Pahlawan Gurun Jilid 03

Mode Malam
 
Jilid 03

Su-lam menoleh, sahutnya: “Katakan dulu, kau sendiri sedang memikirkan apa?”

“Aku sedang berpikir, sejak kini hanya kau seoranglah adalah sanak-keluargaku!” kata Nyo Wan. “Bukankah ini sangat aneh, tiga ahari yang lalu kita belum saling kenal.”

“Ya, tadi akupun berpikir demikian, tapi seteleh kupikir lagi menjadi tidak merasa heran. Pengalaman nyata dan nasib kita yang sama yang telah mengikat kita menjadi satu.” Setelah kedua orang sama2 mengutarakan isi hati masing2, tanpa terasa keduanya saling berpelukan, baru sekarang Nyo Wan dapat menangis se-puas2nya.

Lega hati Su-lam melihat Nyo Wan sudah bisa menangis. Maklum, seseorang yang mengalami pukulan batin yang maha dahsyat, paling berat kalau perasaan duka yang hebat itu tetap tersekam di dalam hati, tapi kalau bisa menangis perasaannya akan menjadi longgar malah.

Benar saja, setelah puas menangis, semangat Nyo Wan tertampak sangat lelah dan terasa akan perlunya mengaso, bahkan juga terasa lapar.

“Adik Wan,” kata Su-lam kemudian, “hendaknya kau ingat pesan Nyo-toako, tugas kita masih berat, sakit hati keluarga dan negara masih menantikan kita untuk menuntut balas. Kau harus makan sedikit baru ada tenaga untuk jalan besok. Di kolam ini ada ikan, akan kutangkap dua-tiga ekor.” Segera Su-lam melompat kedalam kolam, setelah tubruk sini dan gagap sana. Dengan susah payah akhirnya dapat ditangkap dua ekor ikan sebesar telapak tangan. Dengan tertawa Su-lam berkata: “ Biasanya kita menyangka kaum nelayan sangat mudah menangkap ikan, sesudah kita sendiri mengerjakan barulah tahu akan sukarnya. Meski kedua ekor ikan ini tidak mengenyangkan kita, tapi jauh lebih baik daripada makan rangsum kering yang hambar.”

Sementara itu Nyo Wan sudah membuat api, katanya: “Dua ekor ikan itupun sudah cukup buat menangsal perut kita. Bawalah kemari akan kubukin ikan panggang. Wah kau menjadi basah kuyup, lekas mendekati api agar bajunya bisa cepat kering.

Sambil memanaskan badan ditepi api unggun sembari menyaksikan Nyo Wan Memanggang ikan, Su-lam merasa badannya menjadi hangat, bukan saja badan terasa hangat, se-akan2 api yang disulut Nyo Wan itu telah membakar hatinya.

Selagi Su-lam ter-mangu2 memandangi wajah Nyo Wan yang ke-merah2an tersorot oleh sinar api, tiba2 air muka sinona tampak berubah dan mendesis padanya: “Engko Lam, coba dengarkan, seperti ada orang datang!”

Su-lam terperanjat dan tersadar dari lamunannya, benar juga sayup2 di lembah yang sunyi itu terdengar suara ketak ketik, suara berdetaknya kaki kuda, bahkan tidak hanya seekor kuda saja. “Lekas padamkan api dan mencari tempat sembunyi,” seru Su-lam dengan suara tertahan.

Maklumlah, keadaan mereka sekarang lapar lagi lelah, kalau pendatang2 itu adalah musuh, terang mereka tidak sanggup bertempur lagi. Belum sempat mereka berbuat apa2, tertampak tiga orang dengan enam kuda sudah muncul di dataran lembah itu.

Nyo Wan menjadi heran melihat pendatang2 itu, katanya: “Ketiga orang itu semuanya wanita, mungkin bukan datang buat menyatroni kita. Tapi tengah malam buta untuk ketiga orang perempuan ini datang ke lemah sunyi. Eh, kau mau apa, engko Lam?” ~ Saat itu ternyata Su-lam telam memapak kesana.

Kiranya ketiga orang perempuan itu bukan lain daripada Putri Minghui dengan dua dayangnya. Rupanya Minghui tetap merasa kuatir meski dia telah memberi pesan pada si Lama jubah hitam yang ditugaskan ayah bagindanya untuk menangkap Su-lam, karena tidak sabar menunggu di rumah, akhirnya ia sendiri ikut menyusul ke pegunungan ini. Ia kuatir tidak keburu menyusul, maka bersama kedua dayangnya masing2 membawa sekor kuda cadanganuntuk digunakan dalm perjalanan jauh itu. Kebetulan malam ini Nyo Wan menyalakan api unggun sehingga rombongan Minghui itu terpancing datang.

Melihat kedatangan Putri Minghui itu, meski Su-lam terkejut dan bersangsi, tapi timbul juga secuil harapannya. Karena tidak bisa mengelak lagi, sekalian ia lantas memapaknya dan berseru: “Ada urusan apakah Tuan Putri jauh2 datang kemari?”

“Kenapa kau tidak memenuhi janji undanganku? Ayahku tidak jelek padamu, mengapa kau melarikan diri dari Holin?” tegur Minghui dengan wajah dingin.

“Pertama, hakikatnya aku tidak pernah menyanggupi memenuhi undanganmu, Sia It-tiong sendir yang menetapkan bagiku, kalau mau mengusut soal tidak memenuhi janji silahkan kau tanya kepada Sia It-Tiong. Kedua, aku tidak menerima sesuatu jabatan dari ayahmu, aku adalah bangsa Han, aku akan pulang kerumah dengan secara terang2an, mengapa aku dituduh melarikan diri?”

“Kau bilang apa?” Minghui menegas heran. Siapa itu Sia It-tiong? Kau tidak menjabat tugas apa2, tapi ayahmu adalah pembesar Mongol. Rumahmu berada di Holon. Kau hendak pulang kemana lagi? Kata2mu hanya bisa digunakan menipu anak kecil saja.”

“Ceritanya memang panjang, harap kau mendengarkan penjelasanku.” Ujar Su-lam/

Minghui menunjukkan sikap tidak sabar, jengeknya: “Kau tidak perlu mengarang obrolan kosong lagi. Hm, tidak kau katakan juga aku mengetahui bahwa kepergianmu kesini untuk bertemu dengan siluman cilik ini. Pernah apa dengan kau siluman cilik ini, coba katakan!”

Mendadak Su-lam mendelik dan menjawab: “ Kau mau marah atau mau bunuh aku boleh silahkan, tapi se-kali2 kau tidak boleh menghina istriku.”

Minghui tampak tercengang, katanya: “Apa katamu? Perempuan ini adalah ……adalah istrimu?” Sejak tadi Nyo Wan diam saja, baru sekarang dia balas mendengus: “Hm, Li-kongcu dan aku adalah suami istri resmi, siluman cilik yang suka menaksir laki2 memang ada, tapi bukan aku.” ~ Saking dongkolnya Nyo Wan sengaja meng-olok2 Minghui secara tidak langsung.

Tiba2 Minghui bergelak tertawa, serunya: “Li Su-lam, kau benar2 pembohong besar. Tempo hari ayahmu sendiri mengatakan kau masih bebas, darimana mendadak muncul istrimu ini?” ~ Ia lantas senang karena mengira dirinya telah membongkar kebohongan v, maka terhadap olok2 Nyo Wan tadi tak dipusingkannya.

Su-lam menjawab: “Nona Nyo ini adalah istriku yang dijodohkan oleh ayahku. Ayahku memang bernama Li Hi-ko, tapi bukan orang yang memalsukan nama ayahku yang kini tinggal di Holin itu, yang benar di Holin itu bernama Sia It-tiong. Sekarang kau paham tidak?”

Seketika Minghui terkesima, selang sejenak barulah ia menegas: “Kau bilang Sia It-tiong itu memalsukan nama ayahmu dan sekarang menjadi pembesar dibawah ayahku itu? Mana bisa jadi demikian?”

“Sia It-tiong itu sebenarnya kawan ayahku dalam kamp tawanan, ketika mengetahui ayah dicari pihak kalian karena akan dimanfaatkan kepandaiannya, secara keji Sia It-tiong telah emncelakai ayah, lalu memalsukan beliau. Sesungguhnya dia adalah musuh pembunuh ayah, Cuma mula2 aku tidak tahu, tapi sekarang aku telah mengetahui duduknya perkara,” begitulah secara ringkas Su-lam menceritakannya.

Keruan Minghui terkejut, katanya: “Sungguh luar biasa. Baiklah, akan kulaporkan kepada ayah untuk minta keadilan bagimu. Tapi kau telah melakukan kesalahan besar, apa yang akan kau kerjakan sekarang?”

“Mestinya aku yang tanya kepada Tuan Putri mau apa sekarang?” sahut Su-lam. “Kami suami istri sudah pasti akan pulang kenegeri kami sendiri, bila Tuan Putri saudi memberi jalan, selama hidup kami akan merasa utang budi padamu. Kalau engkau tidak mau melepaskan kami, maka aku sendirilah yang akan bertanggung jawab. Cuma, Cuma, pulang ke Holin sudah terang aku tidak mau, jika engkau mau menangkap aku, silahkan bawa pulang kepalaku ini.”

“Mereka telah membunuh kakak istriku, jika aku tidak menghajar mereka, tentu saat ini kami tidak bisa bicara berhadapan padamu,” kata Su-lam. “Tapiakupun tidak ingin minta perlindungan Tuan Putri, Cuma saja urusan ini tiada sangkut pautnya dengan istriku, boleh kau bawa pulang kepalaku untuk dipersembahkan kepada ayahmu dan persoalan ini tentunya menjadi beres bukan?”

“Tidak perlu kau bicara demikian, aku tiada maksud mencelakai kau,” uajr Minghui. “Coba akan kupikirkan daya upaya lain yang lebih baik.” ~ Setelah merenung sejenak, kemudian katanyapula dengan senyum getir: “Sesungguhnya bukan maksudku hendak memencarkan suami-istri kalian, Cuma kupikir ada lebih baik nona Nyo ikut aku pulang ke Holin saja. Suami nona jelas tidak boleh tertangkap oleh ayahku, tapi kalau kau ikut aku kesana, seumpama tidak terhindar dari hukuman, paling sedikit kematianmu akan diampuni. Nanti akan kuterima kau sebagai dayangku. Menurut hukum bangsa Mongol kami, tahanan yang telah kujadikan dayang tentu tiada orang yang berani menggangu kau lagi.”

Dengan menggertak gigi Nyo Wan menjawab tegas: “ Baik, asalkan kau melepaskan suamiku, aku ikut padamu.”

“Tidak,” sela Su-lam. “Aku sudah membikin tewasnya Nyo-toako, tidak nanti kubukin susah padamu lagi. Aku yang ikut pergi. Paling2 mati saja, kenapa aku?”

Nyo Wan lantas merangkul Su-lam: “ Apakah kau belum lagi paham akan maksudnya, dia inginkan kau tetap hidup dan menghendaki aku berpisah darimu.” ~ Kata2 ini diucapkannya dalam bahasa daerah asalnya sehingga tidak dipahami oleh Minghui.

Walaupun begitu melihat kemesraan kedua orang itu, timbul juga rasa cemburu dan sedih dalam hati Minghui. Sekilas itu timbul pertentangan batin Minghui antara baik dan buruk, akhirnya perasaan yang baik ternyata lebih unggul, pikirnya: “Sekalipun aku dapat membikin mereka suami istri terpisah, tapi apa gunanya jikalau hatinya tetap terpusat kepada istrinya. Bila aku memang suka padanya seharusnya akupun membuatnya senang dan bahagia.”

Terpikir demikian tetaplah keputusannya. Minghui dapat mengatasi api cemburu yang membakar. Katanya kemudian: “Baiklah, kalian tidak perlu menangis lagi. Akan kulepaskan kalian biarpun aku akan dihukum oleh ayah.”

Su-lam kegirangan. Nyo Wan ditariknya, untuk bersama memberi hormat kepada Putri Minghui, katanya: “Banyak terima kasih. Jika begitu segera kami akan berangkat saja.”

“Nanti dulu!” tiba2 Minghui mencegah.

Seketika Su-lam tertegun karena mengira Minghui berubah pikiran. Tapi Putri itu tersenyum dan berkata: “Meski kepandaian kalian tidaklah rendah, tapi hendak kabur dari Mongol mungkin tidaklah mudah. Setiba kembali Cepe di Holin tentu dia akan memberitahukan Mufaji dan mengirimkan jago2nya untuk memburu kalian. Apalagi kalian adalah orang Han yang pasti akan ditanya dan diperiksa dengan teliti oleh setiap pos penjagaan yang tidak sedikit jumlahnya itu.” “Kesukaran2 demikian sudah dalam perhitunganku,” sahut Su-lam. “Biarpun mati juga kami tidak gentar.”

“Baiklah, sekali mau menolong orang harus ditolong sampai saat terakhir. Ini kuberikan Kim-pay (medali emas) ini,” kata Minghui.

Waktu Su-lam terima medali emas itu diperiksanya ternyata diatas medali itu terukir seekor elang yang garang dan hidup, ditepinya ada dua baris huruf kecil2. Su-lam hanya kenal dua huruf diantaranya yang berarti “kemah emas”.

“Ini adalah medali emas ayahku,” tutur Minghui. “Dengan medali emas ini, tentu kau akan diberi kebebasan oleh setiap pos penjagaan yang kalian lalui. Namun ada medali tanpa kuda tunggangan juga percuma, sebab kalian harus cepat mendahului lari keluar daerah kami sebelum perintah penangkapan kalian disiarkan. Selain itu kalian harus waspada bilamana tersusul oleh ksatria2 kemah emas yang dikirim oleh Mufali. Jago2 kemah emas itu bisa menangkap kalian tanpa peduli medali emas yang kau pegang ini.”

Sampai disini Minghui memberi tanda kepada kedua dayangnya, tiga ekor kuda yang dituntun oleh dayangnya itulantas digiring maju. Lalu Minghui berkata pula: “Ketiga ekor kuda ini adalah kuda2 pilihan, boleh kalian pakai secara bergiliran dan tak sampai sepuluh hari tentu kalian dapat mencapai tapal batas. Cepe terluka parah, sekalipun dia pulang sampai di Holin juga makan waktu beberapa hari lagi, dan untuk menyiarkan perintah penangkapan atas kalian tentu akan terlambat beberapa hari lagi daripada perjalanan kalian. Namun jangan kalian gegabah, semakin cepat kalian lepas dari tapal batas semakin baik bagi kalian. Semoga kalian bisa selamat lolos dari bahaya dan selanjutnya akupun tidak berharap akan bertemu lagi dengan kalian.”

Tak terduga oleh Su-lam bahwa Minghui berpikir sedemikian rapinya bagi mereka. Nyo Wan lebih2 tidak pernah membayangkan akan kebaikan Putri Mongol itu, padahal baru saja masih dimakinya, tanpa terasa ia menjadi rikuh sendiri. Ia bermaksud mengucapkan terima kasih, namun Minghui sudah melarikan kudanya dengan cepat diiukuti oleh kedua dayangnya.

Ter-mangu2 sejenak Nyo Wan, katanya kemudian: “Engkoh Lam, baik sekali Putri Minghui itu kepadamu.”

Wajah Su-lam menjadi merah, sahutnya: “Aku Cuma mengiringi dia berburu satu kali, sesungguhnya tiada punya pergaulan apa2, hendaklah kau jangan salah paham.”

“Kalian sudah saling kenal lebih dahulu, seumpama ada pergaulan yang lebih akrab juga tidak bisa disalahkan kau,” ujar Nyo Wan tertawa. “Apalagi kebaikanmu padaku juga tidak kurang baiknya daripada kebaikannya kepadamu. Coba tadi kalau kau tidak mengancamnya dengan prngorbananmu, mungkin dia takkan membebaskan aku. Engkoh Lam, sungguh aku sangat bertereima kasih padamu, hendaklah kaupun jangan salah paham akan ucapanku yang sungguh2 ini.”

Tiba2 Nyo Wan mencium bau sangit, ia menoleh dan berseru: “Ai, kedua ikan panggang itu menajdi hangus.”

Su-lam terima seekor ikan panggang itu terus dimakan dengan lahapnya, sampai2 duri dan tulang ikan juga dilahap seluruhnya. Katanya: “Ehm, lezat sekali, selama hidupnya belum pernah makan ikan seenak ini.”

“Aku tidak percaya,” ujar Nyo Wan sambil mengunyah ikannya sendiri. Tapi ia lantas mengerut kening dan berkata: “Ai, sudah hangus, rasanya pahit seperti makan arang saja, masakah kau bilang lezat?”

