Kisah Bangsa Petualang Jilid 03

Mode Malam
 
Jilid 03

„Kau sabar, jangan terbitkan onar,” Kui Ciang memberi ingat. Ada tiga buah meja lain di ruang itu, yang ditempati anggauta- anggauta Ie Lim Kun, melihat pada Leng Ho Tayjin, mereka pada menyapa. Leng Ho Tayjin sambil tertawa berkata pada mereka itu : „Mari aku perkenalkan kamu kepada sahabat- sahabat baru ! Inilah Gui Ciang Kun serta Sie Ciang Kun, semua berada dibawah perintahnya An Ciat touw su.”

Semua orang Ie Lim Kun itu memberi hormat pada Gui Sin Su dan Sie Siong. Mereka itu tahu benar, An Lok San ialah Ciat- touw-su yaag paling besar kekuasaannya atas tentara serta diapun anak pungut Yo Kui Hui.

Selama mendengari maka Toan Kui Ciang ketahui touw ut she leng ho itu bernama, Tahu bahwa kedudukannya diantara semua hadirin itu ialah yang paling tinggi, maka juga semua orang sangat menghormatinya.

Gui Sin Su dan Sie Siong, yang mengantar An Lok San, karena An Lok San ditahan Yo Kui Hui di istana, dapat tempo luang sampai sebentar sore untuk mereka memapak cukong atau tuannya itu.

Toang Kui Ciang sementara itu berpikir : „Rumah makan ini dekat dengan pintu Beng hong mui. Baiklah sebentar malam aku datang pula kemari untuk menantikan, kalau naati mereka ini pergi menyambut An Lok San, aku kuntit mereka , . . “

Tiat Mo Lek tak kuatir dia dikenali Sin Sa dan Sie Siong karena perbuatannya me-colongi anak anak,sebab sekarang ia dandan sebagai anak keluarga hartawan atau berpangkat, tak lagi sebagai anak dusun. Dua orang itupun tak memperhatikan  lain lain orang karena mereka repot dengan arak mereka serta beromong omong terus. Mereka lebih asyik mengawasi si Lie Pek. Toan Kui Ciang tidak berkuatir akan tetapi ia mau berlaku berhati-hati. Maka itu ia anggap lebih baik ia lekas meninggalkan rumah makan itu. Tengah ia mau memanggil pelayan untuk membayar uang arak, justeru ada datang seorang tetamu baru, yang lantas saja menanya dengan suara keras : “Apakah Lie Hak Su lagi minum arak disini ?”

Dialah seorang opsir, yang lain seragamnya daripada seragamnya Sin Sudan Sie Siong. Bahan kainnya bahan kasar. Meski hawa dingin, dia memakai sepasu rumput. Dia membekal golok panjang, yang sarungnya terbuat dari cula badak yang mahal, model kuno Sarung itupun diikatkan runce benang emas. Tanpa sarung mahal itu, dia mirip dengan seorang serdadu rudin.

Ketika  Kui  Ciang  memandang  orang itu ia terperanjat Opsir itu berumur lebih kurang tiga puluh tahun, matanya tajam sekali, kumis dan berewoknya kaku. Dia bermuka penuh debu  toh  sifat  gagahnya  tak  lenyap.  Ia ingat satu orang hanya ia masih ragu ragu . . .

Leng Ho Tat lak senang dengan lagaknya opsir itu. “He, kau orang macam apa?” dia menegur. „Dapatkah kau menyebut Lie Hak Su seperti caramu barusan”

Opsir itu tertawa. Dia kata : „Aku mencari Lie Hak Su, ada apa sangkutannya dengan kau ? Kenapa kau usilan?”

,Kau bicara keras-keras, itu artinya kau tidak kenal aturan  Sie Sione menegur. „Lie Hak Su lagi tidur nyenyak. kenapa kau bikin banyak berisik? Melihat romanmu begini kasar tak mungkin Lie Hak su mempunyai sahabat semacammu !” .

Tadi Sie Siong kenal Lie Pek, dia omong sembarangan, dia menyesal maka sekarang dia bawa aksinya itu, sekalian membantui Leng Ho Tat, dia ingin mendapat muka dari pembesar kawan kasannyaHak Su itu. Dia pikir : .Kali ini tidak nanti aku keliru melihat orang pula ! Jahanam ini tentulah tak lebih tak kurang seorang opsir rendah di perbatasan. Mustahil benar dia kenal Lie Pek !”

Tidak tiu saja, orangnya An Lok San ini mencoba menghadang opsir itu, hingga dia menjadi gusar. Lantas dia kata ketus : “Kau melihat orang dengan mata anjingmu !” ta- ngannya pun lantas menolak.

.Apakah kau mau bertempur ?” tanya Sie Siong, tertawa dingin. Dia mengulur tangannya guna mencekal tangan orang itu, niatnya memutar tangannya, supaya orang jadi buah tertawaan para hadirin. Di luar dugaannya dia gagal, bahkan dialah yang terdorong hingga terhuyung hampir menubruk tanah!

Leng Ho Tat terkejut, ia tahu Sie Siong ialah Kiam-kek, ahli pedang, dari Ceng Ciu dan disebelah pedang, orang liehay senjata rahasianya serta pandai menangkap tangan orang. Siapa sangka, sekarang jago Ceng Ciu itu ketemu batunya. Hcrarnya ia tak melihat gerakannya opsir perbatasan yang  rudin itu Sie Siong menjadi gusar sekali. Dia mau menghunus pedangnya. Ho Tie Ciang lantas datang sama tengah.

”Lie Haksu itu luas pergaulannya. Sie Ciang Kun menyayanginya, itulah bagus. Tuan ini”

“Aku she Lam !” Kata si opsir perbatasan. „Yakni Lam Selatan dari empat penjuru timur barat, utara dan selatan!”

„Saudara Lam,” kata Tie Ciang pula, “kaulah kenalan Lie Hak su, harap kau tidak kecil hati atas cegahannya Sie Ciang Kun ini. Benar-benar Lie Hak-su telah minum banyak arak sekarang dia lagi tidur ”

Sie Siong berdiam. Bagus Tie Ciang datang menyelak.

Sekarang dia mau menduga orang berpangkat tidak rendah. Opsir she Lam itu memandang ke sekitarnya. ”Itulah Lie Hak-su yang tidur di meja ’ ia tanya.

”Tidak salah,” sahut Tie Ciang. ”Ialah Lie Haksu.”

”Kau bikin banyak berisik, kiranya kau tidak kenal Lie Hak-su

!” kata Sie Siong, yang kumat mendongkolnya. Dia tidak menyangka opsir ini tidak mengenali Lie Pek.

„Kapannya aku bilang aku kenal dia” kata opsir she Lam itu.

„Sebenarnya ada urusan apa tuan mercari Lie Hak-su ?” tanya Tie Ciang, heran.

„Aku kenal seorang sahabatnya Lie Haksu, dialah yang menitipkan surat untuk aku menyampaikannya,” sahut opsir itu.

„Siapakah sahabat tuan itu?” Tie Ciang tanya pula, Ia percaya, asal sahabatnya Lie Pek, tentu ia kenal atau pernah mendengarnya.

“Ialah sahabat she Kwee. Surat ini aku mesti serahkan sendiri, tidak dapat aku pakai perantara lain orang.”

”Belum pernah aku dengar Lie Hak-su menyebut sahabatnya orang she Kwee…”” pikir Tie Ciang. Tapi ia pandai membawa diri, sebab orang tak sudi menyebutnya, ia tidak mau menanyakan lebih jauh. Tapi ia kata, manis: „Lie Hak-su tidur entah sampai kapan, apakah kau ingin aku membangunkannya

? ‘

„Tak usah ! Tak usah !” kata opsir she Lam itu. „Biar aku minum disini sekalian menantikan sampai dia mendisin.” Ia lantas teriaki pelayan nyaring : „Bawakan aku arak putih lima kati serta tiga kari daging kerbau ! ‘

Sie Siong melirik, romannya puas. Dia kata: „Bagus! nyata mataku dapat melihat tepat! Dengan ini dia mau mengatakan: „Kau lihat, apa aku bilang ! Lie Hak-su mana punya sahabat semacammu ? aku salah terka !”

Opsir she Lam itu lantas minum dengan bernapsu dan dahar dagingnya dengan lahapnya ia tak memperdulikan sikapnya orang.

Sie Siong jadi berani, dia tertawa dan berkata pula: ”Rumah makan ini rumah makan paling terkenal untuk kota Tiang an hahaha ! siapa sangka sekarang ada yang menganggapnya seperti warung nasi di tepi jalan . . . !”

