BPEHK Bagian 06 : Embun Hujan

Mode Malam
 
Bagian 06 : Embun Hujan 

I

Jian-jian menundukkan kepalanya mengawasi sepatu yang dia kenakan. Sepatu itu muncul dari balik gaun, berwarna merah muda dengan sebutir mutiara sebesar ujung jari menghiasi ujung sepatu itu. Gaun itu berwarna kuning keemas-emasan, di bawah sorot cahaya lentera memancarkan sinar keemas-emasan yang lembut lagi indah, seindah cahaya dari mutiara.

Cahaya indah semacam inilah yang selalu membuat terbelalak mata para gadis di dunia ini.

Berapa orang gadis berbaju katun dengan kepala tertunduk, tangan terjulai di depan dan bersikap amat menghormat berdiri berjajar di sampingnya, secara sembunyi- sembunyi mereka gunakan ujung matanya untuk melirik gadis tersebut, sorot matanya penuh dengan pancaran rasa kagum selain iri.

Jian-jian sangat memahami perasaan mereka, karena mereka masih muda, karena status sosial clirinya dulu juga tak jauh berbeda dengan mereka.

Tapi dalam waktu sekejap segala sesuatunya telah berubah, si burung walet yang semula bersarang di bawah wuwungan rumah, kini telah berubah menjadi burung hong.

Perubahan yang sangat drastis ini bagaikan dalam alam impian bahkan sebelum ia sadar dari impian tersebut, segala sesuatunya telah berubah, berubah menjadi seseorang yang dengan status sosial yang begitu tinggi. Tampaknya untuk membuktikan bahwa kesemuanya ini bukan mimpi, pelan-pelan dia menggerakkan tangannya untuk mengambil cawah air teh yang berada di meja.

Tapi sebelum tangannya sempal menyentuh cawan itu, ada orang segera mengambilkan cawan tadi lalu dipersembahkan ke hadapannya.

Jangan lagi hanya secawan air teh, dia tahu apapun yang dia kehendaki sekarang, asal buka suara pasti ada orang yang segera mempersembahkan ke hadapannya. Kesemuanya ini bukan bermimpi, semuanya kenyataan.

Namun... entah kenapa, dia lebih suka kesemuanya ini hanya sebuah impian, dia lebih suka kembali ke masa di mana impian tersebut belum dimulai

Bulan tiga, di sebuah senja musim semi, hujan yang turun di musim semi terutama di daerah Kanglam memang selalu menawan hati. Hujan itu nampak begitu lembut, begitu halus, seolah olah hanya selapis embun... Embun hujan...

Tanah rerumputan yang terbentang menghijau di kejauhan sana, di bawah rintikan embun hujan yang begitu lembut nampak seperti rambut seorang kekasih.

Terbayang kembali ketika ia berlarian di atas tanah rerumputan, bertelanjang kaki, berlarian sambil menenteng sepatu, membiarkan rambutnya yang terurai basah oleh air hujan...

Rintikan air hujan telah membasahi rambutnya, rerumputan telah menusuk telapak kakinya hingga terasa sakit dan geli, tapi dia takperduli.

Karena dia ingin bertemu dengan kekasih hatinya, asal dapat bertemu dengannya, dapat menjatuhkan diri berbaring dalam pelukannya, apapun yang terjadi ia tak ambil per duli.

Inilah impian yang sesungguhnya, impian yang jauh lebih indah dari impian sebelumnya. Setiap kali terbayang kembali kehangatan suasana yang begitu romantis, dia merasa seakan-akan dirinya jadi mabuk. Setiap kali teringat orang itu, terbayang sepasang matanya yang bulat lagi berkilat, hatinya selalu terasa sakit bagaikan ditusuk dengan beribu-ribu batang jarum.

"Suatu hari nanti, kau pasti akan menyesal!"

Seorang perempuan setengah baya duduk di hadapannya, sedang mengawasinya dengan wajah sangat ramah, ia seperti sedang menanti jawabannya.

"Nona, apakah kau telah mengambil keputusan?" Tiada jawaban.

Dalam genggaman Jian-jian terlihat seikat bunga melati, bunga itu sudah hancur diremasnya, tiba-tiba dia angkat kepalanya sambil tertawa, katanya, "Kenapa kau tidak mengundangnya kemari agar dia bicara sendiri denganku? Persoalan apa pun yang hendak disampaikan, aku harap dia bisa memberitahukan sendiri kepadaku."

II

Ouyang Ci dengan pakaian ringkas berwarna hijau, mengenakan topi caping terbuat dari bambu, melarikan kudanya sangat kencang. Akhirnya ia berhasil mengejar kereta kuda berwarna hitam itu.

Kuda hitam milik Liong Su telah diikat orang di belakang kereta dengan seutas tali panjang.

Kuda jempolan yangsudah lama ikut malang-melintang dalam sungai telaga ini tampaknya dapat memahami perasaan majikannya, ia sama sekalitidakmerasa tersinggung karena harus mengintil di belakang sebuah kereta yang ditarik kuda lain.

Melihat kesemuanya ini, Ouyang Ci menghela napas panjang.

Dia paham, demi manusia macam Siau Lui, dia rela dan merasa berharga untuk melakukan pekerjaan dan perbuatan macam apa pun.

"Buntuti kereta itu, selidiki di mana tempat tinggal mereka!" "Kau masih kuatir?"

"Aku tahu, jika nona Ting berniat mencelakai Siau Lui, ia sudah turun tangan sejak tadi..."

"Lalu, kenapa kau biarkan dia membawa pergi Siau Lui?" "Aku hanya bisa berbuat begitu. Asal dia dapat sembuhkan

luka Siau Lui, jangan lagi soal lain, semisalnya dia menghendaki batok kepalaku pun aku pasti kabulkan!"

Ouyang Ci menggigit bibir kencang-kencang, berusaha keras mengendalikan diri. Dia takut air matanya tak berbendung sehingga meleleh keluar.

