Bujukan Gambar Lukisan Jilid 07

Mode Malam
Jilid 7 : Pedang Pusaka Khong Tong pay

Si imam kaget hingga mukanya menjadi pucat. "Anak muda ini entah murid hantu yang mana "

pikirnya, "Dia lihai dan telengas sekali, dia tak kalah telengatnya dengan aku baiklah aku tanyakan dulu asal usulnya. Asal dia bukan murid orang kenamaan, baik aku bokong padanya, membinasakan dia dengan pukulan cit Pou Toan Hoen sekarang ini aku mesti berdaya meloloskan In Loei dulu."

Maka ia mengawasi si anak muda, otaknya berputar mencari akal, Lantas ia mengasi lihat muka menyeringai.

Tiong Hoa balik mengawasi ia berlaku waspada ilmu silatnya telah maju pesat, ia cuma kurang pengalaman. Melihat sikap orang demikian rupa, ia perkeras cekalannya.

In Loei meringis, keringatnya mengucur deras, otot- otot di jidatnya rada keluar, ia mau membuka suara tapi tak bisa, suara-parau tak keruan. Tatkala itu banyak orang berkumpul menyaksikan peristiwa itu. semua orang heran hingga mereka pada mendelong.

Si imam merasakan hatinya sakit sekali menampak muridnya diperlakukan demikian macam. ia pun menjadi sangat malu, Maka ia jadi benci pada Lie Tiong Hoa.

Dasar dia seorang yang telah banyak pengalamannya dalam keadaan seperti itu, dia bisa bawa dirinya, setelah mengendalikan diri, bukan^n^a dia mendamprat, dia justeru tertawa, hingga mukanya nampak menjadi manis.

"Yaa, kau begini muda, ilmu silatmu mahir sekali, kau membuat orang kagum" demikian dia berkata. "Aku lihat ilmusilatmu ini mirip dengan kepandaiannya satu sahabatku. Akulah Koe louw sin-Koen Pek Yang dari gunung Tay Liang san, mungkin gurumu pernah menyahut namaku."

Tiong Hoa tertawa dalam hatinya, "Rupanya dia habis daya maka sekarang dia memperkenalkan diri dan menyebut nyebut guruku," pikirnya, "Tapi dialah Pek Yang. Memang dulu pernah satu kali guruku menyebut namanya, cuma dulu hari itu soehoe menyebut Koe-Iouw Mo Koen dan dia sekarang merubah Mo Koen menjadi sin-Koen-"

"Koe-louw Mo Koen" berarti " Hantu Tengkorak" sedang " Koe-louw sin-Koen"" berarti "Dewa Tengkorak," dengan begitu Pek Yang mau membikin namanya menjadi harum, Tapi Tiong Hoa tidak mau mengasi dirinya dipermainkan, ia bersenyum dan menyahuti: "Aku yang rendah pernah mendengar nama kau, cuma guruku membilangi aku bahwa kau, tootiang, kau tak ada harga untuk disebut-sebut." 

Mukanya Pek Yang menjadi pucat, lalu merah. Dia malu dan gusar sekali, Dia menjadi beroman sangat bengis, dua kali dia tertawa kering.

"Siapa gurumu itu?" dia tanya membentak, "Mana dapat aku diperhina begini macam? Jikalau kau beritahukan nama gurumu, nanti aku lakukan perjalanan bagaimana jauh dan sukar juga untuk menemukannya guna mengadu kepandaiannya."

Tiong Hoa mengawasi tajam, dia kata tawar: "jikalau totiang mau mengantarkanjiwamu kepada guruku, itulah pekerjaan yang mudah sekali. sekarang lebih dulu aku hendak tanya, tootiang berada di Kimleng ini untuk kelewatan saja atau untuk berdiam lama?"

Pek Yang Mo Koen mendongkol bukan main, beberapa kali ia hendak mendamprat tapi senantiasa gagal.

"Sekarang ini aku lagi lewat di kota Kim-leng ini," akhirnya dia menjawab keras, "Apa maksudmu kau menanya begini?"

Di dalam hatinya, Tiong Hoa tertawa girang, Mulanya ia menyangka orang yalah orangnya Kimleng Jie Pa.

"Nama guruku tidak dapat sembarang di umumkan." ia menyahut tawar, ia bersenyum,

Lantas ia melihat kelilingnya.

Pek Yang membade hati orang, dia tertawa dingin, Lantas dia mengibas keras dengan tangan bajunya, membikin banyak orang di sekitarnya pada mundur dengan tersipu-aipu hingga banyak yang jatuh- bangun. Mereka itu kaget dan kuatir, lantas mereka pada menyingkir. Tiong Hoa mengawasi, ia bersenyum.

“Jikalau tootiang ingin mengadu jiwa dengan guruku," ia kata, ia sudah lantas dapat pikiran baik, "baiklah sebentar malam to-tiang pergi ke depan panggung Ie- hoay-tay, Di sana kebetulan guruku hendak membereskan satu urusan, maka urusan dengan tootiang boleh diselesaikan sekalian. Guruku she Khioe, namanya Cin Koen dan gelaran nya Boe-Eng Hoei Long."

Pek Yang terperanjat. Dalam hatinya dia gatal pantas anak ini lihai, kiranya dia muridnya Thian Gwa It shia Boe Eng Hoei Long, Akan tetapi dia tidak mau kalah gertak.

Dia kata sembari tertawa menghina: "Baik, sebentar malam jam dua aku nanti pergi ke Ie Hoa Tay untuk menemui gurumu itu."

Tiong Hoa tertawa terbahak, selagi mencekal terus lengannya In Loei itu, dengan jeriji tengahnya ia menotok dijalan darah toa-Ieng, setelah itu dengan dikageti, ia melepaskan cekalannya. "silahkan, totiang." dia berkata.

Totokannya itu hebat sekali, Dengan itu selama tiga tahun In Loei tidak bakal mampu menggunai tenaganya, tubuh In Loei terasa kejang, tenaganya habis, kepalanya menjadi pusing dan matanya kabur.

Koe-Iouw Mo Koen tertawa dua kali, terus dia menyeret tangan muridnya, buat diajak pergi dengan cepat, Didalam hati ia sangat mengkal dan masih tetap mendongkol.

Tiong Hoa masih berdiri sekian lama mengawasi orang berlalu, baru dengan tindakan perlahan ia mendekati Thian siang Kie, ia di sambut dengan hormat dan manis oleh pelayan tadi, yang telah menyaksikan kegagahan orang. Dia menyuguhkan teh dan melayani dengan telaten.

Seorang diri Tiong Hoa duduk dalam kamarnya, menghadapi jendelanya, yang daunnya dipentang, ia mengawasi pohon yanglioet hatinya bekerja, sesaat itu ia merasa kesepian-Bukankah ia telah melakukan perjalanan ribuan lie ke selatan ini?

Bukankah ia tak bersanak dan tak berkadang? Dia asal keluarga berpangkat tapi sekarang ia menjadi orang kang-ouw hijau, tak pernah ia memikir bahwa ia bakal menjadi begini rupa.

Dalam ngelamun, anak muda ini merasa sang waktu berjalan cepat ia merasa ia seperti bermimpi ia ingat bahwa sikap mau menang sendiri tidak berguna begitu juga sikap memperebuti nama dan harta, itu semua mirip pemandangan di dalam kaca-rasa atau rembulan di permukaan air.

Akhirnya ia ingat Cek in Nio yang cantik, Bayangan si nona seperti berpeta di depannya, ia seperti melihat sujen si nona yang manis, ia heran dalam tempo yang pendek sekali, nona itu menjadi sangat berkesan baginya, ia merasa untuk hidupnya, Cek In Nio adalah orang yang ia tak boleh kekurangan.

"Tapi, di mana adanya si nona sekarang?" ia tanya "Kalau aku tahu... Rasanya pemuda ini mau melupakan lukisan Bayangan Rembulan di Gunung Sunyi," untuk pergi mencari nona itu, untuk berdiam di sisinya.

Tanpa merasa, Tiong Hoa menghela napas, lalu ia bersenandung, ia demikian berduka hingga tanpa merasa air matanya mengalir. 