Orangnya An Lok San ini mentertawai orang hanya memesan arak putih dan daging kerbau sedang di rumah makan itu ada tersedia arak yang harum dan banyak macam makanan yang lezat lezat.

Kali ini opsir she Lam itu menggedruk-kan poci araknya dan kata dengan keras : „Aku makan apa aku suka ! Dapatkah kau usilan”

Poci arak itu terbuat dari perunggu, karena digedrukkan keras, melesaklah dia ke dalam meja !

Melihat demikian, semua orang heran. Sie Siong pun kaget. Tapi dia mau memegang nama-nama, maka dia kata : “Kau jangan berlagak ! Di sini bukan tempat bertempur, jikalau kau benar kosen, beranikah kau berjanji untuk kita memilih suatu tempat buat berunding ?”

Biar bagaimana, suaranya orang she Sie ini tak sekeras semula. Opsir she Lam iiu tertawa dingin.

„Terserah kepada kau !” sahutnya, gagah „Pasti aku akan melayanimu, Hanya aku mesti tunggu sampai aku telah bicara dengan Lie Hak Su, baru aku akan menemui kau!” Melihat kepandaian orang, Kui Ciang merasa pasti, katanya dalam hati : „Tak salah lagi inilah benar dia ! Aku tidak sangka aku bertemu dengannya disini.” Meski demikian karena di situ ada banyak orang, ia mau menanti ketiga untuk menyapa dan berbicara dengannya.

Gui Sin bu ada bersama Sie Song akan tetapi selama aksinya rekan iiu, dia berdiam saja, dia campak jeri. Kui Ciang melihat lagaknya itu, mukanya pun pucat benar dia merabah gagang goloknya, tak pernah dia menarik itu. Ia tidak nengerti, la lantas menduga : „Tentu orang she Gui ini kenal orang she Lam itu, mungkin mereka Bermusuhan, kaiau begini mungkin bakal ada pertunjukkan yang menarik hati” .”

Sie Siong kata dalam hati kecilnya : “Kau boleh lihay ilmu silatmu bertangan kosong tetapi dengan pedang belum tentu aku dikalahkan kau !” Tengah dia hendak menetapkan janji dan Ho Tie Ciang serta yang lainnya ingin datang sama tengah, tiba tiba mereka mendengar suara genjoreng tiga kali, disusul dengan ini kata-kata keras : „Firman Seri Baginda Raja !”

Dalam sekejap, seluruh lauwteng menjadi sunyi. Para orang berpangkat lantas ber-bangkit untuk berdiri diam di pinggiran. Cuma pemilik rumah makan yang maju, untuk menyambut, seraya dia menanya hormat: “Selamat datang, tiongsu tayjin ! Belum tahu Seri Baginda Raja memanggil siapa ?”

Kejadian ini, bukan baru satu kali ini, pemilik rumah makan itu dapat menduga yang dipanggil mestinya Lie Pek, akan tetapi ia menanya untuk memperoleh kepastian. “Ti-ong Su” itu ialah sebutan untuk thaykam, atau orang kebiri, yang ditugaskan membawa firman, akan tetapi kali ini petugas pembaca firman itu bukan thaykam hanya seorang pemain musik, Lie Ku Lian namanya. Inilah sebab dia disayangi Raja dan diberi pangkat pemimpin. Ho Tie Ciang dan yang lainnya kenal dia. Lie Ku Lian maja ke depan ia tidak menjawab tuan rumah hanya berkata nyaring: „Firman rremanggil lantas kepada Lie Hak Su untuk menghadap Seri Baginda Raja di paseban Sim Hiang Teng !”

Di belakang pembawa firman ini berada seorang taykam yang membawa kopiah, jubah ikat pinggang dan Chio  hut untuk Lie Thay Pek.

Melihat Lie Hak Su lagi tidur, Lie Ku Lian tertawa dan kata :

„Kembali Lie Hak Su sinting ! Setiap Baginda Raja menghendaki ia lantas menghadap, bagaimana sekarang ? kebetulan Ho Tayjin berada di sini. Tolonglah tayjin membantu menyadarkannya !” Tie Ciang suka sekali membantu, maka bersama pemain musik itu’ia menghampakan Lie Pek untuk dikasi bangun.

Tiba-tiba Lie Pek menolak dengan kedua tangannya , dengan mulut mengeluarkan bau arak ia mengoceh; „Aku mabuk dan ingin tidur, tuan pergilah!” Dan tanpa mengangkat kepalanya ia tidur pula.

Karena tolakan itu, Ku Lian dan Tie Ci ang, terhuyung hampir jatuh. Ku Lian menyeringai dan kata: ,Ah. kali ini mabuknya lebih hebat lagi! “Bagaimana?”

„Kita gototg saja!’ kata Taykam, „Biar bagaimana dia meski salin pakaian dulu! Eh pemilik hotel , lekas ambil air!”

“Untuk apa Seri Baginda memanggil Lie Hok Sun?” tanya Tie Ciang pada Ku lian yang ia kenal baik. Sebagai Pit Sie Siauw Can, ia pun menjadi pembesar yang selalu berdekatan dengan Raja.

Tahun ini kota Yang Ciu mengirim bingkisan pohon bunga bouwtan banyak macam Lie Ku Lian menjawab. „Semua itu di tanam di luar paseban Sim Hiang Tang, ditimurnya” pengempang Hia Keng Tie. Hari ini bunga itu pada mekar, maka Seri Baginda menitahkan menyiapkan santapan di paseban itu, untuk berjamu bersama Yo Kui Hui. MesiK pun memperdengarkan lagu-lagu tetapi Seri Baginda masih kurang puas maka aku lantas di perintahkan membawa kuda Baginda kuda Giok Hoan Cong untuk menyambut Lie Hak Su. Lihat disana itu kuda Baginda sudah siap sedia!”

Ketika itu tuan rumah kembali dengan sebaskom air. Ku Lian minta sabuk yang ia celup di dalam.air, setelah memeras sedikit ia letaki itu di jidat Lie Hak Su. Ia pun perintah pelayan mengambil empat lembar seko-sol, guna dipakai mengurung Hak Su itu, Sam bil tertawa ia kata: „Syukur aku ketahui tabiat Lie Hak Su, aku pergi lebih dulu ke Han Lim le mengambil kopiah dan pakaian nya lengkap. Benar saja dia datang kemari’ dengan pakaian biasa.

Lie Pek dikurung dengan sekosol. Kui Ciang dan yang lainnya tak dapat melihat apa yang dilakukan terhadapnya oleh Kui  Lian beramai, hanya tak lama ia mendengar suaranya Hak Su itu! „Suasana begini indah. Aku belum puas minum! Syair apakah yang Lharus dibuai?”

Lie Kun Lian terdengar berkata-kata tapi tak jelas, hanya Lie Pek tertawa dan berkata pula: “Ha bunga-bunga bouwtan dari Yang Ciu sudah pada mekar! Warnanya merah, ungu, kuning muda, putih dan lainnya! Seri Bagindapun menyediakan arak dari Li-tang Cit! Baiklah nanti aku pergi, untuk mencicipi! Dengan memandang kepada bunga-bunga dari Yang Ciu itu suka aku pergi ke sana! ‘

Lalu terdengar lantai papan lauwteng berbunyi, rupanya disebabkan terlalu gembira, penyair jago minum arak itu sudah me-nari-nari . . . Sebentar kemudian, Lie Pek sudah nampak muncul diluar sekosol dengan pakaian rapi, akan tetapi ia tetap berbau arak. matanya keriyap, jalannya limbung. Hingga ia mesti dipepayang beberapa thay-kam.

Justeru itu si opsir she Lim bertindak kedepan orang. Lie Pek menghentikan tindak kannya ia mengawasi, lalu berkata : “Oal seorang yang gagah! Eh, kau “ kau… kau”

Orang she Lam itu lantas berkata: , Aku datang .membawa suratnya Kwee Leng Kong. aku justeru mau bertemu denganmu…”

Belum habis kata-kata itu, beberapa thaykam menolak tubuh orang seraya mengusir : „Macam apa kau? Lekas pergi!”

„Kurang ajar!” Lie pek membentak. „Kamu berani mengusir sahabat karibku?” ia lantas mementang kedua tangannya, hingga dua orang kebiri roboh terjengkang

Semua orang heran, seorang berpangkat berbisik pada rekan disisinya: Aneh! tadi dia tidak mengenali Lie Hak Su, sekarang dia jadi sahabatnya . .”

