Bujukan Gambar Lukisan Jilid 27

Mode Malam
Jilid 27 : Pertempuran di Giok Lok Tong 

Baru sin Kong Tay berkata begitu atau dan empat penjuru mereka muncul belasan toosoe atau imam, yang segera mengambil mengurung mereka. Salah satu imam setengah umur, yang berjubah abu-abu, maju mendekati sampai sekira satu tombak.

Dia beroman bengis. Mukanya merah dan ada tai-lalat hitam ditengah dahinya, matanya bersinar bengis. Terutama dia segera mengawasi tajam pada pedangnya Lee Hoen-

"Mau apa sam-wie mendaki gunung ini?" menegur tiga orang itu, sedang matanya menatap Sin Kong Tay.

Lee Hoen sambil tertawa kata dengan tajam: "Semua gunung indah dikolong langit dapat orang mendaki dengan merdeka Kenapa kamu hendak mengekang kemerdekaan kami?"

"Nona benar juga," kata imam itu, yalah kalau nona bertiga pelancong biasa Tapi kamu bertiga orang-orang Rimba Persilatan Bukankah kamu hendak menyelidiki sesuatu mengenai gunung kami ini?"

Panas hati Lee Hoen, hendak ia membentak. atau mendadak angin bersiur keras disisinya dan telinganya mendengar bentakan, ketika ia berpaling dengan segera, ia mendapatkan Tiong Hoa sudah mencekuk lengannya seorang imam muda, hingga muka dia itu menjadipucat dan keringatnya membanjir serta tubuhnya menggigil.

ooooo

IMAM itu melihat si nona yang dia rupanya kenali sebagai Ceng song-Kiam, pedang pusaka partainya, maka itu, selagi rekannya bicara, dia maju mendekati Lee Hoen, guna dirampas. Sama sekali dia tidak menyangka, Tiong Hoa liehay sekali, waktu si anak muda berlompat kepadanya. tangannya lantas kena dicekal tanpa dia sempat menarik pulang atau berlompat mundur. pula cekalan anak muda itu demikian keras hingga tak sanggup dia bertahan Kejadian itu membikin kaget semua belasan imam itu, dengan paras berubah, mereka melengak mengawasi si anak muda dan kawannya yang tercekal itu.

Tiong Hoa mengawasi semua imam, dia kata dengan tawar: “Aku yang rendah kenal ceng Shia Jie Ay, yalah Kok Loosoe dan Ang Loosoe, bintang-bintangnya Partai kamu, kita menjadi sahabat-sahabat satu dengan lain, karenanya aku kagum terhadap partai kamu, akan tetapi hari ini menyaksikan kelakuan kamu, kamu membikin aku mendapat kesan lain-Siapa sangka diantara kamu ada menyelip ini setan cilik, inilah bukti bahwa suatu partai, maju atau mundurnya bergantung juga kepada

anggauta-anggautanya lurus semua atau tidak.”

Mukanya si imam usia pertengahan menjadi merah.

Dia jengah sekali. Dia pun terkejut.

"Kalau begitu sie-coe yalah Lie Siauwhiap yang namanya kesohor sekali?" kata dia. "Inilah benar-benar suatu salah paham dari pihak kami. Pintoo bertanggung jawab atas kekeliruan ini sudi kiranya sie-coe memaafkannya."

Mendengar itu, Tiong Hoa pun insaf ia telah bicara terlalu keras, maka lantas ia melepaskan cekalannya, sembari bersenyum ia kata: "Maaf, aku pun menyesal telah menuruti hawa amarahku hingga aku sudah keterlepasan omong. Dapatkah tootiang perkenalkan diri kepadaku yang rendah?"

"Maaf. sie-coe, pintoo yang rendah yalah Hian Yang, ciang-boen-jin yang baru dari Ceng Shia Pay," sahut imam itu.

"Ooh, kiranya Hian Yang Ciang-boen-jin" kata Tiong Hoa. "Maaf, benar-benar aku tidak tahu. Tapi, kami mempunyai urusan penting untuk mana kami mesti lekas kembali ke Tiam Chong San, karena itu, ciang boen-jin persilahkanlah, lain hari saja aku yang rendah datang pula guna menghaturkan maafku"

Ketua Ceng Shia Pay itu nampak terkejut.

"Selama yang belakangan ini gempar tersiar berita tentang suatu pertemuan besar di Tiam Chong San benarkah itu untuk urusan kitab ilmu silat Lay Kang Koen Pouw tanya dia. Pintoo golongan suci tak sudi pintoo terlibat urusan itu. Entahlah dengan kedua paman-guru kami Kok dan Ang itu, karena sampai sekarang keduanya belum kembali. Mungkin kedua paman-guru itu pergi kesana, Sie-coe, untuk urusan apa sie-coe beramai datang kegunung kami ini?"

Sin Kong Tay tidak sabaran, dia mendahului Tiong Hoa. Dia pun bicara dengan tawar: "Hian Yang, kau terlalu doyan bicara. Tahukah kau bahwa jiwanya puluhan orang berkenamaan dari Siauw Lim Pay dan Ngo Bie Pay tengah terancam bahaya maut? Lie Siauwhiap ini datang kemari guna minta bantuan kedua nona tunangannya untuk mengobati mereka itu, batas tempo- nya cuma tujuh hari, sedang untuk tiba di-sini, kami telah menghabiskan tempo tiga hari. Kami bukan datang untuk mengganggu kau, Hian Yang, maka itu pergilah kau mengajak mereka ini lekas pulang ke kuil, di-sini tidak ada urusan kamu"

Hian Yang heran-

"Dia bicara kasar tidak keruan, apakah dia terganggu asabatnya?" pikirnya. Tapi ia mesti memandang Tiong Hoa, maka ia menguasai diri. Ketika ia mengawasi, ia rasa mengenali orang tua didepannya ini, hanya tak segera ia ingat betul.

Seorang imam maju kedepan- dia memandang bengis pada sin Kong Tay, terus dia menjura kepada ketuanya, berkata: "Orang ini bicara kasar, dia menghina ciangboen, dia pun menghina nama baik Partai kami, karena itu teecoe mohon keputusan ciang-boen" Imam ini mendongkol sekali.

Tiong Hoa mengerutkan alis. Memang Sin Kong Tay bicara terlalu keras. la kuatir nanti terbit urusan, yang bisa menghambat tempo mereka. Hian Yang pun nampak sulit.

Selagi orang berdiam, Sin Kong Tay tertawa dingin dan berkata pula “Kamu dua hidung kerbau, karena kamu sudah menjadi imam beberapa tahun, lantas kamu menganggap dirimu luar biasa bukan? jikalau bukan karena ada urusan penting hingga aku kuatir terbit onar, mungkin sekarang ini tubuh kamu sudah rebah malang melintang disini dengan mandi darah"

Semua iman dari ceng Shia Pay itu kaget sekali, tanpa merasa semuanya meraba gagang pedang mereka.

Semuanya memandang dengan bengis, sedia menyambut titahnya ketua mereka. Hian Yang menoleh kepada orang-orang nya matanya bersinar bengis.

"Tidak perduli bagaimana tak dapat kamu berlaku tak tahu aturan dihadapan Lie Siauw hiap" kata dia.

Sin Kong Tay tertawa berkakak.

"Hian Yang nyata kau masih mempunyai martabatnya seorang ketua "ia memuji. Ketua ceng Shia Pay itu mengawasi dengan roman menyatakan dia sangat gusar. "Sie-coe," katanya, "sie-coe sebenarnya pemimpin Rimba Persilatan dari bagian mana? Apakah sie-coe suka perkenalkan diri sie-coe supaya taklah sampai kami berbuat salah apa-apa?"

Kembali Sin Kong Tay mengasi dengar suaranya yang dingin.

"Hian Yang, tak kusangka kau pelupa begini rupa" katanya. "Lupakah kau akan peristiwamu pada tiga puluh lima tahun yang lampau. ketika kau mendapat kecelakaan di-dalam jurang kematian? Siapakah yang menolongi kau ketika itu?"

Hian Yang terperanjat, ia menatap tajam orang didepannya itu, kemudian ia maju menghampirkan, untuk segera menekuk kedua lututnya. "Oh, soe-slok, kau membikin aku hampir mati memikirkanmu" katanya. Semua imam heran dan kaget, tetapi segera mereka turut berlutut juga. Sin Kong Tay menyingkir dua tindak. tangannya diulapkan-

"Tahan," kata dia. "Aku si orang tua tak sanggup menerima kehormatan ini, karena akulah murid murtad dari Ceng Shia Pay. Cukup untukku asal kamu tidak menghalang-halangi kami"

Hian Yang berbangkit. romannya berduka, lekas ia kata: "Kalau begitu, baiklah, Hian Yang menurut perintah soe-slok. Hanya inginlah aku menanyakan sesuatu. Siau- hiap. dimanakah adanya sekarang kedua nona tunanganmu itu?"

