Pahlawan Gurun Jilid 15

Mode Malam
 
Jilid 15

Ci In-hong mengedipi Kok Ham-hi sambil menggeleng. Ia cukup kenal watak sang sute yang berangasan. Ia kuatir Kok Ham-hi terus labrak kedua orang itu, maka cepat memberi isyarat agar bersabar. Habis itu In-hong baru bicara: “Bukan maksud kami suka ikut campur urusan orang lain, soalnya suasana sekarang sedang kacau, kami tidak enak membawa orang asing kedalam kampung. Sebab itulah kami harus tanya lebih jelas. Apa barangkali kalian punya kenalan di Koh-siong-cun?” Rupanya Busu yang satu lagi menjadi tidak sabar, tiba2 ia membentak: “Jika kalian tidak mau memberitahu boleh persetan, buat apa banyak cingcong!”

“Baiklah, silahkan saja kalian pergi,” sahut Ci In-hong.

“Hm, enak saja kau bicara !” mendadak Busu kedua yang berjenggot membentak. Berbareng dari atas kuda ia terus menghantam batok kepala Ci In-hong. Bahkan Busu yang lain dengan cepat juga lantas menyabet Kok Ham-hi dengan pecutnya.

Ci In-hong menjadi murka, balasnya membentak: “Sebenarnyas aku tidak mau membunuh kau, tapi kau sendiri yang cari mampus!” ~ Berbareng telapak tangan kanan memutar suatu lingkaran, dengan membawa suara menderu yang keras, segera ia lancarkan serangan maut dari Thian-lui- kang yang lihai.

Ci In-hong mengira dengan Thian-lui-kang sedikitnya akan membikin Busu Mongol itu terluka parah andaikata tidak mampus, tak terduga ketika tenaga pukulan kedua orang kebentur, terdengar suara “blang” yang keras, Busu Mongol itu mencelat dari kudanya, sebaliknya Ci In-hong sendiripun tergetar mundur dua-tiga tindak. Belum lagi ia berdiri tegak, se-konyong2 ia merasa didorong pula oleh suatu tenaga yang kuat, tanpa tertahan ia mundur lagi tiga tindak. Dan baru saja ia terkejut, lagi2 ia terdorong oleh tenaga kuat yang serupa dan kembalai ia mundur tiga tindak, habis itu baru dapat berdiri dengan baik.

Padahal Busu Mongol itu hanya melontarkan sekali pukulan saja dan Ci In-hong ber-turut2 harus mundur tiga kali, keruan kejutnya tidak kepalang. Ia tidak tahu bahwa Busu Mongol itupun tidak kurang kejutnya setelah mencelat dari kudanya dan dada terasa seperti digodam dengan keras.

Kiranya Busu Mongol berjenggot itu bernama Ulitu, dia adalah murid pertama Liong-siang Hoat- ong, Koksu negeri Mongol. Ilmu kebanggaan Liong-siang Hoat-ong disebut “Liong-siang-sin-kang (ilmu sakti naga-gajah), tenaga ilmu pukulan ini sangat hebat dan seluruhnya meliputi sembilan gelombang tenaga. Sekali memukul, maka tenaga pukulan menjadi laksana gelombang samudra yang mendampar, damparan gelombang yang satu lebih dahsyat daripada yang lain. Tapi Ulitu baru mencapai satu pukulan tiga gelombang tenaga saja, sebab itu masih kalah kuat daripada Thian-lui- kang Ci In-hong.

Kawan Ulitu itu bernama Abul, terhitung jago kedua daripada ke-18 kemah emas. Kini iapun sudah bergebrak dengan Kok Ham-hi.

Sekali keluarkan Thian-lui-kangnya, dengan kuat Ham-hi pegang ujung pecut lawan sambil membentak: “Turun!”

Benar juga, Abul lantas berjumpalitan terberosot dari kudanya. Akan tetap Kok ham-hi ternyata tidak mendapatkan keuntungan. Kiranya Abul terkenal sebagai jago gulat Mongol nomor satu meski kedudukannya terhitung nomor dua diantara ke-18 jago kemah emas. Sebelum kakinya menempel tanah, lebih dulu menggunakan gaya “Ngo-eng-bok-tho” (elang lapar menyambar kelinci), dari atas ia tubruk kebawah untuk menangkap ubun2 kepala Kok ham-hi.

Sambil mendak kebawah, segera Kok ham-hi menyikut pula sehingga tulang iga abul kena disikut, tulang iganya kontan patah sebatang, sebaliknya Kok Ham-hi juga kena dibanting terjungkal dengan cukup keras.

Waktu Ham-hi dapat meloncat bangun lagi, pada saat yang sama Ci In-hong juga telah berdiri tegak.

Disebelah sana Ulitu dan Abul telah berdiri sejajar, keduanya membentak berbareng dalam bahasa Mongol: “Hang-liong-hok-hou (taklukkan naga tundukkan harimau)!”

Tapi dipihak lain Ci In-hong dan Kok Ham-hi juga memutar sebelah tangan masing2 membentak: “Lui-tian-kau-hong!”

“Hang-liong-hok-hou” adalah suatu jurus pukulan yang paling dahsyat dalam Liong-siang-sin-kang, serupa pukulan maut “Lui-tian-kau-hong” dalam Thian-lui-kang.

Begitulah kedua pihak sama2 mengeluarkan kepandaian masing2 yang paling hebat, maka terdengarlah suar ‘blang’ yang keras, debu pasir bertebaran. Ulitu dan Abul berdua terlempar pergi beberapa meter jauhnya dan ter-guling2 diatas tanah baru kemudian dapat berdiri kembali.

Sebaliknya Ci In-hong dan Kok Ham-hi juga tergetar mundur sembilan langkah.

Kalau dinilai dengan sendirinya kedua Busu Mongol itu yang kecundang, maka Ulitu menyadari ketemu lawan tangguh, kalau bertempur lagi tentu lebih banyak celaka daripada selamatnya, cepat ia memberi isyarat kepada Abul, kedua terus mencemplak keatas kuda dan melarikan diri.

Setelah mengadu pukulan dahsyat dan ternyata kedua orang Mongol itu masih mampu mencemplak keatas kudanya dan kabur, diam2 Ci In-hong juga terkejut dan tidak berani sembarangan mengejar. Dalam sekejap saja kedua Busu Mongol itu sudah lenyap dari pandangan.

“Lihai juga kedua orang Mongol itu,” kata Ham-hi. “Suheng, kau tidak apa2 bukan?”

“Ya, setelah mereka menahan pukulan Lui-tian-kau-hong kita, rasanya merekapun sudah kapok, Cuma saja Han-loenghiong mungkin tak dapat menandingi mereka berdua,” kata Ci In-hong.

Barulah Kok ham-hi ingat bahwa tempat tujuan kedua Busu Mongol itu adalah Koh siong-cun, tak perlu ditanya lagi tentu kedua Busu Mongol itu mempunyai maksud jahat terhadap Lau Han-ciang. Maka cepat ia berkata pula: “Benar, marilah kita menyusul ke Koh-siong-cun untuk melabrak mereka lagi.”

Sudah tentu Ci In-hong juga sudah memikirkan hal ini, Cuma dia merasa ragu2 karena ada persoalan perjodohan yang dikemukakan gurunya itu. Namun akhirnya ia ambil keputusan betapapun harus membantu sesama kaum perjuangan, apalagi Lau Han-ciang adalah ayah Lay Tay- wi yang menjadi sahabatnya. Segera ia berkata: “Baiklah, mari kita menyusul kesana dengan memotong jalan melalui jalan kecil.”

“Apakah Suheng tidak kuatir ditahan Lau-loenghiong nanti?” Ham-hi meng-olok2 dengan tertawa. “Hakekatnya akupun belumpernah bertemu dengan dia,” ujar Ci In-hong. “kupikir untuk sementara ini kita tak perlu perkenalkan diri kita, setiba disana nanti kita bertindak menurut keadaan saja.” Setelah sepakat, segera mereka berangkat menuju Koh-siong-cun, setiba disana sudah lewat tengah malam. Waktu Ci In-hong mendengarkan dengan cermat, sayup2 terdengar diarah barat-laut sana ada suara beradunya senjata.

“Dugaan Suheng memang tidak salah, tentu kedua orang Mongol itu sudah bergebrak dengan Lau – loenghiong,” kata Ham-hi. Segera mereka berlari kejurusan datangnya suara itu dengan ginkang masing2.

Koh-siong-cun memang sesuai dengan namanya, perkampungan itu terletak di-tengah2 hutan Siong (cemara) yang rimbun, meski malam ini cahaya bulan cukup terang, namun didalam hutan cemara itu hanya remang2 tampak bayangan rumah disana sini. Diam2 Ci In-hong bergirang, suasana begini paling cocok bagi orang keluar malam, ia pikir nanti kalau kedua orang Mongol itu dapat dibereskan, segera tinggalkan perkampungan itu tanpa diketahui oleh Lau Han-ciang.

Rekaan Ci In-hong memang bagus, tapi perubahan keadaan sungguh sama sekali diluar dugaan. Ketika mereka memasuki hutan cemara itu, keadaan remang2 dan sukar membedakan kawan atau lawan. Cuma dari suaranya Kok Ham-hi dapat mendengar bahwa yang sedang bertempur itu agaknya terdiri dari lima orang.

“Mereka menjadi heran mengenai jumlah orang itu, padahal keluarga Lau Cuma terdiri dari ayah dan anak, sedang Busu Mongol juga Cuma dua orng, lalu siapa lagi yang seorang itu ?”

Dalam pada itu terdengarlah suara orang tua serak sedang membentak: “Siapa kalian, mengapa tanpa sebab kalian melakukan serangan kepada kami?”

Ci In-hong menduga yang bicara itu tentu Lau Han-ciang adanya. Segera ia percepat langkahnya memburu kedapan.

Benar juga, sebelum Ci In-hong berdua sampai ditempat pertempuran, terdengarlah Busu Mongol yang bernama Ulitu itu sedang berkata: “Baik, akan kujelaskan agar kalian tidak mati penasaran. Kami diperintahkan oleh Koksu Kerajaan Kim untuk memenggal kepalamu. Nah, Lau Han-ciang, kau sudah tahu dosamu tidak?”

Karena mengaku jagoan dari kerajaan Kim, dengan sendirinya Ulitu bicara dalam bahasa Nuchen, yakni suku bangsa negeri Kim. Bahasa Nuchen yang dia ucapkan ternyata jauh lebih fasik daripada bahasa Han, namun bagi pendengaran Ci In-hong masih dapat dibedakan logt Mongolnya yang kaku itu.

Akan tetapi Lau Han-ciang tidak tahu bahwa kedua busu negeri Kin ini adalah palsu, disangkanya apa yang diucapkan tadi memang benr. Maka dengan gusar Lau Han-ciang balas membentak: “Apa dosaku?” Yang Thian-lui sendiri berkhianat, menjual kawan untuk kejayaan sendiri, menindas rakyat sebangsanya dan mengekor pada musuh, dia yang benar2 berdosa yang tak dapat diampuni.” “Bangsat tua, ajalmu sudah didepan mata, masih berani sembarangan omong,” bentak Busu Mongol lain yang bernama Abul. “Coba jawab pertanyaanku, putramu adalah perwira didalam pasukan pemberontak bukan?”

“Benar, aku merasa bangga mempunyai seorang putra demikian,” jawab Han-ciang.

“Hm, perbuatan anakmu sudah cukup membikin kau dihukum mati, sekarang kau berani pula menerima putranya To Pek-seng, apakah kau tidak tahu bahwa segenap keluarga To Pek-seng adalah buronan kerajaan?” jengek Abul.

Sementara itu Lau Han-ciang berdua sudah berada didekat tempat pertempuran itu, ia menjadi terkejut mendengar kata itu. Pikirnya: “Yang dimaksudkan bangsat ini apakah bukan To Liong? Mengapa To Liong bisa tinggal ditempat Lau-loenghiong?”

Dengan memusatkan pandangannya, lapat2 Lau Han-ciang melihat ketiga orang yang bertempur melawan kedua Busu Mongol itu terdiri dari seorang laki2 tua berjengot panjang, seorang lagi perempuan muda berkuncir dua dan seorang lain lagi adalah To Liong.

Cepat ia membisiki Ham-hi: “Kejadian ini rada aneh, coba kita ikuti dulu perkembangan selanjutnya,” ~ Segera mereka panjat keatas sebatang pohon besar dan mengikuti pertempuran sengit itu dari atas.

Dalam pada itu terdengar To Liong sedang bicara: “Paman Lau tak perlu banyak bicara dengan mereka, biar siautit membereskan mereka saja.”

“Hm, apa kepandaianmu, berani kau omong besar?” jengek Ulitu.

Keruan Lau Han-ciang berdua tambah heran. Dengan suara pelahan Kok Ham-hi berkata kepadanya: “Peristiwa ini benar2 aneh. Jelas To Liong adalah agen rahasia pihak Mongol, mengapa mendadak berubah menjadi sahabat Lau-loenghiong dan menjadi pahlawan disini? Aku benar2 tidak percaya akan perubahan haluan secepat ini?”

“Akupun tidak percaya, coba kita ikuti dan waspada,” saut In-hong. Kedua orang sama2 menyiapkan sebuah Kim-ci-piau (senjata rahasia mata uang) untuik menjaga segala kemungkinan bila To Liong berbuat licik terhadap Lau han-ciang dan anak perempuannya.

Diluar dugaan, cara To Liong bertempur melawan Busu Mongol itu ternyata tidak kenal ampun dan mendekati cara mengadu jiwa. Bahkan sering kali To Liong membantu Lau Han-ciang dan anak perempuannya bilamana mereka terserang oleh kedua musuh itu.

Ci In-hong cukup kenal kepandaian To Liong, ia yakin To Liong pasti sukar melawan gabungan kedua busu Mongol itu, apalagi hendak mengalahkannya. Maka ia pikir dalam hal ini tentu ada permainan sandiwara, terang kedua Busu Mongol itu sengaja mengalah.

Segera In-hong mengisiki Ham-hi akan pikirannya itu, Kok Ham-hi dapat menyetujui pendapat In- hong dapat menyetujui pendapat In-hong itu, tapi mereka menjadi seba sulit, waktu itu To Liong sedang menempur kedua Busu Mongol, jika mereka melompat turun untuk melabrak To Liong tentu akan menimbulkan salah paham Lau Han-ciang.

Syukurlah pada waktu itu terdengar Ulitu sedang berseru: “Lihai juga kau bocah ini, biarlah malam ini kami mengalah padamu, lainkali kami pasti akan memberi hajaran setimpal padamu,” ~ Ia bicara dengan napas ter-engah2, habis itu bersama Abul lantas putar tubuh dan melarikan diri. Sebagai jago silat pilihan, sudah tentu Ci In-hong dan Kok Ham-hi dapat melihat kelakuan Ulitu yang pura2 bernapas ter-engah2 itu.

Dalam pada itu terdengar To Liong sedang membentak dengan tertawa bangga: “Hm, kalian baru kenal kelihaianku sekarang? Mau lari kemana kalian!” ~ Habis itu tampaknya ia hendak mengejar musuh.

Tapi Lau Han-ciang yang sudah tua dankehabisan tenaga itu keburu mencegahnya: “To-hiantit, biarkan saja, tak perlu mengejar mereka!”

Saat itu Ulitu sedang berlari lewat dibawah pohon tempat sembunyi Ci In-hong dan Kok Ham-hi. Segera In-hong memberi tanda kepada Kok Ham-hi, berbareng mereka lantas melompat turun, sekaligus mereka melancarkan pukulan “Lui-tian-kau-hong” secara mendadak, karena tidak ter- duga2, seketika Ulitu dan Abul merasakan membanjirnya arus tenaga yang maha kuat, konta kedua orang ter-guling2 kebawah lereng laksana bola.

