Peristiwa Bulu Merak Bab 02 : Mawar Dari Ujung Langit

Mode Malam
 
Bab 02. Mawar Dari Ujung Langit

Apa benar Yan Lam-hwi sudah mabuk?

Dia sudah duduk, duduk disamping kembang semerbak, duduk dikelilingi gadis-gadis jelita, duduk menghadapi meja perjamuan dengan secangkir arak wangi. Araknya warna kuning, sekuning bunga mawar yang segar. Setangkai bunga mawar berada ditangannya, cangkir arak juga dipegangnya, harum bunga menyejuk badan, bau arak memabukkan.

Akhirnya dia mabuk dan meloso jatuh didepan lutut gadis jelita, arak kuning dalam cangkir mengalir membasahi pakaian. Gadis itu juga seperti mabuk, cekikik tawanya semerdu kicau kenari, wajahnya nan jelita tersenyum cerah dan mekar.

Yan Lam-hwi masih terlalu muda, muda gagah, tampan dan kaya-raya, hidup dikelilingi gadis-gadis cantik, kembang mekar semerbak dengan arak wangi nomor satu, betapa riang-gembira kehidupan ini? Tapi kenapa dia justru menikmati kesenangan hidup ini dikota yang sudah mati ini? Memangnya kedatangannya juga lantaran Pho Ang-soat? Sejak masuk dia juga tidak pernah melirik kearah Pho Ang-soat, seolah-olah tidak merasakan bahwa ditempat ini masih ada seorang Pho Ang-soat yang juga hidup. Demikian pula sikap Pho Ang-soat seperti tidak melihat kehadiran mereka. Tiada kembang mekar, tiada perempuan cantik dan tiada arak didepan matanya, seperti ada pagar tembok tinggi yang menutupi pandangannya sehingga dia terisolir dari kehidupan riang-gembira ini. Memang kenyataan sudah lama Pho Ang-soat terisolir dari kehidupan riang- gembira itu.

*******************

Kentongan berbunyi pula, sudah kentongan kedua. Makin banyak arak tertenggak keadaan  semakin payah, suasana riang inipun bertambah, seolah-olah mereka sudah melupakan duka cita kerisauan hati dan penderitaan dalam kehidupan umum ini.

Didalam cangkir masih ada arak, kembang mawar masih berada ditangannya, seorang gadis cantik bertanya sambil memeluk lengannya: “Kenapa kau menyukai bunga mawar?”

“Karena mawar ada durinya.” “Kau suka duri?”

“Ya, aku suka duri untuk menusuk orang, menusuk hatinya.”

Gadis itu menarik tangannya yang sakit karena tertusuk duri, hatinyapun ikut tertusuk, dengan mengerut alis dia berkata menggeleng: “Alasanmu tidak baik, aku tidak suka dengar.”

“Memangnya apa yang suka kau dengar?” Yan Lam-hwi tertawa, “mau kau mendengar sebuah kisah?” “Sudah tentu mau.”

“Konon pada jaman dahulu kala, waktu kembang mawar pertama mekar disuatu tempat yang jauh letaknya, ada seekor burung yang elok, karena menyukainya, sampai dia rela mati dari pucuk dahan kecemplung keair dan mati tenggelam.”

“Indah benar ceritanya,” merah bola mata gadis cantik itu, “tapi terlalu menyedihkan.”

“Kau keliru,” Yan Lam-hwi tertawa riang, “mati bukan suatu tragedi yang menyedihkan, asal kau bisa mati dengan gagah, mati sebagai ksatria, apa salahnya mati?”

Si gadis mendelong mengawasi mawar ditangannya, mawar itu seperti sedang tersenyum  kepadanya, lama dia menjublek, mengawasi tanpa berkedip, akhirnya dia menghela napas, katanya: “Pagi hari ini, akupun ingin memberi beberapa kuntum mawar kepadamu, memakan banyak waktu baru aku berhasil mengikatnya diikat pinggangku, sayang ikat pinggangku kendor, mawarpun runtuh. Kelopak kembangnya bertaburan dihembus angin melayang jatuh kedalam air. Air mengalir kearah timur, menghanyutkan kelopak mawar untuk tidak kembali lagi. Alunan air sungai berubah merah menyala, namun lengan bajuku terasa masih berbau harum,” lalu dia angkat lengan bajunya. “Coba kau cium, kau harus menciumnya, sebagai tanda kenangan kami yang terakhir kali.”

