Bujukan Gambar Lukisan Jilid 30

Mode Malam
Jilid 30 : Menyerbu istana Pangeran Ho-sek

Sin Gan kaget, inilah ia tidak sangka, la lantas bertindak cepat sekali. Ia berkelit seraya mementang kedua tangannya.

Tiong Hoa menyerang pula, ketika inipun gagal, ia menyerang untuk ketiga kalinya, ia mendesak hingga pahlawan istana itu mesti terus main menyingkirkan diri.

Luar biasa serangan si anak muda. Tangan kanannya tetap tak bergerak. tangan kanan itu tetap menutup diri, adalah tangan kiri- nya, dengan jerijinya, yang menotok saling-susul itu. Dan memang benar, ia selalu bersilat dengan ilmu silat Thay Kek Pay. Yang aneh ialah kegesitannyaitu. Liong Hoei Giok menyaksikan dengan perasaan sangat puas. Ia memuji didalam hatinya: "Tak kecewa dia menjadi seorang jago muda, sekalipun ilmu silat partaiku dia dapat menelad dengan baik sekali."

Sin Gan membuka lebar matanya, ia mulai mengerahkan tenaganya. Tidak dapat ia main acuh tak acuh lagi. Sekarang ia, mulai membalas menyerang, dari perlahan rampai jadi cepat, dari kendor hingga menjadi keras.

Tiong Hoa berlaku gesit dan lincah. Ujung bajunya memain berkibaran. Jangan kata tubuhnya, bajunya pun tak dapat disentuh Bouw Sin Gan, hingga akhirnya dia ini menjadi mendongkol dan kata dalam hatinya saking dengki: Mana dapat aku membiarkan bocah ini mengangkat nama"

Karenanya dia tertawa lebar dan kata dengan mendadak:

"Kongcoe, sambutlah tanganku"

Dan tangan kanannya terus meluncur dengan tenaga tujuh bagian-

Tiong Hoa menyambut serangan itu dengan nadanya dibikin kosong dan tangan kanannya memapaki, dengan begitu kedua tangan mereka beradu keras.

Kesudahannya itu yalah tubuh Bouw Sin Gan limbung sedang si anak muda terhuyung mundur tiga tindak. mukanya merah dan napasnya memburu.

Mulanya Hoei Giok kaget, habisnya ia tertawa dalam hatinya: "Sungguh cerdik Lie Kongcoe, Dia dapat bersandiwara sempurna sekali. Jikalau aku bukannya telah mengenal dia, pasti aku pun kena diabui..." Sin Gan berkata cepat: "Aku kesalahan menggunai tenagaku terlalu keras Apakah kongcoe terluka?"

Hoei Giok tertawa.

"Oh. tidak. tidak." sahut si anak muda dengan air muka jengah. Sin Gan berpaling pada tuan rumah.

"Lie Kongcoe berlebihan kegesitanny a," kata dia tertawa. "cuma latihan tenaganya yang masih kurang. Tapi dia masih muda sekali dia sudah memiliki kepandaiannya ini, dia tak dapat dicela."

"Kau telah membikin kaget Lie Kongcoe Bouw Hian- tee" katanya. "Maka itu besok malam kau harus didenda dengan sebuah pesta."

"Itulah pasti" sahut Sin Gan, juga tertawa. Dia berhenti sejenak, untuk terus menambahkan- "Besok aku akan menantikan kongcoe serta tayjin dirumah makan Lioe Hiang Kie"

Tiong Hoa berniat mencegah tetapi Liong Hoei Giok telah mendahului ia dengan memberikan jawabannya: "Apakah cuma kami berdua? Selayaknya diundang terlebih banyak tetamu lainnya"

Sin Gan pun menyahut cepat: "Aku gemar keramaian, maka tak usahlah tayjin memesan lagi, pasti aku akan membuat tayjin puas"

Demikian ujian disudahi, lalu mereka kembali kedalam untuk duduk memasang omong sambil minum teh. Tapi Bouw Sin Gan tidak berdiam lama, ia lantas berbangkit untuk pamitan-

Begitu mengantarkan tetamunya pergi, Hoei Giok berbisik pada sipemuda: "Aku tanggung besok malam dia bakal roboh dalam perangkapku" Dengan berbisik juga. Ia menjelaskan tipu dayanya. Tiong Hoa mengerti, ia bersenyum.

Hoei Giok mengurut kumisnya, ia bersenyum seraya berkata pula: "Dengan siasat demikian rupa, kongcoe akan berhasil membawanya ke Tay In San supaya Kang Ban ceng dapat mencari balas dengan membunuh musuh dengan tangannya sendiri. Dengan begitu juga setan sekalipun tak akan mengetahui perbuatan kita."

"Dasar Tayjin pintar, aku kalah" kata si anak muda dengan pujiannya.

"Sekarang silahkan kongcoe pulang," kata Hoei Giok kemudian- "Ayah kongcoe sangat rindu kepada kongcoe. Aku pun harus menghadap Pangeran Tokeh. Tentang kembalinja cangkir kemala sedikitnya selama dua tiga hari ini belum boleh ada yang mengetahui."

Tiong Hoa menurut, maka ia pamitan, dengan duduk kudanya perlahan-lahan ia menuju kegang Kim Hie Ho tong.

Malam itu rembulan jernih sekali, jalan besar terang. Disana kaki kudanya si anak muda terdengar bertindak nyata. Tapi anak muda itu berjalan pulang dengan hati tidak tenteram. Ia percaya dirumahnva ia bakal disambut dengan wajah yang dingin yang ia paling jemu melihatnya yang toh ia mesti menemuinya ...

Hanya sejenak itu, buat kesekian kalinya Tiong Hoa membayangi saat dia buron karena ia kesalahan membinasakan Goei Loo-hoeeoe, si pemegang kas. hingga dia membayangi juga seperti setannya pemegang kas itu datang menagih jiwa padanya.

Tepat ia menghela napas karena berdukanya. Tiong Hoa sampai dirumahnya didepan pintu sekali. Pintu rumah bercat merah dengan gelangnya dari kuningan- Dikiri dan kanan- ada singanya yang terbuat dari batu. la mengawasi pintu dan singa-singaan itu, otaknya memikir mengingat-ingat. Ia duduk bercokol diatas kudanya. Selang sesaat barulah ia turun dengan perlahan dari pelananya. Ia menghampirkan pintu untuk mengetuknya dua kali.

Justeru itu di pojok samping berkelebat dua bayangan orang yang lantas lenyap. Ia terkejut. Ketika itu ia mendengar suara kentongan si orang ronda. Itu waktu sudah jam tiga. Karena, heran- ia kata: "Sudah malam begini didalam kota ini masih ada orang Kang ouw berkeliaran entah mereka itu bermusuhan dengan keluarga mana.."

Meski begitu ia tak memikir usilan- la hanya heran ia tidak mendapat jawaban- la mengetuk pula beberapa kali dengan terlebih keras.

Dengan mendadak dari dalam terdengai suara jawaban yang berat: “Siapa itu diluar." Kenapa tengah malam buta rata mengganggu ketenteraman orang?"

Si anak muda melengak herannya bukan main- "Apakah Lie Hok sudah menutup mata?" pikirnya. Lie

Hok itu bujang tua yang bertugas menjaga pintu. Kenapa sudah tukar pengawal pintu? la merasa tidak puas. Ia paling benci orang tukang bermuka muka.

"Aku" ia menjawab, suaranya kaku. Tak-biasa ia tak mengutarakan kemendongkolan-nya. Ia menjawab sambil mengangkat kepalanya. Ketika itu sinar matanya bentrok dengan sinar sepasang mata tajam diatas tembok. Ia jadi semakin heran. Dari dalam lantas terdengar suara kasar: Aku memang tahu itulah kau Memangnya kau bukannya si anak haram?"

Berbareng dengan itu daun pintu lantas terbuka dengan cara mendadak. dari sebelah dalam terlihat keluarnya dengan cepat seorang yang bertubuh besar dan kekar. Tiong Hoa gusar sekali, maka ia menyambut dengan tangan kanannya.

Satu suara nyaring lantas terdengar, pipi kiri orang itu berkenalan keras dengan telapak tangan si pemuda hingga dia terpelanting dan matanya kabur. Dia kaget dan merasa sangat nyeri dan panas. Karena itu. ketika dia sudah dapat berdiri tegaki dia lompat maju sambil menyerang dengan jurusnya Jit Goat Jip Hoay atau Merangkul mata hari dan rembulan- Hebat serangan dua buah tangannya itu.

Tiong Hoa menyambut dengan tangan kanan. ia menangkap tangan kiri orang, terus ia memencet jalan darah wan- hok, sedang tangan kirinya menangkis menyentil tangan kanan orang itu. Dia itu kesakitan, dia menjerit.

