Heng Thian Siau To BAGIAN 08 : ORANG ANEH DALAM GOA

Mode Malam
 
BAGIAN 08 : ORANG ANEH DALAM GOA

Saking marahnya wajah The Ing menjadi pucat lesi. Dengan uring2an dia tumpahkan kemarahannya kepada Tong Ko: "Hm...., karena gara2mu, aku telah dihina orang. Apabila Toa-gin dan Siau-gin sampai terluka, akan kuminta pertanggungan jawabmu!"

Tong Ko tak dapat menjawab. Lewat beberapa menit kemudian baru dia dapat berkata: "The-heng, harap jangan marah. Hui-lay-hong adalah kaum wanita, mengapa kita harus berpikiran cupat seperti ia?"

The Ing tertawa, ujarnya : "Ia seorang perempuan, apakah aku ini........" berkata sampai disini, ia seperti kelepasan omong, lalu buru2 memandang kemuka, serunya : "Hai, kedua suami isteri tadi sudah jauh, ayuh kita lekas2 menyusulnya !"

Begitulah keduanya segera terbangkan kakinya. Benar ilmu mengentengi tubuh mereka tak selihay Tio Jiang dan Yan-chiu, namun merekapun dapat berlari dengan pesatnya.

Sekarang marilah kita ikuti Toa-gin dan Siau-gin yang mengepalai rombongan kera kecil untuk mengejar sikaki satu bertiga.

Seharusnya kawanan bnatang itu tentu sudah dapat menyusul rombongan Sin Tok, tapi anehnya sampai hampir dua jam lebih Tong Ko dan The Ing berlari, hingga sampai keluar daerah Lohu-san mereka tetap tak menjumpai barang seorangpun jua. Dari sebuah jalanan besar sampai kejalanan yang sempit kecil baik kawanan kera maupun suami isteri Tio Jiang dan Yan-chiu, tak tampak bayangannya. Heran Tong Ko dibuatnya. Jalanan yang melintang dari lembah gunung itu hanya sebuah saja, jadi tak mungkin kalau dia kesasar. Juga The Go berpikiran serupa. Dia lalu bersuit se-keras2nya. Suaranya melengking berkumandang, tetapi tiada penyahutan sama sekali.

"Aneh, suitanku ini dapat terdengar sampai 7 atau 8 li jauhnya, Toa-gin dan Siau-gin tentu mendengarnya dan pasti akan kemari. Adakah mereka dicelakai si Tok-kak- sin-mo", katanya sambil menatap kearah Tong Ko.

Teringat akan kata2 anak muda itu "kalau binatang itu sampai terkena apa2, akan kuminta pertanggungan jawabmu",

Diam2 Tong Ko mengeluh. Bagaimana dia nanti akan mengganti binatang itu?

"Kawanan kera gin-si-kau itu luar biasa tangkasnya, rasanya pasti takkan terkena apa2," dia menghibur sang kawan dan juga menghibur dirinya sendirl. Tiba2 terdengar suara cuwit dari arah belakang. Ketika keduanya berpaling kebelakang, tampak ada sebuah benda besar mengeluarkan cahaya perak tengah mendatangi.

"Siau-gin, kau terluka ?" seru The Ing dengan terperanjat demi benda itu sudah dekat. Juga Tong Ko tak kurang kagetnya. Memang benda Itu bukan lain adalah Siau-gin, Itu salah seekor kera gin-si-kau yang besar. Disana sini bulunya tampak rebah berdiri tak teratur, penuh berlumuran darah. Darah itu  masih merah, jadi menandakan kalau luka itu masih baru. Begitu melihat The Ing, binatang itu terus men-cuwit2 tak henti-hentinya seraya maju menghampiri. Sepasang matanya meneteskan dua butir air mata. The Ing cepat memeriksa lukanya dan serentak banting2 kaki, serunya

:"Siapa yang melukai kau ?"

"Siau-gin, telah terjadi apa saja, apa kalian sudah dapat menyusul ketiga orang itu ?" The Ing ulangi lagi pertanyaannya.

