Wanita iblis Jilid 25

Mode Malam
Jilid 25

JURUS itu merupakan ilmu tangan kosong yang istimewa dari Siau-lim-s i. Sudah tentu Siu-la m sukar menghindari serangan tak terduga-duga itu. Tongkat pusaka dapat dicengkeram Tay Ih.

Siu-la m kerutkan dan me mbentak keras-keras: “Jika lo- siansu tak mau melepaskan tongkat ini sehingga pusaka gereja Siau-lim-si sa mpa i rusak, jangan persalahkan pada wanpwe!”

Dengan sekuat tenaga ia menar iknya ke belakang. Karena takut tongkat pusaka itu rusak terpaksa Tay  Ih lepaskan cekalannya.

Siu-la m ayunkan tongkat itu untuk menghalau tiga orang paderi yang hendak menyerbunya. Karena takut tongkat pusaka itu rusak, ketiga paderi itupun terpaksa tak berani menangkis dan hanya loncat menghindar saja.

Setelah mengundur kan kawanan paderi, berserulah Siu-la m dengan lantang: “Bagi wanpwe, tongkat pusaka ini t iada berguna. Harap sekalian suhu jangan menduga jelek kepadaku, sama sekali wanpwe tak me mpunyai pikiran untuk me miliki tongkat ini….”

Tiba-tiba kata-katanya terputus oleh sebuah tertawa dingin yang mengha mbur dari luar ruang. Serempak dengan itu terdengar suara seruan melengking: “Tetapi dengan jatuhnya tongkat pusaka Siau-lim-s i ke tangan orang lain, berarti suatu hinaan yang me malukan!”

Siu-la m berpaling. Di luar ruangan ta mpak delapan lelaki berpakaian ringkas sedang mengawal sebuah tandu,  tegak dua orang gadis. Yang seorang berpakaian biru dan yang seorang berpakaian warna merah.

Agaknya Lam-koay dan Pak-koay tertarik perhatiannya kepada tandu itu. Keduanya me mandang tandu itu dengan tajam. Melihat tandu itu, segera Siu-la m berseru kepada sekalian paderi Siau- lim-s i: “Itulah ro mbo ngan Beng-ga k. Menilik cara kedatangannya, kemungkinan ketua Beng-gak datang sendiri!”

Tay Ih menghela napas perlahan dan berpaling kepada sekalian paderi: “Ini suatu bukti yang nyata bahwa ciang-bun sute telah dikuasai oleh orang Beng-gak. De mi me lindungi gereja Siau-lim-s i yang telah dibangun sejak beratus tahun, terpaksa kita harus melepaskan  diri dari segala ikatan peraturan. Apapun yang akan terjadi, semua adalah tanggung jawab loni seorang. Sekarang harap sekalian sute mendengar petunjukku.”

Yang berada dalam ruang permusyawarahan situ, kecuali Tay Ih dan Tay Hong serta kee mpat sute mereka yang sudah menjadi mayat di tengah ruangan, kini hanya tinggal e mpat orang paderi golongan gelar TAY.

Sejak berdirinya Siau-lim-si ratusan tahun yang lalu, baru pertama kali itu menga la mi peristiwa yang sedemikian tragis.

“Baik, kami siap menunggu perintah suheng,” keempat paderi gelar Tay itu sere mpak mengatakan ketaatannya.

Tay Ih siansu tersenyum getir, serunya: “Tay To sute, lindungilah ciang-bun-jin!”

Tay To siansu mengiyakan dan segera mengha mpiri Tay Hong siansu. Ta mpak sepasang mata ketua Siau- lim-s i itu merentang lebar me mandang ke arah tandu di luar ruang. Napasnya masih terengah-engah karena habis bertempur dengan Siu- lam tadi.

Siu-la m segera mengangsur kan tongkat Liok-gio k-hud- ciang kepada Tay Ih: “Tongkat pusaka ini merupakan la mbing kekuasaan tertinggi dari gereja Siau-lim-s i. Harap lo-siansu menggunakan tongkat ini untuk me mber i perintah!” Dengan khidmat, Tay Ih menya mbuti tongkat itu lalu berpaling kepada dua orang paderi yang berada  di sebelah kiri: “Harap sute berdua me mimpin barisan Lo-han-tin….”

Tiba-tiba Pak-koay Ui Lian meraung keras. Ia ayunkan tangannya menghantam tandu. Lwekang orang  aneh  itu tinggi sekali, apalagi dia meyakinkan ilmu pukulan Hian-ping- ciang. Pukulan yang disertai kemarahan itu, menimbulkan tenaga yang luar biasa kedahsyatannya.

Siu-la m terkejut. Ia heran mengapa tahu-tahu Pak-koay marah- marah. Jika yang berada dalam tandu itu benar-benar ketua Beng-gak, serangan Pak- koay itu tentu akan menimbulkan ke marahan. Dan pertempuran dahsyat pasti akan terjadi.

Belum Siu-la m hilang kejutnya, tiba-tiba Lam-koay Shin Ki pun mendengus geram: “Hm, budak kurang ajar, engkau berani kurang ajar di hadapanku!” mengangkat tangan ia pun segera lepaskan pukulan ke arah tandu.

Dua penjaga berbaju hitam yang menjaga di muka tandu, rupanya tak kenal siapa Pak-koay. Dengan garang mereka menangkis. Mereka baru terkejut sekali ketika tubuh mereka dilanda oleh serangkun gelo mbang hawa yang a mat dingin sekali. Tubuh mereka menggigil dan terhuyung-huyung ke belakang terus rubuh ke tanah.

Beberapa pengawal baju hitam yang menjaga di sekeliling tandu, serempak menjulurkan tangan mereka ke muka dada. Mereka bersatu untuk menangkis pukulan Hian-ping-ciang.

Benar pukulan Pak- koay dapat ditahan, tetapi tak urung wajah pengawal tandu itu berubah pucat. Tubuh mereka menggigil seperti dibenam air es.

Pada saat pengaruh pukulan dingin itu masih belum lenyap, tiba-tiba pukulan Cek-yan-ciang atau pukulan bara merah dari Lam- koay Shin Ki me nyusul tiba. Pukulan ganas Cek-yan-ciang tak kalah dahsyatnya dengan pukulan dingin Hian-ping-ciang. Hanya sifatnya yang berbeda. Kalau Hian-ping- ciang mengha mbur hawa sedingin es, Cek- yan-ciang menguap bara api yang sepanas lahar gunung berapi.

Melihat gelagat jelek, kedua gadis baju biru dan merah tadi segera lompat lari ke luar hala man.

Melihat itu, dengan gugup Siu-la m segera berseru kepada Lam- koay dan Pak-koay: “Harap lo-cianpwe berdua mengejar kedua gadis itu. Sebaiknya dapat ditangkap hidup-hidup agar wanpwe dapat menjatuhkan hukuman!”

Lam- koay dan Pak-koay merupakan tokoh yang termasyhur di dunia persilatan. Sejak ma lang me lintang di dunia persilatan, kecuali dikalahkan oleh Kak Seng taysu, mereka belum pernah mendapat tanding. Bahwa saat itu Siu-lam seolah-olah me mber i perintah, mereka marah sekali.

“Huh, bayi yang belum hilang  bau  tetek  ibunya,  berani me mer intah padaku…” seru Pak- koay Ui Lian. Tetapi ia tak dapat melanjut kan kata-katanya karena saat itu terdengar beberapa suara erang tertahan disusul dengan jatuhnya beberapa sosok tubuh ke tanah.

Ternyata beberapa pengawal tandu tadi, sudah remuk perkakas dalam tubuhnya ketika menerima pukulan Hian-ping- ciang dari Pak-koay Ui Lian. Mereka sudah tak dapat bertahan lagi.

Saat itu Tay Ih siansupun tiba. Ketika melihat keadaan Tay Hong, dia terkesiap dan membisiki Tay To: “Tay To sute, bawalah dia ke ruang Kwat-si-wan untuk beristirahat.”

“Tay Hong suheng sudah kehilangan kesadaran pikirannya.

Dikuatirkan dia tak dapat tenang!” kata Tay To. “Jika perlu, tutuklah jalan darahnya!” kata Tay Ih. Tay To mengiyakan. Segera ia menutuk jalan darah Tay Hong lalu dibawanya ke ruang Kwat-si- wan.

Suasana ruang kedua dari gereja Siau-lim-si  ke mbali tenang. Tiba-tiba Tay Ih bertanya kepada Siu-la m tentang isi tandu itu.

“Entahlah, bermula ta mpaknya seperti terisi tokoh Beng- gak yang penting. Tetapi sekarang rupanya bukan….”

“Biarlah loni yang me mbuka selubung tandu itu!” kata Tay Ih seraya terus hendak menarik kain selubung tandu itu.

“Tunggu dulu, siansu!” cegah Siu- la m. “Kenapa?”

“Gero mbolan Beng-gak banyak akal mus lihat. Kedua gadis baju merah dan biru tadi adalah murid kesayangan ketua Beng-gak. Kepandaian mereka cukup sakti.  Beberapa  hari yang lalu, taysu sendiri pernah bertempur dengan mereka di dalam….”

“Benar,” sahut Tay Ih.

“Jika dalam tandu berisi pe mimpin Beng-gak tak mungkin kedua gadis itu meninggalkan begitu saja.  Tetapi  apabila tandu itu tidak terisi tokoh penting, tentu terisi suatu perangkap yang berbahaya….”

Siu-la m berhenti sejenak. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada beberapa pengawal tandu yang terkapar di tanah. Semuanya mati kecuali hanya seorang yang masih bernapas.

Siu-la m mengha mpiri orang itu dan menarik tubuhnya lalu dibuka jalan darahnya. Pengawal tandu itu menghe la napas panjang dan me mbuka mata.

“Apa isi tandu itu? Lekas kau bilang jika kau ingin hidup!” hardik Siu- la m. Mulut pengawal itu bergerak, tangannya bergoyang-goyang dan kepalanya menggeleng. Tapi sepatah pun ia tak mengatakan apa-apa.

“Apa kau benar-benar  tak mau  mengatakan?” bentak Siu- la m. Dengan geram ia mendorong tubuh orang itu. Karena sudah terluka parah, dorongan itu membuatnya muntah darah dan putuslah jiwanya.

Siu-la m tertegun. Ia berbangkit dan berkata pada Tay Ih: “Harap lo-cianpwe suka me mberi perintah agar semua paderi yang duduk di hala man itu segera ke mbali ke posnya masing- masing. Suasana tenang saat ini, hanya sementara saja. Merupakan per mulaan dari gelombang badai yang segera akan melanda. Menilik telaganya pertempuran dahsyat segera akan terjadi!”

Tay Ih menghaturkan terima kasih atas bantuan anak muda itu.

“Ah, wanpwe hanya sekedar melaksanakan perintah dari seorang lo-cianpwe saja,” kata Siu- la m.

“Siapa?” Tay Ih heran.

“Maaf, kelak siansu tentu  mengetahui sendiri,”  kata  Siu- la m. Ke mudian ia pinjam pedang kepada Tay Ih.

Tay Ih merogoh jubahnya dan menyerahkan sebuh gin-pay yang berbentuk panjang.

“Benda ini kuterima dari Tay Hui  sute ketika  hendak menutup mata. Tay Hui sute mengatakan benda ini milik sicu dan supaya diserahkan kepada sicu.”

Gin-pay atau lencana perak itu dahulu ditemukan Siu- lam di bawah tulang tengkorak wanita Giok- kut-yau-ki Ih Ing-hoa dalam goa di perut gunung Po-to-san.

Siu-la m segera menyimpan benda itu. Tay Ih siansu me manggul tongkat Liok-giok-hud-ciang menuju ke depan tangga hita m. Sa mbil me ngacungkan tongkat pusaka itu, ia berseru nyaring:

“Ciang-bun-jin Siau- lim-si Tay Hong sute saat ini berada dalam kekuasaan pengaruh orang Beng-gak. Entah diberi racun apa. Yang jelas kesadaran pikirannya hilang. De mi menyela matkan    gereja     Siau-lim-s i,      terpaksa      loni me mberanikan diri untuk menga mbil alih pimpinan gereja. Setelah ancaman bahaya musuh berlalu, loni segera menyerahkan diri di hadapan arwah leluhur cou-su Siau- lim-s i, untuk mener ima keputusan hukuman yang dijatuhkan para tianglo….”

Sekalian paderi yang berada  di  hala man itu  sere mpak me mber i hor mat kepada tongkat pusaka.

Berkata pula Tay Ih: “Saat ini musuh sedang mengerahkan anak buahnya untuk menyerang gereja ini. Tetapi berkata bantuan Pui sicu, rencana mereka telah gagal. Untuk sementara waktu, harap kalian ke mbali ke te mpat masing- masing dulu. Yang tinggal di sini hanya anggota-anggota barisan Lo-han-tin untuk berjaga-jaga.”

Para paderi yang duduk di hala man itu sere mpak berbangkit dan bubaran. Yang masih tinggal hanya lebih kurang seratus paderi.

Siu-la m menga mbil tongkat salah seorang paderi yang meninggal la lu digunakan untuk menyingkap kain selubung tandu.

Begitu kain selubung tersingkap, segumpal asap putih berhamburan keluar. Ternyata dalam tandu itu terisi sebuah Giok-ting atau tempat pendupaan dari kumala. Dari Giok-ting itulah asap gumpalan me mbubung keluar.

Seketika Siu-la m teringat akan pengalala mannya ketika di Beng-gak dahulu. Serentak ia terkejut dan berteriak sekeras- kerasnya: “Awas, asap dari Giok-ting itu mengandung racun! Harap sekalian suhu jangan mendekatinya….”

Sekalian paderi Siau-lim-si me mpunyai kesan baik terhadap Siu-la m. Sekarang mereka menaruh perindahan kepada anak muda itu. Mendengar peringatan Siu-lam, buru-buru para paderi itu me nutup pernapasan dan menyingkir ke sa mping.

Siu-lar i menuju ke dataran rumput. Menjemput segenggam pasir ia segera menimpa Giok-ting.

Dia m-dia m ia mengagumi ketajaman panca indera kedua tokoh La m-koay dan Pak- koay. Begitu tandu tiba,  kedua tokoh itu segera sudah mencium bau, ma ka dengan cepat, kedua tokoh aneh itu segera menghantam mati pengawal- pengawal tandu. Jika tidak dibinasakan, tentulah kawanan pemikul tandu itu se mpat me mbuka selubung tandu dan celakalah semua orang  apabila  asap  sampai  berhamburan ke mana-mana.

Para paderi segera membantu Siu-la m untuk me mada mkan Giok-ting dengan timbunan pasir.

Siu-la m minta agar Tay Ih siansu me mer intahkan rombongan paderi me ninggalkan hala man itu.

“Sebaiknya barisan Lo-han-tin itu disiapkan untuk menjaga tempat-tempat yang penting. Halaman terlanjur dibaur asap beracun. Di dalam beberapa waktu asap itu tentu belum lenyap pengaruhnya. Wanpwe sendiri hendak menjenguk kedua tokoh aneh yang mengejar musuh tadi!” katanya lebih lanjut.

Tay Ih siansu me mpersilahkan pe muda itu supaya meninggalkan ruangan, tetapi Siu-la m mengajak berjalan keluar bersa ma-sama. Para paderi pun mengiringkan kedua orang itu. Setelah me lintasi beberapa tikungan dan lorong bersimpang, di situlah para paderi segera me mbentuk barisan Lo-han-tin.

Tay Ih siansu menghela napas: “Hari ini  jika  tidak mendapat bantuan Pui sicu mungkin angkatan gelar TAY yang hanya tinggal e mpat orang ini, tentu sudah binasa di ruang permusyawarahan tadi. Murid angkatan ketiga, walaupun terdapat beberapa orang yang berpangkat bagus, tetapi mereka setingkat lebih rendah dari golongan TAY. Mereka tentu tak berani menentang a manat tongkat Liok-gio k-hud- ciang. Tanpa mengeluarkan seorang anak buahnya, Beng-gak dapat menghancurkan gereja ini. Ya,  tujuh-delapan  ratus anak murid Siau-lim-si pasti akan hancur binasa seluruhnya….”

Siu-la m menghibur paderi itu. Yang penting saat itu harus disiapkan rencana untuk menghadapi serangan musuh.

“Saat ini bencana kehancuran total sudah la mpau. Betapapun saktinya musuh tetapi untuk menghancur kan Siau- lim-s i, tidaklah mudah. Delapan ratus murid Siau-lim-si akan bersatu-padu untuk mengadu jiwa de mi me mbela gereja ini. Kami bertekad untuk me lawan sa mpai t itik darah yang penghabisan. Musuh tentu akan me mbayar mahal jika berani menyerang ke mar i,” kata Tay Ih siansu.

Tak berapa lama datanglah dua orang paderi kecil dengan me mbawa sepasang pedang pusaka. Tay Ih siansu menyerahkan sepasang pedang itu kepada Siu- la m.