"Manusia kurang ajar" membentak Tiong Hoa, yang terus menolak seraya melepaskan cekalannya, hingga orang terpelanting roboh dengan pingsan-

Menyusul itu, dari atas tembok terlihat empat bayangan orang berlompat turun, satu diantaranya berkata dingin: "Tuan kau, liehay sekali, akan tetapi didepan gedung Siang sie-hoe kau bertingkah, kau cari mampusmu sendiri" Tiong Hoa berlaku sabar, ia mengawasi keempat orang itu. la mendapatkan orang semua berseragam seperti centeng, sedang yang berbicara itu berumur empatpuluh lebih, romannya garang.

"Apakah kamu tidak dengar, mulut dia ini tidak bersih?" ia balik menegur. "Apakah dia tak pantas dihajar adat?"

"Meski benar dia bermulut kotor," kata orang itu, yang tertawa dingin, tetapi kau tuan, tengah malam begini kau menggedor pintu, mau apakah kau? Sekarang aku minta kau suka memberitahukan she dan namamu serta asal- usulmu juga." suara itu berubah sedikit tetapi nadanya tetap dingin.

Tiong Hoa bersenyum.

"Tentang asal-usulku, sebentar kau akan ketahui sendiri" ia jawab. Ia lantas bertindak. untuk terus masuk kedalam. "He, kau berani lancang masuk?" orang itu membentak.

Tiong Hoa tidak menghiraukan teguran, tetapi ia melihat pundak orang terangkat. Ia tahu orang hendak menyerang padanya. maka ia menggeser tubuhnya.

Dengan tangan kanannya ia memapas, guna menyambuti tangan orang itu.

Orang itu terkejut. Dengan cepat dia mengasi turun tangan, untuk menyingkir dari tabasan- Sebaliknya dengan tangan kirinya dia menyerang pula.

Tiong Hoa heran- orang itu bukan sembarang orang. Keempat kawannya orang itu nampak sudah siap sedia untuk turut turun tangan- Karena ia mau menyangka mereka menjadi centeng ayahnya, ia tidak mau berlaku keras, habis menangkis ia mendesak. Kata ia bengis: " Kalau kau berani main bokong pula, jangan kau menyesal siauwya kamu, bakal menghukum kamu"

Mendengar demikian, orang itu berlompat Mundur.

Tiong Hoa melihat dia mengawasi seorang yang bertubuh kurus dan jangkung yang tak ketahuan lagi kapan dan dari mana datangnya. Dia itu tahu-tahu berada didepan tiga orang lainnya.

Dia memiliki sepasang mata tajam. dia bersenyum tapi bersenyum bengis, kulit mukanya putih pucat dan dingin.

"Ah, jangan-jangan dialah orangnya Sin Gan yang diperintah mengawasi pulang ku ..." akhirnya Tiong Hoa pikir, ia mulai bercuriga. ia bersyukur barusan ia bersilat dengan ilmu silat Thay Kek Pay. hingga ia tak usah kuatir rahasianya pecah.

Orang jangkung kurus itu mengawasi tajam, mendadak dia berlompat mundur. untuk naik keatas genteng, hingga dilain saat dia sudah lantas lenyap.

Ketika itu orang yang semaput sudah mendusin sendirinya, ia bangun berdiri, ia menjublak mengawasi kawan-kawannya. Hingga mereka jadi saling memandang tak hentinya.

Selagi kedua pihak berdiri diam itu. hingga suasana menjadi sunyi tetapi tegang, dari dalam terlihat seorang yang melongok diantara sela pintu. Dengan mata kesap- kesip. dia mengawasi si anak muda, akan akhirnya dengan mendadak dia memanggil dengan berseru: "oh, Jie siauwya pulang"

Lantas dia lari keluar, untuk merumuni si anak muda, guna menyambar tangannya. Dia tak sempat bicara lebih jauh, karena dengan tubuh menggigil, dia lantas menangis terisak-isak.

Kejadian itu membikin tercengang, para centeng itu, mereka kaget dan bingung hingga kembali mereka saling mengawasi dengan menjublak -saja.

ooooo

TIONG HOA terharu menyaksikan lagaknya hamba tua yang setia itu, Memangnya, dengan budak itu, ia erat sekali pergaulannya, hingga mereka mirip ayah dan anak. Didalam gedung itu cuma Lie Hok yang paling menghormati dan memperlakukannya dengan telaten- sekarang terbukti tegas kesetiaannya budak itu. Lama majikan muda ini berdiam saja, lalu ia tertawa. "Lie Hok"

"katanya. "Aku pulang. sudah selayaknya kau bergirang Kenapa kau justeru menangis?"

Lie Hok mengangkat kepalanya, ia menyusut air matanya. Ia tertawa.

"Ooh Jie-siauwya," katanya, masih ia terharu. “Hambamu melihat Jie-siauwya pulang, bagaimana aku tidak menjadi terharu saking girang? Siauwya kabur, Looya telah masuk penjara dan hujin mendapat sakit mengeluarkan darah karena mana ia menutup mata. sekarang siauwya pulang, kami girang sekali."

Tiong Hoa mengerutkan alis.

"Apakah sekarang Looya sudah tidur?" ia tanya. "Kalau sudah, jangan kau ganggu, biar besok saja aku menemuinya."

"Nanti hamba melihat" kata budak tua itu, yang segera lari kedalam. Tiong Hoa mengawasi tubuh orang yang sudah loyo itu, kemudian dengan sikapnya tenang, ia memandang semua centeng yang masih berdiri diam.

"Siapa tidak bersalah tidak berdosa." ia bersenyum. "silahkan kamu kembali ke tempat kamu masing- masing,” Tapi lekas dia menambahkan dengan suara dalam: " Dulu-dulu ayahku biasa tidak mempekerjakan centeng, apakah mungkin setelah ayahku itu naik pangkat lantas ternyata atau ada tanda tandanya ada orang yang hendak mencelakainya? Tadi orang jangkung kurus itu muncul dengan tiba-tiba, lantas dia pergi pula dengan lagak hantunya, apakah ada diantara tuan-tuan yang mengenal dan mengetahui asal-usulnya?"

Beberapa boesoe itu berlega hati mendengar majikan muda ini tidak akan menarik panjang mengenai sikap mereka barusan, lalu yang satunya yang berusia empatpuluh lebih, merangkap kedua tangannya dan berkata sambil tertawa:

"Kami berterima kasih untuk kemurahan hati kongcoe. Aku Oey Oe Lim, dengan sebenarnya kami tidak ketahui kongcoe pulang, karena itu kami minta sukalah kongcoe memberi maaf”

Sambil berkata begitu, centeng ini mengedipi mata.

Tiong Hoa mengerti orang kuatir nanti ada lain orang yang mendengar keterangannya, maka ia tertawa nyaring dan kata: "Sudah, jangan kamu menggunai banyak aturan. Mari, mari kita masuk kedalam"

"Baik, kongcoe." kata Oey Oe Lim. Ia memberi perintah akan kawan-kawannya tetap melakukan penjagaan, ia sendiri ikut majikannya itu masuk kepedalaman-Tiba didalam, didalam kamar rahasia, Oey Oe Lim lantas menutur jelas segala apa. Soal mengenai juga raja. Raja lagi sakit dan mesti berdiam di atas pembaringan naga. Pemerintahan telah diwakilkan kepada putera mahkota dengan dia dibantu dua menteri besar. Apa mau kedua menteri itu tak akur satu dengan lain mereka berdaya memperbesar pengaruh masing-masing. Untuk itu mereka sama-sama main komplotan- Guna saling menjatuhkan, mereka mencari setiap ketika.

Merekapun memelihara pahlawan-pahlawan, guna melakukan pembunuhan-pembunuhan secara menggelap. Dengan begitu, kedua pihak tak dapat tidur tenang. Putera mahkota mengetahui itu, dia senang. Dia malah menggunai mereka itu sebagai daya untuk memegang kekal pengaruh dan kekuasaannya.

Celakanya kedua pihak menteri pada mencari dan memakai pahlawan pahlawan yang lihay. Semua hal itu diketahui baik oleh Oey Oe Lim. Karena itu, kata nya Lie Siangsie pun membutuhkan centeng. Tiong Hoa lantas mengerti keadaan-

" Dengan begitu ayahku pasti mengikuti salah satu pihak." kata ia. " orang barusan tentu orangnya pihak sana. ini dia yang dibilang menemani raja seperti menemani harimau. setiap hari ada bahaya yang mengancam. Dari pada menemani mereka itu lebih baik ayahku mengundurkan diri saja, untuk hidup aman dan damai ditempat sepi, guna menjaga keselamatan dirinya..."

"Cuma ada beberapa orang saja yang dapat berpikir jelas seperti kau, kongcoe," kata Oey Lim. "Mengenai Looya, tepat apa yang pepatah bilang, mudah naiknya sukar turunnya. Demikian juga kami bangsa Rimba Persilatan, kami siap menerima kebinasaan tetapi tak sudi kami terhina"

Tiong Hoa ketarik hati. Boesoe ini beda daripada orang Kang ouw biasa, "Soehoe dari partai mana?" katanya. "Sudikah soehoe memberitahukannya?"

