Heng Thian Siau To BAGIAN 10 : PUKULAN MAUT

Mode Malam
 
BAGIAN 10 : PUKULAN MAUT

Bahwa dalam saat dan tempat seperti itu sinona masih main ngambek2an, sebenarnya Tong Ko kurang senang. Namun terpaksa dia bergeliat bangun untuk mengejarnya seraya berseru: "In-moay, In-moay, ah mengapa kau tak mengerti isi hatiku?"

Melihat sang kekasih mengikutinya, Tio In tak tega juga. Dengan menghela napas ia berputar balik lalu memapah tubuh Tong Ko. Tapi baru mulutnya hendak mengatakan sesuatu, se-konyong2 tak jauh dari situ kedengaran orang berseru nyaring dengan nada kecil melengking: "O, kekasihku, sedemikian perasaanku kepadamu, mengapa dikau tak mengerti akan daku!".

Nyata2 ucapan itu ditujukan kepada Tong Ko berdua, sehingga kedua anak muda itu tersentak kaget seperti ditusuk jarum. Serta mendongak, dilihatnya diatas sebuah puluh besar duduk dua orang yang bukan lain adalah Soh-hun-ciang Shin Leng-siau dan Tok-kak-sin-mo Sin Tok!

Merah kedua mata Tong Ko seperti seekor kerbau gila, kala dia melihat musuh bebuyutannya itu,

"In-moay, kau bukan tandingan kedua bangsat itu, lekas lari!" bisik Tong Ko kedekat telinga Tio In.

Tapi Tio In enggan, sahutnya: "Tadi sewaktu kutinggalan nona The untuk membawamu lari, kau telah mendamprat aku habis2an, mana aku dapat meninggalkan kau lagi?"

Tong Ko tak dapat berkata apa2. Sedang dalam pada itu sikaki satu Sin Tok tampak loncat turun dari puhun dan tertawa mengekeh berseru: "Nona In, saudara Tong, kita ini benar2 berjodo!"

Kalau dapat, Tong Ko hendak telan kedua manusia itu hidup2an. "Kalian mau apa lagi!" bentaknya dengan murka.

"Hai, mengapa sdr. Tong keluarkan tanduk? Meskipun adik nona Tio binasa ditanganmu, tetapi ia masih tetap cinta padamu, ai......, besar benar rejekimu!" Sin Tok sikaki satu lepaskan lidah berbisa.

Cuh......., Tong Ko semburkan segumpal ludah seraya membentak:

"Ngaco!" Tangan Sin Tok mengebas dan serangkum deru angin menyambar dengan dahsyatnya hingga ludah Tong Ko itu berbalik makan tuan. Tong Ko tak sempat menghindar lagi, jalan darah kian-ceng-hiatnya terkena, bluk. , tubuhnya terjerembab rubuh.

Sin Tok tertawa gelak2, lalu dengan sebat hendak menyambar Tio In. Ketika jatuh tadi, cepat2 Tong Ko kerahkan semangatnya untuk membuka jalan darahnya yang tertutuk itu. Kemudian dengan kerahkan seluruh tenaganya, dia loncat bangun terus menubruk kaki si Sin Tok yang tinggal satu itu. Oleh karena tak menduga, Sin Tok dapat disergap basah, kakinya seraya dijepit sepasang jepitan besi. Saking marahnya, Sin Tok angkat tinjunya untuk menghantam umbun2 kepala Tong Ko.

"Tahan, kau menghendaki aku bagaimana?" sebelum tinju sikaki satu itu meluncur turun. Tio In buru2 berteriak.

Shin Leng-siau lompat menghampiri, serunya: "Hem, masih berlagak pilon, ikut pada kita kekota raja!" Tampak oleh Tio In tinju Sin Tok itu hanya terpisah setengah meter dari batok kepala Tong Ko dan tetap meluncur pe-lahan2. Apabila tinju itu mengenai sasarannya, tak ampun lagi Tong Ko pasti habis riwayatnya. Tio In tak mempunyai banyak waktu lagi untuk me-mikir2 dan keputusan terakhir diambilnya dengan cepat.

"Baiklah, aku ikut padamu kekota raja, tapi jangan mengganggu dia!" serunya.

