Serial Pendekar Bayangan Sukma eps 19 : Munculnya Si Pamungkas

SATU
Sesungguhnya, cukup banyak yang tidak disukai Ratih Ningrum istri dari Madewa Gumilang atau Pendekar Bayangan Sukma. Namun sebagai seorang istri yang amat setia, Ratih Ningrum jarang memperlihatkan rasa tidak sukanya.

Seperti pagi ini, ketika datang tiga orang tamu ke Perguruan Topeng Hitam. Perguruan Topeng Hitam adalah sebuah perguruan silat yang namanya cukup terkenal kala itu. Sebelum dipimpin oleh Madewa Gumilang, Perguruan Topeng Hitam dipimpin oleh si Dewa Pedang Paksi Uludara. 

Dan sebelum Paksi Uludara tewas di tangan Nindia, dia menyerahkan tampuk kekuasaan atau kepemimpinannya pada Madewa Gumilang. Itu terjadi beberapa puluh tahun yang lalu. Kala Pranata Kumala, putra dari Madewa Gumilang dan Ratih Ningrum berusia lima tahun (baca: Dewi Cantik Penyebar Maut).

Sekarang Pranata Kumala sudah dewasa, bahkan sudah memiliki seorang istri yang jelita. Istrinya bernama Ambarwati, putra dari seorang kepala perampok di desa Pacitan daerah sekitar Pantai Selatan (baca: Pendekar Kedok Putih).

Saat ini Pranata Kumala dan istrinya tengah melakukan petualangan mereka, sama seperti halnya yang pernah dilakukan Ratih Ningrum dan suaminya.

Pagi ini sebenarnya Ratih Ningrum menginginkan keberduaannya bersama suaminya tidak diganggu. Namun mendadak saja seorang murid Perguruan Topeng Hitam masuk dan mengatakan ada tiga orang tamu yang ingin bertemu dengan Ketua.

Sebagai seorang pendekar yang arif dan bijaksana tentu saja Madewa bermaksud menemui mereka. Dan ini sebenarnya membuat Ratih Ningrum sedikit jengkel, karena merasa terganggu keberduaan mereka. Tetapi tentu saja dia diam saja. Bahkan hatinya merasa bersalah karena siapa tahu kedatangan ketiga orang itu membutuhkan pertolongan mereka.

"Ya Tuhan... mengapa sikapku menjadi seperti ini?" desisnya dalam hati.

Dan ketiga tamu yang datang itu sudah berdiri di ruang pertemuan berhadapan dengan Madewa Gumilang yang mengenakan pakaian berjubah putih dan Ratih Ningrum yang berpakaian ringkas dengan sepasang pedang kembarnya yang tersampir bersilangan di punggung.

Ketiga orang itu menjura di hadapan Madewa Gumilang dan istrinya. "Salam hormat dari kami bertiga, Ketua dan Nyonya Ketua," kata salah seorang dari tamu itu. Dia seorang laki-laki yang kirakira berusia 60 tahun. Dia mengenakan pakaian berwarna putih. Rambut serta kumis dan jenggotnya sudah memutih. Namun sikapnya masih gagah.

"Salam hormat kembali dari kami, Orang Tua...." kata Madewa sambil tersenyum arif. "Silahkan duduk."

Ketiga tamu itu pun duduk. Madewa menatap mereka satu per satu. Dari wajah ketiga tamu itu nampak sekali ada kecemasan yang terpancar dari mata dan wajah mereka. Hmm... ada masalah apakah gerangan?

"Kalau boleh aku tahu sekarang, ada masalah apakah hingga kalian datang ke sini?" tanyanya tetap tersenyum arif.

Laki-laki tua tadi menjura dulu sebelum berkata, "Maafkan kelancangan kami bertiga yang mengganggu ketenangan Ketua dan Nyonya Ketua. Namaku Karna Jarot. Dan kedua pemuda yang bersamaku itu adalah putra-putraku. Yang mengenakan pakaian hitam dengan pedang di punggungnya bernama Jaka Tama. Putraku yang pertama. Dan yang kedua bernama Seno Arga. Maksud kedatangan kami ke sini, ingin meminta bantuan dan pertolongan dari Ketua. "

"Hmm pertolongan apa, Karna Jarot?"

"Ketua... kami adalah warga sebuah desa yang permai dan indah. Seluruh penduduk desa kami, desa Glagah Jajar, amat menjunjung tinggi persaudaraan. Dan di desa kami tinggal seorang kaya yang bernama Juragan Wilada Tista. Namun yang sungguh amat mengejutkan kami, Juragan yang baik hati itu suatu malam ditemukan tewas dengan mengerikan. 

Lehernya hampir putus dari kepalanya. Sudah tentu kematian Juragan Wilada Tista membuat hati kami semua penduduk yang begitu menyukainya menjadi sedih sekali. Dan yang membuat kami heran, para pengawalnya yang berjumlah cukup banyak itu tak seorang pun yang mendengar dan melihat bagaimana matinya Juragan Wilada Tista. 

Namun kami tetap menduga, kalau Juragan Wilada Tista mati dibunuh orang. Hanya sampai sekarang belum ketahuan siapa orang yang mesti bertanggungjawab akan kematian Juragan Wilada Tista."

"Kapan matinya juragan itu?" 

"Sebulan yang lalu."

Madewa mengangguk-angguk. Karna Jarot berkata lagi, "Ketua... tentunya ketua berpikir, mengapa hanya dengan kematian Juragan Wilada Tista saya sampai mengganggu ketenangan ketua. Tetapi tidak sampai di sana saja ceritanya, Ketua. Secara mengerikan dan berturut-turut satu per satu keluarga Juragan Wilada Tista tewas. 

Dan kembali tak seorang pengawal pun yang mengetahui siapa yang membunuh mereka. Itulah sebabnya kami meminta pertolongan kepada Ketua. Karena hanya Perguruan Topeng Hitamlah yang kami rasakan jaraknya cukup dekat dengan desa kami, meskipun kami harus berjalan kaki selama dua minggu "

Madewa terdiam. Dia dapat merasakan kalau ada sesuatu dibalik kematian keluarga Juragan Wilada Tista dan dirinya sendiri. Agaknya si pembunuh itu mempunyai dendam kesumat pada diri Juragan Wilada Tista dan keluarganya.

"Karna Jarot... apakah kau tahu kalau Juragan Wilada Tista mempunyai musuh?"

"Tidak, Ketua... Ah, biarkan putra saja Jaka Tama yang menjawabnya, karena dia pun menjadi pengawal Juragan Wilada Tista."

Pemuda yang berahang kukuh dan berwajah tampan itu menjura pada Madewa Gumilang. "Maafkan saya, Yang Agung Madewa Gumilang. Setahu saya, majikan saya tidak mempunyai musuh atau pun orang-orang yang mendendam padanya. Dia begitu bersahabat pada siapa saja. Baik kawan maupun lawan. Sikapnya selalu mengenakan orang lain. Saya pun berpikir, mana mungkin ada orang yang tega mencelakakan orang sebaik majikan saya. Apalagi sampai membunuhnya dengan cara mengerikan seperti itu."

"Berarti dia memang manusia yang bersih." 

"Begitulah adanya, Ketua."

"Hmm... sebaiknya kalian beristirahat sajalah dulu. Tentunya kalian letih berjalan beberapa hari lamanya," kata Madewa Gumilang kemudian.

"Tidak, Ketua!" kata Karna Jarot. "Kami harus segera kembali ke desa, karena kami kuatir terjadi apa-apa lagi dengan orang-orang desa kami. Kemunculan si Pamungkas itu terlalu mengerikan."

"Si Pamungkas?"

"Ya, dia begitu pandai menyelinap dan selalu membunuh lawannya dengan cara mengerikan. Meskipun orang itu sebenarnya bukanlah lawannya."

"Ketua..." kata Seno Arga yang sejak tadi diam saja. "Saya pun berpikir, tentunya ilmu yang dimiliki si Pamungkas itu demikian tinggi, karena kami sebagai pengawal Juragan Wilada Tista tak mendengar suara apa-apa. Dan rasa pengabdian kami yang tinggi itulah kami bermaksud untuk mencari si Pamungkas. 

Tentunya kami tak berani menghadapi begitu saja tanpa mendapat bantuan dari pihak mana pun juga. Ketua... mungkin dari pihak Ketualah kami meminta bantuan. Terserah bantuan apa yang hendak ketua kirimkan pada kami.... Yang pasti, kami akan mengucapkan banyak terima kasih "

Madewa tersenyum.

"Dengan senang hati, kami akan membantu kalian mencari si Pamungkas. Tetapi sebaiknya kalian beristirahatlah dulu. Menjelang senja bila kalian tidak mau bermalam dan ingin kembali ke desa, kalian bisa segera meninggalkan tempat ini "

"Tidak, Ketua... saat ini juga kami akan kembali ke Glagah Jajar."

"Terserah bila itu mau kalian."

"Kalau begitu... kami permisi, Ketua..." kata Karna Jarot sambil berdiri yang diikuti oleh kedua putranya. Ketiganya menjura serentak.

Lalu ketiganya pun meninggalkan Perguruan Topeng Hitam dengan sedikit membawa kegembiraan karena Madewa Gumilang mau membantu mereka dalam mencari si Pamungkas.

Mereka begitu geram sekali melihat pembantaian yang dilakukan oleh si Pamungkas itu dengan begitu mengerikan. Terutama hati Seno Arga dan Jaka Tama. Kedua pemuda itu sudah hampir dua tahun bekerja sebagai pengawal pribadi Juragan Wilada Tista. Dan mereka tidak mengetahui sedikit pun bagaimana cara orang itu masuk dan membunuh Juragan Wilada Tista dan keluarganya, padahal penjagaan sudah sedemikian ketatnya.

Dan kini mereka sedikit terasa gembira, karena bantuan yang diharapkan mungkin bisa dikabulkan. Sudah tentu akan dikabulkan! Madewa memang selalu menolong orang yang dalam kesusahan. Begitu banyak nama yang disandangnya. 

Orang-orang rimba persilatan kadang menjulukinya Manusia Dewa karena kesaktian dan kearifannya amat tinggi. Lalu Pendekar Budiman, karena dia selalu menolong dan membela kebenaran. Yang terakhir Pendekar Bayangan Sukma, karena dia memiliki ilmu yang berkaitan dengan sukma.

Saat ini sepeninggal ketiga tamunya, Madewa tengah mengumpulkan para muridnya yang sudah selesai berlatih. Dia menceritakan maksud dari kedatangan tiga tamu tadi. Madewa pun memilih sepuluh orang murid pilihannya untuk membantu ke desa Glagah Jajar. Dan para murid pilihannya pun menyatakan diri siap.

Bagi mereka pula, kebenaran harus ditegakkan. Dan selama ini mereka amat salut dan bangga pada ketua mereka, Madewa Gumilang. Yang tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu pedang namun juga selalu memberikan wejangan-wejangan yang amat berguna dan bermanfaat bagi mereka.

Belum lagi sikapnya yang begitu arif dan bijaksana. Dalam memutuskan segala sesuatunya pun Madewa begitu adil. Bahkan dia tidak membedakan statusnya dengan status mereka yang ada di antara mereka antara seorang guru dan murid. Tidak pernah, tidak pernah Madewa melakukan itu.

Bahkan dia seakan hanyalah seorang sahabat dan kadang bertindak sebagai orang tua. Madewa menatap sepuluh murid pilihannya yang tengah berdiri di hadapannya. Kesepuluh muridnya mengenakan pakaian hitam-hitam dengan topeng yang menutup kepala berwarna hitam pula. Ciri khas dari Perguruan Topeng Hitam semua muridnya memang mengenakan pakaian berpakaian hitam-hitam dan bertopeng hitam.

Dan senjata mereka adalah sepasang pedang dan senjata rahasia yang berbentuk topeng hitam. Murid-murid Perguruan Topeng Hitam laki-laki semua. Mungkin di perguruan itu yang perempuan hanyalah Ratih Ningrum.

"Kalian siap menjalankan tugas yang kuberikan?" bertanya Madewa pada para muridnya yang dipilih.

Salah seorang menyahut, mewakili yang lain, "Kami siap melakukannya, Ketua."

"Bagus! Dalam hal ini, janganlah bertindak kepalang tanggung. Bila ada keangkara-murkaan yang terjadi di depan mata kalian, kalian harus membasminya sampai ke akar-akarnya. Namun bila tak ada keangkaramurkaan, janganlah kalian sekali-sekali mencoba membuat keangkaramurkaan itu. Mengerti?"

"Kami mengerti, Ketua."

"Bagus! Aku minta... kalian selidiki dulu siapa yang membuat onar di desa Glagah Jajar. Dan cari tahu siapa si Pamungkas itu. Dan mau apa dia muncul dengan menebarkan teror yang amat mengerikan. Mengerti."

"Ya, Ketua."

"Besok pagi, kalian sudah harus meninggalkan Perguruan Topeng Hitam menuju ke desa Glagah Jajar. Aku tidak ingin mendengar ada laporan bahwa kalian telah membuat onar disana. Bukannya membantu para penduduk desa Glagah Jajar." 

"Semua kata-kata Ketua, akan kami junjung setinggi-tingginya."

"Bila kalian memang membuktikan ucapan kalian itu, sebelumnya aku mengucapkan terimakasih."

Lalu Madewa kembali masuk ke dalam. Istrinya yang sepertinya tengah menunggu berkata.

"Kanda... apakah akan terjadi lagi sesuatu kepada kita?" Madewa menatap sepasang mata bening itu yang memancarkan sinar tidak enak.

"Entahlah, Dinda... hanya yang Maha Kuasa yang tahu semua ini. Tetapi... mengapa Dinda berkata demikian?"

Ratih Ningrum mendesah.

"Kanda... sebagai seorang istri, tentu saja aku menginginkan hidup kita yang damai dan tentram "

Madewa merangkul bahu istrinya tersenyum. Dia dapat mengerti maksud istrinya.

"Dinda... selama kejahatan masih banyak di muka bumi ini, maka kita belum dapat hidup dengan damai dan tentram. Dinda... kita ditugaskan oleh Gusti Allah untuk membasmi semua kejahatan yang terjadi. Untuk itulah kita hidup, Dinda...sebagai pembela kebenaran. Kau mengerti maksudku, bukan?"

Ratih Ningrum tersenyum. Yah, dia tentu saja dapat mengerti. Dan diam-diam dia semakin bangga pada suaminya. Cintanya semakin tumbuh menjadi besar.

***
DUA
Tiga sosok itu melangkah pelan memasuki sebuah hutan kecil. Suasana hutan begitu menyeramkan. Malam telah datang sejak dua jam yang lalu. Suara binatang malam ramai terdengar.

Salah seorang dari tiga sosok itu berhenti melangkah. Menatap kedua sosok lain yang juga berhenti.

"Ada apa, Ayah?" yang berpakaian hitam-hitam dengan pedang di punggung bertanya.

"Sebaiknya kita beristirahat di sini saja, Jaka. Besok pagi barulah kita melanjutkan perjalanan...." kata yang dipanggil ayah itu yang tak lain Karna Jarot. Dan kedua sosok tadi adalah Jaka Tama dan Seno Arga.

Keduanya kini tiba di sebuah hutan kecil. Karena tubuh yang dirasakan penat oleh Karna Jarot maka dia menginginkan untuk beristirahat dan bermalam di sini.

Namun belum lagi terdengar jawaban Jaka Tama, terdengar suara tawa yang menggema, membedah hutan kecil itu. Dan secara tidak sengaja, tiga sosok itu menjadi bersiaga. Penat mereka yang rasakan seolah hilang begitu saja.

"Siapa yang tertawa itu, Ayah?" tanya Seno Arga.

"Entahlah," sahut Karna Jarot sambil memandang berkeliling.

Suara tawa itu terdengar kembali. Karna Jarot menjadi jengkel, karena tawa itu seakan mengejek mereka yang kebingungan.

"Hei, orang yang tertawa! Keluarlah kau dari tempat persembunyianmu?!" bentaknya dan suaranya menggema keras.

Tetapi hanya tawa lagi yang terdengar keras. Membuat ketiganya semakin bersiaga. Naluri mengatakan, akan terjadi sesuatu yang tidak beres di sini.

Tiba-tiba terdengar suara seperti membentak dengan nada yang jengkel.

"Hhhh! Kalian adalah manusia-manusia yang ingin mampus! Berani-beraninya kalian meninggalkan desa Glagah Jajar untuk meminta bantuan!"

"Siapa kau? Kalau kau berani, cepat ke luar!" seru Karna Jarot sambil berkeliling lagi matanya.

"Hhh! Karna Jarot... kau akan mampus malam ini bersama dengan kedua anakmu itu!"

"Bangsat! Bila kau benar-benar jantan, jangan hanya bersembunyi saja!" bentak Karna Jarot dan tiba-tiba dia bersalto ke samping yang diikuti oleh kedua putranya karena tiba-tiba saja dirasakan ada serangkum angin deras mengarah pada mereka.

"Bangsat!" bentak Karna Jarot setelah hinggap di bumi.

"Rupanya nyalimu begitu kecil, Bangsat!"

"Hahaha... mengapa kau terburu-buru ingin mengenalku, Karna Jarot!"

"Karena aku ingin segera mencabut nyawamu, Bangsat!"

"Kalau itu maumu, baiklah Karna Jarot! Aku akan keluar dari persembunyianku!"

Tiba-tiba satu angin keras terasa menerpa ketiganya yang membuat ketiganya kembali bergulingan menghindari angin itu. Terdengar suara 'krak' yang cukup keras. Dan sebatang pohon jati kecil tumbang oleh angin itu.

Suaranya jatuh berdebam.

Ketiganya terkejut melihat hasil dari serangan angin itu.

