Menuntut Balas Jilid 06 : Tay oh Kiam milik keluarga Hu

Mode Malam
Jilid 6 Tay oh Kiam milik keluarga Hu

Jie In lantas keluar dari tempatnya sembunyi untuk menghampiri kedua korbannya, ia menotok bebas kepada si nona, hingga nona itu sadarkan diri ia berkata: "Kalau kalian ingin mengetahui tentang pedang Thay-oh Kiam, kalian tanyalah dia ini, nanti kalian dapat mengetahuinya Aku sendiri masih mau dahar." Lantas ia ngeloyor ke tempat bungkusan makanan, untuk menggeragoti lagi paha ayamnya

Si nona yang dipanggil Yan sumoay itu sadar dengan merasakan seluruh tubuhnya sakit ngilu bukan main, ketika ia membuka matanya, ia melihat seorang nona mengawasi ia dengan sinar mata bengis, sedang di sisi nona itu ada bocah berumur tujuh atau delapan tahun,

ia kaget, tetapi ia lantas bertanya: " Kalian menurunkan tangan jahat, kalian mau apa?"

"Hm" bersuara Hu Wan. "Kami tidak mau apa-apa Cukup kau memberitahu kami, di mana Pat Ciu Thian-cun menyimpan pedang Thay oh Kiam, nanti kami memberi ampun padamu"

Nona itu rupanya mengerti nasibnya, lantas ia menghela napas. "Sejak guruku mendapatkan pedang itu, tak pernah ia memisahkan diri darinya," ia berkata, "Sekarang ini guruku berada di atas menara di belakang kuil, di tingkat ke enam di mana ada kamar istirahat, di mana ia lagi meyakinkan ilmu cu Ngo Hian Kang. Kalau kalian mau mencarinya, pergilah kalian ke sana"

Belum Hu Wan atau Ceng Jie mengatakan apa-apa, Jie In telah mengasih dengar perkataannya: "Ceng Jie, kau totok leher kedua bocah itu, di sebelah kanan, ototnya yang ke-tiga, supaya dengan begitu mereka akan berdiam di sini untuk selama-lamanya"

Ceng Jie heran berbareng girang, itulah ajaran ilmu menotok untuknya, Si nona sebaliknya kaget dan ketakutan-

"Aku mohon, jangan jangan-.." katanya. cuma sebegitu ia dapat berkata, Ceng Jie telah menotoknya, maka berhentilah ia bernapas.

Ceng Jie bekerja terus, ia pun menotok yang pria, hingga dia itu menyusul sumoaynya

Hu Wan hendak mencegah adiknya, tetapi ia menarik tangan si adik sesudah kasip, Maka ia cuma bisa mendelik terhadap Jie In si pelajar rudin. Kemudian ia menarik tangan adiknya itu seraya berkata: "Adik, mari kita mendaki menara di belakang kuil Tin Hong Sio itu untuk minta pedang kita dari Pat ciu Thian-cun"

"He, tunggu dulu" mendadak terdengar suara nyaring si pelajar rudin, "Dapatkah kalian bertindak sembrono cuma karena mengandalkan kepandaian Kiu Kiong Im yang Ceng- hoan Pou dan ilmu pedang Pek Wan, si Kera Putih kalian?

Kalian dengar kata-kataku, nanti malam baru kalian pergi itu waktu akupun dapat membantu kalian mendapatkan pulang pedang kalian itu sekalian menyingkirkan Pat Ciu Thian-cun, supaya berbareng terbalas juga sakit hati orang tua kalian" Hu Wan dan Ceng Jie terkejut bukan main, dengan mendelong mereka mengawasi si pelajar rudin, siapakah orang ini, yang mengetahui demikian jelas tentang diri mereka? Disamping itu, mereka pun menjadi curiga dan berkuatir pedangnya nanti dirampas orang ini. "

"Siapa kau?" tanya si nona kemudian dengan bengis, "Kenapa kau mengetahui urusan kami? Lekas bilang Kalau tidak. nonamu tidak akan berlaku sungkan-sungkan"

Ceng Jie sudah lantas mengeluarkan sepasang poan-koan- pit yang tempo hari dapat dirampas dari Tong san Jie Niauw, ia bersiap menerjang begitu ada perintah kakaknya Jie In tertawa lebar.

"Anak-anak. kenapa tabiat mu begini keras?" katanya, "Aku si orang tua berhati baik, akupun tidak mengganggu kalian Mari, mari keluar, nanti aku kasih kalian lihat, siapa, aku si orang tua ini"

Baru dia berkata begitu Jie In sudah mencelat keluar, cuma anginnya yang terasa menyambar.

Wan Jie menjadi heran, tapi justru itu, ia jadi terkenang akan engko Gannya. Tanpa ayal lagi, ia tarik tangan Ceng Jie untuk diajak lari keluar.

Di luar gua, si pelajar terlihat lagi berdiri anteng sambil menggendong tangan dan wajahnya tersenyum berseri-seri.

"Siapa kau?" Wan Jie membentak, "Lekas bicara"

Jie In tertawa.

"Nona Wan," sahutnya perlahan, "sampai sekarang kau masih belum mengetahui aku siapa?" Kali ini ia bicara dengan logat suara asalnya, logat suara orang selatan.

Wan Jie mendelong mengawasi ia ingat logat suara itu seperti pernah ia mendengarnya, Ceng Jie pun sama herannya.

Jie In pun mengawasi ia mengerti orang belum dapat mengingatnya. "Sekarang lihatlah biar tegas, siapa- aku" katanya pula, tertawa, sekarang ia mengangkat tangannya dan dengan perlahan meloloskan topengnya.

Ceng Jie berteriak, tubuhnya lantas mencelat menubruk si pelajar rudin itu, merangkul batang leher, terus ia menggoyang-goyangkannya berulang-ulang dan berteriak: "Engko Gan Engko Gan"

Wan Jie pun heran, tetapi ia masih dapat menguasai diri untuk tidak menubruk seperti adiknya itu, ia cuma mencekal keras kedua tangan si anak muda, ia heran berbareng girang luar biasa.

"Engko Gan," katanya, "kau sungguh jail. Mengapa kau tidak mau menjelaskan siang-siang, supaya orang tidak sampai ragu-ragu dan berkuatir tidak keruan?"

Memang selama setengah tahun, kangen si nona terhadap si anak muda, bukan main keras nya ia memikirkannya, hingga ia pernah mengucurkan tidak sedikit air mata.

Jie In balas menggenggam tangan si nona, ia mengawasi saja sambil tersenyum.

segera Wan Jie sadar bahwa ia memegangi tangan orang itu, mukanya menjadi bersemu dadu, lekas-lekas ia menarik pulang kedua tangannya, tapi masih sekali lagi ia melotot terhadap anak muda itu.

Jie In lantas berpaling kepada si bocah.

"Eh, kunyuk cilik" ia berkata, "sekarang tahulah kau siapa aku si orang tua"

Ceng Jie melepaskan rangkulannya, ia berjingkrakkan. "Engko Gan, kau tidak tahu malu" katanya, "Dulu kau

menyebut dirimu paman, sekarang si orang tua" "Adik, kau ngaco" Hu Wan membentak.

Jie In berdiam, ia memandang kakak dan adiknya itu bergantian Kalau tadi ia gembira, sekarang ia masgul. Ada kata-kata yang sukar ia mengeluarkannya, ia melihat si nona menunduk. kupingnya merah, Maka berdebarlah hatinya.

"Mari kita masuk pula ke dalam gua, untuk berbicara," katanya kemudian, iapun menuntun tangan Ceng Jie. Wan Jie mengikuti Di dalam, mereka numprah di tanah,

"Hu Tayhiap sehat-sehat saja, bukan?" tanya Jie In kemudian pada si nona, ia tersenyum, "Aku heran mengapa Hu Tayhiap mengijinkan kalian keluar berdua saja inilah berbahaya."

Wan Jie mengawasi si anak muda, lantas ia menunduk pula, ia tidak menjawab.

Adalah Ceng Jie, yang tertawa.

"Engko Gan, kau tidak tahu" katanya, "Bersama-sama encie aku mendustai yaya Kami mengatakan bahwa kami mau pesiar ke Pakkhia sekalian mencari tahu tentang kau, dan kami berjanji, lain tahun kami akan pulang. Mulanya yaya menolak. tetapi kami membujuk lalu kami pun dibantu Gui Yaya, akhirnya yaya meluluskan juga."

"Oh, kiranya begitu" kata Jie In. "Bagai-mana persoalannya maka kalian mengetahui pedang Thay oh Kiam berada di tangan Pat Ciu Thian-cun?"

Belum Ceng Jie menyahuti, Wan Jie sudah mendahului. ia berkata: "Kami berangkat pada setengah bulan yang lalu.

Entah dari mana didapat kabarnya, say Hoa To Gui Yaya mengatakan pada kami bahwa pedang Thay oh Kiam adapada Pat Ciu Thian-cun Goh Hoa, bahwa Goh Hoa berdiam di kuil Tin Hong sie di luar kota Thaygoan, lalu Gui Yaya menganjurkan yaya pergi memintanya pulang- Diluar dugaan, yaya bersikap tenang saja, Yaya kata, pedang itu pedang mustika, maka orang bijaksanalah yang harus mendapatkan dan memilikinya. Yaya kata ia sudah tua, tak perlu ia berebutan pula, Yaya pun berkata, kalau Pat Ciu Thian-cun tidak bijaksana, dia bakal celaka, Karena itu, yaya tidak memperdulikannya lagi. Kami berdua menjadi bingung. Mana dapat pedang itu dibiarkan lenyap? Aku mengerti, dengan Cara terang-terangan tentulah kami tidak dapat pergi, maka kami lantas memperdayai yaya."

Jie In tertawa.

"Benar-benar besar nyali kalian" katanya, "syukur kalian bertemu aku, kalau tidak, entah bagaimana kesudahannya, mungkin kalian bakal mengantarkan jiwa kalian."

Sudah sekian lama Jie In menyamar sebagai pelajar berusia pertengahan tanpa merasa ia membawa kelakuannya si orang tua.

Wan Jie agak tidak puas.

"Kenapakah kau bawa lagak bertingkah ini?" katanya, "Jangan kau mengulanginya pula, nanti kami tidak menggubris padamu."

Jie In tersenyum.

"Baiklah, aku akan tidak bertingkah lagi," sahutnya. "Nanti malam aku akan membantu kalian secara diam-diam mendapatkan pedang kalian, cuma ada satu syaratnya Setelah berhasil mendapatkan pedang, kalian mesti segera pulang, supaya kalian jangan membuat yaya kalian memikirkan dan menjadi berkuatir karenanya."

Wan Jie tertawa.

"Kau ikut kami pulang, bukan?" katanya. Jie In agaknya gelisah.

"Mana bisa" katanya cepat, "Aku masih mempunyai urusan penting Nanti saja, setelah selesai, aku pergi ke rumah kalian, untuk berdiam sekian lama Tidak dapat aku turut kalian, jangan kau nanti aku tidak memperdulikannya"

Melihat orang bergelisah, si nona tertawa geli.

"Baik, aku turut kau" katanya, "Kenapa kau bergelisah? cuma ingat, kata- kata mesti dibuktikan dengan kepercayaan" Lega juga hati si pemuda.

"Aku si orang tua mana dapat mendustai kalian?" katanya. Ceng Jie bertepuk tangan, Dia berteriak: "Nah, nah, engko Gan, kau kembali membawa tingkahmu Apa itu aku si orang tua, si orang tua? sebenarnya berapa tinggi usiamu?" Jie In tidak melayani sebaliknya, ia mengasah lihat roman sungguh- sungguh.

"Di manakah letaknya kuil Tin Hong sie itu?" tanyanya.

Wan Jie tertawa.

"Pantas kau menyamar sebagai pelajar, kiranya kau mirip juga dengan si kutu buku" katanya, Lantas dia menunjuk:

"Itu, di sana" Jie In mengangkat kepalanya mendongak. "Benarkah kuil itu berada di atas gunung ini?" katanya

dalam hati, "Kenapa tadi aku tidak melihatnya?" Ia lantas berdiri, ia mengenakan topengnya,

"Kalian berdiam di sini, jangan bergerak," ia berkata, "Aku hendak pergi, tetapi segera kembali"

Hanya dengan satu kali mencelat, ia sudah tiba di luar gua, untuk mendongak, mengawasi ke atas.

Di sebelah atas gua Hong Tong ini ialah lamping bukit, tingginya beberapa ratus tombak di mana tumbuh pepohonan, setelah mengawasi dengan tajam, baru di sana terlihat tembok merah, temboknya kuil. Baru sekarang Jie In mengerti kenapa tadi ia tidak dapat melihat kuil itu. setelah itu ia kembali ke dalam gua.

Wan Jie menyambut, ia lantas tanya hal ikhwal si pemuda selama setengah tahun mereka berpisah, ia juga bertanya kenapa orang menyamar jadi pelajar rudin berusia pertengahan itu.

Tidak dapat Jie In menuturkan segalanya dengan jelas, maka ia ngaco belo saja, ia berkata bahwa ia datang ke Thaygoan untuk membantu sahabat nya mencari tahu tentang musuh si sahabat, yang minta pertolongannya.

" Habis ini, aku akan pulang kePakkhia," katanya akhirnya. Si nona dan adiknya mendengarkan dengan penuh perhatian, mereka tak menyangka bahwa mereka lagi didongengi, Kadang-kadang Jie in bicara dengan jenaka, hingga mereka menjadi gembira.

Dengan mengobrol itu Jie In menanti datangnya jam dua, lantas mereka bertiga keluar dari gua itu, Di luar, hawa udara dingin sekali, tak sehangat di sebelah dalam, Bintang-bintang menerangi pohon cemara . Jie In mengajak kedua kawannya lari sampai di mulut gunung.

"sekarang kalian berdua boleh mendaki seCara berterang," ia berkata, "Pat Cia Thian-cun belum selesai dengan peryakinannya, dia tidak bakal memperlihatkan dirinya, Kalau kalian ketemu orang, kalian lawan mereka dengan Kiu Kiong Im yang Ceng- hoan Pou. Dengan begitu, meskipun kalian tidak menang, kalian dapat membela diri, Kalau kalian mendengar siulan panjang dua kali dari aku, walaupun pedang belum berhasil didapatkan, jangan ayal lagi, kalian mesti lantas lari turun gunung, nanti kita bertemu di depan gua tadi"

Wan Jie dan Ceng Jie mengangguk. Mereka lantas melompat pergi, mendaki gunung itu, sedang Jie In melompat menghilang diantara pepohonan lebat.

Wan Jie dan Ceng Jie memperoleh kemajuan pesat setelah mereka dididik In Gak sepintas lalu itu, mereka dapat melompat tinggi dan jauh. sebentar saja mereka sudah mendaki dua puluh tombak lebih Jie In selalu mengintip senang ia melihat kemajuan mereka itu. 

Tapi jalanan mendaki itu sangat sukar, nona dan bocah itu letih juga, terpaksa mereka beristirahat sebentar, Ketika mereka mau naik pula, tiba-tiba ada teguran dari sebelah atas: "Siapa di situ? siapa berani lancang mendaki gunung?"

Lalu teguran itu disusul dengan ancaman penyerangan, lantas terlihat menyambarnya dua benda berkilauan bagaikan bintang. Wan Jie terperanjat, ia hendak menangkis, atau kedUa benda itu mental ke samping, menghajar batu gunung, sedang di atas itu lantas terdengar suara orang seperti menahan napas, terus terlihat jatuhnya suatu gumpalan hitam seperti tubuh manusia, tiba ke bawah, lalu terdengar jeritan hebat, yang menggidikkan tubuh.

Lega hati Nona Hu, Tahulah ia, itulah si engko Gan yang merobohkan musuh. ia lantas maju terus, Ceng Jie mengikuti.

-00000000-

Seterusnya, beberapa kali mereka mendengar jeritan hebat seperti tadi sepanjang mereka mendaki itu, dan sebentar- sebentar ada tubuh yang jatuh ke dalam jurang.

Dilain saat dari kuil Tin Hong sie terdengar suara genta berulang-ulang, memeCah kesunyian sang malam, berkumandang di lembah-lembah.

Tengah Wan Jie melompat naik, mendadak ada bayangan yang melompat kearah- nya.

Bayangan itu membentak dan kedua tangannya diluncurkan, Bentaknya: "Turun" ia tidak mau menyambut, ia melompat ke kiri sambil berseru: "Adik Ceng, awas"

"Jangan kuatir, encie" jawab si Ceng.

Bocah ini awas dan cerdik, ia melihat datangnya bokongan, ia tidak berkelit seperti encienya, ia justru lompat menyambut dengan sepasang senjatanya yang mirip alat tulis itu, ia mengincar ke arah dada.

Penyerang itu bukan sembarang orang, Dia terkejut melihat orang yang pertama berkelit dan sebagai gantinya datang serangan orang yang kedua, dtngan cepat dia merubah serangan menjadi sambaran, untuk merampas sepasang

poan-koan-pit.

Ceng Jie kecil, tetapi ia cerdik sekali, ia dapat menerka lawan bakal bertindak bagaimana, Maka ketika ia menyambut serangan, ia menggertak, begitu senjatanya disambar, ia pun merubah gerakannya, sekarang ia meneruskan ke arah kedua mata, inilah jurus Jie-liong-chio-cu", atau "sepasang naga berebut mutiara". ia bergerak sangat cepat.

Musuh menjadi kaget, inilah di luar dugaannya, Terpaksa dia mengelak seraya terus melompat ke samping, Dia baru menaruh kaki, atau dia mendengar bentakan yang dibarengi sambaran angin ke dadanya.

Kembali dia kaget, dia mengertak gigi, kakinya menjejak. untuk melompat pula. Meski dia berlaku sangat cepat, dia masih didahului Wan Jie, ujung pedang nona itu menabas kempolannya, hingga dagingnya terpapas, hampir dia pingsan, tubuhnya terjatuh ke bawah.

setelah itu kedua nya maju terus. Dilain saat setelah mereka di atas, di tanah berlatar datar dan luas, Gelap sekitar mereka, angin bertiup keras, membawa datang suara berisik dari daun dan cabang pohon-pohon cemara.

"Bukankah tadi kita mendengar suara genta?" tanya Wan Jie perlahan, " Kenapa sekarang begini sunyi?"

"Perduli apa" sahut Ceng Jie, yang tidak kenal takut. "Engko Gan ada diantara kita, apa yang mesti kita takuti? Mari, Ceng Jie yang maju di muka" ia benar-benar bertindak maju.

sang kakak menarik tangan adiknya.

"Jangan sembrono" cegahnya, "Kalau terjadi sesuatu, tak dapat aku bertanggung jawab terhadap yaya"

Ceng Jie berdiam, ia tidak menjawab, sebaliknya, jawaban datang dari orang lain, suara yang tajam, Wan Jie terkejut, juga adik-nya. Ketika mereka menoleh, mereka melihat sekumpulan bayangan orang yang hitam.

Waktu itu rembulan tak bercahaya dan di situ tidak ada penerangan api. Coba semua bayangan itu tidak bergerak, tak nanti mereka terlihat. Baru kemudian dari arah kuil terlihat munculnya beberapa buah lentera sorot khong-beng-teng, maka sekarang dapat dilihat tegas mukanya semua bayangan tadi, itulah wajah yang kekuning-kuningan, yang menyeramkan

Ceng Jie lantas mengenali orang yang menjadi kepala rombongan itu Dialah yang tadi siang mendustai ia bahwa Pat Ciu Thian-cun pergi dan belum pulang. Dia lah Tie Khong, pendeta kepala kuil Tin Hong sie itu.

Tie Khong pun segera mengasih dengar suara nya: "ohmie Too- hud Kembali kedua sie-cu cilik yang datang pula ke mari Tin Hong sie ini tempat suci dari sang Buddha, kenapa siecu berdua berani lancang datang ke mari serta melakukan juga pembunuhan banyak jiwa? Apakah kalian tidak takut sang Buddha nanti menghukum kalian?"

