Pendekar Baja Jilid 33

Mode Malam
 
Jilid 33

Tidak kepalang gusar Koay-lok-ong atas ketidakbecusan anak buahnya, dampratnya, Dia belum lagi menggunakan senjata rahasianya dan kalian sudah lari lebih dulu. Sungguh berengsek! Kalian masih ada muka menemuiku lagi?

Lelaki itu menyembah dengan takut, Bila ... bila senjata rahasianya sampai digunakan, mungkin hamba tidak mampu menghadap Ongya lagi dengan hidup!

Kentut busuk, omong kosong! bentak Koay-lok-ong.

Senjata rahasianya bernama Sau-hun-sin-ciam. Karena kesaktian senjata itu, biarpun hamba bersembunyi di mana pun sukar menghindarinya.

Sau-hun-sin-ciam? Dari mana kau tahu?

Dia sendiri yang bilang dan hamba mendengarnya sendiri. Dia yang bilang sendiri dan kalian percaya begitu saja?

Rasanya mau tak mau hamba harus percaya ....

Sebab apa? Masa tidak tahu Sim Long sengaja menggertak kalian. Di dunia ini mana ada senjata semacam itu?

Lelaki itu menyembah dengan takut, Jika orang lain yang bilang begitu tentu hamba takkan percaya, tapi Sim ... Sim Long yang bilang ....

Dan kalian lantas percaya dan ketakutan. Hamba ... hamba memang rada ... rada takut ....

Merah padam muka Koay-lok-ong saking gusarnya, dengusnya, Hm, bagus, Sim Long, hanya beberapa patah kata saja dapat kau gertak lari anak buahku yang kupasang di sana. Tapi kau pun jangan harap dapat lolos.

Ia memandang alat ukur waktu di atas meja, lalu berucap pula, Hm, boleh coba kau langkahi dulu perangkap terakhir yang kupasang di luar taman hiburan ini, 180 busur keras sedang menantikan kedatanganmu.

*****

Waktu itu rombongan Sim Long sedang menyusuri hutan.

Segera kita dapat lolos keluar hutan ini, mari lekas, kata Jit-jit sambil menarik tangan Sim Long.

Ong Ling-hoa menyengir, katanya, Setelah keluar dari hutan ini juga belum tentu dapat kabur, tapi toh lebih baik daripada berdiam di dalam hutan. Menurut perhitungan waktu, rasanya kita memang bisa lari keluar hutan ini.

Tidak, kita tidak boleh keluar dari sini, kata Sim Long tiba-tiba.

Tidak keluar dari sini? Memangnya malah tinggal di sini? tanya Ong Ling-hoa dengan kening bekernyit.

Ya, terpaksa kita bersembunyi di sini. Sebab apa? tanya Ling-hoa.

Masa engkau tidak dapat menyelami dalil ini? Jika hal ini juga ada dalilnya, maka di dunia ini kurasa akan terlalu banyak dalil, jengek Ling-hoa.

Melepas harimau sangat gampang, menangkap harimau terlalu sulit, kata Sim Long, Apabila Koay-lok-ong tidak memperhitungkan dengan baik kita pasti sukar lolos dari sini, mana mau dia membiarkan kita pergi begitu saja?

Huh, kukira ini cuma omong kosong belaka, sedikitnya sudah berpuluh kali kau katakan hal ini, jengek Ling-hoa.

Sim Long tidak menghiraukannya, katanya pula, Bahwa orang ini dapat mencapai sukses sebesar ini, tentu setiap tindak tanduknya sangat cermat, biarpun dia tahu tenaga kita tidak tahan tetap juga takkan membiarkan kita lolos keluar dari sini.

Jika dia sudah memandang kita sebagai satu-satunya musuh tangguh, tentu tindak tanduknya takkan gegabah bicara sampai di sini nada Ong Ling-hoa tidak mengandung

ejekan lagi, serunya mendadak, Ya, betul, tentu dia takkan membiarkan kita keluar dari hutan ini, dia pasti sudah mengatur perangkap lain.

Benar, di luar hutan tentu sudah terpasang perangkap maut, kata Sim Long. Jika kita tidak dapat keluar dari hutan ini akan lain urusannya, tapi begitu kita muncul keluar, mungkin ....

Wah, lantas bagaimana baiknya? sela Jit-jit. Apakah kita manda terkurung begitu saja di sini?

Jiwa kita sekarang memang berbahaya, paling baik kita mencari tempat sembunyi yang aman di sini, sesudah malam tiba baru kita berdaya melarikan diri, ujar Sim Long.

Tapi di hutan seperti ini, mana ada tempat sembunyi yang aman? ujar Ling-hoa.

Him Miau-ji lantas menyambung juga, Saat ini di tengah hutan mungkin penuh jebakan, setiap tempat mungkin ada perangkap, ke mana dapat kita temukan tempat sembunyi yang baik?

Sim Long tertawa, Dengan sendirinya sudah kuperhitungkan ada tempat yang aman di tengah hutan ini, sebab itulah sengaja kugertak lari para pengintai tadi, supaya mereka tidak tahu ke arah mana kita pergi.

Meski kawanan pengintai tadi sudah lari kau gertak bukan mustahil di depan sana masih

ada pos penjagaan gelap, ujar Linghoa.

Kita justru tidak maju ke depan lagi melainkan mundur kembali ke arah semula, kata Sim Long. Jalan yang kita lalui tadi kini tentu sudah bersih dari pos pengintai, sebab Koay-lok- ong tentu tidak menyangka kita dapat mundur kembali ke sana.

Tapi tapi kita harus mundur ke mana? tanya Jit-jit.

Ya, di manakah tempat sembunyi yang aman di tengah hutan ini? si Kucing juga ragu. Pokoknya kalian ikut mundur saja bersamaku, nanti kalian akan tahu sendiri, kata Sim Long dengan tertawa.

Ong Ling-hoa menghela napas, Semoga perhitunganmu tidak meleset, sebab sisa waktu kita sekarang tidak ada setengah jam lagi. *****

Dengan tekun Koay-lok-ong sedang mencelupkan sumpit pada cawan arak, lalu mencorat- coret di atas meja.

Yang dilukis adalah peta taman hiburan ini, terdengar dia bergumam, Sim Long berada di sini Dari pos pengintai ke-12 sampai pos ke-30, semua penjaganya telah digertak lari.

Selanjutnya rombongannya pasti akan menuju ke depan lagi ....

Mendadak ia melemparkan sumpitnya dan berhitung, 31, 32, 33, apakah ketiga pos pengintai ini masih ada.

Ada! salah seorang lelaki menjawab dengan hormat.

Mengapa sampai sekarang belum ada kabar beritanya? omel Koaylok-ong. Hamba juga tidak tahu, jawab orang itu.

Pos pengintai di situ diatur oleh siapa? bentak Koay-lok-ong.

Seorang pemuda berdandan ringkas melangkah ke depan, katanya sambil menghormat, Tecu yang mengaturnya.

Pemuda ini kelihatan gagah perkasa, cermin pengaman di depan dadanya ada angka tiga, jelas dia jago ketiga dari pasukan gerak cepat Angin Puyuh.

Dan sekarang di luar sana masih ada berapa pos pengintai?

Kecuali pos ke-5 sampai ke-12 sudah ditarik kembali, lalu sampai pos pengintai ke-30 sudah kabur digertak musuh, saat ini masih ada 14 tempat pengintai lagi.

Kau atur di mana? tanya Koay-lok-ong.

Semuanya tersebar di luar hutan, lapor jago ketiga itu. Bilamana rombongan Sim Long hendak keluar dari hutan, ke mana pun mereka pergi pasti akan melalui ke-14 pos penjagaan itu.

Kau yakin? bentak Koay-lok-ong.

Tecu sudah meneliti dan mengukur dengan cermat setiap pelosok taman ini, rasanya takkan keliru.

Jika begitu, mengapa sampai saat ini belum lagi ada laporan susulan? tanya Koay-lok-ong. Padahal sisa waktu yang kuberikan tidak banyak lagi, tidak mungkin mereka berdiam di tempat semula tanpa bergerak, asal mereka maju lagi ke depan, seharusnya sudah datang laporan.

Mungkin mungkin mereka tidak sanggup berjalan lagi, ujar jago ketiga pasukan Angin

Puyuh itu.

Omong kosong! bentak Koay-lok-ong. Biarpun merangkak juga mereka akan berusaha kabur.

Jangan-jangan Sim Long telah berhasil membobol pos penjagaan kita.

Mana mungkin. teriak Koay-lok-ong.Sebelum tiba waktunya, mana dia berani turun tangan lebih dulu. Sebab bila dia turun tangan tentu aku pun tidak terikat oleh janji waktu yang kuberikan itu, betapa besar nyalinya tentu juga tidak berani sembarangan turun tangan.

