Kisah Bangsa Petualang Jilid 13

Mode Malam
 
Jilid 13

Seorang serdadu wanita itu tertawa.

"Kau berani sekali!" katanya. "Nona kami mengundang kau menjadi tetamu kami, kenapa kau tidak tahu salatan?"

Tak sudi Cin Siang melayani orang perempuan, ia menahan sabar.

"Kita tidak kenal satu dengan lain, aku bersyukur yang kamu begini baik hati," ia kata. "Tapi aku perlu melanjuti perjalananku sebab aku mempunyai urusan penting! Tolong kau memberi aku lewat!"

Si nona, yang sedari tadi mengawasi saja, mendadak tertawa.

"Cin Tayjin," ia berkata, "Menurut perkataan kau ini, kau jadinya seperti si orang yang diberi selamat dengan arak sudah menampik tetapi sebaliknya kau meminta arak dendaan! Apakah kau tahu aturan kami kaum Rimba Hijau?"

Cin Siang mementang sepasang matanya. "Apakah katamu?" dia menegas.

"Kau sungkan menjadi tetamu kami," kata si nona, "Karena itu terpaksa kami harus memandang kau sebagai kambing kami! Kau harus ditangkap untuk dijadikan bingkisan untuk kami!"

Cin Siang mendongkol berbareng merasa lucu. Maka ia tertawa berkakak.

"Jadi kau juga belajar memberandal?" tanyanya. "Apakah kau tahu bahwa aku baru saja keluar dari dalam barisan berandal? Kau baik ketahui sepasang senjataku ini, kesatu tidak menghajar orang yang tidak punya nama dan kedua tidak melayani kaum wanita! Aku beri ingat kepada kamu baiklah kamu bubaran saja!"

Nona itu tidak menjawab, ia juga tidak membilang suatu apa, hanya dari seorang prajuritnya ia menyambuti sebatang busur lengkap, untuk dengan itu mendadak dia memanah kudanya si perwira.

Cin Siang terperanjat, akan tetapi ia masih keburu menyampok anak panah. Karena itu, ia kembali menjadi terkejut. Kali ini disebabkan ia merasa jemparing itu bertenaga besar. Inilah diluar dugaannya. Kudanya lompat berjingkrak disebabkan jemparing melesat ke kakinya!

Ia lompat turun dari kuda yang ia sayang itu, sambil menepuk-nepuk ia kata, "Kudaku, kudaku, pergilah kau ke depan! Di sana kau tunggui aku!"

Kuda itu benar-benar mengerti, dia terus lari menuju ke jalanan samping mereka.

Barisan si nona pun bekerja sangat sebat, mendadak mereka menggunai empat buah gaetan, kuda itu lantas tergaet roboh, sedang seorang nona menyamber lesnya, hingga dia lantas kena ditarik.

"Itulah kuda jempolan!" berkata si nona tertawa. "Baik- baiklah rawat lukanya!" Kemudian ia menoleh kepada Cin Siang, untuk berkata sambil tertawa terkekeh, "Cin Tayjin, kudamu ini kuda jempolan, cuma masih ada kekurangannya! Dan itu sepasang kim-gan, yang mengkilat kuning, pasti itu terbuatnya dari emas perada dan beratnya mungkin seratus kati, itulah tentu besar harganya! Sekarang begini saja, kuda itu ditambah kim-gan itu, senjatamu itu, cukup untuk memberi muka padamu, maka kau tinggallah, silahkan kau pergi!"

Cin Siang gusar bukan main.

"Jikalau kau masih ngoceh saja, awas, aku tak akan sungkan-sungkan lagi!" katanya sengit. Si nona tertawa.

"Apakah sekarang kau suka menempur kami bangsa perempuan?" ia tanya. "Baiklah! Asal kau dapat menangkan pedangku ini, akan aku memberi kemerdekaan padamu untuk lewat di sini dan kudamu juga akan aku bayar pulang!"

Cin Siang mendongkol bukan main. Ia lantas menghajar sebuah pohon di sisi jalan, hingga pohon itu patah dan roboh.

"Nona, lihatlah biar tegas," ia kata. "Kau lihat senjataku bukan senjata main-main! Apakah benar kau hendak menempur aku satu sama satu?"

Si nona bersenyum.

"Telah aku melihat tegas!" sahutnya. "Cuma harus kau ingat, pohon itu pohon mati dan manusia ialah manusia hidup! Aku tidak percaya senjatamu itu dapat melukakan aku! Disebelah  itu aku tahu baik sekali bahwa pedangku ini pedang yang tak dapat dibuat permainan!"

Cin Siang menjadi kewalahan.

"Baik!" katanya. "Karena kau bicara besar, kau majulah!" Si nona dengan sabar merapihkan ikat pinggangnya, lalu mendadak ia memutar pedangnya sambil berseru, "Kau sambutlah!"

Lantas juga ia menyerang, membabat lengan orang!

Cin Siang percaya si nona liehay hanya ia tidak menyangka orang dapat melayaninya, karena itu ia merasa berkasihan dan ia berkuatir nanti melukai orang, maka ketika ia menangkis, ia menggunai tenaga tiga bagian.

Kesudahan sikap berkasihannya itu, ia menjadi kaget sekali, nyata si nona liehay. Dia menyerang untuk menggertak saja, ketika dia menarik pedangnya, yang mental tertangkis, dengan tiba-tiba dia meneruskan itu untuk menyerang dada lawan dimana ada jalan darah soan-kie.

Dalam kaget bukan main, Cin Siang masih sempat membela diri. Ia melengat dengan tipu silat, "Tiat-poan-kio" atau "Jembatan besi" Ia dapat bergerak dengan sebat hingga ujung pedang lewat di atasan mukanya sedikit. Lalu, sebelum si nona sempat menyerang pula, lekas-lekas ia berdiri tegak, untuk melakukan serangan membalas dengan sepasang ruyungnya.

Meski begitu, ia masih tak sudi membinasakan si nona, maka ia menyerang ke arah senjatanya nona itu dengan keinginan membikin senjata itu terlepas dan jatuh.

"Sungguh liehay!" si nona berseru seraya ia menggunai tipu huruf "Lolos". Ketika pedangnya nempel dengan ruyung lawan, ia menariknya pulang dengan tubuhnya lompat melejit. Bahkan ruyung kanan si Touw-ut mengenai tempat kosong, hingga tubuhnya meluncur sedikit ke depan!

Si nona tidak berhenti setelah ia bebas itu. ia segera melakukan pembalasan! Sampai disitu, Cin Siang tidak berani memandang ringan kepada lawannya ini. Ia mendapat kenyataan orang gesit luar biasa dan tenaga dalamnya pun mahir. Karena ini, ia menjadi berlaku sungguh-sungguh. Sepasang kim-gan digeraki hingga berkilauan dan suara anginnya menderu-deru.

Si nona tidak menajdi jeri meskipun ia dilawan keras. Ia tertawa dan berkata, "Cin Tayjin, bukankah sepasang ruyungmu ini diperantikan menghajar bangsa orang gagah? Hari ini kau memberi pengajaran kepadaku, aku jadi sangat girang dan bersyukur sekali terhadapmu!"

Itulah melulu kata-kata untuk memperolok-olok. Sembari bergurau itu, si nona tapinya tidak beralpa. Dengan liehay ia menggunai pedangnya.

Muka Cin Siang menjadi merah sendirinya. Orang telah menyindir kepadanya. Ia pun mendongkol karena hampir saja iganya kena tertikam ketika si nona merabuh ke kiri dan kanan, untuk mempermainkannya.

"Bangsat licik!" ia berteriak saking mendongkol. Ia menyerang dengan pukulan "Heng-in Toan-hong," atau "Awan melintang memutus puncak". Ia menggunai sepasang ruyungnya. Ia sampai melupai sang lawan ialah seorang wanita

- seorang nona!

Nona itu cerdik. Ia tahu bahaya, ia tidak mau menangkis. Ia berkelit. Kembali ia melawan dengan menggunai kelincahannya.

