Pendekar Latah Bagian 39

Mode Malam
 
Bagian 39

Sampai disini biji matanya yang tinggal sebelah itu terpejam, suaranya terputus, kembali pada posisi duduk bersimpuh seperti biasanya dia bersamadi, mata terpejam memeras otak. Maka pengalaman masa lalu kembali terbayang didepan matanya. Dan terciptalah sebentuk bayangan seorang gadis muda nan ayu jelita Siau-ling-cu.

Tentunya sekarang Siau-ling-cu adalah seorang nenek yang sudah penuh keriput wajahnya, tapi diwaktu Bing-bing Taysu mengenalnya, dia masih merupakan gadis mekar yang menanjak remaja, usianya belum genap dua puluh, nama aslinya adalah Ni Kim-ling, karena suara katanya merdu dan nyaring seperti kelinting enak didengar maka orang manjadi kebiasaan memanggilnya Siau-ling-cu.

Walau usia Siau-ling-cu masih muda, namun di kalangan Kangouw dia merupakan Pendekar perempuan yang sudah punya nama, laki2 yang mengejar cinta dan kepincuk kepadanya tak terhitung banyaknya. Bing-bing Taysu adalah salah satu pemuda yang memujanya.

Tentunya Bing-bing Taysu waktu itu belum menjadi Hwesio, nama premannya yang asli adalah Kuang Hut, Sebagai seorang bangsa Kim, namun dia menentang rajanya yang lalim, maka akhirnya dia terima mengembara di Kangouw menjadi pendekar budiman yang menolong yang lemah dan miskin memberantar korupsi dan kelaliman penguasa.

Usia Kuang Hut sepuluh tahun lebih tua dari Siau-ling-cu, ilmu silatnya pada waktu itu sudah termasuk kelas satu dikalangan Kangouw, Semula Siau-ling-cu menganggapnya sebagai kakaknya, demikian pula Kuang Hut anggap Siau-ling- cu sebagai adiknya sendiri, amat memperhatikan segala keperluan dan keselamatannya.

Didalam kehidupan mengembara di Bulim, pernah beberapa kali dia menolong banyak kesukaran yang selalu melibat Siau- ling-cu, lama kelamaan hubungan semakin intim dan akhirnya sama jatuh cinta, namun mereka belum sampai melakukan perbuatan tercela hanya hati kedua muda mudi ini sudah tahu sama tahu, janji setia dan bersumpah sehidup semati. Cuma ikatan resmi belum mereka lakukan.

Disaat2 hubungan mereka semakin erat itulah, tahu2 muncul pula seorang laki2 lain yang ikut berlomba untuk mendapatkan hati Siau-ling-cu, orang atau laki2 ini bukan lain adalah si tua Bungkuk tua yang hari ini muncul itu. Tapi waktu itu dia belum Bungkuk, usianyapun masih muda belia, seorang pemuda yang berwajah cakap ganteng dan romantis lagi.

Pemuda cakap ganteng ini adalah Thay Bi, kelahiran dari keluarga bangsawaan negeri Kim, namun dia membekal kepandaian silat tinggi, waktu itu dia sedang mengembara kemana2, entah bagaimana pada suatu kesempatan yang kebetulan, dia berhasil berkenalan dengan Siau-ling-cu, sejak itu dia jatuh hati dan ter-gila2 kepada Siau-ling-cu, maka terjadilah kompetisi untuk memiliki pujaan hatinya yang satu ini.

Usia Thay Bi hanya tiga tahun lebih tua dari Siau ling-cu, usia dan wajah kedua orang muda mudi sudah tentu lebih cocok dan setimpal bila dibanding Kuang Hut, semula Kuang Hut memang merasa rendah diri, namun lama kelamaan diapun merasakan bahwa hobby dan cita2 Siau-ling-cu jauh berbeda dan tidak mencocoki satu sama lain, walau Siau-ling- cu tetap bersahabat sama Thay Bi namun hatinya jelas tertuju kepada Kuang Hut. Bahwa Siau-ling-cu lebih mencintai Kuang Hut hal ini belakangan diketahui juga oleh Thay Bi. Demi merebut Siau- ling-cu, maka dia menggunakan cara keji dan kotor, melakukan perbuatan yang mimpipun tak pernah diduga oleh Kuang Hut, pada suatu malam hujan badai, dengan akal liciknya dia gunakan obat bius lalu memperkosa Siau-ling-cu.

Sejak peristiwa itu Siau-ling-cu amat sakit hati dan kalap, pedang diambilnya terus melabrak Thay Bi dengan sengit, terpaksa Thay Bi sementara menyingkir, setelah menggebah lari Thay Bi, Siau-ling-cu merasa malu untuk menemui Kuang Hut, maka akhirnya diapun menyembunyikan diri, tak pernah muncul lagi di-dunia Kangouw.

Waktu Kuang Hut mencarinya kerumah Siau-ling-cu, dari seorang pelayannya dia diberitahu akan kejadian semalam yang menimpa majikannya, karena kuatir majikannya membunuh diri maka pelayan setia ini membocorkan kejadian memalukan ini kepada Kuang Hut minta bantuannya untuk menuntut balas bagi penasaran majikannya.

Saking gusarnya, Kuang Hut mencari Thay Bi ubek2an, akhirnya pada suatu hari dia mendapat kisikan dan bantuan seorang sahabat, pada sebuah desa dia berhasil menemukan Thay Bi.

Sudah tentu Thay Bi tahu kedatangan Kuang Hut adalah hendak menuntut balas dan melabrak dirinya, namun sedikitpun dia tidak takut lagi, malah menyambutnya dengan gelak tawa, begitu berhadapan lantas berkata: "Kuang Hut, kau datang terlambat Siau-ling-cu sekarang menjadi milikku, istri teman sendiri pantang diganggu, aku tidak ingin hatimu sedih, maka lebih baik kau lekas pergi saja, selanjutnya kaupun tak urah menemui Siau-ling-cu."

Karena sedang marah Kuang Hut tidak banyak bacot lagi segera dia melabraknya hendak merenggut jiwanya, Setelah keduanya bergebrak ramai, betapapun Thay Bi berkepandaian lebih rendah, lama kelamaan dia bukan tandingan Kuang Hut, akhirnya tulang punggungnya terpukul patah oleh pukulan Kuang Hut.

Di-saat Kuang Hut hendak menambahkan sekali pukul menamatkan jiwanya, tiba2 seorang gadis dengan airmata bercucuran berlari keluar dari rumah, menubruk ke badan Thay Bi, teriaknya gcrung2: "Kuang-toako, jangan... jangan kau membunuhnya. Aku, aku bersalah kepadamu, aku sudah menikah dengan dia." gadis ini bukan lain adalah Siau-ling-cu yang dicarinya.

Kuang Hut ingin mcnuntutkan balas, tak tahunya pujaan hatinya sudah menjadi istri musuhnya, Keruan Kuang Hut menyengir sedih, terpaksa dia telan air matanya, tinggal pergi tanpa bersuara.

Ternyata waktu Kuang ilut ubek2an mencari Siau-ling-cu, Thay Bi selangkah lebih dulu menemukannya. Thay Bi berusia lebih muda dan tampan, pandai ngomong lagi, berlutut dihadapan Siau-ling-cu dia minta ampun serta membujuk dengan kata2 manis madu, dikatakan perbuatannya lantaran amat mencintainya, karena kesadarannya kelelap, baru dia nekad melakukan perbuatan terkutuk itu.

