Kilas Balik Merah Salju Jilid 02

 
Benarkah Pek Thian-ih mempunyai seorang anak gadis? Kalau sepuluh tahun berselang dia mengumpulkan orang-orang itu di Ban be tong karena ingin menemukan jejak putra tunggal Pek Thian-ih, maka sepuluh tahun kemudian, kembali dia mengumpulkan orang-orang itu karena ingin mencarikan calon suami untuk putri tunggal Pek Thian-ih.

Tak kuasa lagi Yap Kay tertawa geli, seingatnya dia tak pernah mempunyai saudara perempuan, lalu darimana munculnya seorang adik perempuan? Dan siapa pula namanya?

"Siapa namanya?" tanya Yap Kay kemudian. "Pek Ih-ling." Buyung Bing-cu menuang sisa arak ke lantai, kemudian baru mendongakkan kepala memandang Be Khong-cun seraya berkata, "Menantu ikut mertua, aku rasa banyak lelaki yang enggan hidup satu rumah dengan mertuanya."

"Itulah sebabnya mas kawin yang ditawarkan termasuk sedikit istimewa," ucap Be Khong-cun sambil tertawa.

"Bagaimana terhitung istimewa?" tampaknya Buyung Bing-cu mulai tertarik dengan tawaran itu.

"Karena selain memperoleh separoh kekayaan Ban be tong, masih ada lagi kitab pusaka ilmu golok sakti warisan Pek Thian-ih."

Separoh bagian kekayaan Ban be tong pun sudah terhitung sebuah tawaran yang menggiurkan, apalagi ditambah kitab pusaka ilmu golok sakti warisan Pek Thian-ih, rasanya tak seorang lelaki pun yang bakal menolak tawaran ini.

Tak kuasa kembali Yap Kay tertawa lebar, ia sudah menangkap sinar tamak yang terpancar dari mata Buyung Bing-cu.

Bahkan Loh Loh-san yang setengah hidupnya sudah terbenam dalam liang kubur pun jadi mendusin dari mabuknya dan menunjukkan gairah serta kerakusan yang luar biasa. Sementara reaksi Hwi thian ci cu meski tidak sejelas kedua orang rekannya, namun dari balik sorot matanya telah terpancar pula sinar aneh.

Mas kawin yang begitu menggiurkan jika ditambah dengan si nona cantik bak bidadari dari kahyangan, jelas tawaran itu luar biasa!

Rasanya hampir semua orang sudah tergoda oleh pernyataan itu, namun pada akhirnya Yap Kay juga yang mengajukan pertanyaan, "Syarat yang kau ajukan memang menarik, tapi bagaimana pula dengan wajah orangnya?"

"Tak usah kuatir, biarpun belum terhitung cantik bak bidadari dari kahyangan, namun lebih dari cukup untuk membuat kalian ter belalak dengan mulut melongo."

"Boleh tahu syarat apa yang Sam-lopan ajukan dalam sayembara pencarian calon menantu ini?" tanya Buyung Bing-cu.

"Urusan ini menyangkut kebahagiaan sepanjang hidup, aku tak bisa melakukannya seperti mainan anak-anak, tentu saja keputusan terakhir tetap berada di tangan yang bersangkutan."

"Lalu mana orangnya?" tanya Yap Kay, "sampai kapan kita baru dapat bersua dengan si nona yang cantik manis itu?"

Sambil tertawa Be Khong-cun mengalihkan sinar matanya keluar jendela, mengawasi kegelapan malam yang menyelimuti angkasa, menyaksikan bintang nun jauh di ujung langit. Melihat sinar yang cemerlang menyusup keluar dari balik awan yang sedang bergerak, kembali sorot mata Be Khong-cun bersinar tajam.

"Kini malam sudah semakin kelam, lebih baik kalian pergilah istirahat dulu," katanya tertawa, "aku percaya besok pagi Pek Ih-ling pasti sudah muncul di sini."

Segulung angin berhembus, menyingkirkan awal tebal yang menyelimuti cahaya rembulan.

Berada di pinggiran kota yang sepi, berada di tengah malam yang hening dan suram, siapa pula yang dapat tidur nyenyak?

Sepasang mata Yap Kay melotot lebar, melotot sembari mengawasi kegelapan malam di luar jendela sana, saat ini dia tak lagi bisa tertawa.

Senyum manis yang selalu tersungging di ujung bibirnya memang selalu akan hilang sirna tiap kali dia berada seorang diri dan tak ada orang lain.

Dia belum tidur, meskipun Ban be tong hening, namun jalan pikirannya masih bergolak, bergelora bagaikan ada ribuan prajurit berkuda yang sedang berlari bersama, hanya sayang tak seorang pun yang tahu persoalan apa yang sedang dia pikirkan.

Dengan santai dia membelai tangan sendiri, membelai ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya yang sudah mengeras bagai batu karang, begitu pula dengan telapak tangannya yang telah dilapisi kulit tebal, bekas yang tertinggal karena lama menggenggam pisau. Siau-li si pisau terbang memang selalu melepas pisau terbangnya menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, dilepas disertai tenaga murni yang kuat.

Lantas dimana pisaunya? Dia tak pernah membawa pisau. Apakah karena pisaunya disembunyikan di dalam hati?

Pho Ang-soat berbaring di atas ranjang.

Dia pun belum tertidur, di tangannya masih tergenggam golok hitamnya.

Cahaya rembulan yang sendu menyinari wajahnya yang pucat dan kaku, membuat lekukan dan guratan di wajahnya terpampang semakin jelas.

Sepasang matanya yang tajam namun membawa rasa kesepian yang tiada tara, sedang mengawasi langit-langit ruangan.

Seekor serangga sedang merangkak di langit- langit, sorot mata Pho Ang-soat bergerak kian kemari mengikuti gerakan serangga itu.

Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka orang, dengan senyum di kulum Yap Kay melangkah masuk.

"Belum tidur?" tegurnya.

"Apakah kau tak tahu aturan, harus mengetuk pintu dulu sebelum memasuki kamar orang lain?" ujar Pho Ang-soat dingin.

"Aku tahu kau belum tidur," Yap Kay menarik sebuah bangku untuk duduk, "kan kau bukan termasuk orang yang takut rahasiamu diketahui orang lain, jadi apa salahnya aku langsung masuk kemari."

Yap Kay bukan muncul dengan tangan hampa, dia membawa arak dan cawan, setelah menuang secawan, mengendusnya dan meneguknya, katanya pula, "Bagaimana pandanganmu atas kejadian itu?"

"Kejadian yang mana?" pandangan Pho Ang- soat masih pada serangga itu, seolah serangga itu jauh lebih menarik ketimbang Yap Kay.

"Tentu saja kejadian yang menyangkut Be Khong-cun, Hoa Boan-thian, Ban be tong serta yang lain. Apa pendapatmu atas semua peristiwa yang telah terjadi pada malam ini?"

"Aku harus mengucapkan selamat kepadamu!" tiba-tiba Pho Ang-soat berseru.

Begitu santai hal itu diucapkan, membuat Yap Kay nyaris tersedak oleh arak yang baru diteguknya, cepat dia seka ceceran arak di tepi bibirnya, lalu mengawasi rekannya dengan mata terbelalak.

"Apa kau bilang? Bisa diulang sekali lagi?"

"Aku harus menyampaikan selamat kepadamu." "Mengucapkan selamat kepadaku?

Kegembiraan apa yang sedang ku alami hingga

pantas mendapat ucapan selamat?" seru Yap Kay ter tegun. "Kau sudah mendapat adik perempuan, masa peristiwa semacam ini tak boleh disebut kejadian yang menggembirakan?"

Sekali lagi Yap Kay tertegun, akhirnya dia tertawa getir dan meneguk habis sisa araknya.

"Jadi menurut pendapatmu, peristiwa yang terjadi malam ini adalah kejadian lumrah?" ujar Yap Kay sambil tertawa getir, "seakan pula sepuluh tahun berselang kita tak pernah mendatangi Ban be tong dan Be Khong-cun serta jago lainnya belum tewas?"

Pho Ang-soat tidak menjawab pertanyaan itu, dia kembali mengalihkan sorot matanya mengawasi serangga yang sedang berjalan di langit-langit.

"Jadi kau pun masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, menggembol golok datang kemari untuk menuntut balas? Sementara aku pun masih seperti dulu, seorang gelandangan yang suka mencampuri urusan orang lain?" imbuh Yap Kay.

Mendengar ucapan itu, mata Pho Ang-soat nampak mengejang sejenak, namun mulutnya tetap membungkam, sama sekali tak bergerak.

"Jika kejadian pada sepuluh tahun lalu harus terulang kembali, seharusnya perempuan itu adalah adikmu," kata Yap Kay lagi sambil tersenyum, "jadi sepantasnya akulah yang harus menyampaikan selamat kepadamu." Sudut bibir Pho Ang-soat kembali nampak mengejang, tapi sayang Yap Kay tak menyaksikan hal itu karena pada saat itulah tiba-tiba terdengar pekikan ngeri.

Belum lewat suara jeritan itu, tubuh Yap Kay bagaikan anak panah terlepas dari busur telah menerobos keluar melalui jendela, begitu daun jendela terbuka, bau anyir darah yang memualkan segera berhembus masuk

Pho Ang-soat mengernyitkan alis, kemudian perlahan duduk terus turun dari pembaringan, berjalan keluar pintu.

Begitu tiba di luar pintu, ia pun menyaksikan Buyung Bing-cu dan Loh Loh-san baru saja keluar dari pintu kamarnya, yang tidak nampak hanya Hwi thian ci cu, pintu kamarnya masih tertutup rapat.