Yan Lam-hwi mengawasi lengan bajunya, perlahan dia menggenggam tangannya. Pada saat itulah kentongan berbunyi pula. Kentongan ketiga.

Mendadak Yan Lam-hwi mengipatkan tangannya, irama musikpun berhenti mendadak. Mendadak pula  Yan Lam-hwi mengulap tangan: “Pergi.”

Suaranya laksana kutukan iblis, suasana yang semula riang penuh semangat kehidupan mendadak berubah sepi lengang, tinggal dua orang saja, penabuh kentong dikegelapan itupun sudah tidak kelihatan bayangannya. Demikian gadis yang tertusuk oleh duri mawar juga telah pergi, kalau tangannya tertusuk, hatinyapun tertusuk lebih parah. Kereta semakin jauh, alam semesta kembali diliputi keheningan.

Tinggal sebuah dian yang masih menyala dalam kedai, sinarnya redup, menerangi sepasang bola mata Yan Lam-hwi yang mencorong bagai sepasang lampu senter. Mendadak dia angkat kepala, dengan kedua bola matanya yang menyala dia menatap lurus kepada Pho Ang-soat. Umpama betul orangnya sudah mabuk, ternyata tatapan matanya tidak kelihatan mabuk.

Pho Ang-soat masih tetap duduk diam, tidak mendengar, tidak melihat, tidak bergerak. Yan Lam-hwi malah berdiri. Setelah dia berdiri baru terlihat dipinggangnya menyoren sebatang pedang, gagangnya berwarna merah, kerangkanya juga merah, merah menyala, lebih merah dari bunga mawar, lebih merah dari warna darah.

Kedai yang baru saja diliputi kegembiraan, mendadak berubah sepi diliputi hawa membunuh. Dia mulai melangkah menghampiri Pho Ang-soat. Umpama dia sudah mabuk, pedangnya yakin tidak mabuk. Tangan sudah memegang pedang, tangan yang putih, pedang yang merah. 

Golok Pho Ang-soat juga terpegang kencang, goloknya itu tidak pernah terlepas dari tangannya. Golok hitam lambang kematian, pedang merah bagai darah, maka jarak antara golok dan pedang itu semakin dekat. Demikian pula jarak kedua orang itu makin dekat. Nafsu membunuh makin tebal.

Akhirnya Yan Lam-hwi berada didepan Pho Ang-soat, mendadak dia mencabut pedang, sinar pedang laksana sinar mentari yang cemerlang, semarak laksana warna mawar yang ditimpa cahaya mentari. Hawa pedang menyambar diantara kedua alis Pho Ang-soat.

Pho Ang-soat tetap tidak melihat, tidak mendengar dan tidak bergerak. Dimana hawa pedang menyambar, kerai monte yang terurai diatas pintu rontok berjatuhan, bak umpama tetesan air mata si cantik-jelita.

Maka sinar pedangpun lenyap mendadak. Pedang masih berada ditangan Yan Lam-hwi, dengan kedua tangan dia memegang pedang lalu diangsurkan kedepan Pho Ang-soat. Itulah pedang tajam yang tiada bandingannya dikolong langit. Yang dilancrkan juga ilmu pedang yang tiada tandingan diseluruh jagat. Kenapa sekarang dia serahkan pedang itu kepada Pho Ang-soat? Dia datang dari jauh, berpesta-pora, minum sepuasnya, dia mencabut pedang, mengayun dan mengangsurkan pedang, lalu apa sih maksud dan tujuannya?

Tangan itu kelihatan putih, pedang yang sudah keluar dari serangkanya juga kelihatan pucat dibawah sinar dian yang redup.