Sin Tok tertawa mengejek, "Orang macam begini, memang tak pantas membikin kotor tangankul" ujarnya sembari gontakkan kakinya. Seketika itu dada Tong Ko serasa sesak tak dapat bernapas, tangannya yang merangkul kaki lawan tadi menjadi lemas terkulai dan tubuhnya terlempar bebrapa langkah jauhnya.

Tio In hendak menghampiri, tapi cepat dihadang Shin Leng-siau yang mengajaknya lekas berangkat. Terpaksa Tio In menurut. Bebrapa kali Tio in berpaling kebelakang. Dilihatnya Tong Ko merayap bangun. Dua pasang mata saling bertemu dalam pandangan mengenaskan yang mengandung ribuan patah kata2. Shin Leng-siau segera naikkan Tio In keatas kuda dan dalam sekejab lagi, menghilangkah mereka dalam kepulan debu. Saking pedihnya, Tong Ko rubuh tak sadarkan diri.

Waktu membuka mata, Tong Ko dapatkan dirinya berada dalam sebuah gubuk. Sakit pada tubuhnya sudah tak terasa lagi. cuaca sudah gelap dan didalam pondok situ hanya terdapat sebuah than (pelita) sebesar biji kacang. Disisi than itu duduk seseorang yang membelakanginya. Dari bentuk punggungnya, tak salah lagi itulah Siau-beng-siang Tio jiang. Buru2 Tong Ko menggeliat dan rupanya gerakan itu cukup mengejutkan Tio jiang siapa lalu berputar kebelakang.

"Tong Ko, mengapa kau menderita luka sampai begitu macam?" tanya Tio jiang dengan muka keren.

Tong Ko dapatkan seluruh tubuhnya yang bertaburan luka itu sudah dipolesi (dilumuri) obat, Tahulah dia kalau hal itu tentu Tio jiang yang melakukan, maka dia sangat berterima kasih sekali. Tapi dari menyahuti pertanyaan orang, sebaliknya dia menerangkan bahwa Tio In telah ditawan oleh rombongan Sin Tok.

"Hal itu sudah kuketahui", sahut Tio jiang lalu berseru: "Tay-keng....! Tay-keng. !"

Seorang pemuda mengiakan dan masuk. "Ayah, ada urusan apa?" serunya. Tong Ko kenal pemuda itu sebagai putera sulung darl Siau-beng-siang Tio jiang yang bernama Tio Tay-keng. Anak muda itu telah memperoleh seluruh pelajaran ilmu pedang to-hay-kiam-hwat dari ayahnya. Dia tergolong seorang jago muda yang sangat dimalui. Lama nian Tong Ko taruh perindahan pada anak muda itu.

Begitu tampak pemuda yang gagah itu, sebenarnya mulut Tong Ko sudah hendak memberi salam. Tapi tiba2 dia teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu. Malam itu ketika dia bersembunyi didalam sungai, datang Sin Tok dan kedua saudara Shin. Dalam  pembicaraan, Sin Tok antara lain mengatakan bahwa Tio jiang tentu tak menduga sama sekali kalau malapetaka itu adalah perbuatan puteranya sendiri. Oleh karena putera bungsu Tio jiang yaitu Siau Seng sudah binasa, maka yang dimaksudkan oleh Sin Tok itu tentulah si Tay-keng. Teringat pula tempo hari bahwa adanya dia (Tong Ko) dapat berkenalan dengan Sin Tok bertiga itu pun karena dianjurkan oleh Tay-keng.

Itu waktu Tay-keng mengatakan bahwa ada 3 orang gagah yang rupanya hendak pergi ke Giok-li-nia, sebaiknya dia (Tong Ko) mengikat persahabatan dengan mereka, tentu akan besar manfaatnya.

Bukantah itu merupakan suatu perangkap yang direncanakan lebih dahulu? Teringat sampai disini, lupalah sudah Tong Ko untuk memberi salam teguran tadi pada Tay-keng. Tapi sebaliknya Tay-keng malah menghampiri dan menegurnya: "Hai, lukamu. sangat parah, Tong-heng !"

Begitu mesra nada Tay-keng itu, hingga Tong Ko malu sendiri mengapa dia berlaku begitu rendah untuk menduga jelek pada orang. "Tay-keng-ko, banyak terima kasih atas budi pertolongan kamu berdua kepadaku itu!" sahutnya dengan rasa bersyukur.

