Bujukan Gambar Lukisan Jilid 22

Mode Malam
Jilid 22 : Cie Ie Bu-Eng Tie Sin Hong difitnah

Orang she Kiauw itu berdiam. Mendadak dia berpaling keluar jendela. Karena ini, dia terlihat tegas wajahnya oleh Tiong IHoa. Dia berumur lebih-kurang empat puluh tahun matanya bersinar tajam, kumisnya tebal.

"Siauw-sancoe dari Tay In San melakukan perjalanannya menuruti rencananya Lo Leng Tek si cerdik, saban-saban dia menukar arah, maka itu Pouw Llok It sekalian saban-saban menubruk tempat kosong," kata dia yang memberi keterangan dengan matanya bermain tajam.

"Itulah telah aku si orang she Touw duga" kata si baju putih.

Orang she Kiauw itu batuk-batuk.

"Sekarang aku telah mendengar jelas," kata dia. "Lusa rombongan Tay in San itu bakal tiba di cong Seng Sie di Tali, mereka akan minta Pay supaya diantar sampai di Koen-beng. pihaknya Pouw Liok It dengan tipunya Lo Leng Tek bakal dipancing menyusulnya ke gunung Kong San-"

"Hm Kalau begitu, besok kita boleh pergi ke Tali." Lalu terdengar suaranya orang yang ke-tiga: "Touw

Siauwhiap. kalau gelang kemala berhasil didapatkan, bagaimana dengan kitab silat Lay Kang Koen Pouw, bagaimana hendak diaturnya?"

"Menurut kau, tuan, bagaimana?" si baju putih balik menanya. Dia menjawab dengan perlahan-

"Kitab itu terdiri dari tiga bahagian, Atas, Tengah dan Bawah. Menurut aku si orang she Boen, baiklah seorang satu jilid, nanti kita memahamkannya saling tukar, Dengan begitu diantara kita barulah ada kepercayaan penuh."

"Apakah tuan-tuan berdua tidak percaya aku si orang she Touw?" tanya si baju putih, suaranya dalam.

Dua orang itu, si orang she Kiauw dan she Boen, bungkam, Hingga suasana dalam kamar mereka mirip suasana air diam.

Karena orang berdiam saja, selang sekian lama, si baju putih berkata pula, sekarang suaranya sabar. "Lay Kang Koen Pouw suatu kitab istimewa, dikolong langit ini tidak ada satu jago yang tak mengilarkannya." kata ia, "maka itu, jadi bukan cuma kita bertiga yang menghendakinya. Baiklah, apabila kita nanti berhasil, aku bersedia menurut cara pengaturan kau ini, Boen Loosoe."

"Kata-kata kau ini berat, Touw Siauwhiap." kata si orang she Boen, "Baiklah, sekarang tenanglah hatiku si orang she Boen."

Pemuda berbaju putih itu bersenyum.

Menampak senyuman itu, hati Tiong Hoa bercekat, itulah suatu senyuman aneh, itulah senyumannya seorang jumawa yang hatinya dingin, ia pun melihat sinarmata orang yang bengis, Kata ia didalam hatinya: Dua orang itu bakal mati tanpa tempat kuburnya."

Kedua matanya si baju putih mengawasi keluar jendela, Kedua mata itu berkilau tajam. Lantas dia kata perlahan sekali: " Di-luar ada orang mengintai kita"

Tiong Hoa heran- Tidak ada orang dipintu luar, Kenapa si anak muda mengatakan demikian?

Si Kiauw dan si Boen terkejut, hampir berbareng keduanya bertindak kepintu.

Baru si Kiauw lewat pintu satu tidak. mendadak si baju putih menyerang punggung orang dimana jalan-darah hoen-boen. Di-waktu menyerang itu, mata dia berkeredep tajam, sedang serangannya cepat luar biasa.

Orang she Kiauw itu mengeluarkan suara tertahan, tubuhnya roboh kebelakang, si baju putih menyanggapi, lalu dikasih turun, maka tubuh orang itu rebah tanpa suara.

Si Boen terperanjat Dia mendengar suara tertahan dari si Kiauw itu. Segera dia ber-paling, Baru dia bersuara: "Touw " atau dia pun telah kena ditotok hingga dia

roboh seketika. Jalan-darahnya. yoe-boen, menjadi sasaran jeriji tangan si bajuputih itu.

Tiong Hoa melengak, ia mengeluarkan napas dingin. Benar seperti katanya cie Ie Boe-Eng, pemuda berbaju putih itu jauh terlebih telengas daripadanya. Dengan mudah saja pemuda ini merampas jiwa dua kawannya itu. Kemudian dengan sebat dia memondong kedua korbannya kedalam kamarnya.

Sim Yok dan Lauw chin tersadarkan suaranya si Boen, baru mereka bangun, untuk terduduk diatas pembaringannya, mereka di bikin kaget oleh munculnya Tiong Hoa, yang berlompat masuk kedalam kamarnya.

"Berpura tidur nyenyak," Tiong Hoa kata perlahan "Kalau ada yang tanya apa-apa, bilang saja tak tahu."

Habis memberi kisikan, Tiong Hoa kembali ke pembaringannya dimana ia rebah matanya dibuka sedikit, untuk berjaga-jaga.

Sedang hidungnya memperdengarkan suara bahwa ia lagi tidur lelap sekali.

Sim Yok dan Lauw chin menduga Tiong Hoa berbuat demikian karena sesuatu sebab, mereka pun lantas menelad.

Tiong Hoa lantas melihat bayangan berkelebat diluar jendela, ia menduga tentulah si orang she Touw lagi bekerja untuk menyingkirkan mayat - mayat kedua kawannya itu, maka ia menyangka juga bahwa orang bakal lekas kembali.

Tak lama lalu terdengarlah ketukan pada pintu beruntun bebeberapa kali, Mendengar itu, mau atau tidak. hati Tiong Hoa guncang. 

SETELAH TERDENGAR ulangan ketukan pintu, barulah Tiong Hoa mengasi dengar suaranya seperti ia baru mendusin dari tidurnya : "Siapa ?"

"Aku Kwat Leng " sahut orang diluar, Yalah si pemuda berbaju putih, yang suaranya dikenal baik.

"Oh, saudara Kwat..." kata Tiong Hoa.

Suaranya sengaja dibikin panjang, "Harap tunggu sebentar, nanti aku membuka pintu." ia terus membanguni Sim Yok dan Lauw chin, ia sendiri mengasi dengar suara seperti ia lagi bergerak turun dari pembaringannya.

Tatkala daun dipentang, si anak muda berbaju putih terlihat berdiri dimuka pintu, sikapnya sangat tenang.

"Silahkan duduk. saudara Kwat," Tiong Hoa mengundang, “Hari belum lagi fajar, saudara sudah bangun- Apakah saudara masih belum tidur? Ada apakah?"

Si baju putih tidak menyahuti, dia hanya bertindak masuk. matanya melihat tajam kelilingan- Baru kemudian ia berkata sambil tertawa: Aku masih belum tidur ketika barusan aku melihat berkelebatnya dua bayangan orang diluar kamar, Aku heran, lantas aku menyusul. Sampai diluar, aku tidak melihat apa juga, Aku menyaksikan dua orang she Boen dan she Kiauw maka itu aku datang kemari untuk memberi kisikan..."

"Manusia licin" Tiong Hoa mendamprat didalam hati, Tapi ia bersenyum dan kata: "Saudara Kwat, kau baik sekali, Terima kasih" Sim Yok dan Lauw chin tidak puas. Mereka melihat orang tidak memberi hormat dan lagaknya sangat jumawa, Maka itu, mereka mengawasi tajam.

Kwat Leng pun memandang dua orang itu, lalu dia mengasi dengar suara dihidungnya.

"Kalau tuan bertiga sadar, tenang hatiku," katanya. ia dongak melihat keluar jendela, terus ia berkata seorang diri: "Aku si orang she Kwat perlu keluar sebentar Maaf”

Dengan lantas ia lompat keluar, untuk berlompat pula naik keatas genteng dimana dia menghilang.

Sim Yok lantas mengumbar kemendongkolannya, Kata dia: "Manusia demikian jumawa, baiklah siauwhiap jangan bersahabat dengannya"

"Dialah orang sangat licik," kata Tiong Hoa perlahan, "Seumurku, baru pernah aku menemui orang semacamnya, Dia sangat tidak puas kepada kau, jiewie, maka itu lain kali baiklah jiewie berhati-hati, Dengan jeriji tangannya dia dapat membunuh orang dalam sedetik, kita harus waspada terhadapnya."

Lauw chin tidak puas, ia menganggap Tiong Hoa terlalu memuji orang she Kwat itu.

"Siauwhiap." tanya sim Yok. "tadi siauwhiap keluar, apakah siauwhiap mendapat lihat sesuatu? Mengapa siauwhiap menyuruh kami berpura-pura tidur? Kalau suka tolong siauwhiap memberi keterangaupada kami."