Mukanya Tiong Hoa bersemu merah.

"Mereka menumpang bernaung digunung totiang." sahutnya. Hian Yang terkejut hingga ia bertindak mundur. "Kalau begitu mengertilah pintoo sekarang." kata dia. "Selama beberapa hari yang belakangan ini murid-murid pinto suka melihat suatu orang yang bertubuh kecil langsing, yang suka berkeliaran disini seperti lagi mencari sesuatu, hingga dia mendatangkan kecurigaan, tetapi ketika dia di susul. dia lantas menotok roboh murid kami itu. Itu pula sebabnya maka hari ini kami.."

“Jikalau kau sudah mengerti, cukup sudah, tak usah kau banyak omong lagi" Sin Kong Tay menyela. "Segala apa aku si tua yang menjamin, maka itu segala apa pun lain kali saja kita bicarakan pula "

Hian Yang berdiam, bersama murid-murid nya ia memberi hormat pada tiga orang itu, terus mereka berlalu.

"Siauwhiap. nona, mari " Sin Kong Tay segera mengajak. Dia pun mendahului berlompat pergi.

Tiong Hoa dan Lee Hoen turut lari. Di tengah jalan si nona kala sembari tertawa: "Sin Loosoe, kau pandai sekali mencari gara-gara "

Sin Kong Tay tertawa.

"Kau tidak tahu. nona, katanya. Kalau hidung kerbau dari ceng Shia Pay banyak yang kukuh dan bercuriga, jikalau mereka tidak diajar adat hingga mereka tidak nanti kau diijinkan berlalu. coba aku tidak bawa lagak sebagai Si orang tak nanti kita dapat lolos secara begini mudah."

Mereka berlari-lari terus hingga mereka tiba dipuncak Giok Long Tong. Dan sini mereka melihat lebih nyata pula pemandangan disekitarnya, bukit-bukit itu yang terlebih indah dan lembah-lembah yang dalam sedang diatas langit nampak udara terbuka yang angin meniup mereka tak hentinya.

Didepan jurang sana, sahut Sin Kong Tay. tangannya menunjuk. Dari sini kau tak dapat melihatnya sebab gua itu teraling oyot-oyotan "Mari ikut aku si orang tua."

Sin Kong Tay berlompat turun, untuk berlari-lari. la diikuti kedua kawan itu.

Tak mudah untuk tiba dibawah lembah dengan banyak pepohonannya. Mereka mesti merambat diantara oyot- oyot. Sudah setengah jam, belum juga mereka sampai.

Sebenarnya mereka sudah turun rendah beberapa ratus tombak.

"Sampai kapan kita bakal tiba di bawah?" kata Tiong Hoa, tak sabar lagi. "Baiklah kita membuka jalan mengandal pada Ceng Song Kiam."

“Jangan." kata Sin Kong Tay. " inilah tedeng aling alam, sayang kalau kita merusaknya. Tempat lebat ini tak lebih daripada lima lie. sebentar kita akan tiba di bawah."

Lee Hoen tidak sabaran, dia menghunus pedangnya dan membabat pergi pulang, hingga sebentar saja terbukalah jalan lapang dihadapan mereka? Maka terus, dia membuka jalan-

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring tapi halus dari tempat gelap dengan rumpun, disusul dengan gaman si Nona Phang, yang telah maju jauh meninggalkan dua kawan nya, lalu tubuhnya lenyap.

Tiong Hoa terkejut, tapi hanya sebentar segera dia lompat maju sambil berseru dengan nada suara girang: "Encie Keng di sana inilah siauwtee Lie Tiong Hoa yang menjalankan titah mencarimu" Dari dalam rumpun terdengar jawaban merdu seperti suara burung kenari: "Ooh, kau? Apakah benar kau datang untuk mencari aku satu orang?"

Didalam hati, Tiong Hoa kata: "Ah, kau terlalu kau tahu tapi kau masih menanya"

Tapi ia menjawab cepat: "Benar, encie"

Segera juga terlihat seorang berlompat keluar dari dalam tempat yang lebat. Dia mencekal Ceng Song kiam ditangan kanan dan menenteng tubuh Phang Lee Hoen ditangan kiri. Dia berdiri mengawasi, matanya jernih wajahnya tersungging senyuman- Dengan matanya ini dia awasi si anak muda. Muka Tiong Hoa merah. la likat.

"Kau baik, encie Keng?" sapanya. "Nona itu bukan orang luar, harap encie suka menotok sadar padanya. Marilah kita bicara didalam gua Giok Lok Tong"

Pouw Keng. demikian nona itu, tertawa manis. Dia menurunkan tubuh Lee Hoen untuk diletaki di tanah guna terus ditotok sadar jalan darahnya --jalan darah Gick-jim. Sembari berbuat begitu, dengan melirik manis dia menanya: "Kalau ia bukan orang luar, habis siapa? Bilanglah"

Walaupun ia likat. si anak muda toh tersenyum. la tidak menjawab, ia tahu Pouw Keng tajam lidahnya, tak mau ia sembarang membuka mulut.

Sin Kong Tay berdiri dibelakang si anak muda dia bersenyum, didalam hatinya dia kata: “Tak perduli Lie Siauw-hiap bagaimana gagah, menghadapi nona ini dia mesti mengalah sedikit. Benarlah, Thian menciptakan segala sesuatu. satu pada lain mesti ada yang dapat mengalahkannya.” Pouw Keng berdiri, dia cantik tapi dia dingin, dia manis tetapi tidak centil ceriwis. Mengawasi nona itu, Tiong Hoa terus berdiam. Menampak demikian, Nona Pouw merah sendiri mukanya. "Eh Kenapa kau diam saja". tegurnya.

"Habis apa aku mesti bilang padamu?" sahut Tiong Hoa didalam hatinya.

Ketika itu Lee Hoen sudah sadar, dia berbangkit berdiri, untuk terus merapihkan rambut didahinya.

"Apakah ini encie Keng. encie Pouw Keng"?" tanyanya, perlahan, lalu mendadak dia berbisik ditelinga Nona Pouw, hingga Tiong Hoa dan Sin Kong Tay dibiarkan saja. "Siauhiap. hati-hatilah kau" kata Sin Kong Tay ditelinga orang. Dia bersenyum. Tiong Hoa menyeringai.

Segera juga terlihat Pouw Keng dan Lee Hoen berjalan pergi, hingga mau atau tidak si anak muda dan si orang tua, turut bertidak mengikuti mereka itu.

Mereka berjalan didalam rimba yang gelap hingga mereka membutuhkan bantuannya cahya pedang ceng Song Kiam. Mereka maju terus, sampai akhirnya mereka hampir tiba didasar lembah dimana ada sebuah gua pada tembok gunung. Mulut gua hijau dengan lumut dan lainnya rumput halus. cuma satu orang bisa masuk dan dengan tubuh miring juga. Sebenarnya. kalau orang tidak tahu, sulit untuk dapat melihat gua itu.

Dengan memisahkan diri, Pouw Keng dan Lee Hoen merambat naik saling -susul cepat mereka bergerak. Tiba dimulut gua. Nona Pouw memanggil berulang-ulang: "Encie in.. Encie In"

Tiong Hoa mendengar itu, sendirinya ia merasa lega. Sampai didetik terakhir, ia masih kuatir In Nlo dan Pouw Keng tidak cocok satu pada lain- Sekarang lenyaplah kekuatirannya itu. Semua dugaannya meleset. Suaranya Pouw Keng tegas menyatakan itu. Bersama-sama sin Kong Tay, ia lekas menyusul naik.

Ketika mulai masuk ke dalam gua, orang pun mesti jalan dalam terowongan yang berliku-liku. Mata Tiong Hoa tajam, ia melihat dan menduga itulah terowongan yang telah diperbaiki tangan manusia.

Tak lama mereka berjalan, didepan mereka berkelebatan satu tubuh yang langsing, yang bergeraknya gesit. Lalu Cek In Nio si nona cantik- manis, berdiri didepan mereka. Dan nona itu segera mengasi dengar suaranya yang merdu: "Adik Hoa" Hanya setelah itu, ia nampaknya pendiam.

Ada sin Kong Tay disitu, Tiong Hoa merasa tak leluasa. Maka ia cuma bersenyum dan menyambuti: "Encie In, disini adikmu mau memperkenaikan kau pada seorang aneh Rimba Persilatan, inilah Tiat Sie Hoei Chee sin Kong Tay Sin Loosoe."

