Kisah Bangsa Petualang Jilid 22

Mode Malam
 
Jilid 22

Jikalau kau nanti memperoleh tiga anak.” kata Wee Wat,

„anakmu yang sulung akan menjadi penyambung kamu kaum keluarga Lam. Mertuamu tidak mempunyai anak laki-laki, dari itu sudah selayaknya apabila anakmu yang ke dua dikasihkan padanya, buat menyambung turunan. Keluarga Hee. Benar tidak ?

Cee In sedang berduka; tak seharusnya ia turut berkelakar, akan tetapi keanehan si orang tua membuatnya melayani juga.

„Bagaimana dengan putera yang ke tiga itu ?”‘ ia tanya. Wee Wat menatap dia menjawab : ”Hong hu Siong telah bertindak sehingga seperti ia sendiri yang membunuh adiknya, ia te lah berbuat banyak untuk pihak kamu …”

„Ya itu benar ! Tadinya kami keliru menyangka dia sebagai manusia busuk, sekarang aku menyesal, tak enak hatiku terhadapnya. Tapi, locianpwe ada apakah hubungannya dia dengan kata kata locianpwe ini ?”

,,Pasti ada ! Apakah kau benar-benar tidak ketahui ? Dialah pemimpin Kay Pang Partai Pengemis, seumur hidupnya dia tidak dapat menikah untuk memperoleh anak, maka itu, anakmu yang ke tiga itu, andaikata kau mendapatnya, dapatkah kau memberikan padanya ? Guna membikin lega hatinya disaat-saat usia lanjutnya ? Kami kaum pengemis, kami tidak menghiraukan tentang tingkat derajat, anakmu itu dapat dijadikan anak atau cucunya ! ‘

Cee In tertawa.

,,Tentang memperoleh anak, itu adalah karunia Tuhan !” kata ia. „Baiklah ! Dan andaikata aku memperoleh anak yang keempat nanti aku hadiahkan dia kepada locianpwe! ‘

Wee Wat pun tertawa.

,,Dengan begini berarti kau telah menerima baik ! Hong-hu Siong tidak punya anak atau keponakan, setelah dia mati nanti dia menghendaki ada orang yang merawat kuburannya ! Aku sebaliknya tidak menghiraukan itu! Meski demikian, apabila benar kau mempunyai anak yang keempat nanti dan kau suka menyerahkan padaku, pasti aku akan menerimanya dengan senang !”

Kelak kemudian selama empat tahun, Cee In benar-benar mendapat tiga orang putera. Sekeluarnya dari guha, Leng Song lantas melihat mayat ibunya. Kembali ia menangis sangat sedih hingga ia menjadi pingsan lagi,

Dengan sebat Wee Wat membantu bekerja, untuk membakar jenazah Leng Soat Bwee, setelah mana, tulang-tulang atau abu nya lantas dibungkus rapih.

Leng Song tidak curiga apa-apa, ia tidak memeriksa luka ibunya, dengan begitu tak tahu ia bahwa ibunya sudah membunuh diri,

Setelah itu Wee Wat kata pada Cee In : „Bukankah Lam Hiantit hendak kembali ke daerah Tongkwan gana mengumpulkan sisa-sisa tentara ? Karena kota Tekciu terpisah dari sini seperjalanan beberapa hari, baik lah aku si pengemis tua menemani Nona Hee ke Tekciu, guna mengubur jadi satu ayah dan ibumu habis itu akan aku kawani kau kembali kepada suamimu untuk membantunya.”

Leng Song menepas airmata. Ia berhenti menangis.

„Locianpwe, budimu sangat besar, entah aku dapat membalasnya atau tidak,” katanya bersyukur.

,,Guna membalasnya mudah saja nona.” kata si pengemis,

,,aku telah bicara dengan suamimu, asal kau dapat melahirkan beberapa anak lebih, itu berarti kau sudah membalas budi kami

!”

Mendengar itu, walaupun ia tengah sangat berduka, mukanya Leng Song toh menjadi merah saking malunya.

„Nona He jangan kau layani dia” kata Hong-hu Siong. „Wee Toako kami ini memang paling doyan ngoceh tidak keiuan se bagai orang edan ! Ia terus menoleh pada Cee In untuk menambahkan : „Aku hendak mengubur ini anak celaka, setelah itu, aku masih mesti melakukan sesuatu tetapi habis it,u mungkin nanti datang pada waktu nya dan aku akan pergi ke Tongkoan untuk mencari kau …”

Sungguh aku sangat beruntung jikalau aku memperoleh bantuan dari locianpwe berdua,” kata Cee In.

Toan Kui Ciang sangat berduka, ia menghela rapas dan berkata: ,,Dengan ayah dan ibu Nona Hce dahulu hari aku bersahabat erat sekali, hari ini saKit hati saudara Seng’To telah dapat dibalaskan, hatiku lega sebagian. Sekarang tinggal sakit hatinya saudara Su enah sampai kapan itu baru dapat dilampiaskan …. Pula istrinya sahabatku itu berada disarang jahanam, sampai sekarang sudah berselang tujuh a-tau delapan tahun, kabar ceritanya pun tidak ada sama sekali, dia sungguh harus di buat pikiran Ah, ketika Soat Bwee mau pergi ia masih mengatakan, didalam kami bertiga «akulah yang paling beruntung, tetapi sebenarnya,’ manakah keberuntunganku? Dua sahabat karibku, dua-duanya mati celaka sedang anakku telah diculik Khong-Khong Jie, sampai sekarang ini dia belum ketahuan berapa dimana – . . .” Jangan berduka Toan tayhiap, Hong-hu Siong mengghibur. “Wee toako ber sama aku mempunyai hubungan dengan Khong- Khong Jie. Kabarnya Khong- khong-jie pernah didustakan adik seperguruannya yang durhaka itu, sampai dengan Wee Toa-ko dia mempunyai suatu urusan maka itu pasti kami akan mencari dia, buat membikin reda urusannya dengan Wee Toako, untuk sekalian meminta pulang anak tay-hiap itu.”

“Hm !” Wee Wat mengasih dengar suara tawarnya. “Khong- hong Jie paling mengeloni adik seperguruannya aku kuatir dia nanti seperti orang yang mendekati bak lalu dia turut menjadi hitam !”

„Aku tahu Khong- Khong Jie semenjak dia kecil.,’ kata Hong- hu Siong pula, -Dia rada jumawa akan tetapi sifatnya baik, dari itu aku percaya tidak nanti dia kecipratan menjadi hitam. Jikalau benar dia berubah hingga menjadi demikian buruk, pasti aki tiask akan memperhatikan pula pei-sa-habatannya denganku, bila tiba saatnya kita berdua kita akan menunduki dia untuk memaksanya membayar pulang anaknya Toan Tayhiap !’

Kui Ciang lantas menghaturkan terima kasih kepada ketua pengemis itu.

”Urusan anakku ialah urasan yang kedua. katanya. Yang paling terutama ialah urusannya mendiang saudara Su It jie. Saudara itu mati karena aku dan istrinya pun terkurung didalam sarang penjahat, tak tenang hatiku. Justeru sekarang dorna An Lok San itu telah berontak, Keselamatan nya Nyonya Su makin terancam. Maka itu hendak aku paling dulu untuk menearitahu tentang dia. Kabar penghianatan she An itu lagi bersiar? menyerbu kota Tiang-an dari itu kami berdua suami-istri mau menyamar jadi rakyat yang mengungsi guna mencari ketika akan memasuki tangsi pemberontak itu buat menolong Nyonya Su …

Sementara itu Cee in berkata Mo Lek: ‘Sudah beberapa hari kau mensia-siakan waktumu disini, mungkin raja sudan meninggalkan kotaraja, untuk menyingkir kebarat oleh karena itu, pergilah kau lekas berangkat ke Tiang-an !”

