Bentroknya Rimba Persilatan Jilid 21

Mode Malam
 
Boen Ching yang berada disamping, segera ujarnya.

"Liaw Cianpwee, urusan ini merupakan urusan boanpwee dengan dirinya, bagaimana kalau boanpwee sendiri yang membereskan dengan dirinya?"

"Liuw Hoa Liong dengan tajam memandang diri Lieh Yu, dengan perlahan dia me noleh dan memandang tajam pala kearah Boen Ching. Didalam hatinya dia tahu bahwa dengan kepandaian yang dimiliki Boen Ching saat ini, jika dibandingkan dengan dia sudah tentu jauh lebih tinggi satu tingkat, didalam ilmu pedangpun dia jauh lebih lihay lagi, Liauw Hoa Liong yang mengikuti Thian Jan Shu selama beberapa waktu lamanya, kehebatan dari tenaga khiekang "Chiet Kong Kang Khie" hanyalah dia sendiri yang mengetahuinya dengan jelas, dia tertawa dan mengangguk.

Ie Bok Tocu menggerakkan bibirnya siap hendak berbicara tetapi dibatalkan, dia tahu selamanya Liauw Hoa Liong melakukan pekerjaan selalu sangat teliti dan dipikir masak- masak terlebih dahulu, kalau memang nya dia berbuat demikian, sudah tentu tak dapat salah lagi.

Lieh Yu dengan sangat dingin sekali memandang ke arah Boeng Ching, sebenarnya dia mempunyai niat untuk menahan ucapan Liauw Hoa Long itu, tetapi pikirannya mendadak menjadi bergerak, didalam hal obat-obat racun sudah tentu Liaw Hoa Liong telah mencapai pada taraf kesempurnaan dan jauh lebih tinggi dari pada dirinya, dirinya mengapa berbuat demikian, mengapa tidak memenuhi niatnya terlebih dulu, yaitu membunuh Boen Ching kemudian barulah menghadapi Liauw Hoa Liong sekalian??`

Berpikir sampai disini, dia berdiri tegak tak bergerak lagi, dengan sangat dingin sekali dia memandang Boen ChLng serta Liuw Hoa Liong sekalian.

Boen Ching tampak Liauw Hoa Liong menganggukkan kepalanya, dia dengan perlahan membungkukkan badannya mem-beri hormat kepada diri Liuw Hoa Liong, kemudian barulah berjalan mendesak ke tubuh Lieh Yu.

Tangan kanan Lieh Yu dengan perlahan dikendorkan, dan melemparkan kitab 'Pek Tok Chian Kiem' keatap ruangan kuil, dengan sangat dingin sekali ia memandang ke arah Boen Ching. Boen Ching denran seenaknya menggerak kan pedang Cing Hong Kiam nya ke tengah udara, kemudian sambil tersenyum ujarnya.

"Silahkan cianpwee mencabut pedang !" Lieh Yu tertawa dingin, sahutnya.

"Menghadapi dirimu mengapa harus menggunakan pedang

!" Boen Ching mengerutkan alisnya, sambil tertawt ujarnya lagi:

"Kalau begitu harap cianpwee memaafkan boanpwea akan berlaku kurang hormat lagi." Perkataannya baru saja selesai diucapkan, segera dia melipat pedangnya memberi hormat, setelah itu pedang Cing Hong Kiam nya ditusukkan kedepan dengan hebatnya.

Tubuhnya dengan sangat ringan sekali bagaikan bertiupnya angin berkelebat diatas ruangan kuil mendesak ke arah Lieh Yu, pedang Cing Hong Kiam nya dengan sangat cepat sekali menusuk ke arah dada Lieh Yu, Lieh Yu dengan gusar mendengus, jari tengah dan telunjuk dari tangan kanannya dikeraskan membentur tubuh pedang di tangan Boen Ching, sedang kaki kirinya maju kedepan, tangan kirinya dengan kecepatan bagaikan kilat menepuk dada Boen Ching.

Sinar mata Boen Ching berkelebat, jurus pedangnya tidak berubah, menanti dua jari tangan kanan Lieh Yu membentur tubuh pedangnya, tubuhnya barulah dengan cepat mendesak maju kedepan, pedang Cing Hong Kiamnya diputar sedemikian rupa ditengah udara, sedang gagang pedangnya menghan- tam jalan darah "Chie Ce Hiat" dipergelangan tangan Lieh Yu.

Kegesitan serta kecepatan gerak tubuh Boen Ching sama sekali diluar dugaan Lieh Yu, dalam hatinya diam-diam dia merasa sangat terkejut sekali, dengan serangan yang dilancarkan oleh Boen Ching ini. apabila jalan darah "Chie Ce Hiat" nya benar-benar terkena benturan gagang pedang Cing Hong Kiam tersebut, tubuhnya segera akan berhasil di pukul rubuh keatas tanah.

Lieh Yu yang melihat keadaan seperti ini, dia tak berani lama bertahan lagi tubuhnya, dengan cepat mundur kebelakang.

Boen Ching yang tampak Lieh Yu mundur kebelakang, segera menubruk maju kedepan berturut-turut melancarkan beberapa kali serangan pedang, setiap serangan pedang itu semuanya mengancam jalan darah terpenting bagian depan tubuh Lieh Yu.

Serangan pedang tersebut belum mencapai sasarannya, hawa pedang dengan dahsyat sekali telah menekan tubuhnya, dalam hati Lieh Yu menjadi sangat terperanjat, dengan tenaga dalam yang dimiliki Boen Ching saat ini, tak mungkin dia akan berbasil melawan Boen Ching dengan menggunakan tangan kosong.

Sinar matanya berkelebat tak henti-hentinya, dalam hati diam-diam pikirnya apabila dirinya dengan menggunakan tangan kosong mundur kebelakang, sedang Boen Ching tak henti-hentinya melancarkan serangan pedang nya, sama sekali tak terpikir kan olehnya bagaimana akibatnya ??

Tubuh Lieh Yu terus menerus melayang mundur  kebelakang bagaikan sebuah daun kering yang tertiup angin kencang, tubuhnya dengan cepat melayang tiga kali lebih kebelakang.

Sinar pedang Boen Ching berubah bagai kan pelangi yang memenuhi angkasa, tubuh pedangnya dengan cepat dilancarkan ke depan, segera terlihatlah sinar kehijau-hijauan yang menyilaukan meliputi sekeliling tempat iersebut dan mengitari tengah udara dengan kencangnya, dari arah atas menerjang ke bawah tak henti-hentinya menumbuk  tubuh Lieh Yu. Tangan kanan Lieh Yu mendadak di getarkan dengan hebatnya, "Crinngg .. " diantara berkelebatnya sinar putih, pedang panjangnya telah dicabut keluar dari sarungnya, dengan cepat pedangnya diputar balik dari atas ke bawah balas menyerang tubuh Boen Ching.

Boen Ching mengerutkan alisnya, dia menarik napas panjang-panjang, pada saat tangan kanannya digetarkan, gerakan pedang nya telah berubah.

Gerakan pedangnya dari serentetan sinar ke hijau-hijauan yang berputar dengan hebatnya itu berubah menjadi suatu gunung pedang yang sangat kokoh sekali, ditengah menyambarnya pedang tersebut samar- samar terdengar suara menyambarnya angin taupan serta menggeletar menyerupai suatu guntur sekitar gunung pedang itu terlihat sinar pedang berkelebat membuat orang yang melihatnya menjadi silau dan jeri.

Lieh Yu yang tampak hal ini menjadi sangat terkejut, dengan gerakan Boen Ching saat ini kiranya dia telah memahami seluruh rahasia tenaga khiekang "Chiet Kong Kang khie" dan bukanlah dapat dihadapi dengan demikian mudahnya seperti dahulu.

Pada saat ini pikiran pasti menang telah lenyap dari dalam hatinya, perasaan ragu-ragu memancar keluar meliputi  seluruh tubuhnya, dalam hatinya dia mempunyai niat untuk sekali lagi mundur kearah belakang.

Tetapi sebelum dia sempat mengambil keputusan terakhir, mendadak dia merasa kan bahwa gerakan pedang Boen Ching yang seperti dinding pedang itu secara samar- samar terasa mempunyai suatu tenaga menyedot yang sangat dahsyat sekali.

Pikirannya dengan cepat berputar, untuk menarik kembali pedangnya sudah tentu tak akan mungkin bisa terjadi, terpaksa dia menggigit kencang bibirnya, dengan sekuat tenaga balas melancarkan serangan mengancam seluruh tubuh Boen Ching.

