Pendekar Latah Bagian 07

Mode Malam
 
Bagian 07

Baru sekarang Hong-lay-mo-li tahu bahwa Giok-biin-yau- hou punya she rangkap, yaitu Jilian, marga dari suku bangsa Nuchen, Tapi diantara bangsawan negeri Kim tiada orang yang punya she Jilian, memangnya siapa pula yang mengangkatnya menjadi Cuncu (setingkat Bupati)?

Tengah Hong-lay-mo-li ber-pikir2, dilihatnya Bu-lim-thian- kiau sedang menghampiri Tang-hay-liong dan Say-ci-hong, keruan lebih besar rasa kaget hatinya, kembali permainannya menjadi kacau, untung Kim Cau-gak masih dalam keadaan linglung memecah perhatian memperhatikan gerak gerik Bu- lim-thian-kiau, kembali orang menyia2kan kesempatan yang baik ini.

Tak urung disaat sedikit lena, segulung hawa dingin kembali meresap kedalam salah satu Hiat-tonya, seketika ia bergidik kedinginan, tapi pikirannya malah sadar dan jernih, lekas ia berhasil menutup kembali lobang kelemahannya,

Dengan berseri tawa selangkah demi selangkah Bu-lim- thian-kiau menghampiri kedepan Tang-hay-liong dan Say-ci- hcng. Kedua orang ini sedang duduk jajar samadi mengerahkan hawa murni untuk berusaha mengusir hawa beracun, lambat laun Lwekangnya sudah pulih sedikiti demi sedikit, melihat Bu-lim-thian-kiau mendatangi tanpa barjanji keduanya mendadak sama memukulkan kedua tapak tangan, keduanya tokoh2 kosen yang berkepandaian tinggi, meski turun tangan dengan sisa tenaga, kekuatan gabungan mereka masih cukup menggempur batu dan melukai orang,

Bu-lim-thian-kiau tertawa, katanya: "Kalian tak perlu curiga, aku akan menyembuhkan luka2 saja." Sikapnya wajar senyum simpulnya masih terkulum, ditengah damparan pukulan angin yang cukup hebat itu, Uba2 badannya berkelebat tiba didepan Tang-bay-Hong. Sudah tentu Tang-hay-liong tidak mau per-caya, baru saja hendak melompat bangun mengadu jiwa, gerakan Bu-lim-thiaw-kiau lebih cepat, tahu2 tangan orang sudah menekan pundaknya, sedang Say-ci-hong belum lagi berkeputusan melihat Toakonya di-tundukan orang baru ia terkejut, tapi sebelah tangan Bu-Iim-thian-kiau tahu2 pula sudah menahan badannya.

Dalam sekejap, terasa oleh Tang-hay-liong segulung arus hangat merembes masuk kedalam badannya lewat tapak tangan orang, terus mengalir deras kese-luruh badannya dan akhirnya berkumpul dipusar, seketika badan terasa segar pikiran jernih dan bangkit pula semangatnya, Tang-hay-liong terkena pukulan Siu-lo-im-sat-kang Kim Cau-gak, badannya terserang hawa dingin yang beracun, dimana arus hangat ini tiba rasa dingin seketika sirna, lekas Tang-hay-liong bantu dengan kekuatan Lwekang sendiri untuk memperlancar dan mempercepat kerjanya arus hangat ini, tak lama kemudian hawa dingin sudah terusir seluruhnya, kesehatan pulih seperti sedia kala dan pulih pula kepandaiannya.

Say-ci-hong terluka oleh tutukan Lui-sin-ci Kim Cau-gak, badannya seperti dipanggang diatas tungku, dalam sekajap ini, terasa hawa panas yang amat gerah itu semakin susut, badan seperti dikipas dengan angin sepoi2 dingin, enak dan nyaman sekali, hampir bersamaan dengan Tang-hay-Iiong, suhu panas yang merangsang badannya pun sudah terusir habis, kepandaian dan Lwekangnya pulih kembali.

Baru sekarang mereka sadar bahwa Bu-lim-thian-kiau benar2 membantu mereka dengan Lwekang tingkat tinggi, mengusir racun menyembuhkan luka2. Bahwa sekali bekerja Bu-lim-thian-kiau bisa bantu mereka mengusir dua macam hawa beracun, Lwekang tingkat tinggi yang sakti mandraguna seperti ini, sungguh hebat dan menakjupkan, mereka sudah cukup ternama dan tinggi kepandaiannya, tapi mau tak mau merasa takjub luar biasa, kagum dan kaget pula.

Bu-lim-thian-kiau tersenyum, katanya: "Silakan kerahkan tenaga murni berputar tiga kali dalam badan, bibit bencana dikelak kemudian bisa dilenyapkan sekalian." tanpa menunggu pernyataan terima kasih, lekas ia putar badan, menghampiri kegelanggang pertempuran Kim Cau-gak melawan Hong-lay- mo-li.

Selama ini Kim Cau-gak selalu perhatikan gerak gerik Bu- lim-thian-kiau, melihat orang menghampiri seketika membesi hijau raut mubanya, sambutnya dingin: "Tam-pwe-cu, apa sih maksudmu sebenarnya?"

"Kim-losian-sing, kaupun boleh beristirahat saja."

Baru sekarang Hong-lay-mo-li tahu marga Bu-Iim-thian- kiau, pikirnya: "Kiranya dia pangeran negeri Kim dari marga yang lain, tak heran waktu dipuncak Thaysan tempo hari, secara diam2 ia melindungi Wan-yan Liang," sampai disini bercekat hatinya, pikirnya lebih lanjut:

"Sebagai pangeran negeri Kim, jelas takkan bantu aku, Dia suruh tua bangka ini berhenti, apakah dia hendak tantang bertanding lagi dengan aku?"

Sebaliknya mendengar kata orang Kim Cau-gak kaget dan gusar pula, katanya dengan suara berat:

"Tam-pwecu, meski kau tidak punya kecocokan dengan Hongsiang, mana boleh kau malah berkiblat kepada musuh bangsa? iblis perempuan ini adalah musuh negeri Kim kita, apa kau tidak tahu?"

Bu-lim-thian-kiau menghela napas, ujarnya: "Kalian hanya tahu mencari musuh dengan bangsa Han, justru urusan negara bakal rusak ditangan kaum dorna seperti kalian ini." "Baik, jadi kau memang hendak berontak dan bantu iblis perempuan ini?"

Bu-lim-thian-kiau tertawa sinis, ujarnya: "Aku tak perlu sepandangan dengan kau. Ku suruh kau berhenti adalah maksud baikku, tahukah kau? Memangnya kau kira aku punya tempo untuk jajal2 dengan kau?"

Lega hati Kim Cau-gak, pikirnya: "Betapapun kau toh pangeran negeri Kim, tidak berani berkiblat kepada musuh, Hm, hm, asal kau tak turun tangan, kemenangan bakal bisa kucapai dengan gemilang."

Bu-lim-thian-kiau seperti bisa meraba jalan pikir-annya, jengeknya dingin: "Kau kira kau tandingan Liu Lihiap? Kusuruh kau berhenti lantaran demi gengsi dan pamor bangsa Kim kita, juga demi pribadimu. Usiamu setua ini, bila terkalahkan oleh nona semuda ini, kau tidak tahu malu, akulah yang bersedih! Kau tidak menerima kebaikanku, malah anggap aku bertujuan buruk?"

