Serial Pendekar Bayangan Sukma eps 14 : Serikat Kupu-kupu Hitam

SATU
Suasana pagi cerah. Udara sejuk. Di kejauhan nampak pegunungan yang indah seakan menyambut cahaya mentari yang baru muncul. Keadaan seperti di bawah sadar. Begitu indah dan mempesona.

Burung-burung berkicau, bersahutan terbang kian kemari. Suara geresek dedaunan di hembus angin pagi terdengar merdu di telinga.

Di tengah keheningan pagi dan keindahan panorama, terdengar suara seperti orang membentak keras, dari bangunan besar yang dikelilingi tembok. Bangunan itu mirip seperti sebuah istana. Halamannya luas. Dan dari halaman itu terdengar suara seperti membentak tadi.

"Yah... coba kalian ulangi lagi gerakan yang aku ajarkan tadi!" kata seorang wanita yang kira-kira berusia 37 tahun. Wajah wanita itu masih kencang. Kentara sekali kalau dia waktu remajanya cantik jelita. Sekarang pun bias kecantikannya masih nampak.

Wanita itu berdiri di hadapan berpuluh orang yang berpakaian hitam-hitam dengan mengenakan topeng berwarna hitam pula. Di tangan orang-orang itu terdapat sepasang pedang. Begitu pula di tangan wanita tadi. Hanya bedanya wanita itu tidak mengenakan pakaian berwarna hitam dan tidak mengenakan topeng berwarna hitam pula.

Dia mengenakan pakaian berwarna putih yang ringkas dengan celana sebatas lutut yang ringkas pula. Rambutnya yang tergerai panjang dikucir ekor kuda. Dan di keningnya ada sebuah ikatan berwarna biru.

Nampak sekali kalau wanita itu sedang mengajarkan sebuah jurus ilmu pedang. Dan jelas sekali kalau orang-orang yang berpakaian hitam-hitam dan mengenakan topeng hitam itu adalah murid-muridnya.

Sebenarnya siapakah wanita itu? Dia tak lain adalah Ratih Ningrum, istri dari Madewa Gumilang alias Pendekar Bayangan Sukma. Seperti biasanya setiap pagi murid-murid Perguruan Topeng Hitam berlatih ilmu pedang, karena itu merupakan ciri khas dari Perguruan Topeng Hitam.

Dulu Perguruan Topeng Hitam diketuai oleh Paksi Uludara atau yang berjuluk si Dewa Pedang. Namun ketika dia tewas di tangan Nindia, sebelum ajalnya dia menyerahkan sebuah amanat kepada Madewa Gumilang alias Pendekar Bayangan Sukma untuk memegang tampuk ketua dan meneruskan cita-citanya (Baca: Dewi Cantik Penyebar Maut).

Dan amanat itu dipegang dan dijalankan oleh Madewa Gumilang sampai sekarang. Tetapi biarpun demikian, dia tak pernah mempunyai keinginan untuk mengubah ciri khas dari Perguruan Topeng Hitam yang bersenjatakan sepasang pedang. Makanya dia dan istrinya hanya menurunkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya akan ilmu-ilmu pedang. Bahkan sekalipun Madewa tidak pernah menurunkan ilmu yang dimilikinya.

Pagi ini dia sendiri sedang bersemedi di ruang khusus.

Di halaman kembali lagi terdengar suara Ratih Ningrum, "Kalian ulangi kembali, gerakan yang telah kulakukan tadi! Mulai!"

Serentak para muridnya pun bergerak. Mengikuti apa yang telah dicontohkan tadi. Ratih Ningrum mengangguk-anggukkan kepalanya, merasa puas karena murid-muridnya dengan cepat telah menangkap apa yang telah diajarkannya.

Tiba-tiba terdengar suara terkikik. Kepala Ratih Ningrum cepat menoleh. Begitu pula dengan para muridnya. Mereka melihat ada empat orang gadis berwajah cantik berdiri tegap di atas tembok yang mengelilingi Perguruan Topeng Hitam. Keempat gadis itu berpakaian ringkas berwarna hitam. Di pinggang mereka pun melilit sebuah selendang berwarna hitam pula.

Ratih Ningrum mendesah dalam hati. Dia sampai tidak mendengar keempat gadis itu mendekat Perguruan Topeng Hitam dan telah berdiri tegap di tembok. Ini menandakan bahwa keempat gadis itu bukanlah gadis-gadis sembarangan adanya.

Ratih Ningrum menjadi berhati-hati. Dia lalu berkata, "Sebagai tamu yang sopan dan menghormati tuan rumah, agaknya Ni sanak sekalian berkenan untuk turun daripada berdiri di tembok itu," kata Ratih Ningrum dengan suara bersahabat.

Empat tubuh berpakaian hitam itu bersalto dengan ringannya dan hinggap di tanah. Keempatnya menampakkan wajah tidak bersahabat.

Salah seorang berkata pada Ratih Ningrum, "Salam kenal dari kami, Nyonya Ketua... Kami dari Serikat Kupu-Kupu Hitam... menyampaikan amanat dari guru kami yang bernama Dewi Komalaputih..."

Ratih Ningrum yang sudah mencium maksud kedatangan mereka yang membawa itikad tidak baik berkata, tetap dengan nada bersahabat, "Salam kenal kembali dariku, untuk Guru kalian Dewi Komalaputih. Amanat apakah yang hendak Ni sanak sekalian sampaikan?"

"Hanya amanat kecil yang mungkin tak punya arti bagimu "

"Katakanlah "

"Nyonya Ketua nama Perguruan Topeng Hitam te-

lah terdengar sampai ke langit ke tujuh. Begitu pula dengan pimpinannya yang bernama Madewa Gumilang alias Pendekar Bayangan Sukma. Namun saat ini, kami semua meminta kepadamu dan kepada suamimu, untuk tunduk berada di bawah kekuasaan kami..."

Mendengar kata-kata itu wajah Ratih Ningrum pias. Amarah sudah berkecamuk di dadanya. Rasanya ingin dia segera menghantam mulut yang lancang itu. Begitu pula dengan para muridnya yang nampak mulai tidak senang dengan kedatangan orang-orang itu. Namun mereka tak berani melangkah sebelum ada perintah.

Mereka masih tetap berdiri di tempat masingmasing dan menahan kegeraman yang ada di hati.

Ratih Ningrum sendiri masih mencoba untuk bersabar.

"Aku belum mengerti apa maksud dari Guru kalian, Ni sanak?"

Gadis yang berkata tadi mendengus. "Ratih Ningrum... jangan berlagak pilon. Kau pasti sudah jelas maksud kami, yang meminta pada Perguruan Topeng Hitam untuk tunduk di bawah kekuasaan Serikat Kupu-Kupu Hitam... Camkan itu!"

Ratih Ningrum mendengus pula. Kali ini kemarahannya mulai naik melihat sikap keempat gadis itu begitu sombong dan pongah.

"Bagaimana bila kami menolak?"

"Itu berarti menantang Serikat Kupu-Kupu Hitam, Nyonya Ketua..."

"Tak ada jalan lain!"

"Memang tak ada jalan lain selain untuk menyerah saja!"

"Bukan itu maksudku!"

Wajah gadis itu memerah. Matanya meradang berbahaya.

"Nyonya Ketua... setiap kali kami menjalankan misi dari guru kami, tak sekali pun kami pernah berbuat salah dan mengalah! Katakan sekali lagi yang kau maksudkan itu..."

Ratih Ningrum tersenyum. Namun di balik senyumannya tersirat kemarahan yang menggelegak.

"Kali ini kalian yang berpura-pura bodoh! Kalian tentu sudah tahu maksudku, bukan?"

"Ratih Ningrum... bila itu maumu, Perguruan Topeng Hitam akan rata dengan tanah! Seperti Perguruan Sutra Emas. Perguruan Cakra Buana. Dan perguruan yang lainnya "

"Tetapi Perguruan Topeng Hitam tidak seperti perguruan-perguruan lain yang kau sebutkan itu!"

"Bagus! Kami pun sudah tidak sabar untuk mengadu kesaktian denganmu! Hhh! Aku beritahu dulu namaku, Ratih Ningrum. Bila kau sudah mampus nanti, nama kami akan kau bawa ke liang kubur! Namaku Priatsih! Teman-temanku, Priyanti, Prikasih dan Prilastri!"

"Hhh! Priatsih majulah bila kau benar-benar ingin merasakan ilmu dari Perguruan Topeng Hitam!"

"Baik! Lihat serangan!"

Sehabis berkata begitu, Priatsih menderu maju dengan serangan yang cukup berbahaya. Ratih Ningrum sendiri telah menyarungkan kembali sepasang pedang kembarnya warisan gurunya yang bernama Mukti.

Dia pun bergerak maju. Karena Priatsih bertangan kosong, dia pun mengimbanginya dengan tangan kosong. Priatsih yang melancarkan serangan dengan pukulan lurus ke wajah Ratih Ningrum, harus terkejut ketika Ratih Ningrum tiba-tiba maju menyerang dengan pukulan lurus pula ke wajah Priatsih. Serentak Priatsih menarik tangannya untuk menangkis serangan Ratih Ningrum.

"Des!"

Terjadi benturan yang cukup lumayan. Dan keduanya bersalto ke belakang. Masing-masing dapat mengukur tenaga dalam lawan. Ratih Ningrum merasa tenaga dalam lawan berada sedikit di bawahnya.

"Ayo seranglah aku kembali, Priatsih!" tantangnya yang sudah bersiap kembali.

Priatsih pun menerjang kembali. Kali ini lebih cepat. Lebih hebat dan lebih berbahaya. Ratih Ningrum sendiri sudah mengeluarkan jurus Pukulan Tangan Seribunya warisan dari gurunya yang bernama Tek Jien.

Kedua wanita itu pun saling serang dengan hebat. Saling menangkis. Saling membalas.Keduanya bagaikan dua ekor elang yang saling menyerang dengan hebat di angkasa. 

Telah lima belas jurus keduanya lewati, namun belum kelihatan ada yang terdesak. Hingga suatu ketika Ratih Ningrum memekik sambil bersalto. Dia bergerak dengan pukulan Tangan Seribunya. Yang nampak berubah menjadi seribu. Dan pukulan itu pun mengancam bagian-bagian tubuh berbahaya dari Priatsih.

Priatsih sendiri terkejut melihat satu pertunjukkan yang diperlihatkan Ratih Ningrum. Dalam keadaan bersalto ke arahnya, Ratih Ningrum masih bisa pula menyerang. Sebisanya Priatsih mencoba menangkis. Satu dua pukulan berhasil ditangkisnya. Tetapi tangan yang berubah seolah menjadi seribu itu sulit untuk dibendung lagi.

"Des!"

"Des!"

Dua pukulan bersarang telak di dada Priatsih yang terhuyung ke belakang. Dia merasakan dadanya nyeri sekali. Sementara Ratih Ningrum sudah bersalto kembali ke belakang dan hinggap kembali di tanah dengan ringannya. Dia tersenyum.

"Itukah ilmu Serikat Kupu-Kupu Hitam yang kau banggakan dan andalkan?!" serunya dengan nada mengejek.

Kata-kata itu membuat wajah Priatsih memerah. Begitu pula dengan ketiga temannya. Ketiganya siap untuk maju menyerang Ratih Ningrum. Tetapi tangan Priatsih menghalanginya.

"Biar aku yang selesaikan masalah ini!" katanya. Lalu dia berkata pada Ratih Ningrum, "Nyonya Ketua.... jangan berbangga dulu karena kau bisa memukulku. Nah, sekarang terimalah satu pertunjukkan dariku!"

Sehabis berkata begitu, Priatsih menguraikan selendang hitamnya yang melilit di pinggangnya. Rupanya selendang itu adalah senjata andalannya.

Dia pun mulai menggerak-gerakkan selendang itu. Dan menyeringai pada Ratih Ningrum, "Nah....

Nyonya Ketua. kembali kita harus bermain-main lagi!

Kau lihatlah senjata andalan dari Serikat Kupu-Kupu Hitam ini!"

"Majulah, Priatsih!" sahut Ratih Ningrum tenang. Dia pun menggeser kaki kanannya sedikit, hingga terbuka. Sikapnya sigap dan waspada.

Priatsih tidak mau membuang waktu lagi. Dengan menjerit keras dia menyerang dengan selendang hitamnya. Hebat. Sungguh hebat permainan selendang yang dipertunjukkan oleh Priatsih.

Hebat! Amat hebat!

Selendang itu bisa berubah menjadi tongkat yang amat kuat. Dan kadang-kadang berubah menjadi sebuah cemeti. Saat selendang itu bergerak, menimbulkan desiran angin yang cukup dingin dirasakan oleh Ratih Ningrum. Dan suara celetar yang cukup kuat.

"Hahaha.... mengapa kau hanya bisa menghindar saja, Nyonya Ketua?!" ejek Priatsih karena Ratih Ningrum harus kalang kabut menghindari seranganserangan selendang hitam itu.

Dia mengerahkan segenap ilmu meringankan tubuhnya. Dan satu ketika selendang itu mendadak berubah menjadi sebuah tombak dan siap untuk menusuk Ratih Ningrum yang sedang bersalto di udara.

"Awas serangan!" seru Priatsih.

Tubuh Ratih Ningrum yang masih bersalto di udara, kayaknya amat menyusahkan dirinya untuk menghindar. Apalagi selendang yang telah berubah menjadi tombak itu telah dekat jaraknya!

***
DUA
Murid-murid Perguruan Topeng Hitam hanya bisa menahan nafas tegang karena merasa tak ada jalan lain bagi Nyonya guru mereka untuk meloloskan diri atau pun menghindar. Karena sepertinya jalan itu sudah tertutup.

Begitulah dengan Priatsih yang merasa akan memenangi pertarungan ini. Hhh, ternyata hanya begitu saja kepandaian yang dimiliki oleh Ratih Ningrum!

Namun satu kehebatan diperlihatkan oleh Ratih Ningrum.

Dan membuat semua mata terbelalak, seakan tak percaya dengan apa yang terjadi.

Ratih Ningrum yang tengah bersalto di udara, dengan satu gerakan yang sungguh teramat cepat, mencabut sepasang pedang kembarnya. Dan mengibaskannya pada selendang yang telah berubah menjadi tombak itu.

"Trak!"

Pedang itu telah menyambar patah tombak yang berasal dari selendang. Dan mendadak saja tombak itu terkulai.

Priatsih terkejut.

Belum lagi hilang keterkejutannya, sebuah tendangan yang dilancarkan Ratih Ningrum telah mengenai dadanya.

"Des!"

Tubuh itu meluncur dengan deras ke belakang dan ambruk dengan muntah darah.