Tiba-tiba telinganya mendengar suara tertawa yang bagaikan bunyi kelenengan datangnya dari arah luar, ia segera berpaling ia mirip orang yang baru tersadar dari mimpinya yang sedap. Di luar pintu berdiri seorang nona dengan baju hijau, karena dia lagi tertawa, terlihat dua baris giginya yang putih, sedang wajahnya yang ramai mirip bunga hoe-yong. Dia nampak sangat menggiurkan- Sedang sepasang matanya yang jeli memperlihatkan sinar bersyukur.

"oh..." Tiong Hoa berseru, terus ia berbangkit dengan cepat, ia pun tertawa. "Nona, silahkan duduk" ia mengundang, Sukar rasanya untuk ia membuka mulutnya.

Nona ini tidak malu-malu meskipun benar mukanya berubah menjadi merah, ia bertindak masuk.

“Jikalau bukan kongcoe yang menolong, Hampir aku bercelaka ditangannya Koe-Iouw Mo Koen" katanya, ia lantas menjura dalam memberi hormatnya.

“Jangan bilang begitu," kata si anak muda cepat. "Ada bahaya tak menolong, itu bukanlah kelakuan seorang Rimba Persilatan, maka juga perbuatanku itu yang tak ada artinya janganlah nona buat pikiran, Hanya kalau bisa ingin aku mendapat tahu kenapa nona berada sendirian dikota Kimleng ini?"

Nona ini mengambil tempat duduk. Di tanya begitu matanya menjadi merah. ia menarik napas duka.

"Aku melakukan perjalanan jauh mencari ayahku," ia menyahut, "sudah setengah tahun dalam perantauan, masih aku belum mendapat tahu ayahku berada di mana, Aku kuatir ayahku telah dicelakai orang hingga mayatnya menjadi terlantar." Tiong Hoa terharu, ia merasa kasihan kepada nona itu. "Apakah nona suka menuturkan tentang hal ikhwalmu?" ia tanya,

Roman si nona menjadi guram, airmatanya mengembeng, Meskipun begitu, dapat ia menguatkan hati, untuk memberikan penuturannya, ia orang she Phang dan namanya Lee Hoen, Ayahnya, Phang Tay Kong, gelar Coe see-ciang, si Tangan Merah, menjadi seisi di kota Hangcioe. Pada delapan tahun dulu kantor soeoboe Ciatkang kecurian sebuah Pin atau tabir Pwee- bo in-pin yang berharga mahal luar biasa, sebab itulah Pia mustika yang dapat memberi alamat tentang cerah, hujan, angin dan salju, umpama cuaca b e- rubah, tabir itu memperlihatkan warna lima macam, tebal atau tipis. Tay Kong diberi tempo setengah tahun mencari itu hingga dapat, bukti berikut penjahatnya, ia diberi surat- surat yang perlu serta empat pembantu.

Mereka lantas bekerja, mereka pergijauh ke luar daerah, Empat bulan kemudian, soenbon menutup mata. Tanpa desakan soeoboo, perkara menjadi tergantung.

Tapi juga Tay Kong, dia pergi untuk takada kabar ceritanya lagi. kasihan isterinya, serta gadisnya, yang jadi hidup terlantar.

Kemudian Lee Hoen dapat pertolongan sahabat ayahnya, ia dapat berguru pada Hoei seng Tay-sue dari NgoBie Pay. sampai lewat beberapa tahun, tentang Tay- kong terus tidak ada beritanya, Nyonya Phang menjadi menangis saja, terus dia jatuh sakit, Lee Hoen jadi sangat berduka dan bingung.

Lalu dengan persetujuan ibunya, yang tak dapat mencegah dia, dia pergi merantau mencari ayahnya, setengah tahun sudah nona Phang merantau, sampai dia berada di kota Kimleng ini, tetap dia gagal, Malang untuknya, dia telah diganggu In Loei, sampai hampir dia mendapat celaka.

Tiong Hoa mendengar, matanya mengawasi mendelong ke luar jendela.

“Kongcu, apakah kau ketahui tentang ayahku?" si nona tanya heran, sebab orang berdiam saja sekian lama, orang seperti lagi berpikir keras.

Memang Tiong Hoa lagi mengasah otak. la tengah menguji kekuatan asahannya, ia mengingat- ingat pengalamannya dalam ruang perangkapnya Yan Loei di Yan Kee Po, Di sana banyak kurban jiwa dan nama-nama mereka terukir di tembok- ia pikir nama-nama itu, yang ia pernah apalkan. sekarang ia lagi membaca pula di luar kepala.

Tiba-tiba ia terkejut, tanpa merasa ia mengkirik, la ingat nama Phang Tay Kong, Karena itu ia menjadi membayangi tumpukan tengkorak atau tulang belulang di dalam neraka dunia itu, di mana pun terdapat hancuran-hancuran pakaian kotor dan tua, sisa-sisa sepatu daripelbagai alat senjata, ia seperti juga merasai bau badan yang membuatnya mau muntah- muntah .

"Tidak salah lagi," pikirnya, "tabir Pwe-ho in-pin itu terjatuh dalam tangannya Yan Loei, Tay Kong mendapat endusannya, dia pergi ke Yan Kee Po, tapi dia terjebak Yan Loei, maka dia terpenjara di dalam tanah, mati karena dahaga dan lapar"

la menjadi bersangsi Dapatkah ia menjelaskan itu kepada nona ini? Kalau si nona mendengarnya, itulah pukulan sangat hebat, jangan kata seorang nona, satu laki-lakipun mungkin tak dapat bertahan. Karena itu, ia terus berdiam saja, sampai si nona menanya ia, ia menoleh kepada si nona, ia menatap. ia hendak membuka mulutnya, saban-saban ia gagal.

Karenanya, ia menggoyang-goyang kepala, ia menghela nafas berulang-ulang, tak dapat ia menyembunyikan kedukaannya itu.

Hati si nona memukul keras, ia mendapat firasat buruk. la pun menatap anak muda itu.

"Bagaimana, kongcu?" ia menanya, berulang-ulang "Apakah kongcoe ketahui tentang ayahku itu?"

Ia menanya mesti ia merasa pasti, sikap si pemuda sangat mencurigai. Tiong Hoa terdesak. la menghela napas panjang.

"Nona, ako minta sukalah kaujangan berduka," katanya kemudian, "Aku tahu tentang ayahmu itu, ia telah teraniaya orang, sekarang ia sudah meninggal dunia "

Muka si nona menjadi pucat pasi, ia merasa bagaikan dunia berputar, maka tubuhnya, terhuyung hampir ia roboh. syukur Tiong Hoa segera memegang tubuhnya itu. sampai ai anak muda lupa pantangan adat sopan santun-"sabar nona." dia kata, "Kau ingat, kau kuati hatimu." Nona itu berdiam sekian lama.

"Kongcu, bagaimana kau ketahuinya itu?" kemudian ia tanya.

Tiong Hoa suka memberikan keterangannya, setelah ia minta lagi sekali nona itu suka menenangkan diri, ia menuturkan pengalamannya terperangkap. baru halnya ia banyak tulang-tulang dan catatan nama-nama di tembok. Lee Hoen berjanji akan menguati hati, tapi akhirnya ia pingsan, Tiong Hoa menjadi bingung dan repot, terpaksa ia menahan tubuh si nona, untuk memenceti dan menguruti perlahan-lahan si nona mendusin, untuk lantas menangis. "oh, ayah..." ia mengeluh. "Bagaimana ayah bersengsara..." Nona Phang menangis begitu sedih sampai hampir ia tak sadarkan diri pula.

Tiong Hoa terus membujuki dan menasehati, tapi ia sendri begitu terharu hingga air matanya turut mengembeng.

"Kongcu." kata Lee Hoen kemudian. " dapatkah kongcu membagi tempo untuk mengantarkan aku ke Yan Kee Po, supaya aku dapat mencari tulang-tulangnya ayah, untuk dirawat sebagaimana layaknya? Untuk membalas budi kongcu, aku akan membikin tiang seng- fek-wie guna memuja kongcu..."

"Tungleng lok wie." yalah papan peringatan guna menghormati seseorang yang dihormati semasa orang itu hidup.