"Aku yang rendah dari Koen Loen Pay," Oei Lim menjawab.

Ketika itu Tiong Hoa mendengar tindakan kaki cepat serta suara napas memburu bercampur batuk-batuk. la menduga kepada ayahnya. Ketika ia menoleh, Lie Hok membuka pintu seraya berkata: " Looya datang"

Benarlah di ambang pintu muncul Lie Siang si dengan romannya yang keren-Tiong Hoa berlompat maju, untuk terus menekuk lutut.

"Ayah, anakmu ynng tak berbakti pulang" kata dia. “Sudah lama anakmu tak dapat menemani ayah, apakah ayah baik-baik saja?" Tanpa terasa ia menangis.

Lie Siang-sie menyayangi anaknya, ia terharu sekali. Dengan sikap sangat menyayangi, ia memimpin bangun puteranya itu.

"Bangun anak Hoa. katanya sabar. "Tentang kau telah aku dengar dari Liong Tayjin-Apakah kau sudah menikah." Tiong Hoa berbangkit. "Mana dapat anak menikah tanpa setahu dan perkenan ayah lagi." sahutnya."Sekarang ini mereka itu masih berkumpul di Kang-lam. Nanti saja anakmu memanggil mereka datang kemari. “

Lie Siang-sie tertawa.

"Kau sudah dewasa, tak nanti ayahmu menegurmu" katanya. “Anak. mari kita pergi ke kamar tulis.." Tiong Hoa menurut, maka dengan berendeng bersama ayahnya itu, ia pergi ke kamar yang disebut itu dimana mereka dapat berbicara banyak.

ooooo

Di selatanjembatan Thian Ki ada sebuah rumah makan yang memakai merek Kim Kok Wan-artinya Taman Lembah Emas. Rumah makan itu nampak seperti gedung nya seorang saudagar hartawan- Ada pintu nya model rembulan-

Suasananya pun tenang dipekarangan dalamnya ditanamkan banyak pohon bunga. Pintunya semua merah. Di dalam juga ada lorong-lorong yang berliku- liku, ada jembatan kecilnya. Disitu biasa ada perjamuan hartawan-hartawan besar atau pembesar-pembesar tinggi.

Demikian malam itu jam dua. bagian luar dari Kim Kok Wan terjaga oleh dua orang sie-wie atau pahlawan yang bergegaman golok, yang sikapnya angker, Dari dalam terlihat sorot api terang-terang. Dari dalam juga terdengar suara tetabuan yang merdu.

Ketika itu Lie Tiong Hoa dengan menunggang kuda, lagi berjalan menuju kerumah makan yang tersohor itu. Ia tak kesusu. Jalanan pun penuh dengan banyak orang lainnya, ia mentaati siasat yang diatur Liong-Hoei Giok. Ia tahu ia lagi mendatangi tempat yang penuh ancaman bahaya akan tetapi ia tenang-tenang saja, bahkan dapat bersenyum perlahan-

Didalam Kim Kok Wan ada sebuah ranggon yang letaknya ditengah pengempang. Ruang luas. Disitu telah disediakan beberapa puluh buah meja perjamuan- orang telah berkumpul, ramai suara mereka. Diantaranya ada yang tertawa lebar.

Diantara mereka pula terdengar sejumlah tukang nyanyi yang merawankan hati para tetamu dengan kelakuan mereka yang halus, dengan memperlihatkan senyuman mereka yang manis-manis atau suara mereka yang merdu

Tuan rumah, Liong Hoei Giok nampak gembira sekali.

Dia tertawa nyaring dan berkata-kata dengan ramah- tamah. Kalau mulanya para tetamu dapat mengekang diri kemudian mereka menjadi bebas merdeka.

Pengaruh air kata-kata membantu kebebasan mereka itu. Mereka minum dan dahar dan bicara tanpa ragu-ragu lagi. Sinona-nona manis membuat lupa segala apa.

Liong Hoei Giok telah memanggil nona-nona bunga latar yang paling terkenal untuk kota Yan-khia dan Bouw Sin Gan si setan paras elok segera memilih satu yang tercantik yang ia kangkangi. Sembari dilayani, dengan tangan kirinya saban-saban ia merabah-rabah tubuhnya sinona.

Hoei Yan- si Walet Terbang, adalah si cantik itu. Ia memang melebihkan yang lain-lainnya. Sudah begitu ia telah dipesan Hoei Giok untuk melayani sungguh- sungguh pada Sin Gan ia lantas saja memperlihatkan kepandaiannya memelet laki-laki. Hoei Giok yang memasang mata, girang sekali.

"Sang maut lagi menantikanmu, kau tidak tahu..." katanya dalam hati. Diam-diam ia tertawa sendirinya.

Secara manja Hoei Yan duduk diatas pangkuan Sin Gan, tubuhnya nempel pada dada orang. Tepat pada saatnya, Hoei Giok menghampirkan sebawahannya yang berpengaruh itu. yang ia malui. Ia berbisik : "Lie Kongcoe pergi ke gunung See-san untuk menjenguk kuburan ibunya, buat bersembahyang, sekarang dia tentu dalam perjalanan pulang, jadi masih ada tempo setengah jam, andaikata hiantee tak sabar menantikan, silahkan beristirahat dulu.

Diruang timur itu telah tersedia sebuah kamar, hiantee boleh pergi kesana bersama Hoei Yan- sebentar baru hiantee keluar pula bertemu dengan Lie Kongcoe"

"Tak usah. tak usah." kata Sin Gan menahan harga. "Hiantee, lihatlah lagaknya para tetamu itu." ia

berbisik. -jadi kau bukan bersendirian saja."

"Tuan rumah berada disampingnya. Sin Gan tak melihat muka orang, ia sebaliknya dia memandang semua tetamu. Hoei Giok sudah mengatur sempurna, maka itu Sin Gan bisa melihat beberapa tetamu, dengan merangkul masing-masing seorang nona manis. berjalan menuju keruang timur yang disebutkan itu.

Mendadak tetamu agung ini tertawa, segera ia berlompat bangun-

"Kalau begitu, maafkan aku" katanya, la terus memondong Hoei Yan buat dibawa keruang timur itu.

Hoei Giok mengawasi orang berlalu, wajahnya tersungging senyuman-

Ketika sang rembulan berada ditengah-tengah langit, pengawal pintu mengabarkan tibanya Lie Kongcoe. Hoei Giok segera mengajak sejumlah tetamunya pergi keluar untuk menyambut.

Selagi berjabatan tangan, Tiong Hoa merasa Hoei Giok menyesapkan sesuatu ke-dalam telapakan tangannya, ia menyambut dengan baik sekali, hingga tidak ada orang yang melihatnya. Mereka mesti berlaku waspada sebab disitu ada terdapat banyak orang nya Sin Gan.

Ketika keduanya berjalan masuk sambil berendeng.

Hoei Giok berkata perlahan sekali "Siauwhiap mesti simpan obat itu disela-sela kuku, sebentar selagi memberi selamat pada Sin Gan, kau sentilkan masuk kedalam araknya. Selanjutnya serahkan segala apa pada aku si orang tua."

Tiong Hoa mengangguk perlahan tanda mengerti. Ia bertindak terus keranggon air. Ia menjadi tetamu yang utama, dia mesti menemui semua tetamu lainnya.

Bouw Sin Gan telah diwartakan atas tibanya Lie Kongcoe. dia keluar dari kamarnya dengan tersipu-sipu hingga tak keburu dia merapihkan pakaiannya. Dia tidak melupakan Hoei Yan, dia bertindak cepat dengan menarik sinona manis. Melihat sianak muda dia tertawa bergelak. "Maaf, kongcoe"

"katanya. “Kongcoe datang, aku ayal menyambut" "Aku minta Tayjin tidak mengucap demikian," berkata

Tiong Hoa sambil bersenyum "Aku yang rendah yang datang terlambat, seharusnya akulah yang meminta maaf. Pantasnya aku mesti didenda dengan tiga cawan arak"

Tanpa menanti suaranya Sin Gan. Tiong Hoa mengiringi tiga cawan- Ia pun memberi selamat kepada Liong Hoei Giok.

Kemudian dengan serempak ia memberi hormat pada hadirin semuanya. Ketika tiba pada Sin Gan, tiga buah jerijinya memegang cawan araknya jago itu. Dengan tangan kanan, yang mencekal poci arak, ia menuang arak. Secara begitu, dengan tak diketahui siapa juga, ujung jeriji tengahnya masuk kedalam cawan arak itu.