Habis menyingkirkan orang-orang kebiri itu, dengan tubuh terhuyung, Lie Pek mendekati si opsir she Lam. sambil menunjuk ia tertawa terbahak dan berkata: , Kau tidak kenali aku? Aku justeru kenal kau! kau!….kau ….kau…. kau tentulah saudara Lam Pat! Ha-baha! setelah bertemu Lam Pat. siapa kesu-dian memperduliksn pula segala Kui Hui ? Mari. mari! Mari kita minum pula!”

Lie Ku Liai menghampirkan opsir yang dipanggil Lam Pat itu, ia menjura terhadapnya dan berkata dengan perlahan: „Seri Baginda lagi menantikan Lie Hak Su, kau bantulah aku….

Lie Pek maju pula, tubuhnya terhuyung hingga ia mesti pegangi meja. „Lam Pat! Lam Pat! mengapa kau tidak minum arak’” Katanya „Eh, ya apa katamu barusan? kau menyebut- nyebut entah apa loo kong kong. “kau kata kau membawa entah barang apa untuk . . . . Hihaha! kau Lam Pat, mengapa kau menjadi …. pesuruh? Lucu! lucu! lekas bicara biar terang!”

Hak Su ini belum sadar benar, telinganya salah mendengar, orang menyebut Kwee Leng Kong ia mengatakan. “Loo Kong Kong.

Lam Pat itu tertawa. ‘Nyatalah Hak Su orang sekaum dengan kami! “katanya “Sekarang ini ada kuda Raja menantikan di depan rumah makan, untuk membawa kau ke istana, taruhkata kau menemani aku minum aku akan minum tak puas, maka itu baiklah tunggu sebentar malam setelah tempomu luang, baru aku temani kau minum semalam suntuk!

„Bagus, “kata Hak su itu, ‘”Kau benar! baiklah sebentar habis aku bertemu dengan Raja baru aku menemui kau itu waktu memang kita dapat minum dengan terlebih memuaskan !”

Ho Tie Ciang lantas nimbrung: “Lie Hak Su tinggal di rumahku, asal#kau tanya-tanya rumah ke’uarga Ho dikota Barat, pasti kau akan menemuinya !”

Orang she Lam itu menyahuti: “Tuan toh Ho Siauw Kam ? aku tahu! “ia ketahui maksudnya Tie Ciang yang meminta ia membiarkan Lie Pek lekas pergi. Ia pun tahu riak Su itu la?i mabuk tak dapat ia bicara banyak atau menyerahkan suratnya.

Lie Kun Lian bersama Tie Ciang semua memayang Lie Pek turun dari lauwteng rumah makan untuk menuju ke istana. De- ngan begitu, kawan-kawan mereka lantas bubaran.

Orang she Lam itu menggeleng kepa a ia kata senang diri: “Bencana tengah mengancam tapi di Istana orang kelelap dalam pelesiran . . . Tiba tiba ia menepuk meja dan kaca nyaring: ‘Sayang Lie Hak Su!. . . “Lan tas ia meneguk meneguk habis araknya setelah itu, dengan melemparkan sepotong uang perak, ia mau berlalu dari rumah makan itu. Justeru itu Leng Ho Tat Dan Sie Si-ong menghampiri. Saudara Lam tunggu dulu! ‘ kata si orang she Leng Ho, tertawa.

Alis Lam Pat terbangun, “Ke mana?” tanyanya. Apakah sekarang juga kita pergi ke cuali ini si orang she Sic apakah kau pun ingin turut ambil bagian ? ‘ Ia menyangka orang rnau menjanjikan pie bu bertanding mengadu kepandaian.

Leng Ho Tat tertawa. „Saudara Lam Pat, aku bukan mau menjanjikan tempat dan waktu adu pedang! “ katanya.

Lam Pat mementang matanya. „Bukan buat adu pedang” katanya. ”Habis mau apa kau menahan aku ? ‘

Sie Siong maju setindak, dia memberi hormat. „Aku tidak kenal kau, saudara,” katanya, ”tadi aku berlaku kurang hormat padamu aku minta kau tidak buat kecil hati.”

Lam Pat tertawa dalam hatinya , pikirnya : „Mereka tentu melihat bagaimana Lie Pek melayani aku maka sekarang mereka merubah sikapnya ini , . . .” Tapi ialah orang dengan dada lapang, meski ia tak menghargai Sie Siong ini, sebab orang telah minta maaf, ia tidak mau berpikiran cupat. Maka ia tertawa dan kata : “Itulah urusan kecil, tak apa ! Oleh karena Sie Ciang Kun tak ingin kita mengadu pedang, nah harap kau mengijinkan aku pergi terlebih dulu !”

„Tanpa berkelahi orang tak berkenalan !’ kata Leng Ho Tat. “Saudara Lam Pat, tak ada halangannya bukan untuk kita duduk-duduk dulu sebentaran ?”

„Tak berani aku menerima kehormatan itu !” sahut si opsir she Lam

„Dengan kata-katamu ini, saudara Lam, kau jadinya masih kurang puas hati.” kata Leng Ho Tat Tertawa. „Saudara Lam Pat, kita sesama orang Rimba Persilatan,” Sie Siong menyela “Leng Ho Touw-ut paling gemar bergaul, maka itu aku harap sandar? janganlah segan memberi pengajaran kepadanya.”

Lam Pat berkata dalam hatinya : „Dua orang ini mempunyai ilmu silat yang baik, mengapa sikapnya menjemukan” tapi ia duduk pula. Ia tanya, tawar : „Tuan-tuan, ada apakah pengajaranmu”

„Memang  ada  yang  kami ingin  tanyakan kau, saudara Lam.’”   sahut  Leng   Ho Tat  tertawa. “Barusan saudara menyebut nyebu Kwee Leng Kong. Adakah ia Kwee Cu  Gie  dari kota Kiu Goan ?”

Kwee  Cu Gie itu kemudian berjasa  besar hingga dianugerahkan menjadi Pangeran Hun Yang Ong. Hanya ketika itu ia masih menjabat Thoysiu atau residen dari sebuah kota, hingga  belum  banyak  yang  mengenal  namanya. Toan Kui Ciang pun heran karenanya hingga ia berpikir : , Leng Ho Tat menjadi  touw-ut  dari  Ie  Lim  Kun  dan  Sie Siong pungga- wanya  An Lok San  kalau mereka menghormati Lie Hat-su, itulah pantas,  Lie Hak  su dihargai Raja.   Kenapa dia sekarang agak menghormati seorang thoysiu ? Eatah orang macam apa Kwee Cu Gie itu.

Lam Pat agak bersangsi, tapi toh ia menjawab. „Benar, orang yang menitipkan surat kepadanu untuk Lie Hak su benar Kwee Kun Siu. Apakan tuan-tuan kenal dia?”

„Ya,” sahut Leng Ho Tat Perkenalan Lie Pek dengan Kwee Cu Gie bukan sembarang perkenalan. Mulanya itu peristiwa kebetulan.

Pada suatu hari Lie Pek pesiar di batas kota Pian Ciu. Di sana ia bersomplokan dengan serombongan serdadu bersenjataki n toya lagi mengiring sebuah kerangkeng per-sakitan. Orang yang dikurung itu, di matanya si penyair, beroman luar biasa, la menjadi ketarik hati dan menanyakannya. Nyata orang itu bernama Kwee Cu Gie, bekas pian ciang, atau punggawanya Ciat-touw-su Ko Sie Han di Liong See. Dia ditugaskan menilik sisa rangsum tentara, apa lacur serdadu se-bawahannya sembrono, serdadu itu membikin rangsum itu terbakar habis, karena dia yang bertanggung jawab, dia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Sekarang dia bawa untuk menjalankan hukumannya itu.

KweCuGie memberi keterangan dengan suaranya yang ryaring umpama berkata seperti bunyi genta. Lie Pek mendengarkau sambil mengasih jalan kudanya, mengikuti, kemudian ia menanya tentang ilmu militer, ilmu silat dan kitab perang. Kwee Cu Gie menjawab dengan cepat dan rapi. Dia pun bicara dengan wajar, hingga tak mirip seperti orang yang mau pergi ke tempat kematian-nya.

Lie Pek kagum dan heran, ia berpikir : ”Tak sedikit orang gagah yang kukenal, tetapi orang yang tepat menjadi sastrawan utama dialah ini!” Maka dari itu ia tetus mengikuti sampai ditempatnya Ko Sie Han, ia menghadap perwira tinggi itu untuk meminta kan keampunan bagi Kwee Cu Gie.

