Si Rase Kumala Bab 13 : Hasrat Hati dan Aturan Perguruan

Mode Malam
13. Hasrat Hati dan Aturan Perguruan

Habis makan, Hui-yan tetap belum bangun. Walaupun semalam tak tidur, tapi karena memiliki lwekang tinggi, maka dengan beristirahat sebentar saja kedua pemuda itupun sudah pulih lagi kesegarannya.

Waktu berbangkit, keduanya dapatkan matahari sudah condong kebarat, namun anehnya Hui-yan masih tetap belum tersadar. Sudah tentu mereka menjadi heran.

Syukur pada saat itu To Kong-ong datang. Baru Siau Ih hendak menanyakan, tuan rumah itu sudah menerangkan kalau nona itu tak kena suatu apa hanya karena disebabkan obat tengah bekerja saja.

Tepat dia berkata, Hui-yan tiba-tiba bangun. To Kong-ong memberi isyarat supaya ia jangan bicara, kemudian dia memeriksa pergelangan tangan nona itu.

„Luka nona sudah banyak sembuhnya. Dasar lwekang nona ternyata di luar dugaan losiu. Dengan begini tak sampai sepuluh hari, tentu akan sembuh" kata si tabib To itu. Kemudian dia mengatakan nona itu boleh makan, setengah jam kemudian baru minum obat lagi.

Siau Ih buru-buru lari kedapur dan membawa sepiring bubur panas serta dua mangkok sayur. Melihat perhatian orang, Hui-yan tergerak hatinya.

To Kong-ong minta dari Siau Ih dua butir pil siok-beng-tan diberikan pada Hui-yan. Habis makan obat, nona itu disuruh menyalurkan hawa dalam lagi.

Dalam pada Hui-yan duduk pula menyalurkan lwekang, berkata lah To Kong-ong pada Liong Go: „Dahulu engkongmu adalah kawanku bermain catur, tentunya kaupun pandai permainan itu. Untuk mengisi kesenggangan, mau tidak kau menemani aku bermain catur?"

Liong Go serta merta mengiakan.

Siau Ih mengatakan sama sekali tak dapat, tapi suka juga melihatnya. Mendengar itu To Kong-ong tertawa dan segera ajak mereka ke ruang belajar. Setelah mengambil papan dan biji-biji catur, dia menuju ke batu altar yang terletak di luar halaman.

Selama Liong Go bermain catur dengan tuan rumah, Siau Ih duduk melihat di sebelahnya. Rembulan menjulang tinggi, barulah permainan itu selesai, dengan kesudahan Liong Go kalah. Tampaknya To Kong-ong gembira benar. Siau Ih sibuk mengambil arak dan sayuran. 

Begitulah semalam itu dilewati dengan main catur, minum arak dan mengobrol kebarat ketimur. Berturut-turut tiga malam, mereka berbuat begitu. Dalam pada itu, keadaan Hui- yan makin bertambah baik.

Malam itu selagi Hui-yan duduk menyalurkan lwekang, kembali To Kong-ong ajak Liong Go bermain catur lagi. Siau Ih tetap menemani disamping. Ronde pertama berakhir, To Kong-ong tertawa: „Ai, buyung, kau ini benar-benar tak berguna, seranganmu kurang agressip. Siau lote, kau saja yang maju ya?”

Selama tiga hari menonton, Siau Ih sudah tahu-tahu cara jalan-jalannya. Diajak tuan rumah, tanpa sungkan lagi dia terus menerimanya. Dengan kecerdasan otaknya, walaupun kalah tapi Siau Ih dapat memberi perlawanan yang gigih.

„Siau lote, selama tiga hari baru inilah yang paling menggembirakan, ai, kau benar-benar lihay!" To Kong-ong sampai-sampai memujinya.

Siau Ih pun tambah bersemangat. Begitulah sampai pada hari ke lima, disamping Hui-yan sudah banyak sembuh dan boleh turun pembaringan, permainan catur Siau Ih tambah maju pesat. Dari kalah enam biji catur, kini dia hanya kalah dua biji saja.

Semakin anak muda itu lihay, makin besar kegembiraan To Kong-ong. Boleh dikata kecuali hanya berhenti makan dan tidur, dia tentu ajak anak muda itu bermain catur.

