Naga dari Selatan BAGIAN 54 : ASMARA MURNI

Mode Malam
 
BAGIAN 54 : ASMARA MURNI

Sekarang mari kita ikuti perjalanan Ciok Siao-lan sigadis hitam manis yang hendak menyusul The Go ke Lo-hu-san.

Ditengah jalan ia menghajar dua orang kongcu (anak orang hartawan atau pembesar). Tanpa hiraukan mereka ber-kaok2, nona itu segera cemplak kuda mereka terus dicongklangkan se-kencang2nya. Antara Kwiciu ke Lo-hu- san hanya seperjalanan seratusan li jauhnya. Dua ekor kuda kedua kongcu tadi, dengan bergiliran dinaikinya. Oleh karena kedua ekor kuda itu termasuk kuda2 pilihan maka belum setengah malam saja, dapatlah ia tiba digunung itu. Tapi begitu ia kendorkan kendali, kedua ekor kuda Itu segera mendeprok ketanah. Kiranya kedua bintang itu sudah putus jiwanya saking kelelahan. "Siapa?!" tegur seorang peronda malam demi Siao-lan menginjak puncak Giok-li-nia.

"Aku, perlu apa banyak bertanya ini itu? Aku hendak mencari Cian-bin Long-kun The Go!"

Kala itu The Go sudah diseret kelapangan untuk sesaji sembahyangan bendera. Sudah tentu para penjaga malam menduga kalau nona itu hendak menolongi The Go. Seketika itu tampillah lima orang penjaga dan memakinya: "Budak hina, serahkan tanganmu untuk diringkus!"

Trang...., trang...... dalam gusarnya Siao-lan sudah menyengkelit rubuh salah seorang dari penjaga malam itu, lalu menobros masuk.

"Jangan lepaskan budak hina itu!" riuh rendahlah kawanan penjaga itu ber-teriak2 untuk memberi peringatan kepada kawan2nya.

Siao-lan gugup dan mainkan garu penusuk ikan dengan gencar. Walaupun la berhasil merubuhkan beberapa orang, tapi kawanan penjaga itu makin lama makin banyak jumlahnya. Suara hiruk pikuk mereka telah membikin kaget Ki Ce-tiong siapa terus loncat menyongsongnya dengan tongkatnya.

Siao-lan makin kalap. Tanpa menghiraukan setan belang lagi, begitu ada sesosok tubuh melayang datang, ia segera menusuknya. Tapi melihat pengacau itu hanya seorang wanita, Ki Ce-tiong buang senjatanya lalu julurkan jarinya untuk menyambar senjata lawan.

"Lepas!" serunya sembari menyentak se-kuat2nya.

Siao-lan rasakan tangannya kesemutan dan tahu2 senjatanya berpindah ketangan lawan (Kiau To)  yang segera menimpukkannya kearah sebatang puhun yang berada didekat situ. Baru penusuk ikan itu menyusup masuk sampai beberapa centi dalamnya, tangkainya ber- goyang2. Gegap gempita, para anak buah Thian Te Hui menyaksikan kelihayan pemimpinnya.

"Hai, kiranya kaukah?" tegur Ki Ce-tiong demi mengetahui siapa lawannya tadi.

"Jangan banyak bicarakan yang tidak2, mana Cian-bin Long-kun!" sahut Siao-lan dengan dada berombak.

Ki Ce-tiong pernah melihat sekembalinya dari kepulauan Lam-hay, Li Seng Tong membawa nona itu ber-sama2 ke Kwiciu. Maka diapun lalu menanyakan mengapa nona itu tidak berada pada Li Seng Tong tapi datang ke Lo-hu-san.

"Mencari The Go!" sahut Siao-lan dengan tegas.

Sebagai seorang gadis, sebenarnya tak pantas ia berkata begitu. Tapi tersurung oleh panggilan hati, ia buang rasa malu dan menyatakannya dengan terus terang.

"Mengapa mencarinya?" tanya Ki Ce-tiong terkesiap.

Tengah mereka bertanya jawab, muncullah Ceng Bo siangjin kesitu dan bertanya: "Baiklah Ki-heng bawa ia naik keatas gunung dulu, nanti ditanyai lagi!"

Ditengah perjalanan Siao-lan menuturkan maksud kedatangannya. Baik Ki Ce-tiong maupun Ceng Bo adalah orang2 yang mempunyai hati welas asih. Mereka kasihan pada Siao-lan, tapi teringat bahwa The Go sudah buntung kakinya, mereka saling berpandangan. Setiba di Giok-li-nia, berkatalah Ceng Bo: "Nona Ciok, boleh dikata setiap orang persilatan tentu menghendaki jiwa Cian-bin Longkun. Adakah kau mengetahui hal itu ?"

"Sudah tentu aku tahu, kalau tidak masakan aku korbankan diri untuk menebus dosanya?" sahut Siao-lan. Ceng Bo terdiam sejenak, lalu berkata pula: "Kali ini dalam pembentukannya yang kedua kali, Thian Te Hui telah memutuskan untuk membuatnya sesaji sembahyangan bendera. "

"Jadi engkoh Go sudah meninggal?!" tukas Siao-lan dengan serempak.

