Bentroknya Rimba Persilatan Jilid 12

Mode Malam
 
Dalam hati Mo cing merasa sangat terkejut, dia tidak mengenal pada Chang Sun Loei, tetapi dengan toyanya itu Chang Sun Loei dengan sangat mudah telah berhasil mendesak mundur pedang panjangnya, hal ini merupakan suatu kejadian yang belum pernah dia alami. 

KeCepatan Chang Sun Loei didalam melancarkan seranganpun jauh melebihi dugaannya semula, dia mengira orang-orang yang hadir diatas loteng ini paling2 kepandaiannya setingkat dengan kepandaian Boen ching dahulu, dan paling tinggi juga setingkat dengan kepandaian diri Shie Siauw In.

Toya Chang Sun Loei yang menyerang ke arah sepasang matanya itu membuat hatinya, menjadi gugup, tubuhnya segera melompat ke atas sambil memutar tubuhnya, serangan Chang Sun Loei itu dengan tepat mengenai punggungnya, tetapi punggung Mo cing itu tidak dapat merasakan sakitnya sekalipun demikian tetapi serangan dari Chang Sun Loei inipun telah memaksa tubuhnya bergeser dua langkah.

Tok Thian coen Liauw Hoa Liong nampak hal ini dengan dingin mendengus bentaknya. "Kembali. ."

Sekalipun serangan yang dilancarkan oleh Chang Sun Loei ini tepat mengenai Mo cing, tetapi diapun tanpa terasa menjadi terkejut dengan serangan yang baru saja dilancarkan dengan toya oleh Chang Sun Loei ini, dia menduga Mo ching kalau bukannya binasa tentunya akan menderita luka parah, tetapi tak di sangka dia hanya sempoyongan mundur dua langkah saja. orang-orang yang hadir ditempat itu sebagian besar menginginkan dirinya, dan tidak mengenal nama dari Tok Thian coen Liauw Hoa Liong, sedang sebaliknya Liauw Hoa liong sekalipun mengetahui nama dari orang yang hadir dikalangan itu tetapi diapun tidak mengenalnya.

Mo cing menarik kembali pedang panjangnya dengan sinar mata yang terkejut memandang orang-orang yang hadir ditempat itu.

Tok Thian coen yang biasanya sangat congkak itu kini dengan dingin dia mendengus, sinar matanya berhenti pada gentong arak besar yang dibuat dari tembaga dari Toan Bok ci Jien itu, dia tertawa dingin, pikirnya, "kiranya adalah setan arak. paras elok. harta serta kedudukan empat orang iblis."

Kong Beng Sang juga dengan tertawa panjang, lalu ujarnya. "Siapa kau? ? ? ? "

Liauw Hoa liong dengan dingin mendengus, sahutnya. "Segera kau akan mengetahui dengan sendirinya."

Sambil berkata tubuhnya bagaikan terbang Cepatnya telah berkelebat, dengan tangan kanannya berturut2 melancarkan sepuluh kali serangan ke arah Kong Beng Sang.

Kong Beng Sang sebenarnya hendak menyambut serangan tersebut, tetapi nampak pada telapak tangan Liauw Hoa Liong itu berwarna hitam gelap. dengan hatinya yang menjadi sangat terkejut, dia segera sadar bahwa tak mungkin dapat disambut dengan menggunakan tangan kosong, pedang tembaga serta pit peraknya bersamaan waktu melancarkan serangan secara berbareng, dan menyambut serangan telapak yang dilancarkan oleh Liauw Hoa Liong itu.

Diantara suara tertawa panjang yang dingin dari Liauw Hoa Liong, gerakan telapaknya itu dari tiga belas segera berubah menjadi berpuluh serangan. DALAM HATI KONG BENG Sang makin merasa terkejut, dengan tenaga pukulan yang demikian beracunnya dari Liauw Hoa Liong asalkan dirinya terkena sedikitpun juga , kiranya dirinya akan segera mengalami kematian yang sangat mengerikan, pedang tembaga serta pit peraknya dengan sekuat tenaga menahan serangan itu, tetapi serangan yang dilancarkan olah Liauw Hoa Liong ini sangat aneh sekali, sekalipun dia menggunakan dua buah senjata untuk menahan serangan tersebut, tetapi masih tetap ada lima buah serangan yang terus menerjang ketubuhnya.

Terpaksa Kong Beng Sang menutup kedua matanya menantikan kematian baginya.

Sebuah bayangan manusia tiba2 berkelebat, terdengar suara yang nyaring, Kong Beng Sang dengan wajah yang pucat pasi mundur ke belakang, sedang Kong Ku dengan mencekal pedang berdiri tegak disamping Kong Beng Sang.

Dia sadar apabila dia tidik turun tangan menolong, Kong Beng sang pasti akan terluka di tangan orang aneh ini, sekalipun Kong Beng sang tadi berhadapan dengan dia sebagai musuh, tetapi jika dilihat dari keadaan sekarang ini kemungkinan sekali dia masih membutuhkan pertolongan dari empat iblis sakti tersebut.

Jika dipandang dapat dilihat bahwa lwekang yang dimiliki orang aneh ini mungkin masih lebih tinggi dari lwekang yang dimiliki dirinya itu.

Sepasang alis Liong Hoa Liong berkerut, napsu membunuhnya pun mulai nampak, dengan dingin tanyanya: "Kau sibuta siapa namamu?-? ?-"

Dengan dingin sahut Keng Ku:

"Jikalau hanya name Tiga bersaudara dari istana chie Lan, Kong saja kau tidak mengenalinya, maka hal ini menandakan pengalamammu yang sangat Cetek sekali, didalam bu-lim mana masih ada tempat bagi dirimu." Liauw Hoa Liong dengan dingin mendengus, ujarnya. "Kiranya adalah iblis dari istana chie Lan Kong ."

Sekalipun pada mulutnya dia berkata demikian, tetapi sebenarnya didalam hatinyapun dia sedikit merasa terkejut, dengan kehadiran empat iblis ditempat itu saja sudah Cukup sukar untuk melawannya, kini orang dari golongan istana chie Lan Kong pun telah muncul, jikalau dia bergacung dengan empat iblis sakti itu, kiranya dirinya harus pula melepaskan niatnya untuk merebut tubuh hiolo kuno tersebut.

Kong Ku mendengar Liauw Hoa Liong demikian memandang rendah pada golongan istana chie Lan Kong, dengan dingin dia tertawa panjang, sesaat kemudian baru tanyanya. "Siapa kau? "

Liauw Hoa Liong belum saja membuka mulutnya menjawab, Bu Kie chie yang berada di samping itu telah menyahut:

"orang ini adalah Tok Thian coen, Liauw Hoa Liong, yang merupakan iblis nomor satu pada saat ini didalam dunia kangouw".

Kong Ku dengan nada yang tajam jengeknya: "Kiranya hanya angkatan muda saja ". Liauw Hoa Liong tertawa dingin, sahutnya.

"Benar... angkatan muda, tetapi waktu itu suhuku pernah naik ke istana chie Lan Kong, bukankah sepasang matamu itu menjadi buta karena dicukil oleh Thian Jan Shu"

Begitu ucapannya keluar dari mulutnya selain Boen ching, orang yang hadir ditempat itu seluruhnya merasa sangat terkejut, sekalipun Ciangbunjin dari enam partai besar mengetahui julukan dari Liauw Hoa Liong adalah Tok Thian coen, tetapi siapapun tidak mengetahuinya kalau Tok Thian coen itu adalah murid dari Thian Jan Shu. Ouw Yang Bu Kie tertawa tawar, ujarnya: "Kiranya adalah murid buangan dari Thian Jan Shu"

Liauw Hoa Liong menoleh kebelakang memandang Ouw Yang Bu Kie dengan dingin, nampak tubuhnya memakai jubah panjang, sedang pada tangannya mencekal sebuah kipas dari emas, lalu ujarnya.

"Kaukah Ouw Yang Bu Kie? ?"

Ouw Yang Bu Kie membuka kipasnya, setelah di goyang- goyangkan sejenak. kemudian menutupnya kembali, sambil tertawa sahutnya. "Benar memang aku adanya".

Liauw Hoa Liong sebenarnya telah bersiap untuk mulai bergerak. tetapi nampak keadaan di ruangan itu agaknya semua menganggap dirinya sebagai musuh, dalam hatinya sudah tentu dia tidak ingin demikian, bahkan diapun tidak mempunyai pegangan untuk memenangkan pertempuran ini.

sepasang matanya menyapu kearah tujuh buah hiolo kuno itu, dengan dingin ujarnya. "Aku kira kalian pun semuanya juga karena tujuh buah hiolo kuno ini bukan? ".

Sekalipun perkataan itu diucapkan dengan nada yang dingin, tetapi dapat dilihat jauh lebih lunak lagi.

Hati Kong Ku menjadi tergerak. Liauw Hoa Liong yang muncul pada saat dan tempat itu pula, tak usah dikatakan lagi, sudah tentu karena urusan tujuh buah hiolo kuno peninggalan Thian Jan Shu pula, dia kalau memangnya telah datang kemari, sudah tentu mempunyai suatu tujuan tertentu, jika kalau dia dapat bergabung dengan dia untuk mengusir empat iblis sakti serta melenyapkan Boen ching bukankah hal ini merupakan suatu pekerjaan yang sangat besar sekali, dan kemudian dirinya bergabung dengan Bu Kie chie sekalian juga masih sanggup untuk menyingkirkan dirinya. Wajahnya segera berubah menjadi lunak, ujarnya. "Kalaupun engkau juga datang karena urusan tujuh buah hiolo kuno itu, sekarang ke tujuh buah hiolo kuno itu telah dikembalikan kepada Boen ching, dan empat iblis itulah yang hendak melindungi dia keluar dari tempat ini"

"ooh--" sahut Liauw Hoa Liong, sekalipan didengar dari perkataan Kong Ku itu dia tidak mengucapkannya dengan jelas, tetapi siapa yang tidak mengetahui kalau dia mempunyai minat untuk bergabung dengan dirinya untuk melenyapkan Boen ching serta empat iblis. 

Dia mendengus dan menyapu sejenak ke arah Boen ching, nampak pada saat ini Boen ching sedang duduk bersemedi dan memusatkan seluruh perhatiannya, dengan telinganya menggantikan matanya dan dengan Cermat mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan oleh orang-orang tersebut.

tetapi jika diiihat dari keadaan sekarang ini, terhadap dia kedudukannya tidaklah begitu baik, Tok Thian coen serta muridnya telah munculkan diri, jika dia mempunyai maksud untuk bekerja sama dengan Kong Ku, juga tidak ada gunanya, hanya jika Ie Bok Tocu sekalian tidak munculkan diri, sehingga tidak dapat mengatur barisan Ngo Heng Tin sukarlah untuk membereskan iblis itu, membuatnya sesaat menjadi bingung apa yang harus dikerjakan.

Liauw Hoa Liong nampak Boen ching hanya seorang pemuda yang tidak lebih baru berusia kira2 dua puluh tahun, kemudian dia memandang pada keenam orang ciangbUnjin dari enam partai besar, diam-diam membatin, "jika ia dapat membereskan Boen ching serta keempat ibis itu, dirinya tak usah takut terhadap Kong Ku."

Kepada Mo cing kemudian ujarnya. "Pergi kau mambereskan bocah itu"

Mo cing mengenal kepada Boen ching dengan langkah yang lebar dia bertindak mendekati Boen ching. Empat orang iblis sakti itu tertawa dingin, ia telah tahu bahwa kepandaian dari Boen ching sangat aneh serta lihay. Mo ching majupun tak mungkin ada gunanya, mereka hanya kuatir kalau Kong Ku bersama Tok Thian coen bersama-sama maju secara berbareng, ditambah lagi dengan ke enam orang ciangbUnjin dari keenam partai yang telah mendapatkan ilmu dari hiolo kuno itu, kalau demikian adanya, kiranya dirinya sukar sekali untuk mendapatkan kemenangan-

Kong Ku nampak Mo ching maju kedepan, dia menjadi membuka mulutnya, dia mengira untuk membereskan empat iblis sakti serta Boen ching tidak perlu harus menggunakan Mo ching lebih baik biarkan dia sekarang juga menemui kematiannya di tangan Boen ching, dirinya mempunyai pegangan untuk mengusir pergi Liauw Hoa Liong^

Mo ching berjalan mendekati Boen ching, tetapi Boers ching tetap menutup kedua mata, pada benaknya teringat kembali peristiwa dipuncak gunung Pak sek dimana Mo ching telah membinasakan empat naga dari lima bersaudara, dan kini sekali lagi kalau kita lihat dengan kepandaian yang dimiliki sekarang ini, tidak akan dia memandang sebelah matapun terhadap Mo ching.

Hoa Suan kini telah menjadi sutenya, dan bagaimanapun juga dirinya harus mewakilinya untuk menuntut balas, apalagi Mo ching adalah seorang iblis pengisap darah.

Mo ching berjalan makin mendekati Boen ching, baru saja dia akan turun tangan, dan Boen ching pun bersiap untuk membalas dendam bagi Ngo Liong, mendadak Liauw Hoa Liong dengan nada yang mendalam bentaknya. "Tahan---"

Mo ching segera menghentikan langkahnya, sedang didalam hati Boen ching merasakan agak keCewa.

Liauw Hoa Liong dengan dingin memandang kearah Boen ching, dia nampak Boen ching masih tetap tenang2 saja bahkan terhadap suara bentakannya itupun tidak menjadi terkejut.

Dalam hatinya terasa agak terkejut, jika dilihat keadaannya yang dapat demikian tenangnya itu. Buyung In seng dapat dihitung sebagai jago berkepandaian tinggi dari dunia kangouw.

Tetapi jika dilihat dari usia Boen ching sekarang ini, dia menjadi agak ragu-ragu kemudian dengan dingin ujarnya kepada Mo cing.

"Kau sedikit berhati-hatilah, jangan terlalu memandang rendah musuh".

Mo cing nampak Tok Thian coen, demikian berhati-hatinya, dalam hatinya dia merasa Tok Thian coen terlalu berhati-hati, dia pernah bergebrak melawan Boen ching, apakah dapat dibilang dia tidak mengetahui dengan jelas ketinggian kepandaian silat yang dimilikinya?

Tetapi dia tidak pernah menyangka kalau perpisahan hanya beberapa bulan ini kemajuan yang dicapai Boen ching didalam kepandaian silat tidaklah dibawah Liauw Hoa Liong sendiri.

Mo cing masih menganggukkan kepalanya, tubuhnya segera melayang berputar putar setengah lingkaran diudara, tangan kirinya melindungi jantungnva, sedang tangan kanannya seCepat kilat melancarkan serangan menepuk punggung Boen ching.

Dia mengira kepandaian silat Boen ching ini dengan pukulan yang pertama, jika Boen ching dapat menghindarkan diri, pukulan kedua apabila dilancarkan lagi, paling tidak Boen chin akan menderita kekalahan-Tetapi tangan kanan yang melancarkan serangan tersebut belum juga mengenai punggung Boen ching, tahu-tahu tubuh Boen ching telah meloncat ketengah udara. Tok Thian coen yang nampak gerakan tubuh Boen ching melayang, hatinya terasa agak terkejut, dengan gerakan tubuh yang semaCam ini, kiranya Mo cing bukan lawannya, bahkan mungkin akan terluka ditangan Boen ching.

