Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 09

Mode Malam
 
Pedangitu ada buatannya ayahnya, dulu, ketika ia berumur satu tahun, lalu setiap tahun, ditambah beratnya, terus sampai ia berusia dua belas, di waktu mana, ia diizinkan pakai itu. Itu ada pedang tajam luar biasa, bisadipakai membabat besi sembarangan. Ia ingin rampas pulang pedang itu, maka ia segera desak ini musuh, beruntun ia membacok dengan tipu- tipu silat “Sia sin bong goat” atau “Memandang rembulan sambil miring” dan “Hons hong thian tjie” atau “Burung Hong pentang sayap”. Ia pun membentak: “Penjahat tidak tahu malu, kau berani curi pedang nonamu!”

Penjahat itu, yang romannya bagaikan tikus, tidak gusar, sebaliknya, ia tertawa haha-hihi.

“Nona manis, kenapa marah?” kata ia, dengan godaannya. “Pedang toh harus dihaturkan pada orang gagah dan pupur di hadiahkan kepada si juwita! Kau persembahkan pedang padaku, nanti aku balas kirimkan pupur dan yan tjie harum kepadamu! Bagaimana menarik untuk kita saling tukar tanda mata!….”

Sekalipun ia menggoda dan berlaku ceriwis, penjahat itu tidak alpakan pedangnya. Maka itu, kendati ia mendesak, dalam tempo yang pendek, Bong Tiap tidak mampu berbuat suatu apa, karena ia pun sedang dikepung, hingga ia mesh’ layani yang Iain-lain. Empat musuh itu ada mempunyai kepandaian tidak rcndah. kalau tadi mereka ketetcr, itu disebabkan mereka memandang enteng. Sekarang, di empat penjuru, mereka menycrang dengan rapi.

Bong Tiap sekarang bukan iagi Bong Tiap tiga tahun yang lalu, ia bcnar tidak biasa menggunai golok, tapi ibunya, Lioe Toanio Lauw In Giok, ada ahli wans Ban Seng Boen, yang utamakan golok Ban-seng-too, dan itu, sedikimya ia paham gunai senjata ituja tahu tipu-tipunya, maka sekarang ia bersilat dengan campur ilmu golok dengan ilmu pedang Thay Kek Koen sen a Sim Djie Sin-nie punya ilmu kebutan Tiat- hoed-tim yang bisa dipakai sebagai pedang Ngo-heng-kiam. Begitulah, ia pun bikin empat musuhnya tidak bisa berbuat ban yak.

Pertempuran berjalan seru, sampai lama juga, ialah lebih daripada lima puluh ju-ras. Bong Tiap bcrkelahi terns, sampai diam-diam ia mcngcl uh. Dengan tiba-tiba, ia rasai perutnya mulas, kedua kakinya pun sesemutan. Karena ini. diluar keinginannya, ia jadi keteter.

Bong Tiap benci musuh yang pakai Tjeng-kong-kiam, tapi juga ia paling waspada terhadap musuh itu, bukan ia maiui boegee orang itu, ia hanya kuatir, senjata mereka jadi kebentrok, ia takut. goloknya nanti kena terpapas kutung.

Coba mereka bertempur satu sama satu, ia tentu tidak pikir banyak. Di lain pihak, musuh pun merangsang hebat.

Sembari bertempur, musuh-musuhj itu masih menggoda terus. “Begini saja puterinya Lioe KiainJ Gim!” demikian seorang menghina.

“Mernang sebegini saja!” kata yang lain. “Dia cuma bisa layani si kelinci. mana dia sanggup lawan kita?….”

Dengan si kelinci ia maksudkan Ham Eng.

Mukanya Bong Tiap pucat, ia kertak gigi. Ia mendongkol bukan alang-kepalang. Dengan tiba-tiba, dengan “Too say kim tjhie” atau “Menyebar uang emas”, ia terjang penjahat yang ngoceh tak keruan itu. Dari atas ia menyerang ke bawah, lantas ia teruskan membabat kaki.

Penjahat itu yang mainkan ruyung tujuh tekukan, dia lompat mundur, ruyungnya dipakai menyampok, sedangnya begitu, Bong Tiap dengar sambaran angin di bclakangnya, lckas-lekas ia putar tubuh, tapi menyusul itu, rantai bandring menyambar goloknya, melilit, ketika si penjahat membetot, goloknya terlepas, terpental!

Insyaf bahwa ia lagi hadapi ancaman bencana, tidak ayal lagi, Nona Lioe keluarkan Ioncatan tinggi danjauh, sebagaimana yang Sim Djie pernah ajarkan ia. Ia loncat dua tumbak. gerakannya mirip dengan burung hoo menerjang langit. Ia lintasi kepala musuh, setelah kakinya injak tanah, ia loncat lebih jauh, hingga ia lantas berada di jalan besar. Tapi ia bukannya hendak lari, ia cuma mau jauhkan diri dari musuh, agar ia bisa dapat napas. Ia bersedia dengan tangan kosong melayani terus empat musuhnya. Mereka ini pun menyusul, sekarang mereka semakin berani, karena si nona bertangan kosong.

Ketika itu sudah lewat tengah malam, jagat ada sunyi sekali. Memangnya di Thian-tjin ada jam malam, begitu cuacagelap, penjagaan Gie Hoo Toan diperkeras, siang-siang penduduk telah masuk tidur. Sementartfttu, gedungnya Kiam Gim berada di terhpat yang sunyi, hingga sekalipun serdadu ronda, jarang yang lewat situ. Maka itu, mereka itu bertempur tanpa ada yang lihat atau ganggu.

Selagi empat penjahat itu merangsang, untuk kepung pula si nona, tiba-tiba dua bayangan kclihatan lari mendatangi, ketika keduanya sampai, mereka segera menghalang di tengah. Dua bayangan itu masing-masing mencekal sebatang pedang panjang, yang mereka lintangi.

Kapan Bong Tiap telah lihat nyata dua bayangan itu, ia kaget berbareng girang.

“Ah, Toa-soeheng, kau datang!” ia berseru.

Memang juga dua orang itu adalah Law Boe Wie dan Teng Hiauw, yang baharu saja sampai. Kalau Boe Wie ada keren karena bentuk kepalanya beroman macan tutu!, adalah yang berdiri di sampingnya, tubuhnya jangkung dan cakap dan gagah usianya kurang lebih tiga puluh tahun!

Empat penjahat itu terkejut untuk sedetik saja, mereka tidak takut, tetapi di saat mereka hendak tegur ini dua orang baru, tahu-tahu Boe Wie berdua sudah maju akan serang mereka.

Bong Tiap mendapat hati, ia serukan toa-soeheng itu: “Kau orang layani itu tiga orang, biarkan aku sendiri lawan ini yang bersenjatakanTjeng-kong-kiam! Jangan kau orang bantunku!”

Dan ia terus loncat maju, akan serang itu pencuri pedang, yang ia benci bctul, karena mulutnya sangat kotor. Ia tidak keder walaupun ia tidak punya senjata.

Boe Wie bersangsi melihat soemoay itu tidak bergegaman. “Jangan kuatir, aku sanggup layani kelinci ini!” kata si

nona, yang mengerti kesangsiannya saudara seperguruan itu.

Di situ terjadi pertempuran dalam tiga rombongan. Boe Wie serang or•ang yang pegang golok Kwie-tauw-too, ia lantas dikepung oleh musuh yang menggunai Tjit-tjiat-pian. Teng Hiauw sendirian layani musuh yang pegang bandring gembolan.

Penjahat dengan Tjeng-kong-kiam gentar juga melihat majunya Bong Tiap, tapi karena orang bertangan kosong, iasegera mendahuluimenikam dadanya Bong Tiap. Ia telah gunai tipu “Tjoan tjiang tjin kiam” atau “Majukan pedang sambil lempangi tangan”.

“Bagus!” bcrscru Bong Tiap scraya ia berkelit ke samping, bukannya ke kiri, hanya ke kanan, dari sini, dengan tangan km ia hajar lengan kanan ©rang, dcngan tangan kanan, ia sambar pundak kiri musuh. Inilah yang dibilang **Hok ie hoan in”, atau “Menyusun hujan, membalfld awan” La wan itu geser tubuhnya ke kanan, ke arah man a pun ia tarik pcdangnya, habis itu, cepat sekali, ia menyerang pula, mcnikam bebokongnya si nona

Bong Tiap berkelit sambil mendek, kakinya melesat ke samping musuh, selagi pedang mcnusuk tempat kosong. ia bcrada hampirdi belakang musuh itu, maka sambaran angin segera mengarah batok kepala penjahat itu.

“Celaka!” mcnjerit musuh itu dalam hatinya. la insyaf, serangan si nona lagi menuju kepalanya bagian belakang. Maka lekas-lekas babat ke belakang, kepada lengan kanan orang.

Bong Tiap lihat orang repot, ia perdengarkan tertawa menyindir. Ia kasih lewat babatan pedang, lalu ia merangsang untuk itu, ia gunai kedua tangannya, yang disusun. Dimajukan bergantian dengan sebat sekali.

Kecewa penjahat itu menggunai pedang, ia tak dapat gunakan itu secara berfaedah, ia repot dengan desakan. Tubuh si nona berkelebat di sana-sini, di depan. di kiri dan kanan, atau tiba-tiba, di belakang. Sebagai kupu-kupu ia mainkan bunga, laksana capung menyambar air, demikian gesitnyasi nona. Dengan ini jalan, ia menyebabkan mata musuh lamur, kepala pusing.

Scsudah sckian lama tidak berdaya mcloloskan diri dari desakan, penjahat itu pikir, menyingkir ada paling selamat. Untuk ini, ia tidak mau pikirkan lagi tiga lawannya. Dengan “Auw tjoe hoan sin”, lompatan j umpali tan bagai burung menyambar, ia lepaskan diri dari desakan, lalu dengan “Kim peng tian tjie” atau “Garuda emas pentang^sayap”, ia membabat ke arah bawah si nona, setelah itu, selagi Bong Tiap lompat berkelit, ia juga terus Ioncat mundur, putar tubuh dan angkat langkah seribu….