Ceng  Bo  menghela   napas,   ujarnya:   "Mati   sih  belum "

Baru mendengar sampai disini, kedengaran Siao-lan~ menghembuskan napas longgar. Dapat dibayangkan betapa kasih sayang nona hitam manis itu kepada The Go.

"Nona Ciok, baiklah kuberitahukan padamu tapi harap kau jangan berduka. Kedua kaki The Go kini sudah buntung!"

Siao-lan terbeliak kaget, tapi pada lain saat wajahnya mengunjuk pendirian yang teguh, serunya: "Asal dia itu tetap engkoh Go, sekalipun hanya mempunyai sebuah jari, tetap tiada bedanya!"

Ceng Bo dan Ki Ce-tiong tak dapat berbuat apa2. Dalam kebatinan mereka hanya mengharap, setelah mendapat pelajaran yang pahit itu, mudah2an anak muda itu kembali kejalan yang benar, sehingga dapat ber-sama2 Siao-lan melewati sisa penghidupannya dengan bahagia.

Tapi dalam pada itu, Ceng Bopun teringat akan nasib puterinya sendiri Bek Lian, bidadari yang menjelma didunia ini rela mencukur rambut menjadi rahib (nikoh) dikarenakan perbuatan yang tak bertanggung jawab dari The Go.

Siangjin itu memanjatkan doa  mudah2an puterinya diberi keteguhan imam dalam usahanya menebus dosa itu. Diam2 dia mengakui, bahwa hanya dalam waktu dua tahun, saja, didalam penghidupannya telah terjadi perobahan yang besar.

Sembari ber-cakap2 itu, tibalah mereka dimuka sebuah pondok. "Nona Ciok, silahkan kau masuk sendiri!" ujar Ceng bo.

Membayangkan bahwa dalam beberapa kejab lagi la bakal berjumpa dengan pemuda tambatan jiwanya, tanpa terasa hatinya berdeburan keras. Mendorong pintu didapatinya dalam pondok itu remang2 penerangannya, karena disitu hanya terdapat sebuah pelita dengan sumbunya sebesar biji kedele. Sesosok tubuh membujur diatas pembaringan. Air mata kegirangan dan kesedihan, ber-ketes2 membasahi kedua belah pipinya.

Dengan ber-indap2 ia mendekati pembaringan itri. Disitu dihapusnya air matanya, kemudian setelah tertegun beberapa jurus, barulah mulutnya kedengaran memanggll dengan berbisik: "Engkoh Go...., engkoh Go. !"

Tapi baru dua kali ia memanggil, pecahlah tangisnya tersedu sedan ............

---oodwkz-0tah-oo---

Telah diterangkan dimuka bahwa sepasang kaki The Go telah dipapas kutung oleh Ceng Bo siangjin. Syukur Kang Siang Yan keburu datang menolongi dan memberi obat penghenti darah. Ceng Bo pun berpendapat bahwa dengan sudah menjadi invalid begitu, The Go tentu akan sudah insyaf, maka diapun malah memberikan obat juga.

The Go dibawa kesebuah pondok. Ketika tersadar, dia tak berkata apa2. Hanya dalam hatinya ter-bayang2 akan tingkah laku Ceng Bo siangjin dan orang2 Thian Te Hui terhadap dirinya. Betapapun jahatnya seseorang, tapi dalam nuraninya dia tentu masih mempunyai setitik hati yang baik. Demikianlah The Go yang pada saat itu mendapat penerangan bathin, menyesal atas perbuatan2nya yang lalu. Dalam keadaan limbung antara sadar tak sadar karena lukanya itu, hatinya selalu mengacai (bercermin muka) kehidupan yang dituntutnya selama ini. Matanya meram tapi hatinya melek. Ketika ada suara berisik orang ber- cakap2 diluar, dia kira kalau orang2 Thian Te Hui. Sebagai orang yang masih mempunyai rasa malu, dia lalu pura2 tidur tak mau menemui mereka. Bahkan ketika ada orang berseru "engkoh Go", dia tetap tak percaya pendengarannya. Dia serasa mengalami "impian ditengah hari" (sesuatu yang mustahil).

Namun dia paksakan diri untuk menggeliat, demi tampak Ciok Siao-lan berdiri dihadapannya, dia tetap  belum percaya. Dia meramkan pelapuk matanya dan mengenangkan kejadian pada 2 tahun berselang. Ditempat itu (Lo-hu-san) jugalah Ciok Siao-lan telah mengusapkan keringat dimukanya (The Go), tapi dia malah menjadi gusar dan melukainya. Dia merasa, dalam kehidupannya itu, banyak nian menyakiti hati dan mencelakai orang. Tapi yang paling hebat sendiri, yalah menyakiti hati dua orang gadis. Yang satu Bek Lian dan yang lain Ciok Siao-lan.

Melihat wajah Cian-bin Long-kun pucat lesi bagai kertas, hati Siao-lan serasa disayat dengan sembilu. Seketika pecahlah tangisnya mengiring air mata. Lari menubruk kemuka, berserulah ia: "Engkoh Go, kau bagaimana? Aku ini Siao-lan, Siao-lan yang selalu setia menyintai kau!"

