Kilas Balik Merah Salju Jilid 13

 
Kembali Siau Piat-li berkata setelah tertawa lebar, "Tahukah kau, ada begitu banyak wanita di dunia ini yang mula-mula sangat membenci benih dalam kandungannya akibat perkosaan, tapi tatkala mereka yakin dirinya mulai mahir, bukan saja rasa benci itu hilang, bahkan mereka sangat berharap bisa melahirkan si bocah dengan selamat, tahukah kau karena apa?"

"Karena cinta seorang ibu?"

"Benar. Terlepas siapa ayah bocah itu, terlepas bocah itu bisa lahir disebabkan peristiwa apa, namun kehamilan dapat membuat seorang wanita belajar menjadi ibu, dapat mengubah rasa benci mereka menjadi cinta."

Walaupun Pho Ang-soat masih mendengarkan, namun sorot matanya telah dialihkan ke tempat jauh, memandang suatu tempat nun jauh di sana.

"Sekalipun Hong-ling benar-benar ingin membunuh sanakmu, ingin membunuh bocah itu, tapi di saat benihnya telah berwujud jabang bayi dalam rahimnya, rasa benci itu pasti akan segera berubah menjadi cinta seorang ibu," Siau Piat-li kembali menegaskan. "Oleh karena itu, biarpun si perancang rencana busuk itu ingin berbuat begitu, Hong-ling pasti akan berusaha sekuat tenaga melindungi darah dagingnya."

Oh perempuan, sebenarnya manusia seperti apakah perempuan itu? Pho Ang-soat merasa dirinya benar-benar tak paham tentang wanita.

Bukan hanya dia yang tak paham, ada berapa banyak lelaki di jagad ini yang benar-benar memahami wanita? Malam telah berakhir, sinar fajar kembali muncul di ufuk timur.

Dalam hati Pho Ang-soat sudah tak ada lagi jarum tajam yang mengganjal, ia telah mengambil keputusan untuk melacak peristiwa ini hingga jelas. Walau harus membayar mahal, harus mempertaruhkan keselamatan jiwanya, dia ingin tahu siapa dalang di balik semua itu.

Cepat dia menarik kembali sorot matanya dari kejauhan dan memandang sekejap warung arak itu.

Cahaya lentera tetap terasa redup, arak pun masih keruh, dia mengambil secawan arak, kemudian dengan sikap yang amat tulus katanya kepada Siau Piat-li, "Kuhormati secawan arak untukmu."

"Menghormati aku?" tanya Siau Piat-li terperanjat.

"Sebetulnya aku tak patut minum arak lagi, tapi secawan ini aku harus tetap menghormatimu," kata Pho Ang-soat, "karena kau telah membantu melepaskan simpul mati dalam hatiku."

"Bukan aku yang melepaskan simpul mati itu, kau sendiri yang melakukan," tiba-tiba Siau Piat-li tertawa, "biarpun begitu, semangkuk arak ini tetap akan kuterima, sebab merupakan peristiwa yang langka bila Pho Ang-soat mau menghormati orang lain dengan secawan arak." Arak yang mereka minum bukan arak kegirangan, bukan juga arak kesedihan, tapi arak pembangkit semangat antara seorang lelaki dengan lelaki lain.

Dengan cepat kedua isi mangkuk itu sudah berpindah ke perut mereka berdua, begitu mangkuk diletakkan, Siau Piat-li segera mengisi lagi dengan arak wangi.

"Kali ini akulah yang akan menghormati secawan untukmu," kata Siau Piat-li sambil mengangkat cawan araknya, "karena sehabis meneguk arak ini, kau harus melakukan perjalanan jauh."

"Perjalanan jauh?"

"Benar, kau harus berangkat ke pusat tempat ibadah orang Tibet, kota Lhasa."

"Ke Lhasa? Kenapa aku harus berangkat ke Lhasa?"

"Demi Yap Kay."

"Yap Kay?" Pho Ang-soat tertegun, "apakah dia terancam mara-bahaya?"

"Dia telah lenyap."

Cahaya sang surya menembus awan yang tebal, menyinari tiang bendera yang tak terlalu tinggi.

Biarpun bendera di atas tiang masih berkibar ketika terhembus angin, namun sudah tidak sementereng dan segagah apa yang pernah disaksikan Pho Ang-soat dulu, walaupun bendera itu masih merupakan bendera kebesaran Kwan tang ban be tong.

Meski bendera itu masih bertuliskan Ban be tong, namun sebagian besar sudah dalam kondisi bekas terbakar, bukan saja bentuk panji itu kumuh dan robek, bahkan sudah banyak ditempeli sarang laba-laba.

Dari bentuk panji itu dapat diketahui bahwa perubahan tidak terjadi dalam waktu singkat, paling tidak sudah sepuluh tahun lamanya.

Sepuluh tahun.

Kegagahan dan pamor Ban be tong seakan sudah lenyap ditelan bumi, apa yang terlihat kini tak lebih hanya rumah bobrok, rumah kumuh yang pernah dilihat Pho Ang-soat ketika malam pertama tiba di tempat itu.

Rumah yang setengah roboh, dinding pagar yang sebagian telah mengelupas, debu dan kotoran bertebaran, seluruh kompleks bangunan itu nyaris terbengkalai.

Sepuluh tahun kemudian, secara mengejutkan dan mengherankan bangunan Ban be tong pulih penuh kegagahan dan mentereng seperti semula, lalu secara aneh dan tidak dimengerti berubah jadi terbengkalai dan bobrok lagi.

Apa yang sebenarnya telah terjadi? Menyaksikan perubahan yang sama sekali tak terduga ini, Pho Ang-soat berdiri terperangah, setengah bodoh dibuatnya.

"Maka dari itu aku memaksamu datang kemari untuk menengok keadaan yang sebenarnya," terdengar Siau Piat-li berkata, "kalau tidak kau saksikan sendiri, siapa pun tak akan percaya kenyataan ini. "

"Mengapa bisa berubah begini? Sejak kapan semuanya terjadi?" tanya Pho Ang-soat.

"Sejak tiga belas hari berselang, hari kedua setelah kau mengajak Hong-ling meninggalkan tempat ini."

Pho Ang-soat berpikir sejenak, kemudian tanyanya lagi, "Apakah perubahan terjadi dalam semalaman, berubah secara aneh dan ajaib?"

"Benar. Malah kali ini aku berada di tempat kejadian."

Pho Ang-soat tidak paham kata-katanya itu. "Hari kedua sepeninggalmu, saat pihak Ban be

tong mengerahkan segenap kekuatannya melacak

jejakmu, tiba-tiba kutemui Be Khong-cun, meski waktu pertama kali berjumpa denganku dia nampak terkejut, namun biarpun aku teliti dengan lebih seksama pun tidak kujumpai pertanda dia itu gadungan."

Secara ringkas Siau Piat-li menceritakan pengalamannya pada saat itu. "Dia melayani aku dengan hangat, kami berdua pun berbincang sambil minum arak di dalam kamar bacanya, yang dibicarakan hanya seputar rahasia pribadiku dan Be Khong-cun."

"Rahasia yang tak mungkin diketahui orang lain?"

"Benar. Itulah sebabnya pada waktu itu aku curiga Be Khong-cun besar kemungkinan adalah Be Khong-cun yang telah mati sepuluh tahun berselang dan kini hidup kembali," kata Siau Piat- li, "bicara punya bicara, tiba-tiba secara tak kusadari ternyata aku telah mabuk berat, waktu itu sudah tengah malam."

"Kemudian?"

"Kemudian sewaktu sadar kembali, ternyata hari sudah terang tanah. Biarpun aku masih duduk di kamar baca tempat kami minum arak semalam, namun semua pemandangan telah berubah, menjadi keadaan seperti apa yang kau saksikan sekarang."

"Kemana orang-orang itu?"

"Tak ada orang, tak seorang pun yang terlihat."

"Tak ada orang? Semua jagoan Ban be tong yang bangkit kembali dari kematian ikut lenyap?"

"Benar."

Sepuluh tahun berselang Ban be tong telah dimusnahkan, semua penghuninya telah mati, tapi sepuluh tahun kemudian secara aneh dan tak masuk akal mereka muncul kembali.

Kini secara aneh dan tak masuk akal mereka lenyap kembali tak berbekas.

Sebenarnya apa yang telah terjadi?

Pho Ang-soat pernah bertemu So Ming-ming, dari mulut gadis itu dia pun tahu Yap Kay berangkat ke Lhasa karena ingin menyelidiki kebun monyet, tempat dimana Pek Ih-ling yang seharusnya Be Hong-ling pernah tinggal.

