam itu kau tidak menuruti keinginannya?"

"Jangan kau pongah! Kau kira Yap Kay mencintaimu?" jengek Be Hong-ling pedas, "Jika dia benar-benar mencintaimu, masakah dia biarkan ikut kita? Sekarang bukan mustahil dia sedang menggumuli perempuan pelacur entah dimana, bukan mustahil kawan mainnya adalah kekasih tuannya itu, Cui long." Mendadak dia terloroh-loroh gila lagi, langkahnya menyurut mundur dan mundur terus memasuki hutan belukar. Lain kejap loroh tawanya hilang, bayangannya pun tidak kelihatan lagi.

Ting Hun-pin menghela napas, ujarnya, "Sebetulnya dia gadis yang harus dikasihani, sayang sekali setiap langkah dan tindakannya salah, jelasnya dia salah memilih laki-laki." "Dan kau?" tiba-tiba Pho Ang-soat menjengek. "Aku tidak salah!"

"Yap Kay "

"Sejak lama aku sudah tahu orang macam apa Yap Kay," tukas Ting Hun-pin. "Umpama dia tidak mencintai aku, tidak jadi soal, karena aku benar-benar mencintainya dan ini sudah cukup."

Bertambah tebal derita pada sorot mata Pho Ang-soat, lama kemudian baru dia berkata pelan, "Tapi kau toh meninggalkan dia."

"Karena terpaksa dan aku tidak berdaya." "Kenapa tidak berdaya?"

"Di saat aku tidak berjaga-jaga. Ting-loji tiba-tiba menotok Hiat-toku." "Terpaksa Yap Kay mengawasi dirimu dibawa mereka pergi?"

"Dia pun kewalahan dan mati kutu, Ting-loji adalah Engkoh kandungku, apa yang dapat dia lakukan?" terpancar cahaya dari biji matanya, "tapi aku tahu cepat atau lambat dia pasti mencariku, kelihatannya sikapnya selalu acuh tak acuh, sebenarnya dia pemuda romantis, waktu orang membawaku pergi, aku dapat merasakan penderitaannya, jauh lebih besar dari aku sendiri."

"Sekarang bukankah kau ingin mencarinya?"

Ting Hun-pin tertawa riang, katanya, "Ada semacam orang di dunia ini yang takkan dapat kau temukan selama hayatmu, terpaksa kau harus menunggu dia yang mencarimu, Yap Kay adalah orang macam itu."

Pho Ang-soat masih mengawasinya, tiba-tiba terunjuk pula mimik aneh pada sorot matanya. "Walau kau melukai, malah membikin cacad Engkohku, tapi aku tidak menyalahkan engkau." "Oh," Pho Ang-soat bersuara dalam tenggorokan.

"Bukan lantaran memaksa aku ikut dia, sehingga aku membencinya. Soalnya kau mengutungi sebelah tangannya, tapi engkau membuatnya sadar macam apa sebenarnya perempuan seperti Be Hong-ling itu kalau bukan lantaran tebasan golokmu. kelak hidupnya akan lebih celaka lagi.

Sekarang kau boleh pergi, aku tidak ingin dia melihatmu setelah siuman dari pingsannya." Tapi Pho Ang-soat diam saja.

Menunggu sekian saat tak tahan Ting Hun-pin bertanya. "Kenapa tidak segera kau pergi?" "Karena aku sedang mempertimbangkan satu soal."

"Soal apa?"

"Aku tidak tahu haruskah aku membuka totokan Hiat-tomu, supaya kau ikut aku, atau membawamu pergi dengan menggendongmu."

Seketika berubah rona muka Ting Hun-pin, teriaknya, "Apa sih maksudmu?" "Maksudku ingin membawamu pergi."

"Kau... kau sudah gila "

"Aku tidak gila," sahut Pho Ang-soat dingin, "aku tahu kau pasti tidak sudi ikut pergi."

Dengan terbelalak Ting Hun-pin mengawasi orang, mendadak dia ayunkan tangan, kelintingan di pergelangan tangannya tiba-tiba melesat membawa dering suara nyaring, sekaligus mengincar Ing-hian, Thian-sek dan Hian-ki, tiga Hiat-to. Jarak mereka dekat, serangan mendadak serta cepat. Kelintingan pencabut nyawa Ting Hun-pin merupakan salah satu senjata rahasia paling menakutkan di samping tujuh macam senjata rahasia di Kangouw lainnya, karena bukan saja gerakannya cepat, incarannya tepat mengenai Hiat-to, malah yang ditimpukkan belakangan tiba lebih dulu, yang ditimpukkan duluan tiba-tiba berubah arah, hingga orang yang diserangnya tidak tahu caranya harus berkelit.

Tapi Pho Ang-soat tidak berkelit. Hanya sekali sinar goloknya berkelebat, tiga kelintingan tahu- tahu sudah terbelah menjadi enam buah. Waktu sinar golok masuk kembali ke dalam sarungnya, tahu-tahu dia sudah mencengkeram urat nadi pergelangan Ting Hun-pin, sekali tarik dia peluk pinggang orang, terus dijinjingnya. Keruan Ting Hun-pin meronta dan berteriak-teriak, "Kau timpang yang tidak tahu malu ini, lekas lepaskan aku!"

Pho Ang-soat anggap tidak mendengar teriakannya. Kereta itu dikendalikan kusir, di jalan raya banyak orang berlalu-lalang, semua orang mengawasinya dengan pandangan kaget dan heran.

Pho Ang-soat anggap tidak melihat mereka, langsung dia beranjak ke bukit sebelah timur. Gunung yang terbungkus mega di bawah langit membiru.

Gunung itu tidak terlalu tinggi, dengan mengempit Ting Hun-pin, Pho Ang-soat mulai beranjak di tanah pegunungan yang diliputi awan tebal Kini Ting Hun-pin tidak meronta dan malah diam dibawa orang. Tapi dia menyadari bahwa si timpang ini memang bukan pemuda normal, apalagi bila teringat ucapan Be Hong-ling, "Hanya di tempat tiada orang lain, baru kau berani memperkosa aku." Seketika bergidik dan takut hatinya badannya gemetar.

Akhirnya Pho Ang-soat menurunkan dia, katanya tiba-tiba, "Kau takut?"

Ting Hun-pin tiba-tiba tertawa, ujarnya, "Aku takut apa? Kenapa harus takut? Memangnya aku takut kepadamu? Kau kan teman Yap Kay, temannya adakah temanku, kenapa aku takut kepadamu."

"Kalau musuhnya?"

"Agaknya dia takut punya musuh "

"Kalau dia punya musuh, tentunya jadi musuhmu juga. "Boleh dikata demikian, karena "

"Karena kau merasa orang yang terdekat di dunia ini adalah dia."

Ting Hun-pin tertawa riang, tawa yang manis, setiap kali teringat akan hubungan dirinya dengan Yap Kay, hatinya menjadi syur, sedap dan hangat.

"Jika kau tahu ada orang yang akan membunuhnya, bagaimana sikapmu terhadap pembunuh itu?"

"Tiada yang bisa membunuhnya, tiada orang bisa membunuhnya." "Kalau ada?"

"Aku tidak akan melepaskan orang itu, takkan segan-segan kutuntut balas kepadanya meski dengan cara apa pun." Segera dia menambahkan, "tentunya aku bukan perempuan bertangan gapah berhati jahat, tapi bila benar-benar ada orang yang membunuh Yap Kay, bukan mustahil aku akan mengiris kulit daging badannya serta mengunyah habis."

Waktu Ting Hun-pin bicara, Pho Ang-soat sudah putar badan menghadap gundukan tanah yang gundul yang masih baru.

"Gundukan tanah apakah itu?" tanya Ting Hun-pin. "Sebuah pusara."

"Kuburan maksudmu?" berubah muka Ting Hun-pin. "Darimana kau tahu tanah gundukan itu adalah kuburan?"

"Karena kedua tanganku sendiri yang menyusunnya," suaranya seolah-olah lebih dingin dari hawa puncak salju, tak terasa Ting Hun-pin bergidik dibuatnya.

Lama sekali baru dia bersuara lirih, "Siapakah yang terkubur di sini?" "Seorang yang paling dekat denganku." "Kau... kau amat mencintainya?"

"Cintaku terhadapnya jauh lebih mendalam dari cintamu terhadap Yap Kay " "Kenapa dikubur di sini?"

"Karena dibunuh orang."

Ting Hun-pin bergidik seram, gumamnya, "Angin di sini teramat dingin." "Kau tak usah menguatirkan dia, sekarang dia tidak takut dingin lagi." "Tapi aku takut."

"Takut terhadapku?"

"Bukan takut kepadamu, takut dingin."

"Aku pun akan menguburmu, kau tidak akan takut dingin lagi." "Ah, tidak usahlah, aku toh belum mati."

"Tapi dia sudah mati kau tidak mati, dia sebaliknya sudah mati, kenapa dia harus mati? Kenapa harus mati?"

"Setiap insan akhirnya mati, ada yang mati muda, ada yang mati tua, kukira kau tidak perlu sedih."

"Kalau Yap Kay mati, kau tidak akan bersedih?" "Aku... aku "

Tiba-tiba Pho Ang-soat membalik badan dengan beringas, bentaknya bengis, "Kenapa tidak kau tanya, siapa yang membunuhnya? Apakah karena kau sudah tahu siapa yang membunuhnya?"

Ting Hun-pin mengertak gigi, mendadak dia berkata keras, "Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tahu?"

"Seharusnya kau tahu." "Kenapa?"

"Karena Yap Kay lah yang membunuhnya."

"Tidak mungkin, pasti tidak mungkin." Ting hun-pin berjingkrak, "Selama ini aku berdampingan dengan Yap Kay, aku berani tanggung dia tidak pernah membunuh orang."

"Kemarin malam kau pun berada bersama dia?"

Terkancing mulut Ting Hun-pin, sejak kemarin pagi dia sudah diringkus dan dibawa pergi oleh Ting Ling-ka, sejak itu dia tidak pernah melihat Yap Kay lagi.

"Kau tahu kemarin malam dia dimana? Apa yang dia lakukan?" Tertunduk kepala Ting Hun-pin. Dia tidak tahu.

Mendadak Pho Ang-soat keluarkan sebuah pisau kecil, pisau yang tipis tajam diacungkan di depan matanya. "Kau kenal pisau ini!"

Semakin dalam kepala Ting Hun-pin tertunduk. Dia kenal betul pisau itu, lama sekali baru dia mengangkat kepala, katanya, "Yap kay adalah aku, aku adalah Yap Kay, jika kau anggap Yap Kay yang membunuhnya, boleh kau membunuhku."

"Kau rela mati demi jiwanya?"

"Dengan sukarela." Matanya bersinar bangga, seolah-olah dapat mati bagi kekasih merupakan suatu peristiwa yang meninggikan derajat dan menyenangkan hatinya. "Kenapa tidak segera kau turun tangan," dia mendesak malah setelah menunggu sebentar. Lama Pho Ang-soat termenung, katanya kemudian, "Aku tidak ingin membunuhmu." "Kau... apa keinginanmu? Kenapa kau membawaku kemari?"

Kembali lama Pho Ang-soat berdiam diri, baru menjawab, "Tadi kau katakan dia pasti mencarimu."

"Jadi kau akan menunggu dia?" Jari-jari Ting Hun-pin terkepal kencang, "Tapi dia kan tidak tahu aku di sini."

"Dia akan tahu." "Kenapa?"

"Karena banyak orang melihat kau kukempit pergi dan kemari."

"Memangnya kenapa kalau dia kemari? Memangnya kau hendak membunuhnya? Apakah kau sudah lupa apa yang dilakukan dulu? Jika tiada dia, apa kau masih hidup?"

"Dia membantuku hidup, mungkin karena ingin aku menderita siksaan batin "

Tiba-tiba gemetar badan Ting Hun-pin mengawasi muka orang, katanya. "Dia sering bilang kepadaku apa yang kau lakukan memang menakutkan, tapi hatimu bajik, bijaksana, kau sejak kapan kau berubah menjadi jahat dan telengas?"

Pho Ang-soat mengawasi golok di tangannya, mulutnya terkancing bersuara lagi.

Hawa semakin dingin, kabut mega semakin tebal. Pakaian Ting Hun-pin sudah lembab, saking kedinginan dia mulai gemetar dan gemeratak giginya. Bukan saja dingin, perutnya pun sudah ketagihan.

Pho Ang-soat sudah berduduk, duduk mematung di tengah-tengah mega yang dingin dan basah.

"Mungkin dia takkan datang," entah berapa lama kemudian tak tahan.

Ting Hun-pin menyeletuk. "Umpama mau datang, tiada orang tahu dia akan kemari. Kalau tiga hari lagi baru dia datang, apa kau mau menunggu tiga hari di sini?"

Lama Pho Ang-soat berdiam diri, lalu menjawab dingin, "Tiga tahun dia baru kemari, akan kutunggu tiga tahun."

"Kau... kau paksa aku menemani kau menunggunya tiga tahun." "Kalau aku bisa menunggu, kenapa kau tidak?"

"Karena aku manusia. Asal manusia, dia takkan tahan menunggu tiga tahun di sini, mungkin tiga hari pun tak tahan lagi. Umpama tidak mati kedinginan, kita akan mati kelaparan juga."

Pho Ang-soat diam saja seperti tidak mendengar ocehannya.

"Sebetulnya tak perlu kau menunggunya di sini, kau boleh mencarinya di bawah gunung, cara itu lebih baik daripada kau menunggunya. Eh, kenapa kau tidak bicara? Apakah " tiba-tiba

suaranya terputus, mendadak didapatinya Pho Ang-soat yang duduk di tengahtengah kabut tak terlihat bayangannya.

