Pusaka Negeri Tayli Jilid 15

Mode Malam
Jilid 15

"Berhenti!" serentak Cu Jiang berteriak dan dengan beberapa loncatan dia sudah berada di depan tandu.

Keempat pemikul tanda Itu berhenti dan letakkan tandu.

Wajah mereka berobah tegang.

"Siapa di dalam tandu? " seru Cu Jiang.

Keempat pemikul itu saling bertukar pandang. Tiba2 dari dalam tandu terdengar lengking seorang wanita:

"Siapa yang menghadang jalan itu?"

Cu Jiang terkejut. Keempat Tay-li-ko-jiu tak mungkin keliru meninggalkan pertandaan bahaya. Tetapi nada perempuan dalam tandu itu seperti bukan orang yang membutuhkan pertolongan.

Sejenak meragu, Cu Jiang segera mengambil keputusan.

Betapapun halnya, dia harus memeriksa lebih dulu. "Toan kiam-jan-jin." serunya dengan nada tergetar.

"Oh, Toan kiam-jan jin, sudah lama tak berjumpa.

Mengapa menghadang jalan?" seru wanita dalam tandu. Cu Jiang gelagapan tetapi dia tetap berkeras, serunya :

“Tandu ini agak mencurigakan, aku akan memeriksanya!" "Apa? Mau memeriksa?" "Ya."

"Apakah engkau hendak melanggar peraturan?" "Katakanlah begitu. Lekas buka pintu!"

"Toan-kiam-jan jin, ilmu silat mempunyai tata peraturan silat, masakan hendak digunakan untuk menggertak!"

"Aku tak peduli!"

"Aku seorang wanita baik, harap anda tahu aturan, jangan berbuat yang tak senonoh . . ."

Cu Jiang sudah terlanjur bertindak dan dia malu untuk mundur.

"Apakah menghendaki aku turun tangan?"

Keempat pemikul tandu itu tampaknya memang orang persilatan tetapi semua takut kepada Toan-kiam jan jin. kecuali mengeluh kejut, mereka tak berani ikut bicara.

Pintu tandu terbuka dan tampaklah seorang  wanita muda yang cantik tengah duduk dalam tandu.

Cu Jiang makin bingung. Keempat kojiu dari Tayli itu tak mungkin akan berolok-olok dengan dia tetapi mengapa mereka meninggalkan pertandaan rahasia di tandu itu? Ternyata dalam tandu itu kecuali seorang wanita muda yang cantik tak terdapat sesuatu yang mencurigakan lagi.

Adakah karena diancam maka nyonya muda itu tak berani bergerak?

"Harap beritahukan nama." akhirnya ia berseru.

Dengan tertawa secerah musim semi, nyonya itu berkata: "Apakah perlu harus begitu?" Suara tawa itu amat memikat hati. Tetapi Cu Jiang sudah tak mau kena pengaruh lagi.

"Tentu." sahutnya tegas.

"Apa engkau kenal aku? Kalau aku memberi keterangan yang palsu, apakah engkau dapat membedakan?"

Cu Jiang terbeliak.

"Ya, mungkin benar. Sekarang silakan turun saja." Nyonya cantik itu kerutkan alis. "Aku harus turun?"

serunya.

"Ya."

"Mengapa?"

"Tak perlu tanya. "

" Kalau aku tak mau?"

"Apa yang kukatakan, tentu kulakukan." "Apakah anda hendak membunuh aku?" "Mungkin."

"Sungguh tak ada aturannya. Engkau berjalan  sendiri dan akupun naik tandu sendiri . . ."

"Ah, terlalu banyak bicara, turun!" "Tetapi engkau harus memberi alasan!" "Aku hendak memeriksa tandu ini"

"Aneh, kitakan belum saling kenal, mengapa engkau hendak mengganggu kami "

"Lebih baik engkau turut perintah saja."

Terpaksa   nyonya   cantik   itu   turun   dari   pintu. Cu Jiangpun menghampiri ke pintu dan memandang ke dalam tandu. Ternyata tandu itu kosong melompong. Diam2 ia menghela napas dan meringis dalam hati.

"Sudahkah?" nyonya cantik itu tertawa mengejek. "Pergilah!" terpaksa Cu Jing mundur teratur. Dengan

tertawa nyonya cantik itupun segera melangkah masuk ke dalam tandu lagi.

Tiba2 sekonyong-konyong dari dalam tandu terdengar suara orang bernapas.

Telinga Cu Jiang yang tajam segera dapat menangkap suara itu dan terus membentak:

"Tunggu!"

Nyonya cantik Itu terkejut. Berputar tubuh dan menyurut mundur beberapa langkah.

"Toan kiam Jan-jin, apa maksudmu?"

"Apa yang berada dibawah dudukan itu ?" seru Cu Jiang.

Seketika wajah nyonya cantik itu berobah dan menyurut mundur lagi. Keempat pemikul tandu itupun ikut mundur.

Cu Jiang tak mau membuang tempo. Dia menghantam atas tandu dan mengangkat papan. Kejutnya bukan alang kepalang ketika melihat seorang manusia yang lebih menyerupai seorang manusia darah, berada dibawah  tempat duduk.

Orang itu telah dimasukkan kebawah tempat duduk sehingga tak kelihatan.

Setelah tempat duduk dibongkar, barulah orang itu dapat terlihat. Seketika Cu Jiang terkejut demi melihat orang itu:

"Dia !" Orang itu tak lain adalah Ho Bun Cai, congkoan dari Gedung Hitam yang mengaku sebagai suhengnya. Saat itu napasnya lemah sekali.

Melihat kepandaian Ho Bun Cai, tentu  yang merubuhkan dan memasukkannya kebawah tempat duduk tandu itu, memiliki kepandaian yang sakti.

Begitu rahasianya terbongkar, wanita cantik dan keempat pemikul tandu itu terus melarikan diri.

Ketika Cu Jiang menyadari, mereka sudah jauh sekali. Sebenarnya dia mampu mengejarnya tetapi menilik keadaan Ho Bun Cai yang sudah begitu payah, terpaksa dia harus menolongnya dulu.

Ternyata tubuh Ho Bun Cai penuh berhias sabetan pedang sehingga dagingnya murmur.

"Suheng, suheng !"

Ho Bun Cai hanya bergerak sedikit tetapi tak memberi jawaban apa2.

Cu Jiang segera mengangkat tubuh Ho Bun Cai dan dibawa kedalam hutan. Meletakkannya di tempat yang sunyi. Waktu ia memeriksanya, Cu Jiang makin lemas hatinya.

Bukan saja urat-uratnya malang melintang tak karuan, pun urat nadi bagian hati telah putus. Jelas luka bagian dalam lebih parah dari bagian luar.

Siapa yang telah melukainya sampai begitu hebat ?

Cu Jiang getun sekali karena tak dapat membekuk  wanita cantik itu. Lalu bagaimana dia harus bertindak ?

Amarahnya berderai-derai membanjir. Satu satunya murid dari ayahnya, ternyata tak dapat ditolong Sesosok tubuh berkelebat dan muncullah seorang tua bongkok, Cu Jiang segera mengenalinya sebagai salah seorang dari Empat-kojiu Tayli. Namanya Ko Kun.

"Apakah engkau yang membuat tanda rahasia itu ?" tegur Cu Jiang.

"Ya."

"Bagaimana peristiwanya ?"

"Hamba mendapatkan korban itu menggeletak dipintu sebuah kuil di tepi sungai. Mulutnya menyebut Toan-kiam- Jan-jin. Itulah sebabnya hamba terus meninggalkan pertandaan rahasia. Tetapi pada saat itu muncul beberapa orang yang membawa tandu. Korban juga diangkut kedalam tandu. Oleh karena telah menerima titah baginda bahwa hamba sekalian tak boleh turun tangan, demi melaksanakan amanat baginda dan demi menjaga keselamatan negara serta ciangkun sendiri, maka diam2 hamba mengikuti tandu itu untuk mencari kesempatan meninggalkan pertandaan rahasia pada tandu itu."

"Oh..."

"Apakah masih dapat ditolong ?" "Sukar," sahut Cu Jiang dengan sedih. "Ini. "

"Aku harus berusaha supaya dia dapat bicara !"

Ko Kun membungkuk dan memeriksa urat-nadi. Sesaat ia gelengkan kepala:

"Kecuali   terjadi keajaiban, tak mungkin dia dapat ditolong lagi !"

"Akan kusaluri tenaga-murni kedalam tubuhnya." "Mungkin tak dapat bahkan kebalikannya akan mempercepat kematiannya."

"Tetapi aku perlu bertanya banyak sekali kepadanya." "Ciangkun. "

"Jangan menggunakan sebutan itu."

"Baiklah," kata Ko Kun, "hanya dengan memberikan saluran tenaga-murni secara pelahan-lahan, Mungkin saja dapat menyadarkannya."

"Akan kucoba."

"Demi menjaga rahasia diri, maaf, terpaksa aku harus pergi. ."

"Silakan."

Ko Kun terus lari dan menyusup kedalam hutan. Saat itu Cu Jiang seperti mau menangis. Pertama karena mendapatkan suhengnya tak tertolong jiwanya dan kedua karena dia masih mempunyai banyak sekali pertanyaan yang belum diketahui. Kalau suheng itu mati.  rahasia itupun ikut lenyap.

Rahasia diri ketua Gedung Hitam. Musuh-musuh mendiang orang tuanya dan sebab2 mengapa dirinya sampai dianiaya oleh orang.

Kesemuanya itu masih merupakan teka teki besar yang belum terpecahkan. Bibinya, wanita gemuk itu, mungkin tahu semua peristiwa itu. Tetapi dia berada jauh di negeri Tayli.

Sementara saat itu suhengnya menghadapi kematian dan dia sendiripun terkena racun sehingga tak dapat berbuat suatu apa. Merenungkan hal itu semua teringatlah ia akan suhunya, Gong gong-cu. Jika suhunya berada disitu, tentulah mudah bila diajak berunding... Ah... tiba2 ia teringat. Bukankah dia saat itu sedang menuju ke gunung Busan untuk mencari Kui jiu-sin-jin Bun Yok Ih yang kabarnya mempunyai kepandaian mengobati orang yang sudah mati dapat hidup lagi.

Jika demikian apabila dia membawa suhengnya kesana, tentulah   ada   harapan  jiwanya  tertolong.   Tetapi  ah ...  .

Busan sedemikian jauh dan keadaan suhengnya  sedemikian

parah, apakah hal itu dapat tercapai.

Setelah merenung sekian saat, ia memutuskan untuk memberi pertolongan sendiri. Dengan tangan kiri melekat ke pusar suhengnya, ia menyalurkan tenaga-murni. Kemudian tangan kanannya menutuk ketiga belas jalan darah tubuh suhengnya.

Beberapa waktu kemudian barulah tampak mulut Ho Bun Cai mulai bergerak-gerak dan napaspun mulai mendengus, kemudian membuka mata. Tetapi sinar matanya tampak kuyu.

"Suheng, suheng. apakah kenal kepadaku?" serunya tegang.

Setelah mengulang berapa kali tampak bibir Ho Bun Cai mulai bergetar tetapi tetap terkatup. Rupanya dia hendak berkata tetapi tak dapat bersuara. Sikapnya mengunjukkan penderitaan yang hebat.