Tiong Hoa hendak memberi penjelasannya atau mendadak ia ingat apa apa. Maka dia lekas berkata, perlahan- "Silahkan tidur pula, jiewie, mungkin dia datang pula.."

Sim Yok dan Lauw chin mendapatkan roman si anak muda tegang, walaupun sebenarnya mereka tak setuju, mereka toh lantas rebah pula, Tiong Hoa kembali ke pembaringannya, sembari rebah tetap ia memasang mata.

Dengan cepat diluar terdengar angin bersiur suara jatuhnya kaki perlahan dilantai batu. Suara itu cuma dapat didengar oleh orang yang telinganya telah terlatih sempurna, Habis itu di sela-sela pintu menyorot sinar satu mata yang tajam, yang mengintai kedalam kamar, Diam-diam Tiong Hoa tertawa dalam hatinya.

Hanya sebentar, maka terdengarlah suara nyaring dari Tie Sin Hong:, "Siapa bernyali besar berani berlagak seperti iblis didepan kamarku si orang tua?"

Lalu terdengar suaranya si orang she Kwat, yang tertawa nyaring: "Mata Tie Loo soe seperti mata lamur, coba aku seperti kau, bukankah jiwaku sudah melayang di tanganmu?"

Atas itu terdengar lagi suaranya Tie Ie Boe Eng: "Hari belum lagi fajar, kenapa Kwat Laotee masih belum tidur?"

"Baru saja aku si orang she Kwat pergi keluar" si pemuda berbaju putih menjawab dengan keterangannya. "Aku lupa suatu barang, aku pergi mengambilnya. Aku lewat didepan jendela kau ini, Tie Loosoe, tetapi kau. Hm lantas kau menyerang..."

"Sudah, sudah" Sin Hong tertawa, "sekarang aku tanya kau, buat urusan apa kau pergi keluar?"

Si pemuda tertawa ketika dia menjawab: "Buat apa lagi kalau tidak buat urusannya ketiga mustika itu"

Tie sin Hong tertawa dingin, Dia kata: "Aku si orang tua memasang pancing tanpa umpan, didalam hal itu, aku terserah kepada keadaan yang wajar Tapi kau akan mundar-mandir, aku kuatir kau tak berhasil." "Terserah kepada untung masing-masing" kata si orang she Kwat nyaring, "Losoe menyindir kepada aku si orang Kwat, baiklah aku nanti pergi dan kembali Maafkan aku tak dapat aku menemani lebih lama pula"

"Terserah" kata Sin Hong juga sama dinginnya.

Hanya sebentar, kesunyian berkuasa pula, Lalu "Lie Laotee, apakah kau sudah mendusin?"

Itulah suaranya cie ie Boe Eng, si baju Merah Tanpa Bayangan-Tiong Hoa berlompat bangun dari pembaringannya. "Tie looecianpwee, silahkan masuk." ia menjawab.

Pintu kamar memang cuma dirapati. Maka Sin Hong menolaknya dan bertindak masuk. Sim Yok dan Lauw chin sama-sama berbangkit, akan memberi hormat kepada orang tua itu. sin Hong mengambil tempat duduk.

"Laotee." katanya tertawa, pasti barusan kau mendengar sesuatu?"

Mau tak mau, Tiong Hoa melengak. la tertawa dan kata: "Loocianpwee liehay, pasti gerak-geriknya si orang she Kwat tak lolos dari mata looecianpwee, dari itu tak usahlah looecianpwee menanya lagi padaku."

"Ooh, anak muda yang cerdas sekali" si orang tua tertawa, "Kau nyata lebih cerdik seratus lipat dibanding dengan si pemuda baju putih yang licik itu" ia berkata dengan kedua matanya bersorot tajam. ia menambahkan: " Dua jago Rimba Hijau dari Tionggoan, karena mereka tamak. mereka mati kecewa."

Tiong Hoa heran, Dimana sembunyinya jago tua ini maka dia melihat segala apa? Sebaliknya Liauw chin berdua Sim Yok saling mengawasi dengan bengong, Mereka tak tahu apa-apa.

"Sebentar si bajuputih pasti akan kembali." kata pula sin Hong, "dan dia bakal mengundang aku dan kamu membuat perjalanan ke Tali, maka tak ada halangannya untuk kita menggunai akal menerima baik undangannya itu. Hanya dia sangat licik, tidak naati dia lolos dari tanganku" Tiong Hoa menggeleng kepala.

"Maafkan aku. aku tidak memikirkan Lay Kang Koen Pouw, maka itu tak ingin aku turut bersama," katanya.

Sin Hong heran-

"Habis, apa perlunya kau jauh-jauh datang ke Koen- beng ini?" dia tanya. Tiong Hoa mengasi lihat roman sungguh-sungguh.

"Tentang itu menyesal sukar aku membilangnya." ia menjawab, "Tapi benar urusanku itu tidak ada hubungannya dengan kitab ilmu silat itu."

Sin Hong mengangguk.

"Baiklah, aku percaya kau" kala cie Ie Boe Eng. "Tapi sekarang ini Pauw Liok It telah meninggaikan Koen-beng, tak ada halangannya kau turut berangkat bersama kami laotee, Menyingkirkan bencana Rimba persilatan dan berbareng dengan itu mengumpul jasa baik, bukankah itu tak ada halangannya?"

Sulit untuk Tiong Hoa menolak. terpaksa ia menerima ajakan itu. Ia ingat urusan tadi, yang orang tua itu mengetahuinya ia tanya: "Boan-pwee mendengar si orang she Kiauw memanggil Touw Siauwhiap pada Kwat Leng itulah boanpwee tidak mengerti?"

"Memangnya Kwat Leng itu bukan she dan namanya yang benar" sahut Sin Hong sambil tertawa.

Tiong Hoa berdiam. 

Justeru itu Sim Yok tanya si anak muda, sebenarnya apa yang terjadi tadi.

Untuk tidak mencurigai kawan itu, Tiong Hoa tuturkan peristiwa tadi, tentang sepak terjang Kwat Leng alias Touw Siauwhiap.

Sim Yok dan Lauw chin mendengari, mereka tertarik hati berbareng heran-Sementara itu, sang fajar pun tiba.

Selagi Tiong Hoa masih menutur terus, tiba tiba Sin Hong mengedipi mata padanya juga pada Sim Yok dan Lauw chin. itulah isyarat untuk mereka berhenti bicara.

Tiong Hoa cerdik, la bicara terus tetapi seraya memutar haluan, berceritera tentang sesuatu peristiwa Rimba persilatan di Yan-khia.

Segera juga di ambang pintu muncul seorang dengan wajah tawar, Dialah si orang she Kwat nama Leng atau Touw Siauwhiap baju putihnya yang panjang berkibar- kibar tertiup angin, Dia mengasi lihat senyuman yarg penuh rahasia.

Dengan cepat dia bertindak masuk, lagaknya seperti juga disitu tidak ada lain orang lagi kecuali Tie Sin Hong kepada siapa dia terus berkata: "Barusan aku si orang she Kwat pergi ke Hoei Llong Piauw Kiok. Benar seperti kata Tie Loosoe, disana tidak ada seorang juga Hm Hm Wie Tiang Bin tahu selatan, jikalau tidak. dia pasti akan merasai liehayku"

Tie Sin Hong tertawa tawar, Katanya terus terang: "Belum tentu Wie Tiang Bin jeri terhadapmu. Apakah kau sangka aku si orang tua tak tahu hatimu? Parasnya Ang Ie Mo-lie tak dapat hapus dari pandangan matamu, seantero malam tak dapat kau tidur pulas, maka itu ingin kau menjenguk nya sekalipun hanya satu kali." Kedua matanya Kwat Leng bersinar sangat bengis, lalu tampak romannya yang jumawa, Berulang kali dia tertawa dingin.

Tie Sin Hong berpura tak melihat, ia mengorek kuku dengan kukunya yang lainnya.

Tiong Hoa bersiap sedia, ia kuatir Kwat Leng gusar dan akan membokong jago tua itu. Akan tetapi dalam tempo sebentar, romannya Touw Siauwhiap menjadi tenang pula. Hanya dia berkata tawar:

"Orang tua tak mengerti dirinya sendiri, bicara sembarang saja.jikalau tidak kuingat kau telah menemani aku berjalan ribuan lie, pasti aku si orang she Kwat tak dapat membiarkan kau merdeka dengan ocehanmu."

Sin Hong berlenggak.

"Aku si orang tua, cie Ie Boe Eng, aku bukannya telah mendapatkan namaku dengan percuma saja" katanya tertawa dingin, kau punya tangan yang sebat dan liehay bagaikan kilat itu masih sulit untuk membikin aku melihat mata padamu. " Lihat saja nanti datang harinya yang kita berdua main-main-" katanya.

