Kilas Balik Merah Salju Jilid 03

 
Hoa Boan-thian hanya tersenyum, dia membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam gedung penerima tamu.

Kembali Yap Kay termenung sesaat, setelah menatap sekejap Pho Ang-soat, tanyanya sambil tertawa, "Seandainya Pek-siocia jatuh hati kepadamu, aku tak bisa membayangkan bagaimana sikap Be Khong-cun nanti, apakah mungkin dia masih berusaha akan membunuhmu lantaran kematian Be Hong-ling?"

"Hm, tak ada yang menggelikan dengan hal ini," dengus Pho Ang-soat dingin.

"Aku tahu, kejadian ini memang tak ada yang menggelikan, tapi hubungan antara satu masalah dengan masalah lain rasanya sangat menarik untuk dipikir dan dirasakan."

Kalau dia merasa tertarik, sebaliknya Pho Ang- soat sama sekali tidak tertarik, tanpa menggubris rekannya lagi dia balik ke dalam kamarnya.

"He, kau tak ingin masuk dulu untuk menengok Pek-siocia?" kembali Yap Kay bertanya sambil tertawa, "jangan kau sia-siakan kesempatan baik ini. "

"Biar kutinggalkan untukmu saja," tanpa berpaling lagi Pho Ang-soat lenyap di sudut ruangan. Yap Kay tersenyum, lalu mendongakkan kepala memandang angkasa, seakan sedang memikirkan sesuatu. Saat ini dia belum berminat bertemu

Pek-siocia, justru sekarang yang dipikirkan adalah perempuan berambut panjang yang dijumpai dalam mimpinya semalam.

Jenazah yang membujur di atas meja panjang telah disingkirkan, permukaan meja telah digosok hingga mengkilap bagai cermin, bubur pun kini sudah diganti dengan hidangan dan arak.

Kecuali orang-orang Ban be tong, semua tamu yang semalam diundang hampir seluruhnya masih berada di luar gedung penerima tamu, sayur dan arak di hadapan Buyung Bing-cu maupun Hun Cay-thian sekalian sama sekali tak tersentuh, sementara Sam-bu Siansing Loh Loh-san yang gemar meneguk arak, saat ini sudah terkapar lagi di atas meja, tampaknya dia sudah mabuk berat.

Sambil tersenyum Yap Kay balik ke tempat duduknya, menuang cawannya dengan arak dan meneguknya dengan riang.

"Wah, ternyata arak Kao-liang berusia empat puluh tahun," gumam Yap Kay sambil memejamkan mata, "arak bagus, arak bagus!"

"Tentu saja arak bagus, belum pernah Ban be tong menyuguh tamu dengan arak jelek," tiba- tiba Loh Loh-san mendongakkan kepala sambil bergumam, setelah itu tertidur kembali, "Tampaknya Sam-bu Siansing bakal ketambahan satu ketidak mampuan lagi," seru Yap Kay tertawa.

Setelah meneguk araknya, kembali dia berkata, "Heran, berada dimana pun, kapan pun, asal mendengar urusan "yang berhubungan dengan arak, dia selalu bisa sadar kembali."

"Tepat sekali," kali ini Loh Loh-san tidak mendongakkan kepala, malah sambil membalikkan badan melanjutkan lagi tidurnya.

"Sepertinya Yap-kongcu memang sahabat karib Sam-bu Siansing!" entah sedari kapan Be Khong- cun telah muncul kembali dalam ruangan.

"Kami bukan sahabat karib," sahut Yap Kay sambil tertawa, "mungkin cocok saja karena urusan arak."

Kembali Be Khong-cun tertawa, kemudian kepada semua yang hadir katanya, "Silakan kalian nikmati dulu hidangan seadanya dan arak tawar itu, setelah beristirahat, nanti malam Cayhe pasti akan menemani kalian minum sampai mabuk."

"Bagaimana dengan Toa-siocia?" Buyung Bing- cu segera bertanya, "bukankah Toa-siocia telah pulang?"

"Betul, dia memang sudah kembali, tapi saat ini sedang istirahat, maklumlah kan baru menempuh perjalanan jauh, malam nanti akan kuundang juga kehadirannya untuk menemani kalian." Loh Loh-san yang tertidur mendadak mendongakkan kepala lagi sambil bertanya, "Bagaimana dengan takaran minumnya?"

"Kalau mimum satu dua cawan masih bisa." "Bagus sekali, bagus sekali," gumam Loh Loh-

san, "justru yang aku kuatirkan dia enggan minum, apa jadinya kalau dia sampai kuloloh hingga mabuk?"

Selesai bersantap, setiap orang sepertinya sudah balik ke kamar masing-masing untuk beristirahat, Pho Ang-soat sejak kembali ke kamar hingga kini pun belum pernah menampakkan diri.

Yap Kay tidak kembali ke kamarnya untuk beristirahat, dia pun tidak tinggal di Ban be tong, tapi berkeliaran ke sana kemari hingga tak lama kemudian terlihatlah sebuah kota kecil di kejauhan.

Berjalan menelusuri jalanan kota, dengan matanya yang jeli dan senyuman selalu menghias bibir, dia mengawasi setiap sudut dan setiap orang yang dijumpainya.

Andaikata ada yang memperhatikan gerak- geriknya, maka akan terlihat hari ini paling tidak ia sudah tiga-empat puluh kali menguap, apa mau dikata ia justru bersikeras enggan tidur.

Dia selalu berpendapat, dalam kehidupan seorang hampir tiga puluh persen waktunya hanya dihabiskan, untuk tidur, karena itu bila tidak terpaksa, dia betul-betul enggan naik ranjang untuk tidur.

Begitu dia kemukakan pandangannya itu, segera ada orang bertanya, "Lalu waktu yang masih ada dua per tiganya lagi digunakan untuk apa?"

"Sepertiganya untuk menelanjangi perempuan," jawab Yap Kay sambil tertawa.

"Dan sisanya yang sepertiga?" "Sisanya yang sepertiga dipakai untuk

menunggu perempuan berpakaian."

Yap Kay gemar sekali berbincang dengan berbagai lapisan orang, dia berpendapat dimana pun kau berada,  bertemu dengan orang macam apa pun, pasti ada keuntungan yang bisa  diraih dari mereka, oleh karena itu kau harus selalu berhubungan dengan, mereka, dengan begitu kesempatan itu baru bisa kau raih.

Kebetulan saat itu dia sedang lewat di depan sebuah toko penjual kelontong, dia masih teringat, sepuluh tahun berselang tempat itu pun merupakan sebuah toko kelontong.

Pemilik toko kelontong itu adalah seorang lelaki setengah umur, mukanya bulat dan wajahnya selalu tersenyum, setiap kali bertemu orang dia selalu akan berkata, "Baguslah, jalan saja sesuka hati, toh semua kedai adalah bertetangga."

Lopan yang selalu tersenyum itu bermarga Li, semua orang memanggilnya Li Ma-hou, hanya sayang Li Ma-hou sudah menyeberang ke neraka dan membuka toko kelontong di sana.

Pemilik toko kelontong sekarang she Thio bernama Kian-beng, usianya sekitar empat puluh tahunan, orangnya sangat ramah, apalagi kalau bertemu Siocia, matanya pasti akan berubah tinggal segaris.

Dari bentuk mukanya, di masa mudanya dulu dia pasti termasuk pemuda tampan yang banyak digandrungi cewek, sayangnya lelaki semacam itu biasanya justru mempunyai bini yang wajahnya tidak setara dengan ketampanannya.

Dalam hal ini ternyata dugaan Yap Kay tidak salah, karena dengan cepat dia lihat istri Thio Kian-beng berjalan keluar dari kedainya.

Kalau tidak melihat wajahnya atau hanya mendengar suara langkahnya, Yap Kay pasti mengira ada rombongan gajah sedang berlalu di hadapannya.

Perawakannya tidak lebih tinggi dari bahu Thio Kian-beng, tapi lengannya justru lebih besar dari paha lakinya, raut mukanya pun terhitung cantik, tapi sayang kecantikannya nampak begitu kaku dan bebal, tidak termasuk cewek yang pantas dipandang.

Yap Kay selalu berpendapat cantik buruknya seseorang bukan dinilai dari wajahnya tapi dari hatinya, karena yang penting hatinya mesti baik dan saleh. Sayang bini Thio Kian-beng termasuk perempuan yang luar dalam sama saja, padahal umurnya sudah mencapai empat puluh tahun lebih, tapi dandanannya tak mau kalah dengan gadis perawan berumur tujuh-delapan belas tahun.

Masih mendingan kalau dia tidak buka suara, ternyata suara perempuan ini bisa membikin orang mencelat sampai ke atap rumah saking kagetnya, nada yang sangat kasar, parau dan keras tanpa daya tarik justru diucapkan dengan gaya manja seorang gadis kecil.

Sekarang dengan gayanya yang manja itulah dia berbicara dengan Thio Kian-beng, membuat semua orang yang mendengar, berdiri bulu kuduknya saking ngeri dan mualnya.

Begitu melihat perempuan itu berjalan keluar, Yap Kay segera mempercepat langkah melewati toko kelontong itu, terhadap suaranya, Yap Kay benar-benar angkat tangan, dia tak ingin mendengar untuk kedua kalinya.

Dia pun menaruh perasaan simpatik terhadap Thio Kian-beng, bagaimana mungkin dia bisa tahan menghadapi bini semacam ini? Apalagi hidup serumah dengannya hampir puluhan tahun.

Tentu saja Yap Kay pun tahu siapa nama bini Thio Kian-beng itu, dibandingkan dengan orangnya jelas nama yang disandangnya sangat tidak sepadan, karena nama yang dia gunakan seharusnya lebih cocok dipakai untuk nama gadis negeri Hu-sang (Jepang sekarang).