Ketiga temannya terkejut melihat hal itu. Langsung mereka memburu kepada Priatsih. Lalu dua orang berdiri dengan tatapan beringas dan bernafsu untuk membunuh dan membalas dendam.

Keduanya Priyanti dan Prilastri.

"Ratih Ningrum...." seru Priyanti dengan tatapan yang berbahaya. "Kau telah membuat harga diri kami jatuh atas ulahmu ini! Dan kami meminta agar kau menyerahkan diri sekarang juga!"

Tetapi kata-kata yang mengandung ancaman itu disambut dengan tersenyum oleh Ratih Ningrum.

Lalu dengan ringannya dia berucap, "Apakah kalian masih ingin nekat menghadapiku? Bukankah kawan kalian yang telah jatuh itu sudah menjadi sebagai bukti, bahwa kalian tak akan sanggup untuk mengalahkan aku?!"

Prilastri menggeram. "Sombong! Aku ingin melihat sampai di mana kehebatanmu, Ratih Ningrum!"

"Majulah! Dan kupikir, kalian berbarengan saja menghadapiku, biar urusan ini selesai! Dan katakan pada Guru kalian, jangan coba-coba mengganggu ketentraman kami! Dan jangan coba-coba menyebarkan teror ke perguruan lainnya yang terdapat di rimba persilatan ini!"

Wajah Priyanti dan Prilastri memerah karena marah. Keduanya saling lirik. Dan seperti sudah disepakati, tiba-tiba saja keduanya bergerak menderu ke depan.

Ratih Ningrum yang sudah bersiap sejak tadi pun segera menyambut serangan keduanya dengan sepasang pedang kembarnya.

Berbahaya. "Wuuuttt!"

"Wuuuttt!"

Kedua pedang itu berkelebat ke arah Priyanti dan Prilastri yang menderu menyerang. Dan secara serentak pula keduanya bersalto ke belakang untuk menghindarkan diri dari pedang Ratih Ningrum.

"Sialan!" maki Prilastri. Kali ini dia bergerak maju dengan cepat, mendahului Priyanti. Dan sambil menderu ke depan dia menguraikan selendang hitam yang melilit di pinggangnya. "Tahan seranganku, Nyonya Ketua! Awaaaasss!"

Ratih Ningrum pun segera menyambut dengan sepasang pedang kembarnya. Jurus-jurus pedang kembarnya pun segera mengimbangi permainan selendang hitam dari Prilastri.

Melihat kawannya sudah maju menyerang dan menguraikan senjata, Priyanti pun bergerak membantu dan menguraikan selendangnya pula. Kali ini Ratih Ningrum diserang dari dua jurusan.

Sungguh amat berbahaya. Mematikan.

Dan kejam.

Selendang itu telah dialiri tenaga dalam yang cukup kuat. Dan kadang-kadang menjadi tombak yang berbahaya. Kadang memukul. Menusuk. Menotok. Kadang secara tiba-tiba tombak itu berubah kembali menjadi selendang yang bergerak bagai sebuah cemeti. "Tar!"

"Tar!"

Ratih Ningrum menjadi agak kewalahan dengan serangan-serangan yang datang bertubi-tubi. Sebisanya dia mencoba untuk membalas dan menghindar.

Dan secara tiba-tiba kedua pedangnya bergerak begitu cepat hingga menimbulkan suara angin yang bergemuruh. Ratih Ningrum telah memadukan permainan pedangnya dengan Pukulan Tangan Seribunya, hingga pedang-pedang itu berubah menjadi seribu.

Setelah memadukan permainan pedangnya dengan jurus Pukulan Tangan Seribunya, nampaklah Ratih Ningrum bisa mengimbangi permainan selendang kedua gadis itu.

Kini nampak kedua gadis itu yang terdesak. Mereka nampak cukup terkejut pula menyaksikan permainan pedang yang diperlihatkan Ratih Ningrum.

"Wanita keparat!" geram Priyanti sambil berusaha menangkis dengan selendangnya yang berubah menjadi sebatang tongkat.

"Mengapa hanya bisa memaki dan menghindar saja, hah?!" ejek Ratih Ningrum dan terus mencecar dengan hebat.

Sepasang pedang kembarnya yang dipadukan dengan jurus Pukulan Tangan Seribu, ternyata menjadi begitu dahsyat. Mampu membuat kedua lawannya tunggang langgang kewalahan.

Para murid Perguruan Topeng Hitam berdecak kagum melihat Nyonya Guru mereka ternyata masih memiliki ilmu pedang yang dahsyat. Mereka tidak tahu kalau itu adalah jurus perpaduan.

Prikasih yang tengah berusaha mengalirkan tenaga dalamnya pada Priatsih, menjadi terkejut melihat kedua kawannya terdesak. Begitu pula dengan Priatsih yang telah membuka matanya. Dia merasa cukup pulih sekarang.

"Kasih... bantulah mereka.." desisnya lemah. Meskipun telah pulih tetapi dia merasa tubuhnya masih agak lemah.

"Baik. Bagaimana keadaanmu?"

"Agak lumayan. Cepat, kedua pedang Ratih Ningrum kulihat seperti mempunyai mata!"

"Baik!"

Sehabis berkata begitu, Prikasih berdiri. Dia langsung menguraikan selendang hitamnya yang melilit di pinggangnya. Sambil memekik keras, dia pun melibatkan dirinya dalam pertarungan itu.

"Awas serangan!" serunya dan mengibaskan selendang yang telah dialiri tenaga dalam itu.

Ratih Ningrum yang tengah mencecar kedua lawannya, merasakan sambaran angin yang cukup kuat datang dari belakangnya. Dengan sigap dia bersalto ke belakang. Dan hinggap di tanah dengan manisnya dalam keadaan siap siaga dan waspada.

"Bagus! Mengapa tidak sejak tadi kau ikut bergabung dalam pertarungan ini, hah?!" seru Ratih Ningrum sambil secara diam-diam mengatur jalan pernafasannya.

Dan serangan dari Prikasih pun datang kembali.

Melihat datangnya bantuan, Priyanti dan Prilastri pun segera menyerang kembali.

Kali ini Ratih Ningrum diserang dari tiga jurusan yang cukup berbahaya.

Dia pun mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk menghindari sambaran-sambaran selendang berwarna hitam dari ketiganya.

Hingga suatu ketika, salah sebuah pedangnya berhasil dilibat oleh selendang hitam milik Prilastri. Ratih Ningrum berusaha untuk melepaskan pedangnya. Namun adu tenaga itu ternyata seimbang, dikarenakan Prilastri memegang selendangnya dengan kedua tangannya. Bila sama-sama satu tangan, jelas Prilastri akan kalah tenaga oleh Ratih Ningrum.

Dan si saat tarik menarik itu terjadi, Priyanti dan Prikasih segera mengibaskan selendang hitamnya ke arah Ratih Ningrum.

Dua buah senjata andalan itu pun menderu dengan hebat ke arah istri Madewa Gumilang. Ratih Ningrum terkejut bukan kepalang. Namun mendadak tubuhnya mengempos ke arah Prilastri. Prilastri yang sedang mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik pedang Ratih Ningrum terkejut karena tiba-tiba dia seperti menarik angin. Dan tubuhnya menjadi hilang keseimbangan. Dia pun terhuyung.

Belum lagi dia sadar apa yang telah terjadi, pedang di kanan Ratih Ningrum telah membabat selendangnya hingga putus. Membuat tubuh Prilastri kini ambruk ke tanah. Dan dengan satu gerakan salto yang manis, Ratih Ningrum bergerak ke arahnya. Dan mengayunkan pedangnya kembali.

"Craaasss!"

"Aaaaaaakhhhh!"

Terdengar jeritan dari Prilastri ketika pedang Ratih Ningrum membabat dadanya. Darah segar pun segera menyembur keluar. Pedang itu menggores sampai jantungnya.

Mampuslah Prilastri dengan luka yang mengerikan. Sementara dua serangan yang dilancarkan oleh

Priyanti dan Prikasih mengenai angin. Dan mereka amat terkejut melihat Prilastri telah mati dengan mengerikan.

Dua pasang mata itu pun bersinar berbahaya pada Ratih Ningrum yang telah berdiri tegap kembali.

"Bangsat! Kau harus membayar nyawa teman kami!" bentak Prikasih marah.

Ratih Ningrum hanya tersenyum sambil mengatur jalan pernafasannya.

"Maaf., salah dia sendiri yang tidak menyadari datangnya bahaya."

"Persetan dengan ucapanmu!" geram Prikasih. "Kau harus membayar semua ini!"

"Hmm... kalian datang dengan cara yang tidak bersahabat! Dan maksud kedatangan kalian pun tidak menggembirakan! Kalian telah membuat onar di Perguruan Topeng Hitam! Lalu apakah aku harus diam saja melihat semua perbuatan kalian yang sombong, mau menang sendiri dan durjana? Tidak, sampai kapan pun aku akan menentang semua perbuatan kalian! Lebih baik kalian pergi dari sini, sebelum ada nyawa lagi yang terlepas dari jasad!"

"Hhh! Kau pikir kami takut dengan ancamanmu itu, Nyonya Ketua?!"

"Tidak, karena kalian adalah pengawal-pengawal yang patuh pada ketua atau guru kalian!"

"Nah, mengapa kau tidak menyerah saja?!"

"Demi kebenaran aku rela bertaruh nyawa!"

"Anjing buduk! Nyonya Ketua... sejengkalpun kami tak akan mundur dari hadapanmu!"

"Bagus! Dan nyawa pun akan terlepas lagi dari jasadnya!"

"Hal itu akan terjadi padamu, Nyonya Ketua!" geram Priyanti marah. Dan setelah berkata begitu dia pun menderu kembali menyerang dengan selendang hitamnya.

Melihat kawannya sudah menyerang, Prikasih pun turut pula membantu. Namun Ratih Ningrum yang sudah melihat gelagat yang susah untuk dihindarkan, telah bersiap sejak tadi. Dia pun sudah dapat memperhitungkan sampai di mana kehebatan dari para penyerangnya.

Dia pun segera menyongsong serangan keduanya dengan sepasang pedang kembarnya.

Kembali terjadi pertarungan yang hebat antara mereka. Serangan demi serangan saling berbalasan. Saling mencari kelemahan lawan.

Namun suatu ketika, terdengar jeritan Ratih Ningrum yang kuat. Dan tubuhnya pun bersalto ke arah keduanya, yang saat itu sedang melancarkan serangan mereka.

Dahsyat! Hebat.

Berbahaya.

Namun penuh perhitungan.

Tubuh Ratih Ningrum pun menerobos kedua selendang hitam yang sedang mengarah padanya.

"Crass!"

"Crass!"

Dengan satu gerakan yang sukar dilihat oleh mata, kedua selendang itu pun terbabat putus setengah oleh sepasang pedang kembar milik Ratih Ningrum. Dan sepasang pedang kembar itu pun terus memburu ke arah lawan.

Priyanti dan Prikasih terkesiap. Serentak keduanya bergulingan menghindar.

Ratih Ningrum yang tidak ingin mencabut nyawa lagi, segera menghentikan serangannya. Dia pun bersalto ke belakang.

"Hahh! Sudah kukatakan sejak tadi, tinggalkan tempat ini!" serunya berwibawa.

Priyanti yang telah bangkit dari bergulingnya mendengus. Wajahnya jelas nampak pucat dan terkejut. Dia amat tidak menyangka Ratih Ningrum berani menyongsong serangan yang dilancarkan olehnya dan Prikasih. Begitu pula dengan Prikasih.

Dia pun telah berdiri di samping Priyanti.

Ratih Ningrum berkata lagi. "Bukankah lebih baik kalian pergi dari sini? Aku tak ingin lagi menurunkan tangan telengas pada kalian! Cepat, jangan sampai aku berubah pikiran!"

Priyanti mendengus.

"Nyonya Ketua... sampai kapan pun akan kami ingat kejadian di hari ini! Dan ini telah membangkitkan dan membakar dendam kami!"

"Hhh! Pergilah dari sini secara baik-baik! Ingat, semua ini kalian yang memulai!"

"Ya! Kami tak akan pernah menerima semua ini, Nyonya Ketua!"

"Kalau itu maunya kalian, terserah! Tetapi perlu diingat, Perguruan Topeng Hitam tak akan mudah takluk pada siapa pun untuk jalan kejahatan!"

Priyanti membopong mayat temannya, Prilastri. Sedangkan Prikasih menuntun Priatsih yang masih lemah.

Sebelum meninggalkan tempat itu, Priyanti berkata lagi dengan mengancam, "Ingat, Ratih Ningrum... kami akan datang lagi untuk menuntut balas!"

"Kalian bisa datang sebagai tamuku kapan saja!" Lalu keempat gadis berpakaian hitam itu pun me-

ninggalkan tempat itu. Membawa seorang yang telah menjadi mayat, dan seorang lagi yang dalam keadaan terluka.

Ratih Ningrum mendesah. Perlahan-lahan dia menengadah menatap langit.

Oh, mengapa masih begitu banyaknya orang-orang yang sok jago dan mengandalkan kepandaiannya untuk menindas orang lain, desahnya dalam hati pilu.

Lalu dia kembali kepada murid-muridnya yang masih tetap berdiri di tempatnya. Masih setia dan menuruti perintahnya.

Kemudian dia berkata, "Murid-muridku... kalian telah mendengar sendiri tadi, kalau orang-orang dari Serikat Kupu-Kupu Hitam akan kembali lagi ke sini. Pintaku, kalian harus bersiap siaga kapan pun juga. Dan satu lagi, jangan kalian memberitahukan hal ini kepada Ketua. Karena dia tengah menjalankan semedinya! Biarlah semua ini kita yang mengetahuinya saja. Aku tak mau konsentrasinya terganggu!"

Para muridnya mengangguk. Dan menyahut dengan serempak, "Kami akan menuruti semua perintah dari Nyonya Ketua!"

"Bagus! Teruskan kalian berlatih! Aku hendak masuk ke dalam!"

Para muridnya menjura hormat pada Ratih Ningrum sebelum wanita itu melangkah. Lalu mereka pun melanjutkan latihan tadi.

***
TIGA
Malam pekat. Rembulan bersembunyi di balik awan hitam. Nampak mega-mega itu bergerak pekat. Bergumpal. Angin berhembus kencang. Dingin sampai ke tulang sumsum.

Sebentar lagi nampak hujan akan turun.

Suasana di hutan itu nampak begitu menyeramkan. Binatang malam yang biasanya berkeliaran, kali ini tak nampak seekor pun. Mereka seolah menyadari kalau malam ini nampak lain dengan malam-malam sebelumnya.