Kabumya penjahat adalah hal yang menggirangkan si nona.

Ini ada apa yang ia harap. Ia memang mempunyai Tjeng- kang-soet, ilmu entcngi tubuh, yang sempurna. Justeru penjahat itu lari, ia enjot tubuhnya, untuk mengejar. Sekali Ioncat saja, ia sudah sampaikan kira-ki ra dua tumbak, hinggaia lantas bcrada di belakang musuh. Musuh itu hendak putar tubuhnya, guna menyambut dengan tikaman, sayang,- sudah kasep, ia terlambat, baru tangannya digeraki, atau tangan itu sudah dicekal Bong Tiap, kaki siapa pun bekerja. Tidak tempo lagi, penjahat itu rubuh terguling, pedangnya terlepas.

Bong Tiap tidak mau mengasib hati, justeru orang rubuh, ia lompat menyusul, sebelum penjahat itu dapat kctika, akan lompat bangun, kepalanya sudah kena ditendang, demikian hebat, sampai kepala itu pecah, polonya tercerai-berai, hingga jiwanya terus terbang melayang.

Bukan baharu satu kali ini Bong Tiap bertempur, tetapi membunuh musuh secara begini, ini ada pengalamannya yang pertama. Ia berlaku ganas saking ia benci musuh. Akan tetapi, melihatmayat orang itu, hatinya segera.menjadi tidak tega, hingga ia tak sanggup mengawasi lebih lama. Dengan apa boleh buat, ia gunai kakinya, akan sontek pedangnya yang terletakdi darah mengumplang, untuk jumput itu. Ia sudah hendak angkat kaki ketika ia ingat piauw Bouw-nie-tjoe, yang ia percaya ada di tubuh musuh, maka dengan apa boleh buat, ia kembali, ia dupak tubuh musuh sampai terbalik, dengan separuh meram, ia merogoh ke saku orang itu. Benar saja, ia dapatkan senjata rahasianya itu. Habis itu baharu ia susut bersih darah di pcdangnya dan masuki pedang itu ke dalam sarungnya.

Untuk sedetik, ia berdiri diam, hatinya goncang, tubuhnya rasanya lemas. Tapi sedetik juga* ia ingat akan keadaannya. Segera ia menoleh pada dua kawannya. Ia dapatkan Teng Hiauw, sambil memeluk pedang, lagi berdiri mengawasi ia sambil bersenyum. Di lain pihak, Boe Wie masih layani dua musuhnya, hanya dia sudah menang di atas angin.

Samasekali musuh ada berjumlah lima, Teng Hiauw layani yang bersenjatakangembolan. Satu musuh telah melayang jiwanya, karena dibekap Bong Tiap ketika ia lancang masuk ke dalam kamar dan kemudian dilemparkan keluar jendela dengan masih terbekap. Musuh yang pegang gembolan ini lebih liehay dari kawannya, yang sudah mart, tapi ia tidak berdaya melawan Teng Hiauw belum habis dua puluh jurus, pedangnya orang she Teng itu sudah mampir di dadanya, lalu digentak ke atas, hingga luka di dada sampai di pundak kanan, darahnya nyemprot tak mau berhenti, tubuhnya rubuh, jiwanya melayang.

Baharu setelah musuh terbinasa, Teng Hiauw ingat, ia berbuat terburu nafsu. Seharusnya ia mengasih tinggal hidup, guna korek keterangan dari mulutnya dia itu. Setelah itu, ia menoleh pada Boe Wie dan Bong Tiap. Tadinya, seperti orang she Law itu, ia kuatirkan si nona, tapi, setelah lihat cara berkelahinya, hatinyajadi tetap. Nona itu gesit luar biasa, bertangan kosong, diamampu layani musuh dengan leluasa, maka itu, ia lantas berdiri menonton saja. la lantas saja jadi kagum dengan caranya orang bersilat. Itulah bukan gerakan Thay Kek Koen belaka. Ia tidak kenal ilmu silat si nona. Ia percaya, si nona barangkali ada di atasan ianya. Ia tidak sangka, soemoay yang ia belum pernah lihai itu, yang cuma ia pernah dengar namanya, ada demikian liehay. Maka itu, akhirnya, ia bersenyum menyaksikan kcmenangan, yang dilakukan sccara mengagumi.

Hatinya Bong Tiap lega mclihat pembantu yang belum dikcnal itu sudah perolch kcmenangan, dari itu, ia lantas perhatikan toa-soehengnya. Boe Wie bukannya kewalahan mclayani dua musuh, kalau scbegitu jauh ia bclum berhasil, itu disebabkan, sembari berkelahi, saban-saban iacari ketika akan menoleh pada sang adik scpcrguruan. Kemudian, walaupun ia lihat soemoay itu sudah menang di atas angin. ia masih belum tenteram betul, ia scnantiasa bcrdaya akan bcrscdia untuk bantu saudara itu apabila perlu. Maka itu, ia gunai “Hoei Eng Keng-soan-kiam” untuk layani kedua musuh, hingga dua-dua musuh tak dapat merangsang ia, sebaliknya, mereka yang saban-saban mesti mundur dari ancaman pedang. Sckarang. setelah lihat Bong Tiap menang, ia tidak mau berlaku sungkan lagi.

Dcngan “Liong boen sam kek long”, dengan gayanya sang naga menentang gelombang, Boe We lantas merangsang. Dari pihak si pembela diri ia berubah menjadi si penyerang. Dan ia berlaku sangat gesit.

Diserang secara demikian, kedua penjahat itu jadi kelabakan.

Memangnya mereka sudah kewalahan. Dalam tempo yang pendek sekali, permainan gegaman mereka menjadi tidak teratur lagi.

Penjahat yang menggunai golok Kwie-tauw-too menjadi sibuk, ia rupanya insyaf, lama-lama ia bisa celaka. Dengan sekonyong-konyong, ia kirim tikaman kepada musuh.

Berbareng dengan itu, kawannya, yang pegang ruyung Tjit- tjiat-pian, juga maju menyerang. Digencet dari dua jurusan, Boe Wie tidak berkuatir. Gesit sekali, ia mendek, terus ia geser kakinya, akan menyingkir, ke sampingnya si penyerang yang pertama. Berbareng dengan itu, kedua senjata musuh telah bentrok satu dengan lain, karena mereka itu tak keburu lagi tank pulang serangannya masing-masing. Boe Wie gunai ketika senjata mereka beradu, ia melesat terlebih jauh ke samping musuh yang bcrsenjatakan golok, akan kirim bacokan pada batang leher orang. Ini adalah tipu silat “Soen soei twie tjouw” atau “Menolak perahu dengan turuti aliran air”.

Tidak tempo lagi, dengan perdengarkan jeritan tertahan, penjahat itu rubuh binasa.

Bukan terkira kagetnya penjahat yang memegang ruyung apabila ia saksikan kawannya hilang jiwa, dengan tiba-tiba ia menyerang kalang-kabutan, supaya ia bisa buka jalan untuk angkat kaki. Ia berhasil. Selagi Boe Wie mundur, ia lompat dan kabur. Tapi Boe Wie mundur beberapa tindak saja, selagi musuh lari, ia loncat, akan mengejar. Ia memang pandai lari keras. Ia ada laksana garuda menyambar kelinci. Cepat sekali, ia sudah datang dekat belakang musuh itu.

“Jahanam, lihat pedangku!” ia memfcentak. Dan pedangnya menyambar.

Penjahat itu kaget bukan main mendengar teriakan itu, ia menjadi gugup, tapi selagi ia terancam bahaya, mendadakan ada orang lain lompat kepada mereka dan dengan pedangnya, orang itu tangkis pedangnya Boe Wie, hingga kedua senjata beradu dengan nyaring, hingga penjahat itu jadi ketolongan jiwanya.

Boe Wie heran apabila ia kenali penghalang itu ada Teng Hiauw.

“Jangan binasakan dial Perlu kcsaksiannya!”Tcng Hiauw berseru apabila kawannya awasi ia, selagi Boe Wie hendak minta keterangan. Segcra Boe Wie mengcrti, dengan tidak kata apa-apa, ia loncat kepada musuh, siapa pun heran, hingga dia tercengang. Gerakan Boe Wie ada “Liong heng hoei pou” atau “Tindakan terbang dari naga”. Dan ia tidak lagi gunai pedangnya, hanya jeriji tangannya.

Penjahat itu kaget, ia membabat dengan ruyungnya, tetapi ruyung itu ditangkis dengan pedangnya Boe Wie, sampai ruyung terpental, setelah mana | orang she Law ini mendesak terus,, lagi-lagi dia menyerang, dengan dua jan tangan, telunjuk dan jari tangan, dari tangan kiri. Sasarannya adalah musuh punya jalan darah “Kie-boen-hiat” atau pintu angin.

Sekarang penjahat itu tidak berdaya lagi, ia kalah sebat, ia kena ditotok, berbareng sama jeritannya “Aduh!” ia rubuh dengan tak dapat berkutik lagi!

Sampai di situ, habislah lima penjahat: satu tertawan hidup, empat terbinasa.

Boe Wie kasih dengar tertawa puas, lantas ia masuki pedangnya ke dalam sarung, sesudah itu, dengan tangan kiri, iajumputtubuh musuh, untuk dikempit.

“Mari kita masuk ke rumah, untuk periksa dia ini!” kata ia pada Teng Hiauw dan Bong Tiap. Si ndna, seperti Teng Hiauw, sudah lantas menghampirkan.

Teng Hiauw dan Bong Tiap setuju, malah si nona segera mendahului lari di depan. Dengan tiba-tiba ia teringat pada Ham Eng, yang sudah terluka, yang ditinggal sendirian di dalam kamar. Ia pun tidak dandan rapi, karena tadi ia keluar dengan terburu-buru, dan pakaiannya ada kecipratan darah.

Ruangan ada gelap petang ketika ketiga orang itu masuk ke dalam rumah, di mana segera terdengar rintihan. Bong Tiap berkuatir, ia lompat ke arah meja, untuk cari bahan api, guna nyalakan itu, untuk pasang lampu.