"Inilah kehormatan besar, tak berani aku terima" kata Sin Gan, wakil pemimpin untuk menyambuti cawan arak itu. "Biarlah aku sendiri yang menuang."

Karena mereka berebut memegang cawan, araknya bergoncang, arak itu kena membasahkan jerijinya Tiong Hoa. Itu artinya obat telah terendam dan lumer semuanya.

Tiong Hoa mengeringi araknya, juga Sin Gan. Ia ini minum tanpa curiga. Arak itu tak memberi rasa yang berlainan.

Setelah itu, Tiong Hoa masih menemui lain-lain tetamu.

Perjamuan berjalan dengan sangat memuaskan semua tetamu. Mereka bubar sesudah jauh malam. Rata-rata mereka sinting.

Besoknya pagi, seperti biasa, Bouw Sin Gan pergi ke istana untuk melakukan tugasnya. Tidak lama, mendadak ia merasai sekujur tubuhnya dingin. Ia seperti tak sadarkan diri. Semua orang kebiri heran- tabib istana lantas diundang dan dimintai pertolongannya. Habis memeriksa nadi, tabib menggeleng-geleng kepala.

"Aku kuatir tak ada obat untuk menolongi Bouw Tayjin." katanya. "Tadi malam dia pelesiran melewati batas, sudah itu dia terkena angin dingin yang jahat. Baik lekas dia diantar pulang..."

Semua orang bingung. Dengan sebuah kereta. Sin Gan lantas dibawa pulang. Sampai dirumah, tetap dia tidak dapat mengucap sepatah kata, dia terus tak sadarkan diri. Semua sebawahan Sin Gan percaya pemimpin ini terkena angin jahat. Hoei Yan pun menjelaskan tadi malam ia dipaksa untuk menemani pelesiran terus menerus.

Keluarga Bouw menjadi bingung. Tabib-tabib terpandai didalam kota raja diundang tetapi tak ada satu yang dapat menolong, semua berlalu dengan menggeleng kepala, tidak ada yang berani memberikan surat obat.

"Sakitnya Sin Gan membikin bingung semua sebawahannya. Sin Gun menjadi wakil Hoei Giok tetapi orang-orang sebawahannya sendiri berkomplot, semua tunduk kepadanya sendiri. Rombongan itu tak tunduk kepada Hoei Giok.

Mereka bingung sebab tanpa pengganti, mereka bakal terjatuh dibawah perintah

langsung dari Hoei Giok. Dari itu mereka memikir jalan untuk minta raja lekas-lekas mengangkat seorang pengganti. Buat ini mereka mesti minta pertolongan majikan mereka. Tapi mereka terlambat.

Ketika mereka pergi pada pangeran yang menjadi majikan itu, mereka sudah dilombai Pangeran Tokeh, yang dengan sebat sudah mengajukan sie-wie kelas satu Kim-Ko Sin-Hoe Ie cin menjadi penggantinja Sin Gan itu. Dengan lesu mereka pada berjalan pulang.

Ie cin menjadi salah satu sie wie yang turut Liong Hoei Giok mencari cangkir kemala coei-in-pwee, karena itu dia dianggap berjasa, dengan begitu jasanya itu memudahkan kenaikan pangkatnya itu. Benar saja, belum lewat jam bie-sie, lohor Bouw Sin Gan yang terus tak sadarkan diri itu sudah menarik napasnya yang terakhir. Kemudian datang pemimpin orang kebiri dari istana, yang menyampaikan putusan apa dengan apa Bouw Sin Gan diijinkan di kubur disuatu bagian dari See San gunung barat. Hari kuburnya juga ditetapkan sekalian- Dengan begitu nampaknya Sin Gan diberi kehormatan-Sebenarnya semua ini usahanya Pangeran Tokeh.

Semua sebawahan Sin Gan tetap curiga akan tetapi mereka tidak berdaya. Tak dapat mereka menuntut.

Semua tabib pandai, berikut tabib istana, menetapkan Sin Gan sakit karena terlalu banyak pelesiran- dengan wanita dan terkena angin jahat, sedang Hoei Yan telah memberikan kesaksiannya.

ooooo

Malam jernih sekali. Awan tak nampak.

Si Puteri Malam berada ditengah tengah langit. cahayanya sangat permai. Dengan begitu maka bukit See San terlihat terang jelas. Bukit itu nampak sangat tenang. Untuk See San- suasana malam itu mirip suasana tempat kediaman dewa-dewa.

Diluar mana terlihat suatu tumpukan tanah tinggi. itulah sebuah kuburan baru, kuburannya Bouw Sin Gan- wakil pemimpin siewie didalam istana raja. Ketika itu mendadak diatas kuburan muncul seorang jangkung dan kurus, bajunya tertiup angin tak hentinya.

Dia menoleh keempat penjuru, matanya memandang tajam. Kedua matanya itu bersinar bengis. Berdiri seorang diri itu. dia mirip hantu yang menakuti. Dialah Soetee, adik seperguruan, dari Bouw Sin Gan- Dialah Leng bin Jin Siauw soe Kiat si Kokok beluk Bermuka Manusia. Dialah si jangkung kurus yang Tiong Hoa lihat didepan gedungnya, yang telah lantas menghilang pula.

Dia ini mencurigai kematian soe-hengnya si kakak seperguruan-dia menjadi penasaran-Walaupun dia tidak mempunyai bukti, dia masih mencoba bekerja terus untuk memecahkan rahasia kematiannya soeheng itu.

Dia juga tidak puas pemerintah dengan cepat memilihkan tanggal penguburan serta menetapkan tempat kuburannya di See San- Dari itu, dia kuatir nanti ada orang yang menculik mayatnya Sang suheng hal ihwal siapa dia kenal baik. Dia mencurigai pihaknya rombongan dari Tay in San musuhnya soe-heng itu. Dia-tahu untuk mencari balas, ada orang atau musuh yang merotani mayat musuhnya. Dia sampai mau menduga ada orang yang menyogok Pangeran Tokeh...

Demikian guna melakukan penjagaan- Soe Kiat memimpin sejumlah sebawahannya Bouw sin Gan- Siang dan malam mereka, bersembuny disekitar kuburan Sin Gan guna memasang mata. Dia ingin membekuk si pencuri mayat, guna mengompes dan mengorek keterangan dari mulutnya. Dia harap dengan begitu juga, dia dapat mengorek rahasianya Liong Hoei Giok yang kedudukannya hendak diruntuhkan-

Tengah Soe Kiat lagi memasang mata itu tiba-tiba telinganya mendengar suara tertawa dari arah rimba disampingnya. Dia pun melihat sesosok tubuh lewat berkelebat, lantas lenyap. Dia mengawasi pula keseke- lilingnya, lalu dengan tertawa dingin dia kata seorang diri. "Tidak salah dugaanku? Dia menggunai akal memancing harimau turun dari gunung. Mana akalnya itu mempan? Lagi dua hari semua kawanku bakal tiba, maka itu waktu kau lihatlah, kita nanti main-main Aku mau lihat bagaimana kepandaianmu, kawanan tikus"

Kembali Soe Kiat mendengar suara apa-apa. Kali ini nyaring. Dia menduga kepada senjata rahasia yang diarahkan kepadanya. Mendadak dia menjadi kaget.

Hebat serangan gelap itu.

Tahu-tahu dia merasai dadanya sesak. Dengan terpaksa dia mengegos. Lantas dia mendengar suara robek. itulah suara diujung bajunya, yang meninggalkan tiga lubang pecah. Saking kaget, mukanya menjadi pucat.

Biasanya sangat sempurna pendengaranku atas serangan pelbagai senjata rahasia, dia berpikir. Biasanya aku bisa merasai senjata rahasia datang dalam-jarak sepuluh tombak disekitarku. Kenapa sekarang aku tidak melihat apa-apa? Mungkinkah serangan ini datangnya dari tempat yang sangat dekat? Dia melihat pula kesekitarnya. Tetap dia tidak melihat apa juga.

Aku menempatkan orang diseputar sini, cuma orang bisa menyembunyikan dirinya?" dia tanya dirinya sendiri. Lantas dia mengawasi kerumput diatas tanah kuburan- Dia terkejut waktu dia melihat sepotong tang-chie, yaitu uang tembaga. Dia menjumput itu, sambil memungut, tubuhnya bergidik sendiri tanpa dia merasa.

"Hebat penyerang ini." katanya didalam hati. "Kiranya dia menyerang aku dengan senjata rahasianya yang dapat berputaran, setelah senjata datang dekat baru aku mendengarnya. Siapa kurang gesit, dia bisa roboh "

Dia lantas menerka penyerangnya itu bayangan tadi, yang bersuara dan berkelebat disisi rimba. Maka dia lantas menoleh ke-arah timur, untuk mengasi dengar suaranya yang keras: "Ban Hiantee, tolong kau mengajak tiga saudara menggeledah rimba Siapa pun kamu ketemukan, bunuh saja, tanpa ampun lagi"

Diantara sinar rembulan guram, kelihatan empat bayangan orang lari kedalam rimba. Soe Kiat sendiri, setelah bersangsi sebentar, lari juga kearah rimba. Gelap didalam itu. Baru ia melewati belasan tombak. ia mendengar tertawa dingin didepannya serta kata-kata ini: "Soe Kiat, kau membawa duapuluh tiga orang, kenapa tak semuanya kau ajak masuk kemari? Kalau kau binasa didalam rimba ini, kau pasti bakal kesepian." Seram suara itu, Soe Kiat bergidik sendirinya.