Saking gusar serasa indra Kim Cau-gak mengepulkan uap, serunya setelah tertawa loroh2: "Tam-pwecu, julukanmu Bu- lim-thian-kiau, aku orang she Kim bukan kaum keroco! jangan kau pandang orang dari sela2 pintu sehingga orang kau pandang gepeng, Lihat saja buktinya! Silakan kau mundur jauh sedikit! jikalau genduk cilik ini kuat bertahan seratus jurus, boleh kau hapus nama Kim yang aku pakai."

"Baik, biar aku menyingkir dan menonton saja. Semoga kau bisa menang, cuma mampukah kau menang tergantung dari kau sendiri." menggendong tangan ia menyingkir rada jauh dengan menengadah memandang langit

Hong-lay-mo-li kira orang sengaja berpeluk tangan hendak melihat dirinya dikalahkan secara konyol, seketika hatinya naik pitam, watak kerasnya seketika berkobar, pedang dan kebutan segera ia mainkan dengan gencar, jiwapun dipertaruhkan, serang menyerang dengan sengit dan keras lawan Kim Cau- gak.

Dengan kekerasan hati dan rangsakannya yang hebat Kim Cau-gak cukup kerepotan dan mencelos hatinya, "Bocah ini sudah terserang hawa panas, namun masih bisa bertempur begini sengit, memang tak boleh kupandang rendah!"

Demi unjuk gigi dihadapan Bu-lim-thian-kiau, segera Kim Cau-gak kembangkan permainannya lebih hebat dan dahsyat. Telapak tangan kanan menggunakan Bik-lik-ciang dan Lui-sin- ci, sementara telapak tangan kiri melontarkan kekuatan Siu-lo- im-sat-kang, gelombang panas dan damparan angin dingin sama merangkak hebat Bu-lim-thian-kiau berpeluk tangan menonton saja, karena tiada sesuatu yang dikuatirkan maka serangannya dipergencar dan bertambah kuat

Betapapun Lwekang Hong-lay-mo-li setingkat lebih rendah, badan terangsang hawa panas berbisa lagi, disamping harus ber-jaga2 dari gelombang panas dan damparan angin dingin Kim Cau-gak, dia harus kerahkan hawa murni untuk mengusir hawa beracun dalam badannya, meski dia sudah kembangkan seluruh kemampuannya, betapapun tenaga tidak memadai tekad juangnya.

Tapi mengandal keteguhan dan semangat tempurnya yang berkobar, dia masih tetap menyerang dengan cepat, lahirnya masih belum kelihatan kelemahannya.

Kini Tang-hay-liong dan Say-ci-hong sudah sama sembuh tanpa merasa keduanya melangkah mendekati gelanggang, mereka adalah tokoh kosen kelas wahid, sudah tentu dapat melihat titik kelemahan Hong-lay-mo-li yang mulai terdesak, kalau pertempuran dilanjutkan sebentar lagi tentu kena dirugikan, diam2 gugup dan gelisah hati Tang-hay-liong, dia sedang ragu2 untuk maju membantu.

Tiba2 Bu-lim-thian-kiau menghampiri kedepan mereka, katanya lersenyum: "Pertandingan ini, jarang bisa kita saksikan dalam jaman sekarang, Silakan kalian sama menikmatinya bersamaku." maksudnya supaya mereka berpeluk tangan jangan ikut campur.

Semakin tempur gerak gerik Hong-lay-mo-li semakin cepat, kebutannya tiba2 terkembang tiba2 kuncup, laksana bidadari menyebar kembang, laksana ular sanca mengamuk mencari lobang, perubahannya malang melintang tak menunjukan gambaran yang menentu, permainan jurus2 Kim Cau-gak sebaliknya mulai lambat, setiap pukulan tapak tangannya dilontarkan dengan gerakan pelan2, tapi damparan pukulan angin-nya seperti gelombang pasang, mengeluarkan suara ramai seperti damparan ombak menerjang pantai, kekuatan dan kehebatannya sungguh bikin hati orang mencelos.

Tang-hay-liong dan Say-ci-hong cukup paham, lantaran serangan lawan terlalu gencar dan hebat, Hong-lay-mo-li dipaksa menyerang dengan cepat untuk mempertahankan diri dengan sendirinya cara tempurnya ini semakin menguras tenaga, sedikit lena saja tentu musuh akan menyergap dengan telak.

Serasa hampir meledak dada Tang-hay-liong, diam2 seruling Bu-lim-thian-kiau mengalun lincah mengiringi gerak gerik Hong lay-mo-Ii yang menyerang musuh dengan ilmu pedangnya, ia mempersiapkan diri, bila keadaan cukup genting, tanpa hiraukan segala akibatnya dia siap menubruk maju membantu, seumpama Bu-lim-thian-kiau merintangi, diapun takkan peduli lagi.

Disaat Tang-hay-liong amat tegang dan berkeringat dingin telapak tangannya, sikap Bu-lim-thian-kiau malah adem ayem, serunya: "Bagus, bagus! serangan laksana beledek menyamber, pertahanan serapat benteng baja, kepandaian silat sehebat ini, sungguh kapan manusia bisa melihatnya?

Biarlah akupun iringi kalian dengan irama serulingku untuk menyemarakan pertempuran ini," lagu serulingnya segera kumandang dengan halus mengalun mengasyikkan.

Kalau Tang-hay-liong uring2an, Say-ci-hong yang teliti dapat menangkap lagu seruling serasi mengiringi gerak serangan setiap jurus Hong-lay-mo-li dengan baik, diam2 hatinya ikut mendelu.

Kejadian memang aneh, begitu lagu seruling kumandang, situasi pertempuran seketika berubah, Sikap dan gerak gerik Hong-lay-mo-li lambat laun semakin tenang dan wajar, kebutannya diayun dan bergerak laksana air mengalir mega mengembang: Hawa pedang sebaliknya bergolak, cahayanya semakin mencorong menyala laksana naga bermain burung Hong menari.

Gerak badannya lincah gemelai, serangan tipu2 pedang dan kebutannya amat serasi, Jauh berbeda dari sikap dan gerak geriknya tadi yang keripuhan dan gugup.

Sebaliknya sikap Kim Cau-gak sekarang semakin prihatin, kedua tapak tangannya melontarkan pukulan ber-ulang2, gulung menggulung seperti gelang berantai, gelombang panas dan damparan angin dingin melingkup, udara, Tang-hay-liong yang berdiri tujuh delapan tombak diluar gelanggangpun masih rasakan damparan panas dingin yang menyamber bergantian.

Sebagai seorang ahli, Tang-hay-liong dapat melihat kegugupan hati Kim Cau-gak, sampaipun hawa murninya-pun tak bisa dipusatkan lagi. Oleh karena itu kekuatan pukulan panas dinginnya tidak terkendali sukar dihim-pun, lama kelamaan luber dan berkembang luas memperlemah pertahanan sendiri itu berarti bahwa Im-yang-ji-khi, sudah tidak bisa dia pusatkan untuk menghadapi Hong-lay-mo-li.

Ternyata lagi2 seruling Bu-lim-thian-kiaulah yang pegang peranan, irama serulingnya mengiringi gerak gerik Hong-lay- mo-li begitu serasi dan cocok satu sama lain, seperti penari yang berlenggang longgong menurut irama lagunya, justru setiap pergantian ritme2 dan nada lagunya merupakan petunjuk yang berarti didalam melaksanakan strategis serngan permainan kombinasi pedang dan kebutan Hong-lay-mo-li.

