Pendekar Baja Jilid 35

Mode Malam
 
Jilid 35

Entah berapa lama sudah lalu, akhirnya Miau-ji mengangkat kepala, remang-remang terlihat wajah Sim Long tetap tenang, sungguh kesabaran sukar ada bandingannya.

Apa yang lagi kau pikirkan? tanya Miau-ji tak tahan.

Dalam keadaan begini, sebaiknya apa pun jangan kau pikir, ujar Sim Long. Tapi ... tapi apakah kita masih ada kesempatan untuk kabur?

Selama hayat masih dikandung badan selama itu pula ada harapan, ujar Sim Long dengan tersenyum.

Namun berapa lama lagi kita dapat hidup? suara Miau-ji terasa parau.

Melihat gelagatnya Pek Fifi tidak ingin membunuh kita, kalau tidak, tentu dia takkan mencegah tindakan Koay-lok-ong dengan katakatanya itu. Mungkin dia merasa belum cukup menyiksa kita, sedangkan untuk menyiksa kita harus dilakukan pada waktu kita masih hidup, makanya dia takkan membunuh kita secara tergesagesa ....

Tapi hidup semacam apa bedanya dengan mati, bahkan lebih baik mati saja, seru Miau-ji. Ada bedanya, ujar Sim Long. Asalkan masih hidup, jelas berbeda dengan mati. Makanya jangan kita menyesal dan mencerca diri sendiri, kita harus membikin Pek Fifi merasa berharga menyiksa kita, dengan begitu barulah kita dapat hidup terus.

Ia tersenyum, lalu menyambung lagi, Selain itu juga diperlukan keyakinan, yang terpenting adalah percaya kepada diri sendiri. Dalam keadaan bagaimanapun kita harus yakin dan sanggup hidup terus. Hanya hidup saja yang paling berharga bagi manusia.

Miau-ji memandangnya, memandangi wajah yang kelihatan lembut, namun selamanya tidak pernah menyerah itu, memandangi senyumnya yang tidak pernah tunduk di bawah siksaan apa pun.

Angin meniup dengan dahsyatnya, menderu-deru serupa jerit setan iblis yang hendak merenggut nyawa orang.

Mendadak dari depan berkumandang suara teriakan lantang, Berhenti, berkemah ....

Berhenti dan berkemah di sini!

Suara aba-aba itu berturut-turut dari depan berkumandang terbawa angin menuju ke belakang, kafilah unta itu akhirnya berhenti seluruhnya.

Tapi Sim Long dan Miau-ji masih ditahan di dalam tenda kecil ini, agak lama kemudian barulah mereka dipindah keluar.

Selama menunggu ini mereka tidak mendengar sesuatu suara, tidak ada berisik orang bicara, juga tiada suara sesuatu benda digeser, terlebih tiada sesuatu suara ketokan dan sebagainya.

Tapi sekarang dapat dilihat mereka kemah Koay-lok-ong yang megah itu sudah dipasang di balik sebuah bukitan pasir untuk menghindari angin puyuh. Di kedua sampingnya ada pula beberapa kemah yang lebih kecil. Orang-orang lelaki mengantar mereka ke sebuah kemah yang paling kiri, di dalam kemah penuh macam-macam barang yang tak teratur. Di pojok sana meringkuk satu orang, ternyata Jit-jit adanya.

Memang Jit-jit sedang menantikan kedatangan Sim Long, demi melihatnya, sorot mata si nona tampak penuh rasa duka dan harapharap cemas.

Sayangnya Sim Long justru digusur ke pojok kemah yang lain, meski jarak mereka tidak terlalu jauh, tapi dalam pandangan Jit-jit rasanya seperti terpisah di ujung langit sana.

Meski dia menggunakan segenap tenaganya tetap tidak mampu menggeser ke sana sejengkal pun. Terpaksa ia hanya dapat menyentuhnya dengan sinar matanya yang mesra saja.

Jangan marah padaku, Sim Long, apa yang terjadi ini bukan kehendakku, kata Ong Ling- hoa dengan menyesal.

Sim Long tersenyum, Tidak ada orang yang menyalahkanmu.

Meski aku berada di dalam satu kemah bersama dia, tapi aku merasa sangat tersiksa, tutur Ling-hoa dengan menyengir. Terusmenerus dia mendelik padaku, rasanya dia ingin sekali gigit memutuskan kerongkonganku.

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung, Baru sekarang kutahu begini besar ketakutan bila dibenci seorang. Meski dia hanya mendelik padaku, tidak urung aku berkeringat dingin.

Kau takut padanya? tanya Miau-ji tak tahan.

Dengan sendirinya bukan kutakut padanya, kugentar kepada sinar mata yang penuh rasa dendam dan benci itu, sungguh mengerikan, tutur Ling-hoa. Pernah kudengar orang bilang kekuatan yang lebih menakutkan daripada cinta di dunia ini adalah dendam. Baru sekarang kubuktikan ucapan ini memang tidak salah.

Ya, tidak salah, kekuatan yang paling besar di dunia ini adalah dendam, tiba-tiba seorang menimpali.

Lenyap suaranya Pek Fifi pun muncul.

Dia memakai jubah panjang beledu warna emas, rambutnya yang terurai diikat dengan seutas pita warna emas sehingga kelihatan serupa putri gurun yang paling cantik.

Senyuman manis masih menghiasi wajahnya, tapi matanya yang jeli itu justru gemerdep menampilkan cahaya yang seram mengerikan.

Ia menyapu pandang wajah setiap orang, lalu berkata, Nah, sekarang tentu kalian sudah dapat merasakan betapa rasanya dendam.

Tidak ada yang menjawab, saking geregetan Jit-jit sampai tidak sanggup bicara lagi. Perlahan Fifi bicara pula, Caraku memperlakukan kalian hanya supaya kalian mencicipi bagaimana rasanya dendam dan benci. Sebelum ini, pernahkah kalian benci kepada seorang? ....

Ia mendekati Jit-jit, lalu berucap, Dan sekarang, apakah benar kau benci padaku? Jit-jit mengertak gigi dan melototnya tanpa bersuara. Kularang kau naik seekor unta bersama Sim Long, dalam pandangan orang lain urusan ini adalah soal kecil, tapi bagimu tentu soal besar dan kau jadi benci merasuk tulang padaku, ucap Fifi pula dengan tertawa.

Ya, betul, kubenci ... kubenci padamu, teriak Jit-jit.

Padahal aku cuma memisahkan Sim Long darimu dan engkau lantas begini benci padaku, ujar Fifi. Tapi coba bayangkan, manakala ibumu dipaksa selama hidup tidak dapat bertemu dengan orang yang dicintainya sebab dia telah dinodai orang sehingga malu bertemu lagi dengan dia, akhirnya dia justru ditinggalkan pula oleh orang yang telah mencemarkan dia itu ....

Fifi kelihatan emosional, dengan beringas ia menyambung pula, Dan jika engkau adalah anak yang dilahirkan dari hasil perbuatan kotor itu, dari dendamnya kepada orang yang membuatnya nelangsa dalam hidup ini, maka bencinya itu juga dialihkan kepadamu.

Sebab itulah begitu engkau dilahirkan segera hidup dalam kebencian dan diliputi dendam tanpa cinta kasih, sampai satu-satunya orang yang paling erat denganmu, yaitu ibundamu juga benci padamu, padahal engkau sendiri sama sekali tidak berdosa ....

Mendadak ia jambret baju Jit-jit dan berteriak histeris, Nah, coba bayangkan, jika cara begitulah engkau dibesarkan, lantas apa yang akan kau lakukan?

Aku ... aku terharu juga Jit-jit.

Hm, Siocia yang biasa dimanjakan seperti dirimu tentu tidak dapat membayangkan hal yang kuceritakan ini, ucap Fifi pula dengan senyum pedih. Sebab itulah baru terjadi tidak dapat menumpang seekor unta bersama kekasihmu lantas kau rasakan sebagai hal yang paling menyedihkan dan ingin kau sayat-sayat orang yang memisahkan kalian itu.

Tidak ada pikiranku yang demikian itu, ucap Jit-jit dengan menunduk.

Fifi tersenyum, katanya sambil melirik Sim Long, Jika dia menyatakan tidak ada pikiran begitu, mulai besok bolehlah dia berada satu tenda dengan Ong Ling-hoa saja.

Habis berkata ia lantas melangkah pergi dengan gemulai.

Sampai lama di dalam kemah tiada orang bersuara. Tapi ada orang mengantarkan makanan dan air minum serta menyuapi mereka makan-minum, tapi mereka tetap tidak berbicara.