"Barusan seperti ada orang menjerit kesakitan?" ucap Buyung Bing-cu sambil menatap Pho Ang-soat.

Yang ditatap sama sekali tidak menjawab, dia hanya berpaling ke arah datangnya jeritan itu.

"Apa yang telah terjadi?" seru Loh Loh-san pula, kelihatannya ia belum seratus persen tersadar dari mabuknya.

"Asal kita datangi tempat itu, bukankah semua akan jelas?"

Sambil berkata Buyung Bing-cu segera bergerak menuju ke arah tempat yang sedang dipandang Pho Ang-soat, sementara Loh Loh-san segera mengikut di belakangnya.

Menanti mereka sudah berjalan jauh, Pho Ang- soat baru menyusul dari belakang dengan langkahnya yang bebal lambat dan aneh.

Hingga sekarang tabiatnya yang tak suka berjalan mendahului orang lain masih dipelihara dengan baik, baginya seolah selama hidup dia hanya mau berjalan mengikut dari belakang.

Mungkinkah hal ini disebabkan karena dia kuatir ada orang bakal memenggal tengkuknya dari belakang?

Meskipun begitu mendengar suara jerit kesakitan Yap Kay segera berjalan menuju ke sana, ternyata dia bukan orang pertama yang tiba di tempat kejadian.

Sewaktu tiba, di sana sudah hadir empat orang, satu orang sudah mati dan tiga orang masih hidup.

Hoa Boan-thian, Kongsun Toan serta Hun Cay- thian sama-sama mengawasi mayat yang tergeletak di tanah tanpa berkedip, wajah mereka bertiga penuh dicekam perasaan curiga, kaget dan ngeri.

Padahal ketiga orang itu termasuk jago yang sudah banyak pengalamanan menghadapi berbagai peristiwa, jangankan cuma sesosok mayat, korban yang pernah kehilangan nyawa di tangan mereka pun sudah tak terhitung jumlahnya, tapi mengapa mereka mengunjuk mimik muka seperti itu?

Ketika Yap Kay tiba di tempat kejadian, ketiga orang itu masih piea belum bergerak, sorot mata mereka masih tetap mengawasi mayat itu tanpa berkedip.

Dengan keheranan Yap Kay berjalan mendekat, tetapi setelah menyaksikan mayat itu, sama seperti ketiga orang lainnya, sorot matanya ikut terpaku tanpa berkedip.

Siapa sebenarnya sang korban? Jenazah siapakah dia?

Mengapa jenazah itu bisa menimbulkan reaksi yang begitu luar biasa dari orang-orang itu?

Bukan sang korban yang membuat mereka tercengang dan ngeri, tapi mimik muka mayat itulah yang membuat mereka bergidik dan ngeri.

Rembulan telah condong ke tepi langit, namun cahaya lembut yang terpancar masih cukup terang menyinari jagad raya, terutama menyinari raut muka Hwi thian ci cu.

Selama hidup belum pernah Yap Kay menyaksikan raut muka seseram dan mengerikan ini, apalagi wajah sesosok mayat.

Mimik muka Hwi thian ci cu mengejang lantaran ketakutan, wajahnya yang pucat tak ubahnya seperti bunga salju di tengah musim dingin yang membeku. Belum pernah Yap Kay menjumpai kulit muka sesosok mayat yang bisa berubah jadi putih pucat seperti itu, apalagi menyaksikan kulit seseorang macam kulit badan Hwi thian ci cu saat ini.

Hwi thian ci cu selama ini tersohor karena ilmu meringankan tubuhnya, kulit serta otot tubuhnya sangat lentur bagaikan seekor kuda jempolan, lantaran sudah terlalu lama kena cahaya sang surya, kulit itu telah berubah warnanya menjadi hitam berkilat.

Tapi sekarang otot dan daging tubuhnya sudah berubah jadi daging gembur yang lunak, kulitnya seakan sebuah balon udara yang kehilangan gas, menyusut dan berkerut menempel jadi satu di atas tulang badan.

Ternyata mayat itu nyaris mengering, darah yang semula mengalir dalam tubuhnya, kini hampir semuanya telah terisap keluar.

Yap Kay berdiri termangu sambil mengawasi mayat Hwi thian ci cu, kepandaian silat apakah yang mampu mengisap darah seseorang hingga habis?

"Kau pernah menyaksikan kematian semacam ini sebelumnya?" gumam Hoa Boan-thian.

"Belum pernah," Kongsun Toan menggeleng.

"Coba kalian lihat," ujar Hun Cay-thian pula, "tiada bekas luka di tubuhnya, jangan-jangan dia mati lemas karena ketakutan?" Sementara tanya jawab sedang berlangsung, Yap Kay sudah berjongkok memeriksa jenazah itu dengan lebih seksama, akhirnya ia berhasil menjumpai bekas luka di tengkuk sebelah kiri.

Kedua mulut luka itu berbentuk bulat dan besarnya tak lebih sebutir kacang kedelai, bekas darah kering masih menempel di sekeliling mulut luka itu.

"Luka bekas apa ini?" seru Hoa Boan-thian berempat serentak, perhatian mereka sama-sama dialihkan ke kedua bekas luka itu

"Dari keadaan jenazah, tampaknya darah di dalam tubuhnya telah terisap hingga kering melalui kedua bekas luka itu," Hun Cay-thian berkata.

"Tapi senjata apa yang digunakan? Rasanya belum pernah kujumpai bentuk senjata di dalam Kangouw yang meninggalkan bekas luka semacam itu," ujar Kongsun Toan pula.

Yap Kay yang selama ini hanya membungkam tiba-tiba buka suara, katanya lirih, "Itu bekas gigitan!"

"Bekas gigitan?"

"Benar, mulut luka itu jelas terbentuk dari bekas gigitan."

"Gigitan?" satu perubahan aneh mendadak melintas di wajah Hoa Boan-thian, "jadi maksudmu... dia... darah dia terisap " "Benar, diisap setan pengisap darah!" Paras muka semua orang berubah hebat.

Menurut dongeng orang kuno, konon bila ada orang mati yang jenazahnya dilompati kucing hitam pada masa tujuh kali tujuh hari sejak kematiannya, maka mayat itu dapat berubah menjadi mayat hidup.

Mayat hidup semacam ini biasanya akan bangkit dari kubur dan mengejar korbannya dengan melompat-lompat.

Ada pula dongeng lain yang mengatakan jika seseorang yang telah meninggal dan kebetulan dikubur di "liang serigala", maka setelah melalui tujuh kali tujuh empat puluh sembilan hari, di saat mayat itu telah mengisap kekuatan inti matahari dan rembulan, maka sesudah seratus hari kemudian, jenazah akan hidup kembali dan bangkit dari liang kubur.

Ketika tengah malam menjelang tiba, di saat cahaya rembulan sedang bersinar terang, mayat hidup itu akan menjebol peti mati untuk melompat keluar dari liang kuburnya dan pergi mencari manusia bagai mangsanya.

Dengan mengandalkan sepasang taringnya yang panjang, mayat itu akan menggigit urat nadi manusia dan mengisap habis darahnya.

Mayat hidup semacam ini biasanya disebut setan pengisap darah.

Konon setan pengisap darah ini tidak bisa dibunuh dengan menggunakan senjata apa pun, hanya bisa dimusnahkan bila jantungnya ditusuk dengan kayu bunga Tho yang diruncingkan ujungnya.

Selapis awan gelap bergerak pelan menutupi cahaya rembulan di tengah kegelapan yang mencekam, terasa pula hembusan angin utara yang kencang, mendatangkan hawa dingin yang menggigilkan.

Tak kuasa Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian bergidik, bulu romanya berdiri, tanpa terasa mereka menggigit bibir, entah karena kedinginan? Atau mungkin karena ketakutan?

"Ah, apa yang kau katakan tak lebih hanya dongeng yang beredar di kalangan rakyat," bantah Kongsun Toan, "mana mungkin ada kejadian seperti itu?"

"Rasanya hingga saat ini kita harus mengakui cerita itu sebagai kenyataan," kata Yap Kay pula, "memang kau masih mempunyai penjelasan yang lain?"

"Aku tidak percaya!"

Yang mengucapkan perkataan itu adalah Pho Ang-soat, walaupun dia berjalan paling akhir, di belakang Buyung Bing-cu, namun tiba tidak selisih banyak.

"Oya?" Yap Kay mulai tertawa, "jadi kau tak percaya Hwi thian ci cu tewas karena diisap darahnya oleh setan pengisap darah?" "Aku tidak percaya di kolong langit ini terdapat setan pengisap darah" kembali Pho Ang-soat menegas sambil mengawasi dua lubang darah di tengkuk Hwi thian ci cu.

"Lantas menurut kau, bekas luka itu disebabkan jenis senjata seperti apa?" tanya Hoa Boan-thian.

"Aku tidak tahu!"

Hembusan angin malam di pinggiran kota terasa semakin dingin, begitu dingin bagaikan berada di puncak gunung salju, ditambah sinar rembulan yang begitu sayu dan pucat, membuat suasana di tempat itu terasa makin menggidikkan.

Loh Loh-san memandang kembali jenazah yang terkapar di hadapannya, lalu dengan suara gemetar bisiknya, "Konon orang yang tewas karena diisap darahnya, dia akan berubah pula jadi setan pengisap darah pada keesokan harinya, dan dia pun akan mencari korban lain untuk diisap darahnya. "

"Betul, bahkan dia akan dikuasai dan dikendalikan setan pengisap darah sebelumnya," imbuh Hun Cay-thian.