“Tapi bagiku benar2 sangat enak,” kata Su-lam dengan tertawa. “Menurut adat kampung kami, pengantin perempuan setelah menikah tiga hari harus masuk dapur dan masak kuah ikan. Sekarang kau tidak masak kuah, tapi panggang ikan dan ternyata sedemikian lezatnya. Kelak setiap hari kau membuatkan ikan panggang bagiku, tentu pula aku akan merasa senang sekali.”

“Ah, kau hanya sengaja membikin senang aku saja. Kelak tentu kau akan rasakan pahitnya,” omel Nyo Wan dengan muka merah.

“Asalkan kau sendiri yang masak, biarpun pahit juga kurubah menjadi manis,” kata Su-lam. “Hayolah lekas kau makan, setelah kenyang tentunya lekas pulih juga tenagamu.”

“Betul,” sahut Nyo Wan mengangguk. “Kita tidak boleh sia2kan maksud baik pemberian kuda dari Putri Minghui ini.”

Sebenarnya Nyo Wan tidak kepalang lelahnya, tapi sekarang karena hatinya telah lapang, ada harapan buat menyelamatkan diri pula, tanpa terasa semangat terbangkit, dan setelah kenyang makan mereka lantas menyemplak keatas kuda dan menempuh perjalanan malam.

Ternyata besar manfaatnya medali emas pemberian Minghui itu, banyak pos2 penjagaan sepanjang jalan sama memberi kelonggaran, mereka tidak dipersulit, bahkan diberi bantuan perbekalan2 yang diperlukan.

Hari ini mereka sudah memasuki Gobi, Nyo Wan kegerahan sehingga megap2, Su-lam menjadi teringat kepada pengalaman waktu datangnya dahulu, digurun Gobi inilah dia menemukan mayat To Pek-seng dan bertemu dengan Beng Siau-kang serta putrinya …… kejadian2 dahulu itu terbayang2 lagi, tanpa terasa wajah Beng Bing-sia kembali timbul dalam benaknya. Beberapa kali Su-lam bermaksud menceritakan tentang Beng Siau-kang dan peterinya itu kepada Nyo Wan, tapi urung diceritakan karena kuatir Nyo Wan menaruh curiga dahulu menjadi beban tekanan dijiwanya.

Melihat sekian lamanya Su-lam tidak bicara,Nyo wan berpaling dan tanya padanya:”Engkoh Lam, kau sedang memikirpan apa?”

“O,tak apa2, hawa sangat panas, hendaklah sebentar petang ada ingin yang sejuk. Aduk Wan, akan kuceritakan satu kisah padamu.”

Tapi sebelum dia bicara lebih lanjut tiba2 Nyo Wan berseru: “He,lihatlah disana ada pepohonan, lekas kita mengaso disana, kisahmu hendaklah ditunda dulu!”

Waktu Su-lam memandang kesana, kiranya adalah bukit yang pernah ditempatinya bersama Beng Siau-kang dahulu. Ketika dia jatuh pingsan dihantam Hulitu, waktu sadar ia sudah berada dalam kemah Beng Siau-kang. Malam itu ia malah mendengar pembicaraan Beng Siau-kang dan anak perempuannya dan besok paginya kedua ayah beranak itu telah benrangkat tanpa pamit dan hanya meninggal tulisan yang memperingatkan dia agar jangan ikut2an melakukan kejahatan jika ingin selamat.

Teringat kepada kejadian dahulu itu, jantung Su-lam menjadi berdebar2 sambil mengikuti Nyo Wan melarikan kuda kearah bukit.

“Ehm, aku seperti membau hawa segar, kuterka dibukit ini tentu ada sumber air, ujar Nyo Wan sembari menarik napas panjang2.

“Benar, dibukit ini memang ada sumer air” sahut Su-lam “Darimana kau tahu?” tanya Nyo Wan.

“aku pernah mengisi dua kantong air diatas bukir ini,” kata Su-lam. Tapi mukanya menjadi merah sendiri sebab kedua kantong air itu sesungguhnya diperolehnya dari Beng Bing-sia.

Nyo wan sendiri lagi gembiran karena menemukan “benua hijau” digurun Gobi, hakikatnya ia tidak perhatikan raut muka Su-lam itu. Dengan senang ia berkata pula: “Ja, di sini pula kita dapat mengisi kantong air kita. Engkoh Lang setiba dihutan sana boleh kau tidur sepuasnya, habis mengaso barulah kau menceritakan kisahmu.”

Su-lam sangat terharu dan malu pula atas kelembutan Nyo Wan itu, pikirnya: “aku harus menceritakan semua pengalamanku padanya. Sedikitpun takkan kurahasiakan. Dia sesungguhnya teramat baik padaku, mana boleh hatiku memikirkan gadis lain?”

Sampai dikaki bukit tiba2 tertampak warna kain tenda didalam hutan sana. Seru Nyo Wan: He, disitu sudah ada orang. Marilah kita menyapa mereka.”

Sebaliknya Su-lan merasa heran siapakah gerangan yang berkemah disitu?

Dalam pada itu orang didalam kemah itupun rupanya sudah mendengar suara mereka dan keluar, ketika berpapasan muka, kedua pihak sama2 melenggong.

Yang muncul dari dalam kemah adalah seorang laku2 dan seorang perempuan, mereka bukan lain adalah Song Thi-lun dan Liu Sam-nio suami-istri.

Sebagaimana diketahui Song Thi-lun dan isterinya telah salah paham terhadap Lu Su-lam, terutama setelah Li Su-lam diselamatkan oleh Mufali, maka salam paham atas diri La Su-lam sebagai penghianat menjadi tambah mendalam.

Dasat watak Song Thi-lun memang berangasan, begitu melihat Li Su-lam lagi, tak tahan lagi gusarnya, segera ia menerjang maju sambil membentak: ”Bangsat, kedatanganmu sangat kebetulan, memangnya tuanmu hendak menjara dan bkin perhitungan padamu!” Berbareng sepasang senjatanya berbentuk roda, segera bergerak dan menghantam “Song-toako!. ” seru Su-lam

sambil melompat mundur. Tapi belum lanjut ucapannya senjata Song Thu-lun sudah menyamber tiba.

“Tidak tahu malu, siapa sudi bersaudaraan dengan kau?” Song Thu-lun memaki tanpa mengendurkan gempurannya yang dahsyat sehingga terpaksa Lu Su-lam mesti menangkis satu kali. Namun Song Thi-lun tidak ambil pusing terhadap seruan Su-lam itu, susul menyusul ia menyerang lagu beberapa kali, semuanya jurus2 yang mematikan.

Sebaliknya timbul perasaan ragu2 pada diri Liu Sam-nio demi menyaksikan Li Su-lam melayani suaminya secara mengalah. Serunya kemudian: “Toako, coba dengarkan dulu apa yang akan dikatakan?”

“Dengarkan apa? Sudah jelas dia adalah begundal tartar Mongol, bekas luka panah di baguku masih belum lagi sembuh seluruhnya sampai sekarang, apakah kau masih mau pecaya kepada ocehannya?” sahut Song Thi-lun.

Liu Sam-nio berseru pula: “Tapi nona Beng bilang………”

“Mungkin nona Beng jatuh hati kepada bocah ini, apakah kau juga percaya omongannya? Hm, bahkan Beng tayhiap sendiri menyesal tempo hari telah melepaskan bocah ini!” kata Thi-lun. “He, hei! Apakah kalian telah bertemu dengan Beng tayhiap?” seru Su-lam. “Aku justru ingin memberi penjelasan kepada beliau. Apakah kau tidak dapat berhenti dahulu?”

“Benar, aku telah bertemu dengan Beng-tayhiap, tapi beliau suruh aku membinasakan kau!” bentak Thi-lun. Begitulah ia tidak menghiraukan seruan Li Su-lam, sebaliknya menyerang lebih gencar.

Nyo Wan sendiri tertegun disamping dengan penuh tanda tanya, siapakah gerangan nona Beng yang dimaksudkan? Mengapa engkoh Lam tak pernah katakan padaku? Demikian ia menjadi sangsi.

Walaupun begitu dari nada ucapan Song Thi-lun lapat2 iapun dapat menduga apa sebabnya mereka hendak membunuh Lu Su-lam. Maka cepat iapun berseru: “Hei, tentu kalian telah salah paham.

Engkoh Lam adalah orang baik,dia baru saja melarikan diri dari Ho-lin, se-kali2 dia bukan begundal orang Mongol sebagaimana disangka kalian.”

“Wah, engkoh Lam, panggilan yang mesra benar!” kata Liu Sam-nio. Kau ini siapa dan hubungan apa dengan bocah ini?”

Karena pertanyaan yang kurang hormat ini, dari jengah Nyo wan menjadi gusar, jengeknya: “Aku adalah istrinya, kau mau apa?”

Liu Sam-nio tercengang, ejeknya: “O, kiranya kau tidak tahu seluk beluknya dan kena dipelet olehnya. Pantas kau bilang dia orang baik2. Haha, sekarang tidak perlu lagi mengusut lebih jauh, dari pernyataanmu ini justru membuktikan bocah ini adalah orang busuk.”

Malu, gemas, mrah dan sangsi pula Nyo Wan, dampratnya: “Kau mengoceh tak keruan apa?”

“Kau telah tertipu olehnya tanpa sadar, hal ini tak bisa menyalahkan kau,” sahut Liu Sam-nio. “Tapi bocah yang berhati palsu ini tidak bia diampuni.” ~ Habis berkata, “Sret” cambuknya lantas menyabet.

Serangan itu teramat cepat datangnya, saat itu Su-lam sedang berseru: “ Wan-moay, jangan percaya omongannya, nanti akan kuceritakan padamu.” ~ Pada saat yang sama itulah punggungnya telah kena cambukan sehingga baju robek dan babak belur.

Kiranya tempo hari Song Thi-lun berhasil kabur setelah terluka oleh panah Mufali. Hari kedua dapatlah mereka menyusul Beng Siau-kang dan menceritakan pengalaman mereka. Karena laporan itulah, Beng Siau-kang juga anggap Li Su-lam telah ikut ‘ayahnya” menjadi begundal orang Mongol, ia menjadi menyesal Li Su-lam tidak dibunuhnya. Tapi anak perempuannya, yaitu Beng Bing-sia tetap membela Li Su-lam dan tidak percaya pemuda itu sudi mengabdi kepada musuh.

Dasar watak anak dara yang masih polos apa yang dia anggap betul lantas dibelanya, oleh sebab itulah Liu Sam-nio mengira nona Beng Bing-sia itu telah jatuh hati kepada Li Su-lam.

Song Thi-lun dan istrinya adalah anak buah To Pek-seng, karena kematian To Pek-seng terjadi secara aneh, sampai2 siapa pembunuhnya juga belum tahu walaupun dapat dipastikan musuh tentu tokoh silat kelas wahid. Mereka tahu tidak mampu menuntut balas bagi sang Thocu, tapi sedikitnya mereka harus menyelidiki sehingga diketahui siapa musuh yang membunuh itu untuk dilaporkan kepada kawan2nya. Sebab itulah mereka bertekad tetap tinggal di Mongol untuk menyelidiki.

Sedangkan Liu Sam-nio adalah perempuan yang telah biasa dimanjakan oleh sang suami, dalam pandangannya segenap lelaki di dunia ini harus setia dan menurut terhadap istri seperti suaminya, maka paling benci dia adalah lelaki yang ingkar janji, yang berhati palsu dan tidak setia. Padahal ia mengira Li Su-lam telah merebut hati Beng Bing-sia, sekarang diketahuinya, bahwa ada seorang gadis lain yang mengaku sebagai istri Li Su-lam, keruan ia menjadi gusar dan gemas kepada Li Su- lam.

Begitulah ver-ulang2 Liu Sam-nio lancarkan serangan dengan maksud menghajar Li Su-lam. Keruan Su-lam kelabakan, ia sudah kena cambuk satu kali, kalau kena lagi tentu bisa runyam. Nyo Wan juga kuatir, cepat pedangnya menusuk punggung Liu Sam-nio. Serangan ini memaksa Liu Sam-nio harus menyelamatkan diri lebih dahulu. Benar juga, ketika mendengar samberan angin dari belakang, cepat Liu Sam-nio berkelit kesamping, tusukan Nyo Wan mengenai tempat kosong, tapi cambukan Liu Sam-nio terhadap Li Su-lam juga luput.

Tiada maksud Nyo Wan buat membunuh Liu Sam-nio. Cuma dia mendongkol cambukannya terhadap Li Su-lam tadi, maka setelah tusukannya meleset segera ia melancarkan serangan pula secara gencar.

Keruan Liu Sam-nio menjadi murk, makinya: “Dasar budak busuk, aku membela kau, sebaliknya kau malah menyerang aku!” ~ Berbareng cambuknya lantas balas menyabet.

Ketika Nyo Wan menangkis dengan pedangnya. Hampir saja pergelangan tangan terlibat ujung cambuk. Syukur ia lantas ganti serangan sehingga pedang tidak terlepas dari cekalan. Namun kepandaian Liu Sam-nio memang lebih tinggi, pula lebih berpengalaman, setelah bergebrak belasan jurus, akhirnya Nyo Wan kewalahan. Terpaksa ia berseru: “Engkoh Lam, bicaralah kau!” ~ Lantaran bicara dan sedikit meleng, hampir2 saja ia kena disabet oleh cambuk Liu Sam-nio.

Syukur kepandaian Li Su-lam lebih kuat dari pada Song Thi-lun, semula dia sengaja mengalah untuk mengurangi salah paham lawan, maka dia hanya bertahan saja, bahkan digempur oleh Song Thilun sampai kerepotan. Kini dia telah merasakan cambuk Liu Sam-nio, ia menjadi gemas juga, pikirnya kalau lawan tidak dilabrak tentu sukar untuk memberi penjelasan. Maka dengan menahan sakit segera ia balas menyerang.

“Bagus, biar aku mengadu jiwa dengan kau, kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati,” teriak Song Thi-lun dengan gusar. Walau demikian, apa daya, tenaga sudah lemah, betapapun ia menyerang tetap sukar mengenai Li Su-lam.

“Siapa yang mau mengadu jiwa dengan kau , tolol!” damprat Su-lam saking mendongkolnya. “Tapi kalau kau tidak tahu diri, pedangku ini tidak punya mata, bila kau mampus janganlah menyalahkan aku.”

Setelah merasakan lihainya Li Su-lam, diam2 Song Thi-lun berpikir jangan2 orang tadi memang mengalah padanya. Ia menjadi sangsi dan main mundur. Tekadnya ingin mengadu jiwa menjadi kabur.

Li Su-lam lantas berseru: “Aku tahu apa sebabnya kalian memusuhi aku, tentunya kalian mengira pembesar yang bekerja bagi Mongol di Holin itu adalah ayahku. Tapi ingin kukatakan padamu bahwa bangsat itu namanya yang asli adalah Sia It-tiong, dia memalsukan nama ayahku untuk mencari kedudukan. Ayahku sesungguhnya adalah patriot sejati, beliau telah dicelakai oleh Sia It- tiong. Yang kukatakan ini adalah kejadian yang sungguh2, percaya atau tidak terserah padamu.” Meski mulai ragu2 juga setelah Song Thi-lun mendengar kata2 Li v itu, tapi ia masih belum mau percaya sepenuhnya.

Pada saat itulah dibawah bukit mendadak debu mengepul tinggi disertai derap kuda yang ramai. Air muka Song Thi-lun berubah hebat, bentaknya: “Siapakah orang2 itu?”

“Darimana aku tahu?” sahut Su-lam melengak juga. Waktu menoleh dilihatnya tujuh penunggang kuda sudah muncul disitu. Dua Bu-su diantaranya samar2 masih dikenal oleh Li Su-lam sebagai jago2 yang pernah ikut berburu dengan Jengis Khan tempo hari, cuma namanya tidak ingat lagi. Ketika melihat Li Su-lam berada disitu dan sedang bertempur dengan Song Thi-lun, kedua jago Mongol itupun merasa heran dan berseru: “Li-kongcu, kiranya engkau sudah berada disini dulu! ~ Eh, awas musuh mau lari, lekas kejar!”

Kiranya kedua Bu-su ini adalah anak buah Mufali yang ditugaskan mencari begundalnya To Pek- seng, mereka hanya tahu Li Su-lam sangat disukai oleh Khan Agung, tapi tidak tahu kalau sekarang Li Su-lam adalah buronan. Karena itulah mereka masih anggap Li Su-lam sebagai teman.

Sebaliknya Song Thi-lun menjadi gusar dan kuatir, dampratnya kepada Su-lam: “Anak bangsat, pintar benar kau putar lidah, sekarang kebohonganmu sudah terbongkar sendiri. Biar aku mengadu jiwa saja padamu!”

