Serial Pendekar Bayangan Sukma eps 13 : Sumpit Nyai Loreng

SATU
Pagi itu udara cerah. Kicau burung menyambut datangnya sang surya. Belahan dunia telah disinari oleh sang surya tak pernah berhenti bekerja atau mengeluh sedikit pun.

Di sebelah barat sana, Gunung Kelud berdiri dengan megahnya. Puncaknya ditutupi oleh kabut yang cukup tebal. Gunung itu bagaikan makhluk raksasa yang sedang tidur. Dan sekali-sekali bisa murka dengan memuntahkan lahar yang sangat panas.

Pelan-pelan angin mencoba mengusir kabut yang tebal itu. Namun agaknya kabut itu masih enggan untuk pergi dari puncak Gunung Kelud.

Dari kejauhan nampak tiga sosok tubuh menunggang kuda mendekati tempat itu. Melihat dari cara ketiganya berpakaian yang ringkas dan sebilah pedang di punggung, menandakan ketiganya orang-orang yang memiliki kepandaian ilmu silat.

Di salah seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang yang berwajah kelimis, nampak sebuah buntalan besar berwarna hitam. Orang itu menghentikan laju kudanya.

"Sebaiknya kita beristirahat saja dulu di sini, Kawan-kawan," katanya seraya melompati kudanya. Lalu merentangkan kedua tangannya yang terasa pegal dan memat (Editor: memat?).

Kedua temannya pun segera melompat dari kuda mereka. Keduanya pun berbuat yang sama dan menghirup udara pagi.

"Kita sudah dua hari dua malam melakukan perjalanan ini menuju Desa Bojong Karta," kata laki-laki berwajah kelimis yang bernama Bahar.

"Benar, Bahar... kita harus memulihkan tenaga kita dulu," kata kawannya yang bernama Langgono, sambil menggeliatkan tubuhnya.

"Setelah beristirahat, kita sebaiknya langsung saja menuju Desa Bojong Karta, Bahar," kata yang bernama Galur. "Sebaiknya ku pikir lebih cepat lebih baik. Karena kita masih ada satu tugas lagi, untuk mengantarkan emas permata itu ke Kepala desa di Desa Glagah Mentari."

Bahar pun mengangguk.

Ketiga orang itu adalah suruhan dari Ki Madrim, tukang emas dan permata untuk membawa dan mengirimkan barang-barangnya kepada pemesannya yang tinggal di Desa Bojong Karta dan Glagah Mentari.

Ketiganya memang selalu berhasil secara baik mengirimkan barang-barang pesanan itu. Mereka pun sering mengalami gangguan dari orang-orang jahat di perjalanan yang hendak merebut emas permata yang mereka bawa. Namun selama ini, mereka berhasil menyelamatkannya.

Ketiga orang itu pun mencari sungai untuk membersihkan diri. Setelah itu mereka mencari buahbuahan yang banyak terdapat di tepi hutan itu.

Selagi mereka asyik menikmati buah-buahan itu, tiba-tiba terdengar suara terkikik di dekat mereka. Ketiganya menoleh, dan melihat seorang nenek yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Diam-diam ketiganya kagum karena kedatangan nenek itu tidak terdengar sama sekali.

"Selamat pagi, Nek..." sapa Bahar yang memang di samping sebagai penjaga dan pengirim barang juga memiliki jiwa yang baik hati.

Nenek itu terkikik. "Hikhikhik... aku tidak lapar..."

"Kalau begitu, biar kami makan dulu, Nek..."

"Hikhikhik... teruskanlah makan kalian. Tetapi aku cuma minta buntalan yang ada di kudamu itu..." kata nenek itu lagi.

Mendengar kata-kata nenek itu ketiganya menjadi bersiaga. Perlahan-lahan ketiganya pun bangkit.

Namun Bahar masih berkata dengan suara yang sabar "Maafkan kami, Nek... kami tidak bisa memberikan buntalan ini pada nenek..."

"Hikhikhik... kalau begitu... aku akan merebutnya dari kalian!" kata nenek itu lagi, kali ini suaranya terdengar angker.

Bahar yang mencoba bersabar, menjadi tidak enak mendengar suara dan nada bicara nenek itu. Dia pun menjadi makin bersiaga. Begitu pula dengan Langgono dan Galur.

"Nek!" Galur buka suara. "Kami tidak menanamkan bibit permusuhan dengan nenek... dan hari ini kami pun tidak sedang memetik hasil dari permusuhan itu... mengapa nenek begitu memaksa untuk mengambil buntalan yang tak ada barang berharga itu?!"

Nenek itu terkikik.

"Kalian lucu sekali... aku tahu apa yang terdapat dalam buntalan itu. Emas permata, bukan? Nah, di pagi ini... aku... Nyai Loreng meminta kepada kalian secara baik-baik agar buntalan itu diberikan kepadaku, hah!"

"Nek! Kami sudah katakan, kami tidak menanam bibit permusuhan denganmu!"

"Jangan panggil aku nenek! Namaku Nyai Loreng!" seru nenek itu dengan sengit. Dia mengenakan pakaian yang berwarna loreng, mirip kulit harimau. Dengan kain yang berwarna hitam legam.

"Nyai Loreng... dengan berat hati, kami tidak bisa memberikan buntalan ini padamu..."

"Kalau begitu... kalian akan merasakan akibatnya dari kekeraskepalaan kalian ini!"

"Kami siap untuk menyabung nyawa demi mempertahankan buntalan ini!" kata Bahar gagah.

"Hihihi... kalian mencari mati rupanya! Baik, tahan seranganku!"

Setelah berkata begitu, Nyai Loreng menyerang dengan cepat. Jari-jarinya yang berkuku panjang mengembang. Siap menghujam di jantung mereka.

Namun ketiganya adalah pengirim-pengirim barang pilihan. Sudah tentu serangan dari Nyai Loreng berhasil mereka hindari. Dan secara serempak ketiganya pun menerjang.

Namun di luar dugaan ketiganya, nenek peot yang sudah tua dan nampak lemah itu dapat bergerak dengan gesit. Dia bersalto dua kali ke belakang. Lalu begitu kakinya hinggap di tanah dia menderu maju menyerang kembali.

Kali ini lebih cepat dan lebih gencar.

Membuat ketiganya menjadi kaget. Dan secara serentak ketiganya mencabut pedang karena merasa Nyai Loreng memiliki kemampuan yang teramat lihai dan hebat.

Di tempat itu pun terjadilah pertarungan yang sengit antara ketiganya melawan Nyai Loreng. Nyai Loreng sendiri nampak terkekeh-kekeh menghadapi seranganserangan itu.

"Hihihi... rupanya hanya begitu saja kemampuan kalian, hah?! Kalian tidak layak menjadi pengirim barang emas permata! Kalian lebih patut menjadi penjaga WC saja!"

Mendengar kata-kata itu, ketiganya semakin beringas. Namun sampai sejauh itu Nyai Loreng dapat menghindar, bahkan membalas menyerang dengan hebat dan gencar.

Kuku-kukunya yang runcing dan tajam berkelebat ke sana-ke mari. "Hihihi... hati-hati kalian! Sekali tergores ujung kukuku, kalian akan menderita seumur hidup ataupun mati dengan mengerikan! Kukuku ini mengandung racun buaya putih!"

Ketiganya pun semakin berhati-hati.

Tiba-tiba terdengar lengkingan keras Nyai Loreng dan menyerang Langgono bertubi-tubi.

"Sreeet!"

Kuku di tangan kanannya mengoyak baju bagian dada Langgono yang teramat terkejut. Dia menekap darah yang mengalir.

Mendadak dirasakannya gatal yang teramat luar biasa menyerang sekujur tubuhnya. Langgono menjadi menggaruk-garuki seluruh tubuhnya dengan gatal yang teramat menyengat.

Karena gatalnya dan karena kuatnya dia menggaruk, sebentar saja terlihat warna memerah di seluruh kulitnya. Dan kulit itu pun terkupas mengeluarkan darah.

"Hihihi... itulah khasiat racun buaya putih yang ku oleskan di ujung kuku-kukuku!" terkikik Nyai Loreng melihat salah seorang lawannya tengah berusaha keras untuk melawan rasa gatal yang teramat menyengat.

Melihat kawan mereka nampak begitu tersiksa, Bahar dan Galur menggeram marah. Lalu keduanya pun kembali menyerang Nyai Loreng dengan gencar.

Pedang yang ada di tangan mereka menyambar ke sana-ke mari dengan hebat. Siap mencabut nyawa Nyai Loreng.

Namun sampai sejauh itu tak satu pun pedang mereka yang berhasil mengenai sasarannya. Hal ini semakin membuat mereka kesal, jengkel dan panik. Apalagi keduanya nampak sudah kepayahan dan mulai kehabisan tenaga. Nyai Loreng terkekeh.

"Hihihi... rupanya kalian cuma pantas berlari sebentar... karena nafas kalian sudah ngos-ngosan seperti itu!"

"Nenek keparat! Kubunuh kau!" seru Bahar geram dan menyerang kembali. Dia sudah mengeluarkan segenap kemampuannya untuk menjatuhkan dan mengalahkan nenek peot itu.

Sama halnya dengan Galur yang sudah mengeluarkan pula segenap kemampuannya.

Namun sampai sejauh itu, Nyai Loreng belum pula berhasil mereka kalahkan. Bahkan terdesak pun tidak. Kini keduanya sadar siapa lawan yang tengah mereka hadapi.

Nyai Loreng sendiri tetap saja dengan santai menghindari setiap serangan yang datang. Bahkan dia pun mulai membalas kembali.

Serangannya aneh dan berbahaya. Kadang-kadang tubuhnya berkelebat bagaikan burung, kadang bergerak selicin belut. Dan kuku-kuku beracunnya siap menghadang dan mengundang nyawa keduanya untuk pergi ke akhirat.

"Hihihi... apa kalian sudah merasa tidak mampu menghadapiku?"

"Nenek busuk! Kami akan mengadu nyawa denganmu!" seru Galur.

Sementara tubuh Langgono semakin banyak mengeluarkan darah akibat digaruk yang begitu keras. Rasa gatal itu amat menyengat dan tidak terhenti-henti menyiksanya. Bahkan semakin digaruk terasa semakin gatal.

Dia menjadi putus asa. Dan tubuhnya sudah semakin terasa tersiksa. Dengan nekat dia pun menggigit lidahnya hingga putus. Darah pun mengalir dengan hebat. Dan tubuhnya itu pun meregang, lalu nyawanya putus meninggalkan jasadnya.

Melihat kenyataan itu, membuat Bahar dan Galur semakin nekat. Mereka pun menyerang dengan ganas. Tiba-tiba Nyai Loreng bergerak dengan cepat.

Dan "Des!"

"Des!"

Tangannya memukul tangan keduanya hingga pedang yang ada di genggaman mereka terlepas.

"Hihihi... kini kalianlah sasaran uji coba Sumpit Racun yang telah kuciptakan!" desisnya sambil mengeluarkan sebatang sumpit kecil yang berwarna loreng pula. Lalu dia pun mengambil pelurunya yang terdapat di kantung kecil yang tercantel di pinggangnya. Dan memasang nya pada sumpitnya. "Kini bersiaplah kalian untuk menerima ajal kalian!"

"Tahan!" kata Bahar.

"Hihihi... rupanya kau takut mati juga? Nah, cepatlah serahkan buntalan yang berisi emas permata itu padaku? Bila tidak... kalian pun akan mampus mengikuti teman kalian itu!"

"Nenek... kami tak punya permusuhan denganmu. Dan kami tak punya masalah denganmu! Kenal pun baru sekarang ini!" kata Bahar mencoba mengulur waktu. Dia tengah berpikir untuk menyerang kembali, namun melihat dulu di mana titik kelemahan dari nenek itu.

"Itu bukanlah suatu masalah!"

"Nenek... untuk apa kita harus saling menanamkan bibit permusuhan! Biarkan kami pergi... dan kami tak akan menuntut balas pada kematian kawan kami itu!"

"Hihihi... kalian boleh pergi... bila kalian mau menyerahkan buntalan hitam itu padaku!"

"Tidak! Sampai mati pun tak akan kami serahkan!" seru Galur. "Bagus! Berarti kalian setuju dengan kematian yang akan kulepaskan pada kalian!"

"Tunggu!" kata Bahar yang melihat nenek itu sudah memasang sumpit di ujung bibirnya. "Nyai Loreng... kuminta sekali lagi, biarkan kami pergi. Dan kamu pun pergi secara damai..."

"Kalian memang boleh pergi sejak tadi, tapi ingat, buntalan itu harus kalian tinggalkan..."

"Nyai Loreng... sejak tadi kami mencoba untuk tidak menanamkan bibit permusuhan... tetapi agaknya kau sulit untuk menerimanya. Dan kami pun tak akan begitu mudah memberikan apa yang kau minta ini..."

"Bagus!"

Tiba-tiba saja Bahar menyerang dengan pukulan lurus ke muka. Begitu pula dengan Galur. Namun tubuh keduanya tiba-tiba terpental kembali. Dan jatuh ke tanah.

Sumpit yang dipegang Nyai Loreng sudah menjalankan fungsinya. Dua pelurunya menancap ke tubuh masing-masing.

Kedua tubuh itu kelojotan menahan sakit yang luar biasa. Dan tubuh keduanya bergulingan. Tiba-tiba sangat tiba-tiba sekali seluruh urat nadi keduanya pecah, dan darah segar pun berhamburan. Tidak lebih dari lima detik, nyawa keduanya pun terlepas.

Nyai Loreng terkikik.