Kebalikannya kini Liong Go malah menjadi penontonnya. Siau Ih bo-hwat (tobat) benar-benar. Disamping masak dan meladeni Hui-yan. dia harus menemani tuan rumah bermain catur.

Sebenarnya dapat juga Liong Go mengerjakan, tapi selalu Siau Ih mencari alasan ini itu, tinggalkan To Kong-ong dan melayani keperluan Hui-yan sendiri. Karena itu, walaupun hanya beberapa hari bergaul, Siau Ih dan Hui-yan sama menaruh hati. Inilah yang dibilang “begitu melihat, begitu jatuh cinta".

Pada suatu malam, seperti biasanya Siau Ih dan Liong Go menemani To Kong-ong main catur.

Karena iseng, Hui-yan jalan-jalan ke bawah air terjun. Kolam di bawah air terjun itu, bening sekali airnya hingga ikan-ikan yang berkeliaran di dalamnya dapat kelihatan. Sekeliling alam amat sunyi, hanya debur air tumpah itu saja yang kedengaran amat berisik.

Memandang ke arah ribuan titik air yang bagaikan mutiara lepas dari untaiannya itu, pikiran Hui-yan melayang-layang. Terbayanglah wajah yang cakap dari Siau Ih serta sikapnya yang begitu memperhatikan itu. Itulah yang disebut cinta? Ah, bayang-bayang itu memenuhi ruang kalbu si nona.

Sekilas teringatlah ia akan peraturan perguruannya yang keras itu. Tapi suara hatinya tetap merintih-rintih ditingkah pancaran kalbu. Rasa asmara, pancaran bahagia, cemas dan gangguan urat syaraf, bagaikan ombak pasang surut mengamuk dalam hati Hui-yan.

Tiba-tiba tampak olehnya sebuah bayangan wajah cakap dalam permukaan kolam itu. Wajahnya segera bersemu merah dan dengan cepat berpaling ke belakang. Amboi! Disana tampak Siau Ih berdiri dengan tegaknya. Betapa ia itu seorang gadis persilatan, namun sifat kegadisannya tetap ada. Bagaimana ia tak menjadi jengah diawasi begitu rupa oleh seorang pemuda!

„Engkoh Ih!" serunya sembari menunduk.

„Begini malam mengapa adik Yan berada disini, nanti bisa kena hawa dingin,” sahut Siau Ih tertawa.

„Aku toh bukan gadis pingitan, tak nanti gampang masuk angin!"

„Ya, sekalipun begitu, karena baru saja sembuh, lebih baik adik Yan berhati-hati menjaga diri," kata Siau Ih.

Benar dengan ucapan itu, Hui-yan tahu kalau dirinya diperhatikan, tapi umumlah kalau seorang nona itu bersifat aleman membandel, ia balas bertanya: „Engkoh Ih, bilamana kau belajar merangkai kata-kata seperti orang tua begitu?”.

Siau Ih kemerah-merahan tak dapat menyahut. Hui-yan tak menggodanya lebih jauh dan menanyakan Liong Go. „Toako sedang bermain catur dengan To locianpwe      ”

„Maka kau lantas menyelinap kemari ya?" tukas Hui-yan.

Setelah termangu beberapa jenak, barulah Siau Ih dapat membuka mulut: „Benar, tadi karena melihat adik Yan keluar, begitu selesai sebabak buru-buru kusuruh toako menggantikan bermain, karena ....... karena ...........

Sampai disitu, Siau Ih tak dapat melanjutkan kata-katanya, wajahnya makin merah. Jantung Hui-yan pun mendebur keras. Ia tahu pemuda itu tentu akan berkata-kata banyak sekali, kata-kata yang sebenarnya ia kepingin sekali mendengarnya tapipun paling takut mendengarnya. Kembali benaknya penuh dibayangi berbagai perasaan, rasa cinta, terima kasih, peraturan perguruan dan sumpahnya ketika memasuki perguruan. Dengan menundukkan kepala dan tangannya memainkan ujung baju, Hui-yan terdiam sampai sekian lama, terbit pertentangan dalam batinnya.

Akhirnya berkatalah ia dengan nada gemetar: „Engkoh Ih, lukaku rasanya sudah sembuh, karena itu besok pagi kupikir hendak minta diri pada To-locianpwe untuk pulang ke Lo-hu- san.”