Su-lam tidak menjawabnya, tapi dia memberi serangan pura2 untuk terus mundur kebelakang, saat itu kedua Bu-su Mongol tadi sedang memburu ke arah Su-lam sambil berseru: “Li-kongcu janga kuatir! Kami akan bantu kau!” ~ Tapi belum lenyap suaranya, mendadak pedang Su-lam menyamber, “Sret-sret”, secepat kilat kedua Bu-su itu terguling binasa, yang satu tertabas separoh kepalanya, yang lain tertembus tenggorokannya.

Saat itu dari belakang Song Thi-lun sedang ayun rodanya hendak menghantam punggung Li Su-lam

, tapi melihat Su-lam mendadak binasakan kedua jago Mongol itu, Song Thi-lun terkejut, lekas2 ia menahan senjatanya. Baru sekarang ia mau percaya omongan Li Su-lam.

Sementara itu kelima Bu-su Mongol yang lain sudah memburu tiba pula dan mengepung mereka ditengah.

“Lekas kalian lari saja, kami berdua cukup mampu melayani beberapa orang ini!” seru Su-lam. “Sungguh aku …….aku pantas mampus!” seru Song Thi-lun menyesal. Mendadak ia menggertak se-keras2nya, kedua rodanya berputar, sebagai kerbau gila ia menerjang salah seorang lawan.

Waktu Bu-su itu menangkis dengan tomabk, “trang”, tombaknya terpukul bengkok, sebaliknya lengan Song thi-lun juga keserempet tomabk lawan. Namun ia sudh nekat, kembali sepasang rodanya mengepruk tanpa ampu lagi Bu-su itu terkapar dengan kepala hancur.

Sementara itu Liu Sam-nio dan Nyo Wan juga sudah menerjang maju, sekali cambuk Liu Sam-nio bekerja kontan pinggang seorang Bu-su terlilit, cambuk terus diayun sekuatnya sehingga Bu-su itu terlempar kesana dan menumbuk kawannya sendiri. Segera Nyo Wan memburu maju dan manamatkan mereka dengan dua tusukan pedang.

Tujuh Bu-su sudah mampus lima, sisa dua Bu-su lagi menjadi ketakutan, cepat mereka putar tubuh dan lari sipat kuping. Namun Li Su-lam dan Nyo Wan lantas mengejar, sebelum tiba dibawah bukit kedua Bu-su itu sudah tersusul.

“Sam-nio, tampaknya kita telah salah menuduh mereka, bagaimana baiknya ini?” tanya Song Thi- lun kepadanya istrinya.

Liu Sam-nio tidak menjawab, tapi tangannya lantas bergerak, dua buah Tok-liong-piau telah sisambitkan kebawah bukit. Terdengarlah jeritan ngeri dua orang Bu-su itu masing2 terkena sebuah piau berbisa itu dan terguling kebawah.

Selesai membinasakan kedua Bu-su itu bagi Li Su-lam, lalu Liu Sam-nio berseru lantang: “Orang kangouw paling mengutamakan budi dan tegas soal dendam. Hari ini kau telah membantu kami, selamanya kami suami-istri tentu takkan melupakan budimu ini.”

“Kawanan Tartar ini terbunuh oleh gabungan tenaga kita, maka siapapun tidak perlu merasa utang budi kepada pihak yang lain,”ut Su-lam dengan tertawa. “Aku sih tidak mengharapkan terima kasih apa2, cukup asalkan kalian tidak salah paham lagi padaku.”

Liu Sam-nio mendengus, lalu menyambung lagi: “Seluk beluk urusan ini akhirnya tentu akan jelas seluruhnya. Setelah kami selidiki duduk perkara yang sebenarnya, bilamana cocok dengan kata2mu, kelak kami tentu akan mencari dan minta maaf padamu. Tapi selamanya aku paling benci kepada laki2 yang berhati palsu, bila hal ini kau lakukan, disamping terima kasih juga aku akan suruh kau rasakan cambukku lagi.

Habis berkata demikian, segera mereka suami istri tinggal pergi melalui balik bukit sebelah sana. Rupanya Liu Sam-nio sudah mau percaya terhadap keterangan Li Su-lam tadi dan sudh siap minta maaf kepadanya. Cuma dalam urusan Su-lam dengan Beng-sia, dia tetap masih salah paham dan anggap Su-lam sebagai pemuda yang berhati palsu dan suka permainkan anak perempuan, sebab itulah ia hendak membela keadilan bagi Bing-sia. Sudah tentu Su-lam serba runyam mendengar kata2 Liu Sam-nio itu.

Seperginya Song Thi-lun berdua, dengan suara pelahan Nyo Wan bertanya: “Engkoh Lam, nona Beng yang dikatakan itu sebenarnya apa persoalannya?”

“Yang hendak kuceritakan tadi justru mengenai hal ini,” kata Su-lam. “Mereka anak beranak pernah menyelamatkan jiwaku, akupun hanya kenal satu hari saja dengan dia, sehingga tiada persoalan hubungan akrab segala. Perempuan gila tadi mengoceh tak karuian, hendaklah kau jangan salah sangka.”

Begitulah Su-lam lantas menceritakan kejadian dahulu, hanya tentang tulisan diatas pasir yang ditinggalkan Bing-sia untuk menasehatinya itu tidak diuraikan.

“Jika demikian, nona Beng itupun terhitung temanmu yang intim,” ujay Nyo Wan dengan tertawa. “Dia harus dipuji, walaupun hanya kenal kau secara singkat toh sudah percaya penuh padamu.

Ayahnya menyelamatkan jiwamu dari tangan Hulitu, sedangkan dia sendiri menyelamatkan jiwamu dari pedang ayahnya, maka pantaslah kalau kau berterima kasih kepada teman akrab lain jenis ini.” “Wan-moay, janganlah kau menggoda aku,” sahut Su-lam dengan muka merah. “Kini kita adalah suami istri yang senasib sepenanggungan ikatan kita dipupuk dengan darah, yang mana tidak dapat dibandingi dengan persahabatan akrab apapun juga Untuk ini apakah barangkali kau masih sangsi padaku?”

Ucapan Su-lam ini jelas timbul dari lubuk hatinya yang paling dalam, Nyo Wan merasa masam dan manis pula. Ia mengusap airmata yang menggenangi kelopak matanya, katanya dengan tertawa: “Engkoh Lam, mengapa kau menjadi kelabakan atas kelakarku ini, sesungguhnya yang kukatakan tadi juga bukan tidak beralasan, nona Beng itu telah menyelamatkan kau, kan pantas juga bila kau berterima kasih padanya. “Baiklah, jangan kau kuatir, kau sangat baik padaku, masakah aku tidak tahu. Ocehan Liu Sam-nio yang gila2an itu ku anggap tidak pernah ada saja.” ~ Walaupun demikian katanya, namun dalam hati Nyo Wan sudah terdapay juga setitik bayangan gelap.

Maklumlah, dikala seorang anak perempuan mulai jatuh cinta, maka daya perasanya terhadap orang yang dicintainya itu amatlah tajam dan ajaib, sekalipun Cuma suatu lirikan, suatu kalimat kata2 atau menurut perasaan langsung saja sudh cukup mengintai rahasia yang terkandung didalam hati sang kekasih.

Sekarang Nyo Wan sudah mengetahui sebelum dia sang suami sudah pernah bersahabat akrab dengan dua peempuan lain, yang seorang ialah Minghui dan satu lagi adalah Beng Bing-sia.

Minghui sudah diketahuinya dengan jelas akan cinta Putri Mongol itu terhadap suaminya, akan tetapi setelah kejadian itu lampau, kini sedikitnya Nyo Wan tidak tahu apakah Bing-sia juga jatuh cinta kepada sang suami, hal inilah yang menimbulkan bayangan suram didalam benaknya, menimbulkan rasa sangsi dan kuatirnya. Apa sebabnya bisa terjadi demikian?

Sebab dapat telah dirasakan oleh Nyo Wan bahwa kedua nona itu menempati kedudukan yang berbeda didalam hati Lu Su-lam. Kalau terhadap Minghui secara blak2an Su-lam telah menyelesaikan persoalannya secara tegas waktu memberi penjelasan kepada Nyo Wan juga tidak merasa malu dan merasa bersalah, sebaliknya mengenai Beng Bing-sia ternyata Su-lam merasa perlu membela diri se-akan2 kuatir dicurigai Nyo Wan. Dari ini saja Nyo Wan sudah dapat merasakan: seumpama mereka bukan kekasih, sedikitnya dalam hati Li Su-lam sudah tertanam perasaan aneh terhadap Bing-sia

Nyo Wan menjadi teringat kepada waktu menjelang adanya Lu Hi-ko telah suruh Su-lam menikahinya, tapi waktu itu Su-lam berusaha mengelak, walaupun kemudian dia memberi alasan tidak ingin membikin susah padanya, tapi bukan mustahil soalnya justru mengenal diri nona Beng ini. Apalagi tentang pengalamannya itu mengapa baru sekarang Su-lam menceritakan padanya?

Terpikir demikian rasa sangsi Nyo Wan menjadi bertambah.

Hal ini sebenarnya juga tak bisa menyalahkan Nyo Wan bila dia merasa sangsi dan cemburu umpamanya. Dasarnya Nyo Wan bukan wanita yang berjiwa sempit, soalnya kedudukannya sekarang ini kecuali Li Su-lam seorang, dia tidak punya sanak keluarga lain lagi. Nasib mereka sudah terikat menjadi satu, bahkan dia juga sudah mencintai Su-lam secara mendalam. Kini diketahuinya dalam hari Su-lam ternyata ada lagi seorang gadis lain, tentu saja menimbulkan bayangan gelap dalam benaknya.

Namun biarpun timbul rasa sangsi dan kuatirnya, Nyo Wan, iapun merasakan pula bahwa kian hari Su-lam kian baik padanya, semula pemuda itu memang rada canggung dan seperti rada terpaksa, tapi kini Nyo Wan benar2 telah dianggapnya sebagai bakal istri. Suatu hal Nyo Wan cukup yakin, yaitu Su-lam pasti tidak berhati palsu padanya.

Karena kemungkinan disusul oleh musuh selama mereka belum meninggalkan wilayah Mongol tetap ada, maka lekas2 mereka melanjutkan perjalanan pula. Sepanjang jalan Su-lam sangat baik menjaga Nyo Wan, dibawah dorongan semangat pemuda itulah akhirnya Nyo Wan sanggup melintasi Gobi yang luas itu. Lambat-laun bayangan gelap dibenak Nyo Wan itupun terbakar habis oleh terik matahari di gurun Gobi itu.

Suatu hari mereka sedang melarikan kuda mereka di padang rumput, ternyata di tanah rumput itu banyak terdapat bekas tapak kuda. Su-lam terkesiap, katanya kepada Nyo Wan:”Melihat keadaan ini, pasukan Mongol baru saja lalu disni bisa jadi kemarin,” “Bukankah Jengis Khan masih berada di Holin?” ujar Nyo Wan

“Sebulan yang lalu Jengis Khan sudah memerintahkan serangan terhadap Kim, mungkin pasukan ini adalah pasukan pelopornya,” kata Su-lam.

“Entah medali emas pemberian Pueteri Minghui itu berlaku tidak dalam pasukan Mongol?” “Kukira agak repot juga bilamana kutemukan pasukan besar,” ujar Su-lam.

“Lalu bagaimana apakah kita perlu mencari suatu tempat sembunyi. Nanti kalau pasukan induk Mongol sudah lewat barulah kita melanjurkan perjalanan?”

“Memang serba susah, coba kupikir dulu bagaimana baiknya.” Sahut Su-lam

Ia tahu padang rumput itu adalah daerah tak bertuan ke selatan adalah wilayah kerajaan Kim, ke barat adalah daerah kekuasaan Sehe, suatu kerajaan kecil yang meliputi daerah Lingsia dan Siamsay utara. Jika berputar memasuki daerah utara Siamsay, lalu masuk ke daerah Soasay yang termasuk wilayah kekuasaan Kim, kemudian bisa sampai di Tiongtoh (Peking sekarang) yang menjadi kotaraja kerajaan Kim.

Su-lam pikir akan lebih aman bila mengambil jalan memutar ke Sehe itu walaupun lebih jauh. Tapi bila mengikuti jurusan yang ditempuh pasukan Mongol akan ada kesempatan buat membalas sakit hati, sebab Sia It-tiong diduga pasti ikut dalam pasukan Mongol. Sulitnya cara bagaimana menghindari kepergok oleh pasukan Mongol dan cara bagaimana pula mencari peluang untuk membunuh Sia It-tiong.

Belum lagi mengambil ketetapan, tiba2 dari arah jauh berkumandang suara rebab yang menawan hati. Tertarik oleh suara rebab itu, tanpa terasa Nyo Wan melarikan kudanya kesana, renungan Su- lam juga terganggu dan terpaksa ikut melarikan kudanya.

Tidak seberapa jauh, terdengar jelas suara rebab tadi diiringi oleh nyanyian seorang gadis. Sesudah dekat, ternyata di depan sana ada tiga penunggang kuda. Dua Bu-su bernaju hitam mengapit seorang perempuan muda ditengah. Kalau tidak salah ingat Su-lam merasa sudah pernah melihat gadis Mongol itu diantara rombongan agdis2 Mongol yang sedang mengantar keberangkatan pemuda2 Mongol ke medan bakti ketika dia dibawa ke Holin oleh Cilaun dan Mufali dahulu, menurut pembicaraan Cilaun dan Mufali, agaknya nama gadis penyanyi Mongol yang cantik itu adalah Kalusi.

Ketika mendengar dari belakang ada suara keleningan kuda, kedua Bu-su itu telah menoleh, Kalusi juga berhenti memetik rebab dan berhenti menyanyi. Melihat kecantikan Nyo Wan, Bu-su baju hitam dibagian belakang itu menjadi melotot, serunya sambil tertawa: “Aha, betina Han ini ternyata lebih ayu daripada sicantik Mongol. Ai, rejeki kita benar2 tidak sedikit. Eh, Toako, kita rebut dia sekalian, kita bagi sama rata, satu orang dapat satu.”

Bu-su bicara dalam bahasa Sehe yang tidak dimengerti oleh Li Su-lam, tapi Nyo Wan yang sudah tinggal tujuh tahun di Mongol dan pernah mendengar pembicaraan antara penggembala Sehe yang sering berkunjung ke Mongol, walaupun tidak paham benar artinya, namun dapatlah Nyo Wan menangkap arti ucapan Bu-su tadi.

Dengan gusar baru saja Nyo Wan hendak mendamprat, mendadak Kalusi telah menjerit minta tolong. Bu-su dibagian belakang itu lantas menyabet dengan cambuknya kepada tawanannya itu, tapi Nyo Wan dan Li Su-lam berbareng juga telah menyambitkan dua buah pisau dan enam buah mata uang.

Kepandaian Bu-su itu ternyata tidak lemah, cambuknya terus memutar balik, “tarrr”, sebuah pisau yang disambitkan Nyo Wan itu kena disampuk jatuh. Tapi mendadak Bu-su itu berteriak kaget, cambuknya lantas jatuh ketanah. Kiranya tiga buah telah mengenai Hiat-to di tubuhnya sebuah lagi mengenai tangannya sehingga cambuk terlepas dari cekalan. Menyusul Bu-su itupun terjungkal dari kudanya.

Baik kedua buah pisau maupun keenam mata uang yang disambitkan Nyo Wan dan Li Su-lam itu masing2 terbagi untuk menyerang kedua Bu-su di depan dan belakang Kalusi itu. Bu-su di depan itu berkepandaian lebih lebih, pisau Nyo Wan kena ditangkap olehnya, berbareng pisau rampasan itu menggores, sedangkan jari tangan kiri menyelentik dengan cepat. “Jreng-jreng”, kedua mata uang yang mengarah mukanya terselentik jatuh, sedangkan mata uang terakhir yang mengarah dadanya telah pecah kena dipotong oleh pisau yang ditangannya itu. “Ini terima kembali!” bentak Busu itu. Pisau rampasannya terus disambitkan kembali kepada Nyo Wan.

Cepat Nyo Wan melolos pedangnya untuk menangkis “Trang”, meletiklah lelatu api. Tenaga Bu-su itu terjatuh sangat hebat, pusai itu bahkan terus melayang ke arah Kalusi dengan tidak kurang pesatnya.

Keruan Nyo Wan terkejut, secepat anak panah lepas dari busurnya iapun meloncat dari kudanya terus melesat kesana dengan Ginkang yang tinggi, sekali cengkeram segera ia angkat Kalusi keatas. Tertampak sinar pisau berkelebat, kuda tunggangan Kalusi terus terkapar, rupanya sebelah kakinya telah patah terkena pisau terbang itu. Agaknya yang diarah Bu-su itu bukanlah Kalusi, tapi adalah kudanya agar nona itu tidak dapat melarikan diri.