Nama perempuan itu Kang Bi-ying yang artinya sakura cantik di tepi sungai.

Bunga sakura adalah bunga negeri Hu-sang, bentuk badannya pun cocok sekali dengan postur cewek negeri Hu-sang, selain pendek juga gemuk sekali.

Setelah melewati toko kelontong, sampailah di depan toko penjual beras, bila ingin membeli barang kebutuhan yang ada hubungannya dengan bahan pangan, di sinilah tempatnya yang paling pas.

Lamat-lamat Yap Kay masih teringat, pada sepuluh tahun lalu tempat ini bukan toko menjual bahan makanan, tapi sebuah kedai bakmi milik Thio Lau-sit.

Lopan yang membuka toko bahan makanan saat ini bermarga Si, bernama Wi-wi.

Pada hari biasa dia terhitung seorang yang memegang disiplin dan sangat jujur, asal sudah meneguk arak, maka wataknya bisa berubah menjadi orang lain.

Kota kecil ini sesungguhnya termasuk sebuah kota sederhana yang penduduknya hidup berhemat, saat itu waktu belum sampai tengah hari sehingga jarang nampak orang berbelanja di toko bahan makanan itu, tak heran Si Wi-wi terkantuk-kantuk di belakang meja kasirnya. Menyaksikan lagaknya, kembali Yap Kay tertawa, sepuluh tahun sudah lewat, pemandangan masih seperti dahulu, tapi bagaimana dengan penghuninya?

Orang yang seharusnya mati sejak sepuluh tahun lalu hampir semuanya sudah rriati.

Tapi aneh, entah mengapa orang-orang dari Ban be tong yang seharusnya sudah tewas, kini justru muncul semua, justru hidup kembali dari liang kubur.

Kalau orang-orang Ban be tong telah bangkit dari liang kuburnya, lantas bagaimana dengan Thio Lau-sit, Li Ma-hou... penduduk asli kota yang telah tiada, apakah mereka pun ikut hidup kembali?

Teringat hal itu, Yap Kay pun teringat pula tujuan kedatangannya ke kota itu, dia mencoba menengok ke seberang jalan, gedung Siang-ki- lau. Dia bisa membayangkan, saat itu Siau Piat-li pasti sedang bermain kartu.

Benar saja, belum lagi melangkah ke dalam gedung, ia sudah mendengar suara kartu gading yang sedang dibanting di atas meja. Sambil tertawa Yap Kay mendorong pintu dan masuk ke dalam, tapi begitu tahu keadaan di sana, ia berdiri tertegun, betul-betul terperangah.

Memang benar ada orang sedang bermain kartu, tapi orang itu bukan Siau Piat-li melainkan seorang perempuan berambut panjang sebahu. Yap Kay tak tahu bagaimana mesti melukiskan wajah perempuan itu, sejujurnya dia bukan termasuk perempuan cantik, tapi perempuan itu justru menimbulkan gejolak napsu setiap lelaki yang memandangnya.

Dia memiliki tubuh tinggi semampai dengan rambut berwarna hitam pekat yang dibiarkan terurai di bahu, wajahnya berbentuk kwaci dan berwarna putih bersih bagai salju, pipinya semu merah dengan lesung pipi yang cukup dalam.

Biarpun bukan termasuk wanita cantik yang dapat membetot sukma kaum lelaki, namun setiap gerak-geriknya justru menampilkan kematangan seorang wanita dewasa.

Apalagi matanya bulat, tidak terlalu besar, hitam pekat dan membawa cahaya kesepian, seolah-olah dia sedang merana karena hidup kesepian.

Sinar matanya menimbulkan kesan indah bagi semua orang yang memandangnya, begitu indah hingga menimbulkan rasa kasihan, keindahan yang mudah membuat perasaan orang hancur- lebur.

Justru karena matanya memancarkan sinar iba dan merana, tak heran setiap lelaki merasa tak tega menganiayanya.

Ia mengenakan pakaian sutera tipis, bagaikan cahaya rembulan menyelimuti seluruh badannya, menimbulkan kesan sayu, tak nyata dan lamat- lamat bagi yang memandangnya. Justru di balik kesan tak nyata, penampilannya mendatangkan perasaan tenang bagai batu karang, lembut bagai hembusan angin dan suci bagaikan putihnya salju.

Begitu muncul perasaan itu di hati Yap Kay, dia merasa seolah ada segulung angin berhembus datang dari jalan raya, meniup punggungnya yang sedang berjalan masuk ke gedung Siang ki- lau.

Hembusan angin membuat rambutnya yang hitam bergelombang, membuat baju sutera putih yang dikenakan beriak, seakan-akan riak samudra biru yang beriringan.

Tiba-tiba Yap Kay menjumpai sesuatu, ternyata di balik baju sutera yang dikenakan perempuan itu, dia tidak memakai pakaian lain, ternyata perempuan itu dalam keadaan bugil.

Menanti angin berhenti berhembus, Yap Kay merasa bajunya telah basah-kuyup oleh keringat, selama hidup belum pernah dia merasakan keadaan seperti ini, selama hidup dia pun merasa belum pernah bertemu wanita yang dapat membuatnya merasakan hal seperti saat ini ....

"Aku tahu kau pasti Yap Kay," dengan suara yang lembut seperti orang mengigau perempuan itu berbisik, "Cihu (suami kakak) sering menyinggung tentang kau."

"Cihumu? Apa yang pernah dia katakan kepadamu?" senyuman menggoda kembali menghiasi wajah Yap Kay. "Menurut dia, manusia yang paling berbahaya di tempat ini adalah kau!" kembali perempuan itu melempar senyuman yang lembut, selembut air hujan di musim semi, "dia berpesan agar aku selalu waspada menghadapimu."

"Mewaspadai apa?"

"Mewaspadai gerak-gerikmu," kembali perempuan itu tersenyum manis, "menurutnya, kemampuanmu merayu wanita tak kalah hebatnya dengan permainan pisau terbangmu, bila sudah bertindak, selamanya tak pernah meleset."

"Oya? Jika begitu Cihumu benar-benar sangat memahami tentang aku," Yap Kay tertawa tergelak,

"siapa dia?" "Aku!"

Entah sejak kapan Siau Piat-li telah turun dari atas loteng, berdiri di mulut tangga sambil tertawa.

"Akulah Cihunya,  dia adalah adik iparku." "Jadi kau telah menikah? Kapan kau menikah?"

tanya Yap Kay agak melengak.

"Tujuh tahun berselang," Siau Piat-li berjalan menuju ke tempat duduknya, "sayang nasib istriku jelek, dia meninggal pada tiga tahun lalu. "

"Cihu, apakah gara-gara aku, kau jadi teringat almarhum Cici?" bisik perempuan itu lembut. "Selama tiga tahun terakhir, hatiku sudah lebih tenang daripada air," Siau Piat-li tertawa hambar, "lebih baik merindukan dia daripada sama sekali tidak."

"Betul, walau rasa rindu baru muncul setelah terjadi perpisahan, namun kemesraan pasti jauh melebihi penderitaan," Yap Kay berjalan mendekat sambil mencari sebuah bangku, "tapi omong-omong kau belum memperkenalkan adik iparmu itu kepadaku, siapa namanya?" 

"Aku dari marga So bernama Ming-ming." "So Ming-ming...." Yap Kay berbisik. "Ciciku bernama So Cin-cin."

"So Cin-cin?"  tiba-tiba Yap Kay tertawa tergelak, "bila kau mempunyai adik perempuan, dia pasti bernama So Ho-ho." "Kenapa?" tanya So Ming-ming melengak.

"Setelah hari ini (Cin) lalu besok (Ming) dan setelah itu lusa (Ho)."

Kontan So Ming-ming tertawa cekikikan. "Seandainya kau pernah bertemu Ciciku, pasti

akan kau ketahui apa yang dinamakan wanita cantik."

"Untung aku belum pernah bertemu, kau saja sudah begini luar biasa, kalau bertemu lagi dengan Cicimu, bisa jadi aku bakal ribut melulu dengan Cihumu." "Oh, jadi kau pun termasuk jenis lelaki yang rela berkelahi gara-gara urusan perempuan?" tanya So Ming-ming dengan mata terbelalak.

"Kalau itu tergantung siapakah perempuannya dan bagaimana keadaannya."

"Semisalnya aku?" tanya So Ming-ming lagi sambil mengedipkan matanya.

"Dia tak bakal berkelahi karena kau" Siau Piat-li segera mewakili Yap Kay menjawab pertanyaan itu, "seorang Ting Hun-pin pun sudah cukup membuatnya kepala pusing, apalagi kalau ditambah dirimu, kujamin kepalanya pasti akan lebih besar daripada kepala kerbau."

"Wah, kalau begitu dia kan berubah jadi siluman," So Ming-ming ikut tertawa, "konon di sebuah negara nun jauh di barat sana terdapat rakyat yang menyembah manusia berkepala kerbau sebagai dewanya."

Jangan dilihat penampilan So Ming-ming lemah lembut pantas dikasihani, ternyata setelah bicara, dia lebih lincah dan nakal daripada gadis remaja pada umumnya.

Yap Kay mulai tertarik perempuan itu, sepasang mata banditnya mulai menggerayangi setiap bagian tubuhnya, tanpa terasa dia mulai terbayang apa yang dilihatnya ketika gaun putih sutera itu tersingkap terhembus angin.

Kelihatannya So Ming-ming bisa menduga apa yang sedang dibayangkan Yap Kay, kontan pipinya merah jengah, cepat dia melengos ke arah lain.

Tidak usah meneguk arak pun Yap Kay sudah mulai mabuk.

Poci arak masih tergeletak di meja, tapi isinya sudah berpindah ke dalam perut Yap Kay.

Tiga macam hidangan yang lezat, sepoci arak wangi dan tiga sosok manusia.

