Pendekar Latah Bagian 16

Mode Malam
 
Bagian 16

"Nona Siang, aku harus berterima kasih akan pertolonganmu Tapi kuharap kau tidak menjelek2kan temanku."

Siang Ceng-hong cekikikan geli, tiba2 ia ulurkan tangan, dengan ketiga jarinya dia cekal urat nadi pergelangan tangan Khing Ciau, Semula Khing Ciau kaget, dia ingin meronta, tapi tidak punya tenaga. "Jangan gugup, aku periksa penyakitmu." kata Siang Ceng- hong, sesaat kemudian dia menambahkan. "Racun yang bersemayam dalam tubuhmu teramat lihay, untung kau ada meyakinkan Tay-yan-pat-sek yang kusuruh kau berlatih didalam penjara rumahku dulu, meski kau pingsan, hawa murni dalam badan tetap bekerja melindungi jantungmu, Kalau tidak masakah jiwamu masih hidup sampai sekarang?

Kau masih ingat tidak waktu itu kusuruh kau latihan Tay-yan- pat-sek ini, kau berkukuh tidak mau, akhirnya ku-tipu kau sehingga kau menurut dan meyakinkan dengan baik, namun kau tidak mau terima kebaikanku, malah memakiku menipumu meyakinkan ilmu sesat segala? sekarang tentu kau sudah insaf akan manfaat dan kegunaan dari Tay-yan-pat-sek ini bukan? Apa kau masih sering ngomel dan salahkan aku?"

Baru sekarang Khing Ciau sadar bahwa Tay-yan-pat-sek telah menolong jiwanya, meski dia sendiri tidak meyakinkan Tay-yan-pat-sek ini dengan suka rela, namun kenyataan dia sudah meyakinkan dengan mendalam, mau diibuangpun tak mungkin lagi.

Sedang Siang Ceng-hong adalah orang yang memberi petunjuk dan memperlihatkan gambar ajarannya itu, umpama orang tidak mengagulkan diri sebagai guru, namun menurut aturan Bulim sudah termasuk angkatan tua dari perguruan Khing Ciau, orang boleh saja memerintah Khing Ciau untuk mendengar petunjuknya Apalagi sekarang orang telah menolong jiwanya, meski hati Khing Ciau tidak senang, dia toh tidak bisa melawannya, setelah mendengar ucapan orang Khing Ciau mandah masrah nasib saja.

Sekali raih Siang Ceng-hong pegang urat nadi dipergelangan tangan Kheng Ciau, keruan Kheng Ciau terperanjat belakangan baru ia tahu orang sedang memeriksa penyakitnya.

Setelah memeriksa urat nadi siang Ceng-hong berkata: "Kau sudah pingsan dua hari dua malam, meski hawa murni melindungi jantung dan sudah makan obatku, tapi racun itu teramat lihay, untuk membersihkan sisa kadar racun yang mengeram dibadan perlu kau gunakan saluran tenaga dalammu untuk mengusirnya keluar sekarang dengarlah petunjukku, biar aku bantu kau sekali lagi." lalu dia genggam kedua tangan Khing Ciau, Khing Ciau sendiri sudah kehabisan tenaga tak mungkin bisa mengerahkan tenaga murni, dengan saluran tenaga hangat dari kedua tangan Siang Ceng-hong, pelan2 baru terhimpun tenaganya.

Terbayang oleh Khing Ciau akan dendam negara, teringat akan kewajiban dirinya, dan lagi berbagai penasarannya, terutama perangkap yang dilakukan oleh kawanan Busu pemerintah, betapapun dia harus menyelidikinya biar terang duduk persoalannya.

Mengingat berbagai persoalan ini, terpaksa dia diam saja menerima bantuan dan pertolongan Siang Ceng-hong, setelah saluran hawa murni Siang Ceng-hong berputar tiga kali diseluruh badannya, keringat gemrobyos membasahi badan Khing Ciau, namun semangatnya sudah mulai pulih.

Siang Ceng-hong lepas tangan, katanya: "Meski kau tak acuh terhadapku, aku tetap baik terhadapmu. Kini jiwamu sudah selamat, terserah bagaimana sikapmu selanjutnya tergantung dari sanubari-mu sendiri."

Khing Ciau serba salah, katanya setelah bimbang sekian lamanya "Budi pertolongan nona Siang, sudah tentu aku amat berterima kasih..."

"Terima kasih secara omong kosong saja?" tukas Siang Ceng-hong.

"Budi pertolonganmu sulit kubalas, aku sendiripun tidak tahu apa yang harus kulakukan?"

"Coba kau pikir, Tay-yan-pat-sek adalah ajaran tunggal keluargaku yang tidak boleh dipelajari orang-luar, Cihuku saja tidak diidzinkan belajar oleh ciciku, kenapa aku malah mengajarkan kepada kau?" maksudnya bahwa Khing Ciau lebih dekat dengan dirinya dari pada sang Cihu, berarti Khing Ciau sudah dipandangnya bukan orang luar lagi.

Merah selebar muka Khing Ciau, sahutnya ter-sekat2: "Nona Siang, hal ini..." maksudnya hendak menampik kebaikan gadis yang sedang mekar ini, namun dia tak tahu apa yang harus dia ucapkan.

Tak nyana tiba2 Siang Ceng-hong menarik muka, tanyanya sambil menatap Khing Ciau: "Kau panggil apa kepadaku?"

"Nona Siang, apa... apakah panggilan ini tidak benar?"

Siang Ceng-hong menyeringai katanya dingin mencibir bibir: "Kau sudah mempelajari ilmu silat dari keluarga Siang kami, masakah masih memanggilku nona Siang lagi?"

Khing Ciau melongo dan tak tahu apa yang harus dia perbuat.

"Memang semula kau tidak mau belajar, tapi Tay-yan-pat- sek sekarang sudah senyawa dengan badan atau ragamu, umpama kau tidak rela, kau sudah terhitung murid perguruan kita, Kecuali kau mengutungi kaki tanganmu, kalau tidak setiap kau menggerakan kaki tangan, selalu kau mempergunakan ilmu silat keluarga Siang kami."

Ingin Khing Ciau menangis, namun air mata sudah serasa kering, ingin mati, mengingat tugas dan tanggung jawab masih membebani dirinya, memangnya aku harus mati hanya karena sedikit persoalan kecil yang merisaukan ini? demikian batinnya.

Terdengar Siang Ceng-hong berkata lebih lanjut: "Usiaku kira2 sebaya dengan kau, tidak mungkin menjadi gurumu, tapi menurut aturan Bulim, paling tidak kau harus membahasakan Suci kepadaku." Khing Ciau merasa tiada ruginya, segera dia berkata: "Suci maafkanlah siaute sedang sakit dan tak mampu memberi hormat kepadamu, biarlah sebelah aku sembuh aku menyembah kepadamu."

Baru sekarang Siang Ceng-hong tertawa berseri, katanya: "Menyembah atau tidak bukan soal, Sekarang ingin aku tanya, bagaimana sikap seorang Sute terhadap Sucinya?"

"Yang lebih muda harus patuh atau tunduk terhadap yang lebih tua."

"Dan apa lagi?"

"Harus mendengar petunjuk yang lebih tua."

"Nah, itulah benar, Maka selanjutnya kau harus dengar petunjukku."

