Pendekar Latah Bagian 04

Mode Malam
 
Bagian 04

Busu itu mengeluarkan golok panjang yang melengkung, cepat ia menubruk maju membantu, dia yakin jiwanya takkan hidup lagi, rasa takutnya hilang malah, sambil menggembor dan membentak2 segera ia mainkan ilmu goloknya menyerang dengan kalap, sengaja Hong-lay-mo-li memberi lobang sehingga lawan merangsak masuk kedalam perangkapnya, disaat golok lawan membacok datang, tiba2 kebutannya ia putar balik, digunakan sebagai potlot baja, dimana gagangnya mengetuk, dengan telak ia menutuk Hoan-tiau-hiat dilutut si Busu, golok si Busu seketika berhenti ditengah udara tak kuasa diayunkan.

Sekejap saja Tam To-ceng sudah menyerang dua puluhan jurus, Sekonyong2 pedang Hong-lay-mo-li melengket dan memelintir terus dituntun keluar, sebat sekali merangsak balik pula ketengah, Tam To-ceng mengayun balik pedang, terasa angin keras menerpa, tahu2 Hong-lay-mo-li sudah mengubah permainan menggeser kedudukan, ujung pedangnya menukik turun mengincar Hiat-to di tulang iga kirinya, begitu Tam To- ceng memantek dengan pedang, tahu2 Hong-lay-mo-li sudah berada disebelah kanannya, ujung pedang kembali mengincar tulang iga kanan. Beruntun Tam To-ceng sudah gunakan beberapa permainan pedang dan gerakan tubuh, selalu tak berhasil meloloskan diri dari libatan sinar pedang lawan, Hong-lay-mo- li selalu setindak lebih cepat mendahuluinya, yang dincarpun selalu Hiat-to yang mematikan.

Hong-lay-mo-li bermaksud membekuknya hidup2, kalau tidak mana dia mampu bertahan sampai tiga puluhan jurus melawannya? Tatkala itu Tam To-ceng boleh dikata sudah bisa ditundukkan asal sedikit menyurung ujung pedangnya, jiwa Tam To-ceng tentu melayang seketika. Dengan bandel Tam To-ceng malah membentak: "Mau bunuh atau sembelih, silakan saja, apa sih maksudmu?"

"Tam-ciangkun," ujar Hong lay-mo-li tertawa, "Kau sudah menyerah? Kulihat kau memang laki2 sejati, aku tidak ingin membunuhmu. sebetulnya siapakah Bu-lim-thian-kiau itu?

Tuturkan asal usulnya, nanti kulepas kau pulang!"

Tam To-ceng gusar serunya: "Seorang laki2 sejati matipun tak sudi dihina, mana aku sudi minta ampun dibawah ancaman pedangmu? Gampang kau bunuh aku, sulit kau bisa mendengar setengah patah omonganku." tiba2 pedang ia balikan lantas hendak menusuk puser sendiri, lekas kebutan Hong-lay-mo-li menggulung, ia rebut pedang panjang orang,, tapi ujung pedang sudah melukai kulit perutnya, darah segar memancur deras.

Melihat orang berwatak begitu keras dan kukuh, timbul  rasa hormatnya, sengaja ia beri kesempatan orang lari, pelan2 ia putar badan tanpa hiraukan dia, dengan kebutannya ia buka tutukan Hiat-to Busu itu, dengan ujung pedang ia mengancam: "Kau belum pernah melihat Bu-lim-thian-kiau, tentu pernah mendengar banyak persoalannya, asal kau tuturkan apa yang kau ketahui, kuampuni jiwamu."

Karena ada harapan hidup, Busu itu ragu2, katanya dengan ter-gagap: "Aku, kukatakan..." baru dua patah kata, tiba2 terdengar suara mendesir menyamber datang, dengan kebutannya Hong-lay-mo-li mengebas jatuh satu batang panah pendek, tapi sebatang yang lain meluncur dari arah yang berlainan keleher si Busu, Hong-lay-mo-li tak sempat memukul-nya jatuh, seketika Busu itu menjerit mengenaskan dan roboh binasa, panah itu menembus kedalam tenggorokannya.

"Kurangajar, sengaja kuberi kelonggaran kepada mu, malah kau merusak usahaku! Kau kira aku tidak berani membunuhmu?" damprat Hong-lay-mo-li menghampiri bagaikan api lilin yang terhembus angin bergoyang gontai badan Tam To-ceng terhuyung2, serunya sambung menyambung:

"Kerajaan besar Kim tak bisa antap manusia tak punya tulang seperti itu hidup, ingin aku supaya kau tahu kerajaan besar Kim juga punya laki2 gagah." tiba2 sekumur darah menyembur keras dari mulutnya, berbareng badannya roboh terjengkang kiranya setelah menyambitkan anak panah-nya, ia sendiri bikin urat nadi dalam tubuhnya bergetar pecah dan binasa.

Setelah kekerasan berlalu, bau darah yang amis-pun terhembus angin lalu, suasana gunung belukar ini kembali sunyi senyap, ketinggalan dua sosok mayat yang menggeletak diatas tanah, Betapapun Hong-lay-mo-li tetap gagal untuk mengetahui asal usul Bu-lim-thian-kiau yang sebenarnya.

Peristiwa sudah berselang satu bulan, kini mendengar Tangwan Bong mengisahkan pengalaman kejadian ditempat yang sama dalam waktu yang bersamaan pula, maka dalam hati ia membatin: "Kiranya satu hari dia datang lebih dulu dari aku di Thay-san, entah pernahkah dia bertemu dengan Bu-lim- thian-kiau? Dia menyingkir ter-gesa2, kecuali hendak melindungi keselamatan Tang-hay-liong, apakah lantaran Bu- lim-thian-kiau juga?"

Terdengar Tang-hay-liong melanjutkan ceritanya: "Hoa Tayhiappun bilang, waktu dia menemukan jejak Wanyen liang dan kamrat2nya, secara diam2 ia mencuri dengar percakapan mereka, yaitu tentang penyerbuan pasukan besar negeri Kim ke negeri Song diselatan, Maka dibawah gunung Thaysan dia berjanji kepadaku, kami masing2 berpencar menunaikan tugas, dia langsung menuju ke Kanglam, sementara aku diutus menemui Khing King Ciangkun, Hoa Tayhiap ada menulis sepucuk surat, suruh aku langsung menyerahkan kepada Khing King Ciangkun, siapa tahu aku datang terlambat satu hari! Ada orang beritahu kepadaku, Khing-siangkong adalah keponakan Khing-ciangkun, terpaksa surat ini kuserahkan kepadanya saja." baru sekarang Khing Ciau tahu kenapa Tang-hay-liong mencari dirinya.

Khing Ciau buka surat itu, Ternyata sebelum ini Hou Kok- ham memang pernah bertemu dengan Khing King, dalam suratnya ini dia anjurkan supaya Khing King pimpin pasukannya memberontak demi membela nusa dan bangsa, sekaligus untuk mengobrak-abrik garis belakang pasukan negeri Kim.

Berkata Khing Ciau berlinang air mata setelah membaca surat ini: "Terima kasih akan petunjuk dan bantuan Hoa Tayhiap, terima kasih kepada Lo-cian-pwe jauh2 kemari mengantar surat ini, sebelum cita2 paman terlaksana, beliau menemui ajalnya dengan mengenaskan Tapi apa yang diharapkan oleh Hoa Tayhiap, beliau sudah melaksanakannya dengan baik."