Setelah membuka kartu terakhir di atas meja, Siau Piat-li baru bertanya kepada Yap Kay, "Bagaimana dengan pesta yang diadakan Ban be tong semalam? Siapa pula Be Khong-cun yang muncul kali ini?"

Begitu menyinggung masalah ini, paras muka Yap Kay segera berubah serius, setelah termenung sebentar baru ia berkata, "Percayakah kau orang yang sudah mati bisa hidup kembali?"

"Hanya ada satu jenis manusia yang bisa hidup kembali setelah mati, tapi orang semacam itu sebenarnya bukan mati sungguh-sungguh, dia hanya menutup jalan napasnya untuk sementara waktu, bila dia membukanya kembali, dengan sendirinya dia pun hidup kembali."

"Mungkin saja orang itu hidup lagi, tapi kan terbatas hanya berapa hari saja, yang aku maksud adalah setelah lewat sepuluh tahun, mungkinkah dia bangkit dan hidup kembali?"

"Tidak mungkin."

"Tapi begitulah kenyataannya." "Jadi Be Khong-cun telah hidup kembali?" "Bukan hanya dia, Kongsun toan, Hoa Boan-

thian, Buyung Bing-cu... hampir semua tokoh

yang tersangkut dalam peristiwa sepuluh tahun berselang telah hidup kembali."

Setelah berhenti sejenak Yap Kay kembali menambahkan, "Kecuali tokoh-tokoh bawah tanah yang ada dalam kota ini."

Yang dimaksud tokoh bawah tanah tak lain adalah Thio Lau-sit, Li Ma-hou dan lainnya.

"Sudah kau perhatikan dengan jelas?" tegas Siau Piat-li dengan nada tak percaya, "mungkin ada orang yang menyaru sebagai mereka?"

"Kau anggap mataku buta?" seru Yap Kay sambil menuding mata sendiri, "seandainya mereka orang yang sedang menyaru, mana mungkin bisa lolos dari ketajaman mataku ini?"

"Jangan-jangan mereka adalah saudara kembar?" timbrung So Ming-ming.

"Kalau hanya satu orang, kemungkinan itu memang ada, tapi ini menyangkut banyak orang...." Yap Kay menggeleng berulang kali.

Siau Piat-li mengambil cawan araknya dan pelan-pelan meneguk isinya, sorot mata yang mendelong mengawasi dinding di hadapannya tanpa berkedip, seolah-olah dia sedang mengawasi suatu tempat yang tak diketahui namanya, suatu tempat yang berada di balik dinding tebal itu. Sampai lama kemudian baru ia buka suara, nadanya seolah-olah baru saja terkirim tiba dari tempat yang tak diketahui namanya itu.

"Di jagad raya yang luas terdapat sejumlah orang yang memiliki kekuatan misterius yang tak terbayangkan," ujarnya perlahan, "bahkan sejak belum ada umat manusia pun tenaga misterius itu sudah bercokol di sana."

"Tenaga misterius apakah itu?" tanpa terasa Yap Kay dan So Ming-ming bertanya bersama.

"Tak seorang pun yang tahu."

Siau Piat-li kembali menggeleng, sambil meneguk habis sisa arak dalam cawan, katanya pula, "Yang bisa dijelaskan dalam hal bangkitnya kembali Be Khong-cun dan teman temannya adalah karena terpengaruh kekuatan misterius itu, aku bahkan mulai curiga, jangan-jangan kekuatan misterius itu ada hubungan erat dengan munculnya komet setiap tujuh puluh enam tahun sekali itu."

"Kenapa?"

"Masih ingat, pertempuran mana yang merupakan pertempuran paling menghebohkan dalam sejarah seratus tahun terakhir?" "Pertempuran berdarah di bukit Thay ping san."

"Betul, lima jagoan gagah dari Thay ping san merupakan jago-jago tangguh yang bernyali besar dan berdarah ksatria, kenapa dalam semalam saja mereka dapat berubah menjadi penjahat yang membunuh orang tanpa berkedip? Tahukah kau apa alasannya?"

"Mungkin mereka telah salah minum obat," jawab Yap Kay sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kalau salah makan obat, masa empat ratusan orang berbareng salah makan?"

Yap Kay hanya angkat bahu sambil menyengir.

"Malam itu jika pemimpin mereka Lian It-hong serta keempat puluh sembilan saudara angkatnya bisa mempertahankan kesadarannya, akibat yang terjadi sungguh tak bisa dilukiskan dengan perkataan."

Malam itu, di saat Lian It-hong dan keempat puluh sembilan saudara angkatnya sedang minum arak sambil begadang, tiba-tiba mereka saksikan keempat ratusan orang saudaranya menunjukkan gejala yang sangat aneh, sepasang mata jadi merah membara, mulut berbuih dan setiap orang memainkan senjata dengan garang, sikap orang- orang itu seolah hewan liar yang siap menerkam mangsanya.

Pertempuran sengit itu berlangsung mulai tengah malam hingga keesokan harinya, ceceran darah mengalir dimana-mana, begitu banyak darah yang mengalir hingga menjadi sebuah sungai kecil.

Lian It-hong dan saudara angkatnya bertempur sengit sambil mengucurkan air mata, bagaimana tidak, siapa yang tega membantai saudara seperjuangan sendiri? Tapi mereka tak berdaya, kalau tidak dibunuh maka dunia persilatan pasti akan mengalami bencana yang jauh lebih menakutkan.

Menurut cerita mereka yang mengurusi tumpukan mayat seusai pertempuran, telah ditemukan tiga ratusan luka di seluruh tubuh Lian It-hong.

Ketika hari sudah terang tanah, tempat itu telah dipenuhi lalat beterbangan, sepintas pandang hanya warna merah yang menyelimuti permukaan, mayat yang membukit benar-benar menyiarkan bau bangkai yang amat busuk.

Yap Kay sadar bila cerita ini berlangsung sejenak lagi, dia pasti akan muntah saking mualnya. Untung Siau Piat-li tidak melanjutkan kisahnya.

Setelah meneguk secawan arak dan menghela napas, baru ia bertanya, "Tahukah kau, kapan terjadinya peristiwa pembantaian di gunung Thay ping san?"

"Seharusnya sudah tujuh-delapan puluh tahun lalu."

"Tujuh puluh enam tahun," kata Siau Piat-li lagi, "tepatnya tujuh puluh enam tahun tiga bulan tujuh hari."

"Apakah pada tahun itu muncul juga sebuah komet?"

"Tepat sekali, waktu itu sebuah komet persis muncul di atas bukit Thay ping san." "Jadi maksudmu kalapnya para Hohan di Thay ping san karena terpengaruh komet itu?"

"Komet itu mempengaruhi tenaga misterius dan itu merangsang para Hohan di Thay ping san untuk melakukan pertempuran," jelas Siau Piat-li sambil menatap tajam Yap Kay.

Sambil memeras otak Yap Kay memenuhi cawan arak, selama hidup ia tak pernah percaya segala takhayul, tapi percaya bahwa di jagad raya ini memang terdapat suatu kekuatan misterius yang luar biasa, tapi kalau dia disuruh percaya kekuatan misterius itu bisa mempengaruhi manusia seperti apa yang diceritakan Siau Piat-li, dia tetap sangsi dan tak yakin.

Apalagi kalau mengaitkan kejadian itu dengan kemunculan komet yang konon terjadi setiap tujuh puluh enam tahun satu kali, mungkinkah itu?

Masakah tak ada penjelasan lain yang lebih masuk akal? Kenapa Be Khong-cun sekalian bisa hidup kembali? Apakah mereka pun dipengaruhi oleh tenaga misterius itu?

Pho Ang-soat tersadar dari tidurnya ketika pintu kamar digedor orang dari luar, cepat dia membuka mata, sementara tangan kirinya menggenggam gagang golok.

"Pho-kongcu, apakah kau masih tidur?" terdengar seseorang berbisik lirih. Begitu mendengar suara orang itu, Pho Ang- soat langsung mengernyitkan dahinya, dia sudah mengenali suara siapakah itu.

"Begitukah caramu bila memasuki kamar orang? Apakah tak ada cara lain yang lebih sopan?" kontan dia menegur.

Menyusul berhentinya ketukan, seseorang menyelinap masuk dari luar jendela, kemudian sambil menjura dan tertawa paksa katanya, "Aku hanya kuatir mengganggu ketenangan tidur Pho- kongcu

"Kau memang sudah mengganggu."

Begitu orang menyelinap masuk, Pho Ang-soat sudah melompat bangun, ditatapnya Buyung Bing-cu yang berdandan perlente itu sambil menegur, "Ada apa?"

"Aku pun mendengar suara nyanyian itu semalam," ujar Buyung Bing-cu.

"Oya?"

"Sebetulnya aku pun ingin mengikuti Pho- kongcu memeriksa sumber suara itu, siapa tahu baru saja keluar pintu kamar, seseorang telah menegurku dari arah belakang, jangan mencampuri urusan orang lain, katanya."

"Wah, tak nyana Buyung-kongcu adalah seorang yang sangat penurut," ejek Pho Ang-soat sambil tertawa dingin. Buyung Bing-cu tertawa jengah. "Begitu ditegur, aku langsung membalikkan badan, tapi tidak kujumpai seorang pun, beruntun aku berganti beberapa macam gerakan, tetap tak berhasil kulihat orang itu."

"Masa kau tidak tahu siapakah dia?"

"Aku hanya tahu dia seorang perempuan." "Perempuan?" kembali Pho Ang-soat tertegun. "Dari suaranya jelas dia masih muda."

Pho Ang-soat berpikir sejenak, lalu sambil menatap wajah Buyung Bing-cu tanyanya, "Jadi kedatanganmu khusus untuk memberitahukan persoalan ini kepadaku?"

