Menuntut Balas Jilid 31 : Kekalahan ilmu silat Giok-ciong-to

Mode Malam
Jilid 31 : Kekalahan ilmu silat Giok-ciong-to

"Dia manusia jahat," ia menjawab, Lantas ia jelaskan apa yang ia barusan dengar. "Sungguh dia satu manusia rendah" kata Leng Hui masgul dan sengit. "Mari" In Gak mengajak. ia pesan agar kawan ini waspada.

Berdua mereka bersembunyi diatas sebuah pohon- Dari situ mereka melihat Thian seng masih asyik bicara dengan sahabatnya.

"Siauwhiap jangan kau ragu-ragu," kata Leng Hui selang sekian lama. "Kalau kau terlambat bisa gagal. Baiklah aku pancing sahabatnya itu meninggalkan dia, lantas kau turun tangan, Tentang kitab rahasia yang dia curi itu, asal dia di kompes mustahil dia tidak akan membebernya."

In Gak berpikir sekian lama, baru ia mengangguk.

Leng Hui lantas lompat turun dari pohon, terus dia lari kearah pintu kuil.

Heng Thian Seng dan sahabatnya orang she Tio itu tengah bicara dengan asyik ketika mereka melihat ada orang datang orang mana sudah tua dan kumis panjang, romannya agung. Mereka menjadi heran lantas mereka mengawasi tajam.

Song-bun Kiam-kek bersikap acuh tak acuh dia bertindak kearah mereka itu, Ketika dia sudah datang dekat, mendadak dia menjejek kakinya si orang she Tio.

Habis itu tanpa memperdulikan orang gusar atau tidak. dia bertindak terus dengan cepat menuju ke kedalam kuil kependopo.

Orang she Tio itu kaget, dia kesakitan, Jejekan itu keras. Melihat orang tidak menghaturkan maaf, dia menjadi gusar, Teranglah orang mencari gara-gara, Maka itu sambil membentak dia lompat menyusul untuk terus menyerang. Dia menggunai seluruh tenaganya, dia menggunai dua-dua tangannya. Leng Hui tertawa berkakak sembari tertawa, dia berkelit. Dia lari terus kependopo. "Jahanam, kemana kau mau pergi?" mendamprat si orang she Tio, yang mengejar terus.

Heng Thian Seng juga menduga orang sengaja menimbulkan onar, mau ia menyusul kawannya akan tetapi disaat ia hendak membuka tindakannya, tiba tiba ia mendengar tertawa yang menyeramkan dari arah belakangnya, ia kaget sekali.

Justeru itu sebelum ia sempat menoleh ia sudah kena ditotok tiga jalan darahnya yaitu lengtay sintong dan tiang kang. Tidak ampun lagi ia merasai kepalanya pusing terus ia roboh. Itulah In Gak yang muncul tiba-tiba, yang terus menotok dengan ilmu totok dari Hian Wan Sippat Kay, habis mana ia mengulur tangan kanannya mengangkat dan mengempit tubuh orang, buat dibawa menyingkir keatas pohon dimana ia letaki orang di cabang.

Kemudian lagi tanpa ayal, ia lompat turun pula, lari masuk ke-dalam kuil. Disitu ia mendapatkan Leng Hui dan si orang she Tio lagi bersiap untuk bertempur. "Sahabat, sabar dulu” ia teriaki mereka. "Mari dengar dulu perkataanku"

Orang she Tio itu berpaling dengan cepat. dia terkejut. Didalam pendopo itu ada pelita, karena cahaya api itu dia lantas melihat mukanya orang.

In Gak juga melihat tegas orang itu yang romannya gagah mukanya lebar telinganya besar, alisnya tebal, matanya tajam. itulah wajah yang lurus, ia mendekati sambil memunjuk Leng Hui. ia berkata: "Sahabatku ini memang sengaja memancing kau tuan, Karena kau orang baik -baik kami tidak menghendaki sampai terjadi batu kemala dan bata biasa hancur bersama, ingin kami melindungi kau, Apakah tuan mendendam?" orang itu mengawasi terus, dia heran. "Apakah maksud kata-kata tuan ini?" dia tanya.

In Gak tertawa, ia tidak menjawab hanya balik menanya. "Bagaimana tuan pikir tentang Heng Thian Seng?" orang itu melengak dia berdiam, Kembali matanya bersinar. "Apakah tuan yalah Cia..."

"Benar" In Gak memotong. ia bicara terus terang, "Heng Thian Seng itu membalas

kebaikan dengan kejahatan, tetapi itulah tidak apa hanya celakanya dia sudah mencuri dan membunuh orang, guna mengacau Rimba persilatan buat semua itu dia pakai namaku Bagaimana dapat aku mencuci bersih namaku? Maka itu terpaksa aku merobohkan dia," untuk bawa kepadanya ke Ceng Shia San-.."

Baru sekarang orang itu mengasih lihat sikap lesu, bahkan ia menghela napas, "Aku tahu kau tuan, kepandaian kau liehay, namamu besar," ia berkata, "Telah lama aku mengagumi kau, Aku yang rendah Tio Bouw Kong, asal dari cek-shia, Thian Seng itu sahabat kekalku, sayang dia bertabiat keras dia biasa bawa maunya sendiri, sudah sering aku menasihati dia, dia tetap tidak menghiraukannya hingga aku menjadi kewalahan-"

In Gak bersenyum.

"Kalau begitu, Tio Losu, kaulah murid dari cek Shia Su Yu" ia kata, "Belum lama berselang aku telah pergi ketanah Siok. ditengah jalan aku bertemu dengan cek Shia Su Yu, kita lantas berkumpul dua hari lamanya, Aku senang bersahabatan dengan mereka itu."

Bouw Kong memberi hormat, "Tuan cuma memuji," dia kata, "Sekarang juga aku hendak pulang ke cek Shia, urusan di sini aku tidak mau campuri pula dan seumurku aku pun tidak bakal menyiarkannya." ia pun memberi hormat pada Leng Hui. sesudah mana ia bertindak cepat keluar untuk berlalu.

Setelah orang pergi jauh, In Gak berpaling pada Leng Hui. "Suma Tiong Beng dan Kiang Sin akan datang ke seng-

touw dalam dua hari ini," ia berkata "maka itu mari kita pergi ke markas cabang Kay Pang, untuk minta saudara-saudara pengemis membantu membuat penyelidikan supaya dengan cepat dapat diketahui siapa si kepala penjahat. oleh karena aku mesti lekas pergi ke ceng Shia, aku minta losu berdiam disini untuk sementara waktu guna mengepalai penyelidikan itu."

Leng Hui terima baik tugas itu, maka bersama sama mereka berlalu, In Gak mampir dipohon untuk mengambil Heng Thian Seng. Setelah itu wilayah kuil Bu Houw itu menjadi sunyi-senyap pula.

Gunung Ceng Shia San terletak di barat daya kecamatan Koan-koan, terpisah tiga puluh lie dari kota, itulah gunung tempat bersemayamnya kaum agama To Kauw. Untuk propinsi Su-coan ceng Shia San sama terkenalnya seperti Ngo Bie San- Disitu selama empat musim pepohonan hijau terus, maka itu didapatlah namanya yaitu ceng Shia, atau Kota Hijau. Disitu terdapat tiga puluh enam puncak serta tujuh puluh dua gua.

Pagi itu In Gak menuju gunung itu dengan punggung menggendol sebuah karung goni besar, Ujung bajunya berkibar-kibar tertiup angin,

Keluar dari kota Koan-koan In Gak mengikuti jalan menuju ke selatan-barat ceng-shia. Dia bertindak cepat sekali hingga disepanjang jalan orang heran melihatnya. Sudah mukanya beroman aneh, dia juga menggendol karung goni itu.

Dia sebaliknya tidak menghiraukan orang banyak itu, dia berjalan terus sampai dikaki gunung, di depan kuil Tiang Seng Kiong yang bertembok merah dimana pun ada tumbuh ban pohon bambu yang daunnya memain diantara desiran sang angin-

Belun lagi anak muda itu bertindak masuk kedalam kuil, di ambang pintu sudah muncul seorang imam dengan jenggot panjang dan mata celi tangannya mencekal sebatang kebutan putih- mulus bagaikan salju. Segera dia mengawasi dengan tajam dengan sepasang matanya yang bagus itu.

"Sie cu datang dari mana?" dia menanya, "Apakah maksud sie-cu?" Dia juga mengawasi karung yang besar itu, In Gak bersenyum.

"Aku yang rendah mau pergi kepuncak Giok Hong Tong," ia menyahut "Aku minta sukalah lotiang menunjuki jalannya."

Imam itu terlihat kaget, Mendadak dia menjadi gusar.

"Sie-cu, aku minta sukalah kau jangan omong main-main," ia berkata, "Gunung kami ini tidak melarang orang datang pesiar akan tetapi Giok Hong Tong itu sudah beberapa ratus tahun lamanya tak pernah didatangi orang-orang pelancong"

"Kata-katamu ini totiang, membuat aku menduga-duga," kata In Gak, "Apakah puncak Giok Hong Tong itu sukar didaki hingga orang-orang pelancong jeri karenanya? Atau mungkin puncak itu menjadi terlarang hingga kamu melarang orang mendakinya."