Tapi rona muka Pho Ang-soat lebih pucat lagi. Akhirnya dia bergerak perlahan, dia angkat kepala menatap tajam pedang ditangan Yan Lam-hwi. Wajahnya tidak menunjukkan perubahan mimik, hanya pelupuk matanya yang mulai menyipit.

Yan Lam-hwi juga menatapnya lekat-lekat, bola matanya yang bercahaya menampilkan perasaan yang ganjil, entah itu rasa senang karena sudah mendekati kebebasan? Atau duka lara karena apa boleh buat.

Kembali kepala Pho Ang-soat terangkat, kini dia menatap bulat bola matanya, seperti baru sekarang dia melihatnya. Begitu sorot mata mereka bentrok, seolah-olah menerbitkan percikan kembang api.

“Kau sudah datang,” mendadak Pho Ang-soat bersuara. “Ya, aku sudah datang.”

“Aku tahu kau pasti datang.”

“Sudah tentu aku datang, kau tentu tahu, kalau tidak buat apa setahun yang lalu kau bebaskan aku?”

Pandangan Pho Ang-soat melorot turun menatap pula pedang ditangannya, perlahan dia bersuara: “Sekarang sudah setahun menjelang.”

“Ya, setahun tepat.” “Setahun yang panjang.” “Setahun yang pendek.”

Jangka setahun, sebetulnya panjang atau pendek?

Mendadak Yan Lam-hwi tertawa-tawa, nada tawa yang membawa sindiran tajam, katanya: “Kau merasa setahun panjang karena kau selalu menanti, menanti pertemuan hari ini.”

“Dan kau?”

“Aku tidak pernah menunggu,” ucap Yan Lam-hwi tertawa tawar, “walau aku tahu hari ini aku pasti mati, tapi aku bukan manusia yang takut mati, bukan orang yang menunggu kematian.”

“Ya, karena banyak pekerjaan yang harus kau bereskan, maka kau merasa setahun ini terlalu pendek bagimu?”

“Ya, kenyataan memang terlalu pendek.” “Sekarang apakah urusanmu sudah beres? Apakah keinginanmu sudah tercapai?”

*******************

Cahaya pedang bertaburan diangkasa, pedang bergerak laksana kilat. Golok itu justru seperti amat lamban. Tapi sebelum cahaya pedang tiba, golok it sudah menembus kedalam tabir cahaya pedang dan menindasnya. Maka golok itu sudah berada didepan tenggorokan, golok milik Pho Ang-soat, tenggorokan Yan Lam-hwi.

Sekarang golok berada ditangan, tangan diatas meja. Lama Yan Lam-hwi menatap golok hitam legam itu, lalu berkata perlahan: “Setahun yang lalu, aku kalah oleh golokmu.”

“Mungkin kau tidak pantas kalah, sayang sekali kau masih terlalu muda, namun permainan pedangmu justru sudah terlalu tua.”

Yan Lam-hwi diam saja, seperti sedang mengunyah dua patah kata tadi, agak lama kemudian baru dia berkata pula perlahan: “Waktu itu kau pernah tanya kepadaku, apakah ada persoalan hati yang belum tercapai.”

“Ya, aku pernah tanya hal itu.”

“Waktu itu pernah kuberitahu kepadamu, umpama benar ada persoalan yang belum tercapai juga adalah urusan pribadiku, urusan pribadiku selamanya aku sendiri yang menyelesaikan.”

“Ya, aku ingat.”

“Waktu itu akupun memberitahu kepadamu, setiap saat kau boleh membunuhku, tapi jangan harap kau dapat mengeduk rahasia hatiku, supaya aku menjelaskan persoalan yang kuidam selama ini.”

“Dan sekarang …” “Sekarangpun demikian.” “Tetap tidak mau kau jelaskan?”

“Kau meminjamkan waktu setahun supaya aku menyelesaikan persoalan yang ingin kubereskan, sekarang setahun sudah tiba aku …”

“Kau mengantar kematian …”

“Benar, aku mengantar kematian,” pedang digenggamnya kencang, “maka sekarang kau boleh membunuhku.”

