Kilas Balik Merah Salju Jilid 14 (Tamat)

 
Sejak melakukan hubungan badan dengan Hong-ling hingga hari ini paling baru lewat sepuluh hari, bagaimana mungkin dia sudah melahirkan anak?

Jelas lukisan itu membawa arti lain, mengingatkan Pho Ang-soat bahwa Hong-ling masih berada di tangannya, berarti di kemudian hari pun anak mereka akan terjatuh pula di tangannya. Sehabis memandang lukisan itu, paras muka Pho Ang-soat sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa pun, sebab di hati kecilnya dia begitu berharap bisa membopong bocah dalam lukisan itu.

Saat ini, dalam kondisi seperti ini, dia harus mampu menahan diri, bahkan hati dan pikiran harus tetap terjaga tenang dan dingin.

Dia tak tahu siapakah pemilik lukisan yang sebenarnya, manusia macam apakah dia dan ada ancaman bahaya apa saja di tempat ini?

Semua ini dibutuhkan ketenangan, sikap dingin dan emosi yang stabil untuk menghadapinya.

Tentu saja dalam gedung seluas itu tidak hanya tergantung lukisan itu saja, terlihat aneka macam senjata tergantung pula di sana.

Tapi jenis senjata terbanyak yang ada di situ adalah dari jenis golok.

Ada golok tunggal, golok ganda, Yan ling-to, Kui thau to, golok algojo, golok pendeta, golok bergelang sembilan... bahkan ada pula sebilah golok raja langit pemenggal setan yang panjang.

Yang paling menggetarkan hati Pho Ang-soat adalah sebilah golok berwarna hitam yang tergantung di dinding tengah.

Golok berwarna hitam pekat, hitam pembawa kematian. Persis bentuknya dengan golok yang berada dalam genggamannya sekarang. Biarpun terdapat begitu banyak senjata yang digantung sepanjang dinding ruangan, ternyata tidak membuat dinding gedung itu dipenuhi senjata, dari sini bisa diketahui betapa luasnya bangunan itu.

Permukaan lantai gedung pun dilapisi berbagai jenis karpet Persia yang indah dan menawan, membuat suasana di tempat itu terasa begitu hangat dan nyaman.

Hampir semua benda yang terdapat di sana merupakan benda pilihan, selama hidup baru pertama kali ini Pho Ang-soat menyaksikan tempat yang begitu indah dan mewah.

Selain lukisan, senjata dan perabot rumah tangga, dalam gedung itu tak nampak seseorang pun, suasana begitu sepi, tenang, bahkan terselip juga hawa dingin yang menyengat.

Sehabis memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, Pho Ang-soat berdiri tak bergerak, matanya mengawasi lukisan di dinding, tapi seperti juga menembusi dinding itu dan sedang memandang suatu tempat di kejauhan sana.

Entah berapa lama sudah lewat, dari balik keheningan yang mencekam, tiba-tiba terdengar semacam suara yang sangat aneh.

Suara-itu berasal dari luar gedung, nada tunggal, pendek terputus-putus, tinggi melengking dan menyeramkan, suara demi suara bersahut-sahutan dan bergema tiada hentinya. Biarpun  aneka  senjata yang tergantung di dinding  memantulkan cahaya tajam, Pho Ang-soat sama sekali tidak memandangnya lagi, sebelum keadaan  dan  situasi

menjadi jelas, dia tak ingin konsentrasinya terpecah karena urusan lain.

Tapi sekarang ia tak sanggup memusatkan pikirannya lagi, suara lengkingan pendek yang bersahut-sahutan masih saja bergema, suara itu bagaikan sebuah gurdi yang tiada hentinya mengebor urat syarat dan otaknya.

Sekalipun begitu, penampilannya masih tetap tenang, Pho Ang-soat masih berdiri tak bergerak, seakan-akan sama sekali tak terpengaruh oleh suara gangguan itu.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba di balik suara lengkingan tajam yang terputus-putus kembali muncul suara lain.

Suara orang sedang membuka pintu, suara gelang pintu yang sedang bergerak.

Dengan cepat sinar mata Pho Ang-soat menangkap ada seorang nona berbaju kuning yang amat cantik muncul dari sebuah pintu yang terbuka di sisi kiri, muncul dan berdiri menatapnya di depan pintu.

Gadis berbaju kuning itu sekilas mirip Hong- ling, tapi dia bukan Hong-ling, usianya jauh lebih muda.

Kecantikan nona itu jauh berbeda dengan kecantikan Hong-ling, kecantikan Hong-ling menunjukkan kematangan dan kedewasaan, kecantikan gadis ini masih suci bersih dan polos, gaun berwarna kuning yang panjang dan bergoyang terhembus angin, sekilas tampak seperti ekor ikan mas yang sedang bergoyang di dalam air.

Setelah masuk ke dalam ruangan, dengan lembut ia merapatkan pintu, lalu berjalan lewat di samping Pho Ang-soat, menuju ke tengah ruangan, setelah itu baru ia membalikkan badan menghadap ke arah pemuda itu.

"Aku tahu kau adalah Pho Ang-soat," ternyata suaranya semerdu dan semurni orangnya, "tentunya kau tak tahu siapa aku bukan?"

Tentu saja Pho Ang-soat tidak mengetahui siapakah dia, tapi ia tak berminat untuk banyak tanya, si nona terpaksa memperkenalkan diri.

"Aku dari marga Kim, boleh dibilang masih terhitung tuan rumah perempuan tempat ini, jadi kau boleh memanggilku Kim-hujin."

Perkataannya langsung dan polos, jelas bukan gaya seorang gadis yang suka bermanja-manja.

"Bila kau menganggap panggilan ini kelewat resmi, boleh saja memanggilku sebagai Kim-hi."

Ternyata gadis bergaun kuning itu tak lain adalah Kim-hi, si nona yang barusan mengintip Pho Ang-soat dari atas loteng dengan teropong. "Ikan mas adalah julukanku," ujar Kim- hi sambil tersenyum, "teman-temanku suka memanggil aku dengan nama itu."

"Kim-hujin!" sapa Pho Ang-soat dingin.

Dia bukan teman gadis itu, dia memang selamanya tak punya teman. Tentu saja Kim-hi mengerti maksudnya, maka dia  pun tertawa gembira.

"Tak heran semua orang menyebutmu manusia aneh, ternyata kau memang aneh sekali," kata Kim-hi sambil tertawa, "hampir semua orang yang pernah datang kemari pasti tertarik pada koleksi senjata tajam yang terkumpul di sini, tapi kau, jangankan tertarik, melirik sekejap pun rasanya tidak."

Koleksi senjata tajam dalam ruangan itu memang rata-rata senjata mestika, tidak mudah untuk mengkoleksi begitu banyak senjata seperti ini, bahkan bisa menonton pun amat susah.

Biasanya jarang ada orang persilatan yang menyia-nyiakan kesempatan ini.

Tapi Pho Ang-soat seolah tak menggubris, seakan semua benda mestika itu tak cukup pantas untuk dilihat.

Kim-hi berjalan mendekati dinding, mengambil sebilah pedang besi yang antik bentuknya, berwarna hitam dan amat berat, tanyanya, "Tahukah kau pedang ini biasanya digunakan siapa?" Pho Ang-soat hanya memandang sekejap, lalu jawabnya, "Pedang milik Kwik Siong-yang."

"Sungguh tajam pandanganmu," puji Kim-hi sambil memainkan pedang itu, "meski senjata ini hanya senjata tiruan, namun bentuk, bobot, ukuran bahkan bahan yang digunakan sama dengan pedang yang digunakan Kwik Siong-yang tempo hari."

Pedang tiruan? Bentuknya sama seperti senjata aslinya? Kalau senjata pun dapat dibuat tiruannya, bagaimana dengan manusianya?

"Bahkan kuncir pedang ini pun dirajut sendiri oleh nenek keluarga Kwik," kembali Kim-hi menerangkan, "kecuali pedang besi warisan keluarga mereka, rasanya sulit menemukan keduanya di kolong langit."

Setelah menggantung kembali pedang itu, dia mengambil cambuk panjang yang berwarna hitam dan lentur bagaikan ular berbisa.

"Cambuk ini senjata Sebun Ji," Pho Ang-soat berkata, "cambuk ular sakti ini berada pada urutan ketujuh dalam kitab senjata tajam."

"Kalau kau bisa mengenali cambuk ular ini, tentu dapat mengenali juga tongkat baja Cukat Kong bukan?"

Sambil meletakkan cambuk panjang, kembali dia mengambil sebuah martil berantai dari samping tongkat baja. "Hong yu siang liu sing (sepasang meteor, hujan dan angin), pada urutan ketiga puluh empat dalam kitab senjata," kata Pho Ang-soat lagi.

"Sungguh hebat ketajaman matamu."

Suaranya dipenuhi pujian. Kali ini Kim-hi mengambil sepasang gelang baja, katanya, "Saat perkumpulan Kim ci pang malang melintang dalam dunia persilatan, ketua mereka Siangkoan Kim-hong pernah menggetarkan kolong langit dengan mengandal sepasang gelang naga angin ini."

"Salah, bukan senjata itu." "Salah?"

"Itu gelang cinta, gaman andalan Thiat-hoan- bun di wilayah barat laut."

"Kalau memang senjata itu dipakai untuk membunuh, kenapa disebut gelang cinta?"

"Karena bila senjata lawan tertempel oleh gelang itu, maka dia akan menempel terus seperti seorang yang terbuai oleh cinta," dari balik paras mukanya yang pucat terlintas satu perubahan aneh, "bila bibit cinta telah tumbuh, dia akan melekat hingga ke tulang sumsum, sampai laut mengering batu menjadi lapuk pun tak bakal terlepas. Orang yang sedang jatuh cinta biasanya gampang melakukan pembunuhan."

"Bila bibit cinta tertanam, sampai mati pun tak akan terlepas. Terkadang bukan saja merugikan orang, juga merugikan diri sendiri," kata Kim-hi sambil menghela napas.

"Aku rasa justru merugikan diri sendiri." "Betul, seringkah memang merugikan diri

sendiri."

Kedua orang itu saling berhadapan dengan mulut membungkam, beberapa saat kemudian Kim-hi baru berkata sambil tertawa, "Adakah di antara senjata yang terdapat di sini tidak kau kenal asal-usulnya?"