Dia bersumpah untuk menjadi suami Siau-ling-cu yang baik, mohon Siau-ling-cu sudi mengampuni segala kesalahannya.

Dasar imam Siau-ling-cu kurang teguh, mengingat dirinya sudah ternoda, terang malu menikah dengan Kuang Hut, meski tindak tanduk Thay Bi terlalu kejam dan jahat serta rendah, betapapun orang berbuat kotor lantaran teramat mencintai dirinya, apa lagi beras sudah jadi nasi, masa depan dirinya terpaksa harus pasrah kepadanya. Begitulah, seorang pendekar wanita budiman yang polos dan jujur, terpaksa rela menikah dengan seorang gembong iblis yang hina dan jahat.

Sejak peristiwa itu Kuang Hut amat terpukul sanubarinya, akhirnya dia mengasingkan diri keatas gunung, bersumpah selama hidup takkan menikah, Tapi dia tidak lantas cukur gundul jadi Hwesio, setelah dia saksikan sendiri anak pungutnya Bok Ji-sin menempuh jalan sesat, beruntung mengalami pukulan batin yang berat ini, hatinya semakin kecewa, baru dia mencukur gundul menjadi Hwesio.

Kuang Hut menjadi Hwesio sedang Thay Bi menjadi bungkuk, Dari seorang pemuda yang gagah tampan, Thay Bi berubah jadi manusia jelek rupa bungkuk lagi karena tulang punggungnya patah terpukul Kuang Hut, sudah tentu dendamnya bukan kepalang terhadap musuh bebuyutnya yang satu ini.

Cacat badan Thay Bi bukan saja mempengaruhi jasmaninya, rohaninyapun berubah sama sekali, wataknya yang memang sudah kejam berubah semakin buruk.

Memangnya hobby dan cita2 hidupnya berbeda jauh dengan Siau-ling-cu, setelah badannya cacad, perangainya semakin pemarah dan sering bertengkar dengan Siau-ling-cu. Lama kelamaan Thay Bi merasa rendah diri, sering dia mencari alasan menghajar dan menyiksa Siau-ling-cu untuk melampiaskan penasaran hatinya, lama kelamaan Siau-ling-cu tak tahan lagi ?akhirnya dia minggat.

Bing-bing Taysu sudah menempuh jalan sucinya, hatinya sebetulnya sudah setenang air, tak nyana kedatangan Thay Bi hari ini, bukan saja menimbulkan riak gelombang dalam sanubarinya yang terang, sekaligus memberikan pukulan batin laksana batu besar yang dileburkan kedalam air yang tenang itu. Setelah tiga puluhan tahun berpisah, baru pertama kali ini dia mendengar kabar Siau-ling-cu, tak urung dia bersedih dan merasakan penderitaan Siau-ling-cu dengan pengalaman hidupnya yang sengsara dan tidak bahagia.

Kejadian tiga puluh tahun berselang kembali terbayang dalam benak Bing-bing Taysu, tak urung ber-kaca2 air mata dikelopak matanya, se-olah2 dia baru sadar dari mimpi buruk, dibukanya sebelah matanya yang belum cacat, celingukan kian kemari sambil mengigau:

"Dimana Siau-ling-cu berada?" tahu2 bayangan- Siau-ling- cu sudah lenyap.

Dengan lirih Hui-siok Sin-ni bersabda: "Manusia dan aku sudah terlupakan, layu kosong berdampingan. Duniawi sudah putus, kenapa disinggung lagi. Kong-kong kau sudah letih, silakan masuk istirahat"

Bing-bing Taysu menghela napas, katanya: "Benar, kejadian yang sudah lampau tak perlu diangkat lagi."

Baru sekarang Hong-lay-mo-li berkesempatan maju menghadap Bing-bing Taysu serta utarakan maksud kedatangan nya. Tahu orang adalah putri sahabat lamanya. Bing-bing amat senang, katanya: "Ayah dan gurumu dulu adalah teman baikku diwaktu preman, waktu itu kau belum lahir, Hari berselang dengan cepat, sekejap mata tiga puluh tahun sudah lalu. Kau mau pergi ke Siu-yang-san, mau menemui gurumu?"

"Ya, ayahpun akan menuju kesana, dalam perjalanan pulang kita akan kemari menyambangi Taysu,"

"Kalau begitu lekaslah kau berangkat, situasi di Siu-yang- san cukup genting, lebih baik kalau kau lekas berkumpul dengan guru dan ayahmu, supaya mereka tidak kuatir" "Taysu, aku ingin ajak Ceng-hun-cici dalam perjalanan ini." pinta Hong-lay-mo-li.

Jilian Ceng-hun tahu maksud baik Hong-lay-mo-li, bukan mustahil di Siu-yang-san mereka bisa bertemu dengan Bu-lim- thian-kiau, namun dia ragu2. Untung Bing-bing segera berkata: "Baik, lekas kalian berangkat, Meski mataku picak sebelah, namun Thay Bi sudah tahu kepandaianku kukira dia takkan berani datang lagi."

Bahwa Bing-bing memang tidak terluka dalam, maka dengan lega Jilian Ceng-hun berangkat bersama Hong-lay-mo- li. Tatkala itu hari sudah terang tanah, setelah pamitan kepada Bing-bing Taysu segera mereka menempuh perjalanan.

Dua orang menunggang seekor kuda, hari itu mereka menempuh tiga ratusan li jauhnya, jarak Kong-bing-si yang terletak di Yang-kok-san ke Siu-yang-san kira2 seribu li jauhnya, diperkirakan tengah hari ketiga mereka sudah akan tiba ditujuan.

Dalam tiga hari ini hubungan kedua orang semakin intim dan dekat, waktu itu mereka mulai memasuki daerah pegunungan, menurut perhitungan jarak Jay-hwi-ceng di kaki gunung Siu-yang-san tinggal seratusan li saja. Tak nyana dikala kuda dicongklang, tiba2 terdengar kesiur senjata rahasia yang memecah udara menerjang tiba, lekas Hong-lay- mo-li memukul jatuh dengan kebutnya, kiranya sebutir batu yang tepat melukai kaki kudanya.

Lekas mereka lompat turun, tahu2 dua orang muncul dihadapan mereka, bukan lain adalah Sin-tho Thay Bi dan Kongsun Ki.

Agaknya Kongsun Ki memang sudah menduga bahwa Sumoaynya cepat atau lambat pasti akan pergi ke Jay-hwi- ceng kediaman ayahnya, dia paling takut bila sang Sumoay ini membuka kedok kejahatannya selama ini dihadapan sang ayah, kalau kejahatan lain mungkin dirinya masih boleh diampuni namun mengkhianati bangsa dan berkomplot dengan negeri Kim, justru suatu hal yang paling dihina oleh ayahnya, bukan mustahil jiwanya akan dicabut bila ketangkap, oleh karena itu sengaja dia melambatkan perjalanan, sekaligus menunggu Hong-lay-mo-li tiba serta mcncegatnya ditengah jalan.

Kaget dan gusar pula Hong-lay-mo-li dibuatnya, bentaknya:"Kongsun Ki, besar nyalimu, berani kau mengganas didepan rumah ayahmu, tidak takut kau bikin beliau mati jengkel?"