Dan lebih terkejut lagi ketika mereka melihat sosok tubuh yang telah berdiri di hadapan mereka. Sosok itu mengenakan pakaian berwarna biru dan mengenakan kedok penutup kepala dan wajahnya yang berwarna biru pula.

Karna Jarot segera membentak, "Siapa kau adanya, hah?!"

Orang itu tertawa.

"Hahaha... rupanya kau memiliki nyali yang cukup besar, Karna Jarot... hingga kau berani membentakku!"

"Dan kau pun memiliki nyali yang sungguh besar pula, karena kau berani muncul di hadapanku!"

"Karna Jarot... kau memang orang yang gagah. Sama seperti kedua putramu itu, Jaka Tama dan Seno Arga!"

Jaka Tama mendengus. "Siapa kau, Bangsat?!"

"Hahaha... aku sendiri tidak tahu namaku. Tetapi yang perlu kalian ketahui, kalianlah yang telah memberikan nama padaku!"

"Apa maksudmu?!"

"Hahaha... bukankah kalian sedang mencari orang yang membunuh Juragan Wilada Tista dan keluarganya?!"

"Ya, akan kami cincang manusia kejam itu!" seru Jaka Tama tegang.

"Agaknya Yang Maha Kuasa memang mempertemukan kita di sini! Akulah yang telah menghancurkan keluarga Juragan Wilada Tista! Dan kalian telah memberikan nama padaku, si Pamungkas!" seru orang itu dan kembali tertawa dengan keras yang membahana membedah seluruh hutan.

Mendengar kata-kata itu, wajah ketiganya menjadi tegang. Dari rasa tegang berubah perlahanlahan menjadi kemarahan yang amat sangat.

Karna Jarot mendengus.

"Hhh! Jadi kaulah orang yang telah membunuh Juragan Wilada Tista dan menghancurkan keluarganya?!"

"Benar, benar... akulah orangnya..."

"Mengapa kau melakukan hal yang keji itu pada mereka, hah?!"

"Karena merekalah yang keji padaku! Hingga aku terpaksa membunuh mereka!"

"Apa maksud dari kata-katamu itu, hah?!" 

"Hahaha... tak perlu kita berpanjang lebar bercakap-cakap, Karna Jarot karena hanya menimbulkan kebosanan padaku! Sebaiknya kalian bersiaplah untuk mampus, karena kalian telah berani mencari-cari aku!"

"Kami memang akan menangkap dan mengadilimu, Bangsat!" bentak Karna Jarot.

"Dan kau akan mampus di tangan kami!" seru Jaka Tama sambil menyerbu ke depan.

Tetapi si Pamungkas hanya tertawa saja. Dia memiringkan tubuhnya sedikit dan menggerakkan kakinya ke arah kaki Jaka Tama dengan gerakan sapuan. Jaka Tama terkejut karena tidak menyangka orang itu dapat melakukannya dengan cepat. Tak ada jalan lain selain membanting tubuh ke kiri bergulingan. Tetapi orang itu terus mengejar dengan sapuan-sapuan kakinya.

Membuat Jaka Tama menjadi kewalahan dan tunggang langgang. Dan ketika dia bisa berdiri kembali, satu pukulan dari si Pamungkas menggedor dadanya.

"Des!"

Tubuh Jaka Tama terhuyung ke belakang.

Dan begitu dia bisa menguasai keseimbangannya, dia muntah darah.

Si Pamungkas terkekeh.

"Hehehe... rupanya hanya begitu saja kebiasaan manusia yang besar mulut!" katanya mengejek.

Sementara itu Karna Jarot yang sudah jengkel, menjadi murka melihat putranya berhasil dikalahkan oleh si Pamungkas dengan sekali gebrak.

Maka dia pun langsung menyerang yang disusul oleh Seno Arga. Menghadapi serangan keduanya, si Pamungkas hanya terkekeh saja sambil menghindar. "Lebih baik kalian membunuh diri saja daripada kucabut nyawa kalian dengan kekejaman!"

"Nyawamu yang akan kami cabut, Orang Kejam!" bentak Karna Jarot sambil terus mencecar.

Namun Si Pamungkas benar-benar begitu hebat dan tangguh. Serangan-serangan yang dilancarkan oleh Karna Jarot dan Seno Arga hanya dihindarinya dengan terkekeh.

"Kalian hanya membuang-buang tenaga saja dengan percuma!"

"Kau akan merasakan kehebatan kami, Pamungkas!" bentak Karna Jarot yang semakin jengkel karena serangan-serangannya tak satu pun yang mengenai sasaran.

"Hehehe... kehebatan macam begini yang kalian perlihatkan? Hehehe... kalian pun berambisi untuk menghabisiku? hehehe.... benar-benar pemimpi rupanya!"

Mendengar kata-kata yang penuh ejekan dan serangan-serangan yang tak pernah mengenai sasaran, membuat Karna Jarot dan Seno Arga menjadi semakin garang menyerang.

Keduanya semakin gila dan buas.

Namun sampai sejauh itu serangan-serangan keduanya belum membuat si Pamungkas terdesak. Bahkan secara tiba-tiba si Pamungkas melentingkan tubuhnya ke atas.

Dan berseru, "Kini kalian yang harus merasakan serangan-seranganku!" Lalu tubuh yang masih melenting itu atas itu bersalto dua kali ke arah Karna Jarot dan Seno Arga.

Langsung menyerang dengan hebat. Kedua bapak beranak itu menjadi terkejut menyaksikan dan menerima serangan-serangan balasan dari Pamungkas. Dan dengan satu gerak tipu yang sungguh manis, tangan si Pamungkas berhasil memukul roboh Seno Arga yang langsung jatuh pingsan.

Melihat hal itu Karna Jarot menjadi murka. Dia menyerang kembali dengan hebat.

Namun dua jurus telah berlangsung, Karna Jarot berhasil di desak oleh si Pamungkas.

"Karna Jarot! Aku tak meninggalkan lawanlawanku sebelum aku yakin dia sudah mampus!" bentak si Pamungkas sambil menyerang.

"Jangan banyak bacot! Buktikan bila kau benarbenar mampu melakukannya!" seru Karna Jarot sambil menghindar dan membalas.

"Hehehe... baiklah... bila itu yang kau inginkan!" sahut si Pamungkas dan bersalto. Kedua tangannya tiba-tiba berbentuk seperti paruh bangau. Dan dia menyerang dengan jurus Patuk Bangau.

Membuat Karna Jarot jadi kalang kabut karena kedua tangan yang berbentuk paruh bangau itu mencecarnya dengan hebat dan cepat.

"Hehehe... mengapa kau jadi pias begitu, hah?!" 

"Diam kau, Bangsat!"

"Hehehe... memang seperti itu orang yang sudah ingin mampus! Suka kebanyakan omong dan selalu besar mulut!"

"Kau yang akan mampus di tanganku!" 

"Hehehe... dalam keadaan seperti ini kau masih bisa berbacot seperti itu!" seru si Pamungkas dan tiba-tiba tubuhnya menyuruk ke depan dengan kedua tangan yang siap untuk menghantam dada Karna Jarot.

Karna Jarot menghindarinya dengan jalan berguling. Dan yang tak pernah disangkanya begitu tubuhnya berhasil menghindari serangan itu, si Pamungkas melanjutkan serangannya ke pada Seno Arga yang sudah terkapar pingsan.

Tanpa ampun lagi kedua tangan yang berbentuk paruh bangau yang sudah dialiri tenaga dalam yang kuat, menghantam kepala Seno Arga yang tertelungkup. Tidak terdengar jeritan. Tidak terdengar pekikan.

Yang terdengar hanyalah suara krak yang cukup keras, yang menandakan kalau tulang kepala Seno Arga pecah, dan mengalirlah darah dari kepala itu. Seno Arga mati dalam keadaan yang menyedihkan.

Sedetik kemudian terdengar jeritan pilu dari Karna Jarot, "Senooooo!"

Si Pamungkas cuma terkekeh saja. Kekejamannya sudah terlihat. Karna Jarot menjadi murka dan kemarahannya sudah tidak terhingga lagi. Sepasang matanya berapi-api dan berkilat berbahaya ketika menatap Si Pamungkas.

"Kau harus membayar nyawa anakku dengan nyawamu, Manusia kejam!"

Wajah yang tertutup kedok biru itu terkekeh. "Atau... kau yang akan segera menyusul putra-

mu itu!" Sementara itu Jaka Tama yang masih merasakan sakit di dadanya, menahan kegeramannya yang luar biasa dan kepiluannya melihat adiknya telah tewas. Dia tadi bergidik ngeri ketika melihat si Pamungkas menurunkan tangan telengasnya.

Mendadak saja dia tidak merasakan lagi sakitnya. Rasa sakitnya telah berganti dengan rasa marah dan dendam yang menggelora.

Sambil menggeram keras dia menyerbu dengan pedang di tangan ke arah si Pamungkas yang masih tertawa.

Namun kehebatan dan kelincahan si Pamungkas benar-benar luar biasa.

Dia hanya menggeser sedikit tubuhnya hingga pedang itu melesat dari sasarannya. Namun Jaka Tama yang sudah marah luar biasa terus menyabetkan pedangnya ke dada si Pamungkas.

Gerakan itu dilakukan demikian cepat, sehingga sepertinya si Pamungkas tidak bisa lagi untuk meloloskan diri. Namun suatu keajaiban terjadi.

Begitu pedang itu membentur dada si Pamungkas, bukan suara jeritan yang terdengar, malah suara "trang" yang cukup keras yang terdengar.

Jaka Tama segera menarik serangannya dan bersalto dengan kaget.

Dia menatap si Pamungkas tidak percaya. Beradu dengan apa pedangnya tadi hingga menimbulkan suara "trang"?

Melihat wajah yang pias karena terkejut itu, si Pamungkas terkekeh.

"Hehehe... jangan heran, inilah yang dinamakan ilmu kebal. Seribu Bobot Besi! Hehehe... senjata macam apa pun tak akan pernah mampu melukaiku karena tubuhku sudah sekeras besi!"

Jaka Tama bukanlah pemuda penakut. Dia malah menjadi penasaran. Dengan cepat dia menyerang lagi. Kali ini si Pamungkas tidak mengelak.

Malah sepertinya dengan sengaja menerima sabetan pedang itu.

Terdengar lagi suara, "Trang!"

"Trang!"

"Trang!"

Pedang yang disabetkan Jaka Tama sebanyak tiga kali ke tubuh si Pamungkas memang seakan membentur pada besi yang keras.

Tubuh si Pamungkas sudah berubah menjadi sekeras besi. Bahkan boleh dikatakan tubuh itu telah menjadi besi.

Karena merasa serangannya sia-sia, Jaka Tama bersalto ke belakang berdiri bersisian dengan ayahnya yang juga terkejut melihat ilmu yang diperlihatkan oleh si Pamungkas.

Mereka sadar, kalau ilmu yang dimiliki si Pamungkas begitu tinggi dan hebat. Tetapi mereka bukanlah orang-orang penakut.

Keinginan mereka mencari si Pamungkas untuk membalas kematian Juragan Wilada Tista dan keluarganya sudah menunjukkan kalau mereka adalah orang-orang yang pemberani!

Dan sekarang mereka sudah menemukan dan tengah berhadapan dengan orang yang mereka cari. Pantang bagi mereka untuk mundur meskipun setinggi apa pun ilmu si Pamungkas!

Mereka lebih baik mati dengan cara kesatria daripada mundur seperti kucing di kejar anjing! "Rupanya kau memiliki ilmu setan, Iblis!" geram

Karna Jarot.

"Dan kau jeri dengan ilmu setan yang kumiliki ini bukan, Karna Jarot?" terkekeh si Pamungkas.

"Anjing buduk! Biarpun kau memiliki sejuta ilmu setan lainnya, kau tak akan pernah mundur menghadapimu!"

"Majulah kalau begitu!" seru si Pamungkas.

Dan kedua anak beranak itu pun menyerang kembali dengan kegeraman yang luar biasa. Mereka memang menyadari tak mungkin dapat mengalahkan si Pamungkas. Tetapi mereka telah bertekad untuk mengadu jiwa dengan manusia kejam ini.

Namun serangan kedua orang itu hanya disambut dengan tawa saja. Si Pamungkas tidak bergeser dari berdirinya. Dia membiarkan saja pukulan, tendangan, sepakan, atau pun jotosan kedua orang itu menghantam sekujur tubuhnya.

"Hehehe... keluarkanlah seluruh tenaga dalam kalian dan ilmu yang kalian miliki!" terkekeh si Pamungkas sambil memperhatikan keduanya yang begitu bernafsu untuk merobohkannya.

Tetapi sampai sejauh itu malah keduanya yang nampak kepayahan. Pedang di tangan Jaka Tama sudah gompal-gompal. Sedangkan rasa Karna Jarot merasakan tangannya ngilu luar biasa.

"Rupanya kalian tidak memiliki apa-apa kecuali kenekatan yang tak berguna..."

"Kami akan mengadu jiwa denganmu, Pamungkas!" geram Karna Jarot yang sudah mengeluarkan ajian Karang Hawu. Namun ajian itu pun siasia belaka karena tak menghasilkan sesuatu yang menggembirakan.

Tiba-tiba kedua tangan si Pamungkas yang terdiam bergerak ketika keduanya kembali melancarkan serangan.

Kedua tangan itu menangkis serangan mereka dan terdengar suara "krak!" bertanda tangan keduanya telah patah.

Sambil menahan rasa sakit dan ngilu keduanya mundur.

"Hahaha... mengapa harus mundur kalian? Rupanya kalian memang tak mempunyai apa-apa yang patut dibanggakan. Keberanian kalian hanya sia-sia belaka. Dan aku paling tidak suka meninggalkan lawan-lawanku sebelum menjadi mayat!"

Ucapan itu bernada ancaman. Bernada kematian.

Membuat Karna Jarot dan Jaka Tama menjadi lebih bersiaga. Dan keduanya pun segera menyambut serangan yang dilancarkan oleh si Pamungkas dengan tiba-tiba.

Karena tangan keduanya sudah patah, tak banyak yang bisa diperbuat oleh mereka selain bersalto, bergulingan untuk menghindar.

Sampai tiba-tiba terdengar jeritan Jaka Tama yang memilukan. Mendirikan bulu roma karena jeritan itu begitu keras.

Lehernya patah dihantam oleh pukulan tangan kanan si Pamungkas yang sekeras besi. Mampuslah Jaka Tama dengan leher patah.

"Jakaaaaa!" jerit Karna Jarot yang mendirikan bulu roma. Nafasnya mendengus-dengus. Tadi melihat Seno Arga tewas dia sudah tak bisa membendung lagi kemarahannya, dan kali ini kemarahan itu semakin membludak.

Karna Jarot menjadi kalap.

Dia menerjang si Pamungkas yang hanya terkekeh-kekeh menghindar. Dan memang tak banyak yang bisa dilakukan Karna Jarot, karena sebuah hantaman tangan kanan si Pamungkas yang mengenai dadanya menghentikan perlawanannya.

Tubuh Karna Jarot ambruk dan mampus untuk selama-lamanya.

Si Pamungkas terbahak.

"Hahaha... itulah akibatnya bila berani menghalangi sepak terjang si Pamungkas!"

Lalu tubuh itu pun melesat dengan cepat seperti angin. Meninggalkan malam yang semakin larut. Meninggalkan tiga sosok tubuh yang telah menjadi mayat!

***
TIGA
Sepuluh sosok tubuh yang berpakaian hitamhitam dengan bertopeng hitam pula dan sepasang pedang di punggung masing-masing, menghentikan laju kudanya begitu melihat tiga sosok tubuh bergeletakan menjadi mayat.

Matahari saat ini tepat berada di atas kepala, namun sinarnya tidak terlalu menyengat hingga ke tanah. Karena hutan kecil yang ditumbuhi banyak pohon itu menghalangi sinar panasnya.

Dua sosok tubuh melompat dari kuda mereka. "Hei, bukankah ini adalah orang-orang yang da-

tang menemui Ketua!" serunya kaget setelah memeriksa mayat itu.

Sepuluh sosok tubuh itu adalah murid-murid dari Perguruan Topeng Hitam yang diutus untuk membantu desa Glagah Jajar mencari si Pamungkas.

"Benar! Ya, Tuhan... siapa yang telah melakukan kekejaman seperti ini?!"

"Yang membunuh mereka ini tentunya seorang yang kejam, yang begitu tega menghancurkan tubuh mereka seperti ini!"

"Pratama, bagaimana tindakan kita selanjutnya?!"

Yang dipanggil Pratama menatap kawannya. "Sengkala, kita sudah dibebani tugas oleh Ketua

untuk mencari si Pamungkas, kita akan terus melakukannya."

"Apakah tidak sebaiknya kita laporkan dulu kepada Ketua, Pratama?"

Pratama terdiam. Lalu katanya, "Baiklah, dua orang di antara kita kembali ke Perguruan! Laporkan semua ini pada Ketua!"

Dan tanpa diperintahkan lagi dua orang dari mereka segera membalikkan kuda-kuda mereka dan melarikannya ke Perguruan Topeng Hitam.

"Lalu kita sendiri bagaimana, Pratama?"

"Kita tetap ke Glagah Jajar! Biarkan mereka menyusul nanti!" Lalu dengan sekali lompat Pratama sudah hinggap di kudanya. Begitu pula dengan Sengkala.

Belum lagi mereka menggebrak lari kuda mereka, tiba-tiba satu sosok tubuh memegang cangkul muncul dari balik hutan. Wajah orang itu begitu buruk sekali. Bahkan boleh dibilang amat mengerikan. Sebelah matanya picek. Yang sebelah lagi melotot keluar, berair. Wajah orang itu benarbenar rusak. Hidungnya melesak ke dalam. Rambutnya agak botak. Bibir bagian atasnya pecah, sedangkan bagian bawah agak turun. Belum lagi leher orang itu yang berkeriput seperti luka terbakar.