Sekali lagi Buyung Bing-cu tertawa lebar. "Menanti aku mencarimu, bayangan tubuhmu

sudah tak nampak lagi, baru aku mau masuk kembali ke kamar, tiba-tiba kulihat ada seseorang menyelinap masuk ke kamar Be Hong-ling."

"Darimana kau bisa tahu kamar itu adalah kamar tidur Be Hong-ling?" tanya Pho Ang-soat sambil menatapnya dengan sinar mata tajam.

"Aku...." sekali lagi Buyung Bing-cu tertawa rikuh, "terus terang Pho-kongcu, kedatanganku ini adalah untuk mencari kesempatan agar bisa mendekati Be Hong-ling, siapa tahu "

"Siapa tahu bisa menjadi menantu Ban be tong?" sela Pho Ang-soat sambil tertawa dingin.

Kal ini Buyung Bing-cu tidak memperlihatkan kerikuhannya  lagi, dengan cepat katanya, "Tak lama setelah orang itu masuk ke dalam kamar, kudengar ada suara orang sedang berbicara, karena heran ber campur curiga, maka aku pun mendekati jendela, begitu kulihat "

"Apa yang telah kau lihat?"

"Kulihat secara tiba-tiba dia menotok jalan darahnya, kemudian mengayunkan golok "

bicara sampai di situ Buyung Bing-cu nampak agak sangsi.

"Dia memenggal batok kepala Be Hong-ling?" tanya Pho Ang-soat, "lalu siapakah orang itu?"

Dengan ketakutan, Buyung Bing-cu memeriksa dulu sekeliling situ, kemudian baru berbisik lirih, "Orang itu adalah "

Sekonyong-konyong muncul lima-enam jenis senjata rahasia dari luar jendela, langsung menerjang tenggorokan Buyung Bing-cu.

Begitu mendengar desiran senjata rahasia, secepat kilat Pho Ang-soat mengayunkan pula goloknya, "Trang, trang, trang", semua senjata rahasia itu berhasil tersapu rontok ke tanah.

Tidak berhenti sampai di situ, dengan satu tendangan dia buka jendela kamar sambil melongok keluar, dia ingin tahu siapa yang berada di luar sana?

Pada saat itulah sebatang tombak tahu-tahu sudah menusuk ke bawah dari atap bangunan, suara genteng yang berguguran tertutup oleh suara daun jendela yang tertendang keras.

Menunggu Pho Ang-soat menyadari akan hal itu, tombak panjang tadi sudah menusuk batok kepala Buyung Bing-cu hingga tembus ke badannya dan terpantek di atas tanah.

Penasaran dengan apa yang terjadi, Pho Ang- soat menjebol atap ruangan terus melejit ke tengah udara.

Namun sayang yang terlihat hanya bangunan yang berlapis-lapis, tak seseorang pun terlihat di sana.

Pho Ang-soat mencoba memeriksa lebih seksama, akhirnya secara lamat-lamat dia saksikan ada seekor kuda sedang berlari kencang menjauhi tempat itu, di atas punggung kuda terlihat seseorang, seseorang yang mirip dengan gumpalan bola api.

Dia mengenakan jubah panjang yang sangat longgar, berwarna merah menyala, semerah darah segar, mirip pula sekuntum mawar di bawah terik matahari. Kuda yang ditunggangi berwarna putih, seputih salju. Saat itu sedang berlari kencang menuju padang rumput yang luas.

Begitu cepat kuda itu berlari membuat rerumputan beriak bagai gelombang ombak di tepi pantai, rambutnya yang hitam berkibar mengimbangi jubah merahnya yang bergelombang, seluruh tubuh orang itu terlihat basah oleh keringat, tapi gerak-geriknya seakan orang yang sedang diliputi kegembiraan.

Akhirnya kuda itu berhenti, bukan karena lelah, melainkan karena di hadapannya telah menghadang seorang aneh, saat itulah baru ia menyadari orang aneh itu memiliki wajah yang begitu putih dan pucat.

Sedemikian pucat wajahnya hingga tak beda dengan datangnya kematian.

Orang itu berwajah putih pucat dengan biji mata yang hitam kelam. Kemudian dia pun menyaksikan golok yang berada dalam genggamannya.

Golok berwarna hitam dengan tangan berwarna putih pucat.

Bila dihitung dari waktunya sehabis membunuh orang lalu kabur dengan menunggang kuda, maka seharusnya saat itu dia akan muncul di wilayah sana, itulah sebabnya Pho Ang-soat segera potong kompas dengan menghadang di tempat itu.

Bila dari kejauhan orang itu bagaikan segumpal bola api, setelah dekat baru ia melihat jelas orang itu adalah seorang wanita.

Pho Ang-soat berdiri bodoh setelah berhasil menghadang persis di hadapannya dan mengetahui siapakah orang itu.

Tidak, lebih tepat kalau dikatakan ia berdiri terperangah. Ternyata perempuan berjubah merah yang menunggang kuda putih itu tak lain adalah Be Hong-ling yang pagi tadi baru saja ditemukan tewas dengan kepala terpenggal.

Selama beberapa hari belakangan ini Pho Ang- soat bertemu dengan begitu banyak jagoan yang hidup kembali dari kematian, tidak seharusnya ia merasa tercengang dengan apa yang dilihatnya.

Tapi setelah berjumpa Be Hong-ling, mau tak mau dia terperangah juga dibuatnya.

Perempuan itu sama sekali tak tampak tercengang atau kaget, malahan dengan sinar mata yang menawan dia tatap wajah Pho Ang- soat lekat-lekat.

"He, siapa kau?" tegurnya dengan nada keras. "Siapa aku?" Pho Ang-soat tertawa getir, "kalau

tak salah, semalam akulah yang telah memenggal batok kepalamu."

"Memenggal batok kepalaku?" perempuan itu terkejut dan heran, "semalam? Tapi semalam aku tidak berada di sini."

"Semalam kau tidak berada di Ban be tong?" tegas Pho Ang-soat makin tercengang.

"Betul, aku baru tiba pagi ini."

"Berarti orang yang kubunuh semalam bukan kau?"

"Terbunuh?" tiba-tiba gadis itu seperti teringat  akan sesuatu, dengan mata berkilat serunya, "ah, sekarang aku tahu siapakah dirimu,  bukankah  kau  Pho Ang- soat, yang telah membunuh  putri Samsiokku?"

"Samsiokmu? Siapa paman ketigamu itu?" "Siapa lagi, tentu saja Sam-lopan Be Khong-

cun dari Ban be tong."

"Jadi Be Khong-cun adalah Samsiokmu?" Pho Ang-soat semakin bingung, "lalu siapakah kau?"

"Aku?" gadis itu tertawa cekikikan, "aku adalah Pek Ih-ling." "Kau adalah Pek Ih-ling?" Pho Ang-soat sangat terkejut.

"Aku adalah Pek Ih-ling!"

Setelah mendengar namanya, Pho Ang-soat hanya bisa menghela napas, ya, selain menghela napas apa lagi yang bisa dia lakukan?

Sudah jelas Pek Thian-ih tak punya anak gadis, satu-satunya keturunan Pek thian-ih adalah Pho Ang-soat, tapi kemudian anak itu berubah jadi Yap Kay.

Gara-gara peristiwa ini, Pho Ang-soat harus menderita hampir lima-enam tahun lamanya, dia harus berjuang mati-matian sebelum berhasil mengatasi kepedihan itu.

Peduli apa pun yang terjadi, ada satu hal Pho Ang-soat percaya seratus persen, Pek Thian-ih Pek-locianpwe tidak mempunyai anak perempuan, satu-satunya putra tunggalnya adalah Yap Kay.

Ketika secara tiba-tiba Be Khong-cun mengumumkan semalam bahwa putri tunggal Pek Thian-ih sedang mencari suami, rasa kaget Pho Ang-soat waktu itu boleh dibilang luar biasa.

Pho Ang-soat percaya, Yap Kay pasti mempunyai pikiran yang sama dengan dirinya, ingin menyaksikan perkembangan selanjutnya kejadian ini, ingin mengetahui permainan busuk apa lagi yang hendak dilakukan Be Khong-cun.

Oleh sebab itu ketika mendengar pengakuan perempuan yang seharusnya Be Hong-ling adalah Pek Ih-ling. Pho Ang-soat segera menarik kembali perasaan kagetnya dan bertanya, "Kau adalah Pek Ih-ling? Apakah tak ada orang lain yang mengatakan bahwa dirimu mirip Be Hong-ling?"

"Bukan cuma mirip, malah ada yang mengira kami sebagai saudara kembar," sahut Pek Ih-ling sambil tertawa, "aku percaya kau tentu sangat terperanjat ketika bertemu aku tadi, pasti kau sangka sudah bertemu setan bukan?"

"Mana ada setan secantik kau?"

Biasanya kata-kata semacam ini hanya bisa keluar dari mulut Yap Kay, tapi kali ini Pho Ang- soat pun dapat mengucapkan perkataan itu, bahkan wajah dan telinganya sama sekali tidak berubah merah. Asal perempuan, kebanyakan pasti suka mendengar orang lain memujinya cantik atau mungkin inilah kelemahan utama wanita?

Biarpun wajah Pek Ih-ling tidak menunjukkan perubahan apa-apa, namun dalam hati kecilnya sudah timbul rasa yang sangat manis, dengan tersenyum dia terima pujian itu.

"Jadi Be Hong-ling benar-benar mati di tanganmu?" tanya Pek Th-ling sembari menatapnya.

"Menurut kau?"

"Kau memang mirip seorang pembunuh, tapi aku mempunyai satu firasat bahwa Be Hong-ling bukan tewas di tanganmu."

"Bila Be Khong-cun pun bisa memiliki firasat seperti itu, dunia pasti akan damai dan tenteram," jengek Pho Ang-soat hambar.