Dia mengantar kematian. Dia datang dari Kanglam, menempuh ribuan li perjalanan ternyata hanya untuk mengantar jiwa untuk dibunuh. Bahwa dia bermabukan, bermain perempuan lacur, berdendang dan bernyanyi, tidak lain hanya untuk menikmati kesenangan hidup terakhir sebelum ajal. Kematian seorang kesatria, mati secara indah…..

*******************

“Setahun yang lalu, ditempat ini, seperti sekarang, aku bisa membunuhmu.” “Kau menunda setahun lamanya, karena kau percaya aku pasti akan datang.”

“Kalau kau tidak datang, selamanya mungkin aku tidak akan bisa menemukan kau.” “Mungkin sekali.”

“Tapi kau datang juga.” “Ya, aku pasti datang.”

“Bila cita-citamu belum terlaksana, aku masih bisa memberi kelonggaran setahun.” “Tidak usah.” “Tidak usah, katamu?”

“Bahwa hari ini aku sudah kemari, aku sudah bertekad menerima kematian.” “Kau tidak ingin hidup setahun lagi?”

Mendadak Yan Lam-hwi tertawa besar sambil mendongak, katanya: “Seorang lelaki sejati hidup didunia ini, jikalau tidak mampu memberantas kelaliman, membalas dendam, umpama hidup sepuluh tahun lebih lama juga sia-sia, lebih baik mati saja.” Dia tertawa, namun nada tawanya lebih mirip raung tangisan yang menyedihkan, tangis penderitaan.

Pho Ang-soat mengawasi, setelah orang berhenti tertawa, baru dia berkata: “Tapi cita-citamu belum terlaksana.:

“Siapa bilang?”

“Aku yang bilang. Aku dapat melihatnya.”

Yan Lam-hwi menyeringai dingin. “Umpama benar cita-citaku belum terlaksana, kan tiada sangkut-pautnya dengan kau.”

“Tapi kau …”

“Kau bukan orang yang cerewet, akupun tidak ingin banyak bicara dengan kau.”

“Jadi kau ingin lekas mati? Sampai matipun kau tidak mau membeber cita-citamu yang belum tercapai itu?”

“Ya,” tegas dan berat, laksana golok membacok paku, agaknya tiada seseorang didunia ini yang mampu merubah tekadnya.

Punggung jari Pho Ang-soat yang menggenggam golok sudah memutih, otot hijau merongkol. Bila golok ini meninggalkan sarungnya, kematianpun akan datang, tiada seorangpun didunia ini yang mampu melawannya. Apakah sekarang goloknya siap keluar dari sarungnya?”

Dengan kedua tangan Yan Lam-hwi pegang pedang, katanya: “Aku lebih senang mati dibawah pedangku sendiri.”

“Aku tahu.”

“Tapi kau tetap ingin menggunakan golokmu.”

“Kau punya persoalan yang tidak mau kau bereskan, demikian pula aku.”

Yan Lam-hwi menepekur, katanya perlahan: “Setelah aku mati, sudikah kau merawat pedangku ini?”

Dingin suara Pho Ang-soat: “Pedang ada orangnya hidup, orang mati pedangpun lenyap, bila kau mati, pedang ini akan tetap mendampingi kau.”

Yan Lam-hwi menghela napas panjang perlahan, memejam mata serta berkata: “Silahkan, silahkan turun tangan.”

Golok Pho Ang-soat sudah bergerak, sebelum meninggalkan kerangka, mendadak dari luar terdengar suara gemuruh seperti roda raksasa menggelinding dijalan berbatu, disusul “Blang” yang menggetar seisi rumah. Daun pintu yang memang sudah keropos mendadak semplak berhamburan, sebuah benda menggelinding masuk laksana roda kereta, itulah sebuah bola bundar berwarna kuning emas kemilau.

Pho Ang-soat tidak bergerak, Yan Lam-hwi juga tidak berpaling. Bila bola emas itu menggelundung dibelakangnya, sekejap lagi bakal menumbuk punggungnya.