Ditengah berkelebatnya sinar pedang yang sangat menyilaukan mata itu, terlihatlah sebelah pedang panjang melayang keatas udara.

Tubuh Lieh Yu terus menerus mundur ke arah belakang, wajahnya berubah menjadi pucat pasi, dengan termangu- mangu dia berdiri mematung disana.

Tubuh Boen Ching dengan sangat ringan sekali melayang turun keatas atap ruangan kuil tersebut, air mukanya sedikitpun tak memperlihatkan perasaan hatinya, dengan tegak dia berdiri disana.

Lieh Yu menjadi sangat malu sekali dengan gusar dia mendengus, tangan kanannya dikibaskan. terlihat segulung asap berwarna kemerah-merahan bertiup menyebar ke seluruh penjuru tempat tersebut, dan melayang menerjang kearah Boen Ching sekalian.

Liuw Hoa Liong menjadi sangat terkejut, sama sekali dia tidak pernah menyangka kalau Lieh Yu ternyata masih tidak memikirkan tentang mati hidup bagi dirinya.

Dengan keras teriaknya.

`Asap ini adalah Ban Nien Touw Hoa Uh, kalian berhati- hatilah !"

Sambil berkata dia siap melayangkan tubuhnya menerjang ke arah depan, tetapi untuk sesaat dia menjadi termangu- mangu dan berdiri mematung ditempat.

Sekarang telapak tangan Boen Ching didorong sejajar dengan dada, dari ternyata dia telah menahan majunya asap "Ban Nien Touw Hoa Uh' tersebut.

Liauw Hoa Liong untuk beberapa saat lamanya berdiri tertegun ditempat, selama nya dia belum pernah melihat ilmu sakti yang demikian aneh dan hebatnya, jika dilihat secara demikian, kesempurnaan Boen Ching didalam ilmu tenaga khiekang "Chiet Kong Kang Khie" ini telah mencapai pada taraf sejajar dengan Thian Jan Shu waktu itu.

Sepasang telapak tangan Boen Ching dengan mendatar didorong ke arah depan pada kurang lebih lima kaki dari tubuhnya segera terbentuklah suatu tembok hawa murni yang sangat kuat sekali, asap "Ban Nien Touw Hoa Uh" itupun dengan cepat dapat ditahan gerakan selanjutnya.

Terlihatlah segulung asap berwarna merah terus menerus mendorong kearah atas dan sekeliling tempat itu.

Asap berwarna merah itu makin bertumpuk dan makin berat, tumpukan asap berwarna merah itu telah memenuhi seluruh udara disekitar tempat itu hingga mencapai kurang lebih sepuluh kaki persegi.

Liauw Hoa Liong setelah berdiri termangu-mangu untuk beberapa saat lamanya itu, mendadak menjadi sadar kembali, ketika memandang Boen Ching lagi, tampak sepasang telapak tangannya dengan perlahan lahan didorong kearah depan, sedang kening Boen Chingpun tampak telah mengucurkan keringat dingin sehingga membasahi tubuh nya.

Liauw Hoa Liong menjadi cemas bercampur gusar, dengan sangat cepat sekali dia mengambil berpuluh-puluh butir pil dari dalam tubuhnya dan dilemparkan seorang sebutir, dengan keras teriaknya.

'Cepat masukkan kedalam mulutmu !''

Pada saat ini asap berwarna merah itu telah bertumpuk mencapai beberapa puluh kaki tingginya, disekeliling puluhan kaki itu terlihat asap berwarna merah bergerak tak henti- hentinya, bagaikan hendak melampaui batas daerah yang dikelilingi oleh tenaga khiekang "Chiet Kong Kang Khie" itu.

Liuw Hoa Liong dengan keras berteriak. "Boen Ching, tak usah kau tahan lagi, cepat kau pukul buyar asap yang demikian tebalnya itu, asalkan dengan menggunakan tenaga khiekang "Chiet Kong Kang Khie" melindungi tubuhnya saja sudahlah cukup"

Boen Ching berpikir dengan cepat, dibawah ruangan kuil itu masih terdapat banyak manusia, apabila asap "Ban Nien Touw Hoa Uh" ini buyar, bukankah orang yang berada dibawah ruangan kuil itu akan menemui bencana???

Sepasang telapak tangannya terasa makin lama makin berat dan sukar sekali untuk dipertahankan lagi.

Tetapi apabila dia tak dapat mempertahan kan dirinya lagi, akhirnya bukan saja dia tidak mungkin akan berhasil menahannya, pada saat itu apabila dirinya sangat lelah, kiranya jiwanya pun sukar sekali untuk dipertabhankan.

Pikiradn Boen Ching seagera bergerak, bsepasang matanya dipejamkan, dan menarik napas panjang dia siap hendak menggunakan seluruh tenaga dalamnya untuk memukul buyar asap "Ban Nien Tou Hoa-Hoa Uh" itu.

Pada saat itu juga, mendadak terdengar suara pujian kepada Budha berkumandang datang, suara pujian tersebut baru saja lenyap dari pendengaran terbuatlah suara asap dupa yang sangat harum sekali tersebar masuk ke dalam tengah kalangan, sedang asap "Ban Men Touw Hoa. Uh" itupun dengan perlahan lahan berubah menjadi angin yang bertiup berlalu dari tempat itu.

Ditengah menyebarkan asap berwarna merah itu, tampak seorang nikouw berbaju putih dengan sangat tenang sekali berdiri ditempat itu.

Begitu Boen Ching melihat nikouw berbaju putih itu tak terasa lagi dia menjadi termangu-mangu, nikouw berbaju putih itu ternyata adalah Thian Jan Lie, Jien Muh Nio adanya, sama sekali tak terduga olehnya kalau Jien Muh Nio dapat menjadi demikian rupa. Pada saat ini seluruh tubuh Jien Muh Nio memakai jubah berwarna putih, wajahnya sangat ramah sekali, kelihatannya bukan saja membuat orang lain mengagumi kecantikan wajahnya, bahkan membuat dalam hati setiap orang timbul perasaan menghormatinya.

Lieh Yu pun dengan termangu-mangu memandang ke arah diri Jien Muh Nio, dia berdiri mematung disana, sepatah kata pun tak diucapkan keluar.

Terlihat Jien Muh Nio mengangkat tangannya memberi hormat kepada seluruh orang yang berada didalam kalangan itu, ujarnya.

"Pinnie Thiat Shu, menerima pesan terakhir dari suhuku, untuk datang mengakhiri percekcokkan ini."

Boen Ching merasakan sangat kaget diluar dugaan, kiranya didalam waktu yang demikian pendeknya ini ternyata Sek Liong Suthay telah wafat, sedang Jien Muh Nio pun telah masuk menjadi nikouw dengan gelar Thiat Shu.

Jien Muh Nio tampak memutarkan tubuhnya dan ujarnya kepada diri Lieh Yu.

''Lieh sicu, perpisahan yang telah lewat puluhan tahun lamanya, entah Lieh sicu selama ini baik-baik saja dan masih ingatkah terhadap diri pinnie ?"

Lieh Yu rrenjadi termangu-mangu, untuk sesaat dia lupa untuk memberikan jawabannya, sejenak kemudian barulah sahutnya.

'Mubh Nio --- ---apdakah kau tidak amengetahui ? bbagaimana aku dapat melupakan diri mu ?'

Jien Muh Nio tertawa tawar, sahutnya.

'Lieh sicu, lepaskanlah golok penjagalmu, dan masuklah menjadi murid Buddha, kali ini dapatkah Lieh sicu dengan memandang wajah suhu serta wajah dari pinnie untuk menghabiskan persoalan ini ?"

Lieh Yu dengan sangat tajam sekali memandang ke arah diri Jien Muh Nio, peristiwa puluhan tahun yang lalu sekali lagi berkelebat diaalam benaknya, tak terasa lagi air matanya bercucuran membasahi seluruh wajahnya, setelah menghela napas panjang dan memandang ujung langit yang sangat jauh itu.

Jien Muh Nio tersenyum, ujarnya lagi.

"Waktu selama puluhan tahun lamanya hanya dalam sekejap mata saja telah lewat, segala urusan yang terdapat didalam dunia ini tak lebih hanyalah khayalan belaka, apakah sicu masih belum jelas ?"

