Serial Pendekar Bayangan Sukma eps 10 : Gadis dari Alam Kubur

SATU
Suasana di tepi lereng Gunung Setan pagi itu, sunyi senyap. Seperti biasanya hanya terdengar suara desir angin dan kicauan burung. Lainnya tak ada. Mungkin hanya geresek dedaunan yang tertiup angin.

Gunung itu dipanggil Gunung Setan karena tempatnya yang menyeramkan sekaligus mengerikan. Sepertinya di gunung itu ada beberapa makhluk yang tak kelihatan dan siap mengganggu siapa saja.

Karena keseramannya itulah gunung itu dipanggil Gunung Setan.

Penduduk yang berdiam di sekitar gunung itu bila senja telah datang tak satu pun yang berani keluar rumah, sampai matahari muncul kembali keesokan harinya. Bagi mereka, lebih baik berdiam di rumah daripada terjadi apa-apa.

Dan di pagi yang cukup cerah ini, nampak tiga orang penunggang kuda mendekati lereng Gunung Setan. Ketiganya nampak lelah sekali. Melihat dari cara berpakaiannya yang ringkas dan pedang di punggung, mereka sepertinya orangorang rimba persilatan.

Ketiganya berhenti di depan sebuah warung kecil. Melihat kedatangan ketiga orang itu, membuat penduduk di sekitar sana bertanyatanya. Siapakah mereka?

Ketiga orang itu pun memasuki warung kecil itu. Dan memesan makanan dan minuman yang terlalu banyak untuk mereka bertiga. Namun kelihatannya mereka habis melakukan satu perjalanan yang cukup jauh. Karena hidangan yang banyak itu dapat mereka habiskan.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka berdiri. Dan berseru lantang, menarik perhatian orangorang yang sedang makan.

"Maafkan aku, Saudara-saudaraku! Siapakah gerangan yang bisa menunjukkan jalan menuju puncak Gunung Setan?!"

Sebagian besar orang yang sedang makan di warung itu, tahu jalan menuju puncak Gunung Setan. Namun tak satu pun yang menyahut. Mereka terus menikmati hidangan mereka saja. Seolah suara tadi tak pernah ada, bahkan tak pernah terdengar. Dan kata-kata orang itu tidak menarik perhatian mereka lagi.

Orang itu berkata lagi, "Barang siapa yang bisa menunjukkan jalan menuju puncak Gunung Setan, akan kami beri hadiah lima belas tail uang perak!"

Uang perak saat itu adalah jumlah yang sangat besar. Namun tak satu pun penduduk yang menyahut. Bagi mereka, pergi ke puncak Gunung Setan sama dengan mengantarkan nyawa dengan percuma.

Hmm, apa ketiga orang ini ingin mampus di sana? Atau sebenarnya mereka sudah bosan hidup?

Karena tak ada yang menyahut, ketiga orang itu pun segera membayar apa yang telah mereka makan. Lalu keluar dan menaiki kuda mereka kembali.

Ketiganya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian ilmu kanuragan yang lumayan. Mereka menamakan diri, Tiga Pedang Perak! Karena pedang yang berada di punggung masingmasing terbuat dari perak murni.

Tiba-tiba di hadapan mereka muncul satu sosok tubuh berperawakan sedang. Wajah orang itu jelek sekali. Dengan mata yang sebelah tertutup dan sebelah terbuka. Gigi orang itu pun keluar. Dia menyeringai pada Tiga Pedang Perak.

Salah seorang dari Tiga Pedang Perak yang bernama Banusura berkata, "Hei, orang jelek! Mau apa kau menghadang perjalanan kami?!"

Orang itu masih menyeringai.

"Maafkan aku, Tuan-tuan. Namaku Seto Mulia," kata orang itu sambil menjura.

"Hmm... Seto Mulia... katakan ada apa kau menghadang perjalanan kami?"

"Maafkan aku, Tuan-tuan. Tadi kudengar, Tuan-tuan tengah mencari orang untuk menunjukkan jalan menuju puncak Gunung Setan."

"Hmm, benar. Kau tahu orangnya?"

"Mudah sekali, Tuan."

"Katakan pada kami, siapa orangnya?" tanya Banusura sedikit gembira.

"Itu masalah gampang, Tuan-tuan. Tetapi... bagaimana dengan pembayarannya?"

"Lima belas tail uang perak."

"Terlalu murah. Jalan menuju Puncak Gunung Setan begitu susah."

"Berapa yang pantas?"

"Dua puluh tail uang perak dan seekor kuda."

"Pemeras!" terdengar yang berwajah cukup seram berseru. Dia bernama Abilaga.

Seto Mulia menyeringai.

"Bila Tuan-tuan tidak mau, aku tidak memaksa," katanya sambil berbalik.

"Hei, tunggu!" seru Banusura.

Orang itu berbalik dan kembali menyeringai.

"Bagaimana, Tuan?"

"Baik, dua puluh tail uang perak dan seekor kuda. Nah, katakan siapa orangnya?"

"Hehehe... dia tak jauh berada di dekat Tuan-tuan..."

Seto Mulia terkekeh.

"Hei, jadi kau sendiri?!" seru Banusura sedikit kaget.

"Benar, Tuan. Bagaimana? Setuju?"

"Benar kau tahu jalan menuju puncak Gunung Setan?"

"Tahu dengan pasti."

"Apa sangsinya bila kau tidak tahu?"

"Hehehe... leherku sebagai taruhannya. Dan aku pun tahu apa yang Tuan-tuan kehendaki di puncak Gunung Setan."

"Apa yang kau ketahui," kata Banusura yang merasa tengah berhadapan dengan manusia licik.

"Makam Eyang Ringkih Dewi... pendekar

wanita yang telah terkubur ratusan tahun di puncak Gunung Setan..."

Dan makin sadarlah Banusura akan kelicikan Seta Mulia. Dia berkata.

"Apa lagi yang kau ketahui?"

"Letak makam itu pun aku tahu, Tuan... dan dari semua penduduk yang ada di sini, hanya akulah seorang yang tahu semua itu. Karena aku sering mencari kayu di puncak Gunung Setan..."

Banusura mendesah. "Baik, kapan kau bisa mengantar kami?"

"Besok, pagi. Sebaiknya Tuan-tuan hari ini beristirahat saja. Di ujung jalan sana ada sebuah penginapan yang cukup murah."

"Baik, besok pagi kita melakukan perjalanan menuju puncak Gunung Setan."

Terdengar suara Seto Mulia terkekeh. "Bagaimana dengan bayaran itu, Tuan?"

"Besok kau akan mendapatkan separuh uang muka dari seluruhnya. Dan seekor kuda "

"Hehehe... aku minta sekarang, Tuantuan... saat ini aku sedang kalah berjudi. Kuminta uang muka sekarang... bila tidak, musnahlah harapan Tuan-tuan untuk datang ke puncak Gunung Setan dan mengambil sebuah cambuk sakti milik Eyang Ringkih Dewi "

Banusura mendesah. Orang ini agaknya tahu banyak tentang makam Eyang Ringkih Dewi dan cambuk Sutra Sakti. Banusura menjadi menaruh harap pada Seto Mulia.

Memang, kedatangan Tiga Pedang Perak ke Gunung Setan untuk menggali makam Eyang Ringkih Dewi, pendekar wanita yang perkasa, yang memiliki cambuk Sutra Sakti. Biarpun wanita itu dari golongan hitam yang sepak terjangnya amat mengerikan dan berbahaya, ketiga orang itu tidak takut. Bagi mereka bahkan, Eyang Ringkih Dewi seorang pendekar wanita yang gagah perkasa; Karena mereka sendiri adalah orang-orang dari golongan hitam.

Permintaan Seto Mulia pun disetujui. Banusura menyerahkan sepuluh tail uang perak padanya.

"Hehehe...!" Seto Mulia terkekeh. "Tuantuan tak usah khawatir aku akan melarikan diri. Rumahku di dekat sungai sana. Tidak susah mencariku. Anak dan istriku berdiam di sana....

Selamat pagi, Tuan-tuan... dan selama beristirahat "

Lalu laki-laki berwajah jelek itu berlalu sambil terkekeh meninggalkan Tiga Pedang Perak.

Abilaga yang sejak tadi jengkel mendengar kata-kata Seto Mulia berkata, "Hhh! Licik! Ini pemerasan namanya!"

"Tenanglah, Abilaga," kata Banusura. "Yang penting kita menemukan orang yang bisa menunjukkan jalan menuju puncak Gunung Setan."

"Benar kata-katamu, Banusura," kata Jagalila yang sejak tadi terdiam. "Untuk saat ini, yang membuat kita menurut pada orang itu, karena dialah kunci dari seluruh pencarian kita."

"Benar apa yang dikatakan Jagalila. Untuk sementara kita menurut saja dan memenuhi semua kemauan dari orang jelek yang mengaku bernama Seto Mulia."

"Lalu?" tanya Abilaga. Sebelum Banusura menjawab, Jagalila menyelak, "Lalu... bukankah kau telah punya rencana tersendiri, Banusura?"

Banusura terbahak. "Benar, Jagalila. Rencana itu telah tersusun matang di benakku. Dan semuanya akan kulaksanakan. Orang seperti dia tak akan pernah kuberi ampun. Setelah semuanya beres, kita bunuh dia!"

Lalu sambil terbahak, ketiganya menjalankan kuda mereka menuju ke penginapan. Begitu mereka masuk ke kamar yang mereka pesan, datang pula ke tempat itu dua orang wanita.

Yang seorang bertanya, "Tiga orang yang berpedang di punggung, memesan nomor berapa?"

Penjaga penginapan itu menyahut, "5."

"Terima kasih, kami pesan kamar nomor 6," kata wanita itu lagi. Lalu keduanya pun memasuki kamar yang telah mereka pesan.

Melihat dari gerak-gerik keduanya, agaknya mereka punya rencana tersendiri terhadap Tiga Pedang Perak. Karena berulangkali kedua wanita itu nampak keluar masuk kamar.

Menjelang senja, Keduanya mendengar pintu Tiga Pedang Perak terbuka. Nampak Abilaga keluar dari kamar itu. "Juwita... kau ikutilah dia!" kata wanita itu pada yang satu. Yang satunya lebih muda dan seorang gadis remaja. Wajahnya jelita. Usianya kira-kira baru 17 tahun.

"Baik, Bibi!" Lalu gadis yang bernama Juwita itu pun keluar dari kamarnya. Dan dengan hati-hati mengikuti ke mana perginya Abilaga.

Dan menjelang malam, dia baru kembali ke penginapan itu. Wanita yang lebih tua segera bertanya. "Bagaimana, Juwita?"

"Dia hanya membeli seekor kuda, Bibi "

"Hmm... barangkali untuk penunjuk jalan yang bermuka jelek itu. Juwita, sebaiknya kau tidur saja. Mungkin besok kita harus melakukan perjalanan yang cukup jauh "

Dua

Meskipun licik, Seto Mulia ternyata dapat dipercaya. Keesokan paginya, dia sudah menunggu di luar penginapan Tiga Pedang Perak.

Ketiga orang itu yang sudah bersiap pun keluar dari penginapan mereka. Seto Mulia tertawa melihat kini ada empat ekor kuda yang terikat di depan penginapan itu.

"Kita berangkat sekarang, Tuan-tuan?" tanya Seto Mulia.

"Lebih cepat lebih baik. Berapa lama yang kita butuhkan untuk tiba di sana?" tanya Banusura.

"Bila kita berangkat sekarang, besok pagi baru tiba di sana. Itu pun bila tanpa beristirahat."

"Baiklah kalau begitu. Kita berangkat saja sekarang."

Mereka segera naik kuda masing-masing. Dan tanpa setahu mereka, dua pasang mata memperhatikan kepergian mereka.

"Kita susul sekarang, Bibi?" tanya Juwita yang sudah tidak sabaran.

"Sabar saja, Juwita... biarkan keempat orang itu agak menjauh, baru nanti kita menyusul..." sahut Bibinya sambil tersenyum.

Sebenarnya kedua wanita itu adalah murid dan guru. Muridnya bernama Juwita, sedangkan gurunya bernama Dewi Kantilaras atau yang berjuluk Dewi Bunga Biru. Karena Dewi Kantilaras bersenjatakan bunga berwarna biru. Namanya sudah cukup dikenal di rimba persilatan.

Terdengar lagi suara Juwita berkata, "Kita sudah hampir sebulan mengikuti perjalanan Tiga Pedang Perak, Bibi. Dan kini kita tahu, mereka mempunyai penunjuk jalan menuju Puncak Gunung Setan. Apakah kita harus mengikuti mereka terus Bibi?" suara Juwita terdengar seperti keluhan.

Dewi Kantilaras, yang berusia kira-kira 35 tahun tersenyum lagi sambil memandang Juwita. Dia ingat sekali, 17 tahun yang lalu dia menemukan seorang bocah perempuan sedang menangis di tepi hutan. Sendirian. Dan bocah itu sepertinya sengaja ditinggalkan oleh orangtuanya.

Dewi Kantilaras yang saat itu baru berusia

18 tahun segera mengambilnya dan mengasuhnya. Dia pun mengajarkan ilmu silat pada bocah itu. Ketika Juwita berusia 15 tahun, Dewi Kantilaras menceritakan semua kejadian itu.

Juwita cuma menangis sesenggukan karena mengetahui bahwa dia ternyata bukan anak kandung dari wanita itu.

Atas suruhan Dewi Kantilaras sendiri, dia mengubah panggilannya menjadi bibi.

"Kalau itu maumu, baiklah, Juwita," kata Dewi Kantilaras sambil mengajak Juwita berjalan ke belakang penginapan itu. Di sana ada dua ekor kuda milik mereka.

Dengan lincah keduanya segera naik ke punggung kuda masing-masing dan menggebah kuda mereka untuk menyusul Tiga Pedang Perak dan Seto Mulia.