„Aku justru mengharap-harap raja sudah meninggalkan Tiang-an, “kata si anak muda she Tiat bagaikan mendumal. – ”Dengan begitu tak usahlah aku menjadi sipelindung yang sial dangkalan ….”

”Jangan kau mengatakan begitu !” kata Cee-In sungguh- sungguh.

Tapi Mo Lek tertawa memotong kata-kata  kakak seperguruan itu: ”Aku mengerti maksud kau ! Baiklah, aku suka mendengar perkataanmu ! Sekarang juga akan aku berangkat

!”

Sampai disitu, berangkatlah mereka turun dari gunung Hoa San. Mo Lek, sambil menuntun kuda Oey piauw, berjalan bersama dengan begitu dapat ia menutur pengalamannya selama beberapa hari yang piling belakang ini, ia hanya menyembunyikan halnya Ong Yan yang diam-diam mencintanya.

Tidak lama mereka sudah mendekati lembah tempat kediamannya Tian Toa-Nio, segera mereka melihat api berkobar-kobar. Teranglah sudah, itulah rumahnya si nyonya tua yang telah menjadi lautan api !

-oo0dw0oo-

,,Eh, heran ! ‘ kata Wee Wat. ,,Siapa yang bernyali demikian besar berani membakar sarang hantu wanita itu ?”

“Barangkali anaknya,” Mo Lek menyatakan dugaannya.

,,Anaknya itu bukan orang golongan Hiap gie akan tetapi dia tidak dapat dicela. Mungkin dia telah mengambil keputusan untuk memisahkan diri dari ibunya.’

“Jikalau benar puteranya yang membakar,”kata Hong-hu Siong. ”Tentukah dia mengandung maksud. Dia mau bikin ibunya tidak dapat tidak, mesti meninggalkan sarangnya itu.”

Wee Wat mengangguk.

“Itu benar,” bilangnya. ”Sarangnya Tian Toa Nio telah kita ketemukan tentulah pula membikin susah ibunya atau mungkin sekali dia kuatir ibunya nanti berkepala batu ibu itu tak sudi meninggal kan sarangnya itu, ibu itu tak mau menunjuki bahwa dia jeri. Demikian maka dia membakar rumahnya.” “Akulah seorang yang bersikap selalu memandang orang dari pihak baiknya” Kui Ciang turut bicara. „Aku lebih setuju dengan cara pemikirannya Mo Lek, Pendek kata tak peduli dia memikir dari sudat mana dia terang jauh terlebih baik daripada ayah dan ibunya.” 

Demikian mereka berjalan sambil berbicara.

Satu kali Mo Lek menoleh kearah api yang masih bersinar terang lantas pikirannya kembali kepada pengalamannya selama beberapa hari yang paling belakang ini ia lantas merasa hatinya tertekan Didepan matanya segera berbayang roman bengis dari Tian Toa Nio yang telengas serta wajah yang menyedihkan dari Ong Yan Ie yang berduka dan menyesal. Semua itu berbayang diantara asap yang mengepul-ngepul itu…..Lalu pada telinganya berkumandang suaranya Yan Ie suara yang manggoncang-kan hati….suara yang dikeluarkan disaat. Tian Toa Nio hendak menghajar mati padanya. Sekarang sarang hantu itu habis di api akan tetapi bayangan Yan le tak dapat lenyap bersama.

Mengingat Yan Ie yang seperti melekat pada otaknya, Mo Lek menjadi masgul. Ia mencoba menghiburi diri dengan berkata: ,.Suhengnya menyintai sungguh sungguh padanya, pastilah suheng itu akan melindungi dia selama seumur hidupnya….Sekarang mereka berdua sudah lolos dari tangan nya sihantu wanita karena itu baiklah aku jangan menguatirkan pula padanya.

Tidak lama keluarlah sudah mereka dari lembah. Sekarang tibalah saatnya untuk berpisahan. Kui Ciang dan Cee In memesan pua pada Mo Lek supaya setibanya di kota Tiang an anak muda itu berlaku waspada sekali, terutama jangan dia mengumbar napsu hatinya. Dia juga dipesan apabila dia tidak mengarti sesuatu dia mesti minta pikirannya Cia Siang serta Uy tie Pak. Mo Lek menerima pesan itu ia memberi hormat pada Kui Ciang semua lalu dengan menunggang uy piauwma ia berangkat melakukan perjalannya itu. Kudanya itu dapat lari keras di hari ke dua tengah hari. sampai sudah ia dik aki gunung Lee San dalam wi’oyah Litn tong. Dari situ buat sampai di Tiang-an perjalanan tinggal lagi seratus lie iebih.

Gunung Lee San luas beberapa puluh lie disitu Mo Lek melarikan kudanya didepannya. Sekonyong konyong kuda uypiauw ma meringkik keras dan panjang. Dia seperti mendapat firasat bahwa didepannya ada sesuatu yang menakuti atau hebat. Dia pun segera menghentikan tindakannya tak mau dia maju terlebih jauh.

Mo Lek heran sekali sambil memandang kedepan dan sekitarnya ia berpikir ,,Kuda ini tidak jeri menghadapi medan perang yang merupakan hutan golok pedang dan tombak sekarang kenapa dia takut tidak keruan? tanyanya didalam hati Lantas ia menepuk-nepuk punggungnya kuda itu untuk berkata: „Kuda kudaku yang baik!” Sudah banyak kali kau melindungi aku maka itu apabila kau menghadapi ancaman bahaya aku juga dapat membelai kau! Kau jangan takut hayo maju, maju! ‘ Kuda itu benar-benar mengarti maksud orang atau anjuran majikannya ia bertindak pula hanya sekarang dia tidak larat seperti tadi terang nampak dia masih rada jeri atau gusar….”

Hanya sebentar sampailah Mo Lek di satu tempat didekat lembah dimana ditepi jalan, ada sejumlah orang sedang berkumpul. Dilihat dari jauh dari gerak-gerik mereka itu rupanya mereka tengah mempertengkarkan sesuatu.

Puteranya Tiat Kun Lun ini hidup di atas gunung ia juga biasa melatih diri dengan senjata rahasia ia mempunyai mata yang jeli sekali. Lantas ia mengawasi tajam. Tempo ia melihat satu orang yang berdiri madap kearahnya ia terperanjat. „Dia toh Tian Goan Siu?” katanya di dalam hati. ”Eh, mengapa aku tidak melihat Yan Ie?”

Berbareng dengan itu pemuda ini lantas mengarrti bahwa kudanya jeri terhadap orang she Tian itu. Maka ia tertawa ia terus menepuk-nepuk! ”Orang itu telah menjadi sahabat kita! Dia tidak bakal mencelakai pula padama! kau besarkan hati ha- yo maju!”

Sembari maju Mo Lek menekan dalam kopiahnya hingga separuh mukanya jadi ketutupan. Ia menjepit perut kudanya untuk menyuruh binatang itu lari keras.

Hanya sebentar terdengar sudah suara orang…..orang-orang yang lagi bersisih satu dengan yang lain itu. Walaupun masih rada samar Mo Lek mendengar satu suara yang ia kenal baik. Kata orang itu sambil tertawa mengejek: “Tuan yang muda kau menghendaki anak orang se-baliknya kau tidak memperdulikan ayahnya! Dikolong langit ini dimana ada hal yang sedemikian rupa? Kau mau enak sendiri saja!”

Atas itu terdengar suaranya Tian Goan Siu: ..Jangan kau ngoceh tidak keruan! A-ku toh tidak mempunyai sangkutpaut apa juga dengan kamu? Bukankah kita bagaikan air kali dan air sumur yang tidak saling menyerbu?. Aku Tian Goan Siu, aku bukannya orang bangsa enghiong atau hiap su akan tetapi aku bukanlah siharimau tukang mengganas!”

