Pendekar Latah Bagian 56

Mode Malam
 
Bagian 56

Bergegas Bu Su-tun memberi hormat, katanya.

"Tecu Bu Su-tun memberi sembah hormat kepada Susiok." "Ohi kiranya kau." ujar He-tianglo lemahi

"kabarnya kaulah menjabat Pangcu, Bagus, bagus sekali, legalah hatiku kalau kau yang menjabat Pangcu."

"Semua ini lantaran susiok yang bantu menegakkan keadilan, sehingga penasaran siautit tercuci bersih" lalu dia berlutut menyembah tiga kali kepadanya.

"Aku mendapat pesan gurumu, adalah pantas kalau berbuat demikian,Jauh2 kau datang kemari memangnya ada keperiuan apa pula?"

Mengingat semangat He-tianglo mulai pulih, namun kuatir orang terialu lelah dan keluar banyak tenaga maka dia membujuk:

"susiok, kau istirahat saja, setelah lukamu sembuh, siautit belum teria mbat mohon petunjuk kepadamu."

"Aku terluka oleh pukulan Gun-goan-it-sat-kang, mana bisa sembuh begitu cepat? jangan menelantarkan urusan pentingmu. Lekas katakan."

Tiba2 Bu-lim-thian-kiau menyela:

"Aku membawa Siau-hoan-tan buatan Liu-locianpwe kasiatnya untuk menyembuhkan luka2 dalam yang parahi Ceng-hun, lekas ambil secangkir air."

"Liu- locianpwe?" ujar IHe-tianglo, "Apakah Liu Goan-cong Liutayhiap yang mencuri mestika diistana negeri Kim 20 tahun yang lalu itu?"

"Betul." sahut Bu-lim-thian-kiau,

"Bukan saja ilmu silat Liu-locianpwe tinggi tiada taranya, malah ilmu pengobatannyapun tiada bandingan."

"Akutahu." ujar He-tianglo,

" lalu pernah apa kau dengan dia?"

"Aku bukan sanak bukan kadangnya, Tapi berkat bimbingan dan keluhuran budinya, beliau sudi pandang aku sebagai keponakan sendiri" sahut Bu-lim-thian-kiau.

Bu su-tun lantas memperkenalkan:

"Dia adalah Bu-lim-thian-kiau yang kenamaan dari negeri Kim, saudara Tam Ih-tiong sebagai pangeran kerajaan Kim, Namun dia menentang kelaliman rajanya, selama setahun terakhir ini dia berada di Kong-bing-si menetap bersama Liu- locianpwe, Kongsun in cianpwe dan Bing-bing Taysu." lalu diapun perkenalkan Jilian Ceng-hun sebagai istri Bu-lim-thian- kiau, dan Hun Ji Yan adalah murid Bu-siang sinni dari Go-bi- san.

Jilian Ceng-hun yang Jenaka segera menambahkan: " Calon istri Bu-pangcu juga."

He-tianglo senang, katanya:

"Punya guru berbudi teladan kental, mendapat murid Bu- siang sinni untuk mendirikan mahligai keluarga lagi, sungguh senang dan bahagia sekali kau ini."

sementara itu Jilian Ceng-hun sudiah ambil secangkir air, setelah He-tianglo menelan siau-hoan-tan kasiatnya memang luar biasa, lekas sekali mukanya yang pucat kuning sudah bersemu merahi semangatnya pUn lebih segar.

Baru sekarang Bu Su-tun bertanya: "He-susiok, siapakah yang melukai kau? Gun goan-it-sat- kang ilmu dari aliran manakah?"

"Diatas gunung ini, adakah kalian bertemu dengan seorang Busu Mongol?" tanya He-tianglo.

"Apakah Busu Mongol yang bernama Ibun Hoa-kip? Tadi memang kami kesamplok sama dia malah bergebrak sudah, Apakah Ibun Hoa-kip ini. "

"Benar, aku dilukai oleh dia." tutur He-tianglo,

"sayang usiaku tua, kalau 30 tahun aku lebih muda, takkan kulepas dia turun dari Thian-long-nia. Bagaimana kalian bisa kesamplok sama dia? Kemana dia sekarang?"

Bu su-tun lantas ceritakan pengalamannya akhirnya menambahkan:

"sayang aku tidak tahu kalau keparat ini yang melukai susiok, kalau tidak peduli aturan Kang-ouw segala, bersama Tam-heng seharusnya aku menghabisi jiwanya."

He-tianglo menghela napas, ujarnya:

"Lebih baik kalau dia sudah pergi."

Bu su-tun melongo, tanyanya tak mengerti: " Kenapa? siapakah Gurunya?"

"Gurunya adalah Koksu dari Mongol, belakangan mendapat anugerah dan Khan agung mereka dengan julukan Cun-seng Hoat-ong,jarang kaum persilatan diTionggoan yang tahu akan kebesarannya, namun ilmu silatnya memang hebat luar biasa. 30 tahun yang lalu pernah aku pergi ke Mongol, waktu itu aku masih dalam keadaan jaya namun hanya setanding melawan muridnya yang terbesar. Cun-seng Hoatong punya 5 murid, kabarnya Ibun Hoa-kip ini adalah murid penutupnya."

Mendengar cerita He-tiangio, diam2 Busu-tun dan Bu-lim- thian-kiau amat kaget saling pandang, kalau muridnya terkecil saja sudah begitu lihay, apa lagi suheng atau gurunya, Tapi diluar tahu mereka bahwa Ibun Hoa-kip diantara kelima saudara seperguruan kepandaian silatnya ada dibawah Toa- suheng dan lebih unggul dari tiga suheng yang lain.

Tapi kepandaian gurunya Cun-seng Hoatong memang kira2 setingkat dengan Liu Goan-cong dan Bing-bing Taysu,

Tapi Busu-tun tidak gentar. katanya:

"Kerajaan Mongol baru berdiri, namun ambisi raja mereka amat besar dari apa yang kudengar dari omongan Ibun Hoa- kip. naga2nya mereka ada maksud melenyapkan kerajaan Kim dan mencaplok song pula, jelas Kay-pang pasti akan memusuhinya, Kalah menang Tecu tetap akan menempur

Cun-seng Hoatong juga, peduli bencana apa yang bakal kita alami?"

"Bagus, tekadmu memang harus dipuji." demikian ujar He- tianglo,

"kalau begitu tindakanku juga tidak salah." Tanya Bu su-tun:

" Kenapa Ibun Hoa-kip melukai susiok? Tindakan benar apa yang susiok lakukan?"

"Aku tidak tahu cara bagaimana dia tahu tempat tinggalku, Datang2 dia berkotbah panjang lebar, tujuannya menghasut dan memecah belah Kaypang kita. Agaknya dia tahu yang berkuasa di cabang Taytoh adalah muridku, dia minta aku tulis surat memberitahu mereka, begitu pasukan besar Mongol menyerbu datang, seluruh murid Kaypang dibilangan utara diharap bekerja demi kepentingan mereka. umpama tidak mau bekerja, juga diminta supaya tidak memusuhi dan menggagalkan tujuan pihak mereka.

Dia kira Kaypang menentang kerajaan Kim, Mongol juga hendak melenyapkan kerajaan Kim, adalah jamak dan pantas kalau Kaypang kerja sama dengan mereka," "Bagaimana susiok memberi jawaban?" tanya Bu su-tun. "Sudah tentu kutolak mentah2. Memang kita tentang

kerajaan Kim, namun kita tak sudi diperalat oleh Mongol,

Kalau karena itu kita terjebak bukankah mirip peribahasa yang mengatakan "Didepan pintu mengusir harimau, serigala masuk dari pintu belakang?" Maka kutolak permintaannya . "

"Tepat jawaban susiok." ujar Busu-tun.

