Kilas Balik Merah Salju Jilid 07

 
Sekali lagi Ong-losiansing tersenyum, ujarnya, "Bila kau sudah memahami persoalan itu, seharusnya tahu juga apa yang harus kita lakukan sekarang."

"Aku tidak tahu. Pernah terpikir olehku berbagai cara, namun aku sendiri pun tidak tahu apa yang harus kulakukan?"

"Hahaha, kelihatannya meski kau jauh lebih pintar daripada Thio Hok, namun belum terhitung pintar sekali," gelak tawa Ong-losiansing makin nyaring.

Dalam hal ini tentu saja Go Thian merasa sependapat. Selama hidup dia memang tak pernah ingin menjadi orang pintar, paling tidak selewat usia tiga belas tahun ia tak pernah lagi berpikir akan hal itu.

"Kemunculan Yap Kay yang tiba-tiba di kota Lhasa pasti karena ingin menyelidiki apakah antara kebun monyet dan Ban be tong terkait hubungan khusus," ujar Ong-losiansing lagi, "dari cerita So Ming-ming, dia pasti mendapat tahu selama sepuluh tahun terakhir Pek Ih-ling pernah tinggal dalam kebun monyet."

Go Thian hanya mendengarkan, sama sekali tidak memberi komentar. "Paras muka Pek Ih-ling mirip Be Hong-ling, sementara para jago Ban be tong jelas sudah mati semua sejak sepuluh tahun lalu, kenapa sepuluh tahun kemudian mereka bisa muncul lagi dalam keadaan hidup? Yap Kay pasti berharap bisa mendapat jawaban atas semua persoalan itu, karenanya asal terkait peristiwa itu, Yap Kay pasti akan melacaknya hingga tuntas."

"Oleh sebab itu kita tak boleh membiarkan niat dan keinginannya terkabul," sambung Go Thian.

"Betul, tapi kita pun tak bisa melepaskan kesempatan baik ini begitu saja, cepat atau lambat kita harus menyingkirkan Yap Kay dari muka bumi."

"Bila kita ingin membunuhnya, kesempatan bagus memang tak boleh dilewatkan."

"Benar, itulah sebabnya kita harus menciptakan sebuah jebakan untuk siluman rase yang licik itu."

Dengan termangu Ong-losiansing mengawasi kilauan cahaya yang terpantul dari cawannya, lama kemudian tiba-tiba ia tertawa tergelak, sesudah itu baru tanyanya kepada Go thian, "Tahukah kau mengapa aku tertawa?"

"Tidak!"

"Tiba-tiba saja terpikir olehku, seandainya Yap Kay kita ubah menjadi seekor monyet, kira-kira monyet macam apa yang paling sesuai baginya?"

"Terlepas seberapa cerdas dan liciknya dia semasa masih menjadi manusia, aku yakin sesudah berubah jadi monyet, dia pasti akan menjadi seekor monyet yang sangat penurut."

Kalau memang hidup sebagai manusia, mana mungkin dapat berubah jadi monyet?

Kembali Ong-losiansing tertawa terbahak- bahak. Sesaat kemudian tanyanya, "Tahukah kau, selama beberapa hari ini nomor enam dan nomor dua puluh enam berada dimana?"

"Aku tahu."

"Dapatkah kau mencari mereka berdua sampai ketemu?"

"Dapat," Go Thian mengangguk, "dalam empat jam kemungkinan aku sudah akan menemukannya."

"Bagus sekali!" Ong-losiansing meneguk habis isi cawannya, "bila mereka berdua telah ditemukan, bawa mereka ke sarang dewi "

Yang dimaksud Sarang dewi adalah rumah tinggal So Ming-ming.

"Baik!"

"Apakah kau sudah tahu mau apa mereka ke sana?"

"Tidak tahu."

"Pergi membunuh Yap Kay," Ong-losiansing menjelaskan, "aku minta mereka berdua pergi membunuh Yap Kay."

Kemudian setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan tambahnya, "Tapi ada satu hal harus kau ingat baik-baik, jangan sekali-kali kau biarkan mereka bertiga turun tangan pada saat bersamaan."

Yap Kay memang bukan jagoan yang mudah dihadapi, bila mereka bertiga turun tangan bersama, tak disangkal kekuatannya pasti jauh lebih besar daripada kekuatan satu orang, kemungkinan berhasil pun lebih besar, tapi Ong- losiansing justru berpesan agar mereka bertiga jangan sampai turun tangan bersama.

Kenapa dia tak ingin ketiga orang itu turun tangan bersama?

Go Thian tidak bertanya, dia memang tak pernah bertanya mengapa, mau seaneh apa pun perintah yang diberikan Ong-losiansing, dia selalu hanya menerima dengan patuh dan melaksanakannya.

Di sebuah tempat yang amat rahasia, di dalam sebuah ruang bawah tanah yang terbuat dari batu kristal, terdapat sebuah lemari kristal yang hanya bisa dibuka oleh Ong-losiansing, dalam lemari itu terdapat sebuah kitab catatan.

Kitab catatan rahasia itu tak pernah dibaca oleh siapa pun selain Ong-losiansing, sebuah kitab yang sangat rahasia isinya.

Dalam kitab itu tercantum data lengkap dengan nomor enam, nomor enam belas serta nomor dua puluh enam. Nomor-nomor itu tentu saja bukan mengartikan tiga buah angka, tapi melambangkan tiga manusia.

Tiga manusia yang pandai membunuh.

Mereka adalah pembunuh yang setiap saat menanti perintah Ong-losiansing untuk melakukan pembantaian, mereka hidup memang tak lain untuk membantu Ong-losiansing melakukan pembunuhan. Mereka masih bisa hidup karena orang-orang itu masih sanggup membantu Ong-losiansing melakukan pembunuhan.

Dalam kitab rahasia yang tak pernah diumumkan secara terbuka itu, tercantum data pribadi ketiga pembunuh itu.

Nomor dua puluh enam:

Nama: Lim Kong-ceng. Jenis kelamin: laki-laki. Usia: dua puluh dua tahun.

Kota asal: Hangciu propinsi Ci-kang.

Orang tua: ayah, Lim Yong dan ibu, Sun Kong-siok.

Jumlah saudara: tidak ada. Anak istri: tidak ada.

Hanya data itu saja yang tercantum dalam buku catatan rahasia mengenai si nomor dua puluh enam. Setiap orang yang bekerja pada Ong-losiansing selalu mempunyai catatan data sederhana seperti itu.

Tapi dalam kitab catatan lain yang sangat dirahasiakan Ong-losiansing, data isian mengenai si nomor dua puluh enam Lim Kong-ceng justru sangat berbeda.

Dalam catatan rahasia inilah semua detil mengenai manusia yang bernama Lim Kong-ceng terdata secara rapi dan cermat.

Setiap orang memang selalu memiliki sisi kehidupan yang lain, tidak terkecuali Lim Kong- ceng. Dalam data catatan yang sangat detil itu tertera:

Nama: Lim Kong-c eng. Jenis kelamin: Lelaki.

Umur: Dua puluh dua tahun.

Ayah: seorang juru masak pada Yong li piau kiok. Ibu: ibu asuh pada Yong li piau kiok.

Itulah seluruh data mengenai Lim Kong-ceng, meski tidak terlalu panjang lebar, namun sudah lebih dari cukup, asal kau seorang yang cerdas dan banyak pengalaman, tidak sulit bagimu untuk mengorek lebih banyak rahasia lagi dari data yang tersedia.

Organisasi rahasia yang dipimpin Ong- losiansing selain amat besar juga sangat rahasia, bukan pekerjaan mudah bila ingin bergabung ke dalam organisasi ini, apalagi kalau sampai masuk jajaran mereka yang memiliki kode angka rahasia, dapat dipastikan mereka adalah jago kelas wahid.

Semenjak masih berusia enam belas tahun, Lim Kong-ceng sudah menjadi seorang jagoan tangguh, dengan mengandal sebilah pedang ia pernah mengalahkan banyak jago yang oleh orang dianggap mustahil dapat dikalahkan.

Putra seorang juru masak dan ibu pengasuh, jelas seorang anak muda yang kenyang akan kesengsaraan, orang macam ini biasanya mampu melakukan pekerjaan yang tak bisa dilakukan orang lain.

Tapi sejak masuk menjadi anggota organisasi rahasia pimpinan Ong-losiansing, dia telah berubah menjadi seorang yang hanya memiliki kode angka rahasia dan tidak memiliki identitas lagi.

Siapa pun tak ingin melepaskan nama serta kedudukan yang berhasil diraihnya dengan keringat, darah dan air mata begitu saja, Lim Kong-ceng memilih jalan seperti ini pun karena dia punya kesulitan yang tak mungkin dijelaskan.

Dia sudah banyak membunuh orang yang seharusnya tak pantas dibunuh, telah banyak melakukan pekerjaan yang tidak seharusnya dia lakukan, sebab selamanya dia tak pernah lupa dirinya hanyalah putra seorang juru masak dan ibu pengasuh. Justru karena dia tak pernah bisa melupakan status asli dirinya yang begitu rendah dan memalukan, maka dia pun melakukan banyak perbuatan yang tidak seharusnya dia lakukan, maka dia pun bergabung dengan organisasi rahasia pimpinan Ong-losiansing.