Orang itu menatap heran pada orang-orang yang menunggang kuda.

Begitu pula dengan para murid Perguruan Topeng Hitam. Mereka tersentak kaget melihat betapa buruk dan mengerikannya wajah itu. Bila bertemu dengan orang itu malam hari, tentu yang bertemu akan menyangkanya setan gentayangan.

Tetapi bagi Pratama kemunculan orang ini bisa dijadikan tempat untuk menjawab pertanyaannya.

"Ki Sanak yang baru muncul... siapakah gerangan Ki Sanak adanya?"

Orang yang berwajah sangat buruk itu kelihatan takut-takut. Tadi saja dia sudah kaget melihat orang-orang bertopeng hitam itu.

"Aku... aku... Mandali Sewu, Ki Sanak...." katanya tergagap.

"Jangan takut, Mandali. Namaku Pratama... dan mereka ini kawan-kawanku. Kami orang baik-baik. Kami berasal dari Perguruan Topeng Hitam yang bertempat di sebelah timur Gunung Slamet."

"Oh, salam kenal dariku untuk kalian semua," kata Mandali Sewu yang merasa agak tenang.

"Salam kenal kembali dari kami untukmu, Mandali..." kata Pratama dengan suara bersahabat. "Mandali... dapatkah kau menceritakan kejadian apa yang telah menimpa tiga mayat itu?"

"Oh, tidak... aku tidak tahu... Tadi pagi pun, saat aku hendak menebang kayu di hutan ini, sudah kutemui tiga sosok mayat yang terkapar dengan tubuh yang mengerikan. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya. Dan sekarang, aku pun sebenarnya bermaksud hendak menguburkan mayat-mayat mereka dengan cangkul yang kuambil dari rumah "

Pratama mendesah. Sayang sekali orang ini tidak tahu.

"Kau tinggal di mana, Mandali?" 

"Cukup jauh dari hutan ini." 

"Kerjamu menebang kayu?" 

"Ya."

"Jadi kau tidak mengetahui kejadian apa yang menimpa orang-orang ini?"

"Tidak."

"Ah, sayang sekali "

"Memangnya ada hubungan apa kalian dengan orang-orang yang telah menjadi mayat ini?"

"Mereka adalah warga desa Glagah Jajar. Yang baru saja datang ke perguruan kami."

"Dengan maksud apa mereka datang?"

"Mereka hendak meminta bantuan kami untuk menyelidiki dan menangkap seseorang yang dengan tangan telengasnya telah membunuh Juragan Wilada Tista dan keluarganya."

"Oh, kejam sekali orang itu! Siapakah dia adanya?"

"Kami juga belum mengetahui siapa dia. Tetapi dia dinamakan si Pamungkas!"

"Si Pamungkas?"

"Ya. Kenalkah kau dengan orang itu?"

"Mengenalnya aku tidak. Tetapi tiga malam yang lalu, ada kejadian yang mengerikan menimpa desa Bojong Sawo. Di mana beberapa orang terpandang di desa itu tewas secara mengerikan dengan tubuh yang hancur dan luka yang amat parah! Orangorang di desa itu pun memanggil si pembunuh dengan sebutan si Pamungkas. Entah dengan maksud apa sebenarnya si Pamungkas itu menyebarkan teror!"

"Oh, kau mengetahuinya?"

"Secara pasti tidak. Tetapi seorang sahabatku tinggal di sana."

"Lalu?"

"Dialah yang menceritakan padaku siapa si Pamungkas itu. Saat setelah membunuh orang terpandang di desa itu, si Pamungkas kepergok oleh beberapa petugas ronda. Namun ilmu yang dimiliki orang berpakaian biru-biru dengan topeng biru itu..."

"Orang berpakaian biru-biru dan bertopeng biru?" potong Pratama dan dia merasa beruntung karena dapat mengetahui sedikit tentang si Pamungkas.

"Ya! Si Pamungkas itu mengenakan pakaian biru-biru dan bertopeng biru! Tetapi para peronda itu tak berhasil menangkapnya, bahkan beberapa orang tewas dan beberapa orang lagi luka parah karena ilmu yang dimiliki si Pamungkas begitu tinggi!"

"Lalu bagaimana keadaan desa Bojong Sawo sekarang?"

"Sudah tentu penjagaan diperketat. Dan semua warga bersiaga dengan penuh! Karena mereka kuatir si Pamungkas akan muncul kembali dan menyebarkan terornya!"

"Rupanya si Pamungkas itulah menjadi bibit penyakit. Apakah ada yang mengetahui siapakah dia sebenarnya?"

"Sampai sejauh ini belum ada yang mengetahui siapa orang di balik topeng biru itu."

"Juga sebab-sebab dia melakukan teror?"

"Ya. Tak ada seorang pun yang tahu. Tetapi mengingat adanya kejadian itu, ada yang menduga kalau si Pamungkas itu mempunyai dendam kesumat pada orang-orang yang dibunuhnya! Namun tak seorang pun yang yakin akan dugaan itu!"

Pratama mendesah panjang. Kalau begitu si Pamungkas sudah menyebarkan terornya ke setiap desa. Dan ini tentunya amat meresahkan warga desa.

Bila demikian adanya, Pratama bermaksud untuk menyelidiki si Pamungkas di desa Bojong Sawo sebelum ke desa Glagah Jajar. Barangkali saja di sana dia dapat sesuatu yang bisa membawanya ke pada si Pamungkas.

Lalu katanya pula pada Mandali Sewu, "Mandali... sebelumnya aku mengucapkan terima kasih banyak atas percakapan ini. Dan terima kasih banyak pula kau mau bersusah payah untuk menguburkan ketiga mayat ini. Tetapi maafkan kami karena tidak dapat membantumu. Kami harus segera berangkat untuk menyelidiki dan kalau bisa menangkap si Pamungkas."

"Kudoakan semoga kalian berhasil. Mengenai ketiga mayat ini, aku akan menguburkannya dengan senang hati."

"Terima kasih, Mandali. Kau baik sekali."

"Karena sebagai umat manusia, kita harus saling tolong menolong, bukan?"

"Kau betul, Mandali. Bila semua umat manusia punya pendirian sepertimu itu, maka tak akan pernah ada lagi pertumpahan darah yang bersimbah di muka bumi ini!"

"Berangkatlah kalian! Aku pun berdoa semoga kalian cepat menemukan si Pamungkas dan menangkapnya!"

"Terima kasih, Mandali!" kata Pratama lalu dia mengajak teman-temannya untuk segera memacu kuda kembali.

Perasaan di hati masing-masing begitu geram dengan apa yang telah dilakukan si Pamungkas.

***

Senja hari delapan ekor kuda itu memasuki perbatasan desa Bojong Sawo. Para warga desa yang nampak tengah bersiap siaga menyambut kedatangan si Pamungkas, sudah tentu menyambut dengan tidak enak pada para penunggang kuda itu.

Tiga orang laki-laki gagah yang menjaga di perbatasan desa Bojong Sawo, menghentikan laju kuda-kuda mereka. Sikap ketiga orang itu nampak tidak bersahabat. Di pinggang masing-masing tersampir sebilah golok besar.

Pratama dan kawan-kawannya menjadi maklum mengapa mereka bersikap seperti itu, karena tentunya kedatangan mereka amat menarik perhatian orang-orang itu. Karena teror yang dilakukan si Pamungkas begitu mencekam dan membekas. Tetapi mereka pun mengambil sikap yang bersahabat.

"Maafkan kami, Ki Sanak... kalau kedatangan kami mengejutkan kalian " kata Pratama.

Salah seorang dari ketiga orang itu yang berwajah seram membentak dengan suara kasar, "Hhh! Siapakah kalian? Dan mau apa kalian datang ke desa kami ini, hah?!"

"Hhh! Namaku Pratama, dan ini adalah kawankawanku! Kami berasal dari Perguruan Topeng Hitam!"

"Persetan kalian berasal dari mana! Yang kami tanyakan, mau apa kalian datang ke desa kami ini?!"

"Kami datang untuk mencari tahu tentang si Pamungkas, yang mana kami telah mendapat kabar kalau manusia kejam itu tengah melancarkan terornya di desa ini!"

Ketiga orang itu memandang mereka dengan tidak percaya. "Apakah kami bisa percaya?"

"Sudah tentu, karena kami dari golongan putih!" Tiba-tiba yang seorang membentak, "Hhh! Ka-

lian jangan coba-coba mengelabui kami!"

"Apa maksud dari Ki Sanak?" tanya Pratama yang dapat menangkap suara tidak senang dari orang itu.

"Kami tahu siapa kalian?!" 

"Jelaskan maksud Ki Sanak?"

"Kalian adalah anak buah dari si Pamungkas, yang dikirim olehnya untuk memata-matai kami dengan dalih dari golongan putih yang datang untuk menyelidiki si Pamungkas!"

"Hei!" seru Pratama tercekat. "Dari mana datangnya pikiran demikian hingga Ki Sanak berkata seperti itu?!"

"Melihat dari pakaian yang kalian kenakan?!" 

"Ada apa dengan pakaian kami?"

"Si Pamungkas mengenakan pakaian biru-biru dan bertopeng biru pula. Sama seperti yang kalian kenakan! Hanya beda warnanya saja. Sudah tentu ini menandakan kalian anak buah si Pamungkas. Dan dia adalah ketua dari kalian, karena dia berpakaian dan bertopeng biru!"

"Tenang, Ki Sanak... kami datang jelas-jelas untuk menyelidiki si Pamungkas dan membantu desa ini dari teror yang dilancarkannya!"

"Jangan membual di hadapan kami!" bentak orang itu seraya meloloskan goloknya yang amat tajam.

Pratama dapat menduga kalau salah paham ini bisa menjadi besar. Namun dia masih mencoba menerangkan siapa mereka dan maksud apa mereka datang.

Tetapi agaknya orang itu memang benar-benar pemarah dan keras kepala. Dia tidak perduli dengan kata-kata Pratama. Bahkan sambil menjerit keras dia sudah menyerbu dengan goloknya ke arah Pratama.

"Mampuslah kau, Manusia Laknat!"

Pratama pun tak mau kalau dirinya dijadikan sasaran empuk golok tajam itu. Dia mengempos tubuhnya bersalto dari kudanya.

"Tahan!" serunya begitu hinggap di tanah. Orang itu berhenti menyerang. Tatapannya begitu buas untuk membunuh. Nafasnya mendengusdengus.

"Hhh? Mau apa kau, Manusia Laknat?!" 

"Tenang, Ki Sanak! Aku tahu kau begitu geram dan emosi dengan apa yang dilakukan oleh si Pamungkas! Tetapi yang perlu kau ingat, kami bukanlah anak buah si Pamungkas! Dan kedatangan kami bukan untuk membuat teror! 

Tetapi untuk menyelidiki dan menangkap si Pamungkas! Teror yang dilakukannya ini sama dengan yang terjadi di desa Glagah Jajar! Dan tiga orang warga desa Glagah Jajar telah datang ke perguruan kami untuk meminta bantuan! Tetapi sayang, sepulang dari perguruan kami, dia dicegat dan dibunuh si Pamungkas!"

"Hhh! Siapa lagi kalau bukan kalian yang telah membunuhnya, hah!?"

"Aku mempunyai dugaan seperti itu, karena si Pamungkas tentunya marah ada yang berani mengadukan dan mencoba menghalangi perbuatannya!"

"Hhh! Mana ada maling yang berteriak maling!" 

"Kau begitu pemarah dan emosi sekali, Ki Sanak!"

"Karena teror yang kalian lakukan dan ketua kalian lakukan itu amat menyakitkan hati kami!"

Pratama mendesah. Dapat memaklumi mengapa orang ini bersikap seperti itu.

"Tenanglah, Ki Sanak... gunakanlah akal pikiranku secara sehat!"

"Aku sudah menggunakan akal dan pikiranku, Settttaaan!"

"Kau hanya dibawa oleh emosi dan hawa nafsumu saja untuk membunuh kami! Kau telah menduga salah terhadap kami! Karena kau begitu dendam dan sakit hati dengan apa yang telah dilakukan si Pamungkas!"

"Ya, katakan pada Ketua kalian, aku Saburo Manda tak akan mundur sejengkal pun untuk menghadapinya! Juga untuk menghadapi orangorang seperti kalian!" bentak laki-laki yang bernama Saburo Manda itu. Lalu dia menyerbu lagi ke arah Pratama dengan goloknya!

"Tahan serangan!"

"Sabar, Ki Sanak!" seru Pratama namun segera menghindari serangan golok itu.

Serangan yang dilakukan Saburo Manda begitu kejam dan telengas. Goloknya selalu mengarah ke bagian-bagian tubuh yang mematikan dari Pratama. Ini menandakan bukan main geramnya dia. Dan melihat dari gerakannya dan cara dia memegang golok, agaknya dia memang memiliki ilmu silat yang cukup lumayan.

Golok itu berkelebat dengan cepat. Namun sampai sejauh itu, Pratama belum juga menurunkan tangan. Karena dia yakin kalau orang itu sedang dilanda oleh emosi dan amarahnya.

Tetapi lama kelamaan dia menjadi kewalahan juga karena hanya menghindar saja sedangkan golok di tangan Saburo Manda sudah terus mencecarnya dengan kalap.

"Saburo.. hentikan seranganmu ini!" serunya masih mencoba untuk tidak membalas.

"Anjing buduk! Kau harus mampus di tanganku!" geram Saburo Manda tidak perduli. Dia malah semakin mempergencar serangan-serangannya.

Goloknya berkelebat kesana kemari dengan hebat. Membuat Pratama merasa kewalahan juga akhirnya. Karena terlalu sulit untuk menenangkan Saburo Manda, diapun akhirnya membalas semua serangan-serangan itu.

"Maafkan aku, Saudara Saburo..." desisnya sambil membalas dengan sebuah pedang yang telah diloloskan dari sarungnya.

Yang sebuah lagi masih tertengger di tempatnya.

"Hhh! Jangan banyak lagak kau. Manusia busuk! Sampai matipun aku tak akan pernah menyerah dari tanganmu!" geram Saburo Manda sengit dan menyerang. Pratama pun menangkis serangan golok itu dengan pedangnya.

Suara nyaring yang ditimbulkan ketika dua senjata itu beradu cukup keras terdengar.

Trang! Trang! Trang!

Dan tiga jurus kemudian, terlihat Saburo Manda ganti terdesak. Dia sebisanya menahan serangan-serangan pedang yang dilancarkan oleh Pratama.

Namun Pratama yang menduga kalau sikap dan perbuatan Saburo Manda hanya dilandasi oleh amarah dan sakit hatinya terhadap si Pamungkas tidak menurunkan tangan telengas. Dia hanya mencecar agar Saburo Manda melepaskan goloknya.

Dan dia berhasil melakukannya, dengan satu gerak tipu yang cepat. Pedangnya digerakkan ke arah samping kiri tubuh Saburo Manda. Saburo pun menggeser tubuhnya agak ke kanan dan menangkis dengan goloknya.

Trang!

Dan saat itulah Pratama melesat maju, menghantam pergelangan tangan kanan Saburo Manda yang sedang memegang golok dengan sisi bawah tangan kirinya. Golok itu pun terlepas. Pratama menghentikan serangannya. Dia menatap Saburo Manda yang melotot gusar.

"Anjing buduk!" geramnya. "Tenanglah, Saudara... kita ini hanya salah paham. Atas nama Gusti Allah, aku bersumpah, kami ini datang dengan maksud baik. Untuk membantu kalian dan menyelidiki siapa adanya si Pamungkas!"

"Orang jahat pun bisa bersumpah atas nama Tuhan!" geram Saburo Manda.

"Kami adalah orang-orang golongan putih, yang tidak sembarangan bersumpah atas nama Tuhan!" 

"Bah! Orang golongan hitam pun banyak yang mengaku-ngaku dari golongan putih! Lebih baik kalian tinggalkan desa ini sebelum kupanggil para penduduk!"

Pratama mendesah. Bingung dia menghadapi kata-kata orang ini.

Didengarnya salah seorang dari kawan Saburo berkata, "Ki Sanak... yah, kami pun bisa mengerti perasaan Ki Sanak. Dari melihat sepak terjang yang Ki Sanak lakukan terhadap Saburo Manda, kami dapat menduga kalau Ki Sanak dari golongan baik-baik..."

Mendengar kata-kata dari temannya itu, membuat Saburo Manda memalingkan tubuhnya dan berkata gusar, "Apa-apaan kau ini, Junggo?! Mengapa kau berpihak pada orang-orang yang telah menebarkan teror di desa kita!"

Yang dipanggil Junggo cuma tersenyum. "Saburo.. aku yakin sekali meskipun mereka

mengenakan pakaian hitam dan bertopeng hitam pula sama yang seperti dikenakan si Pamungkas, hanya dia berwarna biru, aku tetap berkeyakinan kalau mereka bukanlah orang-orang kejam itu!" 

"Mengapa kau berkata demikian?"

"Karena bagi dia, dengan sekali gebrak kau dapat dikalahkan olehnya, Saburo! Tetapi dia tidak menurunkan tangan telengas, tidak seperti yang dilakukan oleh si Pamungkas!"

"Junggo.. kau rupanya tengah dikecoh oleh kebaikan berpura-pura dari orang ini! Kau bodoh, Junggo! Dia hanya berpura-pura saja, untuk menutupi siapa dirinya yang sebenarnya! Kau tahu, banyak orang-orang jahat yang bertindak seperti ini!"

"Tenanglah, Saburo... lebih baik kita ajak mereka menemui Ki Lurah Wijayatikta! Nah, Ki Sanak... mari ikut kami menemui Ki Lurah!" kata Junggo pada Pratama.

Pratama menjura.