"Sungguh jumawa," Sim Yok nyeletuk, ia berdiam saja mendengar kedua orang itu mengadu lidah tetapi akhirnya dia habis sabarnya, Maka dia menyelak sama tengah. Kwat Leng berpaling, dia mengawasi tajam. "Siapakah yang kau tegur?" tanyanya bengis. "Tak usah kau perduli aku" jawab Sim Yok jumawa.

Orang she Kwat itu tertawa dingin, mendadak tubuhnya mencelat maju dan tangannya terulur, guna menotok jalan darah kie boen dari orang she Sim itu. Totokan itu sangat hebat. Menampak demikian, Tiong Hoa maju, dua jari tangannya mencari sasaran jalan darah lengtay dari si orang she Kwat, hanya sambil menyerang dia kata seraya bersenyum: "saudara Kwat, kita berada diantara saudara sendiri, kenapa buat urusan demikian kecil kau bergusar begini rupa?"

Kwat Leng terperanjat ia melihat tangan orang bergerak. sangat pesat dan tanpa suara anginnya. Dengan segera ia memutar tubuhnya, sebagai seorang licik, tak mau ia menunjuki kegusarannya, sebaliknya ia menahan sabar.

Tiong Hoa juga lantas menarik pulang tangannya itu, tak ada niatnya menyerang orang, ia cuma mau menolongi Sim Yok.

"Aku tidak bersungguh-sungguh, aku melainkan ingin mencoba saudara Sim." kata Kwat Leng, menggunai alasan-

Sim Yok sebaliknya kaget hingga muka nya pucat, ia mendongkol sampai tubuhnya gemetar.

Tie Sin Hong menyaksikan itu, ia dapat melihat, dalam hal tenaga dalam, Kwat Leng masih kalah daripada Tiong Hoa. Maka ia tertawa lebar dan kata: "Kwat Lao tee sekarang baru kau ketahui, diluar langit masih ada langit lainnya, disamping orang juga masih ada orang lainnya lagi"

Kwat Leng tertawa tawar, ia menyimpangi soal dengan berkata: "Barusan aku keluar, ditengah jalan aku bertemu seorang sahabat ku. Menurut sahabatku itu, lusa diwaktu magrib, rombongan Tay In San dapat tiba di Tali dan bakal mondok dikuil cong seng sie. Mereka itu mendapat bantuan pihak Tiam chong Pay, yang akan mengantarnya sampai di Koen-beng. Katanya dihadapan orang-orang gagah, sancoe dari Tay In San bakal mengajukan permintaan kepada Pouw Liok It guna mendapatkan kitab Lay Kang Koen Pouw. Karena itu sekarang aku ingin mengajak Tie Laosoe semua akan mendahului pergi ke Tali, guna merampas gelang kemalanya."

Tiong Hoa kagum untuk Tie Sin Hong, yang menduga tepat jalan pikirannya Touw Siauwhiap ini. jadi mereka itu, satu tua dan satu muda, sama cerdiknya. Matanya si orang tua memain-

"Kwat Laotee, didalam ini hal, kau harus menjelaskan dulu maksudmu " kata dia. Kwat Leng tertawa.

"Aku tahu, loosoe." jawabnya, " Gelang kemala itu diarah oleh semua orang, maka itu rombongan Tay In San melakukan perjalanannya secara cerdik sekali.

Karena ini, aku memikir untuk kita bekerja sama. Aku mengerti, kalau kita bekerja masing-masing, sulit kita berhasil, Dengan bekerja sama, sebaliknya, kita akan mendapat keuntungan sama-sama, Tentang gelangnya sendiri itulah terserah pada untung masing-masing. buat kita, cukup asal kita tidak saling mesti perdayakan..."

Tie Sin Hong tertawa dingin.

"Syukur kau mengucap begitu." katanya, "coba kau jelaskan pula, apakah kita bekerja sama berdua saja, kau dan aku?"

Tak senang Kwat Leng, Tahu dia bahwa dia diejek. Maka didalam hatinya dia kata: -jikalau aku tidak bikin kau roboh kedalam jurang hingga tubuhmu hancur lebur, tak puas aku"

Tapi dia tidak mengasi kentara apa-apa, ketika dia mengasi dengar suara-nya, dia bersenyum. "Tie Loosoe, kau menduga banyak sekali tentang diriku," katanya, "Tapi biarlah, karena gunung itu tinggi dan air panjang, lama-lama toh akan terlihat hati orang Tie Loosoe, aku si orang she Kwat tidak perlu menjelaskan panjang lebar, Dengan kita, aku maksudkan juga saudara-muda Lie, Lauw dan Sim bertiga"

Sin Hong tertawa lebar.

"Baik, baik" katanya, "Tetapi mengenai Lie Laotee dapat aku menjelaskan Lie Laotee datang ke Koen-beng bukan bermaksud mendapatkan gelang kemala Karena itu kau dan aku tak akan dapat membujuknya buat bekerja sama, tak dapat kita memaksanya"

Kwat Leng tampak heran, sedang didalam hatinya dia kata: "Biar bagaimana juga, tiga orang ini akhirnya bakal merupakan bahaya untukku, maka itu aku harus singkirkan mereka siang-siang." ia lantas tertawa.

"Sandara Lie." katanya, " walaupun kau tidak mengandung maksud mendapatkan gelang itu, tak ada halangannya untuk kau berjalan bersama-sama kita, sekalian kan menyaksikan keindahan laut Jie Hay serta kepermaian gunung Tiam chong San-"

Kwat Leng menyebutnya laut Jie Hay. Sebenarnya itu bukannya laut hanya sungai yang tersohor, hanya namanya disebut Jie Hay atau See Jie Hao, letaknya ditimur kecamatan Tali, propinsi Inlam.

Tiong Hoa sebal mendengar suaranya orang she Kwat ini, akan tetapi kapan ia ingat rombongan Tay In San mungkin roboh di tangan si pemuda jahat, ia suka menerima baik ajakan itu.

"Kalau begitu baiklah," sahutnya tertawa, "Aku nanti mengikut kau untuk menambah pengetahuan " Ia lantas berpaling kepada Lauw chin dan Sim Yok. untuk berkata sambil tertawa: "Saudara berdua tidak mempunyai urusan apa-apa, bukankah baik untuk kamu turut bersama?"

Sim Yok dan Lauw chin saling me-mandang keduanya mengangguk itulah tanda setuju tanpa mereka membuka suara lagi.

"Terima kasih, saudara-saudara" kata Kwat Leng, yang bersenyum girang.

Demikian habis bersantap. kelima orang itu mulai melakukan perjalanan mereka dengan cepat.

Belum tengah-hari, selagi mereka berlari lari, mereka itu dibikin heran dengan terlihatnya seekor kuda kabur mendatangi, setelah datang dekat, ternyata penunggang- nya mendekam dipunggung kuda, tubuhnya miring hampir jatuh, Menampak demikian, Lauw chin lompat menahan larinya kuda itu, sedang dengan tangan kanannya, ia menampa tubuh si penunggang kuda,  untuk menjaga jangan sampai orang jatuh ketanah.

Sekarang terlihat tegas, penunggang kuda itu mengeluarkan darah hitam dari mulut-nya, sedang mukanya pucat sekali dan sinar matanya guram. Terang dia telah terluka parah dan telah lama terbawa lari kudanya.

Sin Hong berempat menghampirkan- Kwat Leng dengan sebat menekan dada orang, Atas itu, mata orang itu berkilau, lalu di tutup rapat.

Kwat Leng mengerutkan alis.

"Dia bakal putus jiwa, percuma meski ada obat mujarab," katanya, "Sukar untuk kita mendengar keterangannya." Sin Hong mengawasi tubuh orang itu, ia bersenyum, tapi ia tidak mengucap apa-apa.

Selagi mereka berdiam, dari arah kiri mereka, dimana ada tanjakan tinggi yang penuh dengan pohon rotan, mereka mendengar tertawa yang nyaring dan panjang, hingga mereka heran, Semua lantas menoleh, Dengan lantas mereka melihat tiga orang berlompat turun dengan pesat, ketiganya terus lari mendatangi.

Selagi mendekati, mereka itu dikenali sebagai Liok cie- Kiam Yong Thian Hoei, orang yang diketemukan di- belakang kuil Pek Keesoe, bersama Liok Hap Im-ciang wie Tiang Bin, si tua katai gemuk yang terlihat didalam kantor Hoei Liong Piauw Kiok, serte ok-coe-Pong Liap Hong sijago rimba persilatan yang liehay dan licin, Mereka itu mengawasi kelima orang, sinar mata mereka tajam. Wajah mereka tersungging senyuman-

Melihat Wie Tiang Bin, Tiong Hoa gusar, mau ia lantas maju tetapi Tie Sin Hong menarik tangannya orang tua itu memandangnya sambil bersenyum, ia membatalkan niatnya, ia percaya cie Ie Boe Eng pasti mempunyai suatu maksud.

