Pendekar Latah Bagian 20

Mode Malam
 
Bagian 20

Sama2 memiliki kepandaian silat yang tiada taranya, yang seorang gelak tawa, yang satu lagi bertangisan dengan sedihnya, sudah tentu menjadi suatu adegan yang amat kontras.

Tapi siapapun tiada yang merasa lucu dan geli, Hek-pek- siu-lo dan Khing Ciau lekas mendekap telinga, meski kuping sudah tertutup rapat, namun tawa dan tangis kedua orang ini masih menggetar kuping mereka sampai mendengung.

Semakin tinggi nada tawanya, semakin pilu juga tangisnya, daon pohon sama rontok, burung sama terkejut terbang ke- mana2. Betapa pilu dan terketuk sanubari Hong-lay-mo-li, hampir saja air matanya ikut bercucuran.

Mendadak Bu-lim-thian-kiau menyeka air mata, katanya menghela napas: "Siau-go-kan-kun, kepandaian silat dan ilmumu memang lebih unggul dari aku, takdir melahirkan kau sebagai bangsa Han, dengan bekal apa aku harus berebutan dengan kau? Ya, sudah-lah, permainan catur ini aku tidak bisa melanjutkan, biar aku mengalah saja, semoga kau baik2 terhadapnya."

Mendengar ucapannya ini kuatir orang melarikan diri lekas Khing Ciau berseru kepada Hong-lay-mo-li: "Liu Lihiap, bangsat itu hendak lari? Lekas kau cegat dia. Eh, Liu Lihiap, kenapakah kau?" Dilihatnya Hong-lay-mo-li berdiri mematung dengan air mata bercucuran, terang orang tiada maksud hendak mencegat, se-olah2 tidak mendengar seruan Khing Ciau lagi. Sudah tentu Khing Ciau tidak habis mengerti, namun setelah tertegun sebentar, lapat2 diapun sudah dapat meraba sebagian.

Kalau Khing Ciau tidak paham apa arti yang dikatakan Bu- lim-thian-kiau, Hong-lay-mo-li sebaliknya terketuk sanubarinya, Bu-lim-thian-kiau menyadari dirinya terang takkan ada harapan, maka dia rela mengundurkan diri mengalah kepada Siau-go-kan-kun. Apa yang dia katakan, "Takdir menentukan kau dilahirkan sebagai Bangsa Han" merupakan titik tolak dari keputusannya, titik ini pula yang merupakan vonis bagi dirinya pula, sehingga dia tidak akan menang berkompetisi dengan Siau-go-kan-kun.

Sudah tentu Siau-go-kan-kun juga paham dengan apa yang dikatakan, dasar angkuh dia malah semakin murka: "Siapa sudi kau mengalah?" tatkala itu dia sedang menyerang gencar dengan bernafsu, dalam waktu singkat tidak mungkin mengendalikan diri menarik serangannya, maka terdengarlah "plok", kipas lempit Siau go-kan-kun dengan telak mengetuk pundak Bu-lim-thian-kiau.

Tepukan ini menggunakan Jiong-jm-hoat yang peranti menutup jalan darah, namun Bu-lim-thian-kiau juga ahli menggunakan kepandaian memutar balik Hiat-to, meski Hiat- to tidak tertutuk sampai buntu, tapi tepukan ini cukup membuat badannya kesakitan, "Huuaaah!" kontan mulutnya menyemburkan darah.

Tanpa kuasa badannya terhuyung tujuh delapan langkah, katanya tertawa rawan: "Bagus, Siau-go-kan-kun, kau tidak sudi berdiri jajar bersamaku dalam dunia ini, marilah maju renggutlah jiwaku! Kau memang ga-gah, pendekar besar, hayolah maju!" disaat dia memuntahkan darah, tanpa sadar Hong-lay-mo-Ii menjerit kaget. Siau-go-kan-kun berpaling, melihat mimik Hong-lay-mo-li yang terkesima kaget, seketika diapun me-longo, Dikiranya Hong-lay-mo-li lebih mencintai Bu-llim-thian-kiau, seketika pedih dan pilu hatinya tidak kalah dari Bu-lim-thian-kiau!

Sudah tentu dia lebih mengetahui bahwa kepandaian Bu-lim- thian-kiau tidak lebih asor dari dirinya, orang sengaja mengalah kepada dirmya, karena putus asa dan patah hati, sehingga dirinya bisa mengenainya.

Sebagai tokoh yang angkuh, melihat sikap dan mimik Hong-lay-mo-li lagi, sudah tentu dia tidak sudi menamatkan jiwa orang dalam situasi seperti ini.

Se-konyong2 terpikir olehnya: "Kalau benar Bu-Iim-thian- kiau hendak bantu Kim mencaplok Song, persoalan asmara merupakan urusan kedua, kenapa pula dia rela aku membunuhnya?"

Dengan sorot matanya yang dingin Bu-lim-thian-kiau menyapu pandang kearah Hong-lay-mo-li, terakhir tertuju pemuda, Siau-go-kan-kun, katanya dingin: "Hoa Kok-ham, kalau kau tidak mau bunuh aku, maaf kalau aku tidak melayanimu lebih lanjut!" habis kata2nya, maka kumandanglah irama serulingnya ditengah alunan lagu serulingnya yang sedih inilah Bu-lim-thian-kiau melayang turun gunung.

Dengan hambar dan seperti kehilangan apa2, Hong-lay mo- li antar bayangan orang menghilang ditelan hutan, Mengawasi bayangan orang Siau-go-kan-kun sendiripun berdiri menjublek tak bergerak., sesaat lamanya baru pelan2 dia berpaling dan bentrok dengan sorot mata Hong-lay-mo-li, seketika hatinya gundah seperti gelombang pasang yang naik turun, pilu, rawan sama mengetuk sanubarinya dan tak tertahan lagi kesedihannya. Lekas Hek-pek-siu-lo maju menghadapi kepada majikan, katanya: "Syukurlah dengan kepandaian sakti Cukong berhasil mengalahkan Bu-lim-thian-kiau yang kenamaan dari negeri Kim."

"Tidak," sahut siau go-kan-kun, "Bukan aku yang mengalahkan dia, malah dia yang mengalahkan aku! Dia, hanya badannya saja yang terluka"

Hek-pek-siu-lo seperti mengerti tapi tidak paham, dengan melongo mereka awasi majikannya ini. Sudah tentu mereka takkan bisa meraba perasaan Siau-go-kan-kun saat ini? Hoa Kok-ham sendiri merasa hatinya yang terluka, dan luka2 hati ini jauh lebih berat dari luka2 badan Bu-lim-thian-kiau, karena dia merasa didalam arena asmara dirinya kena dikalahkan oleh Bu-lim-thian-kiau.

Sudah tentu Hong-lay-mo-li paham akan ucapan Hoa Kok- ham, hatinyapun amat bingung, bahwasanya kepada siapakah hati kecilnya berkiblat, soal ini masih sulit dia putuskan.

Tidak mungkin dia serahkan pilihannya kepada Siau-go- kan-kun, mengakui kemenangannya, Setelah menenangkan hatinya, segera dia tampil kedepan, katanya: "Hoa Tayhap, hari ini beruntung bertemu disini, terima kasih akan hadiahmu dulu."