"Kan masih seratusan li jauhnya, umpama tenggorokanmu pecah, ayahku takkan bisa mendengar suaramu." begitu menubruk maju angin amis segera menyampuk hidung: Lekas Hong lay-mo-li gunakan gerakan naga melingkar menggeser langkah, dalam sekejap mata dia bergerak didalam sembilan posisi kedudukan yang berlainan, sekaligus menyerang dengan sembilan tusukan pedang.

Kongsun Ki gelak2, serunya: "Memangnya Keng-sin kiam- hoatmu bisa berbuat apa atas diriku ?" ditengah gelak tawanya terdengar suara berdering ramai, telapak tangan terayun pedang Kongsun Ki sekaligus menangkis dan menggaris, sekali gerakan sekaligus diapun patahkan sembilan tusukan pedang Hong-lay-mo-li, serangan pedang yang rumit dan lihay dengan mudah dapat dia punahkan.

Sepuluh jurus kemudian Kongsun Ki sudah mulai unggul diatas angin, tapi untuk segera mengambil kemenangan masih belum gampang.

Si Bungkuk tiba2 bersuara: "Lohu tiada tempo menunggu lagi, biarlah aku selesaikan saja." tiba2 dia melangkah maju, tanpa malu2 menjaga gengsi segala, tiba2 lengan bajunya terkembang, tak segan2nya dia lancarkan serangan mematikan kepada Hong-lay-mo-li. Untung Ginkang Hong-lay-mo-li amat tinggi, dengan gerakan menekuk dada jumpalitan ditengah mega, dia berhasil hindarkan diri dari samberan Thi-siu-kang si Bungkuk, Tapi tak urung mukanya kesampuk hawa dingin yang membuat sekujur badannya merinding dadapun seperti ditindih batu ribuah kati, hampir saja dia tak kuat bernapas lagi.

Lekas Jilian Ceng-hun mainkan serulingnya menubruk maju, dia menghadang diantara Kongsun Ki dengan Hong-lay- mo-li. Tanpa hiraukan godaan Kongsun Ki dengan sengit dia labrak Kongsun Ki sehingga orang tidak berkesempatan mengudak Hong-lay-mo-li. permainan serulingnya lain dari yang lain, sehingga Kongsun Ki yang berkepandaian jauh lebih tinggi mau tidak mau harus perhatikan juga untuk melayaninya.

Setelah berhasil mengganti napas, tak kepalang gusar Hong-lay-mo-li, namun dengan menyeringai sadis si Bungkuk menubruk maju seraya menutuk dengan telunjuknya, Kontan Hong-lay-mo-li seperti ditusuk anak panah yang dingin, tanpa kuasa dia bergidik kedinginan. Sebat sekali tahu2 si Bungkuk sudah melejit tiba dihadapannya, telapak tangan orang sudah menempeleng ke kepalanya.

Lekas Hong-lay-mo-li gunakan Soat-hoa-kay-ting (kembang salju menutup kepala), tangan kanan menggetarkan ujung pedang, dengan tepat dia incar Koan-goan-hiat ditangan si Bungkuk, Thian-lo-hud-tim dan Keng-sin-kian hoat merupakan dua kepandaian tunggal yang tiada taranya dalam Bulim.

si Bungkuk cukup tahu diri akan kelihayan kedua serangan ini, lekas dia ubah gerak serangannya. Sayang sekali Lwekang Hong-lay-mo-li masih terpaut cukup jauh dari lawannya, dalam sepuluh jurus dia masih mampu bertahan, lama kelamaan jelas dia takkan kuat melawan. Disebelah sana Kongsun Ki sendiripun ingin benar menyudahi pertempuran ini selekasnya sekali pukul dia sampuk pergi seruling Ceng-hun, tiha2 badannya melejit kedepan, bersama si Bungkuk serempak dia menggeroyok Hong-lay-mo-li.

Dalam pada itu si Bungkuk sudah membendung jalan mundur Hong-lay-moli, begitu tiba Kongsun Ki lantas mcnggempur dengan pukulan telapak tangan-nya, dalam detik2 yang gawat dengan sekali pukul dia pasti berhasil menamatkan jiwa sang Sumoay itu, tiba2 terasa angin tajam menerjang tiba, ternyata Jilian Ceng-hun keburu mengudak tiba, serulingnya terayun menutuk Hong-hu-hiat dipunggung Kongsun Ki.

Untuk menyelamatkan diri Kongsun Ki terpaksa harus membuang diri kesamping, namun sebat sekali dia sudah membalik seraya mengayun pedang menangkis seruling Jilian Ceng-hun. Namun Jilian Ceng-hun sudah kalap, dia malah menyerang dengan nekad tanpa hiraukan jiwa sendiri.

"Jimoay," seru Kongsun Ki gusar, "jangan kau tidak tahu diri- kalau tidak jangan salahkan aku tak kenal kasihan lagi kepadumu."

Si Bungkuk tiba2 menyeringai dingin, serunya "Kongsun Ki kau tidak tega turun tangan, biar kuwakili kau saja." terdengar "Blang" dari kejauhan dia layangkan telapak tangannya, dengan telak Jilian Ceng-hun kena dipukulnya mencelat jungkir balik dan roboh sejauh setombak lebih.

Keruan bukan kepalang kejut Hong-lay-mo-li, cepat sekali si Bungkuk sudah membalik badan menghadapi dirinya dengan serangan mematikan, dari samping Kongsun Ki sekaligus menyerang dengan pukulan beracun, dapatlah dibayangkan betapa dahsyat kekuatan gempuran dua tokoh silat yang mengamuk ini. Untunglah pada detik2 gawat ini, terdengar suara "ting. ting" seperti tongkat besi menyentuh tanah, cepat sekali datangnya, si Bungkuk kaget, teriaknya:

"Siapa yang datang..." belum lenyap suaranya, tampak pendatang itu sudah muncuI, terdengar orang mendamprat: "Kurangajar, kau si Bungkuk ini berani menganiaya putriku." yang datang bukan lain adalah ayah Hong-lay-mo-li, yaitu Liu Goan-cong.

Lenyap suaranya orangnyapun tiba, kontan Liu Goan-cong ayun tongkatnya, Kongsun Ki sudali kapok karena pengalaman yang terdahulu, ter-sipu2 dia menyingkir kesamping, sementara si Bungkuk ayun telapak tangannya memapak kedepan, tongkat besi Liu Goan-cong bagai anak panah dan menerjang datang sama hebatnya, tidak menjadi kendor karena tangkisan pukulannya itu.

Keruan kejut si Bungkuk bukan main, kkas dia ubah dari pukul jadi mencengkram, dengan jurus Liong-go-kiang-sip (menjibak jenggot dimulut naga) dia berhasil menangkap ujung tongkat, berbareng jari tangan kiri mengacung dengan tenaga tenaga tutukan Hian-im-ci menyerang.