"Tidak ada."

"Semua senjata yang ada di sini rata-rata mempunyai asal-usul yang hebat, senjata itu pernah menggetarkan sungai telaga, memang tak sulit mengenalinya satu per satu," kata Kim-hi sambil tertawa.

"Memang tak ada masalah yang benar-benar sulit di dunia ini."

"Sayang ada sementara senjata, meski sudah lama menggetarkan kolong langit, sudah banyak minta korban, namun jarang ada orang pernah melihatnya, seperti misalnya. "

"Siau-li si pisau terbang?"

"Betul, Siau-li si pisau terbang, pisau yang tak pernah meleset. Begitu hebatnya senjata ini sampai Siangkoan Kim-hong yang disebut tiada tandingan di kolong langit pun pada akhirnya tewas oleh pisau terbang itu. Ai! Senjata ini. memang betul-betul senjata nomor wahid di kolong langit," ujar Kim-hi sambil menghela napas, "sayangnya hingga detik ini, belum pernah ada yang melihat senjata itu."

Cahaya pisau berkelebat menembus tenggorokan, mana mungkin orang bisa melihatnya dengan jelas?

"Oleh karena itu hingga kini masih merupakan teka teki besar," kembali Kim-hi berkata, "walaupun kami sudah menggunakan berbagai cara dan akal, namun belum pernah berhasil menciptakan sebilah pisau terbang yang bentuknya persis sama."

"Pisau terbang milik Siau-li memang tak pernah bisa ditiru," dengus Pho Ang-soat dingin.

Tiba-tiba Kim-hi tersenyum misterius, gumamnya, "Untung kami tak perlu membuat barang tiruan lagi."

Tiba-tiba tangannya diayunkan, tahu-tahu sebilah pisau terbang telah berada dalam genggamannya.

Sebilah pisau terbang sepanjang tiga cun tujuh hun.

Memandang pisau terbang yang berada dalam genggaman Kim-hi, kontan Pho Ang-soat mengernyitkan alis.

"Pisau terbang milik Siau-li?"

"Betul," sahut Kim-hi sambil tertawa, "pisau terbang milik Siau-li yang asli." "Dimana Yap Kay sekarang?" tiba-tiba Pho Ang- soat bertanya.

"Yap Kay?" tegas Kim-hi tertegun, "mengapa secara tiba-tiba kau bertanya tentang dia?"

"Pisau terbang itu milik Yap Kay," kata Pho Ang-soat sambil menatap tajam senjata yang berada di tangan gadis itu.

"Oh? Kenapa kau mengatakan pisau terbang itu milik Yap Kay dan bukan milik Li Sun-hoan?"

"Li-tayhiap berkelana dalam dunia persilatan pada empat-lima puluh tahun berselang, kini jejaknya pun sudah menghilang paling tidak dua- tiga puluh tahunan," kata Pho Ang-soat, "sewaktu dia masih berkelana, orang susah melihat bentuk pisau terbangnya, jejaknya pun sampai sekarang tak ketahuan rimbanya."

Ia memperhatikan lagi pisau terbang di tangan gadis itu, lalu ujarnya lebih jauh, "Beberapa hari lalu Yap Kay dikabarkan menghilang, dan sekarang secara tiba-tiba kau memiliki pisau terbang, bukankah semua masalah menjadi jelas sekarang?"

Kim-hi tertawa.

"Betul. Senjata ini memang pisau terbang milik Yap Kay, sedang mengenai berada dimanakah Yap Kay sekarang? Hehehe... bila saatnya tiba kau akan tahu." Kim-hi meletakkan pisau terbang itu di samping sebilah golok berwarna hitam, lalu mengambil golok itu.

Begitu golok dicabut dari sarungnya, cahaya tajam pun berkilauan.

"Aku tahu golok ini bukan senjata yang boleh dilihat orang," kata Kim-hi sambil tertawa, "mungkin kau sendiri jarang melihatnya bukan?"

Paras muka Pho Ang-soat yang putih pucat kini berubah makin pucat hingga kelihatan bening, suaranya pun berubah sangat dingin. "Aku tahu, ada sementara orang pun begitu."

"Orang?"

"Ada sementara orang walau sudah lama namanya menggetarkan dunia persilatan, sudah banyak korban berjatuhan, namun belum pernah ada orang yang bertemu dengan wajah aslinya," ujar Pho Ang-soat dingin, "seperti pemilik kebun monyet ini."

"Ong-losiansing maksudmu?" "Benar."

"Dia terkenal? Terkenal sebagai apa?"

Pho Ang-soat tidak langsung menjawab, dengan dingin ditatapnya gadis itu sekejap, lalu ujarnya, "Giok kiam kek (jago pedang kumala) dari Tiam-cong-pay, Ong San-seng, si pedang kilat dari Shantung Kong Ceng-tiong, tombak pengejar nyawa Ong Beng-meh, semuanya jago kenamaan dunia persilatan yang susah ditemui, hanya sayang mereka bukanlah pemilik kebun monyet ini."

"Kenapa tak mungkin mereka?"

"Karena usia mereka terlalu muda, semenjak ternama hingga kini baru berlangsung dua-tiga puluh tahunan, usia mereka pun di antara lima puluh hingga enam puluh tahun," ujar Pho Ang- soat, "sementara yang disebut Losiansing, seharusnya usia dia sekarang sudah di atas delapan puluh tahun."

"Oh?"

"Oleh karena itu setelah kuhitung, hanya satu orang yang paling cocok dengan peranannya."

"Siapa?"

"Ong Ling-hoa!"

"Ong Ling-hoa,"  Kim-hi tertegun, "maksudmu Ong Ling-hoa  yang tersohor bersama Sim Long, Cu Jit dan Him Miau-ji?"

"Benar!"

Peristiwa yang terjadi dalam dunia persilatan memang sukar diramal, seringkah dalam waktu sekejap bisa terjadi peristiwa yang dipenuhi kehebohan, kejadian romantis, menyerempat bahaya serta menegangkan syaraf. Setiap generasi, dalam dunia persilatan pasti akan muncul tokoh yang menggetarkan dunia, seperti misalnya zaman Coh Liu-hiang, waktu itu ada Oh Thi-hoa, Bu-hoa Hwesio, Pian-hok Kongcu Goan Sui-hun... zaman Li Sun-hoan terdapat Siangkoan Kim-hong, A Fei, Hing Bu-bing, Lim Sian-ji, Sun Siau-hong.

Sim Long adalah tokoh satu generasi di atas Li Sun-hoan, tapi menyangkut kisahnya, hingga kini masih banyak orang yang tertarik dan terpesona.

Ong Ling-hoa berasal satu zaman dengan Sim Long, di masa itu dia sudah terhitung tokoh yang luar biasa, setiap gerak-gerik dan tingkah-lakunya selalu mendapat perhatian orang banyak, setiap kali mencampuri satu kasus atau peristiwa, selalu memancing pembicaraan hangat banyak orang.

Ilmu silat yang dipelajarinya amat banyak, tapi yang paling menarik perhatian orang adalah sepasang tangannya, dia mampu mengubah bentuk wajah seorang menjadi bentuk apa pun, hingga kini ilmu merubah mukanya masih terhitung nomor wahid di kolong langit.

Biarpun ketika terkenal dia baru berusia dua puluh tahunan, tapi hingga kini, walaupun dunia persilatan telah dua kali berganti zaman, bila dia masih hidup, paling tidak usianya sudah mencapai sembilan puluh tahunan.

Bagi kebanyakan orang, usia sembilan puluh sudah jadi seorang kakek tua yang peyot. Namun bagi Ong Ling-hoa, kehebatan ilmu silatnya dan kehebatan merubah wajahnya sama sekali tak terpengaruh oleh bertambahnya usia.

"Ong Ling-hoa?"

Mula-mula Kim-hi tertegun, tapi kemudian ia tertawa, bahkan tertawanya kelihatan begitu aneh, begitu misterius.

"Atas dasar apa kau menduganya?" ia bertanya sambil tertawa merdu, "kenapa kau tidak menebak orang lain?"

Pho Ang-soat tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya dia malah bertanya lagi, "Sampai kapan baru dia siap menjumpai aku?"

"Segera."

Dengan jawaban ini, tak disangkal lagi dia telah mengakui bahwa Ong-losiansing pemilik kebun monyet itu adalah Ong Ling-hoa.

"Kalau memang segera, buat apa sampai sekarang dia masih berlatih mencabut pedang?" jengek Pho Ang-soat dingin.

Suara tajam, pendek, tunggal dan melengking itu masih bergema tiada hentinya, bergema susul menyusul, apakah suara itu berasal dari suara mencabut pedang?

"Ilmu pedang memiliki berjuta perubahan, mencabut pedang hanya salah satu gerakan yang paling gampang," kata Kim-hi, "begitu juga dengan ilmu golok, berapa lama kau berlatih mencabut golok?" "Delapan belas tahun."

"Hanya untuk sebuah gerakan yang begitu sederhana, kau berlatih selama delapan belas tahun?"

"Aku merasa sayang karena tak dapat berlatih lebih lama lagi."

Tiba-tiba Kim-hi menatapnya dan berkata, "Kali ini kau keliru besar."

"Oya?"

"Dalam dua hal kau keliru besar," ujar Kim-hi sambil tertawa. "Pertama, dia bukan sedang berlatih mencabut pedang"

"Bukan?"

"Dia sedang mencabut golok."

"Mencabut golok?" tiba-tiba wajah Pho Ang- soat berkerut. "Kedua, dia pun bukan Ong Ling- hoa."

"Bukan?" kembali Pho Ang-soat terperanjat, "maksudmu pemilik kebun monyet bukan Ong Ling-hoa?"

"Bukan Ong Ling-hoa yang sedang berlatih mencabut golok!"

Suara itu bukan berasal dari Kim-hi, melainkan suara seorang yang amat ramah, suara itu berasal dari belakang tubuh Pho Ang-soat.

Suara yang halus dan ramah, penuh kesopanan, menunjukkan orang ini pernah mendapat pendidikan tinggi dan tahu sopan- santun.

Padahal kesopanan merupakan salah satu sisi yang menunjukkan kekakuan dan sikap yang dingin.

Untung suara orang ini membawa kesan kehangatan, sekalipun kehangatan yang nyaris mendekati kesadisan.