Lieh Yu yang mendengar perkataan tersebut, didalam hatinya bagaikan mendapat pukulan yang sangat keras sekali, peristiwa yang telah lewat segera terbayang kembali, tetapi mendadak teringat olehnya perkataan yang diucapkan oleh Jien Muh Nio, peristiwa yang telah silam tak lebih hanyalah khayalan belaka, dia menghela napas lagi pikir nya.

'Urusan yang telah lewat biarkanlah lewat, urusan yang sekarang pun dengan cepat akan berlalu, urusan yang akan datang pun dengan cepat pula akan melewati."

Tak mengucapkan sepatah kata pun segera dia memutar tubuhnya dam lari dengan cepatnya kearah depan.

Jien Muh Nio memandang tajam ke arah bayangan punggung Lieh Yu hingga lenyap dari pandangan, kemudian sambil merang-kap kedua tangannya memberi hormat kepada semua orang,

"Pinnie mohon diri terlebih dahulu!

Sehabis berkata dia mengangkat kepalanya memandang sekejap kearah Boen Ching kemudian barulah memutarkan tubuhnya meninggalkan tempat itu. Boen Chingpun mremandang tajam tkearah diri Jieqn Muh Nio, didarlam sekejap saja dia sudah melihat sinar mata yang dipancarkan oleh Jien Muh Nio itu penuh diliputi oleh ramah tamah dan cinta dari seorang ibu, dalam hatinya tak terasa lagi timbullah suatu perasaan menghormat yang tak pernah timbul selamanya dari dalam hatinya.

Pada saat Jien Muh Nio sebelum meninggalkan tempat itu dia telah memandang beberapa saat lamanya kepada dirinya, hal tersebut terasa olehnya merupakan suatu hawa segar sekali bertiup didalam hatinya, dia merasa bahwa dengan mengampuni orang lain ternyata adalah demikian mengagumkan, sekali pun orang yang lebih jahatpun apabila telah sadar kembali dari salahnya, pastilah akan menebus dosanya dengan perbuatan- perbuatan mulia.

Boen Ching lama sekali baru menghembus kan napasnya, dia menoleh ke belakang tampak sinar mata semua orang sedang memandang tajam kearahnya, Jien Muh Nio sejak tadi telah meninggalken tempat itu, dia merasa bahwa dirinya telah kurang sopan, segera ia tersenyum.

Liuw Hoa Liong menghela napas. ujarnya.

''Aku rasanya mengetahui cara mencegah nya saja, tetapi tak kusangka didalam dunia ini ternyata terdapat orang yang dapat mengubah asap Ban Nien Touw Hoa Uh tersebut menjadi hilang tanpa bekas".

Ujar Pula Ie Bok Tocu terhadap diri Boen Ching. "Anak Ching! agaknya dia kenal dirimu?'

Boen Ching tersenyum, sahutnya. "Dia adalah Thian Jan Lie !"

Ie Bok Tocu menjadi sangat terkejut sekali, kiranya dia adalah Thian Jan Lie, dia seharusnya mengetahuinya, orang yang harus dicari atas pesan terakhir ayahnya Tan Coe Coen baru saja muncul didepannya ternyata dia sama sekali tak mengenalnya.

Boen Ching menghembuskan napas lega, dalam hati pikirnya urusan ini dapatlah diselesaikan, dan kini dia dapat pergi dari tempat ini.

Baru saja dia berpikir sampai disitu, mendadak dari ujung langit terdengar suara yang sangat menderu-deru berkumandang datang, Boen Ching menjadi sangat terkejut sekali, segera dia mendongakkan kepalanya memandang.

Diujung langit tampak segulung angin yang berputar dengan sangat cepatnya dengan kecepatan bagaikan kilat makin mendesak mendekat kearah kuil Pie Lu Si itu.

Orang yang berada diujung atap ruangan kuil menjadi sangat terkejut sekali, sekalipun kuil Pie Lu Si ini didirikan dipinggiran gurun pasir, tetapi dikarenakan perbedaan cuaca ditempat tersebut sehingga selamanya tak terlihat adanya angin, pada saat ini ternyata terdapat angin yang bertiup mendatang, sudah tentu hal ini membuat mereka menjadi bingung dan gugup.

Tetapi pada saat ini gerakan angin itu, agaknya telah malampaui tengah gurun pasir beberapa puluh orang itu dengan cepat melayang turun masuk kedalam ruangan kuil.

Sin Eng Thaysu melihat wajah beberapa orang itu kelihatannya sangat aneh sekali, segera tanyanya.

"Ada urusan apa?"

Sahut Liuw Hoa Liong dengan cepat. ''Angin taufan telah datang".

Air mukanya Sam Ceng It Shia itu dengan cepat berubah hebat, dengan cemas sahut nya.

"Tak mungkin bisa terjadi". Sekalipun keempat orang itu berbicara secara demikian, tapi suara menderunya angin secara samar-samar telah dapat didengar, tetapi suara angin itu kedengarannya sangat aneh sekali, dalam hati keempat orang itu berpikir kemungkinan terjadinya perubahan secara mendadak, dengan cepat ujarnya.

"Kita lebih baik bersembunyi kedalam ruangan saja". Dengan dingin mendadak teriak Kioe Thian Bu Sin, Jen

Cen.

"Tahan!"

Semua orang segera menghentikan langkah kakinya, tetapi hwesio sekalian telah berturut-turut menerjang masuk ke dalam ruangban kuil.

Jen Cedn mengerutkan aalisnya, dia terbtawa tawar, ujarnya.

"Kalian jangan pergi, bukan angin taufan, aku kira ada kawan yang sedang menuju ke tempat ini."

Sehabis berkata dia tersenyum.

Perkataan ini begitu keluar dari mulutnya Liuw Hoa Liong segera menjadi sadar kembali, dia membalik tubuhnya dan ujarnya kepada Han Cing Yu.

"Benar, aku kira tentunya kawan-kawan dari partai Mie Cong Bun yang datang berkunjung !"

Perkataan Liuw Hoa Liong baru saja selesai diucapkan, suara angin itu mendadak menjadi lenyap, sedang diatas permukaan tanah pun terdengar terinjaknya batu kerikil terkena kaki manusia.

Dalam hati Boen Chirg segera menjadi sadar, teringat olehnya ketika pemuda berbaju putih yang disebut sebagai Cap Sah Lang itu ketika muncul untuk pertama kalinya pun juga terlihat pasir dan debu melayang memenuhi angkasa, orang yang datang ini pasti sedang mencari dirinya.

Suara angin dan pasir segera berhenti, terlihat seorang lelaki berusia pertengahan yang memakai baju berwarna  hitam telah berdiri diatas atap ruangan kuil dan dengan sangat dinginnya memandang kearah semua orang yang hadir ditempat itu, Liuw Hoa Liong tertawa dingin ujarnya.

"Partai Mi Cong Bun kiranya juga hanya demikiar saja, hanya dapat bermain ilmu siluman saja."

Lelaki berbaju hitam itu dengan sangat dingin sekali memandang sekejap ke arah orang itu kemudian ujarnya.

"Siapakah Boen Ching ?"

Boen Chinga maju satu langkah kedepan, dia tertawa tawar, ujarnya.

'Cianpwee mencari diriku entah mempunyai urusan penting apakah?"

Lelaki berbaju hitam itu dengan dingin mendengus, sepasang matanya memperhati kan seluruh tubuh Boen Ching sejenak kemudian barulah dia tertawa dingin, ujarnya.

"Kiranya yang disebut sebagai BoenChing adalah kau ".

Suara ucapannya terdengar mengandung nada yang sangat memandang rendah terhadap diri Boen Ching.

"Liuw Hoa Liong mengerutkan albisnya. tanyanyad. "Aku akan beratanya kepadamu,b siapakah kau ?"

Lelaki berbaju hitam itu memandang sekejap kearah Liuw Hoa Liong, air mukanya sedikitpun tidak menampilkan perasaan apa-apa.

Liuw Hoa Liong tertawa tawar sahutnya lagi. "Benar ! Aku lupa untuk memberitahukan namaku kepadamu, aku adalah Liuw Hoa Liong anak murid dari Thian Jan Shu"

Dengan dingin lelaki berbaju hitam itu memandang kearah Liuw Hoa Liong, agaknya dia sedang menimbang berharga atau tidak memberitahukan namanya kemulian kepada diri Liuw Hoa Liong ?

Sejenak kemudian barulah sahutnya dengan sangat tawar sekali.

Aku adalah Pek In Khek, Shu Kiam Hoan, kau kalau memangnya anak murid dari Thian Jan Shu sudah tentu mengetahui namaku bukan ?"