Entah selang berapa lama lagi, Miau-ji menghela napas dan bergumam, Dia memang gadis yang sampai detik ini aku sendiri tidak tahu apakah harus sayang atau benci padanya, mungkin dia harus dikasihani.

Pada saat itulah mendadak di luar kemah ada cahaya terang.

Sebatang panah berapi meluncur ke atas memecahkan kegelapan angkasa. Bunga api yang membara buyar tertiup angin sehingga mirip hujan cahaya. Segera melayang pula panah berapi kedua ke angkasa raya.

Dengan sendirinya Sim Long dan lain-lain yang berada di dalam kemah tidak dapat melihat pemandangan yang indah itu. Mereka cuma mendengar denging panah yang meluncur ke udara berturutturut, terdengar pula di kejauhan ada suara teriakan dan bentakan orang berkumandang terbawa angin. Apakah yang terjadi? gumam Ling-hoa dengan kening bekernyit. Jangan-jangan ada orang menyerbu kemari? ujar Miau-ji.

Memangnya siapa yang berani main gila dengan Koay-lok-ong? kata Ong Ling-hoa.

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian, Meski betul begitu, tapi penduduk di daerah utara sini kebanyakan belum tinggi budayanya, bilamana melihat rombongan Koay- lok-ong yang mencolok ini, bukan mustahil mereka ingin tahu dan coba mengganggunya.

Betapa pun kejadian ini kan menguntungkan kita? ujar Miau-ji dengan tertawa.

Hm, juga belum tentu, jengek Ling-hoa.Orang biadab kan dapat berbuat apa pun ....

Pada saat itulah mendadak seorang menyelinap masuk, dandanannya ringkas dan perawakannya jangkung, sinar matanya mencorong terang, jelas dia ini jago nomor satu dari pasukan Angin Puyuh itu.

Seketika Miau-ji mendelik, Mau apa kau datang kemari?

Jago nomor satu itu tersenyum, Ongya mengundang kalian keluar.

Tengah malam buta, memangnya ada urusan apa? ucap Sim Long dengan tertawa.

Mungkin di luar segera ada tontonan menarik, kan sayang jika kalian tidak ikut menyaksikannya? ujar si jago nomor satu. Selain itu, Ongya juga ingin Sim-kongcu menyaksikan kelihaian beliau.

Di luar kemah suasana sunyi senyap, setiap orang sama berselimut tebal dan berbaring, jelas sama tidur dengan nyenyak.

Di dalam kemah Koay-lok-ong yang megah itu terlihat ada cahaya lampu, tapi suasana juga hening, dan Sim Long berempat justru duduk di bawah bayang-bayang kemah yang gelap.

Suara teriakan dan bentakan tadi semakin dekat.

Sekonyong-konyong timbul juga suara derapan kaki kuda yang ramai, segerombol penunggang kuda dengan golok panjang terhunus menerjang tiba.

Orang-orang yang tadi kelihatan sedang tidur itu serentak melompat bangun, rupanya di balik selimut sudah siap busur dan panah, segera terdengar busur melenting dan terjadi hujan anak panah.

Dari balik gundukan pasir di sekeliling sana juga muncul lelaki kekar yang tidak sedikit, seketika rombongan penyerbu itu terjeblos di dalam kepungan. Ada yang berteriak-teriak sambil memutar senjatanya, ada yang menjerit dan terjungkal dari kudanya. Ada pula yang langsung menyerbu ke perkemahan, tapi segera dua barisan pengikut Koay-lok-ong memapak mereka.

Kedua regu ini bergolok dan membawa perisai yang terbuat dari rotan, golok mereka selalu mengincar kuda musuh. Maka dalam sejenak saja terdengarlah suara ringkik kuda dan jerit tangis serta suara nyaring beradunya senjata menggema angkasa gurun.

Terjadilah banjir darah di gurun pasir.

Sementara obor pun sudah dinyalakan, tertampak para penunggang kuda itu sama memakai sepatu bot dan bermantel, muka pakai kedok kain putih, golok mereka berbentuk melengkung. Meski dalam sekejap itu di pihak penyerbu ini jatuh korban sangat banyak, namun sisanya pantang menyerah, mereka masih terus menerjang ke depan.

Salah seorang anak buah Koay-lok-ong memapak maju dengan mengangkat perisai, sekonyong-konyong penunggang kuda itu mencabut sebatang lembing dari pelana kudanya, sambil berteriak dia terus menikam.

Betapa tajamnya lembing itu, tameng rotan ternyata tidak mampu menahannya, kontan orang itu terpantek di tanah.

Penunggang kuda itu masih terus menyerbu ke dalam kemah Koaylok-ong.

Tiba-tiba terdengar suara sret disertai berkelebatnya sinar pedang, si jago nomor satu pasukan Angin Puyuh melayang lewat, seketika kepala si penunggang kuda tersisa separuh saja.

Darah lantas muncrat, namun penunggang kuda itu tidak terguling, kuda masih terus menerjang ke depan dan tampaknya segera akan menyerbu ke dalam kemah.

Tiba-tiba terdengar suara sret pula, si jago nomor satu kembali melayang tiba dari sana, sinar pedang berkelebat, kaki kuda sama terkutung dan roboh terjungkal sambil meringkik.

Tampaknya inilah jago tempur dari barat, ternyata memang gagah berani, ujar Miau-ji. Tapi anak buah Koay-lok-ong juga tidak lemah, kata Ling-hoa. Dalam keadaan demikian baru kentara mereka adalah pejuang yang sudah gemblengan dan tidak dapat diremehkan.

Ya, terlebih si jago nomor satu Angin Puyuh itu, bukan saja kungfunya lain daripada yang lain, kecerdasannya juga sangat tinggi, kelak orang ini pasti akan menjadi tokoh yang tidak boleh diabaikan, ujar Sim Long.

Tengah bicara, ratusan prajurit dari barat sudah tersisa separuh saja.

Mendadak dari kejauhan ada suara trompet, serentak kawanan penyerbu itu bersuit, kuda berputar terus membedal kembali ke sana.

Minggir, berikan jalan supaya mereka kabur, teriak si jago nomor satu.

Debu pasir mengepul tinggi, suara teriakan riuh itu pun menjauh, pasir kuning yang telah berlumuran darah itu penuh bergelimpangan mayat dengan golok melengkung berserakan.

Sungguh pertempuran banjir darah! kata Miau-ji dengan gegetun.

Hanya pertempuran semacam ini masakah masuk hitungan di gurun pasir? tiba-tiba seorang menanggapi dengan gelak tertawa. Dengan langkah lebar Koay-lok-ong muncul dari kemahnya, sambil meraba jenggotnya ia berteriak, Wahai Liong-kui-hong, jika berani ayolah maju, mari kita coba-coba siapa yang lebih unggul.

Liong-kui-hong? tanya Sim Long.

Ya, kawanan penyerbu ini adalah gerombolan bandit yang paling kuat dan berpengaruh di gunung pasir sini, pemimpinnya berjuluk Liong-kui-hong (angin puyuh naga), juga hanya dia saja yang berani coba-coba merecoki aku, kata Koay-lok-ong pula dengan tertawa.  Orang macam apakah dia? tanya Miau-ji.

Aku sendiri belum pernah bertemu dengan dia, jawab Koay-lokong.

Apakah inilah serbuan mereka yang pertama kepadamu? tanya Miau-ji pula.

Koay-lok-ong tertawa, tuturnya, Mereka menganggap aku telah menduduki wilayah kekuasaan mereka, maka setahun yang lalu mereka sudah sering mengganggu ke sini. Cuma Liong-kui-hong itu mungkin juga gentar kepada namaku, mana dia berani langsung bergebrak denganku?

Sebenarnya Liong-kui-hong juga seorang tokoh ajaib di gurun pasir ini, konon orang ini pergi datang tanpa meninggalkan jejak, siapa pun tidak pernah melihat wajah aslinya.

Terdengar Koay-lok-ong berkata pula, Biarpun Liong-kui-hong sering mengganggu kemari, tapi serbuan besar-besaran seperti hari ini memang baru pertama kali ini terjadi.

Tampaknya sekarang meski mereka telah mundur, tapi pasti tidak rela dan malam nanti tentu akan datang lagi.

Meski berjumlah cukup banyak orang mereka yang menyerbu ini, namun jelas bukan kekuatan induk mereka, ujar Sim Long. Dan tokoh utama atau otak mereka tentu berada di belakang sana untuk mengatur siasat, makanya begitu mendengar suara trompet segera mereka mengundurkan diri.

