Pendekar Latah Bagian 44

Mode Malam
 
Bagian 44

Keruan mencelos hati Siau-go-Kian-kun, lekas kipasnya terputar balik, dengan memapak dan menabas serta mengiris, seketika dia rasakan Koan-goan-haut ditelapak tangannya bergetar, namun badannya sedikit pun tak bergeming. sebaliknya Kongsun Ki tidak bisa berdiri tegaki dia tergetar minggir kesamping.

Hasil gebrak pertama ini benar2 amat diluar dugaan Kongsun Ki, keruan tersirap darahnya. Maklumlah betapa lihay pukulan beracun Kongsun Ki, dengan bekal kepandaian silat Siau-go-Kian-kun, asal tidak langsung bentrok atau tersentuh dengan pukulan orang, dirinya tidak kurang suatu apa, oleh karena itu didalam hal Iwekang Kongsun Ki harus lebih unggul dari lawan baru bisa mengembangkan pukulan lurus dan sesat.

Kongsun Ki yakin dia pasti dapat mengalahkan siau-go- Kian-kun, tak nyana sesudah gebrakan pertama, baru dia sadar keadaan tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.

"Bagus," seru Kongsun Ki "Ingin aku tahu berapa pukulanku yang kuat kau hadapi." segera dia putar badan menubruk maju pula, kali ini dia

lontarkan dua telapak tangannya sekaligus menggunakan Hoa-

hiat-to dan Hu-kut-ciang, serangannya lebih ganas, telengas dan beringas.

Walau sudah kerahkan hawa murninya, tak urung setelah sedikit menyedot bau amis pukulan beracun Kongsun Ki Siau- go-Kian-kun rasakan kepala pening dan mual.

Sudah tentu siau-go-Kian-kun pantang dirinya tersentuh oleh pukulan orang, namun dia tetap gunakan cara semula, yaitu pinjam tenaga memunahkan kekuatan namun demikian tak mungkin dia sekaligus punahkan kekuatan dua macam pukulan dahsyat musuh.

Hebat memang kepandaian siau-go-kian-kun, didalam keadaan gawat itu, mendadak dia tertawa panjang, bukan saja tidak gugup menghadapi saat2 kritis, malah dia lontarkan serangan balasan yang amat berbahaya untuk mempertahankan diri.

Kedua telapak tangan Kongsun Ki bergerak membundar telapak tangan kanan memukul turun lebih dulu, tidak berkelit dan tidak mundur siau-go-kian-kun lempit kipasnya menutuk Lau-Kiong hiat ditelapak tangan orang, ini ilmu tutuk tiada taranya ajaran Liu Goan-cong, kalau sasarannya kena tertutuk. umpama pukulan telapak tangan kiri Kongsun Ki mengenai siau-go-kian-kunpun tidak akan membawa pengaruh yang fatal karena Iwekang sendiri sudah punah dan ilmupun lenyap.

Tujuan Kongsun Ki mempelajari kedua ilmu beracun keluarga siang adalah untuk menjagoi dan bersimaharaja diBulim, sudah tentu dia tidak sudi adu jiwa dan gugur bersama siau-go-kian-kun? sebat sekali dari pukulan telapak tangan ia robah menjadi selentikan, "creng" dia jentik minggir kipas siau-go-Kian-kun sehingga pukulan telapak tangannyapun mengenai tempat kosong.

gebrak selanjutnya siau-go-kian-kun gunakan kegesitan dan kelincahan gerak geriknya merangsak musuh didalam jarak tertentu, kipasnya tiba2 terkembang mendadak terlempit, kadang2 digunakan sebagai Ngo-hing-klam, tahu2 digunakan sebagai potlot baja peranti menutuk Hiatto, jurus serangannya berubah tidak menentu rumit sekali.

sementara Kongsun Ki lancarkan kedua macam ilmu berbisa yang dilandasi Tay-yan-pat-sek menggempurnya dengan seru, Kedua pihak sama boyong keahlian sendiri2, setanding sama kuat, seru sekali pertempuran ini.

sementara itu Hong-lay-mo-li sedang sibuk menolong san san, ada tujuh buah Hiat-to san san yang tertutuk oleh Jiong- jiu-hoat Kongsun Ki, untuk membebaskan ketujuh Hiat-to ini terlalu makan waktu juga menguras tenaga. saking sibuk dan keripuhan Hong-lay-mo-li sampai mandi keringat, dengan susah payah akhirnya dia berhasil juga melancarkan semua nadi dan jalan darah san san yang tersumbat namun setengah sulutan dupa sudah berselang.

Begitu bisa bersuara san san segera bersuara:

"Liu cici Apa kau tidak tega membunuh Kongsun Ki? sayang kepandaianku tidak becus, kalau tidaki aku takkan berpeluk tangan."

"Bukan tidak tega, soalnya aku harus menepati janji, aku dilarang melampai kapel ini untuk membantu Hoa Kok- ham."

Tatkala itu, Kongsun Ki dan siau-go-kian-kun sudah bergebrak ratusan jurus semakin tempur semakin sengit, karena harus kerahkan hawa murni melawan hawa beracun siau-go-kian-kun harus memeras keringat dan tenaga lebih banyaki lama kelamaan kepalanya sudah mengeluarkan uap putih. setelah bertempur selama ini, Kongsun Ki sendiripun semakin gelisahi semula dia kira dalam setengah sulutan dupa dirinya pasti sudah membereskan lawannya, tak nyana setelah sekian lamanya, keadaan masih tetap setanding.

Tatkala itu Hiat-to san san sudah bebas keadaan sudah normal, Hong-lay-mo-li sudah bisa memburu datang untuk mengeroyoknya, dasar manusia yang tidak seia dengan kata dan perbuatannya, sudah tentu Kongsun Ki menilai Hong-lay- mo-li sama rendah dan hina seperti dirinya kuatir orang datang mengerubut dirinya, terpaksa dia kerahkan setaker tenaganya berharap dalam waktu singkat merobohkan siau- go-Kian-kun.

Dilain pihak siau-go-iian-kun sendiripun bukan main kagetnya, untuk menghadapi pukulan beracun Kongsun Ki dia harus bersenjata kipas, kipas ini terbuat dari besi murni, biasanya dingin, kini rasanya panas seperti dibakar diatas tungku, siau-go-kian-kun insaf bila pertempuran berkepanjangan, bukan mustahil membawa akibat yang membahayakan bagi dirinya, maka diapun pergencar serangannya.

Disaat kedua pihak sama2 pergencar serangan berlomba merobohkan lawan dengan serang lebih sengit, tiba2 terdengar derap lari kuda mendatangi dibawah gunung, seorang gadis menunggang kuda lewat jalan raya dibawah gunung.

Waktu Hong-lay-mo-li angkat kepala memandang kebawah sungguh kaget dan girang hatinya, kiranya gadis penunggang kuda ini bukan lain adalah siang Ceng-hong yang dicarinya.

Kiranya siang Ceng-hong mengejar kemari untuk menangkap Bing Cau.