Di saat mendengarkan penuturan So Ming-ming tentang Yap Kay yang berangkat ke kota Lhasa, dia mendengarkan dengan seksama dan teliti. Tak sepotong kata pun yang tercecer.

Ketika mendengar Hong-ling di rumah keliningan, walaupun hati kecilnya merasa amat sakit, namun perasaan duka itu tak sampai ditampilkan di wajah.

Tentu saja Pho Ang-soat pun tahu Yap Kay lenyap karena masalah setan pengisap darah, justru karena persoalan itulah So Ming-ming khusus mendatangi kota kecil itu dan mengajak Siau Piat-li berunding.

Itu pula sebabnya Siau Piat-li memaksa menghormati Pho Ang-soat dengan secawan arak sambil mengatakan dia bakal melakukan perjalanan jauh.

Kini Ban be tong telah pulih dalam keadaan yang sesungguhnya, bangunan yang tinggal puing, bobrok dan terbengkalai. Be Khong-cun dan para begundalnya juga lenyap. Kemana semua orang itu telah pergi?

Tampaknya jawaban atas teka-teki itu hanya bisa ditemukan di kota Lhasa.

Oleh karena itu Pho Ang-soat bersama So Ming- ming segera berangkat ke kota Lhasa.

Lhasa.

Di pegunungan nan hijau dan pepohonan yang terbentang luas, dari kejauhan terlihat secara lamat-lamat bangunan istana serta dinding kota.

Langit amat bersih, istana Potala di bawah cahaya terang terlihat begitu megah dan keren.

Pho Ang-soat sama sekali tak menyangka, nun jauh di luar perbatasan ternyata terdapat tempat yang begitu indah, keindahannya begitu megah dan penuh misteri, keindahannya membuat orang terbuai dan terpikat, keindahan yang membuat orang jadi mabuk.

Bangunan benteng didirikan sepanjang batu karang membuat bangunan kuno ini tampak gagah dan menakjubkan.

Seluruh kota Lhasa nampak begitu indah bagaikan dalam impian, untuk sesaat Pho Ang- soat dibuat terperana, termangu-mangu saking kagumnya. Bagaimana dengan Hong-ling? Apakah dia telah kembali ke rumah keliningan?

Bagaimana rasanya bila orang yarig mendampinginya sekarang adalah Hong-ling?

Manusia memang sangat mengherankan, di saat hatinya sedang tersentuh oleh keindahan, mengapa semakin sulit baginya melupakan seseorang yang ingin sekali dilupakan?

Bangunan kuno bagaikan selembar kulit hasil samak, ada bagian yang licin dan indah, ada pula bagian yang kasar dan jelek. Jalanan di luar kuil Tay-cau-si merupakan sisi lain dari kota Lhasa.

Sepanjang jalan terlihat sampah berserakan, kawanan pengemis tua dengan pakaian kumal, berkepala gundul, bertelanjang kaki berdiri di sepanjang jalan sambil menyodorkan tangannya meminta sedekah.

So Ming-ming memang sengaja mengajak Pho Ang-soat melalui jalanan itu, sebab ia pernah berkata kepada gadis itu, "Aku tak ingin tinggal di rumahmu, aku pun tak ingin tinggal di tempat yang kotor."

Karena itulah So Ming-ming mengajak Pho Ang- soat menuju ke jalan itu, sebab di sini terdapat sebuah penginapan yang tidak terlalu menyolok dan jarang didatangi orang.

Merek dagang rumah penginapan ini pun sangat hebat, sekali pandang orang akan terkesan olehnya. Penginapan itu bernama penginapan Sau-lay (jarang yang datang).

Kalau nama penginapannya nyentrik, pemiliknya pun nyentrik.

Lopan pemilik rumah penginapan Sau-lay adalah seorang lelaki setengah baya berusia empat puluh tahunan, walaupun dandanannya tak jauh berbeda dengan kebanyakan orang, namun bila keesokan harinya tamu yang menginap di sana belum juga membayar ongkos sewa kamar, maka dengan wajah tak berperasaan dia akan berkata kepada tamunya, "Pergilah! Ingat, lain kali jangan kemari lagi."

Bayangkan saja, apakah manusia semacam ini tak pantas disebut manusia eksentrik?

Kamar yang tersedia di rumah penginapan Sau- lay tidak berbeda jauh dengan kamar losmen di wilayah Kanglam, sebuah ruangan yang sederhana dengan sebuah lampu minyak dan perabot seadanya.

Tapi begitu Pho Ang-soat masuk ke dalam kamar penginapan Sau-lay, paras mukanya kontan berubah hebat, berubah jadi amat jelek seolah baru saja melihat setan.

Sebenarnya setan itu tidak menakutkan, banyak orang tidak takut setan.

Pho Ang-soat pun tidak takut, jauh lebih berani dibandingkan sebagian besar orang. Apalagi dalam ruang kamar itu memang tak ada setannya.

Setiap benda, setiap perabot yang tersedia di sana persis barang-barang yang tersedia di losmen lain.

So Ming-ming memang kurang begitu tahu tentang Pho Ang-soat. tapi selama dua hari belakangan ini dia tahu pemuda itu bukan termasuk orang yang mudah terperanjat. Tapi kini dia pun dapat melihat Pho Ang-soat benar- benar dibuat terperana.

Dia tidak bertanya kepada Pho Ang-soat, "Apa yang telah kau lihat?"

Sebab apa yang bisa dilihat pemuda itu, dia pun dapat melihat jelas. Tapi dari sekian banyak benda yang dapat dilihat olehnya, tak satu pun yang bisa membuatnya ketakutan.

Yang terlihat olehnya hanya sebuah ranjang, meja, beberapa bangku, meja rias, lemari baju dan sebuah lampu minyak, semua barang amat sederhana dan sudah kuno.

Apa yang dilihat Pho Ang-soat hanya barang- barang itu, tak seorang pun yang tahu apa sebabnya dia begitu ketakutan?

Jangan-jangan kamar ini adalah sebuah kamar setan? Sebuah kamar yang dipenuhi setan, iblis dan roh gentayangan? Sebuah kamar yang akan mencekik dan menyiksa dirimu? Kalau memang begitu, mengapa So Ming-ming sama sekali tidak merasakan?

Jangan-jangan kawanan setan iblis itu hanya menyatroni Pho Ang-soat seorang?

So Ming-ming ingin sekali bertanya padanya, mengapa sikapnya berubah jadi begitu, namun ia tak berani, tampang Pho Ang-soat saat ini kelewat menakutkan.

Mimik mukanya sekarang seperti setan, perlahan-lahan ia duduk bersandar dinding dekat meja kayu, duduk di bangku bambu kuno.

Begitu duduk, paras mukanya kembali berubah, berubah semakin kalut tak keruan, di samping rasa gusar yang membara, dia pun memperlihatkan perasaan cinta dan kangen yang seakan selamanya sulit dihilangkan dari benaknya.

Sebuah kamar losmen sederhana mengapa dalam waktu sekejap dapat membangkitkan dua macam perasaan yang saling bertentangan?

Kembali So Ming-ming ingin bertanya, namun dia tetap tak berani.

Tiba-tiba Pho Ang-soat berkata, "Walaupun Hoa Pek-hong bukan ibu kandungku, namun ia sudah memelihara dan mendidikku selama delapan belas tahun."

Masalah budi dan dendam antara Pho Ang-soat, Yap Kay dan Be Khong-cun telah didengar So Ming-ming dari penuturan Siau Piat-li, karena itu dia pun tahu siapakah Hoa Pek-hong yang dimaksud.

"Biarpun sepanjang hidupnya selalu terkurung dalam rasa benci dan dendam, namun dia orang berhati lembut," gumam Pho Ang-soat.

Yap Kay lenyap tak berbekas, Be Khong-cun ikut menguap, teka-teki seputar Ban be tong belum terurai, mengapa di saat dan keadaan seperti ini mendadak Pho Ang-soat menyinggung Hoa Pek-hong?

Kembali So Ming-ming ingin bertanya, tapi lagi- lagi tak berani, maka terpaksa dia hanya mendengarkan Pho Ang-soat berkata lebih lanjut.

"Selama delapan belas tahun, dia yang memelihara dan mendidik aku hingga dewasa, meskipun dia pun selalu melolohku dengan masalah dendam, namun dia pun amat mencintaiku, merawatku dengan penuh kasih sayang," ujar Pho Ang-soat perlahan.