Dengan menunduk jago ketiga itu mengiakan.

Kenapa tidak lekas pergi mencari kabar?! bentak Koay-lok-ong.

Cepat orang itu mengiakan pula terus berlari pergi. Koay-lok-ong memandang alat pengukur waktu dengan pasir yang tertaruh di depannya itu, katanya dengan gemas, Wahai Sim Long, ingin kulihat dapat kau lari ke mana? Betapa pun aku tidak percaya engkau dapat lolos dari jaringanku kecuali mendadak engkau bisa terbang. Tidak lama kemudian, si jago ketiga tadi berlari datang lagi, meski sedapatnya ia berlagak tenang, namun sukar menutupi rasa gugupnya.

Belum lagi orang mendekat Koay-lok-ong sudah lantas bertanya, Sesungguhnya apa yang terjadi? Lekas katakan?

Dengan hormat jago ketiga itu melapor, Sim ... Sim Long tidak menuju ke depan, semua pos pengintai di garis luar sana tiada satu pun yang melihat bayangannya.

Apa? Dia tidak ... tidak menuju ke depan? Memangnya dia tetap tinggal di tempat semula? Tecu juga sudah menyelidiki ke tempat itu, ternyata rombongan mereka pun tidak tinggal di situ.

Habis ke mana perginya? mau tak mau berubah juga air muka Koay-lok-ong. Dia ... dia seperti menghilang!

Bedebah Menghilang katamu? Memangnya dia menguasai ilmu menghilang? Apa betul dia punya sayap dan dapat terbang?

Hamba juga tidak percaya Tapi meski hamba sudah memeriksa ke segala pelosok tetap

tidak melihat bayangannya, dia benar-benar seperti mendadak menghilang dari muka bumi ini.

Mustahil, mana bisa terjadi hal begini? teriak Koay-lok-ong gusar. Tapi jelas dia Tutup mulut, bedebah! bentak Koay-lok-ong.

Seketika orang itu menunduk dan tidak berani bicara lagi.

Tiba-tiba salah seorang gadis di belakang Koay-lok-ong menyela, Jika dia tidak menuju ke depan, apakah tidak mungkin dia mundur ke belakang?

Mundur ke belakang? gumam Koay-lok-ong. Memangnya dia mencari jalan buntu sendiri? Masa dia ....

Mendadak ia gebrak meja dan berteriak, Aha, betul! Dengan kecerdikan Sim Long itu, tentu dia tidak melanjutkan ke depan, maka dia sengaja menggertak lari para pengintai agar dia dapat mundur tanpa diketahui.

Tapi mana dia berani ....

Dengan sendirinya sudah diperhitungkannya pos pengintai di bagian semula sudah ditarik, tentu dia memperhitungkan tidak kuduga dia akan mundur kembali ke arah semula, ia menggebrak meja pula dan berteriak, Berengsek, sungguh berengsek! Keparat ini memang setan, sudah puluhan tahun aku malang melintang, tapi tidak pernah ketemu lawan selihai dia sehingga aku salah hitung langkah ini.

Tapi biarpun dia mundur kembali ke arah semula, memangnya dia akan mundur ke mana? kata si jago ketiga.

Dengan sendirinya dia ingin mencari dulu suatu tempat sembunyi yang baik!

Di hutan kita ini apakah mungkin dia bisa menemukan tempat sembunyi yang baik? Memang tidak mungkin dia dapat bersembunyi, biarpun dia masuk ke bawah tanah juga akan kuseret dia keluar. Bila dia mampu tahan hidup sampai besok, anggaplah dia memang mahalihai. Mendadak ia tertawa latah, lalu berteriak, Di mana nomor pertama?

Seorang pemuda gagah segera tampil ke muka dan mengiakan dengan hormat. Kau bawa nomor sembilan dan nomor sepuluh dengan sembilan orang lagi coba mencari sekitar Ting-to-koan, bila menemukan jejak rombongan Sim Long, sementara jangan mengganggu mereka, tapi beri kabar dengan bunga api atau panah berapi.

Jago nomor satu pasukan Angin Puyuh itu mengiakan terus berlari pergi dengan sebelas orang anak buah.

Nomor dua! teriak Koay-lok-ong pula. Kau bawa nomor 11 dan 12 dengan sembilan anak buah yang lain menuju ke Siong-hiang-koan, coba geledah tempat sekeliling situ, asal menemukan jejak ....

Gembong iblis ini sungguh berbakat seorang panglima perang, meski dalam keadaan gusar dia dapat mengatur siasat dengan rapi, hanya sebentar saja anak buahnya telah dibagi menjadi 12 regu, setiap regu terdiri dari 12 orang, dibaginya 12 jurusan penyelidikan, dengan begitu hampir setiap jengkal hutan itu tidak terlolos dari pencarian mereka.

Ke-12 regu itu adalah pemuda gagah perkasa yang sudah lama terlatih, begitu mendapat perintah serentak mereka berangkat dengan cepat tanpa membuang waktu percuma.

Koay-lok-ong sendiri tetap menunggu di tempatnya untuk memimpin keadaan selanjutnya, jika ada berita segera dia menyusul ke tempat yang perlu bantuannya. Serupa laba-laba di pusat jaring yang dibuatnya, apalagi di luar hutan masih siap 180 orang pemanah, biarpun burung juga sukar melintasnya, sungguh rapat penjagaannya serupa jaring yang sukar dibobol.

Wahai Sim Long, sekarang ingin kulihat kalian dapat bersembunyi ke mana? Koay-lok-ong tertawa senang.

Di tengah suara tertawanya terdengar pula suara anjing menyalak, kiranya si nomor tiga dari pasukan Angin Puyuh membawa pula empat ekor anjing herder yang galak serupa singa lapar dan sedang berlari ke arah yang dilalui rombongan Sim Long tadi.

Hm, cukup dengan hidung beberapa ekor anjingku ini, coba dapatkah kalian bersembunyi? seru Koay-lok-ong.

*****

Waktu itu rombongan Sim Long sedang berjalan menyusur sungai. Mendadak Sim Long menarik Jit-jit dan melompat ke dalam sungai. Air sungai itu tidak dalam, hanya sebatas dengkul mereka saja.

Setelah melompat lagi ke tengah sungai, Sim Long berseru, Turun ke sini, semuanya, lekas!

Tanpa pikir Miau-ji ikut melompat ke dalam sungai.

Ong Ling-hoa hanya ragu sejenak, akhirnya ia mengangguk dan berpikir, Cara kerja Sim Long memang sangat cermat.

Tapi Jit-jit lantas menggerundel, Jalan di darat cukup lapang, kenapa kita harus berlarian di dalam sungai?

Kau tahu tempat yang kita lalui tadi tentu meninggalkan bau, manusia tidak dapat mencium bau ini, tapi sukar menghindari anjing pemburu yang hidungnya sudah terlatih. Sebab itulah terpaksa kita jalan di dalam air untuk menghindari pencarian anjing pemburu. Setelah masuk air, biarpun ada bau juga ikut hanyut terbawa air.

Ai, sungguh cermat cara pikirmu, ujar Jit-jit. Segala apa selalu kau pikirkan dengan lengkap.

Dilihatnya Sim Long lagi melompat-lompat sambil membentak perlahan, kawanan hewan yang berendam di dalam sungai itu dihalaunya menuju ke depan.

He, kau mau apa lagi tanya Jit-jit heran. Sim Long tersenyum, Segera engkau akan paham

.... Betapa pun takkan terduga oleh Koay-lok-ong bahwa kawanan hewan yang digunakannya untuk membikin keki kita sekarang menjadi alat pelarian bagi kita.

Alat pelarian? Jit-jit menegas dengan heran. Apa maksudmu?

Sim Long tidak bicara lagi melainkan terus menghalau kawanan hewan ke daratan arah datangnya tadi, kuda lari paling cepat di depan, anjing menyusul di belakang, lalu kambing, kerbau, kawanan babi yang gemuk tertinggal di belakang.

Mendadak Sim Long menggendong Jit-jit terus dibawa melompat ke sana, lebih dulu ia gunakan punggung babi sebagai batu loncatan, sekali lompat dicapainya punggung kerbau, dari punggung kerbau ia melayang lagi ke punggung kuda.

Dengan sendirinya Miau-ji dan Ong Ling-hoa menirukan caranya, setelah mereka berada di atas kuda, jarak mereka dengan sungai sudah ada belasan tombak jauhnya.

Setelah belasan tombak lagi jauhnya, Sim Long melompat turun dan menghalau pergi kuda yang mereka tunggangi, dengan sendirinya

kawanan hewan lain ikut lari jauh ke sana ikut kawanan kuda secara membabi buta. Sesungguhnya apa maksudmu ini? tanya Jit-jit.

