Bentroknya Rimba Persilatan Jilid 19

Mode Malam
 
Boen Ching yang nampak keadaan dan situasi berubah menjadi demikian itu, sedang dirinyapun tak dapat membuka mulut untuk berbicara, padahal bekas telapak kaki yang ditinggalkan Bwee Giok dengan sangat jelas ini membuktikan kalau dia sangat mengharapkan dirinya dengan cepat pergi mencari dia, kemungkinan sekali ditengah-tengah jalan dia akan meninggalkan tanda-tanda bagi dirinya, apabila sekarang tidak pergi, kiranya apabila khusus hendak pergi mencari dirinya. akan menemui kesukaran yang lain lagi. Dengan keras dia membentak, dengan se kuat tenaga sekali lagi dia melancarkan serangannya dengan menggunakan "Chiet Kong Kang Khie" tidak menanti wanita berbaju merah itu mengundurkan dirinya, tubuhnya telah berkelebat dan mengikuti arah yang ditunjuk oleh ujung kaki itu berlari dengan cepatnya.

Boen Ching dengan sangat cepat sekali berlari kearah depan, dia mengira bahwa wanita terbaju merah itu pastilah akan menguntit dirinya, tetapi satelah berlari beberapa saat lamanya, dibelakang tubuhnya ternyata tak tampak seorangpun.

Dengan perlahan dia menghembuskan napasnya, terpikir olehnya mungkin wanita berbaju merah itu sebelumnya mengejar dirinya, terlebih dahulu mengubur mayat dari Goei Lam Yu kemudian barulah mengejar kearahnya, atau kemungkinan juga dia tak akan mengejar datang.

Dalam hatinya Pada saat ini merasa sedikit tidak enak, dengan perlahan ia menghela napas, dan lari dengan cepatnya kembali kearah depan.

Pada saat ini salju telah berhenti, dihadapannya mendadak muncullah suatu gundukan salju yang sangat tinggi, Boen Ching menjadi ragu-ragu sejenak, kemudian dengan sangat cepat dia melanjutkan pula perjalanannya kearah gundukan salju tersebut.

Dia berjalan lagi beberapa saat lamanya, dihadapannya Pada saat ini kembali muncul suatu bukit salju yang sangat aneh sekali bentuknya, dengan cepat Boen-Ching melayangkan tubuhnya naik keatas.

Tubuhnya belum lagi melayang turun di atas bukit salju itu, mendadak terdengar suara tertawa yang sangat nyaring berkumandang datang, sebuah bayangan manusia berwarna kuning dengan sangat cepat scekali berkelebat mendatang, sedang sepasang telapak tangannya dengan hebat memukul keatas tubuh Boen Ching.

Boen Ching tidak mengetahui siapakah yang baru saja datang itu, tubuhnya berputar salto beberapa kali ditengah udara, setelah melewati sambaran angin pukulan yang sangat santar itu, tubuhnya dengan cepat melayang turun keatas bukit salju tersebut.

Orang itu bagaikan merasa sangat terkejut sekali, tubuhnya dengan cepat mundur kebelakang.

Tubuh Boen Ching baru saja melayang turun keatas permukaan tanah, mendadak dia tampak berkelebatan satu orang yang kbiranya adalah Ldok Yang Hong searta diri pemudab berbaju putih itu, kedua orang itu berdiri sejajar didepan diri Boen Ching yang jaraknya kurarg lebih tiga kaki.

Boen Ching menyapu ke arah kedua orang itu baru saja dia siap hendak membuka mulut untuk berbicara, dari sebelah belakang bukit salju tersebut berjalan dua orang yang  ternyata adalah Liauw Cing Ce serta Bwee Giok dua orang.

Bwe Giok begitu tampak diri Boen Ching, Pada wajahnya segera menampilkan senyuman nya yang manis, sambil tertawa panggilnya .

"Boen Toako!"

Dalam hati Boen Ching pun merasa sangat girang rekali, sambil tertawa diapun balas berteriaknya.

"Nona Bwee!"

Dia tampak wajah Bwee Giok Pada saat ini pucat pasi, tanpa terasa dia berjalan mendekati kearah Bwee Giok.

Lok Yang Hong tertawa besar, ujarnya. "'Tahan! dia masih berada dibawah tangan ku". Boen Ching takut ketiga orang itu berbuat tidak baik terhadap diri Bwee Giok, segera dia menghentikan langkah kakinya, sinar matanya berputar, ujarnya.

"Kiranya kalian bertiga juga yang telah melakukan pekerjaan baik ini".

Lok Yang Hong tertawa besar, sahutnya, "Kau datang sungguh sangat tepat waktunya, nona Bwee ini sekarang telah berada, ditangan kami, apakah kau mau mendengarkan beberapa perkataan dari diri kami.?'

Boen Ching tertawa dingin, sahutnya.

"Nona Liauw telah membunuh cucu dari Kioe Thian Ie sin, aku kira tentang urusan ini kalian bertiga tentunya mengetahuinya bukan".

Air muka dari Liauw Cing Ce dengan cepat berubah dengan hebatnya, sedang muka dari Lok Yang Hong serta pemuda berbaju putih itu pun berubah dengan hebatnya.

Mereka bertiga sama sekali tidbak pernah menyadngka kalau urusaan ini ternyatab dapat diketahui oleh diri Boen Ching, untuk sesaat ketiga orang itu tak tahu bagaimana seharusnya berbuat.

Dalam hati mendadak Boen Ching terpikir kan sesuatu hal, dia menjadi terpikirkan bahwa apabila dirinya berkata secara demikian, kemungkinan ketiga orang itu pasti akan turun tangan untuk membunuh dirinya untuk menutup mulut, sudah tentu hal yang paling mudah adalah menggunakan diri Bwee Giok untuk menakuti dirinya.

Dia tak berani untuk berpikir panjang lagi, tidak menanti pikiran ketiga orang itu menjadi sadar kembali, tubuhnya dengan cepat menubruk maju kelepan, sepasang telapak tangannya dilancarkan kedepan, sedang Chiet Kong Kang Khie nyapun dengan cepat menggulung kearah tubuh Liauw Ching Ce. PADA saat ini dalam hati Liauw Cing Ce lah yang merasakan paling kacau, sebenarnya dia hendak mencelakai diri Goei Lam Yu untuk membalas dendam sakit hatinya, tetapi setelah berbuat demikian dirinya menjadi menyesal kembali, diikuti pula karena hal ini Lok Yang Hong berhasil menguasai dirinya, sehingga dalam hatinya makin merasa menyesal, apabila suhunya mengetahui akan hal ini entah bagaimana seharusnya bertanggung jawab, kini Boen Ching pun mengucapkan lagi akan peristiwa tersebut, membuat hatinya makin menjadi sangat kacau lagi.

Begitu Boen-Ching melancarkan serangan nya dia telah menggunakan ilmu yang paling dahsyat dengan sekuat tenaga menyerang ke arah Liauw Cing Ce, Liauw Cing Ce yang mendapatkan serangan secara mendadak itu dengan sangat gugup sekali mengundurkan dirinya kebelakang.

Boen Ching dengan cepat menarik tangan Bwee Giok dan mundur kebelakang.

Lok Yang Hong serta pemuda berbaju putih itu dengan cepat membentak dengan keras nya sambil melancarkan pedangnya, tiga belas bilah pedang dengan cepat memancar kan berpuluh-puluh lingkaran sinar yang menyilaukan mata memenuhi seluruh angkasa dan meluncur dengan sangat cepat nya menyerang tubuh Boen Ching.

Boen Ching yang berhasil menarik tangan Bvvee Giok, dalam hati merasa sangat girang sekali, dengan keras dia membentak, pedang Cing Hong Kiamnya dengan cepat meluncur keluar dari pinggangnya, bergitu pedang Cintg Hong Kiam tersebut meluncur kedepan, segera terdengar suara angin dahsyat serta menggeletarnya guntur memenuhi seluruh angkasa.

Pedang Cing Hong Kiam itu dengan cepat membentuk suatu jaringan pedang yang sangat kuat sekali menyerang ketiga belas pedang tersebut, dengan cepat kedua belas bilah pedang menjadi patah sedang pedang panjang ditangan Lok Yang Hongpun terpental sejauh sepuluh kaki lebih.

Air muka pemuda berbaju putih itu berubah menjadi pucat pasi, berturut-turut dia mundur dua langkah kebelakang.

Boen Ciong telah berhasil melatih ilmu gabungan antara tenaga khiekang "Chiet Kong Kang Khie" serta ilmu pedang "Hong loei Chiat Kiam ini sama sekali tak pernah diduga olehnya kalau kehebatannya ternyata demi-kian hebatnya, mematahkan pedang orang lain sebenarnya merupakan suatu pekerjaan yang agak keterlaluan, dalam hatinya tanpa terasa sedikit menyesali perbuatannya itu.

Pemuda berbaju putih itu tampak kedua ke dua belas bilah pedang pendeknya telah dipatahkan menjadi dua bagian, dalam hati merasa sangat kecewa bercampur menyesal.

Begitu dia tampak Bwee Giok, segera dia telah mulai menyesal, dia ternyata keterlaluan, Boen Ching bagaimana dapat menbunuh diri Liauw Ching Ce dirinya ternyata hanya mencari seorang musuh tangguh saja.

Lok Yang Hong dengan cepat melayangkan tubuhnya menerima kembali pedangnya, diam-diam dia merasa singat terkejut sekali akan kemajuan yang demikian pesatnya akan tenaga dalam yang dimiliki Boen Ching, ketika untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Boen Ching jika dibandingkan dengan Been Ching sekarang ini, perbedaan didalam kepandaian yang dimiliki sungguh sangat sukar sekali untuk dipercaya.

Boen Ching dengan cepat menarik tubuh Bwee Giok dengan segera menyandarkan kepalanya ke atas tubuh Boen Ching, kedua orang itu Pada saat ini merasa sangat girang sekali.

Lok Yang Hong yang berdiri disamping tampak akan hal ini, dalam hatinya diam-diam dia merasa takut kalau Boen Ching masih menaruh perhatiannya terhadsp diri mereka bertiga, apabila dapat berhasil melindungi kitab rahasia Hay Tian Kiam Boh sehingga tak sampai ditebut oleh Boen Ching, bukan kah hal ini merupakan suatu keuntungan yang sangat besar sekali.

Dengan cepat dia menggapai memberi tanda kePada pemuda berbaju putih serta Liauw Cing Ce, ketiga oaag itu bersama-sama mengundurkan dirinya kebelakang.

Boen Ching tersenyum, kePada ketiga orang itu ujarnya. ''Kalian berlega hati, aku tak akan mengejar dirimu, sudah

tentu ada orang lain yang akan pergi mencari kalian"

Pemuda berbaju patih itu dengan dingin mendengus, ujarnya:

"Boen Ching! kau telah mematahkan pedangku, aku bersumpah tak akan membiarkan urusan menjadi demikian saja, kau menanti saja, aku pasti akan datang mencari kau lagi"

Sehabis berkata ketiga orang itu bersama-sama membalikkan tubuhnya berlari meninggalkan tempat tersebut.

Boen Ching sama sekali tidak memperduli kan urusan tersebut, dia menundukkan kepala nya tersenyum dan memandang ke arah Bwee Giok.

Wajah dari Bwee Giok segera berubah menjadi merah dadu, dengan halus ujarnya kePada Boen Ching,

"Boen toako, aku sungguh sedikit kurang percaya, kepandaianmu sungguh sangat tinggi sekali '

Boen Ching memandang wajah Bwee Giok, dia sedikit menjadi kebingungan, mendadak teringat olehnya ketika untuk pertama kalinya dia bertemu muka dengan Bwee Giok, Pada saat itu dia memakai jubah panjang, wajahnya sangat cerah dan gagah sekali.

Sebaliknya sekarang Bwee Giok telah berubah meajadi seorang gadis yang sedang kemalu-maluan. Pikirannya menjadi melayang jauh kedepan sedang sepasang matanya dengan termangu memandang Bwee Giok, sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun juga.

Jarak kedua orang itu tak libih hanyalah terpaut setengah coen saja- Boen Ching yang berubah menjadi seorang yang termangu-mangu itu membuat hatinya makin berubah malu, tak terasa lagi dia menundukkan kepalanya, tak berani mendongakkan lagi.

Dihadapan matanya mendadak Boen Ching berubah menjadi gelap, sedang pikirannya pun menjadi sadar kcmbali, setelah mengulap matanya, tampak dihadapannya rambut yang berwarna hitam dan terurai ke bbawah dengan inddahnya, segera adia sadar bahwab dirinya telah berlaku kurang sopan.

Dalam hati diam-diam dia merasa cemas, mengapa ini hari dirinya dapat berubah menjadi sedemikian rupa, dan demikian kurang sopannya sehingga membuat Bwee Giok menjadi sangat malu sekali.

Dengan cemas ujarnya:

'Nona Bwee, beberapa waktu ini aku telah membuat kau menemui kesusahan terus menerus !"

Bwee Giok menggelengkan kepalanya, sambil tertawa ujarnya:

"Tak mengapa, mereka sangat baik terhadap diriku, hanyalah kau telah berlari kesana kemari sehingga menjadi lelah hanya dikarenakan diriku."

Boen Ching menghela napas dengan perlahan, sahutnya: 'Telah lama kita tak bertemu muka !"

Bwee Giok membuka mulutnya bersiap hendak berbicara, tetapi kemudian dibatalkan niatnya tersebut. Boen Ching dengan sinar mata yang penuh keheranan memandang ke arah Bwee Giok, sambil tertawa tanyanya.