Sinar rembulan yang remang2 membuat air muka Hoa Kok- ham kelihatan pucat, dengan suara getir berkata: "Buat apa masih menyinggung hadiah itu? Haha, haha, ai!" suaranya pilu, tawa atau tangis sulit dibedakan!

"Hoa Tayhiap, Hoa Tayhiap..." sulit Hong-lay-mo-li membuka kata.

"Kalau tahu akan hari ini, kenapa harus ada tempo dulu? ini kumaksudkan aku sendiri! Liu lihiap, kau sudah mendapatkan pilihanmu, akupun hanya bisa memberi selamat saja kepadamu Tapi maaf aku tidak bisa ikut bersuka-ria bersama kalian, pertemuan kami hari ini kukira terlalu berkelebihan." Hong-lay-mo-li maklum dan dapat menerima perasaan hati Siau go-kan-kun, tapi kata2nya ini bagi pendengaran Hong- lay-mo-li amat menusuk perasaan, batinnya: "Kau ingin apa yang kulakukan? Memangnya aku harus segera sumpah setia dan mengikat jodoh dengan kau? Kecuali kau, memangnya aku tidak boleh punya teman karib yang sehaluan dan sepandangan?"

Tapi didalam keadaan rawan seperti ini, sudah tentu Siau- go-kan-kun tak bisa menggunakan otak dingin untuk memikirkan segala tetek bengek, apakah ucapannya tadi melukai hati orang? Yang terpikir dalam lubuk hatinya adalah: "Hatinya sudah dia serahkan kepada orang lain, buat apa aku tinggal lama2 disini? Menambah kedukaan hati belaka!" setelah melirik sekali lagi kepada Hong-lay-mo-li segera dia menghampiri Tang-hay-liong dan berkata: "Tang-wan Cianpwe, jenazah Ko-gwat Taysu, harap tolong kau bereskan!"

Lekas Hong-lay-mo-li berteriak: "Hoa Tayhiap, harap tunggu sebentar, ada sebuah hal ingin kutanya kepadamu."

Pakaian Hoa Kok-ham me-lambai2 tertiup angin, badannya melesat turun laksana anak panah, dalam sekejap mata dirinya sudah tiba ditengah gunung dari kejauhan dia kirim suara dengan gelombang panjang:

"Aku sudah tahu apa yang ingin kau tanyakan? Ayahmu bukan Jian-liu-cengcu Liu Goan-ka, tapi seorang Hwesio di Tay-soat-san. Kini ilmu silatnya sudah pulih, sedang mengembara kemana2 mencari jejakmu. Lekas atau lambat kalian ayah beranak bakal bertemu dan kumpul pula, Mengenai Hwesio tua ini, teman baikmu itu, mungkin tahu lebih banyak dari aku, boleh kau tanya kepadanya saja."

Tergetar hati Hong-lay-mo-li, sejak mendengar cerita Jilian Ceng-sia, lapat2 dia sudah merasakan bahwa Hwesio tua ini pasti ada hubungan pribadi dengan dirinya dari mulut Hoa Kok-ham kini dia mendapat tahu kabar ayahnya yang sesungguhnya, sudah tentu hatinya senang dan haru, ingin sekali tahu lebih banyak tentang keadaan ayahnya.

Kalau mau Ginkang-nya tidak lebih rendah dari Siau-go- kan-kun, tapi dalam keadaan serba runyam ini, tak enak dia pergi mengejar Hoa Kok-ham dan tanya kepada dia.

"Cukong," tiba2 Hek-pek-siu-lo berteriak berbareng, "Tunggulah kami!" bagai terbang ter-gesa2 merekapun mengejar turun gunung.

Tang-hay-liong menghela napas, katanya: "Kedua orang ini sama2 berwatak angkuh, siapa salah siapa benar masih sulit diketahui. Liu Lihiap kaupun tak perlu bersedih, masih ada persoalan yang harus lekas kami bereskan, Marilah kita kebumikan dulu jenazah Ko-gwat siansu dan yang lain2."

"Sebenarnya apakah yang telah terjadi?" tanya Khing Ciau, "Apakah benar Bu-lim-thian-kiau yang membunuh Ko-gwat Siansu?"

Hong-lay-mo-li sendiripun dirundung kecurigaan, tanyanya: "Tangwan-cianpwe, apakah malam ini kau bersama Hoa Tayhiap? Bagaimana peristiwa ini bisa terjadi, sukalah kau menjelaskan."

"Marilah sambil jalan kuterangkan." ujar Tang-wan Bong "Aku datang lebih dulu dari kalian, tapi bukan bersama Hoa Tayhiap, Malam ini Hoa Tayhiap pergi ke gedung Gui Liang- seng mencari kabar, maksudnya sebelumnya sudah kuketahui Liu Lihiap dia pergi kesana menyerempet bahaya demi kau."

"Apa, demi aku?" tanya Hong-lay-mo-li keheranan.

Tang-hay-liong manggut2 katanya lebih lanjut: "Dari bantuan Li-pangcu dari Kaypang sekte selatan, Hoa Kok-ham mendapat tahu bahwa Gui Liang-seng mengutus anak buahnya untuk meringkus Khing-kong-cu dan kau. Segera Hoa Tayhiap utus kedua pembantunya itu keluar kota, berusaha menolong kalian, namun dia sendiri masih belum lega hati, maka seorang diri langsung dia menyelundup keistana untuk mencuri berita, bila perlu hendak meninggalkan surat peringatan kepadanya.

Aku sendiri belum jelas bagaimana dia bisa bertemu dengan Bu-lim-thian-kiau disana. Kami berpisah dikediaman Li-pangcu, langsung aku menuju ke Ko-gwat-am untuk menunggu kabar baik-nya. Ko-gwat siansu adalah teman baikku sejak dua puluh tahun yang Ialu, tak nyata waktu aku tiba disini dia sudah meninggal dicelakai orang!"

Hong-lay-mo-li merasakan kejanggalan dalam ceritanya ini, tanyanya: "Jadi waktu berada diistana Gui Liang-seng, Hoa Tayhiap melihat bayangan orang yang berkepandaian silat tinggi itu, persoalan jadi sulit diraba, apakah benar dia Bu-lim- thian-kiau, lalu siapa pula pembunuh Ko-gwat Siansu, tak mungkin bayangan yang dia lihat diistana Gui Liang-seng itu. Bu-lim-thian-kiau hanya satu, tidak mungkin dalam waktu yang sama dia bisa melakukan dua urusan didua tempat yang jauh tempatnya."

Tang-hay-liong menghela napas, katanya: "Malah kebalikannya, jikalau benar bayangan itu adalah Bu-lim-thian- kiau, maka pembunuh Ko-gwat Siansu pasti adalah sesama orangnya."