Cukup mendorong tongkatnya Liu Goan-cong bikin cekalan tangan orang tergetar lepas, lekas orang mencelat tiga tombak jauhnya teriaknya. "Liu-heng, ber henti dulu, ini salah paham-"

Bahwa sodokan tongkat Liu Goan-cong berhasil di-tahan dan dituntun kesamping sehingga tidak melalui wan diam2 Liu Goan-cong heran namun dia yakin dirinya masih bisa mengalahkan lawan. Kuatir akan keselamatan putrinya segera dia membentak:

"Salah paham apa?" tongkatnya terangkat hendak menghajar lagi

"Aku tidak tahu dia adalah putrimu, biarlah aku minta maaf saja kepadamu." Kau bersama Kongsun Ki berani kau mengatakan tidak tahu akan putriku." damprat Liu Goan-cong, Dalam pada itu, melihat si Bungkuk kelihatannya jeri menghadapi Liu Goan- cong, kuatir si Bungkuk merat meninggalkan dirinya, tanpa menunggu Liu Goan-cong menyerangnya dengan tongkat, dia angkat langkah seribu lebih dulu.

Dari nada bicara Liu Goan-cong, sibungkuk tahu bahwa hawa murni orang masih kuat dan penuh. dalam hati diam- diam dia mencelos. Kiranya dengan Hian im-ci tadi diam-diam dia membokong Liu Goan-cong, bahwa dia tidak segera lari karena ingin melihat hasil bokongan.

Sebagai seorang ahli silat, mendengar suaranya saja sudah bahwa Lwekang orang masih setingkat lebih tinggi segera dia pura2 memukul terus putar badan lari sipat kuping.

Karena memikirkan keselamatan putrinya Liu Goan- cong tidak sempat mengejar musuh, waktu dia berpaling, masih dilihatnya putrinya berputar dua lingkaran dengan langkah sempoyongan. Kiranya digencet oleh dua tenaga raksasa dua tokoh kosen, badan Hong-lay-mo-li tergetar seperti terbawa angin Ie-sus, belum kuasa mempertahankan diri, Lekas Liu Goan-cong memburu maju memapahnya, tanyanya : "Yau-ji, bagaimana kau?"

Hong-lay-mo-li menarik napas, sahutnya: "Lihay benar, untung tidak sampai terluka, Hanya, Hun-moay terluka, ayah lekas kau tolong dia."

Ilmu pertabiban Liu Goan-cong lihay, hanya meraba urat nadi putrinya dia sudah tahu memang dia tidak terluka apa2, legalah hatinya, lekas dia kesana memeriksa keadaan Jilian Ceng-hun.

Jilian Ceng-hun rebah semaput diatas tanah. Lekas Liu Goan-cong memapahnya lalu tempelkan telapak tangan kepunggungnya, sejalur hawa murni yang hangat dia salurkan kebadan orang serta mengurutnya lagi sehingga darahnya lancar. Kira2 setengah sulutan, dupa tiba2 Jilian Ceng-hun memuntahkan sekumur darah kental.

"Untung jantungmu tidak sampai tergetar luka, gampang diobati." kata Liu Goan-cong seraya menjejalkan sebutih Siau- hoan-tan ke mulut Jilian Ceng-nun. Kira2 setengah sulutan dupa lagi Jilian Ceng-hun sudah siuman dan segar kembali.

Mengingat urusan Kaypang amat penting, Liu Goan-cong lantas berkata: "Baiklah, Jay-hwi-ceng tinggal seratusan li lagi, hati2 kau jaga nona Jilian, marilah kerumah gurumu merawat kesehatannya2.

Tetap menunggang seekor kuda Hong-lay-mo-li berdua menjalankan tunggangannya pelan2, Liu Goan-cong tidak usah kembangkaan Ginkang dengan langkah lebar dia mengikuti dibelakang.

Dijalan Hong-lay-mo-li ceritakan kejadian di Kong-bing-si kepada ayahnya, Liu Goan-cong kaget dan senang, Kaget karena si Bungkuk bersekongkol dengan Kongsun Ki meluruk ke Siu-yang san, mungkin mempunyai muslihat tertentu, senang karena sahabat tuanya tidak kurang suatu apa.

Tak lama kemudian hari mulai petang, untung malam itu bulan purnama, kuda pemberian Song Kim kong kuda yang terlatih baik dimedan laga, walau jalan gunung sukar dilalui, mereka masih bisa menempuh perjalanan ditengah malam.

Jilian Ceng-hun menggelendot dipunggungnya memeluk perut Hong-lay-mo-li berpegangan kencang, lama kelamaan dia menjadi puIas, sembari jalan Hong-lay-mo-li menuturkan pengalamannya selama berpisah, demikian pula Liu Goan- cong ceritakan pengalamannya juga, bahwa dia sudah bertemu dengan Siau-go-kan-kun, orang sudah minta maaf akan kesalahannya tempo dulu dan lain2.

Keruan merah muka Hong-lay-mo-li, akhirnya dia membelokan pembicaraan tanya-nya: "Ayah, katanya kau pernah berputar ke Ko-goan untuk menyelesaikan suatu urusan, sebetulnya urusan apa?"

"Panjang kalau diceritakan urusan ini penting sangkut pautnya dengan persoalan Kaypang." sampai disini dia angkat kepala, tiba2 tertawa, katanya "Tuk terasa kita sudah tiba ditujuan, Tentang soal itu tak lama lagi kau akan mengerti, marilah bicarakan dirumah gurumu"

Tujuh tahun sejak Hong-lay-mo-li meninggalkan perguruan, baru hari ini kembali, sudah tentu girang dan sedih pula hatinya, Waktu dia angkat kepala, dari kejauhan lapat2 kelihatan sinar lampu didalam rumah gurunya, katanya senang:

"Suhu ada dirumah, entah kenapa malam selarut ini beliau belum tidur juga?" tatkala itu rembulan sudah larut kebarat, hari menjelang kentongan keempat.

Setelah membangunkan Jili-an Ceng-hun serta membantunya turun, Hong-lay-mo-li lantas mengetuk pintu. "Lho, sudah sampai?"

Jilian Ceng-hun tersentak kaget dari tidurnya, "Eh, kenapa tiada orang yang membuka pintu?"

Hong-lay-mo-li juga heran, segera dia berseru: "Suhu, aku pulang bersama ayah menengokmu," sembari berkata dia dorong pintu terus melangkah masuk, tampak lampu masih menyala diruang besar, namun tak kelihatan bayangannya?

"Lilin ini tinggal separo, jelas barusan ada orang dirumah ini. Tiada tanda2 perkelahian disini, lalu kemana mereka?

Aneh!" demikian gumam Hong-lay-mo-li. Liu Goan-cong berkata: "Kepandaian silat gurumu tiada bandingannya didunia ini, bersama Kok-ham lagi, dengan kekuatan mereka berdua tokoh sakti mana dalam dunia ini yang kuat melawan mereka? Untuk ini kau tak usah kuatir." "Yang harus kuatirkan musuh bertindak licik menggunakan cara keji main bokong. Aku hanya kuatir suhu tertipu mentah2." demikian Hong-lay-mo-li utarakan isi hatinya.

"Kau maksudkan putra mestikanya itu?" tanya Liu Goan- cong.

"Memangnya. Suhu amat benci terhadap kejahatan, sudah tidak mengakuinya sebagai putra lagi, namun betapapun Kongsun Ki adalah putra tunggalnya, Kongsun Ki pandai putar bacot, kuatirku dengan bujuk manis, Suhuku ditipunya pergi."