"Ada urusan apa, mangapa tak kau ucapkan???"

Bwee Giok memandang ke sisi kiri serta kanannya, kemudian barulah sahutnya:

"Boen Toako ! Tahukah kau Kioe Thian Ie Sin masih mencari dirimu?? Kemungkinan sekali dia segera akan datang kemari ??"

Sambil berkata tampak dengan jelas air mukanya yang mengandung perasaan duka serta kuatir.

Boen Ching tersenyum, kemudian tanya nya. "Bagaimana dia datang mencari diriku?"

Bwee Giok memejamkan sepasang matanya, dan bersandar ke atas bahu Boen Ching, ujarnya kemudian.

"Dia bilang dia mau datang, dia telah berkata terhadap Lok Yang Hong sekalian, dia bilang dia akan datang lagi!"

Dalam hati Boen Ching merasa abgak tergetar, ddia membimbing kaepala Bwee Giokb sambil ujarnya.

"Benarkah ?? "

Bwee Giok menganggak dengan perlahan.

Boen Ching menjadi termangu berdiri disana Lieh Yu akan datang, dia merasa bingung entah bagaimana harus berbuat baiknya, dia baru saja berkumpul bersama diri Bwee Giok dia tak dapat dengan demikian mudahnya harus berpisah dengan Bwee Giok.

Empat penjuru dari sekeliling tempat tersebut hanya  terlihat gumpalan salju saja, tak ada tempat lain buat digunakan bersembunyi, mendadak dia sedikit merasa takut. Bwee Giok menyusupkan kepalanya keatas dada Boen Ching, dengan cepat ujarnya:

"Kita tak usah mengurus mereka, tadi Kioe Thian Ie Sin telah datang, kemungkinan sekali dia tak akan datang kembali

!"

Boen Ching menggunakan tangannya membelai rambut Bwee Giok yang panjang terurai itu, dalam hati dia merasa geli sendiri, tetapi diapun tak mengetahui mengapa dapat menjadi demikian, dia hanya mengetahui bahwa dirinya terlalu lucu sekali.

Dia mendongakkan kepalanya memandang cuaca yang masih agak gelap-gelap itu, dalam hatinya merasa sangat hampa sekali.

Sekonyong-konvong, dari belakang tubuh nya terdengar suara dengusan yang sangat dingin sekali, kemudian terdengar suara bentakan nyaring.

"Boen Ching !"

Boen Ching dengan perlahan mengendor kan tangan yang menyekal diri Bwee Giok, dengan perlahan dia membalikkan tubuhnya, ditengah cuaca yang mendekati magrib serta bertiupnya angin dengan kencangnya itu tampak Lieh Yu berdiri tegak, disamping tubuhnya berdiri seekor bangau raksasa setinggi separuh tubuh manusia dan sedang memandang dengan tajamnya ke arah dirinya.

Dalam hati Boen Ching merasa tegang, tetapi pada saat ini perasaannya bagaikan telah dititipkan kepada orang lain, dia dapat mencurahkan seluruh perhatiannya keatas tubuh Lieh Yu.

Lieh Yu tertawar tawar, ujarnyat.

"Kau ternyata telah menipu dririku, kau sendiripun juga mengetahui kau telah bertaruh apa dengan diriku, aku kira kau masih mengingatnya bukan ?" Boen Ching mengerutkan alisnya, sahutnya.

"Lieh Cianpwee. urusan ini dikarenakan untuk sesaat aku tak dapat berbuat apa-apa lagi, tetapi saat ini aku telah mengetahui siapakah sebenarnya pembunuhnya itu ...”

Lieh Yu tetap tertawa terbahak-bahak, dia tak membiarkan Boen Ching melanjutkan perkataannya, setelah tertawa sesaat ujarnya kemudian.

"Bukan, saja kau tak dapat menyelidiki siapakah pembunuhnya, bahkan secara sembarangan kau telah menunjuk seseorang sebagai penggantinya sehingga membuat diriku berubah menjadi algojonya."

Boen Ching dengan pelahan menundukkan kepalanya, dia tidak ingin berbicara lebih banyak lagi, dalam hatinya dia mengetahui bahwa perbuatannya kali ini memangnya keterlaluan, tetapi mengira bahwa membunuh Goei Lam Yu, bukanlah merupa kan suatu perbuatan yang salah dengan perbuatan serta tindak tanduk dari Goei Lam Yu, setelah membunuh dirinyapun bukanlah merupakan sesuatu  pekerjaan yang salah adalah tak dapat menganggap dirinya sebagai pembunuh dari cucu Kioe Thian Ie Sin ini.

Lieh Yu selesai tertawa ujarnya kemudian.

"Mungkin kaupun mengira dirimu sedikit tidak benar bukan

?"

Boen Ching mendongakkan kepalanya memandang tajam

ke arah diri Lieh Yu, sejenak kemudian barulah ujarnya:

"Tentang urusan ini boanpwee memangnya mempunyai tempat yang besar, tetapi Pada hal ini hanyalah dikarenakan sesaat teledor, Pada saat aku bertanya dia tak mau menjawab aku mengira dia telah mengakui nya !"

Lieh Yu tertawa gelak sahutnya:

"Artinya kau telah mengaku salah, bukan begitu ?" Boen Ching diam tak menjawab, memangnya dia tak mempunyai perkataan lain untuk memberikan jawaban.

Bwee Giok yang herada disamping ujarnya., "Arti dari cianpwee akan berbuat bagaimana?"

Lieh Yu tectawa dingin, kepada Boen Ching ujarnya:

"Kemungkinan sekali kau menganggap aku Lieh Yu tak dapat berbuat apa-apa terhadap dirimu, bagaimana kalau kau datang mencoba-coba ?"

Dalam hati Boen Ching pun mempunyai maksud seperti itu, dia mengira kepandaian yang dimiliki Lieh Yu tak demikian hebatnya seperti apa yang disiarkan didalam dunia kangouw, Kioe Thian Bu Sin yang mengangkat nama bersama-sama dengan Lieh Yu waktu saling mengadu telapak tangan dengan dirinyapun tak lebih hanya begitu saja.

Pikirannya menjadi tergerak, dia maju selangkah kedepan, ujarnya kemudian:

"Urusan ini memang dikarenakan keadaan yang terpaksa, boanpwee kalau sampai sial dan menemui kekalahan, harap cianpwee mau turun tangan agak ringan."

Lieh Yu sebenarnya menganggap kalau dirinya hanya berkata demikian, dia mengira Boen Cing tentunya akan sedikit mengalah terhadap dirinya, tetapi sama sekali dia tak pernan menyangka kalau Boen Ching yang baru saja bertemu muka dengan diri Bwee Giok tak menginginkan diberi hubungan oleh orang lain, mana dia mau dengan demikian saja mengaku kalah dan menuruti segala sesuatu yang diatur oleh diri Lieh Yu.

Lieh Yu menjadi tertegun, dia mendongak tertawa keras, sahutnya:

"Sungguh punya nyali !' Selesai berkata suara tertawa kerasnya berubah menjadi tertawa dingin, ujarnya:

'Selamanya orang didalam dunia kangouw termasuk diri Thian Jan Shu sendiri, belum permah melihat senjataku, ini hari aku menyuruh kau membuka matamu !"

Boen Ching dengan perlahan mencabut ke luar pedang Cing Hong Kiamnya, dan memandang tajam ke arah Lieh Yu, dan tampak dari sepasang mata Lieh Yu memancarkan sinar yang sangat tajam sekali, bagai kan dia akban berusaha kerdas membinasakan dirinya.

Tetapi entah Lieh Yu ini menggunakan senjata tajam apakah ??

Teringat kembali olehnya akan kematian yang sangat mengerikan sekali dari Goei Lam Yu dibawah tangan Lieh Yu dalam hatinya tanpa terasa timbul rasa was wasnya.

Lieh Yu apabila sekali lagi menggunakan angkin yang mengandung ratusan macam racun ganas itu, dirinya dapat tak dapat harus mengadakan persiapan terlebih dahulu.

Dengan halus ujar Boen Ching kePada diri Bwee Giok. "Kau mundurlah dua langkah kebelakang."

Bwee Giok mundur dua langkah ke belakang, dengan tenang berdiri tegak, dia tidak mengetahui sebenarnya kepandaian yang dimiliki Boen Ching seberapa tingginya, tetapi nama dari "Kioe Thian Swang Sin" bukanlah dapat di permainkan dengan seenaknya, agaknya sukar sekali bagi dirinya untuk menempurnya.

Lieh Yu tampak Boen Ching mencabut ke luar pedang Cing Hong Kiamnya, dia tertawa dingin ujarnya.

"Sudah siapakah kau ?" Boen Ching memandang sekejap kearah diri Lieh Yu, dia tampak Lieh Yu masih tetap bertangan kosong saja, sedikitpun tak mengada kan persiapan apa-apa, tak terasa lagi ujarnya.

"Boanpwee sangat mengharapkan dapat melihat senjata tajam yang dipergunakan oleh diri cianpwee !"

Lieh Yu tertawa dingin sahutnya.

"Senjata tajamku itu begitu keluar segera akan tampak darah segar mengalir lceluar, kau janganlah kuatir kalau sampai tak dapat melihatnya."

Dalam hati Boen Ching terasa berdesir, dia teringat kembali Pada saat Lieh Yu melancarkan keluar angkin yang mengandung ratusan racun ganas itu, Goei Lam Yu segera tergelepar keatas tanah dan menemui ajalnya. Dia tertawa- tawar, ujarnya.

"Boanpwee mengira kita tak perlu bergebrak terlalu lama, bagaimana kalau kita hanya bertempur terbatas lima ratus jurus?" Lieh Yu tertawa dingin, sahutnya.

"Lima ratus jurus ? Apabila didalam seratus jurus aku tak dapat memenangkan dirimu, aku bersumpah tak akan mencari dirbimu lagi, sedadng perhitungankau kali ini pulab boleh dianggap selesai !"

Boen Ching mengerutkan alisnya, dalam hati pikirnya.

"Kau berkata secara demikian bukankah terlalu sombong, didalam seratus jurus ? sekalipun ribuan jurus aku juga belum tentu akan memperlihatkan kekalahan."

Dalam hatinya dia berpikir demikian, tetapi Pada mulutnya ujarnya kePada diri Lieh Yu.

"Kalau demikian aku harus mengucapkan terima kasih kePada cianpwee."

Lieh Yu tertawa dingin, sahutnya. "Cuaca hampir menjadi gelap, janganlah membuang waktu dengan percuma, cepatlah kau maju menyerang !"

Sehabis berkata dia mengulapkan tangan nya bangau raksasa yang berada dibelakang tubuhnya itu segera mengikuti bertiupnya angin melayang keatas udara.

Boen Ching diam-diam menarik napas panjang-panjang, dia tahu bahwa Pada saat melancarkan serangan adalah merupakan waktu yang sangat berbahaya sekali, tidak perduli siapapun Pada saat melancarkan serangan pastilah akan menampilkan tempat kelemahannya, apabila pengalaman pihak lawan telah sangat luas sekali, dirinya pastilah akan menemui kekalahan.

Kecuali apabila didalam satu jurus telah berhasil mendesak pihak lawan, kalau tidak tentu akan mendapat kesulitan yang tidak kecil.

Dia termenung berpikir keras beberapa saat lamanya, dengan sembarangan dia melancarkan serangannya yang pertama menerjang kening dari Kioe Thian Ie Sin, LiehYu, jurus ini adalah merupakan jurus pembukaan dari ilmu pedang Thian San Kiam Hoat. "Than Way Lay Hong'

Lieh Yu tertawa besar, ujarnya.

'Kiranya kan pun mempunyai hubungan yang erat dengan pihak Thian San Pay !"

Sambil tertawa telapak tangannya didorong secara mendatar ke arah depan dan menerjang ke tubuh Boen Ching.

Dalam hati Boen Ching telah mempunyai perhitungan yang masak, dengan cepat dia berputar menghindari serangan tersebut, sebenarnya dia bermaksud hendak menggu-nakan serangan-serangan yang grencar menghadantg ratusan jurusq dari serangan rLieh Yu ini, untuk mencari dirinya, tetapi ketika terpikir akan Bwee Giok yang berdiri disamping, pikiran tersebut dengan cepat berubah, dia tidak dapat memberikan Lieh Yu berbuat sesuatu gerakan yang tidak menguntungkan diri Bwee Giok, mau tak mau dia terpaksa harus mengurung rapat diri Lieh Yu.

Sepasang telapak tangan dari Lieh Yu baru saja didorong sampai ditengah jalan, gerakan pedang dari Boen Ching mendadak berubah, sedang ilmu pedang "Ngo Heng Kiam Hoat' pun dikerahkan keluar.

Kaki Boen Ching berturut-turut menginjak kedudukan menuruti kedudukan Ngo Heng, sedang pedangnya melancarkan jurus-jurus, dari "Ngo Heng Kiam Hoat'? yang digabungkan dengan tenaga khiekang "Chiet Kong-Kang Khie" jurus pedangnya sebentar tegak lurus, sebentar lagi  membalik, mendadak nyata dan mendadak hanya bayangan saja, sehingga membuat segulung sinar pedang yang sangat rapat sekali mengurung sekeliling tubuh Lieh Yu.