Kabut semakin tebal, pandangan menjadi pekat, hawa semakin dingin dan basah, pandangan Ting Hun-pin yang remang-remang hanya bisa melihat beberapa langkah di sekitarnya, hatinya menjadi takut, teriaknya, "Pho Ang-soat, kemana kau? Kembalilah kau?"

Tiada jawaban, tiada reaksi. Ingin dia lari, sayang Hiat-tonya tertotok, kakinya kaku, inilah hasil ilmu totok keluarganya sendiri yang manjur. Ingin dia menjerit, namun dia takut mendengar gema suaranya yang berkumandang di alam pegunugan Pada saat itulah, tiba-tiba setetes benda cair yang dingin menetes di punggung tangannya, waktu dia menunduk dilihatnya tetesan itu bukan hujan, tapi adalah darah. Keruan hatinya melonjak, tak tahan dia berpaling, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pipinya, tangan yang dingin dan berlepotan darah, darah siapa? Tangan siapa? Ting Hun-pin tidak sempat melihat jelas, tahu-tahu pandangannya menjadi gelap dan tidak tahu apa-apa lagi.

BAB 41. ENGHIONG DI UJUNG JALAN

Tiada mega, kabut pun telah hilang. Di dalam goa yang gelap itu, sinar api yang menyala sedang menari-nari menerangi dinding goa yang berbentuk aneh, menyinari raut muka Ting Hun- pin. Begitu siuman, pertama yang terlihat olehnya adalah gundukan api itu. Namun dia tetap tidak bergerak, rebah diam saja mengawasi kobaran api yang bergerak-gerak. Lalu dilihatnya Pho Ang- soat yang duduk di pinggir api unggun, dia sedang memanggang seekor kelinci yang sudah dikuliti, gerak-geriknya kalem, tersimpul rasa ketenangan hati pada raut mukanya yang tersorot sinar api.

Daging kelinci yang berlepotan darah itu lama kelamaan sudah merah terpanggang, bau wangi yang menimbulkan selera seketika merangsang hidung. Tak tahan Ting Hun-pin memberi penjelasan, "Sungguh tadi aku terlalu lapar dan kedinginan, maka aku tidak tahan lagi."

"Untung kau membawa ketikan api, kalau tidak terpaksa kau makan daging kelnci mentah dan berlepotan darah," ujar Pho Ang-soat tawar.

"Kau ambil ketikan api milikku?" Ting Hun-pin berteriak tertahan. Pho Ang-soat menjawab dengan anggukan kepala.

Seketika Ting Hun-pin menarik muka, katanya keras, "Mana boleh kau sembarang menggeledah barang orang?"

"Memang tidak pantas, lebih baik kalau aku lucuti pakaianmu, lalu kupanggang kau di atas api untuk daharan."

Tersipu-sipu Ting Hun-pin menarik pakaiannya, seperti kuatir orang benar-benar akan menelanjangi dirinya. Sementara itu Pho Ang-soat sudah menyobek kelinci menjadi dua, bagian yang besar dilempar ke arahnya.

Daging panggang tanpa garam dan bumbu, sebetulnya mirip dengan perempuan yang punya 18 anak, takkan menimbulkan selera siapa pun. Tapi betapa pun daging panggang yang tawar ini masih boleh dirasakan juga.

Habis makan tiba-tiba Pho Ang-soat berdiri, katanya dingin, "Kau sendiri tidak bisa mencopot pakaian?"

"Kenapa aku harus mencopot pakaian?"

"Aku tidak ingin mati kedinginan atau mati karena sakit."

Baru sekarang Ting Hun-pin menyadari pakaiannya memang basah

kuyup, karena dalam goa lembab dingin sekali, kalau rebah semalam ditempat seperti ini, besok pagi bukan mustahil dirinya akan jatuh sakit. Sudah tentu dia tidak ingin jatuh sakit, namun harus mencopot pakaian di hadapan kecuali Yap Kay, dia lebih rela mati. Dengan mengertak gigi dia

tiba-tiba bertanya, "Apakah kau pernah memperkosa Be Hong-ling?"

Melonjak-lonjak kulit daging di muka Pho Ang-soat, sorot matanya menyorotkan penderitaan, tapi dia manggut-manggut. Apa yang pernah dia lakukan dia tidak pernah pungkiri.

"Kalau kau hendak memperkosa aku, sudah tentu aku tidak kuat melawanmu, tapi kuharap kau tahu satu hal."

Pho Ang-soat sedang mendengarkan. "Kecuali Yap Kay, lelaki siapa pun yang menyentuh aku, membuatku muak, tiada laki-laki yang sebanding dia. Dan kau membencinya, bukan lantaran dia membunuh Cui long, tapi lantaran kau tahu dirimu selamanya takkan dapat menandinginya "

Sekonyong-konyong Pho Ang-soat merenggut bajunya, lalu menjinjingnya, katanya serak, "Kau salah."

"Aku tidak salah."

"Kau sendiri yang memaksa aku melakukan hal ini." Mendadak dia gunakan tenaga menarik pakaiannya. Waktu Ting Hun-pin terjengkang jatuh, buah dadanya yang padat kenyal memutih laksana salju tertiup angin dingin.

Air matanya berlinang, katanya mengertak gigi, "Aku tidak salah, Yap Kay yang salah, dia yang salah menilai dirimu, hakikatnya kau bukan manusia, kau binatang."

Sekujur badan Pho Ang-soat bergetar, semakin lama semakin keras, mendadak badannya tersungkur jatuh meringkuk dan berkelejetan. Di bawah cahaya api, mukanya berkerut-kerut berubah bentuk, bibir mulutnya seperti congor kuda, buih meleleh keluar dari mulutnya.

Ting Hun-pin jadi melongo dan menjublek. Dia tahu Pho Ang-soat mengidap penyakit, namun tidak diduganya penyakitnya itu mendadak kumat dan begini menakutkan.

Mengawasi keadaan orang, rasa gusar dan takut Ting Hun-pin beransur-angsur hilang, kini berganti kasihan dan simpatik. Kalau dia bisa berdiri, tentu sudah membimbingnya bangun serta memeluk nya kencang, sayang bergerak pun tak bisa, hanya kedua tangan yang kaku kedinginan saja yang kuasa menutupi dadanya.

Tiba-tiba didengarnya langkah kaki orang di luar goa. Bukan seorang saja yang datang.

Serasa tenggelam hati Ting Hun-pin. Malam selarut ini siapakah gerangan yang menempuh perjalanan jauh dalam hawa sedingin ini kelayapan di atas pegunungan? Cepat sekali langkah kaki itu sudah tiba di luar goa. Cahaya api di dalam goa sekaligus memberitahu mereka bahwa di dalam goa ada orang.

Sesaat kemudian seseorang berseru di luar, "Siapakah nama besar saudara di dalam? Silakan keluar!"

Ting Hun-pin mengertak gigi. Diharap orang di luar dalam waktu dekat tidak berani menerjang masuk, diharap Pho Ang-soat lekas siuman sebelum mereka menyerbu masuk. Tapi dilihatnya sebatang golok terjulur masuk, disusul orang yang memegangi golok. Yang masuk hanya seorang, muka orang inipun menghijau seperti menggunakan topeng. Biji matanya dingin melotot kejam, sekilas melirik kepada Pho Ang-soat, sorot matanya akhirnya berhenti pada dada Ting Hun-pin yang hanya tertutup kedua tangannya, seketika terbayang nafsu birahi dalam matanya. Ingin rasanya Ting Hun-pin mengorek kedua biji matanya yang kurangajar itu.

"Apa yang kau lihat? Kau tidak pernah melihat perempuan?"

Orang itu tertawa, kakinya menendang Pho Ang-soat, katanya, "Dia pernah apamu?" "Peduli amat dengan kau?"

"Bukankah dia inilah Pho Ang-soat yang meruntuhkan Koan-tang Ban be tongcu?" "Darimana kau tahu?"

"Memangnya aku sedang mencari dia." "Untuk apa kau mencarinya?"

"Kucari hendak minta bantuannya mencari sesuatu untuk membunuh orang," lalu dia tertawa sendiri, katanya pula. "tapi sekarang dia malah dibunuh orang lain."

Sedapat mungkin Ting Hun-pin mengendalikan perasaannya, "Kalau benar kau punya pikiran demikian, kau pasti menyesal." "Bukan saja aku berpikir demikian, aku masih ada pikiran lain pula." "Apa yang kau pikirkan?"

"Laki-laki siapa yang melihat gadis cantik telanjang dada tidak akan meengiler, tentunya kau bisa membayangkan apa yang kupikirkan sekarang."

Dingin dan kaku sekujur badan Ting Hun-pin, teriaknya, "Kau berani?"

"Kenapa tidak, umpama Pho Ang-soat bisa mencabut goloknya, aku tidak takut. Apalagi kalau dia tahu aku siapa, bukan mustahil dengan suka rela kau diserahkan kepadaku."

"Mengandal apa kau berani berkata demikian?"

"Mengandal suatu benda, benda yang tak mungkin diperoleh Pho Ang-soat meski dia mimpi seratus kali." Dengan tersenyum dia gunakan goloknya menyingkirkan tangan Ting Hun-pin yang menutupi dada, katanya lebih lanjut, "Dengan benda itu, bukan saja aku berani berpikir, malah berani kulakukan, kalau tidak percaya, biar sekarang kulakukan."

Hampir saja Ting Hun-pin menjerit, kedua tangannya terpaksa terpentang. Pada saat-saat kritis itulah, tiba-tiba dilihatnya sebuah benda kecil melayang masuk dari luar, tepat mengenai gigi orang yang sedang tersenyum lebar. "Krak", kontan tiga giginya rontok, sebuah benda bersama tiga giginya jatuh di atas badan Ting Hun-pin, itulah sebutir kacang kulit.

Seketika berubah air muka orang itu, sebelah tangan mendekap mulut, tangan yang lain mengayun golok. Melihat kacang itu, seketika muka Ting Hun-pin berubah juga, teriaknya, "Lok Siau-ka."

Kabut masih tebal dan gelap di luar gua, terdengar seorang berkata dengan tertawa, "Bukan Lok Siau-ka seorang yang bisa makan kacang di dunia ini." Dengan tersenyum seorang tampak melangkah masuk, pakaiannya sembarangan, senyumannya adem-ayem, melihat mimiknya, umpama langit ambruk pun tidak akan dia pedulikan.

Melihat orang ini, terasa oleh Ting Hun-pin hawa berkabut yang menyesakkan napas tiba-tiba sirna, hujan deras di luar pun terasa berhenti, umpama dunia kiamat pun tak dihiraukan pula, karena orang yang datang ini adalah Yap Kay.

Betapa lega dan terhibur hati Ting Hun-pin, memang sengaja dia menarik muka, katanya, "Kelayapan kemana saja kau, sampai sekarang baru datang."

Yap Kay menghela napas, ujarnya, "Sebetulnya aku ingin datang lebih pagi, namun tidak tega aku melihat Engkohmu rebah di tanah, betapa pun dia toh Engkohmu kedua."

Tak tahan Ting Hun-pin cekikikan geli, katanya, "Memang kau harus sedikit baik dan mengambil hatinya, karena cepat atau lambat akhirnya dia toh Bakal menjadi Engkohmu juga."

Tiba-tiba berkerut alis Yap Kay mengawasi keadaan Ting Hun-pin, katanya, "Kenapa orang- orang keluarga Ting kalian suka rebah di tanah?"

"Kau sendiri pernah bilang, seorang pintar bila punya waktu merebahkan diri, dia takkan mau duduk."

"Benar, masuk di akal," ujar Yap Kay, lalu dipandangnya Pho Ang-soat serta berpaling kepada laki-laki yang membawa golok itu, mulut orang sudah terbungkam, namun darah masih merembes keluar. Sebagai seorang kawakan Kangouw yang licik dan licin bagai rase, sudah tentu dia tahu orang yang mampu memukul rontok ketiga giginya dengan kacang, tenth bukan orang sembarangan.

Tapi kebetulan Yap Kay membelakangi dirinya, betapa pun lihainya seseorang, punggungnya takkan tumbuh mata, kebetulan goloknya teracung tepat mengarah ke Yap Kay, kesempatan yang sukar didapat ini, sayang sekali kalau disa-siakan. Mendadak dia ayun goloknya membacok tengkuk Yap Kay. Tak nyana punggung Yap Kay justru seperti tumbuh mata mendadak dia membalik badan, jarinya dengan ringan menggaris di tangan laki-laki yang memegang golok. Tahu-tahu golok orang sudah berpindah ketangannya. Dengan mengawasi golok di tangannya, Yap Kay tersenyum, "Agaknya golok ini cukup baik juga mutunya."

Kaku dan menyengir jelek muka orang itu, dia paksakan hendak tersenyum, namun senyumannya lebih jelek dari mewek tangisnya.

"Golok secepat ini bila membacok leher siapa pun, batok kepalanya pasti terpenggal jatuh, kau percaya tidak?" dengan golok itu dia gerakgerakan di leher orang lalu menambahkan, "Jika kau tidak percaya, boleh kau mencobanya."

Saking ketakutan, pucat-pias muka orang itu, katanya tergagap, "Tidak tidak usah dicoba." "Jadi kau percaya?"

"Sudah tenth sudah tentu aku percaya, siapa tidak percaya dialah kura-kura." Yap Kay tertawa terpingkal-pingkal.

Tiba-tiba orang itu bertanya, "Kulihat tuan naik kemari, adakah melihat teman-temanku?"

Yap Kay manggut-manggut, sahutnya, "Kulihat mereka sudah letih setengah mati, maka kuanjurkan mereka merebahkan diri istirahat saja."

Kembali berubah air muka orang itu, katanya, "Sebetulnya aku... aku pun sudah amat letih sekali."

"Kalau sudah letih kenapa tidak tidur saja."