"Kelihatannya dia telah ketahui segala tindakanku." kata ia dalam hati, ia lantas tertawa dingin dan kata: "sahabat, apakah kau orang dari Tay in San? Kau kejam sekali Bouw Sin Gan sudah mati, mustahil kau masih tak dapat melepaskan jenazahnya ?"

Suara tertawa dingin itu terdengar pula, disusul kata- katanya yang tak kalah

seramnya: "Sahabat she Soe, kau salah menerka Bouw Sin Gan itu bangsa hina-dina. dia menjual majikannya untuk keuntungannya sendiri, orang semacam dia setiap orang ingin sekali mencambuki jenazahnya. Kasihan si tanah kuning, tanah itu sebenarnya tak dapat dipakai mengubur dia" Soe Kiat gusar, ia membentak: "Sahabat, kau terlalu Kenapa kau tidak mau perlihatkan dirimu ? Kenapa kau berlaku bagaikan iblis ? inikah lagaknya seorang gagah ?"

Habis berkata, ia menyerang denganpukulan "Udara Kosong."

Hebat serangan itu, tetapi yang kaget yalah Soe Kiat sendiri. Begitu ia menyerang, angin serangannya itu berbalik menolak tubuhnya, dan daun-daun yang rontok meluruk kepadanya. Tentu sekali ia pun menjadi gusar.

"Sahabat she Soe, jangan tak sabaran- terdengar lagi suara tadi, yang tertawa dingin. "Tunggulah sampai tiba lengkap semua duapuluh tiga orangmu, sebentar aku akan perlihatkan diriku. Jangan kuatir, aku tak akan terlambat"

Selagi suara orang mendengung, Soe Kiat melihat dua sosok tubuh berlompat turun, Tidak ayal lagi dia menyambut dengan serangannya. Dua orang itu roboh untuk tak berkutik pula. Dia menjadi heran, lalu kaget.

Karena curiga, dia lompat maju, guna melihat tegas dua orang itu.

Untuk kagetnya, dia mengenali dua konconya, yang sudah putus jiwa. Dia gusar bukan main-

Dari dalam rimba itu kembali terdengar tertawa dingin seperti tadi. Kembali menyusul beberapa sosok tubuh lompat keluar berjatuhan dengan suaranya yang berisik. Ketika tubuh yang berjatuhan ini berhenti, terus terdengar suara seram ini. "Sahabat she Soe, coba kau hitung Benar atau tidak jumlahnya tepat dua puluh tiga orang." Leng Bin Jin Siauw menyedot hawa dingin. Baru sekarang dia menginsafi yang dia terancam bahaya besar. Tidak disangka pihak musuh tak dikenal ini bersikap demikian ganas. Dalam gusarnya, dia lompat maju. "Kau kembali" demikian bentakan.

Soe Kiat mendengarnya, kaget. Diluar keinginannya, tubuhnya tertolak balik. syukur ia tabah dan dia dapat berdiri dengan tegak.

Tiba-tiba satu bayangan berkelebat, lalu dihadapannya terlihat berdiri satu orang yang jangkung yang berpakaian serba hitam, dua biji matanya bersorot tajam, menatap bengis kepadanya.

Soe Kiat seorang jago tetapi toh hatinya gentar. Dia insaf bahwa dia mesti mengeluarkan semua tenaganya. Maka dia lantas menyerang dengan dua-dua tangannya, kesepuluh jerijinya yang kuat mencari daratan perut orang. orang itu membikin ciut dada dan perutnya, dengan begitu selamatlah dia.

Soe Kiat kaget. Penyerangan gagal itu dapat mencelakai dirinya. Dengan sebat dia lompat kesamping guna menyingkir andai-kata musuh balas menyerang, ia memikir baik, dia bergerak dengan sebat, apa mau ada lain orang yang terlebih cerdas dan gesit. orang itu menyerang mengenai tepat pinggangnya hingga dia terhuyung.

Dalam gusar dan penasaran, begitu dapat menahan diri, ia mengulangi serangannya. ia menjadi seperti kalap. ia mirip binatang mogok.

"Sahabat she Soe, apa kau masih tidak mau menyerah?" lawan tak dikenal itu tanya. "Buat apa kau melawan terus?" ia menangkis dengan tangan kanannya, habis menangkis telapakannya diluncurkan terus, maka tepat dia kena menghajar dadanya orang she Soe itu.

Soe Kiat menjerit, ia muntah darah tubuh nya terpental tiga kaki, lalu roboh terguling untuk tak bangkit pula. Sebab didalam saat yang pendek itu napasnya terus berhenti. Habis itu si penyerang berdiri diam dia mengeluarkan napas lega, seperti dia bebas dari pikulan yang berat. Sambil dongak. dia berkata: "Song Toako, apakah sekarang sudah waktunya untuk bekerja?"

Dengan satu suara menyambar, sesosok tubuh terlihat lompat turun dari atas sebuah pohon besar didekat situ. Dia bersenyum terus dia berkata pelan: "Laotee, semua sudah siap. Liong Tayjin juga sudah menyediakan satu mayat guna menggantikan mayatnya Bouw Sin Gan.

Saudara-saudara persaudaraan Kouw yang mengambil dan membawanya. Mereka sudah mulai bekerja."

Kedua orang itu yalah Lie Tiong Hoa bersama Song Kie. Habis bersepakat dengan Liong Hoei Giok. Tiong Hoa mengirim utusan meminta Song Kie cepat datang, guna membantunya. Bantuan Song Kie beramai dibutuhkan karena Hoei Giok tidak merdeka memakai tenaga orang- orang sebawahannya. Koay-Bin Jin- Him Song Kie datang cepat bersama persaudaraan Kouw, yaitu Tiong Tiauw Ngo Mo serta beberapa orang lainnya.

"Sekarang mereka lagi bekerja, sebentar juga akan rampung sudah." Kata Tiong Hoa pula. "Sebentar pagi kita akan sudah dalam perjalanan-"

"Aku puji kecerdikannya Liong Tayjin-" kata Song Kie. "Bouw Sin Gan dapat diracuni tanpa diketahui siapa duga dan sekarang mayatnya lagi digali untuk diangkut pergi, sedang Liong Tayjin sendiri sekarang bersama Ie cin lagi mengumpulkan semua orang sebawahannya untuk mencatat jasa2 mereka semua, inilah akal muslihat memancing harimau turun gunung yang bagus sekali."

Tiong Hoa menghela napas.

"Pelbagai peristiwa sebaliknya menunjuki bukti, orang menemani raja seperti menemani harimau." kata ia masgul. "Penghidupan- manusia" dapat berubah hanya dalam sekejap. Ini dia yang dibilang: "hidup pagi mati sore, bahwa siapa tamak pangkat, tak dapat dia melindungi kepalanya. Liong Tay-jin mau mundur tidak dapat, terpaksa ia mesti menggunai otaknya untuk dapat bertahan terus" ia berhenti sebentar lalu menambahkan: "Ada baiknya aku meninggalkan kotaraja, hanya aku memikirkan ayahku.

Dengan terus memangku pangkatnya. setiap waktu ayah menghadapi ancaman malapetaka tak disangka- sangka. Pernah aku menyarankan-ayah mengundurkan diri tetapi ayah bilang belum tiba saatnya itu, hendak menunggu sampai lain waktu "

Song Kie tidak niat mencampuri urusan rumah tangga pemuda itu. ia bersenyum dan kata: "Laotee meninggalkan kota raja, itulah perbuatanmu yang cerdik. Segala apa telah diselesaikan di Tiam chong San akan tetapi bencana Rimba Persilatan belum sirna seluruhnya. Kelirunya yalah dibakarnya Lay Kang Koen Pouw oleh Pouw Liok It. orang masih belum puas."

"Biarlah urusan mereka itu," kata Tiong Hoa. "Aku telah mengambil keputusan buat selanjutnya mengundurkan diri, buat tak menghiraukan pula urusan Rimba Persilatan atau dunia Sungai Telaga. Apakah laoko menyesalkan aku?" “Jikalau laotee mau mengundurkan diri, tak ada jalan lain kecuali laotee menyembunyikan diri dan jangan keluar-keluar pula." kata Song Kie. "Tidak demikian, kau tak akan hidup tenteram dan aman-.."