Kini barulah The Go tahu bahwa dirinya masih sadar dan bahwa yang dilihatnya itu benar Siao-lan. Dirangsang oleh rasa kemenyesalan, air matanya berhamburan keluar.

"Engkoh Go, bagaimanapun juga Po-sat masih melindungi. Kalau aku tak mengunjungi gereja Kong Hau  Si dan berjumpa dengan Tio Jiang dan Liau Yan-chiu, tentu aku tak tahu kau berada disini. Kini syukurlah aku telah dapat menjumpaimu, aku .............. takkan meninggalkan kau lagi. Engkoh Go, ayuh kita cari tempat yang sunyi untuk beristirahat dengan tenang," sebentar menangis sebentar tertawa Siao-lan membawakan kata2-nya.

The Go mencekal erat2 tangan nona itu tanpa mengucap sepatah katapun. Tak berapa lama haripun sudah terang tanah. Dengan selimut Siao-lan menggendong The Go keluar dari pondok itu. Ketika berpapasan dengan Ceng Bo, The Go tundukkan kepala tak berani memandangnya. Ceng Bo nasehati Siao-lan jangan buru2 membawa pergi The Go, karena lukanya masih belum sembuh betul. Tapi Siao-lan tak kena dicegah.

8

Siao-lan membungkus The Go dengan sehelai selimut, lalu memondongnya meninggalkan Ceng Bo Siangjin dan kawan2 nya di Lo-hu-san...........

Begitulah singkatnya saja, besok tengah malam, mereka sudah tiba digereja Kong Hau Si. "Kita menghaturkan terima kasih dahulu kepada Po-sat, setelah itu kita tinggalkan dunia ramai ini untuk mencari ketenangan hidup!" kata Siao-lan. Dia berteriak  minta pintu, tapi belum ia melangkah keruang Tay-hiong-po-tian, tiba2 muncullah sesosok tubuh yang bukan lain adalah Tio Jiang.

"Hai, kiranya kau, Ciok Ji-soh telah  lama menunggumu!" ujar Tio Jiang.

Dengan girang sekali Siao-lan minta Tio Jiang membawanya kepada kakak iparnya itu. Tiba dikamar mereka, disana sudah kelihatan Kiau To, Ciok Ji-soh dan Yan-chiu tengah berpikir keras. Kiranya tempat penyimpan harta karun itu masih belum dapat diketemukan. Dalam pada itu, nyawa Yan-chiu hanya tinggal sehari dua malam saja.

Sebagai seorang wanita yang beradat lurus, Ciok Ji-soh tuturkan semua kejadian pada Siao-lan, termasuk diri Yanchiu. Tiba2 berkatalah The Go: "Aku yang rendah hendak menghaturkan suatu pendapat, entah saudara2 disini suka mendengarkan tidak."

Walaupun tahu kalau tadi Siao-lan membawa masuk The Go, tapi selama itu Kiau To dan Tio Jiang tak menghiraukannya. Mendengar orang yang dicap sebagai penghianat itu hendak menyatakan sesuatu, diam2 Kiau To dan Tio Jiang memakinya. Tapi kata2 makian itu  ditelannya kembali karena teringat bahwa si Cian-bin Long- kun itu seorang pemuda yang cerdik cendekia. Dalam hal kecerdasan, jarang terdapat ta.ndingannya didunia persilatan. Bahwa hanya karena salah asuhan sajalah, maka orang muda itu telah tersesat menjadi seorang penghianat. Rasanya tiada ada jeleknya untuk mendengarkan buah pikiran orang muda itu. Begitulah tanpa berjanji sebelumnya, Kiau To dan Tio Jiang saling menukar isyarat mata, masing2 setuju untuk mendengarkan apa yang hendak dikatakan orang itu. Kiau To yang perangainya kaku, tak mau bicara apa2. Tapi Tio Jiang yang jujur, segera membuka mulut: "Entah Cian-bin Long-kun mempunyai buah pikiran apa?"

"Huh, apa2an dia!" Yan-chiu ber-sungut2.

The Go tak mau menghiraukan, setelah mengatur napas, berkatalah dia: "Kurasa tempat harta karun itu, sangat pelik sekali. Yang disuruh menyembunyikan harta itu oleh Thio Hian-tiong, tentulah orang2 kepercayaannya. Bahwa orang persilatan sampai dapat mendengar soal harta karun itu, tentulah siasat anak buah Thio Hian-tiong itu sendiri untuk membuang bekas. Entah bagaimana pendapat saudara2 tentang penilaianku itu!"

Kiau To berempat seperti disadarkan.

"Wahai, mengapa kita tak dapat memikir sampai disitu? Hal itu sesungguhnya amat sederhana sekali!" seru mereka. Didalam hati mereka mengagumi kecerdasan The Go.

Setelah mengambil napas, The Go melanjutkan pula kata2nya: "tapi Thio Hian-tiong bukannya tak mengetahui bahwa betapapun rahasianya tempat harta itu, namun pasti bakal diketahui orang. Tapi dia sudah memperhitugkan, dikala  orang2  sama mencari kim-jiang-giok-toh Hai,

bukantah, saudara2 mengatakan bahwa Hwat Siau dan Swat Moay berada didalam gereja ini? Kata2ku tadi tentu dapat dicuri dengarnya!"