Tanpa bercuit, orang itu segera menuju ke pojokan sana, lalu merebahkan diri lempang kaku. Ting Hun-pin cekikikan geli, katanya, "Agaknya orang ini tahu diri"

"Zaman sekalut ini, memangnya tidak banyak orang bodoh"

Yap Kay menghela napas, "Aku tahu kau pun ingin berdiri dan jalan-jalan, kalau rebah terlalu lama badan pun terasa amat penat."

"Oleh karena itu kau boleh menggunakan kesempatan ini untuk memijat dan meraba-raba pahaku," goda Ting Hun-pin tertawa malu-malu.

Yap Kay menghela napas, ujarnya, "Aku heran kenapa waktu Jikomu menotok Hiat-tomu, tidak sekalian menotok mulutmu supaya tidak cerewet?"

"Karena dia tahu aku hendak menggigitmu sampai mampus."

Pelan-pelan badan Pho Ang-soat sudah mulai menjulur tegak, namun napasnya masih tersengal-sengal.

Mengawasinya, Yap Kay berkata rawan, "Laki-laki seperti dia kenapa dihinggapi penyakit seperti ini."

Ting Hun-pin sudah berdiri, dia tengah membungkuk mengurut kakinya katanya, "Dia memang orang yang harus dikasihani, tapi ada kalanya sikapnya membuat orang ketakutan." Lalu dia bertanya, "Tahukah kau kenapa dia menggusurku ke tempat ini?"

Yap Kay geleng-geleng.

"Dia kira kaulah yang membunuh Cui long."

Bertaut alis Yap Kay, tanyanya melenggak, "Cui long sudah mati?" "Kuburannya ada di luar, Pho Ang-soat sendiri yang menguburnya." Lenyap senyuman yang menghiasi muka Yap Kay.

"Apa benar kau yang membunuhnya?" Ting Hun-pin menegas. "Kau pun mengajukan pertanyaan seperti itu?"

"Sudah tentu aku tahu kau tidak akan melakukan perbuatan serendah itu, tapi kenapa pisaumu berada di tangannya?"

"Pisauku?" Yap Kay bersuara heran. Belum Ting Hun-pin bersuara, tiba-tiba dilihatnya sinar kemilau berkelebat. Tahu-tahu Yap Kay mengulurkan tangan, sinar kilat dari cahaya pisau sudah berada di tangannya, sebilah pisau terbang yang tajam dan runcing. Waktu dia mengangkat kepala, dia melihat Pho Ang-soat.

Waktu Pho Ang-soat berdiri, keadaannya mirip kabut yang mendadak menguap keluar dari dalam bumi, sinar api sudah guram, kelihatan mu kanya lebih kurus, pucat dan terlalu letih. Tapi dendam hatinya jauh lebih berkobar dari bara api yang menyala. Jarinya menggenggam kencang sebatang pisau, setajam golok matanya menatap Yap Kay, katanya tandas, "Bukankah ini pisaumu?"

Yap Kay tidak menjawab, tidak bisa menjawab, memang pisau itu mirip benar dengan pisau miliknya, tapi pisau itu terang bukan miliknya. Tidak banyak orang yang bisa menggunakan pisau ini, tapi bukan mustahil tiada orang yang tidak bisa menggunakan nya. Tapi sungguh dia tidak habis pikir entah siapa yang mampu membuat pisaunya mirip kepunyaannya. Bahwasanya tiada orang di dunia ini yang pernah melihat pisaunya itu.

Pho Ang-soat masih menatapnya, menunggu jawabannya. Terpaksa Yap Kay berkata dengan tersenyum getir, "Membunuh siapa saja aku pakai pisau ini?"

"Kau bunuh cucu Kwe Wi, lalu membunuh Ong Toa-hong. Apa bukan?" tuduh Pho Ang-soat. "Ong Toa-hong? Siapa pula Kwe Wi?"

"Kau suruh Ong Toa-hong membunuh orang, lalu kau membunuhnya pula untuk menutup mulutnya."

"Jadi Cui long mati di tangan Ong Toa-hong?"

"Yang dipakai adalah pedang beracun, tapi cara kerjamu jauh lebih jahat dari pedangnya yang beracun."

Yap Kay menghela napas, ujarnya tersenyum kecut, "Umpama sekarang aku menyangkal tuduhanmu, kau pun takkan mau percaya."

"Pasti tak percaya."

"Tapi tidak pernah terpikir olehmu, kenapa aku harus membunuh Cui long?" "Yang ingin kau bunuh bukan Cui long, tapi aku."

"Kau? Kenapa aku hendak membunuh kau?"

Belum Pho Ang-soat bicara, laki-laki yang rebah di tanah itu mendadak mencelat bangun, teriaknya, "Karena kau sudah dibeli oleh Ban be tong, secara kebetulan aku mencuri dengar pembicaraan nya."

Tiba-tiba Pho Ang-soat membalik, menatap orang itu, bentaknya bengis, "Kau siapa?" "Aku she Pek bernama Kian, teman-teman Kangouw menjuluki aku Pek bin long kun?" "Kau pernah melihat Be Khong-cun?"

"Setiap hari aku melihatnya." "Dimana dia sekarang?"

"Bunuh dia dulu, sembarang waktu aku bisa membawamu ke sana"

Membara pula muka Pho Ang-soat karena menahan emosi. Penguberan lama dan melelahkan selama beberapa hari tanpa hasil kini tanpa sengaja memperoleh kabar jejaknya. Kini terbetik setitik harapan menuntut balas akan dendam membara yang selalu mengganjal dalam sanubarinya. Terkepal kedua jari-jari tangan Pho Ang-soat, tak tertahan air mata berlinang di kelopak matanya.

Kata Pek Kian, "Aku kemari, maksudku hendak mengajakmu menemui Be Khong-cun, tapi dia "

"Dia memang sudah harus mampus," tukas Pho Ang-soat kasar.

Pek Kian sudah menghela napas lega, sorot mata dan mulutnya sudah menyungging senyuman. Tapi sekonyong-konyong sinar kemilau tiba-tiba berkelebat di depan matanya, selarik angin dingin menyerempet telinganya. Lalu disusul suara "Trap!", kembang api berpijar, sebatang pisau terbang menancap di dinding gua di belakangnnya, pisau tipis dan sekecil itu, amblas seluruhnya.

Kontan Pek Kian merasakan kedua lututnya tiba-tiba menjadi lemas, berdiri pun tak kuat lagi.

Jelas dia melihat pisau itu semula berada di tangan Yap Kay, cara bagaimana Yap Kay turun tangan, sedikit pun dia tidak melihatnya. Demikian pula Pho Ang-soat tidak tahu kapan pisau itu melesat terbang, seketika mukanya pun berubah.

Terdengar Yap Kay berkata tawar, "Jika benar aku sudah dibeli oleh Ban be tong, orang ini sekarang sudah menjadi mayat."

Sejenak Pho Ang-soat ragu-ragu, tiba-tiba tertawa dingin, katanya, "Sudah tentu di hadapanku kau tidak akan membunuhnya untuk menyumbat mulutnya."

"Kau percaya obrolannya?"

"Hanya percaya pada kejadian yang kusaksikan sendiri. Aku dengan mata kepalaku sendiri aku melihat Cui long roboh di hadapanku."

"Jadi kau benar-benar bertekad hendak membunuhku untuk membalas sakit hatinya?"

Pho Ang-soat tidak banyak kata lagi. Tahu-tahu goloknya sudah bergerak. Lebih cepat dari sambaran kilat, lebih menakutkan dari kilat. Tiada orang yang bisa melukiskan, karena begitu golok ini bergerak seolah-olah dia dilandasi kekuatan dahsyat yang datang dari neraka. Selamanya belum pernah ada orang yang mampu lobos dari sambaran golok ini.

Tapi Yap Kay tahu-tahu menghilang. Begitu golok Pho Ang-soat bergerak, bayangannya tiba- tiba berkelebat pula mencelat mundur tiga tombak, seperti cecak menempel di dinding. Di saat golok tajam belum meninggalkan sarungnya, badannya sudah mencelat dan berjumpalitan ke belakang.

Gerakan mencabut golok Pho Ang-soat sudah dilatihnya berlaksa kali, gerakan yang paling sempurna, bila goloknya sampai meninggalkan sarungnya, takkan ada orang yang mampu meloloskan diri dari serangan golok ini. Badan Yap Kay justru seperti diantar hembusan angin. Agaknya dia sudah mempersiapkan diri untuk menghindarkan tabasan golok ini.

Hanya Pho Ang-soat saja yang tahu betapa indah dan cepat gerakan jumpalitan berkelit dari tabasan goloknya. Telapak tangan yang menggenggam gagang golok sudah berkeringat.

Mengawasinya, tiba-tiba Yap Kay bersuara, "Cara ini kurang adil." "Kenapa tidak adil?"

"Kau membunuhku, aku mati penasaran, tapi jika sebaliknya aku yang membunuhmu?"

Ting Hun-pin segera menyeletuk, "Jika kau mati, siapa lagi yang mewakili kau mencari Be Khong-cun? Memangnya kau sudah melupakan dendam kesumatmu?"

Mana Pho Ang-soat bisa melupakannya! Hidupnya memangnya untuk memikul beban dendam kesumat ini, umpama dia ingin melupakan, juga takkan bisa melupakan.

Dengan menenteng goloknya yang sudah keluar dari sarungnya, Pho Ang-soat menjublek, dia tidak tahu apakah harus melanjutkan serangan goloknya yang kemilau bening seperti selalu ketagihan darah itu. Pek Kian mengertak gigi dengan bersitegang leher, sorot matanya diliputi warna darah saking menahan gejolak hati. Dia sudah melihat keraguan Pho Ang-soat, dia pikir bila Yap Kay tidak mampus, maka dirinya yang ajal. Biasanya dia licik dan culas, tapi di bawah tekanan ancaman kematian, otaknya menjadi bebal seperti babi gobloknya. Mendadak dia berseru,

"Kenapa tak lekas kau turun tangan? Waktu kau rebah di atas tanah tadi, bila aku tidak menolongmu, dia sudah membunuhmu, memangnya kau masih hendak memberi kesempatan pula kepadanya?" Pikirnya hasutannya amat manjur, kalau dia sendiri dalam keadaan seperti Pho Ang- soat, sekarang mungkin sudah kalap dan beringas, takkan memberi kesempatan kepada musuh.

Tapi dia salah besar. Dia lupa dan mungkin tidak tahu bahwa Pho Ang-soat bukan laki-laki seperti yang dia ukur dengan bajunya.

Tiba-tiba Pho Ang-soat menghadapnya pula, setajam golok matanya menatap lekat-lekat, tanyanya sepatah demi sepatah, "Tadi kau yang menolongku?"

Sekuat tenaga Pek Kian manggut-manggut. "Kenapa kau menolongku?"

"Karena aku hendak mengajakmu membunuh Be Khong-cun, sehari Be Khong-cun tidak mampus, sehari hidupku takkan tenteram." Penjelasan ini cukup adil dan masuk akal, dia merasa puas dan bangga.

Tak nyana Pho Ang-soat tiba-tiba tertawa dingin, "Masih ada sebuah hal yang belum kumengerti."

"Hal apa?"

"Kalau dia benar-benar hendak membunuh aku, memangnya kau mampu menolong aku?"

Seketika Pek Kian melongo. Akhirnya dia mengerti, meski pemuda ini cacad, mengidap penyakit yang bisa kumat sembarang waktu, terang bukan pemuda hijau dan bodoh seperti yang dia kira semula. Baru sekarang dia benar-benar sadar, barusan dia melakukan tindakan yang paling goblok.

Dengan dingin Pho Ang-soat mengawasinya, mengawasi keringat bercucuran membasahi badannya, rona matanya seperti mengawasi anjing liar yang diusir dari tumpukan sampah. Seperti muak mengawasi orang, kepala Pho Ang-soat tertunduk, katanya dingin, "Seharusnya kubunuh kau."

Mengawasi goloknya, sekujur badan Pek Kian gemetar. "Tapi orang serendah dirimu bahwasanya tidak setimpal aku yang turun tangan."

Kaki Pek Kian jadi lemas, badannya roboh menindih dinding, siapa pun yang berhasil merangkak keluar dari jurang kematian, takkan luput seperti keadaannya sekarang.

"Aku tidak membunuhmu," ujar Pho Ang-soat lebih lanjut, "maka jangan kau memaksaku." "Aku aku mengerti."

"Apa benar Be Khong-cun masih hidup?" "Takkan salah."

"Kau membawaku ke sana? Atau ingin mati di sini? Boleh kau pilih satu di antara dua jalan ini," dia tidak menambahkan peringatannya, tak meliriknya lagi. Karena orang toh tiada kesempatan untuk memilih lagi.

Mengawasi orang, Yap Kay tertawa riang, katanya, "Agaknya sudah banyak kemajuanmu."

Pho Ang-soat masih mengawasi goloknya sendiri. Sejak kematian Cui long, baru sekarang mendadak dia merasa keyakinan yang teguh pada sanubarinya. Diangkatnya kepala mengawasi Yap Kay, katanya, "Hari ini aku boleh melepas kau pergi, tapi perhitungan kita tetap akan kubereskan." "Aku mengerti."

"Kapan? Di tempat mana? Boleh kau tentukan sendiri." "Waktu dan tempatnya tidak perlu ditentukan lagi." "Kenapa?"

"Aku sedang menganggur, sekarang aku boleh ikut kau."

"Asal aku melihat Be Khong-cun, takkan ada orang yang mampu menolongnya." "Bukan aku ingin menolongnya, tapi aku ingin melihat keramaian"

"Melihat aku membunuh Be Khong-cun, baru menunggu aku membunuhmu?"

"Umpama kau merubah niatmu tidak akan membunuhku, aku pun tidak akan menantangmu." "Kau boleh menonton atau menunggu, peduli dia yang membunuhku atau aku yang

membunuhnya, lebih baik kalau kau tidak turut campur." "Baik, aku berjanji."