Mendengar lagu seruling seketika bangkit semangat Hong- lay-mo-li, lama kelamaan irama seruling berpadu dengan jiwa raganya, maka gerakan tipu2 serangan kedua senjatanya yang lihay dan hebat memberondong tak putus2! Dipihak lain Kim Cau-gak justru terganggu mendengar suara lagu seruling, hati semakin gundah dan gelisah, semangat dan kekuatan tenaga dalamnya sukar dipusatkan.

Mimpipun Kim Cau-gak takkan pernah menduga Bu-lim- thian-kiau bisa gunakan irama serulingnya untuk bantu Hong- lay-mo-li secara diam2. Tapi pertempuran sudah memuncak pada babak yang menentukan, Bu-lim-thian-kiau tidak membantu secara terang2an, jangan kata Kim Cau-gak sudah tidak mampu pecah perhatian untuk bicara, seumpama bisa, paling2 hatinya marah dan mendongkol tapi tak berani berbuat apa2.

Ditengah serang menyerang yang sengit dan tegang itu, sekonyong2 Kim Cau-gak menggerung keras, ternyata pundaknya kena tertusuk pedang Hong-lay-mo-li! Seru Kim Cau-gak setengah menggembor.

"Bagus, Tam-pwecu, baik ya kau!" tiba2 badannya melejit mundur beberapa tombak terus menjatuhkan diri menggelundung kebawah lereng bukit, terus lari sipat kuping secepat angin.

Bu-lim-thian-kiau berkata dingin: "Sudah kukatakan kau bukan tandingannya, bagaimana buktinya? Kepandaianmu sendiri yang tidak becus, kenapa salahkan aku?"

Tang-hay-liong bergelak2 sambil tepuk tangan, serunya: "Ki-lian-lo-koay, lebih baik kau turuti petunjuk Liu-lihiap, selanjutnya ganti nama saja! Kim Cau-gak harus diganti Kim Hu-song!"

Bu-lim-thian-kiau tertawa tawar, katanya: "Negeri Song atau Kim sama2 punya tokoh2 kosen, tergantung baik buruk sepak terjang masing2 orang, jadi tidak perlu siapa harus tunduk kepada siapa." baru sekarang Tang-hay-liong sadar bahwa Bu-lim-thian-kiau adalah pangeran negeri Kim, barusan mulutnya sudah kelepasan omong,

Hati Hong-lay-mo-li cukup paham, diam2 hatinya mendelu, sungguh ia tak habis mengerti kenapa Bu-lim-thian-kiau membantunya secara diam2? Waktu ia berpaling dilihatnya Bu-lim-thian-kiau sedang mengawasi dirinya seperti tertawa tidak tertawa.

Merah muka Hong-lay-mo-li, seharusnya dia maju menghaturkan terima kasih, namun dalam keadaan serba runyam dan kikuk ini, cara bagaimana dia harus membuka mulut?

Waktu itu Tang-hay-liong dan Say-ci-hong maju bersama menghaturkan terima kasih kepadanya, lebih merah muka Hong-lay-mo-li, katanya: "Bukan kepadaku kalian harus berterima kasih, silakan..." belum habis kata2nya, Bu-lim- thian-kiau tiba2 bersuara: "Urusan disini sudah usai, maaf aku pamit lebih dulu."

Hong-lay-mo-li melongo, Bu-lim-thian-kiau sudah melangkah bagai terbang turun gunung, dari kejauhan terdengar senandungnya disusul alunan irama serulingnya.

Sebentar Hong-lay-mo-li melongo, tiba2 badannya melejit jauh, cepat sekali badannya meluncur kesana mengejar bayangan orang, Banyak persoalan yang mengganjel dalam sanubarinya, tibalah kesempatan kini untuk minta penjelasan langsung kepada Bu-lim-thian-kiau, maka tak sempat ia pikirkan adat istiadat, lupa pamitan kepada Tang-hay-liong dan Say-ci-hong.

Hong-lay-mo-li tahu Ginkang Bu-lim-thian-kiau tidak lebih rendah dari dirinya, kuatir tidak bisa menyusup ia kerahkan seluruh tenaga dan kemampuan-nya, untunglah setelah membelok sebuah selokan gunung, tampak Bu-lim-thian-kiau sedang melangkah pelan2 didepan sana. sebetulnya dia hendak berteriak memanggil, namun hatinya gundah dan gugup, entah bagaimana dia harus buka mulut.

Untunglah Bu-lim-thian-kiau sudah putar badan dan menyapa lebih dulu dengan tertawa: "Liu Lihiap, masa kau masih belum puas dan ingin bergebrak lagi dengan aku?"

"Kau bukan musuhku, paling tidak hari ini bukan, tanpa sebab kenapa aku harus cari perkara kepada-mu?" Hong-lay- mo-li menjawab secara diplomasi.

"Nah, sudah tahu kau sekarang, bukan setiap orang negeri Kim adalah musuhmu?"

Merah muka Hong-lay-mo-li, katanya: "Terima kasih iringan lagu serulingmu, Kalau tanpa bantuanmu..."

"Kaupun sudah membantu aku, kita boleh dikata saling membantu."

Hong-lay-mo-li melengak, tanyanya: "Masa?" "Akupun benci terhadap Kim lian-lo-koay, sejak dulu

leluhurku menggunakan tenaganya, ini bukan keuntungkan

negeriku, sebaliknya malah bakal menimbulkan bencana, Tapi aku tak enak menghajarnya, Hari ini kau menggebahnya sampai lari lintang pukang, terhitung melampiaskan kedongkolan hatiku."

"Kau tidak takut dia mengadu biru dihadapan Rajamu?" "Sejak lama toh aku sudah menjadi buronan pemerintah

negeriku." "Kenapa?"

"Karena sejak mula aku menentang Wanyan Liang menjadi raja."

Hong-lay-mo-li tidak menyangka orang bicara blak2an secara jujur terhadap dirinya, sekilas melengak, lantas tertawa: "Sepak terjangmu memang aneh dan susah dijajagi?"

"Kau maksudkan peristiwa dipuncak Thaysan tem-po hari?

Bahwasanya kejadian itu tidak perlu dibuat heran, aku menentang dia jadi raja adalah persoalan lain, tapi raja negeri Kim kita se-kali2 pantang terbunuh oleh kau! Dulu salah seorang raja negeri Song kalian pernah tertawan oleh negeri Kim kita, kalian bangsa Song anggap merupakan suatu penghinaan yang terbesar, jikalau raja kita sampai terbunuh olehmu, betapa aku tak kan merasa suatu penghinaan?"

"Bangsa Nuchen menjajah negeri Song kita, membantai rakyat negeri Song kita pula, sebaliknya kita tak pernah menjajah dan main agresi terhadap negeri Kim kalian."

"Disitulah letak dari titik tolak kenapa aku menentang Wanyan Liang menjadi raja, Dia bukan saja bertujuan mencaplok teri, malah hendak melalap kakap sekalian, dia sudah bertekad pada musim rontok tahun ini, hendak merayakan musim semi di kota raja negeri Song kalian, yaitu Ling-an, hal ini kaupun sudah tahu."

Hong-lay-mo-li merasa diluar dugaan, katanya: "Tak nyana dalam menghadapi persoalan ini, kami mempunyai maksud tujuan yang sama, sama2 menentang raja negerimu."