Sia-sia belaka Cin Siang berlaku keras. Ia tetap tidak berhasil menghajar si nona. Hanya, disamping itu, walaupun ia gesit, si nona sebaliknya tak dapat merapatkan lawan yang tangguh itu. Inilah sebab ilmu pedangnya itu belum mencapai puncak kemahiran, dia masih belum sempurna latihannya. Demikian mereka nampak sama unggul. Ketika Cin Siang kabur dari Hoan-yang, dia lebih banyak mengambil jalan sawah atau belukar, yang sukar dilaLuinya, sekarang dia berkelahi begini keras, tenaganya keluar banyak sekali. Lama-lama dia merasa letih juga. Disebabkan penjagaannya yang rapat, si nona belum dapat menggunai kesempatannya guna balik mendesak.

Tengah mereka itu berkutat, dari kejauhan terdengar riuh suara kaki kuda berlari-lari dan berisiknya suara kelenengannya. Cin Siang dapat mendengar suara itu, ia mengambil kesempatan buat menoleh sebentar. Lantas- saja ia mengeluh di dalam hatinya. Di sana mendatangi rombongan tentara berandal, ialah rombongan yang tadi dilabrak!

Ong Liong Kek, yang menunggang kuda, tertawa lebar. "Orang she Cin!" teriaknya. "Apa aku bilang? Tak dapat kau

lolos! Sekarang kau tak dapat membilang apa-apa lagi, bukan? Ha, ha, ha!"

Lalu sambil mengangkat sepasang poan-koan-pitnya, ia berseru, "Adik Yan, inilah bukan saat orang bertanding mengadu kepandaian! Buat apa kau mensia-siakan tempo melawannya? Ah, buat apakah gaetan kamu itu? Hayo, lekas kamu bantui nona kamu! Lekas kamu bekuk musuh!"

Kata-kata yang belakangan itu ditujukan kepada barisan wanita. Memang nona itu adiknya Ong Liong Kek, yaitu Nona Ong Yan Lie.

Barisan wanita itu tidak berani bergerak tanpa ada perintah nonanya, tetapi sekarang si majikan muda, tak berani mereka tidak menurut. Maka dengan lantas semuanya bekerja. Begitulah mereka maju dengan belasan gaetan mereka, mengarah kakinya si Touw-ut. Ong Liong Kek sendiri sudah lantas tiba, maka ia menyerbu guna membantui adiknya. Barisan wanita itu sudah terdidik baik, hebat mereka menyerang dengan gaetan mereka, senjata yang panjang dan bercagak itu. Mereka mengurung dari jauh dan menyerang setiap lowongan, semua serangannya dengan beraturan.

Cin Siang mendongkol dan penasaran. Ia lantas menyerang dengan tendangan berantai "Cin-pou Wan-yoh Lian-hoan-twie". Ia berhasil menendang mental dua buah gaetan, atau yang ketiga menyantel betisnya. Masih ia dapat berlaku sebat, sebelum kakinya ditarik, ia berseru nyaring smabil menggempur hingga gagang gaetan patah.

Si liauwlo wanita, yang menggaetnya, kaget, hingga dia menjadi kena tergertak dan kalah sebat.

Lama-lama Cin Siang menjadi letih. Dikurung terus menerus, ia tidak mempunyai kesempatan untuk membuang napas, guna mendapat sedikit ketika beristirahat. Di depannya ada Ong Yang Ie yang gesit dan Liong Kek yang merupakan satu tenaga baru. Repot ia melayani desakan mereka, lebih repot lagi karena gaetan menyamber-nyamber tak hentinya, sedikit ayal saja, ia bisa mendapat susah.

Satu kali Poan-koan-pit Liong Kek mengenai sasarannya, hingga baju si Touw-ut menjadi pecah dan robek. Syukur ia memakai baju lapis baja, kalau tidak, siang-siang ia sudah tertotok roboh. Ia tidak manda ditotok itu, selagi tertotok, ia menggempur senjata lawannya.

Liong Kek terkejut. Tangannya mental dan telapakannya nyeri dan sesemutan.

Cin Siang menggunai ketikanya yang baik itu. Memang ia telah melihat, di antara dua lawannya itu si nona, atau adik, jauh terlebih gagah dari si pria, sang kakak, maka itu, ia memasang mata kepada si pria, untuk didesak, guna lebih dulu merobohkan musuh pria ini. Ia percaya, asal Liong Kek mundur atau roboh, ia akan bisa lompat guna meloloskan diri.

Demikian datang saatnya itu, habis ditotok, ia menggempur Poan-koan-pit si lawan. Inilah satu ketika yang baik. Apa mau, justeru ia menggempur Liong Kek, justeru ia membuat lowongan.

Yan Ie yang matanya celi melihat itu, lantas si nona tidak mensia-siakan ketikanya, dia terus saja menikam.

Cin Siang terperanjat, ia kesakitan. Serangan si nona mengenai lengannya bagian atas, hingga baju lapisnya kena tertusuk, hingga ia lantas mengucurkan darah. Ia terperanjat berbareng gusar. Sambil berseru, ia menyerang hebat dengan sebelah ruyungnya.

Liong Kek yang menjadi sasaran. Tapi Liong Kek waspada, dapat ia berkelit, membarengi mana, ia juga membalas menyerang. Kedua senjatanya tepat mengenai pundak Touw-ut itu, di betulan jalan darah kin-ceng.

Cin Siang kaget bukan main. Sejenak itu, lenyap tenaga di sebelah lengannya itu.

Liong Kek melihat itu, dia tertawa lebar.

"Orang she Cin, kematianmu sudah ada di depan matamu, apakah kau masih hendak berlaku kosen?" ejeknya. "Lekas kau lemparkan sepasang ruyungmu, lantas kau berlutut dan mengangguk hingga kepalamu mengeluarkan suara nyaring, dengan begitu mungkin aku akan memberi ampun kepadamu!"

Puteranya Ong Pek Thong menghina untuk membalas dendamnya karena tadi ia kena dicekuk dan dilempar musuh itu, kalau ia tidak sebat dan pandai berjumpalitan, pasti ia terbinasa atau sedikitnya terluka parah. Cin Siang berludah. Ia gusar sekali. Ia kata nyaring, "Akulah si harimau dari tanah datar, aku tetap seekor harimau yang galak! Kau bangsa anjing, kau berani menghina aku?"

Kata-kata keras itu diikuti dengan serangan berantai. Walaupun tenaganya sudah berkurang, Touw-ut ini tetap gagah, sikapnya pun berpengaruh.

Liong Kek muda tetapi ia sudah tersohor dalam Rimba Hijau, tidak urung ia terkejut juga. Ia tidak menyangka musuh masih begini gagah. Tanpa merasa ia mundur dua tindak.

Yan Ie melihat kakaknya itu terpukul mundur, ia kata dengan tenang, "Engko, buat apa engko mengadu jiwa dengan dia? Dialah yang telah menjadi binatang di dalam kurungan!"

Liong Kek menenangkan diri.

"Kau benar, adik!" ia menjawab. "Baiklah kita menanti sampai otot-ototnya lemah dan tenaganya habis, nanti perlahan-lahan kita bekuk dan bunuh padanya...!"

Lantas dua saudara ini maju pula untuk mengurung dengan selalu berlompatan berputaran, di dalam hal mana mereka tetap dibantu barisan wanita yang menggunai gaetan panjang itu, hingga Cin Siang terus kena dikurung.

Segera juga Touw-ut itu merasakan sulit sekali. Tak dapat ia membuka jalan untuk menyingkirkan diri. Karena terkurung terus, ia mendapat luka-luka di kaki dan tangan, hingga darahnya membasahi baju lapisnya. Baju luarnya sendiri sudah robek disana-sini. Ia sulit tetapi ia tidak takut, bahkan ia menjadi nekad. Tak sudi ia menyerah kalah, terus ia melawan sebisa-bisanya.

Di saat Touw-ut itu terancam bahaya, orang semua mendapat dengar suara kuda lagi mendatangi dengan keras.

Sin Siang menyangka kepada bala bantuan musuh. Ia tetap tidak jeri, untuknya, musuh bertambah atau berkurang, tidak menjadi soal, tak ia pikirkan lagi. Tetapi ia berdaya, guna menoblos kurungan. »<

Tiba-tiba kurungan musuh menjadi kurang rapatnya. Di antara mereka terdengar teriakan-teriakan.

Di situ terlihat seorang penunggang kuda yang muda. Selagi mendatangi, dia berseru, "Kawanan berandal she Ong, apakah kamu masih mengenali aku?"

