Bentroknya Rimba Persilatan Jilid 22 (Tamat)

Mode Malam
 
Dibawah sorotan sinar rembulan tampak Boen Ching dengan membelakangi tubuhnya tertidur dengan sangat nyenyaknya. Lok Yang Hong sedikit pun tak bergerak, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan diri Boen Ching, sejenak kemudian dengan perla-han menggulungkan tubuhnya mendekati tubuh Boen Ching sedang sepasang matanya dengan tajam memandang ke arahnya. Seseorang apabila terus tertidur dengan nyenyaknya, panca-indranya tentu kurang ketajamannya, demikian pula menghindar kan diri dari keadaan ini.

Tubuh Boen Ching tampak sedikit bergerak, sedikit pun dia tidak menampilkan perasaan curiganya.

Lok Yang Hong diam-diam mengehembus kan napas, dengan perlahan dia merebahkan tubuhnya, sepasang matanya dengan tajam memandang keatas angkasa.

Sejenak kemudian, tangannya dengan per-lahan diulur dan siap mencabut pedangnya. Sekonyong-konyong, dia merasa perasaan dalam hatinya sedikit tidak tenang, apabila dia mencabut keluar pedang tersebut dari sarungnya, tak dapat dihindarkan lagi tentunya agak terdengar suara gesekan benda logam yang mungkin akan mengejutkan Boen Ching yang sedang tidur dengan nyenyaknya, dia tidak menginginkan menempuh bahaya ini, bahkan tidak merasakan perlu untuk menempuhb bahaya sepertid ini.

Pada bibiarnya tampak terbsungging suatu senyuman yang memaki dirinya sendiri, dalam hati pikirnya.

"Bagaimana ini bisa terjadi, dengan kepan-daianku yang demikian tingginya, apakah boleh dikata untuk membunuh seseorang harus menggunakan pedang baru dapat terlaksana?'?

Lok Yang Hong berpikir sampai disitu, sepasang matanya dengan tajam memandang ke arah rembulan yang bersinar dengan terang nya itu.

Sinar matanya berkelebat, pikirnya lagi.

"Untuk mengerjakan pekerjaan ini harus lah mempunyai niat yang teguh, dan harus lah sekali pukul menemui sasarannya, kira nya akibatnya sukar sekali untuk diduga."

Sekonyong-konyong suatu pikiran berkele-bat didalam benaknya, dengan cepat tubuh nya berputar, jari tengah dan jari telunjuk dari tangan kanannya menotok jalan darah "Hu Sim Hiat" dipunggung Boen Ching.

Gerakannya ini hampir-hampir diluar dugaan dari dirinya sendiri, didalam jarak yang demikian dekatnya itu ditambah lagi dengan gerakan yang demikian cepatnya, dia percaya sekalipun Boen Ching mendusin dari tidurnya juga sukar sekali untuk menghindar kan diri dari serangan tersebut. Begitu jari tengah serta jari telunjuknya melancarkan serangan ke depan, tubuhnya bersamaan waktunya pula melompat dengan tingginya.

Tetapi pada saat dia melompatkan tubuhnya ke depan itulah, mendadak hatinya merasa sangat terkejut, dua jari tangannya yang melancarkan serangan ke tubuh Boen Ching itu ternyata tidak mencapai pada sasaran, sedang tubuh Boen Ching pun telah lenyap dari pandangan.

Dia menarik napas panjang-panjang, tubuh nya segera berhenti bergerak dan berdiri mematung disana.

Tampak Boen Ching sambil menggendong tangannya telah berdiri dengan tenangnya di belakang tubuhnya, sambil tertawa tawar ujarnya.

"Jalan darah Hu Sim hiat merupakan salah satu jalan darah terpenting diantara tiga jalan darah penting dalam tubuh manusia, apa bila totokan jarimu ini mencapai sasaran kiranya aku akan binasa dengan sangat mengerikabn sekali.'

Lok dYang Hong sama asekali tidak pebrnah menyangka kalau gerakan tubuh Boen Ching dapat secepat kilat, untuk sesaat dia menjadi berdiri termangu-mangu disana.

Boen Ching tersenyum, ujarnya.

Pedang panjang dipinggangmu apakah masih ada ? '

Air muka Lok Yang Hong menjadi semakin pucat, dia tahu apabila dirinya hendak secara berhadap-hadapan melawan diri Boen Ching seratus persen dia akan menemui kekalahan, untuk sesaat membuat dia menjadi bingung, entah bagaimana baiknya.

Senyuman yang menghiasi di bibir Boen Ching dengan perlahan lenyap.

Dengan wajah yang serius ujarnya. "Kau haruslah mengetahui, bukannya dikarenakan dosamu kau patut dihukum mati, sebaliknya adalah dikarenakan kecerdasan mu apabila binasa dengan demikian saja sedikit merasa sayang, setiap manusia tentunya akan berbuat salah, apabila dapat segera menyadari dan mengaku kesalahan itulah sifat seorang laki-laki sejati, dengan kecerdasan yang kau miliki sekarang ini mengapa kau harus terjerumus kedalam kancah seperti ini?"

Dalam hati Lok Yang Hong terasa agak tertegun, dia selamanya mengira bahwa Boen Ching melepaskan dirinya oleh karena ini mempunyai kebutuhan lain untuk memohon pada dirinya, pertama dia mengira karena kitab Hay Thian Kiam Boh sedang kedua kalinya pastilah dia menginginkan dirinya hidup untuk digunakan sebagai saksi.

Tetapi sekarang ini apakah dia masih membutuhkan dirinya sebagai saksi ?

Been Ching dengan tajam memandang ke arah Lok Yang Hong, dengan perlahan ujar nya.

"Kau boleh pergi sendiri?, jarak tempat ini dengan tepi gurun pasir tidak jauh lagi."

Lok Yang Hong yang mendengar perkataan tersebut, dalam hatinya terasa tergetar dengan hebatnya, dengan perlahan dia menundukkan kepalanya.

Boen Ching untuk pertama kali melepas kan dirinya, tak mungkin dikarenakan kitab Hay Thian Kiam Boh dengan kepandaian yang dimiliki Boen Ching sekarang ini, dia telah cukup untuk menjagoi seluruh Bu lim, dan tak mempunyai alasan yang kuat bagi nya untuk menuduh ia mempunyai niat terhadap kitab Hay Thian Kiam Boh tersebut.

Untuk kedua kalrinya, ketika dita melepaskan dqirinya, juga tark mempunyai alasan yang kuat baginya untuk menuduh Boen Ching mempunyai niat menahan dirinya sebagai bukti, Boen Ching sendiri, dengan Cap Sah Lang serta Liuw Cing Ce sudah cukup untuk sebagai saksi bahkan dengan kepandaian yang dimiliki Boen Ching juga tak perlu untuk berbuat demikian.

Dengan perlahan dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada diri Boen Ching ujarnya.

"Cayhe Lok Yang Hong sejak kini tak akan berbuat pekerjaan yang merugikan orang lain lagi guna membalas budi yang diberikan Boen Siauw-hiap kepadaku yang telah tiga kali melepaskan diriku.*

Boen Ching memandang ke arah Lok Yang Hong, mendadak pada wajahnya tampaklah timbul suatu perasaan yang sangat girang sekali, ujarnya:

"Sebenarnya aku telah mengambil suatu keputusan bahwa apabila sekali lagi kau terjatuh kedalam tanganku, aku tak akan melepaskan kau lagi, kini setelah mendengar perkataanmu itu sungguh membuat aku sangat girang sekali."

Dalam hati Lok Yang Hong merasakan suasu perasaan yang selamanya belum pernah dirasakan, seolah-olah saat ini dia benar-benar baru saja lolos dari kematian, tubuhnya segera bergerak dan berlari kearah kanan.

Boen Ching memandang bayangan Lok Yang Hong ttu hingga lenyap dari pandangan, pada bibirnva jelas tersungginglah suatu senyuman yang sangat puas sekali.

Tadi hampir-hampir saja dia hendak turun tangan hendak membunuh Lok Yang Hong, ketika dia melihat Lok Yang Hong membalik kan tubuhnya melancarkan serangan totokan apalagi sepasang telunjuknya ternyata mengancam jalan darah 'Hui Sim Hiat' nya, pada saat itu mau untuk membunuhnya telah timbul dalam hati pikirnya apabila diri nya tetap merebahkan diri diatas tanah, entah bagaimana akibatnya, dirinya juga tak berani mengambil resiko terlalu banyak. Sinar mata yang ditinggalkan Jien Muh Nio pada saat hendak meninggalkan dirinya masih terus terbayang dihadapannya, membuat dia dapat menahan napsu membunuh di dalam dirinya dan melepakan diri Lok Yang Hong, dia membiarkan Lok Yang Hong pergi seorang diri.

Boen Ching tidak mengetahui dia berbuat demikian itu benar atau tidak, terhadap akibat dari urusan ini diapun tidak berani untuk memastikannya.

Tapi sekarang dia telah mempercayai sepenuhnya kalau perbuatan yang dilakukan nya itu sama sekali tidak salah, apabila dia membunuh diri Lok Yang Hong kiranya pada saat itu dia akan merasa menyesal untuk selamanya.

Dia memandang hingga bayangan punggung Lok Yang Hong lenyap dari pandangan setelah itu dia menghembuskan napas, ketika mendongakkan kepalanya tampak sinar mata hari munculkan diri diufuk timur.