Tay-keng tertawa riang lalu menanyakan sang ayah ada urusan apa memanggilnya itu.

"Tay-keng, naiklah ke Giok-li-nia untuk memberitahukan mamahmu kalau aku hendak mengejar rombongan Sin Tok. Sebelum dapat mengejar, aku tak mau berhenti. ya, sekalipun sampai kekota raja, tetap aku hendak merampas balik In-ji. Nah, sekarang juga  aku hendak berangkat dan kau pergilah lekas kesana!" kata Tio jiang.

"Baiklah, harap ayah baik2 menjaga diri!" sahut Tay- keng. Tapi dalam pada itu, Tong Ko kedengaran berseru dengan gelisah: "Kau seorang diri hendak pergi kesana Tio-peh? Ah, janganlah ! Memang tujuan mereka menculik In-moay itu adalah untuk menjebakmu supaya datang kekota raja! Disamping itu, urusan disini sangat memerlukan tenagamu”

"Tong Ko, apa maksudmu mencegah ayah mengejar mereka? Apakah kau hendak membiarkan Tio In berada ditangan orang jahat?" tiba2 Tay-keng menukas kata2 Tong Ko tadi.

Tong Ko tak dapat bercuit lagi. Tio jiang berbangkit lalu berjalan keluar sembari menggendong kedua tangannya diatas bahu. Melihat itu Tong Ko paksakan diri untuk mengikuti keluar, karena dia sangat cemas akan keselamatan Tio jiang apabila benar2 mau pergi seorang diri. Waktu melangkah keluar dia melirik pada Tay-keng dan hai, mengapa wajah anak muda itu ber-seri2. Timbul kecurigaan pada Tong Ko. Setelah dilihatnya ternyata Tio jiang hanya mondar-mandir diluar sembari menggendong tangan, Tong Ko lalu menyelinap kebelakang rumah. Dia terus masuk dari pintu belakang dan melongok kedalam dari sebuah jendela.

Dalam ruangan sebelah dalam situ, tampak Tay-keng letakkan pedangnya diatas meja. Diatas meja situ terdapat juga pedang pusaka yap-kun-kiam milik Tio jiang. Tay-keng melolos pedang ayahnya itu sampai beberapa dim, lalu cepat2 jajarkan pedang itu disisi pedangnya sendiri tadi. Ternyata bentuk sarung kedua pedang itu serupa satu sama lain. Tay-keng bersenyum iblis, lalu diam sejenak untuk pasang pendengaran  kalau2 ada seseorang yang datang. Setelah yakin tiada seorang pun yang terdapat diluar kamar situ, barulah dia kembali ketempat duduknya semula. Dari naga2nya, rupanya dia hendak menukarkan pedang itu. Melihat gerak gerik Tay-keng itu, hati Tong Ko berdebar keras. Pada lain saat, dilihatnya Tay-keng menjemput pedang yap-kun-kiam dan dimasukkan kedalam sarungnya sendiri, sedang pedangnya sendiri tadi dimasukkan kedalam sarung pedang ayahnya.

Kejut Tong Ko bukan alang kepalang. Bukantah Tay- keng mengetahui bahwa ayahnya hendak pergi menempuh bahaya? Dengan membekal pedang macam yap-kun-kiam bukantah ayahnya itu akan terpelihara keselamatannya? Tapi mengapa dia main tukar begitu, apa maksudnya?

Oleh karena tak dapat menerka, Tio jiang ambil putusan untuk memberitahukan kepada Tio jiang saja. Tapi se-konyong2 bahunya serasa seperti dicengkeram jepitan tajam. Ketika berpaling, didapatinya yang mencengkeram bahunya itu adalah Tio jiang.

"Tong Ko, semua orang sama mengetahui bahwa kau telah bersekongkel denyan kawanan kuku garuda. Bahwa setelah kau tak binasa loncat dari atas puncak itu, seharusnya insyaf dan dapat merobah kesalahanmu. Kulihat lukamu masih belum sembuh, tapi mengapa kau main mengintai disini?" tanya Tio jiang.

Mendengar suara ayahnya dari arah rumah beIakang itu, Tay-keng terbeliak kaget, serunya: "yah, siapa yang mengintai dibelakang itu? Aku berada didalam sini sedang mengemasi surat2 penting dari Hun-lam !"