Baru sekarang Tang-hay-liong ingat seperti pernah mengenalnya, tanyanya: "Khing-siangkong, agaknya kami seperti pernah bertemu entah dimana?"

"Tajam benar pandangan Lo-ciannpwe, tempo hari waktu Lo-cianpwe meluruk ke Siang-keh-po, menempur Kongsun Ki suami istri, kebetulan Wanpwepun berada disana." "Benar, menyinggung peristiwa Siang-keh-po, aku jadi ingat Liu Lihiap, Hoa Tayhiap titip kabar kepadaku supaya disampaikan kepada kau, yaitu mengenai keparat Kongsun Ki itu."

"Darimana Hoa Tayhiap tahu aku berada disini?"

"Kalau dikatakan persoalan ini rada ber-belit2, biarlah aku mulai dari Khing-siang-kong saja, Hoa Tayhiap memang belum pernah melihat Khing-siang-kong, tapi dia tahu akan dirinya, kerajaan Kim sedang menyebar maklumat hendak menangkap dirinya."

Khing Ciau menyela bicara: "Hoa Tayhiap pernah bertemu dengan paman, tentu paman pernah menyinggung diriku kepadanya, apalagi setelah melihat maklumat itu, tentu dia mengira bahwa aku sudah berada dalam pasukan paman."

"Benar, bukan saja dia jelas tahu mengenai dirimu, malah diapun tahu kau seperjalanan dengan nona San San. Dia berkata kepadaku, setelah bertemu dengan Khing Ciau, boleh titip kabar ini supaya disampaikan kepada nona San San, dari San San langsung disampaikan pula kepada Liu Lihiap, Tak kira Liu Li-hiap pun berada disini, urusan jadi tak usah ber- putar2."

Hong-lay-mo-li manggut2 paham, Tanyanya: "Kabar apa yang Hoa Tayhiap minta disampaikan kepada-ku?"

"Hoa Tayhiap berkata, hari itu karena dia pandang muka Liu Lihiap maka dia lepaskan Kongsun Ki. Di-katakan Kongsun Ki sudah nyeleweng dan terjeblos ke jalan sesat, kabarnya belakangan ada main pat-gulipat dengan Giok-bin-you-hou, dia kuatir Liu Lihiap kena dikelabui. Sepak terjang Kongsun Ki belakangan ini Hoa Tayhiap bilang tak leluasa turut campur, dia "

"Jadi dia minta supaya aku menyelesaikan persoalan " "Dia tidak bicara secara gamblang, dia cuma minta aku menyampaikan kabar ini kepadamu!"

Hong-lay-mo-li menggigit bibir, katanya: "Ya, aku sudah tahu." dalam hati ia amat sedih, teringat olehnya bahwa gurunya hanya punya seorang anak tunggal saja, yaitu Kongsun Ki, tak urung hatinya jadi gundah dan kusut.

"Baiklah, surat sudah kusampaikan, sekarang aku harus kembali."

"Kenapa Lo-cianpwe ter-buru2?" tanya Hong-lay-mo-li. "Adikku ketiga Say-ci-hong ada janji dengan seorang

musuhnya, aku kuatir akan keselamatan jiwanya, hari yang ditentukan sudah bakal tiba, aku harus lekas kesana membantunya."

Ternyata diantara "Su-pak-thian" (empat brandal langit) Tang-hay-liong adalah yang tertua, ilmu silatnyapun paling tinggi, namun sepak terbangnya ada kalanya rada nyeleweng juga.

Sebaliknya Say-ci-hong berbakat dalam ilmu silat dan sastra, dimana ia berada sering membantu yang lemah menindas yang lalim, bolehlah di pandang sebagai pendekar kelana pembela keadilan, ilmu silatnyapun tidak terpaut jauh dengan Tang-hay-liong.

Diam2 Hong-lay-mo-li membatin: "Hanya ada beberapa tokoh kosen saja yang berkepandaian silat lebih unggul dari Tang-hay-liong dan Say-ci-hong, entah siapa pula musuh Say- ciihong itu, sehingga mereka berdua harus melawannya bersama?" tapi ia tahu persoalan balas dendam dalam Bulim sering terjadi, kalau orang yang bersangkutan tidak memberi penjelasan orang lainpun tidak enak menanyakannya.

"Samte Say-ci-hong, sering mendarma baktikan dirinya bagi kesejahteraan hidup sesama manusia, dalam hal ini dia jauh lebih unggul dari aku. sebaliknya jite Lamkiong Tio sepak terjangnya tak boleh dihargai pula, walau tidak sebejat Pakkiong Ou terima menjadi antek bangsa lain, namun sering berbuat jahat sekarang dia menjadi begal besar di Kanglam.

Kali ini entah aku masih bisa hidup tidak dengan Samte, jikalau tak beruntung aku ajal, kumohon kepada Khing kongcu menyampaikan permintaanku kepada Hoa Tay-hiap, supaya dia mengekang dan menindas Jiteku itu. Kebetulan Khing- siangkong hendak ke Kanglam, tentu kau bisa bertemu dengan Hoa Tayhiap disana."

"Sesat takkan mengalahkan lurus, Lo-cianpwe tentu bisa selamat dalam menghadapi tantangan mara-bahaya kali ini, Mengenai pesan Lo-cianpwe, pasti akan kusampaikan kepada Hoa Tayhiap."

San San membatin: "Lam-san-hou Lamkiong Tio itu adalah musuh pembunuh ayahku, kau tidak menindas-nya, biar aku yang menuntut balas kepadanya." namun ia tidak utarakan isi hatinya.

Setelah Tang-hay-liong pergi dengan tertawa San San berkata: "Cici, selama ini kau mengejar jejak Hoa Kok-ham, kini kau sudah tahu kabar beritanya yang sesungguhnya, kenapa tidak bersama kami pergi ke Kanglam saja? Soal Giok- bin-yau-hou masih ada lain kesempatan untuk membereskan dia."

Merah kedua pipi Hong-Iay-mo-li, katanya menggeleng: "Bukan karena Giok-bin-yau-hou tapi lantaran Kongsun Ki. Aku harus cegah dia tertipu oleh siluman rase itu, urusan ini tidak boleh terlambat sebentar aku harus langsung menuju ke

Siang-keh-po."

"Kongsun Ki sudah jelas seorang jahat," ujar San San," Siocia, buat apa kau berjerih payah lantaran dia?" "Orang2 Kangouw pandang aku sebagai Mo-li memangnya kaupun berpandangan demikian?"

"Aku tahu siocia punya hati welas asih dan bajik seperti sang Budha, tapi..."

"Kau sudah tahu dan tak perlu banyak bicara lagi. Posat memberi bimbingan hidup kepada umatnya, memangnya aku tidak pantas menolong Kongsun Ki" terpaksa San San diam saja, cuma hati rada heran. Diluar tahunya bahwa Kongsun Ki bahwasanya adalah suheng atau anak tunggal gurunya.

Mereka langsung kembali ke Kilam, saat mana Sin Gi-Cik sedang pimpin upacara penguburan jenazah Khing King, dengan tangannya sendiri dia penggal kepala Thio Ting-kok dihadapan pusara Khing King sebagai sesaji sembahyang.

Setelah upacara selesai Hong-Lay-mo-li minta diri dan berpisah dengan Khing Ciau dan San San. Berkata Sin Gi-cik: "Kali ini berkat bantuan Liu Lihiap pemberontak dapat ditumpas, kelak masih mengharap bantuan Lu lihiap pula untuk mengkerek panji perjuangan demi kemerdekaan nusa dan bangsa."