"Suka aku mengantar kau nona, hanya itu tidak dapat dilakukan sekarang." kata Tiong Hoa, Menerima "baik sambil menampik, "sekarang aku lagi mempunyai urusan yang harus diselesaikan Baiklah nona pulang ke Hangcioe, apabila urusanku sudah beres, aku sendiri yang akan pergi ke Yan Kee Po, guna mengambil tulang- tulang itu, nanti aku bawa sendiri kepadamu."

Lee Hoen tidak dapat dibujuk, ia kata ia ingin pergi sendiri ke Yan Kee Po. Untuk itu ia bersedia menantikan Tiong Hoa sampai Tiong Hoa sudah selesai dengan urusannya itu. "Baiklah." sahut si anak muda sesudah ia kewalahan membujuki. ooooo

BAB 10

TIONG HOA berdiam dalam kesunyian dalam kamarnya di dalam hotel, ia mengawasi keluar dimana cabang yanglioo dan daun-daunnya tengah memain di antara giliran angin, ia seperti lagi berpikir keras, sekarang ini pikirannya goncang hingga timbul rasa bosan nya untuk merantau begitu pun untuk mencari lukisan Yoe san Goat Eng." ia pikirkan, rahasia apa itu terkandung dalam gambar lukisan tersebut hingga mendiang gurunya demikian menghargakannya.

Kalau itu hanya rahasia kitab ilmusilat atau sebangsa nya ia merasa tak tertarik..

"Orang banyak yang palsu.,." katanya, hingga hatinya menjadi tawar dan ia berduka ia tidak mempunyai kawan kecuali Cee-cit, sedang Lo sat Gioklie telah terpisah pula darinya.

Tiong Hoa mencoba membawa dirinya, ia tahu kalau lama-lama ia bergaul dengan Phang Lee Hoan, ia kuatir nanti timbul soal baru. Dari Cek In Nio juga ia memikir untuk memisahkan diri tapi ia tahu bahwa asmara sudah mengikat padanya. Ingat pada fn Nio, pemuda ini lupa Nona Phang masih berada dalam kamar bersama-nya.

Mata Lee Hoen terus basah, ia terlalu bersedih untuk nasibnya yang malang, ia melihat si anak muda mendelong saja, ia pun berdiam, Tak mau ia mengganggu anak muda itu. Toh ia mengawasi, maka ia dapat melihat tegas pemuda itu sesungguhnya tampan, hatinya baik, nyalinya besar, ilmusilatnya mahir. Betapa langkanya pemuda tampan seperti dia ini? pikirnya. Tanpa merasa ia menjadi jatuh hati pada si anak muda, ia mengawasi terus, hingga satu kali ia menampak orang bersenyum sendirinya, ia tentu tidak ketahui, di saat itu Tiong Hoa lagi ingat In Nio" "Lie siangkong..."

Itulah panggilan tiba tiba dari luar, maka pecahlah kesunyian kamar itu Tiong Hoa terperanjat, la tersadar, segera ia berpaling.

Pelayan muncul di ambang pintu, Dia heran melihat si nona mengawasi padanya. "Ada apa?" Tiong Hoa tanya.

Pelayan itu bertindak masuk. dengan hormat ia menanya apa sudah waktunya untuk menyajikan santapan malam.

Tiong Hoa melihat ke luar jendela, Matahari sudah kelam. "Ya," ia mengangguk

Dengan hormat pelayan itu mengundurkan diri.

Kembali kamar menjadi sunyi.

Tiong Hoa merasa kurang enak hati ia berdiam sekian lama, ia menganggap perbuatannya itu kurang hormat, sebagai tuan rumah, tak dapat ia bungkam.

Tapi, alasan apa ia mempunyai untuk dijadikan bahan omongan? syukur ia lantas melihat pedangnya si nona.

"Tadi Koe-louw Mo Keen Pek Yang menurunkan tangannya, rupanya dia mengarah pedang kau. nona." ia berkata. "Mereka itu, guru dan murid, bekerja sama, kecuali pedang rupanya mereka menghendaki orangnya"

Lee Hoen terperanjat ia lantas menoleh si anak muda, mukanya merah. Lekas sekali, ia tunduk pula, sekarang ia berkata, perlahan, nadanya penasaran: "Pedang ini didapatkan bukannya dengan mudah, untuk ini hampir mendiang ayahku kehilangan jiwanya, itulah kejadian duapuluh tahun yang lalu, tempo mendiang ayahku masih bekerja di kota Ceelam. Ketika itu telah terjadi kejahatan saling-susul.

Seorang hartawan kecurian uang dan permatanya, gadisnya terbunuh dengan kepala dan tubuhnya terpisah, penduduk Ceelam jadi gempar dan ketakutan- pembesar negeri jadi repot dan gusar, maka polisi diperintah keras mencari penjahatnya, Beberapa malam kemudian, ayahku dan kawan-kawannya dapat mempergoki penjahat itu, tapi dia liehay sekali, tak dapat dia dibekuk.

Hebat terutama pedangnya yang tajam, Beberapa orang polisi terbinasa dan terluka dan rambut ayahku pun terbabat kutung, Dengan kecerdikannya akhirnya ayah mendapat tahu tempat mondoknya penjahat itu, yalah disebuah rumah hina dikota Lek-shia.

Dia lantas mengatur tipudaya untuk menangkapnya, Penjahat itu kena dikasi makan arak tercampur obat pulas, Dia kuat sekali, dia tidak mempan senjata, maka ayah memutuskan otot-ototnya dengan pedangnya itu, Ceng song Kiam namanya.

Ketika dia mendusin dan mendapatkan dirinya sudah tidak berguna lagi, dia menangis dan menyesalkan dirinya sendiri, katanya: Menyesal aku tidak dengar guruku yang membilangi aku bahwa pedang ini akan ganti majikan, bahwa bila aku gunainya tidak tepat, aku bakal mati celaka.

Sekarang terbukti benar kata-kata guruku itu. Atas pertanyaan ayahku, penjahat itu mengaku muridnya Keen Goan cauw soe dari Khong-tong-pay timur. Ketika dia dimasuki dalam penjara, dia membunuh diri, Ayah takut pihak Khong-tong-pay nanti menuntut balas, ia meletaki jabatannya, ia pulang ke Hangcioe, ia pun menukar nama dan hidup bersembunyi.

Lewat enam tahun, atas anjuran sahabatnya, ayahku bekerja pula sebagai polisi, pedang ini terus disimpan di rumah, tak pernah dipakai, baru sekarang, buat mencari ayahku, aku bawa sebagai pelindung diriku "

Tiong Hoa menghela napas.

"Mungkin pedang mustika ini pedang pusaka Khong tong .pay." ia berkata, "Kee-louwMo Keen rupanya mengetahui itu maka ia hendak merampasnya, pedang ini pedang mustika. siapa tak ketarik hati untuk memilikinya? sayang kita tidak ketahui baik tentang pedang ini. Menurut aku, nona selanjutnya kau baik- baiklah menyimpannya." Mendengar perkataan orang, Lee Hoen tertawa.

"saudara terlalu merendah." katanya, "Melihat caranya kau membekuk muridnya si hantu, sudah ternyata kepandaian kau. hingga pantaslah kau menjadi seorang tayhiap Tidak saudara, dengan ada kau yang mengawani aku, aku tidak takut apa juga" selagi berkata begitu, sinar mata si nona nampak gembira sekali.

Tiong Hoa sebaliknya mengerutkan alis, nona ini terlalu mempercayai ia atau dia lupa pada dirinya sendiri.

Nona itu berkata pula: "Pedang ini memang luar biasa, Di waktu malam, kalau ada orang jahat datang, dia tentu keluar sendirinya dari sarungnya dan mengasi dengar suara yang ramai, maka dengan mengandalkannya, beberapa kali aku pernah mengusir pencuri juga jikalau cuaca berubah hebat, pedang ini suka berbunyi sendiri didalam sarungnya berbunyi tak hentinya." 

Ia meloloskan pedangnya itu dan mengangsurkan kepada si anak muda.

Tiong Hoa menyambuti, Ketika itu kamar guram, Dengan dua buah jerijinya ia menekan gagang pedang, Mendadak pedang itu berbunyi dan mencelat keluar dari sarungnya. Maka terlihatlah sinarnya yang hijau mengkilap.

Pedang itu lebih pendek daripada pedang yang biasa, panjangnya cuma dua kaki enam dim, belakangnya sedikit melengkung, kiri kanannya ada tanda darahnya, mulutnya sangat tipis dan tajam.