Boen Ching sekali lagi melanjutkan perjalanannya menuju kearah depan.

Pada saat bayangan matahari hendak muncul itulah dari kejauhan tampak muncul nya padang rumput yang luas, dalam hati Boen Ching merasa sangat girang sekali, kalau memangnya telah keluar dari daerah Gurun pasir, perjalanan yang akan ditempuh tak akan jauh dan segera akan tampak di puncak gunung Pan Liong Ling.

Setelah berjalan keluar dari gurun pasir, pemandangan diatas padang rumput pun mempunyai keistimewaan yang lain dari pada yang lain.

Angin kencang bertiup membuat rumput bergoyang tak henti-hentinya, bau lembah nan harum disertai dengan hawa yang segar segera menghentikan perasaan panas dan kering yang terdapat ditengah gurun pasir membuat perasaan orang yang berada disana sangat nyaman sekali. Boen Ching menarik napas panjang- panjang, dan melanjutkan perjalanannya ke arah depan.

Setelah lewat setengah jam kemudian tampak sebuah bayangan berwarna hijau dengan sangat cepat sekali berkelebat dihadapan matanya.

Dalam hati Boen Ching merasa sangat terkejut sekali, jarak tempat itu dengan puncak Ban Liong Ling telah sangat dekat, bukankah orang ini adalah orang-orang partai Mie Cing bun?

Bayangan hijau yang muncul secara mendadak itu nampak berlari menuju ke arah tujuan yang berlawanan dengan diri Boen Chbing, agaknya dida tak tahu kalaau ditempat itu bterdapat seorang yang sedang mengintip kearahnya.

Boen Ching mengerutkan alisnya, dalamn hati diam-diam pikirnya, dengan jarak demikian jauhnya, kecuali seorang yang telah sangat hapal dengan keadaan ditempat ini, tak mungkin orang itu dapat muncul dengan seenaknya ditempat tersebut. Tapi apabila orang ini adalah anak murid dari partai Mie Cong Bun tak mungkin juga akan memunculkan dirinya dengan begitu saja.

Anak murid perempuan dari partai Mie Cong Bun dia hanya mengenal orang Liauw Cing Ce saja, tetapi bayangan wanita itu tak mungkin adalah bayangan dari diri Liauw Cing Ce, lalu siapakah orang itu? dalam

hatinya tak terasa lagi timbul perasaan curiganya.

Sekonyong-konyong bayangan berwarna kuning yang sangat dikenal olehnya berkelebat dihadapan matanya.

Boen Ching menjadi sangat terkejut sekali, orang itu ternyata bukan orang partai Mie Cong Bun, sebaliknya adalah Toa supeknya, Wu Tuh Sin Coen, Cu Khek Ci Yun adanya, sama sekali tak pernah diduga olehnya kalau Cu Khek Ci Yun dapat muncul ditempat ini. Cu Khek Ci Yun terus menerus tampak mengejar dimana wanita berbaju hijau itu berkelebat.

Boen Ching menjadi tertegun, segera dia melayangkan tubuhnya, bagaikan terbang cepatnya mengejar ke arah di mana Cu Khek Ci Yun lari, sambil mengejar tak hentinya dia berteriak dengan keras:

"Toa Supek !"

Cu Khek Ci Yun yang secara mendadak mendengar ada orang yang sedang memang-gil namanya, tubuhnya sedikit terhenti kemudian membalikkan tubuhnya memandang ke arah Boen Ching.

Boen Ching dengan cepat bertari kearah depan, sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada diri Cu- Khek Ci Yun panggilnya:

"Toa Supek!"

Dia mendongakkan kepalanya, tampak pada saat ini Cu Khek Ci Yun jatuh lebih kurusan dari pada waktu dulu, bahkan wajahnya agak hitam karena terbakar, sedang air mukanya penuh diliputi oleh kemurungan.

Cu Khek Ci Yun tampak Boen Chibng munculkan ddirinya ditempata itu, dia tertabwa dengan paksa, ujarnya.

"Kiranya adalah kau, kita telah berpisah lama sekali."

Sambil berkata dia mendongakkan kepala nya memandang sekeliling tempat itu.

Ujar Boen Ching kepada diri Cu Khek Ci Yun.

"Toa supek apakah sedang mencari seorang wanita berbaju hijau?"

Cu Khek Ci Yun menganggukkan kepalanya, Boen Ching tersenyum, ujarnya lagi.

"Dia berlari dari arah situ". Sambil berkata tangannya menunjuk kearah dimana wanita berbaju hijau itu melenyap kan dirinya.

Cu Khek Ci Yun memandang sekejap kearah dimana wanita berbaju hijau itu melenyapkan dirinya, agaknya dia sedang siap untuk mengadakan pengejaran, tetapi mendadak dia menghela napas panjang, sahutnya.

"Sekalipun berhasil mengejar dia juga tak mungkin akan mau keluar menemui diriku".

Pada saat pikiran Boen Ching bergerak itu, segera dia telah mengetahui siapakah sebenarnya wanita berbaju hijau itu.

Dia menudukkan kepalanya, kepada Cu Khek Ci Yun, ujarnya.

"Toa supek, aku pergi menemui sukouw bagaimana?" Cu Khek Ci Yun menjadi tertegun, tanyanya:

'Kau"

Boen Ching mendongakkan kepalanya memandang tajam kearah Cu Khek Ci Yun, kemudian tersenyum dengan manisnya.

Cu Khek Ci Yin memandang kearah Boen Ching, tetapi Boen Ching ternyata demikian kukuhnya pada waktu dia tersenyum itu membuat perasaan didalam hatinya bergolak dangan hebatnya, dengan perlahan dia menggelengkan kepalanya.

Boen Ching tersenyum lagi, tubuhnya bergerak, kedua orang itu bersamaan waktunya pula berlari mengejar dimana Suma Ing melenyapkan dirinya.

Tak lama kemudiran, sampailah mtereka disebuahq pegunungan, kerdua orang itu melanjutkan perjalanannya memasuki lembah dari pegunungan itu.

Cu Khek Ci Yun melihat gerakan Boen Ching demikian gesitnya, tak terasa lagi dalam hatinya merasa sedikit terkejut, kemajuan yang dicapai Boen Ching dalam kepandaiannya, sungguh sangat luar biasa sekali, mana dia bisa menyusulnya.

Ketika ujung matanya melirik, kedua orang itu segera dapat melihat sebuah bayangan hijau dengan cepatnya berkelebat menuju kesebuah ujung pada lembah pegunungan tersebut.

Dengan suara yang perlahan ujar Boen Ching kepada diri Cu Kek Ci Yun.

'Toa supek aku berangkat terlebih dulu !"

Cu Khek Ci Yun mengangguk, tubuh Boen Ching segera berkelebat bagaikan kilat cepatnya melayang menuju kearah dimana bayangan hijau tadi melenyapkan dirinya.

Cu Khek Cilun melihat hal ini dia cuma menghela napas dengan perlahan, pada saat kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Boen Ching dapat diduga jauh berada diatasnya, sekalipun Shie Yun Ku yang di sebut sebagai jago nomor wahid didalam ilmu meringankan tubuhpun kiranya juga harus mengakui kelihayannya.

Berpikir sampai disini, tubuhnya segera bergerak dengan perlahan menuju kelembah pegunungan tersebut.

Tubuh Boen Ching bagaikan bertiupnya angin saja, dengan sangat cepat sekali berkelebat menuju ke arah belakang lembah tersebut.

Terlihat bayangan hijau itu berkelebat dengan cepat didepannya dan terlihat pula bayangan itu menerobos masuk kedalam sebuah gua yang terdapat dihadapannya.

Boen Ching menarik napas panjang-panjang, setelah berdiri termenung beberapa saat lamanya, segera ia berlari menuju kearah gua tersebut, tanpa ragu-ragu lagi setelah tubuhnya mencapai didepan gua itu, tubuhnya segera berkelebat memasukinya. Terdengarlah dari dalam gua berkumandang keluar suara bentakan yang amat nyaring.

"Siapa ?"

Boen Ching telah memasuki gua itu, tak berani dia mendongakkan kepalanya, segera dia menjatuhkan diri berlutut dihadapan wanita berbaju hijau itu, ujarnya:

"Sutit Boen Ching, memberi hormat kepada Sukouw ! "

Sehabis memberi hormat, dengan perlahan dia mendongakkan kepalarya, dibawah pantulan sinar matahari tampak seorang wanita berubia pertengahan yang mempunyai wajah putih bersih, cantik dan sangat tenang sekali duduk bersila diatas sebuah batu gunung.

Air muka dari wanita berbaju hijau itu sedikitpun tak memperlihatkan perasaan gusarnya, setelah memandang tajam ke arah Boen Ching, kemudian barulah sahutnya.

Kau anak murid dari siapa?? mengapa menyebut diri sebagai Sukouw?

'Tahukah kau siapakah aku sebenarnya??" Sahut Boen Ching dengan cepat.

"Sutit Boen Ching, suhuku adalah Ie Bok Tocu Shie Yun Ku!

".

Dari mata wanita berusia pertengahan itu tampak

memancar keluar suatu sinar mata yang sangat sukar sekali untuk diduga artinya, dengan perlahan ujarnya.

'Bagaimana kau dapat mengetahui kalau aku adalah Suma Ing? apakah Cu Khek Ci Yun yang memberi tahukan kepadamu?".