Liuw Hoa Liong begitu mendengar orang yang baru saja datang adalah jago yang paling diandalkan dari partai Mi Cong Bun Pek In Khek. Shu Kiam Hoan ini masih merupakan suheng dari Nie Han Yu Sheng, Siang Yang Seng. waktu ini ketika Siang Yang Seng memasuki daerah Tiongoan, dia barulah dapat dibawa pulang kembali setelah Shu Kiam Hoan itu turun sendiri.

Dia tersenyum, diam-diam pikirnya dengan orang yang demikian banyaknya mengapa harus takut pada Pek In Khek seorang, segera dengan tawar sahutnya.

"Sungguh maaf sekati, aku tidak pernah mendengar nama besarmu"

Pek In Khek, Shu Kiam Hoan begitu mendengar perkataan tersebut, dalam hatinya merasa sangat terkejut sekali, dia mengerutkan alisnya, tetapi diapun tahu bahwa sangat sukar sekali dia melawan musuh yang demikian banyaknya apabila dirinya mengalami kekalahan, nama dari partai Mie Cong Bun pun akan segera jatuh dimata jago-jao Bulim.

Orang-orang yang hadir ditempat itu sebagian besar merupakan jago-jago nomor wahid didalam Bu-lim, dia tahu bahwa dirinya seorang tak mungkin dapat menahan serangan gabungan demikian banyak orang.

Dengan sangat dingin sekali dia memandang sekejap kearah Liuw Hoa Liong, kemudian Boen Ching sambil tertawa dingin ujarnya.

"Kau telah memarpas putus pedantg anak muridku qCap Sah Lang, dran merebut pula kitab rahasia Hay Thian Kiam Boh, bagai mana harus memberikan hukuman terhadap dirimu aku kira kaupun tentunya juga mengetahui",

Sehabis berkata dia tertawa dingin tak henti-hentinya dan melirik sekejap kearah Liuw Hoa Liong ini.

Boen Ching menjadi tertegun dia memapas putus pedang di tangan Cap Sah Lang adalah peristiwa yang benar-benar terjadi, tetapi merusak kitab Hay Thian Kiam Boh bukanlah dia yang melakukannya.

Pada saat pikirannya berputar itu, segera terpikir olehnya akal seseorang, Lok Yang Hong, kalau dia memang dapat menguasai Cap Sah Lang serta Law Cing Ce, sudah tentu dia dapat pula menakuti mereka didalam urusan ini.

Lelaki berbaju hitam itu tertawa dingin, dia menyapu sekejap ke tengah kalangan, dan ujarnya:

"Kalian mempunyai hubungan apa dengan Boen Ching ?

Kawan atau lawan ? Lekas beri jawaban: Liuw Hoa Liong tertawa dingin, ujarnya:

"Dengan kepandaianmu itu kau mengingin kan melawan berapa orang sekaligus ?"

Pek In Lhek, Shu Kiam Moan tertawa dingin, dia mengerutkan alisnya.

Sahutnya kemudian. "Kawan Boen Ching adalah merupakan lawan partai Mie Cong Bun, sedang kalau lawan Boen Ching merupakan kawan partai Mie Cong Bun kami, harap yang merupakan lawan dari Boen Ching segera berdiri kesamping." -

Sehabis berkata dia menyapu sekejap ke arah orang-orang itu, tampak orang-orang yang hadir ditempat tersebut, sampaipun Mo Pak Sam Ceng serta le Way It Shia juga tidak ada yang menggerakkan tubuhnya.

Liuw Hoa Liong tertawa besar, sahutnya.

"Kalau memangnya lawan partai Mie Cong Bun lalu bagaimana ? Apakah boleh dikata partai Mie Cong Bun kalian berani melawan kawan-kawan Bu lim secara berbareng?"

Pek In Khek, Shu Kiam Hoan yang tampak hal ini mengerutkan alisnya, sambil tertawa besar ujarnya.

'Dari tempat ini berjalan kearah Tenggara sejauh seratus duapuluh lie terdapat sebuah puncak gunung yang disebut sebagai Ban Liong Ling, cayhe Pek Khek akan menanti kedatangan saudara sekalian."

Sehabis berkata dia membalikkan tubuh nya berlari kearah depan.

Boen Ching dengan sangat tajam sekali memandang Pek In Khek yang berlari meninggalkan tempat itu,

Puncak gunung Ban Liong Ling adalah merupakan tempat kediaman dari para jago pedang dari partai Mie Cong Bun, selamanya jago-jago pedang dari daerah Tionggoan di larang memasuki daerah mereka, tak disangka ini hari Shu Kiam Hoan sendiri secara resmi telah mengundang mereka untuk mengunjungi tempat kediaman mereka itu'

Ditengah gurun pasir yang sangat luas itu, di empat penjurunya hanya terlihat pasir yang berwarna kuning saja, sedang panas matahari dengan hebatnya menyinari empat penjuru tempat tersebut. Tampak berpuluh puluh gundukan pasir menghubungkan yang satu dengan gunduk-kan lainnya.

Seorang pemuda berbaju hijau dengan tenangnya menunggang seekor kuda berjalan mendatang, ditangan satunya lagi tampak pula membawa seekor kuda dengan sangat perlahan sekali melintasi permukaan gurun yang sangat panas serta kering itu.

Pemuda itu adalah Boen Ching, dia baru saja berpisah dengan Ie Bok Tocu sekalian. seorang diri lebih dahulu berangkat menuju kepuncak gunung Ban Liong Ling, sedang Ie Bok Tccu sekalian tinggal didalam kuil Pie Lu Si menanti beberapa orang suhengnya untuk kemudian bersama-sama berangkat menuju keatas puncak gunung Ban Liong Ling memenuhi janji.

Boen Ching mengerutkan alisnya, dia memandang sekeliling tempat tersebut, tampak di empat penjuru hanyalah pasir berwarna kuning saja, sedikit pun tak tampak adanya jejak seorarg manusia pun.

Didalam hati diamb-diam pikirnya,d bila urusan puancak gunung "Babn Liong Ling ini dapat diselesaikan dengan mudah, dengan demikian dapat pula menyelesaikan urusan yang mengganjel didalam hatinya, Shie Siauw In telah memahami perasaan hatinya, sudah tentu pada hari-hari kemudian tak akan terjadi persoalan-persoalan lagi.

Matahari dengan cepat berpindah ke arah Barat, di ujung langit hanya tampak warna merah memenuhi angkasa, yang tertinggal hanyalah beberapa jalur sinar matahari yang sedang tenggelam saja.

Boen Ching dengan membawa kudanya berjalan menuju kesebuah gundukan pasir untuk menghindarkan diri dari tiupan angin dan kemudian berhenti dari perjalanannya.

Melakukan perjalanan ditengah gurun pasir yarg demikian luasnya dalam satu hari tak lebih hanyalah mencapai kurang lebih tiga puluh lie saja, kelihatannya untuk melakukan perjalanan selebihnya, jugalah harus menanti matahari lagi barulah tiba dipuncak gunung Ban Liong Ling tersebut.

Tetapi Ie Bok Tocu telah memesan wanti-wanti kepadanya untuk melakukan perjalanan dengan perlahan didalam tiga hari lagi Cu Kek Ci Yun sekalipun juga telah tiba di dalam kuil Pie Lu Si, pada saat itu pula barulah dapat menggunakan barisan "Ngo Heng Kiam Tin' menghadapi jago-jago pedang dari partai Mie Cong Bun.

Boen Ching sendiri juga mengetahui kalau ilmu pedang orang-orang partai Mie Cong Bun telah mencapai pada taraf kesempur-naan, dan bukanlah dapat dilawan dengan mudah.

Segera dia turun dari kuda dan sekalian menurunkan barang-barang yang terdapat pada punggung kudanya, agaknya dia siap untuk beristirahat ditempat tersebut.

Mendadak telinganya menangkap suara tergelincirnva batu- batu kerikil serta pasir di tempat itu.

Sinar mata Boen Ching dengan cepat berkelebat, dia memandang kesekeliling tempat itu, dalam hatinya dia sadar bahwa pasti ada orang yang telah datang, sekali lagi dia memandang sekejap kesekeliling tempat itu, tetapi tetap tak terlihat gerakan apa-apa lagi.