Oleh karena pada saat itu Kiau To dan Tio Jiang sudah menaruh kepercayaan pada The Go, maka mereka berdua segera memburu keluar untuk memeriksanya. Benar juga, tampak ada dua sosok bayangan hitam lari kearah utara. Ditilik dari arah berangkatnya, mereka tentu habis berada disitu, "Mereka benar mendengari diluar. Tapi kini mereka sudah lari jauh, The-heng tak usah kuatir apa2 lagi!" kata Kiau To dengan geramnya.

Bahwa mulut seorang berangasan macam Kiau To meluncurkan kata2 "The-heng" (saudara The), telah membuat semangat The Go timbul lagi. Setelah merenung sejenak, tangannya menuding kearah luar jendela dan mulutnya segera berkata : "Tapi akupun hanya men-duga2 saja. Kata orang 'yang kosong itu berisi, yang isi itu kosong'. Harta karun disembunyikan didalam perut arca. Hanya karena sangat dirahasiakan sekali, jadi orang tak dapat menemukannya dan lalu mengambil kesimpulan harta karun itu sebenarnya tak ada. Dan anggapan itu, dapat menyelamatkan harta karun itu!"

Diantara keempat orang itu, Ciok Ji-sohlah yang paling lamban ( tumpul ) otaknya. Diam2 ia memaki pada anak muda itu yang dikatakan jual petai kosong (membual atau omong kosong) saja.

Sebaliknya Yan-chiu cukup cerdas untuk menangkap maksud si Cian-bin Long-kun. Melongok keluar jendela didapatinya suami isteri Hwat Siau - Swat Moay itu baru saja loncat kearah wuwungan rumah disebelah muka untuk lari pergi. Berputar kedalam ruangan, memujilah Yan-chiu: "Cian-bin Long-kun, aku tunduk padamu!"

"Kali ini mereka benar2 pergi. Dengan Ilmunya mengentengi tubuh, bukan mustahil kalau mereka dapat pergi datang secepat kilat!" kata The Go.

Kini barulah Ciok Ji-soh tahu mengapa The Go ber- kata2 begitu tadi. Kiranya memang sengaja diperdengarkan kepada Hwat Siau - Swat Moay yang mendekam diluar jendela. Juga Kiau To dan Tio Jiang merasa kagum atas kecerdikan The Go. Dalam soal kecerdasan, mereka berdua mengaku kalah jauh dengan Cian-bin Long-kun. Kini mereka mencurahkan perhatian untuk mendengarkan apa yang hendak dikatakan The Go lebih lanjut.

Dengan membawa lukanya Itu, sebenarnya semangat The Go lemah sekali. Digendong Siao-lan menempuh perjalanan yang sedemikian jauhnya itu, luka2 dipahanya kambuh lagi dan mengucurkan darah pula. Tapi demi dilihatnya orang2 yang dahulu membencinya tujuh turunan kini mengunjuk sikap mengindahkan kepadanya, hatinya menjadi besar.

Bukan karena gila hormat, tapi karena insyaf bagaimana bedanya semangat perjoangan ber-api2 yang diunjuk oleh Tio Jiang dan kawan2 dalam membela negara dan bangsa, dengan kelakuannya (The Go) yang selama itu hanya memikirkan kepentingan diri sendiri serta mencelakai saudara2 sebangsa.

"Tegasnya, kalau hanya men-cari2 pada semua arca digereja itu, tentu akan sia2. Walaupun bangunan gereja Kong Hau Si ini sedemikian besarnya, tapi rasanya dapat juga diselidiki sampai habis!" habis berkata itu napas The Go tampak ter-sengal2 kepayahan. Buru2 Siao-lan menasehatinya supaya jangan berbanyak bicara dulu.

Tapi The Go tak menghiraukan, ujarnya: "Sudah beberapa hari kalian berada digereja ini, masakan dikompleks (lingkungan) gereja ini tiada terdapat tempat yang agak mencurigakan?"

Mendengar itu Yan-chiu seperti disadarkan. Teringat ia sumur kecil yang membentur kakinya itu, seperti memancarkan cahaya yang aneh. Tapi di-pikir2 rasanya mustahil harta karun itu berada didalam sumur yang sedemikian ke-cilnya. la menarik lengan Tio Jiang untuk diajak keluar. Ciok ji-soh dan Kiau Topun ber-turut2 meninggalkan kamar itu. Jadi yang berada disitu hanyalah Ciok Siaolan dan The Go berduaan.

Dapat menyumbangkan pikiran untuk membantu, The Go serasa terhibur hatinya.

"Siao-lan, apa kau tak mau bantu mereka mencarinya?" tanyanya kepada Siao-lan.

"Tidak, aku tak mempedulikan segala apa kecuali hendak mendampingimu!" sahut sinona hitam manis,

The Go menghela napas, ujarnya ter-iba2: "Siao-lan, aku selalu menyakiti hatimu..”

Buru2 Siao-lan dekap mulut The Go, serunya dengan mesra: "Engkoh Go, aku tak pernah sesalkan kau. Bagaimanapun kau memperlakukan diriku, aku tetap setia cinta padamu!"