Orang itu tertawa pula secara dingin.

Dialah Ceng -ceng Jie. kata dia nyaring : „Siapakah yang tidak tahu bahwa kau mengarah anak daranya Ong Pek Thong

? Di lembah Liong Bin Kok telah kau tolongi dia kenapa kau tidak mau menolong terus-terusan hanya setengah hati ? Hahahah ! menjadi harimau tukang mengganas ? Tak apa kau mencaci, aku tetapi, bukankah dengan begitu kau juga sekalian mencaci mertuamu ?” Tepat disaat itu, Mo Lek telah tiba di antara orang-orang yang lagi mengurung Tian Goan Siu itu. Sengaja ia berseru seraya menggeprak kudanya, untuk membikin uypiauwma berlompat maju untuk menerjang orang banyak itu. Tentu sekali mereka itu menjadi kaget dan lantas berlompat mundur guna mengelakkan diri dari tabrakan.

Ceng Ceng Jie bermata sangat liehay. ,,Oh, bocah kiranya kau !” dia membentak.

Ketika itu Mo Lek sudah lompat turun dari kudanya «ambil ia menghunus pedangnya.

„Ceng Ceng Jie!” ia membentak. ,,Ceng Ceng Jie, kaulah sipengkhianat negara ! Ba gaimana besar nyalimu hingga kau sudah datang ke dalam wilayah kota raja ! Bahkan disini kau hendak membikin orang celaka ‘

Ceng Ceng Jie tidak takut bahkan dia tertawa.

„Tiat Mo Lek !” katanya nyaring mengejek. ,,Aku tahu ! kau memang datang ke mari untuk menjadi “Gie-cian Sie wie ! Tetapi, tahukah kau bahwa sebelumnya kau memangku pangkatmu itu, kau bakal menjual jiwamu untuk junjunganmu’

Mo lek terkejut di dalam hatinya Kwe Cu Gie memujikan ia menjadi Gie cian Sie wie, pahlawan pengiring raja, itulah hal yang dirahasiakan, kenapa Ceng Ceng Jie ketahui itu ? Tidakkah itu aneh ‘

Ceng Ceng Jie berhenti tertawa mengejek, sebagai gantinya dia berkata dingin : ,,Dengan kepandaian semacam yang kau punyai, kau hendak menjual jiwamu kepada raja, aku kuatir, kau tak dapat melakukannya …” Menyusui kata katanya itu, segera ia maju, untuk menyerang. Dengan memutar tangannya pada tangan itu lantas tampak sebilah pisau belati yang tajam bergemerlapan ! Tiat Mo Lek ketahui orang memiliki pisau belati yang sangai tajam, ia lantas berkelit, akan tetapi sembari melindungi diri itu, dari samping ia balas menikam pinggang orang.

Ceng Ceng Jie berkelit sembari berbuat begitu, kembali dia mengejek, katanya : ,,Hm, bagus benar ! Anaknya Tiat Kun Lun turunan keluarga Rimba Hijau mau menjadi Gie-cian Sie-wie ! Sungguh aneh !” lalu dia menyerang pula, berulang-ulang, dengan kerai sekali. Dia mau mendesak Dengan begitu, beruntun dia telah menyerang hingga tujuh kali.Didesak secara demikian, dan juga di ejek tak hentinya Mo Lek menjadi gusar sekali, maka ia lantas putar pedangnya dengan gerakannya

„Guntur dan kilat saling samber dan mendengung,” sembari menyerang, ia berseru : „Kenapa jikalau aku si orang she Tiat bekerja untuk raja ? Bukan kah aku jauh terlebih menang dari pada kau yang menjual jiwamu kepada bangsa asing ?”

Itulah salah sebuah serangan ajarannya Mo Keng Lojin. Dengan begitu, pedang di pakai sebagai golok. Itulah kekerasan yang menggenggam kelunakan, dari itu dapat di mengerti liehaynya.

Walaupun dia kosen, Ceng Ceng Jie ti dak berani menyambuti serangan itu. Penyambutan berarti keras lawan keras. Ia menang ilmu ringan tubuh, ia berkelit dengan sebat sekali, ketika lawan menyerang tempat kosong, ia sudah mencelat kebelakang lawan itu, sembari berlompat, ia tertawa dingin dan kata : ,,Keliru cacian kau ini l’ membarengi itu, ia menyerang.Ceng Ceng Jie tiiak ialah omong. Ia memang bukan orang Han, bahkan ialah seorang anak haram dari suku Kangkhu di See Kek, wilayah Barat, dan begitu ia dilahirkan, ia lantas dibuang kegunung dimana ia dipungut oleh penduduk liar dan dipelihara hingga besar.

Mo Lek sebat. Begitu serangannya gagal, ia lantas memutar tubuh sambil membabat kebelakang. Ia melihat tubuh lawan berkelebat kesisinya, ia menduga orang tentu mengambil tempat dibelakangnya buat segera menyerang ianya, dari itu dengan wajar ia membela diri sambil menangkis atau menyerang itu. Tepat gerakannya ini, pedangnya membentur pisau belati lawan, hingga terdengar suara beradu yang nyaring.

Dalam adu senjata itu, Mo Lek kalah pedangnya kena terpapas. Itulah sebab pisau belati Ceng Ceng Jie itu ialah yang dinamakan ,,Kim Ceng Toan Kiam,’ yaitu pedang rahasia pendek. Hanya, meski demikian, ia toh bebas dari ancam bahaya maut.

Setelah itu, Mo Lek berkelahi dengan Liong Heng Kiam-hoat. yaitu ilmu pedang Wujud Naga, yang berdiri dari enam puluh empat jurus. Ia jadi menyerang terus-menerus tak mau berhenti.

Buat beberapa jurus, Ceng Ceng Jie menjadi repot. Tak dapat dia memecahkan ilmu pedang si anak muda. Mo Lek pun bertenaga lebih besar. Dia hanya menang ringan tubuh atau kegesitan dan pengalaman. Keunggulan lain dari Mo Lek ialah ia masih muda dan sangat bersemangat, ia tidak kenal takut, maka juga ia lebih banyak menyerang. Ceng ceng Jie yang cerdik jadi lebih banyak membela diri.

Adik seperguruan dari Khong Khong Jie itu mempunyai dua kawan, mereka ini melihat pertempuran tak seimbang itu, lantai mereka berlompat maju. untuk memberikan bantuannya, mereka menyerang dari kiri dan kanan.

Menampak demikian. Ceng Ceng Jie mengerutkan alis. Baru ia mau berpura-pura menyuruh mereka itu mundur atau satu diantaranya mendahului ia berkata :

“Kami tahu kau tidak membutuhkan bantuan kami tetapi dialah musuhnya ketua kami! Dalam pertempuran di Liong Bin Kok hampir ketua kami itu terlukakan bocah ini, maka sekarang kami hendak membalaskan sakit hatinya kenin kami itu ! Atas itu, ia membatalkan maksudnya, ia lantas berkelahi terus, la memang ingin lekas merobohkan lawan supaya ia dapat bicara dengan Goan Siu.

Dua kawannya Ceng Ceng Jie itu menjadi orang-orang kepercayaannya Ong Pek Thong, namanya ialah Han Kheng dan Teng Seng, senjatanya masing-masing berantai tiga Sam- ciat-kun dan golok besar, semua nya senjata berat, maka itu majunya mereka berarti suatu bantuan yang cukup berharga sekali.

Mo Lek lantas menjadi repot. Buat merobohkan Ceng Ceng Jie, ia tidak mampu, dari itu, mana dapat ia terkepung ber-tiga. Demikian ia terdesak. Satu kali la menangkis golok, dan Ceng Ceng Jie membarengi menusuknya. Selagi menangkis itu, pembelaan dirinya kosong. Tak keburu ia menangkis, maka dadanya kena tertikam Nyaring suaranya tusukan itu, keras berkerontrang ; Itulah sebab ia memakai joan-ka, pelindung tubuh, tetapi tameng itu toh rusak hingga darahnya mengucur keluar, mem basahi bajunya.