Setiba di tepi sungai, bau yang dapat dilacak anjing pemburu tentu akan terputus, dengan sendirinya mereka akan menduga kita telah melompat ke dalam sungai dan menyeberang, mereka pasti akan meneruskan pencarian kita ke seberang, dengan demikian sukarlah bagi mereka untuk menemukan kita, tutur Sim Long.

Aha, betul, hanya engkau saja yang dapat menemukan akal sebagus ini! seru Jit-jit sambil berkeplok gembira.

Tiba-tiba terlihat pepohonan di depan sana mulai jarang-jarang, cahaya rembulan kelihatan terang, ada bangunan rumah indah, suasana sunyi senyap.

Hah, bukankah rumah ini tempat tinggal Koay-lok-ong? seru Miauji. Betul, kata Sim Long.

Masa kita akan ... akan bersembunyi di rumah Koay-lok-ong malah? Memang begitulah tujuanku.

Ah, apakah engkau tidak bergurau? ujar Miau-ji. Tidak, sama sekali tidak.

Masih banyak tempat sembunyi di hutan kenapa kita justru bersembunyi di sini? Sebab tempat inilah satu-satunya tempat sembunyi yang paling aman, kata Sim Long. Tempat sembunyi yang aman? Miau-ji menegas. Masa ... masa tempat ini kau katakan aman? Kan setiap saat Koay-lok-ong dapat pulang ke sini, lalu kita ....

Dia pasti takkan pulang ke sini, seru Sim Long.

Sementara itu mereka sudah masuk ke rumah itu, terpaksa Miau-ji ikut masuk, namun dia masih coba tanya lagi, Dari mana kau tahu dia takkan pulang ke sini?

Jika kita mendadak menghilang, apakah dia sempat pulang istirahat ke sini? tutur Sim Long. Saat ini mereka tentu sibuk mencari kita dengan lebih giat, jaringan mereka tentu lebih rapat daripada jaring laba-laba, Koay-lok-ong ibaratnya laba-laba yang menunggu di pusat jaringnya, begitu ada reaksi segera ia memburu ke tempat yang terjadi sesuatu.

Dengan sendirinya anak buahnya juga akan ikut menuju ke sana, sebelum kita ditemukan tidak nanti dia mau pulang ke sini. Saat ini di tengah hutan kukira juga cuma rumah ini saja yang kosong.

Tapi ... tapi mereka ....

Untuk sementara mereka juga takkan menggeledah ke sini, sebab dia juga tidak menyangka kita dapat bersembunyi di sini. Inilah titik lemah psikologi manusia.

Tapi bila sampai terpikir oleh mereka? ujar Miau-ji.

Apabila semua tempat sudah mereka cari dan tetap tidak menemukan kita baru tempat ini akan terpikir oleh mereka, kata Sim Long. Untuk mencari rata seluruh hutan yang luas sedikitnya mereka membutuhkan waktu beberapa jam. Sebab itulah umpama akhirnya mereka menuju ke sini, hal itulah baru terjadi sedikitnya tiga jam kemudian. Jadi di sini sedikitnya kita mempunyai waktu aman selama tiga jam.

Tapi tapi ini pun terlalu berbahaya, ujar Miau-ji.

Betul, cara ini memang juga rada berbahaya, tapi kita toh sukar

mencari jalan lain, terpaksa harus menyerempet bahaya dan untunguntungan, betapa pun cara ini juga lebih aman.

Ai, terkadang engkau sangat hati-hati melebihi orang perempuan, sering juga engkau sangat berani, kata Miau-ji.

Dan inilah kehebatan Sim Long yang kukagumi, ujar Ling-hoa.

Eh, kiranya ada juga kehebatan Sim Long yang kau kagumi, akhirnya kau bicara juga sejujurnya, kata Jit-jit dengan tertawa.

Tiba-tiba Sim Long berucap pula dengan tertawa, Dengan bersembunyi di sini juga masih ada faedah lain.

Faedah lain apa? tanya si Kucing. Saat ini di seluruh hutan ini mungkin cuma di dalam rumah ini saja tersedia makanan, jawab Sim Long. Sebab Koay-lok-ong memang orang yang suka pada makan-minum, bahkan barang makanannya pasti juga takkan beracun.

Sembari bicara ia pun sibuk mencari kian kemari, dan ketika dia berdiri lagi, secara ajaib tangannya sudah memegang sebotol arak dan setalam daging kering atau dendeng.

Hampir saja Jit-jit bersorak gembira, ucapnya dengan tertawa, Aha, Sim Long, engkau memang hebat, sungguh engkau adalah orang paling menyenangkan di dunia ini. *****

Di tengah hutan sana suasana sunyi senyap. Ada beratus orang sedang mencari jejak rombongan Sim Long tanpa mengeluarkan suara, hanya terkadang terdengar suara anjing menggonggong.

Sudah lebih satu jam Koay-lok-ong tidak bicara. Kalau dia tidak bicara, siapa lagi yang berani bersuara.

Malam tambah gelap, suasana semakin tegang penuh diliputi hawa pembunuhan.

Mendadak Koay-lok-ong menggebrak meja dan berteriak, Goblok! Semuanya goblok! Beratus orang mencari empat orang dan tidak menemukannya, untuk apa menjadi orang?

Selang satu jam pula, tiada seorang pun berani memandang wajah Koay-lok-ong lagi, air mukanya yang masam sungguh mengerikan.

Pada saat itulah baru terlihat si nomor satu muncul dengan lesu, sebelas orang yang dipimpinnya mengintil di belakang dan tidak berani mendekat.

Bagaimana, belum lagi kau temukan mereka? bentak Koay-lokong.

Si nomor satu menyembah, lapornya, Tecu sudah menjelajahi setiap jengkal sekeliling Ting-to-koan, tapi ... tapi tetap tidak menemukan bayangan keparat she Sim itu.

Sungguh tak becus! teriak Koay-lok-ong sambil menggebrak meja. Kepala si nomor satu menunduk rendah dan tidak berani berbangkit. Selang tak lama si nomor dua juga kembali dengan muka pucat.

Bagaimana, juga gagal menemukan mereka? tegur Koay-lok-ong. Tecu sudah mencari dan hampir ....

Sudahlah, tak perlu bicara lagi, bentak Koay-lok-ong dengan gusar. Semua tidak becus, tak berguna, hanya pandai gegares melulu.

Tentu saja si nomor dua juga ketakutan sehingga gemetar.

Menyusul si nomor empat, nomor lima dan lain-lain juga kembali dengan tangan hampa, semuanya berlutut tanpa berani bersuara, sebab keterangan mereka toh sama saja: Tidak menemukan bayangan Sim Long.

Berulang-ulang Koay-lok-ong menggebrak meja dan memaki, Tak becus!

Yang terakhir ialah si nomor tiga yang kembali dengan anjing pemburunya, mukanya juga kelihatan kecut.

Manusianya tidak becus, kawanan anjingmu tentu agak berguna, kata Koay-lok-ong. Cepat si nomor tiga memberi hormat dan melapor, Tecu membawa mereka mengejar sampai di tepi sungai, tapi ....

Ya, kutahu, Sim Long lebih cerdik daripada kalian, tentu dia turun ke sungai.

Si nomor tiga mengiakan.

Tapi bagaimana dengan seberang sungai? Mereka kan mendarat juga di seberang? bentak Koay-lok-ong.

Tecu telah membawa si Hitam dan si Kuning ke seberang, sampai lama dilacak, namun tidak menemukan sesuatu kelainan bau yang mencurigakan, lapor si nomor tiga.

Omong kosong, kentut busuk! teriak Koay-lok-ong. Memangnya Sim Long bisa menghilang melalui air sungai? Si nomor tiga hanya menyembah saja berulang dan tidak berani menjawab.

Bedebah! Semua tidak becus! damprat Koay-lok-ong pula. Ratusan orang mencari empat orang dan tidak menemukannya, Sim Long bukan setan atau siluman, masa benar dapat menghilang begitu saja?

Si nomor satu memberanikan diri bicara, Tecu sungguh sudah menggeledah setiap pelosok taman ini, biarpun sepotong batu permata yang hilang di taman juga Tecu yakin sanggup menemukannya.

Jika begitu, mengapa Sim Long justru tidak dapat kalian temukan? Koay-lok-ong mendengus, lalu menyambung, Apa bukan ....

Sampai di sini, sinar matanya gemerdep dan ucapannya mendadak terhenti.