"Bagaimana mungkin?" Hong-lay-mo-li tak habis mengerti. "Waktu aku tiba didepan Ko-gwat-am, mendadak kulihat

sesosok bayangan terbang bagai burung melesat keluar dari

dalam biara, sungguh memalukan, bagaimana perawakan dan bentuk muka orang itu, sedikitpun tidak kulihat jelas. Aku tahu jelas kepandaian Ginkang Ko-gwat Siansu terang tidak setinggi itu, disaat aku kaget dan melongo, kebetulan Hoa Kok-ham memburu datang, tanpa menyapa kepadaku, dia lantas lari masuk memeriksa kedalam biara, baru saja aku hendak ikut masuk, tahu2 Hoa Tayhiap sudah lari keluar pula, katanya: "Semua penghuni Ko-gwat-am sudah mati seluruhnya, kejar musuh lebih penting!" tak sempat banyak bicara segera dia mengejar kepuncak gunung, Sudah tentu kagetku bukan main, lekas aku masuk meneliti keadaan, bagaimana kematian mereka kalian sendiri sudah melihat. Aku tidak tahu dengan cara apa musuh membunuh Ko-gwat Siansu, maka aku tidak berani menyentuhnya, biar nanti Hoa Tayhiap sendiri yang memeriksa dan mencari jejak pembunuhnya.

Dalam waktu sesingkat itu pembunuh itu sudah menghabisi empat jiwa orang, betapa tinggi kepandaiannya, sungguh jarang ada didunia persilatan Kuatir Hoa Kok-ham kewalahan, maka segera kususul naik kepuncak gunung."

Dingin perasaan Hong-lay-mo-li, batinnya: "Gelagatnya memang Bu-lim-thian-kiau harus dicurigai. Dulu dia pernah membuka isi hatinya kepadaku, apakah hanya ingin menipu kepercayaanku" tak terasa mulutnya tiba2 berseru: "Em, tidak mungkin, tidak benar!"

"Kenapa tidak benar?" tanya Tang-hay-liong." "Kepandaian Bu-lim-thian-kiau dan Siau-go-kan-kun kira2

setanding. Kalau benar bayangan itu adalah Bu-lim thian-kiau,

dikejar dari istana Gui-Liang-seng sampai disini, seharusnya dia menyingkir jauh dari Ko-gwat-am. Masakah ada kesempatan masuk kedalam biara membunuh orang? Apalagi Ko-gwat Siansu bukan tokoh sembarangan masakah mungkin disaat dia dikejar oleh Hoa Tayhiap masih bisa bekerja begitu leluasa!"

"Menurut keadaan memang tidak mungkin, tapi Hoa Tayhiap kenal baik Bu-lim-thian-kiau," bayangan itu melesat keluar dari Ko-gwat-am pula, kecuali Bu-lim-thian-kiau memangnya siapa lagi? Apalagi kepandaian menutup Hiat-to menggetar urat nadi dengan hawa murni adalah kepandaian tunggal Bu-lim-thian-kiau?" "Masih ada tanda tanya, kenapa dia membunuh Ko-gwat Siansu, kalau benar seperti yang dikatakan Hoa Kok-ham, Bu- lim-thian-kiau menjadi mata2 musuh, buat apa dia membunuh seorang beribadah yang tidak berdosa? Apakah karena dia sahabat baik Hoa Kok-ham? Aku curiga ada orang yang sengaja mengatur tipu daya ini menimpakan bencana kepada Bu-lim-thian-kiau."

Tang-hay-liong menghela napas, ujarnya: "Semua analisamu ini pernah kupikirkan, tapi aku sendiri juga melihat bayangan itu, setelah tiba diatas gunung disana, Hoa Kok-ham menemukan Bu-lim-thian-kiau, kejadian berlangsung dalam waktu yang singkat, kalau bayangan hitam itu orang lain, masakah dia bisa lari begitu pesat? Luput dari incaran Hoa Tayhiap, masa kah tidak konangan oleh Bu-lim-thian-kiau yang berada diatas gunung"

Untuk ini Hong-lay-mo-li tidak bisa memberi penjelasan. Berkata Tang-hay-liong lebih lanjut: "Pendek kata kejadian malam ini serba aneh dan misterius, Terus terang aku sendiripun belum bisa berketetapan, maka tadi aku terima peluk tangan saja, bukan karena dulu Bu-lim-than-kiau ada menolong jiwaku Iho!"

Begitulah tanpa terasa mereka sudah tiba didepan Ko- gwat-am, Kata Tang-hay-liong: "Marilah kita membereskan jenazah Ko-gwat Siansu, persoalan lain kita bicarakan lebih lanjut." lalu disulutnya sebuah obor, Hong-lay-mo-li dan Khing Ciau mengikuti dibelakangnya.

Seperti diketahui didalam biara ini ada empat mayat orang, Hwesio kecil dan Hwesio penjual dupa mati di Tay-hiong-po- tiam, mayatnya masih menggeletak ditempatnya tak pernah tersentuh, kata Tang-hay-liong pula: "Kedua orang ini menjadi korban dengan penasaran." Baru saja dia hendak memindah kedua mayat itu, dibawah penerangan obornya, tiba2 dia bersuara heran, Khing Ciau sedang keheranan, tiba2 didengarnya Hong-lay-mo-li berseru kejut, kedengarannya lebih takut dan jeri dari Tang-hay-liong.

Khing Ciau memandang kearah yang dituding Hong-lay-mo- li, tak terasa merinding bulu kuduknya, tanpa sadar dia berteriak dengan gemetar: "Ada setan, ada setan!"

"Kalian melihat apa?" lekas Tang-hay-liong bertanya. seketika diapun berdiri menjublek, karena apa yang dia lihat jauh lebiih aneh dan mustahil dari tanda2 yang mencurigakan dari kedua mayat ini.

Apakah yang membuat mereka kaget dan merinding?

Ternyata mayat Hwesio kelana yang tadi kaku berdiri itu kini sudah lenyap.

Berkata Hong-lay-mo-li: "Mungkinkah setelah kami berlalu, ada orang datang serta membawa pergi jenazah Hwesio kelana itu?"

"Coba kau tengok apakah jenazah Ko-gwat Taysu masih ada ditempatnya?" kata Tang-hay-liong.

Sebentar Hong-lay-mo-U pergi lalu kembali, kata-nya: "Lo- siansu masih berada di tempatnya tanpa disentuh orang." dilihatnya Tang-hay-liong sedang membungkuk badan memeriksa mayat kedua Hwesio cilik itu, maka tanyanya: "Tang-wan-cianpwe, kau temukan apa pula? Apakah kedua mayat inipun rada ganjil?"

Berkata Tang-hay-liong pelan2: "Memang rada ganjil, Mereka bukan dibunuh oleh pukulan silat, tapi terbunuh oleh racun."

"Mati keracunan?" seru Hong-lay-mo-li girang, "Jadi bukan mati karena putus urat nadinya?"

"Selamanya Losiu tidak suka menggunakan racun, tapi aku cukup paham mengenai berbagai jenis racun yang aneh2 dikolong langit ini, kedua orang ini terkena racun A-siu-lo-hoa, hal ini tidak perlu disangsikan lagi."

"A-si-lo-hoa?" ujar Hong-lay-mo-li, "aneh benar nama ini! Tentunya bukan kembang yang tumbuh di-daerah Tionggoan bukan?"

"A-siu-lo dari bahasa sangsekerta, didalam ajaran Budha A- siu-lo ini adalah gembong iblis yang bermusuhan dengan Thian-te, maka rakyat Turfan menamakan kembang ini sebagai Mo-kui-hoa."