Mendengar suara pertempuran dipuncak gunung, siang Ceng-hong segera tarik kendali waktu dia angkat kepala melihat Kongsun Ki, keruan naik pitam. dampratnya: "Kau keparat jahat ini berani mencelakai orang, aku takkan peluk tangan melihat kau bunuh orang menggunakan ajaran silat keluargaku."

Lekas Hong-lay-mo-ii tarik suara berteriak: "Nona siang, lekas kemari saja."

setelah tiba dipengkolan gunung baru siang ceng-hong melihat Hong-lay-mo-li yang menonton pertempuran dari dalam kapel, sudah tentu dia heran dan tak mengerti tanyanya:

"Kau melihat Bing cau tidak?"

Hong-lay-mo-li memberitahu: "Bing cau sudah dibunuh Kongsun Ki. Eh Ceng-hong, kemana kau? jangan keatas, lekas kemari"

siang Ceng-hong tidak mau dengar panggilan Hong-lay-mo- li, segera dia keprak kudanya maju lebih lanjut.

Kongsun Ki gelak2 menyambut kedatangan nya. "Adik iparku kau harus berterima kasih kepadaku.

Bukankah kau menyesal kawin dengan Bing cau? Kubunuh dia

kau menepati cita2mu? Ha h a, sekuntum kembang mekar masa tertancap digundukan tahi kerbau." mulut bicara namun gerak g erik kaki tangannya tidak menjadi kendor, dengm gencar dia tetap menyerang siau- go- kian- kun.

setelah jarak lebih dekat siang Ceng-hong tiba2 berteriak: "Menuju Kan-bun. putar ke siau-wi tutuk Hiat-hay-hiatnya"

"Ai, sayang tidak kena. ulangi, lekas rebut kedudukan cui-li tutuk Ih-khi-hiat"

"Nah itu benar, Hiat-hay-hiat dan Ih-khi-hiat adalah dua titik kelemahannya, serang terus kedua titik kelemahannya, serang, hantam." siang Ceng-hong sendiri memang tidak meyakinkan kedua ilmu berbisa ajaran ayahnya, namun dia tahu betuljuga seluk beluk dan intisarinya. Dari pertempuran yang sedang berlangsung dia dapat berkesimpulan bahwa latihan Kongsun Ki dalam Iwekang ajaran ciptaan ayahnya masih kurang setengah saja untuk mencapai kesempurnaan maka kedua ilmu beracun ini masih mempunyai ciri2 kelemahan yang bisa digempur, asal seorang lawan yang setanding dengan Iwekang yang tinggi bisa menutuk kedua Hiat-to kelemahannya dengan Jiong-jiu-hoat, jiwanya pasti melayang kalau tidak luka parah.

Namun betapa lihay kepandaian Kongsun Ki untuk menutuk kedua Hiat-to ini siau-go-kian-kun harus benar- memeras keringat. Tapi setelah tahu titik kelemahan musuh serangan siau- go- kian- kun memang dipusatkan pada kedua sasaran ini, sehingga dari pihak terdesak berbalik dia bisa mendesak lawan.

Keruan baikan kepalang gusar Kongsun Ki, dengan kedatangan siang Ceng-hong dia insaf dirinya bisa celaka kalau bertempur terlalu iama, tiba2 timbul maksud jahatnya, Kebetulan siau-go-kian-kun sedang memutar ujung kipasnya denganJiong-jiu-hoat menutuk Ih-khi-hiat dibawah ketiak Kungsun Ki, dengan gaya menekuk pinggang menancapkan dahan pohon tiba2 Kongsun Ki ulur tangan mencengkram tepat mengenai ujung kipas2 siau- go- kian- kun, sebat sekali telapak tangan kiri ikut menepuk turun siau-go-kian-kun dipaksa menangkis dengan pukulan telapak tangan pula secara kekerasan "BIang" kedua tangan beradu dengan dahsyatnya.

Jurus permainan Kongsun Ki ini dilakukan dengan menyerempet bahaya, maklumlah Lau-kiong-hi dipusat telapak tangannya meski bukan titik kelemahan yang mematikan jiwanya, namun Hiat-to ini merupakan kunci yang penting juga bagi mempertahankan kedua ilmu beracunnya itu, disaat Kongsun Ki menangkap ujung kipas, kebetulan siau- go- kian- kun mendorongnya kedepan dan telak menutuk Lau-kiong- hiat-nya ini.

Berbareng adu pukulan pula, sudah tentu kedua pihak sama2 terkuras hawa murni dan cidra.

Tapi karena Kongsun Ki menggunakan pukulan beracun, maka siau- go- kian- kun terluka lebih parahi Malah segera dia hnrus kerahkan hawa murni untuk mencegah supaya racun tidak menjalar keseluruh badan terutama jangan sampai merembes kejantung.

Maka terdengar suara "Tang" kipas siau- go- kian- kun jatuh sekali jejak kaki badan melambung lompat bersalto kebelakang beberapa tombak jauhnya, Kongsun Ki malah menggerung seperti singa ketaton lekas dia putar badan melarikan diri.

sudah tentu bukan kepalang kaget Hong-lay-mo-li, tanpa hiraukan janji segala segera dia lari keatas memberi pertolongan kepada siau- go- kian- kun.

Tapi maksud Kongsun Ki bukan hanya melarikan diri saja, namun dia lari menuju kearah siang Ceng-hong, tak terbilang kaget siang Ceng-hong, lekas dia putar kuda dan keprak melarikan diri, sekenanya Kongsun Ki meraih sebutir batu dijentiknya mengincar kaki kuda kuda itu meringkik kesakitan terus menekuk keempat kakinya kuda siang Ceng-hong ini tunggangan pilihan yang lari seribu li seharinya, bahwa dia berani maju mendekat karena mengandal kekuatan kudanya ini, sewaktu bisa saja melarikan diri.

Tak nyana setelah berani menggunakan cara licik dan berbahaya melukai siau- go- kian- kun Kongsun Ki putar balik mengejar dirinya sedikit lena, kudanya tertimpuk roboh.

Cepat sekali dengan beberapa kali lompatan dari atas kebawah laksana panah tahu2 Kongsun Ki sudah meluncur tiba didepan siang Ceng-hong, baru siang Ceng-hong lompat berdiri dan hendak lari, namun sudah terlambat sekali raih dan tangkap Kongsun Ki jinjing badan orang, Meski hawa murni terkuras, namun kepandaian sejati Kongsun Ki masih jauh lebih unggul dari siang ceng-hong.

Ternyata selentikan batu Kongsun Ki menggunakan tenaga yang diperhitungkan kuda itu hanya kesemutan sebentar pada ruas tulangnya, kini sudah berdiri tegak dan bergerak bebas pula tanpa terluka sedikitpun.

Dengan mencangklong siang Ceng-hong, Kongsun Ki lantas cempIak kepunggung kuda, sekali tepuk pantat kuda terus mernerjang ke bawah bagai terbang. Kalau Hong-lay-mo-li hendak mengejarpun sudah terlambat.

Baru saja Hong-lay-mo-li tiba disamping siau- go- kian- kun. sementara siang Ceng-hong kena ditangkap Kongsun Ki, keduanya sama kaget dan beradu pandang dengan melongo.