Bu-lim-thian-kiau menghela napas, katanya rawan: "Wanyan Liang mengerahkan pasukan besar2an, rakyat negeri Song secara langsung yang mengalami penindasan dan penderitaan, memangnya manfaat apa pula yang dirasakan oleh rakyat negeri Kim kita? Bukankah mereka sama saja mengalami perpisahan keluargaan, sawah ladang terlantar?" Kejut, heran dan tak terduga sama sekali oleh Hong-lay- mo-li mendengar uraian Bu-lim-thian-kiau yang mencurahkan isi hatinya secara lapang dada. Baru sekarang pula dia betul2 menyelami dan memperoleh pengertian yang mendalam tentang pribadi, watak dan pambek Bu-lim-thian-kiau.

Bu-lim-thian-kiau sendiripun ber-kaca2 matanya, tiba2 ia terloroh tawa keras, katanya: "Ah, betapa ceroboh aku ini, belum lagi aku tanya maksud kedatanganmu lantas, nerocos soal politik, soal kenegaraan yang merisaukan ini, Baiklah, sekarang giliranku tanya kau apa maksud kedatanganmu?"

Sebentar Hong-lay-mo-li memenangkan pikiran, katanya kemudian: "Terima kasih kau sudi membeber isi hatimu kepadaku, memang itulah persoalan yang selalu mengganjel dalam relung hatiku dan tak enak kuajukan, Kalau tidak kau jelaskan, mungkin selamanya aku tetap pandang kau sebagai musuh."

Setelah tertawa geli, dia menyambung: "Sekarang aku ingin tanya persoalan pribadimu, entah sudikah kau beritaku kepadaku?"

"Silakan berkata."

"Apakah kau sudah kenal baik dengan Susoku? Dimana dia sekarang?"

"Malam itu aku muncul di Siang-keh-po, kebetulan menolong Susomu, tentu kau merasa heran, benar tidak? suhengmu jahat dan punya tujuan keji, kukira karena malu menjadi gusar, tentu dihadapanmu dia memfitnah orang se- mena2?"

Bu-lim-thian-kiau dapat menduga kejadian dengan tepat, Hong-lay-mo-li benar2 tunduk lahir batin, tapi keburukan rumah tangga tak enak dibeber dihadapan orang luar, terpaksa dia tidak bisa memberi penjelasan merah jengah mukanya.

Bu-lim-thian-kiau berkata: "Tentang rahasia ini boleh kuberitahu kepada kau, Dengan Susomu selamanya aku belum pernah kenal, tapi dia terhitung Su-ciku, ada dua tujuan aku pergi ke Siang-keh-po, satu diantaranya adalah hendak menemui Suciku yang belum pernah kulihat ini."

Hong-lay-mo-li tertegun, tanyanya: "Jadi kau inipun murid dari Siang-Kian-thian si gembong iblis itu?"

"Bukan, Siang Kian-thian adalah Susiokku."

Hong-lay-mo-li melengak heran, gurunya menjadi musuh kebuyutan Siang Kian-thian, tapi selamanya belum tahu bahwa Siang Kian-thian punya seorang Su-heng.

Berkata Bu-lim-thian-kiau lebih lanjut: "Biar ku-kisahkan sebuah cerita: Kira2 pada empat lima puluh tahun yang lalu, waktu itu dunia masih dikuasai oleh Song Kim dan Liau tiga negeri yang bercokol pada masing2 wilayahnya, masing2 berlomba mempersenjatai diri dan saling serang menyerang, belakangan Song dan Kim berserikat mencaplok Lian.

Pada waktu itu di negeri Kim terdapat seorang tokoh Bulim yang aneh, ayahnya adalah bangsa Kim, ibunya bangsa Song dan istrinya dari bangsa Liau. Menghadapi pertempuran acak2an dari tiga negeri yang saling cakar itu, hatinya amat sedih.

Maka akhirnya dia tak mau turut campur soal politik, lalu mengasingkan diri diatas gunung, beruntun dia menerima tiga orang murid, Ayah bunda dan istrinya terdiri dari tokoh2 persilatan kosen yang punya kedududukan dan tingkatan yang amat tinggi, maka kepandaian silat dirinya merupakan kombinasi dari ilmu silat dari tiga negeri Kim, Song dan Liau.

Maka dia hendak ajarkan kepandaiannya masing2 kepada tokoh Bulim dari ketiga negeri itu, inipun sedikit cita2yang diidamkan selama hidupnya, maksudnya supaya ketiga muridnya dari kelainan bangsa ini bisa mempertahankan persahabatan sesama kaum persilatan dari ketiga negeri yang bermusuhan ini.

Maka ketiga murid yang dia terima itu masing2 terdiri dari seorang Liau, seorang Kim dan seorang Song, Murid dari bangsa Song merguru setelah belajar silat dari asal negerinya, dia adalah ayah dari Susomu, yaitu Siang Kian-thian."

"O, jadi begitu, lalu, kau..."

"Guruku adalah murid bangsa Kim itu, suatu kesempatan yang kebetulan beruntung aku berjodoh dengan guruku, hal ini tak perlu kujelaskan. Alkisah setelah ketiga murid itu tamat belayar, mereka pulang kenegerinya sendiri2, tak lama kemudian guru merekapun meninggal dunia.

Tak lama lagi negeri Song berserikan dengan negeri Kim mencaplok negeri Liau, belakangan negeri Song dan negeri Kimpun bermusunan sendiri, situasi dunia se-olah2 sudah menjadi suratan takdir, kuasa Thian tak bisa dijangkau oleh manusia meski dia berkepandaian silat setinggi langit.

Negeri Liau dicaplok, negeri Song terjajah, sudah tentu rakyat kedua negeri ini sama membenci negeri Kim, Dalam keadaan dan situasi yang begini rumit, murid bangsa Liau dan bangsa Song itu, tidak berani membocorkan rahasia bahwa guru mereka adalah bangsa Kim."

Baru sekarang Hong-lay-mo-li paham, tak heran sampai gurunya sendiripun tidak tahu asal usul dan rahasia perguruan Siang Kian-thian yang sebenarnya.

Tutur Bu-lim-thian-kiau lebih lanjut: "Waktu Soco menerima murid, dia hanya menilai bakat tidak pandang martabat. Murid dari bangsa Song dan Liau belakangan sama menjadi gembong iblis yang banyak melakukan kejahatan." Hong-lay-mo-li tertawa, katanya: "Jadi diantara tiga murid Sucomu itu, hanya gurumu saja yang paling baik?"

"Guruku sendiripun mempunyai watak yang nyeleweng, kalau tidak dia tidak akan menerima aku sebagai muridnya, Cuma dia belum sampai berbuat jahat seperti kedua Susiok."

"Dia mau terima kau sebagai muridnya, memangnya apa sangkut pautnya dengan soal lurus atau sesat?"

"Msakah kau tidak tahu bahwa aku ini pangeran negeri Kim? sebangsa tokoh silat lurus yang mengasingkan diri, selamanya tidak sudi berhubungan dengan para bangsawan, Tapi lain pendirian dan pandangan guruku, bahwa dia terima aku menjadi muridnya dengan satu harapan, kelak bila aku pegang kuasa, supaya bisa merubah dasar politik negara.

Tidak terpikir olehnya dengan kekuatanku seorang diri, mana bisa memutar situasi yang sudah ditakdirkan Thian? Karena aku menentang politiknya, maka Wanyan Liang anggap aku sebagai musuh dalam selimut, mana mungkin mau menyerahkan kedudukan kepadaku?"