Justru karena asal-usul Lim Kong-ceng yang hina, maka mati-matian ia berusaha mencari nama dan kedudukan. Dalam menghadapi masalah apa pun dia selalu menonjolkan watak pemberontak dan dalam pandangan orang lain dia adalah pemuda berjiwa pemberontak.

Ilmu pedangnya sama seperti wataknya, penuh dengan luapan emosi, temperamen dan penuh sifat memberontak.

Latar belakang keluarga Tan Bun berbeda dengan Lim Kong-ceng, peduli diambil dari data buku mana pun, seharusnya Tan Bun termasuk seorang yang sangat normal, asal-usul orang tua maupun latar belakang pendidikannya bagus.

Nomor enam belas: Nama: Tan Bun.

Jenis kelamin: laki laki.

Usia: tiga puluh delapan tahun. Kota asal: Shantung.

Ayah: Tan An.

Ibu: Tan Lin-bi, sudah wafat. Istri: Cu Siok-hun. Anak: satu laki, satu perempuan.

Ayah Tan Bun adalah seorang Piausu serta pedagang yang sukses di wilayah Shantung, dia berusaha dari nol, tapi pada usia dua puluh enam tahun telah berhasil mengumpulkan harta senilai beberapa ratus laksa tahil perak.

Ibu Tan Bun sudah lama meninggal dunia, ayahnya tak pernah mencari bini baru lagi bahkan tak sekalipun mengendorkan pengawasan dan pendidikan terhadap putranya.

Ketika Tan Bun berusia tujuh tahun, ayahnya telah mengundang empat orang sastrawan kenamaan, dua orang guru silat ternama dan seorang jago Bu tong pay untuk memberikan pendidikan ilmu silat padanya, ayahnya berharap di kemudian hari dia bisa menjadi seorang Bun bu coan cay.

Tan Bun tidak mengecewakan harapan ayahnya, sejak muda dia sudah hebat dalam sastra maupun ilmu silat, apalagi dia pun menguasai intisari ilmu pedang aliran Bu-tong sehingga oleh umat persilatan dia dianggap angkatan muda yang hebat dari Bu tong pay.

Istri Tan Bun pun berasal dari keluarga persilatan kenamaan, selain cantik, juga lembut dan berpendidikan tinggi, dia di persunting Tan Bun sejak berusia lima belas tahun, karena itu banyak orang yang mengaguminya sebagai seorang pemuda yang penuh rezeki.  Sebagai seorang putra yang berbudi dan pintar, entah mengapa di kemudian hari Tan Bun meninggalkan semua yang dimilikinya untuk bergabung ke dalam organisasi rahasia pimpinan Ong-losiansing?

Tentu saja pernah ada orang mengajukan pertanyaan ini kepada Tan Bun, tapi dia hanya menanggapi dengan senyuman, hingga suatu saat ketika ia mabuk berat akibat minum banyak arak dengan ketiga orang temannya, dia pun menjawab apa adanya, "Karena aku sudah tak tahan!"

Dengan kehidupan yang begitu berlimpah, dengan pendidikan keluarga yang begitu disiplin bahkan dengan kondisi kehidupan yang berkecukupan, ada masalah apa yang membuatnya tak tahan?

Ayahnya kelewat keras, kaum berada, punya duit dan ternama, sejak Tan Bun berusia belasan tahun ia sudah mengaturkan segala sesuatu bagi putranya, membuat dia tak perlu memikirkan kebutuhan di kemudian hari.

Sejak kecil dia pun sudah dilatih menjadi seorang bocah yang disiplin dan tahu aturan, dia pun tak pernah melakukan perbuatan yang dapat membuat ayahnya kuatir.

Selama hidup dia seakan sudah ditakdirkan menjadi seorang yang berhasil dan bahagia, memiliki keluarga bahagia, memiliki pekerjaan berhasil, punya nama punya kedudukan. Banyak orang persilatan yang sirik kepadanya, tapi banyak pula yang mengaguminya, tentu saja orang yang benar-benar merasa kagum tidak terlalu banyak.

Karena keberhasilan yang diperolehnya bukan berkat perjuangan dan usaha sendiri, melainkan diperoleh dari perjuangan ayahnya.

Justru karena dia mempunyai latar belakang semacam ini maka timbul keinginannya untuk melakukan beberapa pekerjaan heboh, agar pandangan orang terhadap dirinya berubah.

Bila kau ingin melakukan satu pekerjaan besar secara terburu-buru, seringkah kau akan salah langkah.

Tentu saja tidak terkecuali Tan Bun.

Mungkin saja dia bukan benar-benar ingin melakukan perbuatan macam itu, tapi akhirnya dia tetap melakukannya, sebab terpaksa dia harus bergabung dengan organisasi pimpinan Ong-losiansing.

Ilmu pedangnya persis orangnya, berasal dari perguruan ternama dan jarang melakukan kesalahan, tapi begitu timbul kesalahan, biasanya susah untuk diatasi.

Sejak lima tahun berselang baru ia bergabung dengan organisasi pimpinan Ong-losiansing, setelah melampaui pelatihan ketat selama lima tahun, sekarang dia makin jarang melakukan kesalahan. Tak bisa disangkal Lim Kong-ceng dan Tan Bun merupakan dua jenis manusia yang berbeda, tapi mengapa mereka malah bergabung dalam kelompok yang sama dan melakukan pekerjaan yang sama?

Rasanya pertanyaan semacam ini susah untuk dijawab, bisa jadi karena nasib.

Seringkah nasib membuat seorang mengalami banyak pengalaman dan kejadian aneh, yang tak bisa diduga sebelumnya oleh siapa pun.

Nasib pun sering menjerumuskan seseorang ke dalam kondisi yang memilukan atau bahkan menggelikan, yang membuat mereka tak punya pilihan lain.

Nasib pun sering mempertemukan pekerjaan atau manusia yang semestinya tak bisa bertemu satu dengan lainnya, membuat mereka mau tak mau harus berpisah dengan orang-orang yang semestinya tak mungkin terpisah.

Hanya saja manusia yang betul-betul pemberani dan punya semangat besar tak bakal takluk dan tunduk pada permainan nasib.

Mereka telah belajar bersabar dalam kesulitan seperti apa pun, belajar menahan diri dari situasi seburuk apa pun, asal muncul kesempatan, mereka pasti akan tampil sambil membusungkan dada, berjuang dan melawan terus sekuatnya.

Selama mereka belum mati, selama napas mereka masih ada, mereka yakin suatu saat pasti akan muncul kesempatan untuk angkat kepala. Be Sa merupakan jenis manusia yang berbeda lagi.

Di wilayah Hokkian, keluarga Lim dan keluarga Tan merupakan keluarga mayoritas.

Meskipun Tan Bun dan Lim Kong-ceng menyandang nama marga mayoritas di wilayah Hokkian, namun mereka berdua bukan berasal dari Hokkian, justru Be Sa adalah orang Hokkian asli.

Di wilayah Hokkian, nama Be Sa adalah sebuah nama yang amat biasa dan umum, di setiap kota, dusun, kota kecil atau desa pasti ada orang yang bernama Be Sa.

Be Sa tumbuh dewasa di pesisir laut propinsi Hokkian, tempat yang seringkah disatroni perompak cebol dari Hu-sang, konon ketika berusia enam belas, dengan sebilah golok panjang pernah ia memenggal seratus tiga puluhan batok kepala perompak cebol.

Be Sa sebetulnya bukan bermarga Be dan bernama Sa, Be Sa adalah kata dari bahasa Hu- sang. Lalu dia dari marga apa dan siapa namanya?

Tak seorang pun yang tahu.

Kemudian para perompak berangsur lenyap, maka Be Sa pun meninggalkan kampung halamannya dan mulai berkelana dalam dunia Kangouw. Namun selama luntang-lantung di dunia Kangouw, hasil yang diperolehnya sangat tidak memuaskan.

Karena  dia  tak memiliki latar belakang keluarga persilatan, bukan pula anak murid jebolan perguruan besar atau kenamaan, kemana pun  dia  pergi dan pekerjaan apa pun yang   dia  lakukan,  selalu mendapat celaan dan cemoohan orang banyak.

Maka dari itu beberapa tahun kemudian manusia yang bernama Be Sa pun lenyap dari peredaran dunia persilatan, menyusul dalam percaturan dunia yang kalut muncullah seorang pembunuh bayaran yang dingin, keji, sadis dan tanpa perasaan, walaupun dia bekerja sebagai pembunuh, namun tidak menjadikan pembunuhan sebagai suatu alat hiburan.

Dalam buku catatan rahasia Ong-losiansing, dia memperoleh angka enam sebagai kode angka rahasianya, hal ini membuktikan sejarah bergabungnya dalam organisasi pembunuh bayaran sudah lama sekali.

Nomor Enam:

Nama: Tidak jelas. Jenis kelamin: laki laki.

Usia: empat puluh empat tahun. Kota asal: wilayah Hokkian.

Asal-usul: tidak jelas. Setelah lewat usia dua puluh lima, Be Sa mulai menggunakan pedang, waktu itu dia sudah tidak tergolong muda lagi, sudah tak punya semangat besar untuk belajar pedang, tentu saja dia pun tidak memiliki guru pembimbing serta sistim pendidikan sebagus Tan Bun, bahkan mungkin dia sama sekali tidak menguasai intisari dan seluk- beluk ilmu pedang.

