Peristiwa Merah Salju Jilid 03

Mode Malam
Jilid 3

BAB 07. AWAN HITAM MENYELIMUTI LANGIT

Hujan angin. Hujan selebat ini takkan mungkin hanya merupakan setetes air belaka. Asal kau melihat atau ketetesan setitik air dari langit, maka kau pasti akan tahu bila hujan lebat bakal segera turun.

Jendela tertutup rapat, keadaan rumah itu gelap-gulita.

Tetesan air hujan berjatuhan di atas genting, menetes di daun jendela, laksana tambur yang dipukul bertalu-talu di tengah medan laga, laksana derap laksaan kuda saling terjang.

Yap Kay duduk miring sambil menjulurkan kedua kakinya, mengawasi sepasang sepatu tingginya yang sudah butut, setelah menarik napas panjang, mulutnya menggumam seorang diri, "Lebat benar hujan ini!"

Dengan hati-hati dan menumplekkan seluruh perhatiannya, Siau Piat-li tengah membalik kartu gadingnya yang terakhir, lama dia mengawasi kartunya ini, baru kemudian dia berpaling dengan tersenyum, katanya, "Biasanya di sini jarang turun hujan."

Yap Kay termenung, katanya kemudian, "Mungkin karena biasanya jarang turun hujan, maka hujan kali ini luar biasa lebatnya."

Siau Piat-li manggut-manggut, dengan seksama dia mendengarkan suara hujan di luar, akhirnya menghela napas, katanya pula, "Hujan hari ini memang turun bukan pada saatnya."

"Kenapa bukan pada saatnya?"

"Hari ini seperti biasanya, adalah hari dimana mereka sering masuk kota membeli benang, pupur dan segala keperluan perempuan lainnya."

"Mereka? Mereka siapa yang kau maksud?"

"Satu di antara mereka, sudah pasti adalah yang paling kau ingin temui."

Yap Kay paham juntrungan kata-kata orang, namun dia bertanya, "Darimana kau tahu bila aku ingin bertemu dengan dia?"

"Aku dapat melihatnya."

"Cara bagaimana kau melihatnya?"

Seperti menyayangi seorang puteranya, Siau-Piat-li mengelus-elus kartu gading di atas mejanya, katanya kalem, "Mungkin kau tidak percaya, tapi memang kenyataan aku selalu dapat melihat banyak persoalan dari permainan kartuku ini."

"Lalu apa pula yang dapat kau lihat dari kartumu itu?"

Mengawasi kartu-kartu gadingnya, lama kelamaan raut muka Siau Piat-li menjadi serius, sorot matanya menampilkan rasa kuatir dan dibayangi tabir gelap, katanya, "Kulihat segumpal mega mendung, menutupi di atas Ban-be-tong, di dalam mega mendung itu terdapat sebatang golok, golok yang meneteskan noda darah.

Mendadak dia angkat kepala menatap Yap Kay katanya dengan suara tertekan, "Semalam apakah terjadi sesuatu pembunuhan yang tragis di dalam Ban-be-tong?"

Agaknya Yap Kay tercengang oleh pertanyaan ini, lama baru dia menjawab dengan tertawa, "Seharusnya kau merubah obyekmu menjadi tukang ramal saja."

"Sayang sekali aku hanya bisa melihat bencana atau kesedihan yang menimpa orang lain, sebaliknya tidak pernah bisa kulihat rezeki nomplok seseorang."

"Kau ... kau belum pernah meramal nasib jelekku?" "Kau ingin tahu sebenarnya?"

"Sudah tentu."

Sorot mata Siau Piat-li mendadak jadi berubah kosong melompong, seolah-olah sedang menatap ke tempat nan jauh, katanya, "Di atas kepalamu juga tampak segumpal mega, jelas sekali bila kau pun sedang dirundung kerisauan." "Apakah aku memang mirip orang yang selalu risau?”

"Mungkin kerisauan itu bukan menjadi milikmu sendiri, tapi kau ditakdirkan begitu lahir di dunia fana ini sudah terlibat banyak kesulitan dan kerisauan orang lain yang selalu membelenggu dirimu, takkan mungkin kau menghindarinya."

Tawa Yap Kay tampak dipaksakan, katanya, "Apakah di dalam gumpalan mega di atas kepalaku ini juga tersembunyi golok?"

"Umpama benar ada golok di sana pun tidak menjadi halangan." "Kenapa?"

"Karena di dalam jiwamu terdapat banyak Kui-jin, maka di dalam menghadapi segala persoalan selalu kau dapat terhindar dari mala petaka."

"Kui-jin?" Yap Kay menegas.

"Kui-jin yang dimaksud adalah menyukai kau dan lagi mereka adalah orang-orang yang bisa membantu kau, umpamanya.....

"Umpamanya kau?" tukas Yap Kay.

Siau Piat-li tertawa, katanya geleng-geleng kepala, "Kui-jin di dalam jiwamu kebanyakan adalah kaum hawa, umpamanya Cui-long!"

Mengawasi kembang mutiara di dada Yap Kay, dia menambahkan dengan tertawa, "Semalam suntuk kemarin dia menunggu dirimu, kenapa tidak kau cari dia?"

"Tarip ranjang setinggi emas, laki-laki rudin seperti aku, bila sudah tahu bakal terusir keluar, kenapa aku harus ke sana?"

"Kau salah." "Oh, salah."

"Perempuan di sini belum tentu semuanya harus dibayar emas." "Aku justru mengharap mereka seluruhnya demikian." "Kenapa?"

"Karena dengan demikian tak usah banyak pikiran dan kuatir, hati pun takkan pernah gundah dan risau."

"Apa kau mau bilang, bahwa seseorang yang dimabuk cinta pasti risau?" "Betul."

"Kau salah lagi, seseorang bila sedikit pun dia tidak dihinggapi kerisauan, apa pula manfaatnya dia hidup?"

"Aku justru lebih senang duduk-duduk di sini, kecuali di sini siang hari tidak menerima kunjungan tamu."

"Kau sih boleh dikecualikan, kapan saja kau suka datang, terserah sampai kapan kau suka duduk di sini tidak menjadi halangan, tapi aku kembali dia menghela napas, katanya getir, "Aku sudah tua, semangatku tidak kuat lagi, bila tiba saatnya harus tidur, seluruh tubuh rasanya hampir lumpuh."

"Jadi kau belum tidur?"

Tawa Siau Piat-li seperti rada berduka, katanya, "Orang tua selamanya segan tidur terlalu lama, karena dia tahu masa hidupnya tidak akan lama lagi, apalagi aku ini mirip kucing malam."

Ditariknya tongkat di sisi kursinya, lalu dikempit di bawah ketiak, pelan-pelan dia berdiri, katanya tiba-tiba, "Tengah hari nanti mungkin hujan akan reda, kemungkinan pula kau bisa bertemu dengan dia!" Siau Piat-li sudah naik ke atas loteng.

Waktu dia berdiri, baru Yap Kay melihat jubah panjang bagian bawahnya melambai kosong.

Ternyata kedua kakinya sudah buntung sebatas lututnya.

Cara bagaimana kedua kakinya ini dibacok kutung orang? Lantaran apa?

Siapa pun tak akan dapat mengetahui, kalau dia bukan orang sembarangan, masakah dia bisa berada di sebuah kota kecil di perbatasan serta mengusahakan dagangan yang kurang pantas ini? (sebagai germo).

Apakah dengan usahanya ini dia ingin menyembunyikan asal-usul dirinya? Apakah benar ada sesuatu kekuatan yang misterius benar-benar dapat mengetahui untung rugi seseorang sebelum kejadian itu sendiri terjadi?

Yap Kay sedang merenungkan hal ini, akhirnya matanya menatap ke arah kartu-kartu gading di atas meja itu, segera dia berdiri menghampiri, tangan diulur meraba-raba. Mendadak terasa olehnya bahwa kartu-kartu gading yang diduganya, semua adalah bikinan dari baja murni.

Terdengar suara batuk-batuk kecil tertahan, sayup-sayup berkumandang dari loteng kecil di bagian belakang itu.

Yap Kay menghela napas, terasa olehnya bahwa laki-laki buntung ini bahwasanya adalah seorang yang tersembunyi dan serba misterius, setiap patah kata-katanya seolah-olah mengandung arti yang misterius pula, demikian pula setiap urusan yang dia lakukan, seolah-olah mempunyai suatu tujuan yang misterius. Sampai pun loteng mungil tempat tinggalnya ini, kemungkinan menyembunyikan sesuatu rahasia yang tidak diketahui orang lain.

Mengawasi tangga loteng sempit yang gelap itu, tiba-tiba muka Yap Kay dihiasi senyuman lebar. Terasa olehnya tempat ini sungguh menarik perhatiannya.

Tengah hari. Ternyata hujan berhenti, menyeberangi jalan raya yang basah berlumpur, Yap Kay beranjak ke seberang menuju toko kelontong di sebelah samping sana.

Pemilik toko kelontong ini adalah seorang laki-laki pertengahan umur yang supel dan suka berkelakar, mukanya bulat, siapa pun yang memandang mukanya selalu dia mengulum senyuman ramah.

Pembeli kebanyakan suka membayar harga semurah mungkin dan membeli barang yang paling baik, meski kurang sedikit pembayarannya pun tidak menjadi soal, selalu dia berkata dengan ramah, "Baiklah, sekedarnya pun bolehlah, toh sama tetangga dalam satu jalan raya."

Dia she Li, maka orang suka memanggilnya dengan Li-ma-hou (Li si ceroboh).

Yap Kay kenal Li-ma-hou, namun dia lupa memeriksa apakah di dalam toko kelontongnya ini ada jual benang, pupur dan keperluan perempuan lainnya.

Tengah hari seperti sekarang, adalah waktunya orang makan siang, maka pada saat seperti ini paling jarang orang berbelanja di toko kelontongnya. Seperti biasanya, setelah makan siang Li-ma- hou sedang duduk termenung dengan malas-malas dan mengantuk di meja kasirnya.

Yap Kay pun tidak ingin membuat kaget orang, dia mondar-mandir kian kemari sedang melihat- lihat, tiba-tiba didengarnya suara kereta roda menggelinding di jalan raya yang bedek, sebuah kereta besar dengan kencang sedang lewat di depan toko.

Kereta ini berwarna hitam legam, delapan kuda penariknya merupakan kuda-kuda pilihan yang sudah terlatih baik sekali. Yap Kay masih ingat kereta inilah yang kemarin menjemput dirinya menuju ke Ban-be-tong. Siapakah yang duduk di dalam kereta?

Baru saja dia hendak melongok keluar, di belakangnya seseorang sudah bersuara dengan tertawa, "Agaknya bini muda Ban-be-tong-cu dan putri besarnya masuk kota hendak berbelanja lagi, entah hari ini dia mau membeli telur ayam tidak?"

"Mereka toh tidak perlu mencukupi kebutuhan dapur, untuk apa beli telur ayam?" ujar Yap Kay sambil membalik, maka dilihatnya entah sejak kapan Li-ma-hou sudah siuman, tengah tertawa memicing mengawasi dirinya, sahutnya, "Nah, hal ini tentu tidak kau ketahui, perempuan jika menggunakan telur ayam buat cuci muka, semakin dicuci semakin muda dan ayu."

"Oh, jadi bini atau menantumu juga setiap hari cuci muka dengan telur ayam?"

Li-ma-hou mencibirkan bibir, katanya tertawa dingin, "Biniku? Umpama setiap hari dia cuci muka menggunakan tiga ratus butir telur, juga tetap bermuka kering seperti kulit jeruk." Tiba-tiba dia mengunjuk seri tawanya yang lucu, katanya pula merendahkan suara, "Tapi dua cewek dari Ban-be-tong itu, wah cantiknya laksana bidadari, Toaya kalau kau beruntung bisa.....

"Li-ma-hou," tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari luar pintu, "kau sedang membual apalagi?"

Lekas Li-ma-hou berpaling keluar, seketika berubah air mukanya, tersipu-sipu dia menyongsong sambil mengunjuk tawa berseri kaku, "Tidak membual apa-apa, aku sedang membikinkan Siau- siauya sebuah permen Holou."

Tampak seorang anak laki-laki sedang berdiri di ambang pintu sambil bertolak pinggang, matanya yang bundar besar sedang melotot, baju yang dipakainya lebih menyala dari warna permen Holou itu, meski kecil usianya, namun sikapnya terlalu garang dan begitu berhadapan dengan bocah cilik ini, Li-ma-hou seketika kuncup nyalinya dan pucat. Tapi begitu bocah ini melihat Yap Kay juga berada di dalam toko ini, air mukanya pun berubah pucat, tanpa menghiraukan Li-ma-hou dia putar badan hendak tinggal pergi.

Lekas Yap Kay mengejar keluar, sekali raih dia tangkap kuncir rambut di tengah kepalanya, katanya tertawa, "Jangan kau ini hanya Siau-hou-cu (harimau kecil), umpama kau ini Siau-hou Ti (rase kecil) juga jangan harap bisa lolos dari tanganku."

Siau-hou-cu agaknya bingung dan gelisah, katanya keras, "Aku toh tidak kenal kau, untuk apa kau menarik-narik aku?"

"Bukankah tadi pagi kau masih kenal aku? Kenapa sekarang bilang tidak kenal?" Merah malu selebar muka Siau-hou-cu, kembali ia mau berteriak.

"Kau patut mendengar omonganku," segera Yap Kay berkata, "berapa permen Holou yang kau inginkan nanti kubelikan, kalau tidak, akan kuadukan kau kepada ayah dan Su-siokmu, bahwa tadi pagi kau membual."