Nona ini bersenyum, ia mengangguk memberi hormatnya, kemudian ia mengawasi pula adik Hoa-nya.

"Adik Hoa, ibu ingin bicara padamu," katanya.

Ia tidak cuma menyampaikan kata-kata, sekarang ia mencekal tangan orang, unruk ditarik diajak masuk lebih jauh kedalam.

Sin Kong Tay bersenyum, ia mengangkat pundaknya, dan mengintil.

oo

Didalam ada sebuah ruang yang besar yang terang dengan cahayanya tujuh butir mutiara besar, cahayanya jernih dan lembut maka disitu terlihat Losat kwie Bo yang matanya masih tetap buta lagi duduk diatas sebuah pembaringan batu.

Nyonya ini asyik sekali berbicara dengan Tiong Hoa. Banyak yang ia tanyakan perihal kaum Rimba Persilatan dan Tiong Hoa menuturkan segala apa yang ia ketahui dengan sabar dan jelas.

Selagi nyonya itu dan calon menantunya memasang omong, dipojokan dimnna ada pembaringan batu lainnya, Cek In Nio, nona-Pouw Keng lagi bicara kasak kusuk dengan Phang Lee Hoan- saban-saban mereka melirik pada si anak muda. Lo-sat Kwie Bo tenang- tenang saja setelah mendengar penuturan-

"Begitulah dunia Kang-ouw yang banyak durinya," kemudian kata ia sabar. "Disana orang gemar menimbulkan peristiwa, seperti juga orang kuatir dunia ini tidak menjadi ramai dan tak kacau balau. setelah aku pindah kemari. pikiranku menjadi terang dan hatiku menjadi tenang, hingga aku menginsafi cara hidupku dulu-dulu tak wajar.

Syukur mataku terganggu, jikalau tidak. entah apalah yang aku telah lakukan lebih jauh. Maka itu kongcoe. suka aku memberi nasihat, begitu selesai urusan di Tiam chong San- lebih baik kau jangan campur pula urusan dunia Kang-ouw. Si In nanti merawati kau baik-baik.

Harapanku adalah agar aku nanti dapat memain saja dengan cucuku, sebegitu saja, hatiku akan puas.

In Nio dapat dengar perkataan itu. "Ibu " katanya,

mukanya merah" Kemudian ia deliki si anak muda "

"Peeboe. akan aku turut perkataanmu ini," kata Tiong Hoa. Ia melirik dan bersenyum. "Hai. lucu betul" kata Lee Hoan, sambil tertawa.

..Sampai di ini detik masih memanggil peebo...peebo... Ati-ati ya nanti kau membikin encie In gusar.. Kau jangan harapi hari-hari yang tenteram tenang "

Tiong Hoa likat, dia mendelik kepada nona Phang itu.

Lee Hoen menyingkir kebelakang In Nio, lidahnya di ulur...

"Lie Kongcoe," berkata pula Lo-sat KwieBo. "Kau hendak membawa cangkir kemala ke Tiam chong San guna menolongi banyak orang gagah, itulah selayaknya, hanya hal nya dua bulan kemudian kau mau mengantarkannya ke istana, itulah membikin aku kurang puas..."

"Bukankah peeboe mengatakan hati peeboe sudah tawar " kata Tiong Hoa. "oleh karena itu, benda sampitan itu buat apa diberati pula?"

"Adik Hoa tak ketahui maksud ibu," In Nlo turut bicara. "Sejak tinggal didalam gua ini, ibu mendapat pertolongan besar dari cangkir kemala itu. Kau tahu adik Keng membantunya dengan setiap hari-pergi mencarikan obat-obatan, hingga sekarang ini kedua kaki ibu sudah ada perubahannya. Sekarang tinggal serupa obat lagi yang belum didapatkan untuk menyembuhkannya. karena sulit mencarinya, karena mana kuatir ibu tak mempunyai harapan akan sembuh pula hingga ibu bisa melihat lagi matahari seperti sedia kala. Selama cangkir masih ada ditangan kita, kita dapat mencari terus obat itu, tetapi

apabila cangkir di pulangkan, habis sudah harapan ibu untuk menjadi sembuh."

Baru sekarang Tiong Hoa mengerti. Maka berkerutlah keningnya. "Encie In, obat apakah itu yang masih kurang?" ia tanya kemudian- "Dapatkah encie memberitahukan itu kepadaku?"

"Tentu," sahut si nona ia bersenyum hanya-bersenyum sedih.. “Itulah cian-lian Liong-swie, sumsum atau benak tulang naga yang umurnya sudah seribu tahun-.."

Tiong Hoa melengak. la segera menoleh kepada Sin Kong Tay. Kawan itu nampak berpikir.

“Cian-lian Liong-swie itu dimana didapatkannya?" tanya si anak muda, ragu-ragu.

"Sudah, kong-coe. tak usah kau capekan hati lagi," berkata Lo-sat KwieBo menghela napas perlahan- “Tentang itu akupun cuma mendengar secara kebetulan saja. Katanya ada seorang she Khouw yang telah menyembunyikan diri yang mempunyai obat itu, yang macamnya mirip naga tanpa tanduk, bendanya bersih seperti batu kemala, warnanya merah tua serta berbau harum halus. Kabar itu masuk hitungan kabar angin, jadi kabar itu tak dapat diandalkan- pula tak diketahui jelas orang she Khouw itu, dimana dia berdiamnya, apa dia sudah mati atau masih hidup,.."

Tak menanti sampai si nyonya bicara habis, Sin Kong Tay sudah lompat berjingkrak, kedua matanya terbuka lebar, mengeluarkan sinar terang- girang.

"Siauw-hiap" dia berseru. Baru sekarang aku percaya bahwa "benda" itu ada tuannya, ada pemiliknya. Benda yang diketemukan dikaki gunung Ngo Bie San itu toh cian lian Liong-swie?"

Tiong Hoa pun tersadar, dengan sebat ia merogo sakunya mengeluarkan cie-ang Giok cie, sembari meletaki itu ditelapakan tangannya, ia berseru. "Pee boo, silahkan lihat. Bukankah ini benda itu?" Ketiga nona tertawa cekikikan bareng, hanya In Nlo segera lompat dari pembaringannya, untuk tiba didepan si anak muda, guna mengambil giok-cie itu, sembari mata melotot, dia kata: "Tolol. Kalau ibu dapat melihat, buat apa kau menyebutkannya?"

Tiong Hoa melengak. ia jengah. Tapi toh akhirnya ia tertawa Saking girang ia lupa bahwa bakal mertuanya im buta matanya. Lo-sat KwieBo mengerti, ia bersenyum. In Nlo menyerahkan giok-cie ditangan ibunya, untuk ibu itu pegang dan usap-usap-ia kata: "ibu, mungkin inilah dia, coba ibu-periksa"

Nyonya itu menggeleng kepala. "Aku cuma mendengar cerita sukar untuk menentukannya,” katanya. “Toh Thian tak mensia-siakan pengharapannya orang baik"

Sementara itu ia sudah mengusap-usap. maka ia menambahkan: "Mungkin benarlah ini sekarang, anak In, lekas kau bersama anak Keng membuat obatnya. Kau tahu sendiri, Lie Kong coe perlu lekas membawa ini kembali ke Tiam chong San"

In Nio berpaling pada Tiong Hoa, matanya melotot. "Tolol" katanya, bersenyum. Pergi kau bersama Sin

Loosoe keluar sebentar dari ruang ini, sebentar encimu akan memanggil mu masuk"

Lee Hoen juga kata sambil tertawa: "Makhluk menjemukan, lekaslah keluar" Sin Kong Tay tertawa berkakak.

"Nona Phang, apakah aku si tua bangka juga menjemukan?" dia tanya. "Benarlah kalau nona pengantin sudah masuk dalam kamarnya, si telangkai dilemparkan kepojok tembok"

Mukanya Lee Hoen menjadi merah. "Cis, mulut jahat" bentaknya. " Nona mu toh tak mencaci kau?"

Sin Kong Tay tertawa, dia menarik tangan Tiong Hoa untuk diajak pergi keluar. Katanya: " Lekas Lekas.

Janganjadi menjemukan orang"

Mereka lantas pergi, ditertawai ketiga nona itu.

Sampai dimulut gua. Sin Kong Tay berkata: " Walaupun mertuamu itu telah mendapat obat mujarab. dia masih memerlukan bantuan tenaga dalam guna menyalurkan sempurna semua jalan darah dan pernapasannya. inilah disebabkan sudah lama sekali dia menderita. Maka itu aku berniat pergi ke Siang teng Klong, guna memasang omong dengan Hian Yang. Umpama siauwhiap suka, mari kita pergi bersama."

