Peristiwa Bulu Merak Bab 07 : Duel

Mode Malam
 
Bab 07. Duel

Di pojok taman sebelah timur ada sebuah pintu kecil. Tadi Pho Ang-soat masuk dari sana. Sekarang Toh Lui pun masuk dari pintu kecil itu.

Mereka tidak melompati tembok. Jalanan kecil berliku sudah lenyap ditelan suburnya rumput-rumput liar, bila beranjak melewati rerumputan, jaraknya pun akan lebih pendek, tapi mereka justru lebih suka menyusuri jalanan kecil yang berliku-liku.

Langkah mereka perlahan, begitu berjalan pasti tidak akan berhenti. Dipandang dari berbagai sudut, kedua orang ini mempunyai beberapa persamaan, tapi jelas mereka bukan manusia sejenis, ini terbukti dari golok mereka, bila melihat golok mereka, maka tampak jelas perbedaannya.

Sarung golok Toh Lui dihiasi zamrud dan permata yang kemilau, golok Pho Ang-soat berwarna hitam legam. Tapi masih ada titik persamaan dari kedua golok ini, keduanya adalah golok, golok untuk membunuh orang. Lalu adakah persamaan pula di antara kedua orang ini? Ada, keduanya adalah manusia, manusia yang ingin membunuh manusia.

Jam empat belum tiba, namun saat mencabut golok sudah tiba. Golok tercabut jiwa pun melayang, kalau bukan kau yang mampus, akulah yang mati.

Langkah Toh Lui akhirnya berhenti, berhadapan dengan Pho Ang-soat, berhadapan dengan golok Pho Ang-soat yang tiada bandingannya di kolong langit ini. Besar tekadnya untuk membunuh orang yang satu ini di bawah goloknya, namun satu-satunya orang yang dihormati, dikagumi juga adalah musuh yang dihadapinya sekarang.

Seolah-olah Pho Ang-soat berada di suatu tempat yang amat jauh, jauh di ufuk langit, saat segumpal mega kebetulan menutupi matahari, sang surya telah lenyap, tidak kelihatan, tapi matahari selamanya tidak pernah mati.

Bagaimana dengan manusia?

Akhirnya Toh Lui bersuara, “Aku she Toh bernama Lui.” “Aku tahu,” sahut Pho Ang-soat.

“Aku datang terlambat.” “Aku tahu.”

“Aku sengaja supaya kau menunggu, supaya kau tidak sabar dan risau sehingga aku lebih leluasa membunuhmu.”

“Aku tahu.”

Mendadak Toh Lui tertawa, katanya, “Sayang aku melupakan satu hal.” Tawanya getir, katanya pula, “Waktu aku membuat kau menunggu kedatanganku, aku sendiri juga menunggu.”

“Aku tahu.”

“Apa pun kau tahu?”

“Paling sedikit aku masih tahu satu hal.” “Coba katakan.”

“Sekali golokku berkelebat, jiwamu pasti melayang.” Jari-jari Toh Lui mendadak mengencang, kelopak matanya juga mengkerut, lama kemudian baru ia bertanya, “Kau yakin?”

“Yakin sekali.”

“Kalau begitu kenapa kau tidak segera mencabut golokmu?”

Beberapa menit telah berselang, mega mendung sehingga cahaya mentari tidak kelihatan lagi, cuaca buruk menjadikan hawa menjadi lembab dan dingin.

Inilah saat yang paling tepat untuk membunuh orang.

Bing-gwat-sim berada di Bing-gwat-lau, berada di Bing-gwat-kong (jalan bulan purnama). Waktu Ibu jari dan Merak memasuki Bing-gwat-kong, kebetulan serangkum angin menyampuk muka mereka, angin yang dingin namun menyejukkan.

Ibu jari menarik napas dalam, katanya tersenyum, “Cuaca hari ini sungguh bagus sekali untuk membunuh orang, sekarang juga saat yang paling baik untuk melaksanakan pembunuhan itu. Setelah membunuh orang, aku masih bisa mandi air panas dengan santai, lalu minum arak sepuasnya,”

Merak berkata, “Lalu mencari pelacur untuk diajak tidur.”