"Setiap petunjuk Suci asal tidak melanggar keadilan dan kebenaran dan masuk di akal, Siaute pasti patuh dan tunduk!"

Berubah rona muka Siang Ceng-hong, "Hm, kau masih berani tawar menawar dengan aku!"

"Kalau kau suruh aku melakukan perbuatan durhaka dan melanggar perikemanusiaan lebih baik Siau-te dihukum saja, betapapun aku tidak mau melakukan perbuatan kotor dan hina dina."

Tiba2 Siang Ceng-hong terkikik geli, katanya: "Begitupun baik, Memangnya Suci bakal suruh kau melakukan perbuatan jahat?"

Sampai disini pembicaraan mereka, tiba2 seorang dayang masuk memberi laporan: "Ji-kohnio (nona kedua), Toa-kohya (maksudnya Kongsun Ki) datang."

Keruan Siang Ceng-hong kaget, katanya: "Ba-gaimana Cihu bisa menemukan tempat ini?" Khing Ciau pernah disakiti oleh Kongsun Ki waktu dia tertawan oleh anak buah Kongsun Ki dulu dan disekap didalam penjara Siang-keh-po, berkat bantuan Siang Ceng-hong sehingga dia selamat dan berhasil mempelajari Tay-yan-pat- sek pula, lantaran nona cantik ini menaksir padanya, kini mendengar Kongsun Ki datang, keruan kaget juga hatinya.

"Sute, kau tak usah gelisah, aku akan selalu melindungimu. Cihu takut kepada cici, cicipun memberi muka kepadaku, dia takkan berani berbuat apa2 ter-hadapku." Memang minggatnya Siang Ceng-hong dari rumah disamping jengkel dan dongkol, tujuannya juga ingin menguntit Khing Ciau dan akhirnya tiba di Ka-nglam, maka apa yang terjadi dirumahnya belakangan ini belum diketahuinya sama sekali.

Diluar tahunya pula bahwa sang Cihu yang dianggapnya takut bini seperti berhadapan dengan harimau ini, kini sudah tega membunuh istrinya sendiri.

Waktu keluar keruang tamu dilihatnya muka Kongsun Ki rada pucat dan kurus, sikapnyapun loyo dan bersedih, sapa Siang Ceng-hong keheranan: "Ci-hu, kenapa kau? Untuk apa kau datang ke Kanglam? Apa cici yang suruh kau kemari?"

"Ceng-moay. enak2 kau bersembunyi disini, cicimu harus dikasihani ingin dia melihatmu yang penghabisan kalipun tak bisa lagi."

Siang Ceng-hong kaget, tanyanya: "Apa katamu? Aku tidak bisa bertemu dengan ciciku lagi? Kau kuatir aku tidak mau pulang?"

Kongsun Ki unjuk rasa pilu, entah dari mana ia peras air mata, katanya dengan tersengguk: "Sudah terlambat, kau pulangpun takkan bertemu dengan cici-mu, dia, dia sudah meninggal."

Walau Siang Ceng-hong sering merengek2 dan binal dihadapan sang Cici, namun hubungan ikatan batin sesama saudara sepupu betapapun masih tebal dalam sanubarinya, serasa mendengar bunyi geledek, sesaat dia berdiri terbelalak kaget, sesaat kemudian baru dia menjerit keras: "Apa katamu, ciciku sudah meninggal?"

"Ya, dua bulan yang lalu, dia sudah meninggalkan kau seorang diri."

"Aku tidak percaya," Siang Ceng-hong menjerit, "Cara bagaimana cici bisa meninggal? Badannya sehat Kuat, Lwekangnya tinggi, tidak sakit tidak menderita. baik2 saja kenapa bisa mendadak mati?"

Kongsun Ki meringis getir, katanya pura2 sedih: "Kalau dikatakan memang akulah yang menjadi sebab kematiannya. Hoa Kok-ham adalah musuh besarku, hal ini kau sendiri sudah tahu, setelah kau berlalu dari rumah, Hoa Kok-ham dan Hong- lay-mo-li kembali menggerebek kerumah kita, Cicimu bantu aku menghadapi musuh, tak beruntung dia terluka Ki-keng- pat-mehnya oleh pukulan Hoa Kok-ham, malam itu juga tak tertolong lantas menghembuskan napas! sebelum ajal hanya kau saja yang selalu dirindukan dan dikuatirkan!"

Kepandaian Hoa Kok-ham seorang saja cukup menandingi Korgsun Ki suami istri, apalagi dibantu oleh Hong-lay-mo-ii, maka siang Ceng-hong mau percaya akan obrolan Ci-hunya, sekian lama dia terlongong, mendadak pecah jerit tangisnya, teriaknya: "Cihu, kau harus menuntut balas bagi sakit hati Cici!"

"Sudah tentu aku harus menuntut balas, soalnya kepandaian musuh terlalu tangguh, cuma terserah kau mau tidak patuh akan pesan cicimu yang terakhir!"

"Sebetulnya apa kehendak cici kepadaku?" tanya Siang Ceng-hong, dia rada heran mendengar ucapan Cihunya,

"Jangan kau anggap aku terlalu brutal dan kura-ngajar, soalnya musuh terlalu tangguh, tenaga kami berdua belum tandmgannya, apalagi dia dibantu Hong-lay-mo-li? Memang Hong-lay-mo-li adalah Sumoayku, namun ajaran ilmu perguruan kami aku bukan tandingannya, kini dia sudah ter- gila2 kepada Hoa Kok-ham, terang berani menentang kehendakku."

"Jadi kita tak punya harapan untuk menuntut balas?" "Cicimu tahu sampai dimana taraf kepandaian silatku, oleh

karena itu sebelum dia ajal, dua ilmu beracun dari keluarga Siang kalian dia turunkan kepadaku."

"Ciciku sendiri tidak berani melatih kedua ilmu beracun itu, masakah dia mewariskan kepadamu?"

Kongsun Ki angkat kedua telapak tangannya dan digoyang2 didepan mata Siang Ceng-hong, katanya: "Tidak percaya, coba lihat! Apakah ini bukan Hu-kut-ciang dan Hoa-hiat-to?"

Tampak telapak tangan kanan Kongsun Ki merah gelap dan kental, hawa hitam di telapak tangan kanannya terendus berbau busuk, sementara telapak tangan kiri bewarna merah darah menyala, Keruan siang Ceng-hong terkesiap kaget, katanya: "Hu-kut-ciang sudah mencapai tingkat keempat sementara Hoa-hiat-to sampai tingkat kelima, Cihu, cepat sekali kemajuan latihanmu." maklumah waktu kecil Siang Ceng-hong pernah melihat latihan ayahnya, meski ayahnya tidak menurunkan kedua ilmu beracun Ini, tapi dari warna telapak tangan itu dia dapat membedakan tingkat latihannya.

Sudah tentu Siang Ceng-hong tidak sangsi lagi, kaianya: "Cihu, tahukah kau, karena melatih kedua ilmu beracun inilah ayah sampai menemui ajalnya?"

"Aku tahu, Tapi sebagai suami Cicimu, meski harus berkorban demi kepentingannya, terpaksa aku harus berani menyerempet bahaya."