Habis berkata, Siao-lan menangis. Sesal The Go tak kunjung habis. Dahulu ketika dia masih utuh cakap, dia tak menghiraukan nona itu. Sebaliknya biarpun kini dia sudah menjadi aeorang invalid, nona itu tetap setia.

"Siao-lan, dalam kehidupan sekarang ini, aku telah men- sia2-kan kau. Mudah2an dalam penitisan besok, kita dapat bersatu se-lama2nya," katanya sembari menghela napas.

"Mengapa? Apakah karena nona Bek?" tanya Siao-lan. "Ah, nona Bek konon kabarnya sudah mencukur rambut

menjadi  rahib  (nikoh)   sudah   tentu  ia   tak  mau  campur

dengan keduniawian lagi. Pun aku juga yang mencelakainya. Kini kedua kakiku sudah buntung, menjadi seorang Invalid” "Sudahlah! Sekalipun kau meninggal, aku tetap menyintaimu!"

Terharu The Go mendengar pra-setya dari nona itu. Digenggamnya tangan nona itu erat2 tanpa mengucap sepatah katapun, hanya dua pasang mata saling berpandangan, merangkai seribu kata bahasa asmara.

Adalah pada saat mereka diayun dalam buaian kebahagiaan, tiba2 dari mulut jendela terdengar suara ketawa. Menyusul dengan bunyi "brak" dari daun jendela terpentang, muncullah seorang hweshio.

"Cian-bin Long-kun seharusnya mengganti nama dengan Hong-liu Long-kun (pemuda akhli merayu) barulah tepat. Ho....., suatu adegan yang romantis benar2 ini!" seru hweshio itu.

The Go terperanjat mendengar nada suara itu. Ketika mendongak kemuka, benarlah apa yang diduganya itu. Hweshio gadungan itu ternyata Swat Moay adanya. Diam2 The Go mengeluh dalam hati. Swat Moay seorang yang ganas, dalam keadaan seperti sekarang dia bukan tandingannya. Siao-lanpun Idem, tak nanti dapat menandingi wanita lihay itu. Namun sebagai seorang yang cerdik, dia berusaha untuk mengekang kegelisahannya. Dengan memain senyum, berkatalah dia: "Ah....., cianpwe menggoda saja!"

Sebaliknya Siao-lan yang belum kenal siapa hweshio itu segera menanyakan kepada The Go. Mencuri suatu kesempatan, The Go memberi isyarat dengan kerlingan mata agar Siao-lan lekas keluar memanggil Kiau To  dan Tio Jiang.

Tapi sayang Siao-lan tak mengerti dan malah bertanya lagi: "Dia hendak apa kemari ini?" Swat Moay sebal mendengar itu, lalu loncat masuk. Dalam kegugupannya The Go paksakan tertawa dan menyahut kepada Siao-lan: "Cianpwe ini adalah seorang pendekar dari Tiang-pek-san yang menjadi orang kepercayaan Sip-ceng-ong dari kerajaan Ceng. Orang menggelarinya sebagai Swat Moay!"

Dengan keterangan itu, The Go percaya, sekalipun Siao- lan itu sangatlah bodohnya namun dengan mengetahui adanya seorang jagoan Ceng yang menjadi musuh Thian Te Hui, ia tentu sadar dan tentu akan lekas2 lari keluar untuk memanggil bantuan. Tapi kode The Go itu tetap macet lagi. Walaupun tahu bahwa kehadirannya seorang kepala jagoan Ceng itu tentu merugikan The Go dan dirinya sendiri, namun Siao Lan tak memikir untuk memanggil Kiau To dan kawan2. Bahkan ia malah mencekal senjatanya hi-jat untuk di-goyang2-kan hingga thiat-hoan (gelang besi) yang tersalut pada ujung hi-jat itu berkerontangan bunyinya. Dan begitu tampak Swat Moay menghampiri dekat, ia segera membentaknya: "Karena kau orangnya pemerintah Ceng, sanalah jangan dekat2 pada engkoh Go!"

The Go mengeluh gelisah. Sebaliknya Swat Moay perdengarkan suara ketawa iblis.

”Harap cianpwe jangan mencelakai dia, silahkan tanya padaku saja. Siao-lan, lekas cari Kisu To dan engsomu sana!" kata The Go. Oleh karena otak Siao-lan begitu buntu, maka dia terpaksa menyatakan maksudnya itu dengan terang2an.