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, "Aku sengaja memberi tahu hal ini kepadamu karena aku ingin kau tahu, meskipun Hoa Pek-hong bukan ibu kandungku, namun dia telah memberi kehangatan keluarga kepadaku."

Sebetulnya dia seorang anak yatim piatu, secara tiba-tiba memiliki rumah, merasakan hangatnya berkeluarga, meski perempuan itu bukan ibu kandungnya, namun telah mendidik dan memeliharanya.

Budi pemeliharaan lebih tinggi dari langit. Tentu saja So Ming-ming mengerti teori ini.

Tiba-tiba Pho Ang-soat bangkit, berjalan menuju ke tepi jendela, mendorongnya hingga terbuka dan memandang kegelapan yang mulai mencekam jagad.

Setelah lama termenung, kembali ia berkata, "Selama delapan belas tahun aku tinggal di sebuah rumah batu, dalam rumah batu itu hanya terdapat sebuah ranjang, meja, beberapa bangku, lemari baju, meja rias dan sebuah lampu minyak."

Setelah memandang lagi kegelapan malam beberapa saat, ia pun berkata lebih jauh, "Semua barang yang ada dalam kamar ini berasal dari dalam rumah batu itu."

Akhirnya So Ming-ming mengerti juga apa sebabnya paras muka Pho Ang-soat berubah begitu hebat sejak masuk ke dalam kamar ini.

Ternyata setiap benda yang ada di sini, semuanya dipindahkan dari rumah batu yang pernah ditempatinya bersama Hoa Pek-hong.

Tapi siapa yang telah memindahkan kemari?

Sudah pasti ulah dalang yang berada di balik kekuatan Ban be tong, bisa jadi dia pula yang menjadi penyebab hilangnya Yap Kay.

Tidak bisa disangkal si dalang pasti telah menemukan tempat tinggal Hoa Pek-hong dan besar kemungkinan pada saat ini Yap Kay telah terjatuh ke cengkeraman sang dalang. So Ming-ming hanya mengawasi Phe Ang-soat dari kejauhan, untuk sesaat dia tak berani mengusiknya.

Air mata mulai mengembeng, berkumpul di balik kelopak mata, untung tak sampai mengucur, hanya di saat kesedihan yang paling puncak, air mata baru boleh mengucur.

Kalau Pho Ang-soat belum menangis, maka air mata So Ming-ming telah membasahi pipinya, dia sangat memahami hubungan batin antara Pho Ang-soat dan Hoa Pek-hong.

Dengan mulut membungkam dia awasi bayangan punggung Pho Ang-soat yang kesepian, sesaat kemudian ia berbalik badan dan beranjak keluar ruangan.

Tetapi sebelum dia melangkah keluar, terdengar Pho Ang-soat berkata, "Kau tak perlu keluar."

"Tak perlu keluar?" So Ming-ming menghentikan langkah sambil berpaling, "apakah kau tahu aku hendak kemana? Dan mau berbuat apa?"

Pho Ang-soat manggut-manggut.

"Tak bakal memperoleh jawaban apa pun, sudah pasti bukan pemilik losmen yang memindahkan barang-barang itu kemari, bahkan belum tentu dia tahu siapa yang memindahkannya kemari." Orang yang hendak dicari So Ming-ming memang Lopan pemilik losmen Sau-lay.

Setelah lampu minyak disulut, cahaya semu kuning menerangi seluruh kamar, Pho Ang-soat masih berdiri di tepi jendela, mengawasi kegelapan malam di kejauhan.

Cahaya rembulan terasa begitu lembut, sementara taburan bintang berkedip-kedip.

Apakah cahaya rembulan dan bintang di tempat ini sama menariknya dengan rembulan dan bintang di rumah batu yang pernah ditempati Pho Ang-soat?

Sewaktu lampu mulai menyala, So Ming-ming telah beranjak pergi dari situ.

Pho Ang-soat yang minta dia untuk pergi, sebab malam ini dia perlu beristirahat dengan sebaik-baiknya, dia harus menyimpan tenaga, harus meningkatkan kewaspadaan, kesensitipan dan perasaannya hingga ke tingkat paling tinggi.

Sebab yang bakal menyongsong dirinya besok adalah masa depan yang tak terbayangkan.

Di bawah sinar rembulan, bukit bersalju nun jauh di sana terlihat memantulkan cahaya keperakan, membuat suasana di jalan yang kalut itu sedikit lebih romantis.

Suasana romantis di tepi perbatasan.

Sepasang mata Pho Ang-soat sudah hampir tinggal satu garis lurus, biarpun badannya terbuat dari besi baja, kini sudah tak sanggup menahan perubahan yang terjadi secara bertubi-tubi, apalagi seharian ini dia disergap masalah yang berat, termasuk masalah ibu angkatnya.

Di kala Pho Ang-soat mulai merasa lelah, ingin beristirahat itulah mendadak dari sudut jalan ia lihat seseorang yang sangat dikenal berkelebat, sesosok tubuh gadis bertubuh ramping.

Begitu  melihat orang itu, alis Pho Ang- soat segera bekernyit, cepat   dia  melompat bangun, melompat keluar  lewat  jendela dan mengejar ke jalan raya.

Angin malam yang dingin berdesir lewat di sisi telinga Pho Ang-soat, tak selang berapa lama kemudian Pho Ang-soat telah mengejar orang yang sangat dikenalnya itu hingga pinggiran kota.

Antara tebing karang dengan pohon kaktus berdiri sebuah gardu segi delapan, ketika tiba di sana, orang itu berhenti dan berdiri tenang dalam gardu.

Pho Ang-soat ikut berhenti, berhenti di luar gardu, mengawasi punggung orang yang berdiri semampai, secercah kehangatan terlintas dari balik matanya yang dingin dan kesepian.

Hong-ling? Apakah Hong-ling yang berdiri dalam gardu itu? Ya, pasti dia. Sebab pakaian yang dikenakan tak lain adalah pakaian yang dikenakan sewaktu pergi meninggalkan dirinya.

Pho Ang-soat merasa detak jantungnya semakin cepat, bibirnya gemetar saking emosi, sesaat dia tak tahu apa yang mesti dibicarakan. Malam bertambah larut, rembulan pun masih bulat, bahkan hembusan angin malam yang begitu dingin pun terasa lebih lembut dan hangat, sehangat hembusan angin di musim semi.

"Baik... baikkah kau?"

Pho Ang-soat benar-benar tak tahu apa yang mesti diucapkan, terpaksa hanya beberapa patah kata itu yang diucapkan.

Orang yang berdiri dalam gardu kelihatan sedikit bergerak, tapi seperti juga sama sekali tak berkutik.

Ketika ditunggu sampai lama belum juga nampak ia bergerak, akhirnya Pho Ang-soat berkata lagi, "Meng... mengapa kau harus pergi?"

Pho Ang-soat  menundukkan kepala, katanya  lagi, "Apakah semua yang kau tulis dari suratmu merupakan ketulusan hatimu?" Tiba- tiba orang itu menghela napas sedih.

"Baru berkenalan tiga belas hari, sudah begitu besar perhatianmu terhadapnya, apakah dalam pandanganmu, aku tak mampu melebihi dia?"

Kembali terdengar helaan napas amat pedih, kemudian orang dalam gardu itu baru perlahan- lahan membalikkan badan.

Di bawah sorotan cahaya rembulan yang lembut, terlihat jelas raut muka bayangan itu.

Sekarang Pho Ang-soat baru dapat melihat jelas siapakah orang itu, ternyata dia tak lain adalah Pek Ih-ling yang semestinya Be Hong-ling. "Rupanya kau?"

"Kecewa?" kembali sinar pedih terpancar dari balik mata Pek Ih-ling, "kau tak menyangka bukan?"

Bara api cinta yang baru akan menyala seketika sirna kembali, sorot mata Pho Ang-soat kembali dingin dan hambar, bahkan terselip sedikit kepiluan.

"Kemunculanmu memang tepat waktu, aku memang sedang mencarimu," ujar Pho Ang-soat dingin.

"Mencari aku? Mencari aku untuk menanyakan masalah Be Khong-cun?" kata Pek Ih-ling sambil tertawa pedih.

"Sebenarnya siapakah kau?" tanya Pho Ang- soat sambil menatap tajam wajahnya.

"Siapa aku?" sekali lagi Pek Ih-ling tertawa sedih, "sebenarnya siapakah aku?"