Lelaki kekar yang membawa kereta telah turun dari kereta kudanya, dia sedang minum teh, sedang orang yang berada dalam kereta itu tak ada yang keluar. Karena itulah Ouyang Ci menghentikan langkahnya di kejauhan.

Walaupun saat ini tak ada orang yang mengenalinya, namun dia tetap harus bertindak dengan sangat berhati-hati.

"Kau harus bertindak sangat hati-hati, kelihatannya nona Ting itu bukan manusia sembarangan. Walau sudah puluhan tahun aku berkelana dalam sungai telaga, namun bukan saja tak kuketahui asal-usulnya, bahkan aliran ilmu silat yang dimiliki pun tidak kukenal."

"Aku mengerti!"

"Kedatangannya menolong Siau Lui pasti bukan dikarenakan ingin menyenangkan diri. Dia pasti datang dengan maksud tujuan tertentu, sebelum tahu apa maksud tujuannya serta asal usulnya, mana kubisa lega?"

"Aku mengerti."

Tentu saja ia sangat paham dengan maksud Liong Su, tapi ia sendiri juga tak habis mengerti apa tujuan nona itu datang menolong Siau Lui

Lelaki kekar kusir kereta kuda itu telah menghabiskan tiga mangkuk besar air teh, kemudian dia pun menghabiskan setumpuk makanan yang dihidangkan di tenda tersebut.

Setelah itu ternyata ia mencari sebuah pohon besar, merebahkan diri dan angkat kakinya bersantai... Melihat semua tindak-tanduknya Ouyang Ci semakin curiga, ia merasa ada sesuatu yang tak beres. Dengan tabiat Ting

Jan-coat yang begitu keras, mana mungkin ia biarkan kusirnya makan-minum seenak sendiri di luaran? Apalagi di dalam kereta masih berbaring seseorang yang sedang terluka parah.

Ouyang Ci mencoba untuk menahan diri. Setengah harian telah lewat, namun lelaki kekar itu belum juga berangkat, bahkan dia mulai minum lagi tiga mangkuk air teh, bahkan kali ini dia segera merebahkan diri di bawah pohon, menutupi wajahnya dengan topi dan mulai tidur.

Satu kejadian yang sama sekali tak masuk akal. Ouyang Ci dengan wataknya yang berangasan dan tak sabaran, kini tak bisa mengendalikan diri lagi. Ia segera cemplak kudanya mendekati kereta kuda itu, melongok ke dalam jendela kereta dan... ternyata kereta itu kosong melompong! Ke mana perginya orang-orang itu?

Ouyang Ci semakin gelisah, cepat dia loncat turun dari kudanya dan menyerbu ke depan lelaki kekar tadi. Dengan satu cengkeraman kilat dia cengkeram ujung baju lelaki itu kemudian mengangkatnya ke atas.

Lelaki kekar itu mencoba memberikan perlawanan, tapi sayang tubuhnya keburu terangkat keudara, semua kekuatannya untuk melawan seketika sirna.

Sekalipun lebih dungu, ia juga tahu bahwa lelaki yang berdandan sederhana ini bukan seorang manusia biasa.

"Ke mana orangnya?" hardik Ouyang Ci dengan mata melotot.

"Si... Siapa?"

"Orang di dalam kereta!" "Maksudmu kedua orang nona itu?"

"Dan seorang pemuda yang sakit parah!"

"Mereka menukar kereta ini dengan kereta milikku. Kemudian dengan memakai keretaku mereka segera berangkat melanjutkan perjalanan."

"Apa kau bilang?" "Sebetulnya kereta milikku tadi sudah bobrok dan kuno, tapi nona itu memaksa untuk menukarnya dengan kereta miliknya. Bahkan ditambah dengan kuda jempolan yang terikat di belakangnya"

"Kentutmu!" teriak Ouyang Ci gusar. "Tak bakal ada kejadian seenak ini!"

"Aku sendiri juga tak paham kenapa ada kejadian seenak ini. Tapi kenyataannya hal ini memang terjadi, jika aku berani berbohong biar tubuhku hangus disambar halilintar..."

Orang itu berwajah polos dan jujur, kelihatannya memang bukan orang yang terbiasa berbohong.

Ouyang Ci termasuk seorang jagoan yang banyak pengalaman dalam dunia persilatan, ia tahu orang itu tidak bohong. Setelah menghentakkan kakinya ke tanah dengan perasaan gemas, tanyanya lagi, "Di mana kalian saling tukar kereta?"

"Di persimpangan jalan depan sana." "Maksudmu pertigaan jalan itu?" "Ya, benar. Di situ"

"Kau tahu arah jalan mana yang mereka ambil?"

"Waktu itu aku bingung bercampur girang tidak menyangka aku bakal dapat keuntungan sebesar ini. Lantaran kuatir mereka berubah pikiran maka begitu selesai bertukar kereta, cepat-cepat aku ngeloyor pergi. Jadi... aku tidak perhatikan dengan jelas."

Perkataan itu memang jujur dan masuk di akal. Barang siapa berhasil mendapatkan keberuntungan sebesar ini, dia pasti akan segera menyingkir secepatnya.

"Macam apa kereta kuda itu?" kembali Ouyang Ci bertanya. "Sebuah kereta yang sudah bobrok, pintu kereta tertutup

dengan sebuah tirai berwarna biru. di atas kain biru itu masih tertera merek dagangku."

"Apa merek dagangmu?"

"Semua temanku memanggil aku si Ayam jago, maka lambang yang kugunakan adalah seekor ayam jago." "Baik, kalau begitu aku akan memberi sedikit keuntungan juga kepadamu, aku ingin bertukar kuda denganmu."

Tidak menunggu orang lain setuju atau tidak, cepat-cepat dia lepaskan tali pengikat kuda hitam yang berada dibelakang kereta, lalu melarikan kuda itu cepat cepat meninggalkan tempat tersebut.

Lama sekali lelaki kekar itu tertegun, akhirnya sambil memungut tali kuda yang tertinggal, gumamnya, "Waah, kali ini aku rugi... Rugi besar!"