Perasaan Cu Jiang makin rawan. Dia memperkeras saluran tenaga murninya sembari berseru memanggil: "Suheng, suheng."

Dengan susah payah akhirnya mulut Ho Bun Cai dapat juga mengucap beberapa patah kata.

"Bu-lim  ....  seng-hud  .  .  .   Sebun.  .  .  Ong balas

dendam " dia hendak melanjutkan kata-katanya tetapi tak

kuat. Matanya melotot dan seketika putuslah nyawanya. Cu Jiang memeluk tubuh suhengnya dan menangis tersedu-sedu. Sanak saudaranya dalam dunia ini, satu demi satu telah meninggalkannya. Betapapun keras hatinya namun hancur juga kesedihannya.

Bu-lim-seng-hud si Buddha-hidup Sebun Ong itu si manusia agung yang palsu itu. Mengapa dia membunuh Ho Bun Cai? Apakah karena Ho Bun Cai itu congkoan dari Gedung Hitam.

Tetapi apa bedanya Sebun Ong dengan ketua Gedung Hitam? Bukankah mereka setali tiga uang, sama2 manusia jahat?

Apakah Ho Bun Cai tak dapat meloloskan diri dari genggaman Gedung Hitam?

Dengan menilai beberapa kesan itu akhirnya Cu Jiang menyimpulkan bahwa wanita cantik dalam tandu itu tentulah salah seorang anak buah gerombolan Hoa-gwat- bun.

Sungguh tak terduga bahwa Sebun Ong dapat menguasai gerombolan perempuan2 jalang itu.

Hm jika tak dapat membuka kedok manusia Sebun Ong, dunia persilatan tentu tak mau percaya bahwa apa yang mereka agungkan sebagai ksatrya berbudi luhur seperti Buddha-hidup ternyata seorang manusia jahanam.

Cu Jiang teringat pula akan peristiwa ketika Ho Bun Cai ditantang oleh Tio Pit Bu. murid dari Hun-kong kiam Go Siok Ping. Ho Bun Cai mengatakan bahwa dia tak mau menggunakan jurus ilmu pedang yang dahulu itu.

Dia duga yang dimaksudkan Ho Bun Cai itu tentulah sejurus ilmu pedang It kiam-tui-hun ajaran mendiang ayahnya. Ah, jika pada malam itu dia tak ikut campur dan membiarkan Tio Pit Bu mendesak Ho Bun Cai, tentulah dia segera dapat mengetahui diri Ho Bun Cai. Dan tentulah dia akan memperoleh banyak keterangan dari suhengnya itu. Dan mungkin peristiwa sedih seperti saat itu takkan terjadi.

Tetapi kesemuanya itu sudah terjadi dan tak mungkin dirobah. Sesal kemudian tak berguna. Suhengnya telah mati dengan mengenaskan sekali.

"Sebun Ong! Sebun Ong!" ia menggeram dengan penuh dendam kesumat. Kemudian ia mencari sebuah tempat di tepi sungai untuk mengubur Jenazah Ho Bun Cai. Ia mencari batu untuk nisan dan dengan jarinya ia menggurat beberapa patah kata:

Makam Ho Bun Cai, murid Dewa-pedang.

Karena menulis itu dia harus menggunakan tenaga- dalam dan saat itu dia rasakan badannya kurang enak. Tetapi dia tak menghiraukannya. Kesedihan  dan kemarahan yang meluap-luap telah menegangkan urat- syarafnya.

Selesai penguburan, dia memberi hormat yang terakhir dan siap hendak tinggalkan tempat itu. Sekonyong-konyong terdengar sebuah suara orang berseru dengan nada dingin:

"Toan kiam-jan jin, tempat ini bagus sekali alam pemandangannya. Tepat kalau menjadi tempat peristirahatanmu selama-lamanya."

Cu Jiang terkejut dan cepat berputar tubuh. Dua tombak jaraknya, tegak seorang yang berpakaian hitam dan mukanya bertutup kain hitam.

Ah, orang itu adalah tokoh misterius yang paling termasyhur dalam dunia persilatan dewasa itu, yaitu ketua Gedung Hitam. Seketika meluaplah darah Cu Jiang, serunya geram: "Pohcu, selamat bertemu! "

Ketua Gedung Hitam tertawa gelak2.

"Toan kiam jin jin, apakah engkau pernah sesumbar hendak menghancurkan Gedung Hitam?"

"Benar."

"Mampukah engkau?" "Tentu!"

"Ha, ha, ha, ha! Jangan keliwat tak tahu diri!" "Kenyataan nanti yang akan membuktikan!"

"Aku harus bersyukur kepadamu karena engkau mau merawat mayat congkoan kami Ho Bun Cai," seru ketua Gedung Hitam.

"Hm," Cu Jiang mendengus.

"Mengapa engkau tahu bahwa dia itu murid dari Dewa pedang?"

"Tak perlu engkau tahu." baru berkata begitu tiba2 Cu Jiang terkesiap. Congkoan dibunuh orang mengapa ketua Gedung Hitam itu tidak menanyakan sebab2 pembunuhan itu kebalikannya mengalihkan pembicaraan pada lain soal? Sungguh mengherankan!

Saat itu Cu Jiang hendak bertanya tentang peristiwa pembunuhan kedua orang tuanya tetapi pikir2, sebelum ada bukti tentulah ketua Gedung Hitam itu akan menyangkal.

Dan kalau mengemukakan peristiwa pembunuhan itu, bukankah dirinya sendiri tentu akan ketahuan. Saat itu dia sedang terkena racun, belum tahu bagaimana nanti nasibnya. "Toan-kiam jan-jin." tiba2 ketua Gedung Hi tam berseru pula, "jangan2 engkau ini juga pewaris dari Dewa-pedang Cu Hong Ko?"

"Kalau betul begitu, lalu bagaimana?" balas Cu Jiang. "Engkau sesumbar hendak menghancurkan Gedung

Hitam," kata ketua Gedung Hitam, "atas dasar perhitungan apa?"

"Perhitungan darah!"

"Dalam peristiwa yang mana?" "Seharusnya engkau Sudah tahu jelas.”

"Banyak sekali aku berhutang kepada orang. Silakan engkau mengatakan sendiri!"

Cu Jiang merenung. Jika mengatakan pada saat itu, tentulah dirinya akan ketahuan. Saat itu masih belum waktunya, lebih baik dia tak mengungkat peristiwa itu, Jika musuhnya bukan hanya terbatas ketua Gedung Hitam itu sendiri, bukankah mereka akan terkejut dan tahu lalu bersiap-siap?

Serentak dia teringat akan pesan Ang Nio Cu bahwa selama dalam perjalanan untuk mencari obat ke Busan itu, sekali-kali jangan marah dan jangan berkelahi dengan orang karena hal itu akan mengakibatnya racun segera bekerja keras.

"Aku tak mau membereskan hutan darah itu sekarang," seru Cu Jiang.

"Kenapa ?" "Itu urusanku."

"Tetapi aku justeru hendak mengambil batang kepalamu!" "Coba saja kalau mampu!"

Tiba2 dari dalam hutan berhamburan keluar belasan sosok bayangan manusia. Cu Jiang mengerling pandang ke sekeliling dan melibat dua diantara orang2 itu terdapat dua orang tua yang tak asing baginya.

Kedua orang itu adalah kedua jago silat yang menjadi pengawal Kopuhoa anak raja Biau waktu meminang puteri baginda Tayli dahulu.

Kini jelas bagi Cu Jiang, bahwa anak raja Biau itupun sudah ditunggangi ketua Gedung Hitam untuk dijadikan alat memburu kitab pusaka Giok kah- kim-keng.

Cu Jiang kenal dengan kedua kojiu itu tetapi sebaliknya mereka tak mengenali dirinya. Waktu di Tayli, dia mengenakan kedok sebagai panglima Tia-tin-ciang-kun. Dan dia pun tidak menggunakan pedang kutung seperti sekarang.

Ha, kini makin jelas bahwa Gedung Hitam itu ternyata sangat bernafsu sekali untuk mendapatkan kitab Giok-kah- kim-keng. Thian-hian-cu dan Go-leng-cu, berturut-turut telah menjadi korban mereka.

Saat itu Cu Jiang tak dapat melanjutkan renungannya lebih lanjut karena bayangan orang2 itu makin menyempitkan kepungannya hingga hanya terpisah jarak lima tombak.

Cu Jiang menyadari bahwa pertempuran berdarah tak dapat dihindari lagi. Bagaimana nanti akhirnya, ia tak dapat membayangkan.

"Heh, heh, Toan-kiam-jan-jin." ketua Gedung Hitam tertawa mengekeh, "mengapa engkau tak mau memberitahukan asal usul dirimu lebih dulu ?" "Tak perlu!"

"Bagaimana kalau engkau bunuh diri saja?" "Jangan mimpi!"

"Kalau bertempur, engkau tentu akan mati lebih mengenaskan . . ."

"Mungkin engkau ?"

"Hm, mari kita lihat saja . .."

Belum habis ucapan itu tiga Pengawal Hitam serentak maju dari tiga arah. Cu Jiang terkesiap. Ia mendapat kesan bahwa kesemuanya itu tentu sudah diatur lebih dulu.

Gedung Hitam hendak menggunakan siasat bertempur secara bergilir untuk menghabiskan tenaganya. Dan yang terakhir baru ketua Gedung Hitam itu sendiri yang akan turun tangan.

Saat itu dia masih terkena racun. Menurut Ang Nio Cu, dia tak boleh menggunakan tenaga dalam. Karena apabila dia menggunakan tenaga, racun itu tentu akan bekerja.

Jika saat itu tidak hendak meloloskan diri, memang tidak sukar. Dengan ilmu langkah Gong-gong-poh-hoat, dia tentu mampu lolos dari kepungan musuh. Tetapi karena masih berdarah panas, dia tetap tak takut.

Dan terutama nanti apabila menghadapi ketua Gedung Hitam, dia akan bertempur mati-matian. Sekalipun dia harus mati, asal durjana itu juga tewas, dia sudah puas.

"Hm, apakah anda tak berani turun tangan sendiri?" serunya sambil memandang tajam kepada ketua Gedung Hitam.

"Siapa bilang?" "Mengapa harus suruh mereka mengantar jiwa lebih dulu?"

"Untuk melatih kepandaian mereka."

"Ucapan yang indah. Tetapi tidakkah anda bermaksud hendak menggunakan siasat bertempur secara berantai?"

"Andaikata begitupun tidak apa. Asal bisa mengambil nyawamu."

"Anjing yang tak tahu malu..."

Saat itu ketiga pengawal Hitam sudah maju dengan serangan pedang. Ditilik dari kehebatan serangan mereka tentulah mereka itu termasuk jago2 pilihan dari Gedung Hitam.

Pelahan-lahan Cu Jiang melolos pedang keluar. Matanya memancarkan sinar berkilat-kilat buas. Dalam keadaan seperti saat itu, hanya tinggal satu pilihan, membunuh atau dibunuh.

Suasana dalam ruanganpun segera berobah tegang regang, penuh dengan hawa pembunuhan.

Ketua Gedung Hitam mundur sampai empat lima langkah. Serentak terdengar tiga buah aum  pekik yang dahsyat dari ketiga Pengawal Hitam yang menyerbu dari tiga arah.