Ciauw-touw su itu luas pardangannya. dia memang mengagumi penyair itu, maka dia suka berbuat baik. Permintaan si penyair diluluskan. Hukuman mati Kwee Cu Gie dibatalkan, ia dibebaskan, lalu ditempatkan tetap dalam pasukan tentara, untuk nanti ia membuat jasa guna menebus dosarya iiu.

Lewat beberapa tahun Kwee Cu Gie benar berhasil mendirikan jasa, dari itu ia diberi pangkat thaysiu dari kota Kia Goan itu. Lie Pek tahu sahabatnya iru mendapat kedudukan baik. ia senang sekali, tetapi hal pertolongannya itu tak pernah ia ceritakan kepada siapa juga, maka juga Ha Tie Ciang tidak mendapat tahu.

Kwee Cu Gie juga mendapat kabar halnya Lie Pek berada di kota raja di mana dia disayang raja, hanya dalam kedudukan mirip tetamu, jadi dia tidak dipakai untuk mengurus pemerintahan sedang kawanan dorna lagi menguasai negara. Ia peicaya, orang sebagai Lie Pek itu, tak nanti dapat hidup selayaknya didalam suasana keruh itu, dari itu ia mau mengajarnya untuk tinggal bersama. Demikian ia menulis surat dan minta seorang sahabatnya menyampaikan suratnya itu.

Sahabat itu ialah yang Lie Pek menyambutnya “saudara Lam Pat.” Dialah opsir yang Kwee Cu Gie menjadikan pembantunya. Dia anak yang ke delapan, nama benarnya yaitu Lam Cee In. Untuk kedua wilayah Yan dan Tio (Hoopak dan shoasay), dia terkenal sebagai Yu hiap, orang pengembara. Selama dua  puluh tahun, dunia kang ouw atau Sungai Telapak mengenal dua jago, ialah sepuluh tahun yang pertama Toan kui Ciang, dan sepuluh tahun kemudian, sesudah Kut Ciang mengundurkan diri. ialah dianya. Selama di Kiu Goan pernah dia seorang diri memukul mundur tiga ratus penjahat perbatasan bangsa Kiang, hingga di-sana dia menjadi buah bibir rakyat: “Lam Pat barulah laki-laki sejati!”

Atas pertanyaan Leng Ho Tat, karena orang she Leng ho ini dipercaya benar kenal Kwee Cu Gie, Lam Pat memberitahukan juga surat itu memang dari Kwee Cu Gie thaysiu dari kota kiu goan itu.

Diluar dugaan, mendengar jawaban Lam Pat, sambil tersenyum Leng ho Tat kata: ‘Surat itu belum diterima olen Lie Haksu, bagaimana kalau dikasi pinjam lihat sebentar padaku?” Lam Pat melengak. Ia menjadi tidak senang.

Walaupun surat bukan surat rahasia, tak pantas orang pinjam linat suratnya lain orang.

„Tayjin bergurau!” katanya. “Mana dapat surat lain orang diberi pinjam lihat?”

Leng ho Tat tertawa dingin. Ia tanya pula: ‘Saudara Lam Pat, barusan kau kata kau menyayangi Lie Haksu apakah artinya itu?”

Dari tidak senang, Lam Cee In menjadi gusar. “Jadinya kau memeriksa aku?” ia tanya. “Hak apakah kau mempunyai?”

Leng ho Tat bersikap tenang. ‘ Lie Haksu itu memperoleh kebaikan budi Seri Baginda Raja,” dia kata, “telah dikirim tiongsu berikut kuda Seri Bagindi sendiri untuk menyambut!” Dia ada demikian disayang, mengapa kau bilang dia harus disayangi? Maaf aku yang bodoh, benar benar aku tidak me- ngerti! Aku miita sangat supaya kau menjelaskannya.”

Dijawab demikian, tidak dapat Cee ln membilang apa apa. Ia menyabarkan diri. “Aku tidak mempunyai tempo untuk bicara denganmu !” akhirnya ia kata. Sie Siong tertawa mengejek.

„Ada tempo untuk adu pedang, tidak ada tempo berbicara. Benarkah ?” katanya. Leng-ho Tat berpura menyelak di tengah.

“Kau serahkan surat itu padaku,” katanya. „Mari kita mencari lain tempat untuk memasang omong. Akan aku tetap memper- lakukan kau sebagai sahabat.”

„Hm!” Cee In mengasi dengan suara dingin. „Apakah kau kira aku Lam Pat kena digertak orang ? Jikalau aku tidak serahkan suratku ini, bagaimana ?”

Tiba-tiba air mukanya Leng-ho Tat berubah. „Kau bekerja untuk pembesar di perbatasan !” dia membentak. „Kau mencoba membaiki seorang menteri istana ! kau juga mengandung maksud hati tidak puas, kau menghina Seri Baginda Raja ! Dosamu merangkap dua, apakah kau masih memikir untuk merat ?”

Sejak tadi Toan Kui Ciang menonton saja, sekarang ia menjadi heran bukan main. Tadi ia melihat Leng-ho Tat menghormati Lam Cee In dan matur maaf, ia menyangka touw- ut itu bangsa bina tukang mengumpak-umpak, karena Lie Hak Su, dia mau menempel Cee In. Siapa sangka dalam tempo sependek ini, dia mengubah sikap menjadi demikian getas dan keras. Ia berpengalaman, ia toh heran.

Leng-ho Tat sudah lantas mengeluarkan senjatanya, yaitu sepasang gaetan Hok-ciu-kauw, lalu dengan tipu silat “Menggulung layar” dengan gaetan kiri dia menyambar dari samping dengan gaetan kanan dia menggores ke dada !

Lam Cee In tidak menghunus goloknya, cuma dadanya disedot, sebelah tangannya di ulur. Dengan begitu robeklah baju didadanya hingga terdengar suara memberebetnya. Ber- bareng dengan itu juga terdengar suara nyaring di telinga, karena tangannya itu mampir keras pada sasarannya yaitu telinganya si touw-ut !

Leng-ho Tat menjadi seperti kalap, Ia gusar tak kepalang.

Maka ia lantas mengulangi serangannya dengan beringas.

Masih Cee In tidak mengeluarkan senjatanya. Ia melayani lawan dengan kegesitan dan kelincahan, ia main lompat berkelit ke samping atau mundur. Kalau toh ia maju, tangannya meluncur. Begitulah sampai tiba saatnya, selagi mengancam dengan tangan kiri, ia cabut goloknya, untuk menyerang dengan gegamannya itu.

Di saat itu Sie Siong maju, untuk menyerang, hingga pedang dan golok bentrok keras suaranya berisik, lelatu apinya meletik. Untuk kagetnya si orang she Sie, goloknya gugus ! Bukan main kagetnya Sie Siong, yang terjulukkan Ceng-ciu Kiam Kek, ahli pedang dari kota Ceng ciu. Tahulah ia bahwa lawan menggunai golok mustika, yang tajam luar biasa. Ia tidak takut, bahkan  ia panas hati. Maka ia maju pula dengan me- ngubah caranya bersilat beruntun tiga kali ia menyerang: keatas, ketengah dan kebawah!

Juga Leng ho Tat mengumbar hawa amarahnya, Dia terlebih gagah dari pada Sie Siong, sedang seumurnya inilah yang pertama kali dia kena dicaplok orang. Maka dia menyerang hebat sekali. Dia menggunai jurus ‘ Gie thian wa tee” atau menutuk langit menggiris bumi,’” Kebetulan dia berada dibelakang lawan, laetannya menerkam punggung dan menyengkeram dengKul dengan berbareng.

Justeru itu, Sie Sio.jg mendesak dari depan. Didalam keadaan terancam itu, Lam Pat sudah mengasi lihat kecerdasan dan kesehatannya. Ia seperti melihat lawannya mendadak ia mene.idang dengan sebelah kakinya kebelakang seraya tubulnya dejerunukan kedepan, untuk melindungi punggungnya itu. Tepat sekali tendangan kakinya, yang naik dari bawan ke atas mengenai tangan lawan yang mencekal gaetan itu!

Leng ho Tat kesakitan dan kaget, gaet-annya itu terlepas. Dengan menjerunuk keie-pan, Lam Pat mengancam Sie Siong, hingga punggawa itu mesti mundur, setelah maia, ia mengangkat tubuhnya berdiri, untuk berlompat kesampingnya Teng-ho Tat. Sembari lompat itu. ia tertawa.