Ibu jari tertawa riang, matanya menyipit, “Ada kalanya aku sampai perlu ditemani dua tiga orang sekaligus.” Merak ikut tertawa, katanya, “Kau pernah bilang Bing-gwat-sim juga seorang pelacur.”

“Siapa bilang dia bukan?”

“Malam ini apakah kau tidak ingin mencarinya.” “Malam ini tidak.”

“Lho, kenapa?”

Ibu jari tidak menjawab secara langsung, katanya, “Pelacur itu ada bermacam-macam.” “Dia termasuk macam yang mana?”

“Kebetulan dia termasuk macam yang tidak kusukai. Aku tidak punya selera terhadapnya.” “Wah, kenapa?” Merak menegas.

Ibu jari menghela napas, katanya sambil tertawa getir, “Karena di antara banyak perempuan yang pernah kulihat, pernah kuajak main di ranjang, yang paling menakutkan justru dia, bila aku memejamkan mata, dia pasti akan membunuhku.”

“Kalau kau tidak memejamkan mata?”

“Umpama aku tidak memejamkan mata, dia tetap akan membunuhku.” “Aku tahu kungfumu amat hebat.”

“Akan tetapi sedikitnya masih ada dua perempuan di dunia ini yang mampu membunuhku.” “Bing-gwat-sim satu di antaranya? Lalu siapa yang kedua?”

“Ni-jisioca, Ni Hwi.”

Baru saja dia habis bicara, lantas terdengar suara tertawa nyaring yang menghambur merdu laksana kelintingan.

Gang panjang ini dipagari tembok tinggi, di atas tembok tumbuh rerumputan dan pohon-pohon mini. Musim semi belum lewat, maka tetumbuhan pun subur meski tumbuh di atas tembok. Tawa nyaring berkumandang dari balik pepohonan mini sana.

“Gendut edan, bagaimana kau tahu kalau aku mendengar percakapanmu?” “Aku tidak tahu,” segera Ibu jari menyangkal.

“Eh, lalu kenapa kau menjilat pantat?” suaranya merdu, orangnya cantik, gerakan Ginkangnya jauh lebih indah, mempesona lagi. Waktu dia melangkah turun dari atas tembok laksana segumpal mega, seperti kelopak kembang. Kelopak kembang mawar yang baru saja melayang jatuh karena hembusan angin sejuk.

Waktu Ibu jari melihat bayangannya, tahu-tahu orangnya telah lenyap. Bayangan Ni-jisiocia menyelinap hilang di balik rimbunnya pepohonan, Ibu jari tetap memicingkan mata, namun senyumnya makin lebar, tambah riang.

“Dia itukah Ni-jisiocia?” Ibu jari memperkenalkan.

“Kenapa dia mendadak muncul lalu lenyap pula,” tanya Merak.

“Karena dia ingin memberitahu, dia lebih tinggi, lebih unggul dari Bing-gwat-sim,” sorot mata Ibu jari masih tertuju ke arah dimana bayangan tadi lenyap, “oleh karena itu selanjutnya kita boleh tak usah kuatir berhadapan dengan Yan Lam-hwi.”

“Masih ada satu hal aku tidak mengerti.” “Hal apa?”

“Kenapa kita harus membunuh Yan Lam-hwi?” Merak seperti mengorek keterangan. “Siapakah dia sebetulnya? Kenapa tiada insan persilatan di Kangouw yang jelas tentang asal-usulnya?”

“Lebih baik kau jangan banyak bertanya,” sikap Ibu jari mendadak serius, “jika kau betul-betul ingin tahu, kuanjurkan sebelumnya kau mempersiapkan satu barang.”

“Aku harus mempersiapkan apa?” “Peti mati.”

Merak tidak bertanya lagi, waktu dia mengangkat kepala, kebetulan mega hitam menutupi bulan purnama.

Waktu mega itu menyelimuti gang putri malam, Bing-gwat-sim juga sedang duduk menghadap jendela menyulam kembang. Yang disulam juga kembang mawar, seperti mawar yang lagi mekar di luar jendela, mawar yang mekar di musim semi, memang kelihatan segar semerbak.

Yan Lam-hwi tidur telentang di atas ranjang tanpa bergerak, wajahnya kelihatan pucat seperti muka Pho Ang-soat.