Memang perkataan itu sangat tepat. Kuda yang semula ditunggangi Ouyang Ci meski termasuk kuda jempolan juga, tapi masih ketinggalan jauh bila dibandingkan dengan kuda berwarna hitam itu.

Tapi entah kenapa, walaupun orang ini telah menderita kerugian besar, namun senyuman bangga justru tersungging di ujung bibirnya.

Ouyang Ci tidak berhasil menemukan kereta bobrok itu.

Ketika tiba di pertigaan jalan itu, mendadak kuda hitam tunggangannya terjerembab roboh ke tanah hingga membuat tubuhnya ikut terlempar ke depan. Coba kalau bukan pengalamannya menunggang kuda sangat mahir, mungkin ia sudah jatuh terjungkal ke tanah.

Ouyang Ci sangat heran, kenapa kuda jempolan yang sudah banyak pengalaman dalam pertempuran ini bisa tiba- tiba terjerembab?

Menunggu dia telah bangkit berdiri dan menghampiri kuda tersebut, tampaklah kuda hitam itu sudah roboh ke tanah, buih putih meleleh keluar dari mulutnya.

Ouyang Ci merasa tangan dan kakinya jadi dingin membeku, belum sempat ia mendekat, kembali kuda itu meringkik panjang, lalu keempat kakinya mengejang keras, buih putih yang keluar dari mulurnya tiba-tiba berubah jadi hitam keungu-unguan, lalu setelah mengejang sesaat kuda itu mati kaku. Kuda jempolan yang sudah banyak tahun malang- melintang dalam dunia persilatan ini, kini mati di pinggir jalan bagaikan seekor anjing gelandangan.

Pekikan panjang yang memilukan hati itu seolah-olah ingin memberitahu kepada Ouyang Ci akan sebuah rahasia. Sayang dia hanya seekor kuda, ia tak mampu membongkar kelicikan serta kekejian yang dilakukan manusia, hanya air mata sempat bercucuran dari matanya.

Ouyang Ci benar-benar terkesiap. Kalau bisa, ingin sekali ia temukan dengan segera perempuan yang lebih keji daripada ular berbisa itu.

Tapi ia benar-benar gagal menemukan perempuan itu, bahkan lelaki kekar yang kelihatan polos dan jujur itupun secara tiba-tiba lenyap begitu saja dari muka bumi.

Liong Su belum tidur, matanya kelihatan memerah. Begitu mendengar suara langkah dari Ouyang Ci, buru-buru ia melompat turun dari ranjangnya sambil berseru, "Bagaimana? Sudah kau temukan alamat mereka?"

"Belum!" jawab Ouyang Ci dengan kepala tertunduk. "Kenapa bisa belum?"

Ouyang Ci menunduk semakin rendah, katanya, "Mereka berhasil membongkar kedokku, Nona Ting telah suruh orang menyuruhku menghadap, dia minta aku sampaikan kepadamu, dia pasti dapat sembuhkan luka Siau Lui, tapi kita dilarang mencarinya lagi, kalau tidak... kalau tidak ia tak mau mencampuri urusan ini lagi."

Ketika mengucapkan perkataan tersebut, perasaan hatinya terasa bagai ditusuk dengan beribu-ribu jarum. Baru pertama kali ini dalam hidupnya ia berbohong, apalagi berbohong di hadapan Liong Su. Tapi dia mau tak mau harus berbohong.

Liong Su sudah tua, bahkan sudah sangat lelah, dia sudah tak mampu lagi menerima pukulan bathin yang lebih berat.

Seandainya dia mengetahui kejadian yang sebenarnya, mungkin ia akan segera muntah darah dan sakit parah.

Kadangkala berbohong pun membawa niat baik, hanya saja dalam keadan semacam ini, kadangkala perasaan hati orang yang sedang berbohong jauh lebih tertekan, jauh lebih menderita ketimbang orang yang sedang dibohongi.

Liong Su menghela napas panjang, katanya, "Dia bilang pasti dapat sembuhkan luka yang diderita Siau Lui?"

Ouyang Ci manggut-manggut, dia tak berani bentrok pandangan mata dengan pandangan Liong Su.

"Hai, entah dia bisa tidak merawat baik-baik... ku... kudaku itu?"

"Dia pasti bisa!"

Kalau tidak sekuat tenaga berusaha mengendalikan gejolak emosinya, mungkin dia sudah berteriak dan menangis

tersedu-sedu.

Hanya dia seorang yang tahu kuda itu sudah mati, sedang Siau Lui juga mungkin tak punya harapan lagi.

Terhadap seekor kuda pun perempuan kejam itu sanggup tunin tangan sekeji ini, apalagi terhadap seorang manusia...

Tapi, mengapa dia harusberbuat begini? Kalau ingin membunuh Siau Lui, seharusnya dia sudah memperoleh kesempatan dalam ruangan itu, lagipula kondisi Siau Lui sudah begitu parah, sesungguhnya tak perlu baginya untuk repot repot turun tangan sendiri.

Ouyang Ci mengepal tinjunya kencang-kencang, ia benar- benar tak paham dengan perasaan seorang wanita... yaa, siapa yang bisa paham?

III

Tempat ini adalah sebuah lembah bukit, air yang jernih mengalir turun dari sebuah air terjun membuat panorama alam di sekeliling tempat itu kelihatan sangat indah.

Aneka bebungaan tumbuh subur di kaki bukit, mengelilingi tiga-lima bilik rumah kedi yang dikelilingi dinding merah.

Seorang nona kecil berkuncir sedang membawa sebuah botol berisi air berjalan masuk ke dalam halaman. "Ting-ting... Ting-ting.. .mana airnya?" kedengaran seseorang berteriak dari dalam rumah.

"Airnya sudah datang," sahut Ting-ting sambil berlari masuk, sepasang kuncirnya yang hitam bergerak kian-kemari memainkan sepasang pita merah yang menghiasi ujung kuncir itu.