Lebih gelisah Siau-hou-cu dibuatnya, katanya dengan muka merah, "Aku aku ada membual

apa?"

Yap Kay merendahkan suaranya, "Semalam kau sudah tidur pagi-pagi, juga tidak bersembunyi di bawah perut kuda tunggangan Cicimu, benar tidak?"

Biji mata Siau-hou-cu berputar-putar, katanya merengek, "Aku toh ingin membantu kau." "Siapa yang suruh kau bilang demikian?"

"Tiada siapa-siapa, aku sendiri...

Yap Kay menarik muka, katanya, "Tidak kau bicara jujur kepadaku, terpaksa kugusur kau pulang, kuserahkan kau kepada ayahmu."

Saking ketakutan Siau-hou-cu pucat gemetar, setiap kali mendengar soal ayahnya, maka bocah ini akan bicara sejujurnya, katanya menunduk, "Baiklah, kau ingin tahu, biar kuberikan kepadamu, Sam-iklah yang mengajar aku untuk bilang demikian."

Yap Kay kaget, serunya, "Apa Sam-ik? Apakah orang yang tadi pagi menarikmu itu?" Siau hou-cu manggut-manggut.

Bertaut alis Yap Kay, katanya, "Darimana dia bisa tahu semalam aku ada bersama Cicimu?"

"Mana aku tahu?" sahut Siau-hou-cu memonyongkan bibirnya. "Kenapa tidak kau tanya dia sendiri!" "Terpaksa Yap Kay melepaskan tangannya, bocah ini selincah kelinci segera lari sipat-kuping.

Setelah tiba di seberang sana, baru dia berpaling sambil mengunjuk muka setan, katanya cekikikan menggoda, "Kau boleh pergi tanya dia, tapi jangan kau peluk dia seperti kau peluk Taciku, kalau tidak, ayahku bisa iri." Belum habis kata-katanya, dengan tangkas dia berlari masuk ke dalam sebuah toko kain sutra.

Yap Kay mengerut alis, dia sedang termenung memikirkan kata-kata si bocah. Terang hal ini berada di luar dugaannya. Siapakah Sam-ik? Darimana dia bisa tahu gerak-gerik dirinya semalam? Kenapa pula dia mau menolong dan membereskan kesulitannya? Sungguh dia tidak habis pikir, baru saja dia mengangkat kepala, kebetulan dilihatnya Sam-ik sedang beranjak keluar dari toko kain sutra di seberang sana. Dandanannya masih tetap sederhana, pakaiannya serba putih laksana salju, bukan saja mukanya tidak berkenalan dengan pupur, juga tidak berias, tapi membawa kematangan jiwa seorang perempuan, siapa pun yang melihatnya tanpa menyentuhnya orang sudah akan tergila-gila.

Di waktu Yap Kay mengawasinya, sepasang biji matanya yang jeli juga sedang mengerling ke arah Yap Kay, entah memang disengaja atau tidak, malah seakan-akan mengunjuk senyuman manis kepadanya. Tiada orang yang dapat melukiskan kecantikan senyuman ini.

Yap Kay sendiri seperti linglung dibuatnya, sesaat kemudian baru disadarinya bila di belakang orang terdapat sepasang mata lain yang juga sedang menatap ke arah dirinya. Sepasang mata yang terang bersinar ini tiba-tiba diliputi tabir kabut, seperti terselubung kain sari. Apakah karena semalam dia tidak tidur? Ataukah karena dia baru saja menangis?

Berdetak jantung Yap Kay, melonjak-lonjak keras. Dengan malu-malu kucing dan manis mesra Be Hong-ling tengah mengawasi dirinya, secara diam-diam dia telah memberikan lirikan mata yang berarti pula. Melihat lirikan mata ini segera Yap Kay manggut-manggut.

Barulah Be Hong-ling merasa lega dan menundukkan kepala, sambil tertawa diam-diam, segumpal awan merah seketika menghias roman mukanya.

Mereka tidak perlu bicara. Asal dengan sekali lirikan mata, bagaimana isi hatinya sudah cukup dimengerti. Memangnya cukup dengan sekali kerlingan mata saja Yap Kay sudah akan maklum akan arti tujuannya. Memangnya buat apa mereka harus bicara?

Suasana loteng kecil itu tetap hening tiada suara apa-apa, namun kartu gading di atas meja entah sejak kapan sudah dikukuti dan disimpan.

Jendela terbuka, namun keadaan di dalam rumah tetap gelap.

Kembali Yap Kay duduk di tempatnya tadi, duduk sambil menunggu dengan sabar. Dia cukup tahu maksud Be Hong-ling, namun sungguh mati dia tidak habis mengerti arti kerlingan mata Sam-ik tadi.

Bini Ban-be-tong-cu sudah meninggal, laki-laki seperti dia sudah tentu di sampingnya tidak boleh kekurangan perempuan. Memang hanya perempuan seperti itu baru setimpal berjodoh dengan laki-laki macam ini.

Yap Kay sudah berhasil meraba asal-usul dan kedudukannya, namun masih belum paham akan maksudnya. Terutama senyuman itu.

Yap Kay menghela napas, dia tidak ingin memikirkan lagi ... kalau dibayangkan, berarti dia kurang simpatik terhadap Be Hong-ling. Akan tetapi senyuman yang satu ini, seolah-olah sudah terukir dalam lubuknya, betapapun tidak bisa dilupakan.

Sekarang apakah yang tengah mereka kerjakan? Sedang beli telur di toko klontong?

Dengan telur ayam untuk cuci muka, apakah benar muka perempuan itu akan semakin muda dan cantik?

Yap Kay memusatkan segala perhatiannya, ia berusaha untuk memikirkan sesuatu yang tiada sangkut-pautnya dengan persoalan ini, tapi pikir punya pikir, selalu mereka berdua saja yang berkecamuk dalam benaknya. Untunglah pada saat itu daun pintu pelan-pelan didorong terbuka. Yang datang sudah tentu Be Hong-ling adanya.

Baru saja Yap Kay hendak bangun, kembali hatinya tenggelam.

Yang datang ternyata bukan Be Hong-ling, namun adalah Hun Cay-thian. Diam-diam Yap Kay menghela napas dalam hati, ia tahu hari ini dirinya akan sulit bisa menemui Be Hong-ling. Melihat dirinya berada di sini, agaknya Hun Cay-thian juga merasa di luar dugaan, tapi setelah masuk kemari, masakah harus putar balik?

Mendadak Yap Kay tertawa, katanya, "Apakah tuan hendak mencari Cui-long? Apa kau ingin tanya dia, kenapa kembang mutiara ini dia berikan kepada orang lain?"

Hun Cay-thian batuk-batuk kering dua kali, tanpa bersuara dia menarik kursi terus duduk.

Yap Kay tertawa pula, ujarnya, "Laki-laki cari cewek, memangnya suatu kejadian yang paling umum di dunia ini, kenapa tuan tidak langsung masuk ke sana?"

Agaknya perasaan Hun Cay-thian sudah mulai tenang, katanya kereng, "Aku memang sedang mencari orang, tapi bukan mencari dia."

"Memangnya mencari siapa?" "Pho Ang-soat."

"Untuk apa kau cari dia?"

Hun Cay-thian menarik muka, agaknya dia menolak menjawab. "Bukankah dia masih tinggal di Ban-be-tong?"

"Sudah tiada lagi," sahut Hun Cay-thian. "Kapan dia pergi?"

"Tadi pagi."

Berkerut alis Yap Kay, ujarnya, "Kalau tadi pagi dia sudah berlalu, kenapa di kota ini aku tidak pernah melihat bayangannya?"

Hun Cay-thian ikut mengerut alis, tanyanya, "Bagaimana dengan yang lain?"

"Yang lain juga tiada satu pun yang kembali, hakikatnya di daerah sini tiada tempat lain, jika mereka kemari, aku pasti sudah melihatnya."

Berubah sudah rona muka Hun Cay-thian, pelan-pelan kepalanya terangkat mengawasi loteng kecil di bagian belakang itu.

Berkilat sorot mata Yap Kay, katanya, "Sam-lopan berada di loteng, apa tuan ingin bertanya kepadanya?"

Sejenak Hun Cay-thian ragu-ragu tiba-tiba bergegas berdiri, pintu didorong terus melangkah keluar.

Pada saat itu ada puluhan gerobak yang ditarik keledai, sedang mendatangi menuju ke jalan raya ini dari luar kota. Ternyata gerobak-gerobak ini semua memuat peti mati, setiap gerobak empat buah peti mati yang baru seluruhnya.

Seorang laki-laki bungkuk bermuka putih, mengenakan pakaian serba baru berwarna hijau, bercokol di punggung seekor keledai lain tengah berjalan di pinggir kereta terdepan, rona mukanya itu memang mirip seseorang yang sudah bertahun-tahun rebah di dalam peti mati, jarang tersinar cahaya matahari.

Siapa pun yang melihat peti mati sekian banyaknya ke dalam kota ini, tak urung hatinya pasti mencelos kaget. Demikian juga Hun Cay-thian, tak tahan dia bertanya, "Akan dibawa kemana peti- peti mati ini?" Dari kepala sampai ke kaki si bungkuk ini mengamat-amatinya, tiba-tiba tertawa, katanya, "Dari dandanan Toaya ini, apakah kau dari Ban-be-tong?"

"Ya, betul!" sahut Hun Cay-thian.

"Peti-peti mati ini justru akan kami kirim ke Ban-be-tong," kata si bungkuk. Berubah air muka Hun Cay-thian, tanyanya, "Siapa suruh kau mengirim kemari?"

"Sudah tentu ada orang yang sudah membayarnya lunas, seluruhnya dia ada pesan tiga ratus buah peti mati serupa ini, terpaksa tukang kami harus bekerja siang malam "

Belum habis orang bicara, Hun Cay-thian sudah menubruk maju serta menariknya dari punggung kudanya, bentaknya bengis, "Orang macam apakah dia itu?"

Saking kaget dan ketakutan, si bungkuk sampai pucat dan gemetar, sahutnya gugup, "Dia ...

seorang, seorang perempuan."

Hun Cay-thian tertegun. "Perempuan macam apa?" desaknya. "Seorang nenek," si bungkuk menerangkan.

Hun Cay-thian kembali tercengang, "Kau datang darimana? Dimana nenek itu sekarang?"

"Dia pun ada ikut bersama kami," sahut si bungkuk. "Dia di rebah di dalam peti mati di atas

kereta yang pertama itu."

Hun Cay-thian menyeringai dingin, jengeknya, "Rebah di dalam peti mati, memangnya dia sudah mampus?"

"Belum mati, baru saja dia masuk ke sana untuk berteduh dari hujan, mungkin sekarang ketiduran."

Salah satu peti mati di atas kereta pertama ternyata memang tutupnya rada miring dan ada celah-celah lubang untuk pernapasan. Dengan tertawa dingin Hun Cay-thian melepaskan si bungkuk, dengan langkah mantap dan siaga dia menghampiri, sekonyong-konyong secepat kilat dia sikap tutup peti.

Memang di dalam peti mati ada orang, namun bukan seorang nenek, juga bukan seorang hidup. Yang rebah di dalam peti adalah seorang mati, laki-laki yang sudah mati kaku.

Laki-laki ini berpakaian serba hitam ketat, selebar mukanya dihiasi jambang-bauk lebat berwarna kehijauan, noktah darah yang meleleh keluar dari ujung mulutnya sudah mengering, demikian pula kulit mukanya sudah mengkeret kering merubah bentuk aslinya, kecuali itu badannya tidak tampak sesuatu luka, terang orang ini mati karena pukulan tenaga dalam yang keras, menghancurkan isi perutnya.

Yap Kay berdiri di undakan batu yang teratas, dari tempat ketinggian ini kebetulan dia pun bisa melihat wajah si korban, tak tertahan dia menjerit kaget, "Hwi-thian-ci-cu." Sudah tentu dia tidak akan salah lihat, jenazah ini terang adalah Hwi-thian-ci-cu. 

Hwi-thian-ci-cu sudah terbukti mati di dalam peti ini, lalu dimanakah Pho Ang-soat, Buyung Bing-cu dan Loh Loh-san?

Mereka berempat dalam waktu yang sama meninggalkan Ban-be-tong, bagaimana mungkin jenazah Hwi-thian-ci-cu bisa kedapatan di dalam peti mati ini?

Pelan-pelan Hun Cay-thian membalik badan, dengan beringas dia mengawasi si bungkuk, tanyanya, "Orang ini bukan seorang nenek."

Gemetar sekujur badan si bungkuk, dia manggut-manggut dipaksakan, sahutnya megap- megap, "Ya, bu bukan."

"Lalu dimana nenek yang kau katakan?" Si bungkuk geleng-geleng, sahutnya, "Aku tidak tahu."

Kusir yang mengendarai kereta kuda juga berteriak, "Aku juga tidak tahu, semula aku jalan di paling depan."

"Bagaimana kau bisa berjalan di paling depan?" tanya Hun Cay-thian.

"Kereta yang ini sebetulnya berada di paling akhir," demikian tutur kusir itu, "belakangan kami sadar tersesat jalan, segera putar balik di tempat itu juga, maka kereta yang semula berada di paling belakang menjadi di paling depan."

"Apa pun yang terjadi," jengek Hun Cay-thian, "seorang nenek takkan mungkin berubah menjadi seorang laki-laki, coba kau jelaskan apa yang telah terjadi?"