"Ibun Hoa-kip juga menghasut kami, namun mentah2 kita tolaki"

" Karena hasutannya gagal, dia lantas tarik muka dan turun tangan, Aku sudah teriuka oleh Gun-goan-it-satkang, namun kutahan jangan sampai dia tahu aku teriuka akhirnya dengan sisa tenagaku yang penghabisan, dengan Kim-kong-ciang akupun berhasil melukai dia, akhirnya dia lari mencawat ekor. peristiwa ini terjadi kemaren. Aku tahu dengan tenaga tuaku aku hanya bisa melukai ringan saja, dengan kekebalan Lwekangnya dalam sehari luka2nya pasti sudah sembuh, sebaliknya aku sendiri tak mampu berkutik lagi, keinginan bunuh diripun tak mampu. Maka aku siaga hari ini dia akan datang lagi membunuhku, tak kira malah kalian yang keburu datang."

"Baiklah setelah luka2 susiok sembuh kita turun gunung bersama, Maksud kedatanganku memang hendak minta susiok turun gunung, pergi ke Taytohi membereskan tugas2 rutin dalam Kaypangi bagian utara."

He-tianglo geleng2, ujarnya:

"Tidaki aku tidak akan turun gunung, soal tugas rutin, kau boleh bawa Pak-kau-pang milikku tunjukan kepada Ki- suhengmu di Taytoh dia pasti patuh dan tunduk akan perintahmu."

Ter-sipu2 Busu-tun menjura menerima Pak-kau-pang orang, katanya: "siautit akan berangkat setelah luka2 susiok sembuh, Betapapun aku mengharap susiok suka turun gunung bersama kami."

"sudah teguh putusanku, aku tidak akan turun gunung. Tapi kau boleh lekas berangkat tak usah menunggu luka2ku sembuh, urusan besar bisa terlantar karena terlambat."

"Tak apa, paling aku tinggal tiga hari lagi," sahut Bu su-tun. "Begitupun Baik, kau temani aku beberapa hari lagi, sejak

bertemu di Taytoh dulu, sudah sekian tahun aku tak pernah

melihatmu lagi."

" Waktu mereka bercakap2, Hun Ji-yan dan Jilian Ceng- hun, masuk dapur bikin nasi masak sayiwan, untuk He-tianglo yang masih lemahi mereka khusus buatkan bubur, sehari semalam He-tianglo tidak makan minum, setelah semangatnya pulih, perutnya seketika keroncongan.

"Banyak terima kasih, bikin kalian sibuk saja," demikian katanya.

"Beras, sayuran kayu bakar dan bumbu semua tersedia, kita kan hanya mengerjakan saja." demikian kata Hun Ji-yan tertawa.

Mau tidak mau He-tianglo bersedih karena kematian kedua anjingnya yang setia, kiranya selama ini kedua anjing itu telah banyak memberi bantuan kepadanya.

Karena sayuran yang tersedia dan kayu bakar adalah hasil kerja dari kedua anjing itu yang sudah dididiknya kerja dengan baik,

Bu su-tun berkata setelah makan nasi:

"Ji- yan, kenapa kau kelihatan begini lesu, makanpun kelihatan tak punya selera?"

He-tianglo tertawa, katanya: "Coba biar kuterka, Nona Hun, bukankah kau merasa bau kembang ini rada aneh dan ganjil?"

"Memang, kurasakan bau kembang disini berlainan dengan semerbak kembang wangi yang pernah ku- cium ditempat lain, rasanya menjadi malas dan kurang semangat, tapi ini hanya perasaanku saja- entah bagaimana dengan kalian?"

"Aneh, memang demikian," ujar Bu-lim-thian-kiau dan Busu-tiun berbareng,

" entah bau ini perpaduan dua macam kembang atau hanya semacam saja?"

He-tianglo gelak2, ujarnya:

"Baiklah, mari kalian ikut aku kekebon, biar kalian saksikan dua macam kuntum kembang yang berlainan dan luar biasa. didalam dua hari ini pasti sudah mekar."

Beramai mereka mengikuti He-tianglo menuju ke-kebon yang pertama tampak oleh mereka adalah kuntum kembang yang tumbuh lebat dipucuk sebuah pohon besar dan cukup tinggi, setiap kuntum kembang sebesar cawan teh kecil, warnanya merah darah menyala, mengeluarkan semacam bau harum yang memabukan.

Hanya menghirup sekali Hun Ji-yan lantas mengerut kening, katanya:

"Bau kembang ini teramat wangi, namun entah kenapa, setelah mencium harum kembang ini, hatiku menjadi masgul dan sedikit mual."

He-tianglo lantas menerangkan dengan tertawa:

" Untung kau berada didalam kebon ini kalau ditempat lain kau bisa jatuh semaput."

"Kembang apakah ini?" tanya Hun Ji-yan pula. "begitu lihay?" "Nama asli kembang ini adalah A-siu-lo-hoa, asal mulanya hanya tumbuh dipuncak Himalaya saja, dengan susah payah aku berhasil mencangkoknya kesini, sudah sekian tahun tidak berkembang, tak kira kemarin setelah turun hujan salju pagi hari ini cambangnya bermekaran,"

" oh jadi baru hari ini kembangnya mekar?" tanya Hun Ji- yan pula.

"Baru pagi hari ini aku mengendus bau harumnya yang istmewa, sungguh aku merasa beruntung sekali."

Jilian ceng-hun keheranan, katanya:

"Apa bedanya kembang ini mekar kemaren atau hari ini?

Kenapa beruntung karena mekar hari ini?"

" Kuntum kembang ini dapat diracik menjadi obat bius yang paling lihay, keculai memiliki Lwekang yang sudah sempurna, kalau tidak sekali mencium bau kembang ini, sekujur badan seketika akan lumpuh dan lemas lunglai, tenaga lenyap. jiwa raga bakal menjadi bual2an lawan. Kemaren Ibun Hoa-kip meluruk kemari, kalau kembang ini kemaren mekar, dengan pertarohkan jiwa dia pasti berusaha untuk merebut A-siu-lo- hoa ini, Arti dari bahasa sangsekerta A-siu-lo adalah setan iblis oleh karena itu umumnya kaum persilatan menamakan dia

Mo-kui-hoa (kembang setan- iblis), Cun-seng Hoatong luas pengetahuan dan pengalaman kabarnya diapun pernah pergi kepuncak Himalaya mencari kembang ini, sebagai muridnya, tentu Ibun Hoa-kip juga tahu kasiat dan asal usul kembang ini, Hari ini kembang ini baru mekar, bukankah beruntung bagi aku?"

"Bahwa Mo-kui-hoa sedemikian lihay, kenapa dalam jarak sedemikian dekat kita masih tidak semaput karenanya?" tanya Hun Ji-yan pula.

"Nah, marilah kalian ikut aku," ajak He tianglo, lalu dia menuju kesebuah kolam, air permukaan kolam ini sudah membeku, namun diantara celah2 salju yang membeku itu menonggol keluar tangkai kembang dan mekarlah sekuntum kembang dipucuk tangkai ini, warnanya putih mulus laksana salju.

Begitu dekat dengan kolam Hun Ji-yan disampuk bau wangi lain yang berbeda lagi, seketika badan terasa segar dan semangatpun bergelora rasa kantuk dan masgul hatinya sirna seketika.

"Apakah ini Lian-hoa (kembang teratai)" tanya Hun Ji-yan . "Ya, bolehlah dianggap Lian-hoa," sahut He-tiang-lo, lalu

dia menjelaskan,

"tapi bukan kembang teratai biasanya, Yang ini dinamakan kembang teratai dari Thian-san. Bunga teratai biasanya mekar pada musim panas, namun kembang teratai dari Thian-san tumbuh di puncak gunung yang dingin, maka dia tumbuh dan mekar diantara timbunan salju,"

Dari gurunya Hun Ji-yan pernah mendapat keterangan tentang kembang ini, katanya:

"o, jadi inilah Thian-san-soatlian, kabamya kembang ini kasiatnya mampu menawarkan ratusan macam jenis racun, apa benar?"