***
DUA
Gunung Setan memang menyeramkan. Menjelang senja, Tiga Pedang Perak dan

Seto Mulia telah menempuh separuh perjalanan. Nampak pula mereka cukup letih. Meskipun mereka menunggangi kuda, namun panas yang cukup menyengat membuat mereka menjadi agak kelelahan.

"Kita beristirahat saja dulu, Banusura..." usul Jagalila. "Baik! Seto, kita beristirahat dulu!"

Seto Mulia cuma mengangguk. Baginya, meneruskan perjalanan sekarang pun tak menjadi soal. Uang, sisa uang yang sepuluh tail lagi yang menjadi dambaannya sekarang. Baginya, dia tak perduli dengan makam Eyang Ringkih Dewi. Uang, uang itu dibutuhkannya!

Semalam dia kalah lagi di meja judi. Dan nafsu untuk bermain kembali menderanya. Judi baginya sudah mendarah daging. Dan nafsulah yang berperan pada semua ini. Bila kita sukar mengekang nafsu, hancurlah semuanya. Tetapi kebanyakannya orang lebih mudah diperbudak nafsu, daripada memperbudak nafsu. Inilah yang sebenarnya sangat membahayakan.

Bila kita sudah diperbudak nafsu, maka semuanya akan sulit dikekang. Dan kadang kita akan kesukaran untuk membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah.

Seperti Seto Mulia ini. Baginya nafsu adalah tuan dari segala tuan!!

Agak jauh dari sana, dua ekor kudapun berhenti. Kedua penunggangnya pun nampak kelelahan. Mereka pun beristirahat.

"Bibi..." bisik Juwita. "Ya?"

"Tempat ini menyeramkan sekali, Bibi "

"Kau takut, Juwita?"

"Sebenarnya, iya... tapi dekat Bibi, apa yang harus ku takuti?"

Dewi Kantilaras tersenyum. "Orang-orang memanggil gunung ini dengan sebutan Gunung Setan, karena keseramannya."

"Kita masih meneruskan perjalanan, Bibi?"

"Benar, Juwita. Aku sangat mengidam-ngidamkan cambuk Sutra Sakti, yang pernah dimiliki oleh Eyang Ringkih Dewi. Tokoh dari golongan hitam yang amat sakti..."

"Lalu rencana Bibi bagaimana?"

"Bila mereka sudah menemukan makam itu dan mendapatkan Cambuk Sutra Sakti, kita akan merebutnya, sekaligus membunuh mereka..."

Juwita cuma mengangguk saja. Dia tahu ilmu silat yang dimiliki oleh bibinya sekaligus gurunya ini sangat tinggi. Namun tiba-tiba terdengar keributan tak jauh dari tempat mereka.

Serentak keduanya melihat. Di tempat istirahatnya, nampaklah Tiga Pedang Perak sedang bertempur melawan seorang kakek yang bersenjatakan tongkat berkepala buaya.

Dewi Kantilaras berdesis, "Hmm... Siluman Dewa Buaya... rupanya dia pun berniat untuk mendapatkan Cambuk Sutra Sakti..."

"Siapakah Siluman Dewa Buaya, Bibi?" tanya Juwita yang sangat tertarik. Berulang kali dia melihat pertempuran dan telah berulang kali pun dia terlibat pertempuran, namun kali ini yang dilihatnya nampak begitu hebat. Diam-diam dia kagum dengan kakek bertongkat kepala buaya itu yang masih bisa mengimbangi tiga serangan dari pengeroyoknya yang telah mencabut pedang masing-masing.

"Sebenarnya... tak seorang pun yang tahu nama asli Siluman Dewa Buaya. Orang hanya tahu dia seorang kakek sakti yang berdiam di Sungai Buaya. Dan menjadi dewa para buaya. Kesaktiannya amat tinggi. Dan kekejamannya sama dengan buaya, tak mengenal ampun bagi siapa pun. Dan agaknya dia pun tertarik dengan Cambuk Sutra Sakti..." kata Dewi Kantilaras. Lalu terdengar desahannya.

"Kenapa, Bibi?"

"Agaknya kita mempunyai penghalang pu-

la..."

"Bibi takut?"

Dewi Kantilaras tersenyum. "Aku tak per-

nah takut dengan siapa pun, Juwita..."

Di tempat beristirahatnya, memang Tiga Pedang Perak tengah bertarung hebat melawan seorang kakek yang bersenjatakan tongkat dan di ujung tongkat itu berbentuk kepala buaya.

Mereka sendiri tidak menyangka ketika mendadak beberapa senjata rahasia mendesing ke arah mereka. Dan serentak ketiganya bersalto. Hanya Seto Mulia yang kebingungan mengapa mendadak saja ketiganya melompat ke depan.

Dan dia baru mengetahui jawabannya ketika di hadapan mereka berdiri seorang kakek berwajah tirus dengan tubuh kurus kerempeng. Kakek itu menyeringai dan terkekeh.

Tiga Pedang Perak tahu siapa kakek itu. Dan mereka pun menjadi siaga. Dalam hati mereka mengumpat kesal, karena berarti perjalanan mereka ini telah dicium oleh orang-orang rimba persilatan.

Dan mereka tak mau banyak cakap lagi, serentak ketiganya maju menerjang Siluman Dewa Buaya yang cuma terkekeh saja.

Dan menyambut serangan pedang perak mereka dengan tongkatnya.

"Hehehe... rupanya kalian tidak suka melihat kemunculanku ini..." terkekeh Siluman Dewa Buaya sambil menangkis serangan-serangan yang datang.

"Siluman Dewa Buaya! Lebih baik kau menyingkir saja dari sini!" geram Banusura sambil terus mencoba mendesak.

"Hehehe... mengapa mesti ada larangan seperti itu, Banusura?"

"Karena kami menginginkan nyawamu!"

"Hehehe... biar tak ada penghalang bagimu untuk mendapatkan Cambuk Sutra Sakti, bukan? Hehehe... mengapa tidak kau ajak sekalian saja aku, Banusura?"

"Kakek siluman!" terdengar dengusan Abilaga yang panasan namun polos dan jujur. "Kami tak ingin membunuhmu sebenarnya, namun kau sudah menampakkan diri dan sepertinya siap untuk mati sekarang!!"

"Hehehe... Abilaga.. apakah kau dan kedua temanmu itu mampu untuk mengalahkan aku?" terkekeh lagi si kakek. "Atau... kalian yang harus mampus hari ini di tanganku?"

"Keparaaat!!" terdengar bentakan Jagalila sambil bersalto melewati kedua temannya dan menghunus pedang peraknya ke arah jantung Siluman Dewa Buaya.

Siluman Dewa Buaya cuma terkekeh. Dan bergerak menangkis dengan tongkatnya.

"Traaak!"

Terjadi benturan antara pedang perak di tangan Jagalila dan tongkat berkepala buaya milik Siluman Dewa Buaya.

Tubuh Jagalila mendadak terlontar ke belakang. Dia merasakan tangannya bergetar. Seperti pula pedangnya yang dirasakannya seperti menghantam tembok besar. Bila bukan tongkat yang telah dialiri tenaga dalam itu dengan mudah saja terpatah menjadi dua bagian. Tetapi tongkat itu telah dialiri tenaga dalam yang kuat, di samping terbuat dari bambu yang sangat langka.

Siluman Dewa Buaya terkekeh. "Hehehe... lebih baik kalian membunuh diri di depanku sebelum aku makin tega dan menurunkan tangan telengas kepada kalian!" desisnya menyebar maut. "Hhh!" Banusura mendengus. "Kami, Tiga Pedang Perak yang akan mengambil nyawamu, Si-

luman Dewa Buaya!"

"Hehehe... lebih baik kalian cepatlah membunuh diri dan tak perlu banyak omong lagi!"

"Kau yang jeri rupanya!"

"Hehehe... biasa, orang mau mati selalu banyak omong!"

"Anjing buduk! Tahan serangan!!" geram Banusura memaki keras. Dia bukan main jengkelnya melihat kenyataan ini. Dan dia tak pernah menyangka ada yang membuntuti perjalanan mereka. Bila terjadi seperti ini bukankah yang membuntuti lebih enak?

Makanya kini dia menyerang dengan penuh amarah dan membabi buta. Namun Siluman Dewa Buaya begitu tangguh. Tongkatnya bergerak dengan cepat dan kadang menderu dengan hebat. Tongkat itu kadang menusuk, menotok, memukul, menangkis dan menampar. Benar-benar satu pertunjukkan permainan tongkat yang hebat tengah ditampilkan oleh Siluman Dewa Buaya.

Dan sebentar saja Banusura terdesak. Hingga suatu ketika kakinya terhantam tongkat Siluman Dewa Buaya hingga dia sempoyongan.

Dan dengan satu jeritan yang cukup kuat, Siluman Dewa Buaya bertekad untuk menghabisi Banusura. Dia menerjang dengan mengayunkan tongkatnya ke kepala Banusura.

Tiba-tiba terjadi benturan keras. "Traaaak!!"

Ayunan tongkat Siluman Dewa Buaya tidak mengenai sasarannya. Malah menghantam pedang perak milik Abilaga yang menangkis untuk menyelamatkan nyawa kawannya.

Siluman Dewa Buaya bersalto ke belakang. Belum lagi dia hinggap di bumi, Jagalila sudah menderu maju dengan pedang terhunus.

Siluman Dewa Buaya tak mau dirinya dijadikan sasaran empuk pedang perak milik Jagalila. Dengan satu gerakan yang fantastis, Siluman Dewa Buaya menangkis pedang itu dan melenting kembali ke belakang dengan bantuan tongkatnya yang dijadikan sebagai tumpuan untuk mengayunkan tubuhnya.

"Hehehe.... ternyata kalian memang nekat sekali!" terkekeh Siluman Dewa Buaya begitu hinggap di bumi. "Bagus! Aku pun tak ingin tanggung-tanggung lagi bermain-main dengan kalian! Nah, kali ini tahan serangan! Tongkat Buaya Mengejar Mangsa!"

Lalu Siluman Dewa Buaya pun menerjang kembali. Kali ini tongkatnya bagaikan memiliki mata untuk menyerang lawannya. Begitu cepat, tangguh dan berbahaya.

Abilaga dan Jagalila berusaha menahan serangan-serangan tongkat Siluman Dewa Buaya. Namun mereka bagaikan telah terkurung oleh arus desiran angin yang cukup kuat, yang ditimbulkan oleh desingan dari tongkat itu.

Banusura sendiri tak bisa berbuat banyak, karena kakinya begitu sakit sekali. Dan sukar untuk diajak berjalan. Ayunan tongkat Siluman Dewa Buaya telah mematahkan tulang keringnya. Kini dia tengah mengalirkan tenaga dalamnya.

Keringat terlihat bercucuran di wajah dan sekujur tubuhnya.

Perlahan-lahan matahari mulai membenamkan diri, seolah enggan untuk melihat pertunjukan darah yang sebentar lagi akan bersimbah. Dan tiba-tiba terdengar pekikan Siluman Dewa Buaya. Tubuhnya mendadak bersalto dua kali ke udara. Dan tongkatnya siap menyapu kepala dari Abilaga dan Jagalila.

Sebisanya keduanya menghindar dan menangkis, Abilaga berguling menghindarkan diri. Sedangkan Jagalila langsung melompat ke kiri.

Serangan yang berbahaya itu luput mengenai sasarannya. Namun bagi Siluman Dewa Buaya ini sudah bukan main-main lagi. Dia pun tak mau bertindak tanggung lagi.

Masih bersalto di udara dia melentingkan kembali tubuhnya. Dan mendekati Banusura yang sudah duduk terdiam mengaliri tenaga dalamnya.

Tongkat Siluman Dewa Buaya pun siap untuk menerkam mangsanya.

"Crasss!"

Tanpa ampun lagi tombak itu menghantam kepala Banusura hingga pecah. Terdengar pekikan yang merobek alam sekitar dengan keras.

Lalu tubuh itu pun ambruk. Sementara Siluman Dewa Buaya telah berdiri tegap di bumi dengan gagah. Dan terkekeh yang membuat Abilaga dan Jagalila menjadi murka. Mereka seakan melupakan keadaan Banusura yang sudah kepayahan. Dan mereka tak bisa lagi untuk menolong Banusura.

Kini matilah salah seorang dari Tiga Pedang Perak yang tangguh.

Dan melihat kenyataan itu, Abilaga dan Jagalila pun semakin murka. Keduanya menderu maju dan untuk membalas kematian Banusura.

"Kami akan mengadu jiwa denganmu, Siluman keparat!" gertak Abilaga sambil mengayunkan pedangnya dengan hebat.

Begitu pula dengan Jagalila yang tak mau ketinggalan untuk ambil bagian membalas kematian Banusura. Pedang perak di tangannya berkelebat dengan hebat mencari sasaran.

"Hehehe.. kalian cepatlah membunuh diri dengan jalan menusukkan pedang kalian ke jantung kalian!" kata Siluman Dewa Buaya sambil terkekeh.

"Laknat! Kau harus membayar dengan jiwamu, Siluman keparat!!"

"Hehehe... keluarkanlah segenap kemampuanmu! Aku pun sudah jenuh untuk bertarung lebih lama! Nah, kalian layani jurus tongkatku yang satu ini. Tongkat Buaya mencari Buruan!"

Dan tongkat itu pun makin hebat bergerak. Penuh tenaga dan berbahaya. Hingga suatu saat, kedua lawannya berada dalam kepungan tongkat itu.

Tak ada jalan lain, Abilaga dan Jagalila mencoba untuk menerobos kepungan tongkat yang bergerak dengan cepat itu!!