“Sepasang pedang ini, walaupun bukan tergolong pusaka Siau-lim-si, tetapi sudah ratusan tahun berada  dalam gereja ini. Jika dipisah, sepasang pedang ini menjadi  sebatang. Tetapi jika disatukan menjadi satu. Yang satu hijau yang satu putih.  Tajamnya bukan buatan.  Karena anak murid  Siau-lim- si tak pernah menggunakan pedang, maka loni hendak menyerahkan sepasang pedang itu kepada Pui sicu sebagai tanda penghargaan gereja Siau-lim-si terhadap bantuan sicu kepada Siau-lim-s i.” Siu-la m me nyambuti pe mberian itu dengan mengucap terima     kasih.    Begitu     menghunusnya,     pedang    itu me mancarkan hawa dingin. Yang satu bercahaya hijau, yang satu putih. Sepintas pandang, pedang  itu terang bukan sembarang pedang.

“Ah, bagaimana wanpwe berani menerima pe mberian begini hebat. Harap siansu suka menukar dengan pedang biasa saja,” katanya.

Tay Ih menghela napas: “Me mang sepasang pedang itu, bukan pedang biasa. Berpuluh tahun berselang pernah keluar dan mengge mparkan dunia persilatan. Pedang itu disebut Liong- kau-song-kia m. Yang hijau disebut Liong- kia m, yang putih Kau- kia m.”

“Ah, wanpwe benar-benar tak berani menerima nya!” seru Siu-la m.

“Pui sicu telah banyak me mbantu Siau-lim-s i. Sepasang pedang itu hanya sekedar sebagai tanda terima kasih Siau-lim- si kepada sicu. Jika sicu menola k, berarti sicu memandang rendah kepada loni.”

Dia m-dia m Siu- lam merenung. Ia me mastikan pihak Beng- gak tentu akan menyerang Siau-lim-s i lagi. Dengan me miliki senjata sepasang pedang pusaka itu, tentu akan berguna sekali dalam menghadapi orang Beng-gak nanti. Lebih baik untuk sementara, ia menerima pe mberian itu. Setelah bahaya selesai, ia masih dapat menge mbalikan lagi pedang itu kepada Siau-lim-si.

“Baiklah,    untuk    se mentara    ini    wanpwe    hendak me minja mnya,   apabila   sudah    selesai    tentu    wanpwe ke mbalikan lagi….”

“Tidak, sejak saat ini, sepasang pedang itu sudah menjadi milik sicu!” kata Tay Ih. Siu-la m tak mau tarik urat. Ia minta Tay Ih segera perintahkan para paderi bersiap-siap menghadapi musuh, sedang ia sendiri segera menyusul kedua tokoh La m-koay dan Pak-koay.

“Tapi sicu tak kenal jalanan di sini. Maksud loni hendak minta Tay Hi sute bersama empat orang anak murid mengikuti sicu sebagai penunjuk jalan,” kata Tay Ih.

Tapi Siu- lam tak perlu karena kedua La m- koay dan Pak- koay itu beradat aneh. Dikuatirkan nanti timbul salah paha m. Kemudian ia segera lari keluar gereja. Paderi yang tersebar di segenap penjuru gereja, setiap kali berjumpa dengan Siu-la m tentu me mberi hor mat.

Sampa i di luar gereja, Siu-lam tetap belum me lihat kedua tokoh aneh itu. Dia heran dan gelisah. Ia  kenal  siapa gerombo lan Beng-gak yang  banyak  tipu  muslihatnya  itu. Dia m-dia m ia menyesal mengapa tak ma u menerima tawaran Tay Ih supaya diantar oleh Tay Hi yang lebih kenal ja lanan di situ.

Tiba-tiba ia merasa seperti dilanda oleh suatu tenaga kuat yang tak bersuara. Untung ia sudah waspada. Cepat-cepat ia kerahkan tenaga dalam untuk bertahan. Kemudian dengan tibanya angin pukulan  itu  ia  segera  loncat  ke  udara  dan me layang  turun  setombak  jauhnya.   Sekalipun  dengan   me minjam tenaga orang itu ia berhasil terhindar dari bencana kehancuran, namun tak urung darah dalam dadanya bergolak.

“Hei, siapakah yang me miliki tenaga dalam sedahsyat ini? Pada dalam lingkaran dua to mbak di sekeliling sini, tiada tempat untuk orang bersembunyi. Jelas bahwa penyerang itu tentu berada paling sedikit pada jarak dua to mbak jauhnya. Dan pukulan itu sama sekali tak mengeluarkan suara apa-apa, jauh berbeda dengan pukulan Biat-gong-ciang…” dia m-dia m ia menimang. “Hai, itulah Bu-ing-sin- kun…!” mendadak ia teringat. Dan serempak dengan itu ia mendengar suara  orang  tertawa maca m dering kelinting. Datangnya dari arah barat di balik sebuah batu karang. Dan pada lain saat, muncullah seorang gadis berbaju merah….

Siu-la m terbeliak kaget. Nona baju merah salah satu murid dari Beng-gak. Dia m-dia m ia heran mengapa kedua tokoh aneh tidak ma mpu mer ingkus nona itu.

Nona baju merah itu mence kal pedang dan kebut Hud-tim. Walaupun wajahnya agak kaget namun mulutnya masih menyungging senyum, serunya: “Eh, bagaimana? Apakah kau masih hidup dan tak jadi mati terle mpar di jurang?”

Siu-la m berkerut dahi, serunya: “Kau ma mpu lolos dari tangan kedua lo-cianpwe itu, benar-benar besar peruntunganmu!”

Nona baju merah itu agak tertegun: “Aku dapat berubah seratus macam rupa, bagaimana engkau ma mpu mengena li aku?”

“Itulah! Yang dikejar oleh kedua  lo-cianpwe  itu tentulah  lain orang yang menya mar jadi dirimu,” dia m-dia m Siu-la m tersadar. Kemudian  ia  mendengus:  “Hm,  orang  Beng-gak me mang banyak akal mus lihatnya….”

Nona baju merah itu tertawa mengejek:

“Gereja Siau- lim-s i sudah masuk ke perangkap kami. Tunggu apabila nanti mala m suhuku datang tentu segera akan diadakan penye mbelihan besar-besaran….”

“Ah, mungkin tidak seperti yang kalian harapkan…” sahut Siu-la m. Tetapi ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena saat itu dadanya seperti terlanda oleh pukulan yang tidak kelihatan.

Siu-la m tadi sudah mender ita serangan gelap semacam itu. Sudah tentu ia sudah berjaga-jaga. Sekalipun pukulan itu tidak mengeluarkan suara, tetapi dalam suasana dan te mpat seperti di situ, asal orang me mperhatikan dengan cer mat, tentu akan merasa adanya semacam gelo mbang arus hawa dingin. Buru-buru ia ayunkan tangan kanan mena mpar.

Ia sudah menginsyafi bahwa tenaga dalamnya tidak dapat mengimbangi serangan pukulan  tak  bersuara  itu.  Sehabis me mukul, ia cepat-cepat loncat ke samping dan me ma ki.

“Hai,  Pek  Co-gi,  kalau  me mang  ksatria,   jangan   main me le mpar batu se mbunyi tangan begitu! Jika berani hayo keluarlah! Aku mau coba sampai di mana ilmu kepandaian orang Beng-gak. Selain pukulan Bu-ing-s in-kun, hayo keluarkanlah se mua kebisaanmu!”

Siu-la m me mperhitungkan. Kalau seorang tokoh sakti semaca m Tay Hong siansu saja dapat ditundukkan Beng-gak, apalagi Bu-ing-s in- kun Pek Co-gi jago dari Tibet itu. Dan dugaan itu didasarkan bahwa kecuali Pek Co-gi, rasanya tiada lain tokoh yang me miliki ilmu pukulan tanpa suara.

Serempak dengan tantangan itu, dari balik sebuah pohon siong besar, muncullah seorang lelaki bertubuh ge muk pendek. Di belakangnya diiringi e mpat-lima orang.

Setelah mengetahui je las orang-orang yang muncul itu, Siu-la m tercengang-cengang. Si ge muk pendek me mang Bu- ing-sin- kun Pek Co-gi. Sedang pengiringnya itu ialah Sin-to Lo Kun, Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-ho ng, Sam-kia m-it-pit Tio Hong- kwat dan Tui-hong-t iau Ngo Cong-gi.

Tokoh ternama itupun ternyata telah jatuh ke tangan Beng- gak. Dan dikuatirkan pula bahwa Su Boh-tun dan Siau Yau-cu pun telah ditunjuk dan menjadi alat orang Beng-ga k.

Tokoh-tokoh itu berilmu sakti, apabila Beng-ga k sa mpai dapat menggunakan tenaga mereka, tentu mengerikan sekali. Beng-gak   tentu    benar-benar    akan    dapat    berhasil  me laksanakan cita-citanya untuk menguasai dunia persilatan…. Siu-la m teringat akan pengala mannya ketika me nyerbu Beng-gak. Kawanan anak buah Beng- gak yang mukanya dicontrengi    warna-warni    dan    berpakaian    aneh    itu, ke mungkinan tentulah tokoh-tokoh berilmu yang telah jatuh dalam kekuasaan Beng-gak.

Terdengar nona baju merah itu tertawa melengking: “Kenalkah engkau pada mereka?”

Siu-la m cepat tenangkan perasaannya dan menyahut: “Benar, aku kenal mere ka!”

Tertawalah nona baju merah itu dengan perasaan tawar: “Dan mas ih ada lagi Su Bo-tun dan tokoh Bu-tong-pay Siau Yau-cu itu, kenalkah engkau juga?”

“Hm, kalau kenal lalu bagaimana?”

“Mereka dahulu tentulah sahabat-sahabatmu, tetapi sekarang  menjadi musuhmu… ”  nona   itu   berhenti   lalu  me mandang Pek Co-gi, serunya: “Apakah engkau yakin kepandaianmu dapat mengalahkan kelima tokoh yang menyerangmu dengan serempa k?”

Siu-la m terkejut. Diam- diam ia me mang mengakui kebenaran ucapan nona itu. Jangankan maju berbareng, sedang satu lawan satu saja, ia merasa belum tentu dapat menang.

Belum se mpat ia menjawab, nona baju merah  itu mengangkat tangan me mberi isyarat. Kiu-sing-tui-hun Kau Cing-hong, Sam- kia m- it-pit Tio Hong-kwat dan Sin-to Lo Kun serentak mencabut senjatanya dan maju ke muka.

Siu-la m pun cepat mencabut Ceng-liong- kiam dan Pak-kau- kiam sepasang pedang pusaka pemberian Tay Ih siansu. Sepasang pedang itu me mancar berkilat-kilat dingin.

“Pedang yang  bagus  sekali! Jangan  harap  kami  dapat me lepaskan engkau sebelum sepasang pedang pusaka itu jatuh ke tanganku!” seru si nona baju merah seraya loncat ke muka seraya kebutkan hud-tim dan me mber i perintah kepada ketiga tokoh itu supaya segera maju menyerang.

Dengan golok kim- pwo-to, Lo Kun segera me mpelo pori menyerang lebih dahulu dengan sebuah jurus Lat-biat-hoa- san. Ia hendak me mbelah kepala Siu-la m.

Melihat golok Lo Kun itu begitu dahsyat, karena kuatir akan merusakkan sepasang pedangnya, Siu-lam terpaksa loncat menghindar ke sa mping.

Tetapi serentak ia disambut oleh Kau Cin- hong yang menutukkan ujung ruyungnya Kau-kin- koa-thau (Ruyung urat naga kepala ular).

Siu-la m me mutar pedang Ceng-liong-kia m yang dicekal di tangan kiri, untuk menjaga ruyung.

Melihat pedang itu mengeluarkan sinar yang berkilat-kilat dingin, Kau Cin-hong tidak berani mengadu dengan ruyungnya. Cepat ia menarik kembali senjatanya.

Melihat sepasang pedang itu me mancarkan sinar kehijau- hijauan, tak beranilah Kui-sing-tui-hun Kau Cin-hong untuk menangkis dengan ruyungnya. Buru-buru ia menarik pulang ruyungnya.

Tetapi pada saat itu thiat-pit dari Sam-kia m-it-pit Tio Hong- kwat sudah menutuk  dada Siu-la m. Terpaksa Siu-la m menangkis dengan pedang di tangan kanan.

Tio Hong- kwat cepat menarik pit dan secepat kilat kibaskan tiga batang pedang yang terikat pada tangan kanannya. Tiga batang pedang yang lebih banyak menyerupai bentuk belati  itu diikat dengan rantai halus pada siku lengannya. Dapat digunakan sebagai senjata biasa pun sebagai senjata rahasia yang ditaburkan ke musuh.

Siu-la m mengge mbor keras. Ceng-liong- kiam dia terus dibabatkan dengan jurus Thiat-soh-lan-cou. Dalam beberapa bulan setelah mendapat pelajaran dari kakek Hian-song dan kedua tokoh Siau-lim-si, Kak Bong dan Kak Hui,  Siu-la m  me mperoleh   ke majuan   pesat  sekali. Dita mbah pula dengan kecerdasan otaknya, dapatlah ia menggunakan apa yang telah dipelajarinya itu dengan tepat dan cepat.

Cara mengendapkan pedang dan membalikkannya untuk menyerang, me mang banyak menghe mat waktu tak sedikit. Dan gerakan yang singkat itu mengandung arti besar sekali dalam menentukan kalah menang.

Tring…  tepat  sekali  pedang  Ceng-liong-kia m   berhasil me mapas belati yang dikibaskan Tio Hong-kwat. Dan kutunglah belati itu menjadi dua dengan menimbulkan dering gemerincing lengking suara.

Sama sekali Siu-la m tak mengira bahwa pedang pusaka pemberian ketua Siau-lim-s i ternyata sedemikian tajamnya. Ia sendiri tertegun.

Justru ia tengah tertegun, tiba-tiba Lo Kun me mbacok pinggangnya dan ruyung Kau Cin-hong pun me nutuk dada Siu-la m.

Sekalipun sebatang belatinya sudah terpapas tetapi Tio Hong-kwat masih me mpunyai dua batang belati. Dan tangan kanannya masih mencekal sebatang thiat-pit.  Setelah terkesiap sejenak, Tio Hong- kwat segera menyerang lagi.

Siu-la m me mutar sepasang pedangnya melawan ketiga tokoh penyerangnya. Ceng-liong-kia m dan Pek-kau- kiam diputar sederas hujan mencurah.

Beberapa bulan yang lalu, salah seorang dari ketiga tokoh itu tentu dapat mengalahkan Siu- la m.  Tetapi saat itu, keadaan jauh sekali bedanya.

Siu-la m telah menge mbangkan ilmu pedang Tan lo-cianpwe (kakek dari Hian-song) sede mikian hebat. Dalam setiap lima enam jurus tentu terdapat jurus yang sukar diduga perubahannya sehingga musuh mau tak mau dipaksa mundur menghindar.

Tambahan pula Siu- lam mence kal sepasang pedang pusaka. Ibarat harimau tumbuh sayap, ia dapat  melayani ketiga tokoh itu dengan baik dan lancar.

Melihat itu, si nona baju merah kerutkan dahi. Jelas diketahui ketika masih di gunung Kiu-kiong-san dahulu, pemuda itu mas ih le mah sekali kepandaiannya. Tapi mengapa dalam waktu yang tak lama saja, dia sudah berubah menjadi seorang tokoh yang begitu sakti. Betapapun cerdas otaknya, namun tak mungkin pe muda itu dapat mencapa i ke majuan yang sedemikian pesatnya. Jika dibiarkan, kelak pe muda itu tentu akan merupakan bahaya besar.

Seketika timbullah keganasan nona itu. Ia me mbis iki Pek Co-gi: “Dia me mpunyai sepasang pedang pusaka. Bantulah kawan-kawan kita dan segera bunuh pe muda itu. Berikan pedang itu kepadaku!”

Pek Co-gi, jago Pukulan Tanpa Bayangan yang termasyhur di wilayah Tibet, ternyata patuh sekali pada nona itu. Dengan mengge mbor keras ia loncat ke muka seraya gerakkan kedua tangannya. Seketika menderalah angin badai dari pukulannya yang dahsyat itu.

Di dalam menghadapi pengeroyoknya, bermula Siu- lam berlaku hati-hati, hanya bertahan diri  tak  mau me mbalas. Tapi sesudah lewat belasan jurus, nyali timbul. Serangan ketiga tokoh itu ternyata hanya  begitu saja.  Pada  saat  ia  me mutus kan hendak balas menyerang, tiba-tiba didengarnya Pek Co-gi mengge mbor keras dan menyerbu. Seketika  Siu- lam rasakan tubuhnya diserang oleh angin yang bertenaga kuat sekali sehingga ia tersurut mundur tiga langkah dan sepasang pedangnyapun hampir lepas jatuh. Me mang Pek Co-gi telah me mbuka serangannya dengan ilmu Bu- ing-sin-kun, lalu ia susul sekaligus dengan  e mpat buah serangan.

Untung sebelumnya Siu- lam sudah kenal akan kelihayan ilmu pukulan Bu- ing-s in-kun. Ia sudah berjaga-jaga. Maka begitu merasa angin pukulan itu menyambar, buru-buru ia mundur.

Tapi sekalipun begitu tak urung darahnya bergolak keras dan ia menderita luka dala m.  Buru-buru  ia  salurka lwekangnya untuk menyembuhkan luka itu. Ia tak mau mengunjuk terluka dalam. Ia bersikap tenang seperti tak terjadi sesuatu. Ia sadar, kalau musuh mengetahui ia terluka, mereka tentu akan menyerang sehebat-hebatnya.