"Memang kemungkinan, tapi Hoa Kok-ham sudah tiba disini, urusan tentu lain, sudahlah tidak perlu banyak kuatir, yang penting carikan tempat untuk istirahat nona Jilian,"

"Ya," kata Hong-lay-mo-li, "Biar kuperiksa kamarku dulu apa masih ada? Biarlah adik Hun tidur dikamarku dulu."

Setelah menyalakan sebuah lilin Hong-lay-mo-li membuka pintu kamar yang dulu dia tinggali, tampak segala sesuatunya tetap tidak perubah, disapu bersih dan selalu terawat baik, malah kasur dan sprei baru saja diganti yang baru, agaknya suhunya sudah tahu bahwa dirinya hendak pulang, maka sudah dipersiapkan lebih dulu.

Legalah hati Hong-lay-mo-li, maka dia rebahkan Ji-lian Ceng-hun diatas ranjang, kembali Liu Goan-cong memeriksa keadaannya setelah ganti obat, dia berkata: "Keadaanmu lebih baik, dalam tiga hari ini kau boleh turun ranjang, Nona Jilian, sekarang jangan kau banyak pikiran, rebahlah istirahat dengan hati tentram, tidurlah."

Tujuh tahun sudah Hong-lay-mo-li meninggalkan kamar tidurnya ini, namun semuanya serasa serba baru dan bersih dan lengkap, tiada satu apapun yang kelihatan janggal. Se- akan2 baru kemaren dia keluar dan hari ini kembali. Akhirnya dia bercermin duduk didepan toilet, terbayang akan kehidupan masa lalu, pelan2 tangannya menarik laci, tiba2 sorot matanya tertuju kepada sebuah benda, tanpa terasa dia menjublek seketika.

itulah sebuah kotak ukiran yang terbuat dari kayu kuning, kotak mainan hasil karyanya sendiri diwaktu kecil, didalam kotak ini tersimpan dua butir kacang merah, diatas kacang merah itu masih ada bekas goresan kuku jarinya, malah dia sendiri yang memetik kacang merah ini dari atas pohon.

Entah mengapa suatu ketika kedua butir kacang merah ini tiba2 hilang bersama kotak ini, hal ini tidak menjadi perhatiannya lagi.

Tahu2 dua tahun yang lalu setelah dia berkecimpung didunia persilatan dan menjabat Bulim Bengcu, Siau-go-kan- kun mengutus anak buahnya mengantar kotak ini, waktu itu dia sudah ber-tanya2, kenapa barang miliknya yang hilang kok terjatuh ketangan Siau-go-kan-kun dan sekarang dia kembalikan sebagai kado.

Beberapa kali setiap berhadapan dengan Hoa Kok-ham selalu tak sempat dia menanyakan persoalan kecil ini. Kini Hong-lay-mo-li keluarkan kotak mas berisi kacang merah pemberian Hoa Kok-ham dulu, dia kembalikan kacang merah pada tempatnya semula, dengan termenung dia pegangi kotak dan kacang merah itu, entah apa yang sedang dilamunkan.

Disaat dia melamun itulah tiba2 didengarnya gelak tawa panjang orang dari kejauhan, gelak tawa kumandang dan berirama, Hong-lay-mo-li tersentak berdiri dan berteriak kegirangan: "Ayah, coba dengar, bukankah itu gelak tawa Hoa Kok-ham?" belum habis dia bicara didengarnya pula irama seruling yang merdu mengalun tinggi laksana musik dewata yang kumandang ditengah angkasa, gelak tawa dan seruling sama berpadu dan senada. Semula Jilian Ceng-hun sudah pejamkan mata dan layap2 hampir pulas. begitu mendengar seruling kontan dia tersentak bangun, katanya berduduk dengan mata bersinar girang: "Cici, bukankah itu suara seruling Bu-lim-thian-kiau?"

Liu Goan-cong cegah Jilian Ceng-hun turun ranjang, lalu dengan menarik tangan putrinya mereka berlari keluar, setiba diruang tamu berkerut alis Liu Goan cong, katanya berbisik: "Kukira mereka sudah akur, kenapa masih adu Lwekang?

Memangnya bentrok lagi?"

Hong-lay-mo-li juga merasakan gelak tawa dan irama seruling memang sedang adu kekuatan Lwekang, kedua pihak setanding sama kuat.

Tengah hatinya was-was. tahu2 gelak tawa dan irama seruling berhenti di-depan pintu, Tampak Siau-go-kan-kun dan Bu-lim-thian-kiau beranjak masuk sambil bergandengan ta- ngan, dari sikap mereka yang intim dan tersenyum simpul seperti kakak beradik saja, tiada tanda2 bermusuhan? Legalah hati Hong-lay-mo-li. Sekian lamanya dia berdiri menjublek, tak tahu apa yang harus dia bicarakan

Ternyata begitu melihat Hong-lay-mo-li, Siau-go-kan-kun dan Bu-lim-thian-kiau sama2 melengak, namun kedatangan Hong-lay-mo-li memang sudah dalam rabaan mereka, lekas sekali mereka sudah berseru girang: "Ah, Jing-yau, kau sudah tiba!" dan seorang berkata:

"Nona Liu, capeklah kau ditengah jalan!" sapa kata yang pendek dan simpatik masing2 mengandung perasaan hati yang berlainan Untuk pertama kali ini Siau-go-kan-kun memanggil namanya, itu pertanda bahwa segala kesalahan paham sudah dimaklumi, demikian pula Bu-lim-thian-kiau merubah panggilan untuk menyatakan bahwa dia terima menjadi teman karib saja, kata2 "letih ditengah jalan" secara tidak langsung memberi kisikan kepada Hong-lay-mo-li bahwa orang yang menolong dia dengan timpukan mutiara memang dia adanya.

Sudah tentu pertemuan segi tiga hari ini jauh di-luar perkiraan Hong-lay-mo-li, tak sempat girang atau bingung, segera dia bertanya: Kongsun Ki sikeparat itu, pernah kemari tidak?"

"Kongsun Ki?" tanya Siau-go-kan-kun heran, "Tidak pernah dia kemari?"

"Lalu pernahkah seorang tua bungkuk kemari?"

Bu-lim-thian-kiau segera menimbrung: "Maksudmu Sin-tho (bungkuk sakti) Thay Bi? Dia juga tidak kemari!"

Kini giliran Hong-lay-mo-li yang keheranan, katanya: "Lalu kemana guruku? Kukira beliau ditipu oleh Kongsun Ki."

"Besok pagi2 Kaypang akan membuka rapat besar di Siu- yang-san. Hong Hwe-liong yang diangkat sementara sebagai pejabat pangcu dengan diketahui para Tiang-lo mengirim kartu undangan meminta Kongsun-cianpwe hadir pada rapat besar mereka sebagai tamu agung, Pihak Kaypang yang merupakan sindikat terbesar diseluruh jagat kali ini menggunakan tata adat yang paling meriah dan besaran untuk mengundang beliau, terpaksa Kongsun-cianpwe tidak enak menolaknya." demikian tutur Siau go-kan-kun.

Bu-lim-thian-kiau menyambung: "Kentongan kedua tadi baru Kongsun cianpwe naik keatas gunung, kita mengantarnya sampai ditengah jalan, pulangnya karena terlalu iseng, Hoa- heng ajak menjajal Lwekang, tak kira kalian sudah tiba disini, Kalau satu jam kalian datang lebih pagi tentu bisa bertemu dengan gurumu."