Seperti disedot magnit, hati Siau Ih melangkah setindak, dan mulut berseru dengan suara sember: „Adik Yan, kau. ”

Tanpa tunggu si anak muda lanjutkan kata-katanya, Hui- yan sudah berbangkit dan lambaikan tangannya: „Engkoh Ih, apa yang hendak kaukatakan aku sudah tahu dan apa isi hatimu pun aku sudah mengetahui, hanya ”

Belum si nona menghabisi ucapannya, Siau Ih sudah melangkah maju dan memeluknya.

„Adik Yan semoga kita dapat mengarungi samudera penghidupan bersama-sama," bisik Siau Ih.

Sampai pada saat itu, tenggelamlah Hui-yan dalam lautan asmara. Hilang tak berbekas lagi segala pantangan dari perguruannya. Lewat beberapa jenak, tiba-tiba terdengar gelak tawa To Kong-ong. Tertawa itu telah membuat sejoli muda- mudi yang sedang belebuh dalam buaian asmara, menjadi tersadar.

„Engkoh Ih," seru Hui-yan dengan terkejut sembari mendorong tubuh si pemuda. Sudah tentu Siau Ih menjadi gelagapan dan menanyakan.

„Engkoh Ih, kini baru kuakui bahwa manusia itu mempunyai hati perasaan," kata Hui-yan setelah melepaskan diri.

Siau Ih mengiakan.

Hui-yan memandang ke angkasa yang bertaburkan bintang, ujarnya dengan rawan: „Sebenarnya atas budi pertolongan  itu, aku harus membalasnya dengan segenap jiwa ragaku. Tapi dikarenakan peraturan perguruanku tak mengizinkan sesuatu perjodohan, maka ketika itu akupun lantas mengangkat saudara padamu. Itulah satu-satunya jalan untuk menolong diriku dari cerca hinaan orang dan hubungan perguruan. Tapi sedikitpun tak kusangka, bahwa dalam sesingkat waktu berada di Ki-he-nia sini hubungan kita makin erat. Bahwa setiap insan wanita itu harus berjodoh dengan pria, belum pernah terlintas dalam pikiranku dan memang aku tak berani memikirkannya. Keadaanlah yang menjadikan aku seorang gadis macam begitu, akupun tak menyesal. Tapi kini keadaan berobah sama sekali, namun diriku tetap terpancang dengan pantangan-pantangan itu. Inilah yang menyiksa perasaanku. Kalau kita tetap berkumpul bersama-sama, dikuatirkan tentu terjadi sesuatu yang tak diinginkan ”

"Adik Yan, janganlah kau ”

Hui-yan menggeleng minta Siau Ih jangan memotong bicaranya, kemudian dengan berlinang-linang air mata ia melanjutkan: „Oleh karena itu, kupikir lebih baik aku lekas- lekas menyingkir dari sini. Makilah aku sebagai seorang manusia yang tak berperasaan, biarlah kuterimanya dalam derita batinku. Engkoh Ih, dapatkah kau memahami kesulitanku, aku ”

Siau Ih mengusap air mata si nona, dia menghiburnya:

„Adik Yan, kupercaya bahwa manusia itu tentu berhati perasaan, dan kuyakin kita tentu dapat merobah nasib ”

Cepat-cepat Hui-yan menutup mulut Siau Ih dengan jarinya, tukasnya dengan tertawa getir. „Benar kau belum mengatakan asal usul perguruanmu, tapi ditilik dari kepandaianmu yang setinggi itu, terang kalau anak murid dari perguruan yang ternama, oleh karena itu tentunya kau dapat memaklumi apa artinya budi seorang guru itu. Kuberpendapat bagaimanapun juga, tak selayaknya karena urusan muda mudi, kita lantas membelakangi peraturan perguruan."

Ia berhenti sejenak untuk menenangkan perasaannya, kemudian dengan nada tetap, ia melanjutkan: „Engkoh Ih, kita adalah pemuda persilatan, seharusnya memiliki semangat yang lebih unggul dari orang biasa. Dalam memilih antara suara hati dan budi suhu, kita harus berani mengambil tindakan tegas memberatkan yang tersebut belakangan itu.  Ini barulah sikap yang utama. Lain dari pada itu, seorang pemuda gagah seperti kau, masakah takut tak bakal mendapat jodoh. Jangan kau sudah berpatah hati yang menyebabkan semangatmu pudar. Besok aku tetap mengambil putusan pulang ke Lo-hu-san, tapi ini bukan merupakan perpisahan kita selama-lamanya. Pada suatu hari kita tentu bakal berjumpa lagi!