Merah mata Siang Ceng-hong, katanya berlinang air mata: "Cihu, tak nyana, begitu baik kau terhadap Cici!" "Memangnya kau sudah tahu bagaimana sikapku terhadapnya biasanya, demi menuntut balas sakit hatinya maka aku hidup sampai sekarang, kalau tidak aku sudah bunuh diri mengikuti jejaknya."

Lebih terketuk dan haru hati Siang Ceng-hong, pikirannya bergolak, bibir tergigit kencang, se-olah2 ada omongan yang hendak dia kemukakan, namun Kong-sun Ki tak sabar lagi menunggu, akhirnya dia bertanya: "Kalau tak salah Gakhu (ayah mertua) dulu sudah latihan sampai tingkat kedelapan, sebelum ajal beliau, berhasil menemukan cara untuk mengatasi bahaya Cau-hwe-jip-mo yang mengakibatkan racun menggerogoti badannya sendlri, apa benar?"

"Apa cici yang memberitahu kepadamu? Memang ayah sudah berhasil menyelami cara terbaik untuk mengatasi bahaya Cay-hwe-jip-mo itu. Tapi cara itu harus dilandasi dengan Lwekang perguruan kita pada tingkat tertinggi baru bisa berhasil dengan gemilang, Kalau sebaliknya bahayanya malah lebih cepat dan lagi cara itu hanya kesimpulan ayah saja sebelum ajal, jadi belum pernah dipraktekkan, apakah manjur belum diketahui ayah sendiripun tak begitu yakin.

Apakah cici tidak menjelaskan kepadamu?"

"Keadaan Cicimu sudah amat gawat, sudah tentu tidak sempat banyak bicara lagi, Tapi aku sudah bertekad meski bahaya apapun yang harus kuhadapi, aku tetap akan meyakinkan kedua ilmu beracun ini."

"Cihu, kau benar2 bertekad hendak melatihnya?"

"Ya, Cicimu sudah tahu akan tekadku ini, maka dia suruh aku mencarimu untuk berunding, Entah kau suka menerima pesan terakhir cicimu sebelum ajal?"

"Cihu lekaslah kau katakan, kalau bisa menuntut balas bagi kematian cici, apapun dapat kuterima." ""Cicimu minta supaya kau bantu aku menyempurnakan latihan kedua ilmu racun ini, dia punya sebuah harapan, supaya, supaya kau..."

"Harapan apa? Cihu? Kenapa kau pelegak peleguk?"

Merah muka Kongsun Ki, dia bersikap malu2, ka-tanya: "Dengan cicimu kami tidak punya keturunan, harapan cicimu supaya kau, kau meneruskan kedudukannya, kami menyadi suami istri, pertama mengharap kau bantu aku meyakinkan kedua ilmu beracun itu, kedua, supaya keluarga kita mendapat keturunan."

Ternyata dalam latihan mencapai tingkat keempat dan kelima pada kedua ilmu beracun itu, Kongsun Ki menemui hambatan2 yang tidak sejalan dengan ajaran yang tertera didalam buku catatan, terang lintangan ini merupakan bahaya yang bisa menewaskan jiwanya maka Kongsun Ki tidak berani melanjutkan latihannya, untung dia ada meyakinkan Tay-yan- pat-sek, sayang Tay-yan-pat-sek hanya pupuk dasar latihan Lwekang saja dengan dasar Tay-yan-pat-sek inilah baru bisa meyakinkan ilmu Lwekang tingkat lebih tinggi lagi sebagai landasan untuk menyempurnakan latihan kedua ilmu berbisa itu.

Lwekang ajaran keluarga Siang merupakan aliran tersendiri bukan golongan sesat atau aliran lurus, jadi aliran yang menempatkan diri ditengah2, serta membuka jalannya sendiri dan belum pernah terjadi sejak jaman dahulu kala, untuk melatihnya bukan soal gampang disamping selalu harus mendapat petunjuk Iangsung, meleset sedikit saja bukan saja bakal Gau-hwe-jip-mo, segala daya upayapun bakal gagal total.

Kongsun Ki memang seorang culas dan egois yang pintar berpikir demi kepentingannya sendiri, dengan bujuk rayu dan cerita bohongnya, bukan mustahil dia berhasil menipu Siang Ceng-hong mengajarkan ilmu Lwekang tingkat tinggi itu, namun dia sendiri masih menguatirkan keteguhan hati Siang Ceng-hong dalam memberi ajaran itu kepadanya, palagi ilmu Lwekang itu serba rumit dan mendalam dalam setiap langkah latihan dirinya harus selalu dijaga dan diberikan petunjuk2 dmana perlu supaya latihannya tidak salah jalan, karena sedikit meleset saja, kalau sudah ketelanjur, untuk menolong diri sudah kasep.

Oleh karena itu setelah Kongsun Ki berpikir pulang pergi mencari daya untuk mengatasi berbagai kesulitannya ini,  maka timbullah pikiran brutalnya, Siang Ceng-hong lebih muda dan kurang pengalaman jauh lebih gampang ditipu dari pada cicinya, alangkah baiknya kalau dia ditipu menjadi istrinya,  dan lagi alasan dirinya tepat demi membalas dendam saudara tuanya, masakah Siang Ceng-hong tidak akan memberikan ajarannya dengan tekun dan hati2?

Diluar tahunya rencana yang sudah dia rancang dengan sempurna malah kebalikannya gagal total, semula Siang Ceng- hong memang sudah percaya kepadanya, jikalau dia cuma minta Siang Ceng-hong mengajarkan ilmu Lwekang itu, Siang Ceng-hong pasti tidak kikir dan merahasiakan kepadanya, Namun minta dirinya harus kawin dengan sang Cihu, se-kali2 tidak mungkin, dan mau tidak mau Siang Ceng-hong bimbang dan ragu2.

Dalam sekilas ini malu dan kaget pula hati Siang Ceng- hong, hal ini sungguh amat diluar tahunya, mimpipun takkan pernah terpikir dalam benaknya bahwa sang cici menghendaki dirinya kawin dengan Cihunya sendiri.

Cepat sekali kerja otaknya, berbagai pertanyaan bergolak dalam benaknya, betapapun cintanya sudah dia curahkan kepada Khing Ciau, meski Khing Ciau tidak membalas cintanya, bagaimana juga hatinya penasaran kalau harus kawin dengan sang Cihu. Dengan muka merah sesaat kemudian baru dia menjawab: "Cihu, ini, ini, maaf aku tidak bisa menerima pesan cici."

Berkerut alis Kongsun Ki, tanyanya tiba2: "Kau tidak mau menerima pesan cicimu, lantaran bocah she Khing itu? Em, siapakah yang berada didalam kamarmu".

Luka2 beracun Khing Ciau sudah sembuh, Lwe-kangnya sudah pulih selumhnya, didalam kamar dia sedang bersamadi mengerahkan hawa murninya Tay-yan-pat-sek memang hebat dan luar biasa, setelah keringat dingin gemerobyos, semangatnya malah lebih segar dan bergairah, keadaannya seperti dirinya sebelum terluka.

Kongsun Ki sebagai seorang ahli dalam ilmu silat, begitu dia berada dalam rumah, lantas terasa olehnya bahwa didalam kamar ada suara pernapasan berat dan jelas dapat dibedakan deru napas seorang laki2 yang sedang bersemadi.

