Pendekar Aneh (Lie Tee Kie Eng) Jilid 11

Mode Malam
 
WAN JIE selama ini apakah kau terus masih mengarang syair? Aku menjadi memikir kejadian itu malam ketika kau hendak membunuh aku. Aku masih ingat syair yang kau buat malam itu. Ketika itu kau agaknya sangat membenci aku."

Wan Jie tertawa.

"Ketika itu aku sungguh-sungguh tidak tahu apa-apa,” bilangnya.

Bu Cek Thian juga tertawa.

"Aku tadi telah membuat syair untuk menjawab syairmu itu, Bunga Gubahan," katanya.

"Bunga gubahan bunga buatan manusia. Tapi, bukankah segala apa juga bikinan manusia? Syairku syair ‘Bersenandungkan bunga bie-toh.’ Kau dengar aku bacakan, lalu aku minta kau suka menggubahnya terlebih jauh."

Lantas dengan perlahan ratu ini bersenandung:

"Pohon bie-toh tanaman manusia.

Ikhtiar manusia memenangkan usaha Thian.

Rembulan menerangkan angkasa, kapan tiba waktunya, empat penjuru lautan menjadi merah.

Musim semi terang dan indah, dan musim rontok menggembirakan.

Berlaksa tahun hidup tegak, roda emas berbahagia tak habisnya.” Bu Cek Thian menjuluki diri "Kim Lun Hongtee," atau "Raja Roda Emas," maka itu syairnya ini memaksa manusia mengalahkan Thian.

Itu melulu suaranya seorang raja wanita. "Sungguh mulut besar!" kata Lie It di dalam hati.

Sementara itu Siangkoan Wan Jie memuji katanya: "Bagus, bagus! Bersemangat dan iramanya indah! Tidak dapat aku membuat syair demikian!"

Bu Hian Song tertawa, dia menanya: "Kouw-kouw, bagaimana bergembira kau malam ini! Kau sampai melupakan bahwa kau hendak memeriksa si pembunuh”

"Benar!" Wan Jie pun bilang.

"Kenapa Taylwee congkoan masih belum tiba?" Lie It terperanjat.

Segera ia ingat: "Jikalau aku tidak mengangkat kaki sekarang, sebentar sudah terlambat, aku bakal kena dipergoki mereka ”

Baru ia memikir demikian, atau bayangan tadi tampak tiba, terus dari atas wuwungan dia mengayun tangannya.

Maka terbanglah dua bilah hui-to ke dalam keraton itu!

Bukan main sebatnya orang itu, baru sesudah dia menimpuk dengan hui-to, Lie It mengenali dia.

Yalah si berewokan Lam-kiong Siang.

Ia tadinya mau menyangka Pek Goan Hoa. Ia tidak menduga kepada rekannya itu. Lantas di dalam keraton itu terdengar tertawa nyaring tetapi empuk. Siangkoan Wan Jie dengan sebelah tangannya menyambuti sebatang hui-to alias golok- terbang. (Di sini diartikan pisau-belati).

Selama di Kiam-Kok, nona ini telah mempelajari ilmu menyambuti senjata rahasia.

Sebenarnya ia hendak menangkap dua-duanya tetapi Bu Hian Song telah mendahului menyampok dengan tangan baju hingga hui-to itu mental balik, menancap di penglari.

Bu Hian Song pun berseru terkejut : "Ah, bukan dia!

Ini bukannya dia!"

Si berewokan itu mengerti gelagat.

Begitu ia ketahui bokongannya gagal, ia tahu di dalam keraton itu bersembunyi orang liehay, maka ia lantas melompat turun.

Hanya dalam sekejaban saja, di antara satu sinar putih terang, terlihat ia sudah bertempur sama seorang busu!

Lagi-lagi Lie It kena dibikin kaget saking herannya.

Busu yang merintangi dan menyerang si berewokan itu bukan lain orang daripada Pek Goan Hoa.

Entah dari mana dapatnya, Goan Hoa telah menggunai pedang sebagai senjatanya.

Begitu lekas sudah menempur Lam-kiong Siang empat atau lima jurus, Pek Goan Hoa berteriak nyaring: "Masih ada satu, yang bersembunyi di atas genting: Dia bernama Lie It! Dialah cucunya kaisar kerajaan Tong she Lie!" Sejenak itu Lie It insaf.

Nyata ia telah masuk dalam perangkap.

Terang selama ujian itu, Pek Goan Hoa membokong Lie Beng Cie untuk bersandiwara saja, untuk memancing ia mengeluarkan kepandaiannya, supaya ia pun mengenalkan dirinya kepada pembunuh palsu itu.

Sampai di situ, tanpa ayal lagi ia melompat turun.

Lam-kiong Siang berkelahi dengan sebatang golok di tangannya, dia berhasil mendesak Pek Goan Hoa main mundur, sambil mendesak itu, dia berseru: "Aku akan menghalang-halangi dia ini, lekas  kau  lari....!  Lekas  lari. !"

Tapi Lie It sudah melompat mencelat, ia tiba di samping Pek Goan Hoa, yang ia lantas tikam dengan jurusnya "Lie Kong memanah batu."

Pek Goan Hoa menangkis. Ketika kedua senjata bentrok, pedangnya kena dibabat kutung. Ia liehay, ketika ia diserang untuk ke-dua kalinya, ia masih dapat menangkis dengan pedang buntungnya, pedang mana kemudian dipakai menangkis juga goloknya Lam-kiong Siang.

Lie It tidak mempunyai napsu untuk bertempur terus. "Mari kita pergi!" kata ia pada Lam-kiong Siang, yang

ia tarik ujung bajunya.

Pek Goan Hoa mendengar suara itu, dia tertawa lebar dan berkata: "Jangan mimpi! Di sini telah dipasang jaring langit dan jala bumi! Baiklah baik-baik saja kamu berdiam di sini!" Lie It tidak memperdulikannya. Lagi dua kali ia menyerang hebat.

Dua-dua kalinya Goan Hoa dapat menghindarkan diri. Sambil berseru bengis, Lie It melompat lari.

Dia menyerukan: "Mati siapa menghadang aku! Hidup siapa minggir!"

Tapi mendadak terdengar sambutan tertawa besar dan kata-kata nyaring: "Sungguh jumawa! Aku justeru hendak menghalangi kau!"

Suara itu disusul sama berkelebat munculnya satu bayangan, yang segera dapat dikenali sebagai satu di antara tiga jago Sin Bu Eng, yalah Cin Tam yang pandai meraup-menggulung tepung kacang dengan kain benderanya.

Pula dia mempunyai senjata yang luar biasa, yaitu bendera panjang tiga kaki dengan gagangnya kuningan, karena mana, ujungnya itu dapat digunai sebagai poankoanpit atau tombak, sedang benderanya sendiri, bendera itu sebenarnya ada sulaman atau anyaman kawat daripada emas putih, hingga bendera istimewa itu tidak takut pedang yang tajam.

---o^DewiKZ^0^TAH^o---

Lie It tidak memikir lain. Ia maju terus.

"Minggir!" serunya seraya ia menikam ke tenggorokan. "Diam kau di sini!" Cin Tam pun membentak. Dia tertawa dingin, dia tidak takuti ancaman pedang.

Dengan benderanya dia menyampok serangan, terus dia mencoba menggulung.

Lie It menarik pulang pedang-nya. Ia terkejut.

Dengan mengandalkan ringannya tubuh, ia melawan terus. Tiga kali ia menikam saling-susul.

Cin Tam tidak mau mundur.

Setiap kalinya dia menangkis seraya mencoba menggulung pedang lawan.

Pedang itu tidak berdaya asal kena disampok bendera. Maka itu, kekuatan mereka jadi berimbang.

Pedang tidak dapat membabat bendera, bendera tidak bisa menggulung pedang. Demikian mereka bertempur hingga kira-kira duapuluh jurus.

Di samping Lie It, Lam-kiong Siang juga lagi bertarung terus.

Bahkan rekan itu dirintangi oleh seorang wiesu lain, hingga dia tidak sanggup lekas-lekas meloloskan diri.

Wiesu itu yalah orang ke-dua dari ketiga wiesu yang liehay, dialah yang di waktu ujian mencabuti sisa pelatok, yang bernama Thio Teng, yang bersenjata sebatang Ceebie-kun, toya panjang sebatas alis. Dia bertenaga besar, toyanya menjadi berat sekali. Anginnya toya itu menderu-deru.

Lam-kiong Siang liehay ilmu goloknya tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Bahkan di lain saat terdengar ia menjerit, lantaran ujung toya Thio Teng mampir di tulang keringnya hingga ia sempoyongan.

Lantas Thio Teng tertawa dan kata nyaring: "Pek Goan Hoa, pembunuh ini aku serahkan padamu!"

Setelah itu ia mengundurkan diri, untuk membantui Cin Tam mengepung Lie It!

Segera juga terjadi perubahan.

Melayani Cin Tam seorang, Lie It ada sama unggulnya. Dikepung berdua, ia lantas mulai terdesak.

Toya itu berat tujuh-puluh-dua kati dan pedang tidak dapat menggempurnya, sering kedua senjata bentrok nyaring, hasilnya untuk Lie It tidak ada.

Dia bahkan repot karena bendera selalu berkibar berkelebatan. Lantas dia cuma dapat main menangkis.