Imam itu bersikap keren.

"Jikalau sie-cu sudah tahu, tak usah aku menggoyang lidah pula" katanya. In Gak tetap sabar, ia malah bersenyum.

”Jikalau puncak itu berbahaya, ancaman bahaya itu tidak dapat mencegah aku mendaki," ia berkata, "Sebaliknya kalau itu benar larangan, maka hari ini terpaksa aku mesti mendaki juga. Aku mempunyai urusan yang sangat penting hingga tak dapat aku menghiraukan sekalipun larangan"

Dari gusar, imam itu tertawa lantang.

"Aku telah menjelaskannya, sie-cu" dia kata, Jikalau sie-cu paksa mau naik pula,

aku kuatir ribuan murid ceng Shia Pay nanti memandang kau sebagai musuh besar itulah berbahaya sebab tentunya sulit untuk sie-cu turun dari gunung ini"

"Kau baik, totiang, aku ingat kebaikan kau ini. Tapi aku ada seumpama anak panah yang sudah dipasang dibusurnya, panah itu tak dapat tidak ditarik" Habis berkata dia tertawa terbahak bahak, terus dia bertindak pergi.

"Berhenti" mendadak terdengar bentakan di sebelah belakang sianak muda, Pula lantas terasa sambarannya angin-

Dengan sebat In Gak lompat kesamping, ketika ia memutar tubuhnya, ia melihat si imam bersama empat imam yang lainnya, yang semua pada menggendol pedang, semuanya berdiri tegak dijarak dua tombak semuanya mengawasi dengan tajam "Ada apa lotiang menyusul aku?" tanya In Gak tenang.

"Barang apakah itu dalam karungmu, sie-cu?" si imam balik menanya, Dia tertawa dingin, In Gak bersikap dingin, ia pun tertawa, "Barang didalam karungku itu yalah mustika yang Partaimu ingin mendapatkannya, yang membuat kau memikirkannya sampai tak terlupakan sekalipun diwaktu tidur bermimpi" jawabannya, "Aku menggendol ini buat dihaturkan kepada Pit Siauw Hong yang menjadi ketua dari partai kamu" Imam itu terkejut

"Kalau begitu tolong sie-cu buka untuk aku lihat" ia kata nyaring, "Aku perlu lihat apakah sebenarnya itu." In Gak tertawa "Tak berhak kau melihatnya, totiang" sahutnya.

Mukanya si imam menjadi merah padam, jawaban itu menurut ia yalah suatu penghinaan Tanpa merasa wajahnya memperlihatkan sinar pembunuhan ia lantas mengebut.

Empat imam lainnya lantas menghunus pedangnya masing- masing serentak mereka menikam In Gak.

Anak muda kita sudah pikir apa yang ia mesti lakukan ia berlaku tenang sekali. Tempo ke-empat pedang hampir sampai mendadak ia memutar tubuh, tangannya dikibaskan-

Hanya segebrak itu, keempat imam menjadi kaget, semuanya mundur dengan muka pucat Mereka menyerang hebat, tetapi mereka tidak tahu bagaimana duduknya, padang mereka semua lolos dari cekalan, pindah ketangan sianak muda yang dikeroyok itu

Si imam jenggot panjang menjadi kagetjuga, Belum pernah ia menyaksikan kepandaian semacam itu, Tanpa merasa ia memuji: "Bu liang siu hud" sekarang tahulah ia kenapa orang berani mendaki Giok Hong Tong kiranya ada yang dibuat andalan, ia menjadi bingung hingga ia memikirkan adakah ini alamat baik atau buruk untuk ceng shia Pay. Lantas ia bertindak maju, ia memberi hormat sambil menjura.

"Kau liehay sekali, sie cu” ia kata, "Aku mohon diberi maaf, sekarang aku minta sie-cu memberi penjelasan, kau datang kemari selaku sahabat atau musuh?"

In Gak bersenyum.

“Jikalau aku datang untuk bermusuh, didepanmu ini tidak nanti ada mayat yang tubuhnya utuh" ia menyahut "Aku datang tetapi aku mempunyai kesulitan untuk dijelaskan sekarang. Aku justeru tidak mau bicara dulu guna mencegah nanti terjadi salah mengarti. inilah sebabnya kenapa aku mau langsung bertemu dengan Pit Siauw Hong Lototiang" Imam itu berpikir sekian lama, "Kalau begitu pembilangan sie-cu, baik aku tidak usah banyak omong lagi," kata ia kemudian- "Silakan sie-cu mendaki. Ambillah jalan kecil yang ada pohon bambunya disamping itu, terus mutar kebelakang kuil, setelah sampai di jembatan In Teng Kio, siecu boleh naik terus. itulah jalan yang benar hanya disana mungkin ada banyak rintangannya, Gunung kami baru saja mengalami peristiwa, Aku minta siecu jangan salah mengerti, supaya kau jangan menurunkan tangan bengis."

In Gak tertawa pula.

"Terima kasih, totiang," ia mengucap. "Aku nanti turut perintah mu ini."

Lantas ia jalan menuju kesamping kuii, mendapatkan jalan kecil berpohon bambu yang ditunjuk itu.

Si imam mengawasi orang pergi, lantas ia mengajak empat kawannya menghilang didalam kuil Tiang Seng Kiong, Hanya sebentar, dari dalam kuil bagian belakang terlihat belasan burung dara putih terbang naik, sesudah berputaran beberapa kali semua terbang kearah puncak sambil semuanya mengasi dengar suara kukuknya.

In Gak sendiri berjalan terus dengan cepat ia sampai dijembatan In Teng Kio. Dipinggiran itu kedapatan sebuah paseban yang indah, ia tidak memperhatikan itu, ia hanya jalan dijembatan untuk melintasinya, untuk berjalan terus sepanjang tepian kali kecil. Gunung disitu penuh dengan pohon cemara dan bambu, tempatnya nyaman, Burung- burung juga lagi pada berkicau. Tiga ekor burung dara terlihat terbang terus naik kepuncak.

Pemuda kita bersenyum. ia tahu itulah burung pembawa berita, ia lantas percepat tindakannya.

Tengah berjalan itu In Gak mendengar suara genta yang datangnya dari dalam rimba. ia heran juga tetapi ia bertindak terus, Maka didepan ia, ia lantas melihat sebuah kuil yang romannya angker ia mendapatkan tiga huruf nama kuil itu: "Tiang Jin Koan." Kuil itu mempunyai tiga pendopo.

Tiang Jin Koan dinamakan juga Hok Kian Kiong, mula pertama dibangun di jaman Song utara dan menjadi tempat sucinya Leng Hong cinjin. Kuil itu berdiri ditepi jurang ceng shia, dikurung dengan hutan pek, cemara dan bambu. Dari situ memandang ketimur terlihat puncak Tiang Jin Hong yang tinggi tetapi tenang.

Sunyi keadaannya pintu kuil itu. In Gak heran kenapa disitu tidak ada imamnya, ia jadi berpikir. Justeru itu, lantas dari kiri dan kanan dari hutan bambu, terlihat munculnya belasan imam, diantaranya seorang imam tua dengan roman pendiam yang bertindak dimuka.

"Numpang tanya, siecu," dia tanya, "ada urusan apa siecu mau bertemu dengan Pit Tiang lo yang menjadi ketua kami?"

"Tadi telah aku jelaskan kepada lotiang di Tiang Seng Kiong," In Gak menjawab. "Aku datang bukan dengan maksud jahat. Tetapi aku mesti bertemu sendiri dengan Pit Tiang lo, setelah itu baru aku mau bicara banyak. Kenapa totiang merintangi aku?"

Imam itu ragu-ragu.

"Apakah sie-cu kenal ketua kami?" dia tanya. In Gak tertawa dingin-

"Menurut suara kau, totiang," katanya, "untuk bertemu dengan Pit Losu, orang jadi kudu mengenalnya dulu?"

Imam itu mengerutkan alis. ia tetap bimbang. "itu..." katanya tertahan.

Kembali In Gak tertawa dingin.

"Aku yang rendah masih punya urusan penting yang mesti diurus," ia kata, "karena itu mesti aku cepat bertemu Pit Losu supaya aku dapat lekas lekas turun gunung pula. Aku tidak dapat bicara banyak dengan lotiang ” Mendadak ada bentakan datang dari sebelah kiri, dibarengi dengan meluncurnya sebatang pedang kearah karungnya si anak muda.

"Hm" In Gak mengasi dengar suara menghina matanya bersinar bengis, tangan kanannya melayang cepat sekali, lima jerijinya dibuka semua.

Si imam penyerang terkejut melihat tangan orang menyamber dengan cepat dia menarik pulang pedangnya itu. Sayang dia kalah sebat, pedangnya terasa terbentur, lantas tangannya kesemutan, telapakannya pecah pedangnya itu terus terlepas, mental kegombolan pohon disampingnya.