"LiuJing-yau," terdengar gelak tawa Kongsun Ki yang berseru dari kejauhan,

" Hoa Kok-ham kalian mempelajari ilmu silat bapakku memangnya bisa membekuk aku? Hehe, jangan kalian mimpi disiang hari bolong selama gunung menghijau dan air mengalir, kelak kita masih ada kesempatan bertemu, lain waktu kalian boleh maju bersama. akan kutunjukkan kelihayanku."

karena berhasil menawan siang Ceng-hong, betapa riang hati Kongsun Ki.

Dia yakin dengan menawan siang Ceng-hong, latihan ilmunya pasti akan mencapai kesempurnaannya, jikalau ilmu silatnya sudah nomor satu diseluruh jagat, siapa pula yang harus ditakuti? Karena girangnya sepanjang jalang dia bergelak tawa menggila.

Gelak tawa Kongsun Ki masih bergema ditanah pegunungan, sementara bayangannya sudah tidak kelihatan. siau- go- kian- kun berkata dengan gemes:

"Pukulan beracun keparat ini memang lihay. Yau- moay, kau selalu membawa jarum emas lekaslah kau tusuk berlubang ujung jariku."

jari tengah tangan kiri Siau-go-kian-kun membengkak hitam sebesar lobak. Ternyata dengan Iwekang tingkat tinggi dia desak racun ke- ujung jarinya, Dengan jarum emasnya lekas Hong-lay-mo-li menusuknya dan meneteslah darah hitam kental.

sementara itu keadaan san san sudah pulih seperti sedia kala, segera bertiga pulang kerumah san san. jenazah Bing cau masih menggeletak. mengingat di bawah ancaman Kongsun Ki orang masih tetap tidak tega mencelakai dirinya, terhibur juga hati san san, betapapun orang adalah teman bermain sejak kecil, maka dibela kang taman dia menggali liang lahat dengan bantuan Hong-lay-mo-li dan siau-go-kian- kun jenazah Bing Cau dikubur ala kadarnya.

setelah kerja berat semalam suntuki haripun sudah terang tanah, kata Hong-lay-mo-li sambil menyiapkan sarapan pagi:

"Kali ini kami sedikit kena dirugikan, namun pesan Hui-siok sinni terhitung sudah kulaksanakan."

"Hah kau sudah bertemu dengan guruku? Beliau ada pesan apa?" tanya san san.

"Hui-siok sinni tidak akan memungutmu sebagai muridnya, dia suruh aku membujukmu kembali preman saja."

setelah tahu gurunya sudah punya tempat tinggal yang tetup, lega juga hati san san katanya:

"Terima kasih bahwa guru masih ingatpada diriku, tapi aku memang sudah preman." "Memangnya, semula kukira harus putar lidah untuk membujukmu Adik san san, soal apa sih yang membuat gairah hidupmu bangkit kembali?"

Merah muka san san, sesaat kemudian baru dia menjawab: "Bingcu hamba memang ingin melaporkan sesuatu hal" tiba2 dia merubah panggilan seperti waktu di pangkalan

setiap dia melaporkan sesuatu persoalan.

"Kau suka jadi perampok perempuan pula mengikuti jejakku? Bagus sekali, namun disini bukan di pangkalan, jangan gunakan tata tertib itu. Tetap kau memanggilku cici, ada urusan apa yang hendak kau sampaikan kepadaku?"

"soal ini harus dibicarakan mulai tiga tahun yang lalu waktu kau suruh aku mengantar Khing-kongcu turun gunung."

Hong-lay-mo-li melengaki namun dilihatnya mimik san san tidak menunjukan rasa sedih akan pengalaman lama, maka dengan tersenyum dia mendesak:

"Ya, kenapa?"

" Waktu aku menunaikan tugas, Tai Mo cici juga minta tolong kepadaku untuk mencari tahu kabar adiknya."

"o jadi Tai Mo masih punya adik, aku kok belum tahu." "Ayah bunda Tai Mo adalah kaum tani yang miskin, jaman

peperangan lagi, kuatir tak mampu melindungi putrinya maka dia dijual kepada keluarga kaya. Belakangan keluarga kaya ini dirampok habiskan sejak itu Tai Mo berkecimpung dikalangan Loklim. setelah mengalami berbagai peristiwa baru terakhir dia ada kesempatan bertemu dan ikut kepada Bengcu.

Waktu Tai Mo dijual usianya baru 7 adiknya 5. setelah sekian tahun dan peperangan belum berakhir Tai Mo tidak tahu apakah ayah bundanya masih menetap didesa kelahirannya maka dia minta tolong aku untuk menyirapinya. Kebetulan desa itu hanya 200 li dari sini, tahun lalu setelah mengantarkan Khing-kongcu dalam perjalanan pulang akujadi mampir kesana, Tai Mo cici hanya tahu keluarganya she Liok, ayahnya orang miskin, sampai na mapun tidak punya.

Biasanya orang sering memanggilnya Liok-toasiok atau Lo- liok2 sudah tentu bukan soal gampang hendak menemukan keluarga miskin yang bersahaja.

"Kau berhasil menemukan tidak?" tanya Hong-lay-mo-li. "Dengan susah payah aku temukan desa kecil itu, namun

dimana sudah menjadi belukar, agaknya desa ini juga dilanda perang, rumah2 rakyat sudah terbakar habis yang ada tinggal dua gedung milik tuan tanah setempat, namun aku belum putus harapan, aku ubek2an mencari tahu ke kampung sekitarnya, katanya keluarga she Liok dikampung itu ada puluhan setelah dilanda perang, ada yang mati, ada yang ngungsi ada pula yang ditawan dijadikan tukang pikul atau kuli, tidak diketahui kabar beritanya."

"Tai Mo memang harus dikasihani, jadi kau tidak berhasil menemukan adiknya." ujar Hong- lay- mo- li.

"sebaliknya aku yakin dia sudah menemukannya." timbrung siau- go- kian- kun,

" kalau tidak tak mungkin dia sengaja memperbincangkan soal ini."

" Kalian masing2 menebak benar separo" ujar san san " waktu itu aku tidak berhasil, namun kali ini aku

menemukannya."

"Nah sudah ketemu, cara bagaimana kau menemukan dia?

Dimana dia sekarang? Tai Mo sudah tahu belum ?"

"Kali ini aku sengaja mampir pula ke desa Tai Mo, kali ini kulihat dalam desa itu dibangun sebuah rumah. laki yang baru waktu aku tiba disana kebetulan pemilik rumah baru pulang dari berburu, maka aku lantas maju bertanya. "

"Kebetulan dia itulah adik Tai Mo?" tanya Hong- lay- mo- li. "Benar semula aku belum yakin, namun setelah kami tanya

jawab dan kukisahkan perpisahan mereka diwaktu kecil, ternyata Lapat2 masih diingatnya dengan baik maka aku yakin orang yang kucari tidak akan salah lagi"

"Dimana dia sekarang?"