Setelah memutar biji matanya yang sayu dan menatap sekejap wajahnya, ia melanjutkan, "Aku tak lebih hanya sebuah keliningan kecil. "

"Keliningan kecil?"

"Ya, keliningan kecil, bila ada orang menggoyang aku, maka aku pun berdenting, jika orang tidak menggoyangku, aku pun terbungkam." Dari balik mata Pek Ih-ling seolah terlihat cahaya air mata, tambahnya, "Keliningan kecil, coba kau dengar, bagus bukan namaku ini?"

Kembali ia menghela napas panjang, sekarang baru ia tahu, entah itu Pek Ih-ling atau Be Hong- ling, semuanya mempunyai masa lalu yang pedih dan penuh kesedihan.

Mengapa seorang yang tak pernah gembira selalu bertemu dengan orang tak pernah gembira lainnya?

"Setiap orang yang hidup di dunia ini terkadang memang tak bisa lari menjadi keliningan orang lain, kau adalah keliningan orang, siapa bilang aku tidak?" ujar Pho Ang-soat hambar, "bisa jadi orang yang menjadikan kau sebagai keliningan pun sesungguhnya sudah terikat tali orang lain dan dijadikan keliningan juga."

Pek Ih-ling kembali menatap wajah pemuda itu, lama kemudian baru ia menghela napas panjang.

"Ternyata watakmu tidak sedingin dan sesadis penampilanmu, tapi heran, mengapa ada begitu banyak orang yang justru menginginkan kematianmu?"

Setelah tertunduk sedih, terusnya, "Padahal ada pula kematian sementara orang yang justru membuat orang lain merasa gembira, meski ada juga yang kematiannya membuat banyak orang bercucuran air mata

Mendadak dia mendongakkan kepala, menatapnya sekejap. "Seandai nya kau yang mati, aku pasti akan mengucurkan air mata. Oleh karena itu lebih baik kau segera pergi, semakin jauh semakin baik, semakin cepat semakin bagus."

"Oya?"

"Jangan kau sangka kedatanganmu di Lhasa merupakan sesuatu yang amat rahasia, padahal semua gerak-gerikmu, sepak terjangmu sudah berada dalam perhitungan orang lain."

Kembali  Pek Ih-ling memperlihatkan rasa kuatirnya yang besar, "Semakin  lama  kau berada di Lhasa, hanya kematian yang bakal kau dapat."

Tiba-tiba Pho Ang-soat menggunakan pandangan matanya yang mendalam menatap si gadis, memandang begitu lama sampai gadis itu merasa j engah dan menundukkan kepala.

"Pergilah!" ucap pemuda itu, "aku pun tak ingin menyusahkan dirimu."

"Kau minta aku pergi?"

"Padahal sudah seharusnya aku tahu siapa dirimu," kata Pho Ang-soat, "semula aku ingin mencari tahu jejak mereka dari mulutmu, tapi sekarang

Mendadak ia menghentikan perkataannya. "Bagaimana sekarang?"

Pho Ang-soat tidak  bicara lagi, dia membalikkan badan, lalu menggunakan langkahnya yang aneh beranjak pergi dari situ. "Kau akan pergi begitu saja?"

Pho Ang-soat tidak berhenti, begitu dia mulai melangkah, sulitlah untuk berhenti, biarpun tahu di depan mata menghadang kematian, tak bakal dia menghentikan langkah.

"Kalau kau pergi begitu saja, hanya kematian yang bakal kau hadapi," hampir menjerit Pek Ih- ling meneriakkan perkataan itu.

Pho Ang-soat seolah tidak mendengar teriakan itu, dia sudah pergi jauh, biar terdengar pun apa pula yang akan dilakukan?

Air mata mengembeng di mata Pek Ih-ling akhirnya meleleh jatuh ke bawah, membasahi pipinya. Ketika terkena cahaya rembulan segera terpantul cahaya yang sendu.

Sambil mengawasi bayangan punggung yang mulai lenyap di balik kegelapan, gadis itu berdiri termangu, rasa pilu dan sedih semakin kental tercermin di balik wajahnya.

Sebuah tangan penuh bekas luka yang kuat dan besar menjulur mengangsurkan selembar sapu tangan ke depan wajah Pek Ih-ling. "Lupakan dia, anakku!"

Ketika Pek Ih-ling berpaling, Be Khong-cun sudah berdiri di belakangnya dengan wajah sendu, dengan penuh kasih sayang ia bantu menyeka air mata di pipinya. Gadis itu tak kuasa menahan rasa sedihnya lagi, ia menangis tersedu-sedu, sambil memukuli dada Be Khong-cun yang bidang, jeritnya, "Kenapa? Kenapa harus begini?"

"Karena kita semua hanya keliningan orang lain," jawab Be Khong-cun sambil menepuk bahu putrinya.

Mendengar ucapan itu, tangisan Pek Ih-ling semakin memilukan, sambil menggigit bibir jeritnya, "Ayah!"

***

Sewaktu tersadar kembali, Yap Kay merasa mulutnya kering, bahkan lamat-lamat dadanya terasa sedikit sakit, dia tahu inilah gejala pertama yang dirasakan setelah tersadar dari pengaruh obat pemabuk.

Pertama kali membuka matanya tadi, kepalanya masih terasa agak pening, ia tak tahu berada dimanakah dirinya sekarang, secara

lamat-lamat dia hanya teringat bagaimana dirinya roboh terkapar.

Berada dalam sumur kering, sebuah ruang rahasia di ujung lorong panjang, ketika dia tahu di sana telah menanti Hing Bu-bing, dia pun sadar hari ini pasti akan terjadi pertarungan yang amat sengit.

"Walaupun aku tahu bukan tandinganmu, tapi hari ini aku tetap akan bertarung melawanmu," ujar Yap Kay dengan suara hambar, "ada berapa banyak Hing Bu-bing di kolong langit? Bila aku tidak bertarung melawanmu hari ini, mungkin sulit bagiku untuk mencari seorang lawan macam kau di kemudian hari."

Setiap orang yang berlatih silat, ketika ilmu silatnya telah mencapai puncak kesempurnaan, dia akan merasa amat kesepian, sebab sampai waktu itu sulitlah baginya untuk menemukan seorang lawan tangguh yang sesungguhnya.

Oleh karena itulah ada sementara orang yang tak segan mencari kekalahan, karena dia beranggapan asal dapat bertemu seorang lawan tangguh yang sesungguhnya, biar kalah pun tetap membuat hatinya gembira.

Tapi Hing Bu-bing tahu perasaan Yap Kay saat ini bukanlah demikian, dia justru siap berduel karena semuanya itu demi Li Sun-hoan .

Bila hari ini Yap Kay mundur sebelum bertarung, menandakan Siau-Li si pisau terbang telah kalah di tangan Hing Bu-bing.

Perbuatan itu bukan saja akan mempermalukan nama baik perguruan, Yap Kay pun tak akan memaafkan diri sendiri.

Sebagai seorang lelaki sejati lakukanlah apa yang bisa kau perbuat, ajaran ini sudah lama Yap Kay serap dari ajaran yang diberikan Li Sun-hoan kepadanya.

Oleh sebab itu biarpun hari ini mesti mati, dia tetap akan melayani tantangan Hing Bu-bing.

Dalam ruang rahasia tak ada angin, tapi sudah dipenuhi hawa membunuh yang pekat.

Pedang belum dilolos dari sarungnya, namun hawa pedang sudah menyergap tubuh orang, seluruh ruang rahasia telah dipenuhi hawa membunuh yang serius dan menyeramkan.

Sepasang mata Hing Bu-bing yang keabu- abuan mengawasi terus tangan Yap Kay, mengawasi tanpa berkedip, sebab dia tahu tangan itu adalah tangan yang menakutkan.

Kini Yap Kay seolah telah berubah menjadi orang lain, matanya sudah tidak memperlihatkan sikap acuhnya, dari balik mata yang berkilat terpancar sejenis cahaya yang menyilaukan mata.

Dia ibarat sebilah pedang yang sudah lama tersimpan dalam kotak, tak ada pamor, tak ada aora yang kuat, jarang ada orang bisa melihat cahayanya yang berkilauan.

Tapi kini sang pedang telah dikeluarkan dari dalam kotak.

Yap Kay telah menggerakkan tangannya, sebilah pisau terbang telah tergenggam di antara jari tangannya.

Pisau terbang milik Siau-li yang tak pernah luput dari sasaran. Justru yang paling menakutkan dari Siau-li si pisau terbang adalah di saat pisaunya belum disambitkan.