Segera si nomor satu menukas, Hanya tersisa sebuah tempat saja di taman ini yang belum dicari, yaitu tempat istirahat Ongya. Mendadak Koay-lok-ong melompat bangun sambil meraung, Keparat, sudah kau pikirkan sejak tadi bukan? Dan kenapa tidak kau katakan?

Tecu juga tidak menyangka Sim Long akan ....

Goblok, semprot Koay-lok-ong. Dengan sendirinya dia mencari tempat sembunyi yang tak terpikir oleh siapa pun. Tolol, kenapa tidak kau katakan sejak tadi.

Nyata, dia tidak menyalahkan dirinya sendiri, sebaliknya marah kepada orang lain. Padahal dalam keadaan begitu, mana ada anak buahnya berani bicara selagi dia marah- marah.

Tentu saja anak buahnya tidak berani membantah, terpaksa si nomor satu hanya menyembah saja dan minta ampun.

Habis mau tunggu apa lagi kalau tidak lekas mencari ke sana? bentak Koay-lok-ong.

*****

Dalam pada itu rombongan Sim Long sudah beristirahat lebih satu jam di tempat Koay-lok- ong itu.

Mereka sudah teramat letih, tapi dalam keadaan demikian mana ada yang dapat tidur pulas.

Walaupun begitu, setelah beristirahat, tenaga mereka sudah pulih tidak sedikit, terlebih Sim Long, semangatnya kelihatan menyala serupa orang sudah kenyang tidur.

Jit-jit mendekap dalam pangkuannya serupa seekor kucing kecil, sungguh kalau bisa dia tidak mau melepaskan diri dari dekapan Sim Long.

Sebaliknya Him Miau-ji yang merasa tidak tenteram, akhirnya ia tanya, Bagaimana, kapan kita akan menerjang keluar? Sabar dulu, tunggu lagi sebentar, ujar Sim Long dengan tersenyum.

Terdengar suara anjing menggonggong yang ramai, tapi rasanya seperti di tempat yang sangat jauh.

Aneh, kata Miau-ji dengan gegetun, mereka ternyata benar tidak mencari ke sini. Hah, orang sebanyak itu ternyata tiada seorang pun ingat pada tempat ini.

Hal ini disebabkan Koay-lok-ong memang terlalu lihai, ujar Sim Long dengan tertawa. Jit-jit tertawa geli, katanya, Orang sudah kau tipu, masih kau puji sebagai lihai. Koay-lok-ong sesungguhnya dia memang bukan orang bodoh, sebab itulah setiap tindak tanduknya sehari-hari biasanya diputuskan dan harus dilaksanakan menurut perintahnya, orang lain sama sekali tidak ada hak bicara.

sok menganggap dirinya orang mahapintar, Betul, dia memang seorang diktator, kata Jit-jit.

Tapi sekali ini dia toh lengah juga, ujar Sim Long. Hal ini disebabkan tempat tinggal pribadinya, pada umumnya orang suka lena terhadap segala sesuatu yang berada di sekelilingnya dan lebih memerhatikan hal-hal yang jauh letaknya dari dia. Semakin pintar dan cerdik seorang semakin begitu jalan pikirannya, sebab itulah orang yang mahapintar terkadang juga lupa pada hal-hal yang sepele, mungkin melupakan tempat dia taruh sepatunya.

Engkau ternyata sangat memahami psikologis setiap macam orang, ujar Jit-jit. Terkadang aku sangat heran, engkau sendiri juga manusia, mengapa engkau jauh lebih paham daripada orang lain.

Umumnya bila terjadi sesuatu keteledoran tentu akan diingatkan oleh pembantu atau anak buahnya, tutur Sim Long. Tapi Koay-lokong sudah terbiasa main kuasa dan perintah, orang lain sama sekali tidak ada hak bicara di depannya.

Ai, rasanya ingin kupergi padanya dan memberitahukannya bahwa betapa pintarnya seorang saja tetap tidak lebih pintar daripada gabungan otak seratus orang, kata Jit-jit dengan gegetun. Setiap orang tentu tak terhindar daripada keteledoran, terkadang sedikit teledor saja sudah cukup fatal.

Tapi ... mengapa sampai sekarang tiada seorang pun menjenguk ke sini? sela si Kucing. Tanpa perintah Koay-lok-ong, siapa yang berani sembarangan datang ke tempat tinggal pribadinya? ucap Sim Long dengan tertawa.

Aha, betul, seru si Kucing. Soalnya dia terlalu lihai, maka membikin susah sendiri. Jika demikian, tampaknya seorang akan lebih baik jangan kelewat lihai.

Bicara sampai di sini, keadaan di luar sekonyong-konyong berubah menjadi sunyi secara aneh.

Tadi meski di luar juga sunyi, tapi toh ada suara desir angin dan gemeresik rumput dan daun, ada juga suara gonggong anjing. Tapi sekarang keadaan sunyi senyap seperti kuburan.

Malam sudah larut, cahaya rembulan menembus masuk melalui jendela dan menyinari wajah Sim Long.

Air muka Sim Long agak berubah, ia melompat bangun dan berkata, Sekarang segenap pelosok sudah dicari mereka, kukira segera mereka akan mencari ke sini. Ayo, lekas kita berangkat!

Serentak Jit-jit dan Ong Ling-hoa ikut melompat bangun dan keluar.

Sekilas pandang Him Miau-ji melihat di atas meja ada alat diambilnya pensil dan ditulisnya delapan huruf besar di dinding yang putih bersih itu, bunyinya: Atas pelayanan yang baik ini kami mengucapkan terima kasih. Habis itu, rasanya dia belum puas, di sampingnya ditambahi lagi sebaris huruf kecil yang berbunyi: Cuma sayang arak yang tersedia terlalu sedikit.

*****

Cahaya rembulan yang agak guram menyinari taman lebat yang sunyi.

Di balik bayang pohon dan semak seakan-akan tersembunyi perangkap maut yang tidak kelihatan.

Dengan napas terengah perlahan Jit-jit mendesis, Saat ini kita hendak ke mana? Sebentar bila kukatakan berangkat, segera Miau-ji dan Ong-kongcu akan membawamu mengitar ke sebelah gardu kecil sana dan langsung menuju ke gua di belakang rumah berhala, cuma ingat, jangan terlalu dalam masuk ke dalam gua.

Rumah berhala? Kelenteng malaikat bunga itu? Hah, gua itu ... bukankah Koay-lok-ong berada di sana? kata Jit-jit terperanjat.

Sim Long tersenyum, Betul. Bilamana Koay-lok-ong mendadak ingat ada kemungkinan kita berada di sini, tentu dengan segera dia akan memburu kemari. Dia tentu sangat gusar dan juga malu atas keteledoran sendiri, maka seluruh kekuatannya pasti akan dikerahkan ke sini dan tidak mungkin meninggalkan kekuatan induk di sana, sebab itulah ....

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung, Umpama di sana ada penjaga, dengan kekuatan kalian bertiga tetap mampu menghadapi mereka, jarak gua itu dari sini agak jauh, andaikan timbul suara ribut waktu kalian turun tangan tentu tak terdengar dari sini.

Tapi tempat lain Tempat lain tidak lebih baik daripada gua itu, sela Sim Long. Pertama

tempat itu lebih terpencil, juga lebih banyak tempat yang dapat dibuat sembunyi.

Ya, betul juga, kata Jit-jit setelah berpikir.

Kedua, gua itu sudah terletak di luar lingkungan hutan ini, jalan lolos juga lebih banyak, di tengah malam gelap setiap saat kita dapat mencari kesempatan untuk menerjang keluar.

Jit-jit dan Miau-ji sama membenarkan.

Dan ketiga, Koay-lok-ong adalah orang pintar dan sukar dibandingi orang biasa, meski dia mengerahkan kekuatan induknya ke sini, terhadap tempat lain tentu juga tidak diabaikan begitu saja, demikian tutur Sim Long pula. Maka menurut perkiraanku, tentu dia telah membagi anak buahnya menjadi sepuluh sampai lima belas regu, sedikitnya separuh di antaranya akan dikerahkan ke sini dan separuh yang lain akan dipencarkan berbentuk kipas untuk mencari di seluruh hutan dan saling kontak dengan bunga api atau panah bersuara. Sebab itulah kecuali gua rahasia balik rumah berhala itu, setiap tempat di hutan ini penuh bahaya.

Sekali ini sampai Ong Ling-hoa juga manggut-manggut, katanya, Ya, betul, keteledoran Koay-lok-ong tadi adalah tempat tinggalnya sendiri, sekarang tempat yang kurang diperhatikan pastilah gua di balik rumah berhala itu.