"Ciangkun tak usah kuatir," ujar Hong-lay-mo-li, "Disaat pasukan besarmu kembali keutara, aku pasti pimpin laskar rakyat menyambutmu!"

Mendengar jawaban ini Sin Gi-cik amat girang dan lega hati.

"Biar kuantar Liu-cici!" kata San San, karena sedang berkabung Khing Ciau tak enak ikut mengantar.

Setelah cukup jauh Hong-lay-mo-li berkata: "Adikku, kau kembalilah."

"Hari masih begini pagi, kenapa ter-gesa2. Cici, Thian-lo- hud-tim-sha-cap-lak-sek dan Yo-hun-kiam-hoat yang kau ajarkan kepadaku masih ada beberapa jurus yang belum kupahami." "Coba jelaskan, jurus2 yang mana?" lalu sambil jalan Hong- lay-mo-li memberi petunjuk dan penjelasan, tanpa terasa mereka sudah sepuluhan li diluar kota, semua pertanyaan San Sanpun sudah terjawab.

Berkata Hong-Iay-mo-li: "Kecerdasanmu luar biasa, setelah memahami Thian-lo-hud-tim dan Yo-hun-kiam-hoat ini, berkecukupan untuk menghadapi Lam-san-hou (harimau gunung selatan), Hari sudah hampir lohor, kau mengantarku sedemikian jauh, apa kau tidak kuatir Khing Ciau gelisah?

Lekaslah pulang!"

"Cici, aku takkan kembali pula."

Hong-lay-mo-li melengak, "Kenapa kau tidak kembali?"

Sudah kutulis surat untuk Khing Ciau, kuberitahu bahwa aku hendak ikut Cici, tak bisa seperjalanan dengan dia."

"Apa kau tak mau ke Kanglam menuntut balas kepada Lam- san-hou pembunuh ayahmu itu?"

"Dendam kematian ayah, mana boleh tidak dibalas? Cici, disini aku berpisah dengan kau, langsung aku-akan menuju ke Kanglam." demikian sahut San San penuh keyakinan.

Hong-lay-moli melengak, tanyanya: "Lha tadi kau katakan hendak ikut aku? Apakah yang terjadi?"

San San tertawa cekikikan sambil membuat muka setan, ujarnya: "Kalau tidak kukatakan demikian, mana dia mau percaya?" sengaja ia perlihatkan sikapnya yang nakal, dengan mengulum senyum lebar, namun senyum yang syahdu dan tawa yang getir dan pilu.

Hong-lay-mo-li paham, katanya: "O, jadi kau sengaja menyingkir dari samping Khing Ciau, seorang diri hendak pergi ke Kanglam."

San San tertunduk, sahutnya. "Benar, aku tidak bisa bergaul sama dia pula, Aku tidak suka menimbulkan banyak kecurigaan-nya, sengaja kubuat alasan ini untuk meninggalkan dia."

Dengan hambar Hong-lay-mo-li bertanya: "Kenapa kau berbuat demikian, bukankah Khing Ciau baik2 terhadapmu?"

"Justru dia terlalu baik kepadaku, dia pandang dan bersikap sebagai kakak kandungku sendiri, maka aku tidak akan membuatnya sulit dan bimbang."

Hong-lay-mo-li menghela napas, katanya: "Aku sudah paham, bukan saja lantaran Khing Ciau, demi merangkap perjodohan orang lain pula, Tapi bukankah hatimu malah sedih?"

Ber-kaca2 mata San San, katanya: "Cici, jangan kau bujuk dan cegah aku. Aku memang teramat sedih. Tapi, kalau aku tidak tinggalkan Khing Ciau, ada orang yang lebih sedih dan merana daripadaku. Riwayat hidup nona Cin seperti aku, sekarang diapun anak yatim-piatu, tapi dia jauh lebih harus dikasihani dari aku, aku masih punya kau sebagai Cici-ku, ada Tai Mo, Bing Cu dan lain2 sebagai saudara dekat sebaliknya dia hanya Khing Ciau seorang sebagai tulang punggung.

Sejak kecil mereka sudah terangkap dan tumbuh dewasa bersama, hati masing2 sudah terjalin mendalam, Cici, memangnya kau tidak tahu akan hal ini? Mereka mengalami banyak penderitaan dan kesengsaraan, gembelangan dan ujian yang begitu berat hampir saja membuat mereka salah paham dan bermusuhan, baru sekarang duduk perkaranya dibikin jelas dan rujuk kembali, mana boleh aku menyelinap diantara mereka?"

Hong-lay-mo-li tertunduk diam, ujung matanyapun pun berlinang air mata. Ujar San San lebih lanjut: "Cici, apa kau anggap perbuatanku ini salah? Kalau kau sendiri, apa pula yang akan kau lakukan?"

Dengan kencang Hong-lay-mo-li genggam tangan San San, katanya: "Adikku, kau memang nona yang baik, gadis bijaksana, Memang kalau aku sendiri yang mengalami akupun akan berbuat seperti kau."

San San mendongak melihat cuaca sambil tersenyum, katanya: "Baiklah, kini aku harus segera berangkat Cici, semoga kau selekasnya tiba di Kanglam, Siau-go-kan-kun Hoa Kok-ham itu sekarang sedang berada di Kanglam bukan!"

San San menempuh kejalan lain yang jaraknya lebih jauh, maksudnya hendak mengitari Kilam langsung menuju ke Kanglam, Hong-lay-mo-li antar bayangan orang sampai tidak kelihatan, baru dengan langkah gemuntai ia lanjutkan perjalanannya sendiri.

Belum jauh ia berjalan, tiba2 didengarnya suara keliningan kuda, seseorang sedang membedal kudanya mengejar dari belakang, yang bercokol dipunggung kuda adalah seorang gadis, dari kejauhan sudah berteriak: "Liu Lihiap, harap tunggu sebentar."

Tak terasa melengak pula Hong-lay-mo-li dibuat-nya, serunya: "Eh, nona Cin, kenapa kaupun datang?"

Cin Long giok lompat turun lalu memburu kede-pan Hong- Iay-mo-Ii, tanyanya: "Apakah San San cici sudah pulang?"

"Sudah sejak tadi Masa kau tidak bertemu ditengah jalan?" Hong-lay-mo-li tahu orang sengaja mengejar kemari hendak menarik San San pulang.

Tak nyana Cin Long-giok sudah unjuk rasa riang, katanya: "Untung tidak ketemu dia, aku berputar lewat jalan kecil, maksudku supaya tidak kebentur sama dia."

"Kenapa?" tanya Hong-lay-mo-li tertegun. "Karena aku tidak ingin pulang."

Kejut dan heran Hong-lay-mo-li, tanyanya: "Eh, memangnya kenapa?"

"Liu Lihiap, urusan akan kujelaskan kepadamu, aku mohon sesuatu dulu kepada kau, apa kau sudi melulusi?"

"Apa yang kau inginkan, silakan berkata."

"Aku minta kau menerima aku sebagai dayangmu." "Nona Cin, kau hendak menyiksaku saja. Ayahmu dan

guruku setingkat dan seangkatan, hubungan kami layak

sebagai kakak beradik pula."

"Sakit hati pembunuh ayahku, berkat petunjuk dan jerih payahmu baru aku mendapat tahu pembunuh yang sebenarnya, Liu Lihiap, budi bantuanmu terhadapku, meski badanku hancur leburpun tak kuasa aku membalasnya. Biarlah kau terima diriku mendampingimu saja." habis berkata ia tekuk lutut hendak menjura.