Begitu datang dekat, dia mengayun sebelah tangannya. Maka terlihatlah satu sinar putih dan terang, menyusul mana terdengar satu suara nyaring dari patahnya tiang bendera burung walet sulam Yan Ie.

Patahnya tiang bendera menjadi satu soal yang hebat. Itulah pantangan atau tabu. Maka juga Ong Yan Ie lantas menjadi sangat gusar, shingga dia membentak sekeras-kerasnya, "Celaka duabelas! Apakah kau sudah dahar hati serigala atau jantung macan tutul maka kau berani menentang datuk?"

Ketika itu dua saudara Cio sudah maju ke muka, guna memegat si anak muda.

Anak muda itu tidak mau bertempur di atas kuda, dia lompat turun dari binatangan tunggangannya itu, sembari maju, dia berteriak berulang-ulang, "Minggir! Minggir! Suruh pemimpinmu datang kemari!"

Dua saudara Cio tidak takut, bahkan sebaliknya, mereka memandang enteng kepada orang yang usianya masih muda itu. Sembari tertawa mereka kata, "Jangan kau bicara besar! Sebentar, setelah kau berhasil merampas sepasang golok kami, baru kau buka pula mulutmu lebar-lebar! Apakah kau masih belum mau mundur?" Lantas dua saudara itu maju berbareng, membacok dengan golok mereka, sasaran mereka sama yaitu pinggang, tetapi datangnya senjata mereka masing-masing, satu dari kiri  dengan tangan kiri, satu pula dari kanan dengan tangan kanan.

Itulah dia bacokan "Im-yang-to," atau golok "Im Yang". Itu pula bacokan yang liehay sekali. Sudah banyak orang gagah yang roboh di tangannya dua saudara itu - Cio It Liong dan Cio It Houw. Mereka menggunai masing-masing tangan kiri dan kanan, hingga tubuh mereka seperti merupakan hanya sebuah tubuh.

Si anak muda gesit sekali, belum berhenti suaranya dua saudara itu, dia sudah menyerang dengan pedangnya. Dia membulang-balingkan pedangnya hingga dia berhasil membikin mental goloknya Cio It Liong, hingga It Liong menjadi terkejut.

Baru sekarang It Liong melihat tegas si anak muda. "Kau... Tiat... Tiat Siauw-cecu?" teriaknya kaget. "Tak salah!" sahut si anak muda, bengis. "Kamulah dua bangsat yang suka merendahkan diri kamu! Apakah tetap kamu masih kesudian menjadi gundalnya si bangsat she Ong?"

Mulutnya pemuda itu, ialah Tiat Mo Lek, menegur hebat, tangannya tak berhenti bekerja. Dengan bengis ia menyerang dua saudara itu. Pula aneh serangannya, hingga It Liong dan It Houw menjadi bingung.

Belum pernah mereka melihat ilmu pedang semacam itu.

Terpaksa mereka main mundur saja.

Yan Ie memburu ke arah kedua saudara Cio, mengenali si anak muda, dia kata nyaring, "Aku kira siapa, kiranya kau, Tiat Mo Lek! Apakah kau sudah tidak ingat budiku dahulu hari yang telah tidak membunuhmu? Mengapa sekarang kau merusak benderaku? Apakah maksudmu?" Sesudah lewat tujuh tahun, Tiat Mo Lek telah menjadi seorang pemuda yang romannya gagah dan tampan, maka juga di dalam hatinya, Nona Ong berkata, "Tidak disangka si hitam legam ini sekarang menjadi semakin tampan..."

Tiat Mo Lek menunjuki kegusarannya.

"Di antara aku dengan kau ada permusuhan yang besar laksana lautan!" katanya nyaring juga. "Aku tidak cuma hendak merusak benderamu ini! Hm! Hm!"

Mendengar demikian, bukannya dia gusar, Yan Ie justeru tertawa.

"Habis kau mau apa lagi?" tanyanya. "Apakah kau masih hendak mengambil kepalaku yang berada di batang leherku ini?"

Kedua matanya Mo Lek mendelik.

"Benar!" sahutnya, berseru. Dan lantas ia menyerang si nona dengan tipu silatnya "Lie Kong Sia-cio," atau "Lie Kong memanah batu," senjatanya meluncur ke dada si nona cantik.

Ong Yan Ie tertawa pula.

"Bukankah permusuhan itu harus dibuyarkan dan bukannya diperhebat?" katanya manis. "Kenapa kau jadi begini galak?"

Tapi si nona tidak cuma bicara saja, ia melintangi pedangnya menangkis serangan itu, hingga senjata mereka beradu nyaring dua kali, karena dua kali Mo Lek menyerang saling susul.

Bentrokan itu membuat Yan Ie terperanjat. Tangannya tergempur hingga kesemutan. Tahulah ia sekarang Tiat Mo Lek yang sekarang bukan Tiat Mo Lek yang dahulu. Entah ilmu pedang pemuda itu, yang terang ialah tenaganya menjadi tambah besar sekali, tenaga itu sudah jauh melampaui tenaganya sendiri. Oleh karena itu, segera ia menjadi tidak berani berlaku alpa.

Ketika itu Cin Siang mendapat napas. Perginya Ong Yan Ie membuatnya mendapat ketika, tak perduli ia tetap dikurung Ong Liong Kek bersama rombongannya. Begitulah ketika satu kali ia berseru, ia membikin seorang tauwbak roboh terguling dengan kepala pecah dan polo belarakan!

Kagetnya Liong Kek tak terkira. Tak disangka meskipun sudah lelah, musuhnya itu masih demikian tangguh, la pun tidak dikasih ketika untuk berpikir, ia lantas diserang Touw-ut itu, yang berani merangsak kepadanya. Ia tidak berani menangkis, dengan sebat ia berkelit.

Cin Siang menggunai ketikanya yang baik ini. Ia tidak menerjang lebih jauh pada musuh hanya membuka jalan untuk nerobos keluar dari kurungan, sambil melepaskan diri itu ia teriaki Tiat Mo Lek, "Congsu, mari kita pergi!"

Mo Lek dapat mendengar ajakan itu, ia lantas memberikan jawabannya, "Pergilah kau sambil jalanmu sendiri! Aku hendak membasmi dulu kawanan berandal ini, baru aku mau pergi!"

Cin Siang membiarkan pemuda itu, ia berlalu dengan terpaksa. Ia tidak berani berkelahi terus karena lukanya parah, hingga ia cuma dapat menggunai sebelah tangannya, hingga tak dapat ia berkelahi terlebih lama pula. Urusannya pun sangat penting, tak dapat ia melalaikannya disebabkan urusan Rimba Persilatan. Begitulah ia berlalu seorang diri.

Kawanan berandal lantas berteriak-teriak, berniat memegat. Kudanya Ong Liong Kek lari maju. Kuda itu seekor kuda yang telah berpengalaman di medan perang. "Marilah kamu!" bentak Cin Siang sambil dia lompat kepada kuda itu, untuk disamber, lalu dengan sebelah tangannya itu ia menarik dan menekan.

Tak ampun lagi binatang itu mendekam.

Cin Siang lompat naik ke punggung kuda itu, tetapi binatang itu tidak mau lantas bergerak lari.

"Bagus, ya!" bentak si Touw-ut. "Kau tidak mau dengar perintahku!"

Sambil berkata begitu, Cin Siang menjambak ke belakang, menjambak kempolan kuda, atas mana lima jerijinya yang kuat membikin kempolan itu terluka dan mengeluarkan darah. Saking nyerinya, binatang itu meringkik keras, keempat kakinya lantas bergerak, membawanya lari.

Dari atas kudanya, selagi kuda itu kabur, Cin Siang menanya keras, "Congsu, apakah she Congsu?"

Tiat Mo Lek, yang dipanggil Congsu itu - orang gagah - menjawab, "Aku Tiat Mo Lek dari Hui Houw San!"

Cin Siang lantas perkenalkan diri, "Aku Liong Kie Touw-ut Cin Siang! Tiat Siauw-enghiong, budi pertolonganmu ini dibelakang hari saja aku membalasnya!"

Sembari berkata begitu, ia mengeprak kudanya buat dikaburkan lebih keras.