"Kalau bukan kau pembunuhnya, mengapa harus kau akui?"

"Siapa bilang aku mengakui?" "Kalau begitu kenapa tidak berusaha

menyangkal?" "Perlukah berbuat begitu?"

"Paling tidak harus dicoba, aku yakin Samsiok bukan orang yang tak tahu aturan."

"Tak ada bukti yang menunjukkan orang itu bukan mati di tanganku," tiba-tiba Pho Ang-soat teringat Buyung Bing-cu yang belum lama mati dibantai orang. "Sama juga, mereka tak punya bukti yang bisa menuduh kau sebagai pembunuhnya," kata Pek Ih-ling pula sambil membetulkan rambutnya yang terhembus angin.

Pho Ang-soat tidak langsung menjawab, ia berpikir sejenak, tiba-tiba tanyanya, "Dapatkah kau mengantarku ke kamar Be Hong-ling?"

"Mau apa?"

"Akii ingin melakukan pemeriksaan, siapa tahu berhasil melacak sesuatu jejak?"

"Baiklah," sahut Pek Ih-ling sambil tertawa, "tapi kau harus mampu mengikuti aku."

Begitu habis bicara, sepasang kakinya segera mengempit perut kudanya dengan kencang, diiringi ringkikan panjang, kuda putih itu kembali berlari kencang.

Memandang bayangan merah yang semakin menjauh, perlahan-lahan Pho Ang-soat menundukkan kepala, memandang kaki kanannya, sekilas perasaan apa boleh buat melintas di wajahnya. Merah membara.

Hampir semua perabot yang ada di tempat itu berwarna merah darah, termasuk juga kain penutup jendela pun berwarna merah.

Baru pertama kali ini Pho Ang-soat masuk kamar tidur seorang wanita, di saat dia tiba, Pek Ih-ling telah menunggunya di dalam kamar.

Sebetulnya dia bisa saja tiba lebih dulu, tapi ia lebih suka mengikut dari belakang dengan perlahan, entah apakah dikarenakan Pek Ih-ling? Ataukah dia memang ingin menyiksa sepasang kakinya?

Dari dalam ruangan terendus bau harum seorang gadis perawan, hanya tidak jelas bau harum itu memang sudah ada sejak tadi ataukah berasal dari tubuh Pek Ih-ling? Pho Ang-soat tak berani membayangkan lebih lanjut, dia harus segera memusatkan perhatian untuk memeriksa keadaan dalam ruangan itu.

Sebuah cermin yang digosok sangat mengkilat terletak di atas meja rias, beberapa kotak pupur tersusun rapi di meja, di samping cermin terdapat pula sebuah vas bunga, di dalamnya tertancap sekuntum bunga kertas berwarna merah.

Seprei maupun selimut terlipat rapi di ranjang, menunjukkan kamar itu pernah dibersihkan dan ditata oleh seseorang, bagaimana mungkin Pho Ang-soat dapat menemukan petunjuk dari kamar yang sudah rapi?

Pek Ih-ling duduk di sudut ranjang, mengawasi Pho Ang-soat dengan penuh rasa riang dan tertarik.

"Aku tak tahu jejak apa yang sedang kau lacak," kata Pek Ih-ling sambil tertawa, "setahuku, andaikata ada jejak pun sudah pasti telah disingkirkan orang. Benar bukan tebakanku?"

"Setelitinya seseorang, pasti akan teledor juga," dengus Pho Ang-soat hambar, "orang mati pun dapat bicara apalagi kasus pembunuhan itu berlangsung di sini."

"Darimana kau tahu di tempat inilah kasus pembunuhan itu berlangsung?"

"Coba kau perhatikan lantainya, kelewat berkilat dan bersih, jelas belum lama berselang pernah dicuci seseorang dengan air!" kata Pho Ang-soat sambil menuding ke lantai, "kenapa lantai di kamar lain tak nampak bersih, kenapa hanya lantai di kamar ini saja yang berkilat?"

"Karena lantai ini pernah ternoda darah?" "Tepat sekali."

Pho Ang-soat berjongkok sambil meraba lantai, tiba-tiba di antara celah batu ia jumpai seutas rambut berwarna putih abu-abu, air mukanya kontan berubah serius.

"Kalau tidak keliru, seharusnya tahun ini usia Be Hong-ling baru dua puluh tahun bukan?" tiba- tiba ujar Pho Ang-soat.

"Tepat umur dua puluh tahun," Pek Ih-ling membenarkan. "Eeh, kenapa kau tanyakan masalah ini?"

"Kalau seorang pemuda berusia dua puluh tahun, mungkin saja rambutnya ada yang mulai memutih, tapi dia adalah gadis berusia dua puluh tahun....." sambil menggeleng kepala Pho Ang-soat menyimpan rambut putih itu ke dalam sakunya. Tentu saja Pek Ih-ling pun menyaksikan juga ketika Pho Ang-soat memungut rambut putih itu, serunya, "Kau menduga rambut putih itu milik sang pembunuh?"

"Kemungkinan benar, kemungkinan tidak benar."

Sambil tertawa Pho Ang-soat bangkit dan membalikkan badan siap beranjak pergi.

Pek Ih-ling melengak, tegurnya, "Secepat itu pemeriksaanmu?"

"Seperti apa yang kau katakan, semua bukti yang tersisa telah diangkut orang, aku rasa rambut ini merupakan satu-satunya jejak yang tersisa."

Begitu selesai bicara, tanpa berpaling dia berlalu meninggalkan tempat itu, tinggal Pek Ih- ling yang masih berdiri melongo.

Suasana Ban be tong masih tercekam keheningan, tampaknya belum ada orang tahu bahwa Buyung Bing-cu telah mati dibantai orang dalam kamar Pho Ang-soat, coba kalau mereka tahu akan hal ini, semua orang pasti akan menuduhnya sebagai pembunuhnya.

Memang banyak sekali kejadian seperti ini berlangsung di dunia, sekali orang menuduhmu melakukan satu kesalahan, maka selanjutnya biarpun kau berada di posisi benar, mereka tetap akan menuduhmu sebagai orang yang salah.

Dalam keadaan begini, biar kau ingin berkelit atau menyangkal dengan alasan apa pun, belum tentu orang bersedia menerimanya.

Siapakah orang yang dijumpai Buyung Bing-cu?

Kalau sejak awal dia sudah tahu pembunuhnya bukan Pho Ang-soat, lantas mengapa baru mengatakannya sekarang? Apakah dikarenakan sang pembunuh selalu ada bersama mereka?

Sebab kematian Buyung Bing-cu jelas, sang pembunuh kuatir perbuatannya diketahui orang, maka dia segera mengambil tindakan dengan melenyapkan saksi.

Kalau memang begitu masalahnya, mengapa sang pembunuh tidak sekalian membunuhnya semalam? Mengapa harus menunggu hingga sore?

Dari kemampuan sang pembunuh memasuki kamar Be Hong-ling tanpa membuat si nona menjerit kaget, jelas pembunuh itu adalah orang yang sangat dikenalnya, bisa jadi mereka pernah bertemu malam sebelumnya dan memang berjanji akan bertemu lagi di sana.

Kalau memang sudah berjanji untuk bertemu lagi, mengapa sang pembunuh harus menghabisi nyawanya? Mengapa dia membunuhnya?

Jarak antara kamar Be Hong-ling dan Pho Ang- soat tidak jauh, tapi karena ia sedang memikirkan masalah itu, maka langkah kakinya lambat sekali.

Tapi justru karena lambat, dia pun mendengar ada suara langkah kaki lain sedang berjalan mendekat, langkah orang itu berasal dari beranda sebelah kiri menuju ke gedung penerima tamu.

Biarpun suara langkahnya ringan, namun jelas berasal dari langkah kaki seorang wanita.

Baru saja ingatan itu melintas, Pho Ang-soat pun segera mengendus bau harum semerbak, harumnya bunga teratai.

Ia segera merasakan bau harum yang khas, bau harum yang begitu dikenal olehnya. Menyusul bau harum itu, terdengar suara seseorang menghela napas sedih.

Suara helaan napas itu tidak terlampau keras, tapi justru serasa mencekik napas Pho Ang-soat, terasa menyentuh sudut tertentu hat inya.

Suara itu... mana mungkin berasal dari dia? Paras muka Pho Ang-soat saat itu entah diliputi rasa bimbang atau telah berubah jadi merah jengah? Dia hanya merasa hati kecilnya begitu tersentuh, begitu trenyuh oleh helaan napas itu.

Menyusul tampak seseorang bertubuh kecil ramping muncul dari balik daun jendela.

"Siau Pho!" terdengar orang itu menyapa lirih.

Begitu jauh suara panggilan itu berasal, tapi terasa begitu dekat, begitu samar, apakah semua ini merupakan kenyataan? Sudah berapa lama ia tak pernah mendengar suara semacam itu?

Mungkin sudah ratusan tahun, ribuan tahun? Tanpa sadar Pho Ang-soat membayangkan kembali kejadian di masa silam, kejadian yang dialaminya sepuluh tahun berselang.

Di pinggiran kota yang sama, di tempat yang sama, saat itu Pho Ang-soat baru berusia delapan belas tahun, dengan membawa golok yang telah dikutuk, dengan membawa dendam kesumat yang sudah terpendam selama delapan belas tahun, mendatangi tempat itu.

Pada malam itu, ya, pada malam itu... ketika ia baru kembali ke kamarnya, Pho Ang-sbat membaringkan diri di atas ranjang tanpa menyalakan lentera, sejak kecil dia memang sudah terbiasa hidup dalam kegelapan.

Sekonyong-konyong muncul sebuah tangan dari balik kegelapan, menggenggam tangannya.

Begitu halus tangan itu, begitu lembut dan hangat genggamannya.