"Aku pun pernah mendengar dongeng semacam ini," Yap Kay tertawa tergelak, "tampaknya kita harus menunggu sampai esok malam untuk membuktikan apa benar bakal muncul setan pengisap darah lainnya." "Andaikata benar-benar muncul... apa yang harus kita lakukan?" tanya Loh Loh-san dengan suara masih gemetar.

"Ya, apa boleh buat, jika benar-benar muncul setan pengisap darah, terpaksa kita hanya bisa kabur, aku dengar setan semacam ini usah dibunuh."

Loh Loh-san tidak buka suara lagi, tapi setiap orang dapat mendengar dengan jelas kedua baris giginya sedang saling beradu aking takutnya.

"Menurut apa yang kutahu," tiba-tiba Buyung Bing-cu berkata, "cara untuk membunuh setan pengisap darah semacam ini hanya ada satu yakni meruncingkan batang kayu bunga Tho, kemudian gunakan kayu itu untuk menusuk jantungnya."

"Kalau begitu besok kita semua menyiapkan sebatang kayu bunga Tho untuk berjaga-jaga" sela Yap Kay sambil tergelak.

Saat itu jarak dengan terang tanah sudah tak lama lagi, dengan cepat jenazah Hwi thian ci cu digotong masuk ke gudang bawah tanah Ban be tong.

Dengan tubuh letih, setiap orang pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, Yap Kay belum juga bisa memejamkan mata, sambil mementang mata lebar-lebar dia mengawasi keluar jendela tanpa berkedip. Alisnya berkerut kencang, setiap kali sedang menghadapi masalah dan perlu pertimbangan, alisnya selalu bekernyit kencang.

Dalam keadaan begitulah pikir punya pikir, tanpa terasa dia pun terlelap tidur.

Tak lama kemudian, dari luar jendela tampak ada segumpal kabut tebal perlahan-lahan bergerak memasuki ruangan itu, dalam waktu lingkat seluruh ruangan telah diselimuti oleh kabut tebal.

Dari balik kabut muncullah seseorang, seorang wanita bertubuh ramping dan berambut sepanjang bahu.

Perempuan itu berdiri lurus di balik ketebalan kabut yang dingin membeku, seolah-olah sejak dulu hingga sekarang dia selalu berdiri kaku di sana, seolah-olah baru saja melumer dari balik kebekuan bongkahan es yang keras.

Biarpun orang itu lebih dingin dari bongkahan salju, namun justru ringan dan mengambang bagaikan segumpal kabut.

Lamat-lamat terlihat dia adalah seorang wanita, tapi sayang tak terlihat jelas bagaimana raut wajahnya, yang tampak hanya dia mengenakan pakaian seputih kabut, raut mukanya terselubung di balik asap putih.

Perempuan di balik kabut itu hanya berdiri kaku sambil menatap Yap Kay yang masih berbaring di ranjang, lama kemudian baru ia menghela napas panjang. Seandainya waktu itu Yap Kay berada dalam keadaan mendusin, dia pasti akan merasakan hatinya hancur lantaran helaan napas itu.

Tak ada orang yang bisa melukiskan betapa pedihnya helaan napas itu, tapi setiap orang pasti dapat menangkap bahwa di balik helaan napas itu terselip beribu patah kata yang ingin disampaikan, terselip rasa kangen yang luar biasa, terselip pula rasa kesal dan menggerutu yang mendalam.

Setelah menghela napas panjang, kembali perempuan di balik kabut itu bergumam, "Ada begitu banyak peristiwa di dunia ini yang tak mungkin bisa dibayangkan siapa pun di dunia ini."

Setelah berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, "Kau harus percaya bahwa di jagad raya yang amat luas ini terdapat sebuah kekuatan misterius yang tak mungkin dimiliki umat manusia pada umumnya, kau tak boleh mencari kekuatan itu apalagi bertarung melawan kekuatan misterius itu, ingat baik-baik pesanku ini."

Kabut putih kelabu yang menyelimuti orang berbaju putih kelabu pula, membuat orang itu seolah menghilang, begitu samar-samar, begitu tak nyata.

Manusiakah dia? Ataukah roh gentayangan?

Dalam keadaan sadar, sikap Pho Ang-soat selalu dingin, angkuh dan acuh terhadap setiap orang, bagaimana sikapnya sewaktu tidur? Ia merebahkan tubuh miring ke samping dengan kaki ditekuk dan pinggang melengkung, raut mukanya memancarkan sinar ketidak berdayaan seorang anak-anak, bahkan dari balik matanya yang terpejam lamat-lamat terpercik juga secercah harapan.

Apa yang dia harapkan?

Kasih sayang keluarga? Kehangatan persahabatan? Ataukah kemesraan percintaan?

Jangankan orang lain, bahkan dia sendiri pun belum tentu dapat menjawab pertanyaan ini, semisal tahu pun dia tak bakal mengatakan kepada orang lain, apalagi minta dia mengakuinya.

Dari balik wajah Pho Ang-soat yang dibalut keletihan, secara lamat-lamat masih dapat ditemukan jiwa kekanak-kanakannya yang polos, ketika melihat sikapnya sewaktu tidur saat ini, dia tak ubahnya seperti seorang anak nakal yang terlelap tidur karena kelelahan, begitu nyenyaknya dia tertidur seakan walau ada guntur yang menggelegar di sisi telinganya pun tak bakal membuatnya mendus in.

Hembusan angin menjelang fajar biasanya terasa paling dingin, juga terasa paling kencang, membuat daun jendela terpentang lebar.

Dari luar jendela lamat-lamat berkumandang suara nyanyian yang seakan datang dari neraka, suara itu melantun di tengah hembusan angin, melayang dan menggaung, seperti suara yang bergema di dalam jeram sangat dalam.

"Di ujung jalan buntu, tak nampak kau kembali,

Baru melangkah dijalan kematian, nyawa keburu putus."

Begitu suara nyanyian berkumandang, tiba-tiba Pho Ang-soat membuka matanya, mementang matanya lebar-lebar dengan cahaya berkilat, sementara otot-otot hijau merongkol pada tangan kirinya yang menggenggam golok.

"Bunga belum layu, Rembulan belum gumpil,

Dimana bulan purnama memancarkan cahayanya? Apakah menyinari bunga mawar di tepi hutan."

Ketika suara nyanyian itu sekali lagi berkumandang, kening Pho Ang-soat bekernyit makin kencang, dia merasa sangat mengenal bait lagu itu, seakan-akan baru saja mendengarnya di suatu tempat.

"Di ujung jalan buntu, Tak nampak kau kembali, Tengah malam kentongan ketiga, Putus napas hilang nyawa."

Begitu mendengar bait syair terakhir, mencorong sinar tajam dari balik mata Pho Ang- soat, sekarang dia tahu siapa pembawa nyanyian itu. Yan Lam-hui! Betul, dia adalah Yan Lam-hui yang dilatih Kongcu Gi untuk menjadi bonekanya.

Baru saja keningnya mengendor, sekali lagi dia mengernyitkan alis, bahkan mengernyit lebih kencang, Pho Ang-soat belum melupakan satu hal.

Pho Ang-soat belum lupa Yan Lam-hui tewas di ujung goloknya. Kalau bukan Yan Lam-hui yang membawakan nyanyian itu, lalu siapa yang barusan bersenandung?

Siapa yang dapat membawakan lagu itu?

Mengapa dia datang ke pinggiran kota untuk membawakan lagu itu?

Apakah dia khusus datang ke situ hanya untuk membawakan lagu itu? Khusus bersenandung agar Pho Ang-soat dapat mendengarnya?

Untuk mencari jawaban berbagai pertanyaan itu, tampaknya dia harus segera menjumpai orang yang melantunkan lagu itu.

Mengikuti asal suara nyanyian itu, dengan cepat Pho Ang-soat berjalan keluar meninggalkan Ban be tong, kelihatannya orang itu berada di tengah hutan.

Menanti ia memasuki hutan, Pho Ang-soat baru sadar ternyata hutan itu sangat lebat, sejauh mata memandang hanya pepohonan tinggi yang menyelimuti sekeliling tempat itu.

Setelah membetulkan pakaiannya, selangkah demi selangkah Pho Ang-soat berjalan menembus kegelapan malam, semakin dalam dia menembus hutan, semakin jelas suara nyanyian itu terdengar.

Ternyata benar, suara nyanyian itu berasal dari balik hutan lebat, tapi siapa yang membawakan lagu itu?

Angin malam berhembus kencang, menggoyang dedaunan yang rimbun hingga tampak bagai tangan raksasa yang sedang mencabik ke sana kemari.

Dengan pandangan mata tajam Pho Ang-soat berjalan menelusuri pepohonan, bergerak menghampiri sumber suara nyanyian itu.

Tak lama kemudian tibalah dia di sebuah tanah lapang yang luas, di saat itu pula suara nyanyian tiba-tiba berhenti.

Tiada seseorang pun yang terlihat di sana, kecuali sebuah gundukan tanah kecil, tak nampak bayangan apa pun.

Bagaimana mungkin bisa terjadi? Sudah jelas suara nyanyian itu berasal dari sana, mengapa tak nampak seorang pun?

Suara nyanyian itu baru berhenti setelah Pho Ang-soat melangkah masuk ke tanah lapang itu, dia tak percaya ada orang mampu bersembunyi dari hadapannya dalam waktu secepat itu.

Atau mungkin orang itu bersembunyi di suatu tempat? Misalnya bersembunyi di pohon? Atau di tempat gelap? Atau... bersembunyi di balik gundukan tanah kecil itu?

Baru saja Pho Ang-soat bersangsi dengan penuh tanda tanya, mendadak suara nyanyian itu kembali berkumandang.