Tetapi dia belum sempat bangkit berdiri. Tubuh Boen ching yaug masih ditengah udara itu telah melancarkan jurus serangan Ie Bok Kiamnya dengan menggenakan jurus "Hong Yong Loei Tong" atau angin santer petir menyambar dari ilmu pedang " Hong Loei chiet Kiam" telah dilancarkan keluar, Mo cing mana dapat menahan serangan pedang yang dapat menundukkan naga harimau itu, dengan terkejut dia hendak melancarkan serangan, tetapi suara angin dan petir telah berhenti menyambar, sedang jurus serangan pedang dari Boen ching pun telah berhenti menyerang dengan sangat terkejut dia berdiri termangu-mangu disana.

Tubuh Tok Thian coen segera menubruk maju bersiap hendak menolong Mo cing.

Ditengah kalangan bayangan manusia berkelebat, Tok Thian coen dengan Boen ching segera berpisah dan turun kebawah, sedang Mo cing yang berada ditengah kalangan telah binasa seketika itu juga .

Terlihat Tok Thian coen berdiri berhadap-hadapan dengan Boen ching, wajah Tok Thian coen sangat dingin sekali, dia  tak pernah membayangkan kalau dirinya yang menggerakkan tubuhnya dengan tergesa-gesa dan demikian Cepatnya itu, Mo cing tetap binasa ditangan Boen ching.

Boen ching membolang balingkan pedang Ie Bok Kiamnya, tadi dia dengan pedang membinasakan Mo cing kemudian mendesak mundur Tok Thian coen pula, dalam hatinya dia tahu bahwa dengan kepandaian yang dimiliki Tok Thian coen sekarang ini, masih belum dapat menandingi ilmu pedang “Hong Loei chiet Kiamnya. Ouw Yang Bu Kie menghirup napas panjang2 setelah itu menenangkan pikirannya. dia tak pernah menyangka kalau kepandaian silat Boen ching dapat demikian tingginya, Boen ching ternyata dapat menerima serangan dari Tok Thian coen dengan demikian bukankah kedua belah pihak menjadi berimbang kekuatannya.

Sedang Tok Thian coen sendiripun juga mengetahui kalau dia tak mungkin dapat menerima kebaikan dibawah pedang Boen ching.

Sinar matanya yang sombong itu perlahan2 makin berkurang, kepada Boen ching kemudian ujarnya. "Kau anak murid dari siapa? "

Dia tak dapat memikirkan seseorang yang dapat mengajarkan ilmu silat yang demikian tingginya kepada Boen ching.

Boen ching tertawa tawar, sambil memasukkan pedang Ie Bok Kiamnya kedalam sarung, ujarnya.

"suhuku adalah Ie Bok Tocu."

Tok Thian coen menjadi tertegun, dengan nada yang terkejut tanyanya. "Engkau adalah anak muridnya..? "

Dia tak menyangka kalau suhu dari Boen ching adalan Shie Yun Ku, hal ini tak pernah terpikirkan olehnya.

Kong Ku sebenarnya menanti begitu Tok Thian coen mulai bergebrak diapun akan ikut turun tangan, dengan tenaga dalam yang dimiliki oleh Liauw Hoa Liong ini dia menduga pastilah dia dapat mengalahkan Boen ching.

Menanti setelah dia membereskan Boen ching, pada saat itu dia akan mulai turun tangan, bukankah dengan demikian dengan mudah dapat membereskan empat iblis sakti itu. Tapi jika melihat sikap Tok Thian coen ini, terpaksa dia tak jadi turun tangan. Boen ching setelah memandang sekejap pada mayat Mo cing, dalam hatinya timbul rasa kasihannya, sayang orang yang memiliki kepandaian yang tinggi itu harus dibinasakan, karena jika dia tidak binasa berapa banyak orang yang akan binasa ditangannya. Terdengar Tok Thian coen mendengus dengan perlahan, tanya nya: "Mana suhumu? "

Boen ching tahu kalau Tok Thian coen ini sangat menghormati sekali terhadap suhunya Ie Bok Tocu, sambil tertawa, sahutnya:

"Aku telah berpisah selama beberapa bulan lamanya dengan suhuku, tapi aku kira sebentar lagi tentu akan datang pula^"

Kong Ku nampak Tok Thian Coen terhadap Boen Cing bukannya karena kematian Mo Ching menjadi  mendendamnya, sebaliknya malah menanyakan keadaan suhunya, dalam hatinya segera sadar suasana yang tidak beres:

Tok thian Coan setelah memandang terpesona kearah Boen Ching sejenak. kemudian dengan perlahan ujarnya.

"Tujuh buah hiolo kuno peninggalan Thian Jan Shu ini adalah diberikan kepadamu.? "

Boen ching menganggukkan kepalanya, Tok Thian Coen agak termenung sejenak, kemudian lanjutnya.

"Kalau begitu ambillah tujuh buah hiolo kuno itu dan segera meninggalkan tempat ini, terus kita berbicara lagi."

orang2 yang berada disekitar tempat itu mendengar Tok Thian coen mendadak berkata demikian, tanpa terasa menjadi terkejut semuanya, ujar Kong Ku. "Tahan aku masih belum

memberikan jawaban"

Dengan dingin tanya Tok Thian Coen-"Kaukah? " Toan Bok Chie Jienpun dengan dingin ujarnya.. "Masih ada kami berempat "

Setan arak. paras elok. harta serta kedudukan sebenarnya memang orang2 yang tak pernah memegang janji, dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya saja. Kini nampak Tok Thian Coen akan melindungi Boen ching keluar dari loteng oei Hok Lo, mereka berempat mana mau menerimanya. Dalam hati pikir Toan Bok Ci Jien-"Kami tadipun telah berusaha untuk berbuat seperti kau sekarang ini, dan kini mana dapat mengijinkan kau berbuat demikian ".

Terdengar Tok Thiang coen tertawa dingin jengeknya. "Benarkah? ".

Keempat orang itu segera berdiri berjajar menghalangi jalan pergi Boen ching serta Tok Thian Coen kearah dimana tujuh buah hiolo kuno itu terletak.

Toan Bok Ci Clen tertawa panjang, tubuhnya miring kesamping sedang tangannya membabat ketubuh Tok Thian Coen dan gentong arak ditangan kanannya didorongkan kedepan, menghalangi tubuh Tok Thian Coen-Ouw YangBu Kie pun tertawa besar, kipas emasnya dibuka tutupkan, dan melancarkan serangan dari samping menotok jalan darah "Cie Boen ching Hiat" dibawah dada Liauw Hoa Liong.

Sepasang tangannya segera mengubah jurus serangannya, terdengar suara benturan yang nyaring, kedua belah pihak masing-masing berpisah dan mundur kebelakang.

Toan Bok cie Jien serta Ouw Yang Bu Kie mengundurkan diri kembali ketempat semulanya, terlihat pada tubuh gentong arak besar yang terbuat dari tembaga itu terasa sebuah telapak tangan yang sangat dalam, sedang suara mendidihnya arak didalam gentong arak itupun samar-samar dapat terdengar. .

Tok Thian Coen pun mundur kembali ketempat semulanya, dengan wajah yang masam dia tak mengucapkan sepatah kata pun, jika dilihat dari keadaan sekarang ini dengan kekuatan sendiri kiranya juga masih sukar untuk meloloskan diri dari tempat tersebut.

Boen ching terhadap sikap dan tindak tanduk dari Tok Thian Coen ini mulai merasa curiga, oleh sebab itu dia hanya nonton disamping saja, tanpa turun tangan memberikan bantuan.

Sepasang mata Liauw Hoa Liong menyapu sekejap pada kalangan itu, kemudian tertawa dingin tak henti-hentinya.

Kong Ku yang berada disamping, ujarnya:

"Demikianpun sangat baik sekali, dengan kekuatan gabungan dari kita berlima kiranya untuk membereskan mereka berdua itu sangat mudah sekali bagaikan membalikkan tangan"

Lima orang itu baru saja hendak mulai turun tangan, terdengar suara tertawa yang sangat halus berkumandang, seorang wanita berusia pertengahan dan memakai baju berwarna hijau telah melayang turun keatas loteng itu, setelah memandang sekejap pada sekeliling tempat itu, kepada Boen ching lalu tanyanya. "Kaukah yang bernama Boen Ching? "

Boen ching menganggukkan kepalanya kemudian terlihat wanita berusia pertengahan itu mencabut keluar pedangnya yang ditunjukkan kehadapan Kong Ku, tanyanya. "Mana murid ku? "

Kong Ku dengan dingin telah datang mendengus, dia tidak mengetahui wanita berusia pertengahan ini sedang mengatakan urusan apa tetapi begitu ucapan itu keluar dari mulut wanita berusia pertengahan itu, sebaliknya Boen-Ching menjadi sangat girang sekali, yang datang ternyata adalah suhu dari Bwee Giok Lam Hay Coei Hong, Tie Liok Yun adanya. Tie Liok Yun ternyata telah datang ketempat itu, suhunya sudah tentu juga sebentar lagi akan datang pula, dengan cepat dia maju kedepan dan ujarnya.

"cianpwee bukankah adalah suhunya Bwee Giok. Tie cianpwee? jejak dari nona Bwee aku mengetahui bukan berada dalam istana Chie Lan Kong, tetapi aku mengetahui tempatnya"

"ooh---" sahut Tie Liok Yun-Dalam hati Ouw Yang Bu Kie merasa sangat terkejut, sungguh tak terkira murid dari Thiat Bian Kwan im, Lam Hay Coei Hong, Tie Liong Yun ternyata dapat hadir pula ditempat itu pada saat ini.

Ilmu pedang dari golongan Lam Hay sangatlah berbeda sekali dengan ilmu pedang dari daerah Tionggoan, sekalipun dirinya tidak takut tetapi akhirnya pihak lawan kedatangan pula seorang pembantu yang merupakan jago berkepandaian tinggi.

Kong Ku begitu mendengar desiran angin sesaat Tie Liok Yon mela yang masuk kedalam loteng itu, segera telah mengetahui kalau kepandaian yang dimilikinya itu sangat tinggi sekali, tetapi jika dilihat keadaan sekarang ini diapun tidak takut kalau dengan kekuatan lima orang ditambah dengan enam orang ciangbunjin dari enam partai besar masih belum dapat mengalahkan Boen ching tiga orang.

Pedang panjangnya segera digetarkan, tubuhnya berkelebat melewati empat iblis dan melancarkan serangan mendesak kearah Tie Liok Yun.

Tie Liok Yun tertawa dingin, pedang ditangan kanannya sedikit diangkat ke atas bagaikan kilat cepatnya, Keng Ku berturut-turut melancarkan dua belas kali serangan, tetapi Tie Liok Yun hanya perlu berganti tiga jurus saja telah berhasil memunahkan seluruh jurus serangan yang dilancarkan oleh Keng Ku. Dalam hatinya Kong Ku merasa sangat terkejut, sekali lagi dia bersiap untuk melancarkan serangan lagi. Terdengar Boen ching berkata kepada Tie Liok Yun.

"Biarlah beanpwee yang menyambut beberapa jurus serangan-"

Sambil berkata tubuhnya berkelebat melampaui Tie Liok Yun, dengan pedang Ie Bok Kiamnya dia melancarkan serangan kearah Kong Ku dengan menggunakan jurus "Kiam Coan cian IHwe"

Jurus serangan yang dilancarkan oleh Boen ching itu ternyata dapat menyerang tempat yang sangat tepat sekali, membuat Kong Ku pada saat itu tak sanggup untuk menghindar lagi, dan terpaksa mundur selangkah kebelakang.

Tie Liok Yun yang nampak kepandaian silat yang dimiliki Boen Ching ternyata demikian lihaynya, membuat dia sedikit merasa diluar dugaan, setelah berdiri termangu-mangu sejenak baru bertindak mundur kebelakang, sambil ujarnya: "suhumu sedang menanti Sapekmu, dan sebentar lagi akan tiba".

Boea Ching menjadi sangat girang sekali, diantara suara bentakannya yang sangat nyaring itu, tubuhnya berjumpalitan ditengah udara sambil mengganti jurus serangannya, dengan menggunakan jurus "Bok Yen Hui Thian" atau Layang-layang terbang membubung angkasa, pedangnya disabetkan ke depan, mendesak kearah Kong Ku.

Kong Ku yang berturut-turut melancarkan dua kali serangan tetapi seluruhnya dapat dipunahkan, mana pernah dia merasakan hal tersebut, dengan gusar dia mendengus, pedang panjangnya sedikit digetarkan, terlihat suatu sinar pedang yang sangat rapat mendesak serangan yang dilancarkan oleh Boen Ching.

Sedang suara angin serta petir yang menyambarpun mulai berhenti. Boen ching tahu bahwa Kong Ku hendak mengandaikan tenaga dalamnya yang telah sempurnanya ini disalurkan kedalam tubuh pedang panjangnya itu untuk merebut kemenangan,

segera ia menarik napas panjang2, begitu tubuhnya turun keataS tanah, dengan memusatkan seluruh perhatiannya dia menyabetkan suatu jurus serangan-orang2 yang hadir didalam ruangan itu tak seorangpun yang tidak menjadi tegang, jika dilihat keadaannya, kiranya Boen ching sedang bertanding melawan Kong Ku dengan ilmu pedang yang disertai oleh tenaga dalam yang sempurna.

Tie Liok Yun dengan terkejut memandang kearah Boen ching, dengan usia yang begitu muda Boen ching ternyata telah berhasil mempelajari ilmu pedang yang disertai dengan tenaga dalam yang demikian hebatnya itu, hal ini sungguh luar biasa sekali, bahkan agaknya dia telah melancarkan serangan dengan ilmu pedang "Hong Loei Chiet Kiam" yang dapat menundukkan naga dan harimau itu.

Kong Kupun menyabetkan pedangnya ketengah udara dan membentuk setengah lingkaran, serangan pedangnya inipun telah mengandung hawa im Yang Ceng Khie yang sangat lihay, begitu pedangnya disabetkan ketengah udara segera terdengar suara desiran yang sangat tajam sekali.

orang yang berada di empat penjuru dari tempat itu segera memusatkan seluruh perhatiannya kepada dua orang itu, pertempuran ilmu pedang yang disertai tenaga dalam yang sempurna ini kiranya selama ratusan tahun juga jarang dapat terjadi satu kali, karena dalam satu jurus saja kemungkinan sudah dapat dilihat siapa yang menang dan siapa yang akan menderita kekalahan.