Suma Ing tertawa tawar, sahutnya lagi.

"Aku tidak menginginkan untuk menemui dirinya kau datang kemaripun juga tak ada gunanya". Dengan perlahan sahut Boen Ching.

"Urusan diantara Sukouw serta diri Toa supek, Toa supek pernah menceritakan kepada diri sutit, pada beberapa tahun waktu itu dia menyesali dirinya sendiri sehingga tak berani menemui diri sukouw, tetapi ketika waktu itu bertemu dengan Suma Te Loocianpwee, dia barulah mulai mencari jejak dari sukouw, pada saat mengatur barisan pedang waktu itu diapun hampir-hampir kehilangan nyawanya karena terpecahnya pikiran karena memikirkan diri sukouw".

Suma Ing tetap duduk tak bergerak sedikitpun juga, dengan perlahan dia tertawa tawar, ujarnya.

"Dia masih mempunyai pesan apab lagi, lebih badik kau mewakilia dirinya untuk bmemberi tahu kepadaku, sehabis berpesan biarlah dia merasa puas".

Boen Ching mengangkat kepalanya memandang kewajah Suma Ing, sahutnya.

"Kesemuanya ini bukanlah Toa supek yang menyuruh diriku memberitahukan kepada Su kouw, diapun tak mungkin akan menyuruh diriku untuk menyampaikan beberapa perkataan, apa Sukouw ingin mendengarkannya?".

Suma Ing tertawa tawar, ujarnya.

'Tidak perduli pesan ini adalah hasil suruhan dirinya, atau perkataanmu sendiri, lebih baik kau bicaralah terlebih dahulu".

Boen Ching menundukkan kepalanya, dengan perlahan ia memejamkan matanya setelah lewat beberapa saat kemudian barulah ujarnya.

"Sutit mempunyai kawan wanita yang sangat akrab sekali, kali ini sutit pergi keatas puncak gunung Ban Liong Ling dulu setelah urusan ini selesai, apabila dia menyetujui aku mau mengawininya untuk pergi ke penjuru dunia manapun". Sambil berkata dia mendongakkan kepala nya memandang kearah Suma Ing.

Suma Ing dengan tenang saja memandang kearah Boen Ching, sepatah katapun tak di ucapkannya keluar.

Dalam hati Boen Ching segera merasakan bahwa sekalipun diluarannya kelihatan Suma Ing ini agak kukuh pada pendiriannya sendiri, tetapi pada hakekatnya sebenarnya dia sangat halus dan penurut, dia berbuat demikian kemungkinan sekali dikarenakan suatu pikiran masih mengganggu seluruh jalan pikirannya.

Boen Ching berpikir beberapa saat, kemudian ujarnya kembali:

'Aku sungguh mencintai dirimu!"

Sambil berkata dia mengingat kembali wajah dari Bwee Giok, tak terasa lagi pada wajahnya tampak suatu senyuman manis.

Suma Ing yang melihat sikap Boen Ching waktu berbicara ternyata demikian serius dan penuh dengan rasa cinta, tak terasa lagi dia menundukkan kepalanya.

Boen Ching se olah-olah sama sekali tidak memperhatikan sikap serta perubahan air muka yang terjadi pada diri Suma Ing, dcbngan perlahan ldanjutnya lagi:

a"Tetapi ketika baku jatuh cinta untuk pertama kalinya ternyata telah mencintai seorang gadis lainnya, seorang gadis yang tertera pada gambar sebuah cermin"

Selesai berkata dia berhenti sejenak dan terbayang kembali wajah dari Sek Giok Siang didalam benaknya.

Mendadak Suma Ing dengan ragu-ragu bertanya. Apakah cermin Thian Tuen?".

Sahut Boen Ching dengan bimbang pula. Didalam suatu kejadian yang sangat kebetulan Suma Ing pernah melihat cermin Thian Tuen itu satu kali sehingga  kedua orang itu pada saat ini segera terjerumus kedalam lamunannya masing-masing, sedang bayangan dari gambar gadis cermin itu terbayang kembali didalam benak mereka masing-masing.

Dengan perlahan Boen Ching melanjutkan ucapannya. "Cermin Thian Tuen itu telah beberapa kali menolong

nyawaku, pertama kali menolong diriku dari tangan Chang Sun Loei, sedang yang kedua kalinya dari tangan Ouw Yang Bu Kie, oleh karena itu secara tidak sadar aku telah menyintai gadis yang tertera pada cermin tersebut".

Suma Ing pun dengan tak sadar terjerumus kedalam lamunannya, gambar dari gadis yang tertera pada cermin itu sangat cantik sekali dan sukar dibandingkan dengan kecantikan gadis lainnya, sekalipun dirinya sendiri adalah seorang wanita juga, tetapi diapun suka padanya.

Boen Ching berhenti sejenak, kemudian ujarnya.

"Tetapi gadis itu mendadak telah berubah menjadi seorang gadis sungguh-sungguh".

Dengan bingung tanya Suma Ing: "Sungguhkah?? ".

Boen Ching mengangguk, sahutnya:

"Sungguh dia bernama Sek Giok Siang, dan wajahnya mirip sekali dengan gadis pada cermin itu.

Boen Ching dan diri Suma Ing dikarenakan cermin Thian Tuen itu, sekali lagi mereka terjerumus kedalam lamunannya masing2.

Kedua orang itu dengan tak berbicara lagi saling menundukkan kepalanya berpikir, setelah lewat beberapa saat kremudian mendadatk Boen Ching meqngangkat kepalar nya kembali, ujarnya.

"Tetapi didalam kenyataannya, aku sama sekali tidak menyintainya''.

Suma Ing bagaikan merasa sangat terkejut sekali, mendadak dia mengangkat kepalanya tanyanya kepada Boen Ching.

'Mengapa?".

Boen Ching dengan tajam memandang ke arah Suma Ing beberapa saat lamanya, kemudian barulah sahutnya.

"Berbicara sesungguhnya, didalam kenya-taan nya aku tidak menyintai dirinya, tetapi didalam pikiranku aku memaksa diriku sendiri untuk menyintai dirinya".

Suma Ing dengan sinar mata yang tidak percaya memandang kearah Boen Ching.

Boen Ching melanjutkan lagi.

"Didalam kenyataannya kecantikannya jika dibandingkan dengan kawan gadisku jauh lebih cantik, kecantikannya ini hampir- ham-pir membuat setiap pemuda yang bertemu dengan dia menginginkan untuk mendapat kannya, tetapi kesemuanya itu hanyalah palsu belaka". 

Suma Ing mengeluarkan suara tertahan, tetapi tetap tak mengucapkan sepatah katapun.

Ujar Boen Ching lagi.

"Apabila kau menganggap aku masih menyintai dirinya, kiranya peristiwa yang menyedihkan segera akan timbul, karena didalam kenyataan sebenarnya aku tidak menyintai dirinya!'.

Suma Ing dengan termangu-mangu mendengar kan  seluruh perkataan yang diucapkan oleh Boen Ching itu. "Toa supek terhadap suhu pun demikian juga. Toa supek mengira dia benar-benar mencintai suhuku, karena suhuku dijodohkan kepada supekku ,yang kemudian barulah dia dapat berpikir demikian, tetapi setelah dia kehilangan diri Sukouw barulah dia mengetahui kalau dia mencintai suhuku itu hanyalah terbatas didalam lamunannya saja, yang sebenarnya dia sungguh-sungguh mencintai diri sukouw !"

Suma Ing dergan termangu-mangu duduk ditempat, hampir-hampir dia tak mengetahui pada saat ini apa yang sedang dia pikirkan.

Selama beberapa tahun ini dia selalu memikirkan, bahwa mungkin Cu Khek Ci Yun mencintai dirinya adalah dikarenakan wajahnya sedikit mirip diri Yun Ku, dan menganggap dirinya sebagar jelmaan dari diri Shie Yun Ku.

Tetapi didalam kenyataannya dalam urusan ini tak mungkin dapat menggunakan tubuh jelmaan segala.

Dia sendiripun mengetahui, tetapi dia sendiri menekan pemikiran secara demikian, apabila berpikir secara demikian, dia dapat memperoleh kegembiraan dikala berduka.

Perkataan yang diucapkan oleh Boen Ching ini tidak terbatas pada urusan dirinya serta dari Cu Khek Ci Yun, ia pun juga demikian adanya.

Didalam hati setiap orang lelaki tentunya mempunyai seorang gadis kecintaannya didalam khayalannya, ketika mencapai suatu waktu dia akan mengalihkan apa yang dilamunkan itu ke dalam tubuh seseorang, sehingga dengan demikian dapat memenuhi keinginan yang di harapkan.

Boen Ching mendongakkan kepalanya, tampak pada saat ini Suma Ing sedang duduk termangu-mangu tak mengucapkan sepatah kata pun.

Segera bangkit berdiri, tampak Suma Ing seolah-olah tidak melihat dirinya sama sekali. Boea Ching segera berjalan keluar dari gua. Tampak Cu Khek Ci Yun berdiri tegak di mulut gua dari alam, mendongakkan kepala nya memandang ke angkasa, air mukanya penuh di liputi oleh kemurungan.

Boen Ching segera berjalan mendekati, ujarnya.

"Toa supek sekarang masuklah ke dalam gua untuk menemui diri Sukouw."