Dia tak dapat memikirkan siapakah orang itu, yang pada saat ini seperti ini dapat munculkan dirinya ditengah gurun pasir yang demikian luasnya ini, apakah diri Bwee Giok? Bwee Giok mengikuti diri Kioe Thian Bu Sin, dan tak dapat dibandingkan pula dengan gadis-gadis lainnya, dia jauh lebih maju dari pandabngan orang leladki, tak mungkina dikarenakan sboal cinta dia mau mengejar sampai disini.

Kalau begitu siapakah dia ? untuk sesaat dia sangat sukar sekali untuk menduga orang tersebut. Sekonyong-konyong disamping gundakan pasir itu tempak muncul sebuah wajah yang sedang menyengir, Boen Ching yang didalam sekali pandang itu segera dia dapat melihat jelas wajahnya, tak terasa lagi dia menjadi tertegun, kiranya orang yang baru saja datang itu adalah Cong Lam Lok Yang Hong adanya.

Lok Yang Hong masih tetap memakai baju berwarna kuning, sedang pada bibirnya terlihat tersungging suatu senyuman yang sangat aneh sekali.

Boen Ching dengan tajam memandang ke arah diri Lok Yang Hong, dia tak mengetahui kedatangan Lok Yang Hong di tempat ini mempunyai maksud baik atau jahat, Lok Yang Hong ini jika dibandingkan diri Goei Lam Yu kelicikannya memang berimbang, tetapi Lok Yang Hong jadi orang sangat licik apabila dia mengetahui tak akan sanggup segera tak sampai melawan telah melarikan diri, sedang Goei Lam Yu jadi orang suka menang sendiri dan tak mau mengalah, sehingga akibatnya dia harus menemui ajalnya dengan sangat mengenaskan.

Kedua orang itu jika dibandingkan, memang hanyalah terpaut sedikit saja, Lok Yang Hong jauh lebih licik sedikit dari Goei Lam Yu, dia telah berhasil mendapatkan kitab rahasia Hay Thian Kiam Boh, entah pada saat ini mengapa dengan sendirinya munculkan dirinya ditempat tersebut.

Lok Yang Hong sambil tersenyum memandang tajam kearah Boen Ching, sedikitpun dia tak bergerak.

Boen Chingpun tersenyum kepada Lok Yang Hong, ujarnya.

''Aku tidak mengetahui mengapakah kau setelah mendapat kitab rahasia Hay Thian Kiam Boh masih juga munculkan diri ditempat ini".

Sambil tersenyum sahut Lok Yang Hong "Aku juga tidak mengetahui, tetapi. . .". Dia berhenti sejenak, kemudian sambil tersenyum lanjutnya lagi.

"Sekalipun aku mengatakan kalau kitab rahasia Hay Thian Kiam Boh itu telah kau musnahkan, setelah tiba diatas puncak gunung Liong Ling sudah tentu dapat kau pikir benar tidak ?"

"Dalam hati Boern Ching menjadit sadar kembali,q dia tersenyum rujarnya.

"Maksudmu ? kau hendak membabat rumput sampai keakar-akarnya bukan ? kau ingin membunuh diriku. supaya urusan ini selamanya menjadi sebuah teka teki bukan?"

Lok Yang Hong tertawa terbahak bahak, tak mengucapkan sepatah kata pun.

Boen Ching tertawa, ujarnya lagi. 'Dapatkah kau melakukannya ?'

Sambil rersenyum sahut Lok Yang Hong.

?Selama beberapa hari ini semua kepan-daian yang berada dalam rahasia Hay Thian Kiam Boh ini aku telah memahami sebagian besar, tetapi aku pun mengetahui kepan-daian silatmu pun telah mengalami kemajuan yang sangat pesat sekali, aku kira kepandaian silat yang kumiliki sekarang ini masih terpaut satu tingkat dari dirimu, bukankah begitu ?'

Boen Ching tersenyum, diam-diam dalam hati pikirnya: "Aku akan mencoba mendengar, Lok Yang Hong ini hendak

menggunakan cara apakah hendak menghadapi diriku'

"Tetapi kepandaian silat yang sangat tinggi belum tentu mesti mendapat kemenangan, bukankah demikian ? selain kepandaian silat kitapun harus beradu dalam kecerdasan."

Selesai berkata tampak pada bibirnya tersunggiug suatu senyuman agaknya dia sangat bangga sekali, dan menganggap kemenangan pasti berada didalam cekalan nya. Dia berhenti sejenak lalu ujarnya kemudian. "Bahkan kau lihatlah!"

Sambil berkata dia menunjuk kearah langit.

Boen Ching mendongakhan kepalanya, tampak matahari sore masih belum tenggelam seluruhnya telah sangat gelap sekali, didalam hatinya segera dia tahu bahwa mungkin tak lama lagi akan terjadi angin taufan yang akan bertiup mendatang entah apakah arti dari Lok Yang Hong ini?

Lok Yang Hong tersenyum, ujarnya.

"Maksudku adalah bahwa pada saat terjadinya angin taufan itu, jalan mundur bagi diriku telah ada".

Boen Chingpun tersenyum. sahutnya.

"Kau memang sangat teliti sekali didalam berpikir, hanyalah sayang kau telah ditetap kan untuk selamanya akan menemui kekalahan, bagai mana dapat menemui kemenangan?"

Lok Yang Hong tertawa tergelak, ujarnya.

'Mengapa pasti kalah, aku menangpun juga akan mengundurkan diri dari tempat ini'.

Boen Chirg berpikir dengan keras beberapa saat lamanya, entah Lok Yang Hong hendak membuat perhitungan secara bagaimana.

Terdengar Lok Yang Hong berbicara lagi,ujarnya.

'Tetapi apabila sebelum terjadinya angin taufan kau telah berhasil menawan diriku terlebih dahulu---- .

Dia berhenti berbicara dan tersenyum.

Tubuh Boen Ching dengan cepat bergerak maju kedepan menubruk kearah tubuh Lok Yang Hong, sedang pada mulutnya ujarnya.

"Akupun memang mempunyai maksud demikian". Lok Yang Hong mendadak tertawa besar, tangan kanannya diayunkan, terlihat sebelah pedang dengan sangat cepat sekali meluncur menerjang tubuh Boen Ching.

Boen Ching segera mencabut keluar pedangnya diobat- abitkannya itu, pedang yang meluncur dengan cepatnya tersebut telah berhasil dipukul jatuh, tetapi ketika dia melirik tampak tiga belah pedang pendek dengan sangat cepat sekali telah menyerang kantong air yang dibawanya dibelakang tubuhnya.

Dalam hati Boen Ching merasa terkejut sekali, tampak didalam sekejap mata saja kantong airnya telah terpapas oleh sambaran pedang pendek itu.

Hatinya terasa menjadi berat, ditengah gurun pasir yang sangat kering ini kantongan air adalah benda yang paling penting bahkan apabila terjadi angin taufan kemungkinan sekali selama satu dua hari tak dapat melanjutkan perjalanan, manusia masih mungkin dapat mempertahankan dirinya, tetapi kedua ekor kudba itu bagaimanad?

Rencana sertaa siasat yang dibsusun oleh Lok Yang Hong ternyata sangat kejam.

Ketika berpikir sampai disini segera dia menoleh, tampak pada saat ini Lok Yang Hong telah berada pada jarak tiga puluh kali lebih, sambil tertawa besar dengan cepat dan lari meninggalkan tempat itu.

Pikiran Boen Ching segera berputar, terpikir olehnya, satu- satunya jalan hanyalah menangkap Lok Yang Hong sebelum terjadi angin taufan ini. dengan airnya telah terpapas sedang dua ekor kuda itu telah menjada benda yang melelahkan saja, lebih baik berjalan seorang diri, berpikir sampai disini tubuhnya segera melayang mengejar ke arah di mana Lok Yang Hong melenyapkan dirinya.

Lok Yang Hong yang berdiri sambil tertawa bergelak tak henti-hentinya terus menerus lari ke depan, awan diudara dengan cepat berubah, didalam sekejap mata saja ditengah gurus pasir yang sangat luas itu angin bertiup dengan kencangnya membuat pasir dan kerikil berterbangan memenuhi angkasa, bagaikan jutaan ekor kuda yang sedang menerjang datang dengan dahsyatnya.

Boen Ching dengan cepat melihat keempat penjuru, tampak disekelilingnya hanya terlihat pasir dan kerikil berterbangan memenuhi angkasa, suara menyambarnya angin taufan itu sejak tadi telah menelan suara tertawa tergelak dari Lok Yang Hong.