Ham Eng kelihatan rebah dcngan kulit muka hitam geJap,. matanya separuh ditutup, napasnya empas-empis. Bong Tiap kaget, sampai ia lalai di situ ada orang lain. Ia dekati Ham Eng, akan usap-usap muka orang.

“Ham Eng!” ia mcmanggil. “Di sini aku, kau tahu tidak?”

Pemuda iiu telah jadi korban Hong-bwee-piauw yang bcracun. Mulanya ia cuma merasai sakit sedikit, tetapi sctelah racun bekerja, dcngan ccpat ia mcnjadi lelah, rasa sakitnya luar biasa. Da lam keadaan bcrbahaya itu. ia masih ingat Bong Tiap, ia ingin sekali tengok nona itu, walaupun untuk pcnghabisan kali. Begitulah, dcngan lapat-lapat, ia dcngar suaranya si nona. Ia lantas buka matanya, kcdua tangannya bergcrak, meraba baju orang.

“Socmoay. di lain pcnitisan saja kita orang bertemu pula…” kata ia dcngan lemah.

Boe Wie kaget Scgcra ia mengerti, soetee itu sudah terkena piauw yang beracun. ia lihat air mukanya Ham Eng yang bcrsinar hitam gclap. Sesaat ini, ia lupai halnya sendiri dcngan

.Bong Tiap, ia kasihani socmoay itu, ia kasihani sang soetee. ia maju ke depan, dekat sekali pada Ham Eng, untuk mempcrhatikan.

Di samping pembaringan, ada menggeletak liga batang piauw, yang kecil sekali. Rupanya Ham Eng telah cabut itu di waktu ia mcrasakan sangat sakit Boe Wie jumput itu, untuk diperiksa. Ia pernah dengar keterangannya Tok-koh It Hang perihal bcrbagai macam senjata rahasia seperti itu, ia mengerti, piauw ini ada racunnya. Sclama mcrcka melawan empat musuh, tempo hampir satu jam telah dilewatkan, tidak heran soetee itu jadi berbahayakeadaannyaJLebih dahulu daripada itu, Bong Tiap sudah I ay an i musuh-musuhnya.

Maka scantcronya, sang tempo pasti sudah lebih daripada satu jam. Rupanya, saking tangguhnya Ham Eng, ia masih bertahan sampai itu waktu. Celakanya, luka itu tak dapat discmbuhkan kecuaii oieh obat si pemilik piauw sendiri. “Soetee, aku mcnycsal,” kata Boe Wie yang dekati Ham Eng. la telah kuati hatinya, untuk tidak keluarkan air mata. “Tidak, aku yang menyesal…” sahut Ham Eng, yang kcnali soeheng itu. “Ia….”

“Sudah” Boe Wie memotong. “Ia adalah kepunyaan kau….

Aku datang untuk saksikan pernikahan kau orang berdua.” Ham Eng coba melirik Bong Tiap, nona ini tunduk dengan muka mcrah, dia diam saja.

Anak muda itu lantas tertawa mcringis. “Aku mati dengan puas….” kata ia, suaranya sangat lemah. Ia rupanya masih hendak bicara terus, tetapi matanya dimeramkan, tempo ia lonjorkan kakinya dengan kaget, napasnya berhenti berjalan, cuma tampangnya masih tersungging senyuman…. Bong Tiap kaget, ia raba dada Ham Eng, ia tidak rasai jantung mcmukul, hatinya mencelos. Ia menangis tetapi air matanya tidak keluar. Tiba-tiba ia hunus pedangnya, yang ia hendak tabaskan pada batang lehernya sendiri.

Boe Wie lihat .gcrakannya itu, ia terperanjat, tetapi ia insyaf, sebelum pedang menabas, ia ulur tangannya, akan totok bahu kanannya Bong Tiap. Dalam hal ini, Bong Tiap tidak perlu memikir untuk bcrkclit. Maka ia kena ditotok di jalan darahnya “Kiok-tie-hiat”, lantas tangannya sesemutan, pedangnya terlepas sendi rinya, jatuh sambil menerbitkan suara. Teng Hiauw lompat akan jumput pedang itu. “Aku hendak mati, Toa-soeheng,” kata si nona, yang lantas saja menangis. “Kcnapa kau ccgah aku?” Boc Wie belum sempat menyahut, atau Teng Hiauw dului ia.

“Soemoay,” kata orang she Teng ini. “Kita berdua sebenarnya belum pernah kctemu satu dengan lain, tetapi aku sudah dengar kau adalah satu wanita gagah, maka kenapa kau berpikiran begini cupat? Apakah kau tak perdulikan lagi sakit hati ayahmu? Apakah kau inginkan lain orang yang tolong balaskan itu?”

Bong Tiap melengak. Kata-katanya Teng Hiauw, bagi ia ada seumpama guntur di siang hari. “Apa? Apa kau bilang?” ia menegur. “Kau siapa?” Teng Hiauw maju setindak, ia awasi nona itu.

Orang telah aniaya ayahmu hingga binasa- di Pakkhia,” ia kata “Apakah sakit hati itu tidak hendak dibaIas?Aku adalah orang yang telah kubur dcngan tangan sendiri jenazah ayahmu. Aku adalah soetit sejati dari ayahmu!!….” ‘

Belum sampai Teng Hiauw tutup mulutnya atau tubuhnya Bong Tiap rubuh dengan tiba-tiba, rubuh pingsan.

Boe Wie lompat, akan tolong soemoay itu. Ia angkat tubuh nona itu, untuk direbahkan.

“Ah, Soetee….” ia sesalkan Teng Hiauw, “dia lagi berduka kenapa kau lantas beritahukan kebinasaannya Soehoe?” Teng Hiauw bersenyum tawar.

‘ “Justeru ini ada saatnya yang pal•ing baik,” ia bilang. “Secara begini, kita bisa bikin ia tenang, hingga ia tak usah hendak mencari mati. Soeheng jangan kuatir, dia tidak dalam bahaya. Dia sangat berduka, tapi sebentar dia akan sadar.”

Boe Wie bcrpikir. Ia anggap soetee ini benar juga. Tcng Hiauw ada seorang yang cerdik, dengan lihat sikapnya Bong Tiap dan Ham Eng berdua, dan kelakuannya Boe Wie, ia! scgcra bisa menduga kepada lelakon cinta segitiga, maka itu, untuk cegab si nona menjadi nekat, tidak ada Iain jalan daripada lantas beritahukan kematiannya Lioe Loo-kauwsoe, ayahnya si nona. Ia percaya, walaupun itu ada pukulan hebat kematiannya Ham Eng – Bong Tiap ton akan lebih utamakan sakit hati ayahnya- Ia pun percaya, dcngan warta hebat itu, Bong Tiap tidak bakalan bercelaka.

Dugaannya Teng Hiauw tidak meleset. Berselang beberapa menit, Bong Tiap mulai sadar, ia geraki kaki, tangannya, matanya dibuka, belum sempat Boe Wie mengawasi, sekonyong-konyong nona itu mencelat bangun. “Mari pedangku!” dia terus berseru. “Aku tidak akan cari mati laei! Aku hcndak can musuhku. Aku hcndak tanya, ada permusuhan apa di antara kita maka ia sudah lukai ibuku dan sekarang binasakan ayahku!”

Teng Hiauw, yang masih pegangi pedangnya Bong Tiap, serahkan itu, tetapi ia hunjuk roman keren ketika ia berkata: Kau berniat menuntut balas, itu bcnar! Tapi kau mesti tenangkan din dahulu! Musuhmu bukan satu orang saja, dengan kau pergi seorang diri ke Pakkhia, sakit hatimu tak akan terbalas! Kita orang mesti berdamai. jangan kita Cuma turuti nafsu hati. Aku kasih tahu padamu, ayahku juga terbinasa di tangan musuh, ayahku adaiah soesiokmu Teng Kiam Beng, dengan siapa kau belum pernah bertemu.”

Bong Tiap berdiam. Baharu sekarang ia tahu ini orang baharu.

Perkataannya Teng Hiauw benar, mau atau tidak, ia mesti dengar.

“Baiklah,” kata ia akhirnya. Hatinya Boe Wie menjadi lega.

Sampai di situ, mereka lalu berdamai, untuk periksa orang tawanan mereka. Musuh yang bersenjata Tjit-tjiat-pian itu, yang sudah tidak berdaya, ada bemyali besar dan bandcl, ia berlaga gagu, karena setiap pertanyaan, ia tidak mau jawab, percuma orang bujuki dan gertak ia. Bong Tiap jadi sengit, hingga ia hajar batang leher orang itu dengan pedangnya. “Jikalau kau tetap tidak mau bicara, aku nanti bunuh padamu!” ia mengancam.

Baharu sekarang, penjahat itu menyahut, dengan tetap hunjuk kcbandclannya, dengan mata melotot. “Aku sudah tidak mengharap hidup pula, aku mcmang hendak menghadap pada Giam Loo Ong, untuk cari si pcmuda muka putih itu untuk tempuri ia! Nah, kau bunuhlah aku! Sangatlah berharga bagiku akan binasa di tangannya si manis!” Tidak terhingga gusarnya Bong Tiap, hingga ia ayun pedangnya.

“Jangan,” mencegah Boe Wie, yang tank si nona ke samping. “Sabar, aku mempunyai daya untuk bikin dia bicara, supaya ia binasa sccara puas, seperti ia kehendaki!”

Habis ber-kata-kata begitu, Boe Wie tepok jalan darah “Hok-touw-hiat”nya di iga kiri, untuk bikin terbuka jalan darah itu, hingga darah bisa mengalir, kemudian dengan tiga jeriji tarigan, ia totok dan tepok dengan bergantian batang lehemya orang itu di bagian yang lemas, menyusul mana, penjahat itu lantas teraduh-aduh, terkuing-kuing seumpama babi dipotong. Ia pun bergulingan di tanah. Mulanya dia masih mencaci kalang-kabutan, akan tetapi pelahan-Iahan, suaranya lenyap.