Mo Lek tidak tahu Cin Siang menjadi turunan Cin Kiong alias Siok Po, ia tertawa dalam hatinya dan berpikir, "Sungguh tidak aku sangka aku telah menolongi seorang perwira pemerintah!"

Meski begitu, ia tidak memperlambat pertempurannya.

Kawanan berandal masih berseru-seru, atas mana Liong Kek kata pada mereka, "Sudah, jangan perdulikan itu pembesar anjing! Lebih baik kita bekuk saja ini bangsat cilik!" Dengan kata-katanya itu dia pun hendak melindungi mukanya sebab sebenarnya dia jeri terhadap Cin Siang yang gagah itu. Di sebelah itu, ia ingin menyingkirkan Mo Lek, yang dia anggap sebagai musuh besarnya.

Pada tujuh tahun yang lampau Tiat Mo Lek turut Lam Ce In ke Hoay-yang dimana ia diterima menjadi muridnya Mo Keng Lojin. Ia menjadi murid yang nomor tiga. Mengikuti jago tua itu, ia memperoleh banyak kemajuan, sedang kitab silat yang diberikan Toan Kui Ciang kepadanya, ia berhasil juga memahaminya. Dibawah petunjuk gurunya, ia dapat menciptakan sejumlah tipu silat yang baru.

Sekarang, berhubung dengan suasana yang panas, ia bersedia pergi ke Kiu-coan guna menemui kakak seperguruannya, untuk membantu Kwe Cu Gie. Maka adalah diluar terkaannya, di sini ia bertemu dengan saudara Ong kakak beradik.

Mo Lek percaya, mengandali hasil pelajarannya tujuh ^ahun, dia mestinya bakal dapat membunuh musuhnya, tetapi diluar tahunya, selama tujuh tahun itu, kepandaiannya Ong Yan Ie telah maju pesat juga.

Begitulah bertempur sampai lima atau enam puluh jurus, walaupun ia menang unggul, Ong Yan Ie tak gelagatnya bakal kalah.

Tengah bertempur itu, dalam penasarannya, Mo Lek menyerang dengan tipu silat "Tok-pek Hoa-san" atau "Menggempur gunung Hoa San". Dengan begitu, pedangnya digunai sebagai golok, untuk membacok tinggi, dari atas ke bawah. Itulah tipu silat yang ia ciptakan dari ilmu pedangnya

Toan Kui Ciang, maka penyerangannya itu sudah enteng dan cepat lagi antap dan berat "Ilmu pedang yang telengas!" Ong Yan Ie berseru. Ia tidak berkelit, hanya justeru menangkis dengan melintangi pedangnya.

Maka bentroklah kedua senjata dengan bersuara nyaring, lalu keduanya seperti menempel satu dengan lain. Yan Ie kalah tenaga, pedangnya kena tertekan. Ia merasakan telapakan tangannya bergetar dan nyeri. Celakanya tak dapat ia meloloskan pedangnya itu, hingga ia mesti tertekan berikut punggungnya yang menjadi melengkung perlahan-lahan.

Ong Liong Kek menjadi gusar sekali.

"Bangsat kecil, jangan bertingkah!" dia berseru. "Lihat kipasku!"

Dan ia bergerak maju dengan kipas besinya, untuk menotok punggung dimana ada jalan darah Hong-hu.

Dengan begitu Mo Lek menjadi seperti terkepung berdua. Ia mesti membela dirinya. Sebab tak dapat ia hanya berkelit, terpaksa ia melepaskan tekanannya, untuk dengan pedangnya menangkis kipas yang mengancam dengan bahaya maut itu.

Kipas Liong Kek lantas kena disampok mental.

Yan Ie liehay sekali, begitu pedangnya bebas, begitu ia menyerang Ia melupakan nyeri pada telapakan tangannya.

Mo Lek berkelit sambil memutar rubuhnya, dengan begitu ujung pedang lewat di ujung dahinya.

Ketika kedua saudara Ong itu mendesak padanya, ia terus melayani dengan ilmu silat "Ya-cian Pat-hong," atau "Berperang di delapan penjuru di waktu malam". Ia mencoba menahan majunya kipas dan pedang Cenj; Kong Kiam.

Ong Yan Ie tertawa manis. "Aku tidak sangka setelah tujuh tahun tidak bertemu, sekarang ilmu silatmu menjadi begini liehay!" katanya. "Sungguh kau mendatangkan kegirangan dan pantas diberi selamat! Maaf, terpaksa kami kakak beradik mesti bekerja sama menempur kau!"

Mo Lek panas hati.

"Kamu boleh maju semuanya!" ia membentak. "Tidak ada halangannya! Hari ini mesti kau mampus atau aku terbinasa!" Nona Ong tertawa.

"Engko, bocah ini benar-benar mau mengadu jiwa dengan kita!" kata dia.

"Ya, biarlah dia pergi menghadap Raja Akherat!" sahut Liong Kek si kakak, yang terus menyerang dengan hebat, dengan ujung kipasnya ia mencari setiap jalan darah lawannya.

Mo Lek tidak takut akan tetapi ia melihat suasana tidak bagus untuknya. Kepandaiannya Liong Kek tidak dapat dipandang ringan. Ketika tadi dia menempur Cin Siang, nampaknya dia tak sanggup bertahan dalam satu gebrakan. Tapi itu ada sebabnya, ialah karena tenaga Cin Siang besar luar biasa, tak berani dia mengadu senjatanya dengan kim gan, ruyungnya si orang she Cin.

Sebaliknya menghadapi Mo Lek, meski dia kalah kepandaian, tenaga dalamnya berimbang. Pula, kalau melawan Cin Siang dia menggunai Poan-koan-pit, sekarang dia memakai thie-sie, kipasnya senjatanya yang utama, yang paling cocok dipakai bertempur rapat, sedang juga ia melawan bersama adiknya.

Demikian Mo Lek Tak dapat segera merebut kemenangan.

Sambil bertempur itu, Mo Lek lantas ingat, "Toan Tayhiap dan Lam Suheng berulangkah memperingati aku supaya aku jangan menuruti hati muda dan hawa amarah, tak dapat aku terlalu mengandalkan ilmu kepandaian sendiri, jangan setelah keluar dari rumah perguruan, aku menghendaki lantas terwujudnya pembalasan sakit hatiku. Aku sudah dapat bertahan tujuh tahun, kenapa aku mesti mengumbar amarah dalam satu hari ini? Sekarang musuh berjumlah banyak dan  aku sedikit, baiklah kau bersabar sampai lain hari..."

Ong Liong Kek sebaliknya sudah banyak pengalamannya berkelahi, dengan lantas dia melihat romannya Mo Lek berubah, dengan lantas dia menduga, maka itu, tanpa ayal lagi, dia lantas mendesak.

"Jalan ke sorga ada, kau tidak ambil, kau sebaliknya memasuki neraka yang tidak ada pintunya!" dia  mengejek. "Kau sudah masuk sendiri ke dalam perangkap, maka kau dapat masuk tidak dapat keluar pula!"

Dia terus membentak untuk memberikan isyaratnya.

Mendengar bentakan itu, barisan wanita sudah lantas maju menyerang. Rata-rata mereka menggunai gaetan untuk membangkol kaki musuh.

Liong Kek sendiri bersama Yan Ie mendesak hebat.

Mo Lek bukan seperti Cin Siang, yang mengenakan baju lapis besi, sedang sepatunya sepasang sepatu rumput, ia menjadi terdesak, baik oleh itu kakak beradik mau pun dari gaetan yang berjumlah besar.

Liong Kek perkeras desakannya, mendadak dia menyerang dengan tipu silat "Ular beracun menyemburkan bisa," dengan kipasnya dia menotok ke jalan darah cie-tong.

Mo Lek menjadi repot dan bingung, sebab ketika itu pedangnya kebetulan lagi ditangkis Yan Ie. Tidak ada jalan untuknya kecuali membuang diri, guna berkelit sambil bergulingan. Sementara itu pasukan wanita dari Yan Ie sudah terdidik baik. Mereka dapat bekerja dengan melihat salatan, dan mereka pun sebat. Mereka lantas menggaet ke tempat dimana orang menjatuhkan diri.

Sia-sia Mo Lek membuang diri, betisnya sudah lantas terkena gaetan begitu pun kakinya. Dengan lantas ia terluka dan mengeluarkan darah yang mengucur deras.