"Dia sudah berada disini. Ternyata setelah menanjak dewasa, dia kelana di Kangouw berhasil mempelajari kepandaian silat pula, belakangan dia terjun ke-dalam laskar gerilya, maka selama ini tidak berani pulang desa. Kini situasi rada lain, maka dia ingin menjenguk kampung halamannya."

"siapa namanya?"

"Dia bernama Liok Bian"

Hong-lay-mo-li seperti sudah kenal nama ini, namun tak ingat dimana dia pernah dengar nama ini.

san san menjelaskan lebih lanjut:

"Setelah tahu keadaan cicinya, girangnya bukan main, dia mengharap bisa membaktikan diri bagi kepentingan pangkalan kita aku memberanikan diri, mewakili Bing cu menerimanya."

"Baik sekali Hayolah sekarang kau tunjukan dia kepadaku, biar dia pulang ikut kami saja."

" Kukira tidak perlu. Dia berjanji hari ini akan kemari menjengukku, tunggu lagi sebentar, dia pasti datang"

setiap membicarakan soal Liok Bian, san san selalu mengunjuk rasa simpatik dan mesra baru sekarang Hong-lay- mo-li mengerti katanya:

"ohi jadi lantaran si dia ini maka kau mengubah tekadmu untuk menjadi Nikoh" Merah muka San San, beium sempat dia menjawab tiba2 terdengar ketokan pintu, terdengar seorang bertanya:

"Apakah san san cici ada dirumah?" "silakan kau masuk sendiri" seru san san.

Tampak seorang pemuda mendorong pintu serta melangkah masuki Dia bukan lain adalah adik Tai Mo yang bernama Liok Bian, Melihat dalam rumah ada orang lain. sekilas dia metengak dan tertegun diambang pintu.

san san tertawa, katanya:

" Kebetulan kau datang, cici ini adalah Liu-bengcu kita, Dan inilah Hoa Kok-ham Hoa Tayhiap"

Liok Bian kegirangan, ter-sipu2 dia memburu maju seraya memberi hormat.

sebagai ahli silat sekilas pandang Hong- lay- mo li mendapatkan sorot mata Liok Bian tajam mengandung cahaya terang, suaranyapun berisi dan mantup, terang mempunyai dasar latihan Iwekang yang kuat, jelas lebih unggul dari san san, maka dia bertanya:

"siapakah gurumu?"

"suhu she rangkap yaitu sebun bernama Ya. orang2 bulim menjulukinya say-ci-hong"

"Tak heran aku seperti pernah dengar namamu, kiranya kau murid say- ci-hong. Dua tahun yang lalu, aku pernah bertemu dengan guru dan Toa-supekmu Tang Hay- liong mereka membicarakan murid masing2, gurumu pernah menyinggung namamu,"

"Mana aku berani dibanding murid Toa-su-pek? Toasuko adalah enghiong yang sudah kenamaan di kolong langit, aku paling hanya domba yang baru keluar kandang." "Agaknya kau belum pernah bertemu dengan Toa-supek dan Toa-sukomu? setahun yang lalu dalam peperangan diJay- ciok-ki, aku pernah berjuang berdampingan dengan mereka tidak sedikit bantuan yang mereka curahkan"

"Dalam peperangan diJay-ciok-ki, akupun menggabungkan diri pada barisan rakyat, pimpinan kami bernama Lau Kan."

"o Lau Kan? seperti pernah kudengar namanya. Tapi waktu itu dia tidak dalam peperangan diJay-ciok-ki."

" Waktu itu kita memang terputus diselatan Hway-say.

Tujuan Lau Kan hendak bawa kita untuk bergabung dengan Liu-bengcu, sayang situasi waktu itu tidak mengidzinkan, Lalu aku diutus menjadi kurir untuk cari hubungan dengan TOhisuko, sayang sebelum aku tiba ditujuan peperangan besar itu sudah berakhir."

Lalu Liok Bian ceritakan nasib dari barisan rakyat yang dipimpin Lau Kan, terpaksa harus bubar sesuai yang diperintahkan oleh pihak kerajaan waktu itu

" Kalian kakak beradik berpisah sepuluhan tahun, bolehlah kau pulang bersamaku menemui cicimu."

Memang Liok Bian ingin sekali lekas bertemu dengan cirinya sahutnya msnunduk:

"Terserah akan putusan Beng-cu"

Hari itu, mereka berempat berangkat, hubungan dengan Liok Bian semakin dekat dan intim, sudah tentu Hong lay-mo-li ikut girang, Tanpa menemui aral rintang akhirnya mereka tiba di pangkalan. Mendapat laporan, Tai Mo segera pimpin anak buahnya keluar menyambut.

Dengan suara lirih san san berkata:

"Kau tidak mengenal cicimu lagi? Tuh dia datang, lekas kau perkenalkan dirimu" maksudnya hendak membuat Tai Mo kegirangan diluar dugaan maka sebelumnya tidak mau bicara.

Tak nyana dilihatnya Liok Bian seperti terlongong, pandangannya kaku membundar, seiring pandangan orang didapati oleh san san, dibelakang Tai Mo ada pula seorang pemuda yang belum dikenalnya.

Hong-lay-mo-li yang jalan didepanpun sudah me lihat pemuda ini, dia kira seorang Thaubak baru yang baru masuki maka dia tidak ambil perhatian Dengan tertawa segera dia menyapa:

"Tai Mo, coba lihat siapa yang kubawa kemari?"

sudah tentu yang dimaksud Hong-ay-mo-li adalah Liok Bian, dia ingin tahu apakah Tai Mo masih kenal adiknya. Tapi bagi penerimaan TaiMo, dia sangka yang dimaksud Hong-lay- mo-li adalah san san.

seru Tai Mo girang,

"san san cici, kau sudah kembali? Perlu kuberi kabar gembira kepadamu, adikku sudah ketemu, siau Moh ayolah memberi hormat kepada Bing-cu dan san san cici."

sudah tentu kata2 Tai Mo amat mengejutkan Hong-lay-mo- li dan san san. Teriak san san:

"Kau punya berapa adik?"

Pemuda itu sudah melangkah maju, Tai Mo segera menudingnya, katanya:

"Kan kau sudah tahu, aku hanya punya seorang adik, dan dia inilah adikku. Eh, san san cici, kau kenapa?"

Teriak san san:

" Adikmu sudah kutemukan dan kubawa kemari, dari mana pula kau mempunyai adik yang lain?"

Kini ganti Taj Mo yang terperanjat serunya: "Apa? siapakah orang ini? Dia juga bilang sebagai adikku" Berubah muka Liok Bian katanya menuding pemuda itu: "Kau, kau, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyamar

diriku?"

Pemuda itu tiba2 membentak:

" orang ini adalah mata2 musuh"

Kejut dan gusar Liok Bian dibuatnya, teriaknya:

"Kau apa katamu? o, aku mengertilah, kau inilah mata2 musuh"

Pemuda itu maju hendak meringkus Liok Bian, lekas Liok Bian bersiap2. Hong-lay-mo-li segera bertindak:

"jangan bergerak yang tulen takkan palsu yang palsu tidak bisa tulen. siapa benar siapa palsu, pasti dapat dibikin jelas, Tai Mo, coba kau amat2i biar jelas yang mana sebetulnya adikmu?"

