Pendekar Latah Bagian 48

Mode Malam
 
Bagian 48

Gerak gerik laki2 pendek ini teramat lincah, tiba2 dia memutar badan, berbareng ujung tongkatnya mengetuk dan menjojoh, "ting" dia sampuk pergi pedang Hong-lay-mo-li, tepat pada waktu yang bersamaan, laki2 berkedok itupun lontarkan pukulan yang menimbulkan sambaran angin keras menerjang kearah Hong-lay-mo-li.

Hong-lay-mo-li cukup pengalaman dalam menghadapi musuh tangguh dia sudah menduga bakal digencet dari depan dan belakang Maka permainannya sekaligus menggunakan cara menyerang untuk bertahan, pedang ditangan kanan menusuk kedepan sementara kebutnya diputar untuk melindungi badan.

Begitu pukulan telapak tangan laki2 berkedok itu tiba, Hong-lay-mo-li ayun balik kebutnya dengan tipu Ih-sing-hoaito (menggeser bintang ganti posisi), itulah salah satu jurus keji dari 36 jalan Thian-lo-hud-timnya, apalagi dia kerahkan tenaganya sehingga benang kebutnya tegak keras laksana ujung jarum, jikalau lawan kena terkebut, maka lawannya pasti terluka parah seperti dipelintir uratnya keseleo tulangnya.

Tak nyana Iwekang orang ini ternyata cukup tangguh, "Wut" kebut Hong-lay-mo-li kena ditotoknya pergi sehingga benang kebutnya buyar walau pukulannya tidak mengenai Hong-lay-mo-li, namun sekaligus serangan lihay Hong-lay-mo- li kena dia gagalkan.

Berbareng laki2 pendek itu dengan tipu Ki-hwe-liau thian (angkat obor menerangi langit), ujung tongkatnya mendesak minggir pedang Hong-lay-mo-li, disusul dengan jurus Hoan kang-to-hay (memblik sungai menjungkir laut) tongkat gedenya itu menyapu ke-pinggang,

Bercekat hati Hong-lay-mo-li, bentaknya:

"Kiranya kau anjing Kim yang lolos tempo hari. Bagus sekali, kalau berani jangan kau lari"

kiranya laki2 pendek ini adalah Busu Tam se-ing yang tempo hari melarikan diri waktu menggempur pangkalan Hong-lay-mo-li itu, yang membuat Hong-lay-mo-li heran adalah laki2 ini pandai menggunakan ilmu Hu-mo-tio-thoat ajaran murni dari Kaypang.

Kepandaian laki2 berkedok agaknya setingkat lebih tinggi dari laki2 pendek ini, yang dia mainkan ternyata adalah Tay- lik,kim-kong-ciang-hoat asli dari ajaran murni siau-lim-pay. Kekuatan pukulannya hebat, maka Hong-lay-mo-li yang menghadapi dengan kebutnya tidak mampu membendung serangan lawan.

semula siau-go-kian-kun kira Hong-lay-mo-li cukup berkecukupan menghadapi kedua musuhnya ini dirinya tidak perlu membantu, luka2 siang Hong cukup parah maka dia perlu segera memberi pertolongan.

Namun setelah menelan siau-hoan-tan pemberian siau-go- kian-kun lekas sekali napasnya sudah teratur baik, katanya lemah:

"Hoa Tayhiap, bekuk dulu mata2 itu lebih penting." "Baik" seru siau-go-kian-kun sembari bersuit panjang

segera dia menubruk maju kedalam arena pertempuran.

Kebetulan tongkat la kte pendek tengah menyapu keping gang Hong-lay-mo-li, siau-go-kian-kun membuka kipas lempitnya sedikit menekan diujung tongkat orang seraya membentak:

"Lepaskan"

Betapa besar kekuatan sapuan tongkat gede ini, namun Siau-go-kian-kun cukup menutul dan menakan, sapuan dahsyat itu telah dia punahkan tanpa bekas, kiranya yang digunakan adalah su-nio-poat-jian-kin, sekali angkat tangan, kekuatan raksasa lawan dia punahkan dengan mudah.

Tapi kepandaian laki2 pendek ini memang luar biasa, meski sapuan tongkatnya dipunahkan siau-go-kian-kun namun tongkatnya tidak sampai terlepas dari cekatannya.

Kebetulanpada saat mana, dari kejauhan terdengar suara bentakan dan langkah orang berlari mendatangi dengan cepat, kiranya Lo-toa dan Loji dari siang-keh-su-lo tengah mendatangi.

Laki2 pendek itu segera berseru: " Angin kencang tarik mundur"

Hong-lay-mo-li membentak: " Kurang ajar, setelah melukai orang hendak lari" sekuat tenaga laki2 jangkung berkedok itu punahkan

sejurus serangannya, katanya tertawa:

" orang kalian banyak, maaf aku tidak mengiringi lebih lanjut"

Golok besar siang Ci terpukul jatuh oleh laki2 pendek- saat mana dia berdiri menentramkan napas di-luar gelanggang, tahu2 badannya limbung terus terjungkal roboh-

Hong-lay-mo-li kaget, dia kira kena di-kerjai musuh, maka untuk melindungi jiwanya tak sempat dia merintangi musuh, maka siau-go-kian-kun saja yang mengejar kedua orang itu.

sebelum dipapah Hong-lay-mo-li siang Gi sudah mencelat berdiri sambil tersenyum getir. Kiranya jurus Hu-mo-tio-hoat yang dilancarkan laki2 pendek tadi mengandung tiga gelombang kekuatan, setelah goloknya mencelat jatuh siang Ci gunakan jian-kin-tui untuk mempertahankan diri, dua gelombang yang terdahulu kuat dia pertahankan namun gempuran gelombang ketiga tak kuasa lagi dia punahkan maka dia terjungkal roboh, untung tidak sampai terluka.

siau-go-kian-kun berhasil mengejar kedua musuh itu, kipas dia pindah ke tangan kiri diputar satu lingkaran, menuntun ke samping tongkat besi laki2 pendek- berbareng kelima jari tangan kanannya laksana cakar menggunakan Hun-kin-joh- kut-hoat mencengkram kearah laki2 jangkung berkedok itu

"Jangan menghina orang" bentak laki2 berkedok- diapun balikkan telapak tangannya yang menderu, sayup- seperti bunyi guntur "Blang"" telapak tangan kedua pihak saling beradu, dengan menggunakan To-jay-chik sing-pao (membalik langkah tujuh bintang) meminjam tenaga pantulan dari pukulan siau-go-kian-kun, mencelat jumpalitan sejauh 3 tombak- Bahwa pukulannya tidak bikin lawannya terjungkal roboh malah telapak tangan sendiri terasa kesemutan maklumlah seorang diri dia harus pecah perhatian dan membagi tenaga untuk menghadapi dua musuh, maka terasakan rada payah juga-

Tapi laki2 jangkung berkedok itupun sudah tahu akan kelihayannya, lekas dia ngacir pergi-

laki2 pendek itu berhasil menyandak temannya terus lari lintang pukang bersama turun gunung, dari kejauhan mereka membentak bersama:

"siau-go-kian-kun, kalau berani datanglah ke siang-keh-po boleh kita bertanding lagi."

seorang diri jelas siau-go-kian-kun takkan bisa mengalahkan kedua lawannya dalam waktu singkat, disamping dia menguatirkan luka2 siang-keh-ji-lo, maka dia tidak mengejar lebih lanjut, katanya gelatos:

"Memang aku akan menuju ke siang-keh-po, boleh kau beritahu kepada Kongsun Ki, kali ini aku tidak akan biarkan dia hidup lebih lama, kalian ingin mengiringi kematian Kongsun Ki, boleh tunggu saja di siang-keh po"

siau-go-kian-kun bicara menggunakan suara gelombang panjang, nadanya tidak keras, namun cukup bikin kuping kedua orang itu pekak dan mendengung. kontan kejut mereka bukan main, tanpa berani berpaling lagi langkah mereka semakin cepat.