"BetuI, justru karena dalam kebon ini ada Thian-san-soat- lian, maka kadar racun dari Mu-kui-hoa yang membius itu menjadi tawar, Kembang ini masih pentil dan belum mekar seluruhnya, kalau sudah mekar semerbak betul2, tentu rasa masgul dan mualmu akan hilang,"

" Kalau begitu Thian-san-soat-lian kan lebih sukar diperoleh dari Mo-kui-hoa?" kembali Hun Ji-yan mengajukan pertanyaan.

"Masing2 mempunyai kasiatnya sendiri2, merupakan barang yang jarang terdapat diduma ini, Kedatangan kalian amat kebetulan bisa saksikan kedua kembang ini mekar bersama kebetulan pula, Lohu bisa pinjam kembang untuk pertsembahkan kepada Budha."

"Persembahkan kembang kepada Budha? Pakai peribahasa segala, maksud susiok..." tanya Bu su-tun.

"Maksudku ingin titip kalian persembahkan kedua macam kembang ini kepada Liu Tayhiap Liu Goan-cong, pertama untuk membalas budi siau hoan-tan buatannya, kedua Liu Tayhiap adalah tabib sakti masa kini yang tiada bandingannya, dengan membekal kedua macam kembang ini tentu manfaatnya lebih besar dari pada ditanganku."

"Betul, pedang pusaka dihaturkan kepada pendekar patriot, pupur dan gincu dipersembahkan kepada gadis cantik rupawan. Kedua macam kembang mukjijat ini memang pantas diberikan kepada Liu-locianpwe, susiok, tugas ini biar kuselesaikan."

"A-siu-lo-hoa sekarang juga boleh dipetik, Tapi Thian-san- soat-lian masih pentil terpaksa harus tunggu dua hari lagi baru dia akan mekar."

"Tunggu beberapa hari lagi juga tak jadi soal" ujar Busu- tun,

"susiok, kauperlu istirahat merawat luka memulihkan kesehatan, kita disini bisa bantu kau menjaga kebon ini, disamping mengadakan perondaan disekitar gunung ini."

"Begitupun Baik, Yang kukuatirkan hanya Ibun Kea-kip bakal balik pula, ada kalian disini, aku tidak perlu kuatir dia meluruk datang pula."

"Apakah susiok tahu akan sin-tho Thay Bi dan Liu Goan- ka?"

"30 tahun yang lalu aku pernah bertemu dengan Thay Bi waktu itu Hian-im-ci belum terlatih baik olehnya, kejahatannya juga tidak keliwat batas, pernah aku mewakili gurumu memberi peringatan kepadanya, Dia berjanji tidak mencari permusuhan dengan Kaypang, maka aku tidak melabraknya. Tapi kudengar dia ada membuat onar dikala kau diangkat menjadi Pangcu tempo hari, apa benar?"

Bu su-tun mengiakan, lalu ceritakan kejadian di siu-yanglau tempo hari.

"Agaknya dulu dia gentar menghadapi Suheng, setelah gurumu wafat, dia sangka Kaypang tiada jago yang perlu dia takuti, maka sengaja berani datang membuat gara2."

"itu hanya salah satu sebab. Yang lebih penting karena dia sudah diangkat menjadi Koksu negeri Kim, maka besar tekadnya hendak memberantas orang2 Kaypang kita," lalu dia jelaskan pula intrik Thay Bi dan Liu Goan-ka.

"O, kiranya begitu, lalu kenapa kau sengaja menyinggung mereka kepadaku?"

"Menurut kabar yang kami terima, katanya mereka pernah muncul disekitar Thian-long-nia ini."

"Begitu? Aku kok belum pernah melihat mereka atau munigkin mereka belum tahu tempat pengasingan ku ini."

Hun Ji-yan tertawa, ujarnya:

"Ada Tam suheng suami istri disini, kukira kedua bangsat tua itu takkan berani kemari, untung Ibun Hoa-kip sudah kita gebah lari tentu dia sudah turun gunung,"

Dugaan Hun Ji-yan hanya kena sebagian saja, memang semula Ibun Hoa-kip mau turun gunung, tapi setiba dilamping gunung, dia putar balik lagi.

Nah sekarang marilah kita ikuti perjalanan Ibun Hoa-kip yang melarikan diri setelah dikalahkan oleh Bu Su-tun dan Bu- lim-thian-kiau, sebetulnya dia tidak lari jauh, hanya sembunyi didalam hutan.

Ternyata tujuannya kali ini hendak melabrak He-tianglo pula, meski tidak tahu orang sudah teriuka, namun dia kira karena orang sudah tua renta tenaga lemah tentu dalam waktu dekat kesehatannya takkan bisa pulih dengan cepat pikirnya hendak dia tunggu setelah Bu-lim thian kiau dan lain2 pergi, dia akan melabrak He-tiang-lo lagi.

Tak kira dilihatnya Bu su-tun dan Bu-lim-thian-kiau berempat malah memasuki rumah batu kediaman He-tiianglo maka perhitungannya semula menjadi gagal total, betapapun besar nyalinya dengan kehadiran ke-empat anak2 muda ini takkan berani dia mencari penyakit disana.

Terpaksa diam2 dia mengeloyor pergi, namun baru saja dia mau turun gunung, hembusan angin gunung yang msnyampuk hidungnya membawa bau harum Mo-kui-hoa dan Thian-san-soat-lian, Walau kedua macam bau kembang ini terbaur, namun Ibun Hoa-kip bisa membedakan.

Kejut girang dan menyesal lagi Ibun Hoa-kip. perlu dijelaskan kedatangan Ibun Hoa-kip kali ini adalah atas perintah Khan agung raja junjungannya di Mongol untuk menyelundup ke Tionggoan, tugas pertama menyelidik situasi dan mengamati strategis militer negeri song selatan, kedua mengumpulkan dan menggaruk sebanyak mungkin orang2 pandai yang kemaruk pangkat dan harta untuk diperalat menjadi antek mereka.

Ketiga, hendak menyogok dan mempengaruhi beberapa Pang Hwe atau golongan dan sindikat yang mempunyai pengaruh didaerah masing2 supaya kelak bila pasukan Mongol mengadakan intervensi bisa dapat simpatik pihak Kaypang.

Tak nyana usahanya terhadap He-tianglo gagal total sampai terpaksa dia turun tangan, semula dia segan membunuh He- tianglo, namun setelah tugas rahasianya ini diketahui orang, kalau He-tianglo tidak dibunuh, akhirnya bakal menjadi bibit bencana bagi dirinya dan pihak negerinya.

Karena beberapa tugasnya tidak berhasil dilaksanakan, mau tidak mau Ibun Hoa-kip berpikir: "Aku tak bisa tinggal lama digunung ini. Biar aku lekas pulang memberi laporan kepada suhu tentang kedua kembang mujijat itu. Kabar ini merupakan pahala yang berharga juga bagiku."

Maka dia turun gunung pikirnya hendak langsung pulang ke Mongol, tak nyana setiba dia dilamping gunung terjadilah suatu peristiwa diluar dugaan. Disaat dia berjalan dengan dongkol dan hambar, tiba2 didengarnya ada suara sambaran senjata rahasia yang memecah udara.

Belum kelihatan bayangan orang, senjata rahasia menyamber lebih dulu, dari daya samberan senjata rahasia yang kencang ini bercekat hati Ibun Hoa-kip. lekas dia jemput sebutir batu dengan Tan ci-sin-thong dia selentik batu itu memapak kedepan.