"Bukan main, racun yang kuciptakan ini hebat! Hebat, hebat sekali! Dan aku pun menemukan senjata ampuh untuk melepaskannya! Sumpit! Hihihi... sumpit beracun Nyai Loreng!"

Lalu nenek itu pun mengambil buntalan hitam yang ada di kuda Bahar. Lalu dia melesat pergi meninggalkan kikikannya.

*** 
DUA
Juragan Seta Agung adalah orang yang paling kaya di Desa Bojong Karta. Di samping kekayaannya yang melimpah, Juragan Seta Agung juga seorang yang pemurah dan baik hati. Dia memiliki rumah yang sangat besar. Dengan seorang istri dan dua orang putrinya yang jelita.

Juragan Seta Agung juga memiliki banyak pengawal yang terdiri dari orang-orang yang memiliki kepandaian.

Dan pagi ini, di tempat kediamannya, Juragan Seta Agung tengah menanti kedatangan orang-orang yang hendak mengantarkan pesanannya. Seharusnya barang itu sudah tiba kemarin, namun satu harian dia menunggu, orang-orang yang mengantarkan pesanannya tidak muncul juga.

Barangkali saja hari ini orang-orang itu baru muncul.

"Apakah perjanjiannya saat itu tepat, Tuan?" tanya salah seorang pengawalnya yang bernama Suralaga. Dia seorang ahli yang pandai memainkan sepasang tombaknya yang bermata tiga.

"Tidak salah. Pesanan itu seharusnya telah datang kemarin. Tapi nyatanya... sampai hari ini pun belum tiba," kata Juragan Seta Agung. "Hmm... tidak seperti biasanya Ki Madrim telat begini..."

"Barangkali para pengantar barang itu mendapat gangguan di jalan, Tuan."

"Mungkin... tapi selama ini, para pengantar barang pesanannya adalah orang-orang pilihannya yang gagah perkasa."

"Atau... maafkan aku, Tuanku," kata Suralaga menghormat. "Mungkinkah para pengirim barang itu berkhianat sendiri pada Ki Madrim?"

Sepasang mata Seta Agung berkilat-kilat. Dia tidak memikirkan kemungkinan itu. Mengapa tidak? Ini bisa saja terjadi. Mengingat barang-barang pesanan itu adalah emas dan permata.

Akhirnya karena Seta Agung sudah merasa membayar uang muka dan dia tidak mau terlibat kerugian, dia pun mengirimkan Suralaga dan Giri Lantang mendatangi Ki Madrim. Di samping itu, juga ingin memastikan apakah barang-barang pesanan itu memang sudah dikirimkan atau belum.

Lalu berangkatlah Suralaga dan Giri Lantang dengan menunggang sepasang kuda hitam yang gagah perkasa. Pagi masih bersatu dengan butir embun saat keduanya memacu kuda mereka dengan cepat.

Karena terus menerus memacu kudanya dengan cepat, maka menjelang malam tibalah keduanya di desa kediaman Ki Madrim. Keduanya segera mengarahkan kuda-kuda mereka ke sebuah rumah yang nampak cukup besar.

Para pengawal Ki Madrim yang telah mengenal keduanya sebagai pengawal dari Juragan Seta Agung. Karena setiap kali Seta Agung memesan emas permata, keduanya selalu menemaninya.

Makanya tanpa susah-susah keduanya sudah memasuki halaman rumah besar itu. Lalu salah seorang pengawal di sana, mengantar mereka menjumpai Ki Madrim.

Ki Madrim seorang laki-laki berusia 60 tahun. Janggut dan kumisnya berwarna putih, cukup lebat. Di kedua pergelangan tangannya terdapat sepasang gelang bahar. Rambutnya yang tergerai panjang dikuncir mirip perempuan.

Dia menyambut Suralaga dan Giri Lantang dengan senyum dan kedua tangan terbuka. "Hahaha... pengawal-pengawal perkasa? Bagaimana kabar dari Tuan Seta Agung?" sapanya akrab. "Mari, mari silahkan duduk!"

Kedua utusan dari Seta Agung itu duduk.

Ki Madrim tertawa kembali. "Bagaimana? Apakah kedatangan kalian ke sini untuk memesan kembali emas dan permata? Hahaha... kalian memang tidak salah tempat mendatangi tempatku ini. O ya, bagaimana dengan Tuan Seta Agung? Puaskah beliau dengan pesanan yang beliau pesan itu?"

Suralaga dan Giri Lantang saling berpandangan. Bila Ki Madrim berkata begitu, berarti barang-barang pesanan itu sudah dikirim.

Untuk menegaskannya Suralaga berkata, "Ki... maafkan kami berdua yang telah lancang datang ke mari."

"Hei, apa maksudmu, Suralaga?"

"Ki... pesanan yang majikan kami pesan kepada mu... sampai hari ini belum tiba di tangan majikan kami..."

"Tidak mungkin, tidak mungkin!" seru Ki Madrim yang tadi di terlihat sedikit tegang.

"Kami tidak bicara bohong, Ki... kedatangan kami kesini pun ingin menanyakan... apakah barang-barang itu sudah dikirimkan?"

Wajah Ki Madrim tampak pias. Dan sebentar saja keringat sudah keluar membasahi wajahnya.

"Sudah, sudah dikirim. Seminggu yang lalu barang itu dikirim..."

"Siapa yang mengantarkannya, Ki?"

"Seperti biasa. Bahar, Langgono dan Galur. Mereka adalah pengawal-pengawalku yang teramat setia..."

"Maafkan aku, Ki... apakah tidak mungkin mereka mengkhianatimu?"

Ki Madrim mengelap keringatnya. Dia menggelenggeleng cepat. "Tidak, tidak mungkin... mereka telah bekerja padaku hampir tujuh tahun. Dan sekali pun aku tak pernah mendengar tentang kecurangan mereka terhadapku. Jadi tidak mungkin mereka akan mengkhianatiku..."

"Tapi kalau begitu... mengapa barang-barang yang kami pesan tidak sampai di tempat kami? Itu pun kalau omonganmu benar, Ki..."

"Suralaga! Apa maksudmu?" tanya Ki Madrim dengan suara yang agak keras karena dia mendengar suara Suralaga mengandung nada mencurigai.

Suralaga hanya tersenyum dan mengangkat bahunya. Lalu sambil menyeringai dia berkata, "Ki Madrim... tadi kau mengatakan betapa setianya para pengawalmu itu... dan tak mungkin mereka mengkhianatimu. Tapi aku jadi bertanya, mungkinkah kalau barang itu tidak kau kirimkan?"

"Suralaga! Jaga ucapanmu!" geram Ki Madrim gusar. Secara terang-terangan Suralaga telah menuduhnya. Dan dia tidak terima. Darahnya pun mendidih mendengar kata-kata Suralaga tadi.

"Ki Madrim... mengapa pesanan itu tidak sampai kepada kami? Kau jangan coba-coba bermain api dengan kami! Selama ini hubungan antara kau dengan majikan kami begitu utuh, sempurna dan teramat baik. Namun kayaknya kau sudah mulai bermain api dengan semua ini. Nah, Ki Madrim... kami ke mari ingin meminta tanggung jawabmu, atau mengembalikan uang majikan kami yang telah separuh dibayar..."

Wajah Ki Madrim merah padam. Tetapi dia sadar, kalau kedua orang ini jelas-jelas menuduhnya berbuat curang. Ki Madrim mencoba menahan amarahnya.

"Suralaga... ketiga pengawalku itu kutugaskan pula ke Desa Glagah Mentari. Mungkin saja mereka ke sana lebih dulu..." kata Ki Madrim. "Hmm... ke sana lebih dulu? Apakah mereka hendak memutar dan mengambil jalan yang terjauh, Ki?" kata Suralaga dengan tatapan mengejek.

Tiba-tiba terdengar tapak kaki memasuki tempat itu. Seorang pengawal Ki Madrim muncul kembali dengan dua orang muda mudi.

Kedua remaja itu menghaturkan hormat pada Ki Madrim.

"Jaka Raga dan Intan Wulan!" sapa Ki Madrim. "Silahkan... silahkan duduk. Apa kabar Desa Glagah Mentari?"

"Desa kami tetap dalam keadaan aman sentosa, Ki," kata Jaka Raga. Dia seorang pemuda yang berwajah tampan. Dia memakai pakaian berwarna hitam yang ringkas.

Di sampingnya duduk Intan Wulan. Dia seorang gadis yang cantik jelita. Dengan kulit yang kuning langsat.

"Ada apa gerangan hingga kalian berdua datang ke sini?"

"Maafkan kami, Ki... kedatangan kami atas suruhan dari Kepala desa kami, Ki Santika..."

"Hmmm..." Ki Madrim mendehem. Mendadak saja di benaknya dia merasa kejadian yang sama seperti utusan dari Seta Agung. Tetapi Ki Madrim berpura-pura tidak tahu. "Apakah beliau hendak memesan emas permata kembali?"

"Maafkan kami, Ki... sebenarnya kedatangan kami hendak menanyakan... mengapa barang yang dipesan oleh Ki Santika sampai saat ini belum tiba?"

"Belum tiba?"

"Benar, Ki. Kami ingin mencari tahu ke sini. Apakah barang itu sudah dikirim?"

"Belum dikirim? Ah, aku sudah mengirimkan barang pesanan itu," kata Ki Madrim. Dia melirik Suralaga yang tersenyum mengejek.

"Benar, Ki... hingga sekarang barang itu belum tiba juga..."

Belum lagi Ki Madrim berkata, Suralaga sudah memotong, "Nah... bagaimana, Ki? Apakah dugaanku salah tadi?"

Ki Madrim menghapus keringatnya. Dia sangat malu akan kejadian ini. Dan yang dikuatirkannya para langganannya akan menjadi tidak percaya kepadanya.

"Saudara-saudaraku... maafkan aku terlebih dahulu. Percayalah... barang-barang pesanan itu sudah kukirimkan melalui tiga pengawal kepercayaanku..."

"Tapi hingga sekarang barang-barang itu belum tiba, Ki..." kata Jaka Raga.

Kembali Ki Madrim mengusap keringatnya. Bila masalahnya begini ini merupakan suatu problem yang cukup besar dan pelik baginya. Dan dia tidak mau menanggung malu dari semua ini.

Lalu dia pun bangkit.

"Kalau begitu... sebentar..." dia pun beranjak ke kamarnya. Lalu keluar lagi. Dan duduk kembali di hadapan para tamunya. "Saudara-saudara sekalian... aku tidak mau memperpanjang urusan ini. Nah, sampaikan salah maafku kepada majikan kalian. Sebagai gantinya... uang muka yang telah dibayarkan oleh majikan-majikan kalian kuganti saja..."

Para utusan itu pun segera menerimanya. Mereka pun tak mau memperpanjang masalah ini. Karena bagi mereka yang penting sudah mendapat kejelasan dari Ki Madrim.

Dan mendapatkan uang muka itu kembali. Itu saja!

Lalu para utusan itu pun segera meninggalkan tempat itu.

Meninggalkan Ki Madrim yang menjadi termenung sendiri. Ada apakah sesungguhnya hingga barangbarang pesanan itu belum tiba di tempatnya? Apakah dugaan Suralaga menjadi kenyataan, orang-orang kepercayaannya mengkhianatinya?

Ki Madrim tidak tega menuduh seperti itu. Karena dia yakin akan kesetiaan dan kepatuhan, Bahar, Langgono dan Galur. Mereka memang selalu bertugas untuk mengantarkan barang-barang pesanan. Dan hasil yang mereka lakukan cukup memuaskan. Mengapa mendadak saja sekarang barang-barang itu tidak tiba di tempatnya?

Ataukah... ada kejadian yang menimpa mereka di jalan? Mungkinkah mereka dibegal perampok? Tapi Ki Madrim pun yakin dengan kemampuan mereka. Tentunya mereka dapat mengatasi segala rintangan. Seperti biasanya!

Tetapi mengapa sekarang barang-barang itu belum tiba?

Ki Madrim lalu menyuruh beberapa pengawalnya untuk segera berangkat mencari ketiga orang itu.

Malam ini juga!

***
TIGA
Lima orang yang ditugaskan untuk mencari ketiga pengirim barang yang mendadak hilang itupun segera memacu kuda-kuda mereka. Kuda-kuda itu dibawanya untuk menyelusuri jalan-jalan yang biasa dilalui oleh mereka.

Menjelang pagi, mereka tiba di perbatasan Desa Bojong Karta dan menghentikan kuda-kuda mereka di tepi hutan kecil.

Biasanya di tempat ini para pengawal itu beristirahat. Karena mereka sudah mendapat ancar-ancarnya dari Ki Madrim.

Dan betapa terkejutnya mereka ketika mendadak di mata mereka terlihat tiga sosok mayat. Mayat-mayat itu keadaannya teramat mengerikan. Serentak mereka turun dari kuda dan memeriksa mayat-mayat itu.

"Hei, ini adalah kawan-kawan kita!" seru salah seorang yang bernama Jayengmoko.

"Ya ampun... keadaan mereka begitu mengerikan sekali!"

"Siapa gerangan yang telah membunuh mayatmayat ini?"

"Tentunya seorang yang sakti dan teramat kejam! Kalian lihat tubuh Langgono, yang terluka sekujur tubuhnya dan dibanjiri darahnya sendiri. Juga tubuh Bahar dan Galur yang tak kalah menyedihkan..."

"Sebaiknya kita bawa saja sekarang mayat-mayat ini kepada Ki Madrim. Biar mereka tahu apa yang sesungguhnya telah terjadi..."