Tio jiang berobah wajahnya. Dengan keras dia tarik Tong Ko kebelakang. Teringat Tong Ko bahwa pada bulan yang lalu, Tio jiang telah menyuruh Tay-keng pegi ke Hun-lam. Pertama untuk menyusun kerja-sama dengan para pejoang kemerdekaan didaerah Hun-lam dan kedua lainnya suruh Tay-keng menyelidiki desas desus tentang diri Go Sam-kui. Karena jasa2nya yang besar memimpin tentara Ceng masuk kedalam wilayah Tiongkok, maka pemerintah Ceng telah menganugerahi pangkat raja muda Peng-se-ong pada Go Sam-kui. Dia ditugaskan untuk menjaga Hunlam. Menurut desas desus dalam beberapa tahun terakhir ini Go Sam-kui mempunyai minat hendak memberontak  pada pemerintah Ceng. Untuk membuktikan kebenaran desas desus inilah maka Tay-keng ditugaskan ayahnya. Apa yang dimaksud "surat2 penting" oleh Tay-keng tadi, tentulah hasil daripada pelawatannya kedaerah Hun-lam itu. Terang itulah dokumen penting, maka tak heran kalau Tio jiang sudah sedemikian marahnya dan menarik Tong Ko sekuatnya.

"Siau-beng-siang harap lepaskan tangan. Adalah tadi karena kulihat Tay-keng menukar pedangnya dengan yap-kun-kiam, maka aku sampai ter-longong2. Tentang surat penting apa, aku sama sekali tak mengetahuinya !" bantah Tong Ko. Sudah tentu Tio jiang tak  dapat menerima alasan itu. Dengan gelisah Tong Ko segera mempersilahkannya : "Masuk dan periksalah sendiri !"

Tio jiang angkat tangan kiri menjotos kedinding tembok, bluk...... Benar tembok itu tak tergerak apa-apa, tapi ketika Tio jiang tarik pulang tangannya terdengarlah suara gemuruh puing tembok berguguran dan tampaklah kini sebuah lubang. Kiranya tadi Tio jiang telah gunakan lwekang, hingga tembok bagian dalam yang remuk rendam.

Tong Ko cukup mengenal peribadi Siau-beng-siang Tio jiang. Tokoh itu mendapat perindahan besar dalam kalangan persilatan bukan melainkan karena mempunyai watak peribadi yang lurus jujur, pun juga karena memiliki suatu kepandaian yang jarang terdapat tandingannya. Buktinya apa yang terjadi pada tembok setebal setengah- an meter itu. Darl situ dapat ditilik sampai dimana tingkat kepandaian Siau-beng-siang itu.

Menobros lubang itulah Tio jiang tarik Tong Ko untuk masuk keruangan dalam.

"Tay-keng, apa kau tukar pedangku ?" serunya. "Pedang apa, ayah?!" balas anak itu dengan terkejut.

Tong Ko mendongkol melihat sikap anak muda yang berlagak pilon itu. Tadi dengan mata kepala sendiri dilihatnya perbuatan menukar pedang itu, hem. ,

masakan masih pura2 tidak tahu !

Tanpa banyak bicara, Tong Ko maju kemuka meja dan menjamah sarung pedang pusaka itu terus dicabutnya. Astaga, hampir saja mulut Tong Ko berseru kaget demi nampak batang pedang itu. Batang pedang itu memancarkan cahaya hijau kemilau, matanya putih mengkilap bagai salju. ya, tak salah lagi, itulah pedang yap-kun-kiam. Mulut Tong Ko menganga, wajahnya pucat lesu.

Pada lain saat setelah tersadar, Tong Ko geram sekali kepada Tay-keng. Terang dalam waktu sekejab tatkala dia dan Tio jiang masuk tadi, Tay-keng telah menukar kembali pedang itu seperti sediakala. Dengan murkanya dia deliki mata kepada Tay-keng, tapi anak muda itu tak mau memberi ampun pada Tong Ko. Sret....., dicabutnya sarung pedang pada pinggangnya lalu diletakkan diatas pedang yap-kun-kian. "Ayah, gerak-gerik bocah itu mencurigakan sekali, jangan beri hati lagi padanya! Lebih baik kita habisi jiwanya!" seru Tay-keng kepada ayahnya, sembari menyamber pedangnya tadi.