"plok" dua batu beradu ditengah udara, batu selentikan Ibun Hoa-kip hancur, sebaliknya batu lawan menceng dan jatuh ketanah namun tidak pecah, agaknya Lwekang menimpuk batu ini lebih tinggi seurat dari Ibun Hoa-kip.

"siapa itu main bokong dengan senjata rahasia?" bentaknya gusar, Tapi belum habis Ibun Hoa-kip ber-suara, dilihatnya seorang padri asing yang berkasa merah melangkah mendatangi sambil gelak2.

Dengan jelilatan mata padri asing ini menatap Ibun Hoa- kip. suaranya aneh:

"Aku hanya mengukur Lwe- kang mu dengan batu kecil itu, kalau benar2 menyerangmu, memang jiwamu tidak mampus seketika? Tapi kau mampu pukul jatuh batuku, terhitung lumayan kepandaianmu. "

Merah muka Ibun Hoa-kip. tanyanya-.

" Harap tanya siapa nama gelar Taysu kenapa mengukur kepandaian cayhe?"

"Kau tidak tahu aku, aku tahu kau. Bukankah kau bernama Ibun Hoa-kip. datang dari Mongol?" jengek padri asing kasa merah. Ibun Hoa-kip senang, katanya berseri:

" Kebetulan kalau kau sudah tahu diriku, lebih enak buat bicara,"

Tak kira padri asing itu malah menarik muka, katanya tertawa dingin,

"siapa sudi beri muka kepadamu agaknya aku tidak salah mengenalimu. Nah rasakan pukulanku."

tahu2 telapak tangaainya menabas dilandasi deru angin kencang, lekas Ibun Hoa-kip berkelit miring beruntun dia gunakan gerakan sam-hoa-thau-gwat dan Hong-hud-jul-yang baru berhasil melupakan diri dan mematahkan serangannya.

Tapi tak urung dada terasa sesaki Keruan kejut dan gusar Ibun Hoa-kip. bentaknya:

"Aku tak kenal kau, ada permusuhan dan dendam apa dengan kau? Kenapa kau begini kasar?"

"Hm, kau melukai muridku, masih berani kau katakan aku main kasar? Kau kira ilmu silatmu tinggi, mempermainkan muridku, biar kupunahkan ilmu silatmu saja."

Kiranya padri asing kasa merah ini adalah guru Ma Toa-ha yaitu Bing-ciu siangjin, ciang bujin Ling-san-pay sekte selatan, Kebetulan dibawah gunung Ma Toa-ha dan siangkoan Pocu ketemu gurunya, maka mereka minta sang guru menuntutkan balas.

Kedatangan Bing-ciu siang-jin kali ini ada dua tujuan, pertama hendak mencari jejak Thay Bi dan Kengsun Ki, pikirnya hendak merebut kedua ilmu beracun dari keluarga siang.

Kedua menyelidiki tingkah pola muridnya apakah dia bekerja sesuai perintahnya dan ada maksud mendurhakai gurunya. Ternyata lahirnya saja kelihatan Bing-ciu siangjin akur dengan ciangbun Ling san-pay sekte utara Ceng-Iing suthay, namun sejauh ini mereka masing2 mempunyai keinginan untuk menjatuhkan saingannya.

Setelah mengutus muridnya Ma Toa-ha, pergi ke Thian long-nia, dia mendapat kabar pula bahwa Ceng-Iing Suthay juga mengutus putrinya pergi ke Thian- long-nia dengan tujuan sama, kuatir Ma Toa-ha setelah mendapat kedua ilmu beracun ita diberikan kepada Ceng-ling Suthay atas hasutan Siang-koan Pocu, maka bergegas dia menyusul datang.

Setiba di Thian- long-nia, kebetulan kesamplok dengan Ma Toa-ha dan Siangkoan pocu yang lari membawa luka, sudah tentu Ma Toa-ha dibantu siangkoan Pocu menghasut padanya untuk menuntut balas kepada musuh yang dikatakan Busu MongoL Maka Bing-ciu Siangjin segera meluruk keatas gunung dan bertemu ditengah jalan dengan Ibun Hoa-kip.

Lwekang Ibun Hoa-kip memang setingkat lebih rendahi namun kepandaiannya cukup lihay, sekali pukul jelas Bing-ciu Siangjin takkan mampu melukai dia, ter-sipu2 Ibun Hoa-kip berseru mohon damai saja, namun Bing-ciu Siangjin tidak memberi hati, bentaknya:

"Baik, kalau kau tahu salah. Nah berlututlah minta ampun, Kalau tidak ilmu silatmu harus kubikin punah."

Kapan Ibun Hoa-kip pernah dihina dan dipermainkan begini rupa terbakar juga amarahnya, jengeknya menantang:

"Seorang lakl2 sejati lebih baik gugur daripada dihina, Bahwa aku mau mohon damai kepada-mu. Tahukah kau siapa aku?"

"Peduli siapa kau." bentak Bing-ciu Siangjin, kembali dia lontarkan pukulannya, kali ini dia kerahkan delapan bagian tenaganya, deru anginnya bagai hujan badai.

Kali ini Ibun Hoa-kip sudah siaga, tenaga murni dia pusatkan ditelapak tangan lalu melontarkan Gua-goan-it-sat- kang, secara kekerasan dia sambut pukulan Bing-ciu Siangjin. Gun-goan-it-sat-kang adalah ilmu tunggal ajaran guru Ibun Hoa-kip yaitu Cun-seng Hoat ong, kekerasan tenaga pukulannya yang ganas kira2 setanding dengan Tay-lik,kim- kong-ciang dari siau-lim-pay, dikalangan sesat sudah boleh terhitung ilmu pukulan nomor wahid.

Malah bisa melukai urat nadi, perbawanya lebih jahat dan Kim-kong- elang dari aliran lurus. Tapi Lwekang Bing-ciu siangjin memang lebih tinggi, dua telapak tangan melawan satu telapak tangan "Pyyaaarr," tetap Ibun Hoa-kip kalah, terg entak mundur tiga langkah.

Bing-ciu siangjin unggul dlatas angin, namun setelah adu pukulan, dia sendiri merasakan urat nadinya tergetar oleh pertahanan lawan dlam2 mencelos hati-nya, lekas dia kerahkan tenaga mengatur napas, bentaknya:

"Gun-goan-it-sat-kangmu ini kaupelajari dari siapa?" "Ada berapa macam Gun-goan-it-sat-kang dalam dunia

ini?" ejek Ibun Hoa-kip. maksudnya kalau kau sudah tahu ilmuku ini adalah Gun-goan-it-sat-kang, tentu sudah tahu siapa guruku, namun Bing-ciu siangjin berkeputusan untuk pura2 tidak tahu dan masa bodohi tanpa banyak suara segera dia melangkah lebar seraya lancarkan serangan maut yang mematikan pikirnya dia hendak bunuh Ibun Hoa-kip saja untuk menutup mulutnya supaya kelak tidak mengadu kepada gurunya cun-seng Hoatong.

Kali ini serangannya lebih lihay dan keji, kedua jari2nya menggunakan ilmu pegang dan cengkram.7 Hiat-to penting dibadan Ibun Hoa-kip didalam incaran jari2 tangannya.

Terpaksa Ibun Hoa-kip kembangkan seluruh kemahirannya, namun tak urung masih ada satu Hiat-to yang tak luput dari pegangan orang, terpaksa dia gunakan Gun-goan-it-sat-kang untuk mengadu tenaga, "Biang" begitu telapak tangan kedua pihak beradu, Ibun Hoa-kip terg entak mundur bersalto kebelakang, napas sesak darah bergolak dirongga dada, dengan susah payah baru dia berhasil kendalikan keseimbangan badannya.