Ong Liong Kek tertawa mengejek.

"Apakah kau masih mau mengganas?" demikian tanyanya dingin. Dengan kipas yang ditutup, dia lantas menyerang ke arah batok kepala.

Mo Lek dapat berlompat bangun akan tetapi tubuhnya limbung, darahnya mengalir terus, dagingnya di betis dan kaki terluka hancur karena terobek gaetan. Dapatkah dia membela diri? Kalau dia kena dihajar, pastilah kepalanya remuk...

Justeru orang terancam bahaya, sekonyong-konyong Ong Yan le menangkis kipas kakaknya, hingga kipas dan pedang beradu keras!"

"Jangan bunuh dia!" berseru si nona. Liong Kek heran hingga dia melengak.

"Kenapa jangan?" tanyanya setelah hilang herannya.

Yan Ie berlompat maju, guna menotok Mo Lek yang sudah tak berdaya, kemudian ia panggil budaknya guna membelenggu orang tawanan itu.

"Engko, kau cerdik disatu waktu, butek pikiranmu dilain saat!" kata ini adik tertawa. "Coba kau pikir masak-masak! Bangsat cilik ini telah memperoleh kepandaian terlebih jauh, sekarang dia datang kemari, kau tahu apa maksudnya?" "Pasti dia datang untuk maksud mencari balas!'" sang kakak menjawab. "Pasti dia sekalian hendak merampas pulang gunungnya, gunung Hui Houw San!"

"Tepat terkaanmu!" kata si nona. "Sekarang kau pikir pula! Dia seorang diri, apakah dapat dia melakukan tugas besar dan berat itu? Bukankah kedudukannya Keluarga Touw telah dibangun hampir seratus tahun? Bukankah keluarga itu mirip dengan leluwe, itu binatang merayap yang kakinya ratusan? Bukankah itu berarti keluarga itu banyak pengikutnya, yang masih setia terhadapnya? Sekarang ini orang jerikan kita, mereka pun tidak ada yang pimpin, mereka jadi tidak berani bergerak. Sekarang Tiat Mo Lek kembali! Bukankah dia sudah mengatur persiapan? Mungkin dia sudah berkongkol dengan orang-orang ayah angkatnya! Maka itu dapatkah kita membunuh dia sebelum kita dengar dulu keterangannya?"

Liong Kek tertawa.

"Benar!" sahutnya. "Dasar kau terlebih teliti daripada aku! Aku mendongkol untuk kegalakannya, maka aku menuruti saja suara hatiku!"

Ia hening sebentar, terus dia menambahkan, "Tapi bangsat cilik ini sangat berkepala batu, aku kuatir kita sukar mengorek keterangan dari mulutaya..."

"Biarlah, kita bawa saja dia ke Liong Bin Kok," kata Yan Ie. "Di sana kita tanya dia dengan perlahan-lahan, nanti kita gunia segala macam daya upaya."

"Baik, aku turut kau," kata Liong Kek akhirnya. "Kita sudah berhasil membekuk dia, kita bawa dia pulang. Baik kita serahkan dia pada ayah, biar ayah yang mengambil putusan, supaya hati ayah menjadi senang!" Selagi Liong Kek berkata itu, dari kejauhan terlihat debu mengepul naik, lalu tampak munculnya sebuah pasukan tentara berkuda, datangnya sangat cepat, maka juga dilain saat sudah terdengar si pemimpin tentara menanya dari jauh-jauh, "Apa Ong Siauw-cecu di sana?"

"Benar!" Liong Kek menjawab. "Thio Tong-nia, kau datang sendiri?"

Memang perwira itu Thio Tiong Cie, salah seorang terkosen dari An Lok San.

Tiong Cie menahan kudanya begitu dia sudah tiba. "Apakah kamu tidak melihat Cin Siang?" dia tanya.

Mukanya Liong Kek menjadi merah.

"Dia sudah kabur..." sahurnya jengah, suaranya tak lancar.

Ketika Cin Siang itu mengangkat kaki, kapan minggatnya diketahui oleh Busu yang ditugaskan meniliknya, si Busu sudah lantas melepas burung dara untuk memberi kabar kepada Ong Pek Thong, minta Ong Pek Thong memerintahkan orang memegatnya. Dan Liong Kek dan adiknya ialah orang-orang yang diberi tugas oleh Ong Pek Thong itu. Maka itu Liong Kek malu atas kegagalannya.

"Sudah berapa lama perginya dia?" Tiong Cie tanya. "Sudah lama juga," jawab Liong Kek.

"Sebenarnya hampir aku berhasil menawannya," berkata Yan Ie, "Apa mau kami bertemu satu musuh lain, selagi kami bertempur kacau, dia dapat meloloskan diri. Sekarang ini kami letih semua, tak dapat kami mengejar dia."

Dengan kata-katanya itu Yan Ie seperti mau bilang, kalau Tiong Cie hendak mencoba menangkap juga Cin Siang, dia boleh pergi menyusul sendiri, pihaknya sulit memberikan bantuannya.

Thio Tiong Cie menjadi sangat tidak puas, akan tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tak dapat ia memaksa ini kakak beradik membantu padanya, sebab orang bukannya orang sebawahan An Lok San, bahkan untuk berontak, An Lok San, sang tuan, membutuhkan bantuan Keluarga Ong.

Ia tidak dapat mengejar sendiri sebab ia tahu kegagahannya Cin Siang. Di antara tiga Toa-kho-ciu, orang terkosen di istana, Cin Siang yang paling gagah, maka kalau ia mengejar sendiri, ia seperti mengantarkan jiwa.

"Baiklah," katanya kemudian, untuk memutar kemudi. "Tay- swe kami sudah lengkap persediaannya, tinggal tunggu harinya untuk mulai bergerak maju ke kota raja guna merampas kerajaan, dari itu tak usah kita kuatirkan dia dapat lari untuk memberi kisikan. Sekarang ini An Tay-swe lagi repot mengumpulkan pelbagai perwira, bagaimana kalau Ong Siauw- cecu turut aku pulang ke Hoan-yang?"

Ong Liong Kek tidak dapat memberikan jawabannya. Ia bersangsi.

"Inilah kebetulan!" berkata Yan Ie, mendahului kakaknya. "Tidak leluasa untuk ayah muncul di Hoan-yang, engko, baiklah kau yang pergi ke sana! Bangsat kecil ini serahkan padaku yang membawa, kau jangan kuatir."

Liong Kek setujui pikiran adiknya itu.

"Jikalau begitu, baiklah, asal kau berhati-hati di tengah jalan!" dia memesan. "Kau tahu, aku sangat membenci dia, maka itu, kalau dia hendak dihukum mati, tunggulah sampai aku pulang!" Sampai disitu, kakak beradik itu lantas memecah pasukan liauwlo mereka. Liong Kek lantas ikut Thio Tiong Cie berangkat ke Hoan-yang, dan Ong Yan Ie mengiringi Tiat Mo Lek pulang ke lembah Liong Bin Kok.

Menurut perintahnya Yan Ie, Mo Lek diikat di atas kuda. Pada punggung kuda dipasangi tempat duduk yang tebal. Luka Mo Lek pun dibalut rapi. Mo Lek diam saja atas segala perlakukan itu. Selagi tertotok itu, ia tidak dapat bergerak dan tak bisa bicara.

Tatkala itu sudah lewat tengah hari.

Yan Ie kuatir orang tawanannya nanti tergoncang-goncang keras, ia menyuruh barisan wanitanya berjalan perlahan-lahan. Karena ini, di waktu magrib mereka baru melaLui kira empat puluh lie. Untuk sampai di Liong Bin Kok, jalanan masih ada lima puluh lie kira-kira.

Dua orang tauwbak lantas menghampirkan pemimpinnya untuk menanya apa mereka mesti melanjuti perjalan malam- malam.

Yan Ie tertawa.

"Kamu tidak letih, tetapi aku sudah letih sekali!" katanya. "Kita tidak mempunyai urusan penting, kita pun cuma mengiring satu bangsat kecil, buat apa kita berjalan terus malam-malam?"