Kala itu wajah Tio jiang semuram besi. Sedang Tong Ko diam2 telah menghela napas. Kali ini tentu habislah sudah riwayatnya. Tapi biar bagaimana, cara kematian seperti itu, sungguh penasaran sekali. Adakah dia tak dapat mempercayai indera penglihatannya tadi? ya, karena kelicinan Tay-kenglah maka rahasia itu  tak sampai tertangkap basah.

Mati dan mati ada dua. Ada mati yang disebut seberat gunung Thay-san, tapi ada pula kematian yang dikatakan seperti rontoknya bulu angsa (artinya: tak berharga). Kalau kali ini dia harus mati karena disiasati, itu artinya suatu kematian yang tak  berarti atau sama dengan rontoknya bulu angsa. Diapun cukup tahu, penjelas an yang bagaimanapun tentu takkan diterima oleh Siau- beng-siang Tio jiang lagi. Dilihatnya Siau-beng-siang tengah menatap dirinya tajam2. Asal tokoh itu mengangguk, Tay-keng tentu akan menyerang. Ilmu pedang to-hay-kiam-hwat sangatlah lihay, jadi sukar untuk meloloskan diri darl bahaya maut. Ah, daripada mati penasaran lebih baik dia mencari akal untuk melarikan diri. Sebelum ajal berpantang maut dahulu. Kelak tentu ada kesempatan lagi untuk menjeaskan duduk perkara yang sebenarnya.

Setelah mengambil keputusan tetap, selagi Tay-keng tak menduga bahwa kini Tong Ko telah menjadi seorang "baru" yang memiliki dua macam lwekang istimewa se- konyong2 dia sambar pedang yap-kun-kiam dari atas meja, terus dibabatkan kearah pedang Tay-keng, tring.... kutunglah pedang Tay-keng menjadi dua. Membarengi itu dia tamparkan tangan kiri kekepala anak muda itu.

Mimpipun tidak Tay-keng kalau Tong Ko berani berbuat senekad itu. Buru2 dia berkelit lalu timpukkan kutungan pedangnya kepada Tong Ko. Tapi Tong Ko siang2 sudah memperhitungkan hal itu. Dia tendang meja hingga terjungkal dan seketika itu gelaplah seluruh ruangan situ. yang terdengar hanya gerung kemurkaan Tio jiang dan Tay-keng, diseling dengan deru sambaran pukulan menghantam kalang kabut. Tapi Tong Ko sudah menyelinap keluar. Dari situ dia memutar kebelakang rumah. Dari lubang tembok bekas hantaman Tioc jiang tadi, tampak olehnya dari dalam ruangan ada dua sosok bayangan loncat keluar. Kedua ayah beranak itu tentu mengira kalau Tong Ko lari, maka bergegas2 mereka mengejarnya keluar dan lari kemuka.

Tapi ternyata Tong Ko lebih cerdik. Dia tahu kalau lari, tentu bakal kesusul. Maka tadi dia mengitar kebelakang rumah, melalui lubang dinding terus masuk lagi keruangan dalam dan bersembunyi dibawah kolong tempat tidur. Dan memang siasat itu cerdik sekali,  karena kini dia enak2 mendekam dibawah ranjang. Nanti apabila ayah beranak itu. sudah pergi, dapatlah dia tinggalkan tepat itu dengan selamat.

Benar sudah hampir sepuluhan Li Tio jiang dan Tay- keng 'tancap gas', namun tak  berhasil menjumpai bayangan apa2. Apa boleh buat, terpaksa Tio jiang ajak puteranya kembali kedalam pondok lagi. Derap kaki mereka, telah membuat Tong Ko ketakutan setengah mati sampai tak berani bernapas. Dan kuatir jangan2 yap-kun-kiam itu memancarkan cahaya keluar, buru2 ditindihnya pedang itu dibawah badannya. "Apakah kau tak mengetahui kalau pada waktu terakhir ini kepandaian Tong Ko maju dengan pesat sekali? Mengapa kau se-lengah itu, kalau tak berada disini mungkin kau telah celaka dibuatnya!" Tio jiang sesali puteranya.

Tay-keng hanya ter-sipu2 mengiakan saja. Lewat sekian saat baru kedengaran dia berkata: "yah, dengan mendapat pedang yap-kun-kiam itu, dia pasti seperti. seekor harimau yang tumbuh sayapnya. Lalu bagaimana baiknya?"