Ketiga mayat itu pun segera diangkut ke kuda. Dan dibawa ke Ki Madrim.

Sudah tentu Ki Madrim teramat terkejut. Dia tidak menyangka hal ini akan terjadi.

"Jahanam! Siapa yang telah berbuat begini kejam terhadap mereka?!" serunya marah. "Dan tentunya orang itu amat sakti!"

"Benar, Ki... Tubuh ketiganya mati dengan mengerikan..."

Tiba-tiba di luar terdengar keributan. Matahari baru saja muncul. Memancarkan sinarnya ke seluruh dunia.

Suara ramai-ramai itupun berubah menjadi pekikan dan jeritan.

Serentak Ki Madrim dan lima orang pengawalnya itu keluar.

Mereka melihat seorang nenek berbaju loreng tengah asyik membantai para pengawal yang menyerang mereka. Melihat hal itu Ki Madrim segera berseru,

"Tahan!"

Seruannya itu menghentikan sepak terjang mematikan dari nenek yang tak lain Nyai Loreng.

Nyai Loreng terkikik.

"Hihihi... akhirnya kau keluar juga, Ki Madrim!" serunya.

Ki Madrim mendengus. Dia merasa belum mengenal nenek yang kejam ini.

"Hhh! Nenek... mengapa kau berbuat seperti ini?" tanyanya sambil memperhatikan beberapa tubuh pengawalnya yang telah menjadi mayat. Dan sebagian lagi telah mengurung nenek itu dengan senjata terhunus, siap untuk bergerak.

"Hihihi... kakek... kaukah yang bernama Ki Madrim?"

"Betul! Akulah Ki Madrim. Dan kau siapa adanya yang begitu telengas dan kejam membuat onar di pagi ini?!"

"Hihihi... namaku Nyai Loreng..."

"Nyai Loreng... apa maksudmu berbuat seperti ini, hah?!"

"Hanya satu, Ki Madrim... hanya satu..." Nyai Loreng terkikik sambil mengacungkan jari telunjuknya yang keriput.

"Apa itu, Nyai Loreng?"

"Emas permata... hihihi... semua emas permata yang kau miliki... cepat serahkan padaku saat ini juga..."

"Apa maksudmu, Nyai Loreng?" tanya Ki Madrim yang sebenarnya sudah tahu maksud dari Nyai Loreng. Namun dia mencoba mengulur waktu untuk mengukur kesaktian dari Nyai Loreng.

Dan tiba-tiba saja melintas dalam benaknya siapa yang telah menjegal dan membunuh ketika pengawal pengirim barangnya. Nyai Loreng-kah?

"Hihihi... jangan berpura-pura bodoh, Ki Madrim! Aku datang untuk meminta semua emas permata yang kau miliki!"

"Hhh! Nyai Loreng... bagaimana bila tidak kuberikan?"

"Hihihi... berarti kau membangkang! Dan itu artinya matilah untukmu! Seperti tiga pengawalmu yang sok mempertahankan emas permata yang mereka bawa!"

Dan Ki Madrim berdetak lebih cepat

"Nyai Loreng... kaukah yang telah membunuh ketiga pengawalku itu?!"

"Benar sekali tebakanmu. Memang, akulah yang telah membunuh mereka. Karena mereka mencoba menghalangi perbuatanku dan menahan emas permata yang hendak aku rebut!"

"Nyai Loreng! Kau begitu kejam sekali dan telengas menurunkan tangan pada mereka!"

"Salah mereka sendiri! Karena berani menantang Nyai Loreng!"

"Nyai Loreng... di pagi ini... aku hendak meminta nyawamu untuk tebusan nyawa ketiga pengawal setiaku!"

"Apa? Hihihi... kau sepertinya memang menginginkan kematian dan menyusul ketiga pengawal bodohmu itu, Ki Madrim! Majulah, aku pun sudah bosan dengan banyak cakap seperti ini! Hhh! Majulah, biar kau mampus sekalian!"

Ki Madrim menggerakkan tangan kanannya. Serentak para pengawalnya yang berjumlah sepuluh orang yang sedang mengurung Nyai Loreng bergerak menyerang.

Nyai Loreng cuma terkikik saja. Dia pun segera menyambut serangan-serangan itu dengan serangan berbahaya melalui kuku-kukunya yang mengandung racun buaya putih.

Para pengawal yang setia itu dengan gigih dan berani menerjang. Mereka seakan melupakan mati dan tak takut mati. Bagi mereka, mempertahankan kebenaran lebih layak daripada mempertahankan nyawa!

Namun sudah tentu mereka bukanlah tandingan dari Nyai Loreng yang sakti itu. Dengan sekali menggerakkan tangannya, terdengar jeritan yang menyayat hati.

Dan yang menjerit itu pun terjengkang. Dan merasakan sekujur tubuhnya mendadak gatal sekali. Lalu digaruk-garuknya hingga mengeluarkan darah.

Ki Madrim terkejut melihat keadaan anak buahnya yang kelojotan sekarat. Dia dapat menduga kalau kuku-kuku dari Nyai Loreng mengandung racun yang amat berbahaya.

"Hati-hati! Jangan sampai terkena kuku-kukunya! Karena mengandung racun!" serunya memperingatkan.

Namun terlambat, karena sepuluh pengawalnya itu sudah sekarat kelojotan.

Nyai Loreng tertawa di antara orang-orang yang mengerang kesakitan.

"Hihihi... sudah kubilang sejak tadi, kau hanya membuang nyawa anak buahmu dengan percuma! Ki Madrim... cepat kau serahkan seluruh harta kekayaanmu! Karena emas dan permata itu kubutuhkan untuk membuat peluru sumpitku!"

"Nyai Loreng... sedikit pun aku tak akan mundur dari hadapanmu! Kau harus membayar lunas semua yang ada di sini! Jayengmoko, hadapi dia!" seru Ki Madrim pada Jayengmoko yang sudah sejak tadi menahan geramnya melihat tangan telengas yang dijatuhkan oleh Nyai Loreng.

Lalu sambil menjerit diapun bersalto dan menyerang dengan pedang terhunus. Begitu pula dengan empat kawannya yang datang membantu.

Nyai Loreng hanya terkikik. Dia bersalto menghindari pedang-pedang yang berkilat tertimpa cahaya matahari itu. Gerakannya lincah dan gesit. Dia pun membalas dengan gerakan yang tak kalah cepat dan berbahayanya. "Awas serangan!"

Kelima pengawal Ki Madrim harus tunggang langgang menghindari sabetan kuku-kuku beracun milik Nyai Loreng yang bergerak dengan cepat. Nyai Loreng terkikik.

"Hihihi... rupanya pengawal-pengawal yang kau banggakan Ki Madrim, tak lebih dari anak perawan yang malu-malu terhadap seorang pemuda!"

Jayengmoko murka dikatakan seperti itu. Dia menerjang secara membabi-buta dengan pedang di tangannya yang menyabet, menusuk dan menangkis dengan cepat.

Begitu pula dengan keempat kawannya. Mereka berjuang dan bertahan mati-matian. Karena yang mereka takutkan hanya satu, sedikit saja tergores kuku-kuku Nyai Loreng maka mautlah ganjarannya. Dan ini membuat mereka bertindak berhati-hati.

Tentu saja ini menguntungkan Nyai Loreng, karena dengan begitu, kelima lawannya tidak berani mendekatinya.

Secara tiba-tiba terdengar jeritannya yang keras disusul dengan tubuhnya yang bersalto beberapa kali di udara. Saat bersalto itu tangannya pun bergerak mencari sasaran.

"Sret!"

"Sret!"

Dua kali kuku-kuku beracunnya menggores dua lawannya yang langsung terjengkang dan merasakan sekujur tubuh mereka gatal yang luar biasa. Lalu digaruk-garuknya tubuh itu untuk menghilangkan rasa gatal yang teramat menyengat. Namun semakin digaruk gatal itu malah semakin bertambah. Hingga tenaga mereka pun ditambah untuk menggaruk, hingga timbullah luka akibat garukan yang cukup keras itu.

Melihat keadaan yang menyedihkan, Jayengmoko makin menggeram marah. Dia pun menerjang kembali dengan hebat.

Pedangnya menyambar bagaikan walet yang sedang mencari mangsa.

Melihat keadaan yang tak seimbang itu pula, Ki Madrim bersalto ke depan. Lalu menerjang Nyai Loreng yang saat ini tengah menghadapi serangan-serangan dari Jayengmoko.

"Des!"

Kedua telapak tangannya mengenai tepat di dada Nyai Loreng yang terhuyung ke belakang. Mulutnya pun mengeluarkan darah.

Tetapi dasar nenek liar itu, malah terkikik.

"Hihihi... orang tua! Genit sekali kau memegangmegang dadaku! Apa kau memang menginginkannya, hah?!"

Wajah Ki Madrim memerah.

"Nyai Loreng... kuminta padamu untuk meninggalkan tempat ini... sebelum tempatku ini banjir darah akibat ulahmu."

"Hihihi... mengapa tidak sejak tadi kau katakan itu, Ki Madrim? Baiklah... aku akan meninggalkan tempat ini, tapi... hihihi... cepat serahkan dulu emas permata yang kau miliki..."

"Tidak!"

"Dan berarti itu maut akan menyebar di halaman ini!" kata Nyai Loreng dan terkikik kembali.

"Kau ternyata kejam, Nyai Loreng!"

"Karena kau terlalu berlama-lama menahanku di sini dan tak mau menyerahkan emas permata yang kau miliki!"

"Baik, Nyai Loreng! Aku akan mengadu jiwa denganmu!" seru Ki Madrim seraya bersiap. Dia telah dapat menduga-duga kehebatan ilmu yang dimiliki Nyai Loreng.

"Majulah, Ki Madrim! Dari pada kau membuangbuang nyawa anak buahmu secara percuma!"

"Baik, tahan seranganku, Nyai Loreng!"

"Sejak tadi aku sudah siap menghadapimu, Ki Madrim! Dan kupikir lebih cepat lebih baik hingga aku tidak banyak tenaga untuk membunuhmu!"

Ki Madrim pun menderu maju dengan pukulan lurus ke depan dan siap disusul dengan satu tendangan. Nyai Loreng menghindari pukulan Ki Madrim dengan memiringkan kepalanya dan menangkis tendangan Ki Madrim yang mengarah pada perutnya.

"Des!"

Nyai Loreng dapat merasakan tenaga dalam Ki Madrim yang cukup besar. Sedangkan dari tangkisan tangan Nyai Loreng Ki Madrim dapat merasakan pula tenaga dalam yang dimiliki Nyai Loreng.

"Hhh! Tenaga dalam nenek iblis ini cukup besar pula!" desisnya dalam hati dan menyerang kembali.

Pertarungan antara dua orang sakti ini lebih hebat daripada saat Nyai Loreng menghadapi keroyokan anak buah Nyai Madrim. Keduanya sudah saling bertempur dengan hebat. Dan masing-masing mengeluarkan segenap kemampuan mereka.

Ki Madrim sendiri sudah membuka jurusnya, Elang Menembus Langit. Yang membuat gerakannya semakin cepat dan hebat. Kedua tangannya membentuk paruh elang dan berkelebat mematuk ke sana-kemari.

Nyai Loreng sendiri pun tak mau kalah.

Kuku-kuku beracunnya siap menghadang dan mengancam jiwa Ki Madrim. Berbahaya dan tak kalah ganasnya.

Nampak pertarungan keduanya begitu seimbang. Masing-masing saling menyerang dan bertahan. Dan mata mereka pun tak kalah liarnya mencari titik kelemahan lawan.

Tiba-tiba salah seorang anak buah Ki Madrim melemparkan pedang yang dipegangnya. Pedang itu meluncur deras ke arah Nyai Loreng..

Meskipun sedang menghadapi Ki Madrim, Nyai Loreng adalah seorang nenek yang sakti. Gerak refleknya begitu berbahaya. Dan pendengarannya pun tajam mendengar derasnya pedang yang meluncur ke arahnya.

Tangan kanannya pun mengibas. "Des!" menangkis pedang itu.

Pedang itu tiba-tiba berbalik dan meluncur dengan deras pada tuannya. Yang melempar pedang tadi tidak menyangka hal itu.

Dia tak bisa menghindar lagi karena kecepatan luncuran pedang itu sulit diikuti oleh mata telanjang.

Dan "Bles!"

Tanpa ampun lagi pedang itu tepat menghujam di jantungnya. Menembus ke belakang.

Luar biasa!

Terdengarlah pekikan yang teramat menyayat hati.

Lalu disusul tubuh ambruk bersimbah darah. "Bandoroooo!" pekik Jayengmoko yang juga tidak

menyangka Bandoro akan membokong.

Namun Bandoro telah mampus. Nyawanya telah terlepas dari jasadnya.

Jayengmoko menggeram murka. Begitu pula dengan temannya yang tinggal seorang. Dengan secara serempak keduanya pun masuk ke pertempuran antara Ki Madrim dan Nyai Loreng.

Nyai Loreng sendiri sejak merasa kewalahan menghadapi gempuran-gempuran itu. Belum lagi seranganserangan Ki Madrim.

Tiba-tiba dia bersalto ke belakang dua kali. Dan ketika kakinya hinggap di bumi, di tangannya sudah terpegang sebuah sumpit. Lalu dia pun segera mengambil pelurunya.

"Hihihi... aku belum mengenalkan sumpitku ini pada kalian, bukan? Nah, inilah sumpitku yang mengandung racun yang luar biasa! Hihihi... kalian boleh merasakannya dan seketika kalian akan bertamasya ke akhirat! Bukankah ini perjalanan yang telah kalian tunggu?" Nyai Loreng terkikik.