"Agaknya kami menemukan juga orang yang mau mengerti siapa kami sebenarnya," katanya sopan pada Junggo. Lalu pada Saburo Manda yang masih berwajah memerah dia berkata, "Maafkan atas kelancangan aku tadi, Saudara Saburo Manda..."

Saburo Manda hanya terdiam, tetapi mengikuti juga ketika Junggo mengajak kedelapan orang itu untuk menemui Ki Lurah Wijayatikta.

Yang seorang lagi tetap menjadi di perbatasan desa Bojong Sawo.

*** 
EMPAT
Kemunculan si Pamungkas yang mengenakan pakaian biru-biru dan bertopeng biru pula membuat geger rimba persilatan. Sepak terjangnya begitu telengas dan kejam. Dia seolah tidak mengenal ampun pada korbannya. Namun sampai sejauh itu belum ada yang tahu ada maksud apa si Pamungkas melakukan semua kekejaman ini!

Beberapa pendekar dari golongan putih pun bermunculan untuk mencari si Pamungkas. Mereka begitu marah mendengar sepak terjang yang dilakukannya. Namun sampai sejauh ini belum terdengar di mana dan siapa sesungguhnya si Pamungkas itu.

Dan yang lebih mengenaskan lagi, ketika orangorang golongan putih mendengar kabar, Jarot dan istrinya, Yanti Kesuma, ditemukan tewas di sebuah hutan kecil. Tubuh keduanya yang bergelar Sepasang Pengantin Abadi, ditemukan dalam keadaan hancur dan luka yang mengerikan.

Menurut saksi mata, keduanya dibunuh oleh orang yang berpakaian biru-biru dan mengenakan topeng berwarna biru pula. Hal ini membuat orang-orang dari golongan putih semakin marah.

"Kau yakin sekali kalau keduanya dibunuh oleh orang berpakaian topeng biru?" tanya Ki Moro Seta, atau yang bergelar si Tua Welas Asih. Dia bermukim di gunung Tangkuban Perahu. Saat ini si Tua Welas Asih bersama dua orang sahabatnya, Renggo Petaka atau si Tangan Besi dan Nimas Prilastri, si Dewi Baju Putih tengah berada di hutan kecil di mana ditemukannya mayat Sepasang Pengantin Abadi.

Dan mereka tengah menanyai saksi mata yang melihat kejadian itu, yang tak lain si Mandali Sewu. Laki-laki berwajah buruk yang amat mengerikan.

Tadi pun Dewi Berbaju Putih sedikit bergidik melihat wajah yang amat mengerikan itu.

"Benar, Kakek Tua... saat saya hendak menebang kayu, saya melihatnya sendiri. Kalau orang yang berpakaian biru-biru dan bertopeng biru yang membunuh kedua manusia ini."

"Kemana larinya orang itu?"

"Dia berlari ke arah barat. Dan dia bilang, orang-orang golongan putih di rimba persilatan ini akan dibasminya satu per satu."

"Apakah dia menyebutkan dirinya kalau dialah si Pamungkas?"

"Benar, Kakek Tua. Dia menyatakan dirinya dengan sebutan si Pamungkas! Orang itu begitu kejam sekali, Kakek Tua! Kedua temanmu yang tewas ini pun dihajarnya habis-habisan hingga tak bisa berkutik lagi!"

Geram dan memerah wajah si Tua Welas Asih. Dia dapat membayangkan bagaimana pedihnya dan kalang kabutnya Sepasang Pengantin Abadi. Menghadapi si Pamungkas dan menerima kematian yang amat mengenaskan.

"Mandali.. kau yakin orang itu pergi ke arah Barat?"

"Benar, Kakek Tua!"

"Terima kasih atas penjelasanmu," kata si Tua Welas Asih. Lalu berpaling kepada kedua temannya. "Lebih baik kita susul dia sekarang sebelum dia menurunkan tangan telengasnya lagi!"

Lalu ketiga orang itu pun bergerak dengan menggunakan ilmu lari mereka. Mandali Sewu sampai terkagum-kagum melihat mereka yang tiba-tiba saja seperti menghilang.

"Bukan main! Mereka hebat sekali!" desisnya, lalu menyandang kembali kapaknya untuk mencari kayu.

Ketiga pendekar dari golongan putih itu seakan saling beradu lari dan memperlihatkan ilmu lari mereka masing-masing. Ketiganya berkelebat demikian cepat. Dan ketiganya menghentikan lari mereka ketika ada dua jalan di hadapan mereka. Ketiganya saling pandang.

"Hmm... arah mana kira-kira yang ditempuh oleh si Pamungkas," kata si Tua Welas Asih..

"Aku pun tidak tahu," kata Dewi Berbaju Putih. "Bagaimana bila kita berpisah saja di sini," usul

Renggo Petaka atau si Tangan Besi.

"Itu lebih baik," kata si Tua Welas Asih. "Kalian pergi ke arah kiri, aku pergi ke arah kanan."

"Kalau begitu, baiklah," kata si Tangan Besi.

Namun belum lagi ketiganya berpisah, tiga buah benda melayang dengan deras ke arah mereka. Dan serentak ketiganya bergulingan menghindari tiga benda yang mengarah kepada mereka. "Bangsat! Siapa yang berani membokong secara pengecut seperti ini?!" maki si Tua Welas Asih ketika dia sudah berdiri.

Begitu pula dengan kedua temannya. Dan bukan main terkejutnya mereka ketika melihat benda apa yang hendak mengancam mereka. Tiga buah daun yang kini menancap di tanah!

Walaupun terkejut tetapi ketiganya mendengus. Sebuah ilmu tenaga dalam yang amat tinggi tengah dipamerkan oleh pembokong mereka!

"Hei, Pembokong, Pengecut! Cepat kau ke luar dari tempat persembunyianmu!" bentak si Tangan Besi.

Tiba-tiba terdengar tawa yang cukup keras. "Hahaha... rupanya kalian adalah orang-orang hebat yang sedang mencari si Pamungkas!" 

"Hahaha.. Kakek Tua... mau apa kau mencari ke kiri dan ke kananmu... aku ada di atas pohon tepat di depanmu!"

Serentak ketiganya menoleh ke atas, dan melihat satu sosok duduk dengan santainya di sebuah ranting yang kecil. Kedua kaki orang itu terjuntai. Dan dia mengenakan pakaian biru dengan topeng biru pula!

"Si Pamungkas!" seru Si Tangan Besi.

"Rupanya dia yang membokong kita!" bentak Dewi Berbaju Putih. Lalu membentak pada sosok tubuh yang dengan santainya menjuntai-juntaikan kaki, "Pengecut! Turunlah kau dari tempatmu!"

Si Pamungkas terbahak.

"Hahaha.. bukankah aku orang yang sedang kalian cari? Tentunya kalian gembira bukan dapat bertemu denganku dan tak perlu lagi bersusah payah mencariku?!"

"Kami akan mencincang tubuhmu. Manusia busuk!" bentak Dewi Berbaju Putih lagi.

"Nimas Prilastri.. wajahmu memang cantik sekali, tetapi dalam keadaan marah seperti itu kau buruknya bukan main!"

"Perduli setan dengan kata-katamu! Kau harus membayar nyawa pada orang yang telah kau bunuh! Juga pada Sepasang Pengantin Abadi yang kau bunuh dengan mengerikan!"

"Haha.. itu salah mereka sendiri! Mengapa mereka berani menghalangi perbuatanku?"

"Siapa pun akan menghalangi perbuatanmu, Pamungkas!"

"Dan berarti mautlah sebagai ganjarannya!" 

"Sombong!" bentak si Tangan Besi. "Turun kau dari tempatmu, itu, biar aku cincang tubuhmu!" 

"Hahaha... jangan terlalu sesumbar, Tangan Besi! Agaknya kau belum mengenal siapa aku!" seru si Pamungkas dan tiba-tiba dia menggerakkan tangannya ke arah si Tangan Besi.

Sebuah benda kembali melayang ke arahnya, membuat si Tangan Besi harus bergulingan.

"Bangsat!" desisnya setelah berdiri.

"Hahaha.. maafkan, maafkan aku, Tangan Besi! Daun itu jatuh tertiup angin hahahaha!"

Diam-diam si Tua Welas Asih dapat mengukur ilmu dari si Pamungkas. Dan dia sungguh terkejut ketika menyadari betapa tingginya kesaktian si Pamungkas.

Hh! Siapa dia sebenarnya? Siapakah yang berada di balik topeng berwarna biru itu? "Pamungkas... betapa banyaknya korban yang jatuh di tanganmu. Dan rata-rata mereka tewas secara mengerikan? Belum cukupkah kau menyebarkan terormu ini?!"

"Hahaha... tidak akan pernah cukup, Kakek Tua... Tidak akan pernah cukup. Sampai kapanpun aku akan membuat teror untuk membunuh orang-orang seperti kau itu!"

"Dengan maksud apa kau sebenarnya melakukan teror seperti ini?"

"Hahaha.. untuk apa kau ketahui? Toh percuma karena sebentar lagi kau akan mampus!"

"Pamungkas., mati ada di tangan Tuhan. Dan ketahuilah, kami tidak pernah menyukai sepak terjangmu yang kejam dan telengas ini!"

"Aku? Hahaha.. aku kejam dan telengas? orangorang itulah yang membuatku jadi begini?"

"Apa maksudmu?"

"Hahaha.. ganti aku yang bertanya, apa maksudmu menghalangi perbuatanku, Tua Welas Asih!"

"Karena aku tak pernah menyukai kekejamanmu ini!"

"Lalu kau mencoba untuk menghentikannya!" 

"Ya!"

"Hahaha... kau hanya bermimpi rupanya, Kakek Tua! Siapa pun orangnya yang hendak menghalangi sepak terjangku, akan kubuat mampus seperti orang-orang terdahulu! Juga kalian, yang akan kubuat berkalang tanah seperti Sepasang Pengantin Abadi!" 

"Manusia sombong!" geram Dewi Berbaju Putih yang tak dapat menahan kemarahannya. "Orang seperti kau tak layak untuk hidup!"

Setelah berkata begitu, dia mengibaskan tangan kanannya ke arah si Pamungkas. Serangkum angin deras mengarah pada si Pamungkas yang langsung bersalto hinggap di bumi. Sambaran angin itu mengenai batang pohon itu hingga hangus!

Si Pamungkas terbahak.

"Bukan main! Ilmu Sambaran anginmu itu begitu hebat, Dewi Berbaju Putih!"

"Manusia busuk! Kau harus mampus di tanganku!" bentak Dewi Berbaju Putih dan sudah bergerak menyerbu ke arah si Pamungkas yang berdiri di hadapannya.

"Hahaha... kau tak sabaran sekali! Bukankah lebih baik kau tenang sedikit! Dan kita bicarakan persoalan ini! Barangkali saja kau sebenarnya berminat padaku!" terbahak si Pamungkas sambil menghindari serangan Dewi Berbaju Putih.

Keduanya pun sudah terlibat pertempuran yang hebat. Dan masing-masing memperlihatkan ketangguhan mereka. Namun si Pamungkas menghadapinya dengan tertawa. Bahkan terlihat kalau dia seakan enggan untuk melayani Dewi Berbaju Putih.

Menyadari hal itu, Dewi Berbaju Putih menjadi jengkel karena merasa si Pamungkas mempermainkannya. Dia kembali meningkatkan serangannya. Tetapi si Pamungkas yang ilmunya begitu tinggi, hanya membutuhkan tiga jurus untuk menyudahi perlawanan Dewi Berbaju Putih. Ketika si Pamungkas ingin membuat mampus wanita itu, Si Tangan Besi sudah melayang memapaki.

"Des!"

Tangan telengas yang siap diturunkan oleh si Pamungkas dipapakinya. Tubuh si Pamungkas melayang bersalto, sementara si Tangan Besi merasakan tangannya kesemutan.

Dia mendesis dalam hati, "Tinggi sekali tenaga dalam bangsat ini!"

Sedangkan Dewi Berbaju Putih yang baru saja selamat dari maut mendesah lega dalam hati. Dan dia pun segera membantu si Tangan Besi mengeroyok si Pamungkas.

Si Pamungkas terbahak.

"Hahaha.. rupanya kalian sudah kelihatan sifat kalian yang sesungguhnya! Tua Welas Asih, mengapa kau tidak turun tangan sekalian untuk mengeroyokku, hah?!"

Mendengar kata-kata si Pamungkas yang meledeknya, Si Tua Welas Asih menjadi geram. Dia sudah menahan diri untuk tidak ikut dalam pertempuran itu. Namun kini keadaan sudah berubah.

Di samping geram, dia juga yakin ilmu yang dimiliki si Pamungkas begitu tinggi. Dalam sepuluh jurus saja kedua sahabatnya yang mengeroyok si Pamungkas belum bisa berbuat apa-apa. Maka si Tua Welas Asih pun segera menerjunkan diri.

"Kalau itu maumu, baiklah, Pamungkas! Jangan katakan aku pengecut karena hanya bisa mengeroyokmu!"

"Hahahaha.. aku tidak pernah mengatakan kalian pengecut! Kalian mencariku saja itu sudah membuatku salut karena kalian begitu berani menjual lagak!"

Meskipun dikeroyok oleh tiga pendekar dari golongan putih itu, si Pamungkas belum kelihatan terdesak. Dia begitu hebat dan tangguh.

Kelincahan dan keperkasaannya membuka mata ketiganya semakin lebar. Dan ini membuat mereka menjadi amat penasaran.

Mereka pun jadi malu sendiri dengan gelar yang selama ini mereka sandang. Karena sampai beberapa jurus mereka belum juga berhasil mengalahkan si Pamungkas, jangankan untuk mengalahkan, mendesak pun belum kelihatan.

"Hahaha.. hanya kepandaian seperti ini saja yang sudah membuat kalian nekat dan berani mencariku?"

"Jangan banyak bacot kau, Pamungkas!" geram si Tangan Besi yang sudah mengeluarkan ilmu tangan besinya. Namun tak sekalipun tangannya mengenai sasarannya.

Begitu pula dengan Dewi Berbaju Putih yang sudah mengeluarkan ajian terakhirnya, Genggaman Tangan Dewa. Namun kelincahan si Pamungkas dalam menghindar belum juga membuatnya mampu untuk menjatuhkan tangan.

Si Tua Welas Asih pun merasa kalau dia dan kedua sahabatnya tak akan mungkin bisa mengalahkan si Pamungkas. Tiba-tiba si Pamungkas bersalto ke belakang. Dan begitu hinggap di tanah dia sudah membuka jurus Pukulan Patuk Bangaunya.

"Hahaha... rupanya permainan ini akan terus berlanjut, Para Pendekar Sok Jago!" terbahak dia sambil menyerang.

Dan ketiganya pun segera memapaki dengan ajian masing-masing. Namun si Pamungkas lagilagi memperlihatkan keperkasaannya. Kedua tangannya yang berbentuk paruh bangau bergerak demikian cepat, bahkan terlihat dua jurus berikutnya Dewi Berbaju Putih yang dijadikan sasaran pukulan-pukulannya.

"Hati-hati, Dewi!" seru si Tua Welas Asih. Sambil mencoba membantu. Namun dia pun harus menghindar ketika tangan kanan si Pamungkas berkelebat ke belakang.

"Hahaha.. kalian tak akan bisa meloloskan diri dari tanganku. Orang-orang sok Jago!"

"Kau yang tak akan bisa meloloskan diri dari tangan kami!" seru si Tangan Besi yang juga membantu Dewi Berbaju Putih dengan seranganserangan tangannya yang menjadi sekeras besi.

Dewi Berbaju Putih sendiri menjadi kelabakan ketika si Pamungkas menjadikan dirinya sasaransasaran serangannya yang hebat dan cepat itu. Dia sebisanya untuk bertahan.

Begitu pula dengan si Tangan Besi dan si Tua Welas Asih yang mencoba membantu Dewi Berbaju Putih. Tetapi si Pamungkas memang menunjukkan kelasnya tersendiri. Serangan-serangan yang dilancarkan oleh si Tangan Besi dan si Tua Welas Asih dengan mudahnya dihindari. Bahkan kakinya pun dapat menghalangi niat mereka untuk membantu Dewi Berbaju Putih.

Hingga membuat keduanya mundur. Kini tinggalkan Dewi Berbaju Putih sendiri yang harus mempertahankan diri menghadapi serangan yang dilancarkan si Pamungkas. Namun jelas terlihat kalau kesaktian Dewi Berbaju Putih jauh berada di bawah si Pamungkas. Dua pukulan patuk bangau si Pamungkas tak bisa dihindarinya lagi.

"Des!"

"Des!"

Dua pukulan itu mengenai sasarannya. Membuat Dewi Berbaju Putih terhuyung dan merasakan sakit yang luar biasa pada bagian tubuhnya yang terkena pukulan si Pamungkas.

Si Pamungkas terbahak.

"Hahaha.. kini terimalah ajalmu, Dewi Berbaju Putih!" desisnya. "Sayang, orang secantik kau harus mampus di tanganku sekarang juga!"

Lalu terlihat kedua tangan si Pamungkas berubah menjadi semerah darah. Dan tatapannya pun begitu mengerikan. Dia sudah melancarkan ajian Sambar Nyawa.

Tiba-tiba tubuhnya memekik keras dan meluncur ke arah Dewi Berbaju Putih yang masih sempoyongan!

*** 
LIMA
Dewi Berbaju Putih tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia hanya bisa memejamkan mata. Begitu pula dengan si Tangan Besi dan si Tua Welas Asih keduanya nampak terpaku pada tempat mereka masing-masing. Dan tak bisa berbuat banyak untuk menghalangi niat si Pamungkas, untuk membunuh Dewi Berbaju Putih.

Maka tanpa ampun lagi ajian Sambar Nyawa yang ada di tangan si Pamungkas mengenai tepat pada sasarannya.