Lam-kiong Siang didesak Pek Goan Hoa sendiri. Untuk menolong diri, tiba-tiba ia menerbangkan goloknya.

Goan Hoa tidak menyangka, pundaknya kena dilukai.

Justeru itu, musuhnya itu lompat mencelat, untuk lari nelusup masuk ke pohon-pohon yang lebat.

Thio Teng melihat kaburnya si pembunuh, ia menjadi bersangsi baik ia membantui pula Goan Hoa, untuk mengejar si pembunuh, atau ia tetap membantui Cin Tam membekuk Lie It.

Tengah orang bersangsi itu, Lie It menyerang dengan dahsyat sekali.

Ia berlaku nekat, pedangnya menikam ke arah wiesu itu hingga mengenakan sasarannya. Meski begitu, ia hendak menyingkir terus.

Justeru itu, Cin Tam menotok dadanya. Ia melihatnya, ia lantas berkelit.

Masih ia terlambat sedikit, ujung bajunya kena tersobek.

"Jangan perdulikan jahanam itu! Inilah dia si penjahat besar!" Cin Tam berseru.

Thio Teng terluka tetapi tidak parah, ia menjadi  sangat gusar, maka itu, walaupun tidak ada seruan Cin Tam, ingin ia menuntut balas.

Sekarang ia nampak semakin garang.

Dengan toyanya ia lantas mendesak, hingga Lie It kena terpukul mundur, hampir dia tidak dapat berdiri terus.

Dalam keadaan seperti itu, Lie It menjadi putus-asa berbareng nekat.

Ia insaf bahwa ia sukar lolos.

Ia tidak sudi menyerah meski ia tahu, lama-lama ia bisa susah.

Dalam putus-asa itu ia mengertak gigi.

Mendadak ia melompat tinggi, selagi turun, ia menyerang.

Itulah jurusnya "Bima Sakti menggantung."

Cin Tam mengetahui pukulan mati-matian itu, dia lantas berseru, benderanya dipakai menutup diri. Toh ia merasa kewalahan. Thio Teng sendiri sudah lantas mundur, sedang matanya dibikin silau dengan berkelebatannya sinar pedang yang dibulangbalingkan.

Meski begitu, dia gagal.

Tahu-tahu ujung pedang telah mengenai pahanya, saking sakitnya, tubuhnya roboh, toyanya dilemparkan.

Thio Teng wiesu nomor satu, walaupun dia roboh terluka, dia tidak mau menyerah dengan begitu saja.

Demikian sambil roboh itu, ia menyerang dengan toyanya, yang dibikin terputar.

Lie It melompat, dia melihat datangnya toya, dia mengangkat kakinya, untuk menjejak, tetapi toya menyerang keras, ujung kakinya yang belakang kena terbentur dan mendatangkan rasa sakit yang sangat.

Ketika itu, Cin Tam pun maju menyerang dengan benderanya, menikam ke arah perut.

"Tahan!" sekonyong-konyong terdengar jeritan cegahan, jeritan itu nyaring dan tajam. Itulah suara seorang wanita.

Lie It masih dapat mempertahankan diri, untuk berdiri terus, akan tetapi hatinya goncang.

Ia mengenali suara wanita itu.

Ia lantas melihat dua orang nona berlari berendeng menghampirkan padanya, ke-dua2nya sambil tertawa.

Yang berseru itu Siangkoan Wan Jie, dan yang lainnya Bu Hian Song.

Ringan tubuh mereka itu, dengan lantas mereka telah datang dekat sejarak tiga tombak. "Lie Kongcu, kami sengaja menantikan kau!" kata Nona Bu.

"Sudah lama kami menantikannya!" Lie It melengak.

Hanya sejenak, ia mengangkat pedangnya, untuk ditikamkan kepada lehernya sendiri!

Bu Hian Song seperti sudah menduga itu, tangannya segera diayun, maka kim-piauw, yalah piauw emasnya, lantas meluncur, menyerang ujung pedang, hingga pedang itu meleset dari sasarannya.

Sambil menimpuk, ia kata dengan dingin: "Seorang pria, seorang laki-laki, adakah dia begini tak berguna?"

Siangkoan Wan Jie maju dua tindak.

"Engko Lie It, mari kau turut kami pulang," ia berkata, perlahan, halus.

Lie It mengertak gigi.

"Jikalau kau maju lagi tiga tindak, akan aku bunuh diri!" ia mengancam.

"Umpamakata aku tidak lantas mati, tetapi hatiku sudah mati lebih dulu! Kamu tidak dapat mencegah tubuhku terbinasa!"

Mukanya Wan Jie menjadi pucat, airmatanya pun mengembeng.

"Engko Lie It, kenapa kau berbuat begini?" katanya perlahan.

"Kau tahu, aku mengerti kau! Maukah kau mendengar perkataanku?" Sekian lama Lie It berdahaga menemui Siangkoan Wan Jie, untuk bersama-sama mengutarakan rasa-hati mereka, akan tetapi sekarang, sesudah tadi ia mendengar si nona membacakan maklumatnya Lok Pin Ong, ia merasa Wan Jie seperti telah berpisah sangat jauh dari ianya, demikian jauh hingga mereka bagaikan orang asing satu dari lain.

Ia seperti mengerti si nona tetapi berbareng seperti tidak mengerti juga.

Maka sekarang, biarnya ia mempunyai ribuan kata- kata, tidak dapat ia mengeluarkannya.

"Engko Lie It, sebenarnya Thian Houw tidak bermaksud jahat terhadap dirimu," kata pula Wan Jie.

Mendadak mata Lie It mendelik.

"Jangan bicara pula!" ia berseru. "Pergi kau menjadi menteri wanita! Jangan kau perdulikan aku lagi! Aku tidak sudi melihat kau datang kepadaku sebagai si orang perantara tukang membujuk!"

Mukanya Wan Jie dari pucat menjadi guram, ia merapatkan kedua bibirnya, airmatanya mengembeng terus.

la seperti tidak dapat membuka mulutnya. Lantas Bu Hian Song datang sama tengah.

"Kau telah tiba di kota raja," katanya, tenang. "Segala keadaan di sini kau telah melihat dengan matamu sendiri. Apakah kau masih tetap tidak puas?"

Sakit rasa hatinya Lie It.

Ia memandangi kedua nona itu. Mereka pun mengawasi padanya.

Dengan menguati hati, ia melengos, untuk menyingkir dari pandangan mata mereka itu.

"Sekarang ini aku telah berada di dalam tangan kamu," ia berkata, dingin. "Baiklah, ke mari kamu! Bukankah kamu hendak menawan aku untuk dihadapkan kepada Thian Houw kamu?"

Siangkoan Wan Jie menghela napas.

"Jikalau kau tidak sudi berdiam di sini, kau pergilah," katanya perlahan. "Semoga di lain waktu kita dapat bertemu muka pula"

Bu Hian Song mengibaskan tangannya.

Cin Tam dan Thio Teng mundur ke kiri dan kanan, untuk membuka jalan.

Lie It mencoba menahan goncangnya hatinya.

"Hian Song, aku menghaturkan banyak terima kasih yang kali ini kau melepaskan pula padaku," katanya tawar. "Tapi aku tidak dapat membalas budimu. Wan Jie, aku menyesal yang aku telah bertemu denganmu. Mulai hari ini, aku harap kau menganggap saja bahwa di dalam dunia ini, tidak ada orang semacam aku, dan aku pun akan memandang kau seperti sudah mati. Dalam hidup kita sekarang ini, di ini jaman, aku dan kau berpisah jalan, bagaikan mega dan lumpur, dan kau juga jangan kau mengharap untuk bertemu pula denganku."

Siangkoan Wan Jie memutar mukanya, mendadak ia menjerit, menangis dengan perlahan.

Ia tahu, kecuali ia turut pergi bersama, tidak nanti ia dapat bertemu pula sama engko Lie It itu. Maka itu, ia menjadi bingung sekali.

Di akhirnya, ia mengambil putusan akan tidak mengikut.

Ketika ia memutar pula tubuhnya, Lie It sudah tidak ada.

Justeru itu waktu,  di udara  nampak  cahaya api berkelebat.

Menampak itu, Hian Song melengak, hingga ia merabah gagang pedangnya.

Cin Tam bersama Thio Teng sudah lantas lari pergi. "Wan Jie, pergi kau beristirahat," ia kata pada

kawannya. "Aku hendak pergi tetapi aku akan segera kembali."

Api itu berkelebat sebentar, lantas lenyap.

Wan Jie pun tidak memperhatikan itu, tetapi melihat Hian Song mau lari dengan tangannya mencabut pedang, ia menarik ujung tangan baju orang, katanya: "Encie, bukankah Thian How telah bilang, dia mau pergi atau berdiam di sini, kita tidak dapat memaksa dia? Aku tahu tabiatnya, maka itu jangan kau memaksa dia. Biarlah dia dikasi hidup! "

Bu Hian Song tertawa, ia mengibas tangan bajunya. "Aku bukan hendak mengejar dia, aku hendak

mengantar dan melindungi dia pergi barang serintasan," katanya.

"Pergilah kau pulang." Wan Jie heran. Ia menganggapnya Hian Song aneh sekali. Tertawanya si nona bukan seperti tertawa bikinan.

Pada saat tertawa itu seperti tersimpan rasa sepi dan kuatir.