"Benar-benar pedang mustika." ia memuji kagum. "Mesti ini pedang dari usia ribuan tahun-"

Ia masuki pedang itu ke dalam sarungnya dan mengembalikan pada si nona.

"Wanita cantik dan pedang mustika, sungguh surup," ia kata, tertawa, "Di belakang hari nona mestilah menjadi suatu ahli pedang kenamaan-"

Lee Hoen tertawa, ia mengangkat tangannya, guna menyambuti pedang itu, atau mendadak dari luar jendela ada tangan yang sebat sekali meny amber pedang itu untuk di rampas, ia melihat tangan itu, ia kaget hingga ia menjerit.

Tiong Hoa telah melihat bayangan berkelebat, ia tahu ada orang lompat masuk di jendela, tatkala tangan orang itu diulur, ia pun mengulur tangan kirinya dengan Hoe Wan Ciang ia menyerang.

Perampas pedaog itu terkejut, sebelum ia sempat berdaya tubuhnya telah dihajar terpental ke pojok tembok. la tidak roboh, begitu ia menginjak lantai tubuhnya mumbul mencelat ke luar pintu, ia tidak lari hanya berdiri diam.

"Eh ilmumu ini ilmu apa?" ia tanya. la heran sebab ia sudah bersedia dan ia percaya ia bakal berhasil merampas pedang tanpa rintangan siapa tahu tangan si anak muda seperti mulur hingga tiga kaki.

Syukur Tiong Hoa cuma menyampok. jikalau tidak perampas itu tentulah hilang jiwanya. Bukan melainkan si perampas juga Lee Hoan heran atas serangannya Tiong Hoa itu.

Tiong Hoa memandang tajam, maka sekarang ia bisa melihat tegas perampas itu sebenarnya muridnya sinbeng sioe soe Kim som yang ia ketemukan di Heng Hoa Coen.

Ia lihat kedua mata orang yang jeli memain menunjuki roman heran, ia lantas menegur: "Kau muridnya seorang kenamaan kenapa kau bawa lagakmu seperti pencuri ini?" Anak muda muka hitam itu tertawa dingini

"Cara bagaimana kau ketahui aku murid siapa?" ia balik menanya, "jangan kau berjumawa dengan tipu silatmu melayani Kee-louw Mo Keen Pek Yang tadi, di mataku ilmu itu tidak ada artinya"

Tiong Hoa tidak senang, maka ia mengawasi tajam "Bukankah kau muridnya Sin-heng sioesoe Kim Loo-

ciaopwee? ia membentak. "jikalau kau berani berlaku kurang ajar lagi awas, jangan kau sesalkan aku keterlaluan" Anak muda itu melengak. la heran sekali.

"Eh, mengapa kau ketahui aku muridnya sin heng sioe-soe? "ia tanya Tapi, ah, mata itu benar tajam, Hm. Dengan kepandaian kau ini, mana dapat kau memberi pengajaran padaku? Malam ini, jikalau kau tidak serahkan pedang Ceng song Kiam itu, jangan harap kau dapat tidur tenang"

Nyatalah anak muda itu sangat kepala besar dan terkebur, lagaknya garang. Tiong Hoa membentak. pedangnya dihunus dengan memutar itu ia bertindak maju.

Muridnya Kim som tidak melawan, ia hanya mempertontonkan kelincahannya. dengan gesit sekali ia berkelit, untuk terus mengangkat kaki, hingga ia hilang dalam sekejap.

Tiong Hoa tidak mau menanam bibit permusuhan ia tidak mengejar, hanya ia kembali ke dalam kamar, ia mengerutkan alis ketika ia berkata pada si nona: "Anak muda itu telah mewariskan tiga bagian kepandaian gurunya, dia gesit sekali, Aku lihat, karena pedang ini pedang Khong Tong Pay. selanjutnya tentulah bakal timbul urusan karenanya. Mesti ada orang-orang yang niat merampas atau mencurinya. fa terus menghela napas. Lee Hoen pun berduka.

Sebelum dua orang itu sempat bicara lebih jauh dari luar kamar mereka mendengar suara keras: "siapa yang bernyali begiiu besar berani melukai muridku si orang tua?" Tajam suara itu menusuk telinga.

Tidak menanti sampai suara sirap. Tiong Hoa sudah berlompat keluar dari kamarnya, ia diikuti Nona Phang. segera ia melihat sin beng sioe-soe Kim som berdiri tegak di bawah pohon yanglioe. Malam suram tetapi kedua mata orang nampak bersorot tajam.

Dengan memegang gedangnya, Tiong Hoa mengangkat kedua tangan untuk memberi hormat ia kata dengan suara nyaring. “Kim Loociaapwee orang kenamaan di inijaman dengan yang muda tak kenal bermusuh satu dengan lain, mana berani aku berlaku kurang ejar terhadap muridmu, soal yalah disebabkan perbuatan muridmu terlebih dulu. Dengan tiba-tiba dia lompat masuk kekamarku hendak merampas pedang, habis itu ia mengasi dengar kata-kata terkebur.”

Sin-heng sioesoe tetap mengawasi tajam, ia berkata dengan suara dalam:

"Dalam halnya itu dia tidak dipersalahkan, sebenarnya pedang itu pedang miliknya mendiang sahabatku, Keen Goan siangjin, itulah pedang pusaka Khong Tong Pay.

Dulu hari pedang itu dicuri murid partai itu, lantas tak ada kabar ceritanya lagi, sementara iiu sahabatku itu telah memesan aku, andaikata aku menemukan pedangnya itu, supaya aku menebusnya, Akulah seorang tua, tak leluasa untuk aku datang kepada kamu anak- anak muda untuk meminta pulang pedang itu, maka aku telah kirim muridku itu yang bernama Kam Jiak Hoei, Bukankah aku telah berlaku menurut aturan pantes?"

Tiong Hoa tidak puas.

"Bisanya loocianpwee mengatakan demikian, tidak dapat aku percaya loocianpwee telah dapat pesannya Keen Goan siangjin,” ia kata, “Laginya muridmu itu bukan meminta pedang, tanpa menanya dulu, tanpa minta keterangan. Datang-datang dia lompat merampas pedang itu. Lagaknya mirip penjahat."

"Tutup mulut" Kim som membentak sebelum orang habis bicara, "selama beberapa puluh tahun, belum pernah aku di orang mendapatkan orang yang berlaku begini kurang ajar terhadapkuJikalau aku tidak pandang usiamu yang muda dan kau belum tahu apa-apa, sedikitnya hendak aku memberi ajaran padamu."

"Loocianpwe cuma tahu menegur orang, loocianpwee tidak tahu menegur diri sendiri." kata Tiong Hoa tertawa nyaring, "Kecewa loocianpwee ternama demikian besar dan termasuk dalam golongan orang-orang tua tergagah."

Kim Som juga tertawa nyaring hingga tertawanya itu seperti memecah angkasa.

Sembari tertawa itu dia maju mendekati si anak muda, tangannya dengan lima jari yang kuat menyambar dengan cepat dan bengis sekali.

Tiong Hoa terkejut, itulah ia tidak sangka. Dengan tidak kalah gesitnya, ia mengundurkan diri dari ancaman bencana itu.

Kim Som terkejut mendapatkan serangannya gagal hingga ia menatap anak muda itu yang dapat menolong diri dari serangannya yang luar biasa itu. lantas ia maju pula, semakin sebat dan tangannya diulur semakin cepat. Kali ini ia mengincar jalan darah hok kiat, dengan tangan kirinya berbareng ia menyamber pedang untuk dirampas.

Di dalam rimba persilatan orang menyayangi nama baiknya seperti ia menyayangi tubuh atau jiwanya, demikian dengan Sin-heng Sioe-soe Kim Son si Pelajar Lari Cepat, Dengan Kim Som melayani Tiong Hoa, untuk namanya itulah sudah cacad, itu artinya si kuat menindih si lemah.

Maka itu kalau sekarang ia tidak memperoleh kemenangan, kalau perbuatannya ini tersiar dimuka umum, alangkah malunya? Mana ia dapat menaruh muka terlebih lama pula? oleh karena itu, penyerangannya yang kedua kali ini adalah penyerangan kilat.