Lencana kiu-hong-giok-hu ini adalah pemberian suhuku. Hendak kuberikan padamu untuk kenangan. Kelak apabila kau terkenang padaku dan ingin berkunjung ke Lo-hu-san, carilah seorang petani disekeliling daerah itu, dia tentu akan menolongmu memanggilkan aku. Jangan sekali berani masuk ke dalam Peh-hoa-kiong, nanti kita tentu mengalami banyak kesulitan. Tentang hubungan kita yang terjalin dalam waktu sesingkat ini, tetap akan kuukir dalam lubuk hatiku. Nah, karena waktunya sudah larut, sampai sekian saja ucapanku!"

Habis itu, sekali melesat Hui-yan tinggalkan si anak muda yang masih termangu-mangu seperti orang kehilangan semangat.

Keesokan harinya, benar juga Lo Hui-yan membenahi pakaiannya dan minta diri pada To Kong-ong. Putusannya yang tergesa-gesa itu telah membuat tuan rumah dan Liong Go keheran-heranan. Demi melihat Siau Ih bermuram durja, tahulah Liong Go persoalannya.

To Kong-ong coba menahannya lagi, tapi nona itu tetap pada putusannya. Apa boleh buat, To Kong-ong pun tak berani mencegahnya lagi. Memberikan botol yang masih berisi dengan pil siok-beng-cek-soh-tan itu, dia berkata: „Losiu hanya dapat memberikan bekal pil ini kepada nona. Mungkin dikemudian hari nona masih memerlukannya lagi. Tolong sampaikan hormatku pada suhumu!"

Sekali lagi menghaturkan rasa terima kasihnya yang tak terhingga. Hui-yan pun segera berangkat.

Siau Ih dan Liong Go mengantar sampai di luar terowongan batu.

„Ribuan li mengantarkan, toh akhirnya tetap akan berpisah. Toako, engkoh Ih, sudah sampai disini sajalah, lain hari semoga kita dapat berjumpa pula," kata Lo Hui-yan dengan nada rawan.

Dengan kuatkan hati, nona itu segara berputar tubuh terus lari menyusur sepanjang jalanan gunung. Siau Ih mengantarkan bayangan nona itu dengan mata yang sayu. Setelah Hui-yan menghilang di antara lebatan rimba, barulah kedua kembali. Ternyata To Kong-ong menyongsong mereka di muka halaman sembari bersimpul tangan. „Siau lote, menilik wajahmu yang sayu, benar-benar bibit cinta sudah bersemi dalam hatimu," menggoda tabib itu dengan senyum tawa.

Wajah Siau Ih merah lalu tersipu-sipu menyahut: „Ah. lo- cianpwe menggoda saja.”

Namun dengan wajah bersungguh To Kong-ong berkata:

„Losiu memang suka berkata blak-blakan saja. Menyinta, itulah sudah wajar. Tapi janganlah kena dipengaruhinya hingga melesukan semangat, memutuskan asa dengan akibat merusak hari depan. Benarkah begitu, lote?”

Siau Ih tundukkan kepala mengiakan.

„Janganlah lote malu-malu. Orang muda dirundung cinta, itu sudah jamak. Yang penting, janganlah karena hal itu akan merusak jiwa," kembali tabib itu berkata.

Mendongak ke atas, dia tertawa, ujarnya: „Dalam beberapa hari ini, permainan catur lote maju pesat sekali sampai aku sukar menghadapi. Ayuh, kita main satu set lagi!"

„Ai, locianpwe ini benar-benar beradat aneh. Senja pagi bermain khim, tengah hari menantang main catur. Tapi dengan bermain catur rasanya kedukaan Siau hiante dapat terhibur," diam-diam Liong Go membatin. Belum Siau Ih menyahut, dia sudah mendahului menyetujui ajakan si tabib.

Sebaliknya To Kong-ong dengan tertawa lantas mendampratnya: „Hai buyung, apa kau juga ketagihan main catur? Tapi ah, enggan aku menghadapi permainanmu yang tak begitu lihay!”

Liong Go hanya ganda tertawa dan menyatakan, asal dapat nemani tuan rumah bermain catur, itu sudah cukup. Menang kalah tak dihiraukannya.