Sinar mata Lieh Yu memancarkan sinarnya dengan tajam, sepasang telapak tangannya bergerak tak henti-hentinya, dengan sekuat tenaga menahan jurus serangan pedang dari Boen Ching itu.

Dia tahu apabila dia menggunakan tangan kosong untuk menghadapi serangan pedang dari Boen Ching ini tak mungkin bagi dirinya untuk merebut kemenangan, apalagi Pada saat ini perhatian Boen Ching belum terpecah, dia tak berani melawannya dengan keras lawan keras, terpaksa dia membiarkan dirinya terkurung rapat-rapat oleh serangan- serangan Boen Ching itu, apabila Pada saat ini Boen Ching menerjang ke arahnya dengan menggunakan sekuat tenaga, kiranya dirinya tak mungkin akan dapat sanggup menerima sepuluh jurus lagi.

Kedua orang itu dengan cepat saling serang menyerang, dalam sekejap saja telah lewat limapuluh jurus lebih.

Dalam hati Boen Ching merasa sengat girang sekali, apabila demikian seterusnya, kiranya ratusan jurus dengan cepat dapat dilalui dengan mudahnya, tetapi entah Lieh Yu ini telah menggunakan senjata tajam apakah, mengapa masih tak berani untuk digunakan!

Tubuh Boen Ching dengan cepat dari kedudukan "Lieh Hwee" berpindah kedalam kedudukan "Ie Bok", sedang jurus serangannya pun telah menggunakan jurus "Kiam Coan Thian Hwee"

Lieh Yu yang menduduki salah satu dari Kioe Thian Swang Sin terhadap jurus pedang yang diciptakan oleh Tan Coe Coen ini tak mungkin kalau tidak memahainya, dia terta wa dingin, berturut-turut mundur dua langkah kebelakang.

Boen Ching mempunyai maksud untuk melihat senjata tajam yang digunakan oleh Lieh Yu ini, sebenarnya dia harus beralih segera kedalam kedudukan "Swie" kemudian menggunakan jurus "Hek Swie Yu-Yu" atau air hitam mengalir perlahan menghalangi jalan mundur dari Lieh Yu tetapi dia mendadak membungkukkan tubuhnya maju menyerang mendesak kearah diri Lieh Yu.

Lieh Yu yang selalu mencari tempat kelemahan tetapi  tetap tak mendapatkannya, pada saat ini tampak pada tubuh Boen Ching terdapat lubang kelemahan, dalam hatinya menjadi sangat girang sekali dia bersuit panjang, tubuhnya dengan cepat melayang mundur kebelakang.

Boen Ching tahu pada saat ini Lieh Yu siap hendak menggunakan senjata tajamnya, ujung kaki kanannya dengan cepat menutul ke atas tanah, sedang tubuhnya dengan cepat meluncur kebawah mengejar, jurus serangan nya pun dirangkap kedepan siap dilancarkan kembali, agaknya dia mempunyai maksud untuk melihat maksud sebenarnya dari diri Lieh Yu.

Sebenarnya Lieh Yu mengira bahwa kepandaian yang dimiliki Boen Ching jika dibandingkan dengan dirinya hanyalah terpaut sedikit saja, tetapi sama sekali tak diduga olehnya bahwa dilihat pada saat ini ternyata kepandaian yang dimiliki Boen Ching ini jauh lebih tinggi satu tingkat dari dirinya.

Dia menggigit kencang bibirnya, pada saat ini dia merasa sangat benci sekali sehingga menyusup kedalam tulang sumsumnya terhadap diri Boen Ching, tubuhnya dengan cepat meluncur mundur ke belakang, tangan kanannya diayunkan, terlihat sebuah jarum emas yang panjangnya beberapa coen dengan sangat cepat sekali menyerang kearah Boen Ching.

Been Ching tidak mengetahui jarum sepanjang beberapa coen itu mempunyai kegunaan apa, tetapi terpikir olehnya bahwa pastilah bukan merupakan benda yang biasa, ia menarik napas panjang- panjang, dan bersuit nyaring, dengan cepat tubuhnya mundur kebelakang. 

Jarum emas yang panjangnya beberapa coen itu bagaikan terkena hawa murni yang mengalir keluar pada saat Boen Ching mengundurkan dirinya itu, daya meluncur dari jarum emas tersebut semakin bertambah cepat, bagaikan kilat cepatnya mendesak terus kearah Boen Ching.

Pedang Cing Hong Kiam ditangan Boen Ching dengan cepat disentilkan kedepan, didalam sekejap mata saja ditengah kalangan itu telah penuh diliputi oleh suara angin serta menggelegarnya guntur, sekumpulan sinar pedang yang berwarna hijau balik menggulung kearah jarum emas itu dengan hebatnya.

Begitu pedang dengan jarum emas beradu satu sama lainnya, jarum emas tersebut dibawah tekanan yang hebat dari sinar pedang dengan cepat merendah kebawah dan meneruskan luncurannya menerjang ke tubuh Boen Ching.

Boen Ching tampak dirinya dengan menggunakan jurus "Hong Chie Loei Cie" atau anti timbul petir menyerang masih tetap tidak bisa menahan daya luncur dari jarum emas tersebut, dalam hatinya tak terasa lagi menjadi terkejut sekali, hawa Khiekangnya yang melindungi seluruh tubuhnya dengan tak tertahan lagi mengalir keluar menerjang kearah jarum emas tersebut.

Jarum emas itu dengan cepat jatuh ke bawah, tetapi mendadak menembus tenaga khie kang yang melindungi tubuhnya itu meluncur masuk kedalam jalan darah "Cie Cing Hiat'' dikaki kanan Boen Ching.

Boen Ching hanya merasakan hawa murni yang melindungi kakinya menjadi buyar sedang tubuhnya dengan cepat berlutut ke atas tanah, dia merasa sekalipun jarum emas itu sekalipun panjangnya ada beberapa coon, tetapi ternyata bagaikan tak mempunyai bobot sedikit pun juga.

Pada saat pikirannya berkelebat, secara mendadak teringat akan sesuatu benda, bukankah ini dimaksudkan sebagai "Chiet Hay Mo Kut Tin?"

Berita yang disiarkan didalam dunia kangouw mengatakan bahwa jarum ini dibuat dari tulang jenazah iblis nomor wahid pada waktu itu Chiet Hay Mo Ceng, benda  tersebut merupakan suatu benda yang sangat ringan sekali, bahkan begitu terkena segera akan menemui ajalnya.

Boen Ching menjadi sangat terkejut sekali, pedang Cing Hong Kiamnya dengan cepat digurat kebawah merobek urat nadi pada kakinya'

Darah segar dengan cepat mengucur keluar dengan cepat, bersamaan pula jarum Mo Kut Tin itu mengalir keluar, wajah dari Boen Ching berubah menjadi sangat pucat sekali, dia mendongakkan kepalanya memandang kearah Lieh Yu yang pada saat ini agaknya merasa sangat terkejut sekali.

Dia tahu apabila dirinya terlambat satu tindak, Jarum Mo Kut Tin terseiut akan mengikuti mengalirnya darah masuk kedalam jantungnya sehingga kemungkinan sekali dirinya segera menemui ajalnya.' Boen Ching sambil menutup lubang lukanya, sebelah tangannya mencekal pedang Cing Hong Kiamnya, dengan setengah berlutut diatas tanah, dia memandang kearah Lieh Yu dengan sangat gusar sekali.

Lieh Yu dengan tertawa dingin ujarnya.

"Ternyata kau benar-benar seorang yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi"

Sehabis berkata dengan dingin dia mendengus, sambil menoleh ujarnya.

"Kau berhasil menghindarkan diri dari bencana ini, bolehlah dihitung sangat beruntung sekali, tetapi dapat pula dihitung kesialanmu, aku telah bersumpah sekalipun kau tidak menemui ajalnya, juga akan membuat kau menderita untuk selamanya."

Boen Ching mementangkan sepasang matanya lebar-lebar, dia akan melihat Lieh Yu masih mempunyai cara apakah membuat dirinya menderita untuk selama hidupnya.

Lieh Yu dengan tajam memandang kearah Boen Ching, dengan dingin dia tertawa panjang, tubuhnya berputar setengah lingkaran ditengah udara dan tangan kanannya diayun kan, segulung asap berwarna hijau meluncur dengan cepatnya kearah Bwee Giok yang berdiri disamping Boen Ching.

Dalam hati Boen Ching menjadi sangat terkejut sekali, dengan tidak memperdulikan lukanya yang diderita dikakinya itu, tubuhnya dengan cepat melayang meluncur ke arah Bwee Giok.

Tetapi kaki kanannya yang terluka itu membuat gerakan tubuhnya agak terlambat asap berwarna hijau itu telah menerjang keatas tubuh Bwee Giok, sedang Bwee Giok yang siap hendak menghindarpun telah terlambat, segera dia rubuh keatas tanah tak sadarkan diri.  Lieh Yu sambil tertawa tergelak memutar tubuhnya,  bangau raksasapun dengan cepat meluncur kebawah,

Boen Ching dengan gusar bersiut nyaring pedang Cing Hong Kiamnya dilepaskan dari tangannya, ujung pedang tersebut dengan cepat meluncur keatas membuat kepala bangau raksasa itu terbabat menjadi dua bagian.

Lieh Yu dengan gusar membalikkan tubuhnya Boen Chingpun melayang menubruk kedepan, sepasang telapak tangan masing-masing segera bertemu menjadi satu dan kemudian mundur kembali kebelakang.

Kedua orang itu dengan gusar saling berhadap-hadapan. Lieh Yu tertawa dingin ujarnya.

"Aku telah menolong kau menyembuhkan seorang gila, kini sekalipun dia telah menjadi sadar kembali tapi aku akan membuat dia menjadi gila pula !"

Sehabis berkata dengan dingin dia memandang kearah Boen Ching dan tertawa dingin tak henti-hentinya.

Boen Ching yang mendengar perkataan tersebut, hatinya menjadi sangat kacau, dengan gusar bentaknya.

"Jika kau tidak meninggalkan obat penawarnya, aku segera akan menghancurkan seluruh tubuhnya."

Ketika Lieh Yu memandang kearah Boen Ching yang sedang mengucapkan perkataan tersebut dengan sepasang matanya yang melotot hampir keluar, dalam hatinya ia menjadi sanpat terkejut sekali.

Segera dia tertawa dingin, ujarnya:

"Aku kira kau tak akan berhasil melakukan nya"

Boen Ching dengan gusar bersuit kalap, sepasang telapak tangannya dengan menggunakan seluruh tenaganya menghantam tubub Lieh Yu, segulung hawa murni yang mempu-nyai tujuh warna yang berlainan itu dengan cepat berubah menjadi suatu hawa murni yang mempunyai warna putih yang dengan sangat dahsyat menggulung kearah Lieh Yu.

Lieh Yu tertawa menghina, sambil balas melancarkan serangan, dia mengundurkan dirinya kebelakang, tubuhnya bagaikan sambaran kilat cepatnya mundur kearah belakang.

Boen Ching yang melihat hal ini mana mau melepaskan dengan demikian saja, segera diapun melayangkan tubthnya mengejar kearah Lieh Yu.

Lieh Yu sama sekali tidak menggubrisnya sambil tertawa dingin dia lari kedepan. Boen Ching yang kaki kanannya sudah terluka, dan baru saja mengejar sampai ditengah jalanan.

segera tertinggal sangat jauh sekali, dengan kalap dia berteriak nyaring.

"Lieh Yu! apabila kau tidak meninggalkan obat penawarnya, sekalipun sampai keujung langitpun aku tetap tak akan melapaskan dirimu`..

Lieh Yu hanya tertawa terus dan melanjut kan larinya kedepan.

Boen Ching merasa sangat kecewa sekali, sambil mendekap diatas permukaan salju teringat olehnya akan segala gerak gerik sifat dari diri Sek Giok Siang, tak tertahan lagi, hatinya menjadi sangat sedih sekali, hampir-hampir air matanya menetes keluar dari kelopak matanya !.

Dia bangkit berdiri siap hendak balik kembali, tetapi mendadak terasa kaki kanannlya sangat sakit sekali, sehingga sukar untuk bergerak, dia menundukkan kepala nya memandang, tampak darah segar masih mengucur keluar dari luka kaki kanan nya, membuat seluruh jubah panjangnya basah oleh darah tersebut. Boen Ching mengigit kencang bibirrya, dan bangkit berdiri, sambil menarik napas panjang-panjang, dengan cepat dia lari kearah jalan semula.

Tak sampai beberapa waktu sampailah ke tempat semula, tampak Bwee Giok masih terbaring diatas tanah, agaknya dia masih belum sadar kembali dari pingsannya.

Dia menarik napas lega sambil berjalan mendekati dan kemudian berjongkok di samping tubuh Bwee Giok, setelah memandang beberapa saat lamanya, dengan perlahan dia mengangkat tubuh Bwee Giok dari atas permukaan salju dan diletakan keatas pangkuannya.

Dengan termangu Boen Ching memandang kearah Bwee Giok, didalam benaknya pada saat ini entah sedang memikirkan apa!

Sejenak kemudian, tampak Bwee Giok dengan perlahan mementangkan matanya, dalam hati Boen Ching merasa sangat tegang sekali, dengan tajam dia memandangnya ke arahnya tanpa bergerak.

Bwee Giok mementangkan sepasanbg mata nya dengdan termangu-managu dia meman-dabng kearahnya Boen Ching, lama sekali tak mengucapkan sepatah katapun juga, Boen Chingyang melihat sinar mata Bwee Giok seperti seorang bodoh, tak terasa lagi air matanya meleleh ke luar membasahi wajahnya.