Bu-lim-thian-kiau menyambung lebih lanjut: "Kembali  bicara soal Susomu, Meskipun aku belum pernah bertemu dengan dia, tapi sudah lama aku tahu susiok di negeri Song  itu adalah Siang Kian-thian. sebelum ajalnya guruku ada pesan supaya aku mencari jejak keturunan atau murid dari kedua Susiok itu.

Karena tujuan inilah aku tiba di Siang-keh-po, kebetulan memergoki perbuatan jahat Kongsun Ki yang hendak mencelakai jiwa isterinya, sudah tentu aku tidak bisa berpeluk tangan, begitulah duduk kejadiannya, kau sudah paham?"

"Dimana Susoku sekarang berada?" "Kau hendak bertemu dengan dia?" "Terlalu mendalam salah paham Suso kepadaku, tapi aku hendak membujuknya supaya rujuk kembali dengan Suheng."

"Kukira sulit, suhengmu tega berbuat sekeji itu terhadapnya, masakah hatinya tidak ciut dan dendam?"

Hong-lay-mo-li bungkam seribu basa. Bu-lim-thian-kiau berkata pula: "Tapi kau tak usah kuatir, semula Susomu memang salah paham kepadamu, sekarang mungkin sudah mengerti."

"Mengerti apa?" tanya Hong-lay-mo-li.

"Dia tahu bahwa dalam hatimu ada bayangan laki2 lain, takkan mungkin merebut suaminya."

Merah muka Hong-lay-mo-li, namun isi hati kena dikorek, dihadapan Bu-lim-thian-kiau yang baru dikenalnya lagi, sungguh runyam benar, marah tidak bisa tidak marah merasa malu dan uring2an, terpaksa dia pura2 ngomel: "Susoku memang suka curiga dan main tuduh secara serampangan."

"Apa kau ingin bertemu dengan Susomu?" "Ya, kenapa?"

"Kalau ingin bertemu dia, pergilah ke Siang-keh-po. mungkin disana kau bisa menemuinya."

"Lho, katamu mereka tak mungkin rujuk kembali, kenapa Suso pulang kerumahnya pula? Memangnya sudah lemah hati dan putar haluan?"

"Belum tentu dia sudi rujuk kembali dengan Su-hengmu, betapapun hubungan cinta suami istri tetap ada. Dia tidak suka suhengmu nama runtuh badan hancur, maka ingin pulang untuk mengekang tindak tanduknya yang nyeleweng. Dan lagi, untuk melampiaskan rasa penasarannya."

"Kenapa suhengku bisa nama runtuh badan hancur?" "Secara diam2 suhengmu sudah terima pengangkatan Wanyan Liang, cita2nya hendak menjadi raja muda di Soatang, kau tidak tahu?"

Tersirap darah Hong-lay-mo-li, baru sekarang ia tahu percakapan malam itu yang dia curi dengar dikamar bukunya dengan Giok-bin-yau-hou memang benar, dihadapannya sang Suheng mungkir dan itu pura2 belaka, Hatinya menjadi masgul dan risau.

Agaknya Bu-lim-thian-kiau tahu akan isi hatinya, katanya tertawa: "Kepandaian Susomu memang rada rendah, tapi dia pegang dua macam mestika, sedikit banyak masih bisa mengekang Suhengmu!"

"Maksudmu inti pelajaran kedua ilmu beracun itu?"

"Benar, tujuan suhengmu mengawini Susomu adalah untuk mencuri belajar kedua ilmu beracun ini, sebelum bertindak mau tak mau dia harus berpikir dua belas kali."

"Tapi Suso sendiri tidak pernah meyakinkan, memangnya dia hanya ngelabui saja."

"Ngelabui sih tidak, Untuk meyakinkan kedua ilmu beracun perlu dilandasi Lwekang tunggal dari perguruan kita tingkat tinggi, Siang-susiok sendiri tidak mendapat pelajaran ini, maka belakangan waktu dia berkeras melatih kedua ilmu beracun itu, akhirnya Cau-hwe-jip-mo sampai meninggal."

"Jadi meski kedua pelajaran ilmu beracun itu berada ditangan Suso kan juga tak berguna, mana bisa dikatakan sebagai mestika yang dapat mengekang Su-heng?"

"Tapi Lwekang tingkat tinggi Suco ada diturunkan kepada guruku, Ternyata dihari tuanya, beliau lihat watak dan hati Siang-susiok rada nyeleweng, meski sudah terlanjur mengajarkan kedua ilmu beracun itu, landasan Lwekangnya tidak diajarkan kepadanya." "O, tahu aku, jadi kau sudah ajarkan Lwekang tingkat tinggi itu kepada Sucimu?"

"Susomu sudah berkeputusan, bila tidak bisa dikendalikan lagi, terpaksa dia hendak menggunakan Hoa-hiat-sin-kang, supaya suhengmu cacat seumur hidup, selamanya takkan bisa mendurhakai dirinya lagi."

Bergidik Hong-lay-mo-li dibuatnya, tapi ia berpikir "Begitupun baik, cacat seumur hidup, jauh lebih baik dari pada nama runtuh badan hancur."

"Apa kau hendak kembali ke Siang-keh-po menemui suhengmu lagi?"

"Sekarang belum aku berkeputusan, kenapa?"

"Capat atau lambat kau hendak pergi ke Kanglam bukan?" Ya, kau punya pesan apa?"

Sikap Bu-lim-thian-kiau rada aneh, biji matanya berjelilatan, seperti ada apa2 yang merasuk hatinya, tiba2 ia genggam tangan Hong-lay-mo-li bertanya: "Sekarang kau anggap aku sebagai musuh atau sebagai kawan?"

Hong-lay-mo-li berjiwa ksatria dan gagah, sahutnya lantang: "Kau lain dengan orang2 Kim umumnya, kita boleh bersahabat." tangan mereka saling genggam dengan kencang.

"Kalau begitu, aku titip sebuah hal kepadamu." "Silakan berkata."

"Bila kedatanganmu di Kanglam, kau bertemu dengan Siau- go-kan-kun Pendekar latah Hoa Kok-ham, harap wakilkan aku menyampaikan salam kepadanya, Dengan dia aku ada sedikit persoalan, kukira tidak perlu dilanjutkan. Ai, sampaikan saja ucapanku ini kepadanya." suaranya sember dan rendah, agaknya dirasuk kepedihan yang tak terhingga. Hong-lay-mo-li tertegun, tanyaaya: "Kalian sudah kenal?" "Bukan saja kenal, perjalanannya ke Kanglam kali ini,

adalah lantaran aku."

"Lantaran kau? Menurut apa yang kutahu dia sudah mendengar berita penyerbuan pasukan Kim ke selatan, maka lekas dia pergi ke Kanglam menyampaikan kabar ini?"

"Akulah yang beritahu kabar penting ini kepadanya."

"O, jadi waktu di Thaysan tempo hari Kok-ham juga pernah bertemu dengan kau?"

"Ya, semalam sebelum aku bertemu dengan kau, aku sudah bertemu dengan dia. SemuIa dia hendak tantang aku bertanding pedang dipuncak Thaysan, begitu mendapat berita ini, tak sempat bertanding lagi terus turun gunung dan tinggal pergi."