*** 
TIGA
"Heeeeiiiiit!!" keduanya memekik keras mencoba menerobos. Pedang perak di tangan masing-masing siap untuk melindungi tubuh masing-masing.

Namun kepungan tongkat Siluman Dewa Buaya memang sulit untuk ditembus. Tetapi keduanya telah nekat. Bagi mereka lebih baik mati berkalang tanah daripada membunuh diri

Kejadian yang nekat itu pun terjadi.

Dua tubuh itu menderu melesat mencoba menerobos kepungan tongkat yang bagaikan seribu.

"Des!"

"Des!"

Dua sosok tubuh mencelat dari kepungan tongkat yang jadi bagaikan seribu. Dan tubuh kedua itu pun muntah darah lalu ambruk dengan nyawa melayang.

Deruan tongkat itu berhenti. Siluman Dewa Buaya terkekeh.

"Hehehe... tak satu pun yang berhasil menembus pertahanan ku ini. Dan tak seorang pun yang akan berhasil. Tak akan pernah berhasil "

Sementara itu Seto Mulia yang menyaksikan pertarungan yang mendebarkan itu beringsut-ingsut ketakutan. Dia ngeri melihat kematian tiga orang yang menyewa jasanya itu. Dan lebih ngeri ketika teringat tinggal dia kini seorang. Tentunya Siluman Dewa Buaya akan menjadikannya penunjuk jalan menuju Puncak Gunung Setan.

Dugaannya memang benar, karena kini kepala Siluman Dewa Buaya menoleh padanya. Sepasang matanya yang cekung menatap tajam.

Tiba-tiba terdengar kekehannya.

"Hehehe... kau tak bisa melarikan diri dariku orang jelek! Ayo cepat kau katakan jalan mana yang harus kutempuh untuk menuju puncak Gunung Setan?"

Seto Mulia menelan ludahnya. Kengerian itu semakin merambat. Mengerikan.

"Aku.."

"Ya, kau bertugas untuk mengantarkan aku ke puncak Gunung Setan! Mengerti?!"

Tak bisa Seto Mulia menolak lagi. Segala kelicikannya telah lenyap. Dia ngeri melihat kakek bermata cekung itu membunuhi orang-orang itu dengan mudahnya. Dan kini mau tak mau dia harus menuruti perintah kakek itu.

"Iya... ya, Tuan..." katanya tersendat, takut-takut.

"Tuan? Heheheh... bagus, bagus... panggil aku Tuan... hehehe... Tuan, tuan..." Siluman Dewa Buaya bersorak gembira seperti anak kecil mendapat permen. Bahkan dia menari-nari.

Di tempat persembunyiannya, Dewi Kantilaras dan Juwita tersenyum geli melihat tingkah kakek itu. Mereka tadi cukup kaget ketika melihat Tiga Pedang Perak dengan mudah dikalahkan oleh kakek itu. Tetapi mengingat betapa kejam dan telengasnya kakek itu menurunkan tangan, membuat Juwita sedikit bergidik. Namun begitu dilihat gurunya nampak tenang saja dia pun mencoba untuk tenang.

"Dia kejam sekali, Bibi...." akhirnya keluar pula kata-kata yang ditahannya.

"Ya... orang-orang rimba persilatan sudah tahu betapa kejamnya kakek gila itu... Dia tak akan pernah melepaskan musuhnya bila belum mati..." sahut Dewi Kantilaras.

Lalu keduanya memperhatikan lagi Siluman Dewa Buaya yang tengah berkata pada Seto Mulia.

"Sekarang juga berangkat ke sana!"

"Tapi... aku lelah sekali..." sahut Seto Mulia takut-takut,

"Lelah? Hehehe... lelah, kau lelah, ya?" terkekeh kakek itu. Dan tiba-tiba dia membentak, "Ayo cepat! Atau ku paksa kau seperti orangorang yang telah jadi mayat itu, hah?!"

Seto Mulia bagaikan disengat lebah mendengar suara yang keras menggelegar itu. Memang tak ada pilihan lain. Meskipun lelah menderanya, dia menaiki kembali kudanya. Siluman Dewa Buaya pun menaiki salah seekor kuda yang ada di sana.

Sementara itu Juwita tengah berkata pada Dewi Kantilaras.

"Mereka pergi lagi, Bibi "

"Benar. Pasti Siluman Dewa Buaya telah memaksa orang jelek itu."

"Lalu sekarang kira bagaimana, Bibi?"

"Maumu?"

"Aku tidak mau bertindak setengahsetengah lagi, Bibi."

"Maksudmu?"

"Kita ikuti saja mereka sekarang juga, Bibi."

Dewi Kantilaras tersenyum.

"Bagus! Kau memang gadis yang pemberani, Juwita!" kata Dewi Kantilaras sambil melompat menaiki kudanya. Disusul dengan Juwita.

Lalu keduanya pun menjalankan kudanya mengikuti kuda-kuda yang bergerak di depan. Malam pekat. Untunglah purnama bersinar dengan terang.

***

Mentari di ufuk timur sana sudah menampakkan bias kemerahannya. Tanda sebentar lagi kemunculannya akan tiba dan mulai tugas rutinnya menerangi seluruh jagat raya.

Sebagian sinarnya pun mulai menerangi bagian puncak dari Gunung Setan. Nampak dua orang penunggang kuda menjalankan kudanya secara perlahan, menapaki bagian-bagian jalan yang cukup terjal. Bila tidak hati-hati dan penuh perhitungan bisa terjungkal, terguling ke bawah.

Agaknya Seto Mulia memang sudah mengenali jalan itu. Dia dengan mudah saja memapakinya. Walaupun tubuhnya terasa letih dan matanya amat mengantuk, dipaksakannya juga untuk terus. Di belakangnya Siluman Dewa Buaya nampak masih dalam keadaan segar bugar.

Beberapa puluh meter dari mereka, nampak Dewi Kantilaras dan Juwita menjalankan kudanya secara hati-hati pula.

Berulangkali Dewi Kantilaras berseru hatihati pada Juwita yang nampak sudah mengantuk. "Hati-hati, Juwita! Kau harus berkonsentrasi penuh bila tidak ingin celaka!"

"Iya, Bibi!"

Juwita mencoba mengalirkan hawa murninya ke kedua matanya untuk mengusir rasa kantuknya. Memang tubuhnya sudah penat sekali. Beberapa saat kemudian, saat matahari telah muncul, terdengar seruan Seto Mulia,

"Kita telah tiba di puncak Gunung Setan, Tuan!"

Siluman Dewa Buaya terkekeh.

"Hehehe... bagus, bagus. Nah, sekarang tunjukkan di mana makam Eyang Ringkih Dewi berada!"

"Saya... saya tidak tahu, Tuan..." kata Seto Mulia mencoba menghindar, karena dia tahu kakek itu amat kejam sekali. Satu pikiran ada di benaknya. Bila dia memberitahukan di mana makam Eyang Ringkih Dewi berada, belum tentu dia akan mendapatkan upah dari petunjuknya ini. Malah Seto Mulia berpikir, dia akan dibunuh setelah semua ini selesai. Makanya dia mencoba untuk berbohong.

Namun Siluman Dewa Buaya jelas tidak mau menerima begitu saja. Tongkatnya tiba-tiba bergerak.

"Tuk!"

Ujung tongkat itu telah menotok tubuh Seto Mulia hingga tak bisa bergerak.

"Hehehe... benar kau tidak tahu, Orang je-

lek?"

"Ia.. iya, Tuan..." kata Seto Mulia yang me-

rasa tubuhnya amat sukar untuk digerakkan. Dia merasa tersiksa sekali.

"Bagus! Kalau begitu biar aku yang cari sendiri! Dan kau tak akan pernah kulepaskan dari totokkan itu! Biar kau mampus dipatuk ular di tempat yang menyeramkan ini, dan kaku selamalamanya!"

Wajah Seto Mulia pias. Memerah.

Dan ketakutan. "Aku... aku..."

"Hehehe.. kau sesungguhnya tahu, bukan? Nah, cepat tunjukkan! Bila tak ingin melihat aku marah dan menyiksamu!"

Tidak ada lagi yang bisa diperbuat Seto Mulia. Bila dia tahu semuanya akan berakhir seperti ini, tak pernah dia mau menerima pekerjaan sebagai petunjuk jalan dari Tiga Pedang Perak. Biar dengan upah sebesar apa pun!

Tapi mau apa lagi?

Semua sudah terjadi dan dia tak mungkin dapat melepaskan diri lagi.

Takut-takut dia mengangguk. "Iya... iya, Tuan "

"Hehehe..." tongkat itu bergerak lagi, "Tuk!" dan terbebaslah Seto Mulia.

Lalu dengan teramat terpaksa, Seto Mulia pun menunjukkan makam Eyang Ringkih Dewi. Ternyata letaknya di dalam sebuah goa yang terdapat di puncak Gunung Setan. Goa itu cukup menyeramkan. Dengan sedikit dipaksa, Seto Mulia mengikuti Siluman Dewa Buaya memasuki goa itu.

Siluman Dewa Buaya terkekeh begitu melihat sebuah makam yang telah jelek dan rusak. Batu nisannya tak ada sama sekali. Bahkan makam itu hampir rata dengan tanah. Bau lumut menguap dari dinding goa.

"Benar ini makam Eyang Ringkih Dewi, Orang jelek?" tanyanya.

"Be... benar, Tuan... Sayalah yang pertama kali menemukan makam ini."

"Bagus! Bagus! Hehehe... Cambuk Sutra Sakti akan menjadi milikku dan akulah yang menjadi penguasa di rimba persilatan ini!!"

Lalu dengan gerakan tongkatnya, Siluman Dewa Buaya mulai menggali makam itu. Seto Mulia cuma memperhatikan dengan perasaan ngeri. Pertama ngeri karena takut pada Siluman Dewa Buaya. Kedua ngeri karena akan melihat mayat yang telah terpendam ratusan tahun yang lalu.

Bukankah ini suatu pemandangan yang mengerikan?!

Dan dia bergidik ngeri ketika kedua tangan Siluman Dewa Buaya mengangkat mayat yang telah ratusan tahun terkubur itu.

Bau busuk menguap dari tubuh mayat itu. Menyebarkan aroma yang tidak sedap. Menyengat. Teramat menyengat. Seluruh tubuh mayat itu telah rusak. Mengerikan. Dan teramat mengerikan.

Seto Mulia langsung muntah karena bau busuk yang tak kepalang tanggung baunya.

Dia langsung berlari keluar goa untuk menghirup udara segar. Dan dia masih muntahmuntah kembali.

Tak lama kemudian muncul Siluman Dewa Buaya sambil membopong mayat yang telah rusak dan membusuk itu. Di bahunya terdapat sebuah cambuk yang bagus sekali. Tangkai cambuk itu terbuat dari baja yang amat kuat. Sedangkan bagian surainya terbuat dari sutra yang indah sekali. Namun meskipun terbuat dari sutra yang nampak lembut, sebuah batu besar pun dapat hancur digebah oleh cambuk itu.

Bahkan sebuah senjata pusaka pun akan pecah berantakan bila terhantam cambuk itu. Itulah Cambuk Sutra Sakti milik Eyang Ringkih Dewi, tokoh dari golongan hitam yang hidup ratusan tahun yang lalu.

Di tempat persembunyiannya, Dewi Kantilaras mendesah melihat Cambuk Sutra Sakti berada di tangan Siluman Dewa Buaya. Cambuk yang diimpi-impikannya untuk dijadikan senjata andalannya.

Dia harus merebut senjata pusaka itu sekarang juga.

Lalu katanya pada Juwita, "Juwita... Bibi akan merebut Cambuk Sutra Sakti dari tangan Siluman Dewa Buaya sekarang..."

"Tapi Bibi..."

"Kau tunggu di sini saja."

"Bukankah Bibi masih lelah?"

Dewi Kantilaras tersenyum. Merasa senang diperhatikan oleh anak angkat sekaligus muridnya itu,

"Tenanglah. Bibi sanggup menghadapinya."

"Kalau begitu, biar aku bantu, Bibi."

"Tidak usah. Kau di sini saja," setelah berkata begitu, Dewi Kantilaras bersalto dari kudanya.

Beberapa kali tubuhnya berputar di udara, dan hingga di depan Siluman Dewa Buaya yang teramat terkejut. Tetapi dia cuma terkekeh.

"Hehehe... Dewi Bunga Biru rupanya yang telah hadir di tempat ini..."

"Hhhh!!" sepasang mata Dewi Kantilaras bersinar penuh perhitungan, "Kakek peot, cepat kau serahkan cambuk sakti itu padaku!!"

"Serahkan? Hehehe... tak semudah yang kau kira, Dewi..."

"Kakek peot! Jangan banyak omong! Kuminta serahkan padaku Cambuk Sutra Sakti itu!"

"Hehehe.... tak mudah, Dewi... tak mudah untuk mendapatkan cambuk sakti ini dari tanganku "

"Rupanya kau sudah bosan hidup, Siluman Buaya darat!"

"Hehehe.... atau kau yang telah bosan hidup, Dewi! Aku sudah tahu bahwa kau dari pertengahan jalan menuju puncak Gunung Setan ini telah menguntit aku, bukan? Hehehe.... kau tak bisa mungkir, Dewi! Nah, apa kau ingin seperti Tiga Pedang Perak, hah?"

Dewi Kantilaras terdiam. Dia baru menyadari kalau Siluman Dewa Buaya telah mengetahui dirinya diikuti olehnya dan Juwita.

Terdengar lagi suara Siluman Dewa Buaya terkekeh, "Hehehe... di mana temanmu yang cantik itu, hah? Aku sebenarnya sudah tidak tahan untuk melihatnya lagi dan mencicipi kehangatan tubuhnya "

"Busuk sekali mulutmu, Kakek peot!" geram Dewi Kantilaras dengan wajah memerah.