Bayangan kuning dari Lok Yang Hong pun dengan mengikuti bertiupnya angin taufan dengan perlahan lenyap dari pandangan.

Pasir yang berterbangan menyambar ke tubuh dan wajah Boen Ching dengan tajamnya, membuat seluruh tubuhnya terasa sangat sakit dan perih, kerikil-kerikil pasir dengan sangat keras sekali memukul diatas jubah yang dipakai Boen Ching, bagaikan hendak membuat jubah berwarna hijau ini berlubang-lubang.

Boen Ching terus menerus lari kearah depan, terdengar seluruh penjuru hanya lapat suara bertiup angin serta menyambar nya kerikil tajam, pikirannya dengan cepat berputar, dalam hati pikirannya jika demikian terus tak mungkin untuk berbuat sesuatu, terlebih dahulu haruslah mencari sebuah tempat untuk berteduh barulah bertindak lagi. Dengan mengintip-intip dia menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, tubuhnya dengan cepat segera melayang menuju dimana sinar matanya terbenturb pada sebuah gudndukan pasir yaang paling besarb disebelah kiri.

Tubuh Boen Chmg dengan cepat melayang masuk kedalam gundukan pasir yang terkena sambaran angin tetap  menerjang masuk. Baru saja dia menghembus napas lega, mendadak sinar matanya terbentur pada sesuatu benda, tak terasa lagi dia menjadi termangu-mangu.

Tidak jauh dari tempat persembunyian dirinya, tampak seorang berbaju kuning yang sedang membelakangi dirinya tidur telentang diatas gundukan pasir tersebut, orang itu menggunakan pakaiannya menyelubungi selu-ruh kepalanya, yang ternyata tak lain tak bukan adalah Lok Yang Hong yang sedang dicari.

Pada saat ini sebaliknya Boen Ching menjadi termangu- mangu, dikarenakan angin dan pasir bertiup agak besar, apalagi langkah kakinya sangat ringan sekali, oleh karena itu Lok Yang Hong tak mengetahui sama sekali atas kedatangannya, bahkan menggunakan pakaiannya menyelubungi seluruh tubuhnya dan tidur telentang diatas pasir dengan membelakangi diri Boen Ching.

Sungguh sangat untung sekali aku akhirnya dapat mencari dirinya juga, angin taufan ini ternyata bertiup tidak sesuai dengan keinginannya"

Pasir dan angin berturut-turut bertiup hampir-hampir satu harian penuh, menanti setelah tiupan angin itu agak reda, Boen Ching dengan perlahan-lahan barulah bangkit berdiri dan berjalan ke arah Lok Yang Hong.

Pada saat setelah gerakan langkah kaki Boen Ching terdengar, tampak Lok Yang Hong agak sedikit tegang, mendadak tubuhnya meloncat ke atas dan membalikkan tubuhnya.

Boen Ching dengan tersenyum berdiri tegak disana.

Lok Yang Hong menjadi termangu-mangu, sebilah pedang panjang dengan cepat ditarik keluar dari pinggangnya, tubuhnya dengan cepat bergerak mengikuti gerakan pedang nya, dengan sangat sebat sekali menusuk dada Boen Ching. Sinar mata Boen Ching berkelebat, dia mempunyai niat untuk melukakan Lok Yang Hong ini dibawah tangannya, tubuhnya segera berdiri tegak tak bergerak menanti serangan pedang Lok Yang Hong ini mrenusuk datang.

tMenanti setelahq pedang panjangr itu mendekati tubuhnya, dengan cepat tubuhnya bergerak dan berputar kesisi kiri.

Pada bibir Lok Yang Hong tampak tersungging suatu senyuman yang sangat dingin sekali, pedangnya didatarkan dan melancarkan serangan lebih ganas lagi, pada saat berkelebatnya sinar pedang itu, ujung pedangnya secepat kilat menekan dada Boen Ching.

Boen Ching tertawa tergelak jari tengah dan jari telunjuk dari tangan kanannya menekan pinggiran pedang Lok Yang Hong, sedang ilmu meringankan tubuh "Hui Sie YuShe" nya pun dikerahkan, tubuhnya dengan cepat melayang mundur kebelakang.

Pada saat pikirannya berkelebat itu, sejak sebelumnya dia telah mengambil keputusan untuk menguasai langkah kaki dari Lok-Yang Hong.

Jari tengah serta jari telunjuk dari tangan Boen Ching bagaikan kilat cepatnya saling bergantian, pada saat dua jari tersebut menekan kebawah, pedang panjang ditangan Lok Yang Hong telah berhasil dilempar keluar oleh kedua jari tangan Boen Ching tersebut. 

Boen Ching tidak menanti pedang panjang itu terlempar jauh, tangan kanannya diulur, pada saat tangannya menyambar pedang panjang itu seolah-olah pada saat dia menggunakan dua jari merebut pedang panjang Lok Yang Hong tadi.

Air muka Lok Yang Hong berubah menjadi demikian hebatnya, tubuhnya dengan cepat melayang mundur kebelakang. Boen Ching tersenyum, tubuhnya bagaikan kilat cepatnya melayang kedepan mendesak tubuh Lok Yang Hong.

Sinar mata Lok Yang Hong sedikit berkelebat, tubuhnya tetap berdiri tegak tak bergerak sedikitpun, dengan sangat tawar sekali dia memandang Boen Ching.

Pedang panjang ditangan Boen Ching cepat didorong ke arah leher dari Lok Yang Hong, akan tetapi pada saat pedang tersebut hampir menempel pada lehernya itulah, didalam sekejap saja telah ditarik kembali lagi, sedang tubuh Boen Ching segera melayang mundur kebelakang.

Lok Yang Hong membelakangi tubuh Boen Ching, pada bibirnya tersungging suatu senyuman tawar yang sangat percaya pada diri sendiri, bagaikan sebelumnya dia telah menduga kalau demikian, pada saat Boen Ching tersenyum padanya itu diam-diam dia telah mengetahui kalau Boen Ching tak akan berbuat apa-apa terhadap dirinya.

Sedang Boen Ching pada saat menarik kembali pedangnya itu didalam hatinyapun sedang memikirkan suatu urusan yang lalu, didalam hatinya dia sudah tentu telah mengambil keputusan lainnya.

Lok Yang Hong setelah kejadian itu, segera tertawa dingin, ujarnya.

"Kali ini dapat dikatakan kau sangat beruntung sekali dan berhasil mendapatkan kemenangan, tetapi sekalipun menang juga bukanlah dikarenakan mengandalkan kepan-daian sejatimu"

Boen China tersenyum, sahutnya.

Kalau begitu kau telah salah, hal ini memberi tahukan kepadamu bahwa semua urusan hanyalah menggantungkan pada diri sendiri, apa bila hendak menggantungkan pada rejeki, tak mungkin dapat disadari". Lok Yang Hong dengan dingin membalik kan tubuhnya, sepasang alisnya dikerutkan, ujarnya.

"Dua orang beradu kecerdasan sudah tentu selain menggantungkan pada dirinya masih harus bergantung pada Thian serta rejeki, apabila kau tidak bersembunyi untuk menghindari diri dari tiupan angin juga tak mungkin dapat berhasil mencari diriku '.

Boen Ching tertawa besar sahutnya.

"Tidak perduli bagaimanapun, kau harus lah mengakui bahwa kali ini cuaca, rejeki serta manusia bergabung menjadi satu bukankah demikian adanya?".

Pedang panjang Lok Yang Hong berhasil di rebut, sudah tentu dia tak mempunyai alasan yang dapat diucapkan lagi, terpaksa hanyalah berdiam diri.

Boen Chirtg tersenyum, ujarnya lagi.

"Sekarang kau haruslah menyerahkan kitab rahasia Hay Thian Kiam Boh tersebut kepadaku."

Pada bibir Lok Yang Hong terlihat tersungging suatu senyuman, dalam hati pikirnya.

"Apa yang kau pikirkan ternyata tidak salah, Boen Ching ternyata menghendaki kitab rahasia Hay Thian Kiam Boh tersebut, aku kini harus berbuat bagaimana?"

Berpikir sampai disini ujarnya kemudian.

Kitab Hay Thian Kiam Bob itu aku dapatkan dengan susah payah, sudah tentu tak mungkin akan diserahkan kepadamu dengan demikian mudahnya, apalagi aku masih mempunyai kebutuhan terhadap benda tersebut?"

Boen Ching tersenyum dia tahu Lok Yang Hong sedang membicarakan tentang soal apa.