Begitu pertempuran itu dimulai, tak akan seorangpun yang sanggup untuk meleraikannya, termasuk Tok Thian coen sendiri. Tetapi didalam hati Boen ching serta Kong-Ku mereka tidak menghendaki bentrok secara kekerasan, dua orang itu bukannya baru bertemu untuk pertama kalinya, sehingga dalam hati masing-masing telah mempunyai perhitungan yang masak. hanya perlu satu jurus saja dilancarkan, kemungkinan kedua belah pihak akan mengalami kematian-Mendadak. .. . .

suatu suara yang sangat aneh masuk kedalam telinga mereka berdua, dengan segera mereka menarik kembali serangannya dan mundur kebelakang.

oooo(0dw0)oooo

Boen ching serta Kong Ku sebenarnya memang tidak ingin untuk mengadu jiwa, begitu mendengar suara yang aneh, kedua orang itu dengan kesempatan itu segera menarik kembali jurus serangannya dan mundur ke belakang.

Diatas loteng oei Hok Loo itu telah bertambah dengan dua orang, Seh Tu Hoa serta si Kelabang merah, Shie Chiau Nic Seh Tu Hoa memandang sekejap pada orang-orang yang hadir diatas loteng itu, dalam hatinya diam-diam dia merasa agak terkejut, pada saat ini demikian banyaknya jago-jago berkepandaian tinggi yang berkumpul, kiranya kedatangannya kali ini tak akan mendapatkan hasil lagi..

Tetapi dia tetap mengharapkan dapat mendapatkan sedikit percikan keuntungan, dia menoleh memandang keempat penjuru, dan memandang kearah orang-orang itu, sedang dalam hatinya pikirnya, jika di lihat keadaan sekarang ini, agaknya tidaklah memberikan tempat baginya untuk ikut serta dalam perebutan ini.

Tok Thian Coen Liauw Hoa Liong nampak yang datang ternyata adalah Seh Tu Hoa, dengan dingin mendengus, tetapi tak mengucapkan sepatah katapun jua. Kong Ku sekalipun tidak mengetahui maksud tujuan dari kehadiran Seh Tu Hoa itu, dan tak ada seorangpun yang membuka mulut terlebih dahulu.

Seh Tu Hoa menjadi termenung, dia memandang keadaan dihadapannya sejenak. kemudian sambil tersenyum ujarnya.

"Kehadiranku ditempat ini sungguh tepat sekali waktunya, kiranya permainan bagus juga hampir mulai."

Didalam ruangan itu tetap sunyi senyap. kedua belah pihak tak seorangpun yang mengangkat bicara.

Seh Tu Hoa sebenarnya juga merupakan seorang yang cerdas begitu dia melihat suasana di tengah kalangan, segera telah mempunyai suatu ketetapan, pihak Boen ching sudah tentu hendak membawa pergi ketujuh buah hiolo kuno itu sedang pihak Kong Ku tentunya tidak mengijinkan.

Dia harus berpihak kegolongan Kong Ku, dengan demikian baginya baru mempunyai kesempatan untuk ikut serta mendapatkan hiolo2 itu, apalagi Boen ching sekalipun dengan dirinya selalu tidak cocok, baginya sudah tentu sukar untuk memasukinya. Sambil tertawa kepada Kong Ku ujarnya.

"Sampai saat ini ketujuh buah hiolo kuno peninggalan  Thian Jan Shu masih belum didapatkan seseorang bukan? ? "

Kong Ku hanya mendengus, tak mengucapkan sepatah katapun.

Begitu ucapan Seh Tu Hoa keluar dari mulutnya, Ouw Yang Bu Kie segera mengetahui maksud perkataannya, hatinya menjadi berputar, pikirnya jika dirinya mendapat bantuan dari Seh Tu Hoa dan Shie chiau Nio, bukankah dengan mudah Boen ching sekalian dapat dibereskan dengan Cepat, dan setelah membereskan Boen ching, dirinya waktu berhadapan dengan Kong Ku bukankah bertambah lagi bantuan yang sangat kuat.

Berpikir sampai disini segera sambil tersenyum ujarnya. "Ketujuh buah hiolo kuno peninggalan dari Thian Jan Shu telah ditetapkan milik Boen ching seorang."

Seh TU Hoa menjadi tertegUn, terdengar Ouw Yang Bu Kie telah melanjutkan ujarnya:

"Tetapi ini hanya suatu permulaan saja, akhirnya siapakah yang berhak mendapatkan tujuh buah hiolo kuno peninggalan Thian Jan Shu ini aku kira juga harus tergantung pada kepandaian serta keCerdasan yang dimilikinya " Sehabis barkata dia tersenyum, dan berkata kepada Boen ching. Seh TU Hoa tertawa besar, ujarnya.

"Jika demikian adanya kukira Boen ching saat ini telah merupakan sasaran bagi orang, dan semua orang berhak untuk merebut tujuh buah hiolo kuno itu bukan?-? ? "

Ouw Yang Bu Kie tertawa besar, sahutnya. "Memang demikian adanya "

Tok Thian coen dengan dingin mendengus, belum dia membuka mulut untuk berbicara, dari atas jendela loteng itu terdengar suara yang sangat dingin yang berkata: "Siapa yang ingin turun tangan untuk merebutnya? ? " .

Semua orang menjadi terkejut, ketika menoleh memandang, diatas jendela itu berdiri seorang siucay  berjubah warna hijau, ternyata adalah ie Bok Tocu, shie Yun Ku yang sedang menyamar sebagai seorang pria.

Dalam hati Boen ching men jadi sangat girang, teriaknya. "Suhu "

Wajah Seh TU Hoa berubah menjadi pucat pasi, dia mUndur kebelakang setindak. sedang orang2 yang hadir ditempat itu menjadi terkejut, ginkang dari Ie Bok Tocu ternyata memang benar menjagoi seluruh dunia persilatan, sehingga kehadiran ditempat itu tak seoranpun yang mengetahuinya. shie Yun Ku menyapu sekejap pada orang2 itu, dengan perlahan dia berjalan masuk kedalam kalangan, dan berjalan mendekati Boen ching.

Boen ching yang nampak wajah dari Ie Bok Tocu bartambah keras, dia yang manganggap Shie Yun Ku sebagai ibunya sendiri, setelah mengalami berbagai kesulitan dan akhirnya dapat bertemu muka kembali, ingin sekali dia maju kedepan menubruk untuk memeluknya, tapi hal ini tak mungkin terjadi ditempat yang semaCam ini.

Dia berdiri terrnangu-mangu ditempat itu, Shie Yun Ku berjalan mendekat kearah Boen ching, sepasang tangannya memegang bahu Boen ching sambil dengan perlahan ujarnya. "Engkau bertambah besar.. "

Dalam hati Boen ching merasa agak hangat, dengan paksa menahan mengalirnya air mata, ujarnya.

"Suhu, jejak dari Siauw in sumoay aku telah mengetahuinya"

shie Yun Ku tersenyum, sedang Seh Tu Hoa yang berdiri tidak jauh dari tempat itu tampak tubuhnya agak gemetar, dia tidak tahu bagaimana, dalam hatinya mendadak dapat muncul suatu perasaan yang tidak enak. Siauw In sumoay, bukankah putrinya dia dengan Shie Yun Ku?-? pada saat ini untuk bertanyapun dia tidak berani, hanya dengan termangu-mangu berdiri disana.

shie Yun Ka dengan perlahan melepaskan pedang yang ikat pada pinggangnya, sambil memberikannya kepada Boen ching ujarnya. " Inilah pedang ceng Hong Kiam mu"

Boen ching sebenarnya tidak mau menerimanya, tetapi hal itu tak mungkin bisa terjadi, dia pun segera melepaskan pedang Ie Bok Kiamnya, dengan dua belah tangannya dia mengangsurkan pedang tersebut kepada Shie Yun Ku sambil berkata. "Suhu, inilah pedang Ie Bok Kiam pemberian kau orang  tua, hingga saat ini masih belum mengalami kerusakan, kemungkinan ini hari suhu membutuhkannya"

Shie Yun Ku dengan perlahan menghela napas, ujarnya. "Benar, ini hari harus menggunakannya "

Sejak Shie Yun Ku munculkan diri, orang2 yang berada dikalangan itu segera dibuat menjadi termangu-mangu oleh kewibawaannya serta keagungannya itu, tak seorangpun yang membuka mulut lagi, hanya mereka berdua suhu dan murid yang saling berbicara.

Sepasang sinar mata dari Liauw Hoa Liong berhenti diatas pipi Shie Yun Ku, lama baru dia mendengus kepada Seh Tu Hoa ujarnya.

"Seh Tu Hoa, aku kini baru mengetahuinya pada waktu itu mengapa engkau setelah menerima suratku tetapi tidak menepati janji tersebut, sebaliknya malah menyusahkan Nona shie, apakah artinya semua ini? "

Sinar mata dari orang-orang yang hadir itu segera berpindah pada Tok Thian coen serta Seh Tu Hoa, dalam setiap hati orang-orang itu merasa sangat heran, mengapa Tok Thian coen dapat demikian gusarnya.

Seh Tu Hoa menjadi sadar kembali atas pertanyaan itu, tanyanya. "Surat apa? "

Dengan dingin ujar Liauw Hoa Liong.

"Surat apa? kau masih ingin berpura-pura, surat tantangan dari Thian Jan Shu untuk mengatur barisan Ngo Heng Tin, aku yang membawa pergi putrimu mengapa kau malah sebaliknya malah menyusahkan nona Shie? "

Seh Tu Hoa menjadi tertegun, urusan ini dia tidak pernah mengetahuinya, sinar matanya dengan perlahan berpindah ketubuh Shie chiau Nio, dengan termangu-mangu dia memandang kearah Shie chiau Nio, sedang dalam hati pikirnya, kiranya demikian saja. Liauw Hoa Liong dengan dingin mendengus, kepada Seh Tu Hoa ujarnya lagi. "Engkau adalah seorang yang tidak mengenal balas budi."

Perkataannya ini baru saja diucapkan keluar, segera dia berdiri termangu-mangu, diatas loteng oei Hok Lo itu bertambah lagi dengan seseorang, yang baru saja datang itu ternyata Han cing Yu, putri dari Thian Jan Shu.

Dia memandang kearah Han cing Yu, dalam hatinya dia bingung entah harus berbuat bagaimana baiknya, dia sendiri bukankah seorang yang tidak mengenal budi? ? dia terhadap Han cing Yu selalu berusaha menjauhinya, sedang dalam hatinya dia hanya menghormati Yun Ku seorang saja.

Han cing Yu masih tetap seperti waktu itu saja, dengan tenang berdiri disana dan memandang kearah nya.

Dalam hatinya merasa sangat menyesal, sambil berteriak keras, tubuhnya berkelabat melayang keluar, dengan diikuti suara sultan tajam, tubuhnya telah lari keluar.

Sesaat sebelum Han cing Yu menemui Liauw Hoa Liong, dalam hatinya memang merasakan hancur lebur, tetapi kini Cinta kasihnya mulai timbul lagi, dia berteriak keras. "Hoa Liong "

Tubuhnya pun berkelebat mengejar ke depan.

Suasana di dalam kalangan itu mendadak berubah lagi, seorangpun tidak ada yang menduga dapat terjadi seperti ini.

Setelah termenung sejenak, Kong Ku nampak disamping tubuh Boen ching kini hanya tinggal Shie Yun Ku serta Thie Liok Yun dua orang, segera dia merasa bahwa saat ini adalah saatnya yaug terbaik untuk turun tangan membereskan Boen ching.

Tidak menanti dia turun tangan, Shie Yun-Ku yang nampak kedatangannya Han cing Yu ditempat itu, dengan segera dia mengetahui kalau ketiga orang suhengnya hadir semuanya. Dengan nada yang keras teriaknya. "Thian Hong ci Pi it "

Begitu perkataan Shie Yun Ku itu diucapkan tubuhnya segera bergeser kesebelah timur, pedang Ie Bok Kiamnya pun telah dicabut keluar dari sarungnya dan dicekal ditangan kanan, tubuh pedang ditujukan kelangit dan berdiri tegak ditengah kalangan.

Seh Tu Hoa begitu mendengar perkataan tersebut keluar dari mulut Shie Yun Ku, sepasang alisnya diangkat sedang matanya memancarkan sinar yang tajam.

Dari sebelah selatan dari loteng oei Hok Lo itu meluncur dengan cepatnya sebuah bayangan manusia, seorang yang seluruh tubuhnya memakai jubah panjang berwarna merah telah melayang masuk. sedang pada mulutnya mengucapkan kata2 yang tajam sekali teriaknya. "Tee Siang Huan Jen"

Lei Hwee Yu Shie Lam-Kong Hun telah berada diatas loteng itu, pada tangan kanannya mencekal sebilah pedang dan berdiri tegak ditengah kalangan, sedang wajahnya yang selalu muram pada bulan yang lalu kini telah lenyap tanpa bekas.

Sepasang mata Seh Tu Hoa ma kin memancarkan sinar yang tajam, hal ini ternyata adalah kedudukan dari barisan "Ngo Heng Kiam Tin" yang dulu sering dilatihnya bersama.

Kehidupan pada dua puluh tahun mulai selembar demi selembar berkelebat didalam benaknya, hatinya terasa bagaikan dibakar, sekalipun kegembiraan waktu telah lenyap, tapi masih tetap terukir didalam hatinya, dan selamanya dia tak mungkin akan melupakannya.

Terdengar dari sebelah utara berkumandang suara teriakkan yang nyaring bentak nya. "Hong Sen Yuen ie"

Tubuh Tok Hong Hek tahu-tahu telah muncul diatas loteng oei Hok Lo dari sebelah Utara. Seh Tu Hoa tak tahan lagi dengan cepat dia mencabut pedangnya dan berkelebat kesebelah barat sambil teriaknya dengan nyaring. "Yuen Shen Put Tong "

Shie Yun Ku, Lam Kong Hun serta Tong Hong Hek tiga orang nampat sikap Seh TU Hoa yang demikian itu, pada sinar matanya menampilkan rasa yang agak terkejut, sekalipun rambut Seh Tu Hoa tak karuan keadaannya tetapi pada saat ini sinar matanya sangat tajam sekali dan menampilkan kegagahannya yang dahulu. Terdengar suara keras bagaikan genta berkumandang. "Mie Ho Kan Kun "

Tubuh dari cu Khek ci Yun telah melayang masuk kedalam ruangan itu dan berdiri ditengah kalangan.

Lima orang itu begitu membentuk lima buah jurus serangan, dengan kedudukan yang mereka ambil adalah menurut kedudukan Ngo Heng Kiam tin membuat Kong Ku dan empat iblis sakti serta enam orang ciangbunjin dari enam partai besar menjadi sangat terkejut sekali.

Nama barisan "Ngo Heng Kiam Tin" telah lama mereka mendengarnya, tak disangka barisan yang dipersiapkan oleh Tan coen-coen untuk menghadapi Thian Jan Shu dan selamanya belum pernah seCara resmi diatur itu, kini pada tempat seperti ini telah diaturnya.

Boen ching dan Tie Liok Yun pun sejak tadi telah mundur kesamping, sedang Kong Ku, Empat iblis serta enam orang ciang bunjin dari enam partai besar itu dengan tepat telah berada ditengah dari barisan "Ngo Heng Kiam Tin" tersebut Kong Ku tertawa dingin, ujarnya.