Tiong Hoa melengak. Dia rupanya heran-

"Ya, laotee," kata Song Kie pula. Sekarang ini namamu telah jadi sangat terkenal, kau seperti menyoloki mata..."

Ketika itu nampak belasan orang lagi mendatangi, diantaranya Tiong Tiauw Ngo Mo, Lima Hantu dari Tiong Tiauw, Toa Mo Kouw Jin, Hantu tertua, lantas berkata "Mayat Bouw Sin Gan sudah diangkat dan telah diganti dengan penggantinya. Baru saja diterima kabar bahwa bala bantuannya Soe Kiat sudah tiba di Louw Kauw Kio dimana mereka dirintangi oleh pihak kita. sekarang bagaimana tindakan kita terlebih jauh untuk mencegah Lie Siauwhiap mendapat kesukaran?"

Tidak menanti Song Kie menjawab, Tiong Hoa mendahului.

"Song Toako," kata ia, "baik kau jalan terus dengan rencana kita, kau bawa pergi mayatnya Sin Gan dan menantikan aku di Han-tan- Urusan disini kau serahkan pada aku seorang."

Kemudian ia berpaling pada Kouw Jin, untuk menambahkan- "Saudara, aku mohon bantuan kamu untuk menyingkirkan semua mayat ini"

Kouw Jin semua suka bekerja, malah mereka bekerja sebat sekali, dari itu didalam tempo yang pendek semua mayat telah dapat disingkirkan, sesudah mana Song Kie mengajak rombongannya mengangkat kaki. Tiong Hoa pun lantas pergi keluar rimba. Ia pergi ketempat tinggi terpisah beberapa puluh tombak dari kuburannya Bouw sin-Gan- disitu ia berdiri diam sambil menggendong tangan, sikapnya sangat tenang.

Rembulan yang baru muncul, bercahaya permai. Awan melayang-layang, hingga seluruh gunung See San nampak menarik hati.

Dalam suasana sunyi itu, hati Tiong Hoa sebaliknya tak aman- ia berpikir keras, urusannya masih sulit. la mesti memikirkan jalan guna membebaskan diri dari kesulitan itu. Bukan cuma ia sendiri yang terancam bahaya, juga ayahnya serta Liong Hoei Giok.

Pengaruh Bouw Sin Gan tak dapat dipandang enteng, karena buat bangsa Boan, dialah orang yang berjasa dan dianggap penting, Dialah anjing Boan dimatanya bangsa Han dan pemerintah Boan pasti akan bertindak untuk kematiannya itu kalau terbukti dia diracuni dan diangkut pergi mayatnya.

Mengingat Song Kie. Tiong Hoa bersyukur. Tidak dinyana Koay Bin Jin Him dapat mengubah kelakuannya hingga selanjutnya dia dan kawan-kawannya dapat menjadi orang-orang lurus. Mereka itu harus dipuji dan dikagumi. Lebih-lebih mereka dapat bersahabat dengannya dan suka memberikan bantuannya secara sungguh-sungguh itu.

Tengah menentramkan diri itu. Tiong Hoa melihat bergerak-gerak tujuh atau delapan sosok tubuh dikejauhan, semua menuju cepat kearah kuburan Bouw Sin Gan- Tak ayal lagi ia berlompat keatas pohon disampingnya, guna menyembunyikan diri. Ia mengawasi mereka itu sambil bersenyum ewah.

sebentar saja rombongan itu sudah tiba didepan kuburan Sin Gan.

"Eh, mengapa Soe Loosoe, dan rombongannya belum ada di sini." terdengar seorang diantaranya berkata, agaknya dia heran, "Aneh"

"Bukan melainkan aneh" berkata seorang lain, yang mukanya panjang dan romannya bengis, rupanya mereka semua sudah menemui kecelakaan mereka"

Tiong Hoa heran mendengar suara orang itu. Dia rupanya lihay sekali. Hanya tak dapat dimengerti, kenapa dia berpendapat sedemikian itu. Ketika ia mengawasi ia mengenali orang yalah Thian-ciat Sin-Koen Lee Yauw Hoan-

"Lee Loocianpwee bagaimana loocianpwe mengetahui itu?" tanya seorang yang tak kurang herannya.

Thian ciat Sin-Koen tertawa dingin, "Selama di Louw Kauw Kio kita masih dipermainkan kawanan tikus,” katanya menerangkan- “itulah usaha untuk memperlambat kita. Buktinya kita sekarang tidak melihat soe soe Kiat semua Kamu lihat tanah kuburan itu.

Bukankah itu urukan yang masih baru sekali? Terang sudah, kuburan ini telah dibongkar orang untuk mengambil mayatnya guna disingkirkan buat melenyapkan bukti. Mana bisa diharap Soe Kiat semua masih bernyawa?"

Tiong Hoa kagum sekali. orang benar lihai. Semua kawan Yauw Hoan itu menjadi pucat mukanya.

Hoa Yauw tertawa dingin pula. Terdengar dia berkata lagi: "Baru saja yang paling belakang ini aku si orang tua mendapat tahu bahwa Lie Cie Tiong yang kesohor itu sebenarnya Lie Tiong Hoa putera nomor dua dari Lie Siangsie. Didalam suratnya, Soe Kiat juga memastikan itu. Dialah bocah sangat jahat Dia ganas sekali menghadapkan lawannya.

Tak puas aku tak dapat membikin dia musna berikut keluarganya"

"Sabar loocianpwce," kata seorang. "Tak dapat kita bertindak sembarangan selagi kita belum mendapatkan bukti atau saksi. itulah berbahaya. Locianpwee tentu mengerti pembilangan, rakyat jelata tak dapat melawan pembesar negeri. Bagaimana jikalau kita dituduh memberontak atau kita datang kekota raja ini dengan maksud jahat? Kalau sampai terjadi begitu, meski empat penjuru lautan sangat luas, tak dapat kita mencari tempat dimana kita dapat menaruh kaki."

Thian ciat Sin Koen melengak.

"Kaum Rimba Persilatan memuji Thay-Heng Hian ciang ong It Hoei sangat cerdik, sekarang aku membuktikannya sendiri." kata dia. "Perkataanmu ini benar. Baiklah. aku si orang tua hendak membongkar kuburan ini guna melihat mayatnya Bouw Sin Gan, guna mencari bukti. Bukti mayat tak dapat disangkal lagi" orang yang dipuji itu, Ong It Hoei, tertawa dingin.

"Lee Loocianpwee. jangan heran apabila satu kali orang menampak kegagalan- katanya, “Aku yang rendah sebaliknya memuji tinggi kepada loocianpwee yang dapat melihat segala apa jelas sekali. Memang terang mayatnya Bouw Sin Gan sudah dibongkar. Apakah hasilnya kalau kita membongkar pula kuburan ini?

Menurut aku, baiklah tak usah. Dengan jalan bagaimana loocianpwee dapat menuduh Lie Tiong Hoa si orang jahat? Bagaimana andaikata dia berbalik menuduh kita?"

Kembali Thian ciat Sin Koen berdiam diri. "Menurut kau, bagaimana, ong Loosoe?" dia balik menanya.

Ong It Hoei berpikir.

"Sekarang ini sudah pasti Bouw Sin Gan telah menutup mata,” kata ia. “Hanya apa perlunya orang menculik mayatnya?"

"Inilah untuk rombongan dari Tay In San itu" kata Yauw Hoan- Bouw Sin Gan menjadi musuh besar, dia telah membunuh ayah orang, maka anak orang itu hendak membuat pembalasan- Selama Bouw Sin Gan masih hidup, pembalasan itu tak dapat dilakukan, maka sekarang mayatnya dibongkar dan dibawa pergi.

Tentu mayat itu bakal dirangket pergi pulang, itu pun suatu cara mencari balas. Maka aku pikir sekarang, ini tentulah jenazah Bouw Sin Gan tengah dalam perjalanan ke gunung Tay In San”

“Untuk kita sekarang, aku melihat tinggal dua jalan," kata It Hoei mengangguk.

"Apakah dua jalan itu?"

"Yang pertama Bouw Sin Gan sudah menutup mata jalan yang paling sempurna yalah kita membiarkannya, kita memernahkan diri diluar kalangan- Dengan begitu segala keruwetan dapat disingkirkan, kita bisa menyingkir dari tuduhan membantu sijahat berbuatjahat, kita juga bakal meluputkan diri dari ancaman marah- bahaya. Hanya ini sulit dilakukannya. Inilah pikiranku yang rendah, entah bagai mana- pikiran loosoe-hoe."

Yang kedua yalah: Untuk mendapatkan pulang jenazah Bouw Sin Gan, baik kita jangan menggunakan pengaruh pembesar negeri. Artinya kita jangan mengganggu pembesar, kita hanya bekerja sendiri, jikalau kita minta bantuannya pembesar negeri, Kita bakal membangkitkan kemarahan umum Rimba Persilatan-“

Lee Yauw Hoan berpikir keras memikirkan kedua-akal itu.