Koay-lok-ong berkeplok tertawa, Haha, Sim Long memang tidak malu sebagai Sim Long, memang betul, serbuan gelombang pertama ini hanya bersifat menjajaki kekuatanku saja dan tidak bermaksud mencari menang. Sebab itulah begitu suara trompet berbunyi segera pasukan mereka ditarik mundur tanpa peduli kalah atau menang.

Ai, untuk penjajakan harus mengorbankan jiwa sebanyak ini, apakah imbalan ini tidak terlalu mahal? ujar Miau-ji dengan gegetun.

Di medan perang, yang diharap hanya menang, peduli korban banyak apa segala, memangnya terhitung apa hanya beberapa puluh lembar nyawa saja? ujar Koay-lok-ong dengan tertawa.

Tapi orang yang menggunakan tipu dan siasat demikian bukankah terlalu kejam? kata Miau-ji pula.

Sebagai seorang komandan, kalau tidak berhati keras, mana bisa menjadi panglima perang? ujar Ong Ling-hoa. Tampaknya Liongkui-hong ini bukan cuma mahir mengatur peperangan, tapi akalnya jelas juga tidak lemah.

Justru ingin kulihat betapa tinggi kepandaiannya, seru Koay-lokong dengan tertawa. Dan begitu berhenti suara tertawanya, mendadak ia membentak dengan bengis, Periksa prajurit yang menjadi korban!

Cepat si jago nomor satu pasukan Angin Puyuh tampil ke muka dan melapor, Sudah diperiksa, Ongya.

Bagaimana keadaannya? tanya Koay-lok-ong.

Yang tewas tujuh orang dan luka-luka 13 orang, korban seluruhnya 20 orang, lapor si nomor satu. Tapi pihak lawan jatuh korban berjumlah 117 orang.

Koay-lok-ong termenung sejenak, tiba-tiba ia bertanya, Eh, ke mana perginya nona Pek? Tecu tidak melihatnya, sahut si nomor satu.

Apakah barisan sudah teratur baik? tanya Koay-lok-ong.

Sesuai perintah Ongya sudah Tecu bagi menjadi 16 barisan dan empat regu pemanah, empat regu bergolok, empat regu perisai dan empat regu petombak, semuanya dipimpin oleh ketujuh anggota Angin Puyuh.

Pengintai sudah diatur?

Sudah, 20 orang di bawah pimpinan Samte sudah berangkat sejak tadi, lapor pula si nomor satu.

Bagus, kata Koay-lok-ong puas.

Cahaya api gemerdep, pasir berhamburan tertiup angin, bayangan manusia bergerak di sana-sini, suasana diliputi ketegangan.

Koay-lok-ong berdiri santai di luar kemah, gumamnya, Medan

perang ... inilah medan perang yang memabukkan setiap pahlawan dari zaman kuno hingga sekarang, rasanya aku pun ....

Huh, tempat seperti neraka ini masakah dianggap memabukkan, jengek Cu Jit-jit.

Koay-lok-ong tertawa, Haha, rangsangan di medan perang masakah dapat dirasakan oleh anak perempuan serupa dirimu ini. Bilamana kau pegang kekuasaan besar, nasib beratus ribu orang tergantung kepada keputusanmu dalam sekejap, perasaanmu waktu itu tentu sukar lagi dilukiskan. Kesenangan yang kau dapat pun sukar diganti oleh apa pun.

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba dari kejauhan muncul sesosok bayangan melayang datang secepat terbang.

Para penjaga sama membentak, Hai, siapa? Berhenti!

Keparat, masakah aku saja tidak dikenal lagi? terdengar bayangan orang itu tertawa ngikik.

Di tengah suara tertawa merdunya Pek Fifi sudah hinggap di depan Koay-lok-ong. Sekarang dia sudah berganti baju yang singsat, mukanya juga memakai cadar sutra tipis.

Koay-lok-ong tertawa cerah, Aha, ke mana kau pergi? Memang sedang kukhawatirkan akan dirimu.

Fifi menyingkap cadarnya dan menjawab dengan tertawa, Silakan Ongya menerka. Wah, jangan-jangan kau pergi menyelidiki keadaan pasukan Liongkui-hong?

Ai, Ongya memang orang maha berbakat, urusan apa pun tak dapat mengelabui mata Ongya, seru Fifi sambil berkeplok tertawa.

Liong-kui-hong bukanlah kaum bandit biasa, ujar Koay-lok-ong dengan suara lembut, kau pergi sendirian, bila terjadi apa-apa

lantas bagaimana? Ai, untuk apa engkau harus menyerempet bahaya cara begini?

Gembong iblis yang mahakuasa ternyata juga bisa berubah lembut di depan Pek Fifi. Dari sini terbuktilah bahwa Pek Fifi memang mempunyai daya pikat mahabesar.

Terdengar Fifi berucap dengan tertawa, Diriku kan sudah milik Ongya, andaikan mati bagi Ongya juga tidak menjadi soal. Apalagi, kalau cuma orang-orang begitu saja masa mampu membunuhku? Haha, betul, seru Koay-lok-ong sambil berkeplok tertawa. Kenapa kulupa Yu-leng-kiongcu kita yang pergi-datang tanpa meninggalkan jejak, kalau cuma seorang Liong-kui-hong saja mana terpandang olehnya.

Yang menakutkan memang bukan Liong-kui-hong, ujar Fifi.

Yang menakutkan tentu saja engkau, bukan? Ah, kenapa Ongya jadi bergurau denganku.

Pada saat menghadapi pertempuran seru kan perlu juga santai untuk mengendurkan saraf.

Tapi orang yang menakutkan yang kumaksudkan itu bukan Liongkui-hong melainkan seorang lain lagi.

Memangnya siapa? tanya Koay-lok-ong, agaknya ia jadi tertarik. Kunsu (penasihat militer) mereka, jawab Fifi.

Kunsu? Koay-lok-ong berkerut kening.Liong-kui-hong juga mempunyai seorang Kunsu? Kenapa selama ini tidak pernah kudengar. Dan dari mana kau tahu hal ini?

Dengan sendirinya dapat kudengar dari anak buah Liong-kui-hong. Apa yang kau dengar?

Dari percakapan mereka yang kudengar secara diam-diam, nyata Liong-kui-hong dipandang mereka sebagai pahlawan pujaan mahahebat, tapi terhadap Kunsu itu mereka terlebih memuja serupa malaikat.

Memangnya bagaimana bentuk Kunsu mereka itu? tanya Koay-lokong.

Kemah kediaman Liong-kui-hong dan Kunsu itu dijaga dengan sangat ketat, siapa pun jangan harap akan menyusup ke sana. Dengan sendirinya aku pun tidak dapat melihat dia.

Apakah telah kau peroleh namanya? tanya Koay-lok-ong lagi. Diam-diam kupancing keluar seorang pengintai mereka, lelaki itu cukup kepala batu juga, betapa pun kupaksa dengan kekerasan dan kupancing dengan harta benda tetap dia tidak mau buka mulut.

Tentu engkau mempunyai cara baik untuk membuatnya buka mulut, ujar Koay-lok-ong dengan tertawa.

Fifi tersenyum manis. Memang tidak sulit bagiku untuk membuatnya bicara, begitu kusingkap cadarku dan tersenyum padanya, maka apa pun dituturkan seluruhnya.

Koay-lok-ong meraba jenggot dan tergelak,Ya, tentu saja bicara, di dunia ini mana ada lelaki yang tahan terhadap senyumanmu.

Kenapa tidak ada, sedikitnya ada dua-tiga orang di sini, seru Jit-jit gemas.

Koay-lok-ong tidak menggubrisnya, katanya pula, Dan apa yang diceritakannya?

Menurut keterangannya, Kuncu itu seorang tokoh misterius, belumlama dia masuk dalam komplotan Liong-kui-hong, selain Liong-kuihong menaruh kepercayaan penuh kepadanya, orang lain juga

sangat kagum padanya. Cuma sepanjang hari orang ini selalu memakai mantel hitam, bahkan mukanya memakai kedok sehingga siapa pun tidak tahu wajah aslinya.

Siapa namanya? tanya Koay-lok-ong. Dia tidak bernama, tapi mengaku berjuluk Hok-siu-sucia (Duta Penuntut Balas), tutur Fifi sekata demi sekata.

Koay-lok-ong melengak, Hok-siu-sucia? Jangan-jangan dia mempunyai dendam apa-

apa terhadapku? Sebabnya Liong-kui-hong melakukan serbuan besar-besaran ini jangan- jangan atas hasutannya.

Tampaknya memang begitu, ujar Fifi. Dia mengaku berjuluk Hok-siu-sucia dan menyembunyikan nama aslinya, juga tidak mau memperlihatkan wajah aslinya kepada umum, setiap gerak-geriknya selalu misterius, jangan-jangan dia sudah kukenal? kata Koay-lok-ong.