Tapi lain bencana datang menyusul. Ialah dari si nona baju merah yang sudah melesat ke hadapannya. Dan secepat  ia pula kebutkan hud-tim ke tangan Siu-la m. Ia hendak merebut sepasang pedang pusaka pe muda itu.

Tapi Siu- lam tak mau mudah begitu saja.

Pedang di tangan kiri digerakkan dengan jurus Pek-hun-jut- yu, menangkis kebutan si nona.

Nona baju merah itu ketawa melengking: “Ih, kau sudah terluka dalam. Jika tak lekas menyalurkan tenaga,  luka  itu pasti menge mbang dan jiwa mu pasti takkan tertolong! Sekalipun kau pura-pura me maksa diri menghadapi aku, tapi keadaanmu sudah payah. Dalam tiga puluh jurus saja  kau pasti sudah dapat kurubuhkan!”

Si nona menutup bicara dengan menghujani serangan- serangan. Siu-la m terkejut karena nona itu sudah melihat keadaannya. Diam- diam ia me mutuskan untuk menurunkan tangan ganas. Ia sadar apabila sampa i jatuh ke tangan musuh, nona itu pasti takkan menga mpuni jiwanya. Sehabis menghindar dari tiga buah serangan pedang si nona, Siu-la m berkata: “Karena aku pernah berte mu dengan orang tuamu, maka aku tak sa mpai hati me lukaimu. Tetapi mengapa engkau terus- menerus mengejar aku saja? Apa engkau kira aku benar-benar takut kepada mu?”

Yang dima ksud dengan orang tua si nona baju merah itu ialah orang tua she Hui yang pernah menolong jiwanya ketika ia terhambur keluar dari perut gunung te mpo hari.

Nona baju merah itu tertawa melengking: “Jangan ngaco belo tak keruan! Ayah bundaku sudah meninggal dan aku dirawat oleh suhu. Jika engkau mau ketemu ayah bundaku, pergilah ke akhirat!” ia menutup kata-katanya dengan  tiga buah serangan pedang.

Dengan pedang Pek- kau-kia m, Siu-la m gunakan jurus Yap- hwe-soh-thian atau api me mbakar langit untuk menahan ketiga serangan itu sedang Ceng-liong- kiam di tangan kiri balas menyerang dengan jurus Se-lay-co-im. Ilmu pedang Se- lay-co-im ini ajaran dari Kak Bong taysu. Ganas tapi mengandung welas asih.

Nona baju merah itu terkejut. Walaupun dalam taburan sinar pedang yang berha mburan dari delapan penjuru itu masih terdapat beberapa lubang kelemahan, tetapi ia tak tahu cara me mecahkannya. Terpaksa ia mundur….

Tiba-tiba Sin-to Lo Kun mengge mbor keras dan menabas dengan golok kim-pwe-tonya.

Ilmu pedang Tat- mo-kia m dari Siau-lim-si, sekalipun merupakan ilmu pedang ist imewa, tetapi apabila akan menggunakan harus disertai dengan pengerahan tenaga dalam. Dalam hal ini yang merupakan halangan bagi Siu- la m. Karena dadanya habis terkena pukulan tanpa bayangan dari Pek Co-gi tadi, ia masih belum dapat menekan darahnya yang bergolak-golak. Maka sewaktu menggunakan  ilmu pedang Tat-mo- kia m, napasnya terengah-engah. Terhadap tabasan golok Lo Kun,  ia tidak berani menangkis tetapi loncat menghindar.

“Sekalipun aku me maka i sepasang pedang pusaka dan mengerti ilmu pedang Tat-mo- kia m, tetapi karena dadaku terluka pukulan Bu-ing-s in- kun, perlulah aku harus beristirahat dulu. Apalagi kalau Pek Co-gi ikut menyerang lagi, tentu repot me layani,” akhirnya ia menga mbil keputusan.

Maka begitu me lesat ke samping, tanpa me mberi kesempatan musuh menyerangnya lagi, ia terus lari ke dalam gereja.

“Kejar, dia sudah terluka dala m…!” teriak si nona baju merah.

Kawanan orang gagah itu rupanya taat sekali kepada si nona baju merah. Segera mereka mengejar.

Dengan paksakan diri, Siu-la m lari ke arah gereja. Untung dalam beberapa kejap ia dapat mencapai pintu gereja. Empat orang paderi berjubah putih segera keluar menya mbut.

“Hadanglah orang-orang yang mengejarku,” kata Siu- lam seraya terus menerobos ke dala m.

Karena sudah kenal akan anak muda itu, kee mpat paderi itupun me mberi jalan. Ke mudian mereka bersiap menyambut kawanan pengejar itu.

Baru beberapa langkah jauhnya, tiba-tiba Siu-la m teringat bahwa Pek Co-gi dengan Bu-ing-s in-kunnya itu merupakan bahaya besar. Dikuatirkan kee mpat paderi itu tak kuat menghadapinya. Segera ia berhenti dan berpaling: “Harap siansu berempat berhati-hati menjaga  pukulan Bu-ing-sin- kun…” tiba-tiba ia teringat bahwa Pek Co-gi itu berasal dari daerah Tibet, kemungkinan kee mpat paderi itu tersebut belum kenal ilmu pukulan ist imewa dari jago Tibet itu.  Maka segera ia me mberi penjelasan lagi:  “Bu- ing-s in-kun adalah ilmu pukulan istimewa. Pukulan  itu tiada mengeluarkan suara. Baru ketahuan setelah mengenai sang korban. Dia seorang gemuk pendek, harap hati-hati dan awasi gerakan tangannya….”

Belum selesai ia me mberi penjelasan tiba-tiba seorang paderi yang berada di sebelah kiri terdengar mendesah tertahan dan terhuyung tiga langkah ke belakang….

Ternyata sewaktu Siu-la m me mberi penjelasan, paderi itu sudah terkena pukulan Bu-ing-sin- kun dari Pek Co-gi.

Siu-la m tergetar hatinya: “Jika aku me mikir kan kepentingan diriku sendiri, keempat  paderi ini tentu hancur di tangan mereka. Sudah tentu aku malu terhadap Tay Ih siansu!”

Dengan pertimbangan itu, ia tak jadi masuk ke dalam tetapi me langkah keluar lagi. Ia dia m-dia m kerahkan tenaga dalam menanti kedatangan musuh.

Saat itu pertempuran sudah pecah. Kecuali paderi yang belum-belum sudah terkena pukulan Bu-ing-s in-kun tadi, yang tiga orang segera mengadakan perlawanan.

Sam- kia m- it-pit Tio Hong-kwat, Kiu-s ing-tui- hun Kau Cin- hong dan Sin-to Lo Kun, walaupun menyerang hebat tetapi ketiga paderi dengan senjata hong-pian-jan dan thiat-siang- ciang itu telah me mber i perlawanan yang gigih.

Melihat itu si nona baju merah me mperhitungkan bahwa sekalipun bertempur sa mpai seratus jurus, tetap takkan ada kesudahannya. Ia mulai gelisah menyaksikan pertempuran seru. Begitu seru sehingga sukar dibedakan  mana  lawan mana kawan. Dalam keadaan begitu Pek Co-gi pun  tak sempat melancar kan pukulan sakti Bu- ing-sin- kun lagi.

Tak dapat lagi si nona baju merah itu  menahan  diri.  Segera ia melesat menyerbu ke tengah pertempuran. Dengan pedang ia menusuk dada seorang paderi dan hud-tim  di tangan kiri mengebut lengan seorang paderi di sebelah kiri. Desakan nona itu me maksa kedua paderi Siau-lim-si tadi mundur selangkah.

Me mang ilmu silat dari Beng-gak me mpunyai aliran tersendiri. Selain jurus-jurusnya yang aneh, pun  sangat ganas. Jauh bedanya dengan ilmu silat yang kebanyakan. Begitu nona baju merah  itu terjun dalam perte mpuran, situasinya segera berubah. Ketiga paderi itu bingung tak keruan menghadapi serangan si nona yang menggunakan jurus-jurus serba aneh dan ganas.

Saat itu Siu-lam sudah se mpat menyalur kan lwekangnya.

Melihat ketiga paderi terdesak, ia segera loncat me mbantu.

Me mang sejak makan kuwih Cwan-hio ng-kau dari paderi Kak Bong dan disaluri tenaga sakti dari paderi itu, ia merasa terdapat perubahan dalam tubuhnya. Maka dalam waktu yang singkat saja, ia sudah pulih tenaganya.

Tiba-tiba terdengar suara doa yang nyaring. Tay Hi siansu dengan diir ingi dua belas ko-chiu Siau- lim-s i berlari- lari mendatangi.

Dia m-dia m Siu-la m menima ng. Dalam keadaan berbahaya seperti saat itu, tak perlulah kiranya harus me megang tata susila kaum persilatan lagi. Apalagi menghadapi gero mbolan Beng-gak yang ganas. Biarlah ro mbo ngan paderi Siau-lim-si itu segera maju sere mpak menghanta m musuh.

Dalam pada menimang itu, Siu-la mpun sudah lancarkan tusukan dengan pedang Ceng- liong- kiam ke arah si nona.

Setiap kali beradu senjata dengan Siu-lam, nona itu merasa bahwa pemuda itu sekarang berta mbah pesat sekali lwekangnya. Dia m-dia m nona itu tak berani me mandang ringan. Sedapat mungkin ia menghindari benturan senjata. Tetapi Siu- lam agaknya sengaja mencar i kese mpatan untuk adu kekerasan dengan nona itu. Tring, tring, tring, dengan sebuah gerak yang secepat kilat menya mbar, Siu-la m sekaligus menangkis tiga buah tusukan si nona yag dilancarkan kepada ketiga paderi.

Tiba-tiba Pek Co-gi mengge mbor keras dan serentak menerjang Siu- la m. Dengan jurus Tio-to-ni-liong atau Menjolok naga kuning, tinjunya menghuja m ke dada Siu- la m.

Jago gendut dari Tibet itu me miliki tenaga yang kuat sekali. Setiap pukulannya tentu menimbulkan  deru angin yang menyeramkan.

Yang paling dikuatirkan Siu- lam hanyalah pukulan Bu- ing- sin-kun. Karena pukulan yang tak bersuara itu sukar untuk dijaga. Maka ia harus cepat-cepat  menundukkan  jago Tibet itu lebih dulu. Begitu menghindar, sambil berputar ia menyerang sekuat-kuatnya. 

Setelah terlepas dari serangan Siu- la m, kegagahan nona baju merah itu mulai ta mpak lagi. Sekaligus ia lancarkan tiga buah serangan pedang kepada ketiga paderi sehingga paderi- paderi itu kelabakan dibuatnya.

Untunglah pada saat itu Tay Hi siansu dan rombongannya sudah tiba. Mereka segera menyerbut nona baju merah itu.

Tay Hi siansu merupa kan salah seorang paderi Siau- lim-si yang tinggi kedudukannya. Ilmu kesaktiannya pun amat disegani. Ia me mutar tongkat sian-cian laksana hujan mencurah. Beberapa jurus kemudian, nona baju merah itu merasa tertekan. Buru-buru ia curahkan perhatiannya  untuk me layani Tay Hi.

Karena terlepas dari tekanan si nona, kini barisan paderi Siau-lim-si mulai tersusun lagi.

Pertempuran antara Siu-la m dan Pek Co-gi berlangsung seru sekali. Dengan sepasang pedang pusaka dan ilmu permainan pedang yang beraneka coraknya,  Siu-lam  dapat me ma ksa jago Tibet kelabakan setengah mati. Dalam  beberapa  kejap  saja,   kedua   jago   itu   sudah me langsungkan pertempuran sampai lebih  dari duapuluh jurus. Tiba-tiba Siu-la m merasa bahwa tenaga dala mnya sekarang jauh lebih maju dari dulu. Setelah sempat mengawasi    bahwa    situasi    pertempuran     tidak     lagi me mbahayakan kedudukan Siau- lim-si, mulailah ia lancarkan ilmu pedang ajaran kakek dari Hian-song, ialah ilmu sakti Jiuw-toh-co-hua. Pedang Ceng-liong-kia m berha mburan laksana hujan mencurah dari langit.

Pek Co-gi tergetar dan loncat mundur. Ilmu pedang yang belum lengkap itu, tetap tiada tandingannya.

Siu-la m me mburu terus. Dia tak me mberi kese mpatan pada Pek Co-gi lagi. Begitu loncat terus menyerangnya gencar.

Dalam keadaan terdesak, Pek Co-gi menghantam sekuat- kuatnya dan tangan kiri gunakan ilmu Kim-na-chiu untuk mencengkeram lengan Siu-la m.

Ceng-lion-kia m dima inkan Siu- lam dalam jurus It-chiu-gin- hoa. Dan untuk menghindar i cengkera man musuh, ia miringkan tubuh ke sa mping. Ke mudian Pek-kau- kiam ditaburkan dalam jurus Sin- liong-sam-s ian.

Gerakan yang hebat dari anak muda itu kemba li me maksa jago Tibet itu mundur dua langkah.

Siu-la m tak mau menyia-nyiakan kese mpatan. Pedang ditaburkan dalam jurus Jiu-toh-co-hua dan mundur lah Pek Co- gi beberapa langkah.

Hanya dalam beberapa kejap saja, Siu- lam telah me maksa Pek Co-gi mundur sampai tiga to mbak jauhnya. Dalam kesempatan yang luang, ia berkata dengan perlahan kepada jago Tibet itu:

“Harap lo-cianpwe mundur ke balik gunung itu, wanpwe hendak bicara sedikit!” Sambil lancarkan dua buah pukulan, Pek Co-gi berseru: “Mau bilang apa, lekas katakanlah sekarang saja!”

Kuatir jago Tibet itu  akan  mendapat  kesempatan  untuk me lancarkan pukulan Bu- ing-sin-kun, Siu-la m mendesaknya lagi dengan hamburan pedang dan bicara lagi: “Maaf, Bu-ing- sin-kun me mang sukar dijaga, maka wanpwe terpaksa mendesak begini… Tapi di sini bukan te mpat yang cocok  untuk berbicara,” katanya setelah berhenti sejenak: “Jika lo- cianpwe percaya, harap lo-cianpwe suka mundur beberapa tombak lagi.”

Dalam pada berbicara Siu-la m tak hentinya me mpergencar serangan pedangnya untuk mendesak jago Tibet itu supaya mundur.

Rupanya Pek Co-gi mau mendengar permintaan Siu-la m mundur beberapa langkah.

Tiba-tiba Siu-la m kendorkan serangan pedangnya dan sambil tersenyum ia berkata: “Lo-cianpwe, jika lo-cianpwe merasa sulit meluluskan per mintaan wanpwe, baiklah kita bicara saja sa mbil berte mpur, setuju?”

“Bicaralah!” sahut Pek Co-gi.

Siu-la m me nghela napas dan berkata dengan rawan: “Lo- cianpwe seorang yang berilmu sakti dan harum na manya. Tapi mengapa lo-cianpwe  rela  me njadi  kaki  tangan gerombo lan Beng- gak? Wanpwe benar-benar tak me ngerti!”

Jago Tibet menatap Siu-la m. Tiba-tiba ia menyerang dengan kedua tangannya. Sekaligus ia lancarkan lima jurus serangan: “Itu urusanku pribadi, orang  lain  tak  berhak menca mpur i!”

Siu-la m taburkan tiga jurus taburan pedang, sahutnya: “Sudah tentu orang lain tak berhak menca mpur i urusan lo- cianpwe. Tapi jelas bahwa gero mbolan Beng-gak itu me musuhi dunia persilatan. Dengan me mbantu Beng-gak berarti me musuhi segenap kaum persilatan di Tiong-goan!”

Agaknya Pek Co-gi tertarik oleh ucapan itu. Kedua tangannya mula i kendor.

Anak muda itu ke mbali menghe la napas. Katanya pula: “Dari daerah Tibet yang jauh, lo-cianpwe me mer lukan menghadiri perte muan orang gagah di gunung Thay-san. Dengan   pukulan   Bu-ing-s in-kun,   lo-cianpwe   telah mengge mpar kan para orang gagah. Pendirian dan sikap lo- cianpwe yang bersedia menca mpuri pergolakan dunia persilatan di Tiong-goan itu, benar-benar suatu tindakan yang luhur perwira. Betapa keji dan ganas gero mbolan Beng-gak menga lahkan ro mbongan orang gagah dengan siasat licik, kiranya lo-cianpwe tentu sudah mengetahui sendiri.”

Dalam pada berbicara, Siu-la m pun me ngimbangi gerakan Pek Co-gi dengan mengendorkan serangan pedangnya.

“Walaupun dari daerah Tibet, tapi lo-cianpwe sudah kenal semua kaum persilatan di Tiong-goan. Tujuan kaum  persilatan di manapun pasti sa ma, yakni me mbela keadilan dan kebenaran serta  membas mi  kejahatan  dan  kelaliman. Me mbantu gerombo lan jahat, walaupun dapat menguasai dunia persilatan, tapi hal itu bertentangan dengan hati nurani kita….”