Siau Lui sudah cuci muka.

Dengan memakai selembar kapas yang dibasahi air, Ting- ting membasuh noda kotoran dan noda darah yang menempel di wajah pemuda itu, kemudian setelah menghela napas panjang katanya, "Orang ini memang benar-benar menawan hati!"

Kain cadar yang dikenakan Ting Jan-coat sudah ditanggalkan waktu itu. Dia kelihatan sangat murung dan kucai wajahnya, mendengar perkataan tadi segera sambungnya dengan dingin, "Kalau dia sudah mati, pasti akan lebih menawan hati!"

"Menurutmu... menurutmu dia bakal mati?" tanya Ting-ting sambil membelalakkan matanya.

Ting Jan-coat tidak menjawab, tapi dari balik sorot matanya terpancar sinar kekuatiran, mungkin baru pertama kali ini dalam hidupnya ia tunjukkan perasaan kuatir terhadap orang lain.

Ting-ting menghela napas panjang.

"Aku sangat berharap lelaki ini tidak mati, dia sangat serasi bila mendampingi nona."

Ting Jan-coat menggigit bibir sambil mengawasi Siau Lui tanpa berkedip. Dia seperti terpesona dibuatnya, dia tak tahu haruskah merasa murung? Atau gembira?

Siau Lui masih berbaring di atas pembaringan dengan perasaan tak tenang, seakan-akan ada sepasang tangan iblis yang tak kelihatan sedang mencekik lehernya

Napasnya yang semula lemah tiba-tiba berubah jadi cepat, dengan napas tersengal-sengal teriaknya berulangkali, "Jian- jian... Jian-jian... kau ada di mana?" Paras muka Ting Jan-coat segera berubah hebat, sebentar memucat sebentar menghijau.

Ting-ting juga mengerutkan dahinya sambil bergumam, "Siapa itu Jian-jian? Kenapa ia selalu memanggil namanya?"

Ting Jan-coat hanya melototi wajah Siau Lui tanpa berkedip, dia seakan akan tidak mendengar apa yang digumamkan nona kecil berkuncir itu.

"Jian-jian... Jian-jian..." Deru napas Siau Lui makin lama semakin rendah, sekulum senyuman tersungging di ujung bibirnya, dia seolah-olah telah bertemu dengan Jian-jian dalam mimpinya.

Tiba tiba Ting Jan-coat menerjang ke muka lalu mela- yangkan tangannya menggam-par wajah pucat itu keras- keras, umpatnya, "Jian-jian sudah lama melupakan kau, kenapa kau mesti berteriak terus memanggil namanya? Jika kau berani memanggil namanya sekali lagi, aku... aku... Aku akan membunuhmu!"

Bekas lima jari tangan yang merah membengkak tertinggal di wajah Siau Lui yang pucat pias, tapi pemuda itu tidak merasakan apa-apa.

Ting-ting tertegun saking kagetnya, jeritnya tertahan, "Nona... dia sudah hampir mati, kau... kenapa kau masih menamparnya juga?"

"Aku senang," sahut Ting Jan-coat sambil menggigit bibir. "Siapa yang ingin kupukul akan segera kupukul.. .jika ia berani memanggil nama anjing betina itu sekali lagi, akan kucincang tubuhnya hingga hancur berkeping-keping!"

Siapapun yang sempat melihat mimik wajahnya saat ini pasti tahu, ia bisa berkata bisa pula melaksanakan.

Sayang Siau Lui tidak dapat melihat, ia masih saja memanggil,

"Jian-jian... Jian-jian..."

Pucat pias wajah Ting-ting saking kaget dan takutnya, seluruh badan Ting Jan-coat juga nampak gemetar keras, tiba-tiba tangannya merogoh ke arah pinggang dan mencabut keluar sebilah golok melengkung dari sarungnya. "Jangan nona!" teriak Ting-ting ketakutan. 'Jangan kau lakukan itu... Aku mohon... Nona... jangan kau iris daging tubuhnya..."

Ting Jan-coat menggenggam gagang goloknya makin kencang, ia sama sekali tak ambil perduli teriakan nona kecil itu, tiba-tiba goloknya diayunkan ke depan dan langsung menusuk kebahu Siau Lui.

Tubuh Siau Lui yang semula berbaring di atas pembaringan segera meronta bangun, sambil membuka matanya lebar-lebar dia melotot sekejap ke arah gadis itu, tapi ia segera tak sadarkan diri lagi.

Pelan-pelan Ting Jan-coat mencabut keluar goloknya, mengawasi darah yang meleleh keluar melalui ujung goloknya, dua deret air mata jatuh berlinang membasahi pipinya

"Kenapa kau memanggil namanya terus-menerus? Kenapa kau tidak bertanya siapa namaku?"

Perasaan hatinya juga seperti diiris-iris dengan golok tajam. Saking sedih bercampur sakit hati, mendadak goloknya dibalik kemudian langsung ditusukkan ke atas bahu sendiri.

Seluruh tubuh Ting-ting ikut gemetar keras, air mata telah membasahi seluruh wajahnya, dengan terisak katanya, "Sekarang aku mengerti... Liong Su hadiahkan kudanya karena dia ingin dia menunggang kuda itu pergi mencari Jian-jian, maka kuda itupun kau bunuh... kau memang tak pernah ingin dia hidup kembali!"

"Tutup mulut!" hardik Tingjan-coat sambil mencak-mencak kegusaran. "Kau tak perlu mencampuri urusanku, cepat pergi dari sini!"

"Baik, aku pergi, tapi nona... kenapa kau harus menyiksa orang lain? Kenapa kau juga menyiksa diri sendiri?"

"Karena aku senang... karena aku senang... aku senang..." jerit Ting Jan-coat sewot.

Ting-ting tertunduk lesu, dengan air mata masih berlinang pelan-pelan ia tinggalkan ruangan itu, tapi belum sampai di luar pintu, ia sudah mendengar suara isak-tangis dari gadis tersebut. Ting Jan-coat tidak mendengar suara isak-tangis sendiri, sepasang matanya masih mengawasi golok dalam genggamannya dengan termangu, di ujung golok masih ternoda darahnya, juga darah pemuda itu.