Dengan ketat Bing-ciu sianjin menubruk pula, Namun, sebelum dia hantam pukulannya pula, tiba2 Ibun Hoa-kip berteriak:

"Tahan sebentar, Aku sudah tahu siapa kau, kau adalah Bing-ciu siangjin ciangbunjin Ling-san-pay sekte selatan bukan?"

kiranya dalam mencengkram dan mengincar tujuh Hiat-to Ibun Hoa-kip. Bing-ciu siangjin gunakan pelajaran tunggal dari aliran Ling-san-pay mereka.

Bing-ciu siangjin merasa bangga dan senang, serunya gelak2: "

Terhitung kau tahu diri, memangnya mau apa setelah tahu ilmu Tay-kim-narjiuku ini?"

"Aku tahu asal usulmu, tentunya kaupun sudah tahu asal usulku. jikalau siangjin sudi merendahkan diri, bagaimana kalau kita bersahabat menjadi teman saja."

"Enak kau bilang tahu bukan tandingan lantas bermuka2, kau kira aku mau mengampuni kau?-" jengek Bing-ciu siangjin.

Tawar suara Ibun Hoa-kip. katanya:

" Dengan kepandaianmu kau bisa membunuhku, tapi pikirkanlah akibatnya kelaki yang terang Lwekamgmu sendiri juga pasti susut lima tahun, pikirkanlah kedudukan ciang- bunmu sendiri supaya tidak direbut orang."

seperti diketahui Gun-goan-it-sat-kang Ibun Hoa-kip peranti melukai urat nadi orang, walau Bing-ciu siangjin bisa membunuhnya, dia sendiripun akan kehilangan banyak tenaga dan terkuras tenaga murninya. Tapi Bing-ciu siangjin paling mengagulkan pamor dan gengsi, disamping kuatir bila Ibun Hoa-kip dibiarkan hidup kelak malah bakal mendatangkan bencana dengan hasutannya kepada sang guru Cun-seng Hoat-ong yang akan menuntut balas kepada dirinya, Maka dia tekad-kan hati dan keraskan kepala jengeknya:

"Kau menghina muridku, masa aku harus pandang kau sebagai teman malah?"

"Memang aku salah paham melukai kedua murid- mu, soalnya aku tidak tahu asal usul mereka, oleh karena itu, ingin aku haturkan dua macam benda mestika kepadamu sebagai permintaan maafku, Bagaimana?"

"Benda mestika yang jarang dalam dunia, apa itu?" tanya Bing-ciu siangjin.

"Kembang Asiulo dan Thian-san-soat-lian, bukankah kedua macam kembang ini merupakan benda mestika yang jarang didapat?"

Bersinar mata Bing-ciu siangjin, katanya:

"Kau punya kedua macam kembang mestika itu? Aku tidak percaya, Coba keluarkan dulu biar kulihat."

Ling-san-pay memang aliran yang mahir menggunakan senjata rahasia berbisa, kedua macam kembang itu disamping bisa dibuat bubuk bius, juga bisa digunakan obat mujarab.

Keduanya amat berguna bagi Bing-ciu Siangjin.

"Kalau siangjin ingin memperoleh kedua kembang itu, nah marilah ikut aku"

Terpaksa Bing-ciu siangjin mengikuti dibelakangnya, setelah ber-lari2 cukup Iama setiba disamping gunung betul juga hidungnya segera mengendus bau wangi dari kembang Asiulo dan Teratai salju. Keruan girang dan kaget Bing-ciu siangjin bukan main, namun diapun curiga, tiba2 dia hentikan langkahi kata-nya:

"Kau sudah menemukan kedua macam kembang itu kenapa tidak kau ambil sendiri?"

"Terus terang, rumah batu itu dihuni seorang jago kosen, seorang diri aku bukan tandingannya, kalau kita berdua mengeroyoknya, jelas kita akan merobohkan dia dan merebut kembang2 itu."

"siapakah tokoh kosen yang kau maksud?"

"Mereka adalah He-tianglo dari Kaypang, Kaypang pangcu yang baru bernama Bu su-tun, seorang lagi adalah Bu-lim- thian-kiau dari negeri Kim beserta istri meneka."

sudah sepuluhan tahun Bing-ciu siangjin tidak turun gunung dia hanya tahu asal usul He-tiang-lo, maka dia bergelak tawa, katanya:

"llmu silat He Tin memang lihay, namun dia bukan jago kosen, Yang lain malah angkatan lebih muda, betapa tinggi kepandaiannya, masakah lebih tinggi dari pengemis tua bangka itu?"

"siangjin jangan pandang rendah mereka, He Tin sudah tua tenaga lemah. Tapi Bu su-tun dan Tam Ih-tiong yang bergelar Bu-lim-thian-kiau tidak boleh dipandang ringan, aku hanya setanding melawan mereka satu persatu."

Bing-ciu siangjin tertawa dingin ejeknya:

"Mereka musuh2mu bukan? Hm, jadi kau memancingku kemari dengan kedua macam kembang itu supaya aku bantu kau menuntut balas?"

"Yang terang kerja sama ini sama2 membawa manfaat bagiku-dan untuk kau. Dan lagi kalau dapat membunuh mereka, masih ada manfaat lain bagi kita."

" Keuntungan apa?" "Tentunya kau sudah tahu, Cun-seng Hoatong adalah guruku?"

"Memangnya kenapa?" mau tidak mau Bing-ciu siangjin harus merubah sikap setelah orang menyebut nama gurunya,

"ilmu silat gurumu memang tiada tandingan dijagat, sudah lama aku mengaguminya, tapi aku tidak ingin menarik keuntungan apa2 dari beliau."

"Guruku sudah terima undangan Temujin dan sekarang diangkat sebagai Koksu negeri Mongol."

"O, hal ini sih aku belum tahu, Memangnya kenapa?" "Temujin berambisi besar. tak lama lagi akan kerahkan

pasukan mencaplok song melalap Kim menyatukan seluruh

bangsa Tionghoa, Terus terang, aku mendapat perintah rahasia untuk mencari tahu keadaan negeri Kim disamping menarik dan mengundang tokoh2 silat yang mau bekerja bagi Khan agung. Mereka tidak terima undangan malah menentang Mongol, jikalau siangjin mau bantu aku membunuh mereka berarti mendirikan pahala besar bagi Khan agung dari Mongol. Kedua macam kembang itu boleh menjadi milik siangjin disamping ada hadiah2 besar lain dari Khan agung, Malah kemungkinan kelak siangjin akan diangkat menjadi Koksu dinegeri jajahan, inilah kesempatan terbaik bagi siangjin untuk memperluas ajaran perguruan sendiri. "

Legalah hati Bing-ciu siangjin mendengar penjelasan Ibun Hoa-kip. katanya gelak2:

"Lote, kenapa tidak sejak tadi kaujelaskan. Kalau sejak mula tahu kau murid Cun-seng Hoat-ong, bertugas bagi kepentingan gurunya lagi, tentu tidak akan terjadi salah paham. Baiklah terhitung tanpa berkelahi takkan berkenalan Dihadapan Khan agung, sukalah kau bantu memberikan penjelasan akan kesetianku kepadanya. Nah, sekarang mari kita luruk kesana." Dalam pada itu He-tianglo sedang menjelaskan kembang2 mestika itu didalam taman, tiba2 didengarnya suara derap langkah di tanah bersalju di luar rumahi segera He tianglo membentak:

"siapa diluar ?"

Terdengar Ibun Hoa-kip gelak2 diluar, serunya.

"He-lothau, iseng benar kau ini, luka2mu belum sembuh namun sudah jalan2 dikebon? Agaknya kau ini memang orang pelit, dalam taman kau tanam kembang mestika, kenapa tidak bagi rata kepada teman2 lain. Maaf ya, kubawa seorang teman tanpa diundang kami luruk sendiri kesini. Kuharap kau tidak pandang kita sebagai tamu jahat."