Waktu itu Lotoa dan Loji yaitu siang Ci dan siang Hing sudah tiba, melihat siang Hong luka2, siang Ci kaget, tanyanya:

" Losam, siapakah yang melukaimu? Agak-nya bukan Kongsun Ki-" Iwekang siang Hong cukup tinggi, setelah dibantu menutup Hiat-to dan menghentikan darah lalu menelan sebuuah siau- hoan-tan, semangatnya sudah banyak pulih, sahutnya:

"Dua orang yang datang malam ini belum pernah kita jumpai, entah siapa mereka dan bagaimana asal usulnya namun golongan perguruan silat mereka jelas tidak bisa mengelabui kami."

"Mereka dari golongan mana?" tanya siang ci. " Lakte jangkung yang mengenakan kedok itu

menggunakan Taj lik-kim-kong-cang dari aliran Hud yang murni."

"o..jadi orang ini dari siau-lim-pay-" ujar siang Ci. siang Ci menimbrung:

" Laki2 pendek bertongkat besar yang memukul jatuh golokku memainkan Hu-nio-to-hoat, kelihatannya murid dari Kaypang."

siang Ci terkejut katanya:

" Kaypang adalah Pang terbesar diseluruh jagat, siau-lim adalah Pay nomor satu dikolong langit, keduanya dari golongan lurus yang selalu

mengutamakan keadilan dan kebenaran, merupakan puncak persilatan yang memimpin Bulim, entah kenapa melahirkan dua murid yang durhaka, sekongkol dengan Kongsun Ki, malah terima menjadi anteknya"

siau-go-kian-kun menimbrung:

"Murid Kaypang yang khianat itu tidak perlu dirisaukan, Kaypang pangcu Bu su-tun adalah teman baikku, aku bisa cari tahu kepadanya. Malah murid siau-lim-pay itu masih belum diketahui seluk beluknya, betapapun merupakan duri tajam yang selalu akan menjadi penghalang usaha kita. siang-lo- cianpwe, menurut pendapatku, kita harus mengutus orang memberitahu kepada siau-lim-pay, disamping mempersiapkan segala keperluan untuk menggempur siang-keh-po-"

Dari berbagai arah tampak beberapa rombongan orang berbondong2 mendatangi mereka adalah anak buah siang- keh-po yang lama.

Kata siang Ci:

"Biarlah siau-lim-pay sendiri yang membereskan murid murtadnya ini disamping menghargai dan menghormati siau- lim-pay, sekaligus kita bisa mendapat bantuan mereka. jite, besok pagi boleh kau ke siau-lim-si menemui Hong-tiang Bu-ai siansu, tahun yang lalu kita pernah ikut Lo-pocu bertandang ke siau-lim-si tentunya dia masih mengenalmu."

Beramal mereka lantas menggotong siang Ci dan siang Hong kembali untuk merawat luka2nya, ditengah jalan siang ci memberi laporan kepada Ho-ng-lay-mo-li- Kiranya mereka sudah berhasil mengumpulkan separoh dari orang- siang-keh- po lama, jumlahnya ada seratus orang lebih terpendam dibeberapa tempat di Hou-loan-san, tempat tinggal siang-keh- su-lo berada didalam gua yang bisa menembus keberbagai arah.

"Orang lama kita yang masih berada didalam Siang keh-po ada yang tetap berpihak kepada kita, menurut kabar yang kita peroleh bahwa Kongsun Ki sedang menyekap diri dikamar meyakinkan kedua ilmu berbisa itu.

urusan di siang-keh-po diserahkan kepada Cong Cau-tay sebagai congkoan yang berkuasa penuh, sementara ji-siocia selalu mendampingi Kongsun Ki memberi petunjuk soal latihan Iwekang, sehingga jarang dia keluar kamar."

Hong-lay-mo-li berkata:

"suso (siang Pekshong) sebelum ajal pernah berpesan supaya aku melindungi ji-siocia. dan tugasku sekarang adalah membebaskannya dari cengkraman Kongsun Ki. Aku yakin didalam persoalan ini pasti ada latar belakang yang belum kita ketahui, betapapun aku akan menciumnya dan menyelesaikan persoalan ini."

"Beng-cu," ujar siang Ci ragu2,

"soal ini harus kita bicarakan dulu, janganlah bertindak secara geoabah."

"Kau kuatir tenaga kita belum memadai untuk menggempur siang-keh-po? Memangnya kecuali Hwi-liong-tocu masih ada tokoh siapa pula disana?"

"Ambisi Kongsun Ki amat besar, setelah berhasil meyakinkan kedua ilmu berbisanya, dia berniat membuka perguruan dengan kekuatannya dia hendak paksa kerajaan Kim mengangkatnya sebagai raja muda. Maka sejak menduduki siang-keh-po, tidak sedikit sampah persilatan yang dia rangkul, terutama tokoh2 kosen dari aliran sesat tidak sedikit jumlahnya. Kabarnya Kong-tong-ji-kipun berhasil dia pelet."

"Kong-tong-ji-ki? orang macam apakah mereka?" tanya Hong-lay-mo-li-

"Kong-tong-ji-ki adalah sute ex ciangbun Kong-tong pay yang bernama su Thian-cu, yang tua bernama Bong Thian-pi, seorang lagi bernama Lau Thian-hut. Kabarnya kepandaian mereka tidak dibawah Ciang-bun suhengnya. Tapi biasanya mereka malang melintang didaerah barat, jarang muncul di Tionggoan. orang2 dari golongan lurus belum pernah ada yang bentrok dengan mereka, maka sampai dimana tingkat kepandaian mereka belum diketahui, 30 tahun yang lalu kedua orang ini sudah mengasingkan diri dari julukan Ji-ki" (dua aneh) dapatlah kita bayangkan, terutama ilmu silat mereka mengutamakan keanehan yang serba magis, maka janganlah dipandang enteng." "Jadi sampai sekarang sudah kita ketahui kecuali Kongsun Ki, ada lima orang yang boleh dikategorikan tokoh2 kosen kelas satu yang patut diperhatikan."

demikian kata siau-go-kian-kun lebih lanjut,

"yaitu Hwi-liong-tocu, Kong-tong-ji-ki dan dua orang yang kita usir tadi, jelas kekuatan pihak kita masih terlalu lemah-"

"setelah berada disini, sebelum bertemu dengan Siang Ceng-hong-sungguh tidak tentram hatiku? Kok-ham. bagaimana kalau kita kesana mencari berita dan melihat keadaan saja? Umpama kewalahan, kita tetap gampang melarikan diri?"