Kera itu gerak-gerakkan kaki tangannya seraya bercuwat-cuwit, menerangkan pada tuannya. Oleh karena kepingin tahu; maka Tong Ko lalu menanyakan halnya kepada The Ing.

"Kata Siau-gin, waktu mereka mengejar sampai ditengah jalan telah dilasso oleh seorang aneh yang memaksa mereka mengerjakan perintahnya. Toa-gin membangkang, lalu digantung dan dirangket. Dia nekad melarikan diri dengan berlumuran luka2 !"

"Kawanan kera itu luar biasa larinya, bagaimana dapat ditangkap oleh orang itu ?" tanya Tong Ko.

"Akupun juga heran sendiri. Siau-gin, ayuh bawa kami ketempat orang aneh itu I" kata The Ing kepada kera besar itu. Kera itu berjalan kemuka, tapi baru bebrapa tindak dia sudah berpaling kebelakang seraya cuwat- cuwit.

"Ngaco, biarpun malaekat dari langit, aku tetap akan menemunya !" bentak The Ing pada piaraannya. Kemudian The Ing menerangkan pada Tong Ko bahwa turut kata Siau-gin, orang itu teramat lihay karena mempunyai sebuah pian panjang (tiang-pian) "Luka2 dibadannya itu, disebabkan karena hajaran pian orang Itu. Siau-gin lebih suka menderita daripada, membawa kita ketempat bahaya itu," kata The Ing.

Tong Ko kagum juga atas kesetiaan binatang kera itu. Sembari mengelus-elus bulu perak Siau-gin, dia bertanya

: "Siau-gin, jangan kuatir. Sekalipun kita terjerumus dalam bahaya, tetap kita hendak mencarinya. Adakah kau tahu kemana larinya ketiga orang itu ?"

Siau-gin membelalakkan matanya, lalu cuwat-cuwit beberapa kali. Adalah The Ing yang menerangkan pada Tong Ko bahwa belum berapa jauh kawanan kera itu mengejar, tiba-tiba terpegat oleh siorang aneh itu.

"Heran, itu waktu kita tengah berbicara dengan Hui- lay-hong Yan-chiu, biasanya kera itu buas sekali. Begitu ada orang hendak menangkapnya, mereka tentu ber- teriak2 riuh rendah. Tapi mengapa kita sama sekali tak mendengarnya ? Ah, sudahlah, Siau-gin, ayuh lekas tunjukan kita kepada orang itu !"

Bermula kera itu tetap mengawasi kepada kedua anak muda itu, seolah-olah dia enggan mengantarkan. Tapi setelah didesak oleh The Ing, akhirnya terpaksa dia pergi juga. Sejam lamanya berjalan, kiranya mereka menjurus kejalan tadi, balik kembali kearah lembah. Tiba-tiba Siau- gin membiluk kesebelah kanan dan menjurus kesebuah lembah mati (buntu). Oleh karena Tong Ko sudah agak lama tinggal dl Lo-hu-san, jadi dia ketahui juga kalau jalanan itu buntu adanya.

"Siau-gin, kau salah jalan !" serunya.

Tapi binatang itu tak menghiraukan, tetap berjalan kemuka. Dia langsung masuk kedalam sebuah gua yang tiba cukup untuk dimasuhi tubuh seseorang. Didalam situ, ternyata dikelilingi oleh puncak2 gunung yang tinggi. Hanya ditengah-tengahnya terdapat sebuah dataran seluas beberapa tombak. Dataran itu penuh ditumbuhi dengan bunga warna-warni yang aneh. Dari atas salah sebuah karang tinggi, terdapat sebuah air terjun yang mengalir kebawah. Air terjun itu tak seberapa besarnya, alirannyapun tak deras. Tiba diair terjun tersebut. Siau-gin lalu menuding kemuka dan cuwat-cuwit tak keruan.

"Tong-heng, kata Siau-gin orang aneh itu berada dibalik air terjun. Jangan2 ini merupakan goa Cui-lian- tong dart gunung Hoa ko-san ?" kata The Ing.