Wan Jie tersenyum.

"Meskipun kami lancang datang di waktu malam, tetapi kami datang tidak untuk mengganggu kau, taysu" jawabnya, "sebaliknya, mengapa orang-orang taysu mencegat dan membokong kami? Kenapa kami hendak dibikin mati? Memang banyak orang telah terbinasakan, tetapi mereka itu mencari mampus sendiri tak dapat kami disesalkan" Tie Khong tertawa seram.

"Enak saja kau bicara, nona" ia mengejek "Kau harus mengetahui membunuh orang mesti mengganti jiwa, berhutang emas mesti membayar Mana dapat kalian meloloskan diri? Tapi, tunggulah dulu sekarang aku hendak bertanya, maU apa siecu malam-malam lancang masuk ke mari mengganggu kesunyian Tin Hong sie?"

Bengis pendeta ini menatap si nona, yang ia panggil "sie- cu", penderma.

Hu Wan memperdengarkan tertawanya yang halus, tetapi nyaring, ia menyingkap naik rambut dijidatnya yang dipermainkan angin- "Taysu, kau berpura-pura saja" jawab-nya. "Kau tahu, sebabnya tetapi kau masih menanyakan seorang pendeta tak boleh berdusta Coba aku kurang cerdik, tentulah aku telah terpedayakan terus Bukankah Pat Ciu Thian-cun berada di atas menara di mana ia menempati tingkat keenam untuk meyakini ilmu Cu Ngo Hian Kang?".

Jawaban itu membuat Tie Khong mundur dua tindak. Dia melengak saking heran, Tapi muka nya lantas berubah menjadi pucat dan muram, Dia bertanya: "Bagaimana kau mengetahui itu?"

Si nona belum menjawab, di belakang sipaderi terdengar suara seram ini: "sute, menghadapi kedua bocah itu, buat apa banyak omong? Bekuk dulu mereka, baru kita bicara" Latu kata-kata galak ini disusul dengan munculnya orangnya.

Wan Jie melihat orang itu bertubuh besar, berdada lebar, sepasang matanya tajam dan bengis, dan tangannya mencekal dua batang tombak cagak yang hitam mengkilap.

Ceng Jie menjadi habis sabar, ia melompat ke depan orang itu ia tak jeri walaupun orang bertubuh besar dan beroman sangat bengis, sembari tertawa, ia berkata: "He, makhluk tolol seperti kau berani mempertunjukkan kejelekanmu? Baiklah, tuan kecilmu nanti mengantarkan kau pulang ke rumah nenekmu"

Orang itu gusar bukan main. Memangnya dia beradat keras dan tak takuti siapa pun kecuali gurunya, Pat Ciu Thian-cun Goh Hoa. Maka dia berteriak sekuat-kuatnya:

"Anjing kecil, kau cari mampus" Lantas dengan tombak cagaknya, dia mengemplang

Ceng Jie tahu orang pasti bertenaga besar, maka ia berlaku cerdik, Tak sudi ia melawan keras dengan keras, Maka dengan lincah ia berkelit, terus ia berkelebat ke belakang lawannya itu. Kaget sipenyerang ketika mendapatkan ia menghajar tempat kosong, mengertilah ia akan ancaman bahaya, maka dengan cepat ia memutar tubuh nya sambil mendahului mengayun tombaknya ke belakang, Begitu hebat serangannya ini, tombaknya sampai mengeluarkan suara angin keras

Ceng Jie benar-benar cerdik, ia tetap tidak mau menangkis, sambil tertawa ia berkelit pula, hingga lekas juga ia kembali berada di belakang lawannya itu

Penyerang itu kaget dan berkuatir, dia lantas melompat ke depan sejauh setombak lebih, setelah itu, baru dia memutar tubuh nya. sekarang dia melihat si bocah di depan-nya, lagi mengawasi dia sambil tertawa manis. Dia menyedot hawa dingin, Dia pun mau berlaku cerdik, dia lantas balik mengawasi

Tie Khong menyaksikan kejadian di depan matanya itu, ia mengerutkan alisnya, Luar biasa kegesitannya Ceng Jie itu ia tidak mengenali ilmu silat itu dari partai mana. Bukan-kah orang hanya seorang bocah cilik?

Si cilik sudah demikian lihay, bisa di mengerti si nona, orang yang terlebih tua itu Walaupun begitu, ia tidak takut, ia hanya belum tahu apa maksudnya orang mencari Pat Ciu Thian-cun gurunya itu. Gurunya tidak boleh diganggu, Gurunya membutuhkan waktu hanya satu atau dua jam lagi Jadi ia perlu mempermainkan sang waktu.

Lawan Ceng Jie itu tidak berdiam lama, Dia tak dapat membiarkan dirinya diejek bocah itu. Dia bergerak pula, Hanya dia tidak segera menyerang, Dia berjalan memutari si bocah. Tampaknya dia sabar sekali.

Ceng Jie pun bersikap tenang. Masih ia tersenyum-senyum, sikapnya ini mentaati ajaran Jie In, untuk ia berlaku tenang tetapi gesit.

orang itu bernama Mo Houw, dia murid kedua dari Goh Hoa, julukannya Tin san sin, Malaikat Penunggu Gunung, Dia berkepandaian tidak lemah, hanya barusan, lantaran menuruti adatnya, dia kena dipermainkan bocah she Hu itu, hingga dia menjadi rada jeri.

Dia tidak dapat berdiam lama-lama, sebab dia mendapat kenyataan kawan, atau saudara seperguruannya, semua mengawasi pada nya, Dia tahu malu, hingga muka nya menjadi merah dan terasa panas, Maka itu dia maju turun tangan.

Tapi dia pun ingat gurunya, yang lagi berlatih itu, tak mau dia menggagalkannya, Maka dia hendak mengulur waktu, Dilain pihak panas hatinya menyaksikan lagak si bocah, Di-lain pihak lagi, timbul kejelusannya terhadap Tie Khong, sang adik seperguruan yang ketujuh.

sute ini disayang gurunya, maka selama si guru berlatih, sang sute yang diberi kepercayaan, yang ditugaskan mengurus segala sesuatu di luar kuil, Tie Khong cerdik dan berpengalaman, maka ia bersikap sabar.

Sikap ini tak disenangi sang suheng, Karena itu akhirnya Mo Houw melupakan diri, setelah beberapa putaran, mendadak dia maju menyerang. ilmu tombak cagaknya itu terdiri dari empat belas jurus, ketika dia menyerang, dia lantas menyerang terus hingga tujuh kali, lantaran yang pertama dan kedua, yang lainnya, dapat dikelit lawannya.

Ceng Jie berlaku tenang, waspada dan gesit, Begitu ia diserang, ia mengerti bagaimana harus bertindak. Dengan poan-koan-pitnya, ia melawan dengan jurus-jurus "ciong Hiok si Raja setan Menaklukkan Iblis", yang terdiri dari tiga puluh enam jurus, sedang kakinya bergerak dengan gerakan Kiu Kiong Imyang Ceng-hoan Pou.

Sebagai kesudahannya itu, Mo Houw jadi terkekang poan- koan-pit, setiap kali dia menerjang, dia tentu menerjang sasaran kosong, sia-sia belaka semua serangannya itu. sesudah menonton sekian lama, Tie Khong berkata kepada saudara-saudara seperguruan-nya: "llmu poan-koan-pit bocah ini rada mirip dengan ilmu silatnya Tong san Jie Niauw, apa yang beda ialah dia ini lebih aneh dan gesit, Mungkinkah anak ini ada sangkut pautnya dengan rumah perguruan Tam Liong?"

"Akupun menduga demikian," menyahut seseorang, "suhu bersahabat kekal dengan Tong san Jie Niauw, mungkin bocah ini muridnya mereka itu, hanya kenapa mereka datang mengacau disaat suhu berlatih? Maksud apakah yang dikandung mereka ini?" Tie Khong berdiam.

"Biar apa pun maksud mereka, mereka harus dicegah," sahutnya kemudian, "Tinggal sedikit waktunya Kalau kita tidak tahan sabar, bisa gagal Mereka ini tentu ada yang mereka buat andalan, mungkin ada si tua di belakang nya, pendek kata kita harus menanti sampai suhu yang menemui mereka."

"Suheng" tanya satu suara di belakang, "habis bagaimana dengan jiwa belasan saudara kita itu? Apakah kita mesti sudah saja?"

"Hm" Tie Khong mengasih dengar suara-nya, "Kiu-sute, kau harus sabar Hutang darah mesti dibayar dengan darah, bahkan mesti berikut bunganya Kenapa mesti menguatirkan itu? Tapi kau harus ingat, mesti dijaga agar suhu jangan menjadi tersesat .Dapatkah kau bertanggung jawab? "

Wan Jie sendiri, sambil memasang telinganya, memperhatikan Ceng Jie, setelah sekian lama itu, ia tertawa sendirinya, ia menganggap Ceng Jie jenaka sekali.

Sang adik itu bersilat dengan ilmu silat ajaran Jie In- sebenarnya, belum pernah Ceng Jie menggunakan itu seperti sekarang, maka itu, ada ketika nya ini, ia menggunakannya sebagai ujian, ia mengulangi dan mengulanginya, dari rada kaku, ia dapat menjalankannya dengan lincah. Lucu Mo Houw, yang berbalik mesti melayani orang, sedang mulanya dialah yang menyerang.

Wan Jie berpikir lebih jauh, ia memuji kecerdikan adiknya, Biarlah adiknya ini melayani supaya "engko Gan" mereka dapat turun tangan, ia hanya menduga-duga, Gan Gak sudah berhasil atau belum.

Tie Khong dan saudara-saudaranya bergelisah juga menyaksikan Mo Houw kena dipermainkan si bocah cilik, Beberapa saudaranya tampak menjadi habis sabar dan ingin turun tangan. sebisa-bisanya Tie Khong menyabar-kan diri, ia mencegah mereka itu.

Sekarang ia percaya, si bocah tidak berniat mencelakai saudara seperguruannya itu. itulah ada baiknya untuk gurunya. juga dengan begitu, saudara seperguruannya itu yang nomor dua,jadi mendapat pengalaman, supaya lain kali dia jangan suka terburu napsu. Akhirnya ia bertindak maju kepada si nona.

"Nona," ia berkata, tertawa, " guruku itu benar seperti kata nona, sekarang ia berada di tingkat keenam dari menara di belakang kuil di mana ia tengah meyakinkan ilmu silat Cu Ngo Hian Kang. inilah saat sangat renting untuk guruku itu.

Kemarin aku mendustai kalian, itulah saking terpaksa,jadi bUkannya aku sengaja memperdayai, Dalam perkara ini, aku tidak tahu menahu, segala sesuatunya terserah pada guruku, Terserah kepada nona, nona suka percaya aku atau tidak..."

Wan Jie percaya Tie Khong bicara dengan sebenarnya, iapun dapat mengetahui maksud si pendeta, yang mau mengulur waktu, agar gurunya dapat menyelesaikan peryakinannya itu.

sampai waktu itu, pasti mereka bakal turun tangan untuk menempur padanya, Maka ia pun berpikir bagaimana harus melayani pendeta ini. Disaat ia hendak membuka mulutnya, tiba-tiba ia mendengar dua kali siulan yang jauh tetapi jelas, ia lantas menjadi girang, itulah tanda dari engko Gannya bahwa engko itu sudah berhasil, ia tidak memperlihatkan kegirangannya, ia menutupinya dengan tertawanya.

"Taysu, setelah mendengar keteranganmu ini, apabila aku tidak percaya kepadamu, aku sungguh keterlaluan," ia berkata, "sebenarnya kami berdua mendaki gunung ini cuma hendak menanyakan guru taysu tentang suatu kejadian tahun lalu, karena guru taysu berada di dalam menara, baiklah, besok kami datang kembali. Tentang perbUatan kami ini, kami harap sukalah diberi maaf"

Habis berkata, dia teriaki adiknya: "Adik Ceng, mari kita pergi"

Ceng Jie pun mendengar siulan itu, maka atas suara kakaknya, ia lantai melompat keluar gelanggang, untuk berhenti bertempur, bersama kakaknya itu, ia memberi hormat kepada Tie Khong, lantas kedua nya lari turun gunung

Tie Khong pun mendengar siulan itu, ia menyangka suara burung, ia tidak curiga apa-apa, melihat kepergian si nona berdua, ia menghela napas, dadanya menjadi Iega.

Mo Houw sebaliknya menjadi sangat letih, hingga dia lantas duduk mendeprok di tegalan itu, sedang dari mulutnya beberapa kali terdengar suara nya: "Bocah itu, bocah itu benar-benar lihay."

Tie Khong lantas memerintahkan beberapa kawannya pergi mengurus belasan mayat didalam jurang, ia pun berkata: "Kalau tidak salah, dua jam lagi, selesai sudah suhu dengan peryakinannya, maka kalau besok kedua bocah tadi datang pula, mereka tidak bakal lolos dari pukulan cu Ngo Hian Kang dari suhu."

Murid ini berkata demikian tanpa dia mengetahui bukan saja pedang Thay oh Kiam telah lenyap. bahkan gurunya, yang diandalkan itu, telah binasa di atas menara. Pat Ciu Thian-cun Goh Hoa mengadakan aturan keras, semua murid nya dilarang sembarangan naik ke menara tempat dia meyakinkan ilmunya, kalau dia membutuhkan sesuatu, dia memanggil orang dengan tanda ketukan- Karena itu, sekian lama dia berdiam saja, Tie Khong semua tidak curiga, baru sesudah berselang tujuh atau delapan jam, murid nya itu heran, terpaksa ia memberanikan diri naik ke menara, menghampiri tingkat keenam itu, Akhirnya murid itu serta murid- murid yang lainnya menjadi kaget dan kelabakan, Guru mereka kedapatan sudah mati dan pedangnya lenyap, Baru mereka sadar bahwa mereka telah dipermainkan kedua bocah itu, Celaka nya, mereka tak dapat menyusul kedua bocah itu, yang tak ketahuan ke mana perginya, atau sedikitnya sudah pergi jauh enam ratus li lebih.

Tatkala Hu Wan berdua sampai di depan gua, Jie In sudah menantikan mereka, tangannya mencekal sebatang pedang, cuma diwaktu malam dan gelap seperti itu, mereka tidak dapat melihat jelas Jie In pun, begitu melihat mereka, lantas berkata: "Lekas" Dan ia lantas lari, untuk jalan di muka, buat kembali ke hotelnya.

Ketika itu sudah hampir jam empat, Tat kala mereka masuk ke dalam pekarangan, mereka mendapat kenyataan seluruh hotel sunyi senyap. semua penghuninya asyik tidur nyenyak.

semasuknya mereka ke dalam kamar Jie In menyalakan api, habis mana, ia mencabut pedang yang dicekalnya, Mereka lantas melihat sinarnya pedang itu, yang pasti tajam sekali.

"Sungguh pedang yang indah" Jie In memuji, sambil mengangsurkan pedang itu pada Wan Jie. ia tertawa, " inilah pedang mustika, pantas kalian melakukan perjalanan ribuan li mencarinya sekarang pedang ini telah didapatkan kembali, maka nanti, begitu terang tanah, lekaslah kalian berangkat pulang" "Terima kasih" mengucap si nona, yang menyambut pedang itu, ia lantas menanyakan bagaimana pemuda itu merampas nya dari Goh Hoa.

Selagi mendaki gunung, tidak pernah Jie In memisahkan diri jauh-jauh dari Wan Jie dan Ceng Jie. ia menguntit dan memasang mata. ia melihat bergeraknya belasan bayangan, ia menduga kepada pihak gunung, Terus ia berwaspada.

Dcmikianlah ia melihat kedua bocah itu dirintangi, maka ia lantas membantu senang ia menyaksikan Ceng Jie dibantu Wan Jie membinasakan musuh. Ketika musuh jatuh kejurang dan menjerit keras, lalu terdengar suara genta di dalam kuil, ia berpikir.

"Pasti musuh keluar untuk mencegat kedua anak ini," demikian pikirnya, " itulah berbahaya buat mereka."

Karena itu, ia lantas bertindak, ia mencegat lantas ia turun tangan, satu demi satu ia bekuk belasan musuh itu, sebentar- sebentar ia melemparkannya ke dalam jurang, Terhadap manusia jahat, ia tidak berbelas kasihan lagi. Wan Jie dan Ceng Jie mesti dibantu hingga maksudnya tercapai.

Lantas tiba saatnya Jie In menyaksikan Ceng Jie berdua dirintangi rombongannya Tie Khong, ia melihat aksinya bocah yang jenaka dan besar nyalinya itu. setelah menonton sekian lama, ia percaya Ceng Jie tidak bakal kalah dan Tie Khong pun tidak akan lekas turun tangan, maka ia berbesar hati meninggalkan kakak beradik itu, ia lantas pergi ke belakang kuil, ke menara, ia berlaku waspada, ia menggunakan kegesitannya, agar tidak ada orang yang melihat pada nya.

Dengan mudah Jie In dapat mencari menara, yang terdiri dari tujuh tingkat. Di dekat situ ia melihat seseorang bersembunyi di belakang pohon, ia menyingkir dari orang itu, Tiba di depan menara, ia tidak lantas naik, ia mendapat kenyataan, menara itu dipasangi lentera sampai di tingkat ketiga, yang lainnya semua ditinggal gelap. ia pun mendapat ke-nyataan, setiap tingkat ada orang yang menjaganya.

Walaupun penjagaan kuat, Jie In tidak mau mundur, ia cuma tetap waspada, Untuk dapat bekerja dengan leluasa, ia menghampiri setiap penjaga, yang ada belasan orang jumlah nya, ia datang dari belakang, lalu dengan sebat ia me-notok, hingga musuh roboh tanpa suara berisik, Cara ini diulangi hingga ia berhasil, Tinggallah penjaga di bawah menara, di tingkat pertama, sulit untuk merobohkan dia itu tanpa membikin sadar penjaga di tingkat kedua, demikian seterusnya, Maka ia lantas berpikir, matanya memandang ke depannya.

"Ah, itu dia" katanya dalam hati. ia melihat sebuah pohon tua, yang besar dan tinggi, yang tumbuh di samping menara, terpisahnya dari wuwungan menara kira-kira setombak. Di antara sampokan angin, cabang pohon itu ber-goyang-goyang tak hentinya.

" Kenapa aku tidak mau mengambil jalan dari atas pohon itu?" pikirnya kemudian ia lantas mengambil keputusan, ia lantas meneliti pohon itu kalau- kalau ada penjaganya, ia memperoleh kenyataan, tak ada penjagaan di situ.Maka ia terus menghampiri untuk memanjatnya. ia naik sampai di cabang yang paling tinggi, yang berada dekat dengan wuwungan menara. ia berada di atas wuwungan itu, inilah saatnya yang terakhir Dengan berani ia merayap di cabang tertinggi itu, lantas ia melompat ke wuwungan menara, Karena ia berada di sebelah atas, ia jadi melompat turun ia melompat sambil berjumpalitan untuk mencegah kakinya menerbitkan suara berisik, Ke-beraniannya itu memberikan hasil yang memuaskan ia berada di atas menara tanpa bahaya.

Sekarang Jie in bekerja lebih jauh. ia mesti turun ke tingkat ketujuh, ia menyantelkan kakinya di payon, tubuhnya diturunkan Di sini tidak ada penjagaan, ia dapat sampai di ruangan tingkat ke tujuh itu tanpa rintangan Ruangan itu kosong dan gelap.

Untuk sampai di tingkat keenam Jie In mesti bekerja keras, Tangga undakan ada pintunya, Daun pintu terbuat dari bahan besi tebal dua cun. Bagaimana harus membuka itu? ia ingat pisau belatinya, pisau belati cula badak, yang dapat melawan logam emas dan batu kumala.