Yong Thian Hoei lantas berkata sabar: "Tuan berlima bukannya berdiam di Koen beng mencicipi keindahan kota itu, mengapa tuan-tuan melakukan ini perjalanan jauh dan sukar? sebenarnya tuan-tuan datang dari mana dan hendak pergi kemana?"

Kwat Leng gusar, dia menjawab nyaring: "Mana dapat kamu memperdulikan gerak gerik kami?" Dia pun lantas menunjuk mayatnya si penunggang kuda dan tanya dengan suara dalam: "Apakah orang itu di binasakan kamu?" Yong Thian Hoei tertawa seram.

"Tak salah" sahutnya lantang, "itulah perbuatan aku si orang she Yong Bahkan sekarang hendak aku beritahu terus terang kepada -kamu: orang Rimba persilatan siapa pun yang mundar mandir disini, selamatlah dia yang menurut kepadaku dan matilah siapa yang menentang jikalau kamu tidak percaya, silahkan kamu maju terus nanti kamu melihatnya sendiri sebentar kita akan bertemu pula ditengah jalan"

Habis berkata secara jumawa itu. Thian Hoei lompat mundur sampai lima tombak disusul oleh lompatnya Wie Tiang Bin dan Liap Hong, Sembari berlompat itu, Liap Hong mengasi dengar tertawa nyaring yang menusuk telinga. Dengan cepat- mereka itu menyingkir kesebelah depan.

Juga Kwat Leng lantas tertawa dingin, "Seumurku, aku si orang she Kwat tidak percaya segala apa yang sesat" katanya keras. Dia lantas berlompat maju hingga dia lantas memisahkan diri kira tiga puluh tombak.

"Loocianpwee," tanya sim Yok pada Sin Hong, "apakah maksudnya Yong Thian Hoei itu? Dia datang dan lantas pergi pula" Tie Sin Hong memejamkan matanya, ia berpikir.

"Teranglah maksud dia mencari tahu ke arah mana tujuan kita ini," dia menjawab. "Di Selatan ini tidak ada orang yang tidak bersangkut paut dengan kitab ilmu silat Lay Kang Koen Pouw, Liap Hong itu sangat pintar tetapi segala gerak-geriknya terlihat tegas oleh Lo Leng Tek. dia saban-saban dibikin menubruk tempat kosong.

Rupanya dia belum tahu dimana adanya rombongan Tay In San sekarang, maka dia memegat kita dengan maksud menyirepinya, Kalau tidak apa perlunya dia menggertak?"

Tiong Hoa sangsi yang Liap Hong mau menggertak Kata dia: "Loocianpwee sangat ternama, mana dapat looecianpwee digertak? Lagi pula di selatan ini telah datang banyak orang kenamaan kenapa mereka cuma memegat kita?"

Tie Sin Hong tertawa.

"Kau sangsi, Lie Laotee?" katanya, "Kalau begitu, kau cerdas disatu waktu, pikiranmu gelap dilain ketika.

Didalam hal ini, keanehan berada pada dirinya Kwat Leng."

Tiong Hoa heran hingga ia mengawasi dengan mendelong.

Sin Hong berkata pula: "Aku si tua tak nanti kena digertak, itulah benar, Didalam urusan ini, sang waktu masih belum tiba. Aku percaya dibelakang mereka itu ada tulang panggung yang berupa satu irama liehay, hanya entah siapa dia itu..."

Mendengar demikian, semua orang mengawasi kedepan, ke tanjakan.

"Looecianpwee maksudkan diatas sana ada orang yang bersembunyi?" "Ya, tetapi sekarang dia sudah berlalu" sahut Sin Hong mengangguk. Tiong Hoa tetap heran.

"Apakah looelanpwee melihat Kwat heng mencurigai?" ia tanya, "Dia memang licik tetapi aku sangsi dia mau bekerja sama dengan pihak Liap Hong beramai...".

Tie Sin Hong menghela napas.

"Lie laotee, kau benar-benar polos hingga kau tidak ketahui kelicikan kaum Kang ouw, Dlantara mereka itu, banyak yang dalam tertawanya tersimpan golok tajam, yang busuk hatinya tetapi berpura-pura mulus. coba aku si orang tua masih seperti dulu hari aku sangsi apakah kamu dapat selamat berdiri diam disini "

Tiong Hoa berdiam tetapi ia terkejut di dalam hati.

Begitu juga dengan dua temannya.

Tie Sin Hong berkata pula: "Tentang Kwat Leng itu, aku belum tahu asal-usulnya tetapi aku berani menduga dia mestinya murid dari salah satu hantu yang sudah lama mengundurkan diri, Terang sekali dia jumawa dan hatinya bengkok, mukanya lain dari mulutnya, Dia pun sangat cemburu dan dengki, dia pasti mengambil sikap, siapa tak dapat digunai lebih baik disingkirkan, Aku percaya dia dapat bekerja sama dengan rombongan Liap Hong itu guna menyingkirkan kita."

Tiong Hoa tetap sangsi.

“Jikalau begitu, kenapa dia beritahukan kita perihal rombongan Tay In San itu?" ia tanya, “Kenapa dia mengajak kami berjalan bersama? Apa maksudnya?"

Cie Ie Boe Eng tertawa dingin dan berkata: "Dia telah membinasakan si Boen dan si Kiauw, mengenai itu dia tentu menyangka kita mendapat tahu, Bukankah si Boen telah memperdengarkan seruan perlahan? Pasti sekali dia menduga kita mendengarnya, sebab bagi kita kaum Rimba Persilan, suara itu tentu dapat terdengar nyata.

Dia curiga walaupun kita terus berpura-pura tidur nyenyak. Sim Laote juga telah menunjuk rasa tak senangnya, dari itu pastilah dia menganggap kita sebagai paku untuk matanya."

"Sungguh manusia licik " Tiong Hoa kata menghela

napas.

"Begitu memang " kata Sin Hong, yang tertawa sambil mengurut jeng gotnya, "Lihat saja penunggang kuda ini. Dia ini mati begitu lekas Kwat Leng meraba dadanya, perbuatannya mana dapat lolos dari mataku si orang tua

?"

Tiong Hoa bertiga terperanjat. Mereka memang melihat Kwat Leng meraba penunggang kuda itu, mereka hanya tidak menyangka dia justeru menggunai ketika untuk memberi totokan maut.

"Sekarang mari kita berangkat." kata Sin Hong kemudian- "sebelum tiba waktunya, jangan kita membangkitkan kecurigaannya Kwat Leng." Habis berkata, dia menepuk punggung kuda, hingga kuda itu kaget dan lompat kabur bersama mayat itu.

Tak ayal lagi, mereka berempat lantas melanjuti perjalanan mereka, guna menyusul Kwat Leng. Ketika sudah melewati dua pengkolan mereka melihat sebuah tempat terbuka dimana, dikiri dan kanan jalan tampak sawah dan ladang. Tapi ketika mereka memandang keselokan dikiri dan kanan mereka terperanjat.

Disitu nampak berserakan belasan mayat, Tak ada orang yang mengurusnya walaupun disitu ada lain-lain orang yang berlalu lintas orang cuma melihat mengunjuk roman duka terus mengaburkan kuda mereka.

Sin Hong berempat menghampirkan sampai dekat. Giris hati mereka menyaksikan wajah mayat, Terang mereka terbinasakan pukulan-pukulan berat. Ada yang lehernya patah, ada yang dadanya berlubang, Darah hitam dan kental bergumpal, baunya busuk. cie leBoe- Eng mengerutkan keningnya.

"Sudah duapuluh tahun aku si orang tua hidup menyendiri banyak orang yang aku tak kenal lagi," kata ia. "Lie Laotee, adakah diantaranya yang kau kenal atau pernah melihatnya?"

Tiong Hoa menggoyang kepala, Tapi Lauw Thian berkata: "Diantara dia aku mengenali Thay Heng Sam Ho, tiga Rase, dari Thay Heng San, juga itu dua pendeta, Thay Khong dan Thay Thong, murid-murid angkatan ke- tiga dari bagian Lo Han Tong dari Siauw Lim Sie. Yang lain-lainnya, aku percaya semua bukan bangsa lurus."

Sin Hong melengak. Lalu dia tertawa "Kaum lurus tak berdiri bersama kaum sesat," katanya seperti api dengan air, akan tetapi sekarang pihak Siauw Lim Sie bekerja sama dengan pihak Rimba Hijau, bukankah itu hal yang buruk? Sungguh aku bingung"

Tiong Hoa bersenyum, " Loocianpwee," ia tanya, "bagaimana sekarang, apakah loocianpwee tidak sudi berjalan terus bersama kami?" Jago tua itu melengak. setelah sadar, dia tertawa.