“Siapa itu?” bentak To Liong, berbareng pedangnya lantas menabas. Tapi seketika iapun merasakan dorongan arus tenaga yang dahsyat, tanpa ampun iapun jatuh terjungkal. Maksud To Liong sebenarnya hendak menolong Ulitu berdua, tak terduga ia sendiri malah kecundang. Dan setelah jatuh terguling segera iapun sadar siapakah yang datang ini.

Dalam pada itu Lau Han-ciang dan anak perempuannya menjadi terkejut, lekas2 mereka membangunkan To Liong, dengan suara lantang Lau Han-ciang lantas menegur: “Kawan dari kalangan mana yang datang ini? Mengapa tanpa bicara lantas main pukul?”

“Lau-loenghiong, engkau telah tertipu oleh keparat ini, sebenarnya mereka adalah suatu komplotan,” kata Kok Ham-hi.

“Apa katamu?” bentak Lau Han-ciang dengan gusar dn kejut. Sudah tentu ia tidak percaya apa yang dikatakan Kok Ham-hi, apalagi sudah jelas To Liong tadi berdiri dipihaknya dan melabrak kedua musuh.

“Jangan percaya ocehannya, Lau-loenghiong,” seru ToLiong sesudah berdiri kembali. “ToLiong, apakah perlu kami membongkar guci wasiatmu?” jengek Ci In-hong. “Sebaiknya kau mengaku terus terang saja kepada Lau-loenghiong bilamana kau tidak ingin merasakan kelihaianku.”

Keruan To Liong menjadi takut, betapapun ia tidak sanggup melawan Ci In-hong dan kok Ham-hi, maka tanpa pikir lagi segera ia putar tubuh dan melarikan diri.

“To-toako! To-toako!” seru nona Lau sambil ikut berlari, berlari menyusul To Liong.

Lau Han-ciang menjadi gusar, bentaknya pula: “Kalian mau mebcelakai To-kongcu, lebih dulu hadapi golokku ini !” ~ Berbareng ia terus membabat dengan goloknya untuk merintangi Ci In-hong berdua yang bermaksud mengejar To Liong.

Dengan sendirinya Ci In-hong berdua serba susah. Terpaksa In-hong menangkis tabasan golok orang dengan pedangnya, lalu berseru: “Lau-loenghiong, kau telah tertipu oleh To Liong. Engkau sudah lama mengasingkan diri dipegunungan sunyi, mungkin kau tidak tahu bagaimana tingkah laku To Liong yang sesungguhnya?”

Untuk sejenak Lau Han-ciang menjadi ragu2, akhirnya ia berkata: “Bukankah To Liong adalah putra To-tayhiap, To Pek-seng yang terkenal sebagai pahlawan bangsa. Kalian ini siapa, berani kau meng-olok2 To-kongcu dihadapanku?”

“Memang betul To-tayhiap adalah pahlawan besar, cuma sayang putranya ternyata pengecut, dia tidak membalas sakit hati kematian ayahnya yang diketahui dibunuh oleh Yang Thian-lui, sebaliknya dia malah menjual tenaga kepada musuh,” demikian Ci In-hong berusaha menjelaskan. “Bahwasanya tadi To Liong membantu Lau-loenghiong, hal ini hanya bermain sandiwara belaka sebagaimana terbukti dia terus menyerang kami ketika kami hantam roboh kedua Tartar tadi.” “Terus terang akupun menyangsikan asal usul kalian yang belum kukenal,” jengek Lau Han-ciang. “Baik, jika Lau-loenghiong tidak percaya kepada omongan kami, tiada gunanya kami banyak bicara lagi,” ujar Ci In-hong. “Mengenai diri To Liong, untuk mencari keterangan sejelasnya rasanya engkau boleh tanya kepada putramu sendiri.”

Lau Han-ciang menjadi tercengang, tanyanya kemudian: “Sebenarnya kau siapa? Kau kenal putraku?” Akan tetapi setelah mengucapkan kata2 tadi Ci In-hong lantas melangkah pergi bersama Kok Ham- hi. Pertanyaan Lau Han-ciang itu didengarnya, namun dia tidak menjawabnya.

Setelah keluar dari hutan cemara itu, dengan tertawa Kok Ham-hi berkata: “Nona Lau itu tampaknya telah kena terpikat ole To Liong.”

“Sesungguhnya aku justru berharap nona Lau menemukan jodoh yang sesuai, Cuma sayang To Liong adalah bangsat yang berhati binatang, bila nona Lau mendapatkan dia rasanya kurang cocok,” kata In-hong.

“Melihat gelagatnya, aku menjadi sangsi jangan2 perbuatan To Liong ini menyerupai apa yang pernah kulakukan dahulu,” ujar Kok Ham-hi dengan tertawa. “Dahulu aku pernah membantu ayah Giam Wan mengalahkan Tin-lam-jit-hou, sesungguhnya tujuanku adalah untuk merebut hati ayah Giam Wan saja agar ia menerima lamaranku. Cuma saja maksud tujuan To Liong sekarang sudah tentu lain lagi daripadaku, tentu dia ada rencana keji. Cara To Liong memikat wanita memang juga lihai, kabarnya bakal istri Bengcu kita dahulu juga hampir terpikat olehnya.”

Tiba2 hati Ci In-hong tergerak, serunya: “Wah, celaka !” “Ada apa ?” tanya Ham-hi.

“Mungkin rencana To Liong ini tidak untuk menjerat anak perempuan Lau Han-ciang saja, akan tetapi bermaksud mengorek rahasia pasukan pergerakan mengingat putra Lau Han-ciang adalah perwira dalam pasukan tersebut.”

“Pendapat Suheng cukup beralasan, tapi orang tua itu tidak mau percaya omongan kita, cara bagaimana kita harus bertindak?”

Ci In-hong merenung sejenak, lalu berkata: “Yang harus dikuatirkan adalah soal pengkhianatan To Liong belum lagi diketahui oleh Lau Tay-wi, maka jalan satu2nya sekarang marilah kita lekas berangkat ketempat Liu Tong-thian, dari sana kita dapat minta dia mengirim seorang utusan untuk memberitahukan hal ini kepada Lau Tay-wi di Su-keh-ceng.”

Sambil bicara tanpa terasa kedua orang telah meninggalkan Pak-bong-san dan berada dijalan besar. Tiba2 dari depan tampak datang dua penunggang kuda dengan cepat. Waktu Kok Ham-hi memandang kedepan, ia menjadi terkejut dan lantas membentak: “Kalian berdua bangsat ini mau berbuat apa datang kesini?” ~ Berbareng itu ia lantas menghantam dengan Thian-lui-kang.

Agaknya kedua penunggang kuda itupun keget demi melihat Kok Ham-hi, cepat mereka putar kuda mereka dan lari kearah yang tak menentu. Lari kedua kuda itu sangat cepat sehingga pukulan Kok Ham-hi tadi tidak mencapai sasarannya, hanya dalam sekejap saja kedua orang itu sudah kabur jauh.

“Siapakah kedua orang itu?” tanya In-hong.

“Kedua orang itu adalah dua diantara Tin-lam-jit-hou, yang satu adalah kepalanya, bernama Toan Tiam-jong, dan seorang lagi adalah sutenya, Cah-ih-hou Ci Jing-san, si harimau bersayap,” tutur Kok Ham-hi.

“Aneh, untuk apa jauh2 mereka datang dari Tin-lam keutara sini?” kata Ci In-hong.

“Dapat dipastikan mereka bermaksud jahat, Cuma sayang kita ada tugas penting, tiada waktu mengejar mereka,” ujar Ham-hi. Dalam hati ia pikir jangan2 Tin-lam-jit-hou juga telah menempuh jalan sesat sebagaimana arah yang diambil To Liong.

Begitulah mereka melanjutkan perjalanan ketempat Liu Tong-thian tanpa rintangan apa2 lagi. Setiba disana Liu Tong-thian sendiri menyambut kedatangan mereka.

“Sayang Ci-heng datang rada terlambat, jika datang lebih cepat tiga hari yang lalu dapat berjumpa dengan nona Beng,” kata Liu Tong-thian.

“Hah, jadi Beng-tayhiap ayah beranak pernah berkunjung kesini?” In-hong menegas dengan girang. “Ya, bahkan ada pula Li-bengcu beserta nona Nyo,” tutur Liu Tong-thian. “Beberapa hari ini keadaan disini ramai, sungguh aku sangat mengharapkan kedatangan kalian.”

Sesudah berada didalam dan berduduk, lalu Kok Ham-hi bertanya tentang Yang Thian-lui. “Keparat she Yang itu sudah memberi jawaban padaku,” tutur Liu Tong-thian. “Dia mengirim sepucuk surat padaku dan mengundang aku ke Taytoh untuk menemuinya. Padahal Beng-tayhiap

dan Li-bengcu datang kesini dengan maksud menjebak Yang Thian-lui disini, tak tahunya dia malah menginginkan kita masuk perangkapnya.” “Lalu kau akan pergi kesana tidk?” tanya Ci In-hong.

“Kalau tidak masuk sarang harimau, darimana bisa mendapatkan anak harimau,” ujar Liu Tong- thian.

“Kau tidak takut kepada perangkap yang dia pasang?” Ham-hi bertanya.

“Aku sudah berunding dengan Li-bengcu,” jawab Liu Tong-thian. “Bahwasanya YangThian-lui yang licik itu tidak mau datang kesini dengan menempuh bahaya memang sudah kita duga. Tapi dia mengundang aku menemuinya, apakah ini berarti dia sudah tahu pendirianku dipihak Gi-kun, inilah yang sukar dipastikan. Besar kemungkinan dia menaruh curiga saja dan ingin mencoba diriku.

Karenannya akupun ikuti saja tipu muslihatnya dan akan pergi kesana menemuinya.” “Bagaimana pendapat Li-bengcu?” tanya In-hong.

“Semula Li-bengcu juga menguatirkan keselamatanku,” tutur Liu Tong-thian. “Tapi setelah aku menyatakan takadku untuk menghadapi resiko apapun, akhirnya Li-bengcu dan Beng-tayhiap setuju juga. Bahkan Li-bengcu siap untuk datang juga ke Taytoh.”

“Beliau adalah pucuk pimpinan kita, mana boleh menempuh bahaya sendiri?” ujar Ci In-hong. “Akupun berkata begitu, tapi Li-bengcu menyatakan kalau aku berani menyerempet bahaya, mengapa beliau tidak?” kata Liu Tong-thian. “Kemudian barulah aku mengetahui bahwa kepergian Li-bengcu ke Taytoh tidak melulu hendak YangThian-lui saja, tapi beliau hendak menemui pula Liok-pangcu dari Kay-pang utara untuk berunding cara bagaimana mengadakan perlawanan terhadap pihak Kim. Liok-pangcu saat ini berada dicabang markas Kay-pang di Taytoh.”

“Bengcu kita ini sungguh gagah berani dan banyak pula tipu akalnya,” ujar Ci In-hong. “Lantas bagaimana dengan Beng-tayhiap?”

“aku tahu kau tentu terkenang kepad nona Beng, kata Tong-thian dengan tertawa. “Mereka ayah beranak juga akan pergi keTaytoh, hanya saja akan berangkat terlambat sedikit, sebab Beng-tayhiap masih perlu kembali ke Long-sia-san untuk menyelesaikan sedikit urusan.”

Kemudian mereka berunding lebih jauh tentang cara bagaimana berangkat ke taytoh, kotaraja negeri Kim. Karena Ci In-hong pernah tinggal dua-tiga tahun disana, supaya tidak dikenal, Liu Tong-thian telah memberi obat rias muka agar Ci In-hong menyamar, Liu Tong-thian telah memberikan obat rias yang sama pula kepada Li Su-lam. Adapun wajah Kok Ham-hi memangnya sudah jelek, tentu tiada orang yang mengenalnya.

Begitulah Ci In-hong lantas merias mukanya menjadi wajah prajurit biasa yang tidak menarik, waktu ia becermin, ia hampir2 tidak kenal dengan wajah sendiri.

Karena Yang Thian-lui memberi wktu agar menemuinya sebelum pertengahan bulan yang akan datang, maka mereka cukup waktu untuk pergi ke Taytoh dan dapat mengatur siasat seperlunya disana. Terutama mereka dapat mencari kabar kepada Kay-pang dan Cui Tin-san tentang Loh Hiang-ting dan Ting Cin apakah kedua orang itu sudah berada di Taytoh.

“Selain itu, kita masih harus waspada terhadap seorang musuh lain,” ujar In-hong. “Siapa maksudmu?” tanya Liu Tong-thian.

“To Liong, kakak To Hong,” kata In-hong.

“Akupun sudah tahu bahwa dia adalah agen rahasia musuh,” kata Liu Tong-thian dengan tertawa. “Bukankah akupun berada di Long-sia-san ketika Li-bengcu membongkar kedoknya waktu itu? Cuma dia tidak tahu akan seluk beluk diriku karena kehadiranku waktu itu adalah membantu Tun-ih Ciu.”

“Yang harus kita waspadai adalah suatu muslihat keji yang sedang dilakukannya sekarang ini,” kata In-hong pula. Lalu iapun menceritakan apa yang dilihatnya di Pak-bong-san serta pendapatnya akan muslihat keji yang mungkin diatur oleh To Liong itu.

“Sungguh keji bangsat itu,” cacai Liu Tong-thian. “Baiklah, segera kukirim orang untuk memberitahukan Lau Tay-wi di Su-keh-ceng.”

Setelah ambil keputusan, besok paginya mereka bertiga lantas berangkat bersama ke Taytoh. Pada saat yang sama ternyata Li Su-lam dan Nyo Wan berdua juga sedang berada dalam perjalanan menuju ibikota kerajaan Kim itu.

Setelah mengalami banyak suka duka selama berpisah, perjalanan mereka sekarang berlangsung dengan penuh kasih mesra yang tak terperikan. Suatu hari sampailah mereka diwilayah Bit-it-koan,suatu kota kabupaten terletak ratusan li diselatan ibukota kerajaan Kim.

Sedang berjalan, tiba2 debu mengepul didepan, suatu pasukan berkuda sedang mendatangi sehingga orang ditengah jalan sama menyingkir.

Waktu Li Su-lam meng-amat2i lebih teliti, dilihatnya bagian depan dan belakang pasukan itu adalah prajurit2 berkuda Kim, sedangkan suatu barisan kecil dibagian tengah ternyata berseragam prajurit Mongol.

Inipun belum aneh, yang aneh adalah beberapa “orang penting” dalam barisan Mongol itu, yang menunggang kuda tinggi besar di-tengah2 itu ternyata bukan lain daripada Mufali komandan Sin- ek-ong (batalyon sayap sakti) yang terkenal dalam pasukan Mongol. Sedang dikanan-kiri Mufali adalah Ulitu dan Abul, kedua jago kemah emas. Yang rada dibelakang Mufali adalah seorang hwesio besar dengan wajah merah bercahaya.

Melihat tempat Mufali ditengah barisan Mongol tu pantasnya dia adalah pucuk pimpinan dari pasukan itu, akan tetapi ada lagi seorang perwira Mongol yang bercampur ditengah pasukan2 yang mula2 tidak diperhatikan oleh Li Su-lam, tapi kemudian ia menjadi terkejut setelah mengenalinya. Siapakah perwira yang mengejutkan ini? Kiranya tak lain tak bukan adalah pangeran ke empat kerajaan Mongol, Dulai adanya.

Mufali adalah panglima Mongol, kedudukannya dengan sendirinya sangat tinggi, tapi kalau dibandingkan Dulai yang pernah menjabat “Mangkubumi” waktu ayah bagindanya wafat, tentu saja pangkat kedua orang selisih sangat jauh.