Ceng Ceng Jie tertawa lebar, kembali dia menyerang. Dia sekarang mengarah leher musuh, inilah penyerangan yang ter lebih hebat, hanya baru dia menyerang atau dia mendengar samberan anginnya golok dibelakangnya. Dia sangat terkejut tetapi tidak menjadi gugup. Dia tahu itulah serangan terhadapnya. Sempat ia berkelit dengan menggeser tindakannya, hingga tubuh nya berkisar juga . Sebaliknya serangannya kepada Ma Lek tidak dibatalkan, hanya diteruskan cuma sekarang tenaga menjadi berkurang dan incarannya meleset.

Mo Lek masih sempat menangkis, karena ia tidak menghiraukan lukanya. Ia menggunakan tipusilat. „Mengangkat obor menyuluhi langit.” la berhasil, bahkan bukan saja pisau belati kena tertangkis ujung pedangnya juga menyamber tangan baju pe nyerangnya itu hingga tembus.

Ceng Ceng Jie terkejut juga. Ketika ia melirik, ia melihat ia sedang dibokong Tian Goan Su, Ia menjadi sangat mendongkol hingga ia membentak “orang she Tian kenapa kau berkhianat ?

„Sederhana sebabnya ! sahut Goan Siu dingin. „Pertama- tama dialah sahabatku dan kedua akulah orang bangsa Han - Lalu tanpa menanti Ceng Ceng Jie membuka mulut, ia maju pula untuk menalangi tikamannya. .

Ceng Ceng Jie berkaok-kaok saking mendongkolnya. Toh ia repot. Goan Siu tidak dapat dipandang enteng. Dibanding dengan Mo Lek. dia kalah ilmu pedang tetapi menang tenaga dalam. Terpaksa dia menyabarkan diri, untuk dapat melayaninya.

Hoa kheng dan Teng Seng maju pula. Mereka disambut Goan Siu. Ja ini menang kis, lalu menyerang selain dengan pedang juga dengan tangan kirinya.’ Hanya baru satu gebrak, sam-ciat-kun. kena tertabas kutung, sedang Teng Seng segera menjerit ke sakitan. Waktu Goan Siu tiba – tiba meneruskan menyerang, ia berhasil menusuk tangan orang hingga orang she Teng itu mesti melepaskan goloknya yang berat itu.

,,Dengan memandang kepada sumoayku tak mau aku membunuh kamu!” .kata Goan Siu bengis. „Lekas pergi’

Han Keng dan Teng Seng tahu diri, mereka lantas mandur. Mereka kenal baik Goan Siu, jadi tak dapat mereka menyerang nya. Waktu barisan mereka merangsak. mereka mau mengepung Mo Lek tidak tahunya. Goan Siu yang menangkisinya selagi mundur mereka teriaki Ceng Ceng Jie : „Maafkan kami ! Kita ada bagaikan air bah yang menyerbu kuilnya si raja naga ! Kita jadi kawan menyerang kawan, hingga kami menjadi serba salah. Kami hendak pulang untuk memberi kabar kepada ketua kami’

Ceng Ceng Jie tidak menjawab, ia hanya memperdengarkan suara dihidung. Sambil menuding Goan Siu, ia kata bengis “Kecewa kau menyebut-nyebut sumoay mu itu, Heran aku bagaimana kau mempunyai, muka untuk nanti bertemu dengan ayahnya!”‘

„ltulan urusanku, tak usah kau usil !” bentak Goan Siu.

Ceig Ceng Jie sangat licik justeru orang melayani ia bicara mendadak ia menikam ke arah dada. Ilmu silatnya ialah

„Burung hong menghadap matahari.

Mo Lek kurang pengalaman dibanding dengan Ceng Ceng Jie, tetapi ia menang dari pada Goan Siu, ia tahu Ceng Ceng Jie sangat licik, ia telah memasang mata, maka itu ketika ia melihat orang menggerakkan sebelah kakinya, ia sudah menduga, begitu orang menyerang ia menyerang juga malah ia menikam kepunggung.

Ceng Ceng Jie bergerak sangat gesit, meski begitu, ia cuma berhasil merobek ujung baju Goan Siu, sebab ia mesti lekas- lekas memutar tubuh, buat menangkis Mo Lek. Ia berhasil bahkan ia kembali mem buat pedang penyerangnya bercacad pula.

Habis itu mereka bertarung terus Ceng Ceng Jie kena dikepung. Kembal’i dia men jadi repot, hingga umpama kata tak dapat dia bernapas. Kali ini, mereka tak usah berkutat- lama untuk tiba pada akhirnya pertandingan. Dua-duanya, Mo Lek dan Goan Siu gusar sakali, keduanya menyerang dengan hebat. Datanglah saatnya ketika ta ngan kosong si orang she Tian mengenakan tubuh lawannya. Menyusui itu, pedang aya Mo Lek mampir di pundak lawan itu, hampir-hampir tulang pipinya kena tersontek.

Bukan main kagetnya Ceng Ceng Jie, ia pun lantas ingat, tidak dapat ia melayani terus pada Goan Siu. Tak sudi ia ber musuhan dengan Tian Toa Nio Jikalau ia membunuh lawan ini. ibu dia tentu tidak mau sudah. Itu berarti ia mendapat musuh besar yang sangat tangguh. Tengah ia ber pikir, serangan lawan datang dengan ber bareng. Ia melompat mundur, Sambil lompat ia menangkis pedang Mo Lek. Dengan begitu, pedangnya Goan Siu tidak dapat mengenai sasarannya. Terus ia melompat lebih jauh, untuk mengangkat kaki. Sembari berlalu, ia berkata : „Bocah she Tian, kali ini aku beri ampun padamu! Hendak aku menemui dahulu ibumu baru nanti kita berurusan lagi!’

Goan Siu tidak melayani orang bicara, ia tidak mau mengejar, sebagaimana juga Mo Lek pun berdiam saja. Ia lebih perlu menolongi membalut lukanya sianak muda Ia pun menghaturkan maaf.

“Sudah, jangan sebut-sebut segala urusan yang sudah lewat!” kata Mo Lek, tertawa. Ia juga menghaturkan terima kasih. Kemudian ia menggapai pada uypiauwma, yang ia ajak bicara, katanya: ”Kudamu Kau juga jangan membetici pula, jikalau bukannya saudara Tian ini, kita berdua bakal celaka di tangannya orang hutan itu!’

Kuda itu mengarti, dia menghamparkan kepala dan ekornya digoyang goyang tandanya bahwa dia suka melupai permusuhan.

Goan Sioa tertawa. Tapi habis itu dengan roman sungguh- sungguh, ia kata: ,,Bagaimana dengan ibuku?”

„Ia tidak sanggup melawan kedua ioo-cianpwee Hong-hu Siong dan Wee Wat ia pergi mengangkat kaki.’ Goan Siu berdiam,terus ia menatap orang didepannya., saudara Tiat,” tanyanya selang sesaat. ,selagi kail turun gunung, ditengah jalan itu kau bertemu dengan Su moaku atau tidak?’

„Aku jusieru mau tanya kau tentang Nona Ong,’ sahut Mo Lek. „Aku menyangka ia ada bersamamu.

Parasnya Goan Siu menjadi merah. ,.Buat guna kau maka dia telah mendaki jurang Toan Hun Giam,” katanya. Dan aku untuk aku dapat membikin dia mencapai maksud hatinya’ aku telah membakar rumah kami. hanya aku telah perintah seorang bujang pergi memjeri kabar pada ibu ku.”