Tapi dia kaya akan pengalaman. Pengalamannya jauh melebihi Tan Bun dan Lim

Kong-ceng meski digabung sekalipun, bekas codet dan luka bacokan yang menghiasi tubuhnya bahkan jauh lebih banyak dibandingkan gabungan kedua orang itu.

Menggunakan pengalamannya waktu sering bertarung jarak dekat melawan kaum perampok Hu-sang masa lalu, dia berhasil menciptakan sejenis ilmu pedang yang hebat, gabungan ilmu pedang Tionggoan dengan ilmu samurai negeri Hu-sang (Jepang).

Biarpun ilmu pedangnya bukan termasuk indah, perubahannya pun tidak terlalu banyak, namun keganasan dan kehebatannya tak terkirakan.

Tak dapat disangkal, nomor enam, nomor enam belas dan nomor dua puluh enam merupakan jago tangguh di antara jagoan lain anak buah Ong- losiansing.

Ketiga orang itu mewakili tiga jenis manusia dengan watak dan jenis yang berbeda, ilmu silat maupun ilmu pedang yang dimiliki mereka bertiga pun sama sekali berbeda.

Ong-losiansing telah menurunkan perintah kepada mereka bertiga untuk membunuh Yap Kay, perintah telah diturunkan dan harus dilaksanakan.

Perintah yang diturunkan Ong-losiansing tak pernah tak tepat sasaran.

Tapi anehnya, mengapa ia melarang mereka bertiga turun tangan bersama? Padahal kalau tiga orang turun tangan bersama, kemungkinan berhasil jelas jauh lebih besar ketimbang turun tangan sendiri-sendiri, sebenarnya apa maksud dan tujuannya?

Tak seorang pun mengetahui maksud tujuannya, tak seorang pun mengetahui rencananya.

Tak ada yang tahu, tak ada pula yang bertanya.

Perintah yang diturunkan Ong-losiansing harus dipatuhi, ditaati, dilarang banyak bertanya.

Bukan saja Go Thian tidak bertanya, Tan Bun, Lim Kong-ceng maupun Be Sa pun tidak banyak bertanya.

Go Thian menggunakan waktu yang paling singkat menemukan mereka, lalu menggunakan kata yang paling sederhana menyampaikan perintah Ong-losiansing.

"Lopan minta  kalian pergi membunuh Yap Kay," kata Go Thian, "tapi dia minta kalian bertiga bekerja sendiri-sendiri." "Baik!" jawaban mereka pun hanya sepatah kata.

Rencana yang digelar Ong-losiansing pun mulai berlangsung, sementara di tempat lain rencana balas dendam pun dipersiapkan.

Rumah keliningan di bawah pohon Siong di luar kota Lhasa masih berdiri tegak di bawah cahaya matahari, hanya saja keliningan yang selama ini tergantung di bawah emper rumah, kini sudah tak kelihatan lagi.

Bersama dengan hilangnya keliningan, si Keliningan yang sering duduk bersandar pada jendela pun kini sudah tidak nampak batang hidungnya lagi.

Rumah makan swalayan yang menjadi ciri khas rumah keliningan pun sudah tak ada.

Tak seorang pun tahu mengapa rumah keliningan menghentikan usaha dagangnya, dan tidak seorang pun tahu kemana perginya si Keliningan yang sering menampilkan wajah sedih dan murung itu.

Cahaya matahari menembus dedaunan menyinari ruangan dalam rumah keliningan, Yap Kay berdiri persis di bawah pohon Siong, berdiri tenang sambil mengawasi rumah yang sepi. Cuaca kota Lhasa pagi ini terasa amat nyaman, meskipun matahari menyinari seluruh jagad namun sama sekali tidak terasa panas yang menyengat seperti di daerah pinggir perbatasan, karena itulah walaupun angin berhembus lembut, cukup membuat rambut Yap Kay beterbangan.

Bau harum bunga dan dedaunan yang menyertai hembusan angin membuat suasana bertambah segar, Yap Kay menarik napas panjang, lalu selangkah demi selangkah memasuki rumah keliningan yang kini ditinggal tanpa penghuni.

Ia berjalan ke bangku yang seringkah diduduki nyonya muda pemurung itu, mengawasi bangku kosong dengan pandangan tajam.

Terasa di sekeliling bangku itu masih tersisa bau harum bedak yang menempel di wajah nyonya muda itu serta bau badan sang nyonya yang lembut.

Perlahan-lahan Yap Kay duduk dibangku itu, menirukan gaya duduk sang nyonya muda sambil memandang ke tempat jauh, kini baru dia mengerti apa sebabnya si Keliningan memilih posisi duduk di tempat itu.

Rupanya dari tempat itu dia dapat melihat ujung jalan, dapat pula melihat pintu gerbang kota Lhasa yang kuno dan kuat, asal ada orang berjalan masuk ke dalam kota dan melewati jalanan itu, dia dapat melihatnya dengan sangat jelas. Kini Yap Kay menyaksikan ada empat orang sedang berjalan dari ujung jalan sana menuju kemari.

Usia keempat orang itu berbeda, tapi mereka adalah jago-jago yang pernah berlatih ilmu meringankan tubuh dan ilmu pedang.

Selisih jarak mereka masih amat jauh, tentu saja Yap Kay tak dapat mendengar suara langkah kaki mereka, tapi dari cara mereka berjalan serta debu yang ditimbulkan langkah kaki orang-orang itu, dia yakin keempat orang ini memiliki ilmu silat cukup tangguh. 

Yap Kay pun dapat melihat kedatangan keempat orang itu bukan untuk bersantap di warung keliningan, dengan muka serius keempat orang itu berjalan mendekat.

Seorang yang memiliki ilmu meringankan tubuh dan ilmu pedang yang tangguh biasanya tak akan menempuh perjalanannya dengan langkah begitu serius, biasanya mereka hanya akan melangkah serius bila mempunyai tujuan, ketika mereka sedang bersiap membunuh orang.

Siapa yang akan mereka bunuh? Apakah si Keliningan?

Tentu saja kemungkinan seperti ini tetap ada, namun Yap Kay tahu, pasti bukan, bukan dikarenakan si Keliningan tidak berada di situ, tapi berdasarkan indra keenam yang dimiliki Yap Kay selama ini, dia percaya kedatangan keempat orang itu berniat membunuh dirinya. Kalau sudah tahu kedatangan mereka bertujuan membunuhnya, sepantasnya Yap Kay segera bangkit, tapi ia tak bergerak, masih duduk dengan gaya yang santai mengawasi tempat kejauhan tanpa berkedip.

Yap Kay tidak bergerak bukan lantaran dia yakin mampu menghadapi keempat orang itu, tapi dia ingin tahu mengapa keempat orang itu hendak membunuhnya?

Kedatangannya ke kota Lhasa tak diketahui siapa pun, malah Pho Ang-soat pun tidak tahu, mengapa baru hari kedua kedatangannya sudah muncul orang yang ingin membunuhnya?

Siapakah keempat orang itu?

Apakah mereka ada sangkut-pautnya dengan kebun monyet yang menjadi target penyelidikan Yap Kay di kota Lhasa? Atau mereka justru orang- orang yang dikirim Ban be tong?

Kedatangan Yap Kay di kota Lhasa adalah karena peristiwa di Ban be tong tempo hari, Pek Ih-ling yang berwajah mirip Be Hong-ling pernah berkata kepadanya bahwa selama sepuluh tahun terakhir dia selalu tinggal bersama seseorang yang bernama Ong-losiansing. 

Sedang So Ming-ming pun mengatakan pemilik kebun monyet di luar kota Lhasa bernama Ong- losiansing, mungkinkah Ong-losiansing yang disebut kedua orang itu merupakan Ong- losiansing yang sama? Karena tujuan pelacakan itulah Yap Kay datang ke kota Lhasa, siapa tahu baru dua hari kedatangannya, kini sudah muncul orang yang ingin membunuhnya.

Tak dapat disangkal lagi, langkah Yap Kay mendatangi kota Lhasa memang merupakan langkah yang tepat, terlepas kedatangan keempat orang itu atas perintah kebun monyet atau perintah Ban be tong untuk mengintilnya, langkah yang diambil Yap Kay jelas telah menginjak ekor mereka.

Biarpun jalanan itu amat panjang, biarpun keempat orang itu berjalan dengan langkah serius, akhirnya dengan cepat mereka telah mendekati warung keliningan.

Bila keempat orang itu melancarkan serangan bersama ke arah Yap Kay, apakah dia sanggup menghadapinya? Dalam hal ini Yap Kay sama sekali tak yakin.

Ternyata kejadian di luar dugaan, keempat orang itu tidak berjalan langsung ke hadapan Yap Kay, mereka menuju ke bawah pohon Siong dan berhenti di situ, kemudian salah seorang di antaranya, seorang yang masih sangat muda tapi tampan, seorang diri berjalan mendekat i Yap Kay.

Kini Yap Kay dapat mendengar suara langkah kaki serta dengusan napasnya, pemuda tampan yang menghampirinya seorang

diri itu memiliki dengus napas sangat memburu, paras mukanya pun kelihatan hijau membesi. Yap Kay tahu pemuda itu pastilah seorang temperamen yang gampang meluap emosinya.

Biarpun gerak-geriknya cukup tangguh, membunuh orang pun pasti bukan untuk pertama kalinya, tapi sayang ia kelewat temperamen, kelewat mudah naik darah.