"Inilah yang disebut sebagai barisan "Ngo Heng Kiam Tin."

Ouw Yang Bu Kie setelah menenangkan pikirannya pun berkata.

"Tidak salah, tak disangka ini hari dapat berkenalan dengan barisan Ngo Heng Kiam Tin yang telah menggetarkan bulim itu, peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yaag sangat menggembirakan sekali." Kong Ku dengan dingin tertawa panjang, ujarnya lagi.

"Aku ingin mencoba barisan Ngo Heng Kiam Tin ini apakah sebenarnya benar2 sesuai dengan yang disiarkan didalan bulim."

Sambil berkata pedangnva sedikit digetarkan bagaikan sebuah seekor rajawali raksasa menubruk kedudukan "ceng" yang diduduki oleh Shie Yun Ku.

Pada saat ini barisan Ngo Heng Tin segera bergerak. lima bilah pedang menggulung membentuk suatu gambar yang sangat aneh sekati menerjang kearah Kong Ku.

Gerakan pedang Kong Ku menjadi terdesak kesamping lima buah pedang itu bukan saja menyerang seluruh tempat yang terpenting pada tubuhnya bahkan untuk menghindarkan diripun sukar sekali.

Hatinya menjadi terkejut, serangan yang dilancarkan dengan sekuat tenaga itu bagaimana dapat dihindarkan dengan demikian mudahnya, sedang pada saat itu lima buah pedang telah bergerak seluruhnya membuat dia sulit untuk mematahkan lima buah serangan yang dilancarkan.

Begitu lima bilah pedang tersebut berkelebat ditengah kalangan pertempuran tersebut segera diliputi oleh sinar pedang yang berkilauan, terlihat tubuh Kong Ku telah terlempar pergi.

Dengan berat sekali dia mendengus, sedang dalam hati empat Iblis sakti itu bersama2 merasa sangat terkejut, pada saat ini seluruh tubuh Kong Ku penuh dengan darah yang mengalir keluar pada tubuhnya telah bertambah dengan empat lima goresan pedang, ketika melihat lima orang itu lagi, nampak mereka telah kembali pada tempat semula. orang2 yang nampak hal itu seluruhnya jadi terkejut, Baru untuk pertama kali barisan Ngo Heng bergerak, Kong Ku telah mengalami luka-luka dibawah barisan tersebut, hal ini membuat setiap orang tak tahu harus bagaimana baiknya, sedang didalam hati mereka masing-masing merasa berdesir.

Barisan Ngo Heng Kiam Tin dari Tan coe coen benar-benar sangat lihay sekali, kiranya apabila barisan Ngo Kiam Hoat itu benar-benar bergerakpada saat ini tak seorangpun didalam ruangan itu yang dapat menghindarkan diri dari serangan itu.

ASLINYA JILID 25 HAL 25 ASLINYA JILID 25 HAL-26

Perkataan dari Kong Ku yang demikian patah semangat itu membuat dalam hati empat orang iblis sakti itu berdesir.

Cu Khek Ci Yuen baru saja mempertimbangkan, terdengar Ouw Yang Bu Kie talah mengangkat berbicara.

"Kong Ku heng, mengapa harus menjadi demikian sedihnya, ditangan Bu Kie cie bukankah masih terdapat tiga buah senjata pusaka "Thian Liong Sou" Dia tahu bahwa mereka tidak mungkin membiarkan Kong Ku meninggalkan tempat tersebut, dirinya lima orang jika bersatu padu ditambah dengan kekuatan dari enam orang Ciangbujin dari enam partai besar serta senjata pusaka Thian Liong Suo, apakah dapat dikata masih belum dapat merebut kemenangan?

Tetapi dalam hati Bu Kie chie malah sangat terkejut, yang diandalkan hanyalah tiga buah senjata pusaka Thian Liong suo itu belaka, apalagi apabila ke tiga buah senjata pusaka itu telah lepas dari tangannya bukankah dengan demikian dia telah tidak mempunyai andalan lagi.

Tetapi Keng Ku yang telah lolos dari kematian dibawah sambaran pedang, pada saat ini dia benar-benar telah patah semangat, sambil menyimpan kembali pedangnya kedalam sarungnya dengan perlahan dia berjalan keluar dari barisan tersebut.

Boen ching dengan perlahan mencabut keluar pedang "cing Hong Kiam"nya terlihat serentetan sinar yang hijau keluar dari sarungnya, dia berbuat demikian untuk menjaga kemungkinan setelah ke luar dari barisan itu mendadak Kong Ku balik mengadakan serangan-

cu Khek ci Yuen sambil mencekal pedangnya berdiri tegak disana, menanti Kong Ku yang dengan perlahan berjalan keluar dari barisan Kong Ku setelah menghela napas, tubuhnya berkelebat keluar dari atas loteng dengan Cepat meninggalkan tempat tersebut.

Hanya satu jurus serangan dari barisan Ngo heng Tin saja telah membuat Kong Ku menjadi demikian, membuat setiap orang yang ada didalam kalangan itu menjadi berat sekali rasa nya.

Setelah lewat sesaat, Toan Bok cieJ in sambi tertawa besar, ujarnya.

"Dengan demikian golongan istana chie Lan Kong telah mengundurkan dirinya, dengan kekuatan kita berempat, ditambah lagi dengan kekuatan enam orang serta senjata Thian Liong Suo, entah bagaimana? "

Ouw YangBu Kie memandang sejenak pada orang2 yang berdiri didalam golongan nya, sekalipun dia mengetahui bahwa dipihaknya mempunyai senjata pusaka Thian Long Suo, tetapi kesempatannya untuk mendapatkan kemenangan tidaklah terlalu besar, Thian Liong suo hanya dapat memecahkan ilmu Khiekang, jika digunakan pada saat ini paling juga hanya dapat mematahkan pedang nya, dengan anak murid dari Tan coe coca serta putrinya, ditambah Boen ching serta Lam Hay coei Hong, Tie Liok Yu, sebenarnya kekuatannya tidak dibawah kekuatan dirinya sepuluh orang. Apabila barisan Ngo Heng Kiam Tin itu melukai dua tiga orang dari pihak dirinya, bukankah dengan demikian mungkin pihaknya itu akan mendapatkan suatu pukulan yang dahsyat.

Toan Bok ci Jien mengucapkan perkataan itu di sebenarnya bermaksud ingin menanyakan pendapat dari ketiga iblis lainnya dan yang paling penting adalah pendapat dari Ouw Yang Bu Kie.

Diantara ketiga orang iblis itu, Toan Bok ciJien menduga bahwa Ouw Yang Bu Kie tentunya akan memberikan pendapatnya, kini nampak tak seorangpun yang melanjutkan perkataannya, hatinya tanpa terasa menjadi berdesir. Sambil tertawa besar, ujarnya.

"Ini hari kamipun tidak menginginkan ketujuh buah hiolo kuno peninggalan Thian Jan shu itu lagi"

Sehacis berkata ia bersiap-siap hendak keluar dari lingkungan barisan Ngo Heng Kiam Tin tersebut.

Pedang panjang cu Khek ci Yun tampak membuat lingkaran diudara lima bilah pedang lainnya pun segera bergerak semuanva, membuat gerakan kepungan ketengah kalangan.

ASLINYAJILID 25 HAL-31

ASLINYAJILID 25 HAL-32

ASLINYAJILID 25 HAL-33

ASLINYAJILID 25 HAL-34

"Aku baik-baik saja, entah adik Ing serta ibu baik saja kan

..? " Dengan dingin ujar Su Ma cie. "ibu angkatmu telah meninggal dunia sepuluh tahun yerag lalu"

Hati cu Khek cie Yun makin merasa keCewa, sebenarnya dia bersiap setelah urusan ini selesai akan kembali kegunung Thian San, ucapnya kepada Boen ching sewaktu di gunung Lu San membuat diapun makin merasa harus cepat-cepat  kembali kegunung Thian San, dia sebenarnya sangat mencintat Suma ing. Setelah termangu sejenak^ tanya lagi. "Bagaimana dengan adik Ing? " Su ma cie mendengus, sahutnya.

"Mana aku tahu?"

cu Khek cie Yun menjadi terkejut, jika demikian adanya tentu Suma ing tidak berada di atas gunung Thian San-Thian San Sin Eng munculkan diri ditempat itu membuat hati setiap orang menjadi tegang, Kong sun sek, Pek HOuw serta Pek Hian Ling yang berdiri disamping hanya memandang keadaan dari kalangan itu, sepatah katapun tak diucapkan. Suma cie tertawa dingin, kepada Bu Kie chie ujarnya.

"Sungguh besar nyalimu, ternyata berani membunuh Thian San chiet Kiam serta Pek Hong Siang"

Bu Kie chie nampak senjata pusaka Thian Liong suo tidak berguna, saking takutnya membuat keringat dingin membasahi tubuh nya, dia mengetahui bahwa dengan kepandaian yang dimilikinya itu sama sekali tidak akan dipandang sebelah matapun oleh Thian San Sin Eng.

Pek HOuw dengan perlahan mencabut keluar pedangnya, dan menerjang kedepan tubuh Bu Kie chie dengan suara yang mendalam bentaknya. "Aku menginginkan nyawamu "

Bu Kie chie saking terkejutnya mundur satu langkah kebelakang, sebenarnya ia dapat mencabut keluar pedang panjangnya, terdengar Suma cie tertawa dingin bentaknya. "Kau masih ingin melawan "

Tangan kanannya dikebutkan membuat pedang panjang ditangan Bu Kie chie menjadi tersapu jatuh, kemudian menotok pula jalan darah di tubuh Bu Kie chie.

Pedang panjang ditangan Pek HOuw segera diangkat dan ditusukkan kedadanya hingga menembus ke belakang punggungnya, lima orang Ciangbunjin lainnya bersama-sama menjadi terkejut, urusan mengenai Thian San ciet Kiam waktu itu, mereka lima orang pun turut serta, dan kini Bu Kie chie binasa seketika, entah bagaimana terhadap mereka lima orang? Kepada lima orang itu, ujar Thian San Sin Eng.

"Kalian lima orang bukanlah merupakan pembunuh yang sebenarnya, apa lagi akupun bukanlah seluruhnya karena utusan ini, aku masih akan mencari putriku, cepat kalian pulang gunung menutup pintu untuk memikirkan dosa2 mu"

Lima orang itu bersama2 membungkukkan tubuhnya memberi hormat, bagaikan mendapatkan pembebasan yang besar, segera ber-sama2 meninggalkan tempat itu.

Ditengah kalangan itu tinggal Pek HOuw dan Pek Hian Ling yang sedang menangis terisak.

Hati cu Khek ci Yun merasa agak bimbang. Suma ing telah pergi, entah dia telah pergi kemana.

Setan arak, paras elok, harta serta kedudukan empat orang tertegun berdiri disana, tak seorangpun yang berani bergerak terlebih dahulu, Thian San Sin Eng telah munculkan diri, sedang barisan Ngo Heng Kiam Tin pun belum dibubarkan, senjata Thian Liong suo tidak akan mendatangkan hasil, malahan terjatuh ditangan Suma cie.

Semua hal itu tidak menguntungkan mereka berempat, kini mereka berempat betul-betul merasa sangat berduka, tak diduga setan arak. paras elok. harta serta kedudukan iblis sakti pada saat itu, nyawanya kini terjatuh ketangan orang lain-Kong sun sek tertawa besar, Kepada Pek Hian Ling ujarnya.

"Dendam ayahmu sudah dibalas, seharusnya bergembira baru benar, buat apa harus menangis lagi"

Boen ching pun pada saat ini telah memasukkan pedangnya kedalam sarung, Suma cie balikkan tubuhnya memandang sekejap kearah cu Khek ci Yum, kemudian hendak membuka mulut bertanya kepada Boen ching, mendadak dari kejauhan berkumandang datang sutra genta yang bertalu-talu.

orang2 yang hadir dikalangan itu masih belum mengetahui peristiwa apa yang akan terjadi, terlihat wajah Boen ching serta Suma ci berubah hebat.

Boen ching begitu mendengar suara genta itu segera mengetahui kalau manusia aneh yang membunyikan genta itu telah muncul lagi, entah maCam apakah orang aneh itu, sehingga memiliki tenaga dalam yang demikian tingginya, sedang ilmu "chie Jie Jen Hong" dari ilmu " Hiat Mo Kang" itu pun sesat sekali, apalagi orang yang membunyikan suara genta itupun belum pernah munculkan diri dan kini suara genta itu sekali lagi bergema, entah kedatangannya mengandung maksud baik ata ujelek.

Wajah Suma cie makin berubah hebat, kepada cu khek cie yun cepat terlaknya. "cepat mengerahkan barisan pedang mendesak pergi suara genta tersebut."

Begitu suara genta masuk kedalam telinganya, segera dia mengetahui bahwa suara itu ditimbulkan oleh seorang yang memiliki tenaga dalam yang sangat sempurna sekali, dia tidak mengetahui siapa sebenarnya orang itu, tetapi yang jelas kedatangan orang itu pastilah tidak mengandung maksud  baik, jika menanti hingga suara genta itu mendatangkan kekuatan sesungguhnya keadaan waktu itu mungkin akan sangat susah untuk membereska Hati cu khek cie yun menjadi sangat terkejut dengan keras dia membentak, barisan Ngo Heng Kiam Tin segera bergerak kembali, lima bilah pedang ber-turut2 menyambar, hawa pedang berkelebat mengelilingi sekitar tempat itu suara genta itu segera terdesak mundur kembali.

Suma cie baru dapat menghela napas panjang, entah siapa orang yang membunyikan suara genta itu, kalau menurut ingatannya, Selain Thian Jan Shu dan Tan coe coen, tak ada orang lain lagi yang dapat memiliki tenaga dalam yang demikian sempurnanya.

cu khek ci yun nampak suara genta itu berhasil didesak pergi, hatinya menjadi agak lega, tetapi bayangan dari Suma ing pun segera berkelebat memenuhi benaknya.

Suara genta mendadak berbunyi lagi, cu khek ci yun menjadi sangat terkejut, tak sempat baginya untuk melancarkan pedangnya, barisan Ngo Heng Kiam Tin segera berbentuk suatu lobang, hawa pedang menjadi lenyap tanpa bekas, sedang saat itu suara menyerang bertambah keras, tak tahan lagi cu khek ci yun terhuyung mundur beberapa langkah kebelakang.

Semua orang menjadi sangat terkejut Boen ching dengan nyaring segera membentak, pedang cing Hong Kiam keluar dari sarangnya, dengan melancarkan satu kali serangan dengan menggunakan jurus Jut ceng Siang Li" yaitu salah satu dari jurus ilmu "Wu Tu Kiam Hoat"

Lima buah pedang segara dilancarkan bersamaan, seketika itu juga suara genta sekali lagi berhasil dipunahkan.