Darah pemuda itu telah mengalir masuk ke dalam mulut lukanya. Ia mulai menggerakkan tangannya membelai mulut luka sendiri, makin dibelai makin keras dan makin bertenaga.

Rasa sakit yang bukan kepalang membuat seluruh tubuhnya gemetar keras, keringat dingin mulai bercucuran membasahi sekujur badan, tapi sorot matanya justru semakin bersinar, begitu terang sinarnya bagaikan api yang sedang membara...

Inikah yang dinamakan benci? Atau cinta? Mungkin ia sendiri juga tak tahu, tidak jelas... yaaa, siapa yang bisa membedakannya dalam keadaan seperti ini?

Kegelapan malam mulai menyelimuti seluruh jagad, duduk di ujung pembaringan Ting Jan-coat mulai terkantuk-kantuk, matanya terasa berat sekali, kepalanya juga mulai lunglai.

Berapa hari belakangan, ia memangtak pernah bisa beristirahat dengan tenang.

Selama ini dia mengejar terus tiada hentinya, mencari, menyelidiki, harus menahan siksaan rasa sakit yang ditimbulkan dari pergelangan tangannya yang patah, menahan rasa letih, rasa kesepian yang mendalam...

Untuk siapa yang melakukan semuanya ini? Ia benar-benar tak habis mengerti, kenapa ia rela berbuat semuanya ini demi seorang lelaki yang masih asing baginya, bagi seorang lelaki yang telah mematahkan pergelangan tangannya, bagi putra musuh besarnya yang begitu dicintai juga begitu dibenci olehnya.

Tapi, bagaimana pun juga pada akhirnya ia sudah berada di sisinya. Sekalipun pemuda itu harus mati, dia tak rela ia mati dalam pelukan orang lain.

Ting Jan-coat tertunduk lemah, rasa mengantuk yang amat sangat membuat ia tak tahan untuk pejamkan matanya... "Jian-jian... Jian-jian..." Tiba tiba Siau Lui meronta kembali,mulai berteriak keras.

Ting Jan-coat mendusin dari rasa mengantuknya dengan perasaan terperanjat, ia meloncat bangun, tubuhnya gemetar keras.

Paras muka Siau Lui yang pucat pias kembali berubah jadi merah membara, panas tinggi mulai merasuk sekujur badannya, kini kesadarannya sudah hilang, pikirannya sudah kalut...

Dengan mata yang melotot besar kemerah-merahan dia awasi bayangan manusia yang berdiri di ujung pembaringan tanpa berkedip, mendadak teriaknya keras, "Jian-jian, kau telah kembali, aku tahu kau pasti akan kembali!"

Ting Jan-coat menggertak gigi menahan emosi, dengan penuh rasa gusar ia menerjang ke depan dan mencoba menamparnya

Pada saat itulah tiba-tiba Siau Lui menarik tangannya kuat- kuat.

Entah darimana munculnya kekuatan yang begitu besar, tarikan itu sangat kencang, sangat kuat...

Belum sempat gadis itu meronta untuk melepaskan diri, tahu-tahu badannya sudah tertarik hingga jatuh ke dalam pelukannya.

Sambil memeluk kencang tubuh gadis itu, Siau Lui masih saja berteriak keras, "Jian-jian... Kau jangan harap bisa pergi lagi, kali ini aku tak akan membiarkan kau pergi dari sisiku."

"Lepaskan aku!" teriak Ting jan-coat sambil menggigit lengan pemuda itu. "Jian-jian sudah mampus, jangan harap kau bisa bertemu lagi dengannya!"

"Tidak, kau belum mati... kau tak bakal mati... asal kau mau balik kemari, aku pasti tak akan biarkan kau mati."

Mulut lukanya kembali mengucurkan darah segar, tapi dia seperti tidak merasakan, malahan pelukannya makin kencang.

Ting Jan-coat ingin mendorong tubuhnya, ingin melepaskan diri dari pelukan itu, tapi... belum pernah ia dipeluk seperti ini olehnya, belum pernah ada orang pernah memeluknya seperti ini.

Tiba-tiba saja semua kekuatan di dalam tubuhnya hilang lenyap tak berbekas, ia menggigit bibir kuat-kuat, memejamkan matanya dan tak tahan mulai menangis tersedu- sedu.

Air mata mengalir melalui bahunya bercampur dengan darah pemuda itu, menetes masuk ke dalam mulut lukanya.

Sambil menangis tersedu-sedu, gumamnya, "Benar... aku adalah Jian-jian... Aku telah kembali... kau... kenapa kau tidak memelukku lebih kencang... ?"

Seseorang, bila dirinya sendiripun sudah tak ingin hidup lebih lanjut, tak akan ada orang lain yang bisa menyelamatkan jiwanya.

Di dunia ini pun tak akan ada obat yang jauh lebih manjur daripada keinginan seseorang untuk meneruskan hidupnya.

Bila kau paham dengan teori ini, maka kau pun akan mengerti mengapa Siau Lui tidak sampai mati.

IV

Siau Lui tidak mati, kejadian ini benar-benar merupakan satu kemukjijatan, tapi... kemukjijatan tidak sering bisa terjadi di dunia ini.

Selama umat manusia masih memiliki rasa percaya diri, masihada niat, masih ada keberanian, kemukjijatan masih seringkali akan bermunculan.

Ketika panas tubuhnya mulai mereda, pemuda itu mulai mendusin dan sadar kembali, tapi hanya di saat sadar itulah perasaan pedih dan sedih akan mulai dirasakan, hanya orang yang pernah mengalami penderitaan yang akan mengerti teori ini.

Siau Lui membuka matanya, memandang ruangan itu dengan termangu-mangu, dari sudut ruangan sini ia memandang hingga sudut ruangan yang lain. Garis memerah sudah tak nampak di matanya, yang tersisa hanya penderitaan. Jian-jian ada di mana? Siapa bilang Jian- jian telah kembali?