Keruan Siang Ceng hong kaget bukan main, hendak merintangi sudah terlambat Kongsun Ki menyeringai iblis, langsung dia menerjang masuk ke dalam kamar tidur Siang Ceng hong.

Kebetulan Khing Ciau baru lompat turun dari pembaringan Kongsun Ki segera memapaknya: "Bagus! Ternyata memang kau bocah keparat ini!" telapak tangannya terpentang lebar laksana cakar elang terus mencengkram kepundak orang.

Dari belakang siang Ceng-hong mengudak sambil-ber- teriak2: "Cihu, kalau kau bunuh dia, aku, aku ... " belum habis dia bicara "Blang" dua orang didalam kamar sudah beradu pukulan.

Untung Lwekang Khing Ciau sudah pulih, sementara Kongsun Ki ragu2 dan tidak berani membunuh-nya, maka cengkraman tangannya hanya menggunakan tiga bagian tenaganya, tujuannya meremas hancur tulang pundak Khing Ciau, tak nyana latihan Tay-yan-pat-sek Khing Ciau jauh lebih mendalam, kedua tangan menangkis dengan seluruh kekuatannya, cengkraman tangan Kongsun Ki kena tersampuk miring, badannya tergentak mundur setapak, Kongsun Kipun tergeliat.

Kongsun Ki tertawa dingin, ejeknya: "Aku lupa kau sudah latihan ilmu silat keluarga Siang!" telapak tangan kiri ditepukan pula, kali ini ditambah dua bagian tenaganya, meski Lwekang Khing Ciau maju berlipat ganda sejak latihan Tay- yan-pat-sek, tapi dibanding Kongsun Ki masih terpaut amat jauh, kini Kongsun Ki hanya mengerahkan lima bagian tenaganya. "Blang" kontan dia terlempar kebelakang dan jatuh terlentang.

Kebetulan Siang Ceng-hong memburu maju me-ngadang diantara mereka, teriaknya melengking: "Cihu, tidak boleh kau turun tangan jahat dikamarku, dia, dia adalah Sute-ku!"

"Kau tak usah gelisah," ujar Kongsun Ki tertawa, "Bocah ini belum mampus-! Eh, kau sudah mengakuinya sebagai Sute?"

"Pandanglah mukaku, ampunilah jiwanya, jikalau kau bunuh dia, aku, aku..."

"Kau kenapa?"

"Aku, lebih baik akupun mati saja!"

"Kau tidak ingin menuntut balas bagi kematian cicimu?" "Persoalan Khing-sute tiada sangkut pautnya dengan

pembalasan dendam, kenapa kau berkeras hendak membunuhnya?"

Khing Ciau sudah merangkak bangun, teriaknya: "Nona, nona Siang, jangan kau percaya obrolan Cihu-mu! Liu Lihiap pasti tidak akan membunuh cicimu, malah dia yang menolong cicimu di Siang-keh-po. Ci-humu ini sekongkol dengan Giok- bin-yau-hou, pastilah Giok-bin-yau-hou itu yang membunuhnya." Khing Ciau hanya bicara menurut dugaan saja karena dia percaya Hoong-lay-mo-li tentu tidak akan melakukan hal ini, sedang persekongkolan Giok-bin-yau-hou dengan Kongsun Ki diketahuinya jelas, cuma diapun tidak bisa mengajukan bukti2nya, sudah tentu Siang Ceng-hongpun tak bisa percaya begitu saja, untungnya Siang Ceng-hong masih punya rasa kasihan kepadanya, betapapun hatinya tidak tega bila Khing Ciau terbunuh oleh Kongsun Ki, lekas dia menyela: "Khing- sute, kau, kau jangan banyak cerewet, lekaslah pergi!"

Kongsun Ki menarik mukar katanya dingin: "Ceng-moay, kau anggap bocah ini sebagai Sute, apa kau masih ingat peraturan keluarga Siang?"

Sudah tentu Siang Seng-hong tahu akan peraturan ketat keluarganya, setelah melengak dia menyawab: "Cihu, kau tidak perlu urus soal peraturan keluarga kita!"

"Kakakmu sudah menmggal, siapa lagi kalau bukan aku yang mengurus? Kakakmu selalu kuatir kau tertipu oleh bocah keparat inf, ternyata sudah kenyataan."

"Cihu bukankah kau sendiri juga meyakinkan ilmu silat keluarga kita?"

Kongsun Ki naik pitam, serunya: "Aku masa boleh dibanding bocah keparat ini, aku kan sudah terhitung setengah keluarga kalian, Dia ini barang apa?"

Gelagat amat gawat, lekas Siang Ceng-hong melirik memberi kedipan kepada Khing Ciau, teriaknya:

"Khing-sute, kau, katakanah, kau dan aku..."

Mendelik mata Kongsun Ki, bentaknya: "Apa, apa kalian sudah menjadi suami istri? Hm, sungguh tidak tahu malu!"

Maksud Siang Ceng-hong hendak membela Khing Ciau, tak nyana Khing Ciau seorang pemuda jujur, seorang laki2 sejati, bukan saja tidak menerima usaha pertolongan Siang Ceng- hong, dia malah berkata keras kepada Kongsun Ki:

"Jangan kau menilai orang dengan jiwa rendahmu sendiri, aku dan nona Siang suci bersih, sedikitpun tiada hubungan apa2 yang keluar batas!"

Kongsun Ki menyeringai sinis sambil melerok kepada Siang Ceng-hong, "Ceng-moay, coba lihat, kukira jangan kau terlalu muluk2. Meski kau ada hati orang terang2an menolak kebaikanmu!"

Sudah tentu, kaget, dongkol, gelisah dan pedih pula hati Siang Ceng-hong, tapi melihat Kongsun Ki hendak membunuh Khing Ciau betapapun hatinya tidak tega, lekas dia pegangi lengan Kongsun Ki, teriaknya: "Cihu, jangan..."

Tahu-tahu Kongsun Ki mengipat tangan dan bergerak lincah, dia lepaskan pegangan Siang Ceng-hong, jengeknya dingin: "Kupandang mukamu, jiwa bocah ini boleh kuampuni, tapi ilmu silat yang dia dapatkan dari keluarga Siang harus kuminta kembali Hanya jalan inilah yang harus kutempuh untuk menebus kebaikan cicimu!"

"minta kembali yang dia maksud adalah membuat cacat ilmu silat Khing Ciau.

Siang Ceng-hong kontan berkaok2: "Khing-sute, lekas kau lari! Lekas lari!"

Khing Ciau tahu keadaan cukup gawat, "Blang" dia pukul hancur jendela terus lari keluar Tapi baru sajak kakinya menyentuh tanah diluar pekarangan, Kongsun Ki sudah membayangi dibelakangnya.

Untung selama merawat luka2 Khing Ciau, Siang Ceng- hong tidak menanggalkan pedang yang tergantung dipinggang Khing Ciau, begitu Kongsun Ki mengejar tiba, Khing Ciau sudah melolos pedang, "Sret" kontan ia menusuk kebelakang. Sip-hun-kiam-hwat warisan keluarga Khing Ciau mengutamakan kelincahan dan berkelebat pergi datang, dulu karena Lwekangnya belum memadai, sulit dia kembangkan ilmu pedangnya yang lihay ini, kini setelah meyakinkan Tay- yan-pat-sek, Lwekangnya maju berlipat ganda, sudah tentu permainan pedangnya bukan olah2 hebatnya.