Dengan menggigit gigi, Cu Jiang segera lancarkan jurus Thian te-kiau-toay atau langit bumi-saling-terangkap.

Huak buk ....

Terdengar jeritan ngeri dan sinar merah darah.  Dua orang pengawal Hitam segera rubuh ke tanah. Sedang yang seorang terhuyung-huyung mundur dengan berhias tiga empat tusukan pedang. Seluruh anak buah Gedung Hitam  yang berada di gelanggang situ, pucat seketika. Serentak tiga lelaki tua baju hitam masuk kedalam gelanggang. Salah seorang adalah jago yang menyamar sebagai pengawal putra raja Biau tempo hari. Jelas bahwa ketiga lelaki tua baju hitam  itu lebih sakti dari kawanan Pengawal Hitam.

Saat itu Cu Jiang rasakan kepalanya agak pusing?, Ia menyadari dirinya akan tertimpah malapetaka. Diapun sudah membulatkan tekad. Sebelum dia rubuh, mudah- mudahan dia dapat membunuh kepala Gedung Hitam itu.

Ketiga lelaki tua baju hitam itu dengan menudingkan ujung pedang, pun sudah maju menghampiri.

Yang menyerang lebih dulu, akan memiliki kesempatan lebih kuat. Cu Jiang teringat akan ajaran itu. Saat itu bukan menguji kepandaian tetapi sedang beradu jiwa. Kalau salah langkah, pasti akan mati dibawah ujung pedang musuh.

Suatu hal yang membuat hatinya penasaran.  Matipun dia tentu takkan meram, Bagaimana nanti dia harus mempertanggung jawabkan dirinya kepada raja Tayli, kepada Gong gong-cu dan kepada kawan-kawan yang telah mati terbunuh oleh keganasan musuh...

Tiba2 ia mengembangkan ilmu langkah Gong-gong poh hwat Sekali menggeliat, dia terus melenyapkan diri dari hadapan ketiga lawan.

Huak, huak, huak

Terdengar tiga buah jeritan ngeri dan diatas tanah segera bertambah dengan tiga sosok mayat lagi.

Ketua Gedung Hitam terkesiap. Seluruh anak buah Gedung Hitampun tercengang menyaksikan peristiwa luar biasa itu. Tetapi saat itu Cu Jiangpun terhuyung-huyung. Kepalanya makin pening. Sebelah tangannya mulai mati rasa. Dia menyadari bahwa keadaannya sudah makin gawat sekali. Jika tidak segera bertindak, tentulah dia akan mati dengan membawa dendam penasaran.

Serentak dia melompat ke tempat ketua Gedung Hitam seraya membentak:

"Cabut pedangmu!"

Gerakan Cu Jiang itu memang diluar dugaan dan diluar dugaan pula ketua Gedung Hitampun mundur selangkah.

Tiga jago pedang segera loncat menyerang Cu Jiang dari belakang. Tanpa berpaling, Cu Jiang mengayunkan pedangnya ke belakang.

Terdengar dering yang tajam dan tiga butir kepala manusia terlempar jatuh. Yang dua orang tangannya juga putus.

Tetapi Cu Jiang makin pening. Bahkan  pandang matanya sampai berkunang-kunang, perutnya mual mau muntah, Itulah gejala dari bekerjanya racun. Namun dia tetap mengertek gigi dan bertahan berdiri tegak.

Dia merasa bahwa ketua Gedung Hitam itu memang tengik sekali. Tak mau melayani tantangannya tetapi terus main mundur dan menyuruh anak buahnya yang maju dulu. Jika demikian, sia-sialah harapannya. Dia mati tanpa dapat menyentuh ketua Gedung Hitam yang dibencinya itu.

Tiba2 ketua Gedung Hitam yang mundur sampai tiga tombak jauhnya.

"Mundur !" serunya. Sekalian anak buahnya yang siap hendak menerjang Cu Jiang, serempak mundur dan tinggalkan tempat itu. Cu Jiang diam2 menghela napas longgar dalam hati. Ah, kalau saja ketua Gedung Hitam itu tahu akan keadaan dirinya saat itu, tak mungkin dia mau memberi perintah mundur kepada anak-buahnya.

Sesaat Cu Jiang tertegun. Dia merasa seperti kembali dari akhirat. Diapun mulai merenungkan tindakan ketua Gedung Hitam tadi Apakah ketua Gedung Hitam itu takut kehilangan banyak sekali jago-jagonya ?

Atau sebab karena merasa tak mampu melawan musuh, mereka agar jangan kehilangan pamor di hadapan anak buahnya, ketua Gedung Hitam itu lalu memerintahkan mereka mundur ?

Tiba2 iapun teringat akan keadaan dirinya. Bukankah akan berbahaya sekali apabila musuh bersembunyi dan masih mengawasi dirinya ?

Diam2 Cu Jiang menggigil terus ayunkan langkah menuju ke jalan besar. Tetapi baru berjalan beberapa belas langkah, masih belum keluar dari lingkungan medan pertempuran tadi, ia rasakan pandang matanya gelap, kepalanya berat dan tubuhnya kaku sehingga dia tak kuat menggerakkan kaki lagi. Tubuhnyapun terhuyung huyung akan jatuh.

Dalam keadaan antara sadar tak sadar, sekonyong- konyong ia melihat sesosok bayangan orang berkelebat di hadapannya.

"Mati aku .. . ." hati mengeluh, tangan pun segera menyambitkan pedangnya ke muka dan orangnya terus rubuh. Pada waktu ia rubuh, ia masih sempat mendengar sebuah suara yang dikenalnya. Tetapi siapa orang itu atau bagaimana kelanjutannya dia tak mampu mengetahui lagi karena saat itu dia terus pingsan. Waktu dia membuka mata, ia dapatkan dirinya rebah di atas sebuah ranjang yang beralas jerami dan diterangi oleh sebuah pelita.

Di manakah dia saat itu? Mengapa dia tak mati? Siapa yang menolongnya? Mengapa, bagaimana dan kenapa menghujam benaknya.

"Adik kecil, apakah engkau masih kenal aku?" tiba2 terdengar sebuah suara.

"O. lo koko." serentak Cu Jiang mengenal siapa orang itu dan berseru sambil bangkit.

Kini dia baru mengetahui bahwa Thian-put thou Ciok Yau liu duduk di samping ranjangnya.

"Bagaimana yang engkau rasakan? " tanya Ciok Yau Je pula.

Cu Jiang berusaha hendak bangun tetapi tenaganya lunglai sekali. Ia mencoba pula untuk mengerahkan tenaga- murni, juga tak mampu. Keadaan itu sama dengan orang yang tak dapat ilmu silat. Ia tertawa hambar.

"Lo-koko, aku mungkin sudah tak berguna!"

"Siapa bilang!" teriak Thian-put-thou dengan keras, "bagaimana engkau tak berguna lagi..."

"Tetapi ilmu kepandaianku sudah lenyap!" "Ah, apakah yang telah terjadi pada dirimu?"

Cu Jiang segera menuturkan semua yang di alaminya. Setelah terkena tusukan beracun dari anak buah Hoa-gwat- bun, dia telah dikepung anak buah Gedung Hitam.

Lalu terjadi pertempuran berdarah yang menyebabkan racun dalam tubuhnya berkembang sehingga dia rubuh.

Thiau-put thou kerutkan dahi. "Ah, kutahu engkau memang terkena racun. Tetapi aku tak menduga kalau engkau terkena racun Toan bun tok yang ganas itu..."

"Lo-koko, tempat apakah ini?"

"Rumah pondok Bulu-ayam. Kupilih rumah penginapan kecil ini agar tidak menarik perhatian orang."

"Bagaimana lo-koko secara kebetulan sekali dapat berjumpa dengan aku?"

"Ha, ha, memang suatu kebetulan yang jarang terjadi. Aku sedang mondar mandir di Kai-ciu, tak terduga telah berjumpa dengan sesosok tubuh yang menggeletak di tepi jalan. Ternyata dia adalah Gong Beng taysu,  seorang tianglo dari vihara Siau lim yang telah menjadi sahabat baikku. Dia tak dapat menjawab pertanyaanku. Setelah kuperiksa ternyata dia terkena pukulan beracun Ngo tok ciang dari Ngo tok-mo, iblis ke tujuh dari gerombolan iblis Sip-pat-thian-mo. Segera kubawa ia menyingkir lalu aku nekad mencuri obat penawar racun di markas cabang Thian tong-kau di Kwi ciu.”

"Apakah Ngo-tok mo itu ketua cabang Thian-thong kau di Kwi-ciu?"

"Benar."

"Lalu ?"

"Dengan susah payah akhirnya aku berhasil mencuri sebutir pil Hui-lok wan. Ketika aku tiba ditempat persembunyian. ternyata Gong Beng sudah meninggal. Terpaksa dengan hati masygul aku melanjutkan perjalanan lagi. Secara kebetulan kulihat engkau terhuyung-huyung rubuh. Aku bergegas lari menghampiri tetapi engkau terus melontarkan pedangmu kepadaku." "Maaf. lo-koko, kukira musuh yang datang.."

"Ah, tak apa. Waktu kuperiksa nadi pergelangan tanganmu kudapatkan engkau tak menderita luka tetapi terkena racun. Maka pil Ho tok-wan yang sedianya hendak kuberikan kepada Gong Beng taysu itu, kuminumkan kepadamu..."

"Oh, lo-koko, benar2 suatu kebetulan yang luar biasa !" "Tetapi  Hoa  tok-wan itu hanya  mampu menahan racun

Toan  bun  tok  itu  untuk  sementara waktu  tetapi  tak dapat

menghapus racun itu!"

"Aku hendak ke gunung Busan untuk menemui Ang Nio Cu."

"Ang Nio Cu?" "Ya"

"Bagaimana engkau bersahabat dengan momok wanita itu?"

"Aku banyak berhutang budi kepadanya."

"Momok wanita itu memang misterius sekali. Kabarnya dia itu anak murid dari perguruan Hiat-ing-bun (bayangan darah). Siapakah sesungguhnya dia ?"

"Maaf, lo koko. Walaupun aku bersahabat dengan dia, tetapi aku sungguh2 tak tahu bagaimana wajahnya yang asli."

"O, begitu."

"Dia hendak mengajak aku ke puncak Sin li-hong untuk meminta obat kepada Kui Jin-sin Jin."

"Siapa? Kui-Jiu-sin jin?"

"Ya. Apakah lo-koko kenal padanya?" Thian-put-thou kerutkan alis, katanya. "Mungkin hal itu sukar terlaksana." "Mengapa ?"

"Kui jiu sin-jin itu seorang manusia yang terkenal aneh sekali wataknya. Sifatnya yang nyentrik, mungkin tiada keduanya di dunia ini. Dia tinggal di lembah Mo-jin-koh . .

. ."

"Apa ? Mo jin koh !"

"Ya. Mo jin kok atau Lembah-emoh-manusia." "Mengapa memakai nama itu ?"

"Hm, dia sendiri yang menamakan tempat itu. Lembah itu merupakan sebuah tempat yang buntu, hanya terdapat sebuah jalan yang menuju ke lembah buntu itu. Lalu dia memperlengkapi lembah itu dengan bermacam-macam Ki bun (barisan aneh). Disebelah luar di tanami rumput dan bunga2 beracun. Tanpa mendapat ijinnya, tiada seorangpun yang boleh masuk. Itulah makanya disebut Mo Jin koh."