“Dengan kepandaian yang lo-cianpwe miliki, lo-cianpwe tentu mendapat sambutan dan perindahan tinggi dari kaum persilatan Tiong-goan. Lo-cianpwe dapat me mbentuk sebuah partai di sini untuk bersa ma-sa ma lain partai, menentra mkan dunia persilatan. Dan dalam kesempatan, lo-cianpwe tentu dapat memperebutkan kedudukan pemimpin partai persilatan Tiong-goan. Bukankah itu suatu cita-cita luhur?  Perlu apa lo- cianpwe berhamba kepada orang lain? Bukankah lo-cianpwe sendiri sudah cukup untuk menjadi pendiri dari sebuah partai persilatan? Ucapan wanpwe ini keluar dari hati  nurani wanpwe, mohon lo-cianpwe suka me mpertimbangkan….” Tiba-tiba Pek Co-gi hentikan serangannya.

“Benar,” sahutnya, “siapa tak tahu diriku ini, masakan mau menjadi kaki tangan orang….”

“Benar, benar,” seru Siu-lam,  “apabila lo-cianpwe menyadari   kesalahan   langkah   itu,    wanpwe    bersedia me mbawa….”

Belum Siu-la m selesai berkata, tiba-tiba Pek Co-gi teringat sesuatu yang mengerikan. Tubuhnya  agak  gemetar. Serentak mengge mbor keras, ia ayunkan pukulan lagi.

Siu-la m heran mengapa pada saat jago Tibet  hampir menyadari kesalahannya, tiba-tiba dia merubah  haluan dan me mukulnya lagi. Terpaksa Siu-la m lo mpat mundur dan berseru:

“Lo-cianpwe….”

Tetapi Pek Co-gi seperti orang limbung.  Dia  malah  gunakan sepasang tangannya untuk me mukul. Karena Siu- lam tak me nduga dan tak bersiap dulu, walau me mpunyai sepasang pedang mustika, tapi ia benar-benar terdesak dan tak ma mpu menggunakannya.

Hanya beberapa kejap saja, Siu-lam sudah  terdesak mundur sa mpai di te mpat semula mere ka bertempur tadi.

Tetapi si nona baju merah rupanya curiga. Berpaling ke  arah Pek Co-gi, ia berseru: “Hm… kalian bicara asyik sekali.”

Pek Co-gi terkesiap. Dan pukulannyapun agak kendor. Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Siu-la m untuk menyerang dengan pedangnya.

Kali ini Siu- lam tidak mau menga lah lagi. Sepasang pedangnya  dike mbangkan  benar-benar.   Oleh  karena  dia me miliki berbagai ilmu pedang yang berbeda sumbernya, maka serangannyapun penuh dengan variasi yang aneh-aneh sehingga Pek Co-gi dipaksa mundur lagi.

Sambil menangkis, dia m-dia m Pek Co-gi heran atas permainan ilmu pedang lawan. Tanpa suatu urut-urutan jurus ilmu pedang tertentu dan sepasang pedangnya menerbitkan hawa dingin yang menegakkan bulu ro ma. Jika terus menerus bertempur melawannya, ia kuatir tentu akan menderita kerugian.

“Ah, jika tidak aku dahului menurunkan pukulan maut, aku sendirilah yang akan celaka,” dia m-dia m jago Tibet itu telah menga mbil keputusan.

Untuk mela ksanakan keputusan itu, ia kerahkan tenaga dalam sa mbil  loncat  ke  sa mping.  Tetapi  Siu- lam  sudah me mpunyai rencana juga. Ia tak mau me mber i kese mpatan jago Tibet itu dapat melepaskan pukulan Bu- ing-s in-kunnya.  Ia loncat me mbayangi Pek Co-gi.

Tiba-tiba Pek Co-gi berbalik tubuh dan ayunkan tangan kanannya. Karena sudah berulang kali menderita pukulan Bu- ing-sin- kun, Siu- lam sangat berhati-hati sekali. Begitu melihat orang mengangkat tangannya, diapun cepat-cepat menyelinap ke sa mping.

Tapi ternyata jago Tibet itu menggunakan siasat. Tamparannya itu hanyalah gerakan hampa. Begitu Siu-la m berdiri di sa mping, barulah ia lepaskan pukulan  yang sesungguhnya.

Bu-ing-s in-kun merupakan pukulan istimewa yang sa ma sekali tak mengeluar kan suara.  Pukulan  itu  mengandung gelo mbang halus dari tenaga lwekang lunak.

Betapapun Siu-la m sudah berlaku hati-hati sekali, tetapi dia tak menyangka sa ma sekali kalau Pek Co-gi akan menyiasatinya. Begitu melihat Pek Co-gi mengha mpir i, segera ia julurkan Ceng- liong- kiam untuk menahan lawan. Tetapi sekonyong-konyong ia rasakan dirinya terlanda oleh arus tenaga yang lembut. Bukan  ma in terkejutnya dia.  Buru-buru ia loncat ke belakang.

Pukulan Bu- ing-sin- kun yang dilancarkan Pek Co-gi itu menggunakan delapan bagian tenaga lwekangnya. Hebatnya bukan kepalang. Sekalipun Siu-la m sudah me mpunyai pengalaman untuk menghindari pukulan itu, tetapi tak urung darah dalam tubuh bergolak keras, mata berkunang-kunang.

Secepat kilat Pek Co-gi kibaskan tangan kanannya dan tahu-tahu sudah mencengkera m siku lengan anak muda itu. Tring…! Siu- lam rasakan tangan kirinya kese mutan dan terlepaslah pedang Ceng-liong-kia m dari cekalannya.

Pedang Ceng-liong- kiam berpindah tangan ke tangan Pek Co-gi.

Siu-la m telah me nderita luka dalam yang parah. Tetapi kesadaran pikirannya masih terang. Pedang  Pek-kau-kia m yang dicekal di tangan kanannya itu segera ditaburkan di dalam jurus Se-lay-co-im, yakni salah satu jurus istimewa dari ilmu pedang Tat-mo- kia m.

Seketika Pek Co-gi terkurung dalam lingkaran sinar pedang. Karena ia maju merebut pedang Ceng-liong- kiam tadi, maka jaraknya dekat sekali dengan Siu-la m. Dengan begitu ia  tak ma mpu keluar lagi dari kurungan sinar pedang si anak muda.

Dalam keadaan itu Pek Co-gi me njadi kalap. Dia hendak mati- matian me mbobolkan sinar pedang yang mengepungna. Dengan sekuat tenaga ia ayunkan pedang rampasannya untuk menghanta mkan sinar pedang yang mengurung  di atas kepalanya.

Tat-mo- kiam sekalipun luar biasa dahsyatnya, tetapi permainan  pedang  itu  masih   mengandung   gerak   yang me mber i kelonggaran kepada musuh. Memang ketika Tat Mo- cou, cikal bakal pendiri Siua-lim-si menciptakan ilmu pedang tersebut, dia telah memperhitungkan tentang ke mungkinan yang akan dialami musuh dalam menghadapi taburan Tat-mo- kiam itu. Sengaja ia menyelipkan suatu gerak yang kendor dalam setiap jurus perubahan ilmu pedang  itu.  Maksudnya tak lain supaya orang se mpat mengundur kan diri.

Tetapi ternyata Pek Co-gi me milih adu kekerasan. Ia tahu anak muda itu tentu sudah terluka dalam sehingga tenaganya tentu berkurang. Tetapi apa yang terjadi benar-benar tak diduganya.

Ketika sepasang pedang itu saling beradu keras, Pek Co-gi terhuyung-huyung mundur dengan tubuh berlumuran darah. Itulah akibatnya dia berani mengadu kekerasan. Tat-mo-kia m me mber i kelonggaran tetapi dia malah me mbentur. Hasilnya, tubuhnya telah berhias tiga buah tusukan pedang.

Tetapi keadaan Siu- lam sendiripun tak kurang menyedihkan. Sesungguhnya akibat pukulan Bu- ing-sin- kun tadi ia sudah terluka dalam dan tenaganya berkurang sekali. Adalah karena dirangsang ke marahan pedangnya direbut itu, maka ia menyerang Pek Co-gi dengan sisa tenaganya yang masih. Setelah berhasil melukai  orang  darahnya  meluap keluar dari mulutnya.

Si nona baju merah yang tengah bertempur me lawan Tay Hi siansu, terkejut ketika mendengar ge mboran Siu- la m. Cepat ia berpaling. Ketika mena mpa k Pek Co-gi sudah berhasil merebut pedang Ceng-liong- kia m, girangnya bukan kepalang.

“Lekas, berikan pedang itu kepadaku!” serunya.

Karena perhatiannya tertuju pada pedang yang direbut Pek Co-gi, ia agak la mbat. Dan keayalan itu cukup me mberi kesempatan Tay Hi siansu untuk melancarkan serangan tongkat yang dahsyat. Nona itu kelabakan sekali.

Sedang Pek Co-gi pun sudah mencekal pedang Ceng-liong- kiam tapi karena tiga tusukan dari pedang Siu-la m itu cukup parah, darah banyak keluar, ia harus lekas- lekas menyalurkan lwekang untuk menghentikannya. Dengan begitu ia tak dapat me lancarkan pukulan Bu-ing-s in-kun lagi. Jika saja saat itu ia masih punya ke ma mpuan untuk me nyusulkan sebuah pukulan Bu-ing-s in-kun lagi, dapat dipastikan Siu- lam sudah habis riwayatnya.

Pertempuran kedua jago itu benar-benar merupakan pertempuran yang berakibat keduanya menderita luka parah.

Melihat Siu- lam luka parah, empat paderi Siau-lim-s i segera lari mengha mpiri dan menggotongnya ke dalam gereja. Siu- lam dipanggul oleh salah seorang paderi,  yang  seorang lagi me lindunginya. Sedang yang dua, segera menyerbu Pek Co-gi untuk merebut pedang Ceng- liong- kia m.

Si nona baju merah sekalipun terdesak dalam taburan tongkat Tay Hi siansu, tapi setitik pun ia tak ma u melepaskan keinginannya untuk me nguasai pedang Ceng-liong- kia m.

Ketika melihat  dua orang paderi lari mengha mpiri  ke tempat Pek Co-gi yang tak berkutik, nona itu menjadi gugup. Tiba-tiba ia lancarkan jurus Cu-pit Tia m-hun.  Ujung pedangnya berubah menjadi  tiga  bintik  sinar  perak  yang me magut sikut lengan Tay Hi siansu. Jurus itu sangat ganas sekali dan Tay Hi pun terpaksa mundur.

Begitu Tay Hi mundur, secepat kilat nona itu loncat ke samping dan kebutkan hud-timnya ke arah paderi yang menerjang dari sa mping kiri Pek Co-gi. Sedang dengan pedang ia menusuk paderi yang menyerang dari sa mping kanan. Pedang dan hud-tim bergerak luar biasa cepatnya, tepat pada saat kedua paderi itu hantamkan tongkatnya ke arah Pek Co-gi.

Jika kedua paderi itu tak menarik tongkatnya, Pek Co-gi tentu terluka. Tetapi kedua paderi itupun pasti terluka juga oleh si nona baju merah. Kedua paderi itu terpaksa mundur.

Si nona me mbuat suatu gerakan yang luar biasa. Ia timpukkan pedangnya ke arah paderi di sebelah kanan, sedang hud-tim dikebutkan untuk menangkis serangan paderi di sebelah kiri. Dan tangan kanan yang sudah tak mencekal  pedang itu cepat menya mbar pedang Ceng-liong- kiam di tangan Pek Co-gi.

Meskipun jago Tibet itu sedang menyalur kan tenaga untuk menghentikan pendarahannya, tetapi ilmu kepandaiannya masih belum punah. Begitu tangan si nona menyentuh tangannya, serentak jago Tibet itu kibaskan pedangnya menusuk!

Si nona terkejut sekali. Buru-buru ia loncat ke sa mping dan menjer it: “Pek Co-gi, engkau gila. Akulah!”

Betapapun cepatnya ia menghindar tetapi tak urung betisnya termakan pedang sehingga mengucurkan darah….

Teriakan itu telah menyadarkan Pek Co-gi. Ia terkesiap karena kekeliruannya itu.

Tring, terdengar senjata  beradu keras.  Timpukan  pedang si nona baju merah tadi, ditangkis oleh tongkat si paderi. Kemudian paderi itu menyerbunya.

“Lekas berikan pedang itu!” teriak si nona.

Pek Co-gi agak berubah wajahnya tetapi iapun segera menyerahkan pedang pusaka itu.

Sesaat nona itu menerima pedang Ceng-liong-kia m, diapun sudah diserang oleh Tay Hi siansu dan kedua paderi. Tay Hi telah   menyerangnya   dengan    jurus    Ngo-ting-biat-san, me mbe lah kepala si nona.

Paderi  tua  yang  sabar  itu, agaknya  telah   dirangsang ke marahan karena melihat keadaan gereja Siau-lim-si yang kacau balau. Pukulannya itu dilancarkan dengan sepenuh tenaga.

Melihat itu Pek Co-gi mengge mbor keras. Dua kali ia lancarkan pukulan Bu-ing-s in-kun. Kedua paderi yang menyerang dari samping itu segera rasakan dadanya tergetar, maca m orang yang dihantam palu besi. Darah bergolak keras dan orangnyapun segera terhuyung mundur tiga langkah. Tongkat mereka pun terlepas jatuh.

Nona baju merah itu me mang me miliki kepandaian silat yang amat tinggi. Sekonyong-ko nyong ia berputar tubuh mengisar dua langkah ke sa mping, la lu menabas tongkat Tay Hi.

Sesungguhnya ia sayang sekali akan pedang pusaka itu. Tetapi dalam detik-detik berbahaya ia tak menghiraukan suatu apa lagi.

Tring, terdengar dering melengking nyaring.  Tongkat  Tay Hi terkisar ke sa mping, ia loncat mundur dan nona itupun mengisar ke samping.

Ketika me meriksa, ternyata tongkat Tay Hi kutung separuh. Demikian nona itu. Ia juga memeriksa pedangnya. Tetapi ternyata pedang itu tak kurang suatu apa. Girangnya bukan kepalang sehingga luka pada betisnya tadi tak dirasakan sama sekali. Dengan me me kik nyaring, ia menyerang Tay Hi lagi.

Sehabis melepaskan dua buah  pukulan  Bu-ing-s in-kun, me mang Pek Co-gi telah dapat me lukai kedua paderi Siau-lim- si. Tetapi dia sendiri pun ma kin payah keadaannya. Pendarahannya yang sudah hampir berhenti ke mbali merekah dan mengucur darah lagi….

Sementara itu karena melihat kedua kawannya terluka, beberapa paderi yang menjaga pintu gereja segera menyerbu. Empat orang paderi dengan senjata masing- masing segera menyerbu.

Tetapi setelah me miliki pedang pusaka, nona baju  merah itu ibarat harimau tumbuh sayap. Serangannya tambah sadis. Sedang Tay Hi harus berhati-hati jangan sa mpa i tongkatnya terpapas lagi. Sesungguhnya kepandaian kedua orang itu berimbang. Hanya karena si nona lebih unggul dalam senjata, Tay Hi agak terpancang gerakannya. Serangan si nona me mbuat kelabakan. Apalagi jurus-jurus per mainan pedang si nona itu me mang aneh maka dengan cepat ia dapat menang angin. Dalam lima jurus saja, paderi Siau-lim-s i itu sudah kelabakan setengah mati.

Kiu-s ing-tui-hun Kau Cin-hong, Sa m-kia m-it-pit Tio Hong- kwat, Sin-to Lo Kun dan Tui-hong-tiau Ngo Cong-gi tengah bertempur seru dengan rombongan paderi Siau- lim-s i. Walaupun tahu keadaan Pek Co-gi yang payah itu, tapi mereka tak dapat menolong.

Sekonyong-konyong terdengar lengking yang nyaring. Sesosok tubuh me layang tiba. Empat paderi yang menyerang Pek Co-gi telah mencelat senjatanya.

Kawanan paderi itu terpaksa mundur. Ketika menga mati ternyata yang muncul itu seorang dara baju biru. Tangan kirinya menceka l sebatang pedang, tangan kanan sebuah senjata aneh semacam tanduk rusa. Nona itu tegak berdiri di samping Pek Co-gi.

“Berhenti!” teriaknya. Dan si nona baju merahlah yang pertama-tama menar ik senjatanya terus loncat mundur.

Kau Cin-hong, Tio Hong-kwat, Ngo Cong-gi dan Lo Kun, setelah melancarkan dua kali serangan dahsyat, pun lalu loncat mundur.

Nona baju biru itu sejenak sapukan matanya me mandang ke sekeliling. Serunya dengan nada dingin: “Siapakah yang menjadi pimpinan ro mbongan paderi itu?”

Suaranya garang, sikapnya angkuh sekali.

Tay Hi mendengus dingin: “Anak wanita mas ih begitu muda. J ika ada urusan apa-apa, silahkan bicara pada loni!” Tay Hi, paderi yang penuh toleransi dan kesabaran, karena menyaksikan keadaan gereja diobrak-abrik orang Beng-gak, me mbenci sekali kepada setiap anak buah Beng-gak.

Nona baju biru itu tersenyum, serunya: “Di antara sekian banyak paderi yang berada di sini, me mang engkaulah yang paling tua. Sebenarnya hal itu sudah kuketahui dan tak perlu kutanyakan lagi!”

Tay Hi menukas: “Sebaiknya li-s icu jangan bicara yang tiada berguna….”