Cui-lian-tong gunung Hoa-ko-san adalah tempat kediaman simonyet sakti Kau Ce-thian dalam cerita See Yu.

"Ah, biarkan. Ayuh kita masuk sajalah !" seru Tong Ko. Diambilnya dua buah batu sebesar kepalan tangan, lalu bergantian tangan kanan dan kirinya melemparkan kedalam air terjun. Air terjun yang terpecah dalam 3 pancuran itu, walaupun tak deras alirnya, tapi karena tebaran airnya cukup tebal jadi apa yang terdapat dibelakangnya, tak dapat kelihatan jelas.

Tong Ko memperhitungkan apabila dibalik air  terjun itu terdapat seseorang atau goanya, tentulah akan menimbulkan sesuatu reaksi. Tapi ternyata sampai sekian saat, keadaan tetap hening saja. Tapi selagi Tong Ko dan The Ing keheranan, se-konyong2 dua buah batu tadi melayang balik dari balik air. Bahkan melayangnya jauh lebih dahsyat dari timpukan Tong Ko tadi, sehingga waktu menobros air suaranya sangat keras sekali dan setelah meluncur keluar lalu pecah menjadi bebrapa potong. Dan bagaikan mempunyai mata, batu2 itu melayang kearah kedua anak muda itu.

Sudah tentu Tong Ko dan The Ing menjadi  terperanjat. Tahulah sudah mereka bahwa didalam air terjun itu benar2 terdapat seseorang. Dengan gugupnya, mereka berdua segera loncat menghindar. Anehnya ketika bebrapa potong batu itu mengenai batu karang, ternyata suaranya berat (tidak nyaring). Ketika diperiksa oleh keduanya, astaga, batu2 itu sama menancap masuk kedalam karang. Bagaimana lihay lwekang orang itu, dapat dibayangkan.

"Hai...., lihay benar ! Tentulah seorang sakti yang menghuni didalam goa. Dia tentu marah karena  lemparan batu tadi !" seru The Ing.

Tetapi sebaliknya Tong Ko kurang puas dengan tindakan orang yang begitu ganas itu, walaupun dia merasa tadi telah berlaku kurang sopan. Dia hanya mengiakan keterangan The Ing itu.

"Maka kita harus menghaturkan karcis kunjungan!" kata The Ing, lalu berpaling diri menghantam sebuah dahan puhun.

"The-heng, hendak apa kau?" "tanya Tong Ko dengan heran.

”Lihat sajalah!" sahut The Ing lalu memutus dahan itu hingga menjadi setengah meter panjangnya. Dengan jari telunjuk dia menggurat dahan itu dengan tulisan yang berbunyi begini:

"Kita tak saling kenal, mengapa merampas kera, mohon berkunjung The Ing.

Kini baru tahulah Tong Ko. Oleh karena dia bukan seorang yang takut urusan, maka dimintanya supaya namanyapun ditulis juga.

"Apa kau tak takut?" tanya The Ing. Tong Ko tak menyahut hanya menyambar potongan kayu ditangan kawannya itu. Dilihatnya guratan pada kayu itu hampir setengah dim dalamnya. Diapun menggurat dengan jari telunjuk namania sendiri lalu disertai kata "menghaturkan hormat". Tapi didapatinya guratan The Ing lebih dalam. Diam2 dia kagumi kepandaian kawannya itu.

Melihat kata2 "menghaturkan hormat" itu, The Ing tampak kerutukan kening. Tong Ko yang mengerti isi hati kawannya itu segera memberi keterangan bahwa menilik kepandaian orang didalam goa itu sedemikian saktinya, tiada jeleknya kalau berlaku menghormat sedikit.

Begitu menyambuti potongan dahan itu, The Ing mundur 3 langkah kebelakang. Setelah kerahkan semangat, dia lempar dahan itu kearah air terjun. Memang sewaktu baru melayang, dahan itu pesat sekali layangnya. Tapi begitu tiba dimuka air, gayanya agak tenang dan ketika menobros, air tidak tampak tepercik sama sekali. Makin kagum Tong Ko melihat kepandaian sang kawan itu, dan dia lalu tunjukkan jempolnya selaku memuji. The Ing hanya ganda tersenyum saja. Tiada berapa lama kemudian dari balik air terjun terdengar suara seseorang berseru. Anehnya nada suaranya, lelaki bukan perempuan tidak.