Di hutan kecil itu nampak terdapat sebuah danau. Danau yang dikelilingi oleh pepohonan besar, kini nampak pula dikelilingi oleh kabut yang cukup tebal. Danau itu sungguh mengerikan. Konon di danau itu banyak terdapat siluman.

Itulah sebabnya danau itu dikenal sebagai Danau Siluman.

Dan nampak samar-samar tiga sosok tubuh berkelebat ke arah danau itu. Ketiga sosok itu berpakaian hitam pekat. Bila diperhatikan lebih seksama, salah seorang dari tiga sosok tubuh itu nampak tertatih-tatih disanggah oleh temannya. Dan yang seorang lagi, nampak sedang membopong sosok tubuh yang terkulai tak berdaya. Nampaknya sosok yang dibopong itu telah menjadi mayat.

Mereka tak lain adalah empat gadis anggota Serikat Kupu-Kupu Hitam yang telah dikalahkan oleh Ratih Ningrum.

Mereka sedang menuju kembali ke markas mereka. Rupanya tak jauh dari Danau Siluman terdapat sebuah bangunan yang cukup besar yang dikelilingi oleh tembok yang lumayan tinggi.

Di pintu gerbang untuk masuk ke bangunan itu, terlihat dua sosok tubuh berpakaian hitam pula sedang menjaga.

Keduanya terkejut begitu melihat orang-orang itu datang. Keduanya segera menyongsong.

"Priyanti! Apa yang telah terjadi?" tanya salah seorang.

Priyanti yang membopong mayat Prilastri menyahut sambil memasuki halaman bangunan itu.

"Prilaksmi, di mana Ketua?!"

"Ada di ruang khususnya!"

"Hei, kau belum mengatakan apa yang telah terjadi?" tanya yang seorang lagi.

Prikasih yang menyahut, "Kami gagal membuat Perguruan Topeng Hitam untuk tunduk kepada kita!"

"Hei, kau tahu sendiri apa akibatnya?!" seru temannya lagi.

"Benar, Priyuni! Tetapi kami telah siap untuk menerima resikonya!"

"Kalau begitu sebaiknya kalian cepat menghadap Ketua! Jangan sampai terlambat, bila tak ingin kepala kalian lepas dari leher!" seru Priyuni agak beriba. Karena dia tahu apa hukumannya bila tugas yang telah diberikan gagal dilaksanakan.

Kepala taruhannya!

Sambil memapah Priatsih, Prikasih menyusul Priyanti yang telah masuk duluan sambil membopong mayat Prilastri.

Mereka telah siap untuk menerima resiko apa pun. Karena bagi mereka, biarpun melarikan diri, tak akan bisa lepas dari tangan Dewi Komalaputih.

Ruang khusus yang disebut Prilaksmi tadi adalah ruangan pribadi Dewi Komalaputih. Di ruangan itu dia sering menggunakan untuk memperdalam ilmu silatnya. Juga untuk melampiaskan hawa nafsunya dari jejaka-jejaka yang diculiknya. Setelah nafsunya terpuaskan, maka jejaka-jejaka itu akan dibunuhnya.

Saat ini Dewi Komalaputih pun sedang berada dalam puncak birahinya bersama dengan Ki Prodana, ketua dari Perguruan Sutra Emas yang telah berhasil ditaklukannya dan menjadi pengikutnya.

Bagi Dewi Komalaputih, dia tak mengenal apakah laki-laki yang dimauinya itu seorang jejaka ataukah seorang yang telah lanjut. Yang penting baginya seorang laki-laki!

Dan laki-laki itu memenuhi seleranya.

Begitu pula halnya dengan Ki Prodana. Dia dikenal sebagai orang dari golongan putih. Usianya kira-kira 53 tahun. Namun penampilannya masih gagah perkasa. Dia berjuluk si Gagak Hitam. Namun hawa nafsunya, telah mengalahkan akal sehatnya. Karena dia telah menjadi pengikut Dewi Komalaputih.

Keduanya tengah bergelut dengan penuh birahi. Hawa mesum memenuhi ruangan yang cukup besar itu. Di dalam ruangan itu terdapat bermacam senjata yang dimiliki oleh Dewi Komalaputih.

Tak lama kemudian terdengar desahan panjang dari keduanya. Disusul dengan jeritan kecil dari mulut Dewi Komalaputih.

Karena yang menjadi teman tidurnya orang yang telah ditaklukannya dan menjadi abdinya, sudah tentu Dewi Komalaputih tidak menurunkan tangan telengasnya pada Ki Prodana.

Kini keduanya terlentang dengan mata terpejam. Tiba-tiba Dewi Komalaputih berdiri dan berseru,

"Kalian yang berada di luar, cepat masuk!"

Lalu dia pun mengenakan pakaiannya yang berwarna hitam pula. Hanya bedanya dia memakai jubah yang berwarna hitam.

Lalu dia pun melilitkan selendang hitamnya yang terbuat dari sutra.

Begitu pula dengan Ki Prodana yang telah memakai pakaiannya kembali.

Perlahan-lahan pintu ruangan itu terbuka.

Priyanti, Prikasih dan Priatsih langsung masuk dan menjatuhkan diri di hadapan Dewi Komalaputih yang tengah berdiri. Di sampingnya Ki Prodana.

"Salam hormat kami kepada Guru!" berkata ketiganya secara bersamaan.

Dewi Komalaputih mendengus.

"Hhhh! Mana Prilastri?!" tanyanya dengan suara yang dingin.

Ketiganya bangkit perlahan-lahan. Namun masih duduk di lantai. Ketiganya melihat sepasang mata itu bersinar begitu dingin dan menakutkan. Secara tak sadar bulu kuduk ketiganya meremang mengingat hukuman apa yang akan dijatuhkan oleh Dewi Komalaputih bila mereka gagal dalam menjalankan tugas.

Priyanti berkata perlahan, "Maafkan kami Guru... Kami gagal dalam menjalankan tugas Guru kali ini..."

Sepasang mata itu pun semakin dingin bersinar.

Dan terselip getaran berbahaya.

"Lalu apa yang terjadi dengan Prilastri?"

"Maafkan kami, Guru.... Prilastri... tewas di tangan istri Madewa Gumilang..." kata Priyanti sambil menundukkan kepalanya.

Begitu pula dengan kedua temannya. Terdengar dengusan dari guru mereka.

"Bagus! Aku suka sekali dengan kerja kalian? Dan kalian tahu bukan, apa hukumannya bila kalian gagal melaksanakan tugas ini?"

"Kami mengerti, Guru," sahut ketiganya berbarengan. Seperti mengeluh.

"Dan kalian menerimanya?"

"Tak ada jalan lain bagi kami untuk menerimanya, Guru."

"Bagus! Kalian adalah pengawal dan muridku yang setia! Nah, mengapa kalian tidak melakukannya sekarang, hah?!"

Ketika gadis itu berpandangan dengan wajah pucat. Lalu terlihat Prikasih perlahan-lahan mengangkat kepalanya.

Menatap sang Guru.

"Guru... kali ini... bukannya kami ingin menentang perintah Guru. Kami rela membunuh diri di hadapan Guru. Tetapi izinkanlah kami sekali lagi untuk menyerang ke Perguruan Topeng Hitam... kami hendak menuntut balas pada Ratih Ningrum atas kematian Prilastri, Guru.... Maafkan kami..." Lalu Prikasih menunduk kembali. Hatinya berdebar kencang.

Begitu pula dengan kedua temannya. Dewi Komalaputih terdiam. Sebenarnya dia kagum dengan keberanian Prikasih mengemukakan perintahnya. Lagi pula dia ingat, biasanya keempat murid pilihannya ini tak pernah gagal dalam menjalankan tugas. Sekarang mereka meminta padanya untuk menuntut balas pada Ratih Ningrum atas kematian Prilastri.

Bukankah ini suatu persahabatan dan persaudaraan yang sejati?

Terdengar desahan Dewi Komalaputih.

"Kalau itu tekad kalian, baiklah. Kalian kuizinkan untuk menuntut balas atas kematian Prilastri. Tetapi dengan satu syarat, kalian harus berhasil membunuh Ratih Ningrum dan membawa kepalanya kepadaku. Mengerti?"

"Terima kasih, Guru..." kata ketiganya bersamaan. "Cepat kalian keluar dari sini! Dan ceburkan mayat Prilastri ke Danau Siluman!" 

"Kami mohon pamit, Guru!"

Lalu masih duduk di lantai ketiganya perlahanlahan beringsut keluar dari ruangan itu. Di luar ketiganya mendesah lega. Dan dendam semakin membara di hati mereka pada Ratih Ningrum.

"Sebaiknya kita urus dulu mayat Prilastri ini," kata Priyanti.

"Baik, kita ceburkan ke Danau Siluman!" kata Prikasih sambil membopong mayat Prilastri.

Lalu ketiganya pun segera membawa mayat itu ke Danau Siluman. Memang, mayat-mayat para jejaka yang dibunuh oleh Dewi Komalaputih dan mayatmayat murid yang gagal dalam menjalankan tugas, dibuang dan dibenamkan ke dalam Danau Siluman.

Namun yang membuat heran, dari danau itu tidak tercium bau busuk yang menyengat. Malah setiap kali mayat itu diceburkan ke sana, menguar bau harum dari danau itu. Sehingga mereka percaya kalau danau itu ditunggui oleh para siluman.

Prilaksmi dan Priyuni heran begitu melihat mereka keluar lagi dalam keadaan selamat.

"Guru memaafkan kalian?" tanya Prilaksmi tergesa karena baru kali ini ada kejadian murid yang gagal dalam menjalankan tugasnya dimaafkan oleh guru mereka.

"Ya! Kami akan menuntut balas pada Ratih Ningrum!" sahut Prikasih.

"Kalau begitu, ajaklah kami pula. Karena kami pun mendendam melihat kematian Prilastri..." kata Priyuni sambil melirik Prilaksmi yang langsung mengangguk.

"Itu bagaimana keputusan Guru nanti!"

Lalu mereka pun bergerak menuju ke Danau Siluman. Dan tanpa terasa ketiganya meneteskan air mata mengingat mayat Prilastri yang telah menjadi saudara mereka harus dibenamkan ke Danau Siluman.

"Maafkan aku, Prilastri..." kata Prikasih sambil berlinang air mata. "Tetapi dendammu akan kami balas..."

"Tenanglah kamu di sana, Prilastri..." kata Priyanti. "Yah... damailah jasadmu di sana..." sambung Priat-

sih sambil mengusap air matanya. "Kami berjanji, akan menuntut balas atas kematianmu ini..."

Lalu dengan hati-hati dan perasaan berat, mereka pun menceburkan tubuh Prilastri ke Danau Siluman yang pekat tertutup kabut.

Terdengar suara "byur" lalu disusul tubuh Prilastri yang perlahan-lahan terbenam. Ketiga gadis itu masih terisak menyaksikan mayat itu perlahan-lahan menghilang ditelan Danau Siluman.

Dan begitu mayat Prilastri menghilang tertelan Danau Siluman, mendadak menguar bau harum dari danau itu.

Begitu wangi. Mempesona.

Ketika gadis itu pun menghirup bau wangi itu dalam-dalam. Seolah hendak menyatukan bau wangi itu pada diri mereka.

Dan amat tiba-tiba, sungguh tiba-tiba, telinga mereka menangkap suara Prilastri yang berat seperti mengandung kepiluan dan kesedihan yang teramat sangat.

Menyayat.

"Kawan-kawan... bunuhlah Ratih Ningrum untuk menemaniku di alam sana... Bunuhlah dia... bunuhlah... bunuhlah..."

Suara itu perlahan-lahan mengecil dan menghilang.

Ketiganya tersentak. Dan secara bersamaan pun berseru.

"Prilastri!"

Namun tak ada bayangan Prilastri.

Begitu pula dengan suara yang terdengar tadi. Lenyap

Danau Siluman kembali sunyi dan pekat.

Namun di hati ketiganya, bergejolak dendam dan amarah yang teramat sangat pada Ratih Ningrum. Membuat mereka tak sabar lagi untuk segera membunuhnya.

Apalagi sura Prilastri itu menandakan dia masih begitu mendendam. Dan membawa dendamnya ke alam akhirat.

Ketiga gadis itu pun berpandangan. Dan secara serempak mereka mematahkan jari keliling tangan kiri mereka. Lalu meludahi jari yang telah putus itu secara bersamaan.

Terdengar suara Priyanti yang diikuti oleh kedua temannya, "Demi langit dan bumi... kami bersumpah akan membunuh Ratih Ningrum untukmu, Prilastri! Bila kami melanggar sumpah ini, biarlah Gusti Allah yang akan menghukum kami! Kami tak akan membiarkan kau menderita di alam sana! Dan kami tak ingin pula kau mati secara penasaran, Prilastri!"

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh petir yang keras di angkasa.

Dan hujan secara mendadak turun dengan deras membasahi bumi.

Berarti sumpah ketiganya didengar oleh Yang Maha Kuasa.

Sumpah yang mengerikan. Sumpah demi seorang sahabat.

Dan secara bersamaan mereka pun melemparkan jari kelingking yang telah putus itu ke Danau Siluman. Seolah sudah sepakat dan yakin, jari kelingking mereka itulah yang akan menemani arwah Prilastri di alam sana.

Sedangkan bau wangi yang menguar Danau Siluman itulah yang akan mengikuti dan menemani mereka. Seolah antara mereka dengan Prilastri tak ada lagi perbedaan alam.

Telah menyatu.

Namun tiba-tiba ketiganya menjerit, karena baru merasakan sakit di kelingking mereka yang putus dan masih mengeluarkan darah.

Secara serempak ketiganya menotok urat darah yang terdapat di pergelangan tangan mereka, sehingga darah pun berhenti mengalir.

Terdengar suara Priyanti berkata, "Sebaiknya kita harus segera mencari Ratih Ningrum dan membunuhnya."

Usul itu ditanggapi setuju oleh kedua temannya.

Prikasih berkata, "Dan sebaiknya pula, kita harus memulihkan kembali tenaga kita. Terutama kau Priatsih. Kau harus bersemedi selama seminggu untuk mengembalikan hawa murnimu yang telah banyak terbuang."

Priatsih mengangguk.

"Yah... aku sendiri sudah tidak sabar untuk membalas kekalahan dari Ratih Ningrum dan menuntut balas atas kematian Prilastri..."

Lalu ketiganya pun kembali ke bangunan besar itu, di mana Serikat Kupu-kupu Hitam berkumpul.