Si bungkuk menggeleng kepala sekeras-kerasnya, sahutnya, "Siau-jin betul-betul tidak tahu."

Bengis bentakan Hun Cay-thian, "Kalau kau tak tahu memangnya siapa yang tahu?" Sebat sekali badannya berkelebat, mendadak dia turun tangan, kelima jarinya laksana cakar besi, mencengkeram ke tulang pundak kanan si bungkuk.

Semula badan si bungkuk sedang gemetar keras seperti balon yang digantung di atas tiang ditiup angin deras, namun begitu Hun Cay-thian turun tangan menyerang dirinya, badannya tidak gemetar lagi, gesit sekali kakinya melesat, tahu-tahu orangnya sudah menyelinap ke belakang Hun Cay-thian, sekaligus telapak tangannya berbalik menabas ke arah tulang rusuk Hun Cay-thian.

Bukan saja jurus ini amat cepat perubahannya, malah temponya, posisi dan sasarannya amat tepat sekali, damparan angin pukulannya pun keras dan dahsyat.

Dinilai dari gerak-gerik dan serangannya ini, maka dapatlah dimengerti bahwa permainan kedua telapak tangannya ini, paling sedikit sudah terlatih tiga puluh tahun lamanya.

Hun Cay-thian mandah tertawa dingin, ejeknya, "Eh, ternyata memang sukup lihai!" Dalam berkata-kata beruntun dia merubah dua kali perubahan gerak badannya, sementara kedua telapak tangannya serempak balas menyerang lima jurus.

Hun Cay-thian memang ahli dalam main kegesitan dan kelihaian Ginkangnya, kini begitu dia mengembangkan keahliannya, meskipun belum seluruhnya memperlihatkan perbawanya, tapi betapa cepat dan tangkas perubahan serangannya kiranya jarang ada orang bisa melawannya.

Tak nyana si bungkuk pun mandah tertawa lebar, katanya, "Bagus, ternyata kau pun cukup jempolan." Di tengah gelak tawanya, tiba-tiba badannya berputar seperti keong, tahu-tahu badannya mencelat mumbul ke atas, terus menerjang naik ke atap rumah. Baru saja gerakannya dikembangkan, mau berubah lantas berubah, ingin menyingkir segera berlalu, gerak tubuhnya sungguh cepat luar biasa amat mengejutkan.

Sayang sekali hari ini dia menghadapi tokoh yang terkenal akan ilmu Ginkangnya yang tiada taranya di seluruh dunia, orang dijuluki Hun-tiong-hwi-liong (naga terbang di tengah mega). Maka baru saja badannya mencelat mumbul, bayangan Hun Cay-thian tahu-tahu sudah melejit tinggi seenteng asap secepat anak panah, kelima jarinya laksana cakar garuda, sekali raih dia mencomot ke punuk di punggung si bungkuk.

"Bret", jubah biru yang baru dia bikin pada bagian punggungnya tahu-tahu sudah tercomot sobek, maka menonjollah punuk besar yang licin memancarkan cahaya kuning kemilau di punggung orang. Disusul "Crat", suara yang cukup keras, dari punuknya yang kemilau menguning itu, tahu-tahu melesat keluar tiga bintik sinar dingin mengincar kedua kaki Hun Cay-thian.

Terdengar Hun Cay-thian bersuit panjang, tahu-tahu badannya bersalto seperti burung dara berjumpalitan di tengah angkasa, dengan gaya mendorong jendela memandang rembulan mega terbang, tahu-tahu badannya sudah berdiri tegak dan tancap kaki di wuwungan rumah sebelah sana.

Betapa cepat dan gesit gerakan reflek dari keahlian Ginkangnya ini, namun tak urung ketiga bintik sinar dingin itu masih sempat menyerempet ujung pakaiannya. Waktu dia memandang ke arah si bungkuk, badan orang sudah berlompatan segesit kera, berada tujuh delapan wuwungan rumah orang, kembali punuknya yang berwarna kuning itu berkelebat sekali lagi terus menghilang.

Ternyata Hun Cay-thian tidak mengejar, lekas dia melompat turun, kulit mukanya yang membesi hijau sudah dibasahi keringat, melihat bayangan musuh menghilang, mendadak dia menghela napas, ujarnya, "Sungguh tak nyana Kim-pwe-tho-sin (bungkuk sakti punuk emas) Ting Kiu bisa muncul di luar perbatasan ini."

Yap Kay ikut menghela napas, katanya dengan menggeleng kepala, "Sungguh aku pun tidak pernah menduga akan dirinya."

"Kau pun tahu akan dirinya?"

"Setiap insan yang berkelana di Kangouw, berapa banyak orang yang tidak tahu akan dirinya?" Hun Cay-thian tak bersuara, kelihatan sikapnya amat prihatin dan tertekan.

Berkata Yap Kay, "Orang ini sudah puluhan tahun mengasingkan diri, mendadak secara bersusah-payah sudi mengirim peti-peti mati sekian banyak ini kemari untuk apa? Memangnya dia pun ada sangkut-paut dengan musuh-musuh kalian itu?"

Hun Cay thian tetap berdiam diri.

"Apakah Hwi-thian-ci-cu terbunuh olehnya? Kenapa pula dia dibunuh?"

Sekilas Hun Cay-thian melotot kepadanya, katanya dingin, "Pertanyaan ini ingin kuajukan kepadamu."

"Kau tanya aku, lalu kepada siapa aku harus bertanya?" mendadak Yap Kay tertawa, sorot matanya beralih ke ujung jalan sana, mulut menggumam, "Mungkin aku harus pergi bertanya kepada dia."

BAB 08 ANGIN MUSIM SEMI YANG MEMBEKUKAN

Dari ujung jalan raya sana, tengah mendatangi seseorang dengan langkah pelan-pelan, langkahnya amat lamban berat seperti sulit menggerakan kaki, dia bukan lain adalah Pho Ang- soat. Tangannya tetap menggenggam kencang goloknya itu, langkah demi langkah bergerak maju makin dekat, seolah-olah setiap menghadapi persoalan apa pun, langkah kakinya itu selamanya takkan berubah, takkan menjadi cepat.

Tapi yang nampak baru dia seorang, kemanakah Loh Loh-san dan Buyung Bing-cu? Kenapa tidak kelihatan jejak mereka?

Menyeberangi jalan langsung Yap Kay menyongsong kedatangannya, sapanya tertawa, "Kau sudah kembali?"

Sekilas Pho Ang-soat melotot kepadanya, sahutnya dingin, "Kau belum mampus." "Bagaimana dengan yang lain?"

"Aku jalan amat lambat."

"Jadi mereka berlalu lebih dulu di depanmu?" "Ehm, kenapa?"

"Orang yang jalan duluan, kenapa belum juga tiba di sini?" "Darimana kau tahu mereka belum kembali? Dan pasti kemari?" Yap Kay manggut-manggut, mendadak dia tertawa, tanyanya, "Kau tahu siapa yang kembali lebih dulu?"

"Tidak tahu." "Seorang yang sudah mati," ujar Yap Kay dengan menyungging senyuman sinis di ujung mulutnya, katanya pula, "Yang jalan cepat di depan belum lagi tiba, orang mati yang tidak jalan malah tiba lebih dulu, memang banyak serba-serbi dan kejadian ganjil di dunia ini."

"Siapa yang menjadi korban?" tanya Pho Ang-soat. "Hwi-thian-ci-cu (laba-laba terbang)."

Pho Ang-soat sedikit mengerut kening sebentar dia menepekur, lalu berkata, "Sebetulnya dia sengaja tinggal di belakang menemani aku."

"Menemani kau? Untuk apa?" "Bertanya."

"Bertanya kepadamu."

"Ya, dia tanya, aku mendengar."

"Kau hanya mendengar, tidak menjawab?" "Mendengar pun sudah menghabiskan tenagaku." "Belakangan bagaimana?"

"Jalanku terlalu lambat."

"Setelah tidak berhasil mengorek keteranganmu maka dia segera menyusul teman-teman lain yang sudah berada di depan?"

Terunjuk senyuman sinis pada sorot mata Pho Ang-soat katanya tawar, "Maka dia tiba lebih dulu."

Yap Kay tertawa. Tawa yang tidak keruan rasanya. "Kau tanya, sudah kujawab, kau tahu kenapa?" "Aku pun sedang heran."

"Lantaran aku ada persoalan hendak bertanya kepadamu." "Silakan berkata, aku pun menjelaskan."

"Sekarang belum tiba saatnya bertanya."

"Harus tunggu sampai kapan baru boleh bertanya?" "Bila tiba waktunya aku ingin bertanya."

"Baik, terserah kapan kau ingin bertanya, sembarang apa pun yang kau tanyakan, aku pasti akan menerangkan."

Begitu dia menyingkir ke pinggir, Pho Ang-soat segera beranjak lewat, melirik pun tidak melihat ke jenazah yang berada di dalam peti, seolah dia amat menghargai pandangan sorot matanya sendiri, peduli kau mati atau hidup, tidak boleh sembarangan dia mau melihatmu.

Yap Kay tertawa getir sambil menghela napas, waktu dia berpaling, dilihatnya Hun Cay-thian sedang siap mengompas keterangan kusir kereta itu, dia pun malas untuk mendengarkan daripada kau mengompas keterangan dari mulut si kusir ini, lebih baik kau langsung tanya kepada si korban kemungkinan lebih gampang dan banyak hasilnya. Ada kalanya orang yang sudah mati pun bisa memberitahu sesuatu rahasia kepadamu, cuma sudah tentu cara yang dikemukakan jauh berlainan.

Setelah lohor.

Udara yang gelap, ternyata masih nampak juga sinar matahari yang menyelinap keluar dari celah-celah mega. Jalan raya masih becek, belum kering, terutama karena lewatnya barisan gerobak yang membawa muatan berat. Sekarang barisan gerobak itu sudah digusur masuk seluruhnya ke Ban-be-tong. Kalau tidak ditanyai supaya duduk persoalannya terang seluruhnya sekali-kali Hun Cay-thian tidak akan mau melepas mereka pergi, umpama mereka memang benar-benar tidak berdosa.

Kereta indah warna hitam mengkilat yang tertarik oleh delapan kuda itu ternyata masih berada di dalam kota, belum pulang, ada empat lima orang sedang sibuk membersihkan atau mencuci kotoran lumpur yang melekat di badan kereta, ada pula yang sibuk memberi makan rumput kepada kedelapan kuda itu.

Pernah kau melihat perempuan membeli barang-barang? Yang terang sesuatu kebutuhan yang dapat mereka beli dengan mudah dan gampang, mereka justru membelinya sampai sekian lamanya. Karena proses untuk membeli barang-barang itu sendiri, kadang kala merupakan suatu kenikmatan bagi kaum perempuan. Bukan saja kenikmatan, sekaligus merupakan kesempatan untuk mengobrol, saat-saat iseng untuk menghibur diri dan melepaskan ketegangan, merupakan saat-saat yang paling cocok untuk memilih dan mencoba pakaian barunya, apalagi bila ada perhiasan-perhiasan baru untuk dijajal, maka kesempatan sebaik ini sekali-kali tidak akan dilewatkan begitu saja.

"Akan tetapi kenapa harus cuci muka dengan telur ayam? Pakai telur angsa masakah tidak boleh?" Yap Kay amat tertarik akan hal ini. Akhirnya dia berkeputusan, kelak bila ada waktu, dia akan mencoba sendiri cuci muka dengan telur angsa, ingin dia sendiri membuktikan apakah kulit mukanya bisa semakin halus dan muda?

Tetangga toko kelontong ini adalah keluarga tukang jagal, di depan pintunya ada tergantung selembar papan berminyak dan linyit bertuliskan, "Khusus menjual daging sapi, kambing dan babi!".

Sebelah lagi adalah sebuah warung makan kecil, papan nama warungnya lebih linyit dan mengkilap oleh minyak yang kotor, penerangan di dalam rumah pun rada gelap.

Pho Ang-soat pun sedang duduk di warung kecil ini, menyeruput semangkuk bakmi. Tangan kirinya itu agaknya amat lincah, pekerjaan yang dikerjakan dua tangan oleh lain orang, dia cukup mengerjakan dengan satu tangan, malah hasilnya lebih baik.

Maju lagi tak begitu jauh adalah gang sempit tempat dimana dia tinggal, meski tidak sedikit keluarga yang tinggal di dalam lorong sempit ini, namun orang yang keluar masuk jarang sekali.

Tampak nenek tua renta dan terbungkuk-bungkuk itu sedang berengsot-engsot mendatangi, lalu ditempelkannya selarik kertas merah yang sebelumnya sudah dibubuhi lem, di atas dinding pojokan di sudut lorong sempit itu. Lalu dengan jalan terbungkuk-bungkuk pula dia kembali ke rumahnya.

Di atas kertas merah ini, ada beberapa tulisan yang tak beraturan berbunyi: "Disewakan, sebuah kamar baik, ranjang baru, diberi makan pagi. Uang sewa setiap bulannya dua belas tahil perak, bayar di muka. Melulu bagi jejaka yang belum punya anak".

Tadi pagi nenek ini baru saja menerima lima puluh tahil uang sewa kamarnya, agaknya sudah kemaruk akan pendapatan yang tinggi ini, maka dia ingin menyewakan pula kamar tempat tinggal sendiri, malah uang sewanya lebih mahal dua tahil.