Dan hanya manusia macam Ong Ling-hoa yang bisa menunjukkan kehangatan yang begitu menakutkan.

Kini dia sudah di belakang tubuh Pho Ang-soat, seandainya dalam genggaman dia membawa senjata, setiap saat ia dapat menusuk bagian tubuh yang mematikan di badan pemuda itu.

Pho Ang-soat sama sekali tak berpaling, bergerak pun tidak. Dia memang tak mampu bergerak.

Baru suara tadi berkumandang, ia sudah merasakan datangnya ancaman hawa membunuh tanpa wujud yang begitu kuat, begitu rapat, yang mengancam punggungnya, asal dia sedikit bergerak, entah gerakan seperti apa pun, kemungkinan besar akan menciptakan peluang bagi pihak lawan untuk melancarkan serangan.

Bahkan jika ada otot tubuh yang mengejang pun kemungkinan besar dapat menciptakan kesalahan yang fatal. Tentu saja dia pun tahu, manusia macam Ong Ling-hoa mustahil akan membokongnya, kendati pun begitu dia tetap harus waspada dan berjaga- jaga.

Biarpun rambutnya sudah beruban, biar di sudut matanya sudah muncul banyak kerut ketuaan, namun dari balik matanya masih terpancar kecerdasan, kesantunan, keramahan dan kekanak-kanakan yang kental.

Setelah berdiri sejenak di belakang tubuh Pho Ang-soat, tiba-tiba ia tertawa, suara tawanya masih halus dan penuh kesopanan.

"Ternyata kau memang tak malu disebut jagoan yang tiada duanya di kolong langit," ujar Ong-losiansing.

Pho Ang-soat belum juga menjawab, dia masih berdiri tanpa bergerak.

Mendadak Kim-hi menyela, "Hingga kini dia sama sekali tak bergerak, darimana kau tahu dia adalah seorang jagoan hebat?"

"Justru karena dia tak bergerak, maka dialah jagoan yang tiada duanya di kolong langit."

"Masa tidak bergerak jauh lebih susah daripada bergerak?"

"Tentu  lebih susah, bahkan jauh lebih susah," sahut  Ong-losiansing sambil tertawa.

"Aku tidak mengerti." "Kau seharusnya mengerti. Andaikata kau jadi Pho Ang-soat, bila tahu secara tiba-tiba ada orang macam aku muncul di belakangmu, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku pasti akan sangat terkejut."

"Bila kau terkejut berarti akan meningkatkan kewaspadaan, bila kau waspada maka tubuhmu akan bergerak. Jika kau bergerak maka kematian pasti akan berada di depan mata."

"Kenapa?"

"Karena kau tak tahu dari sudut mana aku bakal melancarkan serangan, oleh sebab itu biar mau bergerak ke arah mana pun, gerakan itu besar kemungkinan akan menciptakan kesalahan fatal yang bisa menyebabkan kematian."

"Oh, mengerti aku sekarang," seru Kim-hi, "bila manusia tangguh semacam kau secara tiba-tiba muncul di belakang tubuh seseorang, tak urung lawan pasti akan tegang bercampur panik, biar orangnya tak bergerak pun otot-otot punggungnya pasti akan mengejang." 

"Ya benar, sayang dia sama sekali tidak," Ong- losiansing menghela napas panjang, "biarpun sudah cukup lama aku berdiri di belakang tubuhnya, namun seluruh tubuhnya, dari atas hingga ke bawah, sama sekali tak terjadi perubahan."

"Ai! Sekarang aku baru mengerti, rupanya tidak bergerak memang jauh lebih sulit daripada bergerak," Kim-hi menghela napas panjang. Bila kau sudah tahu ada seorang jagoan tangguh macam Ong Ling-hoa berdiri di belakangmu, tapi seluruh otot tubuhmu masih tetap mengendor dan santai, hal ini menunjuikkan syarafmu pasti jauh lebih dingin daripada bongkahan salju abadi.

"Bila ia tak bergerak, masa kau tak punya kesempatan untuk turun tangan?" kembali Kim-hi bertanya.

Ong-losiansing tertawa lebar.

"Tidak bergerak itu bergerak, akhir dari seluruh perubahan dan gerakan adalah tidak bergerak."

"Kosong itu isi, isi itu kosong, kenapa dari isi bisa berubah jadi kosong, kenapa dari kosong bisa berubah jadi isi? Sebab tubuhnya telah berubah jadi kosong, tanpa wujud, mengapung dan melayang kemana pun, karena dia kosong, karena dia berubah jadi berada dimana-mana maka kau pun tak akan tahu berada dimanakah dia dan mau diserang darimana."

"Hahaha, sudah kuduga, kau pasti mengerti akan teori itu," puji Ong-losiansing sambil tertawa tergelak.

"Kalau aku pun tahu orang macam kau tak bakal membokongnya dari belakang, kenapa dia sendiri seolah tidak paham akan hal ini?" kembali Kim-hi bertanya.

Ong-losiansing tidak segera menjawab, dia menghela napas lebih dulu, kemudian berjalan meninggalkan belakang tubuh Pho Ang-soat, berjalan ke depan dan baru berhenti setelah saling berhadapan dengan lawan.

"Karena dia adalah Pho Ang-soat dan aku adalah Ong Ling-hoa."

Dengan pandangan dingin Pho Ang-soat mengawasi Ong Ling-hoa, sementara Ong Ling- hoa dengan wajah ramah balas memandang Pho Ang-soat.

"Kesalahan kedua yang dia katakan kepadamu tadi adalah orang yang sedang berlatih mencabut golok di luar sana bukanlah aku," kembali Ong Ling-hoa berkata sambil tertawa.

Pho Ang-soat tetap tak bergerak.

"Selama seratus tahun terakhir, ada begitu banyak jago golok yang muncul di dunia persilatan, ilmu golok hasil ciptaan baru pun ada delapan puluh enam macam dengan perubahan gerak dan jurus yang aneh dan sakti," kata Ong Ling-hoa, "banyak di antaranya menciptakan jurus yang aneh dan tak masuk akal, tapi cara mencabut golok tetap hanya satu saja."

"Bukan hanya satu macam," akhirnya Pho Ang- soat buka suara, "hanya saja yang tercepat memang hanya satu."

"Satu macam yang mana?"

"Yang sederhana biasanya yang paling cepat." "Untuk mencapai taraf seperti itu pun orang

harus berlatih dan berlatih terus, memangnya tanpa pengalaman bisa?" Semua perubahan yang ada dalam ilmu silat, tujuan terakhirnya memang hanya satu, cepat!

"Orang di luar sana harus berlatih hampir lima tahun lamanya sebelum berhasil menemukan sebuah cara, bahkan untuk sebuah cara yang begitu sederhana, dia butuh delapan belas tahun untuk melatihnya, malah hingga sekarang pun setiap hari paling tidak dia harus berlatih selama tiga jam."

Ditatapnya kembali wajah Pho Ang-soat, tiba- tiba sorot matanya yang semula ramah berubah jadi setajam mata golok, sepatah demi sepatah ujarnya, "Tahukah kau apa tujuan dia berlatih tekun mencabut golok?"

"Untuk menghadapi aku?"

"Lagi-lagi keliru besar," kembali Ong Ling-hoa menghela napas panjang, "dia tidak harus menghadapi dirimu, juga bukan gara-gara harus menghadapimu."

"Oh?"

"Yang ingin dia hadapi adalah semua jago lihai dunia persilatan, karena dia sudah bertekad ingin menjadi manusia nomor wahid di kolong langit."

Kontan Pho Ang-soat tertawa dingin.

"Jadi disangkanya bila berhasil mengalahkan aku, maka dia akan menjadi jagoan nomor satu?"

"Hingga detik ini, dia memang berpendapat begitu." "Kalau begitu dia salah besar. Dunia persilatan adalah sarang naga gua harimau, tak terhitung jagoan dalam Bu-lim yang memiliki ilmu silat jauh di atas kemampuanku."

"Tapi sampai sekarang belum ada seorang pun yang mampu mengalahkan dirimu," sela Ong Ling-hoa sambil tertawa, "aku sendiri pun dapat melihat, bukan pekerjaan gampang bila ingin

mengalahkan dirimu. Di antara sekian orang yang pernah kemari, kau memang satu-satunya tamu yang paling istimewa."

Pho Ang-soat tidak bicara lagi, dia membungkam.

"Koleksi senjata tajam yang kugantungkan di atas dinding itu bukan koleksi terlengkap, semuanya merupakan barang pilihan. Asal orang pernah berlatih silat, pasti akan tertarik dan memperhatikan beberapa saat, hanya kau seorang yang sama sekali tidak tertarik."

Bicara sampai di situ tiba-tiba Ong Ling-hoa menghela napas panjang, tambahnya, "Yang lebih aneh lagi, ternyata kau sama sekali tidak memperhatikan lukisan yang berada di atas dinding sebelah kanan."

"Dinding sebelah kanan? Di situ pun ada gambarnya?" tanya Pho Ang-soat tertegun.

Seingat Pho Ang-soat, dinding di sebelah kanan kosong tanpa lukisan, kenapa dibilang ada gambarnya? "Asal kau mau menengok sekejap, pasti akan kau ketahui apakah di sana ada lukisan atau tidak," kata Ong Ling-hoa lagi sambil tertawa.

Pho Ang-soat pun berpaling ke dinding sisi kanan, tapi begitu melihat, dia langsung tertegun.

Dinding yang semula kosong ternyata sekarang telah bertambah dengan sebuah lukisan.

Sebuah lukisan tokoh silat, ada begitu banyak tokoh terkenal yang terpampang di situ, semuanya terlukis begitu hidup dan indah.

Tampaknya lukisan itu mengisahkan satu cerita, dalam setiap cerita selalu muncul orang yang sama dan orang itu tak lain adalah Pho Ang- soat.

Begitu Pho Ang-soat berpaling, pada pandangan pertama ia sudah melihat gambar lukisan diri sendiri.

Dalam suasana yang redup, di sebuah kota kecil yang hening, di dalam sebuah rumah makan, terlihat dua orang sedang duduk, yang satu adalah Yap Kay dan seorang lagi Pho Ang- soat.