"Hehehe... kau tentunya marah karena aku tak berminat denganmu, bukan? Sabarlah, Dewi... nanti pun kau akan kuberikan kehangatan! Hehehe "

Wajah itu semakin memerah. Dan kemarahannya pun mulai naik.

"Mulut busuk! Cepat kau serahkan Cambuk Sutra Sakti itu, bila tidak... kau akan mampus di pagi ini! Dan Puncak Gunung Setan menjadi kuburanmu untuk selama-lamanya!"

"Hehehe... tak semudah itu, Dewi Hehehe.. nah, kau cobalah!"

"Kakek jelek!" maki Dewi Kantilaras dengan berang. Tiba-tiba tangannya bergerak ke depan.

***
EMPAT
Tiga buah bunga senjata rahasianya yang berwarna biru melesat deras ke arah Siluman Dewa Buaya. Bunga berwarna biru itu mengandung racun yang amat mematikan. Jangankan menancap di tubuh lawan, terserempet saja sudah amat berbahaya.

Siluman Dewa Buaya tahu soal itu. Dan dia pun tak mau dirinya dijadikan sasaran dengan empuk senjata rahasia milik Dewi Bunga Biru.

Masih membopong mayat Eyang Ring kih Dewi yang rusak dan busuk itu, dia bersalto menghindar sambil terkekeh, "Hehehe... rupanya kau tak sabaran juga, Dewi... Hehehe... pemberang pula?"

"Kakek peot! Jangan banyak omong lagi!

Lihat serangan!"

Tubuh Dewi Kantilaras menderu dengan cepat. Kedua tangannya yang telah dialiri tenaga dalamnya, tertuju pada wajah dan dada Siluman Dewa Buaya.

Dengan satu gerakan yang amat cepat dan sukar diikuti oleh mata, Siluman Dewa Buaya meletakkan mayat Eyang Ringkih Dewi dan dia sendiri bersalto ke samping hingga serangan Dewi Kantilaras luput dari sasarannya.

Melihat serangannya gagal, Dewi Kantilaras pun menyerang kembali. Kali ini lebih hebat dan dahsyat, berbahaya.

Siluman Dewa Buaya pun kali ini tidak hanya menghindar. Dia pun mulai membalas dengan gebukan tongkat berkepala buaya pada ujungnya.

Di puncak Gunung Setan itu pun terjadi pertarungan yang teramat berbahaya dan mengerikan. Kedua tokoh jago rimba persilatan ini tak kenal ampun lagi. Keduanya, saling serang dan menangkis.

Hebat. Cepat. Berbahaya,

Dan sekaligus mengerikan.

Seto Mulia sendiri hanya berdiri kaku melihat perkelahian yang mendebarkan itu. Dia tak mampu lagi untuk berpikir melarikan diri. Tubuhnya mendadak kaku. Hanya memperhatikan jalannya pertarungan itu dengan tegang.

Di tempat persembunyiannya, Juwita sendiri tak bisa menahan debaran hatinya melihat pertarungan itu.

Dia mendesah dan berdoa semoga gurunya memenangkan pertarungan. Namun agaknya untuk menang susah, karena mengimbangi Siluman Dewa Buaya yang bergerak cepat dengan tongkatnya telah memusingkan Dewi Kantilaras.

Dewi Kantilaras pun sudah membuka jurus barunya, Bidadari Menyebar Bunga. Hingga gerakannya dengan cepat berputar, melompat, bersalto dan memburu.

Siluman Dewa Buaya pun sudah membuka permainan tongkatnya. Tongkat Buaya Mengejar Mangsa, yang membuat Dewi Kantilaras harus bertindak penuh perhitungan. Dia pun tak mau dirinya dijadikan sasaran tongkat itu. Meskipun dirinya terkepung, Dewi Kantilaras masih memainkan jurus Bidadari Menyebar Bunganya. Dan mendadak saja tubuhnya melenting dan tangan kanannya bergerak.

Tiga bunga biru yang mengandung racun itu berkelebat mengejar Siluman Dewa Buaya.

Namun satu pertunjukan permainan tongkat yang amat hebat pun diperlihatkan oleh Siluman Dewa Buaya.

Tongkatnya bergerak dengan cepat memapaki tiga senjata rahasia milik Dewi Kantilaras.

"Cep!"

"Cep!"

"Cep!"

Dan ketika Siluman Dewa Buaya berdiri tegak dengan tongkat di tangan, nampaklah tiga bunga biru itu telah menancap di tongkat miliknya.

"Hehehe...kau lihat, Dewi... sia-sia belaka kau membuang-buang senjata rahasiamu!"

Kalau mau jujur, secara diam-diam Dewi Kantilaras pun kagum dan salut dengan permainan tongkat yang diperlihatkan oleh Siluman Dewa Buaya. Yang begitu cepat dan hebat.

Tetapi sudah tentu dia tak mau menunjukkan kekagumannya. Dia malah mendengus melecehkan.

"Hhh! Tongkat untuk memukul anjing saja kau perlihatkan padaku, Buaya Darat!!"

Wajah Siluman Dewa Buaya memerah. Lalu katanya sambil memutar-mutar tong-

katnya hingga menimbulkan suara gemuruh, dia berkata, "Kalau begitu baiklah, Dewi... kau akan melihat sampai di mana kehebatan tongkatku ini! Aku tadi kagum kau bisa meloloskan diri dari jurus Tongkat Buaya Mengejar Mangsa! Nah, kau sambutlah jurusku yang berikut ini! Tongkat Menggapai Matahari!!"

Setelah berkata begitu, Siluman Dewa Buaya pun kembali menyerang Dewi Kantilaras dengan cepat dan gencar. Permainan tongkatnya kali ini begitu hebat. Seolah tongkat itu menjadi seribu. Dan setiap kali berdesing, Dewi Kantilaras merasakan hawa panas yang keluar dari tongkat itu.

"Heit!" bentaknya sambil bersalto ketika tongkat itu mengancam kedua kakinya. Namun tanpa diduganya, tongkat itu terus memburunya yang masih melayang di udara.

Dewi Kantilaras sejenak kaget dan bingung, namun dengan cepat dia melempar tiga bunga birunya. "Sing!"

"Sing!"

"Sing!"

Siluman Dewa Buaya yang tengah memburu, mengurungkan niatnya. Dan menangkis tiga bunga biru itu hingga terpental.

Sementara Dewi Kantilaras telah berdiri tegap di bumi. Kedua kakinya terbuka. Dia mendesis mendebarkan, "Kau terimalah jurusku ini, Siluman Dewa Buaya! Bidadari Memetik Bunga!!"

Lalu dengan satu pekikan yang cukup keras, tubuh Dewi Kantilaras menderu kembali. Angin yang ditimbulkan dari kelebatan tubuhnya menerpa Siluman Dewa Buaya cukup terkejut pula. Namun tak ada jalan lain baginya untuk menghindar lagi. Dia pun memekik keras memapaki serangan dari Dewi Kantilaras.

"Haaaaiiiiiittttt!!!!"

Dua pekikan terdengar keras.

Dan dua benturan yang hebat pun tak terelakkan lagi.

"Duaaaarrr!!"

Dua benturan dari tenaga dan jurus yang tangguh pun terjadi dan menimbulkan suara seperti ledakan. Debu-debu di sekitar sana berterbangan dan daun-daun pun berguguran.

Dan dua sosok tubuh itu pun terpental ke belakang. Masing-masing menahan rasa sakit di dada mereka. Dan secara berbarengan keduanya muntah darah.

"Huaaakkk!!" Lalu kembali keduanya saling tatap dengan penuh amarah dan meradang.

"Serahkan Cambuk Sutra Sakti itu padaku, Buaya keparat!!" desis Dewi Kantilaras.

"Hhhh! Tak akan pernah, Dewi... tak akan pernah... Sebelum aku berkalang tanah..."

"Baik! Kamu harus kubuat mampus dulu sebelum menyerahkan Cambuk Sutra Sakti padaku!!"

"Hhhh! Dan kau pun akan merasakan kesaktian cambuk ini, Dewi!!"

Secara tiba-tiba Siluman Dewa Buaya mengambil cambuk yang tersampir erat di bahunya. Lalu dia pun mulai mengayunayunkannya.

"Taaarrrrr!!"

Suara cletar yang ditimbulkan cambuk itu amat mengerikan dan mendebarkan. Tanpa disadarinya, bulu kuduk Dewi Kantilaras berdiri. Cambuk itu seperti satu alat penghisap darah yang tak mengenal ampun.

Siluman Dewa Buaya terkekeh melihat wajah pias Dewi Kantilaras.

"Hehehe... kau ngeri melihat kehebatan cambuk ini, Dewi..."

"Siluman Dewa Buaya, serahkan cambuk itu cepat! Sebelum kau kubunuh!"

"Atau kau yang harus kubunuh dengan cambuk yang kau impikan ini, Dewi!"

"Anjing buduk!"

"Nah, seranglah anjing buduk ini!!" tantang Siluman Dewa Buaya sambil mengayun-ayunkan cambuk itu hingga menimbulkan suara cletar yang teramat keras, dan mengerikan.

Dewi Kantilaras pantang ditantang seperti itu. Apa pun yang terjadi dia telah bertekad untuk merebut Cambuk Sutra Sakti itu. Maka dia pun bersiap. Karena disadarinya senjata yang berada di tangan lawannya amat berbahaya, dia pun membuka jurus pamungkasnya. Bidadari Mengejar Bidadari.

Jurus yang amat berbahaya sekaligus amat mematikan. Karena itu merupakan jurus yang terakhir dan menjadi pamungkas dari Dewi Kantilaras.

"Hehehe... keluarkanlah seluruh kepandaianmu. Dewi!"

"Terimalah serangan ini, Siluman Keparat!!" seru Dewi Kantilaras. Dan dia pun membentangkan kedua tangannya. Dan perlahan-lahan kedua tangan itu berubah menjadi merah. Bercahaya dan mengeluarkan hawa yang cukup panas.

Siluman Dewa Buaya pun kagum dan sedikit ngeri melihat jurus yang dikeluarkan oleh Dewi Kantilaras. Tetapi dia hanya tertawa saja. Dan dia yakin senjata cambuk yang berada di tangannya lebih berbahaya daripada jurus yang dikeluarkan oleh Dewi Kantilaras.

Dewi Kantilaras pun tak mau menunggu waktu lagi. Dia pun menyerang dengan hebat. Siluman Dewa Buaya pun segera menyambutnya.

Kakek berwajah cekung itu ternyata agak sulit untuk memainkan cambuk sakti itu, karena jarak tubuh Dewi Kantilaras begitu dekat padanya. Bahkan dia pun terdesak hebat oleh serangan-serangan tangguh dari jurus Bidadari Mengejar Bidadari milik Dewi Kantilaras.

"Hihihi... ternyata kau tak bisa memainkan cambuk itu, Kakek peot!" ejek Dewi Kantilaras yang merasa berada di atas angin. "Cepat berikan padaku cambuk itu, sebelum kau kubuat mati di sini!!"

"Jangan gembira dulu, Dewi... aku... haet!" ucapan Siluman Dewa Buaya terpotong karena dia harus bersalto menghindari cecaran serangan Dewi Kantilaras.

Namun itu adalah satu keberuntungan pada Siluman Dewa Buaya, karena dengan bersalto jaraknya dengan Dewi Kantilaras agak menjauh. Dan ini membuatnya dapat bergerak untuk memainkan cambuknya.

Dewi Kantilaras menyadari kesalahannya. Karena dia tidak menjaga jarak. Namun Dewi Kantilaras seakan tak perduli dengan jarak yang sudah meregang itu. Baginya hanya satu, Cambuk Sutra Sakti harus menjadi miliknya!!

"Siluman keparat! Kukatakan untuk terakhir kalinya, serahkan cambuk itu padaku sekarang juga! Cepaat!!" bentak Dewi Kantilaras sambil berpikir untuk mendesak dan tak memberi kesempatan lagi pada Siluman Dewa Buaya.

"Hehehe... sekaranglah saatnya untuk uji coba dengan cambuk sakti ini, Dewi! Majulah lagi! Kau akan kubuat lumat dengan cambuk ini!!"

Melihat hal itu, memang tak ada jalan lain untuk Dewi Kantilaras. Maka dia pun menyerang kembali dengan jurus Bidadari Mengejar Bidadari. Namun Siluman Dewa Buaya tak mau mengulangi kesalahannya untuk kedua kalinya. Kali ini dia pun langsung memainkan cambuknya.

"Tarrrrr!!" ujung cambuk itu berbunyi dengan keras.

Dan dengan satu gerakan yang hebat, Siluman Dewa Buaya memainkan cambuknya ke arah tubuh Dewi Kantilaras yang tengah menyerang.

Ujung cambuk itu siap menyambar tubuh Dewi Kantilaras. Menjemput nyawanya. Terdengar pekikan keras dari Dewi Kantilaras dan mengempos kembali tubuhnya untuk bersalto ke belakang. Bila dia terlambat sedikit saja, maka maut taruhannya.

"Taaaarrrrr!!"

Ujung cambuk itu menyambar angin. Melihat dirinya berada di atas angin, Siluman Dewa Buaya pun mencecar dengan Cambuk Sutra Sakti. Ganas dan berbahaya.

Dewi Kantilaras sebisanya untuk menghindari serangan-serangan cambuk itu karena dia tidak mau dirinya mati di ujung cambuk yang hendak direbutnya.

"Hehehe... mau lari ke mana kau, Dewi? Bukankah kau ingin memiliki cambuk ini? Nah, rebutlah dari tanganku!"

"Anjing buduk!"

Dewi Kantilaras mencoba untuk membalas, namun serangan cambuk itu telah mengepungnya dan sukar baginya untuk menerobos.

Dia mencoba dengan senjata rahasianya. Namun begitu senjata rahasia itu melesat, dengan cepat Siluman Dewa Buaya menggerakkan cambuknya.