Totokan Boe Wie ada totokan pal•ing liehay dari Kim-na- hoat punya enam puluh empat tipu silat, untuk kompes orang jahat, itu ada jauh terlebih liehay dari berbagai pesawat kompesan. Kena ditotok dan ditepok, penjahat itu rasakan semua uratnya seperti terlepas satu demi satu, seluruh tubuhnya sebagai juga ditusuki berlaksa jarum, rasanya sakit dan gatal, hingga tak dapat ditahan, maka itu, ia tak berani memaki terlebih jauh, akan akhirnya, ia minta-minta ampun.

Boe Wie tertawa dingin terhadap musuh yang bandel ini. “Aku sangka kau berkulit tembaga dan bertulang besi,

entah bagaimana tangguhnya, kiranya kekuatan kau begini

saja?” ia mengejek. “Kau minta ampun, baik sekarang kau mesti jawab aku – satu demi satu! Asal kau mendusta, aku masih punya lain cara yang liehay, untuk kau rasai!”

Mukanya penjahat itu jadi pucat dan biru bergantian, keringat sebesar kacang mengetes dari jidatnya. Sekarang iajadi jiijak, berulang-ulang mangguti kepala.

“Siapa perintah kau bokong puteri dan muridnya Lioe Loo- enghiong?” demikian pertanyaan pertama dari Law Boe Wie. “Itulah Gak Koen Hiong Toako dari Pakkhia!”

Teng Hiauw melirik pada Boe Wie, segera ia tanya:”  Apakah benar? Ada siapa lagi di belakangnya Gak Koen Hiong? Apakah juga Gak Koen Hiong yang perintahkanmembinasakan Lioe Loo-enghiong?”

“Siapa ada di belakangnya Gak Koe Hiong aku tidak tahu,”mengakui penjahat itu. “Aku cuma dengar ada sejumlah orang liehay, yang tidak hendak majukan diri, karena Gak Koen Hiong ada orang Gie Hoo Toan, mereka ini majukan Gak Toako. Or•ang bilang, Ibusuri Tjoe Hie Loo-Hoeja juga ada tulang punggungnya Gak Toako. Tentang kcmatiannya Lioe Loo-enghiong, itu ada pekerjaan orang sebawahannya Gak Toako.”

Boe Wie gusar bukan kepalang, hampir saja ia tak dapat kcndalikan diri.

“Kenapa Gak Koen Hiong ketahui puteri dan muridnya Lioe Loo-enghiong ada di sini?” ia tanya pula. “Apakah Tjo Hok Thian dan Thio Tek Seng ketahui kau orang telah dikirim kemari?”

“Gak Koen Hiong tidak ketahui puterinya Lioe Loo-enghiong ada di sini,” penjahat itu berkata lebih jauh. “Dia cuma tahu, Lioe Loo-enghiong mempunyai satu murid muda, yang sering dampingi gurunya, dari itu, dia cuma kirim kita bertiga. Kedua oatauw bak Thio Tek Seng dan Tjo Hok Thian tidak ketahui tentang kita ini.”

Boe Wie masih tanyakan lainnya lagi, tetapi orang itu goyang kepala, ia tak dapat bcnkan lagi ketcrangan yang penring, maka akhimya orang she Law itu rabah iganya orang itu, atas mana si penjahat menjerit, terus ia binasa.

Malam ada gclap dan sunyi, kamar ada tenang sekali, melainkan api lampu mcmain sendirian. Boe Wie lantas berdamai dengan Teng Hiauw, scdang Bong Tiap masuk ke dalam kamar, untuk salin pakaian.. Pada dua soeheng itu, ia telah nyatakan: “Pikiranku sedang kalut, apa yang Soeheng putuskan, aku akan turut saja.’” ia mesti lekas salin, karena pakaiannya berlepotan darah.

Boe Wie ada lesu, ia menghela napas.

“Urusan ada sulit, Gie Hoo Toan ada sangkut-pautnya. Satu hal aku bisa terangkan, walaupun mesti adu jiwa, aku hendak menuntut balas untuk guruku.”

“Dulupun Soepeh tidak mufakat Gie Hoo Toan memasuki Pakkhia,” kata Teng Hiauw. “Aku lihat, sekarang telah berubah sifat Kalau kita pcrgi ke Pakkhia, di sebelah dendaman Soepeh, kita juga harus bekerja untuk Gie Hoo Toan. Soeheng tahu, tiga-tiga Toatauwbak Lie Lay Tiong, Tjo Hok Thian dan Thio Tek Seng telah ambii putusan buat pergi

ke Pakkhia. Gagai atau berhasil, itu ada urusan lain.

Pendek, kita orang tidak mampu ubah putusan mereka. Kita melainkan bisa terangkan pada mereka, bagian dalam kita ada kacau. Atau dengan sampaikan pesan Soepeh, kita minta mereka bikin pembersihan di dalam. Kedua, aku pikir, bersama-sama Toatauwbak Lie Lay Tiong mesti ikut banyak orang dari rombongan H oan Tjeng Biat Yang, yang bercita- cita merubuhkan pemcrintah sambil membasmi orang asing, di antara mereka, mesti tidak scdikit sahabatnya Soepeh, maka baik kita mohon bantuan mereka.”

Boe Wie tidak dapat pikir lain, akhimya ia nyatakan setuju. Kemudian keduanya pasang omong terus, sampai fajar. Nyata mereka cocok satu dengan lain.

“Dua kali aku pernah pulang ke Poo-teng,” kata Teng Hiauw, ketika ia simpangkan pembicaraan. “Thay Kek Boen mesti dibangunkan pula, orang berniat angkat aku jadi ketua, aku tidak tcrima. Kedudukan ketua ada bagian kaul” ia tambahkan sambil tertawa. “Adik Hiauw, jangan kau merendahkan diri!” Boe Wie bilang. “Aku ada orang asing, tak nanti aku dapat kepercayaan mereka. Di sebelah itu, aku tidak kandung niatan sama sekali.”

Boe Wie dapat kenyataan, meskipun Teng Hiauw ada lebih muda daripada ia, ia ada cerdik, berpengalaman dan jujur.

Nyata, Teng Hiauw pun cocok benar dengan Gie Hoo Toan, hingga dia hunjuk, tidak benar soeheng itu tidak terlalu perhatikan perkumpulan pencinta negara itu.

“Siapa mau berhasil, ia harus bersedia menerima kegagalan,” begitu Teng Hiauw utarakan. “Bisa jadi, dengan memasuki Pakkhia, Gie Hoo Toan bakal nampak kegagalan, tetapi itu ada pelajaran dan itu akan jadi dasar untuk kemenangan di belakang hari. Rakyat akan lihat tenaga kita. Kita mirip dengan bocah cilik, yang lagi belajar jalan, kita jatuh, kita bangun pula, akhimya toh kita bisa jalan!”

Boe Wie mesti mengakui benarnya soetee itu.

Kapan sang pagi datang, bertiga mereka rawat mayatnya Ham Eng, untuk dikubur dengan baik, kemudian bertiga mereka berangkat, akan ikut angkatan perangnya Thio Tek Seng pergi ke Pakkhia. Pakkhia ada kota terkenal yang beriwayat. Di pertengahan Kerajaan Kim, ia disebut Tiong- touw, lalu di zaman Goan Tiauw, diubah jadi Tay-touw. Di zaman Beng, ketika Kaisar Eng Lok pindah dari Lamkhia, ia dapati namanya Pakkhia dengan resmi. Kerajaan Tjeng tetap pakai nama itu, sampai pada masa Pergerakan Gie Hoo Toan. Riwayat itu berumur kira-kira tujuh ratus empat puluh tahun.

Boe Wie kagum ketika ia tampak Kota Pakkhia yang kelihatannya angker. Dua hari dari sampainya ia angkatan perangnya Lie Lay Tiong’ dan Thong-tjioe sudah mendahului maka itu, di mana-mana adakelihatan “sin tan’”, atau panggung suci dengan asap dupanya bergulung-gulung.

Tentaranya Thio Tek Seng ini disambut dengan gembira oleh kawan-kawannya yang sampai terlebih dahulu itu. Boe Wie berempat – ia ada bersama-sama Bong Tiap dan Teng Hiauw serta isterinya dia ini, Kiang Hong Keng – dapat tempat di Tong-sian-pay-lauw, yang diperuntukkan oleh pihak Gie Hoo Toan.

Mereka sampai belum ada satu jam, selagi mereka beristirahat, lantas mereka dikabarkan ada tiga tetamu yang sudah berusia tinggi. yang datang berkunjung. Belum sampai Boe Wie dapat terka, siapa ketiga tetamu itu, ia sudah lantas dengar teguran yang nyanng: “Boe Wie, kau baharu sampai? Tidak disangka-sangka kita orang bisa bertemu pula di Kota Raja ini!”

Boe Wie kenalkan suara itu,hingga ia menjadi sangat girang!

Itulah suaranya Pek-djiauw Sin Eng Tok-koh It Hang, gurunya, siapa datang bersama-sama In Tiong Kie, satu di antara tiga pendiri Pie Sioe Hwee, serta Tjiong Hay Peng dari Heng Ie Pay. Mereka ini datang dua hari duluan. Tidak usah dibilang lagi, pertemuan itu ada sangat menggirangkan hati. Tapi, kapan mereka bicarakan umsannya Lioe Kiam Gim, yang binasa di tangannya boe beng siauw tjoet, satu manusia rendah, mereka mengbela napas. Tok-koh It Hang sudah ketahui ha! kematiannya Lioe Kiam Gim, ia datang kc Pakkhia, kesatu untuk cari kawan sekerja, kcdua guna coba balaskan sakit hatinya sahabat itu. Dcngan banruannya In Tiong Kie dan beberapa tauwbak lain, ia segera perolch keterangan perihal keruwetannya Gie Hoo Toan. Boe Wie pcrkcnalkan Teng Hiauw dan isterinya, begitupun Lioe Bong Ti’ap kcpada tiga jago tua itu; mereka ini gembira sekali.

“Aku tidak sangka, dalam usia lanjut, pcndcta kenamaan itu masih menerirna murid,” nyatakan Tok-koh It Hang: ajJabila ia ketahui, BongTiap ada muridnya Sim Djie. “Pada empat puluh tahun yang lalu, pemah satu kali aku bertemu dengannya dan aku telah saksikan kebutannya Tiat-hoed-tim yang liehay.” Memandang Teng Hiauw, Tok-koh It Hang pun kagum.