"Ah, aku hampir lupa bahwa aku pun asal orang kaum sesat" katanya. " Loocianpwee, aku cuma main-main" Tiong Hoa kata.

"Aku tidak menyalahkan kau, laotee" kata sin Hong. "Nah kita mari melanjuti perjalanan kita"

Dengan berkata begitu, ia segera mendahului hingga tiga kawannya mesti lekas-lekas menyusul.

Ketika matahari mulai rendah, empat orang ini tiba disebuah jalanan lembah atau selat dimana dikiri dan kanan ada banyak pohon rotan- Tempat itu sunyi, bahkan rada seram suasananya.

Tengah berjalan itu, mereka mendengar suara berkeresek disebelah atas, disusul dengan suara dingin ketika mereka mengangkat kepala, segera mereka melihat lompat turunnya Kwat Leng yang dalam sekejap sudah berdiri disebelah depan mereka.

“Laotee, apakah kau berhasil menyandak mereka?" tanya Sin Hong tertawa.

"Aku telah beradu tangan dengan Wie Tiang Bin sampai tiga kali," sahut orang yang ditanya, jumawa, Dia tak dapat bertahan dia lantas pergi" Selagi berkata begitu, dia melirik Tiong Hoa.

Anak muda she Lie itu berlagak tak melihat, ia sengaja mengawasi pemandangan alam didepannya.

Sin Hong tertawa nyaring.

"Siapa tak tahu Kwat Laotee liehay sekali" katanya, memuji "Ini dia yang di bilang, gelombang yang dibelakang mendorong ombak yang didepan, orang yang baru menggantikan orang yang lama" lagi dia tertawa keras.

Belum berhenti tertawanya cie Ie Boe Eng, tiba-tiba mereka mendengar satu suara seram: " Kapannya dia pun memakai she Kwat?"

"Siapa?" bentak Kwat Leng gusar, sedang matanya bersorot berapi, Dengan kedua tangannya ia menolak keatas, kearah dari mana suara itu datang.

Hebat serangan itu, yang membikin cabang cabang bergoyang dan daun-daun rontok, Berbareng dengan itu, diantara suara tertawa, sesosok tubuh terlihat lompat turun bagaikan bayangan-

Sekarang terlihat tegas orang itu, Dia mengenakan baju panjang sutera warna kuning muda, Kepalanya tertutup dengan kopiah persegi, sedang sepatunya dengan dasar yang tebal. Dia bertubuh kurus tetapi tak tinggi dan tak kate, wajahnya menyatakan dialah seorang yang licin, Dia memelihara kumis yang disebut kumis kambing gunung yang sudah abu-abu warnanya.

Dengan tangan kanannya, dia menggoyang-goyang kipasnya, membawa lagaknya seorang sasterawan tua. Sambil bersenyum, dia rnengawasi si pemuda baju putih. Mengenali orang tua itu, Kwat Leng nampak likat.

"Ooh, Houw-yan Peehoe" katanya tertawa menyeringai "Terimalah hormat siauwtit" ia benar-benar memberi hormat dengan menjura dalam. orang tua itu menyingkir tiga kaki.

"Tidak berani, tidak berani aku menerimanya" katanya, tertawa tawar, "Tak dapat aku membiarkan orang nanti mengatakan aku si tua menindih si muda" Tiong Hoa kagum. ia melihat orang bergerak gesit sekali.

Tie Sin Hong sebaliknya terus mengingat-ingat siapa slorang Kang-ouw yang mempunyai she rangkap Houw- yan itu.

"Houw-yan Peehoe." kata Kwat Leng bersenyum, "Baru tujuh tahun kita tidak bertemu, mengapa peehoe bergurau pada siauwtit?” orang tua itu tertawa dingin.

"Pada enam tahun dulu, karena satu urusan kecil, aku berselisih dengan ayahmu," dia kata, waktu itu hampir saja jiwaku melayang di tangan ayahmu itu, maka juga, selagi rasa nyerinya masih belum hilang mana aku berani berlaku kurang ajar terhadap kau, hiantit."

Kwat Leng berdiri dengan kedua tangannya dikasi turun, sikapnya hormat sekali.

"Benar- benar peehoe bergurau," kata ia, "Dulu hari itu ayah sudah bersembrono, sampai sekarang ia masih menyesal karena-nya. Peehoe tiga kali ayah telah pergi mengunjungi peehoe tetapi sayang, selalu kebetulan peehoe tengah berpergian hingga ia pulang dengan sangat masgul. sekarang ini siauwtit melakukan perjalanan, diwaktu mau berangkat ayahku telah memesan wanti-wanti apabila apa untung aku bertemu pee-hoe, aku dipesan tak boleh berlaku kurang ajar, bahkan diminta sudilah peehoe tolong membantu pada ku dimana yang perlu."

Orang tua itu mengawasi ia menutup kipasnya. "Kapannya ayahmu mengajari kau bicara seperti

manusia ini, dia sungguh hebat" setelah itu dia menoleh kepada Tie Sin Hong.

Mukanya Kwat Leng menjadi merah, sinar matanya merupakan sinar mata yang sangat penasaran dan mendongkol..

Orang tua itu masih mengawasi Sin Hong, lalu dia tertawa dan menyapa: "orang tua she Tie, sejak perpisahan kita apakah kau baik-baik saja? Apakah kau masih mengenali sahabat lama mu?"

Sin Hong melengak, ia heran, "Benar-benar ia tak mengenali orang tua itu," ia mengasah otaknya.

"Rasanya aku mengenal wajah kau tuan." katanya kemudian, "hanya sayang sekali sekarang ini aku tidak dapat mengingat mu." orang tua itu kembali tertawa.

"Dalam cara kesusu kita pernah bertemu dijalan cian- too" kata dia. "Apakah benar-benar tuan sudah lupa?"

Mendengar begitu, baru sekarang Sin Hong ingat, Memang, pada dua puluh tiga tahun yang lampau, telah terjadi suatu peristiwa. Ketika itu dia sangat angkuh dia menjanjikan ketua Kiong Lay Pay untuk- menguji ilmu ringan tubuh serta ilmu pukulan udara kosong.

Tempat yang dijanjikan yalah cian too, atau Lian-in- too, tanah pegunungan yang kesohor didalam propinsi Siamsay, ciantoo itu berarti jalan atau jembatan yang merupakan balok potongan, yang melintangi gunung atau lembah diantara kedua kecamatan Po-koan utara dengan kecamatan Hong-koan timur laut.

Ketua Kiong Lay Pay waktu itu yalah Houw See Toojin, yang kesohor ilmu ringan tubuhnya, Banyak sekali penonton jago-jago Rimba Persilatan, Mereka berdua berjanji tidak merusak jembatan, siapa yang merusak dialah yang kalah, Kedua pihak sama tangguhnya, tetapi jago Kiong Lay menggunai tipu daya, maka Sin Hong kena dibikin jatuh, ia sudah ikhlas menerima kebinasaannya, siapa tahu ada orang yang menolongi ia dengan menanggapi tubuhnya dan orang pun memberikan ia sebutir pil yang mujarab. penolongnya itu yalah ini orang tua she Houw-yan- sebenarnya itu waktu Houw See Toojin pun jatuh sebab ada balok yang patah tapi Sin Hong jatuh terlebih dulu, ialah yang resmi kalah, ia telah tanya nama penolongnya itu, yang mengaku she Houw-yan nama Tiang Kit asal gunung Kie Lian San, tapi si penolong sudah lantas berangkat pergi, Baru seka rang mereka bertemu pula dan la sudah tak mengenali. Dulu hari itu Tiang Kit seorang sasterawan tampan tapi sekarang dia sangat berubah.

Bukan main girangnya Sin Hong, dia lantas memberi hormat sambil menjura, kemudian ia memegang erat- erat tangannya tuan penolong itu, Saking girang dan bersyukur, ia sampai tak dapat segera membuka mulut pada mukanya yang perok. Tiang Kit tertawa.

Kwat Leng menyaksikan itu, ia mengerutkan alis, lalu dia kata dingin: "Musuh atau sahabat masih belum diketahui jelas baiklah kamu jangan terlalu erat satu dan lain"

Hati Sin Hong bercekat, Kata-kata pemuda itu pasti bukan kedustaan, Memang mungkin Houw-yan Tiang Kit tidak bermaksud baik, Tapi yalah seorang ulung, maka ia tertawa dan kata: "Kwat Siauwhiap baiklah kau mengerti, umpama kata aku si orang tua berhasil mendapatkan Lay Kang Koen Pouw dengan adanya Houw-yan Hiantee di sini, pasti aku suka mengalah dan menyerahkan padanya. Berlebihan untukmu jikalau aku memikir menghasut kami satu dengan lain"

Kwat Leng melengak. Kembali dia me-ngasi dengar tertawa dinginnya. "Aku bukan bicara terhadapmu." katanya jumawa.