Kata Tai Mo sambil tuding pemuda itu:

"Aku sudah menanyainya dengan jelas, semuanya cocok dia adalah adikku."

sudah tentu san san amat terperanjat seperti mengigau dengan melongo, dia berkata kepada Tai Mo:

" Kukira tidak benar, Aku tak percaya Liok Bian akan menipuku"

Liok Bian segera berkata:

"cici, kau ditipu orang, Apa saja yang dikatakan orang ini kepadamu?"

Tai Mo gusar, serunya:

"Kau ingin mengorek keteranganku untuk menyarunya?

Memangnya aku gampang kau tipu?" Pemuda itu berkata:

"Dia adalah penghianat dari barisan rakyat sayang dulu aku tidak mengenalnya, menyeluruh malah kuanggapnya sebagai saudara sendiri, Bagus ya, kau tahu aku punya seorang cici yang menjadi pembantu Bingcu, berani kau kemari hendak menyaru diriku, ingin aku tanya apa sih tujuanmu?"

Berkobar amarah Tai Mo karena hasutan si pemuda. semprotnya:

"Benar, ringkus dia lebih dulu, baru nanti kompes keterangannya."

"Tai Mo cici," sela san san, "berilah kesempatan dia bicara"

"Baiklah kaupunya omongan apa, katakan dihadapan orang banyak" ujar Tai Mo.

Liok Bian berkata:

"Pada waktu ibu menjual kau kepada ong-toahu sebagai budak dulu, ibu menyeretku mengantarmu melewati jembatan, setiba diujung jembatan satu, kau ingin membopongku, tapi kau tidak kuat membopongku sehingga terpeleset jatuh. Apa kau masih ingat kejadian itu?"

Pemuda itu gusar, serunya:

"Didalam barisan rakyat kau adalah teman baikku, semua kejadian itu kau dengar dari penuturanku."

Liok Bian menyeringai dingin, katanya:

"Kau memang tidak tahu malu, kupandang kau sebagai saudara, maka segala kesengsaraanku diwaktu kecil kuceritakan kepadamu, kau justru menggunakan bahan- ini kemari menipu ciciku Cici, coba kaupikirkan secara cermat dan lihatlah dengan teliti apa benar kau sedikitpun tidak mengingat dan kenal kepada adik kandungan sendiri?" Kedua orang bicara dalam nada yang sama, keruan suasana menjadi ramai perdebatan dua orang.

"Kalian jangan ribut" segera Hong-lay-mo-li tampil kedepan,

"biarkan Tai Mo memperhatikan dengan seksama."

Waktu Tai Mo meninggalkan rumah usianya baru 7 tahun, adiknya berusia 5 tahun, Kini keduanya sudah tumbuh dewasa, bentuk muka pada waktu kecilnya sudah berubah. sama sekali pandang kekanan lihat kekiri,lapat2 terasa olehnya kedua pemuda ini sangat mirip bayangan adiknya diwaktu kecil. Tapi yang datang dulu lebih meyakinkan maka dia masih lebih percaya kepada pemuda yang datang duluan sebagai adiknya.

Liok Bian garuk2 belakang kupingnya, katanya dengan rawan:

"cici, kau tidak mengenalku lagi? Tapi aku punya omongan" tiba2 teringat oleh Tai Mo akan bayangan adiknya diwaktu

kecil yang punya kebiasaan suka meng-garuk2 kepala bagian

belakang kupingnya. Tapi seorang dikala menghadapi persoalan pelik secara tidak sadar bisa saja melakukan gerak gerik aneh ini, tidak bisa lantaran hal ini Tai Mo lantas yakin siapa benar siapa salahi maka dia berkata:

"Baik, kau ada omongan apa, lekas katakan"

"Hal ini hanya bisa kukatakan denganmu seorang, marilah ke tempat sepi yang tiada orang lain." ajak Liok Bian.

Pemuda itu kembali beriingkrak:

"Kau hendak main muslihat apa, cici, jangan kau kena ditipunya."

sekilas Tai Mo berpikir, sorot matanya ragu2, namun berkata: "Baik, ayolah kami bicara disana."

tangannya mengulap2 anak buahnya segera menyingkir jauh, Pemuda itu seperti ingin menentang, tapi akhirnya diapun tidak bicara lagi.

setiba membawa Liok Bian dipinggir hutan Tai Mo berhenti dan mendengar orang bicara dengan suara perlahan.

Dengan memegang kebutnya, Hong- Lay- mo-li perhatikan kearah sijii, maklumlah kepandaian silat sejati Liok Biak masih lebih tinggi dari Tai Mo, dia harus hati2 berjaga bila Liok Bian mempunyai maksud tertentu, menawan Tai Mo sebagai sandera.

soalnya persoalan ini cukup sulit dan aneh untuk dibedakan karena Tai Mo sendiri yang bersangkutanpun tidak bisa membedakan mana adiknya mana yang palsu. Bahwa Liok Bian mengajak bicara ditempat sepi, mau tidak mau Hong-lay- mo-li harus meningkatkan kewaspadaannya .

seorang lagi yang kebat kebit hatinya adalah san san. Disaat Tai Mo bicara dengan Liok Bian, telapak tangannya basah oleh keringat dingin Jikalau Liok Bian adalah palsu... hampir tidak berani dia membayangkan.

Maklumlah diarena asmara dia pernah patah hati sekali dengan susah payah akhirnya baru saja dia berhasil menyembuhkan luka2 hatinya dulu, apakah dia kuat mengalami pukulan batin sekali lagi ?

Pembicaraan Tai Mo dan Liok Bian hanya sebentar saja, namun san san seperti menunggu ber-tahun2. Tampak Tai Mo dan Liok Bian sudah beranjak balik dengan muka gelap dan prihatin jantung san san seperti gelombang pasang yang mendamparpantai, tak berani dia mengajukan pertanyaan.

Pemuda itu berseru:

"cici, apa saja yang dikatakan keparat ini dengan kau..." tiba2 Tai Mo membentak dengan menuding dia:

"siapa sudi jadi cicimu, mulutmulah yang mengobrol tidak karuan."

sungguh girang san san bukan main sampai dia bersorak seperti putus lotre. teriaknya dengan napas tersengal:

"Bagaimana? Memangnya aku tahu Liok Bian tidak akan salah."

sebaliknya pemuda itu berubah hebat mukanya, tiba2 dia taburkan segenggam senjata rahasia, maksudnya hendak melukai beberapa orang untuk menjebol keluar melarikan diri, Tapi Hong-lay-mo-li sejak tadi sudah siaga. sekali kebut dia jaring semua senjata rahasia orang didalam gulungan kebutnya.

sigap sekali Tai Mo dan Liok Bian sudah menubruk maju. pemuda itu jadi kalap, bentaknya:

"Kau bocah ini pakai bujuk rayu apa, berani kau menipu ciciku?"

suaranya gemetar, muka pucat, jelas dia sudah membayangkan akibat dari perbuatannya.