Legalah hati Hong-lay-mo-li, namun dia merasakan dibelakang kejadian ini ada urusan yang kurang benar. "Kapan kalian tiba disini?" tanya Liu Goan-cong. "Sudah tiga hari aku berada disini, Tam-heng sih baru

kemaren." sahut Hoa Kok-ham.

"Kalian sudah bertemu dengan Hong Hwe-liong?" "Tokoh2 penting Kaypang sudah naik kegunung sebelum

aku tiba disini, sebagai orang luar, menurut aturan Kangouw

tak enak kita mencampuri urusan mereka."

"Rada janggal kalau demikian, Biasanya Kaypang paling cepat mengirim berita, apalagi hanya terpaut di-atas dan dibawah gunung saja, tentunya pihak mereka sudah tahu akan kehadiran kalian di Jay-hwi-ceng ini, Kenapa mereka mengundang Kongsun In tanpa mengundang kalian?"

"Memangnya akupun sedang keheranan akan persoalan ini, Menurut undang2 Kaypang, selamanya tak pernah mengundang orang luar hadir dalam rapat besar tokoh2 mereka, kalau mereka hendak pilih Pangcu baru dan minta sesama tokoh kosen dunia persilatan menjadi saksi, tentunya tidak pantas hanya mengundang guruku saja. Kebetulan kalian berada disini, adalah pantas kalau Hong Hwe-liong juga mengundang kalian."

"Mungkin karena Kongsun cianpwe dianggap tuan rumah disini," demikian Bu-lim-thian-kiau menim-brung. "Kita tidak diundang, sudah tentu tak enak ikut Kongsun cianpwe kesana."

"Menurut perhitunganku, kalian akan tiba dalam dua hari ini, kan lebih menyenangkan aku menunggu kalian saja disini,"

"Kabarnya ciciku berada di Kong-bing-si, apakah nona Liu bertemu dengan dia?"

"Memangnya aku ini seperti pikun. sejak tadi kan sudah harus kuberitahu kepadamu, Bukan saja aku bertemu dengan Cicimu, malah waktu datang aku mengajak seorang, kini dia sedang menunggu kau." "Siapa?" tanya Bu-lim-thian-kiau melengak, "Sudah disini kenapa tidak keluar?"

"Dia terluka, tak usah kuatir, sekarang luka2nya tidak berbahaya, Cuma belum boleh turun ranjang, lekaslah kau menengoknya, Dia berada dikamarku dulu."

Bu-lim-thian-kiau sudah membadek, maka lekas dia berlari masuk, Waktu tiba didepan pintu Bu-lim-thian-kiau sengaja batuk pelan2, terdengar suara yang amat dikenalnya bertanya: "Siapa?"

"lnilah aku." sahut Bu-lim-thian-kiau kegirangan lekas dia menyingkap kerai dan melangkah masuk tampak Jilian Ceng- hun duduk dipinggir ranjang, mukanya pucat kekuningan, biji matanya yang bercahaya berkaca2 tengah mengawasi dirinya dengan mendelong.

Sungguh kasihan dan sayang serta menyesal sekali hati Bu- lim-thian-kiau, katanya lirih: "Adik Hun, kau terlalu menderita, Bagaimana luka2mu?"

"Tak nyana kami masih bisa bertemu, aku kemari mencari kau, apa kau tahu?"

Mendengar ucapan sang Sumoay seperti terketuk sanubari Bu-lim-thian-kiau, tanpa sadar dia genggam kencang kedua tangannya, lalu dengan ujung lengan bajunya dia kesut air mata Jilian Ceng-hun, katanya berbisik dipinggir telinganya: "Adik Hun, akulah yang menyia2kan harapanmu, semoga selanjutnya aku bisa menambal kekuranganku dulu."

Kalau didalam kamar Bu-lim-thian-kiau dan Jilian Ceng-hun sedang dimabuk asmara, demikian pula Siau-go-kan-kun yang berhadapan dengan Honglay-mo li tengah berpandangan, banyak perkataan yang perlu mereka biearakan, namun tak tahu dari mana mereka harus mulai.

Tiba2 Liu Goan-cong berkata dengan tertawa: "Sekarang sudah lewat kentongan tiga, sudah saatnya kalian berangkat." Semula Hong-lay-mo-li melengak, Tapi Liu Goan-Cong lantas menambahkan: "Bukankah kau kemari karena persoalan Kaypang?"

Hong-lay-mo-li tersentak sadar, katanya "Benar, rapat Kaypang besok pagi2 dibuka, biarlah kita jadi tamu yang tak diundang saja, sekarang memang harus berangkat."

"Bukan kita, namun hanya kalian saja" ujar Liu Goan-cong tertawa, "aku masih perlu memeriksa luka2 nona Jilian sekali lagi, kalau tidak menguatirkan baru aku bisa menyusul." yang benar dia sengaja memberi kesempatan kepada Siau-go-kan- kun untuk menemani putrinya.

Merah muka Hong-lay-mo-Ii, katanya: "Kalau begitu, biar kita berangkat dulu. Ayah kau harus lekas datang lho!"

Bunga salju sedang beterbangan diangkasa, hawa semakin dingin, namun hati kedua muda mudi ini justru sedang membara hangat, Watak Siau-go-kan-kun biasanya memang terlalu latah, namun berdampingan untuk pertama kalinya dengan sang pujaan, entah kenapa sikapnya jauh berbeda, setelah jauh mereka menempuh perjalanan, baru dia berhasil menemukan alasan untuk bicara:

"Jing-yau, apa benar kau kemari lantaran persoalan Kaypang melulu? Jadi kau sudah bertemu dengan Bu Su-tun dan Hun Ji-yan."

"Disamping untuk menemui Suhu, supaya beliau menghukum putranya yang durhaka dan khianat, sekaligus bantu Bu Su-tun mencuci bersih nama baiknya. Apa hal ini sudah kau beritahu kepada guruku? Alamat suhu sudah kuberitahu kepadanya."

"Bu Su-tun belum pernah kemari, namun kejadian yang menimpa dirinya sudah kusampaikan kepada gurumu" "Apakah Suhu bilang hendak bantu mencuci bersih nama baiknya?"

"Kita percaya kepada Bu Su-tun, sayang tidak punya bukti, bagaimana mungkin mencuci nama baiknya? Dan lagi ini persoalan intern pihak Kaypang sendiri, orang luar tak boleh mencampuri!"

"Kalau bukan melulu persoalan intern bagaimana? Aku justru punya bukti."

"Apa?" Siau-go-kan-kun kaget, "Apakah untuk merebut kedudukan ini Hong Hwe-liong berintrik dengan musuh luar? Kau punya bukti apa?"

Maka berceritalah Hong-lay-mo-li tentang pengalamannya ditengah jalan serta jelaskan hasil analisa menurut kesimpulannya.

"Ada kejadian ini?" Siau-go-kan-kun kaget, "kalau begitu Hong Hwe-liong benar2 berintrik dengan musuh?"

"Begitulah, kejadian yang kualami merupakan bukti bahwa semua kejadian ini memang se-olah2 sudah direncanakan lebih dulu."

Setelah membicarakan urusan Kaypang, kini rasa kikuk kedua belah pihak sudah semakin tawar, pembicaraan mereka semakin lancar dan intim.