"Des!" 

"Aaaakhhh!"

Terdengar jeritan yang memilukan keluar dari mulut Dewi Berbaju Putih. Dan tubuh itu pun meluncur dengan deras ke belakang. Menabrak sebuah pohon besar hingga tubuh itu terpelanting lagi ke depan dan ambruk ke tanah.

Saat ambruk itu barulah terlihat kalau sekujur tubuh Dewi Berbaju Putih hangus dan perlahanlahan terlihat asap berbau sangit menguar dari tubuh itu. Lalu keanehan terjadi. Tubuh itu meledak! Betapa kagetnya si Tua Welas Asih. Dan Si Tangan Besi melihat hasil pukulan Sambar Nyawa yang dilancarkan si Pamungkas!

Satu ajian yang benar-benar begitu kejam dan menakutkan! Si Pamungkas terbahak puas melihat hasil dari perbuatannya. Lalu dia berpaling pada si Tua Welas Asih dan si Tangan Besi yang wajah mereka berubah menjadi merah.

Geram dan jeri bercampur menjadi satu. "Hahaha... aku tahu. kalian tentunya jeri melihat ajian Sambar Nyawaku, bukan?!" seru si Pamungkas dengan nada mengejek. "Nah, lebih baik kalian membunuh diri saja sebelum akupun punya niat untuk mencabut nyawa kalian!"

Merah padam wajah keduanya. Dan mereka merasakan sakit hati dan panas di dada mereka. Keduanya menggeram, menatap marah dengan dingin pada si Pamungkas.

"Kau harus membayar nyawa sahabatku, Pamungkas!" geram si Tua Welas Asih..

"Kami tak akan mengampunimu, Manusia busuk!" kata si Tangan Besi menyambung kata-kata si Tua Welas Asih.

Tetapi kata-kata keduanya hanya disambut tawa oleh si Pamungkas.

"Kalian hanyalah orang-orang yang bisa menjual lagak dan besar mulut! Cepat kalian membunuh diri, sebelum aku menjadi marah!"

Si Tua Welas Asih mendengus.

"Hhh! Kami sudah bulatkan tekad untuk mencari dan menghentikan sepak terjangmu! Sekarang kau sudah kami temukan, tak mungkin kami akan kembali dengan tangan hampa, atau pun membunuh diri secara pengecut! Kami bukanlah orangorang pengecut, Pamungkas!" seru si Tua Welas Asih berapi-api. Hatinya panas bukan main.

"Bagus! Aku mau melihat lagi orang-orang bukan pengecut seperti kalian!" seru si Pamungkas dan tubuhnya sudah melayang dengan ajian Sambar Nyawa yang terapal di tangannya.

Kedua lawannya pun sudah tahu akan kekejaman ajian Sambar Nyawa yang dimiliki si Pamungkas. Mereka pun tak berani untuk beradu tangan dengan resiko yang mematikan. Dan hal ini memudahkan si Pamungkas untuk mencecar dan menurunkan tangan telengas pada keduanya.

"Hahaha... mengapa kalian tidak membalas?!" ejeknya seakan-akan tidak tahu kalau kedua lawannya gentar.

Dan keduanya memang tak mau mengambil resiko yang mematikan itu. Sambil terus menghindar keduanya berpikir keras untuk mematahkan serangan si Pamungkas.

Namun karena mereka tak mau mengambil resiko, sulit bagi keduanya untuk menghentikan serangan si Pamungkas. Bahkan keduanya pun terus menghindar.

Sampai suatu ketika, si Tangan Besi terhuyung karena kakinya berhasil dikait oleh kaki si Pamungkas. Dan tubuh si Pamungkas pun sudah menerjang dengan cepat ke arahnya.

Ajian Sambar Nyawanya siap untuk mencabut nyawa si Tangan Besi yang sudah tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar lagi.

Namun mendadak saja tubuh si Pamungkas bersalto ke belakang ketika dirasakannya ada angin berdesing ke arahnya.

"Setan alas!" makinya geram ketika dia hinggap di bumi.

Dan melihat benda apa yang menyambarnya. Dua buah senjata rahasia berbentuk topeng hitam menancap di pohon sebagai ganti sasaran dari tubuhnya.

Dan bermunculanlah delapan orang mengenakan pakaian hitam-hitam dan bertopeng hitam. Mereka tak lain adalah murid-murid Perguruan Topeng Hitam yang diutus oleh Madewa Gumilang untuk menyelidiki dan menangkap si Pamungkas.

Kedatangan mereka di desa Bojong Sawo disambut dengan baik oleh Ki Lurah Wijayatikta. Bahkan Saburo Manda pun meminta maaf pada Pratama karena salah paham yang dilakukannya.

Selama sepuluh hari mereka berada di desa Bojong sawo, tak sekali pun ada tanda-tanda si Pamungkas akan datang. Dan ini membuat mereka menjadi bosan.

Lalu Pratama pun meminta izin untuk pergi ke desa Glagah Jajar pada Ki Lurah Wijayatikta. Dan dalam perjalanan mereka menuju desa Glagah Jajar, secara tidak sengaja mereka tiba di tempat itu. Di mana dua tokoh dari golongan putih sedang berhadapan dengan si Pamungkas.

Para murid Perguruan Topeng Hitam terkejut melihat salah seorang yang sedang bertanding itu mengenakan pakaian dan bertopeng biru. Mereka seperti disadarkan oleh kenyataan, bahwa orang itulah yang sedang mereka cari.

Dan Pratama pun segera melemparkan senjata rahasia yang berbentuk topeng hitam ke arah si Pamungkas yang tengah siap untuk menghabisi si Tangan Besi.

Si Pamungkas melihat kedatangan orang-orang itu. Tetapi kemudian dia berkata merandek, "Hhh! Rupanya kalian para murid Perguruan Topeng Hitam!"

"Dan kalau tidak salah, kaulah orang yang sedang kami cari yang berjuluk si Pamungkas!" bentak Pratama.

Si Pamungkas terbahak. Dari rasa geramnya seolah menjadi lucu mendengar kata-kata itu.

"Hahaha.. rupanya kalianlah yang diutus oleh Madewa Gumilang alias Pendekar Bayangan Sukma untuk menangkapku? Hmm.... mengapa tidak Pendekar Bayangan Sukma itu sendiri yang turun tangan? Apakah dia sudah menjadi pengecut dan penakut seperti anak perempuan?!"

Kata-kata si Pamungkas membuat wajah-wajah yang berada di balik topeng hitam itu memerah. Geram.

"Lancang bicara kau, Pamungkas! Ketua kami tak perlu turun tangan untuk mencari orang celaka seperti kau!"

"Duh, duh.. apakah kalian mampu untuk menangkapku, hah?! Atau., kalian memang sudah tidak sayang dengan nyawa yang kalian miliki?!"

"Manusia busuk! Kami rela mati demi kebenaran!"

"Bukan main! Rupanya ajaran si Pendekar Bayangan Sukma sudah begitu meresap di hati kalian! Namun sayang... sayang sekali, karena kalian akan mengantarkan dan membuang nyawa dengan percuma!"

"Monyet busuk!"

"Hahahaha..." Makian Pratama hanya disambut tawa oleh si Pamungkas. "Bagus, bagus sekali., aku memang sudah lama ingin mengetahui sampai di mana kehebatan akan ilmu Perguruan Topeng Hitam. Hanya sayang... ketua kalian Pendekar Bayangan Sukma tidak ada di sini. Tetapi ingat, akan kubasmi Perguruan Topeng Hitam hingga ke akar-akarnya!"

Murkalah Pratama. Dia berseru seraya menggerakkan tangannya, "Kurung orang itu! Dia telah lancang bicara menghina dan meremehkan Ketua kita!"

Serentak delapan murid Perguruan Topeng Hitam mengurung si Pamungkas yang hanya terbahak saja. Si Tua Welas Asih merasa bisa bernafas kembali melihat secara tidak disangka muncul delapan murid Perguruan Topeng Hitam. Si Tua Welas Asih sudah tahu siapa Pendekar Bayangan Sukma yang menjadi ketua Perguruan Topeng Hitam.

Begitu pula halnya si Tangan Besi yang buruburu bersemedi untuk menghilangkan rasa sakit di dadanya. Setelah dirasakan cukup pulih, dia pun berdiri tegap. Siap membantu delapan murid Perguruan Topeng Hitam yang mengurung si Pamungkas.

Si Pamungkas terbahak kembali.

"Hahaha! Rupanya kalian benar-benar bosan hidup! Baiklah, aku pun sudah bosan! bermainmain seperti ini!"

Pratama pun meloloskan sepasang pedangnya yang diikuti oleh beberapa orang temannya yang lain.

"Pamungkas! Lebih baik kau menyerah saja daripada kami bunuh!"

"Hahaha... mengapa masih banyak bicara?! Cepat kalian serang aku!"

"Bangsat! Tangkap orang itu!" seru Pratama seraya memulai serangannya yang disusul oleh tujuh temannya.

Kembali di tempat itu terjadi pertempuran kembali. Kali ini delapan orang berpakaian hitamhitam dan bertopeng hitam menggempur hebat satu sosok tubuh yang mengenakan pakaian dan topeng berwarna biru.

Pedang-pedang itu pun berkelebat menyambar ke arah si Pamungkas yang kembali memperlihatkan kelincahannya. Si Tua Welas Asih pun turut membantu. Begitu pula dengan si Tangan Besi.

Mereka mengurung langkah si Pamungkas. "Bangsat! Rupanya kalian memang benar-benar

bosan hidup!" bentak si Pamungkas dan diamdiam dia mengeluarkan ajian Seribu Bobot Besi. Sambil terbahak dia berseru, "Hahaha.. ayo serang, hantam, bunuh aku!"

Para penyerangnya pertama kebingungan karena tiba-tiba saja si Pamungkas diam tegak berdiri. Tidak lagi menghindari serangan-serangan mereka. Namun kesempatan itu pun mereka pergunakan sebaik-baiknya.

Namun mereka terkejut melihat apa yang terjadi. Begitu pukulan dan pedang mereka mengenai sasarannya, malah tangan mereka yang menjadi kesakitan.

Si Tua Welas Asih merasakan tangannya seolah patah. Si Tangan Besi merasakan tangannya kesemutan.

Dan pedang-pedang yang dihantamkan oleh para murid Perguruan Topeng Hitam malah menimbulkan suara, "Trang!"

Orang-orang itu mundur karena terkejut. "Hahaha! Mengapa harus mundur? Ayo, bukankah kalian ingin menangkap dan membunuhku?! Cepat lakukan, sebelum aku berubah pikiran masih memberi kalian bermain-main!"

Orang-orang itu pun kembali menyerang, namun serangan itu terasa sia-sia belaka. Karena hal yang sama yang mereka lihat.

Tiba-tiba si Pamungkas membuka kedua tangannya. "Hahaha... agaknya aku sudah bosan dengan permainan ini!" desisnya dan tiba-tiba tubuhnya melenting ke arah si Tua Welas Asih dengan kedua tangan yang kemerahan mengarah pada dadanya.

"Ajian Sambar Nyawa!" desis si Tua Welas Asih. Sambil bergulingan. Namun si Pamungkas terus mencecar. Sedangkan pedang-pedang yang mengenai tubuhnya dibiarkan saja, karena hanya menimbulkan suara "trang" kembali.

Nasib si Tua Welas Asih. Seperti telur di ujung tanduk. Dia sudah kebingungan dan kewalahan menerima serangan ajian Sambar Nyawa yang dilancarkan oleh si Pamungkas.

Dan memang tak seorang pun dari sekian banyak yang bisa menolongnya. Maka tanpa ampun lagi tubuh si Tua Welas Asih pun harus mampus terkena sambaran ajian Sambar Nyawa. Tubuhnyapun hangus dan meledak seperti yang dialami Dewi Berbaju Putih.

Bau sangit pun kembali tercium. Si Tangan Besi menjerit keras melihat lagi-lagi sahabatnya mati dengan cara yang mengerikan. Dengan menjerit geram dia menerjang ke arah si Pamungkas dengan kalap.

"Kau harus membayar nyawa temanku, Manusia Kejam!"

Namun si Pamungkas yang sekujur tubuhnya sudah dialiri ajian Seribu Bobot Besi hanya tertawa saja menerima pukulan dari si Tangan Besi.

"Hhh! Kau membosankan aku, Tangan Besi!" geramnya dan orang yang berpakaian dan bertopeng biru itu pun menggerakkan tangannya.

"Des!"

Tepat mengenai dada si Tangan Besi. Tubuh si Tangan Besi pun terpental dengan deras ke belakang. Lalu ambruk sebelumnya menabrak sebuah pohon. Kembali pemandangan yang seperti dialami si Tua Welas Asih terlihat. Tubuh itu berubah hangus dan kemudian meledak menimbulkan kembali bau sangit yang amat sangat.

Para murid Perguruan Topeng Hitam pun kembali terkejut melihat kehebatan ajian Sambar Nyawa yang dimiliki oleh si Pamungkas. Tetapi biarpun begitu, mereka tidak takut sekalipun harus mengorbankan nyawa.

Malah kembali dengan segera mereka mengurung manusia berpakaian dan bertopeng biru itu. Orang itu kembali terbahak. Tawanya membahana, mengerikan, mengundang kematian dan membuat bulu roma berdiri.

Tiba-tiba dia berkata dengan suara merandek, "Hhh! Berpikirlah kalian dua kali sebelum nekat menantangku?! Aku yakin, sebenarnya kalian masih sayang dengan nyawa kalian! Hhh! Lebih baik kalian beritahukan kepada ketua kalian, Pendekar Bayangan Sukma! Untuk keluar dari sarang jangan bersembunyi seperti anak perempuan! Aku, si Pamungkas, akan membasminya hingga punah dari muka bumi ini!"

Kembali wajah-wajah di balik topeng hitam itu memerah. Bukan main geram dan panas hati mereka mendengar kata-kata si Pamungkas. Sengkala pun melesat maju, disusul oleh yang lain. Kembali pedang-pedang itu berkelebat ke arah si Pamungkas. Namun lagi-lagi si Pamungkas tidak bergeming dari berdirinya.

Dia malah terbahak. Seolah kegelian pedangpedang itu mengenai sekujur tubuhnya. Ajian Seribu Bobot Besi yang telah mengalir dalam tubuhnya, tak satu pun yang membuat pedang-pedang lawannya berhasil melukainya!

"Cepat kalian tinggalkan tempat ini sebelum mampus kubunuh!" berkata si Pamungkas dengan gusar.

"Tak akan pernah kami mundur dari hadapanmu, Pamungkas!" sahut Sengkala gagah berani.

Si Pamungkas mendengus.

"Rupanya kalian benar-benar ingin mampus!" desisnya marah dan kedua tangannya pun bergerak. Menghantam dua orang murid Perguruan Topeng Hitam dengan ajian Sambar Nyawanya.

Tanpa ampun lagi tubuh kedua orang itu pun ambruk. Hangus.

Dan meledak.

Melihat hal itu, bukannya membuat nyali para murid Perguruan Topeng Hitam menjadi ciut. Tetapi malah semakin membara.

"Bangsat! Kau harus membayar nyawa dua saudara seperguruan kami!" dengus Sengkala dan menyerang kembali.

Namun kembali serangannya sia-sia, malah tubuhnya hampir saja terkena sambaran pukulan ajian Sambar Nyawa milik manusia berpakaian dan bertopeng biru itu.

"Hahaha.. kembalilah kalian ke Perguruan Topeng Hitam! Katakan pada ketua kalian agar jangan turut campur urusanku! Bila dia masih mau menentang, aku tak akan ragu-ragu lagi untuk membunuhnya!"

Menyadari kesaktian manusia ini amat tinggi, Sengkala memberi tanda kepada teman-temannya untuk menghentikan penyerangan.

Lalu dia mendengus pada si Pamungkas. "Manusia laknat! Hari ini kau menang! Tetapi

kami akan terus dendam padamu!"

"Lakukanlah bila itu yang kau inginkan! Hahaha... katakan pula pada Pendekar Bayangan Sukma, bila dia ingin mencariku, aku berada di Bukit Alas Waru!" tertawa si Pamungkas. Dan mendadak saja tubuhnya berkelebat, meninggalkan tawa yang masih membahana. Bukan main malu, kecewa, sedih dan marahnya para murid Perguruan Topeng Hitam itu. Lebihlebih menyaksikan dua kawan mereka harus mampus dengan cara yang mengerikan di tangan si Pamungkas.

Mereka pun menyadari kalau ilmu yang dimiliki manusia itu begitu tinggi. Namun kekejaman yang telah dilakukan manusia berpakaian dan bertopeng biru itu telah membangkit dendam kesumat yang amat sangat.

Mereka tidak bisa menerima tangan telengas yang telah diturunkan manusia itu kepada dua saudara seperguruan mereka. Namun memang tak ada jalan lain selain menghentikan menyerang sebelum maut pun yang akan mengundang mereka datang.

Keenam sisa murid Perguruan Topeng Hitam itu hanya bisa menahan tangis sambil menatap tubuh dua saudara seperguruan mereka yang hancur.

"Bagaimana, Pratama?" tanya salah seorang. Pratama yang terisak mendesah.

"Memang tidak ada jalan lain. Kita memang harus menghentikan serangan. Apa yang dilakukan Sengkala benar."

"Tetapi dia telah membunuh Adi Jaya dan Purnama!"

"Ya, tenanglah, lebih baik kita kembali ke perguruan. Dan bila kita diberi kesempatan lagi oleh Ketua untuk mencari si Pamungkas, kita bersumpah untuk membalas dendam ini padanya!"

Lalu wajah-wajah itu pun tertunduk.

Hari semakin senja. Dan matahari kini hanya menampakkan sisa-sisa biasnya di ufuk barat sana.