Apakah Ongya tidak dapat menerka siapa dia? tanya Fifi.

Bahwa dalam waktu singkat dia dapat membuat bandit besar semacam Liong-kui-hong itu menaruh kepercayaan penuh kepadanya, juga dari tindak tanduknya jelas dia seorang yang cerdas, licin dan juga keji, sungguh aku tidak dapat menerka siapa aslinya dia.

Musuhmu terlampau banyak, dengan sendirinya tak dapat kau terka siapa dia, ejek Jit-jit. Karena pikirannya lagi melayang jauh, Koay-lok-ong tidak menghiraukan ucapan Jit-jit, kembali ia tanya Fifi, Selain itu, apa pula yang dapat kau selidiki?

Kulihat pengikutnya, selain pasukan yang baru kembali dari kekalahan di sini, jumlah mereka tidak ada 200 orang, tampaknya tidak begitu kuat.

O, jumlah mereka tersisa kurang dari 200 orang, agaknya aku telah menilai terlampau tinggi terhadap dia, ujar Koay-lok-ong.

Sebab itulah saat ini mereka pun tidak berani sembarangan bergerak, mereka seperti lagi menunggu kesempatan. Namun semangat tempur mereka sangat tinggi, agaknya masih hendak melancarkan serangan kedua, tutur Fifi.

Gemerdep sinar mata Koay-lok-ong, serunya, Menunggu kesempatan? Hm, masa akan

kuberi kesempatan kepadanya? Habis apa rencana Ongya? tanya Fifi.

Mengatasi lawan lebih dulu, menyerang sebagai pertahanan, serbu dia dalam keadaan belum siap, ujar Koay-lok-ong.

Fifi berkeplok, Haha, memang betul! Serbu dia selagi belum siap dan tentu akan menang. Siasat Ongya memang sukar dibandingi orang lain.

Wahai Sim Long, coba lihat bagaimana dengan rencanaku ini? ucap Koay-lok-ong tiba-tiba sambil menoleh.

Ya, memang tidak malu untuk disebut sebagai berbakat panglima perang, ujar Sim Long dengan gegetun.

Masa cuma berbakat panglima perang saja? kata Koay-lok-ong. Memangnya panglima perang dari zaman dulu hingga sekarang adakah yang dapat melebihi diriku.

Ya, kalau bicara tentang keji dan ketekunan memang tidak ada yang melebihimu, ujar Sim Long.

Itu dia, cukup pujian sepatah kata Sim Long saja melebihi sanjung puji ribuan kata orang lain, seru Koay-lok-ong dengan tertawa. Mendadak ia membentak, Ambilkan arak!

Akan kutuangkan arak bagi Ongya, ucap Fifi dengan senyum menggiurkan. Koay-lok-ong bergelak tertawa, Setelah kuminum arak segera akan kuserang dia sehingga kalang kabut.

Segera Fifi menuangkan secawan arak penuh dan disuguhkan dengan tangan sendiri. Sekali tenggak Koay-lok-ong menghabiskan isi cawan itu, lalu membentak,Di mana nomor satu?

Tecu siap! seru si nomor satu sambil tampil ke muka. Atur pasukan, siap tempur, teriak Koay-lok-ong.

Si nomor satu mengiakan. Belum lagi dia mengundurkan diri, tiba-tiba terdengar derapan kuda lari, seorang penunggang kuda muncul secepat terbang.

Kawanan penjaga sama membentak, Siapa itu? Turun!

Penunggang kuda itu mengibarkan bendera putih dan berteriak, Atas perintah Pangcu, kudatang untuk minta menyerah!

Si nomor satu tertawa, katanya, Haha, belum lagi bertempur mereka sudah menyerah. Kening Koay-lok-ong bekernyit, bentaknya, Biarkan dia kemari?

Cepat penunggang kuda itu membedal kudanya ke depan, lalu melompat turun dan menyembah, Kasihan Ongya Kasihan Ongya!

Apakah kalian mau menyerah? tanya Koay-lok-ong.

Berulang-ulang orang itu menyembah, Kebesaran Ongya laksana rembulan dan matahari di angkasa, Pangcu kami menyadari cuma cahaya kunang-kunang saja sukar menandingi cahaya matahari, sebab itulah hamba diutus kemari untuk minta menyerah, selanjutnya kami rela di bawah perintah Ongya.

Koay-lok-ong bergelak tertawa, Haha, Liong-kui-hong tidak malu sebagai seorang pintar, jika sekarang dia tidak menyerah, sebentar lagi mungkin kalian akan mati tak terkubur.

Mohon ampun, Ongya, seru orang itu sambil menyembah pula.

Baik, sekarang boleh kau pulang, suruh mereka berbaris dan berlutut di tanah, segera kudatang menerima penyerahan kalian, kata Koay-lok-ong.

Terima kasih atas budi kebaikan Ongya, orang itu memberi hormat pula, lalu mengundurkan diri, sekali cemplak ke atas kudanya segera dilarikan kembali ke sana. Sesudah orang itu pergi, dengan tertawa Koay-lok-ong berkata, Wahai, Liong-kui-hong, apakah benar kau seorang cerdik?

Fifi memandangnya dengan tersenyum, katanya, Apakah Ongya ....

Ya, tentu saja kusiap menyerbu mereka, teriak Koay-lok-ong mendadak, suara tertawanya pun lenyap.

Jika mereka mau menyerah, mengapa kita menyerangnya pula? ujar si nomor satu dengan bingung.

Jika mereka siap menyerah, tentu mereka terlebih tidak berjagajaga, kesempatan ini justru akan kugunakan untuk menyikat mereka habis-habisan, ucap Koay-lok-ong dengan bengis.

Aha, Ongya memang berpandangan jauh, kata si nomor satu dengan kejut-kejut girang. Siasat tidak melarang kelicikan, membasmi musuh harus tuntas, inilah gaya pekerjaanku selama ini, seru Koay-lok-ong dengan tertawa. Betul, sambung si nomor satu. Orang semacam ini tentu saja tidak boleh dibiarkan hidup, membabat rumput harus sampai akarakarnya.

Dengan langkah lebar Koay-lok-ong menuju ke luar, serunya, Sisakan dua regu untuk menjaga di sini, selebihnya ikut kuserbu musuh, bilamana musuh sudah disikat habis, boleh coba siapa lagi yang berani memusuhi diriku.

*****

Begitulah Koay-lok-ong dan Pek Fifi lantas berangkat dengan membawa pasukannya. Angin meniup semakin kencang.

Sungguh keji dan kejam Koay-lok-ong ini, omel Miau-ji. Sim Long tersenyum, katanya, Tapi kali ini mungkin dia akan terjebak.

Terjebak? Miau-ji menegas dengan heran.

Ya, kepergiannya ini tentu akan menubruk tempat kosong, kata Sim Long. Miau-ji tambah heran, Memangnya kenapa

Pernyataan menyerah Liong-kui-hong ini jelas cuma pura-pura belaka, ujar Sim Long dengan tertawa. Kau lihat orang yang diutus kemari itu, meski dia berlagak takut-takut, tapi gerak-gerik dan tutur katanya cekatan, sama sekali tidak ada tanda gugup dan takut, mana bisa menyerah dengan sungguh hati.

Tapi ... tapi mereka ....

Mereka sembari pura-pura menyerah, di lain pihak juga mengerahkan pasukannya, asalkan pihak Koay-lok-ong menubruk ke sana, mereka pasti juga akan menyerbu ke sini, tutur Sim Long dengan tertawa. Ini namanya licik dibalas licik, gigi dibayar gigi.

Kiranya tipu yang mereka gunakan adalah memancing harimau meninggalkan gunung ujar Miau-ji dengan tertawa.

Betul, kata Sim Long.

Tapi dari mana mereka tahu Koay-lok-ong ....

Tampaknya Kunsu mereka itu selain tipu akalnya tidak di bawah Koay-lok-ong juga sangat kenal watak lawannya ini, sebelumnya sudah diperhitungkan kemungkinan apa yang akan dilakukan makanya diatur tipu begini.

Kedua orang ternyata sama lihai dan sama pintarnya, ujar Jit-jit tertawa.

Cuma Koay-lok-ong hanya tahu pihak sendiri dan tidak paham pihak lawan, maka pertempuran ini dia pasti akan kalah, kata Sim Long.

Betul, dia kenal watak Koay-lok-ong, sebaliknya siapa dia belum lagi diketahui Koay-lok- ong, tanpa bertempur Koay-lok-ong memang sudah kalah, tukas Miau-ji.