"Tetapi kecuali ke sana aku tiada lain daya lagi." "Baiklah, aku bersedia menemanimu kesana." "Ah, hanya merepotkan lo-koko saja "

"Jika engkau begitu, aku akan pergi." "Ya. ya, akan kubantu saja."

"Juga tidak boleh." Cu Jiang tertawa lalu mengiakan. "Apakah engkau tak dapat jalan ?" tanya Thian-put-thou.

"Hm rasanya begitu."

"Pada hal banyak sekali musuh2 yang menghendaki jiwamu." "Memang aku sedang mengalami kemalangan yang tak terduga."

"Jika aku terang-terangan membawamu kesana, tentu akan timbul kesulitan

Cu Jiang tertawa hambar dan mengiakan.

Thian-put thou merenung sejenak. Tiba2 ia menepuk paha, serunya.

"Ada ! Kita berdua minta nasi!" "Minta nasi?" Cu Jiang terbeliak.

"Hm. kita berdua berganti dengan pakaian pengemis. Aku mempunyai beberapa kedok muka dan kita lalu menyamar sebagai pengemis. Tentu orang takkan tahu dan takkan mengganggu perjalanan kita."

"Kalau mempunyai kedok muka, mengapa harus menyaru sebagai pengemis?"

"Adik kecil, kakimu yang pincang itu tentu paling menarik perhatian orang. Jika menyaru sebagai pengemis dan berjalan dengan sebatang tongkat, tentu dapat mengelabuhi mata orang."

"Kita berjalan siang malam. Kalau siang engkau berjalan sendiri, kalau malam baru engkau ku panggul."

"Ah, lo-koko !"

"Sudahlah, jangan banyak ini itu lagi."

Cu Jiang bersyukur sekali dalam hati. Jika tidak bertemu dengan raja copet Thian put thou, dia tentu mengalami nasib yang mengenaskan sekali.

Demikianlah dengan menyaru sebagai pengemis mereka lalu menempuh perjalanan. Dan selama dalam perjalanan itu mereka tak menemui gangguan apa2, tiba dengan selamat di gunung Busan.

Diperhitungkan bahwa saat itu Cu Jiang sudah tujuh hari berpisah dengan Ang Nio Cu. Walaupun tiap hari makan sebutir pil Pit-tok wan, tetapi keadaannya makin payah. Adakalanya dia seperti tak sadar pikirannya dan hampir tak dapat melanjutkan perjalanan lagi. Untunglah Thian-put- thou memberi bantuan kepadanya.

Walaupun sudah tiba di gunung Busan tetapi untuk mencapai puncak Sin-li hong, merupakan suatu jarak perjalanan yang cukup sukar. Dalam penyamarannya sebagai pengemis itu, tentulah Ang Nio Cu sukar untuk mengenal mereka.

Rupanya Thian-put-thou menyadari hal itu maka dia segera mencopot penyamarannya dan ganti pakaian seperti semula lagi.

Dengan susah payah akhirnya dapat dia membawa Cu Jiang ke bawah kaki puncak Sin-li-hong dan menempatkannya di sebuah tempat yang cukup aman.

Ia mengeluarkan ransum kering tetapi Cu Jiang  sudah tak sadarkan diri dan tidak dapat makan dan minum lagi.

Menunggu sampai setengah hari, masih belum juga Ang Nio Cu muncul. Thian put-thou mulai gelisah. Waktu sudah amat mendesak sekali.

Kalau tak lekas mendapat pertolongan, Cu Jiang tentu mati. Sedang dia sendiri tak tahu bagaimana cara memasuki lembah itu. Dengan begitu jelas dia tak mungkin dapat mencari manusia aneh Kui-Jiu-sin jin.

Saat itu mentari mulai condong ke balik gunung, cuacapun mulai meremang petang. Sayup2 terdengar lolong kawanan serigala dan binatang buas. Tak mungkin dia paksakan diri membawa Cu Jiang ataupun dia sendiri, menuju ke lembah Mo-jin koh.

Akhirnya, dalam keputusan daya. Thian-put-thau melepaskan harapannya kepada Ang Nio Cu. Besok pagi terang tanah, dia akan membawa Cu Jiang untuk mencapai lembah Mo Jin koh.

Hawa malam di gunung itu terasa dingin sekali. Terpaksa Thian-put thou menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan. Disamping itu api unggunpun dapat mengenyahkan bangsa ular dan serangga.

Maka dia terus keluar dari gua tempat persembunyian itu untuk mencari rumput kering dan kayu bakar. Tetapi sekitar tempat itu merupakan sebuah pegunungan karang yang tandus. Yang tumbuh hanya jenis pakis dan beraneka rumput.

Apabila hendak mencari kayu bakar harus turun kedalam hutan yang jaraknya sepuluhan tombak dibawah.

Tetapi dia tak enak kalau meninggalkan Cu Jiang yang masih pingsan itu seorang diri. Setelah memikir bolak balik, akhirnya ia memutuskan tetap akan mencari kayu bakar kehutan itu. Api unggun itu perlu untuk menghangatkan dingin. Asal dia cepat pergi dan cepat pulang, rasanya Cu Jiang tak perlu harus dikuatirkan keselamatannya.

Maka diapun terus turun kebawah dan setelah mengumpulkan beberapa ranting kering, ia terus bergegas kembali lagi. Tiba di mulut gua, ia seperti tersambar geledek kagetnya.

Cu Jiang sudah lenyap !

Setelah agak terang, dia mulai memeriksa keadaan gua dan sekitar. Dia tak melihat barang suatu jejak dan telapak kaki binatang ataupun bekas2 tubuh yang diseret keluar. Jelas Cu Jiang tentu bukan dimakan binatang buas melainkan oleh seseorang. Dan menilik peristiwa itu tak meninggalkan suatu bekas apa2, jelas orang itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang sakti.

Karena kalau tidak, tak mungkin kehadiran orang itu dapat mengelabuhi pendengaran dan penglihatannya. Apalagi dia hanya sebentar saja meninggalkan gua itu.

Lalu siapakah orang itu ? Ang Nio Cu ?

Mungkin. Dan mudah-mudahan saja dia. Tetapi kalau bukan dia, ah. celaka. Kalau saja Cu Jiang jatuh ketangan musuh, dia pasti akan mati ....

Baru pertama kali sepanjang hidupnya, Thian put-thou merasa gelisah sekali. Pada hal biasanya dia terkenal sebagai manusia yang tak acuh segala apa di dunia ini.

Kemanakah dia harus mencari Cu Jiang dalam malam yang segelap itu? Jangankan mencari, sedangkan berjalan saja sukar untuk melihat jalan.

Tetapi bukanlah Thian-put-thou atau si Pencuri-sakti, apabila dalam menghadapi situasi begitu  menjadi kelabakan. Dia memang cerdik. Dalam menghadapi kekacauan seperti itu. yang pertama-tama dilakukan adalah menenangkan pikirannya dulu.

Setelah tenang, barulah dia mulai mengadakan analisa tentang peristiwa itu dan siapa2 yang patut dicurigai.

Yang paling keras diduganya adalah Ang Nio Cu. Mungkin karena tetap hendak menjaga gerak geriknya yang serba misterius itu, Ang Nio Cu tak mau tindakannya diketahui orang. Maka diam2 dia mengikuti perjalanan Cu Jiang dan menggunakan kesempatan Thian-put-thou sedang turun kebawah mencari ranting kering Ang Nio Cu terus menyambar dan membawa Cu Jiang pergi.

Kemungkinan yang kedua, jatuh pada fihak Gedung Hitam. Tetapi kemungkinan itu memang tipis. Karena setelah menyamar sebagai pengemis, kalau orang2 Gedung Hitam itu memang sudah mengetahui, tentu ditengah perjalanan mereka sudah turun tangan. Tak perlu menunggu sampai ditempat itu.

Kemungkinan ketiga, diarahkan kepada musuh2 Cu Jiang yang secara tak sengaja ialah berpapasan di tengah jalan. Mereka segera menggunakan kesempatan  untuk turun tangan. Sudah tentu kemungkinan ini yang paling tipis sendiri...

Dengan begitu jelas bahwa kemungkinan pertama itu yang paling besar. Betapapun saktinya tetapi Ang Nio Cu itu seorang wanita. Dengan memanggul tubuh Cu Jiang tentulah langkahnya agak tak leluasa.

Asal dia terus menyusul ke arah lembah Mo Jin koh, tentulah akan dapat menemui mereka. Dan apabila tiba di lembah itu ternyata tak menemui mereka, Jelas kalau Cu Jiang tentu tertimpah suatu peristiwa yang tak diharapkan.

Setelah puas menganalisa, Thian-put thau lari menuju kearah lembah Mo-Jin-koh.

Dalam malam segelap itu sukar untuk mencari jalan. Thian-put-thou hanya lari dengan berpedoman pada arah letak lembah itu. Jika memang Ang Nio Cu tidak sengaja menyembunyikan diri, tentulah dia akan dapat menyusul. Dan Thian put-thou mempunyai keistimewaan yang dapat diandalkan yakni pendengaran dan penglihatannya, luar biasa tajamnya.

Melintasi puncak Sin li hong, dia mendengar gemericik suara air dari sebuah parit yang terbentang dihadapannya. Ditengah parit itu. penuh dengan batu2 menonjol  yang aneh bentuknya. Besar kecil seperti bayangan setan.

Betapapun besar nyali si Thian-put thou itu, tetapi dia meremang juga bulu-romanya.

"Haha..." tiba2 dari tengah parit itu terdengar suara tawa dingin tetapi tak ada orangnya.

Tetapi Thian-put-thou malah bangkit semangatnya. Paling tidak dia telah bertemu orang entah kawan entah lawan. Dia tak mau bergegas mencari tahu tempat persembunyian orang itu melainkan hentikan langkah dan batuk2 lalu berseru.

"Siapa ?"

"Anda seharusnya dapat mengenali." sahut suara orang itu. Dan nadanya jelas seorang wanita.

Girang Thiau-put-thou bukan alang kepalang. Ia merasa seperti terlepas dari himpitan batu besar.

"Bukankah anda ini Ang Nio Cu ?" serunya.

"Benar. Tengah malam buta anda berkeliaran ditengah lembah pegunungan yang sunyi, sungguh suatu kegemaran yang luar biasa..."

"Hi, hi, haha sama-sama."

"Apakah sebenarnya yang anda cari ?" "Papan merk ku jatuh !"

"Apa ?" "Merk namaku jatuh." "Mengapa ?"

"Kecuali hanya langit, segala apa dalam dunia ini dapat kucuri semua. Tetapi malam ini aku justeru kecurian."

"Benda apa ?" "Seorang bocah besar!"

"Pencuri tua, Jangan bergurau. Urusan ini gawat sekali." "Urusan apa ?"

"Lekas usahakan supaya si maniak aneh dalam lembah ini keluar untuk mengobati Toan-kiam-jan-jin."

"Ah, dimana dia ?" "Keadaannya gawat sekali."

"Apakah engkau bukan manusia ?" "Hm."

"Mengapa engkau tak mau melakukannya sendiri tetapi menyuruh aku si tua ini ?"