Menurut ia, pemuda ini beda sekali dari mendiang ayahnya yang beradat tinggi dan berkepala besar. Kemudian ia kagumi Kiang Hong Keng, puterinya Kiang Ek Hiah, sebagai isterinya Teng Hiauw, karena wanita ini ada cantik dan gagah romannya, mereka berdua sembabat sekali menjadi pasangan.

Selama beberapa hari, Pakkhia benar kedatangan banyak orang gagah dari bcrbagai kalangan dan daerah, umpama Lauw In Eng, ahli waris dari Ban Seng Boen di Shoasay. Dia ini, sepeiti diketahui, ada adiknya Lioe Toanio Lauw In Giok. Yo Tjin Kong tidak turut datang, sebab ia tetap rawati socbonya. Yang lainnya lagi ada Thie-bian Sie-seng Siangkoan Kin dari Kangsouw, si Mahasiswa Muka Besi, Hong Tjin Hweeshio dari Siauw Lim Sie, ahli Tiam-hoat-hiat Lo Hoan Sian dari Soe-tjoan, Tayhiap Soen Siang Beng dari In-lam, Tjian Djie Sianseng, Ketua dari ilmu silat Ouw Tiap Tjiang (Tangan Kupu-kupu), serta Han Koei Liong,, guru silat kesohor dari Liang-Ouw (dua propinsi Ouwlam dan Ouwpak). Maka itu, Pakkhia jadi ramai sekali. Di situ Gie Hoo Toan sangat berpengaruh, sampai tentaranya Kie-boen Tee-tok, yang berkuasa atas ibukota, dan Gie Lim Koen, Barisan Raja, tidak berani bentrok dengan mereka, melainkan bcrdasarkan titah rahasia, mereka selamanya siap sedia alat-scnjata.

Di sebclah itu, Gak Koen Hiong dari rombongan Poo Tjeng Biat Yang juga siap sedia saja. Mereka juga I kumpuli banyak orang pandai, kecuali pahlawan-pahlawan dari istana dan segala buronan pcnjahat besar, juga pendeta-pendeta Lhama ‘ dari perbatasan Mongolia dan Tibet, kcpala-kepala polisi, dan guru-guru silat kirimannya berbagai pembesar tinggi dari luar Pakkhia. Maka itu. walaupun dia ada Hoe-tauwbak, Tjong- tauwbak Lie Lay Tiong tidak berani sembarangan bentrok padanya. Lie Lay Tiong gagah dan berpengaruh, tetapi ia kalah jauh dari Tjoe Hong Teng, pendiri dari Gie Hoo Toan, dia juga masih inginkan kerja sama dengan pemerintah Boan. Ia anggap ada satu kehormatan akan menghadap Ibusuri See Thayhouw dan duduk sejajar dengan berbagai menteri besar dan orang bangsawan agung. Di hadapan Ibusuri dia pernah mempertunjuki kepandaian Gie Hoo Toan – sanggup menentang senapan dan meriam. Sebenarnya Ibusuri tidak puji-puji padanya tetapi ia sendiri suka kcasyi kan dirinya digunai. Maka itu, karena sikapnya itu, Lie Lay Tiong tidak ingin bentrok dengan Gak Koen Hiong, dia tidak berani Iakukan pembersihan dalam kalangannya sendiri, malah ia ubah cita-cita Hoan Tjeng Biat Yang dengan Hoe Tjeng Biat Yang, ialah aksi menentang menjadi mcnunjang. Dcmikianlah sia-sia orang hunjuki dia bahwa Lioe Kiam Gim binasa di tangannya Gak Koen Hiong, ia tolak segala saran pembersihan di dalam dengan alasan tak boleh tcrjadi bentrokan antara or•ang sendiri….

Sementara itu, keadaan telah menjadi hebat. Pasukan Kozak yang kesohor dari tentara Rusia sudah bentrok sama barisan Gie Hoo Toan di Tok-lioe-tin, di luar Kota Thian-tjin, menyusul mana tentara Rusia,

Perancis dan Jepang sudah mendarat dan bentrokjuga,di Iain pihak,tentara Amenka dan Inggeris, dua ribu serdadu,dengan bawa meriam-meriam besar, sudah maju ke Pakkhia. Tentara Gie Hoo Toan dengan merusaki jalan keretaapi, cobamenghalangimajunya tentara Serikat ini.

Dengan hanya menggunakan golok dan tumbak, pihak Gie Hoo Toan nampak kerugian, tetapi pihak asing puji keberanian mereka

Selagi tentara Serikat dari delapan negara bergerak terns, pihak Gie Hoo Toan di Pakkhia tetap belum bersatu-padu.

Rombongannya Tok-koh It-hang ingin segera dilakukan pembersihan di dalam, guna singkirkan rombongannya Gak Keen Hiong, tetapi Lie Lay Tiong tetapi beranggapan, itulah bukan saatnva untuk bentrok di antara orang sendiri. Saking tidak sabar, pada suatu malam Tok-koh It Hang berkumpul bcrsama In Tiong Kie, Tjiong Hay Peng, Tjian Djie Sianseng dan Iain-lain ketua, di situ ia tanya Boe Wie dan Teng Hiauw, apa mereka ini berani datangi tangsinya Gak Koen Hiong. “Kau orang cuma perlu menyampaikan surat,” Tok-koh It Hang jelaskan. “Terutama jangan kau orang bunuh dia!”

Dua pemuda menjadi heran. “Walaupun ke dalam guha harimau dan kedung naga, siauwtit berani pergi!” nyatakan mereka. “Hanya kenapa dia tidak boleh diserang?”

“Karena ituiah bukan caranya untuk membalas dendam.” Tok-koh It Hang jawab.

Tapi jago ma dari Liauw Tong ini berikan keterangannya.

Gak Koen Hiong mesii ditantang. Tok-koh It Hang pcmah pikir untuk pergi sendiri, tetapi ia bataikan niat ini kapan ia ingat, ia termasuk orang luar. Yang berhak mcnantang adalah Law Boe Wic sebagai murid kepala dari Lioe Kiam Gim, dan Tcng Hiauw sebagai ahli waris Thay Kek Pay. Kalau Gak Koen Hiong dapat disingkirkan, di sebelah sakit hati dapat dibalas, itupun ada untuk keutuhannya Gie Hoo Toan. Apabila Gak Koen Hiong dibokong, itu ada tindakan memalukan, sebab orang Kang- ouw harus berlaku terus-terang. Lie Lay Tiong sendiri ada orang Kang-ouw dan ia tahu aturan atau adat-kebiasaan kaum Kang-ouw. Dan kalau orang banyak ketahui rahasianya Gak Koen Hiong, pasti dia kehiiangan simpatinya orang banyak.

Boe Wie dan Teng Hiauw mengerti mereka berikan janji mereka Bong Tiap nyatakan suka ikut, tetapi Tok-koh It Hang mencegah.

Jago tua ini anggap si nona kurang tepat dan berbahaya juga, kecuali bila sangat terpaksa. Cegahan ini bikin Nona Lioe tidak puas. “Kau orang pandang enteng padaku, lihat nanti!” kata ia dalam hatinya. Boe Wie dan Teng Hiauw pergi dandan, mereka mengenakan ya-heng-ie, pakaian malam warna hitam yang ringkas, lalu mereka pamitan dan bcrangkat Mereka keluar dari rumah dengan loncati tembok.

Tempat kediamannya Gak Koen Hiong ada bekas istananya satu pwee-lek, pangeran bangsa Boan, gedungnya besar, gentengnya genteng beling hingga sukar menaruh kaki di atasnya, saking licin. Di belakang rumah ada sebuah pohon lioe yang besar, tingginya tiga tumbak lebih dan doyong melewati tembok, maka itu, Boe Wie berdua loncat naik ke atas pohon itu.

Ruangan dalam ada sunyi, mclainkan dari sebuah kamar tertampak cahaya api. Di situ tak kclihatan seorang jua. Boe Wie hendak lantas loncat turun, tetapi kawannya mencegah.

“Sabar!” Teng Hiauw bilang, terus ia ini kcluarkan dua potong Kim-tjhie-piauw, ia lemparkan yang pertama, lalu scrang itu dengan yang kedua, hingga kedua piauw terbitkan suara nyaring, begitupun waktu dua-duanya jatuh ke tanah. Ilmunya Teng Hiauw ini disebut “Tjeng hoe hoan sin”, -Kodok hijau menyampaikan warta” – sama dengan kepandaian yang umum dari kaum Kang-ouw: “Touw sek boen louw”atau “Melempar batu untuk menanyakan jalan”.

Nyatajitu dugaannya Teng Hiauw. Setelah nyaringnya suara kedua piauw beradu, di atas genteng licin lantas muncul dua orang dengan pakaiannya hijau dan golok di pinggang, entah di niana tadinya mereka bersembunyi. Melihat mereka itu, Boe Wie jengah, untuk kesembronoannya.

Kedua orang itu heran, mereka dengar suara nyaring tetapi tidak lihat suatu apa, di situ tidak ada orang lain, mereka celingukan dengan sia-sia.

Teng Hiauw dan Boe Wie terus diam saja, hanya si orang she Teng keluarkan lagi dua batang piauw, ia pakai itu untuk timpuk itu dua tjintcng. Jarak di antara mereka cuma kira-kira lima tumbak. Ia incar tcmpil ingan dan tenggorokan orang.

Serangan ada mendadakan dan cepat sekali, dua tjinteng itu pun tidak menyangka, mereka kaget waktu kedua senjata rahasia menyambar, sebeium bisa kcl it, mereka sudah kena kesambar, tak sempat menjerit, keduanya rubuh dengan segcra, jatuh menggelinding. Tapi untuk cegah kedua tubuh jatuh di tanah, Teng Hiauw dan Boe Wie lompat, untuk menyambar, kemudian dengan masing-masing ikat pinggangnya, ia ikat tubuhnya mereka, untuk digantung di cabang pohon, hingga kedua tubuh itu jadi bergelantungan, mirip dengan setan-setan dari orang-orang yang mati gantung diri!