"Apakah itu di tujukan terhadapku?" tanya Tiang Kit gusar.

"Mana berani siauwtit berlaku kurang ajar tehadap peehoe?" kata Kwat Leng, sikapnya tetap angkuh, "jikalau peehoe menganggap kata-kataku ini tak selayaknya, baiklah siauwtit menarik kembali."

Tiang Kit mengasi dengar suara "Hm" Lalu ia memandang Sin Hong dan menanyai "Saudara Tie, apakah maksudmu?" ia tanya. Tanpa menanti orang menjawab, Kwat Leng mendahului:

"Tak lebih tak kurang untuk mencaritahu dimana adanya Pauw Liok It" katanya.

Sin Hong kuatir pemuda itu nanti membuka rahasianya, ia tertawa dan kata: “Adik Hauw-yan, bukankah tak ada halangannya untuk kita berjalan bersama-sama?" "Baiklah," sahut Houw-yan Tiang Pek. tanpa menampik lagi.

Bukan main mendongkolnya Kwat Leng, ia benci benar Sin Hong. Tapi ia mesti main sandiwara, Maka dia tertawa manis.

"Dengan Houw-yan Peehoe turut bersama, aku tak kuatir lagi" katanya.

Houw-yan Tiang Kitpun tertawa.

"Akan aku membikin hiantit puas" bilangnya.

Tiong Hoa heran tetapi didalam hatinya ia tertawa melihat ketiga orang itu mengadu lidah.

Kemudian Kwat Leng menepuk iga kanan nya. ia menepuk dengan tangan kanannya, Atas itu terdengar suaranya barang logam beradu perlahan, Terus dia bersenyum, Dia menanya: Houw-yan Peehoe, coba terka, apa ini dalam sakuku?" Tiang Kit berdiam, ia rupanya dapat menerka, terus romannya berubah. Ketika itu sudah jam dua, kabut tebal, sementara itu Lauw cin tak sabaran.

Ia jemu berkumpul dengan bangsa sesat, hanya malang dengan Tiong Hoa, ia terpaksa berdiam saja, tetapi karena orang terus mengadu lidah, tak puas ia. Maka akhir nya ia kata keras: "Siauwhiap mari kita berangkat lebih dulu, Tak dapat kita membikin gagal urusan orang" Habis itu ia terus menarik tangannya Sim Yok.

Mendadak Kwat Leng tertawa dingin, tubuhnya mencelat maju, ketika ia turun di tanah, ia menghadang didepan dua orang itu. "Lauw Loosoe," kata dia dingin, "kau rupanya tak memandang mata padaku" Lauw chin gusar, ia lantas menolak dengan sebelah tangannya.

Tiong Hoa menyaksikan itu, ia kaget sekali, ia mengerti Lauw chin bukanlah lawannya Kwat Leng, Maka ia lantas lompat ke depan, guna menempatkan diri sejarak satu tombak didekat si orang she Kwat, untuk bersiap sedia.

Kwat Leng tertawa dingin, ia menggeser diri dua kaki terus tangan kanannya menolak, itulah gerakan Menolak gelombang, membantu ombak. Hebat tolakannya itu.

Lauw chin insaf Kwat Leng musuh tangguh, ia hanya menggertak, ketika ia mau dihajar itu, ia membataikan serangan-nya, ia menggeser tubuhnya, untuk sebaliknya menyerang dengan dua tangan berbareng, ia menggunai tipusilat Ka Lam San cioe," itulah tipu silat yang berimbang dengan Kim-kong Hang Mo."

Melihat itu, hati Tiong Hoa lega juga, itulah tanda bahwa kawannya tak bakal dapat dikalahkan dalam beberapa jurus saja.

Kwat Leng terpaksa mundur tiga tindak. Ia memandang lawan terlalu enteng, ia menyerang secara bernapsu, maka diluar dugaannya, ia kena ditutup, Lauw chin mendapat hati, begitu orang mundur, begitu ia merangsak. Tipu silatnya itu memang tipu serangan beruntun-

Pemuda berbaju putih itu, yang pun disebut Touw Siauwhiap. menjadi mendongkol. Begitu datang ketikanya, ia membalas menyerang, la mendesak. Maka diterangnya sang puteri malam, hebat tubuh mereka berdua berkelebatan- "Houw-yan Hiantee" kata Sin Hong ter-tawa, "Siapa tidak mendaki gunung Tay San tak tahu dia tingginya gunung itu Dua tahun aku tak pernah menginjak dunia Kang ouw, atau sekarang aku menyaksikan kemajuannya anak anak muda yang jauh melebihkan kita"

Kwat Leng dengar suara itu, ia menjadi mendongkol sekali, ia mendengarnya itu bagaikan ejekan, Karena ini sambil menggertak gigi, ia melakukan serangannya Dengan tangan kiri ia menjambak. dengan tangan kanan ia menyampok dengan jurusnya "Membuka langit, membelah bumi."

Lauw chin kena dibikin mundur dua tindak. Sia-sia belaka ia menangkis, Darah didadanya pun terasa seperti mandek.

Mendadak Kwat Leng tertawa seram, tubuhnya mencelat tinggi, untuk dari atas menyambar kebawah, mengarah jalan darah pek hoay dibacok kepala lawannya.

Dia percaya sembilan dalam sepuluh dia bakal berhasil. Dia melihat tegas lawannya terdesak itu,justeru itu, dia merasakan angin bersilir ke punggungnya, kejalan darah cie-yang, Dia kaget, itu artinya datang serangan dari belakang. Dia menyedot hawa dingin, dengan sebat dia berkelit seraya menjatuhkan tubuh.

Begitu menginjak tanah, begitu dia berpaling untuk melihat, Dia mendapatkan Tiong Hoa berdiri tenang, dua tangannya dikasi turun, matanya tengah memandang rembulan.

Ketika itu Lauw chin merasa lega, ia tahu ia sudah terancam bahaya hebat, Tempo ia melihat lawan batal menyerang dan turun, tahulah ia bahwa Tiong Hoa telah menolongnya, ia bersukur bukan main-

Hauw-yang Tiang Kit mengawasi Tiong Hoa, dia heran sekali, "Siapakah dia?" ia berbisik pada Tie Sin Hong, untuk menanyakan asal usul orang muda itu.

cie Ie Boe Eng menggoyang kepala, tapi ia menjawab sambil bersenyum: "Aku tak kenal orang she Lie itu, seperti aku gelap terhadap si orang she Kwat, Sudah ribuan lie kita berjalan bersama, belum pernah aku menanyakan asal usul mereka, Aku si orang tua biasa tak suka mencari tahu urusan lain orang, tak biasa aku memaksa orang, maka itu, kalau orang tidak menjelaskan sendiri, aku pun membiarkannya."

Tiang Kit tahu sahabat ini bicara dari hal yang benar, ia tidak menanya lebih jauh.

Ia terus mengawasi, ia merasa gerakan tangannya Tiong Hoa seperti yang ia kenal, hanya entah dimana ia pernah melihatnya.

Maka ia harap kedua anak muda itu bentrok. supaya ia bisa melihat lebih jauh untuk nanti mengenalinya.

Wajah Kwat Leng dingin sekali, lalu sinar matanya marong, itulah sinar ingin melakukan pembunuhan- Walaupun demikian, hati nya ciut sendirinya.

"Saudara Kwat, kau terlalu." kata Tiong Hoa sabar, tapi ia bersenyum tawar, "Kenapa tak keruan-keruan kau mendapat ingatan melakukan pembunuhan? kau terlalu mengandalkan ilmu silatmu, hingga dimatamu tak ada siapa juga Dimata aku si orang she Lie. saudara Kwat ilmu silat kau belum mencapai puncaknya kemahiran, masih ada ke-kurangannya saudara, kejumawaannya ini membuatnya orang sukar mengendalikan kesabarannya." Mukanya Kwat Leng menjadi pucat, ia merasa terhina dengan nasihat itu.

"Baiklah kau ketahui sikapku^ kata dia nyaring, tanda kemurkaannya, "Terhadapku, siapa menurut dia hidup, siapa menentang dia binasa Siapa suruh ini orang she Lauw tak menghormati aturan kaum Kang ouw?"

Tiong Hoa menjadi tidak puas sekali, Nyata orang tak dapat dikasi mengerti dengan kesabaran, ia pikir, tanpa diajar adat orang akan tetap berjumawa dan besar kepala,

Maka tak menanti orang bicara habis, ia sudah mengulur lima jari tangannya kejalan darah kin-ceng orang terkebur itu.

Kwat Leng pun gusar, Dia merasa dirinya tak dipandang dan juga tak diberikan ketika untuk bicara, Atas datangnya serangan, dia menggeser tubuhnya, Begitu berkelit begitu dia membalas menyerang: Tangan kirinya menjambak, tangan kanannya meninju, Tentu sekali dia menyerang dengan menggunai tenaganya.