Miau-ji mengangguk, katanya, Betul, jika aku menjadi Koay-lok-ong, tentu juga tidak memerhatikan gua di belakang rumah berhala itu, sebab ia sendiri baru saja meninggalkan tempat itu. Saat ini justru kita menggunakan kelemahan psikologis Koay-lokong ini, dengan demikian barulah kita ada harapan untuk menang, kata Sim Long.

Sejak tadi Jit-jit diam saja, kini mendadak ikut bicara, Tapi bila ... bila meleset perhitunganmu, lalu bagaimana?

Pertarungan ini jelas akan menentukan mati-hidup kita, tentu juga kita mempertaruhkan nyawa kita pada gebrakan terakhir ini. ujar Sim Long. Ia menengadah dan menghela napas, lalu menyambung, Sebab itulah kita mempertaruhkan mati-hidup ini, sungguh pertaruhan paling besar yang pernah terjadi.

Habis berkata, semua orang lantas terdiam, perasaan semua orang sama tertekan, Miau-ji menengadah dan memandang langit, gumamnya, Mempertaruhkan mati dan hidup, berjudi dengan nyawa Memang benar pertaruhan besar.

Wahai Sim Long, semoga perhitunganmu tidak meleset, sebab pertaruhan ini tidak cuma menyangkut jiwamu saja melainkan jiwa kami bertiga juga ikut dipertaruhkan padamu, sambung Ong Linghoa.

Sim Long tersenyum getir, katanya, Kuharap kalian jangan bertaruh dengan nyawa sendiri melainkan cuma ....

Maksudmu supaya kami bertiga pergi ke gua itu? sela Jit-jit mendadak. Betul, kalian bertiga.

Habis engkau sendiri? tanya Jit-jit. Kutinggal di sini.

Hah, engkau tinggal di sini? Sebab apa? tanya Jit-jit khawatir.

Jika kita pergi semua, segera anjing pemburu itu akan menyusul tiba, sebab itulah aku harus tinggal di sini untuk memancing kawanan anjing itu dan kalian dapat menungguku di sana dengan aman.

Jit-jit tetap khawatir, katanya, Tapi kekuatan mereka sudah sudah dikerahkan ke sini,

juga Koay-lok-ong sedemikian lihainya, bila engkau tinggal sendirian di sini, apakah tidak berbahaya? Meski berbahaya, terpaksa harus kulakukan, kata Sim Long.

Jit-jit terus merangkulnya, katanya dengan gemetar, Tidak, jangan, tak boleh kau tinggal sendirian di sini. Sekali-kali tidak boleh.

Ai, jangan seperti anak kecil, Jit-jit, ucap Sim Long lembut. Tunggu saja di sana.

Ti ... tidak, tidak Jit-jit mengentak kaki, air mata pun bercucuran. Ia menatap Sim Long

seperti mohon dikasihani, O, kumohon dengan sangat, paling tidak biarlah kuiringimu di sini.

Perlahan Sim Long membelai rambutnya, ucapnya lembut, Kau tinggal di sini hanya akan menambah bahayaku saja, apakah kau ingin menambah bahayaku?

Tapi ... tapi bila air mata Jit-jit berderai dan tidak sanggup melanjutkan.

Jika aku mengalami sesuatu bahaya, kan lebih baik daripada empat orang mati seluruhnya, ujar Sim Long. Kutinggal di sini, dengan demikian barulah kita ada harapan untuk hidup, kalau tidak, mungkin ....

Bila engkau mengalami sesuatu, aku ... aku .... Jangan khawatir, aku takkan mati, di dunia ini tak ada orang yang dapat membunuhku semudah ini, ujar Sim Long dengan tertawa. Sekalipun Koay-lok-ong juga tidak, engkau harus percaya padaku.

Jit-jit memandangnya lekat-lekat, sampai lama barulah ia berucap pula dengan sedih, Kupercaya padamu, engkau takkan mati, demi membela diriku juga engkau tidak boleh mati.

Miau-ji mengucek mata dan menyengir, Mengapa di dunia ini selalu terjadi hal-hal yang membuat orang mengucurkan air mata, mengapa ....

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara gemeresik perlahan dari kejauhan.

Ssst, lekas berangkat! desis Sim Long.

Jit-jit masih ingin memeluknya, tapi Sim Long segera mendorongnya pergi, Miau-ji lantas menarik si nona, bersama Ong Ling-hoa mereka terus berlari ke arah gardu kecil itu.

Di bawah remang cahaya rembulan Jit-jit masih menoleh dan memandang Sim Long dengan rasa berat ....

*****

Dalam kegelapan mendadak muncul bayangan orang banyak, setiap orang berjalan dengan perlahan dan ringan tanpa menerbitkan suara sedikit pun. Cuma lantaran jumlah orangnya terlalu banyak, betapa pun tetap menimbulkan suara gemeresik perlahan.

Sim Long serupa kucing saja bersembunyi di tempat gelap dan mengamati segala sesuatu dengan tenang.

Berpuluh sosok bayangan orang segera terpencar setiba di depan rumah ini sehingga rumah yang tidak terlampau besar ini terkepung rapat.

Orang-orang ini sama bersenjata yang disembunyikan di belakang tubuh seakan-akan khawatir cahaya golok akan mengejutkan orang di dalam rumah, setiap orang itu sama bergerak dengan enteng dan gesit.

Anak buah Koay-lok-ong memang jago pilihan semua, diam-diam Sim Long membatin. Dalam pada itu dilihatnya 30-40 orang membanjir tiba pula, semuanya membawa busur dan panah, mereka pun mengepung rumah ini.

Berpuluh orang yang datang belakangan ini jelas lebih rendah kungfunya, sebab langkah mereka telah menimbulkan suara gemeresak, cuma sekarang rumah kecil ini sudah terkepung seluruhnya, agaknya mereka tidak khawatir lagi akan diketahui musuh.

Diam-diam Sim Long berpikir pula, Koay-lok-ong benar-benar luar biasa, dalam keadaan demikian dia masih dapat mengatur siasat dengan teratur tanpa kacau sedikit pun. Jika setiba di sini dia terus menerjang masuk begitu saja akan terlihat kecerobohannya.

Nyatanya anak buahnya semua bertindak dengan tenang.

Dan baru sekarang dilihatnya Koay-lok-ong muncul.

Mata Koay-lok-ong serupa gemerdep batu permata dalam kegelapan, meski dia cuma berdiri tenang di sana, namun sikapnya yang gagah berwibawa itu sudah cukup membikin keder orang. Sekonyong-konyong ia memberi tanda, ratusan anak buahnya serentak bertiarap. Lalu Koay-lok-ong berteriak, Sim Long, ayolah keluar sekarang, kalian sudah terkepung rapat dan jangan harap akan lolos dari sini.

Pada hakikatnya di dalam rumah tidak ada orang, dengan sendirinya tidak ada sesuatu suara jawaban.

Dengan suara bengis Koay-lok-ong berkata pula, Wahai Sim Long, kuhormati engkau sebagai seorang kesatria, sebab itulah kubiarkan kau keluar sendiri, memangnya engkau tidak tahu diri dan minta kuturun tangan?

Tentu saja tetap tiada suara jawaban. Baik, teriak Koay-lok-ong, jika begitu ....

Ia memberi tanda, serentak berpuluh obor dinyalakan, keadaan menjadi terang benderang. Di tengah gemerdepnya cahaya api, lebih 20 orang lain segera menyerbu maju. Blang, ada yang mendobrak pintu, ada yang menerjang jendela.

Setelah rombongan orang itu menyerbu ke dalam rumah, segera ada yang berteriak, Hah, Sim Long tidak berada di sini!

Air muka Koay-lok-ong berubah, tanpa kelihatan dia bergerak, tahutahu ia melayang masuk di tengah kerumunan orang banyak.

Diam-diam Sim Long memuji Ginkang orang yang tinggi.

Geledah seluruh rumah ini! dengan bengis Koay-lok-ong memberi perintah. Lalu ia memberi tanda tepukan tangan.

Seorang kekar lantas bersuit, menyusul dalam kegelapan sana lantas bergema suara anjing menyalak.

Sim Long menarik napas panjang, diam-diam disiapkan belasan biji mata uang. Tertampak si jago nomor tiga pasukan Angin Puyuh berlari datang dengan membawa empat ekor anjing buas.

Keempat anjing ini adalah jenis herder, tampangnya buas, suaranya galak, serupa empat ekor singa lapar saja mereka meraung-raung. Kedelapan biji mata mereka serupa delapan lentera dalam kegelapan.

Mendadak Sim Long menyambitkan senjata mata uang yang digenggamnya. Kontan kedelapan lentera itu padam seluruhnya. Rupanya biji mata mereka telah buta semua tertimpuk oleh mata uang yang dihamburkan Sim Long.