Baru sekarang Mo Lek mengarti. Selagi Tian Toa Nio menyusul ia Yan Ie menyusul juga, sedang Goan Siu ini. sebab dia kuatir Yan Ie tidak dapat mencegah ibunya dia mengiring bujangnya itu dia sendiri berangkat terus, dia membakar rumahnya untuk menyingkir dari Yan le dan ibunya Tentu sekali tak mau ia nanti dicurigai Goan Siu. Diantara mereka tak mestinya ada salah mengarti.

Diatas jurang Toan Hun Giam aku tidak melihat Nona Nona, katanya. ,,Kalau begini, saudara ! Goan kau harus lekas pergi cari sumoaymu itu.

Goan Siu menghela napas.

“Saudara Tiat, apakah kau belum mengearti maksudku?” tanyanya. „Mulai hari ini hingga seterusnya tidak dapat aku berkumpul dengan sumoayku itu – . . .

Mo Lek heran hingga ia tercengang.

“Saudara Tian. sebenarnya kau sembabat sekali  berpasangan dengan Nona Ong,” katanya. ,,Kau menyukai dia, dia juga menyukai kau. Kenapa kau mengucap begini?” “Bagaimana kau tahu dia menyukai aku?” Goan Siu tanya.

Aku mendengar dia mengucapkannya sendiri Dia telah berjanji pada ibumu, dia mengatakan sudi menikah dengan kau. Apakah ibumu belum mengali tahu padamu?”

Mo Lek jujur, ia bicara seperti apa yang ia pikir. Ia tidak mau memahamkan suara atau sikapnya Yan Ie. Ia juga tidak menghiraukan bagaimana nanti sikapnya Goan Siu.

Benar saja mukanya orang she Tian ini menjadi merah. Dia likat sekali. Tapi dia berkata keras: , Saudara Tiat, orang yang Sumoayku cintai ialah kau! kau meng hendaki dia atau tidak, itulah urusanmu tetapi aku kenal baiK sifatnya Sumoayku itu, maka itu tak peduli aku mencintai dia aku juga mau menjaga supaya jangan membenci aku. Lebih tegas lagi aku tidak mau menyelak diantara urusan asmara kamu ber dua, aku cama mau minta supaya kau baik-baiklah memperlakukannya! ‘

Mo Lek tidak pandai bicara, dia bergelisah hingga otot-otot nampak. “Saudara Tian apa, apa kau bilang?’ katanya , Aku . .

– , aku . . . ‘ Ia mau memberi tahukan bahwa ia telah mempunyai tunangan, atau ia bersangsi ia kuatir Goan Siu nanti menyangka, kalau ia belum terikat mungkin ia bakal menerima tangannya Yan Ie.”

Selagi orang berdiam Goan Siu sudah lompat naik atas kudanya.

..Maafkan aku!” katanya yang terus mengasi kudanya pergi.

Dia mengambil lain arah.

Mo Lek bingung hendak ia mengejar atau Goan Siu menoleh dan berkata nyaring „Saudara Tiat. aku luga memberitahukan kau satu hal! Bukankah kau seorang Gie-cian siewie yang baru diangkat? Ceng Ceng Jie mau menggunai saat kacaunya kota Ti-ana-an, selagi raja mau menyingkirkan diri untuk membunuh padanya maka itu, kau harus waspada! ‘

Memang ditengah jalan ini, Goan Siu bertemu-oranganya Ceng Ceng Jie selagi Ceng Ceng Jie kemoali dari Tiang-an, kota raja, dimana ia melakukan penyelidikan tentang keadaan atau gerak-geriknya raja. Ia kuatir tenaganya kurang dari itu ia mengajak Goan Siu bekerja sama, akan tetapi Goan Siu me nampiK.

Mo Lek tercengang Sebenarnya tak sudi ia menjadi pahlawan raja akan ietapi ia sudah memberikan janjinya kepada su- hengnya, kakak seperguruan maka itu mendengar berita ini, ia menjadi bingung Karena ia merasa percuma ia menyusul Goan Siu sedangkan ia pun tak tahu harus mergucap apa ia terpaksa mengatakan “saudara Tian! Harap baik baik di perjalanan!” Lantas ia mengaburkan kudanya kearah Tiang an.

Hari mencekati magrib ketika anak muda ini tiba dikota tujuannya. Ia lantas menyaksikan kacaunya kota. Orang repot menyingkirkan diri. orang mempepayang situa dan menuntun sibocah cilik sedangkan orang orang jahat lagi berpestapora, merampok sambil membakar rumah atau menyerbu toko toko. Sejumlah pemuda bang sawan terlihat menangis ditepi jalan sebab mereka itu lemah dan tak biasa dengankejadian hebat itu mudah saja mereka jadi korbannya orang orang jahat yang merampas pakaiannya yang mdab indah. Dalam kacauan itu budak budak mereka mendahului kabur.

Inilah kekacauan yang penyair besar Tu Fu pernah lukiskan dalam syairnya.

Mo Lek pun bingung’ menyaksikan kekalutan itu

“Benarkah raia sudah mengangkat kaki?” tanya ia dalam hati Karena ia perlu mendapat tahu lantas ia kaburkan kudanya di antara orans banyak itu. Ia tidak mempe-dulikan lagi aturan ketertiban atau kesejateraan umum, ia langsung menuju ke Cie lim Shia, Kota Terlarang. Ketika ia sampai didepannya pintu kota, pintu kotanya terkunci rapat dan tempo ia berkaok kaok memanggil ia di sambut dengan hujan anak panah. Ia menuturkan maksud kedatangannya. Masih orang tidak menghiraukannya. pencet terlebih jauh.

Dengan ditunjuki jalan Mo lek mengitari kota Cie Kim Shia, untuk pergi ke belakangnya dimana ada pintu sin bu mui pintu kota mana dilindungi- Cin Siang. Sejumlah serdadu, yang berjaga-jaga sudah mendahului menegur kapan mereka mengenai kuda uypiauwma milik pemimpinnya Suaranya mereka berisik hingga didengar Cin Siang sendiri. Ia ini lantas keluar untuk melihat. Tentu saja ia lantas mengenali Tiat Mo Lek.

“Lekas buka pintu!” perintahnya. Dengan begitu, Mo Lak dapat segera masuk dalam kota. Lantas dia melemparkan serdadu, yang dia cekuk

„Dia kenapakah? tanya, Cin Siang.

“Bersama sejumlah kawannya dia mengganggu anak gadis orang” sahut Mo Lek. „Tapi syukur karena aku bertemu dia aku jadi dapat mencari kau. Aku membawa suratnya Kwee Leng kong…”

,,Mari kita bicara didalam” Cin Siang memotong, la mengajak tetamunya masuk setelah memberi perintah akan serdadu tadi ditangkao, untuk dikurung dan nanti diperiksa perkaranya.

Uypiauwma girang sekali bertemu majikannya. dia meringkik dia menggoyang kepala dan ekornya dengan mulutnya dia menjilati majikannya itu.

.,Aku berterima kasih pada kuda ini” kata Mo Lek. ”Beberapa kali dia berhasil menolongi aku dari ancaman bahaya.” „Itulah bagus!” kata Cin Siang, tertawa. „Dulu kau telah menolongi aku dan aku masih belum menghaturkan terima kasihku kepadamu!”

Lantas siewie ini pimpin tetamu masuk kamar pribadinya.

„Dulu kau tolongi aku tak dapat aku ketikanya buat mengucap terima kasih padamu,” kata ia. „Aku tidak sangka bahwa hari ini kita dapat bertemu disini. Tiat Congsu bukankah kau berbahagia bersama Kwee Lengkong disana?”

”Aku tidak menjabat pangkat, ‘ Mo Lek memberitahukan. ”Adalah suhengku Lam Cee In yang membantu Kwee Lengkong membelai kota Kiu-goan.”