In Gak tidak berhenti sampai disitu, Tangannya diputar balik, untuk dipakai menolak. ia menggunai jurus huruf, "Menggempur" dari Bie Lek Sin-kang dengan tenaga hanya tiga bagian. Tetapi inipun sudah cukup, Tubuh si imam ter- tolak keras, dia memperdengarkan suara tertahan- Sisa tandanya si anak muda terus menghajar pepohonan dibelakang imam itu, hingga pohon-nya rebah, daun-daunnya beterbangan. Tiang Jin Koan-cu menjadi kaget, dia mundur satu tindak. berdiri melongo.

In Gak tertawa dingin dia berkata: "Aku tidak sangka kaum ceng Shia Pay yang termasuk bangsa lurus yang mempunyai murid begini buruk. Dia main membokong sungguh tidak tahu malu "

Mendengar demikian Tiang Jin Koancu menjadi mendongkol sekali dia lantas tertawa berkakak.

"Biarnya sie cu datang dengan maksud apa juga, aku ceng Leng, melihat kepandaian sie-cu, aku menjadi gatal " katanya nyaring, "Tolong sie-cu letaki karungmu itu, supaya tidak sampai nanti terusak, aku ingin mencoba-coba tangan sie-cu "

Melihat orang gusar, In Gak tertawa, "Tak usah aku menurunkan karungku ini" kata ia jumawa, "Untuk melayani koancu, cukup aku menggunai sebelah tanganku" Ceng Leng Tojin, atau Tiang Jin Koancu, ialah kepala dari kuil Tiang Jin Koan itu, bertambah mendongkol, maka dia kata singkat: "Sie-cu, silahkan kau memberikan pengajaranmu.”

Dia lantas memasang kuda-kudanya dengan sikap "Tong-cu Pay Koan Im" atau "Kacung menghormati Dewi Koan Im."

Melihat sikapnya ceng Leng itu, In Gak bersenyum. Nyata, walaupun dia gusar sangat, imam itu tidak melupakan tata sopan-santun. ia lantas kata: "Aku yang rendah tidak bermusuh dengan totiang, buat apa kita beradu tangan hingga kita menjadi bentrok ? Baiklah aku mohon maaf buat kelakuanku barusan terhadap murid totiang." Kegusaran siiman nampak berkurang, ia berdiam untuk berpikir.

"Kelihatannya keras sekali sie-cu ingin bertemu dengan Pit Tiang lo," katanya sabar, "baiklah nanti aku mengirim berita burung dara untuk memohan Pit Totiang beramai datang kemari, supaya sie-cu tak usah berjalan jauh, Tapi, meski demikian, aku masih mau minta sie-cu memberi pengajaran juga padaku "

In Gak berpikir: "Imam ini masih belum dapat melepaskan semua pikiran keduniawian, sedikitnya dia masih terpengaruh sifat suka menang dari manusia umumnya, Pantaslah kalau kaum agama Buddha mengatakan paling sukar ialah melepaskan tujuh perasaan dan enam keinginan . . ." Maka ia menghela napas dan berkata:

"Oleh karena totiang memaksa juga aku mesti mengasi lihat kejelekanku, baiklah, terpaksa aku menuruti perintahmu." Ceng Leng lantas menggape, maka seorang imam lari menghampirkannya. ia berkata perlahan pada imam itu, yang lantas lari kedalam kuil, Habis itu ia tetap dengan sikapnya Tong-cu Pay Koan In.

Menampak demikian, In Gak menjadi masgul sekali, ia serba salah, Kalau ia menang, imam itu pasti bakal dapat malu. Kalau ia kalah, atau mengalah, imam itu bakal naik nama nya, tetapi berbareng dengan itu, ia dapat membikin siiman celaka, Ceng Leng belum dapat membersihkan diri, dengan namanya naik, ada kemungkinan dia jadi jumawa dan akan menjagoi, hingga akhirnya dia bisa roboh ditangan orang lain, ia pun tak sudi dijatuhkan imam itu. Maka perlu ia bertindak tepat untuk membikin siimam insaf dan mundur sendirinya, Lantas ia menyerang dengan satu ancaman.

Ceng Leng lantas merasakan tolakan yang keras tetapi itu tak dapat membikin dia tergeming, Dia menduga pemuda itu menggunai tenaga hebat, lantas dia membalas, dengan dua- dua tangannya.

In Gak juga merasakan perlawanan yang hebat. ia tidak melayani, ia lantas berkelit.

Segera Ceng Leng merasa tangannya tertarik, hingga dia terjerunuk dua tindak walaupun dia telah mencoba menahan diri, Lekas-lekas dia berkelit kesamping.

Kesudahannya itu membikin imam ini kaget sekali, Sebuah pohon besar dibelakangnya terhajar hebat sang lawan, Akan tetapi dia sangat penasaran-

"Sie-cu, mari menyambut pula " dia kata, "Inilah tenaga dari pukulan Hang Mo ciang-lek" Dan benar-benar dia menyerang hebat dengan dua tangannya. Untuk itu dia bertindak maju.

"Ah, dia masih belum puas," pikir In Gak menyesal, ia tidak mundur atau berkelit, sebaliknya ia maju, guna menyambut. Ceng Leng lantas memperdengarkan suara tertahan, tubuhnya terpental tinggi, lalu berjumpalitan setelah itu barulah dia turun, untuk menginjak tanah. Kalau tidak. dia mestinya roboh terbanting, Sekarang dia selamat akan tetapi mukanya pucat matanya guram. Dia malu sekali.

In Gak melawan dengan menggunai huruf "Lolos" dari Bie Lek Sin- Kang, dengan begitu meski ia lawan keras dengan keras, tubuhnya lolos dari serangan, Lawannya sebaliknya tak dapat mempertahankan diri dari serangannya. Ceng Leng kena disamber lengannya, lalu dilemparkan maka terpentallah dia.

Tepat itu waktu, diudara terdengar suara siulan berulang- ulang, makin lama makin terang, terus terlihat berlari lari turunnya beberapa orang dari atas gunung, Ketika In Gak mengawasi, ia melihat sembilan orang, kecuali Bu Eng Sin- ciang Pit Siauw Hong serta tujuh imam tua lainnya, ada seorang pendeta tua kurus kering yang kumis-jenggotnya putih panjang sampai didadanya.

Melihat sembilan orang itu, Ceng Leng nampak girang sekali Segera dia maju memasak sambil memberi hormat, terus dia omong dengan perlahan.

In Gak mengawasi, ia mendapatkan Pit Siauw Hong merasa heran, terus imam itu mengawasi tajam kepadanya, sebaliknya seorang imam yang romannya gagah, yang tangannya memegang kebutan, menghampirkan ianya, tindakannya cepat, ia masgul, ia melihat semua imam itu bersikap bermusuh terhadapnya.

Lekas juga si iman tua sampai, lantas dia tanya keras: "Sie cu, dapatkah kau memberitahukan she dan namamu serta maksud kedatanganmu sekali ?"

Biar bagaimana, anak muda ini menjadi tidak puas. "Sayang, totiang, sayang" katanya, dingin tetapi menyesal

"ceng Shia Pay satu partai lurus, banyak anggautanya yang pandai silat dan liehay, hingga orang menghormatinya, akan tetapi sekarang aku mendapatkan kenyataan kebalikannya Aku lihat totiang berpandangan cupat. Totiang, kamu sukar maju, makin lama kamu makin mundur Sayang..."

Mukanya imam itu menjadi merah, Dia malu dan gusar, Matanya mendelik,

Seorang imam lain maju dengan cepat, "Ham Tek sute sabar," dia berkata. Jangan berlaku keras terhadap sie-cu ini" Lalu dia mengawasi si anak muda, untuk berkata sambil bersenyum: "Sie-cu datang kegunung kami yang belukar, ada apakah pengajaran sie cu ? Akulah cian Yap. ketua partaiku, Harap sie-cu memberikan penjelasanmu."

In Gak berlaku sabar.

"Aku yang rendah datang kemari dengan niat membereskan sesuatu," ia menyahut. Imam itu heran nampaknya. "Urusan apakah itu?" ia menegasi.

"Belum lama berselang," berkata In Gak, ”Ada orang yang menggunai namaku yang rendah, orang itu lancang mendaki gunung totiang ini, dia mencuri sebuah kitab, dia pun menghajar lima murid pandai dari ceng Shia Pay..."

Kata-kata itu dibarengi serangan dengan kebutan, yang setiap helainya lantas menjadi lempang dan kaku bagaikan jarum panjang.

In Gak berkelit kekiri, dengan tangan kanannya, ia serang lengannya imam itu.

Ham Tek kaget bukan kepalang, Mendadak dia merasa lengannya sakit seperti dikampak, dia menjerit tak tertahan lagi, kebutannya terlepas diturut roboh tubuhnya dia pingsan-

Semua orang ceng Shia Pay kaget, muka mereka pias, Hebat anak muda ini.

Si pendeta tua dan kurus kering memuji dengan seruan sucinya, kedua alisnya yang putih rapat satu dengan lain.