"Di tengah jalan, lebih baik kalian jauh di belakang jangan sampai aku melihat kalian." Dia tidak akan senang melihat muda-mudi lain berpasang-pasangan, dia lebih suka sebatang kara.

Yap Kay cukup merasakan pukulan batinnya, katanya tertawa, "Sebetulnya kau tidak perlu minta orang ini menunjukkan jalan."

"Kenapa?"

"Karena aku sudah ingat akan asal-usulnya." "Oh, dia orang mana?"

"Dia orang Liong hou ce. Be Khong-cun selama ini tentu menyembunyikan diri di Liong hou ce."

Pucat menghijau muka Pek Kian, secara tidak langsung dia sudah mengakui bahwa Be Khong- cun memang berada di Liong hou ce. Hidupnya sudah tidak berharga lagi bagi orang lain. Dia kira Yap Kay takkan mengampuni jiwanya. Sayang dia salah sekali lagi. Dia lupa bahwa Yap Kay merupakan manusia jenis lainnya lagi, bukan laki-laki seperti dirinya.

Tiba-tiba Ting Hu-pin cekikikan mengawasi dirinya, katanya, "Tak usah kuatir, walau mereka tidak perlu kau menunjukkan jalan, jiwamu takkan dibunuh, karena mereka bukan manusia jahat yang berhati kejam."

Pek Kian menyeka keringat, katanya tersendat, "Aku...aku tahu mereka adalah orang baik-baik."

"Mereka memang orang baik, tapi aku bukan." Seketika pucat pula muka Pek Kian, serunya, "Kau "

"Aku hanya seorang perempuan, perempuan biasanya berpikiran sempit, oleh karena itu selalu kau harus ingat, siapa pun boleh kau permainkan, namun jangan kau main-main dengan perempuan."

Bercucuran pula keringat Pek Kian, katanya meratap, "Selanjutnya aku pasti pasti ingat." "Benarkah selama hidupmu tidak akan melupakannya?"

"Benar, aku bersumpah."

"Sayang aku tidak percaya omonganmu."

"Kau dengan cara apa baru kau mau percaya?"

"Hanya ada satu cara." Mengawasi rona mukanya, tiba-tiba Pek Kian sadar cara apa yang dia maksud, mendadak dengan sisa tenaganya dia menerjang keluar. Kali ini dia tidak salah. Walau dia tidak mengerti apa itu yang dinamakan Enghiong dan Kuncu, tapi cukup mengerti akan watak perempuan. Waktu dia melangkah keluar gua, tiba-tiba didengarnya suara kelintingan yang nyaring merdu mengejar di belakang. Dan suara itulah yang didengarnya terakhir kali.

Malam semakin larut. Cuaca yang tambah pekat menandakan hari menjelang terang tanah. Pho Ang-soat mengawasi Pek Kian tersungkur roboh di kegelapan, dia berpaling kepada Yap

Kay, katanya dingin, "Tidak seharusnya kau biarkan dia mati." "Tapi dia pun tidak pantas berbuat dosa terhadap perempuan." "Jika Be Khong-cun tidak berada di Liong hou ce?"

"Dia pasti di sana."

Sayang kali ini Yap Kay salah. Be Khong-cun tidak berada di Liong hou ce, di sana sudah kosong tiada seorang pun yang ketinggalan hidup.

Darah yang berceceran sudah membeku, mayat-mayat yang bergelimpangan pun sudah kaku dingin. Yap Kay bukan laki-laki yang tidak pernah melihat darah dan mayat, namun sekarang dia hampir muntah-muntah. Bukan saja di sini dia tidak menemukan seorang hidup, malah tiada sesosok mayat pun yang utuh jasadnya.

Pho Ang-soat sebaliknya menggenggam kencang goloknya, sekuat tenaga dia menahan diri, toh tidak tertahan muntah-muntah juga, dia tidak tega melihat pemandangan yang begini mengerikan. Apakah begini juga keadaan sembilan belas tahun yang lalu di luar Bwe hoa am dulu? Belum pernah dia begitu membenci Be Khong-cun seperti sekarang. Karena dia sekarang menyaksikan sendiri betapa kejam dan culas manusia bernama Be Khong-cun itu.

Entah berapa lama kemudian baru Yap Kay menarik napas panjang, katanya, "Tentu dia sudah tahu bila Pek Kian mencari dan mengundangmu kemari, maka dia turun tangan sekeji ini."

Pho Ang-soat tidak memberi komentar, asal dia buka suara, rasanya hendak muntah-muntah.

Yap Kay berjongkok dengan dua jarinya dia menjumput tanah yang berlepotan darah, tanah itu masih basah, sinar surya tidak menyorot sampai di sini, darah memang sudah membeku, tapi belum kering seluruhnya. Maka Yap Kay berani berkepastian, "Agak belum lama dia pergi."

Ting Hun-pin melengos, katanya dengan menutup muka, "Tapi siapa yang tahu ke jurusan mana dia melarikan diri?"

"Tiada yang tahu," sahut Yap Kay. Matanya menatap ke tempat jauh, sorot matanya dijalari amarah, lama sekali dia baru menyambung, "Aku hanya tahu, orang seperti dia kemana dia pergi, takkan pergi jauh."

"Kenapa?"

"Karena jalan mana pun akhirnya akan habis dia lalui."

BAB 42 JALAN BUNTU PISAU PAMUNGKAS

Umpama seseorang sudah habis melalui jalan yang harus ditempuhnya, umpama sudah tiada jalan yang bisa dia lalui, dia pun takkan mau berhenti. Karena dia masih punya semacam jalan lain. Jalan buntu. Tiada orang yang suka rela menempuh jalan buntu, tapi jika kau benar-benar tidak mau, takkan ada orang yang memaksamu untuk menuju ke jalan buntu hanya dirimu sendiri.

Jalan pegunungan amat sempit dan tidak rata, terjal dan berbatu, ada batu runcing setajam tatah, seperti bor. Tapi di depan masih ada jalan. Sebidang hutan yang rimbun menutupi cahaya matahari yang semakin terik menyengat kulit.

Ban be tongcu menanggalkan topi rumputnya yang lebar, duduk di tanah, bersandar di pohon mengatur napas. Ingin dia menggunakan topi rumputnya mengipas diri supaya terasa segar, tapi terasa lengannya amat linu beku, diangkat pun rasanya amat berat. Dulu dia tidak pernah merasakan hal seperti ini.

Dulu berapa banyak manusia yang dia jagal, tak pernah merasa lelah, ada kalanya semakin banyak dia membunuh orang, semangatnya malah berkobar, dulu pernah dia merasa dirinya manusia luar biasa, makhluk aneh setengah malaikat setengah binatang. Selamanya dia beranggapan tenaga dan kekuatannya takkan pernah habis digunakan. Sekarang baru dia mengerti bahwa dirinya tidak lebih hanya manusia biasa, seorang tua yang sekujur badannya terasa sakit dan linu. hatinya diliputi kegelisahan.

"Kenapa aku seperti juga orang lain, bisa berubah jadi tua dan lemah?" Tua memang suatu hal yang sering membuat orang sedih, namun hanya amarah, penasaran dan dendam yang bersemayam dalam sanubarinya. Terhadap setiap persoalan dia selalu dihayati dendam.

Dianggapnya dunia sudah berlaku tidak adil kepada dirinya. Sejak muda dia berjuang seumur hidup, darah dan keringat yang dia cucurkan puluhan lipat lebih banyak dari orang lain. Tapi sekarang dirinya bagai binatang yang diburu pemburu, lari sana sembunyi sini, melarikan diri dari pertanggung jawaban ....

Dia pernah memiliki bumi yang paling besar di dunia ini, namun sekarang tempat untuk berteduh pun tiada lagi. Dia pernah memiliki rombongan kuda yang paling tinggi mutunya di dunia ini, sekarang dia harus lari menggunakan kedua kakinya sendiri, sampai telapak kakinya tertusuk berdarah oleh batu runcing. Sudah tentu dia marah penasaran dan dendam. Karena tidak terpikir dalam benaknya, siapa yang membuat akibat ini. Atau mungkin dia memang tidak berani memikirkannya.

Sim Sam-nio duduk di hadapannya, duduk di atas sebuah buntalan yang amat besar, napasnya pun tersengal-sengal, biasanya perempuan ini paling pintar berdandan dan memelihara tubuh, tapi sekarang badannya penuh berlepotan darah, debu, lumpur, sepatu yang dipakainya pun sudah tipis hendak robek berlubang, malah telapak kakinya pun sudah berdarah.

Badannya sudah lunglai, karena barusan dia muntah-muntah, dari atas sanggulnya tadi dia menurunkan sekeping dagu manusia. Bila angin berhembus, badannya lantas merasa kedinginan, tapi lantaran dibayangi ketakutan.

Baju di depan dadanya sudah terbelah, hanya serambut saja golok Tok gan liong hampir membuat dadanya terbelah. Namun dalam hatinya tidak merasa dendam. Karena semua ini dia sendiri yang mencarinya, tidak bisa menyalahkan orang lain.

Dia tahu Ban be tongcu sedang mengawasi dirinya, biasanya bila orang memandangnya, segera dia menyunjuk senyuman manis dan genit, tapi sekarang dia tetap tunduk, mengawasi dadanya yang memutih karena bajunya sudah koyak.

Tiba-tiba Ban be tongcu menghela napas, katanya, "Dalam buntalan masih ada pakaian, kenapa tidak kau ganti yang lain?"

"Baik, biar aku ganti." Namun jangan toh ganti, bergerak pun tidak. Biasanya apa pun yang dianjurkan Ban be tongcu selalu dituruti. Ban be tongcu menatapnya lekat-lekat, lama sekali baru bertanya kalem, "Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Apa pun tidak kupikirkan," sahut Sim Sam-nio. "Tapi kulihat kau sedang banyak pikiran." "Umpama aku sedang memikirkan apa-apa, rasanya tak perlu kuberitahukan kepadamu "

Kulit daging ujung mulut Ban be tongcu tiba-tiba terasa kaku, seolah-olah mulutnya digampar orang. Mungkin perempuan ini pernah menipunya, menjual dirinya, tapi belum pernah sebandel dan seberani ini membantah kepadanya, dan ini untuk pertama kalinya.

Cuma sekarang dia sudah tua, sudah cukup pintar untuk memandang perempuan sebagai kuda, sudah tentu dia takkan berbuat seperti anak-anak muda pada umumnya, memburu maju terus menjambak rambutnya dan menghajar sepuas hati, kenapa kau berubah? Dia hanya tertawa saja, katanya, "Kau sudah letih, pergilah cuci muka, mungkin semangatmu akan lebih baik."

Di luar hutan terdengar gemercik suara air mengalir, tak jauh dari tempat mereka duduk bisa ditemukan sebuah sumber air yang mengalir.

Tapi dia tidak bergerak, sekilas Ban be tongcu memandangnya, pelan-pelan dia pejamkan mata, dia enggan mempedulikan orang lagi. Tak disangka Sim Sam-nio malah bersuara, "Tadi kau tanya apa yang sedang kupikirkan, sebetulnya tidak ingin kuutarakan, tapi sekarang sudah tiba saatnya aku harus mengemukakan isi hatiku."

"Baik, katakan."

"Tidak pantas kau bunuh mereka." "Tidak pantas membunuh mereka?" "Ya, tiada hak kau bunuh mereka."

Ban be tongcu masih memejamkan mata, namun kelopak matanya bergerak-gerak, lama kemudian baru dia berkata pelan-pelan, "Kubunuh mereka karena menjual diriku, siapa yang menjual diriku, harus mampus."

Bibir Sim Sam-nio hampir berdarah tergigit kencang, agaknya dia mengendalikan diri, tapi tak urung dia berkata pula, "Apakah orang-orang itu semuanya menjual dirimu. Apakah anak-anak dan perempuan itu mendurhakai kau? Kenapa kau bunuh mereka seluruhnya?"

"Karena aku harus hidup."

Tiba-tiba Sim Sam-nio tertawa dingin, katanya, "Kau hendak hidup memangnya orang lain tidak ingin hidup? Kalau kita ingin pergi, tiada seorang pun di antara mereka yang kuasa menahanmu, kenapa kau harus turun tangan sejahat itu?"

Tiba-tiba terkepal kencang jari-jari Ban be tongcu, otot merongkol di punggung tangannya, sesaat kemudian baru pelan-pelan mengendor dan dilepaskan pelan-pelan pula, lalu berdiri dan beranjak keluar hutan.

Air sumber dingin dan bening, Ban be tongcu berjongkok menggayung air dengan kedua telapak tangannya, begitu air mengalir dari celah-celah tangannya, perasaannya semakin tenang. Hanya dia sendiri yang tahu bilamana dia murka, ada kalanya dia pun tak kuasa mengendalikan emosinya. Punggungnya masih tegap, pinggangnya lencir, dilihat dari belakang, siapa pun takkan menyangka dia adalah seorang yang sudah tua. Sim Sam-nio sendiri mengakui, Ban be tongcu memang seorang laki-laki yang lain dari yang lain.

Semula demi menuntut balas dia rela menyerahkan diri memberikan kesuciannya, tapi setelah orang menggauli dirinya, tiba-tiba dia merasakan kepuasan hingga dia merasa senang. Rasa kepuasan semacam itu belum pernah dia nikmati dari laki-laki mana pun. "Apakah lantaran kepuasan itu, maka aku rela mengikuti jejaknya?" tiba-tiba hatinya bertanya-tanya.

Ban be tongcu merasakan orang berada di belakangnya, namun dia tidak berpaling. Setelah melewati sungai kecil ini, jalan pegunungan akan berakhir, dari tempat ketinggian di depan sana. Memandang ke tempat jauh, berkata Ban be tongcu, "Setiba di bawah gunung, kita bisa mencari rumah petani untuk menginap semalam "

Tiba-tiba Sim Sam-nio menukas, "Selanjutnya bagaimana?" Ban be tongcu menepekur, lama kemudian baru bersuara, "Kau tanya aku hendak berbuat apa?