"Apakah kedua orang yang diluar itu, laki dan perempuan?" lengking suara itu dengan nada yang menusuk telinga. Belum The Ing menyahut, Tong Ko sudah mendahului: "Tidak, kami berdua adalah kaum lelaki semua!"

"Kalau ada nyali, masuklah!" seru suara orang itu pula. Tong Ko dan The Ing saling berpandangan. Tong Ko lalu loncat dulu, diikuti oleh The Ing. Bermula mereka kira kalau air terjun itu sukar diterobos, oleh karena luar hanya kurang lebih setombak luasnya, tapi  ternyata tidak. Malah ketika sudah berada didalam dan menoleh keluar, pemandangan diluar tampak dengan jelas. Kiranya didalam situ terdapat sebuah goa yang tinggi hampir tiga empat tombak dan cukup luas. Tapi disitu tiada tampak barang seorangpun juga.

Waktu berada disitu, Siau-gin berhenti  cuwat-cuwit lalu lari kemuka. Tong Ko dan The Ing terpaksa mengikutinya. Mereka lari sampai 30-an tombak jauhnya, tiba2 disebelah muka tampak sebuah penerangan. Kiranya disitu terdapat sebuah lubang pada puncak goa, seluas 3 meteran. Dari situlah sinar matahari menobros turun. Mendongak keatas, tampak diatas dinding goa, tergantung sebuah jaring besar. Beratu-ratus ekor kera kecil gin-si-kau, tampak untel2an (tumpang tindih) didalam jaring itu.

Waktu tampak anak cucunya disiksa begitu, Siau-gin cuwat-cuwit menggeram.

"Jangan ribut, kita temui tuan rumah!" bentak The Ing Iagi.

Entah terbuat dari apa jaring yang luar biasa besarnya Itu. Kera2 gin-si-kau itu bertenaga besar, kukunyapun tajam sekali. Pagar kayu yang bagaimana kuatnya, tak nanti dapat mengurung mereka. Tapi anehnya kawanan kera itu seperti tak berdaya didalam jaring. Disebelah jaring besar itu. tubuh tinggi besar dari Toa-gin tampak digantung dengan kaki tangannia terikat dua buah tali halus. Siau-gin segera lari keatas. Kedua ekor binatang itu sama menjerit-jerit dengan pilu. Tampaknya diujung goa situ, kecuali rombongan kera, tiada seorangpun jua.

Sudah sejak kecil The Ing berkawan dengan kawanan kera itu. Jadi seolah2 sudah terjalin suatu persahabatan yang akrab sekali. Lebih2 terhadap Toa-gin dan Siau-gin. Maka demi melihat Toa-gin digantung begitu rupa, bukan kepalang marahnya The Ing. Tanpa hiraukan suatu apa lagi, dia enjot tubuhnya loncat keatas terus menarik tali merah pengikat itu. Pikirnya, tali yang begitu halus tentulah sekali tarik dapat diputuskan. Tapi diluar dugaan, bukan saja tali tak putus bahkan kalau dia tak cepat2 lepaskan cekalannya, tentulah tangannya tersayat oleh tali. Ketika diperiksanya, ternyata telapak tangannya pun tampak menggurat selarik.