Merah muka Hong-lay-mo-li, ujarnya: "Bahwasanya aku sendiri belum kenal dengan Hoa-Kok-ham. "

Bu-lim-thian-kiau tiba2 ter-loroh2, serunya: "Dalam hati Hoa Kok-ham ada kau, dalam hatimu ada Hoa Kok-ham, ikatan batin yang mendalam ini jauh lebih erat dari perkenalan biasa, Tidak salah kan ucapanku?" gelak tawanya sumbang dan pilu, pelan2 ia lepaskan genggaman tangan Hong-lay-mo- li.

Terkorek isi hatinya, merah muka Hong-lay-mo-li, katanya: "Memang tidak salah ucapanmu. Baru hari ini aku berkenalan dengan kau, tapi sudah seperti kawan lama layaknya?

Terhadap kalian berdua, aku sama2 pandang sebagai sahabat baikku."

Kembali Bu-lim-thian-kiau bergelak tertawa, kembali ia pegang tangan Hong-lay-mo-li, katanya: "Kalau demikian, percaturanku sama dia, kukira masih bisa kulanjutkan." Dengan bingung Hong-lay-mo-li menarik tangannya, katanya: "Aku tidak tahu, Aku hanya tahu bahwa aku harus segera pergi ke Kanglam,"

Sesaat Bu-lim-thian-kiau melongo, kembali ia tertawa ter- loroh2 seperti menang:s, serunya: "Benar, akupun harus berlalu!" ditengah kumandang senandung-nya seorang diri ia tinggal pergi lebih dulu.

Serasa hambar dan kosong kerasaan Hong-lay-mo-li, ingin rasanya dia mengejar, namun kedua kakinya tak mau bergerak, Begitulah Hong-lay-mo-li menjublek ditempatnya, entah berapa lama kemudian, bayangan Bu-lim-thian-kiau sudah lama tak kelihatan, tapi bayangan Pendekar Latah tiba2 terbayang didepan matanya, seketika hatinya semakin risau dan masgul, lama kelamaan dia tenggelam dalam pemikiran yang tak terpecahkan.

Sang surya sudah menongol keluar dari baIik mega diufuk timur, tabir malam seketika tersingkap terang, memandangan alam seketika menjadi terang benderang, setelah menghirup hawa pagi, seketika terbangun semangat Hong-lay-mo-li ia sadar dari lamunnannya, pikirnya:

"Kenapa aku sampai ngelantur disini, Urusan perlu segera kuselesaikan, lebih dulu aku harus kembali kepangkalan mengadakan persiapan seperlunya, baru menuju ke Kanglam menemui pendekar Latah Hoa Kok-ham, hanya dia yang tahu rahasia riwayat hidupku, hal ini merupakan persoalan yang perlu segera kuketahui."

Setelah berkeputusan segera Hong-lay-mo-li kembangkan Ginkang, menyongsong sang surya ia menempuh perjalanan dengan ter-gesa2. seperti diketahui dalam pertempuran tadi dia terserang hawa panas beracun, tapi waktu dia kerahkan hawa murni untuk mengembangkan ilmu entengi tubuhnya, tenaga bisa tersalur dengan lancar dan lebih kuat dari semula, sekilas ia melengak heran, tapi sebagai seorang ahli lekas sekali Hong-lay-mo-li menjadi paham duduknya perkara, batinnya:

"Lagi2 perbuatan Bu-lim-thian-kiau, waktu dia menggenggam tanganku tadi tanpa kusadari, dia selurkan tenaga murninya membantu aku menjebol Ki-keng-pat-meh, sehingga hawa beracun terusir keluar seluruhnya."

Setelah Lwekangnya pulih kembali, tanpa banyak pikir Hong-lay-mo-li terus lanjutkan perjalanan, cuma tiga hari, pejalanan sejauh delapan ratus li melalui gunung gemunung, ia sudah tiba kembali ke pangkalannya. Waktu dia pergi tempo hari, tugas dan tanggung jawab dalam pangkalan ia wakilkan kepada Tai Mo, beberapa bulan sudah lalu, baru sekarang dia sempat pulang, lekas Tai Mo pimpin seluruh anak buahnya menyambut kedatangannya, sudah tentu bukan kepalang meriah dan menggirangkan pertemuan ini.

Langsung Hong-lay-mo-li adakan inspeksi keseluruh pelosok pangkalan, segala sesuatunya, dilihatnya beres dan diatur rapi. Setelah duduk didalam ruang pendopo segera ia berkata terhadap Tai Mo: "Adikku yang baik, banyak terima kasih kepadamu, Setelah aku pergi, pernahkah terjadi sesuatu dalam pangkalan?"

"Miemang hendak kulaporkan kepada Siocia, memang pernah terjadi suatu peristiwa yang aneh, hampir saja pangkalan kita disergap dan hampir musnah, untunglah secara tak terduga ada seseorang yang datang membantu sehingga bencana dapat kita hindarkan, malah kita mendapat keuntungan besar."

Hong-lay-mo-li kaget, katanya: "Ada kejadian itu? Siapa yang bantu kalian? Coba kau tuturkan sejelasnya."

"Siocia kau sendiri pasti takkan menduga, orang yang membantu kita menaggulangi bencana kali ini, tak lain tak bukan adalah Giok-bin-yau-hou." Hampir Hong-lay-mo-li tak percaya akan pendengaran telinga sendiri, teriaknya dengan mata terbelalak "Apa? Giok- bin-yau-hou?"

"lya, waktu itu kamipun tak berani percaya, tapi belakangan kenyataan membuktikan apa yang dia beberkan kepada kita adalah kenyataan, jadi dia betul2 adalah tuan penolong kita."

Gelisah seperti dibakar hati Hong-lay-mo-li, katanya gugup: "Sebetulnya apakah yang telah terjadi, lekas katakan, lekas!"

"Pada suatu malam," demikian Tai Mo mulai ceritanya, "Aku sudah ganti pakaian dan mapan tidur, tapi belum lagi pulas, tiba2 terasa angin berkesiur, daon jendela terbuka, lekas aku melompat bangun, tahu2 kulihat seseorang sudah berada dalam kamarku, bulan malam itu purnama, maka dengan jelas aku bisa mengenalinya sebagai Giok-bin-yau-hou. Sudah tentu bukan kepalang rasa kagetku, segera kulolos pedang terus menusuk kepadanya, tapi dia cuma menangkis dan menyampuk Ceng-kong-kiamku tanpa balas menyerang."

Tiba2 Hong-lay-mo-li menyela tanya: "Mengguna-kan senjata apa dia menangkis pedangmu?"

"Sebatang seruling, entah terbuat dari bahan apa, aku sudah kerahkan setaker tenagaku, sedikitpun serulingnya tidak kurang apa2."

Hong-lay-mo-li manggut2, ujarnya: "Aku pernah melihat seruling itu, memang barang mestika, Terus-kan ceritamu."

Tai Mo melanjutkan ceritanya: "Tanpa membalas dia malah tertawa katanya: "Nona Tai Mo, kau tak usah takut, aku tidak bermaksud jahat, malah hendak menolongmu." Sudah tentu aku tidak mau percaya, kumaki dia: "Bohong, aku ada bahaya apa perlu kau tolong?"

Setiap kali pedangku menusuk dan menyerang, serulingnya itu se-akan2 punya daya sedot seperti besi sembrani, Ceng- kong-kiamku kena disedot lengket dan tak mampu bergerak, Keruan gugupku bukan main, segera aku membunyikan tanda bahaya minta bantuan."

Hong-lay-mo-li punya delapan pembantu, diantara kedelapan orang ini San San dan Tai Mo berkepandaian setingkat lebih tinggi, namun enam orang yang lainpun memiliki kepandaian tidak rendah,

"Seterusnya bagaimana?" tanya Hong-lay-mo-li, "Apakah mereka keburu datang dan mengepung Giok-bin-yau-hou?"