"Kau pasti masih teringat adegan ini bukan, ketika pertama kali kau bertemu Yap Kay di rumah makan Siang-ki-lau," ujar Ong Ling-hoa.

Tentu saja Pho Ang-soat masih ingat, waktu itu untuk pertama kalinya dia mendatangi Ban be tong di perbatasan, datang dengan membawa golok hitamnya dan rasa dendam kesumat yang membara untuk mencari Be Khong-cun dan menuntut balas.

Pada lukisan kedua tergambar Pho Ang-soat berada dalam sebuah kamar, sedang bergumul dengan seorang wanita.

Perempuan di lukisan itu adalah Cui long, tentu saja Pho Ang-soat tak bisa melupakan kejadian malam itu. Ketika menyaksikan lukisan ini, perasaan pilu kembali melintas di wajah Pho Ang- soat, namun yang dipikirkan sekarang justru Hong-ling.

Hong-ling, dimana kau sekarang? Apa sudah terjatuh ke tangan Ong Ling-hoa? Atau seperti apa yang kau katakan dalam suratmu, kau berbuat begini karena ingin membalas dendam?

Ong Ling-hoa sedang mengawasi Pho Ang-soat, begitu juga dengan Kim-hi.

Biarpun sempat terlintas perasaan pilu di balik matanya, namun hanya sekejap, dengan cepat Pho Ang-soat mengalihkan pandangan matanya ke lukisan ketiga.

Gambar ketiga melukiskan ruang gedung penerima tamu di Ban be tong, di sana duduk segerombol manusia, Be Khong-cun berada paling tengah, sementara Yap Kay duduk di samping Pho Ang-soat.

Gambar keempat melukiskan sebuah kedai arak, dimana Cui long dan seorang pemuda penarik kereta sedang bergandengan tangan meninggalkan tempat itu, sementara Pho Ang- soat seorang diri duduk dalam kedai sambil minum arak.

Melihat sampai di sini, kembali Pho Ang-soat merasakan hatinya amat sakit.

Gambar berikut, ruang utama keluarga Ting, banyak orang hadir di sana dan saat itulah semua rahasia terkuak. Pho Ang-soat baru tahu dirinya hanya seorang anak yatim piatu, bukan putra Pek Thian-ih seperti yang diduganya semula.

Ternyata Yap Kay lah yang sebetulnya mempunyai dendam kesumat selama delapan belas tahun ini. Impian buruk yang dipikul hampir delapan belas tahun pada akhirnya hanya kehampaan, sebuah akhir yang amat tragis.

Lukisan pun berakhir sampai di situ, sekali lagi Pho Ang-soat mengalihkan pandangannya ke depan, bukan sedang merenungkan kejadian yang tertera atau bersedih hati karena terkenang masa lalu, ia sedang menunggu penjelasan Ong Ling-hoa.

Menunggu penjelasan mengapa ia diminta menyaksikan lukisan itu. Ternyata Ong Ling-hoa memang tidak membiarkan dia menunggu kelewat lama, dengan cepat penjelasan diberikan, hanya saja penjelasan itu ditujukan kepada Kim-hi.

"Lukisan itu menggambarkan peristiwa yang dialami Pho Ang-soat pada sepuluh tahun berselang," kata Ong Ling-hoa, "tahukah kau mengapa kuperlihatkan gambar itu kepadanya?"

"Aku tahu," Kim-hi manggut-manggut. "Oya?"

"Tujuanmu adalah untuk mengingatkan dia akan kejadian pada sepuluh tahun berselang."

"Benar, tahukah kau mengapa aku harus mengingatkan dia akan peristiwa sepuluh tahun berselang?"

"Kalau soal ini aku kurang jelas." "Sepuluh tahun lalu memang telah terjadi

peristiwa itu, bahkan telah berakhir," Ong Ling-

hoa membalikkan badan menghadap Pho Ang- soat, kemudian lanjutnya, "Orang-orang yang muncul di Ban be tong waktu itu memang benar- benar telah mati semua pada sepuluh tahun yang lalu."

"Lantas siapa Be Khong-cun dan antek- anteknya yang muncul kembali ini?" tanya Pho Ang-soat sambil mencorongkan sinar dingin dari matanya.

"Be Khong-cun pribadi," jawab Ong Ling-hoa tertawa.

"Dia pribadi? Kalau begitu Be Khong-cun yang muncul sepuluh tahun berselang adalah Be Khong-cun gadungan?"

"Tidak, Be Khong-cun sepuluh tahun berselang pun tetap Be Khong-cun sendiri." "Berarti Be Khong-cun yang tewas sepuluh tahun berselang pun Be Khong-cun pribadi?" tanya Pho Ang-soat dengan terkejut bercampur heran.

"Benar."

"Dan Be Khong-cun yang sekarang pun Be Khong-cun asli?"

"Benar."

"Bagaimana mungkin? Masa setelah mati dia bisa bangkit dan hidup lagi?" tanya Pho Ang-soat dengan wajah diliputi perasaan kaget bercampur ragu.

"Tidak, mana mungkin peristiwa semacam itu bisa terjadi di dunia ini?" kata Ong Ling-hoa tertawa, "kalau orang sudah mati, dia tetap mati, mustahil bisa hidup lagi."

"Lalu apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Yang tewas pada sepuluh tahun berselang adalah Be Khong-cun, yang muncul sepuluh tahun kemudian tetap Be Khong-cun, kalau orang mati tak bisa hidup kembali, lalu apa yang terjadi dengan Be Khong-cun yang muncul sepuluh tahun kemudian?

Kali ini Pho Ang-soat benar-benar dibuat bodoh.

Senyuman yang menghiasi wajah Ong Ling-hoa masih tetap ramah, tiba-tiba ia mengajukan satu pertanyaan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan masalah itu. "Tahukah kau puncak gunung yang tertinggi di dunia, gunung Cu mu lang ma?"

Tentu saja Pho Ang-soat tahu puncak Cu mu lang ma selalu diliputi salju abadi, bahkan konon di puncak gunung itu banyak terdapat mestika langka.

"Di bawah puncak Cu mu lang ma terdapat suku terasing yang hidup jauh dari keramaian dunia, suku terasing itu bernama suku Damu," ujar Ong Ling-hoa lebih jauh.

Pho Ang-soat tahu, jelas bukannya tanpa sebab Ong Ling-hoa menyinggung suku Damu yang tinggal di bawah puncak gunung Cu mu lang ma, dia yakin suku asing itu pasti mempunyai hubungan yang erat dengan masalah Be Khong- cun.

"Cara hidup serta kebiasaan suku Damu yang berdiam di bawah puncak Cu mu lang ma jauh berbeda dengan kebiasaan hidup orang pada umumnya, karena tempat tinggal mereka jauh di bawah puncak gunung tertinggi di dunia, dimana sepanjang tahun susah bertemu air hujan, apalagi mata air atau danau."

Dari mimik muka Ong Ling-hoa, dia seakan sedang berada di bawah puncak bukit itu.

Oleh karena itu orang-orang suku Damu tidak biasa minum air tawar, tapi mengisap dari batuan es.

Bagi suku Damu, air sama pentingnya seperti nyawa sendiri, bagi mereka hanya wanita hamil yang boleh meneguk dua tetes air, dua tetes air yang dicairkan dari bongkahan salju.

Kehamilan pun bagi suku Damu merupakan satu kejadian yang langka, karena jumlah penduduk mereka amat sedikit, sementara hubungannya dengan dunia luar pun terpisah, maka melahirkan anak bagi suku mereka merupakan satu kejadian penting.

Entah sejak kapan, ketika seorang wanita hamil mengisap batu es dalam sebuah gua salju kemudian melahirkan sepasang anak kembar, maka sejak itulah perempuan yang melahirkan anak kembar itu diangkat menjadi ratu kehamilan dalam masyarakat suku Damu.

Maka semua wanita hamil dari suku Damu pun mulai minum batu beku yang ada dalam gua salju, asal meneguk air dari batu itu, mereka pasti akan melahirkan bayi kembar.

Kalau bayi kembar yang dilahirkan suku lain mungkin ada yang berbeda, maka bayi kembar yang dilahirkan orang-orang suku Damu mempunyai kesamaan yang nyaris tak ada bedanya.

Jenis kelamin, tinggi pendek, kurus gemuk, watak, kebiasaan, hampir semuanya sama persis, biar dua orang yang berbeda namun mereka seolah satu orang yang sama.

"Biarpun mereka berdua dipisahkan jauh jauh, asal ada salah satu di antaranya terluka, maka yang lain pasti akan merasakan kesakitan juga," Ong Ling-hoa menerangkan.

Apakah semua itu hanya cerita? Kisah nyata?

Atau dongeng?

Pho Ang-soat nyaris terpikat oleh cerita itu. "Benarkah ada tempat semacam ini?"

tanyanya. "Benar, ada!"

Tiba-tiba Ong Ling-hoa bertepuk tangan satu kali, suara mencabut golok yang melengking dan tak sedap itu pun seketika berhenti, lalu pintu ruangan terbuka lebar, seorang bertubuh tinggi besar muncul di depan pintu.

Orang itu tinggi besar bagaikan malaikat langit, tapi wajahnya dipenuhi keriput, dari balik setiap kerutannya terbesit pengalaman nya yang penuh kegetiran dan ancaman bahaya, dia pun seakan sedang memberitahu kepada orang lain bahwa tiada persoalan di dunia ini yang sanggup menjatuhkan dirinya.

Orang itu bukan lain adalah Be Khong-cun.

Menyaksikan kemunculan Be Khong-cun di depan pintu, Ong Ling-hoa berkata lagi kepada Pho Ang-soat, "Masih ada satu hal lagi yang lupa kusampaikan kepadamu, anak kembar yang dilahirkan suku Damu selalu diberi nama yang sama."

Kemudian sambil membalikkan badan dan menuding Be Khong-cun yang ada di depan pintu, tambahnya, "Seperti kebiasaan yang berlaku dalam suku Damu terhadap anak kembar yang dilahirkan, nama mereka pun sama, dipanggil Be Khong-cun!"

Dalam sebuah negeri nun jauh di sana, Damu mempunyai dua arti yang berlainan.

Semua anak yang dilahirkan dalam kelompok suku Damu harus sepasang anak kembar, bukan saja tabiat, kebiasaan, tinggi pendek, gemuk kurus serta jenis kelaminnya harus sama, bahkan nama mereka pun harus sama.