WANITA IBLIS 25

Saduran: S.D. Liong

JURUS itu merupakan ilmu tangan kosong yang istimewa dari Siau-lim-s i. Sudah tentu Siu-la m sukar menghindari serangan tak terduga-duga itu. Tongkat pusaka dapat dicengkeram Tay Ih.

Siu-la m kerutkan dan me mbentak keras-keras: “Jika lo- siansu tak mau melepaskan tongkat ini sehingga pusaka gereja Siau-lim-si sa mpa i rusak, jangan persalahkan pada wanpwe!”

Dengan sekuat tenaga ia menar iknya ke belakang. Karena takut tongkat pusaka itu rusak terpaksa Tay  Ih lepaskan cekalannya.

Siu-la m ayunkan tongkat itu untuk menghalau tiga orang paderi yang hendak menyerbunya. Karena takut tongkat pusaka itu rusak, ketiga paderi itupun terpaksa tak berani menangkis dan hanya loncat menghindar saja.

Setelah mengundur kan kawanan paderi, berserulah Siu-la m dengan lantang: “Bagi wanpwe, tongkat pusaka ini t iada berguna. Harap sekalian suhu jangan menduga jelek kepadaku, sama sekali wanpwe tak me mpunyai pikiran untuk me miliki tongkat ini….” Tiba-tiba kata-katanya terputus oleh sebuah tertawa dingin yang mengha mbur dari luar ruang. Serempak dengan itu terdengar suara seruan melengking: “Tetapi dengan jatuhnya tongkat pusaka Siau-lim-s i ke tangan orang lain, berarti suatu hinaan yang me malukan!”

Siu-la m berpaling. Di luar ruangan ta mpak delapan lelaki berpakaian ringkas sedang mengawal sebuah tandu,  tegak dua orang gadis. Yang seorang berpakaian biru dan yang seorang berpakaian warna merah.

Agaknya Lam-koay dan Pak-koay tertarik perhatiannya kepada tandu itu. Keduanya me mandang tandu itu dengan tajam.

Melihat tandu itu, segera Siu-la m berseru kepada sekalian paderi Siau- lim-s i: “Itulah ro mbo ngan Beng-ga k. Menilik cara kedatangannya, kemungkinan ketua Beng-gak datang sendiri!”

Tay Ih menghela napas perlahan dan berpaling kepada sekalian paderi: “Ini suatu bukti yang nyata bahwa ciang-bun sute telah dikuasai oleh orang Beng-gak. De mi me lindungi gereja Siau-lim-s i yang telah dibangun sejak beratus tahun, terpaksa kita harus melepaskan  diri dari segala ikatan peraturan. Apapun yang akan terjadi, semua adalah tanggung jawab loni seorang. Sekarang harap sekalian sute mendengar petunjukku.”

Yang berada dalam ruang permusyawarahan situ, kecuali Tay Ih dan Tay Hong serta kee mpat sute mereka yang sudah menjadi mayat di tengah ruangan, kini hanya tinggal e mpat orang paderi golongan gelar TAY.

Sejak berdirinya Siau-lim-si ratusan tahun yang lalu, baru pertama kali itu menga la mi peristiwa yang sedemikian tragis.

“Baik, kami siap menunggu perintah suheng,” keempat paderi gelar Tay itu sere mpak mengatakan ketaatannya. Tay Ih siansu tersenyum getir, serunya: “Tay To sute, lindungilah ciang-bun-jin!”

Tay To siansu mengiyakan dan segera mengha mpiri Tay Hong siansu. Ta mpak sepasang mata ketua Siau- lim-s i itu merentang lebar me mandang ke arah tandu di luar ruang. Napasnya masih terengah-engah karena habis bertempur dengan Siu- lam tadi.

Siu-la m segera mengangsur kan tongkat Liok-gio k-hud- ciang kepada Tay Ih: “Tongkat pusaka ini merupakan la mbing kekuasaan tertinggi dari gereja Siau-lim-s i. Harap lo-siansu menggunakan tongkat ini untuk me mber i perintah!”

Dengan khidmat, Tay Ih menya mbuti tongkat itu lalu berpaling kepada dua orang paderi yang berada  di sebelah kiri: “Harap sute berdua me mimpin barisan Lo-han-tin….”

Tiba-tiba Pak-koay Ui Lian meraung keras. Ia ayunkan tangannya menghantam tandu. Lwekang orang  aneh  itu tinggi sekali, apalagi dia meyakinkan ilmu pukulan Hian-ping- ciang. Pukulan yang disertai kemarahan itu, menimbulkan tenaga yang luar biasa kedahsyatannya.

Siu-la m terkejut. Ia heran mengapa tahu-tahu Pak-koay marah- marah. Jika yang berada dalam tandu itu benar-benar ketua Beng-gak, serangan Pak- koay itu tentu akan menimbulkan ke marahan. Dan pertempuran dahsyat pasti akan terjadi.

Belum Siu-la m hilang kejutnya, tiba-tiba Lam-koay Shin Ki pun mendengus geram: “Hm, budak kurang ajar, engkau berani kurang ajar di hadapanku!” mengangkat tangan ia pun segera lepaskan pukulan ke arah tandu.

Dua penjaga berbaju hitam yang menjaga di muka tandu, rupanya tak kenal siapa Pak-koay. Dengan garang mereka menangkis. Mereka baru terkejut sekali ketika tubuh mereka dilanda oleh serangkun gelo mbang hawa yang a mat dingin sekali. Tubuh mereka menggigil dan terhuyung-huyung ke belakang terus rubuh ke tanah.

Beberapa pengawal baju hitam yang menjaga di sekeliling tandu, serempak menjulurkan tangan mereka ke muka dada. Mereka bersatu untuk menangkis pukulan Hian-ping-ciang.

Benar pukulan Pak- koay dapat ditahan, tetapi tak urung wajah pengawal tandu itu berubah pucat. Tubuh mereka menggigil seperti dibenam air es.

Pada saat pengaruh pukulan dingin itu masih belum lenyap, tiba-tiba pukulan Cek-yan-ciang atau pukulan bara merah dari Lam- koay Shin Ki me nyusul tiba.

Pukulan ganas Cek-yan-ciang tak kalah dahsyatnya dengan pukulan dingin Hian-ping-ciang. Hanya sifatnya yang berbeda. Kalau Hian-ping- ciang mengha mbur hawa sedingin es, Cek- yan-ciang menguap bara api yang sepanas lahar gunung berapi.

Melihat gelagat jelek, kedua gadis baju biru dan merah tadi segera lompat lari ke luar hala man.

Melihat itu, dengan gugup Siu-la m segera berseru kepada Lam- koay dan Pak-koay: “Harap lo-cianpwe berdua mengejar kedua gadis itu. Sebaiknya dapat ditangkap hidup-hidup agar wanpwe dapat menjatuhkan hukuman!”

Lam- koay dan Pak-koay merupakan tokoh yang termasyhur di dunia persilatan. Sejak ma lang me lintang di dunia persilatan, kecuali dikalahkan oleh Kak Seng taysu, mereka belum pernah mendapat tanding. Bahwa saat itu Siu-lam seolah-olah me mber i perintah, mereka marah sekali.

“Huh, bayi yang belum hilang  bau  tetek  ibunya,  berani me mer intah padaku…” seru Pak- koay Ui Lian. Tetapi ia tak dapat melanjut kan kata-katanya karena saat itu terdengar beberapa suara erang tertahan disusul dengan jatuhnya beberapa sosok tubuh ke tanah. Ternyata beberapa pengawal tandu tadi, sudah remuk perkakas dalam tubuhnya ketika menerima pukulan Hian-ping- ciang dari Pak-koay Ui Lian. Mereka sudah tak dapat bertahan lagi.

Saat itu Tay Ih siansupun tiba. Ketika melihat keadaan Tay Hong, dia terkesiap dan membisiki Tay To: “Tay To sute, bawalah dia ke ruang Kwat-si-wan untuk beristirahat.”

“Tay Hong suheng sudah kehilangan kesadaran pikirannya.

Dikuatirkan dia tak dapat tenang!” kata Tay To. “Jika perlu, tutuklah jalan darahnya!” kata Tay Ih.

Tay To mengiyakan. Segera ia menutuk jalan darah Tay Hong lalu dibawanya ke ruang Kwat-si- wan.

Suasana ruang kedua dari gereja Siau-lim-si  ke mbali tenang. Tiba-tiba Tay Ih bertanya kepada Siu-la m tentang isi tandu itu.

“Entahlah, bermula ta mpaknya seperti terisi tokoh Beng- gak yang penting. Tetapi sekarang rupanya bukan….”

“Biarlah loni yang me mbuka selubung tandu itu!” kata Tay Ih seraya terus hendak menarik kain selubung tandu itu.

“Tunggu dulu, siansu!” cegah Siu- la m. “Kenapa?”

“Gero mbolan Beng-gak banyak akal mus lihat. Kedua gadis baju merah dan biru tadi adalah murid kesayangan ketua Beng-gak. Kepandaian mereka cukup sakti.  Beberapa  hari yang lalu, taysu sendiri pernah bertempur dengan mereka di dalam….”

“Benar,” sahut Tay Ih.

“Jika dalam tandu berisi pe mimpin Beng-gak tak mungkin kedua gadis itu meninggalkan begitu saja. Tetapi apabila tandu itu tidak terisi tokoh penting, tentu terisi suatu perangkap yang berbahaya….”

Siu-la m berhenti sejenak. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada beberapa pengawal tandu yang terkapar di tanah. Semuanya mati kecuali hanya seorang yang masih bernapas.

Siu-la m mengha mpiri orang itu dan menarik tubuhnya lalu dibuka jalan darahnya. Pengawal tandu itu menghe la napas panjang dan me mbuka mata.

“Apa isi tandu itu? Lekas kau bilang jika kau ingin hidup!” hardik Siu- la m.

Mulut pengawal itu bergerak, tangannya bergoyang-goyang dan kepalanya menggeleng. Tapi sepatah pun ia tak mengatakan apa-apa.

“Apa kau benar-benar  tak mau  mengatakan?” bentak Siu- la m. Dengan geram ia mendorong tubuh orang itu. Karena sudah terluka parah, dorongan itu membuatnya muntah darah dan putuslah jiwanya.

Siu-la m tertegun. Ia berbangkit dan berkata pada Tay Ih: “Harap lo-cianpwe suka me mberi perintah agar semua paderi yang duduk di hala man itu segera ke mbali ke posnya masing- masing. Suasana tenang saat ini, hanya sementara saja. Merupakan per mulaan dari gelombang badai yang segera akan melanda. Menilik telaganya pertempuran dahsyat segera akan terjadi!”

Tay Ih menghaturkan terima kasih atas bantuan anak muda itu.

“Ah, wanpwe hanya sekedar melaksanakan perintah dari seorang lo-cianpwe saja,” kata Siu- la m.

“Siapa?” Tay Ih heran.

“Maaf, kelak siansu tentu  mengetahui sendiri,”  kata  Siu- la m. Ke mudian ia pinjam pedang kepada Tay Ih. Tay Ih merogoh jubahnya dan menyerahkan sebuh gin-pay yang berbentuk panjang.

“Benda ini kuterima dari Tay Hui  sute ketika  hendak menutup mata. Tay Hui sute mengatakan benda ini milik sicu dan supaya diserahkan kepada sicu.”

Gin-pay atau lencana perak itu dahulu ditemukan Siu- lam di bawah tulang tengkorak wanita Giok- kut-yau-ki Ih Ing-hoa dalam goa di perut gunung Po-to-san.

Siu-la m segera menyimpan benda itu.

Tay Ih siansu me manggul tongkat Liok-giok-hud-ciang menuju ke depan tangga hita m. Sa mbil me ngacungkan tongkat pusaka itu, ia berseru nyaring:

“Ciang-bun-jin Siau- lim-si Tay Hong sute saat ini berada dalam kekuasaan pengaruh orang Beng-gak. Entah diberi racun apa. Yang jelas kesadaran pikirannya hilang. De mi menyela matkan    gereja     Siau-lim-s i,      terpaksa      loni me mberanikan diri untuk menga mbil alih pimpinan gereja. Setelah ancaman bahaya musuh berlalu, loni segera menyerahkan diri di hadapan arwah leluhur cou-su Siau- lim-s i, untuk mener ima keputusan hukuman yang dijatuhkan para tianglo….”

Sekalian paderi yang berada  di  hala man itu  sere mpak me mber i hor mat kepada tongkat pusaka.

Berkata pula Tay Ih: “Saat ini musuh sedang mengerahkan anak buahnya untuk menyerang gereja ini. Tetapi berkata bantuan Pui sicu, rencana mereka telah gagal. Untuk sementara waktu, harap kalian ke mbali ke te mpat masing- masing dulu. Yang tinggal di sini hanya anggota-anggota barisan Lo-han-tin untuk berjaga-jaga.”

Para paderi yang duduk di hala man itu sere mpak berbangkit dan bubaran. Yang masih tinggal hanya lebih kurang seratus paderi. Siu-la m menga mbil tongkat salah seorang paderi yang meninggal la lu digunakan untuk menyingkap kain selubung tandu.

Begitu kain selubung tersingkap, segumpal asap putih berhamburan keluar. Ternyata dalam tandu itu terisi sebuah Giok-ting atau tempat pendupaan dari kumala. Dari Giok-ting itulah asap gumpalan me mbubung keluar.

Seketika Siu-la m teringat akan pengalala mannya ketika di Beng-gak dahulu. Serentak ia terkejut dan berteriak sekeras- kerasnya: “Awas, asap dari Giok-ting itu mengandung racun! Harap sekalian suhu jangan mendekatinya….”

Sekalian paderi Siau-lim-si me mpunyai kesan baik terhadap Siu-la m. Sekarang mereka menaruh perindahan kepada anak muda itu. Mendengar peringatan Siu-lam, buru-buru para paderi itu me nutup pernapasan dan menyingkir ke sa mping.

Siu-lar i menuju ke dataran rumput. Menjemput segenggam pasir ia segera menimpa Giok-ting.

Dia m-dia m ia mengagumi ketajaman panca indera kedua tokoh La m-koay dan Pak- koay. Begitu tandu tiba,  kedua tokoh itu segera sudah mencium bau, ma ka dengan cepat, kedua tokoh aneh itu segera menghantam mati pengawal- pengawal tandu. Jika tidak dibinasakan, tentulah kawanan pemikul tandu itu se mpat me mbuka selubung tandu dan celakalah semua orang  apabila  asap  sampai  berhamburan ke mana-mana.

Para paderi segera membantu Siu-la m untuk me mada mkan Giok-ting dengan timbunan pasir.

Siu-la m minta agar Tay Ih siansu me mer intahkan rombongan paderi me ninggalkan hala man itu.

“Sebaiknya barisan Lo-han-tin itu disiapkan untuk menjaga tempat-tempat yang penting. Halaman terlanjur dibaur asap beracun. Di dalam beberapa waktu asap itu tentu belum lenyap pengaruhnya. Wanpwe sendiri hendak menjenguk kedua tokoh aneh yang mengejar musuh tadi!” katanya lebih lanjut.

Tay Ih siansu me mpersilahkan pe muda itu supaya meninggalkan ruangan, tetapi Siu-la m mengajak berjalan keluar bersa ma-sama. Para paderi pun mengiringkan kedua orang itu.

Setelah me lintasi beberapa tikungan dan lorong bersimpang, di situlah para paderi segera me mbentuk barisan Lo-han-tin.

Tay Ih siansu menghela napas: “Hari ini  jika  tidak mendapat bantuan Pui sicu mungkin angkatan gelar TAY yang hanya tinggal e mpat orang ini, tentu sudah binasa di ruang permusyawarahan tadi. Murid angkatan ketiga, walaupun terdapat beberapa orang yang berpangkat bagus, tetapi mereka setingkat lebih rendah dari golongan TAY. Mereka tentu tak berani menentang a manat tongkat Liok-gio k-hud- ciang. Tanpa mengeluarkan seorang anak buahnya, Beng-gak dapat menghancurkan gereja ini. Ya,  tujuh-delapan  ratus anak murid Siau-lim-si pasti akan hancur binasa seluruhnya….”

Siu-la m menghibur paderi itu. Yang penting saat itu harus disiapkan rencana untuk menghadapi serangan musuh.

“Saat ini bencana kehancuran total sudah la mpau. Betapapun saktinya musuh tetapi untuk menghancur kan Siau- lim-s i, tidaklah mudah. Delapan ratus murid Siau-lim-si akan bersatu-padu untuk mengadu jiwa de mi me mbela gereja ini. Kami bertekad untuk me lawan sa mpai t itik darah yang penghabisan. Musuh tentu akan me mbayar mahal jika berani menyerang ke mar i,” kata Tay Ih siansu.

Tak berapa lama datanglah dua orang paderi kecil dengan me mbawa sepasang pedang pusaka. Tay Ih siansu menyerahkan sepasang pedang itu kepada Siu- la m. “Sepasang pedang ini, walaupun bukan tergolong pusaka Siau-lim-si, tetapi sudah ratusan tahun berada  dalam gereja ini. Jika dipisah, sepasang pedang ini menjadi  sebatang. Tetapi jika disatukan menjadi satu. Yang satu hijau yang satu putih.  Tajamnya bukan buatan.  Karena anak murid  Siau-lim- si tak pernah menggunakan pedang, maka loni hendak menyerahkan sepasang pedang itu kepada Pui sicu sebagai tanda penghargaan gereja Siau-lim-si terhadap bantuan sicu kepada Siau-lim-s i.”