Sebenarn ya bukan tak tahu Siao-lan bahwa keadaan saat Itu amat berbahaya sekali. Tapi dipengaruhi oleh rasa kasihnya kepada The Go, ia tak tegah biarkan pemuda itu seorang diri menghadapi musuri. Jadi sebaliknya dari pergi, ia malah berseru: "Jangan takut, engkoh Go! Biar kugebah hweshio ini!" Siao-lan tak mengetahui kalau hweshio itu sebenarnya seorang wanita. la tetap mengira kalau hweshio itu seorang hweshio tulen. Begitu gerakkan hijat, dengan jurus hun-cui- hwat-boh (pecah air menda yung ombak), ia tusuk perut orang. Hi-jat atau senjata garu ikan itu, panjangnya hampir

2 meter. Sedang ruangan situ amatlah sempitnya. Tapi dengan dapat memainkan senjata itu sedemikian rupa, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa Siao-lan telah mempunyai latihan yang mahir dalam permainan senjata itu. Tapi sayang lawannya adalah Swat Moay, yang jauh berlipat ganda dari ia. Belum hi-jat menusuk kemuka, tangan Swat Moay sudah dijulurkan menerkam. Ciok Siao- lan mengisar kesamping lalu menusuk ulu hati. Tapi lagi2 hal Itu sudah diperhitungkan Swat Moay. Ini bukan dikarenakan ia mahir akan permainan hi-jat Lam-hay-cak- jat, tapi oleh sebab gerak permainan ilmu sllat itu pokoknya hampir serupa. Setelah gagal menyerang perut, hi-jat tentu akan ditusukkan kedada. Ini adalah dalil. Dan menunggulah tangan kanan Swat Moay didadanya. Begitu hi-jat menusuk, cukup dengan dua buah jarinya, ia sudah dapat menyepitnya erat2.

Bahwa hi-jatnya serasa menusuk kaget, kemudian seperti ditarik keras, telah membuat Siao-lan terperanjat sekali. Ketika diawasinya, ternyata ujung senjatanya telah dijepit jari lawan. Hendak ia menariknya kuat2, tapi sedikitpun ternyata tak dapat bergerak.

"Capung membentur tiang batu!" tertawa Swat Moay dengan sinis. Begitu ketiga jarinya dikatupkan melingkar, ujung hi-jat yang besarnya sama dengan jempol tangan itu, segera melengkung bengkok. Kini baru Siao-lan tahu lihay hingga mulutnya menganga. Maka cukup dengan menyentak sedikit saja, hi-jat Itu sudah pindah ketangan Swat Moay, siapa lalu sodokkan tangkai hi-jat kemuka. Seketika terkulailah Siao-lan rubuh ketanah karena jalan darahnya kian-ceng-hiat tertusuk.

The Go tersentak kaget. Dengan tahankan sakit, dia paksakan diri untuk mengangkat tubuhnya. Dilihatnya Siao-lan sudah tak berkutik lagi ditanah. Dengan menghela napas panjang, dia terlentang lagi dipembaringan.

Swat Moay masih sengaja hendak unjuk kegarangan. Sekali ia banting hijat itu kelantai, maka menyusuplah ujung senjata itu sampai setengah meter dalamnya. "Cian- bin Long-kun, apakah selama ini kau baik2 saja?" tanyanya.

Satu2nya jalan bagi The Go yalah mengulur waktu, mudah2an Kiau To dan kawan2 segera kembali. Oleh karena tak dapat mencari lain alasan, maka  disingkapnyalah selimut yang menutup kakinya itu. Melihat kedua kaki pemuda itu sudah buntung, berserulah Swat Moay: "Ah, siasat orang Thian Te Hui itu, keliwat ganas!"

"Siasat cianpwe, juga tak kurang ganas dari itu. Sucouku menyatakan: 'rekening itu harua dibayar oleh cianpwe berdua'!" sahut The Go tak kalah sinisnya,

"Apakah Ang Hwat cinjin juga datang kemari?" tanya Swat Moay dengan kejutnya.

The Go ganda tertawa tak mau menyahut. Tapi Swat Moay seorang cerdas. Dalam lain kejab saja, ia sudah dapat menduga bahwa kata The Go itu hanya gertakan saja.

"Cian-bin Long-kun, kalau kali ini kau mau bekerja sama dengan kami, tanggung takkan mengalami kerugian lagi! Jika berhasil mendapatkan harta karun itu, cukup dengan 1% saja bagianmu, kau pasti akan dapat menikmati penghidupan yang senang sampai akhir hidupmu!"

Swat Moay salah rabah siapakah Cian-bin Long-kun yang baru itu. Dengan ucapan itu, terbangkitlah penyesalan The Go. Dia menyorot perjalanan hidupnya yang lalu, Adalah karena "temaha akan keuntungan" itu, sehingga kini namanya ternoda dan badannya cacad. Telah menjadi tekadnya, dengan sisa hidupnya sebagai orang cacad itu hendak dia menebus kedosaannya. Dan tadi diapun sudah memulaikannya dengan membantu pikiran pada Kiau To dan Tio Jiang.

Seketika merah padamlah selebar muka Cian-bin Longkun. Tiba2 dia menghantam papan pembaringan dan berseru: "Kata2-mu itu salah. The Go yang sekarang ini, bukanlah The Go yang dahulu. Sekalipun seluruh harta karun itu diberikan padaku, tak nanti aku sudi galang gulung dengan kamu lagi!"

Swat Moay tersentak kaget, tapi ia segera tertawa mengejek, serunya: "Bagus, seorang Cian-bin Long-kun yang patriot dan luhur. Siapakah yang membawa tentara Ceng masuk ke Kwiciu? Siapakah yang menjadi perencana hancur leburnya ke 72 markas Hoa-san itu ? Apakah kau kira mereka mau mengampuni kau sungguh? Apakah mereka tidak menggunakan kau sebagai alat sementara, lalu kelak menghukummu lagi!!"