Dengan menikam, ia berhasil membuat lubang. Setelah itu, ia memotong dengan periahan lahan Untuk kegirangannya, ia berhasil, Segera ia melihat cahaya terang. Lantas ia melompat turun- ia dapat tidak menerbitkan suara berisik.

Pat Ciu Thian-cun lagi duduk bersila, matanya ditutup rapat, Daging di mukanya ber-kedutan, Dia tetap duduk diam, dia seperti tidak mendengar apa-apa, Cuma kedua tangannya ditolakkan ke depan, Setelah melihat tegas muka orang Jie In terkejut Goh Hoa mirip dengan orang hutan.

Bulu putih hampir menutupi mata dan mukanya, jelas dia lagi berada pada saatnya yang sangat genting, Dia bakal lulus atau tersesat dari peryakinan ilmu pedang nya itu, Cu Ngo Hian Kang.

Jie In telah berpikir menggunakan Hian Wan sip-pat Kay untuk membuat orang itu lantas tidak berdaya, Untuk sejenak. la bersangsi, ia belum melihat pedang Thay oh Kiam. ia bisa berabe kalau ia gagal menyerang, Goh Hoa mati sebelum dia memberi keterangan tentang pedang mustika itu, Maka sambil menanti, ia berpikir.

Tiba-tiba Goh Hoa memperdengarkan suara dari kerongkongannya, mirip suara kerbau dan tubuh nya, lebih benar tulang-tulangnya, memperdengarkan suara meretek. setelah mana, kedua tangannya diangkat naik, karena mana bajunya yang gedombrongan turut terangkat juga. Untuk girangnya Jie In melihat gagang pedang diantara baju yang tersingkap itu, ia percaya itulah pedang yang lagi ia cari. Karena Goh Hoa lagi menanti saatnya, ia juga tidak mau berayal lagi. Ketika ia hendak menggerakkan tangannya, mendadak ia melihat orang membuka kedua matanya dan mukanya tersenyum tanda girang. Tapi, begitu melihat Jie In, dia terkejut, tanpa berkata apa-apa, dia lantas mendorong dengan tangannya kepada orang asing di dalam kamarnya itu.

Jie In terkejut, tetapi ia tidak menjadi gugup, ia memang sudah siap sedia. ia membela diri dengan menyambut serangan yang berupa dorongan itu, meneruskan mana, ia menotok.

Pat Ciu Thian-cun berjengit, ia merasakan dada kanannya dingin dan kaku. Lantas kedua tangannya itu diturunkan, tenaganyapun lenyap seluruh nya, Menyusul itu, tubuh nya gemetaran Rupanya ia hendak mengerahkan tenaganya, tetapi sia-sia belaka, Dadanya telah kena ditotok. Ia tak dapat berdaya lagi. Cuma dengan mata yang bersinar guram, ia mengawasi lawannya itu.

Totokan Hian wan sip-pat Kay itu tak dapat dibebaskan sembarang orang, apa lagi untuk membebaskannya sendiri Demikianiah Goh Hoa gagal, ia mengerti akan nasibnya, maka sejenak kemudian, dia menghela napas dan berkata duka: "Aku Goh Hoa, telah banyak aku membunuh orang, orang mati tanpa merasa, aku tidak menyangka hari ini aku roboh secara begini, inilah pembalasan Thian, kita tidak mengenal satu dengan yang lain, tetapi maksud kedatanganmu dapat aku menerka, pedang Thay oh Kiam berada di tubuhku, kau ambillah sendiri" suara nya makin lama makin perlahan, napas nya lantas mendesak.

Dia menambahkan- "Muridku banyak. diantara mereka, separuhnya baik, separuhnya lagi jahat, maka terserah kepada tuan untuk memperlakukan mereka." Lantas ia berhenti, kedua mata nya ditutup rapat, ia tak dapat bicara lebih jauh, napas nya sudah berhenti,

Jie In mengawasi, ia menghela napas, ia menghampiri lebih dekat, tangannya diulur, untuk mengambil pedang mustika yang menjadi benda rebutan itu. setelah meneliti, ia gembol itu dipunggungnya. sekarang ia tidak mau membuang waktu lagi, ia naik pula ke atas untuk dari wuwungan melompat ke pohon tadi. ia berhasil dengan selamat. ia berdiam sebentar di atas pohon, mata nya memandang ke menara, ia sedikit menyesal ia terpaksa,sebab kalau tidak. Ia bisa gagal la terhibur juga ketika ia ingat penyesalannya Goh Hoa.

Biar bagaimana, ia telah menyingkirkan seorang yang sangat jahat, Lalu hatinya jadi lega pula, Lantas dengan cepat ia turun dari pohon itu. ia berlari-iari ke tempat Ceng Jie tadi, sembari lewat, ia menotok bebas korban-korbannya yang menjaga berbagai pos. ia melihat Tie Khong masih belum turun tangan.

Cuma Ceng Jie lagi mempermainkan Mo Houw, Kembali ia memuji bocah itu, yang ia kagumi.

Katanya dalam hati, sesudah besar, Ceng Jie mungkin menjadi jago.

Hari sudah jauh malam, gelap dan dingin Jie in memandang langit, ia tak dapat menduga waktu yang tepat, Mungkin sudah jam tiga lewat, ia tidak mau menanti lagi, maka ia meninggalkan Ceng Jie, ia lari ke kepala angin, Kira- kira tiga li, ia berhenti, Di sini ia mengasih dengar siulannya yang dua kali itu, setelah mana ia terus lari kembali ke gua Hong Tong, ia percaya Ceng Jie berdua mendengar isyaratnya itu. Ternyata dugaannya itu tepat.

Demikianlah, mereka pulang bersama-sama ke hotel. Wan Jie girang dan bersyukur ia memegangi Thay oh Kiam dan mengusap-usapnya. Jie In mengawasi, ia tertawa dan berkata: "Nona, kau telah mencapai cita-citamu, aku percaya di belakang hari kau bakal menjadi nona yang gagah perkasa sekarang aku hendak memberi selamat lebih dulu padamu"

Wan Jie mengangkat kepala nya, ia tersenyum, lekas ia menunduk. Tapi lekas ia mengangkat pula kepala nya itu, untuk dengan matanya yang jeli menatap si anak muda.

Tanpa merasa, hati Jie In berdenyut

" Kalian berdua tunggu disini," katanya kemudian- "Jangan kalian pergi ke mana- mana Aku hendak pergi sebentar, untuk mengatur keberangkatan kalian"

Begitu ia berkata Jie In lantas pergi keluar Tiba dijalan besar, ia ragu-ragu.

Angin yang dingin menyampok tak hentinya. Cuaca gelap. tapi untuknya tak menjadi rintangan besar, Dijarak sepuluh tombak. ia masih dapat melihat, ia hanya jalan seperti orang biasa, langkahnya naik dan turun dijalan besar yang tidak rata itu. Tiba-tiba ia mendengar suatu suara dari sebelah depan, ia merandek sejenak. terus ia berjalan pula. Tapi ia tidak usah berjalan lama, tiba-tiba sesosok bayangan melompat ke depannya, merintanginya, ia tidak kaget. ia lantas melihat seorang pengemis yang pakaiannya banyak tambalannya, yang pinggangnya dilihat tiga batang tali rumput, Dengan mata mendelong, pengemis itu mengawasi, mulutnya bungkam.

"Kebetulan" pikir Jie In, yang tertawa di dalam hatinya, "Aku memang hendak mencari anggota Kay Pang, kau justru datangi. Bagus, aku jadi tak usah berabe lagi"

Meski begitu, ia tidak lantas membuka mulut. ia menatap pengemis itu, mulutnya tersungging senyuman.

Pengemis itu heran melihat orang tidak merasa takut, ia berkata dalam hatinya: "si pelajar rudin ini besar juga nyalinya dengan romanku yang bengis, siapa tidak jeri terhadapku sam Ciat Koay Kit Beng Tiong Ko si pengemis Aneh? Di dalam propinsi shoa say ini, siapakah tidak mengenal aku? sekalipun Ceng Hong Pay, yang besar pengaruhnya, dia masih jeri terhadapku Malam ini aku tidak dapat menggertak pelajar rudin ini, benar-benar heran Dia tak bedanya orang kebanyakan tidak nanti dia adalah orang Rimba Persilatan, maka inilah rupanya sebabnya kenapa dia tidak kenal aku." Lantas ia membalik matanya dan bertanya:

"Tuan, malam- malam dan gelap begini kau keluar sendirian, apakah kau hendak melakukan sesuatu?"

"Dan kau?" Jie In balik bertanya, sembari tertawa. pengemis itu menjadi tidak senang, hingga mukanya

menjadi muram.

"Seorang pengemis tidak dapat melihat orang diwaktu siang, terpaksa dia mesti kelayapan diwaktu malam" sahutnya kaku. "Tetapi kau, pelajar rudin, bukannya tidur baik-baik di atas pembaringanmu, kenapa kau bergelandangan diwaktu malam gelap dan dingin begini? Kau menjadi si arwah bergelandangan kau pasti bukan manusia baik-baik"

Dikatakan begitu Jie In tidak menjadi gusar, sebaliknya, dia tertawa lebar.

"Oh, jadi kau menanyakan aku dengan maksud begini?" ia menegaskan "Tidak apa untuk memberi keterangan kepadamu pula sederhana sekali Aku si orang tua datang dari Sin Liong Tong, dari kotaraja, Aku baru saja tiba Aku si orang tua hendak menyelidiki ada atau tidak tukang minta-minta yang kelakuannya buruk Apa mungkin kau telah melakukan sesuatu yang tidak dapat diberitahukan orang lain, malah kau tampaknya sedikit takut ?" Sam Giam Koay Kit membelalakkan mata-nya. Dia tertawa aneh.

"Takut?" ulangnya, "Aku si orang tua, belum pernah aku mendengar kata-kata itu? Sungguh aku tidak menyangka, pelajar rudin, kau dapat menggertak aku dengan kata-kata- mu yang bagus ini Hm, apakah kau kira Sin Liong Tong dari Kay Pang dapat kau memasukinya? Awas, kalau kau tidak bicara terus terang, malam ini aku si orang tua pasti tidak akan mau sudah"

Jie In mengerutkan kening, Pikirnya: "Pantas Toako chong Sie mengatakan padaku, didalam Kay Pang itu ada hidup campur baur segala macam orang, ada yang lurus, ada yang tidak karuan, ada juga yang berani berbuat tidak pantas, cuma karena aturannya sangat keras, tidak sembarang orang berani melanggarnya. pengemis ini bertabiat keras, Baiklah aku coba memperlihatkan hu-leng untuk menguji dia."

Maka ia lantas merogoh sakunya, untuk mengeluarkan Sin Liong Say Houw Leng, lambang Partai Pengemis yang merupakan perunggu berukiran naga, singa dan harimau keramat, lalu sembari tertawa ia berkata: "Mendengar suaramu, agaknya kau bangga sekali akan dirimu Kau pasti orang dengan asal-usul yang besar sekali Maka cobalah kau menyebut gelaran serta kepandaianmu, supaya dapat aku mempertimbangkan apakah kau berharga untuk aku menggerakkan tanganku"

Pengemis itu tertawa lebar.

"Pelajar rudin, kau dengar" katanya jumawa. "Jangan kau kaget, ya Aku si orang, tua Beng Tiong Ko, gelaranku ialah sam Ciat Koay Kit Nah, apa lagi yang hendak kau tanya?"

"Hai, hebat gelaran itu" kata Jie In, agaknya dia terkejut, "Apakah artinya sam Ciat itu?"

Kulit mata si pengemis terbalik.

"Apa? Apakah kau tidak dengar jelas?" tunyanya, "Baik, aku si orang tua suka menjelaskan kepada kau sam Ciat itu terdiri dari Sim Ciat dan ciu Ciat, dan yang satu lagi yaitu kepandaian yang tersohor, Ciat Houw Ciang, Begitulah maka disebut sam Ciat" Pengemis ini, Beng Tiong Ko, dijuluki sam Ciat Koay Kit. itu artinya, dialah Koay Kit atau Pengemis Aneh, dan sam ciat berarti tiga macam kepandaiannya, sim Ciat ialah kepandaian menyerang hati, dan ciu Ciat ialah kelihayan tangannya, Kepandaian yang paling ia andaikan.

Mendengar keterangan itu Jie In percaya pengemis ini benar-benar lihay, tetapi ia sendiri belum pernah mencoba anggota Kay Pang, sekarang ini ada ketikanya, Maka ia tertawa dan berkata: "Ciat Houw Ciang? Ah" ia menggeleng- gelengkan kepala, " Kepandaian

semacam itu belum pernah aku dengar, Nah, cobalah kau keluarkan" sam Ciat Koay Kit jadi mendongkol.

"Pelajar rudin, kau benar-benar mencari mampus" katanya sengit, "Kepandaian apa ini kau kira dapat dicoba-coba? Tapi baiklah, kalau aku tidak memperlihatkan kepadamu, nanti kau menyangka aku si orang tua cupat pandangannya" ia lantas saja berseru:

"Kau sambutlah" Lalu tangan kanannya, dengan lima jarinya terbuka bagaikan gaetan, meluncur menyambar iga kiri si pelajar rudin di depannya itu. Cepat tangannya itu, bagaikan kilat, bagaikan angin, tetapi toh tak ada suara menyambarnya. "Dia benar-benar lihay," kata Jie In dalam hati.

Memang lihay si pengemis.. serangannya itu, sebelum tiba pada sasarannya, lantas dirubah. Tangannya, yang seperti gaetan atau cakar harimau, bukannya mencengkeram terus melainkan dengan tiba-tiba dirobah gerakan-nya, terus dipakai menyambar lengan kiri sasarannya itu

"Ah, apakah benar-benar pelajar rudin ini tidak mengerti ilmu silat sama sekali?" Beng Tiong Ko heran dan menanyakan dirinya sendiri ia kena mencekal lengan yang lunak, hingga ia melengak, "Kenapa aku mesti menempur seorang yang mengikat ayam pun tidak kuat?" Baru ia berpikir demikian, mendadak tangannya yang mencekal lengan Jie in itu seperti tertotok keras, terus ia merasakan tangannya itu kaku.

Dalam kagetnya, segera ia menarik pulang tangannya, Tapi belum ia berhasil tangan kanan si pelajar sudah berbalik menyambar lengannya syukur ia gesit, ia dapat berkelit, kalau tidak, mungkln tangannya patah, dalam kagetnya, ia membalas menyerang pula dengan tangan kirinya, hingga keduanya lantas saling serang, selama itu, tidak pernah kaki mereka bergerak.

Jie In menguji si pengemis dengan ilmu silat Kim Kong san ciang, atau Tangan Arhat. ia membuat Tiong Ko heran dan kaget, hingga pengemis ini berpikir: "Kepandaianku ini bukanlah yang teristimewa, tetapi di dalam Rimba Persilatan, cuma beberapa gelintir orang saja yang dapat menghindarinya, maka aneh pelajar rudin ini. Dia mempunyai Kim Kong san ciang yang istimewa, inilah di luar dugaanku." Karena itu, tanpa merasa, ia melompat mundur dua tindak, terus ia menegur: "Siapakah kau sebenarnya?"

Jie In tertawa, ia bukannya menyahuti atau mengangguk. la ustru bertanya: "Kau mengaku kalah, bukan?"

Mendengar itu, terbanguniah rambut sam Ciat Koay Kit. "Apa kau bilang?" teriaknya, "Kau bergurau Aku si orang

tua, mana dapat aku kalah?" Kata-kata ini disusuli serangannya, terus hingga tiga kali saling susul, dengan tiga rupa tipu silatnya, semuanya dari jurus-jurus Ciat Houw Ciang itu.

Jie In tersenyum, Dua kali ia berkelit, lalu pada yang ketiga kalinya, ia memapaki, ia me-nyambuti, hingga tangan mereka bentrok. demikian kerasnya, hingga si pengemis terpental mundur tiga tindak, ia sendiri, la berdiri tetap di tempatnya.

Beng Tiong Ko kaget, hingga mukanya berubah pias Jie In tidak menghiraukan keheranan orang itu, dengan tenang ia mendongak, untuk memandang langit. Waktu itu sudah jam lima kira-kira, tetapi di musim dingin seperti itu, lambat munculnya Batara surya, Coba di musim panas, pastilah sang surya sudah mengintai semenjak tadi. ia berpikir.

"Hari sudah siang, matahari akan segera muncul, cukuplah sudah aku main-main." Maka ia lantas mengeluarkan hu-leng seraya berkata: "Beng Pay-tauw, janganlah kau bergusar karena main-main kita ini, coba kau lihat ini, kau tentu akan mengetahui aku siapa."

Tiong Ko terperanjat lantas dia mengawasi dengan tajam tangan orang yang diangsurkan kepadanya, Biarpun cuaca gelap. dia masih dapat melihat sejauh tiga tombak, Maka dia menjadi semakin heran, sekarang dia memperlihatkan sikap menghormat akan tetapi dia tidak segera berlutut atau menjura.

"Oh, kiranya tuan mempunyai Cie-tang sin Liong Leng dari Partai kami," katanya sabar. "Menurut aturan Partai, siapa memegang hu-leng ini, ia mewakili tianglo kami dan tianglo itu dapat bertindak seperti apa yang ia rasa baik, baik untuk memberi hidup mati pun untuk menghukum mati, kekuasaannya itu, aku si orang she Beng tidak berani menentangnya, Andaikata tuan tidak puas dengan sikapku barusan, aku si orang she Beng bersedia akan menerima hukumanku.

Cuma ada satu hal, yang aku belum jelas, Sin Liong Leng ini terdiri dari tujuh buah, Yang empat terbuat dari cie-tang, atau perunggu, dan dipegang oleh su-tianglo kami. Kalau sin Liong Leng ini dipergunakan, sekalipun Pay-cu sendiri, dia mesti mentaati, dia mesti tunduk.

Tiga yang lain terbuat dari besi, yang menyimpannya ialah Pay-cu. Biar urusan bagaimana besar, untuk itu biasanya segala titah disalurkan dengan hu-leng besi itu, sebegitu jauh yang aku ketahui, hu-leng perunggu belum pernah digunakan selama dua belas tahun ini, Demikianlah aturan partai kami, siapa memegang hu-leng ini, ia mewakilkan tianglo, tetapi sekali- kali belum pernah tianglo meminjamkannya kepada orang lain.

Pada lima tahun yang lalu, su-tianglo menutup mata karena sakit, hu-leng nya lantas dipegang oleh Kiu Cie Tianglo, Baru satu bulan yang lalu aku bertemu dengan Kiu cie Tianglo di siamsay selatan, Waktu itu tianglo memberitahukan aku bahwa sebuah hu-leng telah diserahkan kepada Cia Tayhiap serta aku diberitahukan cia Tayhiap ialah su-tianglo, maka aku dipesan untuk menantikannya dipropinsi shoa say ini. Apakah tuan ialah Cia Tianglo itu? Kenapa roman dan usia tuan tak mirip seperti yang dilukiskan Kiu Cie Tianglo? Harap tuan memaafkan aku untuk pertanyaanku ini."

Mendengar itu, in Gak tersenyum, ia menyimpan hu-leng nya, ia terus meloloskan topeng nya, hingga tampaklah wajahnya yang asli.

Melihat demikian, dengan tergesa-gesa Beng Tiong Ko menekuk lututnya, ia berkata dengan cepat: "Kiranya su- tianglo tiba Tongcu Beng Tiong Ko dari cabang shoa say menerima salah"

Jie In lekas memimpin bangun pengemis itu, sembari tertawa ia berkata: "Beng Tong cu tidak bersalah Bahkan sebaliknya akulah yang hendak memohon bantuanmu, Entah tongcu dapat memberikan bantuanmu atau tidak."