Dan tiga buah bunga biru pun hancur berkeping-keping.

"Hehehe... sia-sia belaka kau menghadapi aku sekarang, Dewi! Sia-sia belaka!!"

"Bangsat peot! Kau harus mampus di tanganku hari ini juga!"

"Hehehe... sejak tadi kau hanya berkata begitu, Dewi... Mana, mana buktinya? Kau malah lari seperti kucing dikejar anjing!"

"Anjing buduk!" Kembali Dewi Kantilaras mencoba menyerang kembali. Namun lagi-lagi serangannya gagal karena dia harus menghindarkan ujung cambuk sakti itu.

"Hehehe... kau tak akan bisa lari, Dewi... Tak akan bisa lari... Kau akan mampus di ujung cambuk ini.... hehehe..."

Kembali Siluman Dewa Buaya mencecar dengan hebat. Berkali-kali serangannya luput karena dengan mengandalkan kegesitannya Dewi Kantilaras berhasil menghindar.

Namun akibatnya sungguh hebat. Karena telah berulangkali cambuk yang lolos itu, menghantam batu besar dan pepohonan hingga hancur berantakan dan tumbang.

Dewi Kantilaras dapat membayangkan akibatnya bila tubuhnya terkena ujung cambuk itu. Tentunya dia tak akan sempat lagi untuk berteriak karena tubuhnya telah hancur.

Melihat kenyataan ini, Dewi Kantilaras tidak berani lagi untuk mencoba menyerang. Dia hanya menghindar sekuat tenaga. Dan mencoba untuk meloloskan diri.

Namun cambuk itu seolah telah mengepungnya dan membelenggu langkahnya. Membuatnya sama sekali tak berdaya selain hanya bisa menghindar saja.

Dan satu ketika, dia tak mungkin bisa untuk menghindar lagi. Karena cambuk itu telah benar-benar mengepung langkahnya.

Hingga suatu saat, terdengar pekikan dari Siluman Dewa Buaya sambil mengayunkan cambuknya.

"Mampuslah kau, Dewi!!"

Dewi Kantilaras sendiri tak bisa lagi untuk menghindar. Di samping tenaganya yang sudah melemah, juga posisinya yang tidak menguntungkan.

Tiba-tiba berkelebat satu sosok tubuh memapaki serangan dari Siluman Dewa Buaya pada Dewi Kantilaras. Juwita yang sejak tadi melihat pertarungan yang tak seimbang itu tak bisa menahan diri lagi untuk membantu gurunya. Maka dia pun menerjang dan memapakinya. Namun ini merupakan satu kesalahan yang teramat fatal dilakukannya. Meskipun dia menangkis dengan pedangnya, namun tak urung ujung cambuk itu mengenai tangan kirinya. Yang langsung putus mengeluarkan darah yang banyak.

Terdengar lolongan yang amat keras. "Aaaaahhhh!!" tubuh Juwita terguling menahan sakit yang teramat sangat. Tangan kirinya telah buntung. Dan tanpa ada yang melihat, sepercik darah yang muncrat dari tangan kiri itu, mengenai mayat Eyang Ringkih Dewi!!

***
LIMA
"Juwitaaaa!!" pekik Dewi Kantilaras kaget. Dan memburu Juwita yang pingsan karena banyak mengeluarkan darah. Dengan gerakan yang cepat Dewi Kantilaras menotok jalan darah Juwita hingga aliran darah itu pun berhenti. "Juwita... Juwita..." panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi gadis itu.

Namun Juwita yang dalam keadaan pingsan, tidak mendengar panggilan itu. Wajahnya pias. Keringat nampak membanjiri sekujur tubuhnya.

Tiba-tiba Dewi Kantilaras berbalik dan memandang tajam pada Siluman Dewa Buaya yang sedang terkekeh. "Kau harus membalas semua ini!!" bentaknya sambil bangkit perlahan-lahan. Sepasang matanya memancarkan sinar dendam yang teramat sangat.

Apalagi begitu teringat Juwita luka parah dan lengan kirinya buntung akibat ingin menolongnya. Makin murkalah Dewi Kantilaras.

"Hehehe... bukan main! Cambuk Sutra Sakti ini begitu hebat sekali!"

"Anjing buduk! Kau harus membayar semua atas ulahmu ini!"

"Hehehe.... kau lihat sendiri kesaktian cambuk ini, Dewi... Baru terserempet sedikit saja, gadis itu telah buntung tangannya. Bagaimana bila terkena benar-benar? Tentunya dia akan mampus berkalang tanah hari ini juga! Bukan main!"

Semakin murkalah Dewi Kantilaras mendengar kata-kata itu. Dia akan segera menyerang. Namun urung karena tiba-tiba terdengar ketakutan Seto Mulia.

"Tolooooong! Mayat itu hidup lagi!!" seru Seto Mulia dan berlari ke arah Siluman Dewa Buaya.

Orang-orang yang berada di sana terkejut sekali, begitu melihat mayat Eyang Ringkih Dewi yang rusak dan mengeluarkan bau busuk itu perlahan-lahan bangkit lagi.

"Hei!" seru Dewi Kantilaras kaget. "Mengapa bisa begini?!" seru Siluman Dewa

Buaya pula yang tak kalah kagetnya.

Sebenarnya, mayat Eyang Ringkih Dewi itu hidup kembali karena terkena percikan darah milik Juwita. Dulu, Eyang Ringkih Dewi memiliki ilmu yang bernama Ajian Batu Karang. Yang bila tubuhnya mati, maka tubuh itu menjadi rusak. Namun tidak hancur dimakan tanah. Dan bila tubuh itu terkena darah segar dari orang yang masih hidup, maka secara ajaib tubuh itu akan bangkit dan hidup kembali. Namun masih dalam kondisi yang sekarang. Rusak dan menyebarkan bau busuk! Mayat itu terkikik.

"Hihihi... rupanya aku telah bangun dari tidurku selama ratusan tahun ini... Hihihi tidur yang teramat panjang dan melelahkan..."

Dewi Kantilaras dan Siluman Dewa Buaya saling berpandangan. Kali ini tatapan keduanya tidak lagi memancarkan sinar permusuhan, amarah dan dendam. Melainkan seolah saling bertanya mengapa mayat itu bisa hidup kembali.

Terdengar lagi mayat hidup itu berkata, "Ah... aku membutuhkan darah yang segar untuk memulihkan jasadku seperti dulu lagi... hihihi....

O rupanya banyak darah segar di sini!" desisnya

begitu melihat tiga orang itu yang berdiri dengan kebingungan. "Hihihi... aku membutuhkan salah seorang dari kalian... atau hihihi semunya ya,

ya.... semuanya "

Dewi Kantilaras dan Siluman Dewa Buaya sadar apa yang akan terjadi. Mayat hidup itu membutuhkan darah segar untuk mengembalikan keadaan tubuhnya seperti dulu.

Dan seperti disadari oleh bahaya yang mengancam, keduanya mendadak bersiap.

Dan amat tiba-tiba sekali, terdengar bentakan menggelegar dari mulut mayat hidup itu.

"Manusia keparat! Rupanya kau hendak mencuri Cambuk Sutra Sakti milikku! Cepat kembalikan!"

"Mayat hidup bau busuk! Lebih baik kau kembali ke asalmu sana!" balas Siluman Dewa Buaya berani.

Mayat hidup itu menyeringai. Amat mengerikan.

"Hihihi... kaulah yang akan membuatku semakin kuat dan bertahan lama untuk hidup kembali!" desisnya dan secara tiba-tiba mayat itu menerjang Siluman Dewa Buaya.

Kakek bermata cekung itu amat terkejut melihat serangan yang dilakukan dengan amat cepat itu. Dan tanpa dia sadari bagaimana caranya, tiba-tiba Cambuk Sutra Sakti itu telah berada di tangan mayat hidup yang kini bersalto ke belakang dan hinggap di tanah.

"Hihihi... inilah senjata saktiku... Hihihi... kita akan bertualang lagi seperti dulu, Manis "

ujar mayat itu sambil membelai-belai cambuk itu. Dan tiba-tiba mayat itu menggerakkan tangannya. Cambuk yang kini di tangannya terarah pada Seto Mulia yang berdiri amat ketakutan. Secara aneh dan tiba-tiba pula cambuk itu melilit tubuh Seto Mulia dan dengan cepat ditariknya hingga Seto Mulia tidak bisa bergerak untuk

membebaskan diri. Tak ubahnya seperti lilitan ular yang amat mematikan.

"Hihihi... rupanya kaulah orang pertama yang ditakdirkan Dewata untuk membuat wajah dan tubuhku seperti dulu lagi..." terkikik mayat itu dan dengan tiba-tiba dia menghujamkan gigigiginya ke leher Seto Mulia yang menjerit melolong menyayat hati.

Dan dalam sekejap saja tubuh Seto Mulia berubah menjadi putih seperti kapas. Lalu tubuh itu pun menggelosoh ambruk dengan tubuh yang kering darah dan mati secara mengerikan.

Keanehan terjadi pada mayat hidup itu. Secara perlahan-lahan, tubuhnya yang rusak dan mengeluarkan bau busuk berubah menjadi agak berisi. Tubuh itu kini menjadi amat sempurna, bagus dengan menampilkan lekuk tubuh yang aduhai. Karena tubuh itu dalam keadaan telanjang bulat.

Bila tidak menyadari dan melihat perubahan tubuh itu dari mayat yang rusak dan berbau busuk, birahi Siluman Dewa Buaya akan terangsang. Namun karena dia tahu tubuh yang molek nan aduhai itu berasal dari mayat hidup tadi, dia menjadi jijik melihatnya.

Apalagi ketika menatap wajah itu yang masih dalam keadaan rusak.

"Hihihi... aku membutuhkan darah segar lagi untuk memulihkan wajahku!!"

Dan secara tiba-tiba Eyang Ringkih Dewi menggerakkan tangannya. Cambuknya berkelebat ke arah sasaran. Siluman Dewa Buaya, yang langsung melompat karena tak mau darahnya dihirup untuk memulihkan kembali jasad itu.

"Hihihi... rupanya kau punya keahlian juga. Bagus! Sudah ratusan tahun aku tidak berkelahi dan menggunakan kepandaianku! Aku ingin melihat sampai di mana kemampuan dan kepandaian yang kau miliki, Kakek peot! Juga kau wanita cantik! Ah, meskipun kalian sudah berumur tetapi darah kalian masih segar untuk merubah wajah jasadku menjadi seorang gadis jelita!!"

Dan secara tiba-tiba pula, Eyang Ringkih Dewi menyerang Siluman Dewa Buaya dan Dewi Kantilaras secara bersamaan. Sudah tentu keduanya tak mau dijadikan sasaran cambuk Eyang Ringkih Dewi.

Namun akibat tenaga yang telah terkuras habis dari perkelahian yang memakan waktu hampir setengah hari, membuat gerakan keduanya tidak selincah tadi. Maka dengan satu bentakan yang cukup kuat, cambuk Eyang Ringkih Dewi melilit di tubuh Dewi Kantilaras yang tak bisa untuk meloloskan diri lagi

"Hihihi.... darah segar! Darah segar!!" desis Eyang Ringkih Dewi.

Seperti yang dilakukannya terhadap Seto Mulia. Dia pun menghujamkan gigi-giginya pada leher Dewi Kantilaras yang menolong pula.

Dan tubuh itu pun menggelosoh lemah dengan keadaan yang tak berbeda seperti yang dialami oleh Seto Mulia. Kembali keanehan itu terjadi. Siluman Dewa Buaya melihat wajah yang rusak dan menyeramkan itu berangsur-angsur berubah menjadi cantik jelita. Dan kini di hadapannya telah berdiri seorang gadis yang teramat cantik.

Siluman Dewa Buaya sempat terpesona sendiri melihat kecantikan wajah yang terpampang di matanya.

"Hihihi... kakek peot... kau heran bukan melihat wajahku yang jelita ini?"

Tiba-tiba seperti diingatkan kalau jasad dan wajah yang cantik merangsang itu berasal dari sebuah mayat, Siluman Dewa Buaya bergidik. Dan membuang ludah.

"Ciiih! Mayat hidup, kau harus mampus kembali ke asalmu!" katanya sambil memegang tongkatnya kembali dengan erat. Apa pun yang akan terjadi, dia akan menghadapi mayat hidup itu dengan sekuat tenaga. Dia tak mau dirinya dijadikan sasaran untuk memulihkan seluruh yang ada pada mayat itu.

"Hihihihi... memakilah kau, Kakek Peot!

Karena sebentar lagi ajalmu akan tiba!!"

Lalu kembali Eyang Ringkih Dewi yang kini berubah menjadi gadis jelita mengayunkan cambuknya, mencari sasarannya.

Siluman Dewa Buaya yang sudah bersiap untuk menghadapi apa pun yang terjadi pun bersalto ke belakang. Namun kini yang dihadapinya adalah tokoh sakti dari golongan hitam yang hidup ratusan tahun yang lalu. Yang kesaktiannya jauh berada di atasnya. Namun bagi Siluman Dewa Buaya, tak ada jalan lain kecuali menghadapinya.

"Kau punya nyali juga rupanya... hihihi... ketahuilah... engkau tengah berhadapan dengan Eyang Ringkih Dewi atau si Cambuk Sutra Sakti!!"

"Mayat hidup keparat! Sedikitpun aku tak akan mundur dari hadapanmu!"

"Bagus, bagus! Aku pun ingin melemaskan seluruh otot-otot kaku di tubuhku ini!" sehabis berkata begitu, kembali Eyang Ringkih Dewi menyerang dengan hebat.