***
EMPAT
Matahari nampak baru saja bangun dari peraduannya. Sinarnya cerah. Menerangi bumi yang dua malam berturut-turut dibasahi oleh hujan yang turun terus menerus.

Bau tanah basah yang bercampur dengan embun pagi tercium. Bau rerumputan yang nampak segar pun berhembus ditiup angin.

Nampak dua ekor kuda tengah melintasi jalan setapak yang becek itu. Penunggangnya adalah sepasang remaja. Yang pemuda berwajah tampan dan bertubuh tegap. Di punggungnya terdapat busur beserta anak panah. Sedangkan yang pemudi berwajah jelita dengan rambut terurai panjang yang diikat ekor kuda. Sepasang matanya bersinar cerah dan jenaka. Menandakan dia seorang gadis yang riang dan manja. Di punggung gadis itu terdapat sebilah pedang yang sarungnya terbuat dari kulit harimau.

Keduanya sudah seminggu melakukan perjalanan dari desa mereka. Keduanya adalah murid dari Perguruan Cakra Buana yang meminta izin pulang untuk menengok kedua orang tua mereka yang sedang sakit.

Keduanya kakak beradik.

Si kakak bernama Perwira, sedangkan adiknya bernama Ratih Ayu.

"Masih lamakah jalan yang harus kita tempuh untuk mencapai perguruan, Kakang Perwira?" bertanya Ratih Ayu pada kakaknya.

Kalau melihat dari wajahnya saat ini, nampak wajahnya tengah dirundung duka. Dan letih pun tersirat di wajah yang cantik itu.

"Kira-kira satu hari lagi, Rayi Ratih Ayu... Apakah kau sudah lelah?"

"Ya, Kakang... seluruh tubuhku penat dan lelah," kata Ratih Ayu.

Perwira tahu mengapa adiknya cepat menjadi lelah, karena adiknya masih dirundung duka. Orang tua mereka yang sakit tak dapat tertolong lagi. Mereka meninggal akibat wabah kolera yang melanda desa mereka.

Perwira menghentikan jalan kudanya.

"Sebaiknya kita beristirahat saja di sini, Rayi..." kata Perwira mengusulkan.

"Itu lebih baik, Kakang..." kata Ratih Ayu sambil melompat dari kudanya. Lalu mengikat kudanya di sebuah batang pohon.

Begitu pula dengan Perwira.

Lalu dia membuka bekal yang mereka bawa.

Di atas rerumputan yang masih basah, keduanya pun menikmati sarapan pagi mereka.

Setelah menikmati sarapan dan merasa cukup beristirahat keduanya pun kembali memacu kuda mereka.

Satu hari satu malam mereka berpacu. Kali ini tanpa beristirahat. Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di depan sebuah bangunan besar. Di pintu gerbang bangunan itu biasanya terdapat sebuah bendera lambang dari Perguruan Cakra Buana.

Tetapi mereka tidak melihat bendera itu. Bahkan biasanya di pagi seperti ini, murid-murid dari Perguruan Cakra Buana sedang berlatih. Tetapi mengapa bangunan itu nampak sepi? Bahkan sepertinya tak ada tanda-tanda kehidupan.

Keduanya saling berpandangan heran.

"Mengapa sepi sekali, Kakang?" tanya Ratih Ayu tak bisa menahan rasa herannya lagi.

"Entah, Rayi... mungkin sedang diadakan rapat di dalam..."

"Tetapi mengapa tidak ada yang menjaga, Kakang?

Bendera perguruan kita pun tak terpasang?"

"Aku juga tidak tahu, Rayi... sebaiknya kita masuk sekarang..."

Keduanya pun segera menjalankan kuda mereka memasuki gerbang Perguruan Cakra Buana. Dan betapa terkejutnya mereka begitu melihat mayat-mayat bergelimpangan di sana sini.

Bau amis darah tercium.

Bau mayat terhembus dibawa angin.

Ratih Ayu muntah karena mencium bau yang teramat busuk. Buru-buru dia mengerahkan hawa murninya untuk menutup bau yang busuk itu.

"Kakang! Apa yang telah terjadi?!" desisnya terkejut. "Aku pun tidak tahu, Rayi!" kata Perwira tak kalah

terkejutnya.

"Kakang... sepertinya di tempat ini telah terjadi pertempuran yang amat hebat."

"Betul, Rayi.. sepertinya Perguruan kita telah diserang oleh orang-orang jahat..."

"Kakang!" memekik Ratih Ayu. "Bagaimana dengan Guru?!"

Serentak keduanya melompat dari kuda mereka dan berlari ke dalam bangunan itu. Di dalam pun terdapat banyak mayat dari murid Perguruan Cakra Buana.

Kali ini mereka tak ambil perduli. Keduanya pun berlari ke ruangan guru mereka biasa berada.

Pintu ruangan itu telah hancur berantakan. Sepertinya dihantam oleh sebuah buldozer. Di dalam ruangan itu pun terdapat banyak mayat.

"Guru!" seru Ratih Ayu cemas. Duka yang telah dialaminya seolah telah lenyap dan berganti dengan kecemasan terhadap guru mereka, Ki Borgawa Darsa.

Suaranya menggema di ruangan itu.

Tak ada bayangan Ki Borgawa Darsa muncul. Perwira pun berseru, "Guru! Di mana Guru bera-

da?!"

Kembali hanya gema suaranya yang terdengar. Perlahan-lahan keduanya tersadar, kalau guru me-

reka tak ada di tempat itu. Serentak keduanya pun mencari mayat guru mereka.

Tetapi tidak ditemukan!

"Kakang... mengapa mayat Guru tidak ditemukan andaikata dia juga mati?" tanya Ratih Ayu cemas.

"Entahlah. Tetapi bila mayat Guru tidak ada, berarti Guru belum mati."

"Kalau belum mati di mana dia berada?"

"Aku pun tidak tahu, Rayi... hanya dugaanku, Guru ditahan oleh para penyerang Perguruan Cakra Buana ini."

"Siapa mereka, Kakang?"

"Akupun tidak tahu, Rayi... Sayang, kita tidak bisa mencari keterangan dari semua kejadian ini "

"Kakang Perwira... Mbakyu Ratih " terdengar suara

pelan di belakang mereka.

Keduanya menoleh. Seraut wajah jelek muncul di ambang pintu.

"Bunto!" seru Perwira sambil berlari mendekati wajah jelek itu.

Begitu pula dengan Ratih Ayu yang mendekat pula dan bertanya dengan nada tidak sabar, "Bunto apa yang telah terjadi? Di mana Guru?"

Bunto mendesah. Nampak di matanya tersirat duka yang amat sangat. Wajah Bunto sangat buruk. Matanya terbuka lebar dengan luka bekas luka di kedua pelupuknya. Pipinya sebelah kanan tumbuh benjolan. Rambutnya agak botak. Dan tubuhnya bungkuk.

Di Perguruan Cakra Buana ini dia bertugas menjaga kuda dan mengurusnya.

Karena Bunto diam saja, Ratih Ayu berkata lagi, "Bunto... katakan apa yang telah terjadi? Siapa yang menyerang perguruan kita?"

"Tenang, Rayi.. tenanglah," kata Perwira yang melihat Bunto nampak sedang menahan kesedihan di hatinya. Lalu setelah melihat Bunto agak tenang, dia pun bertanya perlahan, "Bunto... apa yang telah terjadi sepeninggal kami di sini? Ceritakanlah..."

Bunto menatap keduanya dengan sepasang matanya yang menakutkan namun bersinar lembut. Mata itu bercahaya duka.

"Mengerikan..." desisnya pelan. "Apanya yang mengerikan..."

"Orang-orang itu menyerang ke sini..."

"Siapa mereka?"

"Para gadis..."

"Maksudmu?" tanya Perwira. Sebenarnya dia penasaran karena Bunto memenggal-menggal jawabannya. Tetapi Perwira maklum sepertinya Bunto tengah mengalami tekanan jiwa yang hebat. Boleh dikatakan dia melihat sendiri kejadian yang mengerikan di Perguruan Cakra Buana.

"Gadis-gadis itu..."

"Gadis-gadis yang menyerang ke sini?"

"Ya."

"Siapa mereka?"

"Gadis-gadis berpakaian hitam-hitam., mereka menyerang perguruan ini dengan ganas dan kejam. Mereka membunuh siapa saja.."

"Gadis-gadis berpakaian hitam-hitam?"

"Ya, mereka berjumlah empat orang."

"Empat orang?" ulang Perwira tak percaya. Empat orang gadis menyerang ke sini dan berhasil membunuh semua murid-murid Perguruan Cakra Buana? Sepertinya sukar untuk dipercaya.

Lalu terdengar lagi jawaban Bunto, "Ya, empat orang. Mereka cantik. Tadi kejam..."

"Apa maksud kedatangan mereka?"

"Aku tidak tahu."

"Bagaimana dengan Guru?"

"Guru dibawa mereka."

"Ke mana?"

Bunto menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu."

"Bunto... katakan sekali lagi, yang menyerang perguruan kita berjumlah empat orang?"

"Ya."

"Para gadis?"

"Ya."

"Berpakaian hitam-hitam?"

"Ya."

"Senjata apa yang mereka gunakan untuk membunuh dan menyerang kita?"

"Cuma selendang yang biasa dipakai seperti punya istriku."

"Selendang?"

"Ya. Tapi hebat."

Perwira mendesah. Jawaban-jawaban Bunto begitu lambat dan terputus-putus. Dia tidak puas dengan jawaban yang diberikan Bunto.

Tetapi bila dia menekan atau memaksa, sepertinya dia akan tetap menerima jawaban seperti itu. Perwira bermaksud membiarkan Bunto secara lengkap.

"Ya," sahut Bunto dengan tatapan kosong. Lalu dengan terbungkuk dia mendahului Perwira dan Ratih Ayu melangkah.

Ratih Ayu menatap kakaknya. "Kakang... sepertinya sulit dipercaya empat orang gadis menyerang ke sini dan membuat segala kacau balau."

"Ya, aku pun demikian. Tetapi itu sudah menandakan bahwa mereka adalah gadis-gadis yang sakti. Entah dari golongan mana mereka. Dan sebab apa mereka menyerang dan membunuhi kawan-kawan kita ini."

"Aku sudah tidak sabar untuk mendengarkan cerita Bunto, Kakang. Sebaiknya kita segera menyusul."

"Baik, Rayi."

Lalu keduanya berlari ke kuda mereka dan mengarah menuju rumah Bunto yang tak jauh dari Perguruan Cakra Buana.

***
LIMA
Seperti biasa pagi itu murid-murid Perguruan Cakra Buana tengah berlatih. Senjata dari Perguruan Cakra Buana adalah sebuah cakra bergerigi. Yang dapat dimainkan seperti sebilah keris. Dapat pula dilempar dan berbalik kembali kepada pemiliknya.

Ki Borgawa Darsa saat ini tengah berada di ruangannya. Dia tengah bersemedi. Laki-laki yang berusia 50 tahun itu adalah dari golongan putih. Dan telah lama mengasingkan diri dari dunia persilatan. Dan ilmu pun mulai diturunkan kepada para muridnya.

Tiba-tiba di halaman terjadi keributan.

Dua orang murid yang menjaga pintu gerbang terpental dari tempatnya dan ambruk dalam keadaan menjadi mayat di depan teman-temannya yang berlatih.

Seta Angseta yang tengah melatih dan merupakan salah seorang murid terlama menjadi terkejut. Dia segera menghentikan melatihnya.

Dan memeriksa kedua murid itu yang telah menjadi mayat. Wajah kedua mayat itu membiru. Sepertinya leher mereka dicekik hingga kehabisan nafas.

Belum lagi Seta Angseta berkata, tiba-tiba melompat empat sosok tubuh berpakaian hitam-hitam di hadapan mereka. Wajah keempat sosok tubuh itu jelita. Dan mereka merupakan gadis-gadis belia.

"Salam perkenalan kami, orang-orang Perguruan Cakra Buana!" berseru salah seorang yang tak lain Priatsih.

Seta Angseta menjadi waspada. Dia dapat menduga bahwa gadis-gadis inilah yang telah menghabisi nyawa kedua temannya.

"Salam kembali dari kami, Gadis-gadis berbaju hitam," balas Seta Angseta mencoba bersahabat.

Priatsih tertawa. "Hahaha... rupanya orang-orang Perguruan Cakra Buana orang-orang yang dapat menghormati tamunya..."

"Tamu adalah orang yang kami hormati..." kata Seta Angseta dengan mata menyelidik. "Tetapi... tentunya kalian adalah tamu-tamu yang sopan? Namun mengapa kalian begitu telengas membunuh dua teman kami ini?"

"Hahaha... itulah tanda perkenalan dari kami.

Orang-orang Serikat Kupu-Kupu Hitam..."

Mendengar ucapan yang sombong dan angkuh itu, Seta Angseta menjadi geram.

"Kami rasa... kamu tak punya silang sengketa dengan Orang-orang Serikat Kupu-Kupu Hitam..."

"Memang tidak."

"Tetapi mengapa kalian begitu telengas membunuh kawan-kawan kami ini?"

"Karena itu tanda untuk siapa saja yang membangkang kemauan dan perintah kami."

"Apa kemauan kalian?!" seru Seta Angseta semakin waspada. Dia yakin, keempat gadis ini bermaksud tidak baik mengingat cara mereka datang dengan membunuh dua murid Perguruan Cakra Buana.

"Kemauan kami... agar orang-orang Perguruan Cakra Buana mau tunduk di bawah Serikat Kupu-Kupu Hitam..."

"Hhh! Permainan apa pula ini?! Sepertinya kalian begitu mudah meminta pada kami agar kami tunduk pada kalian!"

"Ini bukan sebuah permainan! Tapi ini sebuah permintaan!"

"Bagaimana bila kami menolak permintaan kalian?!"

"Nasib kalian akan sama dengan dua orang yang telah menjadi mayat itu!"

"Bangsat! Langkahi dulu mayat kami, bila kalian ingin membuat kami menunduk dan mengikuti segala kemauan kalian!"

"Bagus! Aku pun sudah tidak sabar ingin membumihanguskan Perguruan Cakra Buana!"

Sehabis berkata begitu, empat orang gadis itu pun saling menjaga jarak. Posisi mereka mantap.

Seta Angseta mengangkat tangannya.

Secara serentak murid-murid Perguruan Cakra Buana mengurung keempat gadis itu.

"Hhh! Kalian tak akan bisa lari dari sini!" seru Seta Angseta.

"Bagus!" bentak Priatsih. "Akan kita lihat siapa yang masih bisa menghirup udara segar esok pagi!"

"Seraaaang! Dan tangkap mereka!" seru Seta Angse-

ta. Dan secara serempak murid-murid yang mengepung itu pun bergerak melancarkan serangan.