Dengan roman yang sangat menghormat, Beng Tiong Ko menjura dalam- dalam.

" Harap tianglo tidak mengatakan demikian," katanya, "Perintahkan saja, sekalipun mesti menyerbu api berkobar- kobar, aku yang rendah tak akan menampik."

"Terima kasih." berkata Jie In, yang lantas menuturkan hal perkenalannya dengan Hu Wan dan Hu Ceng, anak-anak dari sahabat-nya yang telah meninggal dunia, bahwa baru saja ia menolong mereka itu merampas pulang pedang Thay oh Kiam mereka dari tangan Pat Cia Thian-cun. ia berkata bahwa ia masih perlu berdiam lagi sekian lama di shoasay ini, maka itu ia perlu orang untuk mengantarkan anak-anak itu pulang ke kota kecamatan Peng- ciang.

"Maka aku minta sukalah kau yang mengantarkan mereka agar tiba di kampung halamannya itu dengan tidak kurang suatu apa," katanya akhirnya.

Tiong Ko kelihatannya kagum, "Jadi benarlah aku mendengar pedang itu berada di tangannya Pat Ciu Thian-cun Goh Hoa. Pedang itu pedang mustika, siapa pun ingin memilikinya, bahkan aku sendiri, bicara terus terang, hatiku telah tertarik, hanya aku tidak mencoba untuk merampasnya, Aku kuatir pedang itu nanti mengakibatkan bencana atau keruwetan untuk Partai kami, Baiklah, tianglo, akan kuantarkan anak-anak itu Itulah pekerjaan gampang, Hanya mengenai pedang nya, aku minta itu disimpan baik-baik, Andaikata hal pedang itu tersiar dalam kalangan Rimba Persilatan, tidaklah dapat diterka bagaimana kesudahannya nanti, sebab pasti ada orang Rimba persilatan yang ingin merampasnya."

"Aku mengerti itu," katanya, ia melihat langit mulai berwarna abu-abu, ia menambahkan: "Beng Tongcu, silahkan ikut aku" ia lantas berjalan menuju ke hotel. sam Ciat Koay Kit mengikuti

Tiba di dalam hotel, Hu Wan dan Hu Ceng masih menantikan- Mereka lantas diperkenalkan pada Beng Tiong Ko, setelah itu, mereka diberitahuakan diantar pengemis itu.

habis berkata itu Jie In mengawasi si pengemis, sembari tertawa ia berkata: "Beng Tongcu, tak dapat kita berlambat pula, maka aku mohon sukalah kau mencapaikan dirimu"

"Hamba akan menurut perintah," berkata Tiong Kosambil menjura. "Hu Kouwnio, Hu siauwhiap. silahkan turut padaku Hu Kouw-nio baiklah menutup mukamu dengan jala hitam dan pedangmu dibungkus rapi, ditaruh di dalam pelana, supaya tak ada kekuatiran hilang."

"Bagus begitu." kata Jie In mengangguk. "Untuk segala apa di tengah jalan, terserah kepada kau saja."

Berat Hu Wan dan Hu Ceng berpisah dari si anak muda, Mata si nona merah, hampir dia mengucurkan air mata nya, Begitu pun Hu Ceng.

Jie In terharu, tetapi ia berkata sambil tertawa "Sudahlah, tak usah kalian bersusah hati, Begitu selesai urusanku, aku nanti menyusul kalian, Mungkin diakhir bulan pertama aku sudah dapat tiba di Peng- ciang. Waktu itu aku pasti akan memberi suatu kebaikan kepada kalian."

Itulah janji, mendengar itu, HHu wan dapat juga tersenyum, Hu Ceng sebaliknya ber-kata: "Ingat engko Gan, tak dapat kau memperdayai kami"

Jie In mengusap-usap muka bocah itu.

"Kapan aku pernah mendustai kau?" katanya tertawa, ia memandang ke luar jendela, terus ia, meniambahkan: " Langit bakal menjadi terang, lekas kalian berangkat" sam Ciat Koay Kit lantas jalan di muka.

Ia baru tiba di luar, mendadak ia memutar tubuhnya, untuk kembali, sembari menjura kepada Jie In, ia berkata: "Aku yang rendah akan mengutus delapan saudara yang berkepandaian tinggi untuk mengantarkan anak-anak ini, aku sendiri perlu kembali dulu, sebab ada suatu urusan untuk mana aku masih minta keputusan Tianglo, dapatkah..."

"Asal yang aku mampu, mana tak dapat?" menjawab Jie In tertawa, "sekarang pergilah kau antar dulu mereka, nanti baru kau kembali."

Beng Tiong Ko memberi hormat pula, lantas ia bertindak keluar.

"sampai bertemu lagi" kata Wan Jie dan Ceng Jie, yang mata nya merah. Begitu orang berlalu Jie In merasa dirinya sepi sekali, maka ia lantas menjatuhkan tubuhnya, rebah di atas pembaringan, mata nya dirapatkan. selang setengah jam, Beng Tiong Ko telah kembali.

"Apakah mereka telah pergi?" tanya Jie-In tertawa seraya bangun dari pembaringan.

"Sudah," menjawab pengemis itu sambil menjura.

"Beng Tongcu," tanya Jie In pula, "tahukah kau kalau-kalau di luar kota Thaygoan ini, di dekat-dekat kita, ada tempat yang sunyi di mana aku dapat berdiam untuk sedikit waktu?

Coba..." ia lantas minta si pengemis memasang telinganya dan ia lantas mengisiki.

Tiong Ke berpikir sebentar, lantas ia menyahuti: "Ada, Tianglo, itulah sebuah kuil, sebenarnya tempat itu tersohor, biasa didatangi orang banyak untuk pesiar, cuma di musim dingin seperti sekarang ini, tidak ada orang yang kesudian pergi kesana, maka sekarang keadaannya sepi luar biasa.

Penjaga kuil hanya seorang imam yang menjadi sahabat karibku dari banyak tahun. Aku pikir tidak ada halangannya andaikata Tianglo pergi kesana."

" Kalau begitu, tolong tongcu memujikan aku kepada nya," kata Jie In manis. "Ya, tong-cu, tadi kau menyebutkan suatu hal, Hal apakah itu? sekarang ada ketikanya, coba kau beritahukan padaku."

Tiong Ko berpikir pula sebelum ia berbicara.

"Baiklah aku mengajak Tianglo pergi ke kuil itu dulu, baru aku bicara," katanya kemudian. Jie In mengangguk

"Begitupun baik," katanya, "Tolong tongcu menantikan di luar, sehabis aku membayar sewa kamar dan uang makan, nanti kita pergi bersama." Tiong Ko mengangguk lantas ia bertindak keluar.

***

DI TEPI sungai Chin sui yang letaknya dua belas li di sebelah barat kecamatan Thay-goan di mana ada gunung dan rimba, di sanalah berdiri kuil yang umum menyebutnya Chin su, kuil mana ada panggungnya, ada ranggon-nya, yang indah buatannya, itulah tempat yang sunyi dan nyaman, indah kebun dan taman-nya. Maka penduduk sekitarnya gemar sekali pergi pesiar kesana.

Ketika itu dipaseban air dari kuil itu terlihat seorang pelajar berusia pertengahan lagi duduk bersama seorang pengemis tua yang rambutnya kusut dan pakaiannya banyak tambalannya, Mereka berdua berbicara dengan asyik sekali.

Tak usah dijelaskan pula, merekalah Cia in Gak alias Gan Gak alias Jie In si anak muda serta Beng Tiong Ko si pengemis ketua cabang shoa say dari partai Pengemis, Mereka telah dapat tempat di Chin su dan mereka tengah berbicara tentang halnya si pengemis. Beginilah urusannya sam Ciat Koay Kit itu:

"Ada tiga bulan yang lalu, Beng Tiong Ko pergi kepegunungan Thay Gak san. Di sana ia masuk jauh ke dekat bukit Bian san di mana ada sebuah puncak yang ia anggap luar biasa, bukit itu di atas besar, di bawah lancip. mirip dengan gendul arak, Dilihat dari jauh, dipuncak itu terdapat banyak batu pada berdiri bagaikan rimba, sedang lamping jurang nya tak ada tetumbuhan rumput atau rotan, lamping itu gundul, ia heran hingga ingin ia melihatnya dari dekat.

Tidak bersangsi lagi, ia pergi mendaki, ia berlari-lari, Dua kali ia melompati jurang, ia sudah naik jauh juga ketika mendadak ada suara angin yang samar-samar membawa suara pembacaan d^anya si orang suci."

"Heran, kenapa disini ada kuil?" pikirnya. "Bukankah jalanan pun tidak ada?"

Ia memasang kuping, ia ingin mengetahui dari jurusan mana datangnya suara itu. hanya sejenak. la lantas lari menuju ke timur, Di sini ia pun mesti mendaki tinggi.

Akhirnya, walaupun tajam mata nya, puluhan tombak jauhnya, di sebelah depan, ia tak melihat bangunan tembok atau payon. ia jadi makin heran. Makin keras keinginannya untuk mengetahui. Tengah ia memasang telinga lebih jauh, kembali ia mendengar pembacaan doa tadi. Maka tak bersangsi pula, ia lari terus ke timur itu, kearah tempat datangnya suara, sesudah lari kira-kira lima puluh tombak. Tiong Ko mesti membelok di sebuah tikungan yang merupakan jurang .

Di sini ia berhadapan dengan sebuah gua batu yang gelap. Herannya, gua itu berada di lamping jurang, Mungkin gua itu dalam, Di mulut gua terlihat jalanan yang kecil. "Mungkin suara tadi datangnya dari dalam gua ini." pikirnya.

Ia memperhatikan jalan kecil itu. Nama-nya jalanan, sebenarnya di atas jala nan itu banyak batunya, jalanan menjadi tidak rata, Di kiri jalanan itu batu gunung belaka bagaikan tembok, tidak ada tempat pegangannya, dan disebelah kanan, ialah jurang yang dalamnya ribuan tombak. Jadi hanya burung yang dapat terbang ke situ, manusia dan binatang lainnya tak dapat.

Tiong Ko mengawasi dengan melengak. "Di sini tidak ada rumput dan pohon, burung pun tak dapat hidup di sini." pikir- nya, "kenapa bisa ada orang berdiam di dalam gua itu? Toh aku mendengar jelas orang membaca kitab. Mungkinkah telingaku salah mendengar?"

Ia berdiam sekian lama, lantas ia berkata pula sendirian: "Aneh gua ini Pasti ada orang di dalamnya Hanya, dari mana dia masuk-nya? Apakah tak boleh jadi ada jalanan lainnya?"

ia menjadi curiga. Tanpa merasa ia bertindak maju. Mata nya mencari-cari, ia tidak mendapatkan jalanan lain yang ia curigai itu. Maka ia kembali ke tempat tadi ia berdiri, Di sini Ia berdiam, otaknya bekerja.

Tiba-tiba terdengar pula pembacaan doa tadi, sebentar putus, sebentar terdengar pula, Teranglah itu suatu bagian dari kitab Kim Kong Keng, Diamond Sutra. sekarang terdapat kepastian, suara itu datangnya dari dalam gua. "Pasti dia seorang pendeta yang berilmu," pikir Tiong Ko.

Lantas ia bertanya dengan nyaring: "Di dalam itu suhu siapa?" Selang sekian lama, dari dalam terdengar suara jawaban: "Lolap bernama Poo Tan. Kalau tan-wat pandai ilmu Leng Hie Khie-kang atau Cit Kim sin-hoat, dapat tan-wat datang ke mari

memasuki gua ini, kalau tidak. janganlah tan-wat lancang mencoba menempuh bahaya, Lolap telah dicelakai oleh muridku yang jahat, sebagian tubuhku kaku, hingga tak dapat aku meninggalkan gua ini, dari itu maafkanlah lolap..." suara itu makin lama makin perlahan, lalu tak terdengar pula.

Tiong Ko heran, ia pernah mendengar nama pendeta Poo Tan itu. ia mengawasi gua, ia masgul sekali, ia terpisah dari mulut gua cuma tujuh atau delapan tombak, ia pandai ilmu meringankan tubuh, tetapi ia cuma dapat melompat sejauh lima atau enam tombak. Jadi masih jauh untuk dapat melompat ke gua itu, di situ pun tidak ada tempat untuk menginjakkan kaki.

" Heran Poo Tan dapat masuk ke sana," pikirnya bingung, "Dia dapat masuk ke sana, itu membuktikan betapa lihaynya dia, Lalu kenapa dia dapat dicelakai muridnya? siapakah muridnya itu?"

ia berhenti berpikir Mendadak ia- mendengar pula suara lemah dari Poo Tan.

"Tan-wat dapat datang ke mari, itu tandanya tan-wat berjodoh denganku," demikian kata suara itu. "Dapatkah tan- wat memberitahukan she dan namamu?"

Tanpa bersangsi, Tiong Ko menjawab: "Akulah si pengemis tua Beng Tiong Ko." Hanya sebentar, terdengar pula suara pendeta itu.

"Jadi tan-wat ialah Beng Tan-wat dari Kay Pang?" katanya. "Kalau tan-wat tidak merasa jemu, sukalah kau mendengar keterangan tentang diriku, supaya tan-wat tidak lagi menyangsikan sesuatu, Lolap berasal dari India Tengah, Pada enam puluh tahun yang lalu, lolap telah menerima tiga orang murid, namanya Kim Goat, Gin Goat dan Beng Goat, Merekalah yang dikenal sebagai Thian Gwa Sam Cun-cia.

Mereka berhasil mendapatkan kepandaianku delapan sampai sembilan bagian- Lalu belakangan mereka tersesat, Untuk membersihkan rumah tanggaku, aku turun gunung, Di luar dugaanku, mereka maju pesat sekali, tidak dapat aku mengalahkan mereka, sebaliknya, aku terhajar pukulan Cek Sat Mo Ka. Lukaku parah.

Oleh karena aku tahu tidak dapat aku berdiam lebih lama di India, aku berangkat ke Tiong kok, Ketiga muridku itu pun menyusup dan mencari aku. Ketika aku tiba di gunung Thian San, di dalam gua Soat Gay Tong di atas puncak, kebetulan sekali aku mendapatkan sejilid kitab suci Sang Buddha, diantaranya ada pelajaran ilmu silat.

Aku girang sekali, Aku percaya, setelah dapat memahami itu, aku akan dapat menguasai ketiga muridku, Celaka, aku telah tersusul mereka, Mereka menyerang, Aku melawan sambil lari mundur. Kembali aku terhajar Kim Goat, dengan pukulan Cek Sat Mo Kanya, itulah tipu silatku yang paling lihay.

Siapa terhajar itu, kalau tenaga dalamnya tidak mahir, lama-lama tubuhnya dapat menjadi lumer. sebenarnya lolap mempelajari itu tanpa dikehendaki maka tidak disangka, sekarang lolap sendiri yang kena terhajar, Mungkin itulah karma, Akhirnya lolap menemui gua ini.

Dengan mengeluarkan seluruh kepandaianku aku berhasil masuk ke sini, Hampir aku terbinasa di dalam-jurang, Ketiga muridku menyandak, mereka hendak masuk, tetapi aku dapat memukul mundur mereka, hingga mereka pergi, Aku dapat masuk ke dalam gua, tetapi aku telah menggunakan tenaga berlebihan, sakitku memburuk sampai separuh tubuhku tak dapat digerakkan lagi, sia-sia belaka aku mencoba menolong diri

Dengan begitu, kitab ku itu juga tidak dapat aku gunakan. sebenarnya, dengan mengandalkan tenaga dalamku, dapat aku memahaminya. Di situ ada pelajaran memulihkan diri yang dinamakan Hoan pun Hoan Goan, sayang sebentar- sebentar aku diganggu ketiga muridku.

Mereka datang dua kali setiap tahun, setiap mereka datang aku mesti mengeluarkan tenaga besar untuk mengundurkannya, Pernah aku berpikir pendek untuk menghabiskan kehidupanku tetapi aku terhalang, Aku ingat, satu kali aku mati, tidak ada orang lagi yang dapat menguasai ketiga muridku itu. Maka aku terpaksa hidup sampai sekarang ini..."

Baru sekarang Tiong Ko ingat, Poo Tan ialah si hantu yang tersohor di India Tengah, Dialah dari kalangan lurus dan sesat, dari golongan sang Buddha dan iblis, pernah ia mendengar dari Kim Beng Tay, gurunya, Katanya Poo Tan sedikit sekali berbuat jahat, tetapi dia sangat besar kepala, suka menang sendiri, dia tak mau mengalah dalam urusan kecil sekalipun Maka di India Tengah, dia disebut si hantu nomor satu. Tidak dinyana, dia telah terusir murid- muridnya sampai di Tiongkok.

Biar bagaimana, pengemis ini toh merasa terharu, Dilain pihak la masgul untuk ketiga murid si hantu itu, Memang hebat kalau Kim Goat bertiga tidak ada orang yang dapat menguasainya, ia jadi membenci mereka itu, yang dianggap keterlaluan terhadap gurunya, Karena itu ia menjawab pendeta itu, katanya:

"Siansu, kau bercelaka, aku menyesal Barusan siansu mengatakan ketiga murid mu tidak ada orang yang bisa menguasainya, inilah aku sangsi."

Dari dalam gua terdengar tertawa dingin dari si pendeta. "Tan-wat, apakah kau kira ucapan lolap tidak benar?" dia

berkata. "Sekarang ini dalam Rimba persilatan di Tiong kok mungkin ada orang yang lihay, begitupun dalam kalangan kaum beragama, tetapi jumlah mereka pasti hanya beberapa orang dan mereka tentu tak menghiraukan urusan lolap ini. selama ini, kalau bukannya ketiga muridku masih jeri terhadap aku, mungkin mereka sudah mengacau hebat di negara tan- wat ini." Tiong Ko bertabiat keras, ia menjadi gusar,

"Siansu, meski Partai kami tidak terlalu lihay, tetapi tidak boleh kau memandang enteng kepada Rimba persilatan seluruh negara-ku" katanya keras. Tapi Poo Tan tertawa.

"Beng Tan-wat, jangan kau anggap kata-kata ku tak beralasan," ia berkata, "sekarang ini usiaku sudah seratus tujuh tahun, meski benar dari sanubariku belum lenyap napsu tamak dan kejumawaanku, tidak dapat aku berdusta terhadap kau. Pendek kata, tan-wat boleh menganggap lolap banyak bicara, tetapi, apakah tan-wat berani bertaruh?" Mendengar begitu, Tiong Ko tertawa sendirinya.

"Kau di dalam gua, aku di luarnya, bagaimana kita dapat bertaruh?" pikirnya ia menganggap si pendeta benar-benar sangat jumawa, Tapi ia pun penasaran, Maka sembari tertawa, ia bertanya: "Siansu, aku mohon tanya, cara bagaimana pertaruhan itu?" setelah lewat beberapa menit, baru terdengar suara nya pendeta itu.

"Sebenarnya lolap menyesal atas perkataanku barusan," katanya, "Tetapi kau menanyakan penjelasan, tan-wat, hatiku menjadi tertarik pula, Baiklah, mari kita bertaruh, Ketiga muridku yang celaka itu biasa datang dua kali dalam satu tahun, Aku menduga, kalau mereka datang pula, pasti kira- kira diakhir tahun ini.

Sekarang begini. sebelum lewat akhir tahun, baiklah tan- wat datang pula ke mari, Bersama tan-wat, tan-wat mesti mengajak seorang kawan yang rasa nya dapat melawan murid-muridku itu, cukup dia berdiam di atas jurang untuk melindungi aku.

Setelah setengah tahun, lolap pasti akan dapat keluar dari gua ini. Apabila itu terjadi, maka lolap akan menghadiahkan kitab yang lolap dapatkan di gunung Thian san itu, sedang untuk Kay Pang nanti lolap memberikan bantuanku hingga nama kalian bakal menjadi gilang gemilang, Atau tan-wat berangkat ke India Tengah di mana sukalah tan-wat mencari adik seperguruanku dengan siapa sudah banyak tahun lolap berpisah, Maukah, tan-wat?"