Pho Ang-soat masih berbaring dengan tenang, membiarkan dia menggenggam tangannya... tentu saja tangan yang tidak digunakan untuk menggenggam golok.

Saat itulah dari balik kegelapan terdengar suara pembicaraan seseorang, suara yang begitu lembut seperti suara impian, berbisik di sisi telinganya, "Siau Pho, sudah lama aku menunggumu."

Suara itu begitu lembut, manis, begitu muda dan hangat, jelas sekali suara seorang nona. "Betulkah kau sudah lama menunggu?" Pho Ang-soat balik bertanya dengan suara dingin.

"Benar, asal kau pasti datang, biar harus menunggu selama apa pun, aku merasa berharga untuk menantinya."

Saat itu Pho Ang-soat belum tahu siapakah nona itu.

"Jadi kau sudah siap?" tanyanya lagi. "Benar, sudah siap, apa pun yang ingin kau

lakukan, asal dikatakan pasti akan kulaksanakan."

Pho Ang-soat tidak mengucapkan sepatah kata pun, bahkan tubuhnya pun sama sekali tak bergerak.

Belaian nona itu makin lembut, bisikan suaranya pun makin halus dan merayu, "Aku tahu apa yang kau inginkan "

Gadis itu mulai meraba dalam kegelapan, meraba tubuh Pho Ang-soat, mencari kancing bajunya, lalu dengan lembut melepas kancing itu satu per satu... tiba-tiba saja Pho Ang-soat berada dalam keadaan bugil, biarpun tak ada hembusan angin dalam ruangan, namun otot dan tubuhnya gemetar dan mengejang keras.

"Selama ini kau hanya seorang bocah, mulai saat ini, aku akan membuatmu menjadi lelaki dewasa," kembali gadis itu berbisik lirih, "sebab ada sementara perbuatan hanya bisa dilakukan oleh seorang lelaki dewasa. " Bibir gadis itu hangat dan basah, menciumi dada Pho Ang-soat, menciumi pipi dan bibirnya....

Pho Ang-soat masih dapat merasakan belaian hangatnya, biar saat ini tiada angin berhembus di serambi, namun tubuhnya mulai gemetar keras, seolah bunga teratai yang dihembus angin musim semi.

Termangu Pho Ang-soat mengawasi orang di luar jendela, suaranya yang lembut bagai orang mengigau, terdengar selembut di tengah malam waktu itu, walau sekarang di bawah sorot matahari.

Belaian tangan yang halus, ciuman bibirnya yang hangat dan basah, napsu dan harapan yang begitu misterius tapi mesra... sebenar nya semua itu sudah jauh tertinggal di luar pikiran, seakan berada dalam alam impian, tapi dalam waktu singkat, tahu-tahu telah berubah menjadi kenyataan.

Pho Ang-soat menggenggam kencang sepasang tangannya, seluruh tubuhnya gemetar karena tegang bercampur girang, tapi sorot matanya masih mengawasi bayangan di luar jendela tanpa berkedip-dari balik sorot matanya yang dingin tiba-tiba berubah jadi panas membara.

Kelihatannya bayangan di luar jendela itu pun merasa tubuhnya mengejang karena pancaran sinar mata Pho Ang-soat yang membara, lewat beberapa saat kemudian baru ia berkata, "Sepuluh tahun telah lewat, pernahkah kau melupakan aku?"

Mana mungkin bisa dilupakan? Dia adalah wanita pertama yang muncul di hati Pho Ang- soat, wanita yang selama ini dicinta dan disayang dengan sepenuh hati, meskipun pada akhirnya dia tahu sikap perempuan  itu terhadapnya hanya pura-pura, karena menerima upah untuk melakukannya, namun... mungkinkah benih cinta yang telah tertanam ditarik kembali?

Seandainya kau pun mengalami pengalaman seperti apa yang dialaminya, apakah kau dapat menarik kembali benih cintamu?

Perasaan cinta yang muncul, ibarat air dalam baskom yang telah dibuang, dia hanya bisa menghentikan tindakannya dan selama hidup tak bakal bisa menariknya kembali.

Sekujur tubuh Pho Ang-soat sudah tidak gemetar lagi, pandangan matanya yang membara kian padam dan sirna, sebagai gantinya muncul kesedihan dan perasaan pilu yang mendalam.

Perasaan pilu dan sedih yang timbul dari dasar sanubarinya yang paling dalam.

Dalam sepuluh tahun terakhir, dialah orang yang paling tak ingin dijumpai, tapi setiap kali mendusin di tengah malam, justru hanya dia yang muncul dalam benaknya.

Cui -long! Ya, Cui long. Nama itu seolah awan yang sedang melayang di ujung langit, namun justru mengikuti Pho Ang- soat bagaikan bayangan tubuhnya.

Ada penderitaan tentu ada kegembiraan, ada kemasgulan tentu ada pula kemesraan, berapa kali mereka pernah berpelukan dengan mesra? Berapa kali mereka saling membelai dengan penuh kasih? Biarpun semuanya telah berlalu, namun perasaan itu selamanya terukir dalam lubuk hati, perasaan cinta yang terbawa sampai alam impian, bagaikan belatung yang menempel di tubuh bangkai, siang malam menggeroboti tubuhnya tanpa henti.

Berapa kali dia ingin menggunakan arak supaya mabuk, tapi mungkinkah ia benar-benar bisa mabuk? Mungkinkah dengan mabuk semuanya akan terlupakan? Bagaimana kalau selamanya tak terlupakan?

Apa pula yang bisa dia perbuat bila tak terlupakan? Bagaimana pula kalau selalu teringat?

Kehidupan, apa yang dimaksud kehidupan?

Manusia hidup hanya merasakan penderitaan, apa benar manusia adalah makhluk yang paling menderita karena cinta?

Justru karena kau pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hati, maka baru akan merasakan pula penderitaan yang sesungguhnya.

Inilah salah satu kejadian yang paling membuat manusia sedih dan pilu. Matahari telah tenggelam di langit barat, awal senja mulai menyelimuti seluruh angkasa.

Bangunan gedung Ban be tong seolah terselubung di balik selapis kain sutera tipis, bayangan manusia di luar jendela bagaikan lukisan tinta yang basah oleh air.

"Sepuluh tahun berselang kau tidak seharusnya kemari, sepuluh tahun kemudian kau pun tidak seharusnya kemari," bayangan manusia itu berkata perlahan, "kenapa kau tetap datang kemari?"

Kenapa? Ya, kenapa? Entah sudah berapa kali Pho Ang-soat bertanya pada diri sendiri, mengapa dia harus ke sana? Tempat itu bukan desa kelahirannya, tiada sanak keluarganya di situ, di tempat itu hanya ada kenangan.

Kenangan pahit, kenangan yang paling membuatnya menderita dan tersiksa.

Apakah kedatangannya hanya untuk merasakan kenangan yang pahit dan penuh penderitaan? Tentu Pho Ang-soat tak bakal mau mengakuinya. Tapi jika tidak mengakui bisa apa? Kalau mengakui pun bisa apa?

"Walaupun sepuluh tahun berselang Ban be tong berhasil kalian musnahkan, namun Ban be tong yang muncul sepuluh tahun kemudian justru bermaksud memusnahkan kalian dan sekarang kalian benar-benar muncul di sini." Biarpun perkataan itu diucapkan dari balik jendela, namun masih terdengar begitu halus dan merdu.

"Pergilah, cepat tinggalkan tempat ini, Siau Pho, segala sesuatu yang ada di sini tak mungkin bisa kau bayangkan dengan akal sehat."

Pergi? Kepergiannya sepuluh tahun berselang harus ditebus dengan penderitaan selama sepuluh tahun.

Setelah menelaah dan merasakannya selama sepuluh tahun, baru ia dapat menyimpulkan bahwa di dunia ini selain terdapat rasa benci dan dendam, sesungguhnya masih terdapat hal lain yang jauh lebih menakutkan daripada benci dan dendam, yakni perasaan cinta.

Rasa benci dan dendam hanya sebatas ingin menghancurkan musuh saja, perasaan cinta justru membuatnya ingin menghancurkan diri sendiri, ingin menghancurkan seluruh dunia.

Penderitaan selama sepuluh tahun membuat dia mengetahui akan satu hal. Hubungan antara laki perempuan harus diungkap dengan perkataan dan pernyataan.

Bila kau tidak mengungkapnya, mana mungkin orang lain bisa tahu? Mana mungkin orang lain bisa mengerti?

"Sepuluh tahun berselang aku telah melakukan satu kesalahan, hari ini aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama," pancaran sinar mata Pho Ang-soat masih dibebani perasaan pedih, namun suaranya sudah lebih tenang dan datar.

Jelas sekali maksud perkataan itu, "Sepuluh tahun berselang aku telah salah membiarkan kau pergi, masakah hari ini kembali kubiarkan kau pergi?"

"Kau tak boleh "

Jelas nona itu pun memahami maksud Pho Ang-soat, dia pun tahu apa yang bakal dia lakukan, tapi untuk mencegahnya sudah terlambat.

Begitu jendela dijebol, Pho Ang-soat menyelinap ke hadapannya, tapi sayang secepat apa pun dia bergerak, Cui long jauh lebih cepat.

Baru saja Pho Ang-soat berdiri tegak, bagaikan bayangan setan Cui long telah lenyap, yang tersisa dalam ruangan hanya bau harum yang tipis.

Seandainya tiada sisa bau harum yang tertinggal, Pho Ang-soat pasti mengira dirinya baru saja mendusin dari mimpi.

Sinar matahari senja menerobos masuk melalui daun jendela yang jebol, menyinari wajah Pho Ang-soat, kini dia sudah tak sedih lagi, emosinya pun sudah tidak bergolak, paras mukanya telah pulih kembali dalam kehambaran dan dingin bagai salju abadi.