Cu Khek Ci Yun menjadi tertegun, dia berjalan masuk kedalam gua, sedang Boen Ching yang berdiri dengan tenangnya didepan gua, setelah menanti beberapa saat lamanya tetap tak mendengar suara yang terdengar keluar dari dalam gua itu, segera ia tersenyum dan melanjutkan perjalanannya menuju kepuncak gunung Ban Liong Ling.

ooo0ooo

BOEN CHING yang berlari dengan cepat menuju ke puncak gunung Ban Liong Ling, lama kemudian sampailah mereka dibawah puncak gunung itu.

Dia mendongakkan kepalanya memandang puncak Ban Liong Ling yang menembus awan itu, disekeliling tebing itu tampaklah batu-batu tajam yang tidak merata tersebar diseluruh pelosok, sehingga bentuknya mirip sekali dengan sebuah naga yang sedang melingkar.

Sekeliling puncak gunung Ban Liong- Ling ini penuh dikelilingi oleh kabut yang sangat tebal, sebenarnya partai Mie Cong Bun ini sudah sangat jarang orang yang mengetahui namanya, ditambah lagi dengan diselimutinya markas mereka dengan kabut yang demikian tebalnya ini, menambah keseraman serta kemisteriusannya saja.

Baru saja Boen Ching memandang puncak itu dengan terpesona ? mendadak terdengar suara panggilan yang berkumandang datang. 'Ching Toako !" Boen Ching segera tertegun, ketika dia menoleh tampak dibelakang sebuah batu raksasa muncullah sebuah wajah  yang sedang tersenyum, orang itu tak lain adalah Bwee Giok adanya, dalam hati Boen Ching merasa sangat terkejut bercampur girang, ujarnya:

"Bagaimana kau bisa berada ditempat ini"

Bwee Giok segera keluar dari tempat persembunyiannya, setelah memandang sekejap pada puncak gunung itu, sambil tersenyum ujarnya:

"Aku pikir kau tentunya telah datang kemari, maka aku juga dapat kemari menanti kedatanganmu."

Dalam hati Boen Ching benar-benar merasa sangat girang sekali, pada saat ini didalam hatinya sedang memikirkan tentang keadaan Bwee Giok, sedang bayangan dari Bwee Giok pun terbayang terus didalam benaknya, saking girangnya hampir-hampir dia tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.

Bwee Giok sambil tersenyum memandang sekejap ke arah Boen Ching, kemudian memandang pula keatas puncak gunung, ujarnya.

"Gihu ku berkata bahwa orang-orang dari Partai Mie Cong Bun selamanya membenci setiap orang yang menaiki puncak Ban Long Ling mereka ini, dia bilang bahwa waktu naik keatas puncak itu kau harus sedikit berhati-hati."

Boen Ching berjalan mendekati tubuh Bwee Giok dan memandang sambil tersenyum, setelah memandang sekilas keatas puncak gunung Ban Liong Ling itu sekejap, dengan perlahan ujarnya.

"Kita sekarang pergi, bagaimana menurut kau ?."

Sambil berkata dia miringkan kepalanya memandang ke arah Bwee Giok.

Bwee Giok sambil tersenyum sahutnya. 'Aku memang sedqng berpikir untuk berkata demikian kepadanya."

Boen Ching tersenyum, tangan kanannya menggandeng sebelah tangan Bwee Giok, dan berjalan menuju keatas puncak Ban Liong Ling.

Tubuh kedua orang itu dengan cepat telah masuk didalam lingkungan kabut yang amat tebal itu, pemandangan dihadapannya pun segera berubah, ditengah kabut yang sangat tebal ini sangat sukar sekali untuk meman-dang lebih jauh, lagi, setelah memasuki daerah yang tertutup dengan kabut itu barulah dapat melihat bahwa kabut tersebut tidaklah begitu tebal, ditengah kabut tampaklah berjajar tumbuhan pohon siong yang tumbuh dengan suburnya.

Bwee Giok setelah berdiri tegak, segera dia memandang kesekeliling tempat itu, sambil tersenyum ujarnya.

"Kabut ini kelihatannya tedak begitu tebal, sungguh tak terkira pemandangan diatas puncak gunung Ban Liong Ling ins dapat demiktan indahnya.

Boen Ching tersenyum, ujarnya.

"Pada saat seperti ini bagaimana mendadak kau mempunyai niat untuk melihat pemandangan? kalau begitu lebih baik kita berjalan dengan perlahan-lahan saja".

Bwee Giok menjadi tertegun, diapun merasa sangat heran, mengapa dirinya secara mendadak dapat mempunyai niat untuk menikmati pemandangan sambil bermesra-mesraan dengan diri Boen Ching, dia merasakan apabila Boen Ching berada disisinya, dia merasakan seolah-olah tak mau mengurusi lagi apa yang terjadi disekitar tempat tersebut.

Kedua orang itu dengan berdampingan dengan perlahan melanjutkan perjalanannya ke arah depan.

Kabut putih yang mengelilingi sekitar tempat itu dengan perlahan mulai mengepul makin berat kearah atas, sedang dari tempat kejauhan berkumandang datang suara tiupan seruling yang sangat nyaring.

Boen Ching segera manghentikan langkah kakinya, tangannya menarik tubuh Bwee Giok ke belakang. setelah mengerutkan alisnya, sambil tersenyum ujarnya kearah Bwee Giok.

"Orang-orang dari partai Mie Cong Bun mulai menghalangi perjalanan kita ke atas puncak"

Bwee Giok menoleh memandang kesekeliling tempat itu, tampak diantara suara bertiupnya suara seruling itu, daun- daun pohon siong berguguran ke atas tanah, dengan tergesa- gesa segera didorongnya tubuh Boen -Ching ujarnya.

"Coba kau lihat !"

Boen Ching yang melihat keadaan itu dalam batinya merasa sangat terkejut sekali, dihadapannya secara samar-samar telah terlihat segulung haws murni yang sangat hebat dengan perlahan-lahan menekan ketubuh mereka berdua.

Didalam hatinya segera sadar bahwa orang-orang dari partai Mie Cong Bun telah mulai melancarkan serangannya untuk mendesak dirinya berdua turun kembali dari atas puncak gunung Ban Liong Ling ini.

Tetapi sama sekall tak terduga olehnya kalau tenaga tekanan tersebut dapat demikian hebatnya.

Angin kencang membuat pohon-pohon siong yang tumbuh disekitar tempat itu bergoyang tak henti-hentinya, pikirannya baru saja bergerak, tapi tenaga pukulan yang bagaikan menggulungnya ombak ditengah samudra tersebut telah mendesak kearah dirinya berdua tak kurang dari satu kaki.

Boen Ching dengan cepat mendorong tubuh Bwee Giok kebelakang tubuhnya, sambil bersuit yaring sepasang telapak tangannya dengan sekuat tenaga melancarkan serangan ke depan. Dimana sepasang telapak tangan Boen Ching menerjang, segera terlihatlah tujuh buah hawa murni yang berlainan warnanya bergabung membentuk sebuah dinding hawa murni yang sangat kuat menahan didepan tubuh kedua orang itu.

Hawa murni kedua belah pihak dengan cepat terbentur menjadi satu, terdengar suara berbunyinya seruling itu mendadak berubah menjadi tinggi melengking menusuk telinga, Boen Ching segera merasa didepan tubuhnya didesak oleh segulung hawa dahsyat tak tertahan lagi tubuhnya terdesak mundur dua langkah ke belakang.

Dalam hatinya merasa sangat terkejut sekali, lututnya dengan cepat diluruskan kuat-kuat dengan paksa dia menahan tubuhnya yang terhuyung kebelakang.

Suara seruling sekali lagi, berkumandang menembus awan, sedang tekanan hawa murni yang mencekam tubuhnyapun makin lama makin bertambah besar.

Bon Ching dengan cepat menarik napas panjang, dia tidak mengetahui siapakah sebenarnya orang yang memiliki tenaga dalam demikian tingginya, tetapi didalam hatinya dia sadar bahwa apabila suara seruling itu sekali lagi berkumandang menekankan kearah tubuhnya, dia tak akan sanggup bertahan lebih lama lagi.

Pada saat ini dia telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menghadapi tekanan hawa murni yang berada dihadapannya, apabila dia tak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi, tubuhnya bukannya mundur kebawah puncak, sebaliknya tubuh mereka berdua akan tergetar dan terpental jatuh kedalam jurang.

Pikiran Boen Ching dengan cepat bergerak, sekali lagi dia menarik napas panjang-panjang dan melancarkan serangan.

Pada saat tujuh buah hawa murni yang menghalangi didepan tubuhnya telah terdesak hingga terpukul buyar kurang lebih sejauh tiga kaki. Tangan kanan Boen Ching dengan cepat dibalik, pedang Cing Hong Kiamnya bagaikan kilat cepatnya telah mental keluar dari pinggangnya, dengan suara gemerincingan yang sangat nyaring, dinding hawa murni itu bagaikan kilat cepatnya telah dapat ditekan kembali.

Bersamaan itu pula ditengah menyambar nya sinar pedang Cing Hong Kiam yang menyilaukan mata, tubuh pedang itu mem-bobol dengan hebatnya kedepan, membuat dinding hawa murni itu terbobol sebuah lubang ber bentuk segi tiga.

Hawa murni yang sangat hebat itu dengan cepat menyambar lewat sisi tubuh kedua orang itu.