Semilir angin mengantarkan kepergian enam murid Perguruan Topeng Hitam sambil membawa mayat kedua saudara Seperguruan mereka.

***
ENAM
Bukit Alas Waru adalah sebuah bukit yang amat menyeramkan, letaknya di belakang gunung merapi yang masih aktif. Bila dilihat dari kejauhan, Bukit Alas Waru seperti memperingatkan kalau tempat itu begitu mengerikan. Bahkan pernah tersiar kabar, kalau Bukit Alas Waru tempat segala dedemit bermukim.

Dan diterangi sinar bulan yang cukup, bukit Alas Waru seperti raksasa yang tengah terdiam. Dan sewaktu-waktu bisa bangun dengan menakutkan.

Namun sosok tubuh yang berkelebat cepat itu, seolah tidak menghiraukan keseraman dan keangkeran Bukit Alas Waru. Sosok tubuh itu dengan ringannya berlari mendaki bukit itu.

Geraknya ringan dan cepat. Tak lama kemudian dia sudah tiba di sebuah mulut goa yang terdapat di atas bukit Alas Waru.

Sinar bulan pun menerangi tubuhnya. Sosok itu berpakaian dan bertopeng biru. Dia adalah si Pamungkas! "Kaukah itu, Topeng Biru..." terdengar suara bernama serak dari dalam goa.

Si Pamungkas membungkukkan tubuhnya di mulut goa.

"Benar, Guru..."

"Masuklah, Topeng Biru..."

Si Pamungkas pun memasuki goa itu. Mulut goa yang kelihatan sempit merupakan sebuah lorong yang cukup panjang. Di ujung sana nampak terlihat ada cahaya yang amat terang menerangi sebuah tempat yang mana lorong itu berubah dari sempit menjadi semakin lebar.

Si Pamungkas tiba di tempat itu.

"Bagaimana, Topeng Biru? Apakah kau berhasil mendapatkan Cincin Naga Sastra dari tangan Juragan Wilada Tista?"

Si Pamungkas berjalan ke arah suara itu. Dan dia menjura kembali, di hadapan sebuah batu besar yang panjang.

"Belum, guru."

"Apa maksudmu?" Nada suara itu berubah gusar.

Tiba-tiba di batu yang panjang itu bergolek sosok tubuh tua yang lemah. Wajah orang itu amat berkeriput. Dia seorang kakek yang berusia 70 tahun dengan janggut, kumis dan rambut putih. Tubuh kakek itu nampak begitu lemah. Dan dia sepertinya sedang sakit.

"Juragan Wilada Tista mengaku tidak menyimpan cincin itu, Guru."

"Bagaimana tidak? Lima belas tahun yang lalu, aku melihatnya sendiri Cincin Naga Sastra diberikan oleh Kyai Tapa Suci kepadanya, di saat kau belum kuangkat sebagai muridku."

"Tetapi dia mengaku tidak memilikinya, Guru." 

"Bangsat!" kakek yang sakit itu menggeram.

"Topeng Biru sakitku akibat Pukulan Sakti yang dilancarkan oleh Kyai Tapa Suci lima belas tahun yang lalu saat kami bertempur di puncak Semeru, hanya bisa disembuhkan oleh air yang telah direndam oleh Cincin Naga Sastra.

Pertarungan yang terjadi antara aku dengan Kyai Tapa Suci berlangsung selama satu bulan penuh. Dan akhirnya kami sama-sama kuat dan menderita luka dalam. Luka yang kuderita begitu pahit sekali. Tetapi Kyai Tanpa Suci pun terkena ajian Sambar Nyawa milikku.

Saat itu Wilada Tista adalah murid tunggalnya. Dan sebelum Kyai Tapa Suci tewas dia memberikan Cincin Naga Sastra pada Wilada Tista. Cincin Naga Sastra itulah yang bisa menyembuhkan ini.

Untunglah saat itu aku dapat melarikan diri dari kejaran Wilada Tista, bila tidak aku tentu sudah mati!

Hingga akhirnya aku bertemu denganmu dan kau kuangkat murid. Dengan maksud agar kau dapat mencari Cincin Naga Sastra untuk mengobati luka dalam dan penyakit yang kuderita selama bertahun-tahun ini.

Bahkan bila kau tidak kuberitahukan bagaimana cara menyerang Wilada Tista, belum tentu kau dapat membunuhnya!"

"Dan sekarang kau kembali tanpa membawa Cincin Naga Sastra! Keterlaluan!" si Kakek tua yang bergelar Dewa Nyawa Maut menggeram marah pada si Pamungkas atau yang dipanggilnya Topeng Biru.

Si Pamungkas menjura.

"Aku sudah mencarinya, guru. Bahkan keluarganya pun kubantai karena tak seorang pun yang memberitahukan padaku dimana Cincin Naga Sastra itu berada. Bahkan tidak hanya sampai di sana, sahabat kental Wilada Tista yang berada di desa Bojong Sawo pun kubantai!"

"Bodoh! Murid macam apa kau ini, Topeng Biru? Hanya mencari Cincin Naga Sastra itu saja kau tidak dapat?!"

Mendadak di balik topeng biru itu, seraut wajah menjadi sengit. Dan rasa hormatnya perlahanlahan menghilang karena kesal dimaki bodoh.

Si Pamungkas memang dapat mengetahui akan kesaktian gurunya, namun saat ini gurunya sedang sakit. Tadi pun gurunya tidak terlihat oleh pandangan mata padahal dia tengah terbaring di batu panjang itu. Gurunya sudah mengeluarkan ajian Pembuta Mata. Satu-satunya ajian yang tidak diturunkan padanya. Telah lama si Pamungkas sebenarnya ingin memiliki ajian yang aneh dan hebat itu. Namun berulang kali gurunya menolak.

Dan kini dia telah berubah menjadi benci karena dimaki bodoh.

"Maafkan aku, Guru "

"Kau benar-benar bodoh, Topeng Biru! Kau tak ubahnya seperti seekor keledai yang bodoh! Cepat kau cari sampai dapat Cincin Naga Sastra itu! Aku sudah bosan harus terbaring disini terus menerus!"

Si Pamungkas kembali menjura.

"Baik, Guru... semua titah Guru akan aku laksanakan " kata si Pamungkas lalu berbalik.

Namun tiba-tiba saja dia berbalik kembali dan menghantam tubuh gurunya yang terbaring dengan ajian Sambar Nyawa.

Dewa Nyawa Maut tak menyangka akan hal itu. Maka tanpa ampun lagi ajian Sambar Nyawa yang telah diturunkan kepada Si Pamungkas, menghantam dirinya!

"BUK!"

Sungguh kuat tubuh Dewa Nyawa Maut. Meskipun dia tengah sakit, namun ajian Sambar Nyawa tidak langsung membuat tubuhnya hangus.

Sepasang mata tuanya berkilat-kilat marah menatap si Pamungkas yang tersenyum mirip iblis.

"Kau... kau... murid durhaka. "

Senyum itu semakin lebar, mengerikan. "Mampuslah kau orang tua cerewet! Aku sudah

bosan berada di bawah kekuasaanmu! Hhh! Kau sudah tidak berguna lagi sekarang!"

"Murid laknat... kukutuk kau... Ma-matiku titidak tenang... sebelum kau... kau mampus "

"Hahaha... lebih baik kau memang mampus saja, Tua Bangka! Dan kau akan saksikan, kalau seluruh rimba persilatan akan membuka matanya padaku! Dan akulah yang akan menguasai seluruh rimba persilatan ini... ha ha ha "

"Murid celaka. "

Tiba-tiba tawa itu terhenti. Sepasang mata di balik topeng biru itu melotot. "Apa kau bilang?!"

"Kau... kau murid celaka... hidupmu tidak akan tenang... mati pun kau akan penasaran "

"Bangsat tua! Kau masih bisa membacot rupanya!" geram si Pamungkas dan menghantam kembali tubuh yang sudah sekarat dengan ajian Sambar Nyawa.

Dan kali ini orang tua itu pun melayang. Tubuhnya hangus seketika dan meledak! Bau sangit kembali menguar, menusuk hidung.

Si Pamungkas terbahak, puas dia melihat hasil kerjanya sendiri.

"Lebih baik kau mampus saja, Orang sekarat! Daripada hidupmu menyusahkan aku! Aku tidak akan perduli lagi dengan Cincin Naga Sastra berada di mana! Persetan dengan semua itu! Aku tidak memerlukannya! Hahaha... yang kuperlukan, aku akan menjadi jago nomor satu di dunia persilatan.... hahaha.. tak seorang pun yang dapat mengalahkanku!"

Tawa manusia berpakaian dan bertopeng biru itu membahana, menggema di dalam goa. Keras. Amat keras. Saking keras. Saking kerasnya tawa itu, dinding-dinding goa pun berguguran. Obor yang terdapat di beberapa tempat dalam goa itu padam seketika.

Lalu sosok si Pamungkas pun berkelebat keluar dari dalam goa sebelum goa itu ambruk dan menimbulkan suara bergemuruh. Dan merupakan kuburan abadi bagi si Dewa Nyawa Maut! Si Pamungkas begitu puas menyaksikan goa yang telah berubah menjadi tumpukan batu.

Lalu terdengar tawanya yang keras. Menggema di seluruh Bukit Alas Waru.

"Hahaha.. sebentar lagi aku akan menguasai rimba persilatan ini! Dan akan kubunuh siapa pun orangnya yang berani menentang sepak terjangku!" serunya keras. Lalu kepalanya berpaling pada goa yang kini telah menjadi tumpukan batu itu. "Hhh! Jadilah itu kuburanmu yang abadi, Orang Tua Cerewet!"

Lalu tubuh itu pun melesat berlari menuruni bukit. Sama cepatnya ketika sosok tubuh itu menaiki Bukit Alas Waru!

Dan teror yang dilancarkan oleh manusia bertopeng biru itu semakin menjadi-jadi. Sepak terjangnya begitu mengenaskan. Dan tidak tanggungtanggung menurunkan tangan.

Bahkan kekejamannya tidak hanya sampai di sana saja. Dia juga menculik beberapa anak perawan. Lalu diperkosanya dengan buas. Si Pamungkas rupanya memang ditakdirkan untuk menjadi manusia kejam dan buas.

Anak perawan yang telah diperkosanya itu disayat-sayat wajahnya dengan kejam hingga terluka mengerikan. Bahkan ada yang sebelah matanya dicongkel hidup-hidup.

Entah dendam apa yang menyebabkan manusia kejam itu berbuat seperti itu. Namun perbuatannya memang sudah keterlaluan.

Para jago-jago dari golongan putih yang tidak menyukai sepak terjang si Pamungkas pun bermunculan. Namun usaha mereka untuk menghentikan sepak terjang manusia bertopeng biru itu hanyalah sia-sia belaka.

Karena mereka harus mampus dengan tubuh yang terluka mengerikan akibat ajian Sambar Nyawa.

Ilmu yang dimiliki oleh si Pamungkas, warisan dari Dewa Nyawa Maut memang begitu hebat. Membuatnya menjadi pongah. Bahkan sekarang setiap kali dia habis membunuh korbannya, dia selalu melemparkan secarik kain berwarna biru, yang menandakan itu hasil perbuatannya

Ini membuat orang-orang dari golongan putih begitu marah. Berbondong-bondong mereka mencari si Pamungkas. Namun hasilnya tetap sama. Mereka hanya mengantarkan nyawa dengan percuma!

***
TUJUH
Pagi itu udara cerah. Angin semilir Awan-awan putih di langit berarak lembut. Langit pun cerah kebiruan. Matahari baru saja sepenggalah. Satu sosok tubuh yang nampak tertatih-tatih berjalan memasuki desa Glagah Jajar. Wajah orang itu betapa buruknya, malah terkesan mengerikan. Dia adalah Mandali Sewu.

Sebenarnya Mandali Sewu adalah penduduk asli desa Glagah Jajar. Dia ditinggal mati oleh ayah dan ibunya ketika dia berusia lima tahun. Pada masa itu. Wilada Tista pun mempunyai putra yang berusia lima tahun di samping putri sulungnya yang berusia sembilan tahun.

Oleh Wilada Tista Mandali Sewu diangkat sebagai anak. Tetapi sudah lazimnya seorang anak angkat, anak-anak kandung Wilada Tista tidak pernah menyukainya.

Mereka selalu membuat Mandali Sewu menangis. Namun dasar anak itu kuat mentalnya, selalu saja ejekan, makian atau pun tamparan yang dilakukan anak-anak Juragan Wilada Tista hanya diterimanya dengan lapang dada. Dia tidak pernah menangis lagi. Apalagi ketika Mandali Sewu berusia dua belas tahun.

Dia tak pernah bersikap cengeng lagi. Sebenarnya Wilada Tista amat mengasihi anak itu. Tetapi dia pernah marah besar ketika suatu saat Mandali Sewu menghajar putra bungsunya karena tidak tahan dipukuli.

Mandali Sewu ditampar hingga pingsan oleh Wilada Tista. Namun akhirnya Wilada Tista menjadi menyesal sendiri. Dia pun meminta maaf pada bocah itu.

Yang membuatnya kuatir, ternyata putra bungsu Wilada Tista mendendam pada Mandali Sewu. Di suatu malam, anak itu memasuki kamar Mandali Sewu, dan mengguyur wajah Mandali Sewu dengan air keras.

Lolongan bocah itu keras amat menyayat hati. Wajahnya yang cukup tampan pun rusak akibat guyuran air keras itu. Wilada Tista tidak mau orang-orang desa mengetahui perbuatan jahat putranya. Lalu dia menyuruh beberapa pengawalnya untuk membuang Mandali Sewu.

Sementara ketika para penduduk bertanya di mana Mandali Sewu, Wilada Tista selalu menjawab, "Ada sepasang suami istri kaya yang tidak mempunyai anak mengambilnya sebagai anak."

Dan nama Mandali Sewu pun perlahan-lahan menghilang dari benak orang-orang desa

Kini mereka terkejut ketika melihat satu sosok tubuh dengan wajah yang begitu buruk mengerikan memasuki desa mereka

Orang-orang yang bertemu dengan manusia buruk itu, ada yang langsung menyingkir karena menyangka dedemit yang datang. Ada yang mengerutkan keningnya. Ada yang bergidik.

Bahkan ada yang tidak tanggung lagi berucap, "Huh! Buruk sekali wajahnya!"

"Siapa sih dia?"

"Dari mana asalnya?"

"Jangan-jangan., dia dedemit yang sedang menyamar untuk mengganggu ketenangan kita!"

Suara-suara pun ramai terdengar. Tetapi Mandali Sewu terus melangkah. Tujuannya adalah rumah Ki Lurah Sentot Prawira. Dia berharap Ki Lurah masih mengenalinya

Namun sambutan dari istri Ki Lurah Sentot Prawira amat mengenaskan hatinya ketika sosok tubuh itu berdiri membukakan pintu.

"Oh!" Wajah Nyai Lurah kelihatan pias. Dan matanya mengerjap-ngerjap ketakutan. "Si-siapa kau? Setan mana yang datang? Dan kau., kau mau apa?!"

Dikatakan setan, Mandali Sewu mencoba tersenyum. Namun karena wajahnya yang begitu buruk senyum seperti menyeringai. Malah lebih menakutkan.

Membuat wajah Nyai Lurah semakin pias ketakutan. Ingin rasanya dia menutup pintu kembali. Namun tatapan orang berwajah buruk itu seolah menahannya.

"Saya, Nyai Lurah "

"Saya., saya siapa?"

"Nyai Lurah... memang, tak seorang pun yang mengenal saya... Usia saya kini sudah dua puluh empat tahun, Nyai Lurah masih ingatkah Nyai Lurah ketika Juragan Wilada Tista mengangkat seorang anak yatim piatu?"

Nyai Lurah mengerjap-ngerjap lagi dan kepalanya mengangguk angguk cepat.

"Iya, iya., aku ingat., tapi., tapi apa hubungannya denganmu?"

"Nyai Lurah., akulah Mandali Sewu., bocah yang diangkat anak oleh Juragan Wilada Tista. "

"Oh! Tapi... tapi.."

"Aku tahu maksud Nyai Lurah. Wajahku, bukan? Mengapa wajahku menjadi buruk seperti ini?"

"Oh, bukan... eh, iya, iya., mengapa, bukankah kau memiliki wajah yang cukup bagus?"

Mandali Sewu terdiam. Dia jadi teringat peristiwa dua belas tahun yang lalu. Peristiwa yang amat mengenaskan dan membuatnya sakit-hati. Sebelum dia bercerita, muncul seorang laki-laki setengah baya dari dalam Dia langsung bertanya pada wanita yang masih berdiri di ambang pintu.

"Ada tamu, Nyai?"

Nyai Lurah menoleh. Yang datang itu suaminya, Ki Lurah Sentot Prawira.

"Iya, Ki..."

"Siapa?" tanya Ki Lurah sambil melongok keluar. Dia kelihatan terkejut melihat sosok tubuh dengan wajah yang mengerikan di hadapannya. Tetapi Ki Lurah mencoba untuk tersenyum.

Dalam hati dia bergumam, wajah itu mirip iblis sekali.

Mandali Sewu pun menganggukkan kepalanya "Saya, Ki..."

"Siapa?"

"Mandali Sewu, Ki.. bocah yang diangkat sebagai anak oleh Juragan Wilada Tista"

"Oh, Tuhan... rupanya kau, Mandali! Ayo, ayo masuk!" sambut Ki Lurah ceria.

Lalu Mandali Sewu pun duduk di hadapannya. Istri Ki Lurah menyediakan kopi dan singkong rebus. Setelah mencicipinya Ki Lurah bertanya

"Mandali.. ke mana saja kau selama ini? Dan., ah, maaf., mengapa wajahmu menjadi demikian rusak?"