Tapi sekarang Mufali menunggang kuda tinggi besar dan diiring dibagian tengah, sebaliknya Dulai berseragam perwira rendahan dan mencampurkan diri dibelakang barisan, terang dulai sengaja menyamar sebagai pengiring Mufali, hal ini sungguh terlalu aneh dan menarik bagi Li Su-lam.

Li Su-lam dan Nyo Wan menyamar sebagai suami-istri petani, mereka mengira Dulai dan Mufali tentu pangling kepada mereka maka mereka lantas ikut menyingkir ketepi jalan bersama orang banyak.

Tiba2 terdengar Mufali bersuara heran, lalu menoleh dan entah bicara apa dengan hwesio besar tadi. Habis itu mendadak si hwesio melontarkan suatu pukulan jauh kearah Li Su-lam. Seketika Li Su- lam merasa didorong oleh suatu tenaga maha dahsyat,tanpa kuasa ia menyelonong kedepan beberap langkah baru dapat menahan diri lagi.

Kalau Li Su-lam Cuma hampir jatuh saja, tapi orang2 lain dijalanan itu menjadi korban, terdengar jerit ngeri beberapa kali, beberapa orang dibelakang Li Su-lam telah roboh dengan mulut dan hidung mengeluarkan darah, tampaknya sudah binasa.

“Sungguh hebat ilmu sakti Hoat-ong, pantas bergelar jago nomor satu didunia ini. Sungguh mengagumkan!” demikian terdengar seorang perwira Kim memberi pujian.

Mungkin perwira Kim itu mengira pukulan hwesio itu hanya sekedar menghalau orang2 yang berkerumun ditepi jalan, maka tidak menaruh perhatian terhadap Li Su-lam yang menjadi sasaran serangan itu, barisan itupun dalam sekejap saja sudah lalu.

Diam2 Li Su-lam mengerahkan tenaga dalam untuk mengatur pernapasan dan menghilangkan rasa sesak akibat tenaga pukulan si hwesio tadi.

“Kau tidak apa2 bukan? Tanya Nyo Wan.

“Tidak apa2,” sahut Li Su-lam. “Lihai sekali hwesio tadi.”

“Perwira Kim tadi memanggilnya Hoat-ong, mungkin sekali adalah Koksu Mongol Liong-siang Hoat-ong,” ujar Nyo Wan.

Ketika di Mongol dulu Li Su-lam tiada kesempatan bertemu dengan Liong-siang Hoat-ong, Cuma ia pernah mencoba kepandaian beberapa murid Hoat-ong yang menjadi jago kemah emas Jengis Khan, maka ia cukup kenal ilmu silat aliran mereka.

“Mungkin Duai dan Mufali telah mengenali kau, maka sengaja suruh Liong-siang Hoat-ong menyerang kau,” kata Nyo Wan pula dengan kuatir. “Melihat gelagat, terang merekapun hendak menuju ke Taytoh.”

“Besar kemungkinan cocok dengan dugaanmu,” sahut Li Su-lam. “Cuma kitapun pantang mundur. Betapapun kita harus tetap menuju ke taytoh.” Dalam pada itu suasana ditepi jalan tadi sedang ribut karena jatuhnya korban akibat pukulan si hwesio tadi. Ada yang menangis ada yang mencaci maki akan kebuasan orang Mongol yang dianggap tiada ubahnya seperti orang Kim.

Dari keterangan yang diperoleh Li Su-lam dari beberapa orang yang berkerumun disitu, diketahui bahwa tersiar berita dikotaraja Kim dan sekitarnya bahwa antara pihak Kim dan Mongol sedang diadakan perundingan perdamaian, bahkan katanya pihak Kim yang minta berdamai. Karena itu hari ini penduduk setempat be-ramai2 ingin melihat utusan pihak Mongol yang tiba itu, tak terduga malah terjadi bencana seperti tadi.

Li Su-lam menceritakan kabar yang diperoleh itu kepada Nyo Wan, lalu kedua orang itu melanjutkan perjalanan ke taytoh.

Suasana diibukota Kim itu sangat meriah, diberbagai tempat dipajang dengan macam2 gapura dan pertunjukan untuk menyambut kedatangan utusan Mongol, rakyat yang datang menonton keramaian itu ber-jubel2, maka Li Su-lam berdua dengan aman dapat memasuki kotaraja itu dengan aman.

Setiba didalam kota, segera Li Su-lam berdua menuju kemarkas cabang Kay-pang .

Dengan girang pimpinan cabang Kay-pang yang bernama Lau Kan-luh menyambut kedatangan Li Su-lam itu. Cui Tin-san yang sudah berada disitu juga ikut keluar menyambut.

Cui Tin-san sudah kenal Li SU-lam ketika di Long-sia-san dahulu, maka ia merasa pangling kepada Li Su-lam dalam keadaan menyamar itu. Tapi setelah Su-lam membuka suara barulah Cui Tin-san yakin berhadapan dengan sang Bengcu yang asli.

“Kabarnya Liok-pangcu kalian sudah tiba di Taytoh sini, tentu beliau berada disini bukan?” tanya Su-lam kepada Lau Kan-luh.

Pangcu atau ketua Kay-pang yang bernama Liok Kun-lun adalah tokoh persilatan terkenal, apalagi Kay-pang adalah serikat kaum pengemis, suatu organisasi massa yang terbesar, kedatangan Li Su- lam kekotaraja Kim dengan menyerempet bahaya ini tujuannya juga ingin bertemu dengan Liok Kun-lun yang sudah lama dikaguminya,terutama ia ingin mengadakan kerja sama dengan pihak Kay-pang disamping dapat pula membantu Ci In-hong dan Kok Ham-hi membinasakan Yang Thian-lui.

Lau Kan-luh adalah Sutit (murid keponakan) Liok kun-lun, maka dengan terus terang ia menjawab: “Susiok memang sudah berada disini, saat ini beliau sedang main catur dengan seorang Han- locianpwe ditaman belakang. Marilah kita ketaman dibelakang untuk menjumpai beliau.”

“Han-locianpwe yang kau maksudkan itu apakah Han-tayhiap Han Tay-wi yang tinggal di Lokyang itu?” tanya Su-lam.

“Benar, Han-locianpwe datang kesini bersama anak perempuannya pula,” sahut Lau Kan-luh. “Sungguh kebetulan sekali,” ujar Su-lam dengan girang. “Han-locianpwe juga tokoh yang sudah lama aku kagumi.”

Han Tay-wi adalah tokoh satu angkatan dengan Kok Peng-yang , guru Li Su-lam. Sering Kok Peng- yang membicarakan Han Tay-wi dengan Su-lam. Jago tua she Han ini terkenal kaya diwilayah Lokyang, tapi kota ini akhirnya jatuh kepihak Mongol, terpaksa Han Tay-wi mengungsi bersama anak perempuannya dan mondok dicabang Kay-pang di taytoh.

Begitulah Li Su-lam ikut Lau Kan-luh ketaman belakang, dilihatnya seorang tua berbaju hijau sedang main catur bersama seorang laki2 kekar setengah umur. Cara mereka bermain catur sungguh aneh sekali, boleh dikata belum pernah dilihat Li Su-lam.

Papan catur yang dipakai bukan ditaruh dimuka kedua pemain, tapi digantung di dinding didepan sana.

Disamping orang tua berbaju hijau ada pula seorang nona jelita. Li Su-lam menaksir siotang tua tentu Han Tay-wi adanya dan laki2 kekar yang menjadi lawan caturnya adalah ketau Kay-pang, Liok Kun-lun.

Dari penjelasan Lau Kan-luh, ternyata dugaan Li Su-lam tidak keliru, Bahkan Lau Kan-luh menerangkan pula: “Nona yang berdiri disamping Han-locianpwe itu adalah anak perempuannya bernama Han Pwe-pwe, seorang pendekar jelita yang punya nama juga didunia kangouw. “Tampaknya permainan catur mereka sedang tegang, sementara jangan kau kejutkan mereka, ujar Su-lam. Dalam pada itu terdengar Liok Kun-lun sedang berkata: “Han-taosiok, sekarang giliranmu !” Terdengar Han Tay-wi bergelak tertawa, katanya: “Liok-laute, permainanmu hari ini sungguh sangat garang, rasanya aku yang sudah tua ini tidak sanggup menangkis.”

Habis berkata, ia comot satu biji catur putih terus disambitkan kepapan catur yang tergantung di dinding sana. “Plok”, biji catur putih itu tepat hingga dan masuk diantara garis silang catur yang dituju.

(Perlu diterangkan bahwa catur yang dimaksudkan disini disebut “WI KI” yakni semacam permainan catur kuno yang biasanya Cuma digemari dinegeri Tiongkok dan Jepang, biji caturnya serupa bentuknya, terbagi dalam warna hitam putih, masing2 terdiri dari 150 biji. Papan catur bergaris silang 17 dan kemudian dibaharui menjadi 19 garis silang. Cara bermainnya adalah kepung mengepung sehingga pihak lawan menghadapi jalan buntu dan tak berdaya yang berarti menyerah). Menurut posisi permainan kedua orang pada waktu itu, tempat yang dimainkan Han tay-wi tadi adalah bertujuan merebut posisi pojok.

Li Su-lam terkejut melihat cara permainan catur yang aneh itu, ia pikir cara bercatur demikian bukan saja bertanding kepandaian catur, bahkan juga bertanding kepandaian menggunakan Amgi (senjata rahasia).

“Han-toasiok, pojok itu harus kupertahankan,” terdengar Liok Kun-lun berkata. Lalu iapun mengambil satu biji hitam dan disambitkan kegaris silang yang dimaksudkan, tujuannya hendak merebut posisi pojok garis lintang. Maka terjadilah serang menyerang antara biji hitam dan putih itu.

Setelah mengikuti permainan catur itu sejenak, diam2 Li Su-lam membatin: “Kekuatan catur kedua orang ini tampaknya selisih tidak banyak, kepandaian menggunakan Amgi merekapun sejajar.

Cuma Liok-pangcu melulu memusatkan perhatiannya berebut posisi pojok dengan pihak lawan, sebaliknya melupakan bagian luar, akhirnya mungkin dia akan kebobolan.

Tiba2 terdengar sinona jelita tadi berkata: “Ayah, babak ini mungkin engkau harus meneyrah kepada Liok-pangcu !”

“Masak ya ?” ujar Han Tay-wi dengn tersenyum.

Li Su-lam sendiri berpikir bila Han tay-wi mau taruh biji caturnya pada garis silang tengah, maka tujuh bagian dia pasti akan menangkan lawannya.

Benar juga, segera tertampak Han tay-wi memungut satu biji putih, “plok”, dengan tepat ia sambitkan biji catur itu ke-tengah2 papan dan tepat menclok pada garis tengah. Sebagai seorang penggemar catur, melihat langkah yang diambil Han tay-wi itu cocock benar dengan taksirannya, saking senangnya sampai ia berseru bagus.

Liok Kun-lun bergelak tertawa, katanya: “Pemain memang seringkali lalai, aku memusatkan perhatian untuk berebut suatu tempat pojok dan lupa kepada bagian tengah. Babak ini sudah pasti aku kalah,tidak perlu diteruskan lagi.”

Lalau han tay-wi berkata: “Liok Kun-lun, sungguh aku tidak tahu bahwa didalam Kay-pang kalian masih ada seorang ahli catur. Mengapa tidak katakan padaku sajak tadi?” ~ Nyata yang dia maksudkan adalah Li Su-lam yang berseru memuji tadi.

Dengan tertawa Lau Kan-luh lantas perkenalkan mereka.

LI Su-lam memberi hormat kepada kedua orang tua itu, lalu berkata: “Dari guruku sudah sering Wanpwe mendengar nama besar kedua Cianpwe, sungguh beruntung hari ini dapat berjumpa disini.” ~ Kemudian iapun memberitahukan nama gurunya, yaitu Kok Peng-yang.

“Ah, kiranya kau adalah murid Kok-laute, pantas punya kepandaian begini bagus,” ujar Han tay-wi. Kemudian Han Tay-wi menceritakan kejadian dimasa lalu, iapernah main catur bersama Kok Peng- yang selama sepuluh hari sehingga lupa makan dan lupa tidur, akhirnya guru Li Su-lam menang satu babak lebih banyak.

Baru sekarang Li Su-lam paham bahwa yang dipuji oleh Tan Tay-wi tadi kiranya adalah soal kepandaian main catur.

Sifat Han Tay-wi memang rada aneh, rada eksentrik, terhadap orang yang kurang cocok dengan seleranya mungkin seharian takkan diajak bicara, tapi kalau cocok dengan hatinya, maka dia akan mengobrol tak henti2nya. Bahkan ia lantas memberitahukan Li SU-lam bahwa sebenarnya diantara dia dan Kok Peng-yang malahan boleh dikata sudah terikat menjadi besan. Sebab anak perempuannya yaitu Han Pwe-eng telah bertunangan dengan putri Kok Yak-hi dari Yangciu.

“Menantu kesayangan Han-loenghiong adalah Kok-siauhiap. Kok Siau-hong yang akhir2 ini namanya sangat menonjol dikalangan kangouw itu, “ demikian Liok Kun-lun menambahkan. “O,” hanya sekian saja Li Su-lam mengiakan. Diam2 ia merasa geli akan perbesanan yang dimaksudkan itu. Padahal antara Kok Peng-yang dan Kok Yak-hi meski sama2 she Kok, tapi keduanya terlahir dari nenek moyang yang jauh sekali angkatannya. Hanya saja nama baik Kok Yak-hi didunia kangouw memang cukup terkenal dan tidak dbawah Kok Peng-yang. 

Begitulah Han Pwe-eng, anak perempuan Han Tay-wi yang berada disebelahnya itu menjadi ter- sipu2 katanya: “Aih, ayah ini bagaimana sih, mengapa bicara melantur. Li-toako tentu ada urusan penting yang hendak dibicarakan dengan Liok-pangcu, mengapa ayah bicara urusan tetek-bengek.” “Ya, ya, penyakitku kembali kambuh lagi,” ujar Han Tay-wi dengan tertawa. “Baiklah, silahkan kalian bicara yang lebih penting, sebentar lagi kita boleh mengobrol.”

Walaupun begitu kembali Han Tay-wi menyimpang lagi ketika melihat Nyo Wan, segera ia bertanya pula tentang diri sinona. Maka Cui Tin-san yang perkenalkan Nyo Wan kepadanya, ditambahkan bahwa nona Nyo adalah bakal istri Li-bengcu.

Keruan NYo Wan menjadi malu. Dengan girang Han Tay-wi lantas berkata kepada anak perempuannya: “Pwe-eng, kau harus banyak bergaul dengan nona Nyo ini, kalian sudah terhitung sesama anggota keluarga.”

“Ai, ayah memang suka omong macam2 saja.” Omel Han Pwe-eng. Lalu iapun berkata kepada Nyo Wan: “Nyo-cici, marilah kita bicara sendiri disamping sana, jangan dengarkan ocehan ayah.”

Han Tay-wi tertawa ter-bahak2, ditambahkannya: “Haha, anak perempuan memang suka malu2 kucing.”

Setelah mengetahui keadaan diri Han Pwe-eng, bagi Nyo Wan persoalannya menjad lebih mantap. Maklumlah, asal-usul Han Pwe-eng lebih bersekatan dengan dia, sama3 berasal dari keluarga berada, maka setelah bicara sejenak, kedua nona merasa sangat cocok sekali.

Dalam pada itu Li Su-lam juga lantas mengalihkan pokok pembicaraannya dengan Liok Kun-lun dan menceritakan pengalamannya dalam perjalanannya.

Kiranya ditengah jalan kau telah pergoki utusan Mongol,” kata Liok Kun-lun. “Setahu kami, rombongan orang Mongol itu semuanya tinggal didalam istana Yang Thian-lui.”

Li Su-lam menjadi kuatir, katanya: “Jika Koksu dari Mongol itupun tinggal ditempat yang Thian- lui, maka usaha Ci In-hong dan Kok Ham-hi untuk membereskan orang she Yang itu rasanya akan mengalami kesulitan.”