Jika Koay-lok-ong mempunyai Kunsu serupa Sim Long tentu dia takkan kalah, ujar Jit-jit dengan tersenyum bangga. Dia hanya pintar membual dan omong besar, padahal dia tidak dapat membandingi sebuah jari Sim Long pun.

Tiba-tiba Ong Ling-hoa mendengus, Hm, semoga Kunsu itu tidak sepintar Sim Long, mudah-mudahan juga terkaan Sim Long tidak kena. Jika Kunsu itu mengaku berjuluk Hok-siu-sucia, bila bertarung dengan Koay-lok-ong, dapat dibayangkan dia pasti akan menang, kalau tidak kan julukannya akan berubah menjadi Sang-si-sucia (Duta Pengantar Mati)? ujar Sim Long dengan tersenyum.

Bilamana dia sepintar dugaanmu, tentu kita pun akan celaka, ucap Ling-hoa dengan menghela napas panjang.

Jit-jit melengak, Kenapa kita bisa celaka?

Ling-hoa tidak bicara lagi melainkan cuma memandang ke depan.

Tidak jauh di depan sana ada beberapa orang bergolok sedang meronda mondar-mandir mengawasi gerak-gerik mereka, cuma apa yang mereka bicarakan tidaklah terdengar.

Setelah Jit-jit berpikir sejenak, mendadak air mukanya berubah dan berkata, Ya, betul, kita bisa celaka.

Oo, masa betul? tanya Sim Long.

Coba bayangkan, jika pasukan berkuda Liong-kui-hong menyerbu kemari, penjaga di sini pasti tidak mampu melawan mereka, dan kalau Hok-siu-sucia datang untuk menuntut balas sesuai julukannya, tentu dia akan main sikat, segala sesuatu di sini pasti akan disapu habis.

Betul, tatkala mana kita pun pasti akan terbunuh semua, tukas Miau-ji. Biarpun kita berusaha memberi penjelasan pasti juga takkan dipercaya mereka.

Jika begitu, lantas bagaimana baiknya, Sim Long? tanya Jit-jit khawatir.

Jangan gelisah, ujar Sim Long dengan tersenyum. Bisa jadi kita masih ada harapan akan hidup.

Bicara sampai di sini mendadak ia berteriak, Hai, kawan yang berada di sana, maukah coba kemari sebentar

Para peronda itu saling pandang sekejap, tampaknya komat-kamit sedang berunding, kemudian ada dua orang menuju ke sini, yang seorang bertubuh tinggi besar, seorang lagi kurus jangkung.

Untuk apa kau panggil kami? tanya si kekar dengan garang.

Angin di sini meniup terlampau kencang, apakah boleh kami minta

pertolongan Toako agar kami dipindahkan ke belakang sana yang terhalang dari tiupan angin serta sukalah memberi kami beberapa lembar selimut, pinta Sim Long dengan sopan.

Si kekar terkekeh, Hehe, orang sama bilang engkau ini lelaki baja, tak tersangka tubuhmu lebih lemah daripada anak dara, angin saja tidak tahan.

Meski di mulut berolok-olok, tapi sikapnya kelihatan akan memenuhi permintaan Sim Long. Si kurus ikut bicara, Ongya berulang memberi pesan kepada kita bahwa beberapa orang ini lebih daripada siluman rase, kita disuruh jangan gegabah. Kukira tidak perlu kita gubris permintaannya. Si kekar menjawab, Kulihat mereka pantas dikasihani, apalagi sekarang mereka tidak dapat bergerak sama sekali, memangnya apa yang dapat mereka perbuat atas diri kita? Apa salahnya kita berbuat amal sedikit?

Engkau berkuasa? jengek si kurus. Jika Toako tidak berkuasa, biarlah ....

Belum lenyap ucapan Sim Long, mendadak si kekar berteriak, Dengan sendirinya aku berkuasa, yang bertanggung jawab juga aku.

Dengan marah-marah ia menuju ke sana dan memanggil lagi tiga orang temannya, serentak Sim Long berempat dipindah ke belakang kemah yang terhalang dari embusan angin. Cahaya lampu juga tidak dapat menyinari mereka.

Setelah orang-orang itu pergi, tak tahan Jit-jit berkata, Di sini mungkin juga tidak aman. Dengan sendirinya tidak aman, tapi kan jauh lebih baik daripada di depan sana, ujar Sim Long.

Jika tetap berada di sekitar kemah ini, di depan dan di belakang kan tidak banyak bedanya.

Tentu ada bedanya, kata Sim Long. Di sini tidak diterangi oleh cahaya lampu, pada waktu pasukan Liong-kui-hong menerjang tiba tentu takkan memerhatikan tempat ini. Yang paling penting, bagian depan kemah ini terpantek sangat kencang, bagian belakang menggandul, bilamana pasukan Liong-kui-hong menerjang kian kemari, sedikitnya tali tambatan kemah ini akan tertebas putus dan kemah ini akan ambruk, karena berat belakang, kain kemah akan roboh ke belakang dan kita pasti juga akan tertutup di sini.

Jit-jit tertawa senang, belum lagi dia bicara Ong Ling-hoa lantas berucap dengan gegetun, Ai, di sinilah letak keunggulan Sim Long, yaitu cermat dan teliti, tindakannya terhadap setiap urusan sangat mendetail, setitik pun tidak terlepas dari pemikirannya. Kecuali dia, tidak pernah kulihat ada orang dapat berpikir secermat ini.

Bicara sampai di sini, mendadak terdengar suara gemuruh kuda lari dari sana, agaknya semula rombongan penunggang kuda itu berjalan perlahan, sesudah dekat baru mendadak dibedal secepatnya.

Ternyata benar sudah datang, kata Miau-ji.

Dugaan Sim Long memang tidak keliru, tukas Jit-jit dengan tertawa, tertawa yang mengandung kejut, entah girang atau khawatir.

Segera terdengar teriakan panik para penjaga tadi.

Penjaga itu menyangka Koay-lok-ong pasti akan menang, saat ini pihak musuh mungkin sudah tersapu bersih, mimpi pun mereka tidak menduga akan terjadi perubahan demikian.

Penjagaan mereka memang sudah kendur, bahkan ada di antaranya sedang mengantuk, sesudah musuh menyerbu tiba barulah mereka melompat bangun dengan gugup dan bingung mencari senjata

masing-masing, ada juga yang menjerit kaget karena tidak tahu apa yang terjadi.

Dalam pada itu suara teriakan serbu sudah menggema angkasa, pasukan berkuda menerjang datang dengan cahaya golok gemerlapan serupa gelombang laut mendampar tiba. Anak buah Koay-lok-ong ada yang belum sempat meraih senjata sudah keburu kepala dipenggal musuh, ada yang belum sempat memanah, tahu-tahu dada sudah ditembus tombak.

Seketika keadaan menjadi kacau, anak buah Koay-lok-ong menjadi panik dan banyak yang terinjak-injak oleh pasukan berkuda itu. Terdengar ringkik kuda dan jerit tangis membuat orang ngeri. Serentak sebagian anak buah Koay-lok-ong melarikan diri. Tapi belum lagi berapa jauh mereka mendadak seorang membentak di depan, Melarikan diri di garis depan hukumannya mati, ayo berhenti!

Suara bentakannya tidak keras, tapi mengandung semacam nada yang membuat orang merinding.

Beberapa orang itu sama ketakutan, waktu mendongak, tertampak di atas gundukan pasir sana berdiri dua penunggang kuda berjajar.

Kedua ekor kuda mereka berwarna hitam dan putih, yang berkuda putih berikat kepala putih dan berkedok putih pula, semuanya serbaputih, serupa badan halus dari neraka.

Yang bermantel hitam juga menunggang kuda hitam, ikat kepala hitam dan berkedok hitam, kecuali sinar matanya yang serupa mata hantu itu ada bagian putihnya, seluruh tubuhnya sama diliputi warna hitam yang misterius.

Jika si penunggang kuda warna putih serupa badan halus, si penunggang kuda warna hitam adalah setan dari neraka.

Kedua penunggang kuda ini sama diliputi hawa pembunuhan yang menyeramkan.

Saking ketakutan beberapa lelaki itu tidak sanggup merangkak bangun, dengan suara gemetar mereka bertanya, Sia ... siapa kalian?

Hehe, masakah tidak dapat kau terka siapa diriku? ucap si penunggang kuda putih. Hah, jangan ... jangan engkau inilah Liong-kui-hong? seru orang itu.

Betul, ucap si penunggang kuda putih dengan tertawa.