"Bukan menyuruh tetapi meminta. Aku, Ang Nio Cu, baru pertama kali ini dalam hidupku meminta pertolongan kepada orang . . ."

"Mengapa ?"

"Anda tentu tahu bahwa mahluk aneh itu paling membenci kaum wanita. Kalau aku yang datang, tentu akan runyam."

"Hm, beralasan juga .... tetapi..." "Tetapi apa?"

"Ini berarti suatu tugas." "Bukankah dia itu adik kecilmu?"

"Heh, heh. sudah tentu. Kalau tidak begitu, aku si pencuri tua ini tentu tak sampai begini kalap keluyuran ke tempat semacam ini !"

"Sudah, kita putuskan begitu. Aku akan membantu secara bersembunyi."

"Tetapi bagaimana kalau mahluk aneh itu berkeras tak mau keluar?"

"Dengan kecerdasan yang anda miliki, anda tentu dapat mencari akal..."

"Sukar dikata lebih dulu."

"Kalau perlu boleh pakai segala cara ..." "Cara bagaimana?"

"Sampai saatnya baru kukatakan. Sekarang silahkan !" habis itu terus diam tak ada suara terdengar lagi.

Dengan tertawa kecut, Thian-put-thou geleng-geleng kepala. Karena Cu Jiang sudah berada ditangan Ang Nio Cu, Ia tak perlu cemas lagi. Biar nanti setelah terang tanah, baru dia mulai bekerja. Dari situ ke lembah Mo-Jin koh hanya terpisah beberapa li saja. Lebih baik ia tidur dulu untuk memulangkan semangat.

Ia segera mendaki keatas sebuah batu besar lalu  rebahkan diri tidur.

Begitu bangun matahari sudah menjulang di timur. Dia membasuh muka di saluran air lalu makan ransum kering dan setelah itu baru turun, lari menuju ke lembah.

Setengah jam kemudian, hari sudah terang benderang.

Dia terus lari menuju kemulut lembah. "Lokoko . . ." tiba2 terdengar sebuah suara memangginya sehingga Thian-put thou melonjak kaget. Memandang kearah suara itu, dia terkejut girang.

Di bawah sebatang pohon, tampak Cu Jiang rebah dengan tanpa memakai kain penutup muka sehingga wajahnya yang buruk itu tampak jelas.

Thian put-thou segera lari menghampiri.

"Adik kecil, bagaimana engkau sudah sadar ?" serunya gembira.

Cu Jiang menghela napas panjang.

"Ang Nio Cu-lah yang telah menolong aku. Sungguh merepotkan kalian."

"Adik kecil, sudahlah. Jangan omong begitu. Mari kita mulai bergerak."

"Aku tak bisa jalan."

"Tak apa. Kita sedang meminta pertolongan orang, harus memakai peradatan. Biarlah aku yang akan mengundang tuan rumah." ia terus menghadap ke mulut lembah dan setelah mengumpulkan tenaga lalu berseru nyaring:

"Thian-put thou Ciok Yan Je mohon menghadap pada tuan pemilik lembah ini !"

Setelah menunggu beberapa saat. Thian-put-thou mengulang lagi teriakannya. Tetapi tetap tanpa suatu jawaban. Sampai sepeminum teh lamanya, keadaan tetap sunyi senyap.

Thian-put-thou tahu bahwa kalau dengan menggunakan tata cara yang layak, tentu tak mungkin dapat bertemu dengan tuan rumah. Dia berpaling ke arah Cu Jiang.

"Aku hendak memaki orang itu!" "Oh, harus dimaki ?" Cu Jiang tertawa.

"Kalau tidak dimaki tentu tidak berhasil. Mahluk tua itu memang lain wataknya dengan orang biasa."

"Setelah dimaki dan keluar, apakah akan di ajak berkelahi?"

"Tidak! Aku mempunyai siasat yang bagus. Hanya dikuatirkan dia tetap tak mau keluar walau pun dimaki kalang kabut. "

"Maki sajalah!"

Setelah membasahi kerongkongan dengan ludah, ia menyeringaikan muka lalu mulai berteriak-teriak:

"Ho, tolol, apakah begini caramu menyambut tetamu?" Menunggu sebentar, Thian-put-thou berseru lagi:

"Hai, orang she Bun, engkau tak memandang mata kepada aku si pencuri tua ini? Bagus. Mari kita mengadakan perjanjian mati. Kalau tak bertemu muka, takkan pergi dari sini. Engkau tak berani keluar, aku yang masuk mencarimu. Jangan kira dengan mengandalkan permainanmu seperti anak kecil ini, dapat merintangi aku ..."

Melihat sikap dan kerut wajah Thian-put-thou,  diam2 Gu Jiang tertawa geli.

Karena tak diacuhkan, Thian put-thou naik pitam. Dia memaki sekeras-kerasnya:

"Bun Yok Uh, kalau engkau tetap seperti kura2 yang menyembunyikan kepala, terpaksa akan kubuka borokmu!"

Rupanya ucapan itu membawa hasil. Dari dalam lembah segera terdengar suara penyahutan yang dingin:

"Pencuri tua, jangan berkaok-kaok di sini. Apa sih borokku yang hendak engkau buka itu?" Thian-put thou tertawa gelak2.

"Aku sih hanya bergurau, Bun lote, karena kuatir engkau menutup pintu tak mau terima tamu, mata sengaja kubikin panas hatimu!"

"Silahkan bikin panas, toh ada2 saja. Aku tak mau menerima orang luar!"

"Tidak mau mengingat betapa jerih payahku jauh2 datang kemari?"

"Itu urusanmu, akukan tidak mengundang."

"Bun lote, jangan begitu getas, dong. Kalau engkau benar2 mengundang, belum tentu aku mau datang."

"Tentu saja. Kalau tidak mau minta tolong kepadaku, masakan engkau datang kemari .. ."

"Orang yang pintar tentu sudah mengerti. Ya, engkau benar. "

"Lebih baik engkau pulang saja, aku tak ada tempo." "Apakah engkau sungguh2 menolak seorang tetamu

yang datang dari ribuan li?"

"Terserah anda mau mengatakan apa saja. Aku orang she Bun, memang begini watakku. Banyak bicara tiada  guna . . ."

Thian put thou tertawa dingin:

"Jika begitu, langit sungguh tak kenal orang!" "Apa maksudmu?" seru Kui jiu sin jin.

"Seorang tabib itu tentu mempunyai budi welas asih untuk menolong orang. Langit seharusnya tak memberkahi engkau dengan kepandaian ilmu pengobatan."

"Heh, heh, heh, heh, omong kosong semua!" "Bun Yok Uh, apakah engkau benar2 tak mau bertemu orang?"

"Siapapun aku tak mau bertemu."

"Hanya kaum perempuan dan manusia kerdil yang sukar dipelihara. Engkau memang seorang manusia kerdil," teriak Thian put thou.

"Orang semacam dirimu, tak berhak menilai orang." "Pencuripun mempunyai tata  susila. Orang she Bun, aku

bukan   manusia   yang  malu   berhadapan   dengan  orang.

Tetapi engkau?"

"Silahkan, aku tiada waktu untuk adu lidah dengan engkau "

"Bajingan tua. "

Cu Jiang terkejut mengapa lo kokonya itu dapat memaki orang. Tetapi Thian put thou memberi kedipan mata kepadanya agar dia tenang saja.

Sekonyong-konyong sesosok tubuh berkelebat dan muncul di mulut lembah. Seorang tua yang sudah berusia lanjut dengan berpakaian jubah yang hanya menutupi di bawah dengkulnya sehingga kakinya yang telanjang kelihatan.

Sedang tangannya memegang susuk untuk menyerok obat. Wajahnya pucat ke biru-biruan dan memandang Thian put thou dengan penuh kemarahan.

Thian put thou malah tertawa gelak2. "Bun lote, maafkan perkataanku yang kotor tadi!"

Dengan mengertek gigi, Kui jiu sinjin berteriak: "Aku hendak mengambil jiwamu!" "Aku sih sudah tua, matipun tak sayang." sahut  Thian put thou dengan masih tertawa meringis, "kalau minta nyawaku, sih boleh2 saja. Tetapi lebih dulu engkau harus mengobati adikku yang kecil ini, bagaimana?"

"Jangan ngimpi, engkau!"

"Apakah engkau benar2 tak mau melakukan?" "Mengapa aku harus melakukan ?"

Thian put-thou menyeringai. "Engkau minta imbalan apa ?" "Engkau tentu tak dapat membayar!" "Gila, katakanlah!"

"Jiwamu yang tua itu !" "Ambillah."

Kui-jiu-sin-jin berseru dingin:

"Pencuri tua, jangan engkau tertawa kegirangan, menghambur namun makian, mengejek orang sesuka hatimu. Seluas satu li dari lembah ini, telah kutaburi dengan racun aneh. Barang siapa masuk masuk kedalam lembah sampai setengah li dan dalam setengah jam tak keluar, tentu akan kemasukan racun itu. Dalam sehari tentu akan lenyap tenaganya. Kalau tak percaya, cobalah engkau salurkan hawa-napasmu!"

Baik Thian-put thou maupun Cu Jiang terkejut dan serempak menyalurkan napas. Ah, ternyata tenaga- murninya telak mengumpal tak dapat disalurkan lagi.

"Bun Yok Uh," teriak Thian-put-thou marah sekali, "tak kira engkau telah tersesat kedalam aliran iblis! Dengan cara yang licik dan keji engkau telah mencelakai orang." Tiba2 seorang wanita yang mukanya bertutup kain kerudung muncul.

"Orang she Bun, saat kematianmu sudah dekat!"

"Siapa engkau?" seru Kui Jiu sin jin dengan suara tergetar.

"Ang Nio Cu !"

"O, Ang Nio Cu, tenaga kepandaianmu sudah banyak yang hilang. Engkau paling lama berada ditempat ini dan masih ada tiga orang anak-buahmu lagi ! Ha, ha, ha "

Ang Nio Cu mendegus dingin

"Kui-jiu sin-jin," serunya, "telah kusiapkan beratus-ratus kati obat pasang pada kedua puncak dikedua samping lembah ini. Cukup untuk menimbuni lembahmu ini !"

Wajah Kui-Jin sin-jin pucat seketika.

"Engkau berani menghancurkan tempat tinggalku?" serunya.

"Engkau berani meracuni orang, mengapa aku tak berani menghancurkan serangan ?" balas Ang Nio Cu.

"Kita mati bersama-sama !" seru Kui-Jiu-sin-jin.

"Apakah sampai mati engkau tetap tak mau mengobati orang?"

"Tidak!"

Dada Cu Jiang hampir meledak. Sayang saat itu dia tak dapat berkutik. Dia merasa menyesal dalam hati karena orang2 yang hendak menolong dirinya itu malah berbalik tertimpah bencana sendiri. Dia mati, memang sudah selayaknya. Tetapi lo koko dan Ang Nio Cu itu ? Bukankah mereka harus korban untuk darinya? "Kui-jiu-sin-Jin," seru Ang Nio Cu dengan nada tergetar, "apakah engkau tak kecewa kalau mati ?"

"Tidak !"

"Asal   aku memberi tanda, obat pasang itu pasti meledak!"

"Silahkan! Aku masih mempunyai cukup waktu untuk membunuhmu lebih dulu!"

"Belum tentu."