Keruan kawanan anjing itu sama meraung kesakitan dan juga kalap, si nomor tiga tidak mampu menguasainya lagi, keempat ekor anjing buas yang sudah buta itu lantas menubruk serabutan serupa harimau gila, dengan ngawur setiap apa yang tertubruk segera digigitnya. Hanya sekejap saja sudah dua orang tergigit lehernya dan binasa.

Tentu saja keadaan menjadi kacau.

Namun Koay-lok-ong tetap tenang saja, bentaknya, Bunuh anjing dan kejar musuh! Berpuluh golok serentak bekerja, kawanan anjing lantas menggeletak menjadi bangkai. Dalam pada itu Sim Long sudah melayang jauh ke sana, disangkanya musuh sukar mengejarnya lagi. Waktu ia menoleh, mendadak diketahui tidak jauh di belakangnya ada sepasang mata yang mencorong. Ternyata Koay-lok-ong sendiri yang mengejar tiba.

Di tengah taman segera bergema suara suitan di sana-sini dan sahut-menyahut. Sembari mengejar Koay-lok-ong terus-menerus bersuit untuk memberi tanda kepada anak buahnya yang sudah siap di sekeliling, ia mengejar sampai di mana, dengan sendirinya Sim Long juga berada di situ.

Sim Long menyadari telah terjeblos dalam kepungan dan setiap saat bisa muncul pengadang. Dia tidak takut kepada pengadang yang

akan muncul, tapi jeri terhadap Koay-lok-ong yang masih terus mengejar dari belakang.

Ia tahu tenaga sendiri terlalu banyak susut, dalam keadaan demikian hanya ada jalan kematian baginya bila bergebrak dengan Koay-lokong.

Apalagi sekarang jelas ia tidak dapat lolos keluar hutan ini, barisan pemanah yang berjaga di luar hutan tidak mungkin dapat ditahan oleh tubuh yang terdiri dari darah-daging.

Keadaan semakin gawat. Sim Long sudah mandi keringat. Haha, hendak lari ke mana, Sim Long? seru Koay-lok-ong dengan tertawa. Kenapa tidak berhenti saja dan marilah kita bertempur menentukan mati dan hidup.

Ia menantang, sebab sudah diperhitungkannya saat ini Sim Long pasti bukan tandingannya.

*****

Di tempat lain, Jit-jit bersama Ong Ling-hoa dan Him Miau-ji sudah tiba di gua itu dengan selamat. Tertampak ada empat-lima anak dara sedang membersihkan meja di situ.

Terdengar seorang di antaranya sedang berkata dengan tertawa, Wah, hari ini Ongya benar-benar marah besar, selama ini belum pernah kulihat beliau marah sehebat ini. Tampaknya bocah Sim Long itu memang boleh juga.

Seorang lagi menanggapi, Memang betul, bahkan baru sekarang Ongya merasa terjungkal di tangan lawan. Padahal bocah itu kelihatan lemah lembut, tak tersangka dia seorang tokoh selihai itu.

Menurut pendapat kalian, dapatkah dia melarikan diri malam ini? ujar seorang lagi yang bermuka bulat.

Betapa tinggi kepandaiannya toh seorang sukar melawan orang banyak, kata gadis pertama tadi. Kukira dia tak dapat lolos. Kalian mungkin tidak kenal ilmu silat Ongya, aku sendiri pernah menyaksikannya, wah, kungfu Ongya sungguh sangat mengejutkan.

Ai, usia Sim Long masih muda, jika dia mati begitu saja, rasanya sangat sayang, ujar gadis kedua tadi.

Gadis pertama tertawa ngikik, Hihi, tampaknya kau jatuh hati kepadanya.

Pemuda cakap serupa Sim Long itu, siapa yang tidak suka padanya? kata si muka bulat. Diam-diam Jit-jit geregetan karena kawanan budak itu berani menaksir kekasihnya.

Kita terjang ke sana? tanya Miau-ji dengan suara tertahan. Apakah perlu padamkan dulu lampunya? Jit-jit juga bertanya.

Nanti dulu, ujar Ling-hoa. Mereka berlima, jika sekaligus tak dapat kita binasakan semua, asal seorang saja menyiarkan tanda bahaya, tentu kita bisa runyam. Wah, lantas bagai ... bagaimana baiknya? keluh Jit-jit.

Kalian menunggu di sini dan jangan sembarangan bergerak, biar kudekati mereka dulu, kata Ling-hoa sesudah berpikir.

Dilihatnya si muka bulat sedang mengangkat sisa arak yang tidak habis diminum Koay-lok- ong, katanya dengan tertawa, Wahai Sim Long, lebih dulu kuhormatimu secawan, semoga kau mati.

Eh, bukankah kau suka padanya? Kenapa kau doakan dia mati malah? tanya seorang kawannya.

Umpama dia tidak mati, kita kan juga tidak akan kebagian untuk menyukai dia, biarkan saja dia mati dan habis perkara, supaya tiada seorang pun dapat memiliki dia.

Ai, keji benar hatimu, ujar kawannya dengan tertawa. Hati orang perempuan memang ....

Belum lanjut ucapan si muka bulat, tahu-tahu Ong Ling-hoa sudah mendekati dan menegurnya dengan tertawa, Meski mulutmu bicara keji, tapi hatimu sangat baik, betul tidak?

Kawanan gadis itu sama terkejut, seperti mau menjerit, tapi demi melihat sikap Ong Ling- hoa yang ramah tamah dengan wajah tersenyum simpul, rasa kaget dan takut mereka menjadi berkurang. Apalagi terlihat Ong Ling-hoa juga seorang pemuda cakap, maka mereka tidak takut lagi, sebaliknya memandangnya dengan terkesima.

Si muka bulat menatap Ling-hoa dengan kerlingan genit, omelnya, Huh, kau berani datang ke sini, apakah engkau tidak takut mati?

Ia sengaja berlagak galak, tapi sedikit pun tidak menakutkan.

Dengan suara halus Ling-hoa menjawab, Jika aku dapat mati di tangan para nona yang putih halus, mati pun kurela.

Hm, kau kira karena gagah dan cakap, lantas kami tidak tega membunuhmu? semprot gadis satunya lagi.

Sebenarnya aku tidak berani datang kemari, tapi melihat para nona secantik bidadari, sungguh aku tidak tidak tahan. Apalagi aku memang juga menghadapi jalan buntu,

kalau bisa mati di tangan para nona tentu akan lebih baik daripada mati di bawah tangan orang lain. Nah, boleh nona turun tangan membunuhku sekarang.

Sembari bicara Ling-hoa melangkah lebih dekat lagi.

Gadis yang mengancam itu tertawa ngikik, Hihi, coba betapa kasihan cara bicaranya! Diam-diam Him Miau-ji yang bersembunyi di kejauhan itu menggeleng kepala, katanya, Cara Ong Ling-hoa menghadapi anak perempuan memang boleh juga

Dengan sendirinya ia tahu anak-anak perempuan ini diawasi dengan keras oleh Koay-lok- ong, biasanya tidak dapat bergerak dengan bebas, maka bila Koay-lok-ong tidak berada di sini, dengan sendirinya mereka ingin mengumbar ....

Wah, tampaknya engkau sangat memahami perasaan orang perempuan, ujar Miau-ji. Aku sendiri kan juga orang perempuan? sahut Jit-jit tertawa.

Dalam pada itu kelihatan Ong Ling-hoa lagi berlagak mohon kasihan dan berkata, Kutahu kebaikan hati para nona dan tentu tidak tega turun tangan pada orang yang pantas dikasihani. Tapi bila nonanona tidak membunuhku, kukira kalian akan terembet dan bikin susah sendiri.

Ai, tampaknya engkau sangat pandai memikirkan perasaan orang lain, kata gadis itu dengan menyesal. Cuma sayang ....

Nona tidak perlu memberi penjelasan, aku cukup mengetahui kedudukan para nona yang serbasulit, ujar Ling-hoa. Aku memang tidak dapat lari keluar dan akan mati di sini, mana boleh kubikin susah lagi para nona. Cuma sebelum sebelum kumati, ingin kumohon

sesuatu kepada para nona.

Katakan saja, urusan apa pun tentu kuterima, sahut si muka bulat. Habis berucap, mendadak mukanya menjadi merah.

Mata Ong Ling-hoa memandang, dalam hati tertawa, ucapnya kemudian, Aku cuma berharap para nona sudi mengiringiku minum secawan arak, habis itu mati pun kurela.

Mendengar harapan Ong Ling-hoa hanya ingin minum secawan arak saja, kawanan gadis itu seperti merasa kecewa, si muka bulat menggigit bibir, katanya, Hanya itu saja keinginanmu?

Melulu ini saja sudah cukup puas bagiku, mana kuberani memohon urusan lain, jawab Ling-hoa dengan pedih.