Tengah ia menduga-duga, si nona sudah berlari pergi, menyusul Cin Tam dan Thio Teng ke belakang gunung.

---o^DewiKZ^0^TAH^o---

BAGIAN belakang dari istana raja yalah gunung Lie San.

Pada masanya Kaisar Cin Sie Hong, di sana pernah dibangun A Pong Kiong, atau istana A Pong.

Kemudian istana itu dibakar ludas oleh Hang Ie.

Ketika kerajaan Tong membangun kota raja di kota Tiang-an, di atas gunung Lie San itu didirikan juga beberapa istana, hanya jauh beda daripada istana  A Pong itu, banyak tempat di sekitarnya yang masih kosong.

Lie It justeru lari ke gunung itu, untuk kabur dari bagian belakangnya.

Ketika ia tiba di tempat di mana istana A Pong, pernah berdiri, hatinya berduka sekali.

Ia melihat kelilingan, ia mendapatkan cuma rembulan sisir yang kesepian. Karena ia menyingkir terus, ia sekarang tak melihat lagi istana, yang telah ditinggal pergi jauh di sebelah belakangnya.

Ia menghela napas, lantas ia bertindak perlahan-lahan turun dan gunung itu.

Ia berjalan belum jauh atau kupingnya lantas mendengar suara bentrokan senjata, tanda dari pertempuran. Ia menjadi terkejut.

Ia pun segera melihat dua orang bagaikan bayangan yang lagi berlari-lari seperti terbang mendatangi kearahnya.

Lantas juga tampak nyata, orang yang berada di sebelah depan itu tubuhnya kekar, tangannya memainkan sebatang cambuk yang panjang.

Terpisahnya mereka masih ada belasan tombak tetapi suara cambuknya itu sudah menderu-deru.

Yang heran, melihat gerak-geriknya, dia bagaikan binatang liar yang terluka dan mogok.

Sembari menggeraki cambuknya itu, dia juga mengasi dengar seruan-seruan dahsyat.

Sekarang Lie It mengenali orang itu - orang lihay nomor satu dalam Sin Bu Eng.

Dialah See-bun Pa. Hanya di waktu ujian calon wiesu Sin Bu Eng, dia tidak muncul.

Dialah yang bersama Cin Tam dan Thio Teng yang disebut Sin Bu Eng Sam Toa-kho-ciu - tiga orang liehay dari tangsi Sin Bu Eng. Bahkan Cin Tam dan Thio Teng termasuk sebawahannya.

Kalau diingat ia sama tangguhnya dengan Cin Tam, bisa dimengerti liehaynya orang she See-bun ini.

Lantas Lie It berpikir pula: "Rupanya orang telah mengatur rencana, untuk menawan aku. Mereka melepaskannya dulu, lantas di sini mereka menyembunyikan orang mereka yang terliehay.  Hm.     !

Hm.....! Bu Cek Thian sangat licik, sampaipun Siangkoan Wan Jie kena dia abui! Mungkin Bu Cek Thian menghendaki Siangkoan Wan Jie terus bersetia kepadanya, untuk membikin Wan Jie tidak bersusah hati, dia sengaja tidak mau mencelakai aku di depan nona itu

..........."

Oleh karena memikir begitu, Lie It menjadi nekat, maka bukan dia lantas lari menyingkir, dia sengaja maju untuk memapaki jago Sin Bu Eng itu.

Tepat di saat ia maju, di belakangnya ia mendengar teriakan Bu Hian Song: "Lie Kongcu, lekas balik!"

Suara itu seperti mengambang di tengah udara, nadanya menggetar, tanda dari hati tak tenang atau berkuatir sangat.

Ia menjadi terkesiap hatinya.

Segera ia memikir: "Mereka menggunai siasat lunak dan keras terhadap aku, maksudnya tak lain tak bukan, untuk aku dapat dipaksa kembali! Akulah seorang laki- laki sejati, mana dapat aku bertekuk lutut kepada musuh hingga aku mesti menerima penghinaan?"

Ia menjadi nekat. Belum ia berhenti berpikir, ia sudah lantas mendengar tindakan kaki berlari-lari dari Bu Hian Song.

Di lain pihak lagi, cambuknya See-bun Pa sudah sampai di depannya.

"Tahan!" Hian Song berteriak di saat Lie It berdiri di atas jurang.

Sia-sia belaka cegahan itu, tubuhnya Lie It sudah bergerak bagaikan terbang ke dalam jurang yang dalamnya seratus tombak itu!

Bukan main kagetnya Bu Hian Song. Inilah ia tidak menyangka.

Ia pun hampir saja terguling ke-dalam jurang karena mendadak ia merasakan kepalanya pusing, dunia seperti berputar.

Masih terjadi peristiwa lainnya yang hebat.

Dalam Hian Song kacau pikirannya itu, ada bayangan yang lompat melewati atasan kepalanya See-bun Pa, lalu sebuah senjata yang hitam menimpa ke arah kepalanya si nona.

See-bun Pa melihat itu, ia mencoba-menangkis dengan cambuknya seraya ia berseru: "Nona Bu, lekas membantui aku!"

Hian Song bagaikan sadar.

Ia melihat seorang tosu, atau imam, berjubah hijau, yang tangannya mencekal hud-tim, atau kebutan.

Dengan kebutannya itu, imam itu dengan gampang menangkis cambuk See-bun Pa. Samberan angin cambuk itu rasanya tajam. Cambuk itu terus menyamber ke arah si nona.

Walaupun pikirannya tengah terganggu, sebab kaget berduka dan berkuatir, Hian Song dapat seperti wajar saja menghindari diri dari bahayanya senjata si imam.

Habis menyerang itu, si imam tertawa terbahak. "Apakah kau si budak Bu Hian Song?" dia menegur.

"Ha...ha...? Aku justeru lagi mencari kau! Kau mempunyai kepandaian apa maka kau berani mencelakai muridku?"

Nyata sekarang imam ini yalah Thian Ok Tojin.

Ketika itu hari dia dikalahkan Kim Cian Kok-ciu Hee- houw Kian dalam satu pertandingan, dia berniat pulang ke gunung Kun Lun San untuk meyakinkan lebih jauh ilmu silatnya, tetapi dia kena dibujuki dan dibikin panas hatinya oleh kedua muridnya, Ok Heng Cia dan Tok Sian Lie hingga bersama kedua murid itu dia pergi ke kota Tiang-an untuk menolongi Pwee Yam dari dalam penjara sekalian untuk mencari Bu Hian Song guna mencoba kepandaiannya si nona.

Guru dan murid-muridnya itu, bertiga, mendaki gunung dari arah-utara.

Mereka ingin dengan diam-diam masuk ke dalam istana dari selatan gunung Lie San itu, untuk menyelundup lebih jauh ke dalam istana, ke keratonnya ratu.

Apamau di gunung itu ada See-bun Pa yang menjaga, imam itu kena dipergoki.

Dengan lantas keduanya bertempur. See-bun Pa gagah tetapi dia kalah, dari itu dia lantas melepaskan sebatang coa-yam-cian, yalah panah-ular- berapi, hingga cahaya apinya berkelebat di udara.

Itulah tanda atau isyarat ada bahaya, untuk minta bantuan.

Hian Song mengenali isyarat dari See-bun Pa itu,  maka ia kaget dan lantas pergi menyusul.

Karena ia melihat Lie It, ia teriaki pemuda itu. Sebaliknya Lie It menyangka si nona dititahkan Bu Cek

Thian untuk menawan dia, karena malu dan mendongkol, dia membuang diri ke dalam jurang.

Di dalam kalangan sesat, Thian Ok Tojin menjadi salah satu orang yang terlihay, yang jarang tandingannya.

Hian Song belum pernah bertemu imam itu tetapi dari gurunya pernah ia mendengarnya, sekarang terpaksa ia melayani bertempur.

Tentu sekali maksudnya mencari Lie It menjadi terhalang.

Ia tidak tahu Lie It mati atau hidup, hatinya tidak tenang, sebab itu, beberapa kali ia hampir terkebut kebutan (hudtim) si imam.

Selang sesaat barulah ia bertempur dengan sungguh- sungguh, karena ia mengerti ia terancam bahaya.

See-bun Pa maju, untuk membantu mengepung. Thian Ok Tojin tertawa berkakak.

"Kau tahu, kau telah terkena pukulanku Hu-kut Sin- ciang!" kata imam itu. "Dengan kekuatan tubuhmu, jikalau kau lekas-lekas pulang untuk mengobatinya, mungkin kau bakal dapat menolong jiwamu, maka itu, kenapa kau justeru mengantarkan diri?"

See-bun Pa gusar.

Dia berteriak: "Lihat saja, lain tahun dihari seperti ini, hari itu hari satu tahun siapakah?"

Seumurnya See-bun Pa belum pernah dikalahkan orang, kali ini dia telah terkena pukulan tangan beracun dari si imam.

Dia percaya, dengan bantuan tenaga dalamnya dengan telah menutup diri, di dalam tempo satu jam, dia tidak bakal mendapat bahaya, maka menuruti hawa- amarahnya, hendak dia menuntut balas terlebih dahulu.

Akan tetapi Thian Ok Tojin benar-benar liehay, dikepung berdua, dia dapat berkelahi dengan leluasa.