Pit Siauw Hong tak kurang kagetnya, Lantas ia membayangi peristiwa dijurang cian Siong Gay dimana ia mendapat malu hampir mati ditangannya Nio Kiu Kie.

Mengingat itu, ia menggiggil sendirinya, Sekarang ia melihat pemuda ini yang usianya masih demikian muda tetapi ilmu silatnya luar biasa sekali. Tapi ia tidak bisa berdiam saja, maka habis menghela napas, ia mengajukan diri.

"Tuan, kau berniat memusuhkan Partai kami, apa perlunya kau mesti ingin menemui aku si orang tua?" ia berkata, "Belum lama berselang tuan sudah menyerbu gunung kami ini, kau telah menurunkan tangan yang jahat, itulah sangat keterlaluan jikalau diantara kita ada sangkutannya, kenapa tuan tidak mau segera omong dengan terus-terang ?"

Habis berkata itu dia melirik kepada Ham Tek Tojin, yang rebah terkulai, sebelah tangannya bengkak matang biru dan mukanya bermandikan peluh, sendirinya dia giris hatinya.

In Gak berkata dengan tenang: "Pit Losu, benarkah kau percaya orang yang baru baru ini menyerbu kemari ialah aku orangnya?"

Pit Siauw Hong menunjuk kepada Ham Tek. dia menyahut: "Ham Tek sute beradat keras tetapi dia belum pernah mendusta, itulah yang menyebabkan kepercayaan kami, jangan kau menganggap kau sangat liehay, tuan, walaupun tenaga kami tak sanggup melawan kau aku toh ingin main main juga denganmu"

Baru si imam menutup mulutnya, atau si-pendeta tua sudah maju mendekati, sambil mengangkat sebelah tangannya dia lantas berkata: "Tam-wat, lolap ialah Hoat In ketua dari Siau Lim Sie Tam-wat boleh gagah sekali tetapi lolap harap kau sukalah mengendalikan sedikit dirimu, jangan kau lancang melukai orang, perbuatan itu bertentangan dengan kedamaian Thian . , . Sie cu, aku melihat pada alismu, di situ ada sinar pembunuhan, maka itu aku percaya, di waktu mendatangi yang dekat ini, kau mestinya menghadapi kesukaran terkurung ataupun mati terbunuh... Maka itu..." Sampai disitu, dia berhenti sendiri-nya, matanya menatap anak muda itu.

In Gak berdiam ia memuji liehaynya mata pendeta dari Siauw Lim Sie itu, Tetapi ia tidak takut, orang telah melihat muka palsunya dan meramalkannya. Topengnya itu topeng buatan ayahnya, kulitnya diambil dari tubuhnya seorang jahat kurban ayahnya itu. "Taysu," katanya sambil bersenyum, "benarkah taysu dapat meramalkan pasti bahwa aku bakal mati terbunuh ? Tak salahkah itu?"

Ciangbunjin dari Siauw Lim Sie itu mengawasi terus, dia mengasi dengar suaranya yang tak tegas ini: "Aneh... Aneh..." Dengan begitu, pertanyaannya In Gak itu dia seperti tak mendengar atau menghiraukannya.

Melihat sikap si pendeta, In Gak tidak mengulangi pertanyaannya, ia lantas berpaling kepada Pit Siauw Hong.

"Pit Losu," katanya, "meski benar losu tidak kenal aku tetapi kita pernah bertemu satu dengan lain-..

Ketua ceng Shia Pay itu heran, dia menatap. "Sebenarnya aku si orang tua tidak mengenal kau, tuan,"

katanya, "Aku numpang tanya tuan, kapan dan ditempat manakah tuan pernah bertemu denganku?"

"Itulah duluhari didalam kelenting cie cie Am di gunung Bu In San," sahut In Gak tenang, "Ketika itu aku yang muda mendapatkan Pit Losu serta Yan San Sin-Nie di bokong orang hingga kamu rebah pingsan diruang suci. Kebetulan itu waktu aku membawa obat maka aku menolongi Pit Losu serta Sin- Nie. oleh karena ada urusan habis itu aku berlalu dengan cepat."

Pit Siauw Hong terkejut.

"Oh, tuankah itu?" dia tanya, Jikalau begitu tuan jugalah yang mengundurkan Nio Kiu Kie oh, tuan aku si tua harus aku mati. Bagaimana penolong jiwaku aku pandang sebagai musuh..."

Ketua Ceng Shia Pay lantas bertindak maju untuk menjura. "Pinto tidak tahu siauw-hiaplah yang datang, kami berdosa,

harap kami diberi maaf” dia kata.

In Gak tertawa.

"Kata kata yang bagus Kata-kata yang bagus " bilangnya, "Untukku sudah cukup asal ceng Shia Pay tidak memusuhkan aku sebagai musuh turunan, untuk itu aku akan sangat bersyukur"

Mukanya cian Yap Tojin menjadi merah.

"Tak nanti, tidak nanti aku berani berbuat demikian," katanya terpaksa,

In Gak tidak berkata kata lagi, sebaliknya ia lompat kepada Ham Tek Tojin, untuk

mengangkat bangun tubuh imam itu, buat terus menotok jajan darahnya-jalan darah cie- yang atas mana siimam lantas mengasi dengar suara terus dia sadar, bahkan lekas sekali mukanya yang pucat barulah menjadi dadu, sedang bengkak dilengan kanannya lantas mulai kempes.

Hoat in si ketua Siauw Lim Pay maju menghampirkan anak muda itu. "Numpang tanya, tan-wat, adakah wajahmu ini wajahmu yang asli?" dia tanya. In Gak memandang pendeta itu, ia tertawa lebar.

"Taysu ialah pendeta berilmu dari agama Buddha," katanya, "pasti sekali taysu ketahui wajah manusia itu ialah wajah kosong belaka Aku ialah aku, maka itu, buat apa ada soal lagi yang hendak dibicarakan ?"

Hoat in melengak. Lantas dia merasa bahwa orang berbakat bagus sekali hingga dibelakang hari ia bakal menjadi kepala Rimba Persikatan.

Ham Tek Tojin sudah lantas sadar seluruhnya, Dia membuka matanya, Seketika dia terus lompat menyerang anak muda itu, Dia mengerahkan sepuluh jari tangannya dipentang dipentang- dibuka sepuluh buah gaetan.

ooooooo

Itulah kejadian diluar dugaan, semua orang kaget.

Juga Ham Tek sendiri tidak kurang kaget-nya. Tepat serangannya mengenai sasarannya, akan tetapi kesudahannya diluar dugaannya, Sepuluh jarinya yang dia andalkan itu mendadak terasa seperti kulit busuk tenaganya lenyap sama sekali sebaliknya dia merasa dadanya tertolak keras, sangat susah dia menahan diri, tidak urung dia toh terhuyung mundur sepuluh tindak baru dia dapat berdiri diam.

Ketua ceng Shia Pay, yang kaget seperti yang lainnya, berseru: "Sute, jangan kurang ajar Sie-cu ini bukanlah orang yang itu hari menyerang gunung kita"

Ham Tek berdiam, tetapi kegusarannya tak segera lenyap.

Setelah reda suasana tegang itu Pit Siauw Hong bertindak maju.

"Siauwhiap. apakah isinya karung yang kau bawa bawa ini?" ia tanya, Baru sekarang ia ingat karung goni itu. "Siauwhiap sangat terkenal, memang tidak selayaknva Siauwhiap melakukan pembunuhan tanpa sebab kepada orang-orang partai kami. Salah paham ini pun terjadi karena karung Siauwhiap. Kami kehilangan satu orang kami menduga kurungmu terisi mayatnya orang itu, karena itu kami lantas menduga pasti Siauwhiap mesti orang yang duluhari itu menyerbu gunung kami. Mestinya dia telah memalsukan nama Siauw-hiap. hingga terjadilah peristiwa yang menyedihkan itu..."

In Gak tertawa, ia lantas menjawab : "Pit Losu, orang didalam karung ini ialah orang yang duluhari mengacau gunung kamu. Dialah Hing Thian Seng muridnya Sie Lin Lojin dari gunung Hong San."

Cian Yap menoleh kepada Pit Siauw Hong.

Dia menunjuk rasa heran bukan kepalang, Pit Siauw Hong sebaliknya mergerutkan keningnya beberapa kali dia batuk- batuk.

"Aku situa sekarang sudah mengerti," ia kata kemudian- "Pada sembilan tahun dulu Sie Sin Lojin dan ketua kami telah merundingkan ilmu silat di puncak Thian Touw Hong diatas gunung Hong San, mereka tidak mendapat kata sepakat, bahwa mereka jadi bertentangan, hingga pertemuan bubar secara tak menyenangkan Tidak disangka sekali Sie Sin Lojin telah mendendam hati karenanya. Sungguh diluar dugaan-.."

Mendengar keterangan itu, In Gak mendapat pikiran baru, ia merasa tidak selayaknya Heng thian Seng diserahkan pada ceng Shia Pay atau nanti bakal muncul peristiwa yang hebat- hebat, Dalam dunia Persilatan, sakit hati itu menyebabkan balas membalas yang tak putusnya.