Itulah keputusan yang diharap-harap kawanan liauw-lo wanita itu, dari itu kedua tauwbak itu menjadi sangat girang. Lantas mereka mengundurkan diri, guna menitahkan membangunan tenda banyaknya tiga buah. Yang satu untuk Nona Ong serta sekalian pengiringnya pribadi, satu untuk semua prajurit wanita, dan yang satu lagi buat Mo Lek seorang diri. Itulah titahnya si nona. Mo Lek rebah seorang diri, luka-lukanya mendatangkan rasa nyeri, perutnya kelaparan. Kecuali di betis dan di ujung kaki, ia mendapat banyak luka lain sebab tergaet sebelum ia ditotok si nona.

Tengah ia menderita itu, tiba-tiba pintu tenda ada yang pentang, lalu nampak Yan Ie bertindak masuk sambil bersenyum. Si nona sudah lantas membetulkan sumbu lilin hingga cahaya apinya menjadi lebih besar.

"Tiat Siauw-cecu, apakah kau masih membangkang?" tanya si nona tertawa.

Ia mengulur tangannya, menotok bebas orang tawanan itu.

Mendadak Mo Lek membentak, "Jikalah kau hendak membunuh aku, bunuhlah! Aku Tiat Mo Lek, aku tidak dapat dihinakan!"

"Siapa mau membunuh kau?" si nona tanya, tertawa pula. "Siapa mau menghina padamu? Ah, kau benar-benar tidak tahu kebaikan orang! Kau tahu, aku datang untuk mengobati kau!"

Lantas si nona mau membukai balutan orang tawanan itu. Tiba-tiba Mo Lek menggeraki kakinya.

"Pergi!" bentaknya. "Aku... aku..."

Mendadak dia berhenti bicara. Karena ia meronta itu, tangannya kena membentur buah susu si nona. Ia menjadi likat, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya itu dan berhenti berbicara.

Di dalam luka dan lapar sangat, Mo Lek kehilangan tenaganya, maka benturannya itu tidak membahayakan si nona. Tapi Yan Ie menjadi melengah, dia jengah sendirinya, sampai mukanya menjadi merah. "Ha, adakah kau seekor kerbau?" dia tanya, mendongkol. "Kenapa kau kasar begini rupa? Sekalipun kerbau masih tahu halnya orang berlaku baik terhadapnya! Hm! Manusia tak kenal budi!"

Nona itu menonjok dahi orang!

"Tak perlu aku dengar kepalsuan kau ini!" kata Mo Lek sengit. "Inilah tangis si kucing untuk si tikus! Biarnya kau dapat menyembuhkan aku, tak dapat aku menerima baik budimu!"

Meski ia berkata demikian, Mo Lek menjadi rada lunak. Ia tak lagi meronta atau mau memukul orang...

Ong Yan Ie membukai balutan.

"Ah, anak bandel yang tak mengenal aturan!" katanya. "Sebenarnya tidak niatku memperdulikan kau tetapi lukamu ini hebat! Sungguh, tak tega aku menyaksikan kau menderita begini rupa!"

Ia lantas mengeluarkan obat luka, untuk memborehkan luka orang itu.

Setiap orang Rimba Hijau mesti memiliki obat luka dan obat luka buatan Keluarga Ong manjur sekali. Begitu Mo Lek diobati, lantas ia merasa adem seluruh tubuhnya dan rasa nyerinya pun berkurang banyak.

Semenjak masih kecil, belum pernah Mo Lek berdekatan dengan seorang wanita seperti kali ini, sekarang Nona Ong mengobatinya, kulit daging mereka beradu satu dengan lain, napas mereka juga saling menghembus dan tercium.

Mo Lek mencoba menahan napas akan tetapi gagal, ia dapat mencium juga bau harum dari tubuh si nona. Ia menjadi tidak keruan rasa, ia merasa nyaman. Lantas ia mengertak gigi. '. "Tiat Mo Lek, Tiat Mo Lek!" katanya di dalam hati. "Kaulah laki-laki sejati! Apakah kau lupa sakit hati ayah angkatmu?"

Ia pun mengerahkan tenaganya, hingga papan  yang tertindih tubuhnya menjadi berbunyi nyaring.

Ong Yan Ie mengerutkan alis.

"Tidak keruan kenapa kau mengumbar pula adatmu?" ia tanya. "Mo Lek, kenapa kau membenci begini sangat kepadaku?"

"Inilah pertanyaan sengaja dari kau!" sahut Mo Lek, gusar. "Kau tahu tapi toh kau tanyakan! Hm! Aku beri nasehat kepada kau, lebih baik kau bunuh saja padaku! Tidak demikian, asal napasku masih berjalan, pasti aku akan membalaskan sakit hatiku!"

"Aku telah membunuh ayah angkatmu, tapi dia bukan ayahmu yang sejati," kata si nona. "Di dalam kalangan Rimba Hijau orang saling bunuh dan saling membalas dendam, bukankah itu lumrah sekali?"

"Kau memandangnya lumrah akan tetapi aku mengukirnya di dalam hatiku!" Mo Lek kata keras. "Aku menyimpan itu  di dalam hati sanubariku!"

"Baik!" Nona Yan berkata, tertawa. "Biarnya kau mau membalas sakit hati, sekarang kau mesti jaga dirimu baik-baik! Kau sudah tak.dahar satu hari, bukan? Tanpa dahar, dari mana nanti datangnya tenagamu untuk mencari balas?"

Mo Lek melengak, ia berdiam. Ia tak dapat menangis atau tertawa.

Seorang budak perempuan datang menghampirkan, dia menyuguhkan semangkuk teh. "Silahkan minum, Tiat Siauw-cecu," katanya. "Minumlah selagi masih panas!"

"Apakah ini?" Mo Lek tanya.

"Inilah obat racun!" kata Yan Ie tertawa. "Kau berani minum atau tidak?"

"Aku takut apa!" sahut Mo Lek.

Ia melengak dan mencegluk minuman itu. Tapi segera ia merasakan sesuatu yang manis dan adem, setelah itu, ia merasa segar sekali. Kiranya itulah som-thung, air obat jinsom

Si budak tertawa.

"Nona!" katanya, "Nona pandai sekali membujuki orang minum obat!"

Terus dengan membawa mangkuk kosong dia mengundurkan diri.

"Jangan kau kegirangan!" kata Mo Lek mengancam. "Tidak perduli kau lepas budi apa, di antara kita permusuhan tak dapat dibikin habis musnah!"

"Sebenarnya aku tidak memikir memberikan penjelasan," kata Yan Ie, "Akan tetapi kau begini sangat membenci aku, tak dapat tidak aku mesti mengucapkan juga beberapa kata-kata. Ketika itu waktu kami menggempur gunung Hui Houw San, usiaku baru empat belas tahun. Kala itu aku cuma tahu ayah angkatmu adalah satu jago Rimba Hijau yang galak dan biasa menghinakan yang lemah. Ayahku memerintahkan aku membunuh ayah angkatmu, waktu itu aku tidak merasa bahwa perbuatanku itu salah..."

Si nona tidak mau mengaku salah, tapi di depan Mo Lek, ia mesti bicara lain.

Hati Mo Lek bergerak. "Benar," pikirnya, "Itu waktu dia benar seorang nona cilik yang belum tahu apa-apa. Maka itu si penjahat utama ialah ayahnya bersama Khong Khong Jie, orang yang membantu ayahnya itu!"

Memikir begini, kebencian pemuda ini berkurang dua bagian. Tapi cuma sejenak, ia sudah lantas berpikir pula, "Aku tak usah perdulikan ketika itu dia sudah mengerti keadaan atau belum! Mengerti begitu, tak mengerti begitu juga! Yang terang dialah musuhku yang telah membinasakan ayah angkatku! Mana dapat aku mengampuni dia?"

Ong Yan Ie sangat cerdas, dengan melihat air muka orang, dia sudah dapat menerka hati orang. Dia lantas tertawa dan kata, "Tiat Siauw-cecu, apa sekarang kau merasa baikan?"

Mo Lek terluka parah tetapi itu melainkan luka di kulit dan daging, meski tenaganya belum pulih seluruhnya, kesegarannya sudah pulang kembali empat atau lima bagian. Sebenarnya ia bersyukur juga akan tetapi ia bangsa keras kepala.

"Baikan atau tidak baikan, ada apa sangkut pautnya dengan kau?" ia tanya ketus. "Aku tak perduli dengan lagakmu ini yang baik hati berpura-pura!"