Cambuk Hong-liong-pian dari See-bun Pa liehay, tetapi kalau dia diserang cambuk, dia dapat menyingkir terlebih dulu, atau cukup dengan mendak, pundaknya bebas dari cambukan.

Benar cambuk itu panjangnya satu tombak lebih toh tubuh si imam seperti tak dapat dicapai.

Berkelahi terlebih jauh, kebutannya Thian Ok menyamber ke walikat See-bun Pa ke jalan darah hong- hu-hiat.

Selagi si imam menyerang, si nona membarengi menyerang padanya.

Dengan jurus "Giok-lie coan ciam," atau "Bidadari menusuk jarum," Bu Hian Song mengarah jalan darah jie-khie-hiat imam itu. Karena dia lagi menyerang jago Sin Bu Eng, iga Thian Ok terbuka.

Seharusnya pedang si nona mengenai sasarannya.

Gurunya Ok Heng Cia dan Tok Sian Lie benar-benar liehay.

Dia masih sempat mengegos tubuh, cuma sedikit, toh dia bebas.

Di lain pihak, dengan kebutannya, dia menangkis, menangkis sambil terus menyerang.

Hian Song terkejut. Pedangnya tersamber, hendak dililit.

Untuk menolong pedangnya itu, ia teruskan meluncurkan ke depan, guna mengikuti ketika siimam menarik cambuknya.

Dengan begitu, ia seperti meminjam tenaga si imam.

Ketika itu See-bun Pa, yang ketolongan, telah membalas menyerang juga, cambuknya menyabet saling- susul tiga kali.

Untuk menolong diri Thian Ok, yang telah melepaskan pedang si nona - lompat berjumpalitan dalam jurusnya "Yan-cee coan-in," atau "Burung walet menembuskan mega."

Ia lompat tinggi. Ketika ia mau turun, kebutannya menyabet menghalau cambuk dan pedang lawannya.

Gebrakan kali ini membuatnya mereka bertiga sama- sama kaget.

Serangan mereka sama-sama berbahaya, diri mereka pun sama-sama terancam bahaya hebat. Thian Ok heran atas kegagahan si nona, yang ia terka umurnya baru lebih-kurang duapuluh tahun.

Tapi yang membuatnya jeri yalah apabila ia sudah mengenali ilmu silat pedang nona itu.

Ia ingat kepada ilmu silatnya seorang tertua Rimba Persilatan yang ia kenal.

Ia berkepala besar, ia tidak takuti siapa juga kecuali tertua itu!

Tengah hebatnya mereka bertiga mengadu jiwa, Bu Hian Song menangkap jeritan tajam dan menyayatkan dari dalam lembah.

Ia kaget, ia menyangka jeritan putus jiwa dari Lie It.

Tapi ia pun melihat Thian Ok Tojin turut kaget, bahkan si imam lantas menahan kebutannya di depan dadanya, bukannya dia bersiap untuk menyerang, hanya dia mau bersiaga, seperti dia takut diserang si nona.

Sekejap itu, Hian Song ingat kebalikannya.

Lie It sudah jatuh sekian lama, tak mungkin dia baru bersuara andaikata dia jatuh ke jurang dengan tidak lantas mati.

Thian Ok Tojin sebaliknya terkejut lantaran ia mengenali suara muridnya, Ok Heng Cia, sebab ia tahu betul, muridnya itu bersama Tok Sian Lie berada di lembah sebagai mata-mata.

Ia menjadi bingung.

Ia menduga-duga: "Apa mungkin mereka bertemu sama orang liehay?" Karena pikirannya kacau, meski ia lebih tangguh, Thian Ok kena didesak Bu Hian Song dan See-bun Pa.

Beberapa kali ia terancam cambukan atau tikaman pedang, hingga suasana menjadi berubah, si imam menjadi jatuh di bawah angin.

Adalah di saat seperti itu, Cin Tam bersama Thio Teng dapat menyandak.

Thio Teng bangsa sembrono, segera dia maju lebih jauh, untuk menyerang dengan toya kuningannya seraya mulutnya mendamprat: "Imam busuk dari mana berani datang ke gunung Lie San untuk berlaku kurang ajar?"

Dengan jurus "Kim-kong hang-mo," atau "Kimkong menaklukan siluman," dia menyerang ke dada.

Thian Ok Tojin menutup diri dengan sebelah tangannya, ketika toya sampai, ia menyambuti dengan tangan kiri, ia menyamber ujung toya, untuk di-cekal keras. Thio Teng kaget, dia mengerahkan tenaganya yang kuat, guna menarik pulang toyanya tetapi dia tidak berdaya.

Si imam sebaliknya bekerja terus, tangan kirinya diputar, maka toya kuningan itu, yang dipertahankan pemiliknya, menjadi melengkung.

See-bun Pa lantas menyerang.

"Baik, kau hajarlah!" berseru Thian Ok, yang lantas mengerahkan tenaganya, menyambar toya musuh, hingga tubuh Thio Teng kena terbawa, terlempar kearah kawannya. See-bun Pa kaget, dia berkelit sambil menarik pulang cambuknya, kalau tidak, pasti dia bakal menghajar kawannya sendiri.

Ia mau menyamber tetapi tidak keburu.

Karena tidak ada yang menghalangi, tubuh Thio Teng terlempar terus hingga membentur batu gunung di dekat mereka, hingga kepalanya pecah terbelah hancur

berantakan.

Bu Hian Song kaget berbareng gusar sekali, ia menyerang dengan hebat, dua kali beruntun, masing- masing dengan jurus-jurusnya "Bintang terbang" dan "Kuda liar kabur di sawah." Sasarannya yalah mata dan pusar si imam.

Juga See-bun Pa maju menggencet, menyamber ke bawah.

Thian Ok Tojin membebaskan diri.

Ia melihat orang menjadi nekat, ia tidak berani memandang enteng.

Ia lantas menutup diri dengan saban-saban mengebut setiap serangan.

Ia menggunai tipusilatnya, "In-heng Cin Nia," yalah "Mega melintang di alas gunung Cin Nia"

Ia bagaikan telah membeber jaring. Tetapi mendadak ia kaget.

Tahu-tahu kebutannya kena tersampok, hingga ia membuka lowongan tanpa disengaja. Bu Hian Song penasaran, ia menyerang dengan jurus "Pek-hong-koan-jit," atau "Bianglala putih menutup langit."

Mendadak saja pedangnya meluncur masuk. Si imam kaget, dia lantas berkelit.

Syukur untuknya, cuma ujung tangan baju dari jubahnya yang kena terpapas.

Tapi kegagalannya Thian Ok ini pun disebabkan Cin Tam yang maju untuk membantui See-bun Pa.

Di dalam ilmusilat, Cin Tam cuma kalah sedikit dari See-bun Pa.

Disamping itu, dia cerdik sekali, matanya tajam. Begitulah dia bisa melihat pembelaan diri dari Thian

Ok Tojin.

Dia bersenjatakan bendera, yang terbuat dari kawat.

Itulah senjata peranti menunduki senjata lunak seperti kebutan.

Dia menunggu ketika, lantas dia monyerang secara tiba-tiba.

Thian Ok menangkis, ia bebas, tapi ia membuat lowongan, maka ia kena dibarengi Nona Bu!

Selanjutnya, nona itu bertiga mengepung imam liehay itu.

Hebat jalannya pertempuran.

Bendera berkibar-kibar, pedang berkelebatan sinarnya. Cambuk pun bagaikan me-lilit2. Walaupun dia liehay, Thian Ok toh kena dibikin tidak dapat berbuat banyak dengan kebutannya itu.

Di saat pertempuran berlangsung itu, disana tampak satu bayangan lain mendatangi.

Dengan cepat bayangan itu mendekati, lalu terdengar suaranya yang tajam: "Encie Hian Song......! Encie Hian Song , kau lagi bertempur sama siapa?"

Suara itu tidak lancar dan sedikit ber-getar juga.

Itulah suaranya Siangkoan Wan Jie, yang hatinya berdebaran, tanda dari kegelisahan atau kekuatirannya.

Thian Ok Tojin mendengar suara orang itu, dia menjadi bergelisah sendirinya.

Terutama dia heran kenapa dua muridnya masih, juga belum muncul, hingga dia berpikir.

"Aku tidak menyangka di dalam istana ada begini banyak orang liehay. Jikalau aku tidak mengangkat kaki siang-siang, mungkin aku susah ”

Maka lantas ia menyerang Hian Song, sambil menyerang ia melompat maju.

Si nona menangkis sambil berkelit. Tapi si imam hanya menggertak.

Begitu nona itu berkelit, ia berlompat ke arah Cin Tam, untuk menyerang jalan darah wiasu itu.

Cin Tam pun berkelit seraya dia mengibas dengan benderanya, untuk menghalau serangan, lalu dia meneruskan merabu ke kaki. Thian Ok menggunai siasat, maka itu justeru ia diserang lagi terus merlompat, dan belum lagi Cin Tam atau lainnya menyerang pula, ia sudah melompat terus, untuk kabur dari hadapannya ketiga musuh itu, hanya selagi mau kabur, ia menyerang See-bun Pa yang menghadang di depannya.

See-bun Pa menangkis dengan cambuknya, maka cambuk dan kebutan kebentrok, terus cambuk itu menyambar, hingga tubuhnya si imam terlempar ke bawah gunung!

Dan itu artinya, dia lolos dari kepungan! See-bun Pa tertawa bergelak.