Bila itu terjadi, ceng Shia Pay bakal terancam bahaya, Maka, ia lantas berkata: "Datangku kemari ialah guna membikin terang duduknya perkara, sekarang telah menjadi jelas dan salah paham sudah lenyap. ingin aku berangkat pergi dari sini dengan membawa Heng Thian Seng, untuk aku sendiri yang mengurusnya, pihak ceng Shia Pay boleh bersikap tidak tahu menahu."

Mendengar demikian Pit Siauw Hong tertawa lebar. "Siauwhiap memandang Partai kami terlalu ringan- Kata

dia. "aku si orang tua, aku bukannya bangsa lemah yang takut berperkara. Biar bagaimana, Heng Thian Seng harus ditinggalkan disini"

Mendengar sikap orang itu, In Gak terpaksa meluluskan- ia menurunkan karungnya, ia membuka ikatannya, lantas tubuh si jahat, itu ditunggingkan keluar.

Heng Thian Seng tetap tak sadarkan diri, mukanya pucat sekali. Dengan sebat In Gak menotok dia dua kali pada iganya, menyusul tepukan pada punggungnya.

Mendadak Thian Seng bersuara, lantas dia mengeluarkan reak dari mulutnya, habis itu kedua matanya dibuka hingga dia dapat melihat kesekitarnya. Dia kaget, mukanya menjadi pucat, Dia mengenali siapa berada diantaranya.Jadi dia terjatuh kedalam tangan ceng Shia Pay, Lantas dia menggeraki tangan dan kakinya untuk berlompat bangun tapi dia kaget pula.

Dia telah kehilangan tenaganya Dia mengaturkan napas, lalu dia merayap bangun. Melihal kepada Hoat In Siangjin, dia bersenyum. "Mohon tanya, taysu, aku ini berada dimana?" dia

menanya.

Pendeta itu bersikap tenang, "Di ceng Shia San," sahutnya, Heng Thian Seng berpura kaget, "Aku berlaku alpa, aku kena dicurangi sahabatku," dia berkata, "Aku menduga diriku bagian mati. Tapi sekarang aku ditolongi taysu, oh, aku sangat berterima kasih"

In Gak tertawa tawar tak hentinya, Pit Siauw Hong berpengalaman, dia tahu Thian Seng tidak mau menyerah mati.

Dia tertawa dan berkata "Aku si orang tua kebetulan lagi lewat di Bu Houw itu disana aku melihat kau rebah ditepi jalan, tuan maka itu aku bawa kau kegunung ceng Shia San ini dan menolong hingga kau sadar, Dapatkah aku ketahui nama besarmu?"

Thian Seng tahu orang lagi mempermain-kannya, dia kata: "Menanam labu mendapat labu menanam kacang mendapat kacang demikian karma. Aku ini jikalau bukan karena urusan ceng Shia Pay tidak nanti sahabatku Sekarang ini aku ditolongi pihak totiang, sungguh, Thian itu maha adil Aku yang rendah bernama Heng Thian Seng."

Pit Siauw Hong mengisi lihat roman heran.

"Kenapa tuan menyebut urusan ialah urusan Partai kami?" dia tanya.

Thian Seng tertawa, dia menjawab: "Sahabatku yang jahat itu bernama Cia in Gak. Dia terlalu mengandalkan kepandaiannya yang lihay, dia menjadi besar ambekannya hingga dia ingin menimbulkan peristiwa bau bacin di kalangan Rimba persilatan supaya kemudian dia dapat membangun partai tunggal. Begitulah baru-baru ini dia telah mendaki gunung ceng Shia San ini, dia telah membinasakan lima orang, dia juga mencuri kitab rahasia..." "Cia in Gak?" kata Siauw Hong dengan roman ragu-ragu, "Tentang dia pernah juga aku mendengarnya. Tapi partai kami tidak punya sangkutan dengannya, dia menyerbu kami apakah maksudnya? Aku heran sekali..."

Thian Seng bersenyum.

"Bukankah telah aku mengatakannya barusan?" dia bilang, Cia in Gak hendak mewujudkan ambekannya itu Selama yang belakangan ini, dia banyak melakukan perbuatan perbuatan jahat sekali. Beruntunglah ceng Shia Pay aku mendapat tahu niatnya menyerbu kemari, aku lantas menasihati dia agar dia jangan berbuat yang tidak-tidak, agar dibelakang kali dia bercelaka karenanya, apa lacur, dia tidak sudi dengar nasihatku itu, bahkan dia menjadi sakit hati, lantas dia membokong aku..."

"Apakah tuan tahu dimana dia melakukan kejahatannya itu?" Siauw Hong tanya pula,

Heng Thian Seng menggoyang kepala, "Biarlah dia berbuat jahat padaku, aku tidak sudi berbuat jahat terhadapnya?" katanya, "Di-akhirnya, perkara toh bakal menjadi terang sendirinya, Maka sekarang aku tidak mau menjual sahabatku..."

In Gak mendengar ocehan orang itu, ia gusar bukan main- "Dia sangat jahat, dia tidak bisa dibiarkan hidup lebih

lama," pikirnya, Jikalau dia dikasi tinggal hidup, dibelakang hari dia bakal mendatangkan banyak malapetaka" Maka ia kata bengis: "Sungguh seorang yang berhati mulia. Pantas kalau kau akhirnya makan juga buah perbuatanmu yang getir"

Thian Seng terkejut, Dia kenal baik lagu suara itu, Dia Lantas menyedot hawa dingin, segera dia menoleh untuk mengawasi orang yang bicara seram itu. Dia melihat seorang muda dengan roman bengis, yang matanya bersinar sangat tajam. "Kau siapa, tuan?" dia tanya. In Gak tertawa pula, tertawa dingin, terus ia bawa tangannya ke mukanya, untuk menarik. Maka disitu terlihatlah wajahnya yang asli, yang tampan sekali, tetapi sekarang wajah itu keren

Hanya sekelebatan, tubuh Thian Seng gemetaran, akan tetapi dia menyeringai dia kata: "Aku Heng Thian Seng, aku terjatuh ditanganmu, mati atau hidupku terserah pada kau. Memang telah aku palsukan namamu, telah aku lakukan empat macam kejahatan, tak aku sangkal itu inilah perbuatanku sebab kau telah berlaku kejam sudah tidak menolongi orang yang bercelaka"

In Gak gusar hingga ia tidak suka banyak omong lagi, ia sudah mengulur tangan kanannya untuk menotok guna mengorek keterangan dari mulut orang atau ia membatalkan itu, sebab dari kejauhan terdengar, siulan yang nyaring, yang segera disusul dengan berlari-lari datangnya belasan orang, Dan cepat sekali mereka itu sudah sampai. Melihat mereka itu, hati In Gak lega bukan main-

Mereka bukan lain orang daripada Song-bun Kiam-kek Leng Hui bersama-sama ketiga tianglo Kay Pang, Kian Kun ciu Lui Siauw Thian, Ay-Hong Sok Kheng Hong dan lainnya lagi.

Kapan Leng Hui melihat Heng Thian Seng masih hidup, dia menepuk dahinya dan memuji.

"Syukur jahanam ini belum mampus" kata-nya. "Dia telah melakukan banyak macam kejahatan dia juga telah memalsukan nama siauwhiap. Ketiga tiang lo dari Kay Peng sekarang datang dengan mengajak beberapa saksi korban- korbannya, supaya mereka itu dapat mencuci bersih noda atas namamu, siauw-hiap"

Ketika tiang lo itu sudah lantas saling memberi hormat dengan pihak ceng Shia Pay dan ketua Siauw Lim Sie, Setelah itu Kiu Sim-Kay chong Sie lompat kepada Heng Thian Seng. "Sie Sin Lojin mempunyai mata seperti buta karena dia menerima murid celaka sebagai kau" katanya tertawa tawar, "Kau mempunyai sakit hati apa terhadap Cia In Gak maka kau memalsukan namanya untuk membikin dia celaka?"

Thian Seng sudah malang maka dia berlaku bandel.

Dengan datangnya ketiga tianglo dia sudah tidak mempunyai harapan lagi, akan tetapi dia mau adu untung, Dia masih percaya tidak nanti ceng Shia Pay berani membunuh padanya mengingat adanya permusuhan diantara Partai itu dengan gurunya, Maka mau dia menyangkal terus.

"Untuk menuduh orang tidak kekurangan alasan- kata dia dengan berani, "Aku Heng Thian Seng, aku murid kaum lurus, aku berani berbuat, aku barani bertanggung jawab Buat apa aku pakai nama lain orang? Hm Cia In Gak tahu dia tak dapat tempat dalam Rimba Persilatan tak malu-malu dia menggunai caranya yang hina-dina menuduh aku supaya aku terbinasakan. Tapi aku, meski aku mati, aku tidak harus dibuat sayang, hinya aku kuatir, mulai hari ini selanjutnya, tuan tuan, kamu bakal tak lagi dapat mengalami hari hari yang aman-

Bersungguh-sungguh Thian Seng ketika ia berkata kata itu.