Begitu pisau terbang terlepas, tak ada lagi yang perlu ditakuti.

Sebab orang mati memang tak kenal takut. Hawa membunuh semakin mengental.

Hing Bu-bing telah mencabut pedangnya sambil dilintangkan di depan dada, sementara tatapan matanya tak pernah terlepas dari tangan Yap Kay.

Cahaya yang terpancar dari mata pedang kelihatannya jauh lebih mencolok daripada sinar pisau terbang itu, hawa pedang pun terasa lebih kental, dari balik matanya yang kelabu sebetulnya hanya ada kekosongan, kematian. Tapi kini secara tiba-tiba terlintas secercah cahaya bimbang, secercah cahaya ngeri dan seram.

Tentu saja semua perubahan ini tak terlepas dari ketajaman mata Yap Kay, dalam hati kecilnya ia betul-betul merasa heran, di saat jago silat siap berduel, kenapa Hing Bu-bing justru memperlihatkan sinar mata semacam ini?

Bukankah dia telah melakukan kecerobohan fatal yang bisa berakibat kematiannya?

Tapi peristiwa yang kemudian terjadi justru membuat Yap Kay semakin terperanjat, ia lihat Hing Bu-bing mendadak memejamkan mata, kemudian tubuhnya tumbang ke tanah.

Apa yang sebenarnya terjadi? Sementara Yap Kay masih terperangah, masih terkesiap, tiba-tiba pandangan matanya ikut buram, kabur dan terpancar perasaan ngeri dan kaget yang luar biasa, sekarang baru dia mengerti apa yang telah terjadi.

Akhirnya ia sadar apa sebabnya Hing Bu-bing menunjukkan gejala seperti itu, rupanya ada orang ketiga yang secara diam-diam telah memasang jebakan di situ, orang itu menanti dengan tenang di samping arena, menunggu sampai mereka berdua mulai saling berhadapan dan siap bertarung, lalu secara diam-diam melepas obat pemabuk tanpa warna tanpa bau.

Itulah sebabnya Hing Bu-bing roboh secara mendadak, tentu saja tak terkecuali Yap Kay.

Sesaat sebelum tubuhnya roboh, hanya satu persoalan yang terpikir olehnya, siapa yang melepas dupa pemabuk itu? Mengapa dia berbuat begitu?

Ketika sadar dari pingsannya, kepala masih terasa pusing, Yap Kay mencoba menggunakan tangannya untuk meraba kepala, sayang sama sekali tak mampu bergerak, dia mencoba mengerahkan tenaga dalam, ternyata hawa murninya tersumbat. Sekarang baru dia tahu, rupanya jalan darah di tubuhnya telah tertotok.

Menanti mata dan pikirannya mulai dapat menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingnya, Yap Kay baru menjumpai dirinya sedang berbaring dalam sebuah ruangan yang berbentuk sangat aneh.

Cahaya lampu di sini amat terang dan amat lembut, tapi tak terlihat sebuah lampu lentera pun.

Kalau tak ada lampu, darimana datangnya cahaya terang? Darimana munculnya cahaya yang begitu lembut dan terang?

Ternyata Yap Kay berbaring di atas sebuah meja altar panjang yang terbuat dari batu kristal, di samping altar terlihat banyak sekali meja altar kecil, di atas beberapa meja kecil itu tergeletak berbagai jenis pisau kecil. Juga ada beberapa buah botol bulat, dalam botol berisi bubuk, semacam bubuk obat, ada pula yang berisi cairan, cairan warna-warni.

Di atas meja kecil yang lain terlihat juga benda yang berbentuk aneh, Yap Kay tidak tahu apa kegunaannya, berupa botol kristal yang bagian bawahnya berbentuk bulat, bagian bawah yang bulat itu sedang dibakar dengan api, sementara cairan di dalamnya mendidih, uap putih mengepul tiada hentinya.

Asap putih itu bergerak mengitari pipa kristal bulat, berkumpul menjadi satu sebelum akhirnya membeku lagi dan berubah jadi air, setetes demi setetes mengalir masuk ke botol berbentuk bola lainnya.

Apa kegunaan botol-botol bulat itu? Dan apa gunanya? Yap Kay sama sekali tak paham. Terpaksa dia mengalihkan sorot matanya ke arah lain, di situ ia saksikan ada empat buah lemari berisikan botol-botol berisi cairan merah seperti darah, di atas lemari itu masing-masing tertempel label dengan tulisan, "Jenis kesatu", "Jenis kedua", "Jenis ketiga" dan "Jenis keempat".

Selesai memperhatikan benda-benda aneh yang terdapat dalam ruangan itu, Yap Kay baru menyadari tempat itu sangat bersih, teratur bahkan terkesan dingin, sepi dan berbau obat- obatan.

Ruangan apakah itu? Mengapa di situ tersimpan begitu banyak benda berbentuk aneh? Apa kegunaan benda-benda aneh itu?

Pertanyaan itu berulang kali melintas dalam benak Yap Kay yang baru tersadar kembali.

Sementara dia masih bingung, mendadak terdengar suara mencicit berkumandang datang.

Cepat dia berpaling, suara itu berasal dari balik dinding.

Tiba-tiba terbuka sebuah pintu, lalu dia pun menyaksikan seorang... bukan, bukan manusia tapi seekor monyet berjalan mendekat.

Bukan, ternyata bukan monyet, tapi seorang.

Seorang! Makhluk aneh berkepala manusia bertubuh monyet.

Yap Kay terperangah, walau tempo hari dia pernah menyaksikan makhluk berkepala manusia bertubuh monyet, tapi makhluk di depannya kini bukanlah monyet yang kepalanya dicukur gundul.

Benarkah di kolong langit terdapat makhluk seperti ini? Lalu dia termasuk jenis manusia? Atau jenis monyet?

Ia saksikan manusia itu berjalan masuk ke dalam ruangan, lalu memasukkan sebuah tabung darah ke dalam lemari yang berlabel "Jenis kesatu".

Yap Kay tak kuasa menahan rasa herannya, ia segera menegur, "Kau... manusiakah kau? Atau

... atau monyet?"

"Manusia? Monyet?" makhluk aneh itu menjawab, "manusiakah aku?"

Yap Kay dapat menangkap perasaan pedih yang menghiasi wajah makhluk itu.

"Adakah manusia seperti aku di dunia ini?" dia menatap Yap Kay sambil berkata sedih, "adakah monyet seperti aku di dunia ini? Aku manusia atau monyet?"

Yap Kay tak sanggup menjawab lagi, dia memang tak tahu apa yang telah terjadi, dia pun tak tahu dia sebenarnya masih terhitung manusia atau monyet?

Dari balik kepedihan yang terpancar pada wajah makhluk itu tiba-tiba muncul sinar kebencian yang luar biasa, dengan sorot penuh kebencian dan kepuasan itulah dia menatap wajah Yap Kay. "Sebentar lagi kau pun akan merasakan penderitaan seperti aku, " di balik nada suaranya terselip sindiran dan ejekan yang sadis dan kejam, "tak sampai beberapa hari lagi, kau pun akan berubah seperti bentukku."

"Berubah seperti bentukmu?" Yap Kay tertawa, "memang ada manusia sakti yang pandai ilmu sihir, asal dia menudingkan jari tangan lalu aku pun berubah bentuk seperti kau?"

"Dia memang tak punya ilmu sihir, tapi memiliki sepasang tangan yang trampil, tangan yang sakti luar biasa," kata makhluk itu, "dalam ruang bedah inilah dengan sepasang tangan saktinya dia akan mengubah kau menjadi bentuk aneh seperti aku, cukup dalam tiga hari."

Sepasang tangan yang trampil? Dalam ruang bedah? Tak sampai tiga hari? Benarkah ia mampu membentuk seseorang menjadi makhluk berkepala manusia bertubuh monyet? Tapi... mana mungkin? Tidak masuk akal.

Yap Kay tak percaya, sampai makhluk itu berlalu cukup lama Yap Kay masih belum percaya dengam apa yang dikatakannya.

Kalau memang tak percaya, lebih baik tak usah dipikir, maka Yap Kay pun segera memejamkan mata sambil mengatur napas, "Biarlah apa yang akan terjadi, terjadilah."

Saat itulah mendadak ia teringat akan satu kejadian. Di negeri sebelah barat yang letaknya nun jauh di sana, konon terdapat sejumlah orang pandai yang mampu menggunakan ilmu pertabiban tingkat tinggi untuk mengganti organ tubuh yang rusak atau busuk dengan organ baru, organ yang dicangkokkan kembali.