Tetapi ketika Ie Bok Tocu dan ketiga orang lainnya melancarkan jurus kedua, Boen ching dibuat sangat bingung sekali, sebenarnya dia terhadap barisan Ngo Heng Kiam Tin ini sama sekali tidak mengetahuinya, tadipun dia hanya sembarangan melancarkan jurus "Jut ceng Siang Li untuk menggerakan barisan Ngo Heng Kiam Tin saja.

Tetapi begitu barisan Ngo Heng Kiam Tin sudah mulai bergerak. terpaksa sekali lagi dengan sembarangan dia lancarkan satu jurus serangan-Kelihayan dari barisan Ngo Heng Kiam Tin ini sebenarnya terletak pada keserasian didalam melancarkan jurus pedang hingga dari sini mengakibatkan kekuatan yang maha dahsyat sekali Boen ching yang sedang kali melibatkan barisan dari Ngo Heng Kiam Tim seketika itu juga terpukul pecah, sedang suara genta itupun mulai membanjiri masuk ruangan tersebut.

Suma cie yang nampak hal ini menjadi sangat terkejut, diantara suara genta yang sedang menggema dengan hebatnya itu samar-samar terdengar suara tertawa dingin yang tak henti-2nya, membuat ruangan diatas loteng itu bergetar dengan amat keras sekali..

Suara genta itu tak henti-hentinya menerjang terus, setiap suara yang menerjang masuk itu menyerang kearah setiap orang yang berada di kalangan itu, saat ini barisan Ngo Heng Kiam Tin berhasil dipeCah oleh suara genta itu, memaksa setiap orang harus berusaha memusatkan seluruh tenaganya untuk melindungi tubuh dari serangan suara genta itu.

Suara tertawa dingin itu berCampur dengan suara genta berkumandang dari kejauhan yang makin lama makin mendekat pada ruangan tersebut.

Wajah setiap orang telah penuh dengan keringat yang mengucur keluar tak henti2nya, membuat seluruh wajah dan bajunya basah kuyup, sedang serangan genta yang dilancarkan kepada setiap orang yang ada didalam ruangan itupun satu dengan lainnya tak sama, agaknya orang yang melancarkan suara genta itu tak menginginkan orang2 yang ada didalam ruangan itu menderita luka dalam yang parah.

Suara genta itu tetap berkumandang ditengah udara, mendadak terdengar suara suitan yang nyaring mendekati ruangan itu.

Dari empat penjuru bermunculan seorang demi seorang yang seluruh tubuhnya menggunakan baju warna merah darah, pada wajahnya memakai topeng, dan melompat masuk keatas loteng itu.

Boen ching sekalian yang mendapatkan serangan hebat dari suara genta itu, pada saat ini terpaksa hanya dengan mementangkan sepasang matanya lebar2 melihat beberapa orang berbaju merah darah itu melompat masuk ke dalam ruangan itu, yang kemudian meninggalkan tempat itu lagi dengan membawa ke tujuh buah hiolo kuno peninggalan Thian Jan Shu tersebut.

Tak seorangpun diantara mereka mempunyai tenaga untuk turun tangan mencegah diangkutnya ke tujuh buah hiolo kuno peninggalan Thian Jan Shu tersebut.

orang2 berbaju warna merah itu baru saja menggotong ketujuh buah hiolo kuno itu, mendadak dari kejauhan berkumandang datang suara pujian, Budha yang sangat nyaring sekali.

Begitu suara pujian itu berkumandang seketika suara genta dapat ditindas lenyap. sedang orang2 didalam kalangan itupun ber-sama2 jadi sadar kembali,

Ie Bok Tocu segera membentak hebat. Ie Bok Kiamnya dari arah samping menyambar ketubuh seorang dari orang berbaju merah itu. ^

Ie Bok Kiam dengan tepat mengenai tubuh nya, tapi orang berbaju merah itu tetap tak berkurang sesuatupun.

Boen ching merasakan seluruh tubuhnya sanagat lelah sekali, tapi pedang cing Hong Kiamnya tetap melancarkan serangan-orang berbaju merah itu menjadi terkejut, disaat tubuhnya berkelebat menghindar, ujung bajunya tetap terpapas sepotong dan jatuh keatas lantai.

cu Khek ci Yun yang tampak hal itu menjadi sangat terkejut, dia mengetahui kalau setiap orang yang ada didalam kalangan itu telah terkena serangan suara genta itu dan seluruh tubuhnya dibuat menjadi sangat lelah sekali, pedang panjangnya segera disabetkan keluar, dan memberi tanda kearah Shie Yun Ku sekalian untuk mengatur barisan Ngo Heng Kiam Tin lagi guna membasmi sekawanan orang berbaju merah ini. Tetapi baru saja dia menyabetkan pedangnya, dari kejauhan berkumandang datang lagi suara helaan napas yaag sangat perlahan, sedang suara genta itupun mulai berbunyi lagi.

orang didalam ruangan itu sekali lagi dikuasai seluruh tubuhnya, tampak orang-orang aneh berbaju merah itu dengan mengangkat hiolo kuno itu dengan sangat lincah  sekali meloncat keluar dari loteng oei Hok Lo tersebut.

Suara genta itupun makin lama makin kecil suaranya dan akhirnya lenyap. Setiap orang yang berada diatas loteng oei Hok Lo itu tak seorangpun membuka mulutnya, demikian banyak orang ditempat itu memperebutkan hiolo kuno itu demikian lamanya, tetapi akhirnya dapat di rebut oleh orang lain dengan demikiam mudahnya, bukan saja orangnya tidak munculkan dirinya sendiri, sekalipun orang yang mengangkat pergi hiolo-hiolo kuno itupun tak seorangpun yang memperlihatkan wajah aslinya.

Lam Hay coei Hong, Tei Liok Yun seorang diri berpikir dengan keras, dengan perlahan-lahan dia mengambil seCarik kain menaruh dari atas lantai setelah dilihatnya sejenak baru ujarnya.

"Kiranya orang-orang dari pulau Hiat Kuang To dilaut Selatan".

orang-orang yang hadir diruangan itu menjadi sangat terkejut sekali, pulau Hiat Kuang To di Lautan Selatan?-? waktu orang-orang dari pulau Hiat Kuang To pernah mengunjungi daerah Tionggoan, bukan saja baju yang dipakaipada tubuhnya itu tidak mempan terhadap bacokan dan tusukan senjata tajam, kepandaian yang dimilikipun sangat tinggi dan aneh.

Tetapi kemudian Thian Jan Shu munculkan diri, orang- orang dari pulau Hiat Kuang to itu tak kuat melawannya dan melarikan diri pulang ketempat asalnya, sungguh tak disangka ini hari dapat muncul lagi di daerah Tionggoan, bahkan merebut ketujuh buah hiolo kuno peninggalan Thian Jan Shu tersebut.

Toan Bok ciJien menghela napas panjang, selamanya dia mengira kepandaian yang dimilikinya itu telah mencapai pada puncak kesempurnaan, tetapi jika dilihat hari ini, tak disangka diantara yang kuat masih ada orang yang lebih kuat lagi, orang lain hanya dengan menggunakan suara genta saja telah berhasil menguasai dirinya.

Dengan patah semangat dia membalikkan tubuhnya dan pergi, kepergian dari setan arak, paras elok. harta serta kedudukan ke empat iblis sakti itu, tak seorangpun yang turun tangan menghalangi kepergiannya itu.

Dalam hati cu Khek Ci Yun merasa sedikit menyesal, sesaat hatinya berCabang, tak disangka ketujuh buah hiolo kuno peninggalan Thian Jan Shu itupun dengan mudah berhasil jatuh ke tangan orang lain-Dengan perlahan dia, menghela napas dan menundukkan kepalanya.

Suma Cie pun menghela napas panjang , tubuhnya berkelebat keluar loteng dan lari kearah depan.

Cu Khek Ci Yun menjadi terkejut, dia ingin mengetahui keadaan dari Suma Ing, kini dengan cepat teriaknya: "Gi hU tunggU---".

SUaranya baru keluar, diapun ikut berkelebat keluar mengejar kearahnya.

Seh Tu Hoa dengan lemas lari keluar dari ruangan, Si Kelabang Merah, Shie Chiau Nlo nampak Seh Tu Hoa pergi, diapun mengikuti jejaknya mengejar keluar.

Sepasang mata Shie Yun Ku hanya berkedip sebentar tetapi pada wajahnya tak nampak perubahan sikap sedikitpun jua.

Tong Hong Hek menghela napas kepada Boen ching, ujarnya. "Ini hari kau telah mewakili sutemu membalaskan dendam sakit hatinya, aku tidak menyuruh dia ikut datang, sekarang ini aku segera akan membawa dia pulang keluar perbatasan, bila ada urusan aku dapat kembali lagi".

Sehabis berkata tidak menanti Boen ching menjawab, diapun membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat tersebut.

Ditengah kalangan kini tinggal Boen ching, Ie Bok Tocu, Lam Kong Hun, Kong SunSek serta Pek HOuw kakak beradik.

Kong Sun Sek nampak Suma Cie dengan demikian meninggalkan tempat itu, dalam hatinya terasa agak kecewa, tetapi terpaksa dia tersenyum juga , disaat dan tempat seperti ini, mana mengijinkan dia untuk lebih banyak berbicara.

Boen ching memandang sejenak kearah Keng Sun Sek. kemudian kepada Shie Yun Ku ujar nya.

"Ini adalah Kong sun sek cianpwe dan dua orang itu adalah putra dari Ciangbunjinnya Thian San Pay Pek HOuw serta adiknya Pek Hian Ling"

Shie Yun Ku sambil tersenyum menganggukkan kepalanya, dia memandang sekejap pada Pek Hian Ling. dia sendiripun seorang wanita, sekali pedang saja telah dapat melihat kalau Pek Hian Ling ini agaknya sangat suka terhadap Boen ching. Terdengar Boen ching berkata lagi.

"Murid mendapatkan bantuan yang tak sedikit daripada mereka bertiga." Shie Yun Ku sambil tersenyum sahutnya. "Terima kasih atas bantuan mereka bertiga terhadap muridku." Sambil tertawa ujar Kong Sun sek pula.

"Nama besar dari Tocu sejak lama telah aku dengar, kepandaian dari Boen Siauwhiap sangat lihay sekali, bahkan waktu itu pernah menolong jiwaku, lagi kini dia sebaliknya malah membuat aku malu saja." Berapa orang itu setelah mengucapkan beberapa kata, bersama-sama turun dari ruangan loteng oei Hok Lo itu.

ooooooooo

GURUN PASIR---pasir berwarna kuning bergulung-gulung tertiup angin, tampak seorang pemuda berdiri tegak ditepi gurun pasir itu. .

Pemuda itu adalah Boen chingg, dia seorang diri melakukan perjalanan yang sangat jauh datang kegurun pasir guna memenuhi perjanjian yang diadakan dengan Sek Giok Siang, pikirnya jika orang lebih banyak lagi yang datang memenuhi perjanjian itu, mungkin malah sebaliknya membahayakan jiwa Shie Siauw In serta Bwee Giok.

Dia seorang diri berdiri diperbatasan gurun pasir itu, entah setelah bertemu dengan sek Giok siang bagaimana sebaiknya, barisan Ngo Heng Kiam Tin telah diatur, tapi tujuh buah hiolo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu tetap terjatuh ketangan golongan pulau Hiat Kuang To dilaut Selatan, dirinya sudah tentu harus berangkat untuk merebut kembali, tapi sekali berangkat ke Lam Hay paling sedikit membutuhkan waktu tiga bulan dan paling lama satu tahun lamanya, apalagi belum tentu mendapatkan beritanya.

Dia mengkhawatirkan keselamatan dari Bwee Giok serta Shie Siauw In, terpaksa ia meneruskan untuk berangkat kegurun pasir terlebih dulu.

Setelah menenangkan pikirannya, mulailah dia mengerahkan tubuhnya berjalan memasuki gurun pasir itu, dia mengingat arah jalan waktu dulu dilaluinya, asalkan jangan terdapat angin taupan yang hebat saja, tentunya tak mungkin akan tersesat arahnya.

Sinar matahari yang menyinari ditengah gurun pasir itu sangat panas sekali, bagaikan di panggang saja, sedang pasir berwarna kuning pun sangat panas sekali, sukar ditahan-Dia sedikit membungkukkan tubuhnya, dengan sekuat tenaga berjalan kearah kolam kecil yang terdapat ditengah gurun pasir itu.

Matahari mulai berputar kearah barat, setelah berjalan seharian penuh, dari kejauhan mulailah nampak kolam kecil itu.

Boen ching memandang kearah kolam kecil itu, dalam hatinya entah merasakan girang atau berduka, dia menghirup napas panjang2 dan berjalan kearah kolam kecil itu dengan perlahan.

Terdengar suara tertawa yang sangat ringan, Boen ching segera membalikkan tubuhnya memandang, nampak sek Giok siang dengan tegak berdiri dibelakang tubuh nya, dia menjadi termangu-mangu, nampak saat ini Sek Giok Siang sangat marah sekali, dalam hatinya menjadi merasa agak lega.

Dia mengira kalau dilihat dari sikap Sek Giok Siang sekarang ini mungkin tidak terlalu buruk. sambil tersenyum ujarnya. "Nona Sek, baik-baik sajakah? "

sek Giok Siang dengan perlahan tertawa sahutnya. "Engkau datang ingin menjemput kedua orang sumoaymu itukah? "

Boen ching tanpa sadar telah menganggukkan kepalanya, tetapi tak sepatah katapun yang diucapkan keluar...

sek Giok siang tertawa lagi, setelah mengerdipkan matanya, ujarnya. "Ketujuh buah hiolo kuno itu apa sudah kau bawa kemari? "

Boen ching nampak sinar sesat itu barkelebat lebat lagi pada sepasang matanya, hatinya menjadi berdebar, ujarnya.

"Tidak, benda-benda itu telah berhasil direbut oleh orang- orang dari pulau Hiat Kuang to dilaut selatan" sek Giok Siang hanya tersenyum tanpa menjawab sepatah katapun. Terdengar Boen ching berkata lagi.

"Suhuku sekalian telah mengatur barisan Ngo Heng Kiam Tin, tetapi muncul seorang aneh yang membunyikan gentanya dan memukul pecah barisan Ngo Heng Kiam Tin tersebut" sek Giok siang tersenyum, ujarnya.

"Jlka seandainya ketujuh buah hiolo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu berhasil kau rebut, apakah kau kabur membawanya kemari untuk ditukarkan dengan mereka berdua? "

Boen ching termenung tak menjawab, beberapa waktu kemudian baru ujarnya dengan perlahan-" Jikalau dipandang periu, pada saat itu pasti aku dapat melaksanakan"

Sek Giok Sang mengangkat kepalanya memandang bulan yang baru saja muncul dari arah timur, sinar sesat tak henti2nya berkelebat pada sepasang matanya yang sangat indah itu, dengan perlahan ujarnya. "Aku dapat membunuh mereka berdua"

Boen ching menjadi sangat terkejut, teriaknya: "Nona tak dapat melakukan hal ini"

Sek Giok Siang tidak memperdulikan perkataan dari Boen ching ini, dia mengangkat kepalanya memandang lagi kearah sinar bulan, pada mulutnya tersungging suatu senyuman yang sangat tawar.