Dengan halus bisik Boen Ching ke arah Bwee Giok. "Giok Moay ! Kita cepat pergi."

Sambil berkata dengan cepat menarik tangan Bwee Giok, ditengah menyambarnya sinar pedang Cing Hong Kiam, tubuh kedua orang itu dengan sangat cepatnya berkelebat naik keatas puncak gunung.

Dinding hawa murni yang sangatb kuat didepan dtubuhnya mendadaak hilang lenyabp tanpa bekas, sedang dihadapan mereka berdua muncullah tiga orang.

Boen Ching dengan cepat menahan tubuhnya, didepannya tampak tiga orang yang duduk bersila disebuah batu raksasa berwarna hijau, dua orang diantaranya adalah Lie Hun Yu She, Siang Yang Seng sera Pek In Khek, Shu Kiam Hoan sedang disisi nya seorang kakek berbaju putih dia tak mengenalnya.

Dihadapan tubuh ketiga orang itu, tampak sebuah seruling raksasa yang digantungkan di atas sebuah pohon besar.

Didalam hati Boen Ching telah mempunyai perhitungan, dia menarik napas panjang, dengan sangat tenang sekali berdiri ditempat. Ketiga orang itu dengan tajam memandang kearah Boen Ching, terlihat kakek berbaju putih itu tersenyum, ujarnya.

"Boen Ching! Kau ternyata tidak memalukan sehagai ahli waris dari ilmu khiekang Chiet Kong Kang Khie, dan kini dapat berhasil menaiki puncak gunung Ban Liong Ling ini."

Boen Ching tersenyum, sambil mendongak sahutnya. "Masih belum apa-apa ! bukankah kini kita masih berada

dipinggang  puncak  gunung  ?  untuk  sampai  diatas  puncak

gunung masih kurarg lebih setengah jalanan lagi !"

Kakek berbaju putih itu mengerutkan alisnya, dan tak mengucapkan kata-kata lagi.

Lie Hun Ya She Siang Yang Seng tertawa dingin, ujarnya. "Kau masih ingin naik keatas puncak ? sekali pun berhasil

menerobos  sampai  disini,  tetapi  kau  telah  menderita   luka

dalam yang sangat parah, apakah kau sendiri tidak merasakannya ? '

Boen Ching segera menarik napas panjarg panjang, dia sama sekali tidak merasakan di dalam tubuhnya terdapat perasaan yang aneh, dia hanya tersenyum saja.

Lie Hun Yu Sne tertawa dingin lagi, ujarnya. "Coba kau lihatlah kawanmu itu.'

Boen Ching merasa sangat terkejut, dia menoleh memandang sekejap kearah Bwee Giok, begitu dia melirik dalam hatinya segera terasa sangat terkejut sekali, tampak wajah dari Bwee Giok pucat pasi, dan sedang berdiri mematung disana.

Pikirannya segera bergerak danb mengingat sesduatu hal, suaraa seruling !

Benbar, tentu karena suara seruling itu, suara seruling inipun mempunyai kekuatan untuk melukai orang, karena sesaat kurang memperhatikan akan hal itu membuat Bwee Giok mungkin menderita luka dalam yang sangat berat sekali.

Siang Yang Seng tersenyum, ujarnya.

"Luka dalam yang kau derita tak dapat kau rasakan dengan cepat dikarenakan tenaga dalammu yang sangat tinggi, tapi pada saat ini berada disini, bagaimana dapat mengijin kan kau untuk memulihkan tenagamu ?"

Air muka Boen Ching segera berubah, telinganya mendadak mendengar suara yang sangat halus sekali berkumandang datang, ketika dia menoleh untuk memandang, tampak jalan perginya telah dihalangi oleh diri Cap Sah Lang serta Liauw Cing Ce dua orang.

Boen Ching mengerutkan alisnya, dengan perlahan-lahan duduk diatas tanah, kemu-dian dia membimbing Bwee Giok duduk ke atas tanah pula, telapak kirinya dengan perlahan ditempelkan ke punggung Bwee Giok, dan mulailah dia mengerahkan tenaga nya untuk menyembuhkan lukanya.

Dalam telinganya lamat-lamat dia mendenagar Shu Kiam Hoan tertawa dingin dan ujarnya.

"Siauwcut ini sungguh tidak mengetahui mati hidupnya, urusan telah menjadi seperti ini, ternyata masih mempunyai niat untuk menyembuhkan luka yang diderita orang lain!"

Tetapi kakek tua berbaju putih yang memandang keadaan Boen Ching itu melihat dari mata Boen Ching memancarkan sinar yang sangat tajam, didalam hatinya dia merasa sangat terkejut, keteguhan serta kehebatan tenaga dalam yang dimiliki Boen Ching ternyata demikian tingginya, hampir- hampir dia tidak berani untuk mempercayainya.

Terdengar Shu Kiam Hoat bertanya lagi, ujarnya.

"Luka dalam yang diderita sendiripun belum sembuh, masih hendak menyembuh kan luka yang diderita orang lain !" Sehabis berkata dengan dingin dia mendengus.

Sinar mata kakek tua berbaju putih itu dengan perlahan ditarik kembali dari wajah Boen Ching, dan beralih keatas tubuh pemuda berbaju putih itu, dengan perlahan ujarnya.

"Cap Sah Lang, kau menyerang dia dengan menggunakan pedangmu."

Pemuda berbaju rputih itu menjatdi tertegun, dqengan ragu-ragur tanyanya.

"Apa ??? ,

Shu Kiam Hoan dengan Siang Yang Seng pun bersama- sama merasa amat terkejut, kedua orang itu dengan perlahan mendongak kan kepalanya memandang kakek berbaju putih tersebut, dalam hati kedua orang itu diam-diam berpikir, bila memangnya Boen Ching mau menambah luka dalam dirinya makin bertambah parah, mengapa dirinya tidak melihat perubahan selanjutnya !

Apabila Cap Sah Lang dengan mengguna kan pedangnya maju menyerang, kiranya Boen Ching dapat bangkit berdiri memberikan perlawanannya. tenaga dalam yang dimiliki Boen Ching sangat tinggi sekali, luka yang dideritapun tidak begitu berat, pada saat ini mungkin sebaliknya malah akan sedikit merepotkan.

Kakek berbaju putih itu dengan sangat dingin sekali memandang sekejap kearah ke dua orang itu, sepatah katapun tak diucapkan ke luar.

Cap Sah Lang dengan perlahan segera membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada kakek tua berbaju putih itu, tangan kanannya mendadak diayunkan jubah panjang nya telah dilepaskan sehingga terlihatlah kedua belas bilah pedang pendek yang tergantung pads tubuhnya dimana setelah pedang nya berhasil dimusnahkan Boen Ching dia mencabut lagi pedang- pedangnya yang baru. Tangan kanan Cap Sah Lang segera digerakkan, kedua belas bilah pedang pendek itu berubah menjadi suatu lingkaran sinar yang sangat besar sekali meluncur kearah tubuh Boen Ching.

Telapak tangan kanan Boen Ching sedang menyembuhkan luka dalam yang diderita oleh Bwee Giok, tetapi didalam lingkaran serangan musuh tangguh, mana berani dia bertindak gegabah, pedang Cing Hong Kiam ditangan kanannya digerakkan, sambil menahan serangan musuh, dia meneruskan usahanya menyembuhkan luka yang dideritanya oleh Bwee Giok.

Gerakan pedang yang dilancarkan Cap Sah Lang itu makin lama makin bertambah santar, tetapi Boen Ching telah menyalurkan ilmu 'Thay Thien Kioe Sih" kedalam jurus pedangnya, dengan gerakan yang sangat mudcah sekali dia telah berhasil memunah kan dan mematahkan seluruh serangan yang dilancarkan oieh Cap Sah Lang tersebut.

Tampak hal ini sepasang mata kakek berba ju putih, Shu Kiam Hoan serta Siang Yang Song memancarkan sinar yang sangat tajam sekali.

Tak disangka sama sekali Boen Ching ternyata memiliki kepandaian silat yang demikian tinggi serta nyali yang demikian tebalnya, sehingga dia berani melawan serangan musuh sambil menyembuhkan luka dalam orang lain.

Kepandaian silat yang dimiliki Cap Sah Lang bukanlah dapat dipandang rendah, tetapi sama sekali tak pernah diduga kalau Boen Ching ternyata berani berbuat demikian.

Gerakan pedang Cap Sah Lang segera berubah, sebentar pedangnya ditarik dan kemudian dilancarkan kembali, sehingga membentuk dua buah lingkaran sinar yang maha dahsyat, satu dari depan dan yang lain dari samping menerjang dengan hebatnya ketubuh Boen Ching. Pedang Cing Hong Kiam ditangan kanan Boen Ching segera digetarkan dan diobat-abitkan kesekeliling tubuhnya, didalam sekejap saja dia telah melancarkan lima kali serangan hebat.

Cap Sah Lang tertawa dingin, sepasang telapak tangannya ditekan kebawah, di tengah berkelebatnya sinar pedang lingkaran sinar yang menyerang samping tubuh Boen Ching segera menjadi buyar dan terbentuk kembali kedua belas bilah pedang pendek itu dan meluncur dengan cepatnya ketubuh Boen Ching.