Kali ini Pho Ang-soat dapat mendengar suara itu dengan jelas, bahkan berani memastikan dari arah mana suara itu berasal.

Ternyata suara nyanyian itu berasal dari belakang gundukan tanah itu!

Sambil tertawa dingin Pho Ang-soat perlahan- lahan berjalan ke depan, melewati gundukan itu.

Tapi begitu tiba di balik gundukan tanah itu, lagi-lagi dia dibuat terperanjat, ternyata tak nampak seorang pun di balik gundukan itu, mungkinkah suara nyanyian itu jelas bersumber dari situ?

Sekali lagi Pho Ang-soat pasang telinga mendengarkan lebih seksama, kali ini dia benar- benar terkesiap, ternyata suara nyanyian itu berasal dari dalam tanah.

Dari dalam gundukan tanah kecil itu telah muncul suara nyanyian yang begitu menggidikkan bagaikan suara dari neraka, mungkinkah tanah kecil ini adalah pintu masuk menuju neraka? Mungkinkah suara itu adalah jeritan sukma gentayangan yang berusaha kabur dari dalam neraka?

Seperti apakah neraka itu? Siapa yang pernah mendatanginya?

Benarkah orang yang telah mati arwahnya akan gentayangan bahkan tersesat ke dalam neraka?

Benarkah neraka terdiri dari delapan belas tingkat yang dijaga pasukan manusia berkepala kerbau berwajah kuda?

Benarkah terdapat raja akhirat yang mengatur kematian dan penitisan kembali umat manusia?

Pho Ang-soat tidak percaya segala cerita takhayul, tapi apa mau dikata, kejadian yang ditemuinya belakangan ini justru sukar diterima akal sehat.

Orang yang telah mati sejak sepuluh tahun berselang, ternyata satu per satu muncul di hadapannya dalam keadaan hidup. Kemudian dari balik tanah gundukan perbukitan kecil ini bisa muncul pula suara nyanyian seperti jeritan dari dalam neraka.

Seandainya semua kejadian itu bukan dialaminya sendiri, siapa pula yang mau percaya? Tapi setelah percaya, apa pula yang bisa dilakukan?

Diawasinya tanah gundukan itu lekat-lekat, lalu dengan tangan kanan dia mencoba meraba permukaan tanah, dia ingin membuktikan benarkah gundukan tanah itu asli atau bukan.

Begitu jari tangannya menyentuh permukaan tanah, ia segera sadar bahwa gundukan tanah itu betul-betul asli. Bersamaan dengan itu,  mendadak terjadi goncangan kuat dari balik tanah, diikuti munculnya beribu garis cahaya yang memancar dari balik gundukan.

Mengikuti munculnya pancaran cahaya, terdengar pula suara raungan gusar yang memekakkan telinga.

Cahaya yang terpancar dari dalam tanah itu mirip semburan api yang terang benderang dan menyilaukan mata, mirip pula dengan pancaran cahaya komet yang terlihat dari kejauhan.

Dengan terperangah Pho Ang-soat mengawasi pancaran cahaya yang menembus pepohonan itu, pekikan dan raungan gusar yang berkumandang tak ubahnya seperti teriakan dan jeritan beribu- ribu setan iblis dari neraka, membuat hati siapa pun bergidik dan ketakutan.

Pada saat Pho Ang-soat masih tertegun dan terbelalak dengan mulut melongo itulah mendadak pancaran beribu cahaya itu berubah bentuk dan muncullah seseorang.

Mula-mula hanyalah sesosok bayangan yang lamat-lamat, tapi lambat-laun semakin jelas pakaian yang dikenakan, rambutnya, tangan kakinya dan terakhir terlihat jelas kerut wajah seseorang. Ternyata kumpulan beribu cahaya yang menyilaukan mata itu kini sudah berwujud seseorang.

Benar, sesosok manusia hidup!

Menyaksikan manusia yang terbentuk dari kumpulan cahaya itu, Pho Ang-soat bergidik, hawa dingin yang menusuk tulang muncul dari lubuk hatinya dan menyebar ke seluruh badan, ditatapnya orang itu dengan penuh rasa kaget, tercengang bercampur ngeri.

Orang itu balas menatap Pho Ang-soat, bukan saja wajahnya penuh senyuman, bahkan pancaran sinar matanya pun penuh dengan senyuman, sayang walau dia tersenyum namun senyuman itu belum cukup untuk melenyapkan rasa ngeri Pho Ang-soat.

Dengan mata terbelalak Pho Ang-soat masih mengawasi orang itu, dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian ditatapnya pula pedang merah darah yang berada dalam genggaman tangan kiri orang itu.

Begitu merah menyala pedang itu melebihi merahnya darah, tapi segar dan indah bagaikan bunga mawar.

Itulah pedang mawar, ya, pedang mawar milik Yan Lam-hui. Ternyata manusia yang terwujud dari kumpulan cahaya itu tak lain adalah Yan Lam-hui, Yan Lam-hui yang telah tewas di ujung golok Pho Ang-soat beberapa tahun berselang. "Apa kabar?" sapaan Yan Lam-hui masih terdengar memikat, seakan mempunyai daya tarik.

Pho Ang-soat dengan jelas mendengar sapaan itu, namun untuk sesaat tak tahu bagaimana harus menjawab.

"Baru berpisah beberapa tahun, masa kau sudah lupa padaku?" senyuman Yan Lam-hui nampak semakin mengental, "aku adalah Yan Lam-hui ! "

"Sebenarnya kau...." suara Pho Ang-soat agak gemetar.

"Manusia atau setan?" Yan Lam-hui menyeringai, "jika penilaian itu dilakukan oleh bangsa manusia macam kau, seharusnya saat ini aku sudah terhitung sebagai setan."

"Bangsa manusia?" sejelek-jeleknya Pho Ang- soat, dia tetap seorang jago kosen, dalam waktu singkat ia berhasil mengendalikan gejolak hatinya dan kembali bersikap tenang, "jadi kau bukan terhitung manusia?"

"Yang masih hidup adalah manusia, setelah mati tentu saja berubah jadi setan."

"Kalau begitu kau termasuk golongan setan?" Pho Ang-soat mulai tertawa dingin.

"Sewaktu mati, memang aku sempat menjadi setan," ujar Yan Lam-hui sambil tertawa, "beruntung sekali aku telah bertemu Pangeran kegelapan." "Pangeran kegelapan? Siapa Pangeran kegelapan?"

"Di antara alam yang dihuni golongan manusia dan alam yang dihuni golongan setan, masih terdapat sebuah alam lain yang tak akan bisa kalian bayangkan, nah, alam itulah yang dikendalikan dan diurus Pangeran kegelapan."

"Oh, jadi dimana letak alam itu?"

"Berada di antara langit dan bumi, berada di antara kau dan aku. Alam itu persis berada di sisimu, hanya sayang kau tak akan bisa menemukannya."

"Lalu apa yang harus kulakukan agar dapat melihatnya?"

"Asal kau sudah menjadi penghuni alam itu atau Pangeran kegelapan telah menganggukkan kepalanya," sahut Yan Lam-hui sambil tertawa tergelak.

Awan gelap telah menyelimuti angkasa, sinar rembulan pun lenyap dari pandangan mata.

Di tengah kegelapan itulah lamat-lamat terlihat seolah ada cahaya biru yang menyebar dari badan Yan Lam-hui, cahaya aneh yang membuat perasaan orang bergidik dan seram.

Dengan tatapan tajam Pho Ang-soat mengawasi gerak-gerik Yan Lam-hui, benarkah antara alam manusia dan setan masih terdapat alam lain yang tak terbayangkan oleh akal manusia? Seperti apakah alam yang dimaksud? Siapa pula penghuninya? Manusia? Atau setan? Atau mungkin sebangsa dewa-dewi?

Selama hidup belum pernah Pho Ang-soat percaya bahwa di dunia ini terdapat dewa-dewi atau setan, dia anggap kepercayaan semacam itu hanya takhayul, omong kosong. Tapi apa mau dikata, justru setiap peristiwa yang dijumpainya belakangan ini, membuatnya mau tak mau harus menerima semua takhayul itu sebagai suatu kenyataan.

Orang-orang yang sudah mati, satu per satu muncul kembali di hadapannya, muncul dalam keadaan hidup.

Dari dalam gundukan tanah yang sangat biasa ternyata terpancar beribu cahaya. Dan cahaya yang terpancar ternyata dapat berbentuk seseorang, bahkan seseorang yang sudah mati.

Tapi semua peristiwa itu bukan inti masalah yang membuat Pho Ang-soat tercengang. Yang membuatnya terperangah, kaget dan ngeri adalah terdapatnya alam lain di antara alam kehidupan manusia, alam misterius yang selama ini tidak diketahui siapa pun.

Lalu disebut apakah alam misterius yang tidak diketahui itu? Surga? Neraka? Atau dunia maya yang selama ini sering dibicarakan umat persilatan?

"Bila benar-benar terdapat alam seperti ini, apa nama alam itu?" tanya Pho Ang-soat kemudian, "disebut apa pula penghuni yang tinggal di alam itu?"

"Dunia keempat" Yan Lam-hui menerangkan, "penghuninya disebut manusia maya, oleh karena itu dunia keempat disebut juga dunia maya"

"Apa syaratnya untuk masuk ke dunia keempat itu?"

"Tidak dibutuhkan syarat apa pun, sama sekali tak dibutuhkan syarat," Yan Lam-hui tertawa, "yang terpenting ada jodoh atau tidak."

"Jodoh?"

"Betul, jodoh, siapa yang berjodoh maka pintu alam kita akan terbuka untuknya."