"Langkah mereka yang berlari datang sudah terdengar tapi Giok-bin-yau-hou bukan saja tidak membalas serangan kepadaku, diapun seperti tidak igin melarikan diri, malah melanjutkan kata2 yang ingin dia beritahu kepadaku."

"Apa yang dia katakan?"

"Katanya Marsekal Bahaji yang berkuasa di Gi-loh dari negeri Kim sudah mendapat tahu bahwa siocia sedang pergi meninggalkan pangkalan, mereka bersiap2 hendak menggrebek pangkalan kita ini, menurut rencana diputuskan akan turun tangan besok malam, bergerak serempak dari depan dan belakang, sebelum selesai bicara, Bing-cu, Lik-hun dan saudara2 lain menyusul datang, Kami mengepungnya bersama, Ter-paksalah dia keluarkan serulingnya untuk melawan, maka kami menempurnya diatas genteng."

Hong-lay-mo-li merasa lega, katanya: "Kalian berenam jikalau bekerja menurut ajaran barisan yang kuajarkan, jelas takkan dikalahkan oleh Giok-bin-yau-hou." kiranya sebelum berangkat tempo hari Hong-lay-mo-li ada mengajarkan Liok- hap-kiam-tin kepada keenam pembantunya ini, tujuannya memang untuk menghadapi Giok-bin-yau-hou.

Berkata Tai Mo lebih lanjut: "Sembari melawan serangan kami, kata2nya masih tidak berhenti. Katanya: "Terserah kalian mau percaya, tapi ini menyangkut kehidupan dan kepentingan pangkalan dan peng-huninya, tidak bisa tidak aku harus menyampaikan kabar penting ini, Menurut rencana pasukan pemerintah, besok malam tepat pada kentongan ketiga, tiga ratus Busu pilihan yang pandai berlompatan dan manjat, berkepandaian silat tinggi, menggeremet naik dari jalanan kecil di Wan-ti-kok dibelakang gunung, begitu berhasil menyelundup kedalam pangkalan, mereka akan menyulut api sebagai tanda, dari dalam dan luar serempak menggempur pangkalan ini, sementara pasukan besar pemerintah terbagi dari dari tiga jurusan, begitu melihat pertanda nyala api, serempak mereka menyerbu naik keatas gunung."

Wan-ti-kok sesuai namanya disini banyak terdapat orang2 hutan, keadaannya amat berbahaya, orang hutanpun sukar memanjat keatas tebing yang curam dan licin, berbagai pelosok diatas pangkalan terjaga kuat dan kstal, cuma bagian Wan-ti-kok dibelakang gunung saja lantaran keadaannya yang berbahaya, kurang diperhatikan malah boleh dikata tiada penjagaan disini.

Mencelos hati Hong-lay-mo-li, diam2 ia mengakui kesempurnaan rencana musuh yang sudah berhasil mencari tahu kelemahan pihaknya, diam2 ia pun menyesal bahwa penjagaan diatas pangkalannya sendiripun banyak lobang kelemahannya.

Tai Mo melanjutkan: "Kata2nya tak terputus dan tanpa ragu2, mau tidak mau tergerak hati kami, tapi teringat orang adalah musuh yang sudah ternama ke-jahatannya, kita jadi ragu2. Maka segera aku mengatur barisan, Liok-hap-tin lambat laun kita perketat, sehingga dia terkepung ditengah lingkaran Kataku:

Tidak sukar bila kau ingin kami percaya, sudikah kiranya kau tinggal sementara dipangkalan kita, jikalau memang terjadi peristiwa seperti yang kau tuturkan, setelah kejadian, kita akan melepasmu,pergi, HayoIah serahkan serulingmu." maksudnya dia hendak menahan Giok-bin-yau-hou utk membuktikan kata2nya sendiri Hong-lay-mo-Ii manggut2, katanya: "Betul, tindakanku cukup teliti, memang harus demikian,"

Kata Tai Mo: "Sungguh harus disesalkan meski kita sudah kerahkan segala kemampuan tapi tetap tak berhasil mengurung dia. setelah mendengar kata2ku, dia malah tertawa dingin, katanya: "Mau percaya tidak terserah kalian, kalian hendak menawan aku, tidak mungkin! Aku sendiri punya urusan penting, maaf aku tak mengiring lebih Ianjut!" barisan kita sudah mengetat maka serulingnyapun dimainkan semakin ken-cang, jurus2 permainannya sungguh diluar dugaan kami, dalam beberapa jurus saja, ai, sungguh memalukan pergelangan tanganku tahu2 tertutuk olehnya, pedangpun jatuh, sehingga dia berkesempatan menjebol barisan tinggal pergi."

"Kau tidak perlu malu diri," bujuk Hong-lay-mo-li, "Memang Liok-hap-tin-ku sendiri yang kurang sempurna dan menunjukan banyak lobang kelemahannya. Barisan ini kuciptakan untuk menghadapi ilmu pedangnya, kini dia menggunakan ajaran lain dengan gaman seruling, tak heran kalian jadi kehilangan pedoman untuk menghadapinya,"

"Setelah menjebol kepungan dia tidak lantas pergi, tiba2  dia timpukan segulung kertas kepadaku, katanya: "Kalian tak mau percaya, nah lihatlah ini! Apa-kah kalian hendak melawan melapetaka ini, terserah kepadamu!" setelah dia pergi baru kubuka gulungan kertas itu, ternyata itulah surat dinas dari kemiliteran yang amat penting, surat dari pemerintah Kim kepada Marsekal Bahaji untuk menyiapkan bala bantuan didalam kota, menurut petunjuk, memang operasi besar2an ini terbagi tiga jurusan, dalam surat itu di-gambarkan dengan jelas sekali, setempel dan tanda tangannya terang tak mungkin dibuat palsu.

Maka segera ku-adakan perundingan dengan para saudara, kami beranggapan lebih baik percaya dari pada tidak: Ber- siap2 menghadapi bencana tiada ruginya. Tapi kamipun kuatir terjebak oleh tipu memancing harimau meninggalkan gunung, maka kami bekerja menurut rencana pihak musuh, pertama mereka hendak menduduki posisi penting dan berbahaya di Wan-ti-kok, mereka tiga ratusan orang, kita cukup kerahkan seratus orang berlebihan untuk menghadapinya, dengan menduduki puncak tebing dengan mudah kita akan hajar dan bikin mereka mampus.

"Hari kedua kira2 kentongan kedua cuaca gelap tak berbintang, saudara kita yang menduduki puncak memang menemukan sebarisan pasukan pemerintah sedang menyelundup ke Wan-ti-kok secara diam2. Tapi saudara kita tinggal diam, setelah mereka manjat kira2 tiba dilamping tebing, serempak batu gunung, balok besar dan minyak yang sudah kita masak sampai mendidih sekaligus dijatuhkan kebawah, tiga ratus Busu seperti tikus kecemplung kewajan minyak, kalau badan tidak melonyoh tersiram minyak mendidih, tentu kepala pecah kaki tangan putus kejatuhan batu dan balok, kalau tidak mampus tiga ratusan Busu itu sama konyol dan terluka parah, tiada satupun yang selamat setelah memberantas bisul dibagian belakang, serempak kupimpin seluruh kekuatan kita berbalik menggempur pasukan pemerintah lebih dulu, sungguh menggelikan, mereka sedang menunggu tanda api yang dijanjikan, sedikitpun tak siaga bahwa kita bakal balas menyerbu mereka secara mendadak."