Kembali Tiong Hoa kaget, orang seperti mendadak berada di hadapannya. ia merasa bahwa orang benar gesit luar biasa, tak kecewa julukan sia-heng sioe-soe itu, tentu sekali ia tidak berani berlaku ayal. Untuk menolong diri, guna dapat melayani, lekas-lekas ia mengguna Hong Hoei insoao, dengan itu ia membuka kedua tangan penyerangnya, membikin penyerangan itu tak ada hasilnya.

Tiong Hoa telah mewarisi delapan sampai sembilan bagian kepandaian mendiang guru-nya, maka itu ia tinggal membutuhkan latihan terlebih jauh serta pengalaman.

Selama masuk dalam dunia Kang-ouw, pengalamannya itu terus bertambah. sudah obat Pouw Thian Wan dari Thian Yoe sioe membikin memperoleh tambahan latiham dua puluh tahun, peryakinannya atas ilmu silat "Kioe Yauw seng Hoei sip sam" pun maju setiap hari. maka itu, ia memperoleh kemajuan di-luar dugaan, bahkan di luar kesadarannya sendiri Tahu-tahu ia menjadi tambah berani, tambah gesit, tambah liehay juga kali ini, menghadapi Kim som si jago tua, ia membikin jago tua itu heran dan kagum.

Mukanya sin-heog sioe-soe menjadi padam mendapatkan dua kali serangannya gagal, sedang mulanya ia menyangka mesti ia berhasil. Lantas mukanya itu berubah menjadi merah, seumurnya inilah pengalamannya yang pertama, yang sangat tak memuaskan hatinya. Panas hati dan penasaran, ia mengulangi serangannya Bisa dimengerti jikalau ia mengerahkan seluruh tenaganya dan menggunai kepandaiannya yang terakhir ia menyerang pula dengan kedua tangannya, yang dimainkan saling susul, bahkan itulah pukulan aneh, sebab tangannya yang dimajukan lebih dulu kesudahannya kena didului tangannya yang dikirim belakangan.

Tiong Hoa terkejut tetapi ia tetap dapat menabahkan hati, ia berkelit dengan berputar menghindari diri dari serangan maut itu. sembari berputar, ia menghunus pedang di tangannya, tapi ia memperoleh ini lebih banyak disebabkan Kim son lebih ingin merampas pedang daripada mencelakainya.

Begitu dikeluarkan dari sarungnya, Ceng song Kiam memperlihatkan sinarnya yang hijau bercampur kuning keemasan indah, di lihatnya di dalam yang gelap itu.

Dengan pedangnya itu, ia lantas bersilat dengan Kioc Yauw seng Hoei sip-sam sie, yang pun di sebut ilmu silat bertentangan Hoan Naoheng lm-yang cioe-hoat. inijusteru ilmu silat pemunah ilmu silatnya sin-heng sioe- soe

Di dalam tempo yang pandek. Kim som menjadi bingung, ia kaget waktu ia dapat kenyataan ia seperti dikurung pedang lawan, ia mencoba untuk meloloskan diri, ia gagal, ia tak dapat, ia menjadi penasaran sekali. Dengan seluruh tenaganya ia lantas menolak keras.

Kali ini Tiong Hoa kena dibikin mundur lima kaki.

Menggunai temponya yang baik, sin-heng sioe-soe mundur kembali ke bawah pohon yanglioe di mana ia berdiri diam tadi, ia menggendong tangan- matanya mendelong. selang sedetik, la bersenyum dan kata, "Kau ini murid siapa? linu silatmu ilmu silat luar biasa Mungkin kau baru memainkannya enam atau tujuh bagian ini pun sudah hebat." Tiong Hoa mencekal terus pedangnya, ia memberi hormat. "Aku yang rendah muridnya Loocianpwee Thian Yoe sioe", ia menyahut sabar. "Ooh" Kim som berseru kaget.

"Ah, kau kiranya ahliwaris si orang tua she Kie," katanya, pula kagum. "Kalau begitu taklah heran. orang tua itu tidak menerima murid seumurnya. tidak disangka dia penuju pada kau yang berbakat baik, sungguh menggirangkan, sungguh kau harus di beri selamat, oleh karena kau muridnya Kie Lojle, baiklah. aku si orang tua tidak mau memakta padamu, hanya..."

Ia melirik pada pedang Ceng song Kiam, lalu ia menambahkan- “Pedang itu pusaka Khong Tong Pay, sembarang waktu pedang itu dapat di curi atau dirampas, maka selanjutnya kau jagalah baik-baik Kau harus mengerti, aku si orang tua bermasud baik. Dapat aku kata ku n, aku kuatir pedang ini nanti menimbulkan keruwetan-" Habis berkata itu, ia terus bersenyum.

Tiong Hoa memikir sesuatu, lantas ia menduga dan berkata: "Pedang adalah senjata tajam, pedang tak mempunyai pemilik yang tetap. melainkan dia yang bijaksana yang dapat menguasainya, sebenarnya pedang ini bukannya pedangku, inilah pedangnya ini..." ia meunjuk kepada nona Phang, untuk melanjuti. " inilah pedangnya nona Phang ini, Aku tahu locianpwee berkepandaian, mana aku mengharap sukalah locianpwee nanti menolong melindungi padanya." Kim soen mengurut kumisnya. ia tertawa, "jangan kau mengeluarkan kata-katamu ini untuk mengikut aku si orang tua" dia bilang, sebenarnya aku sudah malu sendiri karena aku menghilangi kepercayaan terhadap mendiang sahabatku Mana dapat aku melindungi kamu. Untukku cukuplah sudah asal aku tidak mengulur tangan bawa pedang itu"

"Kalau begitu aku hendak menghaturkan terima kasih banyak kepada loocianpwea," kata Tiong Hoa dengan sikap sangat menghormat.

Sing-heng sioesoe mengawasi sianak muda sekian lama, "Apakah namamu?" ia tanya,

"Boanpwee bernama Lio Cie Tiong,” sahut Tiong Hoa. ia terpaksa memakai tetap nama pais u itu karena ia mengingat di Yan- khia ia telah kesalahan membunuh dua jiwa. orang tua itu mengangguk

"Kie Loojie memilih kau sebagai ahliwarisnya, dia benar tidak kabur matanya," ia berkata. "Muridku yang bernama Kam Jiak Hui, kecuali hatinya yang besar, tak nempil separuhnya terhadap kau. Aku minta j angan kau pikirkan pula perbuatannya itu, malah sebaliknya, di belakang hari sukalah kau bantu menilik dia." "Boanpwee akan menurut titah loocian-pwee." kata Tiong Hoa hormat.

Kim som memutar tubuhnya, hendak ia berlalu, atau mendadak ia membalik badannya pula, ia tertawa dan berkata "Berhubung dengan janji pertemuan sebentar malam jam dua di I e Hoa Tay, mungkin kau bakal turut menyaksikannya, maka itu mengingat Boe-eng Hoei Long Khioe Cin Keen gagah luar biasa dan sangat telengas, Aku harap kau nanti dapat membantu aku si orang tua." Kata-kata itu diakhirinya dengan tubuh orang tua itu melesat, hingga sekejap saja dia sudah tujuh atau delapan tombak jauhnya, hingga di lain saat dia sudah menghilang didalam gelapnya sang malam.

Menyaksikan berlaIunyajugo tua ini, Tiong Hoa menghela napas, sekian lama ia berdiri diam membiarkan tubuhnya disilirkan pulang pergi angin malam, angin yang melenyap ke barat daya.

Kemudian ia menghela napas dan kata dalam hatinya, "jikalau aku tidak menggunai kecerdasanku sesaat dengan memakai gerakan Kioe Yauw seng Hoei sip-sam sia dengan pedang ini serta menyebut namanya Thian Yoe sioe, pastilah pertempuran barusan ^ak berkesudahan baik seperti ini.

Lalu ia memikir, bahwa ilmu silat "Bintang terbang" itu benar-benar lihai maka perlu ia melatihnya terus. Lee Hoen mengawasi orang berdiam saja.

Dia sudah lihai sekali, mengapa dia masih banyak pikir?" katanya dalam hati, heran ia tidak dapat menerka apa yang si anak muda ngeIamunkan. Lalu ia menegur, "sa udara Lie mari kita kembali ke dalam," Tiong Hoa merasa ia seperti baru sadar dari mimpinya, ia tertawa. "Mari..." sambutnya.