Nyo Wan menurunkan Kalusi dibawah pohon ditepi jalan. Rupanya Kalusi sangat ketakutan, dengan muka pucat ia mendekap didalam pelukan Nyo Wan yang menghiburnya agar jangan takut. Sementara itu Li Su-lam telah mulai bertempur dengan Busu yang berada di depan tadi. Busu itu menggunakan senjata golok melengkung sabit, tangkas juga busu itu, goloknya menabas kian kemari dengan sinar putih yang menyamber2.

Su-lam terkesiap melihat kepandaian lawannya yang tidak lemah itu. Iapun melancarkan serangan dengan gencar. Pertarungan diatas kuda mengutamakan kecepatan. Tapi meski sudah bergebrak belasan jurus, sedikitpun Su-lam tidak lebih unggul.

Melihat itu, Nyo Wan suruh Kalusi sembunyi dibalik pohon itu, ia sendiri lantas mencemplak pula, keatas kudanya dan menerjang maju untuk membantu. Dengan gabungan tenaga mereka barulah Busu baju hitam itu merasa kewalahan.

Kalusi yang ditinggal dibalik pohon sana masih kebat-kebit ketakutan, terutama suara nyaring beradunya senjata membuatnya merasa ngeri. Pada saat itulah sekilas dilihatnya Busu yang terluka tadi sedang me-rangkak2 ke arahnya. Tentu saja ia tambah takut dan menjerit. Tupanya Busu itu mampus membuka sendiri Hiat-to yang tertutuk piau mata uang tadi. Hanya saja belum begitu lancar sehingga tenaga belum pulih, terpaksa ia hanya merangkak saja.

Waktu itu Su-lam sedang melancarkan serangan gencar, tampaknya lawan sudah sukar menangkisnya. Pada saat itulah terdengar jeritan Kalusi. Keruan Nyo Wan terkejut dan menoleh karena mengira terjadi apa2 atas diri gadis Mongol itu.

Kesempatan baik ini tidak di sia2kan Busu itu, dengan kepandaiannya menunggang kuda, secepat angin ia terus melesat lewat disamping Nyo Wan. Ketika Nyo Wan menyadari apa yang terjadi, pedangnya lantas menabas kebelakang. Namun Busu itu sempat melorotkan dirinya kesamping perut kuda sehingga hanya betisnya saja yang terluka. Tapi dengan demikian Busu itupun terlolos dari kepungan mereka.

Kuatir Busu itu akan mencelakai Kalusi, cepat Su-lam memburu. Ia tidak tahu bahwa Busu itu sudah tidak berani bertempur lebih lama lagi, tujuannya bukan Kalusi, tapi hendak menolong temannya yang terluka itu.

Busu yang terluka itu masih belum mampu berdiri, hanya sanggup mengacungkan tangan saja. Ketika temannya melarikan kudanya sampai disampingnya sambil menyulurkan cambuk, sekuatnya Busu terluka itu memegang ujung cambuk, ketika kawannya mengayun cambuk sekuatnya terangkatlah Busu terluka itu ke atas kuda, berbareng, kuda terus dilarikan dalam sekejap saja lantas kabur jauh.

Sementara itu Nyo Wan telah membangunkan Kalusi dan menghiburnya agar jangan takut. Dengan muka yang masih pucat, Kalusi mengucapkan terima kasih.

“Untung kau telah memancing kedatangan kami dengan suara rebabmu yang merdu tadi sehingga kedua bangsat itu dapat kami enyahkan,” ujar Nyo Wan.

“Tempo hari kau seperti mengantar teman2mu berangkat ke medan perang, mengapa sekarang kau sampai disini. Orang macam apalagi kedua Busu tadi?” tnya Su-lam.

“Aku merasa berat ditinggal oleh Akai,” tutur Kalusi dengan wajah merah cengah ketika menyebut nama kekasihnya itu. “Sebab itulah aku terus mengikuti perjalanan pasukan kami dan mengantar sampai di Liong-sah-tui”

Liong-sah-tui adalah suatu tempat kira2 seratus li di dalam wilayah kekuasaan Kim, suatu tempat yang makmur dan strategis bagi pangkalan tentara.

Diam2 Nyo Wan terharu terhadap cinta suci Kalusi yang mengantar kekasih ke medan bakti itu. Sungguh suatu nona yang setia dan berbudi. Sebaliknya Su-lam merasa heran mengapa pasukan penjaga perbatasan Kim sama sekali tidak mengadakan perlawanan, sampai tempat penting seperti Liong-sah-kui juga tidak dijaga dan begitu gampang diduduki pihak Mongol.

“Sampai di Liong-sah-tui, Akai membujuk aku lebih baik pulang saja,” demikian Kalusi melanjutkan ceritanya. “Katanya beberapa hari lagi peperangan besar mungkin akan terjadi. Tapi aku tidak menurut bujukannya.”

“Mengapa kau tidak menurut apa yang dia katakan kan demi keselamatanmu?” ujar Nyo Wan. “Cici adalah penyelamatku, biarlah kukatakan terus terang padamu,” tutur Kalusi “Sesungguhnya aku ada rencana membujuk Akai mau melarikan diri saja dari pasukan. Aku bilang padanya bahwa penghidupan kita sebagai gembala di padang rumput cukup bahagia, buat apa kita pasti mendatangi negeri orang untuk perang, merampas dan membunuh segala? Begitu luas pula negeri Tiongkok dan entah betapa jauh letaknya. Konon Khan Agung berniat menghancurkan Kim dan menumpas Song, lalu betapa lama barulah kalian dapat pulang? Bukan mustahil selama gidup ini kita takkan berjumpa pula.”

Nyo Wan mengangguk, katanya: Benar kata2mu memang beralasan. Setiap rakyat jelata lebih suka hidup dalam aman tenteram yang ingin perang hanya Khan dan panglima2nya, mungkin ditambah lagi saudagar2 jahat yang ingin menambah kekayaannya.”

“Seperti kau sebenarnya bangsa Han kami juga tidak suka perang,” Su-lam ikut bicara. “Akan tetapi bila kami dipaksakan perang, terpaksa kami melawan. Dan kalau perang sampai terjadi tentu bunuh membunuh tak terhindarkan lagi, entah betapa banyak anak yatim piatu dan janda2 akan bertambah di masing2 negeri. Sebab itulah peperangan yang dilancarkan oleh Khan kalian ini sesungguhnya adalah suatu kejahatan. Bujukanmu kepada Akai kekasihmu itu memang tepat.”

“Kiranya kalian juga sependapat dengan aku,” ujat Kalusi dengan senang. “Cuma sayang Akai tidak mau menurut nasihatku. Padahal biasanya dia sangat penurut, iapun tidak tega meninggalakn aku, tapi sekali ini dia tetap tidak mau menurut meski aku ber-ulang2 membujuknya. Dia mengatakan dia tidak ingin membunuh orang, tapi juga tidak sudi ditertawai orang, dia adalah pemburu gagah berani yang terkenal dipadang rumput padanya. Dia bilang, orang punya nama, pohon punya bayangan, hendak menutupinya juga tidak dapat. Pohon besat takkan roboh kalau tidak ditebang, elang tetap terbang meski terkena panah, setiap pejuang tetap akan perang sebelum ulu hatinya ditembus oleh senjata musuh. Dia menyatakan hanya akan membunuh musuh yang bersenjata dan se-kali2 takkan membunuh rakyat jelata yang tak berdosa.”

Su-lam berharap dapat mengorek sedikit berita dari Kalusi, ia coba bertanya: “Jika demikian, jadi kalian telah berpisah di Liong-sah-tui? Apakah Akai memberitahumu padamu kemana pasukannya akan menuju?”

“Justru aku tidak tahu kemana dia akan pergi perang dan bila selesainya.” Sahut Kalusi. “Namun menurut Akai katanya paling lama setahun atau setengah tahun, bila dia tidak gugur dimedan perang tentu akan pulang menjenguk aku, maka aku disuruh menanti dan jangan kuatir.”

“O, kalau menurut nada ucapan Akai itu, jadi peperangan ini paling lama setahun sudah bisa selesai?” kata Su-lam. “Bukankah Khan kalian telah sesumbar mau menyaplok Kim dan menghancurkan Song? Apakah begitu gampang tercapai cita2nya itu?”

“Itulah soalnya,” kata Kalusi. “Akupun katakan pada Akai bahwa negeri Tiongkok begitu luas, untuk mencapai tempat kediaman rajanya saja puluhan ribu li jauhnya. Naik kuda saja mungkin juga akan makan waktu setahun lamanya. Akan tetapi Akai tampaknya seperti sangat yakin, katanya tidak sampai setahun tentu dapat pulang menemukan aku.”

Tergerak juga hati Su-lam,ia pikir apa barangkali Jengis Khan telah mengubah rencana perangnya? Atau mungkin raja Mongol itu hanya ingin mencaplok Kim lebih dulu lalu menunggu kesempatan lain untuk menggempur Song.

Kalusi menyambung pula: “Biasanya Akai tidak pernah mendustai aku, namun aku pikir apa yang dia katakan ini mungkin hanya untuk membikin senang hatiku saja. Aku tidak ingin berpisah dengan dia, pasukan induknya masih berpangkalan di Liong-sah-tui, bahkan sedang membangun kubu, mesti Akai tidak bilang padaku, tapi menurut cerita prajurit lain, mungkin sakali peperangan takkan terjadi di dalam waktu singkat. Maka aku mohon kepada Akai agar aku diperbolehkan tetap tinggal bersama dia, paling tidak sampai pasukan berangkat baru aku akan pulang. Namun kemudian apa yang terjadi sungguh diluar dugaan, hampir2 saja aku takbisa lolos dari bahaya.

Tentang orang yang hampir membikin celaka diriku itu tentu Li-kongcu kenal padnya, agaknya dia sangat benci padamu.”

“Siapa dia?” tanya Su-lam heran.

“Pangeran Tinkok bakal suami Putri Minghui,” sahut Kalusi.

“O, kiranya dia, bagaimana dia bisa berada di Liong-sah-tui?” tanya Su-lam.

“Dia adalah komandan pasukan di Liong-sah-tui itu,” tutur Kalusi. “Sebenarnya Akai sudah memperingatkan aku ketika aku mau tinggal disana. Katanya Pangeran Tinkok itu sangat kejam dan gemar main perempuan pula, bila aku dipergok berada ditengah pasukannya mungkin akan terjadi bencana. Ternyata pada hari itu juga lantas terjadi.”

Nyo Wan terkejut, tanyanya: Dia adalah komandan pasukan, masakah dia berani merampas kau secara terang2an?”

Dengan kedudukannya, selain Khan dan calon istrinya, rasanya tidak ada seorangpun yang ditakutinya. Disiplin pasukannya hanya berlaku bagi orang lain, tapi tidak berlaku bagi dia sendiri,” tutur Kalusi. “Hari itu baru saja aku keluar dari kemah Akai lantas kepergok olehnya. Seketika dia bersikap marah dan menuduh aku sembarangan masuk ketangsi dan mengacaukan disiplin, segera aku ditangkap.”

“kemudian cara bagaimana kau bisa meloloskan diri?” tanya Nyo Wan.

“Sekian lamanya aku dikurung didalam kemah, lalu datanglah dia untuk memeriksa aku,” kata kalusi. “Lucu juga kalau diceritakan, begitu tiba, ternyata marahnya telah berubah menjadi cengar cengir padaku. Dia berkata: “Anak cantik, anak molek, kau jangan takut, aku tidak tangkap kau secara sungguh2, tapi hanya sebagai contoh bagi orang lain saja. Bila kau memang senang tinggal didalam pasukan, maka akan kupenuhi keinginanmu. Kau boleh menjadi pelayanku, tentu tiada seorangpun yang berani mengusir kau. Waktu berangkat perang nanti juga kau akan kubawa serta.”

~ Aku tahu manjadi pelayan bukanlah pekerjaan yang baik, maka aku menolaknya. Dia menjadi marah dan mengancam akan memberi hukuman setimpal bila aku tetap kepala batu. Aku sudah bertekad tetap menolak biarpun akan disiksa, tak terduga lantas datang seorang penolong.” “Siapa itu penolongnya?” tanya Su-lam.

“Ialah bakal istrinya, Putri Minghui,” sahut Kausi tertawa.

“Putri Minghui juga berada di Liong-sah-tui sana?” Su-lam menegas dengan heran.

“Putri belum datang sendiri, hanya berita akan datangnya telah menakutkan Pangeran Tin-kok,” kata Kalusi. “Seorang pembantu Tin-kok melaporkan berita akan datangnya Putri Minghui itu, diberitahukan pula bahwa aku adalah bakal istri Akai yang terkenal dikalangan jago2 gelut Mongol, rupanya Tin-kok menjadi jeri dan kemudian membebaskan aku.”

“Baik juga pembantu Tin-kok itu,” ujar Su-lam.

“Dia adalah kawan baik Akai, hal ini tidak diketahui siluman buruk itu,” kata Kalusi. “Waktu ia mengantar aku keluar kemah Tin-kok, dia mengatakan padaku bahwa Akai yang minta bantuannya agar menolong aku. Sesungguhnya Putri Minghui masih jauh digurun pasir dan tidak mungkin tiba di Liong-sah-tui dalam waktu singkat.”

“Apakah rupa Pangeran Tin-kok itu sangat jelek, masakah kau panggil dioa siluman buruk?” tanya Nyo Wan tiba2.

“Mukanya hitam dan bersiung pula, mirip beruang hitam,” kata Kalusi.

“Kasihan, Putri Minghui secantik itu mesti bersuamikan orang yang buruk rupa,” ujar Nyo Wan sambil tersenyum penuh arti kepada Li Su-lam.

Muka Su-lam menjadi merah, lekas2 ia ubah pokok pembicaraan dan tanya Kalusi: “Tadi kau mengatakan Pangeran Tin-kok menaruh benci padaku, darimana kau tahu hal ini?”

“Ada suatu kejadian yang kebetulan kedengar,” jawab Kalusi. “Ketika pembantu Tin-kok itu memberi laporan, telah diberikan pula sebuah gambar. Kulihat gambar itu melukiskan engkau, katanya Khan menghendaki orang dalam gambar itu ditangkap, maka siluman buruk itupun diminta agar mengawasi orang yang terlukis itu. Katanya seorang Han yang punya kedudukan disisi Khan Agung juga minta bantuannya dengan menyediakan hadiah kepada Tin-kok.”

Dalam hati Su-lam yakin orang Han itu pasti Sia It-tiong adanya. Katanya kemudian: “Orang Han yang dimaksud adalah musuhku, dia memang berusaha membinasakan aku.”

Kalusi terkejut, katanya: “Jita demikian, janganlah Likongcu berdua menuju keselatan.” ~ Sebelah selatan adalah perbatasan kerajaan Kim, dimana pangkalan pasukan Tin-kok berada di Liong-sah- tui.

“Banyak terimakasih atas ketarangan2mu,” kata Su-lam.

“Akulah yang harus berterima kasih padamu, Lu-kongcu.” Sahut Kalusi. Lalu ia menceritakan pula cara bagaimana kepergok oleh kedua Busu Sehe tadi: “Setelah aku meninggalkan Liong-sah-tui, pagi2 tadi waktu lewat di perbatasan Sehe lantas kepergok kedua bangsat itu. Untunglah kalian telah menyelamatkan diriku.”

Karena hari sudah lewat lohor, Nyo Wan berkata: “Kalusi daerah ini adalah perbatasan maka dapatlah kau pulang dengan aman. Maafkan kami tidak antar kau, tapi ambillah kuda kami ini.” Kuda Kalusi sendiri sudah terluka oleh sambitan pisau Busu baju hitam tadi, maka Nyo Wan memberinya seekor kuda pilihan pemberian Minghui.

Kalusi mengucapkan terima kasih, baru saja ia hendak naek keatas kuda, tiba2 ia ingat sesuatu dan berkata pula: “Ci-ci, akupun ingin memberi sesuatu tanda mata padamu.”

Nyo Wan mengira nona Mongol itu hendak memberikan sesuatu tanda mata apa tak tahunya adalah sehelai saputangan. Pada ujung saputangan itu tersulam seekor elang yang indah dan hidup dengan sayap terpentang terbang di angkasa.

“Bagus sekali sulamanmu ini,” puji Nyo Wan setelah menerimanya “Akai-mu berjuluk ‘elang dari padang rumput’ , saputanganmu ini seharusnya diberikan padanya.”