"Jadi kembang ini hanya terdapat dlnegeri Tur-fan?" "Hanya digunung Himalaya yang terletak di Turfan saja

yang ada." tutur Tang-hay-liong, "dengan bubuk kembang ini

diracik menjadi racun, bisa membunuh orang tanpa disadari oleh korbannya ssndiri, satu jam setelah korbannya meninggal, ditengah2 alisnya baru kelihatan tanda2 hitam. Tapi berselang satu jam kemudian, tanda2 hitam ini akan hilang pula. Oleh karena itu, korban2 yang terkena racun ini sulit diketahui."

"Mari lekas kita periksa keadaan Ko-gwat Taysu, apakah diapun terkena racun ini?" bergegas Hong-lay-mo-li mendahului berlari masuk, setiba di kamar Hong-tiang, Hong- lay-mo-li lantas menyalakan pelita, dengan seksama dia periksa muka orang, namun tidak menemukan tanda2 hitam yang dikatakan Tang-hay-liong.

Berkata Tang-hay-liong dibelakangnya: "Ko-gwat Siansu memang menemui ajalnya karena getaran urat nadinya yang putus, dalam hal ini Hoa Tayhiap memang tidak salah."

Mencelos hati Hong-lay-mo-li, batinnya: "Kalau demikian, Bu-lim-thian-kiau memang harus dicurigai."

Tang-hay-liong minta pelita minyak itu terus maju menerangi muka orang serta memeriksa bagian2 lainnya dengan seksama, tiba2 dia berkata: "Aku tahu latar belakangnya sudah."

Hong-lay-mo-li keheranan, tanyanya: "Latar belakang apa yang cianpwe temukan?"

"Coba kau lihat, Lo-siansu sudah meninggal beberapa waktu lamanya, namun wajahnya masih segar bugar, cuma dipinggir Thay-yang-hiatnya ada menggumpal setitik hijau, kalau tidak diperhatikan tidak terlihat.

Dengan teliti Hong-lay-mo-li ikut memperhatikan tanyanya: "Apakah titik hijau ini ada latar belakang apanya?"

Tang-hay-long mengeluarkan sebatang jarum perak, langsung dia menusuk ketitik hijau disamping Thay-yang-hiat Ko-gwat Siansu, waktu dicabut keluar ujung jarum sudah menjadi hitam.

Terkejut girang Hong-Iay-mo-Ii dibuatnya, katanya: "Agaknya Ko-gwat Siansu juga mati keracunan? Hoa Kok- ham..."

"Perkataan Hoa Tayhiap tidak salah Ko-gwat siansu terkena racun Mo-kui-hoa lebih dulu baru dipukul dengan getaran memutus urat nadi sehingga Ki-keng-pat-mehnya pecah dan menfggal, sayang Hoa Tayhiap hanya perhatikan Iuka2nya ini, tanpa perhatikan luka2 racunnya ini."

"Menurut dugaanku," berkata Tang-hay-liong lebih lanjut setelah berhenti sebentar: "Lwekang Ko-gwat Siansu amat tangguh, meski sudah keracunan beliau belum segera mati meski kadar racun Mo-kui-hoa amat keras. Segera dia duduk samadi mengerahkan Lwe-kflng dan menghimpun hawa murni untuk mengusir racun ini, sekaligus sambil menunggu Hoa Tayhiap kembali untuk membantu.

Tak nyana sebelum Hoa Tayhiap kembali, pembunuh itu sudah datang lebih dulu, dengan kepandaian menutup Hiat-to memutus urat nadi membunuh dirinya Dasar Lwekangnya memang kuat, sebelum ajal dia sudah berhasil mengumpulkan kadar racun itu disekitar Thay-yang-hiatnya, maka darah kental yang menghitam dibagian sini lebih banyak, dan karena kadar racunnya sudah terpusat disini, maka tanda2 hitam yang seharusnya kelihatan ditengah kedua alisnya tidak terlihat lagi." sembari bicara, kembali dia menusuk kelengan Ko-gwat Siansu dengan jarumnya, darah yang merembes keluar ternyata memang normal.

"Betapa tinggi Lwekang Ko-gwat Siansu, sungguh sukar dicari bandinngannya." ujar Tang-hay-liong, "Kalau dia tidak keracunan lebih dulu, meski pembunuh itu memiliki kepandaian menutup Hiat-to memutus urat nadi yang lihay juga belum tentu dapat membunuhnya sedemikian gampang."

"Menurut dugaan Lo-cianpwe, pembunuhnya terdiri satu orang atau dua orang yang berlainan?"

"Hal ini sulit kuketahui, tapi ada satu hal sudah boleh dipastikan..."

"Hal apa?"

"Kalau bayangan hitam yang melesat keluar dari biara ini, benar adalah Bu-lim-thian-kiau, maka orang yang menggunakan racun pasti bukan dia, dalam waktu sesingkat itu tidak mungkin dia bisa bekerja sekaligus menaruh racun dan menyerang dengan pukulan sehingga beliau meninggal."

"Menutup Hiat-to dengan Lo-khi, memang kepandaian Khas Bu-lim-thian-kiau, tapi belum tentu didalam dunia ini takkan ada orang lain yang mempunyai kepandaian serupa."

"Yang terang pembunuh ini tentu memiliki kepandaian yang tidak lebih asor dari Bu-lim-thian-kiau dan Hoa Tayhiap, kalau benar memang ada orang ke-tiga, maka dia ini tentu amat menakutkan." Tiba2 Hong-lay-mo-li bertanya: "Hwesio kelana dari luar daerah itu, orang macam apakah dia, apa Tangwan cianpwe tahu?"

"Dari penuturan Ko-gwat Siansu dikatakan bahwa Hwesio ini datang dari Thian-tiok gelarannya Sukam, sudah lama mereka bersahabat. Bagaimana asal usulnya yang lebih jelas aku sendiri tidak tahu. Hwesio ini pendiam tak suka keramaian, akupun tahu dia membekal kepandaian, cuma betapa tingginya, aku sendiri belum pernah mengukurnya. Liu Li-hiap, kau curiga diakah pembunuhnya?"

"Jenasahnya menghilang secara aneh, kejadian ini harus dicurigai."

"Bukankah diapun mati keracunan?" tanya Khing Ciau. "Aku belum memeriksa mayatnya, tak berani dipastikan

lantaran apa kematiannya."

"Yang terang dia sudah mati." kata Khing Ciau pula, "aku sendiri pernah meraba jazatnya, dingin seperti es, terang sudah beberapa kejap lamanya putus napas."

Hong-lay-mo-li menepekur sekian lamanya, katanya: "Kukira dalam hal ini ada apa2 yang rada ganjil."

"Menurut apa yang kutahu, kepandaian silat dari ajaran Thian-tiok ada semacam Lwe-kang yang dapat menyumbat hidung menahan napas sekian lamanya, bukan soal sulit untuk pura2 mati sementara Tapi Hoa Tayhiap sendiri pernah memeriksa, betapa tajam pandangannya, kalau dia hanya pura2 mati, masakah bisa mengelabui dia?"

"Tangwan-cianpwe," tiba2 Hong-lay-mo-li bertanya, "waktu pertama kali kau masuk kemari, apakah kau pernah perhatikan orang ini?"