Yap Kay masih duduk dengan tenang di luar warung keliningan, duduk di muka jendela sambil mengawasi orang itu tanpa bicara. Dia pun mendengar orang itu berkata, "Aku datang untuk membunuhmu, seharusnya kau pun tahu kedatanganku untuk membunuhmu."

"Aku tahu," jawab Yap Kay sambil tertawa. "Aku bernama Lim Kong-ceng," dengan

sepasang matanya yang tajam penuh dengan

jalur darah, pemuda itu melotot ke arah Yap Kay, "Kenapa kau masih belum juga keluar?"

Sekali lagi Yap Kay tertawa.

"Bukankah kau yang ingin membunuhku dan bukan aku yang ingin membunuhmu, kenapa aku harus keluar?" balik tanyanya.

Lim Kong-ceng tak bicara lagi, dengus napasnya makin memburu, ia sudah siap melolos pedangnya, bersiap menerjang ke muka.

Baru saja dia melolos pedang, mendadak terlihat sebuah kepalan yang tampak lembut, ringan tapi sangat cepat menghajar wajahnya. Cepat dia mundur, menghindar, lalu balas melancarkan serangan, gerakannya tidak terhitung lambat, di antara kilatan cahaya pedang tahu-tahu tusukannya sudah mengarah tenggorokan Yap Kay.

Di saat ujung pedangnya tinggal satu inci dari tenggorokan Yap Kay, kepalan Yap Kay tahu-tahu sudah menghajar wajahnya lebih dulu, kemudian dia pun mendengar suara tulang sendiri yang terhajar remuk dan tubuhnya mencelat ke belakang, roboh terjungkal jauh dari arena, terkapar di bawah sinar matahari.

Karena kau ingin membunuhku, mau tak mau terpaksa aku pun harus membunuhmu.

Teori itu diketahui setiap orang, Yap Kay pun tahu, sesungguhnya dia bukan termasuk orang semacam ini, lalu mengapa sekarang dia melakukannya?

Karena dia harus bertindak begitu, bila tidak, andai ketiga orang yang berdiri di bawah pohon Siong turun tangan bersama, maka dialah yang bakal mati.

Sewaktu tubuh Lim Kong-ceng roboh ke tanah, detak jantungnya belum lagi berhenti, akhirnya dia mengerti akan satu hal.

Ternyata menjadi seorang yang biasa dan umum bukanlah satu kejadian yang menyedihkan, apalagi memalukan.

Seseorang yang seharusnya merupakan orang biasa tapi memaksa diri melakukan perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan, itulah baru patut disebut manusia yang paling mengenaskan.

Sebetulnya dia tak seharusnya membunuh orang karena dia memang bukan orang yang cocok menjadi pembunuh, dia hanya kelewat temperamen, kelewat memburu napsu dan emosi.

Menjadi putra seorang juru masak dan ibu pengasuh sudah seharusnya menerima kehidupan yang sederhana dan bersahaja, dengan begitu mungkin dia masih bisa hidup lebih lama dengan aman dan gembira, siapa tahu bisa hidup bahagia pula dengan generasi berikutnya.

Angin masih berhembus sepoi.

Dedaunan yang tumbuh di pohon Siong ikut bergoyang, beberapa di antaranya berguguran dan melayang ke bawah, melayang di tengah ketiga orang yang masih berdiri di bawah pohon.

Mereka pernah berada bersama Lim Kong-ceng, namun kematian yang menimpa Lim Kong-ceng seolah sama sekali tak ada hubungan dengan orang-orang itu.

Sorot mata mereka sedang mengawasi Yap Kay, tentu saja setiap gerakan yang dilakukan Yap Kay waktu memukul mati Lim Kong-ceng tak lepas dari pengamatan mereka, namun tidak seorang pun yang bergerak atau melakukan sesuatu tindakan.

Yap Kay masih duduk di sana, masih menggeliat dengan kemalas-malasan. Sampai lama kemudian satu di antara ketiga orang yang berdiri di bawah pohon baru bergerak maju.

Cara berjalan orang ini sangat aneh, tentu saja dia pun datang untuk membunuh Yap Kay, tapi caranya berjalan justru santun sekali, bagaikan seorang murid yang datang menjumpai gurunya, bukan saja sopan-santun dan terpelajar, malah nampak sedikit takut-takut.

Sekali pandang Yap Kay tahu orang ini pernah memperoleh pendidikan tinggi, bahkan sejak kecil sudah dibelenggu oleh peraturan yang ketat.

Orang macam ini justru adalah orang yang paling menakutkan.

Biarpun langkahnya mantap namun memancarkan kewaspadaan yang tinggi, setiap saat dia selalu mempertahankan sikap seorang pejuang yang siap tempur, sama sekali tidak memberi peluang orang untuk memanfaatkan setiap kesempatan.

Biarpun lengannya dibiarkan mengendor, namun telapak tangan diletakkan dekat gagang pedang, sementara matanya mengawasi terus tangan Yap Kay yang diletakkan di pagar dekat jendela.

Dalam pandangan orang banyak, jika dalam pertarungan antara dua jago tangguh bila seorang hanya mengawasi terus tangan lawan, maka tindakan itu merupakan tindakan yang bodoh.

Karena semua orang berpendapat tak mungkin kau bisa menemukan sesuatu hanya dari tangannya saja.

Bagian tubuh yang seharusnya diperhatikan adalah sorot mata lawan, sementara ada sebagian orang menganggap perubahan mimik wajah lawanlah yang harus diperhatikan.

Padahal pandangan orang-orang itu tidak seratus persen tepat, karena mereka telah melupakan beberapa hal.

Untuk membunuh memang dibutuhkan tangan.

Tangan pun punya penampilan, terkadang banyak membocorkan rahasia penting.

Ada banyak manusia yang dapat menyimpan begitu rapi perasaan serta rahasia pribadinya, bahkan dapat mengubah diri seperti sebiji buah yang keras, membuat siapa pun tak bisa melihat rahasia pribadi yang tak ingin diketahui orang lain dari perubahan wajah serta sorot matanya. Tapi tangan sama sekali berbeda.

Bila kau melihat otot hijau merongkol di tangan, ketika kau lihat nadi darahnya mulai mengembang kencang, segera akan kau ketahui perasaan hatinya waktu itu pasti sangat tegang.

Bila kau melihat tangan sedang gemetar, segera dapat diketahui orang itu selain tegang, dia pun merasa takut, ngeri, gusar atau emosi yang meluap. Semua itu tak mungkin bisa kau simpan atau tutupi, karena hal ini merupakan reaksi alami, reaksi kejiwaan.

Oleh sebab itulah bila kau benar-benar seorang jago tangguh; maka di saat menghadapi duel yang menentukan, tangan lawanlah yang penting kau perhatikan.

Tak disangkal orang ini memang jago tangguh yang matang pengalaman dan sudah beratus kali menghadapi pertempuran, bukan hanya tindakannya yang tepat, pandangan serta analisanya pun amat tepat.

Yap Kay balas menatap, tapi ia tidak memperhatikan tangannya, sebab dia tahu orang macam ini mustahil akan melancarkan serangan lebih dulu.

"Kau kenal aku?" tegur Yap Kay kemudian. "Kau bernama Yap Kay!" sahut orang itu

singkat.

"Memangnya kita punya dendam?" "Tak ada."

"Mengapa kau ingin membunuhku?"

Jelas satu pertanyaan yang tak gampang dijawab, biasanya orang membunuh tak perlu disertai berbagai alasan yang jelas.

Yap Kay pun tahu pertanyaan itu sulit untuk dijawab, tapi dia sengaja mengajukan pertanyaan ini, agar ia mempunyai cukup waktu untuk lebih memahami karakter dan kelebihan orang itu.

Tampaknya orang itu pun mempunyai pikiran yang sama, maka sahutnya, "Aku harus membunuhmu karena kau bernama Yap Kay, cukup bukan alasanku ini?"

Baru selesai dia berkata, Yap Kay telah turun tangan lebih dulu.

Yap Kay turun tangan lebih dulu karena dia tahu tak mungkin orang itu mau melancarkan serangan lebih dulu.

Rekannya telah memberi sebuah pelajaran yang sangat bagus, dia pun ingin belajar dari Yap Kay, dengan tenang menunggu gerakan.

Sayang dia tetap salah perhitungan, begitu bergerak ternyata Yap Kay menyerang dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dari apa yang dia bayangkan sebelumnya.

Ketika menyaksikan kepalan Yap Kay dilontarkan ke wajahnya, ia tertawa dingin, tangannya diputar siap menangkis datangnya ancaman itu, siapa sangka jotosan Yap Kay mendadak berubah, kali ini mengarah langsung ke hulu hatinya.

Tahu-tahu orang itu merasakan tulang iga di dada kirinya sudah patah beberapa bagian, bahkan tulang iga yang patah itu menancap di j antungnya. Hingga detik terakhir menjelang ajal, dia masih tak habis mengerti kenapa pukulan Yap Kay secara tiba-tiba bisa berubah mengarah dadanya.

Jurus itu mati, manusianya yang hidup. Satu pukulan yang sama kadangkala bisa menghasilkan akibat yang berbeda.

Dari bawah pohon Siong terdengar ada orang menghela napas, mirip juga suara tepukan tangan, dipenuhi rasa kagum dan memuji.