Boen ching sekali lagi menjadi terkejut, dia nampak pada sepasang mata Sek Giok Siang berkelebat sinar mata yang berwarna hijau, sinar mata itu tak henti-hentinya bergerak pada matanya, suatu sinar mata yang sangat menakutkan sekali.

Beberapa waktu telah lewat, terdengar Sek Giok Siang memecahkan kesunyian ujarnya.

"Kau pasti akan menolong mereka berdua? " "Bagaimanapun juga aku menolong mereka"

Senyuman pada bibir sek Giok- Siang menjadi lenyap. ujarnya.

"Jikalau demikian baik, aku mengijinkan kau membawa pergi mereka berdua dengan batas waktu selama setengah jam lamanya, setelah lewat setengah jam sekalipun kau diujung langitpun akan kukejar untuk membunuh kalian bertiga."

Hati Boen ching menjadi bergetar, dia mendongakkan kepalanya memandang bintang2 yang bertaburan diangkasa, sesaat kemudian baru ujarnya.

"Kalau memangnya nona telah mengambil keputusan demikian, aku Boen ching terpaksa mengikuti perintah saja."

sek Giok siang membawa Boen ching berjalan kearah rumah kayu itu.

Boen ching sadar bahwa didalam setengah jam lamanya tak mungkin dia dapat berhasil melarikan diri, dia tidak berjalan mendekati rumah kayu itu, dangan perlahan dia duduk bersila dibawah pohon yang sangat besar.

Sekali lagi dia ingin mencoba mengunakan ilmu "Chiet jien Hong" dari "Hiat Mo Kang" untuk mendapatkan kemenangan.

Ilmu "Hiat Mo Kang," merupakan suatu kepandaian silat dari golongan sesat, dengan kepandaian yang dilatih Boen ching saat ini jauh berbeda sekali, dia berbuat demikian itu bukan saja merusak hawa murninya, bahkan perbuatannya ini dilakukan untuk ketiga kalinya. Sek Giok Siang pernah memperingatkan kepadanya untuk tidak menggunakan ilmu tersebut sekali lagi. Kalau tidak darahnya menjadi kering dan binasa, tetapi saat ini dia mau tak mau terpaksa sekali lagi harus menggunakan ilmu itu untuk menghadapi sek Giok  Siang yang memilikki ilmu silat demikian tingginya itu. Sek Giok Siang membuka pintu rumah kayu itu, kemudian memandang tajam kearah Boen ching.

Bwee Giok lan Shie Siauw In segera meloloskan diri keluar dari rumah itu, kedua orang itu pun dengan termangu-mangu memandang kearah Boen ching. Kepada kedua orang gadis itu ujar Sek Giok Siang dengan tawar:

"Setengah jam kemudian aku akan mengadakan pertempuran dengan dia untuk menentukan siapakah yang menang, kalian berdua saat ini tak usahlah mengganggu dia"

Sehabis berkata dia berjalan memasuki salah satu ruangan dari rumah kayu itu dan mengambil keluar sebilah pedang panjang.

Bwee Giok serta Shie Siauw In bersamaan menjadi berdiri termangu-mangu disana.

Boen ching dengan perlahan-lahan menjalankan ilmu "Hiat Mo Kang" jalannya darah dibuat menjadi lurus dan terbalik, sehingga seluruh hawa darah berkumpul menjadi satu.

Setengah jam berlalu dalam sekejap mata saja. Dengan tawar ujar Sek Giok Siang kepada Boen ching.

"Sudahkah kau menjalankan ilmumu? "

Boen ching dengan perlahan bangkit berdiri dan mencabut keluar pedang cing Hong Kiam nya, Sek Giok Siang yang nampak Boen ching mencabut keluar pedang cing Hong Kiam itu dia agak terkejut, sinar matanya berkelebat segera pula bermunculan kehijau-hijauan dari matanya.

Tubuh Boen ching dengan Cepat melompat tinggi, dengan pedangnya menusuk kepelipis sek Giok Siang.

Pedang panjang Sek Giok siang berturut-turut berkelebat, tubuhnya melayang dengan gesitnya, berturut-turut melancarkan tujuh delapan kali serangan kearah Boen ching. Boen ching mulai merasakan hawa panas di dadanya makin lama berputar makin cepat, gerakan pedangnyapun makin menyerang makin bertambah cepat, pedangnya bagaikan terjunnya air deras dari puncak gunung yang tinggi, tak henti- hentinya mengalir keluar.

cahaya mata dari Sek Giok Siang yang berwarna kehijau- hijauan itu tak henti2nya berkelebat, diapun dengan sekuat tenaga balas melancarkan serangan.

Sek Giok siang dengan mendatarkan pedangnya menahan serangan pedang Boen ching, dengan cepat Boen ching menggunakan tiga jari tengahnya mendorong, pedang cing Hong Kiamnya dari depan segera miring kesamping menerjang kebawah telinga Sek Giok Sang.

Sek Giok siang menjadi sangat terkejut, dia sebenarnya melihat pedang yang dicekal oleh Boen ching itu sebilah pedang pusaka yang sangat tajam, selalu tak berani berbentur dengan ujung pedang dari pedang cing Hong Kiam itu, tetapi saat ini dia terdesak untuk mengangkat pedangnya menyambut datangnya serangan.

Terdengar suara yang sangat perlahan, pedang yang dicekal ditangan Sek Giok siang itu telah terpapas putus setengah bagian.

pada saat itu Boen ching merasakan hawa yang sangat panas itu terus menerjang ke otaknya, terasa otaknya menjadi agak berat dan pening, urat nadi pada tubuhnya menjadi membesar dan amat sakit.

Dengan keras dia meraung, dengan seluruh tenaga dia melancarkan ilmu “Hong Loei chiet Kiam" gerakan pedangnya bagaikan angin taupan yang mengaduk samudra, dan sambaran petir dipuncak gunung, pedang cing Hong Kiamnya yang dicekal ditangannya itu berputar mengeluarkan suara raungan angin dan petir yang memekikkan telinga, tak habis- habisnya menekan ke tubuh Sek Giok Siang. Wajah Sek Giok Siang berubah menjadi pucat pasi, dengan potongan pedangnya sekuat tenaga dia menyambut serangan musuh, jurus serangannya berkelebat dengan hebatnya, tak lama kemudian potongan pedangnya itu kini tinggal sebuah gagang pedangnya saja.

Hampir-hampir saja Boen ching tak kuat mengUasai dirinya, pedang cing Hong Kiamnya diselingi dengan suara menyambarnya angin dan petir, terus menerus menerjang kearah Sek Giok Siang.

Sek Giok Siang saking terkejutnya sampai berdiri mematung disana, pandangan Boen ching menjadi terang kembali, senyuman Sek Giok Siang berkelebat kembali pada benak nya,

gambaran gadis pada Thian Tuen itu demikian cantik dan agungnya.

Bagaimanapun juga Sek Giok Siang tetap merupakan tuan penolongnya, dia tak mungkin dapat membinasakan Sek Giok siang dibawah pedangnya.

Bayangan itu berkelebat dengan cepatnya didalam benaknya, dengan keras dia menarik kembali serangannya, tetapi bagaimanapun juga tak dapai dicegah lagi gagang pedangnya berhasil mengenai batok kepala dari Sek Giok siang, terdengar Sek Giok Siang mendengus dengan berat dan roboh ke atas tanah.

Boan ching menjadi sadar kembali, dan berdiri ter-mangu2 disana, pada tangannya terlihat darah yang masih segar Sek Giok Siang ternyata telah binasa di tangannya.

Shie Siauw in dengan cepat lari mendekat, sambil menggoyangkan tangan Boen ching teriaknya.

"ching Koko, engkau telah berhasil memukul roboh dia, kepandaianmu sungguh sangat tinggi sekali, kini kita dapat pergi dari tempat ini." Boen ching dengan termangu-mangu memandang Sek Giok Siang yang berbaring diatas tanah.

Bwee Giok dari kejauhan memandang Boen ching serta Shie Siaw in, kemudian membalikkan tubuhnya seorang diri meninggalkan tempat itu dan berjalan pergi ketengah gurun pasir yang sUnyi itu.

Boen ching mengeluarkan suara tertahan, sepasang matanya memandang kearah Bwee Giok.

Shie Shiauw in nampak sikap Boen ching demikian cemasnya itu, bagaikan baru sadar dari lamunan diapun mengeluarkan suara tertahan, dengan cepat melepas tangan Boen ching setelah berdiri termagu-mangu sejenak. berlarilah dia kearah yang lain- Boen ching dengan tertegun memandang ketiga orang gadis itu, dia mempunyai niat untuk pergi mengejar, paling tidak harus berhasil mengejar salah seorang dari mereka, tetapi pada saat ini dia sama sekali tak mempunyai tenaga untuk menuruti suara hatinya itu, darah yang mengalir terbalik itu mengakibatkan seluruh tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga.

Pedangnya mulai berputar tak henti-hentinya pedang cing Hong Kiam datangnya pun dengan perlahan-lahan terlepas dari tangan, darah segar memancar keluar dari mulutnya dan dia jatuh tak sadarkan diri.

Tapi Bwee Giok serta Shia Siauw in telah pergi jauh sekali, tak seorangpun yang berada disampingnya.

Entah setelah lewat beberapa waktu, Boen ching dengan perlahan baru mulai mementangkan sepasang matanya, dia tidak mengetahui kini dia berada dimana, tetapi ya paling mengherankan dirinya yaitu ternyata dirinya masih dapat mementangkan matanya Sinar matanya memandang dimana pertama kali dia mementangkan matanya, dia masih ingat, yang benar dia berbaring diatas pasir kuning ditengah gurun pasir yang sunyi, tetapi sekarang siang harikah?-? atau malam hari? -Mengapa tak terlihat bintang-bintang yang bertebaran diangkasa atau matahari? dia tak mengetahui kini berada ditempat mana. Mendadak terdengar suara pujian Budha, seorang pendeta tua yang sangat ramah sekali muncul dihadapannya, Boen ching menjadi tertegun, Pendeta tua itu sambil tersenyum, ujarnya.

"Pinceng Wang Hoo, Boen Sicu telah pingsan selama setengah bulan, kini dapat menjadi sadar kembali, sungguh sangat menggembirakan sekali."

Boen ching segera mengetahui kalau dirinya telah ditolong oleh orang lain, tapi yang sangat mengejutkan adalah dirinya bagaimana dapat pingsan selama setengah bulan, dalam hatinya dia merasa terkejut, mengapa pendeta tua ini mengetahui kalau dirinya She Boen?

Dengan termangu-mangu dia berpikir, ingin membuka mulut untuk bertanya, tapi takut kalau dirinya belum sadar benar2 sehingga salah menanyakannya. Wang Hoo Thaysu tersenyum ujarnya lagi.

"Boen Siauw sicu menggunakan ilmu Hiat Mo Kang untuk membalikkan mengalirnya darah serta hawa murni didalam tubuhmu, sampai kini baru saja sembuh kembali, untung napasnya tak sampai menjadi putus karenanya."

Boen ching begitu mendengar Wang Hoo Thaysu berkata demikian, segera mengetahui kalau dia pastilah seorang angkatan tua dari dunia persilatan, dengan cepat ujarnya. "Terima kasih Thaysu telah menolong jiwaku”

“Sehabis berkata pada otaknya terasa agak pening" Sambil tertawa ujar Wang Hoo Thaysu lagi.

"Boen Siauw sicu lebih baik jangan banyak bicara sehingga mungkin mengakibatkan sukar untuk menyembuhkan lukamu itu." Boen ching menghirup napas panjang2, terasa tubuhnya agak baikan, lalu tanya nya kepadanya Wang Hoo Thaysu.

"Gadis disampingku itu dia bagaimana? ? "

Dia selalu memperhatikan keadaan dari Sek Giok siang juga adalah tuan penolongnya, bagaimanapun juga apabila dia membinasa kan Sek Giok Siang dibawah pedangnya, hal ini adalah suatu pekerjaan yang tak mungkin terjadi.

Dengan tajam dia memandang kearah Wang Hoo Thaysu, dia telah menolong dirinya, sudah tentu juga mengetahui dirinya Sek Giok Siang kini berada dimana. Sambil tertawa sahut Wang Hoo Thaysu. "Telah dibawa pergi oleh Pek Lian Sianseng."

"ooh. . ." sahut Boen ching, Pek Lian Sianseng mengangkat nama bersama-sama dengan iblis dari selatan, Sang Kwan Yu, kalau memangnya dia telah membawa pergi Sek Giok Siang, sudah pasti dia tak sampai menemui ajalnya. Terdengar Wang Hoo Thaysu berkata lagi. "Tahukah kau siapakah sebenarnya Sek Giok Siang itu "

Boen ching sendiri memangnya tak mengetahui asal usul dari Sek Giok Siang itu, kini Wang Hoo Thaysu bertanya demikian terhadapnya, dengan termangu-mangu dia memandang kearahnya.

Wang Hoo Thaysu sambil menundukkan kepalanya ujarnya.

"Neneknya adalah merupakan gadis yang paling Cantik diseluruh Kang Lam waktu itu, dia bernama Sek cing Hong, Ouw Yang Bu Kie yang disebut orang sebagai setan paras elok sudah tentu tak mungkin akan melepaskan dirinya, Sek cing Hong akhirnya melahirkan seorang puteri, biasanya korban ditangan Ouw Yang Bu Kie tak seorangpun dibiarkan untuk hidup lebih lama lagi, tapi dia telah melepaskan Sek cing Hong. Dan menanti setelah puterinya itu tumbuh menjadi seorang gadis, diapun mengakibatkan puterinya sendiri itu menjadi mengandung, karena urusan inilah memaksa dia untuk bersembunyi selama tiga puluh tahun lamanya."

Hati Boen ching menjadi bertambah berat, Ouw Yang Bu Kie adalah ayahnya, tapi dia pun sebagai kakeknya, hal ini sungguh sangat aneh sekali. Wang Hao Thaysu melanjutkan perkataannya:

"Karena hubungan dari Ouw Yang Bu Kie yang demikian tak karuannya itulah mengakibatkan darah didalam tubuh Sek Giok siang mengandung racun, dia kini adalah seorang gadis gila?"

Hati Boen ching menjadi tergetar, saking kagetnya sampai dudukpun tak sanggup lagi, sek Giok siang adalah seorang gadis gila? sungguh tak pernah disangka olehnya, sinar matanya yang berwarna kehijau2an dan sangat menakutkan itu berkelebat lagi di depan matanya.

Tanpa terasa tanya nya kepada Wang Hoo Thaysu.

"Lalu dia meminta ketujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu untuk apa? " Wang Hoo Thaysu setelah termenung sejenak baru, sahutnya.