"Kalau tidak berjodoh?"

"Kalau tidak berjodoh maka silakan hidup berlanjut di dunia yang penuh kepedihan ini," sahut Yan Lam-hui sambil tertawa, "oleh karena itulah aku harus mengucapkan selamat kepadamu."

"Mengucapkan selamat kepadaku? Kenapa?" kembali Pho Ang-soat melengak.

"Karena kau adalah orang yang berjodoh, itulah sebabnya kau dapat mendengar suara nyanyianku, datang kemari dan berjumpa dengan Utusan Cahaya."

"Utusan Cahaya?" "Bukankah tadi kau saksikan ada pancaran cahaya? Nah, akulah pancaran cahaya itu, Utusan Cahaya adalah diriku."

"Hanya orang berjodoh yang dapat bertemu Utusan Cahaya? Hanya Utusan Cahaya yang dapat membimbingku memasuki dunia keempat?" "Betul."

"Setelah tiba di dunia keempat, apa pula yang bisa kudapat?" jengek Pho Ang-soat sambil tertawa dingin. "Jadi dewa? Jadi manusia abadi yang tak bisa mati?"

"Benar, dan masih ada lagi, kau akan memperoleh kekayaan yang berlimpah," sambung Yan Lam-hui, "apa pun yang bakal kau peroleh, sudah lebih dari cukup untuk menimbulkan badai besar di dunia Kangouw."

"Apa yang kau sampaikan merupakan iming- iming yang bisa membuat orang tergiur, terpikat, tapi sayang di dunia ini masih terdapat jenis manusia lain, manusia yang tak terpikat oleh semua itu," kata Pho Ang-soat hambar.

"Aku tahu, manusia macam kau memang tak bakal terpikat oleh kekayaan dan emas," Yan Lam-hui tertawa, "tapi bagaimana dengan tawaran menjadi manusia abadi? Masa kau tidak tertarik menjadi manusia abadi yang tak bisa mati?"

"Sayang aku hanya tahu bahwa manusia harus hidup penuh makna, daripada hidup abadi sebagai sesosok boneka, lebih baik hidup berpuas ria selama beberapa tahun."

"Bukankah lebih baik hidup daripada mati, meski hidup di bawah kendali?"

"Benarkah begitu?" Pho Ang-soat tertawa dingin, "benarkah semua penghuni dunia keempat adalah manusia abadi yang tak bisa mati?" "Kalau tidak bernyawa, mana mungkin bisa mati?"

"Bukankah kau sudah pernah mati satu kali?" jengek Pho Ang-soat sambil menatap dingin dirinya.

"Karena setiap orang yang ingin memasuki dunia keempat, dia wajib mati satu kali."

"Oh, jadi kalau aku ingin bergabung dengan kalian, maka aku wajib mati terlebih dulu?"

"Betul, tinggalkan badan kasarmu yang tak berguna dan sisakan arwahmu yang suci bersih, hanya semua yang suci bersih yang dapat memasuki dunia maya."

"Rupanya kedatanganmu sebagai Utusan Cahaya pada malam ini adalah ingin menjemput aku pulang ke langit barat?"

Yan Lam-hui tertawa hambar, perlahan-lahan dia mencabut pedangnya yang berwarna merah darah.

Begitu pedang itu dilolos dari sarungnya, meski tiada cahaya sang surya, namun cahaya pedang itu amat menyilaukan mata seperti pantulan cahaya matahari, lembut dan indah bagai sinar rembulan.

Hawa pedang mulai menyelimuti wajah Pho Ang-soat, hawa membunuh pun semakin mengental.

Pho Ang-soat belum juga bergerak, tangan kirinya menggenggam kencang goloknya yang hitam pekat. Golok hitam yang melambangkan kematian.

Bukankah warna merah darah pun melambangkan kematian?

Golok belum lagi diloloskan dari sarung, tapi paras muka Pho Ang-soat telah berubah semakin memucat, dia mengawasi pedang di tangan Yan Lam-hui tanpa berkedip, mimik mukanya tanpa perasaan sementara biji matanya menyusut kecil.

Yan Lam-hui balas menatap lawannya, sorot matanya yang berkilat bagai cahaya bintang di tengah malam memancarkan semacam perasaan aneh, entah perasaan itu melambangkan kegembiraan seorang yang baru terlepas dari penderitaan? Ataukah perasaan pedih karena ketidakberdayaan.

Perlahan-lahan Pho Ang-soat mendongakkan kepala dan balas menatap matanya.

Ketika tatapan mata mereka saling bertemu, terjadilah benturan bunga api yang menyebar di tengah kegelapan malam, seperti dua komet yang tiba-tiba saling bentur. Tiba-tiba Pho Ang-soat berkata, "Kau sudah dua kali kalah di tanganku, buat apa mesti mencari kekalahan untuk ketiga kalinya?"

Mata Yan Lam-hui menyusut, tahu-tahu pedangnya melancarkan sebuah tusukan.

Cahaya pedang segera menyebar ke seluruh langit, secepat sambaran kilat pedang itu meluncur ke muka, memancarkan hawa senjata yang dingin bagaikan es.

Sebaliknya gerakan golok hitam justru sangat lambat.

Biarpun kelihatan lamban, namun belum lagi cahaya pedang itu menerobos masuk, tahu-tahu golok itu sudah menerobos lebih dulu ke balik cahaya pedang dan membendung seluruh ancaman itu.

Dalam waktu singkat di angkasa hanya tampak cahaya pedang yang merah membara bagai darah serta mata golok yang putih memucat.

Satu tebasan cahaya golok yang sangat tawar, setawar air telaga di musim semi, dan sedingin hawa musim salju berkelebat, ya, hanya satu kelebatan saja, tahu-tahu bunga pedang yang semula menyelimuti angkasa kini telah lenyap.

Rupanya tebasan golok Pho Ang-soat telah berhasil memunahkan serangan maut Yan Lam- hui.

Seolah-olah ilmu silat Yan Lam-hui sama sekali tidak mengalami kemajuan, biarpun orangnya telah hidup kembali namun ilmu silatnya justru telah mati.

Dengan lenyapnya ancaman cahaya pedang, seharusnya Pho Ang-soat merasa gembira dan bangga, ternyata tidak, alisnya justru berkerut kencang, malah raut mukanya memperlihatkan perubahan yang aneh.

Kendatipun dia berhasil memunahkan jurus pedang Yan lam-hui, namun dia justru dapat merasakan bahwa hawa pedang yang terpancar dari tubuh lawannya jauh lebih tebal dan kental.

Begitu jurus pedangnya jebol, Yan Lam-hui segera tertawa seram yang mengerikan, bagaikan suara raungan dari neraka, berbareng cahaya hijau yang menyelimuti badannya kian bertambah tebal dan menguat.

Di tengah tawa seramnya, sekali lagi Yan Lam- hui melancarkan sebuah tusukan.

Kali ini tiada cahaya pedang yang menyelimuti angkasa, tiada kecepatan bagai sambaran kilat, tapi hawa pedang yang terpancar justru makin tebal, makin rapat.

Tusukan pedang itu datang secara lamban, tiada bunga pedang yang terlihat kecuali getaran keras pada ujung senjata.

Begitu melihat getaran ujung pedang lawan, serta-merta Pho Ang-soat mundur selangkah.

Baru saja kakinya melangkah mundur, ujung pedang yang bergetar tiada hentinya itu tahu- tahu memancarkan cahaya tajam berwarna hijau tua.

Sinar hijau itu meluncur ke depan, menembus udara dan langsung mengancam dada musuh.

Beruntun Pho Ang-soat harus menggunakan tiga macam gerakan tubuh yang berbeda sebelum berhasil lolos dari ancaman cahaya hijau itu, tapi sayang dia tak berhasil menghindari tusukan pedang Yan Lam-hui.

Ujung pedang menyambar, darah segar segera muncrat kemana-mana.

Darah segar berwarna merah, semerah pedang mawar dalam genggaman Yan Lam-hui.

Ternyata bahu kiri Pho Ang-soat telah tersambar ujung senjata lawan hingga muncul sebuah mulut luka berdarah.

Luka itu cukup dalam, meski tak sampai menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

Sambil mengertak gigi Pho Ang-soat mengayunkan goloknya dengan tangan kanan, melepaskan bacokan kilat.

Bacokan itu bukan ditujukan kepada lawan, tapi dibabatkan langsung ke bahu kiri sendiri.

Ketika mata golok berkelebat, kulit daging di bahu kirinya segera tersayat.

Kembali darah menyembur dari bekas sayatan itu, kini Pho Ang-soat baru merasakan kesakitan yang luar biasa, namun dia justru menghembuskan napas lega.

Tak lama setelah kulit daging bahu yang tersayat  itu jatuh ke tanah, tiba-tiba terdengar suara mencicit bergema dari sayatan itu, dalam waktu singkat  sayatan kulit daging tadi berubah jadi hitam pekat,  lalu dalam sekejap melumer dan berubah jadi cairan berwarna hitam pekat.

Racun! Ya, hanya tubuh yang terkena racun baru akan menimbulkan gejala seperti ini.

Mengawasi cairan hitam yang membusuk di atas tanah, Pho Ang-soat tertawa dingin, jengeknya, "Rupanya penghuni dunia keempat pun pandai menggunakan akal busuk, bahkan pintar sekali memakai racun."

Yan Lam-hui tidak menjawab, sekali lagi dia memperdengarkan suara tawanya yang menyeramkan, pedang dalam genggamannya kembali melancarkan tusukan.

Kali ini tidak menunggu ujung pedang lawan bergetar, golok Pho Ang-soat telah bergerak lebih dahulu.