Serentak pula di halaman Perguruan Cakra Buana terjadi keributan yang hebat. Empat gadis yang dikeroyok itu ternyata begitu lincah dan hebat menghindari setiap serangan para pengeroyoknya.

Murid-murid Perguruan Cakra Buana mengepung keempat gadis itu dengan dua lingkaran. Lingkaran pertama berada di dekat gadis-gadis itu. Lingkaran kedua melingkari lingkaran pertama.

Dan begitu lingkaran pertama merangsek maju, lingkaran kedua menutup jalan keluar bagi keempat gadis itu. Serangan-serangan yang mereka lancarkan secara bergantian.

Begitu ada yang terkena pukul, dia akan mundur. Dan orang yang berada di lingkaran kedua maju untuk menyerang.
BACA JUGA
Serial Pendekar Bayangan Sukma: 24 Sepasang Manusia Serigala
Serial Pendekar Bayangan Sukma: 21 Tiga Ksatria Bertopeng
Serial Pendekar Bayangan Sukma: 19 Munculnya Si Pamungkas
Begitu seterusnya.

Nampak sekali kalau serangan itu sulit untuk dielakkan. Dan sepertinya tak ada jalan keluar bagi keempat gadis itu.

Namun begitu keempatnya menguraikan selendang yang melilit pinggang mereka, barulah nampak jalan terbuka.

Selendang itu kadang bisa berubah menjadi tombak. Yang dengan hebatnya mengamuk. Kadang pula bisa menjadi cemeti. Dan bagi yang terkena, langsung mampus. Karena selendang itu telah dialiri tenaga dalam yang cukup kuat.

Sebentar saja sudah terdengar jeritan kematian dari murid-murid Perguruan Cakra Buana. Dan barisan melingkar itu pun terbuka. Dua orang gadis berpakaian hitam bersalto melewati barisan itu dan masih bersalto mengibaskan selendang mereka.

Dua jeritan terdengar. Disusul dengan tubuh ambruk menjadi mayat. "Hhh! Itulah ganjaran bagi yang membangkang!" se-

ru Prikasih dan mengelebatkan kembali selendangnya. Kembali pula seorang ambruk dengan kepala hampir putus.

Barisan itu pun menjadi kacau balau.

Seta Angseta menjadi terkejut karena tak menyangka selendang yang melilit di pinggang keempat gadis itu bisa menjadi senjata yang mengerikan dan ampuh.

Dia sendiri pun mencabut senjata cakranya. Dan menyerang dengan menggenggam lobang cakra itu. Serangannya ganas dan berbahaya.

Setiap kali tangannya bergerak, terdengar desingan angin yang cukup kuat.

Dan langsung mengancam bagian-bagian yang berbahaya dari lawan-lawannya.

Priyanti yang melihat hal itu segera menyongsong laju serangan Seta Angseta dengan selendang hitamnya.

Keduanya pun segera terlibat dalam pertempuran yang hebat dan dahsyat.

Saling serang. Saling menghindar. Saling balas.

Sementara ketiga temannya telah membuat kacau balau murid-murid yang lain. Satu per satu pun murid-murid itu mati. Bila tidak tubuhnya hancur, lehernya yang hampir putus.

Belum lagi ketika selendang yang berada di tangan ketiga gadis itu berubah menjadi tombak. Dapat menangkis jatuh cakra yang dilemparkan oleh muridmurid Perguruan Cakra Buana.

Bahkan bisa membalikkan kepada pemiliknya dengan satu sentakan keras hingga pemiliknya sukar untuk menangkapnya kembali. Dan tanpa ampun lagi menancap di tubuhnya sendiri.

Hanya sebentar saja murid-murid Perguruan Cakra Buana yang berjumlah 25 orang itu telah mati berkalang tanah.

Sementara Seta Angseta dengan gigih menahan serangan-serangan selendang hitam dari Priyanti.

"Kau tak akan bisa lari, Pemuda sombong!" geram Priyanti sambil menyerang. Dan tiba-tiba selendangnya yang nampak lemah itu berubah menjadi tombak. Dan siap untuk menusuk jantung Seta Angseta.

Seta Angseta sendiri terkejut. Dia cepat bersalto ke belakang. Namun tiba-tiba tiga buah selendang telah menjerat tubuhnya dan menariknya jatuh ke bumi.

Dia memekik kesakitan.

Dan sulit baginya untuk meloloskan diri.

Priyanti terbahak. Dia mendekati Seta Angseta yang telungkup di tanah.

Kakinya mengangkat dagu pemuda itu hingga menatapnya.

Priyanti meludahi wajah itu.

"Hhh! Jangan banyak lagak di hadapan kami! Nah, kau sendiri yang meminta kepada kami untuk melangkahi mayatmu! Sebentar lagi akan kami lakukan, bukan?!"

"Perempuan jahanam!" maki pemuda itu. "Kau tak ubahnya seperti iblis yang haus darah!"

"Yah, aku memang iblis yang haus darahmu!"

"Bunuhlah aku, Perempuan Iblis!"

"Sebentar lagi kami akan membunuhmu! Hhh, mengapa kita tidak main-main sejenak?!"

Seta Angseta mendengus.

"Permainan apa lagi yang akan kau perlihatkan, hah?!"

"Sabarlah... nah, kau lihatlah permainan apa yang kami perlihatkan! Hmm... sebenarnya kau cukup tampan, Anak muda... Seharusnya kau kami serahkan kepada Guru kami, tetapi entah kenapa aku mendadak saja menyukaimu. Hmm... kau pasti menyukai permainan yang akan kusuguhkan ini..."

Secara tiba-tiba tubuh Seta Angseta terangkat. Dan berdiri dengan tubuh melilit tiga buah selendang. Priyanti berdiri di hadapannya.

"Permainan ini segera dimulai, Anak muda..." desisnya tiba-tiba. Suaranya parau. Di tenggorokan. Seta Angseta mencium hawa mesum yang mulai menguar.

Dan secara perlahan-lahan tubuh Priyanti meliukliuk di depannya dengan erotis. Gerakannya mengandung birahi yang memabukkan. Dan secara perlahanlahan pula dia membuka sedikit pakaian bagian dada. Nampak pula di mata Seta Angseta bagian atas dari buah dada gadis itu. Lalu perlahan-lahan pula Priyanti membuka pakaiannya.

Akhirnya dia pun telanjang bulat di depan Seta Angseta. Tubuhnya semakin meliuk-liuk dengan erotis. Seta Angseta tiba-tiba merasakan tubuhnya bergetar. Dia berusaha menutup kedua matanya. Namun tangan Prilastri telah menotok urat matanya hingga kedua mata itu nyalang terbuka.

"Nikmatilah permainan ini, Anak muda..." desisnya. Seta Angseta semakin merasakan gemetar di selu-

ruh tubuhnya melihat pemandangan di depannya. Wajahnya mendadak memerah. Dia pun telah terundang birahi yang mendesak.

Secara tiba-tiba dia berontak untuk menjangkau tubuh Priyanti.

Tetapi lilitan tiga buah selendang itu semakin kuat mengikatnya. Membuat Seta Angseta menjerit-jerit untuk mendekati tubuh Priyanti.

Tiba-tiba terdengar seruan keras dari ambang pintu bangunan Perguruan Cakra Buana. "Hai! Lepaskan!" seru orang yang berdiri di sana. Lalu pemuda-pemuda yang berdiri di dekatnya segera berlarian mengurung keempat gadis itu.

Priyanti menghentikan tariannya. Dia menebar senyum yang memabukkan kepada pemuda-pemuda itu, yang menjadi terdiam karena melihat suatu pemandangan yang jarang sekali mereka saksikan.

Sementara Seta Angseta masih meronta-ronta untuk menjangkau tubuh Priyanti. Begitu hebat siksaan birahi yang melandanya.

"Apakah kalian datang untuk menikmati keindahan tubuhku pula?!" desis Priyanti.

Para murid-murid Perguruan Cakra Buana menjadi salah tingkah dan serba salah. Tetapi begitu melihat betapa banyaknya teman-teman mereka yang mati, mereka mencoba mengusir pemandangan yang memabukkan itu dengan menekan hawa murninya dan menyebarkan ke seluruh tubuh.

"Teman-teman..." berseru salah seorang. "Jangan sampai terpengaruh oleh birahi!" desisnya lagi.

Dan teman-temannya pun semakin mengerahkan hawa murni mereka. Mendadak salah seorang segera bergerak menyerang, semata untuk menyadarkan teman-temannya yang tengah terpesona oleh pemandangan itu.

Mendengar jeritan yang keras, mereka menjadi tergugah. Dan tersadar. Serentak pula mereka menyerang.

Priyanti yang menjadi sasaran mereka.

Tetapi gadis itu dengan mudahnya menghindari serangan dari pemuda-pemuda itu. Dia bersalto ke belakang, melewati tubuh Seta Angseta yang masih meronta-ronta karena dimabuk birahi. Tiba-tiba saja tangan kanan gadis itu bergerak dengan cepat menghantam kepala Seta Angseta. "Traaakkk!"

Tinju yang keras itu menghantam hancur Seta Angseta. Lalu tubuh itu pun ambruk tanpa bisa menjerit lagi.

Secara serempak tiga buah selendang yang melilitnya, terurai dan terlepas. Priyanti sendiri segera memakai pakaiannya. Dan kini selendang hitamnya telah siap pula untuk menjalankan tugas.

Mendadak terdengar seruan dan satu sosok tubuh melenting ke arah mereka. Ki Borgawa Darsa, Ketua dari Perguruan Cakra Buana telah berdiri di hadapan mereka. Membelakangi murid-muridnya.

"Gadis-gadis berbaju hitam... ada masalah dan maksud apa kalian membuat teror di sini?" tanyanya dengan suara berwibawa. Usianya yang telah menempanya menjadi bersikap demikian. Meskipun hatinya geram menyaksikan pembantaian ini, namun dia masih berusaha untuk menahan diri.

"Hhh! Rupanya kami tengah berhadapan dengan Ki Borgawa Darsa, bukan?!" berkata Priatsih.

"Benar, akulah yang bernama Ki Borgawa Darsa. Nah, katakan sebab apa kalian menurunkan tangan telengas kepada murid-muridku?"

"Ki Borgawa... kamu membawa amanat dari guru kami, Dewi Komalaputih untukmu..."

"Amanat apa gerangan?"

"Meminta kepada seluruh murid dan ketua Perguruan Cakra Buana untuk tunduk di bawah pimpinan kami, Serikat Kupu-Kupu Hitam!"

Secara diam-diam Ki Borgawa Darsa sudah dapat menangkap sebab apa gadis-gadis itu datang dan menyebar teror.

Dia tersenyum. Namun di balik senyum itu terdapat kegeraman yang luar biasa.

"Bagaimana kalau aku menolak?"

"Kau akan mengalami nasib seperti murid-muridmu itu!"

"Agaknya aku lebih memilih mengikuti jejak muridmuridku yang perkasa!"

"Bagus!" kata Priatsih. "Nah, bersiaplah untuk menerima kematianmu!"

Setelah berkata begitu, Priatsih pun segera menyerang ke depan. Namun murid-murid yang berada di belakang tubuh Ki Borgawa Darsa segera berkelebat menyongsong serangan Priatsih pada guru mereka.

Priatsih terkejut. Namun dengan sigap dia kembali bersalto. Dan bersamaan dengan itu Ki Borgawa Darsa sudah merangsek maju.

Keempat gadis itu pun menyebar dengan sigap. Ki Borgawa Darsa dilayani oleh Priatsih. Sementara tiga temannya menghadapi keroyokan para murid yang berjumlah dua puluh orang.

Biarpun mereka berjumlah dua puluh orang, namun yang mereka hadapi adalah gadis-gadis sakti murid dari Dewi Komalaputih. Sebentar saja mereka sudah kocar-kacir. Ada yang mati di tempat. Ada yang mencoba berlari ke dalam.

Namun gadis-gadis itu tidak mau setengahsetengah dalam melakukan pekerjaannya. Mereka pun bergerak cepat menyusul. Dan di dalam Perguruan Cakra Buana, pembantaian itu pun terjadi kembali.

Pekik dan jeritan bersatu dengan darah yang bersimbah.

Sementara di luar, Ki Borgawa Darsa sudah mengeluarkan senjata cakranya. Tiga buah. Dan senjatasenjata itu pun bergerak menyerang Priatsih yang harus bersalto ke sana kemari menghindar.

Namun cakra itu seakan mempunyai mata. Dan susul menyusul datangnya. Begitu bergerak, dia akan kembali lagi kepada pemiliknya. Priatsih menjadi kewalahan.

Hingga suatu saat tiga buah cakra yang bergerak susul menyusul itu dengan hebat menyerbu ke arah Priatsih yang susah payah bersalto.

Namun sebelum tiga senjata itu mengenai sasarannya, tiga buah selendang berwarna hitam telah menyambarnya dan mengikatnya.

Ki Borgawa Darsa terkejut, karena dia tidak menyangka tiga buah selendang itu akan mampu menahan senjata cakranya.

Kini sadarlah dia siapa yang tengah dihadapi. Gadis-gadis perkasa yang memiliki tenaga dalam cukup hebat.

Namun dia tak mau menyerah begitu saja. Bahkan dia merelakan nyawanya putus daripada harus tunduk pada perintah ketua Serikat Kupu-Kupu Hitam.

Maka dengan nekat dia pun segera menyerang dengan hebat. Membabi buta.

Tetapi gadis-gadis itu dengan mudahnya menghindari serangan Ki Borgawa Darsa.

Pada saat itu, sosok tubuh bongkok dengan wajah yang sangat jelek, baru saja kembali dari membawa kuda-kuda milik Perguruan Cakra Buana di padang rumput.

Sosok tubuh itu adalah Bunto. Dan dia amat terkejut melihat perkelahian itu. Dia semakin terkejut begitu melihat mayat murid-murid Perguruan Cakra Buana yang bergelimpangan di bumi.

"Oh... apa yang telah terjadi?" desisnya gugup. Dan ketakutan pun menyerangnya, hingga laki-laki bongkok itu hanya terpaku di tempatnya yang cukup tersembunyi.

Dia melihat Ki Borgawa Darsa tengah dikeroyok oleh empat gadis berpakaian hitam. Ki Borgawa Darsa tak bisa berbuat banyak. Dia pun merasa sia-sia dengan segala serangannya. Namun dia masih tak mau mengalah.

Memang tak ada jalan lain selain menyambung nyawa dengan gadis-gadis ini.

Dia masih mencoba untuk menyerang dengan sekuat tenaga. Tetapi hanya sia-sia belaka dan membuang tenaga saja.