Pemilik toko kelontong sedang bersantai mengantuk, di dalam toko kain sutra di seberang sana, dua nyonya muda yang bersolek kelewat batas sedang membeli jarum dan benang, mulutnya selalu menerocos tak henti-hentinya, bicara dan kelakar tertawa kesenangan, sayang sekali raut muka mereka jauh lebih jelek dibanding Sam-ik dan Be Hong-ling

Dimanakah Be Hong-ling bertiga? Kereta masih berada dalam kota, tapi kenapa bayangan mereka tak kelihatan seperti ditelan bumi.

Dua kali sudah Yap Kay mondar-mandir di jalan raya ini, pulang pergi tetap tidak melihat bayangan mereka.

Semula dia pun ingin masuk warung kecil itu sekedar mengisi perut, namun tiba-tiba ia batalkan niatnya, langsung dia menghampiri ke ujung gang sempit itu, lalu dirobeknya kertas merah yang menempel di atas dinding, digulung lalu disisipkan ke dalam sepatu tingginya. Di dalam sepatu tingginya ini seperti ada sebatang benda keras, entah lantakan emas atau pisau pendek?

Daun pintu yang paling sempit di jalan raya ini adalah sarang hiburan di dalam kota ini.

Pintunya sempit, namun denah rumah itu sendiri cukup besar. Di atas pintu sempit ini tidak diberi papan nama pengenal, tiada sesuatu tanda khas apa-apa pula, namun di atas pintu tergantung sebuah Ang-teng (lampu merah).

Bila lampu merah ini menyala, berarti sarang ini sudah mulai buka dagangan, sudah siap mulai menerima uang yang kau rogoh dari kantongmu. Bila lampu padam, boleh dikata selamanya tidak terlihat ada orang pernah keluar, sudah tentu tiada yang pernah masuk juga.

Di dalam rumahnya yang remang-remang gelap ini, ternyata ada orang di sini ternyata bukan Siau Piat-li yang pemiliknya sebaliknya adalah Be Hong-ling. Orang yang sedang dicari ubek- ubekan oleh Yap Kay tak ketemu, ternyata sudah menunggu di sini. Bukankah gerak-gerik anak perempuan ada kalanya memang sulit diraba orang?

Yap Kay tertawa, tanyanya, "Lho, bagaimana kau bisa berada di sini?"

Be Hong-ling melotot sekali kepadanya, tiba-tiba berdiri, muka berpaling terus tinggal pergi. Sejak tadi dia sudah melamun di sana, begitu melihat Yap Kay masuk, roman mukanya sudah mengunjuk rasa girang dan berseri tawa, tapi entah kenapa, tiba-tiba dia menarik muka pula terus berlari pergi.

Yap Kay tahu nona besar ini pasti marah dan dongkol karena sudah menunggu terlalu lama.

Memangnya bila kau berhadapan dengan nona besar sedang marah-marah, cara yang paling baik untuk mengatasinya adalah tinggal diam saja, biarkan setelah rasa marahnya hilang baru mulai kau bicara.

Dalam keadaan seperti ini, bila kau menarik atau merintanginya, membujuknya pula, maka kau ini termasuk laki-laki dogol, laki-laki bodoh. Dan Yap Kay justru bukan laki-laki goblok. Maka dia berpeluk tangan dengan menghela napas, dia duduk di atas kursi.

Be Hong-ling sudah menerjang keluar pintu, mendadak dia putar balik pula, katanya mendelik kepada Yap Kay, "Hai, untuk apa kau kemari?"

Yap Kay mengedip-ngedipkan mata, sahutnya, "Mencari kau!"

"Mencari aku?" Be Hong-ling menyeringai dingin. "Baru sekarang kau kemari? Kau kira aku pasti menunggu kau?"

"Bukankah kini kau sedang menunggu aku?" "Sudah tentu tidak."

"Tidak menunggu aku, menunggu siapa?" "Aku menunggu Sam-ik."

Yap Kay melongo, "Sam-ik? Dia pun mau datang?" "Kau kira hanya laki-laki yang boleh kemari?"

"Apa pun aku tidak pernah menggunakan 'kira', aku juga tidak tahu bila kau sudah kemari, maka sepanjang jalan raya ini aku ubek-ubekan mencarimu tanpa hasil."

Mata Be Hong-ling melotot sekian lama mengawasinya, "Selama ini kau sedang mencari aku?" "Tidak mencari kau lantas mencari siapa?"

Be Hong-ling tiba-tiba cekikikan, katanya, "Kau memang pikun kau kira hanya ada satu pintu yang bisa untuk masuk kemari?" ternyata dia datang dari pintu belakang, anak gadis perawan sebesar ini berada di tempat sarang seperti ini, sudah tentu dia harus main sembunyi-sembunyi. Yap Kay menghela napas, katanya tertawa getir, "Sungguh aku tidak habis pikir, kau pun bisa keluar masuk lewat pintu belakang."

"Bukan aku yang ingin lewat belakang, Sam-ik." Yap Kay tertegun, tanyanya, "Dia sudah datang?" "Pikun, bukankah sudah kuberitahu kepadamu?" "Mana dia?"

Be Hong-ling menggerakkan bibirnya menunjuk pintu ketiga di sebelah kiri, sahutnya, "Tuh di dalam sana."

Membelalak mata Yap Kay, katanya keheranan "Dia di dalam? Untuk apa dia di dalam?" "Mengobrol."

"Mengobrol dengan Cui-long?" ternyata di balik pintu itu adalah kamar tidur Cui-long.

"Memangnya mereka sebenarnya teman baik, setiap kali Sam-ik ke kota selalu mampir kemari dan mengobrol dengan dia." Kembali dia melototkan mata kepada Yap Kay, katanya, "Darimana kau bisa tahu dia bernama Cui-long? Kau pun mengenalnya?"

Tersekat jawaban Yap Kay, "Agaknya pernah aku melihatnya sekali?"

Semakin besar biji mata Be Hong-ling. "Seperti pernah melihat? Atau pernah berhadapan langsung?"

"Berhadapan sungguh-sungguh."

Be Hong-ling memelengkan kepala, dengan ujung matanya dia mengerling, katanya, "Kalau tidak salah, baru kemarin malam kau tiba di sini."

"Ya, kemarin malam."

"Jadi kemarin malam kau tinggal di sini?" "Agaknya ... agaknya memang.......

Sambil mengertak gigi tiba-tiba Be Hong-ling putar badan berlari keluar tanpa berpaling lagi. Tabiat nona besar ini sungguh mirip cuaca di bulan kelima, perubahannya cepat sekali. Yap Kay menghela napas saja, kecuali berpeluk tangan apa pula yang dapat dia lakukan.

Kalau laki-laki sedang bicara berhadapan dengan seorang gadis, maka setiap patah katamu harus kau pertimbangkan dengan seksama, terutama bila kau sedang bicara dengan gadis pujaanmu. Entah berapa lama berselang, tiba-tiba daun pintu pelan-pelan didorong pula, pelan- pelan Be Hong-ling melangkah masuk pula, langsung duduk di hadapan Yan Kay. Rona wajahnya lebih ayu kelihatannya, seperti tertawa tidak tertawa dia tatap muka Yap Kau, katanya tiba-tiba, "Kenapa kau tidak bicara?"

"Aku tidak berani bicara." "Tidak kenal?"

"Aku takut salah omong, membuat kau marah saja." "Kau takut aku marah?"

"Takut sekali."

Jelilatan biji mata Be Hong-ling, tiba-tiba dia cekikikan lagi, katanya, "Pikun, bukan saatnya kau bicara, mulutmu menerocos terus, tiba saatnya kau harus bicara, kita malah bungkam." Lambat- laun sorot matanya menjadi redup, katanya lebih lanjut sambil terus menatap Yap Kay, "Pagi tadi, kau ditanyai orang dimana kau semalam berada, kenapa tidak kau terangkan?"

"Entahlah." "Aku tahu," ujar Be Hong-ling lembut. "Kau kuatir merembet diriku, kuatir orang suka iseng omong tentang diriku, benar tidak?"

"Entahlah!" laki-laki yang pintar selalu dapat mencari saat yang tepat untuk pura-pura bodoh.

Semakin lembut dan halus kerlingan Be Hong-ling, "Apa kau benar-benar tidak takut mereka membunuhmu?"

"Kenapa takut, aku hanya takut bila kau marah."

Be Hong-ling tertawa mekar, begitu lembut dan hangat seolah-olah hembusan angin musim semi yang dapat mencairkan salju.

Yap Kay balas menatapnya, seolah-olah dia sudah terkesima.

Pelan-pelan Be Hong-ling menunduk, katanya, "Bukankah tadi pagi ayah mengajak kau bicara." "Ehm!"

"Apa yang dia katakan?"

"Dia menyuruh aku pergi, suruh aku meninggalkan tempat ini." "Apa jawabanmu?" tanya Be Hong-ling, lalu menggigit bibir. "Aku tidak mau pergi."

Be Hong-ling angkat kepala sambil berdiri, katanya menggenggam tangannya, "Kau ... sungguh kau tidak mau pergi?"

Yap Kay manggut-manggut.

"Tiada Orang yang menunggumu di tempat lain?”

"Hanya ada satu orang yang menungguku di suatu tempat." "Dimana?"

"Di sini."

Pecahlah gelak tawa Be Hong-ling, tawa manis yang riang, matanya berkedip seperti orang yang baru bangun dari impian indah katanya kalem, "Selama hidupku ini belum pernah ada orang yang bicara seperti kau ini, selamanya belum ada laki-laki yang menarik tanganku ... kau tahu tidak? Percaya tidak?"

"Aku percaya," sahut Yap Kay.

"Soalnya orang lain menyangka aku ini galak, maka lama kelamaan aku pun merasa diriku ini memang semakin galak, sebetulnya.....

"Sebetulnya kau ini memang tidak galak," kata Yap Kay tertawa.

"Sebetulnya bila aku kadang-kadang marah kepadamu, itu hanya pura-pura belaka." "Kenapa harus pura-pura marah "

"Karena karena aku berpendapat bila tidak sering marah-marah, orang lain pasti akan berani

kurangajar terhadapku."

"Selanjutnya pasti takkan ada orang yang berani kurangajar terhadapmu." "Jika ada orang kurangajar padaku, kau hendak melabraknya?"

"Sudah tentu, cuma selanjutnya jangan kau pura-pura marah lagi."

"Tapi selanjutnya bila kau berani berada di tempat seperti ini, aku akan marah sungguh- sungguh." Tanpa bicara lagi Yap Kay merogoh gulungan kertas merah dari slop sepatunya. Begitu membuka gulungan dan membaca isinya, seketika cerah air muka Be Hong-ling, seperti hembusan angin musim semi yang membuat segar kuntum kembang.

Mengawasinya Yap Kay merasa gadis di hadapannya ini memang amat polos, jujur dan lincah, ada kalanya tingkah-lakunya malah mirip anak-anak. Tak tertahan ditariknya tangan orang terus diciumnya. Sudah tentu merah jengah selebar mukanya, merah panas.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang batuk-batuk kecil. Entah kapan Sam-ik sudah membuka pintu melangkah keluar, berdiri di depan pintu dia sedang tersenyum mengawasi mereka.

Semakin merah muka Be Hong-ling, lekas dia menyembunyikan kedua tangan ke belakang punggung.

Sam-ik tersenyum, katanya, "Nah, sekarang tiba saatnya pulang!" "Ehm!" Be Hong-ling bersuara berat, kepalanya tertunduk dalam.

"Aku keluar dulu dan kutunggu di sana," ujar Sam-ik. Waktu melangkah keluar, seperti sengaja matanya mengerling pula kepada Yap Kau. Senyuman yang bisa menyedot sukma.

Senyuman Be Hong-ling cerah dan bersih, mungil, laksana sinar surya di permulaan musim semi Sebaliknya senyuman Sam-ik laksana warna kembang mekar yang kental, begitu kental sampai sukar dijajaki, begitu kental sehingga tanpa minum seseorang bisa dibikin mabuk. Di hadapannya Be Hong-ling kelihatannya mirip anak-anak.

Siapa pun yang mengawasi langkahnya keluar, pasti akan terasa sesuatu yang luar biasa, seolah-olah dia sudah mencari sesuatu milikmu. Sudah tentu Yap Kay tidak bisa mengemukakan perasaan hatinya, maka dia segera bertanya, "Setiap kali kau ke kota selalu naik kereta yang satu itu?"

Agaknya Be Hong-ling tidak mengerti kenapa orang menanyakan hal ini, tapi dia manggut- manggut.

"Ada berapa buah kereta seperti itu milik ayahmu?"

"Hanya satu saja. Orang-orang di sini kebanyakan suka naik kuda."

"Karena kalian hendak naik kereta ini, maka terpaksa mereka harus kembali sendiri-sendiri." "Mereka siapa?"

"Tamu-tamu yang semalam bersamaku berada di rumahmu " "Mereka toh bukan anak-anak, pulang sendiri kan tidak menjadi soal?

Kenapa kau harus berkeluh kesah?"

Yap Kay malah menghela napas, katanya, "Karena kami tiga belas orang yang pergi kini sudah mampus satu, sebelas yang lain pun menghilang."

Terbelalak mata Be Hong-ling, tanyanya, "Siapa yang mati." "Hwi-thian-ci-cu."

"Dan yang hilang?"

"Loh-toasiansing, Buyung Bing-cu dan sembilan pengawalnya." "Orang-orang segede itu bagaimana bisa hilang?"

"Memangnya di tempat ini sembarang waktu bisa terjadi sesuatu yang aneh-aneh." "Mungkin hanya rekaanmu saja, bukan mustahil sekarang mereka sudah kembali."