"Begitu melihat mereka bertiga sudah mati, bergegas aku masuk menengok Ko-gwat Siansu, apakah dia pura2 mati, aku sendiri belum sempat memeriksa-nya." "Tentunya Hoa Tayhiap seperti juga keadaanmu, yang paling dia kuatirkan adalah keselamatan Ko-gwat Siansu, maka dia tidak sempat memeriksa jenazah yang lain."

Tang-hay-liang tiba2 menghela napas, seperti ada apa2 yang tengah dipikirkan.

"Cianpwe ada teringat apa?" tanya Hong-Iay-mo-li.

"Tidak apa2," sahut Tang-hay-liong "namun begitu bayangan hitam itu melesat keluar aku lantas menerjang masuk. Tatkala itu Ko-gwat Siansu sudah meninggal Sukam Hwesio juga belum hilang, meski tidak tahu dia mati sungguhan atau pura2, pendek kata dia tidak mungkin adalah bayangan hitam itu.

Em, Bu-lim-thian-kiau pernah menanam budi kepadaku, tentu ada orang lain yang memboyong pergi jenazahnya, Kejadian tentu lebih rumit dan lebih aneh." mendongak melihat cuaca, lalu menyambung pula:

"Hari hampir terang tanah, Kejadian2 aneh ini justru berlangsung dalam satu malaman ini, dalam waktu dekat, memang sulit diselami, setelah peristiwa ini, akupun tak bisa tinggal disini lama2. Marilah kita bereskan jenazah Ko-gwat Sian-su."

Kebetulan didalam Ko-gwat-am ada beberapa buah peti titipan penduduk sekitarnya, maka Khing Ciau kerja sama dengan Tang-hay-liong mengeluarkan tiga buah peti mati ditaruh di Tay-hiong-po-tiam.

Setelah segala sesuatunya beres, bertanya Tang-hay-liong: "Liu Lihiap, apakah kau masih hendak tinggal beberapa lamanya di Ling-an?"

"Bersama Khing Ciau, kami ingin menemui Sin Gi-cik, Tangwan-cianpwe, bagaimana kau?" "Ltu Lihiap, jikalau tiada urusan lain, aku mohon bantuanmu menyelesaikan suatu urusan."

"Bila Jing-yau mampu, dengan senang hati pasti menyelesaikan sekuat tenagaku, silakan cianpwe katakan."

"Bicara terus terang, kedatanganku ke Kanglam ini, demi adikku kedua yang tidak becus itu." Didalam Su-pak-thian, Lam-san-hou adalah tokoh nomor dua, adik kedua yang dimaksud Tang-hay-liong adalah Lamkiong Cau.

"Karena kau menyinggung dia, perlu juga kube-ritahu satu hal kepadamu." ujar Hong-lay-mo-li, "Di Jian-liu-cheng aku pernah bertemu dengan adikmu kedua itu, dia ada sekongkol sama Liu Goanrka dan Kim Cau-gak, bukan mustahil sekarang dia sudah terima menjadi antek kerajaan Kim."

"Bukan saja dicurigai memang dia sudah kerja sama dengan gerombolan bajak di Tiangkang, begitu pasukan Kim menyerbu keselatan, mereka akan ikut berontak dan bergerak dari dalam, sekarang dia sudah angkat saudara dengan orang lain, dengan aku malah anggap orang asing yang tidak kenal."

"Siapakah Toako yang dia pandang sekarang?" tanya Hong- lay-mo-li.

"Seorang gembong iblis yang sudah lama mengasingkan diri. Aku belum berhasil menyelidikinya, aku hanya tahu dia adalah seorang Tocu dari sebuah pulau kecil diluar perairan Tiangkang, Mereka masih ada seorang Samte, namanya Hoan Thong, punya ribuan anak buah, secara langsung Hoan Thongpun menerima perintah dan terkendali oleh Toako yang tersembunyi itu.

Tanggal lima bulan yang akan datang, mereka hendak mengadakan pertemuan diatas pulau kecil itu, merundingkan cara untuk menyambut kedatangan pasukan Kim. Kabarnya gembong iblis itu tokoh yang lihay, kaum persilatan di Kanglam sama memandangnya sebagai pimpinan Bulim diperairan." Aku kuatir tenagaku seorang tidak mencukupi melawan musuh, kali ini sebetulnya aku hendak mohon bantuan Hoa Tayhiap, tak nyana belum sempat aku menyinggung hal ini, dia sudah berlalu dengan buru2." demikian penjelasan Tang- hay-liong.

"Tanggal lima bulan depan, berarti masih ada delapan belas hari lagi, kukira masih ada waktu untuk meluruk kesana." kata Hong-lay-mo-li, "Setelah aku bertemu dengn Sin Gi-cik, aku akan bantu sekuat tenagaku."

"Akupun ingin ikut." tiba2 Khing Ciau menyeletuk.

"Khing-kongcu," kata Tang-hay-liong heran, "Buat apa kau menyerempet bahaya?"

Hong-lay-mo-li tertawa, dia menjelaskan: "Biarlah dia ikut serta Lam-san-hou punya seorang musuh, adalah teman baiknya, Kemungkinan pada hari itu, temannya itu juga akan berada dipulau itu." memang Khing Ciau kangen dan menguatirkan keselamatan San San, maka dia tidak akan sia2 kesempatan untuk bisa bertemu sama dia.

Sementara itu, hari sudah terang tanah, fajar telah menyingsing, kata Tang-hay-liong: "Marilah kita memberi penghormatan yang penghabisan kali kepada Lo-siansu." setelah menyulut dupa hendak berlutut Sembahyang, tiba2 Hong-lay-mo-li berbisik: "Sst, agaknya ada orang kemari." tersipu2 ketiganya lantas cari tempat bersembunyi untuk melihat keadaan.

"Klotak" sebutir batu jatuh diundakan, itulah cara orang jalan malam untuk mencari tahu keadaan. Sebagai kawakan Kengouw Tang-hay-liong dan Hong-lay-mo-li diam saja menunggu perubahan selanjutnya.

Tak lama kemudian terdengar sebuah suara berkata: "Tidakkah kau tadi mendengar gelak tawa dan suara seruling? Tentunya Siau-go-kan-kun dan Bu-lim-thian-kiau sudah pergi jauh, Ada siapa pula dalam biara ini? Marilah masuk!"

Tang-hay-liong kenal suara ini adalah Hwesio kelana yang bergelar Sukam itu, seketika timbul amarahnya, Namun dia bersabar dulu untuk mengetahui dengan siapa dia putar balik kemari,

Suara yang lain segera menjawab: "Omong kosong, kau kira aku takut terhadap Siau-go-kan-kun atau Bu-lim-thian- kiau? Tapi majikanmu toh ingin mengadu kecerdikan tanpa menggunakan kekerasan! Terpaksa aku menuruti keinginannya. Batu tadi hanya untuk mencari tahu apakah budak perempuan itu masih berada didalam biara ini tidak?"

Belum lenyap percakapan ini, tampak dua sosok bayangan orang melayang melewati pagar tembok turun dipelataran dalam, seorang yang lain ternyata juga seorang Hwesio, dia bukan lain adalah Cutilo yang dilabrak Hong-lay-mo-li djipinggir danau itu.

"Baiklah Siau-jit Hoatong," kata Sukam, "Serahkan obat penawarmu itu."