“Aku sudah memberikan saputangan lain yang serupa padanya.” sahut Kalusi dengan muka merah, “Maka saputangan ini hendaklah kau simpan saja, kelak bila kebetulan bertemu dengan Akai, saputangan ini dapat digunakan sebagai pengenal. Bila kalian memerlukan bantuan Akai,tentu akan dikerjakannya bagimu.”

Baru sekarang Nyo Wan paham maksud tujuan Kalusi itu, katanya dengan tertawa: “Baiklah semoga kami akan bertemu dengan Akai dan akan kuberitahukan tentang dirimu.

Sesudah Kalusi pergi dengan tertawa Nyo Wan berkata kepada Su-lam: “Engkoh Lam, untuk menghindari cemburu bakal suami Minghui itu kepadamu, terpaksa kita harus mengambil jalan pulang dengan memutar kewilayah Sehe.”

Begitulah mereka melanjutkan perjalanan kearah barat-daya. Tidak lama haripun mulai petang. Angin mulai meniup sehingga Nyo Wan merasa kedinginan, katanya: “Perubahan hawa disini sungguh luar biasa. Siang hari panas terik, sore hari hawa sudah sedingin ini.”

“Hawa dipadang rumput daerah sini memang beginilah, setelah malam nanti bahkan hawa akan tambah dingin lagi,” ujar Su-lam. “Paling baik kalau nanti kita dapat menemukan rumah penduduk dan minta mondok semalam.”

Selama sebulan ini mereka terus mengarungi gurun dan melintasi padang rumput tanpa pernah ketemukan rumah penduduk, malam hari mereka berkemah, kehidupan demikian boleh dikata sudah biasa bagi mereka. Cuma sekarang berada didaerah yang berpenduduk, bila mereka dapat tidur nyenyak didalam rumah tentu akan terasa sangat nikmat. Apalagi sekarang mereka sudah dalam wilayah Sehe, merekapun ingin menemukan seseorang untuk diajak bicara. Maka mumpung hari belum gelap gulita, ketika ketemu sebuah rumah penduduk segera mereka mengetok pintu.

Tak terduga rumah itu ternyata tiada penghuninya, cukup lama Su-lam mengetok pintu dan tiada suara jawaban dari dalam. Ketika diintip melalui sela2 pintu, ternyata rumah itu memang kosong melompong, jangankan manusia, ayampun tiada seekor.

Sebagaimana umumnya pedusunan yang berpenduduk jarang2 setelah lama sekali baru mereka ketemukan lagi rumah penduduk yang lain, setelah pintu di-ketok2, samapi lama juga tiada suara jawaban.

“Aneh, mengapa rumah2 disini kosong semuanya?” kata Nyo Wan dengan heran. Selanjutnya beberapa rumah penduduk ditemukan lagi, tapi serupa tadi, semuanya tiada penghuninya. Sementara itu hari sudah tambah malam.

Nyo Wan merasa menggigil oleh hawa dingin yang menusuk tulang, katanya: “Engkoh Lam, memang betul kau, hawa semakin terasa dingin.”

“Jika rumah tiada penghuninya, biarlah kita gunakanbermalam saja daripada tidur berkemah,” ujar Su-lam.

“Kurang baik kukira tanpa permisi menempati rumah orang. Bila kebetulan pemilik rumah pulang tentu kita akan manjadi malu,” kata Nyo Wan. Sebagai anak keluarga kelas tinggi yang taat sopan santun, biarpun sudah hidup beberapa tahun di pegunungan sunyi tetap tak terlupakan tata adat itu. “Aku Cuma kuatir kau kedinginan, kalau kau tidak mau biarlah kita mencari suatu tempat untuk berkemah saja,” kata Su-lam.

Sementara itu angin meniup semakin kencang, udara gelap gulita tertutup awan tebal, meski tidak turun salju, tapi hawa lebih dingin daripada turun salju.

“Lihat, rumah disana ada sinar api, mungkin disana ada orang,” seru Nyo Wan tiba2.

Su-lam sangat girang, cepat mereka berlari kerumah itu. Tertampak pintu pagar setengah tertutup, didalam rumah ada api unggun, tapi tidak tampak seorangpun. Su-lam meemriksa kedalam rumah, kiranya tempat itu adalah sebuah rumah gilingan, ada batu gilingan dan banyak jerami kering.

Hanya tiada seorangpun.

“Aneh, api masih menyala, kemana pergi orangnya?” ujay Su-lam heran.

“Dsirumah ini penuh kayu dan jerami tanpa ditunggui kan mudah terjadi kebakaran?” kata Nyo Wan.

“Biar kita yang menjaga baginya,” kata Su-lam dengan tertawa.

Pada umumnya di daerah barat-laut itu satu desa Cuma ada sebuah rumah gilingan yang dimiliki secara bersama. Lantaran sudah menggigil, melihat api unggun itu, Nyo Wan lantas menghangatkan badan disamping api.

“Silahkan tidur saja, aku yang menjaga,” kata Su-lam.

“Kalau tuan rumah pulang, tentu aku akan malu. Engkoh Lam, silahkan mendongeng saja, aku tidak ingin tidur.”

“Mendongeng apa?” Aku tidak pandai bercerita. Ya, mengapa tuan rumah masih tidak nampak datang?”

“Eh, aku menjadi teringat kepada sesuatu yang menarik,” kata Nyo Wan tiba2. “Apa yang menarik? Lekas ceritakan.”

“Kalusi menyebut Pangeran Tin-kok sebagai siluman buruk sebaliknya Putri Minghui cantik molek, masakah dia sudi menjadi istri laki2 buruk rupa itu.”

“Ah, itu kan soal biasa, kenapa mesti heran? Dia terpaksa atas titah ayahnya, mau tak mau harus menurut.”

“memangnya, maka aku menjadi kuatir bila pada malam pengantin mendadak sang Putri mengamuk, kan lucu bukan?”

Su-lam diam saja tidak menanggapi. Nyo Wan seperti merasa “leluconnya” itu tidak lucu, ia menghela napas, lalu berkata pula: “Kasihan juga Putri Minghui itu, sang suami buruk rupa tidaklah mengapa, celakanya Pangeran itu adalah laki2 bejat lagi.”

“katanya kau hendak bercerita sesuatu yang menarik, mengapa kau sendiri menghela napas?” tanya Su-lam dengan menyengir.

“Engkoh Lam, Jengis khan memperlakukan kau cukup baik bukan? Dia telah menghadiahkan busur pribadinya padamu, bahkan menganugerahi kau sebagai ‘ksatria kemah emas’. Bila Pangeran konyol Tin-kok itu mati di medan perang, wah, besar harapanmu akan menjadi menantu raja Mongol itu.”

“Buset, bicara kesana kemari mengapa akhirnya aku dibawa2. Awas, akan kubikin kau kapok dan minta ampun!” habis berkata Su-lam lantas acungkan jari tangan dengan lagak hendak meng-kili2. tapi mendadak ia merandek dan mengedipi Nyo Wan, lalu megumumam: “Aneh, baru saja aku seperti mendengar suara apa2, suara kresekan yang aneh, apakah suara tikus lari?”

Sekilas pandang tiba2 Su-lam menemukan diatas lantai ada beberapa titik darah, tadinya titik2 darah itu tertutup oleh jerami, baru saja Su-lam menyomot segenggam jerami untuk umpan api sehingga titik2 darah itu kelihatan sekarang.

Seketika timbul rasa curiga Su-lam, baru saja ia bermaksud menyingkap onggokan jerami untuk memeriksakannya, tiba2 terdengar suara detakan kaki kuda yang riuh sedang mendatang dengan cepat.

Air muka Nyo Wan berubah, katanya dengan suara tertahan: “Apakah orang2 Sehe itu datang kembali untuk menuntut balas? Bagaimana baiknya, engkoh Lam? Sembunyi atau labrak mereka?” “Coba lihat saja apa maksud kedatangan mereka?” sahut Su-lam. “Bisa jadi orang2 lain yang lalu disini.”

Tidak lama kemudian suara derapan kuda tadi mendadak lenyap, nyata ada lima-enak penunggang kuda yang serentak berhenti di depan rumah gilingan itu. Rupanya merekapun sudah melihat kuda2 Su-lam yang tertambat di pagar, terdengar seorang diantaranya berseru: “Hah, boleh juga kedua ekor kuda ini.”

Seorang lagi berkata: “Didalam gilingan ada sinar api, pemilik kuda2 ini tentu berada didalam, coba kita tanya mereka.”

Sudah beberapa tahun Nyo Wan tinggal di Mongol, meski kedua orang itu bicara dalam bahasa Sehe, namun pembicara yang terakhir itu jelas berlogat Mongol.

Nyo Wan sangat heran, Mongol dan Sehe adalah negeri2 yang bermusuhan, mengapa Busu dari kedua negeri itu bergail menjadi satu.

Sementara itu orang2 itu sudah menolak pintu dan melangkah masuk. Meski mereka bendandan dengan seragam Busu tapi kedua Busu Sehe yang ditemui Su-lam siang tadi tidak terdapat diantaranya. Maka rada legalah hati Su-lam dan Nyo Wan.

“Siapa kalian? Datang darimana?” bentak Busu yang berlogat Mongol tadi.

“Kami kakak beradik adalah orang Han yang bertempat tinggal disekitar Liong-sah-tui, kami mengungsi kesini untuk menghindarkan peperangan.” Sahut Su-lam.

Karena perjalanan yang cukup lama, pakaian Su-lam berdua sudah kotor dan ada bagian yang robek sehingga tampaknya memang mirip kaum pengungsi. Cuma dasarnya Nyo Wan memang cantik sehingga sukar menutupi wajahnya yang menarik itu.

Busu berlogat Mongol itu merasa sangsi, katanya pula: “Apa benar kalian kaum pengungsi dari Liong-sah-tua? Apakah tidak kutemukan pasukan besar Mongol?”

“Kami selalu menghindarinya, untung tidak kepergok,” kata Su-lam.

“Hm, prajurit Mongol kan bukan setan iblis, kenapa kalian mesti takur? Huh, kukira kalian ini tidak mirip pengungsi punya kuda sebaik itu.” Timbrung seorang Busu Sehe. Kulihat kedua ekor kuda diluar itu adalah kuda pilihan sedikitpun berharga ratusan tahil perak seekor.”

“Betina inipun sangat menggiurkan bawa pulang saja dia.” Sambung Busu Sehe yang lain.

“Nanti dulu!” mendadak Busu berlogat Mongol tadi membentak. Agaknya dia adalah pemimpinnya sehingga Busu2 yang lain menjadi mengkeret oleh bentakannya.

Mendadak, nada Busu berlogat Mongol itu berudah, tangannya sambil tunjuk busur besi yang dibawa Su-lam itu: “Apakah busur ini milikmu?”

Tergerak hati Su-lam, ia pikir orang ini tentu pernah melihat busur baja milik Jengis Khan ini, tapi dia kenal siapa aku, maka dapat dipastikan dia bukan anak buah Cepe yang dikirim untuk menangkap diriku.

Setelah mengetahui seluk-beluk pihak lawan, kemudian Su-lam menjawab. “Busur ini pemberian seorang temanku.”

Tampaknya Busu Mongol itu tambah kaget, tanyanya pula dengan ragu2: “Pemberian temanmu? Siapakah temanmu itu? Masakah dia memberikan busur ini kepadamu?”

“Benarm temanku ini baru kukenal di Holin beberapa bulan lalu,” sahut Su-lam. Tentang siapa dia tidaklah enak kukatakan, cuma dia cukup menghargai diriku sehingga menghadiahkan busur pribadinya ini, malahan memberikan sebuah medali emas lagi padaku.” “Medali emas? Dimana? Coba lihat! Pinta Busu itu

Su-lam sudah bertekad akan menyerempet bahaya, ia pikir bila Busu itu tidak mengetahui dirinya sedang buron, tentu dia tak berani membikin susah padanya bila sudah melihat medali emas. Maka medali emas pemberian Minghui itu lantas dikeluarkannya dan berkata: “Boleh kau melihatnya, tapi jangan sampai orang lain juga mengetahui aku memegang medali emas ini.” Dibalik kata2nya se- akan2 memberi tanda bahwa iapun sudah tahu siapa Busu Mongol itu.

Keruan Busu Mongol itu ter-sipu2, cepat dijawabnya: “Ya, pahamlah aku, simpan kembali saja medali emas itu. Kita tahu sama tahu, aku takkan membocorkan rahasiamu, kau pun tidak perlu menyiarkan tentang pertemuanmu dengan aku. Kukira kau tentu paham maksudku.”

Kiranya Busu Mongol ini mempunyai tugas rahasia di negeri Sehe. Beberapa Busu Sehe itu telah kena dibeli olehnya dan telah berkomplot. Setelah melihat medali emas dari Su-lam, Busu Mongol itu mengira Li Su-lam juag punya tugas rahasia seperti dia sendiri, hanya tugas masing2 berbeda, maka perlu sama2 pegang rahasia, kalau perlu saling membantu malah.

Busu Mongol itu pikir orang ini punya medali ksatria kemah emas, memagang busur pemberian Khan pula, tentu dia adalah utusan pribadi Khan, sebaliknya dia sendiri Cuma anak buah Mufali, jelas kedudukannya jauh dibawah Su-lam, sebab itulah dia tidak berani sembrono lagi kepada Su- lam.

Sebaliknya beberapa Busu Sehe itu tidak kenal medali emas “Ksatria kemah emas” segala,mereka malah mengomel, katanya pengungsi rudin masakah membawa emas begitu, tentu kedua muda mudi ini bukan manusia baik2.

Busu Mongol itu lantas membentak dengan mendelik: “Tutup bacotmu! Kalian buta semua, lekas kalian minta maaf!”

“Tidak apa, tidak tahu tidaklah salah, boleh suruh mereka pergi saja, aku mau tidur,” ujar Su-lam dengan tertawa.

“Ya, ya,” sahut Busu Mongol itu ter-sipu2. Lalu ia memberi tanda sambil membentak lagi: “Lekas enyah semua!”

Kuatir titik2 darah dilantai tadi dilihat oleh Busu Mongol itu, maka Su-lam sengaja duduk bersandar dionggokan jerami untuk menutupi noda darah itu, katanya: “Maaf aku tidak mengantar!”

“Orang Sehe memang kasar2, harap saudara jangan marah,” kata Busu Mongol itu akhirnya. “Cuma kami memang sedang memburu seorang penting, orang ini berusia 30-an, pada pipi kiri ada bekas luka panjang, bila ketemu orang ini harap saudara bantu membekuknya.”

“Baik, akan kuperhatikan bagimu,” jawab Su-lam.

Seperginya Busu Mongol itu dengan tertawa Nyo Wan berkata: “Tak nyana medali inipun berguna meski berada dinegeri Sehe. Cuma melihat sikapmu tadi, agaknya didalam rumah ini benar2 ada orang bersembunyi. Apakah tadi kau menemukan sesuatu?”

Kiranya Nyo Wan tidak melihat titik2 darah tadi. Ternyata Su-lam tidak menjawabnya, tapi lantas berseru: “Silahkan keluar kawan!”

Belum lenyap suaranya, tiba2 terdengar suara mendesis, mendadak sebuah piau telah menyamber keluar dari onggokan jerami.

Untung sebelumnya Su-lam sudah siap sedia, cepat ia mendorong Nyo Wan disebelahnya, piau itu melayang lewat disebelah telinga Nyo Wan, dari bau langu yang tersendus, Nyo Wan yakin piau itu pasti berbisa.

Ketika menoleh Nyo Wan melihat seorang merangkak keluar dari onggokan jerami, segera Nyo Wan berseru memperingatkan Su-lam berbareng ujung pedangnya diancamkan pada leher orang itu sambil membentak: “Siapa kau!”

“Hm, untung kalian tidak mati, boleh kau bunuh saja, kenapa banyak omong?” sahut orang itu dengan serak.

Setelah rada tenang dan memperhatikan, ternyata orang sekujur badan berlumuran darah, usianya antara 30-an, pada pipi sebelah kiri ada bekas luka panjang.

Sadarlah Nyo Wan, cepat ia tarik kembali pedangnya, katanya: “Tentunya kau adalah buronan yang dicari orang tadi bukan?” Kami telah menyelamatkan kau, kenapa kau malah memaki kami?” “kalian adalah serigala satu sarang dengan orang2 tadi, memangnya kau sangka aku tidak tahu?” jengek orang itu. “Hm, jangan kalian harap dapat menangkap aku, boleh majulah, paling sedikit seorang diantara kalian harus binasa bersama aku.”

Ternyata tangan orang itu menggenggam sebuah piau pula dan mengeluarkan bau langu seperti piau tadi, jelas dia sudah bertekad akan mati bersama lawan bilamana Su-lam dan Nyo Wan mendekatinya.