Tiada seorangpun yang kuat menahan terjangan bola emas ini, terjangan yang tidak mungkin bisa ditahan oleh tenaga manusia yang berdarah daging.

Pada saat itulah golok Pho Ang-soat tercabut. Hanya sekali sinar golok berkelebat lalu berhenti. Segala suara, semua gerakan, berhenti seluruhnya. Bola emas yang menerjang datang dengan dahsyat, hanya sekali tutul dengan tajam goloknya, lantas berhenti bergerak. Pada saat yang sama itulah, dari dalam bola emas itu mendadak melesat keluar tiga belas batang ujung tombak runcing menusuk punggung Yan Lam- hwi.

Yan Lam-hwi tetap tidak bergerak, kembali Pho Ang-soat yang bertindak. Dimana sinar golok menyambar, ujung tombak rontok seluruhnya. Bola emas yang kelihatannya berat ribuan kati itu sekilas telah dibacoknya menjadi empat potong. Bola emas ini ternyata kosong, laksana kelopak bunga saja empat potongan bola itu merekah keempat penjuru, lalu muncullah seseorang. Seorang kate, manusia kerdil duduk bersimpuh diatas tanah, bila kelopak bola itu jatuh perlahan menyentuh bumi, orang kerdil ini tetap duduk diam tidak bergerak sedikitpun.

Sambaran golok sekali tadi, sekaligus membabat kutung tiga belas batang tombak, sekalian membelah bola emas itu menjadi empat potong, maka dapat dibayangkan betapa besar tenaga dan kecepatan samberan golok itu, seolah-olah sudah membaur dengan kekuatan gaib yang ada di dunia ini, boleh dikata itu sudah termasuk segala perobahan ilmu pedang yang paling top di dunia ini, cukup ampuh untuk menghancurkan apa saja di dunia ini.

Tapi setelah tombak putus bola terbelah, manusia kerdil ini tetap bersimpuh di tanah, bukan saja tidak bergerak, mimik mukanya juga kaku tidak menunjukkan perobahan, tak ubahnya manusia kayu, seperti pinokio.

Daun pintu jebol, genteng juga runtuh, sekeping genteng kebetulan jatuh mengenai manusia kerdil itu “Klotak” suaranya keras, ternyata dia memang betul adalah manusia kayu. Namun Pho Ang-soat tidak pernah lepas pandang. dia tidak bergerak, diapun diam.

Benarkah manusia kayu bisa bergerak? Kenyataan manusia kayu ini memang bergerak. Malah bergerak cepat bagai kilat, gerakannyapun aneh dan ganjil, mendadak dengan tubuhnya yang kecil itu nyeruduk kepunggung Yan Lam-hwi.

Tidak memakai senjata, dengan badan sendiri sebagai gaman, seluruh badan termasuk kaki tangan adalah gaman. Gaman apapun yang paling dahsyat di dunia ini pasti digunakan manusia, karena gaman itu sendiri adalah benda mati. Tapi gaman yang satu ini justru adalah gaman hidup.

Pada saat yang sama, lantai kedai yang kering keras itu mendadak merekah, sepasang tangan mendadak menyelonong keluar merogoh sepasang kaki Yan Lam-hwi. Aksi yang tak terduga dan luar biasa inipun mengejutkan. Umpama Yan Lam-hwi ingin berkelit juga sudah tidak mampu bergerak lagi.

Sepasang tangan yang keluar dari tanah manusia kayu yang mendadak bergerak, serangan atas dan bawah, kaki manusia kayu menjepit pinggang, sepasang tangan sudah siap mencekik tenggorokkan. Serangan serentak dari atas dan bawah ini bukan saja aneh bin ajaib, jelas telah direncanakan secara sempurna pula, mereka yakin sekali gebrakan pasti tidak akan gagal.