"Dia adalah anak murid dari Thian Tie Ku, sedang Tian Thie Ku telah dibinasakan ditangan Thian Jan Shu, oleh sebab itulah dia menginginkan ketujuh buah hioloo kuno tersebut"

Boen ching berdiam diri tak berkata dia tidak mengetahui Sek Giok Siang kini berada di mana, kepada Wang Hoo Thaysu tanyanya lagi. "Dia apakah masih dapat disembuhkan? "

Wang Hoo Thaysu memandang tajam kearah Boen ching kemudian dengan nada yang perlahan sahutnya.

"Darahnya mengandung raCun sukar sekali untuk disembuhkannya, keCuali kalau di ganti dengan darah yang baru, tetapi hal itu tak mungkin bisa terjadi." Boen ching dengan termangu-mangu berdiri disana, beberapa saat kemudian baru ujarnya kepada Wang Hoo Thaysu.

"Kalau begitu bagaimana sekarang keadaan nya? " Sahut Wang Hoo Thaysu.

"Sekarang untuk sementara dijaga oleh Pak Long sianseng" dia berhenti sejenak kemudian lanjutnya lagi.

"Boen Siauw sicu terhadap ketujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu masih belum melupakannya bukan? "

Boen ching menjadi terkejut, dan masih mengingatnya dengan baik, ketika dia hendak berangkat kegurun pasir telah mengadakan perjanjian dengan suhunya untuk mempersiapkan perahu besar menanti setelah dia berhasil menolong kedua orang gadis itu segera berangkat menuju ke pulau Hiat Kuang To dilaut Selatan.

Sungguh tak disangka sekali pingsan telah melewati setengah bulan lamanya, dia menjadi termangu-mangu tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Sambil tertawa ujar Wang Hoo Thaysu.

"orang-orang golongan pulau IHiat Kuang To itu apabila berhasil mendapatkan rahasia dari Thian Jan Shu, kiranya saat ini tak seorangpun yang akan berhasil mengalahkan mereka."

Wang Hoo Thaysu begitu mengungkat pulau IHiat Koang To, hati Boen ching menjadi tergerak, ujarnya.

"Pada pertemuan diloteng oei Hok Lopada bulan delapan malam Tiong Chiu apakah Thaysu telah membantu aku seCara diam-diam" Wang Hoo Thaysu tertawa tawar ujarnya.

"Hal itu adalah seCara kebetulan saja aku lewat ditempat ini, tenaga dalam yang dimiiiki iblis itu sangat tinggi sekaii, bukannya aku dapat melawannya, terpaksa aku hanya mengundurkan diri saja". Tanya Boen ching lagi. "Siapakah orang itu, dapatkah Thaysu memberikan penjelasan? " Wang Hoo Thaysu termenung sejenak. kemudian sahutnya.

"orang itu adalau iblis dari pulau Hiat Koang To yang berhasil dikalahkan oleh Thian Jan Shu waktu itu, siapakah sebenarnya aku sendiri kurang begitu jelas, waktu itupun hanya Thian Jan Shu seorang yang berhasil menemui dia dan mengetahui wajah aslinya, aku dengar bahwa kepandaian yang dimilikinya itu tidak dibawah dari Tan Coe coen yang mengangkat nama bersama dengan Thian Jan Shu."

Boen ching menjadi termenung, dilihat dari kepandaian orang yang membunyikan genta itu, kiranya pada saat itu sukar sekali untuk mendapatkan orang yang memiliki kepandaian seimbang dengan dia, sedang kepandaian dari Pek Leng Sianoengpun masih jauh dibawah kepandaian dari Thian Jan Shu serta Tan Coe-Coen waktu itu.

orang yang membunyikan genta itu kalau pun memiliki kepandaian yang demikian tingginya itu, lalu apa gunanya merebut ketujuh buah hioloo kuno peninggalan Thian Jan Shu itu? Terdengar Wang Hoa Thaysu berkata lagi.

"Kepadaian pada ketujuh buah hioloo kuno itu aku kira pada saat ini hanyalah kau seorang yang dapat memahaminya, waktu itu ketika Thian Jan Shu meninggalkan ketujuh buah hioloo kuno inipun hanya kau seorang yang hadir dikalangan, dengan tindakkan dari Pulau Hiat Koang To yang kasar ini sudah tentu mengandung maksud untuk menguasai daerah Tionggoan, ketujuh buah hioloo kuno itu kau haruslah berhasil mendapatkannya kembali."

Dalam hati Boen ching merasa agak menyesal, pada waktu itu sekalipun dengan mata kepala sendiri dia melihat Thian Jan Shu meninggalkan kepandaiannya, tetapi sampai kini dia masih belum mengetahui dengan jelas maksud dari Thian Jan Shu. Jika dipikir kembali sampai kini dia masih tidak jelas. Sambil tertawa ujar Wang Hoo Thaysu "Sekarang kau tak usah banyak pikir lagi, yang penting jagalah baik2 kesehatanmu, beristirahatlah sejenak"

Sehabis herkata dia balikan tubuhnya dan berjalan pergi.

Boen ching dengan keras berpikir, Sek Giok siang adalah seorang gadis gila, dia menyangkapun tidak pernah, masih Bwee Giok serta Shie Siauw In? mereka dengan gusar pergi, entah kini bagaimana keadaannya.

Dia makin berpikir makin bertambah lelah, tanpa terasa dia jatuh pulas dengan nyenyaknya.

Ber-turut2 dia beristirahat selama tiga hari lamanya, barulah sembuh benar2 dari lukanya. Wang Hoo Thaysu segera berpisah dengannya, seorang diri berkelebat neninggal kan tempat itu.

Boen ching memandang bayangan punggung Wang Hoo Thaysu, dalam hatinya diam2 menghela napas, manusia2  aneh didunia ini sungguh sangat banyak sekali sukar dihitung, hanya tak pernah munculkan dirinya dikalangan dunia persilatan-Diapun membalikkan tubuhnya melanjutkan perjalanannya menuju ke lautan Timur.

Setelah melewati gunung Sie Sia San, kurang lebih telah lewat setahun lebih, sekali lagi dia menginjak daratan Tionggoan, dalam hal ini adalah semata-mata urusan tujuh buah hioloo kuno itu, tanpa terasa dia menjadi menghela napas.

Boen ching sambil membopong kedua tangannya memandang ombak yang menggulung dilautan Timur itu.

Air laut dan tepi pantai masih tetap seperti semula, dimama untuk pertama kalinya dia mendarat, tetapi dibelakang tubuhnya, didalam dunia kangouw entah telah berapa orang yang binasa karena ke tujuh buah hioloo kuno itu, dan entah berapa orang aneh yang telah turun gunung pun, entah berapa banyak kawanan jago Bulim yang bersatu padu dengan tujuan yang sama?

Dia memandang ombak laut yang memecah dipantai, waktu telah berlalu terlalu lama sekali, satu bulan telah berlalu tanpa terasa, terpikir olehnya mungkin suhunya tak mungkin dapat menanti dirinya ditempat itu.

Baru saja ia berpikir demikian, dari kejauhan muncullah sebuah perahu besar yang sangat dikenal olehnya, dalam hatinya segera terasa sanagat girang sekali, itulah perahu besar milik Ie Bok Tocu.

Perahu layar itu makin lama makin membesar, pada saat ini Boen ching telah dapat melihat Ie Bok Tocu dengan memakai baju berwarna hijau berdiri diujung perahu.

Dalam hati Boen ching makin merasa girang, tidak menanti perahu layar itu menepi, dengan cepat dia meloncatkan dirinya keatas perahu itu, sambil tersenyum Ie Bok Tocu memandang kearahnya, untuk sesaat tak seorang pun yang mengangkat bicara.

Boen ching merasa heran mengapa Ie Bok Tocu tidak mengungkit urusan mengenai Shie siauw in, baru ia akan membuka mulut bertanya, Ie Bok Tocu sambil  tersenyum telah berkata:

"Siauw in telah pulang kembali "

Boen ching menjadi ter-mangu2, tanyanya: "Baik2 kah sumoay sekarang ini? ? "

Sekalipan dalam hatinya terasa agak terperanjat, tetapi dalam hatinya ia jauh merasa lebih baik dari pada tadi. Ujar Ie Bok Tocu lagi.

"Nona Bwee Giok telah mengikuti suhunya pergi ke Lam Hay, urusanmu itu aku telah mengetahui seluruhnya." Hati Boen ching terasa agak berat, sambil paksakan diri tersenyum ujarnya.

"Asalkan mereka dengan selamat dapat tiba dirumah, itulah sudah sangat baik sekali ". Ie Bok Tocu memandang tajam kearah Boen ching beberapa waktu kemudian baru ujarnya: "Nak beberapa hari ini telah menyusahkan dirimu, aku lihat wajahmupun banyak berubah" 

Boen ching menundukkan kepalanya tak menjawab, Ie Bok Tocu terhadap dirinya masih tetap begitu baiknya, dia tidak mengetahui Shie Siauw in semuanya sangat baik terhadap dirinya. Tetapi perpisahan waktu digunung Siong San, Telaga Naga Dingin, Bwee Giok demikian menariknya sehingga sukar sekali baginya untuk melupakan selama hidupnya, dia tak dapat tidak mencintai Bwee Giok.

Ie Bok Tocu memandang sejenak kearah Boen ching, kemudian dengan perlahan menghela napas, dia tahu dalam hati Boen ching lebih menyukai Bwee Giok. ujarnya kepada Boen ching.

"Nak, ada urusan kau sendirilah yang harus memutukannya, apabila kau mengambil keputusan karena orang lain, maka akhirnya akan menyesal seumur hidupmu"

Hati Boen ching terasa bergetar, dengan bimbang dia mengangkat kepalanya memandang Ie Bok Tocu.

Ie Bok Tocu dengan tanpa terasa telah tersenyum, kemudian mendongakkan kepalanya memandang kepermukaan laut, nampak perahu layar itu telah bergerak memutar haluan dan berlayar menuju ke pulau Ie Bok Tocu ke lautan Timur.

orang-orang yang mengemudikan perahu serta yang berdiam di pulau Ie Bok To sebagian besar adalah merupakan orang-orang bawahan dari Tan Coe waktu itu. Dia sambil membawa bekas orang-orang bawahan Tan Coe  Coen berlayar menuju kelaut Timur, dan mencari sebuah pulau yang kosong, untuk memperingati Tau Coe Coen, sedang dia sendiripun menduduki tempat kedudukan "Ie Bok" sehingga pulau kosong itu diberi nama sebagai pulau Ie Bok To.

Dia menjadi sangat heran, sekarang mendadak dia teringat kembali kepada Seh TU Hoa, dia sendiripun merasa sangat terkejut dan heran mengapa dirinya dapat mendadak teringat kepadanya, hal itu adalah peristiwa yang belum terjadi selama sepuluh tahun ini.

ombak laut memukul tubuh perahu sehingga tak henti2nya mengeluarkan suara yang nyaring.

Ie Bok Tocu menghela napas, dia mengedip-ngedipkan matanya untuk menghilangkan bayangan Seh Tu Hoa dari benaknya. Kemudian sambil tersenyum ujarnya kepada Boen ching.

"Nak. beberapa waktu ini telah melelahkan dirimu, aku kira lebih baik kita kembali ke pulau Ie Bok To untuk beristirahat beberapa waktu."

Sambil tertawa sahut Boen ching. "Suhu, aku tidak lelah, tak mengapa, apa lagi. . . "

Ie Bok Tocu mengerutkan alisnya sambil tersenyum ujarnya lagi. "Masih ada urusan apakah? "

Dia menginginkan Boen ching kembali ke pulau Ie Bok To terlebih dahulu, dalam hatinya sebenarnya mengharapkan Boen ching mencintai Shie Siauw in, Boen ching adalah dia yang memelihara hingga besar, sedang Shie Siauw in adalah putrinya, dia mengharapkan mereka berdua dapat hidup bersama untuk selamanya.

Boen Chiang setelah termenung sejenak kemudian menceritakan peristiwa dimana dia bertemu dengan Wang Hoo Thaysu.

Ie Bok Tocu hanya tertawa tawar, dia menganggap hal ini tidaklah mengapa, sambil membalikkan tubuhnya dia menggerakkan tangannya, layar dari perahu itu segera dibentangkan dan berlayar menuju ke pulau Ie Bok To.

Berjalan beberapa saat, Ie Bok Tocu diam2 mengerutkan alisnya, pada saat ini udara telah hampir mendekati senja, matahari menghilang dariarah barat, tetapi disekitar dimana matahari itu tenggelam menampilkan suatu pemandangan yang sangat indah sekali.

Dia yang berdiam dilautan Timur itu hampir mendekati dua puluh tahun lamanya, segera mengetahui kalau beberapa waktu kemudian akan terjadi angin taufan yang sangat dahsyat.

Boen ching sendiri sudah tentu mengetahui akan hal ini, dia memandang ke angkasa, nampak mega diangkasa itu bergerak sedikitpun tidak, sedang perahu layar itu berlayar dengan sangat perlahannya, bagaikan sedikit anginpun tidak ada.

Ie Bok Tocu memandang arah angin, dan memberitahukan anak buahnya untuk mulai menurunkan layarnya, untuk menanti setelah angin taufan lewat baru dipasang kembali, dan yang terpenting adalah jangan sampai kehilangan arah yang sebenarnya..

Matahari baru saja tenggelam, arah bertiupnya angin telah berputar haluan sedang angin yang bertiuppun dari kecil berubah menjadi besar.

orang2 orang diatas perahu sejak semula telah mengadakan persiapan, asalkan arahnya tidak sampai lenyap. angin taufan bila telah lewat semuanya asal berubah jadi tenang kembali.

Mendadak angin taufan mulai menyerang datang, diikuti dengan hujan yang hebat sekali.

Kedua orang itu baru saja akan kembali ke dalam ruangan perahu, mendadak didepan mata Boen ching melihat ada sesuatu benda, dengan nada yang sangat terperanjat teriaknya. "Ada perahu"

Ie Bok Tocu juga merasa sangat terkejut, segera dia menengok memandang, begitu dia melihat perahu itu, wajahnya segera berubah hebat, sebuah perahu besar berwarna hitam, ditengah samudra yang sedang digolak oleh angin yang sama itu membentangkan layarnya lebar, mengikuti bertiupnya angin dari jauh menerjang datang. Inilah yang diberitakan sebagai perahu iblis ditengah laut timur Terlihat tubuh perahu iblis itu miring ke samping bagaikan terbang cepatnya menerjang ketengah perahu dimana ditumpangi oleh Boen ching serta Ie Bok Tocu.

Wajah Boen ching segera berubah hebat, dengan keadaan seperti ini, entah harus menggunakan cara apa baru dapat mencegahnya.

orang2 didalam perahu lainnyapun telah dapat dilihat datangnya perahu iblis itu, segera suasana didalam perahu menjadi kacau balau dan berlari keluar dari ruangan perahu.

Sepasang mata Boen ching memancarkan Sinar yang  tajam, dia bersuit dengan nyaringnya, tubuhnya berkelebat, dengan Sebelah tangannya menyambar tali dengan Sekuat tenaga ditariknya, Seketika itu juga layar dari perahu yang di tumpanginya itu dikembangkan setengah bagian, Angin taufan tetap menerjang dengan hebatnya ie bok Tocu segera mengetahui maksud dari Boen ching, dengan cepat dia membelokkan kemudinya kearah kanan.