Habis itu, keduanya lompat pula ke genteng hijau itu, untuk maju. Walaupun genteng licin, mereka tidak nampak rintangan. Mereka punya Tieng-kang-soet, ilmu entengi tubuh, memang sudah hampir seratus bahagian sempuma. Mereka melewati belasan lauwteng, sampai tiba-tiba4i sebelah depan mereka berkelebat dua bayangan hitam, sama sekali mereka itu tidak menerbitkan suara apa-apa. Mereka lantas pasang mata.

Kedua bayangan itu, tjinteng atau pahlawan Istana Boan itu, rupanya tidak kenali orang ada kawan sendiri atau bukan, sambil siapkan pedangnya masing-masing, salah satu di antaranya menegur dengan kata-kata rahasia: “Akur atau padi?” Itu berarti, “orang sendiri atau bukan”.

“Akur! Perintah kemudi untuk jaga angin dan lihat padi!” sahut Boe Wie, yang kenal baik segala macam bahasa rahasia di kalangan Kang-ouw. Dengan “kemudi” diartikan “pemimpin”.

Untuk. mendapat kepastian, dua tjinteng itu bertindak maju, mendekati. Mereka ingin melihat tegas roman orang, buat menanyakan kcterangan terlebih jauh. Diam-diam Boe Wie telah siap, begitu orang sudah datang dekat, nba-tiba ia mencclat ke antara mereka, kedua tangannya digeraki ke kiri dan kanan, menotok masing-masing pinggang dari orang itu.

Dua orang itu tidak menyangka, cuaca pun gelap, mereka kena ditotok, hingga dalam sesaat juga, mereka jadi tidak berdaya, maka dengan duabuah pisau belati,Boe Wie terus tancap tubuh mereka di atas wuwungan.

-Bagus!” berseru Teng Hiauw dengan pujiannya melihat kesebatannya sang kawan.

-Tadipun kedua piauwmu scmpurna sekali!” Boe Wie balas rnemuji.

Keduanya tettawa dengan pclahan, sesudah mana, mereka maju lebih jauh, hingga mereka sampai di pcndopo, di mana ada cahaya api. Di sim mereka mendekam, untuk pasang

.kuping.

Dari pendopo terdengar suara dari orang-orang yang bicara dcngan asyik. “Katanya Lioe Kiam Gim murid kcpalanya, yang bernama Law Boe Wie sudah datang ke Pakkhia ini sejak bebcrapa hari, kabamya dia sungguh sangai lichay. tapi heran, sampai ini hari ndak terdengar suatu apa tentang gerak- geriknya,” demikian pemyataan satu orang.

“Biar gurunya mcnjclma pula, lata orang tak usah jcrih, apapula itu anjing cilikJ” kata satu suara lain. “Adalah Tok-koh It Hang, itu tua bangka. yang lichay, yang kita mesti awaskan benar-benar!”

“Hiantee, jangan kau angkat lain orang bcrbarcng menindih keangkeran sendiri!** terdengar suaranya seorang tua. “Buat apa kita jerihkan itu tua bangka barang sisa? Kita toh ada puny a Lhama Besar Kat Pou Djie dan Pa-touw-louw Tat Sip begitupun Toa-totjoe Kheng To Hoan dari Kaum Hay Yang Pang serta yang Iain-Iain lag,? Kita tak usah perdulikan Tok-koh It Hang atau Law Boe Wie, asal mereka berani datang, kita nanti hajar mereka hingga mereka tak dapat “tidak takut”

Namanya Boe Wie berarti “tidak takut”, maka itu, orang tua itu sengaja mengejek.

Boe Wie marah mendengar kejumawaannya orang, tangannya lantas meraba keluar beberapa potong pisau belati panjangnya tiga dim. la pernah jadi anggota dari Pie Sioe Hwee, Kumpulan Pisau Belati, dari itu, ia sukagunai pisau belati scbagai gantinya piauw. Dia mempunyai dua bclas potong pisau belati, untuk mana ia ada icrkcnal. Kemudian dengan merayap bagaikan cccak, untuk mana ia keluarkan kepandaiannya “Pek houwyoe tjiang”atau “Cccak memain di tcmbok”, ia maju dengan pelahan-lahan, untuk bisa mclihat ke dalam ruangan.

Di dalam ruangan itu ada bcrdudu k kira-kira sepuluh orang, tua dan muda, dan Gak Koen Hiong bercokol di tcngah- tcngah. Di kiri dan kanan, ada dinyalakan dua batang HI in besar.

Selagi Boe Wie mengawasi terus, tiba-tiba ia dengar salah seorang di dalam itu berteriak: “Ada penjahat!” Ia insyaf bahwa orang telah pergoki ia, akan tetapi, ia tidak takut, malah sebat sekali, tangan kanannya beruntun terayun, empat buah pisau belati segera melesat, masuk di antara jcndcla.

Dua pisau menyambar lilin hingga apinya padam, sebatang menyambar Gak Koen Hiong, hingga rarnbutnya dia ini sapat segumpal, tidak perduli dia mencoba berkelit, dan pisau yang keempat, yang dilipatkan sepotong kertas, nancap di atas meja sambil menerbitkan suara.

Menyusul serangan itu, dari dalam pun segera melesat beberapa rupa senjata rahasia, akan tetapi cepat luar biasa, Boe Wie dan Teng Hiauw sudah Ian naik ke, tengah genteng, hingga mereka luputdari ancaman bencana. Mengikuti berbagai senjata rahasia itu, beberapa orang loncat keluar dari jendela, untuk menyusul, dua di antaranya ada memegang masing-masing sebatang pedang panjang dan sepasang Koen-koan Pat-kwa-pay, hingga yang belakangan ini, dengan tamengnya itu, bisa punahkan pisau belati dan piauwnya Boe Wie dan Teng Hiauw.

Orang yang bersenjatakan pedang itu ada Sat Kie Khan, seorang dari suku Hwee-hwee. Dengan putar pedangnya dalam gerakan “Thian Liong Kiam-hoat” – ilmu pedang “Naga Langit”, ia menerjang ke arah Boe Wie. Ia telah sampai dengan cepat dan pedangnya terus saja bekerja.

Boe Wie sudah siap, ia berkelit dengan gunai ‘Tang hong hie lioe”atau “Angin timur permainkan cabang yanglioe”, menyusul itu ia balas menikam dengan “Sian djin tjie louw” atau “Dewa menunjuki jalanan”. Di antara sinar pedangnya lawan, ia arah tenggorokan orang.

Sat Kie Khan ada berani dan liehay, ia tidak berkelit, ia tidak mundur, hanya memutar tangan kanannya, dengan “Sin hong tiauw sioe” atau “Naga melaikat menggoyang kepala”, iamenangkis. hingga kedua pedang bentrok dengan keras, menerbitkan suara nyaring, sedang telapakan tangannya masing-masing, pada menggetar dan sesemutan saking kerasnya bentrokan itu. Tapi ini pun menyatakan kedua pihak mempunyai tenaga berimbang.

Di lain pihak, Teng Hiauw yang melayani musuh yang bersenjatakan sepasang tameng, mendapat tandingan yang setimpal, dari itu, mereka juga bisa bertempur dengan scru. Lawan itu ada Low Hoay Liang, cucunya Keluarga Low dari Shoasay, yang kesohor untuk Tjap-djie-louw Koen Goan Pat- kwa-pay, ialah ilmu mcmainkan tameng kecil dalam duaj belas jalan. Dia tersesat sadari masih muda, ia telah menjadi begal, belakangan karena ajakan satu sahabat, ia masuk ke dalam Istana Boan dan menjadi satu wie-soe, pahlawan, kemudian dari pahlawan biasa, ia menjadi twie-thio, kapten, hingga ia jadi semakin malang-melintang. Ia bersedia mati-matian untuk Kerajaan Tjeng.

Dengan sepasang Pat-kwa-paynya, Low Hoay Liang arah batok kepala orang.

Tcng Hiauw insyaf tenaga yang bcsar dari orang itu, bahwa turonnya tamcng itu ada tujuh atau dclapan ratus kati beratnya, dari itu, ia tidak hcndak adu tenaga. Ia bertindak dengan “Liong heng hoei pou” atau “Tindakan naga terbang”, ia berlindungdi bawah tamcng, lantas ia putar tubuh, akan balas menikam. Pcdangnya bersinar, sasarannya adalah jalan darah “Hong-boen-hiat” di bebokong.

Low Hoay Liang bukannya scorang lemab, melihai serangannya tidak membcrikan hasil, ia lantas mengerti keadaan, dari itu, ia putar tubuhnya, ia angkat pula kedua tamengnya, laiu dengan “Shia pek Hoa San”, atau “Sambil miring menggempur Gunung Hoa San”, ia bajar pedang orang. Secara begini ia hcndak punahkan tikaman musuh.

Teng Hiauw tarik puiang pedangnya antok ditcruskan membabat kepada kedua kakinya or•ang, ia mendak sambil menggunai ilmu pukulan “Tong long thian pek” atau “Cengcorang pentang tangan”.

Low Hoay Liang ada awas dan gesit, ia insyaf gerakan musuh sclanjutnya. maka itu, setelah menggempur dengan sia-sia, ia bergerak di dua jurusan dengan berbarcng. Dengan tameng kanan, ia menangkis, dengan tipu silat’Tjiang koen hee ma” atau “Jenderal turun dari kuda”, dengan tameng kiri, dengan “Heng sauw tjian koen”, atau

“Menyapu ribuan serdadu”, ia serang pinggang orang! Gusar sckali Teng Hiauw apabila ia lihat serangan hebat itu,

ia tarik pcdangnya, ia loncat mundur, sesudah mana. ia ubah

caranya bcrsi lat. Ia maju sambil putar pedangnya, hingga cahayanya berkilauan. Dengan “Pek hoo thian tjie” atau “Burung hoo putih pentang sayap”, ia tusuk iga lawan. Serangan ada sangat cepat, Low Hoay Liang sampai tak sempat tarik puiang atau putar dua-dua tamengnya, untuk menangkis, maka itu, tidak ada jalan lain, terpaksa ia lompat mencelat, mundur jauhnya bebcrapa tindak.