Dia membuka mulut hendak berbicara, tetapi untuk sesaat menjadi ragu-ragu, lama kemudian barulah ujarnya.

"Giok ! kau sedikit baik bukan??".

Bwee Giok dengan termangu-mangu memandang kearah Boen Ching, sejenak kemudian diapun mengucurkan air matanya. Boen Ching menarik napas panjang dan tersenyum, baru saja dia akan membuka mulut untuk berbicara, tampak Bwee Giok telah bangkit berdiri dan tertawa dengan nyaring.

Boen Ching tampak hal ini menjadi sangat terkejut sekali, dengan cepat dia bangkit berdiri.

Bwee Giok begitu tampak kaki Boen Ching sedikit bergerak, segera dia menggerakkan kakinya lari dengan cepat kearah depan.

Boen Ching dengan cepat mengejar, sedang Bwee Giok berlari tambah cepat lagi, kedua orang itu satu didepan yang lain di belakang berlari terus kearah depan.

Begitu Boen Ching membuka mulutnya memanggil, Bwee Giokpun ikut membuka mulutnya berteriak, segera Boen Ching menjadi sadar, kiranya Bwee Giok sedang meniru segala gerak gerik dirinya, sepasang kakinya menjadi lemas dan rubuh keatas tanah.

Bwee Giokpun dengan perlahan lahan meniru gerak dari Boen Ching dan tidur diatas tanah. .

Boen Ching memejamkan matanya dalam hatinya entah sedang memikirkan tentang apa, sejenak kemudian dia mementangkan matanya kembali tampak Bwee Giok pada saat ini telah tertidur dengan sangat nyenyaknya pada permukaan salju tidak jauh dari tempat dirinya.

Dengar perlahan-lahan dia berjalan mendekati diri Bwee Giok, tampak wajahnya pucat kehijau-hijauan, bibirnya berubah menjadi hijau gelap, napasnyapun sangat cepat sekali, seluruh tubuhnya gemetar dengan hebat" sedang bibirnyapun sering membuka bagaikan sedang berteriak.

Tak terasa lagi air matanya mengalir keluar membasahi seluruh wajah Boen Ching, dengan perlahan dia membimbing bangunb tubuh Bwee Giodk. Dia mendongaakkan kepalanya bmemandang ke angkasa, terpikir olehnya bahwa dia Bwee Giok telah merasakan bermacam-macam penderitaan, kinipun dikarenakan dia juga sehingga membuat gadis itu menjadi gila oleh Lieh Yu.

Dalam hatinyapun dia tak dapat berbuat apa-apa, Lieh Yu telah turun tangan keterlaluan, sekalipun dia mengakui bahwa dirinya telah berbuat salah, tetapi dengan nama besar dari Lieh Yu sebagai Kioe Thian Ie Sin bukan saja berlapang dada memberi kan pertolongannya, bahkan sebaliknya membuat seorang gadis yang suci bersih menjadi menderita seperti ini merupakan urusan yang tak dapat diampuni untuk selamanya.

Tak perduli bagaimana juga dia tak akan melepaskan diri Lieh Yu dengan demikian saja.

Tetapi deugan keadaan situasi dihadapan nya sekarang ini, Bwee Giok telah menjadi demikian rupa, tak mungkin dia akan melepaskan gadis itu dengan begitu saja?.

Boen Ching mendongakkan kepalanya memandang keatas angkasa yang telah menggelap itu, dia akan membawa Bwee Giok menuju kesuatu tempat yang tak pernah di kunjungi orang, agar dia tak akan mendapat kan ejekan dari orang lain.

Dia termenung berpikir keras, dengan perlahan lahan ia membopong tubuh Bwee Giok dan melanjutkan perjalanannya menuju kearah utara.

ooo0ooo

DAERAH SALJU TAK ADA PANGKALNYA

BOEN CHING membopong tubuh Bwee Giok, terus berlari kearah Utara.

Bwee Giok yang berturut turut berada dalam perjalanan pada saat ini telah sangat lelah sekali dan tertidur dengan nyenyaknya, Pada saat ini cuaca mendekati magrib, kaki kanan Boen Ching pun saking kakunya hingga sukar sekali untuk digerakkan kembali, tetapi dia tak perduli apapun tetap melanjutkan perjalanannya kearah depan.

Lambat laun dari ujung langit tampak sana memancar keluar sinar matahari yang terang, saking lelahnya hampir- hampir Boen Ching tak sanggup melanjutkan perjalanannya lagi, dia menghembuskan nrapas panjang datn memandang ke qsekeliling temprat itu.

Disebelah tenggara sana tampak gundukan salju yang sangat tinggi sekali, Boen Chin dengan langkah yang perlahan berjalan menuju kearah tersebut.

Setelah memutari gundukan salju tersebut, tampak dibawah gundukan itu terdapat sebuah gua salju, agaknya gua yang telah lama ter tutup salju, diluar gua itu masih tampak sebuah batang pohon tua yang telah mengering dan pada saat ini tertimbun oleh salju.

Boen Ching berdiri tenang beberapa saat diluar gua itu, kemudian sambil membopong tubuh Bwee Giok dengan pelahan dia berjalan masuk kedalam gua.

Didalam gua, itu tampak terdapat sebuah balai yang terbuat dari batu, sedang diatas balai yang terbuat dari batu itu terdapat tulang manusia yang telah terlepas dan hancur.

Boen Ching dengan sembarangan meman-dang sekejap, dia berjalan kedepan, dengan menggunakan tangannya menyapu bersih kemudian dirinya naik keatas balai batu itu dan duduk bersila, sedang tubuh Bwee Giokpun disandarkan disamping tubuh nya.

Beberapa saat kemudian, tampak tubuh nya Bwee Giok bergerak, bagaikan hendak bangkit berdiri, Boen Ching dengan perlahan membuka matanva, tampak Bwee Giok yang berada didalam pelukannya itu sedang mementangkan matanya dan memandang dirinya dengan penuh keheranan, dia telah merasakan sangat lelah sekali, terpikir olehnya bahwa Bwee Giok tentunya meniru kan segala gerak-geriknya.

Kiranya jauh lebih baik Bwee Giok berbuat demikian dari pada harus berlari kesana kemari tanpa tujuan.

Boen Ching segera memejamkan matanya tak terasa lagi dia jatuh pulas dengan nyenyaknya. Ketika dia mendusin dari tidurnya tampak Bwee Giok masih berada didalam pangkuannya dan memejamkan matanya pula, sering pula dia mementangkan matanya memandang kearahnya dengan sinar mata penuh keheranan.

Boen Ching mengalihkan pandangannya ke sekeliling tempat itu, tampak cuacapun hampir mendekati magrib lagi, tak terasa lagi dia menjadi sangat terkejut sekali. dalam hati pikirnya.

"Aku sekalipun seharian penuh melakukan perjalanan dengan susah payah, tetapi selamanya belum pernah tertidur hingga demikian lamanya."

Baru saja dia bersiap hendak bangkit berdiri, tampak Bwee Giok masih berada didalam pangkuannya, dengan perlahan  dia menghela napas dan mendongakkan kepala nya memandang kearah luar gua.

Bwee Giok memperhatikan gerak Boen Ching yang hendak dilakukan tetapi kemudian dibatalkan itu rasa aneh sekali, dengan menggunakan seluruh pikirannya dia memandang kearah Boen Ching agaknya dia tak mengetahui sebenarnya Boen Ching hendak berbuat apa.

Dalam hati Boen Ching merasa sangat berduka sekali, Bwee Giok kini telah dibuat bagaikan seorang yang sangat bodoh sekali oleh Kioe Thian Ie Sin, sehingga dia hanya dapat melakukan gerakan-gerakan yang mudah saja.

Dengan perlahan dia memejamkan sepa-sang matanya, dia berpikir keras beberapa saat lamanya, dia tidak menginginkan Bwee Giok menderita tetapi kini dia tak mempunyai cara lainnya lagi, dengan terpaksa dia menotok jalan darah ngantuk dari tubuh Bwee Giok.

Bwee Giok dengan cepat tidur dengan nyenyaknya, Boen Ching memandang terpesona ketubuh Bwee Giok, sejenak kemudian barulah dia meletakkan tubuh Bwee Giok keatas tanah, dan berjalan keluar dari gua.

Sekeliling gua itu hampir tak tampak apapun juga, sekalipun sebatang rumput pun, Setelah memandang beberapa saat lamanya, dia menghela napas, dalam hati pikirnya.

"Tempat seperti ini tak dapat ditinggali lebih lama lagi, sebelum cuaca menjadi terang, aku harus berangkat menuju ke arah Barat, dan mencari suatu tempat yang dapat digunakan untuk melanjutkan hidup, dimana aku dapat melanjutkan hidupku dengan tenang sekali dengan diri Bwee Giok."

Baru saja dia berpikir sampai disitu, di tengah udara terdengar suara burung berpekik dengan nyaringnya, tampak sekelompok burung-burung berterbangan dari arah Utara menuju ke daerah Selatan.

Dalam hati Boen Chingb merasa tergeradk, terpikir oleahnya seharian pbenuh dia belum berdabar, sekali pun dirinya masih tidak merasakannya, tetapi Bwee Giok tak dapat menyamai dirinya dan tidak makan sama sekali.

Tangannya segera menvambar beberapa potongan salju dan diayunkan kearah kelompok burung-burung yang sedang beter-bangan di angkasa itu.

Dimana potongan salju itu meluncur, tiga ekor burung yang terbang bagaikan jatuhnya bintang dilangit paling depan segera meluncur ke bawah dengan cepat, sedang kawanan burung lainnya pun menjadi kacau balau tak karuan dan terbang lebih meninggi lagi. Dalam bati Boen Ching merasa sangat menyesal sekali, dalam hati pikirtiya seharusnya tidak boleh dirinya menimpuk kawanan burung yang terbang dipaling depan, bukankah ,jauh lebih baik menimpuk yang terbang dibelakang ?

Dengan perlahan dia menghela napas, menanti setelah kawanan burung itu terbang jauh dari tempat tersebut, dia barulah mengambil ketiga ekor burung yang telah ditimpuk jatuh tersebut.

Boen Ching pun mematahkan batang-batang kayu dari pohon tua yang berada didepan gua itu, membuat kayu-kayu tersebut menjadi terpotong kecil-kecil siap untuk digunakan membakar daging burung-burung tersebut, disamping itu dapat pula digunakan untuk menghangatkan tubuhnya.

Membuat api unggun tersebut didepan tubuh Bwee Giok, setelah selesai memang-gang daging burung itu barulah dia membe-baskan jalan darah yang ditotoknya itu.

Bwee Giok yang darahnya telah dibebaskan dari totokan, begitu tampak api unggun tersebut wajahnya segera timbul perasaannya yang sangat terkejut sekali, bagaikan dia siap hendak melarikan diri, Boen Ching dengan tergesa-gesa memeluk tubuhnya dengan sangat kencang sekali.

Bwee Giok pun dengan cepat balik mencekal diri Boen Ching dengan kencang, Boen Ching dengan perlahan membelai rambut Bwee Giok yang panjang terurai itu, tak terasa lagi air matanya meleleh keluar membasahi wajahnya, lama kemudian dia barulah melepaskan pelukannya dengan perlahan,

Sejenak kemudian Bwee Giok punb melepas kan pedlukannya terhadaap diri Boen Chbing, dengan sinar mata yang penuh keheranan dia memandang keatas tumpukan api unggun, setelah memandang beberapa saat lamanya, dia mengulurkan tangannya siap hendak mengambil api unggun itu. Boen Ching dengan tergesa-gesa menang-kap tangan Bwee Giok, air muka Bwee Giok segera menampilkan suatu  perasaan yang sangat gusar sekali, sepasang matanya melotot keluar memandang tajam wajan Boen Ching.

Boen Ching mengambil daging burung, yang telah matang dan diberikan kepada Bwee Giok, air muka Bwee Giok dengan cepat pula berubah menjadi bimbang dan ragu, setelah menerima daging tersebut dia memandangnya dengan tajam kemudian memandang pula kearah Boen Ching.

Boen Ching tersenyum, dia merobek daging burung itu dan dimasukkan kedalam mulutnya.

Bwee Giok begitu tampak pada wajah Boen Ching menampilkan senyum yang manis, segera dia tertawa nyaring, ia pun menirukan diri Boen Ching itu merobek daging burung dan dimasukkan kedalam mulutnya dan mulai makan dengan lahapnya !

Wajah Boen Ching segera berubah menjadi serius kembali, pada wajahnya dia tak berani lagi menampilkan berbagai perasaan.

Senyuman yang menghiasi dibibir Bwee Giok pun lenyap, dengan termenung dia melahap daging burung itu, Boen Ching merobek dengan perlahan Bwee Giok pun mendaharnya dengan perlahan, sepasang matanya dengan tajam memandang Boen Ching.

Setelah lewat beberapa saat, Boen Ching tampak Bwee Giok agaknya telah cukup mendahar, dia barulah meletakkan kembali daging burungnya keatas tanah.

Bwee Giok pun meniru meletakkan sisa daging burungnya keatas tanah dan duduk termenung tak bergerak sedikit pun juga.

Boen Ching dengan perlahan memejamkan matanya, hari kedua pada saat sebelum fajar dia harus melanjutkan perjalanannya lagi, terpikir olehnya Bwee Giok harus banyak beristirahat, untuk menghindarkan dirinya terlalu lelah ditengah jalanan.