Lekas Hong-lay-mo-li kebaskan lengan bajunya, menerbitkan segulung tenaga lunak, menahan kedua pundaknya, katanya: "Se-kali2 aku tidak berani terima, seumpama San San, selama ini aku tidak pernah pandang dia sebagai dayangku, Nona Cin, kau lahir dalam tahun yang sama dengan Khing Ciau, benar tidak?"

Orang mendadak menyinggung Khing Ciau, Cin Long-giok tidak tahu kemana maksud kata2nya, sahutnya setelah melengak: "Benar!"

"Kalau demikian, aku lebih tua dua tahun dari kau, biarlah aku anggap diriku sebagai kakak, kau boleh panggil aku sebagai Cici."

"Liu Lihiap, kau terlalu baik terhadapku." setelah dia menyebut "Cici", barulah Hong-lay-mo-li menerima sembah hormatnya. "Cici, kau tidak mau terima aku sebagai dayangmu, sukalah kau bawa aku, sekarang aku sudah tidak punya rumah lagi!"

"Kau kan masih punya Piauko? Kau harus ikut Khing Ciau, kenapa kau harus meninggalkan dia?" tanya Hong-lay-mo-li!

Merah biji mata Cin Long-giok, sahutnya: "Aku tidak mau membuatnya serba susah, kalau aku berada bersama dia, bukan saja hatiku takkan tenang, kelak diapun pasti menyesal"

Mendengar lagu bicara orang mirip dengan San San, Hong- lay-mo-li sudah paham seluruh persoalan nya, tergerak dan haru hatinya, katanya lembut sambil mengelus rambutnya: "Adikku, kau punya isi hati apa, bicaralah dengan Cicimu!"

Ber-Iinang air mata Cin Long-giok, ujarnya: "Aku sudah berpikir bolak balik, kecuali aku berpisah dengan dia, kalau tidak hatiku takkan tenang."

"Maksudmu lantaran San San?" tanya Hong-lay-mo-li secara langsung.

"Demi San San cici juga demi dia. Cici San San setia dan berbudi terhadap Piauko, aku tahu riwayat hidup Cici San San seperti aku harus dikasihani aku tidak bisa membuat seorang anak yatim piatu kesusahan seorang diri." ia menyeka air mata, lalu meneruskan: "Budi pertolongan cici San San terhadap Piauko setinggi gunung, beberapa hari ini secara seksama aku mengamati dari samping, perangai dan watak mereka satu sama lain amat cocok, satu sama lain punya pengertian yang mendalam lagi.

Kalau aku hadir diantara mereka, akibatnya tentu amat fatal, Aku harap dia tidak menyia2kan cinta kasih cici San San, akupun dak mau melukai dan membuat hati cici San San sedih Liu Lihiap sukalah kau menerima permohonanku, biar aku ikut kau saja." Hong-lay-mo-li amat haru dan serba susah pula. Terdengar Cin Long-giok berkata pula: "Cici, aku ingin ikut kau masih ada tujuan pribadiku sendiri."

"Tujuan pribadi apa?"

"Musuh pembunuh ayahku sudah kuketahui, sayang ilmu silatku teramat rendah, mungkin takkan mampu menuntut balas, Cici, biar aku meladeni kau, disamping minta belajar kepandaian kepadamu." sembari bicara kembali ia hendak berlutut lagi.

Lekas Hong-lay-mo-li menariknya pula, katanya: "Jangan begitu, nona Cin, dengarkan dulu kata2ku! Aku tahu apa yang kau katakan tadi adalah suara hati nuranimu! Tapi apa yang pernah kukatakan tadi, terus terang aku ngapusi kau!"

Cin Long-giok tertegun, sorot matanya hambar dan was2, dengan mendelong ia awasi Hong-lay-mo-li. Berkata Hong-lay- mo-li pelan2: "Tadi kukatakan San San sudah pulang, itu tidak benar, Dia tidak pulang, seorang diri dia sudah pergi."

Terkejut Cin Long-giok, katanya ter-gagap: "Dia, dia sudah pergi seorang diri? Kenapa?"

"Karena jalan pikirannya sama seperti kau, diapun tidak ingin membuatmu sedih, Maka diapun berkeputusan untuk berpisah dengan Khing Ciau."

Cin Long-giok menjerit gugup dan gelisah, hatinya hambar dan menjublek tak bergerak.

Hong-lay-mo-li pegang lengannya, katanya lebih lanjut: "Maksud kalian sama, tentunya kau bisa memahami isi hatinya, Dia ingin supaya kau tetap mendampingi Khing Ciau kini dia sudah pergi, maka kau jangan berlalu."

"Tidak!" tiba2 Cin Long-giok menjerit dari lamunannya, "Cici San San pergi lantaran aku, aku harus mencarinya kembali." "Tenangkan dulu pikiranmu, jangan kau abaikan maksud baik San San!" sampai disini, tiba2 Hong-lay-mo-li ulur jari tangannya menutuk Hiat-to Cin Long-giok.

Seketika Cin Long-giok rasakan badannya lemas lunglai, tanpa kuasa ia meloso jatuh terduduk diatas tanah tanpa bisa bergerak.

Hong-lay-mo-li berkata: "Aku pergi, Aku hanya bisa sekedar bantu kau mempertinggi ilmu silatmu, meski tidak mencapai tingkatan tertinggi namun untuk menghadapi Giok-bin-yau- hou, kukira sudah cukup berkelebihan." suaranya semakin jauh dan lirih, sekejap saja bayangannya sudah hilang dikejauhan.

Karena Hiat-to mendadak tertutuk sungguh Cin Long-giok kaget dan heran pula, terasa badan menjadi panas seperti dibakar, hawa murninya bergolak dan luber menerjang kian kemari, se-olah2 hendak menerjang keluar dari sendi2 tulang dan semua Hiat-to2 tubuhnya, rasanya amat menyiksa.

Secara reflek lekas ia gunakan ajaran inti sari Lwekang perguruannya, duduk samadi, menghimpun semangat mengatur napas, hawa murni mulai dia himpun kembali, semula dalam hati ia masih ber-tanya2, kenapa Hong-lay-mo-li menutuk Hiat-tonya.

Lambat laun hawa murninya sudah terkumpul seluruh Hiat- to dalam tubuhnya seperti tertusuk jarum sakitnya, terpaksa ia harus kerahkan seluruh tenaganya untuk pertahankan diri, maka segala persoalan tak sempat dipikir pula.

Entah berapa lama kemudian, tiba2 terasa badan nyaman, darah dalam badannya berjalan lancar seperti air bah yang menyebol bendungan mengalir dengan lancar dan leluasa, semangat menjadi segar dan napaspun enteng, dengan sendirinya Hiat-to yang tertutuk tadipun terbuka punah.

Dengan rasa hambar dan tidak mengerti Cin Long-giok bangkit berdiri, coba2 ia gerakan kaki tangan, terasa tenaga murni bersemayam penuh dalam badan, setiap gerak kaki tangannya menerbitkan deru angin keras.

Keruan heran dan tak mengerti Cin Long-giok dibuat-nya, coba2 tapak tangannya menebas kedepan, dahan pohon sebesar lengan bocah dengan mudah terbabat kutung.

Baru sekarang Cin Long-giok sadar dan paham, Ternyata tutukan Hiat-to Hong-lay-mo-li barusan ternyata sekaligus bantu dia menyebol Sam-king-meh dalam badannya yang selalu menghambat kemajuan latihan ajaran ilmu pedang dan pukulan perguruannya selama ini.