Tiat Mo Lek menonton dengan perhatian. ‘Bagus,” ia berseru dengat pujiannya Ia kagum untuk tipu silatnya jago dari Yan Tio itu. Ia baiu saja diajari Touw Leng Giok ilmu melawan musuh didepan dan dibelakang, bagaimana harus menyelamatkan diri, ia belum melatih sempurna, atau sekarang ia melihat contoh yang bagus ini. Lam Cee In mendengar suara pujian itu, ia sudah lantas melirik. ‘Eh, itu toh Toan Toako?’ katanya dalam hati.

Tepat ia berpikir itu, Cee In dibikin kaget oleh gerakannya Gui Stin Su kawannya Sie Siong ini, yang semenjak tadi berdiam saja, mendadak sudah mengangkat meja, sambil berseru dia menimpuk, guna menghalang-halangi jalan.

Mata Cee In mendelik, dia berseru: ‘Bagus, ya! kiranya kau si penjahat besar menjadi opsir tentera!”

„Ngaco belo!” Sin Su membentak. “Akulah Ciang Kun dari Penglouw! Bagaimana kau berani mencemarkan namaku?”

Cee In melengak , dia bersiul, lalu dengan mendongkol dia kata nyaring: “Tak ada bedanya pembesar negeri atau bangsat! Pantas di-jaman begini negara kacau!”

Sembari berkata itu, dia lompat menyerang orang she Gui itu. Sin Su terperanjat, mundur dua tindak.

Berbareng dengan itu, Sie Siong menyerang dengan pedangnya1 maka dengan memutar goloknya, Cee In menangkis, membikin senjata mereka beradu, hingga pedang terpental!”

“Berontak! Berontak!” Leng Ho Tat berseru berulang-ulang “bangsat ini sudah menghina Pemerintah, dia mencemarkan Panglima Perang! Dialah si pemberontak pengacau negara, setiap orang dapat membunuhnya, mencincang tubuhnya!

Seruan itu berpengaruh, karena beberapa opsir yang mengenalnya, lantas turun tangan membantui mengurung Lam Cee In.

Sebelum menghamba kepada An Lok San, Gui Sin Su menjadi begal tunggal Satu kali di jalan besar Peng Ciu, selagi membegal serombongan saudagar, dia bersamplokan dengan Lam Pat. dia diserang, hingga gagal usahanya itu dan kena terbacok satu kali. Karena itu. dia jadi mendendam sakit hati. Ini pula sebabnya kenapa sedari tadi dia berdiam saja. Ialah dia takut nanti dikenali Lam Pat dan nanti mendapat malu.

Sie Siong heran kawan itu tidak membantui dia ketika dia pertama kali bentrok dengan Lam Cee Ia, ketika dia kembali ke- mejanya, dia tanya sang kawan. Tidak berani Sin Su mendusta pada kawan sendiri, maka pada kawan ini dan Leng ho Tat ia tuturkan permusuhannya dengan Lam Cee In. Inilah yang membikin mencari gara-gara, hingga akhirnya terjadilah pertempuran itu.

Pada itu. Leng-ho Tat masih mempunyai satu maksud lain Kwee Cu Gie cuma menjadi thaysiu. tetapi ia pandai mengatur tentara, karena ia tidak mau menghamba kepada An Lok San ia dibenci orang she An itu. Berbareng dengan itu. Lie Pek dibenci Yo Kok Tiong, cuma Kok Tiong tidak bisa berbuat apa apa disebabkan nama besar Thay Pek, yang pun lagi disayang raja. Yo Kok Tiong sendiri tidak mendapat kecocokan dengan An Lok San, keduanya saling berlomba mengambil hati. Di mulut mereka baik, di hati mereka saling mencari jalan untuk disayang raja.

Leng ho Tat ketahui pertentangan diam-diam diantara Yo Kok Tiong dan An Lok San itu ia memikir mencari jalan untuk memperoleh keuntungan karenanya. Sekarang datang Lam Cee In yang membawa suratnya Kwee Cu Gie untuk Lie Thay Pekja mengasah otaknya Ia pikir: „Aku harus dapatkan suaranya Kwee Cu Gie ini, tak perduli apa bunyinya, sesudah aku berhasil akan aku haturkan itu kepada Yo Kok Tiong. untuk Yo Kok Tiong mencari tukang munulis huruf yang pandai, guna meniru tulisannya orang she Kwee itu, guna menuduh dia niat berhianat dan berontak. Mungkin Seri Baginda Raja tak mempeicayainyai sedikitnya dia dapat dituduh sudah beisekongkol denganpi-hak luar, bahwa dia berkomplot sendiri Soal demikian darat membangkitkan kebencian Raja. Maka itu, taruh kata Lie Pek tidak diusir, kepercayaan atas dirinya pasti berkurang. Kwee Cu Gie juga tentu bakal kerembet-rembet. Dengan perbuatanku ini, aku bisa menempel Yo Kok Tiong dan An Lok San berbareng. Bukankah dengan sekali pukul aku memperoleh dua hasil?”

Sebenarnya Leng ho Tat ingin tarik Lam Cee In kepihaknya, tetapi orang tidak sudi bersahabat dengannya, maka ia ambil sikapnya yang keras itu sambil menuduh yang tidak-tidak.

Diatas lauwteng itu ada belasan serdadu le Lim Kun serta pengawal istana, yang menjadi sahabatnya siorang she Leng- bo, mereka itulah yang maju demi mereka mendengar Leng ho Tat berseru-seru itu.

Selagi orang dikepung, Leng-ho Tat berpikir pula : “Jahanam ini menyatakan puasnya terhadap Pemerintah, dia juga membawa suratnya Kwee Cu Gie bahkan dalam hal membawa surat itu, dia sudah mengaku sendiri, maka kalau semua orang disini menjadi saksi dipihakku. sekalipun dia dibunuh mampus, tidak nanti, aku dianggap bersalah aku dapat melanjutkan rencanaku.”

Begitulah dia mengajuri ora ig menyerang untuk membinasakan Cee In, hinnga Cee In menjadi terkepung hebat, hingga ramailah suara senjata senjata mereka, ditambah de- ngan terbalik baliknya kursi dan meja, terutama dengan jatuh hancurnya piring mangkuk dan cawan arak. Sedang lain lain tetamu, yang ketakutan semua lari serabutan menyingkir jauh.

Pihak pemilik rumah makan men jerit-jerit minta pertempuran dihentikan, sia-sia saja jeritan mereka itu, hingga saking takut, inerekapun pada menyembunyikan diri. Lam Cee In menjadi sangat gusar, maka ia menyerang hebat dengan goloknya. Setiap meja atau kursi, yang mengadang dihadapan-nya, ia dupak mental, hingga ada tiga opsir yang dibentur dan ketindihan meja hingga mereka terluka, sampai sekian Lama mereka’ tak dapat merayap bangun.

Leng-bo Tat juga maju lagi. Hebat dia mainkan sepasang gaetannya. Sedang GuiSm Su, dengan tangan kosong, bersilat dengan Kim Kong Ciang, tangan Kim Kongnya yang liehay.

Biar bagaimana, Lam Cee In kena terkurung, babkan kurungan itu makin lama menjadi makin ringkas, hingga sukar ia meloloskan diri.

Diantara pengawal istana, Lwee-sie wie. ada seorang yang menggunakan senjata rahasia yaitu tiga batang paku Touw-kut teng. Atas itu, Lam Cee In berkelit, atau lantas ia merasai pundaknya teresngkeram keras seperti terjepit dengan jepitan besi . . .

Itulah serangannya Gui Sin Su. Cee In berkelit justeru kesamping si orang she Gui. Dia segera mengulur tangannya.

Sie Siong melihat demikian ia girang se kali. Segera ia bertindak maju, pedangnya diluncurkan ke kaki orang, mengarah jalan darah Hoan tiauw di dengkul.

Juga  Leng-ho  Tat  melihatnya,  juga dia  maju, dengan menggerakan ke dua gaetan nva, hendak dia menggaet kedua kaki musuhnya.

Masih ada dua opsir lain yang lari memburu dengan golok di tangan, berniat membabat kutung tangan orang.

Di saat Lam Cee In terancam bahaya itu mendadak Sie Siong membatalkan tikaman-nya. Ia lantas menangkis ke belakang. Itulah sebab memdadak ia mendengar angin menyambar di belakangnya. Ia tahu pasti ada orang yang menyerangnya. Dengan keras terdengar suara “Traang !” Itulah beradunya orang she Sie ini dengan pedang penyerangnya. Lantas disusul dengan suara nyaring lainnya. Hanya itu suara golok yang terbabat kutung oleh pedang si penyerang itu, dan golok itu goloknya seorang opsir lain.