Suara langkah kaki manusia bergema dari luar pintu kamar, Ting Jan-coat dengan membawa sebuah guci air berjalan masuk ke dalam ruangan itu.

Melihat kemunculan gadis tersebut, Siau Lui segera berseru kaget, "Rupanya kau? Kau... kenapa kau bisa berada di sini?"

Biarpun suaranya masih lemah namun sama sekali tidak mengandung nada persahabatan.

Ting Jan-coat merasa hatinya seolah-olah tenggelam ke dasar samudra luas, ia segera menarik wajahnya, bahkan langkah kakinya pun kedengaran makin berat.

Ia membalikkan badan sambil meletakkan guci air itu ke atas meja dekat jendela, kemudian sahutnya ketus, "Ini rumahku, kenapa aku tak boleh kemari?"

"Ini rumahmu?" seru Siau Lui makin tercengang. "Kenapa aku bisa sampai di sini?"

"Kau tidak ingat?" Kembali tangannya meremas ujung bajunya kuat-kuat, begitu kuat remasan tersebut hingga kuku jarinya nampak memutih.

Siau Lui miringkan kepalanya seperti berpikir, ia segera menangkap bahunya yang penuh noda darah... Yaaa... banjir darah.

Jalan perbukitan yang sempit dengan dinding karang disekitarnya... Kakek yang memainkan senjata payungnya dengan gencar, pecut panjang yang menyambar bagai patukan ular berbisa... kampak raksasa yang membelah di atas tubuh manusia... pedang yang menembusi tulang bahunya... Dalam waktu singkat semua bayangan itu muncul kembali dalam benaknya.

Tiba-tiba Ting Jan-coat membalikkan badannya, lalu sambil memandangnya lekat-lekat ia bertanya lagi, "Sudah teringat kembali?"

Siau Lui menghela napas panjang dan tertawa getir. "Aku lebih suka melupakan semua itu untuk selamanya." 'Tapi apa yang harus teringat terus tak akan kau lupakan bukan?" dari balik mata Ting Jan-coat terpancar keluar sinar kesedihan dan kemurungan yang mendalam.

"Di mana Liong Su?" tiba tiba Siau Lui bertanya. "Liong Su yang mana?"

"Liong Kong, Liong Su!" "Aku tidak kenal orang itu."

"Kau tak pernah bertemu dengannya?" "Aku tidak kenal dengan orang itu."

"Tapi... sewaktu aku tak sadarkan diri, ia masih berdiri di depanku," ujar Siau Lui sambil berkerut kening.

"Tapi ketika kutemukan dirimu tadi, kau hanya sendirian." "Kau temukan aku di mana?"

"Di balik tumpukan mayat, ada orang sedang bersiap-siap memberesi mayat kalian."

"Siapa orang itu? Bukan Liong Su?" "Bukan!"

"Aneh" gumam Siau Lui, keningnya makin berkerut, "masa dia pergi begitu saja?"

"Kenapa tidak pergi?" Ting Jan-coat tertawa dingin. "Orang yang telah mampus tak mungkin bisa mewakilinya berkelahi, tak bisa adu nyawa buatnya, apa gunanya lagi buat dia?"

Siau Lui tidak berkata, ia bungkam dalam seribu bahasa.

Ting Jan-coat mengawasi wajahnya dengan pandangan tajam, agaknya dia ingin sekali melihat pemuda itu menampilkan perasaan kecewa dan gusarnya.

Tapi sayang mimik wajah Siau Lui tidak menunjukkan perubahan perasaan apa pun, katanya hambar, "Dia sudah tidak berhutang kepadaku, akupun sudah tidak berhutang kepadanya, dia memang seharusnya pergi dari situ."

"Kelihatannya temanmu tidak banyak," ejek Ting Jan-coat dingin.

"Yaa, memang tak banyak!"

'Tapi kenyataannya kau masih bisa hidup hingga kini, suatu perjuangan yang tak gampang..." "Mungkin karena ingin mati pun bukan satu pekerjaan yang mudah," jawab Siau Lui hambar.

Berkilat sepasang mata Ting Jan-coat, tiba-tiba tanyanya, "Apakah aku berhutang kepadamu?"

"Tidak!"

"Dan kau berhutang kepadaku?" "Yaaa, hutang dua kalL"

"Dengan cara apa kau hendak membayar hutang itu kepadaku?"

"Katakan saja."

"Sejak dulu aku telah berkata, nyawa yang dimiliki manusia macam kau sama sekali tak ada harganya, bahkan kau sendiripun tidak pandang serius. Buat apa aku mengambilnya?"

"Kau memang pernah berkata begitu, karenanya kali ini kau tak perlu mengulangi lagi perkataan tersebut."

Pelan-pelan ia membalikkan tubuhnya, dari dalam guci air dia menuangnya sedikit ke dalam baskom kayu.

Siau Lui tidak memandang ke arahnya, sejak masuk hingga sekarang tampaknya dia hanya memandangnya sekejap, sekarang sorot matanya sedang memandang ke arah pintu ruangan.

Rupanya secara tiba-tiba ia menemukan ada seorang nona kecil yang rambutnya dikepang sedang bersembunyi di luar pintu sambil mengintip ke arahnya dengan sembunyi- sembunyi, wajahnya menampilkan suatu perasaan yang sangat aneh.

Ketika mengetahui Siau Lui sedang mengawasinya, tiba- tiba nona kecil itu mengerdipkan matanya memberi tanda. Siau Lui pun balas mengerdipkan matanya - menjawab tanda itu.

Sejak pandangan pertama dia sudah merasakan bahwa nona kecil itu bukan saja berwajah menarik, lagipula sikapnya sangat bersahabat.

Memang tak banyak orang yang benar-benar menunjukkan sikap bersahabat kepadanya selama ini. Gadis cilik itu sedang menutupi bibirnya sambil sembunyi- sembunyi tertawa geli.