Kalau kedatangannya berniat membunuh, mengapa pula harus menghela napas dengan nada pujian?

"Tentunya kalian pun datang untuk membunuhku bukan?" ujar Yap Kay sambil mengawasi kedua orang tersisa yang masih berdiri di bawah pohon, "kenapa bukannya turun tangan bersama saja!"

Satu orang masih berdiri tanpa bergerak, sementara seorang yang lain perlahan-lahan berjalan maju.

Dia berjalan jauh lebih lambat daripada orang yang baru saja mati ditinju Yap Kay.

Dengan mata tajam Yap Kay mengawasi orang itu, mengamati setiap gerak-geriknya, mengawasi matanya yang tajam dan berkilat.

Tiba-tiba Yap Kay menyadari akan sesuatu, sekarang baru ia sadar dugaannya keliru besar, orang ini tak bermaksud membunuhnya, justru orang yang satulah kekuatan utama penyerangan ini.

Orang itu tak tebih hanya ingin memindahkan perhatian Yap Kay ke arah lain, dia tak berpedang, tidak pula berhawa membunuh.

Bagaimana dengan orang yang lain?

Di saat Yap Kay sedang mengawasi orang yang mendekati dirinya itulah tiba-tiba orang yang satunya lenyap.

Mustahil seorang yang terdiri dari darah dan daging bisa lenyap secara tiba-tiba, hanya saja siapa pun tak tahu kemana dia telah pergi.

Dalam waktu  singkat  orang ketiga telah berjalan tiba di   luar jendela dimana  Yap Kay berada, lalu  berdiri di situ dengan santainya,  dia  berdiri  dengan   sikap seorang penonton  yang  baik, berdiri mengawasi reaksi Yap Kay.   Sepasang matanya yang jeli bahkan terselip senyuman yang sangat tipis.

Biarpun orang ini datang kemari bersama ketiga orang rekan lainnya, namun sikapnya seakan sama sekali tak peduli dengan mati hidup orang-orang itu, seolah kedatangannya khusus untuk menonton dengan cara apa Yap Kay menghadapi mereka.

Tentu saja dia bukan sahabat Yap Kay, juga tak mirip musuh besarnya, sikapnya begitu aneh dan kabur, sekabur baju warna abu-abu yang dia kenakan. Sikap Yap Kay sendiri pun sangat aneh, dia hanya mengawasi orang berbaju abu-abu yang berdiri di muka jendela, terhadap orang yang kemungkinan besar musuh tangguh dan menakutkan, terhadap orang yang tiba-tiba lenyap dari situ, ia justru bersikap acuh, sama sekali tidak minat memperhatikan.

Sambil manggut-manggut ke arah orang berbaju abu-abu itu dia melempar sekulum senyuman, ternyata orang itu balas tertawa, malah menyapanya, "Baik-baikkah kau?"

"Aku tidak baik," Yap Kay sengaja menghela napas, "padahal aku sedang duduk santai di sini sambil menikmati pemandangan alam, tapi tanpa sebab ada orang ingin membunuhku, bagaimana mungkin bisa baik?"

Orang berbaju abu-abu ikut menghela napas, seakan bukan saja menyatakan sependapat bahkan memperlihatkan rasa simpatiknya.

"Jika aku sedang duduk santai sambil menikmati pemandangan alam, tiba-tiba datang tiga orang yang hendak membunuhku, jelas aku pun akan merasa sial sekali."

"Tiga orang? Hanya tiga orang yang ingin membunuhku?" tanya Yap Kay.

"Benar, hanya tiga orang."

"Bagaimana denganmu? Bukankah kau pun datang khusus untuk membunuhku?" "Seharusnya kau pun dapat melihat sendiri, aku bukan datang untuk membunuh," kembali orang berbaju abu-abu itu tertawa, "di antara kita berdua tak ada dendam atau permusuhan, buat apa harus membunuhmu?"

"Mereka pun tak punya permusuhan dan dendam denganku, mengapa pula datang hendak membunuhku?" tanya Yap Kay lagi. "Karena mereka sedang menjalankan perintah."

"Perintah siapa? Be Khong-cun? Atau pemilik kebun monyet Ong-losiansing?"

Menggunakan senyuman orang berbaju abu- abu itu menjawab pertanyaan Yap Kay.

"Terlepas atas perintah siapa, yang jelas mereka bertiga saat ini sudah ada dua orang yang tewas termakan tinjumu."

"Bagaimana dengan orang ketiga?"

"Tentu saja orang ketiga adalah orang yang paling menakutkan," kata orang berbaju abu-abu itu, "jauh lebih menakutkan dari gabungan dua orang yang pertama."

"Oya?"

"Orang pertama yang berusaha membunuhmu itu bernama Lim Kong-ceng, orang kedua bernama Tan Bun," orang itu menerangkan, "sebetulnya ilmu pedang mereka termasuk tangguh, pengalamannya membunuh pun sangat luas dan matang, benar-benar tak kusangka sebelum mereka sempat menggunakan jurus serangannya, kau telah mencabut nyawa mereka terlebih dulu."

Yap Kay tersenyum, tertawa penuh gembira. "Tapi orang ketiga sama sekali berbeda,"

kembali orang, berbaju abu-abu itu menambahkan.

"Oya?"

"Orang ketiga inilah baru pembunuh sebenarnya, ia benar-benar mengerti bagaimana cara membunuh manusia."

"Oya?"

"Dua orang yang pertama bisa mati di tanganmu lantaran mereka tak bisa menilai lawan, tak bisa pula menilai kemampuan sendiri, bukan saja dia terlalu menilai tinggi kemampuan sendiri bahkan kelewat memandang enteng kemampuanmu."

Pantangan paling besar bagi orang persilatan adalah memandang enteng kemampuan lawan, siapa yang berani melanggar, dia bakal mati.

"Berbeda dengan orang ketiga, bukan saja dia sangat mengenal asal-usul keluargamu, dia pun sangat memahami pengalaman serta kemampuan silatmu, sebab sebelum sampai di sini, dia telah melakukan penyelidikan dan pelacakan yang seksama, bahkan sewaktu kau turun tangan membunuh orang tadi, ia pun telah menyaksikan semua gerak-gerikmu dengan sangat jelas." Yap Kay tidak membantah, dia harus mengakui hal ini.

"Tapi bagaimana dengan kau sendiri?" kembali orang itu bertanya, "seberapa banyak yang kau ketahui tentang orang itu?"

"Sama sekali tidak tahu."

"Nah, itulah dia, dalam hal ini saja kau sudah berada di bawah angin," orang itu kembali menghela napas.

Kembali Yap Kay harus mengakui hal ini. "Tahukah kau, kini dia berada dimana?" tanya

orang itu lagi, "apakah kau sudah melihatnya?"

"Belum, aku belum melihatnya. Barangkali aku bisa menebaknya."

"Benarkah?"

"Dia pasti berada di belakangku, di saat aku sedang mencurahkan perhatian mengamati dirimu tadi, ia telah berputar menuju ke belakang rumah."

"Tebakanmu tepat sekali," perasaan kagum dan memuji kembali terpancar dari balik matanya.

"Siapa tahu saat ini dia sudah berdiri di belakangku, siapa tahu jaraknya denganku sudah sangat dekat, malah bisa jadi dengan sekali gerakan tangan ia sudah dapat membunuhku."

"Karenanya kau tak berani berpaling?" "Ai, sejujurnya aku memang tak berani

berpaling," kata Yap Kay sambil menghela napas, "karena begitu aku berpaling, maka di salah satu bagian tubuhku pasti akan muncul titik kelemahan, berarti dia punya kesempatan untuk membunuhku."

"Kau tak ingin memberinya peluang?" "Maaf, sama sekali tak ingin."

"Sayangnya, biar kau tidak berpaling pun dia tetap mempunyai kesempatan untuk membunuhmu," ujar orang itu, "membunuh orang dari belakang punggung rasanya jauh lebih gampang daripada saling berhadapan."

"Biar  sedikit lebih gampang, bukan berarti hal ini  bisa dilakukan dengan sangat gampang." "Kenapa?"

"Karena aku bukan orang mati, aku masih memiliki telinga untuk mendengar."

"Apakah kau ingin mendengar desiran angin saat dia melancarkan serangan?"

"Benar."

"Bagaimana kalau dia menyerang dengan gerakan sangat lamban, sama sekali tak menimbulkan suara desiran angin?"

"Selambat apa pun, aku tetap dapat merasakan desiran angin pukulannya," Yap Kay menjelaskan dengan hambar, "sudah belasan tahun aku berkelana dalam dunia persilatan, kalau merasakan saja tak sanggup, mana mungkin aku masih hidup hingga kini?" "Ehm, masuk akal juga."

"Oleh karena itu bila dia ingin turun tangan membunuhku, lebih baik pertimbangkan dahulu akibatnya."

"Akibatnya? Apa akibatnya?"

"Dia menginginkan nyawaku, aku pun menginginkan nyawanya," suara Yap Kay tetap terdengar hambar dan datar, "sekalipun dia dapat membunuhku di ujung pedangnya, jangan harap dia bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup."

Lama sekali orang berbaju abu-abu itu mengamatinya, kemudian baru tanyanya perlahan, "Kau benar-benar yakin?"

"Benar, bukan saja aku percaya akan keyakinan itu, mungkin dia pun mempercayainya."

"Kenapa?"