Benar-benar bagaikan salju abadi yang tak pernah mencair. Kepalanya tertunduk, seolah sedang memperhatikan bekas lantai yang digunakannya untuk berdiri, seolah-olah juga sedang putar otak memikirkan sesuatu.

Pada saat bersamaan, Yap Kay pun sedang terjerumus dalam pemikiran yang mendalam.

Biarpun ia sudah balik kembali ke Ban be tong, namun dia bukan duduk dalam kamarnya, melainkan duduk di atap rumah.

Yap Kay duduk di atas atap, duduk persis di samping atap rumah yang jebol ditembus tombak, dia sedang mengawasi posisi lubang itu, tentu saja termasuk semua yang ada dalam ruangan.

Buyung Bing-cu yang mati tertembus tombak sudah tidak nampak lagi, ruangan serta lantai sudah dibersihkan hingga tidak nampak noda darah maupun bekas pertarungan di situ, tentu saja kecuali lubang yang ada di atap rumah.

Kemana perginya mayat Buyung Bing-cu? Apakah memang telah disingkirkan Yap Kay? Kalau memang perbuatan Yap Kay, mengapa dia harus memindahkannya? Kalau bukan, lantas perbuatan siapa?

Pho Ang-soat enggan berpikir banyak, maka tanpa memikirkan lagi persoalan itu, dia pergi meninggalkan gedung penerima tamu dan langsung kembali ke dalam kamarnya.

Tentu saja dia pun dapat melihat kamarnya telah dibenahi hingga rapi dan bersih, jenazah Buyung Bing-cu benar-benar tidak ditemukan di situ.

Tanpa banyak bicara dia membaringkan diri di atas ranjang, pada saat itulah dia melihat sepasang mata Yap Kay.

Yap Kay yang berada di luar lubang melihat dengan jelas Pho Ang-soat masuk ke dalam ruangan, melihat dia membaringkan diri, dia pun melihat orang itu sedang memandang ke arahnya, tapi heran, wajah Pho Ang-soat sama sekali tidak menunjukkan perasaan heran atau tercengang.

Mau tak mau Yap Kay harus mengagumi sikap tenang rekannya itu. "Memang kau bukan manusia?"

Entah sedari kapan Yap Kay sudah turun dari atap rumah, berjalan masuk ke dalam ruangan, berdiri di depan ranjang sambil mengawasi Pho Ang-soat tanpa berkedip.

"Memang kau bukan anjing?" bukannya menjawab Pho Ang-soat malah bertanya, dia bertanya menggunakan nada bicara yang sama.

"Di dalam kamarmu telah terjadi perubahan yang sangat besar, jenazah pun tiba-tiba hilang, masakah sedikit pun kau tidak merasa tercengang dan kaget?"

"Hanya anjing yang tertarik dengan bau bangkai" sahut Pho Ang-soat hambar, "jelek-jelek aku masih terhitung manusia, mana bisa dibandingkan anj ing?" "Setelah melihat aku berada di atap kamarmu, seharusnya kau pun mengerti bahwa aku tahu jenazah Buyung Bing-cu berada dimana sekarang, kenapa tidak kau tanyakan kepadaku?" ujar Yap Kay sambil menarik sebuah bangku dan duduk.

"Aku tahu kau pasti akan memberitahukan kepadaku, kenapa pula harus ditanyakan lagi?"

"Kalau secara tiba-tiba aku tak ingin memberitahukan padamu?"

"Jika begitu ditanya pun tak ada gunanya," tiba-tiba Pho Ang-soat tertawa tergelak, "berarti kau bukan Yap Kay."

Yap Kay ikut tertawa mendengar kata-katanya itu, ujarnya, "Aku lihat kau sangat memahami karakterku."

"Sama-sama”

Kembali Yap Kay tertawa, sambil tertawa dia mengambil poci arak dari dalam pelukannya dan meneguk isinya ke dalam mulut.

"Setelah meninggalkan Siau Piat-li, tiba-tiba aku teringat akan satu hal dan perlu ditanyakan kepadamu, karena itu aku pun menuju kamar tidurmu, tapi sebelum aku berjumpa denganmu, tiba-tiba saja kudengar dari dalam kamar berkumandang suara yang mustahil kau lakukan, itulah suara orang sedang buang air, maka aku segera naik ke atap rumah, dengan cepat kutemukan lubang itu, dari lubang atap kusaksikan Kongsun Toan sedang memindahkan jenazah Buyung Bing-cu dari lantai." "Kongsun Toan?" seru Pho Ang-soat melengak. "Benar," Yap Kay manggut-manggut, "begitu

Kongsun Toan keluar pintu, tentu saja aku segera

mengikutinya, tapi baru sampai di tengah jalan, kulihat kau serta seorang perempuan sedang berjalan masuk ke kamar tidur Be Hong-ling."

"Kau pasti tidak menyangka siapakah wanita itu bukan?"

"Sebetulnya memang tak bisa kuduga, tapi setelah kulihat raut mukanya, aku pun segera tahu mengapa Be Hong-ling harus mati."

"Oya? Kenapa Be Hong-ling harus mati?" "Sebab kalau Be Hong-ling tidak mati, Pek Ih-

ling pun mustahil bisa tampil."

Pho Ang-soat menatap wajah Yap Kay lekat- lekat, dia sedang menunggu penjelasan darinya.

"Walaupun orang  mati dapat hidup kembali,  akan   tetapi orang hidup tak mungkin bisa awet muda,"  Yap Kay menerangkan,   "sepuluh tahun berselang, dari sekian banyak  anggota  Ban be tong,  hanya Be Hong-ling seorang yang masih hidup, setelah lewat  sepuluh tahun, sedikit banyak usianya pasti sudah mulai menggerogoti raut mukanya."

Pho Ang-soat mengangguk tanda setuju.

"Tapi kemunculan Be Khong-cun sekalian sepuluh tahun setelah itu, raut muka mereka sama sekali tak berubah, bahkan sama sekali tidak nampak lebih tua atau berkerut. Bila ingin kejadian berlangsung persis seperti sepuluh tahun berselang, berarti Be Hong-ling harus mati, walau mereka memiliki kemampuan rahasia yang bisa membangkitkan orang dari kematian, namun belum mampu mempertahankan seseorang tetap awet muda seperti sedia kala."

"Oleh karena itu Be Hong-ling harus mati, hingga wanita bernama Pek Ih-ling bisa muncul?" sela Pho Ang-soat.

"Seharusnya begitu," setelah meneguk araknya, Yap Kay berkata lebih jauh, "semua pembicaraan yang kau lakukan dengan Pek Ih- ling bukan saja telah kudengar, aku pun sempat melihat bagaimana kau mencabut rambutmu sendiri, lalu kau buang ke lantai dan memungutnya kembali dengan mengatakan rambut itu milik pembunuh "

Ternyata rambut putih yang diambilnya dari lantai adalah rambut Pho Ang-soat sendiri yang sengaja dicabut.

Tapi mengapa dia berbuat demikian? Apa pula maksud tujuannya berbuat begitu?

"Aku percaya kau pasti sudah tahu mengapa aku berbuat begitu," ujar Pho Ang-soat sambil tertawa.

"Begitu menjumpai kamar itu sudah dibenahi dan dibersihkan, tentu saja kau pun tahu kemungkinan menemukan jejak pembunuh kecil sekali, oleh sebab itu kau sengaja menciptakan jejak untuk pembunuh itu," kata Yap Kay, "dan kau pun pasti tahu kejadian ini pasti akan terdengar juga oleh sang pembunuh, bila si pembunuh mulai ragu dan ingin menghilangkan saksi, bisa jadi dia akan berusaha membunuhmu."

Kemudian setelah tertawa, lanjutnya, "Asal dia berani bertindak, kau pun akan mendapat kesempatan untuk menangkapnya."

"Asal pembunuh itu mempunyai kepintaran macam kau, sia-sia saja aku mengorbankan rambutku," Pho Ang-soat menghela napas panjang.

"Jangan kuatir, sekalipun dia amat cerdas pun yakin pasti akan melakukan satu tindakan, sebab dia pasti tak mau ambil resiko."

Pho Ang-soat berpikir sejenak, kemudian katanya, "Bagaimana selanjutnya? Apakah semua yang kusaksikan di beranda tadi kau pun ikut menyaksikan?"

"Tidak, sama seperti kau, aku pun hanya mendengar suara," kata Yap Kay, "dari tempat persembunyianku, aku hanya bisa melihat situasi di beranda dan susah untuk melihat keadaan di dalam gedung penerima tamu."

Sekali lagi Pho Ang-soat terjerumus dalam pemikiran yang dalam.

Setelah memandangnya sekejap, Yap Kay berkata, "Orang yang telah mati pun bisa hidup kembali, tidak aneh bila ada suara yang sangat mirip."

"Tapi jelas suara itu adalah suaranya, aku sangat yakin suara itu adalah suaranya."

"Sekalipun memang benar dia, lalu apa yang bisa kau perbuat? Dia tak ingin bertemu denganmu, berarti dia mempunyai kesulitan yang susah dijelaskan kepadamu, apa gunanya kau menyiksa diri?"

"Siapa bilang aku sedang menyiksa diri?" biarpun paras muka Pho Ang-soat memperlihatkan ketenangan yang luar biasa, namun hatinya sakit, sakit bagai disayat-sayat.

Tentu saja Yap Kay pun mengetahui penderitaan yang dirasakan rekannya, tapi apa pula yang bisa dia perbuat? Masalah cinta memang tak mungkin bisa dibantu pihak ketiga, terlebih bila urusannya sudah menyangkut perasaan yang telah membekas jauh di dalam lubuk hati.