Tiong Hoa menggeleng kepala, tetapi ia bersenyum. "Aku ingin menanti disini. Silahkan loosoe pergi

sendiri." katanya.

"Kalau begitu, baiklah" kata orang she Sin itu, yang terus keluar dari gua.

Berada sendirian, Tiong Hoa menjadi kesepian- la berjalan keluar terus sampai di-antara pepohonan lebat disebelah depan- Di-situ ia duduk menyender pada sebuah pohon besar. Tak ada sinar terang, cuma angin bersiur halus. pula sunyi sekali di sekitarnya.

Didalam keadaan seperti itu, tak heran otaknya si pemuda bekerja, memikirkan segala apa yang lampau, sedang didepan matanya seperti berbayang sesuatu. Kemudian ia ingat Pouw Lim. yang berada ditangan orang jahat. Kalau hal itu ia beritahukan Pouw Keng. entah bagaimana kaget dan bingungnya nona itu. Sebaliknya ia melihat Pouw Liok It itu tak terlalu memikirkan keselamatan puteranyaitu. "Ah" akhirnya ia menghela napas seorang diri.

Tiba-tiba ia terkejut. ia mendengar suara daun rontok. Lantas ia menoleh, matanya mengawasi tajam, Segera ia mendengar suara tertawa halus dibelakang pohon-"Ah, orang tolol" begitu ia mendengar -

"Aku menyangka kau berdiam didalam gua, tak tahunya kau menyendiri disini dan main menarik napas saja, membikin aku pusing mencarimu."

Mengenali suara itu, semangat si anak muda terbangun secara tiba-tiba. ia lompat berjingkrak. untuk menghampirkan. hingga ia melihat In Nlo lagi berdiri disamping pohon dengan wajahnya tersungging senyuman-"Encie In, apakah pcebo sudah sembuh?" dia tanya. 

In Nio mengangkat sebelah tangannya, ia membuka kelima jerijinya yang terkepal, maka disitu terlihat cahaya terang dari sebutir mutiara ya-beng-coe.

"Benarlah apa yang dikatakan Nona Phang " katanya, mulutnya mencibir. "Sampai disaat ini kau tetap memanggil peebo pada ibuku. Takkah sikapmu itu membikin hati orang tawar ?"

“Jangan salah mengerti, encie In” kata Tiong Hoa cepat. "Peebo telah memikir demikian akan tetapi encie sendiri masih belum membilang apa-apa. Mana berani aku berlaku lancang "

Si nona membanting kakinya. "Benar-benar kau menggoda aku " katanya. "jikalau aku tidak menikah dengan kau. apa aku akan menikah dengan lain orang?"

Sinar mata si nona mengutarakan ia penasaran- lalu disitu terlihat airmata mengembeng. Tiong Hoa menjadi bingung tetapi ia menubruk nona itu untuk dirangkul erat-erat. "Maafkan aku. encie." katanya. "Baiklah selanjutnya akan aku mengubah panggilan ku."

Hati pemuda ini berdebaran demikian hati si nona, yang manda dirangkul, hingga mukanya menjadi merah sendirinya. Si nona lantas ingat lelakon mereka selama berlayar Bok Kiap. maka iapun balas memeluk.

"Lepas tanganku" kata si nona kemudian- la sadar. "Kau memeluk orang sampai orang tak dapat bernapas"

Tiong Hoa mengendorkan rang kulannya perlahan- lahan-

"Kau terlalu, encie In," katanya. "Tak dapat kah kau melenyapkan rinduku sekian lama?"

Nona itu merapihkan rambut dijidatnya, "Mana sin Loosoe?" ia tanya.

"Dia pergi ke Siang ceng Kiong menjenguk sahabatnya. Sebentar dia kembali. Encie. mari kita lihat ibu"

"Sebentar lagi,” kata In Nio "Sekarang belum bisa kau menemui ibu. Meski telah makan obat, ibu masih perlu dibantu tenaga dalam. Sekarang adik Keng dan Nona Phang lagi membantui. Aku kuatir kau kesepian- maka aku datang kemari melihat kau. kenapa kau menarik napas tak keruan-“

"Aku lagi bingung," sahut Tiong Hoa, "Aku lagi memikirkan keselamatannya Pouw Lim”. Dan ia tuturkan hal pemuda itu terjatuh di tangan musuh. 

Mengetahui itu, In Nio menghela napas-

"Adik Keng juga memikirkan saudaranya itu," katanya.

Dia melihat kau tidak

menyebut-nyebut tentang adiknya itu, dia mulai jadi curiga..."

Tiong Hoa tidak menjawab. sebaliknya ia sambar mutiara ditangan si nona untuk dibekap.

"Diam" ia berbisik sambil terus ia memasang telinganya.

“Ada orang datang..." katanya sejenak kemudian- "Dan bukan satu orang saja. Dia bukannya Sin Loosoe. Siapakah mereka?"

In Nio memasang kuping, ia pun mendengar suara tindakan kaki. Tiba-tiba alisnya bangun berdiri dan kedua matanya bersinar tajam. "Sabar, encie" Tiong Hoa berbisik. "Kita lihat tegas dulu siapa mereka itu."

Suara tindakan datang semakin dekat. Suaranya jadi semakin nyata. Bahkan sekarang terdengar suara pohon pohon dibabat-babati dan sinar golok atau pedang berkilauan. itulah tanda orang lagi membuka jalan.

"Benar-benar gila" terdengar seorang berkata keras. "Kita sudah jalan begini jauh, masih kita belum berhasil mencari Giok Lok tong. Bangsat cilik awas. Jikalau kaupedayakan kami, kau nanti rasai siksaan sedap."

Atas itu terdengar jawaban serak tapi yang nadanya penuh kegusaran: "Toh tuan kecil kamu sudah berulang- kali menegaskan kamu bahwa ke Giok Lok Tong tuan kecil kamu belum pernah pergi. bila tuan kecil kamu cuma mendengarnya dari cerita orang, jikalau kamu tidak berhasil mencarinya, kamu harus sesaikan diri kamu sendiri. Sebenarnya kamu hanya bermimpi untuk memikir memiliki cangkir kemala coe-in pwee.”

Hati Tiong Hoa tergetar.

"Mungkinkah Pouw Lim telah dipaksa mereka untuk mencarijalan kemari?" ia berbisik di telinga In Nio.

Si nona belum menyahut atau lain suara seram telah terdengar: "Pouw Lim Kau telah terjatuh kedalam tangan kita, adakah kau masih berkepala batu?" "Hm terdengar suaranya Pouw Lim tertahan- Dia rupanya dianiaya.

Sampai disitu Tiong Hoa tidak bersangsi pula,

"Encie In," bisiknya, pergi kau jalan mengitar kebelakang mereka itu, aku, sendiri hendak menolongi Pouw Lim. Habis itu kita, serbu mereka, jangan ada yang-dikasi lolos"

In Nio menurut. Tahu ia apa yang harus ia lakukan, la berlalu dengan cepat, lenyap ditempat gelap.

Tiong Hoa menanti seketika, baru ia bertindak keluar dari tempat berdiamnya itu. la sengaja bertindak lebar.

Lantas beberapa orang itu dapat mendengar suara tindakan-

"Siapa disana?" seorang membentak. suaranya bengis. "Silahkan kau menyebut namamu."

Tiong Hoa tidak segera menjawab, ia hanya berjalan terus. Maka dilain detik ia sudah melihat belasan orang dengan roman-nya semua bengis. Diantaranya terdapat Pouw Lim, yang telah hilang kemerdekaan-nya. la tidak takut, karena ia tahu bagaimana harus bertindak. Bahkan ia mempercepat tindakannya. "Akulah pemilik rimba ini" katanya sambil tertawa nyaring. "Aku mendengar ada tetamu dari jauh datang kemari, aku datang menyambut"

Mendadak anak muda ini menolak dengan tangan kirinya.

Itulah tak disangka rombongan didepan itu, mereka tertolak keras hingga semua terhuyung. Tentu sekali mereka menjadi kaget, hingga diantaranya ada yang lantas membentak.

Tiong Hoa menggunai ketikanya yang baik, la lompat kedepan Pouw Lim, ia jambak dada si anak muda, untuk segera ia lompat kembali hingga enam tombak. sembari berbuat begitu, ia tertawa nyaring.

Semua orang itu heran, semuanya kaget. orang berkelebat sangat cepat.