"Benar-benar ong Loosoe pintar" dia memuji. "Aku si tua kagum sekali Menurut aku banyak kita ambil jalan yang kedua itu. Kita diminta bantuannya Yauw Hoan, kita terlambat, seharusnya kita merasa malu. Apa celaka, kita juga tidak dapat menolong dia Pasti kita tidak dapat mendiamkan saja. Tak enak hati kita Kita mesti malu menghadapi kaum Rimba Persilatan"

Dia mengawasi seorang yang lehernya panjang terus dia menambahkan: "Tho Loosoe kaulah pengawal pribadinya Pangeran Hosek. .coba kaupikir, baik atau tidak jikalau kau laporkan ini kepada pangeran itu setelah mana baru kita bertindak."

Orang dengan leher panjang itu, yang dipanggil Thio Loosoe. tidak lantas menjawab. Dia berpikir dulu.

"Aku tak sependapat dengan ong Loosoe," katanya kemudian” Bouw Sin Gan dan Soe Kiat menjadi orang kepercayaan Pangeran, kalau benar mereka berdua terbinasa teraniaya, tidak nanti Pangeran mau berhenti dengan begini saja. Aku pikir baiklah kejadian ini diberi tahukan kepada Pangeran-"

"Thio Hok-wie," It Hoei tanya, tertawa dingin, "aku ingin menanya tetapi harap kau tidak buat gusar..."

"Silahkan bicara. ong Loosoe." sahut hok-wie she Thio itu. "Aku bukan tukang bertengkar maka itu aku bersedia mendengarkan katamu." "Baiklah. Seluruh kota raja ketahui Bouw Sin Gan mati karena sakit. Habis bagaimana dapat dibilang dia mati teraniaya, dibikin celaka?"

It Hoei tertawa pula.

"Ingatlah undang-undang negara tak kelurusan pribadi" katanya. “Pembilangan itu pembilangan Pangeran Ho-sek sendiri. Mana buktinya? Umpama kata Pangeran Tokeh menuduh Pangeran Hosek memfitnah, hingga Baginda Raja menjadi gusar, Thio Hok-wie, kau pasti bakal turut terembet"

Hok-wie she Thio itu melengak. Lalu ia membesarkan matanya.

"Kalau kita membongkar kuburan dan membuka peti mati lalu ternyata peti itu kosong, tanpa mayatnya, apakah itu bukannya bukti?" dia tanya.

Orang It Hoei kembali tertawa. "Siapakah si pencuri mayat?" dia tanya. "Rombongan dari Tay In San-

"Baik. Bagaimana kalau mayatnya masih ada? itulah perlanggaran yang berarti hukummu picis Thio Hok-wie, dapatkah kau bertanggung jawab?"

Mukanya hok-wie itu pucat. Dia kaget sekali.

Kembali It Hoei tertawa dingin. Kata dia: "Pihak sana memandang Bouw Sin Gan sebagai paku dimatanya, tak puas mereka sebelum mereka berhasil menyingkirkan paku itu. Untuk itu pastilah mereka sudah lebih dulu msngatur rencana yang sempurna."

"Karena itu juga, kedudukan kita sekarang pun terancam bahaya. Diempat penjuru kita ada musuh bersembunyi, maka itu, tak dapat kita tak berlaku waspada." Tiba-tiba Thian ciat Sin Koen berseru: "Sekarang aku dapat mengambil keputusan. Kita bertindak menurut pikirannya ong Loosoe. Thlo Hok-wie, silahkan kau menghadap Pangeran, untuk minta ia bertindak dengan melihat gelagat, kalau dia dijelaskan bahaya nya tindakan sembrono, tidak nanti dia berlaku lancang.

Buat sementara, untuk menyingkir dari perhatian orang banyak, kita akan mengambil tempat mondok di Penginapan Kit Siang di Wan-peng. Thio Hok-wie, silahkan pulang ke istanamu sekarang juga kita mau pergi."

Orang she Thio itu memberi hormat.

"Aku lagi bertugas, maafkan aku" katanya dengan suaranya yang parau. "Besok akan pergi ke Wan-peng untuk menjenguk kamu." Habis berkata lantas ia pergi dengan cepat. Rombongan ong It Hoei juga lantas pergi menuju ke Wan-peng.

Thio Hok wie berlari-lari sambil otaknya bekerja. memikirkan kata-kata yang bakal disampaikan kepada Ho sek chin-ong, pangerannya sang majikan, tengah ia berpikir itu mendadak ia menjadi kaget. Tiba-tiba ia merasa tengkuknya teraba tangan yang dingin.

Ia menjadi kaget sekali, untuk meloloskan diri, ia lompat kedepan dua tindak, kemudian ia memutar tubuh sambil terus melakukan penyerangan yang berupa sabetan-

Ternyata ia menghajar tempat kosong. Tak ada orang di belakangnya itu. Kembali ia menjadi kaget. Terang sekali ada tangan dingin nempel ditengkuknya itu, Sendirinya ia bergidik, bulu romanya pada bangun. "celaka " ia berseru didalam hati, terus ia memutar tubuh lagi, buat menjejak tanah, guna kabur Atau tiba- tiba iganya terasa tersentuh angin dingin, mulutnya berseru tertahan, lantas tubuhnya roboh, ingatannya pun lenyap.

Menyusul itu dibelakang hok-wie ini satu tubuh melesat, menyambar badannya, buat dikempit, untuk segera dibawa kabur

ooo

Didalam kamar rahasianya Liong Hoei Giok. Lie Tiong Hoa berkumpul bersama tuan rumahnya itu Roman mereka sungguh-sungguh. Keduanya lagi bicara sambil berduduk. Didepan mereka terletak tubuh Thio Hok-wie yang tak sadarkan diri.

"Aku tidak sangka orang-orang undangan-nya Soe Kiat datang demikian cepat," berkata Hoei Giok. “Rupanya Pangeran Hosek sudah bercuriga lama. Kalau begini bukan melainkan kedudukanku yang terancam juga ayahmu, kongcoe, serta diri kau sendiri."

"Kita bagaikan jemparing diatas busur, tak dapat anak-panah itu tak dilepaskan-" kata Tiong Hoa, "karenanya aku tak mau bekerja setengah jalan- Hendak aku pergi melihat ke istananya pangeran itu."

Berbicara lebih jauh, Tiong Hoa membisiki tuan rumah. Lantas ia berbangkit, sambil menunjuk Thio Hok- wie, ia kata: "Kalau dia dapat dibiarkan saja jikalau tidak. dia harus disingkirkan berikut tubuhnya guna mencegah bencana dibelakang hari."

Hoei Giok memanggut.

"Didalam istana Kosek banyak pahlawannya yang gagah serta ada juga pelbagai pesawat rahasianya, dengan pergi menyateroni kesana, kongcoe harus waspada." ia pesan-

"Aku tahu." sahut si anak muda, yang lantas mengangkat kaki. Setibanya diluar. ia lompat naik keatas genteng, menghilang sesudah melintasi beberapa petak rumah. Ketika itu rembulan guram.

Istananya Pangeran Hosek terletak dibaratnya taman Pak Hay. itulah sebuah gedung besar dan indah dengan banyak ruang dan lauwtengnya, pekarangan luar dan dalam banyak pepohonannya, seperti pohon cemara dan pek yang tinggi tinggi dan tua. Dimuka pengempang, sang paseban berbayang dan ditepiannya pohoh-pohon yanglloe bergoyang-goyang.

Istana itu indah dan menarik hati, apa pula dimalam yang sunyi dan rada gelap itu. si Puteri Malam ketutupan sang mega.

Tepat dalam keadaan seperti itu, sesosok tubuh tampak lompat masuk kedalam tembok pekarangan, gerakannya sangat gesit, hingga tak ada yang melihatnya. Sesampainya didalam, tubuh itu selalu mencari tempat yang gelap guna menyembunyikan diri. Dia muncul dilorong, lalu lenyap pula.

Itulah Lie Tiong Hoa si anak muda. Dengan berlaku hati-hati, ia mencari kamarnya Pangeran Hosek. Ia mesti menjaga diri supaya tak terlihat centeng atau pahlawannya pangeran itu, saingan dari Pangeran-Tokeh yang bijaksana.

Lauwteng dan ruang, banyak sekali, itulah yang menyulitkan puteranya Lie Siangsie itu. maka ia mesti menduga-duga dan menghampir kamar demi kamar. Tengah ia pusing kepala, ia melihat berpetanya sebuah tubuh ramping dari dalam sebuah lauwteng yang apinya dinyalakan terang-terang. Lekas lekas ia lompat menghampirkan lauwteng itu, guna mengintai kedalam.