Itulah yang dikehendaki Tiong Hoa. Barusan ia melihat memancing, ia lantas memutar balik tangan kirinya.

Nampaknya itu gerakan "Lioe seng koan goat," atau Bintang-bintang menutupi rembulan, suatujurus dari ilmu silat Kioe Yauw Seng Hoei" yang terdiri dari tiga belas jurus, tetapi sebenarnya itu dicampur dengan lima bagian tenaga dari "Ie Hoa ciap Bok." ilmunya Ay Sian dari See Hek,

Kwat Leng kaget tidak terkira, Sia-sia saja serangannya itu. Sebaliknya, dia merasa tubuhnya tertolak. mulanya lembut, lalu keras. Tak dapat ia mempertahankan diri, Dia merasa darahnya bergolak dan napasnya tertahan Dengan muka pucat, dia ter-tolak mundur dengan paksa, mundur setindak demi setindak.

Tie Sin Hong dan Houw-yan Tiang Kit menonton dengan hati mereka terbenam keheranan-Sungguh mereka tidak menyangka anak muda itu, yang nampaknya sebagai anak sekolah yang lemah, sebenarnya liehay luar biasa.

Lauw cin, begitu juga Sim Yok. lantas tertawa, Mereka girang bukan main menyaksi kan sijumawa main mundur saja, mundur tak berdaya.

Tiong Hoa bersikap sungguh-sungguh, dia masih tak mengubah gerak tangannya.

Kwat Lsng gentar hati, Dia merasakan tolakan makin keras dan makin keras, makin berat, dan kalau tadinya cuma dari satujurusan, sekarang seperti datang lainnya dari kiri dan kanan.

Sia-sia saja ia mencoba untuk berkelit, sekarang tampak nyata dia ketakutan Baru sekarang dia menyesal hingga dia berkata didalam hati: "Siapa pandai berenang, dia mati kelelap. Siapa memanah, dia mati diujung jemparing."

Demikian nasihat tua. Begitu juga, siapa mengandali kegagahannya, dia bakal runtuh karenanya. Sayang, aku menyesal sesudah kasip..."

Akan tetapi Tiong Hoa tidak berniat merampas jiwa orang. Ia mempermainkan tenaganya, sebentar dibikin keras, sebentar dikendorkan Untuk Kwat Leng, itulah siksaan- Kalau tolakan kendor, dia bernapas, tapi begitu lekas dia ditolak pula napasnya sesak lagi. Tak sempat dia beristirahat Dia menjadi sangat letih, Tanpa merasa, dia mundur terus sampai belasan tombak jauhnya. Selama menyaksikan itu, Tie Sie Hong pikir kematian Kwat Leng tak usah di sayangi, Dia memang kejam, Bahkan mungkin dibelakang hari dia dapat menjadi ancaman bahaya untuk Rimba Persilatan, Honya dia ada hubungannya dengan gelang kemala, untuk sekarang, dia belum waktunya dilenyapkan dari dalam dunia.

Kalau dia mati hilanglah suatu jalan endusan gelang kemala itu, oleh karena mendapat pikiran itu, mendadak ia lompat maju.

"Lie Laotee, inilah salah paham " ia berseru, "Harap kau tidak mengumbar napsu amarahmu. Dimana yang bisa, sukalah kau memberi ampun, Aku minta laotee sudi memandang”

Tiong Hoa setujui pikirannya jago tua itu, maka tanpa bersangsi pula, ia menghentikan serangannya, tetapi ia tidak menarik pulang tangannya dengan- begitu saja, hanya ia mengibaskannya.

Kwat Leng menjerit tubuhnya terlempar lalu jatuh terbanting dengan keras, hingga dia muntah darah, dan untuk sejenak dia pingsan.

Diantara sinar si Puteri Malam, tubuh pemuda baju putih itu nampak kotor, dengan debu dan darahnya sendiri, sedang mukanya pucat sekali, Karena rambutnya terlepas, lantaran tertiup angin, rambut itu menutupi mukanya.

HOUW-YAN Tiang Kit melongo, ia satu jago tetapi tak dapat ia mengenali ilmu silat anak muda itu, ia cuma merasa, ilmu silat itu mungkin gabungan dari ilmu sesat dengan ilmu lurus, ia memandang Sin Hong, ia mengawasi si anak muda. Baru sekarang Tiong Hoa menyesal yang ia sudah menggunai ilmunya Ay Sian dari See Hek. wilayah Barat, hingga dia membikin orang heran, Kalau pihak sana musuh dilain waktu dapat pihak sana bersiap sedia melayani ia.

Dalam kesunyian itu, Hauwyan Tiang-kit mengasi dengar suaranya: "Saudara Tie, bukankah sikapmu ini sikap berlebihan? Buat apakah dia dibiarkan hidup lebih lama?

Bukankah dibelakang hari dia dapat menggigit kau hingga kau menyesal pun percuma?"

Tie Sin Hong tertawa.

"Houw-yan Laosoe, kau keliru menerka aku" kata dia.

Jikalau aku hendak membikin dia celaka, sudah dari siang-siang aku melakukannya, sebenarnya ada perlunya, mengapa aku ingin membiarkan dia hidup lebih lama pula, Lain daripada itu Lie Laotee ini berpikiran sama denganku, jikalau tidak. akan sia-sia saja permintaanku ini terhadapnya."

Tiang Kit berdiam. ia ingin mengatakan apa-apa, akan tetapi ia sangsi, Ketika sinar matanya nampak sayup, ia berdiam terus. Yang lain-lainnya pun berdiam.

Sebaliknya. tubuh Kwat Leng mulai berkutik, lalu dadanya turun dan naik, itulah bukti yang dia telah sadar dan mulai menyalurkan pernapasannya. Tak lama mendadak dia bergerak, akan mengasi dengar suara yang keras dan lama, hingga kesunyian itu terpecahkannya. Hebat suara tertawa itu, yang dapat menciutkan siapa yang kecil nyalinya.

Begitu lekas berhenti suara tertawanya yang menyeramkan itu, Kwat Leng mengawasi bengis terhadap Houw yan Tiang Kit, dengan bengis juga dia lantas menanya: "Houw-yan Peehoe, mengapa kau kejam sekali? Bukankah ayahku dan Peehoe bersahabat selama tiga puluh tahun? Bukankah kamu berdua bagaikan kaki dan tangan? Adalah peehoe sendiri yang sedang tetap menghargai, peehoe sekarang ini aku terancam bahaya, mengapa peehoe menonton sambil berpeluk tangan? sungguh sikapmu dapat membikin kecil hatinya orang yang ingin bersahabat"

Matanya Houw-yan Tiang Kit memperlihatkan sinar tajam, Dia pun tertawa lebar.

"Bagus, bagus teguranmu ini" kata dia, "Selama beberapa puluh tahun, belum pernah aku si orang tua mendapat cacian semacam ini Tapi, hiantit, kau harus ingat, aku lain daripada kau, aku kecil dan kau besar Laginya kau harus insaf, walaupun benar aku menonton dengan berpeluk tangan- aku masih belum ada demikian jahat sudah mencelakai sahabat-sahabat sendiri cuma di sebabkan mata silau dengan benda berharga"

Hati Tiong Hoa tergetar, sekarang ia ingat bagaimana didalam hotel, Kwat Leng telah membinasakan dua sahabatnya secara pengecut dan kejam sekali.

Mungkinkah Houw yan Tiang Kit pun telah menyaksikan itu ?

Ketika sinar rembulan tertuju kepada mukanya Kwat Leng, muka yang pucat tadi telah berubah menjadi menyeramkan-

Kembali sibaju putih mengasi dengar tertawanya yang tak sedap itu, baru kemudian dia berkata perlahan: "Peehoe, harap maafkan aku, Lantaran sangat bergusar, pikiran siauwtit menjadi kacau sekali, hingga diluar kehendak ku, aku telah berlaku kurang hormat." "Tak apa, tak apa," sahut Tiang Kit.

"Tetapi peehoe sudah melupakan satu urusan besar," Kwat Leng menambahkan "Maka jikalau peehoe menegur padaku, mungkin itu kurang tepat ."

Tiang Kit nampak heran.

"Utusan besar apakah itu yang aku si orang tua telah lupakan?" ia tanya, "Bagai-mana jikalau kau menyebutkannya, hiantit?"

"Coba peehoe pikir tentang aturan nomor tiga dari keluarga kami?" Kwat Leng tanya.

Tiang Kit berdiam.

"Dulu hari peehoe telah memberikan suatu barang tanda mata kepada ayahku," kata pula si anak muda, " apakah itu sampai sekarang ini masih ada gunanya?"

Parasnya Tiang Kit berubah, Terang dia kaget, Dua kali dia batuk-batuk.