Angin menghembus di luar jendela, angin malam mulai dingin.

Mendadak Bing-gwat-sim mendengar suara mereka, langkah mereka lebih ringan dari angin, suara mereka lebih dingin dari angin malam.

“Lekas suruh Yan Lam-hwi turun, kalau dia tidak turun, biar kami yang ke atas.”

Bing-gwat-sim menghela napas, dia tahu Yan Lam-hwi tidak mungkin turun, maka dia tahu mereka pasti akan naik ke atas loteng.

Karena bukan Yan Lam-hwi yang ingin membunuh mereka, justru mereka yang ingin membunuh Yan Lam- hwi, karena itu Yan Lam-hwi boleh tidur santai dan nyaman di atas ranjang, mereka justru harus membawa senjata, menyusuri jalan raya memasuki gang, mengetuk pintu dan naik tangga ke loteng, supaya tidak kehilangan kesempatan baik membunuh orang, mereka harus bekerja kilat.

Siapakah sebetulnya yang lebih agung antara yang membunuh dan yang dibunuh? Siapa pula yang yang lebih kotor dan hina? Siapa pun tiada yang bisa menjawab.

Bing-gwat-sim menunduk melanjutkan sulamannya. Dia tidak mendengar suara langkah, juga tidak mendengar ketukan pintu, namun dia sudah tahu ada orang di luar pintu.

“Silakan masuk!” kepala tidak terangkat, badannya tidak bergerak, “pintu tidak terpalang, dorong saja.”

Pintu hanya dirapatkan, jelas sekali dorong pun akan terpentang lebar, tapi orang justru tidak berani mendorongnya.

“Kalian kemari hendak membunuh orang, memangnya orang yang bakal menjadi korban kalian yang harus membukakan pintu menyambut kalian?”

Suaranya lembut, namun bagi pendengaran Ibu jari dan Merak ternyata setajam jarum.

Cuaca hari ini baik untuk membunuh orang, saat inipun tepat untuk membunuh orang, hati mereka memang sedang riang, sedang berselera. Akan tetapi sekarang mereka justru seperti tidak senang, karena korban yang akan mereka bunuh justru kelihatan lebih kalem, tidak ambil peduli, sikapnya lebih luwes, maka mereka berdiri mematung seperti orang linglung di luar pintu, jantung mereka pun berdetak satu kali lipat lebih cepat.

Kenyataan membunuh orang bukan suatu tugas yang menyenangkan.

Merak menatap Ibu jari, Ibu jari juga mengawasi Merak, kedua orang ini seperti sedang bertanya kepada diri sendiri, “Apakah benar Yan Lam-hwi keracunan? Apakah dalam rumah ada perangkap untuk menjebloskan mereka?”

Padahal mereka tahu, asal pintu didorong terbuka, segala persoalan juga akan segera terjawab dan beres. Akan tetapi mereka tidak mengulur tangan.

“Bila kalian masuk, tolong jangan membuat ribut,” suara Bing-gwat-sim lebih lembut, “Yan-kongcu sudah keracunan, sekarang sedang tidur nyenyak, jangan sampai kalian membuatnya siuman.” Mendadak Ibu jari tertawa, katanya, “Dia teman Yan Lam-hwi, dia tahu kita datang untuk membunuh Yan Lam-hwi, agaknya justru kuatir bila kita tidak berani masuk membunuh Yan Lam-hwi, coba katakan bagaimana pendapatmu?”

Dingin suara Merak, “Karena dia seorang perempuan, kapan saja perempuan siap menjual atau mengingkari lelaki yang dicintainya.”

“Tidak benar.”

“Coba katakan apa sebabnya?”

“Karena dia tahu semakin dia mengoceh begitu, kita semakin curiga dan tidak berani masuk malah.” “Ya, masuk akal, agaknya kau selalu lebih unggul tentang perempuan.”

“Lalu apa pula yang kita tunggu?” “Kutunggu kau membuka pintu.”

“Kau yang ingin membunuh orang,” kata Ibu jari. “Kau yang membuka pintu.”

“Apakah selamanya kau tidak mau menempuh bahaya?” tanya Ibu jari sambil tertawa. “Ya, memang begitu.” sahut Merak.