“Liong-siang Hoat-ong itu suka membual bahwa dia punya Lion-siang-sin-kang tiada tandingannya didunia ini, kukira belum tentu demikian halnya.” Ujar Han Tay-wi. “Liok-laute, jikakau bergabung dengan aku,kukira kita dapat menempur dia dengan sama dahsyatnya.”

“Han-toasiok sudah lama bertirakat dirumah, nyatanya masih punya hasrat bertempur,” sahut Liok Kun-lun dengan tertawa. “Bilamana ada kesempatan bertemu dengan Liong-siang Hoat-ong dengan senang hati aku akan mengikuti engkau untuk menmpurnya.”

“Soalnya bukan hasrat segala,” kata Han Tay-wi. “Dalam keadaan perang begini, meski aku tidak ingin tahu urusandiluar, tapi urusan diluar justru mencari perkara padaku. Tartar Mongol telah menghancurkan rumahku, apakah sekarang aku harus jeri terhadap Koksu Mongol itu?”

“Bila kedua Locianpwe suka tampil kemuka, sungguh bagus sekali urusannya,” kata Li Su-lam dengan girang.

“Kamipun sudah mendapat kabar bahwa pihak Kim minta berdamai kepada pihak Mongol,” kata Liok Kun-lun. “Tapi para panglima perang Mongol kabarnya masih tetap akan mengerahkan pasukannya,untung Dulai setuju berdamai, makanya diputuskan untuk menerima permintaan damai pihak Kim. Mungkin sekali lantaran wafatnya Jengis Khan, Dulai ingin menentramkan dalam negeri sendiri dulu, habis itu baru memeusatkan kekuatan nya untuk menghadap luar.”

“Dulai adalah putra paling pintar diantara keempat putra Jengis Khan,kedatangannya ke taytoh sekarang ini tentu membawa muslihat tertentu, kita harus waspada,’ ujar Han Tay-wi. “Li-laute, apakah kau tidak salah lihat, benar2 Dulai ikut datang?”

“Pasti tidqak salah,” sahut Su-lam. “Waktu itupun aku merasa heran mengapa Dulai perlu menyamar segala?” Tapi setelah dipikir sekarang, mungkin cocok dengan dugaan Han-locianpwe, Dulai merencanakan sesuatu muslihat, dalam keadaan menyamar dia akan lebih mudah mengatur dan bertindak menurut keadaan.”

Tanpa terasa hari sudah magrib, makatempat bermalam Li Su-lam lantas dibicarakan. Menurut Han Tay-wi, daripada tinggal didalam markas Kay-pang itu, ada lebih baik Li Su-lam tinggal dirumah Han Tay-wi saja, terutama untuk menghindari pengintaian musuh.

Kiranya Han Tay-wi masih punya sisa harta, maka dia membeli sebuah rumah di ibukota kerajaan Kim ini, rumah itu terletaj tidak jauh dari tempat Kay-pang.

Li Su-lam pikir kalau Nyo Wan mendapatkan teman sebagai nona Han,hal ini tentu jauh lebih baik daripada tinggal ditempat Kay-pang. Maka dengan senang hati ia lantas menerima baik ajakan Han Tay-wi itu.

Ternyata tujuan Han Tay-wi mengundang Li SU-lam tinggal dirumahnya itu masih ada maksud lain lagi, yaitu bisa main catur dengan Li Su-lam. Memangnya untuk sementara waktu Li Su-lam juga mesti menunggu berita tentang kedatangan Ci In-hong dan Kokham-hi, daripada keluyuran di luaran, dengan suk ahati Su-lam mengiringi Han Tay-wi main catur di rumah.

Nyo Wan dan han Pwe-eng juga sangat cocok satu sama lain. Cuma Pwe-eng adalah seorang nona yang suka bergerak, ia tidak dapat berdiam didalam rumah seperti ayahnya.

Pada suatu hari Pwe-eng mengajak Nyo Wan pesiar keluar, melancong di kotaraja Kim yang ramai itu.

Memangnya Nyo Wan sudah lama tinggal dipegunungan, sudah tentu ajakan itu sangat menarik baginya. Cuma iapun kuatir kalau terjadi apa2, maka ia pikir mesti minta izin dulu kepada Li Su- lam.

“Mereka sedang asyik main catur, mana mau perhatikan kita,” ujar Pwe-eng. “Kita keluar sebentar saja secara diam2, sepulang kita nanti mungkin permainan catur mereka belum tentu selesai.”

Nyo Wan pikir dirinya dalam keadaan menyamar, rasanya juga tiada kenalan dikotaraja Kim ini sehingga tiada halangan buat melancong sebentar selagi Li Su-lam asyik main catur dengan Han Tay-wi.

Dan memang benar juga, Li Su-lam dan Han Tay-wi waktu itu sedang tenggelam dalam pertarungna sengit diatas papan catur mereka. Tanpa terasa hari sudah dekat petang, diluar dugaan, sampai saat itu Han Pwe-eng dan Nyo Wan ternyata belum pulang.

Setelah Li Su-lam dan Han Tay-wi selesai bercatur barulah mereka ingat akan kedua nona yang tak tampak bayangannya sejak tadi. Waktu dicari dibelakang dan ditanyakan tukang kebun dan tukang masak, ternyata merekapun tidak tahu kemana perginya nona majikan.

Su-lam menjadi kuatir, tapi Han Tay-wi coba menghiburnya: “Mungkin anak perempuanku mengajak nona Nyo pesiar keluar, kukira takkan terjadi apa2, sebentar tentu mereka akan pulang.”

~ Walaupun demikian diam2 iapun merasa gelisah karena tidak menjaga Han PWe-eng untuk keluar sampai hari sudah magrib.

Kemana perginya Han Pwe-eng dan Nyo Wan waktu itu?

Ketika Nyo Wan ikut Han Pwe-eng sampai dipusat kotaraja Kim itu, ia benar2 terpesona oleh keramaian kota dan bingung oleh lalu-lalangnya manusia yang ber-jubel2. Kaum wanita dinegeri Kim jauh lebih bebas daripada adat diwilayah Song selatan yang kolot dan dikungkung didalam rumah. Maka Nyo Wan merasa senang dan lega karena diantara manusia yang lalu lalang itu ternyata banyak sekali kaum wanitanya.

Dengan penuh semangat Pwe-eng membawa Nyo Wan pesiar kesekeliling benteng keraton untuk melihat istana yang megah dan genting kacanya yang mengkilap itu. Kemudian diajaknya pula pesiar kebeberapa tempat tamasya yang terkenal didalam kota.

Sementara itu hari sudah jauh lewat lohor, kuatir dicarai Li Su-lam, Nyo Wan mengusulkan pulang saja. Namun hasrat Han Pwe-eng ternyata belum mereda, ia mengajaknya pula pesiar kesuatu tempat yang disebut “Thian-kiau”, suatu tempat yang lazim nya disebut alun2, suatu lapangan yang luas dengan macam2 tontonan dan orang berjualan, suatu pasar yang serba ada. Karena tertarik, Nyo Wan tidak menolak ajakan itu. Setiba ditempat itu, benar juga Nyo Wan menjadi sangat senang melihat ramainya pasar itu. Ia membeli beberapa benda pajangan, maksudnya akan dibawa pulang buat Li Su-lam.

Tiba2 mereka mendengar suara gembereng yang ditabuh ber-talu2. Kiranya adalah ayah beranak perempuan sedang mengamen disebelah sana, pengamen ilmu silat. Gembereng itu dibunyikan untuk menarik penonton.

Dasar Han Pwe-eng suka akan keramaian, setelah ikut berkerumun dan melihat sebentar, ia berkata kepada Nyo Wan: “Nona cilik itu tampaknya ada sedikit kepandaian, rupawan pula, marilah kita melihat sebentar lagi.”

Sementara itu penonton sudah banyak berkerumun dan mengitari kalangan pengamen ilmu silat ayah beranak itu. Selagi Nyo Wan dan Pwe-eng hendak ikut berkerumun lebih dekat, tiba2 Nyo Wan merasa seorang laki2 menubruknya dari samping, karena tidak ter-sangka2, dengan tepat Nyo Wan keseruduk.

Dengan gusar Pwe-eng lantas mendamprat. “Hai apakah kau jalan tidak pakai mata?” ~ Berbareng sebelah tangannya lantas mendorong.

Tak terduga dari samping mendadak menyelonong seorang lagi dan menghadaang didepan Han Pwe-eng, dorongan Pwe-eng tadi malah tertolak kembali oleh suatu tenaga yang kuat. Keruan Pwe- eng terkejut tak terduga olehnya bahwa ditempat yang ramai ini bisa ditemukan seorang jago silat kelas tinggi.

Pada saat yang bersamaan Nyo Wan juga sempat melihat jelas siapa orang yang menumbuknya tadi. Sungguh kejut Nyo Wan tak terkatakan demi mengenali orang itu.

Kiranya orang itu bukan lain daripada Dulai, pangeran Mongol yang berkuasa itu. Kini Dulai juga menyamar sebagai rakyat Kim umumnya.

Dengan cengar cengir Dulai lantas berkata: “Selamat bertemu nona Nyo, sungguh tidak nyana kita dapat berjumpa pula disini!”

Nyo Wan cukup cerdik juga, sesudah terkejut segera terpikir olehnya bahwa Dulai tentu ada maksud jahat terhadapnya, agar bisa selamat harus turun tangan lebih dahulu. Karena itu segera ia menggunakan Kim-na-jiu-hoat, pundak Dulai lantas dicengkeramnya.

Meski ilmu silat Dulai tidak setinggi Nyo Wan, tapi kepandaiannya bergulat tergolong kelas satu dikalangan jago gulat Mongol. Cepat Ia mendak kebawah, sebelah kaki lantas menjegal dan tangan lain berbalik hendak menangkap pergelangan tangan Nyo Wan. Dengan sendirinya Nyo Wan juga tidak gampang menyerah, segera ia memutar tubuh, telapak tangan juga lantas menarik, “bret” baju Dulai terobek sebagian, namun tulang pundak Dulai juga luput tercengkeram.

“Nona Nyo,” kata Dulai setelah mundur dua tindak, “Caramu terhadap kawan lama bukankah rada kasar?”

Menyusul Dulai lantas memberi isyarat, seorang laki2 lain lantas menyerang maju tanpa bicara Nyo Wan terus melancarkan serangan berantai, namun orang itu dapat menangkisnya dengan mudah saja.

“Cara bagaimana Tuanku ingin bereskan budak liar ini, hamba tunggu perintah!” kata orang itu kepada Dulai dalam bahasa Mongol.

“Meski nona Nyo kurang simpatik terhadap teman lama, tapi aku ingat hubungan baik dimasa lalu maka boleh kau tangkap dia saja, tapi jangan melukainya.” Kata Dulai kemudian.

Orang tadi mengiakan, sebelah tangannya lantas bergerak, dengan pelahan ia menolak kedepan, kontan Nyo Wan merasakan dorongan tenaga yang sangat kuat hampir2 ia tidak sanggup bernapas. Ingin mengelak, tapi hampir segenap penjuru terkurung oleh tenaga pukulan lawan. Kemahiran Nyo Wan sebenarnya adalah main senjata, dalam hal ini hanya beberapa jurus saja sudah kewalahan.

Kiranya kedua lelaki teman Dulai ini adalah Ulitu dan Abul, kedua jago Mongol yang pernah dihajar oleh Ci In-hong dan Kok Ham-hi di Pak-bong-san itu. Lawan Nyo Wan sekarang adalah Ulitu dan lawan Han Pwe-eng adalah Abul.

Ulitu dan Abul adalah murid Liongsiang Goat-ong. Liong-siang-sin-kang mereka belum sanggup menandingi “Thian-lui-kang” Ci In-hong dan Kok Ham-hi, tapi kelebihan kalau digunakan menandingi Nyo Wan dan Pwe-eng. Karena itu tidak seberapa lama Nyo Wan berdua sudah terdesak.

Para penonton yang mengerumuni pengamen silat tadi mula2 merasa tertarik melihat dua nona berkelahi dengan dua lelaki kekar, tapi kemudian banyak yang tergetar jatuh oleh pukulan Ulitu dan Abul yang dahsyat itu, karena itu barulah para penonton itu merasa kapok, sebagian ber-teriak2 sambil lari menyingkir.

Sekilas Han Pwe-eng melihat ayah beranak pengamen silat tadi sedang berbenah alat perabotnya dan bermaksud menyingkir. Tergerak pikiran Pwe-eng mendadak ia melompat kesana dan tepat berdiri disebelah nona pengamen tadi.

“Pinjam kedua batang golokmu ini nona cilik,” kata Han Pwe-eng.

Saat itu dua batang golok yang dupakai nona pengamen tadi belum lagi dimasukkan kedalam peti, mak dengan sebat luar biasa Pwe-eng terus samber kedua senjata itu menyusul golok itu lantas bekerja dan membacok kearah Abul yang mengejar tiba.

Keluarga Han terkenal dengan ilmu pedang “Keng-sin-kiam-hoat” meski Han Pwe-eng kurang leluasa menggunakan golok, tapi golok digunakan sebagai pedang masih cukup lihai, karena itu mau tak mau Abul meski berpikir dua kali sebelum menerjang maju lagi.

Kesempatan itu segera digunakan oleh Pwe-eng untuk berseru: “Enci Wan sambut golok ini!” ~ Berbareng ia terus lemparkan sebilah golok kearah Nyo Wan dan dapat ditangkap oleh Nyo Wan dengan tepat.

Nyo Wan memang mahir menggunakan golok maupun pedang, dengan senjata ditangan, segera ia keluarkan ilmu golok keluarga Nyo yang terkenal, sinar golok kemilauan menyelubungi seluruh tubuhnya, begitu rapat pertahanannya sehingga anginpun tak menembus. Karena itu untuk sementara Ulitu menjadi tak berdaya.

“Enci Wan, kita pulang saja, tinggalkan mereka!” seru Han Pwe-eng.

Nyo Wan tersadar, ia pikir memang betul seruan Pwe-eng itu, buat apa terlibat lebih lama disitu jika kalah atau menang toh tetap tidak menguntungkan pihaknya. Maka dengan pura2 membacok dua kali segera ia bermaksud melarikan diri.

Akan tetapi kepandaian lawan lebih kuat daripadanya, untuk meloloskan diri begitu sja tidaklah mudah. Terpaksa bertempur sambil lari.

Tiba2 dari depan sana datang pula satu regu tentara Kim, seorang perwira lantas membentak untuk menghentika keonaran itu. Rupanya regu tentara itu adalah pasukan patroli keamanan kota.

Dulai lantas mendekati perwira Kim itu dan perkenalkan diri sebagai pengiring Mufali. Selagi perwira Kim itu terkejut, tiba2 datang lagi empat Busu Mongol bersama seorang hwesio gemuk. Melihat Dulai segera hwesio dan keempat pengiringnya memberi hormat. Nyata hwesio besar itu adalah Liong-siang Hoat-ong, Koksu negeri Mongol.

Biarpun tidak kenal Dulai, perwira Kim itu ternyata tahu siapa si hwesio besar itu. Maka tanpa tanya lagi segera ia perintahkan anak buahnya mengube Nyo Wan dan Han Pwe-eng.

“Tidak perlu kalian ikut campur, asalkan kedua budak itu tidak dapat lolos sudahlah cukup, nanti aku yang membekuk mereka,” kata Dulai.

“Apa susahnya jika hendak menangkap kedua budak itu, kalian mundur semua!” ujar Liong-siang Hoat-ong.