Siau Lui menggapai memintanya untuk masuk ke dalam ruangan, tapi secara sembunyi-sembunyi nona cilik itu menuding ke arah punggung Ting Jan-coat lalu membuat muka setan.

"Ting-ting!" mendadak Ting Jan-coat menghardik. "Lagi apaan kamu di luar sana?"

Ting-ting terperanjat hingga wajahnya berubah memucat, sahutnya agak tergagap, "Aku... tidak... Aku tidak apa apa..."

Obat yang berada dalam baskom air itu berwarna hitam pekat, bentuknya mirip lumpur yang kotor namun menampilkan bau harum yang semerbak.

Ting-ting memegangi baskom kayu itu erat-erat, matanya memancarkan rasa takut dan ngeri yang amat sangat ketika melihat campuran obat itu, bahkan sepasang tangannya gemetar keras.

"Apa yang kau takuti?" tegur Siau Lui.

"Takut kau," jawab Ting-ting sambil menggigit bibir. "Takut aku? Memangnya aku menyeramkan?"

Pandangan mata Ting-ting tak lagi berani memandang ke arahnya, sahurnya, "Aku... belum pernah aku melihat orang dengan luka bacokan sebanyak ini."

Malam... udara di malam hari selalu lebih dingin dan nyaman ketimbang siang hari, namun Siau Lui merasa kepanasan.

Ia mencoba meraba wajah sendiri, lagi-lagi suhu badannya meningkat. Padahal ketika baru mendusin tadi, ia merasa kondisi tubuhnya jauh lebih sehat dan segar, malah bisa bicara banyak.

Ia bisa membayangkan, selama dirinya tidak sadarkan diri, Ting Jan-coat pasti merawatnya dengan sangat baik, malahan dia masih dapat merasakan bau obat-obatan dan kuah jinsom yang masih tersisa dalam mulutnya

Tapi sekarang, ia merasa sekujur badannya makin tak enak, semakin tersiksa rasanya, terutama dari mulut luka yang ada di sekujur badannya, saat ini seperti digigit oleh beribu- ribu ekor nyamuk, selain sakit juga gatal sekali, kalau bisa dia ingin menggaruk sepuasnya.

Ting jan-coat tidak berada dalam kamar, juga tak kedengaran suaranya.

Perempuan yang dingin kaku, angkuh dan sendirian ini memang amat kesepian, apakah dia pun seringkali menangis secara diam-diam?

Siau Lui sangat memahami perasaan gadis ini, tapi dia menampik untuk memahaminya, dia tak ingin memahaminya.

Dalam hati kecilnya dia pun merasa sangat berterima-kasih, tapi menampik untuk mengakui. Mengapa ia selalu menampik begitu banyak masalah yang menyangkut gadis itu?

Tiba-tiba pintu kamar dibuka orang pelan-pelan. Siau Lui mengawasinya, tapi ia tak bergerak, tidak bersuara bahkan kerlingan matanya pun sama sekali tidak bergerak. Sekalipun ada harimau lapar yangsecara tiba-tiba menerkam ke dalam ruangan, mimik mukanya sama sekali tak akan berubah.

Yang masuk ke dalam kamar bukan harimau kelaparan, dia adalah seorang gadis cilik, Ting-ting.

Wajahnya kelihatan sangat tegang, begitu masuk ke dalam kamar, cepat-cepat ia rapatkan kembali pintu itu, memadamkan lampu lentera tapi membuka lebar daun jendela dalam ruangan.

Cahaya bintang memancar masuk dari balik jendela, menyinari wajahnya, dia nampak sangat tegang hingga bibirnya pun kelihatan gemetar keras.

"Silahkan duduk," tiba-tiba Siau Lui berkata.

Ting-ting terkesiap, saking kagetnya kedua belah kakinya jadi lemas dan nyaris jatuh terperosok ke lantai.

"Apa yang kau takuti?" kembali Siau Lui menegur sambil tertawa.

Tiba-tiba Ting-ting melompat ke muka, mendekam mulutnya lalu sambil menempelkan bibirnya di tepi telinga pemuda itu, bisiknya, "Ssst, perlahan sedikit kalau bicara, kalau tidak, nyawa kita berdua bakal melayang!" "Seserius itu?" "Ehm!"

"Urusan apa begitu serius?"

"Apakah kau masih bisa berdiri, masih bisa bergerak?" "Mungkin!"

'Jika kau masih mampu berdiri, cepatlah pergi dari sini!" "Pergi dari sini malam ini juga?"

"Yaaa, sekarang juga kau harus pergi!" "Kenapa harus buru-buru?"

"Sebab jika kau tak pergi malam ini, maka selama hidup jangan harap bisa pergi dari sini!"

"Kenapa?"

"Kau tahu tidak, obat apa yang telah ia gunakan untuk mengobati lukamu hari ini?"

"Entahlah, tapi baunya harum sekali."

"Obat racun itu kalau tidak manis tentu harum baunya, kalau tidak, mana ada orang yang mau menggunakannya?"

Jangan dilihat nona ini masih kecil, ternyata banyak sekali urusan yang dipahami dan diketahui olehnya.

"Jadi itu racun?"

"Yaa, racun itu bernama rumput mata cangkul, bila lubang luka yang ada di tubuhmu dipolesi sedikit saja dengan obat ini, maka tak sampai lima hari akan mulai membusuk hingga muncul sebuah lubang besar, bentuk lubang itu persis seperti tanah yang dicangkul dengan mata cangkul!"

Tiba-tiba Siau Lui merasa tangan maupun dadanya berubah jadi sangat dingin, bisiknya sambil tertawa getir, "Tak heran kalau sekarang aku sudah mulai merasa tak beres."

"Siang tadi kau bertanya kepadaku, kenapa takut, yang kutakuti adalah rumput itu tapi aku... aku tak berani bersuara."

"Dia telah selamatkan jiwaku, telah mengobati lukaku hingga sembuh, kenapa sekarang ingin mencelakai aku?"