"Kalau dia tidak menganggap aku punya keyakinan akan hal ini, kenapa hingga sekarang belum juga turun tangan?"

"Siapa tahu dia masih menunggu, menunggu hingga kesempatan yang lebih baik tiba."

"Dia tak akan berhasil."

"Kalau begitu tidak seharusnya kau mengajakku berbicara."

"Kenapa?" "Siapa pun orangnya, sewaktu sedang bicara, perhatiannya pasti akan terpecah, saat itulah dia akan memperoleh kesempatan emas."

Yap Kay tersenyum, tiba-tiba tanyanya, "Tahukah kau peristiwa apa saja yang barusan berlangsung di sekitar tempat ini?"

"Tidak."

"Tapi aku tahu. Ketika kau sedang berjalan menuju kemari tadi, ada seekor bajing menyusup keluar dari lubangnya di atas pohon Siong hingga menggetarkan enam lembar daun, di antaranya ada dua lembar daun yang rontok ke bawah. Di saat kita mulai berbicara tadi, dari semak sisi kiri ada seekor ular sawah sedang menelan seekor tikus, lalu ada seekor musang lari menyeberang di jalanan sebelah depan dan sepasang suami istri yang tinggal di belakang kita baru selesai bertengkar."

Semakin mendengar, orang itu semakin terperanjat, dengan nada kaget bercampur tak percaya serunya, "Benarkah semua yang kau katakan itu?"

"Tentu saja sungguh. Tak ada suara atau gerakan dalam radius dua puluh depa yang bisa lolos dari pendengaranku."

Orang berbaju abu-abu menghela napas panjang.

"Untung saja kedatanganku bukan bermaksud membunuhmu," katanya tertawa getir, "kalau tidak, mungkin saat ini aku pun sudah mampus oleh tinjumu."

Yap Kay tidak menyangkal.

Kembali orang itu bertanya, "Jika telah kau ketahui kedatangannya hendak membunuhmu, sudah tahu ia berada di belakangmu, kenapa kau tidak berusaha membunuhnya lebih dahulu?"

"Karena aku tak terburu-buru, yang terburu- buru justru dia," Yap Kay tertawa lebar, "kan dia yang ingin membunuhku, bukan aku yang ingin membunuhnya, tentu saja aku lebih mampu menahan diri."

"Sungguh mengagumkan," kembali orang itu menghela napas, "kalau bukan bertemu dalam situasi seperti ini, aku betul-betul berharap bisa berkenalan dengan seorang sahabat macam dirimu."

"Sekarang mengapa kita tidak dapat berteman?"

"Karena aku datang serombongan dengan mereka, sedikit banyak kau pasti akan waswas terhadapku."

"Pandanganmu keliru besar!" tukas Yap Kay cepat, "kalau aku tak bisa menebak niat hatimu, buat apa mesti melayani kau berbincang?"

"Jadi sekarang aku masih dapat bersahabat denganmu?" tanya orang berbaju abu-abu tercengang.

"Kenapa tidak boleh?" "Tapi kau sama sekali tak tahu manusia macam apakah diriku ini, bahkan kau tak tahu siapa namaku?"

"Dapatkah kau memberitahukan kepadaku?" "Tentu saja dapat," orang berbaju abu-

abu tertawa, tertawa sangat riang, "aku bernama Be Sa."

"Be Sa!"

Tentu saja nama itu tak bakal memancing rasa curiga maupun rasa tercengang Yap Kay, di antara sekian banyak teman Yap Kay bahkan ada di antaranya yang mempunyai nama jauh lebih aneh daripada nama orang ini.

"Aku bernama Yap Kay, yap berarti daun dan kay berarti terbuka."

"Aku tahu, sudah cukup lama kudengar nama besarmu."

Perlahan-lahan dia maju selangkah, dalam genggamannya masih belum nampak pedang, dari sekujur badannya juga sama sekali tidak memancarkan hawa membunuh.

Ia berjalan terus menghampiri Yap Kay, seakan-akan dia ingin berjabat tangan dengan orang itu, menyatakan rasa suka citanya. Dan semua yang dilakukan adalah perbuatan yang wajar, sebab Yap Kay telah menjadi sahabatnya sekarang.

Yap Kay sendiri pun terhitung orang yang senang berkenalan, dia sama sekali tidak mencurigai Be Sa, rasa waswas pun sama sekali tak ada, apalagi sekarang, setelah Be Sa menjadi sahabatnya.

Di saat Be Sa sudah hampir tiba di hadapan Yap Kay itulah tiba-tiba paras mukanya berubah hebat, lalu jeritnya dengan nada kaget, "Hati-hati belakangmu!"

Tak tahan Yap Kay berpaling.

Siapa pun orangnya, bila berada dalam situasi seperti ini, dia pasti tak akan tahan untuk tidak berpaling.

Pada saat Yap Kay baru saja berpaling itulah, mendadak Be Sa mencabut sebilah pedang dari balik sakunya.

Sebilah pedang lembek yang terbuat dari baja asli, bergetar ketika terhembus angin dan bagaikan seekor ular berbisa langsung menusuk belakang tengkuk Yap Kay sebelah kiri.

Waktu itu Yap Kay sedang menoleh ke sisi kanan, dalam keadaan begini, belakang tengkuk sebelah kirinya akan menjadi bagian tubuhnya yang terbuka, sebuah pintu kosong.

Istilah pintu kosong merupakan perkataan yang biasa digunakan kaum persilatan, artinya bagian tubuh yang terbuka bagaikan pintu gerbang yang kosong dan terbuka lebar, asal kau berminat, setiap waktu bisa saja masuk keluar.

Pada belakang leher sebelah kiri terdapat nadi darah besar, nadi vital aliran darah ke otak, jika nadi itu teriris putus, dapat dipastikan darah akan menyembur tiada hentinya dan sang korban akan tewas secara mengenaskan.

Bagi seorang pembunuh yang berpengalaman, dia tak bakal turun tangan secara sembarangan sebelum muncul kesempatan yang paling menguntungkan dan paling meyakinkan bagi dirinya, tak disangkal Be Sa telah memanfaatkan kesempatan emas ini dengan sebaik-baiknya.

Inilah kesempatan emas yang ia ciptakan sendiri dan dia yakin babatan pedangnya tak bakal meleset, karena dia kelewat yakin dengan rencananya itu maka sama sekali tak disediakan jalan mundur bagi diri sendiri.

Oleh karena itulah dia mampus.

Padahal Yap Kay sama sekali tak punya rasa waswas, dia sama sekali tak mencurigainya, bahkan sama sekali tak punya kesempatan untuk menangkis apalagi menghindar.

Be Sa telah memperhitungkan secara tepat, waktu pedangnya menusuk ke depan, perasaannya begitu bergetar bagai pemancing yang kailnya disambar ikan besar. Dia tahu ikan kakap sudah terkail.

Siapa sangka di saat kritis itulah tiba-tiba Yap Kay mengayun tangannya, mengayun dari posisi yang sama sekali tak disangka Be Sa.

Menyusul Be Sa pun mendengar suara golok membelah angkasa. Suara golok!

Be Sa hanya mendengar suara golok, sama sekali tidak melihat goloknya.

Pada hakikatnya dia tidak melihat babatan golok atau cahaya golok, yang dia dengar hanya suara golok, kemudian tubuhnya roboh terkapar di atas tanah.

Belum lagi pedang Be Sa menusuk belakang leher Yap Kay, tiba-tiba ia merasa tengkuk sendiri tersambar oleh segulung angin yang dingin rasanya.

Tentu saja dia tahu perasaan seperti itu adalah ketika tubuh dibabat golok, namun dia sama sekali tak sempat melihat golok yang ada di tangan Yap Kay.

Tentu saja dia pun tahu Yap Kay adalah satu- satunya ahli waris Siau-li si pisau terbang.

Pisau terbang Siau-li tak pernah meleset setiap kali dilontarkan.

Dalam seratus tahun terakhir, belum pernah ada umat persilatan yang meragukan perkataan itu.

Dimulai dari kematian Siangkoan Kim-hong di ujung pisau terbang Li Sun-huan, tak ada orang meragukan keampuhannya.

Ujung pedang Be Sa hanya tinggal satu inci dari belakang leher Yap Kay ketika pisau terbang yang dilepaskan Yap Kay mendarat di tengkuknya. Selisih jaraknya hanya satu inci.

Biar hanya satu inci, namun sudah lebih dari cukup!

Jarak antara mati dan hidup kerap kali jauh lebih pendek dari satu inci, menang kalah, berhasil atau gagal seringkah hanya berselisih kurang dari satu inci.

Mata pedang yang dingin baru saja melesat di sisi leher Yap Kay ketika tangan Be Sa yang menggenggam senjata sudah keburu kaku, di atas tengkuknya telah tertancap sebilah pisau terbang yang nampak sangat umum dan sederhana.

Sebilah pisau terbang sepanjang tiga inci tujuh cun.

Pada saat itulah dari mulut luka di tengkuk Be Sa perlahan-lahan mengucur darah segar, sinar matanya memancarkan rasa tak percaya, ngeri bercampur seram.

Yap Kay tidak berpaling, tentu saja dia yakin pisau terbang yang dilepaskan tak bakal meleset dari sasaran.

Kapan Siau-li si pisau terbang pernah meleset dari sasarannya?

Dengan cepat Yap Kay mendengar suara helaan napas serta suara tepukan tangan.