Tiong Ko bersangsi.

"Inilah bukan pertaruhan..." pikirnya .

"Jelas aku hendak dijadikan- umpan pancing..."

Belum pengemis ini menjawab, dari dalam gua sudah terdengar pula suara si pendeta, Dia tertawa dingin dan berkata: "Tadi lolap mengatakan di dalam Rimba Persilatan di Tiong kok tidak ada orang yang lihay, itulah kata-kata yang lolap keluarkan saking, terpaksa. sudahlah, tan-wat, tak usah kau bersangsi, baiklah mari kita batalkan pertaruhan kita ini. selama lima tahun, kecuali murid- murid- ku yang jahat itu, tidak pernah ada orang lain datang ke mari, sekarang tan-wat datangi lega juga hatiku."

Mendengar itu, Beng Tiong Ko tertawa, "Siansu," ia berkata, "aku tahu siansu memancing aku, tetapi baiklah, aku terima pertaruhan ini. Nah, ijinkanlah aku berlalu"

semenjak itu, dua bulan sudah Beng Tiong Ko merantau, untuk mencari orang yang lihay, belum pernah ia dapat menemui Memang itulah suatu pekerjaan sulit, ia sangsi mencari diantara kalangan sesat.

Siapa tahu bila yang dicari itu jadi bersatu dengan si murid- murid murtad dan jahat? Daripihak lurus, ia sangsi ada orang yang suka turun tangan, Kemudian di Siamsay selatan ia bertemu dengan Kiu cie sin Kay Chong sie. ia memberitahukan tentang pertemuannya dengan si pendeta cacad serta pertaruhannya itu. "Kenapa kau menerima baik pertaruhan itu?" Chong sie menyesali "Kau tahu, Thian Gwa sam Cun-cia lihay tak terkirakan Akupun tidak berani mengganggu mereka itu, Bukankah kau kata Poo Tan mendustai kau? Meski begitu, kau harus berusaha terus untuk memenuhi pertaruhan itu."

Disesali begitu, Tiong Ko berdiam.

"Sekarang lekas kau kembali ke shoasay," kata Chong sie kemudian, "Di sana kau menantikan adik angkatku, Cia In Gak. Coba kau minta bantuannya, mungkin dia suka membantu. sekarang aku mempunyai urusan lain, kalau tidak. suka aku menemani kau pergi bernama mencari adik angkatku itu." Chong sie lantas melukiskan roman dan usia Cia In Gak.

Beng Tiong Ko menurut, lekas- lekas ia pulang ke Thaygoan, satu bulan kira-kira ia menanti, akhir tahun mendatangi. Beberapa hari lagi, tahun baru akan tiba, selama itu, tak tampak Cia In Gak. ia menjadi putus asa, hingga ia berpikir ia mesti pergi ke India Tengah.

Untuk pergi ke India, ia berkuatir, Ada kemungkinan ia menjual jiwa nya disana, ia mendengar halnya jago-jago India tak menyukai jago-jago Tiong kok, Maka akhirnya kebetulan sekali ia ketemu In Gak dengan cara yang tidak disangka- sangka itu.

In Gak berpikir ketika ia sudah mendengar keterangan si pengemis.

"India itu tersohor sebagai negara tua yang luar biasa dan katanya penduduknya luar biasa juga sepak terjangnya" demikian pikirnya, "maka kata-kata Poo Tan mengenai ketiga muridnya itu mungkin bukan kata-kata mengangkat-angkat belaka, Tapi, biarpun begitu, karena Toako Chong sie telah menyebut-nyebut aku, baiklah, aku akan pergi kesana, untuk melihat apa yang aku bisa perbuat, Menurut Tiong Ko ini, Poo Tan ada menyebat-nyebut halnya sebuah kitab yang didapatkan di gunung Thian san, Mungkinkah itu kitab peninggalan su-couw Bu Wie siangjin? Kalau benar, itu artinya aku mendapatkan pulang mustika perguruanku. Karena itu, lebih-lebih aku mesti pergi kesana,"

Maka ia tertawa dan berkata pada si pengemis: "Beng Tongcu, besok aku akan pergi kesana, Cuma gunung Thay Gak san demikian luas, bagaimana aku harus mencarinya?"

Selagi orang berdiam, Tiong Kopun berpikir ia kuatir In Gak bersangsi untuk pergi, Hal itu membuatnya masgul, Maka mendengar suara si anak muda, ia girang bukan main,

"Terima kasih, tayhiap" ia berseru, "Tentang tempat itu, tak usah tayhiap kuatir. Ketika aku berlalu dari sana, aku telah memperhatikan jalan yang aku ambil, bahkan aku telah membuat petanya, Tayhiap harus masuk dari dusun oey- chung di kecamatan Leng-sek, langsung memasuki gunung itu, lantas ikuti petaku ini, tidak nanti salah, sekarang ijinkanlah aku berangkat, aku hendak menyusul kedua anak she Hu itu, nanti pulangnya baru aku menjenguk tayhiap pula untuk memberi selamat pada tayhiap"

In Gak mengangguk sambil tersenyum, Tiong Ko menjura, lantas ia berlalu.

Hari itu tanggal dua puluh empat, seorang diri In Gak duduk di dalam ranggon air dari mana melalui jendela, ia memandang ke penumpang di mana ada ditanami pohon teratai cuma pohon itu sudah pada kering.

Ia menjublek. ia ingat halnya waktu ia turun dari gunung dan tiba di Lam- ciang. semenjak itu, tepat satu tahun lamanya, selama itu, ia hidup dalam perantauan, sendirian saja. Benar ia telah mendapat sejumlah kawan, tetapi dengan mereka itu ia senantiasa berpisahan, maka ia berpikir, sampai kapan akhir perantauannya ini, ia bangkit berdiri, ia melempengkan pinggang nya, lantas ia keluar dari Chin Su. ia memandang ke sekeliling nya, ia tidak melihat seorang manusia pun. Lantas ia me-langkah, dengan cepat, menuju ke kota Thay-goan. Hari itu hawa udara buruk, lebih buruk daripada beberapa hari yang lalu, Tidak ada cuaca yang cerah, Awan-awan bergumpal dan rendah, Angin sebaliknya meniup keras, menyampok-nyampok muka, tajam rasanya. syukur tidak ada salju, kalau tidak. entah buruknya udara itu.

In Gak menuju ke kota bagian selatan, Di sini barulah ia melangkah perlahan, orang berdesak-desakan, ia berjalan tanpa tujuan, ia menoleh ke timur dan berpaling ke barat, ia mendapatkan banyak rumah yang mengatur hio-toh, meja sembahyang.

Lalu tiba-tiba ia mendengar suara kelenengan nyaring, orang banyak pada lari minggir, ia mengangkat kepalanya, untuk melihat ada apakah?

"Ah " ia mengasih dengar suaranya perlahan.

Itulah seorang penunggang kuda yang lagi mendatangi, dan dialah si Nona Lan dengan siapa sudah lama ia tidak pernah bertemu.

Nie Wan Lan mengenakan baju dan celana singsat dari sutera, pinggangnya dilihat dengan ikat pinggang sutera putih yang pinggirnya bergigi balang, Di luar ia memakai mantel merah yang menyolok mata, Kuda nya pun seekor kuda pilihan, yang putih mulus dari kepala sampai ekornya, ia memainkan cambuknya berulang-ulang, nyaring suaranya.

Kudanya itu kabur ke luar kota selatan, ia tidak melihat In Gak tengah mengawasinya, Taruh kata ia melihat, tidak nanti ia mengenali si anak muda yang memakai topeng. Jie In agak heran, ia mengawasi si nona, hatinya bekerja.

"Dia datang ke shoasay ini, mau apakah dia?" ia berpikir.

Lantas ia teringat akan kebandelan dan keberandalannya nona itu. Kemudian ia pun berjalan terus. Di sebelah depan ada sebuah rumah makan dengan merek Liu Hiang Kie, benderanya yang hitam berkibar-kibar, ingin Jie in mampir di rumah makan itu, maka ia berjalan menghampiri.

Selagi ia mau bertindak naik di tangga lauwteng, di atas itu ia melihat muka seorang wanita, terus seluruh tubuhnya, yang tertutup pakaian hitam mengkilap. Nona itu bertindak turun dengan cepat, sebelah tangannya menenteng sepatu kecil yang bengkok. Jie In menarik pulang kaki kanannya yang sudah diangkat itu, ia minggir.

Si nona berbaju hitam turun terus, ketika tiba di depan Jie In, ia melihat muka orang, ia melengak. lalu mendadak ia tertawa.

Cepat bagaikan angin, ia turun terus, hanya sembari lewat ia berkata dengan perlahan: "Memakai kulit itu, orang melihatnya muak"

Jie In melengak. Segera ia ingat kejadian di hotel di Heng- koan, di malaman hujan angin, ketika mutiaranya ada yang merampas,

"Pastilah dia siperampas itu". pikirnya, Maka tanpa berpikir lagi, ia lari untuk memburu. Apa lacur, ia bertubrukan dengan seseorang, hingga orang itu jatuh terjengkang dan numprah di tanah

"Aduh" dia menjerit "Aduh" Dan dia memegangi dadanya.

Jie In melihat pelayan rumah makan, lekas- lekas ia membangunkannya, justru itu, orang yang hendak dikejar sudah lenyap.

Pelayan itu melihat ada tamu, dia menghampiri untuk melayani, maka apes baginya muncul si nona Jie In mau mengejarnya, jadilah ia korban tubrukan, ia tidak gusar, ia melayani terus Jie In pun terpaksa naik ke lauwteng, untuk minum dan dahar Tentu saja lenyap kegembiraannya.

Jie In terus berjalan-jalan di kota Thay goan itu. ia memasuki jalan-jalan besar dan gang-gang kecil, Selama itu, banyak yang ia dengar. Di sana-sini orang bicara tentang berbagai pencurian dan pembunuhan gelap. juga ada pemberitahuan di tembok. pemberitahuan dari pihak si penjahat.

Yang hebat ialah kejahatan di rumah Lie sie-long, yang hartawan tetapi busuk kelakuannya, Kejahatan itu membikin repot dan bingung kepada Sun Ho si kepala sersi.

Jie In tidak ada niat untuk mencampuri urusan itu, Maka dilain saat, ia sudah dalam perjalanan ke oey-chung, dusun yang disebutkan Beng Tiong Ko, ia tiba setelah lewat tengah hari, Terus ia menuju kepegunungan Thay Gak san, Mengandalkan peta si pengemis, ia maju terus, ia tidak menghiraukan jalan yang sukar.

Selagi mendaki, pemuda ini, atau lebih benar si pelajar berusia pertengahan, berhadapan dengan angin Utara serta awan bergumpalan, di udara bunga-bunga salju beterbangan-

Ketika ia mendekati sebuah jurang, di sebelah depan terlihat berkelebatnya beberapa tubuh manusia, Mereka itu pasti lihay ilmu meringankan tubuhnya, ia menjadi heran.

"Siapakah mereka itu? Mau apa mereka di tempat sepi ini?

Ah, apakah mereka pun mengetahui halnya pendeta Poo Tan?" demikian ia tanya dirinya berulang-ulang, Tapi ia maju terus, Dengan mengambil jalan samping, dapat ia mendahului mereka itu, lalu dari jarak tujuh tombak, ia mengawasi mereka, yang terdiri dari tujuh orang.

Untuk herannya, ia mengenali U-bun Li, ketua dari Oey Kie Pay partai Bendera Kuning, Sambil bersembunyi ia mengawasi terus, lalu ia menguntit.

U-bun Lui berjalan paling belakang, berendeng bersama seorang tua. Mereka berdua ini seperti mencium bau sesuatu, atau kecurigaannya sangat besar, selagi berjalan itu, mendadak mereka menoleh terus melompat ke kedua samping, Gesit sekali gerakan mereka, dan lompatannya pun jauh.

Akan tetapi mereka tidak melihat apa-apa kecuali batu yang berdiri tinggi bagaikan rebung, Roman mereka jengah sendirinya, setelah mengawasi dan menyeringai, tanpa mengucapkan apa-apa, mereka berjalan terus, menyusul kawan-kawan mereka, jelas mereka masgul dan heran.

Jie In terus bersembunyi, tetapi ia tidak diam saja. Kembali ia mendahulul mereka itu, ia tetap heran atas kedatangan mereka, ingin ia mengetahui, mereka itu mau mencari apa atau hendak melakukan apa.

Selama satu jam Jie In heran untuk apa yang ia lihat, Di sepanjang jalan itu, ia telah menemui dua rombongan lain, Mereka itu berpisahan tetapi pun mirip dari satu rombongan Mau apa mereka? Benarkah untuk Poo Tan siansu?

Tapi menurut Tiong Ko, ya, menurut Poo Tan sendiri, selama lima tahun, belum pernah ada orang lain datang kesitu kecuali murid-murid nya si pendeta.

"Ah, mungkin mereka bermaksud lai-.." akhirnya ia berpikir." Karena itu, ia melepaskannya, tak mau ia memperhatikannya pula, ia maju terus seorang diri mencari jurang atau gua tempat kediamannya si orang pertapaan dari India Tengah.

Lagi tiga puncak, maka Jie In akan sampai di tempatnya Poo Tan itu. Ketika ia hendak melompat turun ke lembah, mendadak ia melihat seseorang melompat di sebelah kirinya terpisahnya kira-kira empat puluh tombak. menyusul mana, ia mendengar bentrokan senjata. ia menjadi heran, maka ia melompat ke sana untuk melongok. Di tempat terbuka, yang penuh salju, dua orang lagi bertarung,

-00000000- Bersembunyi di belakang sebuah batu besar Jie in mengawasi. ia cuma terpisah enam tombak dari mereka itu, tetapi mereka asyik mengadu jiwa, mereka tidak tahu adanya orang yang ketiga.

Tidak lama Jie In menonton, ia telah melihat perbedaan diantara kedua orang itu, ma-sing-masing seorang tua dan seorang muda, si orang tua berusia kira-kira lima puluh tahun, kumis nya kuning, matanya tajam.

Dia memegang pedang, yang bedadari pedang yang kebanyakan, si anak muda berumur dua puluh empat atau dua puluh lima tahun, bermuka putih dan tampan, cuma romannya bersedih, ia memegang pedang dengan tangan kiri, tangan kanannya dikasih turun, pedangnya itu sebentar dapat digerakkan dengan bertenaga, sebentar tidak.

Pasti itulah akibat totokan si orang tua diwaktu mereka mulai bentrok tadi, Karena itu Jie In jadi berkesan baik terhadap anak muda itu.

Berselang belasan jurus, muka dan telinga si anak muda menjadi merah, napasnya pun tidak teratur. itulah disebabkan hati yang panas, penuh dengan kemurkaan. Dilain pihak. si orang tua dengan sebentar-sebentar tertawa dingin, menyerang makin keras, Alis si anak muda lantas berkerut, giginyapun dirapatkan, akan tetapi perlawanannya tak berkurang, bahkan satu kali ia dapat mema-ksa si orang tua mundur sampai delapan tindak ia telah mendesak dengan jurus "Tawon gula bergeroyoksan"

Hanya celaka untuknya, habis mendesak dengan sia-sia, ia lantas muntah darah si orang tua tidak mau berhenti, selagi tubuh orang terhuyung, ia balas merangsak.

Sampai di situ Jie In tidak dapat menonton lebih lama pula, sambil berseru, ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya, ia melompat ke arah si orang tua. Orang tua itu terkejut, ia lantas menoleh ketika mendapatkan ada orang melompat kepadanya ia menyambut dengan pedangnya. ia belum tahu orang itu siapa, tetapi ia mau membela dirinya, sembari menyerang, ia lompat ke kiri.

Jie In tidak berniat membela salah satu pihak, ia tidak kenal mereka dan belum tahu duduk persoalannya, ia hanya hendak menolong si anak muda, maka ia tidak melayani si orang tua, ia terus melompat lagi kepada si anak muda, tanpa membilang apa-apa, ia menotok dengan dua jari, sampai tiga kali, dipinggang anak muda itu, habis mana ia melompat pula, balik ketempatnya tadi.

Hebat totokan itu. Begitu tertotok, si anak muda lantas merasakan dirinya bebas, hingga kesegarannya pulih. Dengan begitu pedang di tangan kirinya lantas ia pindahkan ke tangan kanannya.

Si orang tua menjadi heran dan kaget, hingga ia mengawasi si pelajar rudin berusia pertengahan itu, ia melihat tegas caranya orang menotok bebas totokannya itu, Tentu saja, ia sangat membenci si pelajar itu.

Setelah pulih tenaga nya, anak muda itu maju pula, untuk menyerang si orang tua.

Orang tua itu gugup, ia menangkis, senjata mereka bentrok keras sekali. Kaget si orang tua, rasanya pedangnya, tertempel, sukar untuk ditarik pulang. Dengan begitu segera dadanya yang kiri, jalan darah leng-tiong, terancam untuk tertikam. Asal pedang diluncurkan, celakalah dia.

Sekarang Jie in melihat, kalau dibandingkan dengan Tong hong Giok Kun dan Kiang Yauw Cong, mungkin pemuda ini lebih lihay, iapun melihat orang bersilat dengan ilmu silat Kun Lun Pay. Segera terdengar bentakan si anak muda: „Cay-hun-kiam, Ouw Pin Bu, kau tidak tahu malu! Kenapa kau main membokong? Sungguh kau membikin malu gurumu, Hoa Hee Soe Ok! Apa, sekarang kau mau bilang?"

Orang tua itu, yaitu Ouw Pin Bu seperti katanya si anak muda, habis daya.

„Kat Siauwhiap, aku bukannya kalah dari kau," ia kata.

„Aku pun telah terbokong olehmu. Apa aku bisa bilang? Jikalau kau berani, mari kita bertempur pula! Jikalau aku kalah, disini juga aku akan bunuh diri! Kau setuju ?" .

Anak muda she Kat itu tertawa lebar.

„Baik !” ia menerima tantangan. „Kau pasti tak lolos dari tanganku!" Ia lantas menarik pedangnya sambil berlompat mundur setombak lebih.

Mendadak si orang tua tertawa mengejek.

„Bocah yang baik, kau terpedaya!" dia berseru. Dia lantas memutar tubuh seraya mendak, terus kedua kakinya menjejak tanah, untuk berlompat dengan gerakannya ,.Cecapung menotol air tiga kali," maka setelah tiga kali lompatan beruntun, sejenak saja ia sudah memisahkan diri belasan tombak,

„Setan!" si anak muda berseru menyesal, sebab ia dijual. Ia tercengang sebentar, lantas ia mau berlompat, untuk mengejar. Belum lagi ia menjejak tanah, atau ia melihat si orang tua tak berlari terus — dia berhenti dengan tiba-tiba.

Itulah benar. Di depan orang tua itu, Ouw Pin Bu terlihat berdiri menghalanginya si pelajar rudin usia pertengahan. Dia kaget. Dia merandek tetapi dia mau menyingkir terus, dengan berlompat ke samping. Tapi, belum tubuhnya bergerak, terdengarlah suara plak-plok , mukanya dua kali telah kena tergampar, hingga ia berdiam dengan kepala pusing dan mata kegelapan, pipinya dirasai sakit dan panas. „Pantas Kat Siauw hiap mengatakan kau tidak malu! kata si pelajar tertawa dingin, “Memang kau sangat tidak tahu malu! Apakah kau tidak mau lekas kembali untuk menempur Kat Siauwhiap itu? Jangan takut, aku tidak membantu dia!”

Habis berkata, Jie ln mengawasi tajam.