Ini saat yang baik, Teng Hiauw tidak hcndak sia-siakan, ia sudah pikir untuk mcndcsak terlebih jauh, atau dengan sekonyong-konyong ia dengar seruannya Law Boe Wie: “Adik Hiauw, lekas mundur!”

Ternyata, waiaupun mereka berdua bertempur cepat sekali, tctapi Iain-Iain musuh telah keburu mendatangi, mclihat mereka itu. Boe Wie pikir untuk tidak melayani terlebih lama pula, karena nyata sekali, dua musuh ini saja sudah cukup tangguh. Ia anggap ada berbahaya untuk bcrlaku ayal-ayalan, dari itu, ia berikan tandanya itu, ia sendiri segera loncat mundur, akan tinggalkan musuhnya. Teng Hiauw mengerti, ia juga sudah lantas angkat kaki. Berdua mereka lari di atas genteng yang licin itu, dengan gunai ilmu lari “Pat pou kan sian” atau “Dengan delapan tindak mengejar tonggeret”.

Mereka melesat dengan cepat; di belak’ang mereka, musuh- musuh mereka telah mengejar. Mereka sudah masuk jauh ke dalam sarangnya Gak Koen Hiong, meski juga mereka sudah bisa lewati belasan undakan, mereka tak lantas sampai di luar kalangan.

Benar selagi mereka hampir keluar dari tempat kediamannya Gak Koen Hiong, tiba-tiba di bawah rumah terdengar seruan riuh, yang disusul sama loncat naiknya beberapa orang yang bertubuh besar, yang semua mencckal golok dan pedang, malah antaranya ada yang membentak: “Bangsattikus,jangan lari!”

Dua orang bertubuh besar, dari rombongan tjinteng, yang giliran menjaga malam itu, lagi meronda sampai di pohon yanglioc ketika, selagi dongak ke atas mereka lihat dua bayangan terayun-ayun. Cahaya bintang dari rcmbu I an sisir ada guram, dari itu, mereka tidak bisa melihat nyata, maka satu di antaranya segera loncat naik ke pohon untuk melihat tegas, tapi begitu ia lihat kedua sejawatnya, ia kaget sampai ia rubuh sendirinya, dari mulutnya keluar jeritan hebat.

“Apakah itu?” tanya kawannya, yang datang untuk menolong. “Itulah dua kawan kita, yang tergantung,” sahut ini tjinteng, yang masih mesti tetapkan hati. “Mereka ada gagah, cara bagaimana mereka bisa tergantung di situ? Tentu ada orang jahat yang telah datang kemari….” ia lantas saja tiup suitannya. Selagi mereka sibuk dan mcmikir-mikir mereka yang lainnya, sesudah mana, mereka kasih turun tubuhnya dua kawan yang bercelaka itu, yang lidahnya telah menjulur, napasnya berhenti jalan, hingga dia orang itu tak dapat ditolong pula.

Selagi mereka sibuk dan memikir untuk pergi can’ si orang jahat, mereka lihat beberapa bayangan berlari-lari, seperti saling mengejar, karena mendugajelek, beberapa yang pandai ilmu entengi tubuh segera loncat naik ke atas genteng, untuk memegat. Secara demikian, Boe Wie dan Teng Hiauw jadi kena terhalang. Atas ini, berdua mereka jadi mendongkol.

“Jangan pegat kita, atau kau orang akan mampus!” keduanya membentak seraya mereka lompat maju, untuk mendahului menerjang.

Dua tjinteng, yang tak segagah Sat Kie Khan dan Low Hoay Liang maju menyerang, akan tetapi dengan cepat, mereka kena didesak, tetapi, karena mereka tidak dapat segera dirubuhkan, di sebeiah belakang, Sat Kie Khan dan Low Hoay Liang telah keburu datang menyusul, maka Boe Wie ada mendongkol terhadap perintangnya itu, ia lantas mendesak dengan hebat sekali, pedangnya menyambar bagaikan melesatnya anak panah, ia arah dadanya orang. Tjinteng itu terdesak, ia hendak berkelit ke samping, akan tetapi sedangnya ia tangkis pcdang. tahu-tahu tangan kirinya Boe Wie, yang menggunai tipu silat “Kim pa tam djiauw”, atau “Macan tutul mengulur cengkraman”, sudah mampir di iganya dcmikian hebat, sampai tulang-tulang iganya pada patah; dia pun muniah darah, tubuhnya rubuh dengan segera, jiwanya turut melayang. Adalah di itu waktu, pedangnya Sat Kie Khan pun datang menyambar!

Diancam bahaya itu, Boe Wie tidak sempat putar tubuh untuk menangkis atau berkelit ke samping, ia jatuhkan diri ke depan, untuk tengkurap, sesudah mana, ia teruskan bergulingan dengan tipu “Koen tee long” sampai jauhnya belasan tindak.

Ia hadapi ancaman bencana dan inilah cara satu-satunya untuk tolong diri.

Pedang musuh pun hampir saja babat kedua kakinya.

Bukan kepalang mendongkolnya Sat Kie Khan karena musuh itu bisa loloskan diri, tapi keiika ia menoieh pada kawannya, Low Hoay Liang, ia terperanjat, sebab kawan bukannya dapat desak musuh seperti dia, kawan itu justeru telah rubuh di tangannya Teng Hiauw -kena tertendang hingga rubuh bergulingan jatuh ke bawah, ke tanah!

Low Hoay Liang sangat andalkan sepasang tamengnya, apabiJa setelah ia berhasil mendesak musuh hingga musuh angkat kaki, dari itu, setelah dapat mencandak. ia segera serang Teng Hiauw. Ketika itu orang she Teng ini terpisah dari Boe Wie kira-kira setumbak lebih, ia dipegat oleh dua tjinteng Iain, yang kepandaiannya lebih rendah lagi daripada yang pegat Boe Wie, rupanya dia yang dicegat, karcna ia tidak beroman bengis sebagai orang she Low itu; scbaliknya ia ada cakapdan kelihatannya lemah sebagai anak sekolahan. Ten tu saja mcreka ini tidak sangka, boegeenya Teng Hiauw tidak ada di bawah boegeenya Boe Wie, hingga mereka telah menyangka kcliru. Malah dalam ilmu silat Thay Kek, Teng Hiauw ada terlebih pandai.

Dua tjinteng itu masing-masing menggunai golokdan Thic- tjio, ketika keduanya maju memegat, Teng Hiauw bersikap tcnang, ia awasi gerakan senjata orang itu. Penyerang dengan Thie-tjio adalah yang maju di muka. Dengan sebat Teng Hiauw menangkis, ia memapas ruyung besinya orang itu yang bercagak di gagangnya.

Musuh itupun gesit. Ia menyerang dengan tangan kiri, jika serangan itu ditangkis, ia barengi menyerang dengan tangan kanan.

Tapi Teng Hiauw ada tangkas luar biasa, ia tarik pedangnya untuk diteruskan dipakai membabat lengan kanan orang itu.

Musuh berlaku kurang gesit, tidak ampun lagi, lima jari tangannya kena terbabat, ia rasakan begitu sakit, sampai ke ulu hatinya, di antara jeritannya, senjatanya terlepas, tubuhnya turut rubuh sendirinya, menggelinding diatas genteng, jatuh ke bawah.

Justeru musuh itu rubuh, kawannya pun maju, dia menyerang sambil membentak, goloknya dari atas turun ke bawah, Teng Hiauw tidak perdulikan bentakan orang itu, ia kelit ke samping, ia menangkis.

Tapi musuh mengegoskan tubuhnya sambil terus iompat ke depan, hingga ia berada di sebelah belakang dari mana ia menusuk bebokong orang itu. Ia telah gunai tipu silat “Ya tjee tam hay” atau “Hantu menjelajahi lautan”.

Melihat ancaman bahaya itu, Teng Hiauw Iompat akan jauhkan diri, ia gunai “It hoo tjiong thian” atau “Seekor burung hoo menyerbu langit”, ia loncattinggi setumbak lebih, dengan begitu golok musuh mengenai tempat kosong. Ketika ia putar tubuh, akan pandang musuh itu, ia tertawa terbahak-bahak.

Adalah maksudnya orang she Teng ini, untuk maju menghampirkan musuh, tapi justeru itu, dari belakang ia, ia dengar bentakan: “Bocah, dengan tak meninggalkan tanda mata, cara bagaimana kau hendak berlalu dari sini?Jagalah!”

Dan suara itu disusul sama sampainya orangnya, senjatanya siapa juga terus menyambar. Itulah Low Hoay Liang, yang baharu sampai. Teng Hiauw mengetahui ada serangan gelap, tanpa menoieh lagi, ia •oncat ke depan, setelah lolos dari

serangan, cepat ia memutar tubuh maka di lain saat, karena musuh merangsang ia, ia sudah mesti melayani musuh baru ini. ia tahu senjatanya musuh ada berat, ia melayani dengan hunjuk kegesitannya, kelemasan semua gerakannya, dengan berlompatan ke segala penjuru, ia bikin musuh seperti kabur matanya.

Low Hoay Liangjadi mendongkol, terutama belum pernah ia berhasil menyampok pedang musuh, karena gusar, ia berkelahi dengan hebat sekali, ia keluarkan kepandaiannya, terutama ia arah kedua iganya orang itu, paling belakang ia gunai pukulan “Tiatsiauw heng tjoe” atau “Dengan rantai besi melintangkan perahu”. Ia percaya, sekali ini iabakal berhasil. Ia pun telah menggunakan tenaga sepenuhnya.

Teng Hiauw lihat datangnya bahaya, tetapi justeru musuh berlaku bengis, ia hunjuk keberaniannya luar biasa. Untuk menyingkir dari gencatan itu, ia tidak loncat tinggi mengapungi diri, ia tidak loncat mundur, ia hanya buang tubuhnya ke belakang, melenggak, kedua kakinya tctap, cuma dengkulnya ditekuk. Ini adalah tipu silat “Tiat poan kio” atau “Jembatan papan besi”. Tubuhnya jadi telentangsebatas dengkul, kedua tameng lewat di atasannya; ia telah luputkan diri dari serangan, tapi berbareng dengan itu, selagi kaki kirinya ditangkap, kaki kananriya diangkat, dijejaki ke depan, hebat sekali.