"Kau harus berjanji membantu aku untuk membekuk budak perempuan itu lebih dulu." kata Cutilo, Sukam tertawa, katanya: "Sia-jit Hoatong, kepandaianmu tinggi, pandai menggunakan racun lagi, memangnya kau tidak mampu mengadapi seorang perempuan kecil?"

"Kau tidak tahu meski budak perempuan itu bukan lawanku, kepandaiannya lumayan juga, Racun biasa belum tentu manjur terhadap dia, kalau pakai racun jahat terus terang aku tidak tega bikin gendut seayu itu mampus secara konyol. Demikian juga Hek-pek Siu-lo, aku ingin bekuk mereka supaya rela menjadi budakku, maka kau harus bantu aku,"

"Kupandang hubunganmu dengan majlkanku, aku boleh bantu kau. Tapi kaupun harus memberi muka kepadaku, serahkan obat penawarnya, kaupun harus merahasiakan hal ini dihadapan maijkan."

"Tahulah. kenapa cerewet, setelah bertemu dengan Ko- gwat siansu baru diputuskan."

Sudah tentu Hong-lay-mo-li keheranan mendengar percakapan kedua orang ini. Batlnnya: "Kepala gundul ini minta obat penawar segala, memangnya dia hendak menolong Ko-gwat Siansu? sebagai orang beribadat, dia punya majikan segala, sungguh aneh dan janggal."

Waktu itu kedua orang sudah beranjak diundakan batu, sekilas dilihatnya tiga buah peti mati yang dijajar di Tay-hiong- po-tiam, keruan keduanya sama terperanjat.

"Celaka," seru Cutilo, "agaknya ada orang pernah kemari,"

Sebaliknya muka Sukam seketika pucat pias, tanpa bersuara ter-sipu2 dia memburu kedepan, Didepan peti mati Ko-gwat Siansu ada sebuah Lingpay, dimana ada tertera namanya, dupa yang disulut Tang-hay~liong tadi belum padam, setelah melihat keadaan yang sebenarnya ini, saking kejut Sukam sampai berdiri menjublek sekian lama, lambat laun napasnya memburu dan tiba2 dia berteriak: "Serahkan obat penawarnya kepadaku." ditengah kata2nya ini, dengan gerakan cepat dan cekatan, dia congkel paku dan membuka tutup peti mati.

Dari samping Cutilo berkata sinis: "Tak perlu pakai obat penawarku lagi! Kebetulan malah, obat penawarku ini amat berharga, lebih sukar didapat dari Mo-kui-hoa, aku sendiripun hanya punya sebutir, lumayan kusimpan saja"

"Blang" tiba Sukam lepas tangan menutup kembali tutup peti mati, Bergegas dia berlutut terus menyembah tiga kali.

Berkata pula Cutilo dari samping: "Dikolong langit ini kecuali majikanmu, tak nyana Hwesio tua inipun bisa menerima sembah lututmu, terhitung kau sudah berbakti kepadanya."

Pelan2 Sukam berdiri, kakinya melangkah setapak "Cuh" tiba2 dia berludah kearah Cutilo, bentaknya dengan beringas: "Kau menipu aku, kau bunuh Ko-gwat Siansu dengan racun paling jahat yang tidak mungkin ditolong lagi." menyusul "Wut" dia lontarkan pukulan pula.

"Tang!" genta besar di Tay-hiong-po-tiam tanpa dipukul orang tiba2 berbunyi sendiri, begitu keras bunyi genta ini sampai semua orang merasa pekak ku-pingnya, Ternyata melihat mimik Sukam yang penuh kemarahan itu, Cutilo sudah siap2, begitu Sukam memukulnya, sebat sekali dia berkelit kesamping, maka Bik-khong-ciang-lat pukulan Sukam mengenai genta besar itu, seperti seseorang memukulnya dengan palu besar.

Kebetulan Tang-hay-liong sembunyi diatas be1en-dar dimana genta itu tergantung, berhimpit dibelakang sebuah papan tulisan untuk mengalingi badannya, keruan kejut juga hatinya melihat kehebatan pukulan Hwesio kelana ini.

Semula dia mencurigai Sukam sebagai pembunuh Ko-gwat Siansu, namun setelah mendengar percakapan dan perubahan belakangan ini dia lantas berkeputusan berpeluk tangan dulu menunggu perkembangan selanjutnya, Bukan mustahil dari mulut kedua orang ini masih dapat didengar lebih banyak rahasia lagi.

Menurut perkiraan Tang-hay-liong kedua Hwesio ini pasti akan berhantam dengan sengit, tak nyana, tiba2 terdengar Sukam menjerit ngeri, serunya: "Bagus, keji benar kau menurunkan tangan jahatmu." habis kata2nya badannya sudah meloso roboh.

Berkata Cutilo tawar "Sekarang kau sudah tahu bila aku tidak omong kosong bukan?" Hong-lay-mo-li dan Tang-hay-liong sudah hendak menubruk keluar, mendengar kata2 ini mereka merendak pula, dengan terperana mereka pasang kuping lagi.

"Apa maksud ucapanmu ini?" tanya Sukam dengan napas sengal2

"Racun yang gunakan atas dirimu adalah racun Mo-kui-hoa, demikian juga racun yang digunakan kepada Ko-gwat Siansu, Orang biasa bila terkena bubuk racun ini, seketika mampus.

Tapi sekarang kau masih belum mati, coba kutanya, mengandal Lwe-kangmu sekarang, kira2 berapa lama kau kuat bertahan?"

Sukam menghirup napas, lekas dia kerahkan hawa murni untuk mencegah menjalarnya racun, setelah kira2 dan meraba2 sampai dimana kadar racun yang yang mengeram dalam tubuhnya, baru dia berkata: "Kira2 aku masih kuat bertahan satu jam lagi."

"Bagaimana Lwekang Ko-gwat Siansu dibanding kau?" "Sudah tentu lebh tinggi dari aku."

"Nah, kalau Lwekangnya lebih tinggi dari kau, tentunya tidak satu jam saja dia kuat bertahan, Dari sini dapatlah dibuktikan, meski dia terkena racun, namun kematiannya ini terang bukan lantaran kerjanya racun itu. Yang membunuhnya ada orang lain! Baik, obat penawar ini sekarang kuberikan kepadamu, seharusnya obat ini diperuntukan Ko-gwat Siansu, maka bolehlah kau percaya bahwa aku bukan menipu kau bukan? Kau sudah berjanji bantu aku membekuk genduk ayu itu, jangan kau ingkar terhadap janjimu sendiri."

Cutilo sudah keluarkan obat penawar itu dan maju mendekati Sukam, Tiba2 Sukam mencelat bangun, tidak menerima obat penawar itu, malah berteriak:

"Tunggu dulu, kau harus jelaskan kepadaku, siapakah yang membunuh Ko-gwat Siansu?" Memangnya pertanyaan ini yang sejak tadi di-tunggu2 Hong-Lay-mo-Ii bertiga, dengan menahan napas mereka pasang kuping mendengarkan jawaban Cutito. Cutilo ter- tawa2, katanya kalem: "Siapakah pembunuhnya, seharusnya kau sudah dapat menebaknya.. Meski besar dan luas dunia ini, kecuali majikanmu, siapa pula yang memiliki kepandaian setinggi ini, didalam waktu sesingkat dan cukup angkat tangan saja sudah berhasil membunuh Ko-gwat Siansu."