Bersinar terang mata Hong-lay-mo-li, katanya kegirangan "Gempuran besar2an ini tentu kalian menangkan dengan gemilang!"

"Benar," tutur Tai Mo, "seluruh pasukan besar musuh berhasil kita tumpas, sampaipun pembesar anjing itupun berhasil kita tawan hidup2. sebetulnya jumlah pasukan musuh dua kali lipat lebih banyak, bahwa kita berhasil menang dengan gemilang, tak lepas dari jasa2 Giok-bin-yau-hou yang memberi kabar kepada kita." Hong-lay-mo-li sendiri merasa heran dan tak mengerti tiba2 pikirannya tergerak, tanyanya: "Apakah kalian sudah kompes keterangan pembesar anjing itu?"

"Sudah! sungguh menggelikan, sampai saat ini dia belum tahu bahwa surat dinas dari atasannya sudah tercuri orang, Waktu aku perlihatkan surat penting itu baru dia amat kaget, mulutnya tergagap, tangan kerepotan merogoh kantong, bahwasanya dia tidak pernah menyangka surat yang dia simpan didalam kantongnya mana mungkin bisa hilang."

"Kalau demikian, bukan saja siluman rase itu bukan musuh kita, malah terhitung tuan penolong kita?" ujar Hong-lay-mo-li mendelu.

"Memangnya bukan? Malam itu kita rayakan kemenangan ini secara besar2an, para saudara bilang, mungkin dulu kita salah paham terhadap siluman rase itu, setelah mendapat budi pertolongannya sayang tak bisa mengundangnya ikut merayakan kemenangan ini, Kebetulan sekali disaat kita bicarakan dia, tahu2 dia datang pula!"

"Dia datang pula?" Hong-lay-mo-li menegas heran, "Untuk apa dia datang? Untuk merayakan kemenangan juga?"

"Tidak, dia tidak masuk, cuma diluar dia berikan sepucuk surat kepada penjaga pintu supaya diserahkan kepadaku, Lekas aku keluar mengejar, namun dia sudah pergi jauh, Kudengar dari bawah bukit dia menggunakan gelombang suara jarak jauh bicara dengan aku:" Nona Tai Mo kejadian sudah kenyataan, kau harus percaya kepadaku bukan? Apa yang tertulis dalam surat kau harus ber-jaga hati2, tapi hanya boleh beritahu kepada Liu Lihiap, jangan kan bocorkan kepada orang lain."

Lenyap suaranya tak kelihatan bayangannya, aku mengejar cukup jauh tak berhasil menyandaknya."

"Mana surat itu?" tanya Hong-lay-mo-li lekas, "Disini!" Lekas Hong-lay-mo-li terima surat itu dan dibukanya, seketika ia melengak heran dan semakin tak mengerti.

Dalam surat itu cuma tertulis beberapa huruf, dimana dikatakan: Kongsun Ki secara diam2 ada sekongkol dengan pihak penjajah Kim, mempunyai rencana yang merugikan bagi pergerakan laskar rakyat, se-kali2 orang ini tak boleh dipercaya segala obrolan dan tindak tanduknya, Harap disampaikan kepada Liu Lihiap."

"Kapan peristiwa itu terjadi?" tanya Hong-lay--mo-li. "Tanggal tiga bulan yang lalu."

Di-hitung2 oleh Hong-lay-mo-li, jadi lima hari sebelum dia tiba di Siang-keh-po. Batinnya: "Dia tahu bahwa Kongsun Ki adalah Suhengku, tak duga akan bertemu di Siang-keh-po, Maka sengaja dia memberi kabar kepangkalan lebih dulu, supaya Tai Mo siap siaga, dan aku tidak tertipu. Tapi kehadirannya di Siang-keh-po sebagai utusan Pakkiong Ou, kenapa bisa terjadi kejanggalan ini?"

"Siocia," kata Tai Mo, "Agaknya kau masih curiga kepada Giok-bin-yau-hou? Bicara terus terang, akupun amat curiga, persoalan sulit dimengerti peristiwa di Thian-ling-si..."

"Bukan melulu peristiwa di Thian-li saja! Dia punya dosa kesalahan yang lebih besar."

"Jadi bagaimana sikap kita terhadapnya? Anggap dia sebagai musuh atau tuan penolong? Harap siocia memberi petunjuk."

"Sukar kukatakan, aku sudah bertekad untuk menyelidiki asal usul Giok-bin-yau-hou ini. sebelum urusan berhasil kubereskan, kalian tetap harus waspada, Terutama disaat dia bergaman pedang, kalian harus hati2."

"Kenapa?" tanya Tai Mo heran, "Sekarang aku tidak bisa jelaskan secara mende-tail, malah aku sendiripun belum jelas, Naga2nya orang ini bermuka dua, bila bergaman pedang, bermuka jahat dan berhati busuk.

Maka Liok-hap-tin harus kalian latih dengan giat."

Tai Mo semakin bingung, tapi Hong-lay-mo-li sendiri tidak bisa memberi penjelasan, terpaksa dia hanya mengiakan saja.

"Dan lagi," Hong-lay-mo-li menambahkan "Penjagaan harus diperketat jangan sampai terjadi ulang Giok-bin-yau-hou tahu2 sudah berada didalam kamarmu baru kau ketahui."

Merah dan menyesal terunjuk dimuka Tai Mo, ka-tanya: "Aku berjanji selanjutnya takkan terjadi seperti itu pula, Pada setiap pos penjagaan penting di-berbagai pangkalan sudah kupasang alat2 rahasia, begitu ada orang memasuki, suara keliningan akan berbunyi sementara tempat, didalam dinding kupasang panah gelap pula."

"Bagus, kau cukup cerdik dan pandai bekerja, selanjutnya aku boleh lega hati meninggalkan pangkalan."

"Siocia, kau baru pulang, kenapa mau pergi pula?" "Betapa aku tak ingin hidup tentram berkumpul dengan

kalian, tapi disaat negara mengalami bencana, aku tak bisa

berpeluk tangam Negeri Kim hendak menyerbu Song kita secara besar2an, lantaran hal ini aku pulang untuk mengadakan persiapan, setelah segala sesuatu disini sempurna, selekasnya aku akan pergi ke Kanglam. Tai Mo, tanggung jawab pimpinan Bulim di-daerah utara ini berada ditangan kita, maka beban kewajiban kita selanjutnya akan bertambah berat, sementara boleh kau wakili aku memikul beban ini. sukalah kau menerima hormatku!"

Tersipu2 Tai Mo berlutut membalas hormat Sio cianya, Hong-Lay-mo-li lekas memapaknya bangun, katanya: "Berita terakhir yang kudengar bahwa dalam musim rontok pasukan besar negeri Kim akan bergerak menuju keselatan, Malam nanti biar kutulis beberapa pucuk surat dan gunakan panah perintahku, masing2 disebar kepada beberapa Cecu yang dapat dipercaya, supaya mereka bekerja menurut petunjuk, bikin putus hubungan garis belakang dan memutus kiriman ransum mereka, supaya impian Wanyan Liang menyebrangi sungai besar menjadi gagal total." lalu dia memberi petunjuk dan pesan mengenai beberapa persoalan penting, Tai Mo mengingatnya dengan baik.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 07"

Post a Comment

close