Huh, penakut, omel si muka bulat.

Ong Ling-hoa berlagak tidak paham, tanyanya, Apakah nona tidak terima permintaanku? Si muka bulat menggigit bibir dan memandangnya dengan tertawa, katanya, Kau tahu tadi bila kau minta hal lain tentu kami juga akan menerima dengan baik.

Ong Ling-hoa pura-pura terkesiap, ucapnya dengan tergegap, Aku ... aku ... sekarang ....

Sekarang sudah terlambat, tolol, omel si muka bulat sambil mencubit pipi Ling-hoa. Nah, tuangkan arak saja.

Kawanan gadis itu lantas tertawa cekikak-cekikik memandangi Ong Ling-hoa yang kelihatan lesu dan menuangkan arak bagi mereka.

Segera si muka bulat mendahului mengangkat cawan, tiba-tiba katanya dengan tertawa genit, Jangan sedih, sehabis minum arak ini, bisa jadi masih ada kesempatan bagimu.

Ling-hoa berlagak seperti kegirangan setengah mati sehingga arak dalam cawan yang dipegangnya tercecer membasahi bajunya.

Kawanan gadis itu tambah geli melihat kelakuannya, semuanya tertawa ngikik dan berolok-olok, Huh, penakut ... tolol ....

Maka satu per satu pun menghabiskan cawan masing-masing.

Ong Ling-hoa kelihatan terkesima dan bergumam, Semoga masih ada kesempatan, cuma sayang ....

Cuma sayang apa? tanya si muka bulat. Sayang ... sayang ... sayang ....

Berturut Ling-hoa berucap sayang tiga kali dan sorot mata kawanan gadis yang genit itu mendadak sama berubah warna, biji mata yang bening dengan hitam-putih yang jelas itu mendadak berubah menjadi pucat kelabu.

Mereka ingin menjerit, tapi tidak dapat bersuara lagi. Mereka ingin lari, namun tubuh lantas roboh terkulai. Ling-hoa memandangi mereka sambil menggeleng, Sayang, sayang ... bila seorang lelaki terpaksa harus membunuh perempuan yang jatuh hati kepadanya, sungguh kejadian yang sangat tidak menyenangkan.

Waktu ia menoleh, tertampak Him Miau-ji dan Cu Jit-jit telah muncul dari tempat sembunyinya, dengan tertawa ia berkata, Apakah kalian tahu ada racun lain di dunia ini yang lebih cepat bekerjanya daripada racun yang kugunakan ini? Telah kubunuh mereka secara cepat, rasanya aku tidak terlalu berdosa kepada mereka.

Miau-ji dan Jit-jit hanya saling pandang saja dan tidak memberi komentar.

Selang sejenak, akhirnya Jit-jit berkata, Sudah waktunya Sim Long datang kemari. Ya, semoga dia lekas kemari, kalau tidak ....

Kalau tidak bagaimana? potong Jit-jit sebelum lanjut ucapan Linghoa.

Kalau tidak, terpaksa kita tidak dapat menunggu lagi, jawab Linghoa sekata demi sekata. Omong kosong, sungguh manusia tidak punya perasaan, jika tidak ada dia, dapatkah kau lari sampai di sini? damprat Jit-jit dengan gusar. Masa sekarang kau bilang takkan menunggu dia lagi?

Hm, jika bukan dia, pada hakikatnya aku takkan jatuh dalam cengkeraman Pek Fifi, terlebih takkan jatuh dalam cengkeraman Koay-lok-ong, memangnya aku mesti berterima kasih padanya malah? jengek Ling-hoa.

Mengapa tidak kau katakan hal ini di depannya? bentak Jit-jit.

Karena aku tidak berani, puas? dengus Ling-hoa pula. Hm, kusangka engkau sudah sedikit mempunyai pikiran manusia, siapa tahu ....

Belum habis ucapan si Kucing, Ong Ling-hoa telah menarik tangannya dan berkata, Miau- heng, coba kau pikirkan lagi, jika kita tinggal lebih lama di sini tentu akan semakin berbahaya. Daripada kita mati konyol di sini, kan lebih baik kita lari lebih dulu, bisa selamat berapa orang pun lebih baik daripada mati seluruhnya.

Kenapa kenapa kau bicara demikian omel Jit-jit gemas.

Kata-kata ini kan ucapan Sim Long sendiri, ujar Ling-hoa. Kuyakin dalam keadaan demikian Sim Long pasti juga bertindak sama.

Miau-ji, bagaimana ....

Aku tidak dapat meninggalkan Sim Long, sahut si Kucing tegas.

Ai, kenapa kalian tidak mau berpikir dengan akal sehat? ujar Linghoa dengan gegetun. Saat ini perhatian Koay-lok-ong pasti seluruhnya ditumplakkan atas diri Sim Long, kesempatan ini dapat kita gunakan untuk lari dengan harapan sangat besar akan berhasil.

Biji matanya berputar, ia berkata pula dengan tertawa, Apalagi, bila Sim Long tidak ditambahi beban kita bertiga, ia sendiri pasti dapat lolos dari sini, masakah kalian tidak percaya kepada kemampuannya ini?

Ini ... ini si Kucing menjadi ragu, nyata hatinya rada tergerak oleh uraian Ong Ling-hoa

yang memang masuk di akal itu.

Baik, kalian boleh berangkat sendiri, mendadak Jit-jit berkata sambil melotot. Dan kau? tanya Ling-hoa. Si nona menengadah dan menjawab ketus, Kutunggu dia di sini. Jika selamanya dia tidak datang?

Selamanya juga kutunggu di sini. Tunggu sampai kapan?

Sampai mati.

Dan kau bagaimana? Ling-hoa berganti tanya kepada si Kucing. Mereka adalah sepasang merpati, apakah kau pun akan mengiringi kematiannya?

Kupergi bersamamu, jawab Miau-ji.

Aha, inilah baru tindakan seorang lelaki sejati, seru Ling-hoa sambil berkeplok.

Jit-jit menjengek, Hm, engkau sungguh sahabat yang setia kawan, Miau-ji, baru sekarang kukenal siapa dirimu.

Oo? si Kucing melongo.

Enyah, lekas enyah! teriak Jit-jit.

Ling-hoa menyeringai, katanya tiba-tiba, Dan kau pun mesti ikut enyah bersama kami. Sembari bicara serentak ia turun tangan, secepat kilat ia tutuk Hiatto kelumpuhan Cu Jit-jit. Dengan kungfunya yang tinggi, mana Jit-jit mampu mengelak.

*****

Di tempat lain Sim Long sedang berlari dengan cepat, dirasakannya Koay-lok-ong yang mengejarnya sudah semakin dekat.

Dengan beberapa cara dan gerak cepat tetap Sim Long tidak mampu melepaskan diri dari kejaran lawan. Mau tak mau dia harus mengakui gembong iblis ini memang mahalihai.

Sekonyong-konyong cahaya senjata berkelebat di depan, jalan lari Sim Long teradang. Tanpa pikir Sim Long turun tangan sambil membentak, Kena!

Bentakan yang menggelegar itu membuat kaget pengadang di depannya dan lekas menghindar. Tahu-tahu Sim Long sudah menerobos lewat! Menyusul bayangan orang berkelebat datang pula dan muka setiap orang kena digampar dengan keras dan sama roboh terjungkal.

Binatang, semua tidak becus! terdengar suara bentakan Koay-lokong.

Para pengadang itu lekas merangkak bangun dengan memegang muka yang bengap, sementara itu bayangan Sim Long dan Koay-lokong sudah menghilang ke depan sana.

Kedua sosok bayangan itu menghilang serupa setan iblis, kawanan penjaga yang bersembunyi di tengah hutan itu hampir tidak dapat melihat wujud mereka, tahu-tahu bayangan berkelebat hilang.

Waktu itu Sim Long sendiri sudah mandi keringat, betapa pun dia bukan manusia gemblengan baja, akhirnya dia tentu juga akan roboh tak tahan.

Dalam keadaan demikian bilamana Sim Long ingin melepaskan diri dari kejaran Koay-lok- ong dan bergabung dengan Cu Jit-jit bertiga, jelas tidak mungkin terjadi.

Sampai di sini, siapa pun yang menghadapi keadaan demikian juga akan merasa putus asa. Namun Sim Long justru tidak, dalam kamus Sim Long sama sekali tidak terdapat istilah tidak mungkin. Di tengah hutan sekarang di mana-mana sudah ada cahaya api dan senjata, teriakan dan bentakan Koay-lok-ong bertambah keras.