Berdebar2 jantung Hong-lay-mo-li waktu melihat Siau-go- kan-kun mengawasinya dengan senyuman melamun, tanyanya lirih: "Kau tertawa apa?"

"Sungguh menggelikan dulu aku tidak tahu bahwa kau adalah teman baik Hun Ji-yan, tak nyana bahwa hari kedua kaupun datang ke rumahnya."

"Kalau kau tahu?"

"Aku tidak akan pergi ter-gesa2, sampai namapun tidak kutinggalkan Karena ketergesa2ku itu, sehingga tertunda bertahun2 kemudian baru kita bertemu muka. Agaknya takdir memang sudah menentukan."

"O, jadi waktu itu kau sudah tahu tentang diriku dan mencariku?" tanya Hong-lay-mo-li,

"Sejak lama aku tahu akan dirimu, Lalu sejak kapan kau tahu tentang diriku?"

"Waktu dirumah Hun Ji-yan itulah, untuk pertama kali aku mendengar namamu. Kau tidak meninggalkan nama, namun orang banyak sudah menduga akan dirimu."

"Kalau begitu aku lebih dulu tahu akan dirimu dari pada kau tahu akan diriku."

"Aku tahu sejak lama kau sudah menemui ayah-ku." "Lebih lama dari apa yang kau tahu, sebelum bertemu

ayahmu, dari gurumu aku sudah tahu bahwa kau adalah nona cilik yang berwatak keras, pintar dan nakal"

"Lho, jadi kau sejak lama sudah kenal guruku dan pernah tinggal dirumahnya?"

"Malah dari gurumu aku mendapat sebuah benda tanda mata. Belakangan benda ini kuberikan kepadamu sebagai kado, kau merasa aneh bukan?"

Hong-lay-mo-li tertawa berseri, dia keluarkan kotak mas itu serta membukanya, katanya sambil mengambil kedua butir kacang merah itu: "O, jadi begitu, memangnya aku sedang heran, mana mungkin kacang merah mainanku sejak kecil terjatuh ketanganmu, Darimana kau bisa menemukannya?

Aku sendiri sudah lupa kapan kedua kacang ini hilang."

"Suatu hari aku membalik2 buku dikamar buku gurumu, tak sengaja aku temukan didalam sela2 lemari. Di saat aku menimangnya gurumu masuk, dia tahu kotak kayu bikinanmu dulu, kacang didalamnya adalah petikanmu waktu kau berumur tujuh tahun dan dipondong diatas pundaknya. Karena sepasang kacang merah ini menimbulkan seleranya bercerita. Malam itu secara panjang lebar dia menceritakan tentang dirimu kepadaku, Katanya putra satu2nya yang dia miliki menyeIeweng, maka hanya kau saja yang paling disayangnya.

Dia harap kita berkenalan maka kacang merah itu dia berikan kepadaku, untuk tanda bukti menemui kau. Kotak kayu itu dia tinggalkan didalam kamarmu. Katanya seluruh barang didalam kamarmu harus tetap seperti sedia kala, untuk mengenang kembali dirimu."

Ber-kaca2 air mata Hong-lay-mo-li, katanya: "Begitu sayang Suhu kepadaku, entah bagaimana aku harus membalas budinya."

"Kebaikannya terhadapku, akupun tak tahu cara bagaimana membalasnya. Tentunya kau pun men-gerti, kedua kacang merah ini dia berikan kepadaku. betapa besar arti kedua kacang merah ini didalam sanubariku!"

Merah muka Hong-lay mo-li, katanya lirih: "Aku mengerti." Tanpa merasa kedua tangan mereka saling genggam,

mereka berpandangan dengan mesra, tiba2 Siau-go-kan-kun

tertawa pula.

"Apa pula yang kau tertawakan?"

"Aku geli akan kebodohanku dulu, kenapa tidak bisa memahami hatimu, sampai terjadi banyak peristiwa yang kurang menyenangkan-" habis berkata kembali dia bergelak tawa sepuas hatinya,

"Sssst." Hong-lay-mo-li lekas menghentikan tawa-nya. "Jangan keras2, sudah hampir sampai dipuncak." Waktu mereka angkat kepala, memang bayangan orang banyak sudah kelihatan diatas puncak sana. waktu itu sudah menjelang pagi, orang2 Kaypang sedang sibuk menyempurnakan segala keperluan untuk rapat besar pagi2 nanti, sebagai Pang terbesar di Ka-ngouw, mereka kira takkan ada orang luar yang berani bikin onar di rapat besar mereka, maka penjagaan tidak begitu keras.

Begitulah dengan mengembangkan Ginkang tingkat tinggi, beberapa murid2 Kaypang yang berjaga disepanjang jalan, tiada satupun yang melihat bayangan mereka.

Saat mana sudah mendekati puncak, Hong lay-mo-li tak berani sembarangan bicara, maka dia gunakan ilmu mengirim gelombang suara panjang bicara dengan Siau-go-kan-kun: "Bagaimana kita harus bertindak?"

"Bertindak saja menurut situasi." sahut Siau-go-kan-kun, pembicaraan mereka berlangsung menggunakan ilmu mengirim suara gelombang panjang.

Diatas gunung ada sebuah lapangan datar berumput yang luas, diatas lapangan berumput ini tampak bayangan orang penuh sesak ber-jubel2, jelas dilapangan berumput inilah rapat besar Kaypang akan diadakan.

Siau-go-kan-kun tarik Hong-lay-mo-li menyelinap sembunyi dipucuk pohon raksasa yang berdaon rindang, jarak pohon yang terletak ditengah hutan ini kira2 masih tiga li, namun dari tempat ketinggian ini mereka bisa saksikan keadaan seluruh arena rapat besar ini dengan jelas.

Semakin lama orang semakin berdatangan dan semakin sesak pula tanah berumput itu, tak lama kemudian fajar menyingsing sang surya sudah keluar dari peraduannya memancarkan cahayanya yang gilang gemilang, kabut tipis dipuncak gunung semakin menipis.

Maka terdengarlah "Tong, tong, tong" tiga kali tambur disusul "Tang, tang, tang" tiga kali gembreng ditabuh, itulah pertanda bahwa rapat besar ini dibuka. seluruh anak murid Kaypang yang hadir serempak bersorak gembira, suaranya bagai guntur menggelegar sehingga puncak gunung ini serasa bergetar.

Dari pucuk pohon dikejauhan Hong-lay-mo-li memandang kegelanggang rapat dengan seksama, tampak ditengah2 lapangan rumput terdapat sebuah panggung batu, disana berdiri seorang pengemis berusia lima puluhan, jambang bauknya kaku lebat, Hong-lay-mo-li kenal orang ini adalah Hong Hwe-liong adanya dibelakang Hong Hwe-liong ada tempat bagi tamu, orang yang berdiri itu adalah gurunya Kongsun In.

Tujuh tahun Hong-lay-mo-li tak pernah melihat gurunya lagi, kini dari kejauhan dia melihatnya rasanya rindu sekali, maka sorot matanya tidak pernah beralih dari bayangan gurunya. Waktu dia melihat jelas, kiranya jenggot dibawah kedua dagu gurunya sudah memutih uban. beberapa jalur rambutnya sudah kelihatan uban pula, badannya pun sudan kelihatan rada loyo dimakan usia tua.