Pada suatu musim, dalam kelompok suku Damu ada tujuh orang wanita hamil yang melahirkan tujuh pasang kembar, mereka memberi nama untuk ketujuh pasangan kembar itu sebagai, Be Khong-cun, Kongsun Toan, Hun Cay-thian, Hoa Boan-thian, Hwi thian ci cu, Loh Loh-san dan Buyung Bing-cu.

Sampai di sini jelas sudah masalah yang sebenarnya telah terjadi.

Di dunia ini tak mungkin terdapat manusia mati yang bisa hidup kembali, tak seorang pun bisa menciptakan manusia dengan wajah dan perawakan tubuh yang sama.

Sepuluh tahun yang lalu Be Khong-cun, Kongsun Toan, Hun Cay-thian, Hoa Boan-thian, Hwi thian ci cu, Loh Loh-san dan Buyung Bing-cu telah tewas, tapi mereka masih mempunyai saudara kembar yang masih hidup.

Oleh karena itulah sepuluh tahun kemudian di gedung Ban be tong telah muncul kembali Be Khong-cun dan antek-anteknya dalam keadaan segar-bugar.

"Walaupun Be Khong-cun telah kau kalahkan pada sepuluh tahun berselang," ujar Ong Ling-hoa sambil menatap Pho Ang-soat, "tapi Be Khong- cun yang muncul sepuluh tahun kemudian justru berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan dirimu."

"Kalau memang mereka adalah saudara kembar, Be Khong-cun saja sudah keok di tanganku pada sepuluh tahun berselang, bagaimana mungkin Be Khong-cun yang muncul sepuluh tahun kemudian dapat mengungguli diriku?" jengek Pho Ang-soat dingin.

Be Khong-cun balas menatap Pho Ang-soat, wajahnya sama sekali tidak menampilkan perubahan apa pun, bahkan suaranya pun tetap hambar, "Justru karena dia kalah, maka aku harus menang."

Mendadak dari balik sinar matanya terpancar perasaan pedih, lanjutnya, "Kalau tidak, akulah yang bakal mati."

"Aku tidak mengerti."

"Kau seharusnya mengerti," sahut Be Khong- cun hambar, "karena semua kejadian itu harus kau lakukan." Pho Ang-soat balas menatap wajah Be Khong- cun yang penuh diliputi kedukaan, sejenak kemudian dia mengangguk.

"Benar, memang ada sementara persoalan yang harus kulakukan hingga tuntas."

"Aku tahu kau pasti bakal mengerti."

Pho Ang-soat tidak memandang ke arah Be Khong-cun lagi, ia membalikkan badan menghadap Ong Ling-hoa, tanyanya dingin, "Lalu kau berharap kapan kami bisa melangsungkan pertarungan ini?"

"Aku yang berharap?" kembali Ong Ling-hoa memperlihatkan senyuman ramahnya, "masalah ini adalah menyangkut kalian berdua, kenapa aku yang memutuskan?"

"Kalau memang persoalan ini merupakan persoalan pribadi kami berdua, mengapa pula kau mengatur pertemuan ini?" dengus Pho Ang-soat dingin.

"Kejadian di dunia bagaikan awan di angkasa, siapa yang bisa mengatur? Siapa yang bisa menyiapkan?" kata Ong Ling-hoa sambil tertawa, "sepuluh tahun berselang kau telah menanam bibit jadi kau pula yang harus memetik buah sepuluh tahun kemudian."

"Tampaknya aku tak punya pilihan lain lagi."

"Kalau tempat untuk duel sudah ditentukan, tentu waktunya mesti kau sendiri yang memilih," kata Be Khong-cun hambar. "Tiga hari kemudian!" tanpa pikir panjang jawab Pho Ang-soat.

"Tiga hari kemudian?"

Mendengar jawaban itu agaknya Ong Ling-hoa merasa terperanjat, sambil membelalakkan mata dia mengawasi Pho Ang-soat.

"Aku masih ingat, ketika kau menantang Kongcu Gi untuk berduel dulu, waktu yang kau gunakan hanya satu hari."

"Benar."

"Aku pun masih ingat, sepanjang perjalanan hidupmu, baik menghadapi pertarungan besar maupun kecil, tak pernah waktunya melebihi satu hari."

"Benar."

"Mengapa kali ini tiga hari? Apakah musuhmu kali ini telah memberi tekanan yang kelewat besar terhadap dirimu?" jengek Ong Ling-hoa.

"Bukan."

"Lantas karena apa?"

"Karena masih ada tiga persoalan yang harus kuselidiki dulu hingga tuntas."

"Tiga persoalan yang mana?"

"Apakah Yap Kay berada di tanganmu?" tanya Pho Ang-soat.

"Benar."

"Aku boleh bertemu dengannya?" "Boleh saja."

Baru selesai Ong Ling-hoa menjawab, ia sudah bertepuk tangan tiga kali, dinding dekat sudut ruangan pun bergeser ke samping.

Dengan terbukanya dinding itu, Pho Ang-soat segera dapat melihat Yap Kay, dia berada di balik sebuah ruangan yang dilapisi batu kristal tebal.

Pho Ang-soat lihat Yap Kay sedang berbaring di atas sebuah meja yang terbuat dari kristal, sama sekali tak bergerak.

Kelihatannya Yap Kay tidak tahu saat itu sedang diawasi orang lain, dia berbaring tenang, sepasang matanya yang jeli seolah sedang berpikir, tapi dia pun mirip berada dalam keadaan tak sadarkan diri.

Diiringi tepuk tangan ringan, dinding itu kembali merapat. Ong Ling-hoa segera berpaling lagi ke arah Pho Ang-soat sambil bertanya, "Apa persoalanmu yang kedua?"

Kembali Pho Ang-soat menatap dingin wajah Ong Ling-hoa, "Apakah Hoa Pek-hong berada di tanganmu juga?"

"Tidak," sahut Ong Ling-hoa sambil tertawa, "aku rasa tak seorang pun di dunia ini yang bertindak bodoh dengan mengganggu tuan putri dari Mokau."

"Lalu bagaimana dengan semua perabot yang kulihat dalam kamar losmenku?" "Tentu saja hasil boyonganku dari tempat tinggal Hoa Pek-hong," kata Ong Ling-hoa tertawa, "aku sengaja mengutus orang mengirim perabot rumah tangga yang terbaru supaya kau bisa lebih nyaman. Begitulah, dengan terang- terangan kuangkut semua perabot lama dari rumah tinggalnya."

Rasanya hanya Ong Ling-hoa yang bisa berpikir semacam itu dan melakukannya.

"Apa masalahmu yang ketiga?" tanya Ong Ling- hoa sambil tertawa penuh arti, "apakah menyangkut urusan Hong-ling? Apakah kau ingin bertanya kepadaku, benarkah masalah yang menyangkut Hong-ling adalah bagian dari rencana besarku?"

Pho Ang-soat tidak menjawab, dia hanya memandang Ong Ling-hoa dengan pandangan ketus.

"Aku sengaja mengutus A-jit untuk membunuhmu, tujuannya memang agar Hong- ling membencimu, agar Hong-ling menuntut balas kepadamu," Ong Ling-hoa menjelaskan, "tak banyak orang persilatan yang tidak takut dengan cara Hong-ling menuntut balas."

Pho Ang-soat sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun, dia masih mengawasi Ong Ling- hoa dengan pandangan dingin, mengawasi sambil menunggu ia melanjutkan kembali kata-katanya.

"Aku sendiri pun tidak menyangka cara Hong- ling menuntut balas terhadapmu ternyata menggunakan cara seperti ini," lagak Ong Ling- hoa seolah menaruh simpatik terhadap Pho Ang- soat, "mungkin hanya dia yang bisa memikirkan cara seperti ini dan melaksanakannya"

Mengorbankan bagian paling berharga dari seorang wanita, agar bisa melahirkan seorang anak untuknya, kemudian dia pun mendapat kesempatan untuk membunuh seorang sanaknya.

Siapa yang mau percaya dengan cara balas dendam semacam ini?

Kembali perasaan simpatik melintas di wajah Ong Ling-hoa, namun di balik sorot matanya justru mengembang senyum ejekan yang sinis.

Pho Ang-soat yang nyaris tanpa emosi masih berdiri di situ tanpa bergerak, sepasang matanya yang dingin dan kesepian masih tetap menunjukkan rasa dingin dan kesepiannya.

"Bukankah aku telah menjawab pertanyaanmu yang ketiga?" tanya Ong Ling-hoa.

Sekali lagi Pho Ang-soat memandang sekejap wajah Ong Ling-hoa, kemudian ia membalikkan badan menuju ke hadapan Be Khong-cun, tanyanya, "Apakah Be Hong-ling itu putrimu?"

Pertanyaan ini datangnya sangat mendadak, membuat Be Khong-cun melengak, tapi dia tetap menjawab,

"Benar."

Pho Ang-soat tertawa, walaupun hanya senyuman yang tawar, namun bagaimana pun juga dia telah tertawa, selagi sisa senyuman masih tergantung di ujung bibirnya ia telah membalikkan tubuh memandang lagi ke arah Ong Ling-hoa.

"Aku rasa kau tentu sudah menyiapkan peti mati atau tempat tinggal untukku bukan?" ujar Pho Ang-soat hambar.

"Tepat sekali," Ong Ling-hoa tertawa tergelak, "malah aku berani menjamin ukuran peti mati itu pasti pas untuk badanmu."

"Apakah kau merasa sangat puas?" "Tentu saja, puas sekali." "Baguslah kalau begitu."

Yap Kay yang berbaring di atas altar kristal nampaknya seperti amat tenang, padahal ia sudah hampir mendekati tak sadarkan diri.

Dia sudah tak ingat berapa lama berbaring di tempat itu, dia pun tak tahu sekarang sudah terang tanah atau masih malam?

Yang diketahui olehnya hanya keempat anggota badannya semakin lemas tak bertenaga, sepasang matanya makin lama semakin gelap.

Sudah berapa lama ia tak bersantap? Tentu saja dia lebih tak jelas lagi, hanya lamat-lamat dia masih ingat, sejak tersadar hingga kini sudah sebelas kali dia diloloh cairan encer, mungkin cairan bubur. Dengan kondisi tubuhnya yang begitu lemah, jangankan mau melarikan diri, melawan bocah tiga tahun pun belum tentu dia bisa menang.