Karena King-meh atau urat nadi ini terbuka, selanjutnya dalam latihan Lwekang tingkat tinggi, akan jauh lebih mudah tercapai sungguh haru, terima kasih dan hambar pula hati Cin Long-giok.

Akhirnya ia berkeputusan lekas ia cemplak kepunggung kudanya, seorang diri dengan menunggang kuda ia menuju ke utara, Dia ingin memindah dulu pusara ayahnya ketempat yang lebih sesuai dan tersembunyi, setelah itu baru berusaha menemukan jejak Ciok-bin-yau-hou serta menuntut belas kepadanya.

Sementara kami tinggalkan dulu pengalaman Cin Long-giok dan San San dalam perjalanan masing2. Ma-rilah kita ikuti perjalanan Hong-lay-mo-li yang menuju kerumah Su-hengnya, sepanjang jalan hatinya gundah hampa dan terkekang akan masa lalu.

Dua hari kemudian ia sudah tiba di Hou-loan-san, dimana letak Siang-khe-po tempat tinggal Kongsum Ki suami istri, Tatkala itu sudah menjelang kentongan kedua, rembulan pudar sinar bintang guram, tabir malam remang2, diam2 Hong-lay-mo-li menimang dalam hati aku harus langsgung hadapi Suheng seorang diri atau menemui Suso saja? Suso (istri Kongsun Ki) adalah putri tertua gembong iblis siang Kian-thian, belum tentu dia sehaluan dan seorang yang baik hati? suheng nyeleweng kejalan sesat, tentulah lantaran terpengaruh oleh istrinya ini."

Sejak kecil kesan Hong-lay-mo-li terhadap suhengnya yang diasuh dan dididik bersama oleh gurunya (ayah Kongsun Ki) amat baik, oleh karena itu betapapun Hong-lay-mo-li jauh memberi kelonggaran dan memaafkan kekeliruan Suhengnya, sulit ia percaya bahwa suhengnya sudah sedemikian bejat dan tak bisa ditolong lagi.

Keadaan Hou-loan-san memang amat berbahaya, namun betapapun sukarnya tidak akan bisa mempersulit Hong-lay- mo-li, dengan mengembangkan entengi tubuhnya, sebentar saja, dia sudah tiba dipinggang gunung.

Rumput liar tumbuh setinggi kepala manusia, hembusan angin malam membuat rumput bergoyang mengeluarkan suara keresekan, suasana malam memang seram dan menggiriskan, namun dengan tabah Hong-lay-mo-li maju terus keatas gunung.

Tak lama kemudian, Hong-lay-mo-li sudah tiba di balik gugusan puncak Hou-loan-san, dari arah yang tak terdua diam2 ia menyelundup turun dan masuk kedalam Siang-keh- po, memang tidak sedikit jumlah Busu yang jaga malam, namun tiada seorangpun yang menemukan jejaknya.

Hong-lay-mo-li cukup kenal situasi perkampungan ini, tanpa banyak makan tenaga, langsung ia menuju kekamar tidur Suhengnya. Dilihatnya sinar pelita dalam kamar masih menyorot terang benderang, bayangan sesosok tubuh kelihatan diatas jendela, itulah bayangan bentuk badan Suhengnya.

Disaat Hong-lay-mo-li menerawang bagaimana cara memancingnya keluar, tiba2 didengarnya suara Siang Pek- hong istri Kongsun Ki berkata dengan napas memburu: "Kukira obat ini tak perlu kumakan lagi. Sudah beberapa hari, sedikitpun aku tidak merasa lebih baik."

Hong-lay-mo-li kembangkan Ginkangnya bergelantung diemperen rumah, kepala ia dekatkan ke jendela mengintip kedalam, Tampak Siang Pek-hong rebah diatas ranjang menghadap keluar, kearah suaminya.

Raut mukanya pucat kekuningan, dibawah penerangan sinar pelita lebih jelas akan kesehatannya yang terganggu, kulit mukanya kelihatan kuyu. Didepan ranjang terdapat sebuah meja kecil, dimana terletak sebuah mangkok yang mengepulkan asap, agaknya berisi obat yang baru digodok oleh Kongsun Ki dan menunggu rada dingin baru akan diminumkan kepada istrinya.

Kongsun Ki menyengir tawa, katanya: "Hong-moay, kenapa kau begini gugup, penyakit harus dirawat secara sabar dan tenang, jangan kau terlalu banyak pikiran membuat hati sendiri tidak tenang."

"Aku tidak banyak pikiran, coba kau pikir Tay-hoan-tan buatan keluarga kami khusus untuk menyembuhkan luka2 dalam, luka2mu sembuh sedemikian cepat sebaliknya semakin hari kesehatanku malah memburuk, apakah lantaran ajalku memang sudah dekat sungguh aku tak sabar lagi minum obat!"

"Menurut tabib kau terluka bagian empedu, Tay-hoan-tan jadi kurang cocok untuk menyembuhkan penyakitmu ini, resep obat dari tabib ini justru untuk menambah semangat dan kekuatan empedumu, kira2 setengah bulan lagi baru akan nampak hasilnya, sabarkanlah hatimu."

"Aduh, harus menunggu setengah bulan lagi, aku bisa mati saking sebal dan kesal, kau tidak tahu betapa dongkol dan jengkel hatiku?"

"Aku tahu keluarga Siang kalian menjagoi Kang-ouw puluhan tahun, selamanya belum pernah terjungkal. Hari itu Tangwan Bong dan Hoa Kok-ham ber-turut2 meluruk datang, sampaipun kawanan Song Kim-kong keparat itupun ikut2 mencari gara2 terhadap kita, sudah tentu hatimu amat marah dan dongkol, untunglah setengah bulan akan tiba dengan cepat, setelah penyakitmu sembuh, kita balik labrak kawanan Song Kim-kong itu, lalu satu persatu mencari perhitungan dengan, Tangwan Bong dan Hoa Kok-ham."

Tiba2 Siang Pek-hong merayap duduk menggelendot dipinggir ranjang, dengan tajam ia pandang sua-minya, katanya: "Kau singgung peristiwa beberapa waktu yang lalu itu, kenapa tidak kau singgung pula seorang yang lain?"

"Siapa maksudmu?" balas tanya Kongsun Ki.

"Siapa lag??" jengek siang Pek-hong dingin, "Su-moaymu Liu Jing-yau."

"Hari itu dia kan kemari membantu kesulitan kami, toh bukan musuh kami!"

"Aku tahu, Kalau toh kau bicara soal peristiwa hari itu, peduli tuan penolong atau musuh kan seharusnya kau menyinggung dirinya, Coba kutanya, dalam hati, apakah kau tidak amat berterima kasih terhadap Sumoaymu?"

"Sumoayku itu anak yatim piatu, ayahku mengasuh dan merawatnya sampai dewasa, dia bantu aku kan jamak dan pantas, buat apa harus terima kasih segala."

Siang Pek-hong tertawa dingin, "O, jadi kalian sudah orang sekeluarga, sanak dekat, bantu membantu dan tolong menolong adalah jamak dan wajar, jadi aku yang keterlaluan menyinggung soal terima kasih segala."

Melihat roman muka orang yang kurang wajar, lekas Kongsun Ki berkata: "Hong-moay, kau..." "Nanti dulu, aku masih ingin bertanya, jikalau aku mati, kau hendak mengawini Sumoaymu itu?"