Dia tersenyum ujarnya. "Kau tak usah ragu-ragu untuk melihat, aku akan memohon kepadamu atau tidak, kali ini aku melepaskan dirimu pada saat aku sekali lagi bertemu dangan dirimu aku hendak berbuat bagaimana, aku kira kaupun tentunya telah memikirkan".

Sehabis berkata dia tersenyum, dia melemparkan pedang panjang tersebut ke arah Lok Yang Hong.

Lok Yang Hong sebenarnya dapat menyam-but pedang itu, dia menjadi termangu-mangu Boen Ching menyuruh dia pergi dari sini??

"Apakah itu benar-benar? Urusan ini sama sekali tak pernah terduga olehnya.

Dia menjadi termangu-mangu untuk sesaat, terpikir olehnya entah Boen Ching sebenarnya siap hendak berbuat apa.

Ujar Boen Ching lagi.

"Kau pergilah, janganlah mengira aku hendak menguntit dirimu, kau pergilah dengan bebas"

Lok Yang Hong setelah ragu-ragu sejenak, mendadak dia tersenyum, sahutnya.

"Setelah aku pergi dari sini, aku harap kau tak akan menyesal kembali."

Sehabis berkata dia tersenyum dengan sangat aneh sekali dan menyimpan kembali pedangnya sambil meninggalkan tempat tersebut.

Dia tahu pada saat ini didalam hati Lok Yang Hong sedang memikirkan tentang apa, selama satu hari satu malam, dia pun mulai merasakan mulutnya sedikit menjadi kering.

Mendadak teringat olehnya pesan yang diberikan oleh Sin Eng Thaysu yang mengatakan bahwa ditengah perjalanan menuju kepuncak gunung Ban Liong Ling ini akan terdapat sumber air. Sebenarnya perjalanan ini dapat dihitung tidak jauh sehingga tak perlu pergi cari sumber air, apabila dia tidak lupa kemungkinan sekali dia tak akan menggerakkan tubuhnya pergi mengejar diri Lok Yang Hong.

Diapun mengetahui bahwa Lok Yang Hong tak mungkin akan percaya Sin Eng Thaysu akan memberitahukan tempat sumber air yang sesungguhnya kepadanya, tak dapat disalahkan lagi dia mempunyai sikap seperti itu.

Boen Ching memandang tajam bayangan Lok Yang Hong lari menjauh, dia tersenyum dan memandang sekeliling tempat itu, setelah membedakan arah dan menentukan arah yang ditempuh oleh Lok Yang Hong, dia barulah melanjutkan perjalanannya lari ke arah depan.

Sin Eng Thaysu pernah memberitahukan kepadanya bahwa sumber air itu sangat mudah sekali untuk didapatkan, disekeliling sumber air itu tumhuh-tumbuhan kaktus, tetapi sumber air itu barulah muncul airnya dimalam hari saja.

Sin Eng Thaysu pernah mengatakan bahwa sumber air itu merupakan satu satunya sumber air yang disekitar tempat ini, dia percaya Lok Yang Hong pun pasti mengetahui tempat sumber air ini, bahkan kemungkinan sekali dia pun telah berada ditempat tersebut?

Cuaca makin lama makin gelap, ditengah pasir itu pun mulai tampak air yang memancar keluar.

Boen Ching segera maju mengambil air secukupnya dan kemudian mengundurkan diri ke belakang sebuah tumbuhan kaktus untuk mulai memakan rangsum yang dibawanya.

Setelah lewat beberapa saat lamanya. Masih juga belum nampak Lok Yang Hong muncul ditempat itu, didalam hati Boen Ching merasa sangat heran sekali, dia mengerutkan alisnya, entah mengapa Lok Yang Hong belum juga sampai ditempat ini. Apakah boleh dikata dia telah mengetahui ditempat lain pun juga terdapat sumber air?? Kuil Pie Lu Si sangat dekat dengan gurun pasir ini, dia percaya tak ada orang lain lagi yang jauh lebih tahu keadaan gurun pasir ini daripada orang- orang kuil Pie Lu Si itu.

Waktu telah mendekati kentongan ke tiga, tetapi masih juga tak tampak Lok Yang Hong muncul ditempat itu.

Baru saja Boon Ching merasa sangat heran, mendadak dari sebelah depan terlihat lah sebuah bayangan manusia berkelebat, memandang orang itu tak lain dan tak bukan adalah Lok Yang Hong.

Tubuh Lok Yang Hong berkelebat dengan cepatnya, dan  tak henti-hentinya pula dia menengok kebelakang, Boen Ching yang tampak hal itu menjadi tersenyum, kiranya Lok Yang Hong sedang menghindarkan diri dari pertemuan dengan dirinya, tak dapat disalahkan lagi pada saat ini baru muncul.

Pada saat ini permukaan air amat tenang sekali, Lok Yang Hong setelah memandang sekeliling tempat itu, dia menghembuskan napas lega, dengan tersenyum ia berjalan menuju kearah sumber air itu.

Baru saja dia mengambil air hendak diminum, mendadak dia menjadi tertegun dan berdiri termangu-mangu disana.

Terlihat beberapa sisa roti mengikuti mengalirnya air mendekati kearahnya.

Dalam hati Lok Yang Hong menjadi termangu-mangu, mendadak dia bangkit berdiri dan mencabut pedangnya, sedang tubuhnya melayang mundur?? Beberapa langkah ke belakang.

Dibawah sorotan sinar bulan, Boen Ching dengan tersenyum berdiri dengan sangat tenangnya dibawah sebuah pohon. Pada kening Lok Yang Hong segera terasa keringat dingin mengucur keluar, keperca-yaan pada diri sendiri yang telah tertanam di dalam dirinya hanya dalam sekejap saja telah lenyap dari dalam hatinya.

Boen Ching dengan langkah yang sangat perlanan berjalan keluar dari belakang pohon tersebut.

Lok Yang Hong pada saat ini sungguh- sungguh merasa terperanjat sekali, pikiran nya dengan bergerak memikirkan cara untuk menghadapi diri Boen Ching.

Dia mengerutkan alisnya, dan bertindak satu langkah kedepan, ujarnya.

"Waktu itu kau memperoleh kemenangan dikarenakan aku pada saat itu tidak bersiap, kali ini mengapa kita tidak sungguh-sungguh bertempur satu kali untuk menentukan siapakah yang menang dan siapa yang kalah.".

Boen Ching tersenyum, dengan perlahan-lahan dia mencabut keluar pedang Cing Hong Kiamnya.

Lok Yang Hong menghembuskan napas panjang, pedang panjangnya digerakkan ke depan, terlihatlah sinar pedang berkelebat sehingga membentuk suatu jaringan pedang yang sangat rapat, dengan menggunakan jurus 'Hwiee Kiam Dho Lim" atau pedang terbang masuk hutan menerjang tubuh Boen Ching dari arah atas menuju kebawah.

Dalam hati pikirnya apabila dia hendak mendapatkan kemenangan, kiranya hal itu sukar sekali untuk didapatkan, terpaksa dia harus menyerang terlebih dahulu barulah dapat melancarkan ilmu dari Hay Thian Kiam Boh yang baru saja berhasil dipelajarinya itu.

Boen Ching tertawa bergerak, tubuhnya melayang, pedang Cing Hong Kiamnya segera membentuk suatu sinar yang sangat menyilaukan mata, sedang hawa pedangnya pun mengikuti gerakan tersebut menyerang kedepan dan menggulung serangan pedang Lok Yang Hong.

Pedang dari kedua belah pihak begitu terbentur satu dengan lainnya, segera terlihat melekat satu dengan lainnya.

Pada saat pedang dari kedua belah pihak itu melekat satu dengan lainnya, segera terlihat sinar pedang sekali lagi tak henti- hentinya, hawa pedang bagaikan meluncur nya bintang dilangit menyambar keseluruh penjuru dan meletus dengan hebatnya.

Terdengar suara benturan besi yang berdentang terus menerus, diantara suara tertawa besar yang berkumandang itu, Boen Ching telah berhasil melayang kembali ke tempat asalnya.

Lok Yang Hong dengan keras membentak, sejilid kitab telah terjatuh keatas tanah dari dalam dadanya

pada saat pedang masing-masing terbentur satu dengan lainnya itu, pedang ditangan Lok Yang Hong telah berhasil disontek pergi, sedang jubah didalamnya pun telah terbabat sehingga robek sepanjang lima Coen lebih oleh sambaran pedang Cing Hong Kiam, dengan demikian kitab Hay Thian Kiam Boh itu barulah dapat terjatuh dari dalam sakunya.