Organ tubuh yang diganti itu berasal dari tubuh orang lain, organ orang lain itu dicangkokkan ke bagian tubuh yang sudah rusak itu.

Ilmu pertabiban tingkat tinggi? Benarkah makhluk berkepala manusia bertubuh monyet ini merupakan pencangkokan organ tubuh dengan ilmu pertabiban tingkat tinggi? Apakah tabib sakti semacam itu sudah memasuki wilayah daratan?

Langit mulai terang tanah.

Kegelapan malam yang sepi telah lenyap di balik fajar yang mulai menyingsing di kota Lhasa.

Jalan raya mulai hiruk-pikuk dengan suara orang berlalu-lalang, kehidupan baru kembali mulai berlangsung.

Selesai mengenakan pakaian, Pho Ang-soat berjalan keluar dari penginapan Sau-lay dan membaurkan diri dengan keramaian manusia, ia mulai berjalan menuju ke masa depan yang tak diketahui ujungnya.

"Apakah besok kau akan mulai dengan penyelidikanmu?"

"Benar." "Apakah akan dimulai dari posisi dimana Yap Kay hilang?" "Tidak!"

"Tidak? Kenapa? Yap Kay lenyap di tempat itu, seharusnya kau mulai melakukan penyelidikan dari tempat itu."

"Orang yang mampu membuat Yap Kay lenyap pasti bukan orang sembarangan, tak mungkin dia akan meninggalkan jejak di tempat dimana Yap Kay hilang agar kita mendapat petunjuk untuk menelusuri jejaknya."

"Jadi pergi ke sana pun pasti akan sia-sia?" "Benar."

"Lalu kita harus mulai menyelidiki darimana?

Apakah dari kebun monyet?" "Benar."

"Baiklah, kalau begitu besok pagi aku akan mengajakmu ke sana." "Tidak perlu."

"Tidak perlu? Masa kau akan ke sana seorang diri?"

"Betul."

"Kenapa?"

"Karena aku tak suka bekerja bersama seorang wanita."

Inilah pembicaraan So Ming-ming dan Pho Ang- soat menjelang pergi dari situ, akhirnya tentu saja So Ming-ming harus pergi meski dengan perasaan tak rela.

Kebun monyet. Ternyata pintu gerbang menuju kebun monyet berada dalam keadaan terbuka, di bawah cahaya matahari tampak seperti seorang tuan rumah yang penuh kehangatan sedang mementang tangan menyambut kedatangan para tetamu.

Apakah mereka sudah tahu kalau hari ini bakal ada yang datang? Apakah mereka sengaja membuka lebar pintunya untuk menunggu kedatangan Pho Ang-soat?

Pertanyaan semacam ini sama sekali tak terpikir dan tak mau dipikir Pho Ang-soat, dengan langkah lebar dia langsung memasuki pintu gerbang kebun monyet.

Halaman depan yang amat luas terdapat jembatan dengan selokan berair jernih, ada gunung-gunungan dan gardu, ada aneka bunga dan rumput, ada pula aneka jenis binatang yang terbuat dari tanah liat, hanya manusia yang tak terlihat.

Tak ada manusia, tak ada suara, semuanya terkesan hening, sepi dan mati.

Setelah menyeberangi jembatan, di antara aneka macam tumbuhan berdiri sebuah gardu segi enam, jalan setapak berlapiskan batu hijau yang tersusun rapi.

Sejak melangkah naik ke atas jembatan, Pho Ang-soat sudah tahu dalam halaman yang luas itu sama sekali tak ada penghuninya, tapi dalam gardu segi enam, gardu yang dikelilingi pepohonan terlihat seorang sedang duduk di sana sambil mengisap Huncwe.

Seorang kakek kecil duduk sambil menikmati Huncwenya, cahaya api terlihat sebentar menyala sebentar padam.

Pho Ang-soat lihat cahaya api yang sebentar terlihat sebentar padam itu mengikuti semacam irama yang aneh, terkadang cahayanya panjang terkadang pendek.

Sejenak kemudian cahaya api itu pun terang benderang bagaikan sebuah lampion.

Belum pernah Pho Ang-soat menyaksikan ada orang yang dapat mengisap Huncwe dengan memancarkan bunga api seterang itu.

Setelah melewati jembatan, menapak di atas jalan beralas batu dan mendekati gardu, mendadak cahaya api yang semula muncul di tempat itu lenyap. Seketika Pho Ang-soat menghentikan langkah.

Dia berdiri tegak di atas jalan berbatu, mengawasi kakek yang berada dalam gardu segi enam tanpa berkutik, baru sekarang ia dapat melihat jelas wajah si kakek pengisap Huncwe itu, ternyata dia bukan lain adalah Tui hong siu, kakek yang pernah berniat membunuhnya waktu di Ban be tong kemarin.

Setelah memperhatikan lama sekali, Pho Ang- soat mengayun kaki kirinya diikuti kaki kanan, berjalan masuk ke dalam gardu segi enam dan berdiri tenang tepat di hadapan Tui hong siu. Hari ini Tui hong siu mengenakan jubah berwarna hijau yang warnanya sudah mulai luntur, dia sedang duduk dalam gardu sambil menunduk kepala, asyik mengisi Huncwe dengan tembakau, sikapnya yang begitu acuh seakan tidak tahu ada orang sedang mendekat.

Pho Ang-soat sendiri tidak bicara, ia berdiri sambil menunduk, seluruh wajahnya nyaris tersembunyi di balik bayangan gelap dalam gardu segi enam, seakan tak ingin orang mengetahui mimik mukanya.

Walau begitu matanya mengawasi tangan Tui hong siu tanpa berkedip.

Dia sedang mengawasi setiap gerak-gerik si orang tua, mengawasi dengan teliti.

Dari kantung tembakaunya, Tui hong siu mengeluarkan segumpal rajangan daun, kemudian mengambil pematik dan membakar daun tembakau itu.

Semua gerak dilakukan sangat lamban, tangannya terlihat mantap dan kokoh.

Setelah pematik api digunakan, ia meletakkannya di atas meja, lalu mengeluarkan kertas dan meletakkannya juga di meja.

Baru sekarang Pho Ang-soat maju mendekat, begitu tiba di tepi meja, dia langsung mengambil kertas itu. Kertas itu amat tipis, garis lipatannya pun nampak rapat dan rapi, agaknya terbuat dari kualitas yang baik.

Dengan menggunakan kedua jari tangannya dia menjepit kertas itu, setelah diperhatikan sekejap, ia membawa kertas tadi mendekati pematik api.

"Tring!", percikan bunga api memancar ke empat penjuru, tahu-tahu kertas itu sudah terbakar.

Perlahan Pho Ang-soat menyodorkan kertas yang sudah terbakar itu ke kepala Huncwe yang berada di tangan orang tua itu ....

Setelah melewati halaman depan, melewati pintu berbentuk bulat dan tanaman aneka bunga, di ujung jalan terlihat rumah yang sangat besar, di samping bangunan terdapat sebuah bangunan loteng kecil.

Dalam ruang loteng kecil itu terlihat seorang kakek tua dan gadis muda.

Yang tua adalah pemilik kebun monyet, Ong- losiansing, sedang gadis muda itu adalah Kim-hi.

Bangunan loteng itu dibangun menggunakan kayu pohon Siong yang kering dan kuat, bukan saja tidak dicat bahkan hanya terdapat sebuah jendela yang sangat kecil.

Kim-hi duduk di sebuah bangku dalam bangunan loteng itu, dia sedang mengawasi Ong- losiansing. Gadis itu sedang keheranan, selama ini dia selalu menganggap diri sendiri sebagai gadis yang paling cerdas, jarang ada masalah di dunia yang tidak dipahami olehnya, tapi kini dia benar-benar tak mengerti apa yang sedang dilakukan Ong- losiansing?

Waktu itu Ong-losiansing sedang berdiri di depan satu-satunya jendela kecil di loteng itu, tangannya menggenggam sebuah tabung bulat panjang.

Tabung bulat itu panjangnya sekitar dua kaki dengan diameter secawan arak lebih sedikit.

Kini Ong-losiansing berdiri di depan jendela, memejamkan mata kiri dan menempelkan tabung bulat panjang itu di atas mata kanannya, sementara tabung bulat itu diarahkan keluar jendela.