Baru saja ia memejamkan matanya, segera terasa suara yang sangat ringan sekali berkumandang datang, dalam hrati diam-diam dtia merasa sangaqt terkejut, padra saat dan tempat seperti ini, entah masih ada siapa lagi yang datang kemari?? Dia sama sekali sukar untuk menduganya.

Sepasang matanya dengan cepat diben-tangkan, tampak didalam gua itu bertambah dengan sebuah genta besar, sedang di belakang api unggun berdiri seseorang, orang itu tak lain adalah wanita berbaju merah yang membunyikan suara genta tersebut.

Dalam hati Boen Ching merasa semakin terkejut, segera dia sadar peristiwa apakah yang akan terjadi.

Dengan cepat dia menotok jalan darah di atas tubuh Bwee Giok, dan mengempit dibawah ketiaknya, dengan perlahan dia bangkit berdiri.

Wanita berbaju merah itu begitu tampak gerak gerik yang sangat aneh dari diri Boen Ching, dengan ragu-ragu dia memandang ke arahnya.

Kedua orang itu saling berhadap-hadapan ditengahnya hanya terpaut setumpuk api unggun saja, dengan sangat tenang sekali berdiri disana, wanita berbaju merah itu tak mengucap sepatah katapun, Boen Ching pun tak mau pula mendahului mengucapkan sepatah kata. 

Lama kemudian wanita berbaju merah itu dengan dingin berkata.

"Kau mengira kau dapat melarikan diri dari tanganku?"

Sehabis berkata dia tertawa dengan dinginnya, sepasang matanya menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, lanjutnya. "Jangan dikata kau belum melarikan diri sejauh ratusan lie, sekalipun kau melarikan diri keujung langitpun aku juga tak akan me lepaskan dirimu !"

Boen Ching mengerutkan alisnya, dia selama hidupnya belum pernah mengemis terhadap diri seseorang, dan tak pernah pula mohon pengampunan dari orang lain, dengan sangat dingin sekali dia memandang ke arah wanita berbaju merah itu, sepatah kata pun tak diucapkan keluar.

Wanita berbaju merah itu tertawa dingin, sambil maju satu tindak ke depan, ujarnya kepada Boen Ching.

"Kau masih menginginkan aku yang turun tangan ?"

Sekalipun Boen Ching tidak menginginkan untuk memohon kehidupan dari wanita berbaju merah itu, tetapi ingatan untuk melarikan diri bukannya tak ada didalam benaknya, sitar matanya berkelebat tak henti-hentinya, telapak tangannya diayunkan memukul kearah api unggun tersebut, sedang tubuhnya dengan cepat melayang mundur ke belakang.

Api unggun yang menyinari seluruh ruangan gua itu segera menjadi padam, tubuh Boen Ching dengan cepat melayang mundur ke belakang, dan berdiri menempel pada dinding gua.

Tubuh wanita berbaju merah itu bergerak sedikitpun tidak, dia tetap berdiri ditempat, dengan dingin ujarnya:

'?Janganlah kau kira dengan demikian kau hendak menarik keuntungan, janganlah kau menganggap diriku tak dapat melihat dengan jelas dirimu didalam kegelapan ini".

Dalam hati Boen Ching makin merasa sangat terkejut, tetapi dia masih tetap berdiri tegak tak bergerak sedikitpun juga.

Dengan dingin ujar wanita berbaju merah itu.

"Aku melihat mungkin kau masih tidak mempercayai perkataanku, aku akan memberitahukan kepada mu, sekarang kau berdiri di sebelah kiri, dan menempel pada dinding gua, sedang kakimu kurang lebih setengah coen di depan dinding gua, benarkah??"

Boen Ching mengerutkan alisnya, dia tahu wanita berbaju merah itu secara diam-diam telah mengawasi segala gerak- geriknya, dan tidak kalah dari dirinya, dalam hatinya pun tak terasa lagi dia merasa sangat kecewa sekali, dan berdiri tertegun disana.

Dengan dingin ujar wanita berbaju merah itu .

"Aku lihat lebih baik ada api unggun yang bisa menghangatkan badan, ditengah udara yang demikian dinginnya, kemungkinan sekali kau akan dapat tahan, tetapi gadis kecil itu takkan dapat tahan lama"

Sehabis berkata dia menyulut api diatas api unggun tersebut.

Pada saat ini dalam hati Boen bChing merasa sadngat kecewa sekaali, dalam hatib pikirnya sekalipun demikian, terpaksa hanya lah dengan mengadu jiwa dengannya, sedang menang kalahnya tergantung putusan Thian, dengan per lahan dia maju setindak kedepan, dan berdiri tertegun disana.

Wanita berbaju merah itu tertawa dingin, ujarnya.

"Ini hari kau tak akan dapat meloloskan dirimu lagi, sebelum kau menemui ajalnya aku akan memberitahukan kepadamu siapa kah aku sebenarnya sehingga setelah binasa kau tak akan menjadi setan yang tak tahu menahu."

Boen Ching dengan perlahan menunduk kan kepalanya, pada saat ini dia mendengar atau tidak mendengar juga tak ada sangkut pautnya, tapi dia hanya memikirkan mengapa wanita berbaju merah itu sebentar sebagai kawan dengan dirinya tetapi sehentar pula jadi musuh bagi dirinya. "Jika dibilang aku dengan sucouwmu Tan Coe Coen masih mempunyai hubungan perguruan, aku bernama Thian Jan Lie, Jien Muh Nio."

Boen Ching mendongakkan kepalanya memandang sekejap ke arah wanita berbaju merah ini, dalam hati pikirnya.

"Kiranya dia adalah Jien Muh Nio adanya!'

Dia masih teringat ketika untuk pertama kalinya dia mendengar suara genta tersebut, segera dia merasa bahwa orang yang membunyikan suara genta itu mempunyai hubungan yang amat erat sekali dengan perguruannya, kalau tidak mengapa dia dapat mengetahui dengan sangat jelas sekali cara-cara melatih tenaga dalam dari perguruannya.

Jien Muh Nio adalah putri kesayangan dari suhu Tan Coe Coen, pada usia belasan tahun dia telah menggetarkan seluruh dunia kangouw, usianya jika dibandingkan dengan Tan Cce Coen jauh lebih kecil, pada saat suhu dari Tan Coe Coen sebelum binasa dia telah memberikan pesan-pesannya untuk menjadi putri kesayangannya ini.

Tetapi ketika Jien Muh Nio pada suatu hari pergi keluar, sejak itu tak kembali lagi ke gunung, dan sejak itu pula tak ada kabar berita lagi mengenai jejaknya.

Been Ching memandang kearah wajah Jien Muh Nio, untuk sesaat diapun tidak mengetahui harus berbuat bagaimana baiknyba, Jien Muh Niod juga dapat dihaitung sebagai cbianpwee dari perguruannya, tetapi pada saat ini dia telah merupakan satu-satunya ahli waris ilmu "Hiat Mo Kang" dari partai sesat didaerah Timur laut.

Jien Muh Nio tertawa dingin, dia sedikit merasa heran, Boen Ching agaknya mengeta-hui namanya, tetapi ketika dia memandang sekejap ke arahnya, tampak pada air mukanya tak menampilkan sedikit pun perasaan.

Tanyanya kemudian kepada diri Boen Ching: "Apa boleh dikata kau belum pernah mendengar namaku? ' Sahut Boen Ching dengan perlahan.

"Pada saat sucouw ku sebelum meninggal telah memberi pesan terakhir kepada suhu serta supekku agar mereka pergi mendapatkan kembali diri cianpwee !"

Sinar mata Jien Muh Nio berkelebat tak henti-hentinya, Boen Ching kalau memang nya sudah mengetahui dirinya, mengapa dia tak memberikan hormatnya kepada diri nya??? Apakah boleh dikata Boen Ching tidak takut mati ? Tetapi baru saja dia memadamkam api sambil mengundurkan dirinya, hal ini membuktikan kalau dia masih menginginkan kehidupan bagi dirinya, hanyalah tidak mengetahui mengapa dia dapat berubah dengan cepatnya pada saat ini???

Dengan bingung dia memandang ke arah Boen Ching, keudian dengan perlahan ujarnya.

"Aku melenyapkan diriku adalah dikarenakan aku telah menikah dengan Ie Lam Thiat Ling Khek !"

Sambil berkata dia memandang tajam ke arah Boen Ching.

Boen Ching agaknya sedang mendengarkan dengan  cermat, padahal dia pada saat ini sedang memikirkan hal yang lain, air mukanya tetap tak berubah sedikitpun juga, juga tak dapat diterka apakah dia benar-benar sedang mendengarkan dengan cermat.

Thian Jan Lie, Jien Muh Nio mengerutkan alisnya, dalam hatinya diam-diam pikirnya:

"Ini adalah kesempatan yang paling bagus, aku mengkhawatirkan dirimu malah kau tidak mau ambil perduli, pada saat kau turun tangan membuat aku menjadi tidak ragu lagi' Pada bibirnya segera tersungging suatu senyuman yang sangat dingin sekali, dan melanjutkan perkataannya yarng belum selesati itu.

"Goei Laqm Yu adalah murrid dari Thiat Ling Khek, setelah Thiat Ling Khek meninggal, dia telah menggunakan berbagai macam cara untuk memancing diriku, tujuannya yang utama hanyalah ingin mempelajari ilmu "Hiat Mo Kang".

Air muka Boen Ching tetap tak berubah sedikitpun juga, Jien Muh Nio menjadi termenung berpikir keras, pada saat itu didaerah Thian Lam masih tidak mengapa, tetapi dia adalah orang dari daerah Tionggoan, Boen Ching pun juga orang Tionggoan, dimata kedua belah pihak pastilah merupakan suatu urusan yang sangat jelek sekali untuk didengar, tetapi ternyata Boen Ching bagaikan tak mempunyai perasaan  sedikit pun juga.

Bahkan apabila dia memandang kearahnya, Boen Ching agaknya memang sedang memusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan seluruh perkataannya.

Jien Muh Nio menghembuskan napasnya, ujarnya lagi. "Tetapi pada waktu itu aku masih menganggap dirinya

sebaga seorang yang baik hati, karena. . ."

Dia berhenti sejenak, kemudian lanjutnya lagi.

"Goei Lam Yu mempunyai seorang kakak perempuan, dengan gadis yang berada didalam pelukanmu itu sangat mirip sekali, Goei Lam Yu adalah diajarkan oleh kakak perempuannya, pada saat kakak perempuan nya meninggal dia telah menangis selama tiga hari tiga malam, sampai darah pun telah mengalir keluar !"

Dalam hati Boen Ching pada saat ini barulah paham, Goei Lam Yu dengan menggunakan ilmu hitam pembingung nyawa menguasai kesadaran serta ingatan dari Bwee Giok ini sangat mirip sekali dengan wajah kakak perempuannya. Terdengar Jien Muh Nio berkata lagi.

"Kakak perempuannya terhadap dirinya sangat baik sekali, tetapi dia hanya berbuat dihadapan kakaknya saja."

Sehabis berkata dia mendengus dengan dinginnya. Dan lanjutnya pula.

"Setelah dia berhasil mempelajari sebagian dari ilmu Hiat Mo Kang, segera dia meninggal kan diriku, aku mencari dirinya, dia bersembunyi, akhirnya ...”

Sehabis berkata dia termenung berpikir keras, alisnya dikerutkan, sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat tajam sekali memandang kearah tubuh Boen Ching ujarnya.

"Kau bilang. aku harus membunuh dirimu tidak !"

Boen Ching sejak tadi telah mengetahui kalau berebut dengan dia tak ada gunanya, dia tetap tak mengucapkan sepatah katapun dan tetap berdiri tegak ditempat.

Tubuh Jien Muh Nio dengan cepat berkelebat, sepasang tangannya mencengkeram tubuh Boen Ching.

Dengan cepat Boen China pun menggerak kan tubuhnya, tangan kanannya dengan menggunakan sebelah telapak tangannya balas melancarkan serangan, tenaga khie- kang "Chiet Kong Kang Khie" nyapun memancar keluar dengan dahsyatnya, tujuh buah gulungan hawa yang mempunyai tujuh warna menggulung menyambut datangnya serangan dari Jien Muh Nio itu.

Jien Mub Nio dengan mendengus dia segera berubah serangan cakaran menjadi serangan telapak tangan, telapak tangan kedua belah pihak segera bertemu dengan hebatnya, Boen Ching terhuyung-huyung mundur beberapa langkah kebelakang, dan bersandar di dinding gua. Dia menggunakan sebelah telapak tangan dari Jien Muh Nio, sudah tentu masih terpaut sangat jauh sekali.

Jien Muh Nio dengan dingin mendengus, ujarnya. . "Kuijinkan melepaskan gadis kecil itu barulah menyambut

seranganku lagi."

Boen Ching menyadari bahwa kaki kanannya telah kehilangan darah sangat banyak sekali, pada saat ini sudah tentu tak mungkin dapat beradu jiwa dengan Jien Muh Nio, kalau memangnya akan binasa, menga-pa tidak mau bergaul lebih lama lagi dengan diri Bwee Giok ?

Sinar matanya memancarkan sinabr yang sangat tdajam sekali diaa tidak ingin mebletakkan tubuh Bwee Giok keatas tanah, dia tetap berdiri tegak tak bergerak sedikitpun juga.

Jien Nuh Nio tertawa dingin, ujarnya.

"Kematian telah berada dihadapanmu, kau masih belum mau sadar."