Melihat piau yang dipegang orang itu serupa dan sebentuk dengan Tok-liong-piau milik To Pek- seng yang khas itu, Su-lam menjadi sangsi, katanya dengan tertawa: ”Kawan kau telah salah paham. Sejak tadi aku sudah mengetahui tempat sembunyimu, kalau aku mau menjual kau masakah kau bisa selamat sampai sekarang? Tempat ini bukan tempat aman bagimu, sebaiknya lekas kau katakan terus terang, pernah hubungan apa kau dengan To Pek-seng. Apa kau kenal Song Thi-lun dan istrinya?”

“Hm,” kembali orang itu mendengus, “tidak perlu bermain lidah untuk memancing pengakuanku. Aku sudah melihat medalimu tadi, memangnya kau kira aku bisa kautipu?”

Rupanya didalam tempat sembunyinya tadi, orang itu telah mendengar semua percakapan Li Su- lam dengan NyoWan. Ia mendengar Nyo Wan bicara tentang Putri Minghui, lalu dengar Su-lam bercerita tentang hadiah busur baja dari Jengis Khan itu, kemudian melihat pula medali emas, tentu saja ia curiga dan menganggap Li Su-lam sebagai pengkhianat yang menjual diri kepada orang Mongol. Sebab itulah betapapun Su-lam memberi penjelasan tetap tak dipercaya oleh orang itu.

Selagi kehabisan akal, tiba2 terdengar pula suara derap kaki kuda yang riuh sedang mendatangi pula. “Jangan2 Tartar tadi tidak percaya padamu dan datang lagi kembali,” kata Nyo Wan kuatir. “Bukan rombongan tadi, yang datang sekarang hanya tiga penunggang kusa,” ujar Su-lam. “sekarang baru kelihatan belangmu, coba ingin kulihat apa yang akan kau katakan lagi!” jengek orang tadi.

“Kau jangan bingung, lekas sembunyi lagi, akan kubereskan untukmu,” kata Su-lam. Belum lenyap suaranya, ketiga penunggang kuda sudah sampai didepan rumah gilingan, seorang diantaranya berteriak: “Disinilah bocah itu!”

Ketiga orang yang datang itu terdiri dari seorang Lama, seorang laki2 dengan wajah bengis, seorang lagi berbadan pendek, dari muka dan dandanannya dapat dipastikan adalah orang Han.

Laki2 bermuka bengis itu lantas berteriak: “Haha, itu dia, sembunyi disitu bangsat cilik itu!” Rupanya orang yang luka tadi belum sempat sembunyi sehingga terlihat dengan jelas dibawah cahaya api. Saat itu Li Su-lam telah menyingkir kesudut ruangan, ketika mendadak ia muncul dan siap diambang pintu, laki2 itu menjadi kaget dan membentak: “Siapa kau?” Apa kau minta mampus? Lekas enyah!” ~ Dia bicara dalam bahasa Sehe sehingga tidak diketahui apa artinya oleh Li Su-lam.

Sebaliknya laki2 pendek tadi dapat mengenali Li Su-lam adalah orang Han, ia terkesiap dan berseru: “Nanti dulu, sobat dari garis manakah kau?”

Si pendek itu adalah orang kangouw ulung, dia menduga Li Su-lam pasti bukan sembarang orang, maka suruh laki2 Sehe jangan bertindak dulu. Namun laki2 Sehe itu tidak ambil pusing padanya, dengan marah2 ia lantas memburu kearah Su-lam.

“Hm, apa kau tuan rumah disini, mengapa suruh kami pergi?” jengek Nyo Wan mendadak. Tadi dia berdiri dibelakang Su-lam, dalam kegelapan laki2 Sehe itu tidak memperhatikan dibalik pemuda itu masih ada seorang lagi.

Melihat kecantikan Nyo Wan, laki2 Sehe itu terbelalak matanya, cepat ia menyingkir kesamping agar bisa memandang Nyo Wan dengan jelas, lalu katanya pula dengan suara lunak: “Perempuan muda, yang hendak kami tangkap adalah bangsat cilik ini, boleh kau menyingkir saja disana.” Sipendek mendongkol akan kedunguan kawannya itu, kalau kedua muda-mudi itu berada bersama bocah she Liong yang sedang dicari itu, mustahil mereka tiada sangkut paut satu sama lain dan mau tinggal diam tidak ikut campur. Ia tidak tahu bahwa laki2 Sehe itu bukanlah dungu, soalnya ia sudah kesemsem oleh kecantikan Nyo Wan sehingga otaknya sudah keblinger.

Lama yang berkasa (jubah) merah sejak datang tadi tidak bersuara, kini mendadak ia mendekati Su- lam, lalu tanya dalam bahasa Han yang kaku: “Apakah kau Li Su-lam yang buron dari Holin?” ~ Dari logatnya jelas Lama itu adalah orang Mongol. Keruan Su-lam terkejut. Ia tidak pernah melihat Lama ini, tapi dapat menyebut namanya. Ia menduga Lama itu tentu datang dari Liong-sah-tui, mungkin ditempat Pangeran Tin-kok itulah dia telah melihat gambarnya.

Karena sudah dikenali, Su-lam juga tidak perlu pura2 lagi, dengan angkuh ia menjawab: “Benar, aku Li Su-lam adanya. Aku tidak senang tinggal di Holin, maka aku bebas untuk kemanapun. Kau ingin apa?”

“Kau tidak suka tinggal di Holin, tapi Khan inginkan kau kembali kesana!” seru Lama itu dengan tertawa. “Haha, malam ini kita rupanya ketumplek rejeki besar. Bocah ini adalah buronan Khan, mungkin jauh lebih penting daripada bangsat cilik she Liong. Biar bocah ini serahkan padaku saja, kalian yang tangkap bangsat she Liong itu.”

Habis berkata Lama itu terus putar tongkatnya yang bergelang sembilan dan menyodok iga Li Su- lam. Dalam sekejap itu terdengarlah suara mendering nyaring disertai mengkilatnya sinar pedang. Lama itu rada tercengang ketika tongkatnya kena ditangkis oleh pedang Li Su-lam . Begitu tongkaynya bergerak pula, segera ia menyerampang kaki lawan.

Mendadak Su-lam angkat kakinya terus menginjak “sret”, berbareng pedangnya menusuk leher lawan. Berbahaya sekali jurus yang dimainkan Li Su-lam itu, bila tenaga kakinya tidak kuat menginjak tongkat timbel si Lama, seketika kakinya akan patah. Sebaliknya kalau Lama itu tidak mampu menghindar, pasti lehernya akan tembus dan binasa.

Dalam detik yang menentukan mati hidup itulah, kedua pihak telah sama2 memperlihatkan kemahiran masing2. Mendadak Lama kasa merah mendorongkan tubuhnya kebelakang sambil membentak: “Roboh!” ~ Tongkatnya terus mengungkit, tertampaklah Li Su-lam mengapung ke atas, dia tidak roboh, tap malah mencelat keatas.

Rupanya si Lama bermaksud membikin Li Su-lam terguling dalam keadan kehilangan keseimbangan badan. Tak terduga Li Su-lam memiliki ginkang yang tinggi, ia malah meloncat ke atas dengan tenaga ungkitan lawan. Si Lama sendiri meski sempat terhindar dari leher tertembus, tidak urung pecinya jatuh terserempet pedang. Dalam gebrakan ini terang si Lama telah kalah setengah jurus.

Dalam pada itu dengan cepat luar biasa, Li Su-lam yang mengapung di udara itu terus menggempur pula ke bawah. Cepat si Lama menangkis dengan tongkatnya. Pedang Su-lam menutul batang tongkat lawan, kembali ia berjumpalitan di atas, lalu tancap kaki dengan tegak diatas tanah.

Melihat beberapa kali jurus pedang Li Su-lam itu, laki2 pendek tadi terkejut, serunya: “Kiranya adalah murid Kok Peng-yang. Baik, aku ingin berkenalan dengan kau punya Tat-mo-kiam-hoat.” Meski perawakan orang itu pendek kecil, tapi sangat gesit, tahu2 ia sudah menubruk maju, senjatanya terdiri dari sepasang Boan-koan-pit, ditengah berkelebatnya sinar pedang dan bayangan tongkat tiba2 iapun menerjang maju. Kedua senjata bentuk pensil menyerang sekaligus yang satu menotok “Ki-bun-hiat,” yang lain mengarah “Hian-hay-hiat”. Kedua tempat ini adalah hiat-to mematikan di tubuh manusia.

“Ilmu Tiam-hiat yang keji!” bentak Su-lam. Cepat tubuhnya berputar, sekaligus ia sampuk tongkat di Lama, berbareng menangkis pula totokan pensil si pendek.

“Bagus!” mau tak mau di pendek memberi pujian atas ketangkasan lawan.

Nyo Wan bermaksud membantu Su-lam, tapi laki2 Sehe yang bengis tadi telah mulai memburu ke tempat sembunyi orang yang terluka tadi.

“Cegah dia!” seru Su-lam.

Tanpa ayal Nyo Wan lantas menjulurkan pedangnya sambil membentak: “Mundur sana!”

Semula laki2 Sehe itu anggap sepele kepada sinona, dengan cengar cengir ia menjawab: “Eh, nona cantik, kenapa begini galak?” ~ Dengan tangan kosong ia terus hendak merebut pedang Nyo Wan. Orang itu mengira Nyo Wan cuma nona cilik yang masih muda belia, betapapun kepandaiannya juga terbatas. Tak terduga ilmu pedang Nyo Wan adalah ilmu pedang Go-bi-pay ajaran kakaknya sendiri. Ilmu pedang Go-bi-pay mengutamakan kegesitan dengan gerak serangan yang lincah dan aneh2. Mendadak ujung pedang miring kesamping tahu2 menabas kembali dari arah yang tak tersangka. Sinar pedang berkelebat, sepotong jari laki2 itu telah tertabas.

Keruan laki2 Sehe itu berjingkrak kesakitan, kaget dia dan gusar pula. Sebaliknya kawannya orang Han malah tertawa dan berkata: “Makanya jangan kau sok merayu segala. Paling perlu bekuk dulu betina itu.”

Orang Sehe itu lantas membentak dengan murka: “Kurang ajar! Masakah kau mampu lolos dari genggamanku?” ~ Segera ia lolos goloknya terus menubruk ke rah Nyo Wan disertai pukulan dan bacokan. Rupanya ia telah menerima pendirian kawannya untuk membekuk Nyo Wan sekalipun nanti mesti melukai si nona.

“Biar kaupun kenal kelihaian nonamu!” jengek Nyo Wan, dengan gerak yang lincah pedangnya menyampuk golok lawan ke samping, berbareng ujung pedang terus menabas pergelangan lawan. Semula laki2 Sehe itu anggap dirinya terlalu gegabah sehingga dilukai oleh Nyo Wan, ia tidak percaya nona cilik secantik ini mempunyai kepandaian tinggi. Tapi sekarang dia baru tahu rasa oleh serangan Nyo Wan yang hebat itu. Lekas2 ia menggeliat, menyusul sebelah kakinya lantas menendang. Terdengar suara, “bret”, sarung tangan kulit laki2 Sehe itu tergores oleh ujung pedang, sebaliknya karena tendangan orang cukup ganas, terpaksa Nyo Wan menghindarinya. Sesudah itu keduanya lantas merapat untuk bergebrak lagi.

Setelah dua kali kecundang, orang Sehe itu tiak berani sembrono lagi. Nyo Wan juga tidak berani gegabah karena tahu tenaga lawan jauh lebih kuat. Yang satu menang kuat dalam hal tenaga, yang lain lebih gesit dan bagus ilmu pedangnya, meskinya sukar menentukan kalah menang dalam waktu singkat. Tapi lantaran sekali gebrak laki2 Sehe itu sudah kecundang dengan terpotong sebuah jarinya, mau tak mau banyak mengurangi ketangkasannya, maka dalam beberapa jurus kemudian ia menjadi kewalahan malah diserang Nyo Wan secara gencar.

Disebelah sana keadaan Li Su-lam juga terdesak karena satu harus lawan dua. Laki2 pendek itu sangat lincah, sepasang senjata pensil berputar cepat dan berani menyusup maju sitengah berkelebatnya sinar pedang Li Su-lam.

Dalam dunia persilatan adalah pameo yang menyatakan “makin pendek, makin berbahaya”, yang dimaksudkan semakin pendek senjata yang digunakan semakin berbahaya serangannya. Nyatanya Boan-koan-pit yang di pakai itu panjangnya Cuma dua kaki, tapi jauh lebih sukar dilayani dibanding dengan tongkat si Lama yang panjangnya lebih lima-enam kaki. Serangan dari jarak dekat itu selalu mengincar Hiat-to penting ditubuh Li Su-lam, sedikit meleng saja tentu bisa celaka. Namun serangan tongkat si Lama ternyata mempunyai caranya sendiri. Terdengar suara gemerincing dari sembilan gelang yang terpasang diujung tongkat itu semakin nyaring dan mengacaukan pikiran Li Su-lam. Beberapa kali hampir2 saja ia kena ditonjok oleh tongkat lawan itu.

Melihat Su-lam terdesak, Nyo Wan menjadi kuatir. Segera ia melancarkan serangan susul menyusul sehingga laki2 Sehe tidak mampu menangkis dan terpaksa melompat mundur. Kesempatan ini lantas digunakan Nyo Wan untuk menyelinap lewat dan bergabung dengan Li Su-lam.

Dengan posisi dua lawan tiga keadaan mereka menjadi lebih baik, tapi tetap terdesak dibawah angin. Tenaga Nyo Wan lebih lemah, belasan jurus lagi ia sudah mulai berkeringat dan ter-engah2. “Haha, binasakan yang laki, tinggalkan perempuannya untukku,” seru laki2 Sehe itu.

“Hato Siangjin adalah orang suci, akupun tidak ingin rebutan perempuan dengan kau, kenapa kau tidak sabaran kan akhirnya pasti milikmu,” ujar laki2 Han itu dengan tertawa.

Begitulah kedua orang ber-olok2 sendiri se-akan2 Nyo Wan sudah pasti akan tertawan sebentar lagi. Keruan hampir2 meledak jantung Nyo Wan saking gusarnya.

Pertarungan diantara jago2 silat paling pantang naik pitam, tapi saking gemasnya sekaligus Nyo Wan telah melancarkan belasan kali tusukan, namun semuanya dapat ditangkis oleh senjata pensil laki2 Han itu. Sedangkan laki2 Sehe itu menggunakan kepandaiannya bergulat pula, ia melangkah maju hendak mencengkeram, untung luput. Berbareng Li Su-lam sempat memaksa mundur orang Sehe itu setelah pedangnya menangkis tongkat si Lama.

Dalam keadaan terdesak dan semakin berbahaya itu, tiba2 terdengar suara kresekan, sekilas Su-lam melihat laki2 yang luka itu sedang merangkak keluar dari tempat sembunyinya. Su-lam terkejut, ia pikir orang ini terluka parah, kalau merangkak keluar berarti mengantarkan nyawa belaka. Tapi apa daya, terpaksa Su-lam balas menyerang mati2an dengan harapan dapat merintangi ketiga laan agar mereka tidak sempat menarik diri untuk membunuh buronan terluka itu. Dengan me-rangkak2 akhirnya laki2 terluka itu dapat mencapai ambang pintu. Si Lama tidak berani menarik diri dibawah serangan pedang Su-lam yang gencar, ia hanya berteriak: “Jangan sampai bangsat itu lari!”

“Jangan kuatir Siangjin, biar aku yang bekuk dia,” kata laki2 Han. Kedua pensilnya bergerak dan menotok kanan kiri, tampak dada Su-lam terancam, tapi tahu2 pensilnya memutar balik kearah Nyo Wan. Terpaksa Nyo Wan mengegos kesamping, kesempatan ini segera digunakan orang Han itu untuk melayang lewat samping Nyo Wan.

Karena mengira buronan she Liong itu sudah terluka parah, tentu dengan mudah dapat dibekuk. Habis itu masih bisa kembali membantu kedua kawannya membekuk Li Su-lam dan Nyo Wan. Sebagai jago kangouw ulung, orang itu tidak berani gegabah walaupun pihak lawan jelas terluka parah. Maka sebelah pensilnya disimpan, hanya sebuah pensil lain yang masih dipegangnya, setiba disamping buronannya segera ia mencengkeram. Rupanya ia tidak mau menikam lawannya dengan pensil saja sebab kuatir lawan yang terluka itu akan terus binasa.