"Kalian sudah terkena racun. Andaikata bisa lolos, toh tetap akan menjadi cacat seumur hidup. Apalagi kalian tak mempunyai kesempatan untuk lolos !"

"Aku ingin supaya engkau yang mati lebih dulu!"

Ang Nio Cu segera mengeluarkan sebuah benda sebesar genggam tangan. Warnanya hitam kelam. Lalu berseru:

"Kui-Jiu-sin-Jin. kenalkah engkau dengan benda ini?"

Wajah Kui Jiu-sin jiu berobah, tetapi suaranya masih tetap dingin:

"Tak ada yang harus diherankan dengan peluru Bi lik tan semacam itu!"

"Tentu lebih dari cukup untuk menghancurkan tubuhmu, bukan?"

"Kan aku sudah bilang, kita bakal mati bersama-sama ?" Kui   jiu-sin-jin   benar2  manusia   yang   aneh wataknya.

Sekalipun menghadapi maut, dia tetap keras kepala tak mau

tunduk.

Menilik gelagatnya, rupanya tiada lain jalan kecuali  harus sama-sama mati.

Tiba2 dengan kerahkan sisa tenaganya, Cu Jiang berseru: "Sudahlah, saudara berdua. Mati hidup itu sudah ada garisnya. Aku tak ingin melihat peristiwa  yang mengenaskan hati. "

"Bun Yok Uh." tiba2 Thian-put thou tergerak hatinya,"biarlah dalam penitisan besok engkau menjelma menjadi kerbau yang akan disembelih dengan pisau dan dikuliti urat-uratmu."

Kui-Jiu-sin Jin hanya mendengus tetapi tak mau menyahut.

Karena tak mempan, Thian put-thou melanjutkan makiannya lagi:

"Orang she Bun, Isterimu Cium Ngo Nio itu kelak dalam penitisannya tentu masih menjadi wanita cabul yang mempermainkan kaum lelaki. Dan engkau hanya menjadi binatang Kerbau yang akan disembelih dan  dijadikan hidangan mereka !"

Bukan kepalang kejut Cu Jiang. Kiranya Cian Ngo Nio, ketua gerombolan Hoa-goat-bun itu adalah isteri Kui-jiu-sin jin. Itulah sebabnya maka Thian-put-thou mengatakan bahwa Kui jiu sin jin itu paling benci kepada wanita.

Muka Kui jiu tin jin merah seperti kepiting direbus. Uratnya berkerut-kerut dan tubuhnya gemetar. Matanya memancar sinar pembunuhan yang berkobar-kobar.

Kata2 Thian put thou benar2 telah menyinggung perasaannya. Dan karena Kui jiu sin jin menggunakan racun untuk mencelakai orang, Thiau put thoupun terpaksa menyemprot dengan kata2 setajam itu.

Ang Nio Cu mengangkat pelor Bik li tan dan berseru nyaring : "Orang she Bun, untuk yang terakhirnya jawablah. Engkau mau atau tidak mengobati racun yang telah mengendap ke dalam tubuh kita itu?"

"Tidak bisa." cepat Kui jiu sinjin menjawab. "Terpaksa akan kulontarkan!"

Dengan mengertek gigi, Kui jiu sin jin menyambut ancaman itu:

"Lemparkanlah, tak nanti aku tunduk!"

Ibarat sudah naik di punggung macan, Ang Nio Cupun terpaksa harus melakukan apa yang diucapkan itu.

Pada saat malaekat elmaut hendak menaburkan keganasan, tiba2 sesosok bayangan melesat ke luar dari dalam lembah dan saat itu muncullah seorang pemuda gagah berpakaian hitam di sisi Kiu-jiu sin jin.

"Mengapa engkau tak mau mendengar  perintahku supaya jangan keluar?" tegur Kui jiu sin jin dengan nada tergetar.

Sejenak pemuda itu memandang Thian put thou dan Ang Nio Cu lalu berkata kepada Kui jiu sin jin:

"Yah, hancurkan mereka!"

"Bagus kiranya kalian bapak dan anak sealiran. Tentu tidak kesepian, ya! "

Mata pemuda itu memandang ke arah Cu Jiang yang menggeletak di samping. Tiba2 ia menjerit:

"Ih, engkau!" serentak dia terus melesat menghampiri. "Mau apa engkau?" Thian put thoupun melesat dan

membentak.

Pemuda itu deliki mata kepada Thian put thou: "Jangan cengeng! saat ini anda tak kuat menerima tamparan sebuah jariku saja!"

Thian put thou mendengus:

"Hai, budak kecil, keadaanku bukan seperti yang engkau duga!"

Melihat pemuda itu, Cu Jiang seperti sudah pernah bertemu tetapi lupa entah dimana.

Pemuda itu tak menghiraukan Thian put thou melainkan menuding Cu Jiang.

"Apakah saudara masih ingat padaku?" tegurnya.

Cu Jiang kerutkan alis, sahutnya: "Seperti sudah pernah ketemu tetapi tidak ingat."

"Aku adalah Bun Cong Beng!"

"Bun . . . Cong . . . Beng .... o, benar . . . . " segera Cu Jiang terkenang akan peristiwa beberapa waktu yang lampau ketika ia tengah meneduh hujan ke dalam sebuah kuil di luar kota Kui-cu, dia berjumpa dengan rombongan anak buah Gedung Hitam yang dipimpin Pek poan-koan atau Hakim Putih yang meringkus seorang pemuda.

Hakim Putih itu telah memaksa pemuda itu untuk menyerahkan kitab Sin-liong po-tian sebagai penukar jiwanya. Saat itu karena tak tahan melihat perbuatan yang sewenang-wenang, Cu Jiang lalu menggunakan lencana Hek-hu pemberian dara Ki Ing untuk mendesak Hakim Putih melepaskan pemuda itu....

"Apakah saudara sudah ingat?" "Ya. sekarang ingat."

"Rupanya saudara sedang mengalami kesulitan? " "Benar, aku telah terkena racun Toan-bun-tok dan hendak mohon pertolongan ayahmu mengobati racun itu .."

Bun Gong Ban bergegas lari kepada ayahnya dan mengucapkan beberapa patah kata.

"Setitik menerima budi orang, harus dibalas dengan curahan pertolongan. Bawa dia masuk!" seru Kui jiu-sin jin keras2.

Thian put-thou memandang kepada Ang Nio Cu dan geleng2 kepala:

"Ah, sungguh2 tak terduga!"

Bun Cong Beng kembali ke tempat Cu Jiang dan mengajaknya masuk ke dalam lembah.

"Bun-heng, bukan aku bermaksud hendak meminta lebih dari apa yang layak kudapatkan tetapi dapatkah kiranya anda mengobati dulu racun yang bersarang pada tubuh kedua kawanku itu?"

"Akan kubicarakan dengan ayah!"

Rupanya Kui-jiu-sin-jin sudah mendengar perkataan puteranya maka cepat2 dia menanggapi: "Aku hanya berhutang budi seseorang!"

Saat itu dengan dipimpin Bun Cong Beng, Cu Jiang sudah tiba di hadapan Kui jiu sin-jin.

"Bun Cianpwe, tak dapat mengabulkan permohonan wanpwe? "

"Aku selalu membedakan budi dan dendam tak mau sembrono." sahut Kui jiu-sin jin.

"Baik," kata Cu Jiang, "kalau cianpwe tak mau mengobati racun pada mereka, wanpwe pun tak mau menerima pengobatan cianpwe." "Engkau pernah menolong Cong Beng. Aku hendak membayar hutang budimu. Selama hidup aku tak mau menolong orang, juga tak suka berhutang budi kepada orang."

"Kedatanganku kemari bukan hendak meminta budi juga tidak akan memberi budi dan mengharap balas. Tentang asal usul putra cianpwe itu, sebelumnya aku tak tahu. Hanya secara kebetulan saja hal itu kuketahui setelah dia muncul tadi."

"Uruslah urusanmu sendiri. Sejam kemudian engkau pasti takkan tertolong lagi ..."

"Wanpwe tak menghiraukan soal mati atau hidup !" "Kalau begitu, mengapa datang kemari ?"

"Keadaannya berbeda. Sebelum mati berpantang ajal, sudah menjadi sifat manusia. Tetapi kini  setelah  berhadapan dengan dua hal: kebajikan atau kepentingan diri sendiri, aku tetap memilih yang tersebut dulu dan tak menghiraukan lagi soal mati atau hidup." 

"Pandangan biasa."

"Lalu apakah pandangan cianpwe itu melebihi orang biasa."

"Jangan berlidah tajam."

"Karena kepentingan peribadi dan kehilangan  kawan, aku lebih baik menolak."

"Setelah kusembuhkan engkau, anggaplah sebagai pembayar budimu. Kelak walaupun engkau mengucapkan kata yang setinggi langit dan minta dengan mati-matian, aku tak peduli lagi." kata Kui-jiu sin-jin. Memang aneh sekali watak orang tua itu. Thian-put thou memandang Bun Gong Beng lalu Cu Jiang, Ia menghentakkan kaki ke tanah dan berseru:

"Bun Yok Ih, kalau engkau anggap kata-kataku menyinggung perasaanmu, aku pencuri tua bersedia mengaturkan maaf. . ." ia terus menjurah memberi hormat kepada Kui-jiu-sim-jin.

Sudah tentu tak enak sekali hati Cu Jiang. Dia tahu bahwa orang persilatan itu lebih baik mati daripada tunduk. Mengapa lo-koko mau berbuat begitu merendah kepada Kui Jiu sin jin tentu karena mengingat kepentingannya (Cu Jiang).

Ah, budi sebesar itu entah bagaimana kelak ia dapat membalasnya.

Dari kemasyhuran nama, Thian-put-thou tak kalah dari Kui-jiu-sin-Jin. Dari kedudukan tingkat, bahkan lebih tinggi setingkat dari Kui jiu sin jin itu, tetapi menghadapi peristiwa semacam itu mau tak mau luluh juga hatinya. Apalagi, Cu Jiang itu pernah menolong jiwa Bun Cong Beng,

Seketika wajahnya berobah lalu akhirnya mengeluarkan sebuah botol kecil dan menuang lima butir pil. serunya:

"Obat ini masih baru, ambil dan tinggalkan gunung ini!"

Thian-put-thou terpaksa menelan kemengkalan. Dia maju menerima pil itu lalu menunjuk ke arah Cu Jiang:

"Lalu dia?"

"Tak perlu engkau urus!"

"Dia terkena racun ganas Toan-bun-tok." "Tahu." "Orang she Bun, aku hendak berkata lebih dulu. Dia kuserahkan kepadamu. Jika racun itu tak dapat diohati dan kalau sampai terjadi sesuatu pada dirinya, aku pencuri tua tentu akan menuntutmu."

"Silahkan !" habis berkata Kui jiu-sin Jin terus lari masuk kedalam lembah.

Bun Cong Bengpun lekas menggandeng tangan Cu Jiang diajak menyusul ayahnya.

Thian-put thou memandang Ang Nio Cu, tertawa kecut: "Engkau Ang Nio Cu, apakah baru pertama kali ini

tunduk pada orang?"

Ang Nio Cu menjawab dingin:

"Demi menolong orang, kalau tidak mau tunduk, habis bagaimana?"

Thian-put-thou melemparkan empat butir pil kepada Ang Nio Cu seraya berkata.