”Oh. kiranya suhengmu itu Lam Tay-hiap !”kata Cin Siang, “Memang, telah lama aku dengar nama besarnya. Apakah kau juga kenal Tayhiap Toan lui Ciang ?’”

“Dialah sanakku dan padanya pernah aku belajar ilmu pedang,’Mo Lek menjawab “Mereka memesan aku untuk menanyakan keselamatanmu !’

Cin Siang girang.

“Sebenarnya aku cuma pernah mendengar saja namanya Toan Tayhiap,” ia akui, ”Adalah beberapa sahabatku yang mengenal dia. Sayang beberapa kali telah lewat kesempatan yang baik buat aku berkenalan dengannya. Tapi tak apalah, sekarang kita bukan orang luar lagi i”

Cin Siang menutup pintu, setelah itu itu ia tanya. ”Kau bilang kau membawa suratnya Kwee leng-kong. Sebenarnya ada urusan apakah ? ”

„Kwee Leng-kong memujikan aku untuk menjadi pelindung raja situa bangka ‘ sahut Mo Lek terus terang. Cin Siang heran, hingga ia melengak. Hanya sebentar ia tertawa lebar.

“Oh, kau dipujikan buat menjadi Gie-cian sie-wie !” katanya.

„Menyebut raja seperti caramu ini cuma dapat dilakukan di- antara kita secara diam-diam, jikalau dtmu ka para siewie lainnya, kita harus menyebut Seri Baginda Raja dan kau juga harus berdiri dengan tegak tetapi hormat serta me nyerukan Ban-swee ban-banswee !,,

,,Oh, kiranya ada begitu banyak aturan busuk i” kata Mo  Lek

„Jikalau bukannya Kwee Leng-kong dan Lam Suheng mendesak aku datang kemari sungguh, tak aku melakukan pekerjaan ini !“

„Baik aku akan ingat pesanmu ini !’, Cin Siang tertawa.

”Kau datang diwaktu yang kebetulan sekali,”katanya “Besok Seri Baginda hendak berangkat ke See Siok dan kita justru lagi berduka karena slewie pelindungnya tidak cukup. Kami justru membutuhkan orang yang jujur, setia dan gagah sebagai kau !”

“Oh, raja tua bangka itu besok mau per gi menyingkirkan diri.”kata Mo Lek

“Ya,” Cin Siang mengangguk. „Tetapi hal itu masih dirahasiakan, orang luar tak diberitahu kan. Seri Baginda telah menugas kan Tan Goan Lee menjadi Po leeCiang-kun, Siauw-In Cui Kong Goan menjadi Liu-Siu Ciangkun. dan keng-tiauw In Gui-Hong Cin menjadi Tit-tun-su. Kapan sang pagi besok tiba rombongan Seri Baginda Raja akan segara berangkat, yang turut padanya melainkan Yo Kui Hui dan Yo-Kok Tiong serta beberapa menteri besar dan putera raja. Segala selir lainnya mungkin tak akan diajak…..”Ia hening sejenak, ia tertawa,  terus ia menambahkan: “Seri Baginda pantarg menyebut mengungsi, maka itu kau harus mengatakan perjalanan kunjungan, jikalau tidak, dia bisa menjadi gusar.” Mo Lek mengerutkan alis, :”Jikalau begitu.’katanya, ”kalau nanti aku bicara dengan raja, mungkin aku saban-saban berdamai dahulu denganmu. Kau menyebut-nyebut Seri Baginda mengungsi eh, membuat kunjungan ! dengan cara rahasia, tetapi kau tahu, hal itu sudah diketahui orang luar !”

“Aku ketahui cukup baik tentang keadaan diluaran, “kata Cin Siang. ”Mungkin sekali orang telah mengetahui, inilah tentu disebabkan dari siang-siang orang telah menguwarkan ceritera- ceritera burung.”

“Bukan cuma penduduk Tiang-an yang telah mendapat tahu,”Mo Lek kata pula. “Hanya juga orang-orangnya An Lok San dikota Tong-kwan yang jauh itu. Kau harus waspada, An Lok San sudah mengundang Ceng-Ceng Jie yang telah diberikan tugas selagi keadaan kacau mesti melakukan penyerangan terhadap Seri Baginda !”

Cin Siang kaget. “kau ketahui ini ? tanyanya-

Mo Lek menuturkan halnya Ceng-Ceng Jie minta Tian Goan Siu membantunya tetapi Goan Siu menampik.

Cin Siang kembali terkejut Ia tahu siapa Tian To Nio, ia heran untuk mengetahui Goan Siu ialah puteranya hantu wanita itu.

”Kiranya wanita iblis itu masih hidup! katanya Ceng-Ceng Jie berserikat dangan dia itulah berarti satu ancaman bahaya besar. Syukur puteranya siilbis dapat membedakan kesetiaan dari kedurhakaan dan tak sudi dia berkelomplot dengan mereka itu. Tapi. tentang ini jangan kau bicarakan pada siap juga. Didalam istana, suasana sudah buruk sekali dari tak dapat seri Baginda dibikin kaget dengan berita ini. Cukuplah kalau kita bersiap saja secara diam-diam saja.”

Mo Lek mengangguk. „Apakah sekarang dapat aku menghadap Seri Baginda

?”tanyanya.

Nanti aku melaporkannya dahulu,”kata Cin biang. kau baik menanti keluarnya firman”

Mo Lek berdiam, ia bersedia menanti. Ia hanya heran. Ia tidak tahu sangat sulit buat menjadi Gie-cian siewia, yaitu pengiring pribadi raja. biasanya itu dilakukan oleh putera- putera Jenderal atau pembesar dari Gie Lim KuN, yaitu pasukan pengiring raja. Jadi orang yang dipercaya raja baru dapat mendampingi jungjungan itu. Tapi Mo Lek Orang tidak dikenal dan dia pula dipujikan oleh pembesar yang beru tugas diluar kotaraja, untuknya ialah hal istimewa Menurut sikap raja umumnya, Mo Lek tidak dikenal, buat masuk kedalam istana saja dia tak memperoleh izin, apapula untuk datang menghadap.Habis itu Cin Siang menanyakan tentang pelbagai tindakan pembelaan Kwee Cu Gie, maka ia girang mengetahui K.wee Leng kong sudah memimpin pasukan perang di Hoo pak serta Lam Cee In ditugasknn membangun barisan sukarela di Tong-kwan Ia tertawa dan kata: „Selama beberapa hari ini  kami selalu menerima berita berita buruk, dari itu inilah warta yang menggirang kan yang sukar didapatnya, kabar ini pasti akan dapat menghibur Seri Baginda Raja Saudara Tiat, kau tentu belum bersantap tengah hari. bukan? Nanti aku menitahkan orang menjadikan barang hidangan untukmu. Maafkan aku, tidak dapat aku menemani kau!”

Mo Lek mengangguk, tetapi seberlalunya Cin Siang ia  merasa kesepian. Segera juga penghidupannya akan berubah, bahkan berubah secara besar besara i. Bukankah ia orang rimba Hijau dan dibesarkan dalam dunia Kangouw? Bukankah  ia jadi telah berjasa dengan penghidupan bebas merdeka?. Sekarang ia bakal masuk kedalam istana raja, itulah seumpama burung yang terbang masuk kedalam sangkar, hingga didalam sekejap lenyaplah kemerdekaannya. Ia masgul kapan ia ingat selanjutnya ia mesti mem-batalkan segala tindak-tanduknya, dari bergeraknya sampai bicaranya…

Seorang diri anak muda ini bersantap. Sebenarnya ia tidak gemar arak tapi sekarang, saking kesepian dan iseng, ia meneguk juga satu cawan demi satu cawan, sampai habis satu poci, hingga pengaruhnya air kata-kata mulai naik keotaknya…

Berselang satu jam, Cin Siang pulang. Dia bertindak masuk kedalam kamar sambil tertawa lebar. Dia bukan send irian saja dia muncul bersama seorang lain yang mukanya hitam lapan lantas kata: ”Inilah Oet-tie Ciang-kun! Dia telah mendengar tentang tibanya seorang muda gagah perkasa, dia datang untuk menemuinya menemui kau, saudara Tiat! Saudara Oet- tie paling gemar bergaul, dialah sahabat akrabku, maka aku harap untuk selunjutnya dapatlah kamu bergaul dengan erat!”