Hoat In dan pihak Pit Siauw Hong mengawasi satu pada lain- Mereka bingung karena ”persakitan" ini demikian lihay, Kalau dia tetap menyangkal mana ada bukti kejahatannya? Chong Sie pun terbengong. Tapi In Gak lompat kesisi Thian Seng, dia kata bengis. "Perbedaan diantara kebaikan dan kejahatan bagaikan sehelai benang. Kau kenal aku, aku satu laki-laki jikalau aku berbuat sesuatu aku tidak takut didepannya, tidak takut dibelakangnya, aku lakukan apa yang aku rasa baik Aku pula tidak takut dibuat omongan Aku tidak sangka kaulah satu manusia takut mati. Bilamana kau berani menyebut-nyebut dirimu sebagai orang dari kaum lurus?

Banyak hadirin disini masih memandang satu dan lain, mereka tidak berani turun tangan atas dirimu, tetapi aku... aku Cia In Gak... aku tidak memperdulikan apa juga. Kau mau mengaku atau tidak terserah padamu Aku mau lihat kau dapat bertahan atau tidak terhadap siksaan tujuh hari Souw-im Toan-hun ciu- hoat"

Mendengar disebutnya, "cit Jit Souw-im Toan-bu ciu hoat" itu, semua orang terkejut, itulah semacam ilmu totok yang sudah lenyap diri dunia Rimba Persilatan, siapa sangka sekarang ilmu ini dimiliki anak muda she Cia ini.

In Gak baru menutup mulutnya atau tangannya telah dikasi bekerja, dengan luar biasa cepat dan tepat ia menotok tiga belas kali dipelbagai anggauta tubuhnya Heng Thian Seng, Ia telah menjadi sangat sengit.

Hebat penderitaannya orang she Heng itu. Kontan tubuhnya menjadi lemas dan roboh. Dia merasakan sakit pada tiap bagian tubuhnya yang ditotok itu sakit dan dingin luar biasa, Tulang-tulang atau otot ototnya pada berbunyi sedang dari mulutnya keluar rintihannya yang menyayatkan hati.

Dia mencoba menguatkan hati untuk bertahan, tetapi tidak dapat, Dia merintih- rintih, dia berjengit, kedua matanya membalik, sinar matanya itu guram. Semua orang mendengarnya giris, semua hatinya berdebaran-

Hoat in Siangjin memuji dan berdoa, hendak dia mencegah, akan tetapi dia melihat matanya In Gak bersinar bengis, dia terpaksa membatalkan niatnya, Dia cuma bisa menghela napas.

Tidak lama, lalu terdengar suaranya Thian Seng: "Saudara Cia, adikmu mengaku salah..." Aku telah mensia-siakan budi kebaikanmu... Memang aku harus mati... sekarang ini aku tidak mempunyai muka lagi untuk mencuri hidup, maka aku minta kau... kau bunuhlah aku..."

Sukar Thian Seng mengeluarkan semua kata-katanya itu.

Dia meringkuk berkoseran dari semua lubang keringatnya keluar darah. Sungguh hebat untuk menyaksikan penderitaannya itu. In Gak masih panas hatinya. ia kata dingin, "Totokan citJit Souw im Toao-hun ini gampang dilakukannya tetapi sukar untuk ditarik pulang. Paling banyak ialah penderitaanmu diperkurang akhir-akhirnya kau toh mesti mampus jikalau kau menghendaki kematian yang mempuaskan hatimu, tidak ada lain jalan daripada sekarang, dihadapan orang banyak ini, kau beber semua kejahatanmu dalam mana kau pakai namaku" Kata-kata itu disusul totokan dua kali beruntun pada jalan darah ceng-cok.

Thian Seng lantas merasakan tidak terlalu sakit lagi, akan tetapi tubuhnya tetap

risi seluruhnya, itulah perasaan seperti ribuan ular nyelosor pergi-pulang diantara dagingnya . . .

Sampai itu waktu orang jahat dan keras kepala ini lenyap kebandelannya, maka lantas dia membeber kejahatannya semua. Banyak kejahatanya itu, dari itu dia membutuhkan tempo sampai tengah-hari untuk menamatkannya. Maka teranglah sudah bahwa dialah tukang mencuri, merampok berjina dan membunuh orang.

In Gak begitu murka hingga giginya bercatrukan, hingga mukanya menjadi pucat-pasi. Dengan tiba-tiba ia melayangkan sebelah tangannya kearah dada si jahat itu atas mana Thian Seng menjerit hebat, darah hitam muncrat dari mulutnya, dia menjerit pula, lalu napasnya berhenti.

Baru sekarang hati In Gak lega tetapi masih belum semuanya, Maka untuk menghiburkannya, Pit Siauw Hong dan Hoat In mengundang ia pergi kegua Thian Su Tong untuk dimana mereda duduk memasang omong. In Gak tidak menampik ajakan itu.

Selagi berjalan kearah gua, Kheng Hong berbisik pada anak muda itu: "Hian-tit, sesampainya di Thian Su Tong, kau duduk sebentar saja lantas kau meminta diri, lantas kau lekas pergi ke Ngo Bie San-.." In Gk heran hingga ia melengak. "Untuk apakah itu?" ia tanya.

Kheng Hong melirik, agaknya dia merasa berkasihan, Dia mau membuka mulutnya, untuk menjawab atau chong Sie berkata kepadanya: "Kheng Losu, kalau kau bicara sekarang, cuma-cuma kau mengacau pikiran orang. Baiklah kau bicara sebentar sesudah kita turun gunung"

Kheng Hong berkicap matanya, lantas dia bungkam.

In Gak melihat kawan-kawan itu, lantas ia menduga, itulah tentu urusannya Kheng Tiang Siu. Mestinya Kim Teng Siangjin berkeras hendak membelai muridnya dan dia hendak menghukum siapa yang memusuhkan muridnya, ia tidak minta keterangan tetapi ia bersenyum tawar.

Tengah mereka berjalan itu, tiba tiba Hoat in Siangjin ketua Siauw Lim Pay menghentikan tindakannya. Dia memutar tubuh menghadapi si-anak muda.

"Hampir aku lupa satu urusan " katanya, "Aku mohon tanya siauw-hiap apakah, siauw-hiap itu orang yang telah menolongi Siauw Lim PaY mendapatkan pulang kitab Bu Siang Kim Kong cing Keng?"

Ditanya begitu, siaoak muda bersenyum, "Urusan kecil "jawabnya "Tak usahlah taysu pikirkan itu"

Pendeta itu mengasi lihat roman sangat bersyukur

"Lolap telah menutup diri tiga tahun, selama itu lolap tidak mencampur tahu segala urusan diluaran," ia bilang, "baru kemudian Hoat Hoa Sute bicara tentang siauw-hiap yang dia puji tinggi. Lolap pelupaan sekali, baru sekarang lolap ingat, oleh karena itu, Siauwhiap. lolap minta sukalah kau memaafkannya."

"Taysu telah berusia tinggi dan beribadat, aku yang muda, mana berani aku menerima pujian taysu." In Gak merendah.

"Siauw-hiap tampan dan bermuka terang, segala apa mengenai kau bakal berjalan lurus," berkata pendeta itu. Meskipun benar bakal ada beberapa kesulitan tetapi itu semua akhirnya akan berubah menjadi kebaikan, jikalau siauwhiap suka dengar lolap cuma mengharap sukalah siauwhiap mengurangi melakukan pembunuhan, dimana bisa, baiklah siauwhiap memberi ampun siauwhiap ketahui sendiri didalam pergaulan manusia itu terdapat pelbagai kepalsuan- Maju boleh tetapi baiklah orang memikir juga untuk mengalah dan mundur."

In Gak memberi hormat. "Terima kasih, taysu," ia kata, "Aku yang muda akan mengingat baik-baik nasihat taysu yang berharga ini."

Mereka berjalan terus sampai melewatijembatan ceng Shia Kio, Dari situ orang mulai jalan mendaki gunung, jalanan telah diperbaiki tetapi tetap berliku-liku, maka itu jalanan yang sukar itu meminta tenaga.

Gunung ceng Shia San indah, sekarang orang membuktikannya. Sembari mendaki, mereka itu memandang kekiri dan kekanan, Dengan begitu tanpa merasa mereka melihat sebuah tembok merah yang bernawung dibawuh teduhnya pepohonan, itulah kelenting keramat kemana orang, tidak lama kemudian Cian Yap Tojin sebagai ketua Ceng Shia Pay berdiri dengan hormat mempersilahkan para tetamunya masuk kedalam, itulah yang disebut "gua" Thian Su Tong, kuil utama di ceng Shia San, yang dibangun pada permulaan Kerajaan Sui.

Nama asal kuil yalah Yan Keng Koan, di masa dinasti Song dirubah menjadi ciauw Keng Koan kemudian saat ini, dinasti ceng ditukar lagi menjadi Tiang To Koan, Akan tetapi umum memanggilnya Thian Su Tong.