Tiong Hoo tidak cuma mundur, ia terus lompat mundur lagi, untuk mencelat tinggi keatas pohon, untuk memernahkan Pouw Lim tubuh siapa ia totok. kemudian dengan sama cepatnya, ia lompat turun lagi. Tepat ia mendengar bentakan: "Siapa bernyali besar berani main gila didepan tuan muda kamu? Lekas kau muncul atau kau menerima kebinasaanmu"

Tiong Hoa mengenali suaranya Touw Leng. hatinya menjadi sangat panas, Sembari tertawa dingin, ia maju seraya menolak dengan tangan kiri dengan perlahan, sekarang ia menggunai tangan kanan dengan tenaga ditambah berlipat ganda. Maka hebat-lah kesudahannya

Bagaikan dihajar gempa pohon-pohon pada roboh, orang-orang pada jatuh, mulut mereka mengasi dengar jeritan-jeritan yang dahsyat, yang mengerikan lalu rintihan dan sunyilah segala apa, kecuali daun-daun berterbangan dan bertumpuk. cabang cabang pada patah ringsak. Debu pun mengepul karenanya.

Ketika Tiong Hoa menghampirkan. ia melihat Touw Leng bersama dua kawannya merayap bangun, dengan susah payah mereka melarikan diri. Tentu sekali ia tidak mau mengasi hati. ia telah membilangi In Nio bahwa musuh tak dapat dibiarkan lolos. Maka ia mau menghajar pula, atau mendadak mereka itu bertiga menjerit hebat dan tubuh mereka terpental balik, jatuh terbanting keras.

Ia menduga ini pasti hajarannya In Nlo, yang menggunai pukulan cit Yang Sin Kang. Tiong Hoa menghampirkan sampai dekat selagi tubuh si pemuda berkoseran-

"Saudara Touw" Tiong Hoa menegur bersenyum. "Apakah kau baik-baik saja? sudah sekian lama kita tidak bertemu. Apakah kau masih ingat aku?"

Dua kali hajaran itu membikin Touw Leng bercelaka sekali. Tulang-tulang iganya pada patah dan ada yang nancap didagingnya, sedang mulutnya menumpahkan darah. Ia tidak menyangka bahwa serangannya itu serangan manusia.

Ketika ia mendengar suara Tiong Hoa yang ia kerjai, sambil meringis ia tertawa. “Tidak kusangka bahwa akhirnya aku terjatuh didalam tanganmu,” katanya lemah. Jikalau aku tahu begini pastilah selama di Koen- beng aku sudah turun tangan terlebih dahulu"

"Memang segala apa sukar tercapai sepenuhnya menurut keinginan kita," kata Tiong Hoa tertawa tawar. "Hanya jelas siapa jahat dia bakal menerima pembalasannya Sekarang Touw Leng. tutup mulutmu Mana dia Ngo sek Kim-bo?" 

Orang she Touw itu menghela napas.

"Barang itu ada ditangan ayahku," sahutnya susah. "Sebentar ayah pasti datang kemari. Kau mintalah pada ayahku itu.."

Ia muntah darah pula, matanya mencilak. terus nyawanya terbang.

Tiong Hoa memandang kesekitarnya, ia menghela napas. Biar bagaimana, ia berduka.

Hebat akan menyaksikan belasan mayat tak keruan macam itu. la menyesal.

"Kenapa kau main tarik napas saja?" tiba tiba datang pertanyaan dari belakang si anak muda. Pertanyaan itu merdu dan disusul dengan tertawa empuk.

"Kau tahu apa? Ilmu silatmu telah maju luar biasa sekali itulah tak dapat dipikir otak biasa jikalau aku tidak menyaksikan sendiri sampai dua kali, aku pun tentu tidak nanti percaya."

Tiong Hoa menoleh, ia nampak masgul.

"Bukan kausapa encie, aku pun hampir tak percaya diriku sendiri," kata ia. "Aku merasa aku seperti lagi berkhayal."

Pemuda ini ingat Pouw Lim, maka ia lari kepohon berlompat keatasnya, guna mengasi turun pemuda itu. la menepuk membikin orang sadar.

Puteranya Pouw Llok It membuka kedua matanya, untuk mengawasi Tiong Hoa dan In Nio la lantas ingat segala apa.

"Kau telah menolong aku, saudara Lie. aku sangat berterima kasih padamu," katanya. ia tertawa tawar. "Mana encie Keng?"

Tiong Hoa bersenyum. "Kakakmu berada didalam gua, sebentar kau dapat menemui dia," sahutnya.

Pouw Lim melihat akibat pertempuran, ia melengak. Sampai sekian lama ia berdiam saja. Baru kemudian ia seperti mendusin.

"Sa udara Lie, apakah telah terjadi disini?" ia tanya, ia heran, otaknya bekerja. “Adakah itu pekerjaan manusia.”

"Pouw siauwhiap. baik kau tak usah perdulikan lagi segala apa disini," sahut Tiong Hoa sabar. "Ringkasnya Touw Leng semua telah menerima nasibnya, hingga sekarang kau tentu dapat melegakan hatimu."

Pouw Lim mengawasi mayat Touw Leng, dia nampak gusar sekali.

"Sayang tak dapat aku membunuh dia dengan tanganku sendiri" katanya. "Sayang dia mati terlalu siang."

Dalam murkanya itu selayaknya saja Pouw Lim mendupak mayat musuhnya, tetapi ia telah tidak berbuat demikian, ia melainkan mengawasi bengis. Melihat itu Tiong Hoa-kagum. Nyata anak muda itu dapat menguasai dirinya, pikirnya. Itulah sifat orang gagah sejati.

Tak lama, Pouw Lim kata: "Aku telah di totok Touw Leng sudah begitu lama hingga darahku mandek, hingga tak dapat aku menggunai tenagaku. Saudara Lie. tolong kau totok aku pada jalan-darah kwan-goan ditiga tempat. Kau gunai tenaga sedikit keras, nanti totokan itu bebas."

Tiong Hoa mengangguk sambil bersenyum. "Itulah selayaknya, tak usah sampai kau minta lagi." kata ia. la lantas berjalan-perlahan ke belakang pemuda itu.

"Ya, aku belum mengaturkan terima kasihku pada Nona Cek." kata Pouw Lim. "Kau telah merawat kakakku."

Jangan merendah, Pouw Siau whiap. jangan kau mengucap terima kasih padaku," berkata In Nio "Aku justeru berterima kasih kepada kakakmu itu yang sudah merawat ibuku."

Pouw Lim tersenyum, terus ia memejamkan mata dan membungkam.

"Pouw siauwhiap siap" kata Tiong Hoa dari belakang si anak muda, ia terus meluncurkan tangan kanannya, akan dengan dua jerijinya menotok punggung orang, di-jalan- darah kian-goan seperti di tunjuki.

Tiga kali Pouw Lim tertotok. Lantas ia muntah darah yang berwarna merah gelap. la terhuyung, lalujatuh berduduk. guna dengan perlahan terus mengasih jalan darahnya seluruhnya. Berbareng dengan itu, ia juga menyalurkan pernapasannya. Cek In Nlo mengawasi, lalu ia tertawa perlahan-

"Bahaya sudah lewat, adik Hoa," kata ia pada si anak muda. Banyak yang aku hendak tanyakan, tapi lain hari saja. Sekarang aku melainkan mau menanya satu hal.

Hajaranmu barusan sangat hebat, walaupun Thian Yoe Sloe liehay sekali, aku merasa dia tak nanti sanggup berbuat demikian- Adikku, kau sebenarnya murid siapa?"

Ditanya begitu, Tiong Hoa tertawa. "Sebenarnya aku tidak tahu pasti lagi, aku ini murid siapa," sahutnya. "Yang tepat yalah banyak pelajaran yang aku telah gabung menjadi satu, yang semuanya langka dan luar biasa. Linat saja keanehannya, aku mendapatkan giok- cie"

Nona itu mengasi dengar suara di hidung, matanya melotot, mulutnya mencibir. "Kau, kau pun dapat berbuat nakal," katanya. "Kau licin, ya." Ketika itu Pouw Lim sudah selesai beristirahat, ia berbangkit.

"Cek Liehiap." katanya pada In Nlo, "sekarang tolong kau ajak aku pergi menemui kakakku."

Nona itu mengangguk.

"Pouw Siauwhiap. silahkan" ia mengajak.

Nona itu lantas bertindak dan Pouw Lim mengikuti. Ketika sudah jalan kira tujuh tindak. adik Pouw Keng menoleh. la heran melihat Tiong Hoa berdiam saja. "Eh, Saudara Lie" tegurnya. "Kenapa saudara tak turut?"