"Biarnya aku mengorbankan sebelah lenganku, aku toh berhasil menghajar kau dengan cambukku!" katanya, tetapi suara tertawanya yalah tertawa yang menyedihkan.

Bu Hian Song terkejut, ia lantas memandang wiesu  itu, maka ia mendapat lihat sebelah tangan orang hitam- legam bagaikan arang.

Dan belum lagi Cin Tam dapat menghalangi, dengan golok di pinggangnya, See-bun pa telah membabat kutung lengannya itu!

See-bun Pa terhajar tangan liehay dari Thian Ok Tojin, berkat kekuatan tenaga-dalamnya, dia mempertahankan diri hingga racun tidak menjalar ke tubuhnya, bahkan dia menolaknya itu hingga racun berkumpul di telapakan tangannya.

Barusan dia berkelahi hebat, racun itu mengalir naik pula, tenaganya yang berkurang tidak dapat mencegah lagi, dari itu, insaf bahwa dia tidak bakal ketolongan, dia nekat mengutungi tangannya itu, guna menolong jiwanya.

Siangkoan Wan Jie tiba, ia terkejut melihat keadaannya See-bun Pa itu.

See-bun Pa lantas memondong mayatnya Thio Teng, sembari tertawa sedih dia beitata: "Nona Bu, untuk sakit hatinya saudara-angkatku ini, selanjutnya aku cuma mengandal kepada bantuanmu. Cin Tam, pergi kau menemani Nona Bu mencari orang jahat itu!"

"Pergi kau pulang dengan tenang, untuk mengobati lukamu," kata Hian Song. "Andaikata aku tidak dapat membalaskan untukmu, lain kali mesti ada lain orang yang membalaskannya!"

"Asal gurumu suka datang, nona, aku tentu merasa lega sekali," kata See-bun Pa.

Lantas dia bertindak pergi bersama mayatnya Thio Teng.

Dengan muka pucat, Siangkoan Wan Jie mengawasi kepergiannya wiesu liehay itu, yang hatinya keras dan tubuhnya tangguh.

"Dia sudah pergi, Thio Teng bukanlah ia yang membinasakannya," Bu Hian Song berkata perlahan pada kawannya.

Mendengar itu, lega hati Wan Jie.

"Dia telah pergi?" akhirnya dia tanya. "Kau tidak menyusul dia? Dia ada meninggalkan apakah?"

"Mungkin dia belum pergi jauh. Nanti aku turun ke bawah gunung untuk melihat dia." Hian Song kuatir si nona kaget dan berduka, ia tidak mau membilangi yang Lie It sudah terjun ke jurang.

Tetapi Siangkoan Wan Jie cerdik sekali, dari paras orang ia menduga sesuatu, ia merasakan suatu alamat buruk, hingga hatinya ber-debaran.

Ia dapat menguatkan hati, ia tidak mau menanya lagi, dengan membungkam dia ikut nona she Bu itu jalan turun ke lembah guna mencari Lie It..........................

---o^DewiKZ^0^TAH^o---

JALANAN menuruni jurang licin dengan lumut, beberapa kali Wan Jie hampir terpeleset jatuh.

Syukur Hian Song mengulur tangan, menjambret padanya.

"Adik Wan, kau tenangi dirimu," Hian Song kata perlahan.

Ilmu ringan tubuh dari Wan Jie tidak lemah tetapi karena hatinya kacau, ia tidak dapat menguasai dirinya.

Tidak lama maka hidung mereka terhembuskan bau bacin dari darah.

"Hai, di sini ada satu mayatl" tiba-tiba terdengar Cin Tam berseru.

Dia jalan berpisahan.

Siangkoan Wan Jie merasakan dirinya seperti ditimpa guntur, kagetnya bukan main, kepalanya pusing, tubuhnya bergemetar, maka Hian Song lantas merangkulnya.

Di sana terdengar pula suaranya Cin Tam: "Ah, inilah mayat seorang tauwto yang memelihara rambut!"

Kata-kata itu membantu banyak akan ketenangan hati Wan Jie, yang dengan dipeluki Bu Hian Song pergi menghampirkan wiesu itu.

Cin Tam sudah lantas menyalakan api, hingga mereka dapat melihat tegas.

"Inilah Ok Heng Cia!" Hian Song berseru tertahan, karena ia heran.

Ia lantas membungkuk, untuk melihat lebih tegas, hingga ia mendapatkan tubuh si tauwto, yalah pendeta yang memelihara rambut, terlukakan lima atau enam lubang, semua bukan di bagian tubuh yang berbahaya, kecuali luka di pundaknya, yang dalam, tetapi itu bukan luka disebabkan senjata tajam, di situ ada bekas-bekas gigi, suatu tanda itulah luka gigitan.

Tentu sekali ia menjadi-heran, hingga ia berkata di dalam hatinya: "Seorang yang liehay ilmusilatnya tidak nanti berkelahi dengan menggigit. Siapakah yang membinasakan tauwto ini?"

"Ok Heng Cia senantiasa berada bersama Tok Sian Lie," kata Siangkoan Wan Jie, "maka itu Tok Sian Lie harus diperhatikan. Mungkin dia terluka dan belum mati dan sekarang lagi bersembunyi di dekat-dekat sini. Awas untuk jarumnya yang beracun yang berbahaya sekali!"

Cin Tam lantas berjalan seraya memutar benderanya, matanya dipasang tajam. Tidak jauh diri situ, mereka mendapatkan lagi satu mayat.

"Ah, inilah mayatnya seorang muda yang

tubuhnya kekar. ! " katanya heran.

Siangkoan Wan Jie ketahui, Lie It itu gagah tetapi tubuhnya nampak lemah, maka ia tidak menjadi kaget hatinya, baru ia merasa sedikit lega, tiba-tiba ia mendengar suaranya Bu Hian Song: "Adik. Wan Jie, mari, lekas lihat! Dia ....... dia ....... bukankah si anak muda yang dipanggil Tiang-sun Tay?"

Wan Jie menghampiri, hatinya kembali berdebaran.

Baru ia merasa sedikit lega atau sekarang ada lagi lain urusan.

Ketika ia telah datang dekat dan melihat tubuh orang itu, ia kaget bukan main. Sebab terlentang di depannya, dengan alis gompiok dan mata besar, benarlah si anak muka dengan siapa mereka berdua ia dan anak muda itu pernah hidup bersama dari kecil hingga dewasa, hingga mereka mirip kakak dan adik, ialah Tiang-sun Tay!

Ia menjerit perlahan, hingga untuk sesaat ia tak dapat menangis.

Cin Tam sudah lantas memondong bangun anak muda itu, sedang Bu Hian Song, yang merobek ujung bajunya, memegang lengannya seraya terus ber-kata: "Nadinya masih belum berhenti berjalan "

Dia merobek pula baju si anak muda, setelah mana ia menambahkan "Dia terkena dua batang jarum beracun serta satu serangan tangan kosong.” Tanpa ayal lagi, Hian Song menghunus pedangnya untuk membelek daging orang di tempat yang luka, guna mengeluarkan dua potong jarum berbisa itu.

Tiang-sun Tay seperti tidak merasakan apa-apa, dia berdiam saja.

"Masih ada harapan?" Wan Jie tanya, hatinya terus memukul.

Hian Song tidak menyahuti hanya ia menotok ke pinggang dan iga si anak muda, guna membebaskan perbatasan jalan darah hiat-hay-hiat, atas mana Tiangsun Tay lantas memuntahkan reak yang bercampur darah, reak dan darah yang kental, setelah mana dia membuka kedua matanya.

Ketika dia melihat Siangkoan Wan Jie, dia rupanya mengenali si nona, alisnya lantas bergerak, dia tesenyum.

Tapi lekas juga dia merapatkan pula kedua matanya itu.

"Cin Tam," kata Bu Hian Song, "lekas kau bawa dia pulang ke istana, dan lekas kau mengundang thay-ie untuk menolongi dia!"

"Thay-ie" yalah tabib istana.

Di dalam halnya ilmu-dalam, lweekang atau lay-kang, Tiangsun Tay kalah jauh dari Lie It, maka itu dia tidak dapat dibawa ke gunung Kong Lay San untuk dimintai pertolongannya Hee-houw Kian, sedang dari Tiang-an ke gunung itu di propinsi Su-coan, jaraknya lebih jauh dari pada tempat terlukanya Lie It duluhari itu. Siangkoan Wan Jie tahu baik liehaynya jarum Tok Sian Lie, dengan dibawa kepada tabib istana, Tiangsun Tay terserah kepada nasibnya.

Cin Tam sudah lantas bekerja, dengan memanggul tubuh Tiang-sun Tay, ia berlalu dari lembah itu.

Wan Jie mengawasi sampai orang lenyap di antara pepohonan.

Ia ingat budi-kebaikannya Tiangsun Kun Liang serta Tiangsun Tay dan Tiangsun Pek kakak-beradik, tanpa merasa ia mengalirkan airmata.

Kemudian ia ingat: "Mayatnya Ok Heng Cia kedapatan di sini, engko Tay itu terlukakan jarumnya Tok Sian Lie, maka itu pastilah engko Lie It telah bertemu sama ini  dua iblis "

Maka ia mau menduga, Lie It tentulah terancam bahaya.