Seorang nona muda belia lagi memandangi bunga- bunga didalam tok-pan atau pas bunga, ia bermata jeli dan bergigi putih, pipinya yang dadu ada sujennya, yalah nana yang cantik sekali.

Tepat si nona lagi mengagumi bunganya, mendadak ia mendengar tindakan kaki mendatangi, ia terkejut, dengan lekas ia mengangkat kepalanya, untuk menoleh dan melihat. Ia menjadi heran dan kaget.

Di ambang pintu berdiri seorang yang ia tak kenal, hingga mukanya menjadi pucat. Saking kaget, ingin ia berteriak...

“Jangan kaget nona, jangan takut" orang itu berkata lekas, perlahan tetapi tegas. "Aku yang rendah bukannya orang jahat," ia pun terus menjura.

Hati si nona memukul, ia mencoba menenangkannya. ia mengawasi orang didepannya itu. seorang muda yang tampan sekali. Tanpa merasa, mukanya menjadi merah. ia likat.

"Kau siapa?" ia menegur, suaranya tapinya perlahan- "Kenapa kau lancang masuk kedalam kamar nonamu? Kau mau apa?"

Tiong Hoa si anak muda menjura pula.

"Aku mohon tanya, nona malam ini ong-ya ada dimana?" dia tanya. "Aku yang rendah hendak menghadap ongya buat urusan ayahku yang telah dipenjarakan, Kecuali ongya ayahku itu tak dapat dibebaskan. Tolong nona menunjuki. Budi nona ini tak nanti aku lupakan-"

Nona itu mengawasi tajam.

"Bagaimana kau dapat masuk kedalam istana ini?" kata ia. "Apakah kau hendak mendustai nonamu? Tak dapat Kau tentunya hendak membikin celaka pada ongya. Kau gagah, kau nelusup masuk kemari, setelah tidak dapat mencari ongya, kau lancang masuk kekamarku ini Apakah kau hendak memaksa aku memberi keterangan padamu?"

"Nona yang cerdik," pikir Tiong Hoa. ia lantas bersenyum dan kata: "Kenapa nona menyangsikan aku? Dengan sebenarnya aku hendak minta pertolongan ongya."

"Hm " nona itu bersuara. "Pada mukamu tak sedikit juga ada roman berkuatir atau berduka. Mana dapat kau mengakali nonamu?" ia menggeraki tubuhnya lantas ia mundur dua tindak tangannya menekan ke belakang mejanya.

Tiong Hoa terperanjat tangannya lantas nenyambar diturut majunya tubuhnya. la berhasil mencekal lengan nona itu, yang ia terus totok jalan darahnya-jalan darah thian-lie, sambil ia berkata perlahan: "Maaf, nona aku terpaksa berbuat begini"

Nona itu lemas sekujur tubuhnya, tangan-nya tak dapat dilepaskan. Mendadak ia mengucurkan airmata. Dengan sinar mata penasaran, ia mengawasi tajam. "Apakah kau tahu pasti aku bakal mencelakai kau?" "ia tanya. "Hati orang sukar diterka, karena itu aku mesti bersiaga," sahut Tiong Hoa. "Didalam istana ini terdapat banyak perangkap atau pesawat rahasia, asal nona menggeraki tangan mu, aku bisa jatuh terjeblos kedalam liang. Karena itu aku terpaksa hendak mencegah kau."

"Aku sumpah, biarnya mati, aku tidak nanti menyebutkan tempat beradanya ongya sekarang" kata si nona, "Apa kau bisa bikin atas diriku? Akan sia-sia belaka segala daya mu”

Meski begitu airmatanya mengucur turun.

Tiong Hoa heran, tetapi ia bersenyum. "Aku dapat jalan untuk membikin kau suka bicara, nona." katanya ramah. Nona itu kaget, mukanya menjadi pucat.

"Kau... kau..." katanya kaget "beranikah kau mengganggu kesucian diriku?" ia menangis, Ia menjadi sangat berduka.

Alisnya Tiong Hoa terbangun, wajahnya tersungging senyuman-

"Syukur nona menyebutnya, jikalau tidak. aku lupa," kata ia perlahan- "Nona begini cantik, umpama kata aku dapat mencium kau satu kali saja, mati pun aku puas ..."

Sembari berkata, Tiong Hoa mengulur tangannya kepinggang orang. ia seperti hendak meloloskan ikat pinggang si nona.

Bukan main kagetnya nona itu. Tubuhnya lantas bergemetaran. "Nanti aku kasi tahu. nanti aku kasi tahu..." katanya cepat. Jangan-.."

Tiong Hoa pemuda laki-laki. karena terpaksa ia menggertak begitu. Ia bersenyum, tangannya ditarik pulang. "Memang paling baik nona memberitahukan aku." kata ia. "cuma untuk mencegah nona mendustai aku. hendak aku menotok Sembilan jalan-darahmu, supaya tak ada lain orang yang dapat menotok bebas. Karena itu nona membutuhkan pertolonganku pula. kalau tidak. nona bakal mati menderita. Aku memberitahukan ini supaya nona dapar memikir baik-baik."

Mendengar itu si nona tertawa.

"Aku tidak sangka kaulah seorang sopan santun " katanya. Tiong Hoa melengak.

"Bagaimana nona ketahui itu?" ia tanya. "Aku berbuat begini terpaksa karena aku perlu bertemu dengan ong- ya. Nona. jikalau kau tidak omong terus terang. sulit untukmu membelai kesucian dirimu "

Nona itu tertawa pula. Mendadak ia meronta, hingga ia lolos dari cekalannya si anak muda, tubuhnya berbareng mencelat mundur setombak lebih. Segera ia mengawasi dengan tajam, matanya bersinar. Lagi sekali ia tertawa.

"Kau juga jangan takut" katanya. untuk sekian kalinya, ia tertawa pula.

"Nona mu tidak bakal menggunai pesawat rahasia, kau tidak kenal nonamu ini tetapi nonamu mengenali kau. Kaulah si orang muda yang tersohor dan menggemparkan wilayah Selatan. Kaulah Lie Tiong Hoa putera kedua dari Lie Siangsie"

Tiong Hoa heran bukan kepalang.

"Aku sangka dia nona biasa, tak tahunya dia pandai silat." pikirnya. "Aku merasai tangannya lunak. tak tahunya dia berpura-pura." la menjadi menyesal. Tapi ia kata: "Nona kau lihay Aku yang rendah memang Lie Tiong Hoa. Jikalau nona tidak mengandung niat mencelakai aku. tolong kau beritahukan dimana adanya ongya sekarang?"

Nona itu menggeleng kepala.

"Sabar" sahutnya. " Lebih dulu nona mu mau menanyakan keterangan kau perihal kematiannya Bouw Sin Gan."

Kembali Tiong Hoa terkejut, tetapi la dapat menenangkan diri. Kata ia dengan roman wajar: "Seluruh kota telah gempar karenanya, maka tak ada orang yang tak tahu Bouw Sin Gan mati karena..."

"Pui. jangan putar lidah." nona itu membentak. "Sebenarnya dia mati kenapa? Lekas bilang Kalau tidak. jangan kau harap akan memperoleh petunjuk dari mulut nona mu ini "

Tiong Hoa mengerti si nona cerdik, maka kalau ia tidak menguasai nona itu, sulit ia mendapatkan keterangannya, ia bersenyum.

"Kau liehay sekali nona..." katanya perlahan- Sekonyong-konyong tubuhnya melesat dan tangannya terluncurkan, maka tangan Kera Terbangnya lantas mencekal lengan kiri nona itu.

Si nona kaget, dia berseru perlahan, karena dia meronta tubuhnya tertarik hingga menubruk dada si anak muda. hingga dia kena terpeluk.

Tiong Hoa terkejut mukanya menjadi merah. ia tidak berniat buruk. kejadian itu di luar sangkaannya...

ooooo 

TUBUH nona itu menyiarkan bau yang harum yang mendesak hidungnya si anak muda. Didalam rangkulan, tubuhnya terasa lemah sekali. Hati Tiong Hoa memukul, darahnya seperti bergolak. ia kaget. Ia seperti tak dapat menguasai dirinya. Si nona mengangkat kepalanya, ia mengawasi muka si anak muda. Matanya yang jernih memain, sinarnya hidup. Mata itu tak ada tanda- tandanya galak. itulah sepasang mata yang suci- murni.

Tiong Hoa menjadi serba salah. Memegang terus si nona salah melepaskannya salah juga. ia pun malu sendirinya. Lengan ia menempel tubuh pada nona yang putih- bersih itu. Ia sendiri seorang ksatrya. Pula tak dapat ia membunuh nona itu. Percuma, ia tetap tak akan ketahui kamarnya Pangeran Hosek. Kalau si nona dibiarkan hidup dan kemudian dia membuka rahasia, celakalah ia, Liong Hoei Giok dan ayahnya.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bujukan Gambar Lukisan Jilid 30"

Post a Comment

close