"Aku hendak menanti disini," sahut Tiong Hoa. "Tadi Touw Leng bilang bahwa ayahnya bakal datang mencari Giok Lok Tong, maka itu perlu aku menunggui dia."

"Oh, begitu" kata pemuda she Pouw itu. "Baiklah habis menemui kakakku, aku akan segera kembali kemari guna menemani dan membantu padamu."

Tiba tiba In Nio lompat kedepan si anak muda romannya sungguh-sungguh.

"Adik Hoa," kata ia, "ilmu silatmu barusan tak dapat kau sembarang gunai lagi sebab apabila rahasia bocor dalam perjalanan ke Tiam chong nanti kau pasti bakal menjadi sasaran umum dan kawanan sesat itu juga tentulah sudah menyiapkan segala apa hingga ada kemungkinan kau nanti kena perangkap. Kalau terjadi sesuatu kecewa adik Keng. Aku percaya kau sudah mengerti maka tak usahlah aku memesan melit-melit." 

Tiong Hoa mengangguk. "Aku mengerti," sahutnya. "Syukur "kata si nona.

Nona itu dan Pouw Lim lantas berjalan terus. Tiong Hoa mengawasi mereka, lalu ia menghela napas sendiri. Memang hebat tindakannya barusan tetapi jikalau ia tidak menyapu secara demikian, ada kemungkinan musuh yang lolos.

Belum lama anak muda ini merasa kesepian itu, satu bayangan terlihat berkelebat ke arahnya. Ketika ia memasang mata, ia mengenali Tiat Sloe Hoei ciee Sin Kong Tay, kawannya.

Sin Kong Tay melengak apabila ia telah menyaksikan pemandangan dihadapannya itu.

Hanya seperti Pouw Lim ia pun menyangka itulah pasti hasil perbuatannya anak muda she Lie ini. Dalam herannya, ia pikir: "Anak ini mempunyai tenaga bukan tenaga manusia" Toh ia harus mempercayainya.

"Tak lama aku berdiam di Siang ceng Kiong, lantas aku pamitan," berkata Sin- Kong Tay kemudian, "ketika kami berada di-luar kuil mendadak kami mendengar suara bagaikan guntur yang datangnya dari arah Giok Lok Tong. Tentu sekali aku kaget"

Bersama-sama Hian Yan, sama aku mengawasi ke arah sini. "Kami melihat debu mengepul naik. Kami semua kaget. Hian Yang mau mengajak murid muridnya datang kemari tetapi aku mencegah, Demikianlah. aku kembali seorang diri. Apakah yang barusan terjadi?"

Tiong Hoa menuturkan tentang tibanya rombongan Touw Leng yang menguasai Pouw Lim. la tidak menyebut perihal hajarannya yang dahsyat itu. ia hanya kata saking hebatnya pertempuran, banyak pohon kena terhajar roboh.

Sin Kong Tay kagum. Tapi ia kaget. "Ayahnya Touw Leng mau datang kemari?" ia tegasi.

"Dialah seorang yang liehay sekali, tak dapat dia dilawan dengan tenaga kekuatan-“

Tiong Hoa mengawasi tajam, ia heran. "Sebenarnya dia liehay bagaimana?" tanyanya. "Kenapa Sin Loosoe demikian menghargai dia?"

"Ayah Touw Leng itu bernama Tiang Kie." Sin Kong Tay menerangkan, dia menjadi jago diperbatasan tetapi sangat sedikit orang yang mengetahui, ia mengumpuli banyak murid dan kawan yang semuanya orang-orang yang liehay, itulah sebab sudah sekian lama ia bercita- citakan menjadi jago Rimba Persilatan-

Aku tidak tahu jelas perihal ilmu silatnya itu, aku cuma mendengar saja, maka itu aku menduga ia mesti memiliki sesuatu yang istimewa. Satu hal sudah pasti, apabila dia benar datang kemari, mesti dia membawa banyak kawannya yang liehay itu. Benar-benar, siauwhiap. aku berkuatir untuk Giok Lok Tong. Disini kau bersendirian saja."

Tiong Hoa berpikir. la menganggap kekuatirannya kawan ini benar. Memang, kalau Touw Tiang Kie melihat ia dan kawan kawannya dia itu menyerbu kedalam gua, pastilah Pouw Keng berlima ibunya bisa terancam bahaya. la lantas mengasa otaknya.

"Sin Loosoe, sekarang baik kita mengatur begini saja," kata ia, cepat. "Silahkan loosoe menjaga dimulut gua, disebelah dalam sambil bersembunyi. Kalau musuh datang, lantas loosoe hajar padanya. Bunuhlah semua, jangan loosoe ragu-ragu" Tiat-Sie Hoei-chee menganggap itulah jalan satu- satunya, maka ia menyatakan setuju, bahkan ia lantas lari pulang ke gua guna bersiap sedia.

Lie Tiong Hoa mengawasi orang berlalu, -lalu dia berdiri diam dengan kedua tangan digendongkan kepunggungnya. matanya mengawasi kelangit yang berawan biru. Kemudian ia naik keatas sebuah cabang dari mana ia bisa memandang keempat penjuru.

Belum terlalu lama atau tiba-tiba ia terkejut. Tidak tempo lagi ia lompat turun dan lari kearah gua. Sama sekali ia tidak menerbitkan suara apa juga. la menyembunyikan diri diantara pohon-pohon lebat disisi kiri Giok Lok Tong.

Segera juga terlihat munculnya serombongan dari duapuluh orang lebih, muncul di sebelah kanan gua. orang yang berjalan di muka seorang tua yang mukanya putih dan kumisnya panjang serta kedua matanya bersinar sangat tajam dan bengis.

"Dia pastilah Touw Tiang Kie," Tiong Hoa menerka dari tempatnya sembunyi. "Dia beroman sama dengan Touw Leng."

Orang tua itu melihat pohon-pohon roboh dan mayat- mayat tak keruan macam bergelimpangan, dia kaget hingga dia tercengang. Hebat akan menyaksikan keadaan semua mayat itu. Tapi yang bikin dia paling kaget ialah waktu dia dapat melihat mayat Touw Leng, dengan pesat dia lompat kesisi mayat anaknya itu. Dia mengawasi dengan mendelong, dadanya berdebaran-

Tiong Hoa mengawasi kawan-kawannya Tiang Kie itu. la mendapatkan mereka berusia diatas empat puluh tahun rata-rata, dari pelipisnya ternyata mereka semua mesti memiliki tenaga dalam yang mahir. Mata mereka juga tajam sekali. Yang paling menarik perhatian ialah sepasang orang tua bermuka merah yang sudah lantas memdampingi Tiang Kie. Kumis dan jenggot mereka itu panjang sampai didada mereka, bukan saja roman mereka berdua mirip satu pada lain juga kumis-jenggot mereka sama panjangnya.

Yang membedakan mereka ialah yang dikiri berbaju biru dan yang dikanan kuning. Di punggung mereka masing-masing terlihat sebatang pedang dengan runce lima warna.

Dua orang tua muka merah itu serta kawan-kawannya pun tercengang seperti Tiang Kie. karena itu mereka turut berdiam saja. Baru kemudian Tiang Kie si orang tua muka putih itu, mengangkat kepalanya, hingga terlihat kedua matanya basah dengan air mata.

"Kedua sahabatku, kematian anakku dan lainnya ini mencurigai." Kata ia, perlahan, tetapi suaranya dalam. "Tak dapat aku si orang she Touw memastikan, inilah bencana alam atau malapetaka buatan manusia..."

Sepasang orang tua muka merah itu mengawasi satu pada lainnya.

"Turut kami inilah separuh bencana alam dan separuh buatan manusia." Sahut satu diantaranya. Touw Tiang kie melengak. "Bagaimana bisa begitu?" ia tanya.

"Robohnya pohon-pohon ini tentulah bukan perbuatan manusia" kata orang tua itu, yang memberi penjelasan- "Pastilah siauw-sancoe semua tak keburu menyingkir maka mereka tertimpa pohon-pohon ini, lalu selagi mereka pada terluka itu dan berdaya menolong diri, tiba- tiba mereka diserang oleh orang-orang dari dalam gua Giok Lok Tong yang muncul untuk melihat ada kejadian apa, mendapatkan siauw-san-coe semua, sekalian saja mereka melabrak."

Tiang Kie berpikir.

Justeru itu dari dalam rombongan terdengar tertawa dingin.

ooooo

TIANG KIE segera menoleh.

"Lo Loosoe, bagaimana pendapat losoe?" dia tanya.

Orang yang dipanggil Lo Loosoe itu tertawa dengan dingin.