Tiada bunga golok, tiada hawa golok, yang terjadi hanya sekali bacokan, bacokan dari atas ke bawah, dari gerak cepat berubah jadi lambat.

Di tengah cahaya pedang berwarna merah, terbias selapis cahaya golok yang sangat tipis. Dimana cahaya golok berkelebat, tahu-tahu pedang Yan Lam-hui telah berubah menjadi dua bagian dan terpisah ke kiri kanan.

Ternyata bacokan golok itu telah membelah pedang mawar menjadi dua bagian.

Pedang itu terpapas kutung jadi dua bagian, setengah bagian masih berada dalam genggaman Yan Lam-hui dan setengah bagian yang lain rontok ke tanah

Tiba-tiba Yan Lam-hui mengepalkan tangan kirinya, sambil menjulurkan jari telunjuk dan jari tengahnya, dia membuat satu guratan lingkaran aneh di tengah udara dan mulutnya komat-kamit, kemudian ia berteriak, "Terbang!"

Kurungan pedang yang semula tergeletak di tanah itu tiba-tiba meluncur ke udara bersamaan dengan suara bentakan Yan Lam-hui, lalu dengan kecepatan tinggi meluncur ke arah Pho Ang-soat.

Kutungan pedang itu meluncur begitu mantap dan bertenaga, seolah-olah terdapat tangan tak tembus pandang yang sedang menggenggamnya dan ditusukkan ke tubuh lawan.

Pedang yang semula sebilah mendadak berubah jadi dua potong, satu bagian berada di tangan Yan Lam-hui, bagian yang lain terbang melancarkan serangan maut. Inilah ilmu pedang tingkat tinggi, ilmu pedang yang dikendalikan tenaga dalam.

Selama ini kehebatan ilmu itu hanya ada dalam dongeng atau cerita orang, sama sekali tak disangka hari ini dari Yan Lam-hui dapat disaksikan kenyataan itu, setelah bangkit dari matinya terbukti ilmu silat orang ini bertambah lihai dan sakti.

Seorang Yan Lam-hui dengan sebilah pedang saja sudah begitu susah dihadapi, apalagi sekarang, setelah bertambah lagi dengan sebuah ancaman yang datang dari udara, Pho Ang-soat merasakan tekanan yang semakin berat.

Terpaksa dengan sekuat tenaga dia hadapi ancaman yang datang dari depan maupun belakang dengan sekuat tenaga.

Manusia aneh dengan jurus serangan aneh dan ujung pedang yang telah dipoles racun keji... semakin bertarung, suara tawa Yan Lam-hui semakin bertambah nyaring.

Semakin nyaring suara tawa lawan, peluh dingin yang membasahi jidat Pho Ang-soat makin bertambah deras.

Pedang terbang itu sekali-kali melancarkan tusukan maut ke tubuh Pho Ang-soat, baru selesai dia menghindari ancaman pedang terbang itu, ancaman pedang Yan Lam-hui menyusul tiba.

Sambil membalikkan badan Pho Ang-soat melayangkan bacokan, siapa tahu pedang terbang itu tiba-tiba berbalik arah dan menyambar lagi dari belakang tubuhnya.

Ancaman itu datang tanpa menimbulkan suara, secara diam-diam pedang itu membokong ke arah batok kepala Pho Ang-soat. Berhubung jurus serangan yang dilancarkan Yan Lam-hui sangat ganas dan hebat, Pho Ang- soat harus menggunakan seluruh kemampuan dan perhatiannya untuk menghadapi, ditambah pula punggungnya tidak bermata, hakikatnya dia sama sekali tidak tahu pedang terbang itu sedang berbalik arah mengancam tubuhnya tanpa menimbulkan suara.

Sekalipun tahu juga sulit baginya untuk menghindarkan diri, sebab sekalipun dia mampu menghindari serangan pedang terbang itu, belum tentu berhasil menghindari serangan pedang Yan Lam-hui.

Di saat yang paling kritis itulah sarung golok di tangan Pho Ang-soat tahu-tahu menerobos keluar lewat bawah ketiak dan.... "Traang!", percikan bunga api memancar dari sarung golok berwarna hitam itu, tahu-tahu pedang terbang itu sudah menerobos masuk ke dalam sarung golok itu.

Cepat Pho Ang-soat mengayunkan tangan kirinya, sarung golok berikut pedang terbang itu turut bergeser ke samping, cepat dia berjongkok lalu berputar, secepat kilat ia meloloskan diri dari tusukan pedang Yan Lam-hui.

Setelah itu dia membalikkan tangannya, dimana cahaya golok berkilauan, ia songsong datangnya cahaya pedang lawan.

Tidak terjadi benturan antara golok dan pedang, meski cahaya pedang datang begitu cepat, namun gerakan golok jauh lebih cepat. Ujung pedang Yan lam-hui nyaris menembus tenggorokan Pho Ang-soat, selisihnya tak lebih dari satu inci.

Biarpun hanya satu inci, namun satu inci yang bisa menyebabkan nyawa melayang.

Gara-gara selisih satu inci itulah kembali cahaya golok Pho Ang-soat berkelebat, kemudian terdengarlah jeritan ngeri yang menyayat hati diikuti percikan darah segar.

Di tengah semburan darah yang memancar kemana-mana, tubuh Yan Lam-hui mundur tiga langkah dengan sempoyongan sebelum akhirnya sama sekali tak bergerak.

Pho Ang-soat pun tidak bergerak, hanya tetesan darah menetes dari ujung goloknya.

Tidak ditemukan sedikit luka pun di tubuh Yan Lam-hui, hanya sepasang matanya memancarkan cahaya sayu, menatap Pho Ang-soat tanpa berkedip.

Sinar mata tak percaya, namun di balik rasa tak percaya terselip juga perasaan percaya.

Pho Ang-soat sama sekali tak bergerak, dia pun sama sekali tidak menatap Yan Lam-hui.

"Mana mungkin... mana mungkin?" terdengar Yan Lam-hui bergumam t i ada hent inya.

Kemudian tertampaklah butiran darah perlahan-lahan mengucur dari jidat di antara kedua alis matanya, mengalir lewat bulu mata, turun ke tenggorokan dan membasahi perutnya. Sekali lagi cahaya golok berkelebat, kali ini tubuh Yan Lam-hui yang dibabat.

Bersamaan dengan munculnya lelehan darah, tubuh Yan Lam-hui berikut pedangnya segera membelah diri menjadi dua, persis seperti pedangnya tadi.

Kembali Yan Lam-hui mundur tiga langkah, tapi belum langkah keempat, tubuhnya sudah terbelah jadi dua dan roboh terkapar di tanah.

Sampai tubuhnya roboh di atas tanah, paras muka Yan Lam-hui masih mengunjuk rasa tidak percaya, rasa ngeri dan takut yang luar biasa.

Perlahan-lahan Pho Ang-soat bangkit, memandang wajah Yan Lam-hui yang terbelalak tak percaya, dia mendengus dingin, jengeknya, "Ternyata penghuni dunia keempat pun tetap bisa mati."

Pho Ang-soat memungut sarung goloknya sambil menyarungkan kembali senjatanya, lalu dengan menggunakan langkahnya yang aneh dan khas, perlahan-lahan meninggalkan gundukan tanah itu menuju keluar hutan.

Saat itulah cahaya pertama sang surya mulai memancar dari ufuk timur, menembus awan tebal, menyinari hutan nan gelap, membuat butiran embun yang tersisa di dahan dan dedaunan membiaskan cahaya yang menyilaukan mata. Butiran embun kecil terhimpun membesar lalu menetes dari atas dahan, menetes persis di atas mata Yan Lam-hui.

Tiba kembali di Ban be tong, hari mulai terang tanah. Pho Ang-soat tetap berjalan lamban, tiba- tiba ia menjumpai satu kejadian aneh, biarpun sudah terang tanah namun suasana dalam Ban be tong masih sunyi sepi, jangankan menjumpai seseorang, sedikit suara pun tidak terdengar.

Mana penghuninya? Kemana mereka telah pergi? Jangan-jangan setelah malam berlalu, keadaan Ban be tong akan pulih seperti keadaan malam sebelumnya? Mungkinkah mereka yang seharusnya telah mati, kini kembali masuk ke liang kubur?

Sekali lagi Pho Ang-soat memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, bangunan Ban be tong masih tegak megah, tak nampak bangunan itu berubah jadi puing yang terlupakan, namun masih tetap tak kelihatan seorang pun. Aneh!

Benar-benar sangat aneh!

Kemana perginya Yap Kay? Bukankah dia senang berkeliaran dan berhura-hura di sembarang tempat? Mengapa tidak nampak batang hidungnya?

Pho Ang-soat berkerut kening, rasa heran dan curiga mencekam hatinya, tapi ia tidak menghentikan langkahnya, selangkah demi selangkah berjalan balik ke tempat penginapan. Setelah tiba di luar penginapan, kembali ia jumpai satu peristiwa aneh.

Dari balik daun jendela bangunan penginapan yang megah, terbias begitu banyak bayangan manusia, ternyata di dalam gedung itu telah berkumpul begitu banyak manusia, hanya anehnya, tak seorang pun yang bersuara.

Belasan orang berkumpul jadi satu tapi tak terdengar sedikit suara pun, biasanya keadaan seperti ini menunjukkan satu kemungkinan yaitu telah terjadi suatu peristiwa yang menggemparkan.

Padahal kalau dihitung dari munculnya suara nyanyian fajar tadi, hingga dia balik saat ini, selisih waktunya tak lebih hanya satu jam, mungkinkah dalam waktu yang amat singkat ini Ban be tong kembali didera peristiwa besar?