„Ai, kasihan juga kau. Ayuh, lekas ambilkan catur sana!" seru To Kong-ong. Liong Go buru-buru melakukan perintah. Sebenarnya hati Siau Ih tak tenteram, namun dia tak dapat menolak ajakan tuan rumah. Begitulah mereka kembali adu otak memainkan biji-biji catur. Sehari penuh mereka bermain dan baru berhenti setelah rembulan naik tinggi.

Keesokan harinya, Siau Ih mengutarakan maksudnya berangkat ke Tiam-jong-san pada Liong Go. Karena sekian lama bergaul, jadi Liong Go sudah mengenal baik watak adik angkatnya itu. Untuk menghibur hati Siau Ih yang dirundung rindu itu, membuat perjalanan menikmati pemandangan alam adalah jalan satu-satunya yang terbaik. Disamping itu, diapun merasa perlu untuk lekas-lekas memberitahukan kepada engkongnya tentang peristiwa Thiat-sian-pang itu.

„Karena hiante perlu lekas-lekas ke Tiam-jong-san, akupun juga akan pulang ke Po-gwat-san untuk memberitahukan engkong tentang peristiwa bentrokan kita dengan orang-orang Thiat-sian-pang di Hangciu itu," akhirnya dia berkata.

Siau Ih menyetujui dan ajak sang toako untuk pamitan pada To Kong-ong. Begitulah setelah berkemas, mereka lalu menuju keluar.

Di bawah gerombolan pohon yang merupakan garis-garis halaman rumah itu, tampak To Kong-ong sedang duduk di atas batu altar seraya memandang ke arah air terjun. Setelah memberi salam, Liong Go lalu mengutarakan maksudnya.

„Tak usah kalian menghaturkan terima kasih untuk apa yang kulakukan kepada nona Lo. Sebenarnya aku masih ingin menahan kalian untuk beberapa hari lagi, tapi karena kalian mempunyai urusan penting, jadi akupun tak berani mencegahnya. Hanya saja aku hendak minta tolong pada Siau lote untuk melakukan sedikit urusan ”

„Asal wanpwe dapat melakukan, tentu dengan senang hati menerima perintah locianpwe," buru-buru Siau Ih menyahut. Sejenak merenung, tabib itu tertawa, katanya: „Yang paling tak kusukai sepanjang hidup, ialah hutang budi pada orang. Begini sajalah, karena kita berjodoh dalam catur, maka dengan caturlah kita putuskan soal itu. Sebelum berpisah, kita main lagi satu set. Kalau lote menang, aku hendak memberikan sebuah barang. Tapi jika kalah, permintaan tolongku pada lote, jangan dianggap hutang budi. Nah, bagaimana?”

„Ah, kukoay benar orang ini. Minta tolong, tapi tidak mau dianggap hutang budi, ya, biar bagaimana juga aku harus mengerjakan permintaannya itu, maka dalam set nanti aku akan mengalah" kata Siau Ih dalam hati. Lalu dia pun menerima baik syarat si tuan rumah itu.

To Kong-ong berseri girang. Menunjuk ke arah biji-biji catur yang belum dikemasinya tadi, dia berkata: „Kita tetapkan waktunya bertanding dalam tiga jam. Begitu habis waktunya, kita putuskan siapa kalah dan menang. Setujukah lote?”

Siau Ih tetap menyetujuinya. Begitulah mereka segera mengatur biji-biji catur dan mulai bermain. Oleh karena Siau Ih sudah mengambil putusan untuk kalah, maka diapun tak mau banyak berpikir lagi. Biji catur dijalankan dengan cepat. Benar juga tak berapa lama, posisinya kelihatan dipihak kalah. Dan tak sampai dua jam saja, To Kong-ong sudah dapat menundukkan barisan lawan.

Melirik ke arah Liong Go, Siau Ih berbangkit, katanya:

„Hebat benar permainan lociapwe, wanpwe menyerah!”

To Kong-ong menghela napas, ujarnya: „Sudahlah, bagaimana pun aku tetap tak dapat terhindar dari hutang budi. Walaupun pada alis lote itu mengandung sifat-sifat suka membunuh, tapi ternyata nurani lote tetap baik. Peribahasa mengatakan, ‘Barang siapa menanam, tentu akan memetik, hasilnya'. Melepas budi, tentu akan mendapat balasan budi juga. Karena tadi lote mengalah, itu berarti melepas budi". To Kong-ong berhenti sejenak untuk memasukkan tangan ke dalam baju. Dikeluarkannya sebuah buku kecil lalu diberikan kepada Siau Ih, ujarnya: „Buku Peh-co-ki ini memuat ilmu mengobati luka-luka, kena racun dan lain-lain. Benar bukan sebuah buku yang luar biasa, namun itulah hasil penyelidikanku seumur hidup. Kuberikan buku itu kepada lote, selaku membalas budi lote tadi.”