"Tong-heng!" serunya dengan kaget. Tong Ko mengiakan dan menghampiri tapi berbareng pada saat itu, dari arah sudut goa terdengar suara orang ketawa terbahak2 seraya berkata: "Nona kecil tangannya sudah tergurat jaring ceng-si. Untuk keluar dari sini, sungguh tak mudahl"

The Ing terkejut bukan kepalang, bukan saja karena kata-kata jaring ceng-si (jaring percintaan) itu, pun juga karena dirinya dipanggil "nona kecil" itu. Sebaliknya Tong Ko, menjadi ter-mangu2. Heran dia dibuatnya adakah didalam goa situ terdapat seorang nona? Atau Tio Inkah? Begitu rupa perasaan hatinya kepada nona itu, hingga sesuatu apa tentu dihubungkan dengan diri Tio In. Kedua anak muda itu maju kemuka menuruntukan arah datangnya suara. Amboi....., kiranya ditepi ujung goa situ tampak duduk seseorang. Dia mengenakan pakaian sederhana yang gerombyongan, tetapi bukan pakaian jubah. Kepalanya memakai ikat kepala berwarna kelabu. Hanya pada bagian mata yang dilubangi. Oleh karena dia mengenakan dandanan, begitu macam, maka warnanya hampir menyerupai dengan dinding goa hingga hampir saja tak kelihatan tadi. Mungkin sedari tadi, orang itu sudah berada disitu.

Sampai sekian saat Tong Ko dan The Ing mengawasi, tetap mereka tak dapat menarik kesimpulan akan kelamin orang itu, perempuan atau priakah? Terdorong oleh keinginan tahu apa yang diserukan "nona ketiil" mulut orang itu tadi, maka Tong Ko segera memberanikan diri maju selangkah seraya membungkukkan badan memberi hormat, ujarnya: "Cianpwe tadi mengatakan kalau disini terdapat seorang nona, entah apa nona Tiokah itu?"

Orang itu tertawa getir, sahutnya: "Apa itu nona Tio?"' "Tio In, puteri dari Siau-beng-siang Tio Jiang!" Mendengar itu orang itu tampak merenung sejenak,

lalu katanya: "Anak perempuan si Tio Jiang? Apa dianya itu anak perempuan Tio Jiang?"

Waktu mengatakan "dianya itu", tangan orang aneh  itu menunjuk kearah The Ing. Tong Ko memberi isyarat kepada The Ing yang artinya mengisiki kalau siorang aneh itu rupanya limbung (kurang beres otaknya alias streep). Tapi untuk keheranan Tong Ko, wajah The Ing tampak ber-sungguh2 dan kedengaran berkata: "Cianpwe mempunyai pandangan yang celi sekali. Aku orang she The, tiada sangkutan apa2 dengan Tio Jiang, harap cianpwe suka lepaskan kera2 piaraanku itu. Nanti apabila keluar dari goa sini, aku berjanji tak mengatakan kepada barang siapapun juga!"

Tong Ko tak mengerti apa yang dipercakapkan dalam tanya jawab kedua orang itu. Pada lain saat kedengaran orang itu berkata pula dengan nada dingin: "Bukan pandangan celi, melainkan pendengaran yang tajam! Begitu masuk kedalam sini tadi, segera kudengar kalian ini adalah seorang pemuda dan seorang pemudi. Tapi soa-siau-cu (bocah tolol) itu tadi mengatakan kalau lelaki semua, huh....., jangan2 dia "tercocok hidung" nya (tertipu) !"

Pada hakekatnya Tong Ko bukan seorang tolol, maka kata-kata orang aneh yang terakhir itu telah menyadarkannya.

"The-heng, adakah kau ini seorang wanita?!" tanya sembari berpaling kearah The Ing. Dan mengangguklah The Ing dengan wajah ke-merah2an.

Teringat Tong Ko sejak dia berkenalan dengan The Ing, beberapa sudah "anak muda" itu mengunjukkan tingkah laku yang aneh terhadapnya. Dat..., dit...., dut..., demikian jantung Tong Ko berdetak2, namun tak  tahu dia harus berbuat apa. Dalam pada itu, tampak siorang aneh itu pe-lahan2 berbangkit.

"Nona The, oleh karena kau telah menyentuh jaring ceng-si, maka tiada halangan untuk melepaskan piaraanmu gin-si-kau itu. Hanya saja kalian berdua harus menunaikan sumpah yang telah kuikrarkan dahulul"

"Sumpah apa itu?" tanya The Ing. Orang itu tertawa mengalun, nadanya amat rawan sekali. Teristimewa didalam goa, suara itu menimbulkan suatu suasana yang mengharukan sekali. Baik Tong Ko maupun The Ing sama mengkirik bulu romanya.