Yan Ie tertawa geli.

"Siapa yang mencoba-coba menarik hatimu?" dia tanya. "Apakah kau menyangka aku hendak membiarkan kau si busuk hidup karena kau dianggap sebagai mustika? Apakah kau tahu apa sebabnya aku menanya kau barusan?"

Mo Lek heran.

"Habis, apa artinya?" ia tanya. Nona Ong tertawa.

"Jikalau kau sudah baik, hendak aku mengusir kau pergi!' sahutnya. Mo Lek heran sekali hingga ia mendelong.

"Apa?" tanyanya. "Kau hendak membiarkan aku pergi?" "Benar!" jawab si nona. "Bukankah kau hendak menuntut

bala*?  Jikalau  aku  tidak  membiarkan  kau  pergi,  mana  kau

dapat membalasnya Aku hanya takut kau mengatakan aku takut akan pembalasanmu ilu, karenanya hendak aku melepaskan kau supaya kau pergi dari sini! Baikiah sekarang kau coba-coba menggeraki otot-ototmu, apakah kau sudah dapai menunggang kuda? Kudanya Cin Siang telah aku obati hingga sembuh Kuda itu jempolan, dapat aku memberikan kepada kau. Kalau kau maju pergi, kau pergilah cepat-cepat! Jikalau tidak, sampai di Liong Bin Kok, aku sudah tidak berkuasa lagi!"

Mo Lek tahu orang menggunai alasan saja untuk membuat ia suka mengangkat kaki. Untuk sementara, ia menjadi ragu-ragu sekali, hingga tak tahu ia mesti bertindak bagaimana.

Nona Ong sudah lantas menyerahkan senjata dan buntalannya si anak muda.

"Semua barangmu ada di sini," kata dia. "Dan ini sebungkus daging, kau boleh dahar nanti di tengah jalan!"

Mo Lek menggigit giginya. Dengan terpaksa ia mengulur tangannya menyambuti. Tapi ia berkata, "Kalau dibelakang hari kau terjatuh ke dalam tanganku, aku juga bakal mengasih ampun satu kali kepada jiwamu!"

Ong Yan Ie tertawa.

"Jadi kalau buat yang kedua kali ini, kau tidak bakal mengasih ampun, bukan?" tanyanya. "Baiklah! Secara demikian aku jadi dapat berlaku waspada, supaya aku tak usah sampai terjatuh ke dalam tanganmu!" Habis berkata, nona ini mencekal tangan orang, untuk dituntun keluar dari dalam kubu-kubu. Tiba di luar ia dongak akan melihat langit.

"Malam ini rembulan permai sekali,"- katanya. "Apakah kau kenal jalanan?"

"Tak usah kau mencapaikan hati untukku!" kata Mo Lek sengit. "Hm! Sekarang aku hendak omong lebih dulu kepada kau! Kali ini kau melepaskan aku, apakah kau tidak akan menyesal kelak dibelakang hari?"

Nona itu tertawa manis.

"Aku sengaja bersiap sedia menantikan kedatanganmu untuk kau membalas sakit hatimu, kenapa aku mesti menyesal?" jawabnya. "Eh, apakah kau tidak hendak mengambil selamat tinggal dari aku?"

Ketika itu budak tadi datang dengan kudanya Cin Siang.

Justeru itu juga di udara terdengar tiga kali suara panah nyaring, suara mana disusul bunyinya terompet yang disuarakan oleh serdadu-serdadu wanita yang lagi meronda.

"Celaka!" Yan Ie berseru. "Ada musuh menyerbu di waktu malam!"

Benar saja, dari arah timur dan barat nampak dua barisan serdadu lagi mendatangi, mereka itu mengambil sikap mengurung.

Diwaktu malam seperti itu, sulit untuk segera mengetahui berapa besar jumlah musuh dan musuh itu dari pihak mana.

Ong Yan Ie lantas berkata, "Pihak musuh datang dengan sudah siap sedia, itulah tak menguntungkan kita! Lekas memerintahkan semua mundur dengan teratur!" Perintah itu dikeluarkan dengan si budak terus diberikan bendera titah, untuk dia melaksanakan titah pengunduran itu.

Setelah itu dengan mendadak Nona Ong mencekal keras pada tangannya Tiat Mo Lek.

Si Anak muda tidak menyangka, ia kaget dan kesakitan, hingga ia menjerit, "Aduh!"

"Kau mau apa?" ia menanya, gusar.

"Tenagamu belum pulih, tak dapat kau melawan musuh," berkata si nona. "Kalau kau bertempur dalam satu pertempuran kacau balau, itulah sangat berbahaya untukmu! Aku mengantari Sang Buddha, mesti aku mengantarnya sampai di Langit Barat! Maka mari kau turut aku, untuk kau molos dari gunung ini, nanti selanjutnya kau boleh menyingkir seorang diri saja!"

Tanpa menanti jawaban lagi, Yan Ie mengangkat tubuh orang, buat dikasih naik atas kuda, ia sendiri menyusul lompat naik sembari berkata, "Jikalau kau tak dapat duduk tetap, kau peluk pinggangku! Yang perlu ialah menyingkirkan diri lolos dari sini!"

Sementara itu pertempuran sudah berjalan kacau sekali. Yan le menggunai pedangnya secara hebat hingga beberapa musuhnya kena ia tikam atau tabas hingga roboh dari atas kudanya. Ia keprak kudanya untuk dapat lari keluar dari kalangan!

Kuda itu kuda dengan pengalaman berperang, tanpa iliramhiik lagi, dia dapat lari terus, untuk menerjang keluar dari pengepungan, Iclapi Yan Ie bukanlah majikannya, dia seperti hendak mengganggu si nona, telagi kabur itu, kalau dia menghadapi rintangan, sengaja dia berlompat tingg'.

Nona Ong pandai menunggang kuda, ia tidak merasakan hebatnya gangguan binatang itu. Tidak demikian dengan Tiat Mo Lek yang terluka kakinya, betis dan tulang keringnya, akibat pelbagai gaetan musuh. Hampir dia jatuh. Dengan terpaksa dia memeluk erat-erat pinggangnya si nona Karena ini dia mengeluh sendiri, "Sungguh aku malu..."

Di antara musuh segera terdengar teriakan-teriakan, diantaranya satu suara nyaring, "Entah kemana kaburnya si bangsat kecil she Ong Sungguh sial kita bertemu ini barisan wanita!"

Teranglah itu suara yang menyatakan segan menempur orang perempuan.

Mo Lek dapat mendengar suara itu, ia rasa ia mengenalnya, hanya di saat itu ia tidak dapat lantas ingat suara siapa itu. Ketika itu pun sudah terdengar lagi suara berisik di antara musuh.

"Eh, apakah itu bukan anak perempuannya Ong Pek Thong? Lihat di belakangnya itu, di atas kuda, ada seorang laki-laki yang menggemblok!"

"Ya, ya, benar! Tapi orang itu tak mirip-miripnya kakaknya' Siapakah dia?"

"Ha, ha, ha! Kau lihat! Lihat pria itu, dia memeluknya si wanita erat sekali! Tidak salah lagi, dia mestinya laki-laki liarnya!"

"Jangan perduli dia siapa!" ia mendengar pula suara yang lainnya "Kita bekuk saja si wanita itu kalau dia benar-benar anak perempuannya Ong Pek Thong! Dia terlebih liehay daripada kakaknya! Jikalau kita berhasil menyingkirkan dia, itu berarti kita melenyapkan sebelah lengannya Ong Pek Thong!"

Suara nyaring yang pertama tadi menyambuti, "Baiklah! Nanti aku maju menghajar dengan kapakku! Orang-orang sebawahannya itu kawanan wanita bau, tidak ada harganya untuk dikapak, biarkan saja mereka semua lolos kabur!"

Habis itu segera terlihat majunya seorang yang bertubuh besar yang berkumis berewokan tebal, yang tangannya membulang-balingkan sebuah kapak besar, kudanya maju pesat sekali.

Mo Lek dapat melihat orang itu, ia terkejut. Dialah Sin Thian Hiong, cecu atau ketua dari benteng Sin Kee Ce dari gunung Kim Kee San!

Sin Thian Hiong menjadi seorang Rimba Hijau yang kenamaan untuk wilayah Utara. Ia berdiri sendiri, tidak  menurut kepada Keluarga Touw, tidak menghamba kepada Keluarga Ong.