Selama sepuluh tahun bersahabat, tiada orang yang lebih paham perasaan Pho Ang-soat ketimbang dirinya, biarpun tampaknya dia dingin, hambar dan angkuh, kenyataan perasaan cintanya jauh lebih hangat, jauh lebih gila daripada siapa pun.

Sejak kecil ia sudah dididik menjadi sebuah alat untuk membalas dendam, lambat-laun dia telah membentuk selapis dinding penyekat di dalam hatinya, dinding penyekat yang membuat perasaan sendiri susah untuk diungkap keluar dan perasaan orang pun mustahil bisa menembus masuk ke hatinya.

Oleh karena itu semakin sikapnya dingin dan angkuh, semakin hampa perasaannya, makin kesepian dan merana hatinya. Khususnya bila tiba malam yang hening, sering dia merasa begitu kesepian hingga nyaris menjadi gila.

Seringkah dia harus begadang karena susah memejamkan mata, setiap kali begitu, dia hanya bisa membelalakkan mata mengawasi kegelapan malam di luar jendela hingga fajar menyingsing.

Sudah berapa kali dia ingin mencari pasangan hidup yang bisa diajak meluapkan perasaan kasihnya, menghilangkan rasa sepinya, saling menghibur, saling mengungkap perasaan, namun pada akhirnya dia tak berani melangkah lebih jauh, dia tak berani mempersembahkan perasaan sendiri.

Belakangan dia seringkah merasa menyesal, menyesal mengapa sikapnya terhadap Cui long begitu keji, bisa jadi selama hidup hanya Cui long seorang yang dicintainya, namun dia tak pernah mau mengakui kenyataan itu.

Heran, mengapa manusia selalu tak pernah bisa menghargai dan menyayangi perasaan yang telah diperolehnya, mengapa baru dia menyesal setelah kehilangan? Penderitaan semacam ini tak disangkal merupakan penderitaan paling kuno dan paling mendalam bagi umat manusia sejak zaman dahulu kala.

Cahaya terang mencorong masuk dari luar jendela, menyinari tubuh Pho Ang-soat yang masih berbaring di atas ranjang.

Mengawasi orang itu, kembali pandangan sedih melintas di wajah Yap Kay, sesungguhnya dia sama sekali tak punya hubungan dengan orang itu,  dia memang hanya seorang biasa, tapi dikarenakan keegoisan generasi sebelumnya, karena dendam kesumat yang keliru, dia telah diubah menjadi sebuah alat balas dendam, alat balas dendam bagi kepentingan orang itu.

Walaupun kemudian Yap Kay mengungkap rahasia itu, sayang sikap dan mental sebuah alat balas dendam telah telanjur melekat di tubuh Pho Ang-soat, membuat Yap Kay tidak mampu lagi untuk menyelamatkan nya, tak mampu mengubahnya....

Kembali Yap Kay meneguk araknya, sampai lama kemudian baru ia bicara lagi, "Sebetulnya Kongsun Toan termasuk jagoan temperamen, kasar dan berangasan, tapi aneh, Kongsun Toan yang muncul kali ini sama sekali berbeda, apakah kau pun merasakan hal ini?"

Pho Ang-soat hanya mendengarkan, tanpa menjawab.

"Setelah menemukan Buyung Bing-cu tewas di kamarmu, bukan saja dia tidak menyebar luaskan berita ini, malah secara diam-diam menyingkirkan jenazah dan membersihkan kamarmu. Bahkan pagi tadi Be Khong-cun menegurmu, dia tak pernah mengucapkan sepatah katapun, bahkan sampai kau dipaksa turun tangan pun, Kongsun Toan tak pernah menampilkan diri."

Ditatapnya wajah Pho Ang-soat lekat-lekat, kemudian tambahnya, "Dari tindak-tanduknya yang di luar kebiasaan, kesimpulan apa yang bisa kau ambil?"

"Aku sedang mendengarkan," jawab Pho Ang- soat.

"Aku lihat tujuan Ban be tong tak bakal sesederhana itu, hanya bertujuan membunuh kita berdua," ujar Yap Kay lagi, "kelihatannya mereka lebih menitik beratkan pada kemunculannya kembali dalam Bu-lim, mereka pasti mempunyai rencana busuk yang lebih besar." 

"Rencana busuk? Rencana busuk apa?"

Setelah meneguk kembali araknya, Yap Kay baru berkata, "Bila Ban be tong ingin tampil kembali ke dalam dunia persilatan, berapa banyak uang yang dibutuhkan? Jangankan begitu besar bangunan di tempat ini bisa pulih kembali kemegahannya dalam semalam, cukup dari Be Khong-cun sekalian, benarkah mereka hidup kembali dari kematian?"

Yap Kay menertawakan diri sendiri, lalu katanya  lebih jauh, "Jangankan kau, aku sendiri pun tidak percaya, tapi kita pasti sudah melihatnya dengan jelas bahwa orang-orang itu bukan hasil penyaruan orang lain, mereka benar- benar adalah kelompok yang dulu."

Setelah berhenti sejenak, terusnya, "Pagi tadi aku telah bertemu Siau Piat-li, menurut pendapatnya, hidupnya kembali orang-orang itu lantaran terpengaruh oleh kemunculan komet yang terjadi setiap tujuh puluh enam tahun satu kali."

"Terpengaruh komet?"

"Menurut dia, terdapat semacam kekuatan misterius yang maha dahsyat hidup dalam alam jagad kita, dan kekuatan misterius itu setiap tujuh puluh enam tahun satu kali akan terpengaruh oleh kehadiran komet itu," kata Yap Kay sambil tertawa, "karena kekuatan misterius itulah orang-orang yang telah mati bisa hidup kembali."

Kemudian sambil menatap rekannya ia bertanya, "Apakah kau percaya?"

Pho Ang-soat tidak langsung menjawab, dia berpikir sebentar, kemudian baru menyahut, "Ternyata pernyataan Siau Piat-li mirip sekali dengan perkataannya."

"Perkataan siapa?" "Yan Lam-hui!"

"Yan Lam-hui?" Yap Kay tertegun, "Yan Lam- hui si penerus Kongcu-ih?"

"Benar." "Bukankah dia pun sudah mati, mati di ujung golokmu sejak lima tahun berselang?"

"Sudah begitu banyak anggota Ban be tong yang bangkit lagi dari kematian, apalagi hanya seorang Yan Lam-hui," kata Pho Ang-soat hambar.

"Benar juga perkataanmu," Yap Kay tertawa geli, "kapan kau bertemu dengannya? Apa saja yang dia katakan?"

Pho Ang-soat pun segera bercerita bagaimana sekembalinya ke kamar semalam ia mendengar suara nyanyian, bagaimana melakukan pengejaran dan di sebuah gundukan tanah menjumpai peristiwa yang sangat aneh, kemudian Yan Lam-hui muncul....

Matahari telah tenggelam di langit barat, awan keabu-abuan mulai menyelimuti seluruh angkasa, cahaya lentera mulai terlihat dari tempat kejauhan sana.

Pho Ang-soat belum menyulut lentera di dalam kamarnya, mereka berdua masih tenggelam di balik keremangan cuaca.

Sehabis mendengar penuturan Pho Ang-soat, Yap Kay segera terjerumus dalam pemikiran yang mendalam, alisnya berkerut kencang, secercah cahaya mulai muncul dari balik matanya yang cekung.

Pho Ang-soat pun membungkam setelah selesai menceritakan pengalamannya, dengan tenang dia mengawasi Yap Kay, menunggu kesimpulan apa yang akan diambil rekannya itu.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya dia mengambil poci arak dan meneguk isinya, kemudian baru berkata, "Gumpalan cahaya yang memancar keluar dari balik gundukan tanah berubah menjadi Yan Lam-hui? Benar-benar peristiwa yang tak masuk akal, andaikata bukan kau alami dengan mata kepala sendiri, siapa pun tak bakal percaya."

"Aku yang mengalami sendiri peristiwa itu pun tidak percaya, apalagi hanya mendengar dari cerita orang."

"Konon di tempat kita hidup sekarang masih terdapat dunia lain, pernyataan seperti ini mirip pernyataan Siau Piat-li yang mengatakan terdapat satu kekuatan misterius dalam kehidupan kita."

Yap Kay tertawa.

"Menurut pernyataan Yan Lam-hui, agar bisa memasuki dunia keempat, seseorang harus mati terlebih dulu," ungkap Pho Ang-soat, "berarti semua penghuni dunia keempat adalah orang- orang yang bangkit kembali dari kematian."

"Mungkin semacam Be Khong-cun sekalian?" Yap Kay menghela napas panjang, "tampaknya kita hanya bisa melihat peristiwa itu sebagai sebuah kenyataan"

"Kenyataan apa?" "Kenyataan bahwa di tempat kehidupan kita memang benar-benar terdapat semacam kekuatan misterius yang maha dahsyat, bahwa di sisi kehidupan kita masih terdapat dunia lain yang disebut dunia keempat," kata Yap Kay sambil tertawa, "kalau tidak, alasan tepat apa lagi yang bisa kita gunakan untuk menjelaskan semua yang telah kita jumpai selama ini?"

Tampaknya hanya kesimpulan itu yang terasa paling cocok sampai saat itu.

Yap Kay memandang sekejap cuaca di luar jendela, ternyata hari telah malam, sudah saatnya bersantap dan saatnya pula Pek Ih-ling hendak berjumpa dengan semua orang.

"Sewaktu makan malam nanti, entah permainan baru apa lagi yang akan diselenggarakan Be Khong-cun?" ujar Yap Kay sambil bangkit,

"dari situasi sore tadi, delapan puluh persen orang yang bakal dipilih Pek Ih-ling pastilah kau."

Tidak menunggu Pho Ang-soat bicara, Yap Kay menambahkan, "Cuma kau jangan keburu senang, siapa tahu bakal muncul kejutan lain."