"Baiklah, kemanapun kau pergi aku selalu mengiringi keinginanmu." sahut Hoa Kok-ham. Karena Hong-lay-moli sudah kukuh pendapat, siang-keh-su-lo tidak berhasil membujuknya untuk membatalkan niatnya meski sudah dijelaskan situasi yang sudah banyak berubah di siang-keh-po-

Kira2 kentongan ketiga malam kedua, secara diam2 siau- go-kian-kun dan Hong-lay-mo-li kembali menyelundup kedalam siang-keh-po- Kali ini karena sudah apal jalan tanpa menemui banyak rintangan, Gin-kang mereka tinggi pula meski tukang ronda diperbanyak juga tidak berguna lagi untuk mencegah mereka masuk-

Mereka sudah mencari tahu tempat tinggal Kongsun Ki tetap ditempat semula, maka dari taman belakang mereka terus menggeremet maju dan sembunyi dibelakang gunungan, dari kejauhan loteng merah tempat tinggal Kongsun Ki sudah kelihatan Tapi tidak nyana dikala mereka berputar dari gunungan ini, tiba2 kaki Hong-lay-mo li menginjak jebakan tahu2 dibawah kakinya sudah terbuka sebuah lobang, untung Ginkang dan gerak-geriknya amat langkas, begitu merasa ganjil segera enjot kakinya melompat tinggi sehingga tidak terjeblos kedalam perangkap- Tapi karena menginjak alat rahasia na sehingga menimbulkan suara. Tepat pada saat itu pula, dari loteng tempat tinggalnya Kongsun Ki terdengar bersuara:

"Bong Thian-bi, LauThiun-hut lekas kalian periksa, dua maling kecil siapa yang berani kelayapan ditempatku? Bekuk atau bereskan mereka, aku sih tidak punya waktu."

Jarak loteng dengan tempat Hong-lay-mo-li berada masih ratusan langkah, namun Kongsun Ki yang sedang meyakinkan ilmunya didalam kamar segera tahu akan apa yang terjadi disini, mendengar suara orang yang menggunakan mengirim suara gelombang panjang, bercekat hati Hong-lay-mo-li dan Siau-go-kian kun, nyata bahwa Iwekang Kongsun Ki sudah maju berlipat ganda. Mungkin sudah setingkat dengan ayahnya.

Lebih mengejutkan cula karena Kongsun Ki langsung memanggil nama Kong tong-ji-ki-Maklumlah kedua gembong iblis ini setingkat dengan siang Kian-thian dan Liu cvan-cong bahwa Kongsun Ki memanggil langsung namanya, berarti memandangnya sebagai anak buah.

bahwa sebagai gembong silat yang sudah kenamaan puluhan tahun rela diperbudak sudah tentu hal ini amat diluar dugaan orang.

Belum habis seruan Kongsun Ki, maka terdengarlah suara serak yang mengiakan bersama betul juga Kong-tong-ji-ki sebera muncul dari depan sana terus menubruk kcarah gunungan.

siau-go-kian-kun tertawa dingin, ejeknya:

"Bong Thian-bi, Lau Thian-hut, bukankah kalian enak di- agungkan di Kong-tong-san. kenapa rela menjadi kacung penjaga pintu Kongsun Ki di siang-keh-po Hehe, sungggh patut diberi selamat, selamat kalian telah memperoleh majikan baru"

Kong-tong-ji-ki berjingkrak gusar serunya: "Apa-pun yang kami inginkan persetan dengan kau. Berani kau memanggil namaku?"

mereka tidak tahu siapa ke-dua lawan muda ini, begitu tiba serempak mereka berpencar menyerang dengan sengit.

Bong Thian-bi yang tua menyerang siau-go-kian-kun, begitu cepat terjangan orang, disaat kedua pihak hampir saja saling bentrok- tiba2 siau-go-kian-kun melangkah minggir sambil menggeser kedudukan, berbareng dua telapak tangannya bekerja, dua jari tangan kiri terang kap tegak dimainkan sebagai Ngo-hing-kiam mengincar Thay-yang hiat dipelipis lawan sementara telapak tangan kanan terbalik merubah gerakan dengan tipu Kim-tiong-sip-cui (naga mas main air), laksana guntur menggelegar kilat menyambar tahu2 menabas kelutut Bong Thian-bi.

sebagai ahli silat, sebelum tahu tingkat kepandaian lawan, siau-go-kian-kun tidak mau kerahkan kekuatannya tapi sejurus dua tipu gerakannya ini mengandung variasi dan perubahan yang rumit sekali, didalam jurus ada jurus, tipu ada tipu, mantap dan cepat.

kalau lawan berkepandaian rendah tentu tidak akan tahan menghadapi serangan kilat ini.

Tapi Bong Thian-bi memang tidak bernama kosong, ilmu silatnya aneh dan luar biaya memang tidak malu dia diagulkan sebadai tokoh aneh dari Kong-tong pay.

terjangan tadi sebetulnya secepat kuda membedaL kencang namun begitu menghadapi sergapan siau-go-kian-kun, dia  bisa segera menghentikan luncuran badannya, malah disaat2 gentong secepat kilat itu, dia tarik badannya mundur satu kaki, sehingga telapak tangan dan seranganjari siau-go-kian- kun mengenai tempat kosong di depan badannya.

sigap sekali, gerakan kedua telapak tangan Bong Thian-bi laksana gelang- bundar, menggelundung maju, siau-go- kiankun yang luas pengalaman pun belum pernah melihat dan menghadapi ilmu pukulan seaneh ini-

Akan tetapi siau-go-kian-kun tidak gentar, gerakan pukulan lawan isi kosongnya bercampur aduk tidak menentu, tujuannya mengelabui dan mengaburkan pandangan matanya, sehingga dirinya tidak bisu membedakan kearah mana serangan telak yang diincar musuh.

Hakikatnya siau-go-kian-kun tidak hiraukan rangsakan orang, Tiba2 dia mencelat keatas, secara kekerasan dia menabas ke tulang pundak lawan, tenaganya dilandasi sembilan bagian kekuatannya, bagai gugur gunung yang menindih turun, tulang pundak merupakan tempat penting yang fital pula bagi manusia, kini siau-go-kian-kun menyerang dengan pukulan dahsyat pula, meski lawan memikili Hu-deh- sin-kang (ilmu pelindung badan) juga tidak akan tahan.

Apalagi kalau tulang pundak terpukul remuk meski memiliki ilmu silat setinggi langitpun takkan berguna lagi, menjadi cacad untuk selamanya.

Ternyata Bong Thian-bi tidak berani melawan secara kekerasan untuk gugur bersama. Tingkat kepandaiannya sudah mencapai taraf tinggi, gerak serangan-nya sudah terkendali oleh jalan pikirannya sehingga se-waktu2 dapat ditarik menurut nalarnya, maka gulungan telapak tangan yang membundar kedepan itu dia rubah naik menyambut keatas.