Siu-la m me nyambuti pe mberian itu dengan mengucap terima     kasih.    Begitu     menghunusnya,     pedang    itu me mancarkan hawa dingin. Yang satu bercahaya hijau, yang satu putih. Sepintas pandang, pedang  itu terang bukan sembarang pedang.

“Ah, bagaimana wanpwe berani menerima pe mberian begini hebat. Harap siansu suka menukar dengan pedang biasa saja,” katanya.

Tay Ih menghela napas: “Me mang sepasang pedang itu, bukan pedang biasa. Berpuluh tahun berselang pernah keluar dan mengge mparkan dunia persilatan. Pedang itu disebut Liong- kau-song-kia m. Yang hijau disebut Liong- kia m, yang putih Kau- kia m.”

“Ah, wanpwe benar-benar tak berani menerima nya!” seru Siu-la m.

“Pui sicu telah banyak me mbantu Siau-lim-s i. Sepasang pedang itu hanya sekedar sebagai tanda terima kasih Siau-lim- si kepada sicu. Jika sicu menola k, berarti sicu memandang rendah kepada loni.”

Dia m-dia m Siu- lam merenung. Ia me mastikan pihak Beng- gak tentu akan menyerang Siau-lim-s i lagi. Dengan me miliki senjata sepasang pedang pusaka itu, tentu akan berguna sekali dalam menghadapi orang Beng-gak nanti. Lebih baik untuk sementara, ia menerima pe mberian itu. Setelah bahaya selesai, ia masih dapat menge mbalikan lagi pedang itu kepada Siau-lim-si.

“Baiklah,    untuk    se mentara    ini    wanpwe    hendak me minja mnya,   apabila   sudah    selesai    tentu    wanpwe ke mbalikan lagi….”

“Tidak, sejak saat ini, sepasang pedang itu sudah menjadi milik sicu!” kata Tay Ih.

Siu-la m tak mau tarik urat. Ia minta Tay Ih segera perintahkan para paderi bersiap-siap menghadapi musuh, sedang ia sendiri segera menyusul kedua tokoh La m-koay dan Pak-koay.

“Tapi sicu tak kenal jalanan di sini. Maksud loni hendak minta Tay Hi sute bersama empat orang anak murid mengikuti sicu sebagai penunjuk jalan,” kata Tay Ih.

Tapi Siu- lam tak perlu karena kedua La m- koay dan Pak- koay itu beradat aneh. Dikuatirkan nanti timbul salah paha m. Kemudian ia segera lari keluar gereja. Paderi yang tersebar di segenap penjuru gereja, setiap kali berjumpa dengan Siu-la m tentu me mberi hor mat.

Sampa i di luar gereja, Siu-lam tetap belum me lihat kedua tokoh aneh itu. Dia heran dan gelisah. Ia  kenal  siapa gerombo lan Beng-gak yang  banyak  tipu  muslihatnya  itu. Dia m-dia m ia menyesal mengapa tak ma u menerima tawaran Tay Ih supaya diantar oleh Tay Hi yang lebih kenal ja lanan di situ.

Tiba-tiba ia merasa seperti dilanda oleh suatu tenaga kuat yang tak bersuara. Untung ia sudah waspada. Cepat-cepat ia kerahkan tenaga dalam untuk bertahan. Kemudian dengan tibanya angin pukulan  itu  ia  segera  loncat  ke  udara  dan me layang  turun  setombak  jauhnya.   Sekalipun  dengan   me minjam tenaga orang itu ia berhasil terhindar dari bencana kehancuran, namun tak urung darah dalam dadanya bergolak. “Hei, siapakah yang me miliki tenaga dalam sedahsyat ini? Pada dalam lingkaran dua to mbak di sekeliling sini, tiada tempat untuk orang bersembunyi. Jelas bahwa penyerang itu tentu berada paling sedikit pada jarak dua to mbak jauhnya. Dan pukulan itu sama sekali tak mengeluarkan suara apa-apa, jauh berbeda dengan pukulan Biat-gong-ciang…” dia m-dia m ia menimang.

“Hai, itulah Bu-ing-sin- kun…!” mendadak ia teringat. Dan serempak dengan itu ia mendengar suara  orang  tertawa maca m dering kelinting. Datangnya dari arah barat di balik sebuah batu karang. Dan pada lain saat, muncullah seorang gadis berbaju merah….

Siu-la m terbeliak kaget. Nona baju merah salah satu murid dari Beng-gak. Dia m-dia m ia heran mengapa kedua tokoh aneh tidak ma mpu mer ingkus nona itu.

Nona baju merah itu mence kal pedang dan kebut Hud-tim. Walaupun wajahnya agak kaget namun mulutnya masih menyungging senyum, serunya: “Eh, bagaimana? Apakah kau masih hidup dan tak jadi mati terle mpar di jurang?”

Siu-la m berkerut dahi, serunya: “Kau ma mpu lolos dari tangan kedua lo-cianpwe itu, benar-benar besar peruntunganmu!”

Nona baju merah itu agak tertegun: “Aku dapat berubah seratus macam rupa, bagaimana engkau ma mpu mengena li aku?”

“Itulah! Yang dikejar oleh kedua  lo-cianpwe  itu tentulah  lain orang yang menya mar jadi dirimu,” dia m-dia m Siu-la m tersadar. Kemudian  ia  mendengus:  “Hm,  orang  Beng-gak me mang banyak akal mus lihatnya….”

Nona baju merah itu tertawa mengejek: “Gereja Siau- lim-s i sudah masuk ke perangkap kami. Tunggu apabila nanti mala m suhuku datang tentu segera akan diadakan penye mbelihan besar-besaran….”

“Ah, mungkin tidak seperti yang kalian harapkan…” sahut Siu-la m. Tetapi ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena saat itu dadanya seperti terlanda oleh pukulan yang tidak kelihatan.

Siu-la m tadi sudah mender ita serangan gelap semacam itu. Sudah tentu ia sudah berjaga-jaga. Sekalipun pukulan itu tidak mengeluarkan suara, tetapi dalam suasana dan te mpat seperti di situ, asal orang me mperhatikan dengan cer mat, tentu akan merasa adanya semacam gelo mbang arus hawa dingin. Buru-buru ia ayunkan tangan kanan mena mpar.

Ia sudah menginsyafi bahwa tenaga dalamnya tidak dapat mengimbangi serangan pukulan  tak  bersuara  itu.  Sehabis me mukul, ia cepat-cepat loncat ke samping dan me ma ki.

“Hai,  Pek  Co-gi,  kalau  me mang  ksatria,   jangan   main me le mpar batu se mbunyi tangan begitu! Jika berani hayo keluarlah! Aku mau coba sampai di mana ilmu kepandaian orang Beng-gak. Selain pukulan Bu-ing-s in-kun, hayo keluarkanlah se mua kebisaanmu!”

Siu-la m me mperhitungkan. Kalau seorang tokoh sakti semaca m Tay Hong siansu saja dapat ditundukkan Beng-gak, apalagi Bu-ing-s in- kun Pek Co-gi jago dari Tibet itu. Dan dugaan itu didasarkan bahwa kecuali Pek Co-gi, rasanya tiada lain tokoh yang me miliki ilmu pukulan tanpa suara.

Serempak dengan tantangan itu, dari balik sebuah pohon siong besar, muncullah seorang lelaki bertubuh ge muk pendek. Di belakangnya diiringi e mpat-lima orang.

Setelah mengetahui je las orang-orang yang muncul itu, Siu-la m tercengang-cengang. Si ge muk pendek me mang Bu- ing-sin- kun Pek Co-gi. Sedang pengiringnya itu ialah Sin-to Lo Kun, Kiu-sing-tui-hun Kau Cin-ho ng, Sam-kia m-it-pit Tio Hong- kwat dan Tui-hong-t iau Ngo Cong-gi.

Tokoh ternama itupun ternyata telah jatuh ke tangan Beng- gak. Dan dikuatirkan pula bahwa Su Boh-tun dan Siau Yau-cu pun telah ditunjuk dan menjadi alat orang Beng-ga k.

Tokoh-tokoh itu berilmu sakti, apabila Beng-ga k sa mpai dapat menggunakan tenaga mereka, tentu mengerikan sekali. Beng-gak   tentu    benar-benar    akan    dapat    berhasil  me laksanakan cita-citanya untuk menguasai dunia persilatan….

Siu-la m teringat akan pengala mannya ketika me nyerbu Beng-gak. Kawanan anak buah Beng- gak yang mukanya dicontrengi    warna-warni    dan    berpakaian    aneh    itu, ke mungkinan tentulah tokoh-tokoh berilmu yang telah jatuh dalam kekuasaan Beng-gak.

Terdengar nona baju merah itu tertawa melengking: “Kenalkah engkau pada mereka?”

Siu-la m cepat tenangkan perasaannya dan menyahut: “Benar, aku kenal mere ka!”

Tertawalah nona baju merah itu dengan perasaan tawar: “Dan mas ih ada lagi Su Bo-tun dan tokoh Bu-tong-pay Siau Yau-cu itu, kenalkah engkau juga?”

“Hm, kalau kenal lalu bagaimana?”

“Mereka dahulu tentulah sahabat-sahabatmu, tetapi sekarang  menjadi musuhmu… ”  nona   itu   berhenti   lalu  me mandang Pek Co-gi, serunya: “Apakah engkau yakin kepandaianmu dapat mengalahkan kelima tokoh yang menyerangmu dengan serempa k?”

Siu-la m terkejut. Diam- diam ia me mang mengakui kebenaran ucapan nona itu. Jangankan maju berbareng, sedang satu lawan satu saja, ia merasa belum tentu dapat menang. Belum se mpat ia menjawab, nona baju merah  itu mengangkat tangan me mberi isyarat. Kiu-sing-tui-hun Kau Cing-hong, Sam- kia m- it-pit Tio Hong-kwat dan Sin-to Lo Kun serentak mencabut senjatanya dan maju ke muka.

Siu-la m pun cepat mencabut Ceng-liong- kiam dan Pak-kau- kiam sepasang pedang pusaka pemberian Tay Ih siansu. Sepasang pedang itu me mancar berkilat-kilat dingin.

“Pedang yang  bagus  sekali! Jangan  harap  kami  dapat me lepaskan engkau sebelum sepasang pedang pusaka itu jatuh ke tanganku!” seru si nona baju merah seraya loncat ke muka seraya kebutkan hud-tim dan me mber i perintah kepada ketiga tokoh itu supaya segera maju menyerang.

Dengan golok kim- pwo-to, Lo Kun segera me mpelo pori menyerang lebih dahulu dengan sebuah jurus Lat-biat-hoa- san. Ia hendak me mbelah kepala Siu-la m.

Melihat golok Lo Kun itu begitu dahsyat, karena kuatir akan merusakkan sepasang pedangnya, Siu-lam terpaksa loncat menghindar ke sa mping.

Tetapi serentak ia disambut oleh Kau Cin- hong yang menutukkan ujung ruyungnya Kau-kin- koa-thau (Ruyung urat naga kepala ular).

Siu-la m me mutar pedang Ceng-liong-kia m yang dicekal di tangan kiri, untuk menjaga ruyung.

Melihat pedang itu mengeluarkan sinar yang berkilat-kilat dingin, Kau Cin-hong tidak berani mengadu dengan ruyungnya. Cepat ia menarik kembali senjatanya.

Melihat sepasang pedang itu me mancarkan sinar kehijau- hijauan, tak beranilah Kui-sing-tui-hun Kau Cin-hong untuk menangkis dengan ruyungnya. Buru-buru ia menarik pulang ruyungnya. Tetapi pada saat itu thiat-pit dari Sam-kia m-it-pit Tio Hong- kwat sudah menutuk  dada Siu-la m. Terpaksa Siu-la m menangkis dengan pedang di tangan kanan.

Tio Hong- kwat cepat menarik pit dan secepat kilat kibaskan tiga batang pedang yang terikat pada tangan kanannya. Tiga batang pedang yang lebih banyak menyerupai bentuk belati  itu diikat dengan rantai halus pada siku lengannya. Dapat digunakan sebagai senjata biasa pun sebagai senjata rahasia yang ditaburkan ke musuh.

Siu-la m mengge mbor keras. Ceng-liong- kiam dia terus dibabatkan dengan jurus Thiat-soh-lan-cou.

Dalam beberapa bulan setelah mendapat pelajaran dari kakek Hian-song dan kedua tokoh Siau-lim-si, Kak Bong dan Kak Hui,  Siu-la m  me mperoleh   ke majuan   pesat  sekali. Dita mbah pula dengan kecerdasan otaknya, dapatlah ia menggunakan apa yang telah dipelajarinya itu dengan tepat dan cepat.

Cara mengendapkan pedang dan membalikkannya untuk menyerang, me mang banyak menghe mat waktu tak sedikit. Dan gerakan yang singkat itu mengandung arti besar sekali dalam menentukan kalah menang.

Tring…  tepat  sekali  pedang  Ceng-liong-kia m   berhasil me mapas belati yang dikibaskan Tio Hong-kwat. Dan kutunglah belati itu menjadi dua dengan menimbulkan dering gemerincing lengking suara.

Sama sekali Siu-la m tak mengira bahwa pedang pusaka pemberian ketua Siau-lim-s i ternyata sedemikian tajamnya. Ia sendiri tertegun.

Justru ia tengah tertegun, tiba-tiba Lo Kun me mbacok pinggangnya dan ruyung Kau Cin-hong pun me nutuk dada Siu-la m. Sekalipun sebatang belatinya sudah terpapas tetapi Tio Hong-kwat masih me mpunyai dua batang belati. Dan tangan kanannya masih mencekal sebatang thiat-pit.  Setelah terkesiap sejenak, Tio Hong- kwat segera menyerang lagi.

Siu-la m me mutar sepasang pedangnya melawan ketiga tokoh penyerangnya. Ceng-liong-kia m dan Pek-kau- kiam diputar sederas hujan mencurah.

Beberapa bulan yang lalu, salah seorang dari ketiga tokoh itu tentu dapat mengalahkan Siu- la m.  Tetapi saat itu, keadaan jauh sekali bedanya.

Siu-la m telah menge mbangkan ilmu pedang Tan lo-cianpwe (kakek dari Hian-song) sede mikian hebat. Dalam setiap lima enam jurus tentu terdapat jurus yang sukar diduga perubahannya sehingga musuh mau tak mau dipaksa mundur menghindar.

Tambahan pula Siu- lam mence kal sepasang pedang pusaka. Ibarat harimau tumbuh sayap, ia dapat  melayani ketiga tokoh itu dengan baik dan lancar.

Melihat itu, si nona baju merah kerutkan dahi. Jelas diketahui ketika masih di gunung Kiu-kiong-san dahulu, pemuda itu mas ih le mah sekali kepandaiannya. Tapi mengapa dalam waktu yang tak lama saja, dia sudah berubah menjadi seorang tokoh yang begitu sakti. Betapapun cerdas otaknya, namun tak mungkin pe muda itu dapat mencapa i ke majuan yang sedemikian pesatnya. Jika dibiarkan, kelak pe muda itu tentu akan merupakan bahaya besar.

Seketika timbullah keganasan nona itu. Ia me mbis iki Pek Co-gi: “Dia me mpunyai sepasang pedang pusaka. Bantulah kawan-kawan kita dan segera bunuh pe muda itu. Berikan pedang itu kepadaku!”

Pek Co-gi, jago Pukulan Tanpa Bayangan yang termasyhur di wilayah Tibet, ternyata patuh sekali pada nona itu. Dengan mengge mbor keras ia loncat ke muka seraya gerakkan kedua tangannya. Seketika menderalah angin badai dari pukulannya yang dahsyat itu.

Di dalam menghadapi pengeroyoknya, bermula Siu- lam berlaku hati-hati, hanya bertahan diri  tak  mau me mbalas. Tapi sesudah lewat belasan jurus, nyali timbul. Serangan ketiga tokoh itu ternyata hanya  begitu saja.  Pada  saat  ia  me mutus kan hendak balas menyerang, tiba-tiba didengarnya Pek Co-gi mengge mbor keras dan menyerbu. Seketika  Siu- lam rasakan tubuhnya diserang oleh angin yang bertenaga kuat sekali sehingga ia tersurut mundur tiga langkah dan sepasang pedangnyapun hampir lepas jatuh.

Me mang Pek Co-gi telah me mbuka serangannya dengan ilmu Bu- ing-sin-kun, lalu ia susul sekaligus dengan  e mpat buah serangan.

Untung sebelumnya Siu- lam sudah kenal akan kelihayan ilmu pukulan Bu- ing-s in-kun. Ia sudah berjaga-jaga. Maka begitu merasa angin pukulan itu menyambar, buru-buru ia mundur.

Tapi sekalipun begitu tak urung darahnya bergolak keras dan ia menderita luka dala m.  Buru-buru  ia  salurka lwekangnya untuk menyembuhkan luka itu. Ia tak mau mengunjuk terluka dalam. Ia bersikap tenang seperti tak terjadi sesuatu. Ia sadar, kalau musuh mengetahui ia terluka, mereka tentu akan menyerang sehebat-hebatnya.