“Kerja sama dengan orang sejenismu memang menyenangkan, karena kelak kau pasti lebih panjang umur, bila aku sudah mati, paling tidak kau masih bisa mengubur mayatku.” Sembari tersenyum dia mengulur tangan dan mendorong perlahan, pintu pun terbuka. Bing-gwat-sim tetap menyulam di pinggir jendela, seperti orang mampus Yan Lam-hwi rebah di atas ranjang.

Ibu jari menghela napas lega, katanya, “Silakan masuk.” “Kau tidak mau masuk?”

“Tugasku hanya membuka pintu, kaulah yang ingin membunuh orang, tugasku sudah selesai, sekarang tiba giliranmu bekerja.”

Merak menatapnya lama, katanya tiba-tiba, “Ada satu hal ingin aku beritahukan kepadamu.” “Sekarang boleh kau katakan,” ujar Ibu jari.

Dingin suara Merak, “Setiap kali melihat tampangmu, hatiku lantas jijik, ingin muntah, paling sedikit tiga kali pernah timbul hasratku ingin membunuhmu.”

Ternyata Ibu jari masih bisa tertawa, katanya, “Syukur yang hendak kau bunuh sekarang bukan aku, tapi adalah Yan Lam-hwi.”

Merak diam saja.

Maka Ibu jari memperlebar daun pintu dan mendesak, “Silakan.”

Ketenangan menyelimuti rumah ini, cuaca agak guram, rembulan pun bersembunyi-di balik mega. Sekarang jam empat hampir tiba.

Akhirnya Merak melangkah masuk, waktu kakinya beranjak ke dalam, tangannya sudah tersembunyi di dalam lengan baju, jari-jarinya sudah menyiapkan Khong-jiok-ling. Khong-jiok-ling yang halus mengkilap dan dingin, senjata rahasia terampuh di dunia untuk membunuh manusia. Mendadak keyakinan menambah tebal kepercayaan pada diri sendiri.

Mendadak Bing-gwat-sim mengangkat kepala menatapnya, senyum manis menghiasi wajahnya waktu dia menyapa, “Kau inikah Merak?”

“Apakah Merak menggelikan?” Jengek Merak. “Tapi kau tidak mirip merak, betul-betul tidak mirip.” “Kau juga tak mirip pelacur.” Bing-gwat-sim tertawa manis.

“Menjadi pelacur juga bukan sesuatu yang menggelikan.” “Kecuali itu justru ada satu hal yang menggelikan.” “Apakah itu?” “Kau tidak mirip Khong-jiok (Merak), tapi kau adalah Khong-jiok. Aku tidak mirip pelacur, tapi aku tulen adalah pelacur, keledai memang mirip kuda, tapi bukan kuda,” lalu dengan tersenyum dia menambahkan, “masih banyak kemiripan-kemiripan yang sama di dunia ini.”

“Sebetulnya apa yang ingin kau katakan?” ujar Merak. “Umpamnya,” kata Bing-gwat-sim, “Am-gi yang kau bawa jelas mirip Khong-jiok-ling (bulu merak), tapi kenyataan justru bukan.”

Merak tertawa lebar, tertawa tergelak-gelak. Hanya seseorang yang mendengar sesuatu yang benar-benar menggelikan, sesuatu yang brutal dan tidak masuk akal baru akan tertawa sebinggar ini.

Bing-gwat-sim berkata, “Sebetulnya hatimu sendiri juga curiga akan hal ini, karena sejak mula kau sudah merasakan kekuatan dan perbawanya tidak sehebat itu dan lebih menakutkan seperti yang tersiar luas di luaran, karena itu tidak berani kau gunakan Am-gimu itu untuk menghadapi Pho Ang-soat.”

Kalau Merak masih tertawa, tapi mimik tawanya kelihatan kaku, tawa yang dipaksakan.

Bing-gwat-sim berkata pula, “Sayang sekali, curiga yang terpendam di dalam benakmu itu selama ini tidak bisa dibuktikan, tidak berani dibuktikan.”

Merak bertanya, “Apakah kau mampu?”

“Aku bisa membuktikan, hanya aku yang bisa, karena...” “Karena apa?”