"Blang" Bong Thian-bi merangkap kedua telapak tangannya menggencet telapak tangan siau-go-kian-kun. namun begitu siau-go-kian-kun kerahkan Iwekangnya, Bong Thian-bi menjerit kaget dan telapak tangan terasa pedas kesakitan, lekas dia lepas gencetannya dan mundur selangkah.

gebrak sejurus secara kilat ini. Hasil permainan jurus tipunya Bong Thian-bi menang unggul seurat, namun dinilai fwekangnya dia kalah setingkat mafah sedikit dirugikan sementara siau-go-kian-kun diam2 mengucap syukur, untung belakangan ini dia mendapat petunjuk dari tiga tokoh maha guru silat dalam hal Iwekang, kalau tidak malam ini tentu dia sudah terjungkal.

Kalau disini siau-go-kian-kun sedikit unggul, di sebelah sana Hong-lay-mo-li sama kuat alias setanding, lawannya LauThian- hut yang bergama n sepasang jit-gwat-siang-lun (gelang matahari dan rembulan) ditengah malam gelap, senjatanya ini tampak kemilau memancarkan sinar kuning keemasan,

Jit-gwat-siang-lun adalah senjata peranti mengunci pedang dan golok- begitu Hong-lay-mo-li menusuk. Lau Thian-hut lantas katupkan kedua gelangnya terus menariknya keluar pula secara kekerasan dia hendak merebut pedang lawan.

Hong-lay-mo-li mandah tertawa dingin, kebutnya segera berkembang menggepruk kepala orang, untuk menolong diri Lau Thian-hut gertakan kedua lengannya keatas, lengan bajunya menimbulkan getaran angin yang menolak pergi kebutan lawan, namun karena usahanya sedang merebut pedang lawan maka kekuatan kebasan lengan bajunya kurang kuat.

ujung kebut Hong-lay-mo-li masih kuasa menyabet pundaknya walau yang kena bukan tempat berbahaya, namun rasanya sakit sekali, sementara pedang Hong-lay-mo-lipun gumpil sedikit karena terkunci sepasang gelang lawan.

gebrak pertama ini terhitung sama2 dirugikan. Lau Thian- hut menggerung keras, kedua gelangnya terangkat naik digerakkan secara berantai menyerang dengan gencar, sepasang gelangnya ini bisa bekerja secara menggantol, merebut, menangkap, mengunci, mendorong menindih, menggulung, memutar, menjojoh, memukul sepuluh tipu yang lihay merupakan landasan ilmunya yang hebat.

Karena kalah seurat barusan Hong-lay-mo-li tidak pandang enteng lawannya lagi, ilmu kebut dan pedang dikombinasikan menyerang dengan gencar. Tak mungkin lagi Lau Thian-hut berusaha mengunci dan merebut pedangnya. Terutama kebut Hong-lay-mo-li, Tiba2 berkembang tahu2 terkumpul laksana potlot besi kerasnya selalu mengincar Hiat-to yang mematikan.

Kalau gelang Lau Thian-hut peranti mengunci pedang lawan, kini gelangnya malah yang justru selalu harus menghindar dari gubatan ke-but Hong-lay-mo-li, lekas sekali puluhan jurus telah berlalu, kedua pihak masih kuat dan serang menyerang, Hong-lay-mo-li paling hanya unggul dalam permainan tipu2 silatnya belaka.

se-konyong2 suara Kongsun Ki yang dingin kumandang dari dalam loteng:

"He he, kukira siapa? Kira-nya Liu-sumoay yang datang Hoa Kok-ham bocah keparat itu yang temani kau bukan? Dua kali sudah kalian lolos dari sini, kali inijangan harap kau bisa lolos"

Bukan kepalang kejut Hong-lay-mo-li bahwa dari tempat kejauhan Kongsun Ki sudah dapat membedakan permainan silatnya, walau tahu kepandaian orang sudah jauh lebih tinggi namun dia tidak gentar sedikitpun makinya.

"Benar, Liu jing-yau kemari hendak wakili guru mencuri bersih nama baik perguruan, Kongsun Ki keluarlah kau"

Kongsun Ki gelak2, katanya:

"sumoay mengundangku masakah aku tidak akan keluar?" Belum lenyap gelak tawanya, tiba2 terdengar suara siang

Ceng-hong yang halus membujuk lembut:

" Kong-tong-ji-ki cukup berkelebihan menghadapi mereka.

Latihanmu sendiri lebih penting janganlah sia2-kan kesempatan baik ini. Lekas kau himpun semangat pusatkan pikiran, tembus dulu dua belas jalan darahmu. em, nah dengarlah petunjukku dengan sepenuh perhatianmu." suara sang ceng liong lirih, namun Hong-lay-mo-li masih bisa mendengar dengan jelas hatinya menjadi hambar dan karena sedikit pecah perhatian ini, hampir saja pedangnya terkunci oleh sepasang gelang lawan, waktu itu, orang dalam siang-keh-po sudah kaget dan berbondong2 keluar karena kegaduhan pertempuran di sini.

" yau-moay." seru siau-go-kian-kun. "tidak perlu diteruskan hayolah pergi"

memang dia sedikit unggul menghadapi Bong Thian-bi, tiba2 dia lancarkan tipu2 lihay yang mematikan. Bong Thian-bi terdesak mundur beberapa tindak, sigap sekali siau-go-kian- kun melesat terbang ke arah sana seraya mengetuk kipas-nya, sepasang gelang Lau Thian-hut dia dorong minggir kesamping, sudah tentu Lau Thian-hut kaget dan menyurut mundur.

Begitu Kong-tong-ji-ki mundur, dengan mengembangkan Ginkang siau-go-kian-kun dan Hong-lay-mo-li terus lari ke jurusan barat yang jarang orang mencegat. Kalau kesamplok musuh lantas digasaknya.

setelah mereka melewati dua buah gunungan, tibaR dijalan sempit didepan sana ada dua orang mengadang ditengah jalan, mereka bukan lain adalah dua laki2 yang kemaren bentrok di Hou-loan-san.

siau-go-kian-kun lantas gelak2, dengan Iwekang perguruannya yang tinggi dia kuncupkan dulu nyali lawan. Belum lagi lenyap suara gelak tawanya, tahu2 dia sudah menubruk tiba didepan kedua laki2 jangkung dan pendek itu.

Agaknya kedua orang ini sudah kapok dan merasakan kelihayan mereka tanpa banyak tingkah mereka lekas menyelinap mundur kedua arah sembunyi ke-dalam semak2 kembang, sebetulnya kalau mereka tidak jeri dengan bekal kepandaian mereka sedikitnya kuat melawan sepuluhan jurus, saat mana Kong tong-ji- kipun pasti sudah mengejar tiba. Dengan gabungan empat orang, untuk menjebol kepungan musuh, rasanya siau-go-kian-kun berdua harus berjuang matikan. Lega juga Hoa dan Liu setelah lewat dari baais pertahanan musuh yang cukup tangguh ini, ginkang mereka jauh lebih unggul dari Kong-tong-ji-ki, cepat sekali, mereka jauh ketinggalan dibelakang.

Tak nyana tidak jauh mereka berlari, Tiba2 terdengar dari tempat gelap disebelah depan ada suara dingin menyeringai berkata:

"Liujing-yau, kau budak busuk ini kemari lagi? Hehe, pamanmu sudah menjodohkan kau kepadaku, kau suka jadi biniku atau ingin mampus di tanganku?"

itulah suara Hwi-liong tocu Cong Cui-pay. "orang she Cong" bentak Hong-lay-mo-li murka, "jangan kau lari"

Hwi Liong-tocu bukan tingkatan Kong-tong ji-ki, kalau mereka berdua mau bekerja sebelum Kong-tong-ji-ki tiba sudah pasti dapat membunuhnya.