Gerakan pedang Cing Hong Kiam di tangan Boen Ching yang diobat-abitkan itu dengan cepat dapat dipunahkan oleh serangan musuh ini, sekalipun keenam bilah pedang pendek yang menyerang depan tubuhnya berhasil dipunahkan, tapi keenam bilah pedang pendek yang menerjang samping tubuhnya bagaikan kilal cepatnya telah menerjang dekat ketubuh Boen Ching tak lebih tiga kaki didepannya.

Tampak hal ini, kakek tua berbaju putih itu mengerutkan alisnya, sedang dari bibirnya segera tersungging suatu senyuman yang sangat girang.

Pada saat ini mendadak Boen Ching melototkan sepasang matanya, pedang Cing Hong Kiamnya dibalik, menggunakan gagang pebdangnya dia memdatahkan ke enama bilah pedang pbendek yang menerjang tubuhnya itu.

Begitu gerakan dari keenam bilah pedang pendek itu terhalang, Boen Ching dengan cepat menggerakkan ujung pedangnya dari dalam didorong kearah luar, didalam sekejap mata saja dia telah berhasil mematahkan ke enam pedang pendek tersebut.

Air muka kakek tua berbaju putih itu segera berubah hebat, mendadak bentaknya.

"Cap Sah Lang cepat mundur ? ' Cap Sah Lang dengan segera menarik kembali pedangnya dan mengundurkan dirirya kebelakang, sedang air muka dari Siang Yang Seng serta Shu Kian Hoan pun dengan perlahan berubah hebat.

Kakek tua berbaju putih itu dengan sangat dingin sekali memandang kearah Boen Chtng tampak sepasang mata Boen Ching dipejam kan, dengan memusatkan seluruh perhatiannya berusaha untuk menyembuhkan luka dalam yang diderita oleh Bwee Giok.

Diam-diam pikirnya.

"Dengan tenaga dalam yang dimiliki Boen Ching saat ini, apabila dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menyembuh kan luka dalam yang diderita oleh Bwee Giok, agaknya luka dari Bwee Giok itu segera bisa disembuhkan kembali seperti sedia kala !"

Berpikir sampai disitu, tampak kakek tua berbaju putih itu dengan perlahan bangkit berdiri.

Siang Yang Seng serta Shu Kiam Hoanpun bersama sama bangkit berdiri, merekapun dalam hatinya paham bahwa dengan keadaan situasi seperti ini, apabila mereka bertiga bekerja sama bukankah dengan sangat mudah sekali mereka akan berhasil melenyap kan Boen Ching dari atas permukaan bumi? Kepandaian yang dimiliki Boen Ching sekalipun sangat tinggi, tapi apabila hendak melawan mereka bertiga sekaligus, maka akan jauh ketinggalan kebelakang, apalagi luka yang diderita Bwee Giok masih belum sembuh benar-benar, ditambah pula luka dalam yang diderita Boen Ching sendiripun belum disembuhkan.

Sekalipun pada saat ini Boen Ching tetap mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menyembuhkan luka dalam yang diderita oleh Bwee Giok, tapi terhadap segala gerak gerik yang bagaimanapun perlahannya di luar dia dapat mengetahuinya dengan sangat jelas sekali. Waktu kakek tua berbaju putih, Siang Yang Seng serta Shu Kiam Hoan bangkit berdiri dia telah mengetahuinya dengan sangat jelas, sekalipun dia masih tetap melanjutkan usahanya untuk menyembuh kan luka dalam yang bdiderita oleh Bdwee Giok, tetapai didalam hatinbya dia telah memikirkan cara untuk meloloskan diri dari kepungan tersebut.

Kakek tua berbaju pu(ih itu setelah bangkit berdiri, matanya berkedip kedip, dia jago sebagai nomor wahid dari partai Mie Cong Bun, mana mau dengan demikian saja terus bergerak melawan Boen Ching? dia tak ingin merendahkan kedudukannya yang sangat tinggi itu.

Dengan perlahan tanyanya pada Boen Ching. "Boen Ching, kau telah memperhatikan diriku ??"

Air muka Boen Ching segera menampilkan senyuman yang manis, dia tahu luka dalam yang diderita Bwee Giok pada saat ini telah sembuh benar-benar, dia dapat menahan serangan gabungan dari lima orang itu sekaligus, dan membiarkan Bwee Giok seorang diri turun dari puncak itu terlebih dahulu.

Dan tentu kakek tua berbaju putih itu pun mengetahuinya, dia tertawa dingin, dalam hati pikirnya:

"Sekalipun luka dalam yang diderita gadis itu telah sembuh benar-benar, kau pun tidak mungkin akan berhasil pergi dari sini dengan demikian mudahnya.

Telapak tangan kiri Boen Ching segera di tarik kembali, sedang air mukanya pun berubah menjadi dingin sekali.

Sekalipun didalam hatinya dia berpikir secara demikian, tetapi dengan keadaan situasi dihadapannya pada saat ini, Bwee Giok mana mau meninggalkan dia seorang diri disana untuk turun gunung terlebih dahulu?? Sekali pun waktu diatas gunung Siong San Bwee Giok pernah meninggalkan dia tetapi situasi pada saat ini tidaklah sama dengan situasi pada waktu itu, apalagi menang kalahnya pun belum bisa ditentu kan, kiranya Bwee Giok tidak mungkin mau meninggalkan dia seorang diri disana, lalu harus bertindak bagaimana??

Boen Ching berpikir sampai disini, perasaan hatinya pun segera berubah menjadi dingin kembali.

Dengan perlahan lahan dia bangkit berdiri.

Bwee Giok pun membuka sepasang matanya, dia memandang sekejap ke arah kakek tua berbaju putih itu, sepatah katapun tak diucapkan dan berdiri disamping tubuh Boen Ching, setelah itu dia mendongakkan kepala dan tersenyum kearahnya.

Boen Ching menarrik napas panjatng- panjang danq merasakan didarlam dadanya agak sesak, rasanya sinar matanya segera berkelebat dan tersenyum masam.

Dengan tangan kirinya dia membimbing tubuh Bwee Giok, sedang tangan kanannya dengan kencang menyekal pedang Cing Hong Kiam yang telah sejak tadi dicabut keluar itu, dalam hati pada saat ini dia hanya mengharapkan bahwa ketiga orang itu jangan lah mengandalkan jumlah yang banyak untuk merebut kemenangan.

Tetapi apabila dilihat sikap ketiga orang itu agaknya harapannya itu sama sekali tak mungkin dapat terjadi.

Kakek tua berbaju putih itu dengan mengerutkan alisnya memandang kearah Siang Yang Seng serta Su Kiam Hoan.

Boen Ching dengan sangat dingin sekali memandang ketiga orang itu, kemudian sambil tersenyum dia memandang Bwee Giok.

Tampak pada saat ini kakek tua berbaju putih itu dengan perlahan mencabut keluar pedang panjang yang tersoren diatas punggung nya itu, bersamaan waktunya pula Siang Yang Seng serta Shu Kiam Hoan mencabut keluar pedang panjangnya. Bertepatan dengan waktu itu pula, mendadak tampak sebuah bayangan manusia dengan sangat cepat sekali melayang naik keatas puncak gunung itu, ditengah suara tertawa keras yang sangat keras itu, Cap Sah Lang serta Liauw Cing Ce dengan cepat membalikkan tubuhnya, tetapi baru saja mereka menggerakkan tubuhnya, segera terasa suatu tenaga dorongan yang maha dahsyat menerjang ketubuhnya membuat mereka terdesak mundur kebelakang.

Semua orang yang berada didalam kalangan itu menjadi sangat terkejut sekali, ketika Boan Ching menoleh memandang, tampak orang yang baru saja datang itu adalah Tok Thian Coen, Liuw Hoa Liong serta Han Cing Yu dan orang yang bersama-sama bergerak mendatang.

Begitu Liuw Hoa Liong munculkan dirinya, tampak sebuah bayangan hijau melayang turun dari arah Timur, sedang suara yang sangat menggetarkan hati berkumandang datang memasuki telinga semua orang yang berada dikalangan itu.

'Thian Hong ce Piat !'

Boen Ching yang mendengar perkataan tersebut, didalam hatinya merasa sangat girang sekali, dengan cepat dia menolehkan kepalanya, tampak orang yang baru saja datang itu ternyata adalah suhunya, Ie Bok Tocu Shie Yun Ku adanya, tampak pedang le Bok Kiam ditangannya menunjukkan kearah langit.

Suara "Thian Hong Ce Piat" baru saja lenyap dari angkasa, mendadak terdengar lagi suara yang menusuk telinga berkuman-dang datang.

"Tee Siang Huan Fen!".

Lie Hwee Yu She, Lam Kong Hun dengan memakai jubah berwarna merah membara munculkan dirinya dihadapan semua orang. Dalam hati Boen Ching makin merasa girang, matanya berkedip tak henti-hentinya, barisan pedang "Ngo Heng Kiam Tin" pada saat dan waktu semacam ini sekali lagi diatur, sekalipun tentara langit yang menyerbu pun belum tentu akan berhasil membobolkannya.

Tong Fang Hek tak lama kemudian munculkan dirinya pula sedang "Hong Seng Yuen Ie` empat buah kata bersamaan waktunya pula mendengung didalam telinga semua orang.

"Yun Shen Put Tong! ".

Baru saja suara itu bergema, tampak seorang sastrawan berbaju putih telah melayangkan tubuhnya masuk ketengah kalangan.