Pucat muka Sukam, mulutnya mengigau dengan mata mendelong: "Majikanku, majikanku?"

"Sudah tentu majikanmu, Ko-gwat Siansu terbunuh oleh kepandaian menutup Hiat-to menggetar pecah urat nadi, memangnya kau belum bisa membedakan kematiannya?"

Akhirnya Sukam menghela napas panjang, katanya: "Habislah segalanya, Ko-gwat Siansu, aku memang berdosa terhadap kau, akupun takkan bisa menuntut balas bagi kematianmu. Aku tak bermaksud membunuh kau, namun terhitung aku sudah bantu orang melaksanakan niat jahatnya terhadap kau, ingin aku menolongmu namun ini melanggar kesetiaanku lagi. Berdosa tak bisa menebusnya, terpaksa biar aku mengiringi perjalananmu saja." tampak sinar putih berkelebat "Bles" tahu2 Sukam keluarkan sebilah belati, seiring dengan habis kata2nya belati itu sudah terhujam kedalam dadanya

Cutilo amat kaget, teriaknya: "Sukam, mana boleh kau senekad ini?" saking kejutnya terlupakan olehnya bahwa dia sedang memegangi sebutir obat penawar itu, waktu dia menubruk maju menarik Su-kam, obat penawar itu jatuh kelantaj tanpa disadari.

Cutilo amat kaget, teriaknya: "Kenapa kau berbuat senekad ini?" tapi Sukam sudah menikam dada sendiri, dengan sebatang badiknya, terus menggelundung kebawah meja sembahyang. Tampak oleh Cutilo belati itu sudah amblas seluruhnya kedalam dada Sukam, tinggal gagangnya saja yang kelihatan diluar, setelah keracunan harus terluka seberat ini, meski ada obat dewa, mungkin takkan tertolong lagi jiwanya.

Lekas Cutilo membungkuk badan pikirnya hendak mencari obatnya, tiba2 terasa angin tajam menyambar dari belakang, seperti ada senjata rahasia menyerang, Lekas Cutilo kebutkan lengan bajunya, cepat sekali dilihatnya Hong-lay-mo-li dan Tang-hay-liong sudah melompat keluar dari tempat sembunyinya.

Timpukan benang kebut Hong-lay-mo-li kena di-kebut jatuh, lekas sekali pedangnya sudah menyerang tiba dengan tipu Giok-li-toh-so, sinar pedangnya laksana rantai perak menusuk kearah lambungnya. Belum lagi badan Cutilo berdiri tegak, terpaksa dengan sebelah kaki sebagai poros, sebat sekali dia putar badannya, cepat sekali tusukan pedang Hong- lay-mo-li, namun lincah pula caranya berkelit, tusukan ini tidak mengenai sasaran.

Lincah sekali tahu2 kaki Cutilo sudah melayang menendang jari2 Hong-lay-mo-li yang menyekal pedang, sudah tentu Hong-lay-mo-li tidak segampang itu kecundang, dimana dia puntir pedangnya, berbareng kebutnya mengepruk dari atas mengarah batok kepalanya.Lekas Cutilo kebutkan lengan baju yang lain mematahkan Thian-lo-hud-tim Hong-lay-mo-li.

Tang-hay-liong berpikir: "Entah Sukam sudah mati atau masih hidup, kami harus membekuk kepala gundul ini untuk dhnintai keterangannya. Kepandaian keparat ini tinggi, belum tentu Liu Lihiap menjadi tandingannya," setelah mempertimbangkan untung ruginya, tanpa hiraukan keadaan Sukam, segera dia menubruk maju bantu Hong-lay-mo-li.

Sebagai tertua dari Su-pak-thian, latihan utama kepandaian Tang-hay-liong adalah Gun-goan-khi-kang, merupakan kepandaian tunggal dalam Bulim, dimana tepukan tangannya bergerak, angin panas segera menerpa kedepan.

Lekas Cutilo balas menangkis sekali, kedua pihak sama tergeliat limbung. Keruan Cutilo amat kaget, meski dia membawa bubuk racun Mo-kui hoa, namun obat penawarnya sudah hilang, rangsakan kebut pedang Hong-lay-mo-li amat gencar, pukulan Tang-hay-liongpun hebat luar biasa, kalau dia tumpukan bubuk racun ini, celaka bila tidak berhasil merobohkan orang, diri sendiri yang ketimpa getahnya, maka dia tidak berani menggunakannya.

Khing Ciau kebetulan sembunyi dibawah meja, setelah menjemput obat penawar itu segera dia melompat keluar.

"Adik Ciau," seru Hong-lay-mo-li, "lekas bawa Taysu ini kedalam." maklumlah keadaan Sukam waktu itu sudah amat menguatirkan bila terjadi kesalahan tangan pula dalam pertempuran sengit ini, mungkin setitik harapanpun takkan bisa mereka peroleh, Maka Hong-lay-mo-li suruh Khing Ciau bawa Sukam keruang belakang.

Damparan angin pukulan dari ketiga orang yang bertempur amat dahsyat dan bergelombang tinggi, meski Khing Ciau sudah latihan Tay-yan-pat-sek, tak urung langkahnya masih terasa berat dan sempoyongan, insaf kepandaian sendiri yang kurang becus, segera dia bekerja menurut petunjuk Hong-lay- mo-li, Sukam dibopongnya terus dibawa lari kebelakang.

"Lari kemana?" tiba2 Cutilo menghardik SemuIa dia membelakangi Khing Ciau, tiba2 telapak tangannya membalik dengan pukulan Bik-khong-ciang menyapu kearah bayangan Khing Ciau, serangannya telak se-olah2 punggungnya tumbuh mata, untung Hong-lay-mo-li sudah menjaga akan kemungkinan ini, lekas kebutnya terayun, dia putus kekuatan pukulan Cutllo, meski demikian, Khing Ciau toh masih keterjang sisa tenaga pukulan ini, badannya tersungkur kedepan dan mempercepat langkahnya menyelinap kedalam. Hong-lay-mo:li gusar, dampratnya: "Kejam benar kau kepala gundul ini, terhadap kawanmu sendiri kaupun tega membunuhnya." Sret, sret, dengan serangan pedang, dia bikin Cutilo menyurut mundur tiga langkah.

Maka berteriaklah Cutilo: "Sukam, seorang laki2 harus berani mati dan menanggung resiko sendiri, jangan kau bikin malu muka majikanmu, membocorkan rahasia lagi." Tang-hay- Iiong segera merangsak dengan pukulan gencar, Cutilo harus melayani dengan sepenuh perhatian, terpaksa tidak bisa banyak bicara.

Akan tetapi daya pukulan Cutilo sendiri amat kuat dan tangguh, gerakannya cepat laksana kilat, dalam tiga puluhan jurus, meski dikeroyok dua, dia belum menunjukkan kewalahan.

Keruan Hong-lay-mo-li naik pitam, segera Thian-lo hud-tim dan Yok-hun-kiam-hoat dikembangkan bersama, dengan serangan tipu2 lihay dari keras dan lunak ini, kerja samanya amat rapat.