Mau melarikan diri? Mungkinkah itu?

Dengan susah payah Yap Kay tertawa getir, ia sadar dengan kondisi tubuhnya sekarang paling dia hanya bisa bertahan selama dua hari lagi.

Bila dalam dua hari ini tak muncul keajaiban, maka biarpun orang lain tidak membunuhnya, karena kelaparan yang luar biasa dia bisa mati secara mengenaskan.

Padahal tidak banyak keajaiban yang terjadi di dunia ini.

Hening, sepi, seakan mencekam seluruh ruang rahasia.

Di tengah keheningan yang mencekam itulah mendadak terdengar suara gigi roda yang berputar, Yap Kay tahu suara itu berasal dari terbukanya pintu rahasia.

Benar saja, dengan berhentinya suara gigi roda, di depan pintu muncul seseorang, seorang kakek dengan wajah penuh keriput tapi tampak sangat ramah.

Sambil tertawa Ong Ling-hoa berjalan menghampiri Yap Kay, dengan ibu jari dan jari telunjuknya dia membuka kelopak matanya dan memeriksa biji matanya, dipegangnya nadi tangan kiri pemuda itu dan memeriksa denyut nadinya. Setelah itu dengan penuh rasa puas dia manggut-manggut.

"Kelihatannya besok sudah bisa dimulai," gumam Ong Ling-hoa.

"Dimulai? Dimulai apa?" tanya Yap Kay dengan nada lemah.

"Dimulainya harapan terbesar dalam hidupku" jawab Ong Ling-hoa dengan pancaran sinar 'dewa' dari wajahnya, "merupakan juga langkah pertama umat manusia menuju panjang usia."

"Panjang usia," Yap Kay mulai tertawa, "kelihatannya kau seperti sudah menemukan obat awet muda dan panjang umur."

"Obat panjang umur? Itu semua hanya omong kosong, barang yang adanya dalam dongeng" Ong Ling-hoa mencibir, "bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan persembahan akbarku?"

"Oya" kembali Yap Kay tertawa, "jadi kau punya persembahan akbar? Kalau begitu cepat katakan, persembahan macam apa itu?"

"Tak usah terburu napsu, tanpa kau, persembahanku tak bakal bisa sempurna."

"Wah, sungguh tak kusangka ternyata aku masih mempunyai kegunaan yang begitu besar, tapi tidak masalah bukan jika aku tahu dimana letak kegunaanku?"

Ong Ling-hoa segera memperlihatkan senyuman misteriusnya, kemudian dengan nada yang ramah katanya lagi, "Tentunya kau pernah melihat makhlukl berkepala manusia bertubuh monyet bukan?"

"Aku benar-benar tidak mengira di dunia benar- benar terdapat ... terdapat makhluk semacam ini."

Memang sulit bagi Yap Kay untuk menyebutnya sebagai manusia.

"Sebetulnya di dunia memang tak ada makhluk seperti itu, akulah yang menciptakannya," Ong Ling-hoa menjelaskan, "padahal apa yang sudah ada sekarang tak lebih baru pembukaan dari karya ciptaku."

"Jadi makhluk itu adalah hasil karyamu?" "Benar."

"Bagaimana caramu membentuknya?"

"Gampang sekali, asal kucangkokkan kepala manusia ke tubuh monyet, jadilah makhluk ajaib itu."

"Kepala manusia dicangkokkan ke tubuh monyet?" Yap Kay memaksa diri mementang mata lebih lebar, "kau sedang bercerita tentang dongeng 1001 malam?"

"Bukan, aku telah menghabiskan waktu hampir lima puluh tahun sebelum berhasil menyelesaikan ini," Ong Ling-hoa menerangkan, "tahukah kau, untuk mewujudkan cita-citaku ini, sudah berapa banyak tenaga, pikiran dan materi yang kukorbankan?" "Jadi tidak kau ketahui berapa banyak bocah dan monyet yang telah kau korbankan nyawanya demi terwujudnya harapanmu ini?"

"Agar manusia bisa melangkah lebih jauh dalam hal teknik ilmu pengetahuan, apa salahnya sedikit berkorban?"

"Kenapa tidak kau gunakan anakmu sendiri sebagai kelinci percobaan?"

"Aku tak punya anak."

"Sudah kuduga sejak awal, manusia busuk macam kau mana mungkin bisa mempunyai anak."

"Dalam hal ini aku berani memberi jaminan, aku pasti mampu memiliki anak," Ong Ling-hoa tertawa tergelak.

"Ai... ! Kenapa orang sepertimu selalu melupakan kenikmatan nyata yang tersedia di depan mata," Yap Kay menghela napas panjang. "Berapa usiamu? Berapa tahun lagi kau bakal hidup di dunia ini? Tua bangka macam kau, biar masih bisa hidup dua tahun lagi juga belum tentu punya kemampuan untuk melanjutkan keturunan."

Tiba-tiba Ong Ling-hoa mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, katanya kemudian, "Kelihatannya sebelum kuterangkan semua duduk perkara secara jelas, kau pasti tak dapat mati dengan meram."

"Kelihatannya kau sadar juga akan hal ini." Ketika menekan sebuah tombol rahasia, dari balik dinding segera muncul sebuah lemari rahasia, dari dalam lemari itu Ong Ling-hoa mengambil sebotol arak anggur dan cawan arak terbuat dari batu kristal.

Setelah menuang arak dan menghirupnya seteguk, Ong Ling-hoa berkata lebih jauh, "Di saat umurku tiga puluh satu tahun, kujumpai seringkah penyebab kematian umat manusia adalah tubuh yang mulai tua dan rentan, saat itu timbul pikiranku, bila seseorang memiliki tubuh yang sehat, dia pasti akan panjang usia. Hanya sayang ketika manusia hidup mencapai satu tingkatan tertentu, dia pasti akan mulai menua dan menjadi lemah. Maka aku pun mulai memutar otak, mencari akal bagaimana bisa membuat kesehatan tubuh seseorang selalu langgeng dan abadi."

Ia membalikkan badan memandang Yap Kay sekejap, kemudian katanya lagi, "Tahukah kau bagaimana caranya manusia agar selalu memiliki tubuh yang sehat?"

"Kurangi minum arak, kurangi perbuatan kotor, maka tubuhmu akan selalu sehat sejahtera."

"Cara itu paling juga memperpanjang sesaat, paling hanya bisa hidup mencapai usia seratus tahun lebih, akhirnya dia bakal mati juga," kata Ong Ling-hoa, "jadi aku pikir, satu-satunya jalan adalah di saat tubuhmu mulai berubah jadi tua, gantilah badan yang tua dengan tubuh baru, tubuh yang sehat dengan organ tubuh yang masih segar. "

"Memangnya tubuh manusia ibarat pakaian?

Kalau pakaianmu sudah tua dan koyak, bisa saja diganti dengan pakaian baru, tapi ini tubuh manusia."

"Pada waktu lalu, tentu saja hal semacam ini tak mungkin bisa terjadi."

"Memangnya saat ini kau sudah punya cara?

Sudah menguasai teknik pencangkokannya?"

Tiba-tiba Yap Kay teringat kejadian pencangkokan kepala manusia dengan tubuh monyet, segera ujarnya lagi, "Jangan-jangan makhluk monyet berkepala manusia adalah salah satu teknik "

"Tepat sekali. Bila tubuh seseorang mulai menua, bisa saja badannya ditukar dengan badan orang muda. Karena berpendapat begitu, aku pun mulai menggunakan monyet sebagai kelinci percobaan, pada dua puluh tahun pertama, entah berapa ratus kali aku mengalami kegagalan, begitu badan monyet terpisah dari kepalanya, sang monyet langsung mampus. Kemudian perlahan-lahan aku pun menemukan teknik yang lebih canggih, dengan teknik itu aku berhasil memindahkan kepala monyet ke tubuh monyet lainnya. Dan pada setahun berselang aku pun berhasil memindahkan kepala manusia ke tubuh monyet." Biarpun dengan mata kepala sendiri Yap Kay telah menyaksikan kenyataan itu, namun dia masih tetap tak percaya.

"Bila tubuh monyet bisa ditukar dengan tubuh monyet lainnya, berarti bukan masalah untuk mengganti tubuh manusia tua dengan badan seorang pemuda yang lebih segar dan sehat," kembali Ong Ling-hoa berkata.

"Sudah kau coba?"

"Belum," Ong Ling-hoa menggeleng, lalu sambil menatap tajam tubuh Yap Kay, lanjutnya, "Tapi segera akan terjadi, malahan kau akan menjadi kelinci percobaanku yang pertama."

"Aku?" sekali lagi Yap Kay membelalakkan mata lebar-lebar, "kau ingin mengganti badanku dengan tubuh seseorang yang jauh lebih muda?"

"Akan kutukar dengan tubuh yang lebih tua," sahut Ong Ling-hoa sambil tergelak, "bila berhasil, maka tubuh tua yang kucangkokkan ke tubuhmu akan membuat kau makin tua dan akhirnya mati. Sementara aku pun akan mengganti tubuh tuaku dengan badanmu yang jauh lebih muda."

Tak seorang pun yang tak bakal takut ketika mendengar dirinya akan dijadikan kelinci percobaan, namun Yap Kay sama sekali tak takut, sekilas rasa ngeri pun tak nampak, dia malah berkata sambil tertawa, "Sayangnya aku belum tahu apakah kau pun sudah belajar bagaimana memotong tubuh sendiri kemudian mencangkokkan ke tubuh baru lainnya."

"Dengan kemampuanku seorang tentu saja tak mungkin bisa menyelesaikan tugas ini, untungnya sekarang aku telah menemukan seorang pembantu yang pas."

"Pembantu? Siapa?" "Aku!"

Menyusul perkataan itu Kim-hi muncul dari balik pintu, sambil tertawa gadis itu berjalan mendekati Yap Kay, lalu katanya, "Akulah pembantu utamanya."

"Kau?" dengan tercengang bercampur ragu Yap Kay memandang Kim-hi, "selama ini aku dan So Ming-ming selalu menguatirkan keselamatan jiwamu, tak nyana kau justru telah menjadi pembantu utama si pencipta maha karya bagi umat manusia."