Sambil berkata, tubuhnya melayang, berturut-turut dia melancarkan serangannya telapak kirinya menyerang tubuh Boen Ching sedang telapak tangan kanannya menyerang tubuh Bwee Giok.

Boen Ching dengan gusar mendengus.

Jien Muh Nio ternyata juga menyerang seorang padis yang tak mempunyai tenaga untuk melawan, dia tak memperdulikan keselamatan dirinya lagi, berturut-turut melancar kan belasan kali serangan untuk melindungi tubuh Bwee Giok.

Jien Muh Nio begitu melancarkan seluruh serangannya tubuhnyapun melayang keatas sepasang telapak tangannya menekan ke bawah, ilmu Hiat Mo Kang' nyapun mengikuti gerakan tersebut menerjang keluar, tampak segulung hawa murni yang berwarna kemerah-merahan menekan dengan hebatnya ke tubuh Boen Ching.

Boen Ching terdesak, kakinya tak dapat berdiri tegak, tak tertahan lagi dia jatuh berlutut diatas tanah.

Jien Muh Nio yang tampak hal ini mengeluarkan suara tertahan, pada saat dia menggerakan telapak tangannya itu dengan sangat cepat sekali dia telah berhasil merebut diri Bwee Giok.

Boen Ching untuk sesaat tak siap sedia, Bwee Giok telah berhasil direbut pihak musuh, dia merasa sangat terkejut sekali, dengan gusar dia mendengus pada saat suitan nyaring berkumandang dari mulutnya, dengan cepat dia menubruk kearah tubuh Jien Muh Nio, sepasang telapak tangannya dengan mengerahkan seluruh tenaga 'Chiet Kong Kang Kie' nya mendesak kearahnya.

Jien Muh Nio dengan dingin mendengus dengan perlahan dia meletakkan tubuh Bwee Giok keatas tanah, sedang sepasang telapak tangannya balas melancarkan serangan menyambut datangnya serangan dari Boen Ching.

Hawa murni yang berwarna kemerah-merahan segera memancarkan ke angkasa, begitu hawa murni kedua belah pihak bertembu satu dengan ydang lainnya, dianding gua saljub tersebut segera rontok keatas tanah Boen Chingpun terlempar jauh, punggungnya menerjang dinding gua, tak tahan lagi dari mulutnya dia muntahkan darah segar.

Jie Muh Nio memandang Boen Ching dengan perlahan bangkit berdiri, ujarnya.

"Melihat luka diatas kaki kananmu yang demikian beratnya, aku mengampuni jiwamu."

Boen Ching dengan perlahan memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya ujarnya.

"'Tidak ! Aku ingin mati bersama dirinya.' Jien Mu Nio menjadi tertegun, dia menggira dengan demikian kemungkinan Boen Ching malah akan merasa berterima kasih kepadanya, tetapi sama sekali tak terduga olehnya kalau Boei Ching ternyata dapat berbuat demikian, tak terasa lagi wajahnya berubah dengan hebat.

Dengan perlahan sahut Boen Ching lagi.

"Selama hidupku aku tak pernah memohon kepada orang lain, tetapi kali ini aku memohon padamu biarlah dia ikut mati bersama dengan diriku !"

Wajah dari Jien Muh Nio berubah menjadi pucat kehijau- hijauan, tanyanya:

"Kau menginginkan dia binasa bersama dengan dirimu ?"

Boen Ching mementangkan matanya, dengan tak bertenaga sedikitpun, sahutnya.

"Dia telah menjadi gila, kalau dibiarkan hidup tak ada orang yang akan mengurusi dirinya, dia sangat kasihan sekali, biarlah dia mengikuti diriku, agar aku dapat menjaga dirinya .

. . . . '

S E L U R U H tubuh Jien Muh Nio tergetar dengan hebatnya, dia memandang kearah Boen Ching, lama kemudian barulah dia membalikkan tubuhnya membebaskan jalan darah dari Bwee Giok.

Boen Ching segera bangkit berdiri dan berjalan kearah Bwee Giok, Bwee Giok yang baru saja bangkit berdiri dengan termangu-mangu dia memandang kearah Boen Ching, tampak pada mata Boan Ching penuh dengan air mata, mendadak diapun menangis dengan kerasnya.

Tak terasa lagi Boen Ching pun mengucurkan air matanya dengan deras, dengan perlahan dia memeluk tubuh Bwee Giok. Jien Muh Nio memandang kearah diri Bwe Giok, dia tak percaya kalau Bwee Giok benar-benar telah menjadi gila, hal ini merupakan suatu hal yang tak mungkin bisa terjadi.

Dia tertawa dinrgin, Bwee Giok tyang sedang menqangis dengan kerrasnya itu begitu mendengar suara tertawa dingin tersebut, mendadak dia tertawa tergelak dengan nyaringnya.

Begitu Bwee Giok tertawa, seluruh tubuh Jien Muh Nio bagaikan secara mendadak mendapatkan pukulan martil yang sangat besar sekali, hati terasa sangat berat sekali, hal ini sungguh-sungguh telah terjadi, Bwe Giok benar-benar telah menjadi gila, dia tak berani lagi memperlihatkan tertawanya lagi.

Boen Ching dengan sangat halus membelai tubuh Bwee Giok, sepasang matanya dipejam kan, sepatah katapun tak diucapkan keluar.

Jien Muh Nio dengan termangu-mangu memandang kedua orang itu, dalam hatinya pada saat ini entah bagaimana rasanya, teringat olehnya segala-gerak geriknya Boen Ching terhadap diri Bwee Giok, semuanya itu membuat dirinya menjadi terpesona.

Semula dia menikah dengan Ciat Ling Khek yang telah berusia agak tua, ditambah lagi dia bukanlah merupakan orang-orang dari golongan murni, diikuti dengan Goei Lam Yu yang hanya memikirkan hendak mendapat kan ilmu Hiat Mo Kang saja.

Kini Boen Ching terhadap Bwee Giok berbuat demikian, bahkan Bwee Giok kini telah menjadi gila seperti ini.

Teringat kembali pada saat dia dipancing oleh diri Goei Lam Yu ketika dia membicara kan diri Boen Ching, ternyata air mukanya masih tenang-tenang saja, sama sekali tak mempunyai maksud untuk mengejek dirinya, bahkan agaknya pada sinar mata Boen Ching memancarkan perasaannya yang sangat simpatik terhadap dirinya. Dengan per lahan dia mengundurkan dirinya keluar gua,  dia memejamkan mata nya, pada saat ini sama sekali dia tak mempunyai niat kini untuk turun tangan terhadap mereka, ini kali tak takut dia untuk tak dapat mendapatkan Boen Ching kembali, demikian pikirnya.

Boen Ching yang memeluk tubuh Bwee Giok lama kemudian ketika dia mendongak kan kepalanya Jien Muh Nio telah meninggal kan tempat tersebut, dalam hatinya merasa sangat heran sekali, ternyata Jien Muh Nio mau melepaskan dirinya, sama sekali tak pernah terpikir olehnya.

Dia melepaskan tubuh Bwee Giok, untuk sesaat didalam hatinya merasa sedih haruskah ia meninggalkan tempat tersebut, kemungkinan sekali segera Jien Muh Nio akan balik kembali lagi, dia menjadi berdiri mematung disana.

Tiba-tiba dia merasa bahwa pada saat ini Bwee Giok telah tertidur dengan nyenyaknya di dalam pangkuannya, dia membimbing tubuh Bwee Giok dan tersenyum kearahnya, pikirannya, kalau demikian terus bukankah sangat baik sekali??

Sekalipun Bwee Giok telah menjadi gila, tetapi dapat bersama dengan dirinya, jauh lebih baik dari pada harus berpisah dengannya, bahkan jika dilihat bukankah Bwee Giok masih suci bersih ? pada saat dia tidur pulas dapat demikian tenangnya, mana ada orang yang dapat melihat kalau dirinya sebenarnya seorang yang telah menjadi gila?"

Berpikir sampai tak terasa lagi dia tertawa, dan meletakkan tubuh Bwee Giok keatas balai batu itu, kemudian menambah lagi kayu pada api unggun yang sedang membakar dengan hebatnya itu.

Mendadak pada telinganya dia mendengar suara yang sangat ringan sekali, segera dia bangkit berdiri.

Terpikir olehnya pastilah Jien Muh Nio yang telah pergi balik kembali, kalau memangnya dia telah balik, sudah tentu tidak akan dapat berbuat sesuatu yang baik, dia pasti telah menyesal karena telah melepas kan dirinya.

Dari dalam hati Boen Ching segera timbul suatu perasaan yang sangat menyesal sekali, dia menyesal mengapa dirinya tidak dengan cepat pergi dengan Bwee Giok dari tempat itu, bukankah dengan demikian malah membuat Bwee Giok pun ikut menderita?

Pikiran ini dengan cepat berkelebat didalam benaknya, tetapi menyesal pada saat ini apa gunanya??

Dia membalikkan tubuhnya memandang ke arah Bwee Giok, dibawah sorotan sinar api unggun itu tampak Bwee Giok tidur dengan nyenyaknya, wajahnya pada saat ini cantik sekali.

Rasa menyesal yang mendekam hati Boen Ching dengan cepat lenyap pula, pikirnya:

"Hawa udara yang demikian dinginnya ini mungkin akan membuat Bwee Giok menjadi kedinginan, lebih baik aku menanti dia disini saja, kalau dia memangnya telah mengejar datang, sekalipun aku akan melarikan diri juga tak mungkin dapat meloloskan diri"

Pada saat ini sebaliknya didalam hatinya menjadi sangat tenang sekali, dengan tajam dia memandang ke arah  diri Bwee Giok, dalam hatinya merasa sangat heran sekali, seorang gadis yang sedemikian cantiknya, bagaimana dapat berubah menjadi gila?

Kioe Thian Ie Sin, Lieh Yu mengapa bisa demikian teganya untuk membuat seseorang gadis yang demikian cantiknya ini menjadi gila?

Terdengar dari belakang tubuhnya mulai berkumandang datang suara tindakan kaki manusia yang sangat ringan sekali.

Orang itu bukannya melayangkan tubuhnya masuk kedalam gua  tersebut,  sebalik  nya  dengan  langkah  yang  sangat perlahan sekali berjalan masuk kedalam gua, jika didengar dari suara tindakan kaki itu agaknya orang itu sengaja membuatnya sehingga dapat didengar oleh dirinya, Boen Ching sama sekali tak membalikkan tubuh nya, dalam hati pikirnya.

"Kini hanya dapat mendengar putusan dari Thian saja !" Tetapi    mendadak    hatinya    menjadi    sadar    kembali,

pikirannya  dengan  cepat  berkelebat,  tindakan  kaki manusia

yang berada di belakang tubuhnya itu bukanlah merupakan tindakan kaki seorang perempuan, bahkan sebaliknya adalah suara dari tindakan kaki seorang lelaki.

Jika demikian adanya orang yang berada dibelakang tubuhnya pada saat ini adalah seorang lelaki, dan bukanlah diri Jien Muh Nio.

"Berpikir sampai disini, tububnya dengan cepat berputar, pada saat matanya memandang kearah orang itu, dalam hatinya mcnjadi sangat terkejut, ujarnya.

"Kau !"

Orang yang baru saja datang itu ternyata adalah Kioe Thian Bu sin, Jen Cen adanya, Boen Ching sama sekali tidak pernah menyangka kalau Jen Cen dapat munculkan dirinya ditempat ini, Kioe Thian Bu Sin mengangkat nama bersama-sama dengan diri Kioe Thian Ie Sin sehingga mereka berdua disebut orang sebagai Kioe Thian Swang Sin, selamanya diantara kedua orang itu mempunyai hubungan yang sangat erat sekali, segala perbuatan yang diperbuat oleh Kioe Thian Ie Sin, dia pasti mengetahuinya, entah pada saat ini dia datang kemari mempunyai tujuan yang baik atau jahat ????

ooxoo ( !i x !i ) oOxoo LAM HAY SIN NIE

BOEN CHING sama sekali tidak pernah menyangka kalau Kioe Thian Bu Sin dapat munculkan dirinya ditempat itu, saking kagetnya dia sampai berteriak. "Kau, segera dia menarik napas panjang-panjang, terpikir olehnya dia hendak menggunakan tenaga "Chiet Kong Kang Khie" nya menguasai diri Jen Cen, bahkan Jen Cen pernah mengata kan wajahnya berkerut, bakal mendapatkan bencana, sedang dirinya karena melakukan sesuatu kurang berhati-hati sehingga menjadi demikian.

Berpikir sampai disini, dalam hati tak terasa lagi menjadi sangat malu, sekalipun dia tak mengetahui kedatangan dari Jen Cen ini mengandung maksud maik atau jahat, tetapi dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat, ujarnya.

"Jen cianpwee, waktu itu boanpwee telah berbuat salah, aku masih belum meminta maaf kepada dirimu".

Jen Con tertawa tawar, sinar matanya memandang terus keatas wajah Boen Ching.

Boen Ching berpikir bahwa Jen Cen mempunyai hubungan erat sekali dengan diri Lieh Yu, kiranya dia tentunya mengetahui tempat tinggal dari diri Lieh Yu.

Sekalipun dalam hatinya dia mengetahui kalau Jen Cen pasti tak akan memberitahu kan kepadanya, tetapi dia tetap membung-kuk kan tubuhnya sambil berkata.