Telapak tangan kiri Liok Bian menyampuk kepalan orang, sementara jari2 tangan kanan bagai cakar garuda mencengkram kedada orang, sekali renggut dia tarik badan orang. bentaknya:

"justru aku yang hendak tanya kau"

sebagai murid say- ci hong jurus tipu permainan Liok Bian cukup matang dan lihay, dilandasi tenaga pembawaan yang keras dan kuat, kepandaian aslinya memang lebih tinggi dari pemuda inii ketambah orang tahu akan perbuatan sendiri yang sudah terbongkar kedoknya, keinginannya hanya melarikan diri sudah tentu tiada semangat bertempur, dalam dua gebrak saja tangannya sudah tertelikung dan dijambak oleh Liok Bian. Tai Mo lekas maju, "plak" dia tampar pipi orang se- keras2nya, makinya:

"Berani kau menyaru jadi adikku?"

Dengan berseri tawa san san memburu maju menarik tangan Tai Mo, katanya

"selamat cici, akhirnya kau mengenali adikmu sendiri, Liok Bian. apa sih yang kau katakan kepada cicimu? Masa hanya beberapa patah kata saja sudah bikin dia maupercaya?"

"Aku hanya bilang sepatah kata." ujar Liok Bian tertawa menyengir.

"Apa benar?" san san semakin riang

"Kau memang hebat omongan apa yang kau kaatakan?" Merah muka Tai Mo, katanya:

"Yang dia katakan kepadaku orang lain tidak boleh tahu."

Ternyata seperti anak2 keluarga miskin lainnya, waktu berusia tujuh lima tahun dulu Tai Mo dan adiknya kalau dirumah tidak pernah mengenakan pakaian.

Kebetulan tepat ditengah2 dadanya terdapat sebuah andeng2 (tahi lalat besar) warna hitam, adiknya yang kecil dan tidak tahu urusan merasa anehi dia kira sang taci ada mempunyai tiga putik payudara, Pernah suatu ketika dia tanya kepada sang ibu, tapi malah dia dimaki habiskan oleh ibunya, saking sedihnya sang ibu sampai menangis gerung2 menyesali keluarganya yang miskin tidak mampu membeli baju untuk dipakai putri putranya.

sejak berusia 5 tahun Liok Bian lantas berpisah dengan sang taci, kejadian diwaktu kecil sebetulnya sukar dikenang Tapi peristiwa itu sendiri memang meninggalkan kesan mendalam dalam benaknya, maka sampai sekarang dia masih segar mengingatnya. Dan apa yang dia katakan kepada Tai Mo adalah: "Cici masihkah kau ingat waktu kecil aku pernah mengatakan kau punya tiga putik payudara, sampai aku dimaki ibu habiskan?"

Pemuda itu masih coba membela diri katanya: "Dulu orang ini kuanggap sebagai temanku sendiri,

hubungan antara kakak dan adikpun sampai kuberitahu

kepadanya, Cici, masakah kaupercaya hanya sepatah dua patah katanya."

saking marah kembali Tai Mo persen beberapa kali tempelengan Katanya:

"Sekali lagi kau panggil cici, kubunuh kau." maklumlah antara sahabat karib mungkin saja saling

menceritakan apa saja namun keadaan tubuh sang cici yang

terahasia tidak mungkin diberitahu kepada orang luar.

"Sudah cukup, Kini tiba saatnya mengompes keterangannya." kata Hong-lay-mo-li.

"siapakah bedebah ini?"

Liok Bian segera menerangkan

"Dia adalah adik pimpinan barisan rakyat kita Lau Kan namanya Lau Tao. Ai, sungguh tidak kuduga dia berbuat begini memalukan"

Lau Tao cukup cerdik, dilihatnya sikap Liok Bian masih rada ragu2 dan menaruh belas kasihan terhadapnya, cepat dia berkata:

"Liok-toako perbuatanku kali ini memang tidak pantas, tapi maksud tujuanku adalah baik,"

"Coba kau terangkan sejelasnya,"

"Barisan rakyat kita telah dibubarkan kau dengan puluhan saudara2 yang kebetulan sekampung halaman pulang kedesa bukankah ditengah jalan kalian kepergok oleh barisan ronda negeri Kim?"

"Benar, puluhan kawan- kita itu semuanya gugur dimedan laga, hanya aku sendiri yang ketinggalan hidup,"

"Tidak, masih ada seorang kawan yang terluka parah belum ajal, belakangan dia lari balik melaporkan peristiwa tragis itu- Dia tidak tahu bahwa kau berhasil lolos, disangkanya kaupun sudah mati."

"Lalu bagaimana?"

Lau Tao mengunjuk sikap kikuk dan risi, katanya.

" Aku percaya begitu saja, kukira kau memang sudah mati Aku, timbullah kenakalan dalam pikiranku untuk menyaru jadi dirimu untuk kemari mencari cicimu, Karena cicimu sedang pegang jabatan mewakili kekuasaan Loklim Bing-cu, karena tidak ingin menjadi serdadu keroco, kukira dengan mengaku sebagai adik-nya, tentu, tentu dapat diangkat jadi seorang Thau-bak. Aku dalam hal ini mengakui ada sedikit ambisi pribadi, tapi tujuanku adalah untuk melawan musuh penjajah."

Liok Bian tertawa dingin, katanya:

"Lalu sekarang aku sudah kembali kau, kau malah menudingku sebagai mata2 musuh? Bukaukah kau sengaja hendak mencelakai aku?"

Lau Tao tekuk lutut menyembah, serunya: "Mohon Liok-toako sudi pandang muka engkoh ku

ampunilah sekali kesalahanku ini, aku aku memang ceroboh. memang aku tidak pantas, Karena kuatir Toakoku tidak mengampuni kesalahanku terpaksa aku menista kau."

"Hm. bangun tidak sudi aku melihat cecongormu yang memalukan ini. Hm, kau melakukan perbuatan yang tidak tahu malu seluruhnya bertentangan dengan azas tujuan perjuangan kaum pendekar memangnya dosamu cukup diampuni hanya karena kau mengaku ceroboh saja?"

"Ya, ya, aku melakukan kesalahan, aku rela dihukum oleh Liok-toako" Lau Tao pura2 meratap. terasa olehnya meski kata2 Liok Bian pedas, namun nadanya rada lembek dan ada maksud mengampuni kesalahannya.

selama setahun menjabat wakil Bengcu, Tai Mo jauh lebih cerdik dibanding adiknya, selanya dingin:

"orang she Lau bicaramu kurang jujur, Kau ingin menyembunyikan dosa besarmu, hanya mengakui dosa2 kecil, ya bukan?"

LauTao pura2 bersikap rikuh dan penasaran katanya: "Semua kesalahanku bukankah sudah kuakui"

"Yang terang adikku takkan tahu bahwa aku disini menjabat wakil Bengcu segala, memangnya dari mana kau bisa mengetahui? Bukankah hal ini menunjukkan borokmu?"

"Aku sendiri yang berhasil mencari tahu ditengah jalan." "Cari tahu kepada siapa? siapa yang tahu akan hal ini?"

desak Tai Mo.