Atau kita yang kau maksud?" "Kutanya kau. Bukan kita." Kaku badan Ban be tongcu.

Sim Sam-nio tidak mengawasinya, tiba-tiba tertawa dingin, katanya, "Apakah kau pun hendak membunuh keluarga petani itu untuk menutup mulutnya?"

Tiba-tiba Ban be tongcu membalik badan, sambil menatapnya berkata, "Seorang waktu melarikan diri, ada kalanya melakukan perbuatan memuakkan, tapi aku tak menyuruh kau ikut aku, selamanya tidak pernah "

"Aku sendiri yang ingin ikut kau, kemana pun kau pergi, aku akan mengikutimu, kau hidup, aku ikut hidup, kau mati aku pun mati." Suaranya sudah tersendat dan air mata berlinang, katanya sesenggukan, "Sebetulnya aku sudah berkeputusan menyerahkan jiwa ragaku kepadamu, karena aku... aku merasa bersalah terhadap kau, peduli apa pun yang pernah kau lakukan dulu, kau tetap adalah laki-laki sejati, tapi sekarang... sekarang. "

"Sekarang bagaimana?"

Sim Sam-nio menyeka air mata, sahutnya, "Sekarang kau sudah berubah." Sampai di sini serasa hulu hatinya ditusuk sembilu, karena dia sendiri pun tahu, bukan saja Ban be tongcu yang berubah, dirinya pun berubah.

Lama Ban be tongcu mengawasinya dengan teliti, akhirnya dia manggut-manggut, ujarnya, "Baik, kau sendiri yang mau ikut padaku, kalau sekarang kau hendak pergi, sudah tentu aku tidak akan memaksamu."

"Aku sudah memikirkan dengan seksama, aku akan pergi dengan membawa kebaikan bagi dirimu."

"Terima kasih akan perhatianmu, aku tahu akan maksud baikmu," suaranya datar dan tawar. "Selanjutnya kau hendak pergi kemana? Bagaimana pula rencanamu?"

"Sekarang belum ada rencana, mungkin mungkin aku akan berusaha mengumpulkan sedikit

uang, berdagang dulu kecil-kecilan atau mungkin aku kembali ke kampung untuk bercocok tanam di sawah."

"Kau bisa hidup dengan cara itu?"

"Dulu sudah tentu aku tidak bisa, tapi sekarang aku hanya ingin hidup tenang dan tenteram, umpama ajal juga tidak menjadi soal."

"Kalau tidak sampai mati?"

"Kalau tidak mati, aku akan jadi Nikoh saja."

Ban be tongcu tertawa, katanya, "Tak usah kau utarakan maksudmu ini, aku tahu kau perempuan yang tak mungkin sudi jadi biarawati, yang benar usiamu masih muda, kau harus mencari laki-laki yang masih muda, laki-laki yang romantis dan tahu kasih sayang terhadap bini, aku sendiri memang terlalu tua bagi jodohmu." Mulutnya tersenyum, namun sorot matanya memancarkan rasa cemburu dan marah.

Sim Sam-nio tidak melihatnya, katanya menghela napas, "Aku takkan mencari laki-laki lain, aku "

"Mungkin kau tidak akan mencari laki-laki, tapi bukan mustahil ada laki-laki yang mencarimu." "Mungkin apa yang akan terjadi besok pagi memang tiada manusia yang bisa menduganya."

"Sebetulnya aku cukup kenal watakmu, perempuan seperti kau asal tiga hari tidak ditemani laki-laki, kau takkan bisa hidup tenteram." Sim Sam-nio tersentak, mengangkat kepala, dengan kaget dia pandang Ban be tongcu.

Sungguh tidak pernah terpikir olehnya orang bakal mengeluarkan kata-kata sekasar dan sekotor ini, ucapan yang begini menakutkan.

Biji mata Ban be tongcu pun sudah merah karena marah. Sebetulnya dia berusaha mengendalikan diri, menjadi laki-laki yang bersikap jantan, namun terbayang adegan ranjang yang merangsang itu, terbayang bahwa kelak dia bakal tidur seranjang dengan laki-laki lain, teringat laki-laki muda yang bakal merayapi badannya seperti anjing kelaparan itu... tiba-tiba hatinya seperti digerogoti oleh ular beracun, tiba-tiba katanya dingin, "Oleh karena itu aku usulkan lebih baik kau jadi pelacur saja, paling tidak setiap hari kau bisa berganti seorang laki-laki."

Bercucuran keringat dingin Sim Sam-nio, rasa sesal dan bertobat dalam sanubarinya tadi seketika berubah menjadi amarah yang meluap, mendadak dia berkata keras, "Usulmu ini memang baik, mungkin akan kulaksanakan, cuma sehari ganti satu laki-laki terlalu sedikit, tidak cukup memuaskan, lebih baik kalau sehari bisa ganti tujuh-delapan laki-laki. Belum habis dia bicara, tiba-tiba Ban be tongcu melayangkan telapak tangannya menggampar pipinya, sekali renggut dia jambak rambutnya pula, bentaknya beringas, "Sekali kau katakan lagi, kubunuh kau."

Sim Sam-nio mengertak gigi, katanya menyeringai dingin, "Lebih baik kau bunuh aku, memang sudah lama kau harus membunuhku, supaya aku tidak menemani kau tidur lagi, hatiku sudah muak." Tahu dirinya takkan bisa melukai orang, kecuali dengan sindiran tajam ini.

Kepalan Ban be tongcu sudah terangkat. Sorot mata Sim Sam-nio sudah membayangkan ketakutan, dia tahu kepalan orang yang menakutkan, sekali kepalan ini menggenjot, muka orang bisa dipukulnya hancur. Tapi dia tidak meratap dan minta ampun. Matanya masih terbelalak melotot tajam.

Ban be tongcu balas mendelik, sekian lama mereka saling pelotot, akhirnya Ban be tongcu menghela napas, kepalan yang terangkat diturunkan, lalu diulapkan tangannya, katanya, "Pergilah, lekas pergi, lebih baik selamanya kau tidak muncul di hadapanku, lebih baik "

Suaranya tiba-tiba terputus. Tiba-tiba dia melihat selarik sinar pisau berkelebat melesat dari belakang Sim Sam-nio.

Tampak raut muka Sim Sam-nio tiba-tiba berkerut-kerut menahan sakit. Biji matanya yang indah dan elok melotot membundar hampir melotot keluar, sorot matanya mengandung rasa heran, tak mengerti, ketakutan dan menderita, tangannya terulur hendak minta bantuan Ban be tongcu untuk memapak, tapi Ban be tongcu malah mundur setapak. Tenggorokannya berbunyi "krak", seperti hendak bicara, namun belum sempat suaranya terdengar badannya sudah tersungkur roboh.

Sebatang pisau tampak menancap di punggungnya, menembus tulang punggungnya. Itulah sebilah pisau kecil.

Melihat pisau ini semula Ban be tongcu merasa gusar dan heran, tapi mendadak mimiknya berubah ketakutan. Sebetulnya dia ingin maju memapaknya, namun mendadak dia menyurut mundur malah keringat dingin sudah bercucuran dari kepalanya.

Pisau terbang ini melesat dari dalam hutan, namun hutan yang gelap gulita di sana tak kelihatan bayangan seorang pun. Ban be tongcu terus menyurut mundur, paras mukanya sudah berubah saking ketakutan, mendadak dia putar badan, sekali lompat dia melewati sungai kecil, tanpa berpaling terus lari lintang-pukang.

Sim Sam-nio mendekam di tanah, dia meronta-ronta, mulutnya mengeluh dan merintih. Tapi laki-laki yang diandalkannya tak menolongnya malah lari sipat-kuping. Mendengar langkah orang menuju bawah bukit, hatinya menjadi dingin dan mendelu.

Mimpi pun tak pernah dia duga, laki-laki yang begitu kejam, telengas, kadang kala beringas dan buas, kini baru menunjukkan belangnya, jiwanya ternyata begitu kerdil dan rendah serta hina, malah melarikan diri. Baru sekarang benar-benar dia menyadari hidupnya selama ini ternyata sia- sia belaka, segala pengorbanannya pun nihil, karena dia sudah memasrahkan jiwa raga dan kehidupannya kepada seorang laki-laki pengecut.

Waktu darah merembes dari ujung mulutnya, air matanya tak tertahan bercucuran. Pada saat itu juga dia mendengar langkah kaki seseorang mendatangi diiringi helaan napas.

"Tak nyana memang Ban be tongcu laki-laki demikian umpama dia tidak bisa menuntut balas bagimu, paling tidak harus merawat luka-lukamu, tapi larinya malah lebih cepat dari anjing." Dari suaranya, sepertinya laki-laki yang masih muda, laki-laki asing. Orang inikah yang membokong dirinya dari belakang?

"Walaupun kau mati di tanganku, tapi kau patut membencinya, karena dia lebih berdosa daripadaku terhadapmu."

Kiranya benar, memang orang ini yang menurunkan tangan keji. Sim Sam-nio mengertak gigi, dia meronta hendak membalik badan melihat orang di belakangnya, sedikitnya dia harus melihat siapa sebenarnya yang membunuhnya? Tapi kaki orang itu sudah menginjak punggungnya, katanya tertawa dingin, "Jika kau ingin melihat aku, tak usahlah, yang terang kau toh tidak kenal siapa aku, hakikatnya kau belum pernah melihatku."

Dengan mengerahkan setaker tenaga, Sim Sam-nio bersuara serak "Lalu kenapa kau membunuh aku?"

"Karena kurasa hidupmu di dunia ini sudah tiada artinya lagi," sahut orang. "Lebih baik kau mati saja."

Sim Sam-nio mengertak gigi, menahan sakit, mau tidak mau harus mengakui kebenaran ucapan orang, memang tadi pernah timbul keinginan begitu dalam benaknya.

"Jika aku jadi perempuan, jika ikut laki-laki seperti Be Khong-cun, aku takkan mau hidup lagi, cuma... mati, mempunyai rasa yang berbeda-beda."

"Sekarang kau belum ajal, tiada halangan kuberitahukan kepadamu, ada kalanya mati malah lebih nyaman daripada hidup, tapi mati harus cepat, kalau pelan-pelan, deritanya sungguh tak tertahankan"

Sim Sam-nio meronta, katanya gemetar dengan napas memburu, "Kau... masa kau masih ingin menyiksaku?"

"Tergantung kau sendiri, asal kau mau mendengar omonganku, aku boleh memberi kematian yang nyaman kepadamu."

"Apa keinginanmu?"

Terjulur tangan orang itu menjinjing buntalan besar itu, katanya, "Buntalanmu ini tidak kecil, tapi harta milik Ban be tong bukan hanya ini saja, sebelum kalian lari, dimana kalian menyimpan harta bendanya?"

"Aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu."

"Sekali lagi kau mengatakan tidak tahu, kubelejeti pakaianmu, biar kurasakan dulu kenikmatan badanmu, baru kuputus urat nadi kakimu, lalu kubawa ke kota dan dijual ke sarang pelacuran." Dia tersenyum senang, lalu meneruskan, "Ada laki-laki yang tidak suka pilih-pilih, perempuan cacad pun bolehlah."

Dingin sekujur badan Sim Sam-nio, cara bicara orang ini halus dan sopan, tentunya seorang pemuda terpelajar yang tahu aturan dan kesopanan. Tapi apa yang dia katakan dan dia lakukan, sungguh lebih kejam dan buas dari binatang liar.

Terdengar orang itu berkata pula, "Sekarang kutanya sepatah kata lagi, kau tahu tidak?" "Aku... aku " Sekoyong-koyong dari hutan sebelah sana terdengar berkumandang suara kelintingan berdering. Suara seorang gadis yang merdu berkata, "Aku tahu dia pasti lari lewat jalan ini, aku punya firasat."

Seorang laki-laki terdengar tertawa.

Gadis itu berkata lebih keras, "Apa yang kau tertawakan? Ketahuilah, jangan kau pandang ringan firasat perempuan, ada kalanya jauh lebih manjur dari ramalan Cukat Liang si ahli perbintangan dan nujum itu. "

Sim Sam-nio belum pernah mendengar suara gadis ini, tapi suara tawa laki-laki itu sudah amat dikenalnya. Tiba-tiba ia teringat siapa gerangan orang ini, jantungnya seketika berdetak keras.

Disusul tiba-tiba dia menyadari, orang yang menginjakkan kaki di punggungnya entah kapan tahu- tahu sudah menghilang tanpa bekas.

Waktu Yap Kay keluar dari dalam hutan, pandangan pertama yang dilihatnya adalah perempuan yang rebah tengkurap di pinggir sungai.

Sudah tentu dia pun melihat pisau yang menancap di punggung orang itu. Sang korban masih hidup, napasnya tersengal-sengal. Lekas dia memburu maju terus memapahnya duduk, mendadak dia berteriak kaget, "Sim Sam-nio!"

Sim Sam-nio tertawa, tawa yang pilu dan rawan Sebetulnya dia tak ingin dalam keadaan seperti ini berjumpa Yap Kay, tapi setelah berhadapan, hatinya terasa sedap dan hangat. Mulutnya merintih, tiba-tiba dia bersenandung lirih, "Langit bergoncang, bumi bergoyang. Manusia secantik dan semulus batu giok, berbadan harum bagai kembang. Sim Sam-nio dari Ban be tong. "

katanya memilukan, tanyanya lirih, "Masih kau ingat akan nyanyian ini?

Sudah barang tentu Yap Kay masih ingat. Itulah syair lagu yang dia nyanyikan di tengah padang rumput pada malam hari waktu dia bertemu dengan Sim Sam-nio. Tak nyana Sim Sam-nio masih mengingatnya sampai sekarang.