Yap Kay geleng-geleng kepala, tiba-tiba dia berkata, "Bolehkah aku sembarang waktu naik kereta kalian itu ke depan sana?"

"Sudah tentu boleh, cuma buat apa kau mau ke depan sana?" "Mencari orang yang hilang itu."

"Darimana kau tahu bila mereka berada di sekitar sini? Mungkin mereka sudah pulang lewat jalan lain?"

“Tidak mungkin." "Kenapa tidak mungkin?" "Aku tahu."

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Ada orang memberitahu kepadaku." "Siapa yang memberitahu kepadamu?"

Tertunduk kepala Yap Kay mengawasi tangannya, sahutnya tegas, "Seorang mati "Hah, orang mati?" teriak Be Hong-ling kaget.

Yap Kay manggut-manggut, ujarnya pelan-pelan, "Tahukah kau, orang mati ada kalanya pun bisa bicara, cuma cara mereka bicara sudah tentu berlainan dengan cara bicara orang hidup."

Dengan terbelalak kaget Be Hong-ling mengawasinya, katanya tersendat, "Apa yang dikatakan orang mati pun kau percayai?"

Kembali Yap Kay manggut-manggut, mulutnya mengulum senyuman yang penuh arti, katanya, "Persoalan yang diberitahu oleh orang mati selamanya tidak akan salah... karena hakikatnya dia tidak perlu menipu kau."

Kedua jari-jari yang mengepal dari mayat itu kini sudah terbuka, jari-jarinya terpentang bengkok kaku. Umpama orang mati ini bisa mengatakan sesuatu rahasia, yang terang jari-jari tangannya takkan mungkin bisa terpentang sendiri.

Jari-jari Hwi-thian-ci-cu yang semula terkepal kencang, kini sudah terpentang, jarinya melengkung dan kaku.

Ban-be-tong-cu berdiri di pinggir peti mati, sorot matanya tajam menatap kedua tangan ini. Bukan saja dia tidak menghiraukan muka sang korban yang kerut-kemerut berubah dari bentuk aslinya, dia pun tidak memeriksa noktah darah yang meleleh kering itu, hanya jari-jari tangan ini saja yang menjadi perhatiannya.

Karena itu orang lain sama-sama menatap ke arah kedua tangan ini. Mendadak Ban-be-tong-cu bersuara, "Apa yang kalian lihat?"

Hun Cay-thian dan Hoa Boan-thian beradu pandang, mereka tetap bungkam.

Berkata Kongsun Toan, "Aku hanya melihat sepasang tangan orang yang sudah mati, tiada bedanya dengan keadaan orang mati lainnya."

"Justru amat berbeda," kata Ban-be-tong-cu tegas. "Apa bedanya?" tanya Kongsun Toan.

"Jari-jari kedua tangan ini sebetulnya terkepal kencang, belakangan dipentang oleh seseorang sehingga terpentang seperti ini."

"Kau dapat melihatnya?"

"Tulang-tulang orang mati dan darahnya sudah kaku dan membeku, bukan soal gampang untuk membuka genggaman tangan seorang yang sudah ajal, oleh karena itu maka jari-jari baru melengkung seperti ini, dan lagi jari-jarinya ini meninggalkan bekas-bekas luka."  "Apa tidak mungkin dia terluka sebelum mati?" "Tidak mungkin."

"Mengapa tidak mungkin?"

"Kalau terluka pada waktu masih hidup, luka-luka ini pasti berdarah, cuma seseorang yang sudah lama ajalnya tidak akan mengeluarkan darah meski kau potong lengannya." Tiba-tiba Ban- be-tong-cu berputar ke arah Hun Cay-thian, katanya, "Waktu kau melihat mayat ini, apakah dia sudah lama mati?"

"Paling tidak satu jam lamanya," sahut Hun Cay-thian manggut-manggut. "Karena waktu itu jazadnya sudah dingin kaku."

"Bagaimana tangannya waktu itu? Apakah mengepal dengan kencang?"

Hun Cay-thian menepekur sebentar, sahutnya tetap tertunduk, "Waktu itu agaknya aku tidak memperhatikan tangannya."

Ban-be-tong-cu menarik muka, katanya dingin, "Waktu itu apa yang kau perhatikan?" "Aku ... aku sedang sibuk mengompas keterangan orang lain."

"Keterangan apa yang berhasil kau peroleh?" "Apa pun tidak kudapatkan."

Berkata Ban-be-tong-cu dengan keren dan tandas, "Lain kali kau harus ingat, sesuatu rahasia yang dapat diberitahukan oleh seorang mati, kemungkinan lebih banyak dan lebih meyakinkan dari keterangan orang hidup dan lagi jauh lebih dapat dipercaya."

Hun Cay-thian mengiakan.

"Kedua tangannya ini pasti menggenggam sesuatu di dalam jari-jari tangannya, dan barang itu pasti merupakan sumber penyelidikan yang amat penting, bukan mustahil sesuatu barang yang berhasil dia comot dari badan lawannya. Kalau waktu itu kau berhasil menemukan barang itu, sekarang kita sudah tahu siapakah pembunuhnya.

Terunjuk rasa kagum dan hormat pada sorot mata Hun Cay-thian, sahutnya, "Lain kali pasti akan kuperhatikan."

Lambat-laun roman muka Ban-be-tong-cu mengendor pula ketegangannya, tanyanya pula, "Waktu itu, kecuali aku, masih ada siapa lagi yang berada di sekitar peti mati?"

Tiba-tiba bersinar mata Hun Cay-thian, sahutnya, "Masih ada Yap Kay."

"Adakah kau melihat dia pernah mengusik mayat ini?" Hun Cay-thian menggeleng-geleng kepala, sahutnya, "Aku tidak memperhatikan, namun......

"Namun apa?"

"Agaknya dia pun amat memperhatikan mayat ini, lama dia berdiri di pinggir peti mati mengawasinya dengan seksama."

"Apa yang diketahui oleh pemuda itu, kemungkinan jauh lebih banyak dari apa yang seharusnya kau lakukan," kata Ban-be-tong-cu tertawa dingin.

Tiba-tiba Kongsun Toan menyela, "Orang ini hanya maling terbang, dia mati atau hidup apa pula sangkut-pautnya dengan kita?"

"Ada, erat sekali," sahut Ban-be-tong-cu.

"Apa sangkut-pautnya?" Kongsun Toan menegas keheranan.

"Walau orang ini sebagai maling terbang namun dia seorang maling terbang yang cerdik pandai, setiap kali dia beroperasi, pasti tidak pernah gagal, dari sini dapatlah dibuktikan bahwa penyelidikannya terhadap sesuatu yang diincarnya pasti amat teliti dan tepat." Lalu ditambahkannya dengan tekanan lebih tandas, "Oleh karena itu maka sengaja kusuruh orang mengundangnya kemari

"Jadi orang ini sengaja kau undang kemari?"

"Aku merogoh lima ribu tahil perak untuk mengundangnya kemari" "Untuk apa kau mengundangnya kemari?"

"Kuundang kemari supaya membantu aku menyelidiki secara diam-diam siapa yang hendak menuntut balas kepadaku."

"Kenapa kau harus mengundang dia?"

"Karena dia sendiri tidak punya sangkut-paut dengan persoalan ini, sudah tentu kewaspadaan orang terhadapnya jauh lebih kendor, maka kesempatan dan peluangnya untuk menyelidiki jejak lawan pun lebih besar."

Kongsun Toan menghela napas, ujarnya, "Sayang sekali dia tidak berhasil mendapatkan apa- apa dalam penyelidikannya, sekarang sudah pasti lagi."

"Jika dia belum mendapatkan hasil seperti yang kuharapkan, maka jiwanya takkan mampus secepat ini."

"Oh? Jadi?"

"Lantaran dia sudah menemukan rahasia si pembunuh itu, maka orang harus membunuhnya, membunuhnya untuk menutup mulutnya."

Melotot mata Kongsun Toan, katanya, "Oleh karena itu bila kita bisa menemukan siapa pembunuhnya, sekaligus kita akan mengetahui siapa pula orang yang sedang mempersulit kita."

"Maka sumber penyelidikan yang sudah tergenggam di tangannya itu, betapa penting artinya dalam peristiwa ini."

"Biar aku pergi tanya kepada Yap Kay, apakah dia yang mengambil barang itu," kata Kongsun Toan.

"Tidak perlu," tukas Ban-be-tong-cu. "Kenapa?"

"Waktu dia mati, Yap Kay berada di dalam kota, maka terang bukan dia pembunuhnya," ujar Ban-be-tong-cu seraya tertawa dingin. "Apalagi bila benar Yap Kay sudah mengambil sesuatu dari jari-jari tangannya, takkan ada orang yang bisa mengompas keterangannya."

Jari-jari Kongsun Toan meraba gagang goloknya, mulutnya menyeringai dingin, selebar mukanya dihiasi senyuman sinis yang menghina.

Hening sejenak, kemudian Ban-be-tong-cu bertanya pula, "Sebelum ajalnya, dengan siapa dia bersama?"

"Loh-toasiansing, Buyung Bing-cu dan Pho Ang-soat," Hoa Boan-thian segera menjawab. "Sekarang dimana mereka berada?"

"Pho Ang-soat sudah berada di kota, Loh Loh-san, Buyung Bing-cu dan para pengawalnya tidak kelihatan."

"Pergilah cari mereka, bawa empat puluh orang untuk mencarinya," Ban-be-tong-cu memberikan perintahnya.

Hun Cay-thian mengiakan.

"Sepuluh orang satu kelompok, terbagi menjadi empat kelompok, bawa rangsum dan air minum lebih banyak, sebelum mendapat hasil penyelidikan, kalian jangan kembali."

Hun Cay-thian kembali mengiakan. Apa pun yang dikatakan Ban-be-tong-cu selamanya dia mengiakan saja dengan tunduk hormat, di hadapan Ban-be-tong-cu, tokoh Bu-lim yang dulu pernah malang melintang di dunia Kangouw, ternyata terima diperbudak begitu saja.

Mendadak Kongsun Toan berkata, “Biar aku mencari Pho Ang-soat" "Tidak perlu," tegas kata-kata Ban-be-tong-cu.

"Kenapa tidak perlu," seketika Kongsun Toan naik pitam. "Kenapa bocah itu tidak boleh dicari?" "Masakah kau tidak bisa menentukan kematian orang ini?" tanya Ban-be-tong-cu.

Kongsun Toan tertunduk mengawasi goloknya, katanya, "Siapa yang menentukan bagi seseorang yang bergaman harus membunuh orang dengan gamannya itu?"

Ban-be-tong-cu tidak segera menjawab pertanyaan ini, sementara Hun Cay-thian sudah tahu diri dan mengundurkan diri lebih dulu, pelan-pelan dia merapatkan daun pintu.

Terangkat kepala Kongsun Toan, tanyanya mendesak "Siapa yang menentukan dia harus membunuh orang dengan goloknya?"

“Dia sendiri." "Dia sendiri?"

"Kalau benar dia kemari untuk menuntut balas, maka golok di tangannya itu perlambang dirinya untuk menuntut balas, maka bila dia ingin membunuh orang, dia harus menggunakan goloknya itu." Dengan tertawa tawar Ban-be-tong-cu menambahkan, "Jika dia bukan hendak menuntut balas, buat apa kau harus mencari dia?"

Kongsun Toan tidak bicara lagi, lekas dia putar badan melangkah keluar, derap langkahnya begitu berat laksana kerbau jantan yang sedang marah. Mengawasi bayangan raksasa orang, sorot mata Ban-be-tong-cu tiba-tiba menampilkan rasa kuatir, rawan ketakutan, seolah dari badan orang gede ini dia sudah membayangkan sesuatu tragedi yang mengenaskan.

Empat puluh orang, empat puluh ekor kuda.

Delapan puluh kantong air terbuat dari kulit kambing yang besar-besar, penuh berisi air jernih dan membawa perbekalan rangsum secukupnya. Golok sudah diasah tajam, panah sudah terpasang di busurnya.

Dengan teliti Hun Cay-thian menginspeksi sendiri dua kali, setelah puas baru dia manggut- manggut, namun suaranya tetap keren dan berwibawa, "Sepuluh orang satu kelompok, berpencar mencarinya, kalau tidak ketemu kalian pun tak usah kembali."

Kongsun Toan sudah kembali ke rumahnya sendiri. Keadaan rumah kelihatan morat-marit, tapi ruangannya besar dan nyaman, kulit-kulit binatang yang berwarna-warni bergantungan menghiasi dinding, di atas meja bertumpuk berbagai macam buah-buahan yang besar dan segar Berbagai arak berkwalitas paling tinggi.

Pada malam yang sunyi, asal dia mau, seseorang pesuruhnya akan membawakan seorang perempuan kemari, perempuan jenis apa pun menurut keinginannya, dari yang langsing ayu semampai sampai yang bertubuh tambun buntak seperti gentong air, dari usia tiga belas sampai tiga puluh tahun.

Memang itulah kenikmatan yang harus dia kecap, foya-foya merupakan sebagian dari kehidupannya yang tertekan dan selalu dirundung ketegangan. Maklumlah, darah dan keringat yang harus dia cucurkan sudah kelewat banyak. Namun demikian, dia belum pernah merasa puas akan kehidupan serba berkecukupan ini, karena di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, masih terpendam sebilah pisau, seutas cemeti. Dengan kedua tangannya sendiri yang berlepotan darah memendamnya di dalam lubuk hati. Peduli apa pun yang sedang dia lakukan, pisau itu seolah-olah bergerak di dalam lubuk hatinya, demikian pula cemeti itu, selalu melecut sukma dan nalarnya sehingga jiwanya selalu dihinggapi ketegangan dan seram.