Tiba di dalam belum lama pelayan telah datang menghidangkan barang hidangan maka itu keduanya lantas bersantap dan minum. ooo

Tengah malam itu bintang-bintang memenuh ka n langit, Rembulan seperti menyembunyikan diri di antara gumpalan-gumpalan mega. Karena itu, sang jagat guram, Di sungai, pelitanya sang nelayan berupa seperti bintang bintang yang berkelak-kelik. 

Di waktu begitu, selagi di kota Kimleng terdengar pertanda waktu, maka di panggung le Hoa Tay yang terkenal sang kesunyianlah yang memerintah .J usteru itu, tiba-tiba terlihat gerak ^eriknya dua bayangan orang.

Keluar daripepohonan lebat, kedua bayangan itu tiba ditegalan yang lebar, di situ keduanya itu berhenti, untuk melihat kesekitarnya.

"Mungkin bocah she Kam itu tidak berani datang kemari." berkata bayangan yang satu, "Mendengar nama soehoe buat menyingkir saja dia sudah kehabisan tempo, maka itu mustahil dia berani datang mengantarkanjiwanya?"

"Eh, loojie, kau bagaimana sebenarnya?" tanya bayangan yang ke dua^ "Selama satu tahun ini, dengan memakai nama soehoe, kau sudah mendatangkan tak sedikit onar. soehoe gusar sekali, kau tahu, Tahun dulu itu tanpa sebab kau sudah menanam bibit permusuhan dengan Kim taihiap Kam Pa dari Liangcioe. Dalam hal itu kitalah yang salah, Kau sengaja membinasakan seluruh anggauta keluarga orang she Kam itu tapi kaujusteru membikin lolos si bocah KamJiak Hoei,

Karena itu sekarang Kam Jiak Hoei datang menagih hutang darah itu, dia menjanjikan kita bertarung Dia berani datang, terang maksudnya tidak baik, Pula di samping kepandaiannya, dia mesti mempunyai andalan, jikalau tidak. mana dia berani datang ke rumah kita dan dapat masuk- keluar seperti di rumah tanpa penghuni?

Lihat saja, ketika dia mau pergi, dia meninggalkan tanda mata kepandaiannya Tiat Cioe In -- Tangan TapatBesi, Mana kita sanggup? Loo-jie, kau terlalu besar kepala..." "Toako, aku lihat, makin lama nyalimu menjadi makin kecil" kata bayangan yang pertama bicara itu Bocah she Kam itu, masih jauh pelajarannya untuk dikatakan sempurna.

Mana dia dapat lawan ilmu soet Pay Kie kita? Boleh dia mempunyai tulang punggung tetapi apa tulang punggungnya itu dapat melawan guru kita? Hm"

Belum berhenti kata-katanya orang yang gede kepala itu, mendadak dia berteriak keras karena kesakitan, lantas dia menutupi mukanya, terus dia mencaci dan mengutuk. Tengah dia mementang mulut itu ada angin meny amber ke mukanya.

Dia kaget, dia berkelit tetapi tak keburu, lantas dia merasakan sakit seperti dihajar martil, sakit sampai ke ulu hatinya. matanya menjadi kabur, Karena giginya copot tiga biji, mulutnya lantas mandi darah, darahnya mengucur deras. " Kurang ajar." mendamprat kawannya yang menjadi sangat gusar.

Dampratan itu disambut dengan tertawa nyaring, tertawanya satu tubuh yang berlompat ke arah mereka yang setibanya dijalan itu lantas berkata dengan bentakannya: "Kimleng Jie Pa, inilah tuan kecilmu KamJiak Hoei sudah delapan tahun aku mendendam sakit hati keluargaku, maka itu malam ini yala h mala man mampusmu-"

Kejadian itu tak lolos dari matanya Lie Tiong Hoa berdua Phang Lee Hoen, yang bersama-sana menyembunyikan diri di atas pohon di dekat mereka itu bertiga berhadap hadapan. Pohon tebal dan lebat, maka itu, semakin sukar untuk mempergoki mereka. Sepasang matanya KamJiak Hoei seperti menyala saking gusarnya dia, di punggung nya terlihat tergondol sebuah senjata yang mirip b and ering boet-jiauw, yang memberi sinar berkilauan-

Loo-toa, atau si tertua, dari KimlengJie Pa, yaitu sian couw, mengawasi dengan alis berkerut pada loojie, saudaranya itu, sian Wat. Adik ini telah menahan rasa nyerinya, dia membuat pandangan mata berduka si kakaknya, dia mengerti. Lantas dia berlompat untuk berendeng dengan kakaknya.

Kimleng Jie Pa menjadi muridnya Soe-eng Hoei-Liong Khoe Cin Keen, yang terkenal juga sebagai Thian-Gwa Ii shia, si sesat satu satunya dari Luar Langit, mereka Iihay, hati mereka telengas, dari itu belum lama muncul dalam dunia Kang ouw, nama mereka menjadi terkenal di selatan dan utara sungai besar.

Sudah begitu mereka setiap bertempur maju berbareng dan secara di luar dugaan juga kali ini mereka hendak bertindak seperti biasa itu. Hanya kali ini mereka menghadapi musuh yang berani dan matanya awas.

KamJiak Hoei tertawa begitu lekas ia lihat orang merendengkan diri,ja bersenyurn, dan berkata Jikalau malam ini tuan kecil kamu membiarkan kamu lolos dari coei-beng ^acJiauw, maka ini sakit hati yang dalam seperti laut tak usahlah aku membalasnya pula."

Kimleng Jie Pa tidak mengambil mumai apa orang bilang, meneruskan kebiasaannya. mereka lantas maju berbareng.

Kam Jiak Hoei tidak menyambuti, ia berkelit ke kanan, sambil berkelit, ia terus memutar tubuh, dan sembari memutar, tangan nya menarik senjatanya, dari itu, dengan cepat sekali ia lantas membalas menyerang, senjatanya itu, coei-beng Pat-jiauw, yang berupa gaetan seperti cakar atau kuku^ me ny amber kepada dua lawannya itu.

Kimleng Jie Pa beriaku awas dan gesit, mereka menjejak tanah untuk beriompat tinggi dengan lompatan ouw-liong-seng thian atau Naga hitam naik kelangit. Kaki mereka terangkat tinggi. Hingga senjata lawan lewat di bawahannya.

Kam Jiak Hoei menyapu tempat kosong, ia lantas beriompat ke samping, inilah penjagaan diri untuk tidak diteruskan diserang kedua lawannya itu.

Kimleng Jie Pa girang melihat lawan itu tetap berada di bawahannya, sembari berkelit tadi, mereka memang sekalian telah memutar tubuh mereka. sekarang untuk menyerang pula. Mereka hendak menggunai senjata mereka, Masing-masing sebatang Pie hiat-kwa, semacam senjata untuk menotokjalan darah.

Ketika meraba kepunggung merekah tapinya keduanya menjadi sangat kaget^ hingga semangat mereka seperti terbang pergi. senjata mereka itu lenyap entah ke mana.

Ketika itu Kiam Jiak Hoei sudah bergerak lebih jauh. selagi tubuh musuh turun, ia justeru menjejak tanah untuk mengampungi diri guna berada di atasan musuh- musuh itu dengan begitu, leluasalah ia melakukan penyerangan.

Dua saudara Sian kaget dan keder. Tidak ada jalan lain, lekas- lekas mereka turun, Untuk itu mereka mengguna i tipu silat Cian-kin-Cwe. "jatuh seribu Kati". itulah ilmu membikin tubuh menjadi berat. Begitu kakinya nempel dengan tanah, tangan mereka di ulapkan ke atas, guna menangkis genggaman musuh.

Sayang mereka kalah gesit. Coei-beng PatJauw sudah meny amber dengan cepat sekali Mereka menjadi sasaran, sambil menjerit tubuh mereka roboh terguling.

Hebat keduanya itu menjerit sian Wat roboh punggungnya dan pinggang ke pundak. darahnya memancur, seketika juga dia melayang jiwanya, sian Couw masih dapat berkoseran di tanah cuma sebentar, dia pun terbang jiwanya.