Sayang sekali mereka lupa, bahwa disamping Yan Lam-hwi masih ada sebilah golok. Golok Pho Ang-soat. Golok yang tiada tandingan di langit maupun di bumi. Kembali golok hanya berkelebat sekali, sekalipun cukup berlebihan. Empat tangan seketika tergores luka berdarah, tangan manusia kayu ternyata juga mengeluarkan darah. Darah yang merah namun raut mukanya yang kelam dan kering tampak mulai berkerut.

Pegangan terlepas, empat tangan telah melepas pegangannya, seorang menerobos keluar dari dalam tanah, sekujur badan berdebu, bentuk seperti manusia tanah diapun seorang kate. Gerakan kedua orang kate ini serasi dan mirip satu dengan yang lain. Ditengah udara mereka bersalto dan jatuh kearah pojokan yang sama lalu mengkeret seperti trenggiling.

Golok Pho Ang-soat sudah kembali ke dalam kerangkanya, orangnya tetap diam. Demikian pula Yan Lam- hwi, hakikatnya dia tidak bergerak atau berpaling.

Manusia tanah mendekap tangan yang terluka, mendadak dia mengomel: “Gara-garamu hingga aku terluka, kau terlalu yakin bahwa sergapan kita pasti tidak akan gagal.”

Manusia kayu menjawab: “Ya, perhitunganku meleset.”

Manusia tanah mendesis gemas: “Perhitungan meleset, maka kau harus mati.”

“Bahwa tugas ini tidak terlaksana, pulang juga dihukum mati, lebih baik mati sekarang saja.” “Mati dengan cara apa yang kau inginkan?”

“Aku ini manusia kayu, sudah tentu harus dibakar.” “Bagus, lebih baik kalau terbakar sampai jadi abu.”

Manusia kayu menghela napas, entah darimana dia keluarkan ketikan api, terus menyulut badan sendiri. Api lekas menyala, manusia kayu lantas ditelan kobaran api yang semakin besar. Manusia tanah sudah menyingkir kesamping, mendadak dia membentak keras: “Jangan sekarang kau belum boleh mati, kau masih menyimpan tiga ribu tahil uang kertas kalau terbakar, uangmu takkan berguna lagi.”

“Kemarilah kau mengambilnya.” terdengar sahutan dari tengah kobaran api. “Aku takut kebakar.” sahut manusia tanah.

Terdengar helaan napas dari dalam kobaran api, mendadak sejalur air menyembur keluar dari gugusan api yang menyala, laksana hujan saja menciprat kemana-mana, kebanyakan jatuh ditengah kobaran api sehingga menimbulkan suara mendesis yang ramai, maka mengepullah asap tebal. Kobaran api besar itu seketika padam hanya oleh siraman sejalur air putih, kini berganti kepulan asap putih yang semakin tebal. Manusia kayu terbungkus di dalam kepulan asap tebal, siapapun tiada yang melihat bagaimana bentuknya sekarang setelah terbakar.

Bahwasanya Pho Ang-soat tidak pernah perhatikan kejadian sekelilingnya, yang diperhatikan hanya seorang. Yan Lam-hwi sendiri seolah-olah tidak ambil peduli akan apa yang terjadi disekitarnya. Lekas sekali asap tebal itu makin meluap sehingga seluruh kedai arak ini ditelannya, asap terus merembes keluar melalui celah-celah pintu, lobang jendela dan atap genteng. Angin menghembus lalu diluar, asap yang keluar seketika buyar tertiup angin.

Kucing yang kurus kering bermalas-malas di luar tadi sedang menyebrang jalan pula kearah kedai, sambil merunduk dia sembunyi dibelakang sebuah saka. Kebetulan angin menghembus lalu membawa segumpal asap lewat disekitar tubuhnya. Kucing itu seketika roboh, setelah kelejetan terus tak bergerak lagi. Setelah mengalami banyak penderitaan, kelaparan yang tidak mungkin kuat ditahan oleh manusia. Kucing ini masih bertahan hidup, tapi hanya hembusan asap lalu cukup membuatnya mati dan mayatnya pun luluh tinggal kerangka saja…..

*******************
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Peristiwa Bulu Merak Bab 02 : Mawar Dari Ujung Langit"

Post a Comment

close