"Boanpwee menginginkan cianpwee mau meluluskan suatu permintaan dari boenpwee, entah cianpwee maukah memberi jawaban nya ??"

Jen Cen tersenyum, sahutnya. "Coba kau katakan"

Ujar Boen Ching lagi.

"Boanpwee mengira cianpwee tentunya mengetahui, tempat tinggal dari diri Kioe Thian Ie Sin, Lieh Yu entah apakah cianpwee memberitahu kepadaku?" Jen Cen termenung berpikir keras sejenak kemudian barulah sahutnya.

'Urusanmu dengan dirinya aku telah mengetahui dengan jelas, tetapi entah setelah kau berhasil menemui dirinya lalu bersiap hendak berbuat apa ??"

Boen Ching memandang sekejap kearah Jen Cen dengan perlahan dia menundukkan kepalanya, ujarnya.

"Aku ingin menyuruh dia menyembuhkan penyakit dari nona Bwee ini, kalau tidak."

Dia berpikir sejenak matanya memancar kan sinar yang sangat tajam sebenarnya dia ingin berkata.

"Kalau tidak aku akan menghancurkan tubuhnya menjadi berkeping-keping, atau pokok nya tak akan melepaskan dirinya.."

Tetapi pada saat pikirannya berkelebat itu dia merasakan bahwa kesemuanya itu tak ada gunanya terhadap diri Bwee Giok sekali pun membakar tubuh Kioe Thian Ie Sin Lieh Yu sampai menjadi abu pun, terhadap diri Bwee Giok juga tak ada gunanya sedikitpun.

Dia mengerutkan alisnya, dari memandang tajam kearah Jen Cen, dia berhenti sejenak, kemudian ujarnya lagi:

"Urusan ini semuanya adalah aku Boen Ching yang melakukannya, dia tak dapat berbuat secara demikian terhadap diri nona Bwee, dia pun merupakan orang dari golongan murni, aku kira dia pun mengetahui nya juga."

Sehabis berkata dia memandang sekejap ke arah Bwee Giok, kemudian menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya, Jen Cen pun berdiam diri tak mengucap sepatah katapun memandang wajah Boen Ching lama sekali dia tak mengucap sepatah katapun.

Boen Ching berkata lagi dengan perlahan: "Siapa pun mengetahui kalau Goei Lam Yu bukanlah merupakan seorang dari golongan murni, sekalipun aku telah berbuat salah, tetapi kematian yang dialami oleh diri Goei Lam Yu sedikitpun tak perlu disesalkan."

Jen Cen termenung beberapa saat, dengan perlahan sahutnya.

'Hanya kau telah membuat salah didalam suatu pekerjaan, sekalipun Goei Lam Yu patut dibunuh, tetapi Thian Jan Li pastilah hendak menuntut balas baginya, dia tak patut bila mati terbunuh dibawah tangan Lieh Yu."

Dalam hati Boen Ching mprasa sangat terkejut sekali, dia mendongakkan kepalanya memandang kearah Jen Cen.

Jen Cen tartawa tawar, ujarnya.

"Urusan ini telah lewat sangat lama sekali, wakru itu kami berdua merupakan kawan yang akrab sekali, banyak sekali urusan tak usah kukatakan kau pun tentunya mengeta-hui bukan?"

Dalam hati Boen Ching agaknya menjadi sadar, dia menghembuskan napas panjang dan tak mengucapkan sepatah kata pun.

Dengan perlahan ujar Jen Cen.

"Aku lihat lebih baik kau tak usah pergi mencari diri Lieh Yu lagi."

Sinar mata Boen Ching berkelebat, dengan tegas sahutnya. "Tidak !'

Jen Cen tertawa tawar, ujarnya.

'Kau pergi mencari dirinya, sekali pun telah menemuinya juga tak ada gunanya, selama nya dia melakukan pekerjaan hanya mengetahui berjalan kedepan saja, sekali pun telah berbuat salah juga tak akan menyesal." Boen Ching termenung, dia tahu Jen Cen terhadap diri Lieh Yu sudah tentu jauh lebih mengerti dari dirinya, apa yang diucapkan tak mungkin akan salah.

Tetapi, mana dia dapat berhenti sampai di situ, dengan perlahan ujarnya:

"Aku pasti akan pergi, sekali pun tidak berhasil aku pun akan pergi mencobanya"

Jen Cen dengan perlahan-lahan ujarnya:

"Kau serahkanlah Bwee Giok kepadaku, biarlah aku yang pergi mencari dirinya !"

Boen Ching menjadi tertegun, dia sama sekali tak pernah menyangka kalau Jen Cen secara mendadak mau memberikan bantuan kepadanya.

Tetapi untuk sesaat sebaliknya malah membuat dia entah harus berkata bagaimana baiknya.

Jen Cen tersenyum, ujarnya lagi.

"Aku percaya aku mempunyai cara untuk memaksa dia merubah niatnya itu. hanya tidak kuketahui dia akan menggunakan cara apa lagi untuk menghadapi dirimu, terhadap dirimu dia masih tetap tak mau melepaskan"

Dalam hati Boen Ching merasa sbangat girang sedkali, dia bertuarut-turut membebri hormat sahutnya.

"Terima kasih atas bantuan cianpwee."

Jen Cen maju membelai rambut Boen Ching, dengan perlahan dia tertawa ujarnya.

Untuk selanjutnya apabila hendak melaku kan pekerjaan haruslah dipikirkan masak terlebih dahulu sehingga janganlah sampai salah menunjuk orang lain, ingatlah selalu perkataan ini !" Sehabis berkata dia membopong tubuh Bwee Giok, tubuhnya berkelebat keluar dari dalam gua dan berlari arah depan.

Boen Ching dengan perlahan mendongak kan kepalanya, selain suhunya, belum pernah dia menemui orang lain yang demikian baik terhadap dirinya, pada saat ini dia baru menjadi sadar mengapa nama dari Kioe Thian Bu Sin, Jen Cen dapat di jajarkan dengan nama dari Lieh Yu.

Kepandaian yang dimiliki oleh Jen Cen bukan saja tak dapat menandingi kepandaian Thian Jan Shu, sekalipan dibandingkan dengan diri Kioe Thian Ie Sin, Lieh Yu pun masih kalah setengah tingkat, sebaliknya dia sangat paham akan ilmu meramal, dimana anggapan orang sama pentingnya dengan ilmu ketabiban.

Mendadak dia menjadi sadar orang-orang ternama didalam Bulim bukan saja harus memiliki kepandaian yang sangat tinggi, bahwa kepandaian lainnyapun harus jauh lebih lihay dari pada kepandaian silatnya.

Kepandaian silat sekalipun lebih tinggi juga tak lebih hanya mendapatkan nama besar saja sedang didalam ilmu kepandaian lainnya sedikitpun tak mempunyai kegunaan apa- apa.

Boen Ching yang berpikir sampai disana, dalam hatinya merasa sangat berterimakasih sekali, tak terasa lagi air mata pun jatuh bercucuran membasahi pipinya, dia sangat berterima kasih sekali terhadap diri Jen Cen bahkan masih ada Bwee Giok, kalau memang nya Jen Cen telah menyetujui kiranya sudah tentu tak ada persoalan kembali.

Dengan perlahan dia bangkit berdiri, pada wajahnya mulai tampak senyuman, bagaikan dia telah menjadi sadar terhadap suatu persoalan yang sebelumnya dianggap sangat rumit.

Pada saat ini cuaca mendekati fajar, Boen Ching menghembuskan napas panjang, dalam hati pikirnya, kalau memangnya Kioe Thian Bu Sin Jen Cen mau memberikan bantuan nya dengan demikian dirinya boleh dihitunbg telah menyeledsaikan suatu urausan yang sangabt mengganjal dalam hatinya.

Pertemuan terhadap diri Mo Pak Sam Ceng It Sia dirinya harus pergi menghadirinya.

Berpikir sampai disini dia bersiap hendak berangkat, tetapi pada saat dia membalikkan tubuhnya itu, tak terasa lagi dia berdiri termangu-mangu disana.

Dia sama sekali tidak pernah menyangka kalau Sek Giok Siang ternyata dapat muncul kan dirinya dihadapan matanya.

Wajah dari Sek Giok Sung menampilkan suatu senyuman yang sangat manis sekali, tubuhnya memakai baju berwarna putih bersih dan berdiri tegak didepan mulut gua.

Boen Ching dengan termangu-mangu memandang tajam kearahnya, pada saat ini sepasang mata Sek Giok Siang tampak sangat jeli sekali, pada saat dia tersenyum, wajahnya sangat mirip sekali dengan gambar gadis pada cermim, tak terasa lagi hatinya berdebar dengan kerasnya.

Sek Giok Siang nampak Boen Ching membalikkan tubuhnya, dia tertawa kecil dengan nyaringnya dan berjalan mendekati ke arahnya, ujarnya:

"Boen Toako! Kau sedang memikirkan apa ? Demikian asyiknya !"

Air muka Boen Ching segera berubah menjadi merah dadu, sambil tersenyum sahutnya.

"Kiranya nona Sek datang, entah nona datang kemari mempunyai urusan apa?" Sek Giok Siang tersenyum, ujarnya: "Aku datang untuk mencari dirimu. ."

Boen Ching menjadi tertegun tanyanya. ' Mencari aku . . .

.?" Sek Giok Siang melanjutkan.

"Benar ! Janganlah kau mengira orang lain tak dapat mendapatkan dirimu, kau lihatlah, Sambil berkata dia mengangkat tangan kanannya, dan mengambil suatu benda yang di perlihatkan kepada diri Boen Ching.

Boen Ching menjadi tertegun, ujarnya. "Pedangku ?" Segera  teringat  olehnya,  pada  saat  pedang  Cing   Hong

Kiamnya dilepaskan untuk membunuh bangau raksasa yang

ditumpangi oleh Kioe Than Ie Sin Lieh Yu itu, dia sama sekali belum mengambilnya kembali.

Sek Giok Siang meletakkan pedang Cing Hong Kiam tersebut ke atas tanah, ketika dia membungkukkan trubuhnya dengan tsangat terkejutq sekali ujarnyar:

"Aduh ! Kakimu bagaimana dapat terluka demikian parahnya sehingga banyak darah yang mengalir keluar?"

Boen Ching mundur satu langkah ke belakang, sahutnya. 'Tak mengapa !"

Sudah tentu Sek Giok Siang maju setindak kedepan, sambil tertawa ujirnya.

"Bagaimana ? Darah yang mengalir keluar demikian banyaknya kau masih berkata tak mengapa?"

Dengan paksa Boen Ching tersenyum, ujarnya:

"Luka itu adalah yang kuderita pada waktu itu, pada saat ini bekas lukanya telah menutup kembali, sejak tadi telah tak mengapa? tak perlulah kau kuatirkan."

Sek Giok Sang menghembuskan napas lega, sambil bangkit berdiri dia tersenyum, ujarnya:

'Kalau begitu aku dapat berlega hati" Boen Ching ragu-ragu sejenak, kemudian tanyanya kepada Sek Giok Siang.

"Nona Sek datang kemari mencari aku, entah mempunyai urusan penting apa ?"

Sek Giok Siang memandang tajam kearah diri Boen Ching, sejenak kemudian sambil menundukkan kepalanya dengan perlahan sahutnya.

"Aku hanya ingin melihat dirimu, apa harus dikata mempunyai urusan pentingkah"

Dalam hati Boen Ching merasa berdebar, sekalipun Sek Giok Siang telah menunduk kan kepalanya, tetapi sinar matanya bagai kan masih tertinggal dihadapannya, dan ber- kelebat tak henti-hentinya didepan matanya.

Tak terasa lagi dia mengulurkan tangannya memegang bahu dari Sek Giok Siang, bibirnya sedikit tergerak agaknya siap untuk berbicara.

Tetapi mendadak terasa suatu bayangan ramping lainnya berkelebat dengan cepatnya didalam hatinya, dengan cepat dia menarik kembali tangannya, sedang wajahnya berubah menjadi kemerah-merahan.

Dia teringat kembali akan diri Bwee Giok, dalam hatinya segera merasa menyesal, dia sendiri pun tidak paham, mengapa dirinya?, mengapa dapat berbuat demikian setelah bertemu dengan Sek Giok Siang.

Hal yang sebenarnya, kecantikan wajah Sek Giok Siang ini merupakan suatu kecantikan yang selamanya belum pernah ditemui, bahkan pada waktu sebelum dia bertemu muka dengan diri Sek Giok Siang, dia telah terpengaruh dan diam- diam telah menyenangi gambar diri gadis pada cermin tersebut.

Dia sendiri pun tidak mengetahui kekuatan gaib apakah ini, tetapi hal ini selamanya membuat hatinya, selalu tidak tenang. Boen Ching yang menarik kembali tangannya, baru saja akan membuka mulut untuk berbicara, tetapi dia merasakan tidak ada persoalan yang dapat memaksa dia untuk membuka mulut.

Sek Giok Siang dengan bimbang mendongak kan kepalanya keatas, dengan bingung dia memandang kearah Boen Ching.

Boen Ching tak berani memandang dirinya, dia melengos, ujarnya:

"Nona Sek, terima kasih sekali kau mau datang kemari melihat diriku."

Sek Giok Siang dengan perlahan memejam kan matanya, dia tertawa tawar, ujarnya.

"'Aku tahu kau sangat baik sekali terdapat diri Bwee Giok, tetapi aku?".

Selesai berkata dia menutup mulutnya tak berbicara lagi, pada wajahnya berubah warna kemerah-merahan. dengan perlahan dia menundukkan kepalanya.