Secara tiba-tiba empat buah selendang hitam itu membelit tubuhnya dan menariknya hingga ambruk ke bumi.

"Hhh! Sudah kukatakan, kau akan sia-sia belaka, Ki Borgawa Darsa!" mendengus Priatsih.

"Bunuhlah aku! Bunuh saja aku!"

"Membunuhmu tak sulit, Ki!"

"Bunuh saja aku! Lebih baik aku mati daripada harus menjadi pengikut serikatmu yang kejam itu!"

Kata-kata Ki Borgawa Darsa disambut tawa oleh keempat gadis itu.

"Tak sulit, Ki... tak sulit " kata Prikasih.

"Semudah membalikkan telapak tangan, Ki," sambung Prilastri.

"Tetapi itu terlalu mudah, Ki Kau harus mengala-

mi satu siksaan dulu," lanjut Priyanti.

"Dan kau akan menikmatinya nanti," kata Priatsih sambil terkikik yang disambut oleh teman-temannya.

Wajah Ki Borgawa Darsa begitu geram sekali. Namun dia sudah tak berdaya. Sudah tak mampu berbuat apa-apa.

Dia cuma bisa mendesah.

Sementara Bunto yang memperhatikan semua itu, menjadi semakin tegang. Dia kuatir Ki Borgawa Darsa akan dibunuh. Karena dia sudah tak melihat seorang pun murid dari Perguruan Cakra Buana yang masih hidup.

Bunto merasa bersyukur karena tugasnya setiap pagi dan sore membawa kuda-kuda milik Perguruan Cakra Buana ke padang rumput.

Dia melihat keempat gadis itu masih terkikik. "Sebaliknya kau menurut saja apa yang menjadi

kehendak Ketua kami, Ki!" kata Prikasih.

"Ya... kau akan mendapatkan pelayanan tak ubahnya seorang raja," sambung Prilastri.

"Seperti Ki Prodana, ketua dari Perguruan Sutra Emas yang mendapat perlakuan sangat istimewa dari guru kami dan kami semua," lanjut Priyanti.

"Bukankah itu sesuatu yang sangat nikmat, Ki?" kata Priatsih.

"Hhh! Sampai kapan pun aku tak akan pernah mau menurut di bawah perintah Serikat Kupu-Kupu Hitam!" kata Ki Borgawa Darsa tegas meskipun dia yakin dirinya tak akan bisa lolos.

"Bagus! Itu terserah oleh Ketua kami! Bawa dia!" kata Priatsih.

Lalu dengan selendang yang masih melilit di tubuh Ki Borgawa Darsa, keempatnya berlari melesat membawa tubuh itu. Ki Borgawa Darsa merasa tubuhnya bagai terbang belaka.

Bunto menunggu beberapa saat sebelum keluar dari persembunyian. Setelah yakin orang-orang tidak datang lagi, lalu dia pun keluar dari persembunyiannya.

Laki-laki bongkok itu hanya bisa menahan pilu melihat kenyataan yang terjadi di depan matanya. Dia melihat semua murid Perguruan Cakra Buana telah tewas menjadi mayat.

"Gusti Allah... kesalahan apa yang telah orangorang ini perbuat?" desisnya dan tak terasa air matanya menggenang. Dia telah merasa sebagian dari Perguruan Cakra Buana. Kalau tidak Ki Borgawa Darsa yang mengambilnya sebagai pekerja, entah siapa lagi yang akan mau memanfaatkan tenaganya? Bunto merasa berhutang budi pada Ki Borgawa Darsa. Baginya, meskipun upah yang dia dapatkan sedikit, tetapi dapat mengganjal perut istri dan dua orang anaknya yang masih kecil.

Dan sekarang dia melihat Ki Borgawa Darsa dibawa oleh gadis-gadis berpakaian hitam itu. Dia tak bisa berbuat apa-apa.

Sungguh pilu hatinya. Dia merasa kecil sekali.

Tiba-tiba Bunto teringat pada Perwira dan Ratih Ayu. Kalau tidak salah ingat, dua hari yang lalu kakak beradik itu berpamitan padanya untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit.

Dan entah kenapa Bunto begitu menaruh harap pada keduanya.

Siang dan malam Bunto menunggu dan mengintip apakah kedua orang itu telah datang. Dia tak mengenal lelah. Karena baginya, hanya merekalah yang tersisa sebagai murid Perguruan Cakra Buana.

*** Bunto mendesah panjang.

Perwira dan Ratih Ayu yang mendengarkan ceritanya menggeram gemas terhadap gadis-gadis itu. Mereka merasa bersyukur karena ternyata guru mereka masih hidup.

"Kau tahu ke mana mereka pergi?" tanya Perwira. Bunto mendesah.

"Tahu."

"Ke mana?"

Sekali lagi terdengar desahan dari mulut Bunto. Perwira dapat melihat duka yang teramat sangat terpancar dari mata yang terbuka melotot itu.

"Setelah kejadian itu... saya mencari tahu tentang gadis-gadis berpakaian hitam-hitam itu."

"Lalu?"

"Ada yang mengetahui, gadis-gadis itu berasal dari Serikat Kupu-Kupu Hitam. Dan bermukim dekat Danau Siluman."

"Dari mana kau tahu?"

"Dari temanku."

"Siapa?"

"Rengga. Desanya diserang oleh para gadis-gadis itu. Dan beberapa perjaka tampan diculik entah untuk apa!"

Perwira menatap adiknya, seolah meminta pendapatnya apakah mereka akan pergi sekarang atau tidak?

Seperti mengetahui apa yang tersirat di mata kakaknya, Ratih Ayu berkata.

"Terima kasih, Bunto sebaiknya kami permisi saja sekarang. Menurut hemat kami, sebaiknya kami lebih cepat mencari Guru."

"Benar, Bunto... kami kuatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Guru "

"Terserah kalian, aku hanya bisa berdoa semoga kalian selamat, begitu dengan majikan "

Istri Bunto keluar dari dapur dengan membawa beberapa gelas kopi dan singkong rebus. Dia menghidangkan pada mereka.

"Mari Kangmas, Nimas... dicicipi hanya ada ini saja "

"Tidak usah repot-repot, Mbakyu.." kata Ratih Ayu.

Dan menjadi tidak enak untuk pergi sekarang.

Keduanya pun mencicipi hidangan itu terlebih dahulu. Dan baru terasa kalau perut mereka lapar, karena mereka dapat menghabiskan tiga potong singkong rebus.

Setelah merasa cukup menikmati hidangan itu, keduanya pun berpamitan. Bunto dan istrinya mengantar sampai ke halaman rumahnya yang tidak begitu luas.

"Hati-hati Kakang Perwira... Mbakyu Ratih..." kata Bunto.

Perwira tersenyum.

"Terima kasih atas kesetiaanmu pada Guru, Bunto..." katanya.

Lalu segera memacu kudanya. Disusul dengan Ratih Ayu.

Bunto mendesah. Menatap senja yang mulai datang. Dia berkata pada istrinya, "Mari kita berdoa di dalam, Ni... semoga keduanya berada dalam lindungan Gusti Allah.."

"Mari, Kang Bunto..."

Lalu keduanya pun masuk ke dalam.

***
ENAM
Ratih Ningrum sekali lagi menatap suaminya. Dia ada perasaan berat untuk ditinggal suaminya. Madewa mendesah.

"Aku hanya beberapa hari saja, Dinda.... Tidak lama... Setelah urusanku selesai dengan Eyang Naga Langit., aku akan segera kembali..."

Sebenarnya bukan itu yang dicemaskan Ratih Ningrum. Dia tahu suaminya punya urusan dengan Eyang Naga Langit, kakek sakti yang bermukim di Gunung Slamet. Tetapi dia kuatir gadis-gadis dari Serikat Kupu-Kupu Hitam akan muncul lagi. Sebenarnya Ratih Ningrum tidak gentar menghadapi mereka, namun yang dikuatirkannya, dia tak sanggup untuk melawan lagi.

Sampai hari ini Madewa memang tidak tahu kejadian yang telah menimpa Perguruan Topeng Hitam. Ratih Ningrum memang sengaja merahasiakannya. Dia diam-diam kagum dengan para muridnya yang juga tidak membicarakan soal itu.

"Pergilah, Kanda... Aku tidak apa-apa. Sampaikan salamku pada Eyang Naga Langit dan Nini Arum Sari," kata Ratih Ningrum.

Lalu laki-laki yang selalu tersenyum arif bijaksana dan selalu mengenakan jubah berwarna putih itu pun melangkah.

Langkahnya tegap, tak ada keraguan sedikit pun. Sepeninggal suaminya, Ratih Ningrum segera me-

manggil beberapa murid pilihannya. Dia segera mengadakan rapat.

"Kalian tahu bukan, beberapa minggu yang lalu orang-orang Serikat Kupu-Kupu Hitam menyerang kita. Dan kupikir... mereka akan datang lagi untuk menuntut balas. Nah, kalian harus bersiap siaga..."

"Maksud Nyonya Ketua... kita harus memasang pertahanan?" tanya Bayuloda.

"Benar, Bayu. Kita harus bersiap siaga. Jadi kuminta, kalian beserta beberapa orang menjaga di empat penjuru. Khusus pintu gerbang lipat gandakan dari penjagaan semula..."

"Baik, Nyonya Ketua."

"Kalian mengerti?"

"Kami mengerti!" sahut sepuluh orang murid pilihan yang dipanggil menghadap oleh Ratih Ningrum.

"Bagus! Mulai sekarang... buka mata kalian lebarlebar dan bersiaga."

Lalu sepuluh murid itu pun berdiri. Dan menjura. Lalu mereka memasang topeng hitam yang menutupi wajah mereka sebelum keluar dari ruangan itu.

Ratih Ningrum mendesah panjang.

Malam pertama dan malam kedua kepergian suaminya, tidak terjadi apa-apa. Nampak tenang seperti biasa.

Tetapi pada malam ketiga, terdengar suara ributribut di pintu gerbang. Disusul dengan empat sosok tubuh yang terpental dan tewas dengan leher berdarah.

Bayuloda yang sedang berputar terkejut melihat empat murid Perguruan Topeng Hitam yang menjaga di pintu gerbang telah menjadi mayat.

Dia menjadi siaga, "Menyebar!" serunya pada murid-murid yang lain!

Serentak mereka menyebar. Dan masing-masing menjaga pintu masuk menuju bangunan utama. Murid-murid yang menjaga di tiga penjuru pun segera berdatangan.

Tiba-tiba masuk lima sosok tubuh berpakaian hitam-hitam. Bulan di atas sedang purnama. Langit cerah.

Lima sosok tubuh yang datang itu adalah Priatsih dan kawan-kawannya. Priyuni dan Prilaksmi pun ikut serta, karena mereka juga ingin membalas dendam pada Ratih Ningrum yang telah menyebabkan kematian Prilastri.

Bayuloda berkata dengan gagah, "Gadis-gadis berpakaian hitam-hitam... agaknya kalian masih belum puas membuat kerusuhan!"

"Ahhh! Jangan banyak bacot!" bentak Priatsih. "Panggil Nyonya gurumu ke mari, katakan, kami hendak membuat perhitungan dengannya!"

"Kalian boleh menemui Nyonya Ketua, bila telah melewati barisan di hadapan kalian ini!"

"Banyak bacot! Mampuslah kau!" bentak Priatsih dan dengan cepat menguraikan selendang hitamnya yang langsung menyerang ke arah Bayuloda.

Bayuloda yang sejak tadi sudah bersiaga, menghindar ke kiri. Begitu pula dengan teman-temannya yang berada di belakangnya.

Priatsih menarik pulang selendangnya. Dan tanpa dikomando lagi teman-temannya pun menguraikan selendang mereka.

Bayuloda berseru, "Gunakan jurus Penutup Barisan!"

Serentak murid-murid yang berjumlah sekitar 40 orang itu berjajar ke belakang dua-dua. Dan masingmasing telah memegang sepasang pedang di kedua tangan mereka.

Bayuloda yang berdiri di depan berkata, "Majulah kalian semua!"

Gadis-gadis berpakaian hitam-hitam itu saling pandang. Lalu serentak mereka menyerang. Priatsih, Priyanti dan Prikasih menyerang dari depan. Sementara Priyuni dan Prilaksmi mencoba menerobos dari kanan dan kiri mereka.

Namun di luar dugaan mereka, barisan yang menjajar ke belakang itu, berubah menjadi horizontal. Dan pedang-pedang pun menyambar dengan ganas.

Serentak keduanya bersalto ke belakang. Begitu pula yang dialami Priatsih, Priyuni dan Prilaksmi. Mereka tidak menyangka ketika barisan itu membentuk segitiga. Semuanya serba cepat dan hebat.

"Baik, kami tidak akan main-main lagi!" mendengus Priatsih setelah bersalto dan hinggap di bumi.

Lalu dia pun mencoba menyerang dari jauh dengan ayunan selendangnya, begitu pula dengan keempat temannya.

Bayuloda berseru, "Gunakan senjata Rahasia, Lemparan ke Arah Rembulan!"

Dan serentak 40 buah senjata rahasia yang berbentuk topeng itu melesat cepat ke arah kelima gadis itu yang harus jungkir balik menghindar. Belum lagi mereka bisa bernafas, kembali 40 buah senjata rahasia melesat.

"Awas!" seru Priatsih dan jungkir balik lagi.

Namun malang bagi Priyuni, dua buah senjata rahasia itu menancap deras di dada dan lehernya. Tanpa sempat menjerit, tubuhnya ambruk ke bumi bersimbah darah.

Keempat temannya terkejut. Mereka menjadi murka seketika.

Dan dengan nekat mereka menerjang, mencoba menerobos barisan itu.

Namun kembali usaha itu sia-sia belaka, karena barisan itu terlalu rapat. Dan sulit untuk diterobos.

"Lebih baik kalian kembali pulang dan bawa mayat teman kalian itu!" kata Bayuloda.

Tetapi gadis-gadis yang telah bersumpah untuk membunuh Ratih Ningrum mendengus.

"Sejengkal pun kami tak akan mundur!"

"Bagus! Berarti kalian akan mampus di tempat ini!" seru Bayuloda pula.

"Atau... kau yang akan mampus!" seru Priatsih dan menyerang Bayuloda. Bayuloda terkejut, dia serentak mundur dan beberapa temannya maju. Namun Priatsih terus mencecar Bayuloda. Begitu pula dengan teman-temannya.

Kini mereka tahu kelemahan dari jurus Penutup Barisan itu. Serang dan cecar bagian depan. Itulah kuncinya karena bila yang terdepan telah jatuh, maka yang lainnya akan kocar-kacir.