Tiba2 tergerak pikiran siau-go-kian-kun, teriaknya: "Jangan terpancing oleh muslihat musuh" namun gerakan Hong-lay-mo li secepat anak panah, tidak hiraukan nasehat siau-go-kian- kun lagi-

Maklumlah bencinya terhadap Hwi-liong-tocu sudah meresap ketulang sung-sum, kini mendengar ejekannya lagi, jiwa orang sudah tentu takkan dia ampuni lagi-

Disaat Hong lay-mo-ii hampir menerjang masuk ke tempat gelap dipojokan sebuah gunungan dimana tadi suara kumandang, tiba2 didengarnya samberan senjata rahasia ya meluncur kearah dirinya- Tapi sebagai seorang ahli kelas tinggi, mendengar samberan angin senjata rahasia ini, dia jadi heran karena sasaran timpukannya meleset terlalu jauh- Lekas sekali senjata rahasia ini melayang lewat tiga kaki dari sampingnya jatuh disebelah depan maka terdengarlah "Blaks pada ujung gunungan di sebelah depan tahu2 rimtuh, jelas bahwa tumpukan senjata rahasia tadi persis mengenai alat rahasia, namun hal ini terjadi kebetulan atau memang orang penimbuk senjata rahasia itu sengaja memberi petunjuk cara untuk memecahkan alat2 rahasia disini?

untunglah gunungan itu runtuh lebih dulu sebelum Hong- lay-mo-li tiba disana kalau tidak tentu dia tertindih guguran gunungan tadi, mau tidak mau men-celos juga hatinya, betapapun tabah hatinya tak urung bercucuran juga keringat dinginnya-

Tengah dia ter-longong itulah, kembali didengarnya samberan senjata rahasia seperti yang terdahuu, sasarannya meleset terlalu jauh- kini melesat lewat dari sebelah kiri Hong- lay-mo-li. Betapa cerdik Hong-lay-mo-li, diam2 dia sudah yakin bahwa secara diam2 ada orang memberi bantuan dengan petunjuk timpukan senjata rahasia ini.

Lekas sekali Hong-lay-mo-li dan siau-go-kian-kun bergerak menurut petunjuk timpukan senjata rahasia itu, betul juga seterusnya mereka tidak sampai menginjak alat rahasia pula sebelum musuh mengejar tiba mereka sudah berhasil lolos naik keatas gunung. Anak buah Kongsun Ki tidak berani mengejar keluar dari lingkungan siang-keh-po.

Hong-lay-mo-li dan siau-go-kian-kun langsung pulang ketempat kediaman siang-keh-yu-lo, waktu mereka membicarakan pengalaman tadi, mereka amat curiga akan sikap siang Ceng-hong, sungguh sulit untuk menentukan juntrungan itikadnya.

Tapi satu hal dapat disimpulkan dengan pasti bahwa dia tidak sepenuh hati bekerja demi kepentingan Kongsun Ki, kalau tidak- tak mungkin didalam saat2 gawat tadi dia mencegah Kongsun Ki keluar. Demikian pula siang-keh-su-lo tidak habis mengerti, siapakah orang yang membantu Hong- lay-mo-li berdua dengan timpukan senjata rahasia menunjuk jalan.

siang ci tertua dari siang-keh-su-lo berkata:

"Jite sudah berangkat ke siau-lim-si. Liu-bengcu semalam kau berkata hendak mengundang beberapa kawan kosen untuk membantu, silakan kau keluarkan Loklim-cian besok pagi2 akan kusuruh orang untuk menyebarkan."

"Maksudku mengutamakan tuntutan Kaypang, terhadap mereka tidak usah pakai Lok-lim-cian, demikian pula terhadap tokoh- kosen kaum Lok-lim tidak enak aku menggunakan Lok- lim-cian untuk memanggil mereka "

"Kau tinggal disini membantu siang-keh-su-fo, biar aku yang pergi mengajak Bu su-tun kemari, bagaimana?" tanya siau-go-kian-kun.

"Lebih baik kita tunggu lagi dua hari. Bahwa kita sudah yakin siang ceng-hong tidak sepenuh hati rela dikawini Kongsun Ki, kuharap didalam dua hari ini kita bisa mendapat kesempatan untuk mencari hubungan dengan dia,"

Persoalan tidak ada kepastiannya, terpaksa mereka menuruti usul Hong-lay-mo-li untuk sementara bersikap tenang dan melihat gelagat. Disamping itu merekapun mengharap selekasnya tahu siapakah orang yang bantu mereka dengan timpukan senjata rahasia itu? Bahwa dia tahu jelas semua alat rahasia dan jebakan yang ada didalam siang- keh-po pasti adalah anak buah kepercayaan Kongsun Ki yang terdekat, melalui orang ini bukan mustahil mereka akan mendapat keterangan rahasia Kongsun Ki dengan siang-ceng hong.

semula mereka menyangka harapan ini terlalu tipis untuk tercapai, tak nyana hari kedua sudah menjadi kenyataan, siapakah orang yang membantu mereka secara diam2? Teka- teki inipun lekas sekali terjawab. Pagi hari itu, baru saja siang-keh-sam-lo bangun tidur siang ci sedang mengganti obat pada luka2 siang Gi tiba2 terdengar suara ribut diluar, katanya berhasil membekuk seorang perempuan yang lari keluar dari siang-keh-po, entah apakah dia mata2.

Bergegas siang ci lari keluar, dilihatnya galah seorang anak buahnya memanggul seorang perempuan, gadis ini berlepotan darah sekujur badannya mukanya pucat pias.

Melihat gadis ini siang ci menjerit kaget:

"Inikan Bik Ciam Wah, celaka, apakah dia sudah mati? Liu- Bengcu, Hoa Tayhiap- lekas kalian kemari"

Anak buah yang memanggul Bik Ciam memberi laporan:

" Waktu hamba meronda dibawah gunung kulihat gadis ini lari masuk ke hutan diatas gunung, ada beberapa orang siang- beh-po yang mengejarnya. Lekas kita memapaknya dan memukul mereka mundur, gadis ini hanya sempat berkata: "Lekas bawa aku menemui Liu-lihiap" lantas jatuh pingsan.