Tio jiang menghela napas, ujarnya: "Heran juga aku dibuatnya. Waktu dia lari kitapun terus mengejarnya, tetapi mengapa hilang tak berbekas? Tentunya ketika. loncat kebawah lembah itu, dia telah beruntung mendapatkan sesuatu kemujijadan, kalau tidak masakan dalam beberapa hari saja dia sudah berobah sedemikian lihaynya?! Hem....., mustahil benar!"

"yah, rasanya dia pasti belum jauh, bagaimana kalau kita lakukan pengejaran yang seksama sekali lagi?"

"Apakah pengejaran tadi tak cukup cermat? Dengan pedang ibumu Kuan-wi-kiam, pedang yap-kun-kiam itu merupakan sepasang pedang pusaka yang disebut pit-i- song-hong. Sejak kakek gurumu memberikan pedang itu padaku, kini sudah 20 tahun lamanya. Hem. , tak nyana

kalau pedang itu terlepas dari tanganku secara begitu gelo! Tio jiang ber-sungut2 dengan kesalnya. Pada lain saat, dia berkata lagi kepada puteranya: "Tay-keng, lekas kau naik ke Giok-li-nia. Biarkan tanpa yap-kun-kiam, aku tetap hendak mengejar ketiga kuku garuda itu!"

Tong Ko jelas mendengar tindakan kaki Tay-keng menuju keluar dan derap kaki kuda mencongklang pergi. Kini yang berada didalam ruangan situ han ya tinggal Tio jiang seorang, yang mondar mandir kian kemari dalam ruangan itu. Tiba2 kedengaran oleh Tong Ko suatu bunyi benda diketuk "tuk..., tuk... ," lalu Tio jiang berkata seorang     diri:     "Yap-kun-kiam.....    yap-kun-kiam......

Sarungmu   masih,   tapi   kau   menghilang   dan   ah.  ,

mengapa kau hilang pada saat2 aku membutuhkan tenagamu!"

Mendengar itu tergerak hati Tong Ko hingga hampir saja dia hendak memberosot keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi syukur dia dapat mengendalikan diri. Kembali didengarnya Tio jiang menghela napas, berbareng itu terdengar bunyi lembaran kertas di- balik2kan. Pada saat itu, terjadi suatu pertentangan bathin dalam hati Tong Ko. Sejak kecil dia sangat mengindahkan sekali akan keperibadian Tio jiang, jadi sudah tentu dia tak menghendaki  Siau-beng-siang sampai dcelakai orang. Turut kemauannya, seketika itu juga hendak dia unjukkan diri dan serahkan pedang itu pada yang empunya, kemudian mengikutnya ber-sama2 mengejar jejak penculik Tio In. Tapi pada lain saat terkilas dalam ingatannya, bahwa Tio jiang, tentunya menganggap dirinya (Tong Ko) sebagai salah seorang anggauta dari kawanan kuku garuda. jadi bukan suatu hat yang mustahil, begitu dia muncul dan belum sampai serahkan pedang itu, Siau-beng-siang tentu akan sudah menyerangnya. Taruh kata dia tak  sampai binasa ditangan Siau-beng-siang tapi dapat dipastikan kalu dirinya tentu akan dikirim lagi ke Giok-li-nia untuk diadili. Disana dia tentu akan binasa juga.

Memang apa yang direka dalam pikiran Tong Ko itu, tepat semua. Maka walaupun besar hasratnya untuk menyerahkan kembali pedang itu, namun tak berani dia bertindak dengan gegabah. Se-kali2 dia tak inginkan Siau-beng-siang sampai dicelakai musuh. macam sikaki satu Sin Tok yang ganas itu. Diapun kenal juga akan watak Siau-beng-siang, apa yarg dikatakan tentu. akan dijalankan. Yap-kun-kiam merupakan alat pelindung yang berharga bagi keselamatan Tio jiang dan dengan sendirinya juga bakal menjadi senjata sakti untuk membebaskan Tio In. Dan adanya nona itu sampai terculik sikaki satu, pun karena hendak menolong jiwanya. Ah, untuk kepentingan tokoh pujaannya, demi untuk menolong nona tambatan hatinya, mengapa dia bersikap koukati (memikirkan kepentingan diri sendiri)?