Waktu pandangan lelaki itu beralih ke arah si penunggang kuda hitam, mendadak ia bergemetar, Kau ... kau ....

Berulang ia menyebut kau, tapi tidak dapat melanjutkan, sorot mata si penunggang kuda hitam seakan-akan dapat membetot sukma.

Hok-siu-sucia, tidak pernah disangsikan lagi penunggang kuda hitam inilah si Duta Penuntut Balas. Meski hal ini sudah diketahuinya, tapi tidak dapat diucapkan. Walaupun orang-orang itu ingin lari, celakanya kaki seperti tidak mau menurut perintah lagi.

Kalian sudah tahu siapa dia? tanya Liong-kui-hong dengan tertawa. Beberapa orang itu sama mengangguk dan tetap tidak sanggup bersuara. Kalau sudah tahu, apakah kalian masih ingin hidup?

Serentak beberapa orang itu menyembah dan berseru dengan gemetar, Am ampun,

mohon mohon ampun!

Kalian minta ampun padaku? baru sekarang si penunggang kuda hitam berucap sekata demi sekata.

Ya, mohon ... mohon .... Mendadak si penunggang kuda hitam mendengus, suaranya dingin mengerikan, kebetulan ujung kedoknya tersingkap sedikit, Coba kalian lihat siapakah aku?

Sekilas beberapa orang itu seperti melihat setan, tubuh mereka tambah menggigil dan menjerit bersama, Hah, kiranya eng ... engkau ....

Baru saja mereka bersuara, mendadak tiga titik sinar tajam menyambar keluar dari mantel hitam, terdengar plak-plok-plak tiga kali, semuanya mengenai dada mereka. Sambil menjerit ketiganya lantas roboh terkulai.

Mata si penunggang kuda hitam sama sekali tak berkedip, sorot matanya yang dingin menampilkan rasa senang, sikapnya serupa orang yang baru menggites mati tiga ekor semut dan sama sekali bukan soal baginya.

Liong-kui-hong lantas berseru dan tertawa, Haha, sungguh senjata rahasia yang cepat dan jitu!

Si penunggang kuda hitam hanya mendengus saja tanpa menoleh.

Meski selama ini engkau tidak mau memperlihatkan kepandaianmu, tapi dari caramu menyambitkan senjata rahasia ini sudah dapat kuduga engkau pasti orang yang mempunyai asal-usul tertentu, mengapa engkau mesti menyembunyikan asal-usul sendiri? tanya Liong-kui-hong dengan tertawa.

Kembali si baju hitam hanya mendengus saja.

Sementara itu ketiga orang yang masih berkelojotan tadi sekarang sudah tidak bergerak lagi, jelas nyawa mereka sudah amblas.

Liong-kui-hong memandang mereka dan berkata pula, Sebelum mati ketiga orang ini seperti mengenali dirimu, bukan?

Lagi-lagi si baju hitam hanya mendengus.

Kenapa anak buah Koay-lok-ong bisa kenal padamu? Hmk! dengus si baju hitam pula.

Tanpa terasa Liong-kui-hong memandang sorot mata orang yang dingin tajam itu, tiba-tiba ia menghela napas, Selama sebulan ini tentunya dapat kau rasakan kuanggap dirimu sebagai sahabat sejati, mengapa segala urusanmu tetap kau rahasiakan bagiku?

Hmk, kembali si baju hitam mendengus.

Malahan, sampai saat ini namamu saja tidak kau beri tahukan padaku.

Kan cukup asalkan kau tahu dapat kubantu padamu mengalahkan Koay-lok-ong.

Ia memandang jauh ke depan sana, ke medan perang yang sedang berlangsung pertempuran sengit dan pembunuhan tanpa kenal ampun itu. Bara balas dendam sedang berkobar dalam rongga dadanya.

Betul, sebenarnya cukup bagiku asal sudah tahu hal ini, engkau memang sudah berhasil mencekik leher Koay-lok-ong dan memberinya pukulan maut, ujar Liong-kui-hong.

Tidak, lehernya belum kucekik, baru ekornya saja yang kuinjak, ini belum terhitung pukulan maut, pukulan yang mematikan harus kulakukan pada babak terakhir.

Apa pun juga sekali ini sudah cukup membuatnya kesakitan, ujar Liong-kui-hong dengan tertawa. Sejak kemunculan Koay-lok-ong mungkin belum pernah dia rasakan pukulan seberat ini. Soalnya nasibnya memang lagi mujur, jengek si baju hitam.

Dan sekarang nasibnya mungkin akan berubah jelek, ujar Liongkui-hong.

Betul, nasibnya memang akan berubah, cuma belum juga terhitung buruk, kata si baju hitam.

Sebab apa?

Sebab belum lagi kutemukan satu orang.

Menemukan satu orang? Liong-kui-hong menegas dengan bingung.

Ya, jika dapat kutemukan, maka nasib Koay-lok-ong akan benarbenar maha buruk. Mencorong sinar mata Liong-kui-hong, tanyanya cepat, Siapakah orang ini?

Tidak kau kenal, kata si baju hitam.

Tapi ... tapi di manakah akan kita temukan dia?

Jika orang ini tidak mau unjuk diri, siapa pun di dunia ini takkan menemukan dia.

Liong-kui-hong menghela, napas, tapi dia belum lagi putus asa, ia tanya pula, Apakah dia akan muncul di sini?

Mungkin, kata si baju hitam.

Jika sudah bertemu, harap diminta agar dia suka membantuku.

Hm, orang ini serupa naga sakti yang sukar diraba jejaknya, hanya dirimu masakah juga ingin menarik dia bekerja bagimu? jengek si baju hitam.

Liong-kui-hong melenggong, Tapi engkau ....

Dibandingkan dia, memangnya terhitung apa diriku ini?

Tapi semoga dia juga tidak akan ditarik ke pihak Koay-lok-ong.

Jika dia bekerja bagi Koay-lok-ong, saat ini kita berdua tentu sudah mati tak terkubur, ujar si baju hitam.

Hah, masakah dia begitu lihai? terkesiap juga Liong-kui-hong.

Sungguh sayang tak dapat kulukiskan betapa tinggi kungfu dan betapa cerdik kepintarannya.

Adakah hubungan baik antara Koay-lok-ong dengan dia? tanya Liong-kui-hong cepat.

Satu-satunya orang yang ingin dibunuhnya ialah Koay-lok-ong, tutur si baju hitam.

Hah kejut dan girang Liong-kui-hong, gumamnya, Sungguh aku rela memenggal

sebelah tanganku asalkan dapat mengetahui saat ini dia berada di mana? ....

Kukira, dia pasti takkan berada terlalu jauh ucap si baju hitam.

*****

Dalam pada itu suara teriakan dan jeritan sudah mulai mereda.

Anak buah Koay-lok-ong yang ditinggalkan berjaga di sini sudah berubah menjadi mayat. Ketika seorang penyerbu membedal kudanya lewat di samping kemah, segera kemah megah yang melambangkan kemewahan dan wibawa itu ambruk, lampu pun jatuh dan api berkobar.

Dalam sekejap saja api lantas menjalar, seketika perkemahan anak buah Koay-lok-ong itu berubah menjadi lautan api.

Teriakan dan sorakan kemenangan menggema angkasa, terkadang terdengar juga suara rintihan yang luka parah, mayat bergelimpangan terinjak-injak kaki kuda dari darah membasahi gurun pasir. Sorot mata si baju hitam yang membara tadi mulai padam, katanya kemudian dengan dingin, Koay-lok-ong sudah waktunya pulang.

Tarik pasukan? tanya Liong-kui-hong. Ehm, jawab si baju hitam.

Segera Liong-kui-hong membunyikan trompet tanduk dan mengumpulkan anak buahnya. Pertempuran ini tidak banyak jatuh korban di pihaknya, beratus penunggang kuda bersorak-sorai memuji kebesaran Liong-kui-hong atas kemenangan ini.

Liong-kui-hong tertawa senang.

Apakah tidak terlalu dini tertawa senang sekarang? jengek si baju hitam.

Seketika Liong-kui-hong berhenti tertawa, Memangnya apa yang perlu kita lakukan sekarang, harap Kunsu suka memberi perintah.

Mundur! ucap si baju hitam.

Semangat tempur pasukan kita sedang berkobar, masakah mundur malah? Ya, kubilang mundur! ucap si baju hitam sekata demi sekata.

Liong-kui-hong menghela napas,Baiklah, mundur juga boleh, cuma ... setelah mundur tentu akan merendahkan semangat tempur pasukan, jika Koay-lok-ong mengejar ....

Anak buah Koay-lok-ong menggunakan unta, kata si baju hitam. Kenapa jika menggunakan unta?