"Hebat, luar biasa," helaan napas itu kembali berkumandang, "pertunjukan ilmu yang mengerikan!" Suara itu berasal dari satu tempat yang agak jauh, karena itu Yap Kay kembali membalikkan badan, begitu berpaling, ia lihat seseorang dengan dandanan begitu sederhana berdiri di bawah pohon siong sana.

Orang itu tak lain adalah salah satu di antara keempat orang yang secara tiba-tiba hilang dari tempat itu, dia bukan lain adalah Go Thian, orang yang diperintah Ong-losiansing menyampaikan perintah rahasia.

"Sebetulnya kusangka kau pasti akan mampus," kembali Go Thian berkata setelah menghela napas, "tak disangka ternyata dia sendiri yang menemui ajal."

Yap Kay tertawa, hanya tertawa tanpa menjawab.

"Sejak kapan kau baru teringat dialah pembunuh  ketiga  yang sesungguhnya, yang berniat membunuhmu?" tanya Go Thian lagi. "Sejak ia berjalan menghampiriku."

"Sejak ia menghampirimu? Waktu itu bahkan aku sendiri pun menyangka kau benar-benar bersedia berkawan dengannya, darimana kau bisa tahu ia berniat membunuhmu?"

"Karena dia kelewat hati-hati waktu berjalan mendekat, seolah kuatir kakinya bakal menginjak mati seekor semut di atas tanah."

"Apa salahnya berjalan dengan hati-hati?" "Ada satu hal yang dia lupakan, " kata Yap Kay, "bagi orang persilatan macam kami, biar sudah menginjak mati tujuh-delapan ratus ekor semut pun tak bakal dipermasalahkan, dia berjalan dengan hati-hati lantaran dia harus waspada dan berjaga-jaga terhadap serangan yang kulancarkan secara mendadak."

Go Thian tidak berkomentar, dia hanya mendengarkan.

"Hanya orang yang berniat mencelakai oranglah yang akan berjaga-jaga terhadap serangan orang lain," Yap Kay menambahkan.

"Oya?"

"Aku pernah mengalami kejadian seperti ini, biasanya yang bakal rugi dan masuk perangkap adalah mereka yang tak ingin mencelakai orang lain."

"Kenapa?"

"Karena mereka tak punya niat mencelakai orang, mereka tidak perlu menguatirkan sergapan orang," kata Yap Kay hambar, "bila kau pun pernah mengalami kejadian serupa, tentu akan kau paham maksud perkataanku ini."

"Aku sangat memahami, tapi belum pernah punya pengalaman seperti itu, selama hidup belum pernah aku percaya kepada siapa pun."

Go Thian memandang Yap Kay sekejap, lanjutnya sambil tertawa, "Mungkin lantaran kau pernah merasakan pengalaman seperti ini, pernah merasakan pelajaran yang menyakitkan dan memedihkan macam ini, maka sekarang kau tidak mati."

"Mungkin begitu, melakukan kebodohan satu kali, kesalahan ada di pihakmu, jika sampai melakukan kebodohan dua kali, aku sendirilah yang goblok."

Yap Kay pun balas menatap Go Thian, lalu setelah tertawa tambahnya, "Setelah mengalami satu kali pelajaran pahit tapi masih tak waspada, aku memang pantas untuk mampus."

"Ucapan yang amat bagus."

"Bagaimana dengan kau?" tiba-tiba Yap Kay menegur,  "apakah kedatanganmu juga berniat membunuhku?"

"Bukan."

"Bukankah kau datang bersama mereka?" "Betul, hanya perintah yang kami terima

berbeda." "Oya?"

"Mereka bertiga mendapat perintah membunuhmu, sementara aku mendapat perintah hanya untuk melihat." "Melihat apa?"

"Melihat cara kerja mereka, terlepas berhasil membunuhmu atau kau yang berhasil membunuh mereka, aku harus menyaksikan dan mengingatnya dengan baik dan jelas." "Bukankah sekarang kau telah menyaksikan dengan sangat jelas?"

"Benar."

"Bukankah sekarang sudah saatnya bagimu untuk pergi dari sini?"

"Benar," kembali Go Thian mengangguk, "tapi sebelumnya aku ingin mengajukan satu permohonan kepadamu."

"Katakan."

"Aku ingin membawa pulang mereka bertiga, hidup atau mati, aku harus membawa pulang orang-orang itu." Yap Kay segera tertawa.

"Sewaktu masih hidup, mereka tidak memberi manfaat apa pun kepadaku, apalagi setelah mati. Namun aku pun berharap kau bisa membantuku melakukan satu hal."

"Katakan!"

"Peduli siapa pun orang yang mengutusmu, aku harap sampaikan kepadanya, minta dia baik-baik menjaga diri. Di saat aku menjumpainya nanti, aku harap dia masih tetap dalam keadaan hidup dan sehat."

"Dia pasti sehat. Dia memang seorang yang pandai menjaga diri." "Bagus sekali," Yap Kay tergelak, "aku benar-benar berharap dia masih hidup sewaktu aku datang mencarinya."

"Aku berani jamin, sementara ini dia tak bakal mati," Go Thian ikut tergelak, "aku pun berani menjamin, dalam waktu singkat kau bakal bertemu dengannya."

Tentu saja Ong-losiansing tak bakal mati tanpa sebab musabab jelas.

Dia selalu percaya hidupnya jauh lebih panjang dari siapa pun yang berusia sebaya dengan dirinya.

Dia pun selalu percaya uang adalah segalanya, hidup di dunia ini uang sangat penting, karena tanpa uang kau tak akan mampu membeli apa pun, termasuk kesehatan maupun nyawa sendiri.

Nomor enam, nomor enam belas, nomor dua puluh enam telah mati, mati di tangan Yap Kay, terhadap kejadian ini Ong-losiansing sama sekali tidak tercengang.

Agaknya kematian mereka bertiga sudah dalam dugaannya.

Kalau sudah tahu mereka bertiga bakal mati, mengapa dia masih memerintahkan ketiga orang itu mengantar kematian? Kenapa ia melarang mereka bertiga turun tangan bersama?

Jangankan dirimu, Go Thian yang melaksanakan perintah itu pun tidak jelas. Dia hanya tahu satu hal, semua yang diperintahkan Ong-losiansing harus dia lakukan dengan baik. Ong-losiansing memerintahkan dia untuk membawa pulang ketiga orang itu, maka dia pun membawa mereka kembali, terlepas apakah masih hidup atau sudah mati.

Dan Go Thian telah melaksanakan.

"Bila mereka mati di tangan Yap Kay, aku harus memeriksa jenazah mereka dalam waktu empat jam."

Sesaat sebelum berangkat, Ong-losiansing telah menurunkan perintah itu kepada Go Thian, satu pekerjaan yang tidak mudah untuk dilakukan, tapi Go Thian mampu melakukannya.

Cahaya matahari senja menyorot di atas air terjun, pantulan cahaya di atas air menimbulkan percikan cahaya keemas-emasan.

Dengan tenang So Ming-ming mendengarkan penuturan Yap Kay hingga selesai, setelah termenung beberapa saat dia mendongak dan berkata, "Terlepas siapakah orang itu, kalau dia berniat mengirim tiga orang untuk membunuhmu, mengapa tidak menitahkan mereka bertiga turun tangan bersama?"

"Sebenarnya aku pun tidak mengerti hal ini, tapi sekarang aku paham."

"Karena apa?"

"Dia sengaja mengutus ketiga orang itu untuk menyelidiki aliran ilmu silatku," Yap Kay menjelaskan, "aliran ilmu silat dan ilmu pedang yang dimiliki ketiga orang itu berbeda, cara mereka membunuh pun berbeda."

"Oh, berarti dia memang sengaja mengutus mereka dengan tujuan ingin melihat bagaimana caramu membunuh mereka?" Yap Kay manggut- manggut tanda membenarkan.

"Kalau  memang tujuannya hanya ingin melihat bagaimana  caramu membunuh, kenapa ia tidak turun tangan sendiri?" tanya So Ming-ming. "Tidak perlu, dia tak perlu turun tangan sendiri."

"Kenapa?"

"Asal dalam empat jam ia memeriksa jenazah ketiga orang jagonya yang sudah mati, semuanya akan tertera jelas."

"Aku tidak mengerti."

"Asal dia memeriksa mulut luka yang mengakibatkan kematian mereka, dia akan tahu dengan cara apa aku turun tangan, " Yap Kay menjelaskan, "sama seperti cara Pek-im Shiacu Yap Koh-seng menebas kutung setangkai ranting pohon dengan pedangnya. Sebun Jui-soat cukup memeriksa bekas sayatan di atas ranting, ia segera dapat menilai tinggi rendahnya ilmu pedang yang dimiliki musuh."

Semua ini bukan dongeng, juga bukan cerita isapan jempol, bagi seorang jagoan tulen dia pasti dapat melakukan hal ini, dari bekas luka seseorang sudah dapat diraba tinggi rendahnya kemampuan silat orang. "Tapi dia harus bisa memeriksa jenazah itu dalam empat jam sejak kematiannya," Yap Kay menerangkan lebih jauh, "sebab kalau tidak, dengan berjalannya sang waktu, maka bekas luka itu akan menyusut dan berubah bentuk."

So Ming-ming kembali termenung, mendadak serunya, "Aku tidak mengerti."