Pin Bu menghela napas, tanpa membilang apa-apa ia balik kepada si anak muda. la jalan baru mendekati satu tombak kira-kira, segera terjadi suatu perubahan. Disana datang beberapa rombongan orang yang tadi diketemukan Jie In, diantara mereka itu lantas terdengar satu suara nyaring: “Lihat, bukankah itu saudara Ouw'.'

Dan belum berhenti suara itu, satu orang sudah lompat kedepan Pin Bu. Dialah orang bertubuh, besar yang berewokan lebat.

Melihat orang itu, Pin Bu girang tak kepalang.

„Saudara In!" dia berseru. „Itulah Kat Thian Houw si bocah dari Kun Lun Pay yang telah membacok dengan pedang kepada keponakanmu ! Aku justeru hendak membekuk dia tetapi aku dihalangi oleh itu pelajar rudin!"

Dia lantas bergantian menuding kepada si anak muda dan si pelajar usia pertengahan.

Orangs itu segera Iompat ke-depan si anak muda, yang disebut bernama Kat Thian Houw.

“Bocah she Kat!" katanya sengit, “Pada tahun yang lalu keponakanku In Hoa, terbinasa, hebat di ujung pedangmu, kau tentunya masih ingat! Telah ke mana-mana aku pergi mencari kau, maka syukur kepada Thian, hari ini kau diketemukan juga olehku! Hahaa!”

Kata-kata itu ditutup dengan serangan lima jari tangan ke- arah kepala. Melihat serangan itu, si anak muda menangkis dengan pedangnya, setelah mana, ia lompat ke belakang si penyerang, yang dengan cepat sudah mengulangi serangannya. Ia menggeser kekiri sambil menyerang seraya ia berkata nyaring : „In Tay Hong, masih ada muka kau menyebutkan peristiwa itu! Toh kau ke¬tahui keponakan celaka dari kau itu, si bangsat tukang petik bunga, yang merusak, akhlak yang dibenci oleh malaikat dan manuisia!

Tidaklah keterlaluan dia terbinasa diujung pedangku!"

Orang bertubuh besar itu, yang dibilang bernama In Tay Hong, terkejut karena serangannya gagal berbareng dengan mana ia mendengar samberan angin. Ia lantas berkelit dengan memutar tubuhnya, sembari berkelit ia menyerang pula. Ia bersilat dengan ilmusilat Khong Tong Pay yang bernama „Hian Im Kwie Hoan" atau „Iblis Neraka" yang terdiri dari tiga jurus. Lagi-lagi ia, mengerjakan jari jari tangannya.

Pedang Kat Thian Houw kena tersampok, ia terperanjat.

Tidak saja pedangnya itu mental, juga dingin tersalurkan kelengannya, hingga lengan itu menjadi kaku dan ngilu, tanpa merasa, ia mundur dua tindak. Dalam hatinya ia memuji serangan musuh itu, yaitu jurus „Hian tan Kwie Jiauw" atau

,,Cengkeraman iblis."

Sementara itu, Jie In lantas ketahui si anak muda yang ia tolong! itu ialah Siauw-Pek-Liong

Kat Thian Houw si „Naga Putih Kecil" dari Kun Lun Pay, seorang pemuda yang mulai mengangkat nama. Diam-diam ia pun bersenyum mendapatkan ada orang-orang dari beberapa rombongan itu yang mengawasi padanya. Didalam hatinya ia kata : „Kawanan tikus, kamu berani main gila kepada Kat Thian Houw! Baiklah, aku nanti membikin kamu pada berdiam disini! " Muka Thian Houw menjadi merah karena ia kena terpukul mundur itu. Ia tidak takut, bahkan ia menjadi penasaran.

Lantas ia maju pula, untuk menyerang dengan pelbagai tipusilat dari ilmu pedang Kun Lun Pay, yaitu „Sin Yan Kiam- Hoat," ilmu pedang „Walet Sakti." Ia merangsak.

In Tay Hong itu menjadi adik seperguruan yang nomor tiga dari ketua Khong Tong Pay, ilmusilatnya itu, Hian Im Kwie Jiauw, telah ia yakinkan dengan sempurna, karena itu ia dimalui orang-orang Kang Ouw, yang memberi ia julukan Kwie Mo Ciu, si Tangan Iblis. Ketika ia melihat rangsakan si anak muda, ia tertawa dingin. Ia kata dengan jumawa: „Bocah, lain orang jeri terhadap Sin Yan Kiam-Hoat kamu, aku tidak!

Baiklah kau rasai cengkeraman iblisku ini!"

Penyerangan In Tay Hong benar-benar liehay, kedua belah tangannya menyamber berulang-ulang, cepat dan berbahaya. Penyerangan itu dapat membuat penglihatan kabur, sedang itu waktu, bunga salju tetap beterbangan turun.

Kat Thian Houw terperanjat juga. Ia merasa bagaimana ia kena terdesak. Ia melihat gelagat orang lebih sering menyerang dengan tangan kanan, sebab tangan kirinya diperuntukan menjaga pedang. Dengan begitu, walaupun ia bersenjata, ia seperti kena terkekang. Coba ilmu pedangnya tidak mahir, sulit ia mempertahankan dirinya. Untuk, melayani terus, ia terpaksa menggunai tipusilat „Kioe Tay Kioe Beng" ialah „Sembilan kali menolong jiwa." Maka dengan tipusilat ini ia kembali dapat mendesak, hingga lawannya mesti mundur.

Tengah pertarungan, itu berjalan seru, tiba-tiba dari rombongannya In Tay Hong terdengar satu seruan nyaring:

„Tahan!" Seruan itu disusul dengan lompat majunya satu orang yang bertubuh besar.

Kat Thian Houw melihat caranya orang berlompat itu, tanpa ayal lagi ia meninggalkan lawannya sambil ia berlompat mundur jauhnya satu tombak, 'begitu ia menaruh kaki, ia memandang tajam.

Jie In mendengar dan melihat. Ia lantas mengenali siapa orang itu, ialah Pat pie Kim kong U-bun Lui, ketua dari Oey Kie Pay. Ia pati segera mendengar U-bun Lui berkata kepada Thian Hauw: „Kat Siauw-hiap, benar-benar kau liehay, Aku U- bun Lui, aku kagum sekali. Sebenarnya, siauwhiap, ditempai ini dan disaat begini, tak tepat untuk kamu bertarung, dari itu aku minta sukalah kau memandang aku, sudilah kau menunda sebentar!"

Ia tidak menanti jawaban dari si anak muda, segera ia berpaling kepada Tay Hong untuk terus berkata: „Saudara In, kita mempunyai urusan penting, urusan apa juga baiklah kita tunda sampai lain hari! Nah, mari kita pergi!"

Ia menoleh pula pada si anak muda, sembari merangkap kedua tangannya memberi hormat, ia kata: „Kat Siauwhiap, sampai kita bertemu pula!"

Terus ia menyamber tangannya Tay Hong, untuk ditarik, hingga bersama- samalah mereka meninggalkan gelanggang pertempuran.

In Tay Hong berlalu sambil menoleh dulu kepada si anak muda, sinar matanya menunjuki ia gusar dan penasaran.

Cuma sebentar, lantas semua orang itu. menghilang ditikungan bukit. Berikut mereka, Liok-Hoen-Kiam Ouw Pin Bu menghilang juga.

Kat Thian Houw terbengong mengawasi orang mengangkat kaki, sampai sekian lama, baru ia mendusin. Dengan lantas ia memutar tubuhnya, guna mencari si pelajar yang menolong membebasi ia dari totokan. Lantas ia berdiri tercengang.

Tak ada orang didekatnya itu, suasana sangat sunyi, sedang tadi riuh suara bentrokan senjata dan suaranya U-bun Lui. Ia mencari dengan matanya kesekelilingnya, ia melainkan melihat salju putih bertaburan. Ia lantas menghela napas, suatu tanda ia sangat masgul. Tidak lama ia berdiri diam, lantas ia menuju kearah yang diambil rombongan U-bun Lui itu .........

Jie In sebenarnya tidak turut menghilang, ia cuma bersembunyi dibelakang batu besar tempat mengumpatnya tadi. Ia tidak ma menemui siapa juga, sedang tadi ia turun tangan saking terpaksa. Ia mempunyai urusannya sendiri yang penting dan tak ingin ia menggagalkan itu. Setelah berlalunya si anak muda, baru ia muncul, tangannya. membuat main salju yang menempel ditangan bajunya.

Ketika itu cuaca makin guram, angin gunung bertambah santer. Tebalnya salju sudah se-tengah dim. Putih dimana- mana, kecuaii warna guram dari awan; sukar membedakan mana langit dan mana bumi .........

Hanya sebentar ia berdiam, Jie In pun mengangkat  kakinya, ia cuma tidak mengikuti jalan yang diambil Thian Houw dan rombongannya U-bun Lui itu. Ia pergi kebelakang bukit, ia berlari-lari, baru melewati seratus tombak lebih, tibalah ia di-suatu tempat dimana….sejarak dua tombak — ada sebuah lengpay atau lencana yang luar biasa macamnya, yaitu mirip dengan tangan, warnanya hitam, terletak di atas salju yang putih mulus, tegas sekali lencana itu tampaknya.

Bukan main tertariknya perhatian Jie In. Ia lantas menghampirkan. Ia tidak mengulur tangannya untuk menjemput, sebaliknya ia mencontek dengan ujung sepatunya hingga lencana itu loncat meletik, setelah mana barulah ia menyamber dengan tangan kanannya. Untuk herannya, ia masih merasakan hawa hangat yang mana menyatakan, Iencana itu baru saja terpisah dari tubuh, orang yang membawa atau memilikinya. Tentu sekali itulah bukan benda kepunyaan rombongannya U-bun Lui, lantaran tujuan mereka bertentangan.

Habis, milik siapakah itu? Selagi mengawasi, Jie In membawa lencana kedekat mukanya. Lantas hidungnya menangkan bau yang harum.

..Ah. inilah kepunyaan wanita!" katanya dalam hati. Bahkan mungkin, lencana itu disimpannya didalam tubuh wanita itu.

Ia mendapatkan kenyataan, bagian tengah Lencana itu berukiran lima kepala hantu yang matanya mendelik dan giginya bercaling, yang romannya sangat bengis, bercampur dengan ukiran sejumlah telapakan yang mirip telapakan tangan manusia. Ia heran. Lencana itu ia lantas simpan dalam sakunya.

Selama itu Jie In tidak me¬lihat kesekitarnya, baru selagi memasuki lencana itu kedalam sakunya, ia mengangkat kepalanya, atau tiba-tiba ia melihat tubuh seorang berlompat pesat kearahnya. la tidak takut, ia hanya heran dan terkejut. Karena orang itu sudah lantas menyambut tanganya, untuk merampas lencana itu.

Hebat orang itu, samberannya itu telah berhasil, dia dapat memegangnya.

Jie In berdiri diam, mengawasi orang itu, yang membuatnya heran sekali. Sebab dialah si nona dengan pakaian serba hitam, yang bersamplokan dengannya ditangga lauwteng rumah makan di kota Thaygoan!

Mereka saling mengawasi, tangan mereka seperti bersatu.

Si nona masih memegangi lencana. itu dan tak melepaskannya, sedang Jie In masih menggenggam bagian yang lainnya.

Nona itu agaknya bergelisah, mukanya menjadi merah. Dengan mementang lebar kedua matanya, ia kata, nadanya aleman: „Kau ini orang macam apa? Benda yang lain orang dapatkan dengan susah-pajah, kau hendak menelannya!

Sungguh tidak tahu malu! Hayo bilang, kau hendak mengembalikan kepada nonamu atau tidak?" Jie In heran bukan main, ia melengak mengawasi. Tapi justeru karena itu, ia dapat melihat si nona tegas sekali. Ia mendapat kenyataan, nona ini terlebih cantik daripada Tio Lian Cu, ramping potongan badannya sa¬ngat menggiurkan airmukanya. Ia bukan si mata keranjang, ia toh tergiur.

Memang sudah sifatnya manusia gemar akan kecantikan. Ia mengawasi terus, pikirannya bertentangan. Lencana itu milik si nona, sudah selayaknya ia membayar pulang. Tapi tak ingin ia memuianginya. Kalau ia membayar pulang, si nona bakai lenyap sekejab! Inilah tak ia kehendaki.

Achir-achirnya ia tertawa dan berkata: „Aneh, nona! Barang ini aku dapatkan dari atas salju, mengapa nona membilang inilah barangmu? Kenapa kau pun menuduh aku menelannya? Tak dapat tuduhan itu.."

Ditegur demikian, nona itu mendadak tertawa, la menarik tangannya, melepaskan lencana yang hendak direbutnya barusan — lencana yang sekarang menjadi barang perebutan. Ia bersenyum. Hanya sejenak, romannya berubah pula. Tiba- tiba ia menjadi gusar.

„Kau mau membayar pulang atau tidak?" dia tanya, suaranya perlahan, tetapi nadanya kaku. „Jikalau kau tidak bayar pulang, nanti nonamu berlaku telengas!"

Kata-kata itu disusul dengan tangan kanannya menghunus pedang!

Jie In agaknya bingung, berulang-ulang ia menggoyang tangan.

„Sabar, nona, sabar!" ia berkata. „Ada bicara! Mari kita omong baik-baik Nona bilang lencana ini milik nona, yang hilang, inilah aku percaya, hanya mengenai ini ada sesuatu yang harus dibicarakan terlebih dahulu "

Heran nona itu. Mendadak dia bersenyum pula. Hanya agaknya dia masih mendelu.

„Apa?" tanya dia. „Lekas bicara! Nonamu masih mempunyai urusan penting!" Jie In scbaliknya berayal-ayalan.

“Nona,'' katanya, bersenjum, “Dapatkah nona memberitahukan nama nona yang terhormat"

Nona itu tertawa. „Cuma itukah?'' dia tanya.

„Nonamu she.. “ Tiba-tiba ia berdiam. „Hm!" ia melanjuti

„Nonamu tidak, mau mengikat persanakan dengan kau, buat apa kau tanya namaku?" Tetapi mukanya menjadi bersemu dadu, rupanya ia merasa kata-katanya itu tidak tepat .........

Jie In bersenjum, ia menatap nona itu.

„Eh, kau berani tertawai nonamu?"' tanya si nona. „Nanti urusanmu membikin kau tidak berani mentertawainya!”

Ia mengayun pedangnya, tetapi ia tidak menyerang, dengan cepat ia menarik pulang. Dengan mata mendelik, ia awasi si anak muda ...

Jie In tetap mengawasi. Nona ini aleman sekali, dia tidak memuakkan, dia sebaliknya menarik hati, menggiurkan. Tanpa merasa, hatinya berdenyutan. Sambil mengawasi, ia mengangkat tangannya yang memegang lencana, agaknya ia hendak mengulurkan itu.

Dengan sebat sekali, si nona pun mengangkat tangannya, untuk menyambuti, untuk meram-pas. Tapi sekarang dia gagal. Hanya kacek dua detik, Jie In telah menarik pulang tangannya, untuk dibawa kebelakang, disembunyikan.

Dalam kewaspadaan, pemuda ini tak kalah sebat.

Nona itu menggerak! tangannya dengan bernapsu. tubuhnya terjerunuk karenanya, hingga mukanya maju kedepan, hampir mukanya itu menabrak muka pria didepannya!

Jie In minggir, maka ia bebas dari tabrakan.

„Galak!" katanya. Nona itu malu, mukanya merah sampai ditelinganya. Ia menjadi gusar.

„Setan mampus, sebenarnya kau mau apa?" ia membentak. “Aku tidak mau apa-apa ..." sahut Jie In tertawa. “Biarnya

nyaliku sebesar langit, tidak nanti aku berani berlaku kurang ajar terhadap nona. Aku cuma minta supaya nona memberitahukan namamu yang harum…Lencana ini, segera aku akan membayar pulang!"

Senang si nona mendengar kata-kata manis itu. Ia bersenyum.

„Nonamu Kouw Yan Bun," achirnya ia memberitahukan. Ia lantas mengulur tangannya. Ia kata: „Mari!"

„Oh, kiranya Nona Kouw!" kata Jie Jn, tertawa. „Nama yang bagus sekali! Lencana ini ….Ia sudah mengulur tangan kanannya, atau ia menariknya kembali.

Nona Kouw mengawasi tajam.

„Kau sebenarnya mengandung maksud, apa?" dia tanya.

„Apakah benar kata-katamu tidak dapat dipercaya?"

„Bukan begitu, nona," jawab Jie In, tertawa. „Aku masih hendak minta sesuatu. Ialah aku minta nona suka membayar pulang mutiaraku, untuk kita saling tukar”

In Gak menyangka pasti si nonalah yang merampas mutiaranya itu.

„Kau aneh!" kata nona itu, matanya mencilak. “Kau hilang mutiaramu, apa sangkutannya dengan nonamu? Toh bukannya aku yang menemuinya dengan kau yang mempergoki? Kenapa kau main tuduh?”

“Ya, benar juga…” kata Jie In dalam hati. “Malam iti aku tidak melihat tegas si perampas, aku menyangka dia sebab di waktu bertemu di tangga restoran dia menyebut-nyebut kedokku. Itulah bukan sesuatu yang pasti..”

Ia lantas menjadi jengah, ia berdiri bengong. Si Nona memandang, ia tertawa. Lucu roman orang.

Agaknya ia puas.

„Eh, topengmu ini, kapannya kau dapat menyingkirkannya?"

dia tanya. „Sungguh sangat tak sedap untuk memandangmu seperti sekarang ini”

Jie In memperlihatkan roman heran.

„Nona!" ia kata. „Nona, aku memakai kedok ini, siapa pun tidak mengetahui, maka cara bagaimana nona bisa mendapat tahu? Apakah nona mempunyai mata hoei-gan?"

Nona Kouw tertawa geli.

„Malam itu…” katanya.

Baru orang berkata begitu, Jie In sudah menangkap tangan kirinya.

„Jadi malam itu nonalah ..." katanya cepat. „Dengan begitu maka aku tidak membuat kau penasaran.."

Yan Bun menyeringai, mukanya merah, ia telah salah omong.

..Habis bagaimana?" ia tanya. Kembali keluar alemannya. “Benar bagaimana? Tidak bagaimana? Kau harus ketahui, orang bermaksud baik! Tidak demikian, apakah kau dapat menyusul?"

la berontak, ingin ia melepaskan tangannya. Tapi cekalan Jie In mantap, ia gagal. Maka ia lantas mendelik. „Kau.. kau mau melepaskan atau tidak?" tanyanya.

Jie In tertawa, dengan perlahan ia melepaskan pegangannya. Ia melihat kesekitarnya.

„Nona Kouw," ia berkata, „di-lembah sana ada sebuah guha, disana dapat kita berlindung dari angin dan salju, mari kita pergi kesana. Disana dapat kita bicara terlebih jauh."

Ia mengajak, tetapi tanpa menanti penyahutan, ia jalan mendahului. Nona Kouw mengawasi punggung orang, ia tertawa, lantas ia bertindak mengikuti.

Gua yang disebutkan itu tidak besar tetapi cukup lebar untuk dua orang duduk bersila dengan tubuh mereka menempel, hingga rambut di samping telinga mereka pun beradu satu

dengan yang lain- saling menggosok.

Hati si pemuda berdebaran, ia merasakan hawa mulut dan tubuh si nona harum sekali, ia mengawasi dengan berdiam saja, tak tahu ia harus mengatakan apa.

Yan Bun juga mengawasi orang yang mendelong terhadapnya, ia berdiam, tapi ia merasakan hatinya bermadu, Tanpa merasa ia tersenyum, memperlihatkan sujennya yang manis, Akhirnya ia meninju orang sambil berkata sengit: "He, sungguh si dungu orang disuruh datang tetapi orang tidak ditanya"

Jie In mendusin seperti orang baru sadar dari mimpinya, ia jengah sendirinya, Tapi ia tertawa.