Kening The Go mengucurkan keringat sebesar butir kedele. Diam2 terbit pertentangan dalam  batinnya. Memang kedosaannya itu sukar mendapat keampunan. Kalau dia bekerja sama dengan pemerintah Ceng lagi, mungkin din akan mendapat kenikmatan hidup. Tapi terkilas pula dalam pikirannya, bahwa orang2 macam Ceng Bo siangjin dan kawan2 itu, adalah orang2 gagah yang jujur perwira. Bagi mereka merah tetap merah, putih tetap putih. Dalam beberapa jam saja berkumpul dengan mereka, dia mendapat kesan akan kejujuran dan keluhuran budi mereka. Terang mereka takkan seperti yang dituduhkan Swat Moay tadi, yakni kelak akan menghukumnya lagi. Malah bukti menyatakan kalau bercampur gaul dengan orang2 macam Hwat Siau dan Swat Moay itu, besar bahayanya.

Diam2 dia mengutuk wanita ganas yang berlidah racun itu, sehingga hampir saja menggoyahkan pikirannya menjurus kejalan yang celaka,

"Kalau mengharapkan The Go masuk dalam perserekatan kawanan tikus lagi, mungkin seperti menantikan halilintar berbunyi ditengah hari!" ujarnya dengan tegas.

Wajah Swat Moay berobah, sembari menyambar hijat. dia mengancam: "Baik, kau boleh puaskan hatimu memain lidah. Tapi akupun tak mau membiarkan kau menjadi penasehat dari Thian Te Hui. Biar kucabut nyawamu dululah!"

"Kalau mau bunuh lekaslah bunuh, jangan buang tempo mengomong yang tak berguna!" sahut The Go dengan tak gentar.

Sebaliknya Swat Moay menjadi terkesiap. Seorang pemuda yang kemaruk pangkat dan harta, kini dalam beberapa hari saja sudah berobah menjadi seorang jantan yang perwira. Tapi tiba2 ia mendapat siasat bagus.

"Kau jatuh giliran yang kedua, lebih dahulu anak perempuan inilah!" aerunya. Berputar kebelakang ia aegera angkat hi-jat menusuk dada Siao-lan.

"Tahan!" se-konyong2 The Go berseru kaget, "Bagaimana, apa sudah berobah haluan?" tanya Swat

Way.

Dalam beberapa kejab itu, pikiran The Go, sudah berobah. Dahulu dia men-sia2kan nona itu sedemikian rupa, sebaliknya kini ternyata nona Itu tetap setia. Untuk kesetiaan itu, dia berjanji pada diri sendiri  hendak membalas budi. Sudah tentu dia tak tegah biarkan nona itu binasa. Namun untuk menolong sinona, berarti dia harus meluluskan permintaan Swat Moay, suatu hal yang bertentangan dengan prinsip hidupnya yang baru. Ber- ketes2 butir keringat mengucur dari dahinya, karena, sang pikiran pepat memecahkan kesukaran itu.

Tampak Swat Moay mengangkat hijat, kini ujung senjata itu terpisah satu meter dari dada Siao-lan.

"Cian-bin Long-kun, pikirlah masak2. Akan kuhitung satu sampai 10, dan ujung hi-jat ini akan menurun sampai setengah meter!" serunya.

Menurut perhitungan waktu, menghitung 1 sampai 10 itu hanya memakan waktu, 10-an detik saja. Belum  lagi The Go mendengar jelas apa yang dikatakan Swat Moay itu, atau wanita ganas itu sudah mulal menghitung dan tahu2 sudah sampai hitungan yang ke 10. Tanpa pedulikan suatu apa lagi, ujung hi-jat itu meluncur turun dengan pesatnya.

Dalam kejutnya The Go menjerit, tapi ternyata lwekang Swat Moay sudah mencapai tingkat kesempurnaan, dapat menguasai gerak tenaga menurut sekehendak hatinya. Walaupun turunnya hi-jat itu sedemikian pesat, tapi tepat pada setengah meter kebawah, senjata itu dapat berhenti. Melirik kepada The Go, kembali mulut wanita itu mulai menghitung dari 1 lagi.

Saking menahan kesesakan napas, dada The Go serasa panas. Napasnya memburu keras dan matanya ber- kunang2. Dia paksakan untuk mengangkat kepalanya yang berat itu.  

9

Waktu The Go menoleh, tahu2 dilihatnya senjata garu itu sudah dekat di dada Ciok Siok-lan

Mengawasi kemuka. Samar2 tampak olehnya,  ujung hijat itu sudah menurun setengah meter. Dan sebelum dia sadar, didengarnya Swat Moay sudah menghitung sampai bilangan ke 6. Dan pada saat itu, The Go sudah pingsan tak Ingat orang lagi.