Entahlah apakah sudah meninggal?"

siau-go-kian-kun, dan Hong-lay-mo-li tersipu2 datang, langsung Bik Ciam dipondongnya turun lalu menempelkan telapak tangan kepunggungnya menyalurkan segulung hawa murni, lekas sekali Bik Ciam mulai normal pernapasannya dan sedikit bergerak. Hong-lay-mo-li berbisik dipinggir telinganya:

"Bik Ciam, inilah aku, apa kau masih mengenalku?" Pelan2 Bik Ciam membuka mata, melihat wajah Hong-lay-

mo-li, seketika dia unjuk rasa girang, dengan suara ter-putus2

dia berkata:

"siocia ada tulis sepucuk surat didalam bajuku untukmu, siocia sudah tahu maksud kedatanganmu, dia amat berterima kasih kepadamu" Payah sekali Bik Ciam mengeluarkan suaranya, namun wajahnya tetap mengulum senyum, setelah menyampaikan beberapa patah katanya tadi, seperti berhasil menunaikan tugas berat dia menghela napa2 lega, pelan2 dia pejamkan mata dengan tentram. Waktu Hong-lay-mo li meraba pernapasannya-ternyata sudah berhenti-

Pilu dan duka hati Hong-lay-mo-li, segera dia merogoh keluar surat yang diperuntukkan dirinya, pelan- merebahkan jenazah Bik Cian lalu bersama siang ci dan siang Hong bertiga membaca surat itu-

Kejut? girang siang-kehrji-lo, katanya:

"Memang ini tulisan ji siocia-"

Tampak surat itu hanya ada beberapa baris tulisan pendek yang berbunyi:

"Dalam sebulan ini jangan datang pula. Terlampir sebuah peta, semua alat rahasia sudah ada tanda petunjuknya, sebulan kemudian cita2 pasti terlaksana, persoalan lain boleh dirundingan dengan Bik Ciam."

Entah apa pesan siung ceng-hong kepada Bik Ciam, menyatakan kebersihan diri nya? Atau untuk melengkapi saran dan pendapat yang tidak sempat dia tulis dalam suratnya?

Ataukah ada persoalan lain yang tidak leluasa dia singgung? sayang Bik Ciam sudah mati, persoalan yang merupakan teka teki ini tidak bisa terjawab lagi.

Hong-Lay-mo-li menghela napa2 dengan gegetun, sebera dia suruh orang untuk mengurus jenazah dan mengebumikan Bik Ciam, mereka lanjutkan perundingan untuk menelaah isi surat siang ceng-hong.

Pernyataan siang ceng-hong sudah jelas melalui suratnya yang pendek itu. secara tidak langsung dia mau mengatakan ingin membantu secara diam2 untuk menggempur siang-keh- po, sekaligus teka teki yang lainpun sudah terjawab secara langsung bahwa betapapun dia tidak rela kawin dengan Kongsun Ki.

Tapi kembali muncul suatu pertanyaan lain melalui datangnya surat itu yaitu kenapa dia pesan wanti2 supaya dalam sebulan ini orang banyak diharap tidak menggempur siang-keh-po?

siau-go-kian-kun lantas menyatakan pendapatnya:

"Kukira didalam jangka sebulan ini mungkin dia sudah bisa menemukan cara untuk mengekang dan membekuk Kongsun Ki. Dan hal ini justru membuatku bingung dan tidak mengerti malah, dalam sebulan ini bukankah kedua ilmu berbisa Kongsun Ki semakin sempurna, masakah bisa ditundukkan?"

"Memang hal ini sulit diraba." ujar Hong-lay-mo-li "marilah kita periksa dulu gambar peta ini." didalam peta

dimana letak alat2 rahasia ada diberi tanda panah, dimana

ada perangkap dimana ada tindihan batu, dimana ada alat rahasia yang bisa menimbulkan hujan panah dan senjata rahasia, semua tertanda dan dibubuhi keterangan dengan jelas sekali kalau apal akan seluk beluk peta ini pasti tidak akan gampang terjebak didalam siang-keh-po-

Hari itu juga mereka mengutus orang untuk mencari kabar situasi dan keadaan siang-keh-po sejak kejadian Bik Ciam melarikan diri. Kira2 hari menjelang magrib utusan itu berhasil pulang setelah mengadakan kontak rahasia dengan salah seorang Thaubak yang dulu merupakan anggota lama warga siang-keh-po, bahwa peristiwa Bik Ciam yang melarikan diri sudah menggemparkan siang-koh-po.

Lantaran peristiwa ini maka siang Ceng-hong kumpulkan para dayang dan kacung yang ada, dia maki Bik Ciam habiskan serta memberi peringatan kepada yang lain, tanpa mendapat idzinnya siapapun dilarang meninggalkan tugas dan kewajibannya. siang ci lantas menambahkan:

"sejak menduduKi siang-keh po, Kongsun Ki ada membuat undang2, semua orang atau penghuni siang-keh-po ada dibawah perintah siang ceng-hong. namun setiap menghadapi persoalan harus pula memberi lapor dan minta idzin kepada congkoan jelas bahwa Cong Cau-tay yang menjadi congkoan mempunyai hak dan kekuasaan ya lebih besar dari siang ceng- hong."

Thaubok itu menambahkan

"Apakah kelakuanji-siocia itu sungguh2 atau pura2 aku tidak tahu. Tapi setiap saat dia selalu mendampingi Kongsun Ki hubungan mereka begitu intim

dan mesra. Menurut dayang yang melayani mereka, hubungan mereka suami istri kelihatannya jauh lebih dekat dan mesra dari dulu,"

Hasil dari kabar yang diperoleh dari siang-keh-po membuktikan bahwa untuk sementara waktu jiwa siang Ceng- hong tidak akan berbahaya, maka legalah hati semua orang, maka Hong-lay-mo-li lantas berkata:

"Kok-ham sudah kupertimbangkan dengan baik, lebih baik kau saja yang tinggal disini, Besok juga aku akan turun gunung."

"o, sebagai Loklim Bengcu kau hendak menyambangi sendiri Kaypang pangcu yang baru, baiklah aku tidak akan berebutan dengan kau." ujar siau-go-kian-kun tertawa.

"Bukan begitu maksudku, ilmu silatmu lebih tangguh lebih cocok kau membantu mereka disini, hatiku-pun lebih lega, Disamping menemui Busu-tun, akupun ingin menengok Hu- yan cici, entah mereka sudah menikah belum?"

setelah segalanya diatur beres, hari kedua pagi2 Hong-lay- mo-li lantas menempuh perjalanan seorang diri Kaypang merupakan organisasi atau sindikat terbesar di seluruh jagat namun tidak mempunyai markas besar yang tetap, untunglah sebagai Loklim Beng-cu dimanapun Hong-lay-mo-li dengan gampang mengikat hubungan, hari ketiga dia sudah berhasil menemui seorang murid Kaypang tingkat kantong tujuh yang mengepalai suatu cabang, dari mulutnya dia mendapat kepastian bahwa Bu su-tun dan Hun- ji-yan berada di Lamyang.

seperti diketahui Lamyang adalah tempat kelahiran Hun Ji Yan, walau kedua orang tuanya sudah meninggal, namun sanak kadangnya masih ada disana, kemungkinan mereka hendak melangsungkan pernikahan ditempat kelahirannya itu.

Lain hari Hong-lay-mo-li sudah tiba di Lamyang, sejak pagi sampai menjelang lohor itu Hong-Lay-mo-li sudah menempuh seratus li perjalanan, mulut terasa dahaga kebetulan dipinggir jalan ada warung minuman, segera dia mampir minta air teh tumben istirahat melepaskan lelah-

Didalam warung sudah ada dua tamu mereka adalah nenek tua ubanan dan seorang pemuda beralis tebal bermata besar, berbadan tegap kekar. Disamping tempat duduk si nenek ubanan ditaruh tongkat hitam berkepala naga yang hitam mengkilap, agaknya terbuat dari besi tulen.