Kongsun Ki rangkap kedua jarinya mengincar Hiat-to Tay- tui-hiat tepat dipunggung Khing Ciau, maka tusukan balik Khing Ciau kebetulan memapas ujung jarinya, pedang Khing Ciau adalah senjata mestika, meski Kongsun Ki tidak perlu takut, namun tak berani dia mengadu jari tangan dengan pedang, maka dari tutukan dia ganti menjentik "Creng" pedang mestika Khing Ciau dijentiknya mental balik.

Seketika Khing Ciau rasakan telapak tangannya pedas kemeng, untung Siang Ceng-hong sempat memburu tiba, terus menarik lengan baju Kongsun Ki, teriaknya: "Cihu, ampunilah dia, aku, aku suka menerima pesan cici."

Kongsun Ki bergelak tawa, kesenangan: "Jadi, sejak kini kami terhitung suami istri sudah, maka tidak patut kau merintangi aku, suami istri harus sehaluan dan sejiwa, mana boleh hatimu berkiblat kepada orang luar?"

"Kau bebaskan dia pergi, selanjutnya aku tidak akan menemui dia."

Tujuan Kongsun Ki adalah pelajaran Lwekang tingkat tinggi keluarga Siang, kini Siang Ceng-hong sudah mau menikah dengan dirinya, Tapi mengingat muslihatnya ini cepat atau lambat bakal terbongkar juga bila Siang Ceng-hong bertemu dengan Hong-lay-moli, maka segera dia nekad, katanya:

"Aku tidak akan membunuhnya, tapi ilmu silat keluarga Siang harus kuminta balik, kenapa kau membelanya mati- matian?"

Mulutnya bilang tidak mengambil jiiwa Khing Ciau, bahwasanya telapak tangannya sudah bergerak membundar terus menepuk kearah Khing Ciau dengan ilmu Hoa-hiat-to, jadi Khing Ciau hendak dicelakainya secara diam2, cuma tenaga yang dia kerahkan cuma satu bagian saja, maka kadar racun Hoa-hiat-to baru akan bekerja setelah tiga bulan kemudian.

Bagi Khing Ciau sendiri sejak mula sudah menyesal karena kebacut meyakinkan Tay-yan-pat-sek, sebetulnya kebetulan kalau Kongsun Ki hendak merampas balik ilmunya itu. Tapi setelah kelana di Kangouw selama setahun ini, pengalamannya cukup tebal, diketahui pula bahwa Kongsun Ki ada intrik dengan Giok-bin-yau-hou, maka dia yakin bahwa Kongsun Ki pasti bukan orang baik2, mana dia mau percaya akan obrolan orang? Maka dia bertekad tidak akan membiarkan pukulan Kongsun Ki mendarat diatas tubuhnya.

Dengan pedang mestikanya Khing Ciau mainkan Sip-hun- kiam-hwat secepat dan serapat mungkin, namun mana dia kuat menandingi kepandaian Kongsun Ki yang beberapa tingkat lebih tinggi, namun Kongsun Ki harus bekerja hati2 karena dia hendak mengelabui Siang Ceng-hong, maka pukulannya harus dilontarkan sedemikian rupa tidak sampai menunjukan gejala yang mencurigakan disamping pertahanan Khing Ciau sendiri yang ketat, maka dia mampu bertahan sampai tiga puluh enam jurus. Kalau tidak dalam sepuluh jurus saja Jiwa Khing Ciau tentu sudah direoggut oleh kekejian Kongsun Ki yang culas ini.

Se-konyong2 terdengar pula "Creng" sekali, pedang Khing Ciau terjentik pula oleh Kongsun Ki, setelah melawan sekian lamanya tenaganya sudah habis, pedang terlepas dari cekalan tangannya mencelat terbang ketengah udara.

Baru saja telapak tangan Kongsun Ki ditepukan pelan2, sekonyong2 terasa samberan angin dibelakang-nya, senjata rahasia kecil semacam Bwe-hoa-ciam sedang melesat datang dari belakang, keruan mencelos hatinya, lekas dia menggeser kaki mengegos diri, namun telapak tangan kanan segera ganti menjentik pula, baju Khing Ciau terjentik bolong, meski tidak sampai mengenai kulit dagingnya, tak urung Khing Ciau tergentar mundur karena Hiat-tonya tersampuk kekuatan jentikan jari orang.

Dengan langkah sempoyongan Khing Ciau akhirnya roboh terjengkang, Tepat pana saat itu sesosok bayangan orang menubruk keluar dari dalam hutan, bentaknya: "Jangan melukai Khing-toako!" yang datang ternyata bukan Hong-lay- mo-li seperti yang dikuatirkan Kongsun Ki, tapi adalah pelayannya San San.

San San sudah mendapat ajaran Hong-lay-mo-li, maka diapun bisa menggunakan benang kebutan sebagai senjata rahasia, cuma Lwekangnya saja yang masih terjaut jauh. Lega juga hati Kongsun Ki setelah melihat siapa pendatang ini, terhadap Hong-lay-mo-li sebetulnya dia tidak perlu gentar, apa lagi hanya pelayannya saja.

Cukup mengebutkan lengan bajunya, dia bikin San San yang mengadang didepan Khing Ciau tergeliat dan kebutannya buyar.

Khing Ciau jatuh dan San San muncul adalah kejadian dalam waktu yang sama, semula Siang Ceng-hong sudah berteriak kuatir serta memburu kearah Khing Ciau, serta melihat jelas kehadiran San San, meski hatinya tergetar, namun langkahnya tidak berhenti

Kongsun Ki sudah turun tangan keji kepada San San, serta melihat Siang Ceng-hong lari kearah Khing Ciau, segera dia merubah haluan kebut San San di-sampuknya kesamping, sebat sekali dia berkelebat mengadang didepan Siang Ceng- hong.

Karena tidak bisa kendalikan diri Siang Ceng-hong menubruk ke-dalam pelukan Cihunya, Kongsun Ki segera berbisik dipinggir telinganya: "Kekasih orang sudah menyusul datang, tak perlu kau membantunya apa kau tidak malu?"

Dalam pada itu San San sudah memapah Khing Ciau berdiri, saking kaget mukanya sampai pucat, tanyanya kuatir: "Ciau-ko, bagaimana kau?"

Khing Ciau hanya merasa Hwi-tiong-hiat ditengah dadanya rada kesemutan sedikit dan sebentar saja lantas hilang. Dia coba mengempos semangat badan terasa segar tidak menunjukan gejala2 yang mencurigakan, maka legalah hatinya. Diluar tahunya bahwa Kongsun Ki sudah menanam bibit bencana bagi jiwanya, tiga bulan lagi baru tenaga jentikan jari Kongsun Ki akan bekerja, dan saat itulah jiwanya bakal ajal.

Kejut dan girang Khing Ciau bukan main, seru-nya: "San- moay, susah payah aku mencarimu. Aku tidak apa2, kau tak usah kuatir." segera pedang mestika dijemputnya, dengan San San mereka berdiri jajar dekat sekali, siap melawan serangan Kong sun Ki.

Ternyata Kongsun Ki tidak menyerang lebih lanjut, katanya gelak2 kepada Siang Ceng-hong: "Ceng-moay, kau dengar tidak? Dia tidak terluka apa2, niatku semula biarlah kubatalkan, Ceng-moay kau sudah puas belum?"