"Nyai Loreng!" geram Ki Madrim marah. "Kami tak akan mundur sejenak pun dari hadapanmu! Kami akan mengadu nyawa denganmu!"

"Hihihi... perbuatan kalian akan sia-sia belaka!"

"Peduli setan!" bentak Jayengmoko. "Kau pun harus menebus semua nyawa sahabat-sahabatku, Nyai Loreng keparat!"

"Hihihi... apa kalian sudah merasa mampu untuk menghadapiku? Ki Madrim... sebaiknya kau serahkan saja cepat emas permata milikmu itu! Dan aku bersumpah akan membiarkan kalian hidup untuk menikmati indah dan megahnya dunia! Untuk menghirup udara pagi yang segar dan menyegarkan rongga dada kalian!"

"Sedikit pun aku tak akan mundur dari hadapanmu, Nyai Loreng!"

"Bagus! Kalian berarti memang ingin mati di hari ini juga!"

"Mati pun kami tidak akan penasaran, Nyai Loreng!"

"Bagus, bagus! Nah kalian hadapilah Sumpit Beracunku ini!" kata Nyai Loreng dan segera membidikkan senjatanya. "Sreet!"

"Sreet!"

"Sreet!"

Tiga butir peluru melesat dari sumpitnya. Mengarah pada tiga lawannya. Peluru yang kecil itu sulit sekali untuk diikuti oleh mata. Ki Madrim dan Jayengmoko dengan sebisanya menghindar ke samping. Sayang, seorang anak buahnya malah bersalto ke belakang. Dan saat dia hinggap kembali ke tanah, tubuhnya pun menjadi sasaran peluru dari sumpit Nyai Loreng.

Tubuhnya bagai dihantam sebuah peluru besar. Dia pun terhuyung ke belakang dan jatuh ke tanah. Peluru sumpit Nyai Loreng telah menancap dalam di jantungnya. Tiba-tiba sangat tiba-tiba tubuh itu kelojotan. Dan terjadilah pemandangan yang teramat mengerikan. Tubuh itu meregang dengan rasa sakit yang luar biasa. Dan mendadak seluruh urat nadi di tubuh itu pecah hingga darahpun menghambur ke luar.

Dalam sekejap saja tubuh itu telah kering oleh darah. Dan seluruh kulitnya berubah menjadi putih lalu tubuh itu pun kehabisan darah!

Ki Madrim menggeram. "Kejam!"

"Itu belum seberapa, Ki Madrim! Setelah cukup emas dan permata yang kukumpulkan, akan kubuat menjadi peluru yang berbahaya. Dan kau bisa merasakannya nanti... tapi, bila saat ini nyawamu masih berada di jasadmu... hihihi..."

"Nenek keparat!" geram Jayengmoko. Dia sudah nekat untuk menyerang dan menyabung nyawa dengan Nyai Loreng. Melihat seluruh sahabatnya telah mampus menemui ajal secara mengerikan, membuatnya menangis. Kenyataan ini yang terlalu menyakitkan.

Maka dia pun menyerang lagi dengan pedangnya. Tak peduli akan bahaya yang siap mengancamnya. "Jayengmoko...!" seru Ki Madrim yang tak me-

nyangka Jayengmoko akan berbuat nekat seperti itu.

Tetapi terlambat, Jayengmoko telah meluncur dengan deras ke arah Nyai Loreng.

Nyai Loreng sendiri hanya terkikik.

Lalu dia pun meniupkan sumpitnya ke arah tubuh Jayengmoko yang deras meluncur ke arahnya.

Sebutir peluru itu kembali menerjang. Namun Jayengmoko yang melihat Nyai Loreng menempelkan senjatanya lagi ke bibirnya, segera bersalto ke samping. Dan sambil bersalto dia melemparkan pedangnya ke arah Nyai Loreng.

Nyai Loreng sendiri tidak menyangka Jayengmoko bisa melakukan itu. Dia pun melompat ke samping dan sambil melompat kembali meniupkan sumpitnya.

Peluru kembali mencelat ke luar. Dan kali ini meluncur tepat ke jantung Jayengmoko.

***
EMPAT
Tabuh Jayengmoko terpental ke belakang bagaikan didorong oleh angin yang keras dan kuat.

"Aaaakkkhhh!"

Tubuh itu pun ambruk. Dan sama seperti yang dialami oleh Bandoro, tubuh itu pun meregang. Lalu seluruh urat nadinya pecah mengeluarkan darah yang cukup deras.

Lalu tubuh itu pun mampus dengan seputih kapas. Sepasang mata Jayengmoko terbuka. Separuh menahan sakit, separuh menyimpan dendam yang dibawanya mati.

Nyai Loreng terkikik. "Ki Madrim... kini tinggallah kau seorang yang masih hidup! Aku masih memberi kesempatan padamu untuk hidup lebih lama. Nah, serahkan cepat seluruh harta kekayaanmu yang berupa emas permata itu! Cepat, Ki Madrim aku tidak punya banyak waktu lagi! Cepat, kataku!"

Ki Madrim mendengus antara marah dan sedih.

Memang tak ada jalan lain.

Tiba-tiba dia mengangguk.

"Nyai Loreng... bila itu maumu... baiklah... akan kuambilkan emas permata untukmu...!"

"Hihihi... bagus, bagus... mengapa tidak sejak tadi kau katakan itu, Ki Madrim? Sehingga tidak banyak nyawa anak buahmu yang kucabut!"

"Tunggulah di sini! Biar aku yang mengambil sendi-

ri!"

"Hihihi... Ki Madrim, Ki Madrim... kau pikir aku bo-

cah kecil yang bisa kau kelabui? Hihihi... tidak, biar aku menemanimu mengambilnya!"

Ki Madrim mendesah.

"Bila itu maumu, ikutlah denganku!" kata Ki Madrim seraya melangkah lebih dulu masuk ke rumahnya.

Nyai Loreng mengikutinya dari belakang sambil terkikik. Di benaknya sudah terbayang akan banyaknya emas permata yang akan diperoleh. Dan emas permata itu akan diolahnya menjadi peluru sumpitnya yang akan lebih hebat nanti.

Dia melihat Ki Madrim memasuki sebuah ruangan yang mirip tempat penyimpanan emas. Lalu nampak Ki Madrim membuka sebuah tembok rahasia yang persis menempel dengan tembok yang lain.

Dia mempersilahkan Nyai Loreng untuk masuk. "Silahkan ambil semaumu, Nyai Loreng!" kata Ki Madrim.

Tetapi nenek itu hanya tertawa. "Ki Madrim... sudah kukatakan... aku bukanlah anak kecil yang mudah kau kelabui! Nah, masuklah kau sendiri ke dalam. Ambilkan seluruh emas permatamu untukku! Dan ingat, jangan coba-coba menipuku karena sumpitku ini masih haus oleh darah!" ancam Nyai Loreng.

"Kalau itu maumu, baiklah!" kata Ki Madrim sambil memasuki tembok rahasia yang kini berbentuk sebuah pintu dan berongga itu.

Nyai Loreng menunggu di luar. Namun secara tibatiba, pintu atau tembok rahasia itu menutup kembali.

"Hei!" seru Nyai Loreng kaget.

Dari dalam terdengar suara Ki Madrim, "Nenek keparat! Selamat tinggal dan tunggulah aku di situ sampai seribu tahun!"

"Anjing buduk!" geram Nyai Loreng yang tidak menyangka akhirnya dia tertipu juga. Dengan geram dihantamnya tangannya ke tembok itu. Namun tembok itu begitu kokoh dan kuat.

Tidak bergeming.

Nyai Loreng makin menggeram. "Bangsat!"

Dia kembali menghantamkan tangannya ke tembok itu.

Namun lagi-lagi tembok itu tidak bergeming. Dia menambah lagi tenaga dalamnya.

Dan barulah tembok itu sedikit bergetar.

"Aku tak akan mengampuni lagi nyawamu, Ki Madrim!" geramnya murka dan menghantam lagi tembok itu sekuat tenaga.

Setelah berkali-kali dihantam, barulah tembok itu pecah berantakan. Kepingan-kepingan batunya bermuntahan.

Nyai Loreng melihat sebuah lorong di dalam tembok itu. Lalu dengan perasaan geram dan marah dia bergerak maju.

Mula-mula lorong itu nampak sempit, namun lama kelamaan menjadi besar dan luas. Kini Nyai Loreng berada di sebuah tempat yang cukup besar yang diterangi oleh beberapa obor.

"Ki Madrim!" jeritnya. "Keluar kau! Biar kuremas kepalamu yang busuk itu!"

Tak ada sahutan dari Ki Madrim.

Hanya suara Nyai Loreng sendiri yang menggema di ruangan itu!

"Ki Madriiiimmm! Keluar kau, Bangsat!" Lagi tak ada sahutan.

Lagi hanya gema suara Nyai Loreng sendiri yang menggema.

Dan tiba-tiba matanya melihat ada tiga buah pintu. Nyai Loreng mendengus. Pintu mana yang telah dilalui Ki Madrim.

Lalu dia pun beranjak mendekati pintu yang terdapat di sebelah barat. Didorongnya pintu itu. Namun mendadak beterbangan beberapa buah tombak ke arahnya.

Nyai Loreng terkejut. Dan dengan sigap dia bergulingan. Tombak-tombak itu menancap di dinding. Menandakan cukup keras lontarannya.

"Bangsat buduk! Ternyata banyak jebakan pula di sini!" makinya. "Awas kau, Ki Madrim! Bila tertangkap, kau tak akan aku ampuni! Akan kusiksa kau sebelum mati, Ki Madrim keparat! Anjing buduk! Kau beraniberaninya bermain api dengan Nyai Loreng! Awas bila ketemu nanti!"

Nyai Loreng pun mendekati pintu di sebelah timur. Tapi kali ini Nyai Loreng tak mau bertindak gegabah seperti tadi. Lalu diambilnya sebuah kursi yang terdapat di sana.

Dan dengan sekuat tenaga dilontarkannya ke arah pintu itu hingga hancur berantakan. Lalu dia pun melompat ke samping. Pikirnya, akan terjadi jebakan seperti tadi.

Namun tak ada lontaran tombak kembali seperti ta-
BACA JUGA
Serial Pendekar Bayangan Sukma: 21 Tiga Ksatria Bertopeng
Serial Pendekar Bayangan Sukma: 19 Munculnya Si Pamungkas
Serial Pendekar Bayangan Sukma: 26 Pertarungan Para Pendekar
di.

"Sialan! Mungkin pintu inilah yang dilalui oleh Ki

Madrim keparat itu!" serunya, lalu bergegas untuk masuk.

Tetapi mendadak dia gelagapan. Dari atas jatuh sebuah jaring besar dan langsung menerpa dirinya. Belum lagi dia sadar apa yang telah terjadi, mendadak saja tubuhnya terangkat dan terperangkap oleh jaring itu.

Kini tubuhnya tergantung terperangkap oleh jaring itu.

"Anjing buduk!" makinya sambil berusaha membebaskan diri. Namun jaring itu bukan sembarang jaring. Jaring itu terbuat dari bahan yang cukup kuat dan alot.

Tiba-tiba dari pintu yang berada di selatan, muncul sosok tubuh yang terkekeh. Ki Madrim.

"Hehehe... mampuslah kau tergantung di sana, Nyai Loreng!" serunya sambil membawa sebuah buntalan besar. Dan mengangkatnya ke arah Nyai Loreng. "Bukankah kau menginginkan emas permata ini? Nah, melompatlah turun dan ambillah!"

Bukan main geramnya Nyai Loreng. Dia mencoba meloloskan diri. Namun jaring itu cukup kuat untuk meringkusnya.

"Hehehe... kau tak akan bisa meloloskan diri dari sana, Nyai! Kau akan mampus di sana karena kelaparan!"

"Lepaskan aku, Ki Madrim! Kita bertarung sampai mati!"

"Hehehe... aku hendak melihat sampai di mana kehebatanmu, Nyai Loreng!" kata Ki Madrim sambil menurunkan buntalannya. Lalu dia mengambil beberapa bilah pedang yang terdapat di sana. Diacungkannya pedang-pedang itu pada Nyai Loreng. "Nah, kini mampuslah, Nyai Loreng!"

Lalu pedang-pedang itu pun dilontarkannya ke arah Nyai Loreng yang tergantung di atas.

"Hei!" seru Nyai Loreng kaget, lalu mengempos tenaganya. Dan jaring itu pun bergoyang. Tubuhnya luput dari serangan-serangan pedang Ki Madrim.

Diam-diam Ki Madrim kagum dengan tenaga dalam Nyai Loreng, yang saat tergantung pun mampu memperlihatkan dan menggoyang jaring itu. Hingga luput dari sasaran.

Tetapi Ki Madrim pun tak mau dia menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Kembali dilemparkannya pedang-pedang yang lain.

Namun lagi-lagi serangannya luput karena dengan lincahnya Nyai Loreng menggoyang-goyangkan tubuhnya hingga jaring-jaring itu pun bergerak-gerak.

"Turunkan aku, Ki Madrim! Kita bertarung sampai mati!"

"Hehehe... biarlah kau mati tergantung di sana, Nyai Loreng!" kata Ki Madrim sambil mengambil buntalannya kembali. Lalu dia pun melangkah.

Dan tanpa setahu Ki Madrim, Nyai Loreng kembali memasang sumpitnya. Dan "Sreet!" peluru dari sumpit itu pun melontar ke luar.