Hujan salju nan lebat. Di dalam lautan salju itu, seperti seekor anjing gladak yang kelaparan dan kedinginan, Pek Thian-ih merangkak-rangkak dan meronta-ronta, darah segar nan merah menyala itu menghiasi bunga-bunga salju yang putih merah.

Sampai sekarang seolah-olah Kongsun Toan masih sering mendengar ratapan dan kutukan suara orang yang mengerikan seperti lolong serigala liar yang buas, "Kenapa kalian berbuat seperti ini terhadapku? Kalian binatang ini, binatang rendah. Umapama aku harus mati selaksa kali, aku pasti akan menuntut balas kepada kalian."

Tergenggam kencang jari-jari Kongsun Toan, mendadak dia merasa mual dan hampir muntah- muntah.

Arak masih penuh terisi pada cangkir emas besar di atas meja, sekaligus dia tenggak sampai habis, matanya sudah berkaca-kaca berlinang.

Sekarang benar-benar ada orang datang hendak menuntut balas, tapi dia terpaksa harus menyembunyikan diri di dalam rumah seperti pengantin baru yang malu-malu dilihat orang, dengan lengan baju menyeka air mata. Entah lantaran apa dia bercucuran air mata, air mata tetap air mata.

Kembali dia mengisi penuh secangkir besar, lalu ditenggaknya pula sampai habis. "Bersabar! Kenapa kau harus bersabar?"

"Kalau mungkin dia akan meluruk datang membunuh aku, kenapa tidak lebih dulu kuluruk dia serta membunuhnya?" akhirnya dia menerjang keluar.

Mungkin dia keluar tidak ingin membunuh orang, tapi hatinya sungguh dihinggapi rasa ketakutan yang tak terhingga. Bukan dendam kesumat, bukan kemarahan. Namun ketakutan yang menghayati dirinya!

Memang jarang seseorang yang dihayati rasa dendam dan amarah yang meluap-luap lalu meluruk orang serta membunuhnya, kalau karena ketakutan lantas membunuh orang, memang sering terjadi. Bila seseorang ingin membunuh orang, kebanyakan bukan lantaran orang lain melukai dirinya, yang terang justru kebalikannya, karena dirinya yang melukai orang, memangnya hal ini merupakan suatu tragedi yang tragis dalam kehidupan manusia sejak dahulu kala.

BAB 09. KOKOH BAGAI BATU KARANG

Magrib. Sinar lampu yang terakhir masih sempat menyorot masuk menerangi kaki Pho Ang-soat melalui lubang jendela, mengawasi pahanya sendiri seketika terbayang oleh Pho Ang-soat akan jari-jari manis halus yang semalam meraba-raba pahanya ini.

Dia rebah di atas ranjang, saking penatnya sampai sepatu pun malas dicopot lagi.

Namun begitu terbayang akan sepasang tangan itu, perempuan itu, kulit badannya yang halus dan lembut laksana kain sutra itu, paha dan kakinya yang berisi, serta gerak-gerik kakinya yang merangsang ... seketika timbul gejolak aneh di relung hatinya, seolah-olah celana yang dipakainya pun hampir diterjangnya sampai jebol.

Dia cukup mengerti cara bagaimana untuk menyalurkan rangsangan yang membakar dirinya ini. Karena dia pernah melakukan. Akan tetapi keadaannya sekarang sudah lain, karena dia pernah memiliki perempuan, perempuan tulen.

Seharusnya tidak pantas dia memikirkan hal ini, gemblengan atau latihan yang pernah dialaminya, kemungkinan jauh lebih berat, lebih menderita dari laki-laki mana pun, akan tetapi dia tetap seorang laki-laki di saat dirinya disinari cahaya surya yang kesetanan ini, kecuali adegan itu, sungguh persoalan apa pun enggan dia memikirkannya, memang dia sudah teramat letih.

Entah kapan hujan lebat itu berhenti? Sinar surya menjelang magrib setelah hujan ini kenapa selalu terasa lebih hangat? Bergegas dia melonjak bangun, berlari keluar! Dia ingin penyaluran, dia harus melampiaskan keinginan ini, tapi dia justru bertahan, harus bersabar!

Suara jalan raya tenang-tenang saja, seolah-olah penduduk kota pegunungan ini sudah mendapat firasat bahwa di kota kecil ini bakal terjadi sesuatu peristiwa besar yang mengejutkan, malah orang-orang yang suka gelandangan di jalan raya pun rela menyembunyikan diri di rumah menggendong anaknya.

Yap kay berdiri di bawah emperan rumah, mengawasi jalan raya yang becek berlumpur, seakan-akan sedang merenungkan sesuatu persoalan rumit yang tak bisa dipecahkan.

Selanjutnya dia melihat Pho Ang-soat sedang beranjak keluar dan gang sempit di seberang sana. Dengan senyuman lebar dia memberi lambaian tangan, namun Pho Ang-soat menganggap tidak melihat dirinya, kulit mukanya yang pucat ini seolah-olah menampilkan semu merah dari kobaran hatinya, matanya dengan nanar menatap ke arah pintu sempit di seberangnya sana.

Lampu merah di atas pintu sempit itu sudah menyala. Pandangan mata Pho Ang-soat mirip nyala lampu ini, mulai berkobar. Jari-jarinya masih mencekal golok, pelan-pelan namun pasti dia beranjak menuju ke sana.

Tiba-tiba terasa oleh Yap Kay pemuda yang biasanya pendiam dan berwatak kaku serta tenang ini, hari ini agaknya sedikit berubah aneh.

Maklumlah bila seorang sudah menahan dirinya sekian lama, karena terdesak melampaui batas, ada kalanya dia pasti ingin melampiaskannya meski hanya sekedarnya saja, kalau tidak, siapa pun asal dia seorang laki-laki normal pasti takkan kuat menahan diri, akhirnya bakal meledak.

Yap Kay menghela napas, katanya seorang diri, "Agaknya memang harus minum arak sepuas- puasnya."

Memang lebih baik kalau mabuk dan jatuh pulas lupa daratan, maka di saat dia siuman, meski kepala pening seperti hampir pecah, namun semangatnya pasti sudah mengendor. Sudah tentu alangkah baiknya bila ada seorang perempuan.

Yap Kay sedang heran, dia tidak tahu apakah sebesar ini pemuda cacad ini pernah bercengkeraman dengan perempuan. Jika selamanya belum pernah bersentuhan dengan perempuan, mungkin malah lebih mending daripada laki-laki yang pada hakikatnya belum pernah bercengkeraman atau pernah bersentuhan dengan perempuan, maka keadaan dirinya laksana tanggul besar yang kokoh kuat takkan bisa jebol dan hancur meski diterjang air bah.

Sebaliknya laki-laki yang sudah pernah memiliki banyak perempuan pun tidak berbahaya jika hakikatnya sudah tidak perlu ditahan dan dijaga lagi, masakah pertahanannya bisa luluh.

Justru yang paling berbahaya adalah laki-laki yang baru saja pernah bersentuhan, bak umpama sebuah tanggul yang sudah sedikit ada lubang, siapa pun takkan tahu kapan lubang ini bakal diterjang oleh air bah itu.

Pelan-pelan Pho Ang-soat menyeberang jalan, matanya masih tertuju ke pintu sempit dengan lampu merah di atas pintu.

Bila lampu merah menyala, berarti usaha di sini mulai didasarkan.

Meski dasaran hari ini takkan laris seperti hari-hari biasanya, namun pengunjung utama dari tempat hiburan ini adalah pelatih kuda dari peternakan kuda atau penjual kuda-kuda liar dari tempat jauh. Yang terang orang-orang seperti mereka hari ini takkan berkunjung ke tempat ini.

Pelan-pelan Pho Ang-soat mendorong pintu, biji lehernya turun naik menelan ludah,

Di dalam rumah hanya terdapat dua pengunjung dari orang-orang setempat yang baru saja bertengkar dengan bininya. Siau Piat-li sudah turun, sudah tentu duduk di tempatnya semula, pelan-pelan orang sedang menikmati hidangan pagi. Hidangan pagi yang sedang digaresnya itu adalah lembaran daging-daging kambing yang diiris tipis dan di pinggang, semangkuk gulai kambing, masih ada lagi cangkir besar yang berisi arak, seperti arak anggur keluaran Persia yang dituang di dalam cangkir menyala di malam hari. Memangnya Siau Piat-li seorang laki-laki yang pandai menikmati kesenangan hidup.

Pho Ang-soat melangkah masuk, ragu-ragu sebentar, akhirnya dia memilih tempat dimana kemarin malam dia duduk.

"Minum arak apa?"

Kembali dia ragu, sampai lama baru menjawab, "Arak tidak mau." "Mau apa?" "Kecuali arak, apa saja yang ada boleh disediakan."

Siau Piat-li tiba-tiba tertawa, segera dia memberi pesan kepada pelayannya. "Kebetulan baru saja kami menerima susu kambing yang masih segar, berilah seteko kepada Pho-kongcu, anggap saja sebagai perhitungan dari dalam."

Tanpa menoleh segera Pho Ang-soat berkata, "Tidak perlu, makanan yang kuinginkan aku bisa membayarnya sendiri."

Siau Piat-li tertawa, kerat daging panggang terakhir segera dia jejalkan ke dalam mulut, dikunyah pelan-pelan, menikmati rasanya yang manis, segar dan amis, memangnya dia seorang yang tidak suka ribut mulut. Namun dia pun sudah tahu bahwa seseorang yang suka ribut dan adu mulut tengah mendatangi.

Derap tapal kuda yang berdentam riuh dan cepat di atas jalan raya tengah mendatangi dengan cepat sekali, akhirnya berhenti tepat di depan pintu.

"Blang", pintu didorong dari luar secara keras dan kasar, sesosok badan laki-laki raksasa melangkah lebar masuk ke dalam rumah, tidak mengenakan topi, sementara pakaian depan dadanya terbuka lebar, golok melengkung besar terselip di pinggangnya.

Kongsun Toan!

Dengan tersenyum Siau Piat-li menyapa dengan gerakan tangan dan mimik mukanya, orang menganggap tidak melihat dirinya. Tapi yang dia pandang justru Pho Ang-soat. Sorot matanya seketika laksana seekor elang kelaparan yang melihat sesosok bangkai

Susu kambing sudah dihaturkan, memang masih hangat dan segar. Minuman semacam ini hanya bisa dinikmati oleh penduduk perbatasan yang terpencil di dunia ramai, hanya penduduk kota di luar perbatasan ini yang benar-benar bisa menikmatinya.

Seteguk saja Pho Ang-soat mencicipi, seketika dia mengerut kening.

Mendadak Kongsun Toan menyeringai dingin, "Hanya kambing yang minum susu kambing." Pho Ang-soat tidak mendengar, diangkatnya cangkirnya, lalu dihirupnya pula seteguk.

Semakin keras suara Kongsun Toan karena olok-oloknya tidak dihiraukan, "Tak heran di sini berbau prengus. ternyata ada seekor kambing busuk di sini."

Pho Ang-soat masih tidak mendengarkan, namun jari-jari yang mencekal golok tergenggam kencang, otot hijau di punggung tangannya merongkol besar.

Mendadak Kongsun Toan menghampiri, "Biang", meja digebrak seraya membentak, "Minggir!"

Pho Ang-soat mengawasi susu kambing di tangannya, katanya kalem, "Kau suruh aku minggir!" "Di sini tempat duduk untuk manusia, di belakang ada kandang kambing, di sanalah tempatmu

berpijak."

"Aku bukan kambing." Kongsun Toan menggebrak meja pula, serunya, "Peduli kau ini barang apa, segeralah enyah dari sini, tuan besar suka duduk di tempatmu ini."

"Siapakah tuan besar?"

"Aku, aku ini tuan besar, tuan besar adalah aku."

"Prak", cangkir teremas pecah. Dengan mendelong Pho Ang-soat m ngawasi air susunya yang muncrat di atas meja, badannya sudah bergetar keras.

Kongsun Toan menatapnya, telapak tangannya yang segede kipas itu sudah meraba gagang goloknya, ejeknya dingin, "Kau ingin menggelinding sendiri atau perlu orang lain menggotongmu?"

Dengan badan gemetar pelan-pelan Pho Ang-soat berdiri, sedapat mungkin dia mengendalikan perasaan dan emosinya, melirik pun dia tidak.

Kongsun Toan tertawa lebar, serunya, "Agaknya kambing busuk ini akan menggelinding balik keluar, kenapa tidak kau jilat kering susu kambing yang mengotori meja ini?"

Tiba-tiba Pho Ang-soat mengangkat kepala menatapnya lekat-lekat. Sepasang matanya laksana bara yang sedang menyala besar.

Biji mata Kongsun Toan pun sudah merah membara, mukanya menyeringai sadis, "Apa keinginanmu? Ingin mencabut golok?"

Pho Ang-soat tetap menggenggam goloknya dengan kencang, tak bergeming sedikit pun. "Hanya manusia bisa mencabut golok, kambing busuk masakah bisa main senjata, jika kau ini

manusia, cabutlah golokmu itu."

Dengan mendelikkan mata, Pho Ang-soat seperti ingin menelannya bulat-bulat. Sekujur badannya gemetar dan keringat dingin bercucuran.

Dua tamu lain yang semula sedang minum arak kini sudah menyingkir ke pojok ruangan, d ngan mendelong kaget mengawasi mereka.