KamJiak Hoei panas hatinya. "Dia berkelahi bukan cuma mengandaikan gaetannya itu, selagi mengayun tangan kanannya, tangan kiri nya turut meny amber juga, tangan kirinya itu menggenggam dua belas batang pa ku Boen-sim teng yang telah direndam dalam racun, maka semua paku itu, asal mengenai darah, lantas racunnya menjalar ke teng gorokan, untuk

Menutup jalannya napas, sedang gaetannya nancap di punggung.

Jeritan dua saudara itu menyeramkan terdengarnya, siapa yang nyalinya kecil, dia dapat bangun bulu romanya.

“Hebat." kata Tiong Hoa dalam hati, Beginilah dunia Kang ouw di mana orang main saling balas. Di tempat begini tak dapat aku berdiam diri lagi..." Dengan sendirinya ia menjadi hendak mengundurkan diri siang- siang.

Selagi si anak muda ngelamun itu, sebuah tangan yang halus meraba pundaknya. Tangan itu bergemetar perlahan, ia lantas menoleh. ia tahu itulah tangannya Lee Hoen, kawannya. ia lantas melihat wajah orang, yang seperti giris, ia bersenyum kepada nona itu, maksudnya membilangi tak usahlah si nona takut.

Lee Hoen giris hatinya setelah ia menyaksikan tindakan terlebih jauh daripada Kam Jiak Hoei. Anak berbakti ini, yang menuntut balas untuk ayah-bunda serta semua anggauta Keluarganya, sudah membiarkan dirinya dipengaruhi dendamnya yang hebat itu, dia menghampirkan kedua mayat musuhnya, ia menyimpan senjatanya di pundaknya, sebagai gantinya ia menghunus sebuah golok pendek. dengan itu dengan kesehatan luar biasa dia membacok ke batang leher orang bergantian, guna memutuskan kepala musuh- musuhnya, terus kedua kepala itu diikat menjadi satu, diikat dengan rambut kepalanya masing-masing terus diangkat tinggi.

""Ayah, ibu" anak ini lantas dongak dan memuji, "anak harap ayah dan ibu berdua di dunia baka suka menutup mata ayah dan ibu, anak telah membalaskan sakit hati ayah dan ibu"

Sedih terdengarnya suara anak muda itu, Boleh dibilang baru selesai KamJiak Hoei bersembahyang itu lantas orang mendengar seruan yang nyaring sekali, yang nadanya seram. seruan itu kembali memecah kesunyian sang malam yang baru saja pulih. Lantas setelah itu terlihat sesosok tubuh manusia lari kearah KamJiak Hoei, lantas berhenti didepan anak muda itu.

Jiak Hoei melihat orang bergerak sangat cepat, ia tidak takut, Bahkan ia lantas mengawasi tajam. Orang itu bertubuh besar dan kekar kepalanya lanang sebab tak ada rambutnya selembar ^uga Dia mempunyai leher yang panjang serta mulut yang lancip. hingga terlihatnya mirip cecongor serigala Mukanya bengis sekali.

Dengan mata yang galak. dia mengawasi si anak muda, yang masih memegangi kepala musuh-musuhnya. Lantas dia tertawa, suaranya sangat tak sedap. bahkan menyakitkan kuping.

"Sayang sekali aku si orang tua datang terlambat." dia kata seram, " Dengan begitu aku membikin kesampaianlah cita-citanya seorang bocah, seumurku, aku si orang tua tidak sudi melayani orang muda, akan tetapi murid-muridku telah dibunuh, aku mesti menuntut balas."

Kam Jiak Hoei tahu siapa orang tua itu. yalah Boe eng Hoei Long, ia jeri juga, Meski begitu, ia tidak mengetarakan bahwa ia takut, malah sengaja ia tertawa.

"Kata-katamu ini terlalu dipaksakan, Khioe Loocianpwee." ia kata, "Boanpwee mendendam sakit hati untuk sembilan belas jiwanya orang-orang sekeluarga ku. Aku menjadi anak mustahilkah tak dapat aku menuntut balas? Umpama kata keadaan kita terbalik, yaitu loocianpwee menjadi aku, bagaimana loocianpwee bakal bertindak?"

Tidak disangka Khioe Cin Keen bahwa ia bakal ditanya begitu rupa, ia menjadi melengak. Tapi ia panas hati maka ia tertawa seram.

"Kau pandai sekali memutar lidah anak muda" katanya, " Enak sekali aku mendengar kata-katamu ini Tapi kau mesti ketahui, aku si orang tua, syarat hidupku yalah orang tidak mengganggu aku, aku tidak mengganggu orang. orang telah membinasakan ahliwaris ilmu silatku mana dapat aku menyabarkan diri? Maka itu bocah, kau serahkanlah jiwamu" Kam Jiak Hoei juga panas hatinya, Dia tertawa dingin.

“Jikalau loocianpwee tak mengerti priha1 peri- kebenaran dan loocianpwee hendak memperkosa keadilan, baiklah aku si orang muda terpaksa mesti mengiringi."

Sebagai penutup jawabannya itu anak muda ini melemparkan dua kepala orang di tangannya untuk sebagai gantinya mengeluarkan senjatanya, lantas dengan itu ia melakukan penyerangannya. Mengbadapi musuh kesohor, ia berlaku cepat dan bengis.

Sebagai orang tua, Khioe Cin Keen mengalah selama tiga jurus, Lebih dulu ia menyampokjatuh kepalanya Kimleng Jie Pa, terus ia mundur tiga tindak. dengan begitu hoei-jiauw si anak muda tak mengenakan tubuhnya.

Ketika itu rembulan muncul dari antaraalingan awan, cahayanya permai sekali, membuatnya sang jagat yang tadi guram menjadi terang.

Lie Tiong Hoa melihat Khioe Cin Keen mundur hingga serangan hebat dapat dihindarkan dengan mudah ia kagum untuk Iiehaynya Boe eng Hoei Long.

"Pantas dia kesohor." pikirnya. Karena ini pun ia menjadi insaf bahwa ilmu silat tak ada batasnya, orang Iiehay ada yang melebihkannya, Tidak kecewa orang she Khioe ini pun dijuluki Thian Gwa It shia. Segera lewat tiga jurus, maka Khiue Cin Keen terlihat mulai dengan perlawanannya. segera juga Tiong Hoa menjadi kaget, Gesit luar biasa, habis diserang, Boe-eng Hoei Long mencelat ke belakang si anak muda she Khoi, julukannya Boe-eng Hoei Long berarti serigala terbang tanpa Bayangan, julukan itu tepat dengan kegesitannya itu. Dari belakang ada meluncurkan tangannya untuk menotok. Inilah yang membikin orang she Lie itu kaget.

Kam Jiak Hoei menyerang dengan gaetannya, tetapi gaetan itu menempel di tangan musuh. Dia kaget dan bingung, Mendadak dia merasakan telapekan tangan nyeri sekali tidak tempo lagi, senjatanya itu terlepas.

Lantas terdengar suara seram dari Boe eng Hoel Long, yang mengulangi serangannya, ia menyerang seraya mengajukan tubuh mendesak dengan tindakan sin heng Bie hou Pou-hoat.

Kam Jiak Hoei kaget bukan main hingga ia menjadi tidak berdaya.

"Oh, sungguh aku tidak sangka sekali" tiba-tiba terdengar satu suara nyaring, yang keluar dari pepohonan lebat disamping mereka, Aku tidak sangka Boe-eng Koei Long yang namanya menggemparkan Rimba persilatan tetapi sebagai orang tua sudah menghina si muda, sungguh sangat tidak tahu malu."

Hebat ejekan berikut dampratan itu. Mendengar itu, Boe-eng Hoei Lang lantas mengubah pikirannya. Kalau tadi ia ingin membinasakan KamJiak Hoei, sekarang ia cuma menotok jalan darah boen-hiat, setelah mana ia mencelat ke samping tiga kaki, terus ia menoleh ke tempat dari mana suara datang. "Siapa di sana? "ia tanya, "siapa berani menghina aku si orang tua?"

Teguran itu tidak memperoleh jawaban suara hanya munculnya seorang imam tua yang bermuka bengis serta seorang muda yang romannya tak kurang bengisnya, Melihas imam itu, Khioe cin tertawa lebar.