Benar juga dugaan mereka itu, karena tak tahan di serang secara beruntun, Bayuloda keluar dari barisan. Dan serentak barisan itupun pecah.

Hal ini memudahkan gadis-gadis itu untuk membalas dan menyerang.

Sebentar saja terdengar jeritan dan pekik kematian dari murid-murid Perguruan Topeng Hitam.

"Jangan mundur! Bantu kembali jurus Penutup Barisan!" seru Bayuloda membangkitkan semangat teman-temannya.

Namun sekarang sudah sulit untuk membentuk kembali. Karena gadis-gadis itu telah menyerang dengan hebat, dan memisahkan diri dalam menyerang.

Membuat murid-murid yang lain menjadi terpisahpisah.

Dari dalam, Ratih Ningrum dapat melihat kesulitan yang tengah dihadapi para muridnya. Dia tak mau darah bersimbah kembali ke bumi.

Maka dengan mantap dia pun keluar dari bangunan itu.

Dan berseru lantang, "Hentikan pertarungan ini!"

Pertarungan itu segera terhenti. Keempat gadis itu bersalto saling mendekat.

Melihat siapa yang berseru, Priyanti mendengus, "Ratih Ningrum... kau harus membayar kematian teman kami dengan nyawamu!"

Ratih Ningrum perlahan-lahan mendekat. Dia memberi isyarat pada para muridnya untuk mundur.

"Priyanti... hidup, mati dan rezeki berada di tangan Gusti Allah. Bila aku dikehendaki oleh-Nya untuk mati sekarang, maka aku pun akan mati. Tapi bila belum, maka aku akan tetap hidup.."

"Hhh! Ratih Ningrum, kamilah malaikat pencabut nyawa yang dikirim oleh-Nya untuk mencabut nyawamu!"

"Jangan sombong dengan kata-kata itu, Priyanti!"

"Perempuan keparat! Terimalah kematianmu!" berseru Prikasih menyela kata-kata Priyanti. Dan dia sendiri sudah menderu menyerang dengan selendangnya yang berubah menjadi tongkat.

Ratih Ningrum melompat ke kiri, namun serangan itu datang kembali. Menderu ke arah kakinya. Langsung dia bersalto ke belakang. Dan begitu hinggap di bumi, sepasang pedang kembarnya sudah berada di tangan.

"Baiklah... kita akan bermain-main kembali! Majulah kalian!" seru Ratih Ningrum.

Prikasih yang sudah tahu kehebatan ilmu silat yang dimiliki Ratih Ningrum memberi isyarat pada temantemannya untuk maju sekaligus keempatnya pun segera mengurung.

Ratih Ningrum melihat beberapa muridnya untuk membantu, namun dia memberi isyarat agar mereka diam di tempat.

"Bagus!" desisnya pada keempat gadis itu dengan mata waspada.

"Mampuslah kau, Ratih Ningrum!" berseru Prikasih dan mengelebatkan selendangnya. Begitu pula dengan teman-temannya.

Empat buah selendang berwarna hitam itu menderu ke arah Ratih Ningrum tak ubahnya seperti sebuah cambuk. Ratih Ningrum mengempos tubuhnya ke atas. Bagai seekor burung, tubuh itu melenting ke udara.

Namun empat buah selendang itu kembali mengejar. Kali ini Ratih Ningrum langsung memadukan jurusnya. Jurus Pedang kembar dan Pukulan Tangan Seribu. Sehingga pedangnya terlihat menjadi banyak.

Pedang-pedang itu pun menyambar selendangselendang yang mengarah padanya.

Namun secepat kilat selendang-selendang itu ditarik pulang pemiliknya dan menderu kembali kali ini menjadi sebatang tombak.

Ratih Ningrum kembali mengempos tubuhnya, dan menghindari tombak-tombak itu. Dia bersalto ke depan. Namun keempat gadis yang tengah dilanda dendam itu tak mau melewatkan dan memberi kesempatan buat Ratih Ningrum bernafas.

Mereka terus mencecar. "Mampuslah kau, Ratih Ningrum!"

Ratih Ningrum sendiri tak mau dirinya dijadikan sasaran senjata mereka. Dia pun segera memapakinya.

"Trok!"

"Trokk!"

Dua tombak berhasil ditangkisnya, dan dua serangan tombak lainnya dihindarinya dengan bersalto.

Ratih Ningrum yang merasa bila dia terus menerus hanya menghindar bisa terkena pula, maka dia pun mulai membalas.

Pedang-pedangnya pun berkelebat dengan hebat. Namun keempat gadis itu pun tak mau kalah. Mereka pun serentak memapakinya.

Ini membahayakan Ratih Ningrum. Apalagi selendang Priyanti dan Prikasih telah membelit pedangnya. Sukar untuk dilepaskan.

Dan Priatsih dan Prilaksmi telah menderu maju ke depan dengan selendang yang telah berubah menjadi tombak. Tombak Priatsih berhasil dihindarnya dengan mengempos tubuhnya ke atas. Namun tubuh itu tertarik lagi ke bawah karena Priyanti dan Prikasih menyentakkan selendang mereka.

Dan tubuh Prilaksmi telah meluncur deras ke arah Ratih Ningrum!

Para murid Perguruan Topeng Hitam memekik menahan nafas.

Tegang.

Ratih Ningrum hanya memiliki waktu beberapa detik. Dan waktu yang amat sedikit itu dipergunakannya semaksimal mungkin.

Dengan cepat dia melepaskan kedua pedangnya dan menjatuhkan diri di bumi. Tusukan selendang yang telah menjadi tombak milik Prilaksmi meluncur deras beberapa detik dari tubuhnya.

Dan dengan cepat pula, Ratih Ningrum menggerakkan kaki kanannya. Menghantam pinggul Prilaksmi hingga gadis itu terhuyung.

Sungguh di luar dugaan, tubuh Ratih Ningrum tibatiba bersalto ke arah Prilaksmi. Dan mendudukinya hingga gadis itu telungkup.

Kala orang-orang yang menyaksikan membuka mata, terlihatlah sebilah keris menancap di punggung Prilaksmi.

Keris pemberian dari gurunya yang bernama Patidina, telah ditancapkan ke punggung gadis itu.

Ratih Ningrum pun berdiri dengan sigap. Kini di tangannya terdapat sebilah keris.

Tiga gadis berpakaian hitam-hitam yang tersisa, tidak menyangka kalau Ratih Ningrum masih memiliki senjata. Dari keterkejutan itu berubah menjadi kemarahan.

Ketiganya pun menggeram murka.

"Dua nyawa hari ini telah kau renggut, Ratih Ningrum!" bergetar suara Priatsih menahan amarah. "Dan kami telah siap untuk menyambung nyawa denganmu!"

"Hhh! Majulah kalian!"

Tiba-tiba Prikasih menggerakkan selendangnya yang di ujungnya masih membelit pedang Ratih Ningrum.

Dan pedang itu meluncur deras ke arah Ratih Ningrum.

Dengan sigap Ratih Ningrum menghindar ke kiri. Pedang itu pun menancap di tembok tinggi yang mengelilingi Perguruan Topeng Hitam hingga setengah. Itu menandakan kemarahan yang telah melanda Prikasih begitu dalam.

Lalu disusul dengan tubuh gadis itu yang menerjang. Begitu pula dengan Priatsih dan Priyanti. Kini ketiganya bertekad untuk menyambung nyawa!

Sesuai sumpah yang telah mereka ucapkan!

Menghadapi ketiga lawannya yang nampak beringas dan penuh amarah, membuat Ratih Ningrum agak kewalahan. Apalagi karena senjata di tangannya hanya sebilah keris. Yang lebih pendek dari sepasang pedangnya.

Namun jurus-jurus ilmu keris yang pernah dipelajari dari gurunya yang bernama Patidina, membuatnya mampu untuk bertahan.

Tetapi ketiga gadis itu demikian gencar menyerang. Hingga suatu saat sulit bagi Ratih Ningrum untuk menghindar. Selendang-selendang itu telah siap untuk mencabut nyawanya.

Ratih Ningrum sendiri merasa ajalnya telah tiba. Tetapi dia masih berusaha untuk menyelamatkan jiwanya.

Namun ketiga selendang itu telah semakin dekat dan mengurungnya.

"Mampuslah kau, Ratih!"

"Nyawamu akan menemani teman-teman kami yang telah mati!"

"Selamat jalan, Ratih Ningrum!" Tiga selendang itu menderu.

Menimbulkan suara bergemuruh. Mendesing.

Menebarkan hawa kematian.

Tetapi mendadak terdengar tiga jeritan sekaligus yang keras. Bagaikan lolongan srigala di tengah malam buta.

Dan tiba tubuh berpakaian hitam-hitam itu pun ambruk ke bumi bersimbah darah. Beberapa buah senjata rahasia milik Perguruan Topeng Hitam menancap di bagian punggung ketiganya. Nyawa mereka pun melayang.

Bayuloda, Renggapati dan Argamulyo yang telah melemparkan senjata rahasia demi menolong nyawa istri gurunya berlari mendekati Ratih Ningrum.

Dan mereka langsung menjatuhkan diri.

"Maafkan kami, Nyonya Ketua... kami telah lancang melanggar perintah!" kata Bayuloda.

Ratih Ningrum terharu melihat kepatuhan para muridnya. Padahal ketiga muridnya itulah yang baru saja menyelamatkan nyawanya.

"Bangunlah kalian... terima kasih, kalian telah menyelamatkan nyawaku..." kata Ratih Ningrum.

"Hukumlah kami, Nyonya Ketua... karena kami lancang tidak mematuhi perintah..." kata Argamulyo.

"Bangunlah kalian... Kalian tidak berbuat salah....

Sekali lagi kuucapkan terima kasih..." kata Ratih Ningrum masih terharu.

Itulah yang membuat murid-murid Perguruan Topeng Hitam sangat mematuhi perintah guru mereka. Karena selain mengajarkan kedisiplinan yang tinggi, guru mereka pun kadang bertindak sebagai seorang sahabat.

Belum lagi dengan ilmu-ilmu silat yang diajarkan. Itu susah membuat mereka amat berterima kasih. Dan wejangan-wejangan bermanfaat yang diberikan, baik oleh Ratih Ningrum sendiri, maupun oleh suaminya, Madewa Gumilang.

Dan mereka pun terharu dengan ucapan terima kasih yang dikatakan Ratih Ningrum. Mereka dapat menangkap nada tulus dari suara itu.

Inilah yang mereka anggap sebagai sahabat, bukan layaknya seorang guru pada muridnya.

Perlahan-lahan ketiganya bangkit. Masih menundukkan kepala yang tertutup topeng hitam.

Ratih Ningrum dapat mengenali mereka dari suara mereka.

"Kalian kuburlah teman-teman kalian yang mati. Dan kuburkan pula kelima mayat gadis dari Serikat Kupu-Kupu Hitam itu..."

Menjelang pagi, mayat-mayat itu telah dimandikan. Lalu dengan upacara kecil yang dipimpin oleh Ratih Ningrum sendiri, mayat-mayat itu pun dikebumikan.

Setelah itu dia menyuruh Bayuloda, Renggapati dan Argamulyo untuk mengikutinya.

Di ruang khusus, ketiganya duduk bersila di hadapan Ratih Ningrum yang duduk di sebuah kursi.

"Kalian tahu mengapa kalian kusuruh menghadap, padahal kalian belum beristirahat?"

Ketiganya berpandangan. Topeng hitam yang menutupi wajah mereka telah dibuka.

Berkata Bayuloda, "Maafkan saya, Nyonya Ketua... mungkin ada hubungannya dengan kedatangan Serikat Kupu-Kupu Hitam."

"Benar, menurut informasi yang kudapat, mereka bermarkas dekat Danau Siluman. Senja nanti, kalian bertiga ikut bersamaku ke sana."

"Baik, Nyonya Ketua..."

"Kita akan hancurkan markas mereka!"

"Kita bumiratakan!"

Ratih Ningrum tersenyum. Lalu menyuruh ketiganya beristirahat.

***
TUJUH
Danau Siluman pagi hari.

Dua ekor kuda berhenti di dekat danau itu. Kedua penunggangnya memperhatikan sekitarnya dengan mata waspada. Suasana begitu sunyi. Padahal matahari sudah sepenggalah.

"Mungkin di bangunan besar itulah markas dari Serikat Kupu-Kupu Hitam, Kakang..."

"Benar, Rayi Ratih "

"Kita sebaiknya segera ke sana, kakang Perwira...aku kuatir dengan nasib guru."

"Baik!"

Lalu keduanya pun menghentakkan tali kekang kuda mereka dan segera menuju ke markas Serikat Kupu-Kupu Hitam.

Sementara itu keadaan Ki Borgawa Darsa begitu menyedihkan. Karena dia tak mau menurut pada perintah Dewi Komalaputih, dia disiksa sampai setengah mati. Keadaannya begitu memilukan.

Tiba-tiba pintu ruangan di mana dia disekap dan disiksa terbuka. Muncul sosok tubuh berwajah cantik dengan pakaian yang tipis dan berjubah hitam. Di sampingnya satu sosok setengah baya. Dewi Komalaputih tersenyum.

"Ki Borgawa. apakah kau masih akan menolak perintahku?"

Ki Borgawa mendengus dan meludah.

"Ciih! Sejengkal pun aku tak akan mundur, Dewi!"

"Hihihi... bagus, Ki Borgawa.. aku tak akan segan-segan lagi membunuhmu "

"Borgawa..." kata Ki Prodana. "Mengapa kau begitu keras kepala, hah? Bukankah kau lihat aku? Hidupku senang dan bebas di samping Dewi Komalaputih "

Ki Borgawa Darsa meludah. Dan tatapannya mengejek pada Ki Prodana.

"Prodana... kau memang bangsat keparat! Kau membiarkan seluruh muridmu mati, sementara kau sendiri menikmati hidup yang kotor seperti ini! Kau manusia busuk, Prodana!"

"Bangsat kau, Borgawa!" desis Ki Prodana sambil menghantamkan kakinya ke dagu Ki Borgawa, yang langsung terjengkang ke belakang.

Tetapi matanya tetap menyalang tajam.

"Hhh! Dewi...biar manusia ini aku yang bunuh!" desis Ki Prodana.

"Silahkan... tapi beri dia kesempatan untuk menikmati matinya secara perlahan..."

"Baik!"

Tetapi sebelum Ki Prodana menjalankan maksudnya, di luar terjadi keributan. Keduanya berpandangan. Dan cepat melihat apa yang terjadi di halaman.