Mandali Sewu tercenung. Lalu dia pun menceritakan kejadian yang sesungguhnya yang telah menimpanya

Ki Lurah Sentot Prawira mendesah panjang. "Kami tidak pernah menyangka kalau kejadian

seperti itu yang menimpamu, Mandali.. Sungguh kami tidak pernah menyangka. Karena selama ini kami begitu percaya pada Juragan Wilada Tista, dan kami pun percaya ketika dia mengatakan ada sepasang suami istri kaya mengambilmu sebagai anak mereka..."

"Itu bohong belaka, Ki..., Saya di buang di sebuah hutan dekat sebuah bukit. Ah, sudahlah., kejadian itu sudah lama sekali. O ya, Ki.. sebenarnya saya pun ingin datang menjenguk ayah dan ibu angkat saya. Bagaimana keadaan mereka, Ki? Mereka sehat-sehat saja?"

Kali ini terlihat wajah Ki Lurah tercenung. Begitu pula dengan Nyai Lurah.

"Kenapa Ki? Nyai? Apakah saya tidak pantas untuk datang menjenguk. Tidak, saya tidak mengharapkan kembali diangkat sebagai anak. Tidak, Ki. Saya hanya ingin menjenguk mereka. Biar bagaimana pun selama tujuh tahun merekalah yang merawat dan mengasihi saya. Ki..."

Terdengar helaan nafas panjang dari Ki Lurah Sentot Prawira. Lalu perlahan-lahan dia menatap wajah buruk yang sepertinya sedang menunggu jawabannya.

"Maafkan aku, Mandali.."

"Hei, hei.. ada apa, Ki? Ada apa?"

"Orang tua angkatmu dan saudara-saudara angkatmu telah mati mengerikan karena dibunuh orang..."

"Ya, Tuhan! Kapan? Kapan itu terjadi, Ki? Mengapa mereka dibunuh orang?!"

"Tenang, Mandali.. tenanglah..." kata Ki Lurah yang melihat Mandali Sewu menjadi kalap. Pemuda yang berwajah buruk itu pun menghela nafas panjang. Mencoba untuk menenangkan hatinya. Lalu ditatapnya Ki Lurah dalam-dalam.

"Ceritakanlah, Ki.. mengapa mereka sampai dibunuh orang? Dan siapa yang membunuh mereka, Ki?"

Dengan perlahan dan kuatir mengejutkan Mandali Sewu kembali, Ki Lurah Sentot Prawira pun menceritakan kejadian mengenaskan itu dua bulan yang lalu.

"Jadi sampai sekarang pembunuhnya belum tertangkap?"

"Belum Dan orang-orang memanggil si pembunuh itu dengan sebutan si Pamungkas..."

"Si Pamungkas?! Oh!"

"Kau tahu siapa dia, Mandali?" tanya Ki Lurah yang melihat Mandali Sewu terkejut.

"Tidak, Ki... tetapi, si Pamungkas itu pun telah membuat teror di desa Bojong Sawo. Bukankah dia mengenakan pakaian dan bertopeng biru, Ki?"

"Ya."

"Rupanya manusia kejam itu yang membunuh keluarga angkatku."

"Tidak hanya mereka saja, Mandali. Juga orangorang rimba persilatan yang mencoba menghalangi perbuatannya pun tewas dibunuh oleh si Pamungkas. Kekejaman manusia itu sudah mencapai setinggi langit dan sedalam lautan!"

"Apakah kesaktiannya begitu tinggi, Ki?"

"Ya. Mengingat tak seorang pun dari rimba persilatan yang mampu untuk membunuhnya! Jangankan untuk membunuh, menangkapnya saja mereka tidak sanggup?!"

"Oh, Tuhan., dengan maksud apa manusia kejam itu menebarkan terornya?"

"Tak seorang pun yang tahu maksudnya menebarkan teror kejam seperti itu. Namun yang menjadi desas-desus sekarang ini, adalah tentang Cincin Naga Sastra yang dimiliki oleh Juragan Wilada Tista."

"Cincin Naga Sastra?" 

"Ya."

"Ada apa dengan cincin itu, Ki? Apakah itu sebuah cincin sakti?"

"Aku sendiri pun tidak tahu. Ada seorang Kyai tua yang bernama Kyai Paksi Brahma, sepuluh hari yang lalu datang ke desa ini. Dia bermaksud ingin menjumpai Juragan Wilada Tista. Ternyata secara diam-diam ayah angkatmu itu murid seorang sakti yang bernama Kyai Tapa Suci. Menurut Kyai Paksi Brahma, kedatangannya mencari Juragan Wilada Tista untuk mengambil Cincin Naga Sastra..."

"Siapa sebenarnya Kyai Paksi Brahma itu, Ki?" 

"Dia mengaku adik seperguruan dari Kyai Tapa Suci"

"Dan bagaimana dengan cincin itu? Apakah dia mendapatkannya dari tangan ayah angkatku?"

"Tidak. Tidak seorang pun yang tahu apakah Juragan Wilada Tista benar-benar memiliki Cincin Naga Sastra. Karena hanya dia sendiri yang tahu. Tetapi manusia itu telah mati sekarang."

"Berarti cincin itu tidak ditemukan?"

"Tidak. Kyai Paksi Brahma pun tidak bisa berbuat apa-apa karena Juragan Wilada Tista dan seluruh keluarganya telah tewas."

"Sebenarnya., semacam cincin apakah Cincin Naga Sastra itu, Ki?"

"Entahlah... aku sendiri tidak tahu."

"Apakah Kyai Paksi Brahma tidak memberitahu?"

"Dia memang memberitahu. Cincin itu dapat menyembuhkan segala macam penyakit Bila cincin itu direndam di air, lalu air itu diminum, segala macam penyakit akan dapat disembuhkan. Yang membuat dia kuatir, bila Cincin Naga Sastra dimiliki oleh orang jahat."

"Kenapa?"

"Karena bila setiap malam Jumat cincin itu direndam dalam air dan airnya diminum, maka orang yang meminumnya akan kebal oleh segala macam penyakit, racun dan pukulan sakti macam apapun."

"Bukan main! Sungguh hebat sekali khasiat cincin itu, Ki."

"Benar. Itulah yang menguatirkan Kyai Paksi Brahma bila cincin sakti itu jatuh ke tangan orang jahat dan digunakan untuk kejahatan."

"Lalu... apakah Ki Lurah tahu di mana cincin itu berada?"

"Aku tidak tahu."

"Bagaimana dengan Kyai Paksi Brahma? Apakah dia tidak tahu juga di mana cincin itu berada?"

"Ya."

"Ah, sayang sekali bila cincin itu jatuh ke tangan orang jahat."

"Kau benar, Mandali. Itu pun yang amat menguatirkan Kyai Paksi Brahma" kata Ki Lurah Sentot Prawira yang juga menguatirkan kalau cincin sakti itu jatuh ke tangan orang jahat. Lalu ditatapnya kembali Mandali Sewu, "Mandali.. apakah kau akan menetap di sini?"

"Tidak, Ki." 

"Mengapa?"

"Kedatanganku ke sini hanyalah untuk menjenguk orang tua angkatku. Tetapi mereka sudah meninggal. Untuk apa lagi aku berada di sini?"

"Kau bisa tinggal di rumahku, Mandali..." kata Ki Lurah.

Nyai Lurah pun berkata menyambung kata-kata suaminya, "Benar, Mandali.. tinggallah bersama kami. Rumah ini akan jadi rumahmu juga. Bukan begitu, Ki?"

"Benar kata-kata istriku ini, Mandali. Rumah ini akan menjadi rumahmu. Kau bisa tinggal di sini bersama kami. Dan kau pun tahu bukan., kalau kami selama ini tidak mempunyai anak?" mengucapkan kata-kata terakhir, Mandali Sewu dapat melihat kalau wajah Ki Lurah Sentot Prawira menjadi murung.

Juga wajah istrinya. Di wajah wanita itu tersirat rasa kekecewaan yang begitu mendalam. Dia sepertinya tidak sempurna menjadi seorang istri.

Mandali menatap wajah kedua orang tua itu yang tiba-tiba menjadi murung.

"Maafkan aku, Ki.. Nyai.. Bukan aku menolak untuk menerima kebaikanmu.. Tetapi aku tidak ingin kalian dihina oleh warga desa yang tadi melihatku seperti melihat setan karena wajahku yang begini buruk., jadi., terima kasih banyak atas kebaikan kalian berdua..."

Ki Lurah tersenyum

"Ah, sudahlah... Itu terserah padamu, Mandali. Tetapi bila kau tiba-tiba mempunyai keinginan untuk tinggal di sini, kami akan menerimanya dengan senang hati. Dengan semua kerelaan yang ada di hati kami.."

"Terima kasih, Ki.. kata-kata Ki Lurah akan kuingat selama-lamanya..."

"Jadi kau hendak pergi sekarang?" 

"Benar, Ki."

"Kamu tinggal dimana Mandali?"

"Di sebuah hutan kecil yang sangat jauh dari sini, Ki."

"Tidakkah kau ingin melihat-lihat suasana desa ini dan bermalam di sini dulu?"

"Sebenarnya keinginan itu ada, Ki. Tapi aku tidak mau kedatanganku ke sini, malah membuat orang-orang desa takut dan menaruh curiga."

"Kau jangan menghiraukan mereka, Mandali," kata Nyai Lurah.

"Memang tidak, Nyai. Tapi sudahlah., aku harus pergi sekarang.. O iya, Ki.... dimana Kyai Paksi Brahma tinggal sekarang?"

"Di ujung jalan desa ini. Penginapan milik si tua Kerto Wongso."

"Terima kasih, Ki..." Lalu Mandali Sewu pun bangkit dari duduknya. Disalami dan diciuminya tangan kedua orang tua itu dengan penuh khidmat.

Lalu dia pun pergi meninggalkan rumah itu. Air mata Nyai Lurah menitik perlahan-lahan membasahi pipinya. Meskipun Mandali Sewu telah berwajah buruk akibat perlakuan almarhum putra dari Juragan Wilada Tista yang telah tewas mengerikan di tangan si Pamungkas, bagi Nyai Lurah dia adalah Mandali Sewu, bocah yang baik hati dan berwajah tampan dulu.

Ki Lurah dapat memaklumi perasaan istrinya yang telah lama merindukan seorang anak. Namun agaknya Yang Maha Kuasa belum mengizinkan putra bagi mereka yang dapat menghidupkan suasana gembira dalam keluarga.

"Sudahlah, Nyai., biarkan Mandali pergi..."

"Tapi, Ki..." Nyai Lurah tersendat. Mengingsut air matanya.

"Aku dapat mengerti perasaanmu, Nyai."

"Aku telah lama merindukan seorang anak, Ki. Biarpun wajahnya buruk seperti. Mandali Sewu, aku akan rela membesarkannya..."

"Begitu pula dengan aku, Nyai. Ya... agaknya Gusti Allah belum memberikan apa yang kita inginkan. Sudahlah, Nyai., kau perlu ingat, sebagai umat manusia kita hanya bisa berusaha, dan Gusti Allah jualah yang menentukan segalanya. Sudahlah, Nyai., biarkan Mandali Sewu mengambil langkahnya sendiri. Ah... dia bukan anak kita, Nyai.. Dia pun bukan anak kandung dari Juragan Wilada Tista almarhum. Dia hanyalah anak angkatnya, Nyai..."

Nyai Lurah mengusap lagi air matanya. Kepedihan akan kerinduan pada seorang anak semakin menjadi-jadi.

"Aku mengerti akan semuanya, Ki.." desisnya sambil tersenyum

Ki Lurah Sentot Prawira tersenyum. Merangkul bahu istrinya. Dan kasih sayangnya semakin bertambah pada wanita yang telah menemaninya hidup selama 35 tahun.

"Kita masuk, Nyai..."

Nyai Lurah cuma menganggukkan kepalanya saja, lalu mengikuti langkah suaminya masuk ke rumahnya

***
DELAPAN
Malam telah larut. Udara berhembus dingin. Di langit mega-mega telah berubah menjadi hitam, bertanda sebentar lagi hujan akan turun. Mungkin deras dan membasahi semua yang ada di muka bumi. Ada kalanya pula hujan membawa berkah dan rahmat, namun ada kalanya pula hujan membawa bencana.

Di penginapan Kerto Wongso suasana pun agak sepi. Beberapa penjaga penginapan itu merapatkan pakaiannya untuk mengusir angin dingin yang menembus hingga ke tulang sumsum

Di salah sebuah kamar dalam penginapan itu, Kyai Paksi Brahma tercenung di tepi jendela kamarnya Hatinya risau memikirkan tentang Cincin Naga Sastra milik kakak seperguruannya mendiang Kyai Tapa Suci.

Cincin Naga Sastra adalah sebuah cincin sakti yang bisa membuat orang yang memilikinya menjadi tahan penyakit, tahan segala macam pukulan sakti macam mana pun. Yang dikuatirkan oleh Kyai Paksi Brahma, bila cincin itu jatuh ke tangan orang jahat dan menggunakannya untuk kejahatan.

Kyai Paksi Brahma mendesah panjang. Tatapannya panjang menembus kepekatan malam Dia seorang kakek yang berusia 65 tahun. Dengan pakaian berwarna putih. Dan di pinggangnya terikat sebuah angkin merah. Wajahnya sudah cukup tua, dengan janggut yang putih dan rambut yang putih pula yang diikat berbentuk kucir.

"Maafkan aku, Kakang Tapa Suci..." desahnya pada angin, karena tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya dia seorang yang masih menatap kepekatan malam. "Sebelum kau bertempur mati-matian dengan Dewa Nyawa Maut, sebenarnya kau hendak memberikan Cincin Naga Sastra warisan Eyang Jagaladara padaku. Tapi ah... sayang saat itu aku tidak ada di tempat., hingga kau memberikan cincin itu pada Wilada Tista murid tunggalmu..."

Kembali Kyai Paksi Brahma mendesah panjang. Tiba-tiba kedua telinganya menegang. Kakek tua itu menangkap suara bergerak di atap.

"Hmm.. siapakah orang iseng yang hendak bermain-main denganku ini..." desisnya dalam hati.

Pendengaran kakek tua itu ternyata begitu berfungsinya hingga suara yang mencurigakan di atap bisa didengarnya.

"Hmm.. lebih baik aku lihat saja siapa cecunguk ini!" desisnya. Lalu dia melompat jendela tanpa bersuara. Dan dengan sekali empos tubuhnya sudah berada di atap.

Pendatang yang bergerak amat pelan itu terkejut melihat sosok tubuh berpakaian putih itu tengah berdiri di hadapannya Kyai Paksi Brahma terbahak.

"Hahaha... rupanya kau yang nekat muncul di hadapanku, Pamungkas!"

Orang yang ternyata si Pamungkas mendengus. "Hhh! Rupanya nama besar Kyai Paksi Brahma

bukan omong kosong belaka!"

"Ada apa kau malam-malam begini menyatroni ketenanganku, Pamungkas?!"

"Hhh! Jangan berlagak pilon, Paksi Brahma!

Aku datang untuk meminta Cincin Naga Sastra!"

"Hahaha.. tak kusangka orang kejam macam kau ini menghendaki cincin sakti itu pula! Biarpun aku tahu di mana cincin itu berada tetap tak akan pernah kuberitahukan pada orang macam kau, Pamungkas!"

"Jangan jual lagak di depanku, Paksi! Cepat berikan cincin itu padaku!"

"Hahaha.. bagaimana bila tidak? Apakah kau akan menurunkan tangan telengasmu padaku? Pamungkas... kekejamanmu telah lama terdengar dan menjadi ajang pembicaraan orang-orang rimba persilatan, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam! Dan ketahuilah., malam ini agaknya akulah orang yang akan menghentikan sepak terjang kekejamanmu, Pamungkas!"

"Hhh! Banyak omong kau, Paksi! Kata-katamu itu membuat tanganku gatal untuk membunuhmu!"

"Majulah Pamungkas... kemunculanmu telah membuatku ganti bertanya. Menurut kabar, kaulah yang membunuh Wilada Tista murid tunggal kakak seperguruanku secara licik! Hhh... aku jadi mencurigaimu, Pamungkas! Satu pikiran ada di benakku! Kau pasti hendak mencari Cincin Naga Sastra dari tangannya! 

Dan hanya satu orang yang tahu tentang Cincin itu. Juragan Wilada Tista! Dari semua kejadian yang ada kau tahu pula sebenarnya Wilada Tista murid dari Kyai Tapa Suci. Dan kecurigaanku, kau adalah murid dari Dewa Nyawa Maut yang bertempur habis-habisan dengan kakak seperguruanku! Entah di mana si Dewa Nyawa Maut itu berada sekarang!"

Si Pamungkas terbahak. Wajah di balik topeng biru itu agak terkejut mendengar kata-kata Kyai Paksi Brahma. Rupanya orang tua itu cepat tanggap dengan semua kejadian yang ada. Dari rasa terkejut itu berubah menjadi kegeraman.

"Paksi Brahma... dugaanmu tak meleset sedikit pun! Aku memang murid tunggal dari si Dewa Nyawa Maut yang ditugaskan olehnya untuk mencari Cincin Naga Sastra! Namun sayang, aku sudah bosan diperintah oleh si Tua sekarat itu. Dan yang perlu kau ketahui, si Tua itu sudah mampus di tanganku!"

"Hhh! Kau murid laknat Pamungkas! Kau tak ubahnya seperti iblis!"

"Hahaha.. ya, ya... aku memang iblis! Dan iblis itu akan merenggut nyawamu sekarang juga! Serahkan Cincin Naga Sastra padaku cepat!"

"Kau pun menjual lagak di depanku! Aku yakin, Cincin Naga Sastra telah berada di tanganmu! Kau yang harus menyerahkannya kepadaku!"