"Apa yang tidak kau pahami?"

"Jika kau sudah tahu tujuannya ingin melihat aliran ilmu silatmu, kenapa kau masih tetap turun tangan?"

"Pertama, bila ketiga orang itu turun tangan bersama, belum tentu aku sanggup menghadapinya. Kedua, saat itu aku masih belum mengetahui maksud tujuannya," kata Yap Kay sambil tertawa, "aku baru tersadar ketika orang keempat mengatakan akan membawa pulang mayat mereka."

"Sebetulnya waktu itu pun belum terlambat, kenapa kau tetap mengizinkan dia membawa pulang mayat-mayat itu?"

"Karena aku ingin tahu siapa sebenarnya orang yang disebut sebagai si dia itu."

"Oh, kau ingin melacak identitas si dia dari perjalanan orang keempat sewaktu mengirim balik mayat-mayat itu?"

"Benar."

"Lalu? Berhasilkah kau melacaknya?" "Menurut kau?"

Dalam kondisi dan keadaan seperti apa pun, kau jangan sampai terlacak jejak dan identitasmu.

Walaupun pesan semacam ini belum pernah disampaikan Ong-losiansing secara langsung, namun Go Thian sangat mengetahui akan hal ini.

Tentu saja merupakan satu pekerjaan yang sangat sulit untuk melakukan hal itu, sudah pasti Yap Kay pun bukan seorang goblok, dia tentu mengerti apa tujuan Go Thian mengirim balik mayat-mayat itu.

Dengan begitu dia pasti akan berusaha merahasiakan semua gerak-geriknya, berusaha tidak membocorkan data sedikit pun tentang si dia.

Padahal bila Yap Kay ingin melacak seseorang, rasanya tak seorang pun di dunia ini yang mampu meloloskan diri dari pengejaran dan penyelidikannya.

Tetapi sewaktu Go Thian bertemu Ong- losiansing, dia berani menjamin tak seorang pun berhasil melacak jejak dan identitas Ong- losiansing dari setiap perkataan, perbuatan dan tindak-tanduknya. Bahkan dia berani menggunakan batok kepala sendiri sebagai taruhan.

Mengapa dia begitu yakin? Tentu saja Yap Kay tak akan melepaskan setiap tempat yang disinggahi Go Thian sepanjang perjalanannya, apa yang dia lakukan, bahkan setiap tempat kecil yang tak penting pun tak dilepaskan begitu saja.

Go Thian menggunakan sebuah kereta yang disewanya dari sebuah pasar untuk mengangkut jenazah Lim Kong-ceng bertiga.

Pada malam itu dia sudah menyewa kereta besar dengan ongkos sewa enam kali lipat dari biasanya dan minta kusir untuk menantinya di sekitar sana.

Si kusir Lo Thio sudah dua-tiga puluh tahun mengerjakan usaha ini, di antara mereka berdua sama sekali tak punya hubungan apa-apa.

Toko penjual peti mati terbesar di kota Lhasa bermerek Liu-ciu-lim-ki.

Tengah hari belum lama lewat, Go Thian telah mengusung ketiga sosok mayat itu ke depan toko peti mati, lalu dengan membayar harga yang tiga kali lipat lebih mahal, dia membeli tiga buah peti mati berkualitas nomor satu.

Dia langsung turun tangan mengawasi sendiri para pegawai Lim-ki memasukkan ketiga sosok jenazah itu ke dalam peti mati, walaupun dia telah membubuhi bubuk harum pencegah busuk dalam peti mati, namun melarang siapa pun menyentuh jenazah itu, bahkan pakaian untuk orang mati pun tak sempat dikenakan. Setelah itu dia langsung mengantar ketiga peti mati itu ke sebuah tanah kuburan paling besar di kaki bukit luar kota Lhasa, dengan membayar seorang Suhu Hongsui tersohor, dipilihlah tanah kuburan yang paling baik.

Tanah kuburan itu berada di kaki bukit menghadap arah matahari terbit, para penggali liang kubur pun merupakan orang-orang yang sangat ahli, tak sampai satu jam ketiga buah peti mati itu sudah masuk ke tanah.

Dalam satu jam berikut batu nisan pun telah siap, bahkan terukir jelas nama mereka bertiga, Lim Kong-ceng, Tan Bun serta Be Sa.

Kemudian Go Thian mengawasi sendiri pendirian batu nisan, membakar Gincoa dan pasang hio.

Malah dia sempat meneguk tiga cawan arak dan mengucurkan air mata sebelum meninggalkan tempat itu.

Setiap perbuatan yang dilakukan Go Thian boleh dibilang sangat wajar, semuanya dilakukan demi kawan-kawannya yang telah tiada, tak satu pun yang nampak aneh atau mencurigakan.

Tapi menjelang senja, Ong-losiansing telah melihat dan memeriksa mayat Lim Kong-ceng bertiga.

Mendengar sampai di situ, So Ming-ming bertanya, "Kalau dia ingin secepatnya melihat mulut luka yang mematikan di tubuh jenazah ketiga orang itu, kenapa dia malah memerintahkan anak buahnya untuk segera mengubur mayat-mayat itu?"

Inilah persoalan yang utama, persoalan yang susah dijelaskan dan susah dijawab.

Yap Kay seolah sudah mengetahui jawabannya, dia tertawa dan tiba-tiba tanyanya kepada So Ming-ming, "Tahukah kau tentang seorang dari marga Liu yang tinggal di kota Lhasa, Liu Sam- gan, seorang Suhu Hongsui?"

So Ming-ming manggut-manggut tanda tahu.

"Apa kegemaran orang ini?" tanya Yap Kay lagi. "Dia suka berjudi, selama ini dia anggap dirinya

bukan saja pintar berjudi, bahkan pandai juga meramal, sayangnya dari sepuluh kali berjudi, ada sembilan kali dia kalah."

"Apakah dia selalu butuh uang untuk berjudi?" "Benar."

Yap Kay tertawa, katanya, "Maukah kau bertaruh denganku?"

"Bertaruh apa?"

"Bertaruh tentang orang yang bernama Liu Sam-gan ini, sekarang dia pasti sudah mati."

Untung So Ming-ming tidak mau melayani pertaruhan itu, kalau tidak, ia pasti bakal kalah.

Di dunia ini terdapat banyak sekali kejadian yang rumit dan memusingkan kepala, padahal seringkah jawabannya justru amat sederhana, hampir semua kejadian itu begitu. Padahal Go Thian sudah menyiapkan tanah kuburan itu dengan baik, jauh sebelumnya telah menggali sebuah lorong bawah tanah yang tembus dengan liang kuburan itu, untuk menghindari kecurigaan dan penguntitan Yap Kay, dia sengaja mencari Liu Sam-gan sebagai alasan.

Waktu itu Liu Sam-gan sedang butuh duit, maka Go Thian pun menyuap dia dengan sejumlah uang, ketika semua urusan telah beres, tentu saja dia harus dibunuh untuk membungkam mulutnya.

Tak dapat disangkal, inilah satu-satunya cara untuk menghindari pengejaran Yap Kay, dan dengan cara ini juga ia dapat mengirim ketiga sosok mayat itu dalam waktu singkat.

Matahari senja terlihat semakin merah, semerah ceceran darah.

So Ming-ming mendongakkan kepala, mengawasi cahaya merah di ujung langit, biji matanya tampak berkilat seolah memancarkan sinar keemasan, alisnya juga nampak kuning keemasan di bawah pantulan sinar senja.

"Bagaimana pun juga, tak mungkin ketiga buah peti mati yang dipakai untuk menyimpan ketiga sosok mayat itu terbang lenyap begitu saja," kata So Ming-ming, "terlepas ketiga buah peti mati itu mau dikirim kemana, pasti ada orang yang menggotongnya bukan?"

"Benar." "Mau digotong kemana pun ketiga buah peti mati itu, sudah pasti mereka akan meninggalkan jejak, apalagi menggotong peti yang begitu berat."

"Seharusnya memang begitu," sekali  lagi Yap Kay memperlihatkan senyuman misteriusnya. "Apa maksudmu?"

Jalan keluar lorong rahasia, biarpun terdiri dari tanah berlumpur atau tanah berumput, unfuk menggotong tiga buah peti mati yang berat, pada permukaan tanah pasti akan meninggalkan bekas yang j elas.

Mau digotong orang atau diangkut kereta, pada permukaan tanah tentu akan meninggalkan bekas.

Namun bila So Ming-ming sekali lagi berani bertaruh dengan Yap Kay, maka yang kalah tetap adalah So Ming-ming.

Sebab tak jauh dari jalan keluar lorong rahasia itu terbentang sebuah sungai besar, meskipun arus airnya cukup deras, namun bukan masalah yang sulit untuk mengangkut ketiga buah peti mati itu dengan rakit yang terbuat dari kulit kambing.

Mau air sungai, air telaga ataupun air laut, tak mungkin di atas permukaan air meninggalkan jejak barang sedikit pun.

Asal orang yang dikuntit menceburkan diri ke air, biar anjing pemburu dari jenis paling hebat, biar sudah mendapat pendidikan yang paling ampuh pun jangan harap bisa melacaknya.

Senja semakin larut, awan tebal mulai menyelimuti puncak bukit di kejauhan sana.

Air terjun masih mengalir sangat deras, sebagian butiran air muncrat ke udara, membasahi wajah So Ming-ming.