Jejakan ini jitu mengenai dengkulnya musuh, maka tidak tempo lagi, gugurlah kuda-kuda Low Hoay Liang; tubuhnya scgera terbalik ke belakang, mbuh bergulmg, tergelincir jatuh ke bawah genteng! Itulah kejadian pada saat Boe Wie bergulingan sesudah mana, ia loncat bangun, untuk balas mcnyerang, atas mana, Sat Kie Khan mcnangkis, hingga kedua pcdang saling bentur dcngan keras. Orang Hwee-hwee itu terperanjat apabila ia lihat kawannya rubuh. Boe Wie lihat lawan itu bengong, cepat sekali, ia maju pula, akan menyerang kembali. Ia gunai tipu tikaman “Ular putih scmburkan bisanya”. Sasarannya adalah pundaknya musuh. Sat Kie Khan tidak tanckis scrangan itu, ia berkelit ke samping. tapi justeru ia mengegoskan tubuh, Boe Wie membarangi loncat melewati ia, lawannya ini terus lari ke arah pohon yanglioe, dia loncat ke pohon itu untuk keluar seperti tadi ia dan Teng Hiauw datang.

Teng Hiauw sendiri sudah mendahului, ia menyingkir dcngan lewati pohon itu juga, hingga di lain saat, mereka sudah berada di luar pekarangan. Sat Kie Khan tidak sempat tengok kawannya yang rubuh, bersama dua tjinteng lain, ia mcngubcr ke pohon yanglioe, sesampainya di situ, ia dapatkan kedua musuh sedang berdiri di tanah, melambai-lambaikan dia, yang ditantang untuk turun, buat mereka melangsungkan pertarungan mereka.

Ia tidak takut, ia berniat loncat turun, untuk menghampiri mereka, akan tetapi, baharu ia berniat, tahu-tahu pisau belati dari Boe Wie dan Kim-tjhie-piauw dari Teng Hiauw, telah menyambar saling susul terhadapnya, hingga ia repot menangkis dan berkelit, untuk luputkan diri dari serangan kedua rupa scnjata rahasia itu.

Sesudah itu senjata rahasia yang lolos mengenai cabang pohon, sampai ada cabang yang patah dan jatuh; Kedua tjinteng, karena kurang jeli mata dan gesit tubuh telah terkena piauw pada jidatnya, hingga mereka mandi darah. syukur serangan tidak hcbat, mereka pun tidak terluka parah.

Kembali serangan pisau belati dan piauw datang menyambar, mclihat mana, Sat Kie Khan jadi berkuatir. Di atas pohon, ia tidak bisa bergerak leluasa seperti di atas genteng, dia menangkis, dia mengegosi tubuhnya, wah alangkah sibuknya ia! Dua kawannya sudah tidak berdaya.

Selagi ia bersangsi untuk maju atau mundur, serangan berhenti, sebagai gantinya, ia dengar suara tertawa, yang makin lama jadi makin jauh. Ternyata, Boe Wie dan Teng Hiauw telah angkat kaki, lenyap dalam kegelapan. Orang Hwee-hwee ini melengak. Ia tidak nyana, istana yang terjaga kuat itu seperti guha harimau dan kedung naga, sekarang musuh permainkan seperti tanah dataran saja.

Gak Koen Hiong gusar sekali apabila ia telah melakukan pemeriksaan. Sama sekali ada lima korban jiwa dan empat korban luka, dan dari yang ke-4 itu, satu bercacat hebat. Semua korban ada korban-korban pisau belati dan Kim-tjhie- piauw, kecuali yang Boe Wie hajar dengan tipu pukulan Kim- na-tjhioe. Low Hoay Liang tidak. sampai terbinasa, akan tetapi ia terus merintih saja, begitupun yang sapat lima jari tangannya. Yang bikin ia sangat malu dan sakit hati adalah rambutnya sendiri kena terbabat segumpal.

Dan akhirnya, ada itu surat yang Boe Wie tinggalkan: Itu ada tantangan untuk pieboe, adu kepandaian, untuk orang she Law itu mcnuntut balas bagi gurunya.

Maka itu, itu malam juga, Koen Hiong lantas bikin persiapan akan sambut tantangan Boe Wie. Boe Wie berdua Teng Hiauw pulang dengan selamat, apabila mereka sudah berikan laporan ten tang apa yang mereka barusan kerjakan, Tok-koh It Hang semua menjadi girang sekali.

Lantas bcsoknya pagi, Tok-koh It Hang bersama-sama Siangkoan Kin, TJiong Hay Peng, Lauw In Eng, dan yang Iain- lain, pergi menghadap Lie Lay Tiong, untuk beritahukan bahwa orang-orang yang celakai Lioe Kiam dm dan Tjoh Ham Eng ada konco-konconya Gak Koen Hiong. Dhmjuk penyelidikan telah dilakukan oleh Teng Hiauw, ahli waris Thay Kck Pay, dan murid dan puterinya Lioe Kiam Gim Bahwa hal itu telah menerbitkan kemurkaannya kaum Kang-ouw, hingga orang meminta keadilan. Mereka bertanya, ketua itu hcndak ambil tindakan apa.

Sebenarnya Lie Lay Tiong hendak mencegah bentrokan itu, akan tetapi orang telah desak ia, malah Tok-koh It Hang kata: “Coba pikir! Lioe Loo-kauwsoe ada seorang kenamaan dalam kalangan Rimba Persilatan, dia terbinasa secara gelap, tapi sekarang telah dapat diketahui, dia terbinasa di tangannya orang sebawahanmu, dari itu, sudah kau tidak ambil tindakan menghukum orang yang bersalah itu, apa mustahil kau juga hendak cegah orang mcnuntut balas? Maka dia kehormatan Kang-ouw kebijaksanaannya? Lioe Loo-enghiong juga telah bantu banyak pada kau, jikalau kau antap dia tcraniaya, apakah Iain-lain, orang tak akan tawar hatinya terhadap kau?”

“Teng Hiauw baharu saja mewariskan Thay Kek Pay,” kata Tjiong Hay Peng yang berterus terang, “apabila dia tidak membalas sakit hatinya soepehnya, mana dia ada punya muka untuk ketuai kaumnya itu? Laginya, diajuga ada cucu mantu dari Ketua Bwee Hoa Koen, maka bagaimanakau bisatinggal diamsaja?” Lie Lay Tiong bersangsi.

Sebenamya ia tidak niat melindungi Gak Koen Hiong, kalau ia hendak cegah bentrokan, itu disebabkan ia kuatir pada itu kctua muda yang berpengaruh, tetapi sekarang, ia kena didesak, ia tidak mampu kemukakan alasan yang kuat untuk menolak iebih jauh. Ia juga kuatir, apabila ia menolak, benar- benar nanti orang berhati tawar terhadap gerakannya .

Sementara itu, dari pihaknya Gak Kocn Hiong, juga ada dcsakan “minta keadilan”. Gak Kocn Hiong tidak puas, dia setuju picboc. Malah dia mengharap Lie Lay Tiong nanti bantu pihaknya.

Maka akhirnya, ketua ini mengalah, ia an tap mcrcka itu cari keputusan sendiri.

Pembicaraan telah selesai sesudah dua-tiga hari orang mondar-mandir antara kedua belah pihak, dengan Lie Lay Tiong berada di tcngah. Sebab dua-dua pihak ada banyak kawannya, diputuskan untuk mcndirikan panggung loeitay, panggung piranti adu kepandaian, supaya orang bertempur satu Iawan satu dan tidak mengeroyok, dan pieboc baharu berhenti setelah ada salah satu pihak yang menyerah kaiah. Kota Pakkhia telah jatuh di bawah pengaruh Gie Hoo Toan dengan Lie Lay Tiong yang mengizinkan mendirikan loeitay. sehingga tidak ada pembesar Boan yang bcrani mencegah.

Hari telah dipilih, dan tempat pie-boe sudah ditetapkan, ialah tanah lapang yang luas dari Gie-lim-koen, tentara kerajaan, yang bisa muat dua sampai tiga puluh ribu orang.

Dcmikian, setelah ada keputusan,. kedua pihak lantas bersiap-siap; terutama untuk cari kawan-kawan yang gagah dari segala penjuru negeri. Di harian yang telah ditetapkan, tanah lapang jadi penuh dengan banyak or•ang, dari pihak yang berkepentingan, terutama mereka yang hendak menonton saja; orang-orang pdmerintah Boan tidak terkecuali.

Loeitay yang didirikan berukuran tinggi satu tumbak delapan kaki dan lebar tujuh tumbak dua kaki persegi, maka di situ pastilah orang akan leluasa bersilat dengan tangan kosong, maupun dengan senjata, pedang dan tumbak. Di situ pun orang bisa perlihatkan “Tjeng-kang-soet” atau ilmu entengi tubuh atau kegesitan gerakan. Di samping kanan dari loeitay ada didirikan satu panggung lain, yang kecil, untuk juru pemisah.

Benar pertandingan tidak memperdulikan orang-orang yang terluka ataupun binasa, tetapi mesti ada kctetapan siapa mcnang dan siapa kalah.

Sebagai juru pemisah, Lie Lay Tiong angkatdua orang ialah guru silat kesohor di Pakkhia, Yo Kong Tat, dan soetee dari Kiang Ek H ian, Ketua dari Bwee Hoa Koen, ialah To Poet Hoan. Kedua mereka ini ada kenamaan dan ada dikenal oleh kedua belah pihak,. sebaliknya mereka tidak memihak kepada salah satu dari dua rombongan yangsaling bertentangan itu. Mereka pun ada mewakilkan, satu bagi kalangan guru-guru silat, dan yang Iain untuk kaum Gie Hoo Toan sendiri. Di samping kiri loeitay ada didirikan ranggon lonceng, gunanya ada sebagai tanda permulaan dan keberhentian atau penundaan, umpama ada satu pihak yang kalah dan jatuh, lain pihak tidak boleh menyusul untuk menyerang terus.
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Dua Saudara Seperguruan Jilid 09"

Post a Comment

close