"Bagaimana langkah kita sekarang ?"

"Aku hendak menunggunya di gunung ini." "Aku juga."

"Tetapi kita tak boleh bersama. "

"Sudah tentu." sahut Thian-put-thou, "mari kita jalan sendiri2 !"

Sekali loncat, Ang Nio Cu terus melesat lenyap. Thian- put-thoupun Segera ayunkan langkah tinggalkan  lembah itu.

Sementara Cu Jiang digandeng Bun Cong Beng masuk kedalam lembah, disepanjang jalan dia berpikir: "Karena Ciam Ngo Nio ketua Hoa goat-bun itu  isteri dari Kui-Jiu-sin-jin, maka racun Toan-bun tok yang digunakan itu tentu racun yang diperoleh dari suaminya. Dengan begitu Kui-jiu-sin-jin tentu mudah mengobatinya. Jika dikatakan bahwa racun itu sejenis racun ganas yang tiada obatnya, mungkin dimaksudkan Ciam Ngo Nio memang tak mengerti cara mengobatinya."

Tak berapa lama mereka tiba dimuka sebuah rumah batu yang dikelilingi oleh pohon2 hijau. Alam pemandangan disitu, tenang dan meresapkan perasaan.

Setelah dibawa masuk kedalam rumah, Bun Cong Beng membaringkan Cu Jiang diatas sebuah ranjang kayu.

"Cu heng, akan kuminta ayah untuk menyembuhkanmu dulu baru nanti kita makan," kata Bun Cong- Beng.

“Ah, terima kasih. Bun-beng," sahut Cu Jiang.

"Ai, Cu heng telah memberi budi besar kepadaku, mengapa mengucapkan kata2 begitu."

"Hal itu sebenarnya hanya secara kebetulan saja. Aku tak bermaksud hendak memberi budi apa2."

"Beristirahatlah, sebentar ayah tentu datang," baru Bun Cong Beng mengucap begitu, Kui-jiu-sin-jinpun sudah muncul dengan membawa sebuah peti obat.

Tanpa berkata apa2, dia terus menusuki seluruh jalan darah pada tubuh Cu Jiang. Kemudian mengambil lima butir pil yang berlain-lain warnanya, dimasukkan kemulut Cu Jiang.

Begitu masuk kedalam perut, serentak timbullah suatu aliran panas yang tersebar ke seluruh tubuh. Terakhir mencurah ke lengan kanan Cu Jiang. Linu, kesemutan, sakit dan gatal, serempak bertukaran dalam tubuh Cu Jiang sehingga dia tak tahan dan mengerang-erang. Beberapa saat kemudian rasa sakit yang sukar ditahan itu pelahan-lahan mulai mengalir kebawah lengan, ke siku lalu ke pergelangan tangan, Dan terakhir mengumpul di Jari telunjuk. Ketika Cu Jiang memandang ke tempat itu, ia terkejut.

Ternyata jari tengahnya bengkak sampai lipat dua besarnya dan berwarna hitam.

Kui-Jiu- sin-jiu mengambil sebuah pisau tajam lalu memegang tangan Cu Jiang. Sementara Cong Beng mengambil sebuah baskom kumala ditaruh dibawah. Begitu pisau membelek jari tengah maka darah bercampur air hitam segera mengucur keluar.

Dan Cong Beng lalu menampung kucuran darah hitam kedalam baskom.

Setengah jam kemudian, Jari tengah itupun pulih bentuknya seperti semula dan Kui-jiu-sin-Jin lalu berkata:

"Sudah selesai !"

Keringat Cu Jiang membanjir keluar. Rasa sakit reda tetapi orangnyapun pingsan.

Ketika sadar, lampu sudah menyala. Cu Jiang rasakan badannya segar. Turun dari ranjang, meja didepan ranjang sudah tersedia nasi dan lauk pauk. Sedang Cong Beng tampak berdiri dibelakang meja dan tertawa:

"Cu heng kau tentu lapar. Silahkan makan seadanya.. Kami hanya dapat menyediakan masakan kasar, harap jangan marah."

Cu Jiang mengucapkan terima kasih atas budi kebaikan kedua ayah dan puteranya itu. Selesai makan. Cu Jiang memperhatikan agaknya Cong Beng hendak berkata tetapi ragu2.

"Bun - heng, silahkan apabila hendak berkata kepadaku."

"Aa, hanya suatu keinginan yang gila karena hendak mengetahui rahasia orang. Tetapi kalau memang tidak leluasa, tak perlu anda menceritakan..."

"Tak apa, katakanlah."

"Tempo hari karena tergopoh-gopoh berpisah, sampai lupa menanyakan nama anda."

"Namaku Cu Jiang, ayahku adalah mendiang Dewa- pedang Cu Beng Ko.. ."

Bun Cong Beng melonjak bangun dari duduknya dan berseru kaget:

"O. anda ini putera dari Dewa-pedang. Ah, maaf aku perlakuanku kurang hormat."

"A., janganlah Bun-heng mengatakan begitu."

"Pada waktu akhir2 ini dunia persilatan digemparkan dengan munculnya seorang tokoh Toan-kiam-jan-jin, apakah..."

"Memang aku sendiri."

"Oh," Cong Bun makin terkejut penuh rasa kagum, "Cu heng, apakah ayahmu sudah meninggal ?"

"Ya," Cu Jiang menyahut sedih, "telah dicelakai oleh musuh. Seluruh keluarga habis terbunuh, hanya tinggal aku seorang."

"Ah, maafkan kelancanganku sehingga menyinggung perasaan Cu-heng..." baru Cong Bun berkata begitu, tiba2 sesosok tubuh berkelebat dan tahu2 muncullah Kui-Jiu sin- Jin. "Ho. engkau anak dari Cu Beng Ko?"

Cu Jiang gopoh2 memberi hormat dan mengatakan. "Kabarnya  Cu  Beng  Ko  sudah  mengundurkan diri dari

dunia   persilatan   dan   hidup   ditempat   yang   sepi.  Lalu

bagaimana peristiwa itu?"

"Ayah menyembunyikan diri karena hendak  menghindari musuh. Tetapi musuh tetap mencarinya "

"Siapa musuh ayahmu?" "Sedang wanpwe selidiki."

"Sebelum dia menyembunyikan diri, aku pernah bertemu muka dengan ayahmu. berapa orang saudaramu ?"

"Wanpwe mempunyai seorang adik lelaki dan seorang adik perempuan. Tetapi keduanya juga ikut dibunuh musuh."

"Engkau putera yang sulung?" "Ya."

"Berapa umurmu sekarang?" "Hampir dua-puluh."

Kui Jiu-sin jin terkejut.

"Kuingat jelas waktu engkau masih kecil wajahmu amat tampan. Mengapa sekarang berobah begitu rupa ?"

Cu Jiang mengertak gigi. Dia lalu menuturkan semua peristiwa yang telah dialaminya. Mendengar kisah yang menyedihkan itu Kui jiu sin Jin sampai menitikkan  dua butir airmata.

"Walaupun berwatak aneh, tetapi orang tua ini sebenarnya seorang yang halus perasaannya," diam2 Cu Jiang membatin. "Mari kita duduk," kata Kui-Jiu sin Jin. Mereka bertiga lalu duduk.

"Aku dan ayahmu mempunyai tali persahabatan yang karib. Boleh dikata hanya dialah satu-satunya orang yang tahu akan perangaiku. Sungguh tak nyana kalau dia sampai tertimpa nasib semalang itu, Tak apa, aku  akan memberikan bantuan sekuat kemampuanku untuk memulihkan wajahmu kembali seperti sediakala!" kata Kui- jiu-Sin-Jin.

O0odwo0O

Bukan kepalang kejut Cu Jiang saat itu. Dia hampir tak percaya akan pendengarannya saat itu. Suatu hal yang tak pernah ia mengimpikan, bahkan mengharappun tak pernah terlintas dalam benaknya.

"Mengembalikan wajahku seperti bermula?" ia mengulang dengan nada gemetar.

"Ya."

"Tetapi.... sudah begini cacad "

"Engkau percaya kepadaku atau tidak ?"

"Wanpwe . .. hanya ... hanya keliwat tak menduga."

"Apakah nama Kui - Jiu - sin - Jin itu hanya gelar kosong saja ?"

Kui-Jiu sin-jin artinya Manusia-dewa-bertangan-setan. "Ya, ya, maafkan wanpwe," Cu Jiang tak dapat berkata

apa2 lagi karena diluap oleh rasa girang yang tak terhingga.

"Wajah dan kaki kirimu itu harus dikerjakan lagi dengan ilmu pembedahan." "Pembedahan ?"

"Benar," kata Kui-jiu-sin-jin, "tulang yang patah dapat disambung tetapi muka yang rusak itu harus diganti dengan kulit daging yang diambilkan dari tubuhmu."

"Ah," Cu Jiang mendesah penuh keheranan. Baru pertama kali itu dia mendengar tentang ilmu pembedahan yang begitu mengagumkan.

"Dan untuk menyelesaikan pembedahan itu harus memerlukan waktu seratus hari," kata Kui-jiu-sin jin pula.

"Wanpwe .... entah dengan kata apa harus menghaturkan terima kasih "

"Tak perlu. Anggap saja bahwa aku telah melakukan sesuatu terhadap sahabatku lama."

Demikian dengan ilmu pengobatannya yang sakti, Kui- jiu-sin-Jin mulai membedah wajah Cu Jiang. Semua bekas noda dan luka, dihilangkan kemudian ditambal dengan kulit dan daging pada bagian lain dari tubuh anak muda itu.

Kakinya yang pincangpun mengalami operasi dan sambung tulang. Selama mendapat pengobatan itu, tiada lain pekerjaan bagi Cu Jiang kecuali hanya tiduran. Dan waktu2 beristirahat itu dipergunakan untuk merenungkan dan memecahkan bagian terakhir dari kitab Giok kah-kim- keng yalah bagian pelajaran kim kong-sin-kang-lip-bun.

Tenaga sakti Kim-kong-sin-kang itu tak dapat diselesaikan dalam latihan sehari dua hari tetapi harus menggunakan waktu yang lama, perhatian yang tekun dan latihan2 yang giat.

Demikian tak terasa seratus hari telah lewat. Pada hari  itu Kui Jiu sin Jiu membuka kain pembalut muka Cu Jiang. Entah bagaimana gemetar juga tangan orang tua itu. Rupanya tabib sakti itu juga merasa kasihan atas nasibnya dan kagum atas kegagahannya menghadapi segala bahaya dan musuh-musuh yang ganas itu.

Cong Beng memberikan sebuah cermin dan suruh Cu Jiang melihat wajahnya. Waktu berkaca, Cu Jiang menjerit kaget, heran dan gembira. Wajahnya yang semula penuh bintik dan noda2 luka yang menyeramkan pandang mata, kini telah berobah halus dan tampan seperti dulu lagi.

Air matanya berderai-derai dan tubuhnya gemetar keras. Serentak memandang kearah Kui Jiu sin-jin dia terus berlutut:

"Terima kasih atas budi besar yang cianpwe limpahkan kepada wanpwe."

Kui jiu sin-jin mengangkatnya bangun.

"Tak usah mengatakan begitu. Selama hidup aku hanya melakukan pekerjaan yang kusenangi dan juga tak pernah meminta pertolongan orang. Tetapi..."