Mendengar itu bukan kepalang kejut dan girangnya Siau Ih, tapi dia sungkan juga: „Untuk main catur yang tak berarti tadi, masakah locianpwe menghadiahkan buku yang begitu berkhasiat, sungguh wanpwe tak berani menerimanya ”

„Lote, apa kau takut kalau aku akan menyusahkan dirimu?” tukas To Kong-ong.

„Buru-buru Siau Ih menyatakan kerendahan hatinya.

„Ah, losiu hanya main-main saja," sahut To Kong-ong.

Tapi pada lain kilas, wajahnya berobah bersungguh- sungguh, katanya: „Buku Peh-co-ki itu, losiu pandang sebagai nyawa sendiri. Dengan buku itu, losiu bercita-cita hendak menolong umat manusia, tapi karena percaya pada jodoh (takdir), jadi betapapun muluk cita-cita losiu itu, namun prakteknya tetap tak bisa. Sungguh losiu kecewa dan menyesal sepanjang hidup. Oleh karena sekarang telah mendapatkan ‘orangnya', maka buku itupun akan kupersembahkan kepadanya. Kuharap lote dapat melaksanakan cita-cita untuk menolong umat manusia itu, sehingga dengan begitu dapatlah tercapai harapanku. Losiu sendiri sudah tua, sebelum masuk liang kubur, tak mau losiu tersangkut lagi dalam hutang piutang budi. Mungkin lote menganggap diriku To Kong-ong ini seorang manusia yang tak kenal budi perasaan, tapi seperti pepatah mengatakan 'sungai gunung dapat dipindah, tapi watak orang sukar dirobah'."

Siau Ih pun segera memberikan janjinya: „Wanpwe akan selalu mengukir dalam hati nasehat locianpwe itu. Wanpwe, Siau Ih, pasti akan berusaha keras untuk melaksanakan cita- cita locianpwe. Sekarang harap locianpwe katakan urusan apakah yang hendak locianpwe titahkan pada wanpwe itu!"

Sejenak To Kong-ong merenung, lalu berkata: „Urusan itu dikata mudah, tapi sukar juga. Beginilah, dahulu losiu mempunyai seorang sahabat karib ialah salah satu tokoh dari sepuluh Datuk, si Dewa Tertawa Bok Tong. Kira-kira tigapuluh tahun yang lalu, losiu pernah tertimpa bahaya besar, kalau tiada Bok Tong yang menolongnya, entah bagaimana jadinya losiu sekarang. Losiu hendak membalas budinya, tapi sejak berpisah waktu itu, sampai sekarang tak pernah dengar kabar ceritanya lagi.

Lewat sepuluh tahun dari peristiwa itu, kembali losiu turun gunung untuk menyirapi kabar beritanya, tapi tetap sia-sia juga. Duapuluh tahun telah lampau, kini di dunia persilatan tersiar desas desus tentang si Dewa Tertawa itu lagi, namun belum ada bukti-bukti kebenarannya. Kupikir, dalam dunia persilatan hanya ada seorang tokoh yang mungkin  mengetahui tempat beradanya Bok Tong itu, jaitu si Rase Kumala Shin-tok Kek yang sudah sejak lama mengasing diri di gunung Tiam-jong-san. Sayang losiu tak kenal padanya, jadi tak dapat menanyakan.

Karena kudengar tadi lote hendak menuju ke gunung Tiam- jong-san, maka losiu hendak minta tolong agar lote suka sekalian mampir di lembah Lin-hun-hiap tempat kediaman tokoh she Shin-tok itu. Tapi watak perangai Shin-tok Kek itu lebih kukoay lagi dari losiu. Itulah sebabnya tadi losiu katakan bahwa urusan ini dibilang mudah ya mudah, tapi sukar juga sukar. Entah apakah lote tak keberatan dengan permintaanku itu?”