Dalam posisi seperti itulah dia berdiri cukup lama, berdiri dalam gaya dan sikap yang tidak berubah. Ia tidak pernah memperlihatkan perubahan emosi, kecuali menampilkan keramahan, ia memang jarang membuat orang lain tahu apa yang sedang dipikirnya.

Tetapi kini mimik mukanya menampilkan banyak perubahan, bermacam emosi, seakan- akan dari balik tabung bulat panjang itulah dia dapat menyaksikan begitu banyak kejadian yang menarik hati.

Persis seorang bocah yang sedang bermain tabung ajaib. Ong-losiansing sudah tidak terhitung anak-anak lagi, tabung bulat panjang pun bukan tabung ajaib.

Tapi Kim-hi benar-benar tak bisa menebak apa yang sedang dilihatnya, dia pun tak tahu apa yang sedang dia pikirkan?

Tiba-tiba Ong-losiansing berpaling, sambil tertawa ia sodorkan tabung panjang itu ke tangannya.

"Kemarilah, coba kau ikut melihat." "Melihat apa? Melihat tabung panjang itu?"

"Benar," jawab Ong-losiansing sambil tertawa, "kujamin kau pasti dapat melihat banyak kejadian yang menarik."

Tabung bulat panjang itu terbuat dari emas, dibuat sangat indah dan artistik, sekilas pandang orang tahu benda itu tak ternilai harganya, tapi apa kegunaannya?

Ong-losiansing segera mengajarkan Kim-hi cara memegang dan memakainya, kemudian minta dia berdiri di depan jendela, memejamkan mata kiri dan melihat dengan mata kanan.

"Aku tahu kau adalah amat cerdas," ujar Ong- losiansing sambil tersenyum, "tapi kujamin kau pasti tak akan menyangka kejadian apa yang bisa kau saksikan melalui tabung bulat ini."

Kim-hi memang sama sekali tak menyangka. Mimpi pun dia tak menyangka kalau dari tabung bulat itu dia dapat menyaksikan dua orang.

Ia melihat seorang kakek tua dan seorang pemuda.

Tentu saja dia kenal orang tua itu, Tui hong siu, tapi belum pernah menyaksikan pemuda itu.

Seorang pemuda berwajah dingin kaku, memiliki sepasang mata yang jeli namun terbias perasaan tak berdaya dan pilu yang sangat mendalam.

Bagian tengah tabung itu kosong, sedang pada kedua ujungnya terpasang sejenis benda tembus pandang yang bening seperti batu kristal.

Kim-hi mengambil tabung itu, menempelkan ujung sebelah ke mata kanannya, lalu diarahkan keluar jendela, dengan cepat ia melihat seakan ada dua orang muncul di hadapannya.

Saking kagetnya hampir saja Kim-hi melepas tabung bulat itu dari tangannya.

"Benda apa ini?" serunya keheranan. "Aku sendiri pun tidak tahu," sahut Ong-

losiansing, "benda ini datang dari sebuah negeri

yang teramat jauh, hingga detik ini aku belum tahu apa namanya."

"Oh "

"Dari dulu hingga sekarang, belum pernah benda ini masuk ke daratan Tionggoan, sampai detik ini, kecuali aku, mungkin hanya kau seorang yang pernah melihatnya."

"Oya?"

"Tapi mulai sekarang aku telah menemukan sebuah nama untuk benda ini," ucap Ong- losiansing sambil tersenyum bangga, "karena baru saja kuberikan nama untuk benda ini."

"Sebetulnya benda itu akan kuberi nama kacamata seribu li, tapi nama itu kelewat umum lagi pula kedengarannya seperti barang mestika dalam dongeng."

Bicara sampai di situ dia menuding benda bulat yang berada di tangan Kim-hi itu, kemudian katanya lagi, "Padahal benda ini bukan barang mestika seperti dalam dongeng, benda itu nyata dan kemampuan yang dimiliki adalah bisa melihat jauh, oleh karena itu secara resmi kuberi nama benda itu sebagai cermin untuk melihat jauh."

"Cermin untuk melihat jauh? Ehm, sebuah nama yang bagus."

"Benda bagus tentu saja harus memiliki nama bagus," ucap Ong-losiansing sambil tertawa, "biar nama yang bagus ini bisa terwarisi hingga akhir zaman."

Padahal jarak antara bangunan loteng itu dengan gardu segi enam cukup jauh, tapi dengan cermin penglihat jauh itu Kim-hi bisa melihat semua gerak-gerik mereka dengan sangat jelas. "Dari dua orang yang terlihat dalam cermin ini, aku kenal si tua itu adalah Tui hong siu, tapi siapa pula yang muda itu?" tanya Kim-hi.

"Dia bernama Pho Ang-soat!" "Pho Ang-soat?"

Meskipun Kim-hi belum pernah bertemu Pho Ang-soat, tapi nama itu pernah didengarnya dari percakapan antara Yap Kay dan So Ming-ming.

Dia pun mengetahui manusia macam apa Pho Ang-soat itu, yang membuatnya tidak habis pikir adalah mau apa ia mendatangi kebun monyet secara tiba-tiba?

Terdorong rasa ingin tahu yang besar, tak tahan Kim-hi bertanya, "Mau apa dia datang kemari?"

"Demi Yap Kay!"

"Darimana dia bisa tahu Yap Kay telah lenyap?" "Tentu saja karena diberitahu oleh sahabat

karibmu, So Ming-ming."

"Sekalipun dia tahu Yap Kay telah hilang, darimana bisa tahu orang itu ada di kebun monyet?"

"Aku tak tahu, tapi Pho Ang-soat pasti dapat menduga sahabatnya berada di sini."

Kim-hi masih mengintip melalui tabung panjang itu, mengawasi gerak-gerik Pho Ang-soat dan Tui hong siu. "Sedang apa mereka berdua dalam gardu sudut enam?" "Sedang bertempur."

"Bertempur? Aku tidak melihat pertarungan apa-apa, bukankah yang satu sedang menyulut Huncwe, sementara yang lain mengisap Huncwe?"

"Dalam pandanganmu mereka memang seakan sedang menyulut dan mengisap Huncwe," kata Ong-losiansing sambil tertawa, "padahal mereka sedang melangsungkan sebuah pertempuran yang amat seru."

"Oya?"

"Coba kau perhatikan, panjang Huncwe dua kaki, sementara jarak tangan Tui hong siu dari tubuh Pho Ang-soat pun hanya dua kaki, asal tangan Pho Ang-soat yang sedang menyulut Huncwe sedikit gemetar atau konsentrasinya buyar, maka Tui hong siu segera akan melancarkan serangan mematikan."

Sesudah berhenti sejenak, kembali Ong- losiansing melanjutkan, "Asalkan dia mulai turun tangan, setiap waktu serangan itu bisa diarahkan ke jalan darah mana pun di tubuh Pho Ang-soat."

"Lantas kenapa hingga sekarang belum melancarkan serangan?"

"Hingga sekarang ia belum turun tangan karena sedang menanti kesempatan terbaik, hanya saja kulihat Pho Ang-soat tak bakal memberi kesempatan itu kepadanya." 

Tui hong siu masih mengisap Huncwenya.

Entah  tembakaunya terlalu basah atau lubang Huncwe sudah tersumbat kelewat kencang, sudah cukup lama belum juga menyala. Kertas penyulutnya nyaris sudah habis digunakan.

Cara Tui hong siu mengisap pipa memang sangat aneh, dia menggunakan ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri untuk memegang kepala Huncwe, sementara jari manis dan kelingking sedikit terangkat ke atas.

Sementara Pho Ang-soat menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang kertas penyulut, sedang ketiga buah jari lainnya ditekuk ke dalam.

Jari manis dan kelingking Tui hong siu hanya berjarak tak sampai tujuh inci dari urat penting di pergelangan tangan Pho Ang-soat.

Tubuh mereka berdua sama sekali tak bergerak, kepala pun tidak terangkat, hanya kertas penyulut itu saja yang berkedip memancarkan cahaya.

Ketika kertas penyulut membakar tangan Pho Ang-soat, ternyata pemuda itu tetap tak bergerak, seakan sama sekali tidak merasakan nya. Pada saat itulah... "Wes!", akhirnya daun tembakau di ujung Huncwe terbakar dan menyala.

Jari manis dan kelingking Tui hong siu kelihatan sedikit bergerak, ketiga jari tangan Pho Ang-soat yang ditekuk pun nampak bergerak, apa yang terjadi dengan kedua orang itu berlangsung amat cepat, amat lembut, bahkan begitu bergerak pun langsung berhenti. 