Bu Hian Song terus mencari, sampai cuaca berubah menjadi terang tanah, ia masih mencari terus di sekitar lembah itu, hasilnya kosong.

Lie It tidak tampak.

"Dia tidak ada, mari kita pulang ........" katanya kemudian, lesuh.

"Tidakkah terjadi sesuatu atas dirinya ?" Wan Jie bertanya.

"Encie, mengapa kau mendapat pikiran ia di lembah ini? Menurut suaranya kemarin, bukankah dia mau pergi jauh sekali dan tidak bakal balik kembali ?" "Lebih baik lagi dia pergi semakin jauh...!" kata Hian Song berduka.

Ia menyahut bukan seperti menyahut, karena ia juga mesti menguatkan hatinya, tidak berani ia memberitahukan halnya Lie It terjun ke jurang, hal mana pasti akan menghancurkan hatinya Wan Jie.

Di dalam hatinya ia mengharap-harap Lie It selamat ditolong orang.

Sebab, dengan terjun ke jurang, kalau orang tidak lantas mati, sedikitnya dia mesti terluka parah, dan adalah harapan tipis yang dia kebetulan saja dapat ditolong orang selagi keadaannya setengah mati itu.

Sama sekali Hian Song tidak pernah menduga bahwa benar-benar sudah terjadi hal kebetulan.

Hanya Lie It bukan orang tolongi dengan menanggapi dia selagi dia jatuh tetapi dia nyangkut di pepohonan, pohon cemara, yang tumbuh di pinggir-pinggiran jurang.

Sebagai seorang yang liehay ilmu silatnya, lantas dia dapat menjambret, memegang cabang-cabang pohon, hingga dia tidak jatuh langsung ke lembah.

Dengan berjumpalitan, dia akhirnya tiba di lembah secara perlahan.

Cuma meski demikian, dia toh terbanting juga dan pingsan karenanya.

---o^DewiKZ^0^TAH^o--- SATU hari penuh Lie It tak sadarkan diri, hingga ia tidak tahu apa yang sudah terdiadi atas dirinya, ketika kemudian ia mulai mendusin, ia mendengar suara orang di kupingnya, suara menghela napas.

Ia lantas memusatkan perhatian, ia memasang kupingnya.

Lantas ia mendengar suaranya roda-roda kereta, terasa tubuhnya memain di antara goncangan kereta itu.

Ia pun lantas ingat kejadian dulu ketika Bu Hian Song menolongi padanya. Ketika ia membuka matanya, ia mendapatkan di dalam kereta itu, bersama ia, ada bayangannya seorang nona.

Sebelum sadar seluruhnya, ia lantas menjerit memanggil : "Hian Song...! Hian Song...!" Tapi sekarang ia sekalian mementang matanya, hingga ia segera melihat, wanita itu bukannya si nona she Bu.

Sebab orang bukannya Hian Song, ia lantas menduga lain.

Maka ia memanggil-manggil pula: "Wan Jie...! Wan Jie...!"

Ia percaya, kalau orang bukannya Bu Hian Song, tentulah Siangkoan Wan Jie.

Justeru itu ia merasakan mukanya kejatuhan tetesan airmata, hingga ia terkejut dan tercengang. Ia membuka mata lebih lebar, hingga ia memperoleh kepastian benar- benar si nona bukan Hian Song, bukan Wan Jie, hanyalah Tiangsun Pek! "Engko It," ia mendengar suara si nona she Tiangsun itu, "kenapa kau masih saja ingat mereka itu ?"

Habis mengucap, nona itu mengulur tangannya yang halus, memegangi tangan si pemuda, mulutnya mengeluarkan pula : "Engkau..., kau sadarlah...! Syukur, kau tidak terluka parah !"

Biar bagaimana, Lie It girang berbareng berduka. Ia pun bergelisah dan malu sendirinya.

Dari rebah, ia mencoba bangun untuk berduduk.

"Ah, adik Pek, mengapa kau ada di sini ?" tanyanya kemudian.

Ia sekarang dapat melihat tegas, nona itu kucal dan perok, airmatanya masih belum kering.

Tentulah tanda bahwa dia baru menderita kedukaan hebat.

Tiangsun Pek menyingkap tenda kereta di depannya. "Aku bersama ayah," ia menyahut, suaranya perlahan

dan berduka, dan airmatanya mengalir pula.

Di bagian depan dari kereta itu berduduk seorang tua.

Dia itu menoleh ke belakang, sembari tersenyum dia menanya : "Apakah tianhee masih mengenali losin ?"

Dia tesenyum tetapi senyumnya senyuman kesedihan.

Dia memanggil "tian-hee" atau yang mulia dan menyebut dirinya "lo sin," menteri yang tua.

Sebab dialah Tiangsun Kun Liang, ayahnya Tiangsun Pek. "Tidak ku sangka di sini aku dapat bertemu sama peepee," kata Lie It, yang mengenali orang tua itu, yang ia panggil peepee atau paman. "Aku mengucap terima kasih yang peepee telah menolongi aku. Maaf, di atas kereta ini tidak dapat aku menjalankan kehormatan."

Inilah untuk pertama kali semenjak ia ketolongan Lie It melihat pula menteri setia dari Kerajaan Tong itu, maka kegirangannya bukan main besarnya. Ia merasa heran kenapa orang berada di kota raja.

Ia tahu walaupun Tiangsun Kun Liang telah diobati sembuh oleh Heehouw Kian, ilmusilatnya pasti belum pulih kembali.

Kemana dia sekarang nyelusup ke kotaraja dan justeru dapat menolongi ia ?

"Apakah kau telah bertemu sama Wan Jie ?" tanya Tiangsun Kun Liang.

Lie it merasakan hatinya sakit.

Ia mendengar suara orang tua itu menggetar. "Ya," sahutnya perlahan.

"Apa dia bikin di dalam keraton ?" Kun Liang tanya pula.

"Dia membantu Bo Cek Thian menulis rencana, dia menemani membuat syair," sahut si pemuda. "Atau dia melukis gambar.”

"Jikalau begitu, benarlah Wan Jie telah menjadi menteri wanita dari Bu Cek Thian," kata Tiangsun Kun Liang. "Benarkah dia telah melupai kakeknya, ayahnya dan juga ibunya yang masih hidup ?"

"Aku mendapatkan dia melupakan segala apa

............"

"Ketika kau bertemu dengannya, dia sedang membuat apa?"

"Dia sedang membacakan maklumatnya Lok Pin Ong," Lie It menjawab.

"Untuk siapakah dia membacakannya?" "Untuk Bu Cek Thian."

"Ah " kata Tiangsun Pek, suaranya lemah.

"Bu Cek Thian sendiri yang menyuruhnya membaca."

Sekonyong-konyong saja Tiangsun Knen Liang tertawa terbahak.

Dia seperti merasakan dadanya lapang secara tiba- tiba, seperti dia dapat melampiaskan apa yang sekian lama menekan hatinya itu.

"Bagus....! bagus !" katanya. "Hebat dia mempunyai

nyali untuk membacakannya dan Bu Cek Thian juga mempunyai nyali untuk mendengarkannya...! Bagaimana Bu Cek Thian setelah mendengar itu. ?”

"Bu Cek Thian tidak memperhatikan, dia biasa saja." "Dia biasa saja.... ?" Kun Liang heran. "Apa dia tidak

mengatakan apa-apa. ?"

Tiangsun Kun Liang menyatakan demikian karena ketika Lok Pin Ong habis mengarang maklumat itu, semua menteri kerajaan Tong, yang menentang Bu Cek Thian, pada menunjuk kepuasan mereka.

Ia menduga sedikitnya Bu Cek Thian bakal menjadi setengah mati karena mendongkol dan gusarnya.

Siapa tahu, Bu Cek Thian tidak menghiraukan maklumat yang tajam bunyinya itu.

"Setelah dia mendengarnya," menerangkan Lie It pula, "yang pertama dia katakan yalah ia menyesal perdana menteri tidak dapat mengerjakan orang yang pandai."

Tiangsun Kun Liang mengangguk.

"Lok Pin Ong memang pintar sekali," katanya. "Nah, apalagi  katanya  ?  Coba  kau  menyebutkannya   padaku "

"Bu Cek Thian bilang maklumat itu bagus hanya tidak berpengaruh, tiada tenaganya. Satu demi satu dia membantahnya, dia membantah semuanya "

Mendengar itu, lenyap senyuman pada mukanya Tiangsun Kun Liang, parasnya lantas menjadi pucat.

Kalau tadi dia bersemangat, sekarang dia menjadi lesuh sekali, hingga dia nampak seperti jadi tua mendadak.

"Dia bilang bahwa Cie Keng telah kena dikurung, dan bahwa paling banyak tak lebih dalam tempo setengah bulan bakal kena dibasmi habis ?" dia tanya kemudian.

"Ya. !, dan mungkin itulah benar."

"Kau sendiri, tianhee, bagaimana dengan kau ? Lie It tunduk. "Aku sendiri bingung, tidak tahu aku mesti bikin apa," ia menyahut, lesuh. "Aku justeru mau menanyakan petunjuk peepee "

Tiangsun Kun Liang berdiam sekian lama, lalu ia menarik napas panjang.

"Kalau demikian, dia benar musuh yang liehay sekali," katanya. "Mungkin lo-sin tidak bakal melihat pula bangunnya Kerajaan Tong......... Oh, Wan Jie!, Wan Jie

......! Kau baik...!, kau bagus...!, bagus sekali !"