"Bangsat! Aku bosan bermain kata-kata seperti ini, Paksi! Tahan serangan!" seru si Pamungkas dan tubuhnya sudah menyerbu menyerang dengan cepat.

Kyai Paksi Brahma yang sudah menyangka akan hal itu pun berkelit menerima serangan cepat yang dilancarkan si Pamungkas. Dan di atap penginapan itu, dua tokoh sakti pun bertarung dengan hebatnya.

Cepat. Dahsyat. Dan mematikan! Keduanya saling memperlihatkan kehebatan dan kelincahan mereka. Keduanya pun saling berambisi untuk menjatuhkan.

Si Pamungkas sendiri sudah mengeluarkan pukulan Patuk Bangaunya yang dapat menghancurkan sebuah batu sebesar domba jantan.

Kelincahan si Pamungkas amat trampil dan hebat. Namun Kyai Paksi Brahma pun mengimbanginya dengan tak kalah cepatnya. Dia pun mengeluarkan jurus Pukulan Penebas Nyawa.

"Hahaha.. rupanya kau punya kelebihan juga, Paksi!" terbahak si Pamungkas padahal dia begitu kaget melihat Kyai Paksi Brahma dapat mengimbanginya

"Tak lama lagi kau akan mampus di tanganku, Pamungkas!" seru Kyai Paksi Brahma sambil terus mencecar.

"Jangan sesumbar dulu! Hhh... aku jadi ingin merasakan kehebatan pukulan saktimu itu, Paksi!" kata si Pamungkas, kemudian dia bersalto ke belakang dan begitu hinggap dia merapal ajian Seribu Bobot Besi.

Lalu tawanya pun meledak. yai Paksi Brahma terkejut melihat sikap si Pamungkas yang mendadak terdiam di tempatnya sambil tertawa

"Hmm... punya rencana busuk apa lagi manusia durjana ini?" desisnya dalam hati.

"Hei.. mengapa kau hanya terdiam saja, Paksi! Ayo, seranglah aku bila kau benar-benar merasa kuat dengan pukulan saktimu itu!" seru si Pamungkas sambil terbahak.

"Hhh! Kau tak akan pernah luput dari tanganku, Pamungkas!" seru Kyai Paksi Brahma sambil menyerang dengan pukulan mautnya. Pukulan Penebas Nyawa.

Si Pamungkas hanya terbahak saja. Dan dia tetap tak bergeming dari tempatnya.

Tubuh Kyai Paksi Brahma melesat dengan pukulan lurus.

"Des!"

Pukulan saktinya itu pun tepat mengenai dada si Pamungkas. Namun sungguh luar biasanya, Pukulan Penebas Nyawa milik Kyai Paksi Brahma tidak berakibat apa-apa bagi si Pamungkas. Padahal itu adalah pukulan sakti yang dimilikinya. "Hahaha.. rupanya pukulan semacam itu yang kau perlihatkan kepadaku, paksi!"

"Manusia keparat! Rupanya kau benar-benar murid dari Dewa Nyawa Maut yang memiliki ajian Seribu Bobot Besi!" geram Kyai Paksi Brahma.

"Hhh! Rupanya kau jeri dengan ajian yang kumiliki ini, bukan?!"

"Jangan gembira dulu! Kau rasakan ajianku yang satu ini ajian Pemunah Rasa!"

"Hahaha.. keluarkan semua ilmu yang kau miliki, Paksi Brahma!"

Menggeram marah dan panas hati Kyai Paksi Brahma. Lalu sambil menjerit hebat kembali dia menyerang si Pamungkas. Kali ini dengan ajian Pemunah Rasa.

Namun ajian itu pun tak membawa banyak akibat pada si Pamungkas. Tubuh yang telah dialiri oleh ajian Seribu Bobot Besi itu tak bergeming sedikit pun.

Merahlah wajah Kyai Paksi Brahma

"Hahaha mengapa kau diam saja Paksi? Kau takut dengan ajian yang kumiliki ini?!"

"Hhh! Aku akan mengadu jiwa denganmu, Pamungkas!"

"Hahaha.. majulah biar kumusnahkan kau!" seru si Pamungkas sambil merapal ajian Sambar Nyawanya. Dan tiba-tiba saja tangannya perlahanlahan berubah kemerahan, lalu menjadi semerah darah.

"Ajian Sambar Nyawa!"

"Agaknya kau cukup mengenal semua ilmu yang dimiliki oleh guruku, si Dewa Nyawa Maut, Paksi Brahma!"

"Tetapi jangan kau mengira aku takut dengan semua yang dimiliki oleh gurumu itu, Pamungkas!" 

"Hahaha.. aku ingin tahu sampai di mana kebenaran ucapanmu itu, Paksi Brahma!"

Lalu si Pamungkas pun menyerbu dengan ajian Sambar Nyawanya yang hebat dan cepat Kyai Paksi Brahma sudah mengetahui akan kehebatan ilmu itu.

Maka dia pun tak berani untuk berbentur tangan. Atau pun berbenturan bagian tubuhnya yang lain.

Dengan sebisanya dia menghindari seranganserangan yang dilancarkan oleh si Pamungkas. Dan berkali-kali dia pun mencoba membalas.

Namun semua serangan balasannya hanya siasia belaka karena tak satu pun yang bisa membuat si Pamungkas jatuh. Jangankan untuk jatuh bergeming sajak tidak. Karena ajian Seribu Bobot Besi yang dialiri ke suruh tubuhnya telah membuatnya kebal dengan semua ajian yang dimiliki oleh Kyai Paksi Brahma

Dan suara ribut yang terjadi karena pertarungan keduanya membangunkan beberapa orang termasuk pemilik rumah itu, Kerto Wongso.

"Hei, bukankah itu tamuku?!" desisnya.

"Benar! Dan yang bertarung dengannya bukannya si Pamungkas? Orang yang berpakaian dan bertopeng biru?!"

"Benar, itu si Pamungkas!" 

"Bunuh dia!" 

"Tangkap!" 

"Ganyang!"

Seruan-seruan itu pun terdengar keras. Dan beberapa orang yang hadir pun segera mengambil senjata-senjata milik mereka dan langsung melemparkannya kepada si Pamungkas.

Melihat hal itu, konsentrasi si Pamungkas terhadap Kyai Paksi Brahma terpecah. Dia menjadi geram. Dengan jengkel dia menangkis beberapa senjata yang datang ke arahnya dan senjata-senjata itu melayang kembali kepada para pemiliknya. Jeritan kesakitan pun terdengar.

Beberapa tubuh pun ambruk dan darah bersimbah. Hal itu membuat mereka menjadi geram. Berlompatan mereka berusaha untuk naik ke atap, namun semua perlawanan mereka pun sia-sia belaka.

Karena mereka pun harus mati dengan cara yang mengenaskan. Bahkan beberapa di antaranya pun tewas terkena pukulan Sambar Nyawa yang dilemparkan si Pamungkas dengan geram

Dan tubuh-tubuh itu pun hangus, lalu meledak. Di antara orang-orang yang berdatangan itu pun di antaranya berdiri Ki Lurah Sentot Prawira. Yang menjadi geram dengan kemunculan si Pamungkas.

"Hhh! Kau rupanya manusia laknat! Telah lama kami menunggu kedatanganmu ke sini! Kau harus membayar nyawa terhadap orang-orang yang kau bunuh! Dan para perawan yang kau perkosa lalu kau bunuh secara kejam!"

"Diam kau, Manusia tua! Lebih baik kau pulang saja sebelum kucabut nyawamu!"

"Kami akan mengadu nyawa denganmu. Manusia Keparat!"

Tetapi si Pamungkas cuma tertawa saja. Tibatiba dia bersalto di belakang dan hinggap di tanah. "Hahaha.. bila kalian penasaran ingin menangkap dan membunuhku, datanglah ke bukit Alas Waru malam ini juga! Kyai Paksi Brahma... kau pun harus ikut serta dan kucabut nyawamu nanti!"

Lalu tubuh itu pun melesat cepat menerobos kepekatan malam. Dan orang-orang yang marah itu pun berlarian mengejar termasuk Kyai Paksi Brahma, yang begitu dendam sekali!

***
SEMBILAN
Bukit Alas Waru tengah malam. Bulan di langit renta, sepotong dan semakin hari semakin menua. Bukit Alas Waru tetap menyeramkan. Pohon-pohon yang tumbuh di sana seakan pasukan setan yang tengah menunggu mangsa. Terlalu mengerikan. Namun sosok tubuh berpakaian biru dan bertopeng biru itu terus berkelebat ke atas.

Tanpa memperdulikan semua keseraman yang ada. Tubuhnya begitu lincah, ringan dan seolaholah kedua kakinya tidak menapak pada tanah. Ketika tiba di atas, dia menjadi terkejut karena melihat sosok tubuh berdiri tegar dengan wajah yang welas asih dan senyum yang arif bijaksana. Sosok itu mengenakan jubah berwarna putih yang terkibar dihembuskan angin malam

Si Pamungkas menghentikan langkahnya. Memperhatikan sosok tubuh yang berjubah putih itu. Tiba-tiba dia terbahak setelah mengenali. 

"Hahaha... rupanya Pendekar Bayangan Sukma yang telah hadir di tempatku ini?!"

Sosok yang ternyata Madewa Gumilang itu mengembangkan senyum

"Bukankah kau yang mengundangku untuk bertamu ke Bukit Alas Waru ini, Pamungkas?"

"Hahaha.. kunjunganmu telah membuat hatiku senang... Madewa.. agaknya Gusti Allah menakdirkan kau untuk mati di Bukit Alas Waru ini..."

"Hahaha... sudah lama aku mendengar sepak terjangmu yang telengas. Ah, agaknya kau sudah amat dipengaruhi iblis, Pamungkas!"

"Persetan dengan ucapanmu, Madewa! Aku sudah lama ingin memusnahkanmu dari muka bumi!"

"Sadarlah, Pamungkas..." kata Madewa yang berada di sana sejak dua jam yang lalu. Setelah diberitahukan oleh para muridnya mengenai kematian tiga orang tamunya dari desa Glagah Jajar, dia pun langsung mendatangi Bukit Alas Waru seperti yang diberitahukan oleh para muridnya. Dan Madewa melarang para muridnya untuk ikut serta. Dan kini dia tengah berhadapan dengan si Pamungkas.

"Persetan dengan kata-katamu, Madewa!" geram si Pamungkas sambil menyerang dengan ajian Sambar Nyawa-nya

Madewa dapat menduga kalau ajian itu begitu ganas karena hawa panas yang ditimbulkan setiap kali tangan itu tergerak begitu menyengat. Dia pun menghindarinya dengan jurus Ular Meloloskan Diri.

Serangan-serangan yang dilancarkan oleh si Pamungkas luput pada sasarannya. Hal ini membuat si Pamungkas semakin geram.

"Jangan bisamu hanya menghindar saja Madewa! Balaslah bila kau mampu!"

"Pamungkas, sayang sekali ilmu yang kau miliki ini kau gunakan untuk kejahatan!"

"Jangan berkhotbah di depanku, Madewa! Balaslah aku bila kau mampu!"

Perlahan-lahan Madewa pun menghentikan menghindarnya. Dia pun berpikir untuk segera membalas semua serangan si Pamungkas.

"Baiklah, Pamungkas.... bila itu maumu!" desis Madewa sambil menyerang dengan Pukulan Tembok Menghalau Badai. Namun Madewa menjadi terkejut karena begitu tangannya menghantam bagian tubuh si Pamungkas, dia merasakan tangannya ngilu.

"Hahaha... jangan terkejut, Madewa! Inilah ajian Seribu Bobot Besi yang kumiliki!"

Madewa pun mencoba kembali, namun lagi-lagi hal yang sama diterimanya. Bahkan kini Si Pamungkas pun kembali, melancarkan seranganserangannya lagi.

Tiba-tiba terdengar suara ramai bergemuruh. Orang-orang yang mengejar si Pamungkas telah tiba di Bukit Alas Waru. Di antara mereka termasuk Kyai Paksi Brahma dan Ki Lurah Sentot Prawira.

Orang-orang itu pun segera mengurung si Pamungkas. Namun mereka harus tewas tersambar ajian Sambar Nyawa yang dimiliki manusia kejam itu.

"Bangsat! Kau harus membayar semua nyawa yang kau cabut, Pamungkas!" geram Ki Lurah Sentot Prawira sambil menyerang dengan goloknya.

Serangan itu pun sia-sia belaka. Begitu pula yang dialami oleh Kyai Paksi Brahma yang juga menyerangkan pukulannya.

Namun satu keanehan terjadi, si Pamungkas tidak menurunkan tangan telengas pada Ki Lurah Sentot Prawira meskipun ada kesempatan. Ki Lurah saja terkejut karena si Pamungkas seperti sengaja menghentikan serangannya.

Tetapi dia tidak perduli, dia terus menyerang. Namun lagi-lagi si Pamungkas menghentikan serangannya pada Ki Lurah.

Lain halnya dengan Kyai Paksi Brahma. Si Pamungkas malah berusaha untuk membunuhnya dengan ajian Sambar Nyawa.

Madewa sendiri yang menyaksikan hal itu menjadi heran. Namun kegeramannya sudah sampai puncaknya ketika menyaksikan kekejaman yang dilakukan si Pamungkas.

"Pamungkas... kita bertarung sampai mati!" dengusnya. "Majulah Madewa!"

Madewa pun menyadari akan kehebatan ajian Sambar Nyawa dan ajian Seribu Bobot Besi yang dimiliki si Pamungkas.

Perlahan-lahan dia pun menghentikan gerakannya. Dan kedua tangannya terangkum di dada. Lalu mengembang ke kiri dan ke kanan. Saat terangkum tadi mengepul asap berwarna putih. Itulah pukulan andalan yang dimiliki Madewa, warisan dari gurunya Ki Rengsersari atau Pendekar Ular Sakti.

"Pukulan Bayangan Sukma!" seru Kyai Paksi Brahma. Dan seketika dia dapat menduga siapa laki-laki berjubah putih itu. "Kaukah yang bernama Madewa Gumilang alias Pendekar Bayangan Sukma?"

"Ya, akulah orangnya, Kyai Paksi Brahma..." 

"Salam kenal dariku, Pendekar Budiman..." 

"Menyingkirlah Kyai dari sini. Dan Kau Ki Lurah, kau pun harus menyingkir..."

"Madewa! Tunggu apa lagi kau?!" bentak si Pamungkas yang tadi mendengar pukulan apa yang tengah dilancarkan oleh Madewa Gumilang. "Aku ingin mengetahui sampai di mana kehebatan Pukulan Bayangan Sukma yang kau miliki, Madewa!"

"Terpaksa ini kulakukan, Pamungkas!"

"Kau masih banyak omong saja! Kau membosankan!" terdengar bentakan si Pamungkas lalu menyerbu ke arah Madewa Gumilang dengan ajian Sambar Nyawa dan ajian Seribu Bobot Besi yang dipadukan.

Madewa pun segera menyongsong. Yang menyaksikan bergidik ngeri. Dan ketika kedua pukulan itu berbenturan, bukit yang mereka pijak seolah bergoyang.

"DUAAARRR!"

Batu-batu pun berguguran. Debu berterbangan tebal. Dari debu itu terpental dua sosok tubuh ke belakang. Madewa merasakan dadanya sesak. Dan sungguh luar biasa yang dialami si Pamungkas. Meskipun dia terhuyung, tetapi dia bisa menjaga keseimbangannya dan berdiri tegak kembali.

"Hahaha.. rupanya hanya begitu saja kehebatan Pukulan Bayangan Sukma yang kau miliki, Madewa!" terbahak si Pamungkas.

Namun mendadak tubuhnya limbung. Dia memegangi dadanya yang terasa sakit. Dan semakin lama tubuhnya semakin limbung. Yang memperhatikan menjadi keheranan. Dan tubuh itu pun ambruk dengan jeritan yang keras.

Orang-orang segera mendekatinya. Dan melihat orang kejam itu tengah sekarat. Ki Lurah Sentot Prawira yang merasa heran karena si Pamungkas seperti enggan untuk menurunkan tangan telengas padanya, cepat menarik topeng biru yang menutupi wajah manusia kejam itu.

"Breeet!"

Dan pekikannya terdengar ketika melihat wajah di balik topeng biru itu. Wajah yang amat buruk mengerikan. Wajah Mandali Sewu!

"Mandali!" seru Ki Lurah. Begitu pula dengan yang hadir di sana. Mereka pun terkejut melihat Mandali Sewu di balik topeng biru itu. "Mandali.. mengapa., mengapa kau lakukan semua ini..." 

Sepasang tangan Mandali Sewu Menggapai Ki Lurah.

Wajahnya meringis menahan sakit. "Maafkan aku, Ki..." sendatnya

"Semua ini kulakukan., karena aku mendendam pada Juragan Wilada Tista dan keluarganya..." sendatnya

"Kebetulan guruku menugaskanku untuk mencari Cincin Naga Sastra..." sendatnya.

"Lalu kubunuh manusia itu... kubunuh semuanya.. biar dendamku tuntas " sendatnya.

"Maafkan aku, Ki..." sendatnya. Lalu kepala itu pun terkulai selama-lamanya. 

Orang-orang mendesah. Begitu pula dengan Madewa Gumilang. Cincin Naga Sastra? Cincin apa itu? desahnya dalam hati.

Sedangkan Kyai Paksi Brahma hanya terdiam. Dia belum tahu di mana Cincin sakti itu berada Sementara Ki Lurah Sentot Prawira menangis tersedu-sedu karena tidak menyangka siapa di balik topeng biru itu.

Bagaimana dengan cincin sakti yang hebat itu? Anda semua akan mengetahui jawabannya pada cerita TIGA KESATRIA BERTOPENG

SELESAI