Adalah setelah runtuhnya Keluarga Touw dari Hui Houw Ce, sesudah pertemuan di Liong Bin Kok dimana rombongannya Han Tam membeber rahasianya Ong Pek Thong, ia jadi bermusuh dengan keluarga yang menjadi pengkhianat Rimba Hijau itu, yang tak segan berkongkol dengan An Lok San.

Ia telah mendengar kabar hal Ong Liong Kek membawa pasukan perangnya, entah kemana perginya. Tidak tempo lagi, ia pun membawa barisannya, untuk bersembunyi di tengah jalan yang bakal dilewati rombongan Liong Kek, guna memegat dan menyerangnya. Ia menduga biasa saja, yaitu Liong Kek keluar untuk melakukan usaha tanpa modal.

Diluar dugaan, ternyata Ong Liong Kek sudah turut Thio Tiong Cie pergi ke Hoan-yang, hingga ia cuma bertemu dengan Ong Yan Ie, adiknya pemuda she Ong itu.

Tiat Mo Lek kenal Sin Thian Hiong ketika satu malam dimuka Kepergian mereka ke Liong Bin Kok, mereka berkumpul di rumahnya Han I ,im. Ketika itu di waktu malam dan sang waktu juga sudah lewaf tujuh tahun, tidak heran kalau Sin Thian Hiong tidak mengenali padanya dan sebaliknya dengan ia yang ingatannya kuat. Maka sekarang dia lantas mengenali.

Baru Mo Lek berpikir untuk menyapa Thian Hiong atau mendadak ia ingat dirinya dalam keadaan bagaimana. Pikirnya, "Aku tengah memeluki K-ulisnya musuh, paman Sin seorang jujur, bagaimana nanti aku dapat membersihkan diri?"

Ketikaatu Thian Hiong sudah lantas tiba, dengan segera dia menyerang dengan kapaknya.

Ong Yan Ie tertawa dingin.

"Eh, orang sembrono, cara bagaimana kau berani menghina aku secara begini?" tegurnya.

Nona Ong tidak menangkis hanya ia berkelit dengan memiringkan tubuhnya, berbareng dengan itu, pedangnya diluncurkan sama sebarnya guna membalas menyerang.

Kapaknya Thian Hiong mengenai tempat kosong. Ia menyesal. Justeru itu, ia pun kaget. Pundaknya mengasih dengar suara memberebet! Ujung pedangnya si nona telah mengenakannya!

Yan Ie terintang karena ia dipeluki Tiat Mo Lek, kudanya juga kuda yang pertama kali untuknya, maka itu walaupun ilmu pedangnya liehay, meski seharusnya ia dapat merampas jiwanya Sin Thian Hiong, sekarang ia melainkan dapat melukai ringan sekali.

Sin Thian Hiong menjadi gusar sekali, ia memutar kudanya untuk mengampak pula. Ia telah ketahui si nona liehay, ia tidak mau gunai tenaganya secara keterlaluan. Ia mengandalkan pada kapaknya yang gagangnya lebih panjang daripada pedang, maka itu ia mengarah leher kuda. Kapak musuh itu berat sekali, Yan Ie tahu itu, sebenarnya tak mau ia mengadu senjata atau tenaga, maka syukurlah kudanya itu kuda yang telah berpengalaman di medang perang, kuda itu cerdik sekali, sebelum kapak tiba, tanpa diisyaratkan lagi oleh penunggangnya, dia sudah lantas berlompat, untuk pergi ke belakang kuda lawan, terus dia menjentil!

Kudanya Sin Thian Hiong juga kuda jempolan, sebab itulah kuda asal Mongolia, akan tetapi dia kalah besar, tak dapat dia bertahan, dia kena dijentil hingga roboh, hingga penunggangnya roboh bersama.

Ong Yan Ie tertawa.

"Bagus!" serunya. "Apa sekarang masih berani banyak lagak?"

Si nona lantas membungkuk untuk menyerang musuh itu.

Tiat Mo Lek memeluki pinggang langsing dari Yan Ie. Selama si nona menempur Sin Thian Hiong, beberapa kali sudah ia berpikir, ia terganggu keragu-raguan. Tenaganya belum pulih seluruhnya, akan tetapi ilmu totoknya tidak lenyap, jikalau ia mau, dapat ia menotok jalan darah jie-khie dari si nona.

Jikalau ia menotok nona itu, mesti dia habis tenaganya, tak usah Mo Lek yang turun tangan, dia pasti bakal terbinasa di tangan Thian Hiong. Mo Lek tapinya tidak lantas menotok. Ia dicegah oleh rasa malunya.

"Seorang laki-laki sejati," demikian ia pikir, "Jikalah dia mau membuat pembalasan, dia mesti lakukan itu secara laki-laki juga! Dia ini sangat percaya aku, cara bagaimana aku dapat membokongnya...?"

Belum habis Mo Lek berpikir, Thian Hiong sudah roboh bersama   kudanya   itu   dan   dia   terancam   bahaya   maut.

Mendadak si anak muda mengambil keputusannya. Tak suka  ia menotok si nona, tak sudi juga ia membiarkan Thian Hiong terbinasa.

Maka itu di dalam saat maut mengancam Sin Thian Hiong, ia mengerahkan semua tenaganya, ia memeluk keras dan mengangkat tubuh Yan Ie. Maka kejadianlah ujung pedang tidak meminta jiwa Thian Hiong dan Thian Hiong keburu ditolongi dibawa menyingkir.

"Apa kau bikin?" tanya Yan Ie gusar sekali. "Apakah kau kenal binatang itu?"

Ia lantas membalik tangannya, hendak melemparkan orang jatuh dari kudanya.

Mo Lek tidak menjawab, ia hanya menatap mengawasi.

Ketika mata mereka bentrok sinarnya, Yan Ie menghela napas.

"Bagus!" serunya. "Bagus kau masih mempunyai rasa peri kemanusiaan, kau tidak menggunai ketikamu yang baik untuk mencelakai aku..."

Tengah si nona berkata begitu, satu penunggang kuda lain tiba di antara mereka. Penunggang kuda itu seorang nona yang cantik.

Ketika Mo Lek melihat nona itu, hatinya goncang. Ia mengenali Han Cie Hun, anak daranya Han Tam.

"Bagus!" Yan Ie berseru. Dia pun mengenali nona itu. "Kiranya kau, Encie Han! Kita harus menguji dulu kepandaian kita!"

Pada tujuh tahun dulu ketika Han Cie Hun menyamar menjadi anaknya Sin Thian Hiong dan turut dalam pertempuran di Liong Bin Kok, ia telah bertarung beberapa kali dengan Ong Yan Ie. Tak lama setelah itu, Yan Ie ketahui siapa adanya nona itu. Maka ia telah memikir mencarinya, buat menempur pula, guna membalas sakit hati yang dia telah dipermainkan. Maka kebetulan sekali sekarang mereka bertemu satu pada lain.

Cie Hun tertawa.

"Aku justeru datang kemari karena aku ingin belajar kenal dengan ilmu pedangmu, encie!" kata ia yang lantas mengajukan kudanya terlebih jauh, untuk menyerang dengan tipu silat "Cit-chee Poan-goat," .llan "Bintang tujuh menemani si puteri malam".

Kuda mereka berdua telah datang dekat satu dengan lain, il.ui penyerangan itu yang berulang-ulang sampai tujuh kali, semuanya mencari jalan darahnya Nona Ong!

Han Tam menjadi ahli totok nomor satu. Cie Hun lelah mewariskan kepandaian ayahnya itu, yang kurang baginya ialah latihan, hingga ia belum dapat memahirkannya, walaupun demikian, untuk dunia Rimba Persilatan, hanya Khong Khong Jie dan saudara seperguruannya yang dapat menandingi. Oleh karena itu, melihat datangnya serangan sangat dahsyat itu, Yan Ie menjadi kaget.

Segeralah terdengar suara nyaring dari beradunya kedua senjata, hingga telinga menjadi ketulian. Didalam keadaan seperti itu, Yan Ie masih dapat menangkis serangan, hingga mereka jadi bertempur seru.

-ooo0dw0ooo-
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Bangsa Petualang Jilid 13"

Post a Comment

close