Siluman Dewa Buaya pun sudah mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Namun tak satu pun yang berhasil menghentikan serangan Eyang Ringkih Dewi. Bahkan mayat hidup yang kini telah berubah menjadi seorang gadis jelita, tidak kelihatan terdesak. Malah serangan-serangannya menjadi lebih hebat dan dahsyat.

Sadarlah Siluman Dewa Buaya kalau ajalnya sudah dekat. Namun dia pantang untuk menyerah begitu saja. Dia masih mencoba untuk membalas.

Tiba-tiba dia menjerit keras seraya mengayunkan tongkatnya ke kepala Eyang Ringkih Dewi. Namun dengan satu tenaga yang kuat dan hebat, Eyang Ringkih Dewi memapaki serangan tongkat itu dengan tangan kirinya.

"Traaakk!!"

Terdengar suara berderak yang cukup keras. Bukan dari tangan Eyang Ringkih Dewi yang patah, tetapi dari tongkat Siluman Dewa Buaya yang kini terbagi menjadi dua.

Sungguh luar biasa tenaga dalam Eyang Ringkih Dewi. Diam-diam Siluman Dewa Buaya semakin ngeri dan ketakutan. Baginya memang tak ada jalan untuk meloloskan diri.

Dia kini bersiap untuk menyambut kembali serangan Eyang Ringkih Dewi dengan potongan tongkatnya. Tetapi gadis itu malah menghentikan serangannya.

Tiba-tiba dia tersenyum. Begitu mesra.

Memabukkan.

Dan amat mempesona.

Siluman Dewa Buaya menjadi terdiam. Pandangannya berubah menjadi teramat kagum. Dia tidak tahu, kalau semua itu terjadi karena Eyang Ringkih Dewi mengeluarkan ilmu pemikat laki-lakinya, ajian Bidadari Turun dari Kahyangan.

Dan tanpa disadari oleh Siluman Dewa Buaya, dia menjadi amat tertarik dengan Eyang Ringkih Dewi. Apalagi pandangannya kini menjadi nanar melihat tubuh Eyang Ringkih Dewi yang telanjang bulat menggiurkan.

"Kemarilah, Kakang..." terdengar suara Eyang Ringkih Dewi yang halus dan mesra.

Dan tanpa disadarinya pula, seperti telah terhipnotis, perlahan-lahan Siluman Dewa Buaya berjalan mendekati tubuh telanjang itu dengan kedua tangan yang terbuka lebar. Menantang

Dan memperlihatkan sepasang buah dada yang ranum dan indah.

Bersamaan dengan itu, Juwita tersadar dari pingsannya. Pertama-tama yang dirasakannya ada rasa sakit dari lengan kirinya.

Dia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Dan amat terkejut ketika melihat tubuh Seto Mulia atau si Orang jelek dan tubuh Dewi Kantilaras gurunya telah tergeletak menjadi mayat dengan wajah dan tubuh kering seputih kapas, seolah tak ada setitik darah pun yang mengaliri tubuh keduanya.

Pertama yang diingatnya ini adalah hasil perbuatan kakek bermata cekung atau Siluman Dewa Buaya. Apalagi dia teringat kala menolong gurunya untuk memapaki serangan Siluman Dewa Buaya dan tangan kirinya tersambar oleh Cambuk Sutra Sakti yang diayunkan oleh kakek itu.

Teringat itu, dia melirik tangan kirinya. Dan seperti disambar geledek sepasang mata yang indah itu terbelalak melihat tangannya telah kutung.

Bangkitlah amarah Juwita dan dendam pada Siluman Dewa Buaya.

Tetapi dia amat terkejut ketika melihat Siluman Dewi Buaya tengah mendekati seorang gadis jelita yang bertelanjang bulat. Siapakah gadis itu? desis Juwita dalam hati. Sepertinya tadi dia tidak melihat gadis itu ada. Dan Juwita merasakan ada satu hal yang tidak wajar sedang terjadi pada Siluman Dewa Buaya. Karena sorot mata dan langkahnya begitu kaku dan penurut tertuju pada gadis itu.

Dia juga melihat gadis itu semakin membuka kedua tangannya, seolah siap menerima datangnya tubuh Siluman Dewa Buaya.

Senyum gadis itu begitu memabukkan.

Sepasang matanya amat memancarkan gairah.

"Kemarilah, Kakang..." desisnya.

"Oh, Dewi.... begitu cantik sekali kau..." terdengar suara Siluman Dewa Buaya di tenggorokan.

"Cepatlah kemari, Kakang... aku sudah tidak sabar lagi... Lihatlah senja telah datang yang akan memayungi kita dengan keteduhannya... Kemarilah, Kakang..."

Bagai robot belaka tubuh Siluman Dewa Buaya semakin mendekat.

"Cepatlah, Kakang... aku sudah tak tahan... ayo, cepat lah..."

Dan tubuh itu bergerak dengan cepat. Lalu menubruk tubuh gadis itu yang terkikik. Kedua tubuh itu jatuh ke rumput yang basah.

Juwita memejamkan matanya melihat pertunjukan birahi didepannya. Sebagai gadis remaja, mendadak saja jiwa mudanya bergolak.

Namun mendadak dia membuka matanya ketika mendengar jeritan yang menyayat dari Siluman Dewa Buaya. Dia melihat Siluman Dewa Buaya sedang menggeliatkan tubuhnya seakan menahan sakit yang teramat sangat.

Semula Juwita menganggap mulut gadis itu yang berada di leher Siluman Dewa Buaya sedang mencium. Namun begitu menyadari kalau Siluman Dewa Buaya menjerit kesakitan, dia melihat ada sesuatu yang ganjil telah terjadi.

Rupanya gadis itu bukan sedang mencium leher Siluman Dewa Buaya. Melainkan tengah menggigit dan menghisap darah. Karena terlihat kemudian tubuh Siluman Dewa Buaya menggelosoh ambruk. Dengan wajah seputih kipas.

Juwita pun melihat bibir gadis itu berdarah. Rupanya sisa darah yang dihisapnya dari leher Siluman Dewa Buaya.

Menyadari hal itu, Juwita teringat akan tubuh gurunya dan orang jelek itu yang telah menjadi mayat. Dia pun melihat ada luka di leher keduanya dan tubuh mereka pun putih seperti kapas seperti yang terjadi pada Siluman Dewa Buaya.

Kini Juwita sadar, kalau guru dan orang jelek itu pun mati sama seperti yang dialami oleh Siluman Dewa Buaya.

Hati-hati dia mengintip dan melihat perubahan kembali pada gadis itu. Secara tiba-tiba saja tubuh gadis itu menjadi semakin montok dan seksi. Begitu pula dengan wajahnya yang kini nampak berseri-seri. Rupanya darah segar yang telah dihisapnya mengembalikan bentuk keadaan tubuhnya selagi muda dulu. Juwita masih belum tahu siapa gadis itu. Namun mendadak dia tidak melihat mayat rusak dan bau itu di sana. Apakah gadis itu jelmaan dari mayat tadi?

Dugaan Juwita menjadi kenyataan, karena dia mendengar suara gadis itu berkata sambil menengadah menatap langit yang tiba-tiba berubah menjadi hitam.

"Hihihi... kini telah hidup kembali Eyang Ringkih Dewi yang telah terkubur selama ratusan tahun... Hihihi... aku akan memulai lagi petualanganku sebagai si penyebar maut di mana saja.... akan kucari darah-darah segar untuk membuat hidupku lebih lama... hihihihi..."

Lalu tubuh itu pun melesat meninggalkan puncak Gunung Setan. Cepat, ringan dan seperti angin.

Tanpa menyadari kalau seseorang melihat semua perbuatannya.

Orang itu adalah Juwita yang berpura-pura mati ketika gadis itu meninggalkan tempat itu. Lalu dengan hati gundah dan pilu Juwita bangkit mendekati mayat gurunya.

"Bibi..." hanya desisan itu yang terdengar.

Pada angin yang berhembus dingin.

***
ENAM
Laki-laki berjubah putih yang tersenyum arif dan bijaksana itu, tiba di sebuah desa di lereng kaki Gunung Setan. Laki-laki itu kira-kira berusia 35 tahun. Dia selalu tersenyum pada siapa saja yang dijumpainya.

Namun setiap kali dia mengerutkan keningnya, karena orang-orang yang disapanya selalu melengos dan buru-buru meninggalkannya. Dari pancaran matanya, orang itu nampak ketakutan sekali.

Laki-laki berjubah putih itu mendesah. "Apa yang telah terjadi di desa ini?" desis-

nya heran. Lalu dia pun mulai melangkah lagi memasuki keramaian desa. Namun lagi-lagi hal yang sama dialaminya. Tak satu pun penduduk yang menyahuti ucapannya atau pun membalas senyumnya. Membuat laki-laki berjubah putih itu semakin keheranan.

"Ada apa sebenarnya?" desisnya. Lalu dia memasuki sebuah rumah makan yang cukup ramai dikunjungi tamu.

Dia mengambil tempat yang cukup di pojok dan memesan makanan. Baginya orang-orang di desa ini adalah orang-orang yang baik hati. Namun mengapa mereka tidak mau menyahuti sapaannya dan tersenyum padanya.

Ketika pelayan itu menghidangkan pesanannya pun tak sedikit pun pelayan itu mengucapkan silahkan makan atau pun sesuatu untuk sekadar berbasa-basi.

Bahkan ketika laki-laki berjubah putih itu mengucapkan terima kasih, pelayan itu malah buru-buru menghindar.

"Aneh! Ada apa sebenarnya?" desisnya sambil memulai makan.

Namun baru beberapa kali dia menyendok, tiba-tiba dia melihat enam orang pemuda telah berdiri mengurungnya. Di tangan enam pemuda itu terdapat senjata golok yang cukup tajam.

Tetapi laki-laki berjubah putih itu mencoba tersenyum. Kesannya arif dan bijaksana.

"Bila kalian ingin menemaniku makan, silahkan," ucapnya dengan nada bersahabat.

"Iblis busuk!" terdengar salah seorang membentak.

"Kami tidak ingin menemani makan, tetapi kami ingin meminta tanggung jawab dari semua yang telah kau lakukan!!"

Sudah tentu laki-laki berjubah putih itu heran. Dia mengerutkan keningnya.

"Hmm. apa yang telah aku lakukan?"

"Jangan banyak omong! Kau telah menjadi seorang pembunuh yang tak punya belas kasihan!!"

"Saudara... apa yang telah aku lakukan?"

"Hhhhh! Masih mencoba mungkir pula!"

"Saudara... katakanlah apa yang telah aku lakukan hingga kalian berenam nampak marah dan tidak senang padaku?" tanya laki-laki berjubah putih itu tetap dengan suara bersahabat. Bahkan sedikit pun dia tidak nampakkan kejengkelan dan kemarahan karena orang-orang ini main tuduh begitu saja padanya.

"Orang asing... kami masih mencoba bertenggang rasa padamu! Tentunya kau sendiri tahu apa yang telah kau lakukan? Tapi baiklah... biar kau menjadi teringat akan dosa-dosa yang telah kau perbuat. Hhh! Sudah hampir tujuh orang korban dari desa sini kau ganyang, Iblis busuk!"

"Maaf..." kata laki-laki berjubah putih itu memotong pembicaraan pemuda yang nampak marah itu. "Apa yang telah kulakukan? Tujuh orang korban? Dan apa hubungannya denganku?"

"Orang asing... kau amat pandai bermain kata-kata dan bersandiwara. Baiklah... tujuh korban yang kami temukan itu mati dengan sekujur tubuh pucat pasi karena kehabisan darah. Dan di leher mereka ada bekas luka gigitan. Sudah berulangkali kami mencari siapa yang bertindak sungguh kejam dan sadis ini. Namun sampai sejauh ini orang itu belum kami temukan juga. Dan akhirnya kau berani menampakkan diri juga penjahat busuk! Sungguh punya nyali juga kau ini!!"

"Maaf, Saudara... kalau bisa saya simpulkan dari kata-katamu itu, berarti saat ini ada seorang penjahat yang dengan kejamnya membunuhi korbannya dengan jalan mengisap darah dengan menggigit leher korbannya? Benar begitu?"

"Ya!" Keenam pemuda itu menyahut serempak.

"Lalu kalian menuduhku sebagai pelakunya?"

"Ya! Dan kau sekarang tak akan bisa lari dari kami!" ancam salah seorang sambil menegakkan goloknya.

Tetapi laki-laki yang memakai jubah putih itu cuma tersenyum.

"Maafkan aku, Saudara-saudara... agaknya kalian salah paham dan salah menuduh aku. Apakah dengan datangnya aku yang secara tidak sengaja berkunjung ke desa ini dikatakan sebagai pembunuh?"

"Ya! Karena kaulah satu-satunya orang asing yang berada di sini!!"

Sebelum laki-laki berjubah putih itu menyahut, seseorang telah berdiri dari duduknya. Sosok itu berpakaian ramping.

"Apakah aku bukan orang asing di sini?" serunya sambil menatap keenam orang itu.

Dan serentak enam pemuda itu menoleh ke orang yang berseru tadi, yang ternyata seorang gadis berwajah cantik. Sayang. Lengan kiri gadis itu buntung tangannya.

"Hei, gadis cantik! Siapa kau?!" orang itu kini membentak gadis cantik itu.

"Hmm... namaku Juwita..."

"Nona Juwita... kau orang asing di sini?" tanya orang itu lagi.

Dan semua itu telah menarik perhatian para tamu di rumah makan itu. "Ya! Baru kemarin aku tiba di sini!"

"Hhh! Lalu apakah kau yang melakukan semua ini?!" desis orang itu yang bernama Kelana lagi.

"Bukan aku! Bukan pula laki-laki yang memakai jubah putih itu?"

"Hhh!" geram Kelana. "Aku tak percaya! Paling tidak salah seorang di antara kalian yang telah melakukannya! Atau kalian berdua yang melakukannya!"