Bahwa kini dirinya telah "ditelanjangi" oleh siorang aneh, The Ing pun sudah tak malu2 lagi. Dia menggelandot pada badan Tong Ko.

"Entah dahulu cianpwe mempunyai sumpah bagaimana? Kalau memerlukan tenaga bantuan hopwe (aku), hopwe tentu sanggup melakukan?"

Begitu juga Tong Ko mengulangi tanya.

Dia mengira kalau semasa mudanya, orang aneh itu pernah bersumpah hendak melakukan sesuatu yaag sampai kini belum terlaksana, maka dia sudah beranikan diri untuk mewakilinya.

Orang aneh itu tertawa sinis, ujarnya: "Ah, sederhana saja sumpahku itu. Setiap muda mudi yang datang kemari, harus tinggal disini selama 3 tahun baru boleh keluarl"

"Harap cianpwe jangan bergurau!" seru Tong Ko dengan terperanjat. Sepasang mata orang aneh itu tampak berkilau memancarkan cahaya tajam. Dia mengadah keatas tertawa ter-bahak2.

"Siapa yang bergurau denganmu? Aku hendak mengetahuinya, di bawah kolong langit yang sedemikian luasnya ini, apakah masih ada apa yang disebut "kecintaan" itu. Kalau ingin kuhapuskan sumpahku itu pun mudah juga. Diantara kalian berdua, siapa yang sudi binasa untuk satunya, maka yang masih hidup itu selain boleh keluar dari goa ini pun akan memperoleh sesuatu dari aku yang luar biasa. Nah, kuberi kalian waktu setengah jam untuk berpikir. Setelah mengambil keputusan, kasihlah jawaban padakul"

Habis berkata begitu, orang aneh itu lalu  mengatupkan kedua matanya dan duduk tepekur dengan diam, laksana sebuah patung bisu yang terpasang disudut goa. Barangsiapa yang tak meperdatakan tentu takkan menyangkanya kalau dia itu seorang insan hidup.

Tong Ko dan The Ing sama terbenam dalam kebimbangan. Adalah pada lain saat tampak The Ing lepaskan kopiah pelajarnya dan menguraikan rambutnya yang mengkilap bagus. Kedua belah pipinya bersemu dadu, walaupun mengenakan pakaian pria, namun nampak jelas akan kecantikan yang menampil. Diam2 Tong Ko gelisah dan tak habis herannya mengapa orang aneh itu mengikrarkan sumpahnya yang sedemikian itu. Dia sudah menghaturkan hatinya kepada Tio In, bagaimana dapat dia menjadi suami isteri dengan The Ing? Memikir sampai disitu, tak berani dia lama2 mengawasi pada The Ing.

Beberapa saat kemudian, terasa sisi badannya tersembur oleh semacam hawa hangat. Waktu dia menoleh, kiranya itulah wajah The Ing yang ke- merah2an segar bagai sekuntum bunga tengah mekar, sedang mengangakan mulut hendak mengatakan sesuatu.

"The. "

Baru saja Tong Ko mengatakan begitu, The Ing sudah menukasnya dengan tertawa: "Masih menyebut The- heng (engkoh The) lagikah?" Tong Kopun tertawa, katanya: "Nona The!"

The Ing tundukkan kepala sampai sekian saat, baru la membuka mulut: "Ko-ko (engkoh Ko), apakah engkau tiada suka?"

Tong Ko menghela napas, ujarnya: "Nona The, lama sudah aku serahkan hatiku pada In-moay "

"Tak usah kau ucapkan itu!" buru2 The Ing dekapkan jarinya kemulut Tong Ko.