Akhirnya terlihat Pho Ang-soat terdesak mundur satu langkah, Tui hong siu pun mulai mengisap Huncwenya, sejak awal hingga akhir kedua orang itu sama-sama menundukkan kepala, siapa pun tak pernah mengawasi lawannya barang sekejap pun.

"Kelihatannya pertarungan mereka telah berakhir?" tanya Kim-hi kepada Ong-losiansing, "dan aku lihat tak ada yang menang tak ada yang kalah dalam pertarungan barusan. Tapi aku yakin pasti ada satu pihak yang lebih unggul."

"Betul."

"Siapa yang berada di pihak pemenang?" "Tui hong siu selalu menanti datangnya

kesempatan, namun Pho Ang-soat sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya, namun pada akhirnya dia tak sanggup menahan diri, jari manis dan kelingking digerakkan melakukan penjajakan, jangan dilihat hanya menggerakkan jari tangan begitu enteng, padahal di balik gerakan enteng itu sebenarnya tersimpan perubahan jurus yang hebat dan menakutkan," Ong-losiansing menerangkan, "ketiga jari tangan Pho Ang-soat yang ditekuk itu segera memberi reaksi yang luar biasa, setiap perubahan yang terjadi seketika terbendung mati lagi."

Kim-hi tidak memberi komentar, dia hanya mendengarkan dengan seksama.

"Walaupun mereka berdua hanya sedikit menggerakkan jari, namun sudah mencakup beribu perubahan dan ancaman, pertarungan berlangsung amat sengit, bahkan mengancam mati hidup mereka," kata Ong-losiansing lebih lanjut, "biar hanya gerakan jari, namun ancaman bahaya dan kesengitan pertarungan tak kalah hebat dengan pertarungan orang lain yang menggunakan golok maupun pedang."

"Kalau begitu Pho Ang-soat yang keluar sebagai pemenang?"

"Benar."

Begitu Huncwe tersulut, Pho Ang-soat segera mundur kembali dan balik ke posisi semula.

Tui hong siu perlahan-lahan mengisap Huncwenya, kemudian baru mendongakkan kepala, seolah baru sekarang dia melihat kehadiran Pho Ang-soat.

"Oh, rupanya kau sudah datang?" sapanya sambil tersenyum.

"Benar."

"Kedatanganmu sedikit terlambat." "Lebih baik terlambat daripada sama sekali tak datang."

"Aku justru berharap kau tidak kemari." "Tapi kenyataan aku telah datang."

"Betul, akhirnya kau datang juga, kalau begitu silakan," kata Tui hong siu, "silakan masuk ke gedung utama."

Dari teropong itu Kim-hi dapat mengikuti semua perkembangan itu dengan jelas, bahkan bibirnya bergerak seakan mengucapkan sesuatu.

Melihat perbuatannya itu Ong-losiansing tertawa, tanyanya, "Aku tahu, kau masih memiliki semacam ilmu yang jarang dimiliki orang lain."

"Soal apa?"

"Membaca bahasa bibir." "Membaca bahasa bibir?'

"Betul, asal kau dapat melihat gerakan bibir seseorang sewaktu sedang berbicara, maka segera akan kau tahu masalah apa yang sedang mereka bicarakan."

"Kelihatannya kau sangat memahami tentang aku, banyak hal tentang diriku yang telah kau ketahui."

Sewaktu mengucapkan perkataan itu, Kim-hi sama sekali tidak menampilkan perasaan tak suka hati, malah sambil tertawa katanya lebih jauh,

"Tentu saja kau banyak tahu tentang aku, kalau tidak, mana mungkin kau menahan diriku?" Ong-losiansing tertawa tergelak.

"Saat ini siapa yang sedang berbicara?" tanyanya.

"Pho Ang-soat, dia bilang lebih baik datang terlambat daripada sama sekali tak datang."

Mendengar itu Ong-losiansing segera tersenyum.

"Sekarang Tui hong siu yang berkata, aku justru berharap kau jangan kemari," kata Kim-hi sambil melihat dengan teropong, "kemudian Pho Ang-soat pun menjawab, tapi kenyataannya aku telah datang."

Kembali Ong-losiansing manggut-manggut sambil tersenyum.

Terlihat Kim-hi menggerakkan bibir berkomat- kamit, kemudian berkata lagi, "Kalau memang sudah datang, silakan masuk ke gedung utama."

Bicara sampai di sini, gadis itu baru menurunkan teropongnya sambil memperlihatkan wajah sangsi.

"Kenapa kau?" tanya Ong-losiansing.

"Gedung utama? Kenapa dia mengundang Pho Ang-soat masuk ke gedung utama?"

"Kalau ada tamu datang, tentu saja harus dilayani secara baik di gedung utama," sahut Ong-losiansing sambil tertawa, "masa akan kau undang masuk ke dalam kamar tidurmu?" Atas kata gurauan itu, bukan saja Kim-hi tidak tertawa, dia malah menghela napas panjang.

"Aku bukan bocah tiga tahun, buat apa kau meledek aku?"

Lalu setelah menatapnya tajam, ujarnya lebih jauh, "Pho Ang-soat dari Ban be tong langsung datang kemari, hal ini menunjukkan dia sudah menaruh curiga terhadap kebun monyet, siapa tahu dia pun memegang beberapa petunjuk yang pasti. Dalam kondisi dan situasi seperti ini masa kau masih tetap santai dan bergurau, sama sekali tak terlihat kaget atau panik. Apakah sudah kau persiapkan cara jitu untuk menghadapinya?"

Dengan perasaan bangga Ong-losiansing manggut-manggut.

"Aku hanya tak habis mengerti, mengapa bukannya kau giring dia memasuki ruang rahasia milikmu yang penuh dengan jebakan maut, sebaliknya malah mengundangnya ke gedung utama?"

Sesudah menatap Ong-losiansing, desaknya, "Kenapa begitu?"

Ong-losiansing tidak langsung mengemukakan alasannya, mula-mula dia hanya tertawa, kemudian berjalan mendekati meja, mengambil cawan dan menuang arak, setelah dihirup seteguk dan membiarkan arak mengalir ke dalam perut, baru ia menjawab.

"Ada tiga hal pasti tidak kau ketahui," ujarnya sambil tertawa, "pertama, Pho Ang-soat bisa menemukan tempat ini karena memang akulah yang memberi petunjuk agar dia sampai di sini, coba kalau bukan begitu, sampai mati pun dia tak bakal mencurigai kebun monyet. Kedua, ruang jebakan rahasia untuk membunuh orang itu khusus kurancang untuk menghadapi orang lain, bila untuk orang lain mungkin bakal sangat manjur, tapi untuk menghadapi Pho Ang-soat . . . aku jamin sama sekali tak ada gunanya."

"Kenapa?"

"Karena dia adalah hasil didikan Pek-hong Kongcu dari Mokau, Hoa Pek-hong," Ong- losiansing menjelaskan, "Soal alat jebakan, racun, senjata rahasia dan berbagai ilmu sesat lainnya, kujamin tak seorang pun di dunia persilatan yang sanggup mengungguli kemampuan Mokau."

"Lalu siapa yang akan melayaninya di gedung utama?" tanya Kim-hi kemudian.

"Kau!" sahut Ong-losiansing sambil menunjuk gadis itu.

"Aku?" Kim-hi melengak, "aku yang harus melayaninya?"

"Benar."

Begitu melangkah masuk ke gedung utama, benda pertama yang terlihat Pho Ang-soat adalah sebuah lukisan.

Lukisan itu berukuran luar biasa besar, digantung membujur di atas dinding seberang. Walau lukisan itu besar sekali, namun pemandangan yang tertera justru amat sederhana, hanya gambar seorang wanita sedang duduk di sebuah kursi, sementara tangannya menggendong seorang bayi yang sedang menyusu.

Sang bayi adalah lelaki, sementara sang wanita tak lain adalah lukisan Hong-ling.

Hong-ling yang berada dalam lukisan itu secantik orangnya, sedang bayi dalam bopongannya adalah seorang bocah berbaju warna-warni, memakai topi merah, putih, gemuk, menarik dan berusia sekitar dua-tiga bulan.

Meski masih kecil, tapi memiliki mata yang besar, mata besar yang kelihatan dingin dan kesepian.

Apakah bayi dalam bopongan Hong-ling adalah darah dagingnya, putra kandungnya?

Mustahil, hal semacam ini jelas mustahil, tak masuk akal.