Ia sudah siap siaga, tapi toh masih masuk perangkap laki2 terluka itu. Ditangan orang itu sudah tergenggam sebuah Tok-liong-piau, ketika lawan mencengkeramnya segera iapun sambut dengan tangannya, “plak”, ujung Tok-liong-piau melukai telapak tangan orang han itu. Nyata meski memang betul buronan she Liong itu terluka tapi keadaannya yang parah itu hanya buatan belaka, hanya pura2 saja.

Keruan orang han itu mengerang kesakitan, pensil ditangan kiri terus menikam kebawah, namun sudah terlambat. Bilamana sejak semula ia menotok Hiat-to lawan dengan senjatanya tentu lawan tak bisa berkutik. Sekarang dia baru menggunakan pensilnya, tapi baru saja pensilnya bergerak, mata sudah ber-kunang2.

Kiranya racun Tok-liong-piau sangat lihai, selai masuk darah seketika pernapasan sang korban terganggu. Dalam keadaan demikian tikaman pensilnya menjadi meleset, laki2 terluka itu sempang menggelinding kesamping dengan sisa tenaganya yang masih ada.

Orang han itu menjadi sempoyongan, Boan-koan-pit yang dipegangnya itu jatuh kelantai. Laki2 terluka itu cepat jemput pensil itu, disambitkan kearah lawan sambil membentak: “Terima kembali barangmu sendiri!” ~ Kontan orang Han itu Terguling.

Laki2 she Liong yang terluka itu merangkak kesamping orang Han itu, ejeknya: “Kau bermaksud mencelakai aku, sekarang baru kau tahu rasanya Tok-liong-piau. Bagaimana enak tidak?”

Racun Tok-liong-piau kini telah bekerja hebat ditulang orang Han itu, dalam badannya terasa sakit ngilu laksana di-gigit2 oleh be-ratur2 ekor ular kecil. Dengan mandi keringat dingin menahan derita orang Han itu berteriak Liong-ya aku mohon padamu, lekas kau bunuh aku saja.

“Bunuh kau?” Hm, masakah begitu enak?” jawab orang she Liong. “Bukankah kau murid Yang Thian-lui? Dimanakah jahanam gurumu itu? Lekas katakan.”

“Guruku sudah lama pulang ke Taytoh (ibukota Kim) untuk merawat lukanya,” sahut orang Han itu. “Hm, jadi kalian guru dan murid telah bersekongkol dengan Kim, sekarang mulai main mata lagi dengan Tartar Mongol,” jengek laki2 she Liong.

“Kalau berani boleh kau cari saja guruku, buat apa kau hanya menyiksa aku?” teriak orang Han. “Aku mohon lekas kau bunuh aku saja.”

“Kenapa buru2, kau masih ada waktu setengah jam, kalau racun sudah menyerang jantungmu barulah kau akan binasa,” dengus orang she Liong.

“Tapi tapi aku tidak tahan lagi!” orang itu merintih.

“Yang mencelakai guruku selain bangsat tua she Yang, siapa lagi komplotannya? Didalam Pang kami siapa2 saja yang menjadi mata2 kalian? Lekas kau mengaku dan aku akan membereskan jiwamu secara cepat.”

Ia mengira orang itu pasti akan mengaku karena tidak tahan siksaan racun Tok-liong-piau, tak terduga orang itu mendadak berteriak: “Aku toh tak bisa hidup lagi, apa yang kau bisa perbuat atas diriku? Hm, bangsat she Liong, jangan kau mimpi!” ~ se-konyong2 darah muncrat dari mulutnya sehingga kepala dan muka laki2 she Liong berlumuran darah.

Rupanya orang Han itu tidak ingin menderita lebih lama, maka dengan nekat ia menggigit putus lidah sendiri sehingga buyarlah tenaga dalamnya, racun juga lantas meluas dengan cepat, seketika ia terkapar binasa.

Darah yang disemburkan itu berbisa dan membasahi muka orang she Liong itu, walaupun tidak membahayakan jiwanya, tapi dasarnya ia sudah terluka berat, kena disemprot oleh darah yang berbau amis lagi , keruan ia tambah payah. Dalam hati ia hanya berharap sang Sumoay bisa lekas datang.

Sementara orang she Liong itu menanyai korbannya, disebelah sana si Lama dan jago Sehe juga tak bisa berkutik meski ada maksud mereka hendak menolong kawannya, tapi mereka dilabrak Su-lam dan Nyo Wan dengan gencar.

Sebagai badai membara, pedang Nyo Wan menyerang tanpa kenal ampun. Mendadak sinona membentak: “Kena!” ~ Sret, pedang menembus leher jago Sehe itu, ketika pedang ditarik kembali, berlumuran darahlah batang pedangnya.

Melihat kawannya terbunuh, didengarnya pula jerit ngeri kawannya orang han tadi, keruan si Lama menjadi pecah nyalinya, sekuat tenaga ia coba bertahan. Dibawah sinar api dilihatnya pedangnya Nyo Wan yang merah berlumuran darah itu menyamber lagi kearahnya, seketika semangat si Lama se-akan2 terbang ke-awang2, diam2 ia mengeluh: “Matilah aku!”

Tapi jago silat pada umumnya tetap punya keinginan hidup meski menghadapi detik terakhir, secara otomatis si Lama juga meronta sekuatnya untuk mencari hidup. Saat itu tongkat si Lama sedang menahan pedang Li Su-lam sehingga tidak sempat ditarik kembali untuk menangkis pedang Nyo Wan, tapi sebelah kakinya lantas digunakan menendang senjata lawan itu.

Dengan gerak serangan Nyo Wan dan tenaga yang dia gunakan mestinya kaki si Lama dapat tertabas kutung, si Lama sendiri juga menginsyapi resiko ini. Tak tersangka tendangannya itu ternyata membawa hasil, “trang”, pedang Nyo Wan tepat tertendang jatuh, hal ini sungguh diluar dugaan si Lama.

Kiranya selama hidup Nyo Wan baru pertama kali ini ia membunuh orang, pada waktu pedangnya menembus leher jago Sehe tadi Nyo Wan dalam keadaan gusar dan gemas. Tapi setelah itu, darah yang berlumuran itu telah mmbikin gugup padanya. Maka ketika dia menyerang si Lama, sesungguhnya hatinya sudah lemas, tenaganya kurang.

Tentu saja si Lama sangat girang, cepat ia menerjang kearah Nyo Wan. Serentak Nyo Wan tersadar juga setelah pedangnya jatuh dan cepat berkelit kesamping.

“Lari kemana!” bentak Su-lam sambil mengudak.

Saat itu si Lama sudah melalui Nyo Wan, mendadak ia guncangkan tongkatnya kebelakang, terdengarlah suara mendering nyaring, sembilan glang tembaga sekaligus melayang tiba. Kiranya gelang tembaga yang berada pada ujung tongkatnya itu dapat digunakan sebagai senjata rahasia, biasanya tidak sembarangan digunakan pada saat sekarang terpaksa ia mengeluarkan serangan terakhir itu.

Nyo Wan sudah kehilangan pedang, kuatir dia tidak mampu menghindar, cepat Su-lam putar pedangnya secepat kitiran untuk melindungi Nyo Wan. Terdengarlah suara dering nyaring mengilukan, sembilan gelang itu terpukul jatuh semua, tapi Lama itupun sudah lari. “Bagaimana kau, Wan-moay?” tanya Su-lam.

Nyo Wan menjemput kembali pedangnya dan membersihkan lumuran darah, jawabnya: “Tidak apa2, aku Cuma gugup karena membunuh orang untuk pertama kalinya.”

“Asal kau berpegang pada pokok pikiran: Bila aku tidak membunuh dia, akulah yang dibunuh olehnya. Dengan demikian kau tentu takkan takut atau gugup lagi.”

Lalu Su-lam membangunkan laki2 she Liong itu dan memberikan obat luka padanya.

“Sobat, tak perlu kau repot2, aku sudah tidak berguna lagi, Cuma ........Cuma ” agaknya laki2

itu ingin memberi pesan apa2, tapi tenaga habis, suaranya menjadi ter-putus2.

“Wan-moay kita masih punya sepotong jinsom, lekas kau keluarkan dan potonglah kecil2,” kata Su- lam.

Nyo Wan mengiakan dan cepat mengeluarkan jinsom yang dimaksud dan dipotong menjadi lapisan kecil2, lalu dijejalkan mulut orang itu. Khasiat jinsom paling baik untuk memulihkan tenaga dan memupuk kekuatan.

Selang tak lama. Terbangkitlah semangat orang she Liong itu, katanya: “Liong Kang mengucapkan terima kasih atas pertolongan kalian. Kiranya engkau adalah murid Kok-tay-hiap yang bernama Li Su-lam.

“Benar,” kata Su-lam. “Sekarang dpatlah kiranya kau mempercayai aku? Agaknya sebelum ini kau pernah mendengar namaku?”

“Ya, nona beng mengatakan kau adalah orang baik, tampaknya Beng-tayhiap yang slah paham padamu,” ujar Liong Kang dengan menghela napas.

Kejut dan girang Su-lam mendengar itu, ia menegas: “Jadi engkau bertemu dengan Beng-tayhiap?” “Benar. Beng-tayhiap dan putrinya baru pulang dari Mongol dan sengaja menyampaikan kabar ke gunung kami serta memberikan Tok-liong-piau, dari itu kami mengetahui suhu, beliau sudah mengalami nasib malang.”

“O, kiranya kau adalah murid To Pek-seng, To-tayhiap , pantas kau mahir menggunakan Tok-liong- piau,” kata Su-lam.

Nyo Wan lantas menyela: “Dan sekarang dimanakah Beng-tayhiap?” ~ Yang ditanya Beng-tayhiap, tapi secara tidak langsung yang ditanya sebenarnya keadaan Beng Bing-sia.

Beng-tayhiap ada urusna penting dan harus cepat kembali ke Kanglam, maka sesudah bermalam, esoknya beliau lantas berangkat sendirian.”

“Berangkat sendirian,” jawaban ini membikin Nyo Wan ingin tahu, lalu dimanakah Beng Bing-sia sekarang? Tapi kuatir terlalu menyolok, terpaksa ia tidak jadi tanya lebih jauh.

Dalam pada itu Su-lam telah bertanya pula: “Liong-heng, kedatanganmu ini tentunya bermaksud menuntut balas bagi gurumu. Apakah kau Cuma datang sendiri?”

“Waktu Beng-tayhiap menyampaikan berita duka kepada kami, saat itu hanya aku dan seorang sute yang tinggal di Sanche (pangkalan di gunung), saudara2 seperguruan yang lain sedang bertugas keluar semua. Terpaksa kami berdua lantas berangkat sembari mengirim kabar kepada saudara2 seperguruan yang lain. Kami berangkat berempat, aku dan sisute (adik perguruan ke empat) dan dua Thaubak. Tapi sekarang hanya tinggal aku seorang.” ~ bicara sampai disini wajah Liong Kang menjadi sangat pucat.

Su-lam menduga teman2nya tentu telah mengalami bencana ditengah jalan, maka ia tidak tanya lebih lanjut. Ia menyodorkan kantong air kemulut Liong Kang dan berkata: “Minumlah sedikit, nanti saja bicara lagi.”

Setelah minum seteguk, lalu Liong Kang menyambung ceritanya: “Kami bertekas menuntut balas bagi Suhu, tapi sebelum kami mengetahui siapakah musuh pembunuh Suhu itu, ditengah jalan kami sudah dikuntit oelh kawanan keparat ini. Coba kalau Li-kongcu tidak menolong mungkin saat ini jiwaku sudah melayang. Maafkan aku tidak mampu memberi hormat padamu, terpaksa hidup lain jaman barulah aku dapat membalas budimu.”

“Kau jangan kuatir, kau tentu akan sembuh,” ujar Su-lam. “Sebaiknya kita cari suatu tempat untuk merawat lukamu, kemudian akan kucarikan tabib bagimu.” ~ Dengan jinsom tadi Su-lam yakin jiwa Liong Kang akan dapat dipertahankan dua hari lamanya.

Lionh kang tersenyum getir, katanya: “Aku cukup tahu keparahan lukaku, mumpung aku masih bernapas, biarlah kuceritakan segala apa yang dapat kukatakan padamu.”

Karena Liong Kang tak mau diajak berangkat, terpaksa Su-lam berkata: ‘Baiklah, jika demikian boleh kau istirahat disini. Nanti saja bercerita pula.”

Namu Liong Kang melanjutkan ceritanya lagi: “Setelah ketiga kawanku gugur dan akupun terluka parah, tapi akhirnya dapatlah kuselidiki siapa musuh pembunuh Suhu itu.”

Tergetar hati Su-lam, cepat ia bertanya: “Siapakah pembunuh itu?” ~ Maklum To pek-seng adalah tokoh terkenal, maka pembunuhnya tentu jago silat luar biasa, dari itu Su-lam sangat ingin tahu siapakah gerangan tokoh misterius itu.

“Yang Thian-lui!” tutur Liong Kang dengan kata demi kata.

“Yang Thian-lui?” Su-lam mengulangi nama itu dengan menggumam. “Nama ini seperti pernah kudengar.”

Tiba2 Su-lam teringat suatu peristiwa dimana 12 tahun yang lampau, waktu itu belum lama ia masuk perguruan. Suatu malam datanglah beberapa orang mencari gurunya secara ter-gesa2. Lalu gurunya lantas berangkat bersama orang2 itu, Su-lamdisuruh menjaga rumah, katnya dua-tiga hari kemudian gurunya baru kembali. Tapi ternyata tujuh hari kemudian gurunya baru kembali. Bahkan dengan muka pucat, malahan bajunya juga berlepotan darah. Waktu Su-lamtanya apa yang terjadi barulah diketahui malam itu sang guru telah diajak pergi mengerubut seorang iblis besar.

Menurut cerita gurunya, katanya iblis besar itu datang dari utara dan telah melakukan beberapa kejahatan didaerah Kanglam, beberapa tokoh Bulim terkenal di Kanglam telah menjadi korban, sebab itulah jago2 silat daerah Kanglam sama bergabung hendak membinasakan gembong iblis itu. Tak terduga dalam pertarungan sengit itu gembong iblis itu sempat melarikan diri walaupun menderita luka. Sebaliknya jago silat Kanglam juga belasan orang yang terluka. Nama gembong iblis itu persis adalah: “Yang Thian-lui.”

Selesai Su-lam menguraikan kisah dulu itu, Liong Kang berkata: “Memang betyul, ialah Yang Thian-lui ini. Ia terluka juga kena pukulan Tay-lik-kim-kong-ciang gurumu, setelah lari pulang keutara, lalu tiada kabar beritanya lagi. Selama belasan tahun tiada orang kangouw yang melihat jejaknya. Ada orang mengatakan dia telah mampus, ada yang bilang dia mengasingkan diri untuk berlatih sejenis ilmu silat berbisa untuk menuntut balas lagi. Baru sekarang aku mengetahui bahwa gembong iblis ini sebenarnya masih hidup, diapun tidak mengasingkan diri, tapi telah masuk istana Kim dan menjadi pentolan istana.

“Musuh2 yang kutemukan sepanjang jalan kali ini adalah begundal Yang Thian-lui, diantaranya ada muridnya, ada jagoan kerajaan Kim sendiri, bahkan ada jagoan dari Mongol. Padahal diantara negeri Kim dan Mongol saling bermusuhan, mengapa Busu Mongol campur bersama Busu Kim, hal ini sangat mengherankan, bukan mustahil secara diam2 Yang Thian-lui telah bersekongkol dengan tartar Mongol.

“Yang Thian-lui dengan dua pembantunya yang kuat telah kepergok guruku digurun Gobi, dalam pertarungan sengit itu kedua pembantu Yang Thian-lui telah dibinasakan oleh guruku, Yang Thian- lui sendiri juga terluka parah dan sekarang telah lari pulang ke Taytoh untuk merawat lukanya.

Kasihan guruku dalam keadaan sendirian, setelah terluka parah tidak mendapat bantuan orang, akhirnya beliau meninggal di padang pasir. Hal ini kudapat tahu dari seorang tawanan kemarin dulu. Dari laki2 itu tadi kuketahui pula hal2 lain yang lebih banyak. Orang ini bernama Ing Jay, murid Yang Thian-lui.”

Napas Liong Kang semakin memburu, suaranya juga makin lemah. Diam2 Su-lam terkejut, ia heran mengapa jinsom yang dia berikan tadi tiada membawa khasiat apa2. Cepat katanya: “Liong-toako, ceritamu disambung lagi lain kali. Paling penting sekarang kita harus mencari suatu tempat aman untuk merawat lukamu.”

Liong Kang mendongak keluar, dilihatnya subuh sudah tiba, ufuk timur sudah mulai remang2 terang. Tiba2 ia menghela napas dan berkata pula: “Oarng yang kutunggu mungkin tidak keburu datang kemari, Li-kongcu, aku mohon bantuan dua urusan padamu.”