Di belakang kuil itu ada jurang yang curam, sedang dikiri dan kanannya mengapit kedua puncak Hek Houw Hong dan che Liong Hong. sepasang kali Hay Tong dan Pek In mengalir dilembahnya kedua puncak bukit itu. Didepan kuil tumbuh ratusan pohon aras yang banyak cabang dan lebat daunnya, itulah pepohonan yang meneduhi kuil itu.

"Keindahan ceng Shia San mengarungi seluruh negara," kata In Gak pada cian Yap. ia kagum dan memuji, ”Jikalau aku bukannya telah menyaksikan sendiri, pasti aku tidak mengicipi sendiri keindahan ini. Berada ditempat ini, rasanya lapang dadaku. Sayang tempat ini kepunyaan Partai kamu, totiang, coba ini tempat tanpa pemiliknya, pasti sekali suka aku berdiam disini selama hidupku, buat tidak lagi turun menginjak dunia...”

Mendengar itu, cian Yap tertawa lebar.

"Terima kasih untuk pujian kau ini, siauw-hiap." berkata ketua ceng Shia Pay itu. "Siauwhiap telah menjadi tetamu kami, maka itu tempat ini ada terbuka untuk siauwhiap sembarang waktu siauwhiap dapat datang kemari, Hanya aku kuatir siauwhiap nanti mencelanya."

Anak muda itu bersenyum.

"Totiang baik sekali, Baiklah lain kali aku pasti akan sering- sering berkunjung kemari"

Sampai disitu, cian Yap mengundang semua tetamunya masuk keruang dalam hingga orang dapat menyaksikan segala tiang dan penglari yang terukir indah. Habis melewati pendopo besar Sam ceng Tian sampailah mereka diruang belakang dimana ada berhawa oey Te Su.

Disini ada terdapat banyak lauwteng atau ranggon, yang nyambung satu dengan lain, dengan setiap pekarangannya ditanami banyak pohon dan bunga.

Cian Yap memimpin sekalian tetamunya masuk keruang dibawah lauwteng kiri, itulah ruang tetamu dimana sudah disajikan barang hidangan sayuran, Maka disitu semua orang bersantap.

Habis dahar orang duduk pasang omong, sampai tiba-tiba terlihat seorang imam setengah tua datang masuk dengan bergegas gegas romannya bergelisah. Cian Yap mengerutkan alis melihat orang datang dengan kelakuan tak biasanya itu. "Biauw Hong, ada apakah?" dia mendahului menegur.

Imam itu berhenti didepan ketuanya, dia memberi hormat. "Barusan tecu merondai gunung, dipuncak che Liong Hong

terlihat dua orang berlari-lari mendatangi." ia memberi laporan, "Lantas tecu memapaki mereka itu untuk menanyakan mereka siapa dan apa maksud kedatangan mereka, Merekalah seorang tua laki-laki bersama seorang nona, orang tua itu memperkenaikan diri sebagai It Goan Kisu, bahwa ia datang bersama puterinya untuk menemui Siauwhiap In Gak.

Dengan lantas tecu ajak kedua letamu itu datang kemari, Ditengah jalan kita justeru bertemu dengan Siauw-tocu Nio Kiu Ki, majikan muda dari pulau Giok ciong To. Dia lantas sesumbar, bahwa dia hendak menginjak-injak ceng Shia San hingga rata dengan bumi, Karena itu dia bentrok dengan ouw Sicu dan jadi berkelahi karenanya...”

Bu Eng Sin ciang lantas berlompat bangun, "Dimana adanya dia sekarang?" dia tanya,

"Diatas puncak che Liong Hong tak jauh," sahut Biauw Hong.

Tanpa menanti orang berbicara habis, Pit siauw Hong sudah berlompat untuk terus lari keluar, dia lantas disusul In Gak yang melesat bagaikan jemparing terlepas dari busurnya. Habis mereka maka menyusullah yang lain-lain-

Diatas puncak che Long San, it Goan Ki-su tengah bertarung seru dengan Nio Kiu Ki, Nona ouw Kok Lan mengawasi dari pinggiran dengan sinar matanya yang guram, ia dapat kenyataan lawan ayahnya tangguh sekali. Ayahnya itu sudah menggunai ilmu silat "It Goan Khong Ki" akan tetapi lawan itu tak dapat didesak, jangan kata dipukul mundur, sebaliknya kedua tangan lawan itu seperti juga mengurung ayahnya, ia bersusah hati karena sulit untuknya buat membantui ayahnya, Maka itu kemudian ia menoleh keempat penjuru, hatinya bingung, ia mengharap- harap datangnya Cia In Gak...

Akhir-akhirnya terlihat juga dua orang lari mendatangi, Dari jauh mereka itu berdua nampak sebagai titik-titik hitam. Baru kemudian mereka sampai diatas puncak. Begitu ia mengenali salah satu diantara dua orang itu, sinar matanya yang guram lantas menjadi bercahaya, sedang wajahnya yang kucal terus tersungging senyuman-

Itulah In Gak yang tiba berbareng bersama Pit Siauw Hong, Lantas sianak muda menarik ujung baju slorang tua seraya ia berbisik: "Pit Losu, tolong kau berjaga-jaga saja dipinggiran, biarlah aku yang muda yang maju terlebih dulu, untuk aku mencoba coba ilmu kepandaian apa yang diandaikan Nio Kiu Ki maka dia menjadi begini jumawa, jikalau aku keteter, barulah losu maju membantui aku."

Pit Siauw Hong tahu baik sekali orang muda ini hendak melindungi muka terangnya, ia menjadi sangat berterima kasih. "Baiklah," kata ia mengangguk.

In Gak bertempat maju, bukan langsung ke gelanggang pertempuran, hanya ia tiba dulu didepan ouw Kok Lan seraya ia menyapa: "Nona ouw, kau baik" Tapi ia tidak berdiam di- situ, kakinya terus menjejak. membikin tubuhnya melesat lebih jauh, Baru sekarang ia lompat kedalam gelanggang, dengan kedua tangannya terus ia menolak diantara mereka itu.

Nio Kiu ci terkejut, Mendadak ia merasakan tolakan keras sekali, yang menggempur tenaga dalamnya yang dipakai melindungi tubuhnya, ia lantas merasa dadanya sesak, Maka itu, menduga kepada musuh lihay, dia lompat kesamping, Baru setelah menaruh kaki, ia melihat tegas kepada orang itu, yalah seorang anak muda yang tampan, yang halus gerak- geriknya. "Siapa kau?" ia membentak "Kau berani campur tahu urusan siauw-tocu?"

Dengan kejumawaannya dia menyebut dirinya "siauw- tocu" yala h "majikan pulau yang muda"

In Gak bertindak perlahan. ia maju mendekati dua tindak. ia pun tertawa.

"Kau benar hidup dengan tidak tahu malu" ia menegur, "Diatas puncak Bu Leng Hong telah aku mengasihi ampun padamu. Kau tentunya masih ingat pernah aku mengatakan jikalau kau berani pula menaruh kaki di Tiong-goan, sedikitnya aku akan kutungkan kedua belah kakimu"

Nio Kiu Ki mundur satu tindak. Sinar matanya menunjuki dia terperanjat.

"Jadi kaulah yang itu malam membokong aku?" dia tanya, ”Jadi kaulah Cia In Gak?"

"Benar, itulah aku" jawab In Gak, suaranya dalam, "Tapi malam itu kau sendiri tidak mempunyai tenaga cukup banyak untuk melawan aku, bukannya aku membokong kau"

Mukanya Nio Kiu Ki menjadi pucat terus berubah menjadi merah, itulah bukti ia merasa sangat malu dan gusar.

Kedua matanya juga bersorot tajam hingga nampak berapi Dia lantas mengasih turun kedua tangannya seperti dia lagi mengerahkan tenaganya.

Ketika itu rombongannya Cian Yap Tojin telah tiba, Mereka tidak meluruk maju, semua berdiri dipinggiran dengan semua matanya diarahkan kedalam gelanggang pertempuran, Siapa yang belum mengenal sekarang dapat mengenali majikan muda dari pulau Giok ciong To itu yang duluhari telah merobohkan Pit Siauw Hong dan Yan San Sin Ni.

"Nio Kiu Ki," kata In Gak tenang, "kali ini kita bertempur kalau kau tidak memperoleh kemenangan kau tak bakal luput dari kedua kakimu dikutungkan.” ”Jangan kau berjumawa" Kiu Ki membentak ”Jangan kau sudah puas hati terlebih dulu. Baik kau ketahui, kekasihmu telah siauw-tocu kurung dipulau Giok ciong To Aku lagi menantikan bulan purnama malaman Tiong ciu untuk merayakan pernikahanku dengan-nya. Kau manusia jumawa jangan kau bertingkah didepan siauwtocu kamu. Kau harus ketahui ilmu kepandaian Hong In Pat Jiauw dari Gick ciong To sudah menjagoi Rimba persilatan diluar dan didalam negeri.