Berubah rona muka Kongsun Ki, lekas sekali ia unjuk tawa getir, katanya: "Hong-moay, itulah lantaran hatimu tidak sabar dan banyak curiga, jikalau kau bisa melegakan hati, melapangkan pikiran, penyakitmu tentu lekas sembuh."

Sungguh dongkol hati Hong-lay-mo-li mendengar percakapan ini, namun iapun sedih hati bagi nasib Suhengnya, Batinnya: "Suso menilai orang lain dengan ukuran manusia rendah macam pribadinya sendiri, dibelakang orang menista dan memburukan nama orang lain, menghinaku lagi. Hm, jikalau tidak dalam keadaan sakit, pasti kupersen dua kali tamparan pipinya! suhengku memang harus dikasihani, sebagai putra dari keluarga kenamaan, dia sudi kawin lari dan terpincut oleh siluman perempuan ini, jalan yang ditempuhnyapun semakin sesat. Agaknya dia cukup kasih sayang dan telaten meladeni istrinya, Suso malah curiga dan mengolok2."

Terdengar Siang Pek-hong berkata lebih lanjut. "Memangnya aku amat kuatir, O, jadi kau memang mencintai aku sesungguh hatimu, benar2 mengharap penyakit ku lekas sembuh?"

"Baik, biar aku bersumpah dihadapanmu, bilamana aku mempunyai maksud hati yang tidak baik terhadapmu biar aku mampus tiada liang kubur." terpercik sekulum senyum dimuka Siang Pek-hong, lekas ia ulur tangan menutup mulutnya, katanya: "Baiklah, aku percaya kepadamu, tak usah kau bersumpah lagi."

Kongsun Ki payang istrinya rebah kembali, katanya: "Supaya hatimu tentram, biarlah aku bicara sejujurnya, Semula aku hendak cari Sumoay mohon bantuannya untuk menuntut balas, kalau kau masih kuatir, baiklah kubatalkan niatku ini selanjutnya, akupun takkan menemui dia lagi." "Buat apa kau berkeputusan begitu."

"Aku ingin melampiaskan dendam hatimu, tanpa bantuan orang luar, kitapun bisa menuntut balas."

Siang Pek-hong menghela napas, ujarnya: "Semoga hatimu takkan berubah selamanya terhadapku, bila tak bisa menuntut batas ya sudahlah, Kami berdua bergabung tak kuasa melawan Siau-go-kan-hun Hoa Kok-ham, kalau kau tidak minta bantuan Sumoaymu, kecuali kau kembali keharibaan ayahmu, mohon pengampunannya, lalu mempelajari seluruh kepandaian beliau, tapi keluargamu dengan keluargaku merupakan musuh kebuyutan, ayahmu mungkin mau mengampuni kau, mana sudi memberi kelonggaran terhadapku, aku tahu dia tidak sudi melihat aku memasuki pintu keluargamu, menjadi menantunya. Lebih baik tidak usah menuntut balas, dari pada aku kehilangan kau."

Dengan lembut Kongsun Ki mengelus rambut istrinya, katanya lembut: "Legakan hatimu, Mana aku rela meninggalkan kau? Tapi aku sudah memikirkan tanpa minta bantuan ayahku, tak perlu pula minta bantuan Sumoayku, kita tetap masih bisa menjatuhkan Hoa Kok-ham."

"Aku sebaliknya tidak begitu yakin."

"Tidak, jikalau ilmu silat dua keluarga kita dapat kita kombinasikan Hoa Kok-ham tidak perlu ditakuti, setelah aku meyakinkan Tay-hing-pat-sek, terasa Lwekangku maju pesat, sayang sampai sekarang kau belum mengidzinkan aku melatih..."

"Jangan kau salahkan aku," tukas Siang Pek-hong, "Sebelum ajal ayah pernah berpesan kepadaku, kepandaian silat keluarga Siang sekali-kali tidak boleh diturunkan kepada orang luar!"

Kongsun Ki tertawa, ujarnya: "Menantu bukan orang luar, jikalau ayahmu masih hidup, tentu beliau tidak sependapat seperti itu." "Justru lantaran sikap baikmu terhadapku, maka beberapa tahun ini aku sudah melanggar larangan ayah, menurunkan beberapa macam ilmu kepadamu."

Pelajaran itu kan tidak termasuk ilmu tingkat tinggi." "Tay-hing-pat-sek kau sendiri sudah melatihnya, apapula

yang kau inginkan?"

"Aku ingin meyakinkan dua ilmu beracun dari keluarga Siang kalian - Hu-kut-ciang dan Hoa-hiat-to."

"Apa?" Siang Pek-hong menjerit kaget "Kau ingin meyakinkan kedua macam ilmu itu? ini, ini .. "

Kongsun Ki membungkuk badan mengecup pipi istrinya, "Hong-moay," bujuknya lembut, "Aku sudah bersumpah berat, memangnya kau masih tidak percaya kepadaku? Kau kuatir setelah aku meyakinkan kedua ilmu itu lantas meninggalkan kau? Ai, lantaran kerisauan hatimu inilah, maka kau jatuh sakit dan tidak bisa sembuh, sebetulnya kita bisa mengecap kehidupan bahagia, asal kau mengurangi rasa curigamu!"

Mendengar sampai disini hati Hong-lay-mo-li jadi kurang enak, plkirnya: "Kukira mereka suami istri hidup senang dan saling cinta dan kasih sayang, tak nyana satu sama lain menaruh curiga dan main sembunyi2. Suami istri harus hidup rukun memberi saling pengertian yang mendalam, Suso justru merahasiakan kepandaian khibunya untuk membelenggu suaminya, jiwanya memang terlalu sempit sebaliknya Suheng tidak punya pambek seorang laki2 sejati, buat apa dia incar ilmu silat keluarga orang lain?

Kepandaian ayahnya sendiri jelas tidak lebih asor dari keluarga Siang, jikalau dia suka giat dan tekun belajar, selama hidupnya takkan habis dia menggunakan manfaatnya. Kenapa pula harus meyakinkan ilmu beracun yang jahat dari aliran sesat?" Sebaliknya siang Pek-hong agaknya terharu akan kesungguhan kata2 suaminya, katanya: "Suamiku, dengarlah penjelasanku bukan aku kikir tidak mau menurunkan kepada kau, aku kuatir bila kau meyakinkan kedua ilmu beracun itu malah membawa malapetaka bagi dirimu, tahukah kau bagaimana kematian ayah?"

"Bukankah ayahmu meninggal lantaran sakit?" tanya Kongsun Ki heran.

"Lantaran meyakinkan kedua ilmu beracun itulah, karena kurang hati2 ayah tersesat jalan dan meninggal. Kedua ilmu beracun itu amat hebat pengaruhnya, bahayanya terlalu besar dalam latihan, Selama ini aku sendiripun tak berani melatihnya."

"Tapi kalau kita hendak mengalahkan Hoa Kok-ham, kedua ilmu beracun itu harus kita yakinkan, Biarlah aku mencobanya. Mungkin mengandal Lwekang murni dari perguruanku sebagai landasan, bisa mengendalikan kadar racunnya"

Siang Pek-hong bimbang dan tak bersuara, Berkata Kongsun Ki lebih jauh: "Aku bekerja demi kau pula. Coba pikir, kalau kami berhasil kombinasikan ilmu dari kedua keluarga kita, tiada orang yang menjadi tandingan kita dikolong langit ini? Takut apa?"