Tapi lain bencana datang menyusul. Ialah dari si nona baju merah yang sudah melesat ke hadapannya. Dan secepat  ia pula kebutkan hud-tim ke tangan Siu-la m. Ia hendak merebut sepasang pedang pusaka pe muda itu.

Tapi Siu- lam tak mau mudah begitu saja.

Pedang di tangan kiri digerakkan dengan jurus Pek-hun-jut- yu, menangkis kebutan si nona. Nona baju merah itu ketawa melengking: “Ih, kau sudah terluka dalam. Jika tak lekas menyalurkan tenaga,  luka  itu pasti menge mbang dan jiwa mu pasti takkan tertolong! Sekalipun kau pura-pura me maksa diri menghadapi aku, tapi keadaanmu sudah payah. Dalam tiga puluh jurus saja  kau pasti sudah dapat kurubuhkan!”

Si nona menutup bicara dengan menghujani serangan- serangan. Siu-la m terkejut karena nona itu sudah melihat keadaannya. Diam- diam ia me mutuskan untuk menurunkan tangan ganas. Ia sadar apabila sampa i jatuh ke tangan musuh, nona itu pasti takkan menga mpuni jiwanya.

Sehabis menghindar dari tiga buah serangan pedang si nona, Siu-la m berkata: “Karena aku pernah berte mu dengan orang tuamu, maka aku tak sa mpai hati me lukaimu. Tetapi mengapa engkau terus- menerus mengejar aku saja? Apa engkau kira aku benar-benar takut kepada mu?”

Yang dima ksud dengan orang tua si nona baju merah itu ialah orang tua she Hui yang pernah menolong jiwanya ketika ia terhambur keluar dari perut gunung te mpo hari.

Nona baju merah itu tertawa melengking: “Jangan ngaco belo tak keruan! Ayah bundaku sudah meninggal dan aku dirawat oleh suhu. Jika engkau mau ketemu ayah bundaku, pergilah ke akhirat!” ia menutup kata-katanya dengan  tiga buah serangan pedang.

Dengan pedang Pek- kau-kia m, Siu-la m gunakan jurus Yap- hwe-soh-thian atau api me mbakar langit untuk menahan ketiga serangan itu sedang Ceng-liong- kiam di tangan kiri balas menyerang dengan jurus Se-lay-co-im. Ilmu pedang Se- lay-co-im ini ajaran dari Kak Bong taysu. Ganas tapi mengandung welas asih.

Nona baju merah itu terkejut. Walaupun dalam taburan sinar pedang yang berha mburan dari delapan penjuru itu masih terdapat beberapa lubang kelemahan, tetapi ia tak tahu cara me mecahkannya. Terpaksa ia mundur….

Tiba-tiba Sin-to Lo Kun mengge mbor keras dan menabas dengan golok kim-pwe-tonya.

Ilmu pedang Tat- mo-kia m dari Siau-lim-si, sekalipun merupakan ilmu pedang ist imewa, tetapi apabila akan menggunakan harus disertai dengan pengerahan tenaga dalam. Dalam hal ini yang merupakan halangan bagi Siu- la m. Karena dadanya habis terkena pukulan tanpa bayangan dari Pek Co-gi tadi, ia masih belum dapat menekan darahnya yang bergolak-golak. Maka sewaktu menggunakan  ilmu pedang Tat-mo- kia m, napasnya terengah-engah. Terhadap tabasan golok Lo Kun,  ia tidak berani menangkis tetapi loncat menghindar.

“Sekalipun aku me maka i sepasang pedang pusaka dan mengerti ilmu pedang Tat-mo- kia m, tetapi karena dadaku terluka pukulan Bu-ing-s in- kun, perlulah aku harus beristirahat dulu. Apalagi kalau Pek Co-gi ikut menyerang lagi, tentu repot me layani,” akhirnya ia menga mbil keputusan.

Maka begitu me lesat ke samping, tanpa me mberi kesempatan musuh menyerangnya lagi, ia terus lari ke dalam gereja.

“Kejar, dia sudah terluka dala m…!” teriak si nona baju merah.

Kawanan orang gagah itu rupanya taat sekali kepada si nona baju merah. Segera mereka mengejar.

Dengan paksakan diri, Siu-la m lari ke arah gereja. Untung dalam beberapa kejap ia dapat mencapai pintu gereja. Empat orang paderi berjubah putih segera keluar menya mbut.

“Hadanglah orang-orang yang mengejarku,” kata Siu- lam seraya terus menerobos ke dala m. Karena sudah kenal akan anak muda itu, kee mpat paderi itupun me mberi jalan. Ke mudian mereka bersiap menyambut kawanan pengejar itu.

Baru beberapa langkah jauhnya, tiba-tiba Siu-la m teringat bahwa Pek Co-gi dengan Bu-ing-s in-kunnya itu merupakan bahaya besar. Dikuatirkan kee mpat paderi itu tak kuat menghadapinya. Segera ia berhenti dan berpaling: “Harap siansu berempat berhati-hati menjaga  pukulan Bu-ing-sin- kun…” tiba-tiba ia teringat bahwa Pek Co-gi itu berasal dari daerah Tibet, kemungkinan kee mpat paderi itu tersebut belum kenal ilmu pukulan ist imewa dari jago Tibet itu.  Maka segera ia me mberi penjelasan lagi:  “Bu- ing-s in-kun adalah ilmu pukulan istimewa. Pukulan itu tiada  mengeluarkan  suara.  Baru ketahuan setelah mengenai sang korban. Dia seorang gemuk pendek, harap hati-hati dan awasi gerakan tangannya….”

Belum selesai ia me mberi penjelasan tiba-tiba seorang paderi yang berada di sebelah kiri terdengar mendesah tertahan dan terhuyung tiga langkah ke belakang….

Ternyata sewaktu Siu-la m me mberi penjelasan, paderi itu sudah terkena pukulan Bu-ing-sin- kun dari Pek Co-gi.

Siu-la m tergetar hatinya: “Jika aku me mikir kan kepentingan diriku sendiri, keempat  paderi ini tentu hancur di tangan mereka. Sudah tentu aku malu terhadap Tay Ih siansu!”

Dengan pertimbangan itu, ia tak jadi masuk ke dalam tetapi me langkah keluar lagi. Ia dia m-dia m kerahkan tenaga dalam menanti kedatangan musuh.

Saat itu pertempuran sudah pecah. Kecuali paderi yang belum-belum sudah terkena pukulan Bu-ing-s in-kun tadi, yang tiga orang segera mengadakan perlawanan.

Sam- kia m- it-pit Tio Hong-kwat, Kiu-s ing-tui- hun Kau Cin- hong dan Sin-to Lo Kun, walaupun menyerang hebat tetapi ketiga paderi dengan senjata hong-pian-jan dan thiat-siang- ciang itu telah me mber i perlawanan yang gigih.

Melihat itu si nona baju merah me mperhitungkan bahwa sekalipun bertempur sa mpai seratus jurus, tetap takkan ada kesudahannya. Ia mulai gelisah menyaksikan pertempuran seru. Begitu seru sehingga sukar dibedakan  mana  lawan mana kawan. Dalam keadaan begitu Pek Co-gi pun  tak sempat melancar kan pukulan sakti Bu- ing-sin- kun lagi.

Tak dapat lagi si nona baju merah itu  menahan  diri.  Segera ia melesat menyerbu ke tengah pertempuran. Dengan pedang ia menusuk dada seorang paderi dan hud-tim  di tangan kiri mengebut lengan seorang paderi di sebelah kiri.

Desakan nona itu me maksa kedua paderi Siau-lim-si tadi mundur selangkah.

Me mang ilmu silat dari Beng-gak me mpunyai aliran tersendiri. Selain jurus-jurusnya yang aneh, pun  sangat ganas. Jauh bedanya dengan ilmu silat yang kebanyakan. Begitu nona baju merah  itu terjun dalam perte mpuran, situasinya segera berubah. Ketiga paderi itu bingung tak keruan menghadapi serangan si nona yang menggunakan jurus-jurus serba aneh dan ganas.

Saat itu Siu-lam sudah se mpat menyalur kan lwekangnya.

Melihat ketiga paderi terdesak, ia segera loncat me mbantu.

Me mang sejak makan kuwih Cwan-hio ng-kau dari paderi Kak Bong dan disaluri tenaga sakti dari paderi itu, ia merasa terdapat perubahan dalam tubuhnya. Maka dalam waktu yang singkat saja, ia sudah pulih tenaganya.

Tiba-tiba terdengar suara doa yang nyaring. Tay Hi siansu dengan diir ingi dua belas ko-chiu Siau- lim-s i berlari- lari mendatangi.

Dia m-dia m Siu-la m menima ng. Dalam keadaan berbahaya seperti saat itu, tak perlulah kiranya harus me megang tata susila kaum persilatan lagi. Apalagi menghadapi gero mbolan Beng-gak yang ganas. Biarlah ro mbo ngan paderi Siau-lim-si itu segera maju sere mpak menghanta m musuh.

Dalam pada menimang itu, Siu-la mpun sudah lancarkan tusukan dengan pedang Ceng- liong- kiam ke arah si nona.

Setiap kali beradu senjata dengan Siu-lam, nona itu merasa bahwa pemuda itu sekarang berta mbah pesat sekali lwekangnya. Dia m-dia m nona itu tak berani me mandang ringan. Sedapat mungkin ia menghindari benturan senjata. Tetapi Siu- lam agaknya sengaja mencar i kese mpatan untuk adu kekerasan dengan nona itu.

Tring, tring, tring, dengan sebuah gerak yang secepat kilat menya mbar, Siu-la m sekaligus menangkis tiga buah tusukan si nona yag dilancarkan kepada ketiga paderi.

Tiba-tiba Pek Co-gi mengge mbor keras dan serentak menerjang Siu- la m. Dengan jurus Tio-to-ni-liong atau Menjolok naga kuning, tinjunya menghuja m ke dada Siu- la m.

Jago gendut dari Tibet itu me miliki tenaga yang kuat sekali. Setiap pukulannya tentu menimbulkan  deru angin yang menyeramkan.

Yang paling dikuatirkan Siu- lam hanyalah pukulan Bu- ing- sin-kun. Karena pukulan yang tak bersuara itu sukar untuk dijaga. Maka ia harus cepat-cepat  menundukkan  jago Tibet itu lebih dulu. Begitu menghindar, sambil berputar ia menyerang sekuat-kuatnya. 

Setelah terlepas dari serangan Siu- la m, kegagahan nona baju merah itu mulai ta mpak lagi. Sekaligus ia lancarkan tiga buah serangan pedang kepada ketiga paderi sehingga paderi- paderi itu kelabakan dibuatnya.

Untunglah pada saat itu Tay Hi siansu dan rombongannya sudah tiba. Mereka segera menyerbut nona baju merah itu. Tay Hi siansu merupa kan salah seorang paderi Siau- lim-si yang tinggi kedudukannya. Ilmu kesaktiannya pun amat disegani. Ia me mutar tongkat sian-cian laksana hujan mencurah. Beberapa jurus kemudian, nona baju merah itu merasa tertekan. Buru-buru ia curahkan perhatiannya  untuk me layani Tay Hi.

Karena terlepas dari tekanan si nona, kini barisan paderi Siau-lim-si mulai tersusun lagi.

Pertempuran antara Siu-la m dan Pek Co-gi berlangsung seru sekali. Dengan sepasang pedang pusaka dan ilmu permainan pedang yang beraneka coraknya,  Siu-lam  dapat me ma ksa jago Tibet kelabakan setengah mati.

Dalam  beberapa  kejap  saja,   kedua   jago   itu   sudah me langsungkan pertempuran sampai lebih  dari duapuluh jurus. Tiba-tiba Siu-la m merasa bahwa tenaga dala mnya sekarang jauh lebih maju dari dulu. Setelah sempat mengawasi    bahwa    situasi    pertempuran     tidak     lagi me mbahayakan kedudukan Siau- lim-si, mulailah ia lancarkan ilmu pedang ajaran kakek dari Hian-song, ialah ilmu sakti Jiuw-toh-co-hua. Pedang Ceng-liong-kia m berha mburan laksana hujan mencurah dari langit.

Pek Co-gi tergetar dan loncat mundur. Ilmu pedang yang belum lengkap itu, tetap tiada tandingannya.

Siu-la m me mburu terus. Dia tak me mberi kese mpatan pada Pek Co-gi lagi. Begitu loncat terus menyerangnya gencar.

Dalam keadaan terdesak, Pek Co-gi menghantam sekuat- kuatnya dan tangan kiri gunakan ilmu Kim-na-chiu untuk mencengkeram lengan Siu-la m.

Ceng-lion-kia m dima inkan Siu- lam dalam jurus It-chiu-gin- hoa. Dan untuk menghindar i cengkera man musuh, ia miringkan tubuh ke sa mping. Ke mudian Pek-kau- kiam ditaburkan dalam jurus Sin- liong-sam-s ian. Gerakan yang hebat dari anak muda itu kemba li me maksa jago Tibet itu mundur dua langkah.

Siu-la m tak mau menyia-nyiakan kese mpatan. Pedang ditaburkan dalam jurus Jiu-toh-co-hua dan mundur lah Pek Co- gi beberapa langkah.

Hanya dalam beberapa kejap saja, Siu- lam telah me maksa Pek Co-gi mundur sampai tiga to mbak jauhnya. Dalam kesempatan yang luang, ia berkata dengan perlahan kepada jago Tibet itu:

“Harap lo-cianpwe mundur ke balik gunung itu, wanpwe hendak bicara sedikit!”

Sambil lancarkan dua buah pukulan, Pek Co-gi berseru: “Mau bilang apa, lekas katakanlah sekarang saja!”

Kuatir jago Tibet itu  akan  mendapat  kesempatan  untuk me lancarkan pukulan Bu- ing-sin-kun, Siu-la m mendesaknya lagi dengan hamburan pedang dan bicara lagi: “Maaf, Bu-ing- sin-kun me mang sukar dijaga, maka wanpwe terpaksa mendesak begini… Tapi di sini bukan te mpat yang cocok  untuk berbicara,” katanya setelah berhenti sejenak: “Jika lo- cianpwe percaya, harap lo-cianpwe suka mundur beberapa tombak lagi.”

Dalam pada berbicara Siu-la m tak hentinya me mpergencar serangan pedangnya untuk mendesak jago Tibet itu supaya mundur.

Rupanya Pek Co-gi mau mendengar permintaan Siu-la m mundur beberapa langkah.

Tiba-tiba Siu-la m kendorkan serangan pedangnya dan sambil tersenyum ia berkata: “Lo-cianpwe, jika lo-cianpwe merasa sulit meluluskan per mintaan wanpwe, baiklah kita bicara saja sa mbil berte mpur, setuju?”

“Bicaralah!” sahut Pek Co-gi. Siu-la m me nghela napas dan berkata dengan rawan: “Lo- cianpwe seorang yang berilmu sakti dan harum na manya. Tapi mengapa lo-cianpwe  rela  me njadi  kaki  tangan gerombo lan Beng- gak? Wanpwe benar-benar tak me ngerti!”

Jago Tibet menatap Siu-la m. Tiba-tiba ia menyerang dengan kedua tangannya. Sekaligus ia lancarkan lima jurus serangan: “Itu urusanku pribadi, orang  lain  tak  berhak menca mpur i!”

Siu-la m taburkan tiga jurus taburan pedang, sahutnya: “Sudah tentu orang lain tak berhak menca mpur i urusan lo- cianpwe.  Tapi   jelas   bahwa  gero mbolan   Beng-gak   itu me musuhi dunia persilatan. Dengan me mbantu Beng-gak berarti me musuhi segenap kaum persilatan di Tiong-goan!”

Agaknya Pek Co-gi tertarik oleh ucapan itu. Kedua tangannya mula i kendor.

Anak muda itu ke mbali menghe la napas. Katanya pula: “Dari daerah Tibet yang jauh, lo-cianpwe me mer lukan menghadiri perte muan orang gagah di gunung Thay-san. Dengan   pukulan   Bu-ing-s in-kun,   lo-cianpwe   telah mengge mpar kan para orang gagah. Pendirian dan sikap lo- cianpwe yang bersedia menca mpuri pergolakan dunia persilatan di Tiong-goan itu, benar-benar suatu tindakan yang luhur perwira. Betapa keji dan ganas gero mbolan Beng-gak menga lahkan ro mbongan orang gagah dengan siasat licik, kiranya lo-cianpwe tentu sudah mengetahui sendiri.”

Dalam pada berbicara, Siu-la m pun me ngimbangi gerakan Pek Co-gi dengan mengendorkan serangan pedangnya.

“Walaupun dari daerah Tibet, tapi lo-cianpwe sudah kenal semua kaum persilatan di Tiong-goan. Tujuan kaum  persilatan di manapun pasti sa ma, yakni me mbela keadilan dan kebenaran serta  membas mi  kejahatan  dan  kelaliman. Me mbantu gerombo lan jahat, walaupun dapat menguasai dunia persilatan, tapi hal itu bertentangan dengan hati nurani kita….”