Tawar suara Bing-gwat-sim, “Khong-jiok-ling seperti yang kau bawa itu, di sini aku masih punya beberapa biji, setiap saat bila kau mau, masih bisa kuberi satu atau dua kepadamu.”

Berubah air muka Khong-jiok atau Merak.

Ibu jari yang di luar pintu juga berubah air mukanya.

“Sekarang juga aku bisa memberimu satu biji, nah ambil,” dari dalam lengan bajunya sekali ulur tangan memang dikeluarkan sebuah bumbung bundar kuning emas yang mengkilap, seenaknya saja dia lempar bumbung emas itu kepada Merak, serupa orang yang banyak duit melempar sekeping uang kepada pengemis yang minta sedekah.

Merak mengulur tangan meraihnya, hanya dipandang dua kali dan dibolak-balik tiga kali, mimik mukanya seperti seorang yang perutnya ditendang secara telak.

“Coba kau periksa apakah Khong-jiok-ling yang kau pegang itu mirip dengan milikmu yang kau simpan  itu?”

Khong-jiok tidak menjawab, tidak usah menjawab. Siapa pun bila melihat tampangnya sekarang, pasti dapat meraba jawabannya.

Diam-diam Ibu jari menyurut mundur.

Mendadak Merak menoleh, katanya sambil menatap tajam, “Kenapa tidak kau turun tangan membunuhku?”

Ibu jari tertawa meringis, katanya, “Kita kan kawan sehaluan, kenapa aku harus membunuh engkau?”

“Karena aku hendak membunuhmu, sebetulnya aku ingin membunuhmu, maka sekarang kau harus kubunuh.”

“Tapi sebaliknya aku justru tidak ingin membunuhmu, karena bahwasanya aku sendiri tidak perlu turun tangan,” ternyata Ibu jari masih bisa tertawa, tertawa sambil memicingkan mata. “Di kalangan Kangouw hanya ada seorang yang tahu bahwa kau bukan Merak asli, tidak lebih dari tiga jam, kau akan menjadi Merak yang sudah mati.”

“Sayang sekali kau melupakan satu hal,” sinis suara Merak. “Aku melupakan apa?” Ibu jari melengak.

“Umpama benar Khong-jiok-ling di tanganku ini tiruan, tapi untuk membunuhmu kurasa cukup berlebihan.”

Seketika mengejang tawa Ibu jari, mendadak tubuhnya menerobos keluar, reaksinya sudah amat cepat, sayang masih terlambat sedetik. Bumbung kuning emas di tangan Merak tiba-tiba menyemburkan cahaya benderang yang menyilaukan mata. Laksana pancaran mentari sebelum terbenam, seindah lembayung yang menghias angkasa sehabis hujan.

Tubuh Ibu jari yang buntak itu masih terapung di udara sudah terbenam ditelan cahaya yang indah semarak itu, seumpama segulung pasir yang jelek mendadak tergulung oleh damparan ombak yang indah mempesona. Bila cahaya benderang menakjubkan itu sirna, jiwanya pun melayang.

Umpama guntur menggelegar di angkasa, rintik hujan pun berhamburan dari tengah mega.

Akhirnya Bing-gwat-sim menghela napas, katanya, “Ucapanmu memang benar, meski Khong-jiok-ling ini palsu, kekuatannya masih mampu untuk membunuh orang.”

Merak membalik badan, menatapnya dan berkata, “Oleh karena itu aku pun bisa membunuhmu dengan bulu merak ini.”

“Aku tahu, Ibu jari pun telah kau bunuh untuk menyumbat mulutnya, maka kau pun tidak akan membebaskan diriku.”

“Bila kau sudah mati, tiada orang tahu bahwa Khong-jiok-ling ini adalah tiruan.” “Kecuali aku memang tiada orang tahu rahasia ini.”

“Toh Lui akan menepati janji setelah jam tiga, setelah kubunuh kau, masih ada waktu bagiku memburu ke sana, siapa yang bakal menang dalam duel itu tidak menjadi soal, dia pun akan mati di tanganku.”

Bing-gwat-sim menghela napas, katanya, “Rencanamu memang cermat, sayang sekali aku pun melupakan satu hal.”

Merak tutup mulut, dia sedang menunggu keterangan lebih lanjut.