"Tentu kau tidak mengira aku masih mengingatnya, malam itu.”

"Aku hanya ingat orang yang menemani aku minum malam itu bukan kau," tukas Yap Kay tertawa pilu juga.

"Aku pun ingat, malam itu hakikatnya kau tidak pernah berkunjung ke tempat itu." Habis mengucapkan omongannya, darah kembali merembes dari ujung mulutnya.

Dengan ujung jarinya Yap Kay menyeka darah yang meleleh, di samping berduka, dia amat marah pula. tanyanya, "Apakah Ban be tongu pula yang turun tangan sekeji ini?"

"Bukan dia!"

"Siapa kalau bukan dia?"

"Seorang pemuda, melihat pun tidak bayangannya." "Lalu darimana kau tahu dia seorang pemuda?"

"Karena aku mendengar suaranya, barusan dia sedang memeras aku, dia mengompas keterangan tempat penyimpanan harta Ban be tong. Mendengar suara kalian baru dia lari."

"Mana Be Khong-cun?"

"Dia pun pergi, seperti mendadak melihat setan, lari lintang-pukang ke bawah gunung. "

"Kenapa dia lari?" berkerut alis Yap Kay. "Apa yang dia lihat?" "Tentu dia mengira kalian mengejar tiba, dia "

Mata Yap Kay tiba-tiba bersinar, teriaknya tertahan, "Tentunya dia melihat pisau di punggungmu ini!"

Pisau terbang sepanjang tiga dim tujuh mili. Yap Kay menyobek pakaiannya, menggunakan obat luka yang dibawanya dia menyumbat luka di punggung Sim Sam-nio.

Pisau yang tipis dan tajam kemilau memancarkan sinar ditimpa sinar matahari, sinar ini menyilaukan mata Pho Ang-soat. Rona mukanya berubah.

Tiba-tiba Yak Kay berpaling, katanya, "Tentunya kau telah melihat pisau seperti ini!" Lama sekali baru Pho Ang-soat manggut-manggut. Tidak bisa tidak ia harus mengakui.

Pertama kali melihat pisau macam ini, di toko kelontong Li Ma-hou, kedua kali di jalan raya yang baru saja dicuci air darah, ketiga kali di dalam kamar remang yang meninggalkan kesan mendalam, dimana jenazah kekasihnya rebah tak bernyawa lagi.

Semua kejadian masih segar dalam ingatannya, mesti dia pejamkan mata, tetap terbayang olehnya raut muka Li Ma-hou yang mengerikan, putus asa dan ketakutan, terbayang si bocah yang terjengkang roboh dengan pisau menancap di lehernya... tapi semua dugaan dan analisanya semula kini tumbang seluruhnya.

Yap Kay menatapnya, katanya kalem, " Sekarang tentunya kau sudah mengerti, pisau seperti ini bukan aku saja yang bisa menggunakan nya."

Pho Ang-soat bungkam, terpaksa dia harus bungkam.

"Sebetulnya umpama benar aku hendak membokong mati seseorang, pasti akan menggunakan pisauku, umpama terpaksa harus menggunakan pisau, sekali-kali tidak akan kubiarkan dilihat orang."

Tiba-tiba Pho Ang-soat bersuara, "Karena pisau itu amat luar biasa?" "Boleh dikata demikian "

"Kalau orang lain tak bisa melihat pisaumu, cara bagaimana dia membuat dan menirunya?"

"Hal ini aku pun tidak habis mengerti, untuk menciptakan pisau seperti pisau ini memang bukan suatu pekerjaan yang gampang. Yang terang siapa pun kalau dia ingin mencelakai jiwa orang, dia harus banyak memeras keringat."

"Aku kira orang itu sengaja hendak memfitnah dan menjatuhkan tuduhan atas dirimu?" "Memangnya kau belum bisa menilainya?"

Pho Ang-soat menunduk mengawasi golok di tangannya, setiap kali tidak mau menjawab suatu pertanyaan selalu dia menunduk mengawasi goloknya sendiri.

"Orang itu sengaja hendak mengadu domba kepadamu supaya kau beranggapan bahwa pembunuh Kwe Wi dan keluarganya adalah aku, kembali dia berusaha supaya kau mengira akulah orang di belakang layar yang mengakibatkan kematian Cui long. Waktu itu Ting Hun-pin kebetulan dibawa pergi Engkohnya, tiada seorang pun yang bisa membuktikan alibiku!" Setelah menghela napas Yap Kay meneruskan,

"Tujuan dari perbuatannya ini adalah hendak mengadu bentrokan di antara kau yang mendendam kepadaku, supaya kita berduel mengadu jiwa, lalu dia memungut keuntungannya."

Gemeratak gigi Pho Ang-soat, otot-otot hijau menghias lehernya, dia tetap bungkam. "Agaknya dia memang sudah bekerja dengan segala perhatian dan rencana yang matang,

karena rencananya ini memang baik dan amat mendetail, sehingga aku tidak punya kesempatan untuk membuktikan alibiku, untunglah kali ini dia sendiri menunjukkan kelemahan dan kelalaiannya, kalau tidak, apa pun yang kujelaskan, pasti tak kau percaya."

Mau tidak mau Pho Ang-soat harus mengakui, memang sepatah kata pun orang tidak berusaha menjelaskan kepadanya.

"Kali ini tentu dia tidak mengira bahwa kita tidak berduel hingga salah satu pihak babak belur. celakanya malah bersama mencarinya." Dengan tertawa getir dia menambahkan, "Jika Sim Sam- nio meninggal dan kau tidak bersamaku, tentu kau bisa mengira pembunuh Sim Sam-nio adalah aku pula, sekarang Be Khong-cun sendiri tentu juga berpikir demikian."

Selama ini Ting Hun-pin merengut saja di samping, tiada yang tahu kenapa dia mengambek.

Sekarang tak tahan dia menyeletuk, "Tidakkah kau bisa memikirkan siapa kiranya yang membencimu? Begitu tega menggunakan cara keji ini hendak mencelakai kau?"

"Tidak pernah terpikir olehku, maka aku ingin menanyakan sampai jelas," waktu dia menunduk, dilihatnya Sim Sam-nio tengah meronta mengangkat kepala, dengan sorot mata yang aneh sedang mengamati Ting Hun-pin. Sebaliknya Ting Hun-pin juga sedang mengawasi dengan sorot mata aneh pula.

"Sim Sam-nio ini, kau belum pernah melihatnya " Yap Kay hendak memperkenalkan.

"Aku tahu siapa dia," tiba-tiba Ting Hun-pin menukasnya. "Cuma belum tahu entah bagaimana dia begini intim dengan kau, terhadapnya agaknya kau jauh lebih baik daripada terhadapku."

Baru sekarang Yap Kay tiba-tiba sadar kenapa orang merengut dan mengambek. Dia sedang jelus. Sembarang waktu anak perempuan memang gampang cemburu, kalau sudah cemburu omongan apa pun berani diucapkan. Tapi kenapa pula Sim Sam-nio mengawasinya dengan sorot mata seaneh itu? Yap Kay tidak habis mengerti.

Ting Hun-pin tertawa dingin, ujarnya pula, "Hai, aku sedang bicara dengan kau, kenapa tidak kau hiraukan ucapanku."

Bahwasanya Yap Kay memang tidak mau menghiraukan dirinya, bila orang sedang cemburu, wah, lebih baik dia bungkam saja.

Tak nyana Ting Hun-pin malah naik pitam, katanya pula, "Kulihat di antara kalian seperti ada suatu kenangan lama yang tidak bisa terhapuskan, apa perlu aku menyingkir dulu, supaya kalian bisa bermesra-mesraan?"

"Ya. Memang begitu!" kata Yap Kay.

Ting Hun-pin melotot kepadanya, biji matanya tiba-tiba merah, dengan memonyongkan mulut dan membanting kaki segera dia putar badan tinggal pergi. Yap Kay tiada niat menahannya.

Tiba-tiba Sim Sam-nio menghela napas, katanya, "Agaknya nona cilik ini amat mencintaimu, tidak pantas kau membakar amarahnya."

"Tapi aku ada banyak pertanyaan ingin bertanya kepadamu."

"Bukankah kau hendak tanya laki-laki yang membokong aku tadi, logatnya bagaimana?" "Berbincang dengan aku memang amat menyenangkan, seolah-olah kau sudah tahu dan

meraba isi hati orang lain saja."

Sim Sam-nio tertawa getir. Ban be tongcu adalah laki-laki yang tidak bisa menyelami watak dan jiwanya, tapi dia pasrahkan nasib dan hidup kepadanya. Lalu apa pula gunanya dia menyelaminya? Lama kemudian baru dia pompa semangat, katanya, "Orang itu bicara dengan logat utara, usianya pasti tidak lewat tiga puluh, bicaranya lemah lembut, umpama dia hendak membunuhmu, suaranya tetap lembut dan merdu, malah seperti dengan tersenyum."

"Memang banyak orang menyembunyikan golok di balik tawanya di dunia ini, hal itu tidak usah dianggap istimewa."

"Tapi nada bicaranya ada bagian yang istimewa." "Dalam hal apa?"

"Setiap kali dia mengatakan 'orang', lidahnya seperti tidak bisa terangkat, jadi kedengarannya seperti mengatakan 'olang’ suaranya persis benar dengan nona Ting tadi." Akhirnya Yap Kay mengerti pula, kenapa tadi orang memandang Ting Hun-pin dengan sorot begitu aneh. Kontan matanya bersinar terang, namun raut mukanya malah pucat, lebih pucat dan menakutkan dari muka Pho Ang-soat.

Mengawasi mukanya, tak tahan Sim Sam-nio bertanya, "Kau sudah tahu siapa dia?" Agaknya Yap Kay sedang menjublek, lama sekali baru dia geleng-geleng.

"Apa yang kau pikirkan?"

Kali ini Yap Kay seperti tidak mendengar apa yang ditanyakan karena di dalam kupingnya seolah-olah mendengar ada seseorang sedang berteriak, "Orangnya sudah datang semua bukan?"

Seperti disambar geledek tiba-tiba Yap Kay berjingkat sendiri, mukanya yang pucat tiba-tiba memancarkan rona merah yang aneh.

Pho Ang-soat tak tahan mengangkat kepala, mengawasinya dengan pandangan kaget. Sudah tentu Ting Hun-pin jauh lebih kaget.

Meski dia jauh berdiri di sana, namun matanya sejak mula terus menatap Yap Kay. Belum pernah dia melihat tingkah Yap Kay seaneh ini, malah membayangkan pun belum pernah.

Biasanya banyak orang mengakui bahwa Yap Kay seorang pemuda yang tabah dan besar nyalinya, umpama kau iris putus hidungnya, mukanya tidak akan menampilkan mimik seaneh ini. Tiada orang yang bisa melukiskan mimik wajahnya itu, tiada orang yang tahu apa yang terkandung dalam pikirannya.

Melihat mimiknya itu hati Ting Hun-pin serasa hancur. Dalam hati barusan dia bersumpah, selamanya takkan mempedulikan dia lagi. Tapi sekarang sumpahnya itu sudah dia lupakan sama sekali. Tanpa kuasa segera dia memburu maju serta menarik lengan Yap Kay. Terasa jari-jarinya dingin. Karena hatinya makin gugup, katanya sambil menempelkan tangan orang di mukanya, "Kenapa kau berubah demikian rupa?"

"Aku... aku sedang marah." "Marah kepada siapa?" "Terhadapmu."

Ting Hun-pin menunduk dengan tertawa geli.

Tak tahan Yap Kay bertanya, "Aku marah kepadamu, kenapa kau malah tertawa?" "Justru karena kau marah kepadaku, hatiku malah senang."

"Kenapa malah senang?"

"Karena... bila kau tidak menyukai aku, buat apa kau harus marah kepadaku?"

Yap Kay tertawa tertahan, cuma tidak tertawa lebar dan sewajar biasanya, dalam senyum tawanya seperti mengandung sesuatu bayangan gelap yang dikuatirkan. Ting Hun-pin tidak melihat perubahan rona tawanya, karena dia sudah merebahkan badannya dalam pelukan Yap Kay, peduli berapa banyak orang di sekelilingnya, dia tidak peduli lagi, biasanya dia tidak pernah menutupi rasa cintanya di hadapan orang.

Sebentar Pho Ang-soat mengawasi mereka, lalu dia putar badan, pelan-pelan turun gunung, air sungai mengalir di bawah kakinya, namun halangan sekecil ini seperti tidak dilihatnya.

Yap Kay terseok-seok di belakangnya, "Tunggu sebentar, kita berangkat bersama, mencari Be Khong-cun."

Pho Ang-soat anggap tidak mendengar, langkahnya pelan, tapi selamanya tidak pernah berpaling.

Yap Kay mengantar bayangan orang yang sebatangkara, tak tahan dia menghela napas, "Dia benar-benar berubah, bukan saja semakin menyendiri malah semakin pesimis, kalau keadaan seperti ini terjadi terus, aku kuatir " Tak tega dia meneruskan kata-katanya.

"Kenapa dia bisa berubah?" tiba-tiba Sim Sam-nio bertanya.

"Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat pujaan hatinya mati dipelukannya, namun dia tidak kuasa menolongnya."

"Cui long maksudmu?" "Benar, Cui long."

Kembali tersorot mimik aneh pada mata Sim Sam-nio, katanya menghela napas, "Sungguh tak pernah terbayang olehku, dia benar-benar jatuh cinta kepada Cui long."

"Apa kau beranggapan Cui-long tidak setimpal dia cintai?" Sim Sam-nio bungkam, dia tidak kuasa menjawab.

Yap Kay tertawa duka, katanya kalem, "Sayang sekali banyak orang di dunia ini justru mencintai orang yang tidak patut dia cintai, dan itulah duka laranya dan penderitaan manusia yang terbesar."