Sinar pedangnya merabu laksana puluhan orang sekaligus melancarkan serangan yang serupa dari berbagai penjuru, sementara kebutnya menari2 naik turun, dengan ketat mengikuti gerak langkahnya mengancam jalan darah lawan, lihaynya bukan main.

Di-bawah gempuran dua tokoh silat kelas utama, meski Cutilo sudah kerahkan seluruh tenaga dan curahkan segala perhatian dan kepandaiannya, lama kelamaan dia mulai terdesak dibawah angin.

Kepandaian Tang-hay-liong diantara mereka memang paling lemah, namun latihan Gun-goan-khi-kangnyapun sudah dia kerahkan sampai puncaknya, tenaga pukulannya laksana gugur gunung, cukup menggempur hancur batu gunung sebesar gajah. Cutilo harus tumplek sebagian besar perhatiannya untuk menghadapi Hong-lay-mo-li, suatu ketika karena sudah terdesak dan tak mungkin berkelit lagi, "Blang" dengan telak badannya kena pukulan Tang-hay-liong, betapapun tinggi dan kuat ilmu pertahanan yang melindungi badannya, tak urung seketika kepala pening mata menjadi gelap, "Huuuaaah!" kontan menyemburkan darah, langkahnyapun sempoyongan.

Tujuan Hong-lay-mo-li hendak membekuknya hidup2, pedangnya segera menusuk Hiat-to-nya, Namun kepandaian silat Cutilo ternyata memang amat tinggi dan kekar badannya, meski sudah terluka, ternyata dia masih mampu kerahkan tenaga licin dan ilmu tingkat tinggi, begitu ujung pedang Hong-lay-mo-li menyentuh pakaiannya, seperti menusuk barang lunak yang keras, tahu2 pedangnya tergelincir miring kesamping, soalnya tujuan Hong-lay-mo-li hanya ingin menutuk Hiat-tonya dengan pedang, gerakan pedang teramat lincah dan cepat, maka tenaga tusukannya tidak begitu keras.

"Liu Lihap," seru Tang-ha,y-liong, "Tak perlu kasihan padanya, pukul dulu biar dia terluka."

Benar juga segera Hong-lay-mo-li putar lebih kencang pedangnya, yang diincar tempat2 penting dibadan Cuti-lo, bentaknya "Masih kau membandel? Lekas menyerah dan bicara sejujurnya, jiwamu mungkin boleh kuampuni,"

Cutilo gelak tawa, serunya: "Kalian hendak bunuh aku, kukira belum mampu!" sekonyong2 mulutnya menyemburkan sekumur darah, serempak tangannya melayang kearah Tang- hay-liong, hebat benar tenaga pukulan telapak tangannya, kontan Tang-hay-liong tergentak mundur tujuh delapan langkah, kakinya masih belum bisa berdiri tegak lagi.

Hong-lay-mo-li ikut terkejut, kuatir Tang-hay-liong dilabrak musuh pula, lekas dia kembangkan ilmu kombinasi dari kebut dan pedang, beruntun tiga kali pedang dan kebutnya masing2 mengincar Hiat-to mematikan dlseluruh badan Cuti1o. "Kau kira aku gentar terhadapmu." bentak Cu-tilo, "Wut" kembali dia menggempur, sampai pedang Hong-lay-mo-li tergetar menceng, maka serangan berantai mengalami kegagalan semuanya, sekali kebas lengan baju, kebut Hong- lay-mo-li kena ditangkis buyar. Sudah tentu Hong-lay-mo-li kaget dan heran, setelah terluka lawan malah tambah tenaga, sulit juga dia menjajagi sampai dimana taraf kepandaian Cutilo, selanjutnya tidak berani dia bergerak secara gegabah, kini dia ganti mengembangkan kegesitan badannya selalu berada diantara Cutilo dengan Tang-hay-liong, tujuannya untuk melindungi kawannya.

Diluar tahunya memang inilah keinginan Cutilo, begitu rangsakan Hong-lay-mo-li mengendor, Cutilo sempat merogoh kantong terus diayun, segumpal asap tebal mendadak terbang menerpa kearah mereka, ditengah terpaan asap tebal ini terdengar pula suara mendesis tajam, inilah semacam senjata rahasia Cutilo yang amat keji, didalam asap tebalnya ini, dia selingi sambitan Bwe-hoa-ciam yang lembut.

Lekas Hong-lay-mo-li menyurut mundur sambil tahan napas, pedang dan kebut segera diputar, membendung asap tebal dan memukul rontok semua Bwe-hoa-ciam.

Dibelakangnya Tang-hay-liong berteriak: "Kepa-la gundul ini hendak lari!" dengan Gun-goan-khi-kang dia lontarkan Bik- khong ciang-lat, dimana damparan angin pukulannya melandai, asap tebal itu buyar seperti teriup angin badai.

Terdengar suara Cutilo tengah gelak tawa diluar serunya: "Tuan besarmu tiada tempo ber-main2 lagi dengan kalian, kalau berani hayolah kejar kemari." dibawah perlindungan asap tebal ini dia melarikan diri.

Lekas Hong-lay-mo-li dan Tang-hay-liong memburu kebelakang, tampak Khing Ciau duduk bersimpuh dilantai, badan Sukam setengah tiduran membelakangi dinding, badik didadanya masih belum tercabut, mukanya sudah pucat pias. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Hong-lay-mo-li kepada Khing Ciau.

Khing Ciau menghirup napas, sahutnya berdiri: "Untung tidak terluka, Tapi Taysu ini tidak mau minum

obat, ai, gelagatnya..."

Ternyata setelah kesampuk oleh pukulan gelombang Cutilo tadi, Khing Ciau rasakan dadanya sesak, badan menjadi lemas Lekas dia duduk samadi, mengerahkan Tay-yan-pat-sek, baru sekarang dia berhasil memulihkan semangatnya

Tapi Tang-hay-liong yang paham ilmu pengobatan mendengar deru napas Khing Ciau rada ganjil, lekas ketiga jarinya pegang urat nadi pergelangan tangan nya, Hong-lay- mo-li kuatir, tanyanya: "Bagaimana? Apakah dia..."

Tang-hay-liong menghela napas, katanya: "Benar memang badannya tidak terluka apa2. Tapi apa kau ada terserang penyakit demam?"

"Sakit demam?" Khing Ciau heran, "Aku tidak merasa apa2!"

Ternyata kadar racun Hoa-hiat-to pukulan Kong-sun Ki yang mengeram didalam badan Khing Ciau sekarang masih mengendap di In-hiat, sebelum tiba jangka waktunya, lahirnya tidak kelihatan, karena damparan pukulan Cutilo tadi waktu dia samadi, deru napasnya menjadi rada keras dan ganjil, malah napasnyapun membawa sedikit bau, namun karena badannya tidak terluka, maka hal ini dianggap sebagai pertanda penyakit demam.

Siapakah majikan Sukam Taysu? Apa tujuannya memperalat anak buahnya menbunuh Ko-gwat Siansu? Dapatkah Hoa Kok-ham atau Tam Ih-tiong membongkar kedok aslinya? Siapa pula Toako baru dari adik angkat Tanghay liong yang akan mengadakan pertemuan dipulau terpencil itu?

Bagaimana hasil muhibah Hong lay-mo-li setelah menemui raja negeri Song? Bahaya apapula yang dia alami diistana raja?
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 20"

Post a Comment

close