Begitu masuk ke ruang utama, benar saja, ia saksikan hampir semua orang sedang berkumpul di sana, dengan kening berkerut kencang setiap orang mengawasi Pho Ang-soat yang sedang melangkah masuk dengan pandangan serius, mimik muka mereka menunjukkan ketegangan yang luar biasa, seakan mereka memandang Pho Ang-soat bagai malaikat penyebar maut.

Bukan cuma orang-orang itu, bahkan Yap Kay yang selalu banyak bergurau dan banyak bicara pun kini sedang termenung seperti memikirkan suatu masalah berat. Dengan sorot mata yang tak kalah tajamnya Pho Ang-soat balas memandang wajah orang- orang itu, terakhir sorot matanya berhenti pada wajah Be Khong-cun yang masih duduk di ujung meja panjang.

Tak nampak perubahan di wajah Be Khong-cun, dia masih duduk dengan wajah hambar, bahkan sepasang matanya yang bersinar pun kini nampak redup. Perhatiannya tidak tertuju ke wajah Pho Ang-soat melainkan sedang mengawasi segumpal kain putih yang tergeletak di atas meja panjang persis di hadapannya.

Kini Pho Ang-soat baru tahu, ternyata gumpalan kain putih itu adalah tubuh manusia.

Kain putih itu penuh berlepotan darah, cairan darah yang membasahi masih nampak merah menyala, masih kelihatan basah dan belum mengering, menandakan tubuh orang itu belum lama digotong ke sana.

Tubuh orang itu sudah tidak bergerak sama sekali, kemungkinan besar telah mati, mati belum lama berselang. Siapakah orang itu?

Sekali lagi Pho Ang-soat mengalihkan sorot matanya ke wajah setiap orang yang hadir, Yap Kay, Kongsun Toan, Hoa Boan-thian, Buyung Bing-cu, Loh Loh-san... hampir semuanya hadir di situ, lalu siapakah manusia di balik balutan kain putih itu?

Semua orang duduk mengelilingi meja panjang, di hadapan mereka tersedia semangkuk bubur sayur, bubur panas yang masih mengepulkan asap putih, namun tak seorang pun yang menggerakkan sumpit untuk mulai bersantap.

Di tempat itu masih tersisa satu mangkuk bubur yang belum ada pemiliknya, perlahan Pho Ang-soat berjalan ke sana, mengambil tempat duduk, mengambil sumpit dan mulai bersantap.

Menunggu sampai dia selesai bersantap, dengan suara hambar Be Khong-cun baru berkata, "Selamat pagi!"

Tentu saja perkataan itu ditujukan kepada Pho Ang-soat, oleh karena itu Pho Ang-soat pun menyahut, "Saat ini sudah tidak pagi lagi!"

"Ya, memang sudah tidak pagi. Aku hanya ingin tahu, sebelum kentongan keempat lewat semalam, hampir setiap orang berada di dalam kamarnya, bagaimana dengan kau?"

"Aku tidak berada dalam kamar." "Kau pergi kemana?"

Pho Ang-soat mendongakkan kepala, memandang Be Khong-cun dengan pandangan dingin, lalu jengeknya sinis, "Memangnya aku wajib melaporkan keberadaanku kepada Sam- lopan?"

"Ya, harus," jawab Be Khong-cun kata demi kata.

"Kenapa?" "Demi manusia yang berbaring di atas meja." "Siapa orang itu?"

"Masa kau tidak tahu?" Be Khong-cun menatap tajam wajahnya. "Memangnya aku harus tahu?"

"Tentu saja, karena sejak kentongan keempat semalam, hanya kau yang tidak berada dalam kamar."

"Karena aku tak ada di kamar, maka aku harus tahu siapakah orang itu?"

"Sejak peristiwa pembunuhan yang terjadi semalam, baik Loh-siansing maupun Buyung- kongcu, Yap-kongcu serta beberapa orang lainnya, semuanya kembali ke kamar masing- masing untuk beristirahat, kehadiran mereka di kamar bisa dibuktikan" kata Be Khong-cun dengan sorot mata tajam, "sebaliknya kau? Sejak kentongan keempat semalam, kemana kau pergi? Siapa yang bisa membuktikan kehadiranmu?"

Ada satu orang yang bisa menjadi saksi, bahkan satu-satunya saksi yang mengetahui kemana Pho Ang-soat telah pergi, dia bukan lain adalah Yan Lam-hui yang telah bangkit dari matinya, tapi sayang orang itu sekali lagi telah menemui ajal di ujung goloknya.

Kini tak seorang pun yang bisa bertindak sebagai saksi.

"Tidak ada!" jawab Pho Ang-soat kemudian tenang. Mendadak Be Khong-cun tidak bertanya lagi, hawa membunuh segera terpancar dari balik matanya, lalu terdengar suara langkah kaki yang berat bergema dari belakang Pho Ang-soat. Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian sedang berjalan menghampirinya.

"Silakan Pho-heng!" kata Hoa Boan-thian dingin.

"Persilakan aku kemana?" "Silakan keluar."

"Tunggu sebentar," Yap Kay yang membungkam selama ini tiba-tiba berkata, "paling tidak sebelum dia keluar, berilah kesempatan kepadanya agar bisa melihat siapa yang berada di balik balutan kain putih itu."

"Tidak usah dilihat pun dia pasti tahu," jengek Hoa Boan-thian dingin.

"Sebelum masalah menjadi jelas, sebelum ada bukti yang pasti, atas dasar apa kau menuduh dialah pembunuhnya?" "Kecuali dia, siapa lagi

"Biarkan dia melihat," mendadak Be Khong-cun menukas.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Pho Ang-soat berjalan menghampiri ujung meja panjang, lalu pelan-pelan menyingkap kain putih bernoda darah itu.

Di balik balutan kain putih membujur kaku tubuh seseorang, tapi sayang, biarpun Pho Ang- soat telah menyingkap kain putih itu namun tidak tahu siapakah dia, sebab mayat itu tanpa kepala.

Bagaimana mungkin orang bisa mengenali sesosok mayat tanpa kepala? Pho Ang-soat hanya tahu, mayat itu adalah mayat seorang wanita, itu pun berdasarkan pakaian yang dikenakan.

"Dia tewas karena batok kepalanya dikutungi dengan golok," ujar Be Khong-cun dengan wajah pedih bercampur gusar, "tahukah dimana batok kepalanya sekarang?"

"Siapa dia?" tanya Pho Ang-soat.

"Dia adalah Be Hong-ling" kali ini Yap Kay yang menjawab. "Be Hong-ling?" Pho Ang-soat melengak.

"Sekali tebas batok kepala melayang, bukan saja harus dilakukan dengan golok yang tajam, dibutuhkan juga ilmu menebas yang luar biasa," kata Be Khong-cun lagi, "Pho Ang-soat wahai Pho Ang-soat, kau memang tak malu disebut Pho

Ang-soat!"

Perlahan-lahan Pho Ang-soat berhasil menenangkan diri, sikapnya tetap dingin, hambar bahkan seolah membawa nada mengejek.

"Atas kejadian ini, apakah kalian masih ingin mengucapkan sesuatu lagi?" tanya Be Khong-cun setelah menyapu sekejap wajah seluruh hadirin.

Tiada orang yang bicara lagi, tapi semua orang sedang menatap Pho Ang-soat, sinar mata mereka terpancar rasa sedih dan sayang. "Hanya ada sepatah kata saja," mendadak Pho Ang-soat berkata. "Katakan!"

"Bagaimana kalau Sam-lopan salah membunuh orang?"

"Kalau salah membunuh, kita bisa membunuh yang lain lagi."

Perlahan Pho Ang-soat manggut-manggut. "Masih ingin mengucapkan sesuatu lagi?" desak Be Khong-cun. "Tidak ada"

Panji besar Ban be tong berkibar kencang di bawah teriknya sinar matahari.

Saat itu banyak orang sedang berdiri di bawah teriknya sang surya.

Setelah Pho Ang-soat berjalan keluar meninggalkan ruangan, Hoa Boan-thian, Hun Cay-thian, Be Khong-cun serta para jago lainnya beruntun ikut keluar meninggalkan ruangan, tak seorang pun yang bersuara, suasana terasa hening dan sepi.

Anehnya, Kongsun Toan yang selama ini temperamental dan gampang mengumbar emosi ternyata tidak ikut, Yap Kay merasa heran.

Semenjak masih berada dalam ruangan, Kongsun Toan tak pernah berbicara, sepatah kata pun tidak, mengapa ia bersikap begitu?

Yap Kay merasa semakin tertarik hal ini, dia adalah orang terakhir yang meninggalkan gedung penerima tamu, tiba di bawah teriknya sang surya, dia pun menengadah sambil menarik napas panj ang.

"Udara hari ini sangat cerah dan segar," ujar Yap Kay kemudian sambil tersenyum, "dalam cuaca secerah dan sesegar ini, aku rasa tak seorang pun ingin mati."

"Sayangnya, terlepas udara cerah atau tidak, setiap orang bisa mati mendadak," Be Khong-cun menambahkan.

"Benar, memang tak salah perkataanmu itu," kembali Yap Kay menghela napas.

Be Khong-cun membalikkan badan, berhadapan dengan Pho Ang-soat, lalu tanyanya, "Selewat kentongan keempat semalam, sebenarnya kau pergi kemana?"

"Ke suatu tempat dimana tak ada manusia," sahut Pho Ang-soat hambar.

"Sayang, sayang!"