Untung pada saat itu, Ki Madrim menoleh ke arahnya dan melihat Nyai Loreng sedang meniupkan sumpitnya. Dengan sigap dia bersalto ke samping. Lau secara bergulingan kembali ke luar dari ruangan itu.

"Hehehe... selamat tinggal, Nyai Loreng... tergantunglah kau selama-lamanya di sana!" serunya seraya melesat pergi. Nyai Loreng memaki panjang pendek. Tetapi bayangan Ki Madrim sudah hilang dari pandangan.

"Awas kau, Ki Madrim! Bila suatu saat bertemu nanti, kau akan kulumat hingga habis bersatu dengan tanah!" geramnya mengancam.

Lalu berusaha membebaskan diri dari jaring yang meringkusnya.

***
LIMA
Senja itu matahari sudah bersiap-siap hendak kembali ke peraduannya. Dari kejauhan nampak dua ekor kuda berjalan perlahan. Di atas kuda-kuda itu duduk seorang pemuda dan seorang pemudi.

Pemuda itu mengenakan pakaian berwarna birubiru. Di pinggangnya nampak terlihat terselip sebuah seruling.

Sedangkan yang pemudi berwajah cantik jelita. Di bahunya terdapat sebilah pedang. Hal ini menandakan keduanya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan kanuragan.

Keduanya tak lain adalah Pranata Kumala dan istrinya Ambarwati. Setelah bertemu dengan orang tua mereka, Madewa Gumilang atau Pendekar Bayangan Sukma dan istrinya Ratih Ningrum, Pranata dan istrinya pun kembali melanjutkan perjalanan mereka (Baca: Undangan Berdarah).

Sudah lama keduanya melakukan perjalanan semata-mata untuk mencari pengalaman, sama seperti halnya yang dilakukan oleh orang tua mereka.

Di pinggang Pranata Kumala tadi terselip sebuah seruling yang bila sekilas nampak seperti seruling biasa. Tetapi sesungguhnya itu adalah seruling sakti, yang bernama Seruling Naga. Bila seruling itu ditiup, maka yang mendengarnya akan mendengar suara yang amat menyakitkan telinga. Dan bagi yang memiliki tenaga dalam rendah, maka dia akan mati kelojotan dengan telinga yang mengeluarkan darah.

Seruling Naga itu sebenarnya milik dari Ki Rengsersari, atau berjuluk Pendekar Ular Sakti. Ki Rengsersari adalah guru dari Madewa Gumilang yang bergelar Pendekar Bayangan Sukma. Seruling Naga itu diserahkannya kepada muridnya itu saat dia berhadapan dengan Pratiwi atau si Selendang Merah dan Gundaling. (Baca: Pedang Pusaka Dewa Matahari).

Seruling yang di tubuhnya terdapat gambar sepasang naga sedang bertarung, diserahkan Madewa kepada putranya Pranata Kumala saat dia hendak berguru kepada Ki Ageng Jayasih (Baca: Kakek Sakti dari Gunung Muria).

Dan berkali-kali Seruling Naga itu menjadi rebutan dari tokoh-tokoh rimba persilatan (Sepasang Manusia Srigala). Kini seruling itu dipegang oleh Pranata Kumala, yang dalam petualangannya selalu ditemani oleh istrinya Ambarwati putra dari seorang pemimpin gerombolan perampok di daerah Pacitan (Baca: Pendekar Kedok Putih).

Dalam perjalanannya mencari petualangan, berkalikali keduanya mengalami berbagai kejadian yang menarik sekaligus mengerikan (Baca: Datuk Sesat Bukit Kubur, Pertarungan Para Pendekar, Iblis Berbaju Hijau dan Undangan Berdarah). Keduanya banyak mendapat pelajaran dari perjalanan yang mereka lakukan, hingga mereka dapat mengenal watak-watak manusia.

Kini keduanya pun tiba di lereng Gunung Kelud. Dan tiba-tiba pendengaran mereka menangkap suara ribut-ribut tak jauh dari sana. Disusul dengan suara senjata beradu keras yang menimbulkan suara cukup hebat.

"Kakang... seperti ada yang berkelahi di sini," kata Ambarwati sambil menatap suaminya.

"Benar, Rayi. Sebaiknya kita selidiki saja, Rayi..." kata Pranata sambil memacu kudanya.

Ambarwati pun menggebrak kudanya menyusul lari kuda suaminya. Dan kini di sebuah tempat yang cukup luas dan besar, terlihat di hadapannya dua orang laki-laki muda sedang bertarung melawan seorang laki-laki setengah baya yang membawa sebuah buntalan.

"Ki Madrim! Kau telah menjual lagak di depan kami tiga hari yang lalu! Tapi akhirnya ketahuan pula belangmu! Kau ingin menghianati majikan kami!" seru salah seorang penyerang laki-laki setengah baya itu. Dia dengan hebat menyerang laki-laki setengah baya itu dengan sepasang tombak yang bermata tiga.

"Suralaga! Sudah kukatakan padamu, bahwa semua ini perbuatan dari Nyi Loreng!"

"Laki-laki tua busuk! Kau mencoba menipu kami, hah?!" seru laki-laki penyerang yang tak lain Suralaga. Dan yang seorang lagi Giri Lantang.

Keduanya adalah pengawal andalan dari Juragan Seta Agung yang berkuasa di Desa Bojong Karta. Seta Agung amat terhina dengan mengembalikan uang muka dari Ki Madrim. Baginya, ini merupakan suatu penghinaan yang besar. Menurutnya, mengapa Ki Madrim tidak menggantikan saja dengan emas yang lain?

Lalu dia pun mengirim kembali Suralaga dan Giri Lantang untuk memberi pelajaran pada Ki Madrim. Dan di tengah jalan keduanya bertemu dengan Ki Madrim yang baru saja lolos dari tangan Nyai Loreng.

Melihat sikap Ki Madrim yang seperti ingin melarikan diri membuat Suralaga dan Giri Lantang menjadi salah paham. Kalau begitu benar dugaan mereka, Ki Madrim hendak bermain api dengan mereka.

Keduanya pun langsung menyerang. Dan sudah tentu Ki Madrim tidak mau dirinya dijadikan sasaran serangan-serangan keduanya.

Dia pun mempertahankan dirinya dan membalas. Berulangkali Ki Madrim menjelaskan kalau dia ti-

dak bermaksud untuk membohongi Juragan Seta Agung dan mengatakan semua itu perbuatan Nyai Loreng semata-mata. Namun kedua orang penyerangnya itu tak mau tahu, bagi mereka pesan majikan mereka lebih berarti yang menyuruh mereka memberi pelajaran pada Ki Madrim.

Orang-orang itu masih berkelahi dengan hebat. Berulang kali Ki Madrim hampir saja termakan oleh sepasang tombak bermata tiga milik Suralaga.

"Menyerahlah, Ki Madrim! Untuk kubawa kau kepada majikan kami Seta Agung untuk minta maaf!"

"Suralaga... aku tidak bersalah, mana mungkin aku hendak meminta maaf?" seru Ki Madrim sambil menghindari tusukan sepasang tombak bermata tiga Suralaga.

Juga menghindari pukulan-pukulan yang dilepaskan oleh Giri Lantang. Yang tak kalah hebatnya dengan serangan-serangan Suralaga.

Namun lama kelamaan, Ki Madrim kelihatan terdesak. Serangan kedua lawannya bagaikan datang dari empat penjuru. Begitu beringas dan berbahaya.

Sampai suatu ketika, Suralaga menghambur dengan deras ke arahnya, diiringi dengan tusukan kedua tombak bermata tiganya yang siap untuk mencabut nyawa Ki Madrim.

Ki Madrim mencoba bersalto menghindar, dan datang lagi serangan dari Giri Lantang yang cepat dan penuh tenaga. Ki Madrim mengambil satu tindakan yang penuh resiko. Dia memapaki serangan dari Giri Lantang. Dan terjadilah benturan yang cukup keras. "Des!"

Karena Ki Madrim masih dalam keadaan bersalto, tenaganya tidak begitu kuat. Keseimbangannya pun hilang. Dia terpental dan ambruk ke belakang.

Sementara Giri Lantang bersalto dengan manis dan hinggap di tanah dengan ringannya.

"Ki Madrim! Kau masih belum mau menyerahkan diri dan minta maaf pada Juragan Seta Agung?!" geram Giri Lantang keras.

Ki Madrim menahan rasa sakit di dadanya. Dia mencoba bangkit, namun rasa sakit itu seakan menyiksa dan membelenggunya. Dia meraba dadanya dan menekannya untuk mencoba menghilangkan rasa sakit itu.

"Giri Lantang! Bila aku punya salah... aku akan datang minta maaf pada Juragan Seta Agung! Tanpa kau suruh dan paksa! Namun aku tak punya salah! Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, tiga pengirim barang ku telah dibunuh oleh Nyai Loreng! Dan ini di luar kemauan kita semua! Dan Nyai Loreng pun baru saja kemarin sore mendatangi kediamanku dan mengobrak-abrik semuanya, bahkan dia membunuhi seluruh anak buahku!"

"Hhh! Bisa pula kau bicara, Ki Madrim!" seru Suralaga tak percaya. "Lalu bagaimana kau bisa meloloskan diri, hah?! Dan apa semuanya kau biarkan terjadi sementara kau melarikan diri?"

"Suralaga! Tadi sudah kukatakan, Nyai Loreng kujebak di ruangan pribadiku, tempat aku menyimpan emas dan permataku! Sedangkan untuk menghadapi Nyai Loreng sendiri, aku merasa tidak mampu sama sekali. Dia teramat sakti dan teramat kejam!"

"Omong kosong! Kau tentunya telah menyiapkan semua jawaban-jawaban ini, Ki Madrim! Hhh! Aku mau memenuhi permintaanku untuk menghadap Juragan Seta Agung, atau kubunuh di sini?!"

"Suralaga... sudah..."

"Anjing buduk! Masih berani kau bicara, hah?!" geram Suralaga dan kembali menerjang dengan sepasang tombak bermata tiganya.

Ki Madrim adalah orang yang jujur, bila dia tidak bersalah maka dipaksa pun dia tak akan mau meminta maaf. Kini dia hanya pasrah melihat serangan Suralaga yang menuju padanya.

Namun mendadak secarik sinar merah melesat ke arah Suralaga. Suralaga terkejut. Dia menarik kembali serangannya dan bersalto untuk menghindari sinar merah itu.

"Heiiit!"

Dua kali dia bersalto ke belakang dan hinggap dengan siaga. Begitu pula dengan Giri Lantang.

Suralaga membentak, "Orang usil! Cepat nongolkan wajahmu yang buruk itu!"

Terdengar suara langkah kuda perlahan mendekati tempat itu. Suralaga melihat dua orang penunggang kuda. Yang seorang pemuda berwajah tampan dan yang seorang lagi pemudi yang berwajah cantik.

"Hhh! Rupanya kalian yang telah ikut campur tangan urusan ini!" geram Suralaga.

Kedua orang itu yang tak lain Pranata Kumala dan istrinya Ambarwati, tersenyum.

Pranata berkata, "Maafkan aku, Ki sanak. Bukan sekali-sekali aku hendak ikut campur urusannya! Tidak sama sekali. Tapi kulihat hanya satu kebetulan saja, kau hendak menurunkan tangan telengas pada laki-laki setengah baya itu!"

Ki Madrim sendiri mendesah lega. Karena ada yang berhasil menyelamatkan nyawanya. Suralaga menggeram kembali. "Anak muda! Kuminta padamu untuk meninggalkan tempat ini dengan segera! Dan jangan ikut campur urusan ini!"

"Aku tidak suka melihat kekejaman yang kalian lakukan terhadap orang tua itu," kata Pranata, Kumala tenang.

Namun kata-katanya itu semakin membangkitkan kemarahan Suralaga.

"Anak muda, kau usil sekali rupanya! Hhh! Ingin kulihat sampai di mana kemampuanmu!"

"Maafkan aku, Kisanak. Bukan sekali-sekali maksudku untuk bertarung denganmu. Aku sudah tahu apa yang telah terjadi di antara kalian. Dan yang membuatku heran, mengapa kau tidak mau menyelidiki lebih dulu kata-kata orang tua itu? Bukankah bila kau telah melihat buktinya semula menjadi jelas? Apakah yang dikatakan orang tua itu hanya membual atau memang benar-benar semata."

Suralaga terdiam. Sebenarnya dia membenarkan pula kata-kata Pranata itu. Namun kesombongannya karena serangannya dihalau oleh Pranata tadi, membuatnya geram dan tak perduli dengan kata-kata itu.

"Anak muda! Kau sudah masuk ke kalangan, dan berarti kau telah siap untuk menanggung semula resikonya!"

Pranata Kumala yang sejak tadi memang sudah bersiap dan waspada, cepat bersalto dari kudanya dan langsung memapaki serangan tombak bermata tiga milik Suralaga.

"Des!"

Pukulannya berbenturan dengan lengan Suralaga. Dan Pranata langsung bersalto kembali ke belakang. Sementara Suralaga terhenyak karena merasakan tangannya kesemutan.

"Anjing buduk! Pantas kau berani jual lagak di depanku! Rupanya kau punya kelebihan pula?!"

"Hanya sekadarnya saja, Kisanak. Tapi cukup untuk membungkamkan mulutmu yang sombong dan tak mengenal keadilan!"

"Setan!" Maki Suralaga dan kembali menyerang.

Kali ini Pranata menunjukkan kebolehannya menghindar. Dengan jurus Kijang Kumala dia bisa berkelit selincah seekor kijang.