“Kenapa kau lupa tanya kepadaku bagaimana aku bisa tahu kalau Khong-jiok-ling itu tiruan?” “Ya, bagaimanan aku bisa tahu?” Merak segera bertanya.

Tawar suara Bing-gwat-sim, “Hanya aku yang tahu rahasia ini, karena pencipta Khong-jiok-ling tiruan ini adalah aku.”

Merak terlongong.

“Kalau aku mampu menciptakan Khong-jiok-ling tiruan dan sembarangan kuserahkan sebuah kepadamu, sudah tentu aku punya cara yang manjur untuk memecahkannya.”

Pucat muka Merak, tangan pun mulai gemetar. Dia bisa membunuh orang, mungkin bukan lantaran dia mempunyai Khong-jiok-ling, tapi lantaran dia mempunyai keyakinan hati dan tangan yang mantap. Sekarang kedua bekalnya ini sudah hancur.

“Sengaja aku membiarkan kesempatan itu supaya kau menemukan Khong-jiok-ling yang pertama itu, sudah lama aku memilih beberapa calon, pilihan akhirnya jatuh pada dirimu untuk kujadikan Merak, karena tidak banyak insan persilatan di Kangouw yang memenuhi syarat untuk kujadikan Merak, dan kau orang yang terbanyak memenuhi beberapa syarat itu, karena itu aku pun tidak akan membiarkan kau mati begitu saja, namun sorot matanya mendadak berubah setajam pisau, “Bila kau ingin melanjutkan menjadi Merak, maka kau harus tunduk kepadaku, seperti Merak patuh kepada majikannya, Jika kau sangsi, sekarang boleh kau coba menyerangku.”

Kedua tangan Merak saling genggam memegang bumbung kuning emas itu, namun masih terus gemetar. Mengawasi kedua tangan sendiri, mendadak dia membungkuk dan muntah-muntah.

“Aku tidak mencabut golok, karena aku yakin aku pasti menang,” suara Pho Ang-soat seperti berkumandang dari balik mega yang jauh di angkasa, “seseorang bila mau membunuh orang, sering kali dia seperti memohon sesuatu kepada orang, perbuatannya menjadi hina dan kotor, karena dia tidak betul- betul yakin pasti menang, maka dia akan gugup dan gelisah, kuatir kehilangan kesempatan.”

Jarang dia bicara sebanyak dan sepanjang ini, sepatah demi sepatah diucapkan perlahan seperti kuatir Toh Lui tidak tahu artinya, karena dia tahu setiap patah kata yang diucapkan laksana sebilah pisau mengiris sanubari Toh Lui.

Tubuh Toh Lui memang mengejang, sampai pun suaranya juga serak, “Jadi kau yakin pasti menang, maka kau tidak gelisah?” Pho Ang-soat mengangguk.

“Lalu sampai kapan baru kau akan mencabut golokmu?” tanya Toh Lui. “Bila kau mencabut golokmu.”

“Jika aku tidak mencabut golokku?”

“Kau pasti akan mencabut golokmu, malah besar hasratmu untuk segera mencabutnya.”

Karena kau yang ingin membunuh aku, bukan aku yang ingin membunuh kau, maka kau akan benar-benar mati, jiwamu akan melayang seketika bukan di saat aku mencabut golok, tapi di saat kau mencabut golokmu sendiri.

Otot hijau sudah menghias punggung tangan Toh Lui yang menggenggam golok. Sekarang dia belum  mencabut golok, namun dia tahu, cepat atau lambat dia pasti akan mencabutnya.

Air hujan yang dingin menetes di atas badannya, menetes di mukanya, dia berhadapan dengan Pho Ang- soat, berhadapan dengan jago golok sakti yang tiada bandingannya di kolong langit ini, alam pikirannya mendadak terbayang pula akan masa lalu, masa kanak-kanaknya dulu, masa kanak-kanak yang jorok penuh kemiskinan.