Ulitu dan Abul tahu sang guru akan menggunakan Liong-siang-kang yang dahsyat, maka cepat mereka menyingkir kepinggir. Waktu Liong-siang Hoat-ong memukulkan sebelah tangan dari jauh, dengan tepat tenaga pukulannya dapat mencapai tubuh Han Pwe-eng dan Nyo Wan yang waktu itu berada belasan meter jauhnya.

Liong-siang-kang yang diyakinkan Liong-siang Hoat-ong sudah mencapai tingkat sempurna, begitu hebat sehingga dapat dikuasai sesuka hatinya, maka tenaga pukulannya itupun kena pada sasarannya secara pas saja, Nyo Wan berdua hanya merasa badan kaku kesemutan, lalu jatuh terkulai tanpa terluka, hanya saja tidak berkutik lagi.

Segera Dulai perintahkan dua Busu agar membawa Nyo Wan dan Pwe-eng pulang keistana Yang Thian-lui dan supaya diperlakukan dengan sopan.

Setiba ditempat kediaman Yang Thian-lui, dengan cengar cengir Dulai berlagak minta maaf kepada Nyo Wan, katanya: “Jangan kuatir, nona Nyo, Li Su-lam dan aku adalah saudara angkat, tentu aku akan perlakukan kau dengan baik. Bahkan aku dapat …….” Sampai disini mendadak ia cabut tusuk kundai yang dipakai Nyo Wan.

Keruan Nyo Wan berteriak terkejut. Namun Dulai sudah lantas menyambung dengan tertawa: “Jangan kuatir, maksudku jika kau sangsi, biarlah aku mengundang pula saudara Li kesini untuk menemui kau.”

Sekarang kembali kepada Han Tay-wi dan Li Su-lam yang sedang me-nunggu2 pulangnya Han Pwe-eng dan Nyo Wan. Akan tetapi sampai hari sudah gelap kedua nona itu masih belum nampak pulang, dengan sendirinya mereka menjadi gelisah dan kuatir.

Segera Han Tay-wi mohon diri untuk mendatangi cabang Kay-pang yang punya hubungan luas itu agar mencari jejak anak perempuannya bersama Nyo Wan.

Li Su-lam sendirian menunggu dirumah Han Tay-wi. Sampai hari sudah dekat tengah malam, bukan saja Han Pwe-wng dan Nyo Wan tetap belum pulang, bahkan Han Tay-wi juga belum kembali. Keruan Su-lam tambah kuatir, pikirannya menjadi kacau, dia pikir Nyo Wan dalam keadaan menyamar, kepandaian nona Han juga tidak rendah, tentu tidak terjadi sesuatu yang berbahaya. Bisa saja mereka juga tersesat jalan saja.

Dengan perasaan tidak tenteram, Su-lam mondar mandir didalam kamarnya, tanpa terasa kentongan yang ditabuh peronda sudah menunjukkan tengah malam. Maikin gelisah hatinya. Kalau Nyo Wan tetap belum pulang mungkin karena mengalami sesuatu, tapi Han Tay-wi yang pergi kemarkas kay- pang itupun belum pulang, hal inilah yang dirasakan makin janggal, padahal letak markas cabang Kay-pang itu tidak jauh dari rumah keluaraga Han itu.

Selagi ia merasa ragu2 apakah mesti menyusul ketempat Kay-pang atau tidak, se-konyong2 diluar jendela ada terkelebatnya bayangan orang.

“Kau sudah pulang Han-locianpwe?” seru Su-lam dengan girang.

Diluar dugaan, “plok” satu potong benda kecil warna hijau tahu2 menancap diatas meja. Waktu Su- lam meng-amat2i, dikenalnya benda itu adalah tusuk kundai milik Nyo Wan. Keruan ia terkejut, cepat ia membentak: “Siapakah yang datang itu?”

Seorang diluar lantas menjawab: “Kami datang menyampaikan berita tentang nona Nyo, silahkan keluar saja!”

Cepat Su-lam melolos pedang, ia putar kencang pedangnya untuk menjaga diri, lalu melompat keluar melalui jendela. Dilihatnya di-semak2 bunga sana berdiri sejajar dua orang laki2 berbaju hitam. DIbawah sinar bulan yang remang2 wajah mereka kurang jelas, tapi dapat diketahui pasti orang yang belum dikenal.

Seorang diantaranya lantas buka suara: “Li-bengcu tidak pelu sangsi, marilah ikut bersama kami saja!”

Li Su-lam tahu apa artinya ajakan mereka itu, tanpa pikir ia masukkan pedang kesarungnya, lalu bertanya: “Nona Nyo berada dimana ? Terjadi apa atas dirinya?”

“Ikut saja bersama kami, setelah bertemu dia tentu kau akan tahu sendiri,” jawab orang tadi. “Mengapa kalian tidak mau memberitahukan aku sekarang saja?” tanya Su-lam.

Seorang lagi rupanya berwatak lebih berangasan, tiba2 orang ini mendengus dan berkata: “Hm, tidak perlu banyak bicara, jika Li-kongcu percaya kepada kami boleh silahkan ikut, kami tiada tempo buat ngobrol dengan kau!” ~ Habis itu segera ia mendahului berlari keluar taman sana tanpa pusing lagi kepada Su-lam.

Sebenarnya Li Su-lam adalah orang yang cerdas dan pemberani, jika dalam keadaan biasa tentu ia tidak mau ikut kepada dua orang yang mencurigakan itu, tapi sekarang dia sedang bingung oleh hilangnya Nyo Wan, tanpa banyak pikir ia terus ikut kejurusan ke dua orang itu.

Ginkang kedua orang itu ternyata tidak rendah, dengan kencang Li Su-lam mengikut mereka memutari beberapa jalanan, akhirnya sampai dibelakang taman sebuah gedung besar.

Dibawah sinar bulan yang remang2 Li Su-lam dapat melihat atap gedung itu kemilauan, kiranya pakai genting kaca semua. Ia tidak tahu bahwa menurut peraturan dikotaraja hanya rumah kediaman raja dan kerabatnya baru boleh memakai genting kaca sebagai atap rumah. Tapi ia yakin orang yang menempati gedung semegah itu tentu orang kaya dan berpangkat. Cuma ia tidak paham mengapa Nyo Wan bisa datang ketempat demikian.

Dalam pada itu kedua orang berbaju hitam tadi lantas mendahului melompat pagar tembok taman itu. Walaupun merasa sangsi terpaksa Li Su-lam mengikuti kedua orang itu, ia bertekad, “Kalau tidak masuk sarang harimau, mana bisa mendapatkan anak harimau,” biarpun pihak lawan bermaksud jahat terpaksa harus dihadapi juga.

Didalam taman ternyata ada sebuah rumah, setelah masuk kedalam rumah dan menyusuri sebuah serambi yang panjang akhirnya Li Su-lam diajak masuk sebuah kamar.

“Silahkan Li-kongcu tunggu sebentar, segera nona Nyo akan datang,” kata kedua orang berbaju hitam itu.

Sudah tentu Su-lam setengah percaya setengah tidak. Ia berduduk menunggu, tidak seberapa lama, tiba2 terdengar suara seorang yang sudah dikenalnya berkata: “Su-lam, Anda (dalam bahasa Mongol, Anda berarti saudara atau kawan), sudah lama kau menunggu.”

“sungguh kejut Su-lam tak terkatakan, orang yang bersuara itu jelas bukan lain daripada Dulai adanya. Waktu Su-lam menoleh, benar juga Dulai sudah masuk kamar, dibelakangnya bahkan ikut pula seorang hwesio gemuk besar, tak perlu dijelaskan lagi tentu Koksu negeri Mongol, Liong- siang Hoat-ong yang terkenal itu.

Li Su-lam bukan orang bodoh, begitu melihat Dulai segera ia tahu dirinya telah masuk perangkap yang diatur oleh Dulai. Kalau saja yang berhadapan dengan dirinya Cuma Dulai seorang masih mudah dilayani, tapi sekarang Li Su-lam tidak berani sembarangan bertindak.

Setelah menutup pintu kamar, lalu Dulai berkata pula dengan tertawa: “Anda Su-lam, tidak nyana kita dapat berjumpa di taytoh sini. Di Holin dahulu engkau pergi tanpa pamit, selama ini aku benar2 selalu terkenang padamu.”

“Banyak terima kasih atas perhatianmu,” sahut Li Su-lam dengan tak acuh. “Kabarnya sekarang kau telah menjadi Lok-lim Bengcu didaerah utara sini, sungguh menggembirakan dan terimalah ucapan selamat” dariku kata Dulai pula.

Li Su-lam tidak sabar lagi segera ia bicara langsung ke persoalan pokok: “Akupun mendapat kabar bahwa Nyo Wan berada ditempatmu ini entah betul tidak?”

“Anda Su-lam benar2 seorang kekasih yang berburu baru datang sudah lantas ingin lekas bertemu dengan nona Nyo,” sahut Dulai dengan tertawa. “Hahaha, memang tidak salah, nona Nyo berada disini, jangan kuatir, pasti kuperlakukan dia dengan baik.”

“Ya, aku memang ingin bertemu dengan dia,” kata Su-lam. “kau memanggil Anda padaku, tentunya kau takkan melarang aku menemuinya bukan?”

“Tentu, sudah tentu,” sahut Dulai. “Cuma, hendaknya jangan ter-buru2, marilah kita bicara sesuatu lebih dulu.”

“Bicara apa?” kata Li Su-lam dengan mendongkol. “Nona Nyo adalah bakal istriku, hal ini kau sendiri sudah tahu, lalu apa maksudmu dengan menangkapnya kesini,” Kalau bakal istriku tidak kau bebaskan diantara kita dapat bicara apa lagi?”

“Bila aku tidak mengundang nona Nyo kemari, lalu apakah aku dapat mengundang kau pula kesini?” kata Dulai dengan tertawa.

“Baiklah, sekarang akupun sudah berada disini, lalu apa kehendakmu, bicaralah!”

“Begini Anda Su-lam, maksudku mengundang kau kesini, pertama ingin bicara soal2 hubungan baik kita dimasa lampau, kedua akupun ada urusan pribadi dan urusan tugas yang ingin kurundingkan dengan kau. Aku tahu engkau selalu teringat kepada nono Nyo, maka baiklah kita boleh bicara urusan pribadi lebih dulu. Jika kau ingin kubebaskan nona Nyo, kukira tidak sukar, hanya saja kaupun harus melepaskan orangku.”

Seketika Li Su-lam tidak paham maksud ucapan Dulai, sahutnya: “Bilakah aku pernah menahan orangmu?”

“Orangku ini bukan ditangkap olehmu, Cuma orang ini sekarang justru berada ditempat kalian sana,” kata Dulai. “Siapa yang kau maksud?” tanya Su-lam.

“Adik perempuanku si Minghui,” jawab Dulai. “Bicara terus terang, aku sudah mengetahui minggatnya Minghui dari Holin adalah ingin mencari kau. Tentunya kalianpun sudah mengetahui bukan?”

Ketika Yang Thian-lui berada di Pek-Koh-ceng disitulah dia melihat sendiri Putri Minghui ikut Ci In-hong dan lain2 ke Long-sia-san. Sekarang Dulai tinggal ditempat Yang Thian-lui, dengan sendirinya urusan diri Minghui tak dapat mengelabuinya.

Karena itu, dengan tegas Su-lam lantas menjawab: “Memang benar, aku sudah bertemu dengan adik perempuanmu.”

“Akupun cukup paham isi hati adik perempuan ku itu,” kata Dulai pula, “Sebenarnya kalian adalah pasangan yang setimpal. Cuma sekarang aku sudah memiliki nona Nyo, pertunangan Minghui dengan Tin-kok juga belum dibatalkan. Demi kebaikan kalian sendiri, kuharap kau suka memulangkan Minghui saja.”

Diam2 Su-lam mendongkol, jawabnya: “Dulai, jangan kau menyangka aku bermaksud mengincar putri raja yang agung. Mengenai Minghui,apakah dia mau pulang atau tidak adalah haknya, aku tidak dapat ikut campur.”

“Bukankah dia berada di Long-sia-san?” ujar Dulai. “Asalkan terima permintaanku dan suka menulis surat kepada minghui, kuyakin dia pasti akan pulang.”

“Kau ingin aku menulis surat? Cara bagaimana harus kutulis?”

“Dengan sendirinya perlu kau membujuk dia agar suka pulang ke Mongol.” “Bagaimana aku dapat menjamin bahwa dia akan menurut?”

“Jelaskan saja serba sulitmu, Aku cukup kenal watak adik perempuanku sendiri, dia takkan membikin sulit padamu.”

“Secara blak2an saja, jadi kau ingin aku menukar Nyo Wan dan Minghui?” “Benar, sedikitpun tidak salah, memang begitulah adanya!” sahut Dulai manggut2.

Maksud tujuan Dulai minta kembalinya Minghui sebenarnya bukan karena rasa sayang antara kakak terhadap adiknya, tapi demi kehormatanKhan yang Agung dari kerajaan Mongol yang besar. Putri suatu kerajaan besar minggat kenegeri musuh, kalau tidak dicari kembali tentu akhirnya akan diketahui orang luar, hal ini tentu akan memalukan. Sebab lain yang mendorong Dulai untuk mencari kembali Minghui adalah desakan Pangeran tin-kok. Mengingat Tin-kok masih memegang kekuasaan miiter mau tak mau Dulai harus memikirkan faktor ini.

Sebaliknya Li Su-lam adalah seorang yang jujur, bahwasanya ia harus mencari kembali Nyo Wan, tapi kalau untuk itu harus memaksa Minghui pulang kenegeri asalnya, hal inipun tak dapat dilakukannya.

Kemudian Su-lam mendengus dan berkata: “Urusan pribadi kita tunda dulu, sekarang coba kau katakan persoalan dinas tugas umum.”

“Baik”, sahut Dulai dengan tertawa. “Anda Su-lam, kau telah diangkat menjadi Lok-lim Bengcu, sungguh menggembirakan dan harus diberi selamat.”

“Kaupun sudah menjadi panglima besar tentara Mongol,” akupun mengucapkan selamat kepadamu,” kata Su-lam. “Tapi kau adalah panglima besar sebaliknya aku Cuma kepala bandit, lalu ada urusan dinas apa yang dapat kita bicarakan.”

“Anda Su-lam, beritamu sungguh cepat sekali,” kata Dulai dengan tertawa. “Hehe justru karena kedudukan kita berdua sekarang ini, diantara kita menjadi perlu adanya kerja sama yang rapat.” “O, kau ingin aku bekerja sama dengan kau,” kata Su-lam menegas. “Coba jelaskan.”

Kembali Dulai bergelak tertawa, katanya: “Negeri Mongol kami dan negeri Kim adalah musuh bebuyutan. Mendiang Khan agung kami pernah bersumpah akan membasmi negeri Kim, kau tentu tahu akan hal ini. Sekarang kami berunding dengan Kim untuk perdamaian tidak hanya untuk sementara saja, setiap saat bila ada kesempatan kami tetap akan mengerahkan pasukan ke Tiongkok sini. Kedatanganku ke Taytoh sekarang adalah unuk mengawasa perundingan perdamaian ini dari belakang layar, delain itu juga ingin tahu keadaan negeri Kim guna perencanaan pencaplokan wilayah Tionggoan ini di kemudian hari, Usaha kami ini dapat mengelabuhi orang lain, tapi harus diakui tak dapat mengelabuhi kau.” “Hm, lalu mau apa?´jengek Su-lam pula.

“Aku tahu engkau adalah bangsa Han , seorang laki laki patriot. Maka akan kuberitahu pula bahwa Mongol kami sudah mengadakan perjanjian rahasia dengan Song selatan, kedua negeri akan berserikat dan menumpas Kim bersama. Ini berarti pula bahwa negeri Kim adalah musuh bersama kita.””Hal inipun sudah lama kuketahui,” kata Su-lam acuh tak acuh.