Sudah tentu Lok Yang Hong pertama-tama yang mengetahuinya, pada situasi yang demikian bahayanya ini, pikiran jahat segera timbul dari dalam hatinya, terpikir olehnya bahwa kitab Hay Thian Kiam Bob ini pastilah akan terjatuh ketangan Boen Ching, dari pada demikian lebih baik dimusnahkan saja.

Dia menanti tubuhnya melayang turun ke atas tanah, pedang panjangnya mendadak di gulung dan didalam satu kali gerakan saja dia telah berhasil membuat kitab Hay Thian- Kiam Boh itu menjadi hancur lebur. Boen Chins begitu tampak sejilid kitab segera dia mengetahui apakah kitab tersebut, tubuhnya segera maju kedepan, sedang pebdang Cing Hong dKlimnya menusuka keleher Lok Yabng Hong, maksudnya siapa hendak mencegah gerakannya ini.

Tubuh Lok Yang Hong dengan cepat melayang turun ke atas tanah, dia telah merasakan angin pedang itu telah tiba, tetapi pedang panjang ditangannya tak berhasil menarik kembali sedang angin pedang itu telah menyambar mendekati lehernya.

Dengan perlahan lahan dia memejamkan sepasang matanya, dia percaya bahwa Boen Ching kali ini peristiwa akan membunuh dirinya, terpaksa ia hanyalah memejamkan mata menanti saat ajalnya, dalam hatinya dia sadar bahwa kali ini dia tak mungkin dapat menghindarkan dirinya.

Mendadak angin pedang itu lenyap sedang pedang panjangnya itupun sama sekali tak ditusukkan kearah lehernya.

Tak tertahan Lok Yang Hong membuka matanya, tampak Boen Ching dengan sangat tenang sekali berdiri disamping.

Dia mengerutkan alisnya, tanyanya. "Mengapa kau tidak membunuh aku?"

Dengan perlahan Boen Ching memasukkan kembali pedangnya kedalam sarung, kemudian tanyanya.

"Mengapa aku harus membunuh kau?'

Lok Yang Hong menjadi tertegun, dia sama sekali tak pernah menyangka kalau Boen Ching ternyata dapat balas bertanya secara demikian kepadanya, untuk sesaat malah membuat dia entah harus bagaimana baiknya dan berdiri mematung disana.

Ujar Boen Ching lagi: "Kau sekarang boleh pergi !"

Lok Yang Hong untuk sesaat munjadi ragu-ragu, kemudian setelah tertawa dingin sahutnya.

"Aku rela mati dibawah sambaran pedangmu"

Boen Ching mengerutkan alisnya, mendadak dia tersenyum ujarnya:

'Kau ingin minum, minumlah terlebih dahulu baru pergi dari sini'

Sinar mata Lok Yang Hong berkelebat, tanyanya pada diri Boen Ching.

"Bagaimana kau dapat mengetahui sumber air ini, aku percaya Sin Eng Thaysu tak mungkin dapat memberitahukan hal ini kbepada dirimu"

dBoen Ching tertaawa tawar, sahubtnya:

"Dialah yang memberitahukan kepada diriku, tak ada orang lain yang mengetahui akan hal ini.

Lok Yang Hong dengan tajam memandang Boen Ching, pada saat berbicara air muka Boen Ching sedikitpun tak dapat menimbul kan perasaan curiga bagi dirinya, dengan perlahan dia berjalan kepinggir sumbei air itu, kemudian membungkukkan tubuhnya dengaa perlahan minum air.

Setelah merasa kenyang barulah dia bangkit berdiri dan berdiri tak bergerak sedikit pun juga.

Boen Ching tertawa, ujarnya:

"Bagaimana? mengapa tidak pergi?"

Lok Yang Hong menjadi ragu-ragu untuk sesaat, ujarnya kemudian:

"Aku tak akan pergi lagi, aku akan mengikuti dirimu pergi keatas puncak gunung Ban Liong Ling". Boen Ching dengan ragu-ragu memandang sekejap kearah Lok Yang Hong, dia terlalu percaya atas perkataan Lok Yang Hong ini, tetapi terpaksa dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, sahutnya:

"Mengapa tidak boleh".

Pada bibir Lok Yang Hong tampak tersungging suatu senyuman yang mengandung arti yang sangat mendalam sekali.

Dia tahu apabila melepaskan Boen Ching keluar dari gurun pasir dengan selamat, peristiwa mengenai kitab Hay Thian Kiam Boh ini pasti akan tersebar luas, Boen Ching tak melepaskan dirinya sebanyak dua kali, dia tak akan memberikan kesempatan bagi Boen Ching untuk sekali lagi melepaskan dirinya.

Sejak dahulu kala ada pepatah yang mengatakan serangan secara terang-terangan dapat dihindarkan, serangan gelap sukar untuk diduga, sejak dahulu kala entah terdapat berapa banyak jago-jago serta para pendekar yang menemui kematiannya dikarenakan bokongan'' apalagi dia percaya bahkan kepandaian yang dimiliki sekarang ini tidak dibawah kepandaian yang dimiliki Boen Ching.

Apabila secara mendadak dia melancarkan serangan didalam jarak tiga kaki dia percaya Boen Ching tak mungkin akan berhasil menghindarkan diri dari serangannya itu.

DIA BERJALAN merndekati Boen Chting, tampak Boeqn Ching tersenyrum, ujarnya:

"Cuaca hampir fajar, kita beristirahat sebentar setelah lewat semalam lagi kita pun telah dapat keluar dari gurun pasir ini."

Lok Yang Hong mengangguk, dua orang itu mulailah duduk bersemedi mengatur pernapasan dibawah tumbuhan kaktus tersebut! Tak lama kemudian, fajar pun menyingsing setelah mengatur pernapasan selama setengah malam Lok Yang Hong sedikitpun tidak bergerak.

Dia tahu bahwa Boen Ching tak mungkin akan mempercayai dirinya dengan begitu saja, oleh sebab itu lebih baik bagi dirinya untuk tidak bergerak.

Boen Ching meloncat bangkit terlebih dahulu, segera ia mengisi kantong airnya dengan air dari sumber tersebut.

Beberapa saat kemudian mataharipun telah mulai menyingsing, begitu sinar mata hari muncul, sumber air itupun mulai susut dan hilang, didalam sekejap saja diatas pasir hanya terlihat sisa dari air saja, kemudian diikuti pula bekas air itu lenyap.

Boen Ching tersenyum, ujarnya kepada diri Lok Yang Hong. "Mari kita berangkat"

Lok Yang Hong pun tersenyum, dia tak dapat melihat air muka Boen Ching mengandung perasaan was-wasnya terhadap dirinya, dia percaya bahwa Boen Ching tentunya telah mengira dirinya telah takluk benar-benar.

Dengan menapak dia mengikuti terus di samping tubuh Boen Ching, dua orang itu sambil berjalan berbareng melanjutkan perjalanan nya kearah depan.

Didalam satu harian penuh, Lok Yang hong telah menyusun rencana secara diam-diam, tak sering pula dia memandang tajam kearah Boen Ching, tampak dia sama-sekali tidak menaruh perasaan was-wasnya terhadap dirinya, tak terasa lagi dalam hatinya diam-diam merasa sangat girang.

Cuaca makin lama makin gelap, kedua orang itu memilih sebuah gundukan pasir yang agak besar untuk menghindarkan diri dari tiupan angin dan mulai tidur telentang. Lok Yang Hong setelah merebahkan tubuhnya, dia tersenyum ujarnya kepada Boen Ching.

"Besok kita telah dapat keluar dari gurun pasir ini, ini hari kita dapat beristirahat dengan senyenyak-nyenyaknya'.

Sehabis berkata tidak menanti Boen Ching, memberikan jawabannya, dengan perlaha- lahan dia memejamkan  matanya tidur.

Dalam hati Lok Yang Hong telah mengambil keputusan yang mantap, dia sendiri adalah seorang yang memiliki ilmu silat sudah tentu, sangat mudah sekali untuk menguasai perasaan dirinya. apabila dia tidak tidur, benar-benar atau berpura-pura tidur sejenak.

Bulan dengan perlahan-lahan munculkan dirinya ditengah udara, sekali lagi Lok Yang Hong membuka matanya.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bentroknya Rimba Persilatan Jilid 21"

Post a Comment

close