Habis menangkis itu Sie Siong lantas me lihat siapa si penyerang Ia telah memutar tubuh dengan sebat. Ia mengenali orang adalah orang yang tadi minum arak bersama Lie Pek ialah Toan Kui Ciang, orang yang namanya sudah lama ia dengar akan tetapi dengannya ia belum pernah bertemu.

Toan Kui Ciang melihat Lam Cee In terancam bahaya, ia lompat maju untuk menolong. Oleh kerena ia tidak dapat membantu menangkis, ia menyerang orang she Sie itu, hingga Sie Siong batal menikam terus pada si orang she Lam. Ia tahu opsir itu liehay ia mergarah jalan darah cie tong di punggung,  ia menduga tentulah Sie Siong tahu dirinya dibokong, maka ia sudah siap sedia. Begitu senjaia mereka bentrok, begitu datang si opsir yang menggenggam golok itu, yang terus membacok kepadanya, maka ia meneruskan menangkis sambil membabat golok orang.

“Sie Siorg !” kata Kui Ciang tertawa, kau harus belajar lagi sepuluh tahun untuk ilmu pedangmu ini !”

Bukan main panas ratinya orang sbe Sie itu. Ia lantas menikam ke perut orang yang dianggapnya takabur itu. Itulah tipu silat “Bintang mengejar rembulan.”

Kui Ciang berlaku sangat sebat. Ia menangkis. Begitu menangkis, begitu ia menyerang, bahkan dua kali ia mendesak.

Sie Siong terkejut. Ia terdesak. Terpaksa ia menjatuhkan diri ke lantai, untuk menyelamatkan dirinya, sedang pedangnya diang-Ikat, guna menangkis Maka pedang mereka beradu nyaring. Dua opsir lainnya maju menyerang Kui Ciang. Itu berarti pertolongan untuk Sie Siong, Apa lacur, senjata mereka itu kena dibabat kutung, hingga mereka tercengang, Sie Siong berlompat bangun, dia pun bingung, keringat dingin membasahi punggungnya. Tidak ia sangka musuh ini demikian li hay.

“Kui Ciang menaugkis serangannya seorang sie wie, setelah itu ia lompat kepada siorang she sie, guna mengulangi serangannya. Ia mendesak sampai lawannya itu repot.

„Kau …. kau siapa?” tanya Sie Siong yang menanya di luar kehendaknya,

Leng-ho tat juga gagal dalam percobaan nya menggaet kakinya Lam Cee In. Mendadak ada sebuah mangkuk yang terbang kea-rahnya, Tepat mangkuk itu jatuh di lantai te pai kakinya sampai, maka ia kena menginjak nya.Mangkuk itu pecah hancur dengan suara berisiknya ia pun terpeleset hingga hampir ia menubruk lantai Ketika ia sudah mengangkat kepala ia mendapatkan penyerang dengan mangkuk itu ialah seorang bocah umur enam atau tujuh belas tahun, la heran berbareng gusar.

“Eh, binatang kau cari mampus?” ia mc negur dengan bentaknya. Ia belum menutup rapat mulutnya, atau bocah itu ialah Tiat-Mo Lek sudah heilompat sampai di depannya! Tentu sekali ia tidak memandang mata Ia menurunkan gaetan kirinya, ia mengangkat yang kanan untuk digeraki terlebih jauh.

„Kena!” ia berseru nyaring. Tiat MoLek membacok dengan goloknya, golok itu kena disambut gaetan kiri, Inilah kehendak Leng-ho Tat, untuk ia dapat merampas genggaman lawan.

Si anak muda terkejut, akan tetapi ia ti dak menjadi gugup. Tentu sekali ia ingin me loloskan goloknya itu. Mendadak kakinya menoker mangkok ditanah hingga mangkuk itu terangkat dan menyamber ke muka orang Walaupun itu bukan senjata rahasia Leng ho Tat, toh kuatir nanti kena di serang maka ia berkelit, hingga mangkuk lewat disisi nya. Celaka seorang sie-wie yang ocrada di belakang, dia terkena mangkuk tanpa ampun lagi hingga kepalanya pecan. Dua wie-su lain nyapun terluka pecahan mangkuk itu.

Gaetan kiri dari Leng-ho Tat, masih me nyangkel go’pknya Mo Lek. Ia hendak membetot guna merampas golok lawan atau sedikitnya membuat terlepas. Maksud ini tidak ke sampaian. Telapak tangannya masih nyeri bekas ketendaug Lam Cee Tn tadi. Mo Lek me-iiggunai ketikanya mi, dia menarik goloknya sambil di putar, dia berhasil meloloskan nya setelah memapas kuntug dua buah giginya gaetan lawan itu.

Touw-ut itu menjadi mendongkol sekali. Lawannya toh bocah yang ia tak lihat mata-Maka ia maju pula dengan serangannya yang bengis.

„Liehay”! Tiat Mo Lek jerseru melihat datangnya serangan. Ia berkelit, goloknya-pun diu rik pulang. Tetapi ia menarik pu-lan2 bukan buat mengundurkan diri, hanya justeru dengan sangat cepat ia membalas menyerang !

Leng ho Tat kaget dan heran. Serangan itu di luar dugaannya. Serangan itu serangan pedang tetapi lawan bersenjatakan golok Pula ilmu silat yang digunai ialah satu jurus dari Pat Sian Kiam, ilmu pedang Delapan dewa. Percuma dia berkelit, lengannya sudah kena tergores lecet tiga dim panjangnya !

Selama beberapa hari Tiat Mo Lek berada bersama Toan Kui Ciang, ia telah di ajarkan ilmu pedang. Ia pun di janjikan akan dicarikan pedang yang bagus, guna menggantikan goloknya. Sekarang menghadapi lawan yang tangguh, dengan golok ia bersilat dengan ilmu pedang maka itu menjadi diluar dugaan si Touw-ut.

Leng-ho Tat mendongkol bukan main. Syukur dia tidak terluka parah. Sebenarnya dia hendak menghajar mampus bocah ini, atau dia mendapat kenyataan Sie Siong terancam bahaya. Kawan itu sudah terdesak Kui Ciang, kalau dia tidak membantui, untuk menolongi bisa-bisa kawan itu menemui ajalnya. Maka terpaksa dia meninggalkan si bocah, untuk menghampirkan si orang she Sie.

Toan Kui Ciang tidak takut walaupun ia dikepung dua opsir, bahkan sebaliknya, ia mendesak mereka itu, hingga sinar pedangnya seperti menutupi kedua musuhnya.

Sementara itu Gui Sin Su girang sekali sebab ia telah berhasil menyengkeram pundaknya Cee In. Ia caenggunai tipu silat Houw Jiauw Kimra ciu, tangkapan Kuku Harimau, ingin ia membikin remuk tulang pipe orang untuk itu ia terus mengerahkan tenaganya. Mendadak ia menjadi kaget sekali. Beda dari semula, ia merasa seperti menyengkeram besi tak dapat ja meremasnya, Tengah ia kaget itu, Cee In berseru mengguntur, tubuhnya Cee In diajukan sambil menyingkur, maka maka di lain saat, ia terangkat dan terpelanting jatuh, begitu keras hingga papan lantai gempur, hingga ia terjatuh terus ke bawah lauwteng.

Di saat itu tibalah dua opsir yang mau mengeroyok itu. Cee In berseru menyambut mereka itu, yang bergenjatakaii masing ma-sing golok panjang. Setelah menangkis bacokan, ia membalas. Dengan satu bacokan ia menabas kutung sebelah lengan satu opsir, dan opsir yang lainnya dihajar kelenger de- ngan belakang golok yang diteruskan dipakai menggempur ! Beberapa opsir lainnya kaget, hingga mereka berseru : “Pembunuhan ! Pembunuhan !” mereka itu tidak berani maju guna membantu rekan mereka.

Ketika itu Toan Kui Ciang berseru: “Mo Lek, jangan membunuh orang ! Lekas angkat kaki!’ Sambil berkata begitu, orang sbe Toan ini meluncurkan pedangnya ke tangannya Leng ho Tat. tepat ia menusuk, hingga orang kesakitan dan gaetan terlepas dari cekatannya. 

Di lain pihak, Lam Cee Ia telah berhasil memukul terlepas pedangnya Sie Siong. Maka berdua mereka landas menggeser tubuh ke dekat jendela.

Justeru itu terdengar Tiat Mo Lek berseru nyaring. Inilah sebab ia mendapat lihat di mulut tangga muncul seorang opsir yang tadi-tadinya ia belum pernah melihatuya, opsir itu hitam mata dan kulit mukanya, tubuhnya tinggi dan besar, hingga dia mirip malaikat. Ia tidak tahu orang liehay atau tidak, ia lantas membacok. Ia hendak meryingkir; tak suka ia ada orang yang menghalang-halangi.