"Tentu sekali barang itu masih ada gunanya," sahut dia. "Hanya aku tidak percaya ayahmu telah menyerahkan itu kepada kau, hiantit."

Matanya Kwat Leng kembali bersinar, nampaknya jadi sangat bengis, Ketika ia menjawab, ia pun mengasi dengar suara sama bengisnya, “jikalau begitu, aku minta peehoe mengambil kepala di atas tubuhnya si orang she Lie ini"

Kata-kata itu dibarengi dengan tangan si pemuda dibawa kedalam sakunya, tempo dia mengeluarkannya pula, terus dia mengayunnya untuk melemparkan sepotong kim-coe atau lencana emas mirip daun bambu kearah orang she Houw-yan itu.

Tiong Hoa telah mendengari pembicaraan orang, ia percaya mesti Houw-yan Tiang Kit terpengaruhkan si anak muda, terpengaruh oleh benda tanda mata yang dikatakan dia itu. ia lantas curiga, ia lantas memikir untuk merampasnya.

Demikian selagi sudah bersiap sedia, begitu ia melihat orang mau melemparkan kim-boe itu, ia tertawa dingin, sembari tertawa tubuhnya mencelat tangannya terulur, ia menggunai tangan Kera terbangnya yang cepat luar biasa dan dapat mulur.

Kwat Leng terkejut melihat anak muda itu tertawa dan tubuhnya mencelat kedepannya. Sebagai orang cerdik dan licik, dia sudah lantas menduga jelek Maka itu dia lantas menarik pulang tangannya seraya tubuhnya bergerak untuk menyingkir. Apa celaka, tangan si anak muda tangan lihay luar biasa, dia gagal tangannya kena ditotok hingga telapakan tangannya terasa nyeri dan lenyap tenaganya, Dengan begitu didalam sedetik itu, kim-coe sudah pindah tangan.

Setelah memegang kim-hoe ditangannya. Tiong IHoa berpaling pada Hauwyang Tiang Kit, ia memandang orang tua itu sambil bersenyum, selagi begitu, tangannya meremas, maka juga dalam sekejap. kim-hoe telah kena dibikin hancur, tersebar berhamburan

Hanya sejenak, Tiang Kit bersyukur bukan main terhadap anak muda itu. ia pun mengerti senyumannya  si anak muda Dengan Kwat Leng memegang kim-hoe, ia terpengaruhkan anak muda berpakaian putih itu, Kalau kim-hoe dipegang si orang she Lie, ia juga terpengarukan pemuda she Lie ini, ia mesti menurut perintah selama ia masih hidup, itu sebabnya kenapa ketika ayah Kwat Leng menjenguk ia berulang-ulang, ia senantiasa menyingkir.

Siapa tahu sekarang ia bertemu Kwat Leng dan kena terpengaruhkan, Siapa tahu juga, kesudahan nya urusan begini rupa. Karena itu, saking bersyukur ia sudah lantas berjanji pada dirinya sendiri akan membalas budinya pemuda yang tak dikenal asal usulnya ini.

Kwat Leng berdiri menjublak, dadanya bergolak seperti mau meledak, ia mendongkol dan bergusar tanpa jalan untuk melampiaskannya, ingin ia membunuh anak muda itu tetapi tak dapat, selainnya lagi terluka parah, ia memang tak sanggup melawan pemuda itu. Maka itu cuma matanya bersorot bengis dan giginya bercatrukan. Tiong IHoa mengawasi ia tertawa dingin.

"Kwat Siauwhiap." ia kata tenang, "jikalau kau ingin menuntut balas, silahkan kau turun tangan. Atau dapat kau menjanjikan lain waktu dan lain tempat, aku bersedia menyambutmu sebaliknya jikalau kau hendak pinjam tangan lain orang, jangan jikalau kau menggunai siasat hina dina, itu tak disetujui olehku."

Tie Sin Hong tertawa.

"Mungkin disini terselip salah mengerti" kata ia, yang datang sama tengah,

"Kenapa kah kita mesti saling mendendam? Bukankah perjalanan kita ini bakal menghadapi ancaman bencana besar? Bukahkan terlebih baik kita berpegang tangan, untuk bekerja sama?"

Kwat Leng tidak menanti orang menutup perkataannya itu, dia sudah mengangkat kakinya untuk berlari pergi, hingga sebentar kemudian dia sudah lenyap di kejauhan-

Cie Ie Boe Eng menghela napas, dia membanting- banting kaki. "Kwat Leng berlalu dalam kemurkaan, maka usaha kita bakal bertambah berat.." katanya, menyesal dan masgul. Houw-yan Tiang Kit melihat jago tua itu.

"Saudara Tie, aku tidak sangka begini keras keinginanmu mendapatkan Lay Kang Koen Pouw." kata ia. "Buat aku si orang she Houw-yan, aku melihatnya sambil main-main, jikalau aku sanggup mendapatkatnya, aku mengambilnya, jikalau tidak bersedia aku untuk menarik diri."

Tie Sin Hong tertawa.

“Jikalau kitab itujatuh kedalam tangannya Kwat Leng, habis Houw yan Loo-soe pikir hendak berbuat bagaimana?" ia tanya. orang she Houw-yan itu melengak. Akhir nya dia tertawa.

"Mari" ia berseru, terus tubuhnya lompat melesat bagaikan jemparing, dalam sekejap ia sudah terpisah tujuh atau delapan tombakjauhnya. Sin Hong berempat lantas menyusul.

Maka dilain saat, berlima mereka tampak berlari-lari, Ketika kemudian cuaca mulai terang, mereka sudah melalui tigapuluh lie lebih. Mereka sudah melewati kecamatan Tin-lam dan lagi mendekati kuil Tay Hoed Sie. Mereka masih berlari terus sedang perut Sim Yok sudah berbunyi geriyukan-..

"Saudara Lie, aku lapar, tak kuat aku berlari-lari terus," katanya meringis, "Mari kita mampir dirumah makan didepan"

"Ya, aku pun merasa lapar," berkata Lauw Chin, "Takjauh disana ada rumah makan, mari kita mampir disitu."

Tiong Hoa tertawa. "Rupa-rupanya saudara Lauw sering mundar-mandir disini," kata ia. Lauw Chin mengangguk.

Sudah tujuh atau delapan kali aku mengambil jalan disini, sahutnya, Dirumah makan sana itu, orang matangi arak dengan memakai air sumber yang harum sekali dan rasanya pun sedap hingga araknya jadi sangat kesohor. Disana dapat kita minum mabuk-mabukan..."

Mendengar itu, Houw-yan Tiang Kit menjadi mengilar. "Marilah kita pergi kesana, kita minum sampai tiga

ratus cawan- katanya tertawa. "Kau akur, saudara Tie?" Sin Hong tertawa juga.

"Aku nanti temani kau, saudara Houw-yan- jawabnya.

Berlima mereka melanjuti perjalanan mereka.

Sinar matahari sudah lantas memecah kabut, sang angin membuyarkannya. Maka itu lantas terlihat sebuah rumah rendah semacam gubuk disamping mana terdengar ringkiknya beberapa ekor kuda, suatu tanda di sana telah berada orang-orang Rimba persilatan

"itulah dia" Lauw Chin menunjuk selagi mereka mendatangi rumah itu, rumah makan yang araknya katanya jempol. Disana di tikungan adalah Tay Hoed Sie.

Kelimanya mengendorkan tindakan mereka, setelah tiba, mereka bertindak masuk. Di dalam ruang tersedia sembilan buah meja pada meja yang satunya terlihat tiga tetamu semua berusia diatas lima puluh tahun.

Pelipisnya menandakan mereka mempunyai tenaga dalam yang mahir, sedang sinar mata mereka tajam, Mereka itu mengawasi waktu mereka melihat datangnya lima tetamu baru ini.

Tuan rumah, seorang tua yang sudah melengkung tubuhnya, menyambut dengan manis, terus dia tertawa dan menyapa Lauw Chin: " Lauw Toaya, sudah lama toaya tak pernah datang kemari"

"Ya, sudah dua tahun." sahut Lauw Chin tertawa, "Lie Lootiang, kau nampak makin sehat saja"

"Inila h karena aku mengandal rejeki Lauw Toaya" kata tuan rumah yang mengundang tetamu-tetamunya duduk. "Selama dua tahun ini usiaku tambah, tetapi syukurlah aku dilindungi Thian, aku sehat-sehat saja, tak ada penyakit tak ada bahaya lainnya. Baiklah aku nanti menyediakan arak yang toaya sukai"

Terus dia memutar tubuh, untuk pergi ke dalam. Tiong Hoa tertawa.

“Jikalau tidak beserta kau saudara Lauw, mulut kita tak sebahagia hari ini" kata dia.
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Bujukan Gambar Lukisan Jilid 22"

Post a Comment

close