Bila hujan turun, jalanan becek, dengan kaki telanjang dia harus berlari-lari di tanah becek itu, karena di belakangnya ada orang sedang mengejarnya. Waktu itu dia lari dari sebuah Piau-kiok, karena dia mencuri sepasang sepatu milik seorang Piausu yang baru saja dibeli, sepatu itu teramat besar bagi dia, belum jauh dia melarikan diri, sepatu itu sudah terlepas terbang dan tertinggal. Namun Piausu itu memberi ampun kepadanya, begitu kecandak, dirinya lantas dibelejeti dan digantung di atas pohon, dengan rotan sekujur badannya dihajar babak-belur.

Sekarang dia berhadapan dengan Pho Ang-soat, kembali hatinya merasakan derita yang menyiksa seperti waktu dirinya dihajar dulu. Derita dan gejolak hati yang tidak akan bisa terlupakan selama hidup.

Hujan makin lebat, tanah di sekitar mereka sudah mulai becek. Mendadak dia mencopot sepasang sepatu yang baru dibelinya seharga delapan belas tahil, dengan telanjang kaki dia berdiri di tengah tanah yang becek.

Pho Ang-soat seolah-olah sudah berubah menjadi Piausu yang menghajarnya dengan rotan dulu, merupakan perlambang derita dan gejolak perasaan.

Mendadak dia berteriak, menyobek hancur pakaian sendiri, keadaannya mirip orang gila. Dengan bertelanjang dada ia mencak-mencak dan berteriak-teriak kalap di tengah tanah becek. Belenggu dan tekanan batin yang selama ini terbenam dalam sanubarinya, dalam sekejap ini telah bebas dan lepas, maka dia mencabut golok.

Saat dia mencabut golok adalah saatnya kematian, maka dia pun mati. Mati bukan saja suatu gejolak, suatu derita dan tak mungkin selama hidup bakal diperolehnya sekaligus, hanya setelah dia mengalami kematian baru akan mendapatkan segalanya…..

*******************

Hujan sudah reda.

Jalanan kecil itu tetap becek, Pho Ang-soat beranjak di atas jalanan kecil, tangannya tetap memegang golok. Golok sudah kembali ke sarungnya, darah sudah dibersihkan, golok tetap hitam legam. Matanya juga gelap, pekat dan dalam, cukup untuk menyembunyikan rasa kasihan dan duka-lara hatinya.

Secercah sinar mentari menembus gumpalan mega, mungkin itulah secercah cahaya terakhir untuk hari  ini.

Cahaya mentari menyinari pucuk tembok, seorang terdengar tertawa cekikikan di balik tembok, suaranya merdu nyaring, namun membawa nada sindiran.

Ni Hwi muncul di bawah pancaran mentari. “Tidak baik, jelek.”

Apa yang jelek? Pho Ang-soat tidak bertanya, langkahnya pun tidak berhenti. Tapi kemana dia pergi, Ni Hwi selalu mengintil.

“Duel kalian pun tidak menarik, sebetulnya ingin kusaksikan permainan golokmu, tak nyana kau justru menggunakan muslihat.”

Tanpa ditanya dia langsung menjelaskan, “Kau suruh Toh Lui mencabut goloknya lebih dulu, kelihatannya kau mengalah kepadanya,

padahal itu adalah muslihatmu.”

Kenapa dikatakan muslihat? Walau tidak bertanya, namun langkah Pho Ang-soat sudah berhenti.

“Golok terbenam di dalam sarung dan jarang terlihat, siapa pun tiada yang tahu apakah golokmu tajam  atau tumpul, bila golok sudah keluar, ketajamannya pun telah nyata, siapa pun tak berani melawan ketajamannya, karena itu sebilah golok hanya akan terasa bobotnya di saat dia akan dicabut dan belum tercabut.” Lekas dia menambahkan pula, “Tentu kau jelas dan mengerti akan hal ini, maka kau suruh Toh Lui mencabut lebih dulu ...”

Pho Ang-soat mendengarkan dengan cermat, mendadak dia menukas, “Itupun ilmu golok, bukan muslihat.” “Bukan. Kau bilang bukan?”

“Ilmu golok berbeda dan masing-masing memiliki keunggulan, namun kegunaannya justru sama dan hanya satu.”

Sikap Ni Hwi serius, katanya, “Apakah begitu puncak kemahiran ilmu golok?” “Kurasa bukan.”