Lantas orang tua ini muntah darah dan tubuhnya terjungkal dari tempat duduknya di kereta itu.

Cita2 Tiangsun Kun Liang yalah membangun pula Ahala Tong sekalian membangun juga rumah-tangganya.

Sekarang dia menjadi putus harapan.

Yang membuatnya paling berduka yalah orang yang dia rawat dan didik dari kecil, Siangkoan Wan Jie, yang dia cintai seperti anak-kandung, yang dia harap nanti membunuh Bu Cek Thian, sekarang orang yang dibuat andalan itu justeru berpihak kepada ratu itu dan menjadi orang kepercayaannya.

Dia sudah tua, mana sanggup dia menerima pukulan hebat ini ?

Maka itu, napasnya menjadi sesak, lantas dia roboh sendirinya.

Lie It kaget bukan main. Dia melompat turun dari kereta, untuk mengasi bangun.

Dia melihat muka orang pucat-pasi dan napasnya empas-empis. Tiangsun Kun Liang sadar cepat, lantas dia kata perlahan : "Aku telah kehilangan anak laki-lakiku, sekarang tinggal ini satu anak perempuan, maka itu, tianhee, setelah aku menutup mata, sudikah kau melihat- lihat dia?"

Dengan airmata mengucur deras, Tiangsun Pek memegangi kedua tangan ayahnya.

"Ayah, kau tidak dapat mati........, tidak dapat mati............!" katanya. "Setelah kau berobat sembuh,

kita nanti pergi mencari engko Tay ”

Tiangsun Kun Liang tertawa pedih.

"Dapatkah aku bertahan sampai sekian lama lagi ?" katanya.

"Kau....... kau "

Suaranya orang tua ini lantas menjadi lemah, hingga tidak terdengar tegas.

Lie It merabah kenadi, yang jalannya tidak ketentuan, sebentar cepat, sebentar perlahan, kadang-kadang melonjak, lalu berdiam.

Ia tidak mengerti ilmu tabib tetapi ia mengetahui juga sedikit. Itulah tanda buruk.

Pula Hee-houw Kian terpisah sangat jauh.

Mana bisa Tiangsun Kun Liang keburu pergi kepada tabib itu ?

Dengan sinarmata guram, Tiangsun Pek mengawasi Lie It.

Ia seperti meletaki semua pengharapannya di bahu pemuda ini. Dalam keadaan seperti itu, Lie It lantas bekerja.

Ia melakukan apa yang ia bisa. Lebih dulu ia menotok tiga jalan darah thiankie, ciang-tay dan leng-hu, untuk menutup, guna mencegah si orang tua pingsan, terutama untuk mencegah dia tersiksa.

Dengan begitu juga darahnya, yang keracunan, tidak usah menyerang ke jantung.

"Bagaimana sekarang? Bagaimana sekarang?" tanya Tiangsun Pek berulang-ulang.

"Ditempat belukar seperti ini, ke mana kita bisa pergi mengundang tabib?"

Lie It memandang ke sebelah depan.

"Di depan sana ada rumah berhala," katanya. "Mari kita pergi dulu ke sana, untuk menumpang singgah. Kita boleh minta sebuah kamar guna peepee beristirahat, nanti kita berdaya pula "

Nona Tiangsun sudah kehilangan akal, ia menurut saja.

Segera tubuh si orang tua dipondong gadisnya, buat dikasi naik ke atas kereta, untuk direbahkan.

Sekarang Lie It duduk di depan, memegang kendali kereta.

---o^DewiKZ^0^TAH^o--- "BAGAIMANA sebenarnya maka kamu beramai tiba di sini ?" tanya Lie It selagi roda-roda kereta menggelinding.

"BAGAIMANA sebenarnya maka kamu beramai tiba di sini ?" tanya Lie It selagi roda-roda kereta menggelinding.

Tiangsun Pek suka memberi keterangan.

Ia menutur sembari menangis, dengan kadang-kadang terputus-putus, walaupun demikian, si pemuda dapat mengerti.

Ternyata, dua hari seperginya dia (Lie It) dari rumah Heehouw Kian, Kok Sin Ong bersama Tiangsun Tay menyambut Tiangsun Kun Liang. Hatinya Kok Sin Ong telah menjadi tawar, sesudah dia mengantarkan Tiangsun Kun Liang ke-rumah Hee-houw Kian, dia lantas meninggalkan sahabatnya itu.

Ketika Tiangsun Kun Liang mendengar halnya Lie It seorang diri pergi ke Tiang-an, hatinya menjadi tidak tenteram, hingga ia mau lantas menyusul.

Ia pikir, di kotaraja masih ada beberapa bekas rekannya, andaikata apa lacur Lie It kena ditawan Bu Cek Thian, ia mau berdaya menolongi.

Tapi ia telah kehilangan ilmusilatnya, Hee-houw Kian tidak mengizinkan ia pergi.

Masih ia memaksa.

Akhirnya Hee-houw Kian kalah desak.

Lantas dia menggunai dayanya yang terakhir, yalah dia membekalkan semacam obat makan kepada orang tua yang hatinya kuat itu.

Chasiat obat itu dapat membikin pulih tenaganya Tiangsun Kun Liang untuk sementara waktu, tetapi kalau nanti tenaga obat sudah habis, umpama kata ia harus sembuh dalam waktu satu tahun, waktu itu mesti terlambat hingga tiga tahun.

Maka ketika ia mau berangkat, Hee-houw Kian memesan wanti-wanti, jikalau bukan menghadapi musuh tangguh, jangan ia makan obat itu.

Tidak lama setibanya di kota raja, Tiangsun Kun Liang lantas mendengar kabar tentang Lie It.

Ini terjadi lantaran Siangkoan Siang, si calon wiesu yang berewokan itu. Dia sebenarnya keponakan si orang tua keponakan disebabkan ayah dia adalah orang sebawahan yang dipercaya dari Kun Liang.

Semasa Kaisar Thay Cong (Lie Sie Bin), Tiangsun Kun Liang menjadi Tian-cian Kiam-tiam, dan ayahnya Siangkoan Siang bekerja di bawah perintahnya.

Lie It telah memakai namanya Thio Cie Kie, kulit mukanya pun dipakaikan obat hingga menjadi bersemu kuning, tidak urung dia mendatangkan kecurigaannya Siangkoan Siang, lalu di hari dia diharuskan mengantar calon pembunuh ke keraton, kebetulan sekali Siangkoan Siang bertemu sama Tiangsun Kun Liang dan ia membicarakan tentang kecurigaannya itu mengenai dia.

Tiangsun Kun Liang lantas merasa pasti Thio Cie Kie yalah Lie It.

Ia juga berkuatir, mungkin Lie It masuk ke keraton untuk menghadapi bahaya, dari itu, setelah mereka berdua berdamai, Siangkoan Siang ditugaskan turut masuk ke dalam keraton guna membunuh ratu, untuk bersama Lie It lari menyingkir.

Telah ditetapkan, Tiangsun Kun Liang akan menantikan di belakang gunung Lie San.

Di luar dugaan, di belakang gunung Lie San itu, Tiangsun Kun Liang dan dua anaknia, Tay dan Pek, bertemu sama Ok Heng Cia dan Tok Sian Lie, kedua muridnya Thian Ok Toojin, yang berada di situ menemani guru mereka.

Karena musuh liehay sekali, dengan terpaksa Tiangsun Kun Liang menelan obat bekalannya Heehouw Kian, hingga tenaganya pulih, lalu dia menempur kedua hantu itu.

Tiangsun Tay membantui ayahnya, dia menubruk Ok Heng Cia, untuk dipeluki, karena sambil memeluk sukar menyerang, dia menyeret pundak si tauwto.

Maka keduanya sama-sama terluka parah.

Tok Sian Lie tertikam Tiangsun Kun Liang hingga tujuh kali, dia kabur.

Ketika Lie It jatuh itu, orang lagi bertempur mati- matian. Tiangsun Pek yang menolongnya.

Tepat di saat Tiangsun Kun Liang membikin Tok Sian Lie kabur, mereka mendengar suaranya Bu Hian Song.

Mereka kuatir Bu Hian Song nanti datang bersama rombongan wiesu, dengan terpaksa mereka menyingkir membawa Lie It dengan kesusu, mereka meninggalkan Tiangsun Tay, yang mereka tidak tahu masih hidup atau sudah mati.

Cuma sang ayah itu melihat tegas anaknya kena dihajar tangan beracunnya Ok Heng Cia serta terkena juga jarumnya Tok Sian Lie, jarum beracun yang liehay itu, hingga ia mau menganggap saja anaknya itu sudah mati.

Selagi Tiangsun Pek mandi airmata karena penuturannya itu, Lie It juga berduka bukan main. Ia ingat budi besarnya Tiangsun Kun Liang, yang membela mati2an padanya hingga orang kehilangan putera, anak yang akan menyambung turunan she Tiangsun.

Ia tidak iahu bagaimana harus membalas budi itu.

---o^DewiKZ^0^TAH^o--- Tidak lama kemudian kereta telah sampai dikaki bukit di depan itu.

Di situ mereka berhenti.

Lie It lantas menggendong Tiangsun Kun Liang, untuk diajak mendaki bukit.