"Untuk apakah itu?" ujar Sim Sam-nio rawan, "memangnya siapa tahu lantaran apa hal itu bisa terjadi?" Perasaan manusia memangnya sesuatu yang abstrak dan tidak bisa diraba dan dipandang mata, lebih celaka lagi karena manusia takkan mampu membelinya. Dan oleh karena itu, maka manusia dibekali duka cita dan penderitaan.

Kini ganti Yap Kay yang memandang Sim Sam-nio dengan sinar aneh, katanya, "Siapa pun orangnya bila mengalami pukulan lahir batin seperti yang dialami Pho Ang-soat, pasti akan mirip keadaannya, hari ke hari amat pesimis dan patah semangat, namun di dunia ini mungkin hanya ada seorang saja yang bisa menolongnya."

"Siapa?"

"Kau."

Sebentar Sim Sam-nio menepekur, akhirnya dia manggut-manggut, katanya, "Maka aku tidak boleh mati, memang banyak persoalan yang harus kuselesaikan."

Pelan-pelan Ban be tongcu menutup pintu, lalu memalangnya dari dalam. Lalu dia merebahkan diri di atas ranjang, ranjang kayu yang keras dan dingin lembab seperti berada di liang kubur.

Bagaimana pun juga sekarang dia masih bertahan hidup, hidup jauh lebih baik daripada mati.

Kenapa orang tua selalu lebih takut mati dari anak muda? Bahwasanya dia sudah tidak perlu mengganduli jiwanya yang sudah mulai keropos dan mempertahankannya mati-matian.

Kayu ranjang itu mengeluarkan bau apek, seperti benda yang membusuk, membawa bau busuk dari kotoran kuda pula, mendadak dia hampir muntah-muntah. Sebetulnya dia sendiri tumbuh dewasa sampai tua di tempat seperti ini, rumah dimana dia lahir, jauh lebih kotor dan busuk dari kamar yang dia tempati sekarang.

Waktu dia berkelana di Kangouw, demi menghindarkan diri dari kuntitan dan kejaran musuh, ada kalanya dia malah tidur di istal kuda atau kandang babi. Suatu ketika, bersama dua Pek bersaudara mereka kena disergap di pegunungan Tiang pek-san, mereka terkepung oleh musuh banyak dari rombongan tiga komplotan penjahat, terpaksa harus lari ke atas gunung, malah mereka di sana harus minum air seni sendiri.

Kehidupan yang serba sengsara meski sudah tidak biasa dia alami, namun dia tetap bisa menerimanya. Bahwa dia hendak muntah bukan lantaran bau busuk, adalah karena mendadak dia menyadari bahwa dirinya hina-dina dan rendah memalukan. Seorang laki-laki dengan mendelong mengawasi ceweknya roboh di depan matanya, apa pun yang terjadi tidak pantas dia melarikan diri. Tapi waktu itu dia terlalu takut. Karena dulu dia pun pernah melihat pisau itu.

Pisau itu sendiri tiada sesuatu yang istimewa, tapi siapa pun tahu bahwa pisau ini merupakan pisau yang paling menakutkan di seluruh dunia. Itulah pisau terbang milik Siau-li. Siau-li atau Li si kecil (sekarang seharusnya sudah Lo-li, Li si tua).

Pek Thian-ih pernah memegang dan mengacungkan pisau ini, sorot matanya memancarkan rasa haru dan kegirangan. "Lekas kalian kemari dan lihatlah, inilah Siau-li si pisau terbang, Siau-li Tham-hoa sendiri yang memberikan kepadaku."

Waktu itu pertama kali Ban be tongcu melihat pisau ini, di atas pisau ada diukir dua huruf "Jin- jin" artinya cinta kasih.

"Huruf Jin ini adalah ukiran Siau-li Tham-hoa sendiri menggunakan pisaunya yang lain, katanya dia bisa hidup sampai sekarang, karena selama ini dia sudah meresapi arti sejati dari huruf 'Jin' ini, maka huruf ini dia hendak hadiahkan kepadaku."

Waktu itu Pek Thian-ih memang pernah mendapat kebaikan Siau-li Tham-hoa, sudah tentu dia bukan laki-laki yang tidak tahu kebaikan.

"Dia malah berjanji kepadaku, jika putraku yang kedua lahir, boleh diantar ke tempatnya tetirah, dia malah menambahkan, kalau ada orang bisa mempelajari kepandaian pisau terbangnya, maka orang itu pasti adalah putraku."

Sayang sekali belum cinta dan harapannya terlaksana, dia sudah keburu ajal, kalau dia sudah lupa akan pemberian huruf "Jin" dari Siau-li Tham-hoa. Tapi Ban be tongcu justru tidak lupa, kejadian masa lalu ini masih segar dalam ingatannya.

Cuaca sudah mulai gelap. Ban be tongcu mengawasi warna kertas jendela yang putih, pelan- pelan menjadi buram dan gelap, dia harus bisa tidur nyenyak meski hanya sejenak.

Sejak turun gunung dia tidak berhenti di kampung-kampung yang dia lewati, langsung menuju ke tempat ini. Karena selama hidupnya belum pernah dia menemukan penginapan sekotor, gelap dan bobrok seperti ini.

Jangan kata tamu, pelayan pun tiada di penginapan ini, pemiliknya adalah seorang laki-laki tua setengah tuli bermata lamur lagi, setua itu usianya masih berusaha di tempat yang miskin ini, maklumlah karena tiada tempat lain untuknya berteduh. Berhadapan dengan orang tua ini, mau tidak mau Ban be tongcu memikirkan diri sendiri. "Dan aku? Apakah aku seperti dia, tiada tempat lain untukku berteduh?" Tangannya terkepal, dia tertawa dingin kepada diri sendiri.

Tatkala itu dari jendela yang sudah rusak terhembus angin, tercium bau bawang goreng yang dimasak dengan bakmi, agaknya lebih lezat dan nikmat daripada daging sapi yang baru saja dipanggang di atas api.

Sekujur badannya lemas-lunglai, jari tangannya pun rada gemetar, lapar, sungguh suatu derita yang susah ditahan. Di tengah jalan tadi, dia pikir hendak mampir di warung bakmi, namun teringat tidak membawa uang sepeser pun. Sebagai majikan besar, biasanya Ban be tongcu tidak pernah membawa uang tunai meski pergi kemana pun juga. Maka sampai detik ini, sebutir nasi pun belum masuk ke perutnya.

Pelan-pelan dia merangkak bangun dengan gerakan pelan, baru sekarang dia menyadari akan kelemahan dirinya. Lapar membuat dia tak tahan lagi. Setelah mendorong pintu, dia menyusuri serambi panjang di pekarangan kecil, akhirnya dia menemukan dapur.

Laki-laki tua pemilik penginapan setengah tuli bermata lamur tengah meletakkan sebuah mangkuk besar berisi bakmi kuah. Di bawah sinar pelita yang guram, kuah bakmi kelihatan seperti air lumpur, bagian atasnya masih kelihatan beberapa lembar daun menguning yang terapung. Tapi bagi pandangan Ban be tongcu yang sudah kelaparan ini, sudah merupakan hidangan malam yang paling enak. Dengan membusungkan dada dia menghampiri seraya berkata, "Kau boleh masak semangkuk lagi."

Sampai detik ini, setiap kali bicara, suaranya masih membawa nada memerintah, sayangnya sekarang tiada orang yang sudi menganggap perkataannya sebagai perintah. Balas menatapnya, kakek tua lekas sekali menggeleng kepala.

Ban be tongcu mengerut kening, tanyanya, "Kau tidak mendengar?"

Waktu tertawa si kakek memperlihatkan gigi kuningnya yang sudah ompong, katanya, "Aku bukan orang tuli, masakah tidak mendengar, cuma setelah aku makan, boleh nanti kubikinkan semangkuk lagi untuk kau, tapi kau harus keluar uang dulu supaya kubelikan bakmi."

Seketika Ban be tongcu menarik muka, katanya, "Apa-apaan sikapmu ini? Caramu menghadapi tamu, mana bisa kau berdagang?"

Kakek tua tertawa pula, ujarnya, "Memangnya aku tidak ada usaha dagang" "Lalu untuk apa kau buka penginapanmu ini?"

"Tiada maksud apa-apa, aku hanya menunggu ajal di sini, hanya orang yang ingin lekas mati baru sudi berdiam di tempat ini."

Tanpa peduli kepada Ban be tongcu lagi, mendadak dia terbungkuk batuk-batuk, terus berludah beberapa kali ke dalam mangkuk bakminya, gumamnya, "Aku tahu kau pun gelandangan yang tak mampu membayar, tidak jadi soal kau tidur di kamarmu itu dua tiga hari secara gratis, tapi semangkuk bakmi ini aku sendiri hendak memakannya, kecuali kau berani makan ludahku juga."

Sudah tentu Ban be tongcu tertegun. Jari-jarinya terkepal, hampir tak tahan sekali genjot dia pukul remuk batok kepala si kakek tua kurangajar ini. Tapi dia menahan sabar. Agaknya untuk marah pun sekarang dia sudah enggan, namun terasa mulutnya getir dan kecut, entah harus tertawa atau menangis? Masakah Ban be tongcu yang sudah merajai jagat hampir setengah abad, hanya demi semangkuk bakmi kuah seperti air pencomberan rela membunuh seorang kakek tua renta di dapurnya yang bobrok dan kotor ini Sungguh dia merasa geli. Tak tahan akhirnya dia tertawa, namun tawa pilu yang lebih dari menangis.

Angin menghembus, beberapa daun kering bergulung melayang jatuh. "Bukankah keadaanku mirip daun kering itu? Sedang bergelimang di tengah tanah becek?" Dengan menunduk Ban be tongcu melangkah ke arah pekarangan, bulan sabit memancarkan cahayanya yang redup, bayangan tubuhnya terseret memanjang, waktu dia mendorong pintu, sinar bulan ikut menyorot masuk, menyoroti badan seseorang.

Bagai dedemit seorang berdiri tegak di tempat gelap, waktu pintu terbuka, cahaya rembulan yang redup kebetulan menyinari pakaian yang dipakainya, seperangkat rok warna merah pendek bagian atasnya, dikombinasikan gaun panjang berlempit rapat warna merah dadu dengan sabuk sutra hitam.

Tiba-tiba napas Ban be tongcu seperti terputus. Dia kenal baik pakaian ini, waktu pertama kali Sim Sam-nio menemui dirinya, pakaian inilah yang dipakainya. Pada malam itu juga dialah yang menelanjangi pakaian ini dari atas badannya, malam itu juga dia menggagahi gadis perawan ini.

Dimana dan kapan, untuk selamanya dia tidak akan lupa adegan mesra malam itu, orang bercucuran air mata, sorot matanya mengunjuk rasa minta dikasihani, dia pun takkan melupakan seperangkat pakaian ini, walau pakaian ini sudah beberapa tahun tak pernah dipakainya lagi.

Sekarang kenapa dia justru memakainya lagi? Bagaimana bisa mendadak muncul di sini? Mungkinkah dia belum mati?

Tak tahan Ban be tongcu berseru lirih, "Sam-nio, kaukah?"

Tiada jawaban, tiada suara. Hanya deru angin yang menghembus masuk dari luar, maka melambailah pakaiannya itu seperti bidadari yang turun dari kahyangan. Tapi bayangan tubuhnya seperti tidak berbentuk lagi, tiada jasad tak bermuka, tidak berdarah daging, hanya pakaian saja yang kosong melompong, mungkin hanya sukmanya saja, peduli mati atau hidup, sukmanya yang gentayangan tetap mengejar laki-laki yang tidak kenal budi dan meninggalkan dirinya di saat sekarat menjelang ajal. Hanya untuk menyelamatkan jiwa sendiri.

Menghijau pucat muka Ban be tongcu, katanya tawar, "Sam-nio, aku tahu perbuatanku memang berdosa terhadap kau, peduli kau masih hidup atau sudah menjadi setan, selanjutnya aku tak akan meninggalkan kau lagi."

Sambil bicara kakinya pelan-pelan beranjak maju, habis bicara mendadak dia bergerak secepat kilat, sekali raih dia cengkeram lengan orang.

Sayang sekali yang ditangkap bukan orangnya, bukan sukma gentayangan, tapi adalah manusia rumput yang mengenakan pakaiannya Seketika berubah muka Ban be tongcu, baru saja hendak membalik badan namun belum sempat dia bergerak, ujung sebatang pedang tahu-tahu sudah mengancam punggungnya, ujung pedang yang tajam dan dingin sudah tembus pakaian dan menyentuh kulitnya.

Seorang melangkah keluar dari balik pintu sambil bersenandung, "Langit bergoncang, bumi bergetar, Kwan tang ban be tong. Kuda bagai naga. Manusia bagai baja."

"Siapa kau?" bentak Ban be tongcu dengan suara kereng

Jawab orang itu, "Aku manusia, seperti dirimu, manusia yang punya darah daging, jadi bukan setan, namun bukan baja, maka kalau aku jadi kau sekarang aku pasti berdiri diam, bergerak pun tidak." Suaranya runcing dan aneh kedengarannya, jelas dia menggunakan suara palsu. Dengan dingin dia melanjutkan, "Tentunya kau tidak ingin melihat pedang di tanganku ini amblas dan tembus dadamu." Sedikit dia kerahkan tenaga, ujung pedang yang tajam sudah menusuk ke dalam kulit dagingnya.

Tapi Ban be tongcu malah menghela napas lega, karena itu pedang bukan golok, karena orang yang mengancam dirinya ini bukan Pho Ang-soat. Umpama benar yang datang adalah Pho Ang- soat, orang tak akan mengubah suaranya.

Orang itu berkata pula, "Lebih baik kalau pikiranmu tidak melantur karena selamanya kau takkan bisa tahu siapa aku sebenar nya."

"Darimana kau tahu siapa aku?"