Tergagap Lau Tao dibuatnya,

"lni, ini, em kudengar kau asal seorang budak teringat olehku riwayat hidup Liok-toako, maka aku kemari mencobanya." jawabannya ngelantur dan ter-putus2, jelas dia tidak kuasa menerangkan alasannya.

Mencelos hati Hong-lay-mo-li, katanya:

"Dalam persoalan ini pasti ada latar belakangnya yang amat berbahaya" lalu dengan alis tegak dia membentak:

"Keparat ini tak mau bicara jujur gusur keluar dan penggal kepalanya" Dua Thau-bak segera mengiakan dan tampil kedepan, golok baja besar segera ditekan keleher Lau Tao.

Kejut Lau Tao serasa hampir terbang arwahnya, teriaknya ter-sipu2:

"Baiklahi aku bicara terus terang" Hong-lay-mo-li menjengek dingin:

"sepatah kata kau bohong, tetap kucabut nyawamu, lekas katakan"

setelah menentramkan napasnya baru Lau Tao ber-kata: "Setelah semuanya bubar, engkoh ku bermaksud

mengasingkan diri, menyusun kekuatan untuk bangkit kembali, aku sebaliknya tidak rela hidup menyepi bercocok tanam didesa, Maka aku berpisah dengan engkoh ku, kubawa sebarisan saudara2 kita yang tidak punya tinggal tetup, melakukan kerja tanpa modal. Tak nyana suatu ketika kita digeropyok oleh pasukan Kim, aku, aku akhirnya tertawan oleh mereka."

"Bagaimana setelah kau tertawan?" tanya Hong-ay-mo-li. "Mereku tahu aku adalah Thaubak maka aku dikompas

sendirian, aku diperas dengan siksaan, yang mengompes aku

adalah seorang Han."

"Lho, orang Han? siapa namanya?" tanya Hong-lay-mo-li. "Usianya kira2 tiga puluhan, kulit mukanya putih tanpa

brengos dan jenggot, aku tidak kenal siapa dia, namun kudengar banyak orang memanggilnya Hu-ma sikapnya amat hormat dan patuh terhadapnya."

Hong-lay-mo-li kaget dan mengerti katanya:

"o, kiranya Kongsun Ki. Bagaimana Kongsun Ki mengompes keteranganmu, katakan."

Lau Tao melanjutkan "Begitu ia tahu aku adalah adiknya Lau Kan, semakin getol dia mengompes aku. Dia suruh aku memberi daftar nama para pemimpin laskar rakyat, peduli untuk persoalan dinas atau urusan pribadi, semuanya harus kusebutkan satu persatu."

"Kau katakan tidak?" desak Hong-lay-mo-li.

"Karena disiksa, apa boleh buat, terpaksa aku mengaku terus terang."

"Keparat kau" damrat Liok Bian,

"jadi hubungan pribadi antara kami kakak beradikpun kau paparkan kepada Huma anjing itu?"

Lau Tao tidak berani bercuit dengan menunduk diam dia mengakui tuduhan ini. saking penasaran dan muntap amarahnya "Plak"" Tai Mo menamparnya pula.

"setelah kau memberikan keteranganmu, bagaimana sikap Kongsun Ki?" tanya Hong-lay-mo-li lebih lanjut.

"Huma anjing itu lantas membebaskan aku-" sahut Lau Tao ber-sungut2 sambil mendekap kedua pipinya yang bengkak membiru.

"Ehi mau menipu ya? Baik kau tidak bicara secara blak2an? Kongsun Ki bisa menggunakan siksaan, memangnya aku tidak bisa?" ancam Hong-lay-mo-li dengan bengis.

Sekali kebutnya dia sendai kearah punggung orang, Lau Tao seketika rasanya seluruh badan seperti ditusuki jarum sakitnya, sungguh tak tertahankan deritanya jauh lebih menderita dari kompes yang manapun.

"Bengcu ampun." teriak Lau Tau dengan suara seraki "Baiklah aku mengaku"

"Lekas bicara," ancam Hong-lay-mo-li pula.

"ma-sih ada delapan belas macam siksaan, kalau tidak bicara sejujurnya, biar kau rasakan satu persatu." setelah menenangkan napasnya Lau Tao bicara lebih lanjut:

"Mendengar kisahku tentang persaudaraan Liok-toako, Huma anjing itu amat prihatin, Bahwa nona Tai Mo menjabat wakil Bengcu disini adalah dia yang memberitahu kepadaku. Katanya bahwa Tai Mo pasti adalah saudara tua Liok-toako,"

Kata Hong-lay-mo-li kepada Tai Mo:

"Kiranya tidak meleset dugaanku, semua ini adalah muslihat Kongsun Ki."

Liok Bian menimbrung:

" Kongsun Ki suruh kau menyaru aku mengakui ciciku, apa tujuannya? Lekas katakan"

Merah padam muka Lau Taoi mulutnya sudah terbuka beberapa kali, namun dia takut2. Terpaksa Hong-lay-mo-li angkat kebutnya pula mengancam:

"Apa kau ingin rasakan siksaan?"

Apa boleh buat Lau Tao mengaku terus terang:

"Dia suruh aku kemari jadi mata2. Mereka mendapat tahu bahwa Bing cu belum pulang pangkalan, maka mereka merencanakan untuk kerahkan pasukan besar hendak menyerbu pangkalan ini, tiba waktunya aku harus kerja dari dalam menawan Tai Mo cici sebagai sandera dan diserahkan kepada mereka."

Hong-lay-mo-li gusar, damratnya:

"Keji benar, muluk benar rencana mereka, hm hm, se- mena2, berjiwa kerdil, Apa gunanya manusia rendah martabat seperti kau hidup di dunia."

Keruan Lau Tao ketakutan, teriaknya "Bengcu, aku sudah mengaku kau harus ampuni aku. Liok toako, sukalah kau pandang muka engkoh ku, ampunilah jiwaku."

"Baik, hukuman mati tidak usah siksaan hidup harus kau rasakan" ujar Hong-lay-mo li, "wut" tangannya menepuk kearah punggung Lau Tao, dengan menggerung kesakitan Lau Tao tersungkur jatuh dan semaput.

Hong-lay-mo-li tahu akan perasaan Liok Bian katanya: "jangan kuatir, aku hanya punahkan ilmu silatnya. setelah

sehat kembali, keadaannya seperti orang biasa."

lalu dia perintahkan orang untuk menyeret Lao Tao kebelakang, setelah diobati suruh kerja paksa, Kelak biar diserahkan kepada engkohnya supaya dijatuhi hukuman setimpal.

Malam itu Hong-lay-mo-li mengadakan perjamuan untuk merayakan pertemuan yang menggembirakan ini. Bahwa san san kembali preman, Tai Mo menemukan adiknya pula. Maka Hong-lay-mo-li menambahkan.

"Tai Mo, masih ada sebuah hal yang menggembirakan kau belum tahu?"

"soal menggembirakan apa?" tanya Tai Mo tidak tahu. "Tahukah kau kenapa san san kembali preman?" Tai Mo

geleng2.

"Nahi adikmu tahut tanyalah kepadanya."