Hal ini semakin membuat Suralaga menjadi panas dan jengkel. Dia meningkatkan lagi seranganserangannya. Melihat hal itu pula Pranata pun mulai membalas dengan pukulan Tangan Bayangannya warisan Ki Ageng Jayasih (Baca: Kakek Sakti dari Gunung Muria).

Tangannya bisa berkelebat bagaikan bayangan belaka. Siap mengancam tubuh dari Suralaga yang paling berbahaya.

Suralaga pun menjadi kewalahan. Sebisanya dia menghindar dan membalas. Namun kecepatan dan kegesitannya jauh berada di bawah Pranata Kumala. Yang demikian cepatnya berberak.

Hingga suatu ketika, lengan kirinya dihantam oleh pukulan Pranata. Tombak yang dipegang Suralaga terlepas. Pranata pun segera mencecar. Dengan satu tendangan melompat kembali dia menghajar tangan kanan Suralaga. Dan tombak yang berada di tangan kanannya pun terlepas. Disusul dengan satu pukulan keras ke dada Suralaga.

"Des!"

Tubuh itu terhuyung ke belakang. Sementara Pranata telah berdiri tegak kembali di bumi.

Suralaga merasakan dadanya nyeri sekali.

Ki Madrim diam-diam kagum melihat kehebatan pemuda itu.

Dan melihat hal itu, Giri Lantang menjadi murka.

Dia pun menerjang maju. Satu sosok tubuh melenting dari kuda yang diam disana, dan memapaki serangan Giri Lantang pada Pranata Kumala.

"Des!"

Giri Lantang bersalto dan hinggap dengan ringannya. Dia melihat sosok tubuh yang memapakinya telah berdiri di hadapannya.

Ambarwati yang berdiri gagah.

"Bila kau merasa gatal dan ingin bermain-main sejenak, aku bersedia melayanimu!"

"Perempuan sial! Aku ingin melihat sampai di mana kehebatanmu itu, hah?!" geram Giri Lantang yang tidak menyangka serangannya akan dipapaki oleh gadis itu. Dia pun menyerang kembali dengan ganas. Namun kali ini sasarannya adalah Ambarwati.

***
ENAM
Ambarwati pun tak malu dirinya dijadikan sasaran empuk serangan dari Giri Lantang. Dia pun segera membalas serangan-serangan itu.

Kini terjadilah kembali pertarungan yang hebat. Namun kali ini antara Ambarwati dan Giri Lantang. Kalau melihat sekilas, Ambarwati menang dalam soal kelincahan dan kegesitan. Tetapi dia kalah tenaga dengan Giri Lantang.

Namun dengan mengandalkan kegesitannya itu, sampai beberapa jurus dia belum kelihatan terdesak. Malah Ambarwati yang kemudian terlihat mendesak Giri Lantang.

"Perempuan keparat!" dengus Giri Lantang yang dengan sebisanya menghindari serangan-serangan Ambarwati. "Mengapa kau hanya bisa menghindar saja, Ki sanak?!" seru Ambarwati dengan suara mengejek.

Mendengar kata-kata itu wajah Giri Lantang memerah.

"Baik, tahan seranganku!"

Lalu dia pun kembali mulai membalas. Namun serangan-serangan dari Ambarwati seolah telah mengurung langkahnya. Dan membuatnya kebingungan sendiri.

Hingga akhirnya serangannya pun menjadi kacau, sekaligus pertahanannya. Dan satu ketika, Ambarwati memekik keras dengan satu pukulan lurus ke wajah Giri Lantang.

Giri Lantang sendiri terkejut, karena tidak menyangka serangan itu datang dengan cepatnya.

Dia jatuh ke bumi setelah bergulingan beberapa kali. Bibirnya berdarah. Dia menjadi geram sekali. Karena merasa dengan mudahnya gadis itu mengalahkannya.

Ketika dia hendak bangkit untuk menyerang kembali terdengar seruan Pranata Kumala,

"Tahan!"

Giri Lantang hanya menahan marahnya.

Begitu pula dengan Suralaga yang tidak menyangka dia dan temannya itu akan mudah dikalahkan oleh pemuda-pemudi yang belia.

"Maafkan kami berdua, Ki sanak..." kata Pranata Kumala lagi. "Perkenalkan, namaku Pranata Kumala dan ini istriku, Ambarwati. Kami petualang dari Laut Selatan."

"Hhh! Pranata, cepatlah kau menyingkir dari sini! Kami masih punya urusan dengan Ki Madrim!" kata Suralaga.

"Maafkan aku, Ki sanak. O ya, tadi sudah kudengar nama kalian berdua. Suralaga... melihat kejadian yang tengah kalian alami, aku berkeyakinan kalian telah salah paham. Dan seperti ucapan dari Ki Madrim benar adanya dan tentunya harus dibuktikan. Tadi pun kudengar Ki Madrim mengatakan munculnya seorang tokoh jahat yang bernama Nyai Loreng. Bukankah begitu, Ki Madrim?"

"Benar, Pranata..." sahut Ki Madrim yang kini bisa bernafas cukup lega. "Nenek yang mengaku bernama Nyai Loreng itu sungguh sakti dan kejam. Tiba-tiba saja dia muncul ke tempat kediamanku dan meminta seluruh emas permataku untuk dibuatnya menjadi senjata sumpitnya. Dia pun mengaku dialah yang telah membunuh tiga pengawalku sekaligus pengirim barang-barangku. Dan merampas emas permata yang mereka bawa untuk diserahkan kepada pemesan, Juragan Seta Agung dari Desa Bojong Karta dan kepala desa di Glagah Mentari. Dia pun memporakporandakan kediamanku dan membunuhi seluruh pengawalku. Untungnya aku berhasil meloloskan diri dan menjebaknya di ruangan pribadiku. Sekarang dia tergantung di sana. Di dalam jaring yang cukup kuat."

"Suralaga... bukankah dengan begini kau dan temanmu telah salah paham pada Ki Madrim?" kata Pranata Kumala.

"Hhh! Pranata... bisa saja kakek itu berbohong, bukan?"

"Tentu. Dan untuk menguji kebenarannya kita harus melihat kenyataan yang diceritakannya. Nah, bagaimana, Ki Madrim? Apakah kau bersedia membawa kami ke tempat kediamanmu dan menunjukkan di mana Nyai Loreng terjebak?"

"Dengan senang hati, Pranata. Mari!"

Pranata Kumala kembali menaiki kudanya. Begitu pula istrinya. Sedangkan Ki Madrim, Suralaga dan Giri Lantang berjalan di depan mereka. ***

Apa yang diceritakan Ki Madrim memang benar. Begitu mereka tiba di kediamannya, terlihatlah satu pemandangan yang cukup mengerikan. Di halaman depan rumah itu mayat-mayat bergeletakan. Dan ada beberapa mayat yang mati secara mengerikan.

"Itu akibat sumpit dari Nyai Loreng!" kata Ki Madrim menjelaskan sambil menahan pilu di hatinya.

"Sudah jangan banyak omong!" bentak Suralaga. "Cepat tunjukkan di mana Nyai Loreng itu kau jebak, Kakek jelek!"

Ki Madrim hanya tersenyum. Lalu mengajak mereka untuk ke ruangan pribadinya. Pranata Kumala dan Ambarwati yang sudah turun dari kudanya kembali melihat pemandangan yang mengerikan di dalam rumah itu.

Mayat-mayat banyak pula terdapat di sini. Mengerikan. Dan ini menandakan betapa kejamnya Nyai Loreng yang begitu telengas membunuhi orang-orang yang tak berdosa.

Ki Madrim mengajak mereka langsung ke ruangan pribadinya. Pintu rahasia yang ada di sana telah jebol itu mereka lewati.

"Di sini dia kujebak!" kata Ki Madrim. Lalu dia pun melihat ke atas.

Dan betapa terkejutnya Ki Madrim ketika tidak melihat tubuh Nyai Loreng tergantung di sana.

"Hei! Dia berhasil meloloskan diri rupanya!" serunya kaget.

Suralaga mendengus. "Jangan berbohong, Ki Madrim!" geramnya.

"Aku berani bersumpah atas nama Dewata, kalau wanita iblis itu tergantung di sana!"

"Jangan mungkir! Kau lihat sendiri kenyataannya, wanita itu tidak berada di sana, hah?!"

Ki Madrim mendesah masygul. Tapi kemudian dia berkata, "Suralaga... kau lihatlah jaring yang telah jebol itu. Rupanya wanita iblis itu berhasil menjebol jaring yang terbuat dari bahan yang cukup kuat itu! Dan meloloskan diri!"

Di atas memang terdapat jaring yang telah jebol. Mau tak mau Suralaga dan Giri Lantang jadi mempercayainya. Namun bagi mereka itu bukanlah suatu kepuasan karena bisa saja Ki Madrim telah sengaja memasangnya untuk mengelabui mereka.

Seperti mengetahui apa yang tersirat di hati Suralaga dan Giri Lantang, Ki Madrim berkata lagi,

"Kalian lihatlah! Pintu itu sudah hancur oleh perbuatannya. Dan kalian lihat tombak-tombak yang menancap di dinding. Tombak-tombak itu telah menyerang Nyai Loreng!"

"Hahaha... tapi kenyataannya dia tidak berada di sini, Ki Madrim?" tertawa Giri Lantang.

Pranata Kumala pun bisa memahami ketidakpercayaan Suralaga dan Giri Lantang. Namun melihat bukti-bukti yang ada baginya sudah cukup untuk percaya. Namun memang sulit karena Nyai Loreng sendiri tidak tergantung di sana.

"Suralaga... kukira... bukti yang ada di ruangan ini sudah menunjukkan keberadaan Nyai Loreng," kata Pranata, "Jadi kuminta... kau dan Giri Lantang janganlah dulu mempersoalkan masalah ini kembali. Yang penting... kita cari dulu Nyai Loreng..."

Mendengar kata-kata itu, Suralaga dan Giri Lantang memahaminya. Bagi mereka, itu pun sudah menjadi bukti.

"Kalau begitu... baiklah. Kita akan sama-sama mencari Nyai Loreng..."

Tiba-tiba terdengar suara terkikik di belakang mereka. Serentak semuanya menoleh.

Seorang nenek telah berdiri di sana sambil terkikik. Di tangannya memegang sebuah sumpit. Dia seperti merasa lucu melihat orang-orang itu kebingungan dan keheranan. Terutama melihat wajah Ki Madrim.

Dan nenek itu adalah Nyai Loreng!

***
TUJUH
Sebenarnya bagaimanakah Nyai Loreng bisa meloloskan diri dari jaring yang terbuat dari bahan yang alot dan kuat itu?

Setelah Ki Madrim melarikan diri, Nyai Loreng tergantung di jerat itu. Dan berusaha untuk mencoba merobek jaring itu. Namun dirasakannya sia-sia belaka.

Tiba-tiba secara tidak sengaja, kuku-kukunya yang mengandung racun tersentuh jaring itu. Dan mendadak saja jaring-jaring itu putus terbakar.

Lalu Nyai Loreng pun berhasil keluar dan bersalto dengan ringan dan hinggap di lantai dengan ringan pula. Dia yang merasa geram pada Ki Madrim yang berhasil menjebaknya menjadi marah besar.

Lalu diobrak-abriknya tempat itu. Setelah itu dia melesat keluar.

Namun baginya sudah sulit untuk menemukan Ki Madrim. Tiba-tiba dia merasa kalau Ki Madrim suatu saat akan kembali lagi ke rumah ini karena ingin melihat dirinya yang tergantung.

Maka dengan sabarnya Nyai Loreng menunggu.

Hingga penantiannya pun berakhir. Dari tempatnya bersembunyi dia melihat Ki Madrim dan empat orang lainnya mendekati tempat itu. Dia masih berusaha untuk menahan marahnya. Ditunggunya sampai mereka masuk ke rumah itu. Dugaan Nyai Loreng mereka pasti akan masuk untuk melihat dirinya yang tergantung.

Dan dugaannya memang benar. Lalu dia pun segera menyusul dan geli melihat mereka terheran-heran karena dirinya tak lagi tergantung di sana.

Kini dia berdiri gagah dengan sumpit di tangan. "Hihihi... kita bertemu lagi, Ki Madrim," kikiknya geli.

Ki Madrim berseru tertahan, "Nyai Loreng!"

Suralaga dan Giri Lantang pun kini benar-benar mempercayai ucapan Ki Madrim. Mereka menjadi malu sendiri karena telah menuduh sembarangan pada Ki Madrim.

Karena didasari malunya itu, keduanya melangkah dua tindak berhadapan dengan Nyai Loreng.

"Nenek iblis! Rupanya kau yang telah membuat semua menjadi kacau begini!" geram Suralaga.

"Dan kau harus membayar dengan nyawa peotmu itu, Nenek keparat!" sambung Giri Lantang.

"Hihihi... rupanya ada dua ekor tikus yang berani membentak padaku! Hihihi... sebutkan nama kalian sebelum aku membunuh kalian!"

"Nenek Iblis! Namaku Suralaga, dan ini kawanku, Giri Lantang! Kami adalah pengawal setia dari Juragan Seta Agung!"

"Hihihi... rupanya kalian manusia-manusia yang punya nyali juga! Nah, cepat kalian maju ke sini, biar kulubangi kepala kalian!"

"Nenek iblis! Tahan seranganku!" geram Suralaga sambil menyerang dengan sepasang tombak bermata tiganya. Di samping geram pada Nyai Loreng dia juga malu pada Ki Madrim karena berpikiran pendek yang langsung menuduh Ki Madrim seenaknya. Makanya dia bertekad untuk membunuh Nyai Loreng yang dianggapnya sebagai biang keladinya, sebagai biang terjadinya salah paham ini.