Sama sekali Koay-lok-ong tidak menduga lawan akan menyerangnya, kalau tahu tentu dia takkan menggunakan unta, sebab meski unta tahan menjelajah jauh, tapi untuk kejar- mengejar dan serang-menyerang tidak selincah kuda.

Kenapa kita tidak tidak melabrak dia saja sekarang?

Hm, memangnya kau kira Koay-lok-ong itu orang macam apa? jengek si baju hitam. Orang macam apa pun dia, jika serangannya ini menubruk tempat kosong, tentu dia akan malu dan gemas, pasukannya pasti akan patah semangat dan pulang dengan lesu, kan kebetulan bagi kita untuk memberi pukulan terlebih keras?

Hm, jika kau ukur dia seperti orang biasa, mungkin kalian akan mati tak terkubur, jengek si baju hitam. Setelah dia menubruk tempat kosong, dia takkan malu dan marah, sebaliknya pasti akan menyusun kekuatannya terlebih rapi. Sedangkan anak buahmu kan sudah lelah setelah pertempuran ini, sedikit-banyak anak buahmu akan tinggi hati atas kemenangan yang diperoleh. Dalam keadaan letih dan lengah, menghadapi lawan yang mengalami kekalahan dan nekat, pasti pihakmu akan kalah habis-habisan.

Ah, betul juga Liong-kui-hong mengangguk-angguk. Kalau tidak diberi petunjuk Kunsu,

sungguh kami bisa mati tak terkubur. Hmk! jengek si baju hitam.

Liong-kui-hong termenung sejenak, lalu bertanya pula, Dan sekarang kita harus mundur ke mana?

Meski tampaknya kita mundur, yang benar kita justru menyerang, jawab si baju hitam. Menyerang ke mana?

Ke sarang Koay-lok-ong.

Kejut dan girang Liong-kui-hong, Tapi gerak-gerik Koay-lok-ong sangat misterius, siapa yang tahu akan sarangnya?

Kutahu, kata si baju hitam sekata demi sekata. Aha, bagus, seru Liong-kui-hong. Sekarang dia berada di sini, sarangnya tentu kosong tak terjaga, serbuan kita dapat menyikat mereka habis-habisan.

Ayo berangkat, kata si baju hitam sambil memutar kudanya.

Segera Liong-kui-hong memberi aba-aba, Pasukan berangkat! Di tengah suitan dan ringkik kuda yang ramai segera pasukan bergerak berbondong-bondong ke sana.

*****

Kemah induk yang megah itu memang betul sudah ambruk dan menimpa Sim Long berempat, meski tertindih oleh kain kemah yang berat itu, tapi mereka justru mengembus napas lega.

Habis itu suasana menjadi sepi, suara kuda lari makin jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi.

Selang sejenak pula barulah Jit-jit merasa lega, desisnya, Sim Long ....

Karena tertutup kain tenda, ia tidak dapat melihat apa pun.

Untunglah lantas terdengar suara jawaban Sim Long, Ternyata segalanya dapat kau terka dengan tepat.

Mana bisa salah, jika dia salah hitung, mana kita dapat hidup sampai sekarang? ujar Miau- ji.

Tak tersangka Kunsu itu memang seorang tokoh maha lihai sehingga Koay-lok-ong dapat ditipunya, ujar Ong Ling-hoa dengan gegetun. Wahai Sim Long, dapatkah kau terka siapa dia?

Saat ini memang sukar kupastikan, jawab Sim Long.

Tiba-tiba Jit-jit berkata pula, Aneh, mengapa mereka bisa mundur. Sesudah lawan disikat habis, kenapa tidak mundur? ujar Sim Long tertawa.

Dan mengapa mereka tidak mengadakan pertempuran menentukan dengan Koay-lok-ong, pada waktu mereka mendapat angin? tanya Jit-jit.

Hah, jika kau jadi Kunsu Liong-kui-hong, tentu dia bisa celaka, kata Sim Long dengan tertawa.

Sebab apa? tanya Jit-jit.

Koay-lok-ong kan tidak dapat dibandingkan dengan orang biasa, sesudah mengalami kegagalan ini tentu dia akan menyusun kembali kekuatannya dan membangkitkan semangat tempur anak buahnya, sebaliknya setelah Liong-kui-hong mendapat kemenangan, pasukannya pasti tinggi hati dan lengah, bila bertempur lagi secara terbuka, pihaknya pasti akan kalah.

Ya, betul, tentu Hok-siu-sucia itu juga sudah memikirkan hal ini, dia memang sangat lihai, seru Jit-jit. Cuma sekali ini bila Koay-lok-ong mengejar ....

Koay-lok-ong takkan mengejar, kata Sim Long. Sebab apa? tanya Jit-jit.

Di dunia ini mana ada unta yang lebih cepat daripada lari kuda? kata Sim Long. Tapi berlari di gurun pasir masa kuda dapat mencapai jauh?

Memangnya mereka tidak dapat berganti kuda? ujar Sim Long tertawa.

Betul juga, tertawa juga Jit-jit. Sudah lama Liong-kui-hong menguasai gurun ini, untuk mengganti kuda tentu sangat mudah baginya. Ong Ling-hoa berkata, Kupikir jika Hok-siu-sucia itu sedemikian memahami Koay-lok-ong, kuyakin dia pasti juga tahu sarangnya, saat ini kebetulan dia dapat menyerang sarangnya yang tak terjaga itu.

Jika betul begitu, Koay-lok-ong sungguh bisa celaka, kata Miau-ji. Mereka takkan celaka, kata Sim Long.

Pada waktu dia menang justru kau bilang dia akan celaka, sekarang dia akan celaka berbalik kau bilang dia takkan celaka, memangnya apa alasanmu?

Sarangnya itu kan pangkalannya yang sudah berakar kuat, mana mungkin dibiarkan orang mengetahuinya, ujar Sim Long. Sekalipun dia keluar, di sana tentu sudah disiapkan segala sesuatu untuk menahan serangan musuh, kalau tidak kan bukan lagi Koay-lok-ong namanya?

Tapi Hok-siu-sucia itu bisa jadi juga sangat paham seluk-beluk siasat Koay-lok-ong, kata Ling-hoa.

Urusan penting begini kecuali diberitahukannya kepada orang lain, kata Sim Long. Biarpun Hoksiu-sucia itu tergesa-gesa ingin menuntut balas, jika terburu nafsu, bisa jadi dia sendiri akan celaka.

Ah, belum tentu, jengek Ling-hoa.

Mendingan Sim Long tidak berkomentar, sekali dia bicara, kukira harus kau percaya kepadanya, ujar Miau-ji dengan tertawa. dia sendiri tidak mungkin *****

Malam tambah larut, angin semakin kencang dan pasir berhamburan.

Rombongan Koay-lok-ong tadi diam-diam meneruskan perjalanan, tapak unta yang berjalan di gurun pasir tidak banyak menimbulkan suara. Dengan sendirinya keleningan unta juga sudah dicopot.

Dari jauh tertampak sebuah kemah berdiri di depan sebuah bukit pasir, sekelilingnya terlihat bayangan orang sama duduk diam.

Itu dia! desis Fifi. Turun! Koay-lok-ong memberi tanda, lalu ia memberi aba-aba, Serbu!

Si nomor satu dari pasukan Angin Puyuh segera mendahului memimpin anak buahnya menerjang ke depan. Di mana pedangnya menebas seketika kepala manusia terpenggal.

Tapi si nomor satu lantas berteriak, Wah, celaka, kita tertipu!

Ternyata orang yang kelihatan duduk di situ semuanya orangorangan terbuat dari ikatan rumput.

Anak buah Koay-lok-ong sama tercengang, anggota Angin Puyuh sama melongo bingung. Inilah tipu memancing harimau meninggalkan gunung, seru Fifi dengan muka pucat.

Koay-lok-ong berdiri melenggong juga seperti patung, tidak bergerak juga tidak bicara, sikapnya kelihatan beringas. Dengan sendirinya orang lain pun tidak ada yang berani bicara.

Akhirnya Pek Fifi yang bersuara, Ayolah lekas kita kembali ke sana!

Si nomor satu juga menanggapi, Ini tentu tipu mereka pura-pura bersuara di timur dan mendadak menggempur ke barat, saat ini perkemahan kita pasti sudah diserbu, jika kita tidak lekas kembali ke sana mungkin tidak keburu lagi. Hm, biarpun saat ini juga kembali ke sana tetap tidak keburu, ujar Koay-lok-ong sambil menyeringai.

Si nomor satu tidak berani bersuara lagi.