Lenyap suaranya tahu2 bersama Bing ciu siang-jin, Ibun Hoa-kip sudah lompat naik dan berdiri di atas pagar tembok. Bu su-tun kontan menyambut dtngan hardikan:

"Turunlah..." Bik khong-ciang yang dia lancarkan mengeluarkan suara gemuruh seperti guntur, bagai gugur gunung angin pukulannya menerjang ke arah Bing-ciu siangjin.

Bing-ciu siangjin gelak2 serunya:

"Tay-lik-kim-kong-ciang dari Kay-pang memang hebat, namun jangan sangka bisa merobohkan aku keluar tembok. Nah, lihatlah aku ingin turun ke dalam malah."

Habis kata2nya, orang nyapun sudah melompat turun dan hinggap di dalam taman.

Ilmu silat Bu su-tun tinggi bernyali besar, namun kali ini dia betul2 kaget karena lawan kelihatan wajar menghadapi gelombang pukulannya Tapi diluar tahunya, dada Bing ciu siangjinpun sakitnya seperti dipukul godam, Tapi tingkat kepandaiannya memang sedikit unggul dari Ibun Hoa-kip begitu menghadapi damparan angin pukulan Bu su-tun dia kerahkan tenaga dalamnya, maka kelihatannya tidak mengalami apa2.

Ibun Hoa-kip cukup cerdik, dia melompat dibela kang Bing- ciu siang-jin maka dengan leluasa diapun melompat turun didalam taman.

Begitu kaki menginjak tanah langsung Bing-ciu siiuigjin lari menuju kearah kembang Asiulo, serunya ter-bahak2:

"Buat apa cerewet dengan mereka, bukan saja aku ingin menikmati indahnya kuntum kembang, akupun hendak memetiknya."

He-tianglo berada didepan pohon kembangnya, baru saja dia hendak maju memapak musuh. Bu-lim-thian-kiau sudah mendahului katanya:

"Biarlah orang she Tam yang mengusir tamu jahat ini."

Dengan jurus Hun-hoa-hud-liu (membagi kembang mengebas pohon liu) kedua tangan Bu-lim-thian-kiau bergerak dengan tipu serangan isi kosong berbareng tanpa bersuara, namun kekuatan pukulan tangannya menggulung bagai gelombang lautan dahsyatnya Bing-ciu siangrjin tak berjaga2, kontan dia tertolak mundur tiga langkah, lekas dia kebas lengan jubahnya baru bisa memunahkan separo damparan gelombang pukulan orang.

Berkilat biji mata Bing-ciu siangjin, katanya keras:

"Kau inikah Tam Ih-tiong yang bergelar Bu-lim-thian-kiau itu? Baik, aku beri tiga jurus kelonggaran kepadamu, supaya kau tidak congkak lagi."

"Kau ini barang apa? Berani begini takabur Cukup sejurus, tanggung kau balas menyenang kepadaku." jengek Bu-lim- thian-kiau, Dia tahu Lwekang Bing-ciu siangjin lebih tinggi, namun dia yakin Lok-eng-ciang-lioat ciptaannya amat berguna untuk menghadapi lawan setangguh Liu Goan-ka, tak laku untuk menghadapi Bing-ciu siangjin, Maka dia harus gunakan senjata, tahu2 dengan suara melengking tiupan serulingnya menerjang musuhi

disusul lapisan bayangan seruling yang bersusun tak terhitung banyaknya mengurung lawan.

Sebagai seorang maha guru silat dari suatu aliran, sudah tentu Bing-ciu Siangjin cukup mampu menilai bahwa sejurus permainan seruling Bu-lim-thian-kiau sekaligus mengincar 6 Hiat-to dibadannya.

Betapapun tinggi dan luas pengalaman Bing- ciu siangjin, selama hidupnya belum pernah dia melihat atau menghadapi ilmu tutuk yang begini lihay dan menakjupkan. Agaknya Bu- lim-thian-kiau lancarkan Keng-sin-ci-hoat yang dapat diapelajari dari petunjuk Liu Goa n- cong, itulah ilmu tutuk yang tiada taranya dikolong langit dengan seruling sebagai jari, maka tipu2 serangan ilmu tutuk Bu-lim-thian-kiau ini bertambah perubahannya dan lebih memperlihatkan perbawanya pula .

Karena tak mampu berkelit, terpaksa Bing-ciu si-angjin lontarkan pukulan untuk melawan, kedua telapak tangannya bergerak dengan Tay-kim-na-jiu, gerakan tangannya membawa deru angin yang kencang dan kuat, bukan saja bisa memunahkan terjangan angin seruling yang hebat itu didalam sejurus permainannya ini, sekaligus diapun mengincar tujuh Hiat-to dibadan Bu-lim-thian-kiau.

Kedua pihak serang menyerang, Lwekang Bing-ciu siangjin lebih tinggi, namun Bu-lim-thian-kiau kembangkan gerakan badannya yang enteng lincah laksana aliran mega dan air, pada detik2 yang menentukan, dengan tepat dia bisa meluputkan diri, sehingga kedua pihak tidak sampai cidra.

Tapi Bing- ciu siangjin sudah terlanjur bermulut besar, katanya hendak memberi tiga jurus peluang kepada Bu-lim- thian-kiau, kini kenyataan hanya segebrak saja dia sudah dipaksa turun tangan mempertahankan diri, jelas pamornya sudah runtuh dan gengsipun ikut turun.

Kalau Bu-lim-thian-kiau sudah memapak Bing-ciu siangjin, maka He-tianglo menyongsong kedatangan Ibun Hoa-kip. Tapi Bu su-tun tidak biarkan He-tianglo melawannya, dia menerobos baju lebih dulu kedepan serta menyerang dengan tipu Hing-hun-toan-hong (awan melintang memapas gunung), tenaga telapak tangannya laksana golok membelah.

Ibun Hoa-kip yang lagi berlari maju seketika terbendung mundur. Yakin kepandaian murid keponakan yang hebat, terpaksa He Tin mengundurkan diri

Ibun Hoa-kip sudah beradu pukulan beberapa kali dengan Bu Su-tun, dia tahu kekuatannya bukan tandingan lawan, maka dia keluarkan sepasang gelang yang dinamakan Jit- gwat-siang-lun, katanya:

"Bu-pang-cu, marilah kita bertanding dengan senjata." "Peduli kau pakai gaman apa, aku tetap melawan dengan

sepasang tangan," sambut Bu su-tun.

Kedua gelang Ibun Hoa-kip terangkat lurus keatas kepala, dengan jurus siang-liong-jut-hay (sepasang naga keluar lautan) dia dorong lurus kedepan. Dua pukulan tangan Bu su- tun yang menderu bikin sepasang gelang lawan tersibak minggir.

sudah sepuluh tahun lebih Ibun Hoa-kip yakinkah sepasang ilmu gelangnya, kedua gelangnya bergelindingan laksana kitiran cepatnya, kekuatannya seperti damparan air sungai yang sambung menyambung, Bu su-tun dipaksa untuk memakai Tay-lik-kim-kong-ciang, ajaran tunggal Kaypang untuk melawan ilmu gelang lawan.

Bicara soal kekuatan Bu su-tun setingkat lebih unggul, namun Ibun Hoat unggul karena dia pakai senjata, kedua pihak bertempur serang menyerangi sama kuat dan Disana Bu-lim-thian-kiau melawan Bing-ciu siangjin dengan sengit Dengan ilmu tutuk nomor satu dikolong langit Bu-lim-thian- kiau cecar Bing- ciu siang-jin, namun dengan gigih Bing-ciu siangjin melawan dengan ilmu Tay-kim-na-jiu aliran Ling-san- pay.