“Bagus sekali jika kau sudah tahu,” ujar Dulai dengan ketawa. “Jika Kim sudah jelas adalah musuh bersama kita, lalu kerjasama kita tidakkah sangat layak? Kelak bilamana aku mengerahkan pasukan ke Tionggoan sini kuharap akan akan bantuanmu. Sudah tentu aku takkan melupakan bantuanmu bila usaha besar kami sudah terlaksana, pasti akan kuangkat kau menjadi raja muda.”

“Banyak terima kasih,” jawab Su-lam dengan menjengek. “Pertama aku tidak gila kuasa dan tidak ingin menjadi raja. Kedua, wilayah Tionggoan memangnya adalah milik bangsa Han, meski sekarang dijajah Kim., tapi juga tidak rela dipotong-potong dan dibagi-bagi oleh bangsa Mongol kalian.”

Dulai melengak, tapi segera iapun tertawa dan berkata: “ Anda Su-lam, engkau tidak kemaruk kedudukan, sungguh harus dipuji. Tapi tentunya kau juga masih tunduk kepada perintah Song selatan bukan? Kini Mongol sudah berserikat dengan Song, jika kau membantu aku berarti juga membantu Kaisar kerajaan Song kalian.”

“Hm, aku hanya kenal kewajiban membantu rakyat bangsan Han kami,” jengek Su-lam pula. “Kalau begitu, aku Cuma minta kalian tidak membantu pihak manapun bilamana kelak pasukanku bergerak kesini,” kata Dulai.

“Kami memang tidak sudi membantu baik pihak Kim maupun pihak Mongol kalian,” sahut Su-lam. “Yang pasti, pihak manapun yang menyerbu tanah air kami tentu akan kami lawan habis2an.”

“Jadi urusan pribadi maupun urusan negara sama sekali kau tidak dapat menerima permintaanku?” Dulau menegas dengan menyesal.

Hati Su-lam menjadi kacau mengingat Nyo Wan berada dalam cengkeraman musuh, Nona itu sudah sebatang kara, dahulu engkoh sinona sudah berkorban baginya, apakah sekarang mesti membikin susah pula kepada sinona?

Dulai seperti dapat meraba perasaan Su-lam yang ragu2 itu, segera ia berkata pula: “Anda Su-lam, jika kau inginkan kembalinya nona Nyo, adalah pantas kalau aku minta balas jasanya. Sebagai kesempatan terakhir, sekali lagi kuharap kau pilih antara persoalan pribadi dan negara tadi, kembalikan Minghui atau tidak memusuhi aku bila kelak aku masuk ke Tionggoan sini.” “Malahan masih ada suatu soal yang lain yang mesti kau pertimbangkan,” tiba2 Liong-siang Hoat- ong menimbrung.

“Soal apa?” tanya Su-lam.

“Jangan kau melupakan bahwa nona Han juga berada ditempat kami sini.” Kata Liong-siang Hoat- ong.

Baru sekarang Su-lam ingat akan diri Han Pwe-eng. Katanya: “Nona Han tidak berdosa apa2, kalian harus membebaskan dia.”

“Benar, nona Han memang tidak berdosa,” kata Liong-siang. “Tapi seperti kata pribahasa: “Tangkap harimau lebih gampang lepaskan harimau. Nona Han bukan harimau, tapi ayahnya adalah seekor macan yang galak, mana kali boleh sembarangan membebaskan nona Han, kecuali kau sudah terima syarat Si-ongcu (pangeran keempat), bahkan Han Tay-wi juga harus berjanji akan pulang ke Lok-yang.”

Maklumlah bila Han Tay-wi sudah pulang ke Lok-yang yang menjadi wilayah kekuasaan Mongol, mau tak mau jago tua itu harus bekerja bagi kerajaan Mongol.

“Hm, tidak nyana seemikian keji tipu muslihat kalian,” jengek Su-lam. Dalam hati ia yakin Nyo Wan pasti tidak setuju bila dirinya tunduk terhadap gertakan Dulai, begitu pula Han Tay-wi, setelah bermain catur beberapa hari telah dikenal wataknya yang pantang menyerah, kalau main catur saja tidak mau kalah apalagi disuruh menyerah kepada musuh. Berpikir demikian, dengan tegas Su-lam lantas berkata pula: “Dulai, pendek kata, aku takdapat menerima bujukanmu. Sekarang terserah kau, apa yang akan kau lakukan terhadapku silahkan saja!”

“Haha, Anda Su-lam, rupanya saat ini kau sedang marah dan tidak dapat berpikir dengan tenang, kukira kalau kau sudah bertemu dengan nona Nyo dan saling berunding mungkin pikiranmu akan berubah,” kata Dulai. Habis itu segera ia memanggil Ulitu dan Abul dan memberi perintah: “Bawa Li-bengcu kebelakang, biarkan dia bicara dengan kedua wanita itu.”

Ulitu berdua mengiakan, segera Li Su-lam digusur kebelakang dan dimasukkan kesebuah kamar tahanan yang kosong. Su-lam menjadi ragu2 terhadap ucapan Dulai, masakan benar perbolehkan Nyo Wan bertemu dengan dirinya. Suasana didalam kamar tahanan itu gelap gulita, pikiran Li Su- lam juga tenggelam dalam kegelapan.

Sedang merasa cemas, tiba2 Su-lam mendengar suara orang bicara dikamar sebelah, waktu ia mendengarkan lebih cermat, bahkan suara seorang lagi jelas sudah dikenalnya dengan baik, yaitu Nyo Wan, terang yang bicara tadi adalah Han Pwe-eng.

Tanpa pikir Su-lam lantas ketok2 dinding dan bersru dengan girang2 kuatir: “Adik Wan, aku berada disini, dapatkah kau mendengar suaraku?”

Dulai pernah menyatakan kepada Nyo Wan bahwa Li Su-lam akan diundang kesitu, sudah tentu Nyo Wan menjadi kuatir, dan kini kekuatiran itu ternyata menjadi kenyataan. Mula2 ia melengak, tapi cepat ia berseru: “Engkoh Lam, benar2 kau yang berada disebelah? Apakah aku tidak mimpi?” “Tidak, memang aku benar ada disini,” sahut Su-lam. “Dulai telah memancing aku kesini dedngan tusuk kundaimu yang dia rampas itu. Dia sengaja mengurung aku disini, katanya supaya dapat berunding dengan kau.”

“Berunding apa?” ujar Nyo Wan. “Dia pasti tidak punya maksud baik. Jangan kau masuk perangkapnya!”

Sudah tentu aku tidak mudah masuk perangkapnya,” kata Su-lam. “Tapi keparat itu memang banyak akal busuk, aku dipaksa memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan negara.” Setelah Nyo Wan mendengar keterangan kedua syarat yang dikemukakan Dulai, segera ia berkata: “Engkoh Lam,syukurlah engkau tidak menerima syaratnya itu. Jika aku setuju menukarkan diriku dengan Putri Minghui, lalu aku ini apakah dapat dianggap manusia lagi?” ~ Ia hanya menyinggung soal pribadi,sebab ia cukup yakin dalam soal negara Li Su-lam lebih2 teguh tekadnya.

Diam2 Su-lam bersyukur dalam hati dan memuji akan kebijaksanaan Nyo Wan, dengan perasaan lega segera ia berkata pula: “Adik Wan, ternyata jalan pikiranmu sama dengan aku, yang pasti hidup atau mati kita tetap bersama, kiranya tak perlu kubanyak bicara lagi. Yang harus kusesalkan hanya diri nona Han saja, tanpa berdosa dia ikut menderita terkurung disini.”

“Mengapa kau berkata demikian.” Kata Han Pwe-eng dengan kurang senang. “Memangnya kalian saja boleh menjadi pahlawan dan patriot, sedang aku Cuma boleh menjadi pengecut yang takut mati?”

“O, tidak, sekali2 bukan begitu maksudku,” kata Su-lam. “Aku Cuma ”

“Sudahlah, tak perlu kau mengucapkan kata2 menyesal lagi, kalau diucapkan, maka akulah yang mesti minta maaf kepada kalian, karena aku yang mengajak enci Wan keluar sehingga terjadi persoalan ini.”

“Tidak apa, tambah digembleng tambah kekal persahabatan kita,” ujar Nyo Wan dengan tertawa. “Benar, aku yakin ayah dan Liok-pangcu akan sanggup menolong kita, andaikata tidak dapat, ditemani oleh cici yang baik hati sebagai kau, biar terkurung selama hidup disini juga aku merasa kerasan,” sahut Han Pwe-eng.

Harapan Dulai bila Li Su-lam sudah berunding dengan Nyo Wan mungkin dengan air mata sinona akan dapat melemahkan hati Su-lam, lalu akan menerima syaratnya. Tak terduga Nyo Wan malah memberi dorongan kepada Li Su-lam sehingga membikin tekadnya semakin teguh.

Han Pwe-eng sendiri yakin kay-pang yang punya sumber berita yang luas itu dalam waktu singkat pasti akan mengetahui peristiwa tertawannya mereka ini, iapun yakin ayahnya pasti sanggup berdaya menolongnya keluar.

Dugaannya ternyata tidak meleset, tidak sampai satu jam setelah kejadian mereka diculik pihak kKay-pang benar telah menerima berita itu. Hanya saja urusannya tidak sederhana, Han Tay-wi dan Liok-pangcu saat itu masih tidak berdaya untuk menolong mereka.

Begitulah kita coba kembali kepada keadaan dimarkas cabang Kay-pang. Ketika Han Tay-wi datang mencari Liok Kun-lun, begitu bertemu segera ketua Kay-pang itu menegur: “Kebetulan, memangnya aku hendak mengundng kau kesini. Tentunya kau datang kesini berhubungan urusan anak perempuanmu bukan?”

Keruan Han Tay-wi terkejut, cepat ia bertanya: “Terjadi apakah atas diri anak Eng ? Kalian sudah mendapat kabar lebih dulu ?”

“Jangan gelisah dulu. Han-toasiok,” kata Liok Kun-lun. “Marilah bicar didalam saja.”

Setiba disuatu kamar rahasia, tertampak Lau Kan-luh menemui seorang kakek dan seorang nona cilik sedang menunggu.

“Lo-siansing ini adalah ayah nona Han yang kukatakan itu,” demikian Lau Kan-luh berkata kepada kedua orang itu.

Sikakek dan nona cilik itu lantas berbangkit dan memberi hormat kepada Han Tay-wi. “Mereka ini

…………….. “ kata Han Tay-wi dengan bingung.

“Mereka inilah yang baru saja datangf menyampaikan berita tentang nona Han,” kata Liok Kun-lun. Kiranya kedua orang itu adalah ayah beranak pengamen silat itu.

Dengan tidak sabar Han Tay-wi lantas berkata: “Tidak perlu banyak adat, silahkan kalian lekas beritahukan apa yang terjadi ?”

“Kami mengamen dilapangan Thian-kau, waktu terjadi peristiwa itu kebetulan kami menyaksikannya,” tutur kakek itu.

Sebenarnya sikakek dan anak perempuannya bukan orang Kay-pang, cuma sebagai kaum pengelana sedikit banyak mereka ada hubungan dengan orang2 Kay-pang, merekapynn kenal Lau Kan-luh.

Sebab itulah setelah kejadian tadi buru2 mereka datang kemarkas Kay-pang untuk melaporkan apa yang dialaminya.

“Jika begitu, hwesio gemuk yang menawan anak Eng dan nona Nyo itu tentu Liong-siang Hoat-ong, itu Koksu dari Mongol yang terkenal, kata Han Tay-wi setelah menerima keterangan sikakek tadi. “Benar,” kata Liok kun-lun. “Tampaknya orang yang mula2 cari perkara kepada nona Nyo itu besar kemungkinan adalah Dulai, itu pangeran Mongol yang berkuasa sekarang.”

Han Tay-wi menjadi kuatir, katanya pula: “Bila taksiran kita tidak keliru, tentu anak Eng berdua kini dikurung didalam istana Yang Thian-lui. Lalu bagaimana tindakan kita?”

“Marialh kita berunding dulu dengan Li-bengcu,” ajak Liok Kun-lun.

Tapi diluar dugaan, setiba kembali mereka dirumah Han Tay-wi, malahan Li Su-lam juga sudah lenyap. Bahkan sampai besok paginya Li Su-lam tetap belum nampak pulang. Keruan Han Tay-wi tambah cemas, katanya: “Melihat gelagatnya, mungkin sekali Li-bengcu juga mengalami nasib yang sama seperti anak Eng dan nona Nyo.”

“Aku ada dua mata2 yang bekerja didalam istana Yang Thian-lui, besok akan kusuruh orang menghubungi mereka untuk mencari keterangan,” kata Liok Kun-lun.

Kedua mata2 Kay-pang yang dimaksud itu terdiri dari seorang yang berkerja sebagai perawat kuda dan seorang lagi adalah juru masak. Kedudukan mereka sangat rendah sehingga sukar berdekatan dengan orang2 berkedudukan tinggi didalam istana itu.

Karena itu akhirnya berita yang diperoleh hanya sekelumit saja, bahwa didalam istana Koksu itu baru saja dikurung dua perempuan dan seorang laki2, ketiganya kabarnya adalah orang penting. Meski berita itu Cuma sekelumit saja, namun sudah cukuop memastikan bahwa Li Su-lam ikut tertawan didalam istana Koksu bersama Han Pwe-eng dan Nyo Wan. Yang membikin lega hati mereka adalah ketiga orang itu semuanya masih hidup selamat. Maka dapat diduga maksud Dulai menawan mereka ialah ingin mereka menyerah, sebelum tercapainya tujuannya tentu para tawanan itu takkan dibunuh begitu saja.

“Han-toasiok, aku tahu engkau tentu sangat gelisah,akupun takdapat membiarkan Li-bengcu bertiga terjeblos dalam sarang musuh, betapapun kita harus berdaya menolong mereka,” kata Liok Kun-lun. “Cuma saja sekarang belum ada kesempatan yang baik, maka sementara ini kita harus bersabar, maksudnya jangan ambil tindakan secara gegabah agar tidak mengejutkan musuh.”

“Kabarnya Yang Thian-lui telah berjanji akan bertemu dengan Liu Tong-thian dan Cui Tin-san pada pertengahan bulan yang akan datang dikediamannya?” tanya Han Tay-wi.

“Benar, yang kumaksudkan kesempatan baik justru inilah,” kata Liok Kun-lun. “Menurut berita yang dibawa Li-bengcu, katanya ada dua ksatria muda yang berkepandaian tinggi akan ikut Liu Tong-thian berdua keistana Koksu itu dengan menyamar sebagai pengiringnya. Kedua ksatria muda itu masing2 bernama Ci In-hong dan Kok Ham-hi, kedatangan mereka itu adalah untuk pembersihan perguruan mereka sendiri. Selain itu kabarnya Kanglam-tayhiap Beng Siau-kang akan datang kesini.”

“Bagus,” seru Han Tay-wi dengan girang. “Jika Beng Siau-kang juga datang, maka urusan menjadi lebih mudah diselesaikan, kalau perlu aku dan dia dapat menerjang ketempat Yang Thian-lui, kami dapat menyergap Dulai dan menawannya sebagai sandera.”

Begitulah, lima hari kemudian Liu Tong-thian dan Cui Tin-san serta Ci In-hong ternyata sudah datang ke taytoh. Jaraknya dengan hari pertemuan mereka dengan Yang Thian-lui masih ada belasan hari. Mereka sengaja datang lebih cepat karena ingin mengatur hal2 yang perlu. Akan tetapi Beng siau-kang ternyata tidak datang bersama mereka. Ketika mendengar berita tentang ditawannya Li Su-lam bertiga oleh Dulai, kejut Liu Tong-thian dan Ci In-hong dan lain2 sungguh tak terperikan.

“Beng-tayhiap ada sedikit urusan harus kembali ke Long-sia-san dahulu, beliau memastikan akan datang kemari sebelum tanggal 15,’ kata Liu Tong-thian.