Rupanya Perwira dan Ratih Ayu yang mengamuk. Perwira sudah melepaskan anak panahnya dan merenggut beberapa orang anggota dari Serikat KupuKupu Hitam. Begitu pula dengan adiknya, yang telah menerjang dengan pedangnya.

Dewi Komalaputih yang menyaksikan hal itu berseru, 

"Tahan!"

Anak buahnya segera mundur. Begitu pula dengan Perwira dan Ratih Ayu. Keduanya saling beradu punggung dengan waspada. "Kisanak dan Nisanak... maksud apa kalian membuat onar di sini?" tanya Dewi Komalaputih.

"Hhh! Rupanya kau yang bernama Dewi Komalaputih? Bagus, namaku Perwira dan ini adikku, Ratih Ayu! Kami datang untuk membebaskan guru kami, Ki Borgawa Darsa!" seru Perwira.

Dewi Komalaputih terkikik.

"Rupanya kalian murid-murid Perguruan Cakra Buana yang telah selamat dari teror anak buahku. Bagus! Hmmm... kalian punya nyali juga rupanya untuk datang ke sini!"

"Bebaskan guru kami, Perempuan Iblis!"

"Kalian berani jual bacot di sini! Baik, majulah kalian!"

Kakak beradik itu berpandangan. Lalu terlihat keduanya saling mengangguk. Dan serentak keduanya menyerang Dewi Komalaputih yang dengan mudahnya menghindari serangan keduanya.

Bahkan kedua tangan Dewi Komalaputih dengan cepat memukul tangan kedua penyerangnya, hingga bagaikan remuk tulang tangan keduanya. Keduanya segera bersalto.

"Sungguh hebat tenaga dalamnya, Rayi Ratih..." bisik Perwira.

"Iya, Kakang... tapi aku kuatir akan nasib Guru! Kita serang lagi!"

Kembali keduanya menyerang. Namun lagi-lagi berhasil dipatahkan oleh Dewi Komalaputih. Bahkan senjata keduanya pun terlepas.

"Hihihi... cepat kalian bersujud di depanku, niscaya nyawa kalian akan kuampuni!"

"Perempuan iblis, kami tidak takut mati! Tahan serangan!" seru Ratih Ayu dan melemparkan cakra yang terselip di pinggangnya.

"Siiingg!"

Senjata itu mengarah pada Dewi Komalaputih. Namun sungguh di luar dugaan, senjata itu berhasil ditangkap olehnya dan lemparkan kembali pada Ratih Ayu.

"Awas, Rayiiii!" seru Perwira.

Namun lemparan Dewi Komalaputih lebih cepat datangnya. Tetapi mendadak terdengar suara, "Criiingg!"

Cakra itu jatuh ke tanah dibentur oleh sebuah senjata lain. Begitu benda yang membentur jatuh, terlihat tiga buah senjata rahasia berbentuk topeng hitam. "Bangsat! Siapa yang membuat ulah ini?!" membentak Dewi Komalaputih.

Lalu terlihat di hadapannya empat sosok tubuh berdiri gagah. Seorang wanita gagah perkasa dengan dua buah pedang berselempang di punggung. Dan di belakangnya berdiri tiga sosok tubuh berpakaian hitam-hitam dengan wajah yang tertutup topeng hitam. Dan di punggung masing-masing terdapat dua buah pedang pula.

Dewi Komalaputih mendengus.

"Hhh! Rupanya Ratih Ningrum yang datang!" desisnya namun sedikit terkejut. Bukankah lima anak buahnya telah pergi untuk membunuh wanita ini? Kalau begitu, pasti mereka telah berhasil dikalahkan wanita itu. Atau mungkin juga telah dibunuhnya.

Perwira segera memburu adiknya yang baru saja di selamatkan Ratih Ningrum.

"Dewi Komalaputih... sebaiknya kau pergi dari sini, dan jangan membuat onar lagi," berkata Ratih Ningrum.

"Hihihi... omongan apa pula ini, Ratih? Aku telah lama berniat untuk menjajal ilmumu. Hmm... di mana suamimu Madewa Gumilang alias Pendekar Bayangan Sukma berada? Apakah dia bersembunyi seperti anak kecil hingga menyuruhmu mengantarkan nyawa?"

Wajah Ratih Ningrum merah padam.

"Bangsat hina! Majulah, jangan membuang waktu lagi!"

Ratih Ningrum pun meloloskan kedua pedangnya. Ki Prodana yang sejak tadi terdiam, maju ke depan. "Ratih Ningrum... bila kau ingin mati, biar aku yang

mengirimmu ke akhirat..."

"Gagak Hitam... rupanya kau telah menjadi pengikut dari wanita iblis itu... Hhh, kau tak ubahnya seperti anjing!" Wajah Ki Prodana memerah. Lalu tanpa banyak cakap lagi dia maju menyerang. Tetapi tiga murid Perguruan Topeng Hitam segera meloncat ke depan.

"Hadapi kami, Manusia busuk!" berseru Bayuloda. Dan segera menyongsong serangan dari Ki Prodana.

Lalu laki-laki setengah baya itu pun dikeroyok oleh tiga murid utama Perguruan Topeng Hitam.

Sementara Ratih Ningrum telah berhadapan kembali dengan Dewi Komalaputih.

"Majulah, Dewi..."

"Bagus! Bersiaplah, Ratih!"

Lalu keduanya pun segera terlibat dalam pertarungan yang hebat. Masing-masing mengeluarkan seluruh kepandaian yang mereka miliki. Jurus demi jurus berlalu. Keduanya saling mencecar lawan dan bertekad untuk menjatuhkan.

Anak buah Dewi Komalaputih yang tinggal dua orang itu pun segera melayani serangan-serangan dari Perwira dan Ratih Ayu.

Satu ketika, Perwira berhasil memukul jatuh lawannya. Dan menancapkan anak panahnya ke dada lawan. Dia berseru pada adiknya, "Ratih... kau pergi mencari Guru! Biar lawanmu ini aku hadapi!"

"Baik, Kakang!"

Lalu Ratih Ayu pun melesat ke dalam bangunan besar itu.

Di halaman, masih terjadi pertempuran yang hebat. Ki Prodana meskipun dikeroyok oleh tiga orang, namun berada di atas angin. Ilmu Gagak Hitamnya begitu tangguh untuk mereka

Dan jari-jarinya yang telah membentuk seperti paruh gagak, telah menghantam ketiganya hingga terhuyung.

Begitu pula halnya dengan Ratih Ningrum. Dia sudah cukup terdesak oleh Dewi Komalaputih. Bahkan sebuah pedangnya telah lepas. Dan dengan satu sentakan pula, pedang itu yang satunya pun terlepas.

"Mampuslah kau, Ratih Ningrum!" seru Dewi Komalaputih sambil menyerang lagi. Ratih Ningrum pun menghadapinya dengan jurus Pukulan Tangan Seribu. Namun itu pun tak berarti banyak.

Karena satu tonjokan telah mengenai dadanya.

Dia terhuyung. Lalu mengusap darah yang keluar dari mulutnya. Matanya nyalang.

Dewi Komalaputih terkikik. Dan perlahan-lahan menguraikan selendang hitam yang melilit di pinggangnya.

"Aku ingin melihat kau mati tergantung oleh selendang ini. Ratih!" desisnya dan segera menyerang lagi dari tempatnya.

Selendang itu bergerak dengan cepat. Ratih Ningrum jungkir balik menghindar. Dua kali dia terkena ayunan selendang yang telah dialiri tenaga dalam. Kalau bukan Ratih Ningrum yang telah memiliki tenaga dalam cukup sempurna, niscaya orang itu akan mati dengan tubuh hancur seketika.

"Hihihi... kini terimalah ajalmu, Ratih!" desis Dewi Komalaputih sambil memutar-mutar selendangnya di udara. Dan tiba-tiba selendang itu seperti menjadi tombak. Lalu digerakkannya ke arah Ratih Ningrum.

Ratih Ningrum hanya memejamkan matanya karena dia merasa tak mampu lagi untuk menghindar.

Tiba-tiba terdengar seruan kesakitan dari Dewi Komalaputih. Dan tubuhnya terpelanting ke kanan karena dihantam oleh sebuah pukulan keras.

"Bangsat! Siapa yang berani berbuat curang seperti ini?!" makinya seraya bangkit kembali.

Dan di hadapannya kini telah berdiri satu sosok berjubah putih yang tersenyum arif bijaksana.

Ratih Ningrum yang telah membuka matanya berseru melihat sosok itu, "Kanda!"

Sosok yang ternyata Madewa Gumilang tersenyum. "Bagaimana keadaanmu, Dinda?"

"Aku tidak apa-apa, Kanda..."

"Menyingkirlah..."

Dewi Komalaputih mendengus melihat siapa yang datang.

"Hhh! Rupanya nama besar Pendekar Bayangan Sukma hanyalah orang pengecut belaka! Beraninya hanya membokong saja!"

Madewa tersenyum. Arif dan bijaksana. "Dewi... maafkan atas ulahku tadi..."

"Jangan jual lagak di depanku, Madewa! Hhh! Mampuslah kau, Pendekar Bayangan Sukma!" dengus Dewi Komalaputih sambil menyerang dengan selendangnya.

Madewa cuma tersenyum. Masih tersenyum dia menghindari serangan selendang itu. Dengan jurus Ular Meloloskan Diri, Madewa berada di atas angin. Selendang itu tak sekali pun mengenai sasarannya.

Hal ini membuat Dewi Komalaputih menggeram marah, karena mereka merasa dipermainkan. Lalu dia mengubah selendangnya menjadi seperti tombak. Dan memainkannya dengan jurus Tombak Memecah Ombak!

Serangannya semakin ganas dan membahayakan. Madewa sendiri semakin meningkatkan jurus menghindarnya, Ular Meloloskan Diri. Lalu dia pun mengirimkan satu pukulan lurus ke depan, pukulan Tembok Menghalau Badai.

"Des!" pukulan itu telah mengenai sasarannya. Namun Dewi Komalaputih telah berdiri tegak kembali, seolah tidak merasakan pukulan tadi.

"Hhh! Hanya begitu saja tenaga yang kau miliki, Madewa! Inilah ilmu kebalku, Menahan Sejuta Topan Badai!" desisnya sambil terkikik.

"Sayang... ilmu kesaktian yang kau miliki itu kau gunakan di jalan yang salah, Dewi..."

"Jangan berkhotbah, Madewa!" desis Dewi Komalaputih geram. Lalu maju menyerang lagi.

Madewa pun mengimbanginya dengan jurus Ular Mematuk Katak. Namun ilmu kebal yang dimiliki Dewi Komalaputih seolah tembok berlapis seribu begitu Madewa menghantamkan pukulannya.

Sementara Ki Prodana yang melihat Dewi Komalaputih bertarung, segera menerjunkan diri. Dia pun merasa tiga lawannya sudah tak bisa bangun lagi karena pukulannya.

"Bagus!" desis Madewa. "Prodana... tak kusangka kau akan seperti ini!"

"Diam, Madewa! Nikmatilah ajalmu yang hampir tiba ini!" seru Ki Prodana sambil menyerang dengan jurus Gagak Hitamnya.

Madewa pun kembali menggunakan jurus menghindarnya. Serangan berbahaya kedua orang itu lolos. Tak satu pun yang mengenainya.

Mendadak Dewi Komalaputih menebarkan selendangnya. Dan selendang itu pun membelit tubuh Madewa.

"Hihihi... kini mampuslah kau, Madewa Gumilang!" desisnya.

Dan Ki Prodana telah meluncur dengan satu pukulannya. Pukulan itu pun mengenai dada Madewa Gumilang!

Tubuh Madewa terhuyung.

"Hahaha.. hanya begitu saja kehebatan dari Pendekar Bayangan Sukma yang sering dijuluki Manusia Setengah Dewa!"

Mata Madewa menyalang. Kemarahannya mulai naik. Mendadak dia terdiam. Dan tiba-tiba dari kedua tangannya yang terikat rapat di tubuhnya mengepulkan asap putih. Dan mendadak saja selendang yang membelit tubuhnya putus!

Rupanya dia tengah mengeluarkan pukulan andalannya, Pukulan Bayangan Sukma!

Dewi Komalaputih tahu akan pukulan itu, maka terdengar seruannya, "Pukulan Bayangan Sukma!"

Madewa tersenyum. Namun matanya bersinar berbahaya. "Tak ada jalan lain, Dewi... Prodana... Manusia seperti kalian tak layak untuk hidup!"

"Hhh! Kau lupa, Madewa! Aku memiliki ilmu kebal yang tak akan mempan oleh pukulan macam apa pun! Termasuk Pukulan Bayangan Sukma!"

"Baik, kita buktikan!"

Dewi Komalaputih melirik Ki Prodana. Lalu keduanya pun bersiap menyerang. Dan dengan diiringi pekikan keduanya, kedua tubuh itu pun melesat.

Madewa hanya terdiam di tempat, di kedua tangannya telah terangkum Pukulan Bayangan Sukma.

Dan benturan pun tak dapat dihindarkan lagi. "Des!"

"Des!"

Tubuh Dewi Komalaputih dan Ki Prodana terlempar ke belakang, diiringi jeritan Ki Prodana yang memilukan. Lalu terlihat tubuhnya menggeliat dan ambruk dengan tubuh hancur. Nyawanya telah melayang.

Sementara Dewi Komalaputih telah bangkit lagi. Dia terkikik. "Kau lihat Madewa... tak satu pun pukulan yang mampu mengalahkan aku. Hihihi.... tak akhh... aakhh... AAAKKKHHHH!"

Terdengar jeritan Dewi Komalaputih memilukan. Tubuhnya pun ambruk hancur ke bumi.

Madewa mendesah. Sementara Perwira pun telah berhasil menjatuhkan lawannya. Ratih Ningrum berlari mendekati suaminya. "Kanda... mengapa kau bisa berada di sini?"

"Eyang Naga Langit tak ada di tempatnya, Dinda... Ketika hendak pulang, kulihat kau dan para murid lainnya menunggang kuda seperti tergesa-gesa. Lalu aku menyusul."

Madewa menghampiri tiga muridnya. Setelah diobati, ketiganya pun bisa bangkit kembali. Dari ambang pintu bangunan itu, muncul Ratih Ayu menyangga Ki Borgawa Darsa yang lemah sekali. Madewa pun segera mengobatinya, memulihkan kembali tenaga Ki Borgawa Darsa.

Lalu dengan istri dan murid-muridnya, mereka pun kembali ke Perguruan Topeng Hitam. Ki Borgawa berkata pada kedua muridnya, "Kuharap... kalian bisa seperti orang-orang perkasa itu..."

SELESAI