Sementara Siau Piat-li tenang-tenang menikmati arak anggurnya seteguk demi seteguk, jari- jarinya kelihatan mengejang karena tegang.

Hening lelap hanya terdengar deru napas yang ngos-ngosan, dari kedua orang yang sedang berhadapan. Deru napas Pho Ang-soat enteng dan pendek cepat, sedang napas Kongsun Toan keras dan panjang serta berat. Sebaliknya orang lain justru serasa berhenti napasnya.

Tiba-tiba Pho Ang-soat memutar badan, beranjak keluar, kaki kiri melangkah dulu setapak, kaki kanan dengan kaku lalu diseretnya maju.

Sekeras-kerasnya Kongsun Toan meludah ke atas lantai, katanya menghina, "Ternyata kambing busuk ini timpang kakinya."

Mendadak langkah Pho Ang-soat dipercepat, seolah-olah sudah tak kuasa berdiri tegak lagi, dengan sempoyongan menerjang keluar.

Kongsun Toan tergelak-gelak, serunya, "Menggelindinglah yang jauh ke dalam kandangmu, bila terlihat lagi oleh tuan besarmu, awas kupatahkan kakimu yang lain." Segera dia menarik kursi terus duduk seraya mengg brak meja, "Bawa arak kemari, arak bagus!"

Sekonyong-konyong seseorang berseru lantang di depan pintu, "Bawa arak kemari, arak bagus!"

Tahu-tahu Yap Kay melangkah masuk, tangan kirinya menuntun seekor kambing.

Kongsun Toan mendelik kepadanya, dia malah seperti tidak melihat kehadiran Kongsun Toan, setelah mencari tempat, terus duduk. Tempat duduknya berhadapan dengan Kongsun Toan.

Kongsun Toan menyeringai dingin, serunya sambil menuding meja di depannya, "Mana araknya? Lekas." Yap Kay pun menggebrak meja, serunya, "Mana araknya? Lekas!" Dalam keadaan seperti ini, sudah tentu arak segera disuguhkan.

Yap Kay langsung menuang secangkir penuh, namun tidak diminum sendiri, tahu-tahu sebelah tangannya menarik leher kambing, secangkir arak itu terus dia cekokkan ke dalam mulut kambing.

Kalau alis tebal Kongsun Toan bertaut, sebaliknya Siau Piat-li sudah terpingkal-pingkal.

Yap Kay segera tertawa lebar dan menengadah, katanya, "Ternyata kalau orang minum susu kambing, kambing justru minum arak."

Seketika berubah rona muka Kongsun Toan, sigap sekali dia berjingkrak bangun, bentaknya bengis, "Apa katamu?"

Yap Kay tertawa tawar, ujarnya, "Aku sedang bicara dengan kambing ini, apakah tuan ini seekor kambing?"

Tiba-tiba Siau Piat-li ikut tertawa, katanya, "Tempat ini bukan kandang kambing, darimana bisa ada kambing."

Kongsun Toan berpaling melotot gusar ke arahnya

Siau Piat-li tersenyum, lalu katanya, "Apa Kongsun-heng juga ada maksud ingin mematahkan kakiku? Sayang sekali sejak lama kedua kakiku ini sudah dikutungi orang."

Terkepal kedua jari-jari tangan Kongsun Toan, katanya mendesis tajam, "Sayang sekali ada juga kaki orang yang belum buntung."

"Benar, kakiku belum buntung," ujar Yap Kay. "Baik, kau berdiri."

"Bila saatnya duduk, biasanya aku jarang berdiri," ujar Yap Kay meringis- Siau Piat-li menimbrung, "Bila masih bisa berdiri, biasanya aku jarang duduk." "Aku ini orang malas."

"Aku ini orang yang tidak punya kaki." Keduanya mendadak terbahak-bahak.

Pelan-pelan Yap Kay mengelus kepala kambing, matanya mengerling ke arah Kongsun Toan, katanya tertawa, "Yo-heng Yo-heng (engkoh kambing), kenapa kau selalu suka berdiri?"

Kongsun Toan justru sedang berdiri. Merongkol otot hijau di atas jidatnya, mendadak tangannya berbalik menggenggam goloknya, bentaknya, "Sambil duduk aku pun bisa membacok kutung kedua kakimu." Dimana sinar perak berkelebat, golok tahu-tahu sudah tercabut keluar. "Brak", meja besar yang terbuat dari kayu keras dan tebal itu seketika terbelah menjadi dua. Meja itu terbelah tepat di hadapan Yap Kay dan roboh. Begitu pula sinar golok membacok turun tepat di muka Yap Kay.

Yap Kay tidak bergeming, sampai pun kelopak matanya pun tidak berkedip. Dia tetap tersenyum, katanya tawar, "Tak nyana golok sabitmu ini peranti untuk membelah meja."

Kongsun Toan menggerung kalap seperti banteng ketaton, goloknya terayun membundar. Sekujur badan Yap Kay seketika terkurung di dalam lingkaran sinar golok kemilau itu, sorot matanya seketika seperti memancarkan kilat perak.

"Tring", kembang api muncrat. Sebatang tongkat besi tiba-tiba menyelonong maju dari samping menangkis bacokan golok sabit, terus menahannya di tengah udara. Dengan sebatang tongkatnya Siau Piat-li menangkis bacokan golok, sementara tongkatnya yang lain menyanggah bumi dan amblas lima dim ke dalam lantai Betapa dahsyat kekuatan bacokan golok ini.

Tapi badan Siau Piat-li sendiri tetap bertopang di atas tongkatnya ini tanpa bergeming, demikian pula tongkatnya yang teracung ke depan menahan golok masih lempang dan tenang. Karena kekuatan bacokan ini dia salurkan ke tongkatnya yang satu sehingga ujungnya amblas masuk ke dalam lantai.

Rona muka Kongsun Toan sudah pucat-pias, katanya sambil mendelik kepadanya, "Urusan ini tiada sangkut-pautnya dengan kau."

Siau Piat-li berkata tawar, "Di sini bukan tempatnya membunuh orang."

Darah semakin mendidih di rongga dada Kongsun Toan, namun goloknya tidak bergerak lagi.

Demikian pula tongkat besi itu sudah tidak bergeming.

Sekonyong-konyong tajam golok mulai menggesek batang tongkat, mulai terdengar suara gesekan yang lirih lembut semakin keras dan menusuk telinga. Maka tongkat besi yang lain itu mulai amblas satu dim demi satu dim ke dalam bumi. Tapi Siau Piat-li sendiri masih bergelantung di atas tongkatnya tidak tergoyahkan.

Tiba-tiba Kongsun Toan membanting kedua kakinya, lantai marmer hijau di bawah kakinya seketika pecah retak, cepat sekali dia sudah melangkah keluar. Sepatah kata pun tidak bersuara lagi.

Yap Kay menarik napas panjang, katanya memuji, "Siau-siansing, hebat benar Lwekangmu." "Amat memalukan."

"Siapa pun bila sudah berlatih Lwekang mencapai taraf Ih-hoa-kiat-bok (memindah kembang menyambung dahan), tiada sesuatu yang perlu dibuat malu di dunia ini."

Tiba-tiba Siau Piat-li tertawa, ujarnya, "Yap-heng tajam benar pandangan matamu." "Pandangan Kongsun Toan tentunya juga tidak jelek, kalau tidak, masakah dia mau berlalu

begitu saja."

"Mungkin juga karena orang yang benar-benar ingin dia bunuh bukan kau "

"Tapi jika bukan karena pertolongan Siau-siansing, mungkin hari ini aku sudah mampus di tempat ini."

Siau Piat-li tertawa, katanya, "Jika aku tidak turun tangan, mungkin memang ada orang bakal mampus di sini, tapi yang terang orang itu bukan kau."

"Bukan aku? Lalu siapa?" "Kongsun Toan!" "Mana mungkin dia yang mati malah?"

"Dia itu laki-laki kasar berangasan, ternyata dia tidak tahu bahwa ilmu silat Yap-heng hakikatnya sepuluh kali lipat lebih tinggi dari kepandaiannya."

Yap Kay tertawa seperti mendengar suatu yang menggelikan, katanya dengan geleng-geleng kepala, "Siau-siansiang tentunya salah hitung kali ini."

"Kedua kakiku memang buntung, namun kedua mataku ini pasti tidak akan meleset, kalau tidak, aku sudah menahan diri sepuluh tahun di sini, kenapa hari ini aku harus turun tangan."

Yap Kay menunggu kata-katanya lebih lanjut.

"Selama puluhan tahun ini, belum pernah aku melihat tokoh semuda kau, bukan saja ilmu silatnya tinggi tak terukur, malah menyembunyikan kepandaian pula, maka dia berhenti, seperti sedang menunggu pertanyaan Yap Kay selanjutnya.

Terpaksa Yap Kay bertanya, "Maka bagaimana7"

Kembali Siau Piat-li menghela napas, katanya, "Seorang cacad sebatangkara, untuk hidup di tempat seperti ini bukan soal gampang, kalau bisa bersahabat dengan teman seperti Yap-heng

Mendadak Yap Kay menukas kata-katanya dengan tertawa, "Jika bersahabat dengan teman seperti aku, kelak kau akan terlibat banyak kesulitan." Berkilat pandangan Siau Piat-li menatap kepadanya, ujarnya, "Jika aku tidak takut menghadapi bahaya?" "Boleh kita menjadi sahabat."

Seketika Siau Piat-li tertawa lebar, ujarnya, "Kalau begitu kenapa tidak lekas kau kemari minum bersama."

"Umpama kau tidak ingin mengundang aku minum, aku pun tetap akan meminumnya."

Seorang sedang mencongklang kudanya lewat jalan raya, sekonyong-konyong sebuah tangan gede menariknya turun dari punggung kudanya secara kekerasan, terus dilempar jatuh ke tanah dengan kerasnya. Baru saja orang ini berjingkrak hampir memaki dengan gusar, seketika dia urungkan niatnya

Karena dia sudah melihat jelas orang yang menariknya jatuh dari punggung kuda adalah Kongsun Toan, dilihatnya pula roman muka Kongsun Toan yang sedang marah-marah, siapa pun takkan ada yang berani mengusik Kongsun Toan yang sedang marah ini.

Dengan tangkas Kongsun Toan mencemplak ke punggung kuda terus dikeprak cepat-cepat Dimanakah kuda tunggangannya sendiri?

Kuda tunggangan Kongsun Toan sedang membedal di tengah padang rumput, namun penunggangnya adalah Pho Ang-soat.

Begitu keluar pintu dia terus mencemplak ke atas kuda serta mengepraknya dengan goloknya, begitu keras hantaman goloknya di pantat kuda. Seolah-olah dia menganggap kuda tunggangan ini sebagai Kongsun Toan

Dia perlu melampiaskan kobaran hatinya, kalau tidak, dia bisa gila dibuatnya. Kuda itupun seperti jadi gila, dari jalan raya terus membedal ke padang rumput, dari magrib sampai gelap akhirnya dirinya dikelilingi tabir malam nan pekat.

Angin badai menghembus datang, butiran pasir menyampuk mukanya, dia tidak berpaling, terus memapak ke depan. Penghinaan seperti itupun dapat dia terima, ada apa pula yang tidak dapat dia terima di dunia ini? Giginya berkerutukan kencang, darah merembes keluar dari ujung bibirnya, darah terasa getir, getir dan kecut.

Sekonyong-konyong di tengah kegelapan itu timbul setitik bintang. Bukan bintang, namun itulah lampion besar di pucuk tiang bendera dalam Ban-be-tong, sinarnya yang menyala lebih terang dari cahaya bintang

Bintang akan tiba saatnya timbul dan tenggelam, bagaimana dengan lampion ini?

Dengan kencang dia renggut bulu suri kuda, dengan kuat dia pukulkan sarung goloknya untuk membedal kudanya, dia perlu melampiaskan diri, demikian pula kecepatan lari kudanya pun dia percepat agar lebih cepat melampiaskan gejolak hatinya.

Sekonyong-konyong kuda tunggangannya meringkik dengan pilu, kaki depannya tiba-tiba tertekuk terus tersungkur jatuh. Dengan sendirinya Pho Ang-soat ikut terjungkal dan terbanting keras bergelundungan di tanah, tanah nan tandus, tanah berpasir. Pasir yang keras menggesek luka kulit mukanya, darah berlepotan di selebar mukanya. Demikian pula serasa hatinya pun sudah berdarah.

Tahan sabar, sabar lagi, sampai kapan dia harus menahan sabar? Siapa kan tahu betapa getir dan derita untuk menahan sabar ini? Tak tertahan air matanya bercucuran, air mata darah, air mata bercampur darah.

Bintang-bintang berkelap-kelip di cakrawala.

Di bawah pancaran sinar bintang-bintang inilah tiba-tiba seekor kuda berlari-lari kecil lembut tengah berderap mendatangi, sepasang mata si penunggang kuda laksana bintang kejora yang sedang menyala di tengah kegelapan malam. Bunyi kelintingan kuda bak irama lagu dewata, semakin jelas dan jelas, itulah Be Hong-ling. Rona mukanya masih menampilkan senyuman mekar dan manis, sorot matanya membayangkan hidup bahagia, kelihatannya dia jauh lebih cantik dari sebelumnya. Bukan lantaran pancaran sinar bintang yang menambah semarak, bukan karena keremangan malam nan redup ini, namun lantaran benih-benih asmara sudah tumbuh di dalam relung hatinya.