"Sejak lama aku sudah mengenalmu, cuma selamanya tidak pernah terpikir, Ban be tongcu dari Kwan tang yang diagulkan seperti kuda bagai naga dan manusia bagai baja ini, ternyata tahu mawas diri bahwa perbuatannya amat tercela. Jika Sim Sam-nio belum meninggal, hatinya pasti riang mendengar ucapanmu."

"Kau... kau pun kenal Sim Sam-nio?"

"Banyak urusan yang kuketahui, maka terhadap persoalan apa pun lebih baik kau jangan mengelabui aku. "

"Pakaian ini kau dapatkan dari buntalannya?" tanya Ban be tongcu Orang itu mandah tertawa dingin, tawa dingin dan diam saja adalah pertanda mengakui.

Mendadak serasa ditusuk sembilu hulu hati Ban be tongcu, tak pernah terpikir olehnya Sim

Sam-nio bakal menyimpan pakaiannya yang penuh kenangan pahit dan nikmat ini. Memangnya dia pun menyekap rasa senang, nikmat dan sakit malam itu di dalam sanubarinya? Dengan mengertak gigi Ban be tongcu tiba-tiba tertawa dingin, "Memalsu malaikat bermain setan, memangnya permainan yang berhasil. Tapi tidak pantas kau menggunakan pakaian ini. Karena secara tidak langsung kau sudah memberitahu kepadaku bahwa kaulah orang yang membunuh Sim Sam-nio." Suaranya mengandung dendam. Katanya lebih lanjut, "Bukan saja membunuh jiwanya, kau pun merampas buntalannya "

Orang itu segera menukas ucapannya, jengeknya dingin, "Masakah kau tidak pernah membunuh orang? Caraku memang kejam. Tapi dibanding kau paling tidak lebih baik, yang terang aku belum pernah membunuh saudara angkat seperjuangan, juga tidak menggunakan harta pening-galan saudaraku yang terbunuh itu untuk mendirikan Ban be tong di Kwan tang." Seketika berubah air muka Ban be tongcu, hanya beberapa gelintir orang Kangouw saja yang sampai sekarang tahu akan rahasia ini. Sampai pun Pho Ang-soat sendiri belum tahu, bahwa uang dan modal untuk membangun Ban be tong memang benar hasil rampasan dari peninggalan keluarga Pek Thian-ih. Lalu bagaimana orang ini bisa tahu?"

Sekonyong-konyong terasa oleh Ban be tongcu arus hawa dingin setajam golok merembes naik dari telapak kakinya, katanya dengan suara serak, "Kau siapa sebetulnya!?"

"Tadi sudah kukatakan, aku ini adalah orang yang serba tahu, tentunya kau tahu bahwa aku bukan menggertak kau."

"Kalau kau serba tahu, apa pula yang kau inginkan?"

"Apa pun tak kuinginkan, cuma semua harta yang berhasil kau rebut dari tangan orang lain harus kau serahkan kepadaku."

"Kalau kau mau, boleh kau ambil, sayang sekali Ban be tong yang dulu terkenal serba subur dengan kuda dan rumput, kini sudah menjadi tumpukan puing belaka."

"Tentunya kau tahu yang kuinginkan bukan tanah puing-puing itu, yaitu harta mestika yang secara diam-diam kau sembunyikan. "

"Harta mestika? Harta mestika apa?"

"Dulu Sin to tong menggetarkan Bu-lim, malang melintang di seluruh jagat, ketenaran kekuasaannya jauh mengungguli Kim ci pang yang dipimpin Siangkoan Kim-hong. Setelah Siangkoang Kim-hong wafat dia meninggalkan harta-karun yang tak ternilai banyaknya, apa lagi Sin to tong."

"Sayangnya aku bukan anggota Sin-to-tong."

"Sudah tentu kau bukan, kau tidak lebih adalah seorang pembunuh durjana yang menghabisi seluruh jiwa keluarga pemilik Sin to tong, kau suruh orang banyak membantu kejahatan, membunuh Pek Thian-ih, namun seorang diri kau caplok seluruh harta bendanya, harus dikasihani orang-orang yang menjadi korban di luar Bwe hoa am, sungguh mereka mati dengan penasaran... penasaran."

Kaki tangan Ban be tongcu menjadi dingin dan lemas, tiba-tiba disadarinya bahwa apa yang diketahui oleh orang ini memang terlalu banyak. Terdengar suara orang semakin bengis, "Para yatim piatu semua korban itu, sampai sekarang ada yang hidup sengsara, kedinginan, kelaparan tak punya rumah tak bisa berpakaian. Sekarang aku justru mewakilkan mereka membuat perhitungan terhadap kau."

Ban be tongcu tiba-tiba tertawa dingin, jengeknya, "Tapi darimana kau bisa tahu siapa saja orang-orang yang menjadi korban di luar Bwe hoa am?"

Orang itu tidak menjawab, cuma pedang di tangannya terasa sedikit gemetar.

Sepatah demi sepatah Ban be tongcu menyambung, "Kecuali aku, hanya seorang lagi yang tahu di dunia ini, siapa saja orang-orang yang ikut berkorban malam itu, hanya seorang... sungguh tak terpikir olehku bahwa orang-orang ini bakal membocorkan rahasia ini kepada orang ketiga." Suaranya mendesis dingin dan kejam, diliputi dendam dan amarah. Katanya lebih lanjut, "Dan kaulah orang ketiga yang mengetahui rahasia ini, siapa kau sebenarnya?"

Orang itu tertawa dingin.

"Siapa kau?" desak Ban be tongcu lebih lanjut.

Terpaksa orang itu menjawab dengan tertawa dingin, "Untuk selamanya kau takkan tahu siapa aku sebenarnya."

"Kalau begitu kau selamanya jangan harap bisa tahu dimana letak harta-karun itu." Agaknya orang itu tertegun. "Apa lagi," demikian Ban be tongcu bermuslihat, "umpama tidak kau katakan, aku sudah tahu siapa kau sebenarnya, jika kau benar membunuhku, tiga hari setelah aku mati, akan ada seseorang yang akan membocorkan rahasia keluargamu, supaya seluruh kaum persilatan di kolong langit tahu... sudah tentu keturunan keluarga Pek juga akan mengetahuinya."

Agak bergetar pedang di tangan orang itu, katanya dingin, "Jika kau mampus, siapa lagi yang bisa membocorkan rahasia ini?" Betapa pun usianya masih terlalu muda, betapa pun licik dan licinnya, dia bukan tandingan Ban be tongcu si rase tua ini. Ucapannya bukan saja menunjukkan kelemahannya sendiri, sekaligus dia sudah mengakui bahwa dirinya memang benar adalah yang sudah diperkirakan Ban be tongcu.

Seketika bersinar biji mata Ban be tongcu, katanya dingin, "Di saat aku masih hidup, memang tak ada orang yang membocorkan rahasia ini."

Tak tahan orang itu bertanya pula, "Kalau kau mampus malah ada?" "Benar."

"Kau... jadi kau meninggalkan sepucuk surat di tangan seseorang? Jika kau mati, dia akan membuka dan membeber isi surat itu kepada umum?"

Suara Ban be tongcu tawar, "Agaknya kau memang cerdik, terpikir juga cara yang baik ini." "Ya, gampang saja untuk menggunakan cara ini, tapi aku tidak percaya. Karena tiada seorang

pun di dunia ini yang kau percayai, mungkinkah kau menyerahkan surat rahasia itu kepadaku?"

Mendadak Ban be tongcu tertawa, katanya, "Apa kau ingin tahu siapa orang yang kutitipi surat?

Setelah kau membunuh aku, baru sekalian kau akan membunuhnya?" Terkancing mulut orang itu.

Ban be tongcu mendapat angin, katanya tertawa tawar, "Cara yang kau gunakan ini memang bagus, hanya sayangnya tiga puluh tahun yang lalu aku pun pernah menggunakannya."

Lama orang itu membungkam, tiba-tiba dia tertawa, ujarnya, "Apa kau beranggapan aku akan membebaskan kau begini saja?"

"Sudah tentu tidak, tapi tiada ruginya kita bertransaksi dagang." "Transaksi dagang apa?"

"Kau temani aku membunuh Pho Ang-soat, kubawa kau mencari harta-karun itu, kau tetap merahasiakan keburukanku, aku pun tak menyinggung tentang dirimu. Harta-karun yang kusembunyikan itu, lebih dari cukup untuk dibagi dan kita gunakan seumur hidup, coba katakan bukankah transaksi dagang ini cukup adil?"

Orang itu diam saja, otaknya diperas, agaknya hatinya sudah terpikat akan tawaran ini. "Apalagi kau pun harus tahu, leluhurmu adalah satu-satunya orang yang sama-sama

merahasiakan kejadian itu, karena aku mempercayainya, dia pun percaya kepadaku, maka kita

berhasil melakukan urusan besar yang menggetarkan dunia, bukankah kesempatan kita sekarang jauh lebih baik dari dulu?"

Orang itu mulai bimbang, katanya pelan-pelan, "Aku boleh menerima, cuma kau harus temani aku mengambil harta-karun itu baru kutemani kau membunuh Pho Ang-soat."

"Begitupun boleh."

"Masih ada, di waktu kita mengambil harta-karun itu, aku harus menotok kedua Hiat-to di kedua lenganmu."

"Apakah kau takut aku turun tangan mencelakai jiwamu?" "Aku hanya tanya kau mau terima tidak syaratku?" Ban be tongcu tertawa lebar, ujarnya, "Boleh juga, kalau aku sudah mempercayai leluhurmu, sudah tentu aku percaya juga terhadapmu."

Akhirnya orang itu menghela napas lega, katanya, "Aku hanya menotok Jian-kin-hiat di kedua pundak kanan kirimu, supaya kau tidak bisa turun tangan." Lalu dia melangkah setindak, menggunakan kedua jari tangannya yang semula menggenggam gagang pedang, menotok ke pundak kanan Ban be tongcu. Untuk ini terpaksa dia harus menurunkan dulu pedang di tangan kanannya, kalau tidak, kedua jarinya takkan bisa menotok pundak Ban be tongcu. Akan tetapi kejadian hanya berlangsung sekejap saja, begitu pedang di tangan kanan diturunkan, berbareng tangan kiri sekaligus menotok pula, dia yakin kecepatan gerakannya takkan kalah cepat dari orang lain.

Tapi dia tetap kurang cepat. Di dalam waktu sekejap itu, mendadak Ban be tongcu mendak dan miringkan badan, berbareng sikut kanannya telak sekali menyodok lambung orang, disusul kepalannya terayun balik ke belakang, menghajar muka orang.

Kontan orang itu mendengar suara keras dari bunyi tulang patah, itulah tulang iganya yang tersodok remuk, berbareng badannya mencelat naik dan terbang jauh, sekonyong-konyong terasa pandangan matanya gelap, di tengah kegelapan dihiasi bintang-bintang yang berkelap-kelip.

Namun dia tahu dirinya sekali-kali tidak boleh jatuh semaput, latihan berat secara tekun selama lima belas tahun, bukan saja dia pandai memukul orang, dia pun sudah kebal dihajar orang.

Begitu badannya terbanting di tanah, sekuatnya dia menggigit bibir, rasa sakit beruntung masih kuat mempertahankan kesadarannya. Sigap sekali dia terus menggelinding di tanah.

Waktu Ban be tongcu memburu maju, dilihatnya orang mengayun tangan, disusul sinar pisau berkelebat. Sinar senjata bagai kilat menyambar, itula pisau terbang. Pisau terbang Siau-li selamanya tak pernah luput, kewibawaan dan kebesaran nama pisau terbang Siau-li, sampai sekarang tetap membikin setiap insan persilatan mengkirik bila mendengarnya. Walau yang menyambar ini bukan pisau terbang milik Siau-li, namun cukup membikin sukma Ban be tongcu serasa terbang dari raganya. Bukan saja dia tidak berani mengulur tangan menyambut, gerak- geriknya berkelit lantaran terlalu ketakutan menjadi lambat. Cepat sekali sinar pisau lantas lenyap, tahu-tahu pisau sudah menancap di pundaknya.

Itupun sebilah pisau terbang. Tapi di atas langit maupun di bawah bumi, sejak zaman dulu, jelas tak pernah ada pisau terbang milik siapa pun yang kuasa menandingi pisau terbang Siau-li, umpama bintang-bintang di angkasa raya yang memancarkan cahayanya yang terang, betapa pun cemerlangnya takkan kuasa menandingi benderangnya sinar bulan purnama.

Jika pisau terbang yang menyambar ini benar adalah milik Siau-li, sepuluh kali lebih cepat pun gerakan berkelit Ban be tongcu takkan bisa meluputkan diri dari sambarannya.

Karena bukan saja pisau terbang Siau-li merupakan pisau terbang mandra-guna, sekaligus pisau terbangnya merupakan perlambang kesaktian, kejahatan, suatu kekuatan yang tiada taranya. Tiada orang yang mampu meluputkan diri dari serangan Siau-li, karena kedua orang yang berhadapan itu sendiri sudah menentukan apakah dia mampu meluputkan diri dari sambarannya. Hal ini ibarat setiap orang sudah sama-sama mengetahui, bencana alam siapa pun takkan kuasa menghindarinya.

Begitu pisau berkelebat, orang itupun sudah menggelundung keluar ke pekarangan, begitu membalik badan, setangkas kera badannya lantas mencelat tinggi. Ban be tongcu hanya melihat sesosok bayangan hitam berkelebat, tahu-tahu sudah lenyap ditelan kegelapan. Dengan mengertak gigi, dia cabut pisau di pundaknya seraya mengejar keluar. Dia percaya orang ini takkan bisa lari jauh, siapa pun yang terkena dua kali pukulannya, pasti takkan bisa lari jauh.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Peristiwa Merah Salju Jilid 14"

Post a Comment

close