Ginkang, senjata rahasia dan Tay-kim-na-jiu merupakan ajaran puncak tertinggi dari golongan Ling-san-pay, sebagai seorang ciangbunjin, sudah tentu Bing- ciu Siangjin malu menggunakan senjata rahasia, selama puluhan tahun dengan rajin dan giat dia yakinkan Tay-kim-na-jiu yang sudah mencapai puncak kesempurnaannya, maka kedua pihak sama2 keluarkan kepandaian simpanan yang paling hebat, keadaan tetap setanding sama kuat. Tapi Lwekang Bing-iciu siangjin lebih tinggi, puluhan jurus kemudian keringat sudah b ercucuran dijidat Bu- lim-thian- kiau.

Melihat suaminya terlibat dalam pertempuran sengit yang menyulitkan posisinya, terpaksa Jilian Ceng-hun keluarkan golok sabit, katanya:

"Kau seorang guru silat dari suatu aliran, kami anak2 muda bersama mohon pengajaran, tidak terhitung main keroyok kepadamu bukan?"

" Kalian boleh maju semua, mending untuk menghemat tenagaku malah."

Bing-ciu siangjin tidak pandang sebelah mata kepada lawan perempuan yang masih muda belia ini.

"Apa benar?" ejek Jilian ceng-hun,

" kalau begitu jangan salahkan aku kurang ajar, lihat golokku, ketahuilah seranganku ini akan menusuk Hong-hu- hiat di-badanmu."

Bagi dua musuh yang bergebrak tak pernah memberitahu sasaran yang hendak diserangnya lebih dulu. sudah tentu Bin- ciu siangjin geli dan dongkol,jengeknya. "Baik ingin kulihat cara bagaimana kau akan menusuk Hong-hu-hiat?"

perlu diketahui Hong-hu-hiat berada dipunggung, lawan berhadapan takkan mungkin bisa menusuk Hong-hu-hoat yang berada dibelakangi punggungnya. Maka Bing-ciu siangjin anggap orang membual belaka.

Namun, permainan ilmu golok sabit Jilian ceng-hun memang lain dari ilmu golok umumnya, apalagi kerja sama dengan Bu-lim-thian-kiau yang termasuk se-aliran, waktu di Kong-bing-si Jilian Ceng-hun mendapat petunjuk pula dari Liu Goan- cong maka ilmu goloknya ini bertambah lihay dan aneh gerak permainannya, kalau golok panjang biasa tak mungkin menusuk punggung lawan, namun golok sabit yang melengkung ini cukup sedikit miringkan badan, ujung goloknya akan tepat menusuk Hong-hu-hiat yang terletak di- punggung lawan.

Karena menghadapi dua lawan tangguh maka Bing-ciu siangjin sekaligus harus memecah perhatian, tujuh bagian tenaganya dia kerahkan untuk menghadapi rangsakan seruling Bu-lim-thian-kiau, maka gesekan tangan kirinya tak sempat lagi mencengkeram golok sabit Jilian Ceng-hun yang tiba2 menyelonong maju, maka terdengarlah suara "crat", ujung golok memang tepat mengincar Hong-hu-hiat namun hanya menusuk lobang pakaiannya saja.

Hong-hu-hiat merupakan salah satu Hiat-to mematikan, namun ujung golok Jilian Ceng-hun tertolak balik oleh Hou- dehisin-kang (ilmu sakti pelindung badan) Bing-ciu siangjin yang ampuh. Namun demikian tusukan yang tepat mengarah sasarannya ini merupakanan gaman juga bagi Bing- ciu siangjin.

Maka dengan gusar segera dia kerjakan kedua tangan memukul dengan damparan angin gemuruh, tangan kiri dengan ticu Ngo-ting-kiau-san (Ngo-ting membelah gunung) dan kanan dengan jurus sian-jin-ci-lo (dewa menunjuk jalan), dia cecar Jilian ceng-hun.

"Suuiiiit" seruling Bu-lim-thian-kiau melengking dengan samberan angin tajam,  Bing-ciu siaingjin yang memiliki kekang tinggi seketika rasakan badannya seperti kestroom. Lekas dia kebas kan lengan baju memunahkan serangan angin panas dari seruling Bu- lim-thian- kiau.

Tapi kejadian terlalu cepat, tahu2 seruling Bi-lum-thian-kiau digunakan sebagai potlot peranti penutuk Hiat-to dengan jurus To-toan-sing-heng (memutar bintang melintang) mengincar Giok-sim-hiat dibela kang batok kepala Bing-ciu siang-jin.

Giokisim-hiat merupakan Hiat-to mematikan yang paling lemah dan peka, tutukan yang lihay ini memaksa Bing-ciu siangjin menolong jiwa lebih dulu sebelum bisa merobohkan Jilian Ceng-hun, maka Bing-jiu siangjin dipaksa membalik untuk menghadapi serangan Bu- lim-thian- kiau.

Dengan sendirinya dua jurus serangan lihaynya tadi dapat dipatahkan oleh Jilian Ceng-hun, Mau tidak mau kerepotan juga Bing-ciu siangjin menghadapi keroyokan Bu-lim-thian- kiau suami istri. Tapi Lwekangnya tinggi 72 jalan Tay-kim-na- jiu yang dia yakinkan teramat ampuh, dalam waktu dekat Bu- Lim-thian- kiau berdua jelas takkan mampu mengalahkannya .

Diluar gelanggang Ho-tinglo perhatikan dua babak adu kekuatan ini, Bu-lim-thian-kiau berdua mulai unggul di atas angin, Bu su-tun setanding sama kuat menghadapi Ibun Hoa- kip. maka dia menghela napas lega, Tapi tiba dia tersentak sadar, katanya:

"Nona Hun, lekas kau petik soat-lian, biar aku yang memetik Mo- kui-hoa."

13 kuntum Mo- kui-hoa sudah berkembang, He-tiang-Io baru berhasil memetik tujuh kuntum, se-konyong2 didengarnya seorang gelak2 serunya: " Kukira siapa yang sedang kelahi disini, ternyata kau Hwesio doyan daging anjing ini." kumandang suaranya, bayangan orang nyapun muncul, itulah seorang bungkuk yang berperawakan tinggi, dia bukan lain adalah si bungkuk sakti Thay Bi adanya.

sin-tho Thay Bi adalah kenalan lama Bing-ciu siangjin, sudah tentu girangnya bukan main, lekas dia berseru:

"Tho-heng tolong bantu sedikit kesulitanku, lekas kau rebut Thian-san-soat-lian dan Mo- kui-hoa, kita boleh bagi rata nanti."

Memang Thay Bi datang setelah mengendus bau kembang ini, katanya tertawa besar:

"Memangnya perlu kau cerewet, aku memang ingin merebutnya."

Mo- kui-hoa tumbuh diatas pohon, tidak sukar untuk memetiknya. sementara Thian san-soat-lian tumbuh dipermukaan salju dalam kolam, rada sukar dan lebih banyak mengeluarkan tenaga untuk memetiknya. Baru saja dengan galah gantolan Hun Ji-yan berhasil memetik sekuntum soat- lian yang sudah mulai mekar, tahu2 Thay Bi menubruk kearahnya.

He-tianglo menghardik seraya mencegat kedepan Thay Bi, damratnya:

"Kembang ini akulah yang tanam, mana boleh kau mengambilnya?"

Thay Bi menyeringai dingin:

"Jadi kau ini majikannya, maaf, maaf," tiba2 dia tuding jari menutuk dari kejauhan, lekas He-tianglo lontarkan pukulan, gerakan Thay Bi sementara dibendung, namun dia cukup licik, buntu dikanan tiba2 selicin belut dia menyelinap kekiri terus menerobos dari samping He-tiang-lo, serunya gelak2: " Kiranya kau He-tianglo dari Kay-pang bagus, nanti akan kuminta pengajaran Kim-kong-ciang, sekarang aku harus pelik dulu Thian-san-soat-lian itu."