Kim-hi bukan gadis bodoh, tentu saja dia dapat menangkap makna sindiran di balik perkataan Yap Kay itu, namun masih tetap dengan tersenyum katanya, "Aku adalah perempuan yang berani mencintai berani membenci dan berani menerima kenyataan, ketika pertama kali kau muncul, aku sudah tahu kau adalah jenis lelaki yang kusukai."

Setelah berhenti sejenak, terusnya, "Tapi aku pun tahu kalau persainganku dengan enci Ming- ming tak mungkin bisa kumenangkan, oleh sebab itu terpaksa aku harus mencari seorang lelaki yang menyukai aku."

"Akulah lelaki yang menyukai dirinya," sambung Ong Ling-hoa sambil tertawa.

"Di saat dia memberitahukan hal ini kepadaku, aku pun berpikir, biarpun cinta tak mengenal batas usia, namun bagaimana pun juga selisih usia kami berdua cukup jauh, biarpun kami dapat hidup gembira dan bahagia pun, kebahagiaan itu tak mungkin bisa berlangsung lama. Dia pun mengetahui akan kenyataan ini, maka dia memberitahukan kepadaku kalau dia sanggup melakukan karya akbar itu. "

Bicara sampai di sini, Kim-hi berpaling ke arah Ong Ling-hoa, kemudian tambahnya, "Bila berganti orang lain, mereka pasti akan mengira kau sinting, gila. Tapi aku sangat mempercayai perkataanmu itu. "

"Tentunya sejak pandangan pertama kau sudah tahu akan kehebatan ku, tahu kalau aku memang lelaki yang lain daripada yang lain, lelaki paling hebat di dunia ini," kata Ong Ling-hoa tertawa.

"Huh, tak kusangka kulit mukamu begitu tebal," Kim-hi tertawa cekikikan.

Mendengar sampai di sini, Yap Kay tak sanggup menahan diri lagi, ia menghela napas panjang.

"Ai! Kalian berdua benar-benar sepasang sejoli yang amat cocok, yang lelaki tampan, yang perempuan cantik jelita." "Terima kasih banyak atas pujiannya." "Kalau pembantu handal pun sudah tersedia,

lantas kau berencana kapan akan mulai

membedah tubuhku?" tanya Yap Kay sambil menatap Ong Ling-hoa.

"Besok," jawab Ong Ling-hoa cepat, "sebetulnya besok,  namun sekarang harus ditunda sampai tiga hari kemudian."

"Kenapa?"

"Karena ada seorang sahabat karibmu yang tiga hari kemudian akan menjadi penghuni tempat ini."

"Sahabat karibku? Siapa?" "Pho Ang-soat!"

"Dia?" bisik Yap Kay agak tertegun, "apakah dia pun berada di sini?"

"Benar."

Rembulan bagaikan seekor bayi yang baru mendusin dari lingkupan awan gelap, meronta dan menggeliat sambil memancarkan cahaya yang lembut, lalu dengan lembut dan halus membiarkan seluruh cahayanya turun ke bumi.

Sinar rembulan menyinari jendela kamar tidur Pho Ang-soat. Saat itu Pho Ang-soat sedang berbaring di atas ranjang, sama sekali tak terasa mengantuk barang sedikit pun, sepasang matanya yang dingin dan kesepian melotot besar dan bulat.

Duel akan berlangsung tiga hari kemudian, kalau dulu, tak nanti Pho Ang-soat mau melakukannya, dalam menghadapi setiap persoalan dia selalu ingin segera diselesaikan, tak suka ditunda atau mengulur waktu, tapi kali ini dia harus berbuat demikian.

Karena dalam tiga hari ini dia akan menunggu datangnya sebuah kabar, ingin menuntaskan masalah yang selama ini merisaukan hatinya.

Tiga hari, dia berharap dalam tiga hari ini So Ming-ming dapat menyampaikan berita yang ingin diketahuinya.

Kemarin dia memang tak mengizinkan So Ming- ming ikut karena dia berharap gadis itu dapat melakukan tugas ini untuknya, kalau bukan begitu, dengan watak So Ming-ming, biarpun secara terang-terangan dia tak sanggup, namun secara diam-diam dia pasti akan mengintil datang.

Hembusan angin malam musim panas di kota Lhasa terasa lebih dingin dari hembusan angin malam di musim dingin di Kanglam.

Dengan lembut angin malam menggoyang daun jendela, membuat suasana sepi yang mencekam jagad terasa lebih pilu dan mengenaskan. Dari kejauhan terdengar suara kentongan yang dibunyikan bertalu-talu, sudah mendekati kentongan ketiga, sebentar lagi langit akan menjadi terang, entah kejadian apa yang akan dijumpai esok?

Dalam situasi begini, ia perlu beristirahat sejenak, memelihara sedikit tenaga untuk menghadapi setiap kemungkinan yang terjadi esok.

Baru saja Pho Ang-soat hendak memejamkan mata, tiba-tiba dari luar jendela terdengar helaan napas sedih diikuti munculnya seorang.

Begitu mendengar suara helaan napas itu, Pho Ang-soat segera tahu orang itu bukan So Ming- ming yang sedang dinantikan, orang itu ternyata tak lain adalah Be Hong-ling, orang yang paling tak ingin dijumpai, orang yang kini telah menjelma menjadi Pek Ih-ling.

Biji mata yang sayu membawa kesenduan, memancarkan cahaya redup penuh kesedihan, sinar mata itu tertuju ke wajah Pho Ang-soat.

Begitu berhadapan dengan pemuda itu, Pek Ih- ling seakan sudah kehabisan bahan untuk berbicara, dia hanya mengawasi kaki sendiri dengan mulut membungkam.

Begitulah, untuk sesaat mereka berdua hanya saling berhadapan tanpa berbuat apa-apa.

Beberapa saat kemudian Pek Ih-ling baru berkata, "Aku rasa kau pasti sudah tahu siapakah diriku bukan?" "Benar."

"Mengenai cerita suku Damu yang menyangkut ayahku, tentunya kau pun sudah tahu bukan?"

"Benar."

"Tapi ada satu hal kau pasti tak tahu." "Katakan."

"Be Khong-cun yang tewas di rumah keluarga Ting pada sepuluh tahun berselang memang benar-benar ayahku."

"Benarkah itu?" Pho Ang-soat mendongakkan kepala memandang Pek Ih-ling.

"Benar."

"Lalu bagaimana dengan Be Khong-cun yang sekarang?"

"Dia pun ayahku."

"Dia pun ayahmu?" Pho Ang-soat tidak paham maksudnya, "jadi Be Khong-cun tidak tewas pada sepuluh tahun berselang?"

"Sudah mati."

"Kalau begitu Be Khong-cun yang sekarang seharusnya saudara kembar ayahmu bukan? Mana mungkin bisa ayahmu?"

"Inilah masalah yang kubilang kau pasti tidak tahu," Pek Ih-ling menerangkan, "padahal mereka berdua adalah ayahku."

"Keduanya?" "Benar, mereka pada saat yang bersamaan mengawini ibuku."

Seorang wanita kawin dengan dua pria, tentu saja putri yang dia lahirkan memiliki dua orang ayah sekaligus.

"Sewaktu kau bertanya kepada ayahku di gedung utama tempo hari, apakah aku adalah putrinya, kau tentu mengira dia adalah Be Khong- cun yang pernah kau jumpai sepuluh tahun berselang bukan?"

Tepat sekali, waktu itu Pho Ang-soat memang mengira dia adalah Be Khong-cun yang pernah dijumpai sepuluh tahun berselang, bahkan menganggap apa cerita tentang suku Damu sebagai bohong.

Pho Ang-soat benar-benar tak berani percaya di dunia ini memang terdapat suku Damu, tapi sekarang mau tak mau dia harus percaya.

Pek Ih-ling dengan sayu mengawasi wajah Pho Ang-soat, lalu ujarnya lirih, "Melihat aku malam- malam datang mencarimu, kau pasti menyangka aku ingin mohon kepadamu agar jangan membunuh satu-satunya ayahku yang tersisa bukan?"

"Memangnya bukan?"

"Justru sebaliknya. Tujuan kedatanganku malam ini adalah berharap kau bisa membunuh ayahku dengan sekali tebasan." Mendengar jawaban itu, Pho Ang-soat malah tertegun dibuatnya. "Kau minta aku membunuh ayahmu dengan sekali tebasan?"

"Benar!"

Perlahan-lahan Pek Ih-ling membalikkan badan berjalan menuju ke tepi jendela, sorot matanya dialihkan memandang kejauhan. "Kau pasti menyangka aku sudah gila bukan?" bisiknya. Pho Ang-soat memang berpikiran begitu.

"Bila kau sudah tahu duduk persoalan yang sebenarnya, maka kau pasti tahu keputusanku ini tidak salah," kata Pek Ih-ling hambar. Duduk perkara yang sebenarnya?

Apakah di balik kasus yang lambat-laun mulai terkuak ini masih tersimpan rahasia lain?

Kalau memang ada, rahasia macam apakah itu?

Angin masih berhembus lembut, tapi udara terasa makin dingin.

Rambut Pek Ih-ling yang hitam nampak lebih indah di bawah pantulan sinar rembulan.

"Aku tahu golokmu memang sangat lihai, ilmu silatmu juga tiada taranya," ujar Pek Ih-ling lagi, "tapi  dalam duel tiga hari lagi, bila kau gagal membunuh ayahku, maka kau sendirilah yang bakal mati."

Perlahan  ia berpaling lagi,  menatap Pho Ang-soat, tambahnya serius, "Yap Kay pun pasti mati juga." "Oya?"

"Kau pasti menyangsikan perkataanku ini, kau anggap duel yang akan diselenggarakan adalah sebuah pertarungan yang adil?"

"Biar tidak adil pun tidak menjadi masalah bagiku," kata Pho Ang-soat hambar, "aku percaya Thian pasti adil terhadap siapa pun."

"Tidak masalah? Bila kau tahu situasi seperti apa yang bakal kau jumpai, pasti tak akan kau katakan tidak menjadi masalah."

Pho Ang-soat tak menanggapi perkataannya, hanya sinar matanya dialihkan keluar jendela, namun dari mimik mukanya tertera jelas ia tidak sependapat.