Asmara itu sendiri memangnya bisa merubah seorang perempuan menjadi genit dan mekar, meski seorang perempuan paling buruk pun akan menjadi cantik. "Dia tentu sedang menunggu aku, melihat aku mendadak pergi pula, tentu dia lebih senang dari memperoleh rezeki apa pun "

Sebenarnya tidak pantas dia datang saat sekarang. Tapi rasa kangennya, karena gejolak asmara itu sehingga dia melupakan segala akibatnya.

Sebetulnya dia tidak bisa keluar. Akan tetapi cinta membuat dia lebih berani, asal dapat melihatnya, meski hanya sekejap saja, segala urusan umpama dunia bakal kiamat pun tidak menjadi perhatian dirinya.

Angin malam menghembus dingin, sedingin batang golok nan tajam. Tapi di dalam perasaannya, angin dingin ini menjadi hangat. Tapi di tengah hembusan angin ini, sayup-sayup dia mendengar isak tangis. Siapakah yang menangis di tengah padang rumput nan belukar dan sepi ini secara diam-diam?

Sebetulnya dia sudah berputar ke arah lain, namun tahu-tahu putar balik, cinta bukan saja membuat dia lebih cantik, cinta pun membuat hatinya lebih luhur, lebih bajik. Menaruh belas kasihan terhadap sesamanya, menyelami kesukaran orang lain. Pertama-tama ditemukannya kvida tunggangan Kongsun Toan yang sudah roboh kehabisan tenaga, lalu melihat Pho Ang-soat pula.

Pho Ang-soat meringkuk di atas tanah, sekujur badannya gemetar keras tak henti-hentinya. Seolah dia tidak mendengar kedatangannya, juga tidak melihat orang turun mendekati dirinya pula.

Dia sedang menahan derita yang paling berat di seluruh dunia, menahan siksaan yang paling menakutkan. Di bawah sinar bintang, mukanya tampak sedemikian pucat, muka nan pucat ini berlepotan air mata yang bercampur dengan darah, air mata darah.

Baru sekarang Be Hong-ling melihat jelas muka orang dan mengenalinya, saking kaget matanya terbelalak, mulut pun berteriak tertahan, "Kau?"

Dia belum melupakan pemuda yang aneh ini, masih segar dalam ingatannya jalur-jalur merah di pipi orang bekas lecutan cambuknya itu.

Pho Ang-soat kini sudah melihatnya, sorot matanya hampa dan kalut, seolah-olah kuda liar yang terlepas dari pingitan. Dia meronta-ronta ingin bangkit, namun kaki tangannya seperti dibelenggu oleh tali-temali besar yang tidak kelihatan, baru saja berdiri kembali terjungkal roboh. Berkerut alis Be Hong-ling, tanyanya, "Kau sakit?" Pho Ang-soat mengertak gigi, buih kental mulai merembes dari mulutnya, mirip benar dengan buih kental yang meleleh keluar dari mulut kuda yang kehabisan tenaga itu.

Penyakit yang jahat dan menakutkan ini, sudah puluhan tahun menyiksa dirinya, di saat dia didesak dan kepepet oleh situasi dan tak bisa melampiaskan kobaran hatinya, terasa dirinya sudah tidak tahan lagi untuk melampiaskan keinginan hatinya, saat itulah penyakit aneh ini bisa kumat secara mendadak. Selama ini pantang bila penyakitnya ini kumat dilihat orang, dia rela mati, lebih baik masuk neraka daripada keadaan dirinya yang mengenaskan ini dilihat orang.

Tapi pada saat yang fatal ini, kenyataan orang telah menyaksikan keadaan dirinya yang memalukan ini. Dia mengertak gigi, dengan sarung goloknya dia menghajar dan memukul diri sendiri. Dia amat benci pada diri sendiri. Seorang laki-laki yang berwatak keras, laki-laki yang amat bangga dan angkuh, kenapa justru Thian menakdirkan dirinya terserang atau terhinggapi penyakit yang jahat dan memalukan ini?

Betapa kejam dan tak adil siksaan dan derita yang luar biasa ini. Dia rela mati, namun dalam keadaan seperti ini untuk mati pun tak mudah lagi! Sekali-kali tak boleh mati, tugas belum selesai. “Agaknya Be Hong-ling sudah tahu penyakit ini, katanya lembut setelah menghela napas, "Buat apa kau memukul dirimu sendiri? Penyakit ini takkan membikin kau mati, malah cepat sekali akan..”

Mendadak Pho Ang-soat mengerahkan seluruh kekuatannya mencabut golok, dampratnya dengan menggerung gusar, "Enyah kau, enyah dari sini, kalau tidak kubunuh kau!" Untuk pertama kali ini dia mencabut goloknya.

Golok yang cemerlang! Cahaya golok menyinari mukanya, muka yang berlepotan darah. Cahaya golok nan pucat membuat raut mukanya kelihatan lebih menakutkan, seperti sudah gila, seperti sedang menyeringai iblis.

Tanpa sadar Be Hong-ling menyurut mundur dengan perasaan ngeri, sorot matanya menampilkan rasa kejut, takut dan seram. Ingin dia tinggal pergi, namun saat itu pula tiba-tiba kaki tangan Pho Ang-soat mengejang, lalu berkelejetan dan roboh meronta-ronta. Seperti ayam disembelih, laksana seekor kuda liar yang terjebak masuk ke dalam perangkap, liar putus asa, sebatangkara dan tiada bantuan.

Golok itu masih tergenggam di tangannya, golok yang telanjang. Mendadak dia ayun goloknya membacok paha sendiri, begitu keras bacokan ini, golok sampai amblas ke dalam kulit dagingnya. Darah merembes keluar melalui batang golok, lambat-laun badannya yang kejang dan meronta- ronta mulai lambat dan mereda, akhirnya berhenti. Kini tinggal gemetaran saja yang membuat keringat dingin berketes-ketes, dengan kedingingan dia meringkuk seperti trenggiling. Seperti anak kecil yang meringkuk karena ketakutan!

Sorot mata Be Hong-ling yang takut dan seram tadi kini sudah berganti menaruh belas kasihan dan simpatik.

Di tengah kegelapan, dalam malam nan dingin, anak yang sebatangkara Tak tahan dia

menghela napas pelan-pelan, maju menghampiri, mengelus rambutnya sambil menghibur lembut, "Ini bukan salahmu, kenapa kau harus menyiksa diri sendiri?" Inilah kasih sayang bak seorang ibu kepada putranya tercinta. Pemuda sebatangkara yang menderita ini menimbulkan rasa iba, membangkitkan jiwa keibuannya.

Air mata Pho Ang-soat bercucuran pula Betapapun dia kuat perkasa, angkuh dalam keadaan seperti ini, akhirnya terketuk juga sanubarinya. Dengan bercucuran haru, mendadak dia berteriak, "Aku memang salah, sebetulnya aku tidak patut dilahirkan, hakikatnya aku tidak harus hidup di dunia fana yang penuh siksa ini." Teriakannya diliputi rasa kepedihan dan putus asa.

Tertusuk pula sanubari Be Hong-ling, rasa simpati dan haru, rasa kasihan laksana sebatang jarum menusuk hulu hatinya bersama. Tak tahan lagi dia merangkulnya dalam pelukannya, bujuknya lembut, "Kau tidak perlu bersedih, sebentar juga kau akan pulih kembali” Tak kuasa dia meneruskan kata-katanya, karena air matanya pun berderai, tenggorokan serasa tersumbat.

Kini Pho Ang-soat sudah tenang, tidak lagi gemetar, napasnya justru semakin memburu. Be Hong-ling bisa merasakan deru napasnya yang panas menembus pakaiannya menyentuh kulit badannya. Maka dadanya lambat-laun terasa panas.

Rasa kasihan dan simpati yang tak terbatas, tanpa tedeng aling-aling lagi, sehingga dia lupa diri bahwa berada dalam pelukannya adalah seorang pria. Memang inilah kebesaran jiwa kemanusiaan yang menalari kesucian hati untuk beriba kepada sesamanya, dan semua ini dia lakukan di luar kesadarannya. Namun sekarang dia tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh, suatu perasaan aneh yang datangnya amat mendadak dan membakar sanubarinya. Hampir saja dia mendorongnya, namun hati terasa berat.

"Siapa kau?" mendadak Pho Ang-soat bertanya.

"Aku she Be suara Be Hong-ling tiba-tiba terputus, karena dia pun merasakan deru napas si pemuda ini tiba-tiba juga seperti berhenti. Sungguh dia tidak habis mengerti kenapa bisa terjadi seperti ini Tiada orang yang dapat membayangkan, betapa besar kekuatan rasa dendam seseorang, adakalanya jauh lebih membara dan besar dari rasa cinta. Karena cinta itu lembut, hangat, laksana hembusan angin musim semi, air yang mengalir di tengah hembusan angin musim semi.

Dendam justru amat meruncing dan tajam laksana sebatang golok, dalam sekejap mata dapat menikam ke dalam hulu hatimu.

Pho Ang-soat tidak bertanya lagi, mendadak dengan kuat dia balas memeluknya, sekali raih pakaiannya ditariknya sampai sobek.

Perubahan ini terlalu cepat dan mendadak, menakutkan lagi. Be Hong-ling teramat kaget dan bergetar sanubarinya, seolah-olah dirinya menjadi kaku, lupa berkelit, lupa menyingkir, juga lupa melawan.

Jari-jari Pho Ang-soat yang dingin sudah merambat di dalam dadanya yang hangat, dengan sekuat tenaga menangkap ....

Perasaaan aneh laksana sebilah pisau, jantung Be Hong-ling seolah-olah tertikam berlubang oleh tusukan pisau ini, ketakutan, malu dan marah seketika memuncak dalam rongga dadanya. Serempak dia melompat bangun, serta-merta kedua tangannya bekerja pergi datang menggampar muka Pho Ang-soat.

Pho Ang-soat pun tidak berkelit atau melawan, kedua tangannya masih kencang memeluknya. Demikian keras belenggu kedua tangannya ini sehingga Be Hong-ling kesakitan dan napasnya pun menjadi sesak, tak tertahan air mata berderai, dengan mengepal kedua tangannya, sekuat tenaga ia menghajar hidung orang.

Sebelah tangan Pho Ang-soat segera menangkap kepalannya. Maka dadanya yang terbuka membukit terbentang di tengah hembusan angin lalu, montok dan kenyal.

Biji mata Pho Ang-soat sudah membara, seperti serigala yang rakus mengincar mangsanya, dia menubruk lagi serta meraih-raih dan berusaha memeluknya lebih kencang.

Be Hong-ling mengangkat dengkulnya naik turun menghajar muka orang. Entah kenapa keduanya tidak bicara dan tidak bersuara, tiada yang menjerit, memangnya jeritan di saat-saat seperti ini di tempat ini pula tiada gunanya.

Keduanya seperti binatang liar, bergumul, banting membanting, meronta dan meraih serta mengoyak. Lama kelamaan semakin banyak tempat-tempat telanjang di tubuh Be Hong-ling.

Pho Ang-soat sudah kesetanan, sebaliknya Be Hong-ling saking gusar dan malu pun sudah menjadi kalap, juga panik, lambat-laun dia sudah kehabisan tenaga untuk melawan.

Sekonyong-konyong mulutnya terbuka menjerit sekuat-kuatnya, "Lepaskan, lepaskan aku ...

kenapa kau harus berbuat seperti ini terhadapku? Kenapa”. Dia tahu dalam keadaan dan tempat seperti ini terang takkan ada orang yang bisa menolongnya, dia pun insyaf laki-laki yang sudah kesetanan ini takkan bakal melepas dirinya. Itulah ratap tangisnya terhadap Yang Maha Kuasa akan kemalangan yang menimpa dirinya.

Di tengah deru napas Pho Ang-soat yang tersengal-sengal itu terdengar mulutnya berkata, "Hal ini kan memang kau sendiri yang menginginkan, aku tahu kau pun mengharapkan."

Boleh dikata Be Hong-ling sudah lemas kehabisan tenaga, hampir saja dia sudah putus asa dan pasrah nasib, tidak meronta lagi. Setelah mendengar kata-katanya ini, mendadak dia himpun seluruh kekuatannya, sekali pentang mulut sekuatnya dia menggigit pundak orang.

Saking kesakitan seluruh badan Pho Ang-soat seakan-akan mengkeret, namun tetap menindihnya dengan kencang, seolah-olah ingin menindihnya sampai jiwa nafsunya tertekan keluar.

Kini mulutnya sudah lepas dari pundak orang, mulutnya mengulum darah, mengunyah sekerat daging mendadak dia muntah-muntah. Karena muntah-muntah ini, tenaganya semakin habis dan tak kuasa melawan lagi, tepaksa mulutnya menjerit-jerit pula, "Oh, ampun aku mohon kepadamu, kau tidak boleh berbuat seperti ini."

Boleh dikata Pho Ang-soat sudah hampir berhasil menodainya, mulutnya menyahut samar- samar, "Kenapa tidak boleh, siapa bilang tidak boleh."

Tiba-tiba terdengar seorang menyahut dingin, "Aku yang bilang! Kau tidak boleh!" Suaranya dingin, tenang dan dingin, terdengar menggiriskan.

Jika kemarahan terlalu memuncak, ada kalanya malah dapat membuat diri sendiri berubah menjadi tenang dan tabah, bukankah golok biasanya pun dingin dan tenang.

Dalam pendengaran Pho Ang-soat, suara orang ini memang laksana sebilah golok. Sebat sekali badannya segera menggelundung ke samping. Waktu dia melenting berdiri, maka dia pun melihat Yap Kay di hadapannya.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Peristiwa Merah Salju Jilid 03"

Post a Comment

close