“Harus mencapai taraf apa baru terhitung mencapai puncak kemahiran ilmu golok?” Pho Ang-soat mengancing mulut, beranjak lebih jauh.

Sinar surya benderang, hanya sinar mentari terakhir terasa paling cemerlang, demikian pula jiwa manusia.

Lama Ni Hwi terlongong di atas tembok, lalu menggumam sendiri, “Apakah ilmu goloknya telah mencapai taraf tanpa perubahan?”

Sinar surya yang benderang mendadak menjadi guram pula.

Tanpa perubahan, bukankah berarti telah mencapai taraf tertinggi adanya perubahan itu? Maka golok itu sendiri apakah masih ada harganya untuk dipertahankan?

Pho Ang-soat menghela napas, karena soal ini dia pun tidak mampu menjawab.

Kalau sang surya sudah terbenam di ujung barat, bayangan Ni Hwi telah lenyap tak keruan parannya. Tapi surya tetap ada, demikian pula Ni Hwi tetap hidup, yang lenyap dalam sekejap ini hanyalah kesannya saja, kesan dalam benak Pho Ang-soat secara pribadi.

Pho Ang-soat mendorong daun pintu kecil di pojok tembok sana, lalu melangkah keluar perlahan, baru saja dia mengangkat kepala, dilihatnya Bing-gwat-soat di atas loteng.

Lekas Pho Ang-soat menunduk pula.

“Kau menang?” mendadak Bing-gwat-sim bertanya.

Pho Ang-soat tidak menjawab, dia masih hidup, itulah jawabannya. Bing-gwat-sim menghela napas, katanya, “Buat apa, ya, buat apa?” “Buat apa?” Pho Ang-soat tidak mengerti.

“Kau tahu kau pasti menang, buat apa kau pergi? Dia tahu jiwanya bakal mampus, buat apa dia datang?” persoalan yang perlu dipecahkan dengan memeras keringat dan mengencerkan otak ini, ternyata mampu dijawab oleh Pho Ang-soat, “Karena dia adalah Toh Lui dan aku adalah Pho Ang-soat.”

Penjelasannya seumpama golok miliknya, sekali tabas telak mengenai sasaran yang tepat dari persoalan ini.

Bing-gwat-sim ternyata belum puas, katanya, “Apakah lantaran di dunia ini  ada Pho Ang-soat, maka Toh Lui harus mati,” “Bukan,” pendek dan tegas jawaban Pho Ang-soat. “Jadi maksudmu ”

“Kalau di dunia ini ada Toh Lui, maka Toh Lui harus mati.” Walau jawabannya kelihatannya susah dimengerti, sebenarnya justru teramat sederhana, tapi juga masuk akal. Kalau tiada kehidupan, darimana datangnya kematian? Kalau sudah ada kehidupan pasti juga akan terjadi kematian?

Bing-gwat-sim menghela   napas, katanya, “Agaknya   terhadap persoalan   mati hidup manusia, pandanganmu terlalu tawar.” Pho Ang-soat tidak menyangkal.

“Hidup mati orang lain sudah tentu kau memandangnya tawar, maka kau tinggalkan Yan Lam-hwi di sini.” Lama Pho Ang-soat berdiam diri, baru perlahan dia bertanya, “Apakah Merak pernah kemari.”

“Ehm,” Bing-gwat-sim bersuara dalam mulut. “Bukankah Yan Lam-hwi masih hidup?” Kembali Bing-gwat- sim mengiakan.

“Kutinggalkan dia di sini, mungkin karena aku tahu bahwa dia tidak akan mati.” “Tapi kau ”

“Asal maksud kalian semula belum berubah, janjiku semula juga tidak akan berubah.” “Janji apa yang pernah kau berikan kepadaku?”

“Akan kubawa kalian ke Khong-jiok-san-ceng.” Bersinar mata Bing-gwat-sim, “Sekarang juga berangkat?” “Sekarang juga berangkat.”

Bing-gwat-sim berjingkrak, berpaling pula dan berkata dengan tertawa manis, “Apakah aku harus tetap mengenakan topeng ini?”

Dingin suara Pho Ang-soat, “Bukankah sekarang kau sudah mengenakan topengmu?”

*******************
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Peristiwa Bulu Merak Bab 07 : Duel"

Post a Comment

close