Orang yang baru saja datang ini ternyata adalah Han In Coen, Seh Tu Hon adanya, pada saat ini jenggot serta kumisnya yang awut-awutan telah lenyap, sehingga ketika Boen Ching untuk pertama kali memandang nya hampir tak dapat mengenalinya kembali, wajah asli dari Han In Khek tak disangka sekali lagi dapat muncul pada saat seperti ini. Mendadak terdengar suara yang sangat nyaring sekali berkumandang datang memenuhi seluruh kalangan.

"Mie Ho Kan Koen! ".

Suaranya belum saja lenyap, Cu Khek Ci Yun telah munculkan dirinya ditengah kalangan, segera dia menempatkan dirinya ditengbah barisan mengdambil kedudukana "Wu Tu?. Boen bChing yang tampak keadaan seperti ini, sepasang matanya dipejamkan, dengan perlahan- lahan dia menjatuhkan dirinya duduk bersila diatas tanah.

Kakek tua berbaji putih itu melihat lima orang murid kepala dari Tan Coe Coen waktu itu bersama-sama munculkan dirinya, matanya berkelebat tak henti-hentinya waktu munculnya saja pengaruh dari kelima orang demikian hebatnya, kiranya barisan' Ngo Heng Kiam Tin" ini sukar sekali untuk di terjang begitu saja. Dia memandang sekejap kearah gerakan pedang kelima orang itu, kemudian sambil tertawa ujarnya.

'Kalian berlima bukankah anak murid dari Tan Coe Coen?".

Tok Thian Coen, Liuw Hoa Liong yang berdiri diluar barisan tertawa keras, sahutnya.

"Kau mengapa harus bertanya-tanya lagi barisan Ngo Heng Kiam Tin tak ada kedua nya didalam dunia pada saat ini, sekalipun ada orang lain, kiranya juga tak berani untuk mencoba-cobanya".

Kakek tua berbaju putih itu tersenyum, dengan tawar ujarnya lagi.

"Loohu Chie Siauw Cie, Shia Yu adanya, apakah kau pernah mendengar?".

Liuw Hoa L ong tertawa besar ujarnya.

Biasanya orang-orang partai Mie Cong Bun sangat jarang diketahui orang luar, kalau mengetahui hal ini merupakan suatu keistimewaan, ini hari bagaimana kau dapat menanyakan padaku tahu tidak namamu.

Shia Yu tersenyum dengan sombongnya, dia memandang sekejap kearah sekeliling tempat itu, ujarnya kemudian. "Ini hari Loohu sungguh sangat beruntung datang berkenalan dengan barisan Ngo Heng Kiam Tin yang di tinggalkan Tan Coe Coen waktu itu'

Pada saat ini diatas puncak gunung tampak Suma Ie sarta Suma Ing bersama-sama munculkan dirinya.

Shia Yu sambil tertawa keras melancarkan serangannya, ketiga orang lainnyapun segera bersama-sama menggerakkan pedangnya dengan membagi menjadi tiga jurusan bersama- sama menyerang kedalam barisan Ngo Heng Kiam Tin tersebut. Cu Khek Ci Yun tampak Suma Ing munculkan dirinya, dia tersenyum, pedang panjang sedikit digerakkan dibabat kearah depan ke lima bilah pedang lainnya segera sama-sama bergerak.

Di dalam sekejap saja ditengahb kalangan itu pdenuh dengan hawaa pedang yang tbelah memenuhi seluruh angkasa, pada saat kelima bilah pelang itu saling menyambar, serangan pedang yang dilancarkan oleh ketiga orang itu segera dapat dipatahkan seluruhnya.

Ditengah kalangan yang penuh dengan sinar pedang yang sangat menyilaukan mata tersebut, pedang panjang ditangan Cu Khek Ci Yun bergerak tak henti-hentinya, barisan  Ngo Heng Kiam Tin pun mulai bergerak secara sungguh-sungguh sejak diwariskan oleh Tan Coe Coen.

Gerakan pedang Cu Khek Ci Yun makin lama makin bertambah cepat, terlihat lima buah bayangan pedang yang berada bagaikan sebuah gunung raksasa saja menekan tak henti-hentinya ke tengah kalangan.

Keringat dingin sejak tadi telah mulai membasahi seluruh wajah Shia Yu, Siang Yang Seng serta Shu Kiam Hoan, sekalipun barisan Ngo Heng Kiam Tin ini tak dapat berbuat yang lebih hebat lagi terhadap ketiga orang itu tetapi tenaga pantulan dari hawa pedangnya cukup membuat mereka terdesak ke belakang dan hanya menggerakan pedang nya untuk melindungi tubuhnya sendiri, dalam hati mereka sadar bahwa apabila harus bertempur secara demikian terus menerus, mereka tentu akan muntah darah dan menemui ajalnya.

Pada saat pertemuan diatas loteng Oei Hok Lo, apabila bukannya perhatian Cu Khek Ci Yun bercabang, kiranya Jien Muh Nio pun juga tak akan sanggup untuk melawan tenaga pantulan dari hawa pedang barisan Ngo Heng Kiam Tin ini. Hawa pedang berkelebat tak henti- hentinya, mendadak terdengar beberapa suara gemerincingan, terlihat pedang panjang di tangan Shia Yu, Siang Yang Seng serta Shu Kiam Hoan bersama-sama terpental ke tengah udara.

Begitu barisan Ngo Heng Kiam Tin ini maju lagi, air muka ketiga orang itu segera berubah menjadi pucat pasi dan  berdiri mematung ditempat.

Selamanya partai Mie Cong Bun mengandalkan ilmu pedangnya yang tiada bandingan untuk menjagoi seluruh Bu lim, tetapi kini dibawah kepungan barisan Ngo Heng Kiam Tin ternyata sedikit pun tak dapat dilancarkan keluar.

Barisan Ngo Heng Kiam Tin masih tetap berdiri ditempat dengan angkernya.

Shia Yu, Siang Yang Seng serta Shu Kiam Hoan masing- masing menundukkan kepala nya tak mengatakan sepatah katapun.

Liauw Hoa Liongr tertawa tergeltak, ujarnya.

"Kqitab rahasia Hary Thian Kiam Boh bukanlah benda dari partai dari Mie Cong Bun kalian, apabila hendak berkata bahwa kitab tersebut harus dimiliki oleh partai Mie Cong Bun kalian, aku kira hal itu bukankah sedikit keterlaluan ?"

Ketiga orang belum saja membuka mulut memberikan jawabannya, mendadak terde-ngar suara yang sangat berat sekali berkumandang datang, ujarnya.

'Perkataan yang diucapkan oleh Liauw sicu barusan ini bukankah juga sedikit keterlaluan ?"

Boen Ching mementangkan sepasang mata nya, tampak seorang pendeta tua yang rambut dan jenggotnya telah memutih seluruhnya dengan sangat tenang sekali berdiri dibawah sebuah pohon siong" Shia Yu begitu tampak pendeta tua itu, air mukanya segera berubah dengan hebatnya, ketiga orang itu dengan cepat bersama-sama membungkukkan tubuhnya memberi hormat sambil ujarnya.

'Supek ! kau orang tua bagaimana dapat turun dari puncak gunung?".

Pendeta tua itu sedikitpun tidak menggu-bris orang itu, dengan perlahan ujarnya.

"Hay Thian Shu adalah suheng dari pinceng, sedang pinceng sendiri adalah Kiem Kiam !".

Liauw Hoa Liong menjadi terkejut sekali, orang yang baru datang ini ternyata adalah Kiem Kiam Thaysu adanya, yang merupakan orang aneh pada ratusan tahun yang lalu, dia masih juga belum binasa, sungguh membuat orang sukar untuk mempercayainya.

Tubuh Cu Khek Ci Yun dengan cepat berkelebat maju kedepan, sedang barisan Ngo Heng Kiam Tin itupun segera disusun kemba-li menghalangi perjalanan pergi dari Shia Yu bertiga dengan diri Kiem Kiam Thaysu Kiem Kiam Thaysu tersenyum, ujarnya:

"Tak kusangka ini hari aku terpaksa harus menggerakkan pedangku kembali. Tan Coe Coen sendiri pun juga merupakan seorang sakti yang mempunyai tabiat aneh, baru saja aku telah dapat melihat kehebatan dari barisan Ngo Heng Kiam Tin, ternyata sungguh mengagumkan sekali !"

Tubuh Boen Ching dengan perlahan-lahan bangkit berdiri, ujarnya.

"Suhu, Supek ! Urusan ini aku kira lebih baik aku sendiri yang membereskan, tentang kitab rahasia Hay Thian Kiam  Boh itu aku sendiri sampai kini masih belum pernah melihat sekalipun juga, kitab Hay Thian Kiam Boh itu berada ditangan Lok Yang Hong dan dimusnahkan olehnya, sedang Liauw Cing Ce dikarenakan telah membunuh cucu dari Lieh Yu, Lieh Loocianpwee tak berani mengatakan hal yang sesungguhnya"

Perkataan dari Boen Ching begitu keluar dari mulutnya, orang-orang yang berada di tengah kalangan itu menjadi ramai semua.

Kiem Kiam Thaysu dengan tajam memandang ke arah Liauw Cing Ce, kemu-dian dengan perlahan-lahan tanyanya:

"Urusan ini apakah benar demikian adanya?"