Mo Let memandang orang muka hitam itu, segera ia mengenalinya. Itulah orang dengan siapa ia pernah bertempur. Lantas ia tertawa terbahak.

,,Oet-tie Ciangkun’” katanya nyaring, ,,aku tidak sangka bnhwa disini kita dapat bertemu pula! Apakah kau masih ingat aku?”

Oet-tie Pak melongoh, ia menatap. Lantas ia menggaruk- garuk kepala?

„Ah, saudara Tiat, dimanakah dahulu kita parnah bertemu?” ia balik bertanya. „Kenapa aku lupa?”

Mo Lek tertawa pula. „Pada delapan tahun yang lalu, kita pernah bertemu diatas lauwteng rumah makan diluar pintu Beng-hong-mui,’ sahutnya. ”Disana kita telah bertempur seruh sekali! Aku berterima kasih kepada kau yang itu waktu kau telah menaruh bekas kasihan kepadaku.”

Oet-tie Pak mengawasi pula lalu ia bertepuk tangan dan tertawa lebar.

”Hai, kau kiranya bocah yang bernyali sangat besar.” katanya. Kau sekarang sudah jadi begini jangkung! Sungguh, aku tidak mengenalimu!”

Cin Siang tertawa. „Ini dia yang dibilang, tanpa berkelahi orang tidak kenal satu pada lain!” katanya. „Hanya, kenapa kamu menjadi bertempur ketika itu?”

„Apakah kau masih ingat halnya dahuluhari itu Ceng Lian Kak-su telah minum arak sampai mabuk diatas rumah makan Beng Hong Lauw diwaktu mana dia telah dipanggil masuk keistana untuk dia membuat syair?” tanya Oet tie Pak. „Hal itu akupun pergi minum dirumah makan tersebut. Selagi mabuk itu Ceng Lian Kak-su dipimpin oleh seorang kebiri, untuk diajak turun dari lauwteng. Dia agaknya tak begitu menyukai, dia jalan setindak demi setindak, dia terus memasang omong dengan seorang sahabatnya. Sahabatnya itu seorang yang luarjbiasa agaknya. Dia mengenakan baju gerdmbongan yang terbuat dari kain kasar, sepatunya yaitu sepatu militer yang sudah tua, akan tetapi romannnya gagah, Sekali saja orang melihat dia, orang mendapat kesan dialah bukan sembarang orang Hari itu pula Leng-fco Tat dan kawan-kawannya bersantap juga didalam rumah makan itu. Tak lama seperginya Ceng Lian Koksu, JLeng-ho Tat lantas menuduh sahabatnya Koksu itu sebagai seorang pemberontak, hingga kesudahannya mereka menjadi berkelahi. Beberapa pahlawannya An Lok San yaitu Tian Sin Su dan Sie Siong dan lainnya berada juga disitu, mereka lantas turun tangan membantui Leng-ho Tat, Tiba-tiba saja saudara Tiat bersama seorang usia pertengahan telah datang membantui seorang militer tidak dikenal. Saudara Tiat, Ketika itu kau tentunya baru berusia lima belas tahun, bukan? Sekalipun kau berdiri, kau belum ada sebatas pundak ku, akan tetapi, kau berkelahi hebat sekali, dengan satu bacokan, kau telah melukai Leng-ho Tat, Tatkala itu aku masih belum mengerti duduknya hal itu lantas menangkap saudara Tiat ini dan melemparkannya kebawah lauwteng. Dengan begitu barulah pertempuran itu berhenti. Orang usia pertengahan itu liehay sekali ilmu pedangnya dia berhasil melukai beberapa orang pemimpin Gie Lim Kun serta Sie-wie, ketika aku datang sama tengah hampir akupun ber celaka. Siapakah dia itu?’

Mo Lek tertawa , “Dialah sanakku dari pihak tertua!” sa hutnya. ”Mungkin kau pernah dengar nama teya. Dialah Tayhiap Toan Kui Ciang. Sedangkan si orang militer ialah Tay- hiap Lam Cee In yang kemudian menjadi suhengku. Dengan keberangkatanku kekota-raja ini, mereka telah memesan aku menyampaikan hormatnya kepada kamu gerta menyatakan menyesalnya untuk pertempuran, dahulu hari itu.”

Oet-tie Pak tertawa lebar. “Syukurlah itu waktu aku dapat berpikir.” katanya, „Aku telah memikir sahabat sahabatnya Ceng Liaa Hak-sa tak mestinya orang-orang busuk maka juga aku tidak percaya Lengho Tat yang menuduh mereka, sebagai pemberontak – pemberontak. Itulah sebabnya walaupun aku turun tangan aku masih menyayanginya, tak mau aku menganggap-mereka sebagai pemberontak. Sebenarnya taruh kata aku mengeluarkan semua kepandaianku pasti sudah bahwa mereka te tap bakal dapat meloloskan diri.”

”Lengho Tat serta kedua orang she Tian dan she Sie itu telah sahabat-sahabat kekal satu dengan lain,” kata Mo Lek. „Peristiwa itu hari disebabkan Lengho Tat menuduh Kam Suheng sebagai pemberontak.”

Oleh karena Oet-tie Pak menimbulkan soal lama itu, Mo Lek lantas menuturkan sebab musababnya yaitu urusa Su It Jie di- fitnah dan dibikin celaka, hingga Toan Kui Ciang bersama Lam Cee In mesti turun tangan untuk menolongnya. Mendengar demi kian Cin Siang dan Oet-tie Pak Kagum, mereka memuji kegagahan dan sifat laki-laki dari Kui Ciang dan Cee In itu,

Habis menutur hal ichwalnya urusan Mo Lek menambahkan:

,,Di pihak orang kamu rupanya tidak sedikit, yang bersahabat dengan An Lok San. Ada seorang yang bernama Oe-bun Thong. yang lihay ketika itu pun membantui orang she An itu, Dia mengepalai orang orangnya mengejar kami untuk ditangkap, dia seperti juga hendak membikin mati pada pamanku itu. Mendengur penuturan yang paling belakang ini. Cin Siang terperanjat, hingga airmukanya menjadi berubah. ‘

„Saudara Tiat, aku sebenarnya mau menyampaikan kepada kau sebuah berita yang menggirangkan.” katanya, akan tetapi sekarang berita bagus itu berubah menjadi berita buruk! Seri Baginda telah memberi sebuah pangkat kepada kau tetapi kau harus bekerja dibawah perintahnya Oe bun Thong!” Mo Lek heran ia melengak. .,Aku dengar dari Kwee Leng-kong bahwa pasukan Gie cian Siewie dibawah pimpinanmu.” katanya,

„kenapa sekarang Oe-bun Thong yang menjadi seatasanku?

.,Kan sebelum tahu saudara Tiat ” Cin Siang mengasi keterangan Oe cian iewie. terbagi dalam dua rombongan. Rombongan yang pertama yang diberi nama Lioijg Kie-Siewie, ialah yang senantiasa mendampingi Seri Bfginda sendiri. Rombongan yang lainnya yaitu San Kie Siewie. tugasnya melindungi semua anggauta keluarga raja, Dise-belah rombongan itu masih ada rombongan lain yaitu yang diberi nama Tiong fciong-Sek-wie yang kewajibannya bergantian merondai bagian dalam istana diwaktu malam, -audara Oet tie Oe-bun Thong dan aku, semua menjadi Liong Kie Siewie akan tetapi, tugas kami masing-masing. Begitulah aku memimpin rombongan Liong Kie Siewie sa udara Oet-tie Cong Kiong Sek- wie aan Oe-bun Thong San Kie Sie wie.”