"Aku lagi berpikir tetapi aku tidak tahu harus mengatakan apa, ia menyahut "Kenapa nona mengetahui aku ada bersama-sama Khu Lin dan Lie Siauw Leng? Dan kenapa nona mengetahui mereka itu telah dibekuk pihak Ceng Hong Pay? Aku minta nona suka memberi penjelasan

Padaku?”

Yan Bun tidak lantas menjawab, ia menatap dengan matanya yang jeli. Tiba-tiba ia tertawa geli.

"Tidaklah sukar untuk kau minta nomamu menuturkan- katanya kemudian- " Lebih dulu aku minta kau meloloskan topengmu mukamu yang mirip papan mati sungguh membuat orang muak..."

Jie In tertawa, lantas ia menurunkan topengnya, hingga terlihatlah wajahnya yang cakap ganteng, alisnya "alis pedang", matanya "mata bintang bercahaya", ia mempunyai hidung yang bangir dengan dua baris gigi putih dan rata.

Yan Bun mengawasi dengan tercengang. Dibandingkan dengan waktu ia melihat malam itu,

pemuda inijauh lebih tampan.

"Bagaimana, nona, kau melihat rupaku ini?" ia bertanya, "Apakah aku menarik juga?"

Nona itu melirik.

" Kaulah orang yang tidak tahu malu." katanya, "Apakah yang menarik? Kau jelek seperti siluman Eh, ya, aku masih belum menanyakan shemu yang mulia dan namamu yang besar Kau pun harus menyebutkannya"

"Aku?" Jie In tertawa, " Untuk sementara ini, aku dipanggil Jie In."

"Ah, kau gila" berkata si nona. "Mana adashedan nama untuk sementara waktu? Kau sebenarnya lagi membawakan peranan apa?" Jie Injengah.

"Sebenarnya aku mempunyai kesulitan," katanya perlahan, "Nona sabar saja, di belakang hari nona bakal mengetahui sendiri, Baiklah nona menuturkan dulu tentang hal ikhwalmu..."

Yan Bun menatap dengan matanya yang jeli itu. "Sekarang ini berapa usiamu?" ia bertanya, ia tidak lantas

menjawab.

In Gak tertawa, ia mengulapkan dua jari tangannya. "Duapuluh tahun, bukan?" si nona menegaskan, tertawa,

"Kau lebih tua satu tahun daripada nonamu. Kalau begitu aku harus memanggil engko In padamu."

Si pemuda tertawa.

"Dengan memanggil aku engko In, aku tanggung kau tidak bakal rugi" katanya. Yan Bun melototkan matanya, tapi aksi- nya sangat menggiurkan "Engko In," katanya kemudian, "dalam dunia Kang-Ouw ada seorang yang disebut Cit Kouw, tahukah kau?"

Orang yang ditanya menggeleng kepala, tandanya tidak tahu.

"Dialah Jim Cit Kouw yang kesohor teleng as sekali," si nona menambahkan "Dalam ilmu silat, dia telah mewariskan kepandaiannya Kwie Mo Tojin si imam hantu iblis.."

"Ooh " Jie In berseru tertahan "Bukankah Kwi Mo Tojin itu orang yang limapuluh tahun yang lalu sudah mengacau ruang Lo Han Tong dari siauw Lim sie di siong san dan dengan sebelah tangannya menghajar mati tiga lohan?"

Nona Kouw mengangguk.

"lbuku ialah murid termuda dari Jim cit Kouw itu," ia berkata lebih jauh. "Sejak masih kecil, ibuku yatim piatu, ia lantas diambilJim Cit Kouw sebagai muridnya, Baru kemudian ibuku mendapat tahu Jim Cit Kouw itu buruk dan kejam, semua perbuatannya bertentangan dengan pri- kebenaran- Malang ibuku, ia dipaksa untuk menikah dengan Jim Liong, anaknya Jim Cit Kouw mempunyai lima anak laki-laki, merekalah yang di dunia Kang-Ouw dijuluki Liong bun Ngo Koay"

"Oh” Jie In bersuara pula, sekarang nadanya lain- ia ingat itu hari di Yo Kee Cip. Ay Hong sok telah dikepung oleh Liong bun Ngo Keay, Lima siluman dari Liong bun-

“Jangan kau memotong" tertawa si nona sambil meninju, ia membikin mulutnya monyong, tandanya dia murka.

"Kau bicaralah" kata Jie In cepat. "Aku tidak nanti memotong lagi"

Nona Kouw melanjutkan- "ibuku suci murni, mana dapat dia menikah dengan Jim Liong?

Tapi ia menjadi murid, ia hidup menumpang, mana dapat ia menampik? Maka itu sembari tunduk ibuku mengatakan bahwa usianya masih teria lu muda, ia kata baiklah ditunggu lagi beberapa tahun untuk merundingkan soaljodoh itu. Lalu dua tahun lewat.Jim Liong itu, setiap hari dia membujuk ibunya untuk lekas menikah kan padanya, Kasihan, ibu, ia cuma dapat menangis diam-diam saking berduka, Kemudian datang saatnya cit Kouw tidak tahan sabar lagi, dia menetapkan hari pernikahan dengan paksa. Tidak ada jalan lain, dengan sangat terpaksa ibu minggat. Selang dua hari ibu bertemu dengan ayahku dan bersama-sama mereka tinggal sambil menyembunyikan diri, Ditahun kedua aku dilahirkan."

Jim Liong tidak puas, dia mencari ibuku, Ketika aku berumur lima tahun, berhasillah Jim cit Kouw bersama Liong bun Ngo Koay mencari kami. Ayahku tidak sanggup melawan mereka, ia kena dibinasakan ibuku kena ditangkap dan dibawa pergi, syukurlah aku dapat ditolong guruku..."

Menutur sampai di situ, si nona lantas menangis terisak- isak. Kesedihannya telah di-bangkitkan peristiwa hebat dan menyedihkan ayah dan ibunya itu.

"Pantas orang bilang dunia Kang-Ouw itu buruk, " Jie In berpikir, "Agaknya dia ini harus dikasihani tak kurang daripada aku..."

Ia berduka, ia terharu untuk kemalangan nona ini, yang piatu seperti ia sendiri. "Sudahlah, jangan bersedih," ia membujuk "Biariah lewat apa yang sudah lewat..." Si nona dapat dibujuk, Bahkan ia dapat tertawa.

"Semenjak aku ditolongi guruku, setiap hari aku ingat ibuku," ia melanjutkan ceritanya, "aku tidak tahu ibuku masih hidup atau sudah meninggal dunia."

Jie In tertawa, ia menganggap nona ini lucu. si nona mendelik.

"Aku tahu kau mentertawai aku," katanya, "Awas"

Pemuda itu tertawa sebab diwaktu menyebut ibunya, Yan Bun menggunakan kata-kata "lo-jin-kee", si "orang tua yang dihormati", sedang ketika itu, usia sang ibu belum lewat dari tigapuluh tahun, Hanya, lantaran si nyonya telah menjadi ibu, pantas kalau ia disebut "si orang tua"

Kembali si nona berduka, matanya menjadi merah. "Barupada tahun yang lalu aku mendengar dari guruku

tentang ibuku itu," ia mulai lagi penuturannya, " Katanya, meski ibu telah ditangkap dan dibawa pergi, dia tetap menolak dinikahkan denganJim Liong jim Cit Kouw menjadi gusar, dia memenjarakan ibu di mana ibu disiksa, hingga ibu jadi sangat menderita.." Lagi- Lagi ia menangis, air matanya membasahi mukanya.

Tanpa merasa In Gak mengeluarkan sapu tangannya, untuk menepas dan menyusun muka orang yang putih halus.

Rupanya senang si nona dengan perlakuan itu, ia mengangkat kepalanya dan tersenyum. Dalam kedukaannya itn, ia tampak manis-manis ayu, ia lembut sekali.

Entah disengaja, entah wajar saking terharunya, In Gak merangkul si nona erat-erat, Yan Bun merah mukanya, tetapi ia tidak meronta, bahkan ia menyenderkan kepalanya.

"Setelah mendengar kabar guruku itu, aku lantas hendak pergi menolong ibu," selang sesaat ia melanjutkan pula, "

Guruku mencegah, ia membujuk aku untuk bersabar ia kata ketika ituJim Cit Kouw telah maju pesat ilmu silatnya, dia

menjadi jago wanita dalam dunia Kang Ouw, Guruku mengakui yang ia sendiri tidak sanggup melawan jago betina itu, Guru kata sia-sialah aku mengantarkan jiwaku. Aku tidak berdaya, Baru pada bulan sembilan yang baru lewat ini, guruku membicarakan soal ibuku, ia bilang, untuk menolong i, aku membutuhkan lencananya Kwie Mo Tojin, itulah lencana istimewa, katanya, namanya Ngo Kwie Tiat-ciu-leng, lencana lima setan serta tangan-tangan besi, Lencana itu cuma dua buah, yang satu dimilikiJim Cit Kouw, yang lain ada ditangannya Kouw-louw-pian Lou Kui si Cambuk Tengkorak, Katanya waktu dulu Lou Kui pernah menolong Kwie Mo Tojin, maka Kwie Mo membalas budi dengan lencananya itu. Dengan mempunyai itu, kalau perlu, Lou Kui dapat memerintahkan semua muridnya Kwie Mo Tojin, Lou Kui itu hidup menyendiri dari dia tak terdengar warta beritanya, Mungkin, walaupun dia diketahui berada di mana, tak nanti dia sudi meminjamkan lencananya itu.

Habis mendengar keterangan guruku itu, aku mengambil keputusan untuk mencari si cambuk Tengkorak. Aku hendak mendapatkan lencananya, secara meminjam ataupun secara mencuri."

Ia berhenti sebentar, ia tetap menyenderkan kepalanya didadasi pemuda, kakinya pun dilonjorkan, hingga ia jadi terpangku pemuda itu, ia mendongak mengawasi In Gak. la tersenyum.

"Aku melakukan perjalanan ke kota raja," ia menutur lebih jauh, "Secara kebetulan aku mendengar kabar bahwa Lou Kui tinggal menyendiri di luar kota Thaygoan, Maka aku keluar dari kotaraja, terus aku menuju ke kota yang disebutkan itu,

Di tengah jalan aku bertemu

dengan Khu Lin dan Lie siauw Leng, bahkan aku mendapat dengar mereka katanya mempunyai ho-siu-Ouw serta serenceng mutiara mustika. Aku mendengarnya dari pembicaraan dua kurcaci yang bermalam dalam sebuah rumah penginapan kecil, Aku lantas menguntit. Tapi itulah bukan urusanku, dan aku pun malas untuk menanam bibit permusuhan dengan segala kurcaci, Di samping itu? aku merasa ilmu silatku masih terlalu rendah, Begitulah di Yo Kee Cip. aku tidur saja dalam kamarku, Tapi aku melihat ketika kau menolongi kedua orang itu, Ketika orang-orang, Hek Liong Pay datang, aku sudah mengangkat kaki, Di Heng-koan, kita menumpang dalam hotel yang sama.

Tidak disangka sama sekali itulah hotelnya Gui Gan, Aku memergoki ketika orang menculik Khu Lin dan siauw Leng, Aku ingin tahu, aku menguntit mereka sampai mereka masuk ke dalam rumah yang besar itu Aku berpikir keras untuk menolong mereka, tetapi aku sendirian, aku bersangsi, Apa yang dapat aku perbuat? Lantas aku kembali ke hotel, justru aku melihat kau keluar.

Waktu kau kembali ke kamarmu, aku lantas menguntit, Aku mengintai di jendela, Aku mengawasi gerak-gerikmu, hingga aku melihat kau menurunkan topengmu. setelah berpikir, aku lantas merampas mutiaramu, seperti sudah kau ketahui, aku lantas lari, untuk membawa kau ke rumah besar itu, Hm Kau bukan mengucapkan terima kasih padaku, sebaliknya kau minta pulang mutiara itu Tak tahu malu."

Kembali si nona menunjukkan kenakalanny a, sifatnya yang aleman.

"Aku toh tidak membilang aku tidak mau menghaturkan terima kasih padamu" kata Jie In. "Mana berani aku memotong lagi? Nah, bagaimana kesudahannya?"

Nona itu menyingkap rambutnya "Lantas aku pulang ke hotel dan tidur," katanya tertawa, " Ketika esok pagi nya aku mendusin, kalian bertiga sudah berangkat pergi, Di rumah penginapan, ramai orang berbicara tentang Gui Gan terbinasakan, Aku tidak menggubris urusan itu, aku pun segera berangkai sesampainya aku di Thaygoan, malamnya aku pergi ke rumah Lou Kui, Beruntun tiga malam aku bekerja, baru aku berhasil mendapatkan lencananya. Dia benar-benar lihay, meski aku lari cepat sekali, aku masih kena terhajar dia,, hingga sekarang ini, bekas hajarannya masih terasa sedikit sakit "

Jie In terkejut

"Kau terlukakan di bagian mana dari tubuhmu, adikBun?" ia bertanya, cepat, "Mari kasih aku lihat Aku tahu Kwie Mo Tojin lihay sekali, kalau dia menotok tepat, lama-lama lukanya itu membahayakan si korban, mungkin jiwa pun tak ketolongan-"

Si nona mendengar dengan puas dan likat. Enak mendengar tiba-tiba dipanggil "adik Bun-. Dilain pihak, ia malu untuk menunjukkan lukanya itu. "Aku tidak apa-apa," sahutnya jengah. In Gak menduga orang terluka di bagian yang tak sembarangan dapat dilihat, ia menjadi masgul.

"Bagaimana itu dapat tak diobati." katanya. ia menggosok- gosok tangannya,

Nona Kouw merasa terharu sendirinya, ia juga senang sekali, Memang mengharukan mendapat tahu ada orang yang bersimpati dan berkasihan terhadap diri kita, apalagi di tempat si nona, pria macam In Gaklah yang mulia hatinya, ia mengangkat kepalanya.

"Engko In," ia bertanya, mendadak. "kau mencintai aku atau tidak?"

In Gak melengak. itulah pertanyaan yang tidak pernah ia sangka, ia menghela napas.

"Adik, aku sangat mencintaimu," sahutnya perlahan. "Hanya sayang, aku sudah mempunyai dua orang tunangan, Aku menyesal untuk cintamu."

Luar biasa nona itu. Bukan ia terkejut atau gusar atau masgul, sebaliknya, ia tertawa geli.

"Kau aneh engko In" katanya nyaring, "Aku tanya kau, kau cinta aku atau tidak siapa tanya kau sudah bertunangan atau belum?"

In Gak kembali melengak. hingga dia mengawasi nona itu, Coba dia dapat melihat hati orang, sebenarnya si nona bergelisah, cuma nona itu berpandangan jauh, dengan cepat ia dapat menguasai dirinya, ia telah berpikir: "Dia telah mempunyai dua orang kekasih. Kenapa dia tidak boleh mendapatkan yang ketiga dan yang keempat?"

In Gak berdiam, tetapi mulutnya mendumal: "Cia In Gak.

Cia In Gak sakit hatimu. belum terbalas, kenapa kau main asmara begini rupa? Lalu bagaimana nanti?"

Yan Bun heran, ia menatap. "Siapa Cia In Gak?" ia bertanya, "siapa Cia In Gak?" In Gak melengak sejenak, lantas dia tertawa bergelak. la menunjuk hidungnya, "Cia In Gak ialah aku" sahutnya, si nona bangkit berdiri dengan berjingkrak, jadi kaulah yang di Kim- hoa telah membinasakan cit sat Ciu?" ia bertanya.

Jie In mengangguk. la tersenyum, Nona itu membuka lebar matanya, ia mengawasi tajam.

"Mustahilkah kau ialah si pelajar aneh yang di Kho-yu telah menggempur pengaruhnya partai Oey Kie Pay?" ia bertanya pula.

In Gak tertawa.

"Banyak hal yang kau ketahui" katanya. Yan Bun menggeleng-gelengkan kepala.

"Akan tetapi di luaran orang bilang si pelajar aneh itu berwajah seram dan menakutkan?" katanya, " Ingat, seorang terhormat tidak boleh bicara dusta".. Pemuda itu tersenyum, ia mengangkat tangannya.

"AdikBun," katanya kemudian, "coba kau lihat, sekarang aku mirip tidak dengan si pelajar aneh yang kau dengar itu?"

Yan Bun memandang tajam, segera tangannya melayang, menyambar topengnya si pe muda.

"Hai, siapa suruh kau memakai benda memuakkan ini?" tegurnya, "Ya, kau toh tetap kau Tidak ada orang mema isukan dirimu sungguh menyebalkan , engko In-" ia bertanya, menambahkan, "apakah maksudmu dengan memakai topeng ini?"

Jie In berdiam. ia teringat akan nasibnya, Tapi ia tidak berkeberatan menuturkan segalanya kepada nona ini, maka ia menceritakannya dengan singkat tetapijelas.

Nona Kouw mendengarkan dengan diam saja, agaknya ia sangat tertarik. tetapi akhirnya ia tertawa.

"Engko In, sungguh hebat" katanya, "sudah ada kepastian dengan Nona Tio dan Nona Ciu, lalu ada lagi Nona Kang, lalu ada pula Nona Wan-.." Jie In tahu ia digoda, maka ia menyahuti: "Dan sekarang ada lagi Nona Kouw " "Hai, kau lihatlah kaca muka" berseru sinona, "siapa kesudian kau Tapi, ia lantas tertawa.

Kembali tanpa merasa In Gak merangkul nona itu, ia mencium rambut orang yang hitam lebat, si nona sangat manis dan menyenangkan walaupun dia berandalan. "Eh," tanyanya kemudian "Sebenarnya apa maksudmu datang ke gunung yang sepi ini?"

Nona itu memonyongkan pula mulutnya.

"Bukankah maksudmu sama dengan maksudku?" ia balik bertanya, "Kita sama-sama ingin mendapatkan kitab suci itu Kalau aku beruntung memilikinya dan dapat mempelajari itu, pasti aku tak usah takuti lagi Jim Cit Kouw."

Jie In mengawasi, dia tertawa, " Kalau aku mendengar suaramu Jim Cit Kouw itu lihay luar biasa" katanya.

"Hm" si nona mengasih dengar suaranya, Kembali muncul tabiatnya yang aneh, "siapa tidak mengetahui dia sangat lihay? Kalau kau tidak puas, kenapa kau tidak mau pergi mencoba dia?" Jie In tertawa lebar.

"AdikBun, tak usahlah kau memancing bangun kemarahanku" katanya, "Aku nanti membantu kau menolong i ibumu itu" si nona girang bukan kepalang. "Benarkah?" ia menegaskan. "Kau sungguh baik" Jie In tertawa perlahan-

"Maka bilanglah, adikBun- dengan cara bagaimana kau akan menghaturkan terima kasih padaku?" ia bertanya.

Si nona berdiam, tetapi la menatap dan tubuhnya dirapatkan- Tak ada kata-kata yang lebih berarti daripada sinar matanya itu.

Lama keduanya berdiam, akhirnya si nona menolak tubuh si pemuda, untuk berdiri.

"Sekarang sudah waktunya kita pergi," ia berkata, lembut. Janganlah kita membiarkan orang lain mendapatkan kitab suci yang berharga itu" In Gak merangkul erat, ia tidak mau lantas melepaskannya. Jangan kesusu” katanya, tertawa, "Menurut dugaanku, Poo Tan Siansu serta Thian Gwa sam Cun-Cia itu pasti ada mengandung suatu maksud, Tadi aku melihat beberapa rombongan orang, diantaranya ada U-bun Lui dari Oey Kie Pay. Mana dapat Poo Tan Siansu dikelabui mereka? Kalau kita pergi siang-siang, mungkin kita kena terjebak. Ingat, selagi si cengcorang mau menawan tong geret, di belakangnya ada si burung gereja Maka marilah kita menjadi si tukang memasang jala"

Yan Bun mengawasi, ia tertawa.