Liauw Cing Ce tak berani berkata berbohong, dengan wajah yang pucat pasi dia mengangguk.

Air muka Shia Yu segera berubah hebat, tubuhnya bergerak, sepasang telapak tangan nya dengan berpisah melancarkan serangan mengancam tubuh Liauw Cing Ce serta diri pemuda berbaju putih itu.

Boen Ching yang tampak hal ini segera membentak dengan kerasnya:

'Cianpwee tahan !"

Sambil berkata tubuhnya segera bergerak menghalangi jalan pergi dari diri Shia Yu, sedang tenaga khiekang Chiet Kong Kang Khie nyapun mengikuti gerakan tersebut dilancarkan keluar.

Sepasang telapak tangan Shia Yu dengan sekuat tenaga balas melancarkan serangan, ternyata dia siap hendak sekali pukul membinasakan kedua orang itu, tetapi dengan halangan Boen Ching kali ini, saking tergetarnya dia terpaksa mundur dua langkah ke belakang.

"Setiap orang tak dapat menghindarkan diri dari kesalahan, Nona Liauw tak lebih hanyalah dikarenakan pikiran sesaat, hatinya merasa sangat sedih dan gusar sehingga melakukan pekerjaan tersebut, dia selalu ingin mengaku kesalahan tersebut, tetapi selalu tak berani, aku kira cianpwee lebih baik melepaskan dirinya sekali ini saja"

Air muka Shia Yu berubah makin berat, dengan sangat dingin sekali dia memandang kearah diri Boen Ching.

Tiba-tiba air mukanya berubah bmakin hebat, seddang Boen Chinga sendiri pun mebrasakan dibelakang tubuhnya terdapat gerakan yang sangat aneh, pads saat dia membalikkan tubuhnya, dia merasa sangat terkejut sekali, tampak Liauw Cing Ce tak mengucapkan sepatah katapun, dan meloncatkan tubuhnya kedalam jurang yang berada disamping tubuhnya.

Ditengah suara jeritan ngeri yang amat menyayatkan hati, tubuh Liauw Cing Ce dengan cepatnya melenyapkan diri lari ditengah kabut yang sangat tebal itu.

Pemuda berbaju putih itu pun berdiri mematung dibawah sebuah pohon siong, air mukanya berubah menjadi hijau pucat, sepasang matanya dengan tajam memandang ke arah kabut yang sangat tebal itu, air matanya tak tertahan lagi meleleh keluar dengan derasnya.

Tubuhnya dengan perlahan-lahan berlutut keatas tanah.

Boen Ching menarik rapas panjang- panjang, dengan perlahan dia membalikkan tubuhnya.

Sepasang mata Kiem Kiam Thaysu dengan sangat tajam sekali memandang ke arah Boen Ching, lama kemudian barulah ujarnya dengan perlahan.

"Selamanya partai Mie Cong Bun kami tak mengijinkan orang lain untuk ikut campur di dalam segala urusan partai Mie Cong Bun kami, tahukah kau ?"

Boen Ching dengan tajam balas memandang ke aran Kiem Kiam Thaysu, kemudian tanyanya. "Tetapi apakah aku telah berbuat salah?" Sahut Kiem Kiam Thaysu.

"Apabila kau tidak turun tangan, aku pun dapat melarang dirinya.

Sedang . . . didalam perguruan kami pun terdapat peraturan-peraturan yang tersendiri, apakah kau berbuat demikian itu dapat dibenarkan ?"

Boen Ching tertawa tawar, dan tak mengucapkan kata-kata lagi.

Liauw Hoa Liong mendadak dengan dingin berkata:

"Siapa tahu kau dapat tidak turun tangan mencegahnya ?"

Sinar mata Kiem Kiam Thavsu berkelebat dengan tajamnya kemudian dengan dipejam kan, ujarnya.

"Aku mencela orang telah keterlaluan, tetapi peraturan perguruan tetap harus berlaku, dia telah binasa sekarang, apakah kau ingin menerima tiga kali serangan pedangku ?'

Boen Ching menggangguk sahutnya. "Boanpwee sanggup !"

Cu Khek Cbi Yun memandangd sekejap kearaha Boen Ching, labma kemudian dia barulah membubarkan barisan pedang Ngo Heng Kiam Tin tersebut ??

Kiem Kiam Thaysu memandang sekejap ke arah Boen Ching, kemudian barulah ujarnya.

"Semua orang bilang Thian Jan Shu merupakan seorang manusia aneh nomor wahid didalam dunia kangouw, sedang Hay Thian Khek tak ada bandingannya didalam ilmu pedang, tetapi jika aku melihat wajahmu, kau sedikit pun tidak memiliki sifat-sifat mereka itu."

Boen Ching membungkukkan tubuhnya memberi hormat, kemudian sahutnya. "Terima kasih atas pujian dari cianpwe'

Kiem Kiam Thaysu dengan perlahan mencabut keluar sebuah pedang emas yang panjangnya kurang lebih tiga kaki dari dalam sakunya, kepada Boen Ching ujarnya.

"Kau berhati-hatilah, sekali pun kau memiliki hawa khiekang yang melindungi tubuh mu, tetapi kau harus tetap berhati- hati.

Sambil berkata tangan kanannya digerakkan, pedang emas itu segera berkelebat dan memutar setengah lingkaran ditengah udara, kemudian dengan kecepatan yang luar biasa menyerang tubuh Boen Ching.

Semua orang yang hadir ditempat itu menjadi sangat terkejut sekali, kepandaian yang dimiliki Kiem Kiam Thaysu ternyata telah mencapai pada tingkat yang paling atas dari ilmu hawa pedangnya, entah Boen Ching hendak meiyggunakan cara apa untuk menghadapi dirinya.

Boen Ching yang tampak akan hal ini di dalam hatinya diam-diam dia makin bersiap siaga, pedang Cing Hong Kiam ditangan kanannya mendadak ditekan kebawah dan dengan sangat cepat sekali menyambar ke atas menutul tubuh pedang emas tersebut.

Pedang emas itu dengan cepat melekat kebawah dan balik meluncur mengancam pelipis Boen Ching.

Boen Ching segera mengangkat sepasang pundaknya ke atas, pedangnya balik memba-bat dengan menggurakan jurus "Hong Cen Loei Tong' atau angin menggulung petir menyambar. Didalam sekejap saja suara angin dan guntur menggelegar memenuhi seluruh angkasa, dan dengan cepat pula berhasil melempar pergi pedang emas tersebut.

Ilmu pedang "Hong Loei Chiet Kiam" sebenarnya merupakan suatu ilmu pedang tingkat atas yang digunakan untukr menundukkan iltmu pedang golonqgan hitam, sedarng pada saat ini Lweekang yang dimiliki Boen Ching pun telah mencapai pada taraf kesempurnaan sehingga kehebatan dari ilmu pedang "Hong Loei Chiet Kiam" ini bukanlah sembarangan orang yang bisa menahannya.

Sinar mata Kiem Kiam Thaysu berkelebat tak henti- hentinya, sedang dari bibirnya tersungging suatu senyuman, pedang emas yang berputar ditengah udara itu mendadak terlihat sinar pedangnya makin lama makin bertambah terang dan makin bertambah menyilaukan mata, dengan kecepatan yang luar biasa menekan keatas kepala Boen Ching.

Dalam satu jurus Boen Ching berhasil mencapai sasarannya, didalam hatinya pada saat ini makin bertambah mantap, ilmu pedang 'Hong Loei Chiet Kiam" nya dengan cepat berturut-turut dilancarkan keluar.

Jurus "Hong Loei Coen Tong" segera dikerahkan keluar, pedang Cing Hong Kiam di tangannya mendadak berputar berturut-turut kekiri dan kekanan sebanyak puluhan kali banyaknya, pada saat dia mengerahkan tenaganya, pedang Cing Hong Kiam tersebut mendadak terlepas dari tangannya dan meluncur keatas.

Sinar pedang yang melindungi tubuh pedang Cing Hong Kiam itu makin menjadi tebal, sekali lagi dia berhasil memukul mundur pedang emas tersebut.

Kiem Kiam Thaysu segera menarik kembali pedangnya, sambil merangkapkan sepasang tangannya didepan dada ujarnya.

"Boen Sicu dengan memiliki kepandaian yang demikian tingginya, masa depan tentu nya akan selalu cemerlang, pinceng disini mohon diri terlebih dahulu, semoga saja Boen sicu dimasa yang akan datang selalu berbuat kebajikan."

Selesai berkata dia membalikkan tubuhnya, dengan membawa She Yu sekalian berlari menuju keatas puncak gunung. Boen Ching sambil menyimpan kembali pedangnya, dengan tajam memandang bayangan punggung Kiem Kiam Thaysu sekalian hingga lenyap dari pandangan.

Ketika dia menoleh kebelakang, tampak Bwee Giok dengan tersenyum sedang memandang ke arahnya, tak terasa lagi Boen Ching pun tersenyum manis, didalam hatinya terpikir kembali semua perkataan yang pernah diucapkan olehnya kepada diri Suma Ing, terpikir pula peristiwa diatas puncak gunung Hwee Ing pada dua puluh tahun yang lalu, dimana pada saat untuk pertama kali dia bertemu muka dengan diri Thian Jan Shu beserta ke tujuh buah hioloo kuno peninggalannya..

TAMAT
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bentroknya Rimba Persilatan Jilid 22 (Tamat)"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close