Dengan masih ter-bahak2 dia berpaling dan berkata kepada San San berdua: "Kalau mau segampang membalikan tangan aku merenggut jiwa kalian, Kulihat hubungan kalian begini intim, cinta sama cinta lagi, biarlah aku sempurnakan keinginan kalian! Lekas kalian enyah dari sini!" ternyata tujuan Kongsun Ki sudah terlaksana, tiga bulan kemudian Khing Ciau terang takkan bisa bertemu pula dengan Siang Ceng-hong.

Maka dengan pura2 menunjukan kebesaran jiwa sendiri dia lepaskan Khing Ciau, cara ini lebih berguna dari pada memaksanya untuk memutus hubungan mereka. San San dan Khing Ciau mimpipun tak mengira Kongsun Ki bertindak begini baik hati, betapapun mereka tidak akan membuang2 kesempatan baik ini. Kata San San: "Baik, Ciau- ko, mari kita pergi."

Tak nyana Sang Ceng-hong tiba2 membentak: "Khing sute, kularang kau pergi sama budak sundel ini,"

"Kau perempuan siluman ini mau apa?" balas hardik San San sengit

Mendadak Khing Ciau menjatuhkan diri berlutut diatas tanah.

San San kaget, dia kira Khing Ciau tersambit senjata rahasia, namun dilihatnya Khing Ciau sedang menyembah tiga kali, serunya: "Siang-suci, terima kasih akan budi pertoIonganmu, meski badan Siaute hancur lebur kelak mesti akan kubalas, Maaf hari ini aku tidak bisa menemani kau, kebaikan Suci selama ini akan selalu kuingat dalam sanubariku."

Menghadapi sembah hormat Khing Ciau, Siang Ceng-hong ter-sipu2 sendiri, dari sini diapun mendapat kenyataan bahwa Khing Ciau bertekad meninggalkan dirinya, namun dia masih harap bisa menahannya: "Bangun, aku ingin tanya sepatah kata kepada-mu."

"Suci ada pesan apa?"

"Kalau kau masih pandang aku sebagai Sucimu, maka kau harus tunduk akan perintahku, kau sendiripun sudah berjanji kepadaku, kenapa secepat ini sudah kau lupa."

"Aku sudah berjanji kepada Suci, tapi nona San San adalah saudara angkatku lain jenis, apa halangannya aku berjalan sama dia, dan ini adalah urusan pribadi Siaute, maaf aku tidak bisa menerima pembatasan Suci ini."

Kongsun Ki segera membakar dari samping: "Nah, sudah kau dengar? Hati orang melulu berkiblat kepada budak itu, hubunganmu masakah semesra mereka, mengandal apa kau hendak merintangi mereka?"

Merah hijau dan pucat berganti2 rona muka Siang Ceng- hong, dia menginsafi akan kebenaran kata2 Kongsun Ki.

Sesaat lamanya dia berdiri menjublek, akhirnya mengulap tangan, "Baik, kalian pergilah!"

Ter-sipu2 Khing Ciau mengucapkan banyak terima kasih terus seret tangan San San berlari pergi. sungguh tak keruan perasaan Siang Ceng-hong mengawasi bayangan Khing Ciau yang berlari pergi menggandeng San San.

Cicinya yang amat dicintainya kini sudah meninggal, laki2 yang dicintainyapun tinggal pergi menggandeng orang lain, apa pula pernahnya menjadi manusia?

Tengah Siang Ceng-hong tenggelam dalam kepedihan Kongsun Ki sedang berbisik disampingnya: "Ceng-moay, masih ada aku didampingmu, Mari kita pulang."

"Pulang?" Siang Ceng-hong berkata kaku, "Ya, pulang, sejak kini kau adalah istriku, Siang-keh-po sedang menunggu kedatangan majikan perempuan kita." ternyata Kongsun Ki masih punya rencana lain, setelah dirinya melarikan diri dan keempat pembantu tua Siang-keh-po tinggal pergi, yang ada ketinggalan anak buah Siang Kian-thian yang lama, sebagai putri majikan lamanya tentu Siang Ceng-hong masih kuasa mengendalikan mereka, dan disanalah nanti dirinya hendak mendirikan pangkalan dan memperbesar usahanya.

Kepala Siang Ceng-hong pening seperti hampir meledak dalam waktu dekat belum sempat berpikir, tanyanya dengan hambar: "Cihu, apa yang kau katakan?"

"Ceng-moay, kenapa kau masih panggil Cihu kepadaku?

Bukankah sudah berjanji kepadaku?" "Berjanji apa?" "Berjanji mematuhi pesan cicimu, menjadi biniku, jadi aku ini adalah suamimu. bukan Cihu lagi."

Sesaat lamanya Siang Ceng-hong melenggong, tiba2 menjerit: "Cihu, tidak, tidak."

"Memanggil Cihu lagi, tidak apa?"

"Aku rada takut, aku tidak ingin kawin dengan kau." "Takut apa?"

"Takut kau menganiaya aku."

"Mana bisa? Terhadap cicimu aku amat kasih sayang, Kelak terhadap kau aku akan lebih sayang, menjadi suami teladan yang baik, Apa pula yang belum melegakan hatimu?"

Siang Ceng-hong mundur selangkah menghindari elusan tangan Kongsun Ki, katanya: "Cihu, carilah orang lain saja."

"Lho, ingkar janji dan merubah haluan lagi? Kau tidak ingin membalas kematian cicimu?"

"Akan kuberitahu kepadamu apa yang kutahu tentang pelajaran Lwekang dari keluarga Siang kami, boleh kau berlatih sendiri."

"Mana bisa lebih sempurna bila kau mendampingi aku berlatih? Dan lagi cicimu mengharap kau memberi keturunan bagi kedua kedua keluarga kita."

Merah malu selebar muka Siang Ceng hong, katanya: "Cihu, sementara jangan kau paksa aku, biarlah aku berpikir lebih dulu."

"Ya, betapa penting dan berbahayanya meyakinkan kedua ilmu beracun itu, jikalau kami tidak kerja sama dengan baik, mana bisa berhasil, jikalau kau menjadi istriku selalu dapat mendampingi dan menari petunjuk dan bimbingan, tidak menjadi soal bila aku gagal, cuma sakit hati cicimu menjadi tak terbalas untuk selamanya." Hati Siang Ceng-hong sudah tergerak, dia merasa ucapan sang Cihu memang masuk diakal, akan tetapi dia tetap merasa ragu2, rasa takut masih membayangi sanubarinya terhadap Kongsun Ki, disaat dia berpikir dan susah ambil keputusan, mendadak terdengar suara seorang perempuan mengejek dingin:

"Kongsun Ki, sungguh kau tidak tahu malu, baru saja kau mencelakai jiwa tacinya, kini kau membujuk rayu adiknya lagi."

Semula tawa dingin itu masih kedengaran jauh, namun sekejap saja orangnya tahu2 sudah berada di-depan mata! Sudah tentu kejut Kongsun Ki bukan ke palang, waktu dia angkat kepala dilihatnya sesosok bayangan orang berlari mendatangi secepat angin puyuh, punggungnya memanggul kebut, pinggangnya menyoreng pedang, siapa lagi kalau bukan Hong-lay-mo-li?