Opsir itu melihat serangan sambil tertawa. “Bocah cilik, ilmu golokmu baik !” dia memuji. Sembari berkata itu. dia bergerak bagaikan kilat. Dia berkelit, dua tangannya bekerja : Tangan kiri menyambar golok, untuk dirampas, tangan kanan mencekuk tubuh orang, hingga Mo Lek lantas terangkat tinggi !

Itulah yang membikin si bocah berteriak. Toan Kui Ciang kaget Ia melihat si opsir memutar tubuh Mo Lek dan sambil ter- tawa dia berkata : Bocah ini besar nyali-nya ! Baiklah, aku beri ampun padamu !” Meski demikian ia melemparkannya ke luar jendela !

Kui Ciang sudah lompat menikam, la hendak mencegah dilemparnya bocah itu pedangnya meluncur ke muka orang. Opsir itu berani dan sebat, ia bukannya mundur hanya maju, tangannya bergerak dalam jurus ‘ Merogo saku mengeluarkan barang. “Dengan lima jeriji yang kuat, ia hendak menyengkeram jalan darah Kiok-tie dari si orang Toan.

Melihat hebatnaya tangan itu, siapa terkena bersamber mestinya dia habis daya. To an Kui Ciang melihat serangan itu. ia me nginsafi bahayanya. Tapi ia telah jadi mata merah. Bukankuh Mo Lek sudah dibuang ke luar jendela? Ia menjadi nekad. Maka ia berkelahi terus, ia menyerang hebat ke dengkul opsir itu .ambil ia berteriak. “Bayar pulang jiwa sahabat cilikku!”

Oisir muka hitam itu tak menyangka orang berlaku mati matian itu. Itulah hebat! umpama kata ia berhasil menjambak Kui Ciang, dengkulnya sendiri bisa menjadi kurban dengkul itu akan bercacad. maka tak mau ia mengadu jiwa. Terpaksa ia membatalkan serangannya seraya ia berlompat ke samping sedang dari muluinya terdengar tertawa serta kata-kata ini! “Siapa membinasakan bocah cilik itu? kau lihat dulu biar jelas!”

Justeru itu dari bawa lauwteng terdengar suaranya Tiat Mo Lek: ”Kouwthio, apakah kamu masih bertempur terus? Baiklah kau ajar adat kepada si muka hitam itu!”

Opsir rnuka hitam itu tertawa pula. “Hebat bocah cilik itu! “ katanya. “Sudah dia tidak mau menerima kebaikan budiku dia juga mencaci aku!”

Toan Kui Ciang kata: “Baiklah, aku terima kebaikanmu ini! kita jangan saling ganggu! ‘ karena ini. ia batal melakukan penyerangan pula.

Tapi Leng-ho Tat berseru: “Dua orang ini penghianat! ut tie Touw ut, aku lepas mereka’”

Opsir muka hitam itu Ut tie Pak namanya. Dialah buyut dari Ut tie Kiong. Panglima perang berjasa yang turut membangan Kerajaan Tong. Dia berdua saudara. Saudaranya itu bernama Lam   dan   berpangkat  tong   nia, Komandan  dari Kim-Kun, pasukan pengiring Raja.  Dia sendiri menjadi Tay-too Sie-wie, pengiring yang bersenjatakan golok diri Kaisar dan pangkat Liong Hong Kie-touw ut, maka juga ia berkedudukan terlebih tinggi dari pada Long-ho Tat. Di dalam Istana, dialah satu di antara Sam Toa Kho-ciu, si Tiga Terliehay. Ilmu silatnya yang istimewa ialah “Khong  Ciu Jip Pek Jin, “atau ” Tangan kosong merampas senjata. “Tempo dulu hari Cin-ong Lie Sie Bin (Kaisar Tong Thay Cong sebelum naisc tachta) menyerang negara bagian Gui (Lie Bit), di lembah Ngo Kok dia bertemu dengan Sian H ong Sin yang gagah dari pasuka Wa Kong Kun, di situ Lie Sie Bin dikerja Sian Hiong Sin sampai diso-lokan Tauw Hun Kan, hampir dia kena ditangkap syukur Ut tie Kiong datang menolongi, dengan tangan kosong orang sheUt-tie ini merampas  tombak Sian Hiong  Sin yang beratnya tiga puluh tiga kati. Karena itu nama Uttie Kiong, atau Ut-tte Keng Tek, menjadi tersohor,

Ut-tie Pak tidak  merampas pedangnya Toan Kui Ciang ia menjadi kagum sekali berbareng dengan itu semangatnya menjadi teibangun ia tertawa bergelak dan kata: “A-ku tidak perduli kau siapa! Ilmu Silat pedang kau liehay, mesti kau belajar kenal lagi beberapa jurus! ‘ Lantas ia menyerang de- ngan dua tangannya, dengan tipu silat Menggantung cambuk tunggal. ‘ Dengan tangan kiri ia mencopa menangkap lengan, untuk menggencet nadi, dengan tangan kanan ia mau merampas pedang,

Hati Kui Ciang lega. Ia mendapat kenyataan Tiat Mo Lek tidak kurang suatu apa, maka tak ingin ia mengadu jiwa dengan o-rang yang berperi kemanusiaan ini. Ia tidak menghiraukan orang liehay, ketika ia disam-ber itu, ia menggeser ia tubuhnya ke samping. Ia bergerak sargat cepat hingga ia menjadi berada di belakang orang.

„Awas Pedang! “ia berseru seraya pedang nya dipakai meiotok jalan darah hong-hu di punggung touw-ut itu. Sengaja ia mengasi dengar suaranya .ebab ia mengagumi lawan ini sebagai laki laki sejati Tiat Mo Lek tidak dibinasakan, ia ingin membalas budi.

“Kau tak usah berlaku belas kasihan ! Kata Ut tie Pak tertawa. Dia memutar tubuh sambil  tangannya  menyamber  ke belakang.

Itulah dua gerakan berbareng : Berkelit dan menyerang. Ujung pedang Kui Ciang tidak sampai pada sasarannya, sebanknya ujung bajunya kena tersamber hingga robek, bahkan kalau ia kurang sebat, pedanguya pun akan kena dirampas.

„Tangan yang liehay !” Kui Ctang berseru memuji, sambil ia menyerang dengan sebat sekali. Ia merabuh, hingga sinar pedangnya berkilauan di sekitar lawan itu, memain di antara berkelebatannya bayangan orang.

„Bret !” demikian terdengar satu suara, “Pedang yang liehay!” Ut tie Pak berseru. Dia ingin sangat merampas pedang orang, dia berlaku alpa, maka ujung bajunya terserempet putus. Maka dia pun memuji o.ang yang ladi memuji liehaynya tangannya.

„Kita seri” berkata Kui Ciang. “Aku masih mempunyai urusin penting, maafkan aku, tak dapat aku menemani lebih lama “, Habis berkata itu, itu ia lompat ke jendela yang ia hajar dengan kepalannya untuk ia termpat lebih jauh ke luar, terjun ke bawah!” Ut-tie Pak tidak memburu atau menghalang-halangi, ia hanya memutar tubuh guna menghadang di depan Lam Cee In.

“Kau pun pertunjuki kepandaianmu !” ia, lalu menantang terus ia menyerang. Cee In tidak punya kegembiraan orang ini, ia tunggu sampai  tangan  si touw-ut hampir tiba, mendadak ia berkelit,  belakang goloknya dipakai mengetok tangan orang itu.

Ut-tie Pak iiehay sekali. Benar tangannya itu beradu dengan belakang golok, akan tetapi berbareng dengan itu, tangannya itu meluncur terus, menepuk lengan Cee In, hingga lengan itu bergetar, goloknya mental! Ia berseru : :,Bagus ! kita pun seri l”

Mengenai ketikannya yang baik, Lam Cee In berlompat ke luar jendela yang tadi didobrak Toan Kui Ciang. la lompat berjumpalitan melewati jendela itu

Ut tie Pak pun berlompat untuk menyambar, akan tetapi ia cuma kena menyamber kayu jendela, hingga patah sebuah jerujinya tak dapat ia menangkap kaki lawannya itu.