Mau tidak mau keadaan kedua orang ini menari perhatian Hong-lay-mo-li maka berulang kali dia melirik kearah sana, tampak olehnya meski sudah tua ubanan, namun sorot mata si nenek masih berkilat tajam, terang orang adalah tokoh kosen yang memiliki Iwekang tingkat tinggi.

Kalau Hong-lay-mo-li diam2 perhatikan mereka, demikian pula si nenek sedang perhatikan dirinya. Begitu pandangan mereka bentrok- wajah si nenek seketika mengunjuk rasa heran dan rada gusar. Tampak orang mengetuk cangkirnya diatas meja, mulutnya lantas mengomel:

"Anjing2 liar dijalanan raya memang banyak, untung aku nenek tua ini ada bawa pentung yang khusus untuk menghajar anjing. Anjing jantan tidak gentar kuhadapi apalagi anjing betina."

sudah tentu Hong-lay-mo-li merasakan caci maki si nenek tua sengaja ditujukan kepada dirinya. Keruan dia naik pitam. Tapi pemuda itu agaknya tidak bisa menangkap arti perkataan si nenek, katanya:

"Bu, mana ada anjing? Kenapa aku tidak melihat?" si nenek mencebir bibir, katanya:

"Anak bodoh, kau punya mata tak bisa melihat" Akhirnya si pemuda baru sadar, katanya:

"Bu, maksudmu bahwa gembong iblis itu tidak akan membiarkan kita hidup tentram."

"Kabarnya sarangnya sudah diobrak abrik orang, entah dimana dia sekarang berteduh memangnya masih ingat hendak membuat perhitungan dengan kita, Ai, kukira dunia sudah aman, sudah saatnya kita pulang kerumah."

Dari pembicaraan ibu dan anak ini baru Hong-lay-mo-li mengerti, kiranya mereka tengah menyingkir dari kejaran dan intaian musuh, dan sangka dirinya kaki tangan musuh yang ditugaskan menguntit mereka, ilmu silat nenek tua ini amat tinggi, gembong iblis yang di-maksud tentu berkepandaian tinggi, memangnya siapakah dia?" Demikian dia ber-tanya2 dalam hati, ingin dia maju memberi penjelasan, namun kuatir orang salah paham terpaksa dia tangsel perut lebih dulu dan menghabiskan beberapa cangkir teh, setelah tenaganya pulih dan semangatnya bangkit, dia siap berangkat. Tiba2 tampak dari luar melangkah masuk dua orang.

Nenek tua segera berbisik lirih:

"Thing-ji, nah itulah anjing liarnya datang sebentar akan kuhajar anjing- liar ini dengan pentungku ini, kau hati2 perhatikan perempuan itu kalau dia menyergap" Niat Hong-lay-mo-li hendak berangkat segera dia batalkan, begitu dia meletakan cangkir dan angkat kepala dilihatnya dua orang laki2 melangkah masuk, mereka berpakaian seragam, dari dandanan serta raut muka mereka terang bukan suku Han.

Kedua laki2 ini langsung menuju kemeja si nenek, sekilas mereka mengawasi dengan teliti lalu bersuara:

"Bing-toanio janganlah main kucing2an lagi, kita tidak akan mempersulit kalian, cukup asal kalian ibu beranak ikut kami menghadap cukong. Kalian suka arak suguhan atau minta dipaksa?"

si nenek menyeringai dingin, tantangannya:

"Apa suguhan atau main paksa segala aku tidak peduli." "Begini saja, terimalah lencana tembaga ini danpatuh

menjalankan perintah Cukong selama 3 tahun. Kalau ingin

dipaksa h eh e, terpaksa kita akan membekukmu pulang."

" Nenek tua ini selama hidupnya malang melintang tak pernah diperintah orang belum pernah dibawah Cukong segala siapa sih Cukong kalian?"

salah seorang lakis itu mengeluarkan panah yang terputus jadi dua potong, ditancapkan diatas meja, katanya:

"Bing-toanio dua tahun yang lalu kau menentang perintah mematah panah ini kalau kali ini kembali kau berani membangkang, hukumanmu akan diperhitungkan sekaligus. Tentu kau masih kenal panah ini bukan?"

si nenek tak acuh, melirikpun tidak, cemoohnya: "Memangnya dua tahun yang lalu kupatahkan panah inijadi

kalian anak buah Hwi-Hong-to?"

"siapa kami kau tidak perlu tahu." sahut kedua laki? "Kini kutanya kau mau terima perintah tidak?" "Kedatangan kalian hari ini terlalu tidak kebetulan" ejek si nenek-

"Apa maksud perkataanmu?" tanya kedua laki2 itu mendelik,

" Nenek tua ini sudah lama mencuci tangan, kalau sepuluh tahun yang lalu, dengan senang hati akan kuterima lencana tembaga ini. Kini h eh e, kalau dua tahun yang lalu aku berani patahkan panah ini,apa lagi sekarang?"

" Nenek tua, ketahuilah keadaan sekarang tidak seperti dua tahun yang lalu. Dulu kau berani membangkang dan patahkan panah, Hwi-liong-to tidak sempat membereskan kau. sekarang kalau berani merusak lencana tembaga ini, elmaut akan segera merenggut jiwa tuamu."

Baru sekarang Hong-lay-mo-li tahu bahwa musuh si nenek adalah Cong Cau-tay. Tapi dia curiga, pikirnya:

" Kedua laki2 ini kelihatannya orang se-ek- masa mereka bekerja untuk Hwi-liong-lo?"

si nenek tidak perdulikan gertakan mereka, sikapnya tetap tak acuh:

"Apa ya, tapi menurut hematku, kini bukan saatnya yang tepat"

"Kenapa tidak tepat saatnya?" seru laki2 itu gusar.

" Walau cupat pandanganku tapi aku tahu bahwa Hwi- liong-toou sekarang sudah terima menjadi anjing penjaga pintu orang lain. Kalau ingin aku menerima lencana ini, boleh setelah dia menjadi Loklim Bengcu."

"Pandanganmu memang cupat ini kenyataan, cong Cau-tay kini menjadi congkoan di siang-koh-po, wibawanya lebih tinggi dan angker dari pada jadi Hwi-liong-tocu dulu lencana yang harus kau terima hari ini adalah perintah dari siang-keh-po, hayolah ikut kami ke siang-keh-po minta ampun kepada congkoan"

si nenek tertegun katanya:

"Jadi Cukong kalian bukan Hwi-liong-tocu?"

" Cukong kita adalah siang-kee-po Pocu Kongsun Ki- Kita mendapat perintah dari Cong-congkoan lekas kalian periksa, inilah lencana dari siang-keh-po"

saking murka rambut ubanan si nenek kelihatan bergetar jengeknya dingini

"o, kiranya Hwi-liong-to-cu kinijadi budak keluarga siang, dan kalian adalah budak yang diperbudak Bing-toanio memangnya sudi digertak oleh budak yang diperbudak?

Persetan dengan lencana siang-keh-po"

sembari bicara tangan si nenek terulur meraih lencana tembaga itu- sekali remas dan "Tang" dia gabrukan keatas meja. Tampak tembaga itu sudah berubah menjadi bundar yang bersegi.