Kali ini kita bertempur sedikitnya kau bakal bercacad tubuhmu, setelah itu akan aku bekuk kau dan bawa kau pulang kepulauku, untuk disana aku menyiksa perlahan-lahan padamu, sampai kau mati mereras. Hanya dengan cara itu baru hatiku puas"

"Apakah kau maksudkan nona Ni Wan Lan?" tanya In Gak.

Didalam hatinya, ia kaget. Nio Kiu Ki memperlihatkan kejumawaan-nya. "Tidak salah Dialah Ni Wan Lan." jawabnya. "Bagaimana dengan Leng Giok Song?" In Gak tanya pula. "Dia pun dikurung bersama sama "

"Bagaimana dengan Yan San Sin Ni dan Yu Su Kouw?" "Cia In Gak. kau menanyakan terlalu banyak" Nio Kiu Ki

memotong. "Tapi baiklah aku memberitahukan kau. Ayahku telah mengirim surat mengundang Yan San Sin-ni berkunjung kepulau kami, maksudnya untuk membicarakan soal pernikahan Giok Song dengan siauwtocu. Dalam suratnya itu, ayahku memberitahukan jikalau Yan San Sin-ni tidak menerima baik undangan itu ayahku sendiri yang bakal pergi ke Tionggoan menemui dia. Yan San Sin-ni kuatir, kalau ayahku datang, nanti tidak ada orang yang melawannya, maka dia menerima baik undangan itu, dia datang kepulau kami, Lantas saja dia dikurung oleh ayahku dalam rumah batu Thian Ki"

In Gak mengendalikan dirinya untuk menahan kemendongkolannya. ia tertawa lebar, "Nio Kiu Ki, aku tidak mau mengambil jiwamu" katanya nyaring, "Aku cuma bakal mengutungkan kedua kakimu untuk nanti di kirim pulang kepada ayahmu di pulaumu itu supaya ayahmu memerdekakan orang orang tawanannya . . .”

Perkataannya In Gak masih belum habis diucapkan atau Nio Kiu Ki sudah berlompat maju dengan penyerangannya. Lima jarinya menyamber seperti lima buah gaetan, Benar- benar dia sangat sebat dan berbahaya.

Para hadirin kaget melihat itu, umumnya orang tidak tahu ilmu apa itu yang digunai tocu muda itu. Tentu sesaat, mereka menjadi berkuatir untuk In Gak.

Lebih-lebih Pit Siauw Hong serta sekalian imam dari ceng Shia San-

"Hong in Pat Jiauw" atau "Delapan Kuku Angin-Mega" asalnya ilmu silat ceng Shia Pay, kitab ilmu silat ini disimpan diatas lauw-teng peranti menyimpan pelbagai kitab suci, apa celaka kitab silat itu kena dicuri pemilik dari pulau Giok ciong To, yang terus meyakinkannya hingga sempurna, hingga pulau Giok ciong To menjadi menjagoi melebihkan ceng Shia Pay.

Akan tetapi In Gak tidak kena disamber untuk dicengkeram. Dengan lincah dia berkelit. "Mari sambut satu kali lagi" Nio Kiu Ki berseru. "inilah Pek in Hoan Bu" "Pek In Hoan Bu" yalah "Mega putih menari-nari".

Dia lantas menyerang, tangannya bergerak sangat cepat, memain dimuka In Gak. Memang gerakan tangan itu dapat membingungkan lawan-

Pemuda itu tertawa nyaring, ia pun menggeraki tubuhnya, ia menyingkir dari samberan dengan tindakan Hian Thian cit Seng Pou

Kiu Ki heran melihat lawan lenyap dari hadapannya, ia juga heran yang serangannya itu kembali gagal, Tengah ia berpikir, ia mendengar suara tertawa menghina dari belakangnya. Suara tertawa itu disusul dengan kata-kata ini: "Sebelum lima jurus dari Pek In Hoan Bu kau ini, aku akan tidak membalas menyerang. Aku akan menunggu sampai kau sudah menyerang secara kalap tiga jurus, baru aku hendak membekuk kau"

Nio Kiu Ki kaget, Segera memutar tubuh sambil berlompat, maka itu, dia dapat lantas menyerang pula, Seperti yang pertama dan kedua kali, dia bergerak dengan kegesitan luar biasa Tapi kali ini dia gagal pula.

In Gak menyingkir seperti menghilang dari hadapannya. Justeru itu orang mendengar pujiannya seorang pendeta.

Kiu Ki memutar tubuh dengan cepat, dari itu ia lantas melihat seorang pendeta berdiri berhadapan dengannya. Pendeta itu telah ubanan rambutnya, benar dia kurus kering tetapi kedua matanya bersinar tajam berpengaruh.

Dilain pihak, dia melihat In Gak berdiri di samping, dua tombak jauhnya dari dia, anak muda itu bersenyum mengawasi padanya.

Pendeta itu berkata dengan sungguh-sungguh: "Siauw- tocu, lolap ialah Hoat in ciangbunjin dari Siauw Lim Pay Tahukah kau bahwa pada lima puluh satu tahun yang lampau ayahmu telah bertanding dengan mendiang ketua kami"?

Bahwa ketika dia menggunai Hong in Pat Jiauw, ketua kami mempunyai satu jurus dengan apa ia dapat membikin tidak berdaya ilmu silat kamu itu?"

Nio Kiu Ki mengawasi orang suci itu, dia tertawa tawar. "Pernah aku mendengar keterangan ayahku," dia menyahut

"Itulah jurus cian Hud Hoa Sie, Tapi ayahku sudah menciptakan satu jurus lain guna memecahkan jurus kau itu, hanya ketika itu ayahku telah berusia lanjut, hatinya sudah tawar, maka tak lagi ada keinginannya buat merebut nama itu pula sebabnya ayahku lantas menempatkan diri dipulau yang mencil sendirian Apakah kau kira ayahku jeri kepada Siauw Lim Si maka ia jadi takut datang ke Barat, ke Tionggoan ini?" Hoat In seorang pendeta beribadat, ia tidak menjadi gusar dengan kata kata yang bernada mengejek itu, Sebaliknya, ia bersenyum.

"Tak lebih tak kurang lolap cuma menanya kau, siauwtocu," katanya sabar. "Karena ayahmu sudah tawar hatinya dan tiada niatnya pula merebut nama maka lolap pun seorang berhati lapang, yang hatinya kosong sama sekali, Mustahil lolap masih mengharapi kehidupan keduniawian?"

Habis berkata begitu, pendeta itu lantas lompat mundur, Dilain pihak In Gak sudah berlompat maju, hingga ia jadi berada pula di depan majikan muda dari pulau Giok ciong To itu.

Hatinya Kiu Ki panas, tidak menanti orang menaruh tetap kakinya, dia sudah menyerang. Dia menggunai dua dua tangannya, Dia tetap menyamber-nyamber. Hingga terdengar suara angin dari kedua tangannya itu.

In Gak melayani dengan sama gesitnya. ia menggunai jurus huruf "Lolos" dari Bi Lek Sin Kang, Sekarang ia tidak cuma main berkelit, Tangan kirinya ia menangkis, dengan tangan kanannya ia menyamber, ia pun hendak mencoba membekuk lawan, ia mau menangkap tangan kiri lawan itu.

Kiu Ki bermata celi dan sebat, Dia putar tangan kirinya itu, supaya lolos dari tangkapan, lalu sekalian memutar, dia meneruskan untuk menangkap.

Kedua pihak sama-sama menggunai kesebatannya, Tapi Nio Kiu Ki lantas menjadi kaget. Berbareng dengan itu, In Gak telah menggunai jurus dari Hian Wan Sip-pat Kay, tangannya bergerak dengan terlebih cepat pula.

Lalu tocu muda itu terkejut, Mendadak dia merasa nadinya tercekal keras sekali, lima jari tangan lawannya berupa seperti lima buah cakar nancap dalam kedalam dagingnya, Tak dapat dia berkutik, Dia menjerit, Lantas tenaganya habis. In Gak berlaku sangat cepat. ia tahu bagaimana harus menggunai ketikanya, Dengan mencekal lengan orang ia mengangkat naik tangannya Dengan begitu ia menjadi mengangkat juga tubuhnya lawan, Terus ia memutarnya.

Tepat kedua kaki si orang she Nio berputar, tepat ia menyambit dengan bacokan dengan tangan kirinya.

Diantara suara keras dari tulang tulang patah Nio Kiu Ki mengasih dengar jeritan hebat, Kakinya telah kena dihajar patah, Setelah itu lengannya dilepaskan maka tubuhnya terpental lima tombak, roboh terbanting ditanah.

Semua penonton kaget, semuanya kagum, Nio Kiu Ki terluka hebat tanpa pingsan, dia terbanting dengan tetap sadar, tetapi dia merasa sangat sakit, maka juga dia telah memuntahkan darah hidup, Begitu dia mendapat kenyataan kedua kakinya sudah patah, pikiran pendek menyandingi padanya, dia menjadi nekad. Sebelah tangannya lantai diayun kebatok kepalanya.

--ooo0dw0ooo-
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Menuntut Balas Jilid 31 : Kekalahan ilmu silat Giok-ciong-to"

Post a Comment

close