Pukulan He-tianglo memang sedikit unggul, namun ia bergidik kedinginan juga oleh tuturkan Hian-im ci Thay Bi, maklumlah usia tua kondisi badanpun sudah lemahi darah badannya serasa hampir membeku. Lekas dia kerahkan tenaga murni mendesak keluar hawa dingin yang meresap tadi.

Waktu dia berpaling dilihatnya Thay Bi sudah menerobos kepinggir kolam dan sedang melabrak Hun Ji-yan .

Kepandaian Hun Ji-yan memang jauh bukan tandingan Thay Bi, namun belakangan ini dia sudah memperdalam Bu- siang- kiam- hoat, dalam 20-30 jurus sedapat mungkin dia makan kuat bertahan.

He-tianglo sudah merasakan kelihayan Hian-im-ci, maka cepat dia berteriak:

"Bu-sutit, lekas kau hadapi bungkuk keparat itu, biar kugebah bangsat yang satu ini."

sudah tentu Bu su-tun terkejut maklumlah He-tianglo hampir saja melayang jiwanya oleh pukulan Ibun Hoa-kip. sudah tentu Bu su-tun tidak berani biarkan orang menempuh bahaya.

Tapi dengan banting kaki He-tianglo mendesaknya: "Kenapa ayal? jiwa nona Hun terancam kaulah yang harus

menyelamatkan dia .jangan kau kuatir akan diriku aku punya

cara untuk mengalahkan kunyuk ini."

sembari bicara dia mendesak maju menyambut serangan Ibun Hoa-kip. maka tempat kedudukan Bu su-tun dia gantikan. Terpaksa Bu Su-tun mengundurkan diri, dilihat-nya Hun Ji- yan sudah terdesak dibawah angin oleh cecaran Thay Bi yang ber-tubi2, dalam keadaan gawat ini tak sempat dia banyak pikir, terpaksa dia tinggalkan He-tianglo yang menghadapi ibun Hoa-kip. lekas dia menolong Hun Ji-yan yang terancam bahaya.

Menghadapi He-tianglo yang pernah dikalahkan ibun Hoa- kip hendak menyimpan sepasang gelangnya tak kira He Tim malah menantang:

"Hari ini, biar aku adu senjata dengan kau."

sambil menenteng Pak-kau-pang segera dia merangsak maju.

Ibun Hoa-kip mendengus hina, setelah pertempuran kemaren, dia tahu usia He-tianglo tua tenaga lemahi bertanding apapun jelas dirinya dipihak yang unggul. Maka dengan acuh dan seenaknya saja dia dorong sepasang gelangnya kearah He-tianglo.

Tak nyana sekali angkat Pak-kau-pang hanya sedikit sampuk saja, gelang ibun Hoa-kip tahu2 terpental pergi dantrang, kedua gelangnya saling beradu sendiri Cepat sekali, tahu2 ujung tongkat penggebuk anjing He-tianglo sudah mengincar Hiat-to besar didepan dadanya.

Baru sekarang ibun Hoa-kip terkejut, ter-sipu2 dia gunakan gerakan burung dara jumpalitan bersalto tiga tombak kebelakang, waktu He-tianglo menubruk da-tang, ibun Hoa-kip gunakan gelang rembulan melindungi badan, sementara gelang matahari dia dorong dan tekan, inilah salah satu jurus ilmu gelangnya yang lihay dan mematikan, agaknya dia sudah kapok dan tak berani pandang rendah musuhnya, dengan kekuatan penuh sudah tentu hebat sekali dorongan gelangnya ini.

Tak kira gerakan pak-kau-pang He-tianglo amat lincah dan berputar seenteng mega mengembang, dengan mudah dan sepele dia punahkan serangan gelang yang mendorong dan menekan ini.

sebagai ahli silat, beruntun mengalami kerugian kecil, tiba2 tergerak hati ibun Hoa-kip. segera dia simpan sepasang gelangnya malah, katanya:

"Mengingat usiamu sudah tua, biar aku beri kelonggaran kepada-mu, dengan sepasang kepalan aku layani permainan tongkatmu."

agaknya dia sudah meraba dimana letak kelihayan ilmu pentung He-tianglo, kalau dia juga pakai senjata, keadaan malah kurang menguntungkan.

Kini dengan Bik-khong-ciang, cukup asal pentung lawan tidak mengenai Hiat-tonya, He-tianglo akan kewalahan dan akhirnya dipaksa untuk mengadu kekuatan secara keras.

Mencelos hati He-tianglo, sebetulnya dia sudah bertekad untuk melabrak musuh ini dengan gugur bersama, untuk ini dia sudah pikirkan suatu cara yang baik, namun kalau keadaan tidak terlalu mendesak tidak akan dia gunakan cara yang sekaligus akan merenggut jiwa sendiri.

Tapi dengan tenang dan sewajar-nya dia berkata:

"Baik, terserah keinginanmu, aku tetap hajar kau dengan pentung anjing ini."

setelah ibun Hoa-kip menyerang dengan Bik-khong-ciang, bertambah sulit pentung He-tianglo untuk mengenai badan lawan. Tapi dalam jarak tiga tombak pukulan ibun Hoa-kip tetap tak bisa melukai He-tianglo juga.

Begitulah kedua pihak bertahan cukup lama, namun serang menyerang cukup berbahaya juga, sedikit lena pasti jiwa takkan selamat lagi.

Kedatangan Bu su-tun yang menolong calon istrinya amat kebetulan sekali, Tatkala itu Hun Ji-yan sudah bertahan 30 jurus tenaganya sudah lemas, Thay Bi sudah mendesaknya sampai dipinggir kolam, bentak-nya:

"Lepas pedang." kelima jari Thay Bi laksana cakar garuda mencengkram kebatok kepala Hun Ji-yan .

Gerak gerik Hun Ji-yan sudah terkurung oleh cengkraman jari lawan, kecuali dia timpukan pedangnya balas menyerang mendesak mundur lawan, kalau tidak terceng kram lawan, pasti dia kecemplung kedalam kolam. Tapi Thay Bi belum tentu bisa dilukai oleh timpukan padangnya, bila orang berkelit dan menubruk maju pula, dia tetap takkan luput dari cengkraman tangan iblisnya.

Disaat Thay Bi membentak:

"Lepas pedang," itulah, dari samping Bu su-tun membarengi menghardiki

" Lihat pukulan." belum datang orangnya, pukulannya dilontarkan lebih dulu, betapa hebat Kim-kong-ciang Bu su- tun, dalamjarak 5 tombak, badan Thay Bi sudah bisa di jangkaunya dengan pukulan dahsyat ini, sebelum berhasil melukai lawan, Thay Bi dipaksa menyelamatkan jiwa lebih dulu.

Cepat Hun Ji-yan mem-barengi dengan tipu Giok-li-toh-so, dimana pedangnya menggaris seperti gadis menemun lengan baju Thay Bi tergores sobek panjang. Untung Lwekangnya jauh lebih tinggi, kibaran lengan bajunya yang dilandasi tenaganya memunahkan tujuh bagian pedang, maka tenaganya memunahkan tujuh bagian serang pedang nya tidak kurang suatu apa. Bagaimana nasib He-tianglo yang sudah tua dan lemah tenaga?

Dapatkah Thay Bi merebut Soat-lian? Apakah Lokieng- ciang-hoat ciptaan Bu-lim-hian-kiau mampu mengalahkan Liu Goan-ka? saksikan cara bagaimana Bu su-tun dan Bu-lim-thian-kiau menghajar para suheng Ibun

(bersambung keBagian 57)
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 56"

Post a Comment

close