Tapi karena Swat Moay membelakangi The Go, jadi ia tak tahu akan keadaan anak muda itu. Malah ia sudah mereka (merencanakan) rencana, kalau nona itu tak dibunuhnya, The Go pasti akan mengira kalau ia (Swat Moay) hanya main gertak saja. Jadi untuk menundukkan kekerasan hati anak muda itu, jiwa nona itu harus dikorbankan. Dan seperti bunyi mitraliyur, mulutnya berhamburan menghitung 7, 8, 9. Begitu mengucap 10, ujung hi-jatpun meluncur turun

"Omitohut, siancay....., siancay.......!" se-konyong2 pada saat2 yang genting meruncing itu, terdengar suara seorang hweshio mengucapkan tegur keagamaan. Nada seruan itu luar biasa sekali kedengarannya. Seluruh ruangan situ se-olah2 dicangkum oleh gema suara atau kalau dalam kiasan bahasa daerah (Jawa)  orang mengatakan ”turut ngusuk" (menyalur diantara tiang bandar dan penglari atap). Begitu ulem (kumandang) namun begitu ramah wajar bagai melukiskan suatu suasana kehampaan yang agung. Sampaipun seorang tokoh macam Swat Moay mau tak mau menjadi tersentak kaget juga. Dan ujung hi-jat yang hanya terpisah satu dim dari dada Siao-lan itu tertahan oleh getaran suara tadi, hingga tak dapat langsung mengenai badan.

Dalam tersadarnya, secepat kilat Swat Moay berpaling kearah pintu. Hai, kiranya diambang pintu tampak ada seorang hweshio tinggi besar, berwajah merah  berseri seperti bayi. Hweshio tua itu mengenakan jubah warna putih dan mencekal sebatang sik-sian-ciang (tongkat pertapaan terbuat dari timah), sedang mengawasi kearahnya.

Berdebar hati Swat Moay menampak hweshio yang berwajah sedemikian ramahnya itu. Cahaya wajah yang bebas dari segala dendam permusuhan terhadap siapapun juga. Api kemarahan yang bagaimana hebatnyapun rasanya seperti sirna daya ditatap oleh cahaya muka yang seagung itu. Sekalipun begitu jelas tampak oleh Swat Moay bagaimana sikap hweshio itu sedemikian tenang laksana laut, kokoh laksana gunung. Sebagai seorang tokoh persilatan tahulah sudah Swat Moay bahwa kini ia berhadapan dengan seorang achli lwekang dan gwakang (tenaga luar) yang istimewa.

Adalah pada saat ia terpesona itu, si hweshio sudah ayunkan langkahnya pe-lahan2 menuju ketempat pembaringan The Go. Sewaktu lewat disisi Siao-lan, dia pun mengerlingkan pandangannya sebentar, menengok nona itu.

"Siancay...., siancay.....! Mengapa sicu (anda) menahan kesakitan begitu rupa?" bisiknya dengan halus. Dan cukup dengan menyentuhkan ujung tongkatnya kebahu Siao-lan dengan pelahan, terbukalah sudah jalan darah sinona yang tertutuk tadi. Tapi tetap sinona tak berani bergerak, karena ujung hi-jat ditangan Swat Moay itu masih tetap berada  satu dim diatas dadanya. Rupanya hal itu diketahui juga oleh sihweshio.

"Harap sicu hematkan tangan, agar nona ini dapat berbangkit," katanya kepada Swat Moay.

Kata2 itu bukan merupakan suatu perintah, karena nadanya begitu ramah halus. Tapi seperti terkena daya penarik kuat, tanpa merasa Swat Moay mengangkat pula hi- jat keatas. Barulah ketika didapatinya Siao-lan loncat bangun, Swat Moay menjadi tersadar dari kehilangan peribadinya tadi. Ya, mengapa ia begitu serta merta mendengar kata2 si hweshio? Bukantah tadi ia sudah menetapkan rencana bagus? Mengapa hanya dengan sepatah dua kata2 hweshio itu saja, ia sudah kehilangan faham?

Begitu kesadarannya pulih, la segera berseru keras terus menyerang hweshio pengacau itu. Swat Moay cukup insyaf bahwa hweshio itu tak boleh dibuat main2. Maka sebelum orang berjaga, ia sudah mendahului dengan sebuah serangan mendadak yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga, bahkan sekaligus ia salurkan juga lwekang im-cui. Sedemikian dingin hawa lwekang Itu menabur, hingga Siao-lan menggigil bergemetaran. Saat itu The Gopun sudah tersadar. Begitu didapatinya Siao-lan berada disisinya, dia lekas menggenggam tangan sinona.  

Begitu tersadar dari kesimanya, dengan sengit Swat Moay terus ayunkan garu ikannya untuk menyerang Tay Yang Siansu.

Sebaliknya hweshio itu enak2 saja tampaknya. Dia  masih diam saja ketika ud yung hi-jat yang mengeluarkan hawa sedingin es itu hampir mengenal tubuhnya. Hanya tampak tangannya bergerak sedikit untuk melintangkan tongkat pertapaannya. Trang...... bergerontanganlah bunyi hijat dan tongkat timah berbenturan. Untuk kekagetan Swat Moay, didapatinya lwekang im-cui itu menjadi sirna daya, lenyap bagai sebentuk jarum jatuh didalam samudera. Hendak la menarik pulang senjatanya, tapi tak mampu.

(Oo-dwkz-0-tah-oO)
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Naga dari Selatan BAGIAN 54 : ASMARA MURNI"

Post a Comment

close