Di depan ada sebuah tiang bendera yang menjulang tinggi melebihi pucuk pohon, bendera yang berkibar tertiup angin itu bertulisan Koay-hoat-lim (hutan atau taman mahagembira), itulah lambang taman hiburan yang terkenal ini.

Sekarang di pucuk tiang bendera yang terdapat pos pengintai itu ada seorang lelaki dengan memegang sebuah lentera merah, ke timur Sim Long lari, lentera merah itu pun menunjuk ke timur, ke barat Sim Long menuju, lentera merah juga menuding ke barat dan begitu seterusnya.

Dengan sendirinya kepungan yang semakin rapat juga ikut bergerak menurut petunjuk lampu merah itu, lingkaran kepungan makin lama makin ciut, tampaknya Sim Long akan terdesak hingga sukar lolos lagi.

Hahahaha! terdengar Koay-lok-ong tertawa latah. Wahai Sim Long, masakah masih coba meronta dan berusaha lari lagi?

Hah, sebelum melihat peti mati tidak mencucurkan air mata, memang begitulah watak pembawaanku, jawab Sim Long dengan tertawa.

Di tengah gelak tertawanya mendadak ia melayang ke atas dan hinggap di pucuk pohon. Mungkin dia sudah gelisah sehingga kelabakan, tanpa pikir ia memperlihatkan wujudnya, keruan seketika dia menjadi sasaran panah.

Karena hujan panah, terpaksa Koay-lok-ong sendiri harus berhenti mengejar.

Pada saat itulah Sim Long lantas melompat lebih tinggi lagi, dengan daya pental dahan pohon ia melayang ke puncak tiang bendera yang bertalang itu.

Keruan lelaki yang berada di talang bendera itu kaget, cepat kakinya menendang. Tapi secepat kilat Sim Long tangkap kaki orang terus dilemparkan ke samping, sambil menjerit ngeri orang itu terlempar jauh ke semak pohon sana.

Dalam pada itu sebelah tangan Sim Long yang lain sempat meraih tepian talang tiang bendera, segera ia dapat melompat ke atas talang dan berdiri tegak di situ.

Tiang bendera itu ada belasan tombak tingginya, dia berdiri gagah di pucuk tiang dengan baju berkibar tertiup angin, setiap kesatria di dunia ini seolah-oleh berada di bawah kakinya.

Hujan panah masih terjadi, tapi setiba di pucuk tiang bendera daya bidik panah sudah melemah, Sim Long menanggalkan baju luarnya, sekali kebut dengan perlahan semua anak panah yang menyambar tiba sama rontok ke bawah.

Sim Long! teriak Koay-lok-ong, mengapa kau pun berubah sebodoh itu? Memangnya engkau dapat bertahan berapa lama di atas?

Berapa lama kutahan di sini bukan soal, jawab Sim Long dengan tertawa. Yang penting, apakah kau berani naik ke sini? Engkau dapat melihat diriku, tapi tidak berdaya menangkapku ke atas, bukankah hatimu sangat sakit? Jika dapat kusaksikan engkau kelabakan di bawah, kan suatu kesenangan bagiku? Hm, kau kira aku tidak berani naik ke atas? teriak Koay-lok-ong murka.

Mendadak ia pun melompat ke atas, dengan daya pantul pucuk pohon, ia terus menerjang ke puncak tiang bendera. Gerak tubuhnya yang indah sungguh harus dipuji.

Namun baju yang dipegang Sim Long segera mengerudung ke bawah bagai segumpal awan, meski cuma sepotong baju yang ringan, tapi di tangan Sim Long telah berubah menjadi mahakuat.

Tubuh Koay-lok-ong terapung, mana dia berani menyambut sabetan keras ini, cepat kedua tangannya meraih, maksudnya hendak memegang tiang bendera, tapi angin keras menyambar tiba, ujung baju Sim Long telah menyambar mukanya.

Dalam keadaan demikian barulah kelihatan betapa lihainya gembong iblis ini. Pada detik berbahaya itu sebelah tangannya berbalik meraih ujung baju lawan. Dengan tenaga tarikan ini dia bermaksud menubruk ke atas.

Akan tetapi Sim Long lantas mengebaskan bajunya, bret, baju robek, Koay-lok-ong juga tergetar mencelat oleh tenaga kebasan itu. Namun begitu dia tidak menjadi bingung, dengan sekali berjumpalitan di udara dapatlah ia melayang turun dengan enteng.

Sim Long tertawa, serunya, Gaya yang indah! Tapi apa pun juga engkau tetap tidak mampu naik ke sini.

Air muka Koay-lok-ong kelihatan masam, sekali raih ia rampas sebuah busur dari seorang anak buahnya, segera ia pasang panah dan pentang busur sambil membentak, Kena!

Tapi segera terdengar suara pletak, busur malah terpentang patah lebih dulu. Berturut ia ganti tiga busur dan semuanya tertarik patah, satu panah pun tidak berhasil terbidik.

Haha, tenaga sakti Koay-lok-ong memang mengejutkan, cuma sayang terlampau besar tenagamu, seru Sim Long sambil bergelak.

Mendadak Koay-lok-ong melompat ke bawah tiang bendera, teriaknya, Baik, Sim Long, boleh kau lihat caraku ini!

Segera ia pasang kuda-kuda, dengan kuat ia memotong tiang bendera dengan sebelah telapak tangannya.

Terdengarlah suara brak yang keras, tiang bendera yang bulatan tengahnya sebesar mangkuk itu tergetar patah oleh tenaga pukulannya. Tampaknya Sim Long pasti akan ikut terlempar juga dari ketinggian belasan tombak.

Anak buah Koay-lok-ong sama bersorak memuji kesaktian tenaga pimpinannya.

Tak terduga kedua kaki Sim Long tetap mengempit kencang pada tiang bendera yang tumbang itu, tiang bendera jatuh miring ke sebelah selatan, dia juga ikut jatuh ke sana dari tetap roboh di atas rumah.

Haha, memang ingin kulihat betapa kelihaianmu! demikian Sim Long sempat berolok-olok. Blang, tiang bendera membuat genting sama hancur hingga berlubang besar, sebelum tiang bendera menghantam atap rumah, Sim Long mendahului meloncat ke atas, habis itu ia terus menerobos ke bawah melalui lubang yang ditimbulkan hantaman tiang bendera itu. Melihat kelicinan Sim Long itu, Koay-lok-ong tercengang dan juga gusar, teriaknya, Kepung rumah itu ... awasi atapnya ....

Sembari memberi perintah secepat angin ia terus menerjang ke sana.

Rumah itu kecil mungil dan terdiri dari tiga kamar, daun jendela tertutup rapat. Dapat dilihat jelas oleh Koay-lok-ong tiada seorang pun keluar dari rumah kecil ini.

Sementara itu ratusan orang sudah mengepung rapat rumah ini, barisan pemanah juga sudah mencari tempat ketinggian dan siap dengan busurnya mengawasi atap rumah.

Dalam keadaan demikian sukar bagi siapa pun untuk lolos begitu saja.

Haha, Sim Long, tak tersangka kau pun bisa mencari jalan kematian sendiri, seru Koay- lok-ong dengan tertawa senang. Tapi hal ini pun tidak dapat menyalahkan dirimu, engkau memang sudah menghadapi jalan buntu.

Tiba-tiba si nomor satu tampil ke muka dan tanya Koay-lok-ong, Apakah kita serang saja dengan api?

Gemerdep sinar mata Koay-lok-ong, serunya kemudian, Wahai Sim Long, dengarkan yang jelas! Kuberi batas waktu hitungan sampai tiga, apabila engkau tetap tidak keluar, segera kubakar rumah ini supaya engkau terbakar menjadi abu.

Si nomor satu tersenyum senang karena usulnya diterima bosnya, ia bergumam, Wahai Sim Long, sekali ini jika engkau masih dapat lolos dengan selamat, biarlah aku merangkak dari sini sampai ke Hangciu.

*****

Dalam pada itu, sesudah Ong Ling-hoa menutuk roboh Cu Jit-jit, cepat ia pegang pula tubuh si nona, lalu berkata kepada Him Miau-ji, Miau-heng, kau tahu, tiada maksudku membikin susah padanya, aku cuma tidak sampai hati melihat dia mati konyol di sini, maka terpaksa harus kita bawa dia melarikan diri dari sini.

Miau-ji mengiakan dengan mengangguk.

Jika demikian, marilah lekas kita berangkat! kata Ling-hoa. Dalam keadaan tak sadar, sama sekali Jit-jit tak dapat melawan.

Marilah kita menuju ke balik bukit sana, harap Miau-ji mencari jalan di depan, kata Ling- hoa.

Tidak, kugendong Jit-jit, engkau yang mencari jalan, ujar si Kucing. 
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Baja Jilid 33"

Post a Comment

close