"San-coe, yang dinamakan bencana alam itu yalah badai hebat atau bumi gempa." Kata dia. "Kedua sahabat ini dapat menduga tepat hanya keadaan atau kenyataannya masih mengharapkan pemikiran- Tempat kejadian ini cuma berbatas sekitar belasan tombak persegi. Mungkinkah bencana alam bertenaga begini lunak? inilah satu, sekarang yang kedua.

Bukankah siauw-sancoe sangatjarang muncul dalam dunia Kang ouw Mungkinkah Losat KwieBo semua mendapat tahu siauw-sancoe berniat jelek terhadap diri mereka hingga sia u-sancoe semua lantas diserang begini hebat? Dalam dunia Kang-ouw ada aturan yang tak tertulis, ialah larangan membinasakan secara kejam pada lawan yang sudah tak berdaya. Maka itulah aku menjadi bersangsi."

Si muka merah berkata tawar: “Jadi Lo-Losoe percaya inilah buatan manusia? Kalau begitu, silahkan loosoe mencoba menghajar roboh itu sebatang pohon yang besarnya bersamaan. Loosoe tersohor untuk tenaga tangan loosoe, baiklah loosoe mencoba untuk kita semua membuka mata kita."

Lo loosoe itu menjadi merah mukanya, ia memang tidak sanggup menghajar roboh pohon yang di tunjuk itu. ia berdiam tetapi dengan hati mendongkol sebab merasa diremehkan dimuka banyak orang.

Si baju biru pun kata dingin: "siauw-sancoe berangkat dengan membawa puteranya cit chee cloe Pouw Liok It, maka itu cobalah periksa semua mayat itu, diantaranya ada putera dia itu atau tidak."

Belasan orang lantas maju membikin pemeriksaan- Mereka tidak mendapatkan tubuh-Pouw Lim.

Touw Tiang Kie menepas airmatanya.

"Pastilah Pouw Lim telah dapat lolos dan menyingkir ke Giok Lok Tong" kata dia sengit. "Anakku hilang jiwa, mereka harus bertanggung jawab. Marilah kita cari, gua Giok Lok Tong pasti berada tak jauh lagi dari sini"

Kata-kata itu mendapat persetujuan, hanya belum lagi mereka mulai mencari, lantas mereka semua dibikin terkejut tertawa yang nyaring, yang terdengar dengan tiba-tiba, ketika mereka semua berpaling, melihat mereka seorang pemuda tampan lagi mendatangi dengan tindakan tenang dan wajah tersungging senyuman- Semua orang heran, semua mengawasi.

"Kau siapa?" Tiang Kie menegur. Habis tertawanya pemuda itu, rimba raya menjadi sepi sekali.

"Aku yang rendah pemilik dari gua Giok Lok Tong," menjawab si anak muda.

"Barusan aku mendengar pembicaraan tuan-tuan yang katanya mau pergi ke Giok Lok Tong. Sebenarnya ada urusan apakah?" Tiang Kie ragu-ragu, sebelum menjawab, ia masih menatap. Terang ia berpikir keras. Baru lewat sesaat, ia menanya: "Tuan. bukankah kau she Lie?"

Orang tua ini mengerutkan alis, ia ingat suatu apa.

Diwaktu menanya itu, suaranya bengis.

Pemuda itu, Tiong Hoa, menggeleng kepala. "Aku yang rendah she Tio" jawabnya tertawa.

"Mengapa tuan sembarang mengubah she orang?" Mukanya Tiang Kie meniadi merah. Dia jengah. "Tapi anakku telah terbinasa tak keruan ditangan

kau," katanya kemudian-Tiong Hoa berlagak kaget. "Siapakah itu anak tuan?" ia tanya. "Aku tidak kenal

dia"

"Itulah dia anakku" sahut Tiang Kie keras dan tangannya menunjuk kearah mayat Touw Leng.

Tiong Hoa menoleh ke arah mayat yang ditunjuk itu, ia mengasi lihat roman berduka, ia pun menghela napas.

“Jadi itulah putera tuan?" katanya. "Putera tuan itu terbinasa lebih banyak ditangan manusia daripada karena bencana alam." Tiang Kie membuka lebar matanya.

"Apakah artinya perkataan kau ini?" dia tanya membentak. Tiong Hoa menggendongkan kedua tangannya. sikapnya tenang.

"Tuan, apakah tuan pernah mendengar kata-kata hal bagaimana harus menebang pohon dan memotong kayu? ia tanya sabar. Tiang Kie menjadi gusar.

"Kau ngacoh apa ini?" dia menegur, "Menebang pohon itu mesti dengan menggunai gergaji untuk merobohkannya Tapi lihatlah ini. Disini tak nampak bekas-bekas potongan gergaji. Apakah kau mengira mataku si orang she Touw kelilipan pasir?"

Tiong Hoa tertawa lebar. “Jikalau tuan tidak percaya, percuma aku bicara" ujarnya.

"Bukankah anakku itu terbinasa ditangan kau?" Tiang Kie tanya gusar sekali. Tiong Hoa menjawab dingin: "Kalau tuan mencurigai aku percuma aku menyangkal"

Matanya Tiang Kie bersinar.

"Bukankah Lo-sat KwieBo bersembunyi didalam gua Giok Lok Tong?" Tiang Kie tanya gusar sekali.

Tiong Hoa tetap berlaku tenang, Dia tertawa. "Dia sudah pindah sejak setengah bulan lalu"

sahutnya. "Ada apa kau menanya kan dia?"

Tiang Kie melengak. Sesaat kemudian, ia menanya pula: "Bukankah cangkir kemala coe-in-pwee telah dibawa pergi olehnya?" Tiong Hoa tertawa.

"Aneh" katanya nyaring. "cangkir kemala itu miliknya Lo-sat KwieBo. Kenapa Kau mengarahnya?"

Tiang Kie tertawa dingin: "Kau berani mendustai aku?" dia membentak. Tangannya telah diulapkan. "Bekuk dia."

Menyusul perintah itu. dua orang berlompat maju kepada Tiong Hoa. Mereka sangat gesit. Begitu tiba dikedua sisi si anak muda, begitu keduanya mengulur tangan mereka masing-masing guna menotok empat^alan-darah pemuda itu. Hebat serangan itu.

Tiong Hoa tertawa, tubuhnya berkelit, tangan kanannya mengibas.

Penyerang sebelah kiri itu lantas menjerit kesakitan Tangannya telah dicekal tangan Kera Terbang si anak muda, segera dia merasakan sangat nyeri, darahnya mandek. lengannya ngilu. Tak dapat dia bertahan untuk tidak mengasi dengar suaranya yang menggiriskan itu. Tiong Hoa tidak berhenti hanya dengan menangkap tangan orang saja, Ia memutar tangannya, hingga tubuh korbannya itu terputar juga, tepat tubuh itu menjadi sasaran kawannya yang menyerang di kanan itu, maka sepuluh jari yang kuat dari kawan itu nancap di iganya hingga lagi sekali dia berkaok. mulutnya menyemprotkan darah, lalu dia roboh dengan jiwanya putus.

Kawan itu, si penyerang lompat mundur. Dia berdiri melengak. Tiong Hoa tertawa dingin ketika ia melepaskan tubuh korbannya^

"Macam begini masih berani membokong orang?" katanya mengejek. "cuma mempertontonkan keburukan sendiri"

Tiang Kie semua heran. Pemuda itu liehay sekali Mereka semua mengawasi dengan tajam.

“Jangan jumawa karena kemenanganmu yang tak berarti ini" kata Tiang Kle kemudian suaranya tawar.

Ketika itu si orang tua muka merah berbaju biru bertindak maju Lebar tindakannya.

"San-coe," kata dia selagi bertindak itu, " bocah ini boleh serahkan pada kami dua saudara. Silahkan san-coe bersama semua yang lainnya mencari gua Giok Lok Tong, asal san-coe berhati-hati buat Lo-sat KwieBo" Tiang Kie dapat menyabarkan diri dia mengangguk. "Benar," sahutnya.

Tiong Hoa terperanjat, pemecahan tenaga orang itujusteru yang ia kuatirkan, ia membentak: "Siapa berani lancang memasuki Giok Lok Tong dia mesti mampus tak ampun lagi.

"Belum tentu" kata Tiang Kie jumawa. Dia mengangkat tangannya, maka semua kawannya lantas bergerak untuk memasuki rimba. Mendadak orang yang berjalan paling depan menjerit, menyusul itu tubuhnya terlempar keluar. Semua orang lainnya kaget hingga mereka pada mundur.

orang yang dilemparkan itu roboh tepat didepannya Tiang Kie, dia rebah tak berkutik lagi.