Sedetik itu Siang Ceng-hongpun kaget melongo, namun dendam seketika membara dalam sanubarinya, segera dia melolos pedang memapak maju, makinya: "Bagus, kau iblis perempuan yang keji ini, ciciku sudah kau bunuh, kau meluruk kemari hendak membunuhku sekalian? Meski bukan lawanmu aku hendak adu jiwa kepadamu, Cihu, hayo maju!"

Grerakan Hong-lay-mo-li bagai kilat menyamber, mana dapat ditusuknya, sekali berkelit dan berkelebat tahu2 dia sudah mengadang dihadapan Kongsun Ki, bentaknya: "Kongsun Ki, katakan siapa yang membunuh cicinya?"

Seperti orang menunggang harimau tak berani turun, terpaksa Kongsun Ki mengeraskan kepala, katanya: "Jing-yau, bebaskanlah adik Pek-hong, sudah cukup kau membunuh cicinya saja!"

Gusar dan pedih pula hati Hong-lay-mo-li, sungguh tak habis pikir olehnya bahwa kejahatan dan keculasan hati Kongsun Ki ternyata memang tidak bisa diobati lagi. Saking gusarnya, setelah berkelit dari tusukan Siang Ceng- hong, segera dia berkata: "Ceng-moay, kau ingin tahu siapakah pembunuh cicimu? Ketahuilah cicimu meninggal lantaran perbuatan Kongsun Ki yang sckongkol dengan Giok- bin-yau-hou! jangan kau terlena oleh bujuk rayunya tadi, celaka dan kasep bila kau tertipu oleh Cihumu."

Kata2 Hong-lay-mo-li bagai bunyi beledek disiang hari bolong menyambar kepala Siang Ceng-hong. Namun selamanya takkan pernah terpikir olehnya bahwa sang Cihu bakal pembunuh cicinya atau istrinya sendiri. Dalam waktu dekat, mana bisa dia mau percaya akan ucapan Hong-lay-mo- li.

Berubah air muka Kongsun Ki, tiba2 timbul nafsunya membunuh, bentaknya beringas: "Jiiig-yau, berani kau memfitnah aku!" - "Wut" kontan dia menjo-tos, bau amis segera merangsang hidung, Hong-lay-mo-li sudah siaga, sambil mengayun kebut badannya mencelat tinggi, ditengah udara-dia melolos pedang, dengan jurus Hong-hun-toan-hong pedangnya menabas ketangan lawan, jengeknya: siapa yang memfitnah? Hm, kau hendak bunuh aku untuk menutup mulutku, berani pula menggunakan pukulan beracun menghadapi aku? Ceng-moay, nih kuberi bukti kepadamu!"

Serangan pertama luput lekas sekali Kongsun Ki sudah mendorong tampang kedua telapak tangannya, tangan kiri menggunakan Hu-kut-ciang, tangan kanan melontarkan Hoa- hiat-to, betapapun tinggi kepandaian Hong-lay-mo-li, ia jadi sibuk juga menghadapi kedua pukulan berbisa ini, dengan sendirinya bukti yang dikatakan tak mampu dikeluarkan.

"Katakan, bukti apa?" bentak Siang Ceng-hong, segera diapun putar pedang secepat kitiran merabu dengan sengit kepada Hong-lay-mo-li. Dengan menghadapi musuh dari dua jurusan Hong-lay-mo-li jadi kerepotan juga, meski kepandaian Siang Ceng-hong masih jauh tingkatannya, namun dia hanya mampu berkelit saja tanpa balas menyerang, sehingga perhatiannya tak bisa seluruhnya dia tumplek untuk menghadapi Kongsun Ki.

Dengan mantap dan tabah Hong-lay-mo-li hadapi rangsakan kedua musuhnya mengandal kepandaian mendengar angin membedakan senjata, dikombinasikan dengan kelincahan gerak langkahnya, dengan mudah dia selalu meluputkan diri dari sergapan pedang Siang Ceng-hong, dengan kebut melindungi badan, sementara pedang dibuat merangsak balik balas menyerang musuh, Lama kelamaan Kongsun Ki berdua dapat menempatkan diri pada posisi yang lebih unggul, namun untuk menjebol pertahanan Hong-lay- mo-li yang ketatpun tidak mungkin.

Karena terdesak terus Hong-lay-mo-li harus peras otak, akhirnya terpikir olehnya sebuah akal, memangnya Lwekang dia lebih tinggi dari sang Suheng, meski terdesak dia masih dapat menghadapi dengan mantap tanpa mengenal lelah, namun diam2 dia kerahkan hawa murni mendesak keringat keluar sehingga badannya gemerobyos, napas pun sengal2, pura-pura keripuhan dan terdesak semakin runyam.

Kongsun Ki kegirangan, serunya tertawa senang: "Liu- sumoay, jelek2 kita masih punya hubungan seperguruan soalnya kau yang mendesakku sampai begini, terpaksa aku harus bertindak keluar batas, jikalau kau berani bersumpah berat, selanjutnya cuci tangan tidak mencampuri urusanku, mengundurkan diri dari percaturan Bulim, boleh aku mengampuni jiwamu."

Soalnya Kongsun Ki sendiri tidak yakin dapat membunuh Hong-lay-mo-li, kedua dia masih takut diketahui oleh ayahnya, ketiga meski hatinya culas dan sudah rusak, betapapun nuraninya belum bobrok seluruhnya, sejak kecil Hong-lay-mo- li dibesarkan bersama dirinya, pada suatu ketika pernah pula dia jatuh hati kepada Sumoaynya yang satu ini, jikalau harus benar2 menamatkan jiwanya, betapapun hatinya tidak tega. Dengan adanya ketiga alasan ini, maka sengaja dia gunakan cara membujuk dan mengancam secara halus, Dia tahu Hong-lay-mo-li paling menjunjung kesetiaan dan pasti menepati janji dan sumpahnya sendiri, kalau orang mau menerima usulnya, dirinya tidak perlu kuatir didalam menjalankan rol2 kejahatan-nya, cara ini jauh lebih baik dari pada membunuh Sumoaynya.

Didalam rasa gusarnya Hong-lay-mo-li terhibur juga bahwa nurani sang suheng masih belum kabur seluruhnya, betapapun aku harus memberi kesempatan kepadanya untuk bertobat dan menyesali segala perbuatan jahatnya, Maka dia berkata: "Kongsun Ki, jadi kau kuatir aku mencampuri urusanmu? Begitupun baik, biar aku mempertimbangkan sebentar!"

Sudah tentu Siang Ceng-hong tidak tahu jalan pikiran Kongsun Ki, keruan hatinya gugup dibuatnya, serunya: "Cihu, jadi kau sudah tidak niat menuntut balas sakit hati Cici?

Memangnya ada rahasia keburukanmu apa yang tergenggam ditangannya?"

Kalau serangan Siang Cenghong semakin gencar, sebaliknya Kongsun Ki bergerak tidak sungguh2 lagi, karena dia harus memberi kesempatan Hong-lay-mo-li berpikir

Se-konycng2 Hong-lay-mo-li tertawa, serunya: "Ceng- moay, kau tidak tahu, memang ada rahasia keburukannya berada didalam genggamanku!" ditengah gelak tawanya, tiba2 badannya melambung ketengah udara, dengan tipu Elang menyerang ditengah udara,badannya menukik pedang menusuk kebatok kepala Kongsun Ki.