Diam2 dia membatin: "Suhu sebaya dengan ayah, namun kelihatannya lebih tua. Tentunya dia menguatirkan kebejatan putranya dan merindukan diriku, Suhu hanya punya seorang keturunan, kalau Kongsun Ki muncul, perlukah aku membongkar kedoknya secara terbuka."

Tengah Hong-lay-mo-li menduga2, seluruh gelanggang sunyi senyap, ternyata Hong Hwe-liong sudah naik kepanggung batu, dia mulai dengan pembukaan katanya.

Terdengar suara Hong Hwe-liong rada gemetar, namun kata2nya kalem: "Suatu duka cita bagi Pang kita, bahwa pada bulan tiga yang lalu Lo-pangcu telah mangkat mendahului kita, Semasa pangcu hidup beliau belum menentukan ahli warisnya, sebelum ajal beliaupun tidak meninggalkan pesan. Maka atas prakarsa para Tianglo dan beberapa saudara seperguruan, hari ini aku mengumpulkan para murid tingkat kantong lima keatas untuk mengadakan rapat besar Pang kita, untuk memilih seorang pangcu baru yang benar2 menghayati sanubari kita bersama."

Dari atas pohon Honglay-mo-li melihat jelas, muka Hong Hwe-liong rada kurus dan pucat, waktu bicara bukan saja suaranya gemetar, sikapnyapun seperti takut2 dan menahan derita.

Tengah Hong-lay-mo-li menduga2 melihat keadaan Hong Hwe-liong yang mencurigakan ini, tiba2 Siau-go-kan-kun berbisik dipinggir telinganya: "Agaknya Hong Hwe-liong menderita luka dalam yang sulit diketahui orang."

Dari ayahnya Hong-lay-mo-li ada sedikit mempelajari ilmu pertabiban sebagai seorang ahli silat lagi, kalau tadi dia tidak berani berkesimpulan, kini setelah mendengar bisikan Siau go- kan-kun, lebih besar keyakinannya bahwa kecurigaannya memang beralasan. 

Dalam pada itu, suara menjadi ribut diseluruh gelanggang oleh percakapan orang2 Kaypang, namun tiada murid Kaypang yang tahu bahwa Hong Hwe-liong sebenarnya terluka dalam, maklum yang paling mereka perhatikan adalah memilih Pangcu baru, maka suara dari berbagai penjuru se- olah2 berlomba saja:

"Hong-hiangcu adalah murid tertua Lo-pangcu, beberapa tahun belakangan ini, dialah yang bekerja mati2an membantu Lo-pang-cu, kini Lo-pangcu sudah meninggal adalah pantas kalau dia yang mewarisi kedudukan ini."

"Hong-suheng, memang Lo-pangcu tidak menunjuk langsung pilihannya, karena beliau keburu jatuh sakit yang benar kita sama tahu, biasanya dia amat penujui dirimu-"

"Benar, ada kau yang mewarisi kedudukan ini, adalah paling cocok, kau tidak usah menolak lagi," Hong Hwe-liong angkat tangan memberi tanda supaya hadirin tenang, katanya: "Kaypang adalah Pang terbesar diseluruh jagat, maka jabatan berat dan kedudukan tinggi ini harus dijabat seseorang yang benar2 berbakat. Aku ini cetek pengalam otak tumpul, bahwa membantu kerja Lo-pangcu adalah tugas rutin, bilamana aku yang harus menjabat Pangcu ini, betapapun aku tidak berani terima, harap kalian jangan ribut. dengarkan penjelasanku.

Soal ahli waris Pangcu, Cu tianglo pernah merundingkan dengan aku, jikalau kalian tiada calon pilihan yang tepat, biarlah kita saja yang mencalonkan dia, orang ini tanggung sepuluh lipat lebih unggul dari aku."

Seluruh hadirin melengak dan merasa diluar dugaan, Hong- lay-mo-li sendiripun merasa was2, nada bicara Hong Hwe- liong amat serius, jelas bukan pura2. Kejap lain hadirin menjadi ribut saling terka, malah ada murid Kaypang yang kelepasan omong menyebut nama "Bu Su-tun"

Seketika berubah air muka Hong Hwe-liong, katanya rawan. "Maksudmu Bu-sute bukan? Sayang..."

Belum habis dia bicara, seorang pengemis tua dibeIakangnya tiba2 tampil kedepan seraya angkat tinggi Pak- kau-pang ditangannya, bentaknya dengan suara keren: "Dilarang menyebut nama murid murtad itu. Keparat itu berkhianat dan rela tunduk kepada musuh mendurhakai leluhur lagi, adalah pantas dia diusir dari perguruan, hukuman yang cukup setimpal bagi perbuatannya, apa pula yang harus dibuat sayang? Hong-su-tit, waktu menjatuhkan hukuman tempo hari, kau sendiri yang melaksanakan undang2 Pang kita, Kenapa kau masih menyebutnya Sute segala?"

"Ya, siautit kelepasan omong, Silakan Cu-susiok saja yang pimpin rapat ini dan mencalonkan Pangcu yang baru."

Pengemis tua yang marah2 ini bukan lain adalah adik seperguruan ex Pangcu Siang Gun-yang, satu diantara tiga Tianglo Kaypang yang sekarang masih hidup sehat, dikalangan Kangouw dia dijuluki Ci-sa-so-bing-ciang Cu Tan-ho. diantara yang hadir dalam rapat besar ini adalah Cu Tianglo Cu Tan-ho yang punya tingkat kedudukan paling tinggi, Maka seluruh hadirin terpaksa harus tunduk dan menghormatinya.

Sejak Bu Su-tun diusir dari perguruan murid2 Kaypang tingkat kantong lima semua sudah tahu, tapi yang tahu seluk beluk latar belakangnya hanya sedikit orang saja.

Sudah tentu orang orang yang biasanya mengenal martabat dan karakter Bu Su-tun amat menyangsikan tuduhan dan keputusan ini, tapi kebanyakan orang sama mengira Bu Su-tun memang gila pangkat kemaruk harta, sehingga dia rela menjadi pejabat negeri Kim.

Oleh karena itu dengan tampilnya Cu Tan-ho, maka tiada orang yang berani menyinggung nama Bu Su-tun lagi.

Kini suasana kembali tenang, hadirin sama ingin tahu siapa calon yang hendak diajukan Cu Tan-ho untuk menduduki jabatan Pangcu mereka.

Hong-Iay-mo-li sendiripun sedang keheranan, didalam keributan tadi, dia sudah melihat sikap Hong Hwe-liong terhadap Bu Su-tun, naga2nya masih mempunyai rasa persaudaraan sebagai sesama perguruan.

Setelah berpikir sebentar Cu Tan-ho yang masih berdiri dipanggung herkata: "Hong-sutit, rapat ini kau yang memimpin silakan kau saja yang perkenalkan Calon Pangcu kepada hadirin."

Kongsun In yang berada ditempat tamu sudah merasakan bahwa Hong Hwe-liong terkena bokongan luka2 dalam, tapi luka2 apa, sampai dimana beratnya, diapun tidak bisa merabanya dengan pandangan mata saja, Maka diam2 dia berpikir. "Mungkinkah karena tahu luka2nya cukup berat kemungkinan bisa cacad maka Hong Hwe-liong merelakan kedudukan ini kepada orang lain?"
*** ***
Note 25 oktober 2020
Cersil terbaru hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 39"

Post a Comment

close