Habis menjelaskan perbedaan rombong an-rombongan siewie itu, Cin Siang menam bahkan: „Setelah Seri Baginda menerima usul Cwee Leng-kong yang memujikan kau berniat mengangkat kau menjadi Liong Kie-Sievvie. Ketika itu Oe-bun Thong dan saudara Oet-tie hadir bersama. Saudara Oet-tie tidak membilang apa apa adalah Oe-bun-Thong yang mengutarakan pikirannya katanya kau belum ketahuan asal- usulnya bujt berlaku nati-hati kau tidak dapat segera di tempati berdampingan selalu dengan Seri Baginda, dari itu dia mengusulkan au diangkat menjadi San Kie Siewie, Seri Baginda menerima baik usul itu. Dalam hal itu, aku tidak berdaya untuk merobahnya. Walaupun kau dimasukkan dalam rombongan San Kie Siewie akan tetapi kau diangkat menjadi San Cie Cian Gu. Itulah kedudukkan tertinggi didalam San Uie Siewie itu.”

Meski demikian Liong tie sie-wie she Cin ini toh Hdak bergembira. Dibanding dengan Liong Kie Siewie, San Kie  siewie, berderajat lebih rendah satu tingkat dan seorang San Kie siewie tidak dapat mendampingi raja.

Mo Lek mengerutkan alis.

,,Aku tidak gila pangkat’” katanya. Raja tidak percaya aku, aku juga tak mempe-dulikannya, Tapi untuk tunduk dibawah- perintahnya Oe bun Thong itulah aku tak su di!”

,.Kau baiklah bersabar dulu,’* Cin Siang membujuk. „Setelah nanti kau peroleh jasa akan aku dayakan untuk menarik kau keda lam romborganku. Hanya sekarang kau harus pergi kepada Oe bun Thong untuk mela porkan diri hal itu membuat aku rada kuatir……”

„Peristiwa telah lewat banyak tahun.” kata Oet-tie Pak „aku sendiri tidak mengenali saudara Tiat maka itu belum tentu Oe bun Thong juga mengenalinya ”

„Peduli apa dia mengenali aku?” kata Mo Lek. „Dia dengan An Lok San saling menyebut saudara aku justeru hendak membongkar rahasianya!”

Cin biang terkejut.

„Saudara Tiat, jangan kau sembrono cegahnya, ,,Kau harus ketahui dimasa An Lok San belum berontak, dia paling dipercaya, seri Baginda, maka juga ketika itu orang-orang yang menyebutnya saudara.Sampai pun ‘yang mengaku sebagai anak pungutnya, bukan sedikit jumlahnya mereka itu, asal mereka tidak menghamba pada pemberontak she An itu, jangan kita sentuh sentuh, supaya urusan tidak menjadi merembet terlalu luas. Disaai kacau dan genting seperti ini, tak dapat kita memaksa lebih banyak orang turut memberontak, kita harus ingat juga, Yo Kui Hui menjadi orang yang nomor satu yang melindungi An Lok San, jikalau kita sembarang bicara atau bertindak, itulah suatu pantangan besar !

Mo Lek menggeleng-geleng kepala.

“Bagaimana, ini tak boleh, itu tak dapat!” katanya, masgul.

„Baiklah aku serah kan kepada nasib saja ! Akan aku lihat, ba gaimana nanti Oe bun Thong perlakukan aku!”

„Jangan kau kuatir, saudara Tiat !” ber kata Oet-tie Pak.

„Akan aku temani kau pergi kepada orang she Oe-bun itu. Jikalau dia kenali kau, tidak ada halangannya, kau boleh mengaku saja. Andaikata dia hendak membikin susah padamu, kau lihat, aku Lao Hek, akan aku hajar dia dengan ruyungku!” Adalah kebiasaan dari Oet-tie Pak, yang mukanya hitam legam itu, menyebut dirinya ,,Lao Hek,” artinya ,,si hitam.’ Dialah turunan dari Oet tie Kiong alias Keng Tek salah seorang menteri atau panglima berjasa yang telah membantu membangun Kerajaan Tong. Semasa Kaisar Thay Cong Lie Sie Bin dari Ahala Tong belum naik diatas takhta kerajaan, pernah satu kali dia ditolongi Oet-tie Kiong, ketika itu Lie Sie Bin mengepalai pasukan menyerang pihak Gui (Lie Bit), dilembah Ngo Houw Kok dia bertemu dengan Sian Hiong Sin yang kosen dia telah dikejar sampai disolokan Toan Hun Kian dilembah itu hampir dia kena di tawan, syukur tatkala itu muncullah. Oet-tie Kiong, yang menoionginya, karena jasa nya itu, Oet-tie Kiong dihadiahkan sebatang Kim Pian, yaitu ruyung emas, yang selanjutnya menjadi warisan, karena memiliki Kim pian turunan itu Oet-tie Pak menjadi berani.

Cin Sian memang hendak bicara dengan kawannya itu, mendengar perkataan sikawan dengan girang ia kata :

,,Saudara Oet-tie, dengan kau pergi bersama, tidak nanti Oe- bun Thong berani membikin susah pada saudara Tiat !”

Oe-bun Thong itu sebenarnya tak seha rusnya berdiam di dalam istana untuk me lakukan tugasnya akan tetapi sekarang ber hubung dengan keberangkatannya raja be-sak pagi, ia perin hadir, untuk berkumpul tak perduli Liong Kie Siewie, San Kie Sie wie atau Kiong Tiong Sek wie semua haru» siap sedia menerima sesuatu tugas. Oe-bun Thong serta rombongannya, semua San Kie Siewie, bertempat dikeraton Yan «.eng Kiong yang terpisah hanya dengan sebuah tembok dengan Iwee Wan, yaitu keraton.

Begitulah Oet-tie Pak mengajak Mo Lek pergi ketempatnya Oe bun Thong sedangkan Cin Siang, bersama sejumlah siewie, lantas pergi merondai sekitar istana. Tatkala itu sudah dekat jam dua, rem bulan bercahaya sangat terang, Oet-tie Pak mengajak Mo Lek masuk dari pintu Sin Bu Mukai melintas itaman diluar keraton.

Dibawah sinar si Puteri Malam, tampaic segala bunga dan baiu yang indah dan luar biasa di dalam taman begitu pun segala ranggon dan pesebnn berikut loneng-lonengnya yang terukir Buat Mo Lek, memandangan di situ mirip sebuah tempat dewa, maklum ialah seorang Kauw Ouw biasa. Tapi ia tengah berhati tegang, tidak ada kegembiraannya untuk menikmati keindahan taman itu, pula suasana seumumnya dari saat-saat bakal ke berangkatan raja ada bagaikan mega mendung yang bergulung gulung atau melayang layang ditengah udara. Inilah sebab, selekas kaki Mo Lek menginjak taman, dikaki gunung- gunungan, diantara pepohonan dan pohon bunga ia mesti mendengar tangisan sedu sedan dari para dayang yang tidak bakal turut raja pergi menyingkir hingga me reka jadi sangat berduka dan berkuatir. Terharu hati Mo Lek mendengar ratap tangis mereka itu.

Oet-tie Pak menggeleng kepala, kata ia: „Tak dapat kita menghiraukan mereka itu ! Saudara Tiat, mari !”

Sebentar kemudian, mereka sudah ke luar dari taman itu. Justeru itu dikaki gunung-gunungan tampak seorang dayang, yang kelihatan hanya sebelah mukanya.

-oo0dw0oo-
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Bangsa Petualang Jilid 22"

Post a Comment

close