Dua tombak bermata tiga milik Suralaga bergerak dengan gencar, mengancam bagian-bagian tubuh berbahaya dari Nyai Loreng. Begitu pula dengan Giri Lantang yang juga ikut menyerang.

Di tempat itu kembali terjadi pertarungan yang sengit antara Suralaga, Giri Lantang dengan Nyai Loreng. Namun biarpun diserang oleh dua orang, Nyai Loreng kelihatan dengan mudahnya menghadapi keduanya. Malah dia mulai membalas dengan tertawa.

Kuku-kuku beracunnya siap menyambar nyawa keduanya. Berbahaya. Tangan-tangannya berkelebat dengan cepat. Tiga jurus kemudian terlihat Suralaga dan Giri Lantang yang terdesak.

"Awas, kuku-kukunya mengandung racun!" seru Ki Madrim memperingatkan.

Namun terlambat. Dengan satu pekikan yang cukup keras, tangan kanan Nyai Loreng berhasil memukul perut Giri Lantang. Dan dengan cepat kuku-kukunya bergerak, menyayat perut Giri Lantang.

Giri Lantang mengaduh dan terhuyung.

Dia merasakan perutnya sakit sekali. Dan tiba-tiba dirasakannya sekujur tubuhnya gatal. Seperti yang terjadi sebelumnya pada orang-orang yang terkena kuku-kuku beracun Nyai Loreng, tubuh Giri Lantang pun menggeliat hebat. Kelojotan.

Gatal yang dirasakannya teramat menyakitkan. Dan mulailah kedua tangannya menggaruk-garuk. Namun semakin digaruk gatal itu malah semakin bertambah. Parah. Perih dan menyakitkan.

Sekuat tenaga Giri Lantang menggaruk kembali, hingga mulailah nampak kulit-kulitnya memerah dan berdarah. Lalu keluarlah darah yang mengucur deras. "Aaaakkkhhh!"

Giri Lantang memekik kesakitan. Dan tiba-tiba tubuhnya terkulai. Lalu nyawanya pun melayang.

Ambarwati menutup matanya, ngeri melihat pemandangan di depannya itu.

Nyai Loreng terbahak.

"Hihihi... rasakan itu! Dan kau Suralaga, sebentar lagi kau pun akan menyusul kawanmu itu!" seru Nyai Loreng dan tanpa menunggu Suralaga menyerang, dia telah mendahului menyerang.

Menghadapi Suralaga dan Giri Lantang saja dia berada di atas angin, apalagi menghadapi Suralaga yang sendirian. Sudah tentu dengan mudah dia mendesak Suralaga.

Dan kembali kuku-kukunya menyayat tangan Suralaga. Seperti yang dialami Giri Lantang, Suralaga pun merasakan gatal yang serupa. Lalu dia pun mampus dengan tubuh berdarah.

Nyai Loreng terkikik.

"Hihihi... Ki Madrim... kini tak ada lagi jalan ke luar bagimu. Nah, serahkan buntalan yang kau bawa itu padaku!"

Ki Madrim mendengus. "Tidak akan pernah kulakukan itu, Nyai Loreng!"

Nyai Loreng terkikik. Dan tiba-tiba dia menggeram murka.

"Kalau begitu maumu, baiklah... terimalah kematianmu, Ki Madrim!" seru Nyai Loreng dan menderu menyerang dengan kuku-kuku yang terbuka lebar, siap menghujam di jantung Ki Madrim.

Namun tiba-tiba Nyai Loreng bersalto ke samping ketika sebuah sinar merah mengarah datang padanya.

"Heiiitt!"

Pekiknya dan hinggap kembali di lantai. Dia menatap Pranata Kumala yang melepaskan pukulan Sinar Merah itu padanya.

"Bocah keparat! Berani-beraninya kau membokong seperti itu! Sebutkan namamu, hah?!"

"Nyai Loreng... namaku Pranata Kumala dan ini istriku Ambarwati."

"Nah, cepat kalian bersujud di depanku, akan kuampuni nyawa kalian!"

"Maafkan aku, Nyai Loreng... sebenarnya aku tidak terlibat dalam urusan ini dan tidak bermaksud mencampuri urusan ini. Tapi melihat tangan telengas yang kau turunkan pada Suralaga dan Giri Lantang, entah kenapa hatiku terpanggil untuk menghentikan sepak terjangmu."

"Hhh! Bagus kalau begitu! Biar kucabut nyawamu dan nyawa istrimu sekalian! Bersiaplah!"

"Majulah, Nyai Loreng!"

Nyai Loreng pun menderu menyerang dengan ganas. Hebat dan kejam. Pranata Kumala pun menghadapinya dengan memadukan jurus Kijang Kumalanya dan jurus Pukulan Tangan Bayangan. Hingga sampai sekian jurus berlangsung, Nyai Loreng belum sekali pun berhasil memukulnya.

Hal ini semakin membuatnya geram. Apalagi setelah Pranata Kumala melepaskan pukulan Sinar Merahnya. Sinar Merah itu pun membuat Nyai Loreng kalang kabut. Dia menyadari bila tubuhnya terkena Sinar Merah itu akan mati dengan tubuh hangus. Apalagi setelah melihat pukulan sinar merah yang luput itu menerpa tembok yang menjadi bolong berantakan.

"Bocah setan! Mampuslah kau!" pekiknya keras dan menerjang kembali.

Pranata yang sejak tadi sudah mengetahui kehebatan dari Nyai Loreng pun segera mengimbanginya. Dia langsung membalas menyerang.

Pertarungan antara keduanya begitu hebat dan sengit. Pranata tahu akan racun yang terdapat di kuku-kuku Nyai Loreng amat berbahaya dan mematikan. Itulah sebabnya dia menjaga jarak agar Nyai Loreng tidak bisa mendekatinya. Secara gencar dia pun melepaskan pukulan Sinar Merahnya sehingga Nyai Loreng harus bersalto ke sana ke mari menghindari Sinar Merah yang tak kalah dahsyatnya.

Hingga suatu ketika dia bergulingan dan bersalto ke belakang. Sumpit di tangannya kini siap menjalankan fungsinya. Lalu diambilnya beberapa peluru dan dimasukkan ke mulutnya.

"Pranata! Kini terimalah kematianmu!" desisnya sambil memasang sumpit di mulutnya.

"Pranata!" seru Ki Madrim. "Hati-hati dengan sumpit itu. Peluru sumpit itu lebih berbahaya dari racun yang terdapat di kuku-kukunya!"

Pranata pun bersiap. Dia sendiri bisa menduga akan racun yang terdapat pada sumpit Nyai Loreng.

Dan

"Plup! Sreeet!"

Peluru-peluru itu pun mulai berfungsi. Pranata hanya mengandalkan instingnya saja untuk menghindar, karena peluru sumpit itu sukar dilihat dan diikuti oleh mata.

"Hihihi... menghindarlah kau sekuat kau bisa, Pranata!" terkikik Nyai Loreng melihat Pranata Kumala menghindar.

Dan dia pun terus menyerang dengan gencar.

Kini ganti Pranata yang terdesak. Dia menghindar sebisanya. Walau sekali-sekali dia masih sempat melepaskan pukulan Sinar Merahnya.

Namun desakan-desakan yang dilakukan Nyai Loreng lebih gencar dari pukulan Sinar Merah Pranata Kumala. Sebentar saja Pranata kembali terdesak.

Melihat keadaan suaminya yang terdesak, Ambarwati segera memekik menyerang Nyai Loreng. Nyai Loreng terkejut, dia menunduk dan berguling ketika pedang Ambarwati siap menebas lehernya.

"Hup!"

"Nenek iblis! Mampus kau!" geram Ambarwati keras karena melihat suaminya nampak sudah kehabisan tenaga.

Kini dia yang menghadapi Nyai Loreng. Tetapi Nyai Loreng sendiri tidak mau membuang waktu lagi. Langsung dia mengarahkan sumpitnya pada Ambarwati.

Ambarwatilah yang sekarang kalang kabut. Pelurupeluru beracun itu demikian gencar menyerangnya. Melihat keadaan isterinya yang terdesak, Pranata segera membantu dengan pukulan Sinar Merahnya.

Dia merasa dapat kesempatan untuk bernafas dan menghimpun tenaga. Maka dia pun menyerang kembali dengan gencar.

"Manusia-manusia keparat!" maki Nyai Loreng yang kembali menjadi kalang kabut dan sukar untuk membalas. Dia terus mundur untuk menjaga jarak.

Namun serangan Sinar Merah yang dilepaskan Pranata Kumala begitu gencar. Tiba-tiba dia bersalto ke belakang dan menghilang di balik pintu yang jebol.

"Nenek iblis!" bentak Pranata. "Jangan kabur, Nyai Loreng!" kejar Pranata Kumala.

Tetapi bayangan Nyai Loreng telah menghilang.

Pranata kembali lagi ke ruangan itu.

Dia berkata pada Ki Madrim, "Kini semuanya sudah jelas, Ki... Nyai Loreng adalah manusia iblis yang kejam dan sakti. Sayang... Suralaga dan Giri Lantang telah mampus di tangannya..."

"Pranata... biar bagaimanapun keadaanku, aku berterima kasih padamu. Nah, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini sekarang juga!"

Ki Madrim bergerak mendahului. Namun mendadak terdengar pekikannya yang keras luar biasa. "Aaaakkkkkhhhh!"

Tubuh yang sudah bergerak itu mencelat ke belakang bagai dihantam oleh satu dorongan angin yang kuat. Dan tubuh itu kelojotan keras.

Pranata Kumala dan Ambarwati terkejut. Mereka tidak menyangka satu serangan gelap datang menerpa Ki Madrim.

Dan mereka baru menyadari setelah terdengar suara Nyai Loreng, "Hihihi... rasakanlah kematianmu, Ki Madrim! Nah, Pranata Kumala dan Ambarwati... selamat tinggal dan sampai bertemu lagi!"

Rupanya Ki Madrim terkena peluru Sumpit Beracun Nyai Loreng. Karena tubuh itu kemudian meregang dan pecahlah seluruh urat nadinya hingga tubuh itu pun bermandikan darah dan mati dengan tubuh pucat pasi.

Pranata yang merasa Nyai Loreng telah meninggalkan tempat itu, melangkah mendekati Ki Madrim! Namun tiba-tiba terdengar pekikan Ambarwati.

"Awaaaas, Kakang!"

Satu sosok tubuh mencelat dari luar menerjang ke arah Pranata Kumala. Pranata langsung bersalto ke belakang begitu merasakan angin besar mendekatinya. Sosok itu memang Nyai Loreng. Setelah Pranata menghindar dengan gerakan cepat, Nyai Loreng menyambar buntalan berisi emas permata yang terletak di

dekat mayat Ki Madrim.

Lalu dia mencelat ke luar dan menghilang. Hanya kikikannya yang menggema keras. "Sampai ketemu lagi, Pranata dan Ambarwati!"

Pranata menggeram marah. Di samping kejam, ternyata wanita iblis itu pun licik. Dia tak bisa mengejar Nyai Loreng karena tubuh itu telah menghilang bagai ditelan bumi. Ambarwati mendekati suaminya. "Kau tidak apa-apa, Kakang?"

"Tidak, Rayi... tidak kusangka wanita itu demikian liciknya."

"Benar, Kakang. Dan kesaktiannya pun tinggi."

"Terutama racun pada kuku dan sumpitnya. Itu sangat berbahaya."

"Lalu apa tindakan Kakang selanjutnya?"

"Aku akan mencari Nyai Loreng, Rayi."

"Kalau itu maumu, Kakang... aku akan tetap menemanimu..."

Pranata Kumala tersenyum. Lalu mengajak isterinya keluar dari sana untuk menyusuri jejak Nyai Loreng si penyebar mala petaka.

***
DELAPAN
Satu sosok berjubah putih dengan wajah arif dan bijaksana, melangkahkan kakinya dengan gerakan lambat. Matanya yang memancarkan sinar kebijaksanaan dan kasih sayang memperhatikan bangunan besar itu.

Bangunan itu dikawal oleh beberapa orang penjaga. Sosok berjubah putih itu mendesah. Lalu hati-hati dia mendekati bangunan yang tak lain tempat kediaman Juragan Seta Agung. Dua orang pengawal rumah itu menghampirinya dan saling menyilangkan tombak. Laki-laki berjubah putih itu tersenyum.

"Maaf... aku perlu bertemu dengan majikan kalian." Salah seorang pengawal yang berwajah seram, menyahut galak, "Siapa kau?" 

"Namaku... Madewa Gumilang."

"Hhh! Ada keperluan apa kau bertemu dengan majikan kami?"

"Aku telah mendengar kabar yang buruk, di mana seorang tokoh jahat yang bernama Nyai Loreng hendak menyerang ke sini..." kata sosok berjubah putih itu yang memang Madewa Gumilang alias Pendekar Bayangan Sukma.

Dia keluar dari Perguruan Topeng Hitam, perguruan silat yang dipimpinnya warisan dari Paksi Uludara (Baca: Dewi Cantik Penyebar Maut), hendak mengikuti petualangan putra dan menantunya. Karena selama ini salah seorang murid Perguruan Topeng Hitam yang mengikuti petualangan putera dan menantunya tidak pernah memberi kabar. Murid itu bernama Pratama (Baca: Pertarungan Para Pendekar).