Tiba pada kesimpulan ini, dia segera mengambil keputusan tetap. Ketika didengarnya derap kaki Tio jiang menuju keluar, dengan sekuat tenaga dia singkap ranjang sampai mencelat keatas, lalu berseru keras2: "Siau-beng-siang, Pedang. "

Belum lagi kata2 berikutnya "kukembalikan padamu" sempat di ucapkan, waktu mendengar dari arah ruangan terdengar suara gedebrukan keras, cepat sekali dia  sudah memutar tubuhnya kebelakang. Dan kala melihat kilat cahaya yap kun-kiam didalam kegelapan, girang Tio jiang me-luap2 sedemikian rupa hingga tanpa menghiraukan lagi apa yang dikatakan Tong Ko tadi, wut...., wut...., dia sudah lancarkan dua buan hantaman kearah Tong Ko. cepat dan dahsyat sekalilah gaya serangan itu. 6

Karena Tak Tahan akan pertentangan batin, Tongko melompat keluar hendak menyerahkan kembali pedang pusaka itu. Tak disangka ......... mendadak Tio jiang menghantamkan kedua tangannya.

Seketika itu Tong Ko rasakan disisi kanan kirinya terdampar oleh suatu gelombang angin yang luar biasa dahsyatnya sehingga tak kuat dia menahannya. Apa lagi kala itu dia tengah menyodorkan pedang kemuka jadi kedua tangannya terbuka. Hendak dia buru2 empos,semangatnya, namun sudah tak keburu lagi. Begitu angin pukulan itu membentur tubuhnya, serasa gelaplah pandangan mata Tong Ko dan rubuhlah dia terjungkal. Buru2 dia terus hendak menyalurkan semangatnya, tapi sesosok bayangan dalam gerakan kilat sudah menyambar yap-kun-kiam.

Tong Ko menghela napas dalam2. Maksudnya untuk menyerahkan yap-kun-kiam sudah terlaksana, mengapa dia jeri menghadapi resikonya? Semangat kejantanannya serentak timbul dan dia meramkan kedua matanya untuk menanti pukulan Tio jiang yang terakhir. Dia berharap selekasnya dirinya binasa, Siau-beng-siang lekas2 menyusul Tio In. Kalau hal itu terlaksana, sekalipun mati, puaslah juga rasanya.

Tapi sampai sekian saat, ternyata pukulan Tio jiang itu tak kunjung datang.

"Tong Ko, bukalah matamu!" kedengaran Slau-beng- siang berseru.

Tong Ko heran, namun diturutnya juga perintah itu.

Tampak wajah Siau-beng-siang berseri hampa.

"Tong Ko, menilik perbuatanmu selama ini,  seharusnya kau tak pantas diberi hidup lagi. Tetapi dua tiga kali aku selalu memberi ampun, apakah kau tahu  apa sebahnya?"

Tong Ko menggeleng.

"A...." Tio jiang menghela napas, "karena wajahmu seperti pinang dibelah dua dengan satu orang.  Mengingat wajah itu, tak tegah aku menurunkan tangan jahat. Tapi setelah kau menerima pukulan maut berupa dua buah pukulanku tadi, kecuali bertemu dengan orang yang lebih tinggi kepandaiannya dari aku, kau bakal menjadi seorang tanpa guna. Benar jiwamu tak sampai hilang, namun ilmu kepandaianmu ini akan hilang sirna. Nah, selanjutnya jadilah seorang yang baik dan tuntutlah penghidupan yang lurusl"

Halus nada suara itu diucapkan, namun isinya adalah suatu nasehat yang tajam. Memang pada saat itu Tong Ko rasakan Iwekang pada kedua sisi tubuhnya, pelahan2 merasa hilang. Sekalipun tak binasa, tapi dengan punahnya ilmu itu, berarti dia seorang mati dalam hidup. Dengan begitu, selanjutnya dia tak mempunyai harapan lagi untuk mencuci bersih penasaran hatinya itu.

Memikir sampal disini, buru2 dia hendak mengatakan apa-apa pada Siau-beng-siang, tapi tokoh itu ternyata sudah ngaclr keluar.

Sampai beberapa saat, Tong Ko ter-mangu2 seperti patung.

---oo<dw^kz>0<tah>oo--- 
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Heng Thian Siau To BAGIAN 10 : PUKULAN MAUT"

Post a Comment

close