"Mohon cianpwe suka memberi petunjuk."

"Setelah turun gunung, lakukan suatu pekerjaan untukku."

"Baik, mohon cianpwe katakan apa yang harus wanpwe lakukan nanti."

"Bunuhlah Ciam Su Nio "

Cu Jiang teriak kaget. Ia memandang Bun Cong Beng lekat2. Dilihatnya pemuda itu juga mengeretak geraham.

Cu Jiang bingung Betapapun tidakkah ketua Hoa Gwat bun yang bernama Cian Su Nio itu ibu dari Bun Cong Beng

?  Betapapun  bencinya,   tetapi  mereka  tetap   terikat suatu

hubungan darah. Cu Jiang merasa bahwa peristiwa dalam dunia ini, memang aneh dan penuh dengan segala kemungkinan yang tak mungkin..

Tionggoan-tay-hiap Cukat Giok minta tolong kepadanya untuk membunuh istri dan mencari anak perempuannya. Kini Kui-jiu sin-jin juga minta tolong kepadanya supaya membunuh isterinya. Kedua tokoh itu sama dikhianati oleh istrinya yang menyeleweng.

Melihat Cu Jiang diam saja, Kui-Jiu sin jin segera menegur:

"Sama sekali bukan karena pernah menolong kepadamu maka aku terus minta tolong padamu. Aku takkan memaksa. Kalau engkau tak mau, pun tak mengapa."

"Bukan begitu maksud wanpwe." "Lalu bagaimana?"

"Tetapi bukankah Ciam Su nio itu .... isteri cianpwe sendiri?"

"Ha, ha, ha, ha .. . isteriku yang pertama sudah meninggal ketika melahirkan Cong Beng. Itu waktu aku belum berhasil mempelajari ilmu pengobatan, jika tidak, tentulah dapat menyelamatkan jiwanya "

"O, begitu. Baik, wanpwe akan melakukan perintah cianpwe."

"Bukankah engkau ingin lekas2 tinggalkan tempat ini?" Merah muka Cu Jiang, sahutnya.

"Maaf, cianpwe. Memang wanpwe masih banyak urusan”

"Tak perlu mengemukakan alasan," sahut Kui-jiu-sin-Jin, "akupun takkan menahan engkau. Tetapi . . . pintu Mo jin- koh ini selalu terbuka untukmu. Setiap saat engkau boleh datang kemari!"

Cu Jiang membungkukkan tubuh dan menghaturkan terima kasih.

"Cu heng, kuminta engkau datang lagi supaya kita dapat bercakap-cakap dengan puas," kata Cong Beng.

Cu Jiang mengiakan.

"Silahkan berangkat." kata Kui jiu sin jin. Kemudian dia suruh Ceng Beng mengantarkan ke luar. sambil berkata dia terus masuk ke dalam.

Setelah mengambil barang-barangnya dan pedang kutung, Cu Jiang lalu mengajak Cong Beng menuju ke luar lembah.

Karena waktu dalam keadaan tak sadar dan dibopong Cong Beng, ia tak tahu jelas keadaan lembah itu.

Kini barulah dia sempat melihatnya. Ternyata lembah itu penuh dengan batu2 yang berbentuk aneh. Juga pohon2 aneka warna yang diantarnya Cu Jiang tak tahu namanya. Tetapi dia tahu bahwa batu dan pohon2 itu merupakan barisan yang melindungi lembah.

Sedangkan bunga2 yang menonjol warnanya itu mengandung racun. Orang luar yang berani  gegabah masuk, tentu akan mati.

Cong Beng memberikan sebutir pil.

"Harap Cu heng telan pil penawar racun ini. lembah ini penuh dengan hawa dan tanaman beracun. Kelak kalau datang kemari, harap Cu Jiang berseru memanggil aku."

Cu Jiang mengiakan dan menelan pil itu. Memang dunia ini penuh dengan segala keanehan. Jika waktu masuk dia seorang pemuda yang berwajah buruk dan rusak, kakipun pincang, tetapi kini dia kembali utuh lagi sebagai pemuda yang berwajah tampan dan tidak pincang.

Sedemikian tegang perasaan Cu Jiang saat itu sehingga dia tak dapat berkata-kata.

"Bun-heng, berkat budi pertolongan dari ayah Bun-heng yang dengan kepandaian sakti telah dapat memulihkan aku sebagai seorang manusia yang dapat berjalan tegak di dunia, aku sungguh tak mengerti bagaimana kelak aku harus membalas budinya."

Bun Cong Beng tertawa:

"Hendaknya jangan Cu heng mengatakan begitu. Jika Cu-heng tempo hari tidak menolong aku, bagaimana mungkin saat ini aku masih hidup di dunia? Maaf ada sedikit pertanyaan yang ingin ku ketahui. Tetapi tak tahu apakah layak pertanyaan itu kuajukan kepada Cu-heng?"

"O. silakan. Tak perlu sungkan!"

"Mengenai benda yang mempunyai daya kekuasaan besar sehingga begitu Cu heng memperlihatkan, hu hwat dari Gedung Hitam itupun menurut perintah. Sebenarnya, benda apakah itu ?"

"Oh. itu hanya pemberian dari seorang nona yang bernama Ki Ing. Aku sendiri sampai sekarang belum jelas asal usul nona itu."

"Baiklah, tak perlu kita bicarakan soal itu," kata Cong Beng yang sementara itu sudah dimulut lembah. Dia berhenti.

"Cu-heng, maaf, aku tak dapat mengantar lebih jauh. Harap Cu-heng menjaga diri baik2 dan sampai jumpa lagi !" Keduanya saling memberi hormat perpisahan. Setelah mengantar pandang Cu Jiang beberapa jenak, barulah Cong Beng kembali kedalam lembah.

Pelahan-lahan Cu Jiang berjalan. Hatinya penuh kegembiraan yang tak dapat dilukiskan. Kini dia dapat berjalan seperti orang biasa lagi.

Tiba2 matanya tersentak sebuah pemandangan yang mengejutkan, Diantara rumput belukar tampak beberapa sosok mayat, ia maju menghampiri dan memeriksa. Ah, ternyata korban2 itu mengenakan pakaian hitam.

Diantaranya ada dua orang yang memakai mantel hitam dan seorang orang biasa. Tak terdapat suatu luka apapun pada tubuh mereka kecuali hanya sebuah bekas warna merah pada alis mereka.

"Telapak Jari terbang!" teriak Cu Jiang. Apakah Ang Nio Cu masih belum meninggalkan lembah ini ? Jelas korban2 ini dia yang membunuhnya. Demikian ia menimang- nimang.

Anak buah Gedung Hitam datang ke lembah ini. Apakah tujuan mereka ?

Cu Jiang segera teringat akan peristiwa Gedung Hitam menangkap Bun Cong Beng dan memaksanya supaya menyerahkan kitab pusaka Sin-long-po-lian milik Kui jiu- sin jin. Tidakkah kedatangan mereka ke lembah itu juga karena hendak memburu kitab pusaka itu?

Ia merasa telah menerima budi pertolongan besar dan Kui jiu-sin jin Sudah tentu dia tak dapat berpeluk tangan mengawasi peristiwa itu.

Sekonyong-konyong ia mendengar debar pakaian tertiup angin. Cepat iapun menyelinap bersembunyi di balik batu karang. Dan saat itu juga berhamburanlah bayang2 yang bergerak seperti hantu cepatnya.

"Hai ....!" terdengar teriakan dari sosok tubuh itupun serempak berhenti. Mereka terdiri dari lima orang Pengawal Hitam dan empat orang tua berbaju hitam. Rupanya keempat orang baju hitam itu mempunyai kedudukan tinggi dalam Gedung Hitam.

Cu Jiang memandang dengan seksama. Keempat orang baju hitam itu yang tiga bertubuh tinggi besar, agaknya dia pernah melihat wajah mereka. Sedang yang seorang bertubuh pendek.

Salah seorang dari lelaki tua baju hitam itu segera berseru.

"Mati semua, hah, hah, heh, Kui-jiu-sin jin berani menggunakan tangan beracun..."

"Bukan makhluk tua itu yang turun tangan." Seru salah seorang kawannya.

"Lalu siapa ?"

"Ang Nio Cu. wanita iblis yang selalu memusuhi itu !" "Hah ! ilmu Jari-terbang! Ya, benar, memang wanita

busuk itu..."

"Mengapa dia juga muncul disini ?"

Dalam pada itu Cu Jiang mengingat-ingat untuk mengenal kembali mereka. Tiba2 ia tersadar dan tahu siapa ketiga orang baju hitam itu.

Seketika hawa pembunuhan meluap, darah bergolak- golak seperti meledakkan dadanya. Ketiga orang itu bukan lain adalah manusia aneh yang dulu telah menghantam dia sampai terlempar kedasar jurang. Cepat ia mengenakan kedok muka dan terus muncul dari balik karang.

"Ada orang !" "Hai, siapa itu !"

"Ah, Toan-kiam-jan-Jin!"

Hiruk pikuk ucapan dan teriakan kaget itu segera diiring dengan menumpahkan berpuluh mata kearah diri Cu Jiang.

Cu Jiang memutuskan bahwa dia tetap hendak mempertahankan diri dalam wajah Toan-kiam jan-jin. Dengan kaki terpincang-pincang ia maju menghampiri.

"Tak kira kalau si invalid ini juga berada di sini." gumam si tua pendek dengan gemetar.

"Kita bersama-sama kerjai dia," seru orang tua  baju hitam yang pertama tadi.

Dengan mata berkilat-kilat, Cu Jiangpun sudah tegak berhadapan dengan mereka. Kelima Pengawal Hitam serempak menyingkir tetapi tetap siapkan pedangnya.

Keempat orang tua baju hitam itu segera berpencar dan membentuk formasi setengah lingkar busur. Kecuali hanya si tua pendek yang menggunakan pedang, yang tiga orang tetap bertangan kosong.

Cu Jiang curahkan pandang kepada ketiga lelaki tua tinggi besar. Dendam kesumat yang menyusup sampai ke tulang sunsum, membuat Cu Jiang seperti bara api yang panas.

Ketiga lelaki tinggi besar itu sampai gentar dan menyurut selangkah.

"Toan kiam jan jin, sungguh beruntung kita berjumpa lagi." salah seorang berseru. Dengan tegas, Cu Jiang berseru sepatah demi sepatah:

"Mulai saat ini, setiap orang yang termasuk anak buah Gedung Hitam, harus membayar lunas semua dosa- dosanya!"

Salah seorang lelaki tinggi besar itu tertawa aneh:

"Toan kiam jan jin, jangan bermulut besar. Hari ini engkaulah yang pasti mati!"

"Lekas beritahukan nama kalian!" bentak Cu Jiang.

"Ha, ha, ha, ha ..... " keempat lelaki tua bertubuh tinggi besar itu serempak tertawa keras. Mereka lalu berkisar langkah untuk menduduki tempat masing2.

Tiba2 Cu Jiang teringat akan nasehat Thian put thou tempo hari. Apabila berhadapan dengan musuh harus memperhatikan beberapa hal:

"Jangan kasih kesempatan pada lawan. Jangan ragu2 turun tangan "

-oo0dw0oo-
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pusaka Negeri Tayli Jilid 15"

Post a Comment

close