Koay-lok-ong menatap jauh ke sana dan bergumam, Hm, hebat benar Hok-siu-sucia itu ....

Rasanya aku telah meremehkan dirimu. Dengan suara lembut Fifi berkata, Kalah atau menang adalah kejadian biasa di medan perang, hanya sedikit kekalahan saja apa artinya? Marilah kita lekas kembali ke sana.

Jika sekarang kita kembali ke sana, kita jadi benar-benar terjebak olehnya, kata Koay-lok- ong.

Sebab apa? tanya Fifi.

Tidakkah kau lihat mereka sama lesu dan patah semangat? desis Koay-lok-ong. Maklumlah, selama mereka ikut padaku memang belum pernah mengalami kekalahan di medan laga, sebab itulah hati mereka sama ragu sangsi, jika sekarang kita kembali dengan tergesa-gesa, bila musuh terus menyambut kita dengan gempuran dahsyat, tentu pasukan kita akan tambah hancur.

Pertimbangan Ongya memang tepat, ujar Fifi, Cuma ....

Mendadak Koay-lok-ong bergelak tertawa pula dan berkata, Hahaha, memangnya kalian mengira aku benar-benar terjebak oleh mereka?

Tergerak pikiran Fifi, ia tahu apa maksud Koay-lok-ong, segera ia pun mengikik tawa dan berkata, Ya, dengan sendirinya kutahu Ongya tak dapat tertipu.

Apa yang kulakukan ini memang sengaja kuberi rasa enak bagi mereka, supaya mereka lupa daratan dan lengah, dengan begitu aku akan dapat menghajar mereka dengan lebih dahsyat, tutur Koaylok-ong dengan tertawa keras. Meski sekali ini dia berhasil menyerbu perkemahan kita, memangnya terhitung apa? Yang kutinggalkan di sana kan cuma anak buah yang sudah tua dan lemah, kekuatan yang sebenarnya kan ikut kita ke sini.

Karena ucapannya ini, anak buahnya serentak sama bersemangat lagi.

Ya, dengan sendirinya Ongya takkan kalah selamanya, ucap Fifi. Serentak anak buahnya juga bersorak, Ya selamanya Ongya tak terkalahkan, hancurkan Liong-kui-hong! Matilah dia!

Ayolah anak-anak, mari kita serbu kembali ke sana, coba lihat apakah mereka berani menghadapi kita?! seru Koay-lok-ong.

Haha, mereka pasti akan lari mencawat ekor! sorak orang banyak beramai.

Hanya dengan beberapa patah kata saja Koay-lok-ong sudah dapat menggambarkan kekalahan sendiri menjadi kekalahan orang lain sehingga semangat anak buahnya yang sudah patah itu terbangkit kembali.

Meski wajah Pek Fifi kelihatan tersenyum, di dalam hati diam-diam ia merasa gegetun, Untuk menumpas orang ini sungguh tidak mudah.

Dilihatnya Koay-lok-ong berseri-seri, anak buahnya juga melangkah dengan gagah, kafilah unta itu berbondong-bondong kembali ke arah sana. Sungguh ajaib, keajaiban yang diciptakan Koay-lok-ong.

Tidak lama kemudian dapatlah Koay-lok-ong melihat perkemahan sendiri yang terbakar itu. Fifi menghela napas, Aku tidak sayang urusan lain kecuali satu hal saja.

Kau maksudkan Sim Long? tanya Koay-lok-ong dengan tersenyum.

Membiarkan Sim Long mati cara begini kan sangat sayang, ujar Fifi. Mestinya hendak kuperalat dia, habis itu akan kubikin dia mati konyol dengan segala macam siksaan.

Jangan khawatir, dia pasti takkan mati, ucap Koay-lok-ong dengan tertawa.

Dia kan tidak dapat bergerak, bila pasukan Liong-kui-hong menyerbu ke sana dan membakar kemah kita, mustahil dia dapat menyelamatkan diri? kata Fifi.

Orang lain tidak bisa, dia tentu bisa, ujar Koay-lok-ong. Tapi mustahil dia ....

Jika Sim Long tidak mampu membuat dirinya tetap hidup tentu dia takkan bernama Sim Long.

Angin menderu-deru, di tengah asap yang masih mengepul, mayat bergelimpangan berlepotan darah. Di bawah cahaya api kelihatan muka yang beringas dan keadaan yang mengerikan.

Menyaksikan kawan-kawannya sudah mati semua, anak buah Koaylok-ong menjadi jeri lagi, ada yang kelihatan gemetar.

Segera Koay-lok-ong berteriak lagi, Lihatlah, musuh kan sudah lari mencawat ekor Huh,

cuma mereka saja masa berani menghadapi kita secara terang-terangan?! Ayo, kejar! teriak orang banyak.

Jangan tergesa-gesa, memangnya mereka dapat lari? ujar Koaylok-ong, ia menyapu pandang sekejap sekelilingnya, mendadak ia berseru pula, Lekas singkap tenda induk itu, Sim Long pasti tertutup di bawahnya.

Semoga dia belum mati terbakar, ucap Fifi dengan tertawa.

Sim Long pasti tidak akan mati terbakar semudah itu, tukas Koaylok-ong.

*****

Dengan cepat api dapat dipadamkan. Dengan sendirinya dipadamkan dengan pasir.

Di gurun pasir air tidak nanti digunakan untuk memadamkan api, biarpun jenggot terbakar juga takkan disiram dengan air.

Si nomor satu sedang sibuk memimpin anak buahnya memeriksa ransum dan air minum yang masih tertinggal. Di gurun pasir air merupakan urat nadi manusia.

Sekarang Sim Long asyik minum air.

Koay-lok-ong lagi memandangnya sambil mengelus jenggot, katanya tiba-tiba, Pada waktu sebelum serbuan Liong-kui-hong, tentu engkau telah berusaha minta orang memindahkan kalian ke belakang kemah, bukan?

Sim Long tersenyum dan menjawab, Betul.

Meski keadaannya sekarang sangat runyam, namun senyuman khas tetap menghias wajahnya. Kalau tidak melihat sendiri tentu takkan percaya orang yang baru lolos dari maut itu masih dapat tersenyum. Jika begitu, tentu sebelumnya sudah kau perhitungkan kemungkinan serbuan Liong-kui- hong, bukan? tanya Koay-lok-ong pula.

Betul, jawab Sim Long.

Dan tidak kau katakan padaku?

Soalnya engkau tidak tanya, jawab Sim Long.

Koay-lok-ong menatapnya dengan sorot mata tajam, sampai sekian lama mendadak ia berteriak lagi, Baik, sekarang kutanya padamu, menurut pendapatmu, saat ini Liong-kui- hong dan pasukannya lari ke mana?

Mereka bukan lari, pihak yang menang perang kan tidak perlu lari, ujar Sim Long.

Alis Koay-lok-ong menegak, tapi segera ia bergelak tertawa, Ya, betul, mereka bukan lari. Tapi ke manakah perginya mereka?

Apakah perlu kau tanya padaku? Sekarang juga kutanya padamu.

Bila seorang memukul ular, bagian mana yang akan dihajarnya? Bagian leher tepat di bawah kepala.

Di mana bagian fatalmu? tanya Sim Long.

Gemerdep sinar mata Koay-lok-ong, mendadak ia tergelak pula, Haha, bagus! Sim Long memang tidak malu sebagai Sim Long Haha, bilamana tidak kubekuk dirimu seperti ini,

sungguh aku takkan pernah tidur nyenyak dan makan nikmat.

Dia terbahak-bahak, lalu berucap pula,Wahai Sim Long, apakah kau kira bagian kelemahanku itu mudah diserang?

Sekali serang sedikitnya akan membuat cedera tangannya, ujar Sim Long tersenyum.

Haha, masa cuma tangannya saja yang cedera? mendadak Koay-lok-ong berhenti

tertawa dan membentak, Di mana si nomor satu?!

Cepat si nomor satu membedal kudanya ke depan, serunya sambil memberi hormat, Tecu sudah memeriksa perbekalan dan ternyata tidak kekurangan, hanya air minum saja yang cuma cukup untuk persediaan satu hari, maka kita perlu memutar ke Kewat ....

Soal ini jangan diurus dulu, kutanya padamu, ketujuh tempat peternakan kuda yang kusuruh usahakan itu, tempat mana yang berjarak paling dekat dari sini? tanya Koay-lok- ong.

Ada yang terdekat, yaitu Pek-liong-tui (onggokan naga putih), jawab si nomor satu. Mungkinkah tempat itu diketemukan Liong-kui-hong? tanya Koaylok-ong pula.

Sambung jilid 36
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Baja Jilid 35"

Post a Comment

close