Habis itu ia lalu maju dua langkah kemuka. Setelah berpaling kebelakang memandang sejenak pada Tong Ko, baru ia berkata kepada orang aneh itu: "Hai, bebaskan dia, biar aku yang tinggal, disini, terserah kau hendak mengapakan dirikul"

"Nona The, mengapa kau berlaku demikian" Tong Ko buru2 berseru dengan kagetnya, seraya maju menutupi The Ing. Disitu dia memberi hormat kepada siorang aneh, lalu berkata: "Maafkanlah, kami hendak berlalul"

Dia tarik tangan The ing terus dibawa lari keluar goa. Tapi orang aneh itu secepat kilat sudah melesat menghadang jalanan. "Mau berlalu?" tanyanya dengan dingin.

"Kami masih mempunyai lain urusan, sudah tentu hendak pergi" sahut Tong Ko yang sudah ambil keputusan menggunakan kekerasan apabila perlu.

Orang aneh itu kembali tertawa memanjang, se- konyong2   ia   tarik   kerudung   mukanya   dan   ..........

Bermula kedua anak itu mengira bahwa mereka akan berhadapan dengan seorang yang bermuka buruk kejam, tapi   diluar   dugaan,   kiranya   orang   aneh   itu adalah seorang wanita cantik sekira berusia 40-an tahun. Bentuk wajahnya yang bundar telur, sepasang matanya yang indah ditaungi oleh sepasang alis tanggal muda, menampilkan suatu refleksi (pancaran balik) dari suatu kecantikan yang gilang gemilang dari masa mudanya Sayang pancaran sinar matania itu sedemikian dinginnya, ah......, andai kata sinar wajahnya itu berseri girang, matanya memantulkan cahaya riang, rasanya dewi Siang Go yang bertakhta dirembulan itu, masih kalah  cantiknya!

Tong Ko tetap hendak menobros keluar. Setelah memberi isyarat mata kepada The Ing, dia dorongkan tangannya kanan sekuat2-nya kemuka. Tapi. baru mendorong sampai setengah jalan, wanita itu ulurkan lengannya menyambar siku Tong Ko. Tong Ko hendak meronta, tetapi sikunya terasa sakit bukan kepalang, seperti mau putus rasanya. Waktu dia menunduk untuk memeriksanya, kiranya terlibat oleh tali sutera merah. Masih Tong Ko hendak berontak lagi, tapi hanya dengan menggerakkan lengannya wanita itu telah menjadikan benang sutera itu mendiadi suatu tenaga dorongan yang luar biasa kuatnya, hingga seketika itu tubuh Tong Ko terjerembab kedalam goa lagi. Dan celakanya, tubuhnya telah melanggar jaring ikan yang tergantunq diatas. Jaring itu mempunyai daya lekat yang keras  sekali, begitu tangan Tong Ko menyentuhnya, lalu seperti terpaku tak dapat digerakkan lagi. Tahu2 kini dia sudah terperangkap dalam jaring itu.

"Kau hendak melarikan diri, hem......, rasakan dulu siksaanku ini!" Wanita itu berseru geram seraya ayunkan tangan. Sutera merah yang sehalus rambut ditangan wanita itu melayang kearah Tong Ko. Separoh tubuh Tong Ko yang sebelah kiri lebih kuat dari yang sebelah kanan. Dia meronta se-kuat2-nya hendak menutupkan tangannya kiri kearah mukanya. Tapi seketika itu tangannya terasa sakit sekali. Bagian yang tersabet benang sutera itu, tampak ada selarik guratan darah. Sudah tentu gusar Tong Ko tak terhingga.

"Wanita busuk, kau punya peribudi tidak?" dampratnya.

Wanita aneh itu menengadah tertawa sinis, ujarnya: "Peribudi? Hm, dikolong langit ini siapakah yang mempunyai peribudi?"

Dan benang suterapun melayang pula, tepat mengenai lengan bawah Tong Ko. Kalini bahkan lebih berat dari yang tadi, hingga lengan bajunya putus dan guratan pada lengan itu sampai 3 dim dalamnya. Waktu ditarik, lengan Tong Ko mengucurkan darah. keringat dingin membasahi tubuh. Melihat itu The Ing tak tega, buru2  dia mencekal tangan wanita itu seraya meminta dengan meratap: "Harap cianpwe berhenti mendera. Dia memang seorang yang beradat keras, mulutnya tak pernah mohon kasihan, hendaknya cianpwe sudi memberi ampun !"