“Dengan kepandaian yang lo-cianpwe miliki, lo-cianpwe tentu mendapat sambutan dan perindahan tinggi dari kaum persilatan Tiong-goan. Lo-cianpwe dapat me mbentuk sebuah partai di sini untuk bersa ma-sa ma lain partai, menentra mkan dunia persilatan. Dan dalam kesempatan, lo-cianpwe tentu dapat memperebutkan kedudukan pemimpin partai persilatan Tiong-goan. Bukankah itu suatu cita-cita luhur?  Perlu apa lo- cianpwe berhamba kepada orang lain? Bukankah lo-cianpwe sendiri sudah cukup untuk menjadi pendiri dari sebuah partai persilatan? Ucapan wanpwe ini keluar dari hati  nurani wanpwe, mohon lo-cianpwe suka me mpertimbangkan….”

Tiba-tiba Pek Co-gi hentikan serangannya.

“Benar,” sahutnya, “siapa tak tahu diriku ini, masakan mau menjadi kaki tangan orang….”

“Benar, benar,” seru Siu-lam,  “apabila lo-cianpwe menyadari   kesalahan   langkah   itu,    wanpwe    bersedia me mbawa….”

Belum Siu-la m selesai berkata, tiba-tiba Pek Co-gi teringat sesuatu yang mengerikan. Tubuhnya  agak  gemetar. Serentak mengge mbor keras, ia ayunkan pukulan lagi.

Siu-la m heran mengapa pada saat jago Tibet  hampir menyadari kesalahannya, tiba-tiba dia merubah  haluan dan me mukulnya lagi. Terpaksa Siu-la m lo mpat mundur dan berseru:

“Lo-cianpwe….”

Tetapi Pek Co-gi seperti orang limbung.  Dia  malah  gunakan sepasang tangannya untuk me mukul. Karena Siu- lam tak me nduga dan tak bersiap dulu, walau me mpunyai sepasang pedang mustika, tapi ia benar-benar terdesak dan tak ma mpu menggunakannya. Hanya beberapa kejap saja, Siu-lam sudah  terdesak mundur sa mpai di te mpat semula mere ka bertempur tadi.

Tetapi si nona baju merah rupanya curiga. Berpaling ke  arah Pek Co-gi, ia berseru: “Hm… kalian bicara asyik sekali.”

Pek Co-gi terkesiap. Dan pukulannyapun agak kendor. Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Siu-la m untuk menyerang dengan pedangnya.

Kali ini Siu- lam tidak mau menga lah lagi. Sepasang pedangnya  dike mbangkan  benar-benar.   Oleh  karena  dia me miliki berbagai ilmu pedang yang berbeda sumbernya, maka serangannyapun penuh dengan variasi yang aneh-aneh sehingga Pek Co-gi dipaksa mundur lagi.

Sambil menangkis, dia m-dia m Pek Co-gi heran atas permainan ilmu pedang lawan. Tanpa suatu urut-urutan jurus ilmu pedang tertentu dan sepasang pedangnya menerbitkan hawa dingin yang menegakkan bulu ro ma. Jika terus menerus bertempur melawannya, ia kuatir tentu akan menderita kerugian.

“Ah, jika tidak aku dahului menurunkan pukulan maut, aku sendirilah yang akan celaka,” dia m-dia m jago Tibet itu telah menga mbil keputusan.

Untuk mela ksanakan keputusan itu, ia kerahkan tenaga dalam sa mbil  loncat  ke  sa mping.  Tetapi  Siu- lam  sudah me mpunyai rencana juga. Ia tak mau me mber i kese mpatan jago Tibet itu dapat melepaskan pukulan Bu- ing-s in-kunnya.  Ia loncat me mbayangi Pek Co-gi.

Tiba-tiba Pek Co-gi berbalik tubuh dan ayunkan tangan kanannya. Karena sudah berulang kali menderita pukulan Bu- ing-sin- kun, Siu- lam sangat berhati-hati sekali. Begitu melihat orang mengangkat tangannya, diapun cepat-cepat menyelinap ke sa mping. Tapi ternyata jago Tibet itu menggunakan siasat. Tamparannya itu hanyalah gerakan hampa. Begitu Siu-la m berdiri di sa mping, barulah ia lepaskan pukulan  yang sesungguhnya.

Bu-ing-s in-kun merupakan pukulan istimewa yang sa ma sekali tak mengeluar kan suara.  Pukulan  itu  mengandung gelo mbang halus dari tenaga lwekang lunak.

Betapapun Siu-la m sudah berlaku hati-hati sekali, tetapi dia tak menyangka sa ma sekali kalau Pek Co-gi akan menyiasatinya. Begitu melihat Pek Co-gi mengha mpir i, segera ia julurkan Ceng- liong- kiam untuk menahan lawan. Tetapi sekonyong-konyong ia rasakan dirinya terlanda oleh arus tenaga yang lembut.  Bukan  ma in terkejutnya dia.  Buru-buru ia loncat ke belakang.

Pukulan Bu- ing-sin- kun yang dilancarkan Pek Co-gi itu menggunakan delapan bagian tenaga lwekangnya. Hebatnya bukan kepalang. Sekalipun Siu-la m sudah me mpunyai pengalaman untuk menghindari pukulan itu, tetapi tak urung darah dalam tubuh bergolak keras, mata berkunang-kunang.

Secepat kilat Pek Co-gi kibaskan tangan kanannya dan tahu-tahu sudah mencengkera m siku lengan anak muda itu. Tring…! Siu- lam rasakan tangan kirinya kese mutan dan terlepaslah pedang Ceng-liong-kia m dari cekalannya.

Pedang Ceng-liong- kiam berpindah tangan ke tangan Pek Co-gi.

Siu-la m telah me nderita luka dalam yang parah. Tetapi kesadaran pikirannya masih terang. Pedang  Pek-kau-kia m yang dicekal di tangan kanannya itu segera ditaburkan di dalam jurus Se-lay-co-im, yakni salah satu jurus istimewa dari ilmu pedang Tat-mo- kia m.

Seketika Pek Co-gi terkurung dalam lingkaran sinar pedang. Karena ia maju merebut pedang Ceng-liong- kiam tadi, maka jaraknya dekat sekali dengan Siu-la m. Dengan begitu ia  tak ma mpu keluar lagi dari kurungan sinar pedang si anak muda.

Dalam keadaan itu Pek Co-gi me njadi kalap. Dia hendak mati- matian me mbobolkan sinar pedang yang mengepungna. Dengan sekuat tenaga ia ayunkan pedang rampasannya untuk menghanta mkan sinar pedang yang mengurung  di atas kepalanya.

Tat-mo- kiam sekalipun luar biasa dahsyatnya, tetapi permainan  pedang  itu  masih   mengandung   gerak   yang me mber i kelonggaran kepada musuh. Memang ketika Tat Mo- cou, cikal bakal pendiri Siua-lim-si menciptakan ilmu pedang tersebut, dia telah memperhitungkan tentang ke mungkinan yang akan dialami musuh dalam menghadapi taburan Tat-mo- kiam itu. Sengaja ia menyelipkan suatu gerak yang kendor dalam setiap jurus perubahan ilmu pedang  itu.  Maksudnya tak lain supaya orang se mpat mengundur kan diri.

Tetapi ternyata Pek Co-gi me milih adu kekerasan. Ia tahu anak muda itu tentu sudah terluka dalam sehingga tenaganya tentu berkurang. Tetapi apa yang terjadi benar-benar tak diduganya.

Ketika sepasang pedang itu saling beradu keras, Pek Co-gi terhuyung-huyung mundur dengan tubuh berlumuran darah. Itulah akibatnya dia berani mengadu kekerasan. Tat-mo-kia m me mber i kelonggaran tetapi dia malah me mbentur. Hasilnya, tubuhnya telah berhias tiga buah tusukan pedang.

Tetapi keadaan Siu- lam sendiripun tak kurang menyedihkan. Sesungguhnya akibat pukulan Bu- ing-sin- kun tadi ia sudah terluka dalam dan tenaganya berkurang sekali. Adalah karena dirangsang ke marahan pedangnya direbut itu, maka ia menyerang Pek Co-gi dengan sisa tenaganya yang masih. Setelah berhasil melukai  orang  darahnya  meluap keluar dari mulutnya. Si nona baju merah yang tengah bertempur me lawan Tay Hi siansu, terkejut ketika mendengar ge mboran Siu- la m. Cepat ia berpaling. Ketika mena mpa k Pek Co-gi sudah berhasil merebut pedang Ceng-liong- kia m, girangnya bukan kepalang.

“Lekas, berikan pedang itu kepadaku!” serunya.

Karena perhatiannya tertuju pada pedang yang direbut Pek Co-gi, ia agak la mbat. Dan keayalan itu cukup me mberi kesempatan Tay Hi siansu untuk melancarkan serangan tongkat yang dahsyat. Nona itu kelabakan sekali.

Sedang Pek Co-gi pun sudah mencekal pedang Ceng-liong- kiam tapi karena tiga tusukan dari pedang Siu-la m itu cukup parah, darah banyak keluar, ia harus lekas- lekas menyalurkan lwekang untuk menghentikannya. Dengan begitu ia tak dapat me lancarkan pukulan Bu-ing-s in-kun lagi. Jika saja saat itu ia masih punya ke ma mpuan untuk me nyusulkan sebuah pukulan Bu-ing-s in-kun lagi, dapat dipastikan Siu- lam sudah habis riwayatnya.

Pertempuran kedua jago itu benar-benar merupakan pertempuran yang berakibat keduanya menderita luka parah.

Melihat Siu- lam luka parah, empat paderi Siau-lim-s i segera lari mengha mpiri dan menggotongnya ke dalam gereja. Siu- lam dipanggul oleh salah seorang paderi,  yang  seorang lagi me lindunginya. Sedang yang dua, segera menyerbu Pek Co-gi untuk merebut pedang Ceng- liong- kia m.

Si nona baju merah sekalipun terdesak dalam taburan tongkat Tay Hi siansu, tapi setitik pun ia tak ma u melepaskan keinginannya untuk me nguasai pedang Ceng-liong- kia m.

Ketika melihat  dua orang paderi lari mengha mpiri  ke tempat Pek Co-gi yang tak berkutik, nona itu menjadi gugup. Tiba-tiba ia lancarkan jurus Cu-pit Tia m-hun.  Ujung pedangnya berubah menjadi tiga bintik sinar perak yang me magut sikut lengan Tay Hi siansu. Jurus itu sangat ganas sekali dan Tay Hi pun terpaksa mundur.

Begitu Tay Hi mundur, secepat kilat nona itu loncat ke samping dan kebutkan hud-timnya ke arah paderi yang menerjang dari sa mping kiri Pek Co-gi. Sedang dengan pedang ia menusuk paderi yang menyerang dari sa mping kanan. Pedang dan hud-tim bergerak luar biasa cepatnya, tepat pada saat kedua paderi itu hantamkan tongkatnya ke arah Pek Co-gi.

Jika kedua paderi itu tak menarik tongkatnya, Pek Co-gi tentu terluka. Tetapi kedua paderi itupun pasti terluka juga oleh si nona baju merah. Kedua paderi itu terpaksa mundur.

Si nona me mbuat suatu gerakan yang luar biasa. Ia timpukkan pedangnya ke arah paderi di sebelah kanan,  sedang hud-tim dikebutkan untuk menangkis serangan paderi di sebelah kiri. Dan tangan kanan yang sudah tak mencekal  pedang itu cepat menya mbar pedang Ceng-liong- kiam di tangan Pek Co-gi.

Meskipun jago Tibet itu sedang menyalur kan tenaga untuk menghentikan pendarahannya, tetapi ilmu kepandaiannya masih belum punah. Begitu tangan si nona menyentuh tangannya, serentak jago Tibet itu kibaskan pedangnya menusuk!

Si nona terkejut sekali. Buru-buru ia loncat ke sa mping dan menjer it: “Pek Co-gi, engkau gila. Akulah!”

Betapapun cepatnya ia menghindar tetapi tak urung betisnya termakan pedang sehingga mengucurkan darah….

Teriakan itu telah menyadarkan Pek Co-gi. Ia terkesiap karena kekeliruannya itu.

Tring, terdengar senjata  beradu keras.  Timpukan  pedang si nona baju merah tadi, ditangkis oleh tongkat si paderi. Kemudian paderi itu menyerbunya. “Lekas berikan pedang itu!” teriak si nona.

Pek Co-gi agak berubah wajahnya tetapi iapun segera menyerahkan pedang pusaka itu.

Sesaat nona itu menerima pedang Ceng-liong-kia m, diapun sudah diserang oleh Tay Hi siansu dan kedua paderi. Tay Hi telah   menyerangnya   dengan    jurus    Ngo-ting-biat-san, me mbe lah kepala si nona.

Paderi  tua  yang  sabar  itu, agaknya  telah   dirangsang ke marahan karena melihat keadaan gereja Siau-lim-si yang kacau balau. Pukulannya itu dilancarkan dengan sepenuh tenaga.

Melihat itu Pek Co-gi mengge mbor keras. Dua kali ia lancarkan pukulan Bu-ing-s in-kun. Kedua paderi yang menyerang dari samping itu segera rasakan dadanya tergetar, maca m orang yang dihantam palu besi. Darah bergolak keras dan orangnyapun segera terhuyung mundur tiga langkah. Tongkat mereka pun terlepas jatuh.

Nona baju merah itu me mang me miliki kepandaian silat yang amat tinggi. Sekonyong-ko nyong ia berputar tubuh mengisar dua langkah ke sa mping, la lu menabas tongkat Tay Hi.

Sesungguhnya ia sayang sekali akan pedang pusaka itu. Tetapi dalam detik-detik berbahaya ia tak menghiraukan suatu apa lagi.

Tring, terdengar dering melengking nyaring.  Tongkat  Tay Hi terkisar ke sa mping, ia loncat mundur dan nona itupun mengisar ke samping.

Ketika me meriksa, ternyata tongkat Tay Hi kutung separuh. Demikian nona itu. Ia juga memeriksa pedangnya. Tetapi ternyata pedang itu tak kurang suatu apa. Girangnya bukan kepalang sehingga luka pada betisnya tadi tak dirasakan sama sekali. Dengan me me kik nyaring, ia menyerang Tay Hi lagi. Sehabis melepaskan dua buah  pukulan  Bu-ing-s in-kun, me mang Pek Co-gi telah dapat me lukai kedua paderi Siau-lim- si. Tetapi dia sendiri pun ma kin payah keadaannya. Pendarahannya yang sudah hampir berhenti ke mbali merekah dan mengucur darah lagi….

Sementara itu karena melihat kedua kawannya terluka, beberapa paderi yang menjaga pintu gereja segera menyerbu. Empat orang paderi dengan senjata masing- masing segera menyerbu.

Tetapi setelah me miliki pedang pusaka, nona baju  merah itu ibarat harimau tumbuh sayap. Serangannya tambah sadis. Sedang Tay Hi harus berhati-hati jangan sa mpa i tongkatnya terpapas lagi.

Sesungguhnya kepandaian kedua orang itu berimbang. Hanya karena si nona lebih unggul dalam senjata, Tay Hi agak terpancang gerakannya. Serangan si nona me mbuat kelabakan. Apalagi jurus-jurus per mainan pedang si nona itu me mang aneh maka dengan cepat ia dapat menang angin. Dalam lima jurus saja, paderi Siau-lim-s i itu sudah kelabakan setengah mati.

Kiu-s ing-tui-hun Kau Cin-hong, Sa m-kia m-it-pit Tio Hong- kwat, Sin-to Lo Kun dan Tui-hong-tiau Ngo Cong-gi tengah bertempur seru dengan rombongan paderi Siau- lim-s i. Walaupun tahu keadaan Pek Co-gi yang payah itu, tapi mereka tak dapat menolong.

Sekonyong-konyong terdengar lengking yang nyaring. Sesosok tubuh me layang tiba. Empat paderi yang menyerang Pek Co-gi telah mencelat senjatanya.

Kawanan paderi itu terpaksa mundur. Ketika menga mati ternyata yang muncul itu seorang dara baju biru. Tangan kirinya menceka l sebatang pedang, tangan kanan sebuah senjata aneh semacam tanduk rusa. Nona itu tegak berdiri di samping Pek Co-gi. “Berhenti!” teriaknya. Dan si nona baju merahlah yang pertama-tama menar ik senjatanya terus loncat mundur.

Kau Cin-hong, Tio Hong-kwat, Ngo Cong-gi dan Lo Kun, setelah melancarkan dua kali serangan dahsyat, pun lalu loncat mundur.

Nona baju biru itu sejenak sapukan matanya me mandang ke sekeliling. Serunya dengan nada dingin: “Siapakah yang menjadi pimpinan ro mbongan paderi itu?”

Suaranya garang, sikapnya angkuh sekali.

Tay Hi mendengus dingin: “Anak wanita mas ih begitu muda. J ika ada urusan apa-apa, silahkan bicara pada loni!”

Tay Hi, paderi yang penuh toleransi dan kesabaran, karena menyaksikan keadaan gereja diobrak-abrik orang Beng-gak, me mbenci sekali kepada setiap anak buah Beng-gak.

Nona baju biru itu tersenyum, serunya: “Di antara sekian banyak paderi yang berada di sini, me mang engkaulah yang paling tua. Sebenarnya hal itu sudah kuketahui dan tak perlu kutanyakan lagi!”

Tay Hi menukas: “Sebaiknya li-s icu jangan bicara yang tiada berguna….”
*** ***
Note 19 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Cersil Hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Wanita iblis Jilid 25"

Post a Comment

close