Tiba-tiba Hoa Boan-thian meluruskan tangannya ke bawah, menepuk pelan ikat pinggang kulitnya, "Cring!", sebilah pedang lemas yang terbuat dari baja putih segera tercabut dari sarungnya dan menjadi kaku dan lurus.

""Pedang bagus!" puji Yap Kay tanpa terasa. "Bagaimana kalau dibandingkan golok itu?"

ejek Hoa Boan-thian sambil melirik golok di tangan Pho Ang-soat. "Tergantung berada di tangan siapa golok itu," sahut Yap Kay sambil tertawa.

"Jika berada di tanganmu?" tanya Be Khong- cun tiba-tiba.

"Dalam genggamanku tak pernah ada golok, aku pun tak pernah memakai golok."

"Hanya menggunakan pisau terbang "

Nama besar Siau-li si pisau terbang memang bukan nama kosong.

Selama seratus tahun belakangan, tak pernah ada jagoan persilatan yang meragukan perkataan itu.

Yap Kay adalah satu-satunya ahli waris Li Sun- huan, tak seorang pun pernah memandang enteng pisau terbangnya.

"Mana pisau terbangmu?" tanya Be Khong-cun lagi.

"Ini pisauku."

Sepasang tangan Yap Kay yang semula kosong, entah sejak kapan dan entah berasal darimana, tahu-tahu sudah menggenggam sebilah pisau terbang.

Begitu pisau terbang berada dalam genggaman, sinar berkilauan pun memancar dari balik mata Yap Kay.

Tanpa sadar semua orang bersama-sama mundur selangkah, rasa hormat, takut dan ngeri terlintas di balik mata setiap jago. Cahaya pisau berkelebat, kembali pisau terbang itu lenyap dari pandangan mata,  sepasang tangan Yap Kay sudah kosong melompong.

"Aku tak suka membunuh orang menggunakan pisau terbang," ujar Yap Kay sambil tertawa, "sebab aku sangat menikmati suara tulang remuk, apalagi suara kulit disayat."

"Kau pernah mendengar suara ujung pedang yang sedang menembus kulit daging seseorang?" tanya Hoa Boan-thian.

"Belum pernah."

"Suara yang ditimbulkan pun sangat enak didengar" kata Hoa Boan-thian.

"Kapan kau akan mengundangku untuk menikmatinya?" "Sebentar lagi kau akan mendengarnya."

Hoa Boan-thian menggetarkan pedangnya, ujung senjata segera memancarkan cahaya yang menyilaukan mata.

Hun Cay-thian telah melolos pula pedangnya, ia bergeser menuju ke belakang Pho Ang-soat.

Menghadapi datangnya ancaman, Pho Ang-soat sama sekali bergeming, tangan kirinya pun tidak nampak menggenggam kencang goloknya, dia hanya berdiri di tempat dengan tenang, sorot matanya mengawasi pasir kuning di bawah kakinya.

Sikapnya yang begitu santai seolah-olah tak tahu Hoa Boan-thian sekalian sedang bersiap hendak membunuhnya, seakan-akan kejadian itu sama sekali tak ada sangkut-paut dengan dirinya.

Be Khong-cun pun tidak bergerak, meskipun sudah berdiri saling berhadapan dengan Pho Ang- soat, namun sinar matanya masih sering melirik ke arah Yap Kay.

Apakah dia kuatir Yap Kay ikut campur urusan ini dan membantu Pho Ang-soat? Atau kuatir Yap Kay melepas pisau terbangnya secara tiba-tiba?

Cerahnya sinar matahari fajar di pinggiran kota seakan secerah senyuman Yap Kay saat itu.

Sambil tersenyum ujar Yap Kay kepada Pho Ang-soat, "Pergilah dengan perasaan lega, pasti ada orang yang akan mengurus masalah akhirmu, aku pun tak akan lupa membawa beberapa poci arak wangi untuk menyambangi tanah kuburanmu."

Matahari memancarkan sinarnya semakin terik.

Hembusan angin kencang menerbangkan pasir kuning, sejauh mata memandang hanya warna emas yang menyelimuti angkasa.

Biarpun langit sangat cerah dan terang benderang, namun justru diliputi hawa membunuh yang menakutkan.

Di tempat itu meski kehidupan tiada hentinya tumbuh, namun setiap saat kehidupan itu mungkin bisa musnah. Kehidupan memang keras, ganas dan sama sekali tak berperasaan, siapa kuat dialah pemenang.

Hoa Boan-thian menggetarkan pedangnya, menciptakan lima kuntum bunga pedang, Pho Ang-soat masih tak bergerak, berdiri ketus di antara Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian, sikapnya yang begitu dingin ibarat bongkahan salju abadi yang tak pernah mencair.

Benar, sebongkah salju abadi yang tembus pandang!

Sekalipun sedang berdiri di tengah deru badai pasir dan teriknya matahari, dia masih berdiri tak bergerak, seakan gangguan itu sama sekali tak mempengaruhinya, walau ia berdiri di medan seperti apa pun, selalu berdiri kokoh bagaikan bongkaran salju abadi. 

Hun Cay-thian menggenggam kencang gagang pedangnya, gagang pedang yang semula dingin kini telah berubah jadi panas membara, butiran peluh telah membasahi telapak tangannya, mengucur dari jidatnya, seluruh tubuhnya seolah mulai terbakar di bawah teriknya matahari.

"Cabut golokmu!" bentakan Hun Cay-thian pun membara bagai jilatan api.

Pho Ang-soat  masih belum bergerak, biarpun  begitu otot-otot hijau pada lengan kirinya sudah mulai merongkol. "Cabut golokmu!"

Butiran peluh mulai bercucuran dari jidat Hoa Boan-thian, membasahi sudut matanya, membasahi batang hidungnya, membuat pakaian yang menempel punggungnya basah kuyup.

Apakah Pho Ang-soat tidak berpeluh?

Tangannya masih memegang sarung golok dalam posisi yang sama, hanya otot-otot hijaunya nampak semakin merongkol.

Tiba-tiba Hoa Boan-thian meraung keras, "Cabut golokmu!"

"Sekarang bukan saat yang tepat untuk mencabut golok," jawab Pho Ang-soat sangat hambar.

"Sekarang adalah saat paling tepat untuk mencabut golok," jerit Hoa Boan-thian lagi, "aku ingin melihat, apakah masih ada noda darah di mata golokmu?"

"Sayang golokku bukan barang pameran." "Apa yang harus kulakukan agar kau mau

melolos golokmu?" tanya Hun Cay-thian.

"Hanya ada satu alasan aku mencabut golokku." "Apa alasanmu? Membunuh?"

"Itu pun tergantung manusia macam apa yang harus kubunuh. Bagiku selamanya ada tiga jenis manusia yang pantas dibunuh." "Tiga jenis?"

"Musuh besarku, Siaujin "

"Manusia jenis apa lagi?" tukas Hun Cay-thian. "Yang ketiga adalah manusia macam kau,

memaksa aku untuk mencabut golok" jawab Pho Ang-soat sambil berpaling dan menatapnya dingin.

"Bagus, bagus sekali," Hun Cay-thian mendongakkan kepala sambil tertawa terbahak- bahak. "Aku memang sudah menunggu kata- katamu itu."

Belum habis suara gelak tawa itu, tangannya sudah menggenggam kencang.

Bunga pedang kembali memancar dari ujung pedang Hoa Boan-thian, garis merah bermunculan dari balik matanya.

Sinar mata yang terpancar dari mata Pho Ang- soat jauh lebih cemerlang, tampaknya dia memang sedang menunggu saat itu.

Detik terakhir sebelum dia melolos goloknya.

Pada saat itulah mendadak dari balik keheningan yang mencekam padang rumput berkumandang suara teriakan Kongsun Toan yang keras bagai suara geledek, "Toa-siocia telah kembali!"

"Toa-siocia telah kembali!"

Begitu mendengar teriakan itu, Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian segera menarik kembali serangannya, senyum kegembiraan pun menghiasi paras muka Be Khong-cun, muka yang semula masam kini tampak jauh lebih lega. "Heran, kenapa budak ini bukan pulang dari tadi atau nanti saja baru balik, kenapa dia justru pulang di saat seperti ini," gumam Be Khong-cun, kemudian tanpa berpaling lagi serunya kepada Hoa Boan-thian, "Tarik senjatamu, masuk."

"Tapi Pho Ang-soat...”

Tidak menunggu Hoa Boan-thian menyelesaikan kata-katanya, Be Khong-cun menukas, "Kalau Pho-kongcu ingin pergi, siapa yang dapat menghalanginya?"

Habis berkata, dengan langkah lebar Be Khong- cun balik kembali ke dalam gedung penerima tamu, tinggal Hoa Boan-thian yang masih mengawasi Pho Ang-soat dengan pandangan

ragu-ragu.

Pada saat inilah Yap Kay tertawa tergelak sambil berkata, "Hoa-tongcu, kau tak usah kuatir, sebelum urusan ini menjadi jelas, biar kau gotong dia memakai tandu besar pun belum tentu dia mau pergi dari sini."

Agak lega juga Hoa Boan thian setelah mendengar kata-katanya itu, sambil menyimpan kembali pedangnya, dia membalik badan dan bersama Hun Cay-thian masuk ke dalam ruangan.

Yap Kay bertanya, "Kalau Toa-siocia sudah balik, lalu siapakah Toa-siocia itu?"

"Toa-siocia adalah putri Lopan kami, Pek Thian- ih," jawab Hoa Boan-thian sambil tergelak, "dia bukan lain adalah Pek Ih-ling." "Oh, jadi dialah Pek-siocia yang sedang dicarikan calon istri oleh Sam-lopan," Yap Kay manggut-manggut.