Bermula Siau Ih tak mengerti permintaan apa yang hendak diajukan To Kong-ong kepadanya itu. Serta didengarnya sudah, hatinya serentak lapang. Kalau lain orang mungkin sukar, tapi baginya hal itu mudah seperti orang membalikkan telapak tangan saja.

Mendengar disebut-sebutkannya nama sang ayah angkat, Siau Ih pun segera terkenang akan orang tua yang amat berbudi itu. Dimanakah saat ini ayahnya itu berada? Apakah ayahnya juga terkenang padanya? Pikiran Siau Ih, jauh melayang-layang .........

Melihat anak muda itu tiba-tiba terdiam, wajahnya sebentar girang sebentar gelisah, To Kong-ong menduga kalau dia (Siau Ih) tentu merasa berat dengan permintaannya tadi, tapi sungkan mengatakan. Perkiraan itu telah membuat si tabib berobah wajahnya.

Melihat sikap kedua orang itu. Liong Go menjadi bingung. Buru-buru dia mengutik lengan baju Siau Ih, hendak diperingatkan. Tiba-tiba sepasang alis putih dari To Kong-ong menjungkat, lalu memandang kepada Siau Ih.

„Lote, jika kau merasa tak leluasa, losiu pun tak memaksa,” katanya.

Teguran itu telah membuat Siau Ih gelagapan. Dengan wajah kemerah-merahan buru-buru dia menyahut: „Harap locianpwe legahkan hati. Lain orang mungkin merasa sukar, tapi bagi wanpwe amatlah mudahnya. Percayalah, selamanya wanpwe tak suka berbohong, lebih-lebih kalau terhadap orang golongan tua."

Betapa girangnya To Kong-ong sukar dikata. Pujinya dengan tertawa: „Lote benar-benar seorang pemuda yang bercita-cita luhur, tadi losiu terlalu banyak curiga. Hanya saja lembah Lin-hun-hiap itu bukan tempat sembarangan. Si Rase Kumala terkenal sebagai orang yang sukar diajak berembuk. Kalau sampai terjadi suatu apa padamu, sungguh losiu tak enak sekali. Harap lote suka menjaga diri baik-baik".

„Untuk budi besar yang locianpwe limpahkan pada hari ini, Wanpwe merasa menyesal sekali kalau tak dapat membalas. Dua tahun kemudian, wanpwe tentu akan menghadap lagi kemari untuk memberi keterangan," kata Siau Ih.

„Perbuatan lote itu sungguh mengharukan, asal losiu masih bernyawa tentu akan membalasmu pula,” kata To Kong-ong seraya menjabat tangan Siau Ih.

Liong Go yang selama itu seolah-olah tak diajak bicara, sudah membuat dugaan sendiri: „Terang Siau hiante itu meyakinkan ilmu lwekang kian-goan-sin-kong yang hanya dimiliki oleh Dewa Tertawa Bok Tong. Namun dia selalu main merahasiakan nama suhunya. Kini dengan yakin dia berani menyanggupi permintaan To-locianpwe. Ditilik naga-naganya, dia tentu mempunyai hubungan dengan Dewa Tertawa yang sudah menghilang bertahun-tahun itu Aneh, mengapa dia main sembunyi saja "

Tanpa merasa Liong Go menatap tajam-tajam ke arah hiantenya.

Seketika itu Siau Ih merasa, bahwa pembicaraannya tadi secara tak langsung telah membocorkan rahasianya. Tapi selama dendam penasaran ayah bundanya belum terhimpas, dia tetap tak mau memberitahukan asal usul dirinya. Teringat peristiwa orang tuanya, amarahnya mendidih. Tapi agar jangan kentara, terpaksa dia menguasai perasaannya itu.

„Ah, kiranya sudah waktunya wanpwe mohon diri," katanya kepada tuan rumah.

„Buyung, kalau tiba di Po-gwat-san, sampaikan pada engkongmu bahwa sahabatnya si orang she To sangat merindukannya dan mengharap sebelum menutup mata dapatlah berjumpa pula,” kata To Kong-ong kepada Liong Go.

Anak muda itu mengiakan dan terus ajak Siau Ih memberi hormat kepada tuan rumah, lalu tinggalkan tempat itu. Kira- kira lewat tengah hari, barulah mereka turun dari daerah gunung Ki-he-nia itu. 
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Si Rase Kumala Bab 13 : Hasrat Hati dan Aturan Perguruan"

Post a Comment

close