Tubuh perahu itu segera miring kesamping dengan hebatnya, hampir-hampir menempel pada permukaan air, tetapi pada seketika itu juga perahu iblis itu bagaikan kilat cepatnya bergerak disamping tubuh perahu yang ditumpangi oleh Boen ching itu. orang-orang yang berada diatas perahu itu bersama-sama merasa sangat terkejut sekali, membuat keringat dingin mengucur keluar.

Dilautan timur setiap terjadi angin taufan yang sedang menyambar, perahu itu iblis pasti munculkan dirinya, dan perahu iblis itu muncul dan lenyap ditengah lautan yang luas itu dengan sangat aneh sekali, begitu dia munculkan diri, pastilah sedikit-sedikitnya sebuah perahu akan di tubruk hingga hancur lebur.

Ada pula beberapa perahu yang berada didekat tempat terjadinya angin taufan itu, sering sekali nampak perahu iblis itu dapat bergerak dengan gesit ditengah menyambarnya angin taufan yang sangat hebat itu, setiap perahu yang berhasil dikejarnya tak sebuahpun yang berhasil selamat.

Boen ching menghela napas lega, dan melepaskan kembali layar dari perahu itu sambil turun kembali keatas perahu.

Mendadak---terdengar suara jeritan kaget, hati Boen ching menjadi bergetar, segera dia miringkan kepalanya memandang.

Nampak perahu iblis itu dengan sangat ringan sekali memutar satu lingkaran ditengah bertiupnya angin taufan dan secepat kilat datang mengejar kembali.

Boen ching hampir-hampir tidak dapat mempercayai pandangannya, dia mengucak-ucak matanya, hal ini benar- benar terjadi, sungguh susah untuk dipercaya perahu iblis itu ternyata dapat memutarkan dirinya ditengah bertiup dan menyambarnya angin taufan ya demikian dashyatnya itu.

Pada saat itu, ditengah lautan yang luas itu bertiup angin yang sangat santar dan hujan yang sangat deras.

Perahu iblis itu setelah membuat setengah lingkaran ditengah lautan itu, sekali lagi menerjarg datang, pada saat ini Boen ching merasa sangat terkejut bercampur gusar, perahu iblis ini agaknya tidak mau melepaskan diri mereka begitu saja.

Sekali lagi dia bersuit nyaring, sambil melayangkan tubuhnya dia menarik layar perahu lagi.

Ie Bok Tocu yang berdiam hampir dua puluh tahun lamanya dilaut Timur, juga belum pernah melihat perahu iblis yang demikian pesatnya itu, dengan memusatkan seluruh perhatiannya dia menantikan perahu iblis itu sekali lagi menerjang ke arah mereka. Boen ching begitu menarik layar itu, perahu itu segera mengikuti bertiupnya angin bergerak dengan cepat kearah depan.

Kecepatan dari perahu iblis itu jika dibandingkan dengan perahu yang ditumpangi Boen ching jauh lebih cepat satu kali lipat, bagaikan terbang saja cepatnya perahu iblis itu menerjang kesisi kanan perahu dari Boen ching itu.

Ie Bok Tocu dengan sekuat tenaga menarik kemudinya, layar dari perahu itu segera menjadi miring ditengah menyambarnya angin yang dahsyat tersebut.

Sebenarnya dengan demikian tepat sekali dapat menghindari terjangan dari perahu iblis itu, tetapi dengan mendadak perahu tersebut meloncat dari permukaan air, dari sebelah kanan berbelok satu sudut kembali, dan dengan tepat menubruk keujung perahu ditumpanginya itu.

Boen ching yang berada diatas, nampak hal ini menjadi sangat terkejut, dengan cepat dia melepaskan layarnya, yang sangat cepatnya jatuh kebawah, tubuh perahu menjadi miring kesamping dan jatuh kepermukaan air, diantara suara jeritan kaget, perahu iblis itu dari samping perahunya sekali lagi meleset pergi.

Terdengar suara yang ringan tiang dari layar itu segera putus menjadi dua bagian-Karena Boen ching dengan tepat dapat menurunkan layarnya sehingga dapat dengan tepat menghindari tubrukan perahu iblis itu, tetapi pada saat perahu miring kearah samping, telah ada dua orang yang terjatuh kedalam air.

Ie Bok Tocu tak dapat berbuat apa2 lagi, terpaksa memerintahkan orang untuk turun tangan menolong.

Perahu iblis itu setelah menerjang tak mencapai hasil, setelah lewat jarak yang cukup jauh sekali lagi memutarkan diri datang kembali, tetapi diantara ombak laut yang demikian hebatnya itu, dua orang yang terjatuh kedalam air tak sempat untuk ditolong lagi.

Dalam hati Boen ching merasa sangat gusar, dalam hati pikirnya, jika hal ini terus menerus demikian adanya, perahunya pasti akan terkena terjangan perahu iblis itu, entah siapakah yang mengemudikan perahu iblis itu, mengapa tak mau melepaskan perahu yang ditumpanginya itu.

Perahu ibis itu sekali lagi memutar haluan, dan arah yang diambilnya itu tepat d ihadapan perahunya, agaknya kali ini harus dapat meng hancurkan perahu itu.

Boen ching dengan tajam memperhatikan bergeraknya perahu iblis itu, pada saat ini diapun telah tak mempunyai cara lainnya, apabila hendak menghindari, perahunya adalah tidak segesit perahu iblls itu, apalagi apabila sekali lagi menghindar maka kedua orang yang terjatuh kedalam air itu tak ada harapan lagi untuk dapat ditolong.

Pikirannya menjadi bergerak. tangannya segera mencabut keluar pedang Cing Hong Kiam nya.

Ie Bok Tocu mengerti, dia akan berbuat apa, diapun tidak mempunyai cara yang lain, sekali serangan Boen ching ini apabila tidak mengenai sasarannya, perahunya segera akan berhasil diterjang hancur oleh perahu iblis itu.

Ditengah angin kencang dan hujan badai itu, perahunya bergoyang tak henti-hentinya, perahu iblis itu bergerak dengan gesitnya, ditengah hujan yang demikian derasnya itu, Jika dilihat remang-remang bagaikan iblis benar yang gentayangan.

Boen ching sediripun mengetahui bahwa serangannya kali ini mempengaruhi sangat besar mati hidupnya, dengan tajam dia memperhatikan datangnya perahu iblis itu, tangan kanannya diangkat dan bersiap-siap untuk turun tangan- Perahu lblis ini telah mendekati perahu yang ditumpangi Boen ching itu ratusan kaki saja, diantara bertiupnya angin yang sangat kencang itu, jaraknya ratusan kaki itu dapat saja ditempuh dalam waktu yang sangat singkat sekali.

Boen ching tidak menginginkan melancarkan serangannya diatas perahu yang bergoyang tak henti2nya itu, dia bersuit panjang, tubuhnya melayang ketengah udara, pedang Cing Hong Kiam ditangan kanannya dilancarkan keluar, dengan menggunakan jurus "Kiam Coan Thian IHwee" dari ilmu pedang Ie Bok Kiam Hoat, ia melancarkan serangan-Pedang Cing Hong Kiam itu ditengah sambaran angin yang kencang memancarkan sinar yang kehijau-hijauan, berputar setengah lingkaran ditengah udara kemudian meluncur kearah perahu iblis itu.

Hati Boen ching terasa sangat berat sekali, begitu pedang cing Hong Kiamnya meluncur ketiang layar perahu iblis itu, tubuhnya bersamaan waktunya pula melayang turun keatas perahu itu.

Perahu iblis itu tetap bagaikan terbang cepatnya menerjang datang, hati Boen ching bertambah berat, dengan tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berdiri mematung, dia mengira habislah sudah, apabila pedangnya itu tidak  mengenai pada sasarannya, seluruh orang yang berada didalam perahu itu akan terkubur didasar Lautan Timur ini.

Tetapi ketika perahu iblis itu mendekati perahu yang ditumpangi Boen ching itu dua puluh kaki jauhnya, terdengar suara yang halus, layar bitam itu dengan sangat cepatnya runtuh kebawah, tubuh perahu iblis itu menjadi oleng, arah dan kecepatan semulapun segera berubah seluruh nya.

Terdengar suara teriakan girang memecahkan keheningan, Boen ching dengan perlahan menghembuskan napas lega, luncuran pedangaya itu telah berhasil memutuskan sebagian besar dari tali-tali layar itu, sedang sisanya karena tak kuat menahan serangan angin telah putus dengan sendirinya.

Perahu iblis itu mengikuti deburan ombak laut meluncur disamping perahunya.

Mendadak terdengar lagi jeritan kaget, ketika Boen ching mengangkat kepalanya memandang, nampak pada perahu iblis itu dengan perlahan-lahan telah mulai menaikkan layar hitam yang baru, dia menjadi sangat terkejut, tak dapat berpikir panjang-panjang lagi, tubuhnya segera melesat turun diatas perahu iblis tersebut.

oooXooo

Apabila membiarkan perahu iblis itu sekali lagi menaikkan layar yang baru, kiranya kali ini sukar sekali untuk terhindar dari kematian, sedang pada saat ini jarak antara perahu iblis dengan perahunya hanya berkisar sepuluh kaki saja, terpaksa dia hanya menempuh bahaya meloncat keperahu iblis itu.

Ie Bok Tocu yarg nampak Baen Ching melompatkan dirinya kearah perahu iblis itu, dalam hatinya terasa sangat terkejut, tidak berpikir panjang lagi diapun melayangkan tubuhnya menubruk kearah perahu iblis tersebut, diantara bertiupnya angin yang kencang itu, dua buah bayangan manusia berturut-turut melayang turun keatah perahu iblis itu.

ooooooo IKAN HIU RAKSASA BAYANGAN IBLIS Boen ching melayangkan tubuhnya turun diatas perahu iblis itu, pada saat itu layar pada perahu itu baru dinaikan  setengah bagian saja, ketika ia melirik nampak Ie Bok Tocu pun melayangkan tubuhnya keatas perahu itu.

Dengan secepat kilat ia menubruk kearah tiaing perahu itu, sedang bersamaan pula ie Bok Tocu telah berhasil turun diatas perahu iblis tersebut.

Pada saat itu layar dari perahu iblis itu telah dinaikan penuh hingga sampai diatas, ketika tubuh Boen ching mengenai tiang itu, tanpa terasa hatinya menjadi terkejut, tiang layar itu ternyata dibuat dari baja yang sangat keras.

Tangannya segera diulurkan mencabut kembali pedang cing Hong Kiamnya, baru saja mau memotong layar itu, terdengar Ie Bok Tocu berteriak. "Anak Ching, tahan "

Boen ching menjadi terkejut, segera ia menghentikan gerakannya, ketika menoleh memandang, tampak perahu iblis itu ditengah sambaran hujan badai telah memisahkan dirinya dengan perahunya itu sangat jauh sekali, sedang perahunya pada saat ini tak dapat dilihat kembali.

Boen ching menjadi tertegun dan ragu-ragu untuk sesaat, untuk mematahkan layar itu baginya adalah merupakan suatu pekerjaan yang sangat mudah sekali tetapi ditengah lautan yang demikian luasnya itu, apabila tak mempunyai layar bagaimana dapat pulang kembali? ? ditengah hujan badai ini sangat mudah sekali dapat menyebabkan dia kehilangan jejak dari perahu layar itu.

Dia telah berpikir sejenak. tubuhnya melayang turun kembali keatas perahu, apabila dapat mencari orang yang mengemudikan perahu itu, tak sukarlah baginya untuk memaksa perahu itu berlayar menuju ke pulau Ie Bok To.

Ie Bok Tocu pun berpikir keras, setelah lewat beberapa saat baru ujarnya kepada Boen ching. "Kau berjalan dari sebelah kanan untuk memeriksa, tetapi kau haruslah berhati-hati, keadaan ditempat ini tak begitu paham, janganlah mendapat serangan yang menggelap dari pihak musuh."

Boen ching menganggukkan kepalanya dan berjalan kearah kiri, pada saat itu hujan badai telah makin reda, sedang perahu iblis itu telah berputar setengah lingkaran, dengan perlahan menerjang dimana datangnya arah angin.

Boen ching memandang kearah bentuk layer itu, terlihat dengan sangat perlahan sekali berputar terus, hal ini dapat membuktikan kepandaian yang sangat lihay dari orang yang mengemudikan perahu itu.

Dengan perlahan-lahan dia berjalan kesebelah kiri, diantara hujan yang turun tak tampak seorangpun juga , dia setelah berputar satu lingkaran dari perahu itu, tampak ie Bok Tocu sambil mencekal pedangnya dengan perlahan berjalan mendekat.

Begitu dua orang itu begitu bertemu muka, bersama-sama pula menjadi tertegun, diatas perahu itu ternyata tak ada seorangpun, entah orang yang mengemudikan perahu itu pergi kemana.

Ie Bok Tocu setelah termenung sesaat, ujarnya kepada Boen ching.

"orang-orang dari perahu itu mungkin bersembunyi didalam ruangan dalam, marilah kita bersama-sama memasuki pintu ruangan itu."

Dengan perlahan Boen ching mendorong pintunya.

Baru saja pintu ruangan itu membuka, wajah dua orang itu segera berubah hebat, dan melompat kebelakang, bau mayat yang sudah membusuk bertiup keluar dari dalam ruangan.

Sesudah lewat beberapa saat, bau yang tak enak itu baru berkurang, sekalipun dua orang itu telah mengetahui bahwa dengan keadaan yang demikian itu tak mungkin ada orang yang bersembunyi didalam ruangan itu, tetapi juga terus diperiksa.

Kedua orang itu berjalan memasuki ruangan itu, Boen  ching yang telah berhasil melatih ilmu melihat dalam kegelapan bagaikan ditempat terang saja, sekali pandang saja dia telah dapat melihat bahwa pada dasar ruangan itu penuh dengan tulang yang berwarna putih, pada setiap tulang lehernya terlihat sebuah rantai besi, ada yang dalam bentuk dudUk atau berbaring, suasananya sangat menakutkan sekali.

sepasang alis Ie Bok Tocu dikerutkan, dia tidak pernah menyangka kalau didalam perahu iblis itu ternyata merupakan suatu tempat penjagalan manusia.

Entah majikan dari perahu itu macam apa dan tulang2 putih itu milik siapa, ternyata dapat ditangkap oleh majikanperahu iblis ini dan mampus dalam ruangan ini, berpikir sampai di Sini, tanpa sadar diapun masuk dalam ruangan itu.

Baru saja dia berjalan satu langkah kedalam, dari belakang tubuhnya terdengar suara yang nyaring pintu ruangan itu dengan sangat keras telah menutup kembali, segera dia membalikkan tubuhnya sambil melancarkan serangan, terdengar suara yang sangat perlahan sekali. Pintu ruangan itu tetap tak rusak sedikitpun.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bentroknya Rimba Persilatan Jilid 12"

Post a Comment

close