Keruan san san dan Liok Bian ter-sipu2 malu.Baru sekarang Tai Mo mengerti, serunya:

"o, kiranya begitu, san san cici selanjutnya kau akan jadi adik iparku? Haha hubungan kita semakin dekat sungguh menggembirakan sekali." Perjamuan terus berlangsung sampai larut malam, sebelum bubar, seorang serdadu datang memberi laporan, berhasil menawan seorang mata2 musuh ternyata seorang bangsa Nuchen yang menyaru jadi orang Han, datang hendak menemui Lao Tao.

Cuma yang disebut adalah adik dariBingcu kalian, seluruh penghuni pangkalan ini sudah tahu bahwa Lau Tao adalah mata2, maka orang ini sebera dibekuk dan digusur kehadapan Hong-lay-mo-li.

setelah dikompes baru diketahui orang diutus kemari untuk menjadi pembantu Lau Tao, bersama menjadi musuh terpendam didalam pangkalan, setelah tawanan digusur keluar, Hong- lay- mo- ajak Tai Mo, san san, siau- go- kian- kun dan lain2 orang berunding:

" Kebetulan kita bisa menggunakan tipu daya ini, pancing pasukan Kim kemari, lalu kita sapu mereka habiskan. Mereka kira ada mata2 terpendam disini, pasukan besarnya terang takkan dikerahkan, apa lagi hanya menghadapi sebuah pangkalan brandal, maka mereka pasti menyergap secara licik, Kita harus atur sedemikian rupa, sehingga seluruh musuh kita jaring."

segera mereka atur rencana dan mengambil langkah2 yang penting, Beruntun beberapa hari berdatangan pula beberapa orang mata2 musuhi semuanya kena diringkus oleh pasukan ronda. Dari sekian orang tawanan musuh Hong-lay-mo-li ancam seorang yang penakut dan bernyali kecil namun berilmu silat lumayan, memaksanya minum racun, diancamnya bahwa dalam tujuh hari kadar racun akan bekerja tanpa obat penawar tunggal dari Hong-lay-mo-li takkan mungkin diobati dan akhirnya mati dengan badan membusuk.

Karena ketakutan dia menyerah mentah2, lalu Liok Bian diutus untuk menyaru jadi pengawalnya, menggusurnya kebawah gunung menuju kesuatu pos rahasia untuk memberi kabar kepada musuh. Dikatakan bahwa segala persiapan Lau Tao diatas gunung berjalan baiki setelah semua persiapan selesai pasukan pemerintah dipersilakan menyerbu saja pada malam hari, malah diberikan juga sebuah peta mengenai seluk beluk pangkalan diatas gunung, sudah tentu peta inipun palsu.

sebetulnya peta itu palsu, laporan itupun palsu, satu hal yang tidak pernah diketahui oleh tawanan itu, bahwa obat yang dipaksa dia minum bukan pula racun, cuma obat buatan ayah Hong-lay-mo-li untuk menghilangkan rasa sakit dan menimbulkan kepala pusing saja, namun orang menyangka dirinya betul- menelan racun.

sudah tentu tugas Liok Bian sebagai pengiringnya cukup berbahaya namun orang ini takut mati. maka rencana Hong- lay-mo-li berjalan dengan lancar.

Hari yang ditunggu2 akhirnya tiba, Malam itu cuaca gelap angin meniup kencang, kira2 kentongan ke-dua, sebarisan pasukan Kim mulai bergerak memasuki pegunungan. Barisan serdadu Kim ini berjumlah seribu orang, namun semua adalah serdadu pilihan, dibawah pimpinan Tam Si-Ing yang baru saja diangkah jadi wakil komandan Gilim-kun, dari Taytoh yang jauhnya ribuan li datang untuk memimpin gerakan rahasia ini. sudah tentu diantara mereka terdapat beberapa orang kosen yang tinggi ilmu silatnya.

sebagai keturunan panglima perang sedikit banyak Tam Si- Ing tahu strategi perang, sejauh itu pasukan mereka naik kegunung, malah pangkalan dialah sudah kelihatan dari kejauhan, namun musuh belum kelihatan aksinya, mau tidak mau dia jadi curiga, tapi yakin bahwa anak buahnya yang terpendam didalam pangkalan sudah bertindak cepat dan sempurna, lega juga hatinya, maka dia perintahkan.

"Sesuai rencana semula, coba lepaskan panah bersuara, adakah orang kita yang memberi jawaban? sementara jangan bergerak." Karena bidikan panah bersuara ini. dari atas pangkalan tampak keluar sebarisan pasukan ronda namun mereka digasak habiskan oleh pasukan Kim dan lari porak peronda.

Tak lama kemudian tampak sejalur panah api yang menyala biru menjulang tinggi ke angkasa, itulah tanda rahasia yang sengaja dilepas oleh mata2 yang ada diatas gunung sebagai jawaban. Anak buah Tam Si-Ing kegirangan, katanya:

"Nah, mereka sudah menjawab."

"Entah mereka sudah berhasil kerja sesuai rencana tidak?" kata Tam Si-Ing.

Kejap lain tampak kobaran api besar menyala2 dipuncak gunung, Tam Si-Ing kegirangan serunya:

"Bagus, orang kita sudah berhasil, hayolah serbu ke-atas"

Ternyata Lau Tao ada janji dengan Kongsun Ki bila dia berhasil menawan Tai Mo, segera dia akan bakar gedung sebagai pertanda, sudah tentu pasukan Gi lim kun dibawah gunung ini tidak tahu bahwa Hong-lay-mo-li sengaja menumpuk kayu dan membakarnya ditengah lapangan.

Menurut petunjuk yang tertera diatas peta pasukan Gilim-kun dibawah pimpinan Tam Si-Ing segera menyerbu kcatas gunung.

Jalan yang mereka tempuh adalah sebuah lembah yang bentuknya menyerupai trompet mulutnya lebar dalamnya sempit, merupakan lereng bukit yang miring terjal lagi, disini pepohonan tumbuh lebat dengan a karanya yang berkembang laksana lautan permadani menghijau.

Dengan semangat tempur yang tinggi pasukan Gilim-kun ini dibawah aba2 tiupan tanduk yang bersemangat berderap menyerbu masuk kedalam lembah, tak nyana sejauh mereka berada didalam lembah, seorang musuhpun tidak kelihatan keluar melawan, keruan sorak sorai mereka yang menambah gigihnya semangat perang menjadi pudar didalam lembah.

Tam Si-Ing menggerutu

"Aneh benar. Kenapa moncong brandal seorangpun tidak kelihatan?"

Bagaimana nasib siang- ceng-hong yang diculik Kongsun Ki?

Dapatkah siau-go-kian-kun dan Hong-fay-mo-li menghancurkan siang- kehipo yang telah diduduki Kongsun Ki sebagai pangkalan kejahatannya?

Bagaimana pula nasib Bu-lim-thian-kiau yang meraya kan pernikahannya di onghu dengan sebala kebesaran dan kemewahan yang diselenggarakan oleh rajanya?

(Bersambung ke Bagian 45)
*** ***
Note 25 oktober 2020
Cersil terbaru hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 44"

Post a Comment

close