Sinar pedangnya laksana pelangi, betapa hebat dan dahsyat tusukan dari tengah udara ini, keruan bukan kepalang kaget Kongsun Ki, lekas dia dorong kedua tangan, namun kebut Hong-lay-mo-lipun ikut menyapu turun dengan salah satu jurus Thian-lo-hud-tim-hoatnya yang paling ampuh bernama Lui-tian kau-hong (kilat dan beledek menyamber bersama), kebut memangnya benang empuk yang lunak, namun dibawah landasan Lwekangnya yang ampuh, mengepruk dari atas lagi sehingga perbawanya hebat sekali laksana guntur menggelegar dibarengi dengan jurus pedang ditangan kanannya, dimana pedang berkelebat sungguh laksana beledek dan kilat menyamber sungguhan.

Tenaga dorongan kedua tangan Kongsun Ki dipatahkan oleh sambaran kebut Hong-lay-mo-li ditengah ja-lan, dalam waktu yang sekejap itu, Kongsun Ki rasakan batok kepalanya dingin silir, tahu2 Hong-lay-mo-li sudah lolos dari lingkupan kekuatan pukulannya, dan meluncur turun tiga tombak kesebelah sana.

Celakanya dimana sinar pedang orang menyamber, rambut kepala Kongsun Ki terpapas rontok berhamburan Ba-ru sekarang Kongsun Ki insaf, barusan Sumoaynya belum lagi mengerahkan setaker tenaganya, jadi keadaannya tadi hanya pancingan belaka, umpama dirinya benar2 menyerang sepenuh tenaga, belum tentu dapat mengalahkan Sumoaynya, apalagi sedikit lena, untung kalau hanya rambutnya saja yang tertabas sehingga kepala botak.

Begitu Hong-lay-mo-li tancap kaki dibumi, segera dia merogoh kantong mengeluarkan sebatang sempritan warna hitam katanya: "Ceng-moay, sebelum ajal cicimu berpesan kepadaku supaya aku menjaga dan melindungi kau, karena dia kuatir kau tertipu oleh Cihumu!"

Siang Ceng-hong tertawa dingin, katanya: "Masa kah Ciciku begitu intim terhadapmu? Aku tidak percaya !"

"Tidak percayai Coba kau dengar sempritan ini" meniup sempritan itu dengan nyaring, tiga kali panjang duakali pendek, beruntun tiga kali, seketika Siang Ceng-hong menjublek mendengar bunyi sempritan yang terahasia ini. Kongsun Ki melengak heran, bentaknya: "Jing-yau, kau petingkah apa? Dari mana kau dapatkan sempritan mainan anak2 itu, terhitung bukti apa itu? Ceng-moay, terang dia ini pembunuh Cicimu, tujuannya hendak mengadu domba hubungan kita, jangan kau percaya obroannya!" setelah rambutnya terpapas rontok nyali Kongsun Ki sudah pecah maka dia tidak berani melabrak maju lagi.

Gejolak perasaan Siang Ceng-hong, lama juga perang batin dalam benaknya baru diatasinya, kini hatinya mulai tenang, pikirnya dengan seksama: "Kalau Hong-lay-mo-li merebut sempritan ini dari tangan cici, dari mana dia tahu cara membunyikan sempritan yang terahasia itu? Meski diancam cici tidak akan memberitahu rahasia ini!"

Mau tidak mau goyah hatinya, kepercayaan timbul terhadap Hong-iay-mo-ll, namun rasa curiga kembali timbul dalam benaknya: "Siang-keh-po merupakan warisan ayah, umpama Cici meninggal, toh masih ada aku, masakah begitu gampang dia menyerahkan Siang-keh-po kepada orang luar?"

Maklumlah sempritan ini merupakan kekuasaan tertinggi di Siang-keh-po, dengan memegang sempritan ini orang dapat memberi perintah apa saja kepada seluruh penghuni Siang- keh-po. sedang Hong-lay-mo-li sendiri tidak tahu akan seluk beluk ini.

Percaya dan curiga, membuat hati Siang Ceng-hong hambar dan mendelu, sulit juga dia memastikan siapa sebenarnya pembunuh cicinya, yang terang cicinya memang memberikan sempritan itu kepada Hong-lay-mo-li.

Maka setelah pikiran Siang Ceng-hong tenang dan otak menjadi dingin, lama kelamaan kepercayaannya kepada Hong- lay-mo-li lebih tebal, tak terasa dengan pandangan curiga dia melirik kearah Kongsun Ki.

Betapa cerdik Kongsun Ki, melihat mimik Siang Ceng-hong serta sorot matanya yang curiga, lantas dia menyadari bahwa sempritan ini memang ada latar belakangnya yang belum diketahuinya, Pula terasa pula olehnya, sorot mata Siang Ceng-hong sudah curiga kepadanya, selanjutnya tidak mudah lagi dirinya untuk menipunya.

Hong-lay-mo-li segera menuding dengan kebutnya: "Cara bagaimana kau bunuh istrimu? Kau sendiri mengakui dosa2mu, atau aku yang wakili kau membeber perbuatanmu yang terkutuk itu?"

Insaf bahwa Siang Ceng-hong tidak akan membela dirinya, kalau urusan berlarut2, duduk perkaranya sudah jelas lagi, celaka kalau Siang Ceng-hong bergabung dengan Hong-lay- mo-li melabrak dirinya, demi keselamatan jiwa sendiri, lari adalah jalan yang paling baik, segera dia mencibir bibir, katanya: "Ceng-moay, jikalau kau termakan oleh obrolan musuh besarmu, ya, terserah kepadamu sendiri!" setelah melontarkan kata2nya, segera diaputar tubuh terus lari lintang pukang.

Hong-lay-mo-li memang tidak berniat menamatkan jiwa Suhengnya, dan lagi dia masih punya urusan lain yang lebih penting perlu mencari tahu kepada Siang Ceng-hong, maka dia tidak mengudak Kongsun Ki.

Pelan2 Hong-lay-mo-li putar badan, katanya tersenyum: "Ceng-moey, kau percaya kepadaku?"

Mendelu hambar hati Siang Oeng-hong, mulutnya mengigau: "Sempritan ini, sempritan ini, apa yang dikatakan cici kepadamu?"

Hong-lay-mo-li melengak heran, kenapa orang tidak tanya cara kematian cicinya, malah menanyakan sempritan ini lebih dulu, sahutnya: "Oh, ya, sempritan ini adalah barang peninggalan cicimu, silakan kau ambil kembali. Masih banyak persoalan yang perlu kubicarakan dengan kau."

Siang Ceng-hong tertegun, tanyanya: "Kau kembalikan sempritan ini kepadaku?" "Barang peninggalan leluhurmu, buat apa harus kumiliki?"

Apakah Siang Ceng-hong bisa melepaskan diri dari incaran Kongsun Ki yang naksir pada-nya?

Kenapa Bun Yat-hoen sampai bentrok dengan Hong-lay- mo-Ii? Siapa pula tokoh Sat-si-sam hiong itu? Apakah Hong- lay-mo-Ii dapat mengalahkan mereka?

(Bersambung ke bagian 17)
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 16"

Post a Comment

close