Tiangsun Pek mengikuti tanpa berkata-kata.

Mereka berkuatir jiwanya orang tua itu dapat hilang dalam sekejap.

Maka hati Lie It berat seperti ditindih gunung.

Beberapa kali, di waktu berpaling, ia menyingkir dari sinarmatanya si nona, karena ia kuatir tidak dapat menjawab andaikata nona itu menanya-nya.

Di lereng bukit itu ada sebuah kuil tua, yang ditempati seorang pendeta tua bersama kacung hweeshio tukang masaknya.

Pendeta itu menyambut tetamunya dengan baik, bahkan dia memberikan kamarnya ketika ia mendapat tahu ada seorang tetamunya yang sakit.

Dia lantas menyuruh muridnya masak air. Manis perlayanannya.

Tiangsun Pek merebahkan ayahnya di atas pembaringan kayu. Ketika ia memegang nadi ayahnya, hatinya menjadi semakin kecil.

Nadi itu makin lemah denyutannya. Lie It menotok, membuka jalandarah yang tadi dia tutup, habis itu dia mencoba menyalurkan hawa tenaga- dalamnya, guna menyambung tenaga.

Selang sesaat, Tiangsun Kun Liang membuka kedua matanya.

"Anak Pek, mari," ia memanggil puterinya, suaranya sangat perlahan. "Kau mewakilkan aku berlutut dan mengangguk kepada tianhee !"

Nona itu menurut.

Lie It terkejut, dia menjadi bingung.

Dengan tersipu-sipu dia memimpin bangun nona itu. "Sekarang aku ketinggalan hanya ini seorang anak

perempuan," kata Tiangsun Kun Liang pada Lie It, suaranya serak, "maka itu aku hendak menyerahkan dia untuk kau yang melihat-lihatnya. Tianhee, sudikah kau menolongi aku bertanggung-jawab untuk seumur hidup dari anakku ini?"

Inilah buat yang ke-dua kali Tiangsun Kun Liang menyerahkan puterinya kepada Lie It. Sekarang dia omong dengan terlebih jelas.

Namanya menyerahkan untuk tolong ditilik, sebenarnya jodoh si nona dirangkap dengan jodohnya.

Hati Lie It goncang. Ia bingung sekali.

Sejenak itu bergantian di depan matanya seperti tampak bayangannya Siangkoan Wan Jie dan Bu Hian Song. Wan Jie si nona yang tabiatnya paling cocok dengannya, dan Hian Song si nona yang ia paling kagumi.

Dua-dua nona itu menyintainya, tetapi ada sekian banyak sebab diantara kedua pihak, ada keruwetan yang tidak bisa diputuskan dengan gunting yang tajam.

Hingga ia sudah mengambil keputusan buat hidup dalam perantauan, hidup menyendiri, sedang hatinya sudah mirip dengan kayu kering, pikirannya bagaikan arang di musim dingin.

Tegasnya, ia tidak dapat main cinta lagi. Maka di luar dugaannya - mimpi pun tidak - ia boleh bertemu sama Tiangsun Kun Liang dalam keadaan serupa ini, hingga di saat hampir putus jiwanya, menteri tua itu dapat menyerahkan peruntungan puterinya kepadanya. 

Pula, cintanya Tiangsun Pek terhadapnya tak kalah dengan cintanya Wan Jie atau hian Song. Yang paling sukar yalah tidak dapat ia menampik permohonan dari seorang yang menantikan saat kematiannya, sedang orang tua itu pernah menolong jiwanya, untuk itu si orang tua sampai mengurbankan puteranya. Lebih lagi, orang tua itu yalah menteri yang setia kepada kerajaan kaum keluarga Lie !

Hati Lie It bagaikan diiris-iris dengan pisau. Terima atau tolak ?

Tiangsun Kun Liang mengawasinya, menanti jawaban.

Tiangsun Pek memalingkan muka, supaya tidak melihat si anak muda. Tapi Lie It mengerti bahwa ia malu-hati, dan sebenarnya sering melirik kepadanya. Sekian lama ia berdiri membisu.

Akhirnya ia menjatuhkan diri didepan pembaringan, untuk berlutut dan mengangguk tiga kali, sedang dari mulutnya keluar kata-kata perlahan: "Peepee tidak mencelah aku, baiklah, aku sudi, aku sudi menjadi anakmu, akan kuperlakukan adik Pek seperti adik kandungku sendiri "

Tiangsun Kun Liang menggoyang kepala, sinar matanya mencerminkan putus-asa. Beratlah untuk menyaksikan keadaan orang tua itu demikian macam, selagi napasnya akan berhenti untuk selama-lamanya. Tak tega Lie It melihat sinar mata itu. Didalam hatinya ia berkata: "Apakah aku tega membuatnya meninggal dunia dengan mata tak tertutup rapat?"

Hanya sedetik pemuda ini ragu-ragu, lalu ia mengambil keputusan.

Tanpa menanti Tiangsun Kun Liang berbicara pula, ia mendahului: "Aku hendak mengambil adik Pek sebagai adikku........ Jikalau dia tidak menampik, aku juga suka andaikata dia sudi menjadi isteriku."

Mata Kun Liang terbuka lebar-lebar.

"Anak Pek, bagaimana kau?" tanyanya pada puterinya. Nona itu berdiam, air matanya turun deras-deras.

Tapi sebentar pula, ia menyahut: "Aku menurut kepada ayah "

"Baiklah!" kata Kun Liang. "Sekarang aku menyerahkan anak Pek kepadamu. Dia bertabiat buruk, tetapi aku harap kau suka memaafkannya " Lie It paykui pula hingga, tiga kali, seraya memanggil: "Gakhu!"

Kun Liang tesenyum, lalu kedua matanya, yang tadi dibuka lebar, mulai tertutup dengan perlahan-lahan.

"Ayah!" panggil Tiangsun Pek sambil menangis. Ia mendekat, lalu merangkul ayahnya.

"Kamu jangan membenci Wan Jie," kata Kun Liang, sangat perlahan. "Kamu berdua harus saling membantu, sampai kamu sama-sama tua "

Orang tua ini menyatakan bahwa ia tidak membenci Siangkoan Wan Jie, bahkan ia tetap menyintainya.

Lie It mendekam didada orang.

"Jangan kuatir, gakhu," ia berkata. "Aku pasti akan memperlakukan adik Pek dengan baik "

Mendengar janji itu, kedua mata Tiangsun Kun Liang rapat seluruhnya, wajahnya tersungging senyum, hanya setelah itu, kedua kakinya mengejang dan napasnya berhenti.

Tiangsun Pek menangis sedu sedan tetapi tangannya menggenggam kedua tangan Lie It erat-erat.

Lama nona itu menangis, baru kemudian ia berkata dengan perlahan: "Untuk mengurus jenazah ayah, sekarang aku mengandal kepadamu. Kau baik sekali terhadap ayah dan aku sangat bersyukur kepadamu."

"Jangan begitu," Lie It. "Sekarang kita sudah menjadi orang sendiri. Dengan berbiyara demikian, kau seakan- akan memandang aku sebagai orang lain." Jawab Tiangsun Pek dengan perlahan: "Engko It, jangan kau berdusta. Aku tahu hatimu. Untuk menenangkan hati ayah, kau menentang hatimu sendiri dan menyatakan suka mengambil aku menjadi isterimu. Engko It, kau jangan kuatir. Aku tidak nanti menganggap kejadian ini secara sungguh-sungguh. Aku hanya minta kau tolong mengurus jenazah ayahku, setelah beres, selanjutnya aku tidak akan menyusahkan kau lagi."

Lie It juga memegang tangan si nona erat-erat.

Ia merasakan tangan orang panas dan denyut nadinya tidak lurus.

Ia juga melihat muka si nona merah seperti lagi sakit. Goncangan hatinya, ia berkasihan.

Tanpa merasa ia merangkul tubuh orang.

Katanya: "Adik Pek, janganlah berpikir yang tidak- tidak. Sekarang dan selanjutnya, mari kita hidup dengan saling mengandalkan. Bumi boleh hancur, langit boleh ambruk, tetapi kita berdua, kita tidak dapat berpisah lagi! Kau harus menjaga dirimu baik-baik, janganlah kau membikin arwah ayahmu dialam-baka menjadi gelisah."

Itulah kata-kata yang tulus.

Tiangsun Pek menyusut airmatanya, ia tidak mengucapkan apa-apa lagi.

Pendeta tua dari kuil itu baik hatinya.

Mengetahui tamunya meninggal karena sakitnya, ia lantas datang menjenguk, untuk menghibur dan membantu mengurus jenazah. Ia menyuruh kacungnya pergi kekota kecil yang terdekat, membeli petimati, bahkan tanpa diminta ia mengatur sembahyang untuk arwah Tiangsun Kun Liang.

Untuk ini ia menanyakan she dan nama orang yang telah menutup mata itu.

Lie It bersangsi untuk memberitahukannya tetapi  Nona Tiangsun sudah mendahului, maka ia hanya mengangguk saja. Ia melegakan hati mengingat roman si pendeta jujur.

Ia percaya, bahwa pendeta itu tidak tahu siapa mertuanya, terutama bahwa ia bekas menteri setia.

---o^DewiKZ^0^TAH^o---
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Aneh (Lie Tee Kie Eng) Jilid 11"

Post a Comment

close