Tiba2 wanita itu menghela napas, ujarnya:  "Nona yang baik, begitu dalam kau tumpahkan hatimu kepadanya, namun dia begitu tawar terhadapmu. Tiada hal yang paling kubenci daripada terhadap seorang pria yang men-sia2kan cinta kasih. Mengapa kau mintakan ampun untuknya?"

Tong Ko bermula tak mengetahui kalau The Ing itu seorang gadis, disamping itu sebelumnyapun Tong Ko sudah saling menyinta dengan Tio In. Maka The Ing dapat menerima alam pikiran Tong Ko dan tak dapat mempersalahkannya.

"Cianpwe, dia tak men-sia2kan dirikul" ter-sipu2 ia menerangkan.

"Hm....., memang sudah wajar kalau seorang gadis yang tengah dimabuk asmara itu selalu melindungi sang kekasih. Saat ini kau dibutakan oleh cintamu, hingga rasanya kau rela juga mati untuknya. Tapi coba renungkan, walaupun dia cakap sekali parasnya, hatinya bagaimana? Pada saat dia tak menyintaimu lagi, dia nanti akan berbuat bagaimana, sudahkah kau membayangkannya?" habis menyadarkan pikiran sinona, wanita itu kebutkan lagi benang suteranya sampai beberapa kali. Dalam beberapa kejab saja, tubuh Tong Ko telah menerima dera sampai tujuh delapan kali.

Karena terjaring, Tong Ko tak berdaya menghindarkan sabetan2 tali sutera wanita itu yang memaksanya menikah dengan The Ing Kecuali menutupi mukanya dengan tangan, Tong Ko tak dapat berbuat apa2 lagi dalam jaring itu. Tujuh delapan kali dera hajaran itu, telah membuat seluruh tubuhnya bertabur luka yang belumuran darah. Tapi wanita itu bukannya sudah, malah dengan kertek gigi se- olah2 sedang menghadapi seorang musuh besar, kembali mengayunkan tangannya sampai beberapa kali pula. Sampai disini, hati The Ing benar2 tak tahan.

"Sudahlah, kalau mau pukul, pukul aku sajalahl" serunya sembari loncat kemuka menubruk jaring itu.

"Nona The, jangan gegabah. Lekas keluar dari goa inil" Tong Ko menjadi terkejut dan sibuk. Tetapi The Ing tak mau menghiraukan lagi. Dia enjot kakinya loncat keatas, setelah menyisih seekor kera yang berada didalam jaring situ, ia lalu masuk dan memeluk Tong Ko. Air matanya membanjir turun, butir2 ketesannya waktu menjatuhi luka2 ditubuh Tong Ko, telah membuat anak muda itu meringis sakit.

Si wanita aneh menjadi terbeliak kaget melihat perbuatan The Ing, serunya: "Siaucu (budak) dengarlah! Nona itu sangat menyintaimu, kalau kau meluluskan untuk melangsungkan pernikahan dengannya, kau tak usah menderita dera siksaan lagi !"

"Ngaco......! Dalam urusan sepenting pernikahan itu, mana boleh didasarkan paksaan? Coba andaikata kau disuruh menikah dengan seorang yang tak kau cintai, apakah kau mau?" Tong Ko menyanggahnya.

Mendengar argumen (bantahan) yang dilontarkan Tong Ko itu, tangan siwanita yang tengah berada diatas, lemas lunglai mengulai kebawah lagi. "Aku ingin menikah dengan orang yang kucintai, tapi orang itu tak sudi padaku!" tanpa tersadar mulut wanita itu mengingau.

Tong Ko dan The lng heran sekali. Duapuluh tahun berselang, siapakah insan dimaya pada yang dapat menandingi kecantikan wanita itu? Ah, lelaki siapakah yang begitu ganas menghancurkan hatinya?

---odwkzo0otaho---- 
*** ***
Note 25 oktober 2020
Cersil terbaru hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Heng Thian Siau To BAGIAN 08 : ORANG ANEH DALAM GOA"

Post a Comment

close