Boen Ching bagaikan telah terpengaruh oleh diri Sek Giok Siang, hampir-hampir saja dia tak berhasil menguasai dirinya lagi, Sek Giok Sang ternyata telah mengungkat nama Bwee Giok pula.

Sedang nama Bwee Giok ketika disebut ke luar dari mulut Sek Giok Siang, dua buah kata itu diucapkan demikian nyaringnya, tetapi ternyata demikian lemah tak bertenaga sama sekali.

Dia berusaha keras hendak menimbulkan bayangan dari Bwee Giok didalam benaknya, biasanya Bwee Giok mempunyai bagian yang sangat kuat sekali didalam hatinya tetapi pada saat ini, dia hendak mengangkat bayangan dari Bwee Giok ternyata sangat sukar malah. Segala gerak gerik dari Sek Giok Siang, semuanya berputar tak henti-hentinya didalam benaknya.

Sekali lagi dia mengangkat tangannya dan diletakkan diatas bahu dari Sek Giok Siang.

Sek Giok Siang dengan perlahan mendongak keadtas, wajahnya taampak berubah menjadi kemerah-merahan. sepasang mata nya dengan tajam memandang kearah Boen Ching.

Mendadak Boen Ching merasakan bahwa Sek Giok Siang ternyata demikian baiknya terhadap dirinya bagaimana dapat berlagak keterlaluan, bahwa kekuatannya yang mempengaruhi dirinya demikian besarnya, bahkan....

Pada saat ini mendadak dia teringat kembali akan Bwee Giok, bayangan Bwee Giok, yang sedang memakai pakaian kaum pria berkelebat didalam benaknya, dalam hati terus menjadi tergetar dengan hebatnya, sinar matanya dengan perlahan-lahan ditunduk kan kebawah. 

Dia tidak berani memandang Sek Giok Siang lagi, dia mempunyai niat untuk menarik kembali tangannya, tetapi tak dapat berbuat demikian lagi, apabila dia sekali lagi menarik tangannya, hal ini akan dianggap keterlaluan terhadap diri Sek Giok Siang.

Boen Ching mengalihkan sinar matanya ke bawah, dia mempunyai niat untuk berkata bahwa dia terhadap diri Bwee Giok telah sangat baik sekali, tetapi Sek Giok Siang telah berkata, dia tak dapat lagi untuk sekali lagi mengulangi perkataan itu.

Mendadak, dia merasakan demikian bingung nya, apabila pada suatu hari dia terhadap seorang gadis demikian cintanya, sedang orang lain berada jauh ribuan li dari dirinya entah dia akan berbuat bagaimana, apabila dipihak lain adalah seorang gadis, bahkan selama beberapa waktu lamanya dirinya pernah terpengaruhi dan diam-diam mencintai bayangannya. Entah dia harus berbuat bagaimana baiknya.

Sek Giok Siang menghembuskan napas panjang, tubuhnya menjadi lemas, Boen Ching yang sedang berpikir dengan keras itu mendadak menjadi terkejut dan agar kembali dari lamunannya, sepasang tangannya menarik, tubuh Sek Giok Siang segera terjatuh kedalam rangkulannya.

Pada saat ini hatinya menjali sangat bingung sekali, dia mendorong tubuh Sek Giok Siang sambil berkata.

"Nona Sek, kau mengapa??? '.

Sek Giok Siang melepaskan pedang Cing Hong Kiam tersebut keatas tanah, dengan tak bertenaga sedikitpun juga dia menyandarkan dirinya kaatas bahu Boen Ching, dengan perlahan ujarnya.

"Sejak aku meninggalkan diri Lieh cianpwee, aku terus menerus mencari dirimu dan sampai kini barulah berhasil mendapatkan dbirimu".

Dalam hdati Boen Ching amenjadi tergerabk, dia menghela napas panjang, mendadak terpikir olehnya.

"Apabila tak ada diri Bwee Giok atau tak ada Sek Giok Siang, pada saat itu sungguh sangat baik sekali.

Dengan perlahan dia mendongak meman-dang keatas wajah Sek Giok Siang.

Sek Giok Siting dengan wajahnya yang telah berubah menjadi merah dadu itupun mendongakkan kepalanya, memandang dengan tajam wajah Boen Ching..

Mendadak Boen Ching merasakan bahwa semua adegan yang muncul dihadapannya itu tak lain hanyalah khayalan belaka didalam dunia ini mana mungkin muncul gadis yang demikian sempurnanya dan dapat demikian cantiknya, tak terasa lagi dia memeluk lebih kencang lagi tubuh Sek Giok Siang. Sek Giok Siang dengan malu-malu menyusupkan kepalanya kedada Boen Ching, namun sepatah katapun tak diucapkan keluar.

Boen Ching merasakan bahwa Sek Giok Siang dipandangnya tak lebih hanyalah khayalan didalam sekejap saja, dengan perlahan ia memejamkan matanya dengan kencang dia memeluk tubuh Sek Giok Siang.

Entah telah lewat beberapa lamanya mendadak terdengar suara dengusan yang sangat dingin sekali, dalam hati Boen Ching merasa sangat terkejut, dengan cepat ia mendorong tubuh Sek Giok Siang ke belakang, dan mementangkan matanya memandang tajam keluar gua.

Sek Giok Siangpun agaknya merasa sangat terkejut, dengan cepat dia memutarkan tubuhnya dan berdiri disamping tubuh Boen Ching.

Boen Ching yang memandang tajam keatas mulut gua itu tampak orang yang berdiri didepan gua itu tak lain adalah wanita berbaju merah itu dan kemarin malam baru saja meninggalkan tempat itu, Thian Jan Lie, Jien Muh Nio adanya.

Teringat olehnya apa yang diperbuat baru saja ini tak terasa lagi dalam hatinya merasa sangat malu sekali.

Dengan nada yang halus ujar Sek Giok Siang pada diri Boen Ching.

"Boen Toako siapakah orang ini?.

Dalam hati Boenr Ching merasa mtenyesal atas peqrbuatan tolol yrang baru saja dilaku kan itu, dengan demikian, kiranya malah akan menyusahkan Sek Giok Siang pula.

Dalam hatinya menjadi gemas, mendengar Sek Giok Siang membuka mulut, dengan seenaknya sahutnya:

"Dia disebut orang sebagai Thian Jan Lie, Jien Muh Nio adanya". Sambil berkata sinar matanya memandang tajam kesekeliling tempat itu.

Dengan dingin ujar Jien Muh Nio.

"Tak usah dilihat lagi, disini hanyalah aku seorang saja, tak ada orang lain lagi".

Dalam hati Boei Ching merasa sangat sedih, urusan ini sama sekali sukar untuk diberi penjelasan, bahkan apabila dirinya sebelum itu mempunyai perasaan kagum terhadap diri Sek Giok Siang diapun tak mungkin dapat berbuat demikian.

Jien Muh Nio dengan dingin memandang sekejap kearah Sek Giok Siang, kepada Boen Ching ujarnya.

"Aku tak akan mengurus segala urusanmu itu, tetapi aku ingin bertanya dimanakah Bwee Giok itu dan sekarang berada dimana?"

Dengan menundukkan kepala sahut Boen Ching:

"Dia telah dibawa pergi oleh diri Kioe Thian Bu Sin, Jen Cianpwe".

Jien Muh Nio tertawa dingin, ujarnya.

"Itulah sangat bagus sekali, kemarin adalah karena aku kasihan terhadapnya, barulah mau melepaskan dirimu, kini kau pikirlah sendiri harus bagaimana?".

Boen Ching tak dapat memberikan jawaban nya, terpaksa dia hanya berdiam diri tak mengucapkan kata-kata lagi.

Sek Giok Siang yang berdiri disamping, tampak hal ini setelah ragu-ragu sejenak ujarnya kepada diri Jien Muh Nio.

"Kau mengapa demikian galaknya??".

Jien Muh Nio dengan dingin tertawa panjang, sejenak kemudian ujarnya kepada Boen Ching. "Aku kira aku tak perlu untuk turun tangan sendiri, diatas tanah terdapat pedang, aku lihat lebih baik kau bereskan dirimu sendiri saja"

Dalam hati sekalipun Boen Ching merasa menyesal, tetapi bagaimanapun juga, terpikir olehnya bahwa dosa semacam ini tak perlu ditebus dengan kematian, mana dia mau dengan kematian, mana dia mau dengan demikian saja bunuh diri

????

Tetapi apa yang dikatakan oleh Jien Muh Nio juga tak lebih hanya urusan tadi saja, urusan semacam ini sekalipun dia ingin untuk memberikan penjelasan juga tak mempunyai cara sama sekali untuk memberikan penjelasannya.

Dia berdiri mematung tak bergerak, sedang Sek Giok Siang yang berdiri disamping pun berdiri termangu-mangu.

Setelah lewat beberapa waktu lamanya, Jien Muh Nio mendengus dengan dingin, tanyanya.

"Apakah boleh dikata harus menyuruh aku yang turun tangan ?"

Sambil berkata matanya berkelebat tak hentinya memandang ke arah Boen Ching.

Sek Giok Siang memandang tajam ke arah diri Jien Muh Nio, dan dengan sekonyong-konyong dia bungkukkan badannya mengam-bil pedang Cing Hong Kiam tersebut dan diangsurkan kepada Boen Ching, ujarnya.

"Boen Toako ! tak perlu takut terhadap dirinya."

Sinar mata Jien Muh Nio berkelebat memandang sekejap kearah Sek Giok Siang, mendadak dia mendongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak.

Boen Ching menarik napas panjang, tangan nya dengan cepat menyambut pedang Cing Hong Kiam itu, dia percaya bahwa begitu dirinya mencekal pedang tak perlu lagi dia takut terhadap Jien Muh Nio.

Dalam hati sebenarnya Jien Muh Nio telah merasa sangat gusar sekali pada saat ini tampak Boen Ching menyambut pedang Cing Hong Kiamnya, dalam hatinya merasa tambah gusar lagi.

Dia tertawa dingin, ujarrya.

"Sekalipun kau mencekal pedang ditangan mu, lalu apa yang dapat kau berbuat ?"

Sambil berkata dengan perlahanb dia mengangkatd genta besar yaang berada disambping tubuhnya dengan tajam dia memandang ke arah dua orang itu.

Boen Ching selama belum pernah melihat Jien Muh Nio menggunakan alat senjatanya, pada saat ini tampak dia mempergunakan alat genta raksasa itu sebagai alat senjata nya, tak terasa lagi dalam hatinya merasa sangat terkejut sekali, diam-diam dia menga-dakan persiapan yang lebih cermat lagi.

Dengan perlahan-lahan dia mendorong tubuh Sek Giok Siang kebelakang tubuhnya, sedang sinar matanya dengan tajam memandang genta raksasa tersebut.

Jien Muh Nio dengan dingin mendengus, bahu kanannya digetarkan, genta raksasa itu segera didorong kedepan diri tangannya, dengan perlahan-lahan meluncur di tengah udara dan menekan dengan hebatnya keatas tubuh Boen Ching.

Boen Ching yang tampak datangnya serangan genta raksasa itu, dia segera tahu bahwa genta itu membawa suatu tenaga murni yang sangat dahsyat sekali.

Dia menarik napas panjang-panjang, tangan kirinya dengan perlahan melepaskan cekalan tangan Sek Giok Siang, tubuhnya melayang kedepan bagaikan meluncurkan anak panah dari busurnya menubruk ke arah datangnya serangan genta tersebut.

Pedang Cing Hong Kiamnya segera disabetkan kedepan, sinar pedang memenuhi angkasa, terdengar suara yang sangat berat dari genta itu, terlihat genta tersebut telah berhasil dipukul balik serangan dari Boen Ching itu.

Jien Muh Nio dengan gusar mendengus, lima jari dari tangan kanannya segera dikerahkan ke depan, sedang ilmu ' Hiat Mo Kang" nyapun disalurkan ketangannya, terlihat pada saat hawa murni yang berwarna merah darah itu menggulung ditengah angkasa, genta raksasa itu sekali lagi berhasil digulung balik kembali lagi.

Dalam hati Boen Ching merasa sangat terkejut sekali, dia berdiri tak mengucapkan sepatah kata pun.

Rasa terkejut dalam hati Jien Muh Nio jauh melebihi dari rasa terkejut diri Boen Ching, dia tak mengetahui Boen Ching telah mengguna kan kepandaian apa sehingga dapat memukul menceng dari arah serangan genta

raksasa itu, tetapi dia tahu Boen Ching tentunya telah menggunakan ilmu yang sangat tinggi sekali dari tenaga khiekangnyab.

Boen Ching padda saat menggunaakan pedangnya bmenempel pada genta itu, berturut-turut dengan menggunakan tubuh pedang serta gagang pedang melancarkan sembilan kali serangan ke arah genta itu, mengerahkan pula jurus "Thien Cian Ie San" dari ilmu "Thay Thien Kioe Sih" nya.

Kedua orang itu merasa terkejut terhadap kesempurnaan serta kehebatan dari kepan-daian lawannya, untuk sesaat kedua orang itu tidak saling menyerang kembali, hanya saling berdiam diri dan berdiri berhadap- hadapan. Lewat beberapa saat kemudian, terdengar Jien Muh Nio tertawa dingin, bahu kanannya digetarkan, genta raksasa itu sekali lagi dilemparkan kedepan.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bentroknya Rimba Persilatan Jilid 19"

Post a Comment

close