Kedua laki2 itu melongo namun sikap mereka tidak berubah, yang lebih tua malah gelak2, katanya:

"Kiranya memang punya sedikit kepandaian Tapi dengan bekal kepandaian cakar kucing seperti ini berani menentang perintah siang-keh-po, sungguh menggelikan"

Beringas muka si nenek-

"Jangan menghina nenek seperti aku, hayolah keluar rasakanlah kelihayanku nanti-"

"Baik, memangnya diluar kau bisa lolos dari tangan kita." lenyap suara mereka maka terdengarlah beruntun dua kali

suara gemuruh, tahu2 tembok dibe-lakang mereka sudah jebol dan berlobang persis dengan perawakan kedua orang laki2 ini, kiranya secara kekerasan mereka membelakangi tembok terus menerjangnya jebol, agaknya mereka aengaja hendak pamer kepandaian kepada si nenek-

Mencelos juga hati si nenek, setelah memberi pesan kepada putranya, si nenek terus angkat tongkatnya, katanya:

"Tiam-keh, lencana ini berharga dua tiga tail perak cukup untuk ongkos ganti kerusakan disini,"

sekali tutulkan tongkat dilantai, badannya lantas melayang keluar dan turun ditengah jalan.

Kali ini dia tidak ingin pamer, namun Ginkangnya yang hebat ini cukup mengejutkan kedua laki2 itu. Bergegas si pemuda ikut memburu keluar pula.

"Bagus Bing-toanio, kau tidak mau terima perintah kami?

Biarlah hari ini kau rasakan kelihatan seorang budak dari siang-keh-po"

agaknya laki2 ini penasaran karena dipandang rendah, segera dia keluarkan gamannya, sepasang gelang bulan dan matahari-

Dari tempat duduknya dipinggir jendela Hong-lay-mo-li melihat senjata laki2 ini seketika tergerak hatinya- Cepat sekali gebrakan sudah dimulai diluar, maka terdengarlah suara berdering nyaring

si nenek mengayun pentungnya dengan jurus jiang-liong- jut-hay (naga liar keluar lautan) menjojoh kedada musuh, namun laki2 itu merangkap gelangnya sehingga ujung tongkatnya tidak sampai mengenai dadanya serta tertolak minggir. namun usaha laki2 hendak menggencet tongkat lawancun gagal.

Laki2 yang lain segera menubruk kearah si pemuda yang sudah siaga sambil melintangkan golok sejurus Kim-ping-tin-ci (rajawali mas menggetarkan sayap) menabas miring. Laki2 musuhnya tidak bersenjata, dengan tangan kosong melayani permainan goloknya, namun serangannya tidak  kalah lihaynya, yang dia mainkan adalah Khong-jiu-jip-pek-tot namun permainannya jauh berbeda dengan pelajaran silat dari aliran Tiong-goan. Bacokan golok si pemuda amat tangkas dan gesit, hampir saja goloknya menabas kutung jari musuh, tapi laki2 itu tiba2 merangkap kedua jarinya terus mendorong kepunggung golok sambil mendorong dia merangsak maju, doroangn ini cukup kuat sehingga golok si pemuda hampir saja menabas jidatnya sendiri.

Hanya sejurus melihat permainan kedua laki2 ini, Hong-lay- mo-li lantas tahu asal usul kedua orang ini. Kiranya mereka adalah murid Kong-tong-ji-ki, kira2 sudah mendapat tujuh delapan bagian ajaran guru mereka.

Karena ingin menyaksikan kepandaian Bing-toa-nio, maka Hong-lay-mo-li tidak akan segera turun tangan, dilihatnya permainan ilmu tongkat orang memang hebat dan lihay tipu2 dan Iwekangnya memang tidak rendah-

Aneh dan garang permainan sepasang gelang laki2 itu, setiap serangan tongkat Bing-toanio selalu dapat dia punahkan. Tapi Bing-toanio tetap unggul diatas angin.

Kalau Bing-toanio diatas angin, disebelah sana, putranya sebaliknya terdesak dibawah angin, maklumlah ilmu silatnya jauh ketinggalan dibanding ibunya, maka dia dicecar mencak keripuhan.

Tapi dia patuh akan pesan ibunya, tahu gelagat tidak menguntungkan segera dia kembangkan ilmu golok peranti pelindung badan serta melangkah mundur mendekati ibunya.

se-konyong2 Bing-toania menghardik keras, berbareng tongkat berkepala naga ditangannya mencelat naik dan disendai, dia tinggalkan laki2 bersenjata gelang, dia tolong putranya yang terdesak lebih dulu, karena diserang laki2 lawan putranya itu lekas merangkap kedua telapak tangan dengan gaya Thay-khek-sip, tenaga pukulannya tertuntun dan bergolak sehingga ujung tongkat tertolak minggir.

Tapi Iwekangnya masih bukan tandingan Bing-toanio, walau berhasil mematahkan serangan lawan tak urung dia terhuyung tiga langkah-

Ibu beranak kini berdampingan permainan tongkat Bing- toanio lebih lincah dan hebat.

kelincahannya cukup menghadapi tujuh bagian serangan kedua musuhnya, sudah tentu si pemuda yang berkepandaian dangkal tak mampu membantu kerepotan ibunya, berarti seorang diri Bing-toanio harus menghadapi kedua musuhnya dan selalu hati2 melindungi putranya pula.

30 jurus kemudian, Bing-toanio mulai kewalahan permainan tongkatnya semakin kalut tenaga semakin terkuras dan tak memadai dengan tekad juangnya-

Karena jengkel dimaki sebagai anjing betina dan dicurigai sebagai antek musuh sengaja Hong-lay-mo-li lambati turun tangan membantu mereka. Tiba2 "Tang" laki2 bertangan kosong itu menyelinap maju menggantol jatuh golok ditangan si pemuda sembari menabas dada orang dengan sebelah tangannya yang lain.

Keruan si nenek kaget lekas dia tarik putranya dan menggeser maju mengadang serta menyerampang lawan dengan tongkat besinya.

Baru saja Hong-lay-mo-li mau turun tangan, tiba2 dilihatnya debu mengepul diujung jalan raya sana. tampak dua kuda tunggangan dibedal sekencang angin mendatangi penunggangnya adalah sepasang muda mudi, semakin dekat baru terlihat jelas bahwa kedua muda mudi ini adalah Khing ciau dan cin Long-giok.

sejak meletakan jabatan dan membuang pangkat-nya, bersama cin Long-giok, Khing ciau mengembara di Kang lam mendarma baktikan tenaganya bagi rakyat jelata, sudah lama Hong-lay-mo-li tidak berhubungan dengan mereka, sudah tentu amat diluar dugaan mereka tiba2 muncul disini-

Berhasilkah usaha Hong-lay-mo-li mengumpulkan kekuatan untuk menggempur siang-keh-po? siapa pula yang bikin Bu su-tun terjungkal dengan akal liciknya? siapakah Hwesio utusan siau-lim si?

Tang-hay-liong dan say-ci-hong kontra Kong-tong-ji-ki siapa menang? sampai dimana kehebatan kepandaian ilmu beracun latihan Kongsun Ki? Apa pula peranan siang Ceng- hong dibalik kesuksesan latihan ilmu beracun ini?

(Bersambung keBagian 49)
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 48"

Post a Comment

close