Siang Pek-hong lemas dan bersikap aleman, sesaat baru berkata: "Suamiku, Berilah waktu biar aku pikir2 dulu ya? Kedua ilmu beracun itu teramat lihay. Sudah tentu kau ingin berlatih, akupun tidak akan kikir lagi, namun terhadap rahasia inti latihannya, aku sendiri belum lagi menyebarnya secara sempurna, perlu aku mulai mempelajarinya kembali supaya jelas dan aman."

Meski rada kecewa, namun Kangsun Ki tahu sang istri sudah terbujuk olehnya, cepat atau lambat kedua ilmu beracun itu pasti berhasil dipelajari, tanpa terasa lirikkan matanya menyungging senyum kegirangan, segera ia ambil cawan obat terus diangsurkan katanya:

"Kami terlalu asyik bicara, obat sampai dingin, nan lekas minumlah!"

Siang Pek-hong tolak cawan obat itu, katanya: "Nanti dulu!"

"Kenapa?"

"lngin aku tanya kau sebuah hal lagi, dimana adikku?" "Minumlah dulu, nanti kujelaskan."

"Tidak, selama ini aku amat menguatirkan dirinya, kau tidak mau jelaskan, hatiku terasa pepat dan kusut, sedih sekali, Kau jelaskan dulu baru kuminum obat itu."

Kongsun Ki tertawa ujarnya: "Ceng-hong mungkin pergi kejar bocah she Khing itu."

"Siapa yang memberitahu kepadanya?"

"lni, ini... dia cerdik dan lincah, kupingnya tajam lagi, Darimana aku tahu entah dari siapa dia tahu akan kabar bocah keparat itu?"

"Jangan kau kelabui aku, bukankah Giok-bin-yau-hou pernah berkunjung kerumah kami?"

Kongsun Ki tertawa getir, sahutnya: "Aku kuatir kau menaruh curiga lagi, maka tidak kuberitahu kepada kau, Benar, dia memang pernah kemari."

"Apa benar kau tidak sekongkol dan ada main sama dia?"

Kongsun Ki pura2 marah, katanya: "Kau pandang orang apa suamimu ini, siluman rase itu umpama kembang dipinggir jalan yang boleh dimiliki laki2 siapa saja, masakah suamimu sudah sedemikian bejat dan rendah." Karena Kongsun Ki marah, Siang Pek-hong malah unjuk tawa manis, ujarnya: "Aku tahu kau takkan berani, Tapi Giok- bin-yau-hou memang bukan manusia baik2, aku tidak ingin kau hubungan terlalu erat sama dia."

"Dia hanya mencari Ceng-hong. Hari kedua secara diam2 Ceng-hong lantas berlalu sama dia, akupun tidak diberitahu."

"Dia bukan hanya mencari adik bukan? Bukankah kau pernah bicara apa2 dengan dia dua kali dalam kamar rahasia? Apa yang kalian bicarakan, boleh beritahu kepadaku?"

Kongsun Ki terkejut, sahutnya: "Tiada apa2 yang kami bicarakan, dia cuma memberitahu berita bocah she Khing itu, dia tahu bahwa Khing Ciau berhasil mencuri belajar Tay-hing- pat-sek kita, dia tanya kepadaku apakah Khing Ciau perlu diringkus. Aku ingat pesanmu, kupandang muka adikmu, kau sendiri tidak mau pedulikan persoalan ini, maka kujawab demikian kepadanya.

Mungkin karena aku sendiri tiada perhatian, belakangan dia beritahukan kabar ini kepada adikmu, kau harus tahu bahwa adikmu sudah jatuh hati kepada bocah itu, maka esok harinya lantas pergi tanpa pamit. Sakitmu belum sembuh, aku kuatir penyakitmu bertambah berat, maka tidak kuberitahu kepada kau."

"Kukira persoalan tidak sederhana seperti itu saja bukan?" jengek Siang Pek-hong.

"Memangnya kau sangka masih ada apa lagi?" "Aku kuatir kau kena dipelet dan digosok oleh dia,

melakukan perbuatan yang tercela."

"Ah, kau mengada2 saja, ai, selalu kau tidak bisa melegakan suamimu."

"Tidak, bukan begitu maksudku." sela siang Pek-hong goyang tangan. "Memangnya apa maksudmu?"

"Aku sedang kuatir, kuatir kau kena digosok dan dipancing menjadi antek kerajaan Kim."

Berubah air muka Kongsun Ki, katanya: "Kau memang ngelantur, sembarang berpikir, tak ada kejadian itu."

"Kaiau tidak itulah baik, Masihkah kau ingat, tempo hari waktu Pakkiong Ou kemari, dia memberi kisikan, katanya raja Kim Wanyen Liang hendak mengundangmu menjadi apa Liong-ki To-wi, segera kugebah dia lari.

Aku justru tak senang kau menjabat pangkat dari kerajaan Kim, bergaul dan keluntang keluntung sama Pakkiong Ou dan Giok-bin-yau-hou orang2 bejat itu."

Kongsun Ki- berkata lirih: "Aku tahu maksud baikmu." "Masih ada yang tidak kau ketahui." kata Siang Pek-hong

meninggikan suaranya, "Ayah disebut gembong iblis besar,

diapun kepala perampok. Tapi selama hidup dia tidak sudi melakukan sesuatu, dimasa hidupnya beliau berkata kepadaku, perbuatan jahat apa saja boleh dilakukan, cuma pantang menjadi pejabat bangsa Nuchen, karena begitu kau terima meng-hamba kepada bangsa penjajah, laki2 siapa saya yang punya jiwa gagah, tidak akan tunduk pula kepadamu, masakah mereka sudi menjunjungmu sebagai kepala perampok.

Anak buah kita sekarang, kebanyakan adalah pembantu lama ayah dulu, asal mereda tahu kau ada hubungan dengan siluman rase itu, mereka akan menentang dan takkan setia pula kepadamu, Oleh karena itu bukan lantaran aku kuatir kau dipelet oleh siluman rase itu saja, aku kuatir kau bikin usaha besar kita ini berantakan, kukira kau perlu berpikir kembali secara cermat sebelum bertindak." Dingin bulu kuduk Kongsun Ki, katanya: "Hong-moay, benar ucapanmu, legakan hatimu, akupun tidak akan melakukan perbuatan sebodoh itu."

Mendengar ucapan siang Pek-hong ini, Hong-Iay-mo-li merasa diluar dugaan, batinnya: "Kukira Suso yang membuat Suheng bejat, ternyata diapun punya hati yang lurus, Walau demi keuntungan pribadi, namun patut dihargai juga." karena pikirannya ini, rasa benci terhadap Susonya inipun berkurang.

Kembali Kongsun Ki angsurkan cawan obat sembari berkata: "Obatnya sudah dingin, nah minumlah!"

"Ai, sungguh aku tidak ingin meminumnya lagi." "Kalau tidak minum obat, sakitmu mana bisa sembuh?

Hong-moay, seumpama lantaran aku, silakan kau minum

sajalah!"

"Aku punya firasat aneh, penyakitku ini takkan bisa sembuh. (Kongsun Ki menyela: "Hus!") Tapi kalau kau ingin aku meminumnya, baiklah biar kuminum."

Cawan obat sudah dekat didepan bibir, disaat Siang Pek- hong buka mulut hendak hirup obat dalam cawan itu, se- konyong2 terjadi sesuatu peristiwa yang tak pernah terduga, terdengar "Ting" disusul suara mangkok jatuh dan pecah, kiranya cawan obat yang diangsurkan Kongsun Ki jatuh dan pecah menjadi delapan belah, cairan obat muncrat ke-mana2 diatas lantai serta mengepulkan segulung asap ungu.