“Jangan kau pikir hal2 yang tidak baik, kau tentu dapat bertemu dengan kawanmu nanti,” ujar Su- lam.

“Tidak, aku tidak sanggup menunggu lebih lama lagi,” kata Liong Kang lemah. “Dua urusan ini sangat penting mumpung aku masih bernapas harus lekas kukatakan padamu.”

Sesungguhnya Su-lam tidak percaya Liong Kang akan mati dalam waktu singkat, tapi mendengar ucapannya yang serius itu, agar perasaan orang bisa tenteram, terpaksa ia menjawab: “Baiklah, boleh kau katakan padaku. Siapakah orang yang kau tunggu, cara bagaimana aku harus menghubungi mereka?”

“Seorang diantaranya sudah kau kenal, dia, dia adalah putri Beng-tayhiap, Beng Bing-sia,” tutur Liong Kang.

Su-lam dan Nyo Wan bersuara kaget bersama. Orang yang ditunggu Liong Kang ternyata Beng Bing-sia termasuk diantaranya, hal ini sungguh diluar dugaan mereka.

“Sepanjang jalan aku telah meninggalkan kode , tentu mereka akan menguntit kesini. Urusan pertama aku mohon kalian suka memberitahukan nahwa musuh pembunuh guruku adalah Yang Thian-lui.”

“Baik. Dan urusan kedua?” sahut Su-lam. “Urusan kedua ini …….. ai, cara bagaimana harus kukatakan …….” Liong kang menghela napas seperti ada apa2 yang sukar dijelaskan.

Pada saat itu tiba2 terdengar suara derapan kuda yang cepat mendatangi. “Dengarkan itu, apakah nona Beng yang datang?” seru Nyo Wan.

Kejut dan girang Liong Kang bercampur aduk, serunya lega: “Ah, akhirnya datanglah mereka!” ~ Entah karena lukanya yang parah atau pengaruh guncangan perasaannya itu mendadak matanya mendelik, lalu jatuh pingsan.

Su-lam terkejut, Liong Kang dipegangnya dan digoyang goyangkan bahunya sambil berseru: “Liong-heng, sadarlah!”

Sementara itu lari kuda tadi sudah sampai didepan rumah gilingan, ternyata penunggangnya adalah wanita muda berbaju merah. Su-lam merasa tidak kenal nona ini, ia ter-heran2 dan berpikir: “Mengapa tadi Liong Kang bilang Beng Bing-sia? Jangan2 wanita ini hanya orang lalu biasa saja.” Sebaliknya Nyo Wan tidak pernah kenal Bing-sia, ia mengira yang datang ini benar nona Beng, dengan perasaan kacau ia memapaknya. Tak terduga mendadak nona baju merah itu lantas membentaknya: “Kurang ajar, kalian berani mencelakai suhengku!” ~ Berbareng ia terus melemparkan senjatanya keatas kepala Nyo Wan, senjata itu berbentuk cengkeram tangan yang bertali.

Sama sekali Nyo Wan tidak menduga dirinya akan diserang, keruan ia terkejut, terpaksa ia menjatuhkan diri dan berguling kesamping, “ser”, cengkeram bertali nona itu menyamber lewat atas kepalanya.

Bahwa seorang perempuan muda dipaka ber-guling2 di atas tanah tentulah tidak sedap dipandang mata, maka Nyo Wan menjadi gusar, begitu melompat bangun, peang lantas dilolos. Tapi cepat luar biasa cengkeram tangan lawan kembali menyamber tiba.

Dengan gusar Nyo Wan membentak: “Bing-sia, mengapa kau tidak tahu aturan?” ~ “Trang”, cengkeram orang kena disampuk oleh pedangnya sehingga memercikkan lelatu api.

Nona baju merah itupun terkejut, serunya: “Kau kenal beng Bing-sia!”

Saat itu Liong Kang kebetulan sudah siuman kembali serunya: “Sumoay, berhenti! Mereka adalah penolong2ku.”

Baru sekarang nona baju merah itu tahu telah terjadi salah paham. Cepat ia menyimpan senjatanya dan minta maaf kepada Nyo Wan: “Ditengah jalan aku mendapat kabar buruk tentang Suheng, maka cepat memburu kemari, maka tadi aku mengira kalian yang mencelakai Suhengku. Harap cici jangan marah atas kekasaranku tadi.”

“Tidak apa2, silahkan kau melihat keadaan Suhengmu,” jawab Nyo Wan walupun dalam hati kurang senang.

Saat itu Liong Kang dapat bicara dengan lebih keras terdorong oleh rasa girang datangnya sang Sumoay, ia perkenalkan: “Ini adalah Li-kongcu, Li Su-lam.”

Nona baju merah itu tercengang dan menegas: “Jadi kau ini Li Su-lam?”

“Ya, tapi sekali2 bukan Li Su-lam yang mau bantu kejahatan sebagaimana disangka,” sahut Su-lam. “Semula akupun rada salah paham, baru sekarang aku tahu Li-kongcu sesungguhnya adalah orang baik,” ujar Liong Kang.

“Memangnya, orang yang dapat dipercayai nona Beng masakah bukan orang baik,” kata nona baju merah dengan tertawa.

Liong Kang menoleh ke arah Nyo Wan lantas berkata: “Dan ini nona ” tapi mendadak ia

ingat nama Nyo Wan juga belum diketahuinya.

Dengan hambar Nyo Wan lantas berkata: “Aku she Nyo bernama Wan.”

Kembali si nona baju merah terkesiap, pikirnya: “Kiranya mereka bukan kakak beradik.”

Dari air muka dapatlah Nyo Wan menerka apa yang sedang dipikirkan, tanpa terasa timbul rasa kecut dalam hatinya dan penasaran pula, sikapnya terhadap nona baju merah itupun menjadi lebih dingin lagi.

Entah tahu tidak nona baju merah itu, namun sama sekali ia tidak ambil perhatian dan masih memanggil: “Nyo cici, aku she To bernama Hong. Banyak terima kasih atas pertolongan kalian terhadap Suhengku.” “Suhuku adalah ayahnya,” Liong Kang menambahkan.

Baru sekarang Su-lam mengetahui bahwa nona baju merah bernama To Hong ini adalah putri To Pek-seng, pantas memiliki kepandaian sebagus itu.

To Hong tidak sempat banyak bicara dengan Su-lam berdua, habis memberitahukan namanya segera ia mendekati sang Suheng, katanya: “Jisuko, bagaimana lukamu? Coba kulihat.” “Sudahlah Sumoay, tidak perlu kau repot2 lagi, aku sudah tidak berguna pula. Musuh pembunuh ayahmua adalah Yang Thian-lui,” kata Liong Kang dengan tersenyum getir.

Lalu siapa lagi yang mencelakai kau? Aku akan menuntut balas bagimu,” kata To Hong.

“Aku sudah membalas dengan tanganku sendiri,” kata Liong Kang sambil menunjuk mayat Ing Jay. “Tentu kau kenal dia bukan? Dia adalah murid Yang Thian-lui, aku telah membinasakan dia dengan Tok-liong-piau.”

Nyo Wan adalah nona yang cermat, ia merasa apa yang dikatakan Liong Kang itu banyak ciri2 yang mencurigakan. Ia heran mengapa Liong Kang sengaja berdusta kepada sang Sumoay.

Dalam pada itu terdengar To Hong sedang berkata: “Aku tidak percaya, kepandaian Ing Jay terbatas, masakah dia mampu mencelakai kau?”

“Aku dikerubut oleh mereka,” kata Liong Kang.

Tapi To Hong masih kurang percaya, katanya: “Baiklah, akan kuobati kau, aku membawa Siau- hoan-tan yang mujarab untuk luka dalam.” ~ Berbareng itu sebelah tangan To Hong sudah lantas memegang nadi Liong Kang untuk memeriksa keadaan lukanya.

Liong Kang berusaha meronta, katanya: “Lukaku sudah pasti tak bisa disembuhkan, kau ……., kau

……..”

“Tak bisa disembuhkan juga akan ku periksa dulu, aku harus mengetahui siapakah musuh yang mencelakai kau!” ujar To Hong.

Bahwasanya Liong Kang tidak mau diperiksa keadaan lukanya, sebaliknya To Hong memaksanya, bahkan air mukanya menunjukkan perasaan yang aneh, seperti bingung, seperti kuatir; malahan bercampur pula perasaan marah. Melihat itu Li Su-lam juga bingung dan merasa dibalik semua itu tentu ada hal2 yang ganjil.

Rupanya Liong Kang tak bisa meronta lagi, katanya kemudian dengan menghela napas: “Sakit hatiku tak bisa dibalas, Sumoay, hendaklah kau melupakan soal ini saja.”

Tiba2 wajah To Hong berubah pucat, teriaknya: “Kiranya kakakku yang melukai kau! Dia melukai kau dengan Tok-ciang (pukulan berbisa) pada setengah bualan yang lalu dan racunnya baru sekarang bekerja. Dia, kenapa dia mesti berbuat sekeji inipadamu?”

“Sudahlah, Sumoay, kecuali ayahmu hidup kembali didunia ini tiada seorangpun yang sanggup menyembuhkan pukulan berbisa kakakmu. Sebab itulah kau tidak perlu repot2 lagi. Pada bajuku ada sepucuk surat berasal dari Samsute yang ditujukan kepadamu. Ambillah suratnya.”

Ia tidak menjawab pertanyaan sang Sumoay tadi, tapi Tohong sendiri sudah jelas mendengar kata2nya itu. Segera To Hong ambil sepucuk surat itu, tangannya sampai gemetar dan air mata berlinang, katanya: “Jisuko, semuanya ini gara2 kami sehingga kau yang menjadi korban. Kau tidak bersalah, mengapa sama sekali kau tidak membela diri.”

Wajah Liong Kang yang pucat itu menampilkan senyum puas, katanya: “Aku tidak anggap berbuat salah, kalian juga tidak salah. Aku merasa senang bisa berbuat sesuatu bagi kalian asalkan kalian dapat memahami perasaanku.”

“Ya, aku paham,” jawab To Hong sambil memegang erat2 tangan Liong Kang. “Jisuko, aku akan berterima kasih padamu untuk selamanya. Adakah urusanmu yang perlu kau pesankan?” “Janganlah kau dendam kepada kakakmu, hanya kau mesti waspada padanya,” kata Liong Kang. “Setelah aku mati, harap abu tulangku kau bawa pulang, aku tidak ingin terkubur ditanah asing. Sumoay, kau jangan kuatir Ciok-sute pasti akan kembali di sisimu.” ~ Sampai kalimat2 terakhir itu suaranya sadah sangat lemah, To Hong mesti mendekatkan telinganya barulah dapat mendengarkan dengan jelas.

Lambat laun To Hong merasa bibir sang Suheng sudah dingin, waktu diperiksa ternyata sudah berhenti bernapas. Pelahan2 To Hong meletakkan mayat Liong Kang. Ia memberi tanda agar Su- lam dan Nyo Wan menyingkir. Lalu dikeluarkannya sebutir benda hitam, ketika dilemparkan kemayat Liong kang mendadak benda hitam kecil itu meletus dan mengobarkan api. Dalam sekejap saja sekujur mayat Liong kang itu lantas terbakar dan menjadi abu.

Kiranya benda hitam itu adalah salah satu senjata rahasia khas keluarga To, namanya “Hwe-liong- cu” (mutiara naga geni), terbuat dari bahan2 yang mudah terbakar dicampur dengan belerang.

Nyo Wan sampai terkejut dan lekas berpaling kesana. Menurut kebiasaan pada jaman itu, orang mati harus dikuburkan, pembakaran mayat tak pernah dilihat Nyo Wan. Namun To Hong ternyata tidak merasakan apa2 untuk membakar jenazah Suhengnya.

Habis itu barulah To Hong membuka sampul surat tadi, dengan menahan air mata ia membaca surat itu, lalu menggumam sendiri dengan menyesal: “O, Jisuheng, maafkan atas kesalahanku, tanpa dosa kau telah menanggung tekanan batin selama ini.”

Kemudian To Hong mengeluarkan kantong untuk mengisi abu jenazah Liong Kang dan digantung diatas pelananya, lalu mencemplak ke atas kuda.

“To-lihiap, apakah kau akan terus berangkat?” tanya Su-lam. ‘kedua anak buah ayahmu, yaitu Song Thi-lun dan Liu Sam-nio sekarang masih berada di Mongol.”

“Terima kasih atas beritamu ini, Cuma kami tiada rencana pergi ke Mongol,” jawab To Hong. “Oya, ada sesuatu urusan harus kuberitahukan padamu.” ~ Mendadak ia berhenti dan memandang sekejap ke arah Nyo Wan.

Hati Su-lam ber-debar2 karena dapat menerka apa yang hendak dikatakan orang. Benar juga, segera terdengar To Hong berkata pula: “Beng Bing-sia berada di tempat kami sana, tidak jauh dari sini.

Bila kau ingin menemui dia boleh berangkat bersamaku.”

Meski Su-lam sudah bertunangan dengan Nyo Wan, tapi terhadap Beng Bing-sia tetap belum terlupakan. Kini tiba2 To Hong mengajaknya pergi menemui Bing-sia, keruan membuatnya serba kikuk. Pertama To Hong tidak mengajak sekalian Nyo Wan, sudah tentu ia tidak bisa meninggalkan Nyo Wan untuk menemui Beng Bing-sia sendirian, kedua Su-lam kini sudah bertunangan, dalam keadaan demikian ia merasa ada lebih baik tidak menemui Bing-sia. Sudah tentu juga ada manfaatnya jika menemui Bing-sia, yaitu dapat memberi penjelasan akan kesalahpahaman ayah nona Beng itu. Namun soal ini To Hong dapat menceritakannya nanti dan dari hal ini dapatlah membuktikan bahwa Su-lam telah tidak mengecewakan harapan Bing-sia. Apalagi kelak kalau mereka sudah bertemu dengan Song Thi-lun dan istrinya, tentu semua duduk perkara akan lebih jelas.

To Hong tidak tahu kekusutan pikiran Su-lam, ketika melihat pemuda itu tidak menjawabnya, ia menjadi tidak sabar dan menggerutu didalam hati.

Akhirnya bicaralah Su-lam: “Kami buru2 ingin pulang, maka harap bantuanmu menyampaikan permintaan maafku kepada nona Beng saja.”

“Hendaklah kau jangan salah wesel, bukan Beng-cici yang ingin bertemu dengan kau, tapi akulah yang tanya kau hendak menemui dia atau tidak karena aku tahu kalian pernah berkenalan,” kata To Hong dengan kurang senang. “Jika kau tidak mau ikut, maka sudahlah urusannya, kenapa pakai minta maaf segala?”

Habis berkata , sekali pecut kudanya, segera To Hong meninggalkan Su-lam berdua. Keruan wajah Su-lam merah jengah oleh olok2 To Hong tadi. Katanya dengan tertawa kikuk: “Aku memang tidak pandai bicara, nona To hong inipun bertabiat aneh.”

“Ayahnya berjuluk Ek-pak-jin-mo, putri gembong iblis yang terkenal sudah tentu bertabiat lain daripada yang lain,” kata Nyo Wan dengan tertawa. “Cuma untung kau takkan menjadi suaminya sehingga kau tidak perlu ribut tentang tabiatnya yang aneh itu. Nah hari sudah terang benderang, marilah kita berangkat saja.”

“Kembali aku salah omong lagi,” Su-lam menyengir. “Baiklah.”

Mereka melarikan kuda dengan berendeng, sampai sekian lamanya Nyo Wan tidak membuka suara lagi. Su-lam lantas meng-ada2, katanya: “Sungguh tidak nyana Liong kang dicelakai oleh Suhengnya sendiri. Entah apa sebabnya.”

“To Pek-seng berjuluk iblis, tentu anak-muridnya sedikit banyak juga ketularan bau iblis.” Ujar Nyo Wan. “Perselisihan antara mereka sendiri tak perlu kita urus.”

“Aku Cuma omong iseng saja, siapa yang mau urus persoalan mereka,” kata Su-lam tertawa. “Cuma, meski To Pek-seng berjuluk iblis, sesungguhnya dia bukan tokoh Sia-pay.”

“Aku tahu banyak pembesar Kim yang tewas dibunuh olehnya,” kata Nyo Wan. “Tapi pribadinya tak menentu, perbuatannya juga ganas, betapapun tak bisa disamakan dengan kaum pendekar dari Cing-pay.”

Rahasia apa yang menyelubungi sengketa antara anak-murid To Pek-seng? Dapatkah Li Su-lam mengikat jodoh dengan Nyo Wan secara kekal tanpa rintangan?
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pahlawan Gurun Jilid 03"

Post a Comment

close