Bukan tak sengaja orang she Uttie ini menyamber gagal, ia bersandiwara dan baik sekali peranannya itu. Memang ia ingin mengasi lolos si lawan untuk mana ia mempunyai alasannya sendiri. Kalau ia bersungguh-sungguh, mungkin ia berhasil. Dengan Lam-Cee In, kepandaiannya berimbang, masing- masing memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri. Tadi ia mencekal tangan Lam Cee In, Cee In menghajar ia dengan belakang lolok. Kalau ia digacek benar-benar dengan tajamnya golok itu, pasti sudah tangannya lerkutung, atau sedikitnya teiluka parah. Cee In berbuat baik, ia balas itu dengan kebaik- an juga. Sudah lumrah, orang gagah menyayangi orang gagah- Demikian ia menyamber “gajal,” supaya sang lawan lolos. „Sayang! Sayang!” Leng-ho Tat berseru berulang ulang. Ia tidak ketahui permainan komedi itu. Lantas ia mau pergi menyusul.

“Jangan! ‘ berkata Ut-tie Pak, yang mencegah dengan suaranya yang dalam, “Untuk dapat menangkap dua orang itu, U bun Tong-nia dan Cin Touw-ut mesti diminta bantuannya, sebab percuma kita menyusul mereka, kita bukan lawan mereka itu! Mari duduk, untuk kita bicara. Bukankah kau mengatakan dua orang itu pemberontak? Apakah ada buktinya untuk tuduhan kau itu? kau jelaskan padaku, nanti aku melaporkan kepada Seri Baginda Raja. kemudian akan ku minta Junjungan kita memerintahkan U-bun Tongnio dan Cin Touw ut turun tangan membantu aku.”

Yang disebut U-bunTongnia itu, sikomandan, adalah U bun Thong dari pasukan Gie Lim Kun, dan Cin Touw-ut ialah Cin Siang, buyutnya Cin Kiong, salah satu panglima dan menteri gagah dan berjasa yang turut membangun Kerajaan Tong. Mereka itu berdua bersama sama Ut-tie Pai ialah disebut Tay Lwe Sara Toa-klo-ciu, tiga pahlawan tergagah dalam istana.

Leng ho Tat telah menyaksikan kegagahannya Lam Cee In dan Toan Kiu Ciang, ia percaya benar katanya Ut tie Pak. Jadi iapun beranggapan, bantuannya U bun Thoang dan Cin Siang harus didapatkan. Karena ini ia suka menurut. Setelah berdiam sebentar ia menuturkan apa sebabnya maka terjadi pertempur- an iiu hingga Lam Cee In hendak dibekuk, demikianpun Toan Kui Ciang yang membantui Cee In.

Ut tie Pak tertawa bergelak. ”JiKalau menurut keterangan kau ini. kau tidak mempunyai bukti untuk tuduhanmu terhadap mereka bahwa mereka pemberontak! ‘ kata dia. “kau harus ketahui Kwee-cu Gie itu perwira yang berjasa dan sangat diandalkan melindungi wilayah perbatasan dan Lie Haksu menjadi orang kesayangan Seri Baginda, tak dapat kita menen- tang mereka cuma disebabkan kita hendak membikin Yo Kok Tiong bukankah tak ada untungnya bahkan ada  ruginya  jikalau kita tak berhasil merobohkan perwira dan rak u itu, Benar orang she Tam itu telah menyatakan tak puasnya terhadap pemerintah Agung tetapi itu bukan kata kata yang berat. Tak diingat dialah seorang gagah perantauan yang ternama, yang luas pergaulannya, jikalau kita berbuat salah terhadapnya, kita bisa dapat susah. Umpama kata satu waktu kita dimestikan bertugas keluar daerah. Tidakkah kita bisa di- ganggu dia? menurut pikiranku, permusuhan itu baiklah disingkirkan tetapi jangan diperhebat. Saudara Leng-ho, baik urusan ini dibikin sudah saja! ‘

Ut-tiePak kenal baik sifatnya Leng-ho Tat, maka itu ia mengeluarkan kata katanya, untuk membikin ciut hati orang. Iapun, selain pangkatnya lebih tinggi, baru saja ia memberikan bantuannya, hingga orang menjadi selamat. Maka itu, Leng-ho Tat suka mendengar nasihatnya itu. Disamping itu, buat minta bantuannya U-bun Thoang dan Cin Siang, Ut-tie Pak dibutuhkan sangat. Dia sebenarnya tidak puas tetapi dia menurut.

Cee In sendiri tiba dijalan besar dengan tidak kurang suatu apa. Ia lantas menjeput golok mustikanya, tidak ayal lagi. ‘bersama sama Toan Kui Oang dan Tiat Mo Lek ia me- nyingkirkan diri. Ia n engenakan seragam, ti. dak sda orang yang mengejarnya. Dite ngah ja -lan ada beberapa serdadu peronda, tetapi mereka tidak ketahui peristiwa dirumah makan itu, tidak ada yang menghalang-halangi. Maka tak terlalu lama tibalah sudah mereka bertiga ditempat yang sunyi. Disini mereka tidak berlari-lari lebih jauh, malah mereka pertahankan tindakan mereka.

„Saudara Lam,” berkata Kui Ciang tertawa, “setelah sepuluh tahun kita berpisah, hampir aku tidak mengenali kau! Jikalau bukannya Lie Haksu menyebut namamu, mungkin aku tidak berani mengakui kau”

„Sebaliknya, Toan Toako, kau sendiri tak berubah banyak,” sahut Cee In. “Apakah enso tidak datang bersama? dan ini saudara kecil, putera siapakah dia?”

Tiat Mo Lek tertawa. Dia mendahului Kui Ciang menjawab. “Kau tidak mengenali aku, aku sebaliknya mengenali kau!’ demikian katanya ”Bukankah kau orang gagsh yang dijuluki Mo kiam Kek? kenapa barusan kau memakai golok dan bukannya pedang? ya, barusan kau bersilat bagus sekali mulanya golok, lalu kaki! Aku sendiri berat sekali, sekian lama aku berlatih aku tidak berhasil.”

Kui Ciang tertawa. ‘Bocah ini tidak boleh melihat kepandaian lain orang!” karanya. “Asal dia dapat melihat, dia lantas mau mempelajarinya! Saudara Lam, apakah kau lupa dia? Dialah puteranya Cee-cu Tiat Kun Lun. Dialah siainak nakal bernama Mo Lek!”

„Ha, pantas dia lihay setali! Cee In memuji. “Dulu ketika aku mengikuti guruku mengunjungi Touw Ceecu, dia  masih ingusan, tapi sekarang dia sudah jadi begini besar!”

„Selama sepuluh tahun banyaklah terjadi perubahan.” kata Kui Ciang bersenyum.’ Bukankah kaupun dulu sebesar dia teJapi sekarang kau terpuji umum sebagai hiap kek, orang ga- gah yang berhati mulia! Apakah gurumu baik?”

“Suhu masih tetap seperti dulu!” Cee In menawab. “Dia masih terumbang-ambing ke-timur dan barat dengan pekerjaannya meno-longi orang menggosok kaca. Hanya sekarang ini adik seperguruanku Lui Ban Cun yang mengikuti dia, maka juga pedangkuaku serahkan pada-iya. Golokku ini aku dapat hadiah dari Thaysiu Thio Sun dari kota Hoay yang.” „Selama beberapa tahun ini akupun lagi mencari loo-jin-kee gurumu itu,” kata Tiat Mo Lek, “Sayang sampai sekarang aku masih belum berjodoh menemuinya…”

„Buat apakah kau mencari orang tua itu?’ tanya Kui Cang, tertawa. “Apakah kau hendak menuntut pelajaran menggosok kaca?”

Matanya Mo Lek terlihat merah. Mendiang ayahku menyuruh aku mencarinya,” sahutnya perlahan

Dijaman dahulu itu orang mamakai kaca-rasa dari kuningan atau tembaga, setelah dipakai sekian lama, alat berkaca itu mesti digosok untuk dibikin bersih dan berkilau, maka juga itu waktu ada Suatu cabang pekerjaan, ialah “menggosok kaca” namanya. Gurunya Cee In menjadi seorang gagah pengembara yang menyembunyikan diri, dari itu sengaja ia hidup bekerja sebagai tukang gosok kaca. Den an begitu ia bisa hidup merdeka serta dapat ketika merantau, untuk berkenalan dengan orang orang gagah lainnya. Oleh karena itulah maka ia dikenal sebagai MoKeng Loo-jin, siorang tua tukang gosok  kaca. Lam Cee In biasa mengikuti gurunya, dia suka meng- gosok pedang, maka orang Kangouw menggelarkan dia Mo Kiam Kek, situkang gosok pedang.

---ooo0dw0ooo
*** ***
Note 25 oktober 2020
Cersil terbaru hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Bangsa Petualang Jilid 03"

Post a Comment

close