"Karena dia tahu, begitu lukamu sembuh maka kau segera akan pergi dari sini." Setelah menggigit bibir, dengan suara yang lebih lirih lanjutnya, "Bila mulut lukamu mulai membusuk, dia baru punya kesempatan untuk merawatmu, bila kau semaput lagi, dia baru punya peluang untuk tinggal di sampingmu Meskipun d ia sangat tidak berharap kau mati, tapi dia pun tidak berharap lukamu segera sembuh."

Dengan termangu-mangu Siau Lui mengawasi dinding kamar di hadapannya, perasaan harinya yang terpancar dari balik matanya pun kelihatan sangat aneh.

Tiba-tiba Ting-ting berkata lagi, Ia berbuat begitu tentu saja karena dia sangat menyukaimu, tapi bagaimanapun juga kau harus pergi dari sini, kalau tidak... Cepat atau lambat kau akan mati membusuk di atas pembaringan ini, membusuk persis seperti segumpal lumpur!"

"Tidak seharusnya kau beritahu persoalan ini kepadaku," kata Siau Lui dengan perasaan berat.

"Kenapa?"

"Sebab aku tak bisa pergi!" "Kenapa?"

"Bila aku pergi, apa dia akan lepaskan dirimu dengan begitu saja?"

"Kau... kau sendiri sudah hampir mati, kau masih memikirkan aku?"

"Tentu saja. Kau masih kecil, aku tak akan membiarkan kau menderita lantaran aku!"

"Kalau memang begitu, kenapa kau tidak sekalian membawaku pergi?"

"Membawamu pergi?"

"Aku pun tak bisa tinggal di sini lagi... dia sudah gila, bila aku terus mengikuti dia, mungkin aku pun akan ikut gila!"

"Tapi... Jika kau ikut aku, mungkin kau bisa mati kelaparan."

"Aku tidak takut... siapa tahu justru aku bisa bekerja untuk mencari uang dan memelihara kau?"

"Aku masih belum bisa membawamu pergi..." "Kenapa?" saking gelisahnya, nada suara itu nyaris disertai isak tangis.

Siau Lui menghela napas panjang.

"Sebab aku sendiri pun tak tahu ke mana harus pergi," sahurnya.

"Kita bisa pergi mencari Liong Su!"

Sekilas bayangan gelap melintas dalam pandangan mata Siau Lui, pelan-pelan dia menggeleng.

"Tidak, aku tak tahu harus ke mana mencarinya?" "Ia tinggal di ibu kota, distrik Thiat-say-cu Oh-tong." "Darimana kau bisa tahu?"

"Dia sendiri yang mengatakan." "Kau pernah bertemu dengannya?"

"Aku telah bertemu dengannya, nona juga telah bertemu dengannya, apa yang dia katakan siang tadi semuanya bohong!"

Kemudian setelah menghela napas, lanjutnya, "Aku dapat merasakan sikap Liong Su terhadap kau jauh lebih mesra ketimbang hubungan antar saudara, kalau bukan nona berjanji pasti dapat menyembuhkan luka di tubuhmu, dia tak akan membiarkan nona membawamu pergi."

Paras muka Siau Lui yang pucat pasi mulai terjadi perubahan.

Kembali Ting-ting berkata, "Sebelum berangkat, bukan saja dia berulang-kali berpesan agar kau segera pergi mencarinya begitu lukamu sembuh, bahkan dia pun menghadiahkan kuda mestika kesayangannya, dia minta nona menyampaikannya kepadamu."

Siau Lui merasa darah panas bergolak keras di dalam dadanya, ia cengkeram tangan Ting-ting dan serunya, "Apakah kau maksudkan kuda mestika berbulu hitam itu?"

Ting-ting mengangguk.

"Dari sorot matanya aku pun dapat merasakan kalau dia sedikit merasa sayang, tapi akhirnya toh tetap dihadiahkan kepadamu. Dia bilang, kau lebih membutuhkan kuda itu ketimbang dia karena kau harus pergi mencari seseorang." Siau Lui tertegun, kembali air mata hangat menggelembung dalam kelopak matanya, sampai lama kemudian ia baru bertanya, "Di mana kuda itu sekarang?"

"Sudah mati diracun nona," sahut Ting-ting sambil menghela napas.

Tiba-tiba Siau Lui melompat bangun dari tidurnya, cahaya yang sangat menakutkan memancar keluar dari balik matanya, sekujur badannya gemetar keras.

Lagi-lagi Ting-ting menghela napas, terusnya, "Kadangkala aku sendiripun tidak mengerti kenapa nona harus berbuat begitu, tampaknya dia tak senang bila kau punya teman lain, seolah-olah dia merasa hanya dia seorang yang pantas menjadi sahabatmu."

"Baik," tiba-tiba Siau Lui berseru sambil menarik tangan nona itu. "Sekarang juga kita pergi!"

Berkilat sepasang mata Tingting, katanya sambil melompat bangun, "Aku tahu di belakang sana ada sebuah jalan setapak yang tembus sampai di mulut sungai. Setelah tiba di sana kita bisa menyewakereta untuk melanjutkan perjalanan."

Kemudian setelah memanda ng Siau Lui sekejap dengan kening berkerut, lanjutnya, "Tapi... Benarkah kau dapat berjalan?"

"Biarpun harus merangkak aku akan merangkak keluar dari sini!"

Sorot mata yang terpancar keluar semakin menakutkan, pelan-pelan lanjutnya, "Sekalipun harus merangkak, aku pasti dapat merangkak sampai di mulut sungai, percaya kau?"

Ting-ting memandangnya termangu, sinar matanya memancarkan rasa kagum, sayang dan keyakinan, sahutnya lembut, "Aku percaya, apapun yang kau katakan aku pasti percaya."

Baru selesai dia mengucapkan perkataan tersebut, mendadak terdengar suara Ting Jan-coat menyambung, "Sayang aku tak percaya!"
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "BPEHK Bagian 06 : Embun Hujan "

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close