"Hm, siapa tak tahu maksudmu?" kata-nya. Lalu tiba-tiba dia mengerutkan alisnya. In Gak terkejut.

"Apakah lukamu kumat?" dia bertanya.

Nona itu tidak menyahuti, ia cuma mengangguk Lantas saja mukanya menjadipucat dan peluh keluar deras.

"Bagaimana?" In Gak bertanya pula. Dia bingung, Hanya sejenak, dia lantas dapat menenteramkan hatinya, Dia merogoh ke saku-nya, mengeluarkan dua butir obat Tiang cun Tan.

"Kau makan ini," katanya.

Yan Bun mengunyah obat itu dan menelannya, Tidak lama kemudian, mukanya sudah menjadi bersemu dadu pula. Tiang CunTan ialah obat mujarab buatanBeng Liang Taysu yang untuk itu sudah menggunakan waktu lima tahun untuk mengumpulkan tigapuluh tiga macam bahan obatnya, yang dicarinya di berbagai gunung.

Obat itu dapat menolong segala luka dalam waktu tujuh hari untuk yang lukanya parah.

"AdikBun, kau duduklah bersila," kata Jie In kemudian, "Nanti aku bantu kau menyalurkan darah mu."

Yan Bun memandang wajah orang, lantas ia berduduk, maka In Gak lantas bekerja, untuk menyalurkan tenaga dalamnya. Kedua tangannya ditekankan di punggung si nona, sambil menutup kedua matanya, ia mengerahkan semangatnya.

Mulanya si nona merasakan tangan orang hangat, lalu menjadi panas, ia merasa sakit, ngilu dan kaku tubuhnya, Untuk melawan itu, ia mengertak gigi. ia bertahan untuk tidak menjerit atau mengeluh.

Tidak sia-sia ia menderita sekian lama itu, akhirnya lenyap semua rasa sakit dan ngilu, sirna hawa panas, sekarang ia merasakan tubuhnya sangat nyaman, hingga ia tidak merasa tangan si pemuda tidak menempel lagi dengan punggungnya Ketika ia berpaling ke blakang, ia terperanjat.

Jie In duduk bersila, matanya terpejam rapat, mukanya pucat, jelas karena menolong si nona, dia sudah mengorbankan tenaga dalamnya. inilah Yan Bun mengerti, maka ia jadi sangat bersyukur, ia terharu, ia tidak mau mengganggu, ia duduk diam saja, menemani.

Jie In bersemedhi terus hingga parasnya menjadi bersemu dadu seperti biasa. Tidak lama kemudian, si pemuda membuka kedua matanya. ia tersenyum.

"AdikBun, coba kaupergi ke luar gua," ia berkata, "Disana kau bersilat, dengan pedang dan tangan kosong, bagaimana kau rasa, beda dari biasanya atau tidak." Yan Bun menurut, ia pergi keluar, si anak muda mengikuti.

Ketika itu sudah magrib, cuaca suram cuma sang angin masih terus murka, tiupannya membuat rambut si nona berkibaran juga saiju masih terus turun, tebalnya di tanah sudah tiga dim.

Dengan tidak menghiraukan angin dan saiju, Nona Kouw mulai bersilat, ia menjalankan jurus-jurus Thay It Kie-bun Ciang ajaran gurunya, Lantas ia merasakan suatu perbedaan sekarang ia dapat menggerakkan kaki dan tangannya dengan leluasa. Tadinya masih ada bagian-bagian yang janggal, Tenaganya pun seperti bertambah, Maka ia menjadi semakin gesit dan lincah.

"Bagus" Jie In memuji, sedang tangannya terasa gatal. Maka ia tertawa dan menambahkan "AdikBun, ilmu Thay It Kie-bun Ciang mu ini benar-benar hebat Apa yang kurang ialah tenagamu belum cukup, Baiklah kita berdua mencoba- coba. sudah tentu kau harus keluarkan semua tenaga dan kepandaianmujangan kau segan-segan- Aku tidak akan melakukan serangan membalas, aku akan melawan dengan main berkelit, Andaikata kau dapat menghajar aku satu kali saja, hitunglah aku yang kalah Maukah kau?"

Yan Bun berhenti bersilat, mendengar perkataan itu, ia tertawa.

"Kau meniup terlalu keras" ia berkata, "Adikmu benar-benar tidak percayai Apakah kau

berani menganggap aku masih hijau?" Jie In tersenyum. " omong saja tak ada buktinya," ia berkata, "Mari kita

mencoba dulu, baru kau akan mengetahuiny a . "

Timbullah kepala besar si nona, ia tertawa dingin, lalu dengan mendadak ia menyerang ia menggunakan kedua tangannya dan dengan jari tangan masing-masing ia menotok ke dada kiri dan kanan,

Jie In berdiri tegak. matanya mengawasi dengan tajam, tetapi disaat kedua tangan si nona hampir mengenai sasarannya, mendadak tubuhnya berkelebat, bergerak sangat cepat, lantas hilang dari pandangan mata si nona.

Yan Bun terkejut hingga ia melengak, tetapi dia lekas sadar, dia lantas memutar tubuhnya. Dia percaya orang tak menghilang ke lain tempat kecuali ke belakangnya.

Benarlah dugaan itu. Jie In terlihat lagi berdiri dengan wajah berseri-seri. ia mengawasi sambil tersenyum.

"Engko In, maafkan adikmu beriaku kurang ajar" berseru si nona, yang lantas menyerang pula, ia menggunakan ilmu silat Thay It Kie-bun Ciangnya itu. Hebat serangan nona ini, angin kepalannya sampai terdengar menderu.

Jie In berkelit dari serangan itu, tetapi inilan yang menyebabkan ia lantas diserang berulang-ulang, sebab setelah gagal serangannya yang pertama, si nona mengulangi terus, karena dia tidak mau memberi ketika untuk orang menghilang seperti semula tadi, Begitu menyerang dia berbalik dan menyerang. Demikian seterusnya.

Hebat Jie In. ia selalu berkelit ia lincah dan licin sekali. Tidak perduli serangan bagaimana gesit pun, ia tidak mau menyerahkan tubuhnya sebagai sasaran, Maka pertempuran mereka menarik hati untuk ditonton, I Hanya selama itu, si nona tampak seperti senantiasa ketinggalan.

Saking penasaran, terus menerus Yan Bun menyerang, maka lebih dari seratus j urus, ia bermandikan keringat, ia tidak dapat melanggar ujung baju si anak muda, hingga sambil menyerang terus tanpa merasa ia mengeluarkan pujian peria han-

Jie In berkata sambil tertawan "Syukur aku telah menyalurkan tenaga dalammu, membantu membesarkan tenaga dan keuletanrnu tidak sedikit, kalau tidak, pastilah siang-siang kau telah kalah sendirinya"

Si nona berdiam, tetapi ia memandang tajam, agaknya dia mendongkol.

Jie In dapat mengerti nona itu kalah tetapi penasaran, maka ia lekas berkata pula: "AdikBun,jangan gusar. Besok aku akan mengajarkanmu tiga macam kepandaian, mengenai tindakan kaki, pedang dan tangan kosong, bahkan kau dapat mempelajari itu dalam waktu yang singkat. Dengan kecerdasanmu, tak sulit untuk kau menguasainya, Maka kalau kemudian kau bertemu dengan Cit Kouw dan orang lihay lainnya, siapa pun juga, tak nanti kau gampang-gampang dikalahkan, atau sedikitnya kau dapat membela dirimu." Mendengar ini, senang hati si nona. ia lantas saja menarik tangan si pemuda, ia menatap dengan mengangkat kepalanya.

"Engko In, benarkah?" ia menegasi, "oh, kau baik sekali" Tetapi mendadak ia tercengang, sinar matanya menunjukkan kesangsian. segera ia berkata: " Engko In, mengapa kau berkata begitu? Apakah kau tidak mau membantu aku menempur Jim Cit Kouw?" Jie In tahu si nona bersangsi, dia salah menyangka, maka ia lekas menjawab: "Bukan."

Ketika itu sang malam mulai tiba, bunga saiju menghujani muka mereka, Angin keras sekali, Diantara jagat yang gelap petang, terbawa sang angin, sayup,sayup terdengar suara binatang beburonan, kawanan serigala yang seperti kelaparan dan kedinginan di dalam lembah, suaranya menyayat hati, mengerikan.

Di dalam gua, kegelapan tak kalah dengan di luar,

"AdikBun, tadi kau keliru mengerti akan kata-kataku," berkata Jie In tertawa, "Aku maksudkan besok atau lusa, kita harus sudah tiba di puncak Ciu Auw Hong, Menurut letak di dalam peta, puncak itu terpisah dari kita ini cuma tiga atau empat rintasan jalan gunung ini.

Untuk kita, mungkin kita dapat tiba dalam waktu dua atau tiga jam, Hanya, semakin malam kita pergi, untuk kita makin menguntungkan Kau lihat sendiri, begitu banyak orang telah datang ke mari, Aku merasa bakal terjadi pertempuran yang dahsyat Aku tidak takuti apa-apa kecuali aku berkuatir kepandaian Poo Tan siansu terlalu lihay, hingga tak dapat diduga dari sekarang bagaimana kesudahannya nanti, siapa menang dan siapa kalah. Maka andaikata kita yang gagal, aku ingin kau nanti mengandaikan kepandaian yang aku ajari itu untuk kau meloloskan diri dari kepungan.

Andaikata aku dapat menolong diriku, kau dapat mencariku di kuil Chin su di luar kota Chin- yang. Atau kalau waktunya lewat terlalu lama, adikku, carilah aku di rumah say Hoa To di Ciang-ceng atau di rumah Tionggoan it Kiam Tio Kong Kiu di Chong-ciu."

Atas pesan itu, Yan Bun cuma mengasih dengar suara " hmm" perlahan. Demikianlah, dengan tidak berbicara lagi, mereka lewatkan sang malam.

Jie In tertawa ketika ia melihat pintu gua tertutup rapat oleh saiju yang beku bagaikan es, lantas ia menghajar dengan kedua belah tangannya, Dengan menimbulkan suara gemuruh, saiju itu hancur beterbangan, maka di depan mereka terbukalah suatu jalan terowongan.

YanBun masih layap-layap. ia terkejut hingga menjadi sadar betul. Diam-diam ia mengagumi si anak muda.

Jie In lantas memakai topengnya, ia memegang tangan si nona. "Adik Bun, mari kita keluar" ia mengajak. ia menarik.

Keduanya lantas keluar, terus mereka lari naik ke atas puncak di depan mereka, Maka dari situ, memandang ke sekitarnya, cuma warna putih yang dapat mereka lihat, Angin yang dingin meniup hingga mereka merasa menggigil Bunga saiju masih saja beterbangan Tebalnya saiju sampai empat dim.

"Adik Bun, sekarang mari aku mulai mengajarkanmu ilmu pedang, tangan kosong dari tindakan kaki," katanya, "Kau nanti merasakan kemajuannya." Nona itu girang bukan main, hingga ia berjingkrakan.

Jie In pinjam pedang si nona, Ketika ia menghunus, ia melihat berkilaunya sinar hijau.

"Pedang yang bagus" ia memuji, Ketika ia meneliti, ia melihat ukiran dua huruf, bunyinya "Leng Ku" atau "Kura sakti", pedang itu pun antap. cocok untuknya, Kemudian ia berkata: "Aku hendak mulai, kau perhatikan inilah ilmu Thay Kek Hoan Heng. Kelihatan-nya lambat, tetapi kenyataannya cepat, ilmu ini diciptakan berdasarkan penyelidikan atas ilmu pedang berbagai partai lainnya, sebab maksudnya ialah untuk melawan mereka itu. Kalau ini digunakan terhadap orang- orang kelas dua atau tiga, tak usahlah dikuatirkan nanti kalah."

Habis berkata, ia mulai bersilat, Benarlah, mulanya terlihat gerakan yang lambat,

tidak ada suara anginnya sama sekali, ilmu pedang membutuhkan kesebatan, maka luar biasa lah ilmu pedang yang lambat ini. Maka sambil memperhatikan Yan Bun bersangsi, hingga ia menduga si anak muda cuma membuka mulut lebar, Diam-diam ia memungut segenggam saiju, dengan mendadak ia menyerang, Kesudahannya ia menjadi heran. saiju itu bukan hanya terpental balik sendirinya, bahkan mental baliknya demikian cepat sampai mengenai muka si penyerang tanpa penyerang ini menduganya

Yan Bun terperanjat, ia melompat mundur Baru sekarang ia percaya anak muda itu, Karena itu, ia mengawasi d engan penuh perhatian, untuk mengingat-ingat dengan baik, ilmu pedang itu terdiri dari tigapuluh dua jurus, dan s etiapj urusnya, terpecah lagi dalam empat j urus kecil. Kelihatan semua sangat sederhana dan mudah untuk diingat, maka setelah si pemuda selesai bersilat dan si nona bersilat mengikutinya, ia lantas dapat menjalankan dengan baik, hingga ia tinggal melatihnya lebih jauh.

"Bagus, kau cerdas sekali" Jie In memuji selagi ia memberi petunjuk ini dan itu, guna memperbaiki untuk menunjukkan maksudnya jurus.

Baru lima kali Yan Bun mengulangi berlatih, lantas ia tak membutuhkan petunjuk lebih jauh.

"Bagus" berseru Jie In. "sudah cukup. kuu boleh berhenti, Aku hendak mengajari ilmu tangan kosong Ngo Heng Kun.

AdikBun, kau lihatlah dengan seksama" Habis berkata, tubuh si anak muda segera bergerak.

Yan Bun berdiri terpisah kira-kira dua tombak. matanya mengawasi tajam. Kedua tangan si anak muda lantas berkelebatan dengan cepat, anginnya menyambar-nyambar ke delapan

penjuru, sampai baju si nona berkibar-kibar, hingga kagetlah nona ini, itulah ia tidak sangka, karenanya ia menjadi sangat kagum.

Jie In menggunakan tenaga dua-tiga bagian, kalau tidak, pastilah si nona mesti mundur menjauhkan diri, ia adalah seorang yang berbakat dan kuat ingatannya, Ketika di Yo kee- cip ia menyaksikan pertempuran antara Ay Hong sok dan Liong bun Nao Koay, ia memperhatikan ilmu silat mereka.

Ay Hong sok menggunakan Nao Hong Kun, ilmu silat Lima Logam, Lantas ia menciptakan Ngo Hong Kun ini macam, inilah Ngo Hong Kun dari Ay Hong sok dicampur dengan ilmu silat Ngo Koay, Dan inilah yang ia wariskan kepada si nona.

Habis bersilat, Jie In berkata sambil tertawa: "inilah ilmu silat Ngo Hong Kun dari Liongbun Ngo Koay dan Ay Hong sok yang aku gabung menjadi satu, kalau kau dapat memahami dan menguasainya, adik Bun, aku percaya kau akan dapat menjagoi sekarang marilah berlatih"

Nona Kouw tak menyangsikan lagi anak muda ini, ia bersilat mengikuti anak muda itu, Ngo Hong Kun ini terdiri dari limapuluh empatjurus dengan setiapjurusnya terpecah pula dalam lima jurus, maka semuanya menjadi dua ratus tujuhpuluh jurus, ia memperhatikan dengan sungguh- sungguh, maka setelah mendekati tengah hari, ia dapat mempelajarinya dengan baik,

"AdikBun, mari kita kembali, untuk bersantap." kata Jie In kemudian, " Nanti aku mengajarimu ilmu tindakan kaki."

Yan Bun menurut, ia girang bukan kepalang, hingga ia tersenyum berseri-seri tak

hentinya. Di luar dugaannya, ia mendapatkan guru yang luar biasa ini. Dengan berlompatan ia mendahului lari masuk ke dalam gua. Habis bersantap. Nona Kouw lantas mendesak minta diajari pula Jie In berniat beristirahat tetapi ia tak dapat menolak nona itu yang agaknya manja tetapi tidak dibikin-bikin, dalam kemanjaan ada kelembutannya, maka bersama-sama mereka keluar pula. Jie In memilih tempat yang rada rata.

"llmu silat ini luar biasa, tak berlatih bersama tak dapat dipelajari," katanya, "Artinya kita mesti berlatih sambil bertempur. Adikku, kau seranglah aku dengan Nao Hong Kun, kau gunakan kemahiran ilmu meringankan tubuhmu, nanti aku melayaninya. sambil menyerang, kau perhatikan aku dan mengingatnya baik-baik. inilah ilmu yang dinamakan Kiu Kiong Ceng Hoan Im- yang Pou, artinya tindakan-tindakan yang bertentangan satu dengan yang laini Kalau nanti aku melompat keluar, kau berlatihlah terus sendiri dengan melihat dan mengikuti semua tapak kakiku, Asal kau dapat mengikuti dengan baik, itu artinya kau berhasil."

Habis berkata, ia mementang kedua tangannya dan berseru: "Adik Bun kau seranglah"

Nona Kouw menurut, tanpa bersangsi lagi, ia menerjang, inilah serangan hebat seumpama kata "gunung digempur roboh, lalu dibikin terbalik", Tapi ketika kaki Jie In bergerak dan tangannya mengibas, sedetik saja dia lenyap dari depan penyerangnya, Luar biasa sebatnya dia melompat mundur.

Yan Bun menyerang terus, ia menggunakan Nao Hong Kun- ia menggunakan juga ilmu meringankan tubuhnya, untuk dapat menghajar si anak muda, yang selalu melayani ia dengan

berkelit sana dan berkelit sini, tindakan kakinya tampak kacau, tapi tak pernah dia salah melangkah.

Lewat setengah jam, mendadak Jie In mencelat sejauh lima tombak. Ketika si nona mengawasi ke tanah, ke saiju, ia melihat tindakan kaki si anak muda, yang agaknya kusut.

Tapak kaki itu dapat dibedakan sebab Jie In bergerak dengan memberati diri, tapaknya menjadi mendam lebih dalam. juga semua tapak itu tidak ada bekas-bekasnya yang tersusun. sekian lama YanBun diam mengawasi agaknya ia bingung juga. "Kau mulailah" berkata si anak muda menganjurkan

Nona Kouw menurut, ia mengambil kedudukan Jie In tadi, lantas ia bertindak. mulainya perlahan, ia mesti melompat sana dan melompat sini. Umumnya ialah habis melompat mundur, lalu maju, untuk melompat ke tempat asal. itulah arti pertentangannya, Ada kalanya dia melompat sembilan tindak. lalu la membalikinya, tetapi ada kalanya, ia hanya kembali dua tindak, Maka itu, sekian lama ia bergerak dengan perlahan.

Baru kemudian, dibantu kecerdasannya, ia mulai dapat melompat cepat, lalu akhirnya ia paham. Di akhirnya itu, ia bergirang bagaikan kalap. ia berjingkrakan.

Jie In berdiri mengawasi, tangannya digendong ke belakang, Ada kalanya ia memandang jauh ke sekitarnya, Tepat si nona sudah paham, ia melihat tajam ke depannya, jauh disana tampak sesuatu yang samar-samar, seperti titik- titik hitam yang beterbangan menuju ke puncak Ciu Auw Hong, ia lantas berpikir:

"Pasti Poo Tan melakukan sesuatu yang aneh, atau mungkin ia tiba pada saatnya menggabung yang sesat dengan yang lurus, hingga ia mesti bergulat, Mungkin ini

pergulatannya yang terakhir, yang dahsyat, juga inilah tentu saatnya murid-muridnya, yang dikatakan murtad itu datang mengacau padanya, Rupanya dia mau menggunakan ketika orang menempur Thian Gwa sam Cun-Cia, ia sendiri meloloskan dirinya. Tidak. jangan kau bermimpi sahabat, tak dapat aku membiarkanmu lolos"
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Menuntut Balas Jilid 06 : Tay oh Kiam milik keluarga Hu"

Post a Comment

close