"Kau sangka perabot yang terdapat di penginapan Sau-lay benar-benar seperti yang dia katakan, khusus dipindah kemari? Kau sangka masalah yang menyangkut Hong-ling bukan hasil rancangannya?"

Hong-ling? Lamat-lamat Pho Ang-soat merasa hatinya pilu dan sakit.

Baru berkumpul selama tiga belas hari, baru terjalin hubungan satu kali... hati Pho Ang-soat yang dingin membeku lambat-laun mulai mencair.

Setelah hening beberapa saat, Pek Ih-ling berkata, "Sebelum kalian berduel nanti, Ong Ling- hoa pasti akan memberitahukan kepadamu bahwa Yap Kay dan Hoa Pek-hong serta Hong-ling telah terjatuh ke tangannya, dalam keadaan begitu sanggupkah kau mencabut golokmu?"

Tidak mungkin, dalam keadaan seperti ini, siapa pun tak bakal mampu mencabut goloknya.

Yang seorang adalah sahabat karibnya, seorang lagi meski bukan ibu kandungnya tapi dialah yang telah memeliharanya hingga dewasa, kemudian yang seorang lagi....

Sekali lagi Pho Ang-soat menatap tajam wajah gadis itu. "Masalah Hong-ling, apa benar hasil rancangan busuk mereka?" tegasnya.

"Benar, tapi akhir dari semua ini sama sekali di luar dugaanku!"

Suara itu berasal dari mulut Ong Ling-hoa, tahu-tahu dia telah muncul di depan pintu.

Begitu melihat kemunculan Ong Ling-hoa, paras muka Pek Ih-ling berubah pucat-pasi, seakan seorang bocah bersalah yang tertangkap basah oleh ayahnya.

Sikap Pho Ang-soat tetap sedingin es, tak mengunjuk rasa kaget atau tercengang.

Suara tawa Ong Ling-hoa amat ramah, perlahan dia berjalan masuk ke dalam kamar, setelah menatap Pho Ang-soat sekejap, ujarnya, "Bukankah siang tadi telah kukatakan, walaupun persoalan tentang Hong-ling merupakan hasil rancanganku, tapi cara pembalasannya sama sekali di luar dugaanku." Kembali ia menatap Pho Ang-soat, lanjutnya, "Ternyata ketika pembalasan berjalan sampai di tengah, dari benci dia malah jadi cinta."

Berubah jadi cinta?

"Dia benar-benar telah mencintaimu," sepatah demi sepatah Ong Ling-hoa berkata.

Begitu mendengar perkataan itu, paras muka Pho Ang-soat berubah hebat, berubah gembira, berubah sedikit gugup dan panik.

Gembira karena ia tahu tak percuma dia menderita dan tersiksa selama ini, gugup dan panik karena sadar, tak mungkin lagi baginya untuk melepaskan diri.

Sebelum pertarungan berlangsung, Pho Ang- soat sudah kalah.

Setelah semua peristiwa berkembang sampai di sini, tampaknya segera akan berakhir. Tentu saja pemenangnya adalah Ong Ling-hoa, tak heran senyumannya semakin ramah.

Hembusan angin malam masih terasa lembut, hawa dingin masih membeku, ketika malam hari tiba, langit terasa makin gelap.

Gelap bukan karena cahaya rembulan tertutup awan, inilah detik terakhir menjelang datangnya sang fajar, saat yang paling gelap sepanjang hari. Untung saja saat seperti itu selalu hanya berlangsung singkat, pada akhirnya cahaya terang pasti akan muncul juga, mengusir pergi kegelapan.

Pho Ang-soat masih dingin dan menyendiri, biarpun ia sadar dirinya sudah tak sanggup lagi mencabut golok, namun hatinya tetap panas.

Baginya persoalan apa pun sudah tak penting lagi, sekalipun harus kehilangan nyawa, dia sudah tahu akan perasaan cinta Hong-ling.

Ia tahu kali ini pengorbanannya tidak sia-sia, perasaan cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, baginya hal ini sangat penting, jauh lebih penting dari segalanya.

Oleh sebab itulah paras mukanya kelihatan tenang dan dingin, meski sorot matanya tetap dingin, namun sudah tiada rasa sepi lagi.

Ia sama  sekali tidak memperhatikan Ong Ling-hoa yang masih merasa bangga, ia sedang mengawasi Pek Ih-ling yang masih meringkuk, setelah mengawasinya sekian lama, tanyanya,  "Kau belum memberitahu kepadaku, kenapa harus membunuh Be Khong-cun?"

Semenjak kemunculan Ong Ling-hoa, mimik muka Pek Ih-ling sudah menunjukkan perasaan gugup bercampur panik, apalagi sesudah mendengar pertanyaan Pho Ang-soat, perasaan takut dan ngerinya semakin menebal.

Diam-diam ia melirik Ong Ling-hoa sekejap, lalu menundukkan kepala makin rendah. Gelak tawa Ong Ling-hoa semakin ramah. "Dia tak bakal memberitahukan lagi persoalan

itu kepadamu, selama hidup kau tak bakal tahu."

"Keliru, kau keliru besar, dia pasti akan mengatakan sekarang juga."

Suara itu muncul dari arah belakang. Mimik muka Ong Ling-hoa yang semula dihiasi senyuman ramah pun seketika membeku, bahkan berubah jadi pucat-pias. Perasaan terkejut dan rasa tercengangnya bahkan jauh lebih kental daripada Pek Ih-ling.

Begitu mendengar suara itu, Pho Ang-soat yang dingin kaku masih tetap dingin dan kaku, tapi di balik sinar matanya yang dingin justru terselip senyuman, karena suara itu sangat dikenal olehnya.

Tentu saja suara itu adalah suara Yap Kay.

Keadaan Yap Kay saat ini sama sekali tak mirip dengan seseorang yang sudah kelaparan selama banyak hari, wajah serta mimik mukanya seperti seseorang yang kekenyangan karena menikmati hidangan yang lezat dan arak wangi.

Sambil tertawa dia berjalan masuk, menghampiri Pho Ang-soat, lalu katanya, "Hanya dengan membunuh Be Khong-cun kau baru benar-benar bisa membuat perasaan kedua belah pihak tenang kembali, kau pun baru bisa

mengalahkan Ong Ling-hoa, karena Be Khong-cun adalah putra Ong Ling-hoa." Fajar telah menyingsing, cahaya pertama, bagai segulung bara api menembus awan gelap memancar ke bumi, membawa suasana terang ke dalam kebun monyet.

Tawa Yap Kay amat riang, sambil membalikkan badan dia memandang Ong Ling-hoa.

"Bukankah kau pun ingin bertanya kepadaku, kenapa aku pun mengetahui rahasia ini? Kenapa secara tiba-tiba aku mendapatkan kembali kekuatanku? Kenapa secara tiba-tiba bisa muncul di sini?" kata Yap Kay sambil tertawa, "bukankah begitu?"

Tentu saja semua pertanyaan itu merupakan persoalan yang ingin diketahui Ong Ling-hoa, karena ia benar-benar tak habis mengerti, kenapa secara mendadak segala sesuatunya bisa berubah jadi begini?

Yap Kay tertawa semakin riang.

"Aku memang tidak menyangka, manusia semacam ini ternyata sanggup menggunakan obat pemabuk, obat yang memalukan itu, tapi jangan lupa, aku pun seorang yang licik, mana mungkin orang licik macam aku bisa roboh karena obat pemabuk?"

Setelah berhenti sejenak, terusnya, "Aku memang sengaja berlagak roboh, hal ini tak lain karena ingin menonton permainan busuk apa lagi yang akan kau lakukan." Baru selesai perkataan itu, mendadak dari luar pintu terdengar lagi seseorang berseru sambil tertawa cekikikan,

"Kentut busuk, coba kalau bukan berkat seekor ayam panggangku, mana mungkin kau sanggup berjalan sampai di sini?"

Kontan Yap Kay mengernyit alis, sambil menggeleng kepala serunya, "Heran, kenapa ucapan perempuan selalu tak bisa dipercaya?"

Menyusul suara tertawa cekikikan tadi, terlihat So Ming-ming muncul di depan pintu, katanya lagi, "Aku hanya jengkel setelah mendengar perkataanmu itu, kau seolah-olah menggambarkan diri sendiri seperti dewa, semua pahala mau diraup seorang diri."

Biarpun wajah So Ming-ming mirip orang marah, namun sinar matanya justru dihiasi senyuman.

"Andaikata Pho Ang-soat tidak memberitahu kepadaku kalau di dalam sumur kering pasti terdapat lorong bawah tanah, bagaimana mungkin aku bisa menemukan dirimu," lanjut So Ming-ming lagi, "kalau aku gagal menemukan dirimu, siapa yang bakal membebaskan totokan jalan darahmu, siapa yang bakal membawakan seekor ayam panggang untuk menangsal perutmu, darimana kau bisa mendapatkan kembali kekuatanmu?"

Sambil bercekak pinggang dan melotot besar, ujarnya lebih jauh, "Seandainya bukan Pek Ih-ling yang memberitahu kepadaku tentang hubungannya dengan Ong Ling-hoa, darimana pula kau bisa tahu Ong Ling-hoa telah mengawini orang suku Damu hingga melahirkan dua orang Be Khong-cun."

"Baik...  baiklah...  kau memang benar, semua pahala dan jasa ini memang sepantasnya dimiliki kau seorang."

"Tentu saja."

So Ming-ming tergelak, senyumannya sangat manis dan gembira.

Di luar kota Lhasa terdapat sebuah jalan setapak, di ujung jalan terdapat sebuah rumah, di depan emperan rumah tergantung sebuah keliningan.

Suara keliningan yang merdu bergema tiap kali angin berhembus, dalam rumah terlihat seorang wanita sedang bebenah.

Ketika lelah, perempuan itu pun berhenti, menyeka peluh yang membasahi jidatnya.

Pada saat itulah tiba-tiba detak jantungnya berdebar sangat keras, dia telah melihat kemunculan seraut wajah yang putih pucat.

Sebilah golok kesepian ditambah seorang lelaki yang kesepian.

Mereka berdua pun saling tatap, berpandangan dengan mulut membungkam, sampai lama sekali belum juga ada yang buka suara, kebahagiaan sedang membara di hati mereka, seperti bunyi keliningan yang berdenting tiada hentinya.

T A M A T