Dalam sekilas itu, saking kejut Kongsun Ki sampai melenggong. "Eh, kenapa kau?" ujar Siang Pek-hong, "Tidak minum obat inipun tak menjadi soal, kenapa dibuat sedih?" karena sedang sakit mata kupingnya kurang tajam, ia kira Kongsun Ki kurang hati2 menjatuhkan cawan obat itu.

Dilain pihak, kejut Hong-lay-mo-li justru jauh lebih besar dari Suhengnya, dari luar jendela ia sempat mendengar suara "Ting" yang amat lirih itu, seperti senjata rahasia lembut macam Bwe-hoa-ciam membentur cawan, tapi karena cawan itu seketika jatuh dan mengeluarkan suara ramai, maka suara lirih pertama itu kelelap dan tak terdengar bila memang tidak diperhatikan Siang Pek-hong sendiri baru terkejut setelah mendengar suara jatuh pecah diatas lantai, bahwasanya ia tidak tahu bahwa ada seseorang menggunakan senjata rahasia menimpuk jatuh cawan obat itu.

Cepat sekali Hong-lay-mo-li menginsafi bahwa ada seorang lain, seperti dirinya, sedang mengintip keadaan didalam kamar, sebelumnya Kongsun Ki sendiri tidak tahu akan hal ini, maka dapatlah dibayangkan bahwa kepandaian silat orang ini tentu amat tinggi.

Serta merta Hong-lay-mo-li ber-tanya2 dalam hati: "Siapa yang punya kepandaian sedemikian tinggl? Kenapa dia menimpuk jatuh cawan obat itu? Mengandal kepandaian orang itu, ia mampu mengincar Kongsun Ki, kenapa justru cawan obat itu yang dijadikan sasarannya? ini tidak lain lantaran dia hendak mencegah Siang Pek-kong minum obat ini, Kenapa?

Ai, wah, apa mungkin..." sampai disini tak berani Hong-lay- mo-li banyak pikir, lekas dengan gaya burung dara jumpalitan, dari badan bergelantung ia rubah gerakan

badannya menjadi It-ho-ciong-thian, sebat sekali ia melejit naik keatas rumah, gerakannya sudah amat cekatan dan cepat luar biasa, namun dibawah sinar bintang tak terlihat bayangan seorang manusiapun disekelilingnya.

Tepat pada saat itulah baru terdengar Siang Pek-hong berteriak: "Diluar ada orang!" ia meronta berusaha bangun, Serempak Kongsun Ki tersentak sadar, tangkas sekali ia putar badan seraya mengebutkan lengan baju membuyarkan asap ungu itu, terus melejit keluar jendela.

Siang Pek-hong keheranan, dengan mendelong ia awasi bayangan punggung orang, gumamnya: "Apakah sebabnya? Kenapa dia kelihatan begitu gugup?" Karena rasa curiganya ini pelan2 ia meronta bangun dan turun dari atas ranjang, ingin dia memeriksa duduk persoalan yang sebenarnya.

Sementara mari kami ikuti jejak Kongsun Ki yang mengejar keluar, sementara itu Hong-lay-mo-li sudah sembunyi dibelakang sebuah gunung palsu. Disamping ingin menunggu orang lain itu muncul, diapun tidak ingin menimbulkan kecurigaan Siang Pek-hong, maka sementara dia tidak keluar untuk menemui Suhengnya.

Begitu lompat keatas sebuah gunung2an palsu, Kongsun Ki jelajahkan matanya keberbagai penjuru, tidak terlihat bayangan seorangpun, tapi diapun tidak membikin banyak keributan, seenteng asap segera ia angkat langkah seribu dari tempat itu. Mimpipun ia tidak menduga bahwa Hong-lay-mo-li sembunyi dibawahnya.

Dengan mendekam ditanah Hong-lay-mo-li dengarkan arah langkah kaki suhengnya, setelah orang pergi dalam jarak tertentu, baru dia kembangkan ilmu en-tengi tubuhnya yang tinggi mengudak ke jurusan sana.

Dari kejauhan dilihatnya sang Suheng memasuki sebuah petak bangunan rumah.

Disinilah letak kamar buku Kongsun Ki, langsung ia menyulut pelita, menarik laci, mengeluarkan sejilid buku catatan terus dimasukan kedalam kantung bajunya, itulah catatan ilmu silat dari keluarga Siang yang dapat dia pelajari secara sembunyi2, Tay hing-pat-sek yang belakangan ini dia perolehpun tercatat didalamnya, cuma catatan ilmu silat dari kumpulan bukunya ini masih morat marit dan petil2an belum lengkap dan tidak bisa sambung satu sama lain, maka perlu dia andalkan kepintaran dan kecerdikan otaknya untuk menyelami, menganalisa dan menyempurnakannya.

Oleh karena itu bukan saja buku ini merupakan catatan ilmu silat hasil curiannya, boleh dikata merupakan hasil ciptaannya sendiri dari jerih payah dan peras keringatnya. Dengan main sembunyi dibalik bayangan pohon dan batu2 gunungan palsu, Hong-lay-mo-li maju terus mendekati kamar buku Suhengnya, dari luar jendela ia mengintip kedalam pula, dilihatnya sang Suheng sedang berjalan mondar mandir bolah balik sambil menggendong kedua tangannya, sikapnya gugup, gelisah seperti ada persoalan besar yang merasuk ketenangan hatinya, sehingga susah ia mengambil ketetapan.

Kiranya saat itu Kongsun Ki sedang menerawang: "Pek- hong adalah seorang ahli dalam permainan racun, jikalau timbul rasa curiganya, tentulah dia tahu akan rencanaku, Ai, kenapa tidak segera kubunuh dia tadi." mendadak timbul keinginan jahatnya, dia sendiripun menjadi kaget, lalu terpikir pula olehnya:

"Mana boleh aku punya pikiran yang jahat ini? Betapapun dia adalah istriku, jikalau aku benar2 membunuhnya, urusan bakal menjadi besar, penghuni perkampungan ini kebanyakan anak buah lama ayahnya, meski aku tidak gentar menghadapi akibatnya, namun tempatku berpijak disini bakal ludes.

Apalagi inti pelajaran kedua ilmu berbisa itu, belum lagi berhasil kudapatkan." teringat akan kedua ilmu beracun itu, tanpa sadar mulutnya menggumam. "Aku pergi atau tetap tinggal disini?" ternyata dia takut belangnya konangan, satu hal dia takut akan rencana kejinya diketahui oleh Siang Pek- hong, sebab lain ia kuatir orang yang menimpuk jatuh cawan obat beracun yang hendak dia minumkan kepada Siang Pek- hong itu adalah orang kepercayaan Siang Pek-hong yang sebelumnya memang sudah dipendam dalam kamarnya, jikalau urusan menjadi kenyataan, terang dirinya takkan bisa tinggal lebih lama lagi dalam perkampungan ini.

Apakah Hong-Iay-mo-Ii kuasa menundukkan sang Suheng dan menuntunnya ke jalan yang lurus? Apa pula yang dikuatirkan oleh Kongsun Ki sehingga hatinya kurang tenang? Siapa pula gembong iblis besar musuh Tang-hay-liong dan Samte-nya Say-ci-hong?

Apa pula hubungan antara Giok-bin-yau-hou Lian Ceng-poh dengan Bu-Iim thian-kiau?

(Bersambung ke bagian 5)
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Latah Bagian 04"

Post a Comment

close