Justeru itu salah seorang berseru^ "cit-chee cioe"

Tiang Kle mengawasi kepada orangnya yang telah menjadi mayat, ia melihat pada baju yang robek sebuah tapak tangan, tangan-tangan yang menggetarkan dunia Kang ouw atau Rimba Persilatan: cit chee cioe atau tapak tangan Tujuh Bintang cuma sebentar jago she Touw ini terkejut, dia lantas menghadapi Tiong Hoa.

"Orang sheTio kau pernah apa dengan cit chee cioe?" demikian tegurnya. "Didalam rimba itu masih ada beberapa banyak tikus yang menjadi kawanmu?" Tiong Hoa tertawa.

"Tuan pertanyaan kau sangat tidak pantas" dia menegur. " Hari ini siapakah yang datang kemari mencari gara-gara? Bukankah barusan aku telah beri peringatan kepada kau, siapa berani memasuki Giok Lok Tong dia mesti mampus. Kau tidak percaya Habis kau hendak sesalkan siapa?"

Tiong Hoa menegur begitu lega ia percaya didalam rimba itu, Pouw Lim beramai telah siap sedia.

"Sudahlah, omongan saja tidak ada gunanya" berkata si orang tua muka merah. "Hari ini kita cuma dapat maju, tak dapat kita mundur" Ia menghadapi sianak muda, untuk melanjuti: "Tuan, aku telah melihat ilmu silatmu, itulah luar biasa sekali, maka itu sekarang aku dengan pedangku, ingin main-main denganmu, untuk memutuskan siapa menang dan siapa kalah Umpama kata apa lacur aku situa yang kalah, akan aku lantas mengundurkan diri buat tidak mencampur lagi segala kerumitan ini"

Tiong Hoa bersenyum mendengar kata-kata itu. "Apakah tuan bersendirian saja?" ia menegaskan. "Kita

tak bermusuhan satu dengan lain, sebenarnya aku tidak setuju. Tapi ingin aku mengulangi penjelasanku, siapa yang masuk ke gua Giok Lok Tong, dia mesti mati. Maka itu aku beri nasihat kepada tuan-tuan semua, janganlah kamu menjadi tamak Siapa mengerti dan dapat mundur, dialah yang selamat "

Sabar si anak muda bicara tetapi suaramu berpengaruh. Semua orang berdiam. Tiang Kie pun heran.

"Dia masih begini muda, kenapa dia begini keren ?" pikirnya. "Dia mirip dengan seorang guru besar. Tapi aku mesti mendapatkan cangkir kemala itu, yang ada hubungannya dengan kitab Lay Kang Koen Pouw Aku sudah bekerja, aku mesti menjadi jago Rimba Persilatan. Mana dapat aku mundur hanya gertakan belaka ? Baik aku menyaksikan lebih jauh kegagahan orang ini. baru nanti aku memikir pula."

Maka ia berkata "Tuan- jangan kau omong besar, jangan kau tidak tahu malu Kedua sahabatku ini liehay ilmu pedangnya, jangan kata baru kau, sekalipun kedua pihak Ceng Shia Pay dan Khong Tong Pay yang sangat kesohor sekarang ini tak dapat melawannya. Apakah tuan benar sanggup melayani kedua sahabatku ini "

Tiong Hoa tertawa.

"Tuan, sebenarnya apakah maksud tuan datang kemari?" ia balik tanya. "Tuan harus ketahui, aku yang sudah tidak campur tau urusan Rimba Persilatan Kenapa tuan mendesak aku? Kenapa tuan berjumawa tidak karuan? Apakah tuan memangnya memikir tak mau keluar pula dari rimba ini"

Tanpa menanti orang berhenti bicara, si orang tua berbaju kuning sudah lantas menghunuskan pedangnya, hingga senjata itu berkilauan menyilaukan mata. Ketika diputar, pedang itu pun mengasi dengar suara me ngaung. Itu saja sudah membuktikan orang liehay sekali.

"Tuan jangan terlalujumawa" kata Tiang Kie pula. "Untukku membekuk kau mudah seperti aku memutar balik telapakan tangan ku. Maka dari itu aku beri nasehat padamu suka berpikir pula masak-masak. Baiklah kau beritahukan kami tempat sembunyinya Lo-sat Kwie Bo, supaya kita dapat menyelesaikan salah paham kita ini"

Tiang Kie tidak percaya pembilangan si anak muda bahwa Lo-sat KweBo sudah pindah. Atau kalau itu benar, nyonya itu pasti pindah hanya ketempat yang berdekatan. Selagi pemimpin ini bicara, kawan-kawannya mengawasi tajam keadaan rimba dari mana barusan kawannya terlempar, atau di lempar keluar, hingga menemui ajalnya dengan segera. Mereka berjaga-jaga lantaran kuatir nanti dibokong.

Sementara satu diantara mereka menjadi kaget sekali.

Disini berdiri paling belakang. Tiba-tiba dia merasa punggungnya seperti di gigit nyamuk, nyeri campur gatal. Saking kaget, dia lantas merabah. kebelakang ke punggungnya dibagian yang nyeri dan gatal itu.

Tiba-tiba dia menjadi tercengang. la merasakan lengannya terikat secara tiba-tiba dan iganya dingin. Lalu mendadak tubuhnya tertarik dan terangkat seperti yang digantung. Semua orang kawannya orang itu terkejut, semua melengak.Justeru itu delapan diantaranya merasa dadanya dingin, terus mereka itu roboh tanpa bersuara lagi, semua lantas melayang jiwanya. Kenapa orang kaget tidak terkira.

Tiang Kie menoleh, dia menyaksikan kejadian itu, selain kaget, dia menjadi sangat gusar.

"Anak kurang ajar, jangan sesalkan aku kejam," dia membentak Tiong Hoa, sedang matanya merah seperti menyala.

Sepasang orang tua muka merah juga lantas mereka lari ke arah rimba. Mereka mengajak semua kawannya.

Semua orang kaget dan berkuatir, tetapi mereka tidak menjadi ciut nyalinya.

kedua orang muka merah itu menyusul kawannya yang seperti tergantung itu, yang kena tertarik. Mereka mendapatkan orang tergantung pada sebuah pohon, napasnya sudah berhenti. Dengan cepat mereka menabas alat yang menggantung itu, sedang tubuh si kawan dikasi turun.

Ketika mereka memeriksa, kawan itu sudah putus jiwa, lengan dia itu terlibat

selembar rotan maka lengannya itu. lengan kanan menjadi bengkak dan matang biru. Teranglah kawan itu disambar bandering yang istimewa itu dan kena ditarik untuk terus digantung.

Untuk memeriksa lebih jauh, saking gusarnya dua orang tua itu lari masuk ke dalam rimba.

Tiong Hoa melihat orang memasuki rimba. Sekarang ia tidak bingung lagi. Setelah menyaksikan dua peristiwa barusan, ia percaya Pouw Keng semua sudah siap-siap sedia guna meringkus semua musuh. Maka sambil bersenyum ia mengawasi Touw Tiang Kie.

"Tuan," katanya ramah "kau hendak memberi pengajaran kepadaku, kenapa kau menyebut-nyebut kejam?" Sebaliknya aku, aku kuatir kau nanti tak dapat mengalahkan aku.^

Tiang Kie menatap tajam. Tangan kanannya lantas diangkat perlahan-lahan, dikasih masuk kedalam sakunya.

Tiong Hoa melihat itu, ia ingat sesuatu apa. Lantas ia tertawa nyaring dan kata: "Barusan tuan menyebut- nyebut kejam, aku mengertilah sekarang Rupa-rupanya tuan hendak maksudkan benda didalam sakumu itu yaitu asap beracun ciang-tok Bie-khie. Jikalau benar, aku suka kasi nasehat padamu untuk kau simpan saja asap beracunmu itu. Supaya kau tidak memancing bencana untuk dirimu sendiri" Tiang Kie terperanjat, hingga itu tampak pada sinar matahari. "Kenapa kau ketahui itu?" dia tanya. "Mungkinkah kau si orang she Lie?..."

Tiong Hoa tertawa. Berbareng dengan itu mendadak tubuhnya mencelat maju, pesatnya luar biasa. Berbareng dengan itu juga, tangan kanannya meluncur. Itu artinya telah bekerjalah tangan Kera Terbang-nya.

Kagetnya Touw Tiang Kie tidak terkira. Dalam gugupnya, ia berlompat ke-samping kiri untuk mengelit diri. "Bret " demikian terdengar.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bujukan Gambar Lukisan Jilid 27"

Post a Comment

close