"Pek Yang, berani kau berlagak di depan aku -.si orang tua" ia kata. "Sungguh kau sangat tidak tahu diri"

Imam itu memang Kee-Iouw Mo Keen adanya, Dia muncul sambil bersenyum, dia membawa lagaknya sebagai ketua dari suatu partai Begitu lekas dia mendengar suaranya Khioe Cin Keen, tak dapat dia beraksi terus, Dia menjadi gusar seketika.

"Khioe Cin Keen kau juga terlalu jumawa." katanya, membalas. "Baiklah, kini aku si orang she Pek ingin mencoba-coba kau yang dikatakan gesit hingga tak ada bayangannya. Benarkah kepandaian kau mengatasi Rimba Persilatan?" Khioe Cin Kee berlaku jumawa.

Jikalau benar kau ingin cari mampusmu, itulah mudah." katanya.

selama itu mereka sudah datang dekat satu dengan lain. mereka sama-sama menatap. mata mereka berani, roman mereka bengis menyeramkan.

Selagi begitu dari lain arah muncul lagi dua orang, mereka berlari-lari mendatangi maka cepat tibanya mereka itu. salah seorang itu lari sambit berlompatan karena ternyata dia mengandal pada sebatang tongkat, hingga ada kalanya dia ketinggalan kawannya, lainnya waktu mereka berendeng. Lie Tiong Hoa melihat orang-orang baru itu ia menjadi girang. ia memang lagi mengharap- harap datangnya Cee Cit, sahabatnya itu maka melihat orang bertongkat itu terbukalah hatinya.

Ketika ia mengawasi orang yang lainnya ia mengenali sin-beng sioe-soe Kim som.

Dua orang itu menuju langsung ke arah Kam Jiak Hoei setelah tiba. Kim som mengawasi kepada dua orang yang lagi hendak mengadu jiwa itu, Kelihatannya dia mendongkol sekali ketika dia kata pada Cee cit. Coba kau tidak memaksa aku melayani kau main-main, tidak nanti muridku ini hilang jiwanya ditangannya Khioe cin Keen si telengas itu"

Cee-cit mengawasi si anak muda, dia tertawa. "Setan tua she Kim, jangan kau terburu naps u"

katanya wajar, "Aku si orang she Cee tidak mempunyai guna lainnya kecuali mataku yang lihai Aku langsung tahu murid mustikamu ini tidak mati." ia lantas membungkuk. untuk menotok tiga kali di punggung Kam Jiak Hoei.

Boleh dibilang hanya sejenak. pemuda she Kam itu terlihat bergerak. lalu tubuhnya berlompat bangun.

Di lain pihak Kee-louw Mo-koen terdengar mengeluarkan suara tertahan, tubuhnya terhuyung tiga tindak. Dengan cepat dia telah beradu tangan sembilan kali dengan Boe-eng Hoei-long- Khioe-cin-koen, kesudahannya dia kalah unggul sedikit.

Satu jurus, "san-lauw tee-tong, atau Gunung guncang, bumi bergerak dari Khioe-Cin-koen, membuatnya mundur itu, terus dadanya terasa sesak dan mukanya menjadi pucat sekali. Dia mencoba ber tahan diri, dengan mata tajam dia memandang lawaonya, dia kata sembari tertawa dingin. "Lagi tiga tahun maka aku Pek Yang, akan aku menagih pulang

hajaran tanganmu ini."

Khioe Cin Keen tertawa, "jangan kata tiga tahun, tigapuluh tahun juga aku akan menantikanmu Kau tentu tidak bakal berhasil."

Mukanya Pek Yang menyeringai bengis, tanpa membilang apa-apa lagi ia berlalu sambil menarik tangannya In Loei, untuk menghilang jauh diantara sinarnya si Puteri malam.

Khioe Cin koen mengawasi sebentar, terus sambil bersiul, ia lompat ke depan sin-beng sioe-soe bertiga, Dia bergerak sangat gesit dan lincah, hingga Tiong Hoa kata dalam hatinya "Apakah namanya ilmu ringan tubuhnya ini? Aku tidak melihat pundaknya terbangun atau kakinya bergerak. tahu-tahu dia sudah datang dekat."

Dasar masih kurang pengalamannya, hatinya pemuda ini gampang tergerak sesuatu yang masih asing untuknya. Gurunya mengajari banyak padanya hanya teori belaka tanpa contoh kenyataan, benar ia melatihnya tapi kurang sempurna, Maka sekarang ia berpikir keras. 

Tapi setiap yang ia lihat lantas menarik perhatiannya. Di sini kembali ia menyaksikan hebatnya sepak terjang orang-orang Kang ouw.

Khioe Cin Keen mengawasi Kam Jiak Hoei, yang berdiri sehat waras di samping Kim som, ia heran, parasnya pun berubah, ia kata dalam hatinya: "Siapakah ini dua orang? cara bagaimana mereka dapat membebaskan totokanku Pian-hoan Co-hiat Cioe noai ini? Aku tahu yang mengerti ini hanya beberapa orang saja..."

Kim som melihat orang heran, ia tertawa sambil mengurut-urut kumis yang masih pendek, la kata: "saudara Khioe, tak usahlah kau capaikan hati memikirkan kita sebenarnya sudah lama kita saling mengagumi, Cuma sebegitujauh belum sempat kita bertemu satu dengan lain" Matanya Boe eng Hoei Long mendelik,

"Apakah itu saling mengagumi?" katanya bengis, "sebenarnya siapakah kamu?"

Kim som tidak murka, dia tertawa pula.

"Tak heran, saudara Khioe tak berani," katanya sabar "sudah lama kau tinggal di pulau belukar, penglihatanmu sedikit, pendengaranmu kurang sebaliknya orang gagah di Tionggoan banyak bagaikan pasir. Aku? Melainkan mirip seorang serdadu biasa, Cuma karena orang Rimba persilatan menyintai aku mereka menyebutnya aku sin- heng sioe soe. Namaku yang rendah adalah Kim som, dan tuan ini adalah saudara Cee Cit,"

Mendengar nama orang, Khioe Cin Keen terperanjat tapi dia lantas tertawa lebar.

"Aku mengira siapa, tak tahunya kau." katanya nyaring. "Bagus, bagus, Malam ini aku si orang tua bakal belajar kenal dengan ke^esitanmu yang di sohorkan. Aku ingin melihat apakah kau dapat main-main beberapa jurus dengan Boe Eng sin-hoat." Boe Eng sin-hoat, atau ilmu tanpa bayangan, adalah ilmu kegesitan Khioe Cin Keen yang membuatnya memperoleh juluka nnaitu Boe-eng Hoei Long si serigala Terhang Tanpa Bayangan-

Meski ia pernah dengar nama orang tersohor sekali, orang she Kioe ini tetap membawa lagak terkeburnya, sedikitpun ia tak memandang mata pada sinheng sioe- soe, selesai berkata itu, ia juga melihat Cee Cit. ia tetap tak menghiraukannya.

Cee cit tak puas menyaksikan tingkah orang itu Mendadak ia berseru, tongkatnya ditekankan ke tanah, maka mencelatlah tubuhnya, berbareng dengan mana sebelah tangan

terulur panjang. ia telah mengguna Hoet Wao Cioe.

Tangan kera-terbangnya itu.

Khioe Cin Keeo berlakujumawa sekali akan tetapi ia waspada, maka ia terkejut melihat gerakannya Cee Cit itu, ia mengenali ilmu silat itu dan merasa orang dapat menggunakannya secara mahir sekali.

Lekas-lekas ia berkelit ke kanan, dengan tubuhnya berada di sisi si orang she Cee, segera ia membalas menyerang, dengan lima buahjerijinya ia menjambret ke pundak orang.

Cee cit melihat gerakan orang, ia terperanjat.

Memanglah cacadnya ilmu silatnya itu, kalau tangan kanannya dilancarkan, tangan kirinya mesti diciutkan, ia tidak menyangka orang mengenal kelemahannya itu.

Kalau ia kena disamber, bukan saja tangan kirinya tak bakal dapat diulur lagi, darahnya pun bakal mandek jalannya, Maka lekas-lekas ia berkelit.

Khioe Cin Keen juga menyerang sangat cepat. 
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Bujukan Gambar Lukisan Jilid 07"

Post a Comment

close