Selama pencariannya Madewa Gumilang alias Pendekar Bayangan Sukma tiba di sebuah desa yang nampak hancur berantakan bagaikan dilanda angin topan yang amat dahsyat. Dari keterangan yang didapat, desa itu telah diporak-porandakan oleh seorang nenek iblis yang mengaku bernama Nyai Loreng yang memiliki senjata sumpit yang amat berbahaya dan beracun.

Dari keterangan itu pula, Madewa mengetahui kalau Nyai Loreng hendak menyerang dan membumiratakan rumah Juragan Seta Agung dan merampok seluruh emas permata yang dimiliki hartawan itu.

Itulah sebabnya Madewa segera menuju Desa Bojong Karta dan mencari rumah Juragan Seta Agung. Di antara rumah-rumah yang terdapat di sana, hanya sebuah yang nampak besar dan kaya. Dugaan Madewa, tentu itulah rumah milik Juragan Seta Agung.

"Hei, Madewa!" kata pengawal itu dengan congkak. "Jangan coba-coba untuk berbohong! Mana ada orang yang berani menyerang kediaman Juragan Seta Agung, hah?"

"Pengawal, aku tak punya banyak waktu! Biarkan aku menemui Seta Agung!" kata Madewa Gumilang.

"Tak semudah itu, Madewa! Kau..." pengawal itu menghentikan kata-katanya karena sosok tubuh di depannya mendadak menghilang. Dia kaget. Dan tak melihat Madewa telah melompati tubuhnya dan kini dengan santainya masuk ke bangunan besar itu. Pengawal tadi dari rasa sombong dan kaget berubah menjadi ketakutan. Dia melirik temannya yang juga tak kalah kagetnya. "Apa... apakah yang berdiri di hadapan kita tadi dedemit?"

"Aku... aku tidak tahu... sebaiknya kita menjaga saja lagi. Ah... untungnya dedemit itu tidak mengganggu kita."

Di dalam Madewa Gumilang tengah berhadapan dengan Juragan Seta Agung.

Seta Agung terbelalak ketika Madewa memperkenalkan dirinya.

"Madewa Gumilang? Pendekar Bayangan Sukma!" serunya kaget. Dia sudah lama mendengar nama pendekar budiman itu yang sering dijuluki manusia dewa. Dan dia merasa beruntung karena bisa bertemu dengan pendekar budiman itu. Tiba-tiba dia bangkit dari kursinya dan menjura hormat, "Salam hormat buatmu, Pendekar Budiman. Selamat datang di kediamanku ini..."

Melihat majikan mereka nampak menghormat, para pengawalnya pun ikut-ikutan menghormat. Madewa menjadi tidak enak dengan sambutan yang seperti itu.

"Seta Agung... aku datang hanya memperingatkan padamu... kalau ada seorang nenek iblis yang akan menyerang rumahmu ini. Dia bernama Nyai Loreng..."

"Nyai Loreng! Madewa... hei!" Seta Agung terperanjat karena sosok Madewa Gumilang sudah tidak nampak di matanya. Dia kagum luar biasa dengan kesaktian Pendekar Bayangan Sukma.

Dan dia pun percaya apa yang disampaikan Madewa tadi. Maka dia pun segera mengumpulkan para pengawalnya untuk berjaga di setiap penjuru.

***

Malam mulai larut. Dan rembulan nampak enggan untuk bersinar. Dia bersembunyi di balik awan hitam.

Satu sosok tubuh melompat dari satu dahan pohon ke dahan lain. Gerakannya lincah dan cepat. Sosok tubuh itu adalah Nyai Loreng.

Dia makin mendekati rumah milik Juragan Seta Agung. Dan tanpa menimbulkan suara, dia melumpuhkan satu per satu pengawal yang ada di sana dengan sumpitnya.

Namun tanpa setahunya, dua pasang mata melihat perbuatannya. Keduanya tak lain Pranata Kumala dan Ambarwati, yang langsung mengikuti Nyai Loreng secara diam-diam.

"Kita bekuk manusia iblis itu, Rayi," desis Pranata Kumala.

Sementara Nyai Loreng makin asyik beroperasi. Membunuhi para pengawal itu dengan sumpitnya. Ketika dia akan memasuki bangunan itu, terdengar bentakan,

"Nyai Loreng! Aksimu hanya sampai di sini saja!"

Nyai Loreng berbalik dan melihat Pranata Kumala dan Ambarwati di hadapannya.

Dia mendengus. "Hhh! Kalian rupanya memang ingin mampus!" desisnya marah.

Dan teriakan-teriakan itu menarik perhatian para pengawal di rumah Seta Agung. Begitu pula dengan Seta Agung. Dia melihat beberapa tubuh pengawalnya telah menjadi mayat. Dan di halaman ada tiga sosok tubuh yang sama sekali tidak dikenalnya. Namun begitu melihat pakaian yang dikenakan Nyai Loreng berwarna loreng mirip kulit harimau, dia dapat menduga siapa adanya nenek itu. Pasti dialah yang bernama Nyai Loreng!

"Nyai Loreng keparat!" serunya. "Dengan maksud apa kau menyatroni rumahku dan membunuhi para pengawalku, hah?!"

"Hihihi... Seta Agung... serahkan emas permata milikmu padaku! Cepat... bila tidak, akan kuratakan rumahmu ini dengan tanah!"

"Tidak semudah itu, Nyai Loreng!" kata Seta Agung berani.

"Hihihi... tikus kecil punya nyali juga rupanya!" bentaknya. Dan tiba-tiba sumpitnya bergerak dengan cepat. Dan pelurunya pun mendesing ke arah Seta Agung.

"Berguliiiiing!" terdengar seruan Pranata Kumala. Dan secara reflek Seta Agung menjatuhkan tubuhnya.

Pranata segera bersalto dua kali di udara dan menyerang Nyai Loreng. Nyai Loreng berbalik dan menyumpit.

"Sreet!"

Pranata tidak jadi untuk menyerang, dia melompat ke kiri, dan membalas dengan pukulan Sinar Merahnya.

Tiba-tiba terdengar seruan dari Seta Agung, "Kepung nenek itu dan tangkap!"

Beberapa pengawal setianya segera bergerak. Mengurung. Namun mereka hanya mengantarkan nyawa dengan sia-sia. Dengan santai dan ringannya Nyai Loreng menyumpit mereka satu per satu hingga tak ada yang tersisa. Semuanya mati dengan tubuh berdarah karena seluruh urat nadi mereka pecah.

Seta Agung menggeram marah separuh ngeri. Begitu pula dengan Pranata Kumala. Dia menjerit menerjang dengan hebat. Tetapi dari tempatnya, Nyai Loreng hanya menyumpit saja. Membuat Pranata lagilagi menghentikan serangannya.

Tiba-tiba Pranata teringat akan Seruling Naga. Seruling sakti pemberian ayahnya. Dia bermaksud hendak menggunakan seruling itu, namun di sini masih ada isterinya, Seta Agung dan putera serta isterinya Seta Agung. Ini sangat berbahaya karena bila mereka mendengar alunan suara seruling itu mereka bisa mati kelojotan dengan telinga yang mengalirkan darah.

"Hihihi... kini tibalah saatnya kau mampus, Pranata!" kata Nyai Loreng dan siap menyerang Pranata dengan peluru-peluru sumpitnya secara gencar.

Pranata pun menghindar dengan sebisanya. Sementara Ambarwati tidak berani maju untuk membokong karena di malam yang cukup gelap ini, peluru Nyai Loreng sangat sukar untuk diikuti oleh mata.

Mendadak suatu ketika Pranata terjatuh dan peluru-peluru sumpit Nyai Loreng siap untuk menjemput nyawanya.

"Kakaaaangg!" seru Ambarwati terkejut.

Pranata sendiri sudah sukar untuk menghindar. Tiba-tiba sebuah kain putih mengibaskan peluru-peluru Nyai Loreng.

Dan kain putih itu berubah menjadi sebuah jubah. Di hadapan Pranata Kumala kini berdiri satu sosok berjubah putih.

Pranata terkejut melihatnya dan berseru, "Ayah!"

Sosok itu memang Madewa Gumilang. Sebenarnya sejak tadi Madewa melihat perkelahian antara putranya dengan Nyai Loreng. Namun dibiarkan saja. Hingga ketika putranya sudah kewalahan dan terdesak tak mungkin menghindar, dia pun maju memapaki peluru-peluru Nyai Loreng dengan jubah putihnya. Nyai Loreng sendiri menggeram marah. "Orang berjubah putih! Siapa kau adanya?!"

"Aku... Madewa Gumilang, Nyai Loreng!"

"Madewa Gumilang!" ulang Nyai Loreng dengan suara yang terdengar terkejut. Tapi kemudian dia terkikik. Dia sudah lama mendengar tentang nama Madewa Gumilang, pendekar budiman yang sering dijuluki manusia dewa. "Hihihi... selamat berkenalan denganku, Madewa Gumilang... sudah lama kudengar namamu dan sudah lama pula aku ingin mencoba kesaktianmu, Madewa!"

"Ah, aku tidak sehebat yang kau kira, Nyai Loreng.

Aku hanyalah manusia biasa."

"Tidak percuma kau dijuluki pendekar budiman, Madewa. Sikapmu begitu arif dan merendah."

"Kau hanya mendengar namaku dari orang-orang saja, Nyai Loreng..."

"Madewa... sekali lagi kukatakan, aku sudah lama ingin mencoba kesaktianmu! Nah, terimalah tantanganku ini!" seru Nyai Loreng sambil menerjang hebat. Kedua tangannya terbuka. Kuku-kuku beracunnya siap untuk menghunjam.

Namun yang dihadapinya ini adalah manusia dewa, dengan mudah saja Madewa menghindari serangan berbahaya dari Nyai Loreng dengan jurus Ular Meloloskan Diri.

"Jangan hanya bisa menghindar saja, Madewa!"

"Nyai Loreng... kekejamanmu sudah nampak di mataku. Kau begitu telengas dan kejamnya! Baik, aku akan memberi pelajaran untukmu!" kata Madewa dan membuka jurus Ular Cobra Bercabang Tiga. Mendadak tangannya bergerak sangat cepat dan kelihatannya menjadi banyak. Nyai Loreng sendiri menghindar dan membalas. Madewa dapat merasakan hawa panas yang keluar dari kuku-kuku Nyai Loreng. Berarti kukukuku itu mengandung racun.

Madewa pun mengganti jurusnya dengan Pukulan Tembok Menghalau Badai. Nyai Loreng sendiri kaget ketika merasakan desiran angin yang kuat yang ditimbulkan oleh pukulan itu.

"Des!" suatu saat dadanya berhasil digedor oleh pukulan itu. Sadarlah kini Nyai Loreng akan kehebatan Pendekar Bayangan Sukma. Dia pun tak mau bertindak tanggung-tanggung lagi. Langsung dipasangnya sumpitnya dan dia pun mulai meniup menyerang Madewa.

Madewa menghindari serangan itu. Dengan ilmu Pandangan Menembus Sukmanya dia dapat melihat laju peluru-peluru itu hingga dengan mudah dia berhasil menghindar.

Hal ini membuat Nyai Loreng menjadi geram. Dia menghentikan menyumpitnya. Dan mengambil beberapa peluru yang terbuat dari emas. Keajaiban peluru itu bisa seperti mata, karena bila belum mengenai sasarannya, peluru itu akan mengejar terus.

Dan itu pun dialami oleh Madewa Gumilang. Dia menghindar ke mana pun peluru itu mengikutinya. Nyai Loreng terbahak. Madewa mendengus. Dia berpikir mengapa peluru ini bisa seperti mempunyai mata. Dan tiba-tiba sekali Madewa bergerak ke arah Nyai Loreng sementara peluru-peluru itu terus mengikutinya.

Nyai Loreng sendiri kaget. Dia bergerak ke kiri. Dan Madewa pun bergerak ke kiri. Dan secepat kilat dia bergulingan di tanah. Peluru yang mengikutinya itu begitu dekat jaraknya dengan Nyai Loreng. Dan tanpa ampun lagi peluru-peluru itu mengenai tuannya sendiri.

Terdengar pekikan keras yang menyayat hati.

Tidak lebih dari lima detik, tubuh itu telah menjadi hangus secara mengerikan. Madewa mendesah panjang. Lalu diambilnya sumpit di tangan Nyai Loreng. Dia mencoba memusnahkannya, namun gagal. Berkali-kali dia pukul sumpit itu tak pecah. Bahkan Pukulan Tembok Menghalau Badai pun sedikit juga tak membuat sumpit itu retak.

Madewa merasa sumpit itu harus dimusnahkan. Dan tiba-tiba dia merangkul kedua tangannya di dada hingga mengeluarkan asap berwarna putih. Itulah Pukulan Bayangan Sukma miliknya, pukulan pamungkas yang belum ada duanya di dunia persilatan. Dan dia pun mengayunkan tangannya ke arah sumpit itu.

Terdengar suara ledakan keras. Dan sumpit itu hancur berantakan.

Lagi Madewa mendesah. Lalu melangkah pada putra dan anak menantunya.

"Ayah!" seru Pranata dan Ambarwati bersamaan. "Ayah cuma minta... masihkah kalian hendak me-

neruskan petualangan kalian?"

"Sampai kapan pun, Ayah! Kami akan meneruskan petualangan ini!"

"Bila itu mau kalian, teruskanlah! Pesan ayah, hatihati!" Dan tubuh itu pun tiba-tiba menghilang, bagai ditelan bumi.

Pranata mendesah. Lalu menghampiri Seta Agung yang sedang meratapi mayat-mayat para pengawalnya. Setelah bercakap-cakap sebentar, lalu Pranata dan istrinya pun meninggalkan tempat itu.

SELESAI