“Kedatangan kalian ini apakah telah diketahui oleh orang2nya Yang Thian-lui?” tanya Liok kun- lun.

“Waktu kemarin petang kami masuk kota, rasanya tiada dikuntit oleh orang yang mencurigakan,” tutur Liu Ting-thian.

“Baiklah, jika begitu hndaklah kalian berusaha mengulur waktu beberapa hari,” kata Liok kun-lun. “Boleh kau mengutus seorang untuk menyampaikan kabar kepada Yang Thian-lui, katakan saja kalian mungkin akan datang terlambat beberapa hari. Andaikan Beng Tay-hiap dapat tiba tepat pada waktunya, maka kalianpun boleh menemui Yang Thian-lui sesuai dengan hari yang ditetapkan.

Kalau tidak, biarlah kita mengulur waktu terus sampai Beng-tayhiap datang.”

“Bila Beng-tayhiap mengetahui Li-bengcu tertawan musuh, beliau pasti akan menyusul kesini secepat mungin,”: ujar Liu Tong-thian. “Oya, apakah Liok-pangcu sudah mengirim berita ke Long- sia-san?”

“Belum, sebab kami mengira Beng-tayhiap akan datang bersama kalian,” sahut Liok Kun-lun. “Tapi bila perlu aku dapat menyampaikan berita dengan burung merpati kesuatu cabang Kay-pang kami yang berdekatan dengan Long-sia-san untuk kemudian diteruskan pula kepegunungan itu.

Disamping kita minta Beng-tayhiap lekas kemari, kita juga terus berdaya mencari tahu tempat dikurungnya Li-bengcu bertiga. Kalau perlu biarlah kita mengerahkan segenap tenaga untuk menyerbu tempat penjara.”

Jumlah anggota Kay-pang di taytoh ada beberapa ribu orang, memang bukan sesuatu yang sulit bilamana mereka dikerahkan untuk menyerbu penjara. “Cuma bila terjadi demikian, maka Kay- pang tak dapat menetap lagi di Taytoh. Hal ini menyangkut nasib ribuan orang, sebab itu Liok Kun- lun harus menimbang masak2 sebelum ambil tindakan.

Han Tay-wi juga dapat berpikir panjang, mesti hatinya gelisah, tapi ia mesti juga memikirkan kepentingan Kay-pang. Katanya sesaat kemudian: “Biarlah kita mencari tahu dulu tempat tahanan Li-bengcu bertiga, biarpun mati juga aku akan menerjang kesana, sedapat mungkin kita harus menghindarkan terlibatnya para kawan Kay-pang.”

Padahal istana Koksu sangat luas dengan macam2 pesawat rahasia pula, hal ini cukup diketahui oleh Ci In-hong yang pernah bekerja disana selama beberapa than. Maka ia lantas tanya Liok Kun- lun: “Liok-pangcu, apakah engkau sudah mendapatkan kabar tentang tempat tahanan Li-bengcu bertiga?”

“Kami ada dua orang yang bertugas didalam istana Koksu, Cuma kedudukan mereka rendah, sukar bagi mereka untuk mendapatkan kabar yang berharga,” tutur Liok Kun-lun. “Namun aku sudah suruh mereka berusaha sebisa mungkin, bila perlu akan kuselundupkan beberapa orang lagi kesana.”

Jawaban ini sama saja mengatakan bahwa dia tidak tidak yakin akan apa yang dikatakan sendiri itu atas harapan sangat tipis.

Sebagai orang yang cukup lama berada diistana Yang Thian-lui itu, Ci In-hong cukup apal keadaan disana. Sebenarnya timbul pikirannya setelah mendengar ucapan Liok Kun-lun tadi, hanya saja tidak diutarakannya.

Besoknya Liok kun-lun menyuruh seorang anak buahnya untuk dijadikan sebagai utusan Liu Tong- thian dan mengirim surat kepada Yang thian-lui. Jawaban Yang Thian-lui menyanggupi menunda pertemuan itu sampai akhir bulan, bila lewat akhir bulan dianggap batal, sebab dia bulan berikutnya harus bertugas ke Mongol sebagai utusan Kim.

“Dalam waktu singkat Beng-tayhiap tentu akan tiba, asal saja tidak terjadi sesuatu diluar dugaan,” ujar Ci In-hong. “Dan kalau Beng-tayhiap tak dapat datang tepat pada waktunya, terpaksa kita cari jalan lain.”

“Tampaknya kau sudah punya rencana tertentu,” kata Kok ham-hi.

“Akupun tidak punya cara yang baik, Cuma boleh coba2 saja, mungkin akan ketemu kenalan,” ujar In-hong. Sebenrnya dia sudah punya rencanan, Cuma kuatir Liok Kun-lun tidak setuju, maka sebelum tiba waktunya ia tidak suka mengemukakannya.

Begitulah dengan gelisah semua orang menantikan datangnya Beng Siau-kang, sementara kita bercerita tentang Putri Minghui.

Minghui telah menjadi murid Liau-yan secara tidak resmi. Semula Minghui hendak cukur rambut dan menjadi nikoh, tapi Liau-yan Suthay keberatan menerimanya menjadi murid setelah mengetahui Minghui adalah putri kerajaan Mongol. To Hong dan lain juga menasihatkan Minghui agar jangan mencukur rambut, akhirnya Minghui hanya diterima sebagai murid tidak resmi oleh Liau-yan Suthay.

Liau-yan Suthay adalah teman karib mendiang To Pek-seng dan istrinya,diwaktu muda juga terkenal sebagai pendekar wanita, sudah berpuluh tahun dia hidup menyepi di Yok-ong-bio diatas Long-sia-san, ilmu silatnya sudah sukar diukur. Meski Minghui adalah murid tidak resmi, tapi karena Liau-yan tidak punya ahli waris, dengan sendirinya iapun anggap Minghui sebagai muri kesayangan dan mengajarkan macam2 ilmu silat padanya.

Selama beberapa bulan pagi-sore Minghui belajar membaca kitab, kalau siang belajar sialt sehingga mendapat manfaat yang tidak sedikit. Kalusi juga sering datang menemani dia sehingga hidupnya tidak kesepian. Minghui sangat suka kepada kehidupan tentram demikian, ia merasa lebih bahagia daripada menjadi putri Mongol.

Diluar dugaan, selagi hidup mulai tentram dan lebih suka mengakhiri hidupnya itu didalam agamanya itu, tiba2 terjadi pula sesuatu yang membikin kacau pikirannya yang tenang itu, yakni datangnya berita Kay-pang melalui merpati pos.

Hari itu kebetulan To Hong datang ke Yok-ong-bio untuk menyambangi Minghui, selagi kedua orang asyik bicara, tiba2 seorang Thaubak datang melapor dan minta To Hong segera pulang ke atas gunung, katanya ada merpati pos yang membawa surat dari Kay-pang mengenai keadaan Li- bengcu dan Nona Nyo di Taytoh.

Keruan To Hong terkejut, segera ia mohon diri kepada Minghui. Tak terduga Minghui juga lantas berbangkit dan minta ikut untuk mengetahui lebih lanjut berita tentang Li Su-lam dan Nyo Wan. Kaanya: “To-cici, hubunganku dengan nona Nyo laksana kakak beradik, kau tentu tidak berkeberatan jika aku ikut ke tempatmu untuk mengetahui berita yang lebih jelas.”

To Hong paham, meski betul Minghui juga menguatirkan Nyo Wan, tapi yang lebih membuatnya kuatir terang Li Su-lam adanya terpaksa To hong tidak dapat menolaknya.

Setibanya di sanceh dan ketemu Ciok Bok. Dengan sendirinya Ciok Bok rada rikuh, katanya kemudian kepada Minghui: “Tuan Putri harap jangan banyak pikiran, persoalan Li-bengcu ini mungkin ada sangkut pautnya dengan kakakmu.”

Minghui terkejut, tanyanya cepat: “Mereka kan berada di Taytoh, mengapa urusannya menyangkut kakakku?”

“Kakakmu yang keempat Dulai, kini juga berada di Taytoh, kabarnya datang kesana untuk perundingan perdamaian dengan Kim,” tutur Ciok Bok.

Seketika wajah Minghui berubah menjadi pucat, matanya menjadi basah, katanya dengan penuh menyesal: “sungguh aku, aku sangat malu, tidak nyana aku punya Siko ( kakak keempat ) bisa bertindak begitu.” Tapi To Hong berusaha menghiburnya, katanya: “Kakak adalah kakak, dan adik adalah adik, kami pasti tidak memusuhi kau lantaran perbuatan kakakmu.”

“Apakah kalian ingin aku memberi sesuatu bantuan?” tanya Minghui dengan menahan air mata. “Surat Kay-pang ini mendesak Beng-tayhiap lekas berangkat ke taytoh,padahal tiga hari yang lalu Beng-tayhiap memang sudah berangkat kesana, setiba disana tentu Beng-tayhiap dapat bertindak, maka kau tidak perlu kuatir,” kata To Hong.

Sudah tentu Minghui tidak mengetahui tentang maksud kakaknya ingin menukar dia dengan Nyo Wan, tapi dia dapat menduga bahwa salah satu sebab kedatangan Dulai ini tentu ingin mencarinya untuk dibawa pulang ke Mongol.

Diam2 ia me-nimang2 sendiri kepada kejadian dahulu, Li Su-lam dan Nyo Wan sudah kenyang menderita ketika hidup merana di Mongol, kalau dibicarakan Minghui merasa ikut berdosa juga. Kini dua sejoli yang benar2 cinta mencintai itu kembali mengalami kesukaran, aku sendiri pernah berbuat salah terhadap mereka, sekali ini betapapun tidak boleh Sio membikin susah lagi kepada mereka. Biasanya Siko sangat baik kepadaku, bila aku yang minta kepadanya mungkin dia akan meluluskan permintaanku, paling2 aku ikut pulang ke Holin, demi kebahagiaan Li-toako dan nona Nyo biarlah aku rela hidup menderita untuk selamanya.

Demikianlah Minghui mantapkan pikirannya itu, Cuma tak diutarakannya kepada To Hong. Sebagai seorang ksatria wanita yang berjiwa patriot, sama sekali To Hong tidak menyangka akan keruwetan pikiran Minghui itu.

Setiba kembali di Yok-ong-bio, kebetulan Minghui melihat Kalusi datang mencarinya. Segera ia menyuruhnya pergi memanggil Akai. Habis itu Minghui sendiri lantas menghadap Liau-yan Suthay. Melihat sang murid datang menghadap diluar jam belajar, apalagi wajahnya tampak rada pucat, segera Liau-yan Suthay bertanya ada persoalan apa?

Dengan rasa sedih Minghui berkata: “Jiwa murid belum bersih dari keramaian keduniawian, mohon suhu mengizinkan murid pulang saja.”

“Kau hendak pulang ke Mongol dan datang mohon diri kepadaku?” Liau-yan menegas. Minghui mengangguk dengan airmata bercucuran, jawabnya: “Tecu tidak berani mohon ampun pada suhu, sesungguhnya tecu ada sesuatu persoalan yang terpaksa.”

Liau-yan Suthay menghela napas, katanya: “ Memang tidak setiap orang dengan mudah dapat meninggalkan kehidupan yang jaya dan mewah. Kau sendiri adalah putri raja, pantas juga kalau kau ingin pulang.”

Tidak kepalang rasa pedih hati Minghui, tapi sukar mengutarakannya, ia hanya menjawab: “Maaf, suhu tecu telah menyia nyiakan ajaranmu selama ini.”

“Sebenarnya kau cukup berbakat untuk menjadi ahliwarisku, tak terduga kau toh tiada berjodoh dengan agama kita dan akhirnya kembali pula keduniamu,” kata Liau-yan. “Baiklah, berangkatlah jau, semoga kau tidak lupa kepada asalmu dan terjerumus kedalam lumpur.”

“Terima kasih atas petua suhu,” kata Minghui. Setelah memberi hormat kepada Liau-yan, lalu ia pulang kekamar sendiri, tak tertahanlah airmatanya bercucuran.

Sementara itu Akai dan Kalusi baru datang, mereka terkejut ketika nampak Minghui menangis sedih. Cepat mereka tanya ada urusan apa.

“Tidak apa2,” jawab Minghui sambil mengusap air mata. “Aku ingin lekas2 tinggalkan tempat ini, apakah kalian suka ikut pulang bersama aku?”

“Pulang, maksud tuan putri?” Akai menegas dengan terkejut. “Apakah kau tidak takut lagi direcoki pangeran Tin-kok?”

“Soal itu biarlah urusan belakang!” sahut Minghui. “Tapi nona To sangat baik terhadap kita, pula ……”

“Sudahlah, akupun tahu nona To sangat baik, tapi aku harus pergi dari sini,” sela Minghui sebelum lanjutkan ucapan Kalusi itu.

“Kami datang bersama tuan Putri, kemana tuan Putri hendak pergi tentu saja kami ikut,” kata Akai dan kalusi berbareng. “lalu apakah sekarang kita akan pergi pamit kepada nona To?”

“Tidak, tidak usah,” kata Minghui. “Memang, cara kita pergi tanpa pamit ini kurang sopan, tapi aku telah siapkan sepucuk surat untuk nona To dan menjelaskan kesukaranku yang terpaksa. Kini kalian tak perlu tanya, ditengah jalan nanti kuceritakan kepada kalian.”

Begitulah setelah bebenah seperlunya, segera mereka bertiga meninggalkan Long-sia-san. Karena hampir semua Thaubak dipegunungan itu sudah dikenalnya, maka tanpa rintangan mereka dapat meninggalkan gunung itu.

Sampai ditengah jalan, dengan tertawa Akai berkata: “Tuan Putri, bicara terus terang, sesungguhnya sudah lama akupun ingin pulang kepadang rumput untuk berburu dan hidup secara bebas.”

“Akan kupenuhi keinginanmu,” sahut Minghui. “Cuma sekarang masih belum tiba waktunya, kita belum dapat pulang kerumah.”

“Jadi kita tidak langsung pulang ke Mongol?” Akai menegas dengan heran.

“Tidak, kita menuju ke Taytaoh,” jawab Minghui. Habis itu barulah ia menceritakan sebab musabab keberangkatannya itu.

“Ai, mengapa Tuan Putri tidak katakan sejak tadi,” ujar Akai. “Aku dan Kalusi masih utang budi kepada Li-kongcu dan nona Nyo, demi Li-kongcu dan nona Nyo terjun kedalam lautan api juga kami siap sedia.”

“Kalau Si-ongcu tidak mau terima permohonan tuan Putri untuk membebaskan mereka, lalu bagaimana?” tanya Kalusi.

“Betapapun harus kucoba dulu,” kata Minghui. “Manusia berusaha, Tuhan yang menentukan. Sekarang aku terpaksa mengambil keputusan demikian.”

Tidak saja Minghui yang berpikiran pesimis, bahkan Ci In-hong yang berada di Taytoh juga mempunyai pikiran yang serupa itu.

Sehari demi sehari telah lalu dan Beng Siau-kang masih belum nampak muncul, jarak waktu pertemuan dengan Yang Thian-lui kini tinggal sepuluh hari saja.

Ci In-hong pikir segala urusan harus memperhitungkan kemungkinan yang paling buruk, dengan ilmu silat Beng Siau-kang seharusnya takkan terjadi sesuatu diluar dugaan, tapi kalau sampai terjadi apa2 dan baru mencari jalan lain, tatkala itu tentu sudah terlambat. Dengan pikiran demikian segera ia beritahu Kok Ham-hi bahwa dia akan mengunjungi istana Yang Thian-lui diluar tahu Liok Kun- lun.

“Apakah tujuanmu hendak menyelidiki tempat tahanan Li-bengcu?” tanya Ham-hi.