"Orang bodoh!" bentak gadis yang memang Juwita itu. Setelah menguburkan mayat gurunya, lalu dia pun kembali ke tempat asalnya di lereng Gunung Kidul. Setelah itu dendamnya pada Eyang Ringkih Dewi atau si mayat hidup menjadijadi. Akhirnya Juwita memutuskan untuk mencari dan membalas dendam pada Eyang Ringkih Dewi.

Sasarannya langsung pada desa yang terletak di lereng Gunung Setan. Karena Juwita menduga, Eyang Ringkih Dewi akan mencari sasaran di desa lereng gunung itu.

Hari pertama di sini, sebenarnya dia sudah mendengar tentang kematian beberapa penduduk desa secara mengerikan. Mengingat luka di leher dan tubuh yang seputih kapas pada yang meninggal, sudah tentu Juwita yakin itu perbuatan Eyang Ringkih Dewi.

Namun sampai sejauh ini dia tidak mau menggembar-gemborkan siapa yang telah melancarkan teror mengerikan itu. Hingga laki-laki yang mengenakan jubah putih itu dituduh oleh orang-orang desa.

"Kau berani memakiku, Gadis buntung!!" seru Kelana dengan wajah merah padam. "Aku ingin melihat apakah kau punya kemampuan juga, hah?!"

Sehabis berkata begitu dia menghunus goloknya ke arah Juwita. Tetapi Juwita dengan mudahnya mendorong sebuah kursi hingga orang itu melompat. Dan saat orang itu melompat, Juwita mengayunkan kakinya menendang.

"Des!"

Tubuh Kelana terhuyung ke belakang. Tetapi pemuda itu langsung bangkit den-

gan marah karena baru satu gebrak dia sudah dipecundangi. Tetapi lagi-lagi dia terus terhuyung ke belakang.

"Tahan!" terdengar suara dari laki-laki berjubah putih itu. "Jangan lakukan serangan!"

Sedangkan Kelana yang terjatuh dua kali berseru pada teman-temannya. "Hei, mengapa kalian diam saja? Tangkap kedua orang itu dan bunuh! Karena merekalah yang menyebarkan petaka ini!!"

Serentak lima pemuda temannya menyerang Madewa. Dua orang dengan dibantu Kelana menyerang Juwita.

Serentak di rumah makan itu terjadi perkelahian. Laki-laki yang mengenakan jubah putih itu dengan enak dan santainya menghindari setiap serangan. Tetapi dia tak membalas sedikit pun. Malah tiba-tiba dia bergerak dengan cepat dan tiga buah golok kini berpindah tangan.

Ketiga pemuda itu terkejut, karena mereka sedikit pun tak melihat gerakan yang dilakukan orang berjubah putih itu. Kini mereka sadar kalau orang berjubah putih itu bukan orang sembarangan.

Sebenarnya siapakah laki-laki yang mengenakan jubah putih yang selalu tersenyum arif dan bijaksana itu dan telah dituduh menebarkan teror?

Dia tak lain adalah Madewa Gumilang alias Pendekar Bayangan Sukma. Pendekar budiman atau juga sering dijuluki sebagai manusia dewa. Sudah tentu pendekar yang welas asih itu tidak menurunkan tangan pada para penyerangnya, karena dia tahu saat ini antara dirinya dengan para pemuda itu telah terjadi salah paham.

Sementara itu Juwita sendiri menggebrak dengan hebat. Tidak seperti yang dilakukan Madewa Gumilang, dia menghantam setiap penyerangnya. Karena Juwita jengkel terhadap pemuda-pemuda ini yang tak mau berkompromi lagi, asal menyerang saja dan menuduh sembarangan!

"Des!"

"Des!"

"Des!"

Tinju tangan kanannya menghantam ketiga penyerangnya yang terhuyung ke belakang dengan dada terasa sakit.

"Tahan!" seru Juwita ketiga-tiganya hendak bangkit lagi menyerang.

"Iblis betina! Kami akan mengadu jiwa denganmu!" bentak Kelana jengkel dan marah.

"Pemuda bodoh! Biar ku jelaskan dulu duduk permasalahnya biar tak terjadi salah paham di antara kita lagi!"

"Apa lagi yang hendak kau terangkan, paling tidak sekarang kami tahu siapa yang menyebarkan teror keji dan jahat itu!!"

"Benar-benar bodoh!" seru Juwita jengkel. "Majulah bila kau masih penasaran!"

Ditantang seperti itu sudah tentu Kelana yang marah dan menganggap Juwita sebagai penyebar teror, menyerang lagi dengan goloknya. Kali ini benar-benar beringas.

Dan siap mengancam nyawa Juwita. "Tahan serangan!"

"Kau yang harus menahan seranganku!" bentak Juwita sambil berkelit ketika golok itu menyambar lehernya.

Dan dengan satu gerakan yang manis, tibatiba dia menerobos golok itu dan, "des!"

Sebuah pukulannya kembali mengenai sasaran. Tubuh Kelana sempoyongan. Dan kali ini Juwita tak mau lagi bertindak tanggung, dia melesat dan menempeleng Kelana hingga pemuda itu pingsan.

"Pemuda bodoh dan sombong! Tak mau mendengarkan pendapat orang!!" geramnya.

Lalu dia berkata pada lima orang pemuda teman Kelana, "Apakah kalian tidak ingin mendengarkan penjelasanku dan bertindak bodoh seperti kawan kalian ini?"

Kelima pemuda itu hanya terdiam. Tak ada yang berani buka mulut, dan tak ada yang berani membangkang. Juwita mendesah.

"Bagus, nah kalian dengarkan dulu katakataku ini! Setelah itu, kalian harus minta maaf pada laki-laki berjubah putih itu! Mengerti?!"

Lima kepala itu mengangguk.

Lalu Juwita pun menceritakan apa yang telah dialaminya di puncak Gunung Setan beberapa waktu yang lalu. Orang-orang itu menganggukangguk mengerti apa yang telah terjadi.

Madewa Gumilang sendiri paham bahwa kini ada seorang gadis dari alam kubur yang telah hidup kembali dan menebarkan teror. Gadis itu hanya bisa hidup bila telah menghirup darah segar.

"Nah, terserah kalian mau percaya atau tidak!" kata Juwita kemudian. "Tapi atas nama Dewata, cerita ku ini bukan bohong atau khayalan belaka! Tetapi memang benar-benar terjadi!"

Orang-orang yang mendengarkan terdiam. "Hei!" terdengar Juwita membentak pada

lima pemuda itu. "Mengapa kalian tidak meminta maaf pada laki-laki berjubah putih itu? Ayo cepat lakukan, atau aku yang harus memaksa kalian?!"

Secara serempak kelima pemuda itu pun meminta maaf pada Madewa Gumilang yang sudah tentu memaafkannya. Biar pun mereka tidak meminta maaf, Madewa sudah sejak tadi memaafkan karena dia tahu semua ini terjadi akibat salah paham saja.

Lalu dia berkata pada Juwita, "Nona... siapakah nama Nona sebenarnya?"

Juwita menjura, "Namaku Juwita, Kisanak..."

"Jangan panggil aku Kisanak. Namaku Madewa Gumilang..."

"Madewa Gumilang?" ulang Juwita dengan kening berkerut.

"Ya, itu memang namaku. Pemberian kedua orang tuaku dulu..." kata Madewa tersenyum. Dia jadi teringat pada Ambarwati menantunya yang telah dinikahi putranya, Pranata Kumala yang saat ini tengah melakukan satu petualangan entah di mana. Tiba-tiba Madewa jadi rindu pada putra dan anak menantunya itu.

Juwita masih terdiam. Kalau tidak salah ingat, dia pernah mendengar cerita dari gurunya Dewi Kantilaras tentang seorang pendekar sakti yang budiman yang bernama Madewa Gumilang dan berjuluk Pendekar Bayangan Sukma.

Lalu dengan hati-hati dia bertanya, "Apakah... Anda yang berjuluk Pendekar Bayangan Sukma?"

Madewa tersenyum.

"Orang-orang rimba persilatan menjuluki aku Pendekar Bayangan Sukma..."

"Oh, Tuan Pendekar... tak kusangka aku akan bertemu dengan Pendekar yang sering guruku ceritakan itu... Salam hormatku untukmu, Madewa Gumilang..."

Juwita menjura penuh rasa hormat. "Juwita... tak usahlah kau begitu meng-

hormat padaku. Ceritakanlah sekali lagi tentang munculnya Eyang Ringkih Dewi..."

Kembali Juwita menceritakan kejadian yang telah dialaminya.

"Jadi... gurumu Dewi Bunga Biru tewas di tangannya?"

"Benar, Kakang Madewa... guruku tewas di tangannya..."

"Begitu pula dengan Siluman Dewa Buaya?"

"Ya, keduanya mati secara. mengerikan. Dengan dihisap darahnya melalui leher mereka oleh Eyang Ringkih Dewi yang kejam itu..."

"Mengerikan sekali." Madewa mendesah sambil geleng kepala. "Lalu apa kerjamu di sini?"

"Aku hendak menuntut balas pada kematian guruku, Madewa."

"Seorang diri?"

"Tadi aku sendiri..."

"Sekarang?"

"Aku berdua!"

"Dengan siapa?"

"Dengan siapa lagi kalau bukan denganmu, Kakang Madewa Gumilang... Apakah kau hanya berpangku tangan saja melihat kebiadaban yang dilakukan oleh Eyang Ringkih Dewi?"

Madewa tersenyum. "Sudah tentu tidak, Juwita. Aku pun hendak menyelidiki siapa dan di mana Eyang Ringkih Dewi berada. Bukankah kita satu tujuan, Juwita?"

Juwita tersenyum.

"Betul, Kakang Madewa... aku yakin, semua sepak terjang dari Eyang Ringkih Dewi akan berhenti."

"Kenapa?"

"Karena dengan bantuanmu, kupikir semuanya akan menjadi lancar..."

Madewa tersenyum. Lalu dia segera mencari penginapan. Begitu pula halnya dengan Juwita, yang tak menyangka akan bertemu dengan pendekar budiman ini.

***
TUJUH
Malam mulai larut. Tujuh Rembulan menerangi desa di bawah lereng Gunung Setan itu. Suasana desa itu sepi. Sejak kejadian demi kejadian yang mengerikan terjadi dan berulang lagi, tak satu pun penduduk desa yang berani menampakkan diri.

Apalagi tersebar kabar bahwa penghuni Puncak Gunung Setan yang telah melakukan semua ini. Semakin membuat mereka lebih baik berada di dalam rumah. Sejak semula mereka pun sudah percaya akan keangkeran Gunung Setan, dan kini semuanya terbuka dan terbukti. Di keremangan malam yang pekat, nampak satu sosok telanjang bulat melompat dari satu atap ke atap rumah lainnya. Gerakan sosok itu ringan dan lincah. Di tangannya terdapat sebuah cambuk yang nampak terbuat dari sutra.

Sosok itu tak lain adalah Eyang Ringkih Dewi yang tengah mencari mangsa lagi. Kali ini sasarannya pada sepasang pengantin baru yang baru dua minggu melangsungkan pernikahan.

Sebagaimana layaknya pengantin baru, malam hari adalah satu saat yang paling indah dan mesra untuk dinikmati. Tetapi karena kejadian yang mengerikan itu, keduanya tak bisa menikmati kehidupan yang sesungguhnya dalam arti menikmati arti hubungan suami istri secara sah.

"Kakang aku takut, Kakang..." terdengar desisan yang perempuan.

"Tenang, Rayi.... malam ini tidak akan ada kejadian apa-apa... Bukankah kau tahu sendiri, pemuda-pemuda di sini siang dan malam selalu menjaga..."

"Tapi, Kakang..."

"Kenapa, Rayi?"

"Perasaanku tiba-tiba saja menjadi tidak enak. Aku takut, Kakang "

"Jangan risau.. tak usah dipikirkan, Rayi...

Semuanya akan berlangsung dengan aman. "

Tiba-tiba satu tubuh turun dari atap dengan ringannya. Dan berdiri tegak di hadapan kedua orang itu.

Sang istri langsung memeluk suaminya erat-erat dan melihat satu sosok bertelanjang bulat telah berdiri di hadapannya.

Sang suami membentak, "Siapa kau?!"

"Hihihi... aku adalah Dewi Pencabut Nyawa dan datang pada kalian!"

"Tolong.. jangan ganggu kami!"

"Hihihi... aku tidak mengganggu.. aku hanya meminta sedikit darah segar dari kalian..."

Sang pria menjadi sadar kalau wanita inilah yang telah menebarkan teror pada kematian beberapa penduduk.

"Iblis betina! Rupanya kaulah biang keladi dari semua ini!" geramnya dan tangannya bergerak cepat meraih pedang yang terpajang di dinding.

"Hihihi... untuk apa pedang itu! Apakah kau tidak tertarik dengan tubuhku?" Eyang Ringkih Dewi terkikik lagi.

"Cuuuuh! Aku tak pernah sedikit pun tertarik dengan manusia laknat macam kau!"

Eyang Ringkih Dewi tersenyum. "Benar kau bicara begitu?"

"Ya! Menyingkirlah dari sini! Sebelum pedangku memakan tubuhmu itu!"

"Hihihi... apakah benar ucapanmu tadi?

Aku jadi ingin membuktikannya!"

Tiba-tiba Eyang Ringkih Dewi tersenyum yang begitu mempesona dan memikat.

Dan mendadak saja laki-laki yang galak itu terdiam. Dan tiba-tiba dia pun tersenyum.

"Rayi..."

"Hihihi... kau memanggilku Rayi, Kakang?" kikik Eyang Ringkih Dewi.

"Ah, kau cantik sekali, Rayi..."

"Benar kakang... nah.. mendekatlah kau kemari... aku sudah tidak tahan ingin lelap dalam pelukan mu, Kakang..."

Laki-laki itu pun bergerak mendekati Eyang Ringkih Dewi yang telah membentangkan kedua tangannya. Bagai robot belaka dan dibawah pengaruh hipnotis Eyang Ringkih Dewi, lakilaki itu bergerak mendekatinya.

Hal ini membuat istrinya jadi bingung. "Kakang..." desisnya.

Tetapi laki-laki itu terus berjalan mendekati Eyang Ringkih Dewi.

Dan tiba-tiba saja Eyang Ringkih Dewi bergerak menyergap. Dengan satu gerakan yang cepat dan di saat laki-laki itu bergerak bagai robot belaka, dia menghujamkan giginya ke leher lakilaki itu. Dan terhisaplah darah segar dari laki-laki itu masuk ke tubuhnya.

Tubuh itu pun menggelosoh dengan warna seputih kapas. Yang perempuan memekik ngeri melihatnya.

"Kakaaaaang!!"

Tetapi tubuh itu telah menjadi mayat. Eyang Ringkih Dewi terkikik melihat kor-

bannya telah tewas. Lalu dengan hati-hati dia mendekati yang perempuan yang mundur ketakutan.

"Hihihi... kau mau lari ke mana, Manis... mari... mendekatlah padaku..."

"Jangan... jangan... tolooooongg!!"

"Hihihi... berteriaklah sekuat tenagamu! Bukankah dengan yang berdatangan ke sini tak menyulitkan aku untuk mencari mangsa lagi, bukan?!"

Dan tiba-tiba saja terdengar suara ramai di luar rumah itu.

"Bangsura! Ada apa?!"

"Komalaaaa! Apa yang terjadi?!"

"Buka pintu!"

"Biar kami masuk!"

"Katakan, ada apa Komala?!"

Orang-orang di luar bersuara ramai. Dan mereka pun mencoba menerobos masuk ketika mendengar jeritan keras dari Komala.

"Aaaaahhhhh!!"

Dan serentak pintu terbuka, lalu berhamburanlah masuk para penduduk dengan membawa senjata. Mereka terkejut melihat satu sosok tubuh di hadapan mereka. Dan lebih terkejut lagi ketika melihat mayat Bangsura dan Komala yang tergeletak dengan tubuh seputih kapas.

Dan mereka makin terkejut melihat sosok yang berhadapan dengan mereka ternyata seorang gadis yang bertelanjang bulat.

"Hai, rupanya inilah iblis keparat itu!"

"Benar! Tangkap!"

"Gayangan!"

"Bunuh!"

"Kuliti!"

"Bakar hidup-hidup!"

Dan serentak orang-orang menerjang ke arah Eyang Ringkih Dewi. Tetapi mendadak pula mereka berjumpalitan dan sebagian memekik keras dengan tubuh hancur. Karena Cambuk Sutra Sakti milik Eyang Ringkih Dewi telah berkelebat dan memporakporandakan barisan orang-orang itu.

"Hati-hati! Dia ternyata iblis yang sakti!"

Dan orang-orang itu pun berhamburan ke luar karena tak mau dijadikan sasaran cambuk Eyang Ringkih Dewi.

Tubuh Eyang Ringkih Dewi tiba-tiba melesat. Bersalto. Dan telah berdiri di hadapan orangorang itu yang menjadi terkejut.

"Hihihi... kalian tak akan bisa lari dari tanganku!"

"Iblis busuk! Kami akan mengadu jiwa denganmu!"

"Hihihi.... majulah kalian, kalian tentunya memang sudah ingin mati, bukan?"

"Bangsat! Serang!!"

Lalu orang-orang yang marah itu pun menyerang dengan hebat. Tetapi mereka bukanlah tandingan dari Eyang Ringkih Dewi yang meskipun dikeroyok oleh puluhan orang tetapi masih nampak santai saja.

"Kalian hanya membuang-buang nyawa dengan percuma!" desisnya sambil mengayunkan kembali cambuknya.

Dan terdengarlah kembali jeritan. Dan tubuh hancur.

"Hihihi... mampuslah kalian semua!"

Tiba-tiba dua sosok tubuh berkelebat ke arah orang-orang itu. Dan yang mengenakan jubah berwarna putih mengibaskan tangannya, hingga orang-orang itu berhempasan bagaikan diterpa angin yang kuat.

Kini kedua orang itulah yang berdiri di hadapan Eyang Ringkih Dewi.

"Hihihi... rupanya kalian berdua memang sengaja datang mengantarkan nyawa..."

"Eyang Ringkih Dewi... kami datang untuk menghentikan sepak terjang mu!" geram Juwita murka karena melihat sepak terjang dari Eyang Ringkih Dewi.

Dan dia kembali teringat pada kematian gurunya.

"Hihihi... kalau tak salah ingat, bukankah kau gadis yang telah mati di puncak Gunung Setan?!"

"Aku tidak mati, Manusia cabul!"

"Hihihi... bagus, bagus... agaknya darahmu cukup segar untuk ku nikmati..."

"Manusia cabul! Kau harus mengganti nyawamu dengan nyawa guruku!"

"Hihihi... rupanya kau murid dari salah seorang yang kubunuh itu. Bagus, bagus! Nah, kau siapa Laki-laki berjubah putih?"

"Dewi... namaku Madewa Gumilang... Aku tidak menginginkan sepak terjang mu ini berlangsung terus "

"Madewa! Kau rupanya datang untuk mengantarkan nyawa padaku! Nah, kau lihatlah mataku, Madewa!"

Madewa menatap mata yang tiba-tiba memancarkan pesona itu. Dia merasakan ada satu getar aneh yang mengalir dari pancaran mata itu yang menghujam ke bola matanya.

Madewa pun menjadi paham ketika dirasakannya dirinya seakan dimasuki oleh sinar yang mempesona. Buru-buru Madewa mengalirkan tenaga dalam dan hawa murninya. Dan mengalirkan ke matanya.

Tiba-tiba terdengar jeritan dari mulut Eyang Ringkih Dewi.

"Aaaaahhh!"

Lalu dia mengusap-ngusap matanya karena dia merasa matanya bagai dihujam oleh sebuah senjata.

"Bangsat! Rupanya kau berisi juga, Made-

wa!"

"Karena akulah yang akan menghentikan

sepak terjang mu, Eyang!!"

"Hhhh! Anjing busuk!" Lalu Eyang Ringkih Dewi menggebrak menyerang dengan hebat. Dan gerakannya begitu berbahaya.

Madewa pun dapat merasakan desiran angin yang cukup kuat menerpanya saat tubuh itu melayang. Dan tenaga itu dirasakannya akan mampu mendorong sebuah pohon hingga tumbang.

Namun kali ini yang dihadapi oleh Eyang Ringkih Dewi adalah seorang pendekar sakti. Dan yang dihadapi Madewa pun seorang tokoh sakti.

Hingga pertempuran yang terjadi selanjutnya teramat dahsyat dan hebat. Juwita hanya bisa memperhatikan dengan dada bergetar. Rupanya masih ada lagi orang-orang jago di rimba persilatan ini. Memang, di atas langit masih ada langit lagi!

Pertarungan antara kedua tokoh sakti itu demikian hebat dan mengerikannya. Madewa sendiri sudah menggunakan jurus Ular Meloloskan Diri, untuk menghindari seranganserangan berbahaya yang dilancarkan oleh Eyang Ringkih Dewi.

Gebrakan demi gebrakan yang dilancarkan oleh Eyang Ringkih Dewi begitu dahsyat. Sejenak Madewa seperti kehilangan arah karena setiap langkahnya seperti dicegat dan dihalangi oleh jurus Pusaran Angin milik Eyang Ringkih Dewi.

Setiap kali tubuhnya berkelebat, menimbulkan hawa dingin yang cukup kuat.

"Hihihi.... kau tak akan lari dari tanganku, Madewa Gumilang!"

"Dosa-dosamu sudah sulit untuk diampuni, Eyang! Sebaiknya kau kembali ke alam kuburmu sana, dan jangan lagi membuat onar di muka bumi ini!!"

"Kerja ku memang membuat onar, Madewa! Dan itu akan kulakukan sampai akhir hayatku!"

"Kau sudah mati, Eyang!"

"Hihih... kenyataannya kau melihat, bukan? Aku masih hidup dan segar bugar?"

"Karena kau telah menyedot darah segar dari tubuh manusia dan hawa murni yang mereka miliki!"

"Ya, sebentar lagi darah dan hawa murnimulah yang menjadikan aku hidup lebih lama!" seru Eyang Ringkih Dewi sambil terus mencecar Madewa dengan jurus Pusaran Anginnya.

Madewa sebisanya menghindar kepungan jurus itu dengan jurus Ular Meloloskan Diri. Dan secara tiba-tiba dia mencoba menerobos kepungan angin itu dengan jurus Ular Mematuk Katak yang disusul dengan Ular Cobra Bercabang Tiga.

Pertama tangannya bergerak mirip seekor ular yang hendak mematuk mangsanya. Sigap, cepat dan licin. Dan begitu tangan itu lolos dari Pusaran Angin milik Eyang Ringkih Dewi, tangan itu bergerak dengan cepat dan tiba-tiba saja tangan itu berubah menjadi banyak. Cepat dan tangguh.

"Des!"

Satu patukan tangan berbentuk ular menghantam keras dada Eyang Ringkih Dewi. Tetapi yang Madewa heran, tangannya seperti menghantam kapas. Kosong dan hampa.

Eyang Ringkih Dewi tertawa melihat wajah Madewa yang keheranan.

"Hihihi... kau tak akan bisa membunuhku, Madewa! Nah, kau rasakanlah ilmu cambuk Sutra Saktiku ini!" Lalu tangannya pun memainkan cambuk itu, hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.

"Madewa... " Juwita berseru. "Hati-hati dengan cambuk itu!"

"Tenanglah, Nona..." desis Madewa sambil bersalto menghindari ujung cambuk yang sudah berkelebat. Melihat serangan pertamanya gagal, Eyang Ringkih Dewi semakin menjadi ganas. Dia mengeluarkan permainan cambuknya yang dinamakan Menjilat Lidah Api!

Sambaran-sambaran cambuk itu teramat dahsyat. Dan setiap kali luput dari sasarannya dan menghantam pohon yang tumbuh di halaman rumah itu, maka tumbanglah pohon itu dalam keadaan hancur.

"Hihihi... kau tak akan bisa lari, Madewa!"

Sambaran-sambaran cambuk itu memang amat menyusahkan Madewa. Kali ini satu pertunjukkan yang teramat fantastis diperlihatkan oleh Madewa Gumilang. Ilmu meringankan tubuhnya yang teramat sempurna diperlihatkannya untuk menghindari sambaran-sambaram cambuk itu. Gerakannya sungguh teramat cepat dan hebat, yang dipadukan dengan jurus Ular Meloloskan Diri.

Dan tiba-tiba Madewa menggerakkan tangan kanannya. Dia tengah melepaskan pukulan Angin Salju. Dan serangkum angin dingin bergerak menerpa Eyang Ringkih Dewi. Wanita iblis itu tak menyangka kalau Madewa bisa melancarkan serangan balasan. Dan tubuhnya menjadi menggigil karena angin yang amat dingin itu. Secara otomatis serangan cambuk terhenti. Saat itulah Madewa Gumilang bergerak cepat sambil melancarkan pukulan Tembok Menghalau Badai.

"Des!"

Lagi-lagi dia merasakan pukulannya mengenai ruangan kosong dan hampa. Seperti kapas. Ini membuat Madewa menjadi geram.

Sementara Eyang Ringkih Dewi terkikik. "Kau tak akan mampu membunuhku, Ma-

dewa!"

Lalu perlahan-lahan Madewa pun mencoba

dengan pukulan andalannya. Dia merangkum kedua tangannya di dada. Dan perlahan-lahan terlihat asap putih mengepul dari kedua tangannya. Itulah Pukulan Bayangan Sukma warisan gurunya Ki Rengsersari atau Pendekar Ular Sakti.

Kala Eyang Ringkih Dewi menerjang dengan ayunan cambuknya, Madewa pun menerjang memapaki.

"Duaaarrrr!!"

Benturan bagai ledakan terjadi. Madewa terhuyung beberapa tombak dan merasakan dadanya amat sakit. Sementara Eyang Ringkih Dewi masih tegak berdiri tak kurang suatu apa. Melihat keadaan lawannya yang sudah agak parah, Eyang Ringkih Dewi pun menyerang bermaksud menghabisi nyawa Madewa Gumilang!

"Haaaiiiittt!!" Dia menerjang.

Sulit bagi Madewa untuk meloloskan diri. Dan "Aaaahhh!!" Terdengar satu jeritan keras. Bukan dari mulut Madewa Gumilang. Melainkan dari mulut Eyang Ringkih Dewi. Tubuhnya terpental ke belakang. Dan cambuk Sutra Saktinya melilit tubuhnya mengikat, membuat Eyang Ringkih Dewi kelojotan dan mencoba melepaskan diri.

Namun lilitan cambuk itu seperti makan tuan. Dan kembali terdengar jeritan keras, "Aaaaaahhh!" Lalu tubuh itu pun meledak hancur.

Mengapa bisa terjadi seperti itu. Tak lain adalah berkat sari ajaib rumput kelangkamaksa yang tak sengaja dihisap Madewa (Baca: Pedang Pusaka Dewa Matahari).

Madewa mendesah. Karena dia merasa tertolong dengan tenaga tak terlihat itu. Dia melihat mayat Eyang Ringkih Dewi hancur. Dan secara perlahan-lahan cambuk sutra saktinya ikut hancur.

Juwita mendesah panjang. Dia bermaksud hendak mendekati Madewa. Tetapi sosok itu telah lenyap dari pandangannya.  Malam pekat dan semakin larut.

***
SELESAI