“Benar,” sahut In-hong. “Aku masih punya sebuah Kimpay (pening emas) untuk keluar masuk istana Koksu, kini wajahku sudah terias pula, malam2 aku kesana umpama kepergok juga takkan dikenal orang disana. Dengan Kimpay ini kukira masih dapat mengelabui penjaga2 disana.” “Bagaimana kalau kita berdua pergi bersama?” usul Ham-hi.

“Jangan kau kurang paham keadaan istana Yang Thian-lui itu, kalau ikut mungkin malah akan membikin repot padaku,” ujar In-hong. “Begini saja, kau boleh tunggu disuatu warung minum didekat istana itu, warung itu selalu buka sampai jauh lewat tengah malam. Bila menjelang fajar aku tidak kembali barulah kau pulang lapor kepada Liok-pangcu.” Terpaksa Kok Ham-hi menerima dengan baik, diam2 mereka lantas berangkat.

Malam itu kebetulan rada mendung dan gelap gulita, waktu dekat dengan istana Koksu malahan hujan gerimis rintik2. Ci In-hong sangat girang, suasana demikian adalah kesempatan paling bagus bagi orang bergerak diwaktu malam.

Ci In-hong cukup apal penjagaan didalam istana itu, maka dengan mudah saja ia mencari suatu tempat yang paling sepi dan menyusup kedalam taman belakang. Secara hati2 dan munduk2 ia terus menyusur kedepan menghindari peronda dan mengitari semak2 pepohonan, dilihatnya pada sebuah rumah dipojok ada cahaya lampu.

Tergerak hati Ci In-hong, ia membatin: “Entah si Item masih tinggal ditempat dahulu atau tidak? Aku dapat mempercayai dia, lebih baik kudatangi dia dan berunding dengan dia.”

“Si Item” yang dimaksudkan itu she Gin, lantaran kulitnya hitam, maka orang memanggilnya si Item, bekerja sebagai tukang kebon disitu.

Hanya sedikit saja orang Han yang diperkerjakan didalam istana Koksu itu, kalau ada juga Cuma beberapa orang saja yang berkerja sebagai pesuruh atau tukang kebon. Karena sesama bangsa Han, maka waktu Ci In-hong ikut Yang Thian-lui dahulu, beberapa orang Han itu lebih sering bergaul dengan dia. Lama2 merekapun menjadi kenal dengan baik dan salah seorang yang paling rapat berkawan dengan Ci In-hong adalah si Item ini.

Begitulah dengan diam2 In-hong menyusup masuk kedalam rumah kecil itu dan berseru dengan suara tertahan: “Item!”

Waktu itu si Item sedang membetulkan sebuah cangkul, ia merasa suara orang sudah dikenalnya waku menoleh dilihatnya seorang yang tak terkenal sudah berdiri dihadapannya, ia terkejut dan menegur: “Toako siapa? Maakan aku sudah lupa.”

“Masakan kau tidak kenal suara lai Item?” ujar In-hong dengan tertawa: “Aku kan Ci In-hong!” Rupanya wajah penyamaran Ci In-hong membikin si Item menjadi pangling. Cepat Item menutup pintu dan menarik In-hong kedalam kamarnya, lalu berkata: “Ci-toaya, berani benar kau, masakah kau tidak tahu Yang Thian-lui telah memberi perintah rahasia untuk menangkap kau?” “Betapapun kedatanganku ini memang kusengaja,” sahut Ci In-hong. “Apakah kau takut ikut tersangkut?”

Airmuka si Item berunah menjadi kurang senang, katanya: “Ci-toaya, memangnya kau anggap Item ini manusia macam apa? Pendek kata, ada urusan apa yang perlu bantuanku boleh silahkan Ci-toaya bicara saja!”

“kedatanganku ini adalah demi seorang sahabat,” kata Ci In-hong. “Temanku ini bernama Li Su- lam, Bengcu dari perserikatan pergerakan didaerah utara sini. Dia tertawan disini, apakah kau tahu tempat tahanannya?”

“Kira2 setengah bulan yang lalu memang pernah kudengar ada seorang tokoh Lok-lim yang penting tertawan disini, tentunya orang inilah Li-bengcu yang kau maksudkan.” Kata si Item. “Tapi urusan ini sangat dirahasiakan, orang rendah semacam diriku manabisa tahu tempat tahanannya.”

“Baiklah aku tidak mengganggu kau lagi, sampai bertemu kelak,” kata Ci In-hong.

Tapi si Item lantas menarik Ci In-hong dan berkata: “Ci-toaya, bangku saja belum panas kau duduki dan kau sudah mau pergi lagi. Kutahu bahwa kau kuatir membikin susah padaku, namun kau jangan kuatir, tempatku ini jarang didatangi orang, sekarang juga sedang hujan gerimis, siapa yang mau datang tempatku yang jorok ini. Kukira kau dapat bermalam saja disini, akupun sangat ingin tahu pengalamanmu selama ini.”

“Kurang leluasa kukira, biarlah aku mencari suatu tempat lain saja,” sahut Ci In-hong. “Oya, kemanakah perginya si Kemala?”

“Kemala,” adalah nama anak perempuan si Item, istri Item sudah lama meninggal dan Cuma melahirkan satu2nya anak perempuan yang diberi nama A Giok atau si Kemala. Berbeda dengan si Item yang hitam mulus, sebaliknya si Kemala justru berkulit putih bersih. Waktu Ci In-hong tinggal ditempat Yang Thian-lui ini si Kemala masih ingusan, tapi sekarang sudah berusia empat atau limabelas.

“Kalau kuceritakan hal ini agaknya rada mengherankan juga,” tutur si Item. “Dua hari yang lalu mandor kebun datang kepadaku, dia tidak memberi tugas pekerjaan, sebaliknya suruh si Kemala pergi melayani seseorang.”

“Melayani sesorang siapakah?” tanya Ci In-hong terkejut. Ia pikir umur si Kemala baru empat belasan tahun, masakah si mondor sudah mengincarnya.

Si Item tahu Ci In-hong salah paham dengan tertawa ia menjelas: “Sama sekali bukan ada orang menaksir Kemala, tapi dia disuruh melayani seorang nona, malahan nona bangsa Han.”

“Nona bangsa Han? Siapakah dia?” tanya Ci In-hong heran. Ia pikir masakah begini kebetulan si Kemala disuruh pergi melayani Nyo Wan?

Maka si Item menjawab:” Akupun tidak tahu, aku Cuma tahu nona itu she Lau.”

In-hong rada kecewa, katanya: “Mengapa didalam istana bisa muncul seorang nona bangsa Han?” “Makanya kukatakan aneh,” kata si Item. “Bahkan mereka memperingatkan si Kemala agar tidak bercerita bahwa tempat ini adalah istana Koksu. Coba aneh bukan? Malahan waktu aku menjenguk si Kemala disana,kulihat orang yang keluar masuk disana seluruhnya juga orang Han. Dari si Kemala aku mendapat tahu bahwa orang Kim dilarang memasuki rumah itu dan sekitarnya.” “Nona Lau itu tinggal dimana?” tanya Ci In-hong.

“Di Tau-hiang-cun,” tutur si Item.

Kiranya taman bunga istana Koksu itu sangat luas, Tau-hiang-cun (dusun padi wangi) terletak dipojok kebun yang dipagari pula oleh tembok, jadi bentuknya seperti sebuah taman kecil didalam taman besar.

Hati Ci In-hong tergerak setelah mendengar keterangan si Item. Segera ia mohon diri pula. Si Item kenal watak Ci In-hong, maka iapun tidak menahan lebih lanjut, hanya diberi pesan agar Ci In-hong suka hati2.

Hujan ternyata masih belum berhenti, keadaan tambah gelap, dlam jarak lima langkah saja hampir2 tidak kelihatan sesuatu apapun. Diam2 Ci In-hong bergirang, ia cukup apal terhadap seluk beluk keadaan istana Koksu ini, dalam kegelapan ia menyusur mmaju terus kearah Tau-hiang-cun.

Ditengah “dusun” kurung itu hanya ada sebuah rumah besar, dua rumah kecil lain adalah tempat tinggal kaum hamba, maka Ci In-hong yakin nona Lau yang dikatakan itu pasti tinggal dirumah induk.

Dengan ginkang yang tinggi Ci In-hong menyusup kepekarangan rumah itu, tiba2 didengarnya ada suara tindakan orang, cepat ia sembunyi dipojok rumah. Ia coba mengintip, dilihatnya seorang memasuki rumah itu, dari potongan tubuhnya Ci In-hong merasa seperti kenal orang itu. “Siapakah dia?” dalam hati Ci In-hong ber-tanya2 sendiri. Maka secara ber-hati2 ia lantas menguntit dibelakang. Setelah memutar sebuah serambi, tertampak sebuah kamar dengan cahaya lampu yanhg terang. Dengan ber-jinjit2 Ci In-hong mendekati jendela kamar itu, kebetulan terdengar suara seorang perempuan sedang berkata: “Sudah jauh malam begini kau masih datang mencari aku, apakah tidak kuatir dicurigai orang?”

“Curiga apa? Memangnya siapa yang tidak tahu bahwa kita adalah bakal suami-istri? Sehut seorang laki2.

Begitu mendengar suara laki2 itu, seketika Ci In-hong terperanjat. Ternyata orang yang bersuara itu tak lain tak bukan daripada To Liong adanya.

Agaknya perempuan itu menjadi malu, omelnya: “Engkoh Liong, janganlah kau sembarangan omong.”

“Aku omong dengan sungguh. Khing-koh, masakah kau tidak suka?” sahut To Liong.

Sampai disini barulah Ci In-hong paham duduknya perkara. Kiranya perempuan itu adalah putri Lau Han-ciang, adik perempuan Lau Tay-wi, nona yang hendak dijodohkan kepadanya oleh sang guru tempo hari, namanya Lau Khing-koh. Agaknya nona Lau ini kena dibawa minggat ke Taytoh oleh To Liong.

Maka dengan suara pelahan dan menunduk malu Lau Khing-koh menjawab: “Kalau aku tidak suka tentu takkan minggat bersama kau. Cuma, Cuma “

“Cuma apa? Kau kuatir Ci In-hong mencari perkara kesini?” tanya To Liong. “Asalkan tekadmu sudah bulat, betapapun dia takkan merampas kau dariku.”

“Aku minggat bersama kau karena terpaksa,” ujar Khing-koh. “Betapapun persoalan kita harus mendapatkan persetujuan dari ayah.”

“Ayahmu terang takkan setuju. Dia adalah kawan baik guru Ci In-hong, bila kau pulang tentu akan dipaksa kawin dengan bocah she Ci itu. Padahal apanya yang dipenujui ayahmu, dia pura2 membantu pasukan pergerakan, tapi sebenarnya adalah pengkhianat. Yang penting bagi kita biarlah selekasnya kita menikah saja agar tidak terjadi sesuatu diluar dugaan.”

“Menurut ayah dan kakak, orang she Ci itu justru sebaliknya daripada anggapanmu tadi,” kata Khing-koh. “Akan tetapi peduli apakah dia orang baik atau orang busuk, yang pasti hatiku tidak pernah terisi oleh bayangannya, aku sudah bertekad ikut padamu sebagaimana terbukti sekarang aku ikut minggat dengan kau. Cuma, Cuma tentang pernikahan kukira kita tunggu lagi sementara waktu, bukan mustahil nanti ayah akan berubah pikiran dan menyetujui pernikahan kita. Kalau sekarang kita menikah diluar persetujuan orang tua rasanya tidak pantas.”

“Untuk menunggu perubahan pikiran ayahmu entah mesti menunggu berapa lama lagi,” kata To Liong dengan menyesal. “Sebenarnya aku ada usul. Bukankah kau masih punya seorang kakak yang dapat menjadi wali bagimu. Dia sangat sayang padamu, tentu akan meluluskan permintaanmu dan terhadap ayahmu juga dia dapat bertanggung jawab.

Mendengar sampai disini, diam2 Ci In-hong anggap To Liong ini benar2 berani mati, padahal Lau Tay-wi sudah lama mengetahui pengkhianatanny, masakah masih berani minta Lau Tay-wi menjadi wali bakal istrinya?”

Terdengar Lau Khing-koh sedang menjawab: “Kakakku berada ditengah pasukan pergerakan, pangkatnya yang pasti juga belum jelas. Andaikan datang kesini rasanya juga kurang leluasa.” “Jangan kuatir,” rayu To Liong. “Kawan2ku juga sudah lama condong menggabungkan diri dengan pasukan pemberontak, soalnya belum ada kesempatan yang baik. Tempat ini sangat dirahasiakan, kedatangan kakakmu kesini tentu takkan menimbulkan kesukaran. Malahan bila sesuatu berjalan lancar,kia be-ramai2 dapat ikut pula ke Pak-bong-san, pangkalan pasukan pemberontak sekarang.” Sampai disini pahamlah Ci In-hong, rupanya To Liong sengaja membujuk rayu Lau Khing-koh, tapi tujuan sebenarnya adalah memancing kedatangan Lau Tay-wi untuk memeras keterangan tentang pasukan pergerakan, bahkan bisa jadi ada tipu muslihat lai yang akan diperbuat terhadap Lau Tay- wi. Pantas To Liong merahasiakan tempat ini agar Lau Khing-koh tidak tahu bahwa dia berada diistana Koksu.

Ternyata Lau Khing-koh menjadi sangsi dan ragu2, ia kuatir kalau2 terjadi apa2 atas diri kakaknya bila diminta datang kekotaraja musuh dengan menyerempet bahaya. Padahal sudah berapa hari ia tinggal disini dan macam apa kawan2 To Liong yang dikatakan itu sama sekali tak diketahuinya. Tempat tinggalnya ini tampaknya serba mewah, seperti istana saja layaknya,apakah kawan To Liong adalah orang kaya atau bangsawan? Dan selama ini mengapa To Liong takmau mengajaknya pesiar keluar? Karena kesangsian ini segera ia mengutarakan perasaannya.

Cepat To Liong menjelaskan dengan tertawa: “Ai, mengapa kau bertanya hal2 yang tidak penting ini? Tempat ini berada ditengah kotaraja Kim, sudah tentu lain daripada dipegunungan, terutama untuk mengelabui mata musuh dengan sendirinya kita harus ber-pura2 hidup mewah. PAdahal segenap kawan2ku sudah lama siap untuk menggabungkan diri dengan pasukan pergerakan. Karena itu, tentang surat untuk kakakmu haraplah lekas kau menulisnya.”

Tiba2 Khing-koh mendengar suara kentongan yang ditabuh peronda, tersadar mendadak, katanya: “Malam sudah larut, engkoh Liong silahkan kembali kekamarmu dulu, surat untuk kakak besok pagi pasti akan kuserahkan padamu.”

Tapi dengan cengar cengir To Liong menjawab: “Khing-koh, aku takkan kembali kekamarku lagi.” Dengan rada bingung Khing-koh berkata: “Meski kita sudah terikat janji, namun sebelum menikah resmi kita perlu menghindarkan curiga orang,sebaiknya kau kembali kekamarmu dulu, kan tidak pantas tinggal dikamarku sini.”

Mendadak To Liong mendekati Khing-koh dan lantas memeluknya, katanya sambil menyengir: “Adik Khing, malam in aku akan tinggal dikamarmu sini. Kita toh sudah hampir menikah, apa salahnya kalau kita menjadi suami istri lebih dulu sebelum upacara. Adik Khing, sungguh aku merasa berat untuk berpisah dengan kau, hendaknya kau kasihan padaku!” ~ habis berkata terus saja ia memeluk lebih kencang dan hendak mencium.

Dapatkah Lau Khing-koh dibujuk rayu dan dimakan oleh To Liong?

Cara bagaimana Ci In-hong akan bertindak dan cara bagaimana pula